0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan275 halaman

Modul SCF Syariah untuk UMKM

Dokumen tersebut membahas tentang modul pelatihan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM yang disusun oleh Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Modul ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada penerbit dan calon investor mengenai SCF Syariah sebagai alternatif pendanaan dan investasi.

Diunggah oleh

Fitria Lutfiyana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan275 halaman

Modul SCF Syariah untuk UMKM

Dokumen tersebut membahas tentang modul pelatihan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM yang disusun oleh Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Modul ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada penerbit dan calon investor mengenai SCF Syariah sebagai alternatif pendanaan dan investasi.

Diunggah oleh

Fitria Lutfiyana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

s

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 1


Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 2
MODUL PELATIHAN SECURITIES CROWDFUNDING
(SCF)
SYARIAH UNTUK PENERBIT

Penasehat
Ventje Rahardjo Soedigno

Penanggung Jawab
Putu Rahwidhiyasa

Penyusun
Divisi Kemitraan dan Akselerasi Usaha Syariah
Direktorat Bisnis dan Kewirausahaan Syariah
Manajemen Eksekutif KNEKS

Ketua Penyusun
Achmad Iqbal

Tim Penulis Ahli Muamalat Institute:


Edian Fahmy
Wang Wardhana
Ardiansyah Rakhmadi
Saiful Khoiri

Tim Penulis KNEKS


Suci Ramdania
Miftahul Achyar
Reza Awaliah Ali
Asrofun Nisa

Tim Desain & Layout Muamalat Institute:


Salsabiila Sholehah
Dian Rizky Wulandari
Siti Alwiah Muchsin

Tim Videografis:
Tombak Matahari
Rahman Syaleh

ISBN
Edisi Pertama, Januari 2022

978-623-97413-6-5

Penerbit:
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS)

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 3


DISCLAIMER

Penyusun menyadari bahwa dalam proses penyusunan Materi Pelatihan SCF


Syariah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, tim penyusun
menyampaikan penafian (disclaimer) sebagai berikut:

1. Materi Pelatihan Securites Crowdfunding (SCF) Syariah ini merupakan satu


kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling melengkapi yang terdiri dari Modul
Pelatihan, Videografis, Materi Presentasi Pelatihan, Kertas Kerja, Soal-soal
Uji Pelatihan dan Penilaian Pelatihan;
2. Materi Pelatihan yang disusun ditujukan untuk kepentingan literasi dan edukasi
semata dan bukan merupakan ketentuan dalam penyelenggaraan aktivitas SCF
Syariah.
3. Materi Pelatihan ini disusun berdasarkan regulasi dan praktik penyelenggaraan
SCF Syariah pada saat dilakukan penyusunan.
4. Apabila dikemudian hari terjadi perubahan dalam regulasi maupun
perkembangan dalam praktik penyelenggaraan SCF Syariah, sehingga ditemukan
ketidaksesuaian antara Materi Pelatihan dengan ketentuan dan peraturan
perundangan yang berlaku, maka penyelenggaraan SCF Syariah harus tetap
merujuk pada ketentuan peraturan perundangan yang berlaku tersebut.
5. Materi Pelatihan ini merupakan materi pelatihan dasar yang bersifat umum.
Penyelenggara SCF Syariah dapat memiliki mekanisme dan teknis pelaksanaan
securities crowdfunding syariah yang berbeda-beda, tergantung dari preferensi
bisnis dan risiko masing-masing penyelenggara.

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 4


SAMBUTAN DIREKTUR EKSEKUTIF KOMITE NASIONAL
EKONOMI DAN KEUANGAN SYARIAH (KNEKS)

Assalaamualaikum Warrahmatullaahi
Wabarakaatuh

Salah satu upaya untuk meningkatkan skala


usaha dan ketangguhan (resilience) usaha Mikro
Kecil dan Menengah (UMKM) adalah dengan
penguatan pada struktur permodalan. Namun
demikian, berbagai pembiayaan yang tersedia,
belum dapat melayani semua UMKM. Banyak UMKM
dinilai belum bankable, karena kurang memadai
dalam: pengelolaan keuangan, kemampuan
manajerial, kapasitas produksi dan akses
pemasaran. Namun demikian, barrier to entry tersebut juga dikaitkan dengan lembaga
keuangan syariah itu sendiri, seperti kesiapan sistem internal, kapasitas staf dan
kebijakan mengenai risk acceptance criteria dan agunan tetap (fix asset).
Keberadaan perusahaan financial technology (Fintech) semakin berkembang
di tanah air. Salah satunya adalah Securities crowdfunding (SCF) syariah yang
merupakan inovasi dalam bidang financial technology yang menawarkan alternatif
solusi bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan pendanaan dengan skema penerbitan
saham syariah dan sukuk. SCF Syariah juga berpotensi sebagai alternatif investasi
yang mudah dilakukan dan memberikan perlindungan yang memadai bagi investor.
Oleh karena itu, penyelenggara SCF Syariah memiliki peran penting dalam
membentuk lanskap industri ini dalam jangka panjang. Namun demikian, SCF Syariah
memerlukan dukungan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang
mengoptimalkan potensinya.
Meskipun secara regulasi seluruh keputusan pendanaan merupakan
kewenangan dan risiko dari investor sepenuhnya, namun berdasarkan POJK No. 57
Tahun 2020, penyelenggara SCF Syariah dituntut memiliki kemampuan yang
memadai dalam melakukan penelaahan terhadap UMKM calon penerbit. Penelahaan
tersebut dilakukan mengedepankan prinsip kehati-hatian terutama dalam hal:

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 5


1. Melakukan penelaahan terhadap UMKM calon penerbit sebelum penyelenggara
SCF Syariah memberikan persetujuan kepada penerbit untuk menerbitkan saham
syariah dan atau sukuk pada platform digital penyelenggara.
2. Melakukan pendampingan terhadap UMKM penerbit, dalam penyusunan
prospektus sesuai dengan standar minimum yang ditetapkan regulasi dan sesuai
dengan kondisi riil UMKM calon penerbit.
3. Melakukan pengawasan terhadap UMKM penerbit, terutama dalam hal
penyerahan laporan-laporan berkala penerbit dan pembagian dividen/imbal
hasil kepada para investor.
Dalam menjalankan hal tersebut, penyelenggara SCF Syariah dapat menjalin
kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas (capacity building)
pelaku UMKM calon penerbit, misalkan kerjasama dengan inkubator bisnis untuk
pelatihan dan pendampingan bisnis UMKM, kerja sama dengan perusahaan penyedia
layanan transaksi digital untuk membantu para pelaku UMKM dalam melakukan
pembukuan dan pelaporan keuangan, juga dapat bekerja sama dengan perbankan
maupun memanfaatkan lembaga pemeringkat/credit scoring yang memiliki
pengalaman dalam hal penelaahan calon penerbit UMKM. Harapannya, UMKM yang
masuk ke dalam SCF Syariah telah siap untuk “go-public” dengan berbagai
konsekuensinya. Pada akhirnya, SCF Syariah akan mendorong para pelaku UMKM
untuk lebih terbuka dan bertanggung jawab dalam mengelola usahanya (good
corporate governance). Kemampuan dalam mengelola perusahaan yang tidak hanya
profitable, namun juga sustainable untuk menjaga kepercayaan para investor.
Bagi calon investor, investasi pada SCF Syariah tidak hanya menekankan pada
faktor economic profit semata, namun juga memiliki social impact yang besar terhadap
pemberdayaan UMKM sebagai penggerak perekonomian nasional. Selain itu, calon
investor juga perlu memahami dengan baik risiko yang melekat pada investasi sektor
riil yang dapat mengalami fluktuasi seiring dengan kondisi usaha UMKM itu sendiri,
bahkan risiko kegagalan usaha. Dengan demikian, calon investor dapat memilih
dengan bijaksana investasi usaha sesuai dengan risk-profile-nya dengan
mengharapkan tingkat keuntungan yang rasional.

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 6


Dalam membentuk ekosistem yang mendukung pertumbuhan SCF Syariah,
maka literasi dan edukasi kepada calon penerbit maupun calon investor perlu terus
dilakukan. Harapannya akan meningkatkan kapitalisasi pasar dan meningkatkan
kualitas SCF Syariah untuk terus berkembang dan berkontribusi positif bagi para
pelaku UMKM maupun masyarakat secara lebih luas.

Wassalamualaikum Warrahmatullaahi Wabarakaatuh,

Direktur Eksekutif

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS)

Ventje Rahardjo

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 7


SAMBUTAN DIREKTUR BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN
SYARIAH KNEKS

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh


Perkembangan teknologi informasi dalam
bidang keuangan melahirkan sejumlah perusahaan
financial technology, dan merubah pola masyarakat
dalam mengakses layanan keuangan termasuk untuk
pendanaan. Kehadiran model pendanaan berbasis
teknologi digital seperti securities crowdfunding
dapat dimanfaatkan oleh UMKM untuk mendapatkan
permodalan dengan menjangkau lebih banyak
investor retail maupun institusi dibandingkan
dengan pendanaan secara tradisional melalui funder
ataupun pinjaman dari Lembaga Keuangan Syariah
lain. Salah satu keunggulan model pendanaan melalui Securities crowdfunding (SCF)
Syariah ini adalah mengedepankan pola hubungan kemitraan antara pelaku UMKM
dengan para investor dalam mengembangkan bisnis UMKM, dimana keuntungan dari
bisnis tersebut dibagikan kepada masing-masing investor secara proporsional sesuai
dengan kepemilikan modalnya.
Namun demikian, Securities crowdfunding (SCF) Syariah ini merupakan
sebuah inovasi yang relatif baru dan belum dikenal luas oleh para pelaku UMKM
maupun calon investor. Oleh karena itu, literasi dan edukasi sangat diperlukan agar
inovasi teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal terutama untuk
meningkatkan akses permodalan UMKM. Sehingga UMKM mendapatkan permodalan
untuk meningkatkan skala usaha sekaligus menjadi alternatif investasi yang menarik
bagi calon investor.
Salah satu inisiatif program kerja Manajemen Eksekutif KNEKS dalam
meningkatkan skala usaha UMKM adalah Program IPO dan Sukuk bagi UMKM melalui
Securities crowdfunding (SCF) Syariah. Untuk mendukung program tersebut, KNEKS
menyusun Modul Pelatihan dan Video grafis sebagai upaya untuk meningkatkan
literasi masyarakat dan edukasi terhadap UMKM calon penerbit maupun calon
investor.

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 8


Modul Pelatihan dan Video grafis Securities crowdfunding Syariah ini secara
garis besar terdiri dari dua buku. Buku pertama, ditujukan bagi para UMKM sebagai
calon penerbit, sedangkan buku kedua ditujukan bagi para calon investor. Masing-
masing buku terdiri dari Modul Pelatihan, Video grafis, Materi Presentasi, Kertas
Kerja, Soal Uji Pelatihan dan Kertas Penilaian. Materi pelatihan yang telah disusun
masih dalam rangka pengenalan dasar-dasar penyelenggaraan Securities
crowdfunding (SCF) Syariah yang disusun berdasarkan regulasi dan praktik
penyelenggaraan yang ada saat ini. Tidak menutup kemungkinan, dikemudian hari
terdapat perkembangan dan perubahan baik dari aspek regulasi maupun praktik
penyelenggaraannya.
Kami menyadari adanya keterbatasan dalam literatur, penelitian maupun
praktik penyelenggaraan Securities crowdfunding (SCF) Syariah karena merupakan
infant industry, sehingga penyusunan materi pelatihan tersebut perlu dilakukan
melalui beberapa tahap. Tahap persiapan dilakukan melaui Desk Study atau Literature
Study, Focus Group Discussion (FGD) bersama pihak penyelenggara, komunitas
investor dan pelaku UKM penerbit saham, serta pelaksanaan In-Depth Interview
Substansi bersama Para Ahli dari OJK, DSN MUI, Pendamping UMKM dan Pengajar
Pasar Modal Syariah. Hasil kajian persiapan dituangkan dalam proses produksi
menjadi modul dan video grafis. Selanjutnya hasil produksi di reviu oleh tim internal
dan oleh Para Ahli dari OJK, DSN MUI, Pendamping UMKM dan Pengajar Pasar Modal
Syariah serta dilakukan pelatihan uji coba dengan mengundang pelaku UMKM dan
komunitas investor. Dari beberapa tahapan tersebut, kami meyakini modul literasi ini
dapat memudahkan pelaku UMKM dan komunitas investor memahami penerbitan
Saham/Sukuk dan berinvestasi melalui SCF Syariah.
Proses di atas dapat berjalan dengan baik dengan dukungan berbagai pihak.
Manajemen Eksekutif KNEKS mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang
terlibat dan memberikan dukungan dan kontribusi yang luar biasa pada setiap tahap
penyusunan Modul Pelatihan dan Vidografis Securities crowdfunding (SCF) Syariah ini,
yaitu:
1. Otoritas Jasa Keuangan: Departemen Pengawasan Pasar Modal 2B, Ibu Ona
Retnesti Swaminingrum beserta jajaran dan Direktorat Pasar Modal Syariah yang
dipimpin oleh Ibu Fadilah Kartikasasi, Bapak Arief Machfoed beserta seluruh
jajaran;

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 9


2. Bapak Yulizar Sanrego sebagai Ahli Syariah Pasar Modal dan juga pengurus DSN
MUI;
3. Bapak Irwan Abdalloh beserta jajaran dari Divisi Pasar Modal Syariah, Bursa Efek
Indoensia;
4. Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI): Bpk. Reza Avesena selaku Ketua
Umum dan Bpk. Gatot Adhi Wibowo selaku Komite Syariah ALUDI beserta seluruh
jajaran;
5. Muamalat Institute, selaku penyusun yang diketuai oleh Bpk. Edian Fahmy dan
para tim ahli Bpk. Wang Wardhana dan Bpk. Ardiansyah beserta seluruh tim yang
terlibat;
6. Penyelenggara Layanan Urun Dana, khususnya para CEO Bizhare, Shafiq, Urun-
RI, Vestora, Xaham, E-Syirkah, dan Santara beserta jajaran;
7. Inkubator Bisnis, khususnya UKM Center FEB Universitas Indonesia dan IDX
Incubator,
8. Komunitas Investor, khususnya Komunitas Saham Syariah,
9. Para pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Besar harapan kami agar materi pelatihan ini dapat digunakan oleh berbagai
pihak, baik akademisi maupun praktisi sebagai materi literasi dan edukasi, sehingga
dapat menarik minat para UMKM calon penerbit dan juga para calon investor untuk
memanfaatkan Layanan Securities crowdfunding (SCF) Syariah sebagai alternatif
pendanaan maupun investasi.

Wassalamualaikum Warrahmatullaahi Wabarakaatuh

Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Sayriah

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS)

Putu Rahwidhiyasa

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 10


DAFTAR ISI

MODUL PELATIHAN SECURITIES CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH UNTUK


PENERBIT ................................................................................................................................ 3
DISCLAIMER ............................................................................................................................. 4
SAMBUTAN DIREKTUR EKSEKUTIF KOMITE NASIONAL EKONOMI DAN
KEUANGAN SYARIAH (KNEKS) ......................................................................................... 5
SAMBUTAN DIREKTUR BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN SYARIAH KNEKS ........ 8
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ 11
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... 16
MODUL 1 ................................................................................................................................ 17
PENGENALAN SECURITIES CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH ............................... 17
BAB I ........................................................................................................................................ 19
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 19
A. Tujuan Umum............................................................................................................................ 19
B. Tujuan Khusus .......................................................................................................................... 19
C. Sistematika Pembahasan...................................................................................................... 19
BAB II....................................................................................................................................... 21
PERANAN SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH BAGI EKONOMI DAN UMKM
................................................................................................................................................... 21
A. Pengertian Securities crowdfunding Syariah ................................................................ 21
B. Peranan Securities crowdfunding (SCF) dalam Penguatan Ekonomi ................. 23
C. Faktor Pemungkin (Enabler Factors) Securities crowdfunding (SCF) dan
Peranannya dalam Pemberdayaan UMKM ................................................................... 23
D. Potensi Securities crowdfunding (SCF) Syariah dalam Menjawab Tantangan
dan Kendala UMKM pada Pendanaan ............................................................................. 26
BAB III ..................................................................................................................................... 28
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH SEBAGAI ALTERNATIF PERMODALAN
UMKM ...................................................................................................................................... 28
A. Penyaluran Dana pada Lembaga Keuangan Syariah ................................................. 28
B. Kendala yang dihadapi oleh UMKM untuk mendapatkan pembiayaan dari LKS
......................................................................................................................................................... 32
C. Keunggulan Pendanaan melalui Securities crowdfunding (SCF) Syariah ......... 32
BAB IV ..................................................................................................................................... 36

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 11


GAMBARAN UMUM PENYELENGGARAAN SECURITIES CROWDFUNDING
SYARIAH ................................................................................................................................. 36
A. Pihak-Pihak Terkait dalam Securities Crowdfunding ................................................ 36
B. Peran Penyelenggara Securities Crowdfunding Syariah........................................... 37
C. Pengawasan dalam Penyelenggaraan Securities crowdfunding Syariah........... 38
D. Kedudukan Penyelenggara Securities crowdfunding (SCF) Syariah pada Pasar
Modal ............................................................................................................................................ 39
E. Perbedaan Antara Securities crowdfunding (SCF) dengan Bursa Efek
Indonesia dan Peer To Peer (P2) Lending/ Financing ............................................. 40
1. Perbedaan Antara Securities crowdfunding (SCF) Dengan Bursa Efek
Indonesia (BEI) ................................................................................................................ 40
2. Perbedaan Antara Securities crowdfunding Dengan Peer to Peer Lending/
Financing ............................................................................................................................ 40
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 42
Materi Presentasi Modul 1 .............................................................................................. 43
Buku Kerja Modul 1 ........................................................................................................... 65
Alat Uji Pelatihan Modul 1 ............................................................................................... 71
Buku Pelatihan Modul 1 ................................................................................................... 75
MODUL 2 ................................................................................................................................ 79
PERSIAPAN PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI SECURITIES
CROWDFUNDING SYARIAH ............................................................................................... 79
BAB I ........................................................................................................................................ 81
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 81
A. Tujuan Umum............................................................................................................................ 81
B. Tujuan Khusus .......................................................................................................................... 81
C. Sistematika Pembahasan...................................................................................................... 81
BAB II....................................................................................................................................... 83
PENGENALAN TENTANG SAHAM SYARIAH ................................................................ 83
A. Pengertian Saham dan Saham Syariah ........................................................................... 83
B. Prinsip-Prinsip Syariah Pada Saham ............................................................................... 83
1. Ketentuan-Ketentuan Syariah Terkait Penerbit Saham ................................... 84
2. Prinsip-Prinsip Syariah Tentang Akad Dalam Penerbitan Saham ............... 85
3. Prinsip-Prinsip Syariah Tentang Saham Syariah Serta Mekanisme
Penerbitannya .................................................................................................................. 89

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 12


BAB III ..................................................................................................................................... 90
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI SECURITIES CROWDFUNDING ........ 90
A. Tahapan Penerbitan Saham Melalui Securities crowdfunding .............................. 90
1. Tahap Proses Pengajuan................................................................................................ 90
2. Tahap Uji kelayakan & seleksi bisnis........................................................................ 92
3. Tahap penyusunan materi penawaran saham ..................................................... 95
4. Tahap penawaran saham .............................................................................................. 97
5. Tahap Penerbitan Saham .............................................................................................. 98
B. Konsekuensi Menjadi Perusahaan Tertutup dengan Kepemilikan Saham oleh
Investor Publik ......................................................................................................................... 99
C. Implikasi Penerbitan Saham Baru Bagi Kepemilikan Perusahaan Penerbit
Saham ........................................................................................................................................ 102
BAB IV .................................................................................................................................. 104
PASAR SEKUNDER DALAM SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH............... 104
A. Ketentuan Syariah Terkait Perdagangan Saham Pada Pasar Sekunder ........ 104
B. Ketentuan Perdagangan Saham Syariah di Pasar Sekunder Berdasarkan POJK
Nomor 57 Tahun 2020 ....................................................................................................... 107
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 109
Materi Presentasi Modul 2 ........................................................................................... 111
Buku Kerja Modul 2 ........................................................................................................ 139
Alat Uji Modul 2 ................................................................................................................ 146
Buku Penilaian Modul 2 ................................................................................................ 149
MODUL 3 ............................................................................................................................. 153
PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI SECURITIES CROWDFUNDING
SYARIAH .............................................................................................................................. 153
BAB I ..................................................................................................................................... 155
PENDAHULUAN ................................................................................................................. 155
A. Tujuan Umum......................................................................................................................... 155
B. Tujuan Khusus ....................................................................................................................... 155
C. Sistematika Pembahasan................................................................................................... 155
BAB II.................................................................................................................................... 156
PENGENALAN TENTANG SUKUK ................................................................................. 156
A. Pengertian Sukuk.................................................................................................................. 156

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 13


B. Perbedaan Sukuk pada SCF Syariah dengan Sukuk yang diterbitkan Melalui
Penawaran Umum ................................................................................................................ 156
C. Perbedaan Sukuk dengan Obligasi ................................................................................ 157
D. Kriteria Syariah Penerbit Sukuk..................................................................................... 158
E. Jenis-Jenis Sukuk Berdasarkan Akad Dalam Securities crowdfunding (SCF)
Syariah ...................................................................................................................................... 159
1. Sukuk Musyarakah ........................................................................................................ 159
2. Sukuk Mudharabah ....................................................................................................... 161
3. Sukuk Musyarakah Mutanaqishah (MMQ), MMQ Refinancing &
Musyarakah Muntahiyah Bittamlik (MMB) ...................................................... 162
BAB III .................................................................................................................................. 168
PENERBITAN SUKUK MELALUI SECURITIES
CROWDFUNDING SYARIAH ............................................................................................ 168
A. Tahapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities crowdfunding Syariah ............ 168
1. Pihak-pihak yang terlibat dalam Penerbitan Sukuk ....................................... 168
2. Tahap Proses Pengajuan............................................................................................. 169
3. Tahap Uji kelayakan & seleksi bisnis..................................................................... 171
4. Tahap Penyusunan materi penawaran sukuk ................................................... 173
5. Tahap Penawaran sukuk ............................................................................................ 175
B. Fungsi Penyelenggara SCF Syariah Dalam Perdagangan Sukuk ....................... 176
C. Skema Syariah dalam Penyelesaian Sukuk Bermasalah....................................... 177
1. Sukuk Mudharabah ....................................................................................................... 177
2. Sukuk Musyarakah ........................................................................................................ 178
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 180
Materi Presentasi Modul 3 ........................................................................................... 181
Buku Kerja Modul 3 ........................................................................................................ 207
Alat Uji Modul 3 ................................................................................................................ 213
Buku Pnilaian Modul 3................................................................................................... 217
MODUL 4 ............................................................................................................................. 221
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/IMBAL HASIL PENERBITAN
SAHAM/SUKUK ................................................................................................................. 221
BAB I ..................................................................................................................................... 223
PENDAHULUAN ................................................................................................................. 223
A. Tujuan Umum......................................................................................................................... 223

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 14


B. Tujuan Khusus ....................................................................................................................... 223
C. Sistematika Pembahasan................................................................................................... 223
BAB II.................................................................................................................................... 224
PRINSIP-PRINSIP SYARIAH DALAM PEMBAGIAN DIVIDEN/ IMBAL HASIL
INVESTASI SAHAM DAN SUKUK .................................................................................. 224
A. Kedudukan Pemegang Saham dan Sukuk dalam Akad................................. 224
B. Prinsip-Prinsip Syariah Tentang Pembagian Imbal Hasil .................................... 227
1. Ketentuan Syariah Tentang Penetapan Proporsi Bagi Hasil ....................... 227
2. Ketentuan Syariah Tentang Penetapan Periode Bagi Hasil ......................... 228
3. Ketentuan Syariah Tentang Mekanisme Pembagian Keuntungan ............ 228
4. Ketentuan Syariah Tentang Penjaminan Dan Pengembalian Modal
Musyarakah .................................................................................................................... 229
BAB III .................................................................................................................................. 232
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/ IMBAL HASIL DARI
INVESTASI SAHAM/ SUKUK .......................................................................................... 232
A. Pelaporan Usaha Penerbit Dan Pembagian Dividen Dari Investasi Saham
Melalui Securities crowdfunding ..................................................................................... 232
1. Pelaporan Usaha Penerbit.......................................................................................... 232
2. Pembagian Dividen ....................................................................................................... 233
B. Pelaporan Usaha Penerbit Dan Pembagian Imbal Hasil Dari Investasi Sukuk
Melalui Securities crowdfunding ..................................................................................... 236
1. Pelaporan Usaha Penerbit.......................................................................................... 236
2. Pembagian Profit Sukuk ............................................................................................. 237
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 240
Materi Presentasi Modul 4 ........................................................................................... 241
Buku Kerja Modul 4 ........................................................................................................ 261
Alat Uji Modul 4 ................................................................................................................ 267
Buku Penilaian Modul 4 ................................................................................................ 271

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 15


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pihak-Pihak dalam Securities Crowdfunding .......................................................... 36


Gambar 2. Penyelenggara SCF Sebagai Penyedia Layanan Urun Dana ............................. 38
Gambar 3. Syarat Operasional Penyelenggara SCF ................................................................... 39
Gambar 4. Penyelenggara Pasar di Pasar Modal ........................................................................ 39
Gambar 5. Parameter Saham Syariah ............................................................................................. 84
Gambar 6. Aplikasi Syirkah ‘Inan dalam Akad Kemitraan Kontemporer......................... 86
Gambar 7. Skema Akad Syirkah Musahamah Melalui SCF ..................................................... 87
Gambar 8. Tahapan Penerbitan Saham .......................................................................................... 90
Gambar 9. Skema Sukuk Musyarakah .......................................................................................... 160
Gambar 10. Skema Sukuk Mudharabah ...................................................................................... 161
Gambar 11. Skema Sukuk Musyarakah Mutanaqishah ......................................................... 163
Gambar 12. Tahapan Penerbitan Sukuk ..................................................................................... 169
Gambar 13. Hak Pemegang Saham Terhadap Keuntungan Perusahaan ....................... 225
Gambar 14. Analisa Hubungan Horizontal & Vertikal Pemegang & Penerbit Sukuk 226
Gambar 15. Kriteria Wanprestasi .................................................................................................. 229
Gambar 16. Skema Sukuk Murabahah Dengan Penerbit .............. Error! Bookmark not
defined.

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 16


MODUL 1

PENGENALAN SECURITIES CROWDFUNDING


(SCF) SYARIAH

Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 17


Modul Securities Crowdfunding (SCF) Syariah untuk Penerbit/UMKM | 18
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Umum
Setelah mempelajari Modul 1 ini, peserta latih diharapkan mampu memahami
tentang:

1. Peranan securities crowdfunding syariah bagi Ekonomi dan UMKM.

2. Securities crowdfunding syariah sebagai alternatif pendanaan bagi UMKM.

3. Gambaran umum penyelenggaraan securities crowdfunding syariah.

B. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari mempelajari Modul 1 ini adalah guna memberikan
pemahaman kepada peserta pelatihan, sehingga pada akhir pelatihan diharapkan
mampu memahami dan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Peranan securities crowdfunding syariah dalam penguatan ekonomi dan


pemberdayaan UMKM.
2. Securities crowdfunding syariah sebagai alternatif pendanaan bagi pelaku
UMKM dan keunggulan pendanaan UMKM melalui securities crowdfunding
syariah.
3. Pihak-pihak yang terkait dalam securities crowdfunding syariah yaitu penerbit,
investor, penyelenggara securities crowdfunding syariah dan pengawas dalam
penyelenggaraan aktivitas securities crowdfunding syariah.
4. Perbedaan antara securities crowdfunding (SCF) dengan Bursa Efek Indonesia,
dan peer to peer lending/financing.

C. Sistematika Pembahasan

Pembahasan Modul 1 mengenai pengenalan securities crowdfunding (SCF), terbagi


dalam beberapa pokok pembahasan. Bab 1, berisi tujuan umum dan khusus dari
Modul 1, serta sistematika pembahasan materi-materi yang ada di dalamnya.

Pada Bab 2, membahas tentang peranan SCF bagi ekonomi dan UMKM. Peranan
dari SCF dalam bidang ekonomi dan UMKM dapat dilihat dari karakter dasar dari

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 19


kelembagaan SCF dan adanya faktor pemungkin (enabler factors) dari SCF dalam
pemberdayaan ekonomi dan UMKM serta potensi securities crowdfunding syariah
dalam menjawab tantangan pendanaan pada UMKM.

