HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN
WORK STUDY CONFLICT PADA MAHASISWA PEKERJA
FULLTIME DI YOGYAKARTA
Mata Kuliah: Penyusunan Proposal Penelitian (P3) Kuantitatif
Dosen Pengampu: Santi Esterlita Purnamasari, [Link]., Psikolog
Disusun oleh :
Maretha Hevazabella 23F 190810672
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI S1
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Menurut data Badan Pusat Statistika, Yogyakarta menjadi
provinsi dengan rata-rata biaya pendidikan tertinggi di Indonesia
pada tahun ajaran 2020/2021. Kenaikan biaya pendidikan hampir
terjadi setiap tahun. Hal ini yang menjadi alasan seseorang
bekerja terlebih dahulu untuk mencari modal agar tidak putus di
tengah jalan karena status ekonomi yang rendah (Pratiwi, 2015).
Berdasarkan peraturan departemen ketenagakerjaan seseorang
yang telah bekerja fulltime memiliki rata-rata jam kerja sebanyak
40 jam dalam seminggu. Dengan jam kerja yang cukup padat,
tentunya para pekerja fulltime sudah mempertimbangkan
keputusannya untuk melanjutkan pendidikan. Menurut Lestari
(2011) ada berbagai alasan pekerja fulltime memutuskan
melanjutkan pendidikan strata satu, yaitu untuk menambah
pengalaman dan memperluas jaringan. Menambah pengalaman
tentunya akan menambah ilmu pengetahuan yang dapat melatih
keterampilan sesuai kebutuhan perusahaan (Dehotman, 2016).
Namun, tentu hal ini memiliki risiko apabila terjadi salah satu
tanggungjawab yang terabaikan. Banyak konflik yang terjadi jika
mahasiswa pekerja fulltime tidak bisa mengatur keseimbangan
waktu dan tenaga kedua peran antara mahasiswa dan pekerja
sehingga lebih rentan terkena stres. (Nurfitria & Masykur, 2016).
Salah satu konflik yang terjadi akibat dari ketidakmampuan
mahasiswa pekerja fulltime melakukan manajemen waktu dan
tenaga adalah work study conflict (Wolfe dan Snoke (dalam
Ikhsan dan Ishak, 2005)). Work study conflict merupakan salah
satu inter-role conflict atau konflik peran yang timbul karena
adanya dua “perintah” berbeda yang diterima secara bersamaan,
yaitu sebagai mahasiswa dan juga pekerja (Muchlas, 2008). Dua
perintah yang diterima secara bersamaan membuat sebagian besar
mahasiswa lebih merasa lelah dibandingkan merasakan manfaat
dari kedua peran yang dijalani (Vickers, 2003).
Adapun aspek work study conflict menurut Markel dan Frone
(1998) yang dikembangkan lagi oleh Octavia & Nugraha (2013),
yaitu time based conflict dan strain based conflict. Time based
conflict merupakan konflik yang terjadi karena adanya tuntutan
waktu yang timbul pada satu peran tidak kompatibel dengan
peran lainnya. Selanjutnya strain based conflict merupakan
konflik akibat adanya tekanan yang dirasakan pada satu peran
yang mengganggu jalannya peran lainnya.
Mahasiswa yang bekerja fulltime diharapkan dapat
melaksanakan kegiatan perkuliahan dengan baik melalui
manajemen waktu yang adil dan disiplin antara waktu berkuliah
dan bekerja serta memperhatikan kesehatan fisik karena
menjalankan dua peran sekaligus dimana kedua peran ini sangat
menyita waktu dan juga kesehatan mahasiswa (Mardelina &
Muhson, 2017). Disaat hal ini mampu dimanajemen dengan baik,
maka work study conflict dapat diminimalisir. Namun, jika tidak
maka mahasiswa akan rentan mengalami tekanan fisiologis
(pusing, stres, dll) dan tekanan psikologis (kekhawatiran berlebih,
kecemasan) (Park & Sprung, 2013).
Kesulitan manajemen waktu dan tenaga menjadi alasan
mahasiswa pekerja fulltime seringkali memilih salah satu peran
yang menjadi prioritas. Mahasiswa tersebut cenderung
mengorbankan kegiatan akademik yang menyebabkan kegiatan
perkuliahan mahasiswa tersebut menjadi tidak maksimal (Octavia
& Nugraha, 2013). Mahasiswa menjadi malas kuliah dikarenakan
sudah merasa asyik dalam bekerja (Setiawan & Legowo, 2018).
Salah satu artikel pada [Link] memaparkan bahwa
tuntutan menjalani peran pekerja fulltime sekaligus mahasiswa
membuat seseorang rentan mengalami stres. Stres yang dialami
biasanya dikarenakan kelelahan secara fisik maupun psikis.
Apabila stres terjadi dalam jangka waktu berkepanjangan maka
dapat mengganggu performa kerja maupun kuliah mahasiswa
tersebut.
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada
beberapa teman mahasiswa pekerja fulltime di Universitas
Mercubuana Yogyakarta. Hasilnya 95% mahasiswa mengalami
kesulitan dalam mengatur keseimbangan waktu dan tenaga antara
bekerja dan kuliah. Hal ini menyebabkan banyak konflik yang
terjadi seperti mudah kelelahan, terlalu banyak begadang
sehingga kesehatan menurun, mudah stres, dan mengerjakan
tugas seadanya karena diburu waktu. Peneliti juga melakukan
observasi dalam keseharian kuliah, mahasiswa pekerja fulltime
cenderung acuh dengan nilai-nilai, sering titip absen (TA),
mengumpulkan tugas terlalu dekat dengan deadline, dan sulit
melakukan diskusi satu sama lainnya karena kesibukan pekerjaan.
