MAKALAH
MODEL
PENGEMBANGAN
FOUR D
(DEFINE, DESIGN, DEVELOP, DISSEMINATE)
Disusun oleh :
DEYSI REGINA IBRAHIM
HARDIMAN AMIN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI S2 PENDIDIKAN FISIKA
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang.
Dengan segala kelimpahan nikmatNya, rahmatNya, hidayahNya dan inayahNya,
sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Penyusunan makalah ini dengan segenap usaha dan ketekunan penulis.
Tidak hanya itu, tetapi dengan bantuan berbagai pihak dari sekolah sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan
jazakumullah khairan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan makalah ini.
Kami sadar bahwasanya didalam makalah ini masih terdapat kekurangan
baik dari segi susunan kalimat dan tata bahasanya. Karena itu, dengan hati yang
terbuka kami siap menerimanya segala saran dan kritikan dari para pembaca
supaya kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata, kami berharap semoga adanya makalah tentang “Model
Pengembangan Four-D” dapat memberikan pengetahuan yang lebih dari pembaca.
Gorontalo, Maret 2023
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mengajar diartikan sebagai tugas utama seorang pendidik (misalnya guru,
dosen, tutor, instruktur, widyaiswara). Pendidik yang kreatif akan selalu
menciptakan ide-ide dalam merancang sistem pembelajaran baru yang
mampu membuat peserta didik dapat mencapai tujuan belajarnya dengan
penuh rasa tanggung jawab. Untuk memperoleh sistem pembelajaran baru
tersebut diperlukan metode penelitian dan pengembangan system pembelajaran.
Metode pengembangan sistem pembelajaran tidak jauh berbeda dengan metode
pengembangan produk lainnya. Prosedur pengembangan lebih singkat karena
produk yang dihasilkan tidak terlalu beresiko dan dampak sistem terbatas pada
peserta didik yang menjadi sasaran.
Pembelajaran di sekolah saat ini perlu dikembangkan untuk meningkatkan
kualitas dan mutu bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik. Hal ini
dapat dilakukan oleh guru dengan tetap mengacu pada standar yang telah
ditetapkan pemerintah. Pembelajaran yang baik dan menarik akan meningkatkan
minat siswa dalam belajar sehingga dapat memperbaiki prestasi siswa.
Untuk mempermudah dalam mengembangkan bahan ajar yang
sesuai dengan kebutuhan siswa, terlebih dahulu perlu diketahui faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi berhasilnya proses pembelajaran. Faktor tersebut antara
lain kualifikasi guru yang kurang kompeten, suasana belajar yang kurang
1
kondusif, penerapan strategi dan model pembelajaran yang kurang sesuai ataupun
sumber belajar yang terbatas.
Diketahui saat ini, sebagian besar keadaan pembelajaran di sekolah-
sekolah kita masih sangat konvensional, seperti penyampaian materi
hanya diceramahkan, penyusunan materi yang sekedarnya atau materi
hanya bersumber dari buku-buku teks yang belum tentu sesuai dengan
keadaan sekolahnya, padahal buku-buku teks yang banyak beredar saat
ini adalah produk nasional yang tidak memperhatikan karakteristik tiap
satuan pendidikan seperti yang dinginkan kurikulum saat ini, yaitu kurikulum
2013.
Bahan Pembelajaran merupakan komponen isi pesan dalam kurikulum
yang harus disampaikan kepada siswa. Komponen ini memiliki bentuk pesan yang
beragam, ada yang berbentuk fakta, konsep, prisnsip/kaidah, prosedur, problema,
dan sebagainya. Komponen ini berperan sebagai isi atau materi yang
harus dikuasai oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Ruang lingkup materi
pembelajaran telah tersusun secara sistematis dalam struktur organisasi kurikulum
dalam hal ini adalah standar isi. Sifat materi yang tersusun dalam standar isi
hanya bersifat pokok-pokok materi, maka untuk kelancaran dalam pelaksanaan
pembelajaran, materi pembelajaran perlu dikembangkan terlebih dahulu
dengan cara melengkapinya dalam bentuk bahan pembelajaran yang utuh.
