Spesifikasi Teknis Rehabilitasi Kelas
Spesifikasi Teknis Rehabilitasi Kelas
BAB I UMUM
1.1. LINGKUP PEKERJAAN
Menindak lanjuti Kerangka Acuan Kerja, setelah dipahami dan ditanggapi maka Lingkup
Pekerjaan Rehabilitasi Ruang Kelas, yang diurai dari persiapan sampai pada pembersihan akhir.
Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada Gambar Rencana, BOQ dan RKS
yang menjadi bagian tidak
terpisahkan dari rencana kerja dan syarat-syarat ini.
Cakupan kegiatan mobilisasi yang diperlukan akan tergantung pada jenis dan volume pekerjaan
yang harus dilaksanakan, sebagaimana yang disyarat pada bagian lain item pekerjaan, dan secara
umum meliputi :
Penyewaan sebagian lahan yang diperlukan untuk base camp Kontraktor dan kegiatan
pelaksanaan.
Mobilisasi staf pelaksana Lapangan dan para pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan
penyelesaian pekerjaan.
Mobilsasi dan pemasangan peralatan sesuai daftar kebutuhan peralatan yang tercantum dalam
penawaran.
Penyediaan fasiliatas kantor lapangan dan fasilitas untuk Direksi Pekerjaan/Pengawas
Pekerjaan sesuai yang tercantum dalam penawaran.
c) MOBILISASI LAINNYA
Rekayasa lapangan:
Kontraktor harus menyediakan personil alhi teknik untuk memperlancar pekerjaan
sehingga memperoleh mutu, kinerja dan dimensi sesuai yang disyaratkan dalam
ketentuan.
Dalam menjalankan tugasnya personil tersebut dapat melakukan koordinasi dan kerja
sama dengan pihak Direksi/Pengawas untuk seluruh kegiatan di lapangan baik Teknis
maupun Non Teknis.
Ais Build Drawing :
1
Setelah seluruh pekerjaan telah diselesaikan dengan baik dan memenuhi Serah Terima
Pertama, maka Kontraktor harus menyediakan gambar-gambar pelaksanaan sebagai
Dokumen akhir dari laporan Pho, yang telah disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan.
Dokumentasi :
Dalam memenuhi syarat-syarat pembayaran terhadap volume pekerjaan yang telah
dikerjakan, maka Kontraktor harus menyediakan foto-foto terhadap pekerjaan yany telah
selesai dilaksanakan dan disetujui oleh Direksi/Pengawas Lapangan.
Pelaporan :
Untuk kelengkapan administrasi kegiatan, maka Kontraktor harus membuat dan
menyediakan laporan-laporan yang meliputi laporan harian, laporan mingguan, dan
laporan bulanan, laporan curah Hujan serta laporan Berita Acara yang dipersyaratkan
sesuai item kegiatan dalam melengkapi pemenuhan system administrasi.
BAB II
2
SYARAT-SYARAT TEKNIK
A. SPESIFIKASI UMUM
1. PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN
Kecuali ditentukan lain dalam RKS ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan tersebut di
bawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :
1.1. Kepres No.80 tahun 2003 beserta lampiran-lampiran dan juknisnya.
1.2. Peraturan-peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di Indonesia atau
Algemene Voor de uit veering bij aneming van openbare werken (AV) 1941
1.3. Surat edaran bersama Bappenas dan Direjen Anggaran No. 315/D. VI/01/1997 dan
SE-39/A/21/0/1997 tanggal 20 januari 1997.
1.4. Keputusan Direjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum No.
295/KPTS/CK/1997 tanggal 1 April 1997 tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara.
1.5. Pedoman Perencanaan Gedung SNI 03-17330-1989.
1.6. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1971) NI-2 dan PBI 1991 SK SNI T-
15.1919.03
1.7. Tata cara pengadukan dan pengecoran Beton SNI 03-3976-1995.
1.8. Peraturan Muatan Indonesia NI-8 dan Indonesia Loading Code 1987 (SKBI-1-
2.53.1987).
1.9. Ubin lantai keramik, mutu dan cara uji SNI 03-3976-1995.
1.10. Ubin lantai polos SNI 03-0028-1987.
1.11. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI) NI-5.
1.12. Mutu Kayu Bangunan SNI 03-3527-1984.
1.13. Mutu Sirap SNI 03-3527-1984.
1.14. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) SNI 04-0225-1987.
1.15. Tata cara Perencanaan tangki Septick SNI 03-2398-1991.
1.16. Peraturan Umum Keselamatan Kerja dari Departemen Tenaga Kerja.
1.17. Peraturan Semen Portland Indonesia NI-8 tahun 1972.
1.18. Peraturan Bata Merah sebagai Bahan Bangunan NI-10.
1.19. Peraturan Plumbing Indonesia.
1.20. Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung SNI 03-2407-1991.
1.21. Tata Cara Pengecatan Dinding Tembok dan Cat Emulasi SNI 03-2410-1991.
1.22. Pedoman Perencanaan Penanggulangan Longsoran SNI 03-1962-1960.
1.23. Peraturan Dab ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan Bangunan.
2. PEKERJAAN PERSIAPAN
2.1. Lingkup Pekerjaan
Untuk keperluan persiapan dan perlengkapan guna pelaksanaan pekerjaan,
Kontraktor berkewajiban :
2.1.1. Mengadakan air untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan. Air harus
memenuhi syarat-syarat yang diperlukan masing-masing pekerjaan yang
bersangkutan.
2.1.2. Membuat gudang-gudang, los kerja dan kantor Direksi Keet.
2.1.3. Pemasangan bouwplank.
2.1.4. Pemasangan alat-alat kerja yang dibutuhkan.
2.1.5. Membuat papan nama proyek, yang terbuat dari papan dilapisi seng dengan
ukuran 120 x 120 cm. Didirikan tegak di atas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm.