Dari data yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa sebagian
besar mahasiswa pekerja fulltime mengalami work study conflict
yang tinggi.
Berdasarkan uraian fakta diatas disimpulkan bahwa tingkat
work study conflict di kalangan mahasiswa pekerja fulltime masih
cukup tinggi. Seyogyanya, seseorang memiliki work study
conflict yang rendah agar dapat mengimbangi performansi dalam
pekerjaan maupun perkuliahan. Maka dari itu, work study conflict
menjadi urgent untuk diteliti.
Octavia dan Nugraha (2013) menyebutkan bahwa faktor
penyebab terjadinya work study conflict adalah kemampuan
pengelolaan diri (self management). Kurangnya kemampuan
mahasiswa dalam mengatur waktu antara kuliah dan bekerja
menjadi faktor timbulnya suatu konflik. Markel dan Frone (1998)
menyebutkan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi work study
conflict, yaitu jam kerja, ketidakpuasan kerja, dan beban kerja.
Kepuasan kerja digambarkan sebagai perasaan seorang karyawan
terhadap pekerjaan yang dijalani. Karyawan dengan kepuasan
kerja yang tinggi cenderung memiliki pandangan positif terhadap
pekerjaan sedangkan karyawan dengan kepuasan kerja yang
rendah akan berpandangan negatif terhadap pekerjaan yang
dilakukan (Hidayat, 2015).
Seseorang yang merasa puas dengan pekerjaannya akan lebih
sehat secara psikologis sehingga bisa menikmati kehidupan dan
berpotensi keberhasilan dalam aspek kehidupan personal
(Erdamar dan Demirel, 2016). Pernyataan tersebut memberikan
indikasi bahwa tidak terjadi suatu hambatan ataupun kendala
ketika posisi kerja merasa terpuaskan. Kepuasan kerja dapat
menjadi faktor penyemangat akademik seorang mahasiswa
pekerja fulltime (Widyaningtyas & Darminto, 2013). Maka dari
itu, dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap
work study conflict mahasiswa pekerja fulltime. Dari alasan
tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait
hubungan kepuasan kerja dengan work study conflict pada
mahasiswa pekerja fulltime.
Kepuasan kerja merupakan keseluruhan hasil baik positif
maupun negatif suatu pekerjaan (Newstorm, 1986 dalam Erdamar
dan Demirel, 2016). Hasil merujuk pada situasi kerja, imbalan
yang diterima, serta hal apapun yang menyangkut faktor
psikologis maupun fisik. Menurut Luthans (2005) aspek kepuasan
kerja diantaranya: the work itself, pay, promotion opportunities,
supervision, coworkers.
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi work study conflict. Hal itu digambarkan dengan
pernyataan Markel dan Frone (1998) yang menyatakan bahwa
ketika seseorang merasa tidak puas dengan pekerjaan yang
dijalani oleh seseorang tersebut menyebabkan lemahnya
kemampuan ataupun kemauan seseorang untuk menghadapi
kewajiban lainnya. Hal ini diperkuat dengan penelitian Gutama
(2020) bahwa kepuasan kerja mempengaruhi work study conflict.
Kepuasan kerja berdampak pada pencapaian akademik
mahasiswa, sebuah penelitian menyatakan bahwa seseorang
dengan kepuasan kerja tinggi cenderung meraih IPK tinggi
dibandingkan dengan seseorang yang memiliki kepuasan kerja
rendah (Do, 2016). Jadi, ketika seseorang memiliki kepuasan
kerja yang tinggi, maka work study conflict yang terjadi akan
semakin rendah (Markel dan Frone, 1998).
Dari penjabaran tersebut, peneliti menganggap diperlukan
adanya penelitian untuk mengetahui “Hubungan Antara
Kepuasan Kerja Dengan Work Study Conflict Pada Mahasiswa
Pekerja Fulltime Di Yogyakarta”. Berdasarkan latar belakang
yang telah diuraikan, peneliti mengajukan rumusan masalah:
Apakah terdapat hubungan antara kepuasan kerja dan work study
conflict pada mahasiswa pekerja fulltime di Yogyakarta?
Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
kepuasan kerja dan work study conflict yang dialami oleh
mahasiswa pekerja fulltime di Yogyakarta.
2. Manfaat
A. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis,
khasanah pengetahuan, dan gambaran work study conflict yang
dipengaruhi oleh kepuasan kerja mahasiswa karyawan berperan
ganda. Terutama pada pengembangan psikologi industri dan
organisasi.
B. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat bermanfaat bagi para mahasiswa yang sudah
bekerja dan mengambil program kelas karyawan meminimalisir
terjadinya work study conflict agar merasakan perasaan positif
dan sejahtera sehingga mampu untuk mengatasi, mengendalikan,
melalui rintangan serta kesulitan selama proses perkuliahan
hingga lulus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Work Study Conflict
1. Pengertian Work Study Conflict
Work study conflict merupakan salah satu inter-role conflict
(konflik antar peran) yang termasuk dalam role conflict (konflik
peran) (Laughman, Boyd, & Rusbaasan, 2016). Role conflict
didefinisikan sebagai kejadian yang bereaksi akibat dari dua
tekanan atau lebih. Contohnya, pemenuhan terhadap suatu hal
dapat memberatkan pemenuhan pada hal lainnya (House & Rizzo,
1972; Kahn dkk., 1964; Padney & Kumar, 1997; dalam Lui, Ngo,
Tsang 2001).
