PERANCANGAN LAKON TEATER DAN WAYANG
“THE LEGEND OF RORO JONGGRANG”
DALAM RANGKA APB (ASIA PACIFIC BOND) DI SHANGHAI- CINA 2017
PERANCANG (PENULIS NASKAH & SUTRADARA):
DR. HIRWAN KUARDHANI, [Link].
NIP. 196407151992032002
JURUSAN TEATER- FSP
INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
2017
1
A. Latar Belakang Penciptaan
Acara tahunan APB (Asia Pacific Bond) merupakan event bergengsi secara
Internasional, yang mempertemukan wakil-wakil dari Perguruan tinggi seni Se Asia
bidang teater. APB merupakan ajang untuk unjuk kebolehan dalam cipta karya
pergelaran Teater. Mengingat pentingnya event tersebut dimana kita dituntut untuk
tampil prima sebagai wakil PT Seni dari Indonesia, maka karya teater tsb hendaklah
menampilkan ciri-ciri yang unik,kreatif, khas Indonesia.
Jurusan Teater ISI Yogyakarta sudah tampil di ajang APB sejak event tersebut
diadakan, tahun 2013. Untuk itu karya yang ditampilkan hendaknya merupakan karya
yang monumental, unik dan kreatif.
Indonesia kaya dengan folklore salah satunya legenda yang merupakan cerita
lisan. Menggali kekayaan cerita lisan (tradisi lisan) yang ada di Indonesia merupakan
salah satu langkah pelestarian yang dinamis serta penguatan budaya bangsa.
Karya pentas yang dibuat untuk event APB 2017 Shanghai adalah bentuk mix-
tex teater, topeng dan wayang dengan sumber lakon dari legenda Roro Jonggrang
yakni kisah legenda tentang terciptanya Candi Prambanan di Yogyakarta. Artefak
Candi Prambanan merupakan situs yang sudah sangat dikenal masyarakat
Internasional sekaligus salah satu Ikon Yogyakarta-Indonesia. Hal inilah salah satu
alasan kuat dipilihnya Legenda mengenai Candi Prambanan, sebagai karya pentas di
event APB 2017.
Landasan teoritis perancangan naskah menggunakan konsep tradisi lisan dan
etnografi yang dilakukan dengan cara mengubah bentuk (transformasi) dari budaya
sumber dalam hal ini cerita lisan kebudaya target (Pavis, 1992:1985-207). Identitas
cerita lisan (tradisi lisan) bersinggungan dengan nilai-nilai budaya penikmat lainnya
(Sweeney, 1987: 3). Memadukan seni gerak tepuk galembong dari Minang, topeng-
topeng kontemporer dan wayang diharapkan menjadi karya bernuansa Indonesia yang
kreatif unik dan menarik.
2
B. Rumusan Penciptaan
Dari uraian latar belakang penciptaan karya tersimpul rumusan penciptaan yaitu
bagaimana proses pembuatan karya pentas The Legend of Roro Jonggrang untuk
APB Shanghai 2017, berdasarkan Legenda Candi Prambanan dengan tafsir Baru.
C. Tujuan Penciptaan
Tujuan penciptaan karya berdasarkan rumusan penciptaan sebagai berikut :
1. untuk membuat karya teater dan Wayang berjudul “The Legend of Roro
Jonggrang”. dengan tafsir baru.
2. untuk membuat pertunjukan teater yang unik dan menarik pada event APB
Shanghai 2017.
D. Tinjauan Karya dan Pustaka (State of the Art)
Karya Terdahulu. Karya naskah lakon oleh Hirwan Kuardhani dalam
penelitian yang berjudul Folklore. Sumber Inspirasi Penciptaan Naskah Lakon
“Topeng Tua” Sebuah Penulisan Naskah Berwawasan Jender. DIPA ISI
Yogyakarta. 2007 merupakan pembuatan naskah lakon bersumber folklore.
Yudiaryani dan Hirwan Kuardhani dalam karya penelitian Metode
Perancangan Seni Pertunjukan Teater ”Sang Pembayun : Perempuan Pilihan”
Bersumber Tradisi Lisan dan Berperspektif Jender, Hibah Kompetensi, Program
Penelitian Nasional, Dirjen Pendidikan Tinggi DEPDIKNAS 2012 dan 2013. Hirwan
Kuardhani sebagai penulis naskahnya menyatakan bahwa naskah Pilihan Pembayun
menggunakan sumber tradisi lisan tentang legenda Putri Pembayun dan Babad
Mangir, menjadi naskah drama panggung dengan interpretasi baru. Penelitian
tersebut menunjukkan bahwa penciptaan naskah lakon teater klasik kontemporer
memerlukan tafsir baru tentang sejarah dan tradisi lisan bagi penciptaan teater klasik
kontemporer.
