0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan276 halaman

Biodiversitas untuk Kesehatan dan Ekosistem

[Ringkasan] Prosiding Seminar Nasional ini membahas berbagai makalah yang disajikan oleh para peneliti dari berbagai lembaga penelitian mengenai topik biodiversitas untuk kesehatan dan keberlanjutan kualitas ekosistem. Seminar ini diselenggarakan oleh Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat Universitas Nasional pada tanggal 19 Desember 2016 di Jakarta. Seminar ini men
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan276 halaman

Biodiversitas untuk Kesehatan dan Ekosistem

[Ringkasan] Prosiding Seminar Nasional ini membahas berbagai makalah yang disajikan oleh para peneliti dari berbagai lembaga penelitian mengenai topik biodiversitas untuk kesehatan dan keberlanjutan kualitas ekosistem. Seminar ini diselenggarakan oleh Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat Universitas Nasional pada tanggal 19 Desember 2016 di Jakarta. Seminar ini men
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL

Biodiversitas Untuk Kesehatan dan Keberlanjutan


Kualitas Ekosistem

Jakarta, 19 Desember 2016

Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam


Fakultas Biologi Universitas Nasional
dan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat
Universitas Nasional
JAKARTA
2017
i
Biodiversitas Untuk Kesehatan dan Keberlanjutan Kualitas Ekosistem

Prosiding Seminar Nasional

Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam Fakultas Biologi UNAS dan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat UNAS

Senin, 19 Desember 2016

Editor :

Ikhsan Matondang
Imran S.L. Tobing
Sri Endarti Rahayu
Sri Handayani

vii + 265 halaman

ISBN : 978-602-0819-28-0

Diterbitkan oleh : Lembaga Penerbitan Universitas Nasional, Jakarta

Jl. Sawo Manila No. 61 Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520

ii
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para peneliti peserta seminar Yang Terhormat,

Berangkat dari kebiasaan tahunan kami menyelenggarakan seminar hasil-hasil penelitian


dosen, terbersit ide untuk berbagi dan memperoleh informasi lebih luas dengan para peneliti
di seluruh Indonesia. Untuk mewujudkan ide itu, “Pusat Studi Lingkungan dan Konservasi
Alam” dan “Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat” merancang seminar ini
dengan dukungan penuh dari LPPM Universitas Nasional.

Seminar ini mengusung tema “Biodiversitas untuk kesehatan dan keberlanjutan kualitas
ekosistem”. Penetapan tema didasarkan pada harapan agar potensi biodiversitas dapat lebih
terungkap, baik untuk bidang kesehatan maupun dalam menjaga keseimbangan ekosistem,
melalui hasil-hasil penelitian dari berbagai peneliti Indonesia.

Fakta menjunjukkan bahwa makalah yang akan dipresentasikan dalam seminar ini didominasi
oleh hasil penelitian dosen dan peneliti Universitas Nasional, khususnya Fakultas Biologi.
Namun demikian, para peneliti dari berbagai institusi, seperti yang berasal dari Riau, Jawa
Barat, dan Jakarta juga akan menjadi pemakalah dalam seminar ini.

Terimakasih atas kesediannya mengikuti seminar ini; semoga kepedulian kita terhadap
biodiversitas Indonesia makin meningkat; sehingga dapat lebih dimanfaatkan sebagai modal
dasar dalam pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.

Seminar ini menampilkan Prof. Dr. Dedy Darnaedi (Direktur Prosea) sebagai pembicara
utama. Semoga materi yang disampaikan dapat lebih memperkaya pengetahuan dan
wawasan kita.

Akhirnya; atas nama seluruh panitia; kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala
keterbatasan dan kekurangan dalam penerimaan, penyambutan, dan penyelenggaran seminar
ini.

Selamat berseminar; selamat berbagi ilmu dan pengalaman. Semoga bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, dan bagi para pengambil keputusan. Sampai bertemu
kembali di akhir tahun mendatang, karena seminar ini akan kami agendakan sebagai seminar
rutin.

Jakarta, 03 Mei 2017


Ketua Panitia Pelaksana,

Imran SL Tobing

iii
SUSUNAN PANITIA SEMINAR NASIONAL 2016

Biodiversitas untuk Kesehatan dan Keberlanjutan


Kualitas Ekosistem

Ketua : Drs. Imran SL Tobing, [Link].


Sekretaris : Drs. Ikhsan Matondang, [Link].
Dra. Noverita, [Link].
Bendahara : Dra. Yulneriwarni, [Link].
Ir. Ida Wiryanti, [Link].
Seksi Makalah : Dr. Sri Endarti Rahayu, [Link].
Dra. Sri Handayani, [Link].
Seksi Acara : Drs. Gautama Wisnubudi, [Link].
Dra. Dwi Andayaningsih, MM, [Link].
Seksi Perlengkapan : Ahmad Baihaqi, [Link].
Yuhed
Misdi, S. Hut.
Seksi Konsumsi : Dra. Endang Wahjuningsih, [Link].
Ratna Wati, [Link].
Seksi Humas : Dr. Tatang Mitra Setia, MS
Dra. Suprihatin, [Link].
Nina Alfiati, SH
Seksi Dokumentasi : Drs. Ikna Suyatna Jalip, MS
Gusti Wicaksono, [Link].
Marlia Fajri Hayoto, [Link].

iv
DAFTAR ISI

Kata Pengantar Ketua Panitia ……………………………………………………….. iii

Susunan Panitia Seminar 2016 ………………………………………………………. iv

Daftar Isi …………………………………………………………………………….. v

EKSPLORASI BIODIVERSITAS

INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI MAKROALGA DI


PULAU TIDUNG KEPULAUAN SERIBU DALAM UPAYA
MENGGALI SUMBER DAYA HAYATI POTENSIAL
Sri Handayani dan Retno Widowati ............................................................................ 1

KOMUNITAS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA : PAPILIONOIDEA)


DI SUAKA MARGASATWA ANGKE JAKARTA
Hasni Ruslan dan Dwi Andayaningsih ……………………………………………… 10

KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA)


DI SEKITAR KAWASAN SUAKA MARGASATWA
BUKIT RIMBANG BALING KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU
Hasni Ruslan dan Ikhsan Matondang ……………………………………………….. 22

PERBANYAKAN SUKUN (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg)


SECARA IN VITRO MELALUI PROLIFERASI TUNAS
DAN EX VITRO DENGAN STEK BATANG
Laela Sari, Aida Wulansari, Siti Noorrohmah, Maria Imelda & Made Sri Prana ...... 33

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MAHONI


DI PERSEMAIAN DAN DI AREAL TANAM
Yeni Nuraeni dan Hani Sitti Nuroniah ……………………………………………… 45

PENGARUH JENIS EKSPLAN DAN KONSENTRASI


ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP PEMBENTUKAN
KALUS EMBRIOGENIK CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)
Pramesti Dwi Aryaningrum,Wahyuni, N. Sri Hartati, dan Enny Sudarmonowati …. 52

SKRINING POPULASI TANAMAN PADI MUTAN


TERHADAP CEKAMAN 100% NAUNGAN
Carla Frieda Pantouw dan Satya Nugroho ………………………………………….. 62
KOLEKSI MIKROBA ANTAGONIS DAN PENGUJIAN DAYA HAMBATNYA
TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI KACANG TANAH
M. Ace Suhendar dan Tri Zulchi P.H. ………………………………………………. 70

KETAHANAN PLASMA NUTFAH UBI KAYU TERHADAP


PENYAKIT HAWAR DAUN/MATI PUCUK
(Xanthomonas campestris pv. manihotis)
M. Ace Suhendar dan Sudjarno ……………………………………………………. 80

v
PENGARUH KOMBINASI AUKSIN 2,4 – D DENGAN
SITOKININ BAP DAN KINETIN TERHADAP
PERTUMBUHAN EKSPLAN DAUN TORBANGUN (Coleus amboinicus L.)
Siti Noorrohmah, Laela Sari, Aida Wulansari dan Tri Muji Ermayanti …………… 87

AKTIVITAS ENZIM TANAH DAN POPULASI MIKROBA


PADA TANAMAN KEDELAI EDAMAME DENGAN APLIKASI
PUPUK ORGANIK HAYATI BERBASIS MIKROBA UNGGUL
DAN LIMBAH ORGANIK
Tirta Kumala Dewi, Sodik Wuryanto, Fatikhah Ayu M dan Sarjiya Antonius ……. 105

MORFOMETRIK PADA AYAM LOKAL HASIL PERSILANGAN


ANTARA AYAM SENTUL-KEDU DAN KAMPUNG (KETURUNAN F1)
Harini Nurcahya Mariandayani, Noortiningsih, Sri Darwati, Ariesta Bangun …….. 115

PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN NaOH PADA ARANG AKTIF


KULIT PISANG KEPOK UNTUK ADSORBSI LOGAM TIMBAL (Pb2+)
Ikna Suyatna Jalip dan Yeremiah R. Camin ……………………………………….. 130

AKTIVITAS ANTI BAKTERI JAMUR LAUT


DARI LAUT KEPULAUAN SERIBU
Noverita ……………………………………………………………………………. 141

KEANEKARAGAMAN JENIS AVIFAUNA DI HUTAN KOTA


KRIDA LOKA SENAYAN JAKARTA PUSAT
Ahmad Baihaqi, Tatang Mitra Setia, Hendra Michael Aquan,
Sarie Wahyuni, Rosyid Nurul Hakiim ……………………………………………… 152

KOMPOSISI KOMUNITAS DAN KEANEKARAGAMAN SPESIES BURUNG


PADA TIGA KAWASAN MANGROVE DAERAH PESISIR JAKARTA
Imran SL Tobing, Tatang Mitra Setia, Jihan Fahira ……………………………….. 161

ANALISIS HABITAT PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata)


DI PULAU KAYU ANGIN BIRA TAMAN NASIONAL
KEPULAUAN SERIBU DKI JAKARTA
Nadia Putri Rachma, Aulia Putri Sundari dan Fauzan Cholifatullah ………………. 179

INVENTARISASI PENYAKIT PADA 73 GALUR PADI HASIL


PERSILANGAN BERDASARKAN GEJALA SERANGAN
Yashanti Berlinda Paradisa, Eko Binnaryo Mei Adi,Sri Indriyani,
Yuli Sulistyowati,Suprihanto, Enung Sri Mulyaningsih …………………………… 193

BIODIVERSITAS UNTUK KESEHATAN

POTENSI SENYAWA KIMIA DAUN MURBEI (Morus albavar Kanva-2)


SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN
Rosita Dewi dan Novitri Hastuti …………………………………………………… 205
PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT MANGGIS
DALAM PEMBUATAN MINUMAN SERBUK KOPI INSTAN

vi
Raswen Efendi, Evy Rossi dan Fitria Ulfah Apriani …………………………….. 215

KAJIAN TUMBUHAN OBAT PASCA PERSALINAN


PADA MASYARAKAT SUNDA DI DESA CIBURIAL
KECAMATAN CIMANGGU BANTEN
Siti Dian Rosadi, Nisyawati, Afiatry Putrika …………………………………….. 224
PEMANFAATAN TANAMAN OBAT OLEH MASYARAKAT
DESA CILENGKRANGGIRANG KECAMATAN PASALEMAN
KABUPATEN CIREBON
Yarni ……………………………………………………………………………… 232

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN OBAT DI DESA TIRTA JAYA


KAMPUNG SERAB DEPOK JAWA BARAT
Endang Wahjuningsih ............................................................................................. 242

EKOSISTEM

HAMA PENYAKIT TANAMAN MASOHI (Massoia aromatica Becc)


DAN UPAYA PENGENDALIANYA UNTUK
MENJAGA KUALITAS EKOSISTEM
Yeni Nuraeni, Irma Yeny dan Illa Anggraeni …………………………………….. 250

JENIS-JENISMIKROORGANISMEAGENSIA HAYATI
SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR PENGENDALIAN
ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT)SECARA TERPADU
Yeni Nuraeni, Illa Anggraeni dan Rosita Dewi ……………………………………. 259

vii
Prosiding Seminar Nasional, 2017

INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI MAKROALGA DI PULAU TIDUNG


KEPULAUAN SERIBU DALAM UPAYA MENGGALI SUMBER DAYA HAYATI
POTENSIAL

Inventory and Identification of Macroalgae on Island Tidung – Kepulauan Seribu Area to


Explore The Potential of Biological Resources

Sri Handayani1,2, Retno Widowati 3


1
Center for Marine & Coastal Management Study- Unas,
2
Departement of Biology, Faculty of Biology-Unas ,
3
Biotechnology Research Center- Unas
Jl. Sawo Manila No 61 Jakarta 12520 Jakarta
e-mail: handayani2001id@[Link]

ABSTRACT

The research was conducted in May 2016. The types of macroalgae were found to be described in accordance to
the principles. Data were collected using transect squared method at two research stations based on the
existence of macroalgae and the substrate. The Results showed 21 species of macroalgae from the genus
Caulerpa, Halimeda, Boergesenia, Bornetella, Ulva, Neomeris, Padina, Sargassum, Dictyota, Hormophysa,
Turbinaria, Acanthopora, Laurencia, Gracillaria , Hypnea and Euchema The percentage of macro-algae were
on the Division Chlorophyta 48%, Phaeophyta 28%, and Rhodophyta 24% respectively. This results showed
that waters in the Tidung Island is still good for growth of macroalgae.

Keywords : Identification, inventory, macro algae, Tidung island, species

PENDAHULUAN adalah orgnisme yang masuk ke dalam


Pulau Tidung secara administrasi Thallophyta karena struktur tubuh berupa
termasuk dalam kelurahan Pulau Tidung, thalus. Makroalga mempunyai pigmen
Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, klorofil sehingga dapat berfotosintesis.
Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi Makroalga sebagian besar hidup di
DKI Jakarta. Pulau Tidung dihuni sekitar perairan laut [Link] dapat tumbuh,
5000 jiwa, luasnya mencapai 109 ha makroalga tersebut memerlukan substrat
dengan panjang 5 km dan lebar 200 meter. untuk tempat menempel/hidup. Makroalga
Saat ini Pulau Tidung menjadi destinasi epifit pada benda-benda lain seperti, batu,
wisata pantai di Kepulauan Seribu yang batu berpasir, tanah berpasir, kayu,
banyak dikunjungi. Hal ini disebabkan cangkang moluska, dan epifit pada
keindahan alam, lautnya, dan tumbuhan lain atau makroalga jenis yang
keanekaragaman biota laut. lain. Klasifikasi makroalga menurut
Di Perairan Pulau Tidung ini Dawes (1981), terdiri dari 3 divisio yaitu
ditemukan berbagai jenis biota laut, satu Chlorophyta (alga hijau), Rhodophyta
diantaranya adalah [Link] (alga merah), dan Phaeophyta (alga

1
Prosiding Seminar Nasional, 2017

cokelat). Chlorophyta memiliki pigmen dapat mengancam keberadaan biota laut,


dominan [Link] tersebut berasal khususnya disini adalah makroalga.
dari klorofil yang dikandung Inventarisasi dan Identifikasi spesies
[Link] adalah makroalga makro alga diperlukan untuk data base
berwarna merah. Warna merah pada keanekaragaman makro alga di Indonesia
Rhodophyta dikarenakan oleh cadangan dan potensinya di suatu tempat dalam
fikorietrin yang lebih dominan, dibanding upaya pengelolaan yang berkelanjutan.
pigmen lain. Rhodophyta juga memiliki METODE
pigmen lain yaitu klorofil, karotenoid dan A. Waktu dan Lokasi Penelitian
pada jenis tertentu terdapat fikosianin. Penelitian ini dilaksanakan pada
Sementara itu, Phaeophyta adalah bulan Mei 2016. Pengambilan sampel
makroalga bewarna [Link] cokelat dilakukan di Pulau Tidung Kepulauan
dikarenakan oleh pigmen fikosantin yang Seribu DKI Jakarta. Letak penelitian untuk
[Link] juga mengandung Stasiun satu pada koordinat 050 48`08.08
pigmen lain yaitu klorofil a dan b, karoten "S 106030`39.23"E dan Stasiun penelitian
serta santofil. Phaeophyta adalah alga dua pada koordinat 05047`94"S1060
yang mempunyai ukuran lebih besar 29`35.19" E (Gambar 1). Identifikasi
apabila dibandingkan Chlorophyta dan makro alga dilakukan di Laboratorium
[Link] memiliki banyak Botani Fakultas Biologi Universitas
manfaat, baik manfaat secara ekologis Nasional, Jalan Bambu Kuning, Pasar
maupun ekonomis bagi masyarakat. Minggu Jakarta Selatan.
Informasi tentang ekologi wilayah
pesisir dan lautan, khususnya informasi
makro alga yang berada di Pulau Tidung
masih kurang [Link]
makroalga yang berada di Pulau Tidung
sangat penting dilakukan dalam upaya
menggali sumber hayati [Link] salah
satu destinasi wisata yang ada di
Gambar 1. Lokasi Penelitian di Pulau
Kepulauan Seribu tentu ada kemungkinan Tidung.

berdampak terhadap biota yang ada di


pulau [Link] pariwisata yang
tidak ramah lingkungan dan pencemaran

2
Prosiding Seminar Nasional, 2017

B. Bahan dan Alat Setelah pengambilan sampel,


Bahan penelitian adalah jenis makroalga dilanjutkan proses identifikasi dengan
dari perairan Pulau Tidung Kepulauan memperhatikan ciri atau karakter dari
Seribu. makroalga yang ditemukan.
Alat penelitian adalah salino 3. Analisis Data
refractometer, pH-meter, thermometer, Data akan di analisis secara deskriptif.
GPS, DO meter , rol meter, transek
kuadrat, kantong plastik. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Cara Kerja Berdasarkan hasil identifikasi,
1. Penentuan lokasi dan pengambilan makro alga yang ditemukan di lokasi
sampel
penelitian sebanyak 21 jenis. Makro alga
Metode yang digunakan pada
tersebut termasuk dalam 3 divisi yaitu
penelitian ini adalah deskriptif dengan
Chlorophyta, Phaeophyta dan Rhodophyta
pengambilan sampel secara line transek
(tabel 1).
kuadrat ( 1x 1m). Lokasi pengambilan
Tabel 1. Jenis-jenis makro alga yang
sampel dibedakan menjadi 2 stasiun. ditemukan di perairan Pulau
Tidung.
Penentuan kedua stasiun tersebut
berdasarkan keberadaan makro alga dan No Nama Spesies Stasiun Stasiun

substratnya. Stasiun I dengan substrat 1 2

sedikit berlumpur + pasir dan Stasiun II


1. Caulerpa √ √
substratnya pasir + pecahan karang.
racemosa
Pengambilan sampel dilakukan pada saat
surut. Sebelum pengambilan sampel 2. Caulerpa √

dilakukan pengukuran faktor lingkungan racemosa var

meliputi suhu, salinitas, pH, kecerahan, ufivera

oksigen terlarut, tingkat kedalaman air. 3. Caulerpa √ √


Suhu diukur dengan termometer, salinitas sertularoides
dengan menggunakan portable
4. Halimeda √ √
refractometer, derajat keasaman atau pH
macroloba
menggunakan kertas pH universal.
Oksigen terlarut dengan DO meter, 5. Halimeda √
kedalaman menggunakan meteran. lacunnalis
2. Identifikasi makroalga

3
Prosiding Seminar Nasional, 2017

6. Halimeda √ √ 21. Laurencia √


gracillis nidifica

7. Neomeris √
annulata
Divisi Chlorophyta ada 10 makro alga
8. Boergensenia √ √ yaitu Caulerpa racemosa, Caulerpa
forbesii racemosa var ufivera, Caulerpa
sertularoides, Halimeda macroloba,
9. Ulva lactuva √
Halimeda gracillis, Halimeda lacunnalis,
10 Bornetella √ Neomeris annulata, Boergesenia
nitida forbesii,Ulva lactuva, Bornetella nitida.
Divisi Phaeophyta ada 6 makro alga yaitu
11 Padina √ √
: Padina australis, Hormophysa triquerta,
australis
Sargassum duplicatum, Dictyota sp, T
12. Hormophysa √ urbinaria conoides, Cysteoceria sp. Divisi
triquerta Rhodophyta ada 5 makro alga yaitu

13. Sargassum √
Acanthopora specifera, Laurencia nidifica,

duplicatum Hypnea asperi,Euchema spinosum,


Gracillaria salicornia. Presentase jumlah
14. Dictyota sp √
jenis makro alga yang ditemukan untuk

15. Turbinaria √ setiap divisi seperti terlihat pada gambar 3

conoides berikut:

16. Cystoceria sp √

17. Achantophora √
muscoides

18. Gracillaria √ √
salicornia

19. Euchema √ √
spinosum
Gambar 2. Diagram Presentase Jumlah
Jenis Makro alga Pada Tiap
20. Hypnea asperi √ √
Divisi.

4
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Jenis makro alga yang banyak penelitian sesuai untuk tempat hidup
dijumpai di lokasi penelitian yaitu jenis makro alga
dari Chlorophyta (10) jenis. Hal ini Faktor lingkungan yang mempengaruhi
disebabkan karena substrat yang ada di pertumbuhan makro alga tidak hanya
tempat penelitian adalah pasir atau pasir substrat, melainkan faktor-faktor
dengan pecahan karang. Dimana substrat lingkungan lainnya seperti suhu, pH,
pasir dengan gelombang yang relatif kecil salinitas , kedalaman. Parameter
adalah substrat yang umum untuk makro lingkungan yang diukur saat penelitian
alga Chlorophyta seperti Caulerpa, dapat dilihat pada tabel 2.
Halimeda, Boergesenia, dan
Tabel 2. Hasil Pengukuran Parameter
[Link] jenis makroalga dari
lingkungan di Perairan Pulau
Phaeophyta dan Rhodophytadi lokasi Tidung.

penelitiankarena ketidak sesuaian dari


Parameter Stasiun I Stasiun II
subtratnya. Karena kehadiran makro alga
Lingkungan
alami sangat ditentukan oleh habitatnya
terutama tipe substrat tempat menempel Suhu (0 C) 27 - 28 26 - 27

atau melekat. Phaeophyta dan


pH 8 8
Rhodophyta umunya tumbuh pada
substrat karang keras, pecahan karang Salinitas ( 38 - 40 38 - 39
0
mati, dan batu. Substrat tersebut umumnya /00 )

terletak jauh dari bibir pantai dekat dengan


Kedalamam 70 – 80 70 – 105
tubir. Namun demikian ada jenis dari
(cm) cm cm
Rhodophyta yang dijumpai pada substrat
pasir + pecahan karang kecil-kecil seperti Substrat Sedikit Pasir +

Gracillaria salicornia, Laurencia nidifica, lumpur pecahan

dari kelompok Phaeophyta seperti Padina + pasir karang

australis, Hormophysa triquerta. Bold


(1985) menyatakan bahwa makro alga
Hasil pengukuran parameter lingkungan di
hidup sebagai makrobentos dengan
lokasi penelitian menunjukkan bahwa
melekatkan diri pada substrat yang
kondisi perairan di Pulau Tidung masih
bervariasi seperti batu-batu, karang, pasir
sesuai untuk pertumbuhan makro alga.
dan lumpur dengan demikian, substrat –
Suhu, Salinitas, pH, kedalaman air di
substrat yang terdapat pada stasiun

5
Prosiding Seminar Nasional, 2017

perairan Pulau Tidung, secara keseluruhan Halimeda lacunnalis. Talus tersusun


masih baik untuk pertumbuhan makro atas segmen, warna [Link]
alga. dichotomus kadang-kadang tumbuh empat
Berikut akan dipaparkan deskripsi jenis- segmen baru dalam satu percabangan
jenis makro alga yang ditemukan pada saat [Link] bagian basal relatif kecil.
penelitiaN. Halimeda [Link]
Caulerpa racemosa memiliki talus [Link] berbentuk
silindris, tumbuhnya merambat. Talus nya ginjal dengan tepi cekung, warna hijau
menyerupai setangkai anggur (green vine- lembek terurai, percabangan dalam satu
like Caulerpa), sehingga makro alga ini untaian segmen. Bagian bawah segmen
sering disebut anggur laut (sea grapes tergabung dalam multi holdfast
macroalgae). Talusnya berukuran 1-3 mm. Boergesenia forbesii. Talus
Caulerpa racemosa var [Link] membentuk kantong silindris berisi
memiliki stolon berukuran agak besar cairan, permukaannya licin, warna hijau
dengan perakaran pendek dan [Link] muda sampai hijau tua. Talusnya
yang tegak pada stolon (ramuli) dengan membentuk rumpun
interval pendek dan memiliki bulatan- Bornetella [Link] tersusun
bulatan bertangkai pendek dan rimbun. seperti gelembung bola. Percabangan pada
Caulerpa sertularioides memiliki bagian dasar talus lebih dari 5 ( bisa 24-
stolon yang bercabang-cabang, cabang ke 28) percabangan. Bagian holdfast terdapat
bawah akan membentuk rhizoid, cabang rhizoid sebagai alat untuk melekat pada
ke atas membentuk talus. Talus merambat substrat.
membentuk ramuli berbentuk daun, Ulva [Link] tipis berbentuk
bertangkai pendek, tersusun menyirip rapat lembaran, permukaannya licin, berwarna
dan tipis, menyerupai bulu ayam hijau dengan tepi talus [Link]
Halimeda macroloba .Talusnya bentuknya mirip dengan slada, alga ini
bersegmen-segmen dengan bagian tepinya sering disebut slada [Link] alga ini
sedikit bergelombang, warna hijau pudar tumbuh di daerah rataan terumbu melekat
keputihan, tinggi mencapai 16 cm, pada substrat batu, pecahan karang.
menanamkan diri dalam substrat dengan Neomeris annulata. Talus silindris,
menggunakan rhizoid yang berbentuk permukaan halus dan licin. Bentuk
seperti umbi holdfastnya yaitu rhizoid memiliki warna

6
Prosiding Seminar Nasional, 2017

hijau keputihan, habitatnya substrat batu, permukaannya dengan pinggir bergerigi


karang hidup dan karang mati. dengan bagian tengah daun menonjol.
Padina [Link] berbentuk Cystoceriasp. Talus warna coklat,
seperti kipas, membentuk segmen-segmen bagian bawah besar seperti pita, bertepi
dengan garis radial, warna coklat rata tersusun berhadapan agak berseling,
kekuningan kadang-kadang memutih terdapat gelembung-gelembung kecil yang
karena terdapat perkapuran tersusun berseri dengan ujung runcing.
Hormophysa [Link] tegak Acanthopora [Link]
dengan penampang talus segitiga, silindris, berduri tumpul seperti bulatan
permukaan licin warna coklat -kuning atau lonjong merapat yang terdapat hampir di
cokelat- [Link] rumpun yang seluruh permukaan [Link]
rimbun dan tingginya dapat mencapai 60 tidak teratur, gimbal merimbun di bagian
cm. Percabangannya tumbuh pada atas [Link] rumpun bisa mencapai
segmen-segmen talus secara berselang- 15 cm.
[Link] alga ini sering bercampur Laurencia [Link] silindris,
dengan komunitas dari Sargassum dan percabangan dikotom membentuk rumpun
Tubinaria di rataan terumbu karang, yang [Link] talus hijau dibagian
sehingga bagi yang belum mengenal pangkal berkombinasi dengan warna
makroalga ini sering keliru dengan merah dibagian ujung.
Sargassum. Hypnea [Link] silindris ,
Sargassum duplicatum. Talus panjang dan berumbai. Percabangan tidak
silindris, daun oval sampai lonjong dengan teratur membentuk rumpun yang rimbun
tepi bergerigi, percabangan berselang dan berekspansi ke berbagai arah.
seling. Mempunyai gelembung udara yang Gracillaria [Link]
berfungsi untuk menegakan talusnya silindrist, licin, beruas-ruas . Pada ujung
Dictyota sp. Talus berbentuk batang talus terdapat ruas dengan percabang
pipih seperti pita, ujung talusnya dikotom membentuk tonjolan seperti
bercabang tumpul atau rata, warna talus gelembung
hijau kecokelatan. Percabangan talus Euchema [Link] silindris
dikotom, rumpunnya rimbun. bercabang-cabang tidak beraturan atau
Turbinaria conoides. Talus lurus , komplek. Ujung talus runcing, permukaan
keras, tebal bentuk segitiga pada talus licin dengan duri-duri. Warna talus
hijau cokelat, merah ungu.

7
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KESIMPULAN DAN SARAN Dan Pengabdian KepadaMasyarakat&


Berdasarkan penelitian yang Kerjasama Universitas Nasional yang telah
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa membiayai penelitian ini .
makroalga yang ditemukan diperairan
Pulau Tidung sebanyak 21 jenis yang DAFTAR PUSTAKA
terdiri dari 3 divisi . [Link] Press.
Jogyakarta.
Chlorophyta(Caulerpa racemosa,
Caulerpa racemosa var ufivera, Caulerpa Atmadja, W. S., A. Kadi, Sulistijo, R.
Satari. [Link] Jenis-Jenis
sertularoides, Halimeda macroloba,
Rumput Laut Indonesia. Puslitbang
Halimeda gracillis, Halimeda lacunnalis, Oseanologi LIPI. Jakarta.
Neomeris annulata, Boergesenia
Handayani dan A. Kadi, 2007.
forbesii,Ulva lactuva, Bornetella nitida). Keanekaragaman dan biomassa
algae di Perairan Minahasa Utara,
Phaeophyta (Padina australis,
Sulawesi Utara. Oseanologi dan
Hormophysa triquerta, Sargassum Limnologi di Indonesia, Vol 33.
duplicatum, Dictyota sp, Turbinaria
Handayani,S.,Sri Endarti.R., Tatang M.S.,
conoides,Cystoceria sp ) Rhodophyta [Link] Makroalga
Indonesia. Dian Rakyat, Jakarta.
(Acanthopora specifera, Laurencia
nidifica , Hypnea asperi,Gracillaria Kadi., 2001. Inventarisasi algae di Perairan
Sulawesi Utara. Perairan Indonesia:
salicornia, Euchema spinosum)
Oseanografi, Biologi dan
Setelah jenis-jenis makroalga di Lingkungan.
perairan Pulau Tidung diketahui, maka
Kadi dan Atmadja. W. S., 1988. Rumput
untuk selanjutnya perlu dilakukan Laut (Alga), Jenis, Reproduksi,
Produksi, Budidaya dan Pasca
penelitian fitokimia dari masing-masing
Panen. LIPI. Jakarta.
makro alga tersebut sehingga dapat
Marianingsih,P.,Evi Amelia, Teguh
diketahui potensi dari makro alga yang
Suroto. 2013. Inventarisasi dan
ada di perairan Pulau Tidung. Identifikasi makro alga di Perairan
Pulau Untung Jawa. Prosiding
UCAPAN TERIMA KASIH
Semirata FMIPA Universitas
Ucapan terima kasih kepada Dra. Lampung.
Suprihatin, [Link], Hilda Silfia, [Link] dan,
Nybakken, J.W. 1993. Marine Biology :
Nadia Putri Rachma,yang telah membantu An Ecological Approach, Third
Edition. HarperCollins College
dalam melakukan sampling makro algadi
Publishers. U.S
lapangan dan koleksi sampel makroalga.
Universitas Nasional /LembagaPenelitian

8
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Romimohtarto,K.,Sri Juwana, 2005.


Biologi Laut, Ilmu Pengetahuan
tentang Biota Laut, Penerbit Ikrar
Mandiriabadi. Jakarta.

[Link],[Link].
[Link]. F. Manajang dan
[Link]. 2006. Pola Reproduksi
Kandungan Agar dan Kekuatan Gel
pada Alga merah Gracillaria
salicornia ([Link]) Dawson dari
Pantai 41 Malalayang, Journal of
Research and Development Sam
Ratulangi, University Vol 29 Nomor
1.

Sulistyowati. [Link] Komunitas


Rumput Laut di Pantai Pasir Putih
Kabupaten Situbondo, Jurnal Ilmu
Dasar .Vol 4, Nomor 1.

Sumich. L. 1992. An Introduction To The


Biology Of Marine Life. Wmc
Brown. Dubuque. Lowa.

9
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KOMUNITAS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA : PAPILIONOIDEA) DI SUAKA


MARGASATWA ANGKE JAKARTA

Butterfly Community (Lepidoptera : Papilionoidea) At Wild Life Sanctuaries Angke


Jakarta

Hasni Ruslan1), dan Dwi Andayaningsih1)


1)
Fakultas Biologi Universitas Nasional
Jalan Sawo Manila Pejaten Pasar Minggu Jakarta
e-mail : hasni_ruslan@[Link]

ABSTRACT

Wildlife sanctuaries is a butterfly habitat. Butterflies play an important role in ecosystem since a
butterfly is able to help in pollination and as a bioindicator in environmental changing. There is no
research on butterfly in sanctuaries has been published. This research is intended to understand butterfly
community better (Papilionoidea) in Angke Santuaries Jakarta. This research is done during May-June
2015, using purposive sampling method, with insect net as mean from 09.00 Am to 01.00 PM. Research
shows butterfly in open habitat has types that relatively same with closed habitat (IS > 50%) with
similarity index (IS) 51.28%. Diversity index, both in open and close habitat, are classified as moderate,
with equitability index almost 1 (0.89-0.88). Hutchinson test shows there is a great diffirence at both
habitat. In this research, the biggest butterfly community found in the open habitat is Delias hyparete but
in the close habitat is Junonia atlites. Other physical environment are still within the normal range
corresponding to the life of a butterfly, such as temperature, humidity, and wind speed, however the light
in open habitats is higher then in the closed habitat.

Keywords : Angke, butterfly, community, papilionoidea , wildlife sanctuaties.

PENDAHULUAN warnanya yang indah dan beragam.


Suaka Margasatwa Muara Kupu-kupu sering bertebangan diantara
Angke (SMMA) adalah sebuah dedaunan dan di sekitar bunga untuk
kawasan konservasi berdasarkan SK mencari makan. Kupu-kupu menyukai
Menteri Kehutanan RI Nomor: tempat-tempat yang bersih dan sejuk
097/Kpts-II/1988, 29 Februari 1988 di dan tidak terpolusi oleh insektisida,
wilayah hutan bakau (mangrove) di asap, bau yang tidak sedap lainnya
pesisir utara Jakarta. SMMA (Triplehorn & Johnson 2005). Karena
merupakan tempat tinggal aneka jenis sifatnya yang demikian, maka kupu-
burung dan satwa lain. Satwa lain yang kupu menjadi salah satu serangga yang
ada di Muara Angke diantaranya adalah dapat digunakan sebagai bioindikator
kupu-kupu. terhadap perubahan ekologi (Ruslan
Kupu-kupu merupakan salah 2011)
satu keanekaragaman hayati yang Keberadaan kupu- kupu dapat
banyak dikenal, karena bentuk dan dipengaruhi oleh faktor biotik dan
10
Prosiding Seminar Nasional, 2017

abiotik. Faktor biotik dapat berupa mineral yang banyak terdapat pada
tumbuhan, parasit, predator dan habitat yang terbuka. Penelitian tentang
reproduksi. Tumbuhan sangat jenis kupu-kupu telah banyak
memberikan pengaruh terhadap dilakukan, terutama di hutan kota
kehidupan kupu-kupu, karena kupu- Utami (2012), Ruslan, dkk (2014),
kupu sangat tergantung kepada daya sedangkan penelitian mengenai
dukung habitat. Daya dukung habitat, komunitas kupu-kupu (Lepidoptera:
yaitu habitat yang memiliki komponen Papilionoidea) di SMMA belum ada
tumbuhan inang dan tumbuhan pakan. publikasi. Oleh karena itu dilakukan
Tumbuhan inang adalah tumbuhan penelitian ini bertujuan untuk
inang yang menjadi pakan larva atau mengetahui komunitas kupu-kupu
ulat dimana kupu-kupu meletakan (Lepidptera : Papilinoidea) di SMMA.
telurnya, dan tumbuhan pakan adalah METODE
tumbuhan yang menjadi pakan imago.
Waktu dan lokasi penelitian
Sedangkan faktor abiotik dapat berupa
suhu, kelembaban, cahaya dan angin. Penelitian dilakukan pada bulan

Kupu-kupu lebih banyak ditemukan Mei sampai Juni 2015 di kawasan

pada habitat yang banyak intensitas Suaka Marga satwa Muara Angke,

cahaya yang tinggi, dan berkaitan juga Jakarta utara. Peta lokasi dan tempat

dengan aktifitas kupu-kupu yang penelitian dapat dilihat pada Gambar

berjemur, mencari pakan berupa 1,2&3.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian (sumber: Google Map).

11
Prosiding Seminar Nasional, 2017

(a) (b) (c)

Gambar 2. Lokasi penelitian habitat terbuka; plot 1 (a), plot 2 (b), plot 3 (c).

(a) (b) (c)

Gambar 3. Lokasi penelitian habitat tertutup; plot 1 (a), plot 2 (b), plot 3 (c).

Alat dan Bahan WIB. Dengan mendata setiap jenis yang


Alat-alat yang digunakan dalam terdeteksi serta jumlahnya. Kupu-kupu
penelitian ini adalah GPS (Global yang belum diketahui jenisnya
Positioning System), light meter, 4in 1 dikoleksi dan disimpan dalam kotak
Environment Tester, kamera, oven penyimpanan sementara, lalu dibawa ke
listrik (37-500C), kertas papilot, Laboratorium Zoologi – Fakultas
gunting, kertas kalkir, dan buku Biologi Universitas Nasional, Jakarta,
identifikasi; sedangkan bahan-bahan untuk diidentifikasi. Identifikasi kupu-
yang digunakan dalam penelitian ini kupu Sampel sampai tingkat jenis
adalah alkohol 70%, kertas label, dan berdasarkan Neo (2001), Peggie dan
kapur barus. Amir (2006), dan Peggie (2014).
Cara Kerja Pengukuran parameter
Pengamatan Kupu-kupu lingkungan dilakukan pada setiap
Penelitian dilakukan pada pengamatan. Parameter lingkungan
habitat terbuka dan tertutup. Metode untuk kupu-kupu dilakukan,
yang dilakukan adalah dengan metode pengukuran suhu udara, kelembaban
purposive sampling, menggunakan udara, kecepatan angin, dan cahaya.
sweaping net dari pukul 09.00-13.00
12
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pendataan tumbuhan Shannon-Wiener adalah sebagai berikut


Pendataan jenis-jenis tumbuhan :
utama dilakukan menggunakan metode Nilai H ≤ 1,5 :
eksploratif; dengan mendata jenis-jenis Keanekaragaman rendah
tumbuhan di seluruh plot, terutama Nilai H >1,5 – 3,5 :
jenis-jenis yang potensial untuk Keanekaragaman sedang
dimanfaatkan kupu-kupu. Data Nilai H > 3,5 :
pengamatan adalah berupa jenis dan Keanekaragaman tinggi
jumlah individu setiap [Link]
tumbuhan yang tidak teridentifikasi di Untuk membedakan nilai indeks
lapangan, dibuat herbarium dan keanekaragaman pada kedua hutan
diidentifikasi di Laboratorium Botani, digunakan uji Hutchinson yang
Fakultas Biologi Universitas Nasional. dilengkapi dengan uji t
Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis Var H’ =
sebagai berikut:
Keanekaragaman jenis kupu-kupu
Keterangan :
Keanekaragaman jenis kupu-
Var = Varians yaitu perbedaan
kupu dihitung dengan menggunakan
keanekaragaman jenis antar hutan
indeks keanekaragaman Shannon-
S = Jumlah jenis satu hutan
Wiener (H’) dengan rumus berikut :

Uji ini menggunakan uji “t”


dengan peluang 95% (=0.05). Rumus-
Keterangan: rumus yang digunakan berdasarkan
H’ = Indeks Keanekaragaman Magurran (1988) adalah :
Shannon-Wiener t=
Pi = Proporsi kelimpahan jenis
ni = Jumlah individu ke-i
df =
N = Jumlah total individu

Kriteria nilai indeks Hipotesis :


keanekaragaman jenis berdasarkan
13
Prosiding Seminar Nasional, 2017

t hit > t tabel, tolak Ho (terdapat (Magguran 1988)


perbedaan yang bermakna)
t hit < t tabel, terima Ho (tidak terdapat 3.4.3 Kelimpahan Relatif dan Frekuensi
perbedaan bermakna) Relatif
3.4.2 Indeks Kemerataan Jenis Menurut Fachrul (2012), nilai
kelimpahan relatif (KR) dan frekuensi
E=
relatif (FR) menggunakan rumus
Keterangan : sebagai berikut :
H’ = Indeks Keanekaragaman
Shannon-Wiener
S = Jumlah jenis yang ditemukan
(kekayaan jenis)
Nilai frekuensi Relatif (FR) ditetapkan
D. 3. Indeks kesamaan jenis antar
menggunakan rumus,
habitat (Indeks Sorensen)
Indeks kesamaan jenis antar habitat
dihitung untuk mengetahui kesamaan
komunitas pada dua tipe habitat yang
dihitung berdasarkan jenis yang
[Link] yang digunakan
adalah Indeks Sorensen (IS). Adapun HASIL DAN PEMBAHASAN
rumus Indeks Sorensen (IS) adalah Komposisi Kupu – kupu
sebagai berikut : Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan, komposisi
IS = x 100% komunitas kupu-kupu di kawasan suaka
margasatwa Muara Angke, dapat dilihat
Keterangan : pada tabel 1.
a = Jumlah jenis pada tipe habitat A
b = Jumlah jenis pada tipe habitat B
j = Jumlah jenis yang ditemukan pada
kedua tipe habitat tersebut

14
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 1. Komposisi kupu-kupu berdasarkan tingkatan taksa di kawasan suaka


margasatwa Muara Angke.

TIPE HABITAT
Total
Takson Terbuka Tertutup

Suku 4 4 4

Marga 20 9 20

Jenis 29 10 29

Individu 97 34 131

IS 51.28%

Pada tabel 1 dapat dilihat pakan berupa mineral yang banyak


jumlah individu dan jenis yang terdapat terdapat pada habitat yang terbuka.
di habitat terbuka lebih tinggi Selain itu terdapat juga pengaruh
dibandingkan dengan habitat tertutup, tumbuhan, karena ditempat terbuka
hal ini dapat disebabkan faktor biotik ditemukan tumbuhan yang sedang
dan abiotik yang berbeda dikedua berbungga yang banyak dikunjungi
habitat. Kehidupan kupu-kupu dapat kupu-kupu untuk mengambil nectar
dipengaruhi oleh faktor biotik berupa seperti Mikania micrantha, Ludwigia
tumbuhan sebagai pakan inang dan octovalvis, Muntingia calabura,
tumbuhan sebagai pakan imago yang Altenanthera sessilis dan Hibiscus
ada pada habitatnya. Selain itu teleasius. Tetapi dari hasil indeks
keberadaan kupu-kupu dapat juga kesamaanan didapatkan komposisis
dipengaruhi dengan iklim yang dapat yang sama diantar kedua habitat karena
berupa intensitas cahaya. Habitat nilai indeks kesamaan sebesar 51.28 %
terbuka intensitas cahaya lebih tinggi ( > 50 %). Menurut Brower, el al
(Tabel 2) bila dibandingkan dengan (1990), jika nilai IS > 50 %
habitat tertutup. Kupu-kupu lebih menunjukan terdapat kesamaan
banyak ditemukan pada habitat yang komposisi jenis antar tipe habitat. Pada
banyak intensitas cahaya yang tinggi, habitat terbuka dan tertutup didapat
dan berkaitan juga dengan aktifitas jenis kupu-kupu yang sama pada jenis:
kupu-kupu yang berjemur, mencari Graphium agamemnon, Papilio

15
Prosiding Seminar Nasional, 2017

memnon, Papilio polytes, Appias Elymnas hypermnestra, Hypolimas


olferna, Eurema hecabe, Delias bolina, Junonia atlite.
hyparete, Danaus genutia / melanippus,

Tabel 2. Hasil pengukuran rata-rata kondisi lingkungan berdasarkan tipe habitat di


kawasan suaka margasatwa Muara Angke muara angke.

Habitat
Parameter Lingkungan
Terbuka Tertutup

Suhu Udara 31.38 C 31.25 C

Cahaya 14975 798.6

Kelembaban 67% 68%

Angin 0.63 0

Berdasarkan suku kupu-kupu oleh suku nymphalidae bersifat polifag


yang didapatkan, suku Nymphalidae dan banyaknya tersedianya banyak
merupakan suku yang banyak jenis tumbuhan sebagai pakan imago
ditemukan di setiap tipe habitat dan misalnya Acanthaceae (Acanthus
secara keseluruhan (Gambar 4). Hasil ebracteatus), Avicennia sp),
ini sama dengan hasil penelitian yang Amaranthaceae (Altenanthera sessilis,
dilakukan beberapa penelitian kupu- Amaranthus sp. ) Asteraceae (Eclipta
kupu seperti: Ruslan dkk (2014), alba, Mikania micrantha, Eclipta alba),
Rahayu dan Basukriadi (2012), dan Poaceae (Elusin indica, Setaria
Peggie dan Amir (2006), yang barbata, Pennisetum sp.) Vitaceae
mendapatkan suku Nymphalidae lebih (Cissus trifoliolatus), Moraceae (Ficus
tinggi. Hal ini disebabkan suku benjamina), Convolvulaceae (Ipomoea
Nymphalidae merupakan salah satu aquatica, Coccinia grandis) dan lain-
suku terbesar jumlahnya di dalam lain, sedangkan suku Lycaenidae
bangsa Lepidoptera (Triplehorn & didapatkan dengan jumlah jenis yang
Johnson 2005). Banyaknya jumlah sedikit, hal ini disebabkan oleh ukuran
jenis suku ini, dapat juga disebabkan yang kecil sehingga sulit untuk ditangkap.

16
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 4. Diagram komposisi suku kupu-kupu di kawasan SMMA.

Keanekaragaman Kupu-kupu dan kemerataan seperti yang terlihat pada


Kemerataan Jenis
gambar 5 di bawah ini.
Dari hasil penelitian didapatkan
nilai indeks keanekaragaman dan nilai

Gambar 5. Diagram Indeks Keanekaragaman dan Indeks Kemerataan di kawasan SMMA.

Dari data diatas dapat diketahui uji Hutchinson, indeks keanekaragaman


nilai indeks keanekaragaman antar jenis kupu-kupu pada habitat terbuka
habitat terbuka dan tertutup dilokasi dan tertutup menunjukan adanya
relatif sedang yang berkisar 2.03-2.99. perbedaan yang bermakna (Tabel 3),
Magurran (1988), menyatakan jika hal ini disebabkan tumbuhan yang ada
indeks keanekaragaman berkisar antara di antara habitat terbuka lebih
nol dan 1.5-3.5 menunjukan bervariasi dari pada yang tertutup.
keanekaragaman sedang. Berdasarkan Menurut Rahayu (2012) tumbuhan
17
Prosiding Seminar Nasional, 2017

yang beragam pada suatu habitat, Nilai indeks kemerataan jenis


memiliki ketersedian pakan yang lebih berdasarkan dua tipe habitat, berkisar
banyak, bila dibandingkan dengan 0.88- 0.89 (Gambar 5). Nilai yang
habitat yang homogen. Di habitat didapat menunjukan, bahwa kemerataan
tertutup lebih homogen, yang banyak jenis yang didapat mendekati 1. Artinya
terdapat tumbuhan bakau, diantaranya kemerataan jenis kupu-kupu yang
Bruguiera sp, Avicennia sp, Sonneratia terdapat pada habitat terbuka dan
sp, Bruguera sp dan Cissus trifoliolatus tertutup hampir merata, menunjukan
. tidak ada jenis dari kupu-kupu yang
didapat dominan.

Tabel 3. Uji Hutchinson Keanekaragaman Kupu-Kupu di kawasan Suaka margasatwa


Muara Angke.

Lokasi/Habitat T Hitung T Tabel Df Keterangan

Terbuka-Tertutup 7.18 2.00 71.18 Bermakna

Indeks Nilai Penting (INP) kupu- habitat terbuka didapatkan pada jenis
kupu Delias hyparete, sedangkan pada
Pada grafik (Gambar 6) di habitat tertutup INP tertinggi,
bawah, dapat dilihat indeks nilai didapatkan pada jenis Junonia atlites
penting tertinggi kupu-kupu pada (Gambar lampiran 3).

Gambar 6. Indeks nilai penting (INP) di kedua habitat

18
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Secara keseluruhan dan pada kemerataan pada kedua habitat di


habitat terbuka didapatkan, jenis yang Suaka Margasatwa hampir merata.
tertinggi pada Delias hyparete , hal ini 3. Berdasarkan indeks nilai penting
dapat disebabkan oleh adanya tertinggi, secara keseluruhan dan
tumbuhan pakan dan inang yang habitat terbuka di Suaka
banyak terdapat pada habitat tersebut Margasatwa didominasi jenis Delias
seperti Mutingia carabula,Morinda hyparete, sedangkan pada habitat
citrifoliadan Bidens pilosa, sedangkan tertutup didominasi jenis Junonia
di habitat tertutup didapatkan pada atlites.
jenis yang tertinggi pada Junonia
atlites. Hal ini dapat disebabkan karena Saran
faktor lingkungan yang sesuai. Menurut 1. Perlu dilakukan penelitian lebih
Kirton (2014) Junonia atlites lanjut mengenai keanekaragaman
merupakan kupu-kupu yang umum jenis tumbuhan hostplant dan
ditemukan didaerah sekitar pantai dan foodplant kupu-kupu yang ada di
hutan mangrove. kawasan SMMA.
KESIMPULAN DAN SARAN 2. Perlu pemeliharaan kawasan
Kesimpulan SMMA sebagai salah satu habitat
Berdasarkan hasil penelitian yang kupu–kupu untuk menjaga
telah dilakukan dapat disimpulkan : kestabilan ekosistem kawasan hutan
mangrove.
1. Pada Suaka Margasatwa Muara UCAPAN TERIMA KASIH
Angke ditemukan 4 suku, 20 marga, 1. Pengelola Suaka Margasatwa,
29 jenis dan 131 individu. Indeks atas kerjasama dan izin
kesamaan komposisi di habitat pelaksanaan penelitian yang
terbuka dan tertutup relative sama. diberikan kepada kami.
2. Nilai indeks keanekaragaman di 2. Ibu Prof. Dr. Ernawati Sinaga,
kawasan Suaka Margasatwa Muara [Link]. sebagai Warek Bidang
Angke tergolong sedang. Penelitian dan Pengabdian
Berdasarkan uji Hutchinson kepada Masyarakat merangkap
keanekaragaman menunjukkan ada Ketua LPPM UNAS, atas segala
perbedaan bermakna. Nilai dukungannya sehingga

19
Prosiding Seminar Nasional, 2017

penelitian ini merupakan salah DAFTAR PUSTAKA


Brower J, Jerold Z, Ende CV.
satu yang didanai oleh
[Link] and Laboratory Methods
Universitas Nasional. for General [Link]
edition.W.M.C Brown Publishers.
3. Bapak Drs Imran SL Tobing
United States of America. 160-162
selaku, Dekan Fakultas Biologi
Fachrul, M.F. Metoda Sampling
Universitas Nasional, atas izin
Bioekologi. PT. Bumi Akasara,
pelaksanaan, yang diberikan Jakarta. 2012.
pada penelitian ini.
Kirton LG. 2014..A Naturalists Guide
4. Nico Herlanda, mahasiswa Butterflies of Peninsular Malaysia,
Singapore and Thailand. John
Fakultas Biologi Universitas
Beaufoy Publishing. Forest
Nasional, atas peran sertanya Research Institute Malaysia.
dalam penelitiaan ini.

Magurran AE. Ecological Diversity PusatPendidikan Konservasi Alam


and Its Measurement. Croom Helm Bodogol, Sukabumi, Jawa
Limited. London. 1988. [Link] Program Pasca Sarjana
Institut Pertanian Bogor.
Neo, Steven SH. 2001. A Guide To
Common Butterflies Of Singapore. Ruslan H, Tobing, Sl. dan
Singapore Sciene Centre. Andayaningsih D. 2014.
Singapore. Biodiversitas kupu-kupu
(Lepidoptera : Papilionoidea) di
Peggie D, Amir M. 2006. Practical Hutan Kota Jakarta. Laporan
Guide to the Butterflies of Bogor penelitian fundamental Kementerian
Botanical Garden - Panduan Praktis Pendidikan Dan Kebudayaan ,
Kupu-kupu di Kebun Raya Jakarta
[Link] zoologi, pusat
penelitian biologi, LIPI Cibinong Triplehorn CA, Johnson NF.2005.
dan Nagao Natural Environment Borror and Delong’s Introduction to
Foundation, Tokyo. the Study of [Link] ke-7.
Belmont: Thomson Brooks/Cole.
Rahayu SE dan Basukriadi A. 2012.
Kelimpahan dan Keanekaragaman Utami , EN. 2012. Komunitas Kupu-
Spesie Kupu-kupu (Lepidoptera; Kupu (Ordo Lepidoptera :
Rhopalocera) Pada Berbagai Tipe Papilionoidea) Di Kampus
Habitat di Hutan Kota Muhammad Universitas Indonesia, Depok, Jawa
Sabki Kota Jambi. Biospecies, Vol. Barat. Skripsi Sarjana Sains.
5 No.2. Fakultas Biologi. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Ruslan H. 2012 .Komunitas kupu-kupu
Superfamili Papilionidea di

20
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel lampiran. Kupu-kupu di kawasan Suaka margasatwa Muara Angke.

TERBUKA TERTUTUP
1 2 3 1 2 3
PAPILIONIDAE Graphium agamemnon √ √ √
Graphium sarpedon √
Papilio memnon √ √
Papilio polytes √ √
Papilio demoleus √ √
PIERIDAE Appias olferna 4 √
Catopsilia pomona √
Catopsilia scylla √
Eurema alitha 1
Eurema blanda 1 √
Eurema hecabe 3 √ √ √ √ √
Eurema sari 2 √
Delias hyparete 3 √ √ √ √
Nymphalidae Amanthusia phidippus √ √
Arhopala centaurus √
Doleschallia bisaltidae √ √
Danaus genutia / melanippus √ √ √ √
Elymnas hypermnestra √ 2 √
Eutholia monina √
Euoploea mulciber √ √
Euoploea leucoticus √
Hypolimas bolina √ √ √
Junonia atlites √ √ √ √ √ √
Junonia hedonia √ √
Melanitis leda √
Moduza procris √
Neptis hylas √ √
Phalanta phalanta √
Lycaenidae Zizina otis √

(a) (b)

Gambar lampiran. Kupu-kupu dengan INP tertinggi pada kedua habitat :


Delias hyparate (a), Junonia atlites (b).

21
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI SEKITAR


KAWASAN SUAKA MARGASATWA BUKIT RIMBANG BALING
KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU

Butterfly Diversity (Lepidoptera) In Bukit Rimbang Baling Kabupaten Kampar Riau


Sanctuaries

Hasni Ruslan1) dan Ikhsan Matondang1)


1)
Fakultas Biologi Universitas Nasional
Jalan Sawo Manila Pejaten Pasar Minggu Jakarta
e-mail : hasni_ruslan@[Link]

ABSTRACT

This research is held from 16-21 April 2016 in Bukit Rimbang Baling Sanctuaries area. The research is
using scan sampling method, with sweeping net as mean. The research is done at four different location
like Batu Dinding, Batu Tunjuk, CampSubayang, and Tanjung Belit Village. 74 types of butterfly and 338
individuals consist of Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycanidae and Hesperidae. Nymphalidae is
a tribe that has the most type and individuals number. From the research it is found that similarity index
of butterfly composition <50%, which means that the butterfly composition is not the same. Butterfly
diversity index in Batu Dinding categorized as high, while in Batu TUnjuk, Cam Subayang and TAnjung
Belit Village is categorized as moderate. Diversity index between location shows there is significant
difference, except in Cam Subayang and Batu Dinding. The highest Dominant Index is found in Camp
Subayang while the lowes in Batu Dinding. Butterfly which has the most individuals number is found at
Appias lyncida tpe at Badu Dinding, Jamides celeno at Batu TUnjuk and Camp Subayang and ZizinaOtis
at Tanjung Belit village.
Keywords : Butterfly, diversity, rimbang Baling sanctuaries

PENDAHULUAN Batu Dinding, Batu Tunjuk, Camp


Suaka Margasatwa Bukit Subayang dan Desa Tanjung Belit.
Rimbang Baling berada di Propinsi Tumbuhan yang ada di kawasan Bukit
Riau berbatasan langsung dengan Rimbang Baling berupa pohon, perdu,
Sumatera Barat. Kawasan Suaka semak dan juga dalam bentuk epipit
Margasatwa Bukit Rimbang Baling seperti anggrek. Pada masing-masing
merupakan daerah hulu dari dua sub lokasi terdapat flora yang sangat tinggi
Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu keanekaragamannya dan fauna. Kupu-
sungai Subayang dan Singingi yang kupu adalah, salah satu dari fauna yang
merupakan sub DAS dari sungai ada.
Kampar merupakan salah satu kawasan Kupu-kupu adalah serangga yang
konservasi (YAPEKA & WWF, 2015). memiliki bentuk dan warna yang indah
Di sekitar kawasan ini terdapat dan beranekaragam. Kupu-kupu
beberapa lokasi yang berbeda seperti: termasuk kelas insekta dan bangsa

22
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Lepidoptera. Kata lepidoptera berasal (Lepidoptera) di sekitar kawasan Suaka


dari nama latin lepido yang berarti sisik Margasatwa Bukit Rimbang Baling
dan ptera yang berarti sayap. Kupu- belum ada publikasi. Oleh karena itu
kupu memiliki peran yang penting dilakukan penelitian ini yang bertujuan
dalam ekosistem. Secara tidak langsung untuk mengetahui keanekaragaman
kupu-kupu dapat berperan sebagai kupu-kupu di sekitar kawasan Suaka
polinator, yang dapat memperkaya Margasatwa Rimbang Baling Riau.
keanekaragaman hayati khususnya Hasil penelitian ini diharapkan
tumbuhan. Selain itu, tumbuhan bermanfaat sebagai salah satu tambahan
merupakan sumber pakan, tempat informasi bagi dunia pendidikan dan
meletakan telur dan bertengger (Ruslan konservasi keanekaragaman hayati.
dan Andayaningsih, 2015). Kupu-kupu Hipotesis yang dikemukakan
sangat bergantung pada tumbuhan pada penelitian ini adalah, terdapat
inang, sehinga memiliki hubungan yang perbedaan komposisi jenis dan
sangat erat antara kupu-kupu dan keanekaragaman kupu-kupu di empat
habitatnya . Oleh karena itu kupu-kupu habitat yang berbeda, Batu Dinding,
dapat menjadi indakator perubahan Batu tunjuk, Camp Subayang dan Desa
habitat. Perubahan habitat dapat Tanjung Belit.
menyebabkan terjadinya perubahan
keanekaragaman kupu-kupu (Ruslan, METODE
2012). Selain itu, keberadaan kupu- Waktu dan tempat penelitian
kupu dapat juga dipengaruhi oleh faktor Penelitian dilakukan pada tanggal
abiotik seperti suhu, kelembapan, curah 15-21 April 2016 di sekitar kawasan
hujan, maupun siklus hidup (Sagwe dkk Suaka Margasatwa bukit Rimbang
2015). Baling kabupaten Kampar provinsi
Penelitian mengenai kupu-kupu Riau.
telah banyak dilakukan di Provinsi
Riau, Cahyadi E dan Bibas E (2016);
Sutra, N.S.M dkk (2012), sedangkan
penelitian keanekaragaman kupu-kupu

23
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 1. Peta wilayah Bukit Rimbang Bukit Baling.

Gambar 2. Peta lokasi penelitian (Sumber : Google map).

(a) (b) (c) (d)

Gambar 3. Lokasi penelitian : Batu Diding (a), Batu Tunjuk (b), Camp
Subayang (c), Desa Tanjung Belit (d)

A. Instrument penelitian (Gambar B. Cara kerja


lampiran 1)
Penelitian dilakukan selama 4
1. Sweeping net hari, pengamatan pada masing-masing
2. 4 in 1 environment tester
lokasi dilakukan satu hari, dengan
3. GPS
4. Kamera digital menggunakan metode ”scan sampling”
5. Kertas papilot
menggunakan jaring serangga dan

24
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kamera digital. Pada saat pengambilan


data kupu-kupu, yang sudah diketahui Indeks keanekaragaman jenis
kupu-kup dihitung dengan
nama jenis langsung dicatat beserta
menggunakan indeks keanekaragaman
jumlah individu. Kupu-kupu yang Shannon-Wiener (H’) dengan rumus
belum diketahui nama jenisnya difoto berikut:

atau ditangkap dengan mengunakan


H ’    [Link] pi
sweeping net, kemudian dilanjutkan
identifikasi kupu-kupu dengan Keterangan:
H’ : Indeks keanekaragaman jenis
mengunakan buku identifikasi pi : ni/N
Neo,2001; Peggie dan Amir, 2006 dan ni : Jumlah individu masing-masing
jenis
Kirton ,2014. N : Jumlah total individu yang
ditentukan
Nilai indeks keanekaragaman
C. Analisa data
(H’) bila <1,5 menunjukkan
D 1. Indeks Kesamaan jenis antar
habitat (Indeks Sorensen) keanekaragaman rendah; 1,5< H’<3,5
menunjukkan keanekaragaman yang
Indeks kesamaan jenis antar
sedang dan, jika H’ > 3,5 menunjukkan
habitat dihitung untuk mengetahui
keanekaragaman yang tinggi
kesamaan komunitas pada dua tipe
(Magurran, 1988).
habitat yang dihitung berdasarkan jenis
Untuk membedakan nilai indeks
yang [Link] yang digunakan
keanekaragaman pada keempat habitat
adalah Indeks Sorensen (IS). Adapun
digunakan uji Hutchinson yang
rumus Indeks Sorensen (IS) adalah
dilengkapi dengan uji t :
sebagai berikut :
Var H’ =
IS = x 100%
Keterangan :
Var = Varians yaitu perbedaan
Keterangan : keanekaragaman jenis antar
a = Jumlah jenis pada tipe habitat A hutan
S = Jumlah spesies satu pada satu
b = Jumlah jenis pada tipe habitat B
lokasi
j = Jumlah jenis yang ditemukan pada Uji ini menggunakan uji “t”
kedua tipe habitat tersebut (Magguran
1988) dengan peluang 95% (=0.05). Rumus-
D 2. Indeks Keanekaragaman jenis
kupu- kupu

25
Prosiding Seminar Nasional, 2017

rumus yang digunakan berdasarkan Rumus yang digunakan untuk


Magurran (1988) adalah : mengetahui indeks dominansi (Ludwig
dan Reynolds, 1988) adalah:

t=
D = - ∑ (ni / N)2

df = Dengan:
D = indeks dominansi Simpson
Hipotesis : HASIL DAN PEMBAHASAN
t hit < t tabel, tolak Ho (terdapat
perbedaan yang bermakna). Komposisi kupu-kupu
t hit > t tabel, terima Ho (tidak terdapat
perbedaan bermakna). Hasil penelitian
keanekaragaman kupu-kupu
D 3. Indeks Kemerataan (Lepidoptera) di sekitar kawasan Suaka
Kemerataan jenis kupu-kupu pada Margasatwa Bukit Rimbang Baling
suatu lokasi dihitung menggunakan Riau, ditemui 74 jenis dan 339 individu
rumus ekuitabilitas menurut Magurran (Tabel lampiran 1), dari lima suku
(1988), sebagai berikut : kupu-kupu, yang terdiri dari
Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae,
E= Lycaenidae, dan Hesperidae (Gambar
lampiran 2). Kelima suku kupu-kupu

Keterangan : tersebut merupakan suku-suku yang

H’ = Indeks Keanekaragaman umum ditemukan di wilayah tropis.


Shannon Wiener Jumlah jenis dan individu kupu-kupu
S = Jumlah spesies yang ditemukan
(kekayaan jenis) yang ditemui pada empat lokasi (Batu
Dinding, Batu Tunjuk, Camp Subayang
D 4. Indeks Dominansi (D)
dan Desa Tanjung Belit) bervariasi
(Tabel 1).

26
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 1. Jumlah suku, marga, jenis, individu, kupu-kupu yang ditemukan di sekitar
kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling Riau.

Taksa Lokasi
Batu Dinding Batu Tunjuk Camp Subayang Desa Tanjung Belit
Suku 5 5 5 5
Marga 19 14 18 18
Jenis 39 21 26 32
Individu 83 36 87 133

Jumlah jenis kupu-kupu tertinggi diantaranya vegetasi , serta faktor


ditemukan pada Lokasi Batu Dinding, abiotik seperti suhu, kelembapan, curah
dikuti Desa Tanjung Belit, Camp hujan.(Sagwe et al., 2015)
Subayang dan yang terendah terdapat Pada penelitian ini, Nymphalidae
pada lokasi Batu tunjuk. Pada Batu ditemukan dengan jumlah spesies dan
Tunjuk didapat jumlah jenis dan jumlah individu tertinggi dimasing-masing
individu yang rendah dibanding dengan lokasi, yaitu Batu Dinding (21jenis, 40
lokasi lain. Hal ini dapat disebabkan, individu), Batu Tunjuk (11jenis, 14
pada waktu pengamatan terdapat hujan individu), Camp subayang (13 jenis, 39
gerimis. Di desa Tanjung Belit individu) dan Desa tanjung Belit (17
didapatkan jumlah individu lebih tinggi jenis, 55 individu) (Tabel lampiran 2).
dibanding lokasi yang lain, hal ini dapat Tingginya jumlah jenis dan
disebabkan, karena terdapat bunga yang individu dari suku Nymphalidae yang
lebih banyak dibanding yang lain, dan ditemukan, dapat dikarenakan suku dari
dapat juga karena di desaTanjung Belit bangsa lepidoptera ini, memiliki jumlah
lokasi lebih terbuka, sehingga kupu- yang lebih banyak dibanding suku yang
kupu terlihat dengan mudah. Beberapa lain (Triplehord & Johnson 2005).
jenis tumbuhan pada saat penelitian Selain itu dapat juga dipengaruhi oleh
sedang berbunga antara lain ketersedian pakan yang melimpah.
Tabernaemontana corymbosa, Suku Nymphalidae banyak ditemukan
Clerodendron paniculatum, Peronema karena berlimpahnya sumber pakan
canescens, Congea velutina, Asystacia (Pang, et al., 2016) seperti tanaman
sp dan Hibiscus rosa sinensis (Gambar buah-buahan serta dapat dipengaruhi
lampiran 3). Kupu-kupu dapat oleh metode penangkapan kupu-kupu
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang lebih efisien terhadap suku ini.
27
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tumbuhan yang berbuah pada saat Canarium commune (Gambar lampiran


penelitian yaitu tumbuhan Ficus 4).
auriculata, Peronema canescens dan

Tabel 2. Indeks Similiritas (%) kupu-kupu yang ditemukan di sekitar


kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling Riau.

Lokasi
Batu Dinding Batu Tunjuk Camp Subayang Desa
Batu Dinding 49 43 31
Batu Tunjuk 43 30
Camp 34
Desa

Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman spesies Shannon-


nilai indeks similaritas antara empat Wiener (H’). Nilai tersebut berbeda
lokasi berkisar dari 34 %-49 %. Nilai pada masing-masing lokasi yang
indeks similiritas ini kurang dari 50%. kemudian dilihat korelasinya
Berdasarka kriteria inilai IS < 50% mengunakan indeks Hutchinson.
menunjukan tidak adanya kesamaan Berdasarkan hasil perhitungan, indeks
komposisi jenis diantara empat lokasi keanekaragaman jenis di empat lokasi
(Brower dkk 1990) berkisar antara 2.84 – 3.31, Indeks
B. Indeks Keanekaragaman dan keanekeragaman jenis ini tegrolong
Kemerataan spesies tinggi dan sedang (Gambar 4).

Indeks keanekaragaman jenis


berdasarkan nilai indeks

Gambar 4. Indeks keanekaragaman jenis.

28
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Berdasarkan nilai indeks Camp-Desa sedangkan Batu Tunjuk-


keanekaragaman kupu-kupu dari empat Camp tidak terdapat perbedaan yang
lokasi yang diamati, ditemukan bahwa bermakna hal ini dapat disebabkan
lokasi Batu Dinding memiliki nilai lokasi yang berdekatan.
indeks keanekaragaman yang paling Nilai indeks kemerataan jenis
tinggi, sedangkan lokasi Camp pada empat lokasi, menunjukan nilai
memiliki indeks keanekaragaman yang hampir sama yaitu 0,96 (Batu
terendah. Tingginya keanekaragaman Dinding) 0.95 (Batu Tunjuk),
kupu-kupu pada Batu dinding dapat 0.87(Camp Subayang), 0.90(Desa
dipengaruhi oleh keberadaan sumber Tanjung Belit). Nilai ini dapat
makanan (Sivaperuman dan menunjukan bahwa nilai kemerataan
Venkataraman, 2012), Jenis vegetasi spesies yang didapat mendekati 1.
dan tipe habitat (Sagwe et al. 2015), Artinya, kemerataan spesies kupu-kupu
lahan terbuka (Wagner et al. 2013). di habitat hampir merata. Menurut
Lokasi Batu Dinding merupakan daerah Fachrul (2012) jika nilai kemerataan
ekowisata yang terdiri dari berbagai spesies semakin besar, maka
jenis vegetasi yang menyediakan penyebaran spesies kupu-kupu tersebut
beragam sumber makanan bagi kupu- merata. Nilai indeks kemerataan jenis
kupu, dan merupakan habitat terbuka dapat menunjukan bahwa suatu habitat
yang menyediakan akses bagi sinar dapat memenuhi ketersedian pakan
matahari. Sedangkan lokasi Camp kupu-kupu sehingga kompetisi antar
merupakan kawasan dengan vegetasi jenis tidak tinggi.
yang agak rapat, sehingga menyediakan C. Indeks Dominasi
akses yang terbatas bagi sinar matahari, Indeks dominasi kupu-kupu pada
maupun area untuk menghindari empat lokasi dapat dilihat pada gambar
serangan predator. 5. Pada gambar ini dapat dilihat indeks
Dari uji Hutchinson tabel dominasi tertinggi di lokasi Camp,
lampiran 3 terdapat perbedaan yang diikuti Batu Tunjuk, Desa Tanjung
bermakna indeks keanekaragaman Belit, dan yang terendah di lokasi Batu
kupu-kupu antara lokasi Batu dinding- Dinding. Indeks dominasi dipengaruhi
Batu Tunjuk, Batu dinding-Camp, Batu oleh adanya jenis kupu-kupu yang
dinding-Desa, BatuTunjuk-Desa, [Link] dominansi

29
Prosiding Seminar Nasional, 2017

tertinggi ditemukan di lokasi Camp, diantaranya, Appias lyncida di Batu


yang menunjukkan terdapat beberapa Dinding, Jamides celeno di Batu
jenis yang ditemukan dalam jumlah Tunjuk dan Camp Subayang, Zizina
banyak. Terdapat beberapa jenis kupu- Otis di desa Tanjung Belit.
kupu yang tergolong banyak ditemukan

Gambar 5. Indeks dominasi.

Keberadaan individu kupu-kupu 2. Indek kesamaan pada empat habitat


di suatu habitat dengan jumlah yang < 50 %, berarti tidak terdapat
cukup tinggi tidak terlepas dari adanya kesamaan jenis.
kondisi mikroklimat dan habitat yang 3. Indeks keanekaragaman kupu-kupu
kondusif, keberadaan tanaman inang, di Batu Dinding tergolong tinggi,
tersedianya sumber makanan bagi sedangkan di Batu Tunjuk, Camp,
imago kupu-kupu (Widhiono, 2015). dan Desa Tanjung Belit tergolong
KESIMPULAN sedang.
1. Keanekaragaman kupu-kupu di
4. Nilai indeks keanekaragaman kupu-
Batu Dinding didapatkan 39 jenis
kupu antara Batu Dinding – Batu
dan 83 individu, di Batu Tunjuk
Tunjuk, Batu Dinding – Camp, Batu
terdapat 21 jenis dan 36 individu, di
Dinding – Desa, Batu Tunjuk –
Camp terdapat 26 jenis dan 87
Desa, dan Camp – Desa terdapat
individu, di Desa Tanjung Belit
perbedaan bermakna sedangkan
terdapat 118 jenis dan 339 individu.

30
Prosiding Seminar Nasional, 2017

antara Batu Tunjuk – Camp terdapat Thailand. John Beaufoy


Publishing. Forest Research
perbedaan yang tidak bermakna .
Institute Malaysia.
5. Dominasi kupu-kupu yang tertinggi
Ludwig, J. A, dan J. F. Reynolds. 1988.
didapatkan di Camp, sedangkan Statistical Ecology. John Wiley &
yang terendah didapatkan di Batu Sons, Inc. Canada

Dinding. Magurran AE. 1998. Ecological


Diversity and Its Measurement.
6. Kupu-kupu yang jumlah individu
Croom Helm Limited. London.
tinggi ditemukan pada jenis Appias
Neo, Steven SH. 2001. A Guide To
lyncida di Batu Dinding, Jamides
Common Butterflies Of
celeno (Batu Tunjuk dan Camp Singapore. Singapore Sciene
Centre. Singapore.
Subayang), dan Zizina Otis (desa
Tanjung Belit) Pang, et. al. 2016. Diversity of
Butterflies on Gunung Serambu,
DAFTAR PUSTAKA Sarawak, Malaysia dalam
Naturalists, Explorers and Field
Brower J, Jerold Z, Ende CV. 1990. Scientists in South-East Asia and
Field and Laboratory Methods for Australasia. Switzerland:
General [Link] Springer International Publishing.
edition.W.M.C Brown Publishers.
United States of America. 160- Peggie D, Amir M. 2006. Practical
162 Guide to the Butterflies of Bogor
Botanical Garden - Panduan
Bibas E. Muhammad A, Salbiah D. Praktis Kupu-kupu di Kebun
2016. Keanekaragaman kupu- Raya [Link] zoologi,
kupu di Kawasan Gunung Bonsu pusat penelitian biologi, LIPI
Kabupaten Rokan Hulu, Propinsi Cibinong dan Nagao Natural
Riau. Jurnal Riau Biologia 1(60: Environment Foundation, Tokyo.
3943.
Ruslan H. [Link] kupu-kupu
Chahyadi.E, Bibas E.2016. Jenis-jenis Superfamili Papilionidea di Pusat
Kupu-Kupu ( Sub Ordo Pendidikan Konservasi Alam
Rhopalocera) yang terdapat di Bodogol, Sukabumi, Jawa
kawasan Hapanasan Kabupaten [Link] Program Pasca
Rokan Hulu, Propinsi Riau. Sarjana Institut Pertania Bogor.
Jurnal Riau Biologia (8):50-56.
Fachrul MF. 2012. Metode Sampling Ruslan H dan Andayaningsih D. 2015.
Bioekologi. PT. Bumi Aksara, Interaksi Kupu-kupu
Jakarta. (Lepidoptera: Papilinoidea) dan
Tumbuhan di Kawasan Hutan
Kirton LG. 2014..A Naturalists Guide Lindung Muara Angke Jarta
Butterflies of Peninsular Utara. Laporan penelitian
Malaysia, Singapore and

31
Prosiding Seminar Nasional, 2017

stimulus Universitas Nasional,


Jakarta.

