0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan46 halaman

Hubungan Kepuasan Kerja dan Konflik Studi

Hubungan antara kepuasan kerja dengan work study conflict pada mahasiswa pekerja fulltime di Yogyakarta. Tingginya biaya pendidikan di Yogyakarta menyebabkan mahasiswa bekerja sambil kuliah untuk mendanai pendidikan, namun menimbulkan konflik peran antara tugas kuliah dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dengan tingkat konflik peran mahasiswa pekerja.

Diunggah oleh

MARETHA HEVAZABELLA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan46 halaman

Hubungan Kepuasan Kerja dan Konflik Studi

Hubungan antara kepuasan kerja dengan work study conflict pada mahasiswa pekerja fulltime di Yogyakarta. Tingginya biaya pendidikan di Yogyakarta menyebabkan mahasiswa bekerja sambil kuliah untuk mendanai pendidikan, namun menimbulkan konflik peran antara tugas kuliah dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dengan tingkat konflik peran mahasiswa pekerja.

Diunggah oleh

MARETHA HEVAZABELLA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN

WORK STUDY CONFLICT PADA MAHASISWA PEKERJA

FULLTIME DI YOGYAKARTA

Mata Kuliah: Penyusunan Proposal Penelitian (P3) Kuantitatif

Dosen Pengampu: Santi Esterlita Purnamasari, [Link]., Psikolog

Disusun oleh :

Maretha Hevazabella 23F 190810672

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI S1

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA

2022
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Menurut data Badan Pusat Statistika, Yogyakarta menjadi

provinsi dengan rata-rata biaya pendidikan tertinggi di Indonesia

pada tahun ajaran 2020/2021. Kenaikan biaya pendidikan hampir

terjadi setiap tahun. Hal ini yang menjadi alasan seseorang

bekerja terlebih dahulu untuk mencari modal agar tidak putus di

tengah jalan karena status ekonomi yang rendah (Pratiwi, 2015).

Berdasarkan peraturan departemen ketenagakerjaan seseorang

yang telah bekerja fulltime memiliki rata-rata jam kerja sebanyak

40 jam dalam seminggu. Dengan jam kerja yang cukup padat,

tentunya para pekerja fulltime sudah mempertimbangkan

keputusannya untuk melanjutkan pendidikan. Menurut Lestari

(2011) ada berbagai alasan pekerja fulltime memutuskan

melanjutkan pendidikan strata satu, yaitu untuk menambah

pengalaman dan memperluas jaringan. Menambah pengalaman

tentunya akan menambah ilmu pengetahuan yang dapat melatih

keterampilan sesuai kebutuhan perusahaan (Dehotman, 2016).


Namun, tentu hal ini memiliki risiko apabila terjadi salah satu

tanggungjawab yang terabaikan. Banyak konflik yang terjadi jika

mahasiswa pekerja fulltime tidak bisa mengatur keseimbangan

waktu dan tenaga kedua peran antara mahasiswa dan pekerja

sehingga lebih rentan terkena stres. (Nurfitria & Masykur, 2016).

Salah satu konflik yang terjadi akibat dari ketidakmampuan

mahasiswa pekerja fulltime melakukan manajemen waktu dan

tenaga adalah work study conflict (Wolfe dan Snoke (dalam

Ikhsan dan Ishak, 2005)). Work study conflict merupakan salah

satu inter-role conflict atau konflik peran yang timbul karena

adanya dua “perintah” berbeda yang diterima secara bersamaan,

yaitu sebagai mahasiswa dan juga pekerja (Muchlas, 2008). Dua

perintah yang diterima secara bersamaan membuat sebagian besar

mahasiswa lebih merasa lelah dibandingkan merasakan manfaat

dari kedua peran yang dijalani (Vickers, 2003).

Adapun aspek work study conflict menurut Markel dan Frone

(1998) yang dikembangkan lagi oleh Octavia & Nugraha (2013),

yaitu time based conflict dan strain based conflict. Time based

conflict merupakan konflik yang terjadi karena adanya tuntutan

waktu yang timbul pada satu peran tidak kompatibel dengan


peran lainnya. Selanjutnya strain based conflict merupakan

konflik akibat adanya tekanan yang dirasakan pada satu peran

yang mengganggu jalannya peran lainnya.

Mahasiswa yang bekerja fulltime diharapkan dapat

melaksanakan kegiatan perkuliahan dengan baik melalui

manajemen waktu yang adil dan disiplin antara waktu berkuliah

dan bekerja serta memperhatikan kesehatan fisik karena

menjalankan dua peran sekaligus dimana kedua peran ini sangat

menyita waktu dan juga kesehatan mahasiswa (Mardelina &

Muhson, 2017). Disaat hal ini mampu dimanajemen dengan baik,

maka work study conflict dapat diminimalisir. Namun, jika tidak

maka mahasiswa akan rentan mengalami tekanan fisiologis

(pusing, stres, dll) dan tekanan psikologis (kekhawatiran berlebih,

kecemasan) (Park & Sprung, 2013).

Kesulitan manajemen waktu dan tenaga menjadi alasan

mahasiswa pekerja fulltime seringkali memilih salah satu peran

yang menjadi prioritas. Mahasiswa tersebut cenderung

mengorbankan kegiatan akademik yang menyebabkan kegiatan

perkuliahan mahasiswa tersebut menjadi tidak maksimal (Octavia


& Nugraha, 2013). Mahasiswa menjadi malas kuliah dikarenakan

sudah merasa asyik dalam bekerja (Setiawan & Legowo, 2018).

Salah satu artikel pada [Link] memaparkan bahwa

tuntutan menjalani peran pekerja fulltime sekaligus mahasiswa

membuat seseorang rentan mengalami stres. Stres yang dialami

biasanya dikarenakan kelelahan secara fisik maupun psikis.

