100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan4 halaman

Perbandingan Sistem Biaya ABC dan Tradisional

Dokumen tersebut membahas perbedaan sistem Activity Based Costing, Tradisional/Konvensional, dan Just-in-Time Processing dalam hal penggunaan cost driver, alokasi biaya overhead, fokus utama, dan kategori pembagian biaya. Juga dibahas mengenai keunggulan dan kelemahan masing-masing sistem.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan4 halaman

Perbandingan Sistem Biaya ABC dan Tradisional

Dokumen tersebut membahas perbedaan sistem Activity Based Costing, Tradisional/Konvensional, dan Just-in-Time Processing dalam hal penggunaan cost driver, alokasi biaya overhead, fokus utama, dan kategori pembagian biaya. Juga dibahas mengenai keunggulan dan kelemahan masing-masing sistem.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Muhammad Fajar Hardjanto

NIM : 044514869
Mata Kuliah : Pengantar Akuntansi

Perbedaan Sistem Activity Based Costing, Tradisional/Konvensional, dan


Just-in-Time Processing

Berikut adalah penjelasan mengenai perbedaan sistem Activity Based Costing dengan kedua
sistem lainnya, antara lain:
1. Sistem ABC menggunakan cost driver (pemicu biaya) yang lebih banyak. sehingga
ABC mempunyai tingkat ketelitian lebih tinggi dalam penentuan harga pokok produk
bila dibandingkan dengan sistem lain.
2. ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu untuk menentukan berapa
besar overhead pabrik yang akan dialokasikan pada suatu produk tertentu.
3. Fokus ABC adalah pada biaya, mutu, dan faktor waktu.
4. ABC membagi konsumsi overhead dalam 4 empat kategori yaitu: unit, batch, produk,
dan fasilitas.
5. Activity based costing mengunakan penggerak biaya berdasarkan aktivitas termasuk
yang berdasarkan volume maupun yang tidak berdasarkan volume.
6. ABC membebankan biaya overhead pertama ke pusat biaya aktivitas dan kedua ke
sebelum produk atau jasa.
7. ABC fokus pada pengelolaan proses dan aktivitas serta pemecahan masalah lintas
fungsional.
8. ABC membagi konsumsi overhead ke dalam empat kategori yaitu unit, batch, produk,
dan fasilitas. Fokus ABC adalah pada biaya, mutu, dan faktor waktu.

Perbedaan sistem Tradisional/Konvensional, antara lain:


1. Traditional costing method hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan
unit.
2. Traditional costing method mengalokasikan biaya overhead berdasarkan satu atau dua
basis alokasi saja.
3. Traditional costing concept lebih mengutamakan pada kinerja keuangan jangka
pendek, seperti laba. Sistem tradisional dapat mengukurnya dengan cukup akurat.
Tetapi apabila traditional costing method digunakan untuk penetapan harga pokok dan
untuk mengidentifikasikan produk yang menguntungkan, angka-angkanya tidak dapat
dipercaya dan diandalkan.
4. Traditional costing method membagi biaya overhead dalam unit yang lain.
5. Traditional costing method menggunakan penggerak biaya berdasarkan volume.
6. Traditional costing method membebankan biaya overhead pertama ke departemen dan
kedua ke produk atau jasa.
7. Traditional costing method fokus pada pengelolaan biaya departemen fungsional atau
pusat pertanggungjawaban.
8. Traditional costing method lebih mengutamakan pada kinerja keuangan jangka
pendek, seperti laba.

Sedangkan Just-in-Time adalah sistem yang memproduksi barang hanya ketika produk
dibutuhkan dan hanya dalam jumlah yang diminta konsumen. JIT diasumsikan bahwa semua
biaya selain bahan langsung digerakkan oleh waktu dan ruang. JIT secara khusus mengurangi
persediaan sampai tingkat jauh lebih rendah dari sistem konvensional atau mengurangi
sampai dengan nol persediaan. Hal ini bertujuan untuk menekankan pengendalian mutu, serta
menghasilkan perubahan mendasar dalam cara produksi diorganisasi dan dilaksanakan. Pada
dasarnya, JIT menekankan pada perbaikan berkelanjutan melalui penurunan biaya persediaan
dan pertautan dengan masalah-masalah ekonomi lainnya. Penurunan persediaan menghemat
modal yang dapat dimanfaatkan untuk investasi lain yang lebih produktif. Dengan demikian
sistem JIT tidak hanya menurunkan jumlah persediaan, tetapi juga memungkinkan
perusahaan mengolah produknya lebih cepat dan lebih hemat karena prosesnya dilakukan
tanpa menimpan persediaan atau tidak memerlukan gudang penyimpanan.

Keunggulan dan Kelemahan dari Sistem Activity Based Costing,


Tradisional/Konvensional, dan Just-in-Time Processing

1. Keunggulan dari sistem Activity Based Costing adalah sebagai berikut:


- ABC dapat meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah
langkah untuk menjadi lebih kompetitif, kemudian berusaha untuk meningkatkan
mutu sambil secara simultan memfokuskan pada pengurangan biaya.
- Pengukuran profitabilitas yang lebih baik. Sistem ABC menyajikan biaya produk
yang lebih akurat dan informatif, mengarahkan pada pengukuran profitabilitas
produk yang lebih akurat dan keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih
baik tentang penetapan harga jual, lini produk, dan segmen pasar.
- ABC dapat membuat keputusan dan kendali yang lebih baik. Sistem ABC
menyajikan pengukuran yang lebih akurat tentang biaya yang timbul karena dipicu
oleh aktivitas, membantu manajemen untuk meningkatkan nilai produk dan nilai
proses dengan membuat keputusan yang lebih baik tentang desain produk,
mengendalikan biaya secara lebih baik, dan membantu perkembangan proyek-proyek
yang meningkatkan nilai.
- Informasi yang lebih baik untuk mengendalikan biaya kapasitas. Sistem ABC
membantu manajer mengidentifikasi dan mengendalikan biaya kapasitas yang tidak
terpakai dalam pengambilan keputusan bisnis.
- Kemampuan sistem ABC untuk mengungkapkan aktivitas yang tidak memberikan
nilai tambah (non value added activities) bagi produk atau jasa yang dihasilkan.