Pada Bab 3, masuk ke dalam pembahasan inti yaitu tentang layanan securities
crowdfunding syariah sebagai salah satu alternatif pendanaan bagi UMKM. Pada
bab ini pula, dibahas keunggulan pendanaan melalui securities crowdfunding bagi
para pelaku usaha, khususnya pelaku usaha dalam segmen usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM).

Bab 4, membahas tentang gambaran umum penyelenggaraan securities


crowdfunding syariah, yang meliputi pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan
SCF, peran penyelenggara SCF, pengawasan dalam penyelenggaraan SCF dan
kedudukan SCF sebagai penyelenggara transaksi efek di pasar modal.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 20


BAB II
PERANAN SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH BAGI
EKONOMI DAN UMKM

Kemajuan teknologi dalam bidang keuangan memberikan dampak positif bagi


perekonomian. Salah satunya adalah dengan adanya alternatif baru bagi para
pengusaha untuk mendapatkan akses permodalan dan para pemilik modal untuk
berinvestasi. Alternatif sarana pendanaan dan investasi ini dapat diperoleh melalui
layanan securities crowdfunding (SCF) syariah atau layanan penerbitan efek (surat
berharga) syariah melalui mekanisme urun dana yang sesuai dengan prinsip syariah.

A. Pengertian Securities crowdfunding Syariah

Kata securities atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sekuritas merupakan
surat berharga sebagai bukti utang atau bukti penyertaan modal seperti saham
dan obligasi. Kata sekuritas merupakan istilah lain dari efek. Sekuritas atau efek
ini dapat berbentuk sertifikat atau pencatatan yang bersifat elektronik. Adapun
crowdfunding, dalam bahasa Indonesia berarti layanan urun dana, yaitu layanan
penawaran penyertaan dana secara langsung kepada publik melalui jaringan
sistem elektronik yang bersifat terbuka. Tujuan dari urun dana ini dapat bersifat
sosial maupun bersifat komersial dalam rangka investasi.

Dengan demikian securities crowdfunding (SCF) merupakan penawaran efek atau


surat berharga oleh penerbit sebagai pihak yang memerlukan pendanaan melalui
layanan urun dana berbasis teknologi informasi yang diselenggarakan oleh
penyelenggara urun dana secara langsung kepada pemodal melalui jaringan
sistem elektronik yang bersifat terbuka. Secara sederhana, dalam konteks
transaksi komersial, SCF adalah metode pengumpulan dana dengan skema
kemitraan yang dilakukan oleh pemilik usaha untuk memulai atau
mengembangan bisnisnya melalui aplikasi atau platform tertentu secara online
yang dijalankan oleh penyelenggara SCF. Kegiatan SCF ini pada dasarnya
merupakan kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 21


Di Indonesia, keberadaan SCF telah memiliki payung hukum yang tersendiri.
Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 57/POJK.04/2020 Tentang
Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi
(Securities crowdfunding) dan POJK No. 16/POJK.04/2021 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 57/POJK.04/2020. Kedua POJK
tersebut merupakan pengembangan dari POJK sebelumnya guna memberikan
alternatif pendanaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) atau pelaku
usaha pemula untuk mendapatkan pendanaan melalui pasar modal sehingga OJK
memperluas cakupan penawaran efek dalam layanan urun dana. Layanan urun
dana ini diperluas dari equity crowdfunding (ECF) yang hanya terbatas pada
saham, menjadi securities crowdfunding (SCF) yang mencakup surat berharga
lainnya. Dalam POJK No. 57, disebutkan bahwa SCF masuk dalam kegiatan pasar
modal dan pihak penyelenggara wajib memperoleh izin dari OJK sebelum
beroperasional.

Disamping terdapat SCF yang bersifat konvensional, berdasarkan POJK No. 57,
kegiatan SCF boleh dijalankan sesuai dengan prinsip syariah (SCF Syariah). Efek
atau surat berharga yang diterbitkan melalui SCF syariah, harus merupakan efek
yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah sebagaimana yang telah ditetapkan
dalam fatwa Dewan Syariah Nasional terkait dengan efek. Oleh sebab itu, securities
crowdfunding syariah dapat didefinisikan sebagai penawaran efek oleh penerbit
melalui layanan urun dana berbasis teknologi informasi secara langsung kepada
pemodal melalui jaringan sistem elektronik yang bersifat terbuka, berdasarkan
prinsip-prinsip syariah.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 22


B. Peranan Securities crowdfunding (SCF) dalam Penguatan Ekonomi

Ketika menjalankan usaha, seorang pengusaha seringkali memerlukan tambahan


modal untuk pengembangan bisnisnya. Adanya kebutuhan ini, dapat dipenuhi
melalui berbagai macam cara. Diantara cara tersebut adalah dengan mencari
tambahan modal melalui lembaga keuangan. Lembaga keuangan menjadi rujukan
bagi para pengusaha dalam memenuhi kebutuhan permodalannya sebab lembaga
keuangan memang mempunyai fungsi pendanaan, sehingga diharapkan akan
menjadi mudah bagi para pengusaha tersebut daripada harus mencari akses
permodalan melalui individu per individu. Namun di sisi lain, bagi segmen mikro,
kecil dan menengah (UMKM), tidak mudah pula untuk mendapatkan akses
permodalan melalui lembaga keuangan khususnya perbankan karena memiliki
keterbatasan pada ketidaktersediaan aset sebagai agunan.

Kehadiran SCF dirancang untuk mendukung permodalan pada sektor UMKM.


Diharapkan dengan tumbuhnya UMKM di Indonesia, tentunya akan mendukung
pula penguatan pondasi perekonomian nasional Indonesia.

Terdapat beberapa peranan UMKM yang telah terbukti dalam penguatan pilar
ekonomi dan industri halal di Indonesia (Kemenkeu, 2021), diantaranya:

1. UMKM memiliki kontribusi terhadap PDB lebih dari 50%.


2. Mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.
3. Penguatan industri halal, mengingat sebagian besar UMKM berada di sektor
industri halal.

C. Faktor Pemungkin (Enabler Factors) Securities crowdfunding (SCF) dan


Peranannya dalam Pemberdayaan UMKM

Kemampuan pemberdayaan UMKM melalui SCF dapat dilihat dari Matriks Faktor
Pemungkin (Enabler Factors) pada SCF dalam mendukung pengembangan UMKM.
Matriks Faktor Pemungkin ini sekaligus membandingkan kelebihan dari SCF dari
lembaga perbankan yang merupakan lembaga utama dalam pemberian
pembiayaan kepada sektor usaha.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 23


Tabel 1. Matriks Faktor Pemungkin (Enabler Factors) SCF Syariah
dalam Pemberdayaan UMKM

No. Enabler Factors SCF Syariah Bank


Standar kelengkapan Umumnya menuntut
Persyaratan
1. dokumen yang sesuai dengan kelengkapan dokumen yang
dokumentatif
karakter usaha UMKM lebih banyak

Ditetapkan oleh Ditetapkan oleh Bank


Persetujuan pemberian penyelenggara SCF dengan
2.
pembiayaan adanya pertimbangan dari
para investor secara langsung

Bersifat langsung antara Bersifat tidak langsung.


investor dengan perusahaan Pembiayaan dilakukan oleh
3. Skema pendanaan yang memerlukan modal Bank kepada perusahaan
yang memerlukan
pembiayaan

Dapat bersifat permanen, Bersifat pembiayaan


Jangka waktu
4. yaitu pada saham dan tidak temporer
pendanaan
bersifat hutang

Kemudahan untuk Proses pembiayaan


mendapatkan investor melalui umumnya dilakukan secara
5. Media pemrosesan
platform digital penyelenggara tatap muka dengan
SCF mendatangi pihak Bank

Faktor pemungkin pertama, SCF telah dirancang untuk memberikan dukungan


permodalan atau pembiayaan melalui penerbitan sekuritas kepada UMKM.
Dengan demikian, kelengkapan dokumen yang harus disediakan oleh UMKM
tentunya telah disesuaikan dengan karakter dari UMKM itu sendiri. Hal ini
berbeda, misalnya, dengan lembaga keuangan perbankan yang umumnya
memiliki standar pemenuhan dokumen tersendiri sehingga tidak semua UMKM
dapat masuk ke dalam layanan pembiayaan perbankan.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 24


Faktor pemungkin kedua, SCF mempunyai potensi untuk lebih dapat
memberikan akses permodalan dan pembiayaan kepada UMKM melalui
penerbitan efek karena dalam proses pemberian pendanaan, mendasarkan pada
pertimbangan dari para investornya yang memiliki pandangan terhadap risiko
investasi yang berbeda-beda atas suatu usaha. Dengan demikian, peluang bagi
suatu perusahaan UMKM dapat diberikan dukungan finansial akan menjadi lebih
terbuka.

Faktor pemungkin ketiga, skema yang digunakan oleh SCF, bersifat langsung
dari investor kepada perusahaan UMKM sebagai penerbit sukuk atau saham.
Dengan bersifat langsung, tentunya informasi terkait risiko investasi yang akan
menjadi pertimbangan investor akan lebih terbuka sehingga investor sebagai
pemilik langsung dari dana diharapkan akan lebih mudah untuk mengambil
keputusan. Hal ini berbeda dengan Bank yang bukan merupakan pemilik langsung
dari dana yang akan dikucurkan dalam pembiayaan.

Faktor pemungkin keempat, terkait jangka waktu pendanaan. Dalam SCF,


terdapat instrumen berupa saham yang bersifat permanen. Dalam hal ini, tidak
terdapat perjanjian penarikan modal oleh investor ketika seorang investor
menanamkan sahamnya pada suatu usaha melalui SCF. Apabila investor tersebut
akan keluar dari sahamnya, maka ia dapat menjual saham yang dimiliki kepada
pihak lainnya. Dengan model saham yang bersifat permanen, akan memberikan
keringanan bagi perusahaan UMKM penerbit saham karena perusahaan tersebut
tidak perlu menyisihkan dana usahanya untuk pengembalian modal.

Faktor pemungkin kelima, penggunaan platform digital oleh penyelenggara SCF.


Dengan menggunakan media berupa platform digital, akan lebih memudahkan
bagi perusahaan UMKM penerbit, untuk mendapatkan investor yang bersedia
memberikan akses permodalan kepada perusahaan tersebut. Hal itu disebabkan,
jangkauan platform digital yang bersifat luas dan dapat diakses oleh para calon
investor dari manapun.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 25


D. Potensi Securities crowdfunding (SCF) Syariah dalam Menjawab Tantangan
dan Kendala UMKM pada Pendanaan

Dengan mempunyai faktor pemungkin (enabler factors) sebagaimana penjelasan


di atas, maka SCF syariah diharapkan akan memiliki peranan sebagai katalisator
bagi pengembangan UMKM karena SCF syariah bukan hanya mampu memberikan
alternatif akses kepada UMKM dalam mencari permodalan, namun juga dapat
membukakan pintu akses permodalan yang selama ini belum dapat dimasuki oleh
lembaga-lembaga keuangan lainnya berdasarkan prinsip syariah. Hal ini
menunjukkan adanya potensi pada SCF syariah dalam menjawab tantangan dan
kendala UMKM pada pendanaan.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia sering kali menemui
kendala dalam mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan usahanya.
Beberapa kendala yang biasanya ditemui oleh pelaku UMKM dalam mendapatkan
pendanaan, dapat dilihat dari dua sisi baik dari pihak UMKM maupun dari pihak
pemodal.

Pertama, kendala yang berasal dari pihak UMKM sebagai pihak yang
membutuhkan pendanaan yaitu:

1) Terbatasnya informasi mengenai sumber pendanaan usaha yang tepat baik


sumber pendanaan informal (informal finance) maupun pendanaan formal
(formal finance) melalui lembaga keuangan maupun sumber pendanaan dari
pemerintah pusat dan daerah;

2) Terbatasnya kemampuan dalam mengelola perusahaan karena sebagian besar


UMKM, terutama usaha dengan skala mikro dimiliki oleh perseorangan atau
keluarga;

3) Terbatasnya kemampuan produksi, distribusi dan pemasaran karena hanya


mengandalkan sumber daya yang dimiliki oleh UMKM tersebut;

4) Terbatasnya kemampuan dalam mengadministrasikan usaha, misalkan


melakukan pencatatan transaksi, melakukan pelaporan, melakukan
pengurusan perizinan usaha dsb;

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 26


5) Terbatasnya akses UMKM terhadap lembaga keuangan formal karena faktor
lokasi usaha dimana tidak dapat dijangkau oleh jaringan kantor lembaga
keuangan di tempat tersebut.

6) Terbatasnya aset yang dimiliki oleh UMKM sementara sebagian besar


pendanaan kepada UMKM mewajibkan adanya jaminan.

Kedua dari pihak pemodal, dimana dalam menginvestasikan dananya memiliki


ekspektasi yang menjadi tantangan untuk dapat dipenuhi oleh UMKM
diantaranya:

1) Pemodal mengharapkan risiko pendanaan pada UMKM dapat dimitigasi


dengan baik, sehingga dana yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan
optimal dan dikelola dengan baik oleh UMKM

2) Sebelum melakukan pendanaan, pemodal berharap mendapatkan informasi


yang memadai baik seperti pencatatan transaksi keuangan, laporan usaha dan
laporan keuangan sehingga pemodal dapat memahami karakteristik dan
critical issue bidang atau jenis usaha dari UMKM yang dapat mempengaruhi
keberlangsungan usaha dan profitabilitas dari usaha tersebut.

3) Pemodal berharap dapat melakukan pengawasan/monitoring terhadap dana


yang telah diberikan kepada UMKM, sehingga pemodal mengetahui apakah
dana tersebut telah digunakan sesuai dengan tujuan yaitu untuk
mengembangkan usaha, apakah dana tersebut dikelola dengan baik, sehingga
pemodal memiliki gambaran mengenai return dan repayment atas dana yang
diberikan tersebut.

Berbagai kendala di atas, baik dari sisi UMKM maupun dari sisi pemodal seringkali
menjadi penghambat UMKM dalam mendapatkan pendanaan, terutama
pendanaan formal dari lembaga keuangan syariah seperti Lembaga Keuangan
Mikro Syariah (Koperasi/BMT, PNM), Perbankan Syariah, Modal Ventura Syariah
dan Pasar Modal Syariah.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 27


BAB III
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH SEBAGAI ALTERNATIF
PERMODALAN UMKM

A. Penyaluran Dana pada Lembaga Keuangan Syariah

Lembaga Keuangan Syariah (LKS) umumnya menjalankan fungsi sebagai


perantara (intermediaries), menghubungkan pemodal selaku pihak yang memiliki
dana (surplus unit) untuk disalurkan kepada UMKM yang membutuhkan
pendanaan (deficit unit). Sehingga dalam konteks lembaga keuangan, pemodal
tidak melakukan investasi langsung kepada UMKM yang membutuhkan
pendanaan. Penyaluran pendanaan kepada UMKM dilakukan berdasarkan
preferensi risiko dari lembaga keuangan syariah itu sendiri. Dalam
menyalurkan pendanaan tersebut lembaga keuangan syariah akan mengambil
keuntungan (margin/bagi hasil/ujrah) sesuai dengan kebijakan pendanaannya
masing-masing, dan karenanya lembaga keuangan syariah juga menyerap risiko
(terutama risiko pembiayaan) dari pendanaan yang dilakukan. Oleh karena itu,
lembaga keuangan syariah cenderung sangat berhati-hati dalam melakukan
pendanaan.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 28


Setiap LKS memiliki karakteristik yang berbeda, demikian juga dengan produk-
produk pendanaannya. Beberapa alternatif produk pendanaan pada lembaga
keuangan syariah diantaranya sebagai berikut:

Tabel 2. Produk Pendanaan Lembaga Keuangan

No Lembaga Keuangan Produk Pendanaan

1. Bank Pinjaman, pembiayaan

2. Leasing Pembiayaan sewa guna usaha

3. Koperasi Pinjaman, Pembiayaan

4 Pegadaian Gadai

5. Ventura Penyertaan Modal

Saham, Sukuk, Obligasi, Reksadana dan


6. Pasar Modal
Surat Berharga (Sekuritas) lainnya

Sebagian besar pendanaan dari LKS diberikan dalam bentuk


pinjaman/pembiayaan/hutang. Hanya Modal Ventura dan Pasar Modal saja yang
menyediakan alternatif pendanaan dalam bentuk penambahan Modal (Ekuitas).

Beberapa kendala yang dihadapi oleh UMKM untuk mendapatkan


pinjaman/pembiayaan dari LKS diantaranya:

1. Sebagian besar LKS mewajibkan adanya Jaminan berupa aset yang dimiliki
oleh UMKM atas pendanaan/pembiayaan yang diberikan. Aset tersebut dapat
berupa properti (baik hunian maupun komersial), kendaraan, persediaan dsb.
Nilai aset yang diakui oleh LKS umumnya lebih rendah dari harga pasar wajar,
sehingga nilai pendanaan/pembiayaan yang didapatkan oleh UMKM tidak
sebanding dengan aset yang diserahkan kepada LKS.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 29


2. Dokumen Persyaratan yang harus dilengkapi oleh UMKM cukup banyak,
Sedangkan UMKM memiliki keterbatasan dalam mengadministrasikan
dokumen-dokumen terkait usahanya. Terkadang, LKS juga kurang fleksibel
dalam menentukan jenis dokumen persyaratan bagi UMKM dan masih
mengacu pada standar dokumen bagi Usaha Besar.
3. Proses pengajuan pendanaan/pembiayaan tidak dapat dimonitor secara
langsung oleh UMKM dan keputusan persetujuan/penolakan merupakan hak
prerogatif dari LKS sehingga UMKM tidak dapat memastikan berapa lama
pengajuan pendanaan/pembiayaan disetujui oleh LKS dan kapan UMKM dapat
menggunakan dana tersebut.
4. Sebagian besar jangka waktu pendanaan/pembiayaan yang diberikan oleh
LKS terutama untuk modal kerja bersifat jangka pendek (antara 1-3 tahun),
Sehingga jumlah angsuran yang harus dibayarkan oleh UMKM setiap bulannya
cukup besar dan cukup membebani cash flow usaha.

Selain dalam bentuk pinjaman, alternatif pendanaan lainnya adalah dalam bentuk
permodalan (equity). Namun, jumlah Modal Ventura Syariah sangat sedikit sekali
dan sulit untuk diakses oleh UMKM. Sedangkan Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku
penyelenggara Pasar Modal di Indonesia lebih banyak diperuntukkan bagi pelaku
usaha berbentuk korporasi dan usaha besar.

Perdagangan efek pada Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia (BEI), ditujukan bagi
usaha menengah dan besar. Penerbit atau emiten dalam Pasar Modal
dikelompokan dalam tiga papan perdagangan (trading board) berdasarkan
berbagai kriteria, termasuk salah satunya adalah skala usaha, yaitu Papan Utama,
Papan Pengembangan dan Papan Akselerasi.

1) Papan Utama ditujukan untuk Calon Emiten atau Emiten yang mempunyai
ukuran besar dan mempunyai track record.

2) Papan Pengembangan dimaksudkan untuk perusahaan-perusahaan yang


belum dapat memenuhi persyaratan untuk masuk pada Papan Utama.
Termasuk juga perusahaan yang memiliki prospek berkembang namun belum
menghasilkan keuntungan. Papan pengembangan juga ditujukan untuk
perusahaan yang sedang dalam penyehatan.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 30


3) Papan Akselerasi ditujukan bagi emiten skala kecil dan perusahaan rintisan
atau startup supaya bisa mendapat pendanaan dari pasar modal.

Papan Akselerasi pada BEI memang dapat dimanfaatkan oleh emiten skala kecil,
namun demikian untuk melakukan Penawaran Perdana (Initial Public Offering –
IPO) di BEI bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan bagi UMKM karena
harus melewati tahapan yang lumayan kompleks dengan persyaratan yang ketat
dan dengan biaya yang tidak sedikit. Sehingga BEI tidak cocok bagi pelaku UMKM.

Kemudian bagaimana UMKM mendapatkan pendanaan usaha? terutama dalam


bentuk permodalan (equity), bukan pinjaman/pembiayaan sementara dimana
UMKM memiliki banyak keterbatasan.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 31


B. Kendala yang dihadapi oleh UMKM untuk mendapatkan
pembiayaan dari LKS

Beberapa kendala yang dihadapi oleh UMKM untuk mendapatkan


pinjaman/pembiayaan dari LKS diantaranya:

1. Sebagian besar LKS mewajibkan adanya jaminan berupa aset yang dimiliki
oleh UMKM atas pendanaan/pembiayaan yang diberikan. Aset tersebut dapat
berupa properti (baik hunian maupun komersial), kendaraan, persediaan dan
sebagainya. Nilai aset yang diakui oleh LKS umumnya lebih rendah dari harga
pasar wajar, sehingga nilai pendanaan/pembiayaan yang didapatkan oleh
UMKM tidak sebanding dengan aset yang diserahkan kepada LKS.

2. Dokumen Persyaratan yang harus dilengkapi oleh UMKM cukup banyak,


Sedangkan UMKM memiliki keterbatasan dalam mengadministrasikan
dokumen-dokumen terkait usahanya. Terkadang, LKS juga kurang fleksibel
dalam menentukan jenis dokumen persyaratan bagi UMKM dan masih
mengacu pada standar dokumen bagi Usaha Besar.

3. Proses pengajuan pendanaan/pembiayaan tidak dapat dimonitor secara


langsung oleh UMKM dan keputusan persetujuan/penolakan merupakan hak
prerogative dari LKS sehingga UMKM tidak dapat memastikan berapa lama
pengajuan pendanaan/pembiayaan disetujui oleh LKS dan kapan UMKM dapat
menggunakan dana tersebut.

4. Sebagian besar jangka waktu pendanaan/pembiayaan yang diberikan oleh


LKS terutama untuk modal kerja bersifat jangka pendek (antara 1-3 tahun),
Sehingga jumlah angsuran yang harus dibayarkan oleh UMKM setiap bulannya
cukup besar dan cukup membebani cash flow usaha.

C. Keunggulan Pendanaan melalui Securities crowdfunding (SCF) Syariah

Pendanaan melalui Securities crowdfunding (SCF) Syariah memiliki karakteristik


khusus (keunikan) yang membuat SCF Syariah lebih unggul dibandingkan dengan
alternatif pendanaan lainnya, diantaranya:

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 32


1. Pendanaan pada SCF berupa saham akan menambah Modal, tidak
diperlakukan sebagai hutang dan tidak memiliki jangka waktu seperti
halnya dalam pembiayaan.
Dengan menggunakan instrumen saham, perusahaan yang mendapatkan
pendanaan, tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan pengembalian
modal dalam jangka waktu tertentu sebagaimana halnya dalam pembiayaan
pada lembaga keuangan syariah lainnya yang mempunyai jangka waktu. Pola
kemitraan dalam bentuk penanaman saham seperti penjelasan di atas akan
lebih meringankan bagi para pelaku usaha yang masuk dalam kategori usaha
kecil menengah (UKM) dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dengan
demikian, hal ini dapat menjadi solusi atas permasalahan cash flow yang
terjadi karena beban angsuran yang harus dibayarkan oleh UMKM kepada LKS
karena jangka waktu pendanaan pada LKS seringkali bersifat jangka pendek.
Namun, UMKM selaku penerbit saham memiliki kewajiban untuk memberikan
dividen sesuai dengan porsi kepemilikan saham investor, selama investor
tersebut menjadi pemegang saham perusahaan penerbit.

2. Prosedur penerbitan sukuk atau saham yang lebih mudah dan


sederhana

SCF Syariah diperuntukan bagi UMKM sehingga persyaratan, alur proses


penerbitan dan biaya lebih sesuai untuk UKM dibandingkan dengan IPO di
Bursa (Pasar Modal). Misalnya, dalam pembuatan prospektus atau proposal
penawaran kepada calon investor. Dalam BEI, terdapat standar-standar
tertentu yang bersifat terperinci terkait informasi-informasi tentang usaha
calon penerbit yang harus dilaporkan dalam format-format khusus. Termasuk
dalam hal ini kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh bursa terkait
perusahaan penerbit, akan lebih ketat. Dengan demikian, mengambil
permodalan melalui SCF syariah akan lebih memudahkan bagi UMKM.

3. Perusahaan penerbit dapat mengambil permodalan secara langsung


dari para investor

Keputusan final atas pemberian pendanaan bagi UMKM Penerbit dilakukan


secara langsung oleh Pemodal/Investor berdasarkan atas informasi berupa

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 33


prospektus usaha dan profil yang disampaikan secara terbuka melalui website
atau aplikasi Penyelenggara SCF. Namun sebelumnya Penyelenggara SCF akan
melakukan screening terhadap aspek syariah dan aspek usaha dari UMKM
Calon Penerbit. Apabila memenuhi standar kelayakan dari Penyelenggara SCF,
maka UMKM diberikan izin untuk dapat menerbitkan efek dan
menawarkannya melalui platform penyelenggara SCF.

Adanya pertimbangan yang beragam dari para calon investor atas usaha
penerbit, tentunya akan memberikan peluang yang lebih besar bagi para
penerbit tersebut untuk mendapatkan akses permodalan dari pemodal.
Sementara dalam Lembaga Keuangan Syariah seperti perbankan atau yang
sejenisnya, pertimbangan kelayakan usaha didasarkan pada hasil analisa dari
bank atau lembaga keuangan itu sendiri. Melalui SCF Syariah, kemungkinan
perusahaan yang tidak dapat didanai oleh LKS, akan mendapatkan modal dari
para investor atas dasar pertimbangan-pertimbangan tertentu dari investor.

4. Investor yang diwakili oleh Penyelenggara merupakan mitra usaha.

Posisi UMKM dalam skema pendanaan berbasis pinjaman/pembiayaan adalah


sebagai debitur/peminjam, sedangkan posisi kreditur/pemberi pinjaman
lebih tinggi dan memiliki kewenangan untuk menentukan persyaratan
(covenant) atas pembiayaan yang diberikan kepada UMKM yang mana
terkadang sulit untuk dipenuhi atau kurang sesuai dengan karakteristik bisnis
UMKM tersebut. Pada umumnya, concern dari kreditur/pemberi pinjaman
hanya ada dua yaitu repayment apakah UMKM tersebut dapat
mengembalikan dana yang dipinjam dan apakah dana UMKM dapat
memberikan return yang sesuai.

Berbeda halnya dalam Securities crowdfunding Syariah, investor dan


penyelenggara merupakan mitra bisnis dari UMKM dan memiliki hubungan
yang setara/sejajar, sehingga dalam hubungan kemitraan tersebut masing-
masing pihak memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing untuk
dapat mencapai tujuan bersama yaitu mengembangkan usaha yang dimiliki
bersama sehingga dapat terus tumbuh (going concern) dan memberikan
keuntungan yang maksimal bagi pemegang saham (shareholder) yang juga
merupakan investor dalam SCF Syariah.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 34


5. Adanya pendampingan sebelum penerbitan dan monitoring setelah
penerbitan oleh penyelenggara atau pihak yang ditunjuk oleh
penyelenggara

UMKM seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan dan keterbatasan


sumber daya dalam mengelola usahanya baik dari sisi manajemen, produksi,
distribusi, pemasaran, bahkan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu,
dalam mengembangkan usahanya, UMKM perlu mendapatkan pendampingan
dan bimbingan agar dapat dikelola dengan baik. Terutama
pengadministrasian dokumen dan transaksi keuangan serta penyusunan
Laporan Keuangan. Dalam SCF Syariah, sebelum UMKM dapat menerbitkan
efek syariah pada platform penyelenggara, maka UMKM mendapatkan
pendampingan untuk menyusun materi penawaran dan prospektus usaha
agar dipahami dengan baik oleh calon investor. Selain itu, penyelenggara SCF
juga melakukan monitoring terhadap usaha atau proyek UMKM sehingga
apabila terdapat kendala selama menjalankan usaha, pihak penyelenggara
dapat memberikan solusi, saran dan masukan yang dibutuhkan untuk
membantu UMKM dalam mengembangkan usahanya.

6. Bersifat terbuka bagi UMKM

Penggunaan teknologi digital dalam aktivitas penyelenggaraan SCF Syariah


sangat membantu UMKM untuk dapat mengakses permodalan dari manapun,
tidak terbatas pada lokasi usaha UMKM tersebut berada. Tentunya dengan
syarat usaha atau proyek yang dimiliki oleh UMKM tersebut dapat dilakukan
verifikasi oleh tim Penyelenggara SCF. Hal ini menjadi solusi atas keterbatasan
akses permodalan UMKM karena faktor lokasi dan ketersediaan lembaga
keuangan di lokasi UMKM, terutama di daerah-daerah.

