0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan89 halaman

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

Bab 1 membahas paradigma pembangunan yang meliputi paradigma umum, teori modernisasi, dan teori dependensi. Teori modernisasi menekankan proses transformasi masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern melalui industrialisasi, sedangkan teori dependensi lebih fokus pada hubungan tak simetris antara negara berkembang dengan negara maju.

Diunggah oleh

Felintas Djah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan89 halaman

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

Bab 1 membahas paradigma pembangunan yang meliputi paradigma umum, teori modernisasi, dan teori dependensi. Teori modernisasi menekankan proses transformasi masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern melalui industrialisasi, sedangkan teori dependensi lebih fokus pada hubungan tak simetris antara negara berkembang dengan negara maju.

Diunggah oleh

Felintas Djah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PARADIGMA PEMBANGUNAN

A. PARADIGMA UMUM
Pembangunan manusia tidak saja bermaksud membina
hubungan dan kehidupan setiap orang untuk hidup bermasyarakat,
melainkan juga untuk membangun masyarakat karena setiap satuan
masyarakat memiliki community power. Menurut Nelson W. Polsby
dalam The International Encyclopedia of the Social Sciences (1972)
sebagaimana dikutip Ndraha (1987:40) bahwa suatu masyarakat bisa
kehilangan kekuatannya jika masyarakat itu mengalami community
disorganization, karena itu untuk mengatasinya, maka community
development atau pembangunan masyarakat dilancarkan.
Pengertian perubahan sosial yang direncanakan dan diarahkan
adalah suatu usaha yang direncanakan untuk memodifikasi sikap
dan tingkah laku individu atau kelompok yang dijadikan sasaran
perubahan, yang dilakukan oleh agen perubahan dengan cara
memperkenalkan ide-ide baru atau mengadakan inovasi ke dalam
sistem sosial untuk mencapai tujuan seperti yang direncanakan oleh
para agen tersebut atau organisasinya (pemerintah, LSM, dan
kelompok-kelompok dalam masyarakat). Birokrasi merupakan agen
perubahan sosial. Birokrasi meliputi birokrasi publik (yang
beraktivitas dalam struktur pemerintahan) dan birokrasi privat
(yang beraktivitas dalam kehidupan organisasi swasta).
Pelaksanaan pembangunan pada negara-negara yang sedang
berkembang dengan strategi ekonomi, ternyata tidak menjamin
distribusi pendapatan nasional dan harapan “trickle down effect”,
bahkan tidak menguntungkan sekelompok masyarakat miskin
(Supriatna, 2003:15). Strategi pembangunan dengan pertumbuhan

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan |1


ekonomi sering mengabaikan masalah pemerataan, karena hasil
pembangunan terkonsentrasi pada sekelompok komunitas,
sehingga masalah pembangunan pada negara berkembang semakin
kompleks yang ditandai dengan pengangguran, urbanisasi,
marginalisasi kemiskinan.
Pada akhir dasa warsa 1950-an istilah „pembangunan‟ sering
dianggap sebagai „obat‟ terhadap berbagai macam masalah yang
muncul dalam masyarakat. Era awal dari pembahasan mengenai
teori pembangunan adalah dikemukakannya „Teori Pertumbuhan‟.
Menurut Clark (1991:20) “pemikiran mengenai teori pertumbuhan
berasal dari pandangan kaum ekonom ortodoks yang melihat
„pembangunan‟ sebagai pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya
diasumsikan akan meningkatkan standar kehidupan”.
Sekitar tahun 1980-an, strategi pembangunan mulai bergeser
menjadi pertumbuhan dan pemerataan pembangunan (growth and
equity of strategy development). Strategi ini pun masih mengalami
masalah lainnya, yaitu adanya ketergantungan negara berkembang
kepada negara maju berupa investasi, bantuan luar negeri dan
pinjaman. Kemudian sejak memasuki abad ke-21 muncul strategi
baru, yaitu diterapkannya konsep pembangunan berkelanjutan
(sustainable development) yang didukung dengan konsep pembangunan
manusia (human development).
Mengutip Denis Gaulet, Suwandi (1997:5) menjelaskan bahwa
dalam usaha menuju kehidupan yang baik, sedikitnya ada tiga
pokok (core values) sebagai konsep pokok dalam memahami
pembangunan yaitu: kemandirian hidup (life sustenance), harga diri
(self esteem), kemerdekaan (freedom). Melihat konsepsi yang diberikan
oleh Suwandi tersebut, jelas bahwa proses pembangunan dititik
beratkan pada bagaimana individu-individu yang menjadi objek
pembangunan harus mampu mengembangkan sikap mental
kemandirian, guna mendukung proses pembangunan yang
dijalankan.
Sehubungan dengan kegiatan pembangunan tersebut, maka
pembangunan itu sendiri mempunyai pengertian sebagai berikut:

2| Sudirman
1. Siagian (1992:1): Suatu usaha atau rangkaian dari
perubahan yang berencana yang dilaksanakan secara sadar
oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah dalam rangka
pembinaan bangsa
2. Tjokroamidjojo (1992:13): Proses pengendalian usaha
(administrasi) negara/pemerintah untuk merealisasikan
pertumbuhan yang direncanakan kearah suatu keadaan
yang dianggap lebih baik demi kemajuan di dalam berbagai
aspek kehidupan bangsa.
3. Supriatna (2003:29): Sebagai sistem mencakup komponen
a) masukan terdiri dari nilai, sumber daya manusia dan
alam, budaya, kelembagaan masyarakat; b) proses,
kemampuan organisasi dan manajemen pemerintahan
dalam melaksanakan program pembangunan; c) keluaran,
berupa perubahan kualitas perilaku manusia yang berakses
pada kognisi, afeksi dan keterampilan yang berkaitan
dengan taraf hidupnya.
Dari beberapa pengertian atau definisi tentang pembangunan
itu, dapat disimpulkan bahwa pembangunan mengandung
pengertian:
1. Pembangunan sebagai suatu perubahan dalam arti
mewujudkan suatu kondisi kehidupan masyarakat yang
lebih baik.
2. Pembangunan sebagai suatu proses usaha/kegiatan
perubahan yang secara sadar dilakukan, artinya
pembangunan didasarkan pada suatu rencana yang
disusun secara baik untuk satu kurun waktu tertentu.
3. Pembangunan sebagai pertumbuhan yaitu kemampuan
suatu bangsa untuk terus berkembang baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
4. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan |3


rangka mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional
secara total diganti dengan seperangkat struktur dan nilai-nilai
modern. Modernisasi merupakan proses sistematik. Modernisasi
melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial,
termasuk di dalamnya industrialisasi, diferensiasi, sekularisasi,
sentralisasi dsb. Ciri-ciri pokok teori modernisasi:
1. Modernisasi merupakan proses bertahap.
2. Modernisasi juga dapat dikatakan sebagai proses
homogenisasi.
3. Modernisasi terkadang mewujud dalam bentuk lahirnya,
sebagai proses Eropanisasi dan Amerikanisasi, atau
modernisasi sama dengan Barat.
4. Modernisasi juga dilihat sebagai proses yang tidak bergerak
mundur.
5. Modernisasi merupakan perubahan progresif
6. Modernisasi memerlukan waktu panjang. Modernisasi
dilihat sebagai proses evolusioner, dan bukan perubahan
revolusioner.
Tokoh-tokoh teori modernisasi:
1. Harrod-Domar
Bependapat bahwa masalah pembangunan pada dasarnya
merupakan masalah menambahkan investasi modal. Prinsip dasar :
kekurangan modal, tabungan dan investasi menjadi masalah utama
pembangunan.
2. Walt .W. Rostow
Teori Pertumbuhan Tahapan Linear ( linear-stages-of growth-
models) proses pembangunan bergerak dalam sebuah garis lurus
yakni masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju dengan
tahap-tahap sebagai berikut:
a. Masyarakat Tradisional è masyarakat pertanian. Ilmu
pengetahuan masih belum banyak dikuasai.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan |5


b. Prakondisi untuk Lepas Landas è masyarakat tradisional
terus bergerak walaupun sangat lambat dan pada suatu
titik akan mencapai posisi pra-kondisi untuk lepas landas..
contoh adanya campur tangan u/ meningkatkan tabungan
masyarakat terjadi, dimana tabungan tsb dimanfaatkan u/
sektor2 produktif yang menguntungkan. Misal Pendidikan
c. Lepas Landas è ditandai dengan tersingkirnya hambatan-
hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan
ekonomi. Tabungan dan investasi yang efektif meningkat
dari 5%-10 %.
d. Bergerak ke Kedewasaan è teknologi diadopsi secara
meluas.
e. Jaman Konsumsi Masal yang Tinggi è Pada tahap ini
pembangunan sudah berkesinambungan
3. David McClelland
Teori: need for Achievement (n-Ach). kebutuhan atau
dorongan berprestasi, dimana mendorong proses pembangunan
berarti membentuk manusia wiraswasta dengan [Link] yang tinggi.
Cara pembentukanya melalui pendidikan individu ketika seseorang
masih kanak-kanak di lingkungan keluarga.
4. Max Weber
Hasil analisis: salah satu penyebab utamanya adalah “Etika
Protestan”. Etika Protestan:
a. Lahir melalui agama Protestan yg dikembangkan oleg
Calvin
b. Keberhasilan kerja di dunia akan menentukan seseorang
masuk surga/neraka.
c. Berdasarkan kepercayaan tsb kemudian mereka bekerja
keras u/ menghilangkan kecemasan. Sikap inilah yg diberi
nama “etika protestan”.

6| Sudirman
5. Bert F. Hoselitz
Membahas faktor-faktor non ekonomi yg ditinggalkan Rostow
yang disebut faktor “kondisi lingkungan”. Kondisi lingkungan
maksudnya adalah perubahan-perubahan pengaturan kelembagaan
yg terjadi dalam bidang hukum, pendidikan, keluarga, dan motivasi.
6. Alex Inkeles & David H. Smith
Ciri-ciri manusia modern:
a. Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru.
b. Berorientasi ke masa sekarang dan masa depan.
c. Punya kesanggupan merencanakan.
d. Percaya bahwa manusia bisa menguasai alam
Bila dalam teori Modernisasi Klasik, tradisi dianggap sebagai
penghalang pembangunan, dalam teori Modernisasi Baru, tradisi
dipandang sebagai faktor positif pembangunan. Teori Modernisasi,
klasik maupun baru, melihat permasalahan pembangunan lebih
banyak dari sudut kepentingan Amerika Serikat dan negara maju
lainnya.

C. TEORI DEPENDENSI
Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan
keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia
Ketiga. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik
terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang
didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini mencermati hubungan
dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat
sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya
menghasilkan akibat yang akan merugikan Dunia Ketiga. Negara
sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketiga
dengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara
pinggiran ke negara sentral.
Teori ini berpangkal pada filsafat materialisme yang
dikembangkan Karl Marx. Salah satu kelompok teori yang

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan |7


D. TEORI SISTEM DUNIA
Teori sistem dunia yang dikemukakan oleh Immanuel
Wallerstein. Hal ini dikarenakan bahwa dalam suatu sistem sosial
perlu dilihat bagian-bagian secara menyeluruh dan keberadaan
negara-negara dalam dunia internasional tidak boleh dikaji secara
tersendiri karena ia bukan satu sistem yang tertutup. Teori ini
berkeyakinan bahwa tak ada negara yang dapat melepaskan diri dari
ekonomi kapitalis yang mendunia. Wallerstein menyatakan sistem
dunia modern adalah sistem ekonomi kapitalis.
Menurut Wallerstein, sistem dunia kapitalis dibagi ke dalam
tiga jenis, yaitu
1. negara core atau pusat, è mengambil keuntungan yang paling
banyak, karena kelompok ini dapat memanipulasikan sistem
dunia sampai batas-batas tertentu
2. semi-periferi atau setengah pinggiran è mengambil
keuntungan dari negara-negara pinggiran yang merupakan
pihak yang paling dieksploitir
3. negara periferi atau pinggiran.
Menurut Wallerstein negara-negara dapat “naik atau turun
kelas,” misalanya dari negara pusat menjadi negara setengah
pinggiran dan kemudian menjadi negara pinggiran, dan sebaliknya.
Naik dan turun kelasnya negara ini ditentukan oleh dinamika sistem
dunia. Pernah suatu saat Inggeris, Belanda, dan Perancis adalah
negara pusat yang berperan dominan dalam sistem dunia, namun
kemudian Amerika Serikat muncul menjadi negara terkuat (pusat)
seiring hancurnya negara-negara Eropa dalam Perang Dunia II.
Wallerstein merumuskan tiga strategi bagi terjadinya proses
kenaikan kelas, yaitu:
1. Kenaikan kelas terjadi dengan merebut kesempatan yang
datang. Sebagai misal negara pinggiran tidak lagi dapat
mengimpor barang-barang industri oleh karena mahal

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan |9


sedangkan komiditi primer mereka murah sekali, maka
negara pinggiran mengambil tindakan yang berani untuk
melakukan industrialisasi substitusi impor. Dengan ini ada
kemungkinan negara dapat naik kelas dari negara pinggiran
menjadi negara setengah pinggiran.
2. Kenaikan kelas terjadi melalui undangan. Hal ini terjadi
karena perusahaan-perusahaan industri raksasa di negara-
negara pusat perlu melakukan ekspansi ke luar dan
kemudian lahir apa yang disebut dengan MNC. Akibat dari
perkembangan ini, maka muncullah industri-industri di
negara-negara pinggiran yang diundang oleh oleh
perusahaan-perusahaan MNC untuk bekerjasama. Melalui
proses ini maka posisi negara pinggiran dapat meningkat
menjadi setengah pinggiran.
3. Kenaikan kelas terjadi karena negara menjalankan kebijakan
untuk memandirikan negaranya. Sebagai misal saat ini
dilakukan oleh Peru dan Chile yang dengan berani
melepaskan dirinya dari eksploitasi negara-negara yang lebih
maju dengan cara menasionalisasikan perusahaan-
perusahaan asing. Namun demikian, semuanya ini
tergantung pada kondisi sistem dunia yang ada, apakah pada
saat negara tersebut mencoba memandirikan dirinya,
peluang dari sistem dunia memang ada. Jika tidak, mungkin
dapat saja gagal.

