MODUL 4: BEBERAPA PENGERTIAN HUKUM
4.1. SISTEM, ASAS DAN KLASIFIKASI HUKUM
Awal dari segala sesuatu adalah perkawinan, Hukum; keluarga, perkawinan, dan waris
mempunyai hubungan fungsional berorientasi pada tujuan perkawinan membentuk keluarga
bahagia dan kekal berdasarkan TYME. Bidang hukum merupakan bagian dari Sistem Hukum
Nasional RI, berorientasi pada tujuan hukum termuat dalam UUD 1945, kedamaian dan
kesejahteraan hidup bersama berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pedoman untuk
menyelesaikan konflik dalam system hukum yaitu :
1. Apabila terjadi konflik di antara peraturan perundang-undangan, penyelesaiannya dengan asas-
asas peraturan perundang-undangan yaitu Nullum delictum nulla poena sine praevia legi
poenali; Lex superior derogat legi inferiori; Lex specialis derogate legi generale; Lex
posterior derogate legi anteriori / Lex posteriori derogat legi priori.
2. Apabila terjadi konflik antara peraturan perundang-undangan dengan hukum adat / kebiasaan,
penyelesaiannya mendasarkan pada sifat kaidah hukum yang terkandung dalam peraturan
perundang-undangan. Bila memuat kaidah hukum imperatif, yang dimenangkan peraturan
perundang-undangan, bila memuat kaidah hukum fakultatif, hukum adat / kebiasaan yang
dimenangkan.
3. Apabila terjadi konflik antara peraturan perundang-undangan dengan putusan hakim,
penyelesaian dimenangkan putusan hakim / asas res judicata pro veritate habitur / putusan
hakim harus dianggap benar sampai ada pembatalan putusan hakim lebih tinggi.
Sistem hukum sebagai satu kesatuan menganut system terbuka, selalu tumbuh, berkembang
dan lenyap bersama masyarakat, mempunyai hubungan timbal balik dengan lingkungannya,
merupakan kesatuan unsur-unsur (peraturan/penetapan) dipengaruhi faktor kebudayaan, sosial,
ekonomi, sejarah, dsb. Peraturan hukum terbuka untuk penafsiran yang berbeda, oleh karena itu
terjadi perkembangan (Mertokusumo, 1990 :102), tiap tiap sub-sub sistem, hukum pengaturannya
tidak sama (terbuka / tertutup). Contoh : KUH Perdata; hukum benda tertutup, hukum perikatan
terbuka. Sistem hukum (tertulis / tidak) memiliki unsur:
1. Hukum UU; sengaja dibuat penguasa berwenang / wettenrecht, tertulis dan tertuang dalam
peraturan perundang-undangan.
2. Hukum kebiasaan/adat ; keajegan-keajegan, keputusan-keputusan (dari warga masyarakat dan /
penguasa) didasarkan pada keyakinan sebab akan menciptakan ketertiban, kedamaian dalam
pergaulan hidup masyarakat (gewoonterecht).
3. Hukum yurisprudensi ; diciptakan oleh hakim melalui putusannya (jurisprudentierecht) untuk
menyelesaikan kasus hukum konkrit.
4. Hukum Traktat ; terbentuk dalam perjanjian antar Negara (tractatenrecht).
5. Hukum ilmiah ; hasil konsepsi para ilmuwan hukum / teoritisi hukum (wetenschapsrecht).
Sistem hukum dilengkapi ‘asas hukum’ yang menjadi dasar lahirnya peraturan hukum / ratio
legis peraturan hukum. Asas yang harus diperhatikan adalah asas hukum : umum (sebagai asas
kesusilaan tidak terikat tempat dan waktu), seperti tidak boleh ; mencuri, korupsi, membunuh,
berzina, dsb. Dijadikan dasar kejiwaan bangsa (di NKRI; pancasila dan terwujud masyarakat
adil dan makmur, dan dijadikan dasar dan alasan umum pembentukan peraturan perundang-
undangan / ratio legis (Rahardjo, 1982:86)
Asas lain pembentuk peraturan perundang-undangan yaitu: Formal (beginselen van behoorlijke
regelgeving), berupa ; tujuan jelas /beginsel van het juiste orgaan, perlunya peraturan /het
beginsel van uitvoerbarheid, kosensus /het beginsel van den consensus. Material berupa asas;
terminologi dan sistematika yang benar / het beginsel van duidelijke terminologie en duidelijke
sistematiek, dapat dikenali /het beginsel van kenbaarheid, perlakuan sama dalam hukum /het
rechtsgelijkeheids beginsel, kepastian hukum / het rechtszekerheids beginsel, menjamin peraturan
perundang-undangan yang dibuat berlaku yuridis, sosiologis dan filosofis. Asas hukum harus
memberi hubungan pada suatu cabang hukum tertentu dengan kemungkinan menjelaskan
kenyataan relevan harus sesuai dengan kebutuhan praktis serta keinginan etis masyarakat tertentu
dan cukup elastis memberi kemungkinan perkembangan bagi peraturan-peraturan hukum yang
adanya didasarkan pada asas tersebut (Paton, 1953: 204). Asas hukum mempunyai arti penting
bagi :
1. Pembentuk Undang-undang; memberikan dasar / alasan pembentukan hukum/ menunjukkan
garis besar yang harus diikuti pembentuk undang-undang dalam pembentukan hukum.
