0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
396 tayangan22 halaman

Otoritas Moneter dan Bank Syariah Indonesia

Otoritas moneter Indonesia adalah Bank Indonesia yang berwenang mengendalikan jumlah uang beredar dan menetapkan suku bunga serta parameter lainnya yang menentukan biaya dan persediaan uang di Indonesia.

Diunggah oleh

Fitri Madinah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
396 tayangan22 halaman

Otoritas Moneter dan Bank Syariah Indonesia

Otoritas moneter Indonesia adalah Bank Indonesia yang berwenang mengendalikan jumlah uang beredar dan menetapkan suku bunga serta parameter lainnya yang menentukan biaya dan persediaan uang di Indonesia.

Diunggah oleh

Fitri Madinah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH OTORITAS MONETER,PENGGUNAAN DANA DAN

PENYALURAN DANA BANK SYARIAH


[MATA KULIAH BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN]

Dosen Pengampu : Hj. Sahari Fajar, S.E.,M.M

Oleh :

NAMA : SITI KIRANI RAMADHANI SM

KELAS : C3 BANK & LEMBAGA KEUANGAN

NIM : 02220210235

JURUSAN MANAJEMEN KEUANGAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2023
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Puji syukur hanya layak tercurahkan kepada Allah swt. atas semua
nikmat dan kerunia-Nya dan Shalawat serta salam tercurahkan kepada
Rasulullah Muhammad Shalllallahu „alaihi wa sallam, manusia istimewa yang
seluruh perilakunya layak diteladani, yang seluruh ucapannya adalah
kebenaran, yang seluruh getar hatinya adalah kebaikan. Sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Tugas ini dibuat dalam
memenuhi tugas mata kuliah Bank Dan Lembaga Keuangan dengan materi
Otoritas Moneter, Penggunaan Dana dan Penyaluran Dana Bank Syariah
Banyak kesulitan dan hambatan yang penyusun hadapi dalam
menyelesaikan tugas ini, tetapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan,
bimbingan dari berbagai pihak sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas
ini dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan
terima kasih kepada dosen mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan.
Penulis menyimpulkan bahwa makalah ini masih belum sempurna,
oleh karenaitu penulis menerima saran dan kritik guna kesempurnaan makalah
ini dan bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Wssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Makassar, 26 Maret 2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... ii


DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
C. Tujuan .............................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 3
A. Otoritas Moneter ............................................................................................. 3
1. Pengertian Otoritas Moneter Indonesia ................................................................... 3
2. Status dan Model Bank Indonesia Bank Indonesia .................................................. 3
3. Tujuan Bank Indonesia ............................................................................................ 3
B. Penghimpunan Dana & Penyaluran Dana ................................................... 5
1. Penghimpunan Dana Pada Bank .............................................................................. 5
2. Alternatif Penghimpunan Dana Bank ...................................................................... 6
3. Penggunaan Dana Bank......................................................................................... 11
4. Alternatif Penggunaan Dana .................................................................................. 13
C. Bank Syariah ................................................................................................. 15
1. Pengertian Bank Syariah ....................................................................................... 15
2. Prinsi Bank Syariah ............................................................................................... 15
3. Ciri-Ciri Bank Syariah........................................................................................... 15
4. Fungsi Bank Syariah ............................................................................................. 16
BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 17
A. KESIMPULAN .............................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 18

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Otoritas moneter berasal dari kebutuhan untuk mengatur dan mengendalikan
sistem keuangan suatu negara. Otoritas moneter adalah sebuah lembaga atau badan
yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter suatu negara. Tugas utama otoritas
moneter adalah memastikan stabilitas nilai mata uang, mengatur suku bunga,
mengendalikan suplai uang, dan menjaga stabilitas sistem keuangan negara.
Sebelum adanya otoritas moneter modern, kebijakan moneter biasanya ditentukan
oleh pemerintah melalui keputusan politik. Namun, karena kebijakan moneter sangat
sensitif dan mempengaruhi banyak aspek ekonomi, maka dibutuhkan lembaga yang
independen dan ahli dalam mengambil keputusan terkait kebijakan moneter.
Seiring dengan perkembangan zaman, otoritas moneter kini menjadi semakin penting
dalam mengatur sistem keuangan suatu negara. Setiap negara biasanya memiliki
otoritas moneter yang berbeda, seperti bank sentral, dewan moneter, atau badan
keuangan yang lainnya. Otoritas moneter ini memiliki peran yang sangat vital dalam
menjaga stabilitas nilai mata uang, mengendalikan inflasi, dan menjaga sistem
keuangan negara agar tetap stabil dan sehat.
Penggunaan dana bank syariah berasal dari kebutuhan akan layanan keuangan
yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah atau Islam. Bank syariah adalah lembaga
keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah, yang melarang riba
(bunga), gharar (ketidakpastian), dan maysir (spekulasi).Penggunaan dana bank
syariah telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak
masyarakat yang membutuhkan layanan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang ingin berinvestasi atau
menyimpan uangnya di lembaga keuangan yang tidak bertentangan dengan keyakinan
dan ajaran agama [Link] itu, bank syariah juga dianggap lebih stabil dan aman
karena prinsip-prinsip syariah yang diterapkan dalam operasionalnya meminimalisir
risiko keuangan. Hal ini terbukti dengan stabilitas bank syariah yang relatif lebih baik
dibandingkan dengan bank konvensional selama krisis keuangan global pada tahun
2008.
Bank syariah di Indonesia bermula pada tahun 1992 dengan didirikannya
Bank Muamalat Indonesia sebagai bank syariah pertama di Indonesia. Kehadiran bank
syariah di Indonesia dimulai dari adanya kebutuhan masyarakat akan lembaga
keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah atau [Link]
perkembangan waktu, permintaan akan layanan keuangan syariah di Indonesia
semakin meningkat. Hal ini mendorong pemerintah dan lembaga keuangan untuk
mengembangkan industri keuangan syariah di Indonesia. Pada tahun 1999,
pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan yang mendorong pengembangan lembaga keuangan syariah di
[Link] saat itu, bank-bank syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan
yang signifikan. Pada tahun 2004, pemerintah Indonesia mendirikan Bank Syariah
Indonesia (BSI) sebagai bank syariah pertama yang dimiliki oleh pemerintah. Selain
1
itu, pada tahun 2008, pemerintah Indonesia juga mendirikan Indonesia Sharia
Economic Society (ISES) sebagai lembaga pembiayaan syariah pertama di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Itu Otoritas Moneter?
2. Apa itu Penggunaan Dana?
3. Apa itu Bank Syariah?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Otoritas Moneter Indonesia
2. Untuk Mengetahui Penggunaan Dana
3. Untuk Mengetahui Bank Syariah