Kelemahan dari sistem Activity Based Costing adalah sebagai berikut:


- Implementasi sistem Activity Based Costing ini belum dikenal dengan baik, sehingga
prosentase penolakan terhadap sistem ini masih cukup besar.
- Banyak dan sulitnya mendapat data yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem
Activity Based Costing.
- Masalah joint cost (biaya gabungan) yang dihadapi dalam sistem konvensional juga
tidak dapat teratasi dengan sistem ini.
- Sistem Activity Based Costing melaporkan biaya dengan cara pembebanan untuk
suatu periode penuh dan tidak mempertimbangkan untuk mengamortisasi longterm
payback expense. Contohnya dalam penelitian dan pengembangan, biaya
pengembangan dan penelitian yang cukup besar untuk periode yang disingkatkan
akan ditelusuri ke produk sehingga menyebabkan biaya produk yang terlalu besar.

2. Keunggulan dari sistem Tradisional atau Konvensional adalah sebagai berikut:


- Mudah diaudit, karena jumlah cost driver tidak terlalu banyak sehingga memudahkan
auditor melakukan proses audit.
- Mudah diterapkan karena tidak banyak memakai cost driver dalam pengalokasian
biaya overhead pabrik, sehingga memudahkan manajer melakukan perhitungan.

Kelemahan dari sistem Tradisional atau Konvensional adalah sebagai berikut:


- Sistem Tradisional terlalu menekankan pada tujuan penentuan harga pokok
persediaan dan harga pokok produk yang dijual, akibatnya sistem ini hanya
menyediakan informasi yang relatif sedikit untuk mencapai perusahaan dalam
persaingan global.
- Pembebanan biaya overhead pabrik terlalu memusat pada distribusi dan alokasi biaya
overhead pabrik daripada berusaha untuk mengurangi pemborosan dengan
menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah.
- Sistem Tradisional tidak mencerminkan sebab akibat biaya karena hanya mengakui
volume produk dan jam kerja yang menjadi faktor timbulnya biaya.
- Mengakibatkan timbulnya ditorsi biaya.
- Sistem tradisional mengakibatkan manajemen cenderung meningkatkan volume
produksi dalam rangka menekan biaya per unit.
- Sistem Tradisional menggolongkan suatu perusahaan kedalam pusat-pusat
pertanggungjawaban yang kaku dan terlalu menekankan kinerja jangka pendek.

3. Keunggulan dari sistem Just-in-Time adalah sebagai berikut:


- Dapat mengurangi biaya-biaya produksi. Salah satunya adalah biaya pengelolaan
persediaan. Karena metode ini dapat menyesuaikan permintaan dan memungkinkan
perusahaan untuk memproduksi barang sesuai permintaan yang ada.
- Dapat meningkatkan efisiensi waktu. Posisi pabrik dan workstation yang efisien akan
meminimalisasi penggunaan waktu. Hal tersebut juga bisa terjadi karena besaran
permintaan yang disesuaikan saat produksi sehingga tidak ada waktu yang sia-sia.
- Dapat meningkatkan perputaran modal. Just in time manufacturing mendorong
perputaran modal yang lebih tinggi. Hal tersebut bisa terjadi karena perusahaan
hanya menyediakan persediaan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan. Alhasil,
modal yang dikeluarkan hanya mengendap sedikit di persediaan atau inventaris.
- Dapat mengurangi limbah produksi. Limbah produksi adalah salah satu masalah yang
timbul dari proses produksi. Perusahaan akan mengawasi proses produksi dan
memastikan semua produk akan menjadi produk akhir untuk memenuhi permintaan.
- Dapat mengurangi stok yang menumpuk. Dalam penerapannya, metode ini hanya
akan memproduksi barang sesuai permintaan. Selain itu, dengan stok dalam gudang
yang lebih sedikit, maka kemungkinan barang menjadi cacat dan rusak menjadi
minim untuk terjadi.

Kelemahan dari sistem Just-in-Time adalah sebagai berikut:


- Biaya lain-lain yang lebih tinggi. Walaupun tujuan just in time manufacturing adalah
untuk efisiensi biaya. namun, perlu diperhatikan pembengkakan biaya di tempat lain.
Seperti misalnya, terjadi peningkatan biaya pengiriman barang untuk memenuhi
permintaan dengan cepat.
- Kendala pada rantai pasokan. Just in time manufacturing sangat bergantung dengan
rantai pasokan. Jika terdapat kesalahan, maka produksi akan gagal. Oleh karena itu,
perusahaan harus bisa mengawasi pihak yang terlibat seperti memastikan pemasok
bahan baku produksi barang.
- Rentan terhadap perubahan. Just in time manufacturing adalah pendekatan yang
sangat fleksibel. Karena just in time manufacturing sangat berfokus pada jumlah
permintaan. Jika terjadi peningkatan permintaan yang tidak wajar, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan dari sistem produksi. Cara untuk meminimalisir hal tersebut
adalah dengan memprediksi perubahan jumlah permintaan setiap saat.

Anda mungkin juga menyukai