2. Hakim; memberi bahan bermanfaat dalam menafsirkan undang-undang secara dogmatis /
melaksanakan undang-undang secara analogis / sesuai cita-cita dan pandangan etis masyarakat.
3. Ilmu pengetahuan hukum; merupakan hasil peningkatan / abstraksi peraturan-peraturan hukum
ketingkat lebih tinggi.
Ada / berlaku asas hukum misalnya pada Pasal 1 ayat (1) KUHP : asas nullum delictum nulla
poena sine praevia legi poenale ; Pasal 1338 KUHPerdata, ayat (1) : asas pacta sunt servada, ayat
(3) asas te goeder trouw. Ada asas hukum yang tidak tertuang dan tidak dapat disimpulkan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan, tetapi ada dalam sistem hukum dan memperkuat sistem
hukum misalnya : asas iedereen wordt geacht de wet te kennen; asas ignorantia legis exusat
neminem; asas in dubio pro reo.
Klasifikasi hukum, (Sanusi, 1977 : 60) mempunyai dua tujuan yaitu supaya dapat :
(1). Memperoleh pengertian yang lebih baik / nilai teoritis, membantu teoritisi perguruan tinggi
mempelajari hukum sebagai instutisi sosial bersifat dinamis, terus diteliti, dipelajari,
dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat, hasil kajian direkomendasikan kepada para pihak
berwenang yang bercimpung dalam penegakan dan pembentukan hukum.
(2). Lebih mudah menemukan dan menerapkan hukum / nilai praktis, bagi penyelenggara negara /
lembaga negara berwenang membuat peraturan UU dan penegak hukum, seperti polisi, jaksa,
hakim, advokad, juga bagi warga negara wajib menaati dan mempertahankan hukum di negaranya.
Klasifikasi hukum dipengaruhi unsur historis, sosiologis, tempat, dan waktu, berakibat prinsip
klasifikasi hukum berbeda antar negara. Ukuran / kriteria klasifikasi hukum berdasarkan pada:
(1). Sumber berlakunya, menjadi hukum; UU(wetenrecht), kebiasaan/adat(gewoonte en adatrecht)
/ tidak tertulis ada dalam kehidupan sehari-hari, traktat(tractatenrecht) / perjanjian antar negara,
yurisprudensi(jurisprudentierecht) / putusan hakim, perjanjian(overeekomstrech)/ ditetapkan oleh
para pihak yang mengadakan perjanjian, doktrin(wetenschapsrecht)/ pandangan ahli.
(2). Bentuknya, menjadi hukum; tertulis / dalam peraturan UU tersusun dalam / tidak terkodifikasi,
tidak tertulis / kebiasaan hukum adat / perjanjian / doktrin dan revolusi (yang berhasil).
(3). Saat/masa berlakunya, menjadi hukum; positif, yang dicitacitakan, alam
(4). Tempat berlakunya, menjadi hukum; nasional, internasional, asing, gereja.
(5). Sifat / daya kerjanya, menjadi hukum bersifat; fakultatif / mengatur perseorangan khusus /
mengisi kekosongan hukum / pelengkap(aanvullendrecht) dan baru berlaku bila dalam perjanjian
ada yang tidak diatur, hukum yang bersifat dispositif / mengatur dapat menjadi imperatif, bila
diambil dan digunakan para pihak, misalnya Pasal 29 UU No. 1, 1974 tentang perkawinan, Pasal
874 KUH Perdata tentang testamen, tidak dapat dikesampingkan, mengikat dan memaksa, tidak
memberi wewenang lain selain ditentukan dalam UU, biasanya mengatur kepentingan umum.