Triplehorn CA, Johnson NF.2005.


Borror and Delong’s Introduction
to the Study of [Link] ke-7.
Belmont: Thomson Brooks/Cole.

Sagwe RN, et. al. 2015. Effects of land


use patterns on the diversity and
conservation status of butterflies
in Kisii highlands, Kenya. Journal
Insect Conservation 19: 1119-
1127.

Sivaperuman C dan Venkataraman K.


2012. Diversity of Butterflies in
Ritchie’s
Archipelago, Andaman and
Nicobar Islands dalam Ecology of
Faunal Communities on the
Andaman and Nicobar Islands.
Berlin: Springer-Verlag

Widhiono I. 2015. Diversity of


butterflies in four different forest
types in Mount Slamet,Central
Java, Indonesia. Jurnal
Biodiversitas Volume 16 (2).

YAPEKA,.WWF. 2015. Social


Economics Report Rimbang
Baling. Laporan YAPEKA untuk
[Link].

32
Prosiding Seminar Nasional, 2017

PERBANYAKAN SUKUN (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) SECARA IN VITRO


MELALUI PROLIFERASI TUNAS DAN EX VITRO
DENGAN STEK BATANG

Propagation of Breadfruit (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg)) Through In Vitro


Shoot Proliferation and Ex Vitro Stem Cuttings

Laela Sari*, Aida Wulansari, Siti Noorrohmah, Maria Imelda, &


Made Sri Prana
Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Jalan Raya Bogor Km. 46, Cibinong 16911, Bogor-Indonesia
Tel/Fax.+62-21-875 4587/875 4588
*Email : laelasari@[Link]

ABSTRACT
Breadfruit (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) is a woody tree native to Southeast Asia. Almost all parts of
the breadfruit plants such as roots, stems and leaves have medicinal properties. Propagation breadfruit is
generally done by root cuttings. In vitro techniques also can be done to accelerate the availability of raw
materials in large quantities of superior planting materials. The purpose of this study was to investigate shoot
micropropation of breadfruit plants and ex vitro propagation using stem cuttings. The plant material used was
breadfruit originated from Bone. In vitro shoots grown on MS medium containing BAP at 1 mg / l, rooting was
done on ½ MS medium containing IBA at 0.5 mg / l. Parameters measured were shoot height, number of shoots,
number of roots and root length. Breadfruit cuttings used were stem upper position, middle and bottom at 20 cm
lenght. The stems were treated with IBA + fungicide. All stems were planted on media containing husk fuel +
cocopeat (1: 2). The parameters measured were the high number of shoots and buds. The results showed that in
vitro shoot proliferation was achieved on MS media + 1mg / l BAP with number of buds was at 8.45 at 12 weeks
after culture. Plantlets had 100% survival rate. Ex vitro propagation showed that the highest number of shoot
cuttings of stem after 3 months was 8.67.

Keywords : breadfruit (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg), the proliferation of shoots, stem cuttings, in vitro
and ex vitro.

PENDAHULUAN et al. 2014). Sentra produksi sukun


Sukun (Artocarpus altilis terbesar adalah di propinsi Jawa Barat yaitu
(Parkinson) Fosberg) dari suku Moraceae sebesar 14.252 ton, di Jawa Tengah
merupakan tumbuhan berkayu asli Asia sebanyak 13.063 ton, di Jawa Timur
Tenggara yang tingginya dapat mencapai sebesar 6.400 ton, di D.I Yogyakarta
15-20 m. Jenis ini merupakan salah satu sebesar 6.577 ton, di Lampung sebesar
dari 50 jenis marga Artocarpus yang 3.458 ton, di Sulawesi Selatan 3.266 ton,
menyebar di wilayah Indonesia (Sikarwar dan di Nusa Tenggara Timur sebesar 1.156

33
Prosiding Seminar Nasional, 2017

ton ([Link] 2015). Di antara al. 2011). Sukun yang tidak berbiji secara
Sentra produksi sukun di Indonesia, yang ex vitro biasanya diperbanyak dengan cara
paling terkenal terdapat di daerah Bone vegetatif melalui stek akar. Namun, cara
(Sulawesi Selatan) ([Link] tersebut menghasilkan bibit tidak seragam
2015). dengan jumlah terbatas, dan apabila
Sukun juga dikenal sebagai dilakukan secara massal dapat merusak
tanaman yang berkhasiat obat di wilayah pohon induk (Pitoyo 1992). Untuk
Asia, termasuk di Indonesia dan Kepulauan pengadaan bibit sukun secara massal dalam
Pasifik. Seluruh bagian tanaman, baik akar, waktu singkat sulit dilakukan dengan
batang, daun bahkan getahnya diyakini teknik ex vitro (stek batang). Oleh karena
masyarakat setempat dapat digunakan itu perlu dikembangkan teknik kultur
untuk pengobatan penyakit hati, hipertensi, jaringan yang dapat memproduksi bibit
jantung, ginjal, sakit gigi, gatal-gatal dan klonal unggul seragam, bersih dari hama
diabetes((Sikarwar et al. 2014, Deivanai et penyakit dalam jumlah banyak secara
al. 2010, Amarasinghe et al. 2008). berkesinambungan. Bibit hasil kultur
Secarah ilmiah, beberapa penelitian jaringan telah terbukti mempunyai
menunjukkan bahwa sukun mengandung beberapa keunggulan seperti dapat
senyawa aktif dari golongan triterfenoid diproduksi secara massal, tidak tergantung
dan flavonoid seperti cycloaltilisin, pada musim dan bebas dari hama dan
artomunoxanthotrione epoxide, penyakit.
cyclocommunol, cyclomulberrin, Sukun telah berhasil diperbanyak
cyclocommunin, dan artocarpanone melalui kultur tunas batang (Imelda 2008),
(Sikarwar et al. 2014).. kultur tunas akar, stek batang, stek akar
Sukun umumnya mempunyai dan cangkok serta kultur in vitro dari bahan
junlah kromosom triploid (3n = 84) dan tanaman dewasa (Imelda dan Noorrohmah
tidak berbiji yaitu untuk sukun yang 2015, Imelda et al. 2009, Murch et al.
mempunyai penyebaran dari Papua Barat, 2008, Miller dan Duncun 2008). Hasil
namun di Papua Nuigini Timur seperti penelitian Imelda et al. 2009, menunjukkan
Vanuatu terdapat sukun diploid (2n=56) bahwa media terbaik untuk menginduksi
dan berbiji (Sikarwar et al. 2014, Jone et proliferasi tunas batang adalah media MS

34
Prosiding Seminar Nasional, 2017

yang mengandung Benzylamino-Purin sedangkan keberhasilan aklimatisasi


(BAP) 2 mg/l + Adenin Sulfat 20 mg/l. sebesar 60% (Noorrohman dan Imelda
Namun pengembangan teknik kultur tunas 2015).
akar dan tunas pucuk keberhasilannya Tujuan dari penelitian ini adalah
masih rendah sehingga perlu dilakukan untuk melakukan perbanyakan tanaman
optimasi. BAP adalah hormon sitokinin sukun melalui proliferasi tunas in vitro dan
sintetik yang paling sering digunakan secara ex vitro menggunakan stek batang.
karena efektif dalam menginduksi METODE
pembentukan daun dan penggandaan tunas, Penelitian ini dilaksanakan di
mudah didapat dan harganya relatif murah Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman,
dibandingkan dengan TDZ dan Zeatin Pusat Penelitian Bioteknologi dan di
(Miller dan Duncun 2008, George dan Rumah Kaca serta di Kebun Plasma Nutfah
Sherrington 1984). BAP adalah sitokinin LIPI di Cibinong.
yang paling efektif mendorong Perbanyakan in vitro
pembentukan tunas in vitro dan proliferasi Proses perbanyakan tanaman
pada banyak jenis tanaman, seperti gandum melalui kultur jaringan meliputi
(Sari et al. 2014), talas bentul (Wulansari pengambilan eksplan dari Bone (Sulawesi
et al. 2013), dan buah merah (Imelda Selatan), sterilisasi, inisiasi kultur tunas,
2008). Pada media MS yang mengandung multiplikasi tunas in vitro, pengakaran dan
BAP proliferasi tunas sukun dapat aklimatisasi. Bahan yang digunakan adalah
mencapai 15 tunas dalam waktu 12 minggu tunas pucuk tanaman sukun ± 5 cm. Tunas
(Imelda 2008), mencapai 11 tunas sukun sukun, dibersihkan dari sisa-sisa kotoran
dalam waktu 12 minggu (Imelda et al. dengan air mengalir dan disikat bulu-bulu
2009), dan mencapai 15 tunas sukun dalam halusnya, lalu dicuci dengan akuades yang
waktu 12 minggu (Mariska et al. 2004). telah diberi beberapa tetes larutan
Sedangkan media pengakaran sukun yang detergent. Setelah itu disterilisasi dalam
baik adalah media MS yang ditambah IBA larutan Na-hipoklorit 20% ± 30 menit, lalu
0.5-1mg/l (Imelda 2008), dan media ½ MS dibilas dengan akuades. Selanjutnya,
yang ditambah IBA 0.5 mg/l dengan eksplan tersebut disterilkan lagi dalam
jumlah akar yang terbentuk adalah 6.20, larutan HgCl2 0.07% selama ± 10 menit,

35
Prosiding Seminar Nasional, 2017

lalu dibilas tiga kali dengan akuades steril. dahulu ke dalam botol sambal dikocok
Eksplan ditiriskan dengan kertas saring, sedikit hingga planlet mudah terlepas.
dipotong sepanjang ± 2 cm lalu Planlet yang sudah terlepas dikeluarkan
ditumbuhkan pada media tumbuh MS dari dalam botol dan akar dicuci bersih
(Murashige dan Skoog, 1962) yang telah sampai tidak terdapat media di akar planlet.
diberi zat pemadat gelrite 3g/L, sukrosa 30 Planlet yang sudah bersih langsung
g/L, pH media diatur 5.8. Eksplan ditanam di dalam polybag berisi media
dipindahkan lagi ke media perlakuan yaitu sekam bakar + cocopeat ( 1 : 2 ), setelah itu
MS dengan penambahan BAP 1 mg/L, disungkup plastik transparan selama 2
kemudian ke media perakaran ½ MS + minggu. Setelah itu semua polybag
IBA 0.5 mg/l (Noorrohman dan Imelda disimpan di rumah kaca pada tempat yang
2008). teduh. Parameter yang diamati adalah
Penelitian ini menggunakan tinggi, dan jumlah daun umur 1, 15 dan 30
rancangan acak lengkap dengan 5 kali hari.
ulangan, tiap ulangan terdiri dari 4 tunas. Perbanyakan ex vitro dengan stek
Pengamatan dilakukan dengan menghitung batang
tinggi tanaman, jumlah tunas, dan jumlah
akar pada umur 4, 8 dan 12 minggu. Bahan yang digunakan adalah stek
Pengamatan pada media perakaran batang yang sudah tua (tidak adanya gabus
dilakukan terhadap persentase planlet yang dalam batang sukun) berukuran 60 cm
sudah berakar. dibagi menjadi tiga bagian (atas, tengah,
Aklimatisasi dilakukan setelah dan bawah) dengan panjang masing-
planlet 3 bulan ditanam di media sekam masing 20 cm. Perlakuan dilakukan dengan
bakar + cocopeat ( 1 : 2 ). Aklimatisasi penambahan IBA (Rootone) + fungisida
terdiri atas media kontrol (15 planlet) dan (Benlate). Kontrol dilakukan tanpa
media perakaran (15 planlet). Planlet penambahan IBA dan fungisida. Penelitian
dikeluarkan dari botol dengan cara ini menggunakan media sekam bakar +
mencabut planlet tersebut (media sudah cocopeat ( 1 : 2 ). Stek batang tersebut
berubah menjadi setengah padat), apabila ditanam miring dan bagian atasnya diberi
masih padat bisa dimasukkan air terlebih lapisan lilin supaya tidak berjamur.

36
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Penelitian menggunakan Rancangan Acak mempunyai 5 ulangan. Sehingga total


Lengkap dengan dua faktor yaitu asal stek jumlah stek yang digunakan adalah 90 stek.
(atas, tengah, bawah) sebagai faktor Fungisida dan IBA digunakan sekaligus
pertama dan penggunaan fungisida (dengan dengan cara bubuk IBA dan fungisida
fungisida dan tanpa fungisida) sebagai ditempelkan ke ujung bawah batang sukun.
faktor kedua. Perlakuan terdiri dari 6 Penanaman dilakukan dengan sudut
perlakuan yaitu: 1. Batang atas (IBA+ kemiringan sekitar 750 dari permukaan
fungisida), 2. Batang tengah (IBA + media. Penyiraman dilakukan sesuai
fungisida), 3. Batang bawah (IBA + kebutuhan. Parameter yang diamati adalah
fungisida), 4. Batang atas (kontrol), 5. jumlah tunas, dan tinggi tunas dalam tiga
Batang tengah (kontrol), 6. Batang bawah bulan. Data dianalisis varian menggunakan
(kontrol). Penelitian inti ini menggunakan program SAS 9.1 dan jika terdapat
3 blok, masing – masing blok berukuran perbedaan nyata maka analisis dilanjutkan
1.5 x 1 m. Masing-masing perlakuan menggunakan DMRT pada taraf 5%.
1B), tunas pucuk yang terbentuk bekisar
HASIL DAN PEMBAHASAN antara 8-10 tunas pada minggu ke-12.
Perbanyakan In vitro Dalam waktu 12 minggu, tunas pucuk
Penambahan 1 mg/l BAP ke dalam mulai tumbuh banyak pada media MS +
media MS, mampu menginduksi proliferasi BAP 1 mg/l. Pada media MS tanpa zat
tunas pucuk, tinggi dan jumlah akar pengatur tumbuh (kontrol) tidak tumbuh
(Gambar 1 dan 2). Penambahan BAP tidak tunas. Jumlah akar juga lebih tinggi pada
menambah tinggi tunas (Gambar 1A). Pada tunas yang ditanam pada media MS yang
minggu ke-8 dan ke-12 minggu (Gambar mengandung BAP (Gambar 1B).

Gambar1. Pengaruh zat pengatur tumbuh BAP terhadap tinggi(A), jumlah tunas(B), dan jumlah
akar (C) pada tanaman sukun asal Bone.

37
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 2. Kultur Tunas pucuk sukun asal Bone, Sulawesi Selatan pada media MS (A) dan MS
+ 1 mg\L BAP (B) umur 12 minggu.

Hasil jumlah tunas ini tidak jauh Penambahan IBA dengan


beda dengan penelituan Imelda et al. 2009, konsentrasi 0.5 mg/l ke dalam media ½
bahwa jumlah tunas sukun diperoleh MS, mampu meningkatkan jumlah akar
sebanyak 11 tunas dengan penambahan sukun (Tabel 1, Gambar 3). Dalam waktu 4
BAP 2 mg/l + Adenin 20 mg/l. Tunas minggu, akar sudah terbentuk pada media
dalam penelitian ini tidak terbentuk sama ½ MS + IBA 0.5 mg/l atau tanpa.
sekali dalam waktu empat minggu (satu Penelitian ini sejalan dengan pernyataan
bulan). Penelitian ini sejalan dengan hasil Noorrohmah dan Imelda 2015, yang
penelitian Imelda et al. 2009, bahwa tanpa menyatakan bahwa induksi perakaran yang
BAP sukun belum membentuk tunas dalam paling banyak menghasilkan akar adalah
waktu satu bulan, BAP adalah sitokinin pada media ½ MS + 0.5 mg/l IBA dan ½
yang efektif dalam mendorong MS + 1 mg/l IBA dengan jumlah lebih dari
pembentukan tunas in vitro dan proliferasi 6.2 buah dalam waktu 6 minggu. Dalam
pada banyak jenis tanaman, seperti gandum waktu 12 minggu akar yang terbentuk bisa
(Sari et al. 2014), talas bentul (Wulansari mencapai lebih dari 10. Pada media ½ MS
et al. 2013), buncis (Garias et al. 2010), tanpa zat pengatur tumbuh akar juga
dan buah merah (Imelda et al. 2008). terbentuk tetapi jumlahnya lebih sedikit
Pengakaran tunas in vitro dan dan pertumbuhannya lambat.
aklimatisasi Aklimatisasi tanaman sukun selama
30 hari baik kontrol maupun dengan

38
Prosiding Seminar Nasional, 2017

penambahan IBA mampu beradaptasi pada pada 3 planlet dari 15 planlet yang
kondisi ex vitro di rumah kaca, tumbuh ditanam. Pada Gambar 5 bahwa perlakuan
100%. Contoh hasil aklimatisasi dapat penambahan IBA dengan konsentrasi 0.5
dilihat pada Gambar 4. Tinggi tanaman mg/l ke dalam media ½ MS, mampu
sukun dan jumlah daun dapat dilhat pada menghasilkan lebih tinggi tunas dan lebih
Gambar 5, daun hanya bertambah 1 helai
banyak jumlah daun dibandingkan kontrol

Tabel 1. Pengaruh IBA terhadap presentase pembentukan akar dan jumlah akar per tunas
sukun pada umur 4, 8 dan 12 minggu.

IBA (mg/l) Umur Jumlah tunas


(Minggu) berakar (%)

0 4 26.7

8 46.7

12 53.3

0.5 4 33.3

8 53.3

12 73.3

Gambar 3. Pengakaran tunas in vitro tanaman sukun dalam media ½ MS (A) dan ½ MS + IBA
0.5 mg/ L (B) umur 12 minggu.

39
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 4. Aklimatisasi sukun di rumah kaca setelah berumur 30 hari. A. planlet berasal dari
media ½ MS tanpa penambahan IBA (kontrol), B : planlet berasal dari media ½MS +
IBA 0.5 mg/l umur 30 hari.

Gambar 5. Tinggi (A) dan jumlah daun (B) pada umur 1, 15 dan 30 hari.

Perbanyakan tanaman dengan cara stek jumlah tunas dan tinggi tunas pada
batang (ex vitro)
pengamatan umur 3 bulan. Jumlah dan
Stek batang terbaik adalah pada stek tinggi tunas tertinggi terdapat pada
bagian bawah perlakuan IBA + fungisida perlakuan IBA + fungisida dengai nilai
dan yang terendah adalah stek pada bagian 8.67 dan 37.0. Sedangkan jumlah dan
atas kontrol (Tabel 2). Berdasarkan dari tinggi terendah terdapat pada kontrol stek
hasil analisis ragam, perlakuan kontrol bagian atas dengan nilai 3.33 dan 9.27. Hal
dengan perlakuan IBA + fungisida ini menunjukkan bahwa hasil perbanyakan
menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap dengan stek batang bawah lebih baik

40
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dibandingkan dengan pertumbuhan stek Pengambilan stek akar selain lebih sulit
batang tengah dan batang atas, karena stek (harus menggali tanah) juga bisa
batang bawah tidak memiliki sel-sel gabus mengganggu produksi pohon karena proses
dalam batang sukun. Sel-sel gabus adalah penyerapan air dan hara terganggu.
sel yang mati pada tumbuhan dikotil. Stek Tunas yang tumbuh dari stek batang
batang tengah dan atas mempunyai stek bawah dengan penambahan IBA +
batang yang masih muda dan cadangan fungisida mempunyai tinggi sebesar 37 cm
makanan (karbohidrat) masih rendah dalam waktu 3 bulan (Tabel 2). Keragaan
sehingga belum cukup untuk tumbuh stek batang bawah, tengah dan atas
(Hartono et al. 2006). Karbohidrat pada perlakuan IBA + fungisida dapat dilihat
batang berperan sangat penting yaitu pada Ganbar 6B. Sementara tunas dari stek
sebagai sumber energi yang dibutuhkan batang tanpa penambahan (kontrol)
pada waktu pembentukan akar baru. pertambahan tingginya sangat lambat.
Hal ini berarti bahwa perbanyakan Setelah 3 bulan semua stek batang secara
sukun dengan menggunakan stek batang bertahap dipindah ke dalam polibag karena
merupakan pilihan yang lebih baik tempat persemaian sudah tidak bisa
dibandingkan menggunakan stek akar yang menampung tingginya tunas.
selama ini diterapkan masyarakat luas.

Tabel 2. Rata-rata jumlah tunas dan tinggi tunas stek batang umur 3 bulan.

Perlakuan Jumlah Tunas Tinggi Tunas


Kontrol Atas 3.33 a 9.27 a
Kontrol Tengah 4.20 ab 14.50 b
Kontrol Bawah 7.73 cd 26.67 c
Perlakuan Atas (IBA +fungisida) 5.20 ab 15,67 b
Perlakuan Tengah (IBA+ fungisida) 6.00 bc 24.17 c
Perlakuan Bawah (IBA+ fungisida) 8.67 d 37.00 d

Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.

41
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 6. Stek batang (bawah,tengah,atas) perlakuan IBA+fungisida umur 1 bulan (A), umur
3 bulan (B).

KESIMPULAN Laboratorium Biak Sel dan Jaringan


Tanaman, Puslit Bioteknologi LIPI yang
Media MS yang mengandung BAP
telah memberikan masukan terhadap
1 mg/l merupakan media yang terbaik
penulisan ini. Penelitian ini didanai oleh
untuk perbanyakan sukun Bone melalui
kegiatan DIKTI 2010.
proliferasi in vitro dengan menghasilkan 10
tunas dalam waktu 3 bulan. Stek batang DAFTAR PUSTAKA
bawah yang diberikan auksin (IBA) dan Amarasinghe NR, Jayasinghe L, Hara N,
fungisida merupakan stek batang terbaik Fujimoto Y. Chemical constituents
untuk perbanyakan secara ex vitro of the fruits of Artocarpus altilis.
Biochemical Systematics and
menghasilkan jumlah tunas sebanyak 8.67
Ecology. 2008; 36 : 323-325.
dan tunas paling tinggi yaitu 37.0 cm
Direktorat Jendral Hortikultura.
dalam waktu 3 bulan.
[Link]
d/index. sabtu, 10 Desember
UCAPAN TERIMA KASIH
2015.13.15.
Terimakasih kepada Drs. H. M. Deivanai S, Subhash BJ. Breadfruit
Jusuf Kalla yang telah memberikan bahan (Artocarpus altilis Fosb.)- An
Underultilized and Neglected Fruit
tanaman sukun dari Bone (Sulawesi
Plant Species. Middle-east Journal
Selatan). Kepada Nana Burhana yang telah of Scientific Research. 2010; 6(5):
membantu menyiapkan bahan aklimatisasi 1-13.
untuk penelitian ini. Penulis juga George EF, Sherrington TD. Plant
mengucapkan terima kasih kepada kepala Propagation by Tissue Culture.

42
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Handbook and Directionary of Ethnobotany journal. 2011; 9:129-


Commercial Laboratories. England. 150.
1984.
Murch SJ, Diane R, Wendy LS, Ali RA,
GArias GAM, Valverde JM, Fonseca PR, Praveen KS. In vitro conservation
Melara MV. In vitro plant and sustained production of
regeneration system for common breadfruit (Artocarpus altilis,
bean (Phaseolus vulgaris) effect of Moraceae): modern technologies
N6benzylaminopurine and adenine for a tradional tropical crop.
sulphate. Electronic Journal of Naturwissenschaften. 2008; 95: 99-
Biotechnology. 2010; 13 (1) : 1-8. 107.

Hartono N, Purnomo, Sumardi I. Struktur Mariska I, Supriati Y, Hutami S.


dan Perkembangan Tumbuhan. Mikropropagasi Sukun (Artocarpus
Penebar Swadaya. Jakarta. 2006; communis Forst.), Tanaman
hal.179. Sumber Karbohidrat. Makalah
disajikan pada seminar hasil
Imelda M. In vitro propagation of sukun Penelitian BB Biogen, Bogor. 2004;
(Artocarpus altilis). Annual Report 188 hal.
Research Collaboration between
LIPI Indonesia – Zhejiang Murashige T, Skoog F. A Rivesed Medium
University. 2008. for Rapid Growth and Bioassays
with Tobacco Tissue Culture.
Imelda M, Wulansari A, Sumarnie. In Vitro Physiol. Plantarum. 1962; 15:473-
Propagation of Buah Merah 497.
(Pandanus conoideus Lam) through
Lateral Bud Proliferation. Annales Miller JR, Duncan JE. In vitro Propagation
Bogoriense, 2008; 12 (1) : 39-43. of Artocarpus altilis (Park.)
Fosberg (Breadfruit) from Mature
Imelda M, Wulansari A, Sari L. Plant Material. In Vitro Cell. Dev.
Propagation of Sukun (Artocarpus Biol.-Plant. 2000; 36:115-117.
altilis (Parkinson)Fosberg) through
In Vitro Shoot Proliferation. Noorrohmah S, Imelda M. Root Induction
Annales Bogorienses. 2009; 13 (1) : and acclimatization of in vitro
22-29. planllets of Artocarpus altilis.
Prosiding Seminar Nasional
Jone AMP, Ragone D, Tavana NG, Masyarakat Biodiversitas
Bernotas DW, Murchs SJ. Beyond Indonesia. 2015; 1 (18):1896-1899.
the Bounty: Breadfruit (Artocarpus ISSN: 2407-8050.
altilis) for food security and novel
foods in the 21st Century. Pitojo S. Budidaya Sukun. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta. 1992. 61 hal.

43
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Sari L, Purwito A, Soepandi D,


Purnamaningsih R, Sudarmonowati
E. InVitro Selection Of Wheat
(Triticum Aestivum) Mutants
Tolerant On Lowland. International
Journal of Agronomy and
Agricultural Research/IJAAR.
2014; 5(5):189-199.

Sikarwar MS, Hui BJ, Subramaniam K,


Valeisamy BD, Yean LK, Balaji K.
A Review on Artocarpus altilis
(Parkinson) Fosberg (breadfruit).
Journal of Applied Pharmaceutical
Science. 2014; 4(8):91-97.

Wulansari A, Martin AF, Rantau DE,


Ermayanti. 2013. Perbanyakan
beberapa aksesi talas (Colocasia
esculenta L.) diploid secara kultur
jaringan dan konservasinya
mendukung diversifikasi pangan.
Prosiding Seminar Nasional Riset
Pangan, Obat-Obatan dan
Lingkungan untuk Kesehatan,
Bogor, 27-28 Juni 2013. Hal 11-19.
ISBN 978-602-14503-1-4.

44
Prosiding Seminar Nasional, 2017

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN MAHONI DI PERSEMAIAN DAN DI


AREAL TANAM

Pest and Disease Mahagony Plant in Nurseries and Area Planting

Yeni Nuraeni dan Hani SittiNuroniah


Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung batu No. 5 Kotak Pos 165, Bogor 16118
Telp. (0251) 8633234, 7520067 Fax. (0251) 8638111
Email: y.nuraeni999@[Link]

ABSTRACT

Pest and disease become major cause the unsuccesful of plantation establishment, both in industrial forest
plantations and community forests. This paper aims to provide information of pest and disease that attack
mahogany in the nursery and planting area. The informations are revieweded after 1 year observation since
seedling maintained in nursery untill planted in the field. The affected plant was identified by its symptom
and sign, collecting insect specimen and species identification. The results showed pests that stem borer
(Xylosandrus sp.) attackedmahogany in seedling phase followed by shoot borer (Hypsipylla sp.) in sapling
phase. Leaf spot disease and diseases caused by viruses were found in small frequency at plantating area.
Stem borer is a major cause of damage in the nursery, while the shoot borer is a major cause of damage in
plantation.

Keywords : Forest plantations,mahogany, Hypsipylla sp., Xylosandrus sp.

PENDAHULUAN 45.7700454 m3,kayu gergajian


menjadi1.217.868 m3 dan kayu lapis
Latar Belakang
menjadi 3.261.970 m3 (BPS, 2013).
Menurunnya luasan dan jumlah
Guna memenuhi kebutuhan
hutan alam sebagai akibat dari berbagai
produksi kayu nasional, pembangunan
tekanan, terutama oleh faktor manusia
hutan tanaman industri (HTI) dan hutan
menyebabkan hutan alam sudah tidak
rakyak (HR) merupakan salah satu
mampu lagi memberikan manfaat yang
alternatif untuk memenuhi produksi kayu
optimal. Disisi lain produksi kayu terus
nasional, salah satu tanaman yang banyak
meningkat setiap tahunnya, berdasarkan
dikembangkan pada hutan rakyat adalah
data Badan Pusat Statistik produksi kayu
mahoni (Swietenia macrophylla King).
bulat pada tahun 2008 sebesar 32.000.786
Secara alami wilayah penyebaran mahoni
m3, produksi kayu gergajian sebesar
meliputi Meksiko (Yucatan) bagian
530.688 m3 dan kayu lapis sebesar
tengah dan utara, Amerika Selatan
3.353.479 m3. Padatahun 2013 produksi
(Wilayah Amazona), Amerika Tengah,
kayu bulat meningkat menjadi
serta ditanam secara luas di Asia Selatan,
45
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pasifik dan Afrika Barat. Di Indonesia tanaman mahoni baik pada stadia bibit di
tanaman ini menyebar di seluruh P. persemaian maupun di areal penanaman.
Sumatera dan P. Jawa (Mindawati dan
METODE
Megawati, 2013). Mahoni merupakan
pohon dengan tinggi dapat mencapai 35 Lokasi dan Waktu Penelitian
m dan diameter mencapai 125 cm, bentuk
Lokasi penelitian dilakukan di
silindris, tidak berbanir dan tajuk
persemain Pusat Penelitan dan
membulat. Kayu mahoni dicirikan oleh
Pengembangan Hutan di GunungBatu,
warna kayunya yang berwarna cokelat
Bogor dan di Kawasan Hutan Dengan
muda kemerah-merahan atau kekuning-
Tujuan Khusus (KHDTK) Haurbentes di
kuningan sampai cokelat tua kemerah-
Jasing, Bogor.
merahan. Berdasarkan kelas kuat mahoni
masuk kategori kelas kuat II-III dan kelas Bahan dan Alat
awet III. Kayu mahoni dipakai terutama
Bahan yang digunakan yaitu bibit
untuk venir dekoratif dan kayu lapis.
mahoni umur 1-6 bulan, tanaman mahoni
Selain itu mahoni juga digunakan untuk
di areal tanam sampai umur 6 bulan
furniture, panel, perkapalan serta barang
setelah tanam, kotak serangga, kamera,
kerajinan (Martawijaya et al. 2005).
alat tulis dan mikroskop.
Kegagalan dalam pembangunan
Cara Kerja
HTI maupun HR sering kali terkait
dengan permasalahan hama dan penyakit. Penelitian dilakukan dengan cara
Adanya serangan hama dan penyakit pengamatan gejala dan tanda serangan
dapat mengakibatkan menurunnya hama dan penyakit pada tanaman mahoni
produksi bibit di di persemaian mulai pada saat bibit
persemaian,kerusakan/kematian tanaman berumur 1 bulan sampai bibit berumur 6
di areal tanam dan akhirnya kehilangan bulan dan di areal tanam, pengambilan
hasil panen. sampel serangga untuk selanjutnya
dilakukan identifikasi di Laboratorium
TujuanPenelitian
Perlindungan Hutan – Puslitbang Hutan.
Tujuan penelitian yaitu untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN
memberikan informasi jenis-jenis hama
dan penyakit yang berasosiasi dengan Dari hasil pengamatan pada bibit
mahoni di persemaian dan tanaman
46
Prosiding Seminar Nasional, 2017

mahoni di areal tanam, diperoleh hama horizontal dari permukaan kulit sampai
dan penyakit yang menyerang tanaman ke empulur, selanjutnya kumbang akan
mahoni adalah sebagai berikut: menggerek tanaman secara vertikal tepat
pada bagian empulur (Gambar 2)
a). Hama penggerek batang (Xylosandrus
sp.) (Rahmanto dan Lestari, 2013). Di dalam
lubang gerek vertikal tersebut kumbang
Hama penggerek batang mulai
kemudian meletakkan telur-telurnya
menyerang tanaman pada stadia bibit di
sampai telur menetas hingga menjadi
[Link] serangan yaitu daun
imago. Larva dan imago hidup bersama-
pada bibit tanaman yang terserang
sama di dalam lubang pada bagian
menjadi layu, kemudian berubah warna
empulur tersebut. Telur Xylosandrus sp.
menjadi cokelat dan kemudian
berwarna putih dan berbentuk oval serta
mengering, batang tanaman akan menjadi
memiliki permukaan yang halus,
mudah patah sebagai akibat adanya
berukuran ± 0,5 x 0,30 mm (Greco
lubang gerek tersebut (Gambar 1, kiri).
&Wright 2015). Larvanya juga berwarna
Pengamatan di persemaian menunjukkan
putih dan memiliki bentuk tubuh yang
serangan penggerek batang terjadi secara
lonjong (Gambar 3, kiri). Imago/serangga
mengelompok pada bibit mahoni. Tanda
dewasa berbentuk kumbang berwarna
serangan oleh kumbang penggerek yaitu
cokelat tua hingga kehitaman dengan
adanya lubang gerek pada batang di atas
rambut rambut pada tubuhnya, berukuran
leher akar (di atas permukaan tanah) pada
± 1,6 mm dan lebar ± 0,7 mm (Greco &
tinggi ± 10-15 cm dengan ukuran
Wright 2015). Sedangkan kumbang muda
diameter lubang gerek ± 0,8 mm
berwarna kuning kecokelatan (Gambar 3,
(Gambar 1, kanan). Arah lubang gerek
kanan).
Penampakan batang dari batang
yang sehat dan batang yang terserang
hama penggerek batang, menunjukkan
kerusakan batang terdapat di bagian pusat
batang atau empulur (Gambar 2).
Gambar 1. Gejala serangan hama
penggerek batang di
Empulur merupakan jaringan dasar
persemaian (kiri) dan ditengah-tengah batang atau akar,
lubang gerek hama
Xylosandrus sp. (kanan) umumnya terdiri atas sel parenkim yang

47
Prosiding Seminar Nasional, 2017

memiliki fungsi untuk membelah diri dan Gambar 3. Larva Xylosandrus sp. (kiri)
dan imagoXylosnadrus sp.
regenerasi (Fahn 1992). (kanan).

Empulur bersifak lunak karena b). Hama penggerek pucuk (Hypsipyla


susunan selnya longgar, sehingga mudah sp.)

untuk dihancurkan. Seperti terlihat pada Hypsipyla sp. memiliki wilayah


Gambar 2, batang sehat memiliki penyebaran yang luas di Indonesiamulai
empulur yang penuh, berwarna putih, dari dataran rendah sampai ketinggian
namun batang yang terserang bagian 1.100 m dpl, menyebar di Pulau Jawa,
empulurnya kosong dan berwarna Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan
kehitaman. Mengelilingi empulur adalah Maluku (Rahmatsjah & Wylie 2001).
jaringan xylem yang berfungsi untuk Hama penggerek pucuk mahoni sudah
mengangkut bahan mineral dan air dari menyerang tanaman mahoni di KHDTK
akar sampai daun. Haurbentespada umur 5 bulan setelah
tanam. Gejala serangan yaitu daun pada
Penampang aksial Penampang aksial pucuk menjadi layu dan kering, pada
batang sehat batang terserang
batang dekat pucuk terdapat getah
berwarna bening, batang berwarna
cokelat sampai kehitaman, terdapat
lubang gerek yang dipenuhi oleh kotoran
hasil sekresi dari hama penggerek pucuk
Penampang radial Penampang radial
tersebut (Gambar 4). Batang yang
batang sehat batang terserang
terserang hama penggerek pucuk memilki
bagian empulur dan xylem yang kosong
serta berwarna kehitaman (Gambar 5).
Menurut Rahmatsjah & Wylie
Gambar 2. Perbandingan batang sehat (2001) regenerasi Hypsipyla sp. terjadi
dan batang sakit akibat
penggerek batang. sepanjang tahun dan ngengatnya paling
aktif selama periode awal September
sampai awal Desember, aktifitas terbang
serangga dewasa paling besar biasanya
terjadi menjelang senja pada awal musim
1 1
hujan (Oktober), kopulasi dan bertelur
terjadi pada malam hari. Serangga betina

48
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dapat menghasilkan sampai 472 telur,


dengan rata-rata masa inkubasi 7 hari.
Larva yang baru menetas membuat
lubang melalui epidermis tanaman dan
menggerek ranting, biasanya satu lubang Gambar 5. Perbandingan batang sehat
dan batang sakit akibat
gerek terdapat satu larva. Larva instar 5 penggerek pucuk.

berukuran sekitar 13 mm, berwarna


coklat kehitaman, kepala berwarna hitam
dan memiliki bintik-bintik di sepanjang
punggungnya (Gambar 6, kiri). 0, 0,
Pembentukan kepompong sebagian besar Gambar 6. Larva penggerek pucuk (kiri)
dan imago (kanan).
terjadi di dalam lubang gerek atau
berkepompong di dedaunan dengan Serangan penggerek pucuk pada
tanaman mahoni dapat menyebabkan
periode waktu selama 10 hari. Serangga
terhambatnya pertumuhan tanaman.
dewasa/imago berbentuk ngengat Akibat rusaknya pucuk yang digerek oleh
(Gambar 6, kanan) dan rata-rata hidup hama tersebut akan muncul beberapa
tunas baru (multi shoot) yang
selama 4 hari.
menyebabkan tanaman mahoni memiliki
banyak cabang.

c).Penyakit yang menyerang tanaman


mahoni di areal tanam

Penyakit yang teramati pada


Gambar 4. Gejala serangan hama
penggerek pucuk. tegakan mahoni adalah penyakit bercak
daun dan penyakit yang diduga
Penampang aksial Penampang aksial disebabkan oleh virus. Gejala penyakit
batang sehat batang terserang
bercak daun yaitu terdapat bercak bercak
pada permukaan daun dengan batas yang
jelas, biasanya berwarna cokelat dengan
batas yang berwarna lebih gelap

Penampang radial Penampang disekelilingnya (Gambar 7, kiri).


batang sehat radialbatangterser Penyebab penyakit bercak daun ini dapat
ang
disebabkan oleh beberapa cendawan
patogen diantaranya yaitu Pestalotia sp.,

49
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Lasiodiplodia sp., Cercospora sp., persemaian, dan penggerek pucuk


Curvularia sp., Helminthosporium sp., Hypsipila sp. pada stadia sapling di lokasi
Gloesporium sp. Cylindrocladium sp., penanaman. Sementara penyakit yang
dan Colletotrichum sp. (Anggraeni dan menyerang tanaman mahoni yaitu bercak
Lelana, 2011). daun dan daun keriting yang diduga
Selain penyakit bercak daun, disebabkan oleh virus. Diantara hama dan
beberapa tanaman mahoni mengalami penyakit yang menyerang mahoni hama
penyakitdengangejala daunmenjadi penggerek pucuk merupakan penyebab
mengkerut (Gambar 7, kanan) yang kerusakan utama.
diduga disebabkan oleh virus, akan tetapi
DAFTAR PUSTAKA
belum teridentifikasi jenis virus
penyebabnya. Biasanya penyakit yang Anggraeni, I & N.E. Lelana. 2011.
Diagnosis Penyakit Tanaman
disebabkan oleh virus pada tanaman
Hutan. Kementerian Kehutanan.
dibawa oleh serangga vektor penyakit Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan, Pusat
yang hinggap pada tanaman.
Litbang Peningkatan Produktivitas
Kedua penyakit diatas memiliki Hutan. Bogor.
kejadiandan intensitas yang kecil pada Badan Pusat Statistik. 2013. Produksi
tanaman mahoni di KHDK Haurbentes, Kayu Hutan Menurut Produksi
(m3), 2000, 2000-2013.
sehingga penyakit tidak dikategorikan
Fahn A. 1992. Anatomi Tumbuhan.
merugikan secara. Gadjah Mada University Press
Greco. E.B & M.G. Wright. 2015.
Ecology, biology and management
of Xylosandrus compactus
(Coleoptera: Curculionidae:
Scolytinae) with emphasis on
coffee in Hawai. Journal of
Integrated Pest Management 6(1):7.
Hal. 1-8.
Gambar 7. Penyakit bercak daun (kiri) dan
penyakit disebabkan virus Martawijaya, A., I Kartasujana, YI
(kanan). Mandang, SA Prawira dan K.
Kadir. 2005. Atlas Kayu Indonesia
KESIMPULAN
jilid I. Departemen Kehutanan.
Badan Penelitian dan
Hama yang berasosiasi dengan Pengembangan Kehutanan. Bogor.
tanaman mahoni diantaranya adalah
Mindawati, N & Megawati. 2013.
penggerek batang XylosandrusIsp. yang Manual Budi daya Mahoni
(Swietenia macrophylla King).
menyerang tanaman pada stadia bibit di
50
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Kementerian Kehutanan. Badan International Workshop held at


Penelitian dan Pengembangan Kandy, Sri Lanka. Australian
Kehutanan, Pusat Litbang Centre for International
Peningkatan Produktivitas Hutan. Agricultural Research. Canbera.
Dengan Direktorat Jenderal Bina Hal. 31-36.
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
dan Perhutanan Sosial. Direktorat Rahmanto, B & F. Lestari. 2013.
Perbenihan Tanaman Hutan. Diagnosis Hama dan Penyakit
Tanaman Kehutanan. Kementerian
Rachmatsjah. O & FR Wylie. 2001. Kehutanan. Badan Penelitian dan
Hypsipylashoot borers of meliaceae Pengembangan Kehutanan.
in Indonesia. Proccedings of an

51
Prosiding Seminar Nasional, 2017

PENGARUH JENIS EKSPLAN DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR


TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN KALUS EMBRIOGENIK CABAI
MERAH (Capsicum annuum L.)

Embryogenic Callus Formation of Chili (Capsicum annuum L.)


On Some Kinds of Explant and Growth Regulator Hormones

Pramesti Dwi Aryaningrum*, Wahyuni, N. Sri Hartati, dan Enny Sudarmonowati


Pusat Penelitian Bioteknologi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Jl. Raya Bogor KM 46, Cibinong, Bogor 16911
Telp : 021-8754587, Fax : 021-8754588
*
e-mail : pdwiaryani@[Link]

ABSTRACT

Red Pepper (Capsicum annuum L.) as one of the horticultural commodities, currently tend to continues
increasingdemand due to largerand industrial consumption. The stability of productivities and quality of
pepper can be achieved by used superior varieties of pepper. Embryogenic callus is one of the plant material
used to produce superior varieties of pepper. This study was aim to determine the effect of concentration of
growth regulators on embryogenic callus induction of the various types of [Link] embryogenic callus
was induced from several types of explants of in vitro seedlings of red pepper cv. Princess. The medium used
were MS containing several types and concentrations of growth regulators. The parameters measured were
initiating time of callus formation, number of callus, number of embryogenic callus, morphology (shape and
color) of [Link] this study, the medium containing 12 mg/l picloram and 1,28 mg/l CuSO4 resulted the
highest average value of embryogenic callus of cotyledons and the hypocotyl resulted the highest average
value of embryogenic callus were generated on the medium containing 12 mg/l picloram and 0,32 mg/l
CuSO4. The most suitable explants embryogenic callus formation was cotyledon. The structures of
embryogenic callus werefriable and compact-friable, and the colorsareyellowish white and translucent
white. The results showed the significant correlation (p<0,01) between growth regulators and the type of
explants in embryogenic callus formation of pepper.

Key words : Embryogenic callus, growth regulators, red pepper (Capsicum annuum L.)

PENDAHULUAN (Zeyrek dan Oguz, 2005) dan antifungal


Cabai merah (C. annum L.) (Soumya dan Nair, 2012; Fieira et al.,
merupakan salah satu jenis tanaman 2013).
hortikultura yang dibudidayakan secara Seperti tanaman hortikultura
komersial. Halini karena cabai merah lainnya, kestabilan produktivitas dan
memiliki kandungangizi yang cukup kualitas cabai sangat penting dalam
lengkap dan nilaiekonomis tinggi. serta memenuhi permintaan pasar, agar harga
banyak digunakan untuk konsumsi rumah cabai dapat [Link] cabai
tangga maupun keperluan industri di Indonesia saat ini masih tergolong
makanan (Nurlenawati et al., 2010). rendah dan mutu cabai yang dihasilkan
Selain itu, kandungan metabolit sekunder kurang baik. Hal ini terlihat dari
pada cabai juga dimanfaatkan untuk produktivitas nasional cabai merah pada
bahan obat-obatan, sebagai antibiotik tahun 2014 yang baru mencapai 8,35
52
Prosiding Seminar Nasional, 2017

ton/ha. Nilai ini masih di bawah dari totipotensi sel yang tinggi, sehingga
potensi produktivitas cabai merah yang merupakan sistem yang sangat berguna
berkisar 12-20 ton/ha. (Direktorat untuk perbanyakan masal planlet dan
Jenderal Hortikultura, 2016). Faktor- transformasi genetik (Deo et al., 2009).
faktor penyebab masih rendahnya 2,4-D (2,4-Dichlorophenoxy Acetic
produktivitas cabai diantaranya adalah Acid) merupakan auksin sintetik yang
penggunaan benih yang kurang bermutu, sering digunakan secara tunggal untuk
teknik budidaya yang belum efisien dan menginduksi terbentuknya kalus dari
optimal, serta penanaman kultivar cabai berbagai jaringan tanaman, karena
yang rentan terhadap hama dan penyakit aktivitasnya yang kuat untuk memacu
(Soelaiman dan Ernawati, 2013). proses dediferensiasi sel dan menjaga
Perbaikan varietas cabai seperti pertumbuhan kalus (Bhojwani dan
ketahanan terhadap penyakit dan daya Razdan, 1996). Pikloram lebih baik dan
simpan melalui aplikasibioteknologi unggul dalam menginduksikalus
dapat membantu mempercepat program embriogenikpada tanaman ubi kayu
pemuliaan, yaitu perakitan varietas cabai dibanding 2,4-D (Reamakers et al., 1997;
unggul, terutama dalam Rossin dan Rey, 2011). Pembentukan
usahameningkatkan kualitas dan kalus embriogenik cabai dilaporkan telah
kuantitas produksi cabaisecara optimal. berhasil dilakukan dari eksplan daun
Kultur jaringan merupakan salah satu muda, hipokotil dan ujung akar pada cv.
metode yang digunakan untuk menunjang Gelora, Sudra dan Chili 109 (Manzila et
kegiatan pemuliaan tanaman secara in al., 2010), dari eksplan hipokotil dan
vitro. kotiledon pada cv. Surjamukhi dan Bally
Kalus embriogenik merupakan (Rakshit et al., 2007), dari eksplan
salah satu bahan atau material yang kecambah dan buah matang (plasenta dan
digunakan dalam kegiatan pemuliaan perikarp) [Link] (Kaaby et al., 2015)
secara in vitro. Kalus merupakan salah pada media yang mengandung 2,4-D.
satu bentukdiferensiasi eksplan dalam Percobaan ini merupakan bagian
kultur in vitro dan berupa suatu awal dari penelitian untuk memperoleh
kumpulan sel yang terbentuk akibat dari metode atau protokol yang efektif dan
sel-sel jaringan yangmembelah diri efisien dalam embriogenesis somatik dan
secara terus menerus (Gunawan, 1992). regenerasi planlet cabai ([Link]
Kalus embriogenik memiliki sifat L.).Penelitian ini bertujuan untuk

53
Prosiding Seminar Nasional, 2017

mengetahui jenis eksplan sertajenis dan MC2 = MS + sukrosa 3% + 3 mg/l


konsentrasi ZPT yang efektifdalam 2,4-D
membentuk kalus embriogenik pada MC3 = MS + sukrosa 2% + 12 mg/l
cabai merah ([Link] L.) cv. Princess. pikloram + 0,32 mg/lCuSO4
METODE MC4 = MS + sukrosa 2% + 12
Penelitian ini dilakukan di mg/lpikloram + 1,28 mg/lCuSO4
Laboratorium Genetika Molekuler dan
Modifikasi Jalur Biosintesis Tanaman, Pengamatan eksplan dalam media
Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI. perlakuan dilakukan setiap hari dan
Bahan tanaman yang digunakan berasal dicatat setiap empat hari [Link]
dari benih komersial cabaimerah cv. yang diamati adalah waktu inisiasi
Princess yang ditumbuhkan secara in terbentuknya kalus, jumlah kalus, jumlah
vitrodi media dasar MS (Murashige dan kalus embriogenik, serta morfologi
Skoog,1962) yang mengandung 30 mg/l (struktur dan warna) kalus. Jumlah
sukrosa dan 8 gr/l agar, dengan pH 5,8 eksplan yang membentuk kalus
dan diinkubasi di ruang kultur bersuhu embriogenik diskoring pada24 hari
25ºC di bawah lampu flouresent. setelah tanam (HST).
Kecambah cabai yang berumur 7 Data yang diperoleh dari hasil
minggu digunakan sebagai sumber pengamatan, selanjutnya dianalisis secara
eksplan, yang terdiri dari buku kotiledon, deskriptif dan dilakukan analisis varian
kotiledon dan hipokotil. Eksplan dengan uji Duncan Multiple Range
kotiledon dan hipokotil yang digunakan Test(DMRT) taraf 5% dan uji korelasi
berukuran 5-7 mm. Eksplan ditanam untuk mengetahui perbedaan pengaruh
dalam media perlakuan dan diinkubasi di antar perlakuan dan korelasi antara media
ruang kultur dengan suhu 25ºC pada perlakuan dengan jenis eksplan.
kondisi gelap. Rancangan percobaan HASIL DAN PEMBAHASAN
terdiri atas 2 faktorial, yaitu jenis 1. Inisiasi Kalus
eksplan dan konsentrasi ZPT. Media Kalus pertama kali terbentuk pada
perlakuan yang digunakan dalam bagian eksplan yang mengalami pelukaan
penelitian iniadalah sebagai berikut: dan kontak dengan medium. Mulainya
MC0 = MS + sukrosa 3% inisiasi kalus ditandai dengan
MC1 = MS + sukrosa 3% + 2 mg/l pembengkakan pada bagian eksplan yang
2,4-D terluka, kemudian disusul dengan

54
Prosiding Seminar Nasional, 2017

terbentuknya kalus pada bagian tepi atau disebabkan olehperbedaan


dasareksplan yangdiinokulasikan kemampuan jaringan menyerap unsur
(Ibrahim et al., 2010). Pembengkakan hara dan zat pengatur tumbuh dalam
yang terjadi antara ketiga jenis eksplan media induksi (Ibrahim et al., 2010).
tidak berbeda nyata. 2. Induksi Kalus Embriogenik
Semua perlakuan dalam penelitian Pada penelitian ini ZPT yang
ini dapat menginduksi terbentuknya digunakan adalah 2,4-D dan pikloram.
kalus, termasuk perlakuan kontrol. Hal Keduanya merupakan auksin yang
ini menunjukkan bahwa eksplan yang biasanya digunakan untuk pembentukan
kontak dengan medium dapat melakukan kalus embriogenik. Rossin dan Rey
penyerapan nutrien maupun ZPT untuk (2011) dalam penelitiannya tentang
digunakan dalam proses pembelahan dan embriogenesis somatik pada tanaman ubi
pertumbuhan sel-sel pada eksplan kayu(Manihot esculenta Crantz)
tersebut (Bhojwani dan Razdan, 1996). menggunakan 2,4-D dan pikloram untuk
Pembentukan kalus pada eksplan mengetahui dan membandingkan mana
terjadi pada hari ke-5 sampai hari ke-11 diantara keduanya yang paling optimal
untuk perlakuan dengan zat pengatur untuk menghasilkan kalus embriogenik
tumbuh, sedangkan pada perlakuan (embryogenic calli).
kontrol terbetuk pada hari ke-11 sampai Hasil analisis statistik (Tabel 1)
hari ke-16 setelah inokulasi eksplan. menunjukkan bahwa media perlakuan
Kalus mulai terbentuk dari bagian yang mampu membentuk kalus dan kalus
tepi/pinggir eksplan dan juga pada embriogenik tertinggi adalah media yang
bagian-bagian yang dilukai dan terus mengandung 12 mg/l pikloram dan 1,28
membesar hingga akhir pengamatan. mg/l CuSO4 (MC4) pada eksplan
Buku kotiledon memberikan reaksi kotiledon, sedangkan media dengan
yang lebih cepat dalam membentuk kalus kandungan 12 mg/l pikloram dan 0,32
dibandingkan dengan hipokotil dan mg/l CuSO4(MC3) pada eksplan
kotiledon. Pada penelitian ini tidak semua hipokotil. Pada eksplan kotiledon nilai
eksplan berhasil membentuk kalus. rata-rata dari kalus embriogenik yang
Beberapa eksplan ada yang mengalami terbentukpada media MC1 (2 mg/l 2,4-
nekrosis (browning). Kegagalan eksplan D),MC2 (3 mg/l 2,4-D), dan MC3
membentuk kalus diduga akibat rusaknya memiliki nilai yang hampir sama atau
jaringan pada eksplan sewaktu diisolasi tidak signifikan dengan nilai pada media

55
Prosiding Seminar Nasional, 2017

MC4. Namun, pada eksplan hipokotil Ketiga jenis eksplan bereaksi lebih
nilai rata-rata pada media MC0 (kontrol) cepat/responsif pada media yang
dan MC1 memiliki nilai yang signifikan mengandung pikloram dan CuSO4
dengan nilai pada media MC2, MC3 dan daripada media yang mengandung 2,4-D.
MC4. Perbedaan respon eksplan dalam Hal ini menunjukkan bahwa semakin
membentuk kalus dan kalus embriogenik tinggi kosentrasi auksin yang diberikan,
dipengaruhi oleh konsentrasi ZPT dan semakin tinggi pula frekuensi eksplan
CuSO4dalam media perlakuan. Hal ini yang berkalus dan berpotensi untuk
dapat terlihat dari kecepatan eksplan membentuk kalus embriogenik.
membentuk kalus embriogenik. Setiap Penambahan CuSO4 pada media
genotip atau jaringan mempunyai dapat meningkatkan induksi embrio
kandungan ZPT endogen dan respon primer, meningkatkan produksi embrio
yang berbeda terhadap penyerapan ZPT sekunder, dan dapat mempersingkat
dalam medium. Oleh karena itu, dalam waktu pematangan embrio somatik
embriogenesis somatik terkadang hanya (Danso dan Lloyd, 2002). Pada kultur in
dibutuhkan auksin maupun sitokinin vitro, sumber atau jenis eksplan dan umur
secara tunggal atau campuran auksin dan eksplan merupakan faktor yang sangat
sitokinin. Beberapa sel embriogenik penting dalam menentukan kemampuan
dapat mengulangi siklus regenerasinya kalus menghasilkan embrio somatik (Taji
membentuk embrio somatik kembali et al., 1992).
yang disebut sebagai embrio somatik Selain menggunakan dua jenis
sekunder (Oktavia et al., 2003).Kalus auksin yang berbeda (2,4-D dan
embriogenik yang terbentuk memiliki pikloram), pada penelitian ini juga
struktur yang remah dan berwarna putih menggunakan dua konsentrasi sukrosa
kekuningan. Tetapi ada pula yang yang berbeda (2% dan 3%).Pada
berstruktur kompak-remah dan berwarna perlakuan 2,4-D diberikan sukrosa
putih transparan (putih bening). dengan konsentrasi 3%, karena
Hasil analisis dengan uji DMRT konsentrasi 2,4-D yang dipakai adalah 2
taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan dan 3 mg/l. Konsentrasi tersebut masih
media yang diberi tambahan ZPT dalam taraf sedang (normal), sedangkan
berpengaruh nyata terhadap jumlah kalus sukrosa yang dipakai pada media
dan kalus embriogenik yang terbentuk, perlakuan pikloram dan CuSO4
dibandingkan dengan media tanpa ZPT. konsentrasinya lebih rendah (2%), karena

56
Prosiding Seminar Nasional, 2017

konsentrasi pikloram yang digunakan eksplan, sehingga berpengaruh terhadap


tinggi (12 mg/l). Pada perlakuan kontrol arah pertumbuhan kultur kalus yang
(media tanpa ZPT) juga digunakan diharapkan.
konsentrasi sukrosa 3%. Perbedaan dalam Pengaruh dari perlakuan di
penggunaan sukrosabertujuan agar dapat beberapa media dengan jenis dan
terjadi interaksi dan perimbangan ZPT konsentrasi ZPT yang berbeda pada
yang diberikan ke dalam media dengan eksplan kotiledon ditunjukkan pada
yang diproduksi oleh sel-sel pada Gambar 1.

Gambar 1. Pembentukan kalus embriogenik dari eksplan kotiledon cabai merah cv.
Princesspada media perlakuan MC1 (A); MC2 (B); MC3 (C); dan MC4 (D).

Tabel 1. Respon beberapa jenis eksplan terhadap perbedaan media perlakuan (jenis dan
kosentrasi ZPT) pada pembentukan kalus embriogenik cabai merah cv. Princess.

Jenis Media Rata-rata jumlah Rata-rata jumlah Rata-rata jumlah eksplan


eksplan perlakuan eksplan nekrosis eksplan berkalus membentuk kalus embriogenik

MC0 0 1±0a 0,5 ± 0,50 a

Buku MC1 0 1±0a 1±0a


kotiledon MC2 0 1±0a 1±0a
MC3 0 1±0a 1±0a
MC4 0 1±0a 1±0a

MC0 2,5 ± 0,50 b 1±0a 0a


MC1 0a 4 ± 1,0 b 0,5 ± 0,50 a
Hipokotil MC2 0,5 ± 0,50 a 3,5 ± 0,50 b 3,5 ± 0,50 b
MC3 0a 5±0b 5±0c
MC4 0,5 ± 0,50 a 4,5 ± 0,50 b 4,5 ± 0,50 bc

Kotiledon MC0 3,5 ± 0,50 c 1,5 ± 0,50 a 0a

57
Prosiding Seminar Nasional, 2017

MC1 0a 5±0c 4,5 ± 0,50 bc


MC2 1±0b 4±0b 3,5 ± 0,50 b
MC3 1±0b 4±0b 4 ± 0 bc
MC4 1±0a 5±0c 5±0c
Keterangan: Angka rerata ± standard error diikuti huruf yang sama menujukkan tidak
berbeda nyata menurut uji DMRT (P < 0,05).MC0 = MS + sukrosa 3% tanpa ZPT; MC1 =
MS + sukrosa 3% + 2 mg/l 2,4-D; MC2 = MS + sukrosa 3% + 3 mg/l 2,4-D; MC3 = MS +
sukrosa 2% + 12 mg/l pikloram + 0,32 mg/l CuSO4; MC4 = MS + sukrosa 2% + 12 mg/l
pikloram + 1,28 mg/l CuSO4. MS = Murashige dan Skoog (1962), 2,4-D = 2,4-
Dichlorophenoxy Acetic Acid, CuSO4 = Copper Sulfate.

Data pada Tabel 1 memperlihatkan Terdapat pula hubungan korelasi yang


bahwa eksplan kotiledon merupakan signifikan antara media perlakuan dan
eksplan terbaik yang efektif dalam jenis eksplan dengan jumlah kalus dan
membentuk kalus embriogenik cabai cv. kalus embriogenik yang terbentuk. Media
Princess. Pada semua media perlakuan perlakuan juga berkorelasi positif dengan
yang mengandung ZPT memberikan jumlah nekrosis eksplan.
respon yang cukup baik dalam Gambar 2 memperlihatkan kalus
membentuk kalus dan kalus embriogenik. embriogenik yang terbentuk dari ketiga
Hasil dari analisis uji korelasi jenis eksplan pada media perlakuan MC4.
(Tabel 2), menunjukkan hubungan
korelasi yang signifikan (P<0,01) antara
media perlakuan dengan jenis eksplan.

Tabel 2. Korelasi antara media perlakuan (jenis dan konsentrasi ZPT) dan jenis eksplan
terhadap pembentukan kalus embriogenik cabai merah cv. Princess.

Media
JN JK JKE Jenis Eksplan
perlakuan
JE 0.403* 0.748** 0.528** 0 0.866**
JN -0.238 -0.33 0.493** 0.427*
JK 0.848** -408** 0.683**
JKE -0.528** 0.531**
Media
0.632**
perlakuan
Keterangan: * = korelasi signifikan pada tingkat 0,05
** = korelasi signifikan pada tingkat 0,01
JE = jumlah eksplan ; JN= jumlah nekrosis (browning); JK = jumlah kalus;
JKE = jumlah kalus embriogenik

58
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 2. Induksi kalus embriogenik cabai merah cv. Princess pada media MC4,
kotiledon (A); buku kotiledon (B); hipokotil (C).

KESIMPULAN eksplan menunjukkan korelasi yang


signifikan (p<0,01) dalam membentuk
Kemampuan eksplan membentuk
kalus dan kalus embriogenik
kalus embriogenik dipengaruhi oleh
cabaimerah cv. Princess.
tingkat konsentrasi ZPT yang
digunakan. Pada penelitian ini media UCAPAN TERIMA KASIH

dengan kandungan 12 mg/l pikloram Penulis menyampaikan terima


dan 1,28 mg/l CuSO4 menghasilkan kasih kepada Nia Anggraeni atas
nilai rata-rata kalus embriogenik bantuan teknis di laboratorium.
tertinggi pada eksplan kotiledon, Penelitian ini merupakan bagian dari
sedangkan pada eksplan hipokotil kegiatan Insinas Kemenristek Dikti
dihasilkan oleh media Tahun Anggaran 2015-2016.
yangmengandung 12 mg/l pikloram dan DAFTAR PUSTAKA
0,32 mg/l [Link] embriogenik Bhojwani S, Razdan MK. Plant tissue
yang terbentuk memiliki struktur yang culture: Theory and Practice. a
Revised Edition. Amsterdam:
remah dan berwarna putih kekuningan, Elsevier; 1996.767p.
serta ada yang berstruktur kompak-
Danso K, Lloyd BF. Induction of high-
remah dan berwarna putih transparan frequency somatic embryos in
(putih bening). Eksplan terbaik yang cassava for cryopreservation.
Plant Cell Reports. 2002;21(3):
efektif dijadikansumber eksplan 226-232.
dalammembentuk kalus embriogenik
Deo PC, Harding RM, Taylor M, Tyagi
adalah kotiledon. Pengaruh antara jenis AP, Becker DK. Somatic
dan konsentrasi ZPT dengan jenis embryogenesis, organogenesis

59
Prosiding Seminar Nasional, 2017

and plant regeneration in taro melalui kultur in vitro. Jurnal


(Colocasia esculenta var. AgroBiogen. 2010;6(2):65-74.
esculenta). Plant Cell Tiss Organ.
Cult. 2009;99:61-71. Murashige T, Skoog F. A Revised
Medium for Rapid Growth and
Direktorat Jenderal Hortikultura. Pusat Bio-Assay with Tobacco Tissue
Informasi Pertanian Sub Sektor Culture. Physiol. Plant.
Hortikultura Komoditas Cabai: 1962;15:473-497.
Produktivitas Nasional Tahun
2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Nurlenawati N, Jannah A, Nimih.
Hortikultura Kementerian Respon pertumbuhan dan hasil
Pertanian. 2016 [Disitasi 5 tanaman cabai merah (Capsicum
Desember 2016]. Dikutip dari: annuum L.) varietas Prabu
[Link] terhadap berbagai dosis pupuk
p/hasil_komp.asp fosfat dan bokashi jerami limbah
jamur merang. Agrika.
Fieira C, Oliveira F, Calegari RP, 2010;4(1):9-20.
Machado A, Coelho AR. In vitro
and in vivo antifungal activity of Oktavia F, Siswanto, Asmini B,
natural inhibitors against Sudarsono. Embriogenesis
Penicillium expansum. Ciênc. Somatik Langsung dan
Tecnol. Aliment. 2013;33(1):40- Regenerasi Planlet Kopi Arabika
46. (Coffea arabica) dari Berbagai
Eksplan. Menara Perkebunan.
Gunawan LW. Teknik Kultur Jaringan 2003;71(2):44-55.
Tanaman. Bogor: Pusat Antar
Universitas Bioteknologi, Institut Raemakers KJJM, Sofiari E, Jacobsen
Pertanian Bogor; 1992. E, Visser RGF. Regeneration and
Ibrahim MSD, Rostiana O, Khumaida transformation of cassava.
N. Pengaruh umur eksplan Euphytica. 1997; 96:153–161.
terhadap keberhasilan
pembentukan kalus embriogenik Rakshit A, Rakshit S, Deokar A,
pada kultur meristem jahe Dasgupta T. Effect of different
(Zingiber officinale Rosc.). Jurnal explant and hormones on in vitro
Littri. 2010;16(1):37-42. callus induction and regeneration
of pepper (Capsicum annuum L.).
Kaaby E, Jasim EA, Ajeel A, Asian J. of Bio Sci.
Abdulhadi S, Hattab A, Noori Z. 2007;3(1):180-183.
Effect of plant hormones on callus
induction from fruit and seedling Rossin CB, Rey MEC. Effect of
explants of chilli pepper explant source and auxins on
(Capsicum annuum L.). Journal of somatic embryogenesis of
Life Sciences. 2015; 9:18-26. selected cassava (Manihot
esculenta Crantz.) cultivars. South
Manzila I, Hidayat SH, Mariska I, African Journal of Botany.
Sujiprihati S. Induksi kalus serta 2011;77:59–65.
regenerasi tunas dan akar cabai

60
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Soelaiman V, Ernawati A. Pertumbuhan


dan perkembangan cabai keriting
(Capsicum annuum L.) secara in
vitro pada beberapa konsentrasi
BAP dan IAA. Bul. Agrohorti.
2013;1(1):62-66.

Soumya SL, Nair BR. Antifungal


efficacy of Capsicum frutescens
L. extracts against some prevalent
fungal strains associated with
groundnut storage. Journal of
Agri. Tech. 2012;8(2):739-750.

Taji AM, Dodd AW, Williams RR.


Plant Tissue Culture Practice.
Australia: Internal Research
Grant; 1992.

Zeyrek FY, Oguz E. In vitro activity of


capsaicin against Helicobacter
pylori. Annals of Microbiology.
2005;55(2):125-127.

61
Prosiding Seminar Nasional, 2017

SKRINING POPULASI TANAMAN PADI MUTAN TERHADAP CEKAMAN


100% NAUNGAN

Screening of Mutant Rice Population Against 100% Shading

Carla Frieda Pantouw dan Satya Nugroho


Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI
Jl. Raya Bogor Km 46 Cibinong Bogor 16911
Email: carlapantouw@[Link]

ABSTRACT

Optimization of land use for agriculture is critically needed due to the decreasing numbers of agricultural area. One
strategy to optimize land utilization is by developing new stress tolerant variety. Wide farming area could also be
used for rice production by means of intercropping. However, the problem of this system is the low light intensity.
The objectives of this research were to screen and develop shade tolerant mutant rice lines. The analysis was
conducted by screening of 550 insertion mutant rice lines with 15 replications for each line in plastic basin in soil.
The screening was designed in 100% dark shading for 10 tens. Scoring was determined by the number of plant
damages from leaves to stem. Four potential candidates were analyzed by hpt and bar gene PCR analysis in order
to determine the insertion pattern. Those potential lines were 4, 97, 65 and 11.

Key words : Mutant insertion, rice , screening, shade tolerant.

PENDAHULUAN berbagai cekaman abiotik yaitu salah


satunya kendala utama pada lahan yang
Pengembangan dan penciptaan
mempunyai intensitas cahaya yang rendah
Varietas padi unggul merupakan salah satu
karena faktor naungan, dan untuk perbaikan
teknologi inovatif yang sangat penting
tanaman untuk meningkatkan produktifitas
dilakukakan Untuk meningkatkan
dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan
produktivitas padi yang mempunyai potensi
menjadi semakin besar.
atau daya hasil tanaman yang mempunyai
Penggunaan areal di bawah tegakan
sifat toleransi dan ketahanan terhadap
tanaman industri dan Hutan tanaman
cekaman biotik dan abiotik stress dalam
industri lebih dari 2 juta ha telah
rangka adaptasi dan mitigasi terhadap
dicanangkan menjadi salah satu program
dampak perubahan iklim global. Karena itu
peningkatan luas panen dalam rencana aksi
pencarian Gen-gen penting yang potensial
pemantapan Ketahanan Pangan (Balitbang
sangat diperlukan untuk mengantisipasi
Deptan 2005).
dampak pemanasan global dan perubahan
Oleh karena itu diperlukan upaya
iklim dengan mengembangkan varietas –
untuk memperoleh varietas tanaman sela
varietas unggul yang toleran terhadap

62
Prosiding Seminar Nasional, 2017

yang berpotensi tinggi pada kondisi dengan Tujuan dari penelitian ini adalah
intensitas cahaya rendah (naungan). Salah untuk mendapatkan galur padi mutan insersi
satu kendala pertumbuhan dan produksi padi yang menunjukkan peningkatan toleransi
sebagai tanaman sela adalah terjadinya terhadap cekaman naungan pada fase
defisit cahaya yang sampai di kanopi padi. perkecambahan.
Intensitas cahaya rendah mengakibatkan
terganggunya laju fotosintesis dan sintesis METODE
karbohidrat, dan berakibat menurunnya laju Penelitian dilakukan di Laboratorium
pertumbuhan dan produktivitas tanaman Genomik dan Perbaikan Mutu Tanaman,
(Vijayalaksmi et al., 1991; Chozin et Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI,
al.,1999). Cahaya sangat besar peranannya Cibinong Science Center. Bahan yang
dalam proses fisiologi, seperti fotosintesis, digunakan adalah 550 galur padi mutan
respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, insersi yang diperoleh dari koleksi benih
penutupan stomata berbagai pergerakan padi Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.
tanaman dan perkecambahan ( Taiz dan Varietas Jatiluhur digunakan sebagai kontrol
Zeiger 2002). Cahaya merupakan faktor toleran naungan, dan Nipponbare sebagai
penting bagi pertumbuhan dan kontrol nonmutasi. Penelitian terdiri atas dua
perkembangan tanaman padi karena selain kegiatan, yaitu (1) skrining padi mutan
berperan dominan pada fase fotosintesis, insersi terhadap cekaman naungan, dan (2)
juga sebagai pengendali, pemicu dan analisis insersi dengan PCR.
modulator respons morfogenesis, khususnya Skrining Padi mutan Insersi terhadap
cekaman 100% Naungan pada fase
pada tahap awal pertumbuhan tanaman
Perkecambahan.
(McNellis dan Deng 1995).
Kegiatan ini dilakukan di Rumah
Pengembangan padi unggul sebagai
Kaca Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI,
tanaman sela yang toleran naungan perlu
Cibinong. Sebelum percobaan, dilakukan
untuk dilakukan untuk merealisasikan
persiapan tanah yang mengandung humus
program pemerintah untuk peningkatan areal
yang dicampur dengan pupuk kandang
penggunaan areal tanam di bawah tegakan
dengan perbandingan tanah dengan pupuk
tanaman perkebunan dan hutan tanaman
kandang yaitu 3:1 kemudian tanah di
industri (HTI).
masukkan kedalam bak-bak plastik

63
Prosiding Seminar Nasional, 2017

berukuran (panjang x lebar x tinggi) tanpa naungan pada kondisi cahaya penuh,
50x40x15 cm sebanyak 70 bak plastik selanjutnya pada hari ke-10, bak-bak
untuk perlakuan cekaman naungan dan 70 tanaman dipindahkan ke dalam ruang gelap
bak untuk tanpa naungan (kontrol). yang diberi perlakuan cekaman 100%
Skrining galur-galur toleran naungan naungan yang ditutupi dengan plastik
dilakukan melalui dua tahap. Pada tahap berwarna hitam selama 10 hari tanpa
pertama dilakukan pada 250 galur, dan di cahaya . Kelembapan di dalam ruangan
tahap kedua dilakukan pada 350 galur berkisar 70%-83%, dan suhu udara 270C-
lainnya. Pembagian tahap penapisan 310C, dan cahaya 00,1 lux. Evaluasi Respon
dilakukan karena keterbatasan tempat dan tanaman terhadap naungan yang dipakai
alat. Percobaan diawali dengan untuk menentukan mutan yang rentan dan
mengecambahkan benih padi galur mutan toleran, dengan melihat jumlah tanaman
pada bak-bak plastik yang berisi tanah hidup dan mati, dan nilai/ skor rata-rata
humus dan pupuk kandang dengan tingkat kerusakan yaitu perubahan warna
perbandingan 3:1. Pada masing-masing bak dari daun sampai kebatang. Penentuan galur
dibagi menjadi delapan bagian untuk yang toleran dan rentan naungan didasarkan
masing-masing galur mutan yang terdiri dari atas nilai /skoring tanaman yang hidup
15 benih. . Galur-galur padi mutan setelah disimpan dalam ruang gelap selama
dikecambahakan selama 10 hari ditempat 10 hari dengan kriteria sebagai berikut :

Tabel 1 . Klasifikasi toleransi galur terhadap cekaman naungan.