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Otoritas Moneter

1. Pengertian Otoritas Moneter Indonesia


Otoritas moneter adalah suatu entitas yang memiliki wewenang untuk
mengendalikan jumlah uang yang beredar pada suatu negara dan memiliki hak untuk
menetapkan suku bunga dan parameter lainnya yang menentukan biaya dan
persediaan uang. Menurut UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
mempunyai tujuan agar otoritas moneter dan menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter yang efektif dan efesien melalui sistem keuangan yang sehat,
transparan, terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan yang didukung oleh sistem
pembayaran yang lancar, cepat, tepat dan aman, serta pengaturan dan pengawasan
bank yang memenuhi prisnsip kehati-hatian. Undang – undang tentang bank sentral
yang baru ini pada dasarnya memberikan kewenangan yang besar kepada Bank
Indonesia untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter di Indonesia.
Dengan kata lain, Bank Indonesia ditempatkan sebagai otoritas moneter di Indonesia,
sedangkan Dewan Moneter ditiadakan. Meskipun otoritas moneter tidak terletak lagi
pada pemerintah, pemerintah tetap mempunyai akses tertentu dalam mempengaruhi
kebijakan moneter. Namun, pada akhirnya lahirlah UU No. 3 Tahun 2004. Undang –
undang yang baru ini bukan menggantikan undang – undang sebelumnya, tetapi
merevisi beberapa pasal serta menambah beberapa pasal baru.

2. Status dan Model Bank Indonesia Bank Indonesia


bank sentral Republik Indonesia yang merupakan lembaga Negara independen
dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah
dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal secara tegas diatur dalam undang-undang.
Modal Bank Indonesia ditetapkan berjumlah sekurang-kurangnya
Rp2.[Link],00 dan harus ditambah sehingga menjadi paling banyak 10%
dari seluruh kewajiban moneter dimana dana tersebut berasal dari cadangan umum
atau dari hasil revaluasi asset. Penambahan modal dari dana cadangan umum atau dari
hasil revaluasi asset ditetapkan dengan Peraturan Dewan Gubernur. Dewan Gubernur
adalah pimpinan Bank Indonesia. Cadangan umum adalah dana yang berasal dari
sebagian surplus Bank Indonesia yang dapat digunakan untuk menghadapi risiko yang
mungkin terjadi dari pelaksanaan dan wewenang Bank Indonesia.

3. Tujuan Bank Indonesia


Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah dan untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia melaksanakan
3
kewajiban moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.
Penjabaran tugas Bank Indonesia sebagai berikut :
➢ Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
a. Menetapkan sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju
inflasi
b. Melakukan pengendalian moneter
c. Memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
d. Fasilitas pembiayaan darurat
e. Melaksanakan kebijakan nilai tukar
f. Mengelola cadangan devisa
g. Menyelenggarakan survey baik yang bersifat makro maupun mikro
➢ Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
➢ Mengatur dan mengawasi bank
• Hubungan dengan Pemerintah dan Internasional
a) Bertindak sebagai pemegang kas pemerintah
b) Dapat menerima pinjaman luar negeri serta meyelesaikan tagihan dan
kewajiban keuangan pemerintah terhadap luar negeri
c) Dapat melakukan kerja sama dengan pihak lain. Bidang-bidang
kerjasama yang dapat dilakukan oleh Bank Indonesia antara lain
1. Investasi bersama untuk kestabilan pasar valuta asing
2. Penyelesaian transaksi lintas Negara
3. Korespondensi
4. Tukar menukar informasi antarbank sentral
5. Pelatihan
• Kerja Sama Bank Indonesia dengan Lembaga Lain
➢ Kementrian Keuangan: Memorandum of Understanding (MoU)
tentang Bank Indonesia sebagai Proses Agent dalam bidang pinjaman
dan hibah luar negeri pemerintah.
➢ Kejaksaan Agung dan Kepolisian Negara: Surat Keputusan Bersama
tentang Kerja Sama Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perbankan.
➢ Kepolisian Negara RI dan Badan Intelijen Negara: MoU
Pemberantasan Uang Palsu
➢ Menkokesra, Kementrian Koperasi, dan UKM: MoU Bidang
Pemberdayaan dan Pengembangan UMKM.
➢ Perhimpunan Pedagang SUN (Himdasun): MoU Penyusunan Master
Repurchase Agreement (MRA).

• Instrumen Kebijakan Moneter


Terdapat dua golongan kebijakan moneter yang berlaku di Indonesia,
yaitu kebijakan moneter kuantitatif dan kebijakan moneter kualitatif.
Kebijakan moneter kuantitatif lebih kepada langkah-langkah bank sentral
mempengaruhi jumlah penawaran dan suku bunga dalam perekonomian.
Sedangkan kebijakan moneter kualitatif adalah langkah-langkah bank sentral
yang bertujuan mengawasi bentuk-bentuk pinjaman dan investasi yang
dilakukan oleh bank-bank perdagangan. Dengan kata lain, tujuan utama
kebijakan ini bukanlah untuk mengawasi perkembangan penawaran uang,
4
tetapi untuk mempengaruhi jenis-jenis pinjaman yang diberikan institusi
keuangan.