3 pedoman hukum bersifat mamaksa / mengatur, yaitu:
- Pasal 23AB: suatu perbuatan/perjanjian tidak dapat meniadakan kekuatan UU yang
berhubungan dengan ketertiban umum dan kesusilaan, hal yang berhubungan dengan ketertiban
umum dan kesusilaan bersifat memaksa.
- Dari bunyi peraturan hukum yang bersangkutan, contoh Pasal 1477 KUH Perdata: bahwa
Penyerahan harus dilakukan di tempat di mana barang yang terjual berada pada waktu penjualan,
jika tentang itu tidak telah diadakan persetujuan lain.
- Dengan Interpretasi, contoh: Pasal 1368 KUH Perdata: bahwa Pemilik seekor binatang, atau
siapa yang memakainya, adalah selama binatang itu dipakainya bertanggungjawab tentang
kerugian yang diterbitkan oleh binatang tersebut, baik binatang itu ada di bawah pengawasannya,
maupun tersesat atau terlepas dari pengawasannya.
(6). Luas berlakunya, menjadi hukum; umum/ius generale berlaku umum bagi setiap orang,
khusus; bertalian tempat tertentu (ius particulare), segi/hal tertentu dari kehidupan masyarakat
(ius speciale) misal hukum: perdata golongan / keturunan Eropa, Timur Asing Cina, Timur Asing
Bukan Cina, Bumi Putera, Pidana Militer, dan hubungan hukum tertentu misalnya: hukum dagang.
Hubungan hukum umum dan khusus berlaku asas hukum / andagium lex specialis derogat legi
generale hukum khusus mengesampingkan hukum umum, bila materi sama isinya bertentangan.
(7). Kerja serta sanksinya, menjadi hukum; kaidah dan sanksi.
(8). Fungsi/pertaliannya dengan hubungan hukum/kedudukan/cara mempertahankannya dibedakan
menjadi hukum; materiil / materieel recht / substantive law / menentukan hak dan kewajiban,
memerintah dan melarang dan formil / formeel recht / adjective law / hukum acara bila terjadi
pelanggaran pada hukum materiil sehingga ada pihak yang dirugikan / ketertiban dan keamanan
terganggu. Contoh hukum acara : perdata, pidana, peradilan tata usaha negara, cara lain diluar
peradilan seperti, perwasitan/arbitrase, akta notaris pengakuan hutang yang jumlahnya pasti, akta
hipotek / hak tanggungan, apabila dilanggar penegakan terserah pada pihak berkepentingan /
dirugikan bebas menyelesaikan asal tidak mian hakim sendiri (eigenrichting), bila tidak terlaksana
sukarela / damai, ada hukum acara dan menentukan siapa berwenang menanganinya.
(9). Isinya / kepentingan yang diatur / objeknya, menjadi hukum; publik (publiek recht) / umum /
antar negara dan warga / negara dan alat perlengkapannya / alat perlengkapan satu dan yang lain,
pelaksanaannya dilakukan pihak penguasa, dan privat (privaat recht) / khusus / hukum sipil
(civiel recht) / perdata / perseorangan dalam hubungan keluarga maupun pergaulan masyarakat,
pelaksanaannya terserah pada pihak yang berkepentingan. Hukum publik dan privat diklasifikasi
pertamakali oleh filsof Romawi Ulpianus, berdasarkan kepentingan yang dilindungi sekarang
sudah kabur, cenderung terjadi perluasan publik mengorbankan unsur privat, aturan meragukan
publik / privat, maka ditentukan batas apa yang manusia lakukan sebagai mahluk sosial, semua
hukum hakekatnya hukum publik, penegakannya penuh wewenang / inisiatif penguasa, kecuali
delik aduan, pada hukum privat, aktivitas penguasa muncul jika warga masyarakat
berkepentingan / merasa dirugikan berinisistif mengajukan.