Inter role conflict adalah konflik peran yang timbul
dikarenakan adanya perbedaan prasyarat antara dua atau lebih
peran yang harus dijalankan pada saat bersamaan (Muchlas,
2008). Menurut Mills, McLaughlin, dan Lingard (2007) Di fase
dewasa awal, inter role conflict berkaitan dengan pendidikan dan
pekerjaan yang belum banyak dilakukan pengembangan. Teori
work study conflict ini dikembangkan oleh Mills dkk
menggunakan literasi dari work family conflict oleh Greenhaus
dan Beutell (1985) sebagai landasan teori pengembangannya.
Seperti yang diyakini oleh Markel dan Frone (1998) bahwa pada
kehidupan orang dewasa terdapat dua domain utama yaitu
pekerjaan dan pendidikan, yang menguatkan praduga mengenai
antesiden dan hasil yang sama antara work study conflict dan
work family conflict. Mills dkk (2007) menyatakan bahwa work
study conflict merupakan inter-role conflict dimana seseorang
menghadapi dua tuntutan peran sebagai pekerja dan juga
mahasiswa.
Menurut Owen, Kavanagh, dan Dollard (2017) work study
conflict didefinisikan sebagai gambaran ketika tuntutan dan
tanggungjawab pekerjaan mempengaruhi secara negatif tuntutan
dan tanggungjawab sebagai mahasiswa ataupun sebaliknya. Work
study conflict juga disebut sebagai perluasan dimana aktivitas
pekerjaan mengganggu kemampuan seseorang yang telah dewasa
untuk menghadapi tuntutan serta tanggungjawab dalam
pendidikannya (Markel & Frone, 1998). Mereka mengembangkan
work study conflict dimana fokus utamanya adalah karakteristik
kerja (beban kerja, jam kerja, dan ketidakpuasan kerja)
berdampak pada kondisi belajar seseorang.
Peneliti menyimpulkan bahwa work study conflict sebagai
konflik antar peran antara mahasiswa dan karyawan atau pekerja.
Tuntutan pemenuhan kedua peran tersebut dapat memberatkan
antara pembagian waktu dan beban kerja maupun pendidikan.
Work study conflict difokuskan pada bagaimana dinamika dalam
pekerjaan mengganggu dinamika seseorang dalam menempuh
pendidikan.
2. Aspek Work Study Conflict
Markel dan Frone (1998) menggunakan dasar dari work study
conflict yang dikembangkan oleh peneliti Greenhaus dan Beutell
(1985). Dimana aspek work family conflict digunakan sebagai
landasan yang kemudian dikembangkan oleh Octavia dan
Nugraha (2013) sebagai aspek work study conflict. Disebutkan
bahwa dua aspek diantaranya adalah :
A. Time Based Conflict
Konflik berdasarkan waktu atau time based conflict ini
muncul berdasarkan tuntutan waktu yang timbul pada satu
peran tidak kompatibel dengan peran lainnya.
B. Strain Based Conflict
Tekanan yang dirasakan pada satu peran yang mengganggu
jalannya peran lainnya sehingga menimbulkan strain based
conflict atau konflik berdasarkan tekanan.
Selain itu, ada pula enam aspek work study conflict yang
dipaparkan oleh Carlson, Kacmar, & Williams (2000),
diantaranya:
1. Time-based study interference with work (SIW) atau konflik
sekolah menganggu pekerjaan berbasis waktu
2. Time-based work interference with study (WIS) atau konflik
pekerjaan menganggu sekolah berbasis waktu
3. Strain-based study interference with work (SIW) atau konflik
sekolah menganggu pekerjaan berbasis ketegangan
4. Strain-based work interference with study (SIW) atau konflik
pekerjaan menganggu sekolah berbasis ketegangan
5. Behavior-based study interference with work (SIW) atau
konflik sekolah menganggu pekerjaan berbasis perilaku
6. Behavior-based work interference with study (WIS) atau
konflik pekerjaan menganggu sekolah berbasis perilaku.
Dari penjabaran dua teori diatas dapat disimpulkan bahwa
aspek-aspek work study conflict menurut Markel dan Frone
(1998) adalah time based conflict dan strain based conflict.
Sementara untuk aspek-aspek Carlson, Kacmar, & Williams
(2000) adalah time-based study interference with work,
time-based study interference with study, strain-based study
interference with work, strain-based study interference with study,
behaviour-based study interference with work, behaviour-based
study interference with study. Dari aspek yang disampaikan oleh
kedua ahli tersebut, peneliti memilih menggunakan aspek-aspek
Markel dan Frone (1998) sebagai dasar penyusunan teori alat
ukur. Hal ini dikarenakan aspek-aspek work study conflict seperti:
time based conflict dan strain based conflict lebih konkrit dan
sesuai dengan tujuan penelitian.
3. Faktor yang mempengaruhi Work Study Conflict
Markel dan Frone (1998) menggunakan dasar dari work study
conflict terdapat 3 hal yang mempengaruhinya. Hal tersebut
adalah :
A. Jam Kerja
Jam kerja dapat mempengaruhi seseorang secara psikologis
maupun fisiologis. Seseorang yang bekerja dengan lembur terlalu
sering berisiko pada kesehatannya dibandingkan yang bekerja
sesuai porsi jam kerjanya. Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa jam kerja yang efektif dapat dilakukan dengan pergantian
shift, namun hal ini tentu ada dampaknya pada sikap kerja.
Memberlakukan shift kerja terkadang membuat karyawan
menjadi bingung untuk mengatur waktu antara kehidupan
pekerjaan dan sosial pribadinya dikarenakan jam kerja yang tidak
teratur (Cartwright & Cooper, 1997).