Nilai/skoring krtiteria Keterangan


0 Rentan Bagian daun dan batang mengering tanaman mati
1 Agak rentan > 10-30% Bagian daun mengering, dan batang hijau
2 Moderat > 30-50% Bagian daun mengering, dan batang hijau
3 Agak toleran > 50-70% Bagian daun mengering, dan batang hijau
4 Toleran > 70% Bagian daun dan batang hijau

Isolasi DNA dan analisis PCR (Murry & Thompson, 1980). DNA yang

Isolasi DNA total tanaman dari daun dihasilkan kemudian digunakan sebagai

padi yang lolos seleksi/skrining naungan template untuk analisis PCR. Analisis PCR

dilakukan menggunakan metode CTAB bertujuan untuk mengetahui keberadaan gen

64
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Hpt dan gen Bar pada tanaman tersebut di HASIL DAN PEMBAHASAN
atas. Reaksi tanaman terhadap intensitas
Analisis PCR menggunakan cahaya yang rendah dapat dianalisa dengna
sepasang primer untuk mengamplifikasi gen melihat kemampuan tanaman tersebut hidup
Hpt dan sepasang primer untuk dalam naungan. Hasil skrining naungan
mengamplifikasi gen Bar. Primer yang 100% selama 10 hari tahap pertama dari 250
digunakan untuk mengamplifikasi gen Hpt galur mutan di ambil 15 kandidat tanaman
yaitu Hpt Forward: 5’- mutan toleran naungan (Tabel 2). Dari 15
GATGCCTCCGCTCGAAGTAGCG -3’ kandidat tersebut, galur mutan No 97 dan
dan Hpt Reverse: 5’- galur mutan nomor 4 mempunyai jumlah
GCATCTCCCGCCGTGCAC -3’. Primer yang hidup lebih besar dibanding galur-
yang digunakan untuk mengamplifikasi gen galur mutan yang lain. Rata-rata nilai
Bar yaitu Bar Forward: 5’- skoring galur tersebut adalah 3 dan 4, hal ini
ACCATGAGCCCAGAACGACGC -3’ dan menunjukkan kedua mutan tersebut
Bar Reverse: 5’- memiliki toleransi yang lebih baik
CAGGCTGAAGTCCAGCTGCCAG -3’. dibandingkan tanaman kontrol Nipponbare
Adapun kondisi PCR adalah sebagai berikut: dan tanaman mutan yang lain. Sedangkan
95 0C 3 menit, 95 0C selama 1 menit, 62 0C pada tanaman kontrol Niponbare sebagian
selama 1 menit (untuk amplifikasi gen Hpt) besar pada saat keluar dari cekaman
dan 62 0C (untuk amplifikasi gen Bar), 72 naungan tanaman kering mulai dari batang
0
C selama 1 menit, 72 0C selama 10 menit, sampai daun tidak ada yang berwarna hijau
dan 40 C (~), sebanyak 35 siklus. Reaksi dengan jumlah yang hidup. Persentase
PCR menggunakan DreamTaq Polymerase tanaman yang hidup pada tanaman mutan 4
(Thermo Scientific). Reaksi PCR adalah (76.92%) dan 97(77.77%). Kedua mutan
sebagai berikut: sebanyak 2.0 µM masing- tersebut meningkat 63.59% dan 44.44%
masing primer, 1x Dream Taq Polymerase dibadingkan tanaman control nipponbare.
Mix, sebanyak 1 µl DNA templet dalam Dengan demikian, mutan-mutan tersebut
volum akhir 12.5 µl. merupakan mutan yang potential digunakan
untuk toleransi terhadap naungan.

65
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 2. Galur-galur kandidat toleran cekaman naungan pada hasil skrining pertama.
No No. Jumlah semai Jumlah benih Persentase tanaman Skor
. Galur yang diuji yang hidup Rata2
dinaungan 10 hari

NB JL mutan NB JL mutan NB JL mutan


1. 4 15 15 15 15 15 13 13,33 66,66 76,92 3
2. 97 15 15 15 6 15 9 33,33 93,33 77,77 4
3. 41 15 15 15 14 15 13 7,14 80 23,07 2
4. 42 15 15 15 15 15 11 6,66 86,66 27,27 2
5. 106 15 15 15 15 15 12 33,33 73,33 41,66 1
6. 147 15 15 15 15 15 14 6,66 66,66 21,42 1
7. 165 15 15 15 13 15 13 7,69 93,33 38,46 1
8. 196 15 15 15 12 15 13 33,33 73,33 30,76 1
9. 214 15 15 15 9 15 12 88,88 93,33 33,33 1
10. 220 15 15 15 14 15 15 85,71 80 53,33 1
11. 239 15 15 15 14 15 15 85,71 86,66 53,33 1
12. 10 15 15 15 14 15 12 42,85 73,33 58,33 1
13. 82 15 15 15 13 15 12 30,76 66,66 58,33 1
14. 94 15 15 15 13 15 14 61,53 93,33 57,14 1
15. 99 15 15 15 11 15 12 54,54 73,33 50 1

Hasil analisis PCR galur kandidat toleran naungan hasil percobaan pertama :

Hasil skrining pertama tersebut Dari hasil PCR, diketahui bahwa dari galur
dianalisa dengan PCR. Analisa tersesebut 4 dan 97 terdapat amplifikasi gen bar yang
dilakukan untuk mengetahui keberadaan gen berukuran sekitar 230bp (Gambar 1) dan gen
HPT dan gen Bar pada kandidat mutan. hpt (Gambar 2) yang berukuran 450bp.

Gambar 1. Hasil PCR DNA tanaman mutan Nipponbare menggunakan primer Bar
amplifikasi PCR yaitu pita berukuran ± 230 bp. (1). marker, (2). air, (4).
Kontrol negatif tanaman, (6). plasmid, (8). Kontrol positif tanaman,
(12). Galur, 4. (13) galur 97.

66
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Keberadaan gen hpt dan Bar merupakan pada elemen Ds tertambat gen resisten
marker selektif tanaman transgenic BASTA (bar). Dengan demikian,
berdasarkan muncul tidaknya gen yang amplifikasi kedua gen marker selektif
bersangkutan. Tanaman mutan tersebut tersebut untuk menunjukkan keberadaan
dibuat dengan konstruksi Ac/Ds, pada elemen Ac dan Ds.
elemen Ac tertambat gen hpt, sedangkan

Gambar 2 Hasil PCR DNA tanaman mutan Nipponbare menggunakan primer Hpt.
amplifikasi PCR yaitu pita berukuran ± 450 bp. (1). marker, (2). air, (4).
Kontrol negatif tanaman, (6). plasmid, (8). Kontrol positif tanaman,
(12). galur 4, (13). galur 97.

Tabel 3. Galur-galur kandidat toleran cekaman naungan pada hasil skrining kedua.

No. No. Jumlah semai Jumlah benih yang Persentase tanaman yang Skor
Galur diuji hidup dinaungan 10 hari Rata2

NB JL Mutan NB JL mutan NB JL mutan


1. 65 15 15 15 15 14 12 13,33 71,42 75 2
2. 11 15 15 15 13 13 9 15,38 30,76 55,55 2
3. 226 15 15 15 13 14 12 7,69 100 58,33 2
4. 153 15 15 15 12 9 3 8,33 75 66,66 2
5. 84 15 15 15 15 14 10 53,33 71,42 60 2
6. 69 15 15 15 15 12 12 80 83,33 75 2
7. 104 15 15 15 13 11 15 46,15 81,81 73,33 2
8. 176 15 15 15 14 10 12 28,57 100 66,66 2
9. 13 15 15 15 13 14 6 61,53 92,85 50 2
10. 107 15 15 15 13 11 13 46,15 81,81 69,23 2

Skrining kedua naungan 100% yang terbaik (Tabel 3). Dari hasil skrining
selama 10 hari tahap kedua dari 300 galur tersebut di hasilkan 2 kandidat mutan yang
mutan di ambil 15 tanaman besar mutan mempunyai jumlah hidup lebih tinggi

67
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dibanding tanaman kontrol NB yaitu mutan tersebut berpotensi untuk diuji lebih lanjut
11 dan 65 yaitu mutan 11 (5), dan NB (2) untuk toleransi terhadap naungan.
dan 65 (9) dan NB (2). Rata-rata nilai Hasil analisis PCR galur kandidat toleran
naungan hasil percobaan kedua
skoring galur tersebut adalah 2, tidak
menunjukkan perbedaan dengan tanaman Kandidat tanaman mutan toleran
mutan lainnya. naungan diuji dengan PCR untuk
Persentase tanaman yang hidup pada mengetahui keberadaan gen hpt (Gambar 3).
tanaman mutan 65 (75%) dan 11(55.55%). Kandidat tanaman mutan mengamplifikasi
Kedua mutan tersebut meningkat 61.67% gen hpt pada galur 65 dan 11. Hal ini
dan 40.17% dibadingkan tanaman kontrol menunjukkan bahwa pada tanaman tersebut
nipponbare. Dengan demikian, mutan-mutan mempunyai konstruksi Ac/Ds, dimana
elemen Ac tertambat gen hpt.

Gambar 3. Hasil PCR DNA tanaman mutan Nipponbare menggunakan primer Hpt. amplifikasi PCR
yaitu pita berukuran ± 450 bp. 1. Marker 200 bp (M), 2. air, [Link] negatif tanaman
Nipponbare, 4. kosong, 5. Pc 1305-1, 6. kontrol positif Nippobare , 7. kosong , 8-20.
tanaman mutan, 8-10. Galur 65 (kotak A), 12-13. (kotak B), dan 15. galur 11 (kotak C),

KESIMPULAN keempat galur ini pembawa gen HPT dan

Skrining pada padi mutan dengan Bar.

cekaman 100% naungan pada tahap pertama


dan kedua pada fase perkecambahan UCAPAN TERIMA KASIH

terdapat empat galur mutan potensial Penelitian ini didanai oleh Program

kandidat toleran naungan yang ditunjukkan Penelitian Kompetitif Lembaga Ilmu

oleh jumlah yang hidup dan mati pada hari Pengetahuan Indonesia. Sehubungan dengan

ke-10 setelah dikeluarkan dari ruangan gelap itu disampaikan terima kasih kepada Dr.

tanpa cahaya dan oleh hasil analisis PCR Satya Nugroho.

68
Prosiding Seminar Nasional, 2017

DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian dan Pengembangan
Fisiologi Adaptasi Tanaman Terhadap Departemen Pertanian. 2005.
Cekaman Abiotik pada Rencana Aksi Pemantapan
Agroekosistem Tropika, Prof [Link] Ketahanan Pangan 2005-2010.
Didy Sopandie, Magr, cetakan Lima Komoditas Beras, Jagung,
pertama 2014, IPB. Kedelai, Gula, dan Daging Sapi.
Jakarta. Balitbangtan Deptan.
Portis, AR. 1992, Regulation of Ribulose
1,5 bisphosphate Holbrook GP, Campbell WJ, Bamford AR,
carboxylase/oxygenase activity. Bowers G. 1994, Intraspesific
Annu Rev Plant Physiol plant Mol variation in the light/dark
Biol 43:415-437. modulation of ribulose 1,5
bisphosphate carboxylase-
Taiz dan Zeiger 2002, Plant Physiology, 5 th oxygenase activity in soybean. J
edition Sinaur Associate Inc, Exp Bot 45:1119-1126.
Publishers, Massachusetts USA.
Pp 200-230.

69
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KOLEKSI MIKROBA ANTAGONIS DAN NPENGUJIAN DAYA HAMBATNYA


TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI KACANG TANAH

Collection of Microbes and The Study of Its Inhibitation Potency to Peanut Disease

M. Ace Suhendar dan Tri Zulchi P.H.


Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
(BB-BIOGEN), Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Jl. Tentara Pelajar No. 3A, Bogor
16111 Email: ace_suhendar62@[Link]

ABSTRACT

Biocontrol agents or an antagonistic microorganism application to control plant disease is one of the techniques of
an intergrated plant disease management. The research has been done to study the inhibitation potencial of
antagonistic bacteria and fungi were investigated from collected microbes and isolated pathogens in the
Laboratorium of ICABIOGRAD. Isolates of antagonist microbes originated from Bogor and Bandung (West Java)
and from Dieng area (Wonosobo, Central Java) were tested its antagonistic potencial to bacterial wilt disease of
peanut (Ralstonia solanacearum). Fifty four isolates of antagonistic bacteria and fungi were tested to its inhibitation
against R. solanacearum. Result of the study indicates that six isolates of antagonistic bacteria have a broad
inhibiting potency to R. solanacearum, namely PSB 10 (16,11 mm), PSB 11 (15,40 mm), PSB 12 (17,00 mm), LBB
02 (15,92 mm), LBB 06 (15,75 mm), and CKB 20 (15,94 mm), while the other 12 isolates of bacteria indicates the
potencial inhibitation. Three isolates of antagonistic bacteria have a broad inhibiting potency to R. solanacearum,
namely LBC 06 (16,40 mm), LBC 07 (25,45 mm), and PSC 09 (16,83 mm), while the other 15 isolates of fungi
indicates the potencial inhibitation. The other 18 of bacterial antagonistic isolate indicates also as the antagonist
agents against bacterial wilt disease of peanut, where that those 1 isolate of antagonist bacteria from Lembang
(LKnt-1b), 1 isolate of antagonist bacteria from Dieng (DRpt-8a), and 2 isolates of antagonist bacteria from Bogor
(BJgg-12b and BJgg-12c) had the inhibitation zone more than 15 mm. Therefore that those antagonist bacteria
were the most potencial antagonist to the bacterial wilt disease. The further study done in green house were found
15 bacterial isolates of Pseudomonas fluorescens group that suppressed development of peanut bactreial wilt
disease. Antagonistic bacterial isolates collected from different area could be considered as biocontrol agents to
bacterial wilt disease of peanut.

Key words : Antagonist bacteria and fungi, biocontrol, Ralstonia solanacearum, peanut.

PENDAHULUAN merupakan salah satu alternatif yang perlu


dipertimbangkan. Keuntungan
Penanggulangan penyakit tanaman
menggunakan agens biokontrol ialah : (1)
dengan menggunakan antibiotik dan
organisme yang dipakai lebih aman daripada
senyawa kimia telah banyak menyebabkan
berbagai bahan kimia proteksi yang
kerusakan lingkungan dan resistensi bakteri
sekarang digunakan; (2) tidak terakumulasi
patogen. Oleh karena itu, penggunaan
di dalam rantai makanan; (3) adanya proses
biokontrol atau mikroorganisme antagonis
reproduksi sehingga dapat mengurangi
untuk mengendalikan penyebab penyakit
pemakaian secara berulang; dan (4) dapat
tanaman atau mencegah timbulnya hama

70
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dipakai untuk pengendalian secara bersama- Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi
sama dengan cara proteksi yang telah ada. Selatan.
Beberapa laporan menyebutkan adanya Penelitian ini bertujuan untuk
beberapa bakteri filosfir daun dan bakteri mengisolasi bakteri dan cendawan antagonis
risosfir tanah yang berpotensi sebagai agens dari tanah rizosfir yang berasal dari daerah
biokontrol penyebab penyakit tanaman. Bogor dan Lembang (Jawa Barat) dan
Mekanisme penghambatan agens biokontrol pegunungan Dieng di Wonosobo (Jawa
terhadap patogen penyakit diantaranya Tengah) serta potensinya dalam menekan
terajadi melalui kompetisi nutrisi, produksi perkembangan penyakit layu bakteri pada
antibiotik, HCN, dan siderofor (pengkelat kacanag tanah (Ralstonia solanaceraum) di
besi). rumah kaca.
Salah satu penyakit yang menyerang METODE
tanaman kacang tanah ialah layu bakteri Isolasi bakteri dan cendawan antagonis.
yang disebabkan bakteri Ralstonia Isolasi bakteri antagonis dilakukan
solancearum. Penyakit ini merupakan salah dengan cara pengenceran berseri dan
satu penyakit utama dan menyebar luas pengkulturan pada cawan petri. Sebanyak
terutama pada tanaman yang mempunyai 10 g contoh tanah disuspensikan dalam 90
nilai ekonomi seperti kacang tanah, tomat, ml akuades steril dalam tabung Erlenmeyer
terung, lada, jahe, cabe, kacang tanah, berukuran 250 ml. Suspensi dikocok selama
pisang dan tembakau di daerah tropis dan 30 menit menggunakan alat pengocok
subtropis (Hayward, 1985; Hayward, 1990). (shaker). Suspensi yang diperoleh
Penyakit layu bakteri kacang tanah telah diencerkan sampai dengan tingkat
tersebar luas di China dan daerah tertentu di pengenceran 10 . Dari pengenceran 10-4-10-
-6

6
Uganda, Fiji, Malaysia, Papua New Guinea, , diambil masing-masing sebanyak 0,1 ml
Filipina, Afrka Selatan, Thailand, Sri kemudian dituangkan ke dalam 3 cawan
Langka, Amerika dan di Indonesia petri. Ke dalamnya dituangkan 10 ml
(Machmud, 1996; Hayward, 1990). medium SEA cair yang bersuhu sekitar 50-
Penyebaran penyakit di Indonesia meliputi 55 oC. Isolasi cendawan antagonis dilakukan
daerah pertanaman kacang tanah di dengan mengambil suspensi dari
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, pengenceran 102-104, masing-masing

71
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sebanyak 0,1 ml lalu dituangkan ke dalam 3 cakram yang mengandung isolat bakteri
cawan petri. Ke dalamnya dituangkan 10 ml pada medium PSA.
medium MA cair yang bersuhu sekitar 50- Pengujian daya hambat isolat
55 oC, cawan petri diputar ke arah kiri dan cendawan antagonis terhadap bakteri
kanan sehingga medium bercampur merata dilakukan dengan cara mula-mula bakteri
dengan suspensi cendawan, kemudian Rs. ditumbuhkan dalam cawan petri dengan
diinkubasi pada suhu kamar selama 7 hari. cara menuangkan suspensi bakteri bersama-
Koloni cendawan yang murni ditumbuhkan sama dengan medium PDA cair yang
medium PDA miring atau cawan petri untuk bersuhu sekitar 50-55 oC. Campuran bakteri
digunakan pada perngujian selanjutnya. dan medium dibiarkan menjadi padat,
Uji daya hambat isolat bakteri dan kemudian pada permukaan medium
cendawan antagonis terhadap R.
ditempelkan potongan hifa cendawan
solanacearum secar in vitro.
Isolat-isolat bakteri dan cendawan antagonis. Lalu diinkubasi pada suhu kamar
antagonis diuji potensi daya hambatnya selama 7 hari. Peubah yang diamati adalah
terhadap Rs menggunakan metode uji zona hambatan pertumbuhan Rs. di
berganda (Sigee, 1993). Bakteri Rs. sekeliling potongan hifa pada medium
ditumbuhkan dalam cawan petri dengan cara PDA.
menuangkan suspensi bakteri bersama-sama Uji potensi antagonis secara in vivo.
dengan medium NDA cair yang bersuhu
o
Penelitian potensi bakteri antagonis
sekitar 50-55 C. Campuran bakteri dan
dilakukan di rumah kaca BB-Biogen
medium dibiarkan menjadi padat, kemudian
menggunakan pot-pot berdiameter 25 cm
pada permukaan medium ditempelkan
yang didiisi dengan tanah yang mengandung
cakram kertas saring yang telah dicelupkan
patogen layu bakteri asal Kebun Percobaan
ke dalam suspensi mikroba antagonis lalu
Cikeumeuh, Bogor. Uji patogenisitas bakteri
diinkubasi pada suhu kamar selama 7 hari.
layu sebelumnya sudah dilakukan dengan
Pengujian menggunakan rancangan acak
menanam tanaman kacang tanah varietas
lengkap dengan 27 isolat bakteri antagonis
Kelinci (rentan terhadap patogen layu
sebagai perlakuan dengan 3 ulangan. Peubah
bakteri) dan telah menimbulkan gejala
yang diamati adalah zona hambatan
penyakit minimal 30%.
pertumbuhan Rs. di sekeliling kertas

72
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Bakteri antagonis diberikan dalam n = jumlah tanaman layu;


bentuk suspensi dengan media cair berumur N = jumlah tanaman yang diamati
24 jam, diaplikasikan 10 ml/lubang tanam
HASIL DAN PEMBAHASAN
yang mengandung sekitar 3,0 x 107/ml
Daya Hambatan Isolat Bakteri Antagonis
suspensi dan diberikan sebanyak tiga kali. terhadap Pertumbuhan Ralstonia
Rancangan percobaam adalah rancangan solanacearum (Rs) Secara in vitro

acak lengkap (RAL) dengan 19 perlakuan Dengan metode uji berganda


(18 isolat mikrob antagonis dan 1 kontrol diperoleh 20 isolat bakteri yang
tanpa bakteri anatagonis) dengan 3 kali menunjukkan sifat antagonis terhadap isolat
ulangan.. Pengamatan kejadian penyakit Rs (Tabel 1). Isolat bakteri antagonis yang
layu bakteri dilakukan setiap minggu mengasilkan diameter zona kosong
dimulai 7 hari setelah tanam hingga tanaman menunjukkan adanya kemampuan
berumur 70 hari. Kejadian gejala penyakit antagonistik terhadap Rs. Isolat bakteri
dihitung menggunakan rumus: antagonis yang diperoleh terdiri dari 8 isolat
berasal dari Lembang, 5 isolat berasal dari
n
PP = --------- x 100% ; Pasir Sarongge, 4 isolat berasal dari Pacet,
N
dan 3 isolat berasal dari Cikeumeuh
PP = persentase panyakit (%);
(Bogor).
Tabel 1. Potensi daya hambat isolat bakteri antagonis terhadap bekteri
R. solanacearum secara in vitro.

1) 2)
No Kode isolat Zona hambat (mm) Potensi

1 LBB 01 7.38 +

2 LBB 09 0 -

3 LBB 04 9,75 +

4 PSB 11 15,40 ++

5 PSB 12 17,00 ++

6 PCB 16 12,75 +

7 LBB 02 15,92 ++

73
Prosiding Seminar Nasional, 2017

8 LBB 03 10,84 +

9 LBB 05 12,11 +

10 LBB 06 15,75 ++

11 LBB 08 10,65 +

12 PSB 10 16,11 ++

13 PSB 13 14,75 +

14 PCB 17 9,00 +

15 CKB 19 13,40 +

16 CKB 20 15,94 ++

17 PCB 18 0 -

18 LBB 10 0 -

19 LBB 07 11,25 +

20 PSB 20 14,25 +

21 PCB 14 14,40 +

22 CKB 18 7,25 +

23 PSB 14 0 -

24 PSB 15 0 -

25 PCB 15 7,83 +

26 PCB 18 0 -

27 PCB 19 0 -
1)
LBB…= isolat bakteri antagonis asal Lembang; PSB…= isolat bakteri antagonis asal Pasir Sarongge;
PCB…= isolat bakteri antagonis asal Pacet; CKB…= isolat bakteri antagonis asal Cikeumeuh.
2)
(-) = tidak potensial, zona hambatan nol; (+) = potensial, zona hambatan 1-15 mm; (++) = sangat potensial,
zona hambatan > 15 mm.

Pengujian di laboratorium pengelompokan potensi daya penghambatan


menunjukkan zona hambatan bakteri mikroorganisme terhadap Rs, isolat PSB 12
antagonis terhadap Rs berkisar antara 7.25- memiliki daya antagonis paling potensial
17.00 mm (Tabel 1). Berdasarkan (17,00 mm) diikuti isolat PSB 10 (16,11

74
Prosiding Seminar Nasional, 2017

mm), isolat CKB 20 (15,94 mm), isolat parasitisme atau predasi dan pembentukan
LBB02 (15,92 mm), isolat LBB 06 (15,75 toksin termasuk antibiotik (Sigee, 1983;
mm), dan isolat PSB 11 (15,40 mm). Isolat Cook and Baker, 1993).
bakteri lainnya memiliki daya antagonistik
Daya Hambatan Isolat Cendawan
potensial dengan zona hambat berkisar
Antagonis terhadap Pertumbuhan
antara 7,25 sampai 14,75 mm. Ralstonia solanacearum (Rs) Secara in
vitro
Berdasarkan hasil pengujian in vitro,
isolat bakteri antagonis yang menghasilkan Dengan metoda uji berganda terdapat
zona kosong menunjukkan adanya 18 isolat cendawan yang menunjukkan sifat
kemampuan antagonistik terhadap Rs. Hal antagonis terhadap bekteri R. solanacearum.
ini dimungkinkan karena isolat antagonis Isolat cendawan yang bersifat antagonis
tersebut diketahui menghasilkan senyawa yang diperoleh terdiri dari 8 isolat berasal
metabolit atau enzim yang bersifat toksik dari Lembang, 4 isolat berasal dari Pasir
terhadap sel-sel bakteri patogen, sehingga Sarongge, 4 isolat berasal dari Pacet, dan 2
sel tersebut mengalami lisis atau antibiosis. isolat berasal dari Cikeumeuh (Bogor)
Aktifitas antagonis meliputi persaingan, (Tabel 2).

Tabel 2. Potensi daya hambat isolat cendawan antagonis terhadap bakteri R.


solanacearum secara in vitro.

1) 2)
No Kode isolat Zona hambat (mm) Potensi

1 LBC 01 7.34 +

2 LBC 09 0 -

3 LBC 04 10,75 +

4 PSC 11 12,70 +

5 PCC 14 15,00 +

6 PSC 15 0 -

7 LBC 02 14,94 +

8 LBC 03 10,88 +

75
Prosiding Seminar Nasional, 2017

9 LBC 05 10.40 +

10 LBC 07 25.45 ++

11 LBC 08 11.40 +

12 PSC 10 14.40 +

13 PCC 15 10,65 +

14 PCC 16 11,25 +

15 CKC 17 9,75 +

16 CKC18 11,38 +

17 LBC 10 0 -

18 PSC 14 0 -

19 LBC 06 16.40 ++

20 PSC 09 16.83 ++

21 PCC 13 12.75 +

22 CKC 19 0 -

23 PSC 12 8.50 +

24 PSC 13 0 -

25 PCC 17 0 -

26 PCC 18 0 -

27 PCC 19 0 -

LBC…= isolat cendawan antagonis asal Lembang; PSC…= isolat cendawan antagonis asal Pasir Sarongge; PCC…=
isolat cendawan antagonis asal Pacet; CKC…= isolat cendawan antagonis asal Cikeumeuh.2)(-) = tidak potensial,
zona hambatan nol; (+) = potensial, zona hamabatan 1-15 mm; (++) = sangat potensial, zona hambatan > 15 mm.

Uji potensi antagonis secara in vivo menghasilkan 15 isolat antagonis yang


Pengujian daya hambat 18 isolat berpotensi menekan R. solanacearum (Tabel
bakteri antagonis dan Aktinomisetes 3). Empat isolat bakteri antagonis
terhadap perkembangan bakteri R. berpotensi menekan penyakit layu bakteri
solanacearum pada kacang tanah yaitu isolat yang berasal dari rizosfir

76
Prosiding Seminar Nasional, 2017

tanaman kentang, kubis, dan kacang tunggak menekan bakteri R. solanacearum baik pada
yang diperoleh dari daerah Lembang (Jawa pengujian in vitro maupun in vivo.
Barat). Hal ini menunjukkan bahwa isolat-
isolat bakteri antagonis tersebut dapat

Tabel 3. Pengaruh perlakuan bakteri antagonis terhadap penyakit layu bakteri kacang
anah (R. solanacearum) di rumah kaca.

No Kode bakteri Asal lokasi Kejadian penyakit (%) Potensi


antagonis antagoistik
1 LKnt-1a (AP1) Lembang, Bandung 5,4 +

2 LKnt-1b (AP2) Lembang, Bandung 6,7 +

3 LKbs-2 (AP3) Lembang, Bandung 5,4 +

4 LKct-3 (AP4) Lembang, Bandung 6,4 +

5 DKrm-6a (AP7) Dieng, Wonosobo 34,6 -

6 DLmp-7 (AP10) Dieng, Wonosobo 7,4 +

7 DRpt-8a (AP11) Dieng, Wonosobo 5,7 +

8 DRpt-8b (AP12) Dieng, Wonosobo 5,2 +

9 DJbt-9b (AP13) Dieng, Wonosobo 6,8 +

10 DJbt-9d (AP14) Dieng, Wonosobo 4,6 +

11 DPks-11a (AP16) Dieng, Wonosobo 6,4 +

12 DPks-11b (AP17) Dieng, Wonosobo 4,8 +

13 DPks-11d (AP18) Dieng, Wonosobo 7,4 +


Cikeumeuh, Bogor
14 BJgg-11a (AP19) 40,2 -
Cikeumeuh, Bogor
15 BJgg-11b (AP20) 38,5 -
Cikeumeuh, Bogor
16 BJgg-11c (AP21) 5,7 +
Cikeumeuh, Bogor
17 BJgg-12a (AP22) 3,4 +
Cikeumeuh, Bogor
18 BJgg-12c (AP23) 4,4 +
-
19 Kontrol 55,3

77
Prosiding Seminar Nasional, 2017

tanah1)
LKnt…=baktri antagonis asal kentang (Lembang); LKbs…=bakteriantagonis asal kubis (Lembang);
LKct…=bakteri antagonis asal kc. tunggak (Lembang); LWrt…=bakteri antagonis asal wortel (Lembang);
LCb…=bakteri antagonis asal cabe (Lembang); DKrm..=bakteri asal kerema (Dieng); DLmp…=bakteri asal lempuyang
(Dieng); DRpt…=bakteri asal rumput (Dieng); DJbt…=bakteri asal jembutan (Dieng); DPks…=bakteri asal pakis
2)
(Dieng); BJgg…=bakteri asal jagung (Bogor); (-)=tidak potensial; (+)=potensial

Pada pengujian in vivo, isolat bakteri bakteri lainnya menunjukkan daya


antagonis yang berasal dari rizosfir tanaman hambat potensial.
lempuyang, rumput liar dan jembutan yang  Tiga isolat cendawan memiliki daya
diperoleh di sekitar kawah pegunungan hambat paling potensial terhadap R.
Dieng (Jawa Tengah) berpotensi solanacearum, yaitu LBC 06 (16,40
menghambat perkembangan penyakit layu mm), LBC 07 (25,45 mm), dan PSC
bakteri kacang tanah. Isolat bakteri 09 (16,83 mm),
antagonis yang berasal dari rizosfir tanaman  Sebanyak 18 isolat bakteri antagonis
pakis berpotensi sedang dalam menekan lainnya juga berpotensi sebagai
penyakit layu bakteri, seperti halnya pada agens antagonis terhadap penyakit
pengujian skala in vitro. Hal ini layu bakteri, dimana 1 isolat bakteri
menunjukkan bahwa mikroba antagonis dari antagonis asal Lembang (LKnt-1b),
kelompok bakteri masih dapat dijumpai di 1 isolat bakteri asal Dieng (DRpt-8a
dataran tinggi ( > 2500 dpl) dengan suhu ), dan 2 isolat bakteri antagonis asal
tanah yang cukup panas pada kawahnya dan Bogor (BJgg-12b dan BJgg-12c)
berpotensi sebagai agensia pengendali memiliki zona hambatan lebih dari
penyakit layu bakteri (R. solanacearum) 15 mm.
pada kacang tanah.  Uji lanjut di rumah kaca
KESIMPULAN menghasilkan 15 isolat bakteri
 Sebanyak 6 isolat bakteri memiliki kelompok P. fluorescens yang dapat
daya hambat paling potensial menekan perkembangan penyakit
terhadap R. solanacearum, yaitu PSB layu bakteri kacang tanah. Isolat
10 (16,11 mm), PSB 11 (15,40 mm), bakteri antagonis yang berasal dari
PSB 12 (17,00 mm), LBB 02 (15,92 daerah berbeda berpotensi sebagai
mm), LBB 06 (15,75 mm), dan CKB agens biokontrol terhadap penyakit
20 (15,94 mm), sedangkan 12 isolat layu bakteri kacang tanah.

78
Prosiding Seminar Nasional, 2017

DAFTAR PUSTAKA Kokalis-Burelle N., 2002. Biological control


of tomato diseases. Biological control
Alobouvette, C., 1991. Suppressive soils and of crop diseases [abstract]. Di dalam:
practical application of biological Bacterial Wilt Newsletter No. 17.
control of fusarium disease. Di dalam: New York: Marcell Dekker, Inc. hlm
The Biological Control of Plant 13.
Diseases. FFTC Book Series 42 : 120-
129. Lemaga, B., R. Kanzikwera, R.
Kakuhenzire, J.J. Hakiza, and G.
Cook, R.J. and K.F. Baker, 1993. The Manzi, 2001. The effect of crop
Nature and Practice of Biological rotation on bacterial wilt incidence and
Control of Plant Pathogens. Amer. potato tuber yield. African Crop
Phytopathol. Soc. Press, St. Paul. Science Journal 9 (1). hlm 257-266.
Minnesota.
Manuwoto, S., 1980. Feeding and
El-Shanshoury, A.R., S.M. Abu El-Sououd, development of European corn borer
O.A. Awandalla, and N.B. El-Bandy, and Southern Armyworm larvae on
1996. Effects Streptomyces U.S. inbred and Caribbean maize
corchorusii, Streptomyces mutabilis, genotypes [tesis]. Madison: University
pendimethalin, and metribuzin on the of Wisconsin.
control of bacterial and Fusarium wilt
of tomato. Can. J. Bot. 74: 1016- Nurtika, N., 1995. Penelitian Paket
1022. Usahatani Tomat dalam Pelita V.
Prosiding Evaluasi Hasil Penelitian
Hakim, L., 1999. Kajian komponen Hortikultura dalam Pelita V. Badan
pengendalian terpadu penyakit layu Litbang Petanian Jakarta. hlm 129-
bakteri Ralstonia (Pseudomonas) 137.
solanacearum Yabuuchi et al. pada
kentang [disertasi]. Bogor: Institut Oomah, B.D., C.G. Campbell, and G.
Pertanian Bogor. Program Mazza, 1996. Effects of cultivar and
Pascasarjana. environment on phenolic acids in
buckwheat. Kluwer Academic
Hayward, A.C., 1991. Biology and Publishers. Euphytica 90: 73-77.
epidemiology of bacterial wilt caused
by P. solanacearum. Annu Rev Persley, G.J., P. Batugal, D. Gapasin, and P.
Phytopathol 29: 65-87. Van der Zaag, 1985. Summary of
discussion and recommendations. Di
Hooks, C.R.R, H.R. Valenzuela, and J. dalam: Proceedings of the Bacterial
Defrank, 1998. Incidence of pests and Wilt Workshop; Los Banos, Oct. 8-10
arthropod natural enemies in zucchini 1985. Philippinnes: PCARRD.
grown with living mulches. Elsevier:
Agriculture, Ecosystems and Sigee, D.C., 1993. Bacterial Plant
Environment 69: 217-231. Pathology: Cell and Molecular
Aspects. Great Britain: Cambridge
University Press.

79
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KETAHANAN PLASMA NUTFAH UBI KAYU TERHADAP PENYAKIT HAWAR


DAUN/MATI PUCUK (Xanthomonas campestris pv. manihotis)*)

Resistance of Cassava Germplasm against Bacterial Leaf Blight/Die Back Disease


(Xanthomonas campestris pv. manihotis)

M. Ace Suhendar dan Sudjarno


Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB
Biogen), Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, [Link] Pelajar 3A Bogor 16111
Email: ace_suhendar62@[Link]

ABSTRACT

The resistance of cassava germplasm to leaf blight/die back disease (Xanthomonas campestris pv. manihotis, Xcm)
have been studied in Cikeumeuh Research Station of ICABIOGRAD, Bogor during wet season 2010/2011. This
experiment was arranged by using random block design with 3 replications. Twenty four of cassava germplasms
were planted 10 stem of plant along in a row each accession. Inoculation of Xcm was done at 2 months after
planting with “stub methods”. Five plants were inoculated using isolate of Xcm, while the other 5 plants do not
inoculated as the control plant. Result of the study indicated that the symptom of the disease appeared at 14 days
after inoculation. The disease symptom was developed until 3 months after planting. At the fifth until seventh
observation, the disease were increased due to the temperature, relative humidity and the rain fall were quite high.
Regarding the observation found that 13 cassava clones were moderately resistant dan 8 clones were moderately
susceptible to the disease. The clone that indicates resistant to the disease can be as a source of crossing program
to gain cassava that resistant to the disease.

Key words: Xanthomonas campestris pv. manihotis, resistance, cassava

PENDAHULUAN Salah satu kendala produksi adalah


Ubi kayu merupakan salah satu penyakit hawar daun/mati pucuk yang
tanaman penting keempat setelah padi, disebabkan oleh bakteri Xanthomonas
jagung, dan kedelai yang digunakan campestris pv. manihotis. Kehilangan hasil
terutama sebagai makanan, bahan dasar akibat penyakit ini sekitar 8% pada varietas
pembuatan tepung dan sebagai komoditas agak tahan dan 50-90% pada varietas agak
ekspor seperti pellet dan makanan ringan rentan/rentan.
(Damardjati et al., 1994). Tanaman ini Penyakit hawar daun ubi kayu/mati
dikenal juga sebagai tanaman potensial yang pucuk telah lama menyerang pertanaman ubi
memiliki daya adaptasi luas dan merupakan kayu di Indonesia (Dye et al., 1980; Hartini
tanaman penyangga pangan yang handal at al., 1985; Tominaga et al., 1978) sejak
disamping sebagai bahan baku industri dilaporkan oleh Reitsma dan Van Hoof pada
(Heryani, 1994). tahun 1948 sebagai penyakit bakteri busuk

80
Prosiding Seminar Nasional, 2017

daun dan mati pucuk (Reitsma and Van (Xanthomonas campestris pv. manihotis).
Hoof, 1948). Daerah penyebarannya di Hasil penelitian ini diharapkan dapat
Indonesia meliputi daerah-daerah Lampung berguna bagi pemulia ubi-ubian untuk
Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan memperoleh sumber ketahanan sebagai tetua
Sumatra Barat (Nunung, 1985; Tominaga et yang memiliki potensi ketahanan yang
al., 1978). Kerusakan yang disebabkan oleh unggul.
penyakit ini umumnya terdapat pada METODE
jaringan muda dan dinding bagian luar dari Penyaringan (screening) 21 klon
pembuluh kayu. Apabila tidak terjadi ubikayu terhadap penyakit hawar daun/mati
degradasi sel, translokasi bahan-bahan pucuk dilakukan pada Musim Penghujan
makanan tidak terganggu dan tanaman dapat 2010/2011 di Instalasi Penelitian
tumbuh normal. Penyakit ini mudah menular Cikeumeuh, Balai Besar Penelitian dan
melaui berbagai media, misalnya air hujan, Pengembangan Bioteknologi dan
tanah, bibit, serangga dan alat-alat pertanian. Sumberdaya Genetik Pertanian, BB Biogen,
Penggunaan varietas tahan terhadap Bogor.
penyakit ini merupakan usaha pencegahan Penelitian menggunakan rancangan
yang paling efektif dan murah bagi petani. acak kelompok dengan 3 ulangan. Klon ubi
Oleh karena itu pencarian sumber ketahanan kayu yang diuji sebanyak 24 nomor aksesi.
ubi kayu tetap harus dilakukan karena Sebagai pembanding/cek digunakan varietas
sampai saat ini belum banyak diperoleh Adira II (tahan) dan Bic-290 dan Bic-280
tanaman ubi kayu yang benar-benar tahan (rentan). Luas tiap plot/panjang baris yaitu
terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk 1,0 x 6,0 m2 (ditanam 10
dan masih dijumpai adanya ketidakstabilan tanaman/baris/aksesi) dengan jarak tanam
ketahanannya terhadap penyakit ini. Usaha 1,0 m x 0,6 m. Dosis pupuk 90 kg N, 30 kg
pencegahan lain adalah dengan sanitasi dan P2O5, dan 50 kg K2O per hektar. Seluruh
mempertinggi daya tahan tanaman melalui pupuk P dan 1/3 pupuk N dan K diberikan
media tumbuh (Tominaga et al., 1978). pada saat tanam, sedangkan 2/3 pupuk N
Tujuan penelitian ini untuk menguji dan K diberikan pada saat tanaman berumur
ketahanan plasma nutfah ubi kayu terhadap tiga bulan. Inokulasi dilakukan pada saat
penyakit hawar daun/mati pucuk tanaman berumur 2 bulan dengan isolat

81
Prosiding Seminar Nasional, 2017

XCM (NW 19) yang telah ditumbuhkan Pengamatan dilakukan seminggu setelah
pada medium PPGA (Potato Pepton inokulasi berturut-turut sebanyak 7-8 kali
Glucose Agar). Inokulasi secara ”stub selang seminggu sekali. Tingkat ketahanan
inoclation” pada batang tanaman 2-5 cm di tanaman dibedakan dalam 5 kategori yaitu
bawah pucuk yaitu dengan cara penususkan berdasarkan keadaan kerusakan daun dan
dan pengolesan isolat bakteri pada bekas pengeluaran getah (Anonimous, 1978).
tusukan di batang tersebut. Lima tanaman
diinokulasi dan 5 tanaman dibiarkan
terserang penyakit hawar daun secara alami.
Tabel 1. Kategori tingkat serangan penyakit hawar daun ubi kayu.

Gejala Skor Reaksi


Tanpa gejala 1 Tahan

Beberapa helai daun seperti tersiram 2 Agak tahan


air panas (drooping)
Daun layu dan keluar getah 3 Agak tahan

Mulai akan mati pucuk (die back) 4 Agak rentan

Total mati pucuk 5 Rentan

Tabel 2. Varietas ubi kayu yang diuji. MP 2010/2011, Bogor.

No Register Varietas
1 Bic-397 Manalagi
2 Bic-311 Gatotkaca
3 Bic-519 Ketela roti-1
4 Bic-242 CM.1428-6
5 Bic-416 Helung
6 Bic-20 Chilhen A
7 Bic-226 CM.1006-7
8 Bic-514 Kiruluk
9 Bic-470 Lamme kayu didi-1
10 Bic-597 73-10-3
11 Bic-69 H-1
12 Bic-621 729-20-2
13 Bic-629 72-21
14 Bic-89 A7-1

82
Prosiding Seminar Nasional, 2017

15 Bic-1 Valenca
16 Bic-276 W.145
17 Bic-475 Lokal air besar
18 Bic-498 Sampeu putih
19 Bic-512 Sitape
20 Bic-467 KU-50
21 Bic-312 Panjalu
22 Bic-290 L.143 (cek rentan)
23 Bic-280 L.53 (cek tahan)
24 Bic-33 Adira II (cek tahan)

HASIL DAN PEMBAHASAN pucuk. Pada pengamatan ketujuh diperoleh


Berdasarkan hasil penelitian yang 13 varietas ubi kayu bereaksi agak tahan
telah dilakukan terlihat bahwa seluruh klon (skor 2-3), 8 varietas bereaksi agak rentan
ubi kayu yang diuji (24 nomor) dapat (skor 4), dan 1 varietas bereaksi rentan (skor
terserang oleh penyakit hawar daun/mati 5) terhadap penyakit hawar daun/mati
pucuk dengan tingkat serangan berkisar pucuk. Varietas ubi kayu yang ditanam
antara 1-5 (Tahan-Rentan) (Tabel 3). sebagai cek/kontrol rentan (BIC-290)
Secara umum, berubah reaksinya menjadi agak tahan
ketahanan 24 klon ubi kayu relatif tidak terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk.
berubah sejak pengamatan pertama sampai Klon BIC-280 yang digunakan sebagai
dengan pengamatan keempat (Tahan-Agak cek/kontrol tahan juga berubah reaksinya
Tahan). Perubahan ketahanan tanaman ubi menjadi agak tahan terhadap penyakit hawar
kayu baru terlihat sejak pengamatan kelima daun/mati pucuk. Reaksi ketahanan ubi kayu
sampai dengan pengamatan ketujuh. Pada yang relatif stabil diperoleh pada
pengamatan kelima diperoleh 17 varietas ubi pengamatan ketujuh setelah inokulasi
kayu bereaksi agak tahan (skor 2-3) dan 7 (tanaman sudah berumur lebih dari 3 bulan).
varietas bereaksi agak rentan (skor 4) Kemungkinan ketahanan tanaman ubi kayu
terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk. akan terus meningkat sejalan dengan
Pada pengamatan keenam diperoleh 16 bertambahnya umur tanaman. Di lapangan
varietas ubi kayu bereaksi agak tahan (skor terlihat bahwa tanaman yang awalnya
2-3) dan 8 varietas bereaksi agak rentan terserang penyakit pada umur yang lebih
(skor 4) terhadap penyakit hawar daun./mati

83
Prosiding Seminar Nasional, 2017

tua, selanjutnya akan tumbuh kembali ini disebabkan karena keadaan suhu,
tunas-tunas baru (dikenal sebagai recovery). kelembaban udara, dan curah hujan harian
Hasil penelitian ini menunjukkan pada waktu tanam cukup tinggi. Sehingga
bahwa serangan penyakit hawar daun/mati hal ini memberikan kondisi yang kondusif
pucuk sudah terlihat pada 14 HSI (hari bagi perkembangan penyakit hawar
setelah inokulasi) (umur tanaman sekitar 10 daun/mati pucuk di lapang.
minggu) dan serangan penyakit terus Berdasarkan hasil penelitian
meningkat sampai dengan saat pengamatan diperoleh 13 varietas ubi kayu bereaksi agak
ketujuh, dimana tanaman ubu kayu sudah tahan dan 8 varietas agak rentan terhadap
berumur lebih dari 3 bulan. Serangan penyakit hawar daun/mati pucuk (Tabel 3).
penyakit hawar daun/mati pucuk pada
pengamatan kelima sampai dengan
pengamatan ketujuh terlihat meningkat, hal
Tabel 3. Reaksi ketahanan 21 varietas ubikayu terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk
(Xanthomonas campestris pv. manihotis). Bogor, MP 2010/2011.

No Register Varietas Reaksi ketahanan

1 Bic-397 Manalagi AT
2 Bic-311 Gatotkaca AT
3 Bic-519 Ketela roti-1 AT
4 Bic-242 CM.1428-6 AT
5 Bic-416 Helung AT
6 Bic-20 Chilhen A AT
7 Bic-226 CM.1006-7 AR
8 Bic-514 Kiruluk AT
9 Bic-470 Lamme kayu didi-1 AT
10 Bic-597 73-10-3 AT
11 Bic-69 H-1 AR
12 Bic-621 729-20-2 AR
13 Bic-629 72-21 AT
14 Bic-89 A7-1 AR
15 Bic-1 Valenca AR
16 Bic-276 W.145 AR
17 Bic-475 Lokal air besar AR
18 Bic-498 Sampeu putih AR
19 Bic-512 Sitape AT
20 Bic-467 KU-50 AT

84
Prosiding Seminar Nasional, 2017

21 Bic-312 Panjalu AT
22 Bic-33 Adira II (kontrol tahan) R
23 Bic-290 L.143 (kontro rentan) AT
24 Bic-280 L.53 (kontrol tahan) AT

Varietas ubikayu Adira II (Bic-33) evaluation of root crop test


yang digunakan sebagai kontrol tahan material. IITA, Ibadan, Nigeria.
5p.
berubah reaksinya menjadi rentan terhadap
penyakit hawar daun/mati pucuk. Demikian Anonymous, 1982. Risalah Rapat Teknik
Palawija. Penyakit-penyakit
juga varietas L.143 (Bic-290) dan L.53 (Bic-
Utama Ubi kayu. Bogor,
280) yang digunakan sebagai kontrol rentan, Indonesia. 2 hal. Juni 1982.
berubah reaksinya menjadi agak tahan
Damardjati, D.S., S. Widowati, T. Bottema,
terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk. and G. Henry, 1994. Study on
Perubahan ketahanan suatu tanaman cassava flour processing and
marketing in Indonesia. Paper
dipengaruhi oleh peran gen ketahanan yang
presented at International
dimiliki tanaman yang dapat cepat patah Meeting on Cassava Flour and
akibat pergeseran strain atau patotipe Starch, 11-15 January 1994,
CIAT, Cali-Colombia.
patogennya.
KESIMPULAN Heryani, N., J. Wargiono, dan [Link],
Dari 21 varietas ubi kayu yang diuji 1994. Pertumbuhan dan Hasil
Ubikayu dalam Sistem
ketahanannya terhadap penyakit hawar Tumpangsari pada Takaran
daun/mati pucuk diperoleh dan 13 varietas Pemupukan NPK Berbeda.
ubi kayu bereaksi agak tahan dan 8 varietas Risalah Hasil Penelitian
Tanaman Pangan (1): 27-35.
bereaksi agak rentan.
Klon-klon ubikayu yang bereaksi Dye, D.W., J.F. Bradbury, M. Goto, A.C.
Lelliot and Schroth, 1980.
agak tahan berpeluang dijadikan sebagai
International standards for
bakal induk persilangan dalam program naming pathovars of
pemuliaan varietas ubikayu tahan penyakit phytopathogenic bacteria and a
list of pathovar names and
hawar daun/mati pucuk.
pathotype strains. Review of
DAFTAR PUSTAKA Plantpathology Vo. 59. No.
4:154-169.
Anonymous, 1978. Recommendations for
establishment, cultivation and

85
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Nishiyama, K., Nunung H.A., Suparman W., Suhendar,1982. Hubungan


and T. Yamaguchi, 1980. Causal kethanan klon-klon ubi kayu
agents of cassava bacterial wilt in dengan macam-macam
Indonesia. Contr. Centr. Res. pemupukan terhadap serangan
Inst. Agric. Bogor, No. 59:1-19. penyakit bakteri busuk daun/mati
pucuk. Rapat teknis serealia,
Nunung, [Link], Nani Zuraida, J. kacang-kacangan dan ubi-ubian.
Wargiono dan Ace Bogor, 7-9 Juni 1982.
Nunung, H.A.Y., Nani Zuraida, J. Wargiono Tominaga, T., Nunung, H.A., K. Nishiyama
dan Suparman, 1985. Ketahanan and A. Ezuka, 1978.
klon-klon ubi kayu terhadap Xanthomonas manihotis
penyakit hawar daun/mati pucuk (Arthaud – Barthet and Bondar)
yang disebabkan oleh Starr, the causa of cassava
Xanthomonas campestris pv. bacterial blight in Indonesia .
manihotis. Buletin Penelitan No. Contr. Centr. Res. Inst. Agric.
1, Hal. 1-10. Balai Peneltian Bogor No. 38:1-16.
Tanaman Pangan Bogor.

Reitsma, J. and H.A. Van Hoof, 1984.


Voorlopige mededeling Omtrent
een bacterie-Ziekte in Cassava.
Landbouw 20:94-96.

86
Prosiding Seminar Nasional, 2017

PENGARUH KOMBINASI AUKSIN 2,4 – D DENGAN SITOKININ BAP DAN KINETIN


TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN DAUN TORBANGUN(Coleus amboinicus L.)

Effect of Combination between Auxin 2,4-D and Cytokinins BAP and Kinetin
on Growth of Torbangun (Coleus amboinicus L.) Leaf Explant

Siti Noorrohmah*, Laela Sari, Aida Wulansari dan Tri Muji Ermayanti
Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI
Jalan Raya Bogor Km 46, Cibinong-16911
*E-mail : noorrohmah@[Link]

ABSTRACT

Torbangun (Coleus amboinicus L.) is commonly used traditionally as a breast milk stimulant. Torbangun
propagation is usually done by cutting and seeds. Micropropagation by tissue culture technique is to produce
standardized and sustainable seedlings. Tissue culture technique also has an ability in producing seedlings in large
quantities, having uniform in growth, and needs only short time, relatively, in producing seedlings. The aim of the
research was to investigate the effect of combination between auxin 2,4-D and cytokinins BAP and Kinetin levels
added to MS medium on growth of Torbangun (Coleus amboinicus L.) leaf explant. This research used the
Completely Randomized Design. Explant used was Torbangun leaf isolated from plants grown in the field. A total of
25 concentration combinations used as treatments were 2,4-D in combination with BAP and 2,4-D in combination
with Kinetin (0,0; 0,1; 0,5; 1,0; 2,0) mg / l). Callus, shoot, and root root formations were observed after 2, 4, 6, and
8 weeks in culture. The results showed that formation of callus occured at all medium compositions except on the
culture media without 2,4-D. No shoots were formed on the medium containing highest cytokinins concentration of
2,0 mg/l BAP or Kinetin. Roots were formed from explants grown on medium containing 0,1 mg/l 2,4-D in
combination with 0,5 mg/l BAP or (0,0 – 2,0) mg/l Kinetin.

Keywords : BAP, 2,4-D, growth of leaf explant, torbangun (Coleus amboinicus L.), kinetin.

PENDAHULUAN menkonsumsi daun Torbangun mampu


Torbangun (Coleus amboinicus L.) meningkatkan produksi ASI lebih banyak
merupakan salah satu jenis tanaman obat jika dibandingkan menkonsumsi suplemen
dan dikenal sebagai tanaman aromatik. Di pelancar ASI seperti molocco + B12, biji
Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, Fenugreek, dan lancar ASI. Selain kuantitas,
daun Torbangun dikonsumsi oleh para ibu kualitas ASI yang seperti kandungan zat
setelah melahirkan dan menyusui karena besi, seng dan kalium lebih unggul
daun Torbangun dipercaya mampu dibandingkan dengan Ibu yang
meningkatkan produksi ASI. Menurut menkonsumsi suplemen lain sehingga
Santosa (2001) dan Damanik et al. (2006) berpengaruh terhadap pertumbuhan bayi.
efek laktogogum yang dihasilkan dengan

87
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Saat ini penelitian mengenai keberhasilan kultur in vitro. Penambahan


Torbangun masih sebatas farmakologi ( 2,4-D dalam media akan merangsang
Hulliati et al., 2011). Penelitian tentang pembelahan dan pembesaran sel pada
teknik perbanyakannya belum banyak eksplan sehingga memacu pertumbuhan
dilakukan. Perbanyakan Torbangun biasa kalus. Zat Pengatur Tumbuh seperti BAP
dilakukan secara vegetatif dengan stek dan dan Kinetin berperan dalam pertumbuhan
generatif dengan biji sehingga masih perlu dan proliferasi kalus.
dikembangkan metode perbanyakan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk
Metode perbanyakan dengan teknik kultur mengetahui respon pertumbuhan eksplan
jaringan diperlukan untuk mendapatkan bibit daun Torbangun pada media MS dengan
yang terstandardisasi dan berkelanjutan. perlakuan kombinasi 2,4-D dengan BAP dan
Teknik kultur jaringan juga dapat 2,4-D dengan Kinetin pada berbagai
menghasilkan bibit dalam jumlah banyak, konsentrasi.
seragam, dan dalam waktu relatif singkat. METODE
Produksi bibit melalui teknik kultur Bahan penelitian yang dipergunakan
jaringan terdiri dari beberapa tahapan yaitu adalah eksplan daun Torbangun (Coleus
inisiasi, pertunasan, pengakaran, dan amboinicus L.) berasal dari tanaman di
aklimatisasi. Pada setiap tahap diperlukan lapang yang berumur 2 bulan. Eksplan yang
nisbah antara zat pengatur tumbuh sitokini digunakan memiliki ukuran ± 1 cm2. Media
terhadap auksin yang berbeda (George and dasar yang digunakan adalah media MS
Sherington, 1984). Pada tahap multiplikasi (Murashige and Skoog, 1962). Media MS
tunas, penggunaan zat pengatur tumbuh tersebut mengandung tambahan 30 g/l
sitokinin lebih banyak berperan sukrosa dan 3 g/l agar Gelzan. Zat pengatur
dibandingkan auksin. Sebaliknya, untuk tumbuh yang digunakan adalah 2,4-D,
menginduksi perakaran lebih banyak Benzil Amino Purin (BAP) dan Kinetin.
ditekankan pada zat pengatur tumbuh Penelitian terdiri atas dua tahap,
auksin. Zat pengatur tumbuh yang sering yaitu sterilisasi dan penanaman dalam media
digunakan untuk menginduksi kalus adalah seleksi. Prosedur kerja sterilisasi sebagai
auksin dan sitokinin. Kombinasi zat berikut, daun Torbangun yang berumur 2
pengatur tumbuh yang tepat menentukan bulan, dibersihkan lalu dikocok dengan

88
Prosiding Seminar Nasional, 2017

bakterisida dan fungisida dengan konsentrasi diinkubasikan di ruang terang pada suhu
3% selama 2 jam, lalu dibilas dengan 25±20C selama 8 minggu.
akuades steril sebanyak 3 kali. Kemudian Penelitian ini menggunakan
daun Torbangun direndam dalam 0,05% Rancangan Acak Lengkap. Pengamatan
HgCl2 selama 5 menit lalu dibilas dengan air pertumbuhan dilakukan pada 2, 4, 6, dan 8
steril kemudian ditanam dalam media Minggu Setelah Tanam (MST). Parameter
seleksi. yang diamati yaitu prosentase terbentuknya
Seleksi media untuk mengetahui kalus, akar dan tunas dari eksplan pada tiap-
respon tumbuh eksplan daun dengan tiap media perlakuan.
percobaan Mini Broad Spectrum
menggunakan media MS yang dipadatkan 3 HASIL DAN PEMBAHASAN
g/l agar gelzan, ditambahkan kombinasi zat A. Respon pertumbuhan dan
perkembangan eksplan daun
pengatur tumbuh auksin (2,4-D) dan
Torbangun dengan 2,4-D dan BAP
sitokinin (BAP atau Kinetin) dengan
Tabel 1 menunjukkan bahwa
konsentrasi 0,0; 0,1; 0,5; 1,0 dan 2,0 mg/L,
penambahan BAP sebanyak 0,0 – 2,0 mg/l
dengan demikian terdapat 25 kombinasi
tanpa penambahan 2,4-D tidak terjadi
media seleksi. Semua media kemudian
pembentukan kalus maupun organogenesis
disterilisasi dengan menggunakan autoklaf
akar maupun tunas. Eksplan pada minggu
dengan suhu 121ºC pada tekanan 1 atm
ke-2 masih berwarna hijau, namun
selama 15 menit. Masing-masing perlakuan
selanjutnya pada minggu ke-4, 6 dan 8,
mempunyai tiga ulangan dan dalam satu
eksplan berwarna kecoklatan dan terlihat
petri terdapat tiga eksplan. Semua kultur
semua eksplan tidak berkembang.
Tabel 1. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke - 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung (0,0 - 2,0) mg/l BAP tanpa 2,4-D

Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih berwarna berubah eksplan tidak
berwarna kuning kecoklatan membentuk
0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
hijau tunas, akar,
maupun
kalus.

89
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Eksplan Eksplan Eksplan Semua


masih berwarna berwarna eksplan tidak
berwarna kecoklatan kecoklatan membentuk
0,0 0,1 0,0 0,0 0,0
hijau dan tidak tunas, akar,
berkembang maupun
kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih berwarna berwarna eksplan tidak
berwarna kecoklatan kecoklatan membentuk
0,0 0,5 0,0 0,0 0,0
hijau dan tidak tunas, akar,
berkembang maupun
kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih mulai berwarna eksplan tidak
berwarna membengkak kecoklatan membentuk
0,0 1,0 0,0 0,0 0,0
hijau dan tidak tunas, akar,
berkembang maupun
kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih mulai berwarna eksplan tidak
berwarna membengkak kecoklatan membentuk
0,0 2,0 0,0 0,0 0,0
hijau dan tidak tunas, akar,
berkembang maupun
kalus.

Tabel 2 menunjukkan bahwa pada daun Binahong menyebabkan


penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan (0,0 – 2,0) pertumbuhan kalus menjadi terhambat. Pada
mg/l BAP pada media MS memberikan Torbangun, kalus noduler terbentuk minggu
respon yang bervariasi. Semua eksplan ke-6 pada media MS dengan penambahan
membentuk kalus pada media MS dengan 0,1 mg/l 2,4-D dan (0,0 – 0,1) mg/l BAP
penambahan 0,1 mg/l 2,4-D tanpa BAP. (Gambar 1). Pembentukan akar terlihat
Penambahan BAP pada media MS minggu ke- 6 pada media MS dengan
konsentrasi 0,1 mg/l 2,4-D menghambat penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l
terbentuknya kalus. Hal ini sesuai dengan BAP (Gambar 1). Sedangkan respon
penelitian Mardini (2015) bahwa pembentukan tunas tidak terlihat sampai
penambahan konsentrasi pemberian BAP pengamatan minggu ke-8.
Tabel 2. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 0,1 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l BAP.

Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)

90
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Eksplan Eksplan Terbentuk Semua


masih mulai kalus eksplan
berwarna terbentuk noduler membentuk
hijau dan kalus kalus namun
0,1 0,0 0,0 0,0 100,0
mulai berwarna tidak
membengkak kuning dan terbentuk
putih tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Terbentuk Kalus yang
masih mulai kalus terbentuk
berwarna membentuk noduler mulai
hijau dan kalus berwarna
0,1 0,1 0,0 0,0 66,6 mulai berwarna kecoklatan,
membengkak kuning tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Terbentuk Eksplan
masih mulai akar tidak
berwarna membentuk terbentuk
0,1 0,5 0,0 33,3 33,3 hijau dan kalus tunas
mulai berwarna
membengkak hijau, struktur
kompak
Eksplan Eksplan Eksplan Eksplan
berwarna mulai mulai tidak
0,1 1,0 0,0 0,0 33,3 hijau dan membengkak tebentuk membentuk
kuning kalus tunas dan
kecoklatan akar
Eksplan Eksplan Eksplan Tidak ada
masih mulai mulai eksplan
berwarna berwarna berwarna membentuk
0,1 2,0 0,0 0,0 0,0
hijau kuning kecoklatan tunas, akar
maupun
kalus

A B

Gambar 1. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,1 mg/l 2,4-D tanpa BAP dan pembentukan akar pada (B) media MS
dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l BAP pada umur 6 minggu.

91
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 3 menunjukkan bahwa semua beraturan (amorfik) dengan kerapatan yang


media dengan 0.5 mg/l 2,4-D membentuk cukup padat dan kandungan air yang tidak
kalus. Pembentukan kalus berwarna putih berlebihan. Struktur tersebut juga memiliki
seperti kapas terlihat pada minggu ke-4. tonjolan-tonjolan nodular yang merupakan
Kalus noduler terbentuk minggu ke-6 pada calon organ apabila dirangsang oleh zat
media MS dengan penambahan 0,5 mg/l 2,4- pengatur tumbuh. Pada media MS dengan
D dan (0,0 – 0,1) mg/l BAP (Gambar 2). penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan (0,5 – 2,0)
Menurut Gandonou et al. (2005), mg/l BAP akan tebentuk kalus dengan
karakteristik kalus embriogenik adalah stuktur kompak berwarna hijau (Gambar 2).
struktur kompak nodular, berwarna krem Menurut Fatmawati (2008) warna kalus
atau kuning keputihan, berkilau, sedangkan mengindikasikan keberadaan klorofil dalam
karakteristik kalus non embriogenik adalah jaringan, semakin hijau warna kalus semakin
basah dan berwarna abu abu. Struktur kalus banyak pula kandungan klorofilnya. Sampai
embriogenik yang kompak tersusun dari sel- pengamatan pada minggu ke-8, tidak
sel parenkim yang bentuknya tidak terbentuk tunas maupun akar.
Tabel 3. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 0,5 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l BAP.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Terbentuk Sebagian besar
masih mulai kalus eksplan
berwarna membentuk noduler berkalus, tidak
0,5 0,0 0,0 0,0 66,6
hijau dan kalus berwarna terbentuk akar
mulai berwarna kuning maupun tunas
membengkak kuning kehijauan
Eksplan Eksplan Terbentuk Eksplan mulai
masih mulai kalus berwarna
berwarna membentuk noduler kecoklatan,
0,5 0,1 0,0 0,0 33,3
hijau dan kalus berwarna tidak terbentuk
mulai berwarna kuning tunas maupun
membengkak kuning akar
Eksplan Eksplan Terbentuk Sebagian besar
masih mulai kalus eksplan
berwarna membentuk struktur membentuk
0,5 0,5 0,0 0,0 66,6 hijau dan kalus kompak kalus struktur
mulai berwarna kompak dan
membengkak hijau, berwarna hijau,
struktur tidak terbentuk

92
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kompak tunas maupun


akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian kecil
mulai mulai mulai eksplan
membengkak berwarna membentuk membentuk
0,5 1,0 0,0 0,0 33,3 kecoklatan kalus kalus struktur
struktur kompak, tidak
kompak terbentuk tunas
maupun akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai eksplan
berwarna membengkak membentuk membentuk
0,5 2,0 0,0 0,0 33,3 hijau kalus kalus struktur
struktur kompak, tidak
kompak terbentuk tunas
maupun akar

A B

Gambar 2. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,5 mg/l 2,4-D tanpa BAP dan kalus stuktur kompak pada (B) media MS
dengan penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l BAP.

Tabel 4 menunjukkan bahwa hijau (Gambar 3). Sampai pada pengamatan


sebagian kecil eksplan membentuk kalus. minggu ke-8, tidak terlihat pembentukan
Kalus mulai terbentuk pada minggu ke-4 akar maupun tunas.
dengan struktur kalus kompak berwarna
Tabel 4. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 1,0 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l BAP.

Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan melai Kalus mulai
masih mulai membentuk berwarna
1,0 0,0 0,0 0,0 33,3 berwarna membeng kalus warna kecoklatan,
hijau kak hijau, struktur tidak terbentuk
kompak tunas dan akar

93
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Eksplan Eksplan Eksplan melai Kalus mulai


masih mulai membentuk berwarna
berwarna membeng kalus warna kecoklatan,
1,0 0,1 0,0 0,0 33,3
hijau kak hijau, struktur tidak terbentuk
kompak tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan tidak Eksplan tidak
masih mulai berkembang membentuk
1,0 0,5 0,0 0,0 0,0
berwarna berwarna tunas, akar
hijau kecoklatan maupun kalus
Eksplan Eksplan Eksplan melai Sebagian kecil
masih mulai membentuk eksplan
berwarna membeng kalus warna membentuk
1,0 1,0 0,0 0,0 33,3
hijau kak hijau, struktur kalus, tidak
kompak terbentuk tunas
dan akar
Eksplan Eksplan Eksplan Eksplan tidak
masih mulai berwarna membentuk
1,0 2,0 0,0 0,0 0,0 berwarna membeng kecoklatan dan tunas, akar
hijau kak tidak maupun kalus
berkembang

Gambar 3. Kalus berwarna hijau dengan struktur kompak terbentuk dari eksplan daun Torbangun
pada media MS dengan penambahan 1,0 mg/l 2,4-D dan 1,0 mg/l BAP.

Tabel 5 menunjukkan bahwa dengan kombinasi yang seimbang 1 mg/l


sebagian kecil eksplan membentuk kalus. 2,4-D dan 1 mg/l BAP memiliki kalus
Peningkatan konsentrasi BAP terlihat tidak berwarna putih. Sampai pengamatan pada
berpengaruh terhadap prosentase minggu ke-8, eksplan tidak terbentuk akar
pembentukan kalus. Kalus terbentuk pada maupun tunas.
minggu ke-6, berwarna putih dan hijau
dengan struktur kompak (Gambar 4).
Sejalan dengan penelitian Aziz et al. (2014)
menyatakan bahwa induksi umbi iles-iles

94
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 5. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu


ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 2,0 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l BAP.

Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
2,0 0,0 0,0 0,0 33,3 warna hijau membentuk
struktur kalus, tidak
kompak terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai kecil
berwarna membentuk membentuk eksplan
hijau dan kalus struktur kalus membentuk
2,0 0,1 0,0 0,0 33,3
membengkak kompak berwarna kalus, tidak
putih terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
warna hijau membentuk
kalus
2,0 0,5 0,0 0,0 33,3
struktur
kompak,
tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
warna hijau membentuk
kalus
2,0 1,0 0,0 0,0 33.3
struktur
kompak,
tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
2,0 2,0 0,0 0,0 33,3 berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
warna hijau membentuk

95
Prosiding Seminar Nasional, 2017

struktur kalus dan


kompak kalus mulai
berwarna
kecoklatan,
tidak
terbentuk
tunas dan
akar

A B

Gambar 5. Kalus berwarna putih dengan stuktur kompak terbentuk dari eksplan daun Torbangun
pada (A) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l 2,4-D dan 0,1 mg/l BAP dan kalus
berwarna hijau struktur kompak pada (B) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l
2,4-D dan 1,0 mg/l BAP.

B. Respon pertumbuhan dan hijau, namun selanjutnya pada minggu ke-4,


perkembangan eksplan daun 6 dan 8, eksplan berwarna kecoklatan.
Torbangun dengan 2,4-D dan Kinetin Menurut Takashi & Takamizo (2013),
Tabel 6 menunjukkan bahwa eksplan penyebab dari eksplan berwarna kecoklatan
tidak berkembang dengan penambahan 0,0 – (browning) karena oksidasi senyawa fenol
2,0 mg/l 2,4-D tanpa penambahan Kinetin. sebagai bentuk dari pelukaan jaringan.
Tidak ada eksplan yang membentuk kalus Reaksi pecoklatan yang berlebihan bersifat
maupun organogenesis akar dan tunas. toksik dan menyebabkan terhambatnya
Eksplan pada minggu ke-2 masih berwarna pertumbuhan kultur (Ahmad et al., 2013).
Tabel 6. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung (0,0 - 2,0 ) mg/l Kinetin tanpa 2,4-D.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 masih mulai berubah eksplan
berwarna membengkak kecoklatan tidak

96
Prosiding Seminar Nasional, 2017

hijau dan tidak membentuk


berkembang tunas, akar,
dan kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
berwarna berwarna berwarna eksplan
kecoklatan kecoklatan kecoklatan tidak
0,0 0,1 0,0 0,0 0,0
dan tidak membentuk
berkembang tunas, akar,
dan kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
berwarna berwarna berwarna eksplan
kecoklatan kecoklatan kecoklatan tidak
0,0 0,5 0,0 0,0 0,0
dan dan tidak membentuk
membengkak berkembang tunas, akar,
dan kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih mulai berwarna eksplan
berwarna membengkak kecoklatan tidak
0,0 1,0 0,0 0,0 0,0
hijau dan tidak membentuk
berkembang tunas, akar,
dan kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
berwarna berwarna berwarna eksplan
kecoklatan kecoklatan kecoklatan tidak
0,0 2,0 0,0 0,0 0,0
dan tidak membentuk
berkembang tunas, akar,
dan kalus.

Media MS dengan penambahan 0,1 mg/l dan proliferasi kalus yang berasal dari
2,4-D dan (0,0 – 2,0) mg/l Kinetin eksplan batang Jati. Kalus mulai berwarna
menunjukkan respon bervariasi (Tabel 7). putih seperti kapas terbentuk pada minggu
Respon pembentukan kalus terlihat pada ke-4. Adapun kalus noduler mulai terbentuk
semua percobaan. Prosentase pembentukan pada pengamatan minggu ke-6 pada media
kalus cenderung meningkat dengan MS dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan
peningkatan konsentrasi Kinetin pada media 2,0 mg/l Kinetin (Gambar 5). Akar mulai
MS dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D. Hal terbentuk pada minggu ke-6 (Gambar 5).
ini sesuai dengan penelitian Sari et al. Sampai pengamatan minggu ke-8, belum
(2013) menyatakan bahwa hormon sitokinin terlihat eksplan yang membentuk tunas.
sangat mempengaruhi dalam pertumbuhan

97
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 7. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu


ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 0,1 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l Kinetin.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Terbentuk Sebagian
masih sudah kalus besar
berwarna terbentuk noduler dan eksplan
hijau dan kalus akar membentuk
mulai berwarna kalus,
0,1 0,0 0,0 33,3 66,6 membengkak kuning sedikit
membentuk
akar dan
tidak
terbentuk
tunas
Eksplan Eksplan Kalus Sebagian
masih mulai noduler besar
berwarna membentuk berwarna eksplan
hijau dan kalus kuning sudah
mulai kehijauan membnetuk
0,1 0,1 0,0 66,6 66,6
membengkak mulai kalus dan
terbentuk akar, namun
tidak
terbentuk
tunas
Eksplan Eksplan Eksplan Terbentuk
masih mulai mulai kalus
berwarna membengkak membentuk noduler dan
0,1 0,5 0,0 66,6 66,6
hijau kalus akar, tidak
warna terbentuk
kuning tunas
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih mulai mulai eksplan
berwarna membengkak membentuk membentuk
hijau kalus kalus,
warna putih sebagian
0,1 1,0 0,0 33,3 100,0 kecil
eksplan
membentuk
akar, tidak
terbentuk
tunas
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih mulai mulai eksplan
berwarna membengkak membentuk membentuk
hijau kalus kalus,
0,1 2,0 0,0 33,3 100,0 warna putih sebagian
kalus
noduler,
sebagian
kecil

98
Prosiding Seminar Nasional, 2017

eksplan
membentuk
akar, tidak
terbentuk
tunas

A B

Gambar 5. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 2 mg/l Kinetin dan pembentukan akar pada (B) media
MS dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l Kinetin pada umur 6 minggu.

Tabel 8 menunjukkan sebagian besar Akar mulai terbentuk pada minggu ke-8,
eksplan membentuk kalus. Kalus berwarna pada media MS dengan penambahan 0,5
putih dan remah mulai terbentuk pada mg/l 2,4-D tanpa Kinetin. Tidak terlihat
minggu ke-6. Sedangkan kalus noduler terbentuknya tunas, sampai pengamatan
terbentuk pada minggu ke-8 (Gambar 6). minggu ke-8.
Tabel 8. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 0,5 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l Kinetin.

Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 0,0 0,0 66,6 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus dan akar,
tidak terbentuk
tunas
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 0,1 0,0 0,0 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus, mulai
terbentuk kalus
noduler namun

99
Prosiding Seminar Nasional, 2017

tidak terbentuk
tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Semua eksplan
masih mulai berubah tidak
0,5 0,5 0,0 0,0 0 berwarna membeng kecoklatan dan membentuk
hijau kak tidak tunas, akar, dan
berkembang kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 1,0 0,0 0,0 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus, tidak
terbentuk tunas
maupun akar
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 2,0 0,0 0,0 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus, tidak
terbentuk tunas
maupun akar

A B

Gambar 6. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan 0,1 mg/l Kinetin dan kalus berwarna putih remah
pada (B) media MS dengan penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan 1,0 mg/l Kinetin.