(10). Hubungan antar hukum satusamalain, menjadi hukum; tunggal/seragam dan kembar/beragam
4.2. PERISTIWA HUKUM
Peristiwa alamiah / konkrit terjadi selanjutnya diarahkan / dihubungkan dengan peraturan
hukum menjadi peristiwa hukum. Dalam peraturan hukum penyelesaian kasus memperhatikan
asas-asas hukum, asas hukum ada dalam sistem hukum yang berhubungan timbal balik. Peraturan
hukum menetapkan peristiwa tertentu dalam masyarakat sebagai peristiwa hukum, mempunyai
akibat hukum, mengakibatkan timbul / lenyapnya hak dan kewajiban. Mertokusumo, 1990 : (41) :
Peristiwa hukum adalah kejadian, keadaan / perbuatan orang yang oleh hukum dihubungkan
dengan akibat hukum / peristiwa yang mempunyai akibat hukum. Hak dan kewajiban menjadi
nyata jika peraturan hukum bergerak, agar peraturan hukum yang abstrak (das sollen) bergerak /
aktif terjadilah hak dan kewajiban, diperlukan peristiwa konkrit (das sein). (41) : Kaidah hukum
sebagai Sollen-Sein. Kaidah hukum merupakan perumusan pandangan tentang bagaimana
seseorang seharusnya berbuat, bersifat umum dan pasif, agar aktif diperlukan peristiwa konkrit /
das Sein aktivator kaidah hukum / das Sollen. Yang penting bukan apa yang terjadi, tapi yang
seharusnya terjadi. Contoh KUH Perdata Pasal (1474) : “Penjual mempunyai dua kewajiban
utama, menyerahkan barang dan menanggung cacat tersembunyi serta keamanan pembeli dalam
menikmati barang yang dibelinya”; (1513) : “Kewajiban utama pembeli membayar harga
pembelian pada waktu dan tempat yang ditetapkan dalam perjanjian.” Kedua pasal dihubungkan
pada (1457) : “Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan
dirinya untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang
dijanjikan”. Ketentuan mempunyai arti bila terjadi peristiwa jual-beli.
Peristiwa hukum bila ada peraturan hukum yang memberi kualifikasi. Selama belum ada
akibat hukum bukan peristiwa hukum, misalnya peristiwa alamiah; tidur jika SATPAM yang
bertugas terjadi perampokan menjadi peristiwa hukum, tempat umum merokok yang dibatasi.
Peristiwa hukum dapat berupa perbuatan manusia, kejadian / keadaan, dapat dibagi karena:
perbuatan manusia, peristiwa lain, dan kejadian / keadaan.
Peristiwa hukum karena perbuatan manusia, dibedakan menjadi : perbuatan hukum dan
bukan perbuatan hukum, 2 unsur perbuatan hukum, yaitu kehendak dan pernyataan kehendak
(sepihak / timbal balik) yang sengaja ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum (Mertokusumo,
1990 : 42) sepihak misalnya Pasal KUH Perdata: (875) surat wasiat/testamen, (1048) pewarisan,
(1057) penolakan warisan, (186) penolakan persekutuan harta kekayaan, dapat dilakukan sebelum
perkawinan (Pasal 29 UU No. 1, 1974) perjanjian perkawinan, (585) okupasi “Hak milik atas
kebendaan bergerak yang semula bukan milik siapapun, adalah yang pertama mengambil dalam
kepemilikan”, (1382) pembayaran (1404) consignatie. Sepihak murni cukup adanya kehendak dan
pernyataan sepihak spt diatas, sepihak tidak murni memerlukan kehendak / pernyataan pihak lain
untuk timbul akibat hukum, misalnya Pasal KUH Perdata: (284) pengakuan anak luar kawin oleh
ayah biologis dengan persetujuan ibu kandung, apabila tidak (278) pengakuan palsu.
Perbuatan hukum timbal balik / berpihak dua / perjanjian / kesesuaian kehendak kedua belah pihak
dibagi menjadi empat yaitu perjanjian dalam;
(1) Hukum Keluarga, misalnya UU No.1, 1974 Pasal (1) : “perkawinan adalah ikatan lahir batin
antara pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan
kekal berdasarkan TYME. Pasal 6 ayat (1) : “perkawinan harus didasarkan atas persetujuan
kedua calon mempelai”.
(2) Hukum Benda, mengakibatkan timbul / lenyap hak-hak kebendaan misalnya penyerahan
traditie. Pasal KUH Perdata (612-620). Penyerahan hak milik benda dibedakan menjadi
bergerak : berwujud / penyerahan nyata tangan ke tangan / feitelijke levering, tidak berwujud
seperti surat piutang;
- kepada pembawa / aan toonder, dari tangan ke tangan nyata,
- atas tunjuk / aan order, disertai endossemen / menuliskan dibalik surat isinya kepada siapa
piutang dipindahkan
- atas nama / op name, dengan cessie / akta otentik / bawah tangan menerangkan piutang
dipindahkan pada seseorang.