Pada saat pembelajaran akan dilaksanakan, hendaknya seorang tenaga
pendidik yang profesional harus memahami karakteristik ini pesan pembelajaran
yang akan disampaikan, agar tidak salah dalam memilih bahan pembelajaran yang
2
akan digunakan. Masalah pendidikan telah ada setua dengan pendidikan dan
manusia itu sendiri. Berbagai upaya dilakukan untuk memecahkannya dan
menjadikan pendidikan berjalan efektif dan efisien.
Pengembangan perangkat pembelajaran adalah suatu proses untuk
menentukan atau menciptakan suatu kondisi tertentu yang menyebabkan siswa
dapat berinteraksi sedemikian sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Dalam
pengembangan perangkat pembelajaran diperlukan suatu model pengembangan
yang sesuai dengan sistem pendidikan. Salah satu model yang sesuai untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran adalah model pembelajaran 4-D.
Model pengembangan perangkat yaitu model 4-D disarankan oleh Thiagarajan,
Semmel, dan Semmel (1974). Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan,
yaitu define, design, develop, dan desseminate atau diadaptasi menjadi model 4-P
yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pengembangan
Istilah model mempunyai banyak pengertian. Model dapat diartikan
sebagai penyederhanaan (simplifikasi) sesuatu yang kompleks agar mudah
dipahami. Model dapat pula diartikan sebagai representasi grafik untuk
menggambarkan sesuatu kehidupan nyata atau seperti yang diharapkan. “A model
is a simplified abstract view of a complex reality or concept. A model is a
graphic analog representing a real-life situation either as it it or as it should
be” (AECT, 1977:16). Model dapat pula diartikan sebagai seperangkat langkah
atau prosedur secara urut dalam mengerjakan suatu tugas (Gafur, 2012).
Model dapat berupa deskripsi verbal (model deskripsi konseptual),
dapatpula berupa deskripsi visual dalam bentuk diagram, gambar, bagan arus
(flowchart) yang menggambarkan suatu proses secara berturut-turut dalam
menyelesaikan suatu tugas (model prosedural). Kesemuanya merepresentasikan
suatu proses. Setelah memahami pengertian suatu model, berikutnya akan
dibahas dimaksud dengan model desain pembelajaran (instructional design
model). Model desain pembelajaran pertama-tama dapat didefinisikan sebagai
deskripsi verbal tentang langkah-langkah secara urut yang dilakukan dalam
menyususn desain pembelajaran.
Tahap penelitian dan pengembangan sistem pembelajaran dapat dianalisis
dari serangkaian tugas pendidik dalam menjalankan tugas pokoknya yaitu mulai
4
dari merancang, melaksanakan sampai dengan mengevaluasi pembelajaran.
Sistem pembelajaran yang dikembangkan bermakna luas, karena sistem terdiri
dari komponen input, proses, dan output. Komponen input pembelajaran terdiri
dari karakteristik peserta didik, karakteristik guru, dan sarana prasarana dan
perangkat pendukung pembelajaran. Komponen proses menitikberatkan pada
strategi, model dan metode pembelajaran. Komponen output berupa hasil dan
dampak pembelajaran. Model penelitian dan pengembangan sistem pembelajaran
dapat memilih salah satu kompone sistem namun dalam penerapannya harus
mempertimbangkan komponen sistem yang lain.
Model pengembangan diartikan sebagai proses desain konseptual
dalam upaya peningkatan fungsi dari model yang telah ada sebelumnya, melalui
penambahan komponen pembelajaran yang dianggap dapat meningkatkan
kualitas pencapaian tujuan. Model 4-D merupakan model pengembangan yang
terdiri dari empat tahap pengembangan yaitu define, design, develop, dan
desseminate atau dapat diartikan sebagai tahap pendefinisian, perancangan,
pengembangan, dan penyebaran (Trianto, 2009).
