Biodiversitas untuk Kesehatan dan Ekosistem
Biodiversitas untuk Kesehatan dan Ekosistem
SEMINAR NASIONAL
Pusat Kajian Lingkungan dan Konservasi Alam Fakultas Biologi UNAS dan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat UNAS
Editor :
Ikhsan Matondang
Imran S.L. Tobing
Sri Endarti Rahayu
Sri Handayani
ISBN : 978-602-0819-28-0
ii
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA
Seminar ini mengusung tema “Biodiversitas untuk kesehatan dan keberlanjutan kualitas
ekosistem”. Penetapan tema didasarkan pada harapan agar potensi biodiversitas dapat lebih
terungkap, baik untuk bidang kesehatan maupun dalam menjaga keseimbangan ekosistem,
melalui hasil-hasil penelitian dari berbagai peneliti Indonesia.
Fakta menjunjukkan bahwa makalah yang akan dipresentasikan dalam seminar ini didominasi
oleh hasil penelitian dosen dan peneliti Universitas Nasional, khususnya Fakultas Biologi.
Namun demikian, para peneliti dari berbagai institusi, seperti yang berasal dari Riau, Jawa
Barat, dan Jakarta juga akan menjadi pemakalah dalam seminar ini.
Terimakasih atas kesediannya mengikuti seminar ini; semoga kepedulian kita terhadap
biodiversitas Indonesia makin meningkat; sehingga dapat lebih dimanfaatkan sebagai modal
dasar dalam pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
Seminar ini menampilkan Prof. Dr. Dedy Darnaedi (Direktur Prosea) sebagai pembicara
utama. Semoga materi yang disampaikan dapat lebih memperkaya pengetahuan dan
wawasan kita.
Akhirnya; atas nama seluruh panitia; kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala
keterbatasan dan kekurangan dalam penerimaan, penyambutan, dan penyelenggaran seminar
ini.
Selamat berseminar; selamat berbagi ilmu dan pengalaman. Semoga bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, dan bagi para pengambil keputusan. Sampai bertemu
kembali di akhir tahun mendatang, karena seminar ini akan kami agendakan sebagai seminar
rutin.
Imran SL Tobing
iii
SUSUNAN PANITIA SEMINAR NASIONAL 2016
iv
DAFTAR ISI
EKSPLORASI BIODIVERSITAS
v
PENGARUH KOMBINASI AUKSIN 2,4 – D DENGAN
SITOKININ BAP DAN KINETIN TERHADAP
PERTUMBUHAN EKSPLAN DAUN TORBANGUN (Coleus amboinicus L.)
Siti Noorrohmah, Laela Sari, Aida Wulansari dan Tri Muji Ermayanti …………… 87
vi
Raswen Efendi, Evy Rossi dan Fitria Ulfah Apriani …………………………….. 215
EKOSISTEM
JENIS-JENISMIKROORGANISMEAGENSIA HAYATI
SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR PENGENDALIAN
ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT)SECARA TERPADU
Yeni Nuraeni, Illa Anggraeni dan Rosita Dewi ……………………………………. 259
vii
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
The research was conducted in May 2016. The types of macroalgae were found to be described in accordance to
the principles. Data were collected using transect squared method at two research stations based on the
existence of macroalgae and the substrate. The Results showed 21 species of macroalgae from the genus
Caulerpa, Halimeda, Boergesenia, Bornetella, Ulva, Neomeris, Padina, Sargassum, Dictyota, Hormophysa,
Turbinaria, Acanthopora, Laurencia, Gracillaria , Hypnea and Euchema The percentage of macro-algae were
on the Division Chlorophyta 48%, Phaeophyta 28%, and Rhodophyta 24% respectively. This results showed
that waters in the Tidung Island is still good for growth of macroalgae.
1
Prosiding Seminar Nasional, 2017
2
Prosiding Seminar Nasional, 2017
3
Prosiding Seminar Nasional, 2017
7. Neomeris √
annulata
Divisi Chlorophyta ada 10 makro alga
8. Boergensenia √ √ yaitu Caulerpa racemosa, Caulerpa
forbesii racemosa var ufivera, Caulerpa
sertularoides, Halimeda macroloba,
9. Ulva lactuva √
Halimeda gracillis, Halimeda lacunnalis,
10 Bornetella √ Neomeris annulata, Boergesenia
nitida forbesii,Ulva lactuva, Bornetella nitida.
Divisi Phaeophyta ada 6 makro alga yaitu
11 Padina √ √
: Padina australis, Hormophysa triquerta,
australis
Sargassum duplicatum, Dictyota sp, T
12. Hormophysa √ urbinaria conoides, Cysteoceria sp. Divisi
triquerta Rhodophyta ada 5 makro alga yaitu
13. Sargassum √
Acanthopora specifera, Laurencia nidifica,
conoides berikut:
16. Cystoceria sp √
17. Achantophora √
muscoides
18. Gracillaria √ √
salicornia
19. Euchema √ √
spinosum
Gambar 2. Diagram Presentase Jumlah
Jenis Makro alga Pada Tiap
20. Hypnea asperi √ √
Divisi.
4
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Jenis makro alga yang banyak penelitian sesuai untuk tempat hidup
dijumpai di lokasi penelitian yaitu jenis makro alga
dari Chlorophyta (10) jenis. Hal ini Faktor lingkungan yang mempengaruhi
disebabkan karena substrat yang ada di pertumbuhan makro alga tidak hanya
tempat penelitian adalah pasir atau pasir substrat, melainkan faktor-faktor
dengan pecahan karang. Dimana substrat lingkungan lainnya seperti suhu, pH,
pasir dengan gelombang yang relatif kecil salinitas , kedalaman. Parameter
adalah substrat yang umum untuk makro lingkungan yang diukur saat penelitian
alga Chlorophyta seperti Caulerpa, dapat dilihat pada tabel 2.
Halimeda, Boergesenia, dan
Tabel 2. Hasil Pengukuran Parameter
[Link] jenis makroalga dari
lingkungan di Perairan Pulau
Phaeophyta dan Rhodophytadi lokasi Tidung.
5
Prosiding Seminar Nasional, 2017
6
Prosiding Seminar Nasional, 2017
7
Prosiding Seminar Nasional, 2017
8
Prosiding Seminar Nasional, 2017
[Link],[Link].
[Link]. F. Manajang dan
[Link]. 2006. Pola Reproduksi
Kandungan Agar dan Kekuatan Gel
pada Alga merah Gracillaria
salicornia ([Link]) Dawson dari
Pantai 41 Malalayang, Journal of
Research and Development Sam
Ratulangi, University Vol 29 Nomor
1.
9
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Wildlife sanctuaries is a butterfly habitat. Butterflies play an important role in ecosystem since a
butterfly is able to help in pollination and as a bioindicator in environmental changing. There is no
research on butterfly in sanctuaries has been published. This research is intended to understand butterfly
community better (Papilionoidea) in Angke Santuaries Jakarta. This research is done during May-June
2015, using purposive sampling method, with insect net as mean from 09.00 Am to 01.00 PM. Research
shows butterfly in open habitat has types that relatively same with closed habitat (IS > 50%) with
similarity index (IS) 51.28%. Diversity index, both in open and close habitat, are classified as moderate,
with equitability index almost 1 (0.89-0.88). Hutchinson test shows there is a great diffirence at both
habitat. In this research, the biggest butterfly community found in the open habitat is Delias hyparete but
in the close habitat is Junonia atlites. Other physical environment are still within the normal range
corresponding to the life of a butterfly, such as temperature, humidity, and wind speed, however the light
in open habitats is higher then in the closed habitat.
abiotik. Faktor biotik dapat berupa mineral yang banyak terdapat pada
tumbuhan, parasit, predator dan habitat yang terbuka. Penelitian tentang
reproduksi. Tumbuhan sangat jenis kupu-kupu telah banyak
memberikan pengaruh terhadap dilakukan, terutama di hutan kota
kehidupan kupu-kupu, karena kupu- Utami (2012), Ruslan, dkk (2014),
kupu sangat tergantung kepada daya sedangkan penelitian mengenai
dukung habitat. Daya dukung habitat, komunitas kupu-kupu (Lepidoptera:
yaitu habitat yang memiliki komponen Papilionoidea) di SMMA belum ada
tumbuhan inang dan tumbuhan pakan. publikasi. Oleh karena itu dilakukan
Tumbuhan inang adalah tumbuhan penelitian ini bertujuan untuk
inang yang menjadi pakan larva atau mengetahui komunitas kupu-kupu
ulat dimana kupu-kupu meletakan (Lepidptera : Papilinoidea) di SMMA.
telurnya, dan tumbuhan pakan adalah METODE
tumbuhan yang menjadi pakan imago.
Waktu dan lokasi penelitian
Sedangkan faktor abiotik dapat berupa
suhu, kelembaban, cahaya dan angin. Penelitian dilakukan pada bulan
pada habitat yang banyak intensitas Suaka Marga satwa Muara Angke,
cahaya yang tinggi, dan berkaitan juga Jakarta utara. Peta lokasi dan tempat
11
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 2. Lokasi penelitian habitat terbuka; plot 1 (a), plot 2 (b), plot 3 (c).
Gambar 3. Lokasi penelitian habitat tertutup; plot 1 (a), plot 2 (b), plot 3 (c).
14
Prosiding Seminar Nasional, 2017
TIPE HABITAT
Total
Takson Terbuka Tertutup
Suku 4 4 4
Marga 20 9 20
Jenis 29 10 29
Individu 97 34 131
IS 51.28%
15
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Habitat
Parameter Lingkungan
Terbuka Tertutup
Angin 0.63 0
16
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Indeks Nilai Penting (INP) kupu- habitat terbuka didapatkan pada jenis
kupu Delias hyparete, sedangkan pada
Pada grafik (Gambar 6) di habitat tertutup INP tertinggi,
bawah, dapat dilihat indeks nilai didapatkan pada jenis Junonia atlites
penting tertinggi kupu-kupu pada (Gambar lampiran 3).
18
Prosiding Seminar Nasional, 2017
19
Prosiding Seminar Nasional, 2017
20
Prosiding Seminar Nasional, 2017
TERBUKA TERTUTUP
1 2 3 1 2 3
PAPILIONIDAE Graphium agamemnon √ √ √
Graphium sarpedon √
Papilio memnon √ √
Papilio polytes √ √
Papilio demoleus √ √
PIERIDAE Appias olferna 4 √
Catopsilia pomona √
Catopsilia scylla √
Eurema alitha 1
Eurema blanda 1 √
Eurema hecabe 3 √ √ √ √ √
Eurema sari 2 √
Delias hyparete 3 √ √ √ √
Nymphalidae Amanthusia phidippus √ √
Arhopala centaurus √
Doleschallia bisaltidae √ √
Danaus genutia / melanippus √ √ √ √
Elymnas hypermnestra √ 2 √
Eutholia monina √
Euoploea mulciber √ √
Euoploea leucoticus √
Hypolimas bolina √ √ √
Junonia atlites √ √ √ √ √ √
Junonia hedonia √ √
Melanitis leda √
Moduza procris √
Neptis hylas √ √
Phalanta phalanta √
Lycaenidae Zizina otis √
(a) (b)
21
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
This research is held from 16-21 April 2016 in Bukit Rimbang Baling Sanctuaries area. The research is
using scan sampling method, with sweeping net as mean. The research is done at four different location
like Batu Dinding, Batu Tunjuk, CampSubayang, and Tanjung Belit Village. 74 types of butterfly and 338
individuals consist of Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycanidae and Hesperidae. Nymphalidae is
a tribe that has the most type and individuals number. From the research it is found that similarity index
of butterfly composition <50%, which means that the butterfly composition is not the same. Butterfly
diversity index in Batu Dinding categorized as high, while in Batu TUnjuk, Cam Subayang and TAnjung
Belit Village is categorized as moderate. Diversity index between location shows there is significant
difference, except in Cam Subayang and Batu Dinding. The highest Dominant Index is found in Camp
Subayang while the lowes in Batu Dinding. Butterfly which has the most individuals number is found at
Appias lyncida tpe at Badu Dinding, Jamides celeno at Batu TUnjuk and Camp Subayang and ZizinaOtis
at Tanjung Belit village.
Keywords : Butterfly, diversity, rimbang Baling sanctuaries
22
Prosiding Seminar Nasional, 2017
23
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 3. Lokasi penelitian : Batu Diding (a), Batu Tunjuk (b), Camp
Subayang (c), Desa Tanjung Belit (d)
24
Prosiding Seminar Nasional, 2017
25
Prosiding Seminar Nasional, 2017
t=
D = - ∑ (ni / N)2
df = Dengan:
D = indeks dominansi Simpson
Hipotesis : HASIL DAN PEMBAHASAN
t hit < t tabel, tolak Ho (terdapat
perbedaan yang bermakna). Komposisi kupu-kupu
t hit > t tabel, terima Ho (tidak terdapat
perbedaan bermakna). Hasil penelitian
keanekaragaman kupu-kupu
D 3. Indeks Kemerataan (Lepidoptera) di sekitar kawasan Suaka
Kemerataan jenis kupu-kupu pada Margasatwa Bukit Rimbang Baling
suatu lokasi dihitung menggunakan Riau, ditemui 74 jenis dan 339 individu
rumus ekuitabilitas menurut Magurran (Tabel lampiran 1), dari lima suku
(1988), sebagai berikut : kupu-kupu, yang terdiri dari
Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae,
E= Lycaenidae, dan Hesperidae (Gambar
lampiran 2). Kelima suku kupu-kupu
26
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 1. Jumlah suku, marga, jenis, individu, kupu-kupu yang ditemukan di sekitar
kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling Riau.
Taksa Lokasi
Batu Dinding Batu Tunjuk Camp Subayang Desa Tanjung Belit
Suku 5 5 5 5
Marga 19 14 18 18
Jenis 39 21 26 32
Individu 83 36 87 133
Lokasi
Batu Dinding Batu Tunjuk Camp Subayang Desa
Batu Dinding 49 43 31
Batu Tunjuk 43 30
Camp 34
Desa
28
Prosiding Seminar Nasional, 2017
29
Prosiding Seminar Nasional, 2017
30
Prosiding Seminar Nasional, 2017
31
Prosiding Seminar Nasional, 2017
32
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Breadfruit (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) is a woody tree native to Southeast Asia. Almost all parts of
the breadfruit plants such as roots, stems and leaves have medicinal properties. Propagation breadfruit is
generally done by root cuttings. In vitro techniques also can be done to accelerate the availability of raw
materials in large quantities of superior planting materials. The purpose of this study was to investigate shoot
micropropation of breadfruit plants and ex vitro propagation using stem cuttings. The plant material used was
breadfruit originated from Bone. In vitro shoots grown on MS medium containing BAP at 1 mg / l, rooting was
done on ½ MS medium containing IBA at 0.5 mg / l. Parameters measured were shoot height, number of shoots,
number of roots and root length. Breadfruit cuttings used were stem upper position, middle and bottom at 20 cm
lenght. The stems were treated with IBA + fungicide. All stems were planted on media containing husk fuel +
cocopeat (1: 2). The parameters measured were the high number of shoots and buds. The results showed that in
vitro shoot proliferation was achieved on MS media + 1mg / l BAP with number of buds was at 8.45 at 12 weeks
after culture. Plantlets had 100% survival rate. Ex vitro propagation showed that the highest number of shoot
cuttings of stem after 3 months was 8.67.
Keywords : breadfruit (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg), the proliferation of shoots, stem cuttings, in vitro
and ex vitro.
33
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ton ([Link] 2015). Di antara al. 2011). Sukun yang tidak berbiji secara
Sentra produksi sukun di Indonesia, yang ex vitro biasanya diperbanyak dengan cara
paling terkenal terdapat di daerah Bone vegetatif melalui stek akar. Namun, cara
(Sulawesi Selatan) ([Link] tersebut menghasilkan bibit tidak seragam
2015). dengan jumlah terbatas, dan apabila
Sukun juga dikenal sebagai dilakukan secara massal dapat merusak
tanaman yang berkhasiat obat di wilayah pohon induk (Pitoyo 1992). Untuk
Asia, termasuk di Indonesia dan Kepulauan pengadaan bibit sukun secara massal dalam
Pasifik. Seluruh bagian tanaman, baik akar, waktu singkat sulit dilakukan dengan
batang, daun bahkan getahnya diyakini teknik ex vitro (stek batang). Oleh karena
masyarakat setempat dapat digunakan itu perlu dikembangkan teknik kultur
untuk pengobatan penyakit hati, hipertensi, jaringan yang dapat memproduksi bibit
jantung, ginjal, sakit gigi, gatal-gatal dan klonal unggul seragam, bersih dari hama
diabetes((Sikarwar et al. 2014, Deivanai et penyakit dalam jumlah banyak secara
al. 2010, Amarasinghe et al. 2008). berkesinambungan. Bibit hasil kultur
Secarah ilmiah, beberapa penelitian jaringan telah terbukti mempunyai
menunjukkan bahwa sukun mengandung beberapa keunggulan seperti dapat
senyawa aktif dari golongan triterfenoid diproduksi secara massal, tidak tergantung
dan flavonoid seperti cycloaltilisin, pada musim dan bebas dari hama dan
artomunoxanthotrione epoxide, penyakit.
cyclocommunol, cyclomulberrin, Sukun telah berhasil diperbanyak
cyclocommunin, dan artocarpanone melalui kultur tunas batang (Imelda 2008),
(Sikarwar et al. 2014).. kultur tunas akar, stek batang, stek akar
Sukun umumnya mempunyai dan cangkok serta kultur in vitro dari bahan
junlah kromosom triploid (3n = 84) dan tanaman dewasa (Imelda dan Noorrohmah
tidak berbiji yaitu untuk sukun yang 2015, Imelda et al. 2009, Murch et al.
mempunyai penyebaran dari Papua Barat, 2008, Miller dan Duncun 2008). Hasil
namun di Papua Nuigini Timur seperti penelitian Imelda et al. 2009, menunjukkan
Vanuatu terdapat sukun diploid (2n=56) bahwa media terbaik untuk menginduksi
dan berbiji (Sikarwar et al. 2014, Jone et proliferasi tunas batang adalah media MS
34
Prosiding Seminar Nasional, 2017
35
Prosiding Seminar Nasional, 2017
lalu dibilas tiga kali dengan akuades steril. dahulu ke dalam botol sambal dikocok
Eksplan ditiriskan dengan kertas saring, sedikit hingga planlet mudah terlepas.
dipotong sepanjang ± 2 cm lalu Planlet yang sudah terlepas dikeluarkan
ditumbuhkan pada media tumbuh MS dari dalam botol dan akar dicuci bersih
(Murashige dan Skoog, 1962) yang telah sampai tidak terdapat media di akar planlet.
diberi zat pemadat gelrite 3g/L, sukrosa 30 Planlet yang sudah bersih langsung
g/L, pH media diatur 5.8. Eksplan ditanam di dalam polybag berisi media
dipindahkan lagi ke media perlakuan yaitu sekam bakar + cocopeat ( 1 : 2 ), setelah itu
MS dengan penambahan BAP 1 mg/L, disungkup plastik transparan selama 2
kemudian ke media perakaran ½ MS + minggu. Setelah itu semua polybag
IBA 0.5 mg/l (Noorrohman dan Imelda disimpan di rumah kaca pada tempat yang
2008). teduh. Parameter yang diamati adalah
Penelitian ini menggunakan tinggi, dan jumlah daun umur 1, 15 dan 30
rancangan acak lengkap dengan 5 kali hari.
ulangan, tiap ulangan terdiri dari 4 tunas. Perbanyakan ex vitro dengan stek
Pengamatan dilakukan dengan menghitung batang
tinggi tanaman, jumlah tunas, dan jumlah
akar pada umur 4, 8 dan 12 minggu. Bahan yang digunakan adalah stek
Pengamatan pada media perakaran batang yang sudah tua (tidak adanya gabus
dilakukan terhadap persentase planlet yang dalam batang sukun) berukuran 60 cm
sudah berakar. dibagi menjadi tiga bagian (atas, tengah,
Aklimatisasi dilakukan setelah dan bawah) dengan panjang masing-
planlet 3 bulan ditanam di media sekam masing 20 cm. Perlakuan dilakukan dengan
bakar + cocopeat ( 1 : 2 ). Aklimatisasi penambahan IBA (Rootone) + fungisida
terdiri atas media kontrol (15 planlet) dan (Benlate). Kontrol dilakukan tanpa
media perakaran (15 planlet). Planlet penambahan IBA dan fungisida. Penelitian
dikeluarkan dari botol dengan cara ini menggunakan media sekam bakar +
mencabut planlet tersebut (media sudah cocopeat ( 1 : 2 ). Stek batang tersebut
berubah menjadi setengah padat), apabila ditanam miring dan bagian atasnya diberi
masih padat bisa dimasukkan air terlebih lapisan lilin supaya tidak berjamur.
36
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar1. Pengaruh zat pengatur tumbuh BAP terhadap tinggi(A), jumlah tunas(B), dan jumlah
akar (C) pada tanaman sukun asal Bone.
37
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 2. Kultur Tunas pucuk sukun asal Bone, Sulawesi Selatan pada media MS (A) dan MS
+ 1 mg\L BAP (B) umur 12 minggu.
38
Prosiding Seminar Nasional, 2017
penambahan IBA mampu beradaptasi pada pada 3 planlet dari 15 planlet yang
kondisi ex vitro di rumah kaca, tumbuh ditanam. Pada Gambar 5 bahwa perlakuan
100%. Contoh hasil aklimatisasi dapat penambahan IBA dengan konsentrasi 0.5
dilihat pada Gambar 4. Tinggi tanaman mg/l ke dalam media ½ MS, mampu
sukun dan jumlah daun dapat dilhat pada menghasilkan lebih tinggi tunas dan lebih
Gambar 5, daun hanya bertambah 1 helai
banyak jumlah daun dibandingkan kontrol
Tabel 1. Pengaruh IBA terhadap presentase pembentukan akar dan jumlah akar per tunas
sukun pada umur 4, 8 dan 12 minggu.
0 4 26.7
8 46.7
12 53.3
0.5 4 33.3
8 53.3
12 73.3
Gambar 3. Pengakaran tunas in vitro tanaman sukun dalam media ½ MS (A) dan ½ MS + IBA
0.5 mg/ L (B) umur 12 minggu.
39
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 4. Aklimatisasi sukun di rumah kaca setelah berumur 30 hari. A. planlet berasal dari
media ½ MS tanpa penambahan IBA (kontrol), B : planlet berasal dari media ½MS +
IBA 0.5 mg/l umur 30 hari.
Gambar 5. Tinggi (A) dan jumlah daun (B) pada umur 1, 15 dan 30 hari.
Perbanyakan tanaman dengan cara stek jumlah tunas dan tinggi tunas pada
batang (ex vitro)
pengamatan umur 3 bulan. Jumlah dan
Stek batang terbaik adalah pada stek tinggi tunas tertinggi terdapat pada
bagian bawah perlakuan IBA + fungisida perlakuan IBA + fungisida dengai nilai
dan yang terendah adalah stek pada bagian 8.67 dan 37.0. Sedangkan jumlah dan
atas kontrol (Tabel 2). Berdasarkan dari tinggi terendah terdapat pada kontrol stek
hasil analisis ragam, perlakuan kontrol bagian atas dengan nilai 3.33 dan 9.27. Hal
dengan perlakuan IBA + fungisida ini menunjukkan bahwa hasil perbanyakan
menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap dengan stek batang bawah lebih baik
40
Prosiding Seminar Nasional, 2017
dibandingkan dengan pertumbuhan stek Pengambilan stek akar selain lebih sulit
batang tengah dan batang atas, karena stek (harus menggali tanah) juga bisa
batang bawah tidak memiliki sel-sel gabus mengganggu produksi pohon karena proses
dalam batang sukun. Sel-sel gabus adalah penyerapan air dan hara terganggu.
sel yang mati pada tumbuhan dikotil. Stek Tunas yang tumbuh dari stek batang
batang tengah dan atas mempunyai stek bawah dengan penambahan IBA +
batang yang masih muda dan cadangan fungisida mempunyai tinggi sebesar 37 cm
makanan (karbohidrat) masih rendah dalam waktu 3 bulan (Tabel 2). Keragaan
sehingga belum cukup untuk tumbuh stek batang bawah, tengah dan atas
(Hartono et al. 2006). Karbohidrat pada perlakuan IBA + fungisida dapat dilihat
batang berperan sangat penting yaitu pada Ganbar 6B. Sementara tunas dari stek
sebagai sumber energi yang dibutuhkan batang tanpa penambahan (kontrol)
pada waktu pembentukan akar baru. pertambahan tingginya sangat lambat.
Hal ini berarti bahwa perbanyakan Setelah 3 bulan semua stek batang secara
sukun dengan menggunakan stek batang bertahap dipindah ke dalam polibag karena
merupakan pilihan yang lebih baik tempat persemaian sudah tidak bisa
dibandingkan menggunakan stek akar yang menampung tingginya tunas.
selama ini diterapkan masyarakat luas.
Tabel 2. Rata-rata jumlah tunas dan tinggi tunas stek batang umur 3 bulan.
Keterangan: Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak
berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
41
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 6. Stek batang (bawah,tengah,atas) perlakuan IBA+fungisida umur 1 bulan (A), umur
3 bulan (B).
42
Prosiding Seminar Nasional, 2017
43
Prosiding Seminar Nasional, 2017
44
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Pest and disease become major cause the unsuccesful of plantation establishment, both in industrial forest
plantations and community forests. This paper aims to provide information of pest and disease that attack
mahogany in the nursery and planting area. The informations are revieweded after 1 year observation since
seedling maintained in nursery untill planted in the field. The affected plant was identified by its symptom
and sign, collecting insect specimen and species identification. The results showed pests that stem borer
(Xylosandrus sp.) attackedmahogany in seedling phase followed by shoot borer (Hypsipylla sp.) in sapling
phase. Leaf spot disease and diseases caused by viruses were found in small frequency at plantating area.
Stem borer is a major cause of damage in the nursery, while the shoot borer is a major cause of damage in
plantation.
Pasifik dan Afrika Barat. Di Indonesia tanaman mahoni baik pada stadia bibit di
tanaman ini menyebar di seluruh P. persemaian maupun di areal penanaman.