3
Warna dasar papan putih dan tulisan hitam. Papan diletakkan pada tempat
yang mudah dilihat umum.
Papan proyek memuat :
Kegiatan : Sesuai Kontrak
Pekerjaan : Sesuai Kontrak
Lokasi : Sesuai Kontrak
Tahun Anggaran : 2019
Harga Borongan : Sesuai Kontrak
Waktu Pelaksanaan : Sesuai Kontrak
Pelaksana : Swakelola
120 CM
PROGRAM
: .................................................................
120 CM KEGIATAN
: .................................................................
THN. ANGG : 2019
HRG. BORONGAN : ……………………………....................................
WKT. PELAKS. : ………..HARI KALENDER
KONTRAKTOR : PT./ CV. …………………………..........................
PERENCANA : PT./ CV. .....................................................
PENGAWAS : PT./ CV. ……………………………........................
40 CM
PROYEK INI DILAKSANAKAN DENGAN DANA
YANG DIHIMPUN DARI PAJAK YANG SAUDARA BAYAR.
4
2.2.1. Untuk gudang dan bangsal kerja,digunakan rangka kayu, dinding papan dan
atap seng.
2.2.2. Untuk Direksi Keet, digunakan bahan rangka kayu, dinding papan atau
tripleks dicat, atap seng BLJS 0.20, lantai Rabat Beton.
2.2.3. Untuk penampung air kerja disiapkan drum penampung, air harus memenuhi
kualitas yang ditentukan dalam PBI. 1991.
2.2.4. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu kelas II 5/7 cm dan papan kayu kelas II
ukuran 2/20 cm.
2.2.5. Untuk alat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak dorong
dan lain-lain, digunakan bahan kayu setempat.
2.3. Pedoman Pelaksanaan
Pembersihan lokasi sekeliling bangunan meliputi pembersihan semua tanaman
tumbuh, termasuk pembongkaran akar-akar pohon yang terkena bangunan dan
halaman sekeliling bangunan, termasuk perataan tanah dan pembuatan terasering jika
diperlukan. Hasil pembersihan tersebut di atas dibuang ke luar lokasi pekerjaan.
2.4. Ukuran-Ukuran
2.4.1. Ukuran-ukuran patok dan ukuran tinggi telah ditetapkan dalam gambar dan
dijelaskan dalam gambar detail. Ukuran-ukuran dalam gambar tersebut
adalah ukuran setelah pekerjaan selesai dikerjakan.
2.4.2. Peil ketinggian lantai (± 0,00) diambil di sesuai dengan bangunan existing ,
ukuran tersebut merupakan perhitungan rata-rata di atas tanah berkontur
(tingginya akan ditentukan pada saat pematokan). Penentuan peil ini akan
dilakukan oleh Konsultan Perencana, konsultan Pengawas, dan unsur PTP
Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna
Anggaran) bersama-sama dengan Kontraktor. Selanjutnya peil ini harus
merupakan dasar tiap ukuran tinggi/rendah dan horizontal. Kontraktor harus
membuat ukuran tersebut di luar bangunan, kayu kelas II 5 x 7 cm dan pada
bagian ujungnya diberi cat dengan meni warna merah. Tanda tetap ini harus
dijaga dan dipelihara sampai bangunan selesai dikerjakan.
2.4.3. Penentuan titik-titik ketinggian dilakukan dengn selang air ukuran 1/4” atau
dengan alat ukur theodolit, sedangkan untuk sudut siku-siku dilakukan
dengan benang secara asas segitiga Pythagoras.
2.5. Kantor Pemborong dan Gudang
2.5.1. untuk keperluan kelancaran pelaksanaan konstruksi dan tempat tinggal
pekerja, Kontraktor diwajibkan membuat Direksi Keet, pondok kerja dan
gudang tempat penyimpanan bahan (KEET).
2.5.2. Bangunan keet ini dibuat dengan luas sesuai keadaan.
2.5.3. Untuk memudahkan pengawasan pada bangunan, keet ini disediakan dan
dilengkapi dengan peralatan Direksi Keet, seperti meja tulis, kursi, dan
peralatan lainnya.
2.5.4. Letak bangunan keet ini disesuaikan dengan situasi setempat, agar sirkulasi
pekerjaan tidak saling menghambat.
2.6. Pemasangan Bouwplank
2.6.1. Lingkup pekerjaan meliputi seluruh keliling tiap bangunan tersebut di atas.
2.6.2. Persyaratan bahan, Bahan dari kayu kelas II, dengan ukuran untuk patok 5/7
cm dan ukuran papan 2/20 cm.
2.6.3. Pedoman Pelaksanaan :
[Link] Papan diketam halus dan lurus pada sisi atasnya
5
[Link]. Harus benar-benar waterpass (timbang air) dan sudut-sudutnya
harus siku.
[Link]. Bouwplank harus terpasang kuat.
[Link]. Setelah Bouwplank terpasang, harus dimintakan persetujuan
tertulis (Berita Acara Pematokan) yang ditanda tangani oleh
unsur-unsur dari Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas,
PTP. Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan
Pengguna Anggaran) bersama Kontraktor, agar pekerjaan
selanjutnya dapat segera dilaksanakan.
B. SPESIFIKASI TEKNIK
1. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN
1.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan tanah terdiri dari :
a. Galian tanah untuk pekerjaan sub-struktur (Fondasi merus)
b. Galian tanah untuk Septicktank dan peresapan.
c. Galian tanah untuk saluran.
d. Timbunan kembali galian tanah pondasi.
e. Timbunan tanah dan pasir bawah lantai dan rabat keliling bangunan.
f. Perataan tanah sekeliling bangunan
g. Galian dan pengurugan tanah diluar bangunan untuk mendapat peil lantai dan peil
lahan yang disyaratkan
6
Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian pondasi. Untuk
timbunan bawah lantai digunakan batu/tanah peralatan lokasi kualitas Baik dan pasir pasang
kualitas baik.