Apabila stres terjadi dalam jangka waktu berkepanjangan maka

dapat mengganggu performa kerja maupun kuliah mahasiswa

tersebut.

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada

beberapa teman mahasiswa pekerja fulltime di Universitas

Mercubuana Yogyakarta. Hasilnya 95% mahasiswa mengalami

kesulitan dalam mengatur keseimbangan waktu dan tenaga antara

bekerja dan kuliah. Hal ini menyebabkan banyak konflik yang

terjadi seperti mudah kelelahan, terlalu banyak begadang

sehingga kesehatan menurun, mudah stres, dan mengerjakan

tugas seadanya karena diburu waktu. Peneliti juga melakukan

observasi dalam keseharian kuliah, mahasiswa pekerja fulltime

cenderung acuh dengan nilai-nilai, sering titip absen (TA),

mengumpulkan tugas terlalu dekat dengan deadline, dan sulit


melakukan diskusi satu sama lainnya karena kesibukan pekerjaan.

Dari data yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa sebagian

besar mahasiswa pekerja fulltime mengalami work study conflict

yang tinggi.

Berdasarkan uraian fakta diatas disimpulkan bahwa tingkat

work study conflict di kalangan mahasiswa pekerja fulltime masih

cukup tinggi. Seyogyanya, seseorang memiliki work study

conflict yang rendah agar dapat mengimbangi performansi dalam

pekerjaan maupun perkuliahan. Maka dari itu, work study conflict

menjadi urgent untuk diteliti.

Octavia dan Nugraha (2013) menyebutkan bahwa faktor

penyebab terjadinya work study conflict adalah kemampuan

pengelolaan diri (self management). Kurangnya kemampuan

mahasiswa dalam mengatur waktu antara kuliah dan bekerja

menjadi faktor timbulnya suatu konflik. Markel dan Frone (1998)

menyebutkan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi work study

conflict, yaitu jam kerja, ketidakpuasan kerja, dan beban kerja.

Kepuasan kerja digambarkan sebagai perasaan seorang karyawan

terhadap pekerjaan yang dijalani. Karyawan dengan kepuasan

kerja yang tinggi cenderung memiliki pandangan positif terhadap


pekerjaan sedangkan karyawan dengan kepuasan kerja yang

rendah akan berpandangan negatif terhadap pekerjaan yang

dilakukan (Hidayat, 2015).

Seseorang yang merasa puas dengan pekerjaannya akan lebih

sehat secara psikologis sehingga bisa menikmati kehidupan dan

berpotensi keberhasilan dalam aspek kehidupan personal

(Erdamar dan Demirel, 2016). Pernyataan tersebut memberikan

indikasi bahwa tidak terjadi suatu hambatan ataupun kendala

ketika posisi kerja merasa terpuaskan. Kepuasan kerja dapat

menjadi faktor penyemangat akademik seorang mahasiswa

pekerja fulltime (Widyaningtyas & Darminto, 2013). Maka dari

itu, dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap

work study conflict mahasiswa pekerja fulltime. Dari alasan

tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait

hubungan kepuasan kerja dengan work study conflict pada

mahasiswa pekerja fulltime.

Kepuasan kerja merupakan keseluruhan hasil baik positif

maupun negatif suatu pekerjaan (Newstorm, 1986 dalam Erdamar

dan Demirel, 2016). Hasil merujuk pada situasi kerja, imbalan

yang diterima, serta hal apapun yang menyangkut faktor


psikologis maupun fisik. Menurut Luthans (2005) aspek kepuasan

kerja diantaranya: the work itself, pay, promotion opportunities,

supervision, coworkers.

Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi work study conflict. Hal itu digambarkan dengan

pernyataan Markel dan Frone (1998) yang menyatakan bahwa

ketika seseorang merasa tidak puas dengan pekerjaan yang

dijalani oleh seseorang tersebut menyebabkan lemahnya

kemampuan ataupun kemauan seseorang untuk menghadapi

kewajiban lainnya. Hal ini diperkuat dengan penelitian Gutama

(2020) bahwa kepuasan kerja mempengaruhi work study conflict.

Kepuasan kerja berdampak pada pencapaian akademik

mahasiswa, sebuah penelitian menyatakan bahwa seseorang

dengan kepuasan kerja tinggi cenderung meraih IPK tinggi

dibandingkan dengan seseorang yang memiliki kepuasan kerja

rendah (Do, 2016). Jadi, ketika seseorang memiliki kepuasan

kerja yang tinggi, maka work study conflict yang terjadi akan

semakin rendah (Markel dan Frone, 1998).

Dari penjabaran tersebut, peneliti menganggap diperlukan

adanya penelitian untuk mengetahui “Hubungan Antara


Kepuasan Kerja Dengan Work Study Conflict Pada Mahasiswa

Pekerja Fulltime Di Yogyakarta”. Berdasarkan latar belakang

yang telah diuraikan, peneliti mengajukan rumusan masalah:

Apakah terdapat hubungan antara kepuasan kerja dan work study

conflict pada mahasiswa pekerja fulltime di Yogyakarta?

Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara

kepuasan kerja dan work study conflict yang dialami oleh

mahasiswa pekerja fulltime di Yogyakarta.

2. Manfaat

A. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis,

khasanah pengetahuan, dan gambaran work study conflict yang

dipengaruhi oleh kepuasan kerja mahasiswa karyawan berperan

ganda. Terutama pada pengembangan psikologi industri dan

organisasi.

B. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat bermanfaat bagi para mahasiswa yang sudah

bekerja dan mengambil program kelas karyawan meminimalisir

terjadinya work study conflict agar merasakan perasaan positif

dan sejahtera sehingga mampu untuk mengatasi, mengendalikan,

melalui rintangan serta kesulitan selama proses perkuliahan

hingga lulus.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Work Study Conflict

1. Pengertian Work Study Conflict

Work study conflict merupakan salah satu inter-role conflict

(konflik antar peran) yang termasuk dalam role conflict (konflik

peran) (Laughman, Boyd, & Rusbaasan, 2016). Role conflict

didefinisikan sebagai kejadian yang bereaksi akibat dari dua

tekanan atau lebih. Contohnya, pemenuhan terhadap suatu hal

dapat memberatkan pemenuhan pada hal lainnya (House & Rizzo,

1972; Kahn dkk., 1964; Padney & Kumar, 1997; dalam Lui, Ngo,

Tsang 2001).

Inter role conflict adalah konflik peran yang timbul

dikarenakan adanya perbedaan prasyarat antara dua atau lebih

peran yang harus dijalankan pada saat bersamaan (Muchlas,

2008). Menurut Mills, McLaughlin, dan Lingard (2007) Di fase

dewasa awal, inter role conflict berkaitan dengan pendidikan dan

pekerjaan yang belum banyak dilakukan pengembangan. Teori

work study conflict ini dikembangkan oleh Mills dkk


menggunakan literasi dari work family conflict oleh Greenhaus

dan Beutell (1985) sebagai landasan teori pengembangannya.

Seperti yang diyakini oleh Markel dan Frone (1998) bahwa pada

kehidupan orang dewasa terdapat dua domain utama yaitu

pekerjaan dan pendidikan, yang menguatkan praduga mengenai

antesiden dan hasil yang sama antara work study conflict dan

work family conflict. Mills dkk (2007) menyatakan bahwa work

study conflict merupakan inter-role conflict dimana seseorang

menghadapi dua tuntutan peran sebagai pekerja dan juga

mahasiswa.

Menurut Owen, Kavanagh, dan Dollard (2017) work study

conflict didefinisikan sebagai gambaran ketika tuntutan dan

tanggungjawab pekerjaan mempengaruhi secara negatif tuntutan

dan tanggungjawab sebagai mahasiswa ataupun sebaliknya. Work

study conflict juga disebut sebagai perluasan dimana aktivitas

pekerjaan mengganggu kemampuan seseorang yang telah dewasa

untuk menghadapi tuntutan serta tanggungjawab dalam

pendidikannya (Markel & Frone, 1998). Mereka mengembangkan

work study conflict dimana fokus utamanya adalah karakteristik


kerja (beban kerja, jam kerja, dan ketidakpuasan kerja)

berdampak pada kondisi belajar seseorang.

Peneliti menyimpulkan bahwa work study conflict sebagai

konflik antar peran antara mahasiswa dan karyawan atau pekerja.

Tuntutan pemenuhan kedua peran tersebut dapat memberatkan

antara pembagian waktu dan beban kerja maupun pendidikan.

Work study conflict difokuskan pada bagaimana dinamika dalam

pekerjaan mengganggu dinamika seseorang dalam menempuh

pendidikan.

2. Aspek Work Study Conflict

Markel dan Frone (1998) menggunakan dasar dari work study

conflict yang dikembangkan oleh peneliti Greenhaus dan Beutell

(1985). Dimana aspek work family conflict digunakan sebagai

landasan yang kemudian dikembangkan oleh Octavia dan

Nugraha (2013) sebagai aspek work study conflict. Disebutkan

bahwa dua aspek diantaranya adalah :

A. Time Based Conflict


Konflik berdasarkan waktu atau time based conflict ini

muncul berdasarkan tuntutan waktu yang timbul pada satu

peran tidak kompatibel dengan peran lainnya.

B. Strain Based Conflict

Tekanan yang dirasakan pada satu peran yang mengganggu

jalannya peran lainnya sehingga menimbulkan strain based

conflict atau konflik berdasarkan tekanan.

Selain itu, ada pula enam aspek work study conflict yang

dipaparkan oleh Carlson, Kacmar, & Williams (2000),

diantaranya:

1. Time-based study interference with work (SIW) atau konflik

sekolah menganggu pekerjaan berbasis waktu

2. Time-based work interference with study (WIS) atau konflik

pekerjaan menganggu sekolah berbasis waktu

3. Strain-based study interference with work (SIW) atau konflik

sekolah menganggu pekerjaan berbasis ketegangan

4. Strain-based work interference with study (SIW) atau konflik

pekerjaan menganggu sekolah berbasis ketegangan


5. Behavior-based study interference with work (SIW) atau

konflik sekolah menganggu pekerjaan berbasis perilaku

6. Behavior-based work interference with study (WIS) atau

konflik pekerjaan menganggu sekolah berbasis perilaku.

Dari penjabaran dua teori diatas dapat disimpulkan bahwa

aspek-aspek work study conflict menurut Markel dan Frone

(1998) adalah time based conflict dan strain based conflict.

Sementara untuk aspek-aspek Carlson, Kacmar, & Williams

(2000) adalah time-based study interference with work,

time-based study interference with study, strain-based study

interference with work, strain-based study interference with study,

behaviour-based study interference with work, behaviour-based

study interference with study. Dari aspek yang disampaikan oleh

kedua ahli tersebut, peneliti memilih menggunakan aspek-aspek

Markel dan Frone (1998) sebagai dasar penyusunan teori alat

ukur. Hal ini dikarenakan aspek-aspek work study conflict seperti:

time based conflict dan strain based conflict lebih konkrit dan

sesuai dengan tujuan penelitian.