Sumatera dan P. Jawa (Mindawati dan
METODE
Megawati, 2013). Mahoni merupakan
pohon dengan tinggi dapat mencapai 35 Lokasi dan Waktu Penelitian
m dan diameter mencapai 125 cm, bentuk
Lokasi penelitian dilakukan di
silindris, tidak berbanir dan tajuk
persemain Pusat Penelitan dan
membulat. Kayu mahoni dicirikan oleh
Pengembangan Hutan di GunungBatu,
warna kayunya yang berwarna cokelat
Bogor dan di Kawasan Hutan Dengan
muda kemerah-merahan atau kekuning-
Tujuan Khusus (KHDTK) Haurbentes di
kuningan sampai cokelat tua kemerah-
Jasing, Bogor.
merahan. Berdasarkan kelas kuat mahoni
masuk kategori kelas kuat II-III dan kelas Bahan dan Alat
awet III. Kayu mahoni dipakai terutama
Bahan yang digunakan yaitu bibit
untuk venir dekoratif dan kayu lapis.
mahoni umur 1-6 bulan, tanaman mahoni
Selain itu mahoni juga digunakan untuk
di areal tanam sampai umur 6 bulan
furniture, panel, perkapalan serta barang
setelah tanam, kotak serangga, kamera,
kerajinan (Martawijaya et al. 2005).
alat tulis dan mikroskop.
Kegagalan dalam pembangunan
Cara Kerja
HTI maupun HR sering kali terkait
dengan permasalahan hama dan penyakit. Penelitian dilakukan dengan cara
Adanya serangan hama dan penyakit pengamatan gejala dan tanda serangan
dapat mengakibatkan menurunnya hama dan penyakit pada tanaman mahoni
produksi bibit di di persemaian mulai pada saat bibit
persemaian,kerusakan/kematian tanaman berumur 1 bulan sampai bibit berumur 6
di areal tanam dan akhirnya kehilangan bulan dan di areal tanam, pengambilan
hasil panen. sampel serangga untuk selanjutnya
dilakukan identifikasi di Laboratorium
TujuanPenelitian
Perlindungan Hutan – Puslitbang Hutan.
Tujuan penelitian yaitu untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN
memberikan informasi jenis-jenis hama
dan penyakit yang berasosiasi dengan Dari hasil pengamatan pada bibit
mahoni di persemaian dan tanaman
46
Prosiding Seminar Nasional, 2017
mahoni di areal tanam, diperoleh hama horizontal dari permukaan kulit sampai
dan penyakit yang menyerang tanaman ke empulur, selanjutnya kumbang akan
mahoni adalah sebagai berikut: menggerek tanaman secara vertikal tepat
pada bagian empulur (Gambar 2)
a). Hama penggerek batang (Xylosandrus
sp.) (Rahmanto dan Lestari, 2013). Di dalam
lubang gerek vertikal tersebut kumbang
Hama penggerek batang mulai
kemudian meletakkan telur-telurnya
menyerang tanaman pada stadia bibit di
sampai telur menetas hingga menjadi
[Link] serangan yaitu daun
imago. Larva dan imago hidup bersama-
pada bibit tanaman yang terserang
sama di dalam lubang pada bagian
menjadi layu, kemudian berubah warna
empulur tersebut. Telur Xylosandrus sp.
menjadi cokelat dan kemudian
berwarna putih dan berbentuk oval serta
mengering, batang tanaman akan menjadi
memiliki permukaan yang halus,
mudah patah sebagai akibat adanya
berukuran ± 0,5 x 0,30 mm (Greco
lubang gerek tersebut (Gambar 1, kiri).
&Wright 2015). Larvanya juga berwarna
Pengamatan di persemaian menunjukkan
putih dan memiliki bentuk tubuh yang
serangan penggerek batang terjadi secara
lonjong (Gambar 3, kiri). Imago/serangga
mengelompok pada bibit mahoni. Tanda
dewasa berbentuk kumbang berwarna
serangan oleh kumbang penggerek yaitu
cokelat tua hingga kehitaman dengan
adanya lubang gerek pada batang di atas
rambut rambut pada tubuhnya, berukuran
leher akar (di atas permukaan tanah) pada
± 1,6 mm dan lebar ± 0,7 mm (Greco &
tinggi ± 10-15 cm dengan ukuran
Wright 2015). Sedangkan kumbang muda
diameter lubang gerek ± 0,8 mm
berwarna kuning kecokelatan (Gambar 3,
(Gambar 1, kanan). Arah lubang gerek
kanan).
Penampakan batang dari batang
yang sehat dan batang yang terserang
hama penggerek batang, menunjukkan
kerusakan batang terdapat di bagian pusat
batang atau empulur (Gambar 2).
Gambar 1. Gejala serangan hama
penggerek batang di
Empulur merupakan jaringan dasar
persemaian (kiri) dan ditengah-tengah batang atau akar,
lubang gerek hama
Xylosandrus sp. (kanan) umumnya terdiri atas sel parenkim yang
47
Prosiding Seminar Nasional, 2017
memiliki fungsi untuk membelah diri dan Gambar 3. Larva Xylosandrus sp. (kiri)
dan imagoXylosnadrus sp.
regenerasi (Fahn 1992). (kanan).
48
Prosiding Seminar Nasional, 2017
49
Prosiding Seminar Nasional, 2017
51
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Red Pepper (Capsicum annuum L.) as one of the horticultural commodities, currently tend to continues
increasingdemand due to largerand industrial consumption. The stability of productivities and quality of
pepper can be achieved by used superior varieties of pepper. Embryogenic callus is one of the plant material
used to produce superior varieties of pepper. This study was aim to determine the effect of concentration of
growth regulators on embryogenic callus induction of the various types of [Link] embryogenic callus
was induced from several types of explants of in vitro seedlings of red pepper cv. Princess. The medium used
were MS containing several types and concentrations of growth regulators. The parameters measured were
initiating time of callus formation, number of callus, number of embryogenic callus, morphology (shape and
color) of [Link] this study, the medium containing 12 mg/l picloram and 1,28 mg/l CuSO4 resulted the
highest average value of embryogenic callus of cotyledons and the hypocotyl resulted the highest average
value of embryogenic callus were generated on the medium containing 12 mg/l picloram and 0,32 mg/l
CuSO4. The most suitable explants embryogenic callus formation was cotyledon. The structures of
embryogenic callus werefriable and compact-friable, and the colorsareyellowish white and translucent
white. The results showed the significant correlation (p<0,01) between growth regulators and the type of
explants in embryogenic callus formation of pepper.
Key words : Embryogenic callus, growth regulators, red pepper (Capsicum annuum L.)
ton/ha. Nilai ini masih di bawah dari totipotensi sel yang tinggi, sehingga
potensi produktivitas cabai merah yang merupakan sistem yang sangat berguna
berkisar 12-20 ton/ha. (Direktorat untuk perbanyakan masal planlet dan
Jenderal Hortikultura, 2016). Faktor- transformasi genetik (Deo et al., 2009).
faktor penyebab masih rendahnya 2,4-D (2,4-Dichlorophenoxy Acetic
produktivitas cabai diantaranya adalah Acid) merupakan auksin sintetik yang
penggunaan benih yang kurang bermutu, sering digunakan secara tunggal untuk
teknik budidaya yang belum efisien dan menginduksi terbentuknya kalus dari
optimal, serta penanaman kultivar cabai berbagai jaringan tanaman, karena
yang rentan terhadap hama dan penyakit aktivitasnya yang kuat untuk memacu
(Soelaiman dan Ernawati, 2013). proses dediferensiasi sel dan menjaga
Perbaikan varietas cabai seperti pertumbuhan kalus (Bhojwani dan
ketahanan terhadap penyakit dan daya Razdan, 1996). Pikloram lebih baik dan
simpan melalui aplikasibioteknologi unggul dalam menginduksikalus
dapat membantu mempercepat program embriogenikpada tanaman ubi kayu
pemuliaan, yaitu perakitan varietas cabai dibanding 2,4-D (Reamakers et al., 1997;
unggul, terutama dalam Rossin dan Rey, 2011). Pembentukan
usahameningkatkan kualitas dan kalus embriogenik cabai dilaporkan telah
kuantitas produksi cabaisecara optimal. berhasil dilakukan dari eksplan daun
Kultur jaringan merupakan salah satu muda, hipokotil dan ujung akar pada cv.
metode yang digunakan untuk menunjang Gelora, Sudra dan Chili 109 (Manzila et
kegiatan pemuliaan tanaman secara in al., 2010), dari eksplan hipokotil dan
vitro. kotiledon pada cv. Surjamukhi dan Bally
Kalus embriogenik merupakan (Rakshit et al., 2007), dari eksplan
salah satu bahan atau material yang kecambah dan buah matang (plasenta dan
digunakan dalam kegiatan pemuliaan perikarp) [Link] (Kaaby et al., 2015)
secara in vitro. Kalus merupakan salah pada media yang mengandung 2,4-D.
satu bentukdiferensiasi eksplan dalam Percobaan ini merupakan bagian
kultur in vitro dan berupa suatu awal dari penelitian untuk memperoleh
kumpulan sel yang terbentuk akibat dari metode atau protokol yang efektif dan
sel-sel jaringan yangmembelah diri efisien dalam embriogenesis somatik dan
secara terus menerus (Gunawan, 1992). regenerasi planlet cabai ([Link]
Kalus embriogenik memiliki sifat L.).Penelitian ini bertujuan untuk
53
Prosiding Seminar Nasional, 2017
54
Prosiding Seminar Nasional, 2017
55
Prosiding Seminar Nasional, 2017
MC4. Namun, pada eksplan hipokotil Ketiga jenis eksplan bereaksi lebih
nilai rata-rata pada media MC0 (kontrol) cepat/responsif pada media yang
dan MC1 memiliki nilai yang signifikan mengandung pikloram dan CuSO4
dengan nilai pada media MC2, MC3 dan daripada media yang mengandung 2,4-D.
MC4. Perbedaan respon eksplan dalam Hal ini menunjukkan bahwa semakin
membentuk kalus dan kalus embriogenik tinggi kosentrasi auksin yang diberikan,
dipengaruhi oleh konsentrasi ZPT dan semakin tinggi pula frekuensi eksplan
CuSO4dalam media perlakuan. Hal ini yang berkalus dan berpotensi untuk
dapat terlihat dari kecepatan eksplan membentuk kalus embriogenik.
membentuk kalus embriogenik. Setiap Penambahan CuSO4 pada media
genotip atau jaringan mempunyai dapat meningkatkan induksi embrio
kandungan ZPT endogen dan respon primer, meningkatkan produksi embrio
yang berbeda terhadap penyerapan ZPT sekunder, dan dapat mempersingkat
dalam medium. Oleh karena itu, dalam waktu pematangan embrio somatik
embriogenesis somatik terkadang hanya (Danso dan Lloyd, 2002). Pada kultur in
dibutuhkan auksin maupun sitokinin vitro, sumber atau jenis eksplan dan umur
secara tunggal atau campuran auksin dan eksplan merupakan faktor yang sangat
sitokinin. Beberapa sel embriogenik penting dalam menentukan kemampuan
dapat mengulangi siklus regenerasinya kalus menghasilkan embrio somatik (Taji
membentuk embrio somatik kembali et al., 1992).
yang disebut sebagai embrio somatik Selain menggunakan dua jenis
sekunder (Oktavia et al., 2003).Kalus auksin yang berbeda (2,4-D dan
embriogenik yang terbentuk memiliki pikloram), pada penelitian ini juga
struktur yang remah dan berwarna putih menggunakan dua konsentrasi sukrosa
kekuningan. Tetapi ada pula yang yang berbeda (2% dan 3%).Pada
berstruktur kompak-remah dan berwarna perlakuan 2,4-D diberikan sukrosa
putih transparan (putih bening). dengan konsentrasi 3%, karena
Hasil analisis dengan uji DMRT konsentrasi 2,4-D yang dipakai adalah 2
taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan dan 3 mg/l. Konsentrasi tersebut masih
media yang diberi tambahan ZPT dalam taraf sedang (normal), sedangkan
berpengaruh nyata terhadap jumlah kalus sukrosa yang dipakai pada media
dan kalus embriogenik yang terbentuk, perlakuan pikloram dan CuSO4
dibandingkan dengan media tanpa ZPT. konsentrasinya lebih rendah (2%), karena
56
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 1. Pembentukan kalus embriogenik dari eksplan kotiledon cabai merah cv.
Princesspada media perlakuan MC1 (A); MC2 (B); MC3 (C); dan MC4 (D).
Tabel 1. Respon beberapa jenis eksplan terhadap perbedaan media perlakuan (jenis dan
kosentrasi ZPT) pada pembentukan kalus embriogenik cabai merah cv. Princess.
57
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 2. Korelasi antara media perlakuan (jenis dan konsentrasi ZPT) dan jenis eksplan
terhadap pembentukan kalus embriogenik cabai merah cv. Princess.
Media
JN JK JKE Jenis Eksplan
perlakuan
JE 0.403* 0.748** 0.528** 0 0.866**
JN -0.238 -0.33 0.493** 0.427*
JK 0.848** -408** 0.683**
JKE -0.528** 0.531**
Media
0.632**
perlakuan
Keterangan: * = korelasi signifikan pada tingkat 0,05
** = korelasi signifikan pada tingkat 0,01
JE = jumlah eksplan ; JN= jumlah nekrosis (browning); JK = jumlah kalus;
JKE = jumlah kalus embriogenik
58
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 2. Induksi kalus embriogenik cabai merah cv. Princess pada media MC4,
kotiledon (A); buku kotiledon (B); hipokotil (C).
59
Prosiding Seminar Nasional, 2017
60
Prosiding Seminar Nasional, 2017
61
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Optimization of land use for agriculture is critically needed due to the decreasing numbers of agricultural area. One
strategy to optimize land utilization is by developing new stress tolerant variety. Wide farming area could also be
used for rice production by means of intercropping. However, the problem of this system is the low light intensity.
The objectives of this research were to screen and develop shade tolerant mutant rice lines. The analysis was
conducted by screening of 550 insertion mutant rice lines with 15 replications for each line in plastic basin in soil.
The screening was designed in 100% dark shading for 10 tens. Scoring was determined by the number of plant
damages from leaves to stem. Four potential candidates were analyzed by hpt and bar gene PCR analysis in order
to determine the insertion pattern. Those potential lines were 4, 97, 65 and 11.
62
Prosiding Seminar Nasional, 2017
yang berpotensi tinggi pada kondisi dengan Tujuan dari penelitian ini adalah
intensitas cahaya rendah (naungan). Salah untuk mendapatkan galur padi mutan insersi
satu kendala pertumbuhan dan produksi padi yang menunjukkan peningkatan toleransi
sebagai tanaman sela adalah terjadinya terhadap cekaman naungan pada fase
defisit cahaya yang sampai di kanopi padi. perkecambahan.
Intensitas cahaya rendah mengakibatkan
terganggunya laju fotosintesis dan sintesis METODE
karbohidrat, dan berakibat menurunnya laju Penelitian dilakukan di Laboratorium
pertumbuhan dan produktivitas tanaman Genomik dan Perbaikan Mutu Tanaman,
(Vijayalaksmi et al., 1991; Chozin et Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI,
al.,1999). Cahaya sangat besar peranannya Cibinong Science Center. Bahan yang
dalam proses fisiologi, seperti fotosintesis, digunakan adalah 550 galur padi mutan
respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, insersi yang diperoleh dari koleksi benih
penutupan stomata berbagai pergerakan padi Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.
tanaman dan perkecambahan ( Taiz dan Varietas Jatiluhur digunakan sebagai kontrol
Zeiger 2002). Cahaya merupakan faktor toleran naungan, dan Nipponbare sebagai
penting bagi pertumbuhan dan kontrol nonmutasi. Penelitian terdiri atas dua
perkembangan tanaman padi karena selain kegiatan, yaitu (1) skrining padi mutan
berperan dominan pada fase fotosintesis, insersi terhadap cekaman naungan, dan (2)
juga sebagai pengendali, pemicu dan analisis insersi dengan PCR.
modulator respons morfogenesis, khususnya Skrining Padi mutan Insersi terhadap
cekaman 100% Naungan pada fase
pada tahap awal pertumbuhan tanaman
Perkecambahan.
(McNellis dan Deng 1995).
Kegiatan ini dilakukan di Rumah
Pengembangan padi unggul sebagai
Kaca Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI,
tanaman sela yang toleran naungan perlu
Cibinong. Sebelum percobaan, dilakukan
untuk dilakukan untuk merealisasikan
persiapan tanah yang mengandung humus
program pemerintah untuk peningkatan areal
yang dicampur dengan pupuk kandang
penggunaan areal tanam di bawah tegakan
dengan perbandingan tanah dengan pupuk
tanaman perkebunan dan hutan tanaman
kandang yaitu 3:1 kemudian tanah di
industri (HTI).
masukkan kedalam bak-bak plastik
63
Prosiding Seminar Nasional, 2017
berukuran (panjang x lebar x tinggi) tanpa naungan pada kondisi cahaya penuh,
50x40x15 cm sebanyak 70 bak plastik selanjutnya pada hari ke-10, bak-bak
untuk perlakuan cekaman naungan dan 70 tanaman dipindahkan ke dalam ruang gelap
bak untuk tanpa naungan (kontrol). yang diberi perlakuan cekaman 100%
Skrining galur-galur toleran naungan naungan yang ditutupi dengan plastik
dilakukan melalui dua tahap. Pada tahap berwarna hitam selama 10 hari tanpa
pertama dilakukan pada 250 galur, dan di cahaya . Kelembapan di dalam ruangan
tahap kedua dilakukan pada 350 galur berkisar 70%-83%, dan suhu udara 270C-
lainnya. Pembagian tahap penapisan 310C, dan cahaya 00,1 lux. Evaluasi Respon
dilakukan karena keterbatasan tempat dan tanaman terhadap naungan yang dipakai
alat. Percobaan diawali dengan untuk menentukan mutan yang rentan dan
mengecambahkan benih padi galur mutan toleran, dengan melihat jumlah tanaman
pada bak-bak plastik yang berisi tanah hidup dan mati, dan nilai/ skor rata-rata
humus dan pupuk kandang dengan tingkat kerusakan yaitu perubahan warna
perbandingan 3:1. Pada masing-masing bak dari daun sampai kebatang. Penentuan galur
dibagi menjadi delapan bagian untuk yang toleran dan rentan naungan didasarkan
masing-masing galur mutan yang terdiri dari atas nilai /skoring tanaman yang hidup
15 benih. . Galur-galur padi mutan setelah disimpan dalam ruang gelap selama
dikecambahakan selama 10 hari ditempat 10 hari dengan kriteria sebagai berikut :
Isolasi DNA dan analisis PCR (Murry & Thompson, 1980). DNA yang
Isolasi DNA total tanaman dari daun dihasilkan kemudian digunakan sebagai
padi yang lolos seleksi/skrining naungan template untuk analisis PCR. Analisis PCR
64
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Hpt dan gen Bar pada tanaman tersebut di HASIL DAN PEMBAHASAN
atas. Reaksi tanaman terhadap intensitas
Analisis PCR menggunakan cahaya yang rendah dapat dianalisa dengna
sepasang primer untuk mengamplifikasi gen melihat kemampuan tanaman tersebut hidup
Hpt dan sepasang primer untuk dalam naungan. Hasil skrining naungan
mengamplifikasi gen Bar. Primer yang 100% selama 10 hari tahap pertama dari 250
digunakan untuk mengamplifikasi gen Hpt galur mutan di ambil 15 kandidat tanaman
yaitu Hpt Forward: 5’- mutan toleran naungan (Tabel 2). Dari 15
GATGCCTCCGCTCGAAGTAGCG -3’ kandidat tersebut, galur mutan No 97 dan
dan Hpt Reverse: 5’- galur mutan nomor 4 mempunyai jumlah
GCATCTCCCGCCGTGCAC -3’. Primer yang hidup lebih besar dibanding galur-
yang digunakan untuk mengamplifikasi gen galur mutan yang lain. Rata-rata nilai
Bar yaitu Bar Forward: 5’- skoring galur tersebut adalah 3 dan 4, hal ini
ACCATGAGCCCAGAACGACGC -3’ dan menunjukkan kedua mutan tersebut
Bar Reverse: 5’- memiliki toleransi yang lebih baik
CAGGCTGAAGTCCAGCTGCCAG -3’. dibandingkan tanaman kontrol Nipponbare
Adapun kondisi PCR adalah sebagai berikut: dan tanaman mutan yang lain. Sedangkan
95 0C 3 menit, 95 0C selama 1 menit, 62 0C pada tanaman kontrol Niponbare sebagian
selama 1 menit (untuk amplifikasi gen Hpt) besar pada saat keluar dari cekaman
dan 62 0C (untuk amplifikasi gen Bar), 72 naungan tanaman kering mulai dari batang
0
C selama 1 menit, 72 0C selama 10 menit, sampai daun tidak ada yang berwarna hijau
dan 40 C (~), sebanyak 35 siklus. Reaksi dengan jumlah yang hidup. Persentase
PCR menggunakan DreamTaq Polymerase tanaman yang hidup pada tanaman mutan 4
(Thermo Scientific). Reaksi PCR adalah (76.92%) dan 97(77.77%). Kedua mutan
sebagai berikut: sebanyak 2.0 µM masing- tersebut meningkat 63.59% dan 44.44%
masing primer, 1x Dream Taq Polymerase dibadingkan tanaman control nipponbare.
Mix, sebanyak 1 µl DNA templet dalam Dengan demikian, mutan-mutan tersebut
volum akhir 12.5 µl. merupakan mutan yang potential digunakan
untuk toleransi terhadap naungan.
65
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 2. Galur-galur kandidat toleran cekaman naungan pada hasil skrining pertama.
No No. Jumlah semai Jumlah benih Persentase tanaman Skor
. Galur yang diuji yang hidup Rata2
dinaungan 10 hari
Hasil analisis PCR galur kandidat toleran naungan hasil percobaan pertama :
Hasil skrining pertama tersebut Dari hasil PCR, diketahui bahwa dari galur
dianalisa dengan PCR. Analisa tersesebut 4 dan 97 terdapat amplifikasi gen bar yang
dilakukan untuk mengetahui keberadaan gen berukuran sekitar 230bp (Gambar 1) dan gen
HPT dan gen Bar pada kandidat mutan. hpt (Gambar 2) yang berukuran 450bp.
Gambar 1. Hasil PCR DNA tanaman mutan Nipponbare menggunakan primer Bar
amplifikasi PCR yaitu pita berukuran ± 230 bp. (1). marker, (2). air, (4).
Kontrol negatif tanaman, (6). plasmid, (8). Kontrol positif tanaman,
(12). Galur, 4. (13) galur 97.
66
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Keberadaan gen hpt dan Bar merupakan pada elemen Ds tertambat gen resisten
marker selektif tanaman transgenic BASTA (bar). Dengan demikian,
berdasarkan muncul tidaknya gen yang amplifikasi kedua gen marker selektif
bersangkutan. Tanaman mutan tersebut tersebut untuk menunjukkan keberadaan
dibuat dengan konstruksi Ac/Ds, pada elemen Ac dan Ds.
elemen Ac tertambat gen hpt, sedangkan
Gambar 2 Hasil PCR DNA tanaman mutan Nipponbare menggunakan primer Hpt.
amplifikasi PCR yaitu pita berukuran ± 450 bp. (1). marker, (2). air, (4).
Kontrol negatif tanaman, (6). plasmid, (8). Kontrol positif tanaman,
(12). galur 4, (13). galur 97.
Tabel 3. Galur-galur kandidat toleran cekaman naungan pada hasil skrining kedua.
No. No. Jumlah semai Jumlah benih yang Persentase tanaman yang Skor
Galur diuji hidup dinaungan 10 hari Rata2
Skrining kedua naungan 100% yang terbaik (Tabel 3). Dari hasil skrining
selama 10 hari tahap kedua dari 300 galur tersebut di hasilkan 2 kandidat mutan yang
mutan di ambil 15 tanaman besar mutan mempunyai jumlah hidup lebih tinggi
67
Prosiding Seminar Nasional, 2017
dibanding tanaman kontrol NB yaitu mutan tersebut berpotensi untuk diuji lebih lanjut
11 dan 65 yaitu mutan 11 (5), dan NB (2) untuk toleransi terhadap naungan.
dan 65 (9) dan NB (2). Rata-rata nilai Hasil analisis PCR galur kandidat toleran
naungan hasil percobaan kedua
skoring galur tersebut adalah 2, tidak
menunjukkan perbedaan dengan tanaman Kandidat tanaman mutan toleran
mutan lainnya. naungan diuji dengan PCR untuk
Persentase tanaman yang hidup pada mengetahui keberadaan gen hpt (Gambar 3).
tanaman mutan 65 (75%) dan 11(55.55%). Kandidat tanaman mutan mengamplifikasi
Kedua mutan tersebut meningkat 61.67% gen hpt pada galur 65 dan 11. Hal ini
dan 40.17% dibadingkan tanaman kontrol menunjukkan bahwa pada tanaman tersebut
nipponbare. Dengan demikian, mutan-mutan mempunyai konstruksi Ac/Ds, dimana
elemen Ac tertambat gen hpt.
Gambar 3. Hasil PCR DNA tanaman mutan Nipponbare menggunakan primer Hpt. amplifikasi PCR
yaitu pita berukuran ± 450 bp. 1. Marker 200 bp (M), 2. air, [Link] negatif tanaman
Nipponbare, 4. kosong, 5. Pc 1305-1, 6. kontrol positif Nippobare , 7. kosong , 8-20.
tanaman mutan, 8-10. Galur 65 (kotak A), 12-13. (kotak B), dan 15. galur 11 (kotak C),
terdapat empat galur mutan potensial Penelitian ini didanai oleh Program
oleh jumlah yang hidup dan mati pada hari Pengetahuan Indonesia. Sehubungan dengan
ke-10 setelah dikeluarkan dari ruangan gelap itu disampaikan terima kasih kepada Dr.
68
Prosiding Seminar Nasional, 2017
DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian dan Pengembangan
Fisiologi Adaptasi Tanaman Terhadap Departemen Pertanian. 2005.
Cekaman Abiotik pada Rencana Aksi Pemantapan
Agroekosistem Tropika, Prof [Link] Ketahanan Pangan 2005-2010.
Didy Sopandie, Magr, cetakan Lima Komoditas Beras, Jagung,
pertama 2014, IPB. Kedelai, Gula, dan Daging Sapi.
Jakarta. Balitbangtan Deptan.
Portis, AR. 1992, Regulation of Ribulose
1,5 bisphosphate Holbrook GP, Campbell WJ, Bamford AR,
carboxylase/oxygenase activity. Bowers G. 1994, Intraspesific
Annu Rev Plant Physiol plant Mol variation in the light/dark
Biol 43:415-437. modulation of ribulose 1,5
bisphosphate carboxylase-
Taiz dan Zeiger 2002, Plant Physiology, 5 th oxygenase activity in soybean. J
edition Sinaur Associate Inc, Exp Bot 45:1119-1126.
Publishers, Massachusetts USA.
Pp 200-230.
