0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan22 halaman

Spesifikasi Teknis Rehabilitasi Kelas

Dokumen tersebut memberikan uraian mengenai spesifikasi teknis pekerjaan rehabilitasi ruang kelas. Lingkup pekerjaan meliputi persiapan hingga pembersihan akhir berdasarkan rencana dan BOQ. Mobilisasi mencakup penyewaan lahan, staf, peralatan, dan fasilitas kantor lapangan. Spesifikasi umum mengacu pada peraturan teknis bangunan dan persyaratan persiapan seperti air, gudang, kantor lap

Diunggah oleh

Rhyan hadjon
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan22 halaman

Spesifikasi Teknis Rehabilitasi Kelas

Dokumen tersebut memberikan uraian mengenai spesifikasi teknis pekerjaan rehabilitasi ruang kelas. Lingkup pekerjaan meliputi persiapan hingga pembersihan akhir berdasarkan rencana dan BOQ. Mobilisasi mencakup penyewaan lahan, staf, peralatan, dan fasilitas kantor lapangan. Spesifikasi umum mengacu pada peraturan teknis bangunan dan persyaratan persiapan seperti air, gudang, kantor lap

Diunggah oleh

Rhyan hadjon
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

URAIAN SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN

BAB I UMUM
1.1. LINGKUP PEKERJAAN
Menindak lanjuti Kerangka Acuan Kerja, setelah dipahami dan ditanggapi maka Lingkup
Pekerjaan Rehabilitasi Ruang Kelas, yang diurai dari persiapan sampai pada pembersihan akhir.
Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada Gambar Rencana, BOQ dan RKS
yang menjadi bagian tidak
terpisahkan dari rencana kerja dan syarat-syarat ini.
Cakupan kegiatan mobilisasi yang diperlukan akan tergantung pada jenis dan volume pekerjaan
yang harus dilaksanakan, sebagaimana yang disyarat pada bagian lain item pekerjaan, dan secara
umum meliputi :
 Penyewaan sebagian lahan yang diperlukan untuk base camp Kontraktor dan kegiatan
pelaksanaan.
 Mobilisasi staf pelaksana Lapangan dan para pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan
penyelesaian pekerjaan.
 Mobilsasi dan pemasangan peralatan sesuai daftar kebutuhan peralatan yang tercantum dalam
penawaran.
 Penyediaan fasiliatas kantor lapangan dan fasilitas untuk Direksi Pekerjaan/Pengawas
Pekerjaan sesuai yang tercantum dalam penawaran.

1.2. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI


a) PERIODE MOBILISASI
Mobilisasi dan seluruh item kegiatan yang tercantum dalam penawaran harus dilaksanakan
dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam dokumen penawaran atau selambat-lambatnya
sesuai jangaka waktu pelaksanaan dalam penawaran, terhitung tanggal mulai kerja.
b) PROGRAM MOBILISASI
 Dalam waktu 7 hari penandatangan kontrak, Kontraktor harus melaksanakan Rapat Pra
Plaksanaan (Pree Construction Meeting) yang dihadiri pemilik pekerjaan, Direksi Teknik
dan Pengawas Lapangan untuk membahas semua hal, baik teknis maupun non teknis
dalam program/kegiatan ini.
 Dalam waktu 14 hari setelah Rapat Pra Pelaksanaan, kontraktor harus menyerahkan
program mobilisasi dan jadwal kemajuan pelaksanaan kepada Direksi
Pekerjaan/Pengawas untuk diminta persetujuannya.
 Program mobilisasi harus menetapkan waktu untuk semua kegiatan mobilisasi yang
disyaratkan harus mencakup informasi tambahan berikut:
 Lokasi Base Camp, Kantor Lapangan/Direksi Keet.
 Jadwal pengaman peralatan yang diusulkan dalam penawaran

c) MOBILISASI LAINNYA
 Rekayasa lapangan:
Kontraktor harus menyediakan personil alhi teknik untuk memperlancar pekerjaan
sehingga memperoleh mutu, kinerja dan dimensi sesuai yang disyaratkan dalam
ketentuan.
Dalam menjalankan tugasnya personil tersebut dapat melakukan koordinasi dan kerja
sama dengan pihak Direksi/Pengawas untuk seluruh kegiatan di lapangan baik Teknis
maupun Non Teknis.
 Ais Build Drawing :

1
Setelah seluruh pekerjaan telah diselesaikan dengan baik dan memenuhi Serah Terima
Pertama, maka Kontraktor harus menyediakan gambar-gambar pelaksanaan sebagai
Dokumen akhir dari laporan Pho, yang telah disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan.
 Dokumentasi :
Dalam memenuhi syarat-syarat pembayaran terhadap volume pekerjaan yang telah
dikerjakan, maka Kontraktor harus menyediakan foto-foto terhadap pekerjaan yany telah
selesai dilaksanakan dan disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan.
 Pelaporan :
Untuk kelengkapan administrasi kegiatan, maka Kontraktor harus membuat dan
menyediakan laporan-laporan yang meliputi laporan harian, laporan mingguan, dan
laporan bulanan, laporan curah Hujan serta laporan Berita Acara yang dipersyaratkan
sesuai item kegiatan dalam melengkapi pemenuhan system administrasi.

BAB II

2
SYARAT-SYARAT TEKNIK
A. SPESIFIKASI UMUM
1. PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN
Kecuali ditentukan lain dalam RKS ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan tersebut di
bawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :
1.1. Kepres No.80 tahun 2003 beserta lampiran-lampiran dan juknisnya.
1.2. Peraturan-peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di Indonesia atau
Algemene Voor de uit veering bij aneming van openbare werken (AV) 1941
1.3. Surat edaran bersama Bappenas dan Direjen Anggaran No. 315/D. VI/01/1997 dan
SE-39/A/21/0/1997 tanggal 20 januari 1997.
1.4. Keputusan Direjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum No.
295/KPTS/CK/1997 tanggal 1 April 1997 tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara.
1.5. Pedoman Perencanaan Gedung SNI 03-17330-1989.
1.6. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1971) NI-2 dan PBI 1991 SK SNI T-
15.1919.03
1.7. Tata cara pengadukan dan pengecoran Beton SNI 03-3976-1995.
1.8. Peraturan Muatan Indonesia NI-8 dan Indonesia Loading Code 1987 (SKBI-1-
2.53.1987).
1.9. Ubin lantai keramik, mutu dan cara uji SNI 03-3976-1995.
1.10. Ubin lantai polos SNI 03-0028-1987.
1.11. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI) NI-5.
1.12. Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1984.
1.13. Mutu Sirap SNI 03-3527-1984.
1.14. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987.
1.15. Tata cara Perencanaan tangki Septick SNI 03-2398-1991.
1.16. Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen Tenaga Kerja.
1.17. Peraturan Semen Portland Indonesia NI-8 tahun 1972.
1.18. Peraturan Bata Merah sebagai Bahan Bangunan NI-10.
1.19. Peraturan Plumbing Indonesia.
1.20. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung SNI 03-2407-1991.
1.21. Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok dan Cat Emulasi SNI 03-2410-1991.
1.22. Pedoman Perencanaan Penanggulangan Longsoran SNI 03-1962-1960.
1.23. Peraturan Dab ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan Bangunan.