3. Faktor yang mempengaruhi Work Study Conflict


Markel dan Frone (1998) menggunakan dasar dari work study

conflict terdapat 3 hal yang mempengaruhinya. Hal tersebut

adalah :

A. Jam Kerja

Jam kerja dapat mempengaruhi seseorang secara psikologis

maupun fisiologis. Seseorang yang bekerja dengan lembur terlalu

sering berisiko pada kesehatannya dibandingkan yang bekerja

sesuai porsi jam kerjanya. Beberapa penelitian menyebutkan

bahwa jam kerja yang efektif dapat dilakukan dengan pergantian

shift, namun hal ini tentu ada dampaknya pada sikap kerja.

Memberlakukan shift kerja terkadang membuat karyawan

menjadi bingung untuk mengatur waktu antara kehidupan

pekerjaan dan sosial pribadinya dikarenakan jam kerja yang tidak

teratur (Cartwright & Cooper, 1997).

Jam kerja mempresentasikan prediktor berbasis waktu pada

inter-role conflict (Frone, dkk, 1997; Greenhaus & Beutell, 1985;

Markel & Frone, 1998). Hal tersebut disebabkan waktu yang

memiliki jumlah terbatas dengan mengindikasikan konflik yang

muncul karena adanya kekurangan waktu pada pemenuhan tugas


peran lainnya. Markel dan Frone memberikan hipotesis bahwa

jumlah jam kerja per-minggu secara positif berkolerasi terhadap

work study conflict.

B. Ketidakpuasan Kerja

Kepuasan kerja merujuk pada sikap umum seseorang terhadap

pekerjaan. Seseorang dengan kepuasan kerja tinggi biasanya

memiliki sikap positif terhadap pekerjaan orang tersebut,

sementara bagi yang tidak puas dengan pekerjaan yang dijalani

akan mememperlihatkan sikap negatif (Robbins, 2003). Markel &

Frone (1998) menyebutkan bahwa ketidakpuasan emosional yang

berhubungan dengan pekerjaan kemungkinan dapat melemahkan

peran yang lain. Mereka juga berpendapat bahwa seseorang yang

mengalami ketidakpuasan pekerjaan cenderung memiliki tingkat

work study conflict yang tinggi.

C. Beban Kerja

Kerja yang berlebihan maupun kekurangan memberikan

dampak yang kurang baik terhadap pekerja secara psikis dan fisik.

Hal tersebut disebabkan oleh pekerja yang tidak dapat mengatur

pola kerja secara individu. Tugas yang terlalu banyak pasti akan
menguras secara tenaga, emosi, maupun pikiran. Namun,

kekurangan pekerjaan juga akan membuat seseorang merasakan

krisis pekerjaan (Cartwright & Copper, 1997).

Tingkat beban kerja yang tinggi mencerminkan situasi dimana

individu memiliki banyak hal yang harus diselesaikan dalam

suatu waktu. Konsekuensi dari hal tersebut seseorang dapat

merasa tenggelam pada tugas yang tidak terselesaikan dengan

baik sehingga mengabaikan pula tugas pada peran yang lain.

Dari penjabaran diatas disimpulkan bahwa work study conflict

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jam kerja, ketidakpuasan

kerja, dan beban kerja. Mengkaji faktor-faktor yang

mempengaruhi work study conflict di atas, peneliti memilih faktor

kepuasan kerja sebagai variabel bebas yang memiliki keterikatan

dengan work study conflict. Oleh karena itu, pemilihan variabel

bebas mengacu pada penjabaran diatas.

4. Work Study Conflict Pada Mahasiswa Pekerja Fulltime

Mahasiswa merupakan seorang pelajar yang sedang menjalani

pendidikan di jenjang perguruan tinggi seperti akademi,

politeknik, institusi, dan universitas (Hartaji, 2012). Mahasiswa


dapat dikategorikan dalam tahap perkembangan dengan usia

18-25 tahun yang tergolong sebagai remaja akhir dan dewasa

awal yang mana diusia tersebut, mahasiswa diharapkan sudah

melakukan pemantapan diri (Yusuf, 2012). Menurut Siswoyo

(2007) Mahasiswa adalah seseorang yang menuntut ilmu di

perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri atau swasta,

maupun lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi.

Dilansir dari Indeed, fulltime artinya sistem kerja dengan

jumlah jam kerja sebanyak 40 jam dalam satu minggu untuk 5

hari kerja. Maka, mahasiswa pekerja fulltime adalah mahasiswa

yang bekerja dengan 40 jam kerja setiap minggunya. Dengan jam

kerja yang cukup padat seringnya menimbulkan beban yang

berujung konflik pada perkuliahan.

Konflik yang sering terjadi adalah work study conflict. Work

study conflict didefinisikan sebagai pekerjaan yang menganggu

kemampuan karyawan sebagai mahasiswa untuk memenuhi

kebutuhan tanggung jawab serta tuntutan dalam pendidikan

(Andrade, 2018). Purwanto, Nurhasan, dan Iskandar (2013)

menyatakan bahwa mahasiswa pekerja fulltime memiliki tingkat


kelelahan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak

bekerja. Dampak negatif lainnya seperti kehilangan waktu belajar,

tidak sempat mengerjakan tugas, terganggunya kesehatan, dan

rentan mengalami stres (Purnama, 2017).

B. Kepuasan Kerja

1. Pengertian Kepuasan Kerja

Baron dan Grenberg (1990) menyatakan bahwa kepuasan

kerja merupakan sikap atau pandangan positif dan negatif seorang

karyawan terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan

hasil dari persepsi kerja tentang seberapa baik suatu pekerjaan

bisa memfasilitasi karyawannya dan dianggap penting (Luthans,

2005).