Tabel 9 menunjukkan bahwa pada minggu ke-8 (Gambar 7). Tidak


sebagian besar eksplan membentuk kalus. terlihat terbentuk akar maupun tunas sampai
Kalus berwarna putih terbentuk pada pada pengamatan minggu ke-8.
minggu ke-6 dan kalus noduler terbentuk
Tabel 9. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 1,0 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l Kinetin.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Seluruh eksplan
1,0 0,0 0,0 0,0 100,0 masih mulai mulai membentuk kalus,
berwarna membeng membnet sebagian eksplan milai

100
Prosiding Seminar Nasional, 2017

hijau kak uk kalus membentuk kalus


berwarna noduler berwarna kining
kuning kehijauan, tidak
terbentuk tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian besar eksplan
masih mulai mulai membentuk kalus dan
1,0 0,1 0,0 0,0 66,6 berwarna membeng membent berwarna kecoklatan,
hijau kak uk kalus tidak terbentuk tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian besar eksplan
masih mulai mulai membentuk kalus dan
berwarna membeng membent terbentuk kalus noduler
1,0 0,5 0,0 0,0 66,6
hijau kak uk kalus berwarna kuning, tidak
terbentuk tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian eksplan
masih mulai mulai membentuk kalus, tidak
berwarna membeng membent terbentuk tunas maupun
1,0 1,0 0,0 0,0 66,6
hijau kak uk kalus akar
berwarna
putih
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian eksplan
masih mulai mulai membentuk kalus, tidak
berwarna membeng membent terbentuk tunas maupun
1,0 2,0 0,0 0,0 66,6
hijau kak uk kalus akar
berwarna
putih

A B

Gambar 7. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 1,0 mg/l 2,4-D tanpa Kinetin dan kalus berwarna putih pada (B) media
MS dengan penambahan 1,0 mg/l 2,4-D dan 1,0 mg/l Kinetin.

Tabel 10 menunjukkan bahwa mg/l Kinetin pada media MS terlihat eksplan


sebagian kecil eksplan membentuk kalus. tidak berkembang dan berwarna coklat
Kalus putih dengan struktur kompak (Gambar 8). Tidak terbentuk tunas maupun
terbentuk pada minggu ke-6 (Gambar 8). akar sampai pengamatan pada minggu ke-8.
Penambahan 2 mg/l 2,4-D dan (1,0 – 2,0)

101
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 10. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 2,0 mg/l 2,4-D dan (0,0 - 2,0) mg/l
Kinetin.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai besar eksplan
berwarna membengkak membentuk sudah
hijau kalus membentuk
2,0 0,0 0,0 0,0 66,6
kalus, tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai kecil eksplan
berwarna membengkak membentuk sudah
hijau kalus membentuk
2,0 0,1 0,0 0,0 33,3
kalus, tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
mulai mulai mulai kecil eksplan
berwarna membengkak membentuk mulai
kecoklatan kalus membentu
kalus dan
2,0 0,5 0,0 0,0 33,3 berwarna
kecoklatan,
tidak
terbentuk
tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Eksplan tidak
masih mulai mulai membentuk
berwarna membengkak berwarna tunas, akar,
2,0 1,0 0,0 0,0 0,0
hijau kecoklatan maupun kalus
dan tidak
berkembang
Eksplan Eksplan Eksplan Eksplan tidak
masih mulai mulai membentuk
berwarna membengkak berwarna tunas, akar,
2,0 2,0 0,0 0,0 0,0
hijau kecoklatan maupun kalus
dan tidak
berkembang

102
Prosiding Seminar Nasional, 2017

A B

Gambar 8. Kalus berwarna putih dengan stuktur kompak terbentuk dari eksplan daun Torbangun
pada (A) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l 2,4-D tanpa Kinetin dan kalus
berwarna hijau struktur kompak pada (B) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l 2,4-D
dan 2,0 mg/l Kinetin.

KESIMPULAN pembuatan media kultur dan


Pertumbuhan dan perkembangan pemeliharaannya.
eksplan daun Torbangun dipengaruhi oleh
kombinasi yang tepat antara auksin 2,4-D DAFTAR PUSTAKA
dengan sitokinin BAP dan Kinetin yang
Ahmad, I., Hussain, T., Ashraf, I., Nafees,
ditambahkan pada media dasar MS. Kalus M., Maryam, Rafay, M. and Iqba, l M.
terbentuk pada semua media perlakuan 2013. Lethal effects of secondary
metabolites on plant tissue culture.
kecuali pada media tanpa 2,4-D. Eksplan American-Eurasian J Agric and
tidak membentuk tunas pada media MS Environ Sci. 13(4):539-547.
yang mengandung 2,0 mg/l BAP maupun Aziz, Masruri, M., Ratnasari, E. dan
Kinetin. Akar terbentuk pada media MS Rahayu, Y.S. 2014. Induksi kalus
umbi iles-iles (Amorphophallus
dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D yang muelleri) dengan kombinasi
dikombinasikan dengan 0,5 mg/l BAP atau konsentrasi 2,4-D dan BAP secara in
vitro. Lentera Bio. 3(2): 114.
(0,0 – 2,0) mg/l Kinetin.
Damanik, R., Wahlqvrist, M.L. and
Wattanapenpaibonn, N. 2006.
UCAPAN TERIMAKASIH Lactagogue effects of Torbangun, a
Penulis mengucapkan terima kasih Bataknese traditional cuisine. Asia Pac
J Chin Nutr.
kepada Mulyana atas bantuannya dalam 15(2):267-274.

103
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Fatmawati, A. 2008. Kajian konsentrasi Universitas Muhammadiyah Surakarta,


BAP dan 2,4-D terhadap induksi kalus Surakarta.
tanaman Artemisia annua L. secara in
vitro. Fakultas Pertanian, UNS, Murashige, T. and Skoog, F. 1962. A
Surakarta. revised medium for rapid growth and
bioassay with Tobacco tissue cultures.
Gandonou, C.H., Errabii, T., Abrini, J., Physiologia Plantarum. 15: 473-497.
Idaomar, M., Chbi, F. and Senhaji,
N.S. 2005. Effect of genotype on Santosa, C.M. 2001. Khasiat konsumsi daun
callus induction and plant regeneration bangun-bangun (Coleus amboinicus L)
from leaf explants of sugarcane sebagai pelancar sekresi air susu ibu
(Saccahrumsp.). African Journal of menyusui dan pemacu pertumbuhan
Biotechnology. 4(11):1250-1255. bayi. Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
George, E.F. and Sherrington. 1984. Plant
propagation by tissue culture. Eastern Sari, N., Ratnasari, E. and Isnawati. 2013.
Press : Reading Berks. Pengaruh penambahan berbagai
konsentrasi 2,4-Dikhlorofenoksiasetat
Hulliati, K.K. and Bhattacharjee, P. 2011. (2,4-D) dan 6- Bensil Aminopurin
Pharmacognostical evaluation of (BAP) pada media MS terhadap
different parts of Coleus amboinicus tekstur dan warna kalus eksplan batang
L., Lamiaceae. J. Pharmacognosy. Jati
3(24):39-44. (Tectona grandis Linn. F.). Lentera
Bio. 2(1):7
Mardini, U. 2015. Pengaruh Kombinasi 2,4-
D dan BAP terhadap induksi kalus Takahashi, W. and Takamizo, T. 2013.
eksplan daun dan batang tanaman Plant regeneration from embryogenic
Binahong (Anredera Cordifolia (Ten.) calli of the wild sugarcane (
Steenis) secara in vitro. Fakultas Saccharum spontaneum L.) clone
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ‘glagah kloet’. Bull NARO Inst Livest
Grassl Sci.13:23-32

104
Prosiding Seminar Nasional, 2017

AKTIVITAS ENZIM TANAH DAN POPULASI MIKROBA PADA TANAMAN


KEDELAI EDAMAME DENGAN APLIKASI PUPUK ORGANIK HAYATI
BERBASIS MIKROBA UNGGUL DAN LIMBAH ORGANIK

Soil Enzyme Activity and Microbial Populations In Edamame Soybean Plants with
Liquid Organic Biofertilizer Application Based Organic Waste

Tirta Kumala Dewi, Sodik Wuryanto, Fatikhah Ayu M dan Sarjiya Antonius
Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Jl. Raya Jakarta Bogor KM 46
Cibinong, Bogor , Jawa Barat, Indonesia
Telp : +62-21-8765067, Fax : +62-21-8761357, email : [Link]@[Link]

ABSTRACT

Soil organic matter content decreased with the use of agro chemicals. Besides that, the use of agro
chemicals not only harmful but also spur the loss of biodiversity, local knowledge as well as causing
damage to the environment. Utilization of livestock waste into organic fertilizer has been developed in
the community. The use of cow urine waste and compost tea containinghigh of C and N enriched with
plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) into liquid organic biofertilizer with high quality and
environmentally friendly. The purpose of this study was to determine soil enzyme activity and microbial
populations in edamame soybean plants with liquid organic biofertilizer application based organic waste
[Link] result of total plate count methods indicate that liquid organic biofertilizer with cow urine
and compost tea containing phosphate solubilization bacteria(3 x 105 CFU / mL), the bacteria producing
indole-3-acetic acid (2.2 x 106 CFU / mL), bacteria withprotease enzyme activity (6.5 x 106 CFU / mL).
The content of P, K, Ca, Mg, Cu and Fe respectively 4.95 mg / L; 0.22%); 0.20%, 0.038%; 0.41 mg / L;
0.047%. The highest urease enzyme activity 268 U / g and phosphomonoesterase 43.10 U / gr. High
performance liquid chromatography analysesshowed that IAA concentration of LOB is14 mg / L.
Observations agronomy also be done to determine the effect of liquid organic biofertilizer (POB ) on the
productivity and growth of plants.

Keywords : Edamame, organic waste, populations of microbes, soil enzymes,.

PENDAHULUAN pestisida, penggunaan bahan kimia agro


Pertanian konvensinal berdampak pada rusaknya lingkungan
memegang peranan dalam memenuhi dan tanah karena memicu hilangnya
kebutuhan makanan dari populasi biodiversitas mikroorganisme tanah.
penduduk yang terus meningkat, hal ini Penggunaaan bahan kimia agro yang
juga menimbulkan peningkatan akan terakumulasi di lahan pertanian
pupuk kimia dan pestisida ( Santos et berkontribusi pada hilangnya bahan
al., 2012 ). Namun, hal ini memiliki organik tanah sehingga membuat tanah
banyak kekurangan apabila digunakan menjadi kritis. Penggunaan pupuk
dalam rentang waktu yang panjang. organic merupakan alternative dalam
Selain peningkatan biaya produksi mengurangi penggunaan bahan kimia
akibat mahalnya harga pupuk dan agro (Raja N, 2013). Pertanian organik
105
Prosiding Seminar Nasional, 2017

merupakan salah satu strategi yang peternakan yang belum termanfaatkan


tidak hanya menjamin kesehatan secara optimal. Urin sapi mengandung
makanan tetapi juga mampu 95% air, 2,5% urea, dan 2,5% lainnya
meningkatkan biodiversitas tanah terdiri atas mineral, garam, hormon, dan
(Megali et al., 2013). Keuntungan yang enzim (Bhadauria, 2002). Secara lebih
lain adalah pupuk organik tidak kompleks, urin sapi mengandung
mengganggu ekosistem ( Sahoo et al., sodium, nitrogen, sulfur, vitamin (A, B,
2014). Pertanian organik sangat C, D, dan E), mineral, mangan, besi,
bergantung pada mikroflora alami yang mangnesium, sitrat, laktosa, kreatinin,
berada di dalam tanah yang terdiri dari dan hormon (Jain et al., 2010). Ekstrak
beberapa jenis bacteri yang biasa di kompos sudah sering digunakan sebagai
sebut dengan Plant Growth Promoting sumber bahan organik yang baik dan
Rhizobacteria (PGPR). Keberadaan perubahan tanah yang menyediakan
limbah organik maupun limbah dari mineral dan nutrien bagi tanaman.
peternakan yang melimpah dapat di Ekstrak kompos yang difermentasikan
gunakan sebagai bahan untuk dalam air dikenal sebagai teh kompos
pembuatan pupuk organik. Pemanfaatan (compost tea) (Litterick et al., 2004).
bahan-bahan organik dan mikroba Kompos matang biasanya akan
unggulan biasa di sebut dengan Pupuk melepaskan nutrient mineral terkarut
organik hayati. Pupuk organik hayati dalam jumlah yang lebih tinggi dan
mampu menjaga lingkungan tanah kaya menghasilkan asam organik toksik serta
akan mikroorganisme menguntungkan logam berat lebih sedikit di bandingkan
seperti fiksasi nitrogen, pelarut fosfat, dengan kompos yang belum matang (
pengahasil hormon tumbuh, produksi Griffin and Hutchinson, 2007).
antibiotic dan biodegradasi bahan Penggunaan compost tea dianggap lebih
organik dalam tanah ( Sinha et al., 2014 baik daripada penggunaan kompos
). Mikroorganisme tanah memiliki karena mengandung nutrien terlarut
peranan dalam system managemen yang dapat dimanfaatkan untuk
nutrient untuk produktivitas pertanian merendam biji ataupun semaian
yang berkelanjutan serta lingkungan sebelum ditanam. Selain itu compost
yang sehat (Adesemoye et al., 2009). tea juga mengandung fitohormon dan
Urin sapi merupakan salah satu limbah pengatur tumbuh yang sangat kaya
106
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sehingga akan memacu mikroba yang aktivitas enzim tanah dari tanah
berperan baik bagi tanaman dan juga tanaman edamame dengan aplikasi
meningkatkan kualitas fisika tanah POH berbasis limbah dan mikroba
(Abou-El-Hassan and Desoky, 2013). unggul.
Aktivitas Enzim METODE
fosfomonoesterase (PME-ase) dan Analisis aktivitas PME-ase
urease merupakan bagian parameter Sampel tanah ditimbang
aktivitas mikroba tanah yang penting sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke
sebagai penanda kualitas biokimia dalam tabung reaksi uji dan ditambah
tanah karena terlibat dalam proses dengan 1 mL substrat p-nitrofenilfosfat
transformasis biogeochemical unsur P dan 4 mL buffer (pH 6,5) lalu
dan N (Antonius, 2010). Enzim urease dihomogenkan dengan vortex dan
mengubah N organik menjadi N diinkubasi pada suhu 38Ʃ C selama 2
anorganik untuk hidrolisis urea menjadi jam dalam waterbath. Setelah
amonia dan karbondioksida dan diinkubasi, ditambhakan 1 mL CaCl2
dihidrolisis lagi menjadi amonium 0,5 M dan divortex lalu ditambahkan 4
untuk diserap tumbuhan (Antonius et mL NaOH 0,5 M dan diencerkan
al., 2009). kedalam 4,5 mL akuades. Larutan
Mineralisasi fosfat organik juga kontrol tidak menggunakan substrak
melibatkan peran mikroba tanah PNPP. Sampel dan kontrol diukur
melalui produksi enzim PME-ase yang absorbansinya dengan spektrofotometer
pada umumnya terdapat didalam tanah pada panjang gelombang 400 nm.
dan bertanggung jawab pada proses Analisis aktivitas Urease
hidrolisis P organik menjadi fosfat yang Sebanyak 5 gram tanah di
tersedia bagi tanaman. Kombinasi timbang dan di
pupuk organik hayati dengan bahan masukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml.
baku limbah organik seperti compost Sampel tanah ditambahkan dengan 2,5
tea dan urin sapi merupakan salah satu substrat urea, ditutup lalu di inkubasi
upaya menuju pertanian yang pada suhu 37ƩC selama 2 jam. Sampel
berkelanjutan dan ramah lingkungan. tanah ditanbah dengan 50 mL larutan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk KCl 1M, dikocok selama 30 menit dan
mengetahui populasi mikroba dan di sentrifugasi pada 12000 rpm.
107
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Sebanyak 0,5 ml supernatant ditambah rotary evaporator pada 105 rpm. Hasil
dengan 4,5 ml aquades dan ditambah evaporasi di cuci dengan etanol
dengan pereaksi nessler, divortex dan absolute sebanyak 1mL dan di analisis
didiamkan selama 10 menit.. menggunakan HPLC. Fase gerak yang
Absorbansi di ukur pada panjang digunakan adalah metanol : asam asetat
gelombang 420 nm. : air ( 30 : 1 : 70) (Mehnaz dan
Total Plate Countpada media selektif Laravoits, 2006). Kolom yang di
Sebanyak 1 gram tanah gunakan adalah C-18 reverse phase
dilarutkan dalam 9 mL akuades steril dengan detektor UV pada panjang
kemudian dilakukan seri pengenceran gelombang 280 nm, kecepatan alir 1,0
bertingkat. Sebanyak 50 µl dari mL/ menit, suhu maksimum 85 ºC,
suspensi di spreadpada medium suhu kolom 32,6 ºC , volum injeksi 20
Pikovskaya (untuk mengetahui populasi µL dan tekanan 8,4 MPa. Standar yang
mikroba pelarut fosfat), TSB 50% + di gunakan adalah larutan IAA murni
200 ppm Triptofan (mikroba penghasil yang di ukur pada keadaan dan kondisi
hormon IAA), dan skim milk agar yang sama. Konsentrasi IAA dari
(mikroba pengurai protein) diinkubasi sampel di hitung berdasarkan kurva
pada suhu ruang hingga 3 haridan di standar dengan standar IAA murni.
hitung jumlah koloninya. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis kandungan IAA Hasil pengamatan dari aktivitas
Analisis kandungan IAA pada enzim tanah dan populasi bakteri pada
pupuk organik hayati menggunakan tanaman edamame menunjukkan bahwa
metode High Performance Liquid populasi bakteri penghasil hormone
Chromatography(HPLC). Sampel tumbuh IAA, bakteri pelarut fosfat dan
pupuk sebanyak 100 mL di sentrifuge bakteri perombak protein pada tanah
pada 10.000 rpm selama 15 menit. dengan aplikasi POH berbasis limbah
Supernatan yang di hasilkan di atur organik menunjukkan hasil yang kebih
pHnya pada 2,8. Supernatan di tinggi di bandingkan dengan
ekstraksi menggunakan etil asetat [Link] penghasil IAA berperan
sebanyak 3 kali dengan perbandingan sebagai penghasil zat pengatur tumbuh
sampel:pelarut 1:1. Hasil ekstraksi IAA yang berperan penting dalam
kemudian di evaporasi menggunakan pertumbuhan tanaman yang berkaitan
108
Prosiding Seminar Nasional, 2017

erat dengan regulasi pembelahan sel pelarut fosfat memiliki peranan sebagai
dari tanaman. Keberadaan hormon pelarut fosfat terikat di dalam tanah.
dalam jumlah cukup dapat Sebagai salah satu unsur yang penting
menstimulasi pertumbuhan dari bagi tanaman, fosfor (P), harus dalam
tanaman yang diinduksi oleh keadaan terlarut agar dapat
fitohormon tersebut. Bakteri pengurai dimanfaatkan langsung oleh tanaman.
protein berperan sebagai penyedia asam Fosfor (P) merupakan salah satu unsur
amino yang penting bagi pertumbuhan yang berperan sebagai faktor pembatas
tanaman sekaligus berperan pula nutrisi bagi tanaman. Unsur P tersedia
sebagai pengendali organisme dalam jumlah terbatas di dalam tanah
pengganggu tanaman (biokontrol). dikarenakan terikat dengan unsur lain
Protein akan diuraikan oleh bakteri seperti Fe, Ca, ataupun Al sehingga
proteolitik hingga menjadi senyawa tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh
yang lebih sederhana dalam bentuk tanaman. Bakteri pelarut fosfat
asam amino organik yang dapat memiliki peranan dalam melarutkan P
dimanfaatkan oleh tanaman secara dalam bentuk terikat sehingga dapat
langsung bagi pertumbuhannya. Bakteri dimanfaatkan oleh tanaman.
28 20
a b
perombak protein
Total bakteri (104)

(10 4 ) (CFU/mL)
Total bakteri
(CFU/mL)

10
8

0
Kontrol POH POH POH
compost tea Fermented KontrolPOH compost
POHtea
Fermented urinPOH
-12
Perlakuanurin Perlakuan

30
c d
Total bakteri penghasil

fosfat (103 ) (CFU/mL)


Total bakteri pelarut
hormon IAA (10 4 )

20
10
(CFU/mL)

0
10

0
KontrolPOH compost
POHtea
Fermented urinPOH Perlakuan
Perlakuan

Gambar 1. Populasi bakteri total (a), bakteri perombak protein (b),, bakteri penghasil
hormone tumbuh IAA (c), dan bakteri pelarut fosfat (d) pada tanah tanaman
edamame.
Bakteri pelarut fosfat memiliki asam organik yang berfungsi
regulasi dalam menghasilkan asam- melarutkan ikatan fosfat dengan unsur

109
Prosiding Seminar Nasional, 2017

lainnya sehingga dapat dimanfaatkan 1999).


oleh tanaman (Rodrigues and Fraga,

300 b
a
Aktivitas PME-ase

50

Aktivitas urease (ppm)


40 200
(ppm)

30
20 100
10
0 0
Kontrol POH compost
POHteaFermented urin
Kontrol POH compostPOH
tea Fermented urin POH
Perlakuan Perlakuan

Gambar 2. Aktivitas enzim PMe-ase (a) dan Urease (b) pada tanah tanaman edamame
dengan aplikasi POH.

Hasil pengukuran aktivitas dalam mengangkat nilai agronomis


enzim PME-ase pada tanah tanaman pada tanah tersebut. Aktivitas
edamame menunjukkan adanya variasi fosfomoesterase lebih responsif
yang berbeda. Aktivitas PME-ase pada terhadap ketersediaan bahan organik
tanah dengan aplikasi POh lebih tinggi tanah (Hu dan Cao, 2007; Antonius
di bandingkan dengan kontrol. dkk., 2009). Aktivitas urease tertinggi
Demikian juga dengan hasil di tunjukkan pada tanah dengan aplikasi
pengukuran aktivitas [Link] et POH compost tea dan POH fermented
al. (2002) menyatakan bahwa karakter urine. Hal ini berkaitan dengan urea
fosfomonoesterase mikrobia tanah yang merupakan substrat dari enzim
dapat mempertegas kualitas tanah urease.

15 100
a
Konsentrasi NH4 (ppm)

b
Konsentrasi NO3 (ppm)

10
50
5

0 0
Kontrol POH compostPOH
teaFermented urin
Kontrol POH compost POH
tea Fermented urin POH
Perlakuan perlakuan

Gambar 3. Analisis ammonium (a) dan nitrat (b) pada tanah tanaman edamame dengan
aplikasi POH.
Analisis kandungan ammonium tertinggi di tunjukkan oleh tanah
dan nitrat di tunjukkan oleh Gambar 3. dengan aplikasi POH compost tea dan
Kandungan amonium dan nitrat POH urin terfermentasi. POH yang
110
Prosiding Seminar Nasional, 2017

berbasis limbah organik dan di perkaya menunjukkan bahwa POH yang


dengan mikroba unggulan PGPR berbahan dasar ekstrak kompos dan
menunjukkan pengaruh yang signifikan urin mengandung hormone tumbuh
terhadap populasi dan aktivitas enzim IAA ( Indole-3-acetic acid 0 yang
tanah. Hasil analisis dengan HPLC relative stabil yaitu sekitar 14 mg/L.
m AU

9.053
8

7
1.369
1.584

7.945
5
2.734

4
3.183
1.876

2.572
2.171

3
3.520
2.949

4.158
3.723

2
3.861

5.153

6.890

9.804
6.199
4.641

5.658
5.725

7.456

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

m AU a
7.872

250

200 IAA
150

100
1.156

50

b
1.372
1.534

2.777

3.213
0.987

1.949

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in

Gambar 4. Kromatogram IAA standar (a) POH berbasis limbah (b).

Gambar 4 menunjukkan bahwa produktivitas tanaman. Selain itu POH


POH dberbasis limbah mengandung berbasis limbah juga mengandung
hormone tumbuh IAA. Hormon tumh unsur-unsur hara yang sangat di
ini sangat penting untuk tanaman yang butuhkan oleh tanaman.
akan mempengaruhi pertumbuhan dan
Tabel 1. Kandungan hara POH berbasis limbah.

P (mg/L) K (%) Ca (%) Mg (%) Cu (mg/L) Fe (%)


4,95 0,22 0,20 0,028 0,41 0,047

Gambar 5. Kandungan klorofil tanaman


Edamame kontrol (kiri) dan
aplikasi POH (kanan).
111
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tanaman edamame dengan antara tanaman kontrol dan tanaman


aplikasi POH berbasis limbah dengan aplikasi POH. Adanya aplikasi
menunjukkan nilai klorofil yang lebih POH juga dapat meningkatkan potensi
tinggi di bandingkan dengan tanaman panen tanaman edamame sekitar 15%.
edamame tanpa aplikasi POH.
Pengamatan agronomi seperti jumlah
daun, tinggi tanaman juga
memperlihatkan adanya perbedaan
Tabel 2. Pengamatan agronomi tanaman edamame.

Perlakuan Jumlah Tinggi Klorofil


daun tanaman
Kontrol 9.6667 35.5500 38.9167 a
bc bcd
POH 11.0000
compost 36.5000 de 42.1000 b
d
tea
POH 10.5000
fermented 37.4167 e 41.4000 b
urine cd
POH 10.6667
36.8000 de 42.0500 b
cd

KESIMPULAN UCAPAN TERIMA KASIH


Hasil penelitian menunjukkan Penulis mengucapkan terima
bahwa aktivitas enzim tanah dan kasih kepada team laboran dan teknisi
populasi mikroba pada tanah tanaman (Entis Sutisna, Astri Anggraeni, Ari
edamame meningkat dengan adanya Rosmalina, Nani Mulyani )
aplikasi POH berbasis limbah organik. laboratorium Mikrobiologi Pertanian-
Selain itu, aplikasi POH juga mamou LIPI. Penelitian ini dapat terlaksana
meningkatkan potensi panen tanaman dengan pendanaan dari Program
edamame sebesar 15 %. Unggulan IPH-LIPI Biovillage Tahun
2015-2016.

112
Prosiding Seminar Nasional, 2017

DAFTAR PUSTAKA Bhauduria H. 2002. Cow Urine – A


magical therapy. Int. J. Cow
Abou-El-Hassan, Desoky A.H. 2013. Science, 1 : 32-36.
Effect of Compost and
Compost Tea on Organic Jain, N.K., Gupta V.B., Garg R.,
Production of Head Lettuce. Silawat N. 2010. Efficacy of
Journal of Science Applied cow urine therapy on various
Research, 9 (11) : 5650-5655. cancer patients in Mandasaur
District, India – A survey. Int.
Adesemoye A.O., Kloepper J.W.,2009. J. Green Pharm, 4 : 29-35.
Plant-Microbes interactions in
enhanced fertilizer-use Litterick A.M., L. Harrier, P. Wallace,
efficiency. Appl microbial C.A. Waston and M. Wood,
Biotechnol.85:1-12. 2004. The role of
uncomposted materials,
Antonius, S, Agustyani D, Rahmansyah compost, manures and
M, and Martono B. 2007. compost extracts in reducing
Development of Sustainable pests and diseases incidence
agriculture: Soil and severity in sustainable
Microorganisms Enzymantic temperate agricultural and
Activity of Organic Farming horticultural crop production.
on jabopuncur Catchment’s Plant Science, 23(6): 453-479.
Area Treated with agricultural
wastes as Biofertilizier. Megali L, Glauser G, rasmann S. 2013.
Contribution Towards a Better Fertilization with beneficial
Human Prosperity. Faculty of microorganisms decraeses
Biology-UGM, Jogyakarta, tomato defenses against insect
pp. 340–341. pests. Agron Sustain Dev,
doi:10.1007/s13593-013-
Antonius, S, Agustiyani, Sutisna dan 0187-0.
Koswara. 2010. Effect of
Rhizobium, Mycorrhiza and Murphy J.F, Zehnder G.W., Schuster
Plant Growth Promoting D.J, Sikora E.J, Polstan J.E,
Rhizobacteria (PGPR)on Kloepper J.W. 2000. Plant
Yield Components Quality of Growth promoting
Soybean (Glycine max L.) I rhizobacteria mediated
and Soil Enzymatic Activities. protection in tomato against
Dalam Loekas, S., Endang, tomato mottle virus. Plant Dis.
[Link], F.R dan Abdul, M. 84:79-84.
(Eds) Prosiding Seminar
Nasional Sains. Purwokerto, Oliveira, N.L.C., M. Puiatti, R.H.S.
10-11 Novembaer 2010: Santos, P.H.R. Rodrigues.
Jurusan Hama Penyakit 2009. Soil and Leaf
Tumbuhan Fakultas Pertanian Fertilization of Lettuce Crop
UNSOED. with Cow Urine. Horticultura
Brasileira, 27 : 431-437.

113
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pascual, J.A., J.L. Moreno, T. and molecular characterization


Hernandez, and C. Garcia. of efficient native Azospirilum
2002. Persistence of strains from rice fields for
Immobilised and Total Urease crop improvement.
and Phosphatase Activities in Protoplasma. Doi:
Soil Amended with Soil 10.1007/s00709-013-0607-7.
Organic Waste. Bioresource
Technology 82: 73-78. Santos V.B, Araujo S.F, Leite L.F.,
Nunes L.A., Melo J.W. 2012.
Raja N.2013. Biopesticides and Soil microbial biomass and
biofertilizers : ecofriendly organic matter fractions
sources for sustainable during transition from
agriculture.J. Biofertil conventional to organic
Biopestici, 1000e112. farming system. Geoderma,
170:227-231.
Rodrigues, H. R. Fraga. 1999.
Phosphate Solubilizing Sinha R.k., valani D., Chauhan K.,
Bacteria and Their role in Agarwal S. 2014. Embarking
plant growth promotion. on a second green revolution
Biochtenology Advances 17 : for sustainable agriculture by
319-333. vermiculture biotechnology
using earthworms : reviving
Sahoo R.K., Ansari M.W., Pradhan M., the dreams of Sir Charles
Dangar T.K., Mohanty S., Darwin. Int J. Agric Health
Tuteja N. 2014. Phenotypic Saf. 1:50-64.

114
Prosiding Seminar Nasional, 2017

MORFOMETRIK PADA AYAM LOKAL HASIL PERSILANGAN ANTARA


AYAM SENTUL-KEDU DAN KAMPUNG (KETURUNAN F1)

Morphometric of Crossing Kedu Chicken with Sentul-kampung


Local Chicken (Fillial 1
)
Harini Nurcahya Mariandayani, Noortiningsih1),Sri Darwati, Ariesta Bangun2)
1)
Faculty of Biology, National University Jakarta
2,
Faculty of Animal Science Bogor Agricultural University
harininurcahya@[Link]

ABSTRACT

This study aimed to learned morphometric of the cross local chicken between kedu chicken and sentul-
kampung chickens. The research was conducted in Animal Breeding and Genetics Laboratory Faculty of
Animal Science Bogor Agricultural University. The chicken used is as much as 47 animals DOC cock
and hen from crossing sentul-lokal chiken x kedu and kedu chiken x sentul-lokal chicken. The feed were 4
phases in the ratio of commercial feed and rice bran that were 100% commercial feed at age 0-3 weeks,
80:20 at the age 3-4 weeks, 70:30 at the age 4-5 weeks, and 60:40 at the age 5-12 [Link] that
measures were body weight, shank length, chest length and chest circumference. T test used to know
difference body size of chicken SKKedu and chicken KeduSK were compared among gender. Based on
the research results of body weight and body weight gain kedusk chicken better than the skkeduchicken .
But based on t test that has been carried out the results are not significantly different (P> 0.05). The
overall study results showed all variables chicken body size SKKedu with KeduSK is the same (P> 0.05).
The study also showed that after crossing raises heterosis effect in chickens result of this cross.

Keywords : Body size, crossing, SKkedu chicken, keduSK chicken

PENDAHULUAN ayam lokal ini layak untuk


dikembangkan dan dimanfaatkan.
Ayam lokal merupakan salah
Perbaikan mutu genetik melalui
satu jenis unggas penghasil telur dan
seleksi dan persilangan pada ayam lokal
daging yang mengandung protein
perlu dilakukan selain perbaikan laju
tinggi.. Ayam lokal memiliki kelebihan
pertumbuhan dan reproduksinya.
- kelebihan antara lain memiliki
Diantara ayam-ayam lokal ini ada
kemampuan adaptasi yang tinggi dan
beberapa jenis yang cukup dikenal
resisten terhadap penyakit yang tinggi
masyarakat Indonesia antara lain ayam
pula. Telur dan daging ayam lokal
Kampung, ayam Kedu dan ayam
memiliki harga yang lebih mahal
Sentul. Penggunaan ayam kampong
dibandingkan telur dan daging ayam
dalam penelitian ini adalah karena
broiler sehingga menjadikan ayam-
ayam kampong mempunyai keunggulan
115
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sebagai penghasil daging dan telur serta dibandingkan dengan ukuran tulang
tahan terhadap penyakit. Selanjutny yang lebih kecil. Ukuran-ukuran tubuh
pengguanaan ayam sentul karena ayam pada ayam hasil persilangan ayam lokal
ini merupakan tipe ayam lokal dwiguna antara ayam sentul, kampong dan kedu
yaitu mampu menghasilkan daging dan yang dilakukan pada penelitian ini
telur. Sedangkan penggunaan ayam diharapkan mampu memberikan
kedu dalam penelitian ini karena pengaruh heterosis.
merupakan salah satu jenis ayam lokal Berdasarkan uraian yang telah
langka dan dikenal sebagai tipe petelur disampaikan, penelitian ini bertujuan
yang cukup produktif Penilaian untuk mempelajari karakteristik ukuran
terhadap keberhasilan upaya perbaikan tubuh ayam hasil persilangan sentul-
genetik melalui persilangan dapat kampung dengan kedu dan
dilihat melalui ukuran - ukuran tubuh resiprokalnya dan selain itu untuk
ayam sentul-kampung jantan dengan menambah informasi mengenai bobot
ayam kedu betina dan resiprokalnya. badan dan ukuran-ukuran tubuh pada
Persilangan resiprokal adalah ayam hasil persilangan.
persilangan kebalikan dari persilangan METODE
yang ada pada ternak, perkawinan Penelitian dilaksanakan di
resiprokal sering digunakan dalam Laboratorium Lapang Pemuliaan dan
pembentukan bangsa baru. Genetika Fakultas Peternakan, Institut
Ayam lokal memiliki Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan
karakteristik yang khas, yang berupa pada bulan September 2014 sampai
ukuran tubuh maupun bentuk tubuh. Maret 2015. Bahan yang digunakan
Ukuran-ukuran tubuh dapat digunakan pada penelitian ini adalah ayam hasil
untuk mempelajari pertumbuhan dan persilangan ayam jantan Kedu x betina
perkembangan ternak. Ukuran-ukuran Sentul-kampung dan ayam jantan
tulang pada ternak mempunyai kaitan sentul-kampung x betina kedu.
dengan sifat-sifat pertumbuhan ternak Selanjutnya digunakan sekam, sekat
tersebut. Apabila ukuran tulang lebih bambu, pakan komersial berbentuk
besar, maka akan mengalami crumble, dedak, vaksin ND, dan
pertumbuhan lebih cepat dan hasil vitachick.
potongan karkas yang lebih besar
116
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Alat yang digunakan pada lalu ditambah 7 g pada minggu


penelitian kandang berukuran berikutnya sampai 12 [Link]
1,5x0,5x1,5 m sebanyak 10 buah, sekat minum diberikan secara ad libitum
bambu sebanyak 12 buah, kandang selama pemeliharaan. 100 % pakan
berukuran, tempat minum gallon komersial (BR-21E) untuk ayam fase
kapasitas 1 L sebanyak 20 buah, , starter berbentuk crumble diberikan
tempat pakan kecil sebanyak 20 buah, pada anak ayam umur sehari (DOC)
timbangan digital OSUKA dengan sampai umur 3 minggu , ayam berumur
ketelitian 0.5 g. Alat lain yang juga 4 minggu di berikan campuran pakan
digunakan adalah lampu, gayung, komersial dengan dedak dengan
kabel, ember, dan nampan plastik. perbandingan pakan komersial:dedak
Pemeliharaan ayam hasil persilangan yaitu 80:20, ayam berumur 5 minggu di
dilakukan di kandang koloni. Dalam berikan campuran pakan komersial
satu kandang terdapat ayam dengan dengan dedak dengan perbandingan
umur, periode dan jenis kelamin yang pakan komersial:dedak yaitu 70:30
sama. Umur 0 sampai 4 minggu ayam sedangkan ayam umur 6 sampai 12
hasil persilangan tidak dipisahkan minggu diberikan campuran pakan
berdasarkan jenis kelamin (unsex). komersial dengan dedak dengan
Sedangkan ayam umur 5 – 12 minggu perbandingan pakan komersial:dedak
dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. yaitu 60:40.
Pencegahan penyakit dilakukan Data dianalisis secara deskriptif
dengan cara memberikan vaksin ND dengan mengetahui rataan (x) dan
melalui tetes mulut dengan dosis 0.1 simpangan baku (s). Uji t dilakukan
mL. Pemberian vitachick dilakukan untuk mengetahui perbedaan
dengan cara dicampurkan dengan air morfometrik ayam persilangan sentul-
minum sampai ayam berumur 2 kampung dengan kedu serta kedu
minggu. Selanjutnya pemberian dengan sentul-kampung. Rumus dari uji
vitachick dilakukan setelah dilakukan t menurut Walpole (1993) adalah
penimbangan. sebagai berikut
Pakan diberikan 2 kali sehari
yaitu pagi dan [Link] pada minggu
pertama diberikan sebanyak 7 g ekor-1
117
Prosiding Seminar Nasional, 2017

panjang shank, panjang femur, panjang


punggung, panjang dada dan lingkar
dada. Hasil pengukuran antara kedua
Keterangan:
persilangan tersebut menunjukkan
= rataan sampel 1 s1 =
ukuran yang sama (P>0,05). Demikian
simpangan baku 1 pula antara jantan dan betina tidak
= rataan sampe 2 s2 = menunjukkan perbedaan (P>0.05).
simpangan baku 2 Bobot badan
µ1 = rataan populasi 1 n1 = Hasil pengukuran rataan bobot
jumlah sampel 1 badan ayam SKKedu dan KeduSK
µ2 = rataan populasi 2 n2 = jantan adalah sama (P>0,05) dari umur
jumlah sampel 2 0 hingga umur 12 minggu. Rataan
bobot badan ayam SKKedu dan
Peubah yang Diamati KeduSK pada umur 12 minggu adalah
Peubah yang diukur pada setiap 1079,88±191,47 gr dan
dua minggu sekali adalah Bobot badan, 1198,03±236,41 gr. Rataan bobot badan
Panjang punggung, Panjang dada, ayam ini masih lebih besar
panjang femur, Panjang shank dan dibandingkan rataan bobot badan
lingkar dada. tetuanya yaitu ayam SK (Sentul-
HASIL DAN PEMBAHASAN Kampung) pada umur yang sama yaitu
Ukuran ukuran tubuh 1009 gr (Sopian 2014) dan lebih besar
Hasil pengukuran tubuh selain dari ayam Kampung pada umur 12
bobot badan adalah panjang shank, minggu yaitu 579 gr (Moniharapon
pajang femur, , panjang dada dan 1997), serta lebih besar pula dari ayam
lingkar dada pada ayam SKKedu dan sentul dan ayam kedu yang berdasarkan
KeduSK disajikan dalam Tabel 1dan 2. penelitian Kurnia (2011). Adapun
Ukuran tubuh pada ayam jantan rataan bobot badan ayam sentul
SKKedu dan KeduSK tertera pada ,kampung dan kedu jantan pada umur
Tabel 1 dan pada ayam betina tertera 12 minggu adalah 532,1±84,78 gr,
pada Tabel 2. 629,3±92,74 gr dan 509±1,00 gr.
Hasil pengukuran pada ukuran-
ukuran tubuh selain bobot tubuh, yaitu
118
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 1. Ukuran tubuh ayam jantan.

Ayam SKKEDU jantan (cm)

Ayam SKKEDU jantan (cm)

Tabel 2. Ukuran tubuh ayam betina.

Ayam SKKEDU betina (cm)

Ayam SKKEDU betina (cm)

119
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Perbandingan bobot badan bobot badan ayam Sentul, kampung dan


antara ayam SKKedu dan KeduSK Kedu betina pada umur 12 minggu
betina berbeda (P<0,05) pada umur 2 adalah 459,2±53,19 gr, 538,3±123,5 gr
minggu, tetapi pada umur 12 minggu dan 514±61,30 gr (Kurnia 2011). Dari
bobot badannya sama (P>0,05). Rataan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
bobot badan ayam SKKedu dan hasil persilangan dari ayam sentul,
KeduSK betina pada umur 12 minggu kampung dan kedu mendapatkan hasil
adalah 975,94±181,94 gr dan bobot badan yang lebih besar
1089,00±126,13 gr yang keduanya dibandingkan tetuanya. Hal ini
lebih besar dibandingkan rataan bobot menunjukkan hasil seperti yang
badan ayam SK pada umur yang sama diharapkan yaitu akan memunculkan
yaitu 823 gr (Sopian 2014) dan ayam efek heterosis (Bobot badan anak lebih
kampung yaitu 477,5 gr (Moniharapon tinggi dari tetuanya).
1997), serta lebih besar pula dari rataan

Tabel 3. Bobot badan ayam SKKedu dan KeduSK umur 0 – 12 minggu.

Laju pertumbumbuhan bobot badan ayam SKKedu dan KeduSK dapat dilihat
pada Grafik 1.

Grafik 1. Laju pertumbuhan bobot badan Ayam SKKedu dan KeduSK.

120
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Bobot badan ayam jantan lebih Rataan panjang dada SKKedu dan
tinggi dari ayam betina. dikarenakan KeduSK jantan pada umur 12 minggu
adanya genetik , kualitas pakan dan adalah 8,65±0,61 cm dan 8,80±0,79 cm.
lingkungan. Seperti yang dinyatakan Hasil pengukuran ini lebih kecil jika
Soeparno (1994) bahwa faktor genetik dibandingkan dengan panjang dada
dan lingkungan mempengaruhi laju ayam sentul dan kampung dewasa hasil
pertumbuhan. Ditambahkan oleh penelitian Iskandar et al (2005) yaitu
Parakkasi 1978) yang menyatakan 13,5 cm. Demikian pula hasil penelitian
bahwa perbedaan laju pertumbuhan Candrawati (2007) yaitu 13,08 cm.
antar individu ternak pada suatu bangsa Hasil pengukuran rataan
utamanya disebabkan oleh adanya panjang dada pada ayam SKKedu dan
perbedaan ukuran dewasa tubuh pada KeduSk jantan dan betina pada umur 2
ayam meskipun keadaan pakan yang minggu sampai umur 12 minggu
baik juga dapat menunjang menunjukkan pengukuran yang sama (
pertumbuhan yang optimal. Selain itu P>0,05) setelah diuji dengan uji T. Hal
adanya perbedaan hormon dalam ini menunjukkan bahwa hasil
tubuhnya. Hormon tersebut adalah persilangan antara ayam SKKedu dan
hormon androgen yang terdapat pada persilangan KeduSK pada ayam jantan
hewan jantan. Hormon tersebut maupun betina untuk pengukuran
berfungsi menggertak pertumbuhan, panjang dada tidak berpengaruh.
maka ukuran tubuh ayam jantan lebih Selanjutnya hasil pengukuran
besar dari ukuran tubuh ayam betina. rataan panjang dada ayam SKKedu dan
Seperti yang dinyatakan Frandson KeduSK betina pada umur 2 minggu
(1992) bahwa hormon testosteron adalah 3,30±0,46 cm dan 3,58±0,60 cm
dapat mengakibatkan anabolisme dan pada umur 12 minggu adalah
protein dan pertumbuhan tulang yang 8,39±0,88cm dan 8,83±0,71 cm. Hasil
besar. pengukuran panjang dada SKKedu dan
Panjang Dada KeduSK betina tersebut menunjukkan nilai

Hasil pengukuran rataan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan


panjang dada ayam sentul dan kampung
panjang dada pada ayam SKKedu dan
dewasa yaitu 11,5 cm (Iskandar et al 2005)
KeduSk jantan pada umur 2 minggu
dan 10,51+0,81cm (Candrawati 2007).
adalah 3,11±0,47 cm dan 3,37±0,61 cm.
121
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Grafik 2. Laju pertumbuhan panjang dada ayam SKKedu da KeduSK.

Grafik 2 menunjukkan laju adalah 22,74±1,56 cm dan 24,16±1,98.


pertambahan panjang dada ayam Rataan lingkar ada tersebut lebih besar
SKKedu dan KeduSK. Hasil analisis jika dibandingkan rataan lingkar dada
uji-T , menujukkan bahwa laju ayam sentul, kampung dan kedu jantan
pertambahan panjang dada ayam pada umur yang sama secara berturut –
SKKedu dan KeduSK jantan maupun turut yaitu 20,76±0,58 cm; 21,23±1,7
betina tidak berbeda nyata (P>0,05) cm dan 21,75±0,5 cm (Kurnia, 2011).
yang berarti bahawa hasil pengukuran Demikian pula rataan pengukuran pada
baik jantan maupun betina antara ayam umur 8 minggu dari hasil penelitian ini
SKKedu dan KeduSK untuk ukuran adalah 19,00±2,41cm, hal ini
panjang dadanya seragam atau tidak menunjukkan hasil lebih tinggi
ada pengaruh persilangan resiprokal. dibandingkan rataan lingkar dada ayam
Lingkar Dada sentul, kampung dan kedu jantan pada
Hasil penelitian pengukuran umur yang sama secara berturut – turut
rataan lingkar dada ayam SKKedu dan yaitu 18,64±0,91 cm; 17,70±2,26 cm
KeduSK jantan pada umur 2 minggu dan 18,75±0,5 cm (Nurcahya, 2013).
adalah 9,40±0,94 cm dan 9,83±1,12 cm. Dari hasil penelitian ini menunjukkan
Rataan lingkar dada ayam SKKedu dan adanya efek heterosis akibat
KeduSK jantan pada umur 12 minggu
122
Prosiding Seminar Nasional, 2017

persilangan dari ketiga jenis ayam lebih besar dibandingkan ayam sentul
tetuanya. ,kampung dan kedu betina pada umur
Selanjutnya rataan lingkar dada yang sama yaitu 19,66±0,30 cm;
ayam SkKedu dan KeduSk betina pada 20,39±1,6 cm dan 20,85±0,5 cm
umur 2 minggu adalah 9,53±1,21 cm (Nurcahya, 2011) .
dan 10,50±1,06 cm. Sedangkan rataan Hasil penelitian pengukuran
lingkar dada ayam SKKedu dan rataan lingkar dada ayam SKKedu dan
KeduSK betina pada umur 12 minggu KeduSK jantan maupun betina pada
adalah 23,22±2,03 cm dan 23,84±2,04 umur 2 minggu hingga 12 minggu
cm . Hasil pengukuran rataan lingkar menunjukkan pengukuran yang sama
dada ayam SKKedu dan KeduSK betina (P>0,05).

Grafik 3. Laju Pertumbuhan lingkar dada ayam SKKedu dan KeduSK.

Grafik 3 menunjukkan laju lingkar dadanya seragam. Demikian


pertumbuhan lingkar dada pada ayam pula hasil persilangan antara SKKedu
SKKedu dan KeduSK. Selanjutnya dari dan Kedu SK juga tidak menunjukkan
hasil analisis uji-T , laju pertumbuhan perbedaan, hal iniberarti bahwa pada
lingkar dada ayam SKKedu dan kedua persilangan tersebut
KeduSK jantan maupun betina tidak menunjukkan hasil yang sama.
berbeda nyata (P>0,05) yang berarti Panjang Punggung
jantan maupun betina anara ayam Hasil penelitian pengukuran
SKKedu maupun KeduSK ukuran rataan panjang punggung pada ayam
123
Prosiding Seminar Nasional, 2017

SKKedu dan KeduSK jantan pada umur ukuran rangka tubuh untuk tempat
2 minggu adalah 5,46±0,78 cm dan perlekatan otot juga semakin besar
5,92±1,22 cm , sedangkan pada umur sehingga bobot badan menjadi lebih
12 minggu panjang punggungnya besar.
adalah 13,96±0,89 cm dan 15.13±1,60 Hasil penelitian rataan panjang
cm. Hal ini menunjukkan rataan yang punggung yang tertera pada Tabel 1 dan
sedikit lebih besar dibandingkan rataan 2 menunjukkan bahwa panjang
panjang punggung ayam Sentul, punggung ayam SKKedu dan KeduSK
Kampung dan Kedu jantan yaitu jantan pada umur 2 minggu sampai 12
13,15±0,21cm; 13,20±0,26cm dan minggu adalah sama (P>0,05), kecuali
13,35±0,23cm (Nurcahya, 2011). pada umur 6 minggu antara ayam
Rataan panjang punggung ayam SKKedu dan KeduSK berbeda nyata
SKKedu dan KeduSk betina pada umur (P<0,05). Rataan panjang punggung
2 minggu adalah 5,52±0,80cm dan antara ayam SKKedu dan KeduSK
5,92±0,65 cm, sedangkan pada umur 12 betina pada umur 2 minggu hingga 12
minggu adalah 14,58±1,91 cm dan minggu menunjukkan ukuran yang
13,93±1,78 cm. Hal ini menunjukkan sama (P>0,05).
bahwa panjang punggung ayam Grafik 6 menunjukkan laju
SKKedu dan KeduSK betina sedikit pertambahan panjang punggung pada
lebih besar dibandingkan rataan ayam SKKedu dan KeduSK.
panjang punggung ayam sentul Berdasarkan uji-T, menunjukkan bahwa
,kampung dan kedu betina pada umur laju pertambahan panjang punggung
12 minggu adalah 12,84±0,30cm ; SKKedu dan KeduSK baik jantan
12,86±0,28cm dan 13,06±0,23 cm maupun betina keduanya tidak berbeda
(Kurnia, 2011). Hal ini menunjukkan nyata (P>0,05) yang berarti SKKedu
semakin panjang ukuran panjang dan KeduSK mempunyai ukuran yang
punggung, menandakan ukuran tubuh seragam.
menjadi lebih panjang. Selain itu

124
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Grafik 4. Laju pertambahan panjang punggung ayam SKKedu dan KeduSK.

Panjang Shank Tabel 1 pada umur 2 minggu adalah


Hasil pengukuran panjang shank 2,66±0,29 cm dan 2,78±0,44 cm.
pada ayam SKKedu dan KeduSK mulai Setelah mencapai umur 8 minggu
diukur pada umur 2 minggu hingga 12 panjang shank keduanya tumbuh
minggu. Umur 2 minggu ayam jantan mencapai 5,66±0,70 cm dan 5,66±0,83
SKKedu dan KeduSK rataan panjang cm. Hasil penelitian Nurcahya (2013)
shank nya adalah 2,66±0,33 cm dan panjang shank ayam Sentul, Kampung,
2,83±0,33 cm. Pada umur 12 minggu dan Kedu betina secara berturut – turut
ayam jantan SKKedu dan KeduSK adalah 59,58±4,00 mm; 53,75±5,70 mm
tumbuh mencapai 7,41±0,60 cm dan dan 54,78±4,20 mm.
7,77±0,85. Hasil penelitian Kurnia Selanjutnya pada umur 12
(2011) panjang shank ayam Sentul, minggu panjang shank keduanya
Kampung dan Kedu jantan yaitu tumbuh mencapai 7,15±0,70 cm dan
76,51±3,06 mm; 81,56±2,90 mm dan 7,05±0,83 cm. Menurut Kurnia (2011)
77,15±1,00 mm, hal ini menunjukkan panjang shank ayam Sentul, Kampung,
bahwa ayam SKKedu dan KeduSK dan Kedu betina secara berturut – turut
jantan tidak berbeda dibandingkan adalah 71,98±4,00 mm; 73,19±5,70 mm
ketiga ayam tetuanya tersebut. dan 73,51±4,20 mm. Berarti jika
Selanjutnya hasil pengukuran dibandingkan dengan ketiga ayam
rataan panjang shank SKKedu dan tetuanya tersebut panjang shank ayam
KeduSK ayam betina yang tertera pada SKKedu dan KeduSK betina masih

125
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sedikit lebih kecil dibandingkan uji-T menunjukkan bahwa,


ketiganya. perbandingan antara ayam SKKedu dan
Hasil pengukuran panjang shank KeduSK jantan maupun betina
ayam jantan SKKedu dan KeduSK menunjukkan ukuran yang sama
rataan pertumbuhannya masih lebih (P>0,05) dari pengukuran mulai umur
tinggi dibandingkan panjang shank 2 minggu hingga umur 12 minggu. Hal
betinanya. Seperti yang dinyatakan inimenunjukkan bahwa tidak ada
Mufti (2003) bahwa selain umur ternak, perbedaan antara ukuran rataan
maka laju pertumbuhan tulang antara paanjang shank pada ayam jantan
ayam jantan dan betina berbeda. maupun betina. Demikian pula antara
Grafik 4 menunjukkan laju persilangan pada SKKedu dan
pertumbuhan panjang shank ayam persilangan KeduSK.
SKKedu dan KeduSK. Hasil analisis

Grafik 5. Laju Pertumbuhan shank ayam SKKedu dan KeduSK.

Panjang Femur 8,66±0,86 cm. Hasil pengukuran rataan


Hasil penelitian pengukuran panjang femur ayam SKKedu dan
rataan panjang femur SKKedu dan KeduSK jantan lebih besar jika
KeduSK jantan pada umur 2 minggu dibandingkan dengan panjang femur
adalah 3,24±0,39 cm dan 3,40±0,38 cm. ayam kampung jantan hasil penelitian
Selanjutnya pada umur 12 minggu Moniharapon (1977) pada umur 12
rataan panjang femur ayam SKKedu minggu yaitu 7,32±0,86 cm. Namun
dan KeduSK adalah 8,34±0,65 cm dan dari hasil penelitian Iskandar et al
126
Prosiding Seminar Nasional, 2017

(2005) pada ayam sentul dewasa dibandingkan dengan panjang femur


dengan rataan panjang femur yaitu 13, ayam sentul betina dewasa yaitu 10,5
sehingga hasil penelitian ini 8,34±0,65 cm (Iskandar et al 2005).
cm dan 8,66±0,86 cm adalah masih Berdasarkan hasil penelitian
lebih kecil. pada Tabel 1dan 2 , rataan panjang
Selanjutnya hasil pengukuran femur SKKedu dan KeduSK jantan
rataan panjang femur pada ayam umur maupun betina adalah sama (P>0,05)
12 minggu adalah 8,34±0,65 cm dan pada umur 2 minggu hingga 12 minggu.
8,48±0,66 cm. Hasil penelitian Laju pertumbuhan panjang
pengukuran rataan panjang femur ayam femur ayam SKKedu dan KeduSK
SKKedu dan KeduSK betina pada umur jantan maupun betina ditunjukkan pada
12 minggu ini lebih besar jika Grafik 4. Laju pertumbuhan ayam
dibandingkan dengan rataan panjang SKKedu dan KeduSK jantan maupun
femur ayam kampung betina pada umur betina tidak berbeda nyata (P>0,05) jadi
yang sama yang dipelihara secara pertumbuhan panjang femur ayam
intensif yaitu 6,48±0,77cm SKKedu dan KeduSK jantan maupun
(Moniharapon 1997). Namun hasil betina tumbuh seragam.
penelitian ini masih lebih kecil jika

Grafik 6. Laju pertumbuhan Panjang femur ayam SKKedu dan KeduSK.

127
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KESIMPULAN Ed ke-5. Yogyakarta (ID) :


Gadjah Mada University Press.
Kesimpulan pada penelitian ini
adalah persilangan antara ayam Herren, R. 2000. The Science of Animal
Agriculture. 2nd [Link] York
SKKedu dan KeduSK baik antara (US) : Delmar.
sesama jantan maupun sesama betina
Iskandar S, Setioko AR, Sopiana S,
tidak terdapat perbedaan, atau Saefudin Y, Suharto,
mempuyai kesamaan pada kedua Dirdjopratono W. 2004.
Keberadaan dan karakter ayam
persilangan tersebut maupun antar jenis pelung, kedu dan sentul di lokasi
kelamin. Hasil pengukuran, panjang asal. Seminar Nasional Klinik
Teknologi Pertanian sebagai
shank, panjang femur, panjang Basis Pertumbuhan Usaha
punggung, panjang dada dan lingkar Agribisnis Menuju Petani
Nelayan Mandiri. Manado (ID).
dada menunjukkan keseragaman antara Hlm 1021-1033.
ayam SKKedu dan KeduSK baik antara
Kurnia Y. 2011. Morfometrik ayam
sesama jantan maupun sesama betina. sentul, kempung dan kedu pada
Hasil penelitian ini juga menunjukkan fase pertumbuhan dari umur 1 –
12 minggu.[skripsi].Bogor (ID) :
adanya efek heterosis karena bobot Fakultas Peternakan. Institut
badan ayam SKKedu dan KeduSK Pertanian Bogor.
lebih tinggi bila dibandingkan dengan Moniharapon M. 1997. Studi sifat-sifat
tetuanya pada umur yang sama. biologis ayam kampung dan
ayam gemba di Maluku sampai
DAFTAR PUSTAKA dewasa kelamin. [tesis]. Bogor
(ID) :Program Pascasarjana.
Candrawati VY. 2007. Studi ukuran Institut Pertanian Bogor.
dan bentuk tubuh ayam
kampung, ayam sentul dan ayam Mufti, R.2003. Studi ukuran tubuh
wereng tanggerang melalui ayam Kampung, ayam Pelung
analisis komponen utama. dan persilangannya. [skripsi].
[skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Bogor (ID) : Fakultas
[Link] Pertanian Peternakan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Crawford,R.D.1990. Poultry Breeding Mulliadi, D. 1996. Sifat Fenotipik
dan Genetics. Amsterdam (NL) domba Priangan di Kabupaten
:Elsevier Science Publishers. Pandeglang dan Garut.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan [disertasi]. Bogor (ID) :
Fisiologi Ternak. Terjemahan : Program Studi Pascasarjana.
B. Srigandanono dan K. Praseno Institut Pertanian Bogor.

128
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Nishida T,Nozawa K, Kondo K, dan Pemanfaatannya. Bogor


Mansjoer SS , Martojo H. 1980. (ID): Balai Penelitian Ternak.
Morphological dan genetical
studies on the Indonesian native Soeparno. 1992; 1994. Ilmu dan
fowls. The Origin dan Teknologi Daging. Ed ke-1 dan
Phylogeny of Indonesian Native Ed ke-2. Yogyakarta (ID):
Livestock. The Research Group Gadjah Mada University Press.
of Overseas Scientific Survey.
Page : 78-83. Sopian Y. 2014. Performa F1 antara
ayam sentul x kampung dan
Noor RR. 1996. Genetika Ternak. ayam pelung x sentul pada umur
Jakarta (ID): Penebar Swadaya. 0 – 12 minggu [skripsi]. Bogor
(ID) : Fakultas Peternakan IPB.
Nurcahya, H, Solihin,DD, Sulandari S, Warwick, E. J., J. M. Astuti, & W.
Sumantri C. 2013. Keragaman Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan
Fenotipik dan Pendugaan Jarak Ternak. Ed [Link]
Genetik pada Ayam Lokal dan (ID) : Gajdah Mada University.
Ayam Broiler Menggunakan
analisis Morfologi. Jurnal Walpole RE. 1993. Pengantar
[Link]. 14. No.4. Hal. statistika. Ed ke-3. Jakarta (ID):
475 – 484. Gramedia Pustaka Utama.

Parakkasi, A. 1978. Ilmu Gizi dan Wilson, L. L., H. B. Roth, J. H. Zle & J.
Makanan Ternak Monogastrik. H. Sink. 1977. Bovine metacaral
Bandung (ID): Penerbit and metatarsal dimension: Sex
Angkasa Bandung. effect, heritability estimates and
relation to growth and carcass
Sartika T, Iskandar S. 2007. Mengenal characteristics. Journal Animal
Plasma Nutfah Ayam Indonesia Science, 44: 932-938.

129
Prosiding Seminar Nasional, 2017

PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN NaOH PADA ARANG AKTIF


KULIT PISANG KEPOK UNTUK ADSORBSI LOGAM TIMBAL (Pb2+)

Effect of NaOH Solution Concentration onLead Adsorption of Kepok


Banana Peel Active Charcoal

Ikna Suyatna Jalip1*) dan Yeremiah R. Camin1


1
Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jl. Sawo Manila 61,
Pejaten, Pasar Minggu - Jakarta Selatan 12520
*) Email : ikna_sj@[Link]

ABSTRACT
The research on the formation of kepok banaba peel active charcoal (AAKP) as an absorbent has been
done. The aims of this study was to determine the effect of the concentration of NaOH solution as an
activation in enhancing the adsorption of the metals Pb. The study began with the carbonization process,
crushing and sieving, followed by the activation process. In the activation process of the banana peel
charcoal powder soaked with a solution of NaOH for two hours while shaken. NaOH solution used
consisted of five variations of the concentration of 0,0 M, 5.0 M; 10.0 M; 15.0 M and 20.0 M then
filtered with filter paper and washed with hot water, powdered activated charcoal obtained repeatedly
dried in an oven at a temperature of 105oC. A total of 1 gram of kepok banana peel active charcoal
mixed with 20 mL Pb. The solution was then shaken at 100 rpm, after which it is filtered. The filtrate
obtained was measured by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) to determine the concentration
of metal ions Pb rest. The results showed that based on moisture content, ash content, volatile matter
content and carbon bound content, AAKP can be used as adsorbent Pb (II). The optimum concentration
of NaOH activator for the absorption of Pb (II) is produced at a concentration of 5,0 M with the
adsorption capacity of 0.36 mg / g. Isotherm of Freundlich can explain the adsorption of Pb (II).

Keywords : Active charcoal, NaOH, Pb2+, peel of kepok banana.

PENDAHULUAN yang akan meracuni tubuh mahluk


Pencemaran lingkungan oleh logam hidup (Palar, 2008). Chen et al. (1996)
berat telah menjadi masalah yang cukup menyatakan bahwa logam berat yang
serius. Hal ini seiring dengan terdapat di lingkungancenderung tidak
peningkatan penggunaan logam berat tergradasi, tersirkulasi dan biasanya
dalam bidang industri. Logam berat terakumulasi melalui rantai makanan
banyak digunakan karena sifatnya yang yang merupakan ancaman bagi hewan
dapat menghantarkan listrik dan panas dan [Link] logam berat,
serta dapat membentuk logam panduan terutama Pb di lingkungan merupakan
dengan logam lain. masalah pada saat ini.
Pencemaran logam berat pada Persoalan spesifik logam berat Pb di
dasarnya tidak berdiri sendiri, namun lingkungan terutama karena
dapat terbawa oleh air, tanah dan udara. keberadaannya di alam dan
Semua logam berat dapat menjadi racun akumulasinya sampai pada rantai
130
Prosiding Seminar Nasional, 2017

makanan (Darmayanti et al., 2012). belum dimanfaatkan secara nyata,


Setelah terakumulasi, organ-organ yang hanya dibuang sebagai limbah organik
menjadi sasaran keracunan Pb adalah saja atau digunakan sebagai makanan
sistem syaraf, ginjal, reproduksi, ternak seperti kambing, sapi dan
endokrin dan jantung. Menurut kerbau. Jumlah dari kulit pisang cukup
Radyawati (2011), setiap bagian yang banyak yaitu sekitar 1/3 dari buah
menyerap racun timbal akan pisang yang belum dikupas.
memperlihatkan efek yang berbeda. Menurut Hewwet et al. (2011) dalam
Beberapa metode dapat digunakan Endra (2013), kulit pisang kepok (Musa
untuk menurunkan konsentrasi ion acuminata balbisiana Colla)
logam berat dalam limbah cair antara mengandung beberapa komponen
lain sedimentasi, filtrasi, penukar ion biokimia antara lain selulosa,
dengan menggunakan resin dan hemiselulosa, pigmen klorofil dan zat
adsorbsi baik berupa resin sintetik pektin yang mengandung asam
maupun karbon aktif(Lopez, 1997; galakturonat, arabinosa, galaktosa dan
Giequel et al., 1997). Diantara metode- ramnosa.
metode tersebut, metode adsorbsi Kandungan senyawa pada kulit
merupakan metode yang paling umum pisang memungkinkan bahan ini dapat
dipakai karena memiliki konsep yang dijadikan sebagai arang aktif yang
sederhana dan dapat diregenerasi serta dapat diaplikasi-kan untuk menurunkan
lebih ekonomis (Darmayanti et al., kandungan logam berat Pb di air.
2012). Arang aktif merupakan suatu
Upaya untuk mengurangi dampak padatan yang berpori mengandung 85 –
pencemaran logam berat seperti logam 95 % karbon, dihasilkan dari bahan-
Pb dapat dilakukan dengan berbagai bahan yang mengandung karbon
cara, salah satunya dengan pemanfaatan dengan pemanasan suhu tinggi sehingga
limbah kulit pisang. diperoleh luas permukaan yang besar
Kulit pisang, merupakan salah satu yakni berkisar antara 300 – 2000 m2/g
limbah dari industri pengolahan pisang (Othmer, 1992).
yang dapat digunakan baik secara Saat ini arang aktif telah banyak
langsung maupun diproses terlebih digunakan dalam dunia industri dan
dahulu. Pada umumnya kulit pisang pada umumnya arang aktif digunakan

131
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sebagai bahan adsorbendan penjernih. Pb oleh arang aktif kulit pisang


Untuk memperoleh adsorben dengan (AAKP) kepok.
kemampuan adsorpsi yang maksimum Adapun hipotesis yang diajukan di
harus dilakukan aktivasi, baik fisika dalam penelitian ini adalah :
maupun kimia atau gabungan 1. Arang kulit pisang kepok memiliki
keduanya. potensi sebagai adsorban logam
Aktivasi secara kimia merupakan berat
proses penambahan bahan kimia yang 2. Ada hubungan antara konsentrasi
disebut aktivator, pada produk arang. NaOH sebagai aktivator dengan
Bahan-bahan kimia tersebut dapat jumlah logam Pb yang diadsorbsi.
berupa asam anorganik, misalnya METODE
H3PO4 dan H2SO4 atau logam alkali Waktu dan Tempat Penelitian
tanah, seperti KOH atau NaOH. Penelitian ini dilaksanakan selama
Dalam penelitian ini digunakan satu semester genap tahun akademik
larutan NaOH dengan berbagai 2015/2016. Dilaksanakan dilaksanakan
konsentrasi dimaksudkan untuk di Laboratorium Kimia, Pusat
meningkatkan kemampuan adsorbsi Laboratorium Universitas Nasional, JL.
logam Pb. Bambu Kuning, Pasar Minggu, Jakarta
Berdasarkan latar belakang dan Selatan dan Laboratorium Analitik,
permasalahan di atas, maka penelitian Balai Teknologi Lingkungan, BBPT
ini bertujuan untuk mengetahui Serpong.
pengaruh pemberian NaOH dalam Alat dan Bahan
berbagai konsentrasi terhadap Alat
karakteristikarang aktif yang dihasilkan, Seperangkat alat-alat gelas, tanur
kapasitas adsorbsi dan isoterm adsorbsi (furnace), oven, mixer, blender,
arang kulit pisang kepok terhadap timbangan digital, shaker, ayakan
logam Pb. 100 mesh, pinggan porselin.
Tujuan penelitian ini adalah Bahan
memberi informasi bahwa kulit pisang Kulit pisang kepok (Musa acuminata
dapat dimanfaatkan sebagai arang aktif balbisiana C.)danbahan kimia yang
dan untuk mengetahui kapasitas serapan digunakan adalah timbal nitrat,
NaOH, akuadestilata.

132
Prosiding Seminar Nasional, 2017

selama 2 jam kemudian disaring


Prosedur Penelitian dengan kertas saring dan dicuci
1. Pembuatan arang kulit pisang dengan air panas.
kepok
c. Gumpalan serbuk AAKP yang
a. Kulit pisang kepok dipotong 1-2 cm,
diperoleh, dikeringkan berulang kali
kemudian dicuci dengan air sampai
dalam oven pada suhu 105°C untuk
bersih. Setelah itu, kulit pisang
mengurangi kandungan air dalam
dijemur/dioven sampai kering.
AAKP.
b. Selanjutnya kulit pisang
3. Proses adsorbsi logam berat
dikarbonisasi sampai menjadi arang
a. Sebanyak 1 g AAKP yang telah
menggunakan tanur pada suhu
teraktivasi diinteraksikan dengan 20
400oC. Selama proses berlangsung,
mL larutan ion logam Pb (pH 4,0)
tanur dijaga dalam keadaan tertutup
yang sudah diukur konsentrasinya.
agar tidak ada oksigen yang masuk
b. Larutan kemudian dikocok dengan
sehingga mencegah terjadinya
shaker pada kecepatan 100 rpm,
pengabuan.
setelah itu disaring.
c. Arang kulit pisang kemudian
c. Filtrat yang diperoleh diukur dengan
dihaluskan terlebih dahulu dan
SSA untuk menentukan konsentrasi
diayak mengguna-kan ayakan 100
ion logam Pb yang tersisa (tidak
mesh. Serbuk arang kulit pisang
teradsorbsi).
yang digunakan adalah arang yang
Rancangan penelitian yang diguna-
lolos ayakan 100 mesh.
kan adalah RAL (Rancangan Acak
2. Proses aktivasi arang kulit pisang
kepok Lengkap) dengan 5 taraf perlakuan dan
a. Serbuk arang halus hasil karbonisasi
3 ulangan. Taraf perlakuan terdiri dari
kulit pisang direndam dengan larutan
larutan NaOH konsentrasi 0,0 M, 5,0
NaOH dan dikocok menggunakan
M, 10,0 M, 15,0 M, dan 20,0 M..
shaker selama 2 jam. Larutan NaOH
Data yang diperoleh dianalisis
yang digunakan terdiri dari 5
meng-gunakan perangkat lunak dengan
konsentrasi yaitu 0,0 M, 5,0 M; 10,0
metode one way Anovaprogram
M, 15,0 dan 20,0 M.
Statistical Product and Service Solution
b. Arang kulit pisang yang sudah
(SPSS) 20.0. dan untuk mengetahui
direndam dengan larutan NaOH
pengaruh antar taraf perlakuan

133
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dilakukan Uji Tukey (BNJ) dalam taraf Dibandingkan dengan persyaratan


5 %. SNI 06-3730-95 untuk kadar air
HASIL DAN PEMBAHASAN arang aktif maksimal 15%, maka
Karakteristik AAKP kadar air AAKP kepok telah
Penilaian karakteristik dari memenuhi persyaratan SNI untuk arang
AAKPdidasari pada analisis kadar aktif.
air, kadar abu, kadar zat mudah Menurut Sudiro (2014), kadar air
menguapdan kadar fixed carbon. merupakan salah satu parameter yang
Hubungan kadar air AAKP dapat memengaruhi kualitas arang
dengan konsentrasi aktivator NaOH aktif. Kadar air yang rendah
disajikan pada Gambar 1. menunjukkan bahwa zat yang
menguap dan senyawa lainnya dalam
arang aktif lebih mudah dikeluarkan
sehingga luas permukaan arang aktif
semakin besar, dan diasumsikan bahwa
keadaan seperti itu memungkinkan
bahwa AAKP memiliki daya serap
yang cukup baik karena nilai kadar
yang memenuhi standar mutu Standar

Gambar 1. Kadar air AAKP.


Nasional Indonesia (Fauziah, 2009).
Kadar abu yang dihasilkan oleh
Grafik pada Gambar 1,
AAKP dapat dilihat pada Gambar 2.
memperli-hatkan bahwa kadar air
Hasil analisis hubungan kadar abu
AAKP kelompok kontrol cenderung
kulit pisang dengan konsentrasi
lebih tinggi dibanding-kan dengan
aktivator NaOH menunjukkan nilai
kelompok perlakuan lainnya.
kadar abu paling tinggi pada tarap
Kelompok perlakuan NaOH 5,0 M
perlakuan 20 M yaitu sebesar 1,77%,
memberikan rataan kadar air yang
dan nilai terendah pada konsentrasi 0,0
paling rendah dan mengalami
M yaitu 1,08%. Diban-dingkan dengan
peningkatan sejalan dengan
standar SNI 06-3730-95 yakni nilai
peningkatan konsentrasi larutan
maksimal 10%, nilai kadar abu
NaOH.
AAKP berdasar variasi konsentrasi

134
Prosiding Seminar Nasional, 2017

larutan NaOH telah memenuhi nilai maksimal 25%, maka dapat


standar. dikatakan bahwa seluruh perlakuan
tidak ada yang memenuhi standar
SNI karena nilainya berada di atas
nilai maksimum.

Gambar 2. Kadar Abu AAKP.

Kadar abu merupakan jumlah sisa


dan akhir proses pembakaran. Residu
berupa zat mineral yang tidak hilang
selama proses pembakaran. Kadar
Gambar 3. Kadar Bahan Mudah
abu yang dihasilkan tergantung dari Menguap AAKP.
masing-masing adsorben. Kadar zat mudah menguap
Menentukan kadar abu memiliki tujuan merupakan zat selain air, abu, karbon
untuk mengetahui kandungan oksida terikat yang terletak di dalam arang
logam yang terdapat di dalam AAKP, aktif, terdiri atas cairan dan sisa tar
dan mempengaruhi kualitas dari arang yang tidak habis dalam proses
aktif sebagai adsorben (Fauziah, pengarangan (Fauziah, 2009).
2009). Penentuan kadar zat mudah menguap
Rataan tertinggi kadar zat mudah memiliki tujuan untuk mengetahui
menguap pada AAKP (Gambar3), besarnya kandungan zat yang belum
terdapat pada perlakuan kontrol, menguap dalam arang aktif sebagai
menurun pada perlakuan 5,0 M dan hasil interaksi antara karbon dengan
setelah itu cenderung mengalami uap air pada proses karbonisasi dan
peningkatan sejalan dengan proses aktivasi.
meningkatnya konsentrasi perlakuan. Besarnya kadar zat mudah
Dibandingkan dengan standar menguap mengarah kepada
mutu kadar zat mudah menguap pada kemampuan arang aktif menyerap
arang aktif SNI 06-3730-95 dengan logam, kadar yang lebih tinggi

135
Prosiding Seminar Nasional, 2017

akan mengurangi daya serap arang Hasil analisis kadar karbon terikat
aktif tersebut. AAKP kepok AAKP dapat dilihat pada Gambar 4.
menghasilkan kadar zat mudah Kadar karbon terikat yang dihasilkan
menguap di atas Standar Nasional oleh AAKP terendah pada perlakuan
Indonesia (06-3730-95). Tinggi kontrol dan tertinggi diperoleh pada
rendahnya kadar zat mudah menguap konsentrasi NaOH 5,0 M dan
pada AAKP disebabkan oleh selanjutnya cenderung menurun.
permukaan arang aktif yang ditutupi Rataan kelompok perlakuan NaOH
oleh senyawa non karbon dan tidak 5,0 M memberikan nilai karbon
sempur-nanya penguraian senyawa non 65,72%. Biladibandingkan dengan
karbon saat proses pengarangan dapat standar kadar karbon terikat dari
memengaruhi daya serapnya. beberapa negara menurut Sudiro
Hasil penelitian Fauziah (2009), (2014), misalnya Jepang (60%- 80%),
juga menghasilkan arang aktif dengan dan Amerika (60%)maka nilai kadar
kadar zat mudah menguap lebih tinggi karbon terikat AAKP kepok yang
dari standar mutu SNI 06-3730-95, memenuhi syarat adalah kelompok
namun arang aktif kulit akasia (Acacia perlakuan NaOH 5,0 M.
mangium) masih tetap dapat
digunakan sebagai adsorben.
aktivasi. Semakin tinggi kadar
karbon, maka semakin baik
digunakan sebagai bahan baku
pembuatan arang aktif (Fauziah,
2009). Kadar karbon terikat yang
rendah dipengaruhi oleh kondisi
bahan baku, hasil kadar abu dan kadar
zat mudah menguap.