Tanah timbunan dan pasir urugan harus bersih dari kotoran-kontoran dan akar-akar kayu,
serta sampah lainnya.
1.5. Pedoman Pelaksanaan
Galian pondasi baru boleh dilaksanakan setelah bouwplank dengan penandaan sumbu
selesai diperiksa dan disetujui konsultan Pengawas, PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat
(PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) bersama Kontraktor. Apabila di tempat
galian ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih
berfungsi, maka Kontraktor secepatnya memberitahukan kepada Konsultan Pengawas, dan
PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) Atau
kepada instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya. Kontraktor
bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerusakan yang diakibatkan Pekerjaan
galian tersebut.
Bila teryata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka
Kontraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan bahan bekas galian pondasi
yang sesuai dengan Spesifikasi pondasi.
Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dengan ketebalan tiap
lapis maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk lapisan
tersebut, menggunakan alat tumbuk yang baik (Stamper). Setelah lapisan pertama
padat, ditimbun dengan lapisan berikutnya dan dipadatkan kembali seperti di
atas. Demikian seterusnya dilakukan sampai semua lubang bekas galian pondasi
tertutup kembali.
Pengurugan dengan tanah timbun di bawah lantai dilakukan lapis demi lapis
hingga ketebalan mencapai -17 cm di bawah ±0.000, ditumbuk hingga padat.
Lapisan –lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 15 cm.
Pengurugan dengan tanah timbun di bawah rabat keliling bangunan, ram, lantai
rabat halaman parker dan jalan masuk dilakukan lapis demi lapis,ditumbuk hingga
padat. Lapisan-lapisan urugan untuk di tumbuk maksimal 10 cm.
Di bawah lantai, rabat keliling bangunan, lantai rabat halaman parkir dan jalan
masuk setebal 10 cm diurug dengan pasir urug dan dipadatkan. Pengurugan dan
pemadatan ini dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh, kemudian ditumbuk
dengan alat yang sesuai untuk pemadatan. Hasil akhir harus mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas, PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP
sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) atas kesempurnaan pengurugan dan
pemadatan.
2. PEKERJAAN FONDASI
2.1. Lingkup Pekerjaan
Meliputi seluruh pekerjaan fondasi pasangan batu kali/belah menerus (cyclope) yang dalam
pengertian disusun dengan perekat mortar (adukan semen pasir) dan aanstamping (pasangan
atau susunan batu bela tanpa mortar/adukan, seperti yang tercantum dalam gambar rencana
dan dijelaskan dalam gambar detail.
2.2. Persyaratan Bahan
2.2.1. Batu Bela/Kali
7
Batu kali/batu belah yang dipergunakan berpenampang maksimum 15/20cm,
dengan tigaa muka pecahan, yang bersudut dan tidak berpori. Persyarat bahan batu
pecah lihat pada Pasal Beton bertulang.
Jika batu karang atau batu belah yang dipergunakan sebagai pondasi, harus di pilih
batu yang keras dan tidak keropos atau berpori dan dikerjakan sesuai bentuk dan
ukuran yang tertera dalam gambar.
2.2.2. Semen
Digunakan Portland Cemen jenis I menurut NI-8 tahun 1975 dan memenuhi
S-400 menurut Standar Cemen Portlsnd yang digariskan oleh Asosiasi Cemen
Indonesia (NI-8 tahun 1972). Merek yang dipilih tidak dapat ditukar-tukar
dalam Pelaksanaan, terkecuali mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan
Pengguna Anggaran). Pertimbangan tersebut hanya dapat diberikan dalam
keadaan :
Tidak ada stok di pasaran dari merk semen yang telah digunakan.
Kontraktor memberikan data-data teknis bahwa mutu semen pengganti
setaraf dengan mutu semen yang telah dipakai.
Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak
semen, tidak diperkenankan pemakainnya sebagai bahan campuran.
Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang
lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen harus
ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang
masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen
dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
2.2.3. Pasir Beton
Pasir beton harus berupa butir-butir yang tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan
organis, lumpur dan sejenisnya serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam PBI-1991.
2.3. Pedomam Pelaksanaan
a. Sebelum pondasi dipasang, terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengukuran
untuk as-as pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan dimintakan persetujuan
konsultan pengawas tentang kesempurnaan galian.
b. Pemborong/Kontraktor wajib melaporkan kepada Konsultan Pengawas bila ada
perbedaan gambar konstruksi dengan gambar arsitektur atau bila ada hal-hal yang
kurang jelas.
c. Di bawah dasar pondasi dilapisi pasir urug setebal 5 cm atau sesuai gambar
rencana, dan dipadatkan. Di atas pasir urug, dipasang aanstamping, terdiri dari
batu kali.
d. Pondasi dibuat dari pasangan batu dengan adukan 1 Pc : 5 Psr yang diisi batu kali
(koral) / atau batu karang yang telah dibelah-belah terlebih dahulu.