Selain itu, SCF Syariah terbuka bagi berbagai UMKM dari berbagai sektor
usaha. Namun demikian, UMKM calon penerbit harus berbentuk Perseroan
Terbatas (PT) untuk dapat menerbitkan saham atau dapat juga berupa badan
hukum lainnya jika menerbitkan sukuk.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 35


BAB IV
GAMBARAN UMUM PENYELENGGARAAN SECURITIES
CROWDFUNDING SYARIAH

A. Pihak-Pihak Terkait dalam Securities Crowdfunding

Dalam penyelenggaraan Securities crowdfunding (SCF) Syariah, melibatkan


beberapa pihak yaitu:

Gambar 1. Pihak-Pihak dalam Securities crowdfunding

1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan regulator yang memiliki


kewenangan terkait perizinan penyelenggara SCF Syariah (pemberian izin,
penolakan izin, pencabutan izin operasional) dan pelaporan serta mengawasi
penyelenggaraan SCF oleh platform penyelenggara SCF.

2. Penyelenggara layanan urun dana (crowdfunding) yang selanjutnya disebut


penyelenggara adalah badan hukum Indonesia yang menyediakan, mengelola,
dan mengoperasikan layanan urun dana. Penyelenggara melakukan
penelaahan terhadap calon penerbit SCF dan melakukan pengecekan terhadap
eligibility dari investor SCF.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 36


3. Penerbit, yaitu badan usaha Indonesia baik yang berbentuk badan hukum
maupun badan usaha lainnya yang menerbitkan efek melalui layanan urun
dana. Penerbit dilarang merupakan:

a. Badan usaha yang dikendalikan baik langsung maupun tidak langsung oleh
suatu kelompok usaha atau konglomerasi;

b. Perusahaan terbuka atau anak perusahaan terbuka

c. Badan usaha dengan kekayaan bersih lebih dari Rp10 Miliar, tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

4. Pemodal sebagai pihak yang melakukan pembelian efek penerbit melalui


layanan urun dana. Pemodal yang dapat membeli efek melalui layanan urun
dana wajib:

a. Memiliki rekening saham pada Bank Kustodian yang khusus untuk


menyimpan efek dan/atau dana melalui layanan urun dana.

b. Memiliki kemampuan untuk membeli saham penerbit.

c. Memenuhi kriteria Pemodal dan batasan pembelian saham.

5. Bank Kustodian adalah bank umum yang telah memperoleh persetujuan


Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan kegiatan usaha sebagai kustodian.

6. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merupakan Lembaga Penyimpanan


dan Penyelesaian (LPP) di Pasar Modal yang menyediakan layanan jasa
custodian sentral dan penyelesaian transaksi efek.

B. Peran Penyelenggara Securities Crowdfunding Syariah

Penyelenggara SCF pada prinsipnya bukan penyedia pendanaan secara langsung,


namun hanya sebagai penyelenggara pasar di pasar modal. Adapun pendanaan
akan diberikan langsung oleh para investor atau pemodal melalui sistem yang
telah disediakan oleh penyelenggara SCF. Penyelenggara Securities crowdfunding
(SCF) Syariah adalah lembaga usaha yang berbadan hukum Indonesia (PT atau
Koperasi) yang menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan layanan urun dana
(Securities crowdfunding) berbasis teknologi informasi. Bagi koperasi yang akan
menyelenggarakan usaha berupa layanan urun dana, maka harus berbentuk
koperasi jasa.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 37


Mengingat bahwa operasional dari jasa layanan urun dana atau SCF ini adalah
berbasis teknologi informasi, maka setiap badan hukum yang akan
menyelenggarakan jasa ini harus mempunyai sumber daya manusia yang memiliki
keahlian dan latar belakang di bidang teknologi informasi serta mempunyai
keahlian untuk melakukan penelaahan terhadap aspek keuangan penerbit.
Khusus untuk SCF syariah, selain memiliki SDM yang mempunyai keahlian di
bidang finansial, harus mempunyai ahli pula di bidang syariah untuk dapat
melakukan analisa terkait aspek syariah pada usaha dari calon penerbit atau
proyek yang akan menjadi dasar dari penerbitan efek.

Gambar 2. Penyelenggara SCF Sebagai Penyedia Layanan Urun Dana Melalui Aplikasi Digital

C. Pengawasan dalam Penyelenggaraan Securities crowdfunding Syariah

Penyelenggara securities crowdfunding (SCF) sebelum memulai operasional


usahanya wajib mendapatkan izin operasional dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
terlebih dahulu kemudian terdaftar pada Kementerian di bidang komunikasi dan
informatika. Selama menyelenggarakan aktivitas Securities crowdfunding (SCF),
pihak penyelenggara diawasi oleh OJK. Pengawasan dari OJK ini dilakukan untuk
mencegah terjadinya praktik-praktik transaksi keuangan yang dilarang dan yang
merugikan masyarakat secara luas. Mengingat bahwa SCF mempunyai jangkauan
yang luas karena memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana penawaran
dan investasinya.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 38


Gambar 3. Syarat Operasional Penyelenggara SCF

Kementerian bidang Komunikasi


dan Informatika
Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) Terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem
Elektronik (PSE)

Izin Operasional sebagai


Penyelenggara SCF

Sumber: POJK No. 57/POJK.04/2020 dan POJK No. 16/POJK.O4/2021

D. Kedudukan Penyelenggara Securities crowdfunding (SCF) Syariah pada


Pasar Modal

Sebelum adanya SCF, Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan satu-satunya


penyelenggara perdagangan efek di pasar modal dan dengan segmentasi pasar
bagi penerbit yang bersifat Non-UMKM. Oleh karena itu dengan berdirinya SCF,
maka penyelenggara perdagangan efek di pasar modal tidak lagi bersifat tunggal
dan dapat dinikmati pula oleh segmen UMKM. Hal ini tentunya akan menambah
alternatif dari sarana pendanaan syariah melalui pasar modal, sekaligus dapat ikut
serta memberikan dukungan keuangan bagi para pelaku UMKM.

Gambar 4. Penyelenggara Pasar di Pasar Modal

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 39


E. Perbedaan Antara Securities crowdfunding (SCF) dengan Bursa Efek
Indonesia dan Peer To Peer (P2) Lending/ Financing

Perbedaan antara securities crowdfunding (SCF) syariah dengan equity


crowdfunding (ECF), Bursa Efek dan peer to peer financing adalah sebagai berikut:

1. Perbedaan Antara Securities crowdfunding (SCF) Dengan Bursa Efek


Indonesia (BEI)

Bursa Efek Indonesia merupakan pihak penyelenggara dan penyedia sistem/


sarana untuk mempertemukan penjual dan pembeli surat berharga atau efek
di pasar modal. Namun demikian sistem dan sarana pada BEI hanya dapat
digunakan oleh Anggota Bursa Efek, yaitu Perantara Pedagang Efek yang telah
memperoleh izin usaha dari OJK dan mempunyai hak untuk mempergunakan
sistem dan atau sarana Bursa Efek sesuai dengan peraturan Bursa Efek.
Sementara untuk SCF, lebih bersifat terbuka melalui aplikasi atau platform,
sehingga penerbit dan investor dapat melakukan perdagangan efek melalui
platform penyelenggara SCF tersebut.

Disamping itu, terdapat perbedaan lain antara SCF dengan BEI pada proses
penerbitan surat berharga. Penerbitan efek atau surat berharga melalui Bursa
Efek Indonesia memiliki tahapan administrasi yang lebih rumit dibandingkan
dengan SCF. Proses penerbitan surat berharga pada SCF lebih sederhana. Hal
tersebut dikarenakan segmen pasar SCF menyasar pada pemenuhan
permodalan atau pendanaan pada usaha kelas kecil menengah (UKM).

2. Perbedaan Antara Securities crowdfunding Dengan Peer to Peer


Lending/ Financing

Perusahaan berbasis teknologi informasi atau yang dikenal sebagai fintech


mempunyai dua model dalam memberikan jasa keuangannya. Model pertama
adalah crowdfunding, dan model kedua adalah peer to peer. Apa yang
membedakan diantara keduanya?

Perusahaan fintech yang menggunakan model crowdfunding dalam


penghimpunan dananya, mengandalkan pola penghimpunan dana yang
bersifat masif dan terbuka. Dengan memiliki target pada banyak calon

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 40


investor, maka diharapkan kebutuhan atas pendanaan, pembiayaan atau
permodalan akan cepat terpenuhi.

Sementara itu, perusahaan fintech yang menggunakan pola peer to peer


lending/financing, lebih menekankan pada pola layanan pinjam meminjam,
pembiayaan atau permodalan yang bersifat langsung antara pemberi
pinjaman atau pembiayaan dengan penerima pinjaman, pembiayaan atau
permodalan yang bersifat langsung berbasis teknologi informasi. Dalam hal
ini, bisa saja sebuah pembiayaan tersebut dilaksanakan secara peer to peer
tanpa melalui pengumpulan sumber dana melalui skema crowdfunding.

Tabel 3. Persamaan & Perbedaan Antara SCF, BEI & Peer-To-Peer

Securities Bursa Efek Peer to Peer


Crowdfunding Indonesia Financing

Kategori Pasar Modal Pasar Modal Pembiayaan

Sarana Berbasis Berbasis Berbasis Aplikasi


Aplikasi Aplikasi dan Tidak

Prosedur Sederhana Kompleks Sederhana


pendanaan

Instrumen Sukuk dan Sukuk, Saham & Pembiayaan


saham surat berharga
lainnya

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 41


DAFTAR PUSTAKA

Bursa Efek Indonesia. (2021). IDX Syariah. Diambil kembali dari Bursa Efek Indonesia
Web site: [Link]

Darmawi, H. (2006). Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: PT


Bumi Aksara.

Kemenkeu. (2021). Publikasi: Berita. Diambil kembali dari Kemenkeu Web site:
[Link]

Martono. (2002). Bank Dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta: Ekonisia.

Otoritas Jasa Keuangan. (2021). Berita. Diambil kembali dari Sikapiuangmu Web site:
[Link]

Otoritas Jasa Keuangan. (2021). Regulasi. Dipetik September 2021, dari OJK Web site:
[Link]

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 42


Materi Presentasi Modul 1

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 43


Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 44
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 45
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 46
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 47
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 48
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 49
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 50
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 51
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 52
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 53
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 54
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 55
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 56
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 57
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 58
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 59
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 60
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 61
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 62
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 63
Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 64
Buku Kerja Modul 1

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 65


Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 66
MODUL 1 Kode Modul
PENGENALAN SECURITIES
CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH I – 01

PENJELASAN UMUM

Pelatihan berbasis kompetensi mengharuskan proses pelatihan memenuhi unit kompetensi


secara utuh yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Dalam buku kerja ini
disampaikan informasi apa saja yang diperlukan sebagai pengetahuan yang harus dimiliki untuk
melakukan praktik/keterampilan terhadap modul tersebut. Setelah memperoleh pengetahuan
dilanjutkan dengan latihan-latihan guna mengaplikasikan pengetahuan yang telah dimiliki tersebut.
Untuk itu diperlukan buku kerja ini sebagai media praktik dan sekaligus mengaplikasikan sikap kerja
yang telah ditetapkan karena sikap kerja melekat pada keterampilan.

Adapun tujuan dibuatnya buku kerja ini adalah:

1. Prinsip pelatihan dilakukan sesuai dengan konsep yang telah digariskan, yaitu pelatihan ditempuh
bab per bab per baik secara teori maupun praktik;
2. Prinsip praktik dapat dilakukan setelah dinyatakan kompeten teorinya dapat dilakukan secara
jelas dan tegas;
3. Pengukuran unjuk kerja dapat dilakukan dengan jelas dan pasti.

Ruang lingkup buku kerja ini meliputi pengerjaan tugas-tugas teori dan praktik per bab di Modul 1
Pengenalan Securities crowdfunding (SCF) Syariah

Buku Kerja Modul 1 Versi: 1-2021 i

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 67


MODUL 1 Kode
PENGENALAN SECURITIES Modul
CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH
I - 01

MODUL 1
PENGENALAN SECURITIES
CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH

A. Tugas Teori

Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada kertas yang tersedia
Waktu Penyelesain Tugas : 30 menit
Soal Tugas :

1. Jelaskan Instrumen pendanaan pada pasar modal


------------------------------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------------------------------

2. Jelaskan Securities crowdfunding Syariah

------------------------------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------------------------------

3. Jelaskan Pihak-Pihak Terkait dalam Securities crowdfunding

------------------------------------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------------------------------

Buku Kerja Modul 1 Versi: 1-2021 1

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 68


MODUL 1 Kode
PENGENALAN SECURITIES Modul
CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH
I - 01

B. Tugas Praktik

A. Petunjuk
1. Baca dan pelajari setiap instruksi kerja di bawah ini dengan cermat sebelum
melaksanakan praktek
2. Klarifikasi kepada instruktur apabila ada hal-hal yang belum jelas
3. Laksanakan sesuai dengan urutan proses yang sudah ditugaskan
4. Seluruh proses kerja mengacu kepada Modul 1 yang dipersyaratkan

B. Skenario
Anda adalah pengusaha yang telah merintis usaha selama 3 tahun, anda ingin
mengembangkan usaha dan menambah modal, saat ini anda mengikuti pelatihan SCF
Syariah sebagai calon penerbit saham Syariah. Sebagai seorang calon penerbit saham
Syariah anda harus mampu menngetahui tentang saham Syariah dan mampu mengetahui
Pihak-Pihak Dalam Securities crowdfunding

C. Instruksi

1. Anda diinstruksikan melengkapi bagan dibawah ini (Kotak warna Kuning) untuk di isi
NAMA pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan Securities crowdfunding (SCF)
Syariah

Buku Kerja Modul 1 Versi: 1-2021 2

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 69


MODUL 1 Kode
PENGENALAN SECURITIES Modul
CROWDFUNDING (SCF) SYARIAH
I – 01

C. Pengamatan Sikap Kerja

Harus cermat, teliti, sesuai Modul 1 Pengenalan Securities crowdfunding (SCF) Syariah

Catatan Pengamatan Instruktur:

………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………

Tanda Tangan Peserta : ………………………….

Tanda Tangan Instruktur : …………………………..

Buku Kerja Modul 1 Versi: 1-2021 3

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 70


Alat Uji Pelatihan Modul 1

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 71


Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 72
FORM 1 - PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA

:
NAMA PELATIHAN MODUL 1 – PENGENALAN SCF SYARIAH
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Jawab semua pertanyaan berikut, pilih jawaban yang paling tepat :

1. Beberapa kendala yang paling utama yang dihadapi oleh UMKM untuk mendapatkan
pinjaman/pembiayaan dari Lembaga Keuangan adalah:
a. Jenis Usaha Pinjaman
b. Nama Pengusaha Peminjam
c. Jaminan Pinjaman
d. Alamat Usaha Peminjam
2. Pendanaan melalui Securities crowdfunding (SCF) Syariah memiliki karakteristik khusus
(keunikan) yang membuat SCF Syariah lebih unggul dibandingkan dengan alternatif pendanaan
lainnya, yaitu :
a. Prosedur penerbitan sukuk atau saham yang lebih mudah dan sederhana
b. Prosedur penerbitan sukuk atau saham yang lebih sulit dan kompleks
c. Perusahaan Investor dapat mengambil permodalan secara langsung dari para Perusahaan
Penerbit
d. Investor yang diwakili oleh Penyelenggara merupakan pesaing
3. Lembaga usaha yang berbadan hukum Indonesia (PT atau Koperasi) yang menyediakan,
mengelola, dan mengoperasikan layanan urun dana (Securities crowdfunding) berbasis teknologi
informasi adalah :
a. Securities crowdfunding (SCF) Syariah
b. Capital Crowdfunding (SCF) Syariah
c. Perusahaan penerbit
d. Bank Kustodian
4. Penyelenggara securities crowdfunding (SCF) sebelum memulai operasional usahanya wajib
terdaftar pada Kementerian dibidang komunikasi dan informatika serta mendapatkan izin
operasional dari :
A. Bank Indonesia
B. Otoritas Jasa Keuangan
C. Kementrian Perdagangan
D. Kementrian Keuangan

Nama Peserta Tandatangan

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 73


FORM 2 - LEMBAR KUNCI JAWABAN PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA

:
NAMA PELATIHAN MODUL 1 – PENGENALAN SCF SYARIAH
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Kunci Jawaban Pertanyaan Tertulis – Pilihan Ganda:

No. Jawaban

1. C
2. A
3. A
4. B

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 74


Buku Pelatihan Modul 1

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 75


KATA PENGANTAR

Dalam rangka menerapkan pelatihan securities crowdfunding


syariah diperlukan adanya standar penilaian kerja sebagai acuan dalam
memberikan penilaian hasil dari pelatihan.

Untuk memenuhi komponen penilaian dalam proses pelatihan


tersebut maka disusunlah buku penilaian pelatihan securities crowdfunding
syariah.
Seperti diketahui Modul pelatihan securities crowdfunding syariah
terdiri dari 2 buku yaitu buku kerja dan buku penilaian. Kedua buku
tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu
dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat
digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling
berinteraksi.

Demikian modul penilaian pelatihan securities crowdfunding


syariah ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses
pelaksanaan pelatihan SCF Syariah.

Jakarta, Desember 2021

KNEKS

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 76


BAB I

PENDAHULUAN

A. Tujuan

Buku penilaian untuk Pelatihan SCF Syariah dibuat sebagai konsekuensi logis
dalam pelatihan yang telah menempuh tahapan penerimaan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja melaluibuku kerja. Setelah latihan-latihan
(exercise) dilakukan berdasarkan buku kerja maka untuk mengetahui sejauh
mana penguasaan materi SCF Syariah yang dimilikinya perlu dilakukan uji
komprehensif secara utuh per modul dan materi uji kompetensi itu ada dalam
buku penilaian ini.

B. Metode Penilaian

Adapun tujuan dibuatnya buku penilaian ini, yaitu untuk menguji


penguasaan peserta pelatihan setelah selesai menempuh buku kerja secara
komprehensif dan berdasarkan hasil uji inilah peserta akan dinyatakan telah
menguasai terhadap modul SCF Syariah. Metode Penilaian yang dilakukan
meliputi penilaian yang opsinya sebagai berikut:

1. Metode Penilaian Pengetahuan


Untuk menilai pengetahuan yang telah disampaikan selama proses pelatihan
terlebih dahulu dilakukan tes tertulis melalui pemberian materi tes dalam
bentuk tertulis yang dijawab secara tertulis juga. Untuk menilai pengetahuan
dalam proses pelatihan materi tes disampaikan lebih dominan dalam bentuk
obyektif tes, dalam hal ini jawaban singkat dan pilihan ganda.

2. Metode Penilaian Keterampilan

Penilaian dilakukan dengan cara peserta mempraktekan tugas instruksi yang


diberikan berdasarkan scenario penugasan.

3. Metode Penilaian Sikap Kerja

Untuk melakukan penilaian sikap kerja digunakan Metode observasi


terstruktur, artinya pengamatan yang dilakukan menggunakan lembar
penilaian yang sudah disiapkan sehingga pengamatan yang dilakukan
mengikuti petunjuk penilaian yang dituntut oleh lembar penilaian tersebut.
Pengamatan dilakukan pada waktu peserta uji/peserta pelatihan melakukan
keterampilan kompetensi yang dinilai karena sikap kerja melekat pada
keterampilan tersebut.

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 77


BAB II

PENILAIAN PER MODUL MODUL PELATIHAN

A. Lembar Penilaian Teori

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 66 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

B. Lembar Penilaian Praktik

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 67 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

C. Lembar Penilaian Sikap Kerja

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 68 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

D. Lembar Penilaian Teori + Praktik + Sikap Kerja (rata-rata)

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 69 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 78


MODUL 2

PERSIAPAN PENERBITAN SAHAM SYARIAH


MELALUI SECURITIES CROWDFUNDING
SYARIAH

Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 79


Modul 1 Pengenalan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah | 80
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Umum
Setelah mempelajari modul 2 ini, peserta pelatihan diharapkan mampu
memahami persiapan dan proses penerbitan saham syariah melalui securities
crowdfunding syariah berdasarkan ketentuan regulator.

B. Tujuan Khusus
Adapun tujuan mempelajari securities crowdfunding guna memfasilitasi peserta
latih, sehingga pada akhir pelatihan diharapkan memiliki kemampuan hal-hal
sebagai berikut :
1. Memahami apa yang dimaksud dengan saham syariah, akad pada saham
syariah dan kriteria saham syariah
2. Memahami dan dapat melakukan proses penerbitan saham melalui
penyelenggara securities crowdfunding syariah
3. Memahami konsekuensi dan implikasi menerbitkan saham pada securities
crowdfunding syariah.
4. Memahami perdagangan saham syariah pada pasar sekunder.

C. Sistematika Pembahasan

Pembahasan tentang pengenalan securities crowdfunding (SCF) syariah dalam


Modul 2 ini, terbagi dalam beberapa pokok pembahasan. Bab I, berisi tentang
tujuan umum dan khusus dari Modul 2, serta metode pembahasan tentang materi-
materi yang ada di dalamnya.

Bab II, membahas tentang pengenalan mengenai saham syariah. Pada bab ini,
dibahas tentang definisi saham dan saham syariah, serta prinsip-prinsip syariah
pada saham syariah. Prinsip-prinsip syariah pada saham, terbagi ke dalam 3 sub
pembahasan. Sub pembahasan pertama tentang ketentuan-ketentuan syariah
terkait Penerbit Saham atau penerbit saham syariah. Sub pembahasan kedua,
tentang prinsip-prinsip syariah dalam akad yang digunakan dalam penerbitan.
Sub pembahasan ketiga tentang prinsip-prinsip syariah dalam saham syariah.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 81


Pada Bab III, dibahas tentang mekanisme penerbitan saham syariah melalui
securities crowdfunding. Hal ini penting dipahami oleh calon penerbit yang ingin
menerbitkan sahamnya melalui bursa securities crowdfunding (SCF) syariah.
Dalam hal ini, mencakup pembahasan tentang tahapan-tahapan yang harus dilalui
oleh penerbit saham melalui securities crowdfunding (SCF) syariah dalam
menerbitkan sahamnya.

Bab IV, membahas mengenai pasar sekunder dan perdagangan saham melalui
pasar sekunder yang diselenggarakan oleh penyelenggara SCF syariah. Pasar
sekunder ini diperlukan ketika terdapat salah seorang pemegang saham yang
ingin keluar dari kemitraan dan ingin menjual sahamnya kepada pihak lain.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 82


BAB II
PENGENALAN TENTANG SAHAM SYARIAH

A. Pengertian Saham dan Saham Syariah

Pengertian Saham

Saham merupakan tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha)
dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas (PT). Jumlah kepemilikan
seseorang atas saham pada sebuah perusahaan, umumnya dinyatakan dalam
bentuk lembar saham. Oleh sebab itu, seorang pemegang saham pada suatu
perusahaan, pada dasarnya adalah pemilik dari perusahaan tersebut sebesar porsi
kepemilikan modal dengan jumlah tertentu dalam bentuk lembar saham.

Pengertian Saham Syariah

Saham syariah adalah efek berbentuk saham yang memenuhi ketentuan dan
kriteria berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah yang yang dimaksud adalah
prinsip syariah sebagaimana tertuang dalam fatwa Dewan Syariah Nasional
Nomor 40/DSN-MUI/X/2002 Tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum
Penerapan Prinsip Syariah Di Bidang Pasar Modal dan fatwa nomor 135/DSN-
MUI/V/2020 Tentang Saham.

B. Prinsip-Prinsip Syariah Pada Saham

Berdasarkan fatwa dari Dewan Syariah Nasional, maka prinsip-prinsip syariah


yang berkaitan dengan saham terbagi dalam 3 kategori, yaitu ketentuan-
ketentuan syariah tentang Penerbit Saham, prinsip-prinsip syariah tentang akad
dalam penerbitan saham, dan prinsip-prinsip syariah tentang saham syariah serta
mekanisme penerbitannya. Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah harus
terus dilakukan selama Penerbit memiliki saham syariah, apabila dikemudian hari
terjadi pelanggaran terhadap prinsip-prinsip syariah, maka saham syariah dapat
dikeluarkan dari daftar saham syariah oleh penyelenggara SCF.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 83


Gambar 5. Parameter Saham Syariah

1. Ketentuan-Ketentuan Syariah Terkait Penerbit Saham

Penerbit Saham yang akan menerbitkan saham syariah, harus berbadan


hukum Perseroan Terbatas (PT) dan memenuhi ketentuan-ketentuan syariah
sebagaimana berikut:

a. Jenis Usaha & Cara Pengelolaan Usaha

Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan dan akad serta cara
pengelolaan perusahaan Penerbit Saham atau Perusahaan Publik yang
menerbitkan Efek Syariah tidak boleh bertentangan dengan Prinsip-
prinsip Syariah.

b. Kategori Jenis Usaha Yang Dilarang Secara Syariah

Jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah


sebagaimana dimaksud, antara lain:

1) Perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang


dilarang.

2) Lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan


asuransi konvensional atau lembaga keuangan konvensional lainnya.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 84


3) Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman yang
haram.

4) Produsen, distributor, dan / atau penyedia barang-barang ataupun


jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.

5) Melakukan investasi pada Penerbit Saham (perusahaan) yang pada


saat transaksi tingkat (nisbah) hutang perusahaan kepada lembaga
keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya.

c. Batasan Terkait Aspek Keuangan Penerbit Saham

Berkenaan dengan aspek keuangan dari penerbit saham yang


menerbitkan saham syariah, maka Penerbit Saham harus mengelola
keuangannya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah pula. Termasuk dalam
hubungannya dengan penggunaan jasa lembaga keuangan. Berdasarkan
Fatwa DSN-MUI No. 135/DSN-MUI/V/2020, aspek keuangan penerbit
saham harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

(a) Kegiatan usaha Perusahaan tidak bertentangan dengan prinsip


Syariah;

(b) Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total asset tidak
lebih dan 45% (empat puluh lima persen);

(c) Total pendapatan tidak halal dibandingkan dengan total pendapatan


usaha dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10% (sepuluh persen);
dan

(d) Pemegang Saham yang menerapkan prinsip Syariah harus memiliki


mekanisme pembersihan kekayaan dari unsur-unsur yang tidak sesuai
dengan prinsip Syariah.

2. Prinsip-Prinsip Syariah Tentang Akad Dalam Penerbitan Saham

a. Jenis Akad Yang Digunakan Dalam Penerbitan Saham

Akad yang digunakan dalam penerbitan saham ialah akad syirkah


(kemitraan) musahamah. Syirkah musahamah merupakan salah satu
bentuk pengembangan dari syirkah (kemitraan) ‘inan. Secara syariah,

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 85


syirkah ‘inan adalah akad kerjasama diantara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu dimana setiap pihak memberikan kontribusi dana/
modal dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi sesuai nisbah yang
disepakati atau secara proporsional, sedangkan kerugian ditanggung oleh
para pihak secara proporsional.

Gambar 6. Aplikasi Syirkah ‘Inan dalam Akad Kemitraan Kontemporer

Syirkah ‘inan yang berbentuk syirkah musahamah, mempunyai beberapa


karakter yang lebih spesifik lagi, khususnya pada kesepakatan tidak
adanya pembatalan akad syirkah oleh salah satu mitra kecuali terdapat
pembubaran usaha sehingga pengalihan modal dalam syirkah dilakukan
dalam bentuk jual beli saham.

Oleh sebab itu, syirkah musahamah dapat didefinisikan sebagai Akad


syirkah musahamah adalah akad syirkah ‘inan yang kepemilikan porsi
modal para mitra atau pemodal didasarkan pada modal disetor yang
dinyatakan dalam satuan unit saham dengan tanggung jawab para mitra
sesuai porsi modal masing-masing serta disertai larangan pembatalan
akad syirkah dari salah satu mitra sampai dengan pembubaran syirkah.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 86


Gambar 7. Skema Akad Syirkah Musahamah Melalui SCF

b. Tahapan Akad Syirkah Musahamah Melalui Penyelenggara SCF

Tahapan pelaksanaan akad syirkah musahamah melalui penyelenggara


SCF adalah sebagai berikut (gambar 1):

1. Penerbitan saham oleh penerbit melalui penyelenggara SCF.

2. Penerbit melalui aplikasi milik SCF, melakukan penawaran atas saham


kepada calon investor.

3. Investor yang tertarik dengan penawaran penerbit, memberikan


kuasa (wakalah) dan dana kepada penyelenggara SCF sebagai wakil
dari investor untuk melakukan akad syirkah musahamah dengan
penerbit.

