100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
667 tayangan24 halaman

Model Pengembangan 4-D dalam Pendidikan

Makalah ini membahas model pengembangan Four-D (Define, Design, Develop, Disseminate) untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Model ini terdiri dari empat tahap yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Tahap pendefinisian meliputi analisis awal, analisis siswa, analisis tugas, analisis konsep, dan penetapan tujuan pembelajaran.

Diunggah oleh

Ariana Nurhayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
667 tayangan24 halaman

Model Pengembangan 4-D dalam Pendidikan

Makalah ini membahas model pengembangan Four-D (Define, Design, Develop, Disseminate) untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Model ini terdiri dari empat tahap yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Tahap pendefinisian meliputi analisis awal, analisis siswa, analisis tugas, analisis konsep, dan penetapan tujuan pembelajaran.

Diunggah oleh

Ariana Nurhayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MODEL
PENGEMBANGAN
FOUR D
(DEFINE, DESIGN, DEVELOP, DISSEMINATE)

Disusun oleh :
DEYSI REGINA IBRAHIM
HARDIMAN AMIN

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO


PROGRAM PASCASARJANA
PRODI S2 PENDIDIKAN FISIKA
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang.
Dengan segala kelimpahan nikmatNya, rahmatNya, hidayahNya dan inayahNya,
sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Penyusunan makalah ini dengan segenap usaha dan ketekunan penulis.


Tidak hanya itu, tetapi dengan bantuan berbagai pihak dari sekolah sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan
jazakumullah khairan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan makalah ini.

Kami sadar bahwasanya didalam makalah ini masih terdapat kekurangan


baik dari segi susunan kalimat dan tata bahasanya. Karena itu, dengan hati yang
terbuka kami siap menerimanya segala saran dan kritikan dari para pembaca
supaya kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata, kami berharap semoga adanya makalah tentang “Model


Pengembangan Four-D” dapat memberikan pengetahuan yang lebih dari pembaca.

Gorontalo, Maret 2023

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mengajar diartikan sebagai tugas utama seorang pendidik (misalnya guru,

dosen, tutor, instruktur, widyaiswara). Pendidik yang kreatif akan selalu

menciptakan ide-ide dalam merancang sistem pembelajaran baru yang

mampu membuat peserta didik dapat mencapai tujuan belajarnya dengan

penuh rasa tanggung jawab. Untuk memperoleh sistem pembelajaran baru

tersebut diperlukan metode penelitian dan pengembangan system pembelajaran.

Metode pengembangan sistem pembelajaran tidak jauh berbeda dengan metode

pengembangan produk lainnya. Prosedur pengembangan lebih singkat karena

produk yang dihasilkan tidak terlalu beresiko dan dampak sistem terbatas pada

peserta didik yang menjadi sasaran.

Pembelajaran di sekolah saat ini perlu dikembangkan untuk meningkatkan

kualitas dan mutu bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik. Hal ini

dapat dilakukan oleh guru dengan tetap mengacu pada standar yang telah

ditetapkan pemerintah. Pembelajaran yang baik dan menarik akan meningkatkan

minat siswa dalam belajar sehingga dapat memperbaiki prestasi siswa.

Untuk mempermudah dalam mengembangkan bahan ajar yang

sesuai dengan kebutuhan siswa, terlebih dahulu perlu diketahui faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi berhasilnya proses pembelajaran. Faktor tersebut antara

lain kualifikasi guru yang kurang kompeten, suasana belajar yang kurang

1
kondusif, penerapan strategi dan model pembelajaran yang kurang sesuai ataupun

sumber belajar yang terbatas.

Diketahui saat ini, sebagian besar keadaan pembelajaran di sekolah-

sekolah kita masih sangat konvensional, seperti penyampaian materi

hanya diceramahkan, penyusunan materi yang sekedarnya atau materi

hanya bersumber dari buku-buku teks yang belum tentu sesuai dengan

keadaan sekolahnya, padahal buku-buku teks yang banyak beredar saat

ini adalah produk nasional yang tidak memperhatikan karakteristik tiap

satuan pendidikan seperti yang dinginkan kurikulum saat ini, yaitu kurikulum

2013.