Jam kerja mempresentasikan prediktor berbasis waktu pada
inter-role conflict (Frone, dkk, 1997; Greenhaus & Beutell, 1985;
Markel & Frone, 1998). Hal tersebut disebabkan waktu yang
memiliki jumlah terbatas dengan mengindikasikan konflik yang
muncul karena adanya kekurangan waktu pada pemenuhan tugas
peran lainnya. Markel dan Frone memberikan hipotesis bahwa
jumlah jam kerja per-minggu secara positif berkolerasi terhadap
work study conflict.
B. Ketidakpuasan Kerja
Kepuasan kerja merujuk pada sikap umum seseorang terhadap
pekerjaan. Seseorang dengan kepuasan kerja tinggi biasanya
memiliki sikap positif terhadap pekerjaan orang tersebut,
sementara bagi yang tidak puas dengan pekerjaan yang dijalani
akan mememperlihatkan sikap negatif (Robbins, 2003). Markel &
Frone (1998) menyebutkan bahwa ketidakpuasan emosional yang
berhubungan dengan pekerjaan kemungkinan dapat melemahkan
peran yang lain. Mereka juga berpendapat bahwa seseorang yang
mengalami ketidakpuasan pekerjaan cenderung memiliki tingkat
work study conflict yang tinggi.
C. Beban Kerja
Kerja yang berlebihan maupun kekurangan memberikan
dampak yang kurang baik terhadap pekerja secara psikis dan fisik.
Hal tersebut disebabkan oleh pekerja yang tidak dapat mengatur
pola kerja secara individu. Tugas yang terlalu banyak pasti akan
menguras secara tenaga, emosi, maupun pikiran. Namun,
kekurangan pekerjaan juga akan membuat seseorang merasakan
krisis pekerjaan (Cartwright & Copper, 1997).
Tingkat beban kerja yang tinggi mencerminkan situasi dimana
individu memiliki banyak hal yang harus diselesaikan dalam
suatu waktu. Konsekuensi dari hal tersebut seseorang dapat
merasa tenggelam pada tugas yang tidak terselesaikan dengan
baik sehingga mengabaikan pula tugas pada peran yang lain.
Dari penjabaran diatas disimpulkan bahwa work study conflict
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jam kerja, ketidakpuasan
kerja, dan beban kerja. Mengkaji faktor-faktor yang
mempengaruhi work study conflict di atas, peneliti memilih faktor
kepuasan kerja sebagai variabel bebas yang memiliki keterikatan
dengan work study conflict. Oleh karena itu, pemilihan variabel
bebas mengacu pada penjabaran diatas.
4. Work Study Conflict Pada Mahasiswa Pekerja Fulltime
Mahasiswa merupakan seorang pelajar yang sedang menjalani
pendidikan di jenjang perguruan tinggi seperti akademi,
politeknik, institusi, dan universitas (Hartaji, 2012). Mahasiswa
dapat dikategorikan dalam tahap perkembangan dengan usia
18-25 tahun yang tergolong sebagai remaja akhir dan dewasa
awal yang mana diusia tersebut, mahasiswa diharapkan sudah
melakukan pemantapan diri (Yusuf, 2012). Menurut Siswoyo
(2007) Mahasiswa adalah seseorang yang menuntut ilmu di
perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri atau swasta,
maupun lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi.
Dilansir dari Indeed, fulltime artinya sistem kerja dengan
jumlah jam kerja sebanyak 40 jam dalam satu minggu untuk 5
hari kerja. Maka, mahasiswa pekerja fulltime adalah mahasiswa
yang bekerja dengan 40 jam kerja setiap minggunya. Dengan jam
kerja yang cukup padat seringnya menimbulkan beban yang
berujung konflik pada perkuliahan.
Konflik yang sering terjadi adalah work study conflict. Work
study conflict didefinisikan sebagai pekerjaan yang menganggu
kemampuan karyawan sebagai mahasiswa untuk memenuhi
kebutuhan tanggung jawab serta tuntutan dalam pendidikan
(Andrade, 2018). Purwanto, Nurhasan, dan Iskandar (2013)
menyatakan bahwa mahasiswa pekerja fulltime memiliki tingkat
kelelahan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak
bekerja. Dampak negatif lainnya seperti kehilangan waktu belajar,
tidak sempat mengerjakan tugas, terganggunya kesehatan, dan
rentan mengalami stres (Purnama, 2017).
B. Kepuasan Kerja
1. Pengertian Kepuasan Kerja
Baron dan Grenberg (1990) menyatakan bahwa kepuasan
kerja merupakan sikap atau pandangan positif dan negatif seorang
karyawan terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan
hasil dari persepsi kerja tentang seberapa baik suatu pekerjaan
bisa memfasilitasi karyawannya dan dianggap penting (Luthans,
2005).
Menurut David dan Newstorm (1985), kepuasan kerja adalah
perasaan pekerja tentang seberapa menyenangkan ataupun tidak
menyenangkannya suatu pekerjaan. Adapun yang menyebutkan
bahwa kepuasan kerja merupakan efektivitas atau respon emosi
terhadap aspek-aspek yang ada dalam sebuah pekerjaan (Kreitner
& Kinicki, 2001). Menurut pendapat Robbins (2003)
menganggap bahwa kepuasan kerja adalah sebuah bentuk sikap
yang bersifat umum terhadap pekerjaan, dimana sikap ini
menunjukkan perbandingan antara jumlah penghargaan yang
telah diterima dengan keyakinan para karyawan terhadap jumlah
yang seharusnya mereka terima. Senada dengan Richard, Robert,
dan Gordon (2012 : 312) menegaskan bahwa kepuasan kerja
berhubungan dengan sikap dan perasaan seseorang mengenai
pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi, pendidikan,
pengawasan kerja, rekan kerja, beban kerja, dan lain-lain.
Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
kepuasan kerja merupakan sikap dan persepsi seorang pekerja
atau karyawan terhadap tempat atau ekosistem karyawan tersebut
bekerja dan tentunya akan berpengaruh terhadap dinamika sebuah
organisasi.
2. Aspek Kepuasan Kerja
Luthans (2005) mengatakan bahwa terdapat 5 aspek kepuasan
kerja yang diidentifikasi sebagai karakteristik yang sangat
penting dalam suatu pekerjaan, dimana pekerjaan juga merespon
secara afektif hal-hal tersebut :
A. The work itself (Pekerjaan Itu Sendiri) adalah sebuah
ukuran seberapa jauhnya pekerjaan bisa memberi seorang
karyawan tugas atau pekerjaan yang dianggap menyenangkan,
memberi peluang untuk belajar, dan memberi kesempatan
untuk seseorang dapat bertanggungjawab.
B. Pay (Upah) merupakan jumlah upah finansial yang
diterima dan dipandang adil jika dibandingkan dengan apa
yang telah diterima oleh karyawan lain dalam sebuah
organisasi atau perusahaan.
C. Promotion Opportunities (Peluang Mendapatkan
kesempatan dipromosikan) merupakan kesempatan bagi
seorang karyawan untuk mendapat posisi atau jabatan yang
lebih baik pada hirarki sebuah perusahaan atau organisasi
berdasarkan kemampuan dan senioritas.
D. Supervision (Penyeliaan/Supervisi) hal ini berkaitan
dengan kemampuan atasan untuk memberi bantuan secara
teknis dan dukungan perilaku kepada bawahannya, sehingga
bawahannya merasa nyaman dan bisa bekerja dengan lebih
baik karena adanya dukungan moril.
E. Coworkers (Rekan kerja) ini merupakan tingkatan dimana
rekan kerja dirasa mahir secara teknis dan mendukung dalam
hal sosial.
Menurut Spector (2012), dalam mengukur kepuasan kerja dapat
dilakukan dengan aspek-aspek di bawah ini:
A. Gaji
Gaji yang diterima oleh karyawan sebagai bentuk
penghargaan dari perusahaan atas kontribusi yang
diberikan oleh karyawan.
B. Promosi
Promosi merupakan salah satu bentuk kejelasan terkait
jenjang karir karyawan. Ketika kesempatan promosi terbuka
lebar, maka produktivitas karyawan juga akan semakin tinggi
karena mereka akan menunjukkan potensi terbaik.
C. Atasan
Atasan memiliki kontribusi terhadap kepuasan kerja
karyawan. Ketika hubungan fungsional atasan dengan
karyawan terjalin dengan baik, maka kepuasan kerja juga
meningkat.
D. Tunjangan
Sejauh mana perusahaan dapat memberikan kompensasi di
luar gaji pokok kepada karyawan yang bertujuan untuk
memotivasi atau mempertahankan kinerja karyawan agar
produktivitas yang dihasilkan selalu maksimal.
E. Imbalan Non-Materiil
Kepuasan terhadap upah atau imbalan (tidak dalam bentuk
uang) diberikan bagi kinerja karyawan yang dianggap bagus.
Imbalan ini dapat berupa liburan gratis ke luar negeri yang
difasilitasi oleh perusahaan atau dapat juga berupa barang
maupun pelatihan soft skill secara gratis.
F. Kondisi Kerja
Kondisi pekerjaan dapat berupa jam kerja, temperatur,
perlengkapan kantor serta lokasi pekerjaan.
G. Rekan Kerja
Rekan kerja dibutuhkan untuk mendukung iklim pekerjaan
menjadi lebih positif. Hal ini penting karena setiap individu
pasti berinteraksi satu sama lain, maka perlu memiliki rekan
kerja yang ramah dan mendukung pekerjaan.
H. Sifat Pekerjaan
Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu
sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tingkat kesulitan
suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya
dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan
berpengaruh pada peningkatan/penurunan kepuasan kerja.
I. Komunikasi
Komunikasi yang efektif dapat mengurangi timbulnya konflik
di dalam sebuah organisasi.
Dari penjabaran dua teori diatas dapat disimpulkan bahwa
aspek-aspek kepuasan kerja menurut Luthans (2005) adalah the
work itself, pay, promotion opportunities, supervision, coworkers.
Sementara untuk aspek-aspek Spector (2012) adalah gaji,
promosi, atasan, tunjangan, imbalan non-materiil, kondisi kerja,
rekan kerja, sifat pekerjaan, dan komunikasi. Dari aspek yang
disampaikan oleh kedua ahli tersebut, peneliti memilih
menggunakan aspek-aspek Luthans (2005) sebagai dasar
penyusunan teori alat ukur. Hal ini dikarenakan aspek-aspek
kepuasan kerja seperti: the work itself, pay, promotion
opportunities, supervision, coworkers lebih konkrit dan sesuai
dengan aspek kepuasan kerja mahasiswa pekerja fulltime.
C. Dinamika Antara Kepuasan Kerja dan Work Study
Conflict
Kepuasan kerja yang merupakan sebuah persepsi seseorang
terhadap pekerjaannya pasti akan memberi pandangan yang
berbeda-beda di setiap individunya. Hasil dari persepsi tersebut
dapat berupa pandangan yang positif maupun pandangan negatif.