10 | Sudirman
Tabel 1
Perbandingan antara Teori Dependensi dan Teori Sistem Dunia

Elemen Teori Teori


Perbandingan Dependensi Sistem Dunia
Unit Analisis Negara-Bangsa Sistem dunia
Metode Kajian Historis struktural Dinamika sejarah dunia
Struktur Teori Dua kutub Tiga kutub (sentral-semi
(sental-pinggiran) pinggiran-pinggiran)

Arah Deterministik Peluang terjadinya


Pembangunan mobilitas
Arena Kajian Negara pinggiran Negara pinggiran,
negara semi pinggiran
dan sistem ekonomi
dunia

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 11


12 | Sudirman
5. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi mengenai
Pembangunan Berkelanjutan di tahun 2002 disebutkan
bahwa pembangunan berkelanjutan adalah kondisi dimana
masyarakat dapat menentukan dirinya sendiri yang
disiapkan dalam perdagangan bebas multilateral dengan
syarat terciptanya tata pemerintahan yang baik (good
goverment).
6. Menurut Sudharta P. Hadi dalam bukunya yang berjudul
"Opcit" tahun 2007 menyebutkan pengertian
pembangunan berkelanjutan adalah konsep pembangunan
yang menyelaraskan kepentingan pembangunan dengan
pengelolaan lingkungan.
Oleh karena itu, pembangunan berkelanjutan berarti
merupakan pembangunan yang dapat berlangsung secara terus
menerus dan konsisten dengan menjaga kualitas hidup (well being)
masyarakat dengan tidak merusak lingkungan dan
mempertimbangkan cadangan sumber daya yang ada untuk
kebutuhan masa depan. Dengan demikian, dalam upaya untuk
menerapkan pembangunan berkelanjutan diperlukan adanya
paradigma baru dalam perencanaan pembangunan kota dan wilayah
yang berorientasi market driven (ekonomi), dimensi sosial,
lingkungan dan budaya sebagai prinsip keadilan saat ini dan masa
depan.
Konsep berkelanjutan merupakan konsep yang sederhana
namun kompleks, sehingga pengertian keberlanjutan pun sangat
multi-dimensi dan multi-interpretasi. Karena adanya multi-dimensi
dan multi-interpretasi ini, para ahli sepakat untuk sementara
mengadopsi pengertian yang telah disepakati oleh Komisi
Brundtland yang menyatakan bahwa “pembangunan berkelanjutan
adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini
tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk
memenuhi kebutuhan mereka” (Fauzi, 2004).
Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan erat dengan
bagaimana mengkonservasi stok kapital. Barbier (1993) merinci tiga

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 15


jenis kapital, yaitu: man made capital (Km), human capital (Kh), dan
natural capital (Kn). Menurut Perman et al., (1996) dalam Fauzi (2004),
setidaknya ada tiga alasan utama mengapa pembangunan ekonomi
harus berkelanjutan.
Pertama, menyangkut alasan moral. Generasi kini yang
menikmati barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam
dan lingkungan memiliki kewajiban moral untuk menyisakan
layanan sumberdaya alam tersebut untuk generasi mendatang.
Kewajiban moral tersebut mencakup tidak mengkestraksi
sumberdaya alam yang merusak lingkungan sehingga
menghilangkan kesempatan bagi generasi mendatang untuk
menikmati layanan yang sama.
Kedua, menyangkut alasan ekologi. Keanekaragaman hayati,
misalnya, memiliki nilai ekologi yang sangat tinggi sehingga aktivitas
ekonomi semestinya tidak diarahkan pada hal yang mengancam
fungsi ekologi tersebut.
Ketiga, menyangkut alasan ekonomi. Alasan dari sisi ekonomi
memang masih menjadi perdebatan karena tidak diketahui apakah
aktivitas ekonomi selama ini sudah atau belum memenuhi kriteria
berkelanjutan. Dimensi ekonomi keberlanjutan sendiri cukup
kompleks, sehingga sering aspek keberlanjutan dari sisi ekonomi ini
hanya dibatasi pada pengukuran kesejahteraan antargenerasi
(intergenerational welfare maximization)
Konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua
dimensi, yaitu dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain
menyangkut apa yang akan terjadi di masa mendatang, dan dimensi
interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumberdaya alam dan
lingkungan (Heal, 1998 dalam Fauzi, 2004).
Pezzey (1992) melihat aspek keberlanjutan dari sisi yang
berbeda. Dia melihat bahwa keberlanjutan memiliki pengertian
statik dan dinamik. Keberlanjutan statik diartikan sebagai
pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan dengan laju teknologi
yang konstan, sementara keberlanjutan dinamik diartikan sebagai

16 | Sudirman
C. STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
1. Pembangunan yang Menjamin Pemerataan dan
Keadilan Sosial.
Pembangunan yang berorientasi pemerataan dan keadilan
sosial harus dilandasi hal-hal seperti ; meratanya distribusi
sumber lahan dan faktor produksi, meratanya peran dan
kesempatan perempuan, meratanya ekonomi yang dicapai
dengan keseimbangan distribusi kesejahteraan. Namun
pemerataan bukanlah hal yang secara langsung dapat
dicapai. Pemerataan adalah konsep yang relatif dan tidak
secara langsung dapat diukur. Dimensi etika pembangunan
berkelanjutan adalah hal yang menyeluruh, kesenjangan
pendapatan negara kaya dan miskin semakin melebar,
walaupun pemerataan dibanyak negara sudah meningkat.
Aspek etika lainnya yang perlu menjadi perhatian
pembangunan berkelanjutan adalah prospek generasi masa
datang yang tidak dapat dikompromikan dengan aktivitas
generasi masa kini. Ini berarti pembangunan generasi masa
kini perlu mempertimbangkan generasi masa datang dalam
memenuhi kebutuhannya.
2. Pembangunan yang Menghargai Keanekaragaman.
Pemeliharaan keanekaragaman hayati adalah prasyarat untuk
memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara
berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang.
Keanekaragaman hayati juga merupakan dasar bagi
keseimbangan ekosistem.. Pemeliharaan keanekaragaman
budaya akan mendorong perlakuan yang merata terhadap
setiap orang dan membuat pengetahuan terhadap tradisi
berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti.
3. Pembangunan yang Menggunakan Pendekatan
Integratif.
Pembangunan berkelanjutan mengutamakan keterkaitan
antara manusia dengan alam. Manusia mempengaruhi alam

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 19


implisit menjadi perhatian dalam konsep brunland tersebut. Pertama,
menyangkut pentingnya memperhatikan kendala sumber daya alam
dan lingkungan terhadap pola pembangunan dan konsumsi. Kedua,
menyangkut perhatian pada kesejahteraan (well-being)generasi
mendatang. Hall (1998) menyatakan bahwa asumsi keberlajutan
paling tidak terletak pada tiga aksioma dasar;(1) Perlakuan masa kini
dan masa mendatang yang menempatkan nilai positif dalam jangka
panjang; (2) Menyadari bahwa aset lingkungan memberikan
kontribusi terhadap economic wellbeing; (3) Mengetahui kendala
akibat implikasi yang timbul pada aset lingkungan. Konsep ini
dirasakan masih sangat normatif sehingga aspek operasional dari
konsep keberlanjutan ini pun banyak mengalami kendala. Perman
et al.,(1997) mencoba mengelaborasikan lebih lanjut konsep
keberlanjutan ini dengan mengajukan lima alternatif pengertian: (1).
Suatu kondisi dikatakan berkelanjutan (sustainable) jika utilitas yang
diperoleh masyarakat tidak berkurang sepanjang waktu dan
konsumsi tidak menurun sepanjang waktu (non-declining
consumption),(2) keberlanjutan adalah kondisi dimana sumber daya
alam dikelola sedemikian rupa untuk memelihara kesempatan
produksi dimasa mendatang, (3) keberlanjutan adalah kondisi
dimana sumber daya alam (natural capital stock) tidak berkurang
sepanjang waktu (nondeclining), (4) keberlanjutan adalah kondisi
dimana sumber daya alam dikelola untuk mempertahankan
produksi jasa sumber daya alam, dan (5) keberlanjutan adalah
adanya kondisi keseimbangan dan daya tahan (resilience) ekosistem
terpenuhi. Senada dengan pemahaman diatas, Daly (1990)
menambahkan beberapa aspek mengenai definisi operasional
pembangunan berkelanjutan, antara lain: ( Untuk sumber daya alam
yang terbarukan : laju pemanenan harus sama dengan laju
regenerasi (produksi lestari) ( Untuk masalah lingkungan : laju
pembuangan limbah harus setara dengan kapasitas asimilasi
lingkungan. ( Sumber energi yang tidak terbarukan harus
dieksploitasi secara quasisustainable, yakni mengurangi laju deplesi
dengan cara menciptakan energi substitusi. Selain definisi
operasional diatas, Haris (2000) melihat bahwa konsep keberlajutan

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 21


dapat diperinci menjadi tiga aspek pemahaman, (1) keberlajutan
ekonomi yang diartikan sebagai pembangunan yang mampu
menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara
keberlajutan pemerintahan dan menghindari terjadinya
ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian
dan industri. (2) Keberlajutan lingkungan: Sistem keberlanjutan
secara lingkungan harus mampu memelihara sumber daya yang
stabil, menghindari eksploitasi sumber daya alam dan fungsi
penyerapan lingkungan. Konsep ini juga menyangkut pemeliharaan
keanekaraman hayati, stabilitas ruang udara, dan fungsi ekosistem
lainnya yang tidak termasuk kategori sumber-sumber ekonomi. (3).
Keberlajutan sosial, keberlanjutan secara sosial diartikan sebagai
sistem yang mampu mencapai kesetaraan, penyediaan layanan sosial
termasuk kesehatan, pendidikan, gender, dan akuntabilitas politik .
Agenda 21, yang dideklarasikan pada Konferensi PBB tahun
1992 tentang Lingkungan dan Pembangunan, atau KTT Bumi di
Rio de Janeiro, Brasil; merupakan cetak biru untuk keberlanjutan
pada abad ke-21. Agenda 21 disepakati oleh banyak Negara dan
pemerintah di dunia yang dipantau oleh Komisi Internasional
tentang Pembangunan Berkelanjutan. Agenda ini membahas
pembangunan masyarakat dan ekonominya dengan berfokus pada
konservasi dan pelestarian lingkungan dan sumber daya alam (Earth
Summit Agenda 21 , Konferensi PBB tentang Lingkungan dan
Pembangunan).
Prinsip-prinsip yang digariskan dalam Deklarasi RIO tentang
Lingkungan dan Pembangunan dapat di ikhtisarkan sebagai berikut:
Prinsip 1.
Manusia menjadi pusat perhatian dalam pembangunan
berkelanjutan. Manusia berhak atas kehidupan yang sehat dan
produktif, selaras dan harmoni dengan alam.
Prinsip 2 .
Negara memiliki , sesuai dengan Piagam PBB dan prinsip-
prinsip hukum internasional , hak berdaulat untuk memanfaatkan

22 | Sudirman
jawab yang bersifat “Common but differentiated”. Negara-negara
maju mengakui tanggung-jawab nya dalam upaya internasional
untuk pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan tekanan
masyarakatnya terhadap lingkungan global, serta teknologi dan
sumberdaya keuangan yang mereka kuasai.
Prinsip 8 .
Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan kualitas
kehidupan yang lebih tinggi bagi seluruh rakyatnya, negara harus
mengurangi dan menghilangkan pola-pola produksi dan konsumsi
yang tidak berkelanjutan dan mempromosikan kebijakan
demografis yang lebih sesuai.
Prinsip 9 .
Negara-negara harus bekerjasama untuk memperkuat
pembangunan kapasitas endogen untuk pembangunan
berkelanjutan dengan meningkatkan pemahaman ilmiah melalui
pertukaran pengetahuan ilmiah dan teknologi; peningkatan
pengembangan , adaptasi , difusi dan transfer teknologi , termasuk
teknologi baru dan inovatif .
Prinsip 10 .
Isu-isu lingkungan paling bagus ditangani dengan partisipasi
seluruh warga masyarakat, sesuai dengan tingkatannya. Di tingkat
nasional , setiap individu harus memiliki akses yang tepat terhadap
informasi tentang lingkungan yang diselenggarakan oleh otoritas
publik, termasuk informasi mengenai bahan-bahan dan aktivitas
yang berbahaya dalam komunitasnya , dan kesempatan untuk
berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan . Negara harus
memfasilitasi dan mendorong kesadaran masyarakat dan
partisipasinya dengan menyediakan informasi seluas-luasnya. Akses
yang efektif terhadap proses peradilan dan administratif , termasuk
ganti rugi dan remediasi, harus disediakan sebaik-baiknya.
Prinsip 11 .
Negara-negara harus memberlakukan undang-undang
lingkungan yang efektif . Standar lingkungan , tujuan pengelolaan