4. Penyelenggara SCF sebagai wakil dari investor berakad syirkah


musahamah dengan penerbit.

5. Penerbit secara berkala memberikan laporan keuntungan dan


pembagian dividen kepada investor secara periodik.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 87


c. Prinsip-Prinsip Syariah Dalam Akad Syirkah Musahamah

Prinsip-prinsip syariah dalam akad syirkah musahamah adalah sebagai


berikut:

1. Para pemilik modal dalam syirkah musahamah memiliki tanggung


jawab terbatas sebesar porsi modal masing-masing dan dilarang
melakukan pembatalan akad (faskh) kecuali terdapat pembubaran
syirkah.
2. Modal yang disertakan para mitra atau pemegang saham menjadi milik
perusahaan dan perusahaan menjadi milik para mitra yang
bersyirkah.
3. Hak partisipasi atau bekerja oleh masing-masing mitra ditentukan dan
dilimpahkan kepada direksi perusahaan melalui mekanisme
musyawarah (Rapat Umum Pemegang Saham) yang hak suaranya
ditentukan berdasarkan jumlah porsi kepemilikan (hishshah) atas
perusahaan sesuai jumlah saham yang dimiliki.
4. Akad antara perusahaan dengan pengurus perusahaan yang
ditentukan melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham, adalah
akad ijarah (sewa), akad wakalah bil istitsmar (kuasa untuk investasi)
atau akad mudharabah (akad investasi).
5. Akad antara perusahaan dengan pegawai/ karyawan adalah akad
ijarah (sewa).
6. Bagi hasil untuk pemegang saham dalam syirkah musahamah harus
berasal dari laba usaha perusahaan.
7. Perusahaan wajib membagi laba usaha (jika ada) kepada pemegang
saham berupa bagi hasil atau dividen berdasarkan:
a) Jumlah porsi modal (hishshah) atau saham yang dimiliki; atau
b) Nisbah yang disepakati di awal, kecuali terdapat keputusan lain
berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (mekanisme
musyawarah untuk mufakat).
8. Kekayaan perusahaan merupakan kekayaan yang terpisah dari
kekayaan pribadi pemegang saham.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 88


9. Pemegang saham tidak bertanggung jawab secara pribadi atas
perikatan yang dibuat atas nama perusahaan dan tidak bertanggung
jawab atas kerugian dan utang perusahaan yang melebihi jumlah
saham yang dimilikinya, kecuali apabila kerugian disebabkan oleh
tindakan pemegang saham.

10. Pemegang saham tidak bisa mengakhiri (faskh) keikutsertaan dalam


perusahaan, kecuali atas dasar kesepakatan sebagian pemegang
saham lainnya melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham
atau karena peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Prinsip-Prinsip Syariah Tentang Saham Syariah Serta Mekanisme


Penerbitannya

Ketentuan syariah tentang saham syariah dan penerbitan adalah sebagai


berikut:

a. Setiap unit saham syariah memiliki nilai kepemilikan yang sama.

b. Modal dasar dalam bentuk modal ditempatkan dapat disetor secara


bertahap.

c. Saham portepel dan modal ditempatkan yang belum disetor merupakan


bagian dari struktur modal dasar perusahaan, tetapi belum boleh diakui
sebagai saham syariah dan tidak memiliki hak yang melekat pada saham
syariah.

d. Dalam hal perusahaan menerbitkan saham syariah baru untuk menambah


modal perusahaan, pemegang saham lama memiliki hak untuk membeli
saham syariah baru tersebut terlebih dahulu (Hak Memiliki Efek Terlebih
Dahulu/ HMETD).

e. Penerbitan saham syariah harus terhindar dari unsur-unsur yang


bertentangan dengan prinsip syariah antara lain: riba, gharar, maysir,
tadlis, dharar (membahayakan/ merugikan), risywah, haram, zholim dan
maksiat.

f. Dalam proses penerbitan saham diperbolehkan adanya biaya-biaya


penerbitan secara wajar.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 89


BAB III
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI SECURITIES
CROWDFUNDING

A. Tahapan Penerbitan Saham Melalui Securities crowdfunding


Untuk menerbitkan saham melalui securities crowdfunding (SCF) syariah, calon
penerbit harus melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

Gambar 8. Tahapan Penerbitan Saham

1. Tahap Proses Pengajuan


Pada tahap awal pengajuan ini, calon penerbit saham menyerahkan beberapa
persyaratan dokumen dan memberikan informasi kepada penyelenggara
securities crowdfunding (SCF) syariah sebagaimana berikut:

a. Dokumen legalitas, perizinan usaha dan informasi umum mengenai


perusahaan calon penerbit saham syariah

(a) Akta pendirian, perubahan terakhir dan pengesahan dari instansi yang
berwenang
(b) Informasi terkait susunan permodalan sebelum dan sesudah
penghimpunan dana
(c) Daftar riwayat hidup pengurus perusahaan yaitu pemegang saham
pendiri, direksi dan dewan komisaris

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 90


(d) Perizinan yang berkaitan dengan kegiatan usaha Penerbit dan/atau
Proyek yang akan didanai dengan dana hasil penawaran saham
melalui Layanan Urun Dana

b. Informasi mengenai saham syariah yang ditawarkan

(a) Informasi terkait jenis dan jumlah saham yang ditawarkan

(b) Jumlah dana yang akan dihimpun dalam penawaran saham dan tujuan
penggunaan dana hasil penawaran saham melalui Layanan Urun Dana
(c) Jumlah minimum dana yang harus diperoleh dalam penawaran saham
melalui Layanan Urun Dana, jika Penerbit menetapkan jumlah
minimum dana yang harus diperoleh

c. Informasi mengenai perencanaan bisnis dan keuangan calon


penerbit saham syariah

(a) Rencana bisnis atau Proyek dan proyeksi pendapatannya

(b) Laporan keuangan yang paling rendah disusun berdasarkan standar


akuntansi keuangan entitas mikro kecil menengah

Informasi mengenai rencana bisnis dan keuangan ini menjadi bagian


sangat penting dalam rangkaian penerbitan saham yang perlu dijelaskan,
sebab keduanya akan menjadi faktor utama yang diperhatikan dan
dipertimbangkan oleh pihak penyelenggara SCF serta para calon investor.
Rencana bisnis tersebut dapat pula dimasukkan sebagai salah satu materi
dalam prospektus atau proposal penawaran oleh penerbit. Rencana bisnis
memuat informasi penting bisnis calon penerbit diantaranya sebagaimana
berikut:

▪ Bidang usaha penerbit

▪ Produk dan rencana pengembangan produk yang akan dilakukan oleh


penerbit.

▪ Analisa pangsa pasar

▪ Rencana pemasaran dari produk yang dikembangkan

▪ Struktur & strategi penguatan manajemen dan SDM perusahaan ke


depan

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 91


▪ Analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) atas kondisi
perusahaan saat ini

Selain itu, profil keuangan perusahaan dan potensi keuangan yang akan
dicapai di masa yang akan datang juga sangat penting untuk diketahui oleh
penyelenggara dan calon investor. Informasi keuangan disampaikan oleh
penerbit dalam bentuk Laporan Keuangan berupa Neraca dan Laporan
Laba Rugi Usaha serta Proyeksi Pendapatan kepada Penyelenggara.
Proyeksi pendapatan dapat dilihat seberapa besar potensi keuntungan
yang bisa diperoleh dari bisnis yang dijalankan oleh calon penerbit,
sekaligus melihat pada risiko-risiko yang mungkin dapat timbul yang akan
berpotensi kepada kerugian bagi calon investor.

d. Informasi penting lainnya yang perlu disampaikan kepada calon


Investor

(a) Surat pernyataan kesanggupan untuk melakukan perjanjian dengan


Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian dalam rangka pendaftaran
Efek dalam penitipan kolektif.

(b) Risiko utama yang dihadapi Penerbit.

(c) Informasi mengenai tidak likuidnya Efek yang ditawarkan.

(d) Persetujuan rapat umum pemegang saham yang menyetujui


peningkatan modal melalui penawaran Efek dan perubahan anggaran
dasar dengan memuat ketentuan penitipan kolektif;. kebijakan
dividen; dan mekanisme penetapan harga saham.

2. Tahap Uji kelayakan & seleksi bisnis

Setelah dokumen-dokumen lengkap, maka pihak penyelenggara akan


melakukan uji kelayakan. Untuk penerbitan saham syariah, maka akan
dilakukan penilaian terhadap dua aspek, yang meliputi penilaian terhadap
aspek bisnis dan penilaian terhadap aspek kepatuhan syariah pada usaha yang
dikelola oleh calon penerbit.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 92


a. Uji kelayakan usaha berdasarkan aspek bisnis

Uji kelayakan diperlukan untuk menilai kelayakan dari calon penerbit


saham dari sisi bisnisnya. Pada dasarnya semua bisnis memiliki
kesempatan yang sama untuk bisa menawarkan saham melalui securities
crowdfunding. Namun ada 4 (empat) syarat umum yang pada umumnya
menjadi penilaian penyelenggara, yaitu :

1. Profitable
Sedapat mungkin bisnis yang listing adalah bisnis yang sudah berjalan,
sudah mempunyai pelanggan dan sudah menghasilkan. Dengan
demikian bukan bisnis yang baru dimulai, atau baru bersifat
percobaan. Kalaupun bisnis yang dijalankan masih baru, maka pemilik
dari usaha tersebut haruslah mempunyai pengalaman bisnis yang
telah terbukti.

2. Accountable
Para calon investor, tentunya mencari usaha yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, perusahaan tersebut harus
dinilai mampu untuk menjalankan bisnis dengan tata kelola yang jelas
dan transparan. Oleh karena itu, agar dapat bersifat accountable,
sebuah perusahaan harus ditopang oleh struktur organisasi yang
memadai dan memiliki keterbukaan pada laporan keuangannya.
Kemudian, perusahaan harus memenuhi seluruh aspek legalitasnya.
Track record dari pemilik bisnis tentunya akan turut mempengaruhi
dari sisi akuntabilitas sebuah perusahaan.

3. Sustainable
Bisnis yang baik adalah bisnis yang memiliki keberlangsungan.
Dengan memperhatikan aspek keberlangsungan, maka usaha yang
dikelola akan dapat bertumbuh dalam jangka waktu yang panjang dan
bukan hanya pertumbuhan yang sesaat atau hanya mengikuti tren
tertentu yang pada akhirnya mengalami penurunan dalam bisnis
dengan cepat pada tahun-tahun berikutnya.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 93


4. Valuation

Aspek penting lainnya yang menjadi perhatian bagi para investor


adalah valuasi dari suatu perusahaan atau bisnisnya. Semakin tinggi
valuasi dari sebuah perusahaan, maka akan membuat para investor
memiliki ketertarikan untuk menanamkan sahamnya pada
perusahaan tersebut sebab perusahaan dengan valuasi yang tinggi,
akan memberikan rasa aman bagi para pemilik modalnya. Hal itu
dikarenakan, pada saat adanya kebutuhan likuiditas dari para pemilik
modal, tentunya para pemilik modal ingin dapat menjual sahamnya
dengan nilai yang lebih dari nilai awalnya.

b. Proses Shariah Screening (seleksi syariah)

Proses shariah screening dilakukan untuk memastikan bahwa usaha calon


penerbit telah memenuhi ketentuan syariah. Proses dari shariah screening
ini sebagaimana dijelaskan pada prinsip-prinsip syariah pada saham,
maka akan meliputi penilaian terhadap tiga aspek:

1) Kesesuaian usaha calon Penerbit Saham dengan ketentuan


syariah

Agar dapat menerbitkan saham syariah, usaha dari calon penerbit


tidak boleh melanggar ketentuan syariah. Terdapat beberapa
parameter utama agar usaha calon Penerbit Saham atau penerbit bisa
dinilai tidak melanggar prinsip-prinsip syariah.

Pertama, calon penerbit tidak boleh melakukan usaha yang


memproduksi atau mendistribusikan barang dan jasa yang bersifat
haram secara zatnya.

Kedua, calon penerbit tidak boleh pula melakukan usaha yang secara
prinsip dasar syariah bersifat halal, namun karena terdapat
ketidaksesuaian syariah dalam proses bisnisnya, pada akhirnya usaha
dari calon penerbit tersebut bisa menjadi terlarang pula secara
syariah.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 94


2) Pemenuhan prinsip syariah dalam akad yang digunakan

Calon penerbit yang akan menerbitkan saham syariah harus


memastikan bahwa akad-akad yang digunakan dalam transaksi pada
bisnisnya, telah memenuhi seluruh rukun dan syarat dari akad. Rukun
adalah pilar-pilar utama yang membangun sebuah akad, yaitu adanya
para pihak yang bertransaksi, adanya objek akad dan adanya ijab
qabul atau lafadz dari akad. Adapun syarat-syarat dari akad, melekat
pada ketiga rukun tersebut.

3) Pemenuhan prinsip syariah dalam aspek keuangannya

Calon penerbit saham syariah, selain memastikan bahwa obyek


usahanya adalah halal dan akad-akad yang digunakan dalam
transaksinya telah memenuhi ketentuan rukun dan syarat akad, perlu
memastikan pula bahwa pengelolaan keuangan dalam perusahaan
tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

3. Tahap penyusunan materi penawaran saham

Setelah melalui tahap seleksi berkas dan seleksi bisnis, selanjutnya disusun
materi penawaran saham yang mencakup dokumen tertulis, video, dan
bentuk-bentuk lainnya. Materi ini agar para calon investor dapat mengetahui
kondisi perusahaan secara baik dan komprehensif.

Untuk menarik minat Pemodal, maka Penerbit harus mampu menyajikan dan
mempresentasikan perusahaannya sebagai perusahaan yang layak investasi
dan memiliki prospek usaha yang menguntungkan.

Beberapa materi penawaran yang harus disusun oleh penerbit ialah:


a) Video Profil Perusahaan

● Pemaparan profil singkat, visi dan misi Perusahaan yang disampaikan


oleh Direktur atau business owner
● Menginformasikan secara audio dan visual infrastruktur, kapasitas
karyawan, pabrik, alat-alat produksi dan lain-lain sehingga
meyakinkan investor/pemodal bahwa perusahaan memiliki
kemampuan dan kapasitas yang mumpuni sebagaimana tercermin di
Prospektus Perusahaan.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 95


b) Prospektus

Adalah dokumen yang berisi informasi-informasi penting Penerbit yang


disajikan untuk calon Pemodal agar calon Pemodal mengetahui dan
memahami profil Penerbit dan pada akhirnya diharapkan memutuskan
untuk berinvestasi pada efek berupa saham yang ditawarkan oleh
Penerbit.

Prospektus minimal berisi informasi sebagai berikut:

(a) Highlight industri dan prospek industri terkait secara umum

(b) Riwayat/Sejarah Ringkas Perusahaan

(c) Infrastruktur Perusahaan, Contoh : lokasi pabrik, kapasitas mesin


dan produksi, jumlah karyawan

(d) Alur Proses Produksi

(e) Profil Direksi dan Eksekutif Perusahaan

(f) Susunan Pemegang Saham

(g) Laporan Keuangan (Neraca dan Laba rugi)

(h) Informasi penting penerbitan saham :

● Dana yang dibutuhkan


● Jumlah minimum dana yang harus diperoleh dalam penawaran
saham
● Total persentase saham yang akan dilepas
● Harga per lembar saham
● Jumlah minimal investasi
● Periode pembagian dividen
● Masa penawaran
● Kebijakan dan proyeksi Dividen
● Ketentuan opsi buyback
● Rekam jejak dan prospek usaha
● Risiko-risiko dan mitigasinya

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 96


Dalam melakukan penyusunan prospektus, calon penerbit akan didampingi
oleh pihak penyelenggara, sehingga penerbit dapat melakukan konsultasi
terkait bagaimana menyusun prospektus atau proposal yang baik, sehingga
dapat menarik investor untuk mendanai usaha atau proyek yang ditawarkan
oleh penerbit. Beberapa tips bagi calon penerbit dalam menyusun prospektus
yang baik, diantaranya:

● Pastikan seluruh dokumen dan informasi yang disampaikan dalam


prospektus adalah benar, sesuai dengan keadaan sebenarnya dan dapat
dipertanggungjawabkan oleh penerbit. Hal ini sangat penting dilakukan
untuk menjaga kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan investor
di kemudian hari.

● Pastikan seluruh dokumen legalitas dan perizinan usaha yang disampaikan


masih berlaku dan valid, sehingga tidak menimbulkan konsekuensi hukum
di kemudian hari.

● Pastikan tujuan bisnis dan rencana untuk mencapai tujuan-tujuan bisnis


telah disusun dengan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant
dan Timebound)

● Dalam penyusunan Laporan Keuangan, pastikan sudah sesuai dengan


standar akuntansi agar mudah dipahami oleh penyelenggara dan calon
investor, apabila menemui kesulitan dalam penyusunannya, calon penerbit
dapat menggunakan jasa Kantor Jasa Akuntan (KJA). Apabila calon penerbit
menyusun Laporan Keuangan secara mandiri maka, ada baiknya Laporan
Keuangan yang dibuat diberikan detail dan penjelasan mengenai pos-pos
dalam Laporan Keuangan tersebut, sehingga memudahkan penyelenggara
dan calon investor untuk memahami kondisi keuangan calon penerbit.

4. Tahap penawaran saham

Setelah melewati tahapan-tahapan yang bersifat administratif, perusahaan


calon penerbit dapat melakukan penawaran atas saham yang diterbitkannya
melalui penyelenggara SCF. Masa penawaran saham paling lama adalah 45
hari.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 97


a. Informasi penting yang harus diketahui pada masa penawaran:

1) Pada masa penawaran, dana investor dihimpun oleh penyelenggara


dalam rekening escrow milik penyelenggara.
2) Apabila target pendanaan tidak terpenuhi, maka dana yang sudah
dihimpun tersebut akan dikembalikan kepada masing-masing investor
oleh penyelenggara.
3) Apabila pada masa penawaran, penerbit melakukan pembatalan, maka
penerbit dikenakan penalti sesuai dengan kebijakan masing-masing
penyelenggara.
b. Masa penawaran saham syariah akan berakhir jika:

1) Selesainya masa penawaran, atau


2) Seluruh pendanaan telah terhimpun atau seluruh saham telah terjual
kepada investor.

5. Tahap Penerbitan Saham


Apabila seluruh saham telah terjual kepada investor, maka tahapan
selanjutnya adalah:

1) Penerbit menyerahkan saham yang terjual kepada penyelenggara


(estimasi 2 hari kerja setelah masa penawaran berakhir)

2) Penerbit melakukan perubahan anggaran dasar sehubungan dengan


peningkatan/penambahan modal dan penitipan kolektif kemudian
perubahan anggaran dasar tersebut didaftarkan kepada
Kemenkumham, pendaftaran tersebut dapat dilakukan secara online
sehingga memudahkan penerbit (estimasi 4 hari kerja).

3) Setelah Kemenkumham memberikan persetujuan atas perubahan


anggaran dasar tersebut, maka Penerbit melakukan penandatanganan
perjanjian efek dengan KSEI.

4) Setelah penerbit dan pemodal terdaftar pada KSEI, maka


penyelenggara menyerahkan dana yang telah dihimpun kepada
Penerbit.

5) Penyelenggara kemudian mendistribusikan saham kepada pemodal


sesuai dengan kepemilikan masing-masing investor.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 98


B. Konsekuensi Menjadi Perusahaan Tertutup dengan Kepemilikan Saham
oleh Investor Publik

Dengan menerbitkan saham melalui SCF, perusahaan penerbit sekarang tidak


hanya dimiliki oleh para pendiri perusahaan saja, tapi ada para investor yang baru
menanamkan modalnya ke dalam perusahaan sebagai pemegang saham. Dengan
demikian, meskipun perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan tertutup,
namun sahamnya dimiliki oleh investor publik. Perseroan Tertutup adalah suatu
perusahaan terbatas yang belum pernah menawarkan sahamnya kepada publik
melalui penawaran umum dan jumlah pemegang sahamnya belum sampai kepada
jumlah pemegang saham dari suatu perusahaan publik.

Sedangkan suatu perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan publik apabila


memenuhi kriteria UU PT No. 40 Tahun 2007 Pasal 1 angka 7 yaitu:

1) Perseroan Publik, adalah Perseroan yang memenuhi kriteria jumlah


pemegang saham dan modal disetor sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang pasar modal.
2) Perseroan yang melakukan penawaran umum yaitu emiten yang melakukan
kegiatan penawaran efek untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan
tata cara yang diatur dalam UU dan peraturan pelaksanaannya.

Sesuai pengertiannya, PT terbuka dan PT tertutup memiliki perbedaan seperti


berikut ini:

● Laporan, data, informasi, hingga aksi korporasi harus tertera di situs web
perusahaan sehingga publik bisa mengaksesnya. Sedangkan PT tertutup tidak
memiliki kewajiban seperti ini.
● PT terbuka menjual saham untuk mendapatkan modal lewat pasar modal,
sedangkan PT tertutup memiliki modal dari kalangan tertentu (hanya para
pendiri atau kucuran dari investor).
● Saham perusahaan tbk terdaftar dalam bursa efek, sedangkan PT tertutup
tidak terdaftar di bursa efek.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 99


Berikut karakteristik masing perusahaan terbuka dan tertutup dalam SCF Syariah.

Perusahaan
Indikator Perusahaan Terbuka
Penerbit SCF Syariah

UU No.40 Tahun 2007 tentang


UU No.8 Tahun 1985 Perseroan Terbatas (UUPT) dan
tentang Pasar Modal POJK No. 57/POJK.04/2020 tentang
Dasar Hukum
(UUPM) dan peraturan Penyelenggaraan Layanan Urun
lainnya. Dana serta peraturan perundang-
undangan terkait lainnya.

Perseroan tidak terdaftar dalam


Saham Perseroan
Bursa Efek Indonesia, namun
Saham Terdaftar Terbuka terdaftar dalam
terdaftar sebagai penerbit pada
bursa efek
Penyelenggara SCF Syariah

Punya kewajiban Tidak punya kewajiban melaporkan


memberikan laporan ke Bapepam atau OJK.
Kewajiban kepada Bapepam
Laporan (Badan Pengawas Pasar Namun wajib menyampaikan
Modal sesuai Pasal 85 Laporan kepada Investor melalui
UUPM, sekarang OJK. Penyelenggara SCF

Pemegang saham yang sahamnya


dalam perseroan tertutup tidak
Pemegang saham yang terlalu banyak disebut pemegang
sahamnya dalam saham minoritas.
perseroan terbuka tidak Dalam hal perseroan tertutup
terlalu banyak disebut melakukan merger, akuisisi, atau
pemegang saham konsolidasi tidak harus
Independen. memperoleh persetujuan dari
Istilah Pemegang Dalam hal perseroan pemegang saham minoritas, tapi
Saham Minoritas terbuka melakukan pemegang saham minoritas dapat
merger, akuisisi, atau meminta agar sahamnya dibeli
konsolidasi maka harus dengan harga yang wajar (Pasal 62
memperhatikan Ayat 1 UUPT).
kepentingan dari Hal ini karena adanya prinsip “one
pemegang saham share one vote” atau setiap saham
independen. mempunyai satu hak suara kecuali
anggaran dasar menentukan lain
(Pasal 84 UUPT).

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 100


Dengan hadirnya investor sebagai pemegang saham baru, maka perusahaan harus
dikelola dengan baik atau mengedepankan prinsip-prinsip good governance.
Secara sederhana Good Corporate Governance (GCG) dapat digambarkan
sebagai bentuk pelaksanaan tanggung jawab antara perusahaan sebagai badan
hukum, direksi, dan komisaris sebagai pengurus dengan para pemegang saham.
Perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance (GCG) harus dapat
menerapkan prinsip-prinsip GCG yaitu:

Prinsip Pengertian
Keterbukaan informasi yang cukup memadai, akurat dan tepat
Transparansi waktu kepada para pemangku kepentingan (stakeholder)

Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan


pertanggung jawaban perusahaan sehingga pengelolaan
terlaksana dengan efektif. Prinsip akuntabilitas memberi
Akuntabilitas
kejelasan hak dan kewajiban antara pemegang saham, dewan
direksi, dan dewan komisaris yang dituangkan dalam Anggaran
Dasar Perusahaan

Kesesuaian pengelolaan perusahaan terhadap peraturan dan


Pertanggung- prinsip korporasi yang sehat. Contoh dari prinsip
jawaban pertanggungjawaban adalah keselamatan pekerja, kesehatan
pekerja, pajak, dsb

Pengelolaan perusahaan secara profesional tanpa benturan


Kemandirian kepentingan dan pengaruh dari pihak manapun yang tidak sesuai
dengan undang-undang serta prinsip korporasi yang sehat

Kewajaran adalah keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak


Kewajaran pemangku kepentingan (stakeholder) yang timbul berdasar
perjanjian dan peraturan undang - undang

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 101


Penerapan GCG dalam pengelolaan UMKM Penerbit SCF, secara sederhana dapat
dimulai dari dua hal, diantaranya yaitu:

1) Legalitas dan perizinan usaha

Dengan masuknya UMKM dalam ekosistem SCF Syariah, maka UMKM harus
mulai menertibkan legalitas dan perizinan usaha sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.

2) Laporan Keuangan

Untuk menjaga kepercayaan investor, agar tetap mempercayakan dananya


kepada UMKM, maka UMKM sangat perlu menyusun Laporan Keuangan yang
baik dan dapat disampaikan kepada investor tepat waktu.

Manfaat langsung yang akan dirasakan UMKM dengan mewujudkan prinsip-


prinsip GCG adalah meningkatnya produktivitas dan efisiensi usaha. Manfaat lain
adalah meningkatnya kemampuan operasional usaha dan pertanggungjawaban
kepada publik. Selain itu juga memperkecil praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme,
serta konflik kepentingan. Corporate governance yang baik dapat mendorong
pengelolaan perusahaan yang lebih demokratis, lebih accountable (adanya
pertanggungjawaban dari setiap tindakan), dan lebih transparan serta akan
meningkatkan keyakinan bahwa UMKM dapat memberikan manfaat jangka
panjang.

C. Implikasi Penerbitan Saham Baru Bagi Kepemilikan Perusahaan Penerbit


Saham
Dengan mendapatkan tambahan dana untuk permodalan usaha dengan
menerbitkan sejumlah saham baru, maka kini perusahaan penerbit memiliki
investor baru selaku pemegang saham baru di perusahaan. Investor baru ini
memiliki kedudukan, hak dan kewenangan dalam perusahaan sesuai dengan porsi
kepemilikan sahamnya yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga (AD/ART) perusahaan penerbit. Oleh karena itu, sebelum menerbitkan
saham, penting bagi perusahaan penerbit saham untuk menetapkan batasan
mengenai jumlah saham baru yang akan diterbitkan karena menentukan jumlah
maksimum kepemilikan saham oleh investor.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 102


Pemegang saham yang memiliki porsi kepemilikan lebih dari setengah (50%) dari
saham perusahaan mengendalikan perusahaan dan dikenal sebagai pemegang
saham mayoritas. Semakin besar kepemilikan saham, maka semakin besar
pengaruh pemilik saham dalam mengendalikan perusahaan.
Persentase kepemilikan saham mereka juga menentukan hak mereka untuk
memberikan suara dalam urusan bisnis dan untuk duduk di dewan direksi. Karena
mereka adalah pemilik perusahaan, mereka menuai keuntungan finansial dan
menanggung risiko.

Selain itu, dengan hadirnya investor baru dalam perusahaan penerbit, maka
perusahaan harus dikelola dengan lebih baik dan lebih bertanggungjawab.
Investor merupakan mitra dalam berbisnis untuk jangka panjang, oleh karenanya
sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dengan keterbukaan
informasi mengenai aspek keuangan perusahaan dan hal-hal penting mengenai
perkembangan bisnis juga perlu diketahui oleh investor. Mengelola perusahaan
dengan jujur, amanah dan menjaga reputasi perusahaan merupakan attitude yang
akan berimplikasi terhadap kesuksesan dan keberlangsungan usaha dalam jangka
panjang

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 103


BAB IV
PASAR SEKUNDER DALAM SECURITIES CROWDFUNDING
SYARIAH

Dalam pasar modal syariah, saham syariah dapat diperdagangkan dalam pasar primer
yaitu antara penerbit dengan investor dan pasar sekunder yaitu perdagangan antara
investor dengan investor lainnya. Bagi penerbit saham, perdagangan saham syariah
dalam pasar sekunder ini relatif tidak berpengaruh signifikan terhadap operasional
bisnis dan hanya berpengaruh pada pergantian pemegang saham saja.