B. Model Pengembangan 4-D
Model pengembangan perangkat Four-D (4D Models) disarankan oleh
Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel
(1974). Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define, Design,
Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan menjadi model 4-D, yaitu
5
pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Model 4-D dapat
digambarkan dengan diagram alur sebagai berikut:
1. Tahap Define (Pendefenisian)
Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-
syarat pembelajaran. Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu
analisis ujung depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis),
analisis tugas (task analysis), analisis konsep (concept analysis) dan perumusan
tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).
6
a. Analisis Ujung Depan (front-end analysis)
Menurut Thiagarajan dkk (1974), analisis ujung depan bertujuan
untuk memunculkan dan menetapkan masalah dasar yang dihadapi dalam
pembelajaran, sehingga diperlukan suatu pengembangan bahan ajar. Dengan
analisis ini akan didapatkan gambaran fakta, harapan dan alternatif
penyelesaian masalah dasar, yang memudahkan dalam penentuan atau
pemilihan bahan ajar yang dikembangkan.
Analisis ujung depan diawali dari pengetahuan, keterampilan, dan
sikap awal yang dimiliki siswa untuk mencapai tujuan akhir yaitu tujuan
yang tercantum dalam kurikulum. Kesenjangan antara hal-hal yang sudah
diketahui siswa dengan apa yang seharusnya akan dicapai siswa memerlukan
telaah kebutuhan (needs) akan materi sebagai penutup kesenjangan tersebut.
Pada tahap ini, guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pembelajaran.
b. Analisis Peserta Didik (learner analysis)
Menurut Thiagarajan dkk (1974), analisis siswa merupakan telaah
tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan desain pengembangan
perangkat pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan
akademik (pengetahuan), perkembangan kognitif, serta keterampilan-keterampilan
individu atau sosial yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format dan
bahasa yang dipilih. Analisis siswa dilakukan untuk mendapatkan gambaran
karakteristik siswa, antara lain: (1) tingkat kemampuan atau perkembangan
7
intelektualnya, (2) keterampilan-keterampilan individu atau sosial yang sudah
dimiliki dan dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
ditetapkan.
c. Analisis Tugas (task analysis)
Analisis tugas menurut Thiagarajan dkk (1974), bertujuan untuk
mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang akan dikaji oleh
peneliti dan menganalisisnya kedalam himpunan keterampilan tambahan yang
mungkin diperlukan. Analisis ini memastikan ulasan yang menyeluruh tentang
tugas dalam materi pembelajaran.
d. Analisis Konsep (concept analysis)
Analisis konsep menurut Thiagarajan dkk (1974), dilakukan untuk
mengidentifikasi konsep pokok yang akan diajarkan, menyusunnya dalam bentuk
hirarki, dan merinci konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan
yang tidak relevan. Analisis membantu mengidentifikasi kemungkinan contoh
dan bukan contoh untuk digambarkan dalam mengantar proses pengembangan.
Analisis konsep sangat diperlukan guna mengidentifikasi pengetahuan-
pengetahuan deklaratif atau prosedural pada materi yang akan dikembangkan.
Analisis konsep merupakan satu langkah penting untuk memenuhi prinsip
kecukupan dalam membangun konsep atas materi-materi yang digunakan sebagai
sarana pencapaian kompetensi dasar dan standar kompetensi. Mendukung analisis
konsep ini, analisis-analisis yang perlu dilakukan adalah (1) analisis standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang bertujuan untuk menentukan jumlah
8
dan jenis bahan ajar, (2) analisis sumber belajar, yakni mengumpulkan dan
mengidentifikasi sumber-sumber mana yang mendukung penyusunan bahan ajar.
e. Perumusan Tujuan Pembelajaran (specifying instructional objectives).
Perumusan tujuan pembelajaran menurut Thiagarajan dkk (1974), berguna
untuk merangkum hasil dari analisis konsep dan analisis tugas untuk menentukan
perilaku objek penelitian. Kumpulan objek tersebut menjadi dasar untuk
menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran yang kemudian di
integrasikan ke dalam materi perangkat pembelajaran yang akan digunakan
oleh peneliti.