Gambar 4. Kadar Karbon Terikat dari


Kapasitas Adsorpsi
AAKP. Hubungan antara konsentrasi
Kadar karbon ditentukan untuk larutan aktivator (NaOH) dengan
mengetahuikandungan karbon kapasitas adsorpsi larutan ion Pb
setelah dilakukannya karbonisasi dan menunjukkan kapasitas tertinggi pada

136
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kelompok kontrol yaitu sebesar 0,57 adsorben maka semakin tinggi pula
mg/g. Antar kelompok perlakuan kapasitas adsorpsinya (Purnama dkk.,
NaOH terlihat relatif sama dengan 2015).
konsentrasi NaOH 10 M cenderung Daya adsorpsi arang aktif
lebih rendah (Gambar 5). disebabkan karena arang memiliki pori
Hasil Anova menunjukkan tidak dalam jumlah besar dan adsorpsi
ada perbedaan bermakna (p > 0,05). terjadi karena adanya perbedaan
Hal ini berarti semua taraf perlakuan energi potensial antara permukaan
memiliki kapasitas adsorpsi yang arang dan zat teradsorpsi. Mekanisme
sama. adsorpsi adalah molekul adsorbat
berdifusi melalui lapisan batas ke
permukaan luar dan sebagian besar
berlanjut ke dalam pori-pori adsorben
(Muna,2011).
Kapasitas adsorbsi maksimum
AAKPterhadap Pb(II) dapat dijadikan
sebagai fungsi menghitung isoterm
Gambar 5. Kapasitas Adsorpsi Pb adsorpsi. Isoterm adsorpsi merupakan
AAKP.
hubungan keseimbangan antara
Arang yang sudah mengalami konsentrasi adsorbat dalam fase fluida
aktivasi umumnya memiliki daya dengan konsentrasi adsorbat dalam
adsorpsi yang tinggi karena pori-pori partikel adsorben pada suhu tertentu
arang yang semula tertutup abu, air, (Arninda dkk., 2014).
nitrogen dan sulfur telah terbuka Isoterm Adsorpsi
dengan adanya aktivasi. Selain itu Isoterm adsorpsi merupakan fungsi
tinggi rendahnya kapasitas ad- konsentrasi zat terlarut yang terserap
sorben juga dipengaruhi oleh luas pada padatan terhadap konsentrasi
permukaan. larutan (Apriliani, 2010). Penentuan
Luas permukaan mempengaruhi kapasitas adsorpsi dengan isoterm
kemampuan adsorben tersebut dalam Langmuir dapat dibuat dengan
meng-adsorbsi suatu senyawa, jika memplotkan konsentrasi ion logam
semakin besar luas permukaan dalam kesetimbangan (Ce) terhadap

137
Prosiding Seminar Nasional, 2017

jumlah ion logam yang ter-adsorpsi paling cocok untuk menjelaskan


(x/m), kurva isoterm Langmuir dapat fenomena adsoprsi Pb(II) oleh AAKP
dilihat pada Gambar 6. adalah isoterm Freundlich. Hal ini
berarti adsoprsi Pb(II) oleh AAKP ber-
langsungmultilayer yaitu terjadinya
ikatan antar ion logam yang terdapat
pada larutan maupun limbah, selain
ikatannya sebagai adsorban. Ikatan ini
berupa ikatan van der Waals sehingga
ikatan antara adsorbat dengan
adsorban bersifat lemah, yang
Gambar 6. Isoterm Langmuir Adsorpsi memungkinkan adsorbat leluasa
Pb Oleh AAK.
bergerak hingga berakhir dalam
Persamaan isoterm Freundich proses adsorpsi dengan banyak lapisan
meng-hasilkan kurva yang (Apriliani, 2010).
berhubungan antara Log konsentrasi KESIMPULAN
ion logam dalam kesetimbangan (Log Berdasarkan hasil dan pembahasan
Ce) terhadap Log jumlah ion logam sebelumnya, maka dapat disimpulkan :
yang teradsorpsi (Log x/m) dapat 1. Berdasarkan kadar air, kadar abu,
dilihat pada Gambar 7. kadar zat mudah menguap dan
kadar karbon terikat, AAKP dapat
dijadikan adsorben Pb(II).
2. Konsentrasi optimum aktivator
NaOH untuk daya serap Pb(II)
dihasilkan pada konsentrasi 5,0 M
dengan kapasitas adsorpsi 0,36
mg/g.
3. Isoterm Freundlich dapat
menjelaskan adsorpsi logam Pb(II).
Gambar 7. Isoterm Freundlich Adsorpsi
Pb AAKP. UCAPAN TERIMA KASIH
Disampaikan kepada Sdri Mustika
Hasil analisis isoterm
Nirwana SSi, yang telah banyak
menunjukkan isoterm adsorpsi yang

138
Prosiding Seminar Nasional, 2017

membantu dalam penelitian ini,


Fauziah, N. 2009. Pembuatan Arang
Laboratorium Analitik, Balai Teknologi
Aktif Secara Langsung dari Kulit
Lingkungan, BBPT Serpong yang telah Acacia mangium Wild. Dengan
Aktivasi Fisika dan Aplikasinya
membantu menganalisis logam berat
Sebagai Adsorben. Bogor:
Pb2+ Departemen Hasil Hutan, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
DAFTAR PUSTAKA
(IPB).
Apriliani, A. 2010. Pemanfaatan Arang
Ampas Tebu Sebagai Adsorben Ion Giequel, L., Wolbert, D., Laplanche, A.
Logam Cd, Cu dan Pb Dalam Air 1997. Adorption of Antrazine by
Limbah. Jakarta: Fakultas Sains dan Powdered Activated Carbon:
Teknologi, Universitas Negeri Syarif Influence of Dissolved Organic and
Hidayatullah. Mineral Matter of Natural Water,
Environmental Science and
Arninda, A., Sjahrul, M., dan Zakir, M. Technology 18, 467 – 478.
2014. Adsorbsi ion logam Pb (II)
dengan menggunakan kulit pisang Hewett, E., Stem, A dan Wildfong.
kepok (Musa paradisiaca Linn). 2011. Banana Peel Heavy Metal
Indonesia Chimica Acta, Vol 7 No.2, Water Filter. [Link]
21 – 26.
Lopez, DA. 1997. Sorption of Heavy
Chen, JP, Chen, WR, dan Chi, RH. Metals on Blust Furnace. Water
1996. Biosorption of Copper From Resource, 32, 989 -996.
Aqueous Solution by Plant Root
Tissues. J. of Ferment. and Bioeng, Muna SM, A.N. 2011. Kinetika
81(5), 458 – 463. Adsorbsi Karbon Aktif dari Batang
Pisang Sebagai Adsorben untuk
Darmayanti, Rahman N dan Supriadi. Penyerapan Ion Logam Cr(VI) pada
2012. Adsorbsi Timbal (Pb) dan air Limbah Industri, Semarang,
Zink (Zn) dari Larutannya Fakultas Universitas Negeri
Menggunakan Arang Hayati Semarang.
(Biocharcoal) Kulit Pisang Kepok
Berdasarkan Variasi pH. J. Othmer, K. 1992. Encyclopedia of
[Link]. 1(4): 159-165, November Chemical Technology. 2nd edition,
2012. vol 4, John Willey and Son
Publication.
Dewan Standarisasi Nasional. 1995.
Standarisasi Nasional Indonesia Purnama, P.E., Dewi, I. dan Ratnayani,
(SNI) 06-3730-95 Arang Aktif K. 2015. Kapasitas Adsorbsi
[Link]. Beberapa Jenis Kulit Pisang
Teraktivasi NaOH Sebagai Adsorben
Endra. 2013. Efektivitas Pisang Kepok Logam Timbal (Pb). Jurnal Kimia
Terhadap Logam. Vol. 9, No. 2. ISSN 1907-9850, 192-
[Link] 202.
[Link]/2013/03/ Diakses
tanggal 24 Februari 2013.

139
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Palar H, 2008. Pencemaran dan


Toksikologi Logam Berat. Rineka Sudiro, S.S. 2014. Pengaruh Komposisi
Cipta, Jakarta. dan Ukuran Serbuk Briket yang
Terbuat dari Batubara dan Jerami
Radyawati. 2011. Pembuatan Padi Terhadap Karakteristik
Biocharcoal dari Kulit Pisang Kepok Pembakaran. Sainstech politeknik
untuk Penyerapan Logam Timbal Indonesia Surakarta ISSN :2355-
(Pb) dan Logam Seng (Zn). Palu : 5009 Vol 2, No. 2, 1 – 18.
UNTAD-Press.

140
Prosiding Seminar Nasional, 2017

AKTIVITAS ANTIBAKTERI JAMUR LAUT KEPULAUAN SERIBU

Antibacterial Activities Mushroom Sea Kepulauan Seribu

Noverita
Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta

ABSTRACT

Antibacterial fungi have done research on the Sea of Thousand Islands, isolated from sea water,
macroalgae and soft corals. The results were obtained as much as 18 isolates. Most isolates derived
from soft coral. Isolates most excellent in inhibiting the growth of bacteria S. aureus is: S2Ma1Hitam
isolates with inhibition zone 10,00mm, followed by S1Al1Kuning isolates with inhibition zone 9,25mm,
S1Kl1Hitam isolates with inhibition zone 8,75mm, S2KL2hijau isolates and isolates S3Ma1Putih with
inhibition zone 8,25mm. Isolates of the most well inhibit the growth of E. coli was isolated S4Kl1Hitam
with inhibition zone 9,50mm, followed by isolates isolates S3Ma1Putih with 9.25 mm inhibition zone,
S1Al1Kuning isolates with inhibition zone 8.75, S2Ma1Putih isolates with inhibition zone 8,50mm and
isolates S1Al1Kuning with inhibition zone 8,25mm.

Keywords : Antibacterial, fungi sea, Kepulauan Seribu

PENDAHULUAN tubuhnya, jamur ada yang makroskopis


Indonesia terletak di 6o LU- yaitu jamur yang berukuran besar,
11o LS dan 95o BT- 141o BT. Itu artinya sehingga dapat dilihat dengan mata
Indonesia berada di daerah iklim tropis telanjang, dan ada juga jamur yang
dan dilewati oleh garis khatulistiwa. mikroskopis yaitu jamur yang
Pengaruh dari letak geografis tersebut, berukuran kecil dan hanya dapat dilihat
membuat Indonesia dikenal sebagai dengan menggunakan alat bantu
salah satu Negara yang memiliki mikroskop.
keanekaragaman hayati tertinggi di Di alam jamur dapat ditemukan
dunia. Namun data mengenai pada berbagai habitat, seperti di
keanekaragan tersebut di Indonesia daratan, air dan udara (dalam bentuk
masih sangat terbatas, karena masih spora). Di lingkungan air, jamur dapat
banyak jenis-jenis organisme yang ditemukan di air tawar, seperti danau,
belum tereksplorasi, salah satunya kolam, dan sungai, serta di air asin
adalah jamur. terutama laut. Biasanya di dalam laut,
Jamur merupakan organisme jamur hidup menempel pada
eukariotik, berspora, tidak berklorofil, makroalgae dan karang-karang laut,
bereproduksi secara seksual dan atau pada benda-benda mati yang ada di
aseksual. Berdasarkan ukuran laut. Sifat hidup jamur ini di lingkungan
141
Prosiding Seminar Nasional, 2017

tumbuhnya, umumnya sebagai saprofit Diharapkan dari penelitian ini


dan sebagai kecil sebagai parasit. diperoleh isolat jamur yang potensial
Dalam kehidupan jamur dalam menghambat mikroba uji, dan
memiliki banyak manfaat, baik sebagai dapat dijadikan sebuah solusi untuk
bahan pangan yang banyak digunakan dikembangkan menjadi antibiotik
terutama dalam industri fermentasi, alternatif penganti antibiotik yang
juga sangat bermanfaat dalam bidang sudah tidak potensial.
kesehatan, terutama penghasil Berdasarkan latar belakang dan
antibiotik. Jamur berpotensi sebagai permasalahan di atas, maka dilakukan
penghasil antibiotik sudah lama penelitian ini dengan tujuan untuk
diketahui, bahkan sampai sekarang mengetahui potensi antimikroba dari
penelitian-penelitian yang berkaitan jamur yang di Isolasi dari tiga jenis
dengan pencarian antibiotik baru substrat berbeda di laut Kepulauan
penganti antibiotik-antibiotik yang Seribu terhadap pertumbuhan
sudah tidak potensial lagi, karena Staphylococcus aureus, Escherichia
banyaknya mikroba yang sudah resisten coli dan Candida albicans.
terhadap antibiotik tertentu tetap METODE
dikembangkan. A. Waktu Dan Lokasi Penelitian
Kemajuan ilmu pengetahuan Penelitian dilaksanakan di
dan teknologi telah memberikan banyak Kepulauan Seribu, Jakarta Utara dan di
manfaat bagi kehidupan manusia, tetapi Laboratorium Mikrobiologi dan Kimia
sangat disayangkan pengetahuan yang Laboratorium Terpadu Universitas
berkembang pesat ini, belum banyak Nasional, JL. Bambu kuning, Pasar
memanfaatkan salah satu sumber hayati minggu, Jakarta Selatan. Waktu
yang melimpah di Indonesia yaitu penelitian direncanakan pada bulan
jamur, khususnya jamur laut. Di Februari 2016
tengah-tengah kemajuan zaman ini, B. Alat dan Bahan Penelitian
keberadaan jamur laut masih belum 1. Alat
banyak diketahui. Potensi jamur laut Alat-alat yang digunakan dalam
sebagai antimikroba di Indonesia belum penelitian ini antara lain adalah oven,
digali secara mendalam. autoklaf, Laminar Air Flow, rotary
Urgensi Penelitian shaker, refrigerator, inkubator, kompor

142
Prosiding Seminar Nasional, 2017

portable, gelas piala, labu Erlenmeyer makroalga pada tiga titik di Kawasan
(Pyrex), cawan Petri (Pyrex), tabung Pulau Seribu. Untuk air laut di ambil
reaksi, rak tabung, pembakar Bunsen, langsung, kemudian dimasukkan ke
botol vial, gelas ukur, kain saring, pipet dalam botol steril. Untuk karang
volumetrik, vortex mixer, core borer dilakukan dengan cara, karang
(pembolong gabus), sentrifus, bulb, diambil secara aseptis, kemudian
gunting, jarum inokulasi, scalpel dan dipotong menggunakan pisau steril
penggaris. dan dimasukkan ke dalam botol
2. Bahan sampel berisi air laut steril. Untuk
Bahan-bahan yang digunakan Makroalga, sampel makroalga
adalah : air laut, makroalga dan karang diambil secara aseptis lalu
sebagai sampel mikrofungi, kertas dimasukkan ke dalam botol sampel
saring, plastik pembungkus, almunium berisi air laut steril. Semua sampel
foil, kapas, kertas label, koran, plastik, yang sudah diambil selanjutnya
korek api, swab, bakteri Staphylococcus dimasukkan ke dalam coolerbox dan
aureus dan Escherichia coli yang dibawa ke laboratorium untuk diuji
berasal dari Laboratorim Mikrobiologi, lebih lanjut.
Fakultas Biologi, Universitas Nasional, 2. Penelitian di Laboratorium
bahan sterilisasi etanol 70%, media a. Persiapan media pertumbuhan
MHA (Mueller Hinton Agar) media NA Media pertumbuhan yang
(Nutrient Agar), media PDA (Potato dipersiapkan antara lain :
Dextrose Agar) (Scharlau), antibiotik Nutrien Agar (NA) dan PDA
kloramfenikol 30µg, media PDB (Potato Dextrose Agar) untuk
(Potato Dextrose Broth), larutan Mc kultur mikroba uji, Muller
Farland 0.5, cakram kertas ukuran Hinton Agar (MHA) dan NaCl
diameter 6 mm (Scheeur), dan larutan untuk uji aktivitas antimikroba,
NaCl fisiologis 0,85 %. PDB (Potato Dextrose Broth).
C. Cara Kerja b. Sterilisasi bahan dan alat
1. Penelitian di Lapangan Bahan dan alat yang digunakan
Penelitian di lapangan dilaksanakan dalam penelitian ini terlebih
dengan melakukan pengambilan dahulu disterilisasi. Bahan-
sampel air laut, karang dan bahan seperti medium

143
Prosiding Seminar Nasional, 2017

pertumbuhan diterilisasi dengan Staphylococcus Aureus dan


menggunakan autoklaf pada Candida Albicans. Dilarutkan 1-
O
suhu 121 C selama ± 15 menit, 2 mL larutan mikroba uji ke
sedangkan alat-alat gelas seperti dalam larutan fisiologis (NaCl
cawan petri dan erlenmeyer 0,85%). Diseragamkan dengan
disterilisasi dengan menggunakan standar Mc
menggunakan oven pada suhu Farlan 0,5 (kepadatan mikroba
180OC selama 2 jam. 1,5 x 108) pada latar belakang
c. Isolasi jamur laut hitam dan cahaya terang.
Jamur laut yang ada dalam botol Dicelupkan swab steril ke dalam
sampel, kemudian dibiakkan mikroba uji dengan NaCl
pada media PDA, kemudian 0,85%, kemudian ditiriskan
dipindahkan ke media agar dengan cara ujung swab ditekan
miring dalam tabung reaksi. Di dan diputar-putar pada dinding
inkubasi pada suhu 37OC selama dalam tabung untuk membuang
24-48 jam. Kemudian di kelebihan cairan. Selanjutnya
pindahkan kembali ke dalam dioleskan swab tersebut ke
media PDA dalam bentuk padat permukaan agar sebanyak dua
dengan menggunakan jarum kali yaitu secara horizontal dan
inokulasi. Di inkubasi pada suhu vertikal agar pertumbuhan
37OC selama ± 1 minggu. mikrobs merata.
Dengan menggunakan core e. Pengujian aktivitas antimikroba
borrer hasil isolasi jamur di Uji aktivitas antimikroba
tanam ke dalam media PDB dan dilakukan dengan metode Difusi
di biarkan selama ± 9 hari. Cakram. Tiap-tiap cakram
Lakukan sentrifugasi untuk kosong dipanaskan dengan oven
mendapatkan cairan supernatan pada suhu 121OC selama 15
dari isolat mikrofungi tersebut. menit. Kemudian masing-
d. Persiapan bahan uji masing cakram dicelupkan ke
Mikroba uji yang digunakan dalam larutan supernatan hasil
untuk uji aktivitas antimikroba isolat mikrofungi. Cakram yang
ada 2 jenis, yaitu : berisi sampel didiamkan

144
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sejenak, kemudian diletakkan HASIL DAN PEMBAHASAN


pada media uji MHA. Antibiotik A. Isolat Jamur Laut Hasil Isolasi pada
kloramfenikol 30µg sebagai Beberapa Subtrat dari Kepulauan
kontrol positif disertakan untuk Seribu
masing-masing mikroba uji. Hasil isolasi isolat jamur laut pada
Cawan yang telah berisi cakram beberapa subtrat (air laut, makroalga
kertas, diinkubasi pada suhu dan karang lunak) dari empat laut di
37OC selama 18-24 jam, Kepulauan Seribu (Pulau Harapan,
diameter zona hambat yang Pulau Air, Pulau Karangbongko, dan
terbentuk di sekitar cakram Pulau Kotokbesar) dapat dilihat pada
diukur dengan menggunakan Tabel 1.
jangka sorong.
Tabel 1. Isolat Jamur Laut Hasil Isolasi pada Beberapa Subtrat di Kepulauan
Seribu.

Lokasi Subtrat Jumlah Kode Isolat


[Link] Air laut 3 S1Al1Kuning, S1Al2Putih, S1Al1Kuning
Makroalga 1 S1Ma2Putih
Karang Lunak 4 S1Kl1 Hitam, S1Kl1Biru, S1Kl1Kuning, S1Kl1Putih
P. Air Air Laut - - -
Makroalga 2 S2Ma1Putih, S2Ma1Hitam
Karang lunak 1 S2Kl1Hijau
[Link] Air Laut - -
Bongko Makroalga 2 S3Ma1Hijau, S3Ma1Putih
Karang lunak 2 S3Kl1Putih, S3Kl2Hitam
[Link] besar Air laut 1 S4Al1Hijau
Makro alga - -
Karang lunak 2 S4Kl1Abu-abu, S4Kl1Hitam
Jumlah 18
Keterangan: S = sampel Al = AirLaut
Ma = Makroalgae Kl = Karang lunak

Tabel 1. di atas memperlihatkan ditemukan pada masing-masing pulau


bahwa diperoleh sebanyak 18 isolat sangat bervariasi. Jumlah isolat jamur
jamur laut pada tiga subtrat yaitu air yang paling banyak ditemukan di Pulau
laut, makroalga dan karang lunak dari Pramuka yaitu sebanyak 8 jenis
empat pulau di Kepulauan Seribu isolat,sementara Pulau Karang Boko
(Gambar 1), namun jumlah yang sebenyak 4 jenis isolat, Pulau Air dan
145
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pulau Kotok Besar masing-masing hanya 3 jenis isolat.

Gambar 1. Isolat jamur hasil isolasi dari laut Kepulauan Seribu.

146
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Banyak jumlah jenis isolat yang sponge merupakan salah satu sumber
ditemukan di Pulau Pramuka kondisi senyawa farmakologis terkaya dari
lingkungan dan substrat tempat tumbuh lingkungan laut karena memproduksi
isolat jamur tersebut. Sebagaimana senyawa kimia beragam. Dhinakaran
yang sudah kita ketahui Pulau Pramuka dan Lipton (2012) sponge laut dikenal
merupakan pusat pemerintahan sebagai pabrik kimia karena ratusan
Kepulauan Seribu. Kantor senyawa kimia unik yang berhasil
pemerintahan, rumah sakit, bank dan diisolasi.
sekolah-sekolah mulai dari tingkat play Di laut selain ikan, karang dan
Grup sampai SLTA di temukan di pulau makroalgae juga ditemukan jamur laut,
ini. Keadaan ini tentunya sangat besar jamur laut ini pada umumnya hidup
pengaruhnya terhadap kondisi sebagai saprofit pada benda-benda yang
lingkungan laut yang ada di sekitarnya, ada dilaut, bahkan banyak yang bersifat
terutama yang berkaitan dengan limbah simbion pada organisme laut lainnya
yang terbuang atau sengaja dibuang ke seperti makroalga dan karang laut, dan
laut di kepulauan tersebut. Bila di lihat hanya sebagian kecil yang bersifat
dari segi positifnya, buangan limbah parasit.
tersebut mengandung nutrisi yang Keberadan jamur di laut apakah
merupakan sumber makanan bagi pada benda-benda di air laut, pada
organisme yang ada di laut, termasuk karang atau pada makroalga banyak
karang dan makroalgaenya. memberikan keuntungan bagi
Bila diperhatikan dari subtrat kehidupan, khususnya dalam bidang
tempat tumbuhnya (Tabel 1), isolat kesehatan sebagai penghasil metabolit
jamur yang paling banyak ditemukan sekunder. Samuel et al. (2011, dalam
adalah pada karang lunak, yaitu Losung dkk. 2015), tahun 2002-2004,
sebanyak 9 isolat. Thakur dan Muller dari jamur laut telah ditemukan 272
(2004), sponge memiliki senjata kimia produk alami baru dari jamur laut yang
defensif berupa metabolit sekunder memiliki potensi farmakologis.
sebagai perlindungannya terhadap B. Aktivitas Antibakteri Isolat Jamur
Laut Terhadap Bakteri
pesaing untuk pertumbuhan, infeksi,
Staphylococcus
predasi dan keracunan. Sagar et al. aureus dan Escherichia coli.
(2010); Kim dan Dewapriya (2012),

147
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Aktivitas antibakteri 18 isolat Staphylococcus aureus dan Escherichia


jamur laut terhadap bakteri coli ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan diameter zona hambat 18 isolat Jamur Laut Terhadap


Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

No Kode Isolat Rata-rata Diameter Zona Hambat (mm)


S. aureus [Link]
1 S1Al1Kuning 6,00 8,75
2 S1Al2Putih 6,50 6,00
3 S1Al1Kuning 9,25 8,25
4 S1Ma2Putih 7,00 6,00
5 S1Kl1Hitam 8,75 7,50
6 S1Kl1Biru 7,25 6,75
7 S1Kl1Kuning 7,25 7,75
8 S1Kl1Putih 7,00 7,00
9 S2Ma1Putih 7,00 8,50
10 S2Ma1Hitam 10,00 7,00
11 S2Kl2Hijau 8,25 7,25
12 S3Ma1Putih 8,25 9,25
13 S3Ma1Hijau 7,75 7,50
14 S3Kl2Hitam 7,50 7,50
15 S3Kl1Putih 6,00 7,00
16 S4Al1Hijau 7,00 7,50
17 S4Kl1Abu-abu 7,25 7,50
18 S4Kl1Hitam 8,00 9,50

Gambar 1. Rataan diameter zona hambat 18 isolat Jamur Laut Terhadap


Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

148
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 2 memperlihatkan hampir isolat isolat S3Ma1Putih dengan zona


semua isolat jamur hasil isolasi dari laut hambat 9,25 mm, isolat S1Al1Kuning
mempunyai kemampuan dalam dengan zona hambat 8,75, isolat
menghambat pertumbuhan bakteri S2Ma1Putih dengan zona hambat
[Link] dan [Link]. Kemampuan dari 8,50mm, dan isolat S1Al1Kuning dengan
isolat-isolat ini dalam menghambat zona hambat 8,25 mm.
bakteri uji disebabkan oleh metabolit KESIMPULAN DAN SARAN
sekunder yang dihasilkannya yang
bersifat antibakteri. Reddy et al. (2011, A. Kesimpulan

dalam Losung 2015), jumlah metabolit 1. Berdasarkan hasil penelitian yang

sekunder yang diisolasi dari jamur laut sudah dilakukan diperoleh

yang bersimbiosis dengan alga, sponge, sebanyak 18 isolat jamur laut pada

avertebrata lainnya dan sedimen tiga subtrat, yaitu air laut,

sebagai antibakteri, antijamur dan makroalga dan karang lunak dari

sitotoksik rata-rata 75% memiliki empat pulau di Kepulauan Seribu.

aktivitas biologis. Isolat terbanyak diperoleh dari

Kemampuan dari isolat-isolat karang lunak.

tersebut dalam menghambat 2. Hampir semua isolat jamur hasil

pertumbuhan bakteri uji sangat isolasi dari laut mempunyai

bervariasi. Isolat yang paling baik kemampuan dalam menghambat

dalam menghambat pertumbuhan pertumbuhan bakteri [Link] dan

bakteri [Link] adalah: isolat [Link].

S2Ma1Hitam dengan zona hambat 3. Isolat yang paling baik dalam

10,00mm, diikuti oleh isolat S1Al1Kuning menghambat pertumbuhan bakteri

dengan zona hambat 9,25mm, isolat [Link] adalah: isolat S2Ma1Hitam

S1Kl1Hitam dengan zona hambat dengan zona hambat 10,00mm,

8,75mm, isolat S2KL2hijau dan isolat diikuti oleh isolat S1Al1Kuning

S3Ma1Putih dengan zona hambat dengan zona hambat 9,25mm,

8,25mm. Sedangkan isolat yang paling isolat S1Kl1Hitam dengan zona

baik menghambat pertumbuhan bakteri hambat 8,75mm, isolat S2KL2hijau

[Link] adalah isolat S4Kl1Hitam dengan dan isolat S3Ma1Putih dengan zona

zona hambat 9,50mm, diikuti oleh hambat 8,25mm.

149
Prosiding Seminar Nasional, 2017

4. Isolat yang paling baik ontent/uploads/2011/09/pustak


a_unpad_staphylococcus.pdf.
menghambat pertumbuhan bakteri
UNPAD. [Diakses : 10
[Link] adalah isolat S4Kl1Hitam November 2015]
dengan zona hambat 9,50mm,
Kohlmeyer J, Kohlmeyer E . 1979.
diikuti oleh isolat isolat S3Ma1Putih Marine mycology: The Higher
Fungi. Academic Press,
dengan zona hambat 9,25 mm,
New York.
isolat S1Al1Kuning dengan zona
Letak geografis pulau pramuka:
hambat 8,75, isolat S2Ma1Putih
[Link]
dengan zona hambat 8,50mm, dan
Losung, F., R. A. Bara dan E. D.
isolat S1Al1Kuning dengan zona
Angkouw (2015). Isolasi
hambat 8,25mm. Antimikroba Dari Jamur yang
Bersimbiosis dengan Biota
B. Saran
Laut. Jurnal LPPM Bidang
Perlu dilakukan penelitian lebih Sains dan Teknologi Volume 2
Nomor 2 Oktober 2015
lanjut untuk mengetahui kandungan
metabolit yang dihasilkan isolat-isolat McConnell, OJ, Longley, RE, and
Koehn, FE. 1994. The
tersebut, dan melakukan uji
discovery of marine natural
antimikroba terhadap kelompok products with
therapeutic potential. In Gullo
mikroba lain.
V. P. (ed.) The Discovery of
DAFTAR PUSTAKA Marine Natural
Products With Therapeutic
[Link] Candidiasis. Potential. Boston,
[Link] Butterworth- Heineman.
13/05/[Link] [Diakses hal.109-174.
: 10 November 2015]
Noverita; R Widowati; Yulneriwarni
Bugni TS, Ireland CM. 2004. Marine- dan Darnely. 2008. Penuntun
derived fungi: A Chemically Praktikum Mikrobiologi.
and Biologically Diverse Jakarta: Fakultas Biologi
Group of [Link]. Universitas Nasional
Prod. Rep., 21:143-63.
Dinas Komunikasi, Informatika dan
Cowan, M., 1999. Plant Product as Kehumasan Pemprov DKI
Antimicrobial Agent, Clinical Jakarta (2010). Pulau
Microbiology Reviews, Pramuka.
12 (4), hal. 564-582. [Link] [ 21
November 2015]
Fitri Kusuma S.A. 2011. Makalah Pertiwi C. 2010. Isolasi Dan Uji Daya
Staphylococcus Aureus. Antibakteri Fungi Endofit
[Link] Mengkudu (Morinda

150
Prosiding Seminar Nasional, 2017

citrifolia). Jakarta : Fakultas


Biologi Universitas Nasional

Reddy, D.R.S., Audipudi, A.V., Reddy,


G.D., and Bhaskar, C.V.S.
2011. Antioxidant, Anti-
Inflammatory and Antifungal
Activity of Marine Sponge
Subergargoria suberosa-
Derived Natural Products.
Interna-tional Journal of
Pharm Tech
[Link].3,No.1, pp. 342-
348.

Sagar, S., Kaur, M., and Minneman,


K.P. 2010, Antiviral Lead
Compounds from Marine
Sponges Mar. Drugs 8, 2619-
2638.

Samuel, P., Prince, L., and Prabakaran,


P. 2011. Antibacterial Activity
of Marine Derived Fungi
Collected from South East
Coast of Tamilnadu, India. J.
Microbiol. Biotech. Res.1
(4):86-94

Vitianingrum F. 2010. Aktivitas


Antibakteri Dan Identifikasi
Isolat Fungi Endofit Hasil
Isolasi Dari Beberapa
Tumbuhan Obat Di Kawasan
Pusat Pendidikan Konservasi
Alam Bodogol (PPKAB)
Sukabumi, Jawa Barat. Jakarta
: Fakultas Biologi Universitas
Nasional

151
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KEANEKARAGAMAN JENIS AVIFAUNA DI HUTAN KOTA KRIDA LOKA


SENAYAN JAKARTA PUSAT

Avifauna Species Diversity in City Forest of Krida Loka


Senayan Central Jakarta

Ahmad Baihaqi1,2,3,4,5 , Tatang Mitra Setia1,2, Hendra Michael Aquan3,


Sarie Wahyuni3, Rosyid Nurul Hakiim5
1.
Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Biologi Universitas Nasional Jakarta
2.
Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta
3.
Transformasi Hijau
4
Biological Bird Club Ardea Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta
5
Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI
Email: baihaqifabiona5@[Link]

ABSTRACT

Development in Jakarta province has changed its ecosystem, among of them is reducing size of city green
open space (RTH). The urban green open space has been converted becoming skyscrapers. Those are typical
of urban problems that appears and may affect to the existence of avifauna in nature and it is interesting as
part of study. The study was conducted in September-October 2015. This study aims to explore diversity of
avifauna in City Forest of Krida Loka. In addition, it is also to know the food type (feeding guilds) of
encountered avifauna. A Visual Encounter Survey (VES) method was used, by exploring and count every
avifauna found in the pathways and in some parts of the city forest. Observations are divided into two
sessions, the first session was started at 06:00 to 9:00 AM, and the second session was at 03:00 to 06:00 PM.
The study found 28 avifauna species which consist of 22 families and 6 orders. Avifauna species diversity
index in Krida Loka City Forest is 2.53. Cave-Swiftlet (Collocalia linchi) was dominant, with index of
important value is 21.66%. Based on the similarity of the food type (feeding guilds), insectivores avifauna is
a group that has the largest percentage, with 21.66%. It shows that in the city forest the potential of insects
are abundant. Based on the status of international trade which is regulated by CITES, there are two types of
avifauna that falls into Appendix II. These are Lesser Bird-of-paradise (Paradisaea minor) and Red-breasted
Parakeet (Psittacula alexandri). Based on Law Number 5 of 1990 and Government Regulation Number 7 of
1999, there are 4 types of avifauna that have protected status, namely Collared Kingfisher (Todirhamphus
chloris), Brown-throated Sunbird (Anthreptes malacensis), Olive-backed Sunbird (Cinnyris jugularis) and
Lesser Bird-of-paradise (Paradisaea minor). In addition the study also identified two type of exotic avifauna,
such as Lesser Bird-of-paradise (Paradisaea minor) and Common Myna (Acridotheres tristis).

Keywords : Avifauna, city forest Krida Loka, green open, space species diversity.

PENDAHULUAN memiliki nilai tinggi, baik dari segi


Avifauna sebagai salah satu ekologi, ilmu pengetahuan, seni dan
kekayaan alam Indonesia, banyak rekreasi serta ekonomi. Sebagai salah
dijumpai hampir di setiap tempat, baik satu komponen ekosistem, avifauna
sebagai avifauna yang menetap maupun memiliki hubungan timbal balik dan
pendatang. Selain itu, avifauna saling ketergantungan dengan
merupakan sumber daya alam yang lingkungannya. Sampai saat ini,

152
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Indonesia diketahui memiliki sekitar pada Rencana Tata Ruang Wilayah


1.598 jenis avifauna yang pernah tercatat (RTRW) tahun 2000-2010 RTH Jakarta
atau sekitar 17% dari yang ada di dunia tersisa 13,94%. Berkurangnya luas RTH
(Wisnubudi, 2014). Jumlah jenis avifauna tersebut diperkirakan dapat
tersebut dapat berkurang jika ada mempengaruhi keberadaan avifauna di
perubahan lingkungan yang semakin alam hal tersebut merupakan masalah
memburuk. Salah satu kondisi perkotaan yang muncul sehingga
lingkungan yang sering mengalami mempengaruhi keberadaan avifauna di
perubahan adalah lingkungan perkotaan, alam dan menarik untuk diteliti.
seperti Jakarta. Menurut Wicaksono dkk. (2015)
Menurut Kristanto (2006) kota RTH adalah kawasan yang didominasi
Jakarta pada abad ke 14 tumbuh pertama oleh tumbuhan yang mempunyai fungsi
kalinya sebagai daerah perdagangan. untuk sarana konservasi sumber daya
Pelabuhannya terletak di muara kali alam hayati dan ekosistemnya dan untuk
Ciliwung yang dikenal dengan nama keindahan kota itu sendiri serta untuk
Sunda Kelapa. Awalnya, luas kota menunjang kelestarian udara, tanah dan
Jakarta hanya 6,1 ha kemudian air. Selain itu, RTH yang dipelihara
berkembang menjadi 65.000 ha. dengan baik dapat menunjang kehidupan
Pembangunan di provinsi DKI Jakarta satwa liar dan tumbuhan yang ada di
mengakibatkan perubahan ekosistem kota sekitarnya seperti avifauna. Hutan Kota
Jakarta, diantaranya semakin sebagai salah satu RTH dapat berperan
berkurangnya lahan Ruang Terbuka untuk keindahan, kesegaran, keteduhan,
Hijau (RTH). Berkurangnya RTH di kelestarian tanah dan air serta tempat
perkotaan karena dikonversi menjadi perlindungan satwa liar, termasuk
gedung pencakar langit. Terkait avifauna yang merupakan komponen
perubahan RTH tersebut, Kwanda (2004) vital dari hutan kota itu sendiri
mencatat bahwa Rencana Umum Tata (Kristanto. 2006). Selain fungsi di atas,
Ruang (RUTR) Jakarta tahun 1965-1985 hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai
menyatakan bahwa luas RTH kota adalah tempat laboratorium alam atau model
37% dari total luas Jakarta. Kemudian, kelas terbuka. Pengamatan yang
pada RUTR tahun 1985-2005 luas dilakukan ini adalah salah satu contoh
tersebut turun menjadi 25,82%. Terakhir pemanfaatan RTH sebagai sarana

153
Prosiding Seminar Nasional, 2017

pendidikan. Dengan cara mengajak


masyarakat umum melakuan pengamatan
avifauna di Hutan Kota Krida Loka.
Sepanjang pengamatan penulis, hingga
saat ini belum ada data penelitian satwa
liar khususnya mengenai avifauna di Gambar 1. Peta Kawasan Hutan Kota
Krida Loka Senayan
hutan kota ini. Jakarta Pusat.
Berdasarkan latar belakang di Pada kawasan Hutan Kota Krida Loka
atas, maka penelitian ini dilakukan terdapat pepohonan unik, seperti pohon
dengan tujuan untuk melihat kepel (Stelechocarpus burahol) dan
keanekaragaman jenis avifauna di Hutan angsana (Pterocarpus indicus) yang
Kota Krida Loka, Senayan, Jakarta Pusat. sudah jarang ditemui di kota Jakarta.
Selain itu, juga melihat kesamaan jenis Uniknya, rimbunan pohon sering
makanan (feeding guilds) dari jenis-jenis dijadikan tempat singgah avifauna
avifauna yang dijumpai. sehingga suasana alam semakin kental.
METODE Selain itu, di Hutan Kota Krida Loka juga
Waktu dan Lokasi Penelitian terdapat beragam pohon buah, seperti
Penelitian dilakukan pada Bulan pohon Ficus sp yang dimanfaatkan oleh
September-Oktober 2015 di Hutan Kota avifauna sebagai sumber pakan, tempat
Krida Loka, Senayan, Jakarta Pusat beristirahat, tempat bermain,
(Gambar 1). Hutan Kota Krida Loka bereproduksi, bersarang dan mengasuh
memiliki luas ± 0,9 ha dan berada di anak.
Jalan Stadion Senayan, Gelora Bung Alat dan Bahan
Karno, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Alat dan bahan yang digunakan dalam
Hutan kota ini juga sering dijadikan penelitian, antara lain buku panduan
sebagai tempat berolahraga warga lapangan Burung-burung di Sumatera,
maupun komunitas. Berdasarkan letaknya Jawa, Bali dan Kalimantan, alat tulis,
di tengah area terbangun kawasan tabulasi data, buku saku, binokuler, GPS
Senayan, maka hutan kota ini (Global Positioning System), jam digital
digolongkan sebagai habitat yang dan kamera.
terfragmentasi. Cara Kerja

154
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Metode yang digunakan adalah Visual jenis makan avifauna di setiap lokasi
Encounter Survey (VES). Setiap jenis (MacKinnon, 2010).
avifauna yang dijumpai di lokasi HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian dicatat dan dihitung Komposisi Jenis
jumlahnya. Selanjutnya, avifauna Jumlah jenis avifauna yang
diidentifikasi dengan menggunakan buku dijumpai di Hutan Kota Krida Loka,
panduan lapangan Burung-burung di Senayan, Jakarta Pusat tercatat sebanyak
Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. 28 jenis yang termasuk ke dalam 22 Suku
Pengamatan dibagi menjadi dua sesi, dari 6 bangsa (Gambar 2). Jumlah jenis
yaitu sesi pertama dimulai pada pukul avifauna yang terdapat pada lokasi
06.00 – 09.00 WIB dan sesi kedua pukul penelitian dipengaruhi oleh karakteristik
15.00 – 18.00 WIB. Penelitian dilakukan habitat, komposisi tumbuhan, luas
sebanyak 5 kali kunjungan. Disamping kawasan dan aktivitas manusia yang ada
itu, pengamat juga mencatat setiap jenis di sekitarnya (Wijiatmoko, 2007).
vegetasi yang terdapat pada lokasi Menurut Kristanto (2006) secara umum
penelitian. jumlah jenis avifauna akan meningkat
Analisis Data sesuai dengan luas habitat. Hal ini
Pada penelitian ini digunakan empat disebabkan karena habitat yang lebih luas
analisis data, yaitu: cenderung mempunyai ragam vegetasi
1. Komposisi Jenis, untuk mengetahui sumber pakan yang lebih banyak
tingkat kesamaan komposisi jenis dibandingkan habitat yang sempit.
antar jalur (Brower dkk., 1990).
2. Indeks Keanekaragaman Shannon-
Wiener, untuk mengetahui indeks
keanekaragaman jenis avifauna yang
terdapat di lokasi penelitian Gambar 2. Komposisi Jenis Avifauna
di Hutan Kota Krida Loka
(Magurran, 1988). Senayan Jakarta Pusat.
3. Dominasi, untuk melihat adanya jenis
Komposisi jenis avifauna di
avifauna yang mendominasi pada
Hutan Kota Krida Loka, Senayan dikaji
suatu jalur (Fachrul, 2012).
dari aspek status perdagangan dan status
4. Kesamaan Jenis Makanan (Feeding
perlindungan. Berbagai status jenis
Guilds), untuk mengetahu kesamaan

155
Prosiding Seminar Nasional, 2017

avifauna yang dijumpai di Hutan Kota termasuk jenis yang dilindungi


Krida Loka, Senayan termasuk dalam berdasarkan UU No.5 tahun 1990 dan PP
kategori yang bervariasi berdasarkan No. 7 tahun 1999.
status perdagangan mengacu kepada Dua jenis avifauna masuk ke
CITES (Convention on International dalam Appendiks II yaitu Cendrawasih
Trade in Endangered Species of Wild kuning (Paradisaea minor) dan Betet
Fauna and Flora) dan status biasa (Psittacula alexandri) (Gambar 3).
perlindungan mengacu kepada Peraturan Empat jenis avifauna masuk ke dalam
Republik Indonesia Undang-Undang No. Peraturan Republik Indonesia UU No. 5
5 tahun 1990 tentang Konservasi tahun 1990 dan PP No. 7 tahun 1999
Sumberdaya Alam Hayati dan (Sukmantoro et al, 2007), yaitu Cekakak
Ekosistemnya, serta Peraturan sungai (Todirhamphus chloris), Burung-
Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang madu kelapa (Anthreptes malacensis),
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Burung-madu sriganti (Cinnyris
Dari 28 jenis avifauna yang berhasil jugularis) dan Cendrawasih kuning
diamati, 2 jenis yang masuk ke dalam (Paradisaea minor) (Gambar 4).
Apendiks II CITES (jenis yang statusnya Dijumpai juga jenis avifauna yang
belum terancam tetapi akan terancam termasuk jenis eksotis, yaitu Cendrawasih
punah apabila dieksploitasi secara kuning (Paradisaea minor) dan Kerak
berlebihan) dan 4 jenis diantaranya ungu (Acridotheres tristis) (Gambar 5).

1 2

Gambar 3. Dua jenis avifauna yang masuk kedalam Appendix II yang dijumpai
di lokasi penelitian. (Foto: Panji [Link] Azis dan Ahmad Baihaqi)
1. Cendrawasih kuning (Paradisaea minor),
2. Betet biasa (Psittacula alexandri).

156
Prosiding Seminar Nasional, 2017

1 2

4
3

Gambar 4. Empat jenis avifauna yang masuk kedalam UU No. 5 tahun 1990 dan PP No. 7
tahun 1999 yang dijumpai di lokasi penelitian. (Foto: Ahmad Baihaqi dan
Panji [Link] Azis)
1. Cekakak sungai (Todirhamphus chloris), 2. Burung-madu kelapa
(Anthreptes malacensis), 3. Burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis),
4. Cendrawasih kuning (Paradisaea minor).

1 2

Gambar 5. Jenis avifauna yang termasuk jenis eksotis yang dijumpai di lokasi penelitian.
(Foto: Panji [Link] Azis dan Ahmad Baihaqi)
1. Cendrawasih kuning (Paradisaea minor), 2. Kerak ungu (Acridotheres tristis)

157
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Indeks Keanekaragaman Shannon-


Kesamaan Jenis Makanan (Feeding
Wiener
Guilds)
Indeks keanekaragaman jenis
Persentase kesamaan jenis
avifauna di Hutan Kota Krida Loka,
makanan (feeding guilds) avifauna
Senayan sebesar 2,53 (Gambar 6). Jenis
terbesar adalah kelompok avifauna
avifauna yang terdapat di lokasi
insektivora, yaitu sebesar 35%.
penelitian berada dalam kategori
Kelompok ini terdiri dari avifauna yang
keanekaragaman sedang. Hal ini sesuai
makanan utamanya adalah serangga dan
dengan indeks Keanekaragaman
jenis invertebrata lainnya. Hal tersebut
Shannon-Wiener, yaitu jika nilai H’ > 1,5
mengindikasikan bahwa di Hutan Kota
– 3,5 masuk dalam kategori sedang
Krida Loka, Senayan memiliki potensi
(Magurran, 1988).
serangga yang berlimpah sebagai sumber
Dominasi
pakan utama avifauna yang menghuni
Jenis avifauna yang mendominasi
habitat tersebut. Ada 28 jenis avifauna
di Hutan Kota Krida Loka, Senayan,
yang tercatat pada lokasi penelitian
Jakarta Pusat adalah burung Walet linchi
dikelompokkan berdasarkan kesamaan
(Collocalia linchi) dengan indeks nilai
jenis makanannya (feeding guilds).
penting 21,66% (Gambar 6). Hal ini
Terdapat 9 kategori berdasarkan
disebabkan karena aktivitas yang
kesamaan jenis makanannya
dilakukan avifauna tersebut dihabiskan
(MacKinnon, 2010), yaitu insektivora
untuk terbang dan sewaktu-waktu
(avifauna pemakan invertebrata,
dijumpai beraktivitas berkelompok dan
serangga, dan cacing/ I) ada 21 jenis,
dalam jumlah yang sangat banyak.
granivora (pemakan biji/ G) 7 jenis,
frugivora (pemakan buah/ F) 13 jenis,
nektarivora (penghisap nectar/ N) 2 jenis,
dan karnivora (predator/pemakan
vertebrata kecil dan ikan/ K) 1 jenis,
insektivora-frugivora (IF) 8 jenis,
karnivora-insektivora (KI) 1 jenis,
frugivora-granivora (FG) 5 jenis, dan
Gambar 6. Walet linchi (Collocalia linchi)
sedang beraktivitas terbang insektivora-nektarinivora (IN) 2 jenis.
(Foto: Ahmad Baihaqi).

158
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KESIMPULAN (Paradisaea minor) dan Kerak ungu


Komposisi jenis avifauna di (Acridotheres tristis).
Hutan Kota Krida Loka, Senayan, Jakarta UCAPAN TERIMA KASIH
Pusat tercatat sebanyak 28 jenis yang Terimakasih kepada relawan
termasuk ke dalam 22 Suku dari 6 komunitas Transformasi Hijau
Bangsa. Indeks keanekaragaman jenis di (TRASHI), Biodiversity Warriors
Hutan Kota Krida Loka, Senayan masuk Yayasan KEHATI, Biological Bird Club
ke dalam kategori sedang. Ardea Fakultas Biologi Universitas
Pengelompokkan avifauna berdasarkan Nasional, HSBC, Pengelola Hutan Kota
kesamaan jenis makanan (feeding guilds) Krida Loka, Senayan, Jakarta Pusat, dan
didominasi oleh kelompok avifauna Fajar Saputra [Link]
insektivora. Jenis avifauna yang DAFTAR PUSTAKA
mendominasi di Hutan Kota Krida Loka, Brower, JE., Jerrold, H Zar dan Carl N.
Von Ende. 1990. Field dan
Senayan adalah burung Walet linchi
Laboratory Methods for General
(Collocalia linci). Berdasarkan status Ecology. WM. C. Brown
Publisher. Dubuque.
perdagangan internasional yang diatur
oleh CITES, terdapat 2 jenis avifauna Fachrul, MF. 2012. Metode Sampling
Bioekologi. PT. Bumi Aksara.
yang dijumpai di lokasi penelitian yang
Jakarta.
masuk ke dalam Appendix II, yaitu
Kristanto, A. 2006. Kelimpahan dan
Cendrawasih kuning (Paradisaea minor)
Keanekaragaman Jenis Burung di
dan Betet biasa (Psittacula alexandri). Tiga Taman Kota di Jakarta.
Skripsi. Fakultas Biologi UNAS.
Berdasarkan UU No.5 Tahun 1990 dan
Jakarta.
PP No.7 Tahun 1999 terdapat 4 jenis
Kwanda, T. (2004). Pembangunan
avifauna yang berstatus dilindungi, yaitu
permukiman yang berkelanjutan
Cekakak sungai (Todirhamphus chloris), untuk mengurangi polusi
udara. DIMENSI (Journal of
Burung-madu kelapa (Anthreptes
Architecture and Built
malacensis), Burung-madu sriganti Environment), 31(1).
(Cinnyris jugularis) dan Cendrawasih
Mackinnon J, Phillips K and B. van
kuning (Paradisaea minor). Selain itu, Balen. 2010. Burung – burung di
Sumatera, Jawa, Bali, dan
dijumpai jenis avifauna yang termasuk
Kalimantan. Puslitbang Biologi –
jenis eksotis, yaitu Cendrawasih kuning LIPI/ BirdLife Indonesia.

159
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Magurran, AE. 1988. Ecology diversity Biologi Universitas Nasional.


and its Measurements. Princeton Jakarta.
University Press. New Jersey.
Sukmantoro W, Irham M, Novarino W, et Wijiatmoko,W. 2007. Penggunaan Strata
al. 2007. Daftar Burung Indonesia Tumbuhan Oleh Burung Di Tiga
No 2. Indonesia Ornitologists' Taman Kota Di DKI Jakarta.
Union, Bogor. Skripsi. Fakultas Biologi UNAS.
Jakarta.
Wicaksono, G., Baihaqi, A., Fahira, J.,
dkk. 2015. Burung-Burung di Wisnubudi, G. 2014. Ornitologi:
Ancol Taman Impian. Biological Pengenalan Burung. Fakultas
Bird Club “Ardea”. Fakultas Biologi Universitas Nasional,
Jakarta.

160
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KOMPOSISI KOMUNITAS DAN KEANEKARAGAMAN SPESIES BURUNG


PADA TIGA KAWASAN MANGROVE DAERAH PESISIR JAKARTA

Community Composition and Species Diversity of Bird in the Three Mangrove Areas
Coastal regions Jakarta

Imran SL Tobing1)2), Tatang Mitra Setia1), Jihan Fahira3)


1)
Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta
2)
Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam, UNAS
3)
Biology Bird Club, Fak Biologi UNAS

ABSTRACT

The mangrove ecosystem is an important habitat for birds; these ecosystems still exist in the coastal area of
Jakarta. Variations in habitat conditions and its position is based on its proximity to the beach can influence
the composition and diversity of bird species. This research was conducted in order to determine the level of
differences in the composition and diversity of bird species across three mangrove areas in Jakarta. The
research was conducted in October - December 2015 in three mangrove areas of Jakarta, namely Angke
Kapuk Protected Forest (AKPF), Muara Angke Wildlife Sanctuary (MAWS), and The Toll Sedyatmo
Mangrove Ecotourism area (TSME); using a combination of point count method and line transects method.
The results of the study to detect 54 species of birds; MAWS region (40 species) are richer than AKPF (34
species) and TSME (27 species); but the third area has the same community composition. Coastal mangrove
area of Jakarta is also inhabited by 12 species of protected birds, one species is listed in Appendix II of
CITES, and three species have a status on the IUCN with one species of which the status of Critically
Endangered; as well as two species of which are endemic in Java. Diversity index of birds in three regions
classified as "moderate", with relatively evenly community. The most dominant species of birds in TSME
and AKPF is cave swiftlet (Collocalia linchi), whereas in the MAWS is oriental darters or snake-birds
(Anhinga melanogaster). Furthermore, TSME region, more inhabited by birds are insectivores; whereas
AKPF and MAWS, more inhabited by birds that are piscivora-insectivores. The results of this study
illustrate that the mangrove area of Jakarta still has potential as habitat for birds; including protected species,
endangered and endemic species. It is hoped that the Jakarta Coastal mangrove areas are better managed;
because in addition to the biodiversity habitats including protected birds, endemic and threatened; is also very
important for the protection of the mainland Jakarta.

Keywords : Bird, composition, diversity, Jakarta, mangrove

PENDAHULUAN menjadikan burung tersebar secara


Indonesia merupakan negara kosmopolit; dapat hidup di berbagai
dengan kekayaan keanekaragaman hayati kawasan dengan berbagai tipe habitat;
tertinggi di dunia (Sukara dan Tobing, mulai dari kawasan tropis sampai kutub,
2008: Tobing, 2012), termasuk di mulai dari pantai sampai pegunungan,
dalamnya adalah kekayaan burung. dan dari hutan primer sampai perkotaan.
Bervariasinya jenis makanan, menjadikan Ekosistem mangrove merupakan salah
burung mampu memanfaatkan berbagai satu kawasan yang dimanfaatkan oleh
mikrohabitat dengan relung yang sangat burung sebagai habitat. Ekosistem
lebar. Kondisi seperti inilah yang

161
Prosiding Seminar Nasional, 2017

mangrove masih ditemukan di pesisir tumbuh di sebagian kecil di pematang-


Jakarta (Teluk Jakarta). pematang tambak.
Penelitian ini difokuskan pada tiga Suaka Margasatwa Muara Angke
kawasan mangrove, yang lokasinya sebagai kawasan konservasi mangrove,
secara berurutan mulai dari pantai ke arah yang seharusnya didominasi oleh pohon
daratan adalah kawasan Hutan Lindung pidada atau bidara (Sonneratia alba), api-
Angke Kapuk (HLAK), kawasan Suaka api (Avicenia marina), dan jangkar
Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan (Bruguiera sp), telah berubah, kondisinya
kawasan Ekowisata Mangrove Tol saat ini sebagian telah merupakan lahan
Sedyatmo (EMTS). Posisi kawasan dari rawa terbuka yang didominasi oleh herba
pantai dapat menjadi penyebab variasi seperti warakas (Acrostichum aureum)
kelimpahan burung-burung air; namun dan seruni (Wedelia biflora). Demikian
kondisi kawasan secara fisik maupun juga halnya dengan HLAK yang
kualitas habitat akan lebih menentukan berbatasan langsung dengan Teluk
keanekaragaman dan kelimpahan Jakarta vegetasi mangrove yang tumbuh
komunitas burung. telah relatif homogen, didominasi api-api
Berdasarkan kondisi vegetasi, (Avicennia sp), sedangkan bakau
SMMA masih lebih baik dibandingkan (Rhizoposa sp) hanya tumbuh di beberapa
dengan HLAK dan kawasan EMTS. area yang sempit. Salah satu keunikan
Namun demikian, ketiga kawasan ekosistem khas mangrove di kawasan
mangrove ini telah terdegradasi yang Muara Angke adalah adanya tumbuhan
tercermin dari kondisi fisik kawasan dan rotan (Calamus sp) yang spesifik pada
jenis-jenis tumbuhan dominan sebagai kawasan HLAK (BPLHD, 2011).
penyusun vegetasi. Kusmana (2013) Gradasi kondisi lingkungan antar
menjelaskan bahwa vegetasi mangrove ketiga kawasan mangrove sebagai habitat
yang tumbuh cukup masif hanya terlihat dapat berpengaruh terhadap komposisi
pada kawasan SMMA dan HLAK, dan keanekaragaman burung. Demikian
sedangkan di kawasan EMTS vegetasi juga posisi kawasan berdasarkan
mangrove yang dijumpai umumnya kedekatannya dengan pantai akan
adalah jenis Rhizopora sp. dengan mempengaruhi akses berbagai spesies
kelimpahan yang relatif sedikit yang burung dalam memanfaatkan habitat.
Berdasarkan kondisi kawasan, komunitas

162
Prosiding Seminar Nasional, 2017

burung secara teoritis akan lebih kaya di Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo,
kawasan SMMA dibandingkan dengan Jakarta Utara (Gambar Lampiran 1).
kawasan HLAK dan kawasan EMTS.
B. Instrumen penelitian
Selanjutnya berdasarkan posisi kawasan; Alat-alat yang digunakan pada
secara teoritis HLAK yang berbatasan penelitian ini adalah binokuler, jam digital,
langsung dengan pantai akan lebih kamera, alat ukur dan tali tambang 25 meter,
banyak dihuni oleh komunitas burung air buku saku, buku panduan lapangan Burung-
dibandingkan dengan SMMA dan EMTS. burung di Sumatera, Jawa, Bali dan
Namun demikian, belum diketahui Kalimantan (MacKinnon et al, 2010).
apakah kekayaan komunitas burung
C. Cara kerja
(komposisi dan keanekaragaman serta
Penelitian dilaksanakan dengan
kelimpahan populasi) lebih dipengaruhi
menggunakan kombinasi metode Point
oleh kualitas habitat atau oleh posisi
Count dan metode jalur (Line Transects
kawasan ?
Method). Jalur pengamatan menggunakan
Berdasarkan latar belakang di atas,
jalan setapak yang telah ada di setiap
penelitian ini memiliki tujuan untuk
kawasan penelitian. Titik pengamatan di
mengetahui ada/tidaknya perbedaan
sepanjang jalur berjarak 100 meter,
komposisi dan keanekaragaman jenis
dengan radius pengamatan di setiap titik
burung antar tiga kawasan mangrove di
adalah 25 meter; pengamatan di setiap
Jakarta. Hipotesis yang diajukan dalam
titik dilaksanakan selama 15 menit.
penelitian ini adalah terdapat perbedaan
Pengamatan dilaksanakan dalam
komposisi, keanekaragaman, dan
dua sesi pengamatan, yaitu antara pukul
kelimpahan jenis-jenis burung antar tiga
07.00 – 10.00 WIB dan antara pukul
kawasan mangrove di Jakarta.
14.00 – 17.00 WIB, yang merupakan

METODE selang waktu burung beraktivitas

A. Waktu dan lokasi penelitian terutama untuk mencari makan sehingga

Penelitian ini dilaksanakan pada lebih mudah terdeteksi. Parameter

bulan Oktober - Desember 2015, di tiga penelitian adalah spesies burung, jumlah

kawasan mangrove Jakarta yaitu, Hutan individu setiap spesies yang terdeteksi.

Lindung Angke Kapuk, kawasan Suaka D. Analisis data


Margasatwa Muara Angke, dan kawasan 1. Komposisi komunitas burung

163
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Komposisi komunitas adalah Ni : jumlah individu pada jenis ke-1


N : jumlah individu seluruh jenis
spesies burung penyusun suatu komunitas Kategori :
 H’<1,5 : rendah; berarti kestabilan
di suatu kawasan atau di suatu kondisi komunitas rawan;
 H’ = 1,5 – 3,5 : sedang; berarti
habitat tertentu; dinilai berdasarkan kestabilan komunitas moderat;
jumlah spesies, status (perlindungan)  H’ > 3,5) : tinggi; berarti kestabilan
komunitas baik.
spesies, dan kesamaan komunitas. 3. Indeks kemerataan
Analisis kesamaan komunitas dinilai Analisis ini dijadikan sebagai dasar
berdasarkan indeks similaritas Sorennsen untuk menilai terjadi / tidaknya
sebagaimana disebutkan oleh Odum ketimpangan populasi antar spesies
(1971); Brower et al., (1990) burung di suatu kawasan. Kemerataan
menggunakan persamaan, populasi komunitas burung pada suatu
kawasan dinilai berdasarkan indeks
2C
IS = X 100% kemerataan spesies (Magurran, 1988;
A+B
Magurran, 2004; Fachrul (2012) dengan
Keterangan: rumus,
o IS : Indeks kesamaan jenis (indeks
similaritas = IS)
o C : Jumlah spesies yang sama di kedua
habitat (A dan B)
o A : Jumlah jenis dalam habitat A Keterangan :
o B : Jumlah jenis dalam habitat B o E = indeks kemerataan (bernilai 0 – 1)
o H’ = indeks keanekaragaman Shannon-
Kategori (Brower et al, 1990) : Wiener
o IS ≥ 0,5 : komunitas adalah sama o S = jumlah jenis yang ditemukan
o IS < 0,5 : komunitas adalah berbeda
Kategori (Magurran, 1988; Magurran, 2004;
Fachrul, 2012)
2. Keanekaragaman jenis burung o E>0,5: populasi setiap spesies merata
o E≤0,5: populasi antar spesies tidak merata
Nilai indeks keanekaraaman burung
di setiap kawasan ditetapkan berdasarkan 4. Spesies paling dominan
Browner dan Zar (1977), Magurran Penilaian spesies burung yang
(1988), Gaines et al (1999), yaitu indeks relatif paling dominan, didasarkan pada
Shanon-Wiener dengan persamaan nilai indeks nilai penting (INP) yang
sebagai berikut: merupakan penjumlahan dari frekuensi
kehadiran dan kelimpahan (proporsi
H ' = -å pi ln pi
populasi).
Keterangan:
H’ : indeks keanekaragaman
INPi = FRi + KRi
Pi : ni/N
Ʃ Pi Fi
164 Fi = FRi = x 100%
ƩP ƩFs
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Perkemaahan Ragunan, Hutan Kota UI,


Keterangan :
Fi = Frekuensi spesies (i) dan kawasan Ciliwung. Jumlah spesies
Pi = Point (titik) ditemukan jenis (i)
P = Point (titik) pengamatan
yang ditemukan di kawasan mangrove
FRi = frekuensi relatif spesies (i) Jakarta juga lebih tinggi dari jumlah
Fs = frekuensi seluruh spesies
spesies yang dilaporkan oleh Nababan et
Ʃ ni
KRi = al (2015).di kawasan lahan basah Way
ƩN Pegadungan (46 jenis) Lampung Tengah.
Keterangan : Ardeidae merupakan suku yang
o KRi = Kelimpahan spesies (i)
o ni = Jumlah individu spesies (1) memiliki jumlah spesies terbanyak di
o N = Total individu burung
kawasan mangrove Jakarta, yaitu terdapat
11 spesies; dan 10 spesies diantaranya
HASIL DAN PEMBAHASAN
dapat ditemukan di kawasan SMMA.
A. Komposisi komunitas burung Banyaknya jumlah spesies dari suku
Hasil penelitian di tiga kawasan Ardeidae didukung oleh keberadaan
hutan mangrove Jakarta, terdeteksi 54 kawasan yang dekat dengan pesisir dan
spesies burung dari 22 suku (Tabel didukung oleh ekosistem mangrove serta
Lampiran 1). Jumlah spesies yang sumber pakan berupa ikan.
ditemukan masih lebih sedikit Ketiga kawasan masih mempunyai
dibandingkan dengan jumlah spesies komposisi komunitas burung relatif
burung yang ditemukan oleh Wicaksono seragam. Hal ini terbukti dari indeks
et al (2014) di kawasan Ancol Taman similaritas antar kawasan melebihi 50%;
Impian (59 jenis), karena di kawasan indeksi similaritas antara kawasan
Ancol Taman Impian ditemukan berbagai SMMA dan HLAK adalah 64,86%,
spesies burung perkotaan seperti layang- antara kawasan HLAK dan ETS adalah
layang dan kapinis yang tidak ditemukan 65,57, dan antara kawasan SMMA dan
di ketiga kawasan mangrove Jakarta. EMTS adalah 50,75%. Sesuai dengan
Namun demikian, jumlah spesies yang kriteria Brower et al., (1990) bahwa IS >
ditemukan masih lebih tinggi 50% menunjukkan kesamaan komposisi
dibandingkan berbagai kawasan hutan komunitas antar dua kawasan.
kota Jakarta, seperti yang dilaporkan Kesamaan komunitas burung dapat
Tobing et al (2015) di kawasan Taman terjadi karena ketiga kawasan merupakan
Patra Kuningan, Taman Suropati, Bumi ekosistem mangrove yang masih

165
Prosiding Seminar Nasional, 2017

berdekatan; sehingga masih dihuni oleh pantai dan burung rawa, maupun burung-
komunitas burung yang relatif sama. burung khas perkotaan.
Kawasan EMTS merupakan mangrove Komunitas burung di kawasan
yang tumbuh secara sporadik dan mangrove Jakarta ini, menjadi semakin
ditanam dengan teknik guludan; sehingga bernilai karena beberapa diantaranya
secara kualitas relatif lebih rendah mempunyai status konservasi. Selama
dibandingkan dengan kawasan HLAK pelaksanaan penelitian, ditemukan 12
dan kawasan SMMA, sehingga spesies yang dilindungi (UU No. 5 Tahun
komunitasnya relatif lebih miskin. 1990; PP No. 7 Tahun 1999), satu spesies
Namun demikian, kawasan EMTS juga tercantum dalam Appendix II CITES, dan
merupakan ekosistem mangrove dan 3 spesies mempunyai status dalam IUCN
lokasinya berdekatan dengan dua dengan 1 spesies diantaranya berstatus
kawasan mangrove lain; sehingga Kritis (Critically Endangered); serta dua
perbedaan kualitasnya belum cukup spesies diantaranya adalah endemik Jawa
untuk menjadi penyebab terciptanya (Tabel Lampiran 2).
perbedaan komposisi komunitas burung. Komunitas burung di kawasan
Kawasan penelitian, selain SMMA, tidak hanya lebih kaya dari segi
mempunyai ekosistem mangrove, juga kuantitas (40 spesies) dibandingkan
memiliki variasi vegetasi, berupa akasia, HLAK (34 spesies) dan EMTS (27
ketapang, bintaro dan nyamplung spesies), tetapi juga dari segi kualitas
sehingga masih banyak ditemukan dengan ditemukannya lebih banyak
burung khas perkotaan seperti gereja spesies dilindungi dan/atau spesies
erasia (Passer montanus) dan merbah endemik dan/atau spesies Appendiks II
cerukcuk (Pycnonotus goiavier). Kondisi CITES dan/atau spesies terancam punah
seperti ini juga erat kaitannya dengan (tercantum dalam “Red Data Book
lokasi ketiga kawasan yang masih dekat IUCN). Burung dengan status
dengan pusat kota, sehingga kawasan perlindungan yang ditemukan di SMMA
masih memungkinkan dimanfaatkan oleh terdiri dari 10 spesies, sedangkan di
burung untuk beraktivitas. Dengan HLAK ditemukan 8 spesies, dan di
demikian, kawasan mangrove ini menjadi EMTS hanya 6 spesies.
lebih kaya, yang dihuni oleh berbagai Burung endemik penghuni
spesies burung; baik burung-burung ekosistem mangrove Pesisir Jakarta yang

166
Prosiding Seminar Nasional, 2017

ditemukan dalam penelitian adalah, bubut termasuk spesies burung dilindungi


jawa (Centropus nigrorufus) merupakan sebagai habitat. Ketiga kawasan berada
burung endemik Jawa, dan jalak putih dalam lingkungan yang saling
(Sturnus melanopterus) merupakan berdekatan; sehingga ketiga kawasan
burung endemik Jawa, Bali dan Lombok akan saling mendukung dalam
(Mackinnon et al, 2010). Kedua spesies memperkuat fungsi ekologis kawasan,
burung ini, saat penelitian hanya berhasil yang pada akhirnya juga akan
dideteksi di kawasan SMMA (Gambar memelihara fungsi ekonomi kawasan
Lampiran 2). Jalak putih, selain telah Pesisir Jakarta.
dilindungi secara hukum (Indonesia) juga Bubut jawa dan jalak putih, bukan
merupakan spesies Appendiks II CITES merupakan burung yang habitatnya di air;
dan Red Data Book dengan status Kritis. namun kedua jenis burung endemik ini
Komposisi dan kekayaan burung di dapat ditemukan di ekosistem mangrove
ketiga kawasan memberi gambaran pesisir Jakarta karena kawasan ini
bahwa kawasan SMMA relatif lebih (termasuk kawasan SMMA) juga
penting sebagai habitat burung memiliki lahan terbuka. Vegetasi pada
dibandingkan kawasan HLAK dan lahan terbuka ditumbuhi banyak alang-
EMTS. Oleh karena itu, pengelolaan alang (Phragmites karka) dan nipah
kawasan SMMA sudah seharusnya lebih (Nypa fruticans), sehingga banyak
diprioritaskan dibandingkan dua kawasan terdapat serangga yang merupakan pakan
lainnya; apalagi status kawasannya utama dari kedua spesies burung tersebut.
(suaka margasatwa) yang memang lebih Kawasan terbuka dengan vegetasi
diperuntukkan sebagai habitat satwaliar. rumput yang dapat mendukung
Namun demikian, kawasan HLAK juga kehidupan kedua spesies burung endemik
terbukti sebagai habitat yang masih di habitat alaminya sangat terbatas;
diperlukan oleh burung; apalagi kawasan sehingga perkembangan populasinya juga
HLAK yang berada pada garis terluar akan terhambat. Selanjutnya, aktivitas
dari pantai teluk Jakarta juga berfungsi perburuan terhadap jalak putih dan bubut
secara fisik sebagai pelindung Jakarta. jawa, merupakan ancaman yang harus
Selanjutnya, kawasan EMTS yang diantisipasi oleh pengelola kawasan demi
merupakan habitat buatan ternyata tetap keberlanjutan populasinya di alam. Jalak
dapat dimanfaatkan oleh burung, putih merupakan satu diantara berbagai

167
Prosiding Seminar Nasional, 2017

spesies burung yang banyak diperjual adalah 2,85 di kawasan EMTS, 3,09 di
belikan sebagai hewan peliharaan; kawasan HLAK, dan 2,95 di kawasan
sedangkan bubut jawa dianggap SMMA. Indeks keanekaragaman jenis
mempunyai khasiat sebagai obat. pada tiga kawasan mangrove di Jakarta;
berada pada rentang 1,5 – 3,5, sehingga
B. Keanekaragaman jenis burung
berdasarkan kategori Magurran (1988);
Burung-burung yang hidup di
Magurran (1999), keanekaragaman jenis
ketiga kawasan mangrove Pesisir Jakarta
burung di ketiga kawasan tergolong
bervariasi dalam jenis penyusun
sedang. Hal ini memberi arti bahwa
komunitas maupun ukuran populasi
komunitas burung diketiga kawasan
setiap jenis burung. Jumlah jenis
mempunyai kestabilan populasi moderat.
terbanyak ditemukan di kawasan SMMA,
Selanjutnya, ketiga kawasan juga
diikuti oleh kawasan HLAK, dan
mempunyai nilai indeks memerataan
kawasan EMTS. Pada kawasan SMMA
mendekati 1 (melebihi 0,5), yaitu 0,66
ditemukan dua jenis dengan proporsi
pada EMTS dan 0,51 pada HLAK dan
populasi relatif menonjol (melebihi 10%),
SMMA. Sesuai kategori (Magurran,
yaitu pecuk ular asia (Anhinga
1988; Magurran, 1999; Fachrul, 2012)
melanogaster) dan cucak kutilang
nilai indeks kemerataan mendekati satu
(Pycnonotus aurigaster); sedangkan pada
memberi arti bahwa komunitas burung di
kawasan HLAK hanya ditemukan satu
ketiga kawasan mangrove Pesisir Jakarta
spesies relatif menonjol, yaitu walet
mempunyai populasi yang relatif merata.
linchi (Collocalia linchi), sementara pada
Ini mengindikasikan bahwa habitat
kawasan EMTS juga ditemukan dua
mampu memenuhi ketersediaan pakan
spesies dengan proporsi populasi relatif
burung sehingga kompetisi interspesifik
menojol, yaitu walet linchi (Collocalia
yang terjadi tidak terlalu tinggi.
linchi) dan burung gereja erasia (Passer
Kompetisi yang tinggi (kontes)
montanus). Jumlah jenis dan kemerataan
akan mengakibatkan kerugian bagi suatu
populasi setiap jenis ini akan berpengaruh
spesies, sehingga suatu spesies tertentu
terhadap indeks keanekaragaman jenis
akan dominan sedangkan spesies lainnya
burung di masing-masing kawasan.
akan tertekan. Namun, pada kawasan
Hasil analisis menunjukkan bahwa,
dengan sumberdaya bervariasi, seperti
indeks keanekaragaman jenis burung
halnya di ketiga kawasan ekosistem

168
Prosiding Seminar Nasional, 2017

mangrove Pesisir Jakarta, banyak di kawasan SMMA. Ini memberi arti


mikrohabitat yang dapat ditempati oleh bahwa sebagai mangrove, SMMA
berbagai spesies burung, mulai dari mempunyai kualitas lebih baik
kawasan pantai sampai kawasan terestrial dibandingkan dengan ekosistem
yang ditumbuhi oleh semak dan rumput; mangrove di dua kawasan lainnya.
sehingga kontes hanya terjadi dengan Asumsi ini diperkuat oleh kehadiran dua
frekuensi rendah. Hal ini tercermin dari jenis dari suku Ardeidae, yaitu blekok
variasi jenis-jenis burung penghuni, sawah (Ardeola speciosa) dan kokokan
bahkan jenis yang relatif dominan di laut (Butorides striatus) yang merupakan
ketiga kawasan (yang mempunyai INP dua dari lima spesies relatif dominan di
lebih besar dari 10%) (Tabel Lampiran 3) kawasan SMMA.
sebagian besar bukanlah burung-burung
C. Kesamaan jenis pakan
air.
Komunitas burung berdasarkan
Tiga jenis relatif dominan (dengan
pakan utama, di kawasan EMTS
INP > 10%) di kawasan Ekowisata Tol
disajikan pada Gambar Lampiran 4, di
Sediatmo, bukanlah burung-burung yang
kawasan HLAK pada Gambar Lampiran
habitat utamanya di air; demikian juga
5, dan di kawasan SMMA pada Gambar
dengan dua jenis dominan di HLAK.
Lampiran 6.
Jenis relatif dominan yang merupakan
Komunitas burung di kawasan
burung air hanya ditemukan di SMMA,
EMTS tertinggi ditemukan adalah
yaitu pecuk ular asia, blekok sawah, dan
kelompok burung insektivora (38,46%).
kokokan laut.
Hal tersebut terjadi karena kawasan
Secara umum dapat dilihat bahwa
EMTS telah banyak terjadi gangguan dan
spesies paling dominan di kawasan
lokasinya lebih jauh dari pantai sehingga
mangrove Pesisir Jakarta adalah walet
ketersedian ikan lebih sedikit dari pada
linchi (Collocalia linchi) dan pecuk ular
kawasan HLHK dan SMMA. Berbeda
asia (Anhinga melanogaster) (Gambar
dengan kawasan EMTS, kelompok
Lampiran 3). Wallet linchi merupakan
burung piscivora-insektivora merupakan
spesies paling dominan di kawasan
yang tertinggi di HLAK (42,42%) dan di
EMTS (INP = 23,10) dan pada HLAK
SMMA (37,50%). Hal ini terjadi karena
(INP = 23,89 %), sedangkan pecuk ular
kawasan SMMA, seperti halnya juga
asia merupakan spesies paling dominan

169
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kawasan HLAK; memiliki potensi ikan dominan di kawasan SM Muara


sebagai pakan utama burung, karena Angke.
lokasinya di wilayah pesisir sekaligus 5. Kawasan EM Tol Sedyatmo lebih
sebagai muara sungai. banyak dihuni kelompok burung
insektivora; sedangkan kawasan HL
KESIMPULAN DAN SARAN
Angke Kapuk dan SM Muara Angke
A. Kesimpulan lebih banyak dihuni kelompok
Berdasarkan penelitian yang telah piscivora-insektivora.
dilaksanakan, disimpulkan beberapa hal,
B. Saran
1. Komunitas burung di kawasan SM
Berdasarkan penelitian yang
Muara Angke lebih kaya dibandingkan
dilakukan, beberapa saran dapat
kawasan HL Angke Kapuk dan
dikemukan sebagai berikut:
kawasan EM Tol Sediatmo; ketiga
1. Kawasan mangrove Pesisir Jakarta
kawasan mempunyai komposisi
harus dikelola lebih baik; selain
komunitas burung relatif sama.
berfungsi untuk proteksi daratan, juga
2. Ekosistem mangrove Pesisir Jakarta
merupakan habitat keanekaragaman
masih dihuni oleh 12 spesies burung
hayati termasuk burung dilindungi,
dilindungi; dan satu diantaranya, yaitu
endemik dan terancam;
jalak putih (Sturnus melanopterus)
2. Bubut jawa (Centropus nigrorufus)
merupakan spesies terancam punah
merupakan burung endemik yang
dengan status “critically endangered”
seharusnya dilindungi, hanya ditemukan
dan hanya ditemukan di kawasan SM
di kawasan SM Muara Angke
Muara Angke
3. Pemanfaatan kawasan untuk
3. Keanekaragaman spesies burung di
ekowisata, terutama di kawasan
ketiga kawasan tergolong sedang
EMTS, harus dilakukan lebih
dengan kestabilan komunitas moderat.
profesional agar tidak menjadi
4. Wallet linchi (Collocalia linchi),
bumerang dalam konservasi.
merupakan spesies paling dominan di
kawasan EM Tol Sedyatmo dan HL
UCAPAN TERIMAKASIH
Angke Kapuk, dan pecuk ular asia
Terimakasih kepada Wakil Rektor bidang
(Anhinga melanogaster) paling
Penelitian, pengabdian kepada

170
Prosiding Seminar Nasional, 2017

masyarakat dan kerjasama merangkap Gaines WL, Harold RJ, Lehmkuhl JF.
1999. Monitoring biodiversity:
Ketua LPPM UNAS, Prof. Dr. Ernawati
quantification and interpretation. Gen.
Sinaga, [Link]. atas dukungan dana Tech. Rep. PNW-GTR-443. Portland,
OR: U.S. Department of Agriculture,
sehingga penelitian ini dapat berlangsung
Forest Service, Pacific Northwest
dengan baik. Demikian juga kepada Research Station. 27 p.
mahasiswa yang ikutserta dalam survey
Krebs CJ. 1985. Ecological
lapangan, terutama mahasiswa yang Methodology. Harper and Row
Publisher. New York.
tergabung dalam Biology Bird Club
Kusmana C, Niechi V, Dadan M. 2013.
Flora Mangrove Di Kawasan Hutan
DAFTAR PUSTAKA
Angke Kapuk Jakarta Utara, Provinsi
DKI Jakarta. Perpustakaan Nasional.
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan
Jakarta
Satwaliar. Yayasan Penerbitan
Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
MacKinnon, J. 1990. Panduan Lapangan
Pengenalan Burung-burung di Jawa
Badan Pengelola Lingkungan Hidup
dan Bali. Gajah Mada University
Daerah (BPLHD) DKI Jakarta. 2011.
Press. Yogyakarta
Status Lingkungan Hidup Daerah DKI
Jakarta 2011. Laporan Tahunan
Mackinnon J, Phillips K and B. van
Balen. 2010. Burung-burung di
Badan Pengelola Lingkungan Hidup
Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan.
Daerah (BPLHD) DKI Jakarta. 2014.
Puslitbang Biologi-LIPI/ BirdLife
Status Lingkungan Hidup Daerah DKI
Indonesia.
Jakarta 2014. Laporan Tahunan
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity
Brower JE, Jerrold H, Zardan CN, et al.
and Its Measurements. Princeton
1990. Field and Laboratory Methods
University Press, New Jersey
for General Ecology. WM C. Brown
Publisher, Dobuque
Magurran AE. 2004. Measuring
Biological Diversity. Blackwell
Browner dan Zar. 1977. Field and
Science Ltd., a Blackwell Publishing
Laboratory Methods for General
company.
Ecology. Brown Co Publisher, Iowa,
USA.
Nababan BRR, Setiawan A, Nurcahyani
N. 2015. Keanekaragaman jenis
Burung Indonesia. Indonesia Miliki 1666
burung di lahan basah Way
Jenis Burung dan Terkaya Jenis
Pegadungan Desa Rajawali
Endemis. [Link]. Diakses
Kecamatan Bandar Surabaya
pada tanggal 20 Agustus 2015
Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal
Sylva Lestari ISSN 2339-0913, Vol. 3
Fachrul MF. 2012. Metode Sampling
(1) : 71—80.
Bioekologi. PT. Bumi Aksara, Jakarta

171
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Odum EP. 1971. Fundamentals of


Ecology. W.B. Sounders Company
Ltd. Philadelphia.