2. PEKERJAAN PERSIAPAN
2.1. Lingkup Pekerjaan
Untuk keperluan persiapan dan perlengkapan guna pelaksanaan pekerjaan,
Kontraktor berkewajiban :
2.1.1. Mengadakan air untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan. Air harus
memenuhi syarat-syarat yang diperlukan masing-masing pekerjaan yang
bersangkutan.
2.1.2. Membuat gudang-gudang, los kerja dan kantor Direksi Keet.
2.1.3. Pemasangan bouwplank.
2.1.4. Pemasangan alat-alat kerja yang dibutuhkan.
2.1.5. Membuat papan nama proyek, yang terbuat dari papan dilapisi seng dengan
ukuran 120 x 120 cm. Didirikan tegak di atas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm.

3
Warna dasar papan putih dan tulisan hitam. Papan diletakkan pada tempat
yang mudah dilihat umum.
Papan proyek memuat :
 Kegiatan : Sesuai Kontrak
 Pekerjaan : Sesuai Kontrak
 Lokasi : Sesuai Kontrak
 Tahun Anggaran : 2019
 Harga Borongan : Sesuai Kontrak
 Waktu Pelaksanaan : Sesuai Kontrak
 Pelaksana : Swakelola

CONTOH PAPAN NAMA PROYEK

120 CM

PEMERINTAH KABUPATEN FLORES TIMUR


DINAS PENDIDIKAN KEPEMUDAAN & OLAHRAGA

PROGRAM
: .................................................................
120 CM KEGIATAN
: .................................................................
THN. ANGG : 2019
HRG. BORONGAN : ……………………………....................................
WKT. PELAKS. : ………..HARI KALENDER
KONTRAKTOR : PT./ CV. …………………………..........................
PERENCANA : PT./ CV. .....................................................
PENGAWAS : PT./ CV. ……………………………........................

40 CM
PROYEK INI DILAKSANAKAN DENGAN DANA
YANG DIHIMPUN DARI PAJAK YANG SAUDARA BAYAR.

2.2. Persyaratan Bahan

4
2.2.1. Untuk gudang dan bangsal kerja,digunakan rangka kayu, dinding papan dan
atap seng.
2.2.2. Untuk Direksi Keet, digunakan bahan rangka kayu, dinding papan atau
tripleks dicat, atap seng BLJS 0.20, lantai Rabat Beton.
2.2.3. Untuk penampung air kerja disiapkan drum penampung, air harus memenuhi
kualitas yang ditentukan dalam PBI. 1991.
2.2.4. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu kelas II 5/7 cm dan papan kayu kelas II
ukuran 2/20 cm.
2.2.5. Untuk alat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak dorong
dan lain-lain, digunakan bahan kayu setempat.
2.3. Pedoman Pelaksanaan
Pembersihan lokasi sekeliling bangunan meliputi pembersihan semua tanaman
tumbuh, termasuk pembongkaran akar-akar pohon yang terkena bangunan dan
halaman sekeliling bangunan, termasuk perataan tanah dan pembuatan terasering jika
diperlukan. Hasil pembersihan tersebut di atas dibuang ke luar lokasi pekerjaan.
2.4. Ukuran-Ukuran
2.4.1. Ukuran-ukuran patok dan ukuran tinggi telah ditetapkan dalam gambar dan
dijelaskan dalam gambar detail. Ukuran-ukuran dalam gambar tersebut
adalah ukuran setelah pekerjaan selesai dikerjakan.
2.4.2. Peil ketinggian lantai (± 0,00) diambil di sesuai dengan bangunan existing ,
ukuran tersebut merupakan perhitungan rata-rata di atas tanah berkontur
(tingginya akan ditentukan pada saat pematokan). Penentuan peil ini akan
dilakukan oleh Konsultan Perencana, konsultan Pengawas, dan unsur PTP
Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna
Anggaran) bersama-sama dengan Kontraktor. Selanjutnya peil ini harus
merupakan dasar tiap ukuran tinggi/rendah dan horizontal. Kontraktor harus
membuat ukuran tersebut di luar bangunan, kayu kelas II 5 x 7 cm dan pada
bagian ujungnya diberi cat dengan meni warna merah. Tanda tetap ini harus
dijaga dan dipelihara sampai bangunan selesai dikerjakan.
2.4.3. Penentuan titik-titik ketinggian dilakukan dengn selang air ukuran 1/4” atau
dengan alat ukur theodolit, sedangkan untuk sudut siku-siku dilakukan
dengan benang secara asas segitiga Pythagoras.
2.5. Kantor Pemborong dan Gudang
2.5.1. untuk keperluan kelancaran pelaksanaan konstruksi dan tempat tinggal
pekerja, Kontraktor diwajibkan membuat Direksi Keet, pondok kerja dan
gudang tempat penyimpanan bahan (KEET).
2.5.2. Bangunan keet ini dibuat dengan luas sesuai keadaan.
2.5.3. Untuk memudahkan pengawasan pada bangunan, keet ini disediakan dan
dilengkapi dengan peralatan Direksi Keet, seperti meja tulis, kursi, dan
peralatan lainnya.
2.5.4. Letak bangunan keet ini disesuaikan dengan situasi setempat, agar sirkulasi
pekerjaan tidak saling menghambat.
2.6. Pemasangan Bouwplank
2.6.1. Lingkup pekerjaan meliputi seluruh keliling tiap bangunan tersebut di atas.
2.6.2. Persyaratan bahan, Bahan dari kayu kelas II, dengan ukuran untuk patok 5/7
cm dan ukuran papan 2/20 cm.
2.6.3. Pedoman Pelaksanaan :
[Link] Papan diketam halus dan lurus pada sisi atasnya

5
[Link]. Harus benar-benar waterpass (timbang air) dan sudut-sudutnya
harus siku.
[Link]. Bouwplank harus terpasang kuat.
[Link]. Setelah Bouwplank terpasang, harus dimintakan persetujuan
tertulis (Berita Acara Pematokan) yang ditanda tangani oleh
unsur-unsur dari Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas,
PTP. Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan
Pengguna Anggaran) bersama Kontraktor, agar pekerjaan
selanjutnya dapat segera dilaksanakan.
B. SPESIFIKASI TEKNIK
1. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN
1.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan tanah terdiri dari :
a. Galian tanah untuk pekerjaan sub-struktur (Fondasi merus)
b. Galian tanah untuk Septicktank dan peresapan.
c. Galian tanah untuk saluran.
d. Timbunan kembali galian tanah pondasi.
e. Timbunan tanah dan pasir bawah lantai dan rabat keliling bangunan.
f. Perataan tanah sekeliling bangunan
g. Galian dan pengurugan tanah diluar bangunan untuk mendapat peil lantai dan peil
lahan yang disyaratkan