Keberadaan pasar sekunder diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas


investor dan balancing portofolio investasi dari investor. Apabila pemegang saham
dari suatu perusahaan yang terdaftar di SCF ingin keluar dari kemitraan dan melepas
saham kepemilikannya yang dibeli melalui SCF, maka pemegang saham tersebut dapat
menjual saham tersebut melalui pasar sekunder yang diselenggarakan oleh
penyelenggara SCF.

Pasar sekunder yang ada pada SCF berbeda dengan pasar sekunder yang terdapat
pada Bursa Efek Indonesia. Dalam pasar sekunder pada Bursa Efek Indonesia, seorang
pemegang saham dapat dengan bebas menjual saham yang dimiliki setiap harinya
tanpa memiliki batasan waktu-waktu tertentu. Termasuk tidak terdapat holding
period (masa kepemilikan saham) dalam rentang waktu tertentu pula. Sementara,
perdagangan saham di pasar sekunder SCF memiliki batasan waktu untuk
bertransaksi, maupun masa kepemilikan sahamnya.

A. Ketentuan Syariah Terkait Perdagangan Saham Pada Pasar Sekunder

Ketentuan syariah yang harus dipatuhi pada saat pemegang saham hendak
menjual saham di pasar sekunder SCF berdasarkan fatwa DSN nomor 80 Tahun
2011 Tentang Penerapan Prinsip Syariah Dalam Mekanisme Perdagangan Efek
Bersifat Ekuitas Di Pasar Reguler Bursa Efek, yaitu:

1. Perdagangan di pasar sekunder menggunakan akad jual beli (bai’)

Sekuritas atau efek yang dapat diperjualbelikan melalui pasar sekunder ialah
sekuritas berbentuk penyertaan modal seperti sukuk mudharabah atau

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 104


musyarakah dan saham. Dalam fatwa DSN Nomor 137 Tentang Sukuk
dijelaskan bahwa sukuk yang boleh diperdagangkan di pasar sekunder adalah
sukuk yang tidak berupa dain (utang atau piutang). Oleh sebab itu, sukuk
dengan akad jual beli seperti murabahah dan istishna’ tidak dapat
diperjualbelikan di pasar sekunder.

Adapun saham, karena saham pada hakikatnya merepresentasikan


kepemilikan seseorang atas aset usaha pada suatu perusahaan, dengan
demikian secara syariah saham merupakan aset yang bersifat intangible yang
dapat diperjualbelikan sebagaimana barang. Dalam fatwa DSN Nomor 135
Tentang Saham dinyatakan bahwa transaksi pengalihan saham syariah dapat
dilakukan dengan cara jual beli, hibah, infak, zakat, hadiah dan atau cara-cara
lain yang tidak bertentangan dengan syariah.

2. Akad jual beli dinilai sah ketika terjadi kesepakatan pada harga serta
jenis dan volume tertentu antara permintaan beli dan penawaran jual
dalam akad

Dalam transaksi jual beli saham, ketika ijab qabul telah dilaksanakan dengan
adanya kesepakatan pada harga, jenis dan volume saham tertentu, maka jual
beli saham tersebut dihukumi sah. Proses jual beli saham tersebut, secara
syariah dapat dilakukan dalam bentuk tatap muka ataupun melalui media
elektronik. Dalam fatwa DSN Nomor 110 Tentang Akad Jual Beli, telah
dijelaskan bahwa:

1) Akad jual beli harus dinyatakan secara tegas dan jelas serta dipahami dan
dimengerti oleh penjual dan pembeli.

2) Akad jual beli boleh dilakukan secara lisan, tertulis, isyarat dan perbuatan/
tindakan, serta dapat dilakukan secara elektronik sesuai syariah dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Pembeli boleh menjual saham setelah akad jual beli dinilai sah dan
saham telah diserahterimakan

Pada prinsipnya secara syariah, barang yang dibeli oleh seseorang baru dapat
dijual kembali kepada pihak lainnya, setelah barang tersebut
diserahterimakan dari penjual pertama kepada pembelinya. Fatwa DSN

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 105


Nomor 80 Tentang Penerapan Prinsip Syariah Dalam Mekanisme
Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Di Pasar Reguler Bursa Efek melarang
adanya transaksi short selling (jual beli kosong) dalam jual beli saham. Short
selling adalah suatu cara yang digunakan dalam penjualan saham yang belum
dimiliki dengan harga tinggi dengan harapan akan membeli kembali pada saat
harga turun. Dalam kasus ini, short selling termasuk dalam penjualan barang
yang barangnya belum diserahterimakan dari penjual pertama.

4. Efek berupa saham yang dapat dijadikan obyek perdagangan hanya


saham yang sesuai prinsip syariah

Jenis saham yang boleh untuk dibeli dan dijual melalui pasar sekunder adalah
saham yang masuk ke dalam jenis saham syariah. Saham-saham yang dijual
melalui SCF syariah, tentunya telah melalui proses screening terlebih dahulu
sehingga semua saham yang diterbitkan masuk dalam kategori saham syariah.

5. Harga dalam jual beli tersebut dapat ditetapkan berdasarkan


kesepakatan yang mengacu pada harga pasar wajar melalui mekanisme
tawar menawar yang berkesinambungan (bai’ al-musawamah)

Kesepakatan jual beli antara pemilik saham dengan calon pembeli saham
harus mengacu kepada harga pasar wajar. Pemilik saham tidak boleh
menciptakan suatu kondisi yang menimbulkan adanya permintaan atau
penawaran palsu. Permintaan atau penawaran palsu ini ditujukan untuk
memberikan kesan seolah-olah terdapat permintaan atau penawaran yang
tinggi sehingga pasar terpengaruh untuk membeli atau menjual.

6. Dalam perdagangan saham, tidak boleh melakukan kegiatan dan atau


tindakan yang sesuai dengan prinsip syariah

Prinsip dasar nomor 6 ini merupakan kaidah umum dalam kegiatan jual beli
sekuritas, baik dalam bentuk sukuk penyertaan ataupun saham. Termasuk
dalam tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah serta tidak
diperbolehkan, diantaranya transaksi perdagangan sekuritas atau efek yang
mengandung unsur spekulasi, manipulasi, dan tindakan lain yang di dalamnya
mengandung unsur dharar (bahaya), gharar (ketidakpastian yang dilarang),
riba, maisir (perjudian), risywah (menyogok), maksiat dan kezhaliman,

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 106


taghrir, ghisysy (kecurangan), tanajusy/najsy (penawaran palsu), ihtikar
(penimbunan), bai’ al-ma’dum (jual beli saham yang belum dimiliki), talaqqi
al-rukban (penjualan saham dibawah harga pasar dengan memanfaatkan
ketidaktahuan pembeli), riba dan tadlis (penipuan).

Tabel Ringkasan Ketentuan Syariah Terkait Penjualan Saham Melalui


SCF Syariah

No. Parameter Ketentuan


1. Akad Akad jual beli
2. Bentuk akad Boleh secara elektronik
3. Serah terima Saham yang dibeli tidak boleh dijual
kembali sebelum diserahterimakan
4. Sifat saham Saham harus berupa saham syariah
5. Harga Mengacu pada harga pasar wajar
6. Larangan dalam ▪ Spekulasi
mekanisme transaksi ▪ Manipulasi
▪ Penipuan
▪ Mengandung bahaya
▪ Mengandung gharar

B. Ketentuan Perdagangan Saham Syariah di Pasar Sekunder


Berdasarkan POJK Nomor 57 Tahun 2020

Selain harus memenuhi ketentuan syariahnya, pelaksanaan perdagangan saham


di pasar sekunder yang diselenggarakan oleh penyelenggara SCF, wajib dilakukan
dengan ketentuan sebagaimana berikut:

1. Hanya berlaku bagi saham yang telah didistribusikan paling singkat 1


(satu) tahun sebelum perdagangan saham.

2. Hanya dapat dilakukan antar sesama pemodal yang terdaftar pada


Penyelenggara.

3. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan hanya dapat dilakukan 2 (dua)
kali perdagangan saham.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 107


4. Sistem pada penyelenggara SCF harus dapat menyediakan:

a. Harga wajar sebagai referensi penjual dan pembeli.

b. Sistem komunikasi bagi pengguna yang dapat digunakan sebagai


sarana komunikasi antar pengguna untuk membeli atau menjual Efek.

5. Penyelenggara wajib menyampaikan perubahan data pemegang saham


Penerbit kepada Otoritas Jasa Keuangan dan mengumumkannya dalam
situs web Penyelenggara paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah
berakhirnya setiap pelaksanaan perdagangan saham.

6. Perdagangan saham dapat dilakukan tanpa akta pemindahan hak.

7. Saham penerbit dapat diperdagangkan dalam pelaksanaan.

8. perdagangan saham sepanjang tidak bertentangan dengan anggaran dasar


penerbit.

Tabel Ringkasan Ketentuan Penjualan Saham Melalui SCF Syariah

No. Parameter Ketentuan


▪ 1 tahun setelah an
1. Jangka waktu
▪ Dalam 12 hanya 2 kali penjualan

Hanya boleh dilakukan sesama pemodal


2. Kriteria pembeli
yang terdaftar dalam SCF

Dapat memberikan informasi harga pasar


3. Sistem
wajar

Tidak bertentangan dengan anggaran


4. Mekanisme
dasar

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 108


DAFTAR PUSTAKA

Darmawi, H. (2006). Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: PT


Bumi Aksara.

Dewan Syariah Nasional. (2021). Kategori: Fatwa. Diambil kembali dari DSNMUI Web
Site: [Link]

Martono. (2002). Bank Dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta: Ekonisia.

Otoritas Jasa Keuangan. (2021). Regulasi. Dipetik September 2021, dari OJK Web site:
[Link]

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 109


Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 110
Materi Presentasi Modul 2

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 111


Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 112
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 113
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 114
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 115
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 116
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 117
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 118
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 119
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 120
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 121
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 122
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 123
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 124
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 125
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 126
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 127
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 128
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 129
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 130
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 131
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 132
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 133
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 134
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 135
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 136
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 137
Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 138
Buku Kerja Modul 2

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 139


Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 140
MODUL 2 Kode Modul
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH II – 01

PENJELASAN UMUM

Pelatihan berbasis kompetensi mengharuskan proses pelatihan memenuhi unit kompetensi


secara utuh yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Dalam buku kerja ini
disampaikan informasi apa saja yang diperlukan sebagai pengetahuan yang harus dimiliki untuk
melakukan praktik/keterampilan terhadap modul tersebut. Setelah memperoleh pengetahuan
dilanjutkan dengan latihan-latihan guna mengaplikasikan pengetahuan yang telah dimiliki tersebut.
Untuk itu diperlukan buku kerja ini sebagai media praktik dan sekaligus mengaplikasikan sikap kerja
yang telah ditetapkan karena sikap kerja melekat pada keterampilan.

Adapun tujuan dibuatnya buku kerja ini adalah:

1. Prinsip pelatihan dilakukan sesuai dengan konsep yang telah digariskan, yaitu pelatihan ditempuh
bab per bab per baik secara teori maupun praktik;
2. Prinsip praktik dapat dilakukan setelah dinyatakan kompeten teorinya dapat dilakukan secara
jelas dan tegas;
3. Pengukuran unjuk kerja dapat dilakukan dengan jelas dan pasti.

Ruang lingkup buku kerja ini meliputi pengerjaan tugas-tugas teori dan praktik per bab di Modul 2
Penerbitan Saham Syariah Melalui Securities crowdfunding Syariah

Buku Kerja Modul 2 Versi: 1-2021 i

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 141


MODUL 2 Kode Modul
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH II – 01

MODUL 2
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH
A. Tugas Teori

Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada kertas yang tersedia
Waktu Penyelesain Tugas : 30 menit
Soal Tugas :

1. Penerbit Saham yang akan menerbitkan saham syariah, harus memenuhi


ketentuan-ketentuan Syariah dibawah ini. Berikan tanda (√) pada jawaban yang
sesu ai.

Respon Pernyataan
Perusahaan Permainan yang tergolong judi.
Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman
yang haram
Produsen, distributor, dan / atau penyedia barang-barang ataupun
jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat
√ Kategori Jenis Usaha Tidak Dilarang Secara Syariah
Perusahaan Perdagangan yang mengandung unsur narkotika

2. Pihak pihak yang terlibat dalam penerbitan saham syariah yaitu


Berikan tanda (√) pada pernyataan yang sesuai.
Respon Pernyataan
√ Penyelenggara SCF Syariah
Investasi
Makelar
Pasar Modal
Baitul Maal Watamwil (BMT)

Buku Kerja Modul 2 Versi: 1-2021 1

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 142


MODUL 2 Kode Modul
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH II – 01

B. Tugas Praktik

A. Petunjuk
1. Baca dan pelajari setiap instruksi kerja di bawah ini dengan cermat sebelum
melaksanakan praktek
2. Klarifikasi kepada instruktur apabila ada hal-hal yang belum jelas
3. Laksanakan sesuai dengan urutan proses yang sudah ditugaskan
4. Seluruh proses kerja mengacu kepada Modul 2 yang dipersyaratkan

B. Skenario
Anda adalah pengusaha yang telah merintis usaha selama 3 tahun, anda ingin
mengembangkan usaha dan menambah modal, saat ini anda mengikuti pelatihan SCF
Syariah sebagai calon penerbit saham Syariah. Sebagai seorang calon penerbit saham
Syariah anda harus mampu mengetahui tentang saham Syariah dan mampu
menggambarkan proses dan tahapan penerbitan saham Syariah.

C. Instruksi
1. Anda ditugaskan menggambarkan tahapan penerbitan saham Syariah
2. Anda ditugaskan menuliskan hal-hal yang menjadi perhatian investor (pembeli
saham) terkait kriteria “Accountable” ?

Jawab :

1. Tahapan penerbitan saham syaria

2. Para calon investor, tentunya mencari usaha yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh
karena itu, agar dapat bersifat accountable, maka calon penerbit saham Syariah harus
memiliki:
a. Sebuah perusahaan harus ditopang oleh struktur organisasi yang memadai
b. Memiliki keterbukaan pada laporan keuangannya
c. Perusahaan harus memenuhi seluruh aspek legalitasnya. Track record dari
pemilik bisnis tentunya akan turut mempengaruhi dari sisi akuntabilitas sebuah
perusahaan

Buku Kerja Modul 2 Versi: 1-2021 2

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 143


MODUL 2 Kode Modul
PENERBITAN SAHAM SYARIAH MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH II – 01

C. Pengamatan Sikap Kerja

Harus cermat, teliti, sesuai Modul 2 Penerbitan Saham Syariah Melalui Securities
crowdfunding Syariah

Catatan Pengamatan Instruktur:

………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………

Tanda Tangan Peserta : ………………………….

Tanda Tangan Instruktur : …………………………..

Buku Kerja Modul 2 Versi: 1-2021 3

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 144


Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 145
Alat Uji Modul 2

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 146


FORM 1 - PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA
: MODUL 2 – PENERBITAN SAHAM SYARIAH PADA SCF
NAMA PELATIHAN
SYARIAH
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Jawab semua pertanyaan berikut, pilih jawaban yang paling tepat :

1. Berkenaan dengan aspek keuangan dari penerbit saham yang menerbitkan saham syariah, maka
Penerbit Saham harus mengelola keuangannya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, yaitu :
A. Ada pemilik dari perusahaan penerbit saham
B. Pemegang Saham yang menerapkan prinsip Syariah harus memiliki mekanisme pembersihan
kekayaan dari unsur-unsur yang tidak sesuai dengan prinsip Syariah
C. Alamat perusahaan penerbit saham jelas
D. Perusahaan penerbit saham memperoleh keuntungan berturut turut selama 5 tahun terakhir

2. Pilihan yang paling tepat dari ketentuan syariah tentang saham syariah dan penerbitannya ialah
sebagai berikut
A. Modal dasar dalam bentuk modal ditempatkan tidak dapat disetor secara bertahap
B. Setiap unit saham syariah memiliki nilai kepemilikan yang berbeda
C. Dalam proses penerbitan saham diperbolehkan adanya biaya-biaya penerbitan secara wajar
D. Pilihan jawaban A, B, dan C tidak ada yang benar

3. Dokumen yang berisi informasi-informasi penting Penerbit yang disajikan untuk calon Pemodal
agar calon Pemodal mengetahui dan memahami profil Penerbit dan pada akhirnya diharapkan
memutuskan untuk berinvestasi pada efek berupa saham yang ditawarkan oleh Penerbit saham,
dokumen tersebut disebut dengan :
A. Sertifikat saham
B. Laporan keuangan
C. Prospektus
D. Form Pembukaan penerbitan

4. Akad kerjasama diantara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana setiap pihak
memberikan kontribusi dana/ modal dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi sesuai nisbah
yang disepakati atau secara proporsional, sedangkan kerugian ditanggung oleh para pihak secara
proporsional, disebut syirkah …..:
A. Murabahah
B. Mudharabah
C. Ijarah
D. ‘Inan

Nama Peserta Tandatangan

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 147


FORM 2 - LEMBAR KUNCI JAWABAN PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA

: MODUL 2 – PENERBITAN SAHAM SYARIAH PADA SCF


NAMA PELATIHAN
SYARIAH
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Kunci Jawaban Pertanyaan Tertulis – Pilihan Ganda:

No. Jawaban

1. B
2. C
3. C
4. D

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 148


Buku Penilaian Modul 2

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 149


KATA PENGANTAR

Dalam rangka menerapkan pelatihan securities crowdfunding


syariah diperlukan adanya standar penilaian kerja sebagai acuan dalam
memberikan penilaian hasil dari pelatihan.

Untuk memenuhi komponen penilaian dalam proses pelatihan


tersebut maka disusunlah buku penilaian pelatihan securities crowdfunding
syariah.
Seperti diketahui Modul pelatihan securities crowdfunding syariah
terdiri dari 2 buku yaitu buku kerja dan buku penilaian. Kedua buku
tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu
dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat
digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling
berinteraksi.

Demikian modul penilaian pelatihan securities crowdfunding


syariah ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses
pelaksanaan pelatihan SCF Syariah.

Jakarta, Desember 2021

KNEKS

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 150


BAB I

PENDAHULUAN

A. Tujuan

Buku penilaian untuk Pelatihan SCF Syariah dibuat sebagai konsekuensi logis
dalam pelatihan yang telah menempuh tahapan penerimaan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja melaluibuku kerja. Setelah latihan-latihan
(exercise) dilakukan berdasarkan buku kerja maka untuk mengetahui sejauh
mana penguasaan materi SCF Syariah yang dimilikinya perlu dilakukan uji
komprehensif secara utuh per modul dan materi uji kompetensi itu ada dalam
buku penilaian ini.

B. Metode Penilaian

Adapun tujuan dibuatnya buku penilaian ini, yaitu untuk menguji


penguasaan peserta pelatihan setelah selesai menempuh buku kerja secara
komprehensif dan berdasarkan hasil uji inilah peserta akan dinyatakan telah
menguasai terhadap modul SCF Syariah. Metode Penilaian yang dilakukan
meliputi penilaian yang opsinya sebagai berikut:

1. Metode Penilaian Pengetahuan

Untuk menilai pengetahuan yang telah disampaikan selama proses pelatihan


terlebih dahulu dilakukan tes tertulis melalui pemberian materi tes dalam
bentuk tertulis yang dijawab secara tertulis juga. Untuk menilai pengetahuan
dalam proses pelatihan materi tes disampaikan lebih dominan dalam bentuk
obyektif tes, dalam hal ini jawaban singkat dan pilihan ganda.

2. Metode Penilaian Keterampilan

Penilaian dilakukan dengan cara peserta mempraktekan tugas instruksi yang


diberikan berdasarkan scenario penugasan.

3. Metode Penilaian Sikap Kerja

Untuk melakukan penilaian sikap kerja digunakan Metode observasi


terstruktur, artinya pengamatan yang dilakukan menggunakan lembar
penilaian yang sudah disiapkan sehingga pengamatan yang dilakukan
mengikuti petunjuk penilaian yang dituntut oleh lembar penilaian tersebut.
Pengamatan dilakukan pada waktu peserta uji/peserta pelatihan melakukan
keterampilan kompetensi yang dinilai karena sikap kerja melekat pada
keterampilan tersebut.

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 151


BAB II

PENILAIAN PER MODUL MODUL PELATIHAN

A. Lembar Penilaian Teori

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 70 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

B. Lembar Penilaian Praktik

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 71 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

C. Lembar Penilaian Sikap Kerja

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 72 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

D. Lembar Penilaian Teori + Praktik + Sikap Kerja (rata-rata)

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 73 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

Modul 2 Persiapan Penerbitan Saham melalui Securities Crowdfunding Syariah| 152


MODUL 3

PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI


SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 153


Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 154
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Umum

Setelah mempelajari modul ini peserta latih diharapkan mampu memahami


persiapan dan proses penerbitan sukuk melalui securities crowdfunding syariah.

B. Tujuan Khusus
Adapun tujuan mempelajari securities crowdfunding guna memfasilitasi peserta
latih, sehingga pada akhir pelatihan diharapkan memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1. Memahami tentang sukuk, perbedaannya dengan obligasi dan perbedaan
sukuk pada SCF Syariah dengan sukuk pada BEI.
2. Memahami kriteria syariah penerbit sukuk
3. Memahami jenis-jenis sukuk berdasarkan akad
4. Dapat melakukan proses penerbitan sukuk melalui penyelenggara securities
crowdfunding

C. Sistematika Pembahasan

Pembahasan tentang penerbitan sukuk melalui securities crowdfunding (SCF)


syariah dalam Modul 3 ini, terbagi dalam beberapa pokok pembahasan. Bab I,
berisi tentang tujuan umum dan khusus dari Modul 3, serta metode pembahasan
tentang materi-materi yang ada di dalamnya.

Bab II, membahas tentang pengenalan mengenai sukuk. Dalam bab ini dibahas
tentang pengertian sukuk, perbedaan antara sukuk dan obligasi, kriteria syariah
Penerbit sukuk serta jenis-jenis sukuk berdasarkan akad.

Bab III, membahas tentang proses penerbitan sukuk melalui securities


crowdfunding dan skema syariah dalam penyelesaian sukuk bermasalah.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 155


BAB II
PENGENALAN TENTANG SUKUK

Pilihan instrumen pendanaan pada SCF Syariah bagi penerbit selain saham adalah
sukuk. Berbeda halnya dengan saham, dimana penerbit harus berbagi kepemilikan
usaha dengan para investor, dalam instrumen sukuk, penerbit hanya berbagi
kepemilikan atas aset perusahaan yang dijadikan sebagai dasar penerbitan sukuk.
Instrumen sukuk ini dapat dipilih oleh penerbit yang tidak menginginkan adanya
campur tangan pihak-pihak lain dalam kepemilikan usaha. Selain itu untuk
menerbitkan saham syariah, badan hukum penerbit harus berbentuk perseroan
terbatas (PT), sehingga bagi UMKM Calon penerbit yang berbentuk badan hukum lain
seperti koperasi ataupun CV dapat memilih untuk menerbitkan sukuk ini. Dengan
demikian penerbit pada SCF Syariah dapat memilih untuk menghimpun pendanaan
dengan menerbitkan saham atau sukuk, tergantung dari preferensi masing-masing
penerbit.

A. Pengertian Sukuk

Surat berharga syariah (efek syariah) berupa sertifikat atau bukti kepemilikan
modal yang satuannya bernilai sama dan mewakili bagian kepemilikan yang tidak
bisa ditentukan batas-batasnya secara fisik (musya’) atas aset yang mendasarinya
(aset sukuk).

Aset sukuk adalah aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk yang terdiri atas aset
berwujud, manfaat atas aset berwujud, jasa, aset berupa proyek tertentu dan/atau
aset berupa kegiatan investasi atau usaha yang telah ditentukan.

B. Perbedaan Sukuk pada SCF Syariah dengan Sukuk yang diterbitkan


Melalui Penawaran Umum

Sukuk yang diterbitkan dalam SCF Syariah memiliki karakteristik yang berbeda
dengan Sukuk yang diterbitkan melalui Penawaran Umum, perbedaan utamanya
yaitu:
(1) Nilai penerbitan Sukuk SCF Syariah, lebih kecil dibandingkan dengan Sukuk
yang diterbitkan melalui Penawaran Umum, maksimum nilai sukuk yang

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 156


dapat diterbitkan sebesar Rp 10 Milyar, sedangkan nilai sukuk pada
Penawaran Umum mencapai puluhan triliun, oleh karenanya Sukuk SCF
Syariah seringkali disebut sebagai mini-sukuk.
(2) Sukuk pada SCF Syariah tidak dapat diperdagangkan sesuai ketentuan
regulasi yang berlaku, tidak seperti Sukuk yang diterbitkan melalui
Penawaran Umum yang dapat diperdagangkan setiap hari (perdagangan
sekunder).
(3) Penerbit sukuk pada SCF Syariah adalah UMKM, sementara penerbit Sukuk
melalui Penawaran Umum adalah perusahaan BUMN, anak perusahaan
BUMN, perusahaan swasta dan perusahaan besar lain sehingga nilai
penerbitan sukuk mereka juga besar.

C. Perbedaan Sukuk dengan Obligasi

Sukuk pada dasarnya merupakan instrumen yang memiliki karakteristik seperti


obligasi namun tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Oleh
karena itu memiliki beberapa karakter yang berbeda dari obligasi konvensional,
yang mencakup perbedaan jenis transaksi, perbedaan pada objek aset yang
mendasarinya dan hak serta kewajiban para pihak yang muncul dari jenis
transaksi yang digunakan. Perbedaan antara keduanya, dijelaskan dalam bentuk
tabel dibawah ini:
Obligasi
No Aspek Sukuk
Konvensional

Penerbit tidak harus


merupakan entitas syariah,
Aktivitas Bisnis
1 jenis usaha, aktivitas dan Tidak Dibatasi
Penerbit
pengelolaan usaha harus
sesuai syariah.

Sertifikat bukti kepemilikan Instrumen pernyataan


2 Sifat Instrumen
atas suatu aset hutang

Underlying Perlu, dapat berupa barang,


3 Tidak Perlu
Asset jika jual beli atau sewa, atau

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 157


usaha/ proyek jika berupa
penyertaan modal

Jual-beli, sewa dan


4 Jenis transaksi Pinjaman
penyertaan modal

Penghasilan Margin, ujrah atau bagi hasil


5 Bunga, Capital Gain
Investor sesuai akad yang digunakan

Penggunaan Harus digunakan sesuai


6 Bebas
Dana syariah

7 Jenis Investor Konvensional dan Syariah Konvensional

D. Kriteria Syariah Penerbit Sukuk

Sesuai fatwa DSN No. 40 Tentang Pasar Modal, maka kriteria syariah bagi penerbit
saham syariah juga berlaku bagi penerbit sukuk, yaitu:

No Kriteria

Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan dan akad serta cara
pengelolaan perusahaan Penerbit atau Perusahaan Publik yang
1
menerbitkan Efek Syariah tidak boleh bertentangan dengan Prinsip-
prinsip Syariah.

Jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 1 di atas, antara lain:

a. Perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang


2 dilarang;
b. Lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan
asuransi konvensional;
c. Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman yang
haram; dan

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 158


d. Produsen, distributor, dan/atau penyedia barang-barang ataupun
jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
e. Melakukan investasi pada Penerbit (perusahaan) yang pada saat
transaksi tingkat (nisbah) hutang perusahaan kepada lembaga
keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya;

Penerbit atau Perusahaan Publik yang bermaksud menerbitkan Efek


3 Syariah wajib untuk menandatangani dan memenuhi ketentuan akad
yang sesuai dengan syariah atas Efek Syariah yang dikeluarkan.

Penerbit atau Perusahaan Publik yang menerbitkan Efek Syariah wajib


4 menjamin bahwa kegiatan usahanya memenuhi Prinsip-prinsip Syariah
dan memiliki Shariah Compliance Officer.

Dalam hal Penerbit atau Perusahaan Publik yang menerbitkan Efek


Syariah sewaktu-waktu tidak memenuhi persyaratan tersebut di atas,
5
maka Efek yang diterbitkan dengan sendirinya sudah bukan sebagai Efek
Syariah.

