TUGAS
(DRAMA RADIO DAN TV)
AINUN FADILAH HASWAN
SENDRATASIK A 21
DRAMA RADIO DAN TV
mengurut lagi ke belakang, drama atau sandiwara radio sempat
menjadi salah satu hiburan populer di dunia sejak era 1940-1950-an.
Kemunculan televisi membuatnya tergeser dan menurun. Di tanah air
sendiri, tepatnya di era 1980 dan 90-an, banyak stasiun radio yang
memutar drama audio,dalam hal ini masyarakat dapat mendengar dan
melihat drama tanpa harus ketempat kejadian. Sedangkan untuk drama
radio, masyarakat hanya bisa menikmati drama melalui media audio
(suara) saja. Belakangan ini drama seni pertunjukan yang banyak
diminati oleh masyarakat luas adalah drama televisi dibandingkan
dengan drama radio, seperti munculnya berbagai macam sinetron yang
di tayangkan pada televisi, hal ini terbukti dengan, adanya kelebihan
dari drama televisi dalam menyajikan drama yang mudah difahami
oleh masyarakat, hal ini dikarenakan drama televisi menggunakan
media audio visual, yang mana drama dapat disajikan secara utuh
kepada penikmatnya, selain itu penikmat juga dapat lebih mudah
mengartikan setiap adegan yang dilakukan oleh sang aktor. Misalnya,
ketika melihat mimik wajah dalam sebuah drama televisi, seorang
aktor berakting dengan mimik wajah ceria dan sumringah dengan
berjalan santai, di situ sang aktor tidak perlu mengeluarkan sepatah
kata apapun penikmat dapat mengartikan bahwa seorang aktor sedang
dalam keadaan bahagia dan senang. Namun dalam drama televisi pada
era sekarang kurang memperhatikan nilai-nilai yang terkandung di
dalam cerita yang di sampaikan. Akan tetapi berbeda halnya dengan
drama radio, ketika dalam sebuah adegan pendengar hanya disajikan
dengan sebuah suara langkah kaki tanpa ada dialog dari seorang aktor,
maka pendengar akan memiliki interpretasi yang berbeda-beda dalam
mengartikan peristiwa apa yang sedang diceritakan dalam drama
tersebut. Namun, dalam sandiwara radio lebih banyak mengandung
unsure positif yang disajikan.
Kita dapat mengetahui bahwa drama radio atau sandiwara radio itu
banyak mengandung nilai- nilai positif bagi masyarakat, namun hal
yang sangat penting dalam sandiwara radio adalah adanya naskah
dialog dalam sebuah drama, baik itu drama televisi maupun drama
radio, selain itu seorang penulis naskah juga harus bisa
memvisualisasikan setiap peristiwa yang terjadi dalam sebuah drama,
hal ini untuk memudahkan penikmat dalam memahami alur cerita
yang disampaikan oleh penulis. Sejauh ini sudah ada banyak produksi
drama radio yang ada di Indonesia, baik itu radio milik negara
maupun milik swasta. Drama radio berkembang pesat dan dalam masa
kejayaan ketika industri televisi belum berkembang seperti sekarang
ini. Ketika masa itu kehadiran drama radio sangat dinanti-nantikan
oleh masyarakat, dan sekarang ini drama radio keberadaannya
sangatlah sedikit dibanding dengan sandiwara televisi. Hal ini karena
penikmat sandiwara lebih memilih pertunjukan yang dapat dinikmati
melalui audio visual. Selain itu drama adalah sebuah karya sastra yang
berasal dari imajinasi dan kreativitas seorang pengarang yang bersifat
fiksi. Yang mana fiksi sendiri adalah cerita rekaan atau cerita
khayalan (Nurgiyantoro, 2009:2). Selain itu terbentuk dan
berlangsungnya sebuah program acara tentu tidak akan berhasil tanpa
adanya manajemen yang baik. Keberhasilan media penyiaran sejatinya
ditopang oleh kreatifitas manusia yang bekerja pada tiga pilar utama
yang vital yang dimiliki setiap media penyiaran yaitu teknik, siaran,
dan administrasi (Morissan, 2011:133). Drama radio biasanya lebih
dikenal dengan sandiwara radio, selain sebagai sarana hiburan,
sandiwara radio memiliki banyak pesan moral yang mendidik untuk 4
masyarakat dan dapat dinikmati oleh semua kalangan usia, selain itu
cerita didalam sandiwara radio yang disajikan dapat dijadikan menjadi
bahan acuan pembentuk karakter bagi pendengarnya. Dalam proses
pengerjaan drama radio ini sangatlah sulit daripada drama pertunjukan
biasanya, karena dalam sandiwara radio ini tim kreatif dan pemeran
harus dapat benar-benar melukiskan latar suasana yang sedang
diceritakan dalam sandiwara tersebut, mulai dari efek suara,
backsound, volume maupun intonasi pemeran, supaya cerita yang
dibawakan dapat mudah difahani oleh pendengar tanpa
menghilangkan nilai estetika dan pesan yang disampaikan, karena
pendengar hanya dapat menikmati alur cerita melalui audio saja.