1.2. Galian Tanah Keras


a. Uraian Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan pembuangan atau
penuimbulan tanah atau batu atau bahan lain dari jalan atau sekitarnya yang diperlukabn
untuk penyelesaian dari pekerjaan dalam kontrak ini.
b. Pada Kontrak ini galian dapat diurai menjadi 3 (tiga) bagian yaitu galian untuk sub struktur
fondasi menerus, galian perataan lokasi bangunan, galian septicktang dan galian resapan.
1.3 Prosedur Pengalian
o Galian Fondasi Baru boleh dilaksanakan setelah bouwplank selesai diperiksa dan disetujui
Konsultan Pengawas atau pihak lain (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) bersama
kontraktor. Apabila ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, kabel telpon, atau
barang bersejarah lainnya yang masih dianggap penting dan berfungsi, maka kontraktor
secepatnya memberitahukan kepada konsultan pengawas dan PTP Dinas PU Setempat
( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) atau kepada instansi yang berwewenang
untuk mendapat petunjuk seperlunya. Kontraktor bertanggungjawab sepenuhnya atas segala
kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian tersebut.
o Bila ternyata galian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka
kentraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan bahan bekas galian fondasi
(dipadatkan) yang sesuai dengan spesifikasi fondasi.
Setelah pengukuran kedalaman dan lebar galian serta pengurukan pasir bawah pomdasi.
Difase berikut ini pamasangan batu kosong atau yang biasa disebut anstamping.
Anstamping dipasang dengan cara menyusun batu tanpa adukan dengan rapi dengan ukuran
ketimggian/tebal 20cm. dari permukaan pasir urug.
1.4. Persyaratan Bahan

6
Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian pondasi. Untuk
timbunan bawah lantai digunakan batu/tanah peralatan lokasi kualitas Baik dan pasir pasang
kualitas baik.
Tanah timbunan dan pasir urugan harus bersih dari kotoran-kontoran dan akar-akar kayu,
serta sampah lainnya.
1.5. Pedoman Pelaksanaan
 Galian pondasi baru boleh dilaksanakan setelah bouwplank dengan penandaan sumbu
selesai diperiksa dan disetujui konsultan Pengawas, PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat
(PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) bersama Kontraktor. Apabila di tempat
galian ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih
berfungsi, maka Kontraktor secepatnya memberitahukan kepada Konsultan Pengawas, dan
PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) Atau
kepada instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya. Kontraktor
bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerusakan yang diakibatkan Pekerjaan
galian tersebut.
 Bila teryata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka
Kontraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan bahan bekas galian pondasi
yang sesuai dengan Spesifikasi pondasi.
 Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dengan ketebalan tiap
lapis maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk lapisan
tersebut, menggunakan alat tumbuk yang baik (Stamper). Setelah lapisan pertama
padat, ditimbun dengan lapisan berikutnya dan dipadatkan kembali seperti di
atas. Demikian seterusnya dilakukan sampai semua lubang bekas galian pondasi
tertutup kembali.
 Pengurugan dengan tanah timbun di bawah lantai dilakukan lapis demi lapis
hingga ketebalan mencapai -17 cm di bawah ±0.000, ditumbuk hingga padat.
Lapisan –lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 15 cm.
 Pengurugan dengan tanah timbun di bawah rabat keliling bangunan, ram, lantai
rabat halaman parker dan jalan masuk dilakukan lapis demi lapis,ditumbuk hingga
padat. Lapisan-lapisan urugan untuk di tumbuk maksimal 10 cm.
 Di bawah lantai, rabat keliling bangunan, lantai rabat halaman parkir dan jalan
masuk setebal 10 cm diurug dengan pasir urug dan dipadatkan. Pengurugan dan
pemadatan ini dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh, kemudian ditumbuk
dengan alat yang sesuai untuk pemadatan. Hasil akhir harus mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas, PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP
sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) atas kesempurnaan pengurugan dan
pemadatan.

2. PEKERJAAN FONDASI
2.1. Lingkup Pekerjaan
Meliputi seluruh pekerjaan fondasi pasangan batu kali/belah menerus (cyclope) yang dalam
pengertian disusun dengan perekat mortar (adukan semen pasir) dan aanstamping (pasangan
atau susunan batu bela tanpa mortar/adukan, seperti yang tercantum dalam gambar rencana
dan dijelaskan dalam gambar detail.
2.2. Persyaratan Bahan
2.2.1. Batu Bela/Kali

7
Batu kali/batu belah yang dipergunakan berpenampang maksimum 15/20cm,
dengan tigaa muka pecahan, yang bersudut dan tidak berpori. Persyarat bahan batu
pecah lihat pada Pasal Beton bertulang.
Jika batu karang atau batu belah yang dipergunakan sebagai pondasi, harus di pilih
batu yang keras dan tidak keropos atau berpori dan dikerjakan sesuai bentuk dan
ukuran yang tertera dalam gambar.
2.2.2. Semen
 Digunakan Portland Cemen jenis I menurut NI-8 tahun 1975 dan memenuhi
S-400 menurut Standar Cemen Portlsnd yang digariskan oleh Asosiasi Cemen
Indonesia (NI-8 tahun 1972). Merek yang dipilih tidak dapat ditukar-tukar
dalam Pelaksanaan, terkecuali mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan
Pengguna Anggaran). Pertimbangan tersebut hanya dapat diberikan dalam
keadaan :
 Tidak ada stok di pasaran dari merk semen yang telah digunakan.
 Kontraktor memberikan data-data teknis bahwa mutu semen pengganti
setaraf dengan mutu semen yang telah dipakai.
 Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak
semen, tidak diperkenankan pemakainnya sebagai bahan campuran.
 Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang
lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen harus
ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang
masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen
dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
2.2.3. Pasir Beton
Pasir beton harus berupa butir-butir yang tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan
organis, lumpur dan sejenisnya serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam PBI-1991.
2.3. Pedomam Pelaksanaan
a. Sebelum pondasi dipasang, terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengukuran
untuk as-as pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan dimintakan persetujuan
konsultan pengawas tentang kesempurnaan galian.
b. Pemborong/Kontraktor wajib melaporkan kepada Konsultan Pengawas bila ada
perbedaan gambar konstruksi dengan gambar arsitektur atau bila ada hal-hal yang
kurang jelas.
c. Di bawah dasar pondasi dilapisi pasir urug setebal 5 cm atau sesuai gambar
rencana, dan dipadatkan. Di atas pasir urug, dipasang aanstamping, terdiri dari
batu kali.
d. Pondasi dibuat dari pasangan batu dengan adukan 1 Pc : 5 Psr yang diisi batu kali
(koral) / atau batu karang yang telah dibelah-belah terlebih dahulu.

3. PEKERJAAN BETON
3.1. Lingkup Pekerjaan
3.1.1. Rabat Beton perbandingan 1 Pc : 3 Ps : 5Krl (K-100) untuk :
- Rabat Dalam Bangunan, dan teras tbl. 5 cm
- Rabat Keliling Bangunan tbl. 5 cm
- Rabat Lantai Saluran tbl. 5 cm
3.1.2. Beton Bertulang dengan perbandingan 1 Pc : 2 Ps : 3 Bpc (K-225)untuk :

8
- Sloof. Top Elevasi -200mm
Ukuran 120mm x 200mm, Mutu beton K.225, Besi yang di pakai Tulangan Pokok
10mm(SNI),Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak sengkang 150mm
- Balok Latei. Top Elevasi +2250mm & +2750mm
Ukuran 100mm x 200mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI), Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak
150mm
- Ring Balok. Top Elevasi +3050mm & +3950mm
Ukuran 100mm x 200mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI), Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak
150mm
- Kolom Teras
Ukuran 150mm x 350mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 12mm(SNI), Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak
150mm
- Kolom-kolom Praktis 1.
Ukuran 120mm x 120mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI) Tulangan Sengkang 6mm(SNI) dengan jarak
150mm
- Kolom-kolom Praktis 1.
Ukuran 100mm x 100mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI) Tulangan Sengkang 6mm(SNI) dengan jarak
150mm
- Plat Beton tebal 10 cm
- Plat Beton Overstek Teras tebal 8cm
Tempat-tempat lain yang mempergunakan beton bertulang sesuai dengan gambar
rencana.