3. PEKERJAAN BETON
3.1. Lingkup Pekerjaan
3.1.1. Rabat Beton perbandingan 1 Pc : 3 Ps : 5Krl (K-100) untuk :
- Rabat Dalam Bangunan, dan teras tbl. 5 cm
- Rabat Keliling Bangunan tbl. 5 cm
- Rabat Lantai Saluran tbl. 5 cm
3.1.2. Beton Bertulang dengan perbandingan 1 Pc : 2 Ps : 3 Bpc (K-225)untuk :
8
- Sloof. Top Elevasi -200mm
Ukuran 120mm x 200mm, Mutu beton K.225, Besi yang di pakai Tulangan Pokok
10mm(SNI),Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak sengkang 150mm
- Balok Latei. Top Elevasi +2250mm & +2750mm
Ukuran 100mm x 200mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI), Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak
150mm
- Ring Balok. Top Elevasi +3050mm & +3950mm
Ukuran 100mm x 200mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI), Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak
150mm
- Kolom Teras
Ukuran 150mm x 350mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 12mm(SNI), Tulangan Sengkang 6mm (SNI) dengan jarak
150mm
- Kolom-kolom Praktis 1.
Ukuran 120mm x 120mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI) Tulangan Sengkang 6mm(SNI) dengan jarak
150mm
- Kolom-kolom Praktis 1.
Ukuran 100mm x 100mm, Mutu beton K.225, Besi Tulangan yang di pakai ;
Tulangan Pokok 10mm(SNI) Tulangan Sengkang 6mm(SNI) dengan jarak
150mm
- Plat Beton tebal 10 cm
- Plat Beton Overstek Teras tebal 8cm
Tempat-tempat lain yang mempergunakan beton bertulang sesuai dengan gambar
rencana.
9
Pasir betonharus berupa butir-butir yang tajam dank eras, bebas dari bahan-bahan
organis, lumpur dan sejenisnya serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam PBI-1991.
3.2.3. Kerikil
Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan
kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam PBI-1991. Penimbunan kerikil dengan pasir
harus dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin
adukan beton dengan komposisi material yang tepat.
3.2.4. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkalin,
garam,bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja
tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
3.2.5. Besi Beton
a) Standar Rujukan
A.C.I. 315 : Manual of Standard Practice for Detailing Reinforced Concrete
Structures, American Concrete Institute.
AASTHO M31M-90 : Deformed and Plain Billet-steel Bar For Concrete Rein-
forcement.
AASTHO M32-90 : Cold Drawn Steel wire for Concrete Reinforcement.
AASTHO M55-89 :Welded Steel Wire Fabrics for Concrete
Reinforcement.
AWS D 2.0 :Standards Specifications for Welded Highway and Railway
Bridges.
Besi beton yang digunakan adalah baja lunak dengan mutu U-24 (tegangan leleh
karakteristik minimum 2400 kg/cm²)
b) Toleransi
Toleransi untuk Fabrikasi harus seperti yang syaratkan dalam ACI.315.
Baja tulangan harus dipasang sedemikian sehingga selimut beton yang
menutup bagian luar baja tulangan adalah sebagai berikut :
i) 3,5 cm untuk beton yang tidak terekspos langsung dengan udara
atau terhadap air tanah atau terhadap bahaya kebakaran;
ii) Seperti yang ditunjukan dalam Tabel 3.2 untuk beton yang
terendam/ tertanam atau terekspos langsung dengan cuaca atau
timbunan tanah tetapi asih dapat diamati untuk pemeriksaan;
iii) 7,5 cm untuk seluruh beton yang terendam/tertanam dan tidak bisa
dicapai, atau untuk beton yang tak dapat dicapai yang bila keruntuhan
akibat karat pada baja tulangan dapat menyebabkan berkurangnya
umur atau struktur, atau untuk beton yang ditempakan langsung di
atas tanah atau batu, atau untuk beton yang berhubungan langsung
dengan kotoran pada selokan atau cairan korosif lainnya.
Daya letak baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan
bahan lainnya.
Besi beton harus disimpan dengan baik yakni tidak menyentuh tanah dan tidak boleh
disimpan di udara terbuka dalam jangka waktu panjang.
Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin.
Tulangan harus dipotong dan dibengkokan sesuai gambar dan harus dimintai
persetujuan Konsultan Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP
sesuai persetujuan Pengguna Anggaran) terlebih dahulu. Jika pemborong tidak berhasil
10
memperoleh diametrer besi sesuai yang ditetapkan dalam gambar, maka dapat
dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan :
Harus ada persetujuan dari Konsultan Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum
setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran)
Jumlah besi per satuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh
kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah
jumlah luas)
3.2.6. Cekatan dan Acuan
Bahan yang digunakan untuk cekatan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-
batas yang sesuai dengan yang ditunjukan oleh gambar rencana dan
uraian pekerjaan.
Pembuatan cekatan dan acuan harus memenuhi ketentuan-ketentuan
di dalam Pasal 5.1 PBI 1991.
3.2.7. Mutu Beton
Mutu Beton yang digunakan adalah f’c : 9,8 Mpa dan 19,3 Mpa.
3.2.8. Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran
harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Perencana dan
Konsultan Pengawas, yaitu :
Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah di Cor dan yang akan di Cor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi table 4.4.1 PBI 1991.
3.2.9. Pengecoran
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis
Konsultan Pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat
( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran). Selama pengecoran
berlanngsung, pekerja dilarang berdiri dan derjalan-jalan di atas
penulangan. Untuk dapat sampai ke tempat-tempat yang sulit dicapai
harus digunakan papan-papan berkaki yang tidak membebani
tulangan. Kaki-kaki tersebut harus sudah dapat dicabut pada saat
beton dicor.
Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat
penghentiannya harus desetujui oleh Konsultan Pengawas, dan PTP
Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna
Anggaran). Untuk melanjut bagian pekerjaaan yang diputus tersebut,
bagian permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan di buat
kasar, kemudian diberi additive yang memperlambat proses
pengerasan. Kecuali pada pengecoran kolom, adukan tidak boleh
dicurahkan dari ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5 m.
3.2.10. Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 21 (dua puluh satu) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut :
Dipergunakan karung-karung yang senantiasa basah sebagai
penutup beton.