Bahan Pembelajaran merupakan komponen isi pesan dalam kurikulum

yang harus disampaikan kepada siswa. Komponen ini memiliki bentuk pesan yang

beragam, ada yang berbentuk fakta, konsep, prisnsip/kaidah, prosedur, problema,

dan sebagainya. Komponen ini berperan sebagai isi atau materi yang

harus dikuasai oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Ruang lingkup materi

pembelajaran telah tersusun secara sistematis dalam struktur organisasi kurikulum

dalam hal ini adalah standar isi. Sifat materi yang tersusun dalam standar isi

hanya bersifat pokok-pokok materi, maka untuk kelancaran dalam pelaksanaan

pembelajaran, materi pembelajaran perlu dikembangkan terlebih dahulu

dengan cara melengkapinya dalam bentuk bahan pembelajaran yang utuh.

Pada saat pembelajaran akan dilaksanakan, hendaknya seorang tenaga

pendidik yang profesional harus memahami karakteristik ini pesan pembelajaran

yang akan disampaikan, agar tidak salah dalam memilih bahan pembelajaran yang

2
akan digunakan. Masalah pendidikan telah ada setua dengan pendidikan dan

manusia itu sendiri. Berbagai upaya dilakukan untuk memecahkannya dan

menjadikan pendidikan berjalan efektif dan efisien.

Pengembangan perangkat pembelajaran adalah suatu proses untuk

menentukan atau menciptakan suatu kondisi tertentu yang menyebabkan siswa

dapat berinteraksi sedemikian sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Dalam

pengembangan perangkat pembelajaran diperlukan suatu model pengembangan

yang sesuai dengan sistem pendidikan. Salah satu model yang sesuai untuk

mengembangkan perangkat pembelajaran adalah model pembelajaran 4-D.

Model pengembangan perangkat yaitu model 4-D disarankan oleh Thiagarajan,

Semmel, dan Semmel (1974). Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan,

yaitu define, design, develop, dan desseminate atau diadaptasi menjadi model 4-P

yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Pengembangan

Istilah model mempunyai banyak pengertian. Model dapat diartikan

sebagai penyederhanaan (simplifikasi) sesuatu yang kompleks agar mudah

dipahami. Model dapat pula diartikan sebagai representasi grafik untuk

menggambarkan sesuatu kehidupan nyata atau seperti yang diharapkan. “A model

is a simplified abstract view of a complex reality or concept. A model is a

graphic analog representing a real-life situation either as it it or as it should

be” (AECT, 1977:16). Model dapat pula diartikan sebagai seperangkat langkah

atau prosedur secara urut dalam mengerjakan suatu tugas (Gafur, 2012).

Model dapat berupa deskripsi verbal (model deskripsi konseptual),

dapatpula berupa deskripsi visual dalam bentuk diagram, gambar, bagan arus

(flowchart) yang menggambarkan suatu proses secara berturut-turut dalam

menyelesaikan suatu tugas (model prosedural). Kesemuanya merepresentasikan

suatu proses. Setelah memahami pengertian suatu model, berikutnya akan

dibahas dimaksud dengan model desain pembelajaran (instructional design

model). Model desain pembelajaran pertama-tama dapat didefinisikan sebagai

deskripsi verbal tentang langkah-langkah secara urut yang dilakukan dalam

menyususn desain pembelajaran.

Tahap penelitian dan pengembangan sistem pembelajaran dapat dianalisis

dari serangkaian tugas pendidik dalam menjalankan tugas pokoknya yaitu mulai

4
dari merancang, melaksanakan sampai dengan mengevaluasi pembelajaran.

Sistem pembelajaran yang dikembangkan bermakna luas, karena sistem terdiri

dari komponen input, proses, dan output. Komponen input pembelajaran terdiri

dari karakteristik peserta didik, karakteristik guru, dan sarana prasarana dan

perangkat pendukung pembelajaran. Komponen proses menitikberatkan pada

strategi, model dan metode pembelajaran. Komponen output berupa hasil dan

dampak pembelajaran. Model penelitian dan pengembangan sistem pembelajaran

dapat memilih salah satu kompone sistem namun dalam penerapannya harus

mempertimbangkan komponen sistem yang lain.