B. Penghimpunan Dana & Penyaluran Dana

1. Penghimpunan Dana Pada Bank


Kegiatan usaha yang utama dari suatu bank adalah penghimpunan dan
penyaluran [Link] dana dengan tujuan untuk memperoleh
penerimaan akan dapat dilakukan apabiladana telah dihimpun,
Penghimpunan dana dari masyarakat perlu dilakukan dengan cara-cara
tertentu sehingga efisien dan dapat disesuaikan dengan rencana
penggunaan dana [Link] suatu bank dalam memenuhi
maksud itu dipengaruhi antara lain oleh hal-halberikut ini:

Kepercayaan masyarakat pada bank yang bersangkutan, Gambaran


sebuah bank secaraumum di mata masyarakat sangat memengaruhi
tingkat kepercayaan masyarakat padabank tersebut. Banyak faktor
yang dapat memengaruhi gambaran sebuah bank di matamasyarakat,
seperti pelayanan, keadaan keuangan, berita-berita di mass media
tentangbank tersebut, laporan-laporan BI tentang bank tersebut,
pengalaman masyarakatberhubungan dengan bank tersebut, dan lain-
lain. Semakin tinggi tingkat kepercayaanmasyarakat pada sebuah
bank, maka semakin tinggi pula kemungkinan bank tersebut untuk
menghimpun dana dari masyarakal dengan efisien dan sesuai rencana
[Link].
a. Perkiraan tingkat pendapatan yang akan diperoleh (expected rate of
return) olehpenyimpan dana lebih tinggi dibanding pendapatan dari
alternatif investasi lain dengantingkat risiko yang seimbang Semakin
tinggi tingkat pendapatan yang diperkirakan olehcalon penyimpan
dana ini, maka semakin mudah sebuah bank untuk menarik dana
daricalon penyimpan dananya.
b. Risiko penyimpanan dana. Apabila sebuah bank dapat memberikan
tingkat kepastianyang tinggi atas dana masyarakat untuk dapat ditarik
lagi sesuai waktu yang telahdiperjanjikan, maka masyarakat semakin
bersedia untuk menempatkan dananya dibank tersebut.
c. Pelayanan yang diberikan olch bank kepada penyimpan dana.
Pelayanan yang baik akanmembuat penyimpan dana merasa dihargai,
diperhatikan,dan dihormati, sehingga meranasenang untuk terus
bertransaksi keuangan dengan bank [Link] ini bisa
berupapelayanan dari petugas bank, pemnberian hadiah, atau
pemberian fasilitas yang lain.

5
.
d. Pelayanan yang diberikan olch bank kepada penyimpan dana.
Pelayanan yang baik akanmembuat penyimpan dana merasa dihargai,
diperhatikan,dan dihormati, sehingga meranasenang untuk terus
bertransaksi keuangan dengan bank [Link] ini bisa
berupapelayanan dari petugas bank, pemnberian hadiah, atau
pemberian fasilitas yang lain.

2. Alternatif Penghimpunan Dana Bank


Pada dasarnya suatu bank mempunyai empat alternatif untuk
menghimpun dana untukkepentingan usahanya,yaitu:
a. Dana Sendiri

Meskipun untuk suatu usaha bank proporsi dana sendiri ini relatif kecil
apabila dibandingkandengan total dana yang dihimpun ataupun total
aktivanya, namun dana sendiri ini tetap merupakanhal yang penting
untuk kelangsungan usahanya. Begitu pentingnya proporsidana sendiri
inidibuktikan dengan adanya ketentuan dari bank sentral yang mengatur
tentang proporsi minimalmodal sendiri dibandingkan dengan total nilai
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).Proporsi ini lebih dikenal
dengan istilah rasio kecukupan modal (capital adequacyratio-
CAR).Apabila CAR suatu bank terlalu rendah maka kemampuan bank
tersebut untuk bertahan padasaat mengalami kerugian juga rendah.
Modal sendiri akan dengan cepat habis untuk menutupkerugian, dan
ketika kerugian telah melebihi modal sendiri maka kemampuan bank
tersebutuntuk memenuhi kewajiban kepada masyarakat menjadi sangat
diragukan. Kemampuannya untukmengembalikan dana simpanan
masyarakat jugamenjadi diragukan. Penurunan kemampuanini sangat
mungkin untuk menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat pada bank
tersebut,dan penurunan tingkat kepercayaan terhadap suatu bank ini
selanjutnya sangat membahayakankelangsungan usaha bank itu.
Seperti halnya badan usaha lain penghimpunan dana sendiri iniantara
lain dapat berupa modal disetor, dana dari penjualan saham di bursa
efek, akumulasi labaditahan, cadangan-cadangan, dan agio saham.
Berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1992, bankumum dapat melakukan
mobilisasi dana dengan cara melakukan emisi saham dan
obligasimelalui bursa efek diIndonesia.

b. Dana dari Deposan


Pada dasarnya sumber dana dari masyarakat dapat berupa giro
(demand deposit), tabungan(saving deposit), dan deposito berjangka
(time deposit) yang berasal dari nasabah peroranganatau badan.