11
Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil,
permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya
pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak
memenuhi syarat, harus dibongkar kembali sebagian atau
seluruhnya menurut perintah konsultan Pengawas. Untuk
selanjutnya diganti atau diperbaiki segera atas resiko pemborong.
4. PEKERJAAN DINDING
4.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pemasangan dinding batu bata/batu merah dilakukan untuk seluruh pembatas
ruangan, Tangga, Saluran dan Septicktank, atau seperti yang tertera dalam gambar dan
dijelaskan dalam gambar detail.
b. Pemasangan lapisan dinding bagian dalam KM/WC menggunakan pasangan trasraam
atau sesuai RAB/Gambar.
4.2. Persyaratan Bahan
4.2.1. Bata
Bentuk standar batu bata adalah prisma empat persegi panjang, bersudut siku-siku
dan tajam, permukaannya rata dan tidak menampakkan adanya retak-retak yang
merugikan. Bata merah dibuat dari tanah liat dengan atau campuran bahan lainnya
yang dibakar pada suhu cukup tinggi hingga tidak hancur bila direndam air dan
bermutu baik.
4.2.2. Pasir
Harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, butir-butir harus berifat kekal,
artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan
hujan. Kadar lumpur tidak boleh melebihi dari 5% berat.
4.2.3. Semen dan Air
Untuk persyaratan kedua bahan tersebut, mengikuti persyaratan yang telah
digariskan pada pasal beton bertulang.
4.3. Pedoman Pelaksanaan
4.3.1. Pekerjaan dinding mempunyai dua macam pasangan, yaitu :
Pasangan kedap air (1 Pc : 3 Ps)
Semua pasangan bata merah dimulai di atas sloof sampai setinggi 20 cm
d atas lantai atau sesuai dengan gambar rencana dan yang dijelaskan
dlam gambar detail.
Pasangan dinding WC setinggi 1,20 cm di atas permukaan lantai atau
sesuai dalam gambar rencana untuk penempatan keramik.
Pasangan adukan 1 Pc : 5 Ps berada di atas pasangan kedap air tersebut.
4.3.2. Persyaratan Adukan
Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati, diaduk didalam bak kayu yang
memenuhi syarat. Mencampur semen dengan pasir harus dalam keadaan kering,
yang kemudian diberi air sampai didapat campuran yang plastis. Adukan yang telah
12
mengerng akibat tidak habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi
dengan adukan yang baru.
4.3.3. Pengukuran (Uit Zet) harus dilakukan oleh Kontraktor secara teliti dan sesuai
gambar, dengan syarat :
Semua pasangan dinding harus rata (horisonta), dan pengukuran harus
dilakukan dengan benang.
Penngukuran pasangan benang antara satu kali menaikkan benang tidak
boleh melebihi 30 cm dari pasangan bata yang telah selesai.
4.3.4. Lapisan bata merah yang satu dengan lapisan bata merah di atasnya harus berbeda
setengah panjang bata merah. Bata merah setengah tidak dibenarkan digunakan di
tengah pasangan dinding, kecuali pasangan pada sudut.
4.3.5. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga menurun dan
tidak tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari. Pada tempat-tempat
tertentu sesuai gambar diberi kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan
dengan gambar detail.
4.3.6. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang ditanam dalam dinding, harus dibuat
pahatan secukupnya pada pasangan bata merah (sebelum diplester).
4.3.7. Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup dengan adukan plesteran
yang dilaksanakan secara sempurna, dikerjakan bersama-sama dengan plesteran
seluruh bidang tembok.
4.3.8. Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat
harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan sesuatu
penutup yang sesuai (plastic). Dinding yang telah di pasang harus diberi perawatan
dengan cara membashinya secara terus menerus, paling sedikit 7 hari setelah
pemasangnya.
4.3.9. Pemasangan dinding KM/WC menggunaka pasangan trasraam.
4.3.10. Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada retak, noda, cacat-cacat lainnya.
Apabila terjadi cacat pada dinding, maka pada bagian cacat tersebut harus
dibongkar sampai berbentuk bujur sangkar dan pasangan baru harus rata dengan
sekitarnya.
13
o Untuk mencapai bidang yang rata dan sudutnya siku maka sebelum dilakukan plester
terlebih dahulu ditarik benang atau tali dengan batu lot dan mistar siku dengan tinggi
atau jarak benang dengan bidang yang akan ditutup dengan plester sesuai dengan
ketebalan plesteran yang disyaratkan..
Setelah benang atau tali diyakini sudah lot dan siku dibuat bantalan dari potongan
belahan bambu 2x4cm yang dibenamkan dalam adukan plesteran setinggi atau tebal
sesuai benang. Dibuat berbaris vertical dengan jarak bantalan 1m dan jarak horizontal
1.5m.
Setelah proses atau fase diatas sudah selesai tahap berikut adalah menyatukan atau
menyambung bantalan dengan bantalan secara vertical.
Tahapan ini tidak lansung diplester namun dibiarkan hingga mengeras 1 sampai 2 hari
untuk menjaga kestabilan pada saat plesteran berlangsung.
b. Adukan plesteran beton dipakai campuran 1Pc : 3Psr, sedangkan plesteran bata merah
menggunakan campuaran 1Pc : 5 Psr
c. Ketebalan plesteran pada semua bidang permukaan harus sama tebalnya dan tidak
diperbolekan plesteran terlalu tipis dan terlalu tebal.
d. Ketebalan yang di perbolehkan berkisar antara 2.00 cm – 2,50 cm. Untuk mencapai
ketebalan plesteran yang rata sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara silang dengan
menggunakan mistar aluminium (jidar) panjang yang digerakan secara horisontal dan
vertical.
e. Bila mana terdapat bidang plesteran yang berombak, harus diusahakan memperbaiki secara
keseluruan. Bidang-bidang yang diperbaiki hendaknya dibongkar secara teratur (dibuat
bongkaran berbentuk segi empat) dan plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.
f. Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembapannya selama seminggu sejak permulaan
plesterannya.
g. Acian saus semen diaduk sampai didapat campuran yang plastis.
h. Kontraktor wajib melaporkan kepada konsultan pengawas bila ada perbedaan gambar
konstruksi dengan gambar detail atau bila ada hal – hal yang kurang jelas.