E. Jenis-Jenis Sukuk Berdasarkan Akad Dalam Securities crowdfunding (SCF)


Syariah

1. Sukuk Musyarakah

a. Definisi Sukuk Musyarakah

Sukuk musyarakah merupakan sukuk dimana pemegang sukuk dan


penerbit sukuk melakukan akad kerja sama (kemitraan) untuk suatu
proyek usaha tertentu di mana setiap pihak memberikan kontribusi
dana/modal usaha (ra's al-mal) dengan ketentuan bahwa keuntungan
dibagi sesuai nisbah yang disepakati atau secara proporsional sesuai
besaran modal, sedangkan kerugian ditanggung oleh para pihak secara
proporsional.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 159


b. Skema Sukuk Musyarakah

1. Sukuk musyarakah diterbitkan oleh penerbit melalui penyelenggara


SCF.
2. Penyelenggara SCF melakukan penawaran atas sukuk musyarakah
tersebut kepada calon investor atau calon pemegang sukuk.
3. Apabila calon investor setuju, calon investor akan memberikan
wakalah (kuasa) dan dana kepada penyelenggara SCF untuk menjadi
wakilnya dalam bertandatangan akad musyarakah dengan penerbit
sukuk.
4. Penyelenggara sebagai wakil dari investor melakukan akad
musyarakah dan menyerahkan modal dari investor kepada penerbit
sukuk sebagai mitra aktif dalam proyek usaha yang menjadi objek
musyarakah.
5. Penerbit sukuk melaksanakan proyek usaha yang menjadi objek sukuk
musyarakah
6. Penerbit sukuk melakukan pelaporan, pembagian imbal hasil atas
keuntungan yang muncul dari proyek usaha sekaligus mengembalikan
modal.
7. Setelah proyek yang menjadi dasar penerbitan sukuk musyarakah
selesai, penyelenggara SCF meneruskan laporan bagi hasil dan
pengembalian modal kepada investor.

Gambar 9. Skema Sukuk Musyarakah

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 160


c. Landasan Syariah Pada Skema Sukuk Musyarakah

Skema sukuk musyarakah mengacu kepada fatwa Dewan Syariah Nasional


(DSN):

1) Fatwa DSN Nomor 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk

2) Fatwa DSN Nomor 114 Tahun 2017 Tentang Akad Syirkah

3) Fatwa DSN Nomor 08 Tahun 2000 Tentang Pembiayaan Musyarakah

2. Sukuk Mudharabah

a. Definisi Sukuk Mudharabah

Sukuk mudharabah adalah sukuk yang menggunakan akad mudharabah.


Akad mudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara pemilik
modal (shahibul mal) yang menyediakan seluruh modal dengan pengelola
(mudharib) dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai nisbah
yang disepakati dalam akad.

b. Skema Sukuk Mudharabah

Gambar 10. Skema Sukuk Mudharabah

1) Penerbit melalui penyelenggara SCF syariah menerbitkan sukuk


mudharabah.

2) Penyelenggara SCF melakukan penawaran atas sukuk mudharabah


kepada calon investor.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 161


3) Setelah mendapatkan investor, investor memberikan wakalah (kuasa)
kepada penyelenggara SCF untuk menjadi wakilnya dalam
bertandatangan akad mudharabah dengan penerbit serta
menyerahkan modalnya.

4) Penyelenggara sebagai wakil dari investor melakukan akad


mudharabah dan menyerahkan modal dari investor kepada pihak yang
bertindak sebagai pengelola usaha (mudharib) dalam proyek yang
menjadi objek mudharabah.

5) Mudharib atau pengelola usaha melakukan pekerjaan yang menjadi


tanggung jawabnya.

6) Ketika proyek selesai, penerbit sebagai mudharib melakukan


pelaporan, perhitungan dan realisasi bagi hasil kepada pemodal atau
investor, sekaligus mengembalikan modal.

7) Penyelenggara SCF meneruskan laporan bagi hasil dan pengembalian


modal kepada investor.

c. Landasan Syariah Pada Skema Sukuk Mudharabah

Skema sukuk mudharabah mengacu kepada fatwa Dewan Syariah


Nasional (DSN):

1) Fatwa DSN Nomor 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk

2) Fatwa DSN Nomor 115 Tahun 2017 Tentang Akad Mudharabah

3) Fatwa DSN Nomor 07 Tahun 2000 Tentang Pembiayaan Mudharabah

3. Sukuk Musyarakah Mutanaqishah (MMQ), MMQ Refinancing &


Musyarakah Muntahiyah Bittamlik (MMB)

a. Sukuk Musyarakah Mutanaqishah (MMQ)

1) Definisi Sukuk Musyarakah Mutanaqishah (MMQ)

Sukuk musyarakah mutanaqishah (MMQ) ialah sukuk dengan akad


musyarakah atau syirkah yang kepemilikan aset (barang) atau modal
salah satu pihak (syarik/ mitra) berkurang disebabkan pembelian
secara bertahap oleh pihak lainnya.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 162


2) Perbedaan Antara Sukuk Musyarakah dan Musyarakah
Mutanaqishah (MMQ)

Perbedaan antara sukuk musyarakah dan MMQ terletak pada


mekanisme pengakhiran akadnya. Pengakhiran akad dalam akad
musyarakah dilakukan dengan cara pengembalian modal oleh
penerbit sukuk sebagai syarik/ mitra aktif kepada pemegang sukuk,
baik sekaligus ataupun bertahap. Adapun dalam akad MMQ,
pengakhiran akad dilakukan dengan cara pembelian porsi
kepemilikan modal atas aset MMQ (hishshah) milik pemegang sukuk
oleh penerbit sukuk secara bertahap.

3) Skema Sukuk Musyarakah Mutanaqishah

1. Penerbit menerbitkan sukuk musyarakah mutanaqishah melalui


SCF syariah.

2. Penyelenggara SCF syariah melakukan penawaran sukuk kepada


calon investor.

3. Investor memberikan wakalah (kuasa) kepada penyelenggara SCF


syariah dan dana MMQ untuk penyertaan modal dalam proyek
yang dilaksanakan oleh penerbit sukuk.

4. Penyelenggara SCF syariah sebagai wakil investor melakukan akad


MMQ dengan penerbit sukuk serta melakukan penyerahan modal.

Gambar 11. Skema Sukuk Musyarakah Mutanaqishah

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 163


5. Penerbit sukuk melaksanakan proyek dengan pihak ketiga sebagai
pemberi pekerjaan (bowheer).

6. Penerbit sukuk melakukan pelaporan, pembagian imbal hasil atas


keuntungan yang muncul dari proyek usaha dan pembelian porsi
modal ke penyelenggara SCF.

7. Penerbit sukuk melalui SCF sebagai wakil membeli porsi


kepemilikan modal investor secara bertahap hingga seluruh porsi
kepemilikan modal investor dialihkan seluruhnya kepada penerbit
sukuk serta membagikan imbal hasil ke investor.

4) Landasan Syariah Pada Skema Sukuk Musyarakah Mutanaqishah


(MMQ)

Skema sukuk MMQ mengacu kepada fatwa Dewan Syariah Nasional


(DSN):

a) Fatwa DSN Nomor 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk

b) Fatwa DSN Nomor 114 Tahun 2017 Tentang Akad Syirkah

c) Fatwa DSN Nomor 73 Tahun 2008 Tentang Musyarakah


Mutanaqishah

b. Sukuk Musyarakah Mutanaqishah (MMQ) Refinancing

1) Definisi Sukuk MMQ Refinancing

Sukuk MMQ refinancing adalah sukuk dengan akad MMQ atas aset
yang telah dimiliki oleh penerbit sukuk.

2) Perbedaan Antara Sukuk MMQ & MMQ Refinancing

Perbedaan antara sukuk musyarakah mutanaqisah dengan sukuk


musyarakah mutanaqishah refinancing terletak pada obyek yang
menjadi dasar sukuk. Dalam sukuk MMQ, obyek sukuk dapat berupa
proyek usaha secara umum. Sedangkan dalam sukuk MMQ refinancing,
obyek yang menjadi dasar sukuk ialah aset produktif tertentu secara
spesifik yang telah dimiliki oleh penerbit sukuk sebelumnya yang akan
digunakan dalam suatu proyek usaha. Misalnya, proyek usaha

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 164


penyewaan kapal atau mesin kepada pihak ketiga dimana aset
tersebut telah dimiliki oleh nasabah.

3) Skema Sukuk MMQ Refinancing

1) Penerbit menerbitkan sukuk MMQ refinancing

2) Penyelenggara SCF syariah melakukan penawaran kepada calon


investor.

3) Investor memberikan wakalah (kuasa) kepada penyelenggara SCF


syariah dan dana musyarakah untuk pembelian sebagian porsi
kepemilikan modal atas aset yang menjadi obyek MMQ
refinancing, milik penerbit sukuk.

4) SCF syariah sebagai wakil investor melakukan akad MMQ


refinancing dengan penerbit sukuk dengan cara membeli sebagian
porsi kepemilikan modal atas aset milik penerbit sukuk yang
menjadi objek sukuk.

5) Penerbit sukuk menyewakan aset sukuk MMQ kepada pihak ketiga


sebagai pemberi proyek (bowheer).

6) Pemegang dan penerbit sukuk berbagi hasil dari keuntungan sewa


atas aset kepada pihak ketiga.

7) Penerbit sukuk membeli porsi kepemilikan pemegang sukuk atas


aset secara bertahap hingga seluruh porsi kepemilikan pemegang
sukuk telah dibeli seluruhnya oleh penerbit sukuk.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 165


4) Landasan Syariah Pada Skema Sukuk Musyarakah Mutanaqishah
(MMQ)

Skema sukuk MMQ mengacu kepada fatwa Dewan Syariah Nasional


(DSN):

1. Fatwa DSN Nomor 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk

2. Fatwa DSN Nomor 114 Tahun 2017 Tentang Akad Syirkah

3. Fatwa DSN Nomor 73 Tahun 2008 Tentang Musyarakah


Mutanaqishah

4. Fatwa DSN Nomor 89 Tahun 2013 Tentang Pembiayaan Ulang


Syariah

c. Sukuk Musyarakah Muntahiyah Bittamlik (MMBT)

1) Definisi Sukuk Musyarakah Muntahiyah Bittamlik (MMBT)

Sukuk musyarakah muntahiyah bittamlik (MMBT) adalah sukuk


dengan akad musyarakah atau syirkah yang kepemilikan porsi modal
pemegang sukuk dialihkan kepada penerbit sukuk secara sekaligus
pada saat masa akad sukuk musyarakah berakhir, dengan akad jual
beli atau hibah.

2) Perbedaan Antara Sukuk MMQ & MMBT

Pada dasarnya, skema sukuk MMQ adalah sama dengan sukuk MMBT.
Perbedaannya hanya terletak pada pengakhiran akad musyarakah
dalam MMBT secara sekaligus pada saat masa akad sukuk musyarakah
berakhir. Adapun dalam sukuk MMQ, modal dialihkan melalui akad
jual beli secara bertahap.

3) Skema Sukuk Musyarakah Muntahiyah Bittamlik

a) Penerbit menerbitkan sukuk musyarakah muntahiya bittamlik


melalui SCF syariah.

b) Penyelenggara SCF syariah melakukan penawaran sukuk kepada


calon investor.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 166


c) Investor memberikan wakalah (kuasa) kepada penyelenggara SCF
syariah dan dana musyarakah untuk penyertaan modal dalam
proyek yang dilaksanakan oleh penerbit sukuk.

d) SCF syariah sebagai wakil investor melakukan akad MMBT dengan


penerbit sukuk.

e) Penerbit sukuk melaksanakan proyek dengan pihak ketiga sebagai


pemberi pekerjaan (bowheer).

f) Pemegang dan penerbit sukuk berbagi hasil dari keuntungan yang


dihasilkan oleh proyek, selama proyek berlangsung.

g) Setelah jangka waktu akad musyarakah berakhir, penerbit sukuk


melalui SCF sebagai wakil membeli porsi kepemilikan modal
pemegang sukuk sekaligus secara keseluruhan.

4) Landasan Syariah Pada Skema Sukuk Musyarakah Muntahiyah Bi


Al-Tamlik (MMBT)

Skema sukuk MMBT mengacu kepada fatwa Dewan Syariah Nasional


(DSN):

a) Fatwa DSN Nomor 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk

b) Fatwa DSN Nomor 114 Tahun 2017 Tentang Akad Syirkah

c) Fatwa DSN Nomor 133 Tahun 2019 Tentang Al-Musyarakah Al-


Muntahiyah Bi Al-Tamlik

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 167


BAB III
PENERBITAN SUKUK MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH

A. Tahapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities crowdfunding Syariah

1. Pihak-pihak yang terlibat dalam Penerbitan Sukuk


Penerbitan sukuk melalui securities corwdfunding syariah melibatkan
beberapa pihak diantaranya :
1. Penyelenggara Layanan Urun Dana (CrowdFunding) yang selanjutnya
disebut Penyelenggara adalah badan hukum Indonesia yang menyediakan,
mengelola, dan mengoperasikan Layanan Urun Dana.
2. Penerbit adalah adalah badan usaha Indonesia baik yang berbentuk badan
hukum maupun badan usaha lainnya yang menerbitkan Efek melalui
Layanan Urun Dana. Penerbit dilarang merupakan:
a. Badan usaha yang dikendalikan baik langsung maupun tidak langsung
oleh suatu kelompok usaha atau konglomerasi;
b. Perusahaan terbuka atau anak perusahaan terbuka
c. Badan usaha dengan kekayaan bersih lebih dari Rp10 Miliar, tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
3. Pemodal adalah pihak yang melakukan pembelian Efek Penerbit melalui
Layanan Urun Dana, Pemodal yang dapat membeli Efek melalui Layanan
Urun Dana wajib:
a. Memiliki rekening Efek pada Bank Kustodian yang khusus untuk
menyimpan Efek dan/atau dana melalui Layanan Urun Dana
b. Memiliki kemampuan untuk membeli Efek Penerbit
c. Memenuhi kriteria Pemodal dan batasan pembelian Efek
4. Bank Kustodian adalah bank umum yang telah memperoleh persetujuan
Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan kegiatan usaha sebagai
kustodian.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 168


Gambar 12. Tahapan Penerbitan Sukuk

Tahapan proses penerbitan sukuk, sama dengan penerbitan saham, namun


demikian, terdapat ketentuan khusus mengenai penerbitan sukuk yang
membedakan dengan penerbitan saham syariah.

2. Tahap Proses Pengajuan

Pada tahap awal pengajuan ini, calon penerbit sukuk menyerahkan beberapa
dokumen-dokumen sebagaimana berikut:

a. Dokumen legalitas, perizinan usaha dan informasi umum mengenai


perusahaan calon penerbit sukuk

a) Akta pendirian, perubahan anggaran dasar terakhir dan pengesahan


dari instansi yang berwenang

b) Informasi terkait susunan permodalan sebelum dan sesudah


penghimpunan dana

c) Daftar riwayat hidup pemegang saham pendiri, direksi dan dewan


komisaris

d) Perizinan yang berkaitan dengan kegiatan usaha Penerbit dan/atau


Proyek yang akan didanai dengan dana hasil penawaran sukuk melalui
Layanan Urun Dana

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 169


b. Informasi mengenai sukuk yang ditawarkan

a) Informasi terkait jenis dan jumlah sukuk yang ditawarkan

b) Jumlah dana yang akan dihimpun dalam penawaran sukuk dan tujuan
penggunaan dana hasil penawaran sukuk

c) Jumlah minimum dana yang harus diperoleh dalam penawaran sukuk,


jika Penerbit menetapkan jumlah minimum dana yang harus diperoleh

d) Adanya pernyataan kesesuaian syariah dari Dewan Pengawas Syariah


atau Tim Ahli Syariah (TAS) yang memiliki izin Ahli Syariah Pasar
Modal, yang ditunjuk oleh Penyelenggara; dan
e) Surat pernyataan Penyelenggara yang akan menunjuk pihak yang
bertanggung jawab melakukan pengawasan terkait dengan
pemenuhan prinsip syariah di pasar modal, jika penyelenggara tidak
memiliki Dewan Pengawas Syariah.

c. Informasi mengenai perencanaan bisnis dan keuangan calon


penerbit sukuk

a) Rencana bisnis atau Proyek dan proyeksi pendapatannya

b) Laporan keuangan yang paling rendah disusun berdasarkan standar


akuntansi keuangan entitas mikro kecil menengah

d. Informasi terkait penerbitan sukuk

a) Ikhtisar hak pemegang Sukuk

b) Persetujuan penawaran Sukuk, jika dipersyaratkan;

c) Kondisi yang dapat menyebabkan keadaan lalai, termasuk cara


penyelesaiannya;

d) Alasan dan tata cara diselenggarakannya rapat umum pemegang


Sukuk;

e) Uraian mengenai Proyek yang menjadi dasar penerbitan Sukuk, paling


sedikit mengenai jenis, perizinan, dasar pengerjaan atau bukti
kepemilikan Proyek, dan jangka waktu Proyek;

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 170


f) Peringkat Sukuk. Sukuk tidak wajib dilakukan pemeringkatan, namun
apabila sukuk yang diterbitkan diperingkat, maka disertakan juga
dokumen pemeringkatan sukuk tersebut;

g) Jenis akad syariah dan skema transaksi syariah,

h) Harga, besaran nisbah bagi hasil, margin, imbal jasa atau imbal hasil
dengan cara lain yang ditetapkan

i) Pernyataan bahwa Penerbit tidak mempunyai kewajiban pada


Penyelenggara lain.

e. Informasi penting lainnya yang perlu disampaikan kepada calon


Investor

(a) Surat pernyataan kesanggupan untuk melakukan perjanjian dengan


Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian dalam rangka pendaftaran
Efek dalam penitipan kolektif

(b) Risiko utama yang dihadapi Penerbit; dan

(c) Informasi mengenai tidak likuidnya Efek yang ditawarkan.

3. Tahap Uji kelayakan & seleksi bisnis

Setelah dokumen-dokumen lengkap, maka akan dilakukan tahap uji kelayakan


dan seleksi bisnis, yang meliputi:

a. Uji kelayakan usaha berdasarkan aspek bisnis

Sama halnya dengan proses penerbitan saham, pada penerbitan sukuk


juga melalui tahap uji kelayakan oleh penyelenggara untuk menilai
kelayakan dari calon penerbit sukuk dari sisi bisnisnya. Pada dasarnya
semua bisnis memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menawarkan
sukuk melalui Securities crowdfunding. Namun ada 3 (tiga) syarat umum
yang pada umumnya menjadi penilaian Penyelenggara, yaitu:

1. Profitable
Sedapat mungkin bisnis yang listing adalah bisnis yang sudah berjalan,
sudah punya pelanggan, sudah menghasilkan. Jadi bukan baru mulai,

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 171


atau baru coba-coba. Kalaupun bisnis baru, ownernya harus sudah
punya pengalaman bisnis yang memadai.

2. Accountable
Penyelenggara mencari bisnis yang dapat dipertanggungjawabkan,
mampu menjalankan bisnis dengan tata kelola yang jelas dan
transparan. Jelas pembagian organisasinya, terbuka laporan
keuangannya, jelas legalitasnya, jelas kredibilitas ownernya, jelas
track record bisnisnya.

3. Sustainable
Kita semua tentu ingin bisnis yang kita miliki bisa sustain atau tumbuh
untuk jangka waktu yang lama bukan tren sesaat atau memiliki potensi
penurunan usaha beberapa tahun ke depan.

b. Proses shariah screening (seleksi syariah)

Setiap sukuk yang diterbitkan melalui securities crowdfunding syariah


maka harus mendapatkan pernyataan kesesuaian syariah dari Dewan
Pengawas Syariah (DPS) atau Tim Ahli Syariah (TAS) yang memiliki izin
Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) yang ditunjuk oleh Penyelenggara. Oleh
karena itu, sebelum memberikan persetujuan kepada penerbit,
penyelenggara melakukan proses shariah screening untuk memastikan
bahwa usaha calon penerbit telah memenuhi ketentuan syariah dan
underlying aset yang digunakan sebagai dasar penerbitan sukuk. Dalam hal
penyelenggara telah memiliki/menunjuk DPS yang memiliki izin ASPM,
maka pernyataan kesesuaian syariah atas sukuk yang diterbitkan dapat
diberikan oleh DPS Penyelenggara. Namun demikian, jika Penyelenggara
tidak memiliki DPS, maka Penyelenggara dapat menunjuk TAS yang
memiliki izin ASPM pada saat proses penerbitan sukuk.

Proses dari shariah screening ini sebagaimana dijelaskan pada prinsip-


prinsip syariah pada sukuk, maka akan meliputi penilaian terhadap tiga
aspek:

1) Kesesuaian usaha calon Penerbit dengan ketentuan syariah.

2) Pemenuhan prinsip syariah dalam akad yang digunakan.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 172


3) Pemenuhan prinsip syariah dalam aspek keuangannya.

c. Proses penelaahan dan valuasi nilai objek sukuk (underlying aset)

Setiap sukuk yang diterbitkan melalui securities crowdfunding syariah


harus memiliki objek atau aset yang mendasari penerbitan sukuk tersebut
(underlying aset). Underlying aset sukuk dapat berupa benda berwujud
(aset fisik), manfaat dari aset, proyek tertentu maupun usaha penerbit
secara keseluruhan. Oleh karena itu, penyelenggara akan melakukan
penelaahan terhadap underlying aset sukuk tersebut. Beberapa critical
point yang terkait penerbitan sukuk untuk pendanan proyek diantaranya:

▪ Informasi penting terkait proyek seperti Legalitas dan Perizinan


Proyek, Nama Proyek, Jenis Proyek, Jangka Waktu Pelaksanaan
Proyek, Nilai Proyek, Bowheer (pemilik proyek), Sumber Pembayaran
Proyek.
▪ Penerbit memenuhi perizinan dan kualifikasi yang disyaratkan untuk
mengerjakan proyek tersebut
▪ Penerbit memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan
proyek tersebut, baik dari sisi manajemen proyek, tenaga ahli serta
peralatan dan infrastruktur untuk menjalankan proyek tersebut.
▪ Rencana Anggaran Proyek dan Proyeksi Keuntungan yang akan
didapatkan dari pelaksanaan proyek tersebut. Penyelenggara akan
melakukan penelaahan kewajaran dari RAB Proyek dan Proyeksi
Keuntungan yang disampaikan oleh Penerbit.
▪ Berdasarkan penelaahan yang dilakukan, maka penyelenggara akan
memberikan valuasi/penilaian terhadap underlying aset sukuk.
Penyelenggara dapat menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik untuk
melakukan penilaian terhadap aset yang dimaksud.
4. Tahap Penyusunan materi penawaran sukuk

Untuk menarik minat Pemodal, maka Penerbit harus mampu menyajikan dan
mempresentasikan perusahaannya sebagai perusahaan yang layak investasi
dan memiliki prospek usaha yang menguntungkan.

Beberapa materi penawaran yang harus disiapkan oleh penerbit antara lain:

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 173


a) Video Profil Perusahaan

● Pemaparan profil singkat, visi dan misi Perusahaan yang disampaikan


oleh Direktur atau business owner

● Menginformasikan secara audio dan visual infrastruktur, kapasitas


karyawan, pabrik, alat-alat produksi dan lain-lain sehingga
meyakinkan Pemodal bahwa perusahaan memiliki kemampuan dan
kapasitas yang mumpuni sebagaimana tercermin di Prospektus
Perusahaan.

b) Prospektus

Adalah dokumen yang berisi data-data penting Penerbit yang disajikan


agar calon Pemodal mengetahui dan memahami profil usaha, karakter dan
risiko usaha dari Penerbit sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada
efek (saham atau sukuk) yang ditawarkan oleh Penerbit.

Prospektus sekurang-kurang nya berisi :

a) Highlight industri dan prospek insdustri terkait secara umum

b) Riwayat ringkas Perusahaan

c) Infrastruktur Perusahaan, Contoh : lokasi pabrik, kapasitas mesin dan


produksi, jumlah karyawan

d) Alur Proses Produksi

e) Profil Direksi dan Eksekutif Perusahaan

f) Susunan Pemegang Saham

g) Laporan Keuangan (Balanced Sheet/Neraca dan Profit & Loss/Rugi &


Laba)

h) Informasi penting penerbitan Sukuk :

✔ Dana yang dibutuhkan

✔ Minimum dana yang harus diperoleh dalam penawaran sukuk jika


penerbit menetapkan jumlah minimum

✔ Jenis sukuk yang ditawarkan

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 174


✔ Minimal investasi sukuk

✔ Periode pembagian imbal hasil

✔ Masa penawaran

✔ Kebijakan dan proyeksi imbal hasil

✔ Ketentuan opsi buyback

✔ Rekam jejak dan prospek usaha

✔ Risiko-risiko dan mitigasinya

✔ Rencana Penggunaan Dana


Sama halnya dengan penyusunan prospektus untuk penerbitan saham,
calon penerbit dalam menerbitkan sukuk pun akan didampingi oleh pihak
penyelenggara, sehingga penerbit dapat melakukan konsultasi terkait
bagaimana menyusun prospektus atau proposal yang baik, sehingga dapat
menarik investor untuk mendanai proyek yang ditawarkan oleh penerbit.
Dalam menghimpun pendanaan bagi sebuah proyek maka yang menjadi
pertimbangan penting investor untuk membeli sukuk adalah proyek itu
sendiri.

5. Tahap Penawaran sukuk

a. Masa Penawaran Sukuk maksimal 45 hari, berikut dibawah ini hal-hal


penting yang harus diketahui pada masa penawaran :

1) Selama masa penawaran, dana investor dihimpun oleh penyelenggara


dalam rekening escrow penyelenggara.
2) Apabila target pendanaan tidak terpenuhi, maka dana yang sudah
dihimpun tersebut akan dikembalikan kepada masing-masing investor
3) Apabila pada masa penawaran, penerbit melakukan pembatalan, maka
penerbit dikenakan penalti sesuai dengan kebijakan masing-masing
penyelenggara
b. Masa penawaran sukuk akan berakhir jika:

1) Selesainya masa penawaran.

2) Target pendanaan Seluruh sukuk telah terbeli

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 175


B. Fungsi Penyelenggara SCF Syariah Dalam Perdagangan Sukuk

Penyelenggaraan pasar modal melalui SCF Syariah dilakukan dengan lebih


sederhana dan ringkas jika dibandingkan dengan Bursa Efek Indonesia. Hal
tersebut dimaksudkan untuk memberi kemudahan bagi UMKM baik dari segi alur
penerbitan efek syariah maupun dari segi biaya. Namun, konsekuensi dari adanya
penyederhanaan tersebut adalah penyelenggara SCF Syariah melakukan beberapa
fungsi sekaligus yaitu:

1) Fungsi penelaahan, sebelum penerbitan sukuk, penyelenggara melakukan


fungsi penelaahan terhadap aspek bisnis, termasuk melakukan penelaahan
terhadap legalitas proyek yang menjadi dasar penerbitan sukuk. Selain itu,
penyelenggara wajib memastikan Sukuk yang diterbitkan telah memperoleh
pernyataan kesesuaian syariah dari tim ahli syariah yang memiliki izin ahli
syariah pasar modal atau dari dewan pengawas syariah penyelenggara.
2) Fungsi wali amanat, penyelenggara bertindak selaku kuasa Investor dan wajib
melakukan
a. Memantau perkembangan pengelolaan Proyek berdasarkan data dan/atau
informasi yang diperoleh baik langsung maupun tidak langsung;
b. Mengawasi dan memantau pelaksanaan kewajiban Penerbit berdasarkan
perjanjian mengenai penerbitan atau Sukuk;
c. Mengawasi, melakukan inspeksi, dan mengadministrasikan jaminan bagi
pembayaran kewajiban kepada pemegang Sukuk, jika terdapat jaminan
bagi pembayaran kewajiban kepada pemegang sukuk;
d. Memantau pembayaran yang dilakukan oleh Penerbit kepada pemegang
Sukuk.
3) Fungsi penilaian terhadap Objek Penerbitan Sukuk (underlying asset), objek
penerbitan sukuk tidak harus berupa aset berwujud seperti property,
kendaraan, persediaan dsb. Namun dapat juga berupa manfaat dari barang,
jasa, proyek atau pendapatan usaha dari penerbit. Oleh karena itu,
penyelenggara juga melakukan valuasi terhadap objek penerbitan sukuk
tersebut.
4) Fungsi pendampingan terhadap penerbit UMKM, baik sebelum penerbitan
sukuk maupun setelah penerbitan.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 176


C. Skema Syariah dalam Penyelesaian Sukuk Bermasalah

Pada bursa securities crowdfunding (SCF) syariah, sukuk yang dimiliki oleh
seorang investor tidak dapat dialihkan, sebab sukuk yang diterbitkan melalui SCF
syariah ditujukan untuk dimiliki oleh investor sampai dengan masa jatuh tempo
sukuk. Meskipun secara syariah, ditinjau dari sisi akad yang digunakan pada
sukuk, sukuk dapat dialihkan kepada pihak lain sesuai dengan jenis akadnya.
Ketentuan pengalihan secara syariah ini, dapat digunakan oleh penerbit sebagai
salah satu opsi penyelesaian apabila terjadi permasalahan pada sukuk yang
diterbitkankan. Oleh karena itu sangat penting bagi investor untuk meminta
informasi kepada masing-masing penyelenggara SCF terkait dengan opsi
penyelesaian apabila terdapat permasalahan pada sukuk yang diterbitkan.