6
Giro
Rekening giro (checkingaccount) adalah simpanan yang penarikannya
dapat dilakukansetiap saat dengan menerbitkan cek untuk penarikan
tunai atau bilyet giro untuk pemindah bukuan, sedangkan cek atau
bilyet giro ini oleh pemiliknya dapat digunakansebagai alat
pembayaran. Cek merupakan perintah tak bersyarat kepada bank untuk
membayar sejumlah uangtertentu pada saat penyerahannya atas beban
rekening penarik cek. Bilyet giro pada dasarnya merupakan perintah
kepada bank untuk memindahbukukansejumlah tertentu uang atas
beban rekening penarik pada tanggal tertentu kepada pihakyang
tercantum dalam bilyet giro tersebut dan bilyet giro dapat dibatalkan
secara sepihakoleh penarik disertai dengan alasan pembatalan. Jasa
giro merupakan suatu imbalan yang diberikan oleh bank kepada giran
atassejumlah saldo gironya yang mengendap di bank. Jasa giro ini
relatiflebih kecil apabiladibandingkan dengan simpanan dalam bentuk
tabungan dan deposito berjangka, karenamemang tujuan nasabah yang
memegang rekening giro bukan untuk memperolehimbalan semacam
bunga simpanan tersebut, melainkan untuk memperoleh
berbagaifasilitas yang dimiliki oleh rekening giro.
▪ Deposito Berjangka
Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat
dilakukan pada waktu tertentu sesuai tanggal yang diperjanjikan antara
deposan dan bank. Mengingats impanan ini hanya dapat dicairkan pada
saat jatuh tempo oleh pihak yang namanyatercantum dalam bilyet
deposito sesuai tanggal jatuh temponya, maka depositoberjangka ini
merupakan simpanan atas nama dan bukan atas unjuk. Apabila
deposanmenghendaki agar deposito berjangkanya diperpanjang secara
otomatis, maka pihakbank dapat memberikan fasilitas perpanjangan
otomatis (automatic roll-over-ARO) atas deposito berjangka tersebut.
Bunga atas deposito berjangka ini dapat ditarik tunaisetiap jangkawaktu
tertentu ataupun ditransfer ke suatu rekening deposan.
Untukkemudahan,nasabah biasanya juga membuka rekening tabungan
untuk menampungbunga atas deposito tersebut serta juga untuk
menampung dana deposito yang telah jatuhtempo dan tidak
diperpanjang lagi. Bank-bank tertentu juga memberikan fasilitas
agarbunga deposito yang tidak ditarik oleh pemiliknya dapat
ditambahkan dalam simpananpokok deposito, sehingga nilai deposito

7
berjangkanya bertambah [Link] dasarnyasebelum jatuh tempo
simpanan ini tidak dapat ditarik, namun apabila deposan
tetapmenginginkan penarikan sebelum jatuh tempo, maka biasanya
bank mengenakan dendaatau biaya administrasi atas penarikan tersebut.
Kelebihan dana deposito ini bagi bankadalah bank mempunyai
kepastian tentang kapan dana itu akan ditarik, sehingga pihakbank
dapat mengantisipasi kapan harus menyediakan dana dalam jumlah
tertentu.
▪ Tabungan
Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan
dengan syarattertentu yang disepakati, dan tidak dengan cek atau bilyet
giro atau alat lain yang dapatdipersamakan dengan itu. Cara penarikan
rekening tabungan yang paling banyakdigunakan saat ini adalah dengan
buku tabungan, cash cardatau kartu ATM, dan [Link]
ketat dalam penghimpunan dana melalui tabungan antarbank
telahbanyak memunculkan cara-cara baru untuk menarik nasabah
tabungan. Cara-caratersebut antara lain: hadiah atas tabungan, fasilitas
asuransi atas tabungan, fasilitaskartu ATM, dan fasilitas kartu debet.
Ditinjau dari segi keluwesan penarikan dana,simpanan dalam bentuk
tabungan ini berada di tengah-tengah antara giro dan
depositoberjangka. Tabungan dapat ditarik dengan cara-cara dan dalam
waktu yang relatiflebihfleksibel dibandingkan dengan deposito
berjangka, namun masih kalah fleksibel apabiladibandingkan dengan
rekening giro. Sebagai konsekuensinya, besarnya bunga yangdiberikan
atas saldo tabungan ini pun berada di tengah-tengah antara giro dan
[Link] dari sisi bank, penghimpunan dana melalui
tabungan termasuk lebihmurah daripada deposito tapi lebih mahal
dibandingkan giro.
▪ Cara lain penghimpunan dana dari deposan
Persaingan yang ketat dalam penghimpunan dana antarbank telah
memunculkanproduk-produk baru dalam penghimpunan dana. Produk-
produk baru tersebut antaralain:
Sertifikat deposito. Sertifikat deposito merupakan hasil
pengembangan dari depositoberjangka. Sertifikat deposito adalah
deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat
[Link] simpanan ini dapat diperjual belikan dengan
mudah maka penarikan pada saat jatuh tempo dapat dilakukan atas
unjuk,sehingga siapapun yang memegang bukti simpanan tersebut
dapat menguangkannya pada saatj atuh [Link] lain yang menjadi
ciri dari sertifikat deposito adalah dalam hal pembayaran
[Link] deposito berjangka bunga dibayarkan setelah
danamengendap,maka bunga darisertifikat deposito ini dibayarkan di
muka yaitu padasaat nasabah menempatkan dananya dalam bentuk
deposito.
Deposit on call. Deposit on call adalah simpanan yang penarikannya
hanya dapatdilakukan dengan pemberitahuan lebih dahulu dalam
8
jangka waktu tertentu sesuaidengan kesepakatan antara pihak bank
dengan nasabah. Semakin besar dana yangakan ditarik biasanya
semakin lama pula jangka waktu pemberitahuan sebelumnyayang
diinginkan oleh pihak bank. Tingkat bunga biasanya ditetapkan lebih
rendahdaripada tingkat bunga deposito berjangka dan lebih tinggi
daripada jasa giro. Depositon call biasanya digunakan oleh nasabah
yang tidak setiap saat perlu menarik dananyadan keperluan penarikan
dana itu dapat diprediksi oleh nasabah dalam jangka waktutertentu.
Rekening giro terkait tabungan. Ditinjau dari tingkat bunganya,
nasabah lebihmenyukai tabungan, namun ditinjau dari cara
penarikannya nasabah cenderung lebihmenyukai [Link]
cenderung untuk mempertahankan saldo rekeninggiro serendah
mungkin sepanjang dapat memenuhi kebutuhan [Link]
saldo rekening giro ini menjadi terlalu kecil maka nasabah akan
memindahkansebagian dana tabungannya ke rekening giro dan
sebaliknya bila saldo rekening giroini dipandang lebih besar daripada
kebutuhan transaksinya, maka nasabah akanmemindahkan sebagian
saldo rekening giro ke rekening [Link]
atas masalah yang dihadapi nasabah tersebut, bank memberikanfasilitas
khusus berupa pemindahan sebagian saldo rekening tabungan ke
[Link] ini memungkinkan nasabah menikmati bunga
yang lebih tinggi,yaitu bunga tabungan,namun tetap dapat menikmati
kelebihan fasilitas [Link] oleh nasabah selalu
dimasukkan rekening tabungan,sementara jika nasabah menarik cek
atau bilyet giro dan ternyata saldo rekening giro tidakmencukupi, maka
pihak bank akan melakukan pemindahbukuan dari tabungan kerekening
giro. Pihak bank dapat melakukan pemindahbukuan karena
sebelumnyatelah mendapatkan surat kuasa dari nasabah.
c. Dana Pinjaman
Dana pinjaman yang diperoleh bank dalam rangka menghimpun dana
antara lain dapatberupa:
1) Call money
Call money'merupakan sumber dana yang dapat diperoleh bank
berupa pinjaman jangkapendek dari bank lain melalui interbank
call money market. Sumber dana ini sering digunakan oleh bank
untuk memenuhi kebutuhan dana mendesak dalam jangka
pendek,seperti bila terjadi kalah kliring atau adanya penarikan dana
besar-besaran oleh paradeposan (rush). Dana dari call moneyini
berjangka waktu relative pendek,. Call money dapat juga
dimanfaatkan oleh bank yang sedang mengalami
kelebihanlikuiditas untuk menyalurkan dananya dalam jangka
pendek, sehingga kelebihanlikuiditas tersebut menjadi dana yang
produktif menghasilkan penerimaan bagi bank.
2) Pinjaman antarbank