Kini keberadaan sandiwara radio sangatlah minim, penikmat
sandiwara radio punmulai menurun semenjak berkembangnya
teknologi yang semakin canggih, sepertimunculnya film televisi dan
sandiwara pertunjukan. Namun, hal ini tidak semerta-merta
menghilangkan daya tarik pendengar radio begitu saja, buktinya
adalah dengan masih adanya penikmat sandiwara radio yang di
produksi oleh LPP RRI Kota Malang, yang mana masih memiliki
konsistensi dalam memproduksi sandiwara radio hingga sekarang.
Tema yang diangkat dalam produksi sandiwara radio pun bermacam-
macam, mulai dari legenda, mitos, kisah hidup dalam keluarga,
permasalahan remaja, dan horor yang disajikan. Beberapa contoh
naskah sandiwara radio yang pernah di produksi oleh LPP RRI
Malang adalah Saur Sepuh, dan yang masih di produksi hingga
sekarang adalah sandiwara radio Butir-butir Pasir di Laut yang mana
dalam sandiwara ini mengambil cerita tentang kehidupan masyarakat
pada 5 daerah-daerah yang ada di Indonesia, ceritanya pun beragam,
mulai dari cerita yang mengandung mitos, fiksi dan legenda yang ada
di tiap daerah, namun ceritanya tak luput dari unsur nilai-nilai kearifan
lokal, maka dari itulah sandiwara radio Butir-butir Pasir di Laut masih
banyak diminati oleh para pendengar radio RRI hingga sekarang. Atas
dasar latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penulis tertarik
untuk meneliti tentang analisis teks nilai-nilai kearifan lokal dalam
naskah sandiwara radio Butir-Butir Pasir di Laut RRI Malang. Selain
itu penulis juga ingin menunjukkan bahwa di era yang modern ini
masih ada bentuk sandiwara radio yang di produksi yakni oleh LPP
RRI Malang.
DRAMA RADIO POPULER
yang populer ialah ada Tutur Tinular
Tutur Tinular adalah sebuah mahakarya. Awalnya Tutur Tinular adalah
cerita sandiwara yang disebarkan lewat radio karya S. Tidjab.
Kemudian di Tahun 1997, oleh Genta Buana Pitaloka, cerita tersebut
dibuat menjadi film seri. Serial film ini disutradai oleh Muchlis Raya
dengan penulis skenario Imam [Link] Tinular bercerita tentang
seorang pemuda bernama Arya Kamandanu. Ia adalah pemuda yang
gemar meguru untuk menambah ilmu kanuragan dan kebatinan.
Kamandanu hidup diantara peralihan Kerajaan Singosari dan Kerajaan
Majapahit. Ia memiliki kakak bernama Arya Dwipangga yang
terkenal dengan karya sastra dalam bentuk sajak ataupun puisi. Meski
bersaudara, keduanya sering kali berbeda pendapat hingga memercik
perseteruan.
Di episode pertama, diceritakan bahwa Kamandanu memiliki seorang
kekasih bernama Nari Ratih. Kisah cinta mereka sedang merekah
indah, tak kalah dengan jalinan kisah film India, setidaknya begitu,
sebelum Arya Dwipangga masuk dan menjadi orang ketiga. Tak
hanya pada Nari Ratih, di episode lain juga dijelaskan kebejatan Arya
Dwipangga yang kembali merenggut buih cinta Kamandanu dengan
Mei Shin, sang pendekar dari Negeri Tirai [Link] syair-syair
syahdunya, ia mampu meluluhlantakkan hati perempuan.
Selayaknya playboy zaman sekarang yang menjual janji tanpa pernah
ditepati. Mengumbar kalimat cinta-pada setiap wanita. Kidung cinta
Arya Kamandanu berakhir manis, meskipun seperti mustahil untuk
dilakukan. Ia menjadi seorang ayah dari anak-anak yang bukan darah
dagingnya, bagai perumpamaan tidak ikut makan tapi mencuci piring.
Sedikit curhatan pribadi penulis. [Link] karakter fiktif diatas,
Tutur Tinular juga menceritakan konflik yang terjadi di Nusantara. Ia
menggambarkan bagaimana sejarah terjadi pada masa kerajaan.
Mengambil setting Kerajaan Singosari, Tutur Tinular memberikan
sumber rujukan kronologis mengenai jatuhnya Singosari dan
kemunculan Manjapahit. Kronologi film diceritakan seruntut mungkin
untuk penyelarasan dengan cerita utama film. Karenanya, ada
beberapa hal yang mungkin sedikit terlewat dari kronologis aslinya.
Awalnya, cerita berkutat pada Kerajaan Singosari dengan Kertanegara
sebagai Rajanya. Alkisah, pada masa tersebut terdapat bibit
pemberontakan dari Kerajaan Gelang-Gelang dibawah komando
Jayakatwang. Perang pun meletus, pertumpahan darah tak terelakkan.