Model pengembangan diartikan sebagai proses desain konseptual

dalam upaya peningkatan fungsi dari model yang telah ada sebelumnya, melalui

penambahan komponen pembelajaran yang dianggap dapat meningkatkan

kualitas pencapaian tujuan. Model 4-D merupakan model pengembangan yang

terdiri dari empat tahap pengembangan yaitu define, design, develop, dan

desseminate atau dapat diartikan sebagai tahap pendefinisian, perancangan,

pengembangan, dan penyebaran (Trianto, 2009).

B. Model Pengembangan 4-D

Model pengembangan perangkat Four-D (4D Models) disarankan oleh

Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel

(1974). Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define, Design,

Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan menjadi model 4-D, yaitu

5
pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Model 4-D dapat

digambarkan dengan diagram alur sebagai berikut:

1. Tahap Define (Pendefenisian)

Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-

syarat pembelajaran. Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu

analisis ujung depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis),

analisis tugas (task analysis), analisis konsep (concept analysis) dan perumusan

tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).

6
a. Analisis Ujung Depan (front-end analysis)

Menurut Thiagarajan dkk (1974), analisis ujung depan bertujuan

untuk memunculkan dan menetapkan masalah dasar yang dihadapi dalam

pembelajaran, sehingga diperlukan suatu pengembangan bahan ajar. Dengan

analisis ini akan didapatkan gambaran fakta, harapan dan alternatif

penyelesaian masalah dasar, yang memudahkan dalam penentuan atau

pemilihan bahan ajar yang dikembangkan.

Analisis ujung depan diawali dari pengetahuan, keterampilan, dan

sikap awal yang dimiliki siswa untuk mencapai tujuan akhir yaitu tujuan

yang tercantum dalam kurikulum. Kesenjangan antara hal-hal yang sudah

diketahui siswa dengan apa yang seharusnya akan dicapai siswa memerlukan

telaah kebutuhan (needs) akan materi sebagai penutup kesenjangan tersebut.

Pada tahap ini, guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi

dan efektivitas pembelajaran.

b. Analisis Peserta Didik (learner analysis)

Menurut Thiagarajan dkk (1974), analisis siswa merupakan telaah

tentang karakteristik siswa yang sesuai dengan desain pengembangan

perangkat pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang kemampuan

akademik (pengetahuan), perkembangan kognitif, serta keterampilan-keterampilan

individu atau sosial yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format dan

bahasa yang dipilih. Analisis siswa dilakukan untuk mendapatkan gambaran

karakteristik siswa, antara lain: (1) tingkat kemampuan atau perkembangan

7
intelektualnya, (2) keterampilan-keterampilan individu atau sosial yang sudah

dimiliki dan dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang

ditetapkan.

c. Analisis Tugas (task analysis)

Analisis tugas menurut Thiagarajan dkk (1974), bertujuan untuk

mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang akan dikaji oleh

peneliti dan menganalisisnya kedalam himpunan keterampilan tambahan yang

mungkin diperlukan. Analisis ini memastikan ulasan yang menyeluruh tentang

tugas dalam materi pembelajaran.

d. Analisis Konsep (concept analysis)

Analisis konsep menurut Thiagarajan dkk (1974), dilakukan untuk

mengidentifikasi konsep pokok yang akan diajarkan, menyusunnya dalam bentuk

hirarki, dan merinci konsep-konsep individu ke dalam hal yang kritis dan

yang tidak relevan. Analisis membantu mengidentifikasi kemungkinan contoh

dan bukan contoh untuk digambarkan dalam mengantar proses pengembangan.

Analisis konsep sangat diperlukan guna mengidentifikasi pengetahuan-

pengetahuan deklaratif atau prosedural pada materi yang akan dikembangkan.