3.2. Persyaratan Bahan


3.2.1. Semen
 Digunakan Portland Cemen jenis I menurut NI-8 tahun 1975 dan memenuhi S-
400 menurut Standar Cemen Portland yang digariskan oleh Asosiasi Cemen
Indonesia (NI-8 tahun 1972). Merek yang dipilih tidak dapat ditukar-tukar dalam
Pelaksanaan, terkecuali mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas,
dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna
Anggaran). Pertimbangan tersebut hanya dapat diberikan dalam keadaan :
 Tidak ada stok di pasaran dari merk semen yang telah digunakan.
 Kontraktor memberikan data-data teknis bahwa mutu semen pengganti
setaraf dengan mutu semen yang telah dipakai.
 Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen,
tidak diperkenankan pemakainnya sebagai bahan campuran.
 Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab
agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen harus ditinggikan
30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk harus
dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan
menurut urutan pengiriman.
3.2.2. Pasir Beton

9
Pasir betonharus berupa butir-butir yang tajam dank eras, bebas dari bahan-bahan
organis, lumpur dan sejenisnya serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam PBI-1991.
3.2.3. Kerikil
Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan
kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam PBI-1991. Penimbunan kerikil dengan pasir
harus dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin
adukan beton dengan komposisi material yang tepat.
3.2.4. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkalin,
garam,bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja
tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
3.2.5. Besi Beton
a) Standar Rujukan
A.C.I. 315 : Manual of Standard Practice for Detailing Reinforced Concrete
Structures, American Concrete Institute.
AASTHO M31M-90 : Deformed and Plain Billet-steel Bar For Concrete Rein-
forcement.
AASTHO M32-90 : Cold Drawn Steel wire for Concrete Reinforcement.
AASTHO M55-89 :Welded Steel Wire Fabrics for Concrete
Reinforcement.
AWS D 2.0 :Standards Specifications for Welded Highway and Railway
Bridges.
Besi beton yang digunakan adalah baja lunak dengan mutu U-24 (tegangan leleh
karakteristik minimum 2400 kg/cm²)
b) Toleransi
 Toleransi untuk Fabrikasi harus seperti yang syaratkan dalam ACI.315.
 Baja tulangan harus dipasang sedemikian sehingga selimut beton yang
menutup bagian luar baja tulangan adalah sebagai berikut :
i) 3,5 cm untuk beton yang tidak terekspos langsung dengan udara
atau terhadap air tanah atau terhadap bahaya kebakaran;
ii) Seperti yang ditunjukan dalam Tabel 3.2 untuk beton yang
terendam/ tertanam atau terekspos langsung dengan cuaca atau
timbunan tanah tetapi asih dapat diamati untuk pemeriksaan;
iii) 7,5 cm untuk seluruh beton yang terendam/tertanam dan tidak bisa
dicapai, atau untuk beton yang tak dapat dicapai yang bila keruntuhan
akibat karat pada baja tulangan dapat menyebabkan berkurangnya
umur atau struktur, atau untuk beton yang ditempakan langsung di
atas tanah atau batu, atau untuk beton yang berhubungan langsung
dengan kotoran pada selokan atau cairan korosif lainnya.
Daya letak baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan
bahan lainnya.
Besi beton harus disimpan dengan baik yakni tidak menyentuh tanah dan tidak boleh
disimpan di udara terbuka dalam jangka waktu panjang.
Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin.
Tulangan harus dipotong dan dibengkokan sesuai gambar dan harus dimintai
persetujuan Konsultan Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP
sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) terlebih dahulu. Jika pemborong tidak berhasil

10
memperoleh diametrer besi sesuai yang ditetapkan dalam gambar, maka dapat
dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan :
 Harus ada persetujuan dari Konsultan Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum
setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran)
 Jumlah besi per satuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh
kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah
jumlah luas)
3.2.6. Cekatan dan Acuan
 Bahan yang digunakan untuk cekatan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-
batas yang sesuai dengan yang ditunjukan oleh gambar rencana dan
uraian pekerjaan.
 Pembuatan cekatan dan acuan harus memenuhi ketentuan-ketentuan
di dalam Pasal 5.1 PBI 1991.
3.2.7. Mutu Beton
 Mutu Beton yang digunakan adalah f’c : 9,8 Mpa dan 19,3 Mpa.
3.2.8. Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran
harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Perencana dan
Konsultan Pengawas, yaitu :
 Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
 Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah di Cor dan yang akan di Cor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi table 4.4.1 PBI 1991.
3.2.9. Pengecoran
 Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis
Konsultan Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat
( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran). Selama pengecoran
berlanngsung, pekerja dilarang berdiri dan derjalan-jalan di atas
penulangan. Untuk dapat sampai ke tempat-tempat yang sulit dicapai
harus digunakan papan-papan berkaki yang tidak membebani
tulangan. Kaki-kaki tersebut harus sudah dapat dicabut pada saat
beton dicor.
 Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat
penghentiannya harus desetujui oleh Konsultan Pengawas, dan PTP
Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna
Anggaran). Untuk melanjut bagian pekerjaaan yang diputus tersebut,
bagian permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan di buat
kasar, kemudian diberi additive yang memperlambat proses
pengerasan. Kecuali pada pengecoran kolom, adukan tidak boleh
dicurahkan dari ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5 m.
3.2.10. Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 21 (dua puluh satu) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut :
 Dipergunakan karung-karung yang senantiasa basah sebagai
penutup beton.

11
 Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil,
permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya
pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak
memenuhi syarat, harus dibongkar kembali sebagian atau
seluruhnya menurut perintah konsultan Pengawas. Untuk
selanjutnya diganti atau diperbaiki segera atas resiko pemborong.

3.3. Pedoman Pelaksanaan


 Kecuali ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini, maka sebagai
pedoman dipakai PBI 1991.
 Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Konsultan pengawas apabila ada
perbedaan yang didapat di dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur.

4. PEKERJAAN DINDING
4.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pemasangan dinding batu bata/batu merah dilakukan untuk seluruh pembatas
ruangan, Tangga, Saluran dan Septicktank, atau seperti yang tertera dalam gambar dan
dijelaskan dalam gambar detail.
b. Pemasangan lapisan dinding bagian dalam KM/WC menggunakan pasangan trasraam
atau sesuai RAB/Gambar.
4.2. Persyaratan Bahan
4.2.1. Bata
Bentuk standar batu bata adalah prisma empat persegi panjang, bersudut siku-siku
dan tajam, permukaannya rata dan tidak menampakkan adanya retak-retak yang
merugikan. Bata merah dibuat dari tanah liat dengan atau campuran bahan lainnya
yang dibakar pada suhu cukup tinggi hingga tidak hancur bila direndam air dan
bermutu baik.
4.2.2. Pasir
Harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, butir-butir harus berifat kekal,
artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan
hujan. Kadar lumpur tidak boleh melebihi dari 5% berat.
4.2.3. Semen dan Air
Untuk persyaratan kedua bahan tersebut, mengikuti persyaratan yang telah
digariskan pada pasal beton bertulang.
4.3. Pedoman Pelaksanaan
4.3.1. Pekerjaan dinding mempunyai dua macam pasangan, yaitu :
 Pasangan kedap air (1 Pc : 3 Ps)
 Semua pasangan bata merah dimulai di atas sloof sampai setinggi 20 cm
d atas lantai atau sesuai dengan gambar rencana dan yang dijelaskan
dlam gambar detail.
 Pasangan dinding WC setinggi 1,20 cm di atas permukaan lantai atau
sesuai dalam gambar rencana untuk penempatan keramik.
 Pasangan adukan 1 Pc : 5 Ps berada di atas pasangan kedap air tersebut.
4.3.2. Persyaratan Adukan
Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati, diaduk didalam bak kayu yang
memenuhi syarat. Mencampur semen dengan pasir harus dalam keadaan kering,
yang kemudian diberi air sampai didapat campuran yang plastis. Adukan yang telah