Jayakatwang menang dan memindahkan kekuasaan ke Kediri.
Beberapa waktu berselang, bibit pemberontakan mulai muncul dari
Sanggramawijaya. Ia adalah anak dari Kertanegara yang hanya secara
de jure tunduk terhadap [Link] bantuan Arya Wiraraja,
ia membuat strategi licik nan cerdas untuk mengambil alih kerajaan
dan kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit. Konflik
peperangan tersebut juga tertera dalam berbagai sumber seperti
Pararaton atau Negarakertagama. Bagian paling menarik dan mengena
dalam konflik diatas adalah strategi jitu yang dibuat oleh para anak
negeri untuk mengusir pasukan Kubalai Khan. Spirit untuk menolak
kolonialisme dibentuk dan diramu dengan begitu baik oleh Sanggrama
Wijaya dengan Arya Wiraraja beserta yang lainnya. Kita patut
berbangga, karena pernah mengungguli China.
Beberapa episode menceritakan kehidupan Kerajaan Majapahit di
bawah pimpinan Sanggramawijaya dan penggantinya (Jayanegara).
Kehidupan Majapahit yang tenang dan tentram dengan kebijaksanaan
Raden Wijaya sebagai raja dijelaskan dalam beberapa episode. Tak
hanya disitu, Tutur Tinular juga menceritakan pemberontakan yang
banyak terjadi di pemerintahan Majapahit. Mulai dari pemberontakan
Ronggolawe, Lembu Sora, Nambi, hingga Ra [Link]
kerajaan dikisahkan bahwa keberadaan seorang raja dianggap sebagai
titisan sang batara wisnu. Perkataannya adalah sabda yang wajib untuk
ditaati. Nyawa bukanlah hal yang utama, karena titah-sabda seorang
raja dan harga diri kerajaan adalah yang pertama. Selain itu,
digambarkan pula bagaimana sistem pemerintahan dijalankan.
Dimana Raja dibantu oleh dewan penasihat, rakryan mahamentri,
senopati, tumenggung, dharmaputera dan juga para prajurit pilih
tanding. Konflik perpecahan kerajaan tak lepas dari dua hal,
kepercayaan akan kutukan dan oknum yang haus akan
[Link], film ini kurang memperlihatkan peran
perempuan. Padahal, sama-sama kita ketahui bahwa Ken Dedes
adalah penyebab awal peperangan tersebut, dan Gayatri, adalah Ibu
bangsa. Gayatri sendiri hanya keluar pada beberapa adegan saja,
itupun untuk kadar yang tak begitu penting. Barangkali tokoh wanita
yang mendapatkan porsi terbesar adalah [Link]
akhir dalam film ini adalah kemunculan Gajah Mada. Ia tiba-tiba hadir
dan mewarnai cerita tanpa asal-usul yang jelas. Hal ini sama dengan
yang tertulis di Kitab Pararaton tentang munculnya gajah Mada yang
masih menjadi teka-teki. Begitulah sejarah yang dimiliki negara kita,
dari kesekian cerita, banyak yang berakhir dengan koma.
Drama radio dalam rentang waktu
tanpa visual, drama radio sangat bergantung pada dialog, musik dan
efek suara yang membantu pendengarnya berimajinasi akan karakter
dan cerita. Sebelumnya, publik bisa jadi lebih dulu familiar dengan
buku audio atau sandiwara di radio, tapi kini juga hadir lewat podcast.
Pada sekitar 1940-an, radio menjadi satu-satunya media hiburan dan
populer. Sandiwara radio pun ditunggu-tunggu. Namun, sebelum
sandirawa radio hadir, gagasan ini ditengarai beraawal dari
theatrophone, atau aktivitas mendengarkan suara dari gelombang yang
merambat di udara. Lalu, seiring perkembangannya, muncul adaptasi
pertunjukan teater yang khusus dibuat untuk versi radio dengan musik
dan efek suara di samping dialog.
Naskah drama yang khusus dibuat untuk radio pertama kali adalah A
Comedy of Danger oleh Richard Hughes, yang mengudara Januari
1924 di BBC, Inggris. Sementara di AS, drama radio pertama adalah
The Wolf yang merupakan adaptasi dari naskah drama Charles
Sommerville oleh Eugene Walter, juga di 1924 ([Link]).
Di Indonesia sendiri sandiwara atau drama radio populer muncul di
era 1980-an, lewat Tutur Tinular dan kemudian Saur Sepuh. Tutur
Tinular sendiri ditengarai dipancarluaskan di lebih dari 512 pemancara
stasiun radio di seluruh Indonesia kala itu. Didominasi cerita silat,
selain kedua drama tersebut juga populer Misteri Nini Pelet, Misteri
dari Gunung Merapi, Mahkota Mayangkara, Babad Tanah Leluhur
dan Kaca Benggala untuk menyebut beberapa diantaranya.