9
Kebutuhan pendanaan kegiatan usaha suatu bank dapat juga
diperoleh dari pinjamanjangka pendek dan menengah dari bank
lain. Berbeda dengan call money seperti telahdiuraikan pada bagian
sebelumnya, pinjaman ini dilakukan bukan untuk
memenuhikebutuhan dana mendesak dalam jangka pendek,
melainkan untuk memenuhi suatukebutuhan dana yang lebih
terencana dalam rangka pengembangan usaha ataumeningkatkan
penerimaan bank.
3) Kredit Likuiditas Bank Indonesia
Sesuai dengan namanya, Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI)
adalah kredityang diberikan oleh Bank Indonesia terutama kepada
bank yang sedang mengalamikesulitan likuiditas. Masalah
kesulitan likuiditas ini bisa terjadi karena kalah kliring atauadanya
penarikan dana besar-besaran oleh nasabah-nasabah suatu bank
(rush).

d. Sumber Dana Lain


Selain dapat berasal dari dana sendiri, dana dari deposan,dan dana
pinjaman, sumber penghimpunan dana dapat juga berasal dari sumber-
sumber lain yang tidak dapat digolongkan dalam jenis dana di
[Link] dana yang lain ini selalu berkembang sesuai dengan
perkembangan usaha perbankan dan perekonomian secara umum.
Sumber-sumber tersebut antara lain:
1) Setoran jaminan
Setoran jaminan atau sering disingkat menjadi storjam merupakan
sejumlah danayang wajib diserahkan oleh nasabah yang menerima
jasa-jasa tertentu dari [Link] tersebut perlu menyerahkan
storjam karena jasa-jasa yang diberikan oleh bankmengandung
risiko finansial tertentu yang ditanggung oleh pihak [Link]
adanyastorjam, nasabah diharapkan mempunyai komitmen untuk
berperilaku positif sehinggadikemudian haribank tidak harus
mengalami kerugian karena menanggung risiko yangtimbul. Stor
jaminan ini juga dibutuhkan sebagai dana untuk menutup sebagian
kerugian bankyang mungkin timbul akibat terjadinya risiko. Jasa-
jasa bank yang biasanya memerlukanstorjam antara lain adalah
Letter of Credit(LC) dan Bank Garansi(BG).
2) Dana transfer
Salah satu jasa yang diberikan bank adalah pemindahan dana.
Pemindahan dana bisaberupa pemindahbukuan antarrekening, dari
uang tunai ke suatu rekening, atau darisuatu rekening untuk
kemudian ditarik tunai. Sebelum dana transfer ini ditarik
olehpenerima transfer atau selama masih mengendap di bank, dana
ini dapat digunakanoleh bank untuk mendanai kegiatan usahanya.
Dana ini jelas hanya akan mengendapdi bank untuk jangka waktu
yang sangat singkat. Namun sumber dana ini digolongkansebagai
sumber dana yang tidak berbiaya. Dana transfer yang tersimpan di

10
bank tidakmenimbulkan kewajiban bagi bank untuk memberikan
imbal jasa berupa bunga,sehingga dana ini merupakan dana murah
bagi bank. Mengingat dana transfer biasanyahanya mengendap
dalam waktu singkat, maka dana ini termasuk dana jangka pendek.
3) Surat Berharga Pasar Uang
Salah satu akibat adanya serangkaian paket deregulasi perbankan
sejak tahun 1980-anadalah diperkenalkannya Surat Berharga Pasar
Uang (SBPU) sebagai salah satu instrumenyang dipergunakan
pihak bank untuk menghimpun dana. SBPU merupakan surat-surat
berharga jangka pendek yang dapat diperjualbelikan dengan cara
didiskonto olehBank Indonesia. Pada saat suatu bank mempunyai
kelebihan likuiditas, bank tersebutdapat membeli berbagai macam
SBPU, dan menjualnya kembali pada saat mengalamikekurangan
likuiditas.