Karya Pertunjukan Potehi Tradisi dengan lakon “Manggalayuda Sie Jin Kwie”
dalam rangka World Puppet Carnival 2014. Di Monumen Nasional (Monas).
PEPADI Pusat. Dengan penulis naskah dan sutradara Hirwan Kuardhani, merupakan
langkah adaptasi cerita Lisan Cina ke konteks Jawa. Pertunjukan Wayang Potehi
3
Gagrag Baru dan teater gerak dengan judul “Angkara Siluman Kelabang” di Taman
Budaya Surabaya, dalam rangka Imlek Cap Go Meh, 2015. TBS dan Jensen Project.
Hirwan Kuardhani sebagai penulis naskah dan sutradara pada pergelaran
berjudul “Hanoman The Envoy” pada Asian Puppet Festival (APF) 2016, di
Mojokerto Indonesia. Menyutradarai para pemain Perwakilan Negara-negara Asia
seperti, Burma, Vietnam, Philipina, Singapore, Malaysia, Brunai, Thailand dan
Indonesia. Event ini menambah wawasan mengenai wayang dari Negara-negara lain.
Tinjauan Pustaka: Dananjaya, James. 1986. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip,
Dongeng dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Menurut Dananjaya, segala
hal yang menjadi produk sebuah folk disampaikan dan dilestarikan melalui kelisanan
secara turun temurun. Segala peristiwa yang terjadi dalam lingkungan masyarakat
akan tersebar sekaligus tersimpan dalam tradisi lisan, dan menjadi sumber sejarah
lisan bagi masyarakat pendukungnya. Pemahaman in bermanfaat pada penciptaan
naskah dan perancangan pentas The Legend Of Roro Jonggrang.
Pavis, Patrice, 1992. Theatre at the Crossroads of Culture. New York:
Routled. Menurut Pavis perancangan naskah menggunakan konsep tradisi lisan dan
etnografi yang dilakukan dengan cara mengubah bentuk (transformasi) dari budaya
sumber dalam hal ini cerita lisan ke budaya target (Pavis, 1992: 1985-207) dalam hal
ini berupa perancangan pementasan The Legend of Roro Jonggrang.
Sedyawati, Edy. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar
Harapan. Diuraikan oleh Sedyawati dalam buku ini bahwa substansi Tradisi Lisan
mengandung fakta sosial dan fakta budaya yang mengandung bias budaya dan politis
yang besar, Hal ini bermanfaat dalam re-interpretasi legenda Roro Jonggrang.
E. Ide Penciptaan
Mengambil ide cerita dari legenda Roro Jonggrang tentang terciptanya candi
Prambanan sangat menarik. Lakon tersebut memberikan ruang bagi bermacam unsur-
unsur seni di samping seni acting teater yakni tembang, ratok dan gerak tari
galembong Minangkabau, topeng dan wayang yang di mix-tex menjadi satu paduan
pertunjukan teater.
4
F. Ide Bentuk
Bentuk pemanggungan adalah Teater, Topeng dan Wayang. Mengingat
keterbatasan pemain yang hanya 5 orang, dibantu tim official 4 orang, maka bentuk
teater, topeng dan wayang sangat cocok. Penggunaan layar putih lebar menutupi
seluruh panggung seperti backdrop sekaligus sebagai kelir wayang.
Lima aktor bermain sebagai rakyat, sebagai prajurit dalam gerak rampak tepuk
Galembong, sebagai tokoh-tokoh karakter (Roro Jonggrang, emban, Raja, Bandung
Bondowoso), sekaligus berubah peran dengan memakai topeng-topeng kontemporer
ketika menjadi siluman-siluman pembuat candi. Musik iringan dan tembang sudah
direkam secara digital, sehingga memudahkan pergantian peran. Setting panggung
dari gunungan-gunungan besar yang mobile peletakannya sekaligus sebagai property.
G. Proses Penciptaan
Proses penciptaan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pembuatan naskah lakon dan konsep pemanggungan
2. Penggemblengan 5 aktor dengan olah tubuh dan melatih gerak tari Tepuk
Galembong Minang.
3. Latihan Reading dan dialog
4. Latihan lepas naskah disertai gerak tari tepuk Galembong
5. Latihan utuh seluruh adegan sekaligus kecepatan dan ketepatan mengganti
setting di atas panggung.