14
7. PEKERJAAN LANTAI
7.1. Lingkup Pekerjaan
Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian lantai ruang, tangga, dan KM/WC.
Pekerjaan lantai terdiri dari :
a. Pekerjaan lantai menggunakan rabat beton sebagai lantai kerja spesi pengikat dilapisi
keramik 40 x 40 cm untuk ruangan dalam.
b. Teras depan keramik 40x40 polos.
c. Tangga menggunakan kramik 40x40 tekstur permukaan kasar.
d. Lantai KM/WC menggunakan keramik kasar 40 x 40cm. dengan tekstur permukaan kasar.
7.2. Persyaratan Bahan
Bahan pasir, semen, dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam pasal beton
bertulang. Keramik menggunakan merek/kualitas terbaik. Penggunaan keramik yang telah retak,
pecah atau mempunyai sudut yang tidak benar tidak diperkenankan.
7.3. Pedoman Pelaksanaan
7.3.1. Dasar Lantai
Sebelum dipasang tegel/kramik, dasar lantai terlebih dahulu dilapisi pasir urugan
setebal 5 cm atau sesuai dengan gambar rencana dan dipadatkan dengan stamper
sampai benar-benar padat, dan lantai rabat beton 1 : 3 : 5 dengan ketebalan 7cm
dalam gambar rencana, baru batu dipasang keramik. Khusus untuk pemasangan
lantai keramik setelah rabat beton digunakan campuran 1 : 4.
Untuk lantai dasar dibuat tikar beton/pengecoran sesuai dengan gambar
rencana/bestek.
7.3.2. Pemeriksaan
Sebelum lantai dipasang, Kontraktor harus memeriksa semua pasangan pipa-pipa,
saluran-saluran dan lain sebagainya yang harus sudah terpasang dengan baik sebelum
pemasangan lantai dimulai.
7.3.3. Adukan
a. Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr
b. Saus semen untuk acian menggunakan semen dicampur air, sehingga didapat
campuran yang plastis.
7.3.4. Pemasangan
a. Lantai beton tumbuk dipasang dengan ketebalan 0,5 cm. Adukan perekat lantai
dipakai 1 Pc : 3Ps : 5 Kr.
b. Lantai beton tumbuk, plesteran dan acian harus rata dan tidak bergelombang.
c. Pemasangan tegel keramik setelah pekerjaan rabat beton. Pekerjaan yang telah
selesai tidak boleh ada retak, noda dan cacat-cacat lainnya. Apabila terjadi cacat
pada lantai, maka bagian cacat tersebut harus dibongkar sampai berbentuk bujur
sangakar dan pasangan baru harus rata dengan sekitarnya.
d. Permukaan lantai pada KM/WC dimiringkan 1 % kea rah floor drain.
e. Penutupan siar-siar lantai tegel keramik menggunakan acian saus semen dan
dilakukan sampai merata. Warna acian siar untuk keramik disesuaikan dengan
warna keramik.
8. PEKERAAN KAYU
8.1. Lingkup Pekerjaan
15
Item pekerjaan yang memiliki bahan kayu sebagai bahan utama dalam melengkapi pekerjaan ini
adalah Lingkup pekerjaan kayu meliputi pekerjaan yang dilakukan di lokasi dan.
Bagian pekerjaannya adalah :
a. Pekerjaan Rangka Atap dan Listplank,
b. Pekerjaan Pintu, Jendela, dan Roster
c. Pekerjaan Plafon
8.2. Persyaratan Bahan
Bagian pekerjaan ini dapat diurai bagian demi bagian untuk lebih detil dalam jenis dan
ukurannya dan kulitas kayu yang dipasang.
Pekerjaan Rangka Atap Terdiri dari ;
a) Pekerjaan kuda-kuda mengunakan kayu balok klas II Meranti dengan ukuran
6x12cm
b) Pekerjaan papan pengapit menggunakan kayu klas II Meranti dengan ukuran
6X12cm
c) Pekerjaan Gording dan Cloos mengunakan kayu klas II Meranti dengan
ukuran 5x10cm
d) Pekerjaan Listplank menggunakan papan klas II yang diserut rapi dan rata
disetiap sisi dengan ukuran 2,5x25cm
8.2.1 Pekerjaan Kusen Pintu dan Jedela, Daun Pintu dan Jendela, Roster.
a. Untuk semua kusen pintu, jendela, digunakan kayu klas I / kayu bayam kualitas
terbaik.
b. Untuk semua daun jendela digunakan jendela kaca polos 5 mm, rangka kayu klas I
kualitas terbaik.
c. Untuk semua daun pintu digunakan daun pintu panil klas I dan tripleks double
teakwood dilapisi aluminium foil / formika untuk KM / WC.
8.2.2 Pekerjaan Plafond.
a. Untuk rangka plafond menggunakan kayu mutu kelas II kualitas terbaik, ukuran
5x7cm.
b. Ukuran kayu yang tertera dalam gambar merupakan ukuran terpasang
c. Kayu harus betul-betul kering, tidak keropos, lurus, tidak cacat / bermata.
d. Jarak rangka plafon 60x120 cm
e. Tripleks yang digunakan tebal 4 mm
8.3. Pedoman Pelaksanaan
1. Kayu kuda-kuda
Semua kayu untuk kuda-kuda, pengait kuda-kuda, gording,balok bubungan dan
ikatan angin diawetkan dengan residu. Pengecatan dengan residu harus dilakukan 2
kali, sehingga menghasilkan warna yang merata pada seluruh permukaan kayu.