Menurut David dan Newstorm (1985), kepuasan kerja adalah

perasaan pekerja tentang seberapa menyenangkan ataupun tidak

menyenangkannya suatu pekerjaan. Adapun yang menyebutkan

bahwa kepuasan kerja merupakan efektivitas atau respon emosi

terhadap aspek-aspek yang ada dalam sebuah pekerjaan (Kreitner

& Kinicki, 2001). Menurut pendapat Robbins (2003)

menganggap bahwa kepuasan kerja adalah sebuah bentuk sikap


yang bersifat umum terhadap pekerjaan, dimana sikap ini

menunjukkan perbandingan antara jumlah penghargaan yang

telah diterima dengan keyakinan para karyawan terhadap jumlah

yang seharusnya mereka terima. Senada dengan Richard, Robert,

dan Gordon (2012 : 312) menegaskan bahwa kepuasan kerja

berhubungan dengan sikap dan perasaan seseorang mengenai

pekerjaan itu sendiri, gaji, kesempatan promosi, pendidikan,

pengawasan kerja, rekan kerja, beban kerja, dan lain-lain.

Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa

kepuasan kerja merupakan sikap dan persepsi seorang pekerja

atau karyawan terhadap tempat atau ekosistem karyawan tersebut

bekerja dan tentunya akan berpengaruh terhadap dinamika sebuah

organisasi.

2. Aspek Kepuasan Kerja

Luthans (2005) mengatakan bahwa terdapat 5 aspek kepuasan

kerja yang diidentifikasi sebagai karakteristik yang sangat

penting dalam suatu pekerjaan, dimana pekerjaan juga merespon

secara afektif hal-hal tersebut :


A. The work itself (Pekerjaan Itu Sendiri) adalah sebuah

ukuran seberapa jauhnya pekerjaan bisa memberi seorang

karyawan tugas atau pekerjaan yang dianggap menyenangkan,

memberi peluang untuk belajar, dan memberi kesempatan

untuk seseorang dapat bertanggungjawab.

B. Pay (Upah) merupakan jumlah upah finansial yang

diterima dan dipandang adil jika dibandingkan dengan apa

yang telah diterima oleh karyawan lain dalam sebuah

organisasi atau perusahaan.

C. Promotion Opportunities (Peluang Mendapatkan

kesempatan dipromosikan) merupakan kesempatan bagi

seorang karyawan untuk mendapat posisi atau jabatan yang

lebih baik pada hirarki sebuah perusahaan atau organisasi

berdasarkan kemampuan dan senioritas.

D. Supervision (Penyeliaan/Supervisi) hal ini berkaitan

dengan kemampuan atasan untuk memberi bantuan secara

teknis dan dukungan perilaku kepada bawahannya, sehingga

bawahannya merasa nyaman dan bisa bekerja dengan lebih

baik karena adanya dukungan moril.


E. Coworkers (Rekan kerja) ini merupakan tingkatan dimana

rekan kerja dirasa mahir secara teknis dan mendukung dalam

hal sosial.

Menurut Spector (2012), dalam mengukur kepuasan kerja dapat

dilakukan dengan aspek-aspek di bawah ini:

A. Gaji

Gaji yang diterima oleh karyawan sebagai bentuk

penghargaan dari perusahaan atas kontribusi yang

diberikan oleh karyawan.

B. Promosi

Promosi merupakan salah satu bentuk kejelasan terkait

jenjang karir karyawan. Ketika kesempatan promosi terbuka

lebar, maka produktivitas karyawan juga akan semakin tinggi

karena mereka akan menunjukkan potensi terbaik.

C. Atasan

Atasan memiliki kontribusi terhadap kepuasan kerja

karyawan. Ketika hubungan fungsional atasan dengan

karyawan terjalin dengan baik, maka kepuasan kerja juga

meningkat.

D. Tunjangan
Sejauh mana perusahaan dapat memberikan kompensasi di

luar gaji pokok kepada karyawan yang bertujuan untuk

memotivasi atau mempertahankan kinerja karyawan agar

produktivitas yang dihasilkan selalu maksimal.

E. Imbalan Non-Materiil

Kepuasan terhadap upah atau imbalan (tidak dalam bentuk

uang) diberikan bagi kinerja karyawan yang dianggap bagus.

Imbalan ini dapat berupa liburan gratis ke luar negeri yang

difasilitasi oleh perusahaan atau dapat juga berupa barang

maupun pelatihan soft skill secara gratis.

F. Kondisi Kerja

Kondisi pekerjaan dapat berupa jam kerja, temperatur,

perlengkapan kantor serta lokasi pekerjaan.

G. Rekan Kerja

Rekan kerja dibutuhkan untuk mendukung iklim pekerjaan

menjadi lebih positif. Hal ini penting karena setiap individu

pasti berinteraksi satu sama lain, maka perlu memiliki rekan

kerja yang ramah dan mendukung pekerjaan.

H. Sifat Pekerjaan
Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu

sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tingkat kesulitan

suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya

dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan

berpengaruh pada peningkatan/penurunan kepuasan kerja.

I. Komunikasi

Komunikasi yang efektif dapat mengurangi timbulnya konflik

di dalam sebuah organisasi.

Dari penjabaran dua teori diatas dapat disimpulkan bahwa

aspek-aspek kepuasan kerja menurut Luthans (2005) adalah the

work itself, pay, promotion opportunities, supervision, coworkers.

Sementara untuk aspek-aspek Spector (2012) adalah gaji,

promosi, atasan, tunjangan, imbalan non-materiil, kondisi kerja,

rekan kerja, sifat pekerjaan, dan komunikasi. Dari aspek yang

disampaikan oleh kedua ahli tersebut, peneliti memilih

menggunakan aspek-aspek Luthans (2005) sebagai dasar

penyusunan teori alat ukur. Hal ini dikarenakan aspek-aspek

kepuasan kerja seperti: the work itself, pay, promotion

opportunities, supervision, coworkers lebih konkrit dan sesuai

dengan aspek kepuasan kerja mahasiswa pekerja fulltime.