(3) Obligator, untuk membentuk perikatan hak / kewajiban, dibagi menjadi dua perjanjian;
- Sepihak, akibat hukum jika pihak lain menerima, contoh : Hibah / pemberian / schenking
Pasal KUH Perdata (1683) : Barang dianggap berakibat hukum / tidak dapat ditarik kembali
bila pihak yang diberi menyatakan kehendak menerima.
- Timbal Balik, kreditur / debitur terbagi menjadi ; sempurna (secara langsung misalnya : jual-
beli, sewa-menyewa, perjanjian kerja), dan tidak sempurna (mula-mula kewajiban sepihak,
kemudian mewajibkan pihak lain berdasarkan keadaan, misalnya: pemberian kuasa,
penitipan barang, tanpa imbalan uang, akhirnya kemudian ada imbalan tegen prestatie)
(4) Pembuktian, diadakan para pihak mengenai alat-alat pembuktian dalam persidangan.
Perbuatan manusia yang bukan perbuatan hukum, oleh hukum dihubungkan dengan
suatu akibat hukum, terbagi menjadi yang sah dan melawan hukum. Misalnya sah namun tidak
dikehendaki mengurusi kepentingan orang lain tanpa diminta mewakili / zaakwaarneming (Pasal
1354 KUH Perdata) : “Jika seseorang dengan sukarela, dengan tidak mendapat perintah untuk itu,
mewakili urusan orang lain, dengan atau tanpa pengetahuan orang itu, maka ia secara diam-diam
mengikatkan dirinya untuk meneruskan serta menyelesaikan urusan itu, hingga orang yang ia
wakili kepentingannya dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Ia memikul segala kewajiban yang
harus dipikulnya, seandainya ia dikuasakan dengan suatu pemberian kuasa yang dinyatakan
dengan tegas”. Misalnya yang melawan hukum / onrechtmatige daad : Pasal 1365 KUH Perdata :
“Tiap perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad), yang membawa kerugian kepada orang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantikan kerugian
tersebut.”
Peristiwa hukum yang bukan karena perbuatan manusia, misalnya: kelahiran
menimbulkan kewajiban alimentasi / orang tua memelihara dan mendidik anak, kematian, keadaan
seperti perubahan umur, dan kadaluarsa / verjaring / waktu lampau / lewatnya waktu dengan
syarat ketentuan UU KUH Perdata Pasal (1946) : “Kadaluarsa adalah upaya memperoleh sesuatu /
dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya waktu tertentu dan syarat yang ditentukan UU.”
2 macam kadaluarsa : akuisitif / acquisitief (1963) upaya memperoleh hak milik / lainnya dengan
syarat tertentu karena lewat waktu, misalnya tanah ; (1963) 20 tahun bila ada alas hak / 30 tahun
bila tidak ada alas hak, karena kadaluarsa akuisitif, B sebagai pemilik tanah A.
ekstinktif / extinctief (1967) 30 tahun (1968) 1 tahun : sebagai upaya dibebaskan kewajiban /
perikatan dengan syarat tertentu lewatnya waktu, misalnya pembebasan hutang, dan guru yang
tidak digaji. Kewenangan : menuntut hapus karena kadaluarsa lewat waktu tertentu Pasal KUHP
(78), pidana hapus (84).
MODUL 5 : SUBJEK, OBJEK HUKUM DAN HAK
5.1. SUBJEK HUKUM
Pengakuan manusia sebagai ‘subjek hukum’ (natuurlijke persoon) / pendukung hak dan
kewajiban sejak lahir dan berakhir saat meninggal, secara tegas diakui Pasal 28A UUD 1945 :
“Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. KUHP
Perdata Pasal 2 ayat (1): Apabila kepentingannya menghendaki sehubungan dengan harta
peninggalan / warisan terbuka, anak yang masih dalam kandungan ibunya dianggap telah
dilahirkan asalkan ia lahir hidup, (2): apabila meninggal dunia, dianggap tidak pernah ada.
Perampasan kedudukan manusia sebagai pendukung hak dan kewajiban, sehingga mengakibatkan
seseorang kehilangan keperdataan / kematian perdata (burgerlijkdood), tidak dapat dibenarkan.