Odum EP. 1993. Dasar-dasar Ekologi.


Universitas Gadjah Mada Press,
Yogyakarta.

Peterson RT. 1980. Burung. Pustaka


Alam Life, Tiara Pustaka, Jakarta.

Sukara E dan Tobing ISL. 2008.


Industri berbasis keanekaragaman
hayati, masa depan Indonesia. Vis
Vitalis Vol 01 (2) : 1 – 12.

Sukmantoro W, Irham M, Novarino W, et


al. 2007. Daftar Burung Indonesia No
2. Indonesia Ornitologists' Union,
Bogor

Tobing ISL. 2012. Biodiversitas


Indonesia: Modal Dasar
Pembangunan. Ilmu dan Budaya.
Edisi Khusus Proklamasi RI, h. 3017 –
3032.

Tobing ISL, Mangunjaya F, Setia TM,


Mulyana TM. 2015. Laporan Riset
Universitas Nasional untuk
Keanekaragaman Hayati Perkotaan.
Biodiversity Crisis Indonesia. Urban
Wildlife Jakarta. 2015

Welty JA. 1989. The Live of Bird. 3 th .


Philadelphia: Saunders Colledge
Publishing.

172
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel lampiran 1. Komparasi komunitas burung antar tiga kawasan mangrove di Jakarta.

NO NAMA JENIS SPESIES TS AK MA


Family : Alcedinidae
1. Cekakak jawa Halcyon cyanoventris Ü
2. Cekakak Suci Todirhamphus sanctus Ü
3. Cekakak sungai Todirhamphus chloris ü ü Ü
4. Raja udang biru Alcedo coerulescens ü ü
5. Raja udang meninting Alcedo meninting ü ü Ü
Family : Anatidae
6. Itik benjut Anas gibberifrons ü
Family : Anhingidae
7. Pecuk ular asia Anhinga melanogaster ü ü
Family : Apodidae
8. Wallet linchi Collocalia linchi ü ü ü
Family : Ardeidae
9. Bambangan coklat Ixobrychus eurhythmus ü
10. Bambangan hitam Dupetor flavicollis ü
11. Bambangan kuning Ixobrychus sinensis ü ü
12. Bambangan merah Ixobrychus cinnamomeus ü
13. Blekok sawah Ardeola speciosa ü ü ü
14. Cangak abu Ardea cinerea ü ü
15. Cangak merah Ardea purpurea ü ü
16. Kokokan laut Butorides striatus ü ü ü
17. Kowak malam abu Nycticorax nycticorax ü
18. Kuntul kecil Egretta garzetta ü ü
19. Kuntul kerbau Bubulcus ibis ü ü
Family : Artamidae
20. Kekep babi Artamus leucorhynchus ü ü
Family : Campephagidae
21. Sepah kecil Pericrocotus cinnamomeus ü
Family : Chloropseidae
22. Cipoh kacat Aegithina tiphia ü ü
Family : Columbidae
23. Pergam hijau Ducula aenea ü
24. Punai gading Treron vernans ü ü
25. Tekukur biasa Streptopelia chinensis ü ü ü
Family : Corvidae
26. Tangkar centrong Crypsirina temia ü ü
27. Gagak hutan Corvus enca ü
Family : Cuculidae
28. Bubut jawa Centropus nigrorufus ü

173
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Family : Dicaeidae
29. Cabai jawa Dicaeum trochileum ü ü ü

Family : Muscicapidae
30. Sikatan bubik Muscicapa dauurica ü ü
31. Sikatan emas Ficedula zanthopygia ü
32. Kipasan belang Rhipidura javanica ü ü ü
Family : Nectariniidae
33. Burung madu belukar Anthreptes singalensis ü
34. Burung madu sriganti Nectarinia jugularis ü ü
Family : Phalacrocoracidae
35. Pecuk padi hitam Phalacrocorax sulcirostris ü ü
Family : Picidae
36. Caladi tilik Picoides moluccensis ü ü ü
37. Caladi ulam Dendrocopos macei ü
Family : Ploceidae
38. Burung gereja erasia Passer montanus ü ü
39. Bondol peking Lonchura punctulata ü ü ü
Family : Pycnonotidae
40. Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster ü ü ü
41. Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier ü ü ü
Family : Rallidae
42. Kareo padi Amaurornis phoenicurus ü ü ü
43. Mandar batu Gallinula chlorop ü ü
44. Mandar besar Porphyrio porphyrio ü
45. Tikusan alis-putih Porzana cinerea ü
46. Tikusan merah Porzana fusca ü
Family : Scolopacidae
47. Trinil pantai Tringa hypoleucos ü
48. Trinil semak Tringa glareola ü
Family : Silviidae
49. Cinenen kelabu Orthotomus ruficeps ü
50. Cinenen pisang Orthotomus sutorius ü ü
51. Perenjak jawa Prinia familiaris ü ü
52. Remetuk laut Gerygone sulphurea ü ü
Family : Sturnidae
53. Jalak putih Sturnus melanopterus ü
54. Kerak kerbau Acridotheres javanicus ü ü ü

Ʃ Total 27 34 40
Keterangan : TS = Ekowisata Tol Sediatmo; AK = Hutan Lindung Angke Kapuk; MA = Suaka Margasatwa Muara Angke

174
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel Lampiran 2. Status perlindungan beberapa spesies burung yang ditemukan di tiga
kawasan mangrove di Jakarta.

KAWASAN
NO. JENIS STATUS EMTS HLAK SMMA

1. Bubut jawa (Centropus nigrorufus) VU √


2. Burung madu belukar (Anthreptes singalensis) D √
3. Burung madu sriganti (Nectarinia jugularis) D √ √
4. Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) D √
5. Cekakak suci (Todirhamphus sanctus) D √
6. Cekakak sungai (Todirhamphus chloris) D √ √ √
7. Jalak putih (Sturnus melanopterus) D,II,CR √
8. Kipasan belang (Rhipidura javanica) D √ √ √
9. Kuntul kecil (Egretta garzetta) D √ √
10. Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) D √ √
11. Pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) D,NT √ √
12. Raja udang biru (Alcedo coerulescens) D √ √
13. Raja udang meninting (Alcedo meninting) D √ √ √
Total 6 8 10
Keterangan : D = Dilindungi; II = Appendix II CITES; NT = Near Threatened; VU = Vulnerable; CR = Critically Endangered
EMTS = Ekosistem Mangrove Tol Sediatmo; HLAK = Hutan Lindung Angke Kapuk;
SMMA = Suaka Margasatwa Muara Angke

Tabel Lampiran 3. Jenis-jenis burung paling dominan berdasarkan INP (> 10%) di tiga
kawasan mangrove di Jakarta.

No Suku Nama Jenis TS AK MA


1 Anhingidae Pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) 19,18
2 Apodidae Wallet linchi (Collocalia linchi) 23,10 23,89 12,08
3 Ardeidae Blekok sawah (Ardeola speciosa) 11,44
4 Kokokan laut (Butorides striatus) 16,25
5 Columbidae Punai gading (Treron vernans) 12,13
6 Ploceidae Burung gereja erasia (Passer montanus) 19,16
7 Pycnonotidae Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier) 11,26 10,80
Keterangan : TS = Ekosistem Mangrove Tol Sediatmo; AK = Hutan Lindung Angke Kapuk; MA = Suaka Margasatwa Muara Angke

175
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian di Tiga Hutan Mangrove Jakarta.


Keterangan : (a) Hutan Lindung Angke Kapuk
(b) Suaka Margasatwa Muara Angke
(c) Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo

Gambar Lampiran 2. Burung jenis endemik yang ditemukan di kawasan mangrove Jakarta.
Keterangan : Kiri : jalak putih (Sturnus melanopterus) dan
Kanan : bubut jawa (Centropus nigrorufus)

176
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar Lampiran 3. Dua spesies dengan dominansi relatif paling tinggi di tiga kawasan
mangrove Pesisir Jakarta.
Keterangan : A : wallet linchi (Collocalia linchi );
B : pecuk ular asia (Anhinga melanogaster)

Gambar Lampiran 4. Kesamaan Jenis Makan (feeding guilds) Burung di Ekowisata


Mangrove Tol Sedyatmo (EMTS).

Gambar Lampiran 5. Kesamaan Jenis Makan (feeding guilds) Burung di Hutan Lindung
Angke Kapuk (HLAK)

177
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar Lampiran 6. Kesamaan Jenis Makan (feeding guilds) Burung di Suaka Margasatwa
Muara Angke (SMMA)

178
Prosiding Seminar Nasional, 2017

ANALISIS HABITAT PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata) DI PULAU


KAYU ANGIN BIRA TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU
DKI JAKARTA

Habitat Analysis of Hawksbill Sea Turtle (Eretmohelys imbricata) on Kayu Angin Bira
Island Thousand Island Natinal Park DKI Jakarta

Nadia Putri Rachma, Aulia Putri Sundari, Fauzan Cholifatullah


Kelompok Studi Penyu Laut “Chelonia”, Fakultas Biologi Universitas Nasional
nadiaputrir@[Link], auliaptrs@[Link], fauzankhalifa@[Link]

Abstract

Hawksbills Sea Turlte are one type of the family Cheloniidae which populations are currently declining so
that its status is endangered (threatened) according to the IUCN Red List. One of the factors that can affect
the population of sea turtle habitat, like the feeding ground. Foods for hawksbills (Eretmochelys imbricata)
is a seagrass, makroalgae, gastropods, and others. This research was conducted on the Kayu Angin Bira
island, Thousand Islands National Park, DKI Jakarta, data retrieval is done with an inventory with
Quadratic method to list the types of makroalga and gastropods, and the flatness of the beach to see the
condition of the Kayu Angin Bira island. From 3 Division of makroalgae was found 10 different species of
makroalgae and species with the highest Importance Value Index value is station 1 of Padina australis with
the value 199.03 and at station 2 is 175.13. In addition, there are 20 varieties of gastropods found and 2 type
with a value of highest IVIat station 1 is Euspira pulchella with 133.13, IVI’s value station 2 of gastropod
that dominates is the Caliostoma gloriosum with 57.79. The value of the slope of the Beach Station 1 is
0.59%, Station 2 is 7.69% and station 3 was 3.09%. Not found the presence of seagrass ecosystems in these
waters, less various types of feed and the percentage of the slope of the beach that is large enough to make
the island is said to be less suitable as a habitat for hawksbills.

Keywords : Gastropods, habitat, hawksbill sea turtle, Kayu Angin Bira Island, macroalgae

PENDAHULUAN mydas), penyu sisik (Eretmochelys

Indonesia merupakan negara imbricata), penyu lekang (Lepidochelys

kepulauan dengan 70 % terdiri dari laut olivacea), penyu pipih (Natator

dan terdiri dari 15.508 pulau serta depressus), penyu tempayan (Caretta

memiliki sumberdaya hayati yang tidak caretta), penyu belimbing (Dermochelys

ternilai. Perairan Indonesia merupakan coriacea) sedangkan penyu kempi

wilayah yang unik di dunia, dimana (Lepidochelys kempi) hanya ditemukan di

wilayah pesisir dan lautan Indonesia perairan Florida dan laut Meksiko

memiliki letak geografis yang strategis. (Dahuri, 2003).

Di dunia terdapat tujuh jenis penyu, enam Penyu telah mengalami

jenis di antaranya terdapat di perairan penurunan jumlah populasi dalam jangka

Indonesia, yaitu penyu hijau (Chelonia waktu terakhir ini bahkan beberapa

179
Prosiding Seminar Nasional, 2017

spesies terancam kepunahan. Di dapat mencegah punahnya habitat penyu,


habitatnya, penyu-penyu yang baru mencegah adanya pemanfaatan penyu
menetas menghadapi ancaman kematian demi kepentingan komersial seperti
dari hewan-hewan seperti kepiting, penjualan telur, daging, maupun
burung dan reptilia lainnya seperti cangkang.
biawak. Selain itu, ancaman yang paling Taman Nasional Laut Kepulauan
besar bagi penyuadalah manusia. Seribu (TNLKpS) adalah salah satu
Telurnya dijual dan dikonsumsi oleh kawasan pelestarian alam di Indonesia
masyarakat, sedangkan sisiknya memiliki terletak di utara Jakarta yang secara
nilai ekonomis yang tinggi. Sisiknya administratif berada di wilayah
diolah menjadi hiasan atau cinderamata Kecamatan Kepulauan Seribu Utara,
yang memiliki harga yang mahal Kabupaten Administrasi Kepulauan
(Mulyono,2000). Seribu, DKI [Link] TNLKpS
Status keterancaman penyu selain merupakan habitat bagi penyu sisik
disebabkan karena perdagangan secara (Eretmochelys imbricata) yang dilindungi
ilegal, pakan penyu di habitatnya dan keberadaannya cenderung semakin
semakin menipis akibat tercemarnya air langka. Salah satunya adalah pulau Kayu
laut, eksploitasi serta abrasi pantai. Penyu Angin Bira yang terletak pada koordinat
sisik dewasa merupakan satwa pemakan 5°37'00" LS 106°33'36" BT yang masuk
segala (omnivora), penyu sisik memiliki ke dalam Zona Inti III yang merupakan
bentuk kepala dan paruh yang meruncing tempat perlindungan penyu sisik dan
untuk memudahkan mencari makanan di ekosistem terumbu karang (BTNKpS,
celah-celah terumbu karang. Pakan utama 2015). Menurut data Balai Taman
penyu sisik adalah spons laut, ubur-ubur, Nasional Kepulauan Seribu (2015) pada
alga, beberapa jenis udang, gastropoda tahun 2012 didapatkan 2 sarang dengan
dan lamun. Ekosistem laut dangkal dari jumlah telur 2013 butir dan pada 2014
padang lamun dan alga memiliki peranan kembali ditemukan 1 sarang penyu
penting bagi habitat biota laut yang dengan jumlah telur sebanyak 175 butir.
menjadi tempat mencari makan (feeding Pada kawasan TNKpS terdapat
ground) bagi echinodermata, gastropoda, beberapa jenis gastropoda yaitu Ceritium
ikan dan penyu. Konservasi merupakan zonatum, Conus ebraus, Polinices
salah satu kegiatan yang diharapkan tumidulus, Nerita histrio (Sudrajat,

180
Prosiding Seminar Nasional, 2017

2016). Selain itu, kawasan tersebut juga pulau Kayu Angin Bira, Kepulauan
ditumbuhi 7 jenis lamun dan 18 jenis Seribu DKI Jakarta.
alga. Jenis lamun yang dapat METODE
teridentifikasi, yaitu Thalassia Tempat dan Waktu Penelitian
hemprichii, Cymodocea rotundata, Penelitian dilaksanakan di Pulau
Cymodocea serrulata, Enhalus Kayu Angin Bira yang berada dalam
acoroides, Halophila ovalis, Syringodium kawasan zona inti Taman Nasional Laut
isoetifolium, Halodule uninervis Kepulauan Seribu Jakartadengan 2
sedangkan jenis alga dibagi ke dalam tiga stasiun yaitu bagian utara dan bagian
kelompok, yaitu alga hijau (Chlorophyta) barat [Link] ini dilaksanakan
seperti Caulerpa racemosa, Halimeda pada tanggal 6 – 8 November 2016.
macroloba, Halimeda laccunalis, Ulva Pengambilan data dilakukan pada pagi
lactuca, Boergesenia forbesii, Neomeris hari jam 08.00-17.00 WIB.
annulata, alga coklat (Phaeophyta) 1. Peralatan Penelitian
seperti Padina australis, Sargassum Alat- alat yang digunakan dalam
binderi, Sargassum cinerium, Turbinaria penelitian ini adalah alat dasar
conoides, Acanthopora spicifera dan alga snorkeling, plot kuadrat ukuran 1 x 1
merah (Rhodophyta) seperti Gracillaria meter, roll meter, alat tulis, kertas
salicornia, Hypnea asperi, Laurencia newtop, salinorefraktometer, termometer,
nidifica dan Galaxaura sp. (Rohmanita, buku identifikasi makroalga “Pengenalan
2016). Makroalga Indonesia”, Buku identifikasi
Berdasarkan latar belakang diatas gastropoda “Assessing Tropical Marine
maka dilakukan penelitian yangbertujuan Invertebrates”,dan tali raffia.
untuk menelaah faktor fisik dan biologi 2. Cara Kerja
di habitatpeneluran dan habitat laut, 3.1. Pengambilan data lamun,
kelimpahan alga, gastropoda dan lamun makroalga dan gastropoda
sebagai pakan dari penyu sisik Metode yang digunakan dalam
(Eretmochelys imbricata) di pulauKayu penelitian ini adalah metode sampling
Angin Bira, Kepulauan Seribu DKI dengan plot kuadrat untuk pengambilan
Jakarta. Hipotesis yang diajukan terdapat data lamun dan makroalgaagar diketahui
kelimpahan jenis makroalga, lamun dan persentase kondisi tutupan substrat dan
gastropoda sebagai pakan penyu sisik di inventarisasi gastropoda.

181
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pengambilan data dilakukan pada kelandaian suatu pantai. Untuk metode


saat air laut surut dengan metode transek kelandaian pantai diambil ketika pasang
kuadrat yang dibuat tegak lurus garis tertinggi di pagi haridengan cara
pantai ke arah tubir dengan panjang 100 mendirikan 2 tongkat dengan panjang 1.5
meter yang diletakkan plot berukuran 1 x meter lalu dibentangkan tali dari vegetasi
1 m sebanyak 10 plot posisi berselang terakhir sampai air pasang tertinggi
seling dengan jarak interval setiap plot kemudian tongkatyang berada di vegetasi
yaitu 10 meter seperti yang terlihat pada terakhir diikat tali rafia 10 centimeter dari
gambar 1. Semua jenis makroalgadan ujung tongkat yang ditanam tanah lalu
gastropoda yang ditemukan dalam plot dibentangkan tali rafiaditarik sebisa
dihitung jumlah jenis dan individunya. mungkin ke sisilain dibuat tegak lurus
Untuk jenis makroalga yang belum lalu dihitung berapa jarakdari tali ke pasir
diketahui diambil spesimennya, setelah itu menghitung berapa jaraksisi
dimasukan kedalam plastik untuk lain ke sisi lainnya kemudian hitung
diidentifikasi lebih lanjut. Seperti berapa langkah dari satu tongkat ke
makroalga, jenis-jenis gastropoda yang tongkat lainnya.
dihitung hanya gastropoda yang masuk
kedalam plot penelitian, kemudian
dihitung jumlah jenis dan jumlah
individunya. Apabila ada jenis yang
belum diketahui, diambil sampelnya 3. Analisis Data
kemudian diidentifikasi. Analisis data yang dilakukan untuk
Pengukuran parameter lingkungan menghitung komposisi dan dominansi
dilakukan di sekitar stasiun pengambilan lamun, makroalga dan gastorpoda
data. Parameter fisika yang diukur yaitu, adalah sebagai berikut :
suhu menggunakan termometer dan a. Frekuensi
salinitas dengan salino refraktometer. Frekuensi Jenis (F), yaitu peluang
3.2. Pengambilan data kelandaian suatu jenis ditemukan dalam titik
pantai sampel yang diamati. Frekuensi
Metodeyang digunakan dalam jenis sebagai berikut :
pengambilan data kelandaian pantai yang
dilakukan untuk mengukur persentase

182
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Keterangan : d. Kerapatan Relatif (KR)


Fi = Frekuensi jenis ke-i Kerapatan Relatif yaitu
Pi = jumlah petak sampel tempat perbandingan antara jumlah
ditemukan jenis ke-i individu jenis dan jumlah total
∑ P = Jumlah total petak sampel individu seluruh jenis. Kerapatan
yang diamati Relatif dapat dihitung dengan
b. Frekuensi Relatif (FR) rumus :
Frekuensi relatif yaitu
perbandingan antara frekuensi
jenis ke-i (Fi) dengan jumlah Keterangan :

frekuensi untuk seluruh jenis KR = Kerapatan Relatif

yang dihitung dengan rumus ni = Jumlah individu ke-i


∑ n = Jumlah individu untuk
seluruh jenis
Keterangan : e. Indeks Nilai Penting
FR = Frekuensi Relatif Indeks Nilai Penting adalah jumlah
Fi = Frekuensi Jenis ke-i nilai, frekuensi relatif jenis
∑ F = Jumlah frekuensi untuk (RF)kerapatan relatif jenis (KR) dan
seluruh jenis dominansi relatif (DR)
c. Kerapatan INP = FR + KR + DR
Kerapatan Jenis (Ki), yaitu
jumlah total individu jenis dalam HASIL DAN PEMBAHASAN
suatu unit area yang diukur yang Pulau Kayu Angin Bira merupakan
dapat dihitung dengan rumus ( salah satu pulau yang masuk ke dalam
Brower et.,al 1989): kawasan zona inti Taman Nasional
Kepulauan Seribu. Pulau ini merupakan
salah satu habitat penyu sisik
Keterangan :
(Erethmocelys imbricata).Pengambilan
Ki = Kerapatan jenis ke-i
data untuk lamun, makroalga dan
ni = Jumlah total individu dari
gastropoda dilakukan di bagian utara dan
jenis ke-i
barat pulau, dan pengambilan data untuk
A = Luas area total pengambilan
kelandaian pantai dilakukan di sepanjang
sampel (m2)

183
Prosiding Seminar Nasional, 2017

garis [Link] jenis, distribusi, dan individu terdiri dari 5 spesies dari divisi
komposisi makroalga, kelandaian pantai Chlorophyta, 2 jenis dari divisi
kawasan pulau Kayu Angin Bira juga Phaeophyta dan 3 jenis dari divisi
diamati dengan melakukan pengukuran Rhodophyta(Lampiran. 1).
dasar kualitas perairan, seperti yang Pada komunitas makroalga di pulau
tertera pada Tabel 1 berikut ini. Kayu Angin Bira, dari kelas Chlorophyta
Tabel 1. Pengukuran Dasar Kualitas yang ditemukan paling banyak adalah
Perairan Pulau Kayu Angin Bira.
dari jenis Halimeda macroloba yang
Temperatur
thallusnya mengandung [Link] ini
Stasiun (°C) Ph Salinitas
cukup mendominasi karena habitatnya
1 33°C 7 39/1.029 yang menempel di substrat
2 33°C 7 38/1.028 [Link] (Tjitrosoepomo,1998;
Bachtiar, 2007; Sulisetijono, 2009),
perairan dangkal dan jernih memudahkan
A. Komposisi Lamun, Makroalga
dan Gastropoda. cahaya matahari untuk masuk ke dalam
air sehingga proses fotosintesis yang
Hasil dari pengambilan data habitat di
dilakukan oleh makroalga dari divisi ini
pulau Kayu Angin Bira di mana
dapat berlangsung dengan baik
dikelilingi oleh hamparan terumbu
Lalu dari kelas Phaeophytayang
karang dan memiliki kontur perairan
mendominansi adalah jenis Padina
dangkal dengan jarak yang cukup pendek
australis dengan jumlah individu dikedua
yaitu hanya 60 meterdari bibir pantai
stasiun sebanyak 141 individu. Hal ini
hingga tubir. Stasiun pengambilan data
disebabkan karena substrat yang ada di
dilakukan di bagian utara dan barat pulau
pulau Kayu Angin Bira berupa pasir dan
karena memiliki hamparan pasir yang
bebatuan dan jenis ini menempel pada
cukup luas dibandingkan dengan bagian
substrat bebatuan dan patahan karang
timur dan selatan pulau yang selebihnya
[Link] Romimohtarto dan Juwana
berupa hamparan tebing-tebing karang
(2009), Phaeophyta adalah makroalga
yang curam.
khas yang dapat tumbuh dengan substrat
Dari keseluruhan 2 stasiun
berbatu.
pengamatan tidak ditemukan adanya
Terakhir dari kelas
komunitas lamun. Untuk komposisi
Rhodophytabiasanya tumbuh pada jenis
komunitas makroalga didapatkan 322

184
Prosiding Seminar Nasional, 2017

substrat pecahan karang dan pasir (Kadi, alvarezii, Halimeda laccunalisdan


2004). Dari kelas ini, jenis yang paling Acantophora muscoidesdengan nilai
mendominasi adalah Acantophora frekuensi jenis sebesar 10. Sedangkan di
spicifera karena jenis ini menempel pada stasiun 2 jenis makroalga yang
jenis substrat bebatuan sama seperti mempunyai nilai frekuensi yang paling
Padina australis. tinggi yaitu Padina australis dengan nilai
Pada Lampiran 3 dan 4, frekuensi sebesar 80 dan jenis makroalga
memperlihatkan bahwa makroalga yang yang mempunyai nilai frekuensi paling
mendominasi menurut Indeks Nilai rendah yaitu jenis Caulerpa
Penting (INP) di stasiun 1 adalah dari racemosadengan nilai frekuensi sebesar
jenis Padina australis dengan nilai 10.
199,03 dan Halimeda macroloba dengan Kepadatan tertinggi makroalga di
nilai INP sebesar 102,27. Pada stasiun 2 stasiun 1 adalah jenis Padina australis
spesies makroalga yang mendominasi dengan nilai kerapatan sebesar 51,08 dan
adalah menirit INP adalah Padina kepadatan terendahnya adalah
australis dengan nilai 175,13dan jenisDictyopteris australis, Euchema
Neomeris annulata dengan nilai INP alvarezii, Halimeda laccunalisdan
sebesar 95,56. Acantophora muscoides dengan nilai
Frekuensi relatif di kedua stasiun di kepadatan 0,72. Sedangkan di stasiun 2,
pulau Kayu Angin Bira menunjukan kepadatan tertinggi berasal dari jenis
tingkat keseringan muncul jenis Padina australis dengan nilai 34,97 dan
makroalga yang ditemukan di kedua yang terendah adalah Caulerpa racemosa
stasiun [Link] jenis makroalga dengan nilai kepadatan 2,73.
di Pulau Kayu Angin Bira dapat dilihat Tingginya kerapataan Padina
pada Tabel Lampiran 1 dan 2. Jenis australis diakibatkan makroalga jenis ini
makroalga di Pulau Kayu Angin Bira banyak dijumpai di setiap stasiun
yang mempunyai tingkat frekuensi jenis pengamatan dan persebarannya hampir
yang paling tinggi di stasiun 1 yaitu jenis merata dan makroalga jenis Padina
Padina australis dengan nilai frekuensi australis ini mampu beradaptasi dalam
sebesar 70 dan jenis makro alga yang kondisi habitat seperti substart berpasir
memiliki nilai frekuensi paling rendah maupun karang mati (Rohmanita,2016).
yaitu Dictyopteris australis, Euchema

185
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Kelas Chlorophyta paling banyak Untuk gastropoda terdapat 39


dijumpai karena dimungkinkan oleh individu yang terdiri atas10 famili, 12
respon Chlorophyta terhadap kondisi marga dan 20 jenis
perairan di pulau tersebut lebih baik (Lampiran.2).Gastropoda diketahui
daripada kelas yang lain. Dengan arti sebagai salah satu pakan penyu sisik,
bahwa alga dari kelas Chlorophyta lebih menurut Carr (1952) dalam Widyasmoro
mampu beradaptasi dengan lingkungan (2007) penyu sisik menyukai hewan dari
perairan Pulau Kayu Angin Bira. Hal ini jenis Sponge, Coelenterata, gastropoda,
akan berbeda apabila dibandingkan Crustacea dan Bivalvia.
dengan jenis-jenis makroalga dari kelas Dari Tabel Lampiran 3 dan 4,
Phaeophyta. Namun, kelas Chlorophyta memperlihatkan bahwa gastropoda yang
hanya memiliki keanekaragaman jenis mendominasi menurut Indeks Nilai
yang lebih beragam dengan jumlah Penting (INP) di stasiun 1 adalah dari
individu yang tinggi sedangkan dari kelas jenis Euspira pulchella dengan nilai
Phaeophyta memiliki keanekaragaman 133,13 dan pada stasiun 2 spesies
yang rendahnamun jumlah individunya Caliostoma gloriosum yang dengan nilai
lebih banyak. Sedangkan alga dari kelas INP 54,07.
Rhodophyta paling sedikit diperoleh, hal Frekuensi relatif gastropodayang
ini disebabkan karena habitatnya yang ditemukan di kedua stasiun tersebut dapat
biasanya lebih sering diumpai diperairan dilihat pada Tabel Lampiran 3 dan 4.
yang lebih dalam dengan kondisi substrat Jenis gastropoda dengan nilai frekuensi
cenderung karang dan bebatuan, bukan relatif tertinggi di stasiun 1 berasal dari
berpasir. Menurut Rebel (1974) dalam beberapa jenis Polinices mammilla,
Syamsuni (2006) setelah 2 hari menetas Cypraea annulus,Euspira pulchelladan
penyu memakan lamun lalu memakan Polinices tumidusdengan nilai frekuensi
makroalga dari jenis Sargassum sp dan sebesar 20 dan jenisyang memiliki nilai
beberapa jenis lamun seperti frekuensi paling rendah yaitu Caliostoma
Cymodoceae dan Conferva. Namun tidak gloriosum, Cyprae sp, Plialculica
ditemui adanya jenis Sargassum ataupun globossus, Dolomena pulchella dan
adanya padang lamun sehingga Tectus niloticusdengan nilai frekuensi
mengindikasikan kurangnya cocoknya jenis sebesar 10. Sedangkan di stasiun 2
jenis pakan bagi penyu sisik. gastropoda yang mempunyai nilai

186
Prosiding Seminar Nasional, 2017

frekuensi yang paling tinggi yaitu seperti, pengaruh gelombang yang terjadi
Caliostoma gloriosum dengan nilai di perairan pantai, pengaruh angin lokal,
frekuensi sebesar 30 dan terdapat 14 jenis adanya pasang surut air laut serta adanya
gastropoda yang mempunyai nilai arus susur pantai (Koddeng, 2011).
frekuensi paling rendah dengan nilai Kelandaian pantai di pulau Kayu Angin
frekuensi sebesar 10 (Lampiran. 4) Bira cenderung curam karena dari 3 titik
Kepadatan tertinggi gastropodadi pengambilan data kelandaian pantai,
stasiun 1 kepadatan tertinggi berasal dari didapatkan data yang menunjukkan
jenis Euspira pulchella dengan nilai perbedaan yang sangat signifikan antara
38,89 dan yang terendah adalah Polinices masing-masing titik (Tabel. 4). Menurut
mammilla, Cypraea annulus dan Saribun (2007), kemiringan pantai dapat
Polinices tumidus dengan nilai kepadatan dinyatakan dalam bentuk derajat dan
11,11. Sedangkan di stasiun 2 adalah persen. Kecuraman sebesar 100% sama
jenis Euspira pulchelladan Cerithium dengan kecuraman 45°.Data yang
zonalum dengan nilai kerapatan sebesar didapatkan dari 3 titik di bagian utara dan
16 dan kepadatan terendahnya dengan 12 barat diambil pada saat pasang tertinggi
jenis (Lampiran 4). Tabel 2. Kelandaian Pantai di Pulau Kayu
Angin Bira.
Berdasarkan kehadirannya, stasiun 2
Stasiun Kemiringan (%)
memiliki tingkat kehadiran jenis yang
lebih tinggididapatkan 15 jenis dari total 1 0.59%
20 jenis sedangkan pada stasiun 1 hanya 2 7.69%
didapatkan 9 jenis. Walaupun didapatkan
3 3.09%
keanekaragaman jenis di kedua stasiun,
namun individu yang ditemukan tidak
melimpah dengan nilai dominansi yang Pada stasiun 1 persentase
tidak signifikan. Belum diketahui jeins kemiringan adalah 0.59% yang masih
manakah yang berpotensi sebagai pakan dapat dikategorikan sebagai pantai yang
penyu sisik. landai, namun pada stasiun 2 dan stasiun
B. Kelandaian Pantai 3 tingkat kemiringannya mencapai 7.69%
Sedimentasi pasir yang dan 3.09% yang dapat dikategorikan
menyebabkan landai atau curamnya suatu cukup miring. Menurut Satriadi (2003)
pantai diakibatkan oleh beberapa faktor tingkat persentase 3-8% merupakan

187
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kondisi pantai yang miring. Dari data habitat penyu sisik sehingga dibutuhkan
diatas, disimpulkan bahwa kemiringan penelitian lebih lanjut.
pantai bagian utara dan barat dari pulau UCAPAN TERIMA KASIH
Kayu Angin Bira miring atau tidak landai Terima kasih disampaikan kepada
karena dapat dipengaruhi oleh morfologi para petugas Taman Nasional Kepulauan
daratan dan pengaruh iklim yang Seribu Sektor Pulau Harapan yang telah
menyebabkan perubahan gelombang. mengizinkan dan membantu selama
KESIMPULAN penelitian ini, kepada Drs. Imran SL
Data makroalga yang didapatkan di pulau Tobing, [Link] selaku pembimbing yang
Kayu Angin Bira sebanyak 322 individu telah banyak membantu dan
terdiri dari 5 spesies dari divisi membimbing selama penulisan serta
Chlorophyta, 2 jenis dari divisi kakak-kakak senior dan adik-adik junior
Phaeophyta dan 3 jenis dari divisi yang berkontribusi dalam penelitian ini.
Rhodophyta. Untuk gastropoda terdapat DAFTAR PUSTAKA
39 individu yang terdiri atas10 famili, 12 Bachtiar E. [Link] Sumber
marga dan 20 jenis. Baik jenis makroalga Daya Hayati Laut (Alga) Sebagai
Biotarget Industri. Fakultas
dan gastropoda belum ditemukan adanya Perikanan dan Ilmu Kelautan
jenis yang berpotensi sebagai pakan bagi Universitas Padjadjaran.
Jatinangor.
penyu sisik. Persentase kemiringan pantai Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu.
di pulau ini adalah0.59% pada stasiun 1, 2015. Profil Balai Taman
Nasional Kepulauan Seribu.
lalu 7.69% di stasiun 2 dan 3.09% di Tidak Dipublikasikan. Jakarta
stasiun 3yang dapat dikategorikan pantai Balai Taman Nasional Kepulauan
[Link]
yang miring. Menurut hasil data pakan [Link]://tnlkepulauanseribu.n
dan kelandaian pantai, pulau Kayu Angin et/profil/. Diakses pada tanggal 20
November 2016, pukul 20.05
Bira dapat dikatakan kurang cocok WIB.
sebagai habitat penyu sisik karena Brower, J.E., J.H. Zar& C.N. Ende von.
1997. Field and laboratory
kurangnya keanekaragaman pakan baik methods for general ecology,
makroalga maupun gastropoda dan fourth edition. [Link]-Hill
Companies Inc., USA. 273pp.
persentase kemiringan pantai di pulau ini, Carr A. [Link] of Turtle. The
namun tidak menutup kemungkinan Turtle of United States, Canada
and Baja California. Cornell
bahwa pulau ini masih berpotensi sebagai University Press. Ithaca. New
York

188
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Dahuri,R. 2003. Keanekaragaman Hayati Fakultas Perikanan dan Ilmu


Laut, Aset Pembangunan Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Berkelanjutan Indonesia. PT Bogor.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Rebel TP. 1974. Sea Turtle and Turtle
Handayani S, Setia. TM, Rahayu, SE. Industry of The Western Indies,
2014. Pengenalan Makroalga Florida and The Gulf of Mexico.
Indonesia. Dian rakyat. Jakarta. 250 h. University of Miami Press.
Kadi A. 2004. Rumput Laut di Beberapa Florida.
Perairan Pantai Indonesia. Jurnal Rohmanita H. 2016. Struktur Komunitas
Oseanologi. Jakarta. Makroalg dan Korelasinya dengan
Koddeng B. 2011. Zonasi Pesisir Pantai Gastropoda di Kepulauan Seribu,
Makassar Berbasis Mitgasi DKI Jakarta. Skripsi Sarjana
Bencana. Fakultas Teknik Sains. Fakultas Biologi
Universitas Hasanuddin. Universitas Nasional. Jakarta.
Makassar. Romimohtarto K, Juwana S. 2009.
Mulyono, W. 2000. Studi Habitat Biologi Laut. Djambatan. Jakarta
Peneluran Penyu Sisik Tjitrosoepomo G. 1998. Taksonomi
(Erethmocelys imbricata L.) di Tumbuhan. Yogyakarta: UGM
Pulau Gosong Rengat dan Kotok Press. Yogyakarta.
Kecil, Taman Nasional Laut,
Kepulauan Seribu, Jakarta.
Skripsi. Program Studi
Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Kelautan.
Institute Pertanian Bogor. Bogor.
Saribun DS. 2007. Pengaruh Jenis
Penggunaan Lahan dan Kelas
Kemiringan Lereng Terhadap
Bobot Isi, Pororitas Total, Kadar
Air Tanah pada Sub-DAS
Cikapundung Hulu. Skripsi.
Fakultas Pertanian Universitas
Padjadjaran. [Link]
Sudrajat KA. 2016. Keanekaragaman
Makrogastropoda Di Kawasan
Pulau Penjaliran Timur, Taman
Nasional Laut Kepulauan Seribu,
Jakarta. Skripsi Sarjana Sains.
Fakultas Biologi Universitas
Nasional. Jakarta.
Sulisetijono. 2009. Bahan Serahan Alga.
UIN Malang. Malang.
Syamsuni FY. 2006. Karakteristik
Habitat dan Penyebaran Sarang
Penyu Sisik (Eretmochelys
imbricata, Linnaeus 1758) Studi
Kasus : Pulau Burung, Kepulauan
Karimunjawa, Jawa Tengah.

189
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Lampiran 1. Jenis dan kehadiran makroalga di Pulau Kayu Angin Bira.

Stasiun
No Divisi Nama Jenis Stasiun 2 Jumlah
1
Caulerpa serrtulata √ 3
Caulerpa racemosa √ 5
1 Chlorophyta Halimeda macroloba √ √ 53
Halimeda laccunalis √ 6
Neomeris annulata √ √ 44
18
Dictyopteris australis √ √
2 Phaeophyta 141
Padina australis √ √
Acantophora muscoides √ √ 9
3 Rhodophyta Acantophora spicifera √ √ 42
Euchme alvarezii √ 1

Total 10 8 8 592

Lampiran 2. Jenis dan Kehadiran Gastropoda di Pulau Kayu Angin Bira.

Stasiun Stasiun
No Famili Genus Spesies Jumlah
1 2
1 Calliostomatidae Calliostoma Calliostoma gloriosum   4
2 Cerithidae Cerithium Cerithium columna  1
Cerithium nodulosum  1
Cerithium sp  1
Cerithium zonalum  1
3 Conidae Conus Conus sp  1
4 Cypraeidae Cypraea Cypraea annulus √  3
Cyprae sp √ 1
Cypraea ovum √ 1
5 Muricidae Drupella Drupella rugosa √ 1
6 Naticidae Euspira Euspira pulchella √ √ 11
Polinices Polinices mammila √ 2
Polinices tumidus √ √ 4
7 Neritidae Nerita Nerita polita √ 1
8 Strombidae Dolomena Dolomena pulchella √ 1
Dolomena sp √ 1
Lambis Lambis lambis √ 1
9 Tegulidae Tectus Tectus niloticus √ 1
Tectus pyramis √ 1
10 Trochidae Trochus Trochus maculatus √ 1
TOTAL 10 12 20 9 15 39

Lampiran 3. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Makroalga Stasiun 1 di Pulau Kayu Angin

190
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Bira.

No Stasiun 1 Jumlah Fi FR Ki KR D DR INP


1 Padina australis 71 0.7 70 71 51.08 0.26 77.95 121.08
2 Acantophora spicifera 23 0.6 60 23 16.55 0.03 8.18 76.55
3 Dictyopteris australis 1 0.1 10 1 0.72 0.00 0.02 10.72
4 Halimeda macroloba 28 0.7 70 28 20.14 0.04 12.12 90.14
5 Euchema alvarezii 1 0.1 10 1 0.72 0.00 0.02 10.72
6 Halimeda laccunalis 1 0.1 10 1 0.72 0.00 0.02 10.72
7 Neomeris annulata 10 0.2 20 10 7.19 0.01 1.55 27.19
8 Caulerpa serrtulata 3 0.1 10 3 2.16 0.00 0.14 12.16
9 Acantophora muscoides 1 0.1 10 1 0.72 0.00 0.02 10.72
TOTAL 139 2.7 270 139 100.00 0.33 100.00 370.00

Lampiran 4. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Makroalga Stasiun 2 di Pulau Kayu Angin
Bira.

No Stasiun 2 Jumlah Fi FR Ki KR D DR INP


1 Padina australis 64 0.8 80 64 34.97 0.12 60.16 114.97
2 Acantophora spcifera 19 0.5 50 19 10.38 0.01 5.30 60.38
3 Acantophora muscoides 8 0.4 40 8 4.37 0.00 0.94 44.37
4 Neomeris annulata 34 0.6 60 34 18.58 0.03 16.98 78.58
5 Halimeda macroloba 23 0.5 50 23 12.57 0.02 7.77 62.57
6 Halimeda laccunalis 7 0.2 20 7 3.83 0.00 0.72 23.83
7 Dictyopteris australis 23 0.6 60 23 12.57 0.02 7.77 72.57
8 Caulerpa racemosa 5 0.1 10 5 2.73 0.00 0.37 12.73
TOTAL 183 3.7 370 183 100.00 0.20 100.00 470.00

Lampiran 5. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Gastropoda Stasiun 1 di Pulau Kayu Angin
Bira.

No Nama Jenis Jumlah Fi FR Ki KR D DR INP

1 Polinices mammila 2 0.2 20 2 11.11 0.01 6.06 31.11


2 Caliostoma gloriosum 1 0.1 10 1 5.56 0.00 1.52 15.56
3 Cypraea annulus 2 0.2 20 2 11.11 0.01 6.06 31.11
4 Cyprae sp 1 0.1 10 1 5.56 0.00 1.52 15.56

191
Prosiding Seminar Nasional, 2017

5 Plialculica globossus 1 0.1 10 1 5.56 0.00 1.52 15.56


6 Dolomena pulchella 1 0.1 10 1 5.56 0.00 1.52 15.56
7 Euspira pulchella 7 0.2 20 7 38.89 0.15 74.24 58.89
8 Polinices tumidus 2 0.2 20 2 11.11 0.01 6.06 31.11
9 Tectus niloticus 1 0.1 10 1 5.56 0.00 1.52 15.56
TOTAL 18 1.3 130 18 100 0.20 0.20 100

Lampiran 6. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Gastropoda Stasiun 2 di Pulau Kayu Angin
Bira.

No Nama Jenis Jumlah Fi FR Ki KR D DR INP


1 Dolomena sp 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
2 Polinices tumidus 2 0.2 20 2 8 0.01 7.02 28
3 Conus sp 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
4 Cypraea annulus 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
5 Cerithium columna 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
6 Nerita polita 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
7 Trochus maculatus 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
8 Euspira pulchella 4 0.1 10 4 16 0.03 28.07 26
9 Caliostoma gloriosum 3 0.3 30 3 12 0.01 15.79 42
10 Cerithium nodulosum 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
11 Tectus pyramis 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
12 Cypraea ovum 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
13 Cerithium sp 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
14 Cerithium zonalum 4 0.1 10 4 16 0.03 28.07 26
15 Dropella rugosa 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
16 Lambis lambis 1 0.1 10 1 4 0.00 1.75 14
TOTAL 25 1.9 190 25 100 0.09 100 390

192
Prosiding Seminar Nasional, 2017

INVENTARISASI PENYAKIT PADA 73 GALUR PADI HASIL PERSILANGAN


BERDASARKAN GEJALA SERANGAN

Plant Disease Inventrory At 73 Rice Lines Based On Disease Symptoms

Yashanti Berlinda Paradisa1*, Eko Binnaryo Mei Adi1,Sri Indriyani1, Yuli


Sulistyowati1,Suprihanto2, Enung Sri Mulyaningsih1
1
Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI,
Kompleks CSC, Jln. Raya Bogor, Km 46. Cibinong, Kab. Bogor
2
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Indonesia
*Pos-el :yash001@[Link]

ABSTRACT

Disease attacks in field can cause high yield losses. Inventory of plant disease was done to get information
about kind of plant disease in upland rice lines. The information can be used to prevent disease attactfor next
crop season. This reseach was conducted at the Showcase Land Biovillage, Research Center of
Biotechnology, LIPI in September 2016. Observations were made by look the symptoms at 73 rice lines.
Based on the observations, it was found five disease in rice lines such as bacterial leaf blight, brown spot,
sheath leaf blight, blas and narrow leaf spot. Bacterial leaf blight and brown spot was found in all lines.
Although IP (disease index) and KP (disease incidence) HDB and brown spot was high, some rice lines has
a potential to be developed as a resistant plant for sheath leaf blight, blast, and narrow leaf spot.

Keywords: Crosses, Disease, Inventory, Rice

PENDAHULUAN oryzae dapat mencapai 50%dan penyakit


Setiap tahunnya jumlah penduduk bercak daun coklat akibat Bipolaris
Indonesia terus meningkat sehingga oryzaeberkisar 20-40%(Misra, 1999;
kebutuhan akan bahan pokok seperti Khaeruniet al., 2014).Penyakit yang
beras juga ikut meningkat. Kendala yang sering muncul pada pertanaman padi
dihadapi dalam usaha peningkatan adalah hawar daun bakteri/HDB
produksi beras adalah serangan (Xanthomonas oryzae), bakteri daun
organisme pengganggu tanaman (OPT) bergaris (Xanthomonas campestris pv.
seperti serangan bakteri, jamur, dan virus. oryzicola), blas (Pyricularia oryzae),
Serangan patogen dapat menyebabkan hawar pelepah daun (Rhizoctonia Solani
kehilangan hasil yang tinggi dan Khun), busuk batang (Magnaporthe
mengancam hancurnya pertanaman padi salvinii), busuk pelepah (Sarocladium
diseluruh dunia termasuk di Indonesia. oryzae), bercak coklat (Bipolaris
Sebagai contohnya kehilangan hasil oryzae),bercak daun
akibat penyakit HDB(kresek) yang sempit/BDS(Cercospora oryzae), hawar
akibatkan oleh bakteri Xanthomonas daun jingga, tungro, kerdil rumput, dan

193
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kerdil hampa (Syam etal., 2008). pencegahan pada saat penanaman


Beberapa penyakit tersebut merupakan kembali. Sehingga dapat mencegah
patogen terbawa benih kehilangan hasil yang tinggi. Penelitian
(seedborne)(Imolehin, 1983; Ora et al., ini juga bertujuan untuk mengetahui
2011; Faruq, 2015). Sehingga apabila galur-galur yang potensial untuk
tanaman terserang pada musim tanam dikembangkan menjadi galur tahan
saat ini, maka kemungkinan pada musim panyakit tertentu.
tanam selanjutnya penyakit ini akan
menyerang. METODE
Salah satu usaha untuk Penelitian dilakukan di Lahan Etalase
mengingkatkan produksi padi adalah Biovillage, Pusat Penelitian Bioteknologi,
penggunaan varietas unggul yang tahan LIPI. Penelitian dilakukan pada
terhadap serangan OPT yang diperoleh September 2016. Sebanyak 73 galurpadi
dari hasil persilangan. Oleh karena itu, gogo yang ditanam merupakan galur hasil
informasi interaksi antara tingkat persilangan generasi ke-7 dari beberapa
ketahanan galur hasil persilangan tetua persilangan. Setiap galur ditanam
terhadap virulensi serangan patogen dalam luasan 2m2dengan jarak tanam
menjadi penting. 25x25 cm tanpa ulangan.
Laboratorium Agronomi untuk Budidayatanaman dilakukan secara
Evaluasi Produk Bioteknologi, Pusat organik menggunakan 50 ton/ha pupuk
Penelitian Bioteknologi, LIPI organik dan mengikuti cara budidaya
mengembangkan galur padi gogo hasil padi gogo pada umumnya. Dalam
persilangan untuk dijadikan varietas pertanaman ini, tidak dilakukan
[Link] mengenai jenis pengendalian organisme pengganggu
penyakit pada galur-galur hasil tumbuhan sehingga serangan patogen
persilangan sangat penting dalam terjadi secara alamiah tanpa inokulasi
budidaya tanaman, terutama untuk patogen.
menentukan teknik pengendalianpatogen. Pengamatan penyakit dilakukan
Penelitian ini dilakukan untuk secara langsung saat tanaman berumur
mendapatkan informasi mengenai jenis 120 HST (hari setelah tanam).Bagian
penyakityang menyerang galurpadi tanaman yang diamati meliputi batang
gogohasil persilangan. Informasi ini dan [Link] dilakukan
dibutuhkan untuk melakukan tindakan berdasarkan gejala yang muncul.

194
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Penentuan skala kerusakan tanaman coklat ditemukan pada seluruh galur hasil
berpedoman pada Standart Evaluation persilangan (Tabel 1).
System For Rice (IRRI, 2013). Tabel 1. Daftar penyakit yang ditemukan
pada pertanaman galur-galur padi
SementaraIntensitas penyakit (IP) gogo hasil persilangan
No Penyakit ∑ Galur yang terserang
ditentukan dengan menggunakan rumus 1 HDB 73 Galur
2 Bercak Coklat 73 Galur
(Laksono et al., 2010): 3 Hawar Pelepah 69 Galur
4 Blas 47 Galur
5 BDS 24 Galur

dimana IP adalah Intensitas Penyakit, ni


Penyakit HDB (Gambar 1 A)
adalah banyaknya tanaman yang di amati
menyebabkan daun berwarna kuning
dengan skor ke-I, vi adalah Skor tanaman
pada bagian tepi daun kemudian meluas
ke –I, N adalah Total tanaman yang
keseluruh [Link] kemudian berubah
diamati, dan V adalah Skor serangan
menjadi abu-abu dan kering. Hal ini
tertinggi
serupa dengan yang diungkapkan oleh
Sedangkan beradaan penyakit(KP)
Aditya et al., (2015). Penyakit hawar
dihitung dengan menggunakan rumus:
pelepah memiliki gejala awal berupa
KP= bercak oval atau bulat berwarna putih

Ketahanan tanaman dikategorikan pucat pada pelepah(Syam et al., 2008).

sesuaistandar evaluation system Di area pertanaman ditemukan beberapa

IRRI(IRRI, 1994), yaitutahan (1–5%), tanaman yang memiliki gejalabercak

agak tahan (>5–12%), agakrentan (>12– pada pelepah (Gambar 1C) dengan tepi

25%), rentan (>25–50%), dan berwarna hitam ataupun coklat

sangatrentan (>50%). kemerahan dengan pusat bercak berwarna


putih. Pada tanaman dengan IP tinggi

HASIL DAN PEMBAHASAN juga ditemukan gejala bercak pada daun


(Gambar 1D).
Berdasarkan hasil pengamatan gejala
Penyakit bercak coklatmenimbulkan
penyakit pada galur padi gogohasil
gejala bercak coklat berbentuk bulat atau
persilangan hasil persilangan ditemukan 5
oval (Gambar 1B) sama seperti
jenis penyakit yakni hawar pelepah,
yangdijabarkan oleh Syam et al., 2008.
hawar daun bakteri (HDB), bercak
Beberapa bercak juga dikelilingi oleh
coklat,blas pada daun, dan bercak daun
halo berwarna kuning. Gejala
sempit (BDS).Penyakit HDB dan bercak
penyakitblasadalah yang dapat diamati

195
Prosiding Seminar Nasional, 2017

ialah bercak berwarna coklat berbentuk berwarna kuning keemasan (Gambar 1E).
seperti belah ketupat (Syam et al., 2008). Sementara pada penyakit bercak daun
Serangan lebih lanjut menyebabkan pusat sempit (Gambar 1 F) gejala bercak
bercak pada daun berwarna abu-abu. memanjang seperti jarum (Syam et al.,
Terkadang, pada beberapa galur, bercak 2008) berwarna kuning keemasan pada
tersebut di kelilingi oleh halo yang daun.
A B C

D E F

Gambar 1. Gejala-gejala penyakit yang dapat diamati seperti pada daun akibat serangan
HDB (A), Bercak Coklat (B), Hawar pelepah pada batang (C) dan daun (D), Blas
(E), dan BDS (F).

Intensitas penyakit (IP) HDB terdapat pada seluruh rumpun tanaman.


tertinggi terdapat pada galur P3 314 (IP Terdapat 25 galur yang keberadaan HDB
100% dan KP 80%), sedangkan terendah terdapat pada seluruh rumpun tanaman
pada galur P4 337 (IP 11% dan KP (Tabel 2).
14.7%). Keberadaan penyakit (KP) 100%
menunjukkan bahwa penyakit tersebut

196
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 2. Tabel intensitas penyakit dan keberadaan penyakit dari setiap galur padi gogohasil persilangan.
HBD Bercak Coklat Hawar Pelepah Blast BDS
No Persilangan Galur IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 TB368B-TB-25- P1 223 42.2 SR 100.0 35.6 SR 86.1 15.6 R 100.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
MR-2 x P1 224 73.3 SR 100.0 24.4 R 100.0 46.7 SR 65.0 2.2 T 2.5 0.0 ST 0.0
B11178G-TB-
P1 233 73.3 SR 100.0 42.2 SR 100.0 33.3 SR 27.8 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
29
P1 234 24.4 R 65.7 26.7 SR 11.4 15.6 R 20.0 6.7 AR 8.6 0.0 ST 0.0
P1 235 11.1 AR 28.6 51.1 SR 100.0 11.1 AR 85.7 51.1 SR 71.4 13.3 R 5.7
P1 241 33.3 SR 77.1 26.7 SR 17.1 11.1 AR 2.9 46.7 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P1 242 55.6 SR 42.9 33.3 SR 71.4 4.4 T 5.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 250 46.7 SR 100.0 24.4 R 45.7 8.9 AR 11.4 22.2 R 48.6 0.0 ST 0.0
P1 262 24.4 R 38.5 40.0 SR 92.3 11.1 AR 41.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 267 46.7 SR 22.9 42.2 SR 91.4 11.1 AR 37.1 0.0 ST 0.0 6.7 AR 2.9
P1 273 24.4 R 82.9 22.2 R 17.1 15.6 R 80.0 8.9 AR 11.4 37.8 SR 100.0
P1 274 20.0 R 37.1 64.4 SR 97.1 24.4 R 100.0 68.9 SR 85.7 33.3 SR 17.1
P1 275 55.6 SR 97.1 40.0 SR 73.5 11.1 AR 29.4 37.8 SR 73.5 37.8 SR 100.0
P1 278 64.4 SR 55.9 24.4 R 82.4 11.1 AR 73.5 15.6 R 70.6 20.0 R 8.8
P1 280 60.0 SR 100.0 62.2 SR 100.0 24.4 R 100.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 289 64.4 SR 46.9 35.6 SR 46.9 6.7 AR 9.4 51.1 SR 68.8 13.3 R 6.3
P1 291 51.1 SR 100.0 51.1 SR 100.0 11.1 AR 16.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 3 68.9 SR 100.0 11.1 AR 8.8 6.7 AR 8.8 37.8 SR 82.4 33.3 SR 85.3
P1 443 46.7 SR 100.0 24.4 R 71.4 11.1 AR 82.9 28.9 SR 85.7 33.3 SR 20.0
P1 45 20.0 R 62.5 6.7 AR 9.4 11.1 AR 31.3 42.2 SR 78.1 0.0 ST 0.0
P1 452 11.1 AR 57.1 31.1 SR 100.0 15.6 R 57.1 60.0 SR 71.4 0.0 ST 0.0
P1 453 37.8 SR 14.7 22.2 R 97.1 11.1 AR 20.6 26.7 SR 82.4 13.3 R 5.9
P1 5 55.6 SR 85.7 20.0 R 25.7 11.1 AR 22.9 53.3 SR 62.9 42.2 SR 51.4
P1 51 68.9 SR 100.0 22.2 R 32.5 15.6 R 62.5 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 6 46.7 SR 20.0 66.7 SR 100.0 11.1 AR 57.1 71.1 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P1 7 33.3 SR 91.4 28.9 SR 20.0 24.4 R 85.7 40.0 SR 80.0 0.0 ST 0.0
Keterangan : ST adalah sangat Tahan, T adalah tahan, AT adalah agak tahan, AR adalah agak rentan, R adalah rentan, dan SR adalah sangat rentan.

197
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 2. Tabel intensitas penyakit dan keberadaan penyakit dari setiap galur padi gogohasil persilangan (lanjutan).
HBD Bercak Coklat Hawar Pelepah Blast BDS
No Persilangan Galur IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
P1 72 68.9 SR 64.7 71.1 SR 82.4 15.6 R 38.2 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 8 64.4 SR 71.9 6.7 AR 3.1 20.0 R 87.5 55.6 SR 62.5 0.0 ST 0.0
2 SituPatenggang x P2 212 55.6 SR 52.5 44.4 SR 75.0 13.3 R 95.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
B11930F-TB-2 P2 214 68.9 SR 54.3 28.9 SR 11.4 4.4 T 5.7 22.2 R 8.6 0.0 ST 0.0
P2 215 20.0 R 100.0 68.9 SR 100.0 37.8 SR 82.9 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 216 82.2 SR 20.5 28.9 SR 20.5 15.6 R 64.1 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 217 55.6 SR 100.0 40.0 SR 30.0 4.4 T 5.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 219 15.6 R 20.0 57.8 SR 100.0 11.1 AR 68.6 28.9 SR 14.3 0.0 ST 0.0
P2 80 15.6 R 44.1 46.7 SR 100.0 24.4 R 58.8 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 81 55.6 SR 100.0 33.3 SR 100.0 11.1 AR 77.1 2.2 T 2.9 11.1 AR 2.9
3 Inpago 8 x P3 182 55.6 SR 38.9 46.7 SR 100.0 11.1 AR 25.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
B11930F-TB-2 P3 188 51.1 SR 100.0 77.8 SR 100.0 15.6 R 27.3 77.8 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P3 189A 37.8 SR 100.0 24.4 R 31.4 15.6 R 45.7 55.6 SR 91.4 6.7 AR 2.9
P3 19 60.0 SR 51.4 26.7 SR 17.1 11.1 AR 42.9 33.3 SR 14.3 33.3 SR 57.1
P3 191 28.9 SR 77.1 77.8 SR 100.0 11.1 AR 68.6 62.2 SR 85.7 31.1 SR 11.4
P3 310 64.4 SR 100.0 20.0 R 32.3 11.1 AR 32.3 48.9 SR 80.6 55.6 SR 96.8
P3 312 51.1 SR 72.4 22.2 R 86.2 4.4 T 6.9 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P3 314 100.0 SR 80.0 86.7 SR 67.5 11.1 AR 20.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P3 317 77.8 SR 80.0 22.2 R 20.0 11.1 AR 25.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P3 322 33.3 SR 85.3 37.8 SR 73.5 11.1 AR 29.4 2.2 T 2.9 0.0 ST 0.0
P3 403 68.9 SR 100.0 40.0 SR 100.0 11.1 AR 34.3 6.7 AR 8.6 20.0 R 8.6
P3 92 60.0 SR 100.0 66.7 SR 100.0 0.0 ST 0.0 4.4 T 5.7 0.0 ST 0.0
Keterangan : ST adalah sangat Tahan, T adalah tahan, AT adalah agak tahan, AR adalah agak rentan, R adalah rentan, dan SR adalah sangat rentan.

198
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 2. Tabel intensitas penyakit dan keberadaan penyakit dari setiap galur padi gogohasil persilangan (lanjutan).
HBD Bercak Coklat Hawar Pelepah Blast BDS
No Persilangan Galur IP Respon KP IP (%) Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
4 B11492F-TB-12 P4 115B 37.8 SR 100.0 37.8 SR 34.3 11.1 AR 71.4 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
x B11178G-TB- P4 117A 51.1 SR 100.0 26.7 SR 14.3 15.6 R 57.1 20.0 R 20.0 42.2 SR 65.7
29
P4 131 15.6 R 32.4 51.1 SR 43.2 11.1 AR 67.6 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P4 151 11.1 AR 84.0 13.3 R 12.0 11.1 AR 64.0 0.0 ST 0.0 6.7 AR 4.0
P4 160 77.8 SR 97.4 24.4 R 12.8 11.1 AR 23.1 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P4 330 33.3 SR 90.6 33.3 SR 100.0 11.1 AR 71.9 55.6 SR 100.0 26.7 SR 12.5
P4 337 11.1 AR 14.7 24.4 R 50.0 11.1 AR 23.5 0.0 ST 0.0 33.3 SR 23.5
P4 352 60.0 SR 96.8 17.8 R 12.9 8.9 AR 12.9 33.3 SR 9.7 46.7 SR 16.1
P4 417 B 55.6 SR 50.0 17.8 R 9.4 0.0 ST 0.0 6.7 AR 9.4 51.1 SR 15.6
P4 430 42.2 SR 100.0 35.6 SR 74.3 11.1 AR 37.1 8.9 AR 11.4 0.0 ST 0.0
P4 432 51.1 SR 32.3 55.6 SR 100.0 11.1 AR 16.1 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P4 475 55.6 SR 40.0 13.3 R 20.0 4.4 T 8.0 20.0 R 28.0 55.6 SR 92.0
P4 477 42.2 SR 50.0 13.3 R 25.0 4.4 T 16.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
5 Danau gaung x P5 150 24.4 R 58.3 15.6 R 33.3 2.2 T 4.2 15.6 R 37.5 0.0 ST 0.0
Situ Patenggang P5 192 55.6 SR 100.0 26.7 SR 15.2 0.0 ST 0.0 15.6 R 21.2 0.0 ST 0.0
P5 193 33.3 SR 100.0 33.3 SR 81.8 11.1 AR 60.6 20.0 R 87.9 0.0 ST 0.0
P5 194 28.9 SR 48.3 13.3 R 13.8 6.7 AR 10.3 24.4 R 41.4 0.0 ST 0.0
P5 196 37.8 SR 100.0 24.4 R 14.3 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P5 198 51.1 SR 82.4 17.8 R 100.0 11.1 AR 73.5 44.4 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P5 200 37.8 SR 85.3 24.4 R 35.3 6.7 AR 8.8 11.1 AR 20.6 0.0 ST 0.0
P5 201 37.8 SR 88.0 24.4 R 20.0 4.4 T 8.0 6.7 AR 12.0 0.0 ST 0.0
P5 205 11.1 AR 100.0 26.7 SR 94.3 33.3 SR 91.4 55.6 SR 94.3 0.0 ST 0.0
P5 206 15.6 R 100.0 26.7 SR 100.0 11.1 AR 100.0 11.1 AR 100.0 0.0 ST 0.0
P5 384 28.9 SR 88.2 26.7 SR 64.7 15.6 R 32.4 4.4 T 5.9 0.0 ST 0.0
P5 387 28.9 SR 85.3 24.4 R 100.0 11.1 AR 58.8 51.1 SR 100.0 0.0 ST 0.0
Keterangan : ST adalah sangat Tahan, T adalah tahan, AT adalah agak tahan, AR adalah agak rentan, R adalah rentan, dan SR adalah sangat rentan.