24 | Sudirman
dan prioritasnya harus mencerminkan konteks lingkungan dan
pembangunan yang mereka terapkan. Standar yang diterapkan oleh
suatu negara mungkin tidak sesuai bagi negara lain, dan
menimbulkan biaya ekonomi dan biaya sosial bagi negara-negara
lain , khususnya di negara berkembang .
Prinsip 12 .
Negara-negara harus bekerjasama untuk mempromosikan
sistem ekonomi internasional yang mendukung dan terbuka yang
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
berkelanjutan di semua negara; untuk lebih baik mengatasi masalah
kerusakan lingkungan. Langkah-langkah kebijakan perdagangan
untuk tujuan lingkungan tidak harus merupakan sarana diskriminasi
sewenang-wenang atau pembatasan terselubung terhadap
perdagangan internasional. Tindakan sepihak untuk menghadapi
tantangan lingkungan di luar yurisdiksi negara pengimpor harus
dihindari. Langkah-langkah untuk menangani masalah lingkungan
lintas batas atau global sejauh mungkin harus didasarkan pada
konsensus internasional.
Prinsip 13 .
Negara-negara harus mengembangkan hukum nasional tentang
kewajiban dan kompensasi bagi para korban pencemaran dan
kerusakan lingkungan lainnya . Negara-negara juga harus
bekerjasama secara cepat dan lebih terukur untuk mengembangkan
hukum internasional tentang kewajiban dan kompensasi akibat
dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan di dalam
kawasan yurisdiksi suatu Negara terhadap kawasan di luar
yurisdiksinya.
Prinsip 14.
Negara-negara harus bekerjasama secara efektif untuk
menghapus atau mencegah relokasi dan transfer ke Negara lain
sesuatu kegiatan dan substansi (materi, zat) yang menyebabkan
degradasi lingkungan yang parah atau berbahaya bagi kesehatan
manusia.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 25


berkonsultasi dengan Negara-negara lain tersebut pada tahap awal
dan dengan itikad yang baik .
Prinsip 20.
Perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan
lingkungan dan pembangunan . Partisipasi penuh mereka sangat
penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
Prinsip 21.
Kreativitas , cita-cita dan keberanian para pemuda dunia harus
dimobilisasi untuk menempa kemitraan global guna mencapai
pembangunan berkelanjutan dan menjamin masa depan yang lebih
baik bagi semua.
Prinsip 22.
Masyarakat adat dan komunitasnya, serta masyarakat lokal
lainnya memiliki peran penting dalam pengelolaan lingkungan dan
pembangunan karena mereka mempunyai pengetahuan dan
praktek-praktek tradisional (kearifan lokal). Negara harus mengakui
dan sepatutnya mendukung identitas, budaya dan kepentingannya
dan memungkinkan partisipasi efektif mereka dalam pencapaian
pembangunan berkelanjutan.
Prinsip 23 .
Lingkungan dan sumberdaya alam orang (masyarakat) yang
mengalami penindasan , dominasi dan pendudukan harus
dilindungi.
Prinsip 24.
Perang mengakibatkan kehancuran pada pembangunan
berkelanjutan. Oleh karena itu, Negara harus menghormati hukum
internasional, memberikan perlindungan bagi lingkungan di masa
konflik bersenjata dan bekerja sama dalam pengembangan lebih
lanjut , jika diperlukan.
Prinsip 25 .
Perdamaian, pembangunan dan perlindungan lingkungan saling
bergantung dan tidak dapat dipisahkan.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 27


Prinsip 26
Negara harus menyelesaikan semua sengketa lingkungan secara
damai dan dengan cara yang tepat sesuai dengan Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Prinsip 27
Negara dan rakyat harus bekerja sama dengan itikad baik dan
dalam semangat kemitraan dalam pemenuhan prinsip-prinsip yang
terkandung dalam Deklarasi ini dan dalam pengembangan lebih
lanjut dari hukum internasional di bidang pembangunan
berkelanjutan .

E. PENDEKATAN PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN
Secara ideal keberlanjutan pembangunan membutuhkan
pendekatan pencapaian terhadap keberlanjutan ataupun
kesinambungan berbagai aspek kehidupan yang mencakup;
keberlanjutan ekologis, ekonomi, sosial budaya, politik, serta
keberlanjutan pertahanan dan keamanan
1. Keberlanjutan Ekologis
Keberlanjutan ekologis adalah prasyarat untuk
pembangunan dan keberlanjutan kehidupan. Keberlanjutan
ekologis akan menjamin keberlanjutan ekosistem bumi. Untuk
menjamin keberlanjutan ekologis harus diupayakan hal-hal
sebagai berikut:
a. Memelihara integritas tatanan lingkungan agar sistem
penunjang kehidupan dibumi tetap terjamin dan sistem
produktivitas, adaptabilitas, dan pemulihan tanah, air,
udara dan seluruh kehidupan berkelanjutan.
b. Tiga aspek yang harus diperhatikan untuk memelihara
integritas tatanan lingkungan yaitu ; daya dukung, daya
asimilatif dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya
terpulihkan. ketiga untuk melaksanakan kegiatan yang

28 | Sudirman
berkesinambungan, dan meningkatkan pemerataan dan
distribusi kemakmuran. Hal tersebut diatas dapat dicapai melalui
kebijaksanaan makro ekonomi mencakup reformasi fiskal,
meningkatkan efisiensi sektor publik, mobilisasi tabungan
domestik, pengelolaan nilai tukar, reformasi kelembagaan,
kekuatan pasar yang tepat guna, ukuran sosial untuk
pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan distribusi
pendapatan dan aset.
3. Keberlanjutan Ekonomi Sektoral
Penyesuaian kebijakan yang meningkatkan keberlanjutan
ekonomi makro secara jangka pendek akan mengakibatkan
distorsi sektoral yang selanjutnya mengabaikan keberlanjutan
ekologis. Hal ini harus diperbaiki melalui kebijaksanaan
sektoral yang spesifik dan terarah. Oleh karena itu penting
mengindahkan keberlanjutan aktivitas dan ekonomi sektoral.
Untuk mencapai keberlanjutan ekonomi sektoral, berbagai
kasus dilakukan terhadap kegiatan ekonomi. Pertama,
sumberdaya alam yang nilai ekonominya dapat dihitung harus
diperlakukan sebagai kapital yang tangibble dalam kerangka
akunting ekonomi, kedua, secara prinsip harga sumberdaya
alam harus merefleksi biaya ekstaksi, ditambah biaya
lingkungan dan biaya pemanfaatannya.
Pakar ekonomi harus mengidentifikasi dan
memperlakukan sumber daya sebagai sumber yang terpulih,
tidak terpulihkan, dan lingkungan hidup. Sumber yang
terpulihkan seperti hutan dapat memberikan manfaat secara
berkelanjutan bila tidak memperlakukan produktivitas ekonomi
sebagai fungsi yang pasif atau jasa yang mengalir;
menggunakan prinsip pengelolaan yang berkelanjutan,
sedangkan sumber yang tidak terpulihkan mempunyai jumlah
absulut dan berkurang bila dimanfaatkan. Oleh karena itu pada
kondisi seperti ini konsep sustainable yeild tidak boleh
diterapkan.

30 | Sudirman
Pembangunan berkelanjutan dalam konteks sumberdaya
yang tidak dapat dipulihkan berarti: pemanfaatan secara efisien
sehingga dapat dimanfaatkan oleh generasi masa mendatang
dan diupayakan agar dapat dikembangkan substitusi dengan
sumberdaya terpulihkan; membatasi dampak lingkungan
pemanfaatannya sekecil mungkin, karena sumberdaya
lingkungan adalah biosfer, secara menyeluruh sumberdaya ini
tidak menciut akan tetapi berpariasi sesuai dengan kualitasnya
Keberlanjutan Sosial Budaya
Secara menyeluruh keberlanjutan sosial dan budaya
dinyatakan dalam keadilan sosial, harga diri manusia dan
peningkatan kualitas hidup seluruh manusia.
Keberlanjutan sosial dan budaya mempunyai empat
sasaran yaitu:
a. Stabilitas penduduk yang pelaksanaannya mensyaratkan
komitmen politik yang kuat, kesadaran dan partisipasi
masyarakat, memperkuat peranan dan status wanita,
meningkatkan kualitas, efektivitas dan lingkungan
keluarga.
b. Memenuhi kebutuhan dasar manusia, dengan memerangi
kemiskinan dan mengurangi kemiskinan absolut.
Keberlanjutan pembangunan tidak mungkin tercapai bila
terjadi kesenjangan pada distribusi kemakmuran atau
adanya kelas sosial. Halangan terhadap keberlajutan sosial
harus dihilangkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia. Kelas sosial yang dihilangkan dimungkinkannya
untuk mendapat akses pendidikan yang merata,
pemerataan pemulihan lahan dan peningkatan peran
wanita.
c. Mempertahankan keanekaragaman budaya, dengan
mengakui dan menghargai sistem sosial dan kebudayaan
seluruh bangsa, dan dengan memahami dan menggunakan
pengetahuan tradisional demi manfaat masyarakat dan
pembangunan ekonomi.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 31


BAB III
INDIKATOR
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

A. SEJARAH
Pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas
hidup secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang
dimiliki negara secara bijaksana. Sumber daya tersebut sifatnya
terbatas, sehingga dalam penggunaannya harus secara cermat dan
hatihati. Ketidakcermatan dalam penggunaan sumber daya yang
dimiliki negara dapat menimbulkan masalah-masalah lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan adalah upaya peningkatan kualitas
manusia secara bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan.
Dalam prosesnya, pembangunan berkelanjutan ini
mengoptimalkan manfaat sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan iptek dengan menserasikan ketiga komponen tersebut, sehingga
dapat berkesinambungan. Dalam proses pembangunan pasti ada
permasahalan yang dihadapi. Permasalahan tersebut selalu berubah
bahkan cenderung semakin kompleks, seiring bertambahnya
tuntutan pembangunan dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi
masyarakatnya. Upaya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan
tersebut cenderung sukar terwujud jika sumber daya alam sebagai
daya dukung pembangunan semakin berkurang dan cenderung
terbatas. Penggunaan sumber daya alam secara terus menerus dan
melampaui daya dukung lingkungan dalam pelestariannya telah
menyebabkan merosotnya kualitas lingkungan dan merusak
keseimbangan ekologi lingkungan. Sehingga perlu dilakukan

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 33


hambatan bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan..
Pertumbuhan sektor industri, kendaraan bermotor, konsumsi
energi yang terus meningkat telah mengakibatkan bertambahnya.
kerusakan lingkungan (air, tanah dan udara), seperti tercemarnya
pemukiman, terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.
Oleh karena itu, usaha untuk menjaga lingkungan hidup melalui
pembangunan berkelanjutan menjadi semakin penting untuk
dilakukan sehingga kebutuhan kehidupan generasi yang akan datang
dapat terpenuhi.
Pada tahun 1983, PBB membentuk Komisi Lingkungan Hidup
dan Pembangunan Dunia (World Commission on Environment
and Development, WCED). Komisi ini yang akan bertugas
menangani berbagai permasalahan yang terkait dengan
pembangunan dan lingkungan. Pada tahun 1987, WCED
menerbitkan laporan yang berjudul Our Common Future, yang
menjelaskan hubungan dan keterkaitan global antara ekonomi,
sosial, budaya, dan isu-isu lingkungan.
Laporan tersebut mendefinisikan konsep pembangunan
berkelanjutan yaitu pembangunan yang berusaha untuk memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang
akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Pembahasan dan pertemuan tingkat dunia terus berlanjut
dengan diadakannya United Nations Conference on Environment
and Development (UNCED) di Rio de Janeiro pada bulan Juni
1992 yang mengadopsi agenda untuk lingkungan dan pembangunan
di abad ke-21, yang kemudian disebut Agenda 21. Agenda 21
menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan
integrasi dari 3 pilar, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Untuk
menindaklanjuti Agenda 21, UNCED membentuk Komisi
Pembangunan Berkelanjutan (Commission on Sustainable
Development, CSD) pada Desember 1992. Tahun 2002, sepuluh
tahun dari Deklarasi Rio, dilaksanakan konferensi puncak sedunia

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 35


kerja Driving Force-State-Response. Pada tahun 2001, Divisi
Pembangunan Berkelanjutan merevisi 134 indikator pembangunan
berkelanjutan tersebut menjadi 58 indikator berdasarkan
pengalaman dari beberapa negara yang telah menerapkan indikator
tersebut. Indikator tersebut direvisi kembali menjadi 50 indikator
utama dan 46 indikator lain pada tahun 2007.
Pada tanggal 2 Agustus 2015, sebanyak 193 negara anggota
PBB, termasuk Indonesia, secara aklamasi mengadopsi dokumen
berjudul “Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable
Development” (Mengalihrupakan Dunia Kita: Agenda Tahun 2030
untuk Pembangunan Berkelanjutan). Dokumen ini kemudian
disahkan oleh Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan di KTT
Pembangunan Berkelanjutan PBB di New York pada 25-27
September 2015. Dokumen tersebut terdiri dari 17 tujuan
pembangunan berkelanjutan dan terbagi menjadi 169 target.
Sustainable Development Goals (SDG‟s) merupakan pembaharuan
tujuan dan indikator target universal dari negara anggota PBB yang
akan membingkai setiap agenda dan kebijakan politik negara selama
15 tahun kedepan. Pada dasarnya SDG‟s akan mengikuti dan
memperluas pencapaian MDG‟s yang telah disetujui sejak tahun
2000 yang akan berakhir di akhir tahun 2015.

B. PEMILIHAN INDIKATOR
Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi
Agenda 21. Sebagai konsekuensinya, Indonesia mempunyai
kewajiban untuk menyajikan indikator atau variabel pembangunan
berkelanjutan sesuai dengan yang disarankan dan direkomendasikan
oleh United Nation - Commission on Sustainable Development (UN-CSD).
Oleh karena itu kerangka kerja yang digunakan mengacu pada
kerangka kerja UN-CSD. Dalam penyajian publikasi Indikator
Pembangunan Berkelanjutan ini, tidak semua indikator bisa
disajikan karena keterbatasan data yang tersedia di Indonesia. Selain

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 37


itu, ada beberapa indikator pendekatan yang disesuaikan dengan
kondisi lingkungan dan ketersediaan data di Indonesia (Lampiran 1).
Berikut merupakan penjelasan setiap indikator terpilih dari
kerangka kerja CSD yang sudah disesuaikan dengan kondisi di
Indonesia.
1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran perkapita perbulan berada di bawah garis
kemiskinan. Tujuan dari ukuran kemiskinan adalah untuk
memungkinkan adanya perbandingan kemiskinan dan menilai
kemajuan upaya pengentasan kemiskinan serta evaluasi
program.
2. Distribusi pembagian pengeluaran per kapita dan indeks
gini
Indikator ini merupakan suatu ukuran ketimpangan
pendapatan atau sumber daya dalam suatu masyarakat.
Ketimpangan akibat pendapatan atau konsumsi dan
ketidaksetaraan dalam meraih kesempatan menghambat
pembangunan manusia dan merugikan pertumbuhan ekonomi
secara jangka panjang.
3. Persentase rumah tangga dengan
penampungan akhir tinja tangki septik
Penyediaan sanitasi yang memadai diperlukan untuk
melindungi kesehatan manusia serta lingkungan. Indikator ini
memantau kemajuan akses rumah tangga pada fasilitas sanitasi,
pelayanan sosial dasar yang penting sekaligus merupakan dasar
untuk mengurangi risiko dari bakteri faecal (yang terdapat pada
kotoran manusia) dan frekuensi penyakit yang terkait.
4. Persentase rumah tangga yang menggunakan air bersih
Indikator ini memonitor kemajuan dari akses rumah tangga
terhadap sumber air bersih dengan volume yang memadai dan
jarak yang terjangkau.

38 | Sudirman
10. Angka kematian bayi
Estimasi angka kematian bayi merupakan probablitas
bayi meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun (dinyatakan per
1000 kelahiran hidup). Tingkat kematian bayi dipengaruhi
oleh ketersedian, akses dan kualitas sarana kesehatan;
pendidikan, khususnya ibu-ibu; akses air bersih dan sanitasi;
kemiskinan dan gizi.
11. Angka harapan hidup saat lahir
Indikator ini merupakan rata-rata umur yang dicapai oleh
bayi yang baru lahir yang diharapkan hidup, dengan mengingat
adanya risiko kematian pada saat usia tertentu. Angka harapan
hidup saat lahir merupakan indikator kematian dan proxy
terhadap kondisi kesehatan.
12. Persentase penduduk yang berobat jalan di puskesmas
dan puskesmas pembantu
Indikator ini mengukur akses penduduk terhadap fasilitas
pelayanan kesehatan dasar.
13. Persentase balita yang diimunisasi
Indikator ini memantau implementasi dari program
imunisasi. Pengelolaan yang baik pada program imunisasi
sangat penting untuk mengurangi kesakitan dan kematian dari
penyakit menular di masa kanak-kanak.
14. Persentase wanita usia 15-49 tahun yang mengguna-
kan alat KB
Indikator ini menunjukan usaha manusia secara sadar
dalam mengontrol kelahiran/ pelayanan kesehatan reproduksi.
Meskipun indikator ini tidak dapat mengontrol semua
tindakan yang diambil dalam mengontrol kelahiran. Manfaat
kesehatan dari penggunaan kontrasepsi meliputi kemampuan
untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, sehingga
mengurangi resiko aborsi, potensi komplikasi kehamilan dan
resiko kematian ibu.

40 | Sudirman
langsung berpengaruh pada perubahan penduduk. Angka
kelahiran total tidak dipengaruhi oleh distribusi umur
penduduk. Angka kelahiran yang rendah dapat meningkatkan
kemampuan keluarga dan pemerintah dalam pengelolaan
sumber daya yang ada untuk melawan kemiskinan, melindungi
dan memperbaiki lingkungan.
25. Angka beban ketergantungan
Angka beban ketergantungan menunjukkan perbandingan
jumlah penduduk yang aktif secara ekonomi terhadap penduduk
usia muda dan usia tua yang tergantung secara ekonomi.
Angka beban ketergantungan dapat mengindikasikan
dampak potensial perubahan struktur umur penduduk terhadap
pembangunan sosial dan ekonomi.
26. Jumlah desa menurut jenis bencana dan upaya
antisipasi bencana alam
Indikator ini menggambarkan jumlah desa yang terkena
dampak bencana baik yang berupa tanah longsor, gempa bumi,
tsunami, gempa bumi yang disertai tsunami, letusan gunung
api, banjir, banjir disertai tanah longsor, kekeringan, gelombang
pasang/abrasi, angin puyuh/puting beliung dan kebakaran
hutan. Indikator ini juga menunjukkan kerentanan terhadap
bencana alam. Kerentanan yang tinggi ditunjukkan oleh
tingginya keterpaparan oleh rupa-rupa kejadian bencana.
27. Jumlah korban dan kerusakan rumah akibat bencana
alam
Indikator ini memperkirakan dampak ekonomi dan
manusia dari bencana. Bencana yang melibatkan bahaya alam
dapat memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang yang
buruk terhadap masyarakat dan perekonomian negara
manapun, serta dapat menghambat berlangsungnya
pembangunan berkelanjutan.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 43


28. Emisi gas rumah kaca
Indikator ini mengukur emisi gas rumah kaca yang
memiliki dampak langsung terhadap perubahan iklim. Gas-gas
rumah kaca yang utama adalah karbon dioksida (CO2), metana
(CH4) dan nitrogen oksida (N2 O). Peningkatan konsentrasi gas
rumah kaca di atmosfer berkontribusi terhadap pemanasan
global yang merupakan tantangan utama bagi pembangunan
berkelanjutan. Indikator ini juga memberikan informasi
mengenai pemenuhan komitmen global untuk mengurangi
emisi gas rumah kaca.
29. Impor komoditi bahan yang mengandung zat perusak
ozon
Indikator ini menggambarkan perkem- bangan dari proses
pengurangan bahan perusak ozon (BPO). Tanpa penggunaan
BPO akan memperbaiki lapisan ozon, sehingga mengurangi
efek buruk pada kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, mikro
organisme, kehidupan laut, barang-barang, siklus biogeokimia,
dan kualitas udara.
30. Rata-rata bulanan hasil pengukuran konsentrasi
gas SO2 dan NO2
Indikator ini memberikan ukuran keadaan lingkungan
dalam hal kualitas udara dan merupakan ukuran tidak langsung
paparan populasi dengan polusi udara yang menjadi perhatian
kesehatan di wilayah perkotaan. Meningkatkan kualitas udara
merupakan aspek penting dalam mempromosikan pemukiman
yang berkelanjutan.
31. Luas lahan sawah
Indikator ini menunjukkan luas lahan yang tersedia untuk
produksi pertanian, khususnya tanaman pangan.

44 | Sudirman
32. Luas lahan tegal/kebun dan ladang/huma
Indikator ini menunjukkan luas lahan yang tersedia untuk
produksi pertanian, selain tanaman pangan.
33. Luas Lahan yang sementara tidak diusahakan
Indikator ini menunjukkan luas lahan yang
tersedia, namun sementara tidak diusahakan, memungkinkan
untuk diusahakan lagi.
34. Persentase luas hutan
Indikator ini untuk memantau perubahan luas hutan.
Hutan menyediakan banyak sumber daya dan fungsi yang
penting termasuk produk kayu dan produk non-kayu, potensi
wisata, habitat satwa liar, konservasi keanekaragaman hayati,
dan memainkan peran penting dalam siklus karbon global.
35. Jumlah sebaran titik panas yang terdeteksi satelit
Indikator ini merupakan pendekatan dari upaya pencegahan
kejadian kebakaran hutan di suatu wilayah. Kebakaran hutan
merupakan salah satu penyebab penggundulan hutan, polusi
udara dan penipisan lapisan ozon.
36. Jumlah dan persentase desa pesisir
Indikator ini mengukur jumlah dan persentase desa pesisir.
Persentase desa pesisir yang tinggi meningkatkan kerentanan
terhadap kenaikan permukaan laut dan bahaya pesisir lainnya
seperti badai dan tsunami.
37. Sebaran kawasan konservasi laut
Indikator ini menunjukkan luas wilayah konservasi laut
dan sebarannya. Konservasi wilayah laut sangat penting untuk
menjaga keanekaragaman ekosistem laut, dalam kaitannya
dengan manajemen pengaruh manusia terhadap lingkungannya.
38. Luas dan kondisi terumbu karang
Indikator ini menggambarkan efektifitas kebijakan nasional
yang dirancang untuk mengkonservasi keanekaragaman

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 45


dan ekologi wilayah, dalam kaitannya dengan manajemen
pengaruh manusia terhadap lingkungannya.
43. Spesies satwa dan tumbuhan yang dilindungi
Indikator ini memungkinkan memonitor seberapa banyak
spesies satwa dan tumbuhan yang dilindungi. Indikator ini
menggambarkan efektifitas kebijakan nasional yang dirancang
untuk membatasi hilangnya keanekaragaman hayati.
44. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita
Indikator ini merupakan indikator dasar pertumbuhan
ekonomi dan mengukur tingkat serta jumlah output
ekonomi. Hal ini menunjukkan perubahan pada jumlah
produksi barang dan jasa.
45. Tabungan bruto menurut sektor
Indikator ini menunjukkan seberapa banyak tabungan
bruto yang dimiliki oleh negara sebagai cadangan untuk
keberlanjutan pembangunan. Tabungan bruto merupakan
penghitungan dari pendapatan nasional bruto dikurangi total
konsumsi ditambah transfer netto.
46. Pembagian investasi dalam Produk Domestik Bruto
Rasio investasi memberikan indikasi kepentingan relatif
dari sisi lain investasi, misalnya, konsumsi. Akuisisi barang
modal memberikan informasi penting tentang kinerja
ekonomi masa depan masyarakat dengan memperluas dan
memperdalam modal saham. Indikator ini menunjukkan
kontribusi investasi terhadap pembentukan produk domestik
bruto.
47. Laju inflasi
Indikator ini mengukur laju inflasi, dimana jika
nilainya terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan
ekonomi. Inflasi yang tak diinginkan sering menimbulkan efek
berantai, seperti mengurangi pendapatan riil dari yang

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 47


memberantas kemiskinan dan mendorong pembangunan
berkelanjutan.
52. Persentase rumah tangga yang mengakses internet
Jumlah pengguna internet adalah ukuran yang
menggunakan dan mengakses internet. Internet dan
penggunaannya memberikan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan dan informasi dengan mudah.
53. Persentase rumah tangga yang memiliki telpon dan
telpon seluler
Indikator ini merupakan salahsatuukuran untuk melihat
perkembangan telekomunikasi di suatu negara. Telekomunikasi
berhubungan erat dengan pembangunan sosial, ekonomi, dan
kelembagaan. Hal ini juga merupakan faktor penting untuk
berbagai kegiatan ekonomi dan meningkatkan pertukaran
informasi antar warga. Komunikasi modern relatif ramah
lingkungan, karena merupakan pengganti potensial untuk
transportasi dan tingkat pencemaran lingkungan yang relatif
rendah.
54. Dampak pariwisata terhadap produk domestik bruto
Indikator ini bertujuan untuk mengukur peranan
pariwisata terhadap perekonomian indonesia dengan
menggunakan model Input-Output berupa matriks supply
(penyediaan/ penawaran) dan demand (permintaan), yang
menggambarkan keseimbangan transaksi ekonomi antara
industri pariwisata dengan wisatawan dalam upaya pemenuhan
kebutuhannya. Meningkatnya jumlah wisatawan memberikan
dampak bagi pertumbuhan industri pariwisata.
55. Persentase transaksi berjalan terhadap produk
nasional bruto
Transaksi berjalan merupakan catatan gabungan dari
neraca perdagangan, neraca jasa, pendapatan dan transfer
berjalan. Transaksi berjalan merupakan bagian pengukuran

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 49


60. Pemakaian energi
Indikator ini mengukur tingkat penggunaan energi dan
mencerminkan pola energi yang digunakan dalam kegiatan
ekonomi dan sektor-sektor yang lain. Energi merupakan faktor
kunci dalam pembangunan ekonomi dan memberikan layanan
penting untuk meningkatkan kualitas hidup. Disisi lain
penggunaan energi telah mengakibatkan tekanan besar
terhadap lingkungan yaitu menguras sumber daya dan
menimbulkan polusi.
61. Jumlah kendaraan bermotor
Indikator ini memberikan informasi mengenai pentingnya
alternatif moda transportasi. Penggunaan mobil pribadi untuk
transportasi secara umum kurang efisien dan memiliki
dampak lingkungan dan sosial yang lebih besar, seperti polusi,
pemanasan global serta tingginya tingkat kecelakaan
dibandingkan dengan angkutan massal.
62. Produksi angkutan kereta api penumpang dan barang
Indikator ini menunjukkan kontribusi kereta api sebagai
angkutan penumpang dan barang yang merupakan bagian dari
salah satu moda transportasi darat. Penggunaan angkutan
kereta api lebih hemat energi dibanding dengan moda
transportasi jalur jalan raya. Penggunaan energinya ditunjukkan
dengan banyaknya penumpang per km atau barang per ton km.

C. KEMISKINAN.
Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang
kompleks dan bersifat multidimensional. Oleh karena itu, upaya
pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif,
mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan dilaksanakan
secara terpadu. Kemiskinan harus menjadi sebuah tujuan utama
dari penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi oleh negara
Indonesia, karena aspek dasar yang dapat dijadikan acuan

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 51


mengatasi kemiskinan yang sudah pernah dilakukan, diantaranya
adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kartu Keluarga Sejahtera
(KKS), Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Program Keluarga
Harapan (PKH), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Beras
Miskin (Raskin), Bantuan Siswa Miskin (BSM), Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), dan Kredit Usaha Rakyat
(KUR).
Statistik kemiskinan penting untuk menganalisis hubungan
antara pendapatan atau konsumsi terhadap dimensi lain dari
perkembangan manusia seperti pendidikan, kesehatan, keahlian
kerja dan ukuran standar hidup lainnya. Ukuran kemiskinan dapat
pula digunakan untuk memantau potensi kerusakan sumber daya
alam di suatu wilayah karena penduduk miskin pada umumnya
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitarnya
untuk membiayai kebutuhan hidup.
Tingkat kemiskinan di Indonesia dihitung menggunakan garis
kemiskinan berdasarkan pengeluaran atau konsumsi rumah tangga.
Secara umum, perkembangan jumlah dan persentase penduduk
miskin di Indonesia berfluktuasi selama periode 1998-2016
(Gambar 4.1).

Sumber : BPS 2016.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 53


Jumlah dan persentase penduduk miskin mengalami
penurunan selama periode 1998- 2005, kemudian mengalami
peningkatan pada tahun 2006 dan kembali menurun pada periode
2007-2016. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada
tahun 2006 disebabkan oleh kenaikan BBM yang tinggi yang
berdampak pada harga kebutuhan pokok masyarakat.
Dengan menggunakan standar kemiskinan yang
disempurnakan, jumlah penduduk miskin tersebut terus berkurang
hingga menjadi 28,07 juta jiwa (11,37 persen) pada tahun 2013
(Tabel 4.1.1 dan Tabel 4.1.2). Namun pada tahun 2014- 2015
jumlah penduduk miskin meningkat kembali menjadi sebesar 28,28
juta jiwa pada tahun 2014 dan 28,59 juta jiwa pada tahun 2015.
Tetapi pada tahun 2016 kembali menurun menjadi 28 juta jiwa.
Provinsi dengan presentase penduduk miskin terbesar adalah
Provinsi Papua (28,54 persen), diikuti oleh Provinsi Papua Barat
(25,43 persen) dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (22,19 persen).
Berdasarkan persentase penduduk miskin nasional maka terdapat
14 provinsi yang memiliki persentase lebih tinggi dari persentase
kemiskinan nasional.

Garis kemiskinan (GK) menentukan jumlah penduduk miskin,


yaitu dengan menghitung jumlah penduduk dengan pengeluaran
berada di bawah garis kemiskinan. Nilai garis kemiskinan setiap
tahun selalu mengalami kenaikan (Tabel 4.1.3).
Pada tahun 2010, nilai garis kemiskinan Indonesia adalah Rp.
211.726,- per kapita per bulan dan pada tahun 2016 nilai garis
kemiskinan naik menjadi Rp. 354.386,- per kapita per bulan.
Ketimpangan Pendapatan
Ketimpangan pendapatan adalah suatu kondisi
dimana distribusi pendapatan yang diterima masyarakat tidak
merata. Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat
ketimpangan pendapatan adalah indeks gini. Indeks gini juga

54 | Sudirman
pengawasan penyediaan air minum masyarakat, pembuangan tinja
dan air limbah, pembuangan sampah, vektor penyakit, kondisi
perumahan, penyediaan dan penanganan makanan, kondisi atmosfer
dan keselamatan lingkungan kerja. Dari definisi tersebut, tampak
bahwa sanitasi lingkungan ditujukan untuk memenuhi persyaratan
lingkungan yang sehat dan nyaman.
Sanitasi dan air minum yang layak memberi kontribusi
langsung terhadap kualitas kehidupan manusia di seluruh siklus
kehidupannya, mulai dari bayi, Balita, anak sekolah, remaja,
kelompok usia kerja, ibu hamil dan kelompok lanjut usia.
Perwujudan manusia Indonesia yang berkualitas merupakan cita-
cita bangsa Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Nawacita
kelima yaitu “meningkatkan kualitas manusia Indonesia”. Sanitasi
yang layak juga menjadi kunci pengentasan kemiskinan terutama di
negara berkembang, seperti Indonesia.
KTT tentang pembangunan berkelanjutan di Johannesburg
tahun 2002 (Konferensi Rio+10) merekomendasikan setiap negara
untuk me- ngurangi separuh jumlah penduduk yang tidak memiliki
akses terhadap sanitasi dasar pada tahun 2015 yang tertuang dalam
Johannesburg Plan of Implementation (JPOI). Target tersebut juga
seiring dengan target sanitasi dalam MDGs.
Menurut data dari WHO/UNICEF dalam Joint Monitoring
Programme for Water Supply and Sanitation, masih ada 2,4 miliar
penduduk dunia yang tidak memiliki akses pada sanitasi yang baik
pada tahun 2015. Dari jumlah tersebut, 28 persen menggunakan
fasilitas sanitasi publik atau bersama, 31 persen menggunakan
fasilitas sanitasi yang tidak memenuhi standar kesehatan dan 41
persen sisanya tidak memiliki fasilitas sanitasi sama sekali dan
terpaksa menggunakan area terbuka yang tidak higienis. Di negara
berkembang, persentase penduduk yang memiliki akses pada
sanitasi yang baik pada tahun 2015 sebesar 62 persen. Jika
perkembangan ini terus berlanjut seperti kondisi sekarang, maka
target sanitasi dalam JPOI dan MDGs tidak akan tercapai yaitu

56 | Sudirman
Penggunaan bahan bakar padat dalam rumah tangga seperti kayu
bakar mengindikasikan kurangnya akses terhadap energi
modern, seperti gas dan LPG. Penggunaan bahan bakar
biomassa tradisional seperti kayu dapat menyebabkan polusi udara
dalam ruangan. Hal ini dapat meningkatkan risiko kematian karena
pneumonia dan infeksi saluran pernafasan akut. Tingginya
permintaan bahan bakar biomassa untuk memenuhi kebutuhan
energi rumah tangga berkontribusi terhadap deforestasi dan
degradasi lahan.
Secara nasional, persentase rumah tangga yang menggunakan
kayu bakar sebagai bahan bakar memasak menurun pada periode
2010-2015 yaitu dari 42,33 persen di tahun 2010 menjadi
24,40 persen di tahun 2015 (Tabel 4.1.8). Penurunan tersebut
sejalan dengan meningkatnya sosialisasi penggunaan gas dan LPG
sebagai bahan bakar untuk memasak. Jika dilihat berdasarkan
provinsi, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua merupakan
provinsi dengan persentase rumah tangga terbesar yang
menggunakan kayu bakar yaitu masing-masing sebesar 78,17 persen
dan 67,74 persen
Kemiskinan telah memaksa jutaan orang untuk menjadi
tunawisma dan tinggal di tempat yang tidak ideal. Kondisi tempat
tinggal yang ideal ditandai dengan jumlah penduduk yang tidak
terlalu padat, perumahan yang layak, kecukupan air bersih, akses
sanitasi yang layak, serta sarana dan prasarana ekonomi, sosial
maupun budaya yang memadai. Namun jika kondisi tersebut tidak
terpenuhi, maka akan berdampak pada munculnya permukiman
kumuh. Kondisi kehidupan di pemukiman kumuh menggambarkan
kemiskinan dari segi pendapatan yang tidak memadai dan
lingkungan yang tidak layak. Permukiman kumuh memberikan
tekanan besar terhadap kehidupan masyarakat melalui polusi,
kebisingan, kelangkaan air bersih, dan banjir.
Permukiman kumuh muncul karena tingginya tingkat
urbanisasi dan mahalnya lahan permukiman. Daya tarik kota

60 | Sudirman
sebagai pusat pelayanan, pendidikan, dan kegiatan perekonomian
dengan berbagai kelengkapan fasilitasnya mendorong masyarakat
berdatangan ke kota. Penambahan jumlah penduduk yang tinggi di
daerah perkotaan dengan tidak diimbangi penambahan perumahan,
serta terbatasnya lahan yang tersedia merupakan salah satu
pendorong munculnya permukiman kumuh.
Menurut Bank Dunia (1999), wilayah kawasan kumuh
merupakan bagian yang terabaikan dalam pembangunan
perkotaan. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi sosial demografis di
kawasan kumuh seperti kepadatan penduduk yang tinggi, kondisi
lingkungan yang tidak layak huni dan tidak memenuhi syarat,
serta minimnya fasilitas pendidikan, kesehatan dan sarana prasarana
sosial lainnya. Semakin banyak permukiman kumuh dan munculnya
permukiman kumuh baru dapat memberikan tekanan terhadap
lingkungan yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kualitas
lingkungan. Permukiman kumuh merupakan tantangan besar bagi
kelestarian lingkungan dalam konteks pembangunan.
Jumlah penghuni kawasan kumuh makin meningkat karena
adanya arus urbanisasi yang meningkat pula secara cepat. Sekitar
seperempat penduduk perkotaan dunia hidup di daerah kumuh.
Jumlah penghuni kawasan kumuh di negara berkembang meningkat
dari 689 juta pada tahun 1990 menjadi 880 juta pada tahun 2014,
menurut UN World Cities Report 2016.
Pada tahun 2014, terdapat sebanyak 4.508 desa atau 5,48 persen
desa dengan keberadaan permukiman kumuh. Persentase desa
dengan keberadaan permukiman kumuh paling tinggi terdapat di
Provinsi Jawa Barat yaitu sebanyak 20,26 persen atau sebanyak
1.208 desa dari 5.962 desa (Tabel 4.1.9).

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 61


D. KEPEMERINTAHAN
Menurut UNDP (1997), tata kelola pemerintahan dapat
diartikan sebagai penggunaan kewenangan ekonomi, politik, dan
administrasi untuk mengelola urusan-urusan negara pada semua
tingkatan. Tata kelola pemerintahan mencakup mekanisme, proses,
dan institusi di mana warga dan kelompok-kelompok masyarakat
menyuarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum,
memenuhi kewajibannya, dan menjembatani perbedaan-perbedaan
di antara mereka. Tanpa adanya tata kelola pemerintahan yang baik,
skema pembangunan yang direncanakan tidak akan membawa
perbaikan dalam kualitas hidup warga negara.
Kebijakan pemerintah dalam tata kelola pemerintahan yang
baik berorientasi pada pembangunan berkelanjutan secara
ekologi,ekonomi, dan sosial. Dalam kebijakan keuangan negara, tata
kelola pemerintahan yang baik harus bertanggung jawab dan
transparan terhadap publik, dalam hal ini warga negara. Kebijakan
keuangan yang dimaksud terkait dengan pengadaan dana (kebijakan
perpajakan yang adil, kebijakan hutang, dll) dan penggunaan dana
(perencanaan anggaran, implementasi anggaran, dll), serta
pemantauan pengadaan dan penggunaan dana oleh parlemen dan
badan pengaudit nasional.
Pelaksanaan kegiatan pemerintahan seringkali menghadapi
kendala-kendala. Salah satu kendala yang dihadapi adalah terjadinya
praktek penyalahgunaan kekuasaan dan keuangan negara atau yang
sering disebut Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Praktek
KKN membuat negara mengalami kerugian dan kemajuan ekonomi
terhambat.
Semakin maraknya praktek KKN mendorong berkembangnya
tuntutan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan bebas
dari KKN. Indikator prevalensi korupsi di antara pejabat
pemerintah dan swasta merupakan satu ukuran tindak kejahatan.
Penurunan indikator ini mengindikasikan terjadinya penurunan

62 | Sudirman
terjadi tindak kriminalitas, maka pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan dapat terganggu. Kriminalitas merupakan ancaman
nyata bagi terciptanya masyarakat yang aman, tenteram, dan damai.
Kriminalitas juga diyakini memiliki dampak besar pada stabilitas
wilayah, pembangunan ekonomi, pendidikan, integrasi sosial, dan
persepsi kualitas hidup.
Kasus kriminalitas merupakan sebuah fenomena yang terjadi
akibat ketidakseimbangan pembangunan sosial-ekonomi dan belum
meratanya tingkat kesejahteraan di kalangan masyarakat Salah satu
indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kriminalitas di
Indonesia adalah jumlah kasus pembunuhan. Pembunuhan yang
disengaja serta kejahatan kekerasan memiliki dampak negatif yang
signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan.
Fenomena kejahatan yang sering terjadi dapat menciptakan
iklim ketakutan dan mengikis kualitas hidup. Indikator ini dapat
digunakan sebagai ukuran untuk kepatuhan terhadap aturan hukum
dan komponen tata pemerintahan yang baik.
Selama periode 2010-2015 jumlah kasus pembunuhan
cenderung mengalami penurunan dari 1.606 kasus pada tahun 2010
menjadi 1.491 kasus pada tahun 2015 (Tabel 4.2.2).
Pada tahun 2015, jumlah kasus pembunuhan paling banyak
terjadi di wilayah Kepolisian Daerah Sumatera Selatan yaitu sebesar
161 kasus pembunuhan, kemudian di wilayah Kepolisian Daerah
Sumatera Utara yaitu sebanyak 118 kasus pembunuhan. Sedangkan
jumlah kasus pembunuhan paling sedikit terdapat di wilayah
Kepolisian Daerah Papua Barat (1 kasus).

E. Kesehatan
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua
manusia karena tanpa kesehatan yang baik, maka setiap manusia
akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Kesehatan
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun

64 | Sudirman
penyediaan makanan dan perawatan yang tepat sangat penting
untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup bayi maupun
sebagai dasar untuk hidup sehat.
Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia, selama
lima tahun terakhir (2012-2016), angka kematian bayi secara
nasional selalu mengalami penurunan (Tabel 4.3.1).
Pada tahun 2012 angka kematian bayi tercatat sebesar 28
per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2016, angka tersebut
turun menjadi sekitar 26 kematian bayi dalam 1.000 kelahiran
hidup. Provinsi dengan estimasi angka kematian bayi paling
rendah pada tahun 2016 adalah DI Yogyakarta yaitu sekitar 13
kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan estimasi
AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat yaitu sebesar
50 kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup (Gambar 4.4).
Indikator lain yang menggambarkan kondisi kesehatan
dan tingkat kematian pada suatu negara adalah angka harapan
hidup. Angka harapan hidup mengukur berapa tahun suatu
kelompok umur tertentu diharapkan hidup dengan
mempertimbangkan risiko kematian spesifik pada kelompok
umur tertentu. Angka harapan hidup yang rendah di suatu
daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan
dan program sosial lainnya, termasuk kesehatan lingkungan,
kecukupan gizi, dan program pemberantasan kemiskinan.
Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-
2035, angka harapan hidup penduduk Indonesia diperkirakan
mengalami peningkatan selama periode 2011-2015, mulai dari
70,0 tahun pada tahun 2011 menjadi 70,8 tahun di tahun 2015
(Tabel 4.3.2). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang lahir pada
tahun 2015 diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur
70,8 tahun.
Jika dilihat menurut provinsi, terdapat sebanyak 20
provinsi mempunyai estimasi angka harapan hidup di bawah

66 | Sudirman
70 tahun dan sebanyak 13 provinsi mempunyai estimasi angka
harapan hidup di atas 70 tahun. Estimasi angka harapan hidup
tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (74,6 tahun),
sedangkan yang terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat
(63,9 tahun).
2. Layanan Kesehatan
Pelayanan Kesehatan merupakan upaya yang
diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah, dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.
Pelayanan kesehatan utama yang paling dibutuhkan oleh
masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar, khususnya untuk
ibu dan balita. Pelayanan kesehatan mencakup semua jasa yang
berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan penyakit,
pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan. Aksesibilitas
pelayanan kesehatan mencerminkan adanya peningkatan sistem
pelayanan kesehatan dan pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas), persentase penduduk yang berobat jalan di
puskesmas dan puskesmas pembantu selama periode tahun
2010-2015 mengalami fluktuasi, dengan persentase tertinggi
terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 35,12 persen sementara
persentase terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar
27,12 persen dan kembali meningkat pada 2015 sebesar 29,79
persen (Tabel 4.3.3).
Pada tahun 2015, persentase tertinggi penduduk yang
berobat jalan ke puskesmas dan puskesmas pembantu terjadi di
Provinsi Papua yaitu sebesar 63,53 persen. Sementara Bali
merupakan provinsi dengan persentase terkecil yaitu 18,69
persen Indikator penting lain dalam pembangunan di bidang
kesehatan adalah pelayanan kesehatan reproduksi dan

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 67


manusia; 2) Perhatian khusus pada gizi berdampak langsung
pada keuntungan di bidang pertanian dengan peningkatan
produksi untuk penyediaan kebutuhan pangan bagi masyarakat
dan menjaga keseimbangan lingkungan dengan
mempertahankan makanan berbasis pangan lokal; 3) Perbaikan
gizi merupakan langkah awal dalam pengembangan SDM dan
penurunan kemiskinan; 4) Gizi yang cukup dapat memperbaiki
kondisi pasca konflik; 5) Program perbaikan gizi merupakan
sebuah proses partisipasi yang mengedepankan HAM; dan 6)
Gizi yang cukup meningkatkan imunitas dan berperan pada
pencegahan penyakit tidak menular (PTM).
Apabila semua penduduk suatu bangsa memperoleh gizi
yang cukup, maka akan terlahir sumber daya manusia yang
berkualitas. Untuk itu kebijakan pembangunan terkait
perbaikan gizi perlu segera dilakukan. Berdasarkan data Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan,
diketahui bahwa jumlah balita yang menderita gizi buruk
mengalami peningkatan dari 5,40 persen pada tahun 2007
menjadi 5,70 persen pada tahun 2013. Begitu pula dengan
balita yang mengalami gizi kurang, naik dari 13,00 persen pada
tahun 2007 menjadi 13,90 persen pada tahun 2013 (Tabel
4.3.6).
Jumlah balita kurang gizi (gizi buruk ditambah gizi kurang)
naik dari 18,4 persen pada tahun 2007 menjadi 19,6 persen
pada tahun 2013. Walaupun keadaan ini sempat turun di tahun
2010 menjadi 17,9 persen. Adanya kenaikan persentase balita
yang kurang gizi diiringi dengan penurunan persentase balita
yang bergizi normal dan bergizi lebih. Hal ini mengindikasikan
bahwa kualitas gizi balita di Indonesia masih sedikit mengalami
penurunan sehingga keadaan ini membutuhkan perhatian lebih
dari pemerintah.
Pada tahun 2013, provinsi dengan persentase balita yang
menderita gizi buruk paling tinggi adalah Provinsi Papua Barat

70 | Sudirman
menjadi 252.027 pada tahun 2014. Provinsi Papua, Nusa
Tenggara Timur, dan Papua Barat merupakan provinsi
endemik malaria, hal ini dibuktikan dengan jumlah penderita
malaria yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan provinsi
lain selama periode tahun 2010-2014.

F. PENDIDIKAN
Pendidikan mempunyai peran utama untuk menyiapkan
sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak hanya sebagai aspek
pembangunan, pendidikan merupakan syarat mutlak untuk
mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Semakin tinggi tingkat
pendidikan satu bangsa mengindikasikan tingkat kemajuan dari
bangsa tersebut. Untuk itu pemerintah perlu membuat kebijakan
dan program yang tepat sasaran di bidang pendidikan seperti
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan agar seluruh
masyarakat dapat menikmati pendidikan secara merata yang secara
tidak langsung akan menjamin masa depan bangsa.
Salah satu tujuan pembangunan di bidang pendidikan yang
merupakan target nasional dalam SDGs yaitu menyelesaikan
pendidikan dasar dengan mampu membaca, menulis dan berhitung
cukup baik untuk memenuhi standar pembelajaran minimum.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dukungan ketersediaan
sarana dan prasarana yang memadai, seperti pembangunan dan
revitalisasi gedung-gedung sekolah sebagai upaya meningkatkan
partisipasi murid secara berkelanjutan.
1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan alat yang penting untuk
mengembangkan potensi kehidupan manusia. Hal ini sesuai
dengan yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003, Bab II Pasal III yang
menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dalam

72 | Sudirman
yang cukup signifikan dibandingkan dengan APM SD yang
cenderung stagnan (Gambar 4.6.).
Secara nasional nilai APM SD pada tahun 2015 sebesar
96,70 persen dan APM SMP sebesar 77,80 persen (Tabel 4.4.2
dan 4.4.3). Pada tahun 2015, Provinsi DI Yogyakarta adalah
provinsi dengan nilai APM SD paling tinggi yaitu sebesar 99,20
persen, sedangkan nilai APM SD yang paling rendah adalah
Provinsi Papua (78,60 persen). Untuk APM SMP, provinsi
dengan nilai tertinggi pada tahun 2015 adalah Provinsi Aceh
(85,6 persen) dan APM SMP terendah adalah Provinsi Papua
(54,1 persen). Indikator lain yang menunjukkan keberhasilan
pencapaian pembangunan berkelanjutan di bidang pendidikan
adalah pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk
usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan kualitas modal
sumber daya manusia pada usia kerja.
Penduduk usia kerja dengan ijasah minimal SMA
diharapkan memiliki keterampilan yang cukup untuk memasuki
pasar tenaga kerja sehingga secara tidak langsung akan
menurunkan tingkat pengangguran. Persentase penduduk usia
25-64 tahun dengan pendidikan tertinggi yang ditamatkan
minimal SMA selama periode 2010-2015 menunjukkan
peningkatan (Tabel 4.4.4). Secara nasional, persentase
penduduk usia 25-64 tahun yang berpendidikan minimal SMA
pada tahun 2015 tercatat sebesar 34,62 persen, di mana
persentase terbesar terdapat di Provinsi DKI Jakarta (62,75
persen) dan persentase terkecil terdapat di Provinsi Sulawesi
Barat (25,91 persen).
2. Melek Huruf
Menurut UNESCO melek aksara atau melek huruf adalah
kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti,
menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan

74 | Sudirman
G. DEMOGRAFI
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah
penduduk terbesar di dunia. Menempati urutan ke empat setelah
China, India dan Amerika Serikat. Menurut PBB, pada tahun 2015
jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 257,56 juta orang
atau sekitar 3,50 persen dari keseluruhan jumlah penduduk dunia.
Jumlah penduduk yang besar yang dimiliki oleh Indonesia
merupakan salah satu modal pembangunan sehingga harus
ditingkatkan kualitas sumber daya manusianya agar bermanfaat bagi
pembangunan. Namun juga dapat menimbulkan masalah seperti
pemukiman, penyediaan lapangan pekerjaan, sumber makanan dan
lain sebagainya. Penduduk adalah subyek dan sekaligus menjadi
obyek pembangunan.
Sebagai subyek pembangunan maka penduduk harus dididik,
dibina dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak
pembangunan. Sebagai objek pembangunan, penduduk juga harus
dapat menikmati hasil dari pembangunan. Dengan demikian
pembangunan harus memperhitungkan kemampuan penduduk
sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam dinamika pembangunan.
Pembangunan dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan
kesejahteraan penduduk dalam arti yang seluas-luasnya. Keadaan
dan kondisi kependudukan yang ada sangat mempengaruhi
dinamika pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Jumlah
penduduk yang besar jika diikuti dengan kualitas penduduk yang
memadai akan menjadi modal dan pendorong bagi pembangunan.
Sebaliknya jumlah penduduk yang besar jika kualitasnya rendah,
penduduk tersebut justru akan membebani pembangunan.
Salah satu permasalahan di bidang kependudukan adalah
besarnya jumlah penduduk dan sebarannya yang tidak merata.
Permasalahan tersebut telah mengakibatkan tidak meratanya hasil
pembangunan yang dilaksanakan.

76 | Sudirman
Rate/TFR). Angka kelahiran total menunjukkan rata-rata jumlah
anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita sampai akhir masa
reproduksinya.
Perkembangan estimasi angka kelahiran total selama periode
tahun 2012-2016 cenderung tetap yaitu 2,4. Pada tahun 2016,
estimasi angka kelahiran total Indonesia adalah 2,4 yang berarti
secara rata-rata wanita Indonesia usia 15-49 tahun mempunyai 2
atau 3 anak selama masa usia suburnya. Jika dilihat berdasarkan
provinsi, terdapat beberapa provinsi dengan estimasi angka
kelahiran total dibawah 2, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta
(Tabel 4.5.2).
Penurunan angka kelahiran total dapat menyebabkan
perubahan komposisi penduduk menurut kelompok umur dan akan
mempengaruhi angka beban ketergantungan. Angka beban
ketergantungan mengindikasikan dampak potensial dari perubahan
struktur umur penduduk terhadap pembangunan sosial dan
ekonomi. Angka beban ketergantungan yang kecil akan
memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif (kelompok
umur 15-64 tahun) untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Angka
beban ketergantungan yang tinggi menunjukkan bahwa penduduk
usia produktif menghadapi beban yang lebih besar untuk
mendukung dan memberikan layanan sosial yang dibutuhkan oleh
penduduk tidak produktif (anak-anak dan orang tua) yang sering
tergantung secara ekonomi.
Pada tahun 2012, angka beban ketergantungan tercatat sebesar
50,1, yang berarti setiap 100 orang penduduk usia produktif harus
menanggung sekitar 50 orang penduduk usia tidak produktif. Pada
tahun 2016, angka beban ketergantungan turun menjadi 48,3, yang
berarti ada penurunan beban tanggungan pada setiap penduduk
usia produktif (Gambar 4.8).
Angka beban ketergantungan tertinggi pada tahun 2016
terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu mencapai angka

78 | Sudirman
Indonesia termasuk wilayah yang rawan bencana alam. Gejala
atau peristiwa alam yang sering terjadi antara lain gunung meletus,
banjir, gempa bumi, badai atau angin topan, tsunami, kekeringan
dan tanah longsor.
Pemanasan global dan perubahan iklim yang disertai dengan
semakin menurunnya daya dukung lingkungan dapat meningkatkan
potensi terjadinya bencana alam/lingkungan. Bencana alam juga
dapat disebabkan oleh kerusakan hutan dan lahan, pelanggaran tata
ruang, dan kegiatan industri yang menggunakan bahan berbahaya
dan beracun.
Bencana alam erat kaitannya dengan pembangunan
berkelanjutan. Pembangunan yang tidak mempertimbangkan faktor
lingkungan akan memperbesar risiko terjadinya bencana alam.
Bencana alam juga akan menghambat jalannya proses
pembangunan. Untuk itu upaya pencegahan dan mitigasi bencana
harus dilakukan, untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam.
Bencana alam yang dibahas dalam subbab ini adalah bencana
banjir, gempa bumi dan tanah longsor. Banjir merupakan kejadian
bencana alam yang paling banyak menimpa desa-desa di Indonesia,
diikuti oleh tanah longsor dan gempa bumi.
Selama periode tahun 2008 sampai 2014, jumlah desa yang
mengalami bencana banjir tercatat berfluktuatif yaitu sebanyak
15.143 desa pada tahun 2008, kemudian menurun menjadi 14.732
desa pada tahun 2011 dan naik menjadi 16.830 desa pada tahun
2014 (Tabel 4.6.1).
Provinsi dengan jumlah desa yang mengalami kejadian bencana
banjir tertinggi pada tahun 2014 adalah Provinsi Aceh (1.649 desa),
diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah (1.273 desa) dan Jawa Timur
(1.218 desa). Sedangkan provinsi dengan jumlah desa yang
mengalami kejadian bencana banjir terendah yaitu Kepulauan Riau
(51 desa). Indonesia terletak di daerah dengan tingkat aktivitas
gempa bumi yang cukup tinggi. Hal tersebut sebagai akibat

80 | Sudirman
270.585 rumah, dengan perincian rusak berat sebanyak 81.733
rumah, dan rusak ringan tercatat sebanyak 188.852 rumah.
Pada tahun 2015, jumlah rumah yang mengalami rusak berat
sebagian besar terjadi di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah,
dan Jawa Barat yaitu berturut-turut sebanyak 4.019 rumah,
2.652 rumah dan 1.959 rumah (Tabel 4.6.4).

I. ATMOSFIR.
Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi dengan
ketinggian yang tidak terdefinisi. Atmosfer memiliki peran yang
sangat penting bagi kehidupan dan kelestarian bumi, karena
atmosfer dapat melindungi bumi dari jatuhnya benda angkasa dan
pancaran radiasi sinar matahari secara langsung. Kerusakan lapisan
atmosfer bumi dapat berakibat pada pemanasan global (global
warming) yang saat ini menjadi masalah besar yang sedang dihadapi
oleh seluruh penduduk di dunia.
Menurut beberapa ilmuwan, pemanasan global adalah suatu
proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan
bumi. Pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas tersebut sebenarnya
muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat
aktivitas manusia. Gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas di
atmosfer yang memiliki kemampuan untuk menyerap dan menahan
radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga
menyebabkan suhu di permukaan bumi semakin meningkat.
Menurut konvensi PBB mengenai perubahan iklim (United
Nation Framework Convention on Climate Change-UNFCCC),
ada 6 jenis gas yang digolongkan sebagai gas rumah kaca, antara
lain: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O),
hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfur
heksafluorida (SF6).

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 83


1. Emisi Karbon dioksida (CO2)
Meningkatnya jumlah gas karbon dioksida (CO2) di
atmosfer merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan
global. CO2 juga merupakan penyumbang utama dari gas
rumah kaca sebagai akibat dari kegiatan pembakaran bahan
bakar fosil di sektor energi, industri, transportasi, deforestasi
dan pertanian.
Meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer dapat
menimbulkan efek negatif bagi kondisi ekonomi, sosial, dan
lingkungan di berbagai negara di dunia. Perkiraaan emisi CO2
yang dihitung dalam publikasi ini adalah emisi CO2 dari bahan
bakar memasak dan emisi CO2 dari kendaraan bermotor.
Perkiraaan emisi CO2 dari bahan bakar memasak oleh rumah
tangga dihitung berdasarkan emisi dari penggunaan bahan
bakar gas, minyak tanah dan kayu bakar yang digunakan untuk
memasak.
Pada rentang tahun 2012-2014, perkiraan emisi CO2 dari
bahan bakar gas untuk memasak naik sebesar 3,14 juta ton,
yaitu dari 14,94 juta ton pada tahun 2012 menjadi 18,08 juta
ton pada tahun 2014, atau naik sekitar 17 persen dibandingkan
tahun 2012. Pada periode yang sama, perkiraan emisi CO2 dari
bahan bakar minyak tanah untuk memasak mengalami
penurunan sebesar 0,86 juta ton atau turun sebesar 29,7
persen. Sementara emisi CO2 yang dihasilkan dari kayu bakar
untuk memasak mengalami kenaikan yaitu sebesar 4.43 juta
ton atau sebesar 0,26 persen.
Perkiraan emisi CO2 yang berasal dari penggunaan
kendaraan bermotor dikontribusikan oleh emisi CO2 yang
berasal dari pemakaian bahan bakar bensin dan solar. Emisi
CO2 yang berasal dari kendaraan bermotor dalam rentang
tahun 2010-2014 cenderung meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Emisi CO2 dari

84 | Sudirman
ternak yang tertinggi pada tahun 2015 terdapat di Provinsi
Jawa Timur (383,83 ribu ton), sedangkan emisi CH4 dari
hewan unggas yang tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat
(14,62 ribu ton).
3. Bahan Perusak Ozon
Ozon (O3) merupakan lapisan yang berisi gas yang secara
alami berada di dalam atmosfer yang berfungsi menyerap
radiasi sinar ultraviolet dari matahari. Rusaknya lapisan ozon
juga dapat menyebabkan pemanasan global. Lapisan ozon
menyerap hampir 90 % sinar ultraviolet Tipe A dan dan Tipe
B dari matahari. Sinar Ultraviolet Tipe B sangat berbahaya
karena radiasinya dapat membunuh makhluk hidup dan
merusak kerak bumi.
Rusaknya atau menipisnya lapisan ozon diakibatkan oleh
meningkatnya penggunaan atau produksi barang yang
mengandung bahan kimia seperti klorin dan bromida yang
lebih dikenal dengan Bahan Perusak Ozon (BPO). Sampai saat
ini bahan perusak ozon (BPO) masih digunakan secara luas
pada berbagai kegiatan industri dan domestik. BPO masih
banyak digunakan pada produk-produk aerosol, foam, halon,
metal bromide, refrigasi, dan pelarut.
Jenis BPO ditentukan menurut Peraturan Menteri
Perdagangan Republik Indonesia No. 03/M-
DAG/PER/1/2012. Walaupun sudah ada larangan untuk
menggunakan BPO, tetapi masih ada yang mengimpor BPO
dalam jumlah terbatas, seperti terlihat pada Tabel 4.7.4.
4. Konsentrasi Gas SO2 dan NO2
Konsentrasi gas SO2 dan NO2 di udara merupakan salah
satu indikator yang memberikan ukuran kondisi kualitas udara.
Selain itu, konsentrasi gas SO2 dan NO2 secara tidak langsung
mengukur tingkat paparan penduduk terhadap polusi udara
khususnya di daerah perkotaan. Pengukuran rata-rata bulanan

86 | Sudirman
dan lingkungan hidup, sehingga kebakaran hutan bukan saja
berakibat buruk terhadap hutan dan lahannya sendiri, tetapi lebih
jauh akan mengakibatkan terganggunya proses pembangunan.
Kejadian kebakaran hutan di Indonesia cenderung meningkat
selama beberapa tahun ini. Sebagian besar kebakaran tersebut
disebabkan oleh kesengajaan manusia, seperti pembangunan hutan
tanaman industri, pembangunan perkebunan, perambah hutan dan
peladang yang mempersiapkan lahannya, dan sebagainya.
Pemantauan kerawanan hutan terhadap kejadian kebakaran
hutan dapat dideteksi melalui jumlah sebaran titik panas (hotspot).
Menurut LAPAN (2004), titik panas adalah parameter yang
diturunkan dari data satelit dan diindikasikan sebagai lokasi
kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan titik panas adalah salah
satu kegiatan pengendalian kebakaran lahan/hutan dengan
melakukan deteksi titik panas melalui bantuan Citra Satelit dengan
teknologi komputer dan perangkat Geograpghic Information System
(GIS) untuk mendapatkan data lokasi terjadinya titik
panas/kebakaran.
Selama periode 2010-2014, jumlah sebaran titik panas
berfluktuatif dengan jumlah titik panas paling banyak terjadi pada
tahun 2012 (34.789 titik panas) dan paling sedikit pada tahun 2010
(9.880 titik panas) (Tabel 4.8.6). Pada tahun 2014, terdapat
sebanyak 31.266 titik panas yang sebagian besar terdapat di Provinsi
Kalimantan Tengah (5.434 titik panas), Kalimantan Barat (5.381
titik panas), dan Riau (4.400 titik panas).

L. LAUT DAN PESISIR.


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia
dengan garis pantai terpanjang ke dua di dunia serta luas wilayah
laut mencapai hampir dua pertiga dari total wilayah. Potensi sumber
daya pesisir dan lautan yang besar ini merupakan sumber daya bagi
pembangunan nasional. Secara umum, laut merupakan pendukung

90 | Sudirman
Kawasan konservasi laut tersebut terdiri dari cagar alam (5
unit), suaka margasatwa (4 unit), taman wisata alam (14 unit),
dan taman nasional (7 unit). Masing - masing kawasan
konservasi mempunyai luas yang berbeda-beda, untuk kawasan
cagar alam mempunyai luas 152,61 ribu hektar, suaka
margasatwa 5,59 ribu hektar, taman wisata alam 491,25 ribu
hektar, dan taman nasional 4,04 juta hektar. Kawasan
konservasi laut terluas terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara
(1,51 juta hektar), diikuti oleh Provinsi Papua (1,45 juta
hektar).
3. Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan ekosistem bawah laut yang
terdiri dari sekelompok binatang karang yang membentuk
struktur semacam batu kapur yang menjadi habitat hidup
berbagai hewan laut. Ekosistem terumbu karang merupakan
ekosistem khas yang terdapat di wilayah pesisir dan laut tropis.
Terumbu karang memiliki peranan yang sangat besar, seperti
sebagai habitat untuk daerah asuhan (nursery ground), tempat
mencari makan (feeding ground), dan sebagai tempat pemijahan
(spawning ground) bagi berbagai biota yang hidup di terumbu
karang atau sekitarnya. Ekosistem terumbu karang dikenal
memiliki spesies yang bernilai ekonomis tinggi. Hal ini
disebabkan oleh besarnya variasi habitat yang terdapat di dalam
ekosistem terumbu karang.
Terumbu karang dunia berisiko mengalami bahaya besar
menjadi putih, terutama terjadi pada terumbu karang di Pasifik,
Atlantik dan Karibia. Pemutihan terumbu karang adalah
fenomena alam yang membuat terumbu karang memutih atau
memudar warnanya karena suhu air laut yang terus menerus
meningkat di atas rata-rata. US National Oceanic and Atmospheric
Administration (NOAA) memperingatkan hal ini akan
mempengaruhi lebih dari 38 persen terumbu karang di dunia

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 93


dan membunuh lebih dari 12.000 kilometer persegi terumbu
karang.
Terumbu karang mengalami berbagai ancaman termasuk
polusi, pengambilan ikan yang berlebihan, sedimentasi dan
kerusakaan akibat perahu dan pariwisata. Pemutihan terumbu
karang yang terjadi di dunia saat ini diperkirakan yang terburuk
dalam catatan karena adanya El Nino ([Link]) Luas
terumbu karang di Indonesia pada tahun 2015 tercatat seluas
2,34 juta hektar. Dari luas terumbu karang yang teridentifikasi,
terumbu karang yang berada dalam kondisi baik mencapai
30,84 persen, kondisi sedang 20,35 persen, dan kondisi rusak
mencapai 33,93 persen. Selain itu, terdapat terumbu karang
yang tidak diketahui kondisinya yaitu sekitar 14,88 persen
(Tabel 4.9.3).

M. AIR.
Air adalah sumber daya yang paling penting bagi umat
manusia, hal ini juga terkait dengan kegiatan di sektor sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Peran air ini yang kemudian diangkat
menjadi tema Hari Air Sedunia 2015, “Water and Sustainable
Development“ (Air dan Pembangunan Berkelanjutan). Hal ini
mengingat air memiliki peran yang penting dalam agenda
pembangunan berkelanjutan dan air terkait dengan semua aspek
yang dibutuhkan untuk menciptakan masa depan yang diinginkan.
Pentingnya peranan air bagi kehidupan, Sustainable
Development Goals (SDGs) memasukkan ke dalam indikator pada
tujuan 6 yaitu maenjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih
dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua. Salah satu indikator
pada tujuan tersebut dalam SDGs yaitu proporsi populasi yang
menggunakan layanan air minum yang dikelola secara aman.
Namun data tersebut belum tersedia saat ini, sehingga indikator
tersebut masih perlu dikembangkan.

94 | Sudirman
Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri
tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan
pengawetan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya.
Kawasan hutan konservasi dibedakan menjadi kawasan suaka
alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru. Yang
termasuk kawasan suaka alam ialah cagar alam dan suaka
margasatwa, yang mana kawasan ini mempunyai fungsi pokok
sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan,
satwa, dan ekosistemnya, serta berfungsi sebagai wilayah sistem
penyangga kehidupan. Sedangkan kawasan pelestarian alam
mencakup taman nasional, taman wisata alam dan taman hutan
raya.
Kawasan ini mempunyai fungsi pokok perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman
jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Total luas kawasan
konservasi daratan di Indonesia sampai dengan tahun 2014
mencapai sekitar 22,42 juta hektar (Tabel 4.11.1). Kawasan
konservasi daratan tersebut didominasi oleh taman nasional
yang mencapai 55,00 persen, diikuti oleh suaka margasatwa
(22,41 persen) dan cagar alam (17,66 persen).
2. Spesies Satwa dan Tumbuhan
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan
berusaha untuk menjaga kelestarian spesies satwa dan
tumbuhan yang terancam punah. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah melakukan penangkaran terhadap spesies
satwa dan tumbuhan tersebut. Sampai dengan tahun 2014,
tercatat ada sekitar 776 unit penangkaran satwa dan tumbuhan.
Unit penangkaran terbanyak adalah penangkaran spesies
mamalia yang mencapai 300 unit, diikuti penangkaran spesies
aves sebanyak 218 unit.

96 | Sudirman
Selain melakukan penangkaran spesies yang terancam
punah, identifikasi jumlah populasi yang terancam punah juga
penting dilakukan untuk memetakan seberapa banyak populasi
yang ada. Hal ini untuk memastikan kelestarian spesies tersebut
supaya jangan sampai benar benar punah.

O. PEMBANGUNAN EKONOMI.
Pada dasarnya tujuan pembangunan suatu negara adalah ingin
mencapai masyarakat yang adil dan makmur dalam hal pemenuhan
kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan,
pendidikan, dan keperluan sekundernya. Meningkatnya taraf hidup
masyarakat suatu negara menunjukkan adanya keberhasilan dalam
pembangunan ekonomi di negara tersebut.
Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara ditunjukkan
oleh tingginya angka pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Sehingga, untuk mencapai tujuan pembangunan, terkadang
pembangunan ekonomi lebih difokuskan pada upaya memacu
pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang semata mata
ditujukan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, sering kali tanpa
memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam dan lingkungan
sehingga membawa dampak negatif bagi alam dan juga bagi
masyarakat. Dampak negatif dari proses pembangunan ekonomi
dapat dikurangi melalui pelaksanaan pembangunan ekonomi yang
berwawasan lingkungan, sehingga pembangunan yang kita rasakan
sekarang ini juga bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Dalam tema pembangunan ekonomi, indikator–indikator yang
dapat merefleksikan kemajuan di bidang pembangunan ekonomi
antara lain produk domestik bruto, investasi, hutang luar negeri,
tabungan bruto, inflasi, penduduk bekerja, pariwisata, akses
terhadap internet dan telepon.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 97


kegiatan produksi) seperti pembayaran deviden dan bunga.
Indikator ini mengukur bagian dari pendapatan yang tersedia
untuk investasi atau mungkin untuk transfer modal ke seluruh
dunia.
Pada periode 2009-2014, tabungan bruto selalu mengalami
peningkatan yaitu dari Rp. 1.737,1 triliun pada tahun 2009
menjadi Rp. 3.653,1 triliun pada tahun 2014. Apabila dilihat
berdasarkan sektor, maka sektor yang paling banyak
berkontribusi terhadap peningkatan tabungan bruto selama
periode tersebut adalah sektor perusahaan swasta nonfinansial
dan sektor rumah tangga.
3. Investasi
Investasi menggambarkan masukan modal yang
diperlukan untuk mendorong proses pembangunan ekonomi.
Investasi baik berupa investasi domestik maupun luar negeri
dapat berdampak pada peningkatan kinerja pembangunan.
Semakin besar investasi suatu negara akan semakin besar pula
tingkat pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. Investasi juga
memperluas kesempatan kerja, mendorong kemajuan teknologi
dan spesialisasi dalam produksi sehingga meminimalkan
ongkos produksi serta penggalian sumber daya alam,
industrialisasi dan ekspansi pasar yang diperlukan bagi
kemajuan perekonomian. Di negara-negara berkembang,
peningkatan peran investasi dalam pertumbuhan ekonomi akan
memperkuat daya tahan perekonomian dari berbagai gejolak
dan meningkatkan kerjasama ekonomi global.
Peranan investasi dalam pembentukan PDB cenderung
mengalami peningkatan selama tahun 2006-2015 (Tabel
4.12.3). Pada tahun 2006, peran investasi dalam pembentukan
PDB mencapai 25,40 persen, kemudian cenderung meningkat
menjadi 34,56 persen pada tahun 2015. Kondisi seperti ini
menunjukkan semakin membaiknya iklim investasi di

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 99


berarti terdapat sekitar 6,18 persen penduduk usia kerja yang
menganggur. Persentase terendah penduduk usia 15 tahun ke
atas yang bekerja terdapat di Provinsi Aceh dan Provinsi
Maluku sebesar 90,07 persen, yang berarti sebesar 9,93 persen
penduduk usia 15 tahun ke atas di provinsi tersebut
menganggur.
Selain data mengenai penduduk usia kerja, masalah
ketenagakerjaan yang terkait dengan pembangunan ekonomi
berkelanjutan adalah data tentang pekerja yang rentan
kehilangan pekerjaannya. Pekerja dengan status berusaha
sendiri dan dibantu anggota rumah tangga atau pekerja tidak
dibayar dianggap sangat rentan, karena pada dasarnya tidak ada
pengaturan kerja formal sehingga tingkat keamanan pekerjaan
rendah dan kekurangan akses terhadap jaminan sosial.
Indikator ini memberikan informasi mengenai informalisasi
pasar tenaga kerja, yang mungkin berhubungan dengan
meningkatnya kemiskinan.
Berdasarkan data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional
(Sakernas) 2009-2015, terlihat bahwa persentase pekerja yang
rentan kehilangan pekerjaannya selalu menurun dari 58,33
persen pada tahun 2009 menjadi 46,84 persen pada tahun 2015
(Tabel 4.12.7). Persentase tertinggi pekerja yang rentan
kehilangan pekerjaannya pada tahun 2015 tercatat di Provinsi
Papua (80,05 persen), diikuti Provinsi Nusa Tenggara Timur
(75,54 persen).
Selain indikator ketenagakerjaan diatas, indikator
mengenai persentase pekerja wanita di sektor non pertanian
juga penting bagi pembangunan karena indikator ini
menunjukkan sejauh mana perempuan memiliki akses ke
pekerjaan yang dibayar. Hal ini menunjukkan sejauh mana
pasar tenaga kerja terbuka untuk perempuan di sektor industri
dan jasa yang mempengaruhi tidak hanya kesempatan kerja
yang sama bagi perempuan, tetapi juga efisiensi ekonomi

102 | Sudirman
meningkat. TIK sangat penting untuk mendukung
pembangunan berkelanjutan dan terkait erat dengan
pembangunan sosial, ekonomi, dan kelembagaan. TIK juga
merupakan faktor penting bagi banyak kegiatan ekonomi dan
meningkatkan pertukaran informasi antar warga. TIK yang
makin modern dianggap relatif ramah lingkungan, karena
merupakan pengganti potensial untuk transportasi dan relatif
rendah terhadap pencemaran lingkungan. Indikator tentang
TIK dapat dilihat dari persentase rumah tangga yang
mempunyai akses terhadap telepon, telepon seluler, komputer
dan internet.
Persentase rumah tangga yang mempunyai akses terhadap
telepon, telepon seluler, komputer, dan internet selama periode
2014-2015 mengalami peningkatan. Pada tahun 2015, rumah
tangga yang mempunyai akses terhadap komputer mempunyai
persentase sebesar 18,71 persen atau meningkat 1,41 persen
dibanding tahun 2014. Begitu pula rumah tangga dengan akses
internet juga meningkat persentasenya sebanyak 6,34 persen
menjadi 41,98 persen di tahun 2015. Persentase rumah tangga
yang mempunyai akses telepon seluler sebesar 88,04 persen di
tahun 2015 atau meningkat 1,09 persen dibanding tahun 2014.
Di satu sisi, persentase rumah tangga yang mempunyai
akses terhadap telepon mengalami penurunan sebesar 1,53
menjadi 4,01 persen di tahun 2015. Kontradiksi antara
peningkatan persentase rumah tangga yang memiliki akses
telepon seluler dengan penurunan persentase rumah tangga
yang mempunyai akses telepon menunjukkan bahwa saat ini
masyarakat cenderung lebih memilih menggunakan telepon
seluler dibandingkan telepon biasa karena kemudahan dalam
hal mobilitas.
Persentase tertinggi rumah tangga yang mempunyai akses
terhadap telepon seluler, komputer, dan internet pada tahun
2015 terdapat di Provinsi DKI Jakarta, berturut- turut sebesar

104 | Sudirman
perekonomian Indonesia karena sektor pariwisata relatif tahan
terhadap krisis ekonomi.

P. KERJASAMA EKONOMI GLOBAL.


Di era globalisasi sekarang ini, masyarakat makin dimudahkan
dalam melakukan kegiatan ekonomi dengan banyak orang di
banyak negara. Dalam konteks pembangunan ekonomi suatu
negara, jaringan dan kerjasama yang baik antar negara pun perlu
dilakukan sehingga kestabilan dan keadilan ekonomi makro dunia
bisa terjaga. Hal ini merupakan syarat tercapainya tujuan
pembangunan ekonomi berkelanjutan di dunia.
Bentuk kerjasama antar negara dalam bidang ekonomi dapat
berbentuk investasi langsung penanaman modal luar negeri,
pinjaman luar negeri, pinjaman bantuan pembangunan resmi, dan
perdagangan antar negara baik melalui ekspor maupun impor.
Nilai impor Indonesia selama periode 2010-2015 cenderung
berfluktuatif. Nilai impor Indonesia pada tahun 2010 tercatat
sebesar US$ 135,66 miliar, terus mengalami kenaikan hingga
menjadi US$ 191,69 miliar pada tahun 2012. Nilai impor tersebut
kemudian mengalami penurunan pada tahun 2013, 2014 dan 2015
yaitu berturut-turut menjadi US$ 186,63 miliar, US$ 178,18 miliar,
dan US$ 142,69 miliar. Selama tahun 2015, nilai impor Indonesia
terbesar berasal dari kawasan Asia yang mencapai US$ 105,02 miliar
atau sebesar 73,60 persen dari keseluruhan nilai impor Indonesia.
Jika dilihat berdasarkan negara, nilai impor Indonesia terbanyak
berasal dari negara China yang mencapai 20,61 persen dari total
nilai impor Indonesia, diikuti negara Singapura (12,63 persen) dan
Jepang (9,30 persen).
Selain indikator impor, indikator terkait kerjasama ekonomi
global yang lain adalah pinjaman luar negeri. Posisi pinjaman luar
negeri Indonesia dari tahun 2011-2015 terus mengalami kenaikan
setiap tahun. Posisi pinjaman luar negeri Indonesia pada tahun

106 | Sudirman
Pengiriman uang dari tenaga kerja ke negara asal mereka
(remitansi) berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan daerah. Remitansi merupakan sumber external
funding terbesar ketiga setelah penanaman modal asing langsung
dan pinjaman bantuan pembangunan resmi. Peranan remitansi yang
sebenarnya adalah untuk menyokong ekonomi keluarga berupa
pembiayaan pembangunan tempat tinggal dan usaha kecil serta
membantu penyediaan infrastuktur sosial seperti sekolah dan
rumah sakit. Remitansi memberikan arti penting bagi implementasi
tujuan pembangunan berkelanjutan. Persentase remitansi terhadap
pendapatan nasional selama periode 2007-2011 terus mengalami
penurunan dari 1,94 persen pada tahun 2007 menjadi 1,34 persen
pada tahun 2011. Sementara pada periode 2012- 2015, persentase
remitansi terhadap pendapatan nasional terus mengalami
peningkatan hingga mencapai 2,04 persen.

Q. KONSUMSI DAN POLA PRODUKSI


Pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan (Sustainable
Consumption and Production,SCP) adalah pola atau mekanisme
sistematik yang mengatur produksi dan konsumsi suatu produk
sehingga benar-benar mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin
keseimbangan ekosistem dan kesinambungan khususnya sumber
daya alam. Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan akan
memberikan multi-manfaat yang penting, yaitu: perubahan pola
konsumsi masyarakat efisien dan ramah lingkungan, pencegahan
pencemaran dan perusakan lingkungan, serta tumbuhnya kapasitas
industri produk dan jasa yang ramah lingkungan.
Mengurangi intensitas material pada produksi dan konsumsi
barang dan jasa sangat penting untuk perlindungan lingkungan dan
konservasi sumber daya alam. Pengurangan intensitas material
dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya alam yang lebih
efisien dalam produksi dan konsumsi, mendaur ulang limbah dan

108 | Sudirman
material yang sudah digunakan, dan pergeseran pola konsumsi
barang dan jasa yang kurang intensif.
1. Konsumsi Energi
Energi merupakan komponen utama dalam penyediaan
akses untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti
makanan dan transportasi, serta sangat penting dalam kegiatan
ekonomi khususnya kegiatan di bidang industri. Meskipun
secara umum energi telah dianggap sebagai mesin kemajuan
ekonomi, tetapi di sisi lain energi mempunyai dampak