Pandangan positif akan memunculkan kepuasan kerja yang tinggi
dengan berdampak pada kenaikan produktivitas dan prestasi kerja
seseorang (Handoko, 1993). Berbanding terbalik dengan
pandangan negatif menghasilkan kepuasan kerja rendah dengan
terjadinya penurunan produktivitas dan cenderung merasakan
stres (Strauss & Sayles, 1981).
Dalam dimensi kepuasan kerja, terdapat dimensi the work it
self yang mengacu pada seberapa menyenangkannya sebuah
pekerjaan yang apabila hal ini memberikan perasaan yang positif
pada mahasiswa tersebut, maka mahasiswa akan menjalankan
pendidikannya dengan baik juga. Dimensi pay dapat memberi
dukungan finansial kepada mahasiswa untuk mendukung
pendidikan mahasiswa tersebut. Supervision adalah bentuk dari
suportivitas atasan untuk memberikan motivasi kepada pekerja
sehingga mahasiswa pekerja tersebut tidak merasa mendapat
tekanan dari pekerjaan dan mampu melaksanakan tanggungjawab
dalam perkuliahan. Sedangkan co-workers merupakan dukungan
sosial dari rekan kerja yang membuat suasana kerja terasa
menyenangkan sehingga meninggalkan perasaan positif setelah
bekerja dan dapat tersalurkan saat melanjutkan peran menjadi
mahasiswa.
Hal yang dapat melemahkan kemampuan peran saat menjadi
mahasiswa adalah ketidakpuasan emosional terhadap pekerjaan.
Seseorang merasa tidak puas dalam menjalankan pekerjaannya
akan merasa terganggu ketika menjalankan peran yang lain
seperti peran mahasiswa (Markel & Frone, 1998). Selain itu,
apabila yang terjadi adalah mahasiswa tersebut merasa puas pada
pekerjaan yang dijalani, maka secara prestasi akademik
cenderung akan mengalami peningkatan (Widyaningtyas &
Darminto, 2013).
Bekerja fulltime tentu jauh lebih membantu secara posisi
keuangan mahasiswa memenuhi kebutuhan pendidikan yang naik
setiap tahun. Bekerja fulltime perlu dijalani sebaik mungkin agar
tidak memberatkan peran sebagai mahasiswa. Park dan Sprung
(2013) menyebutkan bahwa tuntutan pekerjaan dapat menguras
kapasitas kognitif, emosi, dan fisik mahasiswa. Oleh karena itu,
diperlukan banyak hal positif agar mahasiswa mampu
menghadapi kedua peran yang dijalani dengan sama baiknya.
Ketika seorang mahasiswa pekerja fulltime merasakan
kepuasan kerja yang tinggi, maka mereka akan menjadi lebih
produktif dalam menjalani peran sebagai mahasiswa. Jika mereka
tidak memiliki kepuasan kerja yang tinggi, kemungkinan kedua
peran ini memberatkan lebih besar sehingga timbul masalah
dimana bekerja sambil berkuliah justru menjadi beban. Masalah
ini merupakan konflik antar peran yang dialami seorang
mahasiswa pekerja yang biasa disebut sebagai work study conflict.
Maka, variabel kepuasan kerja dianggap memberikan pengaruh
terhadap work study conflict yang terjadi pada mahasiswa pekerja
fulltime.
Berikut skema yang dapat menggambarkan hubungan antara
kepuasan kerja dan work study conflict pada mahasiswa pekerja
fulltime di Yogyakarta :
Gambar 1
Interaksi kepuasan kerja dan work study conflict
Kepuasan Kerja
Tinggi Rendah
Memiliki perasaan Melemahkan
yang positif kesediaan untuk
sehingga lebih menjalani peran
proiduktif dan dapat lainnya, merasa
memaksimalkan tertekan
peran lainnya
Kepuasan Kepuasan
kerja kerja tidak
terpenuhi terpenuhi
Work study Work study
conflict conflict
rendah tinggi
D. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir yang telah
dipaparkan di atas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Terdapat hubungan negatif signifikan antara kepuasan kerja dan
work study conflict. Semakin tinggi kepuasan rendah, maka
semakin rendah work study conflict. Semakin rendah kepuasan
kerja, maka semakin tinggi work study conflict.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel
Variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah :
A. Variabel Bebas : Kepuasan kerja
B. Variabel Tergantung : Work study conflict
2. Definisi Operasional
Adapun definisi operasional dari variabel diatas ialah, yaitu :
A. Work Study Conflict
Work study conflict merupakan konflik antara peran yang
dirasakan oleh remaja akhir karena adanya tuntutan peran
sebagai mahasiswa dan pekerja. Work study conflict
difokuskan pada dinamika dalam bekerja mengganggu
dinamika seorang mahasiswa dalam pendidikan.
Semakin tinggi skor maka semakin tinggi pula work study
conflict. Ketika skor yang didapatkan rendah, maka semakin
rendah pula tingkat work study conflict yang terjadi. Work
study conflict diukur berdasarkan aspek yang dikemukakan
oleh Greenhaus dan Beutell (dalam Octavia dan Nugraha,
2013) yaitu time based conflict dan strain based conflict.
B. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan pandangan positif maupun
negatif seorang karyawan terhadap pekerjaan yang dihadapi
dalam keseharian. Ketika seseorang yang memiliki kepuasan
kerja tinggi maka karyawan tersebut dapat melihat pekerjaan
secara positif. Namun, apabila yang terjadi adalah kepuasan
kerja rendah maka karyawan tersebut cenderung
berpandangan negatif.