12
mengerng akibat tidak habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi
dengan adukan yang baru.
4.3.3. Pengukuran (Uit Zet) harus dilakukan oleh Kontraktor secara teliti dan sesuai
gambar, dengan syarat :
 Semua pasangan dinding harus rata (horisonta), dan pengukuran harus
dilakukan dengan benang.
 Penngukuran pasangan benang antara satu kali menaikkan benang tidak
boleh melebihi 30 cm dari pasangan bata yang telah selesai.
4.3.4. Lapisan bata merah yang satu dengan lapisan bata merah di atasnya harus berbeda
setengah panjang bata merah. Bata merah setengah tidak dibenarkan digunakan di
tengah pasangan dinding, kecuali pasangan pada sudut.
4.3.5. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga menurun dan
tidak tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari. Pada tempat-tempat
tertentu sesuai gambar diberi kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan
dengan gambar detail.
4.3.6. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang ditanam dalam dinding, harus dibuat
pahatan secukupnya pada pasangan bata merah (sebelum diplester).
4.3.7. Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup dengan adukan plesteran
yang dilaksanakan secara sempurna, dikerjakan bersama-sama dengan plesteran
seluruh bidang tembok.
4.3.8. Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat
harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan sesuatu
penutup yang sesuai (plastic). Dinding yang telah di pasang harus diberi perawatan
dengan cara membashinya secara terus menerus, paling sedikit 7 hari setelah
pemasangnya.
4.3.9. Pemasangan dinding KM/WC menggunaka pasangan trasraam.
4.3.10. Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada retak, noda, cacat-cacat lainnya.
Apabila terjadi cacat pada dinding, maka pada bagian cacat tersebut harus
dibongkar sampai berbentuk bujur sangkar dan pasangan baru harus rata dengan
sekitarnya.

5. PEKERJAAN PLESTERAN dan ACIAN SAUS SEMENS


5.1. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan plesteran dan acian dilakukanpada seluruh pasangan bata merah, beton bertulang,
septictank, pondasi, saluran atau bagian-bagian konstruksi lainnya yang menggunakan plesteran dan
acian semen.
5.2. Persyaratan Bahan
Bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam pasal beton bertulang.
5.3. Pedoman Pelaksanaan
a. Sebelum plester dilakukan maka :
o Dinding dibersikan dari semua kotoran
o Dinding dibasahi dengan air
o Semua siar permukaan dinding batu merah dikorek sedalam 0.5 cm.
o Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan plesteran dapat merekat
dengan baik.

13
o Untuk mencapai bidang yang rata dan sudutnya siku maka sebelum dilakukan plester
terlebih dahulu ditarik benang atau tali dengan batu lot dan mistar siku dengan tinggi
atau jarak benang dengan bidang yang akan ditutup dengan plester sesuai dengan
ketebalan plesteran yang disyaratkan..
Setelah benang atau tali diyakini sudah lot dan siku dibuat bantalan dari potongan
belahan bambu 2x4cm yang dibenamkan dalam adukan plesteran setinggi atau tebal
sesuai benang. Dibuat berbaris vertical dengan jarak bantalan 1m dan jarak horizontal
1.5m.
Setelah proses atau fase diatas sudah selesai tahap berikut adalah menyatukan atau
menyambung bantalan dengan bantalan secara vertical.
Tahapan ini tidak lansung diplester namun dibiarkan hingga mengeras 1 sampai 2 hari
untuk menjaga kestabilan pada saat plesteran berlangsung.
b. Adukan plesteran beton dipakai campuran 1Pc : 3Psr, sedangkan plesteran bata merah
menggunakan campuaran 1Pc : 5 Psr
c. Ketebalan plesteran pada semua bidang permukaan harus sama tebalnya dan tidak
diperbolekan plesteran terlalu tipis dan terlalu tebal.
d. Ketebalan yang di perbolehkan berkisar antara 2.00 cm – 2,50 cm. Untuk mencapai
ketebalan plesteran yang rata sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara silang dengan
menggunakan mistar aluminium (jidar) panjang yang digerakan secara horisontal dan
vertical.
e. Bila mana terdapat bidang plesteran yang berombak, harus diusahakan memperbaiki secara
keseluruan. Bidang-bidang yang diperbaiki hendaknya dibongkar secara teratur (dibuat
bongkaran berbentuk segi empat) dan plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.
f. Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembapannya selama seminggu sejak permulaan
plesterannya.
g. Acian saus semen diaduk sampai didapat campuran yang plastis.
h. Kontraktor wajib melaporkan kepada konsultan pengawas bila ada perbedaan gambar
konstruksi dengan gambar detail atau bila ada hal – hal yang kurang jelas.

6. PEKERJAAN DINDING KERAMIK


6.1. Lingkup Pekerjaan
a) Pemasangan keramik dinding dibuat pada dinding dalam KM/WC, dengan ukuran
yang digunakan adalah 40X40cm.
6.2. Persyaratan Bahan
Bahan keramik yang digunakan produksi dalam negeri yang berkualitas baik atau KW I dengan
rincian sebagai berikut:
a) Dinding kamar KM/WC dipasang kramik dinding dengan ukuran 40x40cm yang motif
dan warnanya disesuaikan dengan kramik lantai KM/WC.
6.3. Pedoman Pelaksanaan
6.3.1. Dinding tempat pemasangan keramik atau porselin diplester kasar dengan campuran 1
Pc : 3 Ps, kemudian di atas plester tersebut ditempel keramik atau menggunakan pasta
semen.
6.3.2. Tinggi dinding keramik KM/WC 2 m.
6.3.3. Permukaan pasangan keramik atau porselin harus datar, rata alurnya harus sama
besarnya. Celah-celah antar keramik/porselin diisi dengan semen berwarna sama
dengan warna keramik/porselin/ubin kepala basah.