Analisis konsep merupakan satu langkah penting untuk memenuhi prinsip

kecukupan dalam membangun konsep atas materi-materi yang digunakan sebagai

sarana pencapaian kompetensi dasar dan standar kompetensi. Mendukung analisis

konsep ini, analisis-analisis yang perlu dilakukan adalah (1) analisis standar

kompetensi dan kompetensi dasar yang bertujuan untuk menentukan jumlah

8
dan jenis bahan ajar, (2) analisis sumber belajar, yakni mengumpulkan dan

mengidentifikasi sumber-sumber mana yang mendukung penyusunan bahan ajar.

e. Perumusan Tujuan Pembelajaran (specifying instructional objectives).

Perumusan tujuan pembelajaran menurut Thiagarajan dkk (1974), berguna

untuk merangkum hasil dari analisis konsep dan analisis tugas untuk menentukan

perilaku objek penelitian. Kumpulan objek tersebut menjadi dasar untuk

menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran yang kemudian di

integrasikan ke dalam materi perangkat pembelajaran yang akan digunakan

oleh peneliti.

Dalam konteks pengembangan bahan ajar (modul, buku, LKS), tahap

pendefinisian dilakukan dengan cara:

1. Analisis kurikulum

Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum yang berlaku pada saat

itu. Dalam kurikulum terdapat kompetensi yang ingin dicapai. Analisis kurikulum

berguna untuk menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar tersebut akan

dikembangkan. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan tidak semua

kompetensi yang ada dalam kurikulum dapat disediakan bahan ajarnya.

2. Analisis karakteristik peserta didik

Seperti layaknya seorang guru akan mengajar, guru harus mengenali

karakteristik peserta didik yang akan menggunakan bahan ajar. Hal ini penting

karena semua proses pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta

9
didik. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengetahui karakteristik peserta

didik antara lain: kemampuan akademik individu, karakteristik fisik, kemampuan

kerja kelompok, motivasi belajar, latar belakang ekonomi dan sosial, pengalaman

belajar sebelumnya, dsb. Dalam kaitannya dengan pengembangan bahan ajar,

karakteristik peserta didik perlu diketahui untuk menyusun bahan ajar yang sesuai

dengan kemampuan akademiknya, misalnya: apabila tingkat pendidikan peserta

didik masih rendah, maka penulisan bahan ajar harus menggunakan bahasa dan

kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Apabila minat baca peserta didik

masih rendah maka bahan ajar perlu ditambah dengan ilustasi gambar yang

menarik supaya peserta didik termotivasi untuk membacanya.

3. Analisis materi

Analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang

perlu diajarkan, mengumpulkan dan memilih materi yang relevan, dan

menyusunnya kembali secara sistematis.

4. Merumuskan tujuan

Sebelum menulis bahan ajar, tujuan pembelajaran dan kompetensi yang

hendak diajarkkan perlu dirumuskan terlebih dahulu. Hal ini berguna untuk

membatasi peneliti supaya tidak menyimpang dari tujuan semula pada saat

mereka sedang menulis bahan ajar.

10
2. Tahap Design (Perancangan)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran.

Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) penyusunan standar

tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang

sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan

format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada

dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat

rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih. Langkah-langkahnya

adalah sebagai berikut:

a. Penyusunan Standar Tes (criterion-test construction)

11
Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan Stanar Tes atau tes

acuan patokan merupakan langkah yang menghubungkan antara tahap

pendefinisian (define) dengan tahap perancangan (design). Tes acuan patokan

disusun berdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis peserta didik,

kemudian selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan

disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif. Penskoran hasil tes

menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran

setiap butir soal.

b. Pemilihan Media (media selection)

Pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi media pembelajaran

yang relevan dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk

menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas, karakteristik target

pengguna, serta rencana penyebaran dengan atribut yang bervariasi dari media

yang [Link] ini berguna untuk membantu peserta didik dalam

pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media dilakukan untuk

mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembangan bahan

ajar pada pembelajaran di kelas.

c. Pemilihan Format (format selection)

Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini

dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan

strategi, pendekatan, metode pembelajaran, dan sumber belajar. Format yang

12
dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik, memudahkan dan membantu

dalam pembelajaran

d. Rancangan Awal (initial design)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) “initial design is the presenting of

the essential instruction through appropriate media and in a suitable

sequence.” (desain awal adalah penyajian dari instruksi penting melalui media

yang tepat dan dalam urutan yang sesuai) Rancangan awal yang dimaksud

adalah rancangan seluruh perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan

sebelum ujicoba dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas

pembelajaran yang terstruktur seperti membaca teks, wawancara, dan praktek

kemampuan pembelajaran yang berbeda melalui praktek mengajar.