199
Prosiding Seminar Nasional, 2017

IP bercak cokelat tertinggi pada padi gogo hasil persilangan. Akan


galur P3 314 (IP 86,9 % dan KP tetapi, keberadaan penyakit yang paling
67.5%).Sementara itu terendah pada banyak ditemukan adalah HBD.
galur P1 8 (IP 6,7% dan KP 3.1%). Berdasarkan pengamatan tersebut,
Pada 21 galur hasil persilangan (Tabel beberapa penyakit yang muncul
2), bercak coklat diperoleh pada seluruh merupakan seedborne patogen seperti
rumpun tanaman. bercak coklat, hawar pelepah, blasdan
IP Hawar pelepah tertinggi pada BLB (Rahman et al., 2013; Faruq et
galur P1 224 (IP 46.7% dan KP 65%). al.,2015).Dengan demikian diduga,
Pada galur P1 223, P1 274, P1 280, P5 gejala yang muncul dalam pertanaman
206, hawar pelepah ditemukan pada disebabkan penyakit sudah terbawa di
seluruh rumpun tanaman. Namun tidak dalam benih. Namun, tidak menutup
menyerang galur P3 92, P4 417B, P5 kemungkinan munculnya penyakit
192, P5 196, dan P5 205. dikarenakan serangan patogen pada
Gejala blastertinggi pada galur P3 waktu penanaman dan dipengaruhi oleh
188 (IP 77.8% dan KP 100%). Blas kondisi lingkungan pada saat penelitian
ditemukan pada seluruh rumpun berlangsung.
tanaman galur P1 241, P1 6, P3 188, P4 Nilai IP dan KP setiap penyakit
330, P5 198, P5 205, dan P5 387. terhadap galur padi gogo hasil
Sementara itu,blas tidak ditemukan persilangan berbeda-beda. Nilai IP
pada 26 galur padi gogo hasil tinggi belum tentu menunjukkan KP
persilangan (Tabel 2). Penyakit BDS yang tinggi dan sebaliknya. Begitu pula
tertinggi terdapat pada galur P4 475 (IP IP tinggi belum tentu menunjukkan KP
55.6% dan KP 92%). Penyakit BDS rendah atau sebaliknya. IP dan KP
hanya ditemukan pada 24 galur hasil berbeda-beda pada setiap galur dapat
persilangan. BDS ditemukan pada disebabkan oleh respon ketahanan yang
seluruh rumpun tanaman galur P1 273 dimiliki masing-masing galur.
dan P1 275. Pada dasarnya, persilangan yang
Hasil pengamatan menunjukkan IP dibuat bertujuan untuk mendapatkan
paling tinggi adalah penyakit bercak galur-galur padi gogo yang toleran
coklat. Penyakit HBD dan bercak daun terhadap almunium (Al) dan tahan
coklat ditemukan pada semua galur terhadap penyakit blas. Hal ini

200
Prosiding Seminar Nasional, 2017

disebabkan blas merupakan penyakit galur tahan hawar pelepah, blas dan
utama yang menyerang dipertanaman BDS. 4 galur P2 (212, 215, 216, dan
padi gogo. 80)potensial untuk dikembangkan
Galur padi gogo hasil persilangan sebagai galur tahan blas dan BDS.
P1, P2, P3, P4, dan P5 memiliki respon Sedangkan galur P2 81 potensial
ketahanan yang berbeda-beda terhadap sebagai galur tahan blas dan galur P2
penyakit HBD, bercak coklat, hawar 219 potensial sebagai galur BDS.
pelepah, blas, dan BDS. Galur sangat Persilangan 3 (P3) merupakan
tahan dan tahan terhadap penyakit persilangan antara Inpago 8 dengan
berpotensi untuk dikembangkan sebagai B11930F-TB-2. Galur 312 dan 92
galur unggul. Persilangan 1 (P1) potensial sebagai galur tahan hawar
merupakan persilangan antara TB368B- pelepah, blas dan BDS. Sedangkan
TB-25-MR-2 dengan B11178G-TB-29. galur P3 (182, 314, 317, dan 322)
Meskipun IP dan KP HDB, bercak potensial sebagai galur tahan blas dan
coklat, dan hawar pelepah relatif BDS. Selain itu, galur P3 188 potensial
tinggi,galur P1 242 potensial untuk sebagai galur tahan BDS.
dikembangkan sebagai galur tahan 3 Persilangan 4 (P4) merupakan
penyakit yakni hawar pelepah, blas dan persilangan antara B11492F-TB-12
BDS. dengan B11178G-TB-29. Galur P4 477
Sementara itu, 8 galur P1 (223, 224, potensial sebagai galur tahan terhadap 3
233, 262, 280, 291, 51, dan 72) penyakit yakni hawar pelepah, blas, dan
potensial untuk dikembangkan sebagai BDS. 4 galur P4 (115B, 131, 160, dan
galur tahan blas dan BDS. 7 galur P1 432) berpotensial sebagai galur tahan
(234, 241, 250, 45, 452, 6, dan 7) blas dan BDS. Sebanyak 2 galur 151
potensial untuk dikembangkan sebagai dan 337 potensial sebagai galur tahan
galur tahan BDS. Sedangkan P1 267 blas. Sementara 2 galur P4 (417 B dan
potensial untuk dikembangkan sebagai 475) potensial sebagai galur tahan
galur tahan blas. hawar pelepah sedangkan 1 P4 430
Persilangan 2 (P2) merupakan yakni potensial sebagai galur BDS.
persilangan antara SituPatenggang Persilangan 5 (P5) merupakan
dengan [Link] P2 214 persilangan antara Danau gaung dengan
potensial untuk dikembangkan sebagai Situpatenggang. Seluruh hasil

201
Prosiding Seminar Nasional, 2017

persilangan antar kedua tetua tersebut sepertiseed treatment sebelum


menghasilkan galur-galur yang penanaman musim berikutnya.
berpotensi sebagai galur tahan BDS. Pencegahan penyakit bercak coklat dan
Galur P5 196 potensial dikembangkan BDS dapat dilakukan dengan perlakuan
sebagai galur tahan terhadap 3 penyakit benih menggunakan fungisida
yakni hawar pelepah, blas, dan BDS. sedangkan blas dengan perlakuan Hot
Sedangkan 3 galur P5 (150,192, dan Water Treatment(Faruqet al., 2015).
201) potensial sebagai galur tahan Walaupun pengendalian menggunakan
terhadap 2 penyakit yakni tahan hawar bahan kimia berpengaruh pada
pelepah dan BDS. Situ Patenggang dan perkecambahan dan vigor benih namun
Danau Gaung memiliki sifat unggul dapat digunakan pada saat distribusi
yakni tahan terhadap blas(Suprihatno et dan perdagangan untuk mengeliminasi
al., 2010). Beberapa galur padi gogo jamur patogen (Islam et al.,2000).
hasil persilangan tahan terhadap blas
dapat dikarenakan gen tahan menurun KESIMPULAN
dari tetua persilangan. Pada area pertanaman ditemukan 5
Berdasarkan data yang diperoleh, penyakit yang menyerang galur-galur
penelitian ini perlu dilanjutkan untuk hasil persilangan yakni hawar daun
mengetahui ketahanan darigalur-galur bakteri, bercak coklat, hawar pelepah,
persilangan dengan menggunakan blas dan bercakdaun sempit. HDB dan
pengulangan. Kemudian dilakukan bercak coklat ditemukan pada seluruh
verifikasi kemurnian patogen serta galur yang ditanam. Meskipun IP dan
mengidentifikasi gen-gen ketahanan KP HDB dan bercak coklat termasuk
yang diduga bertanggung jawab tinggi, beberapa galur padi gogo hasil
terhadap masing-masing penyakit yang persilangan memiliki potensi untuk
ada. dikembangkan sebagai galur tahan
Dari penelitian ini, informasi penyakit hawar pelepah, blas, dan BDS
mengenai jenis penyakit yang baik infeksi tunggal maupun infeksi
menyerang pertanaman galur campuran.
persilangan diharapkan dapat
membantu menentukan tindakan
preventif agar IP tidak tinggi

202
Prosiding Seminar Nasional, 2017

UCAPAN TERIMA KASIH Research Institute. Los Banos,


Philippines. IRRI; 2013
Penelitian ini didanai oleh program
kegiatan Biovillage IPH LIPI tahun Khaeruni, A., M. Taufik, T. Wijayanto,
E. A. Johan. Perkembangan
2016. Makalah ini merupakan bagian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada
dari laporan kegiatan dan termasuk Tiga Varietas Padi Sawah yang
Diinokulasi pada beberapa Fase
pada salah satu bentuk output. Ucapan Pertumbuhan. Jurnal Fitopatologi
terima kasih sebesar-besarnya Indonesia. 2014; 10(4): 119–125.
disampaikan kepada Sdri Catur Laksono, K.D., C. Nasahi, dan N.
Atklistiyanti dan Yudi Slamet Hidayat Susniahti. Inventarisasi Penyakit
pada Tanaman Jarak (Jatropha
atas kerjasama dan bantuannya selama curcas L.) Pada Tiga Daerah di
penelitian berlangsung. Jawa Barat. Jurnal Agrikultura.
2010; 21(1):31-38.
DAFTAR PUSTAKA Misra, J.K., S.D. Merca, and T.W.
Mew. Fungal pathogens. In : T.W.
Aditya, R. H., W. S. Wahyuni, dan P.
Mew and J.K. Misra. Editor. A
A. Mihardjo. Ketahanan Lapangan
Manual of Rice Seed Health
Lima Genotipe Padi terhadap
Testing. Philippines. International
Penyakit Hawar Daun Bakteri.
Rice Research Institute. 1999: p.
Jurnal Fitopatologi Indonesia. 2015;
75-90.
11(5):159–165.
Ora, N., A.N. Faruq, M.T. Islam, N.
Faruq, A. N., M. R. Amin, M. R. Islam,
Akhtar, and M.M. Rahman.
M. T. Islam , M. M. Alam.
Detection and Identification of Seed
Evaluation of some selected seed
treatments against leaf blast, brown Borne Pathogens from Some
Cultivated Hybrid Rice Varieties in
spot and narrow brown leaf spot
Bangladesh. Middle-East Journal of
diseases of hybrid rice. Advance in
Scientific Research.
Agriculture and Biology. 2015;
2011;10(4):482-488.
4(1): 8-15.
Rahman, M.M., M.T. Islam, A.N.
Imolehin, E.D. Rice Seedborne Fungi
Faruq, N. Akhtar, N. Ora and M.M.
and Their Effect on Seed
Uddin. Evaluation of Some
Germination. Plant Disease.
Cultivated Hybrid Boro Rice
1983;67(12):1334-1336.
Varieties Against BLB, ShB and
ALS Diseases Under Natural
IRRI. A Manual of Rice Seed Health
Epiphytic Conditions. Middle-East
Testing. International Rice Research
Journal of Scientific Research.
Institute. Los Banos, Philippines.
2013; 15(1): 146-151
IRRI; 1994.
Suprihatno, B., A.A. Daradjat, Satoto,
Baehaki, Suprihanto, A. Setyono,
IRRI. Standart Evaluation System
S.D. Indrasari, I.P. Wardana, H.
(SES) for Rice. International Rice

203
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Sembiring. Deskripsi Varietas Padi.


Balai Besar Tanaman Padi; 2010.

Syam, M., Suparyono, Hermanto, dan


D. Wuryandari S. Masalah Lapang
Hama, Penyakit, Hara pada Padi.
Balai Besar Penelitian Tanaman
Padi; 2008.

Islam, [Link]., Q.S.A. Jahan, K.


Bunnarith, S. Viangkum, and S.D.
Merca. Evaluation of Seed Health
of Some Rice Varieties under
Different Condition. Botanical
Bulletin of Academia Sinica.
2000;41:293-297.

204
Prosiding Seminar Nasional, 2017

POTENSI SENYAWA KIMIA DAUN MURBEI (Morus albavar Kanva-2)


SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN

Potential of Chemical Compounds Mulberry Leaves (Morus alba Var Kanva-2)


as Antibacterial and Antioxidant

Rosita Dewi1 dan Novitri Hastuti2


1Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan,
2
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil
Hutan Jl. GunungBatu no.5 Bogor
email:[Link]@[Link], 2novienov3@[Link]

ABSTRACT

Biodiversity has a function as a source of germplasm to support plant development for medicinal
plants. Mulberries (Morus sp) have known as plant with variety benefits as a medicinal plant. This
study aimed to analyze content of chemical compounds in the leaves of mulberry plant (Morus alba var
kanva-2). Components of chemical compounds of mulberry leaves Kanva-2 were analyzed using Gas
Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS) Pyrolisis. Analysis result shows there are 50 kinds of
chemical compounds contained in mulberry leaves Kanva-2. Analysis result showed that mulberry leaf
Kanva-2 contains phytolat a retention time 17,540 minutes, tochoperolat a retention time 28,277
minutesand nerolidolat a retention time 24,233 minutes. Literature study showed that phytol compound
has antibacterial properties, tocopherol compound has antioxidant properties and nerolidol compound
has both of antibacterial and antioxidant [Link] of this study showed that the leaves of
mulberry Kanva-2 (Morus alba var Kanva-2) potential as a medicinal plant which has antibacterial
and antioxidant compound.

Keywords : Kanva-2,mulberry, nerolidol, phytol, tocopherol.

PENDAHULUAN

Keanekaragaman hayati atau papan serta obat-obatan. Pemanfaatan


biodiversitas adalah berbagai macam keanekaragaman hayati sebagai sumber
variasi bentuk, penampilan, jumlah dan tumbuhan obat saat ini menjadi salah
sifat yang tampak pada berbagai satu cara alternative di dalam bidang
tingkatan persekutuan makhluk hidup pengobatan. Penggunaan tanaman obat
yang meliputi tingkatan ekosistem, sebagai bahan alami diyakini memiliki
jenis dan [Link] satu fungsi dari efek samping yang lebih kecil bila
keanekaragaman hayati adalah sebagai dibandingkan dengan pengobatan
sumber penghidupan dan kelangsungan menggunakan obat-obatan sintetis.
hidup manusia melalui pemenuhan Salah satu tanaman yang telah banyak
kebutuhan bahan sandang, pangan,
205
Prosiding Seminar Nasional, 2017

digunakan seebagai tumbuhan obat paling banyak digunakan di dalam


adalah tanaman murbei (Morus alba). pengobatan tradisional di China karena
Tanaman murbei berbentuk diyakini memiliki aktivitas therapeutik
semak atau perdu yang memiliki yang baik serta memiliki kadar
cabang yang banyak dan tingginya toksisitas yang rendah (Li, 2008).
dapat mencapai 5- 6 meter, namun bila Secara umum pemanfaatan
dibiarkan tumbuh, tingginya dapat tanaman murbei saat ini adalah sebagai
mencapai 20-25 meter. Tanaman sumber pakan utama bagi ulat sutera
murbei juga banyak digunakan sebagai (Bombyx mori), tanaman murbei
tanaman penghijauan karena memiliki memiliki kandungan gizi dan nutrisi
perakaran yang dalam dan mampu yang lengkap bagi pertumbuhan ulat
menahan laju erosi tanah. Tanaman sutera. Daun murbei mengandung air,
murbei dapat tumbuh dengan baik di karbohidrat dan protein yang
daerah sub tropis dan tropis. Tanaman bermanfaat bagi perkembangan ulat
murbei dapat tumbuh mulai dari [Link] selain manfaat sebagai
ketinggian 10-3.600 m dpl pada semua pakan utama ulat sutera, masyarakat di
jenis tanah asalkan ketersediaan air dan berbagai daerah telah memanfaatkan
udara dalam tanah [Link] daun murbei sebagai obat tradisional.
murbei sudah banyak tersebar di Daun Morus alba dipercaya berkhasiat
Indonesia dan dikenal memiliki sebagai peluruh air seni, obat demam,
beberapa nama dalam berbagai bahasa obat malaria dan obat tekanan darah
daerah seperti: Babasaran (Jawa barat), tinggi. Daun Morus albamengandung
besaran (Jawa timur), Kitau (Lampung), senyawa flavonoid, polifenol dan
Kertu (Sumatera Utara) dan Gertu alkaloid(Suteja, 2008).Penelitian ini
(Sulawesi). bertujuan untuk menganalisis
Tanaman Murbei (Morus alba) kandungan senyawa pada daun tanaman
merupakan tanaman yang berasal dari murbei kanva-2 (Morus alba var kanva-
China dan penggunaan tanaman murbei 2) menggunakan metode Gas
dalam pengobatan di China telah Chromatography Mass
dilakukan semenjak 659 SM (Kumar Spectrometryserta mengidentifikasi
dan Chauchan, 2008). Morus alba senyawa-senyawa yang memiliki
adalah jenis tanaman murbei yang

206
Prosiding Seminar Nasional, 2017

potensi sebagai zat anti bakteri dan anti komponen yang terpisah. Selanjutnya
oksidan. spektrum puncak kromatogram dari
METODE sampel akan dicocokkan dengan
Persiapan bahan : Daun murbei spektrum yang ada di dalam library
(Morus alba var Kanva-2) yang (Wiley 7) yang menyimpan berbagai
digunakan dalam penelitian ini adalah jenis senyawa. Senyawa kimia yang
tanaman murbei kanva-2 yang berasal teridentifikasi sesuai kecocokkan
dari Kebun Percobaan Persuteraan dengan library dan dianalisis melalui
Alam Dramaga, Pusat Penelitian dan studi literature terkait dan buku Merck
Pengembangan Hutan, Bogor. Index.
Analisis senyawa kimia: HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis senyawa kimia daun murbei Salah satu varietas dari tanaman
(Morus alba var Kanva-2) dilakukan murbei (Morus alba) adalah tanaman
menggunakan metode Gas murbei kanva-2 (Morus alba var
Chromatography Mass Spectrometry Kanva-2). Tanaman murbei kanva-2 ini
(GC-MS) Pyrolisis dan dilakukan di memiliki produksi daun yang tinggi,
Laboratorium Pusat Penelitian dan sehingga berpotensi dalam
Pengembangan Keteknikan Kehutanan pengembangan produktivitas tanaman
dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor. murbei. Ciri-ciri umum tanaman ini
Analisis komponen kimia daun murbei adalah memiliki musim pertumbuhan
dilakukan menggunakan gas sepanjang tahun, pertumbuhan tanaman
chromatography-mass spectrometer yang lurus, percabangan di bagian
(GCMS) Shimadzu QP 2010 ULTRA. tengah dari ranting utama, helai daun
Kondisi alat menggunakan suhu kolom yang besar dan mengkilap, berwarna
60°C, suhu detektor 290°C, suhu hijau tua, bentuk daunnya membulat,
injektor 270 °C, dengan waktu analisa pangkal helai daun berbelah hati,
42-49 menit. Suhu program awal 60°C susunan tulang daun menyirip, tepi
naik 8°C per menit sampai suhu 280 daun bergerigi. Ukuran helaian daun
°C. Daun murbei dihaluskan lalu cukup besar dengan rata-rata panjang
sebanyak ± 0,2 µg diinjeksikan ke GC 10-25 cm dan lebar 10-20 cm.
sehingga terkromatografi dengan

207
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 1. Daun Murbei (Morus alba var Kanva-2).

Adapun klasifikasi tanaman Hasil identifikasi senyawa


murbei Kanva-2 sebagai berikut : penyusun daun murbei (Morus alba var
Kingdom : Plantae Kanva-2) yang dilakukan menggunakan
Division : Spermatophyta GC-MS, menunjukkan bahwa daun
Sub division : Angiospermae murbei (Morus alba var Kanva-2)
Ordo : Urticales memiliki 50 senyawa kimia (Gambar
Family : Moraceae 2.) ini terlihat dari 50 puncak (peak)
Genus : Morus hasil kromatogram daun murbei kanva-
Species : Morus alba L 2 dan sebanyak 44 dari senyawa
Varietas : Kanva-2 tersebut (88 %) dapat diidentifikasi.

208
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 2. Kromatogram Daun Murbei (Morus alba var Kanva-2).

Hasil analisis senyawa kimia retensi 40,020 menit, senyawa limonene


daun murbei(Morus alba var Kanva-2) (8,80 %) yang terdeteksi pada waktu
menggunakan GCMS menghasilkan retensi 10,173 menit, senyawa lupeyl
komposisi senyawa kimia yang dapat acetate (8,78%) yang terdeteksi pada
teridentifikasi seperti pada Tabel 1. waktu retensi 42,272 menit, senyawa
Hasil identifikasi senyawa (Tabel 1.) phytol (3,72%) yang terdeteksi pada
pada daun murbei (Morus alba var waktu retensi 17,540 menit, dan
Kanva-2) menunjukkan bahwa terdapat senyawa stearic acid (2,96%) yang
5 senyawa-senyawa penyusun utama terdeteksi pada waktu retensi 19,658
adalah senyawa lanosferyl acetate menit.
(9,36%) yang terdeteksi pada waktu

209
Prosiding Seminar Nasional, 2017

[Link] kimia penyusun Daun Murbei Kanva-2 (Morus alba var Kanva-2).

NAMA SENYAWA WAKTU RETENSI KONSENTRASI


(MENIT) (%)

Benzenesulfonic acid, 4-hydroxy- (CAS) Benzenesulfonic acid, p-hydroxy- 9,925 2,95

l-Limonene 10,173 8,80

2-Cyclopenten-1-one, 2-hydroxy-3-methyl- (CAS) Corylon 10,383 1,07

Phenol, 3-methyl- (CAS) m-Cresol 11,159 2,50

Pentanal (CAS) n-Pentanal 11,334 2,08

3-Ethyl-2-hydroxy-2-cyclopenten-1-one 11,550 0,84

Cyclopropane, 1,1,2-trimethyl-3-(2-methyl-1-propenyl)- (CAS) 12,365 0,82

1H-Indole (CAS) Indole 13,545 2,98

1H-Indole, 3-methyl- (CAS) 3-Methylindole 14,396 1,87

Tidak dapat diidentifikasi 14,645 1,40

4,8,12-TETRADECATRIENAL, 5,9,13-TRIMETHYL-l 14,735 1,15

Phenol, 2-methoxy-4-(2-propenyl)-, acetate (CAS) Aceteugenol 14,825 0,77

3-Hepten-2-one, 7-phenyl- (CAS) 15,203 0,64

1,6-ANHYDRO-BETA-D-GLUCOPYRANOSE (LEVOGLUCOSAN) 15,391 2,15

Dodecanoic acid (CAS) Lauric acid 15,617 1,10

2-Pentanol, nitrate (CAS) SEC-AMYL NITRATE 16,156 0,60

2-Hexadecen-1-ol, 3,7,11,15-tetramethyl-, [R-[R*,R*-(E)]]- (CAS) Phytol 17,540 3,72

Tidak dapat diidentifikasi 17,835 1,67

Tidak dapat diidentifikasi 17,942 1,25

2-Heptadecanone (CAS) 2-HEPTADECANON 18,009 1,40

4,8,12-TETRADECATRIENAL, 5,9,13-TRIMETHYL- 18,156 1,74

Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid 18,437 3,48

9,12-Octadecadienoyl chloride, (Z,Z)- 18,507 1,96

1,2-Oxathiane, 6-dodecyl-, 2,2-dioxide (CAS) 1,4-HEXADECANESULFONAT 18,565 1,38

1,4-diaza-2,5-dioxo-3-isobutyl bicyclo[4.3.0]nonane 18,687 2,48

1-Phenanthrenecarboxylic acid, 1,2,3,4,4a,9,10,10a-octahydro-1,4a-dimethyl 19,063 0,81

Tidak dapat diidentifikasi 19,167 1,01

210
Prosiding Seminar Nasional, 2017

9,12-Octadecadienoyl chloride, (Z,Z)- 19,261 1,57

Tidak dapat diidentifikasi 19,432 1,16

9,12,15-Octadecatrien-1-ol (CAS) OCTADECA-9,12,15-TRIEN-1-OL 19,595 3,03

Octadecanoic acid (CAS) Stearic acid 19,658 2,96

Tetradecane, 1-bromo- (CAS) 1-Bromotetradecane 19,775 1,28

9-Octadecenamide, (Z)- (CAS) OLEOAMIDE 19,852 2,26

Tidak diketahui 20,190 0,54

Hydroxylamine, O-decyl- (CAS) O-Decylhydroxylamine 20,341 0,76

Pyridinium, 1-hexadecyl-, chloride, monohydrate (CAS) Cetylpyridinium chlor 20,425 0,61

Cyclohexane, decyl- (CAS) n-Decylcyclohexane 20,617 1,17

Tidak dapat diidentifikasi 20,732 0,49

6,10,14-Hexadecatrien-1-ol, 3,7,11,15-tetramethyl-, [R-(E,E)]- (CAS) (+)-3D, 20,919 3,14

9,12,15-Octadecatrienoic acid, methyl ester, (Z,Z,Z)- (CAS) Methyl linolenat 20,983 1,34

N,N'-DIHEPTYL-2-HYDROXY-N,N'-DIMETHYL-MALONAMIDE 21,067 0,96

Nerolidol 24,233 1,04

Nitric acid, decyl ester (CAS) n-Decyl nitrate 25,151 0,67

Nitric acid, decyl ester (CAS) n-Decyl nitrate 26,561 0,55

beta.-Tocopherol 28,277 1,74

9,19-CYCLOLANOST-24-EN-3-OL, ACETATE 29,252 1,49

[Link].-Cholest-8-en-3-one, [Link].-hydroxy-14-methyl-, acetate (CAS) 29,509 0,77

ALPHA-TOCOPHERYL-BETA-D-MANNOSID 29,891 0,81

Lanosta-8,24-dien-3-ol, acetate, ([Link].)- (CAS) Lanosteryl acetate 40,020 9,36

Lupeyl acetate 42,272 8,78

211
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pemanfaatan daun murbei sebagai degenerative (Lamid, 1995). Tocopherol


obat tradisional sudah banyak dilakukan bekerja sebagai antioksidan karena
khususnya dalam penyembuhan penyakit memiliki sifat melindungi senyawa lain
diare, demam, malaria dan penyakit dari oksidasi dan merupakan pertahanan
degenerative seperti: tekanan darah utama melawan radikal bebas yang
tinggi, diabetes, kanker dan tumor. terkait dengan penyakit degenerative.
Penelitian menyatakan bahwa daun Radikal bebas akan menyerang
murbei memiliki aktivitas pertumbuhan sel dan menyebabkan
neuroprotective, memperhalus kulit, anti kerusakan struktur dan fungsi sel yang
bakteri, anti oksidan dan antihipertensi, memicu terjadinya penyakit kanker.
dan antihiperglikemik (Nomura et Fungsi penting dari tocopherol adalah
al.,1980) (Zafar et al., 2013). mampu menstimulasi respon imunologi
Pemanfaatan daun murbei sebagai obat yang terkait dengan peningkatan
alamiah sangat terkait dengan keberadaan kekebalan tubuh. Dengan adanya sifat
senyawa antibakteri dan antioksidan yang antioksidan dari tocopherol, sel dan
terkandung di dalam daun komponen tubuh akan terlindung dari
[Link] pemanfaatan senyawa serangan radikal bebas dan menghentikan
tersebut telah dapat diidentifikasi di oksidasi merusak pada sel. Tocopherol
dalam studi ilmiah. sebagai antioksidan dapat mencegah
Hasil analisis senyawa penyakit kanker(Lamid, 1995).
menggunakan metode GC-MS juga Phytol merupakan senyawa
menunjukkan bahwa daun murbei kanva- terpenoid yang memiliki aktivitas sebagai
2 memiliki kandungan senyawa yang zat [Link] adalah obat
berpotensi sebagai obat yaitu: zat anti atau senyawa kimia yang digunakan
bakteri seperti phytol, zat antioksidan untuk membunuh bakteri yang
yaitu β- tochoperol (1,74%) pada waktu merugikan. Penggunaan phytol sebagai
retensi 28,277 menit dan senyawa anti zat anti bakteri dalam bidang kesehatan
bakteri dan antioksidan yaitu nerolidol sangat diperlukan khususnya dalam
(1,04 %) pada waktu retensi 24,233 menangani penyakit diare yang
menit. disebabkan oleh bakteri E. coli.
Tocopherol merupakan zat Berdasarkan penelitian Ghaneian et al.,
pembentuk vitamin E alami yang (2015) senyawa phytol merupakan
memiliki sifat antioksidan yang mampu pilihan yang sangat baik dalam
menghambat terjadinya penyakit penggunaan desinfektan dikarenakan
212
Prosiding Seminar Nasional, 2017

fungsi senyawa phytol yang memiliki senyawa antioksidan yang dapat


aktivitas antimikroba yang sangat tinggi mencegah dan mengobati penyakit
khususnya pada bakteri dan fungi seperti degenerative seperti : hipertensi, kanker
: E. coli, C. albicans, A. niger dan S. dan tumor. Phytol merupakan senyawa
aureusdan senyawa phytol juga memiliki antibakteri yang berfungsi sebagai
nilai toksisitas yang rendah. desinfektan dan dapat mengobati
Senyawa nerolidol memiliki fungsi penyakit [Link] adalah senyawa
sebagai zat anti bakteri, antioksidan serta anti bakteri, antioksidan dan merupakan
senyawa yang dapat menghambat obat untuk menghambat penyakit
pertumbuhan penyakit [Link] malaria.
merupakan senyawa antibakteri karena
diketahui memiliki aktivitas yang dapat UCAPAN TERIMA KASIH
menghambat pertumbuhan bakteri gram Penulis mengucapkan terima kasih
positif dan [Link] juga kepada Dra. Lincah Andadari, [Link]
memiliki aktivitas antioksidan dan (Laboratorium Persuteraan alam, Pusat
merupakan senyawa yang sangat Penelitian dan Pengembangan Hutan).
potensial dalam menghambat DAFTAR PUSTAKA
Cepda N G, Santoso B B, Lisangan M
pertumbuhan [Link]
M, dan Silamba I. 2011. Komposisi
nerolidol pada terapi pengobatan malaria kimia minyak atsiri daun akway.
Makara s ains vol 15 No.1 :
dapat menghambat 50 % pertumbuhan
63-66.
Plasmodium falciparum(Cepda, Ghaneian T M, Ehrampoush H M, Jebali
A, Hekmatimoghaddam S, and
2011)yaitu parasit penyebab penyakit
Mahmoudi M. 2015. Antimicrobial
malaria pada manusia. activity, toxicity and stability of
phytol as a novel surface
disinfectant. Journal of
KESIMPULAN Environmental Health Engineering
Daun tanaman murbei kanva-2 and 1:13-16.
Kumar V, and Chauchan S. 2008.
(Morus alba var Kanva-2) berpotensi Mulberry : life [Link]
sebagai tanaman obat yang memiliki of Medicinal Plants Research
2:271-278.
senyawa antibakteri dan antioksidan. Lamid A. 1995. Vitamin E sebagai
Senyawa- senyawa potensial yang [Link]. Media
Litbangkes Vol V No.01 Hal
digunakan dalam pengobatan yang 14-17.
terkandung dalam daun murbei kanva-2 Li LN. 1998. Biologically active
components from traditional
adalah senyawa β-tocopherol, phytol dan chinese [Link] and
nerolidol. Tocopherol merupakan Applied Chemistry 70:547-554.

213
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Nomura T, T Fukai and G Kuwanon.


1980. A new flavone derivative
from the root barks of the
cultivated mulberry tree (Morus
alba L).Chemical and
Pharmaceutical Bulletin 28:2548-
2552.
Suteja H E. 2008. Pengaruh pemupukan
terhadap produksi daun murbei
(kanva-2) dan kualitas kokon ulat
sutera (Bombyx mori L).Skripsi.
Depart emen Sil vikultur.
Fakultas Kehutanan.
IP [Link] dipublikasikan.
Zafar M S, F Muhammad, I Javed, M
Akhtar, T Khaliq, B Aslam, A
Waheed, R Yasmin and H Zafar.
2013. White mulberry (Morus
alba) : A brief phytochemical and
pharmacological evaluations
account. International J ournal
of Agricult ure & Biology
15:612-620.

214
Prosiding Seminar Nasional, 2017

PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT MANGGIS


DALAM PEMBUATAN MINUMAN SERBUK KOPI INSTAN

Addition Of Extract Mangosteen Peel to Produce Instant Coffee Powder Drink

Raswen Efendi 1), Evy Rossi 1) danFitria Ulfah Apriani 1)


1)
Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Riau Pekanbaru
raswenrasyid@[Link]

ABSTRACT

Consumption of mangosteen as tropical fruits produce mangosteen peel wastes, which nowadays is
known to be utilized as a source of antioxidants because it contains a xanthone. Therefore, in its
utilization of the mangosteen peel ekstracts is combined with coffee extracts in the manufacture of
instant coffee, so when consumed, it functions not only as a drink refreshments, but also as a source of
antioxidants. The purpose of this study was to determine and obtain the optimal ratio between extract
coffee and extract the mangosteen peel on its quality of instant drinks powder. This study used a
Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and four replications and followed by
Duncan’s New Multiple Range Test(DNMRT) test at 5% level. The treatment in this study were rasio
extract coffee and extract the mangosteen peel; 100: 0 (K0M0), 90:10 (K1M1), 80:20 (K2M2), 70:30
(K3M3), and 60:40(K4M4) . The results of this study showed that the ratio of extract coffee and
extract the mangosteen peel was significantly effected the degrees acidity (pH), content of antioxidants
and caffeine, but moisture and ash level were not significant influenced by the treatments. There was
also significant effect of treatments on hedonic test for taste, aroma and color of product. The best
treatment in this study was rasio extract coffee and extract the mangosteen peel; 80: 20 (K1M1) with
moisture,ash and caffeine level respectively 2,18%,6,30% and 1,72%,pH 5,50, and antioxidants
content 33,29µg/ml. The sensory evaluation using hedonic test on flavor, aroma and color of instant
drink powder that contain extract coffee and the mangosteen peel was liked bypanelists.

Keywords : Coffee instant, extract coffee, extract mangosteen peel.

PENDAHULUAN masyarakat, tidak meninggalkan


ampas, mudah larut dalam air, dan
Kopi merupakan salah satu
lebih rendah kafein bila dibandingkan
bahan penyegar yang memiliki aroma
dengan kopi bubuk (Clarke dan
dan cita rasa khas yang disajikan
Vitzthum, 2001).Tingginya minat
dalam bentuk minuman dan cukup
masyarakat dalam mengkonsumsi
populer tidak hanya di Indonesia
kopi yang mudah disajikan, maka
tetapi juga di [Link] serbuk
perlu dilakukan inovasi
instan kopi juga termasuk produk
pengembangan produk baru dari
olahan biji kopi yang berpotensi untuk
olahan kopi dengan penambahan cita
dikembangkan karena digemari

215
Prosiding Seminar Nasional, 2017

rasa dan senyawa antioksidan pada Kulit manggis juga dapat digunakan
kopi seperti inovasi minuman serbuk sebagai bahan tambahan makanan,
instan kopi yang ditambahkan ekstrak salah satunya memberikan cita rasa
kulit manggis. dalam pembuatan minuman serbuk
Menurut Moongkarndi instan kopi yang banyak mengandung
dkk.(2004), kulit manggis berpotensi senyawa antioksidan. Berdasarkan
sebagai sumber [Link] hasil penelitian Rohim (2015)
manggis yang dahulu hanya menjadi formulasi kopi dengan tepung telur
limbah ternyata menyimpan potensi perbandingan 9:1 menghasilkan kopi
untuk dikembangkan menjadi produk telur instan terbaik secara sensori.
makanan atau minuman, obat-obatan METODE
dan produk pangan atau disebut Metode Penelitian
sebagai pangan [Link] negara Penelitian ini dilakukan secara
Cina, kulit manggis dijadikan obat- eksperimen dengan menggunakan
obatan herbal yang dikenal berkhasiat, Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dikarenakan kandungan senyawa dengan lima perlakuan dan empat kali
kimia yang terdapat pada kulit ulangan sehingga diperoleh 20 satuan
manggis berguna bagi kesehatan. percobaan. Perlakuanperbandingan
Gupita (2012), menyatakan bahwa ekstrak kopi dengan ekstrak kulit buah
senyawa yang berperan sebagai manggis adalah sebagai berikut:
antioksidan pada kulit manggis adalah 100:0(K0M0) ; 90:10(K1M1); 80 : 20
antosianin (5,7-6,2 mg/g), xanton dan (K2M2); 70 : 30 (K3M3); 60 :40
turunannya (0,7-34,9 mg/g). (K4:M4).
Pemanfaatan limbah kulit
manggis sekarang ini masih kurang Pelaksanaan Penelitian
optimal sehingga nilai ekonomis Tahap pelaksanaan dalam
rendah. Produk berbahan kulit pembuatan minuman serbuk instan
manggis biasanya hanya digunakan kopi dengan penambahan ekstrak kulit
dalam proses pembuatan obat-obatan manggis meliputi pembuatan ekstrak
dan teh herbal (Simajuntak, 2014). kulit manggis, pembuatan ekstrak

216
Prosiding Seminar Nasional, 2017

kopi, pembuatan serbuk instan kopi aroma dan warna dan penilaian
kulit manggis keseluruhan seperti pada Tabel 1.

Kadar Air
Pengamatan
Hasil pengamatan terhadap
Parameter yang diamati adalah
kadar air menunjukkan bahwa
kadar air (Andarwulan dkk,2011),
peningkatan jumlah ekstrak kulit
kadar abu (Sudarmadji dkk, 1997),
manggis dan penurunan jumlah
derajat keasaman (pH) (Muchtadi dkk,
ekstrak kopi memberikan pengaruh
2010), uji aktivitas antioksidan
tidak nyata terhadap kadar air serbuk
(William dkk, 1995 dalam Wijaya,
kopi instan kulit manggis.
2011), kadar kafein (Israyanti, 2012),
Hal ini disebabkan sifat
uji sensori terhadap rasa, aroma dan
higroskopis gula yang digunakan
warna serta penilaian keseluruhan
dalam jumlah yang sama lebih
(Setyaningsih dkk.,2010).
berperan dibandingkan dengan ekstrak
Analisis Data kulit manggis dalam pembuatan kopi

Data yang diperoleh dianalisis instant.. Kandungan air dalam serbuk

secara statistik menggunakan analisis kopi instan kulit manggis bervariasi

ragam (ANOVA). Apabila Jika F 2,01-2,51%. Kadar air serbuk kopi

hitung lebih besar atau sama dengan F instan kulit manggis semua perlakuan

tabel maka dilanjutkan dengan Uji memenuhi batasan maksimal kadar air

Duncan’s New Multiple Range Test kopi instan menurut SNI 01-2983-

(DNMRT) dengan tingkat signifikansi 2014 yaitu 4-5%.

α = 0,05.
Kadar Abu
HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa
peningkatan jumlah ekstrak kulit
Hasil pengamatan kadar air,
manggis dan penurunan jumlah
kadar abu, derajat keasaman (pH),
ekstrak kopi memberikan pengaruh
kadar aktifitas anti oksidan, kadar
tidak nyata terhadap kadar abu serbuk
kafein, uji sensori terhadap rasa,
kopi instan kulit manggis. Hal ini

217
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dikarenakan penurunan jumlah ekstrak lebih rendah dibandingkan pH ekstrak


kopi sampai 40% dan peningkatan kopi. Kulit manggis memiliki nilai pH
jumlah ekstrak kulit manggis sampai 3 (Gupita, 2012) sedangkan pH kopi
40% masih tidak memberikan hasil Arabika memiliki nilai pH 4. Semakin
yang signifikan, walaupun hasil dari rendah nilai pH menunjukkan semakin
masing-masing bahan menunjukkan tinggi kandungan asam yang terdapat
bahwa kadar abu kopi dan kadar abu pada ekstrak kulit manggis yang
kulit manggis yang digunakan berperan dalam pembentukan aroma
memiliki kandungan abu yang dan citarasa.
berbeda. Kadar abu pada kulit Kadar Aktivitas Antioksidan
manggis adalah 1,01% dan kopi Aktivitasantioksidan dapat
bubuk arabika memiliki kadar abu diketahui dengan metode 1,1-
5%. diphenyl-2- picryl hydrazyl(DPPH).
Derajat Keasaman (pH) Pengujian dengan metode DPPH
Tabel 1 menunjukkan bahwa berdasarkan pada aktivitas antioksidan
derajat keasaman (pH) minuman dalam menghambat radikal bebas
serbuk kopi instan kulit manggis pada melalui Hydrogen Atom Transfer.
perlakuan K0M0 berbeda nyata Mekanisme ini berdasarkan pada
(P<0,05) dengan derajat keasaman kemampuan antioksidan menetralkan
(pH) pada perlakuan K1M1, K2M2, radikal bebas dengan cara
K3M3, dan K4M4. Peningkatan jumlah mendonorkan atom H, sehingga warna
ekstrak kulit manggis dan penurunan ungu pada DPPH berubah menjadi
jumlah ekstrak kopi dapat warna kuning (Apak dkk, 2007). Hasil
menurunkan nilai derajat keasaman kadar aktivitas antioksidan serbuk
(pH) minuman serbuk kopi instan instan kopi kulit manggis kadar
kulit manggis. Hal ini disebabkan antioksidan (IC50) dapat dilihat pada
ekstrak kulit manggis memiliki pH Tabel 1.

218
Prosiding Seminar Nasional, 2017

40

Kadar antioksidan ug/ml


35 35.02
33.29 32.01
30 30.23
25
20
15
12.99
10
5
0
K0M0 K1M1 K2M2 K3M3 K4M4
Perlakuan

Gambar 1. Kadar aktivitas antioksidan (IC50) serbuk kopiinstan kulit manggis.

Gambar 1 menunjukkan bahwa memiliki senyawa antioksidan yang


kadar antioksidan dalam serbuk kopi tinggi, sehingga penambahan ekstrak
instan kulit manggis yang dihasilkan kulit manggis memberikan kadar
berkisarantara 12,99 sampai 35,02 antioksidan yang tinggi terhadap
µg/ml. Semakin tinggi rasio minuman serbuk kulit manggis.
penggunaan ekstrak kulit manggis dan
Kadar kafein
semakin rendah ekstrak kopi
menghasilkan antioksidan yang Tabel 1 menunjukkan bahwa
semakin tinggi terhadap serbuk kopi kadar kafein antar perlakuan berbeda
instan kulit manggis. Hal ini nyata. Kadar kafein K0M0 dan K1M1
dikarenakan antioksidan pada ekstrak berbeda nyata terhadap perlakuan
kulit manggis lebih tinggi K2M2, K3M3, dan K4M4. Peningkatan
dibandingkan dengan ekstrak kopi, jumlah ekstrak kulit manggis dan
sehingga dengan penambahan ekstrak penurunan jumlah ekstrak kopi
kulit manggis dan penurunan ekstrak menghasilkan kadar kafein yang
kopi maka kadar antioksidan akan semakin rendah pada serbuk kopi
meningkat. Hasil penelitian ini sejalan instan kulit manggis. Hal ini
dengan Prihastuti dkk. (2012) yang dikarenakan ekstrak kulit manggis
menyatakan bahwa kulit manggis tidak memiliki senyawa
[Link] SNI 7152-2006 batas
219
Prosiding Seminar Nasional, 2017

maksimum kafein di dalam makanan Tabel 1menunjukkan bahwa


dan minuman adalah 150 mg/hari dan atribut sensori aroma minuman serbuk
50 mg/sajian. kopi instan kulit manggis berbeda
Penilaian Sensoris nyata karena pengaruh rasio ekstrak
Rasa (Hedonik) kopi dan ekstrak kulit manggis. Hasil
Tabel 1 menunjukkan bahwa penilaian minuman serbuk kopi instan
rasio ekstrak kopi dan ekstrak kulit kulit manggis secara hedonik yang
manggis mampu mempengaruhi dilakukan oleh 50 orang panelis
tingkat kesukaan panelis terhadap berkisar 3,36-4,08 (agak suka hingga
minuman serbuk kopi instan kulit suka). Semakin tinggi rasio ekstrak
manggis. Penilaian hedonik yang kulit manggis yang ditambahkan maka
dilakukan oleh 50 orang panelis aroma ekstrak kopi yang terdapat pada
berkisar antara 3,08-4,30 yaitu (agak minuman serbuk kopi instan kulit
suka hingga suka). Semakin tinggi manggis akan semakin berkurang dan
penambahan ekstrak kulit manggis semakin menurun pula tingkat
dan semakin rendah penggunaan kesukaan [Link] ini sesuai
ekstrak kopi maka semakin menurun dengan Pastiniasih (2012), yang
tingkat kesukaan panelis terhadap menyatakan bahwa kopi mempunyai
minuman serbuk kopi instan kulit aroma yang khas disebabkan oleh
[Link] (2012) menyatakan senyawa-senyawa pembentuk aroma
kandungan senyawa tanin dalam kopi yang dihasilkan dari senyawa-
kulitbuah manggis menyebabkan pH senyawa volatil seperti aldehid, keton
asam dan rasa yang sepat, hal ini dan asam-asam yang menguap ketika
tentunya akan mempengaruhi rasa penyeduhan dan memberikan aroma
minuman serbuk kopi instan kulit yang khas.
manggis yang dihasilkan dan juga
mempengaruhi tingkat kesukaan Warna (Hedonik)
panelis. Tabel 1 menunjukkan bahwa
Aroma (Hedonik) rasio ekstrak kopi dan ekstrak kulit
manggis akan mempengaruhi warna

220
Prosiding Seminar Nasional, 2017

minuman serbuk kopi instan kulit minuman serbuk kopi instan kulit
manggis yang dihasilkan secara manggis. Hal ini dapat dilihat dari
hedonik. Hasil penilaian yang penilaian atribut rasa, aroma dan
dilakukan oleh 50 orang panelis warna semua atibut memiliki
terhadap atribut sensori warna penilaian agak suka hingga suka..
minuman serbuk kopi instan kulit RekapitulasiHasil Analisis
manggis berkisar antara 3,22-4,22 MinumanSerbuk Instan
(agak suka hingga suka). Rasio Produk pangan yang
ekstrak kopi dan ekstrak kulit manggis diproduksi diharapkan mampu
berpengaruh terhadap tingkat memenuhi gizi sesuai syarat mutu
kesukaan panelis terhadap atribut yang telah ditetapkan salah satunya
warna. Hal ini dikarenakan semakin oleh Standar Nasional Indonesia (SNI)
tinggi rasio penambahan ekstrak kulit serta penilaian sensori yang mampu
manggis dan semakin rendah ekstrak diterima oleh konsumen. Rekapitulasi
kopi menghasilkan warna hitam data berdasarkan parameter kadar air,
kecoklatan pada minuman serbuk kopi kadar abu, uji aktivitas antioksidan,
instan kulit manggis. kadar kafein dan penilaian sensori
Penilaian Keseluruhan (Hedonik) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan bahwa
semakin banyak penambahan ekstrak
kulit manggis maka penilaian panelis
secara hedonik terhadap penilaian
keseluruhan minuman serbuk instan
kopi kulit manggis dengan skor 3,30-
4,06 berdasarkan skala hedonik nilai
tersebut memiliki arti agak suka
hingga suka. Rasio ekstrak kulit
manggis yang semakin tinggi
memberikan pengaruh nyata terhadap
tingkat kesukaan panelis pada

221
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 1. Hasil analisis dan penilaian uji sensori minuman serbuk instan kopi kulit manggis
terbaik.

SNI 01- Perlakuan


Hasil nalisis
2983-2014 K0M0 K1M1 K2M2 K3M3 K4M4
Kadar air (%) Maks. 4/
2,01 2,18 2,21 2,29 2,51
maks.5
Kadar Abu (%) 6-14 6,32 6,30 6,29 6,22 6,19
Derajat keasaman
- 5,63d 5,50c 5,40b 5,32a 5,26a
pH
kadar aktivitas
antioksidan - 35,0198 33,2946 32,0105 30,2310 12,9946
(µg/ml)
Kadar kafein (%) Min.2,5/
1,83c 1,72bc 1,60b 1,51b 1,24a
maks. 0,3
Ujisensori
(hedonik)
- Rasa - 4,30c 3,98c 3,42b 3,30ab 3,08a
- Aroma - 4,08b 3,98b 3,60a 3,56a 3,36a
- Warna - 4,22d 3,82c 3,68bc 3,42ab 3,22a
Penilaian
- 4,06c 3,88c 3,64b 3,42ab 3,30a
keseluruhan
Ket: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukan berbeda
nyata (P<0,05) dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama menunjukan berbeda tidak
nyata (P>0,05).

Berdasarkan analisis fisik dan instan kulit manggis perlakuan K1M1


kimia minuman serbuk kopi instan kulit lebih rendah dibandingkan dengan
manggis terbaik yaitu perlakuan K1M1 perlakuan lainnya yaitu 1,72%.
(ekstrak kopi dan ekstrak kulit manggis Sementara penilaian sensori secara
90:10). Serbuk kopi instan kulit manggis hedonik minuman serbuk kopi instan
pada perlakuan K1M1 dinyatakan terbaik kulit manggis pada perlakuan K1M1
karena dari hasil analisis kimianya masih mendapatkan penilaian dari rasa, aroma,
memenuhi batasan maksimal kopi instan warna, dan keseluruhan yaitu 3,98 (suka),
menurut SNI 01-2983-2014 yaitu kadar 3,98 (suka), 3,82 (suka), dan 3,88 (suka).
air sebesar 2,18% dan kadar abu 6,30%. Berdasarkan hasil pengamatan secara
Derajat keasaman (pH) serbuk kopi keseluruhan, analisis kimia maupun
instan kulit manggis K1M1 yaitu 5,50 dan penilaian sensori dapat ditarik
kadar aktivitas antioksidannya 33,29 kesimpulan bahwasannya perlakuan
µg/ml, dimanasemakin rendah nilai IC50 terbaik dari minuman serbuk kopi instan
maka semakin tinggi aktivitas kulit manggis yang dihasilkan yaitu pada
antioksidannya. Kadar kafein serbuk kopi perlakuan K1M1 karena memiliki nilai

222
Prosiding Seminar Nasional, 2017

derajat keasaman (pH) yang mendekati


Badan Standarisasi Nasional. 2014. Kopi
netral dan kadar aktivitas antioksidannya
Instan. SNI 01-2983-2014.
yang tinggi serta penilaian sensori tingkat Jakarta.
kesukaan panelis yang tinggi dan dapat
Clarke, R. J. dan O. G Vitzthum. 2001.
diterima dan disukai oleh panelis. Coffee: Recent Developments.
Oxford: Blackwell Science.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian Gupita, C. N. 2012. Pengaruh berbagai
pH sari buah dan suhu
menunjukkan bahwaperlakuan
pasteurisasi terhadap aktivitas
terbaikberdasarkan parameter yang diuji antioksidan dan tingkat
penerimaan sari kulit buah
adalah serbuk kopi instan pada perlakuan
manggis. Skripsi Program Studi
perbandingan ekstrak kopi dengan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro,
ekstrak kulit manggis 90:10 (K1M1)
Semarang.
yang memiliki kadar air 2,18%, kadar
Pastiniasih L. 2012. Pengolahan kopi
abu 6,30%, derajat keasaman (pH) 5,50,
berbahan baku kopi lokal
aktivitas antioksidan 33,2946 µg/ml, Buleleng. Skripsi Fakultas
Teknologi Pertanian Institut
kadar kafein 1,72% dan uji sensori secara
Pertanian Bogor, Bogor.
hedonik warna, aroma dan rasa seduhan
Prihastuti D., A. Afif, L. Mukaromah,
minuman serbuk kopi instan disukai.
dan N. Widiani. 2012. Analisis
DAFTAR PUSTAKA karakteristik antioksidan dalam
mister kumis:minuman instan
Apak, R., K Guclu, B. Demirata, M. serbuk kulit manggis (Garcinia
Ozyurek, S.E Celik, B. mangostana L). Jurnal penelitian
Bectasoglu, K.I. Berker, and D. mahasiswa Universitas negeri
Ozyurt. 2007. Comparative Yogyakarta, volume VII nomor
evaluation of various total 2.
antioxidant capacity assays
applied to phenolic compounds Rohim H. 2015. Formulasi produk dan
with the cupric assay. karakterisasi minuman kopi telur
Molecules 12: 1496-1547. instan. Skripsi Fakultas
Teknologi Pertanian Institut
Badan Standarisasi Nasional. 1992. Kopi Pertanian Bogor, Bogor.
Instan. SNI 01-2983-1992.
Jakarta. Sudarmadji, S., B. Haryono dan Suhardi.
1997. Prosedur Analisa untuk
Badan Standarisasi Nasional.1996. Bahan Makanan dan Pertanian.
Serbuk Minuman Tradisional. Liberty. Yogyakarta.
SNI 01-4320-1996. Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 2004. Kopi Winarno, F. G. 2008. Kimia Pangan dan
Bubuk. SNI 01-3542-2004. Gizi. Gramedia Pustaka. Jakarta.
Jakarta.

223
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KAJIAN TUMBUHAN OBAT PASCA PERSALINAN PADA MASYARAKAT


SUNDA DI DESA CIBURIAL KECAMATAN CIMANGGU BANTEN

Study of Medicine Plants Postpartum, the Sundanese people in the village Ciburial
District Cimanggu Banten

Siti Dian Rosadi, Nisyawati, Afiatry Putrika


Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia, email: sitidian21@[Link]

ABSTRACT

A research on the medicinal plant diversity postpartum in Sundanese people in the village Ciburial, District
Cimanggu, Banten. The purpose of research is to determine the diversity of medicinal plants postpartum
utilized by people. The research method with the approach ethnobotany through interviews. Interviews were
conducted on 63 people consisting of three key informants and 60 common respondents. The plants used by
the community as a medicine postpartum consists of 46 spesies24 family. Family is the most widely used is
Zingeberaceae (10 species). The most dominant plant habitus is terna (21 species). Part of the plant can be
used in the treatment of roots, rhizomes, stems, leaves and fruit. The leaves are part of the plant most widely
used (23 species). Medicinal plants are used predominantly derived from the yard (32 species) and generally
a wild plant.

Keywords : Medicinal plants, postpartum

PENDAHULUAN adalah pengobatan dengan cara, obat, dan


pengobatnya mengacu kepada
Indonesia merupakan negara pengalaman dan keterampilan turun
mega biodiversitas tumbuhan, termasuk temurun (Surat Keputusan Menteri
tumbuhan obat. Berdasarkan data Kesehatan 2003). Pengobatan tradisional
Kementerian Kesehatan RI (2011), umum digunakan pada pasca persalinan
kekayaan tumbuhan obat Indonesia normal, oleh wanita di pedesaan. Bentuk
terdiri atas 7.000 spesies (21%) dari pengobatan yang dilakukan yaitu berupa
30.000 spesies tumbuhan yang ada di konsumsi ramuan tumbuhan obat
Indonesia. Kekayaan tumbuhan tersebut (Dahlianti dkk. 2005). Pengobatan
merupakan aset nasional yang perlu tersebut bertujuan untuk mengembalikan
digali, diteliti, dikembangkan, dan tenaga, (Setyowati 2007), menghindari
dioptimalkan pemanfaatannya infeksi (Santhyami dan Sulistyawati
(Departemen Kesehatan RI 2007). 2007), dan pemulihan alat reproduksi
Tumbuhan obat di Indonesia pasca persalinan (Dahlianti dkk. 2005).
mempunyai peran penting, salah satunya Pengobatan pasca persalinan
untuk pengobatan tradisional (Tudjuka secara tradisional masih berlaku pada
dkk. 2014). Pengobatan tradisional beberapa kelompok masyarakat di

224
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Indonesia, antara lain etnik Muna diduga berlaku pada pengetahuan


Sulawesi Tenggara, dan etnik Buton pengobatan pasca persalinan secara
(Windadri & Rahayu 2006; Jahidin dkk. tradisonal, yang dimiliki masyarakat
2014). Pengobatan tersebut juga berlaku Sunda Desa Ciburial.
pada etnik Sunda di Jawa Barat, di Berdasarkan prapenelitian,
antaranya masyarakat Desa Sukajadi, dan pengetahuan pengobatan pasca persalinan
masyarakat adat Kampung Dukuh, secara tradisional pada masyarakat Sunda
(Roosita dkk. 2006; Santhyami dan Desa Ciburial terancam keberadaanya
Sulistyawati 2007). Hasil prapenelitian akibat pengobatan modern. Hal tersebut
menunjukkan, bahwa pengobatan pasca dapat dilihat dari dominansi tenaga
persalinan secara tradisonal juga berlaku pengobat modern yaitu bidan sebanyak 7
pada masyarakat Sunda di Desa Ciburial, orang, sedangkan jumlah dukun
Kecamatan Cimanggu, Banten. persalinan hanya 2 orang. Keadaan
Keberadaan pengobatan pasca semakin diperparah dengan tidak adanya
persalinan secara tradisional dapat regenerasi dukun persalinan di Desa
mengalami pergeseran akibat pengobatan Ciburial. Oleh karena itu, penelitian perlu
modern. Berdasarkan Survey Sosial dilakukan sebagai upaya melindungi
Ekonomi Nasional tahun 2009, sekitar pengetahuan lokal tersebut
77,34% persalinan di Indonesia ditangani BAHAN DAN METODE
pengobatan modern (Kementerian
Kesehatan RI 2011). Hal tersebut dapat Pengumpulan data penelitian
mengakibatkan hilangnya pengetahuan dilakukan melalui wawancara. Informan
lokal masyarakat tentang pengobatan yang berperan pada wawancara terdiri
pasca persalinan secara tradisional. dari informan kunci dan responden
Pemanfaatan tumbuhan untuk umum. Informan kunci berjumlah 3
pengobatan tradisional dilakukan orang (Sheil dkk. 2004), terdiri dari 1
berdasarkan pengetahuan lokal yang orang pegawai pemerintahan setempat
dimiliki masyarakat (Indrawati dkk. dan 2 orang paraji. Responden umum
2015). Tudjuka dkk. (2014) menyatakan sebanyak 60 orang, yaitu 10% dari
bahwa masih ada pengetahuan lokal jumlah total wanita yang sudah
berbagai kelompok masyarakat yang mengalami persalinan (Rahayu &
belum terdokumentasi. Hal tersebut Sulistriani 2008). Wawancara dengan

225
Prosiding Seminar Nasional, 2017

informan kunci dilakukan menggunakan Keanekaragaman Tumbuhan Obat


Pasca Persalinan Berdasarkan
teknik wawancara terbuka semistruktural,
Pengetahuan Lokal Masyarakat Sunda
sedangkan untuk responden umum Desa Ciburial
menggunakan wawancara tertutup
Hasil wawancara menunjukan,
terstruktur.
bahwa tumbuhan yang dimanfaatkan
masyarakat Sunda Desa Ciburial untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN
pengobatan pasca persalianan mencapai
46 spesies (Tabel 1.), yang terdiri dari 24
famili. Famili yang paling banyak
digunakan yaitu Zingeberaceae (10
spesies). Tumbuhan obat pasca persalinan
Desa Ciburial
yang dimanfaatkan masyarakat Desa
Lampeapi & masyarakat adat Kampung

Gambar 1. Peta lokasi pengambilan data. Dukuh juga didominasi Zingiberaceae


(Rahayu & Prawiroatmodjo 2005;
Desa Ciburial merupakan satu Santhyami & Sulistyawati 2007). Bagi
dari 12 desa yang ada di Kecamatan sub-etnis Batak Karo Zingiberaceae
Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, merupakan kelompok tumbuhan utama
Provinsi Banten. Bagian timur desa yang digunakan dalam perawatan
tersebut berbatasan dengan Kecamatan kesehatan pasca persalinan (Silalahi dkk.
Cibaliung, bagian utara dengan Desa 2014).
Cijaralang, kemudian bagian selatan dan Bagian-bagian tumbuhan yang
barat berbatasan dengan Desa Padasuka. dimanfaatkan untuk pengobatan pasca
Luas wilayah Desa Ciburial yaitu sekitar persalinan secara tradisional dapat berupa
12,13 Km2. Desa Ciburial berada pada akar, rimpang, batang, daun, dan buah.
ketinggian ± 500 mdpl dan memiliki Berdasarkan Gambar 2. bagian tumbuhan
curah hujan rata-rata 2.000-4.000 yang paling banyak dimanfaatkan pada
mm/tahun. Penduduk didominasi etnik pengobatan adalah daun, yaitu sebanyak
Sunda yang terdiri atas 2.623 laki-laki 23 spesies. Menurut Dahlianti dkk.
dan 2.413 perempuan dengan mata (2005), Roosita dkk. (2006), Santhyami
pencaharian utamanya yaitu bertani. dan Sulistyawati (2007), daun merupakan
bagian tumbuhan yang umum digunakan

226
Prosiding Seminar Nasional, 2017

untuk pengobatan pasca persalinan secara Tumbuhan yang dimanfaatkan


tradisional. masyarakat pada pengobatan pasca
persalinan dapat diperoleh dari berbagai
sumber antara lain hutan, kebun, dan
pekarangan. Berdasarkan hasil penelitian,
diketahui bahwa pekarangan merupakan
sumber utama perolehan tumbuhan obat
(Gambar 3.). Sebanyak 37 spesies
tumbuhan obat pasca persalinan
Gambar 2. Diagram batang perbandingan
jumlah spesies tumbuhan obat diperoleh dari pekarangan. Hasil studi
pasca persalinan masyarakat
Sunda Desa Ciburial literatur menunjukkan bahwa pekarangan
berdasarakan bagian tumbuhan juga merupakan sumber perolehan utama
yang dimanfaatkan.
tumbuhan obat pasca persalinan bagi

Menurut masyarakat, tingginya masyarakat Desa Lampeapi, Sulawesi

penggunaan daun pada pengobatan pasca Tenggara, dan masyarakat sekitar Cagar

persalinan disebabkan oleh keunggulan Alam Gunung Simpang, Jawa Barat

yang dimiliki. Berbeda dengan organ (Rahayu & Prawiroatmodjo 2005;

lainnya, daun dapat diperoleh setiap Handayani 2015).

waktu dengan cara yang mudah. Selain


itu penggunaan daun relatif mudah
karena dapat dikonsumsi secara langsung
dalam bentuk lalapan. Jumlah ataupun
produktivitas daun lebih banyak serta
dapat dimanfaatkan secara terus-menerus Gambar 3. Diagram batang perbandingan
dan penggunaannya tidak membahayakan jumlah spesies tumbuhan obat
pasca persalinan masyarakat
tumbuhan, karena bagian tersebut mudah Sunda Desa Ciburial
berdasarkan sumber
beregenerasi (Handayani 2015). perolehannya.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut dapat Tumbuhan obat pasca persalinan


diketahui bahwa penggunaan organ daun yang dimanfaatkan masyarakat Sunda
dalam pengobatan berkaitan dengan Desa Ciburial dapat berupa liar atau
upaya konservasi masyarakat terhadap budidaya. Berdasarkan Gambar 4.
tumbuhan. tumbuhan obat yang digunakan pada

227
Prosiding Seminar Nasional, 2017

pengobatan didominasi tumbuhan liar. tumbuhan obat pasca persalinan yang


Tumbuhan obat yang digunakan etnik dimanfaatkan masyarakat juga
Muna Sulawesi Tenggara, masyarakat didominasi kelompok terna.
Kampung Dukuh, Jawa Barat, etnik
Buton, dan sub-etnik Batak Karo,
Sumatra Utara juga didominasi oleh
tumbuhan liar. Tingginya keragaman
Gambar 4. Diagram batang perbandingan
tumbuhan obat liar diakibatkan oleh
jumlah spesies tumbuhan obat
tingkat pertumbuhan dan persebarannya pasca persalinan masyarakat
Sunda Desa Ciburial
yang luas di berbagai tipe lahan baik berdasarakan perbedaan status
kebun, pekarangan, ataupun hutan pememeliharaan.

(Windadri & Rahayu 2006; Santhyami &


Menurut Faisal dkk. (2016),
Sulistyawati 2007; Jahidin dkk. 2014;
tumbuhan liar umumnya merupakan
Silalahi 2014).
gulma. Pertumbuhannya yang cepat
Berdasarkan hasil wawancara
disebabkan oleh daya kompetisi yang
diketahui terdapat 4 kategori habitus
kuat terhadap tumbuhan lain dalam
tumbuhan obat yang dimanfaatkan
memperoleh hara, air, cahaya, CO2,
masyarakat, meliputi liana, terna, perdu,
maupun ruang tumbuh. Biji yang dimiliki
dan pohon. Pengelompokan habitus
tumbuhan liar umumnya ringan sehingga
mengacu pada Heyne (1987). Gambar 5.
mudah terdispersal. Dominansi tumbuhan
menunjukkan bahwa terna merupakan
liar juga dapat terjadi melalui mekanisme
kategori habitus yang dominan digunakan
alelopati.
pada pengobatan pasca persalinan.
Menurut Kubota dkk. (2009:) dan Hakim
(2014), tumbuhan penyedia bahan obat
umum diperoleh dari kelompok terna.
Berdasarkan hasil diskusi dengan
masyarakat, terna umum diketahui Gambar 5. Diagram batang perbandingan
jumlah spesies tumbuhan obat
sebagai kelompok tumbuhan yang paling
pasca persalinan masyarakat
beragam yang tumbuh di lingkungan Sunda Desa Ciburial
sekitar pemukiman. Oleh sebab itu Berdasarkan Kategori habitus.

228
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 1. Data keanekaragaman tumbuhan obat pasca persalinan masyarakat Sunda Desa
Ciburial, Kecamatan Cimanggu, Banten.

Bagian yang Sumber Status


No Nama lokal Nama latin dimanfaatkan perolehan pemeliharaan Habitus Famili
1 Kalapa Cocos nucifera L. Akar 1,2 Budidaya Pohon Palmae

2 Jahe Zingiber officinale R. Rimpang 1,2 Budidaya Terna Zingiberaceae

3 Cikur Kaempferia galanga L. Rimpang 1,2 Budidaya Terna Zingiberaceae

4 Sirih Piper betle L. Daun 1,2 Budidaya Liana Piperaceae

5 Bratawali Tinospora tuberculata B-M. Batang 1 Budidaya Perdu Menispermaceae

6 Sembung Blumea balsamifera DC. Daun 1 Liar Terna Compositae

7 Gedang Carica papaya L. Akar 1,2 Budidaya Terna Caricaceae

8 Kacapi Sandoricum koetjape M. Daun 1,2 Budidaya Pohon Meliaceae

9 Lame Alstonia scholaris R. Batang 1,2,3 Budidaya atau liar Pohon Apocynaceae

10 Koneng Curcuma domestica V. Rimpang 1,2 Budidaya Terna Zingiberaceae

11 Samiloto Andrographis paniculata N. Daun 1 Budidaya Terna Acanthaceae

12 Cecenet Physalis angulata L. Akar 1 Liar Terna Solanaceae

13 Jukut Bau Ageratum conyzoides L. Daun 1,2,3 Liar Terna Compositae

14 Singugu Clerodendron serratum S. Daun 3 Liar Perdu Verbenaceae

15 Lampuyang Zingiber zerumbet L. Rimpang 3 Liar Terna Zingiberaceae

16 Koneng Gede Curcuma xanthorrhiza R. Rimpang 3 Liar Terna Zingiberaceae

17 Kaju Anacardium occidentale L. Daun 1,2 Budidaya Pohon Anacardiaceae

18 Songgom Barringtonia insignis M. Daun 3 Liar Pohon Lecythidaceae

19 Kunci Boesenbergia rotundai L. Rimpang 3 Liar Terna Zingiberaceae

20 Caputuher Mikania scandens W. Daun 1,2,3 Liar Perdu Compositae

21 Laja Gowah Alpinia malaccensis R. Rimpang 2,3 Liar Terna Zingiberaceae

22 Kapol Amomum cardamomum W. Rimpang 3 Liar Terna Zingiberaceae

23 Koneng Lalab Curcuma amada V. Rimpang 3 Liar Terna Zingiberaceae

24 Harendong Melastoma malabathricum L. Daun 1,2,3 Liar Perdu Melastomataceae

25 Ki Hiyang Albizzia procera B. Batang 3 Liar Pohon Leguminosae

26 Ki Puak Paederia foetida L. Daun 3 Liar Perdu Rubiaceae

27 Mahonie Swietenia macrophylla K. Batang, Buah 1,2,3 Budidaya atau liar Pohon Meliaceae

28 Koneng Hideng Curcuma aeruginosa R. Rimpang 3 Liar Terna Zingiberaceae

29 Lampeni Ardisia humilis V. Daun 1 Budidaya atau liar Perdu Myrsinaceae

30 Kisampang Evodia latifolia D. Daun 3 Liar Pohon Myrsinaceae

31 Cente Lantana camara L. Daun 1,2,3 Liar Perdu Verbenaceae

32 Singadepa Thottea tomentosa O. Daun 1,2,3 Liar Perdu Aristolochiaceae

33 Segel Dillenia exelsa G. Daun 3 Liar Pohon Dilleniaceae

34 Jawer Kotok Coleus atropurpureus B. Daun 1 Budidaya Terna Labiatae

35 Kumis Kucing Orthosiphon stamineus B. Daun 1 Budidaya Terna Labiatae

36 Pecah Beling Strobilanthes cripus B. Daun 1 Budidaya Terna Acanthaceae

37 Katumpang Callicarpa longifolia L. Daun 1,2,3 Liar Perdu Verbenaceae

38 Areuy Hatta Lygodium circinatum S. Akar 1,2,3 Liar Liana Schizaeaceae

229
Prosiding Seminar Nasional, 2017

39 Mahkota Dewa Phaleria macrocarpa L. Buah 1 Budidaya Perdu Thymelaeceae

40 Jebug Areca catechu L. Buah, Akar 1,2 Budidaya Pohon Palmae

41 Pisitan Lansium domesticum C. Batang 1,2 Budidaya Pohon Meliaceae

42 Hanjuang Cordyline fruticosa B. Daun 1 Liar Perdu Liliaceae

43 Kawung Arenga pinnata M. Akar 1,2 Budidaya Pohon Palmae

44 Nampong Siegesbeckia orientalis W. Daun 1,2,3 Liar Terna Compositae

45 Erih Imperata cylindrica L. Akar 1,2,3 Liar Terna Gramineae

46 Ki Asahan Curculigo sp. Daun 3 Liar Terna Liliaceae

Keterangan: (1) pekarangan, (2) kebun (3) hutan

KESIMPULAN No 381/MENKES/SK/III/2007
tentang kebijakan obat tradisional
Keanekaragaman tumbuhan obat
nasional. Kementerian Kesehatan,
yang dimanfaatkan masyarakat Sunda Jakarta: 42 hlm.
Desa Ciburial untuk pengobatan pasca
Faisal, R., E.B.M. Siregar & N. Anna.
persalinan secara tradisional mencapai 46 2016. Inventarisasi gulma pada
tegakan tanaman muda
spesies. Daun merupakan bagian
Eucalyptus spp. Jurnal Program
tumbuhan yang paling banyak Studi Kehutanan, Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera
dimanfaatkan pada pengobatan (23
Utara: 44-49.
spesies). Tumbuhan obat yang
Handayani, A. 2015. Pemanfaatan
dimanfaatkan masyarakat dominan
tumbuhan berkhasiat obat oleh
diperoleh dari pekarangan (32 spesies). masyarakat sekitar Cagar Alam
Gunung Simpang, Jawa Barat.
Tumbuhan yang digunakan pada
Prosiding Seminar Nasional
pengobatan didominasi oleh tumbuhan Biodiversitas Indonesia 6(1): 1425-
-1432.
liar (26 spesies). Tumbuhan obat tersebut
umumnya berhabitus terna (21 spesies). Indrawati, Y. Sabilu & P.F. Zainal. 2015.
Keanekaragaman dan pemanfaatan
tumbuhan obat tradisional pada
DAFTAR PUSTAKA masyarakat di Kelurahan Lipu,
Provinsi Sulawesi Tenggara.
Dahlianti, R., A. Nasoetion & K. Roosita.
Biowallacea 2(1): 204--210.
2005. Keragaman perawatan
kesehatan masa nifas, pola
Jahidin, L.M. Galib, Muzuni & Damhuri.
konsumsi jamu tradisional dan
2014. Study tumbuhan obat
pengaruhnya pada ibu nifas di Desa
tradisonal etnik Buton. Jurnal
Sukajadi, Kecamatan Tamansari,
Sainsmat 3(1): 90--108.
Bogor. Media Gizi dan Keluarga
29(2): 55--65.
Kementerian Kesehatan RI. 2003. Surat
keputusan Menteri Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. 2007.
No.1076/Menkes/SK/VII tentang
Keputusan Menteri Kesehatan RI
penyelanggaraan pengobatan

230
Prosiding Seminar Nasional, 2017

trdisional. Kementerian RI, Jakarta: Nangka, Bogor. Media Gizi &


17 hlm. Keluarga 30(1): 77-87.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Santhyami & E. Sulistyawati. 2007.


Integrasi pengobatan tradisional Etnobotani tumbuhan obat oleh
dalam sistem kesehatan nasional. 1 masyarakat adat Kampung Dukuh,
hlm. Garut, Jawa Barat. School of Life
[Link] Science & Technology: 1-10.
nt/1706/integrasi-pengobatan-
tradisional-dalam-sistem- Setyowati, F.M. & Wardah. 2007.
[Link]: 16 Keanekaragaman tumbuhan obat
Februari 2016, pk. 23.12. masyarakat Talang Mamak di
sekitar Taman Nasional Bukit Tiga
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Puluh, Riau. Biodiversitas 3(8):
Berbagai terobosan guna 228-232.
menghadapi tantangan di bidang
kesehatan. 1 hlm. Sheil, D., R.K. Puri, I. Basuki, M. van
[Link] Heist, M. Wan, N. Liswanti,
nt/1700/berbagai-terobosan-guna- Rukmiyati, M.A. Sardjono, I.
hadapi-tantangan-di-bidang- Samsoedin, K. Sidiyasa,
[Link]: 16 Chrisandini, E. Permana, E.M.
Februari 2016, pk. 23.12. Anggi, F. Gatzweiler, B. Johnson &
A. Wijaya. 2004. Mengeksplorasi
Kubota, N., H.Y. Hadikusumah, O.S. keanekaragaman hayati,
Abdoellah & N. Sugiyama. 2009. lingkungan dan pandangan
Change in the utilization of masyarakat lokal mengenai
cultivated plants in homegardens in berbagai lanskap hutan. Center for
West Java for twenty years. Gajah International Forestry Research,
Mada University Press, Jakarta: ix + 101 hlm.
Yogyakarta: 157 hlm.
Silalahi, M., J. Supriatna, E.B. Waluyo &
Rahayu, M. & S. Prawiroatmodjo. 2005. Nisyawati. 2014. Pengetahuan lokal
Keanekaragaman tanaman keanekaragaman tumbuhan obat
pekarangan dan pemanfaatannya di pada kelompook sub-etnis Batak
Desa Lampeapi, Pulau Wawonii, Karo di Sumatra Utara. Bioeti: 146-
Sulawesi Tenggara. Jurnal Teknik 153.
Lingkungan 6(2): 360-364.
Tudjuka, K., S. Ningsihn & B. Toknok.
Rahayu, M. & D. Sulistriani. 2008. 2014. Keanekaragaman jenis
Etnobotani “Hoinu” Abelmoschus tumbuhan obat pada kawasan hutan
esculentus. Jurnal Teknik lindung di Desa Tindoli, Kabupaten
Lingkungan 9(1): 79-84. Poso. Warta Rimba 2(1): 120-128.
Windadri, F.I. & M. Rahayu. 2006.
Roosita, K., C. Kusharto, M. Sekiyama & Pemanfaatan tumbuhan obat oleh
R. Ohtsuka. 2006. Penggunaan masyarakat lokal suku Muna di
tanaman obat oleh pengobat Kecamatan Wakarumba,
tradisional di Desa Sukajadi Kabupaten Muna, Sulawesi
wilayah hutan wisata Curug Tenggara. Biodiversitas 7(4): 333-
339.

231
Prosiding Seminar Nasional, 2017

PEMANFAATAN TANAMAN OBAT OLEH MASYARAKAT DESA


CILENGKRANGGIRANG KECAMATAN PASALEMAN
KABUPATEN CIREBON

Utilization Medicinal Plant by Village cilengkranggirang Pasaleman


District of Cirebon

Yarni1
1
Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Nasional Jakarta
Email: yarniyarni21@[Link]

ABSTRACT

This research was conducted in the village Cilengkranggirang Pasaleman District of Cirebon that aims to
identify the types of medicinal plants which are still used by the local community. Given today's current
consumption of chemical drugs are already quite familiar with the community because it is easily obtained,
and the effect more quickly felt. The methods used are exploratory survey that interviews with people who
knew a lot and take advantage of the medicinal plants in their daily lives. Interview material is about what
plants are used, their use as a medicine, and plant parts used. The results show there are 27 species of
medicinal plants are used to treat various diseases including infections, kidney stones, coughing, nosebleeds,
diarrhea, eczema, colds, wounds, increase appetite, eliminate body odor, heartburn, nosebleeds and
degenerative diseases namely diabetes mellitus, hypertension, cholesterol, gout, arthritis, and cancer as well
as increasing breastfeeding after birth.

Keywords : Medicinal plants, village Cilengkrang.