69
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Collection of Microbes and The Study of Its Inhibitation Potency to Peanut Disease
ABSTRACT
Biocontrol agents or an antagonistic microorganism application to control plant disease is one of the techniques of
an intergrated plant disease management. The research has been done to study the inhibitation potencial of
antagonistic bacteria and fungi were investigated from collected microbes and isolated pathogens in the
Laboratorium of ICABIOGRAD. Isolates of antagonist microbes originated from Bogor and Bandung (West Java)
and from Dieng area (Wonosobo, Central Java) were tested its antagonistic potencial to bacterial wilt disease of
peanut (Ralstonia solanacearum). Fifty four isolates of antagonistic bacteria and fungi were tested to its inhibitation
against R. solanacearum. Result of the study indicates that six isolates of antagonistic bacteria have a broad
inhibiting potency to R. solanacearum, namely PSB 10 (16,11 mm), PSB 11 (15,40 mm), PSB 12 (17,00 mm), LBB
02 (15,92 mm), LBB 06 (15,75 mm), and CKB 20 (15,94 mm), while the other 12 isolates of bacteria indicates the
potencial inhibitation. Three isolates of antagonistic bacteria have a broad inhibiting potency to R. solanacearum,
namely LBC 06 (16,40 mm), LBC 07 (25,45 mm), and PSC 09 (16,83 mm), while the other 15 isolates of fungi
indicates the potencial inhibitation. The other 18 of bacterial antagonistic isolate indicates also as the antagonist
agents against bacterial wilt disease of peanut, where that those 1 isolate of antagonist bacteria from Lembang
(LKnt-1b), 1 isolate of antagonist bacteria from Dieng (DRpt-8a), and 2 isolates of antagonist bacteria from Bogor
(BJgg-12b and BJgg-12c) had the inhibitation zone more than 15 mm. Therefore that those antagonist bacteria
were the most potencial antagonist to the bacterial wilt disease. The further study done in green house were found
15 bacterial isolates of Pseudomonas fluorescens group that suppressed development of peanut bactreial wilt
disease. Antagonistic bacterial isolates collected from different area could be considered as biocontrol agents to
bacterial wilt disease of peanut.
Key words : Antagonist bacteria and fungi, biocontrol, Ralstonia solanacearum, peanut.
70
Prosiding Seminar Nasional, 2017
dipakai untuk pengendalian secara bersama- Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi
sama dengan cara proteksi yang telah ada. Selatan.
Beberapa laporan menyebutkan adanya Penelitian ini bertujuan untuk
beberapa bakteri filosfir daun dan bakteri mengisolasi bakteri dan cendawan antagonis
risosfir tanah yang berpotensi sebagai agens dari tanah rizosfir yang berasal dari daerah
biokontrol penyebab penyakit tanaman. Bogor dan Lembang (Jawa Barat) dan
Mekanisme penghambatan agens biokontrol pegunungan Dieng di Wonosobo (Jawa
terhadap patogen penyakit diantaranya Tengah) serta potensinya dalam menekan
terajadi melalui kompetisi nutrisi, produksi perkembangan penyakit layu bakteri pada
antibiotik, HCN, dan siderofor (pengkelat kacanag tanah (Ralstonia solanaceraum) di
besi). rumah kaca.
Salah satu penyakit yang menyerang METODE
tanaman kacang tanah ialah layu bakteri Isolasi bakteri dan cendawan antagonis.
yang disebabkan bakteri Ralstonia Isolasi bakteri antagonis dilakukan
solancearum. Penyakit ini merupakan salah dengan cara pengenceran berseri dan
satu penyakit utama dan menyebar luas pengkulturan pada cawan petri. Sebanyak
terutama pada tanaman yang mempunyai 10 g contoh tanah disuspensikan dalam 90
nilai ekonomi seperti kacang tanah, tomat, ml akuades steril dalam tabung Erlenmeyer
terung, lada, jahe, cabe, kacang tanah, berukuran 250 ml. Suspensi dikocok selama
pisang dan tembakau di daerah tropis dan 30 menit menggunakan alat pengocok
subtropis (Hayward, 1985; Hayward, 1990). (shaker). Suspensi yang diperoleh
Penyakit layu bakteri kacang tanah telah diencerkan sampai dengan tingkat
tersebar luas di China dan daerah tertentu di pengenceran 10 . Dari pengenceran 10-4-10-
-6
6
Uganda, Fiji, Malaysia, Papua New Guinea, , diambil masing-masing sebanyak 0,1 ml
Filipina, Afrka Selatan, Thailand, Sri kemudian dituangkan ke dalam 3 cawan
Langka, Amerika dan di Indonesia petri. Ke dalamnya dituangkan 10 ml
(Machmud, 1996; Hayward, 1990). medium SEA cair yang bersuhu sekitar 50-
Penyebaran penyakit di Indonesia meliputi 55 oC. Isolasi cendawan antagonis dilakukan
daerah pertanaman kacang tanah di dengan mengambil suspensi dari
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, pengenceran 102-104, masing-masing
71
Prosiding Seminar Nasional, 2017
sebanyak 0,1 ml lalu dituangkan ke dalam 3 cakram yang mengandung isolat bakteri
cawan petri. Ke dalamnya dituangkan 10 ml pada medium PSA.
medium MA cair yang bersuhu sekitar 50- Pengujian daya hambat isolat
55 oC, cawan petri diputar ke arah kiri dan cendawan antagonis terhadap bakteri
kanan sehingga medium bercampur merata dilakukan dengan cara mula-mula bakteri
dengan suspensi cendawan, kemudian Rs. ditumbuhkan dalam cawan petri dengan
diinkubasi pada suhu kamar selama 7 hari. cara menuangkan suspensi bakteri bersama-
Koloni cendawan yang murni ditumbuhkan sama dengan medium PDA cair yang
medium PDA miring atau cawan petri untuk bersuhu sekitar 50-55 oC. Campuran bakteri
digunakan pada perngujian selanjutnya. dan medium dibiarkan menjadi padat,
Uji daya hambat isolat bakteri dan kemudian pada permukaan medium
cendawan antagonis terhadap R.
ditempelkan potongan hifa cendawan
solanacearum secar in vitro.
Isolat-isolat bakteri dan cendawan antagonis. Lalu diinkubasi pada suhu kamar
antagonis diuji potensi daya hambatnya selama 7 hari. Peubah yang diamati adalah
terhadap Rs menggunakan metode uji zona hambatan pertumbuhan Rs. di
berganda (Sigee, 1993). Bakteri Rs. sekeliling potongan hifa pada medium
ditumbuhkan dalam cawan petri dengan cara PDA.
menuangkan suspensi bakteri bersama-sama Uji potensi antagonis secara in vivo.
dengan medium NDA cair yang bersuhu
o
Penelitian potensi bakteri antagonis
sekitar 50-55 C. Campuran bakteri dan
dilakukan di rumah kaca BB-Biogen
medium dibiarkan menjadi padat, kemudian
menggunakan pot-pot berdiameter 25 cm
pada permukaan medium ditempelkan
yang didiisi dengan tanah yang mengandung
cakram kertas saring yang telah dicelupkan
patogen layu bakteri asal Kebun Percobaan
ke dalam suspensi mikroba antagonis lalu
Cikeumeuh, Bogor. Uji patogenisitas bakteri
diinkubasi pada suhu kamar selama 7 hari.
layu sebelumnya sudah dilakukan dengan
Pengujian menggunakan rancangan acak
menanam tanaman kacang tanah varietas
lengkap dengan 27 isolat bakteri antagonis
Kelinci (rentan terhadap patogen layu
sebagai perlakuan dengan 3 ulangan. Peubah
bakteri) dan telah menimbulkan gejala
yang diamati adalah zona hambatan
penyakit minimal 30%.
pertumbuhan Rs. di sekeliling kertas
72
Prosiding Seminar Nasional, 2017
1) 2)
No Kode isolat Zona hambat (mm) Potensi
1 LBB 01 7.38 +
2 LBB 09 0 -
3 LBB 04 9,75 +
4 PSB 11 15,40 ++
5 PSB 12 17,00 ++
6 PCB 16 12,75 +
7 LBB 02 15,92 ++
73
Prosiding Seminar Nasional, 2017
8 LBB 03 10,84 +
9 LBB 05 12,11 +
10 LBB 06 15,75 ++
11 LBB 08 10,65 +
12 PSB 10 16,11 ++
13 PSB 13 14,75 +
14 PCB 17 9,00 +
15 CKB 19 13,40 +
16 CKB 20 15,94 ++
17 PCB 18 0 -
18 LBB 10 0 -
19 LBB 07 11,25 +
20 PSB 20 14,25 +
21 PCB 14 14,40 +
22 CKB 18 7,25 +
23 PSB 14 0 -
24 PSB 15 0 -
25 PCB 15 7,83 +
26 PCB 18 0 -
27 PCB 19 0 -
1)
LBB…= isolat bakteri antagonis asal Lembang; PSB…= isolat bakteri antagonis asal Pasir Sarongge;
PCB…= isolat bakteri antagonis asal Pacet; CKB…= isolat bakteri antagonis asal Cikeumeuh.
2)
(-) = tidak potensial, zona hambatan nol; (+) = potensial, zona hambatan 1-15 mm; (++) = sangat potensial,
zona hambatan > 15 mm.
74
Prosiding Seminar Nasional, 2017
mm), isolat CKB 20 (15,94 mm), isolat parasitisme atau predasi dan pembentukan
LBB02 (15,92 mm), isolat LBB 06 (15,75 toksin termasuk antibiotik (Sigee, 1983;
mm), dan isolat PSB 11 (15,40 mm). Isolat Cook and Baker, 1993).
bakteri lainnya memiliki daya antagonistik
Daya Hambatan Isolat Cendawan
potensial dengan zona hambat berkisar
Antagonis terhadap Pertumbuhan
antara 7,25 sampai 14,75 mm. Ralstonia solanacearum (Rs) Secara in
vitro
Berdasarkan hasil pengujian in vitro,
isolat bakteri antagonis yang menghasilkan Dengan metoda uji berganda terdapat
zona kosong menunjukkan adanya 18 isolat cendawan yang menunjukkan sifat
kemampuan antagonistik terhadap Rs. Hal antagonis terhadap bekteri R. solanacearum.
ini dimungkinkan karena isolat antagonis Isolat cendawan yang bersifat antagonis
tersebut diketahui menghasilkan senyawa yang diperoleh terdiri dari 8 isolat berasal
metabolit atau enzim yang bersifat toksik dari Lembang, 4 isolat berasal dari Pasir
terhadap sel-sel bakteri patogen, sehingga Sarongge, 4 isolat berasal dari Pacet, dan 2
sel tersebut mengalami lisis atau antibiosis. isolat berasal dari Cikeumeuh (Bogor)
Aktifitas antagonis meliputi persaingan, (Tabel 2).
1) 2)
No Kode isolat Zona hambat (mm) Potensi
1 LBC 01 7.34 +
2 LBC 09 0 -
3 LBC 04 10,75 +
4 PSC 11 12,70 +
5 PCC 14 15,00 +
6 PSC 15 0 -
7 LBC 02 14,94 +
8 LBC 03 10,88 +
75
Prosiding Seminar Nasional, 2017
9 LBC 05 10.40 +
10 LBC 07 25.45 ++
11 LBC 08 11.40 +
12 PSC 10 14.40 +
13 PCC 15 10,65 +
14 PCC 16 11,25 +
15 CKC 17 9,75 +
16 CKC18 11,38 +
17 LBC 10 0 -
18 PSC 14 0 -
19 LBC 06 16.40 ++
20 PSC 09 16.83 ++
21 PCC 13 12.75 +
22 CKC 19 0 -
23 PSC 12 8.50 +
24 PSC 13 0 -
25 PCC 17 0 -
26 PCC 18 0 -
27 PCC 19 0 -
LBC…= isolat cendawan antagonis asal Lembang; PSC…= isolat cendawan antagonis asal Pasir Sarongge; PCC…=
isolat cendawan antagonis asal Pacet; CKC…= isolat cendawan antagonis asal Cikeumeuh.2)(-) = tidak potensial,
zona hambatan nol; (+) = potensial, zona hamabatan 1-15 mm; (++) = sangat potensial, zona hambatan > 15 mm.
76
Prosiding Seminar Nasional, 2017
tanaman kentang, kubis, dan kacang tunggak menekan bakteri R. solanacearum baik pada
yang diperoleh dari daerah Lembang (Jawa pengujian in vitro maupun in vivo.
Barat). Hal ini menunjukkan bahwa isolat-
isolat bakteri antagonis tersebut dapat
Tabel 3. Pengaruh perlakuan bakteri antagonis terhadap penyakit layu bakteri kacang
anah (R. solanacearum) di rumah kaca.
77
Prosiding Seminar Nasional, 2017
tanah1)
LKnt…=baktri antagonis asal kentang (Lembang); LKbs…=bakteriantagonis asal kubis (Lembang);
LKct…=bakteri antagonis asal kc. tunggak (Lembang); LWrt…=bakteri antagonis asal wortel (Lembang);
LCb…=bakteri antagonis asal cabe (Lembang); DKrm..=bakteri asal kerema (Dieng); DLmp…=bakteri asal lempuyang
(Dieng); DRpt…=bakteri asal rumput (Dieng); DJbt…=bakteri asal jembutan (Dieng); DPks…=bakteri asal pakis
2)
(Dieng); BJgg…=bakteri asal jagung (Bogor); (-)=tidak potensial; (+)=potensial
78
Prosiding Seminar Nasional, 2017
79
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
The resistance of cassava germplasm to leaf blight/die back disease (Xanthomonas campestris pv. manihotis, Xcm)
have been studied in Cikeumeuh Research Station of ICABIOGRAD, Bogor during wet season 2010/2011. This
experiment was arranged by using random block design with 3 replications. Twenty four of cassava germplasms
were planted 10 stem of plant along in a row each accession. Inoculation of Xcm was done at 2 months after
planting with “stub methods”. Five plants were inoculated using isolate of Xcm, while the other 5 plants do not
inoculated as the control plant. Result of the study indicated that the symptom of the disease appeared at 14 days
after inoculation. The disease symptom was developed until 3 months after planting. At the fifth until seventh
observation, the disease were increased due to the temperature, relative humidity and the rain fall were quite high.
Regarding the observation found that 13 cassava clones were moderately resistant dan 8 clones were moderately
susceptible to the disease. The clone that indicates resistant to the disease can be as a source of crossing program
to gain cassava that resistant to the disease.
80
Prosiding Seminar Nasional, 2017
daun dan mati pucuk (Reitsma and Van (Xanthomonas campestris pv. manihotis).
Hoof, 1948). Daerah penyebarannya di Hasil penelitian ini diharapkan dapat
Indonesia meliputi daerah-daerah Lampung berguna bagi pemulia ubi-ubian untuk
Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan memperoleh sumber ketahanan sebagai tetua
Sumatra Barat (Nunung, 1985; Tominaga et yang memiliki potensi ketahanan yang
al., 1978). Kerusakan yang disebabkan oleh unggul.
penyakit ini umumnya terdapat pada METODE
jaringan muda dan dinding bagian luar dari Penyaringan (screening) 21 klon
pembuluh kayu. Apabila tidak terjadi ubikayu terhadap penyakit hawar daun/mati
degradasi sel, translokasi bahan-bahan pucuk dilakukan pada Musim Penghujan
makanan tidak terganggu dan tanaman dapat 2010/2011 di Instalasi Penelitian
tumbuh normal. Penyakit ini mudah menular Cikeumeuh, Balai Besar Penelitian dan
melaui berbagai media, misalnya air hujan, Pengembangan Bioteknologi dan
tanah, bibit, serangga dan alat-alat pertanian. Sumberdaya Genetik Pertanian, BB Biogen,
Penggunaan varietas tahan terhadap Bogor.
penyakit ini merupakan usaha pencegahan Penelitian menggunakan rancangan
yang paling efektif dan murah bagi petani. acak kelompok dengan 3 ulangan. Klon ubi
Oleh karena itu pencarian sumber ketahanan kayu yang diuji sebanyak 24 nomor aksesi.
ubi kayu tetap harus dilakukan karena Sebagai pembanding/cek digunakan varietas
sampai saat ini belum banyak diperoleh Adira II (tahan) dan Bic-290 dan Bic-280
tanaman ubi kayu yang benar-benar tahan (rentan). Luas tiap plot/panjang baris yaitu
terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk 1,0 x 6,0 m2 (ditanam 10
dan masih dijumpai adanya ketidakstabilan tanaman/baris/aksesi) dengan jarak tanam
ketahanannya terhadap penyakit ini. Usaha 1,0 m x 0,6 m. Dosis pupuk 90 kg N, 30 kg
pencegahan lain adalah dengan sanitasi dan P2O5, dan 50 kg K2O per hektar. Seluruh
mempertinggi daya tahan tanaman melalui pupuk P dan 1/3 pupuk N dan K diberikan
media tumbuh (Tominaga et al., 1978). pada saat tanam, sedangkan 2/3 pupuk N
Tujuan penelitian ini untuk menguji dan K diberikan pada saat tanaman berumur
ketahanan plasma nutfah ubi kayu terhadap tiga bulan. Inokulasi dilakukan pada saat
penyakit hawar daun/mati pucuk tanaman berumur 2 bulan dengan isolat
81
Prosiding Seminar Nasional, 2017
XCM (NW 19) yang telah ditumbuhkan Pengamatan dilakukan seminggu setelah
pada medium PPGA (Potato Pepton inokulasi berturut-turut sebanyak 7-8 kali
Glucose Agar). Inokulasi secara ”stub selang seminggu sekali. Tingkat ketahanan
inoclation” pada batang tanaman 2-5 cm di tanaman dibedakan dalam 5 kategori yaitu
bawah pucuk yaitu dengan cara penususkan berdasarkan keadaan kerusakan daun dan
dan pengolesan isolat bakteri pada bekas pengeluaran getah (Anonimous, 1978).
tusukan di batang tersebut. Lima tanaman
diinokulasi dan 5 tanaman dibiarkan
terserang penyakit hawar daun secara alami.
Tabel 1. Kategori tingkat serangan penyakit hawar daun ubi kayu.
No Register Varietas
1 Bic-397 Manalagi
2 Bic-311 Gatotkaca
3 Bic-519 Ketela roti-1
4 Bic-242 CM.1428-6
5 Bic-416 Helung
6 Bic-20 Chilhen A
7 Bic-226 CM.1006-7
8 Bic-514 Kiruluk
9 Bic-470 Lamme kayu didi-1
10 Bic-597 73-10-3
11 Bic-69 H-1
12 Bic-621 729-20-2
13 Bic-629 72-21
14 Bic-89 A7-1
82
Prosiding Seminar Nasional, 2017
15 Bic-1 Valenca
16 Bic-276 W.145
17 Bic-475 Lokal air besar
18 Bic-498 Sampeu putih
19 Bic-512 Sitape
20 Bic-467 KU-50
21 Bic-312 Panjalu
22 Bic-290 L.143 (cek rentan)
23 Bic-280 L.53 (cek tahan)
24 Bic-33 Adira II (cek tahan)
83
Prosiding Seminar Nasional, 2017
tua, selanjutnya akan tumbuh kembali ini disebabkan karena keadaan suhu,
tunas-tunas baru (dikenal sebagai recovery). kelembaban udara, dan curah hujan harian
Hasil penelitian ini menunjukkan pada waktu tanam cukup tinggi. Sehingga
bahwa serangan penyakit hawar daun/mati hal ini memberikan kondisi yang kondusif
pucuk sudah terlihat pada 14 HSI (hari bagi perkembangan penyakit hawar
setelah inokulasi) (umur tanaman sekitar 10 daun/mati pucuk di lapang.
minggu) dan serangan penyakit terus Berdasarkan hasil penelitian
meningkat sampai dengan saat pengamatan diperoleh 13 varietas ubi kayu bereaksi agak
ketujuh, dimana tanaman ubu kayu sudah tahan dan 8 varietas agak rentan terhadap
berumur lebih dari 3 bulan. Serangan penyakit hawar daun/mati pucuk (Tabel 3).
penyakit hawar daun/mati pucuk pada
pengamatan kelima sampai dengan
pengamatan ketujuh terlihat meningkat, hal
Tabel 3. Reaksi ketahanan 21 varietas ubikayu terhadap penyakit hawar daun/mati pucuk
(Xanthomonas campestris pv. manihotis). Bogor, MP 2010/2011.
1 Bic-397 Manalagi AT
2 Bic-311 Gatotkaca AT
3 Bic-519 Ketela roti-1 AT
4 Bic-242 CM.1428-6 AT
5 Bic-416 Helung AT
6 Bic-20 Chilhen A AT
7 Bic-226 CM.1006-7 AR
8 Bic-514 Kiruluk AT
9 Bic-470 Lamme kayu didi-1 AT
10 Bic-597 73-10-3 AT
11 Bic-69 H-1 AR
12 Bic-621 729-20-2 AR
13 Bic-629 72-21 AT
14 Bic-89 A7-1 AR
15 Bic-1 Valenca AR
16 Bic-276 W.145 AR
17 Bic-475 Lokal air besar AR
18 Bic-498 Sampeu putih AR
19 Bic-512 Sitape AT
20 Bic-467 KU-50 AT
84
Prosiding Seminar Nasional, 2017
21 Bic-312 Panjalu AT
22 Bic-33 Adira II (kontrol tahan) R
23 Bic-290 L.143 (kontro rentan) AT
24 Bic-280 L.53 (kontrol tahan) AT
85
Prosiding Seminar Nasional, 2017
86
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Effect of Combination between Auxin 2,4-D and Cytokinins BAP and Kinetin
on Growth of Torbangun (Coleus amboinicus L.) Leaf Explant
Siti Noorrohmah*, Laela Sari, Aida Wulansari dan Tri Muji Ermayanti
Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI
Jalan Raya Bogor Km 46, Cibinong-16911
*E-mail : noorrohmah@[Link]
ABSTRACT
Torbangun (Coleus amboinicus L.) is commonly used traditionally as a breast milk stimulant. Torbangun
propagation is usually done by cutting and seeds. Micropropagation by tissue culture technique is to produce
standardized and sustainable seedlings. Tissue culture technique also has an ability in producing seedlings in large
quantities, having uniform in growth, and needs only short time, relatively, in producing seedlings. The aim of the
research was to investigate the effect of combination between auxin 2,4-D and cytokinins BAP and Kinetin levels
added to MS medium on growth of Torbangun (Coleus amboinicus L.) leaf explant. This research used the
Completely Randomized Design. Explant used was Torbangun leaf isolated from plants grown in the field. A total of
25 concentration combinations used as treatments were 2,4-D in combination with BAP and 2,4-D in combination
with Kinetin (0,0; 0,1; 0,5; 1,0; 2,0) mg / l). Callus, shoot, and root root formations were observed after 2, 4, 6, and
8 weeks in culture. The results showed that formation of callus occured at all medium compositions except on the
culture media without 2,4-D. No shoots were formed on the medium containing highest cytokinins concentration of
2,0 mg/l BAP or Kinetin. Roots were formed from explants grown on medium containing 0,1 mg/l 2,4-D in
combination with 0,5 mg/l BAP or (0,0 – 2,0) mg/l Kinetin.
Keywords : BAP, 2,4-D, growth of leaf explant, torbangun (Coleus amboinicus L.), kinetin.
87
Prosiding Seminar Nasional, 2017
88
Prosiding Seminar Nasional, 2017
bakterisida dan fungisida dengan konsentrasi diinkubasikan di ruang terang pada suhu
3% selama 2 jam, lalu dibilas dengan 25±20C selama 8 minggu.
akuades steril sebanyak 3 kali. Kemudian Penelitian ini menggunakan
daun Torbangun direndam dalam 0,05% Rancangan Acak Lengkap. Pengamatan
HgCl2 selama 5 menit lalu dibilas dengan air pertumbuhan dilakukan pada 2, 4, 6, dan 8
steril kemudian ditanam dalam media Minggu Setelah Tanam (MST). Parameter
seleksi. yang diamati yaitu prosentase terbentuknya
Seleksi media untuk mengetahui kalus, akar dan tunas dari eksplan pada tiap-
respon tumbuh eksplan daun dengan tiap media perlakuan.
percobaan Mini Broad Spectrum
menggunakan media MS yang dipadatkan 3 HASIL DAN PEMBAHASAN
g/l agar gelzan, ditambahkan kombinasi zat A. Respon pertumbuhan dan
perkembangan eksplan daun
pengatur tumbuh auksin (2,4-D) dan
Torbangun dengan 2,4-D dan BAP
sitokinin (BAP atau Kinetin) dengan
Tabel 1 menunjukkan bahwa
konsentrasi 0,0; 0,1; 0,5; 1,0 dan 2,0 mg/L,
penambahan BAP sebanyak 0,0 – 2,0 mg/l
dengan demikian terdapat 25 kombinasi
tanpa penambahan 2,4-D tidak terjadi
media seleksi. Semua media kemudian
pembentukan kalus maupun organogenesis
disterilisasi dengan menggunakan autoklaf
akar maupun tunas. Eksplan pada minggu
dengan suhu 121ºC pada tekanan 1 atm
ke-2 masih berwarna hijau, namun
selama 15 menit. Masing-masing perlakuan
selanjutnya pada minggu ke-4, 6 dan 8,
mempunyai tiga ulangan dan dalam satu
eksplan berwarna kecoklatan dan terlihat
petri terdapat tiga eksplan. Semua kultur
semua eksplan tidak berkembang.
Tabel 1. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke - 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung (0,0 - 2,0) mg/l BAP tanpa 2,4-D
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Semua
masih berwarna berubah eksplan tidak
berwarna kuning kecoklatan membentuk
0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
hijau tunas, akar,
maupun
kalus.
89
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
90
Prosiding Seminar Nasional, 2017
A B
Gambar 1. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,1 mg/l 2,4-D tanpa BAP dan pembentukan akar pada (B) media MS
dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l BAP pada umur 6 minggu.
91
Prosiding Seminar Nasional, 2017
92
Prosiding Seminar Nasional, 2017
A B
Gambar 2. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,5 mg/l 2,4-D tanpa BAP dan kalus stuktur kompak pada (B) media MS
dengan penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l BAP.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan melai Kalus mulai
masih mulai membentuk berwarna
1,0 0,0 0,0 0,0 33,3 berwarna membeng kalus warna kecoklatan,
hijau kak hijau, struktur tidak terbentuk
kompak tunas dan akar
93
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 3. Kalus berwarna hijau dengan struktur kompak terbentuk dari eksplan daun Torbangun
pada media MS dengan penambahan 1,0 mg/l 2,4-D dan 1,0 mg/l BAP.