13
3. Tahap Develop (Pengembangan)

Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk

pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli

(expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan

(developmental testing).

Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bentuk

akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para

pakar ahli/praktisi dan data hasil ujicoba. Langkah yang dilakukan pada tahap ini

adalah sebagai berikut:

a. Validasi Ahli (expert appraisal)

Menurut Thiagarajan, dkk (1974), “expert appraisal is a technique

for obtaining suggestions for the improvement of the material.” (Penilaian

ahli adalah teknik untuk mendapat saran untuk perbaikan materi). Penilaian

para ahli/praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: format, bahasa,

ilustrasi dan isi. Berdasarkan masukan dari para ahli, materi pembelajaran di

revisi untuk membuatnya lebih tepat, efektif, mudah digunakan, dan memiliki

kualitas teknik yang tinggi.

b. Uji Coba Pengembangan (developmental testing).

Ujicoba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan langsung

berupa respon, reaksi, komentar peserta didik, dan para pengamat terhadap

perangkat pembelajaran yang telah disusun. Menurut Thiagarajan, dkk (1974)

14
ujicoba, revisi dan ujicoba kembali terus dilakukan hingga diperoleh perangkat

yang konsisten dan efektif.

4. Tahap Disseminate (Penyebaran)

Proses diseminasi merupakan suatu tahap akhir pengembangan. Tahap

diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan agar bisa

diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok, atau sistem. Produsen dan

distributor harus selektif dan bekerja sama untuk mengemas materi dalam

bentuk yang tepat. Menurut Thiagarajan dkk, (1974), “the terminal stages of

final packaging, diffusion, and adoption are most important although most

frequently overlooked.” (Pada tahap akhir, difusi, dan adopsi merupakan hal

yang paling penting meskipun paling sering diabaikan).

Diseminasi bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk mengetahui

efektifitas penggunaan perangkat dalam proses pembelajaran. Penyebaran dapat

juga dilakukan melalui sebuah proses penularan kepada para praktisi

15
pembelajaran terkait dalam suatu forum tertentu. Bentuk diseminasi ini dengan

tujuan untuk mendapatkan masukan, koreksi, saran, penilaian, untuk

menyempurnakan produk akhir pengembangan agar siap diadopsi oleh para

pengguna produk.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi

adalah: (1) Analisis Pengguna, (2) Menentukan Strategi dan Tema, (3) Pemilihan

Waktu, dan (4) Pemilihan Media.

a. Analisis Pengguna

Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan diseminasi

untuk mengetahui atau menentukan pengguna produk yang telah

dikembangkan. Menurut Thiagarajan, dkk (1974), pengguna produk bisa

dalam bentuk individu/perorangan atau kelompok seperti: universitas yang

memiliki fakultas/program studi kependidikan, organisasi/lembaga persatuan

guru, sekolah, guru-guru, orangtua peserta didik, komunitas tertentu,

departemen pendidikan nasional, komite kurikulum, atau lembaga pendidikan

yang khusus menangani anak cacat.

b. Penentuan Strategi dan Tema Penyebaran

Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian penerimaan

produk oleh calon pengguna produk pengembangan. Guba (Thiagarajan,

1974) memberikan beberapa strategi penyebaran yang dapat digunakan

berdasarkan asumsi pengguna diantaranya adalah: (1) strategi nilai, (2)

16
strategi rasional, (3) strategi didaktik, (4) strategi psikologis, (5) strategi

ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.

c. Pemilihan Waktu

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan strategi dan

tema, peneliti juga harus merencanakan waktu penyebaran. Penentuan waktu

ini sangat penting khususnya bagi pengguna produk dalam menentukan

apakah produk akan digunakan atau tidak (menolaknya).

d. Pemilihan Media Penyebaran

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran produk, beberapa

jenis media dapat digunakan. Media tersebut dapat berbentuk jurnal

pendidikan, majalah pendidikan, konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam

berbagai jenis serta melalui pengiriman lewat e-mail.