Dalam konteks pengembangan bahan ajar (modul, buku, LKS), tahap
pendefinisian dilakukan dengan cara:
1. Analisis kurikulum
Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum yang berlaku pada saat
itu. Dalam kurikulum terdapat kompetensi yang ingin dicapai. Analisis kurikulum
berguna untuk menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar tersebut akan
dikembangkan. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan tidak semua
kompetensi yang ada dalam kurikulum dapat disediakan bahan ajarnya.
2. Analisis karakteristik peserta didik
Seperti layaknya seorang guru akan mengajar, guru harus mengenali
karakteristik peserta didik yang akan menggunakan bahan ajar. Hal ini penting
karena semua proses pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta
9
didik. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengetahui karakteristik peserta
didik antara lain: kemampuan akademik individu, karakteristik fisik, kemampuan
kerja kelompok, motivasi belajar, latar belakang ekonomi dan sosial, pengalaman
belajar sebelumnya, dsb. Dalam kaitannya dengan pengembangan bahan ajar,
karakteristik peserta didik perlu diketahui untuk menyusun bahan ajar yang sesuai
dengan kemampuan akademiknya, misalnya: apabila tingkat pendidikan peserta
didik masih rendah, maka penulisan bahan ajar harus menggunakan bahasa dan
kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Apabila minat baca peserta didik
masih rendah maka bahan ajar perlu ditambah dengan ilustasi gambar yang
menarik supaya peserta didik termotivasi untuk membacanya.
3. Analisis materi
Analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang
perlu diajarkan, mengumpulkan dan memilih materi yang relevan, dan
menyusunnya kembali secara sistematis.
4. Merumuskan tujuan
Sebelum menulis bahan ajar, tujuan pembelajaran dan kompetensi yang
hendak diajarkkan perlu dirumuskan terlebih dahulu. Hal ini berguna untuk
membatasi peneliti supaya tidak menyimpang dari tujuan semula pada saat
mereka sedang menulis bahan ajar.
10
2. Tahap Design (Perancangan)
Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran.
Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) penyusunan standar
tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang
sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan
format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada
dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat
rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:
a. Penyusunan Standar Tes (criterion-test construction)
11
Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan Stanar Tes atau tes
acuan patokan merupakan langkah yang menghubungkan antara tahap
pendefinisian (define) dengan tahap perancangan (design). Tes acuan patokan
disusun berdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis peserta didik,
kemudian selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan
disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif. Penskoran hasil tes
menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran
setiap butir soal.
b. Pemilihan Media (media selection)
Pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi media pembelajaran
yang relevan dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk
menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas, karakteristik target
pengguna, serta rencana penyebaran dengan atribut yang bervariasi dari media
yang [Link] ini berguna untuk membantu peserta didik dalam
pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media dilakukan untuk
mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembangan bahan
ajar pada pembelajaran di kelas.
c. Pemilihan Format (format selection)
Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini
dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan
strategi, pendekatan, metode pembelajaran, dan sumber belajar. Format yang
12
dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik, memudahkan dan membantu
dalam pembelajaran
d. Rancangan Awal (initial design)
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) “initial design is the presenting of
the essential instruction through appropriate media and in a suitable
sequence.” (desain awal adalah penyajian dari instruksi penting melalui media
yang tepat dan dalam urutan yang sesuai) Rancangan awal yang dimaksud
adalah rancangan seluruh perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan
sebelum ujicoba dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas
pembelajaran yang terstruktur seperti membaca teks, wawancara, dan praktek
kemampuan pembelajaran yang berbeda melalui praktek mengajar.
13
3. Tahap Develop (Pengembangan)
Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk
pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli
(expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan
(developmental testing).
Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bentuk
akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para
pakar ahli/praktisi dan data hasil ujicoba. Langkah yang dilakukan pada tahap ini
adalah sebagai berikut:
a. Validasi Ahli (expert appraisal)
Menurut Thiagarajan, dkk (1974), “expert appraisal is a technique
for obtaining suggestions for the improvement of the material.” (Penilaian
ahli adalah teknik untuk mendapat saran untuk perbaikan materi). Penilaian
para ahli/praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: format, bahasa,
ilustrasi dan isi. Berdasarkan masukan dari para ahli, materi pembelajaran di
revisi untuk membuatnya lebih tepat, efektif, mudah digunakan, dan memiliki
kualitas teknik yang tinggi.
b. Uji Coba Pengembangan (developmental testing).
Ujicoba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan langsung
berupa respon, reaksi, komentar peserta didik, dan para pengamat terhadap
perangkat pembelajaran yang telah disusun. Menurut Thiagarajan, dkk (1974)
14
ujicoba, revisi dan ujicoba kembali terus dilakukan hingga diperoleh perangkat
yang konsisten dan efektif.
4. Tahap Disseminate (Penyebaran)
Proses diseminasi merupakan suatu tahap akhir pengembangan. Tahap
diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan agar bisa
diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok, atau sistem. Produsen dan
distributor harus selektif dan bekerja sama untuk mengemas materi dalam
bentuk yang tepat. Menurut Thiagarajan dkk, (1974), “the terminal stages of
final packaging, diffusion, and adoption are most important although most
frequently overlooked.” (Pada tahap akhir, difusi, dan adopsi merupakan hal
yang paling penting meskipun paling sering diabaikan).
Diseminasi bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk mengetahui
efektifitas penggunaan perangkat dalam proses pembelajaran. Penyebaran dapat
juga dilakukan melalui sebuah proses penularan kepada para praktisi
15
pembelajaran terkait dalam suatu forum tertentu. Bentuk diseminasi ini dengan
tujuan untuk mendapatkan masukan, koreksi, saran, penilaian, untuk
menyempurnakan produk akhir pengembangan agar siap diadopsi oleh para
pengguna produk.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi
adalah: (1) Analisis Pengguna, (2) Menentukan Strategi dan Tema, (3) Pemilihan
Waktu, dan (4) Pemilihan Media.
a. Analisis Pengguna
Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan diseminasi
untuk mengetahui atau menentukan pengguna produk yang telah
dikembangkan. Menurut Thiagarajan, dkk (1974), pengguna produk bisa
dalam bentuk individu/perorangan atau kelompok seperti: universitas yang
memiliki fakultas/program studi kependidikan, organisasi/lembaga persatuan
guru, sekolah, guru-guru, orangtua peserta didik, komunitas tertentu,
departemen pendidikan nasional, komite kurikulum, atau lembaga pendidikan
yang khusus menangani anak cacat.
b. Penentuan Strategi dan Tema Penyebaran
Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian penerimaan
produk oleh calon pengguna produk pengembangan. Guba (Thiagarajan,
1974) memberikan beberapa strategi penyebaran yang dapat digunakan
berdasarkan asumsi pengguna diantaranya adalah: (1) strategi nilai, (2)
16
strategi rasional, (3) strategi didaktik, (4) strategi psikologis, (5) strategi
ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.
c. Pemilihan Waktu
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan strategi dan
tema, peneliti juga harus merencanakan waktu penyebaran. Penentuan waktu
ini sangat penting khususnya bagi pengguna produk dalam menentukan
apakah produk akan digunakan atau tidak (menolaknya).
d. Pemilihan Media Penyebaran
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran produk, beberapa
jenis media dapat digunakan. Media tersebut dapat berbentuk jurnal
pendidikan, majalah pendidikan, konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam
berbagai jenis serta melalui pengiriman lewat e-mail.
17
Untuk kepentingan disseminasi ini, Thiagarajan, dkk (1974:)
menetapkan kriteria keefektifan diseminasi, yaitu:
1. Clarity. Information should be clearly stated, with a particular audience
in mind. (Kejelasan. Informasi harus dinyatakan dengan jelas, tertentu dalam
pikiran audiens).