94
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D BAP Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
2,0 0,0 0,0 0,0 33,3 warna hijau membentuk
struktur kalus, tidak
kompak terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai kecil
berwarna membentuk membentuk eksplan
hijau dan kalus struktur kalus membentuk
2,0 0,1 0,0 0,0 33,3
membengkak kompak berwarna kalus, tidak
putih terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
warna hijau membentuk
kalus
2,0 0,5 0,0 0,0 33,3
struktur
kompak,
tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
warna hijau membentuk
kalus
2,0 1,0 0,0 0,0 33.3
struktur
kompak,
tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai melai kecil
2,0 2,0 0,0 0,0 33,3 berwarna membengkak membentuk eksplan
hijau kalus sudah
warna hijau membentuk
95
Prosiding Seminar Nasional, 2017
A B
Gambar 5. Kalus berwarna putih dengan stuktur kompak terbentuk dari eksplan daun Torbangun
pada (A) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l 2,4-D dan 0,1 mg/l BAP dan kalus
berwarna hijau struktur kompak pada (B) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l
2,4-D dan 1,0 mg/l BAP.
96
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Media MS dengan penambahan 0,1 mg/l dan proliferasi kalus yang berasal dari
2,4-D dan (0,0 – 2,0) mg/l Kinetin eksplan batang Jati. Kalus mulai berwarna
menunjukkan respon bervariasi (Tabel 7). putih seperti kapas terbentuk pada minggu
Respon pembentukan kalus terlihat pada ke-4. Adapun kalus noduler mulai terbentuk
semua percobaan. Prosentase pembentukan pada pengamatan minggu ke-6 pada media
kalus cenderung meningkat dengan MS dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan
peningkatan konsentrasi Kinetin pada media 2,0 mg/l Kinetin (Gambar 5). Akar mulai
MS dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D. Hal terbentuk pada minggu ke-6 (Gambar 5).
ini sesuai dengan penelitian Sari et al. Sampai pengamatan minggu ke-8, belum
(2013) menyatakan bahwa hormon sitokinin terlihat eksplan yang membentuk tunas.
sangat mempengaruhi dalam pertumbuhan
97
Prosiding Seminar Nasional, 2017
98
Prosiding Seminar Nasional, 2017
eksplan
membentuk
akar, tidak
terbentuk
tunas
A B
Gambar 5. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 2 mg/l Kinetin dan pembentukan akar pada (B) media
MS dengan penambahan 0,1 mg/l 2,4-D dan 0,5 mg/l Kinetin pada umur 6 minggu.
Tabel 8 menunjukkan sebagian besar Akar mulai terbentuk pada minggu ke-8,
eksplan membentuk kalus. Kalus berwarna pada media MS dengan penambahan 0,5
putih dan remah mulai terbentuk pada mg/l 2,4-D tanpa Kinetin. Tidak terlihat
minggu ke-6. Sedangkan kalus noduler terbentuknya tunas, sampai pengamatan
terbentuk pada minggu ke-8 (Gambar 6). minggu ke-8.
Tabel 8. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 0,5 mg/l 2,4-D dan
(0,0 - 2,0) mg/l Kinetin.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 0,0 0,0 66,6 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus dan akar,
tidak terbentuk
tunas
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 0,1 0,0 0,0 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus, mulai
terbentuk kalus
noduler namun
99
Prosiding Seminar Nasional, 2017
tidak terbentuk
tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Semua eksplan
masih mulai berubah tidak
0,5 0,5 0,0 0,0 0 berwarna membeng kecoklatan dan membentuk
hijau kak tidak tunas, akar, dan
berkembang kalus.
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 1,0 0,0 0,0 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus, tidak
terbentuk tunas
maupun akar
Eksplan Eksplan Eksplan mulai Sebagian besar
masih mulai membentuk eksplan sudah
berwarna membeng kalus berwarna membentuk
0,5 2,0 0,0 0,0 66,6
hijau kak putih kehijauan kalus, tidak
terbentuk tunas
maupun akar
A B
Gambar 6. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan 0,1 mg/l Kinetin dan kalus berwarna putih remah
pada (B) media MS dengan penambahan 0,5 mg/l 2,4-D dan 1,0 mg/l Kinetin.
100
Prosiding Seminar Nasional, 2017
A B
Gambar 7. Kalus noduler terbentuk dari eksplan daun Torbangun pada (A) media MS dengan
penambahan 1,0 mg/l 2,4-D tanpa Kinetin dan kalus berwarna putih pada (B) media
MS dengan penambahan 1,0 mg/l 2,4-D dan 1,0 mg/l Kinetin.
101
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 10. Respon pertumbuhan dan perkembangan eksplan daun Torbangun minggu
ke – 2, 4, 6, dan 8 pada media MS yang mengandung 2,0 mg/l 2,4-D dan (0,0 - 2,0) mg/l
Kinetin.
Zat Pengatur
Respon Tumbuh Deskripsi (minggu ke)
Tumbuh
2,4-D Kinetin Tunas Akar Kalus
2 4 6 8
(mg/l) (mg/l) (%) (%) (%)
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai besar eksplan
berwarna membengkak membentuk sudah
hijau kalus membentuk
2,0 0,0 0,0 0,0 66,6
kalus, tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
masih mulai mulai kecil eksplan
berwarna membengkak membentuk sudah
hijau kalus membentuk
2,0 0,1 0,0 0,0 33,3
kalus, tidak
terbentuk
tunas dan
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Sebagian
mulai mulai mulai kecil eksplan
berwarna membengkak membentuk mulai
kecoklatan kalus membentu
kalus dan
2,0 0,5 0,0 0,0 33,3 berwarna
kecoklatan,
tidak
terbentuk
tunas maupun
akar
Eksplan Eksplan Eksplan Eksplan tidak
masih mulai mulai membentuk
berwarna membengkak berwarna tunas, akar,
2,0 1,0 0,0 0,0 0,0
hijau kecoklatan maupun kalus
dan tidak
berkembang
Eksplan Eksplan Eksplan Eksplan tidak
masih mulai mulai membentuk
berwarna membengkak berwarna tunas, akar,
2,0 2,0 0,0 0,0 0,0
hijau kecoklatan maupun kalus
dan tidak
berkembang
102
Prosiding Seminar Nasional, 2017
A B
Gambar 8. Kalus berwarna putih dengan stuktur kompak terbentuk dari eksplan daun Torbangun
pada (A) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l 2,4-D tanpa Kinetin dan kalus
berwarna hijau struktur kompak pada (B) media MS dengan penambahan 2,0 mg/l 2,4-D
dan 2,0 mg/l Kinetin.
103
Prosiding Seminar Nasional, 2017
104
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Soil Enzyme Activity and Microbial Populations In Edamame Soybean Plants with
Liquid Organic Biofertilizer Application Based Organic Waste
Tirta Kumala Dewi, Sodik Wuryanto, Fatikhah Ayu M dan Sarjiya Antonius
Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Jl. Raya Jakarta Bogor KM 46
Cibinong, Bogor , Jawa Barat, Indonesia
Telp : +62-21-8765067, Fax : +62-21-8761357, email : [Link]@[Link]
ABSTRACT
Soil organic matter content decreased with the use of agro chemicals. Besides that, the use of agro
chemicals not only harmful but also spur the loss of biodiversity, local knowledge as well as causing
damage to the environment. Utilization of livestock waste into organic fertilizer has been developed in
the community. The use of cow urine waste and compost tea containinghigh of C and N enriched with
plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) into liquid organic biofertilizer with high quality and
environmentally friendly. The purpose of this study was to determine soil enzyme activity and microbial
populations in edamame soybean plants with liquid organic biofertilizer application based organic waste
[Link] result of total plate count methods indicate that liquid organic biofertilizer with cow urine
and compost tea containing phosphate solubilization bacteria(3 x 105 CFU / mL), the bacteria producing
indole-3-acetic acid (2.2 x 106 CFU / mL), bacteria withprotease enzyme activity (6.5 x 106 CFU / mL).
The content of P, K, Ca, Mg, Cu and Fe respectively 4.95 mg / L; 0.22%); 0.20%, 0.038%; 0.41 mg / L;
0.047%. The highest urease enzyme activity 268 U / g and phosphomonoesterase 43.10 U / gr. High
performance liquid chromatography analysesshowed that IAA concentration of LOB is14 mg / L.
Observations agronomy also be done to determine the effect of liquid organic biofertilizer (POB ) on the
productivity and growth of plants.
sehingga akan memacu mikroba yang aktivitas enzim tanah dari tanah
berperan baik bagi tanaman dan juga tanaman edamame dengan aplikasi
meningkatkan kualitas fisika tanah POH berbasis limbah dan mikroba
(Abou-El-Hassan and Desoky, 2013). unggul.
Aktivitas Enzim METODE
fosfomonoesterase (PME-ase) dan Analisis aktivitas PME-ase
urease merupakan bagian parameter Sampel tanah ditimbang
aktivitas mikroba tanah yang penting sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke
sebagai penanda kualitas biokimia dalam tabung reaksi uji dan ditambah
tanah karena terlibat dalam proses dengan 1 mL substrat p-nitrofenilfosfat
transformasis biogeochemical unsur P dan 4 mL buffer (pH 6,5) lalu
dan N (Antonius, 2010). Enzim urease dihomogenkan dengan vortex dan
mengubah N organik menjadi N diinkubasi pada suhu 38Ʃ C selama 2
anorganik untuk hidrolisis urea menjadi jam dalam waterbath. Setelah
amonia dan karbondioksida dan diinkubasi, ditambhakan 1 mL CaCl2
dihidrolisis lagi menjadi amonium 0,5 M dan divortex lalu ditambahkan 4
untuk diserap tumbuhan (Antonius et mL NaOH 0,5 M dan diencerkan
al., 2009). kedalam 4,5 mL akuades. Larutan
Mineralisasi fosfat organik juga kontrol tidak menggunakan substrak
melibatkan peran mikroba tanah PNPP. Sampel dan kontrol diukur
melalui produksi enzim PME-ase yang absorbansinya dengan spektrofotometer
pada umumnya terdapat didalam tanah pada panjang gelombang 400 nm.
dan bertanggung jawab pada proses Analisis aktivitas Urease
hidrolisis P organik menjadi fosfat yang Sebanyak 5 gram tanah di
tersedia bagi tanaman. Kombinasi timbang dan di
pupuk organik hayati dengan bahan masukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml.
baku limbah organik seperti compost Sampel tanah ditambahkan dengan 2,5
tea dan urin sapi merupakan salah satu substrat urea, ditutup lalu di inkubasi
upaya menuju pertanian yang pada suhu 37ƩC selama 2 jam. Sampel
berkelanjutan dan ramah lingkungan. tanah ditanbah dengan 50 mL larutan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk KCl 1M, dikocok selama 30 menit dan
mengetahui populasi mikroba dan di sentrifugasi pada 12000 rpm.
107
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Sebanyak 0,5 ml supernatant ditambah rotary evaporator pada 105 rpm. Hasil
dengan 4,5 ml aquades dan ditambah evaporasi di cuci dengan etanol
dengan pereaksi nessler, divortex dan absolute sebanyak 1mL dan di analisis
didiamkan selama 10 menit.. menggunakan HPLC. Fase gerak yang
Absorbansi di ukur pada panjang digunakan adalah metanol : asam asetat
gelombang 420 nm. : air ( 30 : 1 : 70) (Mehnaz dan
Total Plate Countpada media selektif Laravoits, 2006). Kolom yang di
Sebanyak 1 gram tanah gunakan adalah C-18 reverse phase
dilarutkan dalam 9 mL akuades steril dengan detektor UV pada panjang
kemudian dilakukan seri pengenceran gelombang 280 nm, kecepatan alir 1,0
bertingkat. Sebanyak 50 µl dari mL/ menit, suhu maksimum 85 ºC,
suspensi di spreadpada medium suhu kolom 32,6 ºC , volum injeksi 20
Pikovskaya (untuk mengetahui populasi µL dan tekanan 8,4 MPa. Standar yang
mikroba pelarut fosfat), TSB 50% + di gunakan adalah larutan IAA murni
200 ppm Triptofan (mikroba penghasil yang di ukur pada keadaan dan kondisi
hormon IAA), dan skim milk agar yang sama. Konsentrasi IAA dari
(mikroba pengurai protein) diinkubasi sampel di hitung berdasarkan kurva
pada suhu ruang hingga 3 haridan di standar dengan standar IAA murni.
hitung jumlah koloninya. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis kandungan IAA Hasil pengamatan dari aktivitas
Analisis kandungan IAA pada enzim tanah dan populasi bakteri pada
pupuk organik hayati menggunakan tanaman edamame menunjukkan bahwa
metode High Performance Liquid populasi bakteri penghasil hormone
Chromatography(HPLC). Sampel tumbuh IAA, bakteri pelarut fosfat dan
pupuk sebanyak 100 mL di sentrifuge bakteri perombak protein pada tanah
pada 10.000 rpm selama 15 menit. dengan aplikasi POH berbasis limbah
Supernatan yang di hasilkan di atur organik menunjukkan hasil yang kebih
pHnya pada 2,8. Supernatan di tinggi di bandingkan dengan
ekstraksi menggunakan etil asetat [Link] penghasil IAA berperan
sebanyak 3 kali dengan perbandingan sebagai penghasil zat pengatur tumbuh
sampel:pelarut 1:1. Hasil ekstraksi IAA yang berperan penting dalam
kemudian di evaporasi menggunakan pertumbuhan tanaman yang berkaitan
108
Prosiding Seminar Nasional, 2017
erat dengan regulasi pembelahan sel pelarut fosfat memiliki peranan sebagai
dari tanaman. Keberadaan hormon pelarut fosfat terikat di dalam tanah.
dalam jumlah cukup dapat Sebagai salah satu unsur yang penting
menstimulasi pertumbuhan dari bagi tanaman, fosfor (P), harus dalam
tanaman yang diinduksi oleh keadaan terlarut agar dapat
fitohormon tersebut. Bakteri pengurai dimanfaatkan langsung oleh tanaman.
protein berperan sebagai penyedia asam Fosfor (P) merupakan salah satu unsur
amino yang penting bagi pertumbuhan yang berperan sebagai faktor pembatas
tanaman sekaligus berperan pula nutrisi bagi tanaman. Unsur P tersedia
sebagai pengendali organisme dalam jumlah terbatas di dalam tanah
pengganggu tanaman (biokontrol). dikarenakan terikat dengan unsur lain
Protein akan diuraikan oleh bakteri seperti Fe, Ca, ataupun Al sehingga
proteolitik hingga menjadi senyawa tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh
yang lebih sederhana dalam bentuk tanaman. Bakteri pelarut fosfat
asam amino organik yang dapat memiliki peranan dalam melarutkan P
dimanfaatkan oleh tanaman secara dalam bentuk terikat sehingga dapat
langsung bagi pertumbuhannya. Bakteri dimanfaatkan oleh tanaman.
28 20
a b
perombak protein
Total bakteri (104)
(10 4 ) (CFU/mL)
Total bakteri
(CFU/mL)
10
8
0
Kontrol POH POH POH
compost tea Fermented KontrolPOH compost
POHtea
Fermented urinPOH
-12
Perlakuanurin Perlakuan
30
c d
Total bakteri penghasil
20
10
(CFU/mL)
0
10
0
KontrolPOH compost
POHtea
Fermented urinPOH Perlakuan
Perlakuan
Gambar 1. Populasi bakteri total (a), bakteri perombak protein (b),, bakteri penghasil
hormone tumbuh IAA (c), dan bakteri pelarut fosfat (d) pada tanah tanaman
edamame.
Bakteri pelarut fosfat memiliki asam organik yang berfungsi
regulasi dalam menghasilkan asam- melarutkan ikatan fosfat dengan unsur
109
Prosiding Seminar Nasional, 2017
300 b
a
Aktivitas PME-ase
50
30
20 100
10
0 0
Kontrol POH compost
POHteaFermented urin
Kontrol POH compostPOH
tea Fermented urin POH
Perlakuan Perlakuan
Gambar 2. Aktivitas enzim PMe-ase (a) dan Urease (b) pada tanah tanaman edamame
dengan aplikasi POH.
15 100
a
Konsentrasi NH4 (ppm)
b
Konsentrasi NO3 (ppm)
10
50
5
0 0
Kontrol POH compostPOH
teaFermented urin
Kontrol POH compost POH
tea Fermented urin POH
Perlakuan perlakuan
Gambar 3. Analisis ammonium (a) dan nitrat (b) pada tanah tanaman edamame dengan
aplikasi POH.
Analisis kandungan ammonium tertinggi di tunjukkan oleh tanah
dan nitrat di tunjukkan oleh Gambar 3. dengan aplikasi POH compost tea dan
Kandungan amonium dan nitrat POH urin terfermentasi. POH yang
110
Prosiding Seminar Nasional, 2017
9.053
8
7
1.369
1.584
7.945
5
2.734
4
3.183
1.876
2.572
2.171
3
3.520
2.949
4.158
3.723
2
3.861
5.153
6.890
9.804
6.199
4.641
5.658
5.725
7.456
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in
m AU a
7.872
250
200 IAA
150
100
1.156
50
b
1.372
1.534
2.777
3.213
0.987
1.949
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 m in
112
Prosiding Seminar Nasional, 2017
113
Prosiding Seminar Nasional, 2017
114
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
This study aimed to learned morphometric of the cross local chicken between kedu chicken and sentul-
kampung chickens. The research was conducted in Animal Breeding and Genetics Laboratory Faculty of
Animal Science Bogor Agricultural University. The chicken used is as much as 47 animals DOC cock
and hen from crossing sentul-lokal chiken x kedu and kedu chiken x sentul-lokal chicken. The feed were 4
phases in the ratio of commercial feed and rice bran that were 100% commercial feed at age 0-3 weeks,
80:20 at the age 3-4 weeks, 70:30 at the age 4-5 weeks, and 60:40 at the age 5-12 [Link] that
measures were body weight, shank length, chest length and chest circumference. T test used to know
difference body size of chicken SKKedu and chicken KeduSK were compared among gender. Based on
the research results of body weight and body weight gain kedusk chicken better than the skkeduchicken .
But based on t test that has been carried out the results are not significantly different (P> 0.05). The
overall study results showed all variables chicken body size SKKedu with KeduSK is the same (P> 0.05).
The study also showed that after crossing raises heterosis effect in chickens result of this cross.
sebagai penghasil daging dan telur serta dibandingkan dengan ukuran tulang
tahan terhadap penyakit. Selanjutny yang lebih kecil. Ukuran-ukuran tubuh
pengguanaan ayam sentul karena ayam pada ayam hasil persilangan ayam lokal
ini merupakan tipe ayam lokal dwiguna antara ayam sentul, kampong dan kedu
yaitu mampu menghasilkan daging dan yang dilakukan pada penelitian ini
telur. Sedangkan penggunaan ayam diharapkan mampu memberikan
kedu dalam penelitian ini karena pengaruh heterosis.
merupakan salah satu jenis ayam lokal Berdasarkan uraian yang telah
langka dan dikenal sebagai tipe petelur disampaikan, penelitian ini bertujuan
yang cukup produktif Penilaian untuk mempelajari karakteristik ukuran
terhadap keberhasilan upaya perbaikan tubuh ayam hasil persilangan sentul-
genetik melalui persilangan dapat kampung dengan kedu dan
dilihat melalui ukuran - ukuran tubuh resiprokalnya dan selain itu untuk
ayam sentul-kampung jantan dengan menambah informasi mengenai bobot
ayam kedu betina dan resiprokalnya. badan dan ukuran-ukuran tubuh pada
Persilangan resiprokal adalah ayam hasil persilangan.
persilangan kebalikan dari persilangan METODE
yang ada pada ternak, perkawinan Penelitian dilaksanakan di
resiprokal sering digunakan dalam Laboratorium Lapang Pemuliaan dan
pembentukan bangsa baru. Genetika Fakultas Peternakan, Institut
Ayam lokal memiliki Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan
karakteristik yang khas, yang berupa pada bulan September 2014 sampai
ukuran tubuh maupun bentuk tubuh. Maret 2015. Bahan yang digunakan
Ukuran-ukuran tubuh dapat digunakan pada penelitian ini adalah ayam hasil
untuk mempelajari pertumbuhan dan persilangan ayam jantan Kedu x betina
perkembangan ternak. Ukuran-ukuran Sentul-kampung dan ayam jantan
tulang pada ternak mempunyai kaitan sentul-kampung x betina kedu.
dengan sifat-sifat pertumbuhan ternak Selanjutnya digunakan sekam, sekat
tersebut. Apabila ukuran tulang lebih bambu, pakan komersial berbentuk
besar, maka akan mengalami crumble, dedak, vaksin ND, dan
pertumbuhan lebih cepat dan hasil vitachick.
potongan karkas yang lebih besar
116
Prosiding Seminar Nasional, 2017
119
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Laju pertumbumbuhan bobot badan ayam SKKedu dan KeduSK dapat dilihat
pada Grafik 1.
120
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Bobot badan ayam jantan lebih Rataan panjang dada SKKedu dan
tinggi dari ayam betina. dikarenakan KeduSK jantan pada umur 12 minggu
adanya genetik , kualitas pakan dan adalah 8,65±0,61 cm dan 8,80±0,79 cm.
lingkungan. Seperti yang dinyatakan Hasil pengukuran ini lebih kecil jika
Soeparno (1994) bahwa faktor genetik dibandingkan dengan panjang dada
dan lingkungan mempengaruhi laju ayam sentul dan kampung dewasa hasil
pertumbuhan. Ditambahkan oleh penelitian Iskandar et al (2005) yaitu
Parakkasi 1978) yang menyatakan 13,5 cm. Demikian pula hasil penelitian
bahwa perbedaan laju pertumbuhan Candrawati (2007) yaitu 13,08 cm.
antar individu ternak pada suatu bangsa Hasil pengukuran rataan
utamanya disebabkan oleh adanya panjang dada pada ayam SKKedu dan
perbedaan ukuran dewasa tubuh pada KeduSk jantan dan betina pada umur 2
ayam meskipun keadaan pakan yang minggu sampai umur 12 minggu
baik juga dapat menunjang menunjukkan pengukuran yang sama (
pertumbuhan yang optimal. Selain itu P>0,05) setelah diuji dengan uji T. Hal
adanya perbedaan hormon dalam ini menunjukkan bahwa hasil
tubuhnya. Hormon tersebut adalah persilangan antara ayam SKKedu dan
hormon androgen yang terdapat pada persilangan KeduSK pada ayam jantan
hewan jantan. Hormon tersebut maupun betina untuk pengukuran
berfungsi menggertak pertumbuhan, panjang dada tidak berpengaruh.
maka ukuran tubuh ayam jantan lebih Selanjutnya hasil pengukuran
besar dari ukuran tubuh ayam betina. rataan panjang dada ayam SKKedu dan
Seperti yang dinyatakan Frandson KeduSK betina pada umur 2 minggu
(1992) bahwa hormon testosteron adalah 3,30±0,46 cm dan 3,58±0,60 cm
dapat mengakibatkan anabolisme dan pada umur 12 minggu adalah
protein dan pertumbuhan tulang yang 8,39±0,88cm dan 8,83±0,71 cm. Hasil
besar. pengukuran panjang dada SKKedu dan
Panjang Dada KeduSK betina tersebut menunjukkan nilai
persilangan dari ketiga jenis ayam lebih besar dibandingkan ayam sentul
tetuanya. ,kampung dan kedu betina pada umur
Selanjutnya rataan lingkar dada yang sama yaitu 19,66±0,30 cm;
ayam SkKedu dan KeduSk betina pada 20,39±1,6 cm dan 20,85±0,5 cm
umur 2 minggu adalah 9,53±1,21 cm (Nurcahya, 2011) .
dan 10,50±1,06 cm. Sedangkan rataan Hasil penelitian pengukuran
lingkar dada ayam SKKedu dan rataan lingkar dada ayam SKKedu dan
KeduSK betina pada umur 12 minggu KeduSK jantan maupun betina pada
adalah 23,22±2,03 cm dan 23,84±2,04 umur 2 minggu hingga 12 minggu
cm . Hasil pengukuran rataan lingkar menunjukkan pengukuran yang sama
dada ayam SKKedu dan KeduSK betina (P>0,05).
SKKedu dan KeduSK jantan pada umur ukuran rangka tubuh untuk tempat
2 minggu adalah 5,46±0,78 cm dan perlekatan otot juga semakin besar
5,92±1,22 cm , sedangkan pada umur sehingga bobot badan menjadi lebih
12 minggu panjang punggungnya besar.
adalah 13,96±0,89 cm dan 15.13±1,60 Hasil penelitian rataan panjang
cm. Hal ini menunjukkan rataan yang punggung yang tertera pada Tabel 1 dan
sedikit lebih besar dibandingkan rataan 2 menunjukkan bahwa panjang
panjang punggung ayam Sentul, punggung ayam SKKedu dan KeduSK
Kampung dan Kedu jantan yaitu jantan pada umur 2 minggu sampai 12
13,15±0,21cm; 13,20±0,26cm dan minggu adalah sama (P>0,05), kecuali
13,35±0,23cm (Nurcahya, 2011). pada umur 6 minggu antara ayam
Rataan panjang punggung ayam SKKedu dan KeduSK berbeda nyata
SKKedu dan KeduSk betina pada umur (P<0,05). Rataan panjang punggung
2 minggu adalah 5,52±0,80cm dan antara ayam SKKedu dan KeduSK
5,92±0,65 cm, sedangkan pada umur 12 betina pada umur 2 minggu hingga 12
minggu adalah 14,58±1,91 cm dan minggu menunjukkan ukuran yang
13,93±1,78 cm. Hal ini menunjukkan sama (P>0,05).
bahwa panjang punggung ayam Grafik 6 menunjukkan laju
SKKedu dan KeduSK betina sedikit pertambahan panjang punggung pada
lebih besar dibandingkan rataan ayam SKKedu dan KeduSK.
panjang punggung ayam sentul Berdasarkan uji-T, menunjukkan bahwa
,kampung dan kedu betina pada umur laju pertambahan panjang punggung
12 minggu adalah 12,84±0,30cm ; SKKedu dan KeduSK baik jantan
12,86±0,28cm dan 13,06±0,23 cm maupun betina keduanya tidak berbeda
(Kurnia, 2011). Hal ini menunjukkan nyata (P>0,05) yang berarti SKKedu
semakin panjang ukuran panjang dan KeduSK mempunyai ukuran yang
punggung, menandakan ukuran tubuh seragam.
menjadi lebih panjang. Selain itu
124
Prosiding Seminar Nasional, 2017
125
Prosiding Seminar Nasional, 2017
127
Prosiding Seminar Nasional, 2017
128
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Parakkasi, A. 1978. Ilmu Gizi dan Wilson, L. L., H. B. Roth, J. H. Zle & J.