14
7. PEKERJAAN LANTAI
7.1. Lingkup Pekerjaan
Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian lantai ruang, tangga, dan KM/WC.
Pekerjaan lantai terdiri dari :
a. Pekerjaan lantai menggunakan rabat beton sebagai lantai kerja spesi pengikat dilapisi
keramik 40 x 40 cm untuk ruangan dalam.
b. Teras depan keramik 40x40 polos.
c. Tangga menggunakan kramik 40x40 tekstur permukaan kasar.
d. Lantai KM/WC menggunakan keramik kasar 40 x 40cm. dengan tekstur permukaan kasar.
7.2. Persyaratan Bahan
Bahan pasir, semen, dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam pasal beton
bertulang. Keramik menggunakan merek/kualitas terbaik. Penggunaan keramik yang telah retak,
pecah atau mempunyai sudut yang tidak benar tidak diperkenankan.
7.3. Pedoman Pelaksanaan
7.3.1. Dasar Lantai
 Sebelum dipasang tegel/kramik, dasar lantai terlebih dahulu dilapisi pasir urugan
setebal 5 cm atau sesuai dengan gambar rencana dan dipadatkan dengan stamper
sampai benar-benar padat, dan lantai rabat beton 1 : 3 : 5 dengan ketebalan 7cm
dalam gambar rencana, baru batu dipasang keramik. Khusus untuk pemasangan
lantai keramik setelah rabat beton digunakan campuran 1 : 4.
 Untuk lantai dasar dibuat tikar beton/pengecoran sesuai dengan gambar
rencana/bestek.
7.3.2. Pemeriksaan
Sebelum lantai dipasang, Kontraktor harus memeriksa semua pasangan pipa-pipa,
saluran-saluran dan lain sebagainya yang harus sudah terpasang dengan baik sebelum
pemasangan lantai dimulai.
7.3.3. Adukan
a. Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
b. Saus semen untuk acian menggunakan semen dicampur air, sehingga didapat
campuran yang plastis.
7.3.4. Pemasangan
a. Lantai beton tumbuk dipasang dengan ketebalan 0,5 cm. Adukan perekat lantai
dipakai 1 Pc : 3Ps : 5 Kr.
b. Lantai beton tumbuk, plesteran dan acian harus rata dan tidak bergelombang.
c. Pemasangan tegel keramik setelah pekerjaan rabat beton. Pekerjaan yang telah
selesai tidak boleh ada retak, noda dan cacat-cacat lainnya. Apabila terjadi cacat
pada lantai, maka bagian cacat tersebut harus dibongkar sampai berbentuk bujur
sangakar dan pasangan baru harus rata dengan sekitarnya.
d. Permukaan lantai pada KM/WC dimiringkan 1 % kea rah floor drain.
e. Penutupan siar-siar lantai tegel keramik menggunakan acian saus semen dan
dilakukan sampai merata. Warna acian siar untuk keramik disesuaikan dengan
warna keramik.

8. PEKERAAN KAYU
8.1. Lingkup Pekerjaan

15
Item pekerjaan yang memiliki bahan kayu sebagai bahan utama dalam melengkapi pekerjaan ini
adalah Lingkup pekerjaan kayu meliputi pekerjaan yang dilakukan di lokasi dan.
Bagian pekerjaannya adalah :
a. Pekerjaan Rangka Atap dan Listplank,
b. Pekerjaan Pintu, Jendela, dan Roster
c. Pekerjaan Plafon
8.2. Persyaratan Bahan
Bagian pekerjaan ini dapat diurai bagian demi bagian untuk lebih detil dalam jenis dan
ukurannya dan kulitas kayu yang dipasang.
Pekerjaan Rangka Atap Terdiri dari ;
a) Pekerjaan kuda-kuda mengunakan kayu balok klas II Meranti dengan ukuran
6x12cm
b) Pekerjaan papan pengapit menggunakan kayu klas II Meranti dengan ukuran
6X12cm
c) Pekerjaan Gording dan Cloos mengunakan kayu klas II Meranti dengan
ukuran 5x10cm
d) Pekerjaan Listplank menggunakan papan klas II yang diserut rapi dan rata
disetiap sisi dengan ukuran 2,5x25cm
8.2.1 Pekerjaan Kusen Pintu dan Jedela, Daun Pintu dan Jendela, Roster.
a. Untuk semua kusen pintu, jendela, digunakan kayu klas I / kayu bayam kualitas
terbaik.
b. Untuk semua daun jendela digunakan jendela kaca polos 5 mm, rangka kayu klas I
kualitas terbaik.
c. Untuk semua daun pintu digunakan daun pintu panil klas I dan tripleks double
teakwood dilapisi aluminium foil / formika untuk KM / WC.
8.2.2 Pekerjaan Plafond.
a. Untuk rangka plafond menggunakan kayu mutu kelas II kualitas terbaik, ukuran
5x7cm.
b. Ukuran kayu yang tertera dalam gambar merupakan ukuran terpasang
c. Kayu harus betul-betul kering, tidak keropos, lurus, tidak cacat / bermata.
d. Jarak rangka plafon 60x120 cm
e. Tripleks yang digunakan tebal 4 mm
8.3. Pedoman Pelaksanaan
1. Kayu kuda-kuda
 Semua kayu untuk kuda-kuda, pengait kuda-kuda, gording,balok bubungan dan
ikatan angin diawetkan dengan residu. Pengecatan dengan residu harus dilakukan 2
kali, sehingga menghasilkan warna yang merata pada seluruh permukaan kayu.
 Konstruksi harus dibuat sesuai gambar detail, untuk ukuran kayu maupun cara
penyambungannya.
 Sambungan kayu harus dibuat dengan rapi dan penuh kealhian dengan
memperhatikan peraturan yang disyaratkan dalam SK-SNI-5-10-1990-F.
Konstruksi sambungan kuda-kuda harus dilengkapi dengan baut.
2. Kosen pintu, jendela dan Roster
 Ukuran kayu untuk kusen adalah 5/11 cm dan disponing dan diprofil (ukuran
setelah jadi dibuat).
 Untuk kusen pintu; kayu kusen batang vertical bagian bawa rata dengan peil ±0.000
lantai bangunan, neut beton berada pada muka lantai sapai pada sloof.

16
 Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar, ikatan perkuatan harus
menggunakan pen kayu keras yang sebelumnya bidang sambungan ini arus
dilumuri dengan lem kayu, agar sambungannya dapat melekat dengan baik.
 Setiap kusen pintu harus dilengkapi angker minimal 3 buah untuk bauh, di kiri
kanan kusen yang melekat ke tembok. Khusus untuk kosen pintu, di bawah kusen
dilengkapi dengan dork yang diangker ke dalam neut beton.
 Semua bidang kusen yang bersinggungan dengan dinding/beton dibuat alur-alur
kapur, kemudian bidang tersebut diawetkan dengan cat meni 2(dua) kali.
 Kayu kosen dari kayu kelas I setaraf kayu bayam.
3. Daun pintu / jendela dan Ventilasi / Roster
 Pintu digunakan pitu panil kayu klas I. Untuk pintu KM/WC, digunakn pintu
teakwood yang dilapisi dengan formika pada bagian dalam KM/WC.
4. Jendela dibuat rangka, bahan kayu kelas I dengan panel kaca tebal 5mm. Bentuk dan
tampilan sesuai gabar. Pemasangan kaca harus diperhatikan terhadap muai susut baik
dari kosen maupun bahan kaca tersebut.
5. Daun boven dari Roster Keramik berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 20x20
sesuai tebal tembok pada lobang.
6. Listplank
Listplank dari papan GRC (Woodplank) ukuran L :25 cm disesuaikan dengan gambar
perencanaan. Pemasangannya dipakukan langsung pada gording. Pemasangan harus
rapid an lurus. Apabila dijumpai pemasangan yang tidak lurus, maka bagian tersebut
harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas beban Kontraktor.
7. Plafond
 Rangka plafond menggunakan kayu kelas mutu II. Pemasangan rangka utama
dipakukan pada dinding (menggunakan paku tembok) dan bagian rangka lainnya
digantung dengan menggunakan penggantung dari kayu kelas mutu yang sama pada
rangka kuda-kuda. Ukuran panjang dan lebar rangka kayu plafond disesuaikan
dengan gambar rencana yakni 60x120cm
 Pembuatan rangka plafond harus benar-benar memiliki permukaan yang rata sebelum
dipasang lapisan penitup dari tripleks. Lapisan penutup yang digunakan,
menggunakan tripleks tebal 4 mm.
8. List Plafond
List plafond menggunakan kayu kelas II diprofil.