C. Dinamika Antara Kepuasan Kerja dan Work Study

Conflict

Kepuasan kerja yang merupakan sebuah persepsi seseorang

terhadap pekerjaannya pasti akan memberi pandangan yang

berbeda-beda di setiap individunya. Hasil dari persepsi tersebut

dapat berupa pandangan yang positif maupun pandangan negatif.

Pandangan positif akan memunculkan kepuasan kerja yang tinggi

dengan berdampak pada kenaikan produktivitas dan prestasi kerja

seseorang (Handoko, 1993). Berbanding terbalik dengan

pandangan negatif menghasilkan kepuasan kerja rendah dengan

terjadinya penurunan produktivitas dan cenderung merasakan

stres (Strauss & Sayles, 1981).

Dalam dimensi kepuasan kerja, terdapat dimensi the work it

self yang mengacu pada seberapa menyenangkannya sebuah

pekerjaan yang apabila hal ini memberikan perasaan yang positif

pada mahasiswa tersebut, maka mahasiswa akan menjalankan

pendidikannya dengan baik juga. Dimensi pay dapat memberi

dukungan finansial kepada mahasiswa untuk mendukung

pendidikan mahasiswa tersebut. Supervision adalah bentuk dari

suportivitas atasan untuk memberikan motivasi kepada pekerja


sehingga mahasiswa pekerja tersebut tidak merasa mendapat

tekanan dari pekerjaan dan mampu melaksanakan tanggungjawab

dalam perkuliahan. Sedangkan co-workers merupakan dukungan

sosial dari rekan kerja yang membuat suasana kerja terasa

menyenangkan sehingga meninggalkan perasaan positif setelah

bekerja dan dapat tersalurkan saat melanjutkan peran menjadi

mahasiswa.

Hal yang dapat melemahkan kemampuan peran saat menjadi

mahasiswa adalah ketidakpuasan emosional terhadap pekerjaan.

Seseorang merasa tidak puas dalam menjalankan pekerjaannya

akan merasa terganggu ketika menjalankan peran yang lain

seperti peran mahasiswa (Markel & Frone, 1998). Selain itu,

apabila yang terjadi adalah mahasiswa tersebut merasa puas pada

pekerjaan yang dijalani, maka secara prestasi akademik

cenderung akan mengalami peningkatan (Widyaningtyas &

Darminto, 2013).

Bekerja fulltime tentu jauh lebih membantu secara posisi

keuangan mahasiswa memenuhi kebutuhan pendidikan yang naik

setiap tahun. Bekerja fulltime perlu dijalani sebaik mungkin agar

tidak memberatkan peran sebagai mahasiswa. Park dan Sprung


(2013) menyebutkan bahwa tuntutan pekerjaan dapat menguras

kapasitas kognitif, emosi, dan fisik mahasiswa. Oleh karena itu,

diperlukan banyak hal positif agar mahasiswa mampu

menghadapi kedua peran yang dijalani dengan sama baiknya.

Ketika seorang mahasiswa pekerja fulltime merasakan

kepuasan kerja yang tinggi, maka mereka akan menjadi lebih

produktif dalam menjalani peran sebagai mahasiswa. Jika mereka

tidak memiliki kepuasan kerja yang tinggi, kemungkinan kedua

peran ini memberatkan lebih besar sehingga timbul masalah

dimana bekerja sambil berkuliah justru menjadi beban. Masalah

ini merupakan konflik antar peran yang dialami seorang

mahasiswa pekerja yang biasa disebut sebagai work study conflict.

Maka, variabel kepuasan kerja dianggap memberikan pengaruh

terhadap work study conflict yang terjadi pada mahasiswa pekerja

fulltime.

Berikut skema yang dapat menggambarkan hubungan antara

kepuasan kerja dan work study conflict pada mahasiswa pekerja

fulltime di Yogyakarta :

Gambar 1
Interaksi kepuasan kerja dan work study conflict

Kepuasan Kerja

Tinggi Rendah

Memiliki perasaan Melemahkan


yang positif kesediaan untuk
sehingga lebih menjalani peran
proiduktif dan dapat lainnya, merasa
memaksimalkan tertekan
peran lainnya

Kepuasan Kepuasan
kerja kerja tidak
terpenuhi terpenuhi

Work study Work study


conflict conflict
rendah tinggi

D. Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir yang telah

dipaparkan di atas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :


Terdapat hubungan negatif signifikan antara kepuasan kerja dan

work study conflict. Semakin tinggi kepuasan rendah, maka

semakin rendah work study conflict. Semakin rendah kepuasan

kerja, maka semakin tinggi work study conflict.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional

1. Variabel

Variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah :

A. Variabel Bebas : Kepuasan kerja

B. Variabel Tergantung : Work study conflict

2. Definisi Operasional

Adapun definisi operasional dari variabel diatas ialah, yaitu :

A. Work Study Conflict

Work study conflict merupakan konflik antara peran yang

dirasakan oleh remaja akhir karena adanya tuntutan peran

sebagai mahasiswa dan pekerja. Work study conflict

difokuskan pada dinamika dalam bekerja mengganggu

dinamika seorang mahasiswa dalam pendidikan.

Semakin tinggi skor maka semakin tinggi pula work study

conflict. Ketika skor yang didapatkan rendah, maka semakin


rendah pula tingkat work study conflict yang terjadi. Work

study conflict diukur berdasarkan aspek yang dikemukakan

oleh Greenhaus dan Beutell (dalam Octavia dan Nugraha,

2013) yaitu time based conflict dan strain based conflict.

B. Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja merupakan pandangan positif maupun

negatif seorang karyawan terhadap pekerjaan yang dihadapi

dalam keseharian. Ketika seseorang yang memiliki kepuasan

kerja tinggi maka karyawan tersebut dapat melihat pekerjaan

secara positif. Namun, apabila yang terjadi adalah kepuasan

kerja rendah maka karyawan tersebut cenderung

berpandangan negatif.

Hal ini tentu akan mempengaruhi dinamika bekerja dan

berorganisasi. Semakin tinggi skor maka semakin tinggi

kepuasan kerja, selaras dengan ketika skor yang didapatkan

rendah maka semakin rendah pula tingkat kepuasan kerja

karyawan. Atribut yang digunakan berdasarkan aspek

kepuasan kerja yang diungkapkan oleh Luthans (2005) yaitu


the work itself, pay, promotion, opportunities, supervision,

dan coworkers.

B. Subyek Penelitian

Karakteristik subyek pada penelitian ini, antara lain :

1. Mahasiswa semester 2-8

Subyek merupakan mahasiswa aktif di sebuah universitas atau

institusi sederajat dengan ketentuan subyek mengambil mata

kuliah pada semester 2-8. Alasan memilih subyek karena

dasar penelitian merupakan mahasiswa pekerja fulltime.

Rentang semester 2-8 dikarenakan pada semester tersebut

mahasiswa sudah menjalani perkualiahan aktif selama

beberapa bulan.

2. Rentang usia 18-25 Tahun

Subyek penelitian termasuk dalam masa perkembangan

remaja akhir hingga dewasa awal karena pada umumnya

mahasiswa strata I adalah mahasiswa yang berumur pada

dewasa awal.

3. Bekerja fulltime minimal 3 bulan


Subyek sedang bekerja fulltime di sebuah bidang usaha,

instansi, maupun perusahaan dengan kualifikasi minimal

sedang menempuh masa kerja selama lebih dari 6 bulan.

Ketentuan tersebut menjadi alasan pemilihan subyek karena

dianggap sudah melewati masa probation dan telah mendapat

porsi kerja sesuai dengan posisinya sehingga merasakan

dinamika kuliah sambil bekerja serta bagaimana konflik

yang terjadi antara kedua peran tersebut.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data bersifat kuantitatif dengan

menggunakan statistik sebagai cara menguji hipotesis yang telah

ditetapkan. Hipotesis yang diajukan adalah korelasi untuk

mengetahui hubungan antar variabel dan seberapa kuat hubungan

tersebut (Supardi, 2013). Penelitian ini dilakukan dengan

menyebarkan skala likert.

Skala likert menggunakan 4 pilihan respon yaitu : “Sangat

Sesuai”, “Sesuai”, “Tidak Sesuai”, “Sangat Tidak Sesuai”. Tiap

respon diberikan skor 1. Skala ini tidak menggunakan pilihan

netral untuk menghindari kecenderungan subjek ragu dalam


memilih pilihan tersebut (Supratiknya, 2014). Skala dalam

penelitian ini adalah skala kepuasan kerja dan work study conflict.

1. Skala Kepuasan Kerja

Alat ukur pada kepuasan kerja mengacu berdasarkan

aspek-aspek kepuasan kerja yang dikemukakan Luthans

(2005) sebagai berikut :

F. The work itself (Pekerjaan Itu Sendiri) adalah sebuah

ukuran seberapa jauhnya pekerjaan bisa memberi seorang

karyawan tugas atau pekerjaan yang dianggap menyenangkan,

memberi peluang untuk belajar, dan memberi kesempatan

untuk seseorang dapat bertanggungjawab.

G. Pay (Upah) merupakan jumlah upah finansial yang

diterima dan dipandang adil jika dibandingkan dengan apa

yang telah diterima oleh karyawan lain dalam sebuah

organisasi atau perusahaan.

H. Promotion Opportunities (Peluang Mendapatkan

kesempatan dipromosikan) merupakan kesempatan bagi

seorang karyawan untuk mendapat posisi atau jabatan yang


lebih baik pada hirarki sebuah perusahaan atau organisasi

berdasarkan kemampuan dan senioritas.

I. Supervision (Penyeliaan/Supervisi) hal ini berkaitan

dengan kemampuan atasan untuk memberi bantuan secara

teknis dan dukungan perilaku kepada bawahannya, sehingga

bawahannya merasa nyaman dan bisa bekerja dengan lebih

baik karena adanya dukungan moril.

J. Coworkers (Rekan kerja) ini merupakan tingkatan dimana

rekan kerja dirasa mahir secara teknis dan mendukung dalam

hal sosial.

Skala ini dibuat menggunakan skala likert dengan 4

pilihan respons yaitu : Sangat Puas (SP), Puas (P), Tidak

Puas (TP), Sangat Tidak Puas (STP). Skala ini disusun

sesuai dengan dimensi kepuasan kerja yaitu, the work

itself, pay, promotion opportunities, supervision, dan

coworkers.

Tabel 1

Penentuan Item Skala Kepuasan Kerja


RESPON FAVORABLE

Sangat Puas 4

Puas 3

Tidak Puas 2

Sangat Tidak Puas 1

Tabel 2

Blueprint Skala Kepuasan Kerja (Sebelum dianalisis dan seleksi

aitem)

DIMENSI FAVORABLE TOTAL

The Work Itself 6 6

Pay 6 6

Promotion 6 6

Opportunities

Supervision 6 6

Coworkers 6 6
TOTAL 30 aitem (100%) 30 aitem (100%)

2. Skala Work Study Conflict

Alat ukur untuk variabel ini, diukur dengan skala yang

telah dimodifikasi dari Octavia dan Nugraha (2013) dengan

mengacu pada teori Greenhaus & Beutell (dalam FU &

Shaffer, 2001) sebagai berikut.