KUH Perdata Pasal 3: “ Tiada suatu hukumanpun mengakibatkan kematian perdata atau
kehilangan segala hak-hak kewarganegaraan “, Bulir d UU No. 39, 1999 (UUHAM): Bangsa
Indonesia sebagai anggota PBB mengemban tanggungjawab moral dan hukum untuk menjunjung
tinggi dan melaksanakan Deklarasi Universal tentang HAM yang ditetapkan PBB, serta berbagai
instrumen internasional lainnya mengenai HAM yang telah diterima oleh negara RI. UUHAM
dimaksudkan untuk melaksanakan ketetapan MPRRI [Link]/MPR/1998 tentang HAM.
UUHAM mengatur tentang hak untuk: hidup dan tidak dihilangkan nyawa; berkeluarga dan
melanjutkan keturunan, mengembangkan diri; pendidikan, mencerdaskan diri, meningkatkan
kualitas hidup agar menjadi manusia beriman, bertakwa, bertanggungjawab, berakhlak mulia,
bahagia dan sejahtera, keadilan, diperlakukan layak, adil dan objektif oleh hakim yang jujur dan
adil untuk memperoleh putusan yang benar dan adil, kebebasan memeluk agama dan beribadat
menurut agama dan kepercayaannya, bebas memilih keyakinan politik, rasa aman, tenteram
perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan hak miliknya terhadap ancaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, turut serta dalam pemerintahan, hak pilih aktif
dan pasif; dll HAM berkaitan dengan hak wanita dan anak. Kewajiban dasar manusia; kewajiban
patuh pada perundang-undangan, hukum tidak tertulis, dan internasional mengenai HAM yang
telah diterima Negara RI, ikut membela negara, menghormati hak asasi orang lain, moral, etika,
dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Amandemen kedua tanggal 18
Agustus 2000 ditambahkan BAB XA 10 Pasal (28A-28J) tentang HAM.
Semua manusia sebagai subjek hukum dan mempunyai kewenangan hukum / pendukung
hak dan kewajiban (rechtsbevoegdheid), belum tentu cakap hukum / diwakiki orang lain untuk
melindungi terhadap tindakan sendiri (handelingsbekwaam / personae miserabile). Mertokusumo,
1986 : 42; perbuatan hukum harus memenuhi dua unsur yaitu adanya; kehendak dan pernyataan
kehendak yang sengaja dikehendaki untuk timbulnya akibat hukum. Dalam lapangan harta
kekayaan, orang yang tidak cakap hukum adalah: (1). Anak belum cukup umur / dewasa
(minderjarig), menurut KUH perdata belum berumur 21 tahun dan belum kawin, berada dibawah
kekuasaan orang tua / perwalian. (2). Orang yang tidak sehat pikirannya / gila, pemabuk,
pemboros, lemah daya, dibawah pengampunan (curatele).
Pengecualian yang membatasi kewenangan hukum antaralain disebabkan oleh faktor:
(1) . Kewarganegaraan, hanya WNI yang berhak atas tanah (Pasal 21 ayat (1) UU No. 5,
1960)
(2) . Tempat tinggal / domisili, berdasarkan KTP, yang boleh memiliki tanah pertanian,
sawah, hanya WNI yang berdomisili (Pasal 10 UU No. 5, 1960) larangan pemilikan
tanah absentee diatur lanjut pasal 3 PP No. 224, 1960 dan Pasal 1 PP No. 41, 1964
(tambahan Pasal 3a - 3e).
(3) . Kedudukan / jabatan, misalnya pejabat rumah gadai tidak boleh memperoleh /
membeli barang yang ada dalam penguasaannya.
(4) . Perilaku / perbuatan mengabaikan kewajiban sebagai orang tua / wali sehingga
dicabut dari jabatan (Pasal 19 dan 53 UU No.1, 1974).
Badan hukum (rechtspersoon), sama dengan badan hukum : yayasan dan wakaf. Badan
hukum dapat bertindak sebagai orang harus memenuhi unsur / kriteria yaitu mempunyai / adanya;
organisasi, harta kekayaan terpisah, tujuan tertentu (bersifat sosial / idiil atau materil / mencari
keuntungan terlepas dari kepentingan para anggotanya) dan kepentingan sendiri. Hak dan
kewajiban yang dimiliki badan hukum timbul sebagai akibat perbuatan / hubungan hukum yang
terjadi sejak pendirian.