17
Untuk kepentingan disseminasi ini, Thiagarajan, dkk (1974:)

menetapkan kriteria keefektifan diseminasi, yaitu:

1. Clarity. Information should be clearly stated, with a particular audience

in mind. (Kejelasan. Informasi harus dinyatakan dengan jelas, tertentu dalam

pikiran audiens).

2. Validity. The information should present a true picture. (Validitas.

Informasi harus menyajikan gambaran yang benar).

3. Pervasiveness. The information should reach all of the intended

audience. Pervasiveness. (Informasi harus mencapai semua audiens yang

dituju).

4. Impact. The information should evoke the desire response from intended

audience. (Dampak. Informasi harus membangkitkan respon keinginan

dari penonton yang dimaksudkan).

5. Timeliness. The information should be disseminated at the most

opportune time. (Ketepatan waktu. Informasi tersebut harus

disosialisasikan pada waktu yang paling tepat).

6. Practicality. The information should be presented in the form best suited to

the scope of the project, considering such limitations as distance and

available resources. (Kepraktisan. Informasi harus disajikan dalam bentuk

yang paling cocok dengan lingkup proyek, mengingat keterbatasan

sumber daya seperti jarak dan sumber- sumber tersedia).

18
Untuk kepentingan penelitian, model pengembangan Thiagarajan, dkk

(1974) yang ditetapkan di atas perlu disesuaikan dengan rancangan penelitian

dalam batasan rasional.

C. Kelebihan dan Kekurangan Model 4-D

1. Kelebihan Pengembangan Model 4-D

Menurut Supriatna dan Mulyadi (2009), ada beberapa kelebihan model

pengembangan 4 D yaitu

a. Lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan

perangkat pembelajaran bukan untuk mengembangkan sistem

pembelajaran.

b. Uraiannya tampak lebih lengkap dan sistematis.

c. Dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum

dilakukan uji coba di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan

revisi berdasarkan penilaian, saran dan masukan para ahli.

d. Pijakan utama pendidikan di Indonesia berdasarkan kurikulum yang

telah ditetapkan, oleh karena itu dalam penyusunan perangkat

pembelajaran terlebih dahulu harus dilakukan analisis kurikulum. Pada

model ini analisis kurikulum dapat dilakukan pada langkah analisis awal.

19
e. Memudahkan peneliti untuk melakukan langkah selanjutnya. Suatu

contoh, langkah analisis tugas dan analisis konsep dapat membantu

peneliti untuk menentukan TPK.

f. Pada tahap III peneliti dapat dengan leluasa melakukan uji coba dan

revisi berkal - kali sampai diperoleh perangkat pembelajaran dengan

kualitas yang maksimal (final).

2. Kelemahan Pengembangan Model 4-D

Meskipun model pengembangan 4-D memiliki beberapa kelebihan

tetapi menurut Supriatna dan Mulyadi (2009), juga terdapat kelemahan dalam

model pengembangan ini yaitu tidak ada kejelasan mana yang harus didahulukan

antara analisis konsep dan analisis tugas. Selain itu tahap pengembangan dengan

model pengembangan 4 D ini membutuhkan waktu yang lama.

20
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Model pembelajaran adalah proses mengembangkan pendekatan

pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal,

dengan memperhatikan kekurangan yang ditemukan pada penerapan

sebelumnya untuk meningkatkan kualitas pencapaian tujuan.

2. Langkah-langkah model pembelajaran 4 D terdiri atas 4 langkah yaitu:

tahap pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan

(develop) dan diseminasi (disseminate).

3. Kelebihan model pembelajaran 4-D antara lain adalah lebih tepat

digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran

bukan untuk mengembangkan sistem pembelajaran dan uraiannya tampak

lebih lengkap dan sistematis.