Makanan Ternak Monogastrik. H. Sink. 1977. Bovine metacaral
Bandung (ID): Penerbit and metatarsal dimension: Sex
Angkasa Bandung. effect, heritability estimates and
relation to growth and carcass
Sartika T, Iskandar S. 2007. Mengenal characteristics. Journal Animal
Plasma Nutfah Ayam Indonesia Science, 44: 932-938.
129
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
The research on the formation of kepok banaba peel active charcoal (AAKP) as an absorbent has been
done. The aims of this study was to determine the effect of the concentration of NaOH solution as an
activation in enhancing the adsorption of the metals Pb. The study began with the carbonization process,
crushing and sieving, followed by the activation process. In the activation process of the banana peel
charcoal powder soaked with a solution of NaOH for two hours while shaken. NaOH solution used
consisted of five variations of the concentration of 0,0 M, 5.0 M; 10.0 M; 15.0 M and 20.0 M then
filtered with filter paper and washed with hot water, powdered activated charcoal obtained repeatedly
dried in an oven at a temperature of 105oC. A total of 1 gram of kepok banana peel active charcoal
mixed with 20 mL Pb. The solution was then shaken at 100 rpm, after which it is filtered. The filtrate
obtained was measured by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) to determine the concentration
of metal ions Pb rest. The results showed that based on moisture content, ash content, volatile matter
content and carbon bound content, AAKP can be used as adsorbent Pb (II). The optimum concentration
of NaOH activator for the absorption of Pb (II) is produced at a concentration of 5,0 M with the
adsorption capacity of 0.36 mg / g. Isotherm of Freundlich can explain the adsorption of Pb (II).
131
Prosiding Seminar Nasional, 2017
132
Prosiding Seminar Nasional, 2017
133
Prosiding Seminar Nasional, 2017
134
Prosiding Seminar Nasional, 2017
135
Prosiding Seminar Nasional, 2017
akan mengurangi daya serap arang Hasil analisis kadar karbon terikat
aktif tersebut. AAKP kepok AAKP dapat dilihat pada Gambar 4.
menghasilkan kadar zat mudah Kadar karbon terikat yang dihasilkan
menguap di atas Standar Nasional oleh AAKP terendah pada perlakuan
Indonesia (06-3730-95). Tinggi kontrol dan tertinggi diperoleh pada
rendahnya kadar zat mudah menguap konsentrasi NaOH 5,0 M dan
pada AAKP disebabkan oleh selanjutnya cenderung menurun.
permukaan arang aktif yang ditutupi Rataan kelompok perlakuan NaOH
oleh senyawa non karbon dan tidak 5,0 M memberikan nilai karbon
sempur-nanya penguraian senyawa non 65,72%. Biladibandingkan dengan
karbon saat proses pengarangan dapat standar kadar karbon terikat dari
memengaruhi daya serapnya. beberapa negara menurut Sudiro
Hasil penelitian Fauziah (2009), (2014), misalnya Jepang (60%- 80%),
juga menghasilkan arang aktif dengan dan Amerika (60%)maka nilai kadar
kadar zat mudah menguap lebih tinggi karbon terikat AAKP kepok yang
dari standar mutu SNI 06-3730-95, memenuhi syarat adalah kelompok
namun arang aktif kulit akasia (Acacia perlakuan NaOH 5,0 M.
mangium) masih tetap dapat
digunakan sebagai adsorben.
aktivasi. Semakin tinggi kadar
karbon, maka semakin baik
digunakan sebagai bahan baku
pembuatan arang aktif (Fauziah,
2009). Kadar karbon terikat yang
rendah dipengaruhi oleh kondisi
bahan baku, hasil kadar abu dan kadar
zat mudah menguap.
136
Prosiding Seminar Nasional, 2017
kelompok kontrol yaitu sebesar 0,57 adsorben maka semakin tinggi pula
mg/g. Antar kelompok perlakuan kapasitas adsorpsinya (Purnama dkk.,
NaOH terlihat relatif sama dengan 2015).
konsentrasi NaOH 10 M cenderung Daya adsorpsi arang aktif
lebih rendah (Gambar 5). disebabkan karena arang memiliki pori
Hasil Anova menunjukkan tidak dalam jumlah besar dan adsorpsi
ada perbedaan bermakna (p > 0,05). terjadi karena adanya perbedaan
Hal ini berarti semua taraf perlakuan energi potensial antara permukaan
memiliki kapasitas adsorpsi yang arang dan zat teradsorpsi. Mekanisme
sama. adsorpsi adalah molekul adsorbat
berdifusi melalui lapisan batas ke
permukaan luar dan sebagian besar
berlanjut ke dalam pori-pori adsorben
(Muna,2011).
Kapasitas adsorbsi maksimum
AAKPterhadap Pb(II) dapat dijadikan
sebagai fungsi menghitung isoterm
Gambar 5. Kapasitas Adsorpsi Pb adsorpsi. Isoterm adsorpsi merupakan
AAKP.
hubungan keseimbangan antara
Arang yang sudah mengalami konsentrasi adsorbat dalam fase fluida
aktivasi umumnya memiliki daya dengan konsentrasi adsorbat dalam
adsorpsi yang tinggi karena pori-pori partikel adsorben pada suhu tertentu
arang yang semula tertutup abu, air, (Arninda dkk., 2014).
nitrogen dan sulfur telah terbuka Isoterm Adsorpsi
dengan adanya aktivasi. Selain itu Isoterm adsorpsi merupakan fungsi
tinggi rendahnya kapasitas ad- konsentrasi zat terlarut yang terserap
sorben juga dipengaruhi oleh luas pada padatan terhadap konsentrasi
permukaan. larutan (Apriliani, 2010). Penentuan
Luas permukaan mempengaruhi kapasitas adsorpsi dengan isoterm
kemampuan adsorben tersebut dalam Langmuir dapat dibuat dengan
meng-adsorbsi suatu senyawa, jika memplotkan konsentrasi ion logam
semakin besar luas permukaan dalam kesetimbangan (Ce) terhadap
137
Prosiding Seminar Nasional, 2017
138
Prosiding Seminar Nasional, 2017
139
Prosiding Seminar Nasional, 2017
140
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Noverita
Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta
ABSTRACT
Antibacterial fungi have done research on the Sea of Thousand Islands, isolated from sea water,
macroalgae and soft corals. The results were obtained as much as 18 isolates. Most isolates derived
from soft coral. Isolates most excellent in inhibiting the growth of bacteria S. aureus is: S2Ma1Hitam
isolates with inhibition zone 10,00mm, followed by S1Al1Kuning isolates with inhibition zone 9,25mm,
S1Kl1Hitam isolates with inhibition zone 8,75mm, S2KL2hijau isolates and isolates S3Ma1Putih with
inhibition zone 8,25mm. Isolates of the most well inhibit the growth of E. coli was isolated S4Kl1Hitam
with inhibition zone 9,50mm, followed by isolates isolates S3Ma1Putih with 9.25 mm inhibition zone,
S1Al1Kuning isolates with inhibition zone 8.75, S2Ma1Putih isolates with inhibition zone 8,50mm and
isolates S1Al1Kuning with inhibition zone 8,25mm.
142
Prosiding Seminar Nasional, 2017
portable, gelas piala, labu Erlenmeyer makroalga pada tiga titik di Kawasan
(Pyrex), cawan Petri (Pyrex), tabung Pulau Seribu. Untuk air laut di ambil
reaksi, rak tabung, pembakar Bunsen, langsung, kemudian dimasukkan ke
botol vial, gelas ukur, kain saring, pipet dalam botol steril. Untuk karang
volumetrik, vortex mixer, core borer dilakukan dengan cara, karang
(pembolong gabus), sentrifus, bulb, diambil secara aseptis, kemudian
gunting, jarum inokulasi, scalpel dan dipotong menggunakan pisau steril
penggaris. dan dimasukkan ke dalam botol
2. Bahan sampel berisi air laut steril. Untuk
Bahan-bahan yang digunakan Makroalga, sampel makroalga
adalah : air laut, makroalga dan karang diambil secara aseptis lalu
sebagai sampel mikrofungi, kertas dimasukkan ke dalam botol sampel
saring, plastik pembungkus, almunium berisi air laut steril. Semua sampel
foil, kapas, kertas label, koran, plastik, yang sudah diambil selanjutnya
korek api, swab, bakteri Staphylococcus dimasukkan ke dalam coolerbox dan
aureus dan Escherichia coli yang dibawa ke laboratorium untuk diuji
berasal dari Laboratorim Mikrobiologi, lebih lanjut.
Fakultas Biologi, Universitas Nasional, 2. Penelitian di Laboratorium
bahan sterilisasi etanol 70%, media a. Persiapan media pertumbuhan
MHA (Mueller Hinton Agar) media NA Media pertumbuhan yang
(Nutrient Agar), media PDA (Potato dipersiapkan antara lain :
Dextrose Agar) (Scharlau), antibiotik Nutrien Agar (NA) dan PDA
kloramfenikol 30µg, media PDB (Potato Dextrose Agar) untuk
(Potato Dextrose Broth), larutan Mc kultur mikroba uji, Muller
Farland 0.5, cakram kertas ukuran Hinton Agar (MHA) dan NaCl
diameter 6 mm (Scheeur), dan larutan untuk uji aktivitas antimikroba,
NaCl fisiologis 0,85 %. PDB (Potato Dextrose Broth).
C. Cara Kerja b. Sterilisasi bahan dan alat
1. Penelitian di Lapangan Bahan dan alat yang digunakan
Penelitian di lapangan dilaksanakan dalam penelitian ini terlebih
dengan melakukan pengambilan dahulu disterilisasi. Bahan-
sampel air laut, karang dan bahan seperti medium
143
Prosiding Seminar Nasional, 2017
144
Prosiding Seminar Nasional, 2017
146
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Banyak jumlah jenis isolat yang sponge merupakan salah satu sumber
ditemukan di Pulau Pramuka kondisi senyawa farmakologis terkaya dari
lingkungan dan substrat tempat tumbuh lingkungan laut karena memproduksi
isolat jamur tersebut. Sebagaimana senyawa kimia beragam. Dhinakaran
yang sudah kita ketahui Pulau Pramuka dan Lipton (2012) sponge laut dikenal
merupakan pusat pemerintahan sebagai pabrik kimia karena ratusan
Kepulauan Seribu. Kantor senyawa kimia unik yang berhasil
pemerintahan, rumah sakit, bank dan diisolasi.
sekolah-sekolah mulai dari tingkat play Di laut selain ikan, karang dan
Grup sampai SLTA di temukan di pulau makroalgae juga ditemukan jamur laut,
ini. Keadaan ini tentunya sangat besar jamur laut ini pada umumnya hidup
pengaruhnya terhadap kondisi sebagai saprofit pada benda-benda yang
lingkungan laut yang ada di sekitarnya, ada dilaut, bahkan banyak yang bersifat
terutama yang berkaitan dengan limbah simbion pada organisme laut lainnya
yang terbuang atau sengaja dibuang ke seperti makroalga dan karang laut, dan
laut di kepulauan tersebut. Bila di lihat hanya sebagian kecil yang bersifat
dari segi positifnya, buangan limbah parasit.
tersebut mengandung nutrisi yang Keberadan jamur di laut apakah
merupakan sumber makanan bagi pada benda-benda di air laut, pada
organisme yang ada di laut, termasuk karang atau pada makroalga banyak
karang dan makroalgaenya. memberikan keuntungan bagi
Bila diperhatikan dari subtrat kehidupan, khususnya dalam bidang
tempat tumbuhnya (Tabel 1), isolat kesehatan sebagai penghasil metabolit
jamur yang paling banyak ditemukan sekunder. Samuel et al. (2011, dalam
adalah pada karang lunak, yaitu Losung dkk. 2015), tahun 2002-2004,
sebanyak 9 isolat. Thakur dan Muller dari jamur laut telah ditemukan 272
(2004), sponge memiliki senjata kimia produk alami baru dari jamur laut yang
defensif berupa metabolit sekunder memiliki potensi farmakologis.
sebagai perlindungannya terhadap B. Aktivitas Antibakteri Isolat Jamur
Laut Terhadap Bakteri
pesaing untuk pertumbuhan, infeksi,
Staphylococcus
predasi dan keracunan. Sagar et al. aureus dan Escherichia coli.
(2010); Kim dan Dewapriya (2012),
147
Prosiding Seminar Nasional, 2017
148
Prosiding Seminar Nasional, 2017
yang bersimbiosis dengan alga, sponge, sebanyak 18 isolat jamur laut pada
[Link] adalah isolat S4Kl1Hitam dengan dan isolat S3Ma1Putih dengan zona
149
Prosiding Seminar Nasional, 2017
150
Prosiding Seminar Nasional, 2017
151
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Development in Jakarta province has changed its ecosystem, among of them is reducing size of city green
open space (RTH). The urban green open space has been converted becoming skyscrapers. Those are typical
of urban problems that appears and may affect to the existence of avifauna in nature and it is interesting as
part of study. The study was conducted in September-October 2015. This study aims to explore diversity of
avifauna in City Forest of Krida Loka. In addition, it is also to know the food type (feeding guilds) of
encountered avifauna. A Visual Encounter Survey (VES) method was used, by exploring and count every
avifauna found in the pathways and in some parts of the city forest. Observations are divided into two
sessions, the first session was started at 06:00 to 9:00 AM, and the second session was at 03:00 to 06:00 PM.
The study found 28 avifauna species which consist of 22 families and 6 orders. Avifauna species diversity
index in Krida Loka City Forest is 2.53. Cave-Swiftlet (Collocalia linchi) was dominant, with index of
important value is 21.66%. Based on the similarity of the food type (feeding guilds), insectivores avifauna is
a group that has the largest percentage, with 21.66%. It shows that in the city forest the potential of insects
are abundant. Based on the status of international trade which is regulated by CITES, there are two types of
avifauna that falls into Appendix II. These are Lesser Bird-of-paradise (Paradisaea minor) and Red-breasted
Parakeet (Psittacula alexandri). Based on Law Number 5 of 1990 and Government Regulation Number 7 of
1999, there are 4 types of avifauna that have protected status, namely Collared Kingfisher (Todirhamphus
chloris), Brown-throated Sunbird (Anthreptes malacensis), Olive-backed Sunbird (Cinnyris jugularis) and
Lesser Bird-of-paradise (Paradisaea minor). In addition the study also identified two type of exotic avifauna,
such as Lesser Bird-of-paradise (Paradisaea minor) and Common Myna (Acridotheres tristis).
Keywords : Avifauna, city forest Krida Loka, green open, space species diversity.
152
Prosiding Seminar Nasional, 2017
153
Prosiding Seminar Nasional, 2017
154
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Metode yang digunakan adalah Visual jenis makan avifauna di setiap lokasi
Encounter Survey (VES). Setiap jenis (MacKinnon, 2010).
avifauna yang dijumpai di lokasi HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian dicatat dan dihitung Komposisi Jenis
jumlahnya. Selanjutnya, avifauna Jumlah jenis avifauna yang
diidentifikasi dengan menggunakan buku dijumpai di Hutan Kota Krida Loka,
panduan lapangan Burung-burung di Senayan, Jakarta Pusat tercatat sebanyak
Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. 28 jenis yang termasuk ke dalam 22 Suku
Pengamatan dibagi menjadi dua sesi, dari 6 bangsa (Gambar 2). Jumlah jenis
yaitu sesi pertama dimulai pada pukul avifauna yang terdapat pada lokasi
06.00 – 09.00 WIB dan sesi kedua pukul penelitian dipengaruhi oleh karakteristik
15.00 – 18.00 WIB. Penelitian dilakukan habitat, komposisi tumbuhan, luas
sebanyak 5 kali kunjungan. Disamping kawasan dan aktivitas manusia yang ada
itu, pengamat juga mencatat setiap jenis di sekitarnya (Wijiatmoko, 2007).
vegetasi yang terdapat pada lokasi Menurut Kristanto (2006) secara umum
penelitian. jumlah jenis avifauna akan meningkat
Analisis Data sesuai dengan luas habitat. Hal ini
Pada penelitian ini digunakan empat disebabkan karena habitat yang lebih luas
analisis data, yaitu: cenderung mempunyai ragam vegetasi
1. Komposisi Jenis, untuk mengetahui sumber pakan yang lebih banyak
tingkat kesamaan komposisi jenis dibandingkan habitat yang sempit.
antar jalur (Brower dkk., 1990).
2. Indeks Keanekaragaman Shannon-
Wiener, untuk mengetahui indeks
keanekaragaman jenis avifauna yang
terdapat di lokasi penelitian Gambar 2. Komposisi Jenis Avifauna
di Hutan Kota Krida Loka
(Magurran, 1988). Senayan Jakarta Pusat.
3. Dominasi, untuk melihat adanya jenis
Komposisi jenis avifauna di
avifauna yang mendominasi pada
Hutan Kota Krida Loka, Senayan dikaji
suatu jalur (Fachrul, 2012).
dari aspek status perdagangan dan status
4. Kesamaan Jenis Makanan (Feeding
perlindungan. Berbagai status jenis
Guilds), untuk mengetahu kesamaan
155
Prosiding Seminar Nasional, 2017
1 2
Gambar 3. Dua jenis avifauna yang masuk kedalam Appendix II yang dijumpai
di lokasi penelitian. (Foto: Panji [Link] Azis dan Ahmad Baihaqi)
1. Cendrawasih kuning (Paradisaea minor),
2. Betet biasa (Psittacula alexandri).
156
Prosiding Seminar Nasional, 2017
1 2
4
3
Gambar 4. Empat jenis avifauna yang masuk kedalam UU No. 5 tahun 1990 dan PP No. 7
tahun 1999 yang dijumpai di lokasi penelitian. (Foto: Ahmad Baihaqi dan
Panji [Link] Azis)
1. Cekakak sungai (Todirhamphus chloris), 2. Burung-madu kelapa
(Anthreptes malacensis), 3. Burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis),
4. Cendrawasih kuning (Paradisaea minor).
1 2
Gambar 5. Jenis avifauna yang termasuk jenis eksotis yang dijumpai di lokasi penelitian.
(Foto: Panji [Link] Azis dan Ahmad Baihaqi)
1. Cendrawasih kuning (Paradisaea minor), 2. Kerak ungu (Acridotheres tristis)
157
Prosiding Seminar Nasional, 2017
158
Prosiding Seminar Nasional, 2017
159
Prosiding Seminar Nasional, 2017
160
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Community Composition and Species Diversity of Bird in the Three Mangrove Areas
Coastal regions Jakarta
ABSTRACT
The mangrove ecosystem is an important habitat for birds; these ecosystems still exist in the coastal area of
Jakarta. Variations in habitat conditions and its position is based on its proximity to the beach can influence
the composition and diversity of bird species. This research was conducted in order to determine the level of
differences in the composition and diversity of bird species across three mangrove areas in Jakarta. The
research was conducted in October - December 2015 in three mangrove areas of Jakarta, namely Angke
Kapuk Protected Forest (AKPF), Muara Angke Wildlife Sanctuary (MAWS), and The Toll Sedyatmo
Mangrove Ecotourism area (TSME); using a combination of point count method and line transects method.
The results of the study to detect 54 species of birds; MAWS region (40 species) are richer than AKPF (34
species) and TSME (27 species); but the third area has the same community composition. Coastal mangrove
area of Jakarta is also inhabited by 12 species of protected birds, one species is listed in Appendix II of
CITES, and three species have a status on the IUCN with one species of which the status of Critically
Endangered; as well as two species of which are endemic in Java. Diversity index of birds in three regions
classified as "moderate", with relatively evenly community. The most dominant species of birds in TSME
and AKPF is cave swiftlet (Collocalia linchi), whereas in the MAWS is oriental darters or snake-birds
(Anhinga melanogaster). Furthermore, TSME region, more inhabited by birds are insectivores; whereas
AKPF and MAWS, more inhabited by birds that are piscivora-insectivores. The results of this study
illustrate that the mangrove area of Jakarta still has potential as habitat for birds; including protected species,
endangered and endemic species. It is hoped that the Jakarta Coastal mangrove areas are better managed;
because in addition to the biodiversity habitats including protected birds, endemic and threatened; is also very
important for the protection of the mainland Jakarta.
161
Prosiding Seminar Nasional, 2017
162
Prosiding Seminar Nasional, 2017
burung secara teoritis akan lebih kaya di Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo,
kawasan SMMA dibandingkan dengan Jakarta Utara (Gambar Lampiran 1).
kawasan HLAK dan kawasan EMTS.
B. Instrumen penelitian
Selanjutnya berdasarkan posisi kawasan; Alat-alat yang digunakan pada
secara teoritis HLAK yang berbatasan penelitian ini adalah binokuler, jam digital,
langsung dengan pantai akan lebih kamera, alat ukur dan tali tambang 25 meter,
banyak dihuni oleh komunitas burung air buku saku, buku panduan lapangan Burung-
dibandingkan dengan SMMA dan EMTS. burung di Sumatera, Jawa, Bali dan
Namun demikian, belum diketahui Kalimantan (MacKinnon et al, 2010).
apakah kekayaan komunitas burung
C. Cara kerja
(komposisi dan keanekaragaman serta
Penelitian dilaksanakan dengan
kelimpahan populasi) lebih dipengaruhi
menggunakan kombinasi metode Point
oleh kualitas habitat atau oleh posisi
Count dan metode jalur (Line Transects
kawasan ?
Method). Jalur pengamatan menggunakan
Berdasarkan latar belakang di atas,
jalan setapak yang telah ada di setiap
penelitian ini memiliki tujuan untuk
kawasan penelitian. Titik pengamatan di
mengetahui ada/tidaknya perbedaan
sepanjang jalur berjarak 100 meter,
komposisi dan keanekaragaman jenis
dengan radius pengamatan di setiap titik
burung antar tiga kawasan mangrove di
adalah 25 meter; pengamatan di setiap
Jakarta. Hipotesis yang diajukan dalam
titik dilaksanakan selama 15 menit.
penelitian ini adalah terdapat perbedaan
Pengamatan dilaksanakan dalam
komposisi, keanekaragaman, dan
dua sesi pengamatan, yaitu antara pukul
kelimpahan jenis-jenis burung antar tiga
07.00 – 10.00 WIB dan antara pukul
kawasan mangrove di Jakarta.
14.00 – 17.00 WIB, yang merupakan
bulan Oktober - Desember 2015, di tiga penelitian adalah spesies burung, jumlah
kawasan mangrove Jakarta yaitu, Hutan individu setiap spesies yang terdeteksi.
163
Prosiding Seminar Nasional, 2017
165
Prosiding Seminar Nasional, 2017
berdekatan; sehingga masih dihuni oleh pantai dan burung rawa, maupun burung-
komunitas burung yang relatif sama. burung khas perkotaan.
Kawasan EMTS merupakan mangrove Komunitas burung di kawasan
yang tumbuh secara sporadik dan mangrove Jakarta ini, menjadi semakin
ditanam dengan teknik guludan; sehingga bernilai karena beberapa diantaranya
secara kualitas relatif lebih rendah mempunyai status konservasi. Selama
dibandingkan dengan kawasan HLAK pelaksanaan penelitian, ditemukan 12
dan kawasan SMMA, sehingga spesies yang dilindungi (UU No. 5 Tahun
komunitasnya relatif lebih miskin. 1990; PP No. 7 Tahun 1999), satu spesies
Namun demikian, kawasan EMTS juga tercantum dalam Appendix II CITES, dan
merupakan ekosistem mangrove dan 3 spesies mempunyai status dalam IUCN
lokasinya berdekatan dengan dua dengan 1 spesies diantaranya berstatus
kawasan mangrove lain; sehingga Kritis (Critically Endangered); serta dua
perbedaan kualitasnya belum cukup spesies diantaranya adalah endemik Jawa
untuk menjadi penyebab terciptanya (Tabel Lampiran 2).
perbedaan komposisi komunitas burung. Komunitas burung di kawasan
Kawasan penelitian, selain SMMA, tidak hanya lebih kaya dari segi
mempunyai ekosistem mangrove, juga kuantitas (40 spesies) dibandingkan
memiliki variasi vegetasi, berupa akasia, HLAK (34 spesies) dan EMTS (27
ketapang, bintaro dan nyamplung spesies), tetapi juga dari segi kualitas
sehingga masih banyak ditemukan dengan ditemukannya lebih banyak
burung khas perkotaan seperti gereja spesies dilindungi dan/atau spesies
erasia (Passer montanus) dan merbah endemik dan/atau spesies Appendiks II
cerukcuk (Pycnonotus goiavier). Kondisi CITES dan/atau spesies terancam punah
seperti ini juga erat kaitannya dengan (tercantum dalam “Red Data Book
lokasi ketiga kawasan yang masih dekat IUCN). Burung dengan status
dengan pusat kota, sehingga kawasan perlindungan yang ditemukan di SMMA
masih memungkinkan dimanfaatkan oleh terdiri dari 10 spesies, sedangkan di
burung untuk beraktivitas. Dengan HLAK ditemukan 8 spesies, dan di
demikian, kawasan mangrove ini menjadi EMTS hanya 6 spesies.
lebih kaya, yang dihuni oleh berbagai Burung endemik penghuni
spesies burung; baik burung-burung ekosistem mangrove Pesisir Jakarta yang
166
Prosiding Seminar Nasional, 2017
167
Prosiding Seminar Nasional, 2017
spesies burung yang banyak diperjual adalah 2,85 di kawasan EMTS, 3,09 di
belikan sebagai hewan peliharaan; kawasan HLAK, dan 2,95 di kawasan
sedangkan bubut jawa dianggap SMMA. Indeks keanekaragaman jenis
mempunyai khasiat sebagai obat. pada tiga kawasan mangrove di Jakarta;
berada pada rentang 1,5 – 3,5, sehingga
B. Keanekaragaman jenis burung
berdasarkan kategori Magurran (1988);
Burung-burung yang hidup di
Magurran (1999), keanekaragaman jenis
ketiga kawasan mangrove Pesisir Jakarta
burung di ketiga kawasan tergolong
bervariasi dalam jenis penyusun
sedang. Hal ini memberi arti bahwa
komunitas maupun ukuran populasi
komunitas burung diketiga kawasan
setiap jenis burung. Jumlah jenis
mempunyai kestabilan populasi moderat.
terbanyak ditemukan di kawasan SMMA,
Selanjutnya, ketiga kawasan juga
diikuti oleh kawasan HLAK, dan
mempunyai nilai indeks memerataan
kawasan EMTS. Pada kawasan SMMA
mendekati 1 (melebihi 0,5), yaitu 0,66
ditemukan dua jenis dengan proporsi
pada EMTS dan 0,51 pada HLAK dan
populasi relatif menonjol (melebihi 10%),
SMMA. Sesuai kategori (Magurran,
yaitu pecuk ular asia (Anhinga
1988; Magurran, 1999; Fachrul, 2012)
melanogaster) dan cucak kutilang
nilai indeks kemerataan mendekati satu
(Pycnonotus aurigaster); sedangkan pada
memberi arti bahwa komunitas burung di
kawasan HLAK hanya ditemukan satu
ketiga kawasan mangrove Pesisir Jakarta
spesies relatif menonjol, yaitu walet
mempunyai populasi yang relatif merata.
linchi (Collocalia linchi), sementara pada
Ini mengindikasikan bahwa habitat
kawasan EMTS juga ditemukan dua
mampu memenuhi ketersediaan pakan
spesies dengan proporsi populasi relatif
burung sehingga kompetisi interspesifik
menojol, yaitu walet linchi (Collocalia
yang terjadi tidak terlalu tinggi.
linchi) dan burung gereja erasia (Passer
Kompetisi yang tinggi (kontes)
montanus). Jumlah jenis dan kemerataan
akan mengakibatkan kerugian bagi suatu
populasi setiap jenis ini akan berpengaruh
spesies, sehingga suatu spesies tertentu
terhadap indeks keanekaragaman jenis
akan dominan sedangkan spesies lainnya
burung di masing-masing kawasan.
akan tertekan. Namun, pada kawasan
Hasil analisis menunjukkan bahwa,
dengan sumberdaya bervariasi, seperti
indeks keanekaragaman jenis burung
halnya di ketiga kawasan ekosistem
168
Prosiding Seminar Nasional, 2017
169
Prosiding Seminar Nasional, 2017
170
Prosiding Seminar Nasional, 2017
masyarakat dan kerjasama merangkap Gaines WL, Harold RJ, Lehmkuhl JF.