Sesuai dengan POJK Nomor 57 Tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun
Dana, dalam Perjanjian Penyelenggaraan Layanan Urun Dana antara
penyelenggara SCF syariah dan penerbit, harus memuat tentang ketentuan yang
mengatur mekanisme penyelesaian sukuk bermasalah. Misalnya jika terjadi gagal
bayar dari penerbit. Selain itu, penyelenggara SCF dan penerbit wajib melakukan
tindak mitigasi atas risiko-risiko yang dapat timbul dari aktivitas pembiayaan
melalui sukuk.

Skema-skema restruktur pada sukuk yang bermasalah dapat dilakukan dalam


beberapa bentuk sesuai dengan jenis akad yang digunakan dalam sukuk tersebut.
Pada bab ini, akan dibahas beberapa skema restruktur pada jenis-jenis akad yang
sering digunakan dalam penerbitan sukuk saat ini.

1. Sukuk Mudharabah

Dalam sukuk mudharabah, ketika terjadi permasalahan yang berkaitan


dengan obyek usaha sukuk, dapat dilakukan perbaikan dalam bentuk:

a) Perpanjangan Jangka Waktu Sukuk

Perpanjangan waktu sukuk mudharabah dapat dilakukan apabila usaha


yang menjadi obyek akad mudharabah masih berjalan, namun penerbit
mengalami kesulitan dalam melakukan pengembalian modal investor.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 177


b) Penyelesaian Akad Melalui Penjualan Agunan

Apabila kerugian yang dialami oleh penerbit dalam proyek yang menjadi
dasar dari sukuk mudharabah diakibatkan karena wanprestasi penerbit,
maka penerbit wajib mengembalikan pokok modal investor, termasuk
diantaranya melalui penjualan agunan sukuk mudharabah. Namun,
apabila kerugian yang dialami oleh penerbit dalam proyek yang menjadi
dasar sukuk mudharabah bukan diakibatkan karena wanprestasi penerbit,
maka pemegang sukuk mudharabah akan menanggung kerugian sebesar
porsi modal dari masing-masing pemegang sukuk.

Kriteria kerugian karena wanprestasi dalam mudharabah, mengacu pada


fatwa DSN Nomor 105 Tahun 2016, yaitu kerugian usaha dalam akad
mudharabah yang diakibatkan oleh kelalaian (taqshir) penerbit sebagai
pengelola modal/ mudharib dari kewajibannya, melakukan sesuatu di luar
kewenangan (ta’addi) penerbit, atau melanggar ketentuan-ketentuan
(yang tidak bertentangan dengan syariah) yang disepakati para pihak yang
berakad.

c) Pengalihan Modal

Pengalihan modal mudharabah kepada pihak lain dapat dilakukan apabila


usaha mudharabah yang menjadi dasar sukuk mudharabah masih berjalan
dan memiliki potensi yang masih baik ke depannya. Dalam hal ini, pihak
lain akan menjadi pemodal (shahibul mal) yang baru akan menggantikan
posisi pemodal (shahibul mal) yang lama. Opsi pengalihan ini didasarkan
pada fatwa DSN No. 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk yang menyatakan
bahwa sukuk yang mempunyai dasar aset tidak berupa dain (utang atau
piutang) dapat diperdagangkan.

2. Sukuk Musyarakah

Dalam sukuk musyarakah, ketika terjadi permasalahan yang berkaitan dengan


obyek usaha sukuk, dapat dilakukan perbaikan dalam bentuk:

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 178


a. Perpanjangan Jangka Waktu Sukuk Musyarakah

Perpanjangan waktu sukuk musyarakah dapat dilakukan apabila usaha


yang menjadi objek akad musyarakah masih berjalan, namun penerbit
mengalami kesulitan dalam melakukan pengembalian modal investor.

b. Akad Melalui Penjualan Agunan

Apabila kerugian yang dialami oleh penerbit dalam proyek atau usaha
yang menjadi dasar dari sukuk musyarakah diakibatkan karena
wanprestasi penerbit, maka penerbit wajib mengembalikan pokok modal
investor, termasuk diantaranya melalui penjualan agunan sukuk
musyarakah. Namun, apabila kerugian yang dialami oleh penerbit dalam
proyek yang menjadi dasar sukuk musyarakah bukan diakibatkan karena
wanprestasi penerbit, maka pemegang sukuk musyarakah akan
menanggung kerugian sebesar porsi modal dari masing-masing pemegang
sukuk.

Kriteria kerugian karena wanprestasi dalam akad musyarakah, juga


mengacu pada fatwa DSN Nomor 105 Tahun 2016, yaitu kerugian usaha
dalam akad musyarakah yang diakibatkan oleh kelalaian (taqshir)
penerbit sebagai pengelola modal/ mitra aktif dari kewajibannya,
melakukan sesuatu di luar kewenangan (ta’addi) penerbit, atau melanggar
ketentuan-ketentuan (yang tidak bertentangan dengan syariah) yang
disepakati para pihak yang berakad.

c. Pengalihan Modal

Pengalihan modal musyarakah kepada pihak lain dapat dilakukan apabila


usaha yang menjadi dasar sukuk musyarakah masih berjalan dan memiliki
potensi yang masih baik ke depannya. Dalam hal ini, pihak lain akan
menjadi pemodal (mitra/ syarik) yang baru akan menggantikan posisi
pemodal (mitra/ syarik) yang lama. Opsi pengalihan ini didasarkan pada
fatwa DSN No. 137 Tahun 2020 Tentang Sukuk yang menyatakan bahwa
sukuk yang mempunyai dasar aset tidak berupa dain (utang atau piutang)
dapat diperdagangkan.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 179


DAFTAR PUSTAKA

Darmawi, H. (2006). Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: PT


Bumi Aksara.

Dewan Syariah Nasional. (2021). Kategori: Fatwa. Diambil kembali dari DSNMUI Web
Site: [Link]

Martono. (2002). Bank Dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta: Ekonisia.

Otoritas Jasa Keuangan. (2021). Regulasi. Dipetik September 2021, dari OJK Web site:
[Link]

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 180


Materi Presentasi Modul 3

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 181


Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 182
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 183
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 184
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 185
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 186
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 187
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 188
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 189
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 190
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 191
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 192
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 193
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 194
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 195
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 196
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 197
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 198
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 199
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 200
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 201
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 202
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 203
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 204
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 205
Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 206
Buku Kerja Modul 3

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 207


Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 208
MODUL 3 Kode Modul
PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH III – 01

PENJELASAN UMUM

Pelatihan berbasis kompetensi mengharuskan proses pelatihan memenuhi unit kompetensi


secara utuh yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Dalam buku kerja ini
disampaikan informasi apa saja yang diperlukan sebagai pengetahuan yang harus dimiliki untuk
melakukan praktik/keterampilan terhadap modul tersebut. Setelah memperoleh pengetahuan
dilanjutkan dengan latihan-latihan guna mengaplikasikan pengetahuan yang telah dimiliki tersebut.
Untuk itu diperlukan buku kerja ini sebagai media praktik dan sekaligus mengaplikasikan sikap
kerja yang telah ditetapkan karena sikap kerja melekat pada keterampilan.
Adapun tujuan dibuatnya buku kerja ini adalah:
1. Prinsip pelatihan dilakukan sesuai dengan konsep yang telah digariskan, yaitu pelatihan ditempuh
bab per bab per baik secara teori maupun praktik;
2. Prinsip praktik dapat dilakukan setelah dinyatakan kompeten teorinya dapat dilakukan secara
jelas dan tegas;
3. Pengukuran unjuk kerja dapat dilakukan dengan jelas dan pasti.

Ruang lingkup buku kerja ini meliputi pengerjaan tugas-tugas teori dan praktik per bab di modul 3
Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities crowdfunding Syariah

Buku Kerja Modul 3 Versi: 1-2021 i

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 209


MODUL 3 Kode Modul
PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH III – 01

MODUL 3
PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH

A. Tugas Teori

Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada kertas yang tersedia
Waktu Penyelesain Tugas : 30 menit
Soal Tugas :

1. Sebutkan 3 jenis sukuk berbasis kemitraan (syirkah) yang digunakan dalam SCF!

a) …………………………………………...
b) ……………………………………………
c) ……………………………………………

2. Proses shariah screening dilakukan untuk memastikan bahwa usaha calon penerbit
telah memenuhi ketentuan syariah. Berikan tanda (√) pada pernyataan yang sesuai.

Respon Pernyataan
Calon Penerbit tidak boleh pula melakukan usaha yang bersifat
halal, namun karena terdapat ketidaksesuaian syariah dalam proses
bisnisnya, pada akhirnya menjadi terlarang pula secara syariah.
Calon penerbit yang akan menerbitkan sukuk tidak memastikan
memenuhi seluruh rukun dan syarat dari akad
Tidak memastikan bahwa obyek usahanya adalah halal

3. Sebutkan 4 garis besar tahapan penerbitan sukuk melalui SCF

a) …………………………………………...
b) ……………………………………………
c) ……………………………………………
d) ……………………………………………

Buku Kerja Modul 3 Versi: 1-2021 1

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 210


MODUL 3 Kode Modul
PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH III – 01

B. Tugas Praktik

Lengkapi Skema Sukuk Mudharabah pada gambar di bawah ini.

Buku Kerja Modul 3 Versi: 1-2021 2

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 211


MODUL 3 Kode Modul
PERSIAPAN PENERBITAN SUKUK MELALUI
SECURITIES CROWDFUNDING SYARIAH III – 01

C. Pengamatan Sikap Kerja

Harus cermat, teliti, sesuai Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities
crowdfunding Syariah

Catatan Pengamatan Instruktur:

………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………

Tanda Tangan Peserta : ………………………….

Tanda Tangan Instruktur : …………………………..

Buku Kerja Modul 3 Versi: 1-2021 3

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 212


Alat Uji Modul 3

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 213


Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 214
FORM 1 - PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA
:
NAMA PELATIHAN MODUL 3 – PENERBITAN SUKUK PADA SCF SYARIAH
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Jawab semua pertanyaan berikut, pilih jawaban yang paling tepat :

1. Surat berharga syariah (efek syariah) berupa sertifikat atau bukti kepemilikan modal yang
satuannya bernilai sama dan mewakili bagian kepemilikan yang tidak bisa ditentukan
batas-batasnya secara fisik (musya’) atas aset yang mendasarinya, disebut dengan :
A. Giro
B. Tabungan
C. Sukuk
D. Deposito

2. Akad kerja sama suatu usaha antara pemilik modal (shahibul mal) yang menyediakan
seluruh modal dengan pengelola (mudharib) dan keuntungan usaha dibagi di antara
mereka sesuai nisbah yang disepakati dalam akad, disebut dengan Akad :
A. Ijarah
B. Wadiah
C. Mudharabah
D. Musyarakah

3. Dalam tahap awal, calon penerbit sukuk menyerahkan beberapa dokumen-dokumen yaitu
:
A. Dokumen Legalitas dan perizinan usaha
B. Dokumen perjalanan
C. Dokumen harta simpanan
D. Dokumen Bank Kustodian

4. Proses dari shariah screening ini sebagaimana dijelaskan pada prinsip-prinsip syariah
pada sukuk, maka akan meliputi penilaian terhadap tiga aspek, yaitu :
A. Kesesuaian usaha calon Penerbit dengan ketentuan syariah
B. Pemenuhan prinsip syariah dalam akad yang digunakan.
C. Pemenuhan prinsip syariah dalam aspek keuangannya.
D. Jawaban A, B dan C seluruhnya BENAR

Nama Peserta Tandatangan

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 215


FORM 2 - LEMBAR KUNCI JAWABAN PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA

:
NAMA PELATIHAN MODUL 3 – PENERBITAN SUKUK PADA SCF SYARIAH
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Kunci Jawaban Pertanyaan Tertulis – Pilihan Ganda:

No. Jawaban

1. C
2. D
3. A
4. D

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 216


Buku Pnilaian Modul 3

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 217


KATA PENGANTAR

Dalam rangka menerapkan pelatihan securities crowdfunding


syariah diperlukan adanya standar penilaian kerja sebagai acuan dalam
memberikan penilaian hasil dari pelatihan.

Untuk memenuhi komponen penilaian dalam proses pelatihan


tersebut maka disusunlah buku penilaian pelatihan securities crowdfunding
syariah.
Seperti diketahui Modul pelatihan securities crowdfunding syariah
terdiri dari 2 buku yaitu buku kerja dan buku penilaian. Kedua buku
tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu
dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat
digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling
berinteraksi.

Demikian modul penilaian pelatihan securities crowdfunding


syariah ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses
pelaksanaan pelatihan SCF Syariah.

Jakarta, Desember 2021

KNEKS

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 218


BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan
Buku penilaian untuk Pelatihan SCF Syariah dibuat sebagai konsekuensi logis
dalam pelatihan yang telah menempuh tahapan penerimaan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja melaluibuku kerja. Setelah latihan-latihan
(exercise) dilakukan berdasarkan buku kerja maka untuk mengetahui sejauh
mana penguasaan materi SCF Syariah yang dimilikinya perlu dilakukan uji
komprehensif secara utuh per modul dan materi uji kompetensi itu ada dalam
buku penilaian ini.
B. Metode Penilaian
Adapun tujuan dibuatnya buku penilaian ini, yaitu untuk menguji
penguasaan peserta pelatihan setelah selesai menempuh buku kerja secara
komprehensif dan berdasarkan hasil uji inilah peserta akan dinyatakan telah
menguasai terhadap modul SCF Syariah. Metode Penilaian yang dilakukan
meliputi penilaian yang opsinya sebagai berikut:
1. Metode Penilaian Pengetahuan
Untuk menilai pengetahuan yang telah disampaikan selama proses pelatihan
terlebih dahulu dilakukan tes tertulis melalui pemberian materi tes dalam
bentuk tertulis yang dijawab secara tertulis juga. Untuk menilai pengetahuan
dalam proses pelatihan materi tes disampaikan lebih dominan dalam bentuk
obyektif tes, dalam hal ini jawaban singkat dan pilihan ganda.
2. Metode Penilaian Keterampilan
Penilaian dilakukan dengan cara peserta mempraktekan tugas instruksi yang
diberikan berdasarkan scenario penugasan.
3. Metode Penilaian Sikap Kerja
Untuk melakukan penilaian sikap kerja digunakan Metode observasi
terstruktur, artinya pengamatan yang dilakukan menggunakan lembar
penilaian yang sudah disiapkan sehingga pengamatan yang dilakukan
mengikuti petunjuk penilaian yang dituntut oleh lembar penilaian tersebut.
Pengamatan dilakukan pada waktu peserta uji/peserta pelatihan melakukan
keterampilan kompetensi yang dinilai karena sikap kerja melekat pada
keterampilan tersebut.

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 219


BAB II
PENILAIAN PER MODUL MODUL PELATIHAN

A. Lembar Penilaian Teori

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 74 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

B. Lembar Penilaian Praktik

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 75 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

C. Lembar Penilaian Sikap Kerja

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 76 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

D. Lembar Penilaian Teori + Praktik + Sikap Kerja (rata-rata)

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 77 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

Modul 3 Persiapan Penerbitan Sukuk Melalui Securities Crowdfunding Syariah | 220


MODUL 4

PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN


DIVIDEN/IMBAL HASIL PENERBITAN
SAHAM/SUKUK

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 221
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 222
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Umum

Setelah mempelajari modul ini peserta latih diharapkan mampu memahami


pelaporan usaha dan pembagian dividen/imbal hasil dari penerbitan
saham/sukuk melalui securities crowdfunding syariah.

B. Tujuan Khusus

Adapun tujuan mempelajari pelaporan dan pembagian dividen dan imbal hasil
securities crowdfunding syariah adalah guna memfasilitasi peserta latih, sehingga
pada akhir pelatihan diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Memahami dan dapat melakukan pelaporan usaha dan pembagian dividen


dari investasi saham melalui securities crowdfunding syariah

2. Memahami dan dapat melakukan pelaporan usaha dan pembagian imbal hasil
dari investasi sukuk melalui securities crowdfunding syariah.

C. Sistematika Pembahasan

Modul 8 ini membahas tentang pelaporan dan pembagian dividen serta imbal hasil
usaha dari sukuk untuk calon investor. Pembahasan pada Modul 8 ini, terbagi
dalam beberapa pokok pembahasan. Bab satu membahas tentang tujuan umum,
tujuan khusus dan metode pembahasan dalam modul 8.

Bab dua, membahas tentang prinsip-prinsip syariah dalam pembagian dividen dan
bagi hasil dalam akad kemitraan, baik dalam bentuk akad musyarakah maupun
akad syirkah musahamah. Prinsip-prinsip syariah dalam pembagian hasil usaha
terdiri dari ketentuan syariah tentang penetapan proporsi bagi hasil, ketentuan
syariah tentang mekanisme perhitungan pembagian keuntungan dan ketentuan
syariah tentang penjaminan modal dalam akad kemitraan.

Setelah membahas tentang prinsip-prinsip syariah dalam pembagian hasil usaha,


maka pada bab tiga, dibahas tentang pelaporan usaha penerbit dan pembagian
dividen atas saham serta bagi hasil dalam sukuk.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 223
BAB II
PRINSIP-PRINSIP SYARIAH DALAM PEMBAGIAN DIVIDEN/
IMBAL HASIL INVESTASI SAHAM DAN SUKUK

Bagi para calon investor maupun investor yang telah masuk ke dalam securities
crowdfunding (SCF) syariah, sangat penting untuk mengetahui tentang bagaimana
prinsip-prinsip syariah dalam pembagian dividen/ imbal hasil atas investasi saham
dan sukuk. Terutama pada sukuk, terdapat perbedaan yang mendasar apabila
dibandingkan dengan obligasi konvensional terkait model keuntungan yang diperoleh
oleh para pemegang sukuk dan obligasi konvensional. Perbedaan tersebut disebabkan
adanya perbedaan pada penggunaan akad masing-masing surat berharga. Obligasi
konvensional menggunakan skema akad pinjaman dengan adanya imbalan berupa
bunga yang akan dibayarkan kepada pemegang obligasi, sehingga menjadi
mengandung riba yang dilarang secara syariah. Sementara sukuk, menggunakan
skema akad produktif yang tidak mengandung riba.

Agar dapat lebih memahami konsep pembagian dividen/ imbal hasil investasi dalam
saham dan sukuk, kita perlu melihat terlebih dahulu hubungan antar pemegang saham
dan sukuk, obyek usaha serta hak keuntungan bagi para pemegang saham dan sukuk.

A. Kedudukan Pemegang Saham dan Sukuk dalam Akad

Dalam saham dan sukuk, hubungan antara seorang investor dengan investor
pemegang saham/sukuk lainnya merupakan hubungan kemitraan (syirkah),
sebab mereka secara bersama-sama memberikan modal untuk suatu usaha.
Dengan demikian keuntungan yang diperoleh dari hasil usaha yang menjadi objek
syirkah akan dibagihasilkan kepada para investor.

1. Kedudukan Antar Pemegang Saham dalam Akad

Pada modul sebelumnya telah dijelaskan bahwa hubungan antara satu


pemegang saham dengan pemegang saham lainnya terikat dengan akad
syirkah musahamah (stock company). Dalam akad syirkah ini, para pemegang
saham akan mendapatkan keuntungan melalui mekanisme bagi hasil antara

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 224
pemegang saham atas keuntungan perusahaan dimana mereka menanamkan
modalnya.

Oleh sebab itu, jika perusahaan yang mereka miliki sahamnya adalah
perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, maka bagi hasil yang akan
diterima oleh para pemegang saham, akan berasal dari kegiatan usaha dagang
yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Apabila perusahaan yang mereka
miliki sahamnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa,
misalnya, maka para pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari
bagi hasil atas keuntungan usaha jasa yang dijalankan oleh perusahaan
mereka.

Gambar 13. Hak Pemegang Saham Terhadap Keuntungan Perusahaan

Pemegang
Saham

Pemegang Pemegang
Bagi Hasil
Saham Saham

Keuntungan
Perusahaan

2. Kedudukan Antar Pemegang Sukuk dalam Akad

Sebagaimana halnya dalam saham, hubungan antara seorang pemegang sukuk


dengan pemegang sukuk lainnya adalah hubungan kemitraan (syirkah).
Adapun hubungan antara para pemilik sukuk dengan penerbit sukuk,
tergantung dengan jenis akad yang digunakan dalam sukuk tersebut. Apabila
akad yang digunakan oleh penerbit sukuk adalah akad sewa (ijarah), maka
hubungan antara para pemilik sukuk dengan penerbit sukuk ialah hubungan
sewa menyewa (ijarah). Dalam hal ini, penerbit sukuk menyewa aset dari para
pemegang sukuk, sehingga obyek usaha yang menghasilkan keuntungan bagi

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 225
para investor sukuk adalah usaha sewa aset kepada penerbit. Keuntungan
sewa tersebut dibagihasilkan diantara para pemegang sukuk.

Untuk memudahkan pemahaman kita, maka hubungan transaksi antara


pemegang sukuk dengan penerbit sukuk dapat kita lihat melalui analisa
hubungan horizontal dan vertikal. Dari contoh tentang sukuk sewa (ijarah)
diatas, bisa dikatakan bahwa secara horizontal, hubungan antara pemegang
sukuk adalah hubungan kemitraan (syirkah). Adapun secara vertikal,
hubungan antara pemegang sukuk dengan penerbit adalah hubungan dengan
akad ijarah. Demikian pula, apabila sukuk yang diterbitkan oleh penerbit
sukuk adalah sukuk musyarakah, maka secara horizontal hubungan antara
pemegang sukuk adalah syirkah, dan secara vertikal hubungan antara
pemegang sukuk dengan penerbit adalah syirkah pula. Pada skema sukuk
musyarakah, para pemegang sukuk menjadi satu kesatuan entitas investor
yang memberikan modal kepada penerbit dengan akad musyarakah. Dengan
demikian dalam sukuk musyarakah terjadi dua tahap bagi hasil. Pertama, bagi
hasil antara penerbit dengan entitas investor. Kedua, dari keuntungan yang
menjadi hak entitas investor akan dibagihasilkan kepada masing-masing
investor.

Gambar 14. Analisa Hubungan Horizontal & Vertikal Pemegang & Penerbit Sukuk

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 226
B. Prinsip-Prinsip Syariah Tentang Pembagian Imbal Hasil

Prinsip-prinsip syariah tentang pembagian imbal hasil ini berlaku untuk


pembagian imbal hasil bagi para pemegang saham dan pemegang sukuk. Prinsip-
prinsip syariah tersebut, tertuang dalam fatwa DSN nomor 114 Tahun 2017
Tentang Akad Syirkah dan fatwa DSN nomor 08 Tahun 2000 Tentang Pembiayaan
Musyarakah.

1. Ketentuan Syariah Tentang Penetapan Proporsi Bagi Hasil

Proporsi bagi hasil merupakan nilai persentase yang menjadi hak pemodal
dari keuntungan yang menjadi objek bagi hasil. Penetapan proporsi
pembagian keuntungan harus disepakati dan dinyatakan secara jelas dalam
akad. Penetapan proporsi pembagian keuntungan ini harus disepakati untuk
menghindari terjadinya sengketa antara pengelola usaha atau mitra aktif
dengan para pemodal sebagai mitra pasif.

Proporsi bagi hasil yang merupakan rasio pembagi dari keuntungan yang
muncul sebagai hasil usaha, bisa ditetapkan atas dasar besaran porsi modal
masing-masing pemodal atau berdasarkan nisbah bagi hasil. Nisbah
merupakan persentase pembagian atas keuntungan hasil usaha berdasarkan
kesepakatan dari para pemodal. Besaran nisbah bagi hasil ini dapat berbeda
dengan besaran porsi modal dari para pemodal.
Contoh:

A, B, C dan D melakukan akad kemitraan musyarakah, dimana masing-masing


pihak memberikan modal sebesar 100 juta rupiah. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa masing-masing pemodal (A, B, C dan D) memiliki porsi modal
sebesar 25 %. Dalam akad musyarakah ini, A, B dan C menjadi mitra pasif dan
D menjadi mitra aktif serta disepakati nisbah bagi hasil 20 % untuk masing-
masing mitra pasif (A, B dan C) dan 40% untuk mitra aktif, yaitu D.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 227
Berkenaan dengan penetapan nisbah bagi hasil sesuai dengan kesepakatan
para pihak, fatwa DSN memberikan batasan sebagai berikut:

a. Nisbah kesepakatan tidak boleh menggunakan angka persentase


yang mengakibatkan keuntungan hanya dapat diterima oleh salah
satu mitra atau mitra tertentu.

Dalam akad yang berbasis bagi hasil, tidak boleh satu pihak mendzalimi
pihak lainnya. Oleh sebab itu, penetapan besaran proporsi bagi hasil harus
mencerminkan keadilan bagi semua mitra, baik bagi mitra pasif maupun
mitra aktif yang melakukan pengelolaan usaha. Dalam hal ini seluruh mitra
berhak mendapatkan porsi bagi hasilnya, sehingga keuntungan hasil
usaha bisa dinikmati oleh semua mitra, tidak hanya pada mitra tertentu
saja.

b. Nisbah kesepakatan boleh dinyatakan dalam bentuk multi nisbah


(berjenjang/ tiering).

Nisbah kesepakatan boleh dinyatakan dalam bentuk multi nisbah atau


berjenjang. Multinisbah yang dimaksud adalah penetapan nisbah yang
berbeda-beda untuk beberapa periode bagi hasil yang berbeda. Misalnya,
satu tahun pertama, nisbah yang disepakati adalah 30% : 70% dan untuk
tiga tahun berikutnya adalah 40% : 60%.

2. Ketentuan Syariah Tentang Penetapan Periode Bagi Hasil

Penerbit dan investor harus menyepakati periode bagi hasil atas saham yang
dimiliki oleh investor. Untuk saham, biasanya bagi hasil hasil atau pembagian
dividen dilakukan pada setiap satu tahun sekali. Sementara pada pembiayaan,
pembagian imbal hasil bisa bersifat bulanan atau pada periode-periode
tertentu yang disepakati.

3. Ketentuan Syariah Tentang Mekanisme Pembagian Keuntungan


a. Keuntungan usaha syirkah harus dihitung dengan jelas untuk
menghindarkan perbedaan dan/atau sengketa pada waktu alokasi
keuntungan atau penghentian musyarakah.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 228
b. Seluruh keuntungan usaha syirkah harus dibagikan berdasarkan nisbah-
proporsional atau nisbah kesepakatan, dan tidak boleh ada sejumlah
tertentu dari keuntungan ditentukan di awal yang ditetapkan hanya untuk
syarik tertentu.

c. Keuntungan usaha (ar-ribh) boleh dibagikan sekaligus pada saat


berakhirnya akad atau secara bertahap sesuai kesepakatan dalam akad.

d. Kerugian usaha syirkah wajib ditanggung (menjadi beban) para syarik


(mitra) secara proporsional sesuai dengan porsi modal usaha yang
disertakannya.