4. Kelemahan dalam model pengembangan 4-D antara lain tidak ada

kejelasan mana yang harus didahulukan antara analisis konsep dan analisis

tugas, dan membutuhkan waktu yang lama pada tahap pengembangan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Sudiarta, I Gusti Putu. (2010). Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif.

Karangasem : Universitas Pendidikan Ganesha.

Supriatna, Dadang dan Mochamad Mulyadi. 2009. Konsep Dasar Desain

Pembelajaran. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan

Tenaga kependidikan Taman Kanak Kanak dan Pendidikan Luar Biasa

Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development

for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota:

Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progeresif Edisi

IV. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

22

Common questions

Didukung oleh AI

The 4-D Model enhances instructional materials' effectiveness by incorporating expert input and iterative testing during development. The Define stage clearly identifies learning needs and objectives . The inclusion of expert appraisals in the Develop stage allows for refinement based on expert feedback, ensuring content accuracy and pedagogical soundness before field testing . Additionally, the dissemination process considers appropriateness in timing and format for optimized user acceptance and application .

The 4-D Model consists of four stages: Define, Design, Develop, and Disseminate. In the Define stage, conditions for learning are established through front-end analysis, learner analysis, task analysis, concept analysis, and specifying instructional objectives . In the Design stage, instructional tools are planned through criterion-test construction, media selection, format selection, and initial design . The Develop stage involves expert appraisals and developmental testing to refine materials based on feedback . Finally, the Disseminate stage promotes the developed product to users and adjusts for practical constraints like timing and resources .

The 4-D Model facilitates alignment by integrating curriculum analysis into the Define stage, ensuring that the learning objectives and required competencies from the curriculum are identified and addressed in the instructional materials . During the Design stage, the model emphasizes creating tests and selecting formats that reflect these objectives, ensuring consistency with curriculum standards . This systematic approach ensures that developed materials support intended curriculum outcomes effectively .

Learner analysis is crucial as it identifies the learners' characteristics, such as academic background, cognitive development, and relevant skills, which directly influence the selection and design of instructional materials . By understanding these characteristics, educators can tailor content to better suit learners' needs, enhancing engagement and ensuring the materials meet instructional objectives . This analysis impacts decisions regarding media format and presentation methods in the Design stage .

Challenges in the Disseminate stage include ensuring timely dissemination, effectively reaching the target audience, and accommodating practical constraints like resource limitations . These can be addressed by strategic planning to time releases with teaching schedules, using a multi-channel approach to reach diverse audiences, and adapting dissemination methods to fit available resources while maintaining quality and accessibility .

Advantages of the 4-D Model include its systematic and comprehensive approach to material design, ensuring alignment with curriculum standards and involving expert reviews for content validation . It is particularly effective for structured educational material development, facilitating repeated testing and revision . Disadvantages are its time-consuming nature, especially during the development stage, and lack of clarity regarding the order of task and concept analysis .

Expert appraisals involve specialists reviewing instructional materials to provide feedback on format, language, content, and technical quality . Conducted during the Develop stage, these appraisals aim to ensure the materials are effective and easy to use before being tested in real-world settings . Feedback from experts is used for subsequent revisions, leading to high-quality educational resources .

The iterative process in the Develop stage allows for repeated revisions based on feedback from expert appraisals and developmental testing . This cycle of review and adjustment ensures that multiple perspectives are considered, errors are corrected, and effectiveness is validated in various real-world settings. The ongoing refinement of materials leads to high-quality, error-minimized educational resources .

Media selection is significant as it determines how instructional content is delivered, influencing student engagement and understanding. By choosing media that aligns with learner characteristics and content complexity, educators can enhance the learning experience . This process considers the appropriateness of different media types for conveying complex concepts, thus ensuring that instruction is accessible and effective .

Task analysis helps identify the main skills and knowledge required for a topic, breaking them down into necessary sub-skills and concepts . This detailed breakdown allows educators to focus on core components needed for skill acquisition, ensuring that instructional material thoroughly covers essential learning points. This contributes to a precise and targeted instructional design process, enhancing learning efficacy .

Anda mungkin juga menyukai