1999. Monitoring biodiversity:
Ketua LPPM UNAS, Prof. Dr. Ernawati
quantification and interpretation. Gen.
Sinaga, [Link]. atas dukungan dana Tech. Rep. PNW-GTR-443. Portland,
OR: U.S. Department of Agriculture,
sehingga penelitian ini dapat berlangsung
Forest Service, Pacific Northwest
dengan baik. Demikian juga kepada Research Station. 27 p.
mahasiswa yang ikutserta dalam survey
Krebs CJ. 1985. Ecological
lapangan, terutama mahasiswa yang Methodology. Harper and Row
Publisher. New York.
tergabung dalam Biology Bird Club
Kusmana C, Niechi V, Dadan M. 2013.
Flora Mangrove Di Kawasan Hutan
DAFTAR PUSTAKA
Angke Kapuk Jakarta Utara, Provinsi
DKI Jakarta. Perpustakaan Nasional.
Alikodra HS. 2002. Pengelolaan
Jakarta
Satwaliar. Yayasan Penerbitan
Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
MacKinnon, J. 1990. Panduan Lapangan
Pengenalan Burung-burung di Jawa
Badan Pengelola Lingkungan Hidup
dan Bali. Gajah Mada University
Daerah (BPLHD) DKI Jakarta. 2011.
Press. Yogyakarta
Status Lingkungan Hidup Daerah DKI
Jakarta 2011. Laporan Tahunan
Mackinnon J, Phillips K and B. van
Balen. 2010. Burung-burung di
Badan Pengelola Lingkungan Hidup
Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan.
Daerah (BPLHD) DKI Jakarta. 2014.
Puslitbang Biologi-LIPI/ BirdLife
Status Lingkungan Hidup Daerah DKI
Indonesia.
Jakarta 2014. Laporan Tahunan
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity
Brower JE, Jerrold H, Zardan CN, et al.
and Its Measurements. Princeton
1990. Field and Laboratory Methods
University Press, New Jersey
for General Ecology. WM C. Brown
Publisher, Dobuque
Magurran AE. 2004. Measuring
Biological Diversity. Blackwell
Browner dan Zar. 1977. Field and
Science Ltd., a Blackwell Publishing
Laboratory Methods for General
company.
Ecology. Brown Co Publisher, Iowa,
USA.
Nababan BRR, Setiawan A, Nurcahyani
N. 2015. Keanekaragaman jenis
Burung Indonesia. Indonesia Miliki 1666
burung di lahan basah Way
Jenis Burung dan Terkaya Jenis
Pegadungan Desa Rajawali
Endemis. [Link]. Diakses
Kecamatan Bandar Surabaya
pada tanggal 20 Agustus 2015
Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal
Sylva Lestari ISSN 2339-0913, Vol. 3
Fachrul MF. 2012. Metode Sampling
(1) : 71—80.
Bioekologi. PT. Bumi Aksara, Jakarta
171
Prosiding Seminar Nasional, 2017
172
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel lampiran 1. Komparasi komunitas burung antar tiga kawasan mangrove di Jakarta.
173
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Family : Dicaeidae
29. Cabai jawa Dicaeum trochileum ü ü ü
Family : Muscicapidae
30. Sikatan bubik Muscicapa dauurica ü ü
31. Sikatan emas Ficedula zanthopygia ü
32. Kipasan belang Rhipidura javanica ü ü ü
Family : Nectariniidae
33. Burung madu belukar Anthreptes singalensis ü
34. Burung madu sriganti Nectarinia jugularis ü ü
Family : Phalacrocoracidae
35. Pecuk padi hitam Phalacrocorax sulcirostris ü ü
Family : Picidae
36. Caladi tilik Picoides moluccensis ü ü ü
37. Caladi ulam Dendrocopos macei ü
Family : Ploceidae
38. Burung gereja erasia Passer montanus ü ü
39. Bondol peking Lonchura punctulata ü ü ü
Family : Pycnonotidae
40. Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster ü ü ü
41. Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier ü ü ü
Family : Rallidae
42. Kareo padi Amaurornis phoenicurus ü ü ü
43. Mandar batu Gallinula chlorop ü ü
44. Mandar besar Porphyrio porphyrio ü
45. Tikusan alis-putih Porzana cinerea ü
46. Tikusan merah Porzana fusca ü
Family : Scolopacidae
47. Trinil pantai Tringa hypoleucos ü
48. Trinil semak Tringa glareola ü
Family : Silviidae
49. Cinenen kelabu Orthotomus ruficeps ü
50. Cinenen pisang Orthotomus sutorius ü ü
51. Perenjak jawa Prinia familiaris ü ü
52. Remetuk laut Gerygone sulphurea ü ü
Family : Sturnidae
53. Jalak putih Sturnus melanopterus ü
54. Kerak kerbau Acridotheres javanicus ü ü ü
Ʃ Total 27 34 40
Keterangan : TS = Ekowisata Tol Sediatmo; AK = Hutan Lindung Angke Kapuk; MA = Suaka Margasatwa Muara Angke
174
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel Lampiran 2. Status perlindungan beberapa spesies burung yang ditemukan di tiga
kawasan mangrove di Jakarta.
KAWASAN
NO. JENIS STATUS EMTS HLAK SMMA
Tabel Lampiran 3. Jenis-jenis burung paling dominan berdasarkan INP (> 10%) di tiga
kawasan mangrove di Jakarta.
175
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar Lampiran 2. Burung jenis endemik yang ditemukan di kawasan mangrove Jakarta.
Keterangan : Kiri : jalak putih (Sturnus melanopterus) dan
Kanan : bubut jawa (Centropus nigrorufus)
176
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar Lampiran 3. Dua spesies dengan dominansi relatif paling tinggi di tiga kawasan
mangrove Pesisir Jakarta.
Keterangan : A : wallet linchi (Collocalia linchi );
B : pecuk ular asia (Anhinga melanogaster)
Gambar Lampiran 5. Kesamaan Jenis Makan (feeding guilds) Burung di Hutan Lindung
Angke Kapuk (HLAK)
177
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar Lampiran 6. Kesamaan Jenis Makan (feeding guilds) Burung di Suaka Margasatwa
Muara Angke (SMMA)
178
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Habitat Analysis of Hawksbill Sea Turtle (Eretmohelys imbricata) on Kayu Angin Bira
Island Thousand Island Natinal Park DKI Jakarta
Abstract
Hawksbills Sea Turlte are one type of the family Cheloniidae which populations are currently declining so
that its status is endangered (threatened) according to the IUCN Red List. One of the factors that can affect
the population of sea turtle habitat, like the feeding ground. Foods for hawksbills (Eretmochelys imbricata)
is a seagrass, makroalgae, gastropods, and others. This research was conducted on the Kayu Angin Bira
island, Thousand Islands National Park, DKI Jakarta, data retrieval is done with an inventory with
Quadratic method to list the types of makroalga and gastropods, and the flatness of the beach to see the
condition of the Kayu Angin Bira island. From 3 Division of makroalgae was found 10 different species of
makroalgae and species with the highest Importance Value Index value is station 1 of Padina australis with
the value 199.03 and at station 2 is 175.13. In addition, there are 20 varieties of gastropods found and 2 type
with a value of highest IVIat station 1 is Euspira pulchella with 133.13, IVI’s value station 2 of gastropod
that dominates is the Caliostoma gloriosum with 57.79. The value of the slope of the Beach Station 1 is
0.59%, Station 2 is 7.69% and station 3 was 3.09%. Not found the presence of seagrass ecosystems in these
waters, less various types of feed and the percentage of the slope of the beach that is large enough to make
the island is said to be less suitable as a habitat for hawksbills.
Keywords : Gastropods, habitat, hawksbill sea turtle, Kayu Angin Bira Island, macroalgae
dan terdiri dari 15.508 pulau serta depressus), penyu tempayan (Caretta
wilayah pesisir dan lautan Indonesia perairan Florida dan laut Meksiko
Indonesia, yaitu penyu hijau (Chelonia waktu terakhir ini bahkan beberapa
179
Prosiding Seminar Nasional, 2017
180
Prosiding Seminar Nasional, 2017
2016). Selain itu, kawasan tersebut juga pulau Kayu Angin Bira, Kepulauan
ditumbuhi 7 jenis lamun dan 18 jenis Seribu DKI Jakarta.
alga. Jenis lamun yang dapat METODE
teridentifikasi, yaitu Thalassia Tempat dan Waktu Penelitian
hemprichii, Cymodocea rotundata, Penelitian dilaksanakan di Pulau
Cymodocea serrulata, Enhalus Kayu Angin Bira yang berada dalam
acoroides, Halophila ovalis, Syringodium kawasan zona inti Taman Nasional Laut
isoetifolium, Halodule uninervis Kepulauan Seribu Jakartadengan 2
sedangkan jenis alga dibagi ke dalam tiga stasiun yaitu bagian utara dan bagian
kelompok, yaitu alga hijau (Chlorophyta) barat [Link] ini dilaksanakan
seperti Caulerpa racemosa, Halimeda pada tanggal 6 – 8 November 2016.
macroloba, Halimeda laccunalis, Ulva Pengambilan data dilakukan pada pagi
lactuca, Boergesenia forbesii, Neomeris hari jam 08.00-17.00 WIB.
annulata, alga coklat (Phaeophyta) 1. Peralatan Penelitian
seperti Padina australis, Sargassum Alat- alat yang digunakan dalam
binderi, Sargassum cinerium, Turbinaria penelitian ini adalah alat dasar
conoides, Acanthopora spicifera dan alga snorkeling, plot kuadrat ukuran 1 x 1
merah (Rhodophyta) seperti Gracillaria meter, roll meter, alat tulis, kertas
salicornia, Hypnea asperi, Laurencia newtop, salinorefraktometer, termometer,
nidifica dan Galaxaura sp. (Rohmanita, buku identifikasi makroalga “Pengenalan
2016). Makroalga Indonesia”, Buku identifikasi
Berdasarkan latar belakang diatas gastropoda “Assessing Tropical Marine
maka dilakukan penelitian yangbertujuan Invertebrates”,dan tali raffia.
untuk menelaah faktor fisik dan biologi 2. Cara Kerja
di habitatpeneluran dan habitat laut, 3.1. Pengambilan data lamun,
kelimpahan alga, gastropoda dan lamun makroalga dan gastropoda
sebagai pakan dari penyu sisik Metode yang digunakan dalam
(Eretmochelys imbricata) di pulauKayu penelitian ini adalah metode sampling
Angin Bira, Kepulauan Seribu DKI dengan plot kuadrat untuk pengambilan
Jakarta. Hipotesis yang diajukan terdapat data lamun dan makroalgaagar diketahui
kelimpahan jenis makroalga, lamun dan persentase kondisi tutupan substrat dan
gastropoda sebagai pakan penyu sisik di inventarisasi gastropoda.
181
Prosiding Seminar Nasional, 2017
182
Prosiding Seminar Nasional, 2017
183
Prosiding Seminar Nasional, 2017
garis [Link] jenis, distribusi, dan individu terdiri dari 5 spesies dari divisi
komposisi makroalga, kelandaian pantai Chlorophyta, 2 jenis dari divisi
kawasan pulau Kayu Angin Bira juga Phaeophyta dan 3 jenis dari divisi
diamati dengan melakukan pengukuran Rhodophyta(Lampiran. 1).
dasar kualitas perairan, seperti yang Pada komunitas makroalga di pulau
tertera pada Tabel 1 berikut ini. Kayu Angin Bira, dari kelas Chlorophyta
Tabel 1. Pengukuran Dasar Kualitas yang ditemukan paling banyak adalah
Perairan Pulau Kayu Angin Bira.
dari jenis Halimeda macroloba yang
Temperatur
thallusnya mengandung [Link] ini
Stasiun (°C) Ph Salinitas
cukup mendominasi karena habitatnya
1 33°C 7 39/1.029 yang menempel di substrat
2 33°C 7 38/1.028 [Link] (Tjitrosoepomo,1998;
Bachtiar, 2007; Sulisetijono, 2009),
perairan dangkal dan jernih memudahkan
A. Komposisi Lamun, Makroalga
dan Gastropoda. cahaya matahari untuk masuk ke dalam
air sehingga proses fotosintesis yang
Hasil dari pengambilan data habitat di
dilakukan oleh makroalga dari divisi ini
pulau Kayu Angin Bira di mana
dapat berlangsung dengan baik
dikelilingi oleh hamparan terumbu
Lalu dari kelas Phaeophytayang
karang dan memiliki kontur perairan
mendominansi adalah jenis Padina
dangkal dengan jarak yang cukup pendek
australis dengan jumlah individu dikedua
yaitu hanya 60 meterdari bibir pantai
stasiun sebanyak 141 individu. Hal ini
hingga tubir. Stasiun pengambilan data
disebabkan karena substrat yang ada di
dilakukan di bagian utara dan barat pulau
pulau Kayu Angin Bira berupa pasir dan
karena memiliki hamparan pasir yang
bebatuan dan jenis ini menempel pada
cukup luas dibandingkan dengan bagian
substrat bebatuan dan patahan karang
timur dan selatan pulau yang selebihnya
[Link] Romimohtarto dan Juwana
berupa hamparan tebing-tebing karang
(2009), Phaeophyta adalah makroalga
yang curam.
khas yang dapat tumbuh dengan substrat
Dari keseluruhan 2 stasiun
berbatu.
pengamatan tidak ditemukan adanya
Terakhir dari kelas
komunitas lamun. Untuk komposisi
Rhodophytabiasanya tumbuh pada jenis
komunitas makroalga didapatkan 322
184
Prosiding Seminar Nasional, 2017
185
Prosiding Seminar Nasional, 2017
186
Prosiding Seminar Nasional, 2017
frekuensi yang paling tinggi yaitu seperti, pengaruh gelombang yang terjadi
Caliostoma gloriosum dengan nilai di perairan pantai, pengaruh angin lokal,
frekuensi sebesar 30 dan terdapat 14 jenis adanya pasang surut air laut serta adanya
gastropoda yang mempunyai nilai arus susur pantai (Koddeng, 2011).
frekuensi paling rendah dengan nilai Kelandaian pantai di pulau Kayu Angin
frekuensi sebesar 10 (Lampiran. 4) Bira cenderung curam karena dari 3 titik
Kepadatan tertinggi gastropodadi pengambilan data kelandaian pantai,
stasiun 1 kepadatan tertinggi berasal dari didapatkan data yang menunjukkan
jenis Euspira pulchella dengan nilai perbedaan yang sangat signifikan antara
38,89 dan yang terendah adalah Polinices masing-masing titik (Tabel. 4). Menurut
mammilla, Cypraea annulus dan Saribun (2007), kemiringan pantai dapat
Polinices tumidus dengan nilai kepadatan dinyatakan dalam bentuk derajat dan
11,11. Sedangkan di stasiun 2 adalah persen. Kecuraman sebesar 100% sama
jenis Euspira pulchelladan Cerithium dengan kecuraman 45°.Data yang
zonalum dengan nilai kerapatan sebesar didapatkan dari 3 titik di bagian utara dan
16 dan kepadatan terendahnya dengan 12 barat diambil pada saat pasang tertinggi
jenis (Lampiran 4). Tabel 2. Kelandaian Pantai di Pulau Kayu
Angin Bira.
Berdasarkan kehadirannya, stasiun 2
Stasiun Kemiringan (%)
memiliki tingkat kehadiran jenis yang
lebih tinggididapatkan 15 jenis dari total 1 0.59%
20 jenis sedangkan pada stasiun 1 hanya 2 7.69%
didapatkan 9 jenis. Walaupun didapatkan
3 3.09%
keanekaragaman jenis di kedua stasiun,
namun individu yang ditemukan tidak
melimpah dengan nilai dominansi yang Pada stasiun 1 persentase
tidak signifikan. Belum diketahui jeins kemiringan adalah 0.59% yang masih
manakah yang berpotensi sebagai pakan dapat dikategorikan sebagai pantai yang
penyu sisik. landai, namun pada stasiun 2 dan stasiun
B. Kelandaian Pantai 3 tingkat kemiringannya mencapai 7.69%
Sedimentasi pasir yang dan 3.09% yang dapat dikategorikan
menyebabkan landai atau curamnya suatu cukup miring. Menurut Satriadi (2003)
pantai diakibatkan oleh beberapa faktor tingkat persentase 3-8% merupakan
187
Prosiding Seminar Nasional, 2017
kondisi pantai yang miring. Dari data habitat penyu sisik sehingga dibutuhkan
diatas, disimpulkan bahwa kemiringan penelitian lebih lanjut.
pantai bagian utara dan barat dari pulau UCAPAN TERIMA KASIH
Kayu Angin Bira miring atau tidak landai Terima kasih disampaikan kepada
karena dapat dipengaruhi oleh morfologi para petugas Taman Nasional Kepulauan
daratan dan pengaruh iklim yang Seribu Sektor Pulau Harapan yang telah
menyebabkan perubahan gelombang. mengizinkan dan membantu selama
KESIMPULAN penelitian ini, kepada Drs. Imran SL
Data makroalga yang didapatkan di pulau Tobing, [Link] selaku pembimbing yang
Kayu Angin Bira sebanyak 322 individu telah banyak membantu dan
terdiri dari 5 spesies dari divisi membimbing selama penulisan serta
Chlorophyta, 2 jenis dari divisi kakak-kakak senior dan adik-adik junior
Phaeophyta dan 3 jenis dari divisi yang berkontribusi dalam penelitian ini.
Rhodophyta. Untuk gastropoda terdapat DAFTAR PUSTAKA
39 individu yang terdiri atas10 famili, 12 Bachtiar E. [Link] Sumber
marga dan 20 jenis. Baik jenis makroalga Daya Hayati Laut (Alga) Sebagai
Biotarget Industri. Fakultas
dan gastropoda belum ditemukan adanya Perikanan dan Ilmu Kelautan
jenis yang berpotensi sebagai pakan bagi Universitas Padjadjaran.
Jatinangor.
penyu sisik. Persentase kemiringan pantai Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu.
di pulau ini adalah0.59% pada stasiun 1, 2015. Profil Balai Taman
Nasional Kepulauan Seribu.
lalu 7.69% di stasiun 2 dan 3.09% di Tidak Dipublikasikan. Jakarta
stasiun 3yang dapat dikategorikan pantai Balai Taman Nasional Kepulauan
[Link]
yang miring. Menurut hasil data pakan [Link]://tnlkepulauanseribu.n
dan kelandaian pantai, pulau Kayu Angin et/profil/. Diakses pada tanggal 20
November 2016, pukul 20.05
Bira dapat dikatakan kurang cocok WIB.
sebagai habitat penyu sisik karena Brower, J.E., J.H. Zar& C.N. Ende von.
1997. Field and laboratory
kurangnya keanekaragaman pakan baik methods for general ecology,
makroalga maupun gastropoda dan fourth edition. [Link]-Hill
Companies Inc., USA. 273pp.
persentase kemiringan pantai di pulau ini, Carr A. [Link] of Turtle. The
namun tidak menutup kemungkinan Turtle of United States, Canada
and Baja California. Cornell
bahwa pulau ini masih berpotensi sebagai University Press. Ithaca. New
York
188
Prosiding Seminar Nasional, 2017
189
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Stasiun
No Divisi Nama Jenis Stasiun 2 Jumlah
1
Caulerpa serrtulata √ 3
Caulerpa racemosa √ 5
1 Chlorophyta Halimeda macroloba √ √ 53
Halimeda laccunalis √ 6
Neomeris annulata √ √ 44
18
Dictyopteris australis √ √
2 Phaeophyta 141
Padina australis √ √
Acantophora muscoides √ √ 9
3 Rhodophyta Acantophora spicifera √ √ 42
Euchme alvarezii √ 1
Total 10 8 8 592
Stasiun Stasiun
No Famili Genus Spesies Jumlah
1 2
1 Calliostomatidae Calliostoma Calliostoma gloriosum 4
2 Cerithidae Cerithium Cerithium columna 1
Cerithium nodulosum 1
Cerithium sp 1
Cerithium zonalum 1
3 Conidae Conus Conus sp 1
4 Cypraeidae Cypraea Cypraea annulus √ 3
Cyprae sp √ 1
Cypraea ovum √ 1
5 Muricidae Drupella Drupella rugosa √ 1
6 Naticidae Euspira Euspira pulchella √ √ 11
Polinices Polinices mammila √ 2
Polinices tumidus √ √ 4
7 Neritidae Nerita Nerita polita √ 1
8 Strombidae Dolomena Dolomena pulchella √ 1
Dolomena sp √ 1
Lambis Lambis lambis √ 1
9 Tegulidae Tectus Tectus niloticus √ 1
Tectus pyramis √ 1
10 Trochidae Trochus Trochus maculatus √ 1
TOTAL 10 12 20 9 15 39
Lampiran 3. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Makroalga Stasiun 1 di Pulau Kayu Angin
190
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Bira.
Lampiran 4. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Makroalga Stasiun 2 di Pulau Kayu Angin
Bira.
Lampiran 5. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Gastropoda Stasiun 1 di Pulau Kayu Angin
Bira.
191
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Lampiran 6. Frekuensi dan Kehadiran Jenis Gastropoda Stasiun 2 di Pulau Kayu Angin
Bira.
192
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Disease attacks in field can cause high yield losses. Inventory of plant disease was done to get information
about kind of plant disease in upland rice lines. The information can be used to prevent disease attactfor next
crop season. This reseach was conducted at the Showcase Land Biovillage, Research Center of
Biotechnology, LIPI in September 2016. Observations were made by look the symptoms at 73 rice lines.
Based on the observations, it was found five disease in rice lines such as bacterial leaf blight, brown spot,
sheath leaf blight, blas and narrow leaf spot. Bacterial leaf blight and brown spot was found in all lines.
Although IP (disease index) and KP (disease incidence) HDB and brown spot was high, some rice lines has
a potential to be developed as a resistant plant for sheath leaf blight, blast, and narrow leaf spot.
193
Prosiding Seminar Nasional, 2017
194
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Penentuan skala kerusakan tanaman coklat ditemukan pada seluruh galur hasil
berpedoman pada Standart Evaluation persilangan (Tabel 1).
System For Rice (IRRI, 2013). Tabel 1. Daftar penyakit yang ditemukan
pada pertanaman galur-galur padi
SementaraIntensitas penyakit (IP) gogo hasil persilangan
No Penyakit ∑ Galur yang terserang
ditentukan dengan menggunakan rumus 1 HDB 73 Galur
2 Bercak Coklat 73 Galur
(Laksono et al., 2010): 3 Hawar Pelepah 69 Galur
4 Blas 47 Galur
5 BDS 24 Galur
agak tahan (>5–12%), agakrentan (>12– pada pelepah (Gambar 1C) dengan tepi
195
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ialah bercak berwarna coklat berbentuk berwarna kuning keemasan (Gambar 1E).
seperti belah ketupat (Syam et al., 2008). Sementara pada penyakit bercak daun
Serangan lebih lanjut menyebabkan pusat sempit (Gambar 1 F) gejala bercak
bercak pada daun berwarna abu-abu. memanjang seperti jarum (Syam et al.,
Terkadang, pada beberapa galur, bercak 2008) berwarna kuning keemasan pada
tersebut di kelilingi oleh halo yang daun.
A B C
D E F
Gambar 1. Gejala-gejala penyakit yang dapat diamati seperti pada daun akibat serangan
HDB (A), Bercak Coklat (B), Hawar pelepah pada batang (C) dan daun (D), Blas
(E), dan BDS (F).
196
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 2. Tabel intensitas penyakit dan keberadaan penyakit dari setiap galur padi gogohasil persilangan.