4. Ketentuan Syariah Tentang Penjaminan Dan Pengembalian Modal


Musyarakah

Ketentuan syariah tentang penjaminan dan pengembalian modal musyarakah


didasarkan pada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) nomor 105 Tentang
Penjaminan Pengembalian Modal Pembiayaan Mudharabah, Musyarakah dan
Wakalah Bil Istitsmar.
a. Pada prinsipnya pengelola usaha tidak wajib mengembalikan modal usaha
secara penuh pada saat terjadi kerugian, kecuali kerugian karena
pengelola melakukan wanprestasi, yaitu melakukan sesuatu diluar
kewenangan, lalai terhadap kewajiban dalam pengelolaan usaha atau
menyalahi kesepakatan-kesepakatan bersama.
Gambar 15. Kriteria Wanprestasi

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 229
b. Pengelola boleh menjamin pengembalian modal atas kehendaknya sendiri
tanpa permintaan dari pemilik modal. Ketika terjadi kerugian yang bukan
diakibatkan oleh wanprestasi dari mitra aktif, maka atas kehendaknya
sendiri, mitra aktif boleh mengembalikan modal dari mitra pasif secara
sukarela pada saat akad musyarakah berakhir.

c. Pemilik modal boleh meminta pihak ketiga untuk menjamin pengembalian


modal.

d. Dalam hal usaha mengalami kerugian sementara pemilik modal berbeda


pendapat atas kerugian tersebut, pengelola usaha wajib membuktikan
bahwa kerugian yang dialami bukan karena wanprestasi. Berdasarkan
ketentuan syariah ini, pada saat terjadi kerugian dimana terdapat
perbedaan pendapat antara penerbit sebagai mitra aktif dengan investor
sebagai mitra pasif dalam menentukan apakah kerugian ini ditimbulkan
akibat adanya tindak wanprestasi ataupun tidak, maka yang wajib
melakukan pembuktian adalah mitra aktif.

e. Dalam hal pembuktian diterima oleh pemilik modal, kerugian tersebut


menjadi tanggung jawab pemilik modal. Apabila terbukti bahwa kerugian
yang terjadi dalam usaha musyarakah bukan diakibatkan karena
wanprestasi pengelola, maka pemilik modal atau investor wajib
menanggung kerugian. Penanggungan kerugian ini sebesar porsi modal
dari masing-masing pemodal/ investor.

Contoh pembagian kerugian dalam usaha musyarakah:

A dan B bermitra dalam suatu usaha dengan total modal sebesar 100 juta
rupiah. A memiliki modal 40 juta rupiah (40%) dan B mempunyai modal
sebesar 60 juta rupiah (60%). Disepakati bahwa jangka waktu usaha ini
akan berlangsung selama dua tahun. Setelah memasuki jatuh tempo dan
dilakukan perhitungan laba rugi terhadap usaha bersama tersebut,
diketahui bahwa usaha bersama itu mengalami kerugian senilai 50 juta
rupiah. Atas kerugian ini, maka pembagian kerugian dilakukan dengan
perhitungan sebagai berikut:

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 230
Diketahui:

▪ Porsi modal A dan B = 40 juta (40%) : 60 juta (60%)

▪ Nilai kerugian = 50 juta rupiah

Pembagian kerugian:

▪ Kerugian yang ditanggung oleh A = 50 juta x 40% = 20 juta rupiah

▪ Kerugian yang ditanggung oleh B = 50 juta x 60% = 30 juta rupiah

f. Dalam hal pembuktian tidak diterima oleh pemilik modal, perselisihan


diselesaikan melalui jalur litigasi atau non-litigasi. Jika atas dasar
musyawarah tidak terdapat titik temu antara investor dengan penerbit
atau mitra pasif dengan mitra aktif terkait penentuan kondisi wanprestasi,
maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui jalur pengadilan ataupun
dengan mediasi dari pihak lainnya.

g. Sebelum adanya keputusan yang ditetapkan dan mengikat, kerugian


menjadi tanggung jawab pengelola. Namun, ketika keputusan yang terkait
dengan status wanprestasi telah ditetapkan, maka yang berlaku adalah
keputusan yang telah ditetapkan, baik oleh pengadilan atau pihak lain
yang memiliki kewenangan.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 231
BAB III
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/ IMBAL HASIL
DARI INVESTASI SAHAM/ SUKUK

Sebelum membahas mengenai pelaporan dan pembagian dividen/imbal hasil,


maka baik penerbit maupun investor harus memahami bahwa dalam konteks SCF
Syariah, selain harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariah, faktor perilaku
bisnis dari masing-masing pihak juga sangat penting. Sebagai penerbit, dalam
memberikan Laporan Keuangan berkala harus mengedepankan kejujuran dan
transparansi serta memberikan informasi yang valid dan dapat dipertanggung
jawabkan. Laporan Keuangan perusahaan merupakan suatu bentuk komunikasi
formal dari Penerbit kepada investor, komunikasi tersebut sangat penting
dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor sehingga investor tetap
mempercayakan dananya kepada Penerbit dalam jangka panjang. Dalam hal
pembagian keuntungan maupun kerugian atas suatu usaha atau asset, harus
dilakukan dengan mengedepankan prinsip keadilan dan tidak bersikap zalim.

A. Pelaporan Usaha Penerbit Dan Pembagian Dividen Dari Investasi Saham


Melalui Securities crowdfunding

1. Pelaporan Usaha Penerbit

a. Penerbit wajib memberikan laporan keuangan tiap per 6 (enam) bulan


maksimal tanggal 15 bulan berikutnya, minimal mencakup laporan:

1) Laporan Rugi Laba

2) Neraca / Balance Sheet

b. Penerbit wajib melaporkan penggunaan dana dari hasil layanan urun dana
atau securities crowdfunding.

c. Penerbit wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Otoritas Jasa


Keuangan dan mengumumkan kepada masyarakat melalui situs
penyelenggara dan/atau situs penerbit paling lambat 6 (enam) bulan
setelah tahun buku penerbit berakhir.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 232
d. Selain memuat informasi sebagaimana diatur dalam undang-undang
mengenai perseroan terbatas, laporan tahunan penerbit wajib memuat
informasi tentang realisasi penggunaan dana hasil penawaran saham
melalui layanan urun dana atau securities crowdfunding.

e. Informasi mengenai realisasi penggunaan dana wajib disampaikan dan


diumumkan hingga dana hasil penawaran saham melalui layanan urun
dana telah digunakan seluruhnya dalam usaha.

f. Penerbit dapat meminta kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk


dibebaskan dari kewajiban penyampaian dan pengumuman laporan
tahunan, jika:

1) Penerbit telah mengumumkan paling sedikit 3 (tiga) laporan tahunan


setelah penawaran saham melalui layanan urun dana dan jumlah
pemegang saham tidak lebih dari 300 (tiga ratus) pihak.

2) Penerbit telah mengumumkan paling sedikit 3 (tiga) laporan tahunan


setelah penawaran saham melalui layanan urun dana dan total aset tidak
lebih dari Rp [Link],00 (tiga puluh miliar Rupiah); atau

3) Seluruh Saham yang dijual melalui layanan urun dana dibeli kembali
oleh penerbit atau dibeli oleh pihak lain.

2. Pembagian Dividen

Dividen adalah pembagian laba suatu perusahaan kepada para pemegang


sahamnya. Dari sudut pandang ketentuan syariah, keuntungan dari suatu
usaha dapat dibagi berdasarkan nisbah (persentase dari keuntungan) yang
disepakati atau berdasarkan porsi modal. Khusus yang terkait dengan
pembagian dividen ini bagi pemegang saham PT penerbit, maka mekanisme
pembagian tersebut harus mengikuti pula ketentuan yang tertuang pada
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 233
a. Pembagian Dividen Berdasarkan UU PT No. 40 Tahun 2007

Berdasarkan UU PT No. 40 Tahun 2007, Pasal 70 dan pasal 71, ketentuan


penggunaan laba perusahaan harus dibagi sesuai dengan ketentuan
berikut:

1) Perseroan wajib menyisihkan jumlah tertentu dari laba bersih setiap


tahun buku untuk cadangan.
2) Kewajiban penyisihan untuk cadangan sebagaimana dimaksud
berlaku apabila perseroan mempunyai saldo laba yang positif.
3) Penyisihan laba bersih dilakukan sampai cadangan mencapai paling
sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah modal yang ditempatkan
dan disetor.
4) Penggunaan laba bersih termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk
cadangan diputuskan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
5) Seluruh laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan
dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, kecuali
ditentukan lain dalam RUPS.

b. Mekanisme Perhitungan Dividen

Mekanisme perhitungan pembagian dividen dalam saham, didasarkan


pada porsi modal dari masing-masing pemegang saham yang
direpresentasikan dengan jumlah lembar saham. Mekanisme pembagian
dividen berdasarkan jumlah lembar saham yang dimiliki oleh masing-
masing pemegang saham, dilakukan dengan cara menghitung Earning Per
Share (EPS) atau keuntungan per lembar saham terlebih dahulu.

Rumus dari EPS adalah:

𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚

Adapun dividen yang akan diperoleh oleh seorang pemegang saham ialah:

𝐸𝑃𝑆 𝑥 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 234
Contoh perhtungan:

Perusahaan Maju Jaya yang bergerak di bidang penjualan bahan-bahan


bangunan, pada tahun ini menghasilkan profit senilai 1 milyar rupiah.
Total jumlah saham yang dimiliki oleh PT Maju Jaya adalah sebanyak 100
lembar. Jika Bapak Agus mempunyai 40 lembar saham dari PT Maju Jaya,
maka dividen yang akan menjadi hak Bapak Agus ialah sebesar:

Diketahui:

▪ Profit usaha: 1 Milyar Rupiah


▪ Jumlah lembar saham perusahaan: 100 lembar
▪ Jumlah lembar saham Bapak Agus: 40 lembar
1 𝑀𝑖𝑙𝑦𝑎𝑟
▪ EPS: = 10 juta rupiah
100 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

maka jumlah dividen yang diterima oleh Bapak Agus adalah sebesar:
10 juta rupiah x 40 lembar saham = 400 juta rupiah.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 235
B. Pelaporan Usaha Penerbit Dan Pembagian Imbal Hasil Dari Investasi Sukuk
Melalui Securities crowdfunding

1. Pelaporan Usaha Penerbit

a) Sesuai POJK No. 57 tahun 2020 Pasal 51, bahwa penerbit yang yang
menerbitkan efek bersifat utang atau sukuk wajib menyampaikan laporan
secara berkala setiap 3 (tiga) bulan, pada bulan Maret, Juni, September,
dan Desember kepada penyelenggara.

b) Penyampaian laporan tersebut wajib dilakukan paling lambat 5 (lima) hari


kerja pada bulan berikutnya.

c) Penyelenggara wajib memuat laporan penerbit dalam situs web


penyelenggara paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah menerima laporan
tersebut berlaku hingga efek bersifat utang atau sukuk jatuh tempo
dan/atau penerbit telah memenuhi seluruh kewajibannya kepada
pemodal.

d) Laporan tersebut pertama kali dilakukan jika jangka waktu antara tanggal
distribusi efek bersifat utang atau sukuk dengan tiap akhir bulan
pelaporan berkala paling sedikit 15 (limabelas) hari.

e) Laporan wajib memuat informasi mengenai paling sedikit:

1) Realisasi penggunaan dana hasil penawaran efek bersifat utang atau


sukuk melalui Layanan Urun Dana

2) Perkembangan proyek termasuk hambatannya, jika terdapat


hambatan.

f) Penerbit wajib menyampaikan laporan insidentil jika terdapat kejadian


atau informasi material yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha
penerbit atau kesanggupan penerbit dalam melakukan pengembalian
dana. Laporan insidentil wajib disampaikan kepada penyelenggara serta
diumumkan kepada masyarakat melalui situs web penyelenggara paling
lambat 2 (dua) hari kerja setelah adanya informasi atau kejadian penting.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 236
g) Mekanisme teknis penyampaian, maupun format laporan penerbit kepada
penyelenggara diatur oleh masing-masing penyelenggara, sehingga dapat
terjadi perbedaan antara satu penyelenggara dengan penyelenggara
lainnya.

2. Pembagian Profit Sukuk

Sebagaimana di dalam saham, prinsip pembagian keuntungan pada sukuk


adalah sama, yaitu dapat dibagi berdasarkan nisbah (persentase dari
keuntungan) yang disepakati atau berdasarkan porsi modal. Adapun model
perhitungan yang biasa diaplikasikan pada sukuk adalah model bagi hasil atas
keuntungan yang didasarkan pada nisbah bagi hasil sesuai dengan
kesepakatan di awal.

Profit yang dibagihasilkan di dalam sukuk, pada dasarnya berasal dari hasil
usaha yang menjadi dasar penerbitan sukuk. Usaha yang dimaksud bisa
berupa pengerjaan proyek tertentu oleh penerbit atau berupa usaha penerbit
sendiri. Apabila penerbit sukuk mendapatkan proyek pengadaan alat-alat
elektronik dari suatu instansi, misalnya, maka keuntungan yang akan
dibagihasilkan berasal dari keuntungan proyek pengadaan alat-alat elektronik
tersebut. Dalam hal ini, keuntungan yang dibagihasilkan dalam sukuk, tidak
berasal dari usaha nasabah secara keseluruhan, melainkan hanya dari proyek
pengadaan barang elektronik saja. Adapun jika penerbit sukuk menerbitkan
sukuk dalam rangka untuk menambah modal kerjanya dalam usaha yang
dikelola secara umum, maka, keuntungan yang akan dibagihasilkan akan
berasal dari keuntungan usaha penerbit secara keseluruhan.

Perhitungan Pembagian Profit Berdasarkan Proyek

Contoh rumus sederhana dalam perhitungan pembagian profit atau


keuntungan berdasarkan proyek adalah sebagai berikut:

Rumus:

𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑚𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑆𝑢𝑘𝑢𝑘


𝑁𝑖𝑠𝑏𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑔𝑖 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑥 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑦𝑒𝑘 𝑥
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 237
Total modal merupakan modal gabungan antara seluruh modal milik
pemegang sukuk dengan modal milik penerbit.

Contoh ilustrasi:

PT. Jaya Maju adalah produsen pembuatan mesin pembuat roti dan
kue. PT Jaya Maju menerima pemesanan pembuatan beberapa buah
mesin senilai 700 juta rupiah. Untuk memenuhi pesanan tersebut, PT
Jaya Maju menerbitkan sukuk musyarakah. Setelah periode
penawaran, terkumpul modal 450 juta rupiah dari 10 investor dimana
masing-masing menyetorkan modalnya sebesar 45 juta rupiah.
Disepakati bahwa nisbah bagi hasil bagi para investor adalah 40 %.
Adapun PT Jaya Maju sebagai mitra aktif akan mendapatkan nisbah
bagi hasil dari keuntungan sebesar 60%. Harga pokok produksi dari
mesin tersebut adalah 500 juta rupiah.

Berdasarkan data diatas, pada saat proyek selesai, bagi hasil yang akan
diterima oleh seorang investor adalah:

40 % x 200 juta rupiah x (45 juta/ 500 juta) = 7,2 juta rupiah.

C. Peran Penyelenggara dalam Pendampingan dan Monitoring Penerbit


Peran Pendampingan dari Penyelenggara SCF Syariah sangat diperlukan bagi
UMKM sebagai Penerbit, baik sebelum menerbitkan efek (saham atau sukuk)
maupun setelahnya. Sebelum penerbitan efek, penyelenggara akan
mendampingi penerbit terutama untuk menyusun prospektus/proposal
penawaran efek termasuk komponen didalamnya berupa Laporan Keuangan.
Sehingga diharapkan dengan adanya pendampingan tersebut, UMKM dapat
merepresentasikan usahanya dengan baik dan mendapatkan pendanaan dari
investor. Sedangkan pendampingan setelah penerbitan dilakukan, terutama
terkait penyerahan Laporan Keuangan secara berkala.
Selain pendampingan, penyelenggara juga berperan untuk melakukan
monitoring terhadap penerbit saham sebagai berikut:
1) Monitoring dilakukan terhadap komitmen penerbit dalam
menyerahkan laporan-laporan berkala yang wajib diserahkan oleh

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 238
Penerbit kepada Penyelenggara, untuk kemudian disampaikan kepada
investor
2) Monitoring dilakukan terhadap aspek operasional usaha penerbit
3) Monitoring dilakukan terhadap pelaksanaan prinsip syariah oleh
Penerbit, selama penerbit memiliki saham syariah
4) Monitoring dilakukan terhadap pembagian dividen yang dilakukan
oleh penerbit kepada investor, terutama dari segi ketepatan waktu
pembagian dividen
5) Dalam hal penerbit tidak dapat melakukan pembagian dividen dengan
tepat waktu, maka penyelenggara dapat melakukan fungsi mediasi
atau memfasilitasi investor gathering.
6) Hal-hal teknis terkait pelaksanaan monitoring dilakukan dengan
mekanisme tergantung dari masing-masing penyelenggara
Dalam monitoring sukuk yang diterbitkan oleh penerbit, penyelenggara
bertindak selaku kuasa Investor dan menjalankan fungsi wali amanat, wajib
melakukan:
1) Memantau perkembangan pengelolaan Proyek berdasarkan data
dan/atau informasi yang diperoleh baik langsung maupun tidak
langsung;
2) Mengawasi dan memantau pelaksanaan kewajiban Penerbit
berdasarkan perjanjian mengenai penerbitan Efek bersifat utang atau
Sukuk;
3) Mengawasi, melakukan inspeksi, dan mengadministrasikan jaminan
bagi pembayaran kewajiban kepada pemegang Sukuk, jika terdapat
jaminan bagi pembayaran kewajiban kepada pemegang sukuk;
4) Memantau pembayaran yang dilakukan oleh Penerbit kepada
pemegang Sukuk.
5) Monitoring/Pengawasan terhadap Penerbit terkait dengan
pemenuhan prinsip syariah di pasar modal selama sukuk outstanding.
Apabila penyelenggara tidak memiliki DPS, maka dapat dilakukan
dengan menunjuk penanggungjawab.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 239
DAFTAR PUSTAKA

Darmawi, H. (2006). Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: PT


Bumi Aksara.
Dewan Syariah Nasional. (2021). Kategori: Fatwa. Diambil kembali dari DSNMUI Web
Site: [Link]
Martono. (2002). Bank Dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta: Ekonisia.
Otoritas Jasa Keuangan. (2021). Regulasi. Dipetik September 2021, dari OJK Web site:
[Link]

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 240
Materi Presentasi Modul 4

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 241
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 242
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 243
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 244
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 245
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 246
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 247
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 248
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 249
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 250
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 251
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 252
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 253
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 254
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 255
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 256
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 257
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 258
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 259
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 260
Buku Kerja Modul 4

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 261
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 262
MODUL 4 Kode Modul
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/IMBAL
HASIL DARI INVESTASI SAHAM/SUKUK IV – 01

PENJELASAN UMUM

Pelatihan berbasis kompetensi mengharuskan proses pelatihan memenuhi unit kompetensi


secara utuh yang terdiri atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Dalam buku kerja ini
disampaikan informasi apa saja yang diperlukan sebagai pengetahuan yang harus dimiliki untuk
melakukan praktik/keterampilan terhadap modul tersebut. Setelah memperoleh pengetahuan
dilanjutkan dengan latihan-latihan guna mengaplikasikan pengetahuan yang telah dimiliki tersebut.
Untuk itu diperlukan buku kerja ini sebagai media praktik dan sekaligus mengaplikasikan sikap kerja
yang telah ditetapkan karena sikap kerja melekat pada keterampilan.
Adapun tujuan dibuatnya buku kerja ini adalah:

1. Prinsip pelatihan dilakukan sesuai dengan konsep yang telah digariskan, yaitu pelatihan ditempuh
bab per bab per baik secara teori maupun praktik;
2. Prinsip praktik dapat dilakukan setelah dinyatakan kompeten teorinya dapat dilakukan secara jelas
dan tegas;
3. Pengukuran unjuk kerja dapat dilakukan dengan jelas dan pasti.

Ruang lingkup buku kerja ini meliputi pengerjaan tugas-tugas teori dan praktik per bab di Modul 4
Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Dari Investasi Saham/Sukuk

Buku Kerja Modul 4 Versi: 1-2021 i

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 263
MODUL 4 Kode Modul
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/IMBAL
HASIL DARI INVESTASI SAHAM/SUKUK IV – 01

MODUL 4
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/IMBAL HASIL
DARI INVESTASI SAHAM/SUKUK

A. Tugas Teori

Perintah Tugas : Jawablah soal di bawah ini pada kertas yang tersedia
Waktu Penyelesain Tugas : 30 menit
Soal Tugas :

1. Berikut ini merupakan ketentuan syariah tentang mekanisme pembagian keuntungan.


Berikan tanda (√) pada pernyataan yang sesuai.

Respon Pernyataan
Seluruh keuntungan usaha syirkah / kemitraan tidak harus
dibagikan berdasarkan nisbah-proporsional atau nisbah
kesepakatan
Keuntungan usaha (ar-ribh) tidak bisa dibagikan secara bertahap

Kerugian usaha syirkah / kemitraan wajib ditanggung (menjadi


beban) para syarik (mitra) secara proporsional sesuai dengan porsi
modal usaha

2. Apa yang dimaksud dengan dividen dan bagaimana rumus pembagian dividen
berdasarkan jumlah saham?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------

3. Sebutkan 2 jenis risiko yang melekat pada saham dan sukuk

a) …………………………………………...
b) ……………………………………………

Buku Kerja Modul 4 Versi: 1-2021 i

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 264
MODUL 4 Kode Modul
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/IMBAL
HASIL DARI INVESTASI SAHAM/SUKUK IV – 01

B. Tugas Praktik

1. A dan B bermitra dalam suatu usaha dengan total modal sebesar 10 juta rupiah. A
memiliki modal 4 juta rupiah (40%) dan B mempunyai modal sebesar 6 juta rupiah
(60%). Disepakati bahwa jangka waktu usaha ini akan berlangsung selama dua tahun.
Setelah memasuki jatuh tempo dan dilakukan perhitungan laba rugi terhadap usaha
bersama tersebut, diketahui bahwa usaha bersama itu mengalami kerugian senilai 1
juta rupiah. Atas kerugian ini, bagaimana metode perhitungan pembagian kerugiannya?

2. Lengkapi rumus perhitungan pembagian profit sukuk berdasarkan proyek

Buku Kerja Modul 4 Versi: 1-2021 i

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 265
MODUL 4 Kode Modul
PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN DIVIDEN/IMBAL
HASIL DARI INVESTASI SAHAM/SUKUK IV – 01

C. Pengamatan Sikap Kerja

Harus cermat, teliti, sesuai Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil
dari Investasi Saham/Sukuk

Catatan Pengamatan Instruktur:

………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………

Tanda Tangan Peserta : ………………………….

Tanda Tangan Instruktur : …………………………..

Buku Kerja Modul 4 Versi: 1-2021 i

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 266
Alat Uji Modul 4

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 267
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 268
FORM 1 - PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA
MODUL 4 – PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN
:
NAMA PELATIHAN DIVIDEN/IMBAL HASIL DARI INVESTASI
SAHAM/SUKUK
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Jawab semua pertanyaan berikut, pilih jawaban yang paling tepat :


1. Pada prinsipnya pengelola usaha tidak wajib mengembalikan modal usaha secara penuh pada
saat terjadi kerugian, kecuali kerugian karena pengelola melakukan wanprestasi, antara lain:
A. Tidak melakukan rapat 3 bulanan
B. Lalai terhadap kewajiban dalam pengelolaan usaha
C. Tidak memiliki rekening dibank
D. Jawaban A, B dan C tidak ada yang BENAR
2. Ketentuan Syariah Tentang Mekanisme Pembagian Keuntungan, yaitu
A. Keuntungan usaha syirkah harus dihitung dengan PERKIRAAN
B. Seluruh keuntungan usaha syirkah TIDAK BOLEH dibagikan berdasarkan nisbah-
proporsional atau nisbah kesepakatan
C. Keuntungan usaha (ar-ribh) TIDAK boleh dibagikan sekaligus pada saat berakhirnya akad
atau secara bertahap sesuai kesepakatan dalam akad
D. Kerugian usaha syirkah WAJIB ditanggung (menjadi beban) para syarik (mitra) secara
proporsional sesuai dengan porsi modal usaha yang disertakannya
3. A dan B bermitra dalam suatu usaha dengan total modal sebesar 100 juta rupiah. A memiliki
modal 40 juta rupiah (40%) dan B mempunyai modal sebesar 60 juta rupiah (60%).
Disepakati bahwa jangka waktu usaha ini akan berlangsung selama dua tahun. Setelah
memasuki jatuh tempo dan dilakukan perhitungan laba rugi terhadap usaha bersama
tersebut, diketahui bahwa usaha bersama itu mengalami kerugian senilai 50 juta rupiah.
Atas kerugian ini, maka kerugian yang harus ditanggung Pihak B sebesar :
A. 30 Juta rupiah
B. 20 Juta Rupiah
C. 10 Juta Rupiah
D. 40 Juta Rupiah
4. Penerbit wajib memberikan laporan keuangan tiap per 6 (enam) bulan maksimal tanggal 15
bulan berikutnya, minimal mencakup laporan :
A. Neraca dan Laporan Rugi Laba
B. Neraca dan Laporan Kegitan Kerja
C. Laporan Rugi Laba dan Annual Report
D. Annual Report dan Neraca

Nama Peserta Tandatangan

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 269
FORM 2 - LEMBAR KUNCI JAWABAN PERTANYAAN TERTULIS PILIHAN GANDA

MODUL 4 – PELAPORAN USAHA DAN PEMBAGIAN


:
NAMA PELATIHAN DIVIDEN/IMBAL HASIL DARI INVESTASI
SAHAM/SUKUK
TEMPAT PELATIHAN :
Nama Instruktur :
Nama Peserta :
Tanggal Ujian :

Kunci Jawaban Pertanyaan Tertulis – Pilihan Ganda:

No. Jawaban

1. B
2. D
3. A
4. A

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 270
Buku Penilaian Modul 4

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 271
KATA PENGANTAR

Dalam rangka menerapkan pelatihan securities crowdfunding


syariah diperlukan adanya standar penilaian kerja sebagai acuan dalam
memberikan penilaian hasil dari pelatihan.

Untuk memenuhi komponen penilaian dalam proses pelatihan


tersebut maka disusunlah buku penilaian pelatihan securities crowdfunding
syariah.
Seperti diketahui Modul pelatihan securities crowdfunding syariah
terdiri dari 2 buku yaitu buku kerja dan buku penilaian. Kedua buku
tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu
dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat
digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling
berinteraksi.

Demikian modul penilaian pelatihan securities crowdfunding


syariah ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses
pelaksanaan pelatihan SCF Syariah.

Jakarta, Desember 2021,

KNEKS

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 272
BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan
Buku penilaian untuk Pelatihan SCF Syariah dibuat sebagai konsekuensi logis
dalam pelatihan yang telah menempuh tahapan penerimaan pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja melaluibuku kerja. Setelah latihan-latihan
(exercise) dilakukan berdasarkan buku kerja maka untuk mengetahui sejauh
mana penguasaan materi SCF Syariah yang dimilikinya perlu dilakukan uji
komprehensif secara utuh per modul dan materi uji kompetensi itu ada dalam
buku penilaian ini.
B. Metode Penilaian
Adapun tujuan dibuatnya buku penilaian ini, yaitu untuk menguji
penguasaan peserta pelatihan setelah selesai menempuh buku kerja secara
komprehensif dan berdasarkan hasil uji inilah peserta akan dinyatakan telah
menguasai terhadap modul SCF Syariah. Metoda Penilaian yang dilakukan
meliputi penilaian yang opsinya sebagai berikut:
1. Metoda Penilaian Pengetahuan

Untuk menilai pengetahuan yang telah disampaikan selama proses pelatihan


terlebih dahulu dilakukan tes tertulis melalui pemberian materi tes dalam
bentuk tertulis yang dijawab secara tertulis juga. Untuk menilai pengetahuan
dalam proses pelatihan materi tes disampaikan lebih dominan dalam bentuk
obyektif tes, dalam hal ini jawaban singkat dan pilihan ganda.
2. Metode Penilaian Keterampilan
Penilaian dilakukan dengan cara peserta mempraktekan tugas instruksi yang
diberikan berdasarkan scenario penugasan.

3. Metode Penilaian Sikap Kerja


Untuk melakukan penilaian sikap kerja digunakan Metode observasi
terstruktur, artinya pengamatan yang dilakukan menggunakan lembar
penilaian yang sudah disiapkan sehingga pengamatan yang dilakukan
mengikuti petunjuk penilaian yang dituntut oleh lembar penilaian tersebut.
Pengamatan dilakukan pada waktu peserta uji/peserta pelatihan melakukan
keterampilan kompetensi yang dinilai karena sikap kerja melekat pada
keterampilan tersebut.

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 273
BAB II
PENILAIAN PER MODUL MODUL PELATIHAN

A. Lembar Penilaian Teori

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 78 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

B. Lembar Penilaian Praktik

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 79 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

C. Lembar Penilaian Sikap Kerja

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 80 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

D. Lembar Penilaian Teori + Praktik + Sikap Kerja (rata-rata)

Range hasil penilaian


< 50 51 – 65 81 – 75 >75
TIDAK CUKUP MEMUASKAN SANGAT
MEMUASKAN MEMUASKAN MEMUASKAN

Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 274
Modul 4 Pelaporan Usaha dan Pembagian Dividen/Imbal Hasil Penerbitan Saham/Sukuk | 275

Anda mungkin juga menyukai