2. Validity. The information should present a true picture. (Validitas.
Informasi harus menyajikan gambaran yang benar).
3. Pervasiveness. The information should reach all of the intended
audience. Pervasiveness. (Informasi harus mencapai semua audiens yang
dituju).
4. Impact. The information should evoke the desire response from intended
audience. (Dampak. Informasi harus membangkitkan respon keinginan
dari penonton yang dimaksudkan).
5. Timeliness. The information should be disseminated at the most
opportune time. (Ketepatan waktu. Informasi tersebut harus
disosialisasikan pada waktu yang paling tepat).
6. Practicality. The information should be presented in the form best suited to
the scope of the project, considering such limitations as distance and
available resources. (Kepraktisan. Informasi harus disajikan dalam bentuk
yang paling cocok dengan lingkup proyek, mengingat keterbatasan
sumber daya seperti jarak dan sumber- sumber tersedia).
18
Untuk kepentingan penelitian, model pengembangan Thiagarajan, dkk
(1974) yang ditetapkan di atas perlu disesuaikan dengan rancangan penelitian
dalam batasan rasional.
C. Kelebihan dan Kekurangan Model 4-D
1. Kelebihan Pengembangan Model 4-D
Menurut Supriatna dan Mulyadi (2009), ada beberapa kelebihan model
pengembangan 4 D yaitu
a. Lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran bukan untuk mengembangkan sistem
pembelajaran.
b. Uraiannya tampak lebih lengkap dan sistematis.
c. Dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum
dilakukan uji coba di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan
revisi berdasarkan penilaian, saran dan masukan para ahli.
d. Pijakan utama pendidikan di Indonesia berdasarkan kurikulum yang
telah ditetapkan, oleh karena itu dalam penyusunan perangkat
pembelajaran terlebih dahulu harus dilakukan analisis kurikulum. Pada
model ini analisis kurikulum dapat dilakukan pada langkah analisis awal.
19
e. Memudahkan peneliti untuk melakukan langkah selanjutnya. Suatu
contoh, langkah analisis tugas dan analisis konsep dapat membantu
peneliti untuk menentukan TPK.
f. Pada tahap III peneliti dapat dengan leluasa melakukan uji coba dan
revisi berkal - kali sampai diperoleh perangkat pembelajaran dengan
kualitas yang maksimal (final).
2. Kelemahan Pengembangan Model 4-D
Meskipun model pengembangan 4-D memiliki beberapa kelebihan
tetapi menurut Supriatna dan Mulyadi (2009), juga terdapat kelemahan dalam
model pengembangan ini yaitu tidak ada kejelasan mana yang harus didahulukan
antara analisis konsep dan analisis tugas. Selain itu tahap pengembangan dengan
model pengembangan 4 D ini membutuhkan waktu yang lama.
20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Model pembelajaran adalah proses mengembangkan pendekatan
pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal,
dengan memperhatikan kekurangan yang ditemukan pada penerapan
sebelumnya untuk meningkatkan kualitas pencapaian tujuan.
2. Langkah-langkah model pembelajaran 4 D terdiri atas 4 langkah yaitu:
tahap pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan
(develop) dan diseminasi (disseminate).
3. Kelebihan model pembelajaran 4-D antara lain adalah lebih tepat
digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran
bukan untuk mengembangkan sistem pembelajaran dan uraiannya tampak
lebih lengkap dan sistematis.
4. Kelemahan dalam model pengembangan 4-D antara lain tidak ada
kejelasan mana yang harus didahulukan antara analisis konsep dan analisis
tugas, dan membutuhkan waktu yang lama pada tahap pengembangan.
21
DAFTAR PUSTAKA
Sudiarta, I Gusti Putu. (2010). Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif.
Karangasem : Universitas Pendidikan Ganesha.
Supriatna, Dadang dan Mochamad Mulyadi. 2009. Konsep Dasar Desain
Pembelajaran. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga kependidikan Taman Kanak Kanak dan Pendidikan Luar Biasa
Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development
for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota:
Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progeresif Edisi
IV. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
22