HBD Bercak Coklat Hawar Pelepah Blast BDS
No Persilangan Galur IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
1 TB368B-TB-25- P1 223 42.2 SR 100.0 35.6 SR 86.1 15.6 R 100.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
MR-2 x P1 224 73.3 SR 100.0 24.4 R 100.0 46.7 SR 65.0 2.2 T 2.5 0.0 ST 0.0
B11178G-TB-
P1 233 73.3 SR 100.0 42.2 SR 100.0 33.3 SR 27.8 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
29
P1 234 24.4 R 65.7 26.7 SR 11.4 15.6 R 20.0 6.7 AR 8.6 0.0 ST 0.0
P1 235 11.1 AR 28.6 51.1 SR 100.0 11.1 AR 85.7 51.1 SR 71.4 13.3 R 5.7
P1 241 33.3 SR 77.1 26.7 SR 17.1 11.1 AR 2.9 46.7 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P1 242 55.6 SR 42.9 33.3 SR 71.4 4.4 T 5.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 250 46.7 SR 100.0 24.4 R 45.7 8.9 AR 11.4 22.2 R 48.6 0.0 ST 0.0
P1 262 24.4 R 38.5 40.0 SR 92.3 11.1 AR 41.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 267 46.7 SR 22.9 42.2 SR 91.4 11.1 AR 37.1 0.0 ST 0.0 6.7 AR 2.9
P1 273 24.4 R 82.9 22.2 R 17.1 15.6 R 80.0 8.9 AR 11.4 37.8 SR 100.0
P1 274 20.0 R 37.1 64.4 SR 97.1 24.4 R 100.0 68.9 SR 85.7 33.3 SR 17.1
P1 275 55.6 SR 97.1 40.0 SR 73.5 11.1 AR 29.4 37.8 SR 73.5 37.8 SR 100.0
P1 278 64.4 SR 55.9 24.4 R 82.4 11.1 AR 73.5 15.6 R 70.6 20.0 R 8.8
P1 280 60.0 SR 100.0 62.2 SR 100.0 24.4 R 100.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 289 64.4 SR 46.9 35.6 SR 46.9 6.7 AR 9.4 51.1 SR 68.8 13.3 R 6.3
P1 291 51.1 SR 100.0 51.1 SR 100.0 11.1 AR 16.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 3 68.9 SR 100.0 11.1 AR 8.8 6.7 AR 8.8 37.8 SR 82.4 33.3 SR 85.3
P1 443 46.7 SR 100.0 24.4 R 71.4 11.1 AR 82.9 28.9 SR 85.7 33.3 SR 20.0
P1 45 20.0 R 62.5 6.7 AR 9.4 11.1 AR 31.3 42.2 SR 78.1 0.0 ST 0.0
P1 452 11.1 AR 57.1 31.1 SR 100.0 15.6 R 57.1 60.0 SR 71.4 0.0 ST 0.0
P1 453 37.8 SR 14.7 22.2 R 97.1 11.1 AR 20.6 26.7 SR 82.4 13.3 R 5.9
P1 5 55.6 SR 85.7 20.0 R 25.7 11.1 AR 22.9 53.3 SR 62.9 42.2 SR 51.4
P1 51 68.9 SR 100.0 22.2 R 32.5 15.6 R 62.5 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 6 46.7 SR 20.0 66.7 SR 100.0 11.1 AR 57.1 71.1 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P1 7 33.3 SR 91.4 28.9 SR 20.0 24.4 R 85.7 40.0 SR 80.0 0.0 ST 0.0
Keterangan : ST adalah sangat Tahan, T adalah tahan, AT adalah agak tahan, AR adalah agak rentan, R adalah rentan, dan SR adalah sangat rentan.
197
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 2. Tabel intensitas penyakit dan keberadaan penyakit dari setiap galur padi gogohasil persilangan (lanjutan).
HBD Bercak Coklat Hawar Pelepah Blast BDS
No Persilangan Galur IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
P1 72 68.9 SR 64.7 71.1 SR 82.4 15.6 R 38.2 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P1 8 64.4 SR 71.9 6.7 AR 3.1 20.0 R 87.5 55.6 SR 62.5 0.0 ST 0.0
2 SituPatenggang x P2 212 55.6 SR 52.5 44.4 SR 75.0 13.3 R 95.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
B11930F-TB-2 P2 214 68.9 SR 54.3 28.9 SR 11.4 4.4 T 5.7 22.2 R 8.6 0.0 ST 0.0
P2 215 20.0 R 100.0 68.9 SR 100.0 37.8 SR 82.9 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 216 82.2 SR 20.5 28.9 SR 20.5 15.6 R 64.1 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 217 55.6 SR 100.0 40.0 SR 30.0 4.4 T 5.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 219 15.6 R 20.0 57.8 SR 100.0 11.1 AR 68.6 28.9 SR 14.3 0.0 ST 0.0
P2 80 15.6 R 44.1 46.7 SR 100.0 24.4 R 58.8 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P2 81 55.6 SR 100.0 33.3 SR 100.0 11.1 AR 77.1 2.2 T 2.9 11.1 AR 2.9
3 Inpago 8 x P3 182 55.6 SR 38.9 46.7 SR 100.0 11.1 AR 25.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
B11930F-TB-2 P3 188 51.1 SR 100.0 77.8 SR 100.0 15.6 R 27.3 77.8 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P3 189A 37.8 SR 100.0 24.4 R 31.4 15.6 R 45.7 55.6 SR 91.4 6.7 AR 2.9
P3 19 60.0 SR 51.4 26.7 SR 17.1 11.1 AR 42.9 33.3 SR 14.3 33.3 SR 57.1
P3 191 28.9 SR 77.1 77.8 SR 100.0 11.1 AR 68.6 62.2 SR 85.7 31.1 SR 11.4
P3 310 64.4 SR 100.0 20.0 R 32.3 11.1 AR 32.3 48.9 SR 80.6 55.6 SR 96.8
P3 312 51.1 SR 72.4 22.2 R 86.2 4.4 T 6.9 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P3 314 100.0 SR 80.0 86.7 SR 67.5 11.1 AR 20.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P3 317 77.8 SR 80.0 22.2 R 20.0 11.1 AR 25.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P3 322 33.3 SR 85.3 37.8 SR 73.5 11.1 AR 29.4 2.2 T 2.9 0.0 ST 0.0
P3 403 68.9 SR 100.0 40.0 SR 100.0 11.1 AR 34.3 6.7 AR 8.6 20.0 R 8.6
P3 92 60.0 SR 100.0 66.7 SR 100.0 0.0 ST 0.0 4.4 T 5.7 0.0 ST 0.0
Keterangan : ST adalah sangat Tahan, T adalah tahan, AT adalah agak tahan, AR adalah agak rentan, R adalah rentan, dan SR adalah sangat rentan.
198
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 2. Tabel intensitas penyakit dan keberadaan penyakit dari setiap galur padi gogohasil persilangan (lanjutan).
HBD Bercak Coklat Hawar Pelepah Blast BDS
No Persilangan Galur IP Respon KP IP (%) Respon KP IP Respon KP IP Respon KP IP Respon KP
(%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%)
4 B11492F-TB-12 P4 115B 37.8 SR 100.0 37.8 SR 34.3 11.1 AR 71.4 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
x B11178G-TB- P4 117A 51.1 SR 100.0 26.7 SR 14.3 15.6 R 57.1 20.0 R 20.0 42.2 SR 65.7
29
P4 131 15.6 R 32.4 51.1 SR 43.2 11.1 AR 67.6 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P4 151 11.1 AR 84.0 13.3 R 12.0 11.1 AR 64.0 0.0 ST 0.0 6.7 AR 4.0
P4 160 77.8 SR 97.4 24.4 R 12.8 11.1 AR 23.1 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P4 330 33.3 SR 90.6 33.3 SR 100.0 11.1 AR 71.9 55.6 SR 100.0 26.7 SR 12.5
P4 337 11.1 AR 14.7 24.4 R 50.0 11.1 AR 23.5 0.0 ST 0.0 33.3 SR 23.5
P4 352 60.0 SR 96.8 17.8 R 12.9 8.9 AR 12.9 33.3 SR 9.7 46.7 SR 16.1
P4 417 B 55.6 SR 50.0 17.8 R 9.4 0.0 ST 0.0 6.7 AR 9.4 51.1 SR 15.6
P4 430 42.2 SR 100.0 35.6 SR 74.3 11.1 AR 37.1 8.9 AR 11.4 0.0 ST 0.0
P4 432 51.1 SR 32.3 55.6 SR 100.0 11.1 AR 16.1 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P4 475 55.6 SR 40.0 13.3 R 20.0 4.4 T 8.0 20.0 R 28.0 55.6 SR 92.0
P4 477 42.2 SR 50.0 13.3 R 25.0 4.4 T 16.7 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
5 Danau gaung x P5 150 24.4 R 58.3 15.6 R 33.3 2.2 T 4.2 15.6 R 37.5 0.0 ST 0.0
Situ Patenggang P5 192 55.6 SR 100.0 26.7 SR 15.2 0.0 ST 0.0 15.6 R 21.2 0.0 ST 0.0
P5 193 33.3 SR 100.0 33.3 SR 81.8 11.1 AR 60.6 20.0 R 87.9 0.0 ST 0.0
P5 194 28.9 SR 48.3 13.3 R 13.8 6.7 AR 10.3 24.4 R 41.4 0.0 ST 0.0
P5 196 37.8 SR 100.0 24.4 R 14.3 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0 0.0 ST 0.0
P5 198 51.1 SR 82.4 17.8 R 100.0 11.1 AR 73.5 44.4 SR 100.0 0.0 ST 0.0
P5 200 37.8 SR 85.3 24.4 R 35.3 6.7 AR 8.8 11.1 AR 20.6 0.0 ST 0.0
P5 201 37.8 SR 88.0 24.4 R 20.0 4.4 T 8.0 6.7 AR 12.0 0.0 ST 0.0
P5 205 11.1 AR 100.0 26.7 SR 94.3 33.3 SR 91.4 55.6 SR 94.3 0.0 ST 0.0
P5 206 15.6 R 100.0 26.7 SR 100.0 11.1 AR 100.0 11.1 AR 100.0 0.0 ST 0.0
P5 384 28.9 SR 88.2 26.7 SR 64.7 15.6 R 32.4 4.4 T 5.9 0.0 ST 0.0
P5 387 28.9 SR 85.3 24.4 R 100.0 11.1 AR 58.8 51.1 SR 100.0 0.0 ST 0.0
Keterangan : ST adalah sangat Tahan, T adalah tahan, AT adalah agak tahan, AR adalah agak rentan, R adalah rentan, dan SR adalah sangat rentan.
199
Prosiding Seminar Nasional, 2017
200
Prosiding Seminar Nasional, 2017
disebabkan blas merupakan penyakit galur tahan hawar pelepah, blas dan
utama yang menyerang dipertanaman BDS. 4 galur P2 (212, 215, 216, dan
padi gogo. 80)potensial untuk dikembangkan
Galur padi gogo hasil persilangan sebagai galur tahan blas dan BDS.
P1, P2, P3, P4, dan P5 memiliki respon Sedangkan galur P2 81 potensial
ketahanan yang berbeda-beda terhadap sebagai galur tahan blas dan galur P2
penyakit HBD, bercak coklat, hawar 219 potensial sebagai galur BDS.
pelepah, blas, dan BDS. Galur sangat Persilangan 3 (P3) merupakan
tahan dan tahan terhadap penyakit persilangan antara Inpago 8 dengan
berpotensi untuk dikembangkan sebagai B11930F-TB-2. Galur 312 dan 92
galur unggul. Persilangan 1 (P1) potensial sebagai galur tahan hawar
merupakan persilangan antara TB368B- pelepah, blas dan BDS. Sedangkan
TB-25-MR-2 dengan B11178G-TB-29. galur P3 (182, 314, 317, dan 322)
Meskipun IP dan KP HDB, bercak potensial sebagai galur tahan blas dan
coklat, dan hawar pelepah relatif BDS. Selain itu, galur P3 188 potensial
tinggi,galur P1 242 potensial untuk sebagai galur tahan BDS.
dikembangkan sebagai galur tahan 3 Persilangan 4 (P4) merupakan
penyakit yakni hawar pelepah, blas dan persilangan antara B11492F-TB-12
BDS. dengan B11178G-TB-29. Galur P4 477
Sementara itu, 8 galur P1 (223, 224, potensial sebagai galur tahan terhadap 3
233, 262, 280, 291, 51, dan 72) penyakit yakni hawar pelepah, blas, dan
potensial untuk dikembangkan sebagai BDS. 4 galur P4 (115B, 131, 160, dan
galur tahan blas dan BDS. 7 galur P1 432) berpotensial sebagai galur tahan
(234, 241, 250, 45, 452, 6, dan 7) blas dan BDS. Sebanyak 2 galur 151
potensial untuk dikembangkan sebagai dan 337 potensial sebagai galur tahan
galur tahan BDS. Sedangkan P1 267 blas. Sementara 2 galur P4 (417 B dan
potensial untuk dikembangkan sebagai 475) potensial sebagai galur tahan
galur tahan blas. hawar pelepah sedangkan 1 P4 430
Persilangan 2 (P2) merupakan yakni potensial sebagai galur BDS.
persilangan antara SituPatenggang Persilangan 5 (P5) merupakan
dengan [Link] P2 214 persilangan antara Danau gaung dengan
potensial untuk dikembangkan sebagai Situpatenggang. Seluruh hasil
201
Prosiding Seminar Nasional, 2017
202
Prosiding Seminar Nasional, 2017
203
Prosiding Seminar Nasional, 2017
204
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Biodiversity has a function as a source of germplasm to support plant development for medicinal
plants. Mulberries (Morus sp) have known as plant with variety benefits as a medicinal plant. This
study aimed to analyze content of chemical compounds in the leaves of mulberry plant (Morus alba var
kanva-2). Components of chemical compounds of mulberry leaves Kanva-2 were analyzed using Gas
Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS) Pyrolisis. Analysis result shows there are 50 kinds of
chemical compounds contained in mulberry leaves Kanva-2. Analysis result showed that mulberry leaf
Kanva-2 contains phytolat a retention time 17,540 minutes, tochoperolat a retention time 28,277
minutesand nerolidolat a retention time 24,233 minutes. Literature study showed that phytol compound
has antibacterial properties, tocopherol compound has antioxidant properties and nerolidol compound
has both of antibacterial and antioxidant [Link] of this study showed that the leaves of
mulberry Kanva-2 (Morus alba var Kanva-2) potential as a medicinal plant which has antibacterial
and antioxidant compound.
PENDAHULUAN
206
Prosiding Seminar Nasional, 2017
potensi sebagai zat anti bakteri dan anti komponen yang terpisah. Selanjutnya
oksidan. spektrum puncak kromatogram dari
METODE sampel akan dicocokkan dengan
Persiapan bahan : Daun murbei spektrum yang ada di dalam library
(Morus alba var Kanva-2) yang (Wiley 7) yang menyimpan berbagai
digunakan dalam penelitian ini adalah jenis senyawa. Senyawa kimia yang
tanaman murbei kanva-2 yang berasal teridentifikasi sesuai kecocokkan
dari Kebun Percobaan Persuteraan dengan library dan dianalisis melalui
Alam Dramaga, Pusat Penelitian dan studi literature terkait dan buku Merck
Pengembangan Hutan, Bogor. Index.
Analisis senyawa kimia: HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis senyawa kimia daun murbei Salah satu varietas dari tanaman
(Morus alba var Kanva-2) dilakukan murbei (Morus alba) adalah tanaman
menggunakan metode Gas murbei kanva-2 (Morus alba var
Chromatography Mass Spectrometry Kanva-2). Tanaman murbei kanva-2 ini
(GC-MS) Pyrolisis dan dilakukan di memiliki produksi daun yang tinggi,
Laboratorium Pusat Penelitian dan sehingga berpotensi dalam
Pengembangan Keteknikan Kehutanan pengembangan produktivitas tanaman
dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor. murbei. Ciri-ciri umum tanaman ini
Analisis komponen kimia daun murbei adalah memiliki musim pertumbuhan
dilakukan menggunakan gas sepanjang tahun, pertumbuhan tanaman
chromatography-mass spectrometer yang lurus, percabangan di bagian
(GCMS) Shimadzu QP 2010 ULTRA. tengah dari ranting utama, helai daun
Kondisi alat menggunakan suhu kolom yang besar dan mengkilap, berwarna
60°C, suhu detektor 290°C, suhu hijau tua, bentuk daunnya membulat,
injektor 270 °C, dengan waktu analisa pangkal helai daun berbelah hati,
42-49 menit. Suhu program awal 60°C susunan tulang daun menyirip, tepi
naik 8°C per menit sampai suhu 280 daun bergerigi. Ukuran helaian daun
°C. Daun murbei dihaluskan lalu cukup besar dengan rata-rata panjang
sebanyak ± 0,2 µg diinjeksikan ke GC 10-25 cm dan lebar 10-20 cm.
sehingga terkromatografi dengan
207
Prosiding Seminar Nasional, 2017
208
Prosiding Seminar Nasional, 2017
209
Prosiding Seminar Nasional, 2017
[Link] kimia penyusun Daun Murbei Kanva-2 (Morus alba var Kanva-2).
210
Prosiding Seminar Nasional, 2017
9,12,15-Octadecatrienoic acid, methyl ester, (Z,Z,Z)- (CAS) Methyl linolenat 20,983 1,34
211
Prosiding Seminar Nasional, 2017
213
Prosiding Seminar Nasional, 2017
214
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Consumption of mangosteen as tropical fruits produce mangosteen peel wastes, which nowadays is
known to be utilized as a source of antioxidants because it contains a xanthone. Therefore, in its
utilization of the mangosteen peel ekstracts is combined with coffee extracts in the manufacture of
instant coffee, so when consumed, it functions not only as a drink refreshments, but also as a source of
antioxidants. The purpose of this study was to determine and obtain the optimal ratio between extract
coffee and extract the mangosteen peel on its quality of instant drinks powder. This study used a
Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and four replications and followed by
Duncan’s New Multiple Range Test(DNMRT) test at 5% level. The treatment in this study were rasio
extract coffee and extract the mangosteen peel; 100: 0 (K0M0), 90:10 (K1M1), 80:20 (K2M2), 70:30
(K3M3), and 60:40(K4M4) . The results of this study showed that the ratio of extract coffee and
extract the mangosteen peel was significantly effected the degrees acidity (pH), content of antioxidants
and caffeine, but moisture and ash level were not significant influenced by the treatments. There was
also significant effect of treatments on hedonic test for taste, aroma and color of product. The best
treatment in this study was rasio extract coffee and extract the mangosteen peel; 80: 20 (K1M1) with
moisture,ash and caffeine level respectively 2,18%,6,30% and 1,72%,pH 5,50, and antioxidants
content 33,29µg/ml. The sensory evaluation using hedonic test on flavor, aroma and color of instant
drink powder that contain extract coffee and the mangosteen peel was liked bypanelists.
215
Prosiding Seminar Nasional, 2017
rasa dan senyawa antioksidan pada Kulit manggis juga dapat digunakan
kopi seperti inovasi minuman serbuk sebagai bahan tambahan makanan,
instan kopi yang ditambahkan ekstrak salah satunya memberikan cita rasa
kulit manggis. dalam pembuatan minuman serbuk
Menurut Moongkarndi instan kopi yang banyak mengandung
dkk.(2004), kulit manggis berpotensi senyawa antioksidan. Berdasarkan
sebagai sumber [Link] hasil penelitian Rohim (2015)
manggis yang dahulu hanya menjadi formulasi kopi dengan tepung telur
limbah ternyata menyimpan potensi perbandingan 9:1 menghasilkan kopi
untuk dikembangkan menjadi produk telur instan terbaik secara sensori.
makanan atau minuman, obat-obatan METODE
dan produk pangan atau disebut Metode Penelitian
sebagai pangan [Link] negara Penelitian ini dilakukan secara
Cina, kulit manggis dijadikan obat- eksperimen dengan menggunakan
obatan herbal yang dikenal berkhasiat, Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dikarenakan kandungan senyawa dengan lima perlakuan dan empat kali
kimia yang terdapat pada kulit ulangan sehingga diperoleh 20 satuan
manggis berguna bagi kesehatan. percobaan. Perlakuanperbandingan
Gupita (2012), menyatakan bahwa ekstrak kopi dengan ekstrak kulit buah
senyawa yang berperan sebagai manggis adalah sebagai berikut:
antioksidan pada kulit manggis adalah 100:0(K0M0) ; 90:10(K1M1); 80 : 20
antosianin (5,7-6,2 mg/g), xanton dan (K2M2); 70 : 30 (K3M3); 60 :40
turunannya (0,7-34,9 mg/g). (K4:M4).
Pemanfaatan limbah kulit
manggis sekarang ini masih kurang Pelaksanaan Penelitian
optimal sehingga nilai ekonomis Tahap pelaksanaan dalam
rendah. Produk berbahan kulit pembuatan minuman serbuk instan
manggis biasanya hanya digunakan kopi dengan penambahan ekstrak kulit
dalam proses pembuatan obat-obatan manggis meliputi pembuatan ekstrak
dan teh herbal (Simajuntak, 2014). kulit manggis, pembuatan ekstrak
216
Prosiding Seminar Nasional, 2017
kopi, pembuatan serbuk instan kopi aroma dan warna dan penilaian
kulit manggis keseluruhan seperti pada Tabel 1.
Kadar Air
Pengamatan
Hasil pengamatan terhadap
Parameter yang diamati adalah
kadar air menunjukkan bahwa
kadar air (Andarwulan dkk,2011),
peningkatan jumlah ekstrak kulit
kadar abu (Sudarmadji dkk, 1997),
manggis dan penurunan jumlah
derajat keasaman (pH) (Muchtadi dkk,
ekstrak kopi memberikan pengaruh
2010), uji aktivitas antioksidan
tidak nyata terhadap kadar air serbuk
(William dkk, 1995 dalam Wijaya,
kopi instan kulit manggis.
2011), kadar kafein (Israyanti, 2012),
Hal ini disebabkan sifat
uji sensori terhadap rasa, aroma dan
higroskopis gula yang digunakan
warna serta penilaian keseluruhan
dalam jumlah yang sama lebih
(Setyaningsih dkk.,2010).
berperan dibandingkan dengan ekstrak
Analisis Data kulit manggis dalam pembuatan kopi
hitung lebih besar atau sama dengan F instan kulit manggis semua perlakuan
tabel maka dilanjutkan dengan Uji memenuhi batasan maksimal kadar air
Duncan’s New Multiple Range Test kopi instan menurut SNI 01-2983-
α = 0,05.
Kadar Abu
HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa
peningkatan jumlah ekstrak kulit
Hasil pengamatan kadar air,
manggis dan penurunan jumlah
kadar abu, derajat keasaman (pH),
ekstrak kopi memberikan pengaruh
kadar aktifitas anti oksidan, kadar
tidak nyata terhadap kadar abu serbuk
kafein, uji sensori terhadap rasa,
kopi instan kulit manggis. Hal ini
217
Prosiding Seminar Nasional, 2017
218
Prosiding Seminar Nasional, 2017
40
220
Prosiding Seminar Nasional, 2017
minuman serbuk kopi instan kulit minuman serbuk kopi instan kulit
manggis yang dihasilkan secara manggis. Hal ini dapat dilihat dari
hedonik. Hasil penilaian yang penilaian atribut rasa, aroma dan
dilakukan oleh 50 orang panelis warna semua atibut memiliki
terhadap atribut sensori warna penilaian agak suka hingga suka..
minuman serbuk kopi instan kulit RekapitulasiHasil Analisis
manggis berkisar antara 3,22-4,22 MinumanSerbuk Instan
(agak suka hingga suka). Rasio Produk pangan yang
ekstrak kopi dan ekstrak kulit manggis diproduksi diharapkan mampu
berpengaruh terhadap tingkat memenuhi gizi sesuai syarat mutu
kesukaan panelis terhadap atribut yang telah ditetapkan salah satunya
warna. Hal ini dikarenakan semakin oleh Standar Nasional Indonesia (SNI)
tinggi rasio penambahan ekstrak kulit serta penilaian sensori yang mampu
manggis dan semakin rendah ekstrak diterima oleh konsumen. Rekapitulasi
kopi menghasilkan warna hitam data berdasarkan parameter kadar air,
kecoklatan pada minuman serbuk kopi kadar abu, uji aktivitas antioksidan,
instan kulit manggis. kadar kafein dan penilaian sensori
Penilaian Keseluruhan (Hedonik) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan bahwa
semakin banyak penambahan ekstrak
kulit manggis maka penilaian panelis
secara hedonik terhadap penilaian
keseluruhan minuman serbuk instan
kopi kulit manggis dengan skor 3,30-
4,06 berdasarkan skala hedonik nilai
tersebut memiliki arti agak suka
hingga suka. Rasio ekstrak kulit
manggis yang semakin tinggi
memberikan pengaruh nyata terhadap
tingkat kesukaan panelis pada
221
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 1. Hasil analisis dan penilaian uji sensori minuman serbuk instan kopi kulit manggis
terbaik.
222
Prosiding Seminar Nasional, 2017
223
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Study of Medicine Plants Postpartum, the Sundanese people in the village Ciburial
District Cimanggu Banten
ABSTRACT
A research on the medicinal plant diversity postpartum in Sundanese people in the village Ciburial, District
Cimanggu, Banten. The purpose of research is to determine the diversity of medicinal plants postpartum
utilized by people. The research method with the approach ethnobotany through interviews. Interviews were
conducted on 63 people consisting of three key informants and 60 common respondents. The plants used by
the community as a medicine postpartum consists of 46 spesies24 family. Family is the most widely used is
Zingeberaceae (10 species). The most dominant plant habitus is terna (21 species). Part of the plant can be
used in the treatment of roots, rhizomes, stems, leaves and fruit. The leaves are part of the plant most widely
used (23 species). Medicinal plants are used predominantly derived from the yard (32 species) and generally
a wild plant.
224
Prosiding Seminar Nasional, 2017
225
Prosiding Seminar Nasional, 2017
226
Prosiding Seminar Nasional, 2017
penggunaan daun pada pengobatan pasca Tenggara, dan masyarakat sekitar Cagar
227
Prosiding Seminar Nasional, 2017
228
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Tabel 1. Data keanekaragaman tumbuhan obat pasca persalinan masyarakat Sunda Desa
Ciburial, Kecamatan Cimanggu, Banten.
9 Lame Alstonia scholaris R. Batang 1,2,3 Budidaya atau liar Pohon Apocynaceae
27 Mahonie Swietenia macrophylla K. Batang, Buah 1,2,3 Budidaya atau liar Pohon Meliaceae
229
Prosiding Seminar Nasional, 2017
KESIMPULAN No 381/MENKES/SK/III/2007
tentang kebijakan obat tradisional
Keanekaragaman tumbuhan obat
nasional. Kementerian Kesehatan,
yang dimanfaatkan masyarakat Sunda Jakarta: 42 hlm.
Desa Ciburial untuk pengobatan pasca
Faisal, R., E.B.M. Siregar & N. Anna.
persalinan secara tradisional mencapai 46 2016. Inventarisasi gulma pada
tegakan tanaman muda
spesies. Daun merupakan bagian
Eucalyptus spp. Jurnal Program
tumbuhan yang paling banyak Studi Kehutanan, Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera
dimanfaatkan pada pengobatan (23
Utara: 44-49.
spesies). Tumbuhan obat yang
Handayani, A. 2015. Pemanfaatan
dimanfaatkan masyarakat dominan
tumbuhan berkhasiat obat oleh
diperoleh dari pekarangan (32 spesies). masyarakat sekitar Cagar Alam
Gunung Simpang, Jawa Barat.
Tumbuhan yang digunakan pada
Prosiding Seminar Nasional
pengobatan didominasi oleh tumbuhan Biodiversitas Indonesia 6(1): 1425-
-1432.
liar (26 spesies). Tumbuhan obat tersebut
umumnya berhabitus terna (21 spesies). Indrawati, Y. Sabilu & P.F. Zainal. 2015.
Keanekaragaman dan pemanfaatan
tumbuhan obat tradisional pada
DAFTAR PUSTAKA masyarakat di Kelurahan Lipu,
Provinsi Sulawesi Tenggara.
Dahlianti, R., A. Nasoetion & K. Roosita.