3. Penggunaan Dana Bank


Dana yang berhasil dihimpun oleh bank justru akan menjadi beban
apabila dibiarkan begitusaja tanpa ada usaha alokasi untuk tujuan-tujuan
yang produktif. Dana yang telah dihimpunbukanlah dana yang semuanya
murah tapi sebagian besar adalah dana dari deposan yangmenimbulkan
kewajiban bagi bank untuk membayar imbal jasa berupa bunga.
Berdasarkankebutuhan itu dan juga untuk memperoleh penerimaan bank
dalam rangka menutup biaya-biaya lain serta mendapatkan keuntungan,
maka bank berusaha mengalokasikan dananyadalam berbagai bentuk
aktiva dengan berbagai macam pertimbangan.
Pertimbangan Penggunaan Dana Sebelum bank memutuskan untuk
memilih suatu bentuk aktiva tertentu dalam pengalokasiandana yang telah
berhasil dihimpun, banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Meskipunpertimbangan tersebut mencakup banyak hal, terdapat tiga hal
utama yang selalu menjadiperhatian bank. Ketiga hal tersebut adalah
risiko, hasil, dan jangka waktu.
a. Risiko dan Hasil Apa pun bentuk aktiva yang dipilih, pengalokasian
dana selalu berkaitan dengan aspek risikodan 'rate ofreturn' dari aktiva
tersebut. Pada dasarnya bank menginginkan bentuk aktiva yang
berisiko serendah mungkin namun dapat menghasilkan penerimaan
atau rate ofreturnsetinggi mungkin. Kalau dimungkinkan setiap badan
usaha menginginkan agar semua dananyadiwujudkan dalam aktiva
produktif (earningasset) dan bukan non earning [Link]
adanyaaktiva produktifini, maka bank dapat memperoleh penerimaan
untuk membiayai keseluruhanbiaya operasional bank seperti biaya
bunga, biaya tenaga kerja, dan juga untuk mendapatkankeuntungan.
Kenyataan yang dihadapi bank dan juga setiap investor adalah adanya
hubunganyang searah antara tingkat risiko dan rate ofreturn dari setiap
pilihan bentuk investasi atauaktiva. Semakin tinggi rate ofreturn yang
mungkin dapat diperoleh dari suatu aktiva makasemakin tinggi pula

11
tingkat risiko yang ditanggungnya dan sebaliknya. Apabila
menggunakanisitilah lain, semakin tinggi produktivitas suatu aktiva,
maka semakin tinggi pula tingkatrisikonya. Hubungan tersebut dapat
dilihat pada grafik Gambar 1.1

Tingkat Risiko

Investasi/Aktiva

0
Rate of Return/produktivitas
Gambar 1.1 Hubungan antara Risiko dan Rate of Return

Menyadari situasi tersebut,suatu bank biasanya terlebih dahulu


menentukan tingkat risikotertentu yang bersedia [Link]
menentukan tingkat risiko,kemudian menentukanalternatif bentuk
aktiva yang [Link] risiko yangdiharapkan tidaklah
mungkinsama dengan nol,karena pada dasarnya tidak ada bentuk
aktiva yang sama sekali tidak [Link] sisi lain, bank tidak mungkin
untuk mengabaikan faktor risiko ini. Apabila risiko yangditanggung
dari suatu investasi terlalu tinggi dan tentu saja disertai dengan
kemungkinan rateofreturn yang sangat tinggi pula, maka kegiatan
tersebut lebih merupakan suatu spekulasidan bukan lagi investasi.
Kegiatan spekulasi ini sangat tidak sesuai dengan prinsip 'kehati-
hatian' (prudential banking) yang dianut oleh perbankan di Indonesia
dan di negara-negaralain di dunia.
b. Jangka Waktu dan Likuiditas
Dana yang telah berhasil dihimpun oleh bank menyangkut berbagai
macam jangka [Link] samping itu, bank juga
memerlukan berbagai bentukaktiva disesuaikandengan keperluan
kegiatan usahanya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, bank
memilihberbagai macam bentuk aktiva dengan mempertimbangkan
jangka waktu aktiva tersebutdapat dijadikan alat likuid. Adanya
sumber-sumber dana jangka pendek menuntut agar
12
bankmengalokasikan sejumlah tertentu dananya dalam bentuk aktiva
yang tingkat likuiditasnyacukup tinggi, sehingga sewaktu
kewajibannya jatuh tempo bank mempunyai cukup alatlikuid
untukmemenuhi kewajibannya. Bank juga harus menyediakan
sejumlah alat likuiddengan tujuan memenuhi kewajiban giral
minimum yang ditetapkan oleh BI. Bank perlujuga mengalokasikan
sebagian dananya dalam bentuk aktiva tetap, seperti
bangunan,mobil,tanah, dan komputer untuk keperluan kegiatan
usahanya.

4. Alternatif Penggunaan Dana


Secara lebih rinci, alokasi dari dana yang telah berhasil dihimpun oleh
bank dapat dalambentuk-bentuk berikut ini.
a. Cadangan Likuiditas
Sesuai dengan namanya, aktiva ini terutama ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan likuiditasjangka pendek. Sebagai konsekuensinya, risiko dari
aktiva ini tergolong rendah dan banktidak dapat terlalu banyak
mengharapkan adanya penerimaan dalam jumlah yang tinggi dariaktiva ini,
bahkan kadang-kadang aktiva ini disebut aktiva yang tidak produktif (idle
fund).Cadangan likuiditas ini terdiri atas dua kategori, yaitu:
1. Cadangan primer (primaryreserves)
Cadangan primer bisa dalam bentuk uang kas, saldo pada bank sentral,
saldo padabank lain, dan warkat dalam proses penagihan. Aktiva ini
ditujukan terutama untukmemenuhi ketentuan Reserve Requirement
yang ditentukan oleh bank sentral dan jugauntuk kegiatan usaha sehari-
hari seperti penarikan dana oleh nasabah, penyelesaiankliring,
pemberian kredit, kewajiban yang akan jatuh tempo.
2. Cadangan sekunder
Di Indonesia, aktiva ini dapat berupa Surat Berharga Pasar
Uang(SBPU),Sertifikat BankIndonsia (SBI), Surat Utang Negara, dan
sertifikat deposito. Salah satu akibat adanyaserangkaian paket
deregulasi perbankan sejak tahun 1980-an adalah
diperkenalkannyaSurat Berharga Pasar Uang. SBPU merupakan surat-
surat berharga jangka pendekyang dapat diperjualbelikan dengan cara
didiskonto oleh Bank Indonesia. Fasilitasdiskonto adalah penyediaan
dana jangka pendek oleh Bl dengan cara pembelian promesdan wesel
yang diterbitkan oleh bank-bank atas dasar diskonto. Pada saat suatu
bankmempunyai kelebihan likuiditas, bank tersebut dapat membeli
berbagai macam SBPU,dan menjualnya kembali pada saat mengalami
kekurangan likuiditas. Penempatan danadalam bentuk cadangan
sekunder ini terutama ditujukan untuk:
- Memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek yang sebelumnya
telah dapatdiperkirakan seperti penaríkan simpanan dan pencairan
kredit.
- Memperoleh penerimaan