C. Time Based Conflict

Konflik berdasarkan waktu atau time based conflict ini

muncul berdasarkan tuntutan waktu yang timbul pada satu

peran tidak kompatibel dengan peran lainnya.

D. Strain Based Conflict

Tekanan yang dirasakan pada satu peran yang mengganggu

jalannya peran lainnya sehingga menimbulkan strain based

conflict atau konflik berdasarkan tekanan.

Bentuk skala yang digunakan adalah skala likert dengan 4

pilihan respon yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak

Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).


Tabel 3

Penentuan aitem pada skala Work Study Conflict

RESPON FAVORABLE UNFAVORABLE

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

Tabel 4

Blueprint skala Work Study Conflict (Sebelum dianalisis)

DIMENSI FAVORABLE UNFAVORABLE TOTAL

Time Based 6 6 12

Conflict

Strain Based 9 7 6

Conflict

TOTAL 15 aitem 13 aitem (47%) 28 aitem

(53%) (100%)
E. Metode Analisis Data

Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan aplikasi

IBM SPSS v22 dengan teknik korelasi Product Moment Pearson

untuk menguji hubungan korelasi antara kepuasan kerja (X) dan

work study conflict (Y).


DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi, W.F. (2015) “The Reason Behind Being a

Student-Worker” diunduh dari

[Link] :[Link]

tripratiwi/550ee2fa8133111332bc609f/the-reasons-behind

-being-a-studentworker

Nurfitria, Y., & Masykur, A.M. (2016). Hubungan Antara Work

Study Conflict dengan Work Engagement Pada pegawai

starbucks Semarang. Jurnal Empati, 5(4), 765-769.

Muchlas, M. (2008). Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Gadjah

Mada University Press.

Vickers, M. (2003). Student Workers in High School and

Beyond: The Effect Of Part time Employment

Participation in Education, Training and Work. Australia:

Australian Council Of Education Research.

Markel K. S., & Frone, M. R. (1998). Job Characteristic,


Work-School Conflict, and School Outcomes among

adolescents: Testing a Structural Model, Journal Of

Applied Psychology, 83 (2), 277-287.

Octavia, E., & Nugraha, S. P. (2013). Hubungan Antara Adversity

Quotient dan Work Study Conflict Pada Mahasiswa Yang

Bekerja. Jurnal Psikologi Integratif, 1(1), 44-51.

Mardelina, E., & Muhson, A. (2017). Mahasiswa Bekerja dan

Dampaknya Pada Aktivitas Belajar dan Prestasi Akademik.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Park, Y. & Sprung, J. M. (2013). Work-school Conflict and

Health Outcomes: Beneficial Resources For Working

College Students. Journal Of Occupational Health

Psychology, 18(4), 384-394.


Widyaningtyas, A. P., & Darminto, E. (2013). Hubungan Antara

Kepuasan Kerja Dan Motivasi Berprestasi Pada

Mahasiswa Yang Bekerja Paruh Waktu. Character, 1(2).

Erdamar, G., & Demirel, H. (2016). Job And Life Satisfaction Of

Teachers And The Conflict They Experience At Work

And At Home. Journal Of Education And Training Studies,

4(6), 164-175.

Luthans, F. (2005). Organizational Behaviour. Newyork:

McGraw Hill, Inc.

Do, A. (2016) Understanding Psychological Distress, Job

Satisfaction, And Academic Performance In College

Student. California: California State University Stanislaus.


Laughman, C., Bond, E., M. & Rusbasan, D. (2016). Burnout As

Mediator Between Work-School Conflict And Work

Outcomes. Journal Of Career Development, 1-13.

Lui S. S., Ngo, H, Y., & Tsang, A, W., N. (2001). Interrole

Conflict as A Predictor Of Job Satisfaction And

Propensity To Leave. Journal Of Management Psychology,

16(6), 469-484.

Mills, A., McLaughlin, P., & Lingard, H. (2007). A Model Of The

Conflict Between Student Work And Study. RMIT

University: Melbourne Victoria Australia.

Owen, M, S., Kavanagh, P, S., & Dollard, M, F. (2017). An

Integrated Model Of Work-Study Conflict And Work

Facilitation. Journal Of Career Development, 45(5).


Cartwright, S., & Cooper, C., L. (1997). Managing Workplace

Stress. USA: Sage Publication.

Robbins, S., P. (2003). Organizational Behaviour (10th Ed). San

Diego: Prentice Hall.

Hartaji, D., A. (2012). Motivasi Berprestasi Pada Mahasiswa

Yang Berkuliah Dengan Jurusan Pilihan Orangtua.

Universitas Gunadarma: Jurusan Psikologi.

Siswoyo. (2007). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Purwanto, H., Nurhasan, S., & Iskandar, G, R. (2013). Perbedaan

Hasil Belajar Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan

Jurusan Teknik Sipil FT-UNP. Jurnal CIVED, 1(1), 34-42.


Purnama, A. (2017). Dampak Buruk Yang Akan Dirasakan Jika

Kuliah Sambil Kerja. Diunduh dari [Link]:

[Link]

-Dirasakan-Jika-Kuliah-Sambil-Bekerja, 8 Januari 2023

Baron, P., & Anastasiadou, C. (2009). Student Part-time

Employment: Implications, Challenge and opportunities

For Higher Education. International Journal Of

Contemporary Hospitality Management.

Strauss, G., & Sayles, L, R. (1981). Managing Human Resource.

Michigan: Prentice Hall.

Kreitner, R., & Kinicki, A. (2001). Organizational Behaviour,

Fifth Edition, International Edition. Boston: Mc-Graw

Hill Companies Inc.

Anda mungkin juga menyukai