H. Rancangan Penciptaan
Karya pentas The Legend of Roro Jonggrang dirancancang sebagai berikut:
1. Adegan 1: Pembuka. Ratok ( ratap) gaya Minangkabau dengan bahasa
Minang yang mengisahkan isi cerita. Muncul 5 aktor memainkan Gunungan
membentuk formasi-formasi. Satu aktor berlari ke balik layar lebar dan
menari gerak-gerak agem tari Bali danmembentuk gerture tetap
menggambarkan sosok Bandung Bondowoso. (Black out)
2. Adegan 2: Kerajaan Boko. Lima aktor muncul dalam gerak tepuk
Galembong, diiringi bunyi saluang (seruling Minang).
5
3. Adegan 3: Adegan Peperangan antara kerajaan Boko dan Kerajaan Pengging
dalam bentuk wayang, Putri Roro Jonggrang berlari mengungsi. Tusuk
sanggulnya terlepas dan ditemukan oleh Bandung Bondowoso.
4. Adegan 4: Perang usai dengan adanya perjanjian antar dua kerajaan agar
rakyat tidak sengasara.
5. Adegan 5: Puri Roro Jonggrang bermain-main di taman dengan binatang
peliharaannya. Tiba-tiba kijangnya berlari lepas, ia mengejar namun sulit
menangkap. Datang Bandung Bondowoso yang menyamar sebagai Pikatan
seorang pemburu. Ia mengembalikan tusuk sanggul Roro Jonggrang.
Keduanya saling terpikat dan jatuh cinta.
6. Adegan 6: Raja Karungkala ayahanda Bandung marah melihat putrinya
bercengkerama dengan pemuda yang dia tahu adalah Bandung Bondowoso.
Segera ia menyingkap siapa Pikatan tsb. Putri Roro Jonggrang terkejut, lalu
memutuskan hubungan dengan Pikatan.
7. Adegan 7: Raja menantang Bandung untuk bertempur. Mereka berdua
kemudia mengadu kesaktian, Raja Karungkala kalah, sebelum wafat ia
berpesan pada Putri Roro Jonggrang agar tidak menikah dengan Bandung.
Disini adegan pertempuran memakai gerak pencak silat dan tembang
Dandanggula.
8. Adegan 8: Bandung marah karena penolakan putrid Roro Jonggrang, ia
menawan putri Roro Jonggrang. Akhirnya Putri Roro Jonggrang mengajukan
syarat bahwa ia minta dibuatkan 1000 candi dalam satu malam sebagai mahar
perkawinannya.
9. Adegan 9: Bandung dibantu setan-setan membangun candi. Disini dilakukan
formasi-formasi dan bentuk-bentuk gesture, penggunaan topeng, gunungan
dan juga wayang.
10. Adegan 10: Jonggrang melihat Candi akan selesai segera membangunkan
para perempuan untuk melakukan gejog lesung. Agar ayam-ayam berkotek
terbangun. Setan-setan lari ketakutan mengira sudah fajar. Bandung
6
memperlihatkan candi buatannya pada Roro Jonggrang, yang segera
menghitung jumlah candi, namun sang putri menemukan bahwa candi kurang
satu, lalu menyatakan Bandung gagal. Bandung marah karena merasa
diperdayai oleh Roro Jonggrang dan mengutuk menjadi candi ke seribu.
I. Video Karya dan Foto-Foto Pentas Terlampir
J. Deskripsi Karya
Candi Prambanan merupakan salah satu artefak peninggalan kerajaan
Mataram Hindu yang sangat terkenal di samping Borobudur. Keberadaan Candi
Prambanan menjadi salah satu Ikon archeology, Budaya dan Pariwisata Yogyakarta-
Indonesia. Hal menarik lainnya adalah beredarnya cerita lisan mengenai terciptanya
Candi Prambanan dalam “Legenda Putri Roro Jonggrang” Legenda atau cerita rakyat
dipakai oleh suatu komunitas masyarakat untuk “melogika” atau menjawab hal-hal
yang dianggap dasyat di luar kemampuan komunitas masyarakat pemilik cerita
tersebut. Legenda putri Roro Jonggrang sangat menarik untuk menjadi sumber ide
lakon dalam karya teater The Legend of Roro Jonggrang, yang dipergelarkan di APB
Shanghai Cina 2017.