Macam-macam badan hukum dibedakan berdasarkan kriteria;
1. Hukum yang diperlakukan, dibedakan menjadi badan hukum yang
tuduk pada hukum;
- Eropa, (KUH Perdata dan KUHD), misalnya; PT, Perusahaan Assuransi, Gereja (S.
1927 No. 156).
- Adat, misalnya Maskai Andil Indonesia (Indonesische Maatschappij op Aandelen, S.
1939 No. 569 jo. 717) perkumpulan Indonesia (S. 1939 No. 570 jo. 717).
Kriteria hukum sudah tidak populer setelah berlakunya UU No.1, 1995 tentang PT,
mencabut Buku Kesatu Titel / Bagian Ketiga pasal 36-56 KUHD tentang PT dan S.
1939 No. 569 jo 717, UU No.5, 1962 tentang Perusahaan Daerah, UU No.12, 1967
tentang Pokok-pokok Perkoperasian, UU No.13, 1968 tentang Bank Sentral, UU No.7,
1992 tentang Perbankan.
2. Kepentingan yang disandang / cara berdirinya dibedakan menjadi
badan;
- Hukum publik / didirikan berdasarkan hukum publik / menyangkut kepentingan umum,
dibedakan menjadi:
- 1. Lembaga bersifat pemerintahan, dibedakan menjadi 3 yang mempunyai; (1).
Daerah / wilayah umum, misalnya: Propinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa, (2). Daerah
/ wilayah khusus, misalnya: Jawatan, Dinas, Pengadilan: Negeri, Agama, Tata Usaha
Negara, Tinggi Agama, Tinggi Tata Usaha Negara, dan (3). Tidak mempunyai daerah /
wilayah, misalnya: Badan Pembinaan Hukum Nasional, LIPI, Badan Tenaga Atom
Nasional.
- 2. BUMN / Persero, misalnya; BRI, BNI1946, Bank Mandiri, Pertamina, dll.
- 3. Lembaga / Organisasi Politik; Golkar, PDI, PAN, dsb
- Hukum Privat / pribadi, pendirinya berdasarkan hukum privat / perdata, tidak
bertentangan dengan UU / kesusilaan yang baik, berdasarkan tujuan / sifatnya
dibedakan menjadi; (1). Bersifat sosial / amal / tidak mencari keuntungan ekonomis,
misalnya: perkumpulan gereja, wakaf, yayasan. (2). Bersifat ekonomis / mencari
keuntungan ekonomis / laba, misalnya: PT. (3). Bertujuan pemenuhan kebutuhan
material / ekonomis / kesejahteraan anggotanya, misalnya: koperasi.
3. Ruang lingkup jenis kegiatannya, dibedakan menjadi (umum:
koperasi, khusus: yayasan/wakaf)
- Koperasi
- Yayasan
- Wakaf
-
5.2. OBJEK HUKUM DAN HAK
Segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum / dapat menjadi sasaran hubungan hukum
disebut objek hukum, mempunyai nilai dan harga, perlu ada penentuan siapa yang berhak
diatasnya.
MODUL 6 : PENEGAKAN DAN PENEMUAN HUKUM
6.1 PENEGAKAN, BUDAYA DAN KESADARAN HUKUM
6.2 PENEMUAN HUKUM
MODUL 7 : TATA HUKUM INDONESIA
7.1 PENGERTIAN TATA HUKUM INDONESIA
7.2 BENTUK PERATURAN HUKUM
MODUL 8 : HUKUM PIDANA DAN INTERNASIONAL
8.1 HUKUM PIDANA
8.2 HUKUM INTERNASIONAL
MODUL 9 : HUKUM LINGKUNGAN, AGRARIA DAN PAJAK
9.1 HUKUM LINGKUNGAN
9.2 HUKUM AGRARIA
9.3 HUKUM PAJAK
MODUL 10 : HUKUM ADMINISTRASI DAN TATA NEGARA
10.1 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
10.2 HUKUM TATA NEGARA
MODUL 11 : HUKUM PERDATA, ADAT, ISLAM
11.1 HUKUM PERDATA
11.2 ASAS-ASAS HUKUM ADAT
11.3 ASAS-ASAS HUKUM ISLAM
MODUL 12 : HUKUM ACARA
12.1. HUKUM ACARA PERDATA
12.2. HUKUM ACARA PIDANA
12.3. HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NRGARA (PTUN)