13
Meskipun kebutuhan dana jangka pendek ini dapat diperkirakan
sebelumnya, namunsering kali terjadi kebutuhan likuiditas mendadak
dalam jumlah yang cukup besar. Untukmengantisipasi hal tersebut,
bank membentuk cadangan sekunder berupa surat berhargajangka
pendek yang mudah diperjualbelikan. Mengingat aktiva ini
memungkinkanadanya penerimaan yang relatiflebih tinggi daripada
cadangan primer, maka aktiva inimengandung risiko yang sedikit lebih
tinggi daripada cadangan primer.

b. Penyaluran Kredit
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjammeminjam antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam untuk melunasikewajibannya setelah jangka
waktu tertentu. Kewajiban tersebut dapat berupa pokok pinjaman, bunga
imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Pemebelian surat berharga
nasabah yang dilengkapi dengan note purchase agreement (NPA) serta
pengambilan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang dapat juga
digolongkan sebagai kredit.
c. Investasi
Alokasi dena pada aktiva dengan rate of return yang cukup tinggi selain
dapat berupa penyaluran kredit, dapat juga berupa investasi. Investasi
dapat berupa penamaan dana dalam surat-surat berharga jangka
menengah dan Panjang, atau berupa penyertaan langsung pada badan
usaha lain. Bntuk dari surat berharga tersebut antara lain sahan dan
obligasi. Hal yang perlu diingat tentang penyertaan langsung bahwa
berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1992 bank hanya boleh melakukan
penyertaan pada dua jenis badan usaha yaitu:
1) Lembaga keuangan
2) Dbitor yang kreditnya macet dan sifat penyertaannya adalah
sementara.

d. Aktiva Tetap dan Inventaris


Aktiva tetap dan inventaris tergolong sebagai aktiva yang produktif
dalam mengahasilkan penerimaan dan oleh Bank Indonesia dipandang
sebagai aktiva yang risikonya cukup tinggi. Risiko ini dikaitkan dengan
kemungkinan rusak, terbakar, atau hilangnya dari aktiva tetap dan
inventaris. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pembatasan penanaman dana
dalam aktiva tetap dan inventaris agar tingkat Kesehatan bank tetap
terjaga. Hal ini berarti bahwa Ketika menanamkan dana dalam aktiva
tetap dan inventaris bank harus membiayainya dari modal sendiri,
sehingga jika aktiva ini rusak, hilang, atau terbakar tidak akan
membebani kewajiban bank tersebut kepada pihak lain. Meskipun aktiva
ini tidak produktif, tidak likuid, dan cukup berisiko, bank tetap perlu
mangalokasikan dananya untuk aktiva ini karena bank memerlukan
kantor, mobil, computer, dan lain-lain untuk kegiatan usahanya.

14
C. Bank Syariah
1. Pengertian Bank Syariah
Bank syariah adalah lembaga keuangan yang beroperasi dengan
menerapkan prinsip-prinsip syariah atau hukum Islam dalam transaksi
keuangannya. Prinsip-prinsip ini mencakup hal-hal seperti larangan riba
(bunga), spekulasi, dan investasi dalam sektor yang dianggap haram. Bank
syariah juga mempromosikan keadilan, transparansi, dan tanggung jawab sosial
dalam aktivitas keuangannya.

2. Prinsi Bank Syariah


Prinsip-prinsip bank syariah didasarkan pada ajaran Islam dan hukum
syariah yang mencakup aspek moral, etika, dan ekonomi. Beberapa prinsip
utama yang diterapkan oleh bank syariah meliputi:
[Link] riba (bunga): Riba atau bunga dianggap sebagai transaksi yang
tidak adil dan merugikan pihak yang meminjam uang. Bank syariah tidak
memungut bunga dalam bentuk apapun dalam transaksi keuangannya.
[Link] spekulasi: Bank syariah juga tidak melakukan spekulasi dalam
bentuk apapun dalam investasinya. Semua investasi harus memiliki tujuan
yang jelas dan transparan.
[Link] berdasarkan prinsip keadilan: Dalam transaksi keuangan, bank
syariah berusaha untuk mencapai keadilan dalam pembagian keuntungan dan
kerugian antara pihak-pihak yang terlibat. Hal ini mencakup prinsip berbagi
keuntungan dan risiko.
[Link] investasi pada sektor yang dianggap haram: Bank syariah tidak
menginvestasikan dana dalam sektor yang dianggap haram, seperti alkohol,
narkoba, perjudian, dan sebagainya.
[Link] jawab sosial: Bank syariah juga mendorong tanggung jawab
sosial dalam aktivitas keuangannya, dengan memberikan kontribusi kepada
masyarakat dan lingkungan sekitar.
[Link] pengawasan yang ketat: Bank syariah juga menerapkan sistem
pengawasan yang ketat oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) atau Majelis
Ulama Indonesia (MUI) untuk memastikan bahwa semua transaksi keuangan
dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