Hal ini tentu akan mempengaruhi dinamika bekerja dan
berorganisasi. Semakin tinggi skor maka semakin tinggi
kepuasan kerja, selaras dengan ketika skor yang didapatkan
rendah maka semakin rendah pula tingkat kepuasan kerja
karyawan. Atribut yang digunakan berdasarkan aspek
kepuasan kerja yang diungkapkan oleh Luthans (2005) yaitu
the work itself, pay, promotion, opportunities, supervision,
dan coworkers.
B. Subyek Penelitian
Karakteristik subyek pada penelitian ini, antara lain :
1. Mahasiswa semester 2-8
Subyek merupakan mahasiswa aktif di sebuah universitas atau
institusi sederajat dengan ketentuan subyek mengambil mata
kuliah pada semester 2-8. Alasan memilih subyek karena
dasar penelitian merupakan mahasiswa pekerja fulltime.
Rentang semester 2-8 dikarenakan pada semester tersebut
mahasiswa sudah menjalani perkualiahan aktif selama
beberapa bulan.
2. Rentang usia 18-25 Tahun
Subyek penelitian termasuk dalam masa perkembangan
remaja akhir hingga dewasa awal karena pada umumnya
mahasiswa strata I adalah mahasiswa yang berumur pada
dewasa awal.
3. Bekerja fulltime minimal 3 bulan
Subyek sedang bekerja fulltime di sebuah bidang usaha,
instansi, maupun perusahaan dengan kualifikasi minimal
sedang menempuh masa kerja selama lebih dari 6 bulan.
Ketentuan tersebut menjadi alasan pemilihan subyek karena
dianggap sudah melewati masa probation dan telah mendapat
porsi kerja sesuai dengan posisinya sehingga merasakan
dinamika kuliah sambil bekerja serta bagaimana konflik
yang terjadi antara kedua peran tersebut.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data bersifat kuantitatif dengan
menggunakan statistik sebagai cara menguji hipotesis yang telah
ditetapkan. Hipotesis yang diajukan adalah korelasi untuk
mengetahui hubungan antar variabel dan seberapa kuat hubungan
tersebut (Supardi, 2013). Penelitian ini dilakukan dengan
menyebarkan skala likert.
Skala likert menggunakan 4 pilihan respon yaitu : “Sangat
Sesuai”, “Sesuai”, “Tidak Sesuai”, “Sangat Tidak Sesuai”. Tiap
respon diberikan skor 1. Skala ini tidak menggunakan pilihan
netral untuk menghindari kecenderungan subjek ragu dalam
memilih pilihan tersebut (Supratiknya, 2014). Skala dalam
penelitian ini adalah skala kepuasan kerja dan work study conflict.
1. Skala Kepuasan Kerja
Alat ukur pada kepuasan kerja mengacu berdasarkan
aspek-aspek kepuasan kerja yang dikemukakan Luthans
(2005) sebagai berikut :
F. The work itself (Pekerjaan Itu Sendiri) adalah sebuah
ukuran seberapa jauhnya pekerjaan bisa memberi seorang
karyawan tugas atau pekerjaan yang dianggap menyenangkan,
memberi peluang untuk belajar, dan memberi kesempatan
untuk seseorang dapat bertanggungjawab.
G. Pay (Upah) merupakan jumlah upah finansial yang
diterima dan dipandang adil jika dibandingkan dengan apa
yang telah diterima oleh karyawan lain dalam sebuah
organisasi atau perusahaan.
H. Promotion Opportunities (Peluang Mendapatkan
kesempatan dipromosikan) merupakan kesempatan bagi
seorang karyawan untuk mendapat posisi atau jabatan yang
lebih baik pada hirarki sebuah perusahaan atau organisasi
berdasarkan kemampuan dan senioritas.
I. Supervision (Penyeliaan/Supervisi) hal ini berkaitan
dengan kemampuan atasan untuk memberi bantuan secara
teknis dan dukungan perilaku kepada bawahannya, sehingga
bawahannya merasa nyaman dan bisa bekerja dengan lebih
baik karena adanya dukungan moril.
J. Coworkers (Rekan kerja) ini merupakan tingkatan dimana
rekan kerja dirasa mahir secara teknis dan mendukung dalam
hal sosial.
Skala ini dibuat menggunakan skala likert dengan 4
pilihan respons yaitu : Sangat Puas (SP), Puas (P), Tidak
Puas (TP), Sangat Tidak Puas (STP). Skala ini disusun
sesuai dengan dimensi kepuasan kerja yaitu, the work
itself, pay, promotion opportunities, supervision, dan
coworkers.
Tabel 1
Penentuan Item Skala Kepuasan Kerja
RESPON FAVORABLE
Sangat Puas 4
Puas 3
Tidak Puas 2
Sangat Tidak Puas 1
Tabel 2
Blueprint Skala Kepuasan Kerja (Sebelum dianalisis dan seleksi
aitem)
DIMENSI FAVORABLE TOTAL
The Work Itself 6 6
Pay 6 6
Promotion 6 6
Opportunities
Supervision 6 6
Coworkers 6 6
TOTAL 30 aitem (100%) 30 aitem (100%)
2. Skala Work Study Conflict
Alat ukur untuk variabel ini, diukur dengan skala yang
telah dimodifikasi dari Octavia dan Nugraha (2013) dengan
mengacu pada teori Greenhaus & Beutell (dalam FU &
Shaffer, 2001) sebagai berikut.
C. Time Based Conflict
Konflik berdasarkan waktu atau time based conflict ini
muncul berdasarkan tuntutan waktu yang timbul pada satu
peran tidak kompatibel dengan peran lainnya.