PENDAHULUAN alternatif pengobatan atau dapat


Gaya hidup kembali ke alam dipasangkan dengan pengobatan medis.
(back to nature) sudah menjadi tren saat Bahkan ada penyakit yang tidak dapat
ini sehingga masyarakat kembali disembuhkan dengan obat kimia dapat
memanfaatkan berbagai bahan alam, sembuh dengan obat tradisional sperti
termasuk pengobatan dengan tumbuhan kanker, diabetes militus, rematik dan
obat (herbal). Penggunaan tanaman obat lain-lain
untuk penyembuhan suatu penyakit Dewasa ini, penelitian dan
didasarkan pada pengalaman yang secara pengembangan tumbuhan obat, baik di
turun - temurun diwariskan oleh generasi dalam maupun di luar negeri berkembang
terdahulu kepada generasi berikutnya. pesat, terutama segi farmakologi maupun
Tanaman obat merupakan komponen fitokimiannya berdasarkan indikasi
dalam pengobatan tradisional. tumbuhan yang telah digunakan oleh
Pengobatan tradisional merupakan masyarakat dengan khasiat yang teruji

232
Prosiding Seminar Nasional, 2017

secara empiris. Hasil penelitian tersebut digunakan oleh masyarakat Desa


tentunya lebih memantapkan para Cilengkanggiran Kecamatan Pasaleman
pengguna tumbuhan di bidang kesehatan Kabupaten Cirebon.
akan khasiatnya.(Dalimarta, 2000). METODE
Penelitian kesehatan berskala Waktu dan Lokasi
nasional yang diselenggarakan oleh Penelitian dilakukan di Desa
Badan Penelitian dan Pengembangan Cilengkranggirang Kecamatan Pasaleman
Kesehatan Kementrian Kesehatan tahun Kabupaten Cirebon yang dilaksanakan
2013 menunjukan bahwa 49,0% rumah dari bulan September 2015.
tangga di Indonesia memanfaatkan 1. Bahan dan Alat
ramuan tanaman obat (Aditama, 2015). Bahan-bahan yang digunakan
Hal ini didukung oleh WHO yang telah dalam penelitian ini : tanaman yang
merekomendasikan penggunaan tanaman dimanfaatkan sebagai obat di area lokasi
obat tradisional atau tanaman obat herbal penelitian, kertas Koran, kertas karton,
dalam pemeliharaan kesehatan label, kamfer/fungisida, tanaman yang
masyarakat serta untuk mencegah dan belum diketahui diketahui nama jenis
pengobatan penyakit terutama penyakit ilmiah diambil contohnya untuk dibuat
kronis serta penyakit metabolik herbarium supaya dapat dilakukan
degeneratif kronis dan knker identifikasi.
(BALITBANGKES DEPKES RI, 2008). Alat-alat yang digunakan adalah
Saat ini pengobatan ke pelayanan pisau, golok, kantong plastik besar, tali-
kesehatan semakin mudah dilakukan temali, alat-alat tulis, gunting, sasak dan
karena bertambah banyaknya rumah peralatan dokumentasi.
sakit, puskesmas dan balai pengobatan. 2. Cara Kerja
Obat yang diberikan dapat langsung Penelitian menggunakan metode
dikonsumsi tanpa harus diolah lebih dulu survei lapangan yang terdiri dari : a). Pra-
dan manfaatnya langsung dapat eksploirasi yaitu mencari informasi dari
dirasakan. Bila masyarakat merasa sakit masyarakat yang menggunakan tanaman-
dapat memilih apakah akan tanaman sebagai obat dalam kehidupan
mengkonsumsi obat kimia atau obat sehari-harinya. Dilakukan wawancara
tradisional. Bedasarkan hal ini maka secara mendalam mengenai tanaman apa
dilakukan penelitian untuk mengetahui yang dimanfaatkan sebagai obat, bagian
jenis-jenis tanaman obat yang masih tanaman yang digunakan dan lain-lain b).

233
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Pengamatan dilakukan langsung ke penyakit di Desa Cilengkranggirang


lapangan untuk membuat koleksi dan foto Kecamatan Pasaleman Kabupaten
bila ada tanaman yang tidak diketahui Cirebon. Penyakit yang dapat diobati
nama lokal atau ilmiahnya, maka diambil yaitu bisul, diare, keputihan, darah
contoh tanaman seperti cabang, bunga rendah, luka, paru-paru, maag, sakit
dan buah serta dicatat ciri-ciri mata, bau badan, bau mulut, sariawan,
morfologinya untuk dibuat herbarium demam, mimisan,batuk, masuk angin,
supaya dapat dilakukan indentifikasi atau panu, keseleo, penambah nafsu makan
determinasi. dan penyakit-penyakit degeneratif yaitu
HASIL DAN PEMBAHASAN diabetes melitus, hipertensi, kolesterol,
Dari penelitian yang telah dilakukan asam urat, rematik, kanker, dan batu
terdapat 27 jenis tanaman obat yang ginjal serta memperbanyak ASI setelah
dimanfaatkan untuk mengobati berbagai melahirkan (tabel 1).

Tabel 1. Jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh


masyarakat Desa Cilengkranggirang Kecamatan Paselaman Kabupaten
Cirebon.

No Nama Nama Latin Familia Manfaat


Daerah
1 Dandang Clinacanthus Achantaceae Diabetes melitus (daun)
gendis burmani
2 Sirsak Annona Annonaceae Asam urat (daun), kanker (daun), bisul
muricata (daun).
3 Srikaya Annona Annonaceae Diare (daun).
squamosa
4 Tapak dara Catharantus Apocynaceae Diabetes melitus (daun)
roseus
5 Sambung Gynura Asteraceae Hipertensi (daun)
nyawa procumbens
6 Pacar air Impatiens Balsaminaceae Keputihan (daun)
balsamina
7 Binahong Andredera Basellaceae Darah rendah (daun), luka (daun), paru-
cordifolia paru (daun).
8 Pepaya Carica papaya Caricaceae Memperlancar buang air besar (buah)
9 Betadin Jatropha Euphorbiaceae Obat luka (getah)
multifida

10 Katuk Saurophus Euphorbiaceae Mempelancar ASI (daun).


androgynus
11 Singkong Manihot Euphorbiaceae Maag (Umbi)
Utilisima

234
Prosiding Seminar Nasional, 2017

12 Kitalot Isatoma Indaceae Sakit mata (daun dan batang),


longiflora
13 Kemangi Ocimum Lamiaceae Bau badan (akar, daun dan biji), bau
basilicum mulut (daun)
14 Kumis Orthosiphon Lamiaceae Batu ginjal (daun), diabetes militus
kucing aristatus (daun)
15 Saga kecil Abrus Leguminoceae Sariawan (daun), batuk (daun).
precatorius
16 Lamtoro Laucaena Leguminoceae Diabetes militus (biji)
leucocephala
17 Cincau Cylea barbata Manispermaceae Demam (daun), radang lambung
rambat (daun).
18 Salam Syzygium Myrtaceae Diabetes melitus (daun), kolesterol
polyanthum (daun).
19 Jambu biji Pisidium Myrtaceae Diare (daun)
guajava

20 Sirih hijau Piper betle Piperaceae Keputihan (daun), mimisan (daun), dan
batuk (daun)
21 Sereh Andropogon Poaceae Masuk angin (daun) dan setelah
nardus melahirkan (daun)
22 Ciplukan Physalis Solanaceae Luka (daun), batuk (daun), eksim (daun)
ungulata
23 Kencur Kaempferia Zingiberaceae Batuk (rimpang), keseleo (rimpang),
galanga masuk angin (rimpang).
24 Kunyit Cucurma Zingiberaceae Radang rahim dan diare (rimpang)
domestica
25 Jahe Zingiber Zingiberaceae Pegal-pegal (rimpang), rematik
officinnale (rimpang), batuk (rimpang).
26 Lengkuas Alpinia galanga Zingiberaceae Rematik dan panu (rimpang)
27 Temulawak Cucurma Zingiberaceae Menambah nafsu makan dan
xanthorrhiza memperbanyak ASI (rimpang)

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa Satu jenis tanaman dapat mengobati
bagian tanaman yang dimanfaatkan beberapa penyakit. Ada 6 jenis tanaman
sebagai obat mulai dari akar, umbi, yang dapat mengobati 3 macam penyakit
rimpang, batang, daun, buah,dan biji . seperti daun sirsak (asam urat, kanker dan
Dilihat dari organ tanaman sebagai obat bisul), binahong (darah rendah, luka dan
yang paling sering digunakan adalah paru-paru), sirih hijau (keputihan,
daun yang merupakan organ vegetatif, mimisan dan batuk), ciplukan (luka batuk
pertumbuhannya relatif cepat dan selalu dan eksim), kencur (batuk, keseleo dan
tersedia. masuk angin) dan jahe (pegal-pegal,
rematik dan batuk). Tanaman obat lain

235
Prosiding Seminar Nasional, 2017

yang dapat mengobati 2 macam penyakit struk, diabetes melitus, kolesterol, asam
ada 9 jenis tanaman yaitu kemangi, kumis urat dan rematik. Hal ini disebabkan
kucing, saga kecil, cincau rambat, salam, terjadinya perubahan gaya hidup, pola
sereh, kunyit, lengkuas, dan temu lawak, makan, faktor lingkungan, dan kurangnya
sedangkan tanaman obat yang dapat aktifitas fisik. Banyak mengkonsumsi
mengobati 1 macam penyakit ada 12 makanan berlemak dan kolesterol,
jenis tanaman yaitu dandang gendis, makanan dengan bahan adiktif seperti
srikaya, tapak dara, sambung nyawa, penyedap dan pengawet.
pacar air, pepaya, betadin, katuk, Dari data Depkes (2013)
singkong, kitolot,lamtoro dan jambu biji. prevalensi penyakit degeneratif terjadi
Masyarakat Desa Cilengkrang peningkatan dari tahun ke tahun seperti
menggunakan 27 jenis tanaman obat hipertensi 7,5% pada tahun 2007 menjadi
dalam kehidupan sehari-harinya, 9,5% pada tahun 2013, penyakit struk
walaupun demikian ada kecendrungan 8,5% pada tahun 2007 menjadi 12,1%
menggunakan obat-obatan kimia dari pada tahun 2013 dan penyakit diabetes
pada obat alami . Dari wawancara melitus 1,1% pada tahun 2007 menjadi
diketahui bahwa hal ini disebabkan oleh 2,1% pada tahun 2013.
tanaman obat disukai oleh hewan Untuk pengobatan penyakit-
peliharaan seperti ayam dan kambing penyakit degeratif mengunakan obat
sehingga lahan yang ditanam tanaman tradisional dianggap lebih tepat karena
obat perlu dipagar. Maka masyarakat efek sampingnya relatif kecil dan
lebih sering berobat ke Puskesmas dan pemakai obat relatif lama (Aditama,
Rumah Sakit dan didukung juga oleh 2014). Masyarakat Desa Cilengkrang
obat kimia mudah diperoleh dan cukup banyak menggunakan tanaman
manfaatnya cepat dirasakan dibandingkan obat untuk mengobati penyakit
obat alami yang umumnya memerlukan degeneratif seperti tabel 2 berikut ini.
pengolahan lebih dulu dan manfaat tidak
begitu cepat dirasakan.
Saat ini di negara berkembang
termasuk Indonesia terjadi perubahan
pola penyakit dari penyakit menular ke
penyakit degeneratif seperti jantung,

236
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 2. Penyakit-penyakit degeneratif yang diobati dengan tanaman


Obat di Desa Cilengkranggirang Kecamatan Pasaleman Kabupaten
Cirebon.

No Penyakit Bagian Tanaman


1 Asam urat Daun sirsak
2 Batu ginjal Daun kumis kucing
3 Diabetes militus Daun dandang gendis
Daun tapak dara
Daun salam
Daun kumis kucing
Biji Lantoro
4 Hipertensi Daun sambung nyawa
5 Kolesterol Daun salam
6 Kanker Daun sirsak
7 Rematik Rimpang jahe
Rimpang lengkuas

1. Asam urat apigenin), dan kumarin (skopoletin),


Daun sirsak digunakan oleh temu lawak mengandung kurkumin,
masyarakat Desa Cilengkranggirang xhantorizol, kurkuminoid, dan minyak
untuk mengobati penyakit asam urat. atsiri, kunyit mengandung kurkuminoid,
Daun sirsak mengandung senyawa resin, dan minyak atsiri, meniran
flavonoid, tanin, fitosterol, kalsium mengandung lignan (filantin,
oksalat, dan alkaloid. Dari penelitian hipofilantin), flavonoid, dan minyak
diketahui bahwa ekstrak daun sirsak atsiri. Komposisi formula jamu saintifif
dapat menurunkan kadar asam urat untuk mengobati asam urat adalah daun
tikus. Hasil penelitian ini tentu dapat tempuyung 2 gram, kayu secang 5 gram,
diaplikasikan pada manusia untuk daun kepel 3 gram, rimpang tamu lawak
mengurangi kadar asam urat darah 3 gram, rimpang kunyit 3 gram dan herba
(Adjie, 2011 dalam Artini, 2012). meniran 3 gram (Aditama, 2015).
Menurut Aditama (2015) saat ini 2. Batu ginjal
sudah ada fomula jamu saintifik untuk Pengobatan penyakit batu ginjal
mengobati asam urat ringan yaitu kepel sudah umum di Indonesia dengan
yang mengandung flavonoid, tanin, dan rebusan tanaman kumis kucing.
steroid, secang mengandung fenol Menurut Aditama (2014) daun kumis
(brazilin, brazilein), tempuyung kucing mengandung flavonoid yaitu
mengandung flavonoid (luteolin, epgenin 7-glukosida dan luteolin 7-

237
Prosiding Seminar Nasional, 2017

glukosida yang dapat bereaksi dengan menurun sehingga tekananan darah


batu ginjal berkalsium. juga turun. Saponin juga membantu
3. Diabetes melitus menurunkan tekanan darah dengan
Untuk mengobati penyakit diabetes membantu mengeluarkan air dan
melitus digunakan beberapa tanaman elektrolit terutama natrium.
yaitu daun dandang gendis, daun Menurut Aditama (2015) saat ini
tapak dara, daun salam, daun kumis sudah ada fomula jamu saintifik
kucing dan biji lamtoro. Di beberapa untuk mengobati hipertensi ringan
daerah di Indonesia daun tapak dara yaitu seledri yang mengandung
sudah umum dipergukan untuk Flavonoid (apiin, apigenin), dan
mengobati diabetes melitus. Menurut kumarin, kumis kucing mengandung
Aditama (2014) daun tapak dara diterpen, dan flavonoid, pegagan
banyak mengandung alkaloid yang yang mengandung glikosida
bermanfaat menurunkan gula. (asiatikosida dan madekasosida),
4. Hipertensi triterpen asam asiatat, quersetin, dan
Untuk mengobabati penyakit kaempferol, temu lawak mengandung
hipertensi masyarakat Desa kurkumin, xhantorizol, kurkuminoid,
Cilengkrang menggunakan tanaman dan minyak atsiri, kunyit
sambung nyawa. Menurut Fadli mengandung kurkuminoid, resin, dan
(2015) tanaman sambung nyawa minyak atsiri, meniran mengandung
mengandung flavonoid, sterol tak lignan (filantin, hipofilantin),
jenuh, triterpenoid, polifenol, flavonoid, dan minyak atsiri.
saponin, steroid, asam klorogenat, Komposisi formula jamu saintifif
asam kafeat, asam vanilat, asam para untuk mengobati hipertensi ringan
kumarat, asam para hidroksi benzoat, adalah herba seledri 5 gram, daun
dan minyak atsiri. Irawati (2015) kumis kucing 3 gram, daun pegagan 3
menyatakan bahwa flavonoid gram, rimpang tamu lawak 3 gram,
mempengaruhi kerja angiotensi rimpang kunyit 3 gram dan herba
converting enzym yang berefek meniran 3 gram.
terhadap penurunan tekanan darah 5. Kolesterol
dan juga penurunan retensi air dan Untuk mengobati penyakit
garam oleh ginjal serta absorpsi air kolesterol dapat digunakan daun
yang menyebabkan volume darah salam. Kadar atau jumlah kolesterol

238
Prosiding Seminar Nasional, 2017

yang tinggi dalam tubuh berbahaya menyatakan bahwa sirsak


karena dapat menyebabkan timbunan mengandung asetogenin yang mampu
di pembuluh darah dan akan terjadi melawan 12 jenis sel kanker.
penyempitan pembuluh darah. Banyaknya manfaat sirsak membuat
Menurut Wijayakusuma (1998) orang mulai beralih mengkonsumsi
salam mengandung sitral dan sirsak sebagai alternatif pencegahan
eugenol, tanin dan flavonoid. Dari dan pengobatan konvensional. Dari
hasil penelitian Umarudin dkk. (2012) penelitian Purdue University Amerika
yang menggunakan ekstrak seledri Serikat menyatak bahwa daun sirsak
yang mengandung tanin mempunyai mengandung senyawa yang sangat
efek yang signifikan untuk baik untuk pengobatan kanker karena
menurunkan kadar kolesterol total dapat pertumbuhan sel kanker yaitu
dan LDL. Menurut Harjana (2011) kanker payudara, kanker prostat,
telah banyak bahan alami lainnya kanker paru-paru, dan 12 kanker
yang sudah dilakukan penelitian bisa lainnya (Santoso, 2013).
menurunkan kadar kolesterol darah, 7. Rematik
atau bahkan sudah dikonsumsi Penyakit rematik menyerang
masyarakat dapat menolong sendi dari anggota tubuh yang
menurunkan kadar kolesterol darah bergerak seperti lutut. Tanaman obat
dan mengurangi resiko terserang yang digunakan untuk mengobati
penyakit degeneratif tersebut seperti penyakit rematik di Desa
jus belimbing wuluh, buah mentimun, Cilengkranggirang yaitu rimpang jahe
salak, ekstrak atau rebusan daun sirih dan rimpang lengkuas. Menurut
merah, ekstrak bawang putih, Santoso (2013), Wydianingrum
kecambah kacang kedelai, rebusan (2011) dan Wijayakusuma (1998)
daun katu, undur-undur, dan pacing. rimpang jahe dan lengkuas dapat
6. Kanker mengobati penyakit rematik. Menurut
Pennyakit kanker dapat diobati Kemenkes (2008 dalam Tim PC,
dengan daun sirsak. Menurut Adjie 2012) jahe merah dapat mengobati
(2011 dalam Artini, 2012) daun sirsak penyakit [Link] berakar
mengandung senyawa flavonoid, rimpang seperti jahe dan lengkuas
tanin, fitosterol, kalsium oksalat, dan mengandung senyawa flavonoid,
alkaloid. Dari hasil penelitian saponin, dan minyak atsiri yang

239
Prosiding Seminar Nasional, 2017

digunakan untuk obat. Rasa pedas KEPUSTAKAAN


pada akar rimpang jahe danlengkuas Aditama, T.Y., 2014. Jamu Dan
karena mengandung olereasin yang Kesehatan. BALITBANGKES
KEMENKES RI,
berguna untuk menghangatkan badan, 2014.
menjaga stamina dan mengobati
Aditama, T.Y., 2015. Jamu dan
batuk (Tim PC, 2012). Kesehatan II. BALITBANGKES
KESIMPULAN (LPB) Jakarta.
1. Masyarakat Desa Cilengkranggirang Artini, N.T.R., S. Wahyuni danW.D.
menggunakan 27 jenis tanaman untuk Sulihyngtyas, 2012. Ekstrak Daun
Sirsak
mengobati berbagai macam penyakit. Annona muricata L.) Sebagai
2. Penyakit generatif yang diobati Antioksidan Pada Penurunan
Kadar Asam
dengan tanaman obat yaitu asam urat, Urat Tikus Wistar. J. Kimia Vol.
batu ginjal, diabetes militus, 6 (2): 127 – 137.
hipertensi, kolesterol, kanker dan BALITBANG KEMENKES, 2013. Riset
rematik. Kesehatan Dasar 2013.
Saran Balai Besar Penelitian Dan Penngembang
Masyarakat Desa Cilengkrang girang Tanaman Obat Dan Obat
Tradidional
perlu mempertahankan budaya
penggunaan tanam obat dalam kehidupan BALITBANGKES DEPKES RI, 2008.
Tingkat Manfaat Keamanan Dan
sehari-haringnya mengingat semakin Efektifitas Tanaman Obat Dan
meningkatnya prevalensi penyakit Obat Tradisional.
degeneratif dan perlu adanya Dalimarta, S., 2000. Atlas Tumbuhan
pennyuluhan mengenai kelebihan obat Obat Indonesia. Tribus Agriwidya
Bogor.
tradisional dibandingkan obat kimia.
UCAPAN TERIMA KASIH Fadli, M.Y., 2015. Artikel Review:
Benefit Of Sambung Nyawa
Penulis mengucapkan terima kasih (Gynura procumbens) Subtance
kepada LPPM Universitas Nasional yang As Anticancer. J. Mayority Vol. 4
(5): 50 -53.
telah membiayai untuk dapat
terlaksananya penelitian ini. Harjana, T., 2011. Kajian Tentang
Potensi Bahan-bahan Alami
Untuk Menurunkan Kadar
Kolesterol Darah. Prosiding
Seminar Nasional Penelitian
Pendidikan Dan Penerapan MIPA.

240
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Fak. MIPA, Univ. Negeri Univ. Negeri Semarang Vol. 1


Yogyakarta. (2): 79 – 85.

Irawati, N.A.V., 2015. Antihypertensive Widyaningrum, H. Dan Tim Solusi


Effects Of Avicado Leaf Etract Alternatif, 2011. Kitab Tanaman
(Persea americana Mill.). J. Obat Nusantara Disertai Indeks
Mayority Vol. 4 (1): 44 – 48. Pengobatan. Penerbit MedPress
Yogyakarta.
Pujiasmanto B., 2009. Strategi
Pengembangan Budidaya Wijayakusuma, H.M.H., Dalimata, S.
Tumbuhan Obat Dalam Dan Wirian, A.S., 1996. Tanaman
menunjang Pertanian Berkhasiat Obat Di Indonesia.
Berkelanjutan. UPT Perpustakaan Jilid Ke 4. Penerbit Pustaka
Univ. Sebelas Maret. Kartini Jakarta.

Santoso, H.B., 2013. Tumpas Penyakit Zuhud EAM, Ekarelawan dan Riswan S.,
Dengan 40 Daun Dan Akar 1994. Hutan tropika Indonesia
Rimpang. Penerbit Cahaya Jiwa sebagai Sumber Keanekaragaman
Yogyakarta. Plasma Nutfah Tumbuhan Obat,
dalam Zuhud EAM. Haryanto
Tim PC, 2012. Modul Tanaman Obat (editor). Pelestarian Pemanfaatan
Herba Berakar Rimpang. Keanekaragaman Tumbuhan Obat
Southeast Asian Food And Hutan Trropika Indonesia, Bogor.
Technology (SEAFAST) Center Jurusan Konservasi Sumberdaya
Research And Community Hutan Fak. IPB dan Lembaga
Service Institution Bogor Alam Tropika Indonesia
Agricultural University. (LATIN).

Umarudin, Susanti, R. Dan Yuniastuti,


A., 2012. Efektifitas Ekstrak
Tanin Seledri Terhadap Profil
Lipid Tikus Putih. J. Of Life
Science Jurusan Biologi, FMIPA

241
Prosiding Seminar Nasional, 2017

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN OBAT DI DESA TIRTA JAYA


KAMPUNG SERAB DEPOK JAWA-BARAT

Plant Diversity of Medicine in Tirta Jaya Village Kampung Serab Depok West Java

Endang Wahjuningsih
Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

ABSTRACT

Indonesia is known as a country which rich in biodiversity, including medicinal plants that grow uncultivated in
nature and they have been cultivated. Diversity of flora in Indonesia is very abundant, the situation is strongly
influenced by various environmental factors that support growth and spread of the plant. At the beginning of
human civilization on earth all the flora is growing wild. As time goes by and urgency of needs then people start
doing domestication. With the re-emergence of the term of “Back to Nature”, the use of traditional medicine has
developed increased and expected healthy people can discover the secrets of the natural surroundings. The
purpose of this study was to determine the existence and distribution of the types of medicinal plants species
where located in Tirta Jaya village, KampungSerab, Depok, West Java. This study was conducted by a 5x5 meter
of terraced paths by made along the transect for 100 meters. The 5x5 meter observation plots has made
alternating right and left lane observations with intervals of 10 meters. Based on observations of medicinal
plants transects I that conducted in 1891 individuals consist of 43 types, classified into 41 genera and 25 tribes,
in transects II found in 3640 individuals which consist of 53 types, classified into 52 genera and 33 tribes. The
composition of medicinal plant species in two transects is the same that the similarity index value of 54.17. Index
of plant diversity transect I has shown low at 2,953. Transect II has a high biodiversity value as 4.6. The highest
INP is on the type of Eleusinindica of 25.52 and the lowest on the type of Cleome rutidospermae amounted to
8,18.

Keywords : Diversity, Kampung Serab, medicinal plant.

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang hayati ini memberikan keuntungan yang


dikenal kaya dengan keanekaragaman besar bagi masyarakat.
hayatinya, termasuk diantaranya tumbuhan Pada awal peradapan manusia
yang berkhasiat obat baik yang tumbuh liar semua flora yang ada di muka bumi
di alam maupun yang dibudidayakan. tumbuh secara liar. Seiring berjalannya
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat waktu dan desakan kebutuhan, manusia
tersebut merupakan warisan budaya bangsa mulai melakukan domestikasi dan kegiatan
dan sudah sejak lama masyarakat budidaya terhadap berbagai jenis tumbuhan
melakukannya. Kekayaan keanekaragaman yang dirasa dapat memenuhi kebutuhan

242
Prosiding Seminar Nasional, 2017

hidup. Jenis tumbuhan yang berpotensi secara ekonomi maupun waktu. Pengertian
sebagai tumbuhan obat umumnya pemanfaatan tumbuhan obat adalah
mempunyai kandungan senyawa bioaktif memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan
seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, yang tumbuh di sekitar kita dan
triterpenoid dan steroid. Pada dasarnya mempunyai khasiat untuk bahan
semua tumbuhan yang ada di muka bumi pengobatan secara tradisional (Soewito,
ini pasti berguna dan memberikan manfaat, 2007).
hanya saja belum diketahui manfaat apa Dengan melihat kenyataan di
yang ada pada tumbuhan tersebut. Menurut masyarakat, terutama untuk kalangan
WHO (2008) tumbuhan obat diartikan masyarakat yang kurang mampu untuk
sebagai tumbuhan yang memiliki aktivitas mendapatkan pelayanan kesehatan secara
atau kandungan kimia yang dapat medis selama ini dirasakan cukup sulit,
digunakan untuk tujuan terapetik atau maka akan lebih baik apabila dapat
tumbuhan yang mensintesis metabolit yang diusahakan adanya informasi-informasi
dapat digunakan untuk memproduksi obat mengenai tumbuhan yang ada di sekitar
yang bermanfaat. kita yang mempunyai potensi/manfaat
Masyarakat dalam memperoleh sebagai tumbuhan obat.
tumbuhan obat kemungkinan bisa diambil Dengan adanya informasi ini
dari hasil budi daya atau dari alam sekitar. diharapkan dapat menjadi solusi yang baik
Dengan munculnya kembali istilah Back to bagi masyarakat yang mengalami kesulitan
Nature pada masa kini maka penggunaan untuk mendapatkan pengobatan secara
obat tradisional oleh masyarakat medis. Bertolak dari permasalahan diatas,
mengalami perkembangan yang semakin diharapkan masyarakat dapat menemukan
meningkat. Dari berbagai jenis tumbuhan rahasia sehat dari alam sekitarnya. Pada
yang ada di sekitar kita baik yang sudah dasarnya tumbuhan dapat tumbuh
dibudidayakan atau yang masih tumbuh melimpah di berbagai habitat di Indonesia
liar mempunyai khasiat obat dan telah termasuk diantaranya tumbuhan yang
dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. berpotensi obat. Dengan digalakkannya
Purwanto (2006) menyatakan bahwa sosialisasi pemanfaatan obat herbal atau
pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan yang lebih dikenal dengan slogan Back to
obat-obatan sangat menguntungkan baik Nature maka semakin banyak masyarakat
243
Prosiding Seminar Nasional, 2017

yang memanfaatkan tumbuhan yang ada di dalam strategi pemanfaatan dan


sekitarnya atau yang telah tersedia di alam pengelolaan pelestarian tumbuhan obat di
sebagai obat. Indonesia.
Dengan adanya peningkatan kebutuhan Adapun tujuan dari penelitian ini
masyarakat dalam memanfaatkan adalah untuk mengetahui keberadaan dan
tumbuhan yang ada di alam sebagai obat persebaran jenis-jenis tumbuhan obat yang
maka untuk mengantisipasi keberadaan ada di desa Tirta Jaya, Kampung Serab
tumbuhan tersebut, perlu kiranya dilakukan Depok Jawa Barat.
pengkajian mengenai status ekologinya

METODE
Penelitian ini dilakukan di desa jalur pengamatan dengan interval 10 meter.
Tirta Jaya, Kampung Serab pada bulan Faktor lingkungan yang diukur adalah suhu
September 2015 - Februari 2016. dengan menggunakan termometer, pH
Identifikasi sampel dilakukan di tanah dengan menggunakan pH meter,
Laboratorium Botani Fakultas Biologi kelembaban udara dengan menggunakan
Universitas Nasional. Bahan yang higrometer. Sampel tumbuhan obat yang
digunakan dalam penelitian adalah alkohol ditemukan difoto dan diidentifikasi dengan
70%. Peralatan yang digunakan dalam menggunakan buku panduan lapangan,
penelitian ini adalah kamera, sasak, buku identifikasi Flora oleh Steenis (2005).
kantong plastik, label, gunting, kertas Apabila tidak dapat diidentifikasi di
koran, pisau lipat, pH meter, termometer, lapangan, diambil sampel tumbuhan
higrometer, luxmeter, tali tambang, secukupnya untuk dibuat herbarium dan
meteran, buku saku/buku panduan diidentifikasi di Laboratorium Botani,
lapangan, buku flora dari Steenis (2005). Universitas Nasional.
Pengambilan data tumbuhan obat Analisis vegetasi yang dilakukan
dengan menggunakan metode jalur meliputi:Komposisi Jenis, dihitung dengan
berpetakberukuran 5x5 meter yang dibuat menggunakan Indeks Similaritas Sorensen
sepanjang jalur pengamatan sepanjang 100 (Brower, Zar dan Carl, 1990).
meter. Petak pengamatan 5x5 meter dibuat Keanekaragaman Jenis, dihitung dengan
berselang-seling di sebelah kanan dan kiri menggunakan rumus Shannon-Winner
244
Prosiding Seminar Nasional, 2017

(Magurran, 1988). Index Nilai Penting, Frekuensi relatif, Nilai penting =


dihitung dengan menggunakan rumus: Kerapatan relatif + Frekuensi relatif.
Kerapatan, Kerapatan relatif, Frekuensi,

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Komposisi Jenis ke dalam 41 marga dan 25 suku, di
Berdasarkan hasil pengamatan transek II ditemukan 3640 individu
tumbuhan obat yang dilakukan di yang terdiri dari 53 jenis, tergolong
transek I ditemukan 1891 individu ke dalam 52 marga dan 33 suku
yang terdiri dari 43 jenis, tergolong (Tabel 1).

Tabel 1. Komposisi jenis tumbuhan obat.

Transek Jumlah Individu Jumlah Jenis Marga Suku


I 1891 43 41 25
II 3640 53 52 33

Perolehan jumlah jenis tumbuhan obat di abiotik seperti pH tanah, kelembaban,


transek II lebih tinggi dibanding transek I suhu, kecepatan angin dan intensitas
yaitu sebesar 53 jenis. Hal ini disebabkan cahaya pada saat pengambilan sampel
adanya sedikit perbedaan kondisi faktor (Tabel 2).

Tabel 2. Parameter lingkungan.

Transek Suhu ( ◦C) pH Kelembaban Kecepatan Intensitas


(%) Angin (rpm) cahaya (lux)
I 30-33 7 47-62 63 386-1035
II 34-37 6 47-54 97 931-1704

Dari parameter lingkungan, di cahaya yang lebih tinggi (931-1704 lux)


transek II suhu, kecepatan angin dan dibanding dengan transek I (386-1035 lux)
intensitas cahaya relatif lebih tinggi menyebabkan pertumbuhan dari tumbuhan
dibanding dengan transek I. Intensitas yang ada di lokasi tersebut lebih sempurna

245
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dan juga dengan adanya kecepatan angin habitat. Komposisi jenis dikatakan berbeda
yang lebih tinggi di transek II (97 rpm) karena indeks similaritas nilainya < 50 %,
dibanding transek I (63 rpm) kemungkinan apabila nilai indeks similaritas > 50%
juga akan membantu penyebaran biji yang maka komposisi jenis relatif sama
berasal dari tempat lain sehingga (Kusumoantono, 1996). Berdasar kriteria di
menyebabkan jumlah jenis yang dijumpai atas maka komposisi jenis tumbuhan obat
di transek II lebih tinggi. di 2 transek adalah sama yaitu dengan nilai
Keberadaan air dalam tanah dan 54,17. Arianto 2009 menyatakan bahwa
juga adanya pengaruh naungan diartikan karakteristik suatu habitat akan
sebagai kelembaban suatu tanah. Pada mempengaruhi jumlah jenis di suatu
transek I kelembaban lebih tinggi (47-62%) habitat tersebut. Apabila 2 habitat yang
karena pengaruh naungan dibanding berbeda lokasi tapi memiliki karakteristik
dengan transek II yang lebih rendah habitat yang sama maka jenis yang ada
kelembabannya (47-54%), disebabkan tidak akan berbeda jauh.
transek II relatif terbuka tidak ada naungan. 1. Indeks Keanekaragaman (H◦)
Demikian juga dengan suhu, di transek I Indeks Keanekaragaman Jenis pada
suhu relatif lebih rendah (30-33◦C) transek I sebesar 2,953 sedangkan pada
dibanding dengan transek II lebih tinggi transek II sebesar 4,592 (Tabel 3)
(34-37◦C). Dengan banyaknya naungan di
transek I menyebabkan pertumbuhan dan
persebaran tumbuhan lebih rendah.
Perbedaan jumlah jenis pada
masing-masing transek berpengaruh
terhadap komposisi jenis yang ada.
Komposisi jenis yang berbeda
kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor

246
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Tabel 3. Indeks Keanekaragaman Jenis (Hꞌ).

Transek Indeks Keanekaragaman Jenis (H◦)


I 2,953
II 4,592

Indeks keanekaragaman tumbuhan dalam perolehan nilai indeks


dapat dikatakan rendah jika berkisar keanekaragaman . Sesuai pendapat
antara 1,5-3,5. Indeks keanekaragaman Odum (1996) yang menyatakan bahwa
dikatakan sedang jika berkisar antara keanekaragaman mencakup 2 hal
3,6-4,5 dan indeks keanekaragaman penting yaitu banyaknya jenis yang ada
dikatakan tinggi jika berkisar antara dalam suatu komunitas dan kelimpahan
4,6-5,0 (Magurran, 1988). Dari range dari masing-masing jenis tersebut. Hal
indeks keanekaragaman di atas maka ini memiliki artian bahwa jumlah jenis
indeks keanekaragaman tumbuhan pada dan variasi jumlah individu pada
transek I dikatakan rendah yaitu masing-masing kawasan sama-sama
sebesar 2,953. Indeks keanekaragaman berpengaruh terhadap nilai indeks
jenis dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu keanekaragaman yang didapatkan.
jumlah jenis dan jumlah individu yang
didapat dari masing-masing 1. Indeks Nilai Penting (INP)
lokasi/transek. Indeks nilai penting digunakan
Pada transek I memiliki nilai untuk mengetahui tingkat
keanekaragaman yang rendah karena penguasaan jenis. INP tertinggi
transek ini memiliki jumlah jenis dan terdapat pada jenis Eleusin indica
individu yang sedikit. Pada transek II sebesar 25,52 berarti jenis ini
memiliki nilai keanekaragaman yang dominant, hal ini disebabkan biji-
tinggi yaitu 4,6 karena pada transek II bijinya mudah terbawa angin
memiliki jumlah jenis dan jumlah sehingga keberadaannya melimpah
individu yang lebih banyak. Kondisi ini dan terendah pada jenis Cleome
memiliki pengertian bahwa jumlah rutidospermae sebesar 8,18 berarti
individu yang ditemukan dan jumlah jenis ini frekwensi perjumpaannya
jenis yang didapat saling mendukung lebih rendah dan biji-bijinya relatif

247
Prosiding Seminar Nasional, 2017

lebih besar dan lebih sedikit (Tabel 4).


dibanding biji dari Eleusin indica

Tabel 4. Indeks Nilai Penting (INP).

JenisTumbuhan INP
Eleusinindica 25.52
Cynodondactylon 23.07
Asystasiaintrusa 19.27
Synedrellanodiflora 17.7
Oxalis corniculata 16.5
Acalyphaindica 16.46
Sidarhombifolia 14.97
Ruelliatuberosa 11.58
Amaranthusannuus 8.8
Imperatacylindrica 8.73
Phyllanthusniruri 8.69
Mangiferaindica 8.26
Cleome rutidosperme 8.18

Dalam suatu kawasan INP pertumbuhan yang bermacam-macam dan


berfungsi untuk melihat tingkat penguasaan faktor lingkungan yang optimal menjadi
ruang/tempat tumbuh suatu jenis tumbuhan penyebab jenis tumbuhan tersebut banyak
dalam suatu komunitas. Kondisi ini juga ditemukan pada masing-masing
menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi lokasi/transek.
pada masing-masing jenis, substrat
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah 2. Terdapat perbedaan
dilakukan dapat diambil kesimpulan keanekaragaman jenis di antara 2
sebagai berikut: transek
[Link] jenis yang terdapat di dua 3. Eleusin indica merupakan jenis
transek adalah sama dengan nilai indeks yang dominan dengan nilai INP
similaritas 54, 17 sebesar 25,52
UCAPAN TERIMA KASIH

248
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Penulis mengucapkan banyak terimakasih Indonesia Dalam


Menunjang Upaya Konservasi
kepada LPPM Universitas Nasional yang
dan Pengembangan
telah memfasilitasi dan memberikan Keanekaragaman Nabati. LIPI.
Bogor.
bantuan dana penelitian sehingga
penelitian ini bisa terwujud dan dapat Soewito, DS. 2007. Jaga Raya
(Memanfaatkan Khasiat Flora).
terselesaikan dengan baik.
Jakarta.

Van Steenis. 2005. Flora “ Untuk Sekolah


DAFTAR PUSTAKA di Indonesia”.
PenerbitPradnyaParamita.
Jakarta.
Arianto, F. 2009.
KomposisidanKelimpahanJamur WHO (World Health Organization). 2008.
MakroskopisBermanfaatPadaTip ProfilKesehatan Indonesia.
eHabitat Berbeda di
daerahKalikuningdanKaliadem
Taman Nasional GunungMerapi.

Brower. JE, Jerrold H. Zardan Carl N.


VonEnde. 1990. Field and
Laboratory Methods for General
Ecology. WM. C. Brown
Publisher. Dubuque

Kusumoantono. 1996. Komposisi dan


Struktur Komunitas Pohon di
beberapa tempat di Taman
Nasional Gunung Halimun dan
PersamaannyaTerhadap
Tumbuhan Bawah. Program
Pasca Sarjana Biologi
Universitas Indonesia Fakultas
MIPA. Depok

Magurran, AE. 1988. Ecological Diversity


and Its Measurement.
Cambridge. University Press.

Odum, EP. 1996. Fundamentals of


Ekologyy. Third Edition.
Philadelphia. W.B. Sounders Co

Purwanto, Y.2006. Peran dan Peluang


Etnobotani Masa Kini di

249
Prosiding Seminar Nasional, 2017

AMA PENYAKIT TANAMAN MASOHI (Massoia aromatica Becc) DAN UPAYA


PENGENDALIANYA UNTUK MENJAGA KUALITAS EKOSISTEM

Pest and Diseases Massoi (Massoia aromatic Becc.) and Control Trial to Maintain
Ecosystem Quality

Yeni nuraeni, Irma Yeny dan Illa Anggraeni


Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
Jl. Gunung Batu No. 5 bogor 16610, Telp (0251) 8633234, 7520067 Fax. (0251) 8638111
Email : y.nuraeni999@[Link]

ABSTRACT

Masohi (Massoia aromatica Becc) is an endemic plant of Papua producing essential oils. In general, plant
part used is the bark extracted to produce oil. Pharmacological studies have shown that chemical constituent
of the oil mostly consists of pyrones and styrylpyrones which play roles as anticancer, larvicidal and
antifertilityactivity. The existence of Massoi in nature is left 20% of the whole population nowaday (results of
interviews with Massoi skin collectors). Forest Research and Development Center in Bogor is currently
conducting a trial cultivation of Massoi outside native habitat for its sustainability. However, the cultivation
effort faces several obstacles, including the existence of pest and disease. The aim of this study was to
determine and control pestspecies and diseases that attack Massoi so thatthe ecosystem quality can be
improved. The research was conducted in September 2015 and in June 2016 at Boalemo - Gorontalo Forest
Management Unit and Nursery ofForest Research and Development Center in Gunung Batu. Identification
result revealed that Massoi at seedlingstage in the nursery wasattacked by damping-off disease caused by
Fusarium sp. and Lasiodiplodia sp. with an attack percentage of 1.4%. Leaf spot disease in planting area
caused by Colletotrichum sp. was 30.64%. Pestattack leaf gall in the nursery of Forest Research and
Development Center was 8.3%; while attack in nursery of Boalemo Forest Management Unit was 1.09%.
Percentages of pests and diseases both in the nursery and in planting area were still very low, but they
should be controlled immediately before the loss is even greater because the seeds from native habitat were
very difficult to find. Pest and disease control trialshave done against pests leaves using active ingredients of
abamectin 18EC at a dose of 0.5 ml / liter, then the test results of control had shown a decrease of bacterial
leaf pustule attack up to 0%. Pest control using chemical pesticides can have negative impacts on the
environment, the use of the proper dosage and unsustainable can minimize negative impacts on the
environment so that the quality of the ecosystem can be maintained.

Keywords : Ecosystem quality,Masohi, medicinal raw materials, pest and disease.

PENDAHULUAN untuk industri obat-obatan, parfum,


minyak wangi dan sabun. Masohi
Latar Belakang
termasuk ke dalam famili Lauraceae,
Masohi (Massoia aromatic Becc) tergolong tanaman yang tinggi (> 30 m)
memiliki nama perdagangan masoyi dengan batang tegak, tidak berlekuk dan
merupakan tanaman endemik asli papua terpilin. Umumnya tidak berbanir dan
yang memiliki banyak manfaat diameternya dapat mencapai 65 cm, tidak
diantaranya yaitu sebagai bahan baku memiliki mata kayu, kulit batang

250
Prosiding Seminar Nasional, 2017

berwarna abu kehijauan atau abu muda Guna mendukung keberhasilan


(Rostiwati dan Effendi, 2013). penanaman tanaman masohi di KPH
Boalemo, sangat penting dilakukan
Habitat alami masohi di hutan
pengamatan terhadap serangan hama dan
tropis basah dengan curah hujan tahunan
penyakit yang berasosiasi dengan
antara 2.000 – 4.000 mm, tumbuh di
tanaman masohi sehingga kerugian
dataran rendah dengan ketinggian antara
kehilangan hasil panen dapat ditekan.
70 – 1000 m dpl dengan karakteristik
Setelah jenis hama dan penyakit tanaman
tanah tempat tumbuh lempung berpasir
masohi ini diketahui maka pengendalian
tanpa genangan air. Jenis ini memiliki
dipandang penting dilakukan.
kecenderungan hidup berasosiasi dengan
Pengendalian baik hama dan penyakit
tanaman lain dengan pola
saat ini masih mengandalkan pestisida
pertumbuhannya berkelompok dan
kimia, walaupun telah banyak
menyebar di hutan belukar. Distribusi
dikembangkan pestisida nabati (berbahan
penyebarannya banyak terdapat di Papua
dasar tumbuhan) serta pengendalian
(Rostiwati dan Effendi, 2013).
dengan menggunakan musuh alami dan
Tanaman masohi di habitat [Link] pestisida kimia masih
alaminya (Papua) sudah termasuk dalam dipandang paling efektif dalam
katagori langka, hal ini terjadi karena mengendalikan hama dan penyakit,
dilakukannya eksplorasi secara besar penggunaan pestisida kimia ini perlu
besaran mengingat harga di pasaran yang dilakukan secara bijaksana dan tidak
sangat tinggi yaitu kulit kayu masohi berkesinambungan sehingga dampak
memiliki harga sekitar Rp. 150.000,- – negatif terhadap lingkungan dapat
Rp. 200.000,-/kg dan minyak masohi diminimalisir dan kualitas ekosistem
sekitar Rp. 3.250.000,-/liter. Hal ini yang dapat terjaga.
mendasari tim peneliti Pusat Penelitian
Tujuan Penelitian
dan Pengembangan Hutan untuk
mengembangkan tanaman masohi di luar Penelitian ini bertujuan untuk
habitat alaminya (Papua) yaitu di mengetahui (menginventarisasi dan
Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) mengidentifikasi) hama dan penyakit
Boalemo, Provinsi Gorontalo. yang berasosiasi dengan tanaman masohi,
sehingga hasil identifikasi dapat dijadikan

251
Prosiding Seminar Nasional, 2017

sebagai dasar dilakukannya penelitian daun yang terserang hama dan penyakit
untuk pengendaliannya. untuk selanjutnya dilakukan identifikasi
yang dilakukan di Laboratorium
METODE
Perlindungan Hutan – Puslitbang Hutan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Menghitung persen tanaman yang
Penelitian dilaksanakan di KPH terinfeksi pada plot pengamatan, dihitung
Boalemo Kabupaten Boalemo Provinsi dengan rumus berikut:
Gorontalo dan di Laboratorium
Perlindungan Hutan – Puslitbang Hutan,
Gunung Batu, Bogor. Ketinggian tempat
Keterangan:
yang ditanamani tanaman masohi yaitu ±
187 m dpl. Penelitian dilakukan pada P = % kejadian tanaman terinfeksi
bulan September 2015 dan bulan Juni oleh hama/penyakit tertentu
2016. n = Jumlah tanaman yang terserang
oleh hama/penyakit tertentu
Bahan dan Alat
N = Jumlah tanaman dalam 1 plot
Bahan yang digunakan dalam
Penghitungan intensitas serangan
penelitian ini yaitu bibit masohi umur 5
hama dan penyakit dilakukan dengan
bulan dan tanaman di areal tanam umur
rumus sebagai berikut :
6-7 bulan. Alat yang digunakan adalah
Tally sheet, alat tulis, plastik klip,
pestisida kimia dengan kandungan bahan
aktif abamektin 18 EC, semprotan, air, Keterangan:
kamera, microscop digital, dan I = Intensitas serangan hama/penyakit
microskop. ni = Jumlah daun dengan skor ke - i

Cara Kerja vi = Nilai/ skor dari i = 0,1,2,4 sampai


ke - i
Penelitian dilakukan dengan cara
V = Nilai /skor tertinggi
pengamatan gejala dan tanda serangan
N = Jumlah daun yang diamati
hama dan penyakit pada tanaman masohi
di persemaian dan di areal tanam, Pengendalian hama daun
menghitung tingkat kejadian dan dilakukan dengan penyemprotan pestisida
intensitas serangan, mengambil sampel kimia dengan kandungan bahan aktif

252
Prosiding Seminar Nasional, 2017

abemaktin 18EC dengan dosis 0,5 ml/l. gall ini berongga dan berisi rambut-
Pengamatan terhadap respon dilakukan rambut halus berwarna putih sampai
sebelum dan setelah aplikasi pestisida. [Link] ciri morfologi
tersebut gall pada daun bibit masohi
HASIL DAN PEMBAHASAN
tersebut disebabkan oleh tungau, hal ini
Tanaman masohi di persemaian sesuai dengan Rajapakse dan Kumara,
mengalami serangan hama gall, 2007 yang menyatakan bahwa gall yang
sedangkan penyakit yang menyerang disebabkan oleh tungau memiliki ciri
tanaman masohi yaitu penyakit busuk morfologi gal berbentuk bulat telur (oval)
akar yang terjadi di persemaian dan dan tidak teratur, permukaannya
penyakit bercak daun di areal tanam. mengkerut, agak bergerigi mencuat
kepermukaan daun, memiliki warna
1. Hama gall daun
kehijauan atau kekuningan dan terdapat
Berdasarkan hasil pengamatan rambut-rambut halus di dalam rongganya.
gejala dan tanda serangan hama di
Gall adalah terbentuknya struktur
persemaian baik di KPH Gorontalo
tanaman yang tidak normal, hal ini
maupun di persemaian Puslitbang Hutan,
disebabkan oleh adanya suatu respon
hama yang menyerang bibit masohi
tanaman terdapat serangan organisme
adalah hama gall daun. Gejala yang
tertentu seperti cendawan, virus bakteri
terpadat pada daun yaitu terdapat bintil-
dan serangga. Gall dapat berkembang
bintil pada daun berwarna kehijauan
melalui pembesaran ukuran sel/poliferasi
sampai kecokelatan, mengkerut dan
sel. (Nurhayati, 2010).
menonjol ke permukaan, apabila di buka

Gambar 1. Gejala serangan hama daun di persemaian(Foto: Yeni Nuraeni).

253
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 2. Serabut rongga dan serangga hama gall (Foto: Yeni Nuraeni).

Gambar 3. Grafik persentase kejadian dan intensitas kerusakan hama di persemaian.

Persentase serangan hama di Penyakit yang menyerang


persemaian KPH Boalemo sebesar 1,9% tanaman masohi yaitu penyakit rebah
dan intensitasnya sebesar 8,01%, semai di persemaian dan penyakit bercak
sedangkan di persemaian Puslitbang daun di areal tanam. Penyakit rebah
Hutan kejadian persentase serangan semai di persemaian disebabkan oleh
sebesar 8,3% dan intensitasnya sebesar cendawan Pusarium sp. dan
18,32%. Uji coba pengendalian Lasiodiplodia sp., sedangkan penyakit
menggunakan pestisida kimia dengan bercak daun disebabkan oleh cendawan
bahan aktif abamektin 18 EC di Colletrotichum sp.
persemaian Puslitbang Hutan mampu
Gejala serangan penyakit rebah
mengendalikan hama gall daun hingga
semai yaitu tanaman menjadi layu, batang
0%.
yang tepat diatas permukaan tanah (leher
2. Penyakit pada tanaman masohi akar) berwarna hitam, terjadi
penyempitan dan busuk yang
mengakibatkan bibit menjadi rebah.

254
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Genus Fusarium sp merupakan kuningan, merah jambu atau violet


patogen tular tanah yang termasuk family (tergantung dari spesiesnya) apabila
Tubercullariaceae,kelas Deuteromycetes. sudah tua (Anggraeni dan Lelana, 2011).
Fusarium [Link] 3 macam
Lasiodiplodia sp. masuk dalam
spora makrokonidia, mikrokonidia, dan
family Sphaeropsidaceae dan kelas
klamidiospora (Akhsan, 1996). Pada
Deuteromycetes (Anggraeni dan Lelana,
umumnya genus Fusarium merupakan
2011). Cendawan ini memiliki
jamur saprofit yang, tetapi ada juga yang
karakteristik hifa bercabang dan bersekat
bersifat parasit (Semangun,
dan berwarna cokelat, konidiofor
2001).Miselium berseket/bersepta serta
bercabang dan berwana cokelat, pada
bercabang-cabang, pada waktu muda
ujung konidiofor terdapat konidia
berwarna hialin kemudian berubah
berbentuk panjang dan berwarna cokelat.
menjadi berwarna putih kekuning-

Gambar 4. Makrokonidia Fusarium sp (kiri) dan konidia Lasiodiplodia sp. (kanan) (Foto: Illa
Anggraeni).

Tanaman masohi di areal tanam kehitanam (nekrosis) pada permukaan


menunjukkan gelaja penyakit bercak daun yang dikelilingi oleh lingkaran
daun, gejala yang teramati yaitu terdapat berwarna kuning (Gambar 4). Pada
bercak pada daun berwarna cokelat serangan yang lebih lanjut yaitu bercak
sampai kehitaman dan daun menjadi menjadi meluas dan daun menjadi kering
kering. Hal ini sesuai dengan pernyataan serta berlubang, apabila serangan terjadi
Laksono et al (2010) gejala serangan pada daun muda maka daun akan menjadi
penyakit bercak daun yaitu terdapat mati dan gugur.
bercak-bercak bulat berwarna cokelat

255
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Gambar 5. Gejala penyakit bercak daun (Foto: Yeni Nuraeni).

Gambar 6. Konidia Colletotrichum sp. (kanan a), bentuk konidiofor (kanan b) dan konidia
berkecambah (kanan c) (Foto: Illa Anggraeni).

Cendawan Colletotrichum sp., klamidospora. Ordo Melanconiales hama


merupakan salah satu jenis patogen memiliki satu famili yaitu
tanaman yang sering menjadi kendala Melanconiaceae, dimana spesies pada
dalam berbagai usaha budidaya tanaman. famili ini merupakan parasit pada
Hal ini disebabkan karena cendawan tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan
Colletotrichum sp. memiliki kisaran penyakit antraknosis (bercak daun).
inang yang luas dan merupakan patogen Aservuli tersusun di bawah epidermis
tular tanah sehingga sangat mudah tumbuhan inang dan epidermis ini akan
menyebar di lahan pertanian (Gusnawaty pecah apabila konidium sudah
et al, 2014). dewasa/tua. konidium akan keluar
sebagai percikan warna putih, kuning,
Colletotrichum sp. termasuk ke
jingga, hitam atau warna lain sesuai
dalam kelas Deuteromycetes, Ordo
dengan pigmen yang dikandung oleh
Melanconiales dan Famili
konidium (Sastrahidayat, 1990).
Melanconiaceae. Deuteromycetes atau
cendawan imperfect (cendawan tidak Persentase penyakit rebah semai
sempurna), hanya melakukan yaitu sebesar 1,4% dengan intensitas
perkembangbiakan asexual yaitu sebagai serangan sebesar 0,91% serta persentase
bentuk konidium, oidium atau serangan penyakit bercak daun sebesar

256
Prosiding Seminar Nasional, 2017

30,64% dan intensitasnya sebesar 1, 62%. masih rendah sehingga belum merugikan
Persentase penyakit baik penyakit rebah secara ekonomi.
semai maupun penyakit bercak daun

Gambar 7. Grafik persentase kejadian dan intensitas kerusakan penyakit rebah semai dan
bercak daun.

KESIMPULAN DAN SARAN sebesar 8,3% dengan intensitas serangan


Hasil diagnosis awal bibit masohi sebesar 18,32%. Serangan hama gall di
di persemaian terserang oleh gall daun persemaian hutan dilakukan uji coba
dan penyakit busuk akarsedangkan pengendalian dengan menggunakan
tanaman masohi di areal tanam pestisida kimia dengan bahan aktif
mengalami serangan penyakit bercak abamektin 18EC dapat menurunkan
[Link] gall daun yang menyerang persentase dan intensitas serangan hingga
bibit masohi di persemaian disebabkan 0%. Persentase serangan penyakit rebah
oleh tungau, sedangkan patogen yang semai dan bercak daun berturut-turut
menyebabkan penyakitrebah semai sebesar 1,4% dan 30,64% dengan
adalah cendawan Fusarium sp. dan intensitas serangan berturut-turut sebesar
Lasiodiplodia sp., penyakit bercak daun 0,91% dan 1,62%.
yang menyerang masohi di areal tanam
Uji coba pengendalian hama gall
adalah cendawan Colletotrichum sp.
di persemaian menggunakan pestisida
Persentase serangan hama gall di kimia dilakukan sesuai dengan dosis pada
persemaian KPH Boalemo adalah sebesar petunjuk pemakaian dan tidak dilakukan
1,90% dengan intensitas serangan sebesar secara terus-menerus hal ini dalakukan
8,01%, sedangkan di persemaian untuk menjaga kualitas ekosistem tetap
Puslitbang hutan persentase serangan terjaga.

257
Prosiding Seminar Nasional, 2017

DAFTAR PUSTAKA Barat. Jurnal Agrikultura Vol 21(1):


Hal. 31-38.
Akhsan, N. 1996. Studi Keberadaan
Populasi Fusarium (Fusarium Nurhayati, 2010. Senarai Istilah-Istilah
oxysporum [Link]. licopersici (Sacc) Mikologi. Universitas Sriwijaya
Snyd & Hans) di Palaran, Loa Jaran
dan Tanah Merah. Bul. Budidaya Rajapakse, R.H.S & K.L.W. Kumara
Pert. 2 (1): 11-15. (2007). A Review of Identification
and Management of Pests and
Anggraeni, I & N.E. Lelana. 2011. Diseases of Cinnamon
Diagnosis Penyakit Tanaman (Cinnamomum zeylanicum Blume).
Hutan. Kementerian Kehutanan. TropicalAgicultural Research &
Badan Penelitian dan Extension 10, 1-10
Pengembangan Kehutanan. Pusat
Litbang Peningkatan Produktivitas Rostiwati, T & R. Effendi. 2008.
Hutan. Bogor. Mendulang Uang Tanpa Tebang 5
Jenis HHBK Unggulan. FORDA
Gusnawaty, H.S., M. Taufik & Herman. press. Bogor.
2014. Efektifitas Trichoderma
indigenus Sulawesi Tenggara Sastrahidayat, I.R. 1990. Ilmu Penyakit
sebagai biofungisida terhadap
Tumbuhan. Penerbit Usaha
Colletotrichum sp. secara In Vitro.
Jurnal Agroteknis vol 4 (1) : Hal. Nasional. Surabaya.
38-43.
Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu
Laksono, K.D., C. Nasahi & N. Susniahti.
Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta:
2010. Inventarisasi penyakit pada
Gajah Mada University Press. 754
tanaman jarak pagar (Jatropha
hal.
curcas L.) pada tiga daerah di Jawa

258
Prosiding Seminar Nasional, 2017

JENIS-JENISMIKROORGANISMEAGENSIA HAYATI SEBAGAI SALAH SATU


FAKTOR PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN
(OPT)SECARA TERPADU

Diversity of Microorganisme of Biological Agents as One Factor to Control Plant Pest


Organism by Integrated

Yeni Nuraeni, Illa Anggraeni dan Rosita Dewi


PusatPenelitiandanPengembanganHutan
KampusBalitbangKehutanan, Jl. Gunungbatu No. 5 KotakPos 165, Bogor 16118
Telp. (0251) 8633234, 7520067 Fax. (0251) 8638111
Email: y.nuraeni999@[Link]

ABSTRACT

Controlling plant pest organisms with konvensional ways by using chemical pesticides have significantly
make negative impact on environment and human health. The negative impact on environment are pollution
and resistance of pest to chemical pesticides. The negative impact on human health is bad impact to human
health because of using of pesticide with unwisely. Based on this problem, appeared an idea effort of
integrated pest control using biological agents so uses of chemical pesticides can be reduced. The purposes
of this research is tobprovide information of the types of micro-organisms that can role as a biological agent
to control plant pest especially for forest trees. The methodology used in this research is to test the in vitro
inhibition of the growth of microorganisms pathogenic biological agents and the control of insect pests. The
research result obtained types of micro-organisms that can be used as biological agents in forestry plants
like :Trichodermasp. and Gliocladium sp. for controlling fungi that cause many disease and
Beauveriabassiana, Metarrhizium sp. andBaccillusthuringiensis to control [Link] studies indicate that
biological agents was effective to suppress and control pest and plant desease in forest [Link] is necessary
to produce massivelyand marketed so that can be used by farmers and forest farmers.

Keywords : Biological agent, desease, pest, plant.

PENDAHULUAN tidak diinginkan. d) Mengatur atau


merangsang pertumbuhan tanaman atau
Latar Belakang
bagian-bagian tanaman, tidak termasuk
Menurut Keputusan Menteri pupuk. e). Mencegah atau meberantas
Pertanian No. 434.1/Kpts/TP.270/7/2001, hama-hama luar pada hewan-hewan
pestisida adalah semua zat kimia atau peliharaan dan ternak. f). Memberantas
bahan lain serta jasad renik dan virus atau mencegah binatang-binatang dan
yang digunakan untuk: a.) Memberantas jasad renik dalam rumah tangga dan
atau mencegah hama dan penyakit yang dalam alat-alat pengangkutan; dan atau
merusak tanaman, bagian-bagian tanaman g). Memberantas atau mencegah
atau hasil-hasil pertanian. b). binatang-binatang yang dapat
Memberantas rerumputan. c). Mematikan menyebabkan penyakit pada manusia
daun dan mecegah pertumbuhan yang atau binatang-binatang yang perlu

259
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dilindungi dengan penggunaan pada Sistem pengendalian OPT terpadu


tanaman, tanah atau air. adalah suatu upaya dalam mengenalikan
populasi maupun tingkat seranga OPT
Pestisida mengandung bahan aktif
dengan menggunakan satu atau beberapa
yaitu bahan kimia dan atau bahan lain
teknik pengendalian yang dapat
yang pada umumnya merupakan bahan
dikembangkan dalam satu kesatuan
yang berdaya racun. Aplikasi pestisida
sehingga kerugian secara ekonomis serta
dalam upaya pengendalian hama dan
kerusakan lingkungan hidup dapat
penyakit tersebut apabila digunakan
dicegah. Komponen pengendalian secara
secara tidak tepat maka dapat
terpadu meliputi pengendalian secra fisik,
membahayakan kesehatan petani,
mekanik, kultur teknik/ cara bercocok
mikroorganisme non target serta dapat
tanam, varietas tanaman, hayati,
menimbulkan pencemaran terhadap
peraturan/regulasi/karantina dan kimia
lingkungan baik tanah maupun air.
(alternatif terakhir apabila teknik
Pencemaran lingkungan tersebut
pengendalian ramah lingkungan sudah
berbanding lurus dengan penurunan
tidak mampu menanggulangi.
kualitas ekosistem.
Pengendalian secara hayati yaitu dengan
Penggunaan pestisida kimia yang memanfaatkan agensia hayati seperti
kian meresahkan telah mendorong predator, parasitoid maupun
lahirnya berbagai perjanjian/ konvensi mikroorganisme antagonis (Triman,
nasional yang menyangkut pestisida, 2010). Dengan dikembangkannya sistem
diantaranya yaitu pada tahun 1998 telah pengendalian OPT terpadu ini maka
ditandatangani oleh 50 negara Konvensi kualitas ekosistem tidak terus menurun,
Rotterdam (Prior Informed Consent/ PIC) bahkan diharapkan dapat ditingkatkan
yang dilekuarkan oleh FAO dan UNEP. kembali.
Konvensi Persisten Organic Pollutants
Tujuan Penelitian
(POPs) atau dikenal juga dengan
Konvensi Stockhlom yang juga telah Tujuan penelitian yaitu untuk
diratifikasi lebih dari 50 negara di dunia, memberikan infomasi jenis-jenis
serta Konvensi PAN Dirty Dozen yang mikroorganisme yang dapat berperan
merupakan konvensi yang diinisiasi oleh sebagai agensia hayati untuk
jaringan anti pestisida (Gita Pertiwi, mengendalikan OPT tanaman, khususnya
2006). untuk tanaman kehutanan.

260
Prosiding Seminar Nasional, 2017

METODE diantaranya yaitu: relatif aman terhadap


manusia dan musuh alami serangga hama
Lokasi Penelitian
dan patogen penyakit, tidak memicu
Penelitian dilakukan di timbulnya ledakan OPT sekunder, produk
Laboratorium Perlindungan Hutan Pusat tanaman yang dihasilkan dapat terbebas
Penelitian dan Pengembangan Hutan- dari residu pestisida (Nurhayati,
Bogor. 2011).Beberapa jenis mikroorganisme
agensia hayati seperti Trichoderma sp.,
Alat dan Bahan
dan Gliocladium sp. dapat digunakan
Alat yang digunakan yaitu cawan petri, untuk mengendalikan cendawan
laminar airflow,kotak serangga, alat tulis, penyebab penyakit serta Beauveria
kamera dan mikroskop, sedangkan bahan bassiana, Metarrhizium sp. dan
yang digunakan Potatos Dextrose Agar Baccillusthuringiensis dapat digunakan
(PDA), isolat agensia hayati, isolate untuk menggendalikan hama.
patogen dan serangga hama.
a) Trichoderma sp.
Cara Kerja Trichoderma sp. memiliki
kemampuan mikoparasit dalam
Melakukan pengujian secara in-
mekanisme pengendalian utama, yaitu
vitro daya hambat mikroorganisme
dengan cara melakukan parasitisme pada
agensia hayati terhadap pertumbuhan
miselium cendawan lain. Mampu masuk
patogen dan pengendalian terhadap
ke dalam sel dengan cara menembus
serangga hama.
dinding sel patogen, kemudian
HASIL DAN PEMBAHASAN mengambil zat makanan sehingga
cendawan patogen tersebut mati. Selain
Mikroorganisme agensia
kemampuan parasitisme, Trichoderma sp.
hayati/antagonis merupakan
juga memiliki kemampuan antibiotis
mikroorganisme yang dapat digunakan
yaitu dengan memproduksi antibiotik
dalam teknik pengendalian terhadap
sepertialaetichin, paracelsin dan
hama dan penyakit tanaman, dapat berupa
trichotocshin yang memiliki kemampuan
bakteri, cendawan dan virus. Penggunaan
merusak permeabilitas membran sel
mikroorganisme agensia hayati memiliki
sehingga menyebabkan sel cendawan
beberapa keunggulan bila dibandingkan
patogen hancur. Dapat menyebabkan lisis
dengan penggunaan pestisida kimia

261
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dindin sel dan interfensi hifa karena yang menyebabkan penyakit rebah semai
Trichoderma juga mampu menghasilkan pada tanaman gmelina.
enzim khitinase (Harman et al, 2008).
b) Gliocladium sp.
Gliocladium sp. dalam
menghambat pertumbuhan cendawan
patogen yaitu dengan mekanisme
antibiosis lisis, kompetensi ruang tumbuh
dan nutrisi serta hiperparasit,
Gliocladium sp. mampu menekan
Gambar 1. Isolat Trichoderma sp.
pertumbuhan penyakit layu Fusarium
(Gambar: Illa Anggareni).
yang disebabkan oleh cendawan
Trichoderma sp. dapat
Fusarium sp. (Hartal et al, 2010),
mengendalikan penyakit busuk akar yang
penyakit busuk pelepah pada tanaman
disebabkan oleh cendawan Ganoderma
jagung yang disebabkan oleh Rhizoctonia
sp. pada tanaman Acacia mangium
solani (Seonartiningsih, 2014).
(Mardiansyah, 2011), penyakit layu
Fusarium yang disebabkan oleh
Fusarium sp. (Herlina, 2009; Hartal et al,
2010), penyakit yang disebabkan oleh
cendawan Colletotrichum capsici,
Fusarium sp. dan scelrotium rolfsii
Gambar 3. Isolat Gliocladium sp.
(Alfizar et al, 2013). (Gambar: Illa Anggraeni)

c) Beauveria bassiana
Beauveria bassiana memiliki
kemampuan untuk membunuh serangga
hama melalui mekanisme
berkecambahnya spora yang jatuh pada
lapisan kulikula, pada ujung tabung
Gambar 2. Uji antagonis isolate
Trichoderma sp. terhadap kecambah tersebut terdapat tabung
fusarium sp.
penetrasi yang digunakan untuk
Hasil pengujian secara in-vitro di
menembus lapisan kutikula serangga
laboratorium Trichoderma sp. mampu
hama. Cendawan Beauveria bassiana
menekan pertumbuhan Fusarium sp.
tumbuh dengan pesat dalam saluran

262
Prosiding Seminar Nasional, 2017

pembuluh darah, mengambil nutrisi sp. dapat menyebabkan penyakit green


dalam tubuh, darah menjadi mengental muscardin fungus. Metarizhium sp. dapat
sehingga menyebabkan serangga hama menginfeksi jenis-jenis serangga hama
mati (BP2TP, 2007; Suhaendah et al, dari ordo Lepidoptera, Homoptera,
2007). Hemiptera dan Isoptera (Prayogo et al,
Beauveria bassiana efektif 2005; Suprayogi et al, 2015).Contoh
mengdalikan hama ulat kantong serangga yang dapat dikendalikan oleh
(Suhaendah et al, 2007), ulat crop Metarizhium sp. yaiu kepik hijau (Nezara
(Crocidolomia binotalis) pada tanaman viridula) (Suprayogi et al, 2015).
sawi (Sucipto dan Adawiyah, 2011), ulat e) Baccillus thuringiensis
tritip (PlutellaXyllostela) (Febrika, 2014), Bacillus
Beauveria bassiana efektif digunakan thuringiensis(Bt)memiliki kemampuan
untuk mengendalikan hama penggerek mengeluarkan toksin yang efektif
batang tanaman sengon (Xystrocera mengendalikan larva serangga,
festiva).X. festiva yang telah khususnya dari ordo Coleoptera, Diptera
diaplikasikan dengan menggunakan dan Lepidoptera dengan memproduksi
Beauveria bassiana mengalami kematian kristas paraspora. Paraspora ini dibentuk
dengangejala tubuhnya menjadi berwarna oleh kristal protein yang berbeda-beda
hitam. dan memiliki bentuk yang bervariasi
pula, hal ini tergantung dari masing-
masing kristal protenin, seperti bipiramid,
kubus, pipih jajaran genjang atau
campuran dari dua tipe kristal. Antigen
flagellar atau serovar dijadikan dasar
Gambar 4. Xystrocera festiva yang dalam penggolongan subspecies Bt(lacey,
disemprot menggunakan
Beauveria 2007). Seroval dengan kristal protein
bassiana(Gambar: Illa
Anggraeni) berbentuk bipiramida dan hanya memiliki
jumlah hanya satu tiap selnya, lebih
d) Metarhizium sp.
efektif dalam mengendalikan serangga
Metarhizium sp. merupakan salah
dari ordo Lepidopera. Bt yang bersifat
satu cendawan entomopatogen yaitu
toksik terhadap serangga Diptera
cendawan yang dapat digunakan untuk
umumnya berbentuk kubus, oval dan
mengendalikan serangga hama, menurut
amorf serta memiliki jumlah dapat lebih
Tanada dan Kaya (1993), Metarizhium
263
Prosiding Seminar Nasional, 2017

dari satu tiap sel. Sedangkan kristal yang secara terpadu merupakan salah satu
berbentuk empat persegi panjang dan teknik pengendalian yang dapat
pipih datar efektif dalam mengendalikan dilakukan terhadap serangan hama dan
serangga ordo Coleoptera (Glazer dan penyakit yang ramah lingkungan. Salah
Nikaido, 2007). satu komponen yang termasuk dalam
Btefektif dalam pengendalian lalat faktor pengendalian secara terpadu yaitu
Chrysomya bezziana (lalat vektor pengendalian secara hayati dengan
penyakit myasis) (Muharsini dan menggunakan predator, parasit dan
Wardhana, 2005). Pengaplikasian Btpada mikroorganisme agensia hayati. Jenis-
hama sengon yaitu Eurema sp. dan X. jenis mikroorganisme yang dapat
festiva dapat menyebabkan kematian berfungsi sebagai agensia hayati pada
pada kedua hama sasaran tersebut. tanaman kehutanan yaitu: Trichoderma
sp. dan Gliocladium sp. untuk
mengendalikan cendawan penyebab
penyakit serta Beauveria bassiana,
Metarrhizium sp. dan Baccillus

Gambar 5. Contoh produk Bacillus thuringiensis untuk menggendalikan


thuringiensis (Foto: Illa hama.
Anggraeni)

DAFTAR PUSTAKA

Alfizar., Marlina & F. Susanti. 2013.


Kemampuan Antagonis
Trichoderman sp. terhadap
Beberapa Jamur Patogen In Vitro.
Gambar 6. Eurema sp dan Xystrocera Jurnal Floratek Vol 8: 45-51.
festiva yang disemprot
menggunakan Bt (Foto: Illa BP2TP.2007. Pengendalian Hama
Anggraeni).
Penggerek Buah Kakao Dengan
Jamur Beauveria Bassiana.
wwwPustaka-Deptan. go.
KESIMPULAN
id/agritek. Diakses pada tanggal
05 Desember 2016.
Dampak penggunaan pestisida
Febrika, R., R. Oemry & M.U. Tarigan.
kimia terhadap lingkungan dapat
2014. Penggunaan Beauveria
menyebabkan pencemaran lingkungan bassiana dan Bacillus
thuringiensis Untuk
yang berbanding lurus dengan penurunan
Mengendalikan Plutella xylostella
kualitas ekosistem, Pengendalian OPT L. (Lepidoptera; Plutelidae) di
Laboratorium. Jurnal Online

264
Prosiding Seminar Nasional, 2017

Agroekoteknologi Vol 2 (2): 472- Vitro. Seminar Nasional


475. Teknologi Peternakan dan
Veteriner.
Gita Pertiwi – PAN – AP. 2006. Modul
Dampak Pestisida terhadap Nurahyati. 2011. Penggunaan Jamur dan
Kesehatan dan Lingkungan. Bakteri dalam Pengendalian
Penyakit Tanaman Secara Hayati
Glazer, A. N dan Nikaido, H. 2007. yang Ramah Lingkungan.
Microbial Biotechnology: Prosiding Semirata. Bidang Ilmu-
Fundamentals of Applied Ilmu pertanian BKS-PTN
Microbiology. New York: Wilayah Barat.
Cimbridge University Press.
Soenartiningsih., N. Djaenuddin & S.M.
Harman GE, Bjorkman T, Ondik K, & Saenong. 2014. Efektifitas
Shoresh M. 2008. Trichoderma Trichoderma sp. dan Gliocladium
spp. for Biocontrol. Changing sp. Sebagai Agen Biokontrol
paradigms on the mode of action Hayati Penyakit Busuk Pelepah
and uses ofTrichoderma spp. for Daun pada Jagung. Penelitian
biocontrol. ResearchInformation. Pertanian Tanaman Pangan Vol
Cornell University, 33 (2): 129-235.
[Link].1564/19feb00.
Suhaendah, E., A. Hani & B. Dendang.
Hartal., Misnawati., & Indah. B., (2010). 2007. Uji Ekstrak Daun Suren dan
Efektifitas Trichoderma sp. Beauveria bassiana Terhadap
dan Gliocladium sp. dalam Mortalitas Ulat Kantong Pada
Pengendalian Layu Fusarium Tanaman Sengon. Jurnal
Pada Tanaman Krisan. Jurnal Pemuliaan Hutan Tanaman Vol 1
(1): 1-5.
Ilmu-ilmu Pertanian (1): 7-12.
Sucipto & L.R. Adawiyah. 2011.
Herlina, L. 2009. Potensi Trichoderma Efektifitas Jamur
sp. sebagai Biofungisida pada EntomopatogenBeauveria
Tanaman Tomat. Biosaitifika Vol bassiana Sebagai Pengendali
1 (1): 62-69. Hama Utama Ulat Krop
(Crocidolomia binotalis)
Keputusan Menteri Pertanian No.
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
434.1/Kpts/TP.270/7/2001
Tanaman Sawi (Brassica juncea).
Tentang Syarat dan Tata Cara
EMBRYO Vol. 8 (2): 65-72.
Pendaftaran Pestisida.
Triman, B. 2010. Pengendalian Hama
Lacey LA. 2007. Bacillus thuringiensis
Terpadu (PHT). www.
serovariety israelensis and
[Link]. Diakses
Bacillus sphaericus for mosquito
tanggal 05 Desember 2016.
control. J. Am. Mosq. Asso.,
23(2):133–163
Muharsini, S. & A. H. Wardhana. 2005.
Uji Efikasi Isolat LokalBacillus
thuringiensis yang Mempuntai
Gen Cry Terhaddap Lalat
Chrysomya bezziana Secara In

265
Prosiding Seminar Nasional, 2017

266
Prosiding Seminar Nasional, 2017

267

Anda mungkin juga menyukai