Dengan keterbatasan jumlah actor maka konsep garapan memasukkan
Wayang dan Topeng. Bentuk-bentuk seni tradisi di luar Jawa pun menarik untuk
diadopsi, yakni gerak rampak “Tepuk Galembong” yang dipakai untuk
menggambarkan para prajurit yang tengah berlatih perang. Suara yang keluar dari
tepukan celana galembong yaitu celana khas Minang, sangat menarik, diseling pekik
pemain secara rampak. Di dalam gerak tari tepuk Galembong, terdapat gerak-gerak
silat yang maskulin. Adegan ini menjadi salah satu spektakel yang memukau dalam
pertunjukan.
Penggunaan topeng-topeng untuk menggambarkan adegan para jin dan setan
bekerja membuat candi disertai gesture-gesture teatrikal menjadi daya tarik lainnya
dari pertunjukan ini. Spektakel ini dipertegas dengan menghadirkan silhuet wayang-
wayang dibalik layar. Lighting menggunakan warna-warna merah dan biru yang
berkesan mistis. Iringan musik disesuaikan dengan adegan yang berlangsung
7
merupakan musik campuran Saluang Minangkabau, gamelan Jawa, Bali dan
kontemporer, serta suara tembang, dan accapela membentuk satu perpaduan yang
Harmonis dan memberikan suasana Tragis. Bentuk pergelaran Mix-tex yaitu
memadukan berbagai unsure seni sengaja dipilih untuk mendapatkan hasli karya yang
unik dan monumental.
K. Kesimpulan
Dari proses penciptaan karya pentas berjudul “The Legend Of Roro Jonggrang
diperoleh beberapa simpulan yakni:
1. Cerita lisan (legenda) di Indonesia yang kaya merupakan sumber ide yang
tiada habisnya dieksplorasi dan dikreasi secara mix-tex yakni memadukan
berbagai jenis dan benuk seni.
2. Wayang dan topeng menjadi pilihan artistik dan salah satu bentuk pengadegan
untuk melengkapi dan menguatkan acting para aktor dalam bermain, karena
memiliki estetika tinggi sekaligus ruang imajinasi tokoh-tokoh seperti para jin
dan setan. Menggambarkan adegan-adegan kolosan seperti perang, latihan
keprajuritan, penyerbuan mahluk halus (jin-jin).
3. Menampilkan ragam budaya tradisi yang dimiliki Indonesia dalam sajian
pentas The Legend Roro Jonggrang akan memukau penonton. Tembang Jawa,
Ratok Minang, Tari merak dari Jawa, tari tepuk Galembongi Minang , gerak-
gerak agem tari Bali, yang di mix-tex menjadi sajian yang harmonis dan tidak
semua Negara memiliki keragaman budaya.
4. Bahasa komunikasi antar bangsa adalah seni. Karya pentas The Legend of
Roro Jonggrang adalah salah satu bentuk komunikasi antar bangsa.
8
Daftar Pustaka
Barthes, Roland. 1981. “Teory of The Tex” dalam Robert Young (ed) Unliying The
Tex A Post Strukturalis Reader. London and New York: Routledge
Dananjaya, James. 1986. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain.
Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Day, Toni. 1996. “ Studi Pertunjukan Wayang Kulit Jawa, Ide-ide Dasar Pendekatan
dan Permasalahan” Jakarta: Warta ATL Jurnal Pengetahuan dan Komunikasi
Peneliti dan Pemerhati Tradisi Lisan Edisi Maret 1996
Egri, Lajos. 2020. The Art Dramatic Writing Yogyakarta: Kalabuku
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra ( Sebuah Pengantar) Jakarta: PT Gramedia
Kayam, Umar. 1981. Seni Tradisi Masyarakat, Jakarta: Sinar Harapan
Pavis, Patrice, 1992. Theatre at the Crossroads of Culture. New York: Routledge
Sedyawati, Edy. 1996. " Kedudukan Tradisi Lisan Dalam ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu
Budaya" Warta ATL: Jurn Pengetahuan dan Komunikasi Peneliti dan Pemerhati
Tradisi Lisan Edisi Maret 1996
--------------------. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan
Spradley, James. 1997. Metode Etnografi, Yogyakarta: Tiara Wacana
Sweneey, Amin. 1987. Full Hearing, Orality and Literracy in The Malay Wold.
London: University of California Press
9
Lampiran
Gambar 1. Foto adegan awal.
10
Gambar 2. Foto adegan Roro Jonggran bersama Bandung.
11
Gambar 3. Adegan-adegan dalam tepuk Galembong & Gunungan pada bagian awal.