3. Ciri-Ciri Bank Syariah

[Link] prinsip-prinsip syariah: Bank syariah beroperasi dengan


menerapkan prinsip-prinsip syariah atau hukum Islam dalam transaksi
keuangannya. Ini termasuk larangan riba (bunga), spekulasi, dan investasi
dalam sektor yang dianggap haram.
[Link] berdasarkan prinsip keadilan: Dalam transaksi keuangan, bank
syariah berusaha untuk mencapai keadilan dalam pembagian keuntungan dan
kerugian antara pihak-pihak yang terlibat. Hal ini mencakup prinsip berbagi
keuntungan dan risiko.
[Link] dalam sektor halal: Bank syariah hanya melakukan investasi dalam
sektor yang dianggap halal, seperti sektor properti, industri, dan lain
15
sebagainya. Sementara, sektor yang dianggap haram, seperti alkohol, narkoba,
perjudian, dan sebagainya tidak akan menjadi target investasi.
[Link] pengawasan yang ketat: Bank syariah juga menerapkan sistem
pengawasan yang ketat oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) atau Majelis
Ulama Indonesia (MUI) untuk memastikan bahwa semua transaksi keuangan
dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

[Link] profit and loss sharing: Bank syariah juga menerapkan prinsip
keuntungan dan kerugian bersama atau profit and loss sharing dalam transaksi
keuangan, sehingga nasabah juga berbagi tanggung jawab dalam investasi dan
bisnis yang dilakukan oleh [Link] produk-produk keuangan
syariah: Bank syariah menyediakan produk-produk keuangan syariah, seperti
pembiayaan rumah, kendaraan, usaha, investasi, dan produk-produk keuangan
lainnya, yang didasarkan pada prinsip-prinsip syariah dan tidak melanggar
hukum Islam.

4. Fungsi Bank Syariah


[Link] intermediasi keuangan: Bank syariah berfungsi sebagai perantara
antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan
dana. Dalam hal ini, bank syariah mengumpulkan dana dari nasabah yang
disimpan dalam bentuk deposito dan menyalurkannya ke nasabah lain yang
membutuhkan dana dalam bentuk pembiayaan.
[Link] pengelolaan dana: Bank syariah juga berfungsi sebagai pengelola
dana, baik dana milik nasabah maupun dana milik bank. Dalam hal ini, bank
syariah harus memastikan bahwa dana tersebut dikelola dengan baik dan
sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
[Link] penyediaan layanan jasa keuangan: Bank syariah menyediakan
berbagai layanan jasa keuangan, seperti tabungan, pembiayaan, investasi, dan
jasa lainnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
[Link] pengembangan ekonomi: Bank syariah juga berfungsi dalam
pengembangan ekonomi melalui penyaluran dana ke sektor produktif yang
membutuhkan pembiayaan. Dalam hal ini, bank syariah dapat memberikan
pembiayaan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang
menjadi tulang punggung perekonomian.
[Link] sosial: Bank syariah juga memiliki fungsi sosial dalam memberikan
manfaat kepada masyarakat. Bank syariah dapat memberikan zakat, infak, dan
sedekah dari hasil keuntungan yang diperoleh, serta memberikan pembiayaan
kepada masyarakat yang kurang mampu.

16
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

otoritas moneter memiliki peran yang sangat penting dalam mengatur sistem
keuangan suatu negara. Otoritas moneter bertanggung jawab atas kebijakan
moneter, termasuk memastikan stabilitas nilai mata uang, mengatur suku bunga,
mengendalikan suplai uang, dan menjaga stabilitas sistem keuangan
[Link] itu, bank syariah adalah lembaga keuangan yang beroperasi
dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah atau hukum Islam dalam transaksi
keuangannya. Bank syariah memiliki prinsip-prinsip seperti larangan riba
(bunga), spekulasi, dan investasi dalam sektor yang dianggap haram. Bank
syariah juga mempromosikan keadilan, transparansi, dan tanggung jawab sosial
dalam aktivitas keuangannya.
penggunaan dana dan penyaluran dana, bank syariah mengikuti prinsip-
prinsip syariah sehingga transaksi yang dilakukan harus memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan. Penggunaan dana harus berdasarkan prinsip kehati-hatian
dan pencegahan risiko, serta harus memperhatikan kepentingan nasabah secara
keseluruhan. Selain itu, bank syariah juga harus memastikan adanya keadilan
dan keterbukaan dalam setiap transaksi yang dilakukan.
bank syariah dapat melakukan pembiayaan dengan menggunakan berbagai
macam produk, seperti mudharabah, musyarakah, murabahah, dan lain-lain.
Produk-produk tersebut harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan
memperhatikan kepentingan nasabah.
Dalam kesimpulannya, otoritas moneter dan bank syariah memiliki peran
penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan suatu negara dan memastikan
adanya transaksi keuangan yang berprinsip syariah. Kedua hal tersebut harus
dipertimbangkan secara bersamaan dalam upaya untuk menciptakan sistem
keuangan yang sehat, adil, dan berkelanjutan

17
DAFTAR PUSTAKA

Budisantoso, Totok., dan Nuritomo. 2017. Bank dan Lembaga Keuangan Lain Edisi 3.
Jakarta. Salemba Empat
[Link] diakses pada Selasa, 13 Februari 2018
Amalia, Dina. 2017. Pengertian, Tujuan, dan Instrumen Kebijakan [Link] pada
[Link] pada Selasa, 13 Februari 2018

A’la, A. M. R., & Mawardi, I. (2015). Pengaruh Financing To Deposit Ratio (FDR) Terhadap
Return On Asset (ROA) Dengan Variabel Intervening Penempatan Dana Pada
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) Pada Bank Syariah di Indonesia. J.
Ekon. Syariah Teor. dan Terap, 1(8).

Abu Bakar, N., & Hanafiah, M. H. M. (2020). Investigating the Effect of Islamic Values on
Perceived Service Quality and Customer Satisfaction in Malaysian Islamic Banks. Asia
Pacific Journal of Marketing and Logistics, 32(1), 23-44.

18
1

Anda mungkin juga menyukai