Konstruksi harus dibuat sesuai gambar detail, untuk ukuran kayu maupun cara
penyambungannya.
Sambungan kayu harus dibuat dengan rapi dan penuh kealhian dengan
memperhatikan peraturan yang disyaratkan dalam SK-SNI-5-10-1990-F.
Konstruksi sambungan kuda-kuda harus dilengkapi dengan baut.
2. Kosen pintu, jendela dan Roster
Ukuran kayu untuk kusen adalah 5/11 cm dan disponing dan diprofil (ukuran
setelah jadi dibuat).
Untuk kusen pintu; kayu kusen batang vertical bagian bawa rata dengan peil ±0.000
lantai bangunan, neut beton berada pada muka lantai sapai pada sloof.
16
Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar, ikatan perkuatan harus
menggunakan pen kayu keras yang sebelumnya bidang sambungan ini arus
dilumuri dengan lem kayu, agar sambungannya dapat melekat dengan baik.
Setiap kusen pintu harus dilengkapi angker minimal 3 buah untuk bauh, di kiri
kanan kusen yang melekat ke tembok. Khusus untuk kosen pintu, di bawah kusen
dilengkapi dengan dork yang diangker ke dalam neut beton.
Semua bidang kusen yang bersinggungan dengan dinding/beton dibuat alur-alur
kapur, kemudian bidang tersebut diawetkan dengan cat meni 2(dua) kali.
Kayu kosen dari kayu kelas I setaraf kayu bayam.
3. Daun pintu / jendela dan Ventilasi / Roster
Pintu digunakan pitu panil kayu klas I. Untuk pintu KM/WC, digunakn pintu
teakwood yang dilapisi dengan formika pada bagian dalam KM/WC.
4. Jendela dibuat rangka, bahan kayu kelas I dengan panel kaca tebal 5mm. Bentuk dan
tampilan sesuai gabar. Pemasangan kaca harus diperhatikan terhadap muai susut baik
dari kosen maupun bahan kaca tersebut.
5. Daun boven dari Roster Keramik berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 20x20
sesuai tebal tembok pada lobang.
6. Listplank
Listplank dari papan GRC (Woodplank) ukuran L :25 cm disesuaikan dengan gambar
perencanaan. Pemasangannya dipakukan langsung pada gording. Pemasangan harus
rapid an lurus. Apabila dijumpai pemasangan yang tidak lurus, maka bagian tersebut
harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas beban Kontraktor.
7. Plafond
Rangka plafond menggunakan kayu kelas mutu II. Pemasangan rangka utama
dipakukan pada dinding (menggunakan paku tembok) dan bagian rangka lainnya
digantung dengan menggunakan penggantung dari kayu kelas mutu yang sama pada
rangka kuda-kuda. Ukuran panjang dan lebar rangka kayu plafond disesuaikan
dengan gambar rencana yakni 60x120cm
Pembuatan rangka plafond harus benar-benar memiliki permukaan yang rata sebelum
dipasang lapisan penitup dari tripleks. Lapisan penutup yang digunakan,
menggunakan tripleks tebal 4 mm.
8. List Plafond
List plafond menggunakan kayu kelas II diprofil.
17
3 Bubungan ditutup dengan seng bubungan. Tindisan antara satu bubungan dengan
bubungan yang lainnya harus sesuai dengan persyaratan pabrik.
4 Pemasangan harus rapi dan memenuhi syarat-syarat sehingga tidak mengakibatkan
kebocoran. Apabila terjadi kebocoran setelah pemasangannya, maka bagia yang bocor
tersebut harus dibongkar dan dipasang baru. Kerugian akibat hal tersebut menjadi
tanggung jawab sepenuhnya pada Kontraktor.
18
a. Pemasangan pipa-pipa di dalam bangunan dipasang di dalam dinding (in bouw).
Pemasangan pipa-pipa tersbut harus horizontal dan vertical tidak boleh dipasang
miring.
b. Setelah selesai pemasangan, harus dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh
jaringan air, yang disaksikan oleh Kontraktor konsultan pengawas dan atau PTP
Dinas Pekerjaan Umum setempat ( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran)
dan Pemilik Pekerjaan.
c. Air kotor dari MCK dialirkan melalui pipa PVC diameter 3” ke peresapan.
d. Pembuangan air limbah/kotoran dai wasstafel dialirkan dengan pipa PVC tipe
AW diameter 2” dan 3” ke bak control, dan saluran air dari bak control ke
peresapan melalui pipa PVC tipe AW diameter 4”. Pada tempat-tempat tertentu
sebelum pipa dihubungkan ke septicktank, harus dipasang satu buah bak control.
e. Septicktank dibuat dari pasangan trasraam bata merah adukan 1 Pc : 3 Ps, dengan
sisi dalamnya diplester dengan adukan yang sama dan bagian atasnya plat beton
bertulang 1 Pc : 2Ps : 3 Kr tebal 10 cm (termasuk titik control) dan diperkuat
dengan rangka sloof, kolom dan balok dari beton, serta diberi pipa pembuangan
udara dari pipa PVC diameter 2ˮ, dengan tinggi 1.2 m dari permukaan
[Link] bak septicktank ke peresapan kurang lebih 2 m. Peresapan berupa
galian tanah dengan ukuran sesuai gambar dan dilengkapi urugan batu karang,
kerikil, pasir dan dilapisi dengan ijuk sesuai dengan petunjuk gambar.
f. Penyaluran tinja dari septicktank ke peresapan dipasang pipa PVC Ø 4”, sesuai
dengan petunjuk dalam gambar.
g. Segala sesuatu mengenai bentuk, ukuran maupun kapasitas septicktank dan
sumur peresapannya harus dilaksanakan sesuai gambar yang bersangkutan. Tata
letak sumur peresapan (rembesan) sekurang-kurangnya 8 m dari sumber air tanah
( sumur gali/sumur bor) agar tidak terjadi pencemaran trehadap sumber air
tersebut.