D. Strain Based Conflict
Tekanan yang dirasakan pada satu peran yang mengganggu
jalannya peran lainnya sehingga menimbulkan strain based
conflict atau konflik berdasarkan tekanan.
Bentuk skala yang digunakan adalah skala likert dengan 4
pilihan respon yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak
Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Tabel 3
Penentuan aitem pada skala Work Study Conflict
RESPON FAVORABLE UNFAVORABLE
Sangat Setuju 4 1
Setuju 3 2
Tidak Setuju 2 3
Sangat Tidak Setuju 1 4
Tabel 4
Blueprint skala Work Study Conflict (Sebelum dianalisis)
DIMENSI FAVORABLE UNFAVORABLE TOTAL
Time Based 6 6 12
Conflict
Strain Based 9 7 6
Conflict
TOTAL 15 aitem 13 aitem (47%) 28 aitem
(53%) (100%)
E. Metode Analisis Data
Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan aplikasi
IBM SPSS v22 dengan teknik korelasi Product Moment Pearson
untuk menguji hubungan korelasi antara kepuasan kerja (X) dan
work study conflict (Y).
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, W.F. (2015) “The Reason Behind Being a
Student-Worker” diunduh dari
[Link] :[Link]
tripratiwi/550ee2fa8133111332bc609f/the-reasons-behind
-being-a-studentworker
Nurfitria, Y., & Masykur, A.M. (2016). Hubungan Antara Work
Study Conflict dengan Work Engagement Pada pegawai
starbucks Semarang. Jurnal Empati, 5(4), 765-769.
Muchlas, M. (2008). Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Vickers, M. (2003). Student Workers in High School and
Beyond: The Effect Of Part time Employment
Participation in Education, Training and Work. Australia:
Australian Council Of Education Research.
Markel K. S., & Frone, M. R. (1998). Job Characteristic,
Work-School Conflict, and School Outcomes among
adolescents: Testing a Structural Model, Journal Of
Applied Psychology, 83 (2), 277-287.
Octavia, E., & Nugraha, S. P. (2013). Hubungan Antara Adversity
Quotient dan Work Study Conflict Pada Mahasiswa Yang
Bekerja. Jurnal Psikologi Integratif, 1(1), 44-51.
Mardelina, E., & Muhson, A. (2017). Mahasiswa Bekerja dan
Dampaknya Pada Aktivitas Belajar dan Prestasi Akademik.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Park, Y. & Sprung, J. M. (2013). Work-school Conflict and
Health Outcomes: Beneficial Resources For Working
College Students. Journal Of Occupational Health
Psychology, 18(4), 384-394.
Widyaningtyas, A. P., & Darminto, E. (2013). Hubungan Antara
Kepuasan Kerja Dan Motivasi Berprestasi Pada
Mahasiswa Yang Bekerja Paruh Waktu. Character, 1(2).
Erdamar, G., & Demirel, H. (2016). Job And Life Satisfaction Of
Teachers And The Conflict They Experience At Work
And At Home. Journal Of Education And Training Studies,
4(6), 164-175.
Luthans, F. (2005). Organizational Behaviour. Newyork:
McGraw Hill, Inc.
Do, A. (2016) Understanding Psychological Distress, Job
Satisfaction, And Academic Performance In College
Student. California: California State University Stanislaus.
Laughman, C., Bond, E., M. & Rusbasan, D. (2016). Burnout As
Mediator Between Work-School Conflict And Work
Outcomes. Journal Of Career Development, 1-13.
Lui S. S., Ngo, H, Y., & Tsang, A, W., N. (2001). Interrole
Conflict as A Predictor Of Job Satisfaction And
Propensity To Leave. Journal Of Management Psychology,
16(6), 469-484.
Mills, A., McLaughlin, P., & Lingard, H. (2007). A Model Of The
Conflict Between Student Work And Study. RMIT
University: Melbourne Victoria Australia.
Owen, M, S., Kavanagh, P, S., & Dollard, M, F. (2017). An
Integrated Model Of Work-Study Conflict And Work
Facilitation. Journal Of Career Development, 45(5).
Cartwright, S., & Cooper, C., L. (1997). Managing Workplace
Stress. USA: Sage Publication.
Robbins, S., P. (2003). Organizational Behaviour (10th Ed). San
Diego: Prentice Hall.
Hartaji, D., A. (2012). Motivasi Berprestasi Pada Mahasiswa
Yang Berkuliah Dengan Jurusan Pilihan Orangtua.
Universitas Gunadarma: Jurusan Psikologi.
Siswoyo. (2007). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Purwanto, H., Nurhasan, S., & Iskandar, G, R. (2013). Perbedaan
Hasil Belajar Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan
Jurusan Teknik Sipil FT-UNP. Jurnal CIVED, 1(1), 34-42.
Purnama, A. (2017). Dampak Buruk Yang Akan Dirasakan Jika
Kuliah Sambil Kerja. Diunduh dari [Link]:
[Link]
-Dirasakan-Jika-Kuliah-Sambil-Bekerja, 8 Januari 2023
Baron, P., & Anastasiadou, C. (2009). Student Part-time
Employment: Implications, Challenge and opportunities
For Higher Education. International Journal Of
Contemporary Hospitality Management.
Strauss, G., & Sayles, L, R. (1981). Managing Human Resource.
Michigan: Prentice Hall.
Kreitner, R., & Kinicki, A. (2001). Organizational Behaviour,
Fifth Edition, International Edition. Boston: Mc-Graw
Hill Companies Inc.