9. PEKERJAAN PENUTUP ATAP


9.1. Lingkup Pekerjaan
Bagian pekerjaan yang dilaksanakan adalah menutup semua bidang atap bangunan.
9.2. Bahan yang digunakan
Untuk semua atap digunakan seng gelombang BJLS 0.30 dan untuk bubungan atap
digunakan Seng plat ukuran jadi BJLS 0.30, produksi dalam negeri.
9.3. Pedoman Pelaksanaan
1 Pemasangan atap diletakan pada gording. Cara pemasangannya dengan memakai
paku seng, dengan jarak gording disesuaikan dengan gamabar rencana.
2 Tiap sambungan diberi tindisan sesuai dengan spesifikasi pabrik. Minimal tindisan
antar satu seng dengan seng yang lainnya harus sesuai dengan persyaratan pabrik.

17
3 Bubungan ditutup dengan seng bubungan. Tindisan antara satu bubungan dengan
bubungan yang lainnya harus sesuai dengan persyaratan pabrik.
4 Pemasangan harus rapi dan memenuhi syarat-syarat sehingga tidak mengakibatkan
kebocoran. Apabila terjadi kebocoran setelah pemasangannya, maka bagia yang bocor
tersebut harus dibongkar dan dipasang baru. Kerugian akibat hal tersebut menjadi
tanggung jawab sepenuhnya pada Kontraktor.

10. PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGATUNG


10.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan pengunci dan penggantung dipasang pada semua daun pintu dan jendela,
selanjutnya pada jendela dipasang grendel dan kait angin.
10.2. Persyaratan Bahan
a. Engsel-engsel dari kuningan ukuran 4’ untuk menggantung daun pintu. Sedangkan
untuk jendela menggunakan engsel 3’.yang dilengkapi kait angin.
b. Kunci pintu dipasang merk Paori 2 (dua) Slaag (dua kali putar) atau yang setara.
c. Grendel dan kait angin berkualitas baik.
d. Ekspanyolet berkualitas baik.
10.3. Pedoman Pelaksanaan
a. Setiap daun pintu dipasang kunci tanam 2 (dua) slag merk setara Paori, yang
berkualitas baik.
b. Engsel pintu dipasan ukrn 4’ - 3 (tiga) buah setiap lembaran daun pintu. Pemasangan
dilakukan dengan mur khusus untuk pintu, tidak dibenarkan melengketkan ke pintu
dan ke kosen dengan menggunakan paku. Penguncian mur harus dilakukan dengan
memutarnya denga obeng, sehingga seluruh batang masuk dan menempel kuat ke kayu
yang dipasang.
c. Untuk alat-alat tersebut di atas sebelum dipasang, Kontraktor wajib memperlihatkan
contoh terlebih dahulu untuk dimintakan persetujuan Konsultan Pengawas atau
pemberi tugas.
d. Apabila pada waktu pemasangan alat-alat tersebut tidak sesuai dengan yang
disyaratkan, maka pengawas berhak untuk menyuruh bongkar kembali dan diganti
dengan alat-alat yang disyaratkan atas biaya Kontraktor.
e. Engsel dan hak angin dipasang 2 (dua) buah untuk setiap daun [Link]
harus rapi dan dapat bekerja dengan baik.

11. PEKERJAAN PIPA DAN PERLENGKAPAN SANITASI


11.1. Lingkup Pekerjaan
Pelaksanaan pekerjaan meliputi pembuatan unit MCK, Zink Pantry, saluran pembuangan air
kotor dan septicktank.
11.2. Bahan yang digunakan
a. Pipa PVC diameter ½ untuk keperluan air bersih.
b. Kran diameter ½ dari kuningan.
c. Pipa PVC AW 1,5’: 2’:3’ dan 4’.
d. Saringan air kotor/floordrain dari plat galvanis kwalitas baik.
e. Zink (Tempat Cuci Piring) kualitas baik.
f. Closed duduk kualitas baik (INA)
g. Speticktank dan resapan seperti gambar detail.
h. Bak Air PVC
11.3. Pedoman Pelaksanaan

18
a. Pemasangan pipa-pipa di dalam bangunan dipasang di dalam dinding (in bouw).
Pemasangan pipa-pipa tersbut harus horizontal dan vertical tidak boleh dipasang
miring.
b. Setelah selesai pemasangan, harus dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh
jaringan air, yang disaksikan oleh Kontraktor konsultan pengawas dan atau PTP
Dinas Pekerjaan Umum setempat ( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran)
dan Pemilik Pekerjaan.
c. Air kotor dari MCK dialirkan melalui pipa PVC diameter 3” ke peresapan.
d. Pembuangan air limbah/kotoran dai wasstafel dialirkan dengan pipa PVC tipe
AW diameter 2” dan 3” ke bak control, dan saluran air dari bak control ke
peresapan melalui pipa PVC tipe AW diameter 4”. Pada tempat-tempat tertentu
sebelum pipa dihubungkan ke septicktank, harus dipasang satu buah bak control.
e. Septicktank dibuat dari pasangan trasraam bata merah adukan 1 Pc : 3 Ps, dengan
sisi dalamnya diplester dengan adukan yang sama dan bagian atasnya plat beton
bertulang 1 Pc : 2Ps : 3 Kr tebal 10 cm (termasuk titik control) dan diperkuat
dengan rangka sloof, kolom dan balok dari beton, serta diberi pipa pembuangan
udara dari pipa PVC diameter 2ˮ, dengan tinggi 1.2 m dari permukaan
[Link] bak septicktank ke peresapan kurang lebih 2 m. Peresapan berupa
galian tanah dengan ukuran sesuai gambar dan dilengkapi urugan batu karang,
kerikil, pasir dan dilapisi dengan ijuk sesuai dengan petunjuk gambar.
f. Penyaluran tinja dari septicktank ke peresapan dipasang pipa PVC Ø 4”, sesuai
dengan petunjuk dalam gambar.
g. Segala sesuatu mengenai bentuk, ukuran maupun kapasitas septicktank dan
sumur peresapannya harus dilaksanakan sesuai gambar yang bersangkutan. Tata
letak sumur peresapan (rembesan) sekurang-kurangnya 8 m dari sumber air tanah
( sumur gali/sumur bor) agar tidak terjadi pencemaran trehadap sumber air
tersebut.

12. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK


12.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan instalasi listrik meliputi pemasangan meteran listrik 1300kwh dan jaringan
instalasi di dalam bangunan, sebagaimana gambar [Link] arus yang bersumber
dari instalasi PLN (Perusahaan Listri Negara), penggunaan generator listrik, penyediaan
bola lampu, kabel-kabel, pipa PVC, tiang listrik dan sebagainya sehingga listrik menyala.
12.2. Bahan yang digunakan
a. Kabel NYA/NYM eks Eterna atau yang sekualitas.
b. Pipa kabel dari pipa PVC khusus untuk instalasi listrik 5/8’.
c. Steker stop kontak dan saklar dari Broco.
d. Bola lampu PLC Philips, TL dan armaturnya adalah produksi nasional merk Philips,
matsui, thosiba, tungsram atau yang sekualitas.
e. Panel box MCB yang dilengkapi fuse, switsh untuk pembagian group pemasangan
instalasi listrik, produksi dalam Negeri (Nasional) atau sekualitas, dengan arde
(pentanahan) dari kabel BC 6mm.

12.3. Pedoman pelaksanaan


a. Pemasangan instalisi listrik dan tata letak titik lampu/stop kontak serta jenis armature
lampu yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan gambar instalasi listrik. Sedangkan

19
system pemasangan pipa-pipa listrik pada dinding maupun beton harus ditanam (system
inbouw) dan penarikan kabel (jaringan kabel) di atas plafond diikat dengan isolator
khusus dengan jarak 1,00 atau 1.20 m atau jaringan kabel di atas plafond tersebut
dimasukan ke dalam pipa PVC. Khusus untuk instalasi stop kontak harus dilengkapi
dengan kabel arde (pentanahan) sesuai dengan peraturan yang berlaku (mencapai dan
terendam air tanah).
b. Pemasangan instalasi listrik berikut penggunaan bahan/komponen-komponennya harus
disesuaikan dengan system tegangan lokal 22 0volt.
c. Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan
Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran), pemborong boleh
menunjuk pihak ketiga (instalatur) yang telah memiliki ijin usaha instalasi listrik atau
ijin sebagai instalatur yang masih berlaku dari Perum Listrik Negara (PLN). Pemborong
tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan ini sampai listrik menyala (siap
digunakan) termasuk biaya pengujian dengan pihak PLN.
d. Pengujian instalasi listrik harus dilakukan Kontraktor pada beban penuh selama 1 x 24
jam secara terus menerus. Semua biaya yang timbul akibat pengujian ini menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
e. Kontraktor berkewajiban memasukan arus yang bersumber dari instalasi PLN. Biaya
penambahan pipa dan kabel listrik menjadi beban kontraktor.

13. PEKERJAAN FINISHING


13.1. Lingkup Pekerjaan
a. Meni besi dan cat seng untuk atap seng bagian atas.(satu sis)
b. Cat kayu untuk bidang-bidang kayu kosen yang nampak boven, listplank, daun
pintu panil, daun pintu double teakwood lapis aluminium foil, rangka jendela
kaca, plafond dan list plafond.
c. Cat tembok untuk dinding yang diplester dan bidang-bidang beton.
d. Residu kap kayu kuda-kuda dan gording.

13.2. Bahan Yang Digunakan


Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas baik, seperti :
a. Meni besi dan seng berkualitas baik.
b. Cat kayu berkualitas baik.
c. Cat tembok berkualitas baik.
d. Residu kualitas baik, tidak luntur.
13.3. Pedoman pelaksanaan
a. Pekerjaan menie, residu harus betul-betul rata, warna sama, pengecatan minimal 2
(dua) kali.
b. Pekerjaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis, dengan memperhatikan waktu
pengeringan jenis bahan yang digunakan.
Urutan pekerjaan sebagai berikut :
 1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur kayu
 Penghalusan dengan amplas.
 Finising dengan cat kayu sampai rata minimal 2 (dua) kali.
c. Pengecatan dinding harus dilakukan menurut proses sebagai berikut :
 Penggosokkan dinding dengan amplas kasar sampai rata dan halus, setelah itu
dilap dengan kain basah sampai bersih.

20
 Melapisi dinding dengan plamur tembok dipoles sampai rata. Setelah betul-
betul kering digosok dengan amplas halus dan dilap dengan kain kering yang
bersih.
 Pengecatan dengan cat tembok emulasi sampai rata, minimal 2 (dua) kali.
 Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama dan tidak
terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.
d. Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut :
 Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.
 Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang pengecatan
yang merata sama dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda yang
mengelupas.
e. Warna yang digunakan
Warna sebagai berikut :
 Dinding dalam/luardigunakan cat warna putih coklat.
 Plafond tripleks cat warna putih (pear white).
 Kusen pintu, jendela, boven, listplank dan ralling pan digunakan cat warna coklat
(candy brown 925) dari daftar warna cat kudang terbang atau yang sekualitas.
 Daun pintu panel di teak oil warna sama dengan daun jendela.

21
BAB III
PENUTUP

 Apabila ternyata terdapat ketidaksesuaian antara gambar dan RKS, maka diambil gambar
detail sebagai pedoman dan bila juga tidak sesuai atau kurang jelas, maka berlakuapa yang
tercantum dalam RKS atau meminta petunjuk Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas,
dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat ( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran).
 Pembuatan administrasi / dokumentasi, biaya keamanan/jaga malam, obat-obatan/ P3K,
papan nama proyek, dan Direksi Keet lengkap.
 Sebelum pekerjaan diserah terimakan, Kontraktor diwajibkan membersihkan bahan-bahan
bangunan, kotoran-kotoran bekas yang ada dalam lokasi bangunan, sehingga pada saat serah
terima dilaksanakan, bangunan dalam keadaan bersih dan rapi.
Pada waktu diadakan serah terima pertama pekerjaan, maka Kontraktor harus
menyerahkan :
 Surat Izin Mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat.
 Surat Tanda good keer pemasangan instalasi listrik dan berikut akan gambar
pemasangan instalasi listrik dari pihak PLN setempat.
 Bukti setoran bahan galian C.
 Penjelasan masing-masing lingkup proyek ini telah dijabarkan pada masing-masing pasal di
atas, kecuali :
 Administrasi/dokumentasi dimaksudkan kegiatan kontraktor untuk membuat segala
administrasi proyek, yaitu membuat buku laporan harian, mingguan, bulanan, dan as
built drawing, foto-foto proyek dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kelancaran
pekerjaan. Obat-obatan/P3K minimum disediakan di lapangan untuk 20 orang pekerja.
 As built drawing adalah gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan
dan harus diserahkan selambat-lambatnya 4 minggu setelah serah terima pertama
pekerjaan.
 Kontraktor diwajibkan membuat foto kemajuan pekerjaan dari 0% samapi 100%, yang
dapat dilihat dari semua arah bangunan. Pengulangan foto harus dilakukan pada sisi
yang sama secara berurutan sehingga akan jelas terlihat sisi tersebut dari permulaan
sampai akhir pekerjaan.
 Pembayaran pekerjaan lain-lain ini didasarkan pada unit taksiran penawaran
Kontraktor. Harga taksiran ini mencakup semua kebutuhan Kontraktor sehingga
bagian pekerjaan ini berjalan dengan baik dan sempurna.
Apabila ada pekerjaan yang tidak disebutkan dalam uraian ini, yang ternyata pekerjaan
tersebut harus ada agar dapat menghasilkan hasil akhir yang sempurna, maka pekerjaan
tersebut harus dilaksanakan oleh Kontraktor atas petunjuk Konsultan Pengawas dan
PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran)
yag didasari atas gambar rencana serta Rencana Anggaran Biaya (RAB).

22

Anda mungkin juga menyukai