19
system pemasangan pipa-pipa listrik pada dinding maupun beton harus ditanam (system
inbouw) dan penarikan kabel (jaringan kabel) di atas plafond diikat dengan isolator
khusus dengan jarak 1,00 atau 1.20 m atau jaringan kabel di atas plafond tersebut
dimasukan ke dalam pipa PVC. Khusus untuk instalasi stop kontak harus dilengkapi
dengan kabel arde (pentanahan) sesuai dengan peraturan yang berlaku (mencapai dan
terendam air tanah).
b. Pemasangan instalasi listrik berikut penggunaan bahan/komponen-komponennya harus
disesuaikan dengan system tegangan lokal 22 0volt.
c. Untuk pekerjaan instalasi listrik, atas persetujuan pengawas, dan PTP Dinas Pekerjaan
Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran), pemborong boleh
menunjuk pihak ketiga (instalatur) yang telah memiliki ijin usaha instalasi listrik atau
ijin sebagai instalatur yang masih berlaku dari Perum Listrik Negara (PLN). Pemborong
tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan ini sampai listrik menyala (siap
digunakan) termasuk biaya pengujian dengan pihak PLN.
d. Pengujian instalasi listrik harus dilakukan Kontraktor pada beban penuh selama 1 x 24
jam secara terus menerus. Semua biaya yang timbul akibat pengujian ini menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
e. Kontraktor berkewajiban memasukan arus yang bersumber dari instalasi PLN. Biaya
penambahan pipa dan kabel listrik menjadi beban kontraktor.
20
Melapisi dinding dengan plamur tembok dipoles sampai rata. Setelah betul-
betul kering digosok dengan amplas halus dan dilap dengan kain kering yang
bersih.
Pengecatan dengan cat tembok emulasi sampai rata, minimal 2 (dua) kali.
Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama dan tidak
terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.
d. Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut :
Membersihkan bidang plafond yang akan dicat.
Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga menghasilkan bidang pengecatan
yang merata sama dan tidak terdapat belang-belang atau noda-noda yang
mengelupas.
e. Warna yang digunakan
Warna sebagai berikut :
Dinding dalam/luardigunakan cat warna putih coklat.
Plafond tripleks cat warna putih (pear white).
Kusen pintu, jendela, boven, listplank dan ralling pan digunakan cat warna coklat
(candy brown 925) dari daftar warna cat kudang terbang atau yang sekualitas.
Daun pintu panel di teak oil warna sama dengan daun jendela.
21
BAB III
PENUTUP
Apabila ternyata terdapat ketidaksesuaian antara gambar dan RKS, maka diambil gambar
detail sebagai pedoman dan bila juga tidak sesuai atau kurang jelas, maka berlakuapa yang
tercantum dalam RKS atau meminta petunjuk Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas,
dan PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat ( PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran).
Pembuatan administrasi / dokumentasi, biaya keamanan/jaga malam, obat-obatan/ P3K,
papan nama proyek, dan Direksi Keet lengkap.
Sebelum pekerjaan diserah terimakan, Kontraktor diwajibkan membersihkan bahan-bahan
bangunan, kotoran-kotoran bekas yang ada dalam lokasi bangunan, sehingga pada saat serah
terima dilaksanakan, bangunan dalam keadaan bersih dan rapi.
Pada waktu diadakan serah terima pertama pekerjaan, maka Kontraktor harus
menyerahkan :
Surat Izin Mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat.
Surat Tanda good keer pemasangan instalasi listrik dan berikut akan gambar
pemasangan instalasi listrik dari pihak PLN setempat.
Bukti setoran bahan galian C.
Penjelasan masing-masing lingkup proyek ini telah dijabarkan pada masing-masing pasal di
atas, kecuali :
Administrasi/dokumentasi dimaksudkan kegiatan kontraktor untuk membuat segala
administrasi proyek, yaitu membuat buku laporan harian, mingguan, bulanan, dan as
built drawing, foto-foto proyek dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kelancaran
pekerjaan. Obat-obatan/P3K minimum disediakan di lapangan untuk 20 orang pekerja.
As built drawing adalah gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan
dan harus diserahkan selambat-lambatnya 4 minggu setelah serah terima pertama
pekerjaan.
Kontraktor diwajibkan membuat foto kemajuan pekerjaan dari 0% samapi 100%, yang
dapat dilihat dari semua arah bangunan. Pengulangan foto harus dilakukan pada sisi
yang sama secara berurutan sehingga akan jelas terlihat sisi tersebut dari permulaan
sampai akhir pekerjaan.
Pembayaran pekerjaan lain-lain ini didasarkan pada unit taksiran penawaran
Kontraktor. Harga taksiran ini mencakup semua kebutuhan Kontraktor sehingga
bagian pekerjaan ini berjalan dengan baik dan sempurna.
Apabila ada pekerjaan yang tidak disebutkan dalam uraian ini, yang ternyata pekerjaan
tersebut harus ada agar dapat menghasilkan hasil akhir yang sempurna, maka pekerjaan
tersebut harus dilaksanakan oleh Kontraktor atas petunjuk Konsultan Pengawas dan
PTP Dinas Pekerjaan Umum setempat (PTP sesuai persetujuan Pengguna Anggaran)
yag didasari atas gambar rencana serta Rencana Anggaran Biaya (RAB).
22