Biowallacea 2(1): 204--210.
2005. Keragaman perawatan
kesehatan masa nifas, pola
Jahidin, L.M. Galib, Muzuni & Damhuri.
konsumsi jamu tradisional dan
2014. Study tumbuhan obat
pengaruhnya pada ibu nifas di Desa
tradisonal etnik Buton. Jurnal
Sukajadi, Kecamatan Tamansari,
Sainsmat 3(1): 90--108.
Bogor. Media Gizi dan Keluarga
29(2): 55--65.
Kementerian Kesehatan RI. 2003. Surat
keputusan Menteri Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. 2007.
No.1076/Menkes/SK/VII tentang
Keputusan Menteri Kesehatan RI
penyelanggaraan pengobatan
230
Prosiding Seminar Nasional, 2017
231
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Yarni1
1
Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Nasional Jakarta
Email: yarniyarni21@[Link]
ABSTRACT
This research was conducted in the village Cilengkranggirang Pasaleman District of Cirebon that aims to
identify the types of medicinal plants which are still used by the local community. Given today's current
consumption of chemical drugs are already quite familiar with the community because it is easily obtained,
and the effect more quickly felt. The methods used are exploratory survey that interviews with people who
knew a lot and take advantage of the medicinal plants in their daily lives. Interview material is about what
plants are used, their use as a medicine, and plant parts used. The results show there are 27 species of
medicinal plants are used to treat various diseases including infections, kidney stones, coughing, nosebleeds,
diarrhea, eczema, colds, wounds, increase appetite, eliminate body odor, heartburn, nosebleeds and
degenerative diseases namely diabetes mellitus, hypertension, cholesterol, gout, arthritis, and cancer as well
as increasing breastfeeding after birth.
232
Prosiding Seminar Nasional, 2017
233
Prosiding Seminar Nasional, 2017
234
Prosiding Seminar Nasional, 2017
20 Sirih hijau Piper betle Piperaceae Keputihan (daun), mimisan (daun), dan
batuk (daun)
21 Sereh Andropogon Poaceae Masuk angin (daun) dan setelah
nardus melahirkan (daun)
22 Ciplukan Physalis Solanaceae Luka (daun), batuk (daun), eksim (daun)
ungulata
23 Kencur Kaempferia Zingiberaceae Batuk (rimpang), keseleo (rimpang),
galanga masuk angin (rimpang).
24 Kunyit Cucurma Zingiberaceae Radang rahim dan diare (rimpang)
domestica
25 Jahe Zingiber Zingiberaceae Pegal-pegal (rimpang), rematik
officinnale (rimpang), batuk (rimpang).
26 Lengkuas Alpinia galanga Zingiberaceae Rematik dan panu (rimpang)
27 Temulawak Cucurma Zingiberaceae Menambah nafsu makan dan
xanthorrhiza memperbanyak ASI (rimpang)
Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa Satu jenis tanaman dapat mengobati
bagian tanaman yang dimanfaatkan beberapa penyakit. Ada 6 jenis tanaman
sebagai obat mulai dari akar, umbi, yang dapat mengobati 3 macam penyakit
rimpang, batang, daun, buah,dan biji . seperti daun sirsak (asam urat, kanker dan
Dilihat dari organ tanaman sebagai obat bisul), binahong (darah rendah, luka dan
yang paling sering digunakan adalah paru-paru), sirih hijau (keputihan,
daun yang merupakan organ vegetatif, mimisan dan batuk), ciplukan (luka batuk
pertumbuhannya relatif cepat dan selalu dan eksim), kencur (batuk, keseleo dan
tersedia. masuk angin) dan jahe (pegal-pegal,
rematik dan batuk). Tanaman obat lain
235
Prosiding Seminar Nasional, 2017
yang dapat mengobati 2 macam penyakit struk, diabetes melitus, kolesterol, asam
ada 9 jenis tanaman yaitu kemangi, kumis urat dan rematik. Hal ini disebabkan
kucing, saga kecil, cincau rambat, salam, terjadinya perubahan gaya hidup, pola
sereh, kunyit, lengkuas, dan temu lawak, makan, faktor lingkungan, dan kurangnya
sedangkan tanaman obat yang dapat aktifitas fisik. Banyak mengkonsumsi
mengobati 1 macam penyakit ada 12 makanan berlemak dan kolesterol,
jenis tanaman yaitu dandang gendis, makanan dengan bahan adiktif seperti
srikaya, tapak dara, sambung nyawa, penyedap dan pengawet.
pacar air, pepaya, betadin, katuk, Dari data Depkes (2013)
singkong, kitolot,lamtoro dan jambu biji. prevalensi penyakit degeneratif terjadi
Masyarakat Desa Cilengkrang peningkatan dari tahun ke tahun seperti
menggunakan 27 jenis tanaman obat hipertensi 7,5% pada tahun 2007 menjadi
dalam kehidupan sehari-harinya, 9,5% pada tahun 2013, penyakit struk
walaupun demikian ada kecendrungan 8,5% pada tahun 2007 menjadi 12,1%
menggunakan obat-obatan kimia dari pada tahun 2013 dan penyakit diabetes
pada obat alami . Dari wawancara melitus 1,1% pada tahun 2007 menjadi
diketahui bahwa hal ini disebabkan oleh 2,1% pada tahun 2013.
tanaman obat disukai oleh hewan Untuk pengobatan penyakit-
peliharaan seperti ayam dan kambing penyakit degeratif mengunakan obat
sehingga lahan yang ditanam tanaman tradisional dianggap lebih tepat karena
obat perlu dipagar. Maka masyarakat efek sampingnya relatif kecil dan
lebih sering berobat ke Puskesmas dan pemakai obat relatif lama (Aditama,
Rumah Sakit dan didukung juga oleh 2014). Masyarakat Desa Cilengkrang
obat kimia mudah diperoleh dan cukup banyak menggunakan tanaman
manfaatnya cepat dirasakan dibandingkan obat untuk mengobati penyakit
obat alami yang umumnya memerlukan degeneratif seperti tabel 2 berikut ini.
pengolahan lebih dulu dan manfaat tidak
begitu cepat dirasakan.
Saat ini di negara berkembang
termasuk Indonesia terjadi perubahan
pola penyakit dari penyakit menular ke
penyakit degeneratif seperti jantung,
236
Prosiding Seminar Nasional, 2017
237
Prosiding Seminar Nasional, 2017
238
Prosiding Seminar Nasional, 2017
239
Prosiding Seminar Nasional, 2017
240
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Santoso, H.B., 2013. Tumpas Penyakit Zuhud EAM, Ekarelawan dan Riswan S.,
Dengan 40 Daun Dan Akar 1994. Hutan tropika Indonesia
Rimpang. Penerbit Cahaya Jiwa sebagai Sumber Keanekaragaman
Yogyakarta. Plasma Nutfah Tumbuhan Obat,
dalam Zuhud EAM. Haryanto
Tim PC, 2012. Modul Tanaman Obat (editor). Pelestarian Pemanfaatan
Herba Berakar Rimpang. Keanekaragaman Tumbuhan Obat
Southeast Asian Food And Hutan Trropika Indonesia, Bogor.
Technology (SEAFAST) Center Jurusan Konservasi Sumberdaya
Research And Community Hutan Fak. IPB dan Lembaga
Service Institution Bogor Alam Tropika Indonesia
Agricultural University. (LATIN).
241
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Plant Diversity of Medicine in Tirta Jaya Village Kampung Serab Depok West Java
Endang Wahjuningsih
Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta
ABSTRACT
Indonesia is known as a country which rich in biodiversity, including medicinal plants that grow uncultivated in
nature and they have been cultivated. Diversity of flora in Indonesia is very abundant, the situation is strongly
influenced by various environmental factors that support growth and spread of the plant. At the beginning of
human civilization on earth all the flora is growing wild. As time goes by and urgency of needs then people start
doing domestication. With the re-emergence of the term of “Back to Nature”, the use of traditional medicine has
developed increased and expected healthy people can discover the secrets of the natural surroundings. The
purpose of this study was to determine the existence and distribution of the types of medicinal plants species
where located in Tirta Jaya village, KampungSerab, Depok, West Java. This study was conducted by a 5x5 meter
of terraced paths by made along the transect for 100 meters. The 5x5 meter observation plots has made
alternating right and left lane observations with intervals of 10 meters. Based on observations of medicinal
plants transects I that conducted in 1891 individuals consist of 43 types, classified into 41 genera and 25 tribes,
in transects II found in 3640 individuals which consist of 53 types, classified into 52 genera and 33 tribes. The
composition of medicinal plant species in two transects is the same that the similarity index value of 54.17. Index
of plant diversity transect I has shown low at 2,953. Transect II has a high biodiversity value as 4.6. The highest
INP is on the type of Eleusinindica of 25.52 and the lowest on the type of Cleome rutidospermae amounted to
8,18.
PENDAHULUAN
242
Prosiding Seminar Nasional, 2017
hidup. Jenis tumbuhan yang berpotensi secara ekonomi maupun waktu. Pengertian
sebagai tumbuhan obat umumnya pemanfaatan tumbuhan obat adalah
mempunyai kandungan senyawa bioaktif memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan
seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, yang tumbuh di sekitar kita dan
triterpenoid dan steroid. Pada dasarnya mempunyai khasiat untuk bahan
semua tumbuhan yang ada di muka bumi pengobatan secara tradisional (Soewito,
ini pasti berguna dan memberikan manfaat, 2007).
hanya saja belum diketahui manfaat apa Dengan melihat kenyataan di
yang ada pada tumbuhan tersebut. Menurut masyarakat, terutama untuk kalangan
WHO (2008) tumbuhan obat diartikan masyarakat yang kurang mampu untuk
sebagai tumbuhan yang memiliki aktivitas mendapatkan pelayanan kesehatan secara
atau kandungan kimia yang dapat medis selama ini dirasakan cukup sulit,
digunakan untuk tujuan terapetik atau maka akan lebih baik apabila dapat
tumbuhan yang mensintesis metabolit yang diusahakan adanya informasi-informasi
dapat digunakan untuk memproduksi obat mengenai tumbuhan yang ada di sekitar
yang bermanfaat. kita yang mempunyai potensi/manfaat
Masyarakat dalam memperoleh sebagai tumbuhan obat.
tumbuhan obat kemungkinan bisa diambil Dengan adanya informasi ini
dari hasil budi daya atau dari alam sekitar. diharapkan dapat menjadi solusi yang baik
Dengan munculnya kembali istilah Back to bagi masyarakat yang mengalami kesulitan
Nature pada masa kini maka penggunaan untuk mendapatkan pengobatan secara
obat tradisional oleh masyarakat medis. Bertolak dari permasalahan diatas,
mengalami perkembangan yang semakin diharapkan masyarakat dapat menemukan
meningkat. Dari berbagai jenis tumbuhan rahasia sehat dari alam sekitarnya. Pada
yang ada di sekitar kita baik yang sudah dasarnya tumbuhan dapat tumbuh
dibudidayakan atau yang masih tumbuh melimpah di berbagai habitat di Indonesia
liar mempunyai khasiat obat dan telah termasuk diantaranya tumbuhan yang
dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. berpotensi obat. Dengan digalakkannya
Purwanto (2006) menyatakan bahwa sosialisasi pemanfaatan obat herbal atau
pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan yang lebih dikenal dengan slogan Back to
obat-obatan sangat menguntungkan baik Nature maka semakin banyak masyarakat
243
Prosiding Seminar Nasional, 2017
METODE
Penelitian ini dilakukan di desa jalur pengamatan dengan interval 10 meter.
Tirta Jaya, Kampung Serab pada bulan Faktor lingkungan yang diukur adalah suhu
September 2015 - Februari 2016. dengan menggunakan termometer, pH
Identifikasi sampel dilakukan di tanah dengan menggunakan pH meter,
Laboratorium Botani Fakultas Biologi kelembaban udara dengan menggunakan
Universitas Nasional. Bahan yang higrometer. Sampel tumbuhan obat yang
digunakan dalam penelitian adalah alkohol ditemukan difoto dan diidentifikasi dengan
70%. Peralatan yang digunakan dalam menggunakan buku panduan lapangan,
penelitian ini adalah kamera, sasak, buku identifikasi Flora oleh Steenis (2005).
kantong plastik, label, gunting, kertas Apabila tidak dapat diidentifikasi di
koran, pisau lipat, pH meter, termometer, lapangan, diambil sampel tumbuhan
higrometer, luxmeter, tali tambang, secukupnya untuk dibuat herbarium dan
meteran, buku saku/buku panduan diidentifikasi di Laboratorium Botani,
lapangan, buku flora dari Steenis (2005). Universitas Nasional.
Pengambilan data tumbuhan obat Analisis vegetasi yang dilakukan
dengan menggunakan metode jalur meliputi:Komposisi Jenis, dihitung dengan
berpetakberukuran 5x5 meter yang dibuat menggunakan Indeks Similaritas Sorensen
sepanjang jalur pengamatan sepanjang 100 (Brower, Zar dan Carl, 1990).
meter. Petak pengamatan 5x5 meter dibuat Keanekaragaman Jenis, dihitung dengan
berselang-seling di sebelah kanan dan kiri menggunakan rumus Shannon-Winner
244
Prosiding Seminar Nasional, 2017
245
Prosiding Seminar Nasional, 2017
dan juga dengan adanya kecepatan angin habitat. Komposisi jenis dikatakan berbeda
yang lebih tinggi di transek II (97 rpm) karena indeks similaritas nilainya < 50 %,
dibanding transek I (63 rpm) kemungkinan apabila nilai indeks similaritas > 50%
juga akan membantu penyebaran biji yang maka komposisi jenis relatif sama
berasal dari tempat lain sehingga (Kusumoantono, 1996). Berdasar kriteria di
menyebabkan jumlah jenis yang dijumpai atas maka komposisi jenis tumbuhan obat
di transek II lebih tinggi. di 2 transek adalah sama yaitu dengan nilai
Keberadaan air dalam tanah dan 54,17. Arianto 2009 menyatakan bahwa
juga adanya pengaruh naungan diartikan karakteristik suatu habitat akan
sebagai kelembaban suatu tanah. Pada mempengaruhi jumlah jenis di suatu
transek I kelembaban lebih tinggi (47-62%) habitat tersebut. Apabila 2 habitat yang
karena pengaruh naungan dibanding berbeda lokasi tapi memiliki karakteristik
dengan transek II yang lebih rendah habitat yang sama maka jenis yang ada
kelembabannya (47-54%), disebabkan tidak akan berbeda jauh.
transek II relatif terbuka tidak ada naungan. 1. Indeks Keanekaragaman (H◦)
Demikian juga dengan suhu, di transek I Indeks Keanekaragaman Jenis pada
suhu relatif lebih rendah (30-33◦C) transek I sebesar 2,953 sedangkan pada
dibanding dengan transek II lebih tinggi transek II sebesar 4,592 (Tabel 3)
(34-37◦C). Dengan banyaknya naungan di
transek I menyebabkan pertumbuhan dan
persebaran tumbuhan lebih rendah.
Perbedaan jumlah jenis pada
masing-masing transek berpengaruh
terhadap komposisi jenis yang ada.
Komposisi jenis yang berbeda
kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor
246
Prosiding Seminar Nasional, 2017
247
Prosiding Seminar Nasional, 2017
JenisTumbuhan INP
Eleusinindica 25.52
Cynodondactylon 23.07
Asystasiaintrusa 19.27
Synedrellanodiflora 17.7
Oxalis corniculata 16.5
Acalyphaindica 16.46
Sidarhombifolia 14.97
Ruelliatuberosa 11.58
Amaranthusannuus 8.8
Imperatacylindrica 8.73
Phyllanthusniruri 8.69
Mangiferaindica 8.26
Cleome rutidosperme 8.18
248
Prosiding Seminar Nasional, 2017
249
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Pest and Diseases Massoi (Massoia aromatic Becc.) and Control Trial to Maintain
Ecosystem Quality
ABSTRACT
Masohi (Massoia aromatica Becc) is an endemic plant of Papua producing essential oils. In general, plant
part used is the bark extracted to produce oil. Pharmacological studies have shown that chemical constituent
of the oil mostly consists of pyrones and styrylpyrones which play roles as anticancer, larvicidal and
antifertilityactivity. The existence of Massoi in nature is left 20% of the whole population nowaday (results of
interviews with Massoi skin collectors). Forest Research and Development Center in Bogor is currently
conducting a trial cultivation of Massoi outside native habitat for its sustainability. However, the cultivation
effort faces several obstacles, including the existence of pest and disease. The aim of this study was to
determine and control pestspecies and diseases that attack Massoi so thatthe ecosystem quality can be
improved. The research was conducted in September 2015 and in June 2016 at Boalemo - Gorontalo Forest
Management Unit and Nursery ofForest Research and Development Center in Gunung Batu. Identification
result revealed that Massoi at seedlingstage in the nursery wasattacked by damping-off disease caused by
Fusarium sp. and Lasiodiplodia sp. with an attack percentage of 1.4%. Leaf spot disease in planting area
caused by Colletotrichum sp. was 30.64%. Pestattack leaf gall in the nursery of Forest Research and
Development Center was 8.3%; while attack in nursery of Boalemo Forest Management Unit was 1.09%.
Percentages of pests and diseases both in the nursery and in planting area were still very low, but they
should be controlled immediately before the loss is even greater because the seeds from native habitat were
very difficult to find. Pest and disease control trialshave done against pests leaves using active ingredients of
abamectin 18EC at a dose of 0.5 ml / liter, then the test results of control had shown a decrease of bacterial
leaf pustule attack up to 0%. Pest control using chemical pesticides can have negative impacts on the
environment, the use of the proper dosage and unsustainable can minimize negative impacts on the
environment so that the quality of the ecosystem can be maintained.
250
Prosiding Seminar Nasional, 2017
251
Prosiding Seminar Nasional, 2017
sebagai dasar dilakukannya penelitian daun yang terserang hama dan penyakit
untuk pengendaliannya. untuk selanjutnya dilakukan identifikasi
yang dilakukan di Laboratorium
METODE
Perlindungan Hutan – Puslitbang Hutan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Menghitung persen tanaman yang
Penelitian dilaksanakan di KPH terinfeksi pada plot pengamatan, dihitung
Boalemo Kabupaten Boalemo Provinsi dengan rumus berikut:
Gorontalo dan di Laboratorium
Perlindungan Hutan – Puslitbang Hutan,
Gunung Batu, Bogor. Ketinggian tempat
Keterangan:
yang ditanamani tanaman masohi yaitu ±
187 m dpl. Penelitian dilakukan pada P = % kejadian tanaman terinfeksi
bulan September 2015 dan bulan Juni oleh hama/penyakit tertentu
2016. n = Jumlah tanaman yang terserang
oleh hama/penyakit tertentu
Bahan dan Alat
N = Jumlah tanaman dalam 1 plot
Bahan yang digunakan dalam
Penghitungan intensitas serangan
penelitian ini yaitu bibit masohi umur 5
hama dan penyakit dilakukan dengan
bulan dan tanaman di areal tanam umur
rumus sebagai berikut :
6-7 bulan. Alat yang digunakan adalah
Tally sheet, alat tulis, plastik klip,
pestisida kimia dengan kandungan bahan
aktif abamektin 18 EC, semprotan, air, Keterangan:
kamera, microscop digital, dan I = Intensitas serangan hama/penyakit
microskop. ni = Jumlah daun dengan skor ke - i
252
Prosiding Seminar Nasional, 2017
abemaktin 18EC dengan dosis 0,5 ml/l. gall ini berongga dan berisi rambut-
Pengamatan terhadap respon dilakukan rambut halus berwarna putih sampai
sebelum dan setelah aplikasi pestisida. [Link] ciri morfologi
tersebut gall pada daun bibit masohi
HASIL DAN PEMBAHASAN
tersebut disebabkan oleh tungau, hal ini
Tanaman masohi di persemaian sesuai dengan Rajapakse dan Kumara,
mengalami serangan hama gall, 2007 yang menyatakan bahwa gall yang
sedangkan penyakit yang menyerang disebabkan oleh tungau memiliki ciri
tanaman masohi yaitu penyakit busuk morfologi gal berbentuk bulat telur (oval)
akar yang terjadi di persemaian dan dan tidak teratur, permukaannya
penyakit bercak daun di areal tanam. mengkerut, agak bergerigi mencuat
kepermukaan daun, memiliki warna
1. Hama gall daun
kehijauan atau kekuningan dan terdapat
Berdasarkan hasil pengamatan rambut-rambut halus di dalam rongganya.
gejala dan tanda serangan hama di
Gall adalah terbentuknya struktur
persemaian baik di KPH Gorontalo
tanaman yang tidak normal, hal ini
maupun di persemaian Puslitbang Hutan,
disebabkan oleh adanya suatu respon
hama yang menyerang bibit masohi
tanaman terdapat serangan organisme
adalah hama gall daun. Gejala yang
tertentu seperti cendawan, virus bakteri
terpadat pada daun yaitu terdapat bintil-
dan serangga. Gall dapat berkembang
bintil pada daun berwarna kehijauan
melalui pembesaran ukuran sel/poliferasi
sampai kecokelatan, mengkerut dan
sel. (Nurhayati, 2010).
menonjol ke permukaan, apabila di buka
253
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 2. Serabut rongga dan serangga hama gall (Foto: Yeni Nuraeni).
254
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 4. Makrokonidia Fusarium sp (kiri) dan konidia Lasiodiplodia sp. (kanan) (Foto: Illa
Anggraeni).
255
Prosiding Seminar Nasional, 2017
Gambar 6. Konidia Colletotrichum sp. (kanan a), bentuk konidiofor (kanan b) dan konidia
berkecambah (kanan c) (Foto: Illa Anggraeni).
256
Prosiding Seminar Nasional, 2017
30,64% dan intensitasnya sebesar 1, 62%. masih rendah sehingga belum merugikan
Persentase penyakit baik penyakit rebah secara ekonomi.
semai maupun penyakit bercak daun
Gambar 7. Grafik persentase kejadian dan intensitas kerusakan penyakit rebah semai dan
bercak daun.
257
Prosiding Seminar Nasional, 2017
258
Prosiding Seminar Nasional, 2017
ABSTRACT
Controlling plant pest organisms with konvensional ways by using chemical pesticides have significantly
make negative impact on environment and human health. The negative impact on environment are pollution
and resistance of pest to chemical pesticides. The negative impact on human health is bad impact to human
health because of using of pesticide with unwisely. Based on this problem, appeared an idea effort of
integrated pest control using biological agents so uses of chemical pesticides can be reduced. The purposes
of this research is tobprovide information of the types of micro-organisms that can role as a biological agent
to control plant pest especially for forest trees. The methodology used in this research is to test the in vitro
inhibition of the growth of microorganisms pathogenic biological agents and the control of insect pests. The
research result obtained types of micro-organisms that can be used as biological agents in forestry plants
like :Trichodermasp. and Gliocladium sp. for controlling fungi that cause many disease and
Beauveriabassiana, Metarrhizium sp. andBaccillusthuringiensis to control [Link] studies indicate that
biological agents was effective to suppress and control pest and plant desease in forest [Link] is necessary
to produce massivelyand marketed so that can be used by farmers and forest farmers.
259
Prosiding Seminar Nasional, 2017
260
Prosiding Seminar Nasional, 2017
261
Prosiding Seminar Nasional, 2017
dindin sel dan interfensi hifa karena yang menyebabkan penyakit rebah semai
Trichoderma juga mampu menghasilkan pada tanaman gmelina.
enzim khitinase (Harman et al, 2008).
b) Gliocladium sp.
Gliocladium sp. dalam
menghambat pertumbuhan cendawan
patogen yaitu dengan mekanisme
antibiosis lisis, kompetensi ruang tumbuh
dan nutrisi serta hiperparasit,
Gliocladium sp. mampu menekan
Gambar 1. Isolat Trichoderma sp.
pertumbuhan penyakit layu Fusarium
(Gambar: Illa Anggareni).
yang disebabkan oleh cendawan
Trichoderma sp. dapat
Fusarium sp. (Hartal et al, 2010),
mengendalikan penyakit busuk akar yang
penyakit busuk pelepah pada tanaman
disebabkan oleh cendawan Ganoderma
jagung yang disebabkan oleh Rhizoctonia
sp. pada tanaman Acacia mangium
solani (Seonartiningsih, 2014).
(Mardiansyah, 2011), penyakit layu
Fusarium yang disebabkan oleh
Fusarium sp. (Herlina, 2009; Hartal et al,
2010), penyakit yang disebabkan oleh
cendawan Colletotrichum capsici,
Fusarium sp. dan scelrotium rolfsii
Gambar 3. Isolat Gliocladium sp.
(Alfizar et al, 2013). (Gambar: Illa Anggraeni)
c) Beauveria bassiana
Beauveria bassiana memiliki
kemampuan untuk membunuh serangga
hama melalui mekanisme
berkecambahnya spora yang jatuh pada
lapisan kulikula, pada ujung tabung
Gambar 2. Uji antagonis isolate
Trichoderma sp. terhadap kecambah tersebut terdapat tabung
fusarium sp.
penetrasi yang digunakan untuk
Hasil pengujian secara in-vitro di
menembus lapisan kutikula serangga
laboratorium Trichoderma sp. mampu
hama. Cendawan Beauveria bassiana
menekan pertumbuhan Fusarium sp.
tumbuh dengan pesat dalam saluran
262
Prosiding Seminar Nasional, 2017
dari satu tiap sel. Sedangkan kristal yang secara terpadu merupakan salah satu
berbentuk empat persegi panjang dan teknik pengendalian yang dapat
pipih datar efektif dalam mengendalikan dilakukan terhadap serangan hama dan
serangga ordo Coleoptera (Glazer dan penyakit yang ramah lingkungan. Salah
Nikaido, 2007). satu komponen yang termasuk dalam
Btefektif dalam pengendalian lalat faktor pengendalian secara terpadu yaitu
Chrysomya bezziana (lalat vektor pengendalian secara hayati dengan
penyakit myasis) (Muharsini dan menggunakan predator, parasit dan
Wardhana, 2005). Pengaplikasian Btpada mikroorganisme agensia hayati. Jenis-
hama sengon yaitu Eurema sp. dan X. jenis mikroorganisme yang dapat
festiva dapat menyebabkan kematian berfungsi sebagai agensia hayati pada
pada kedua hama sasaran tersebut. tanaman kehutanan yaitu: Trichoderma
sp. dan Gliocladium sp. untuk
mengendalikan cendawan penyebab
penyakit serta Beauveria bassiana,
Metarrhizium sp. dan Baccillus
DAFTAR PUSTAKA
264
Prosiding Seminar Nasional, 2017
265
Prosiding Seminar Nasional, 2017
266
Prosiding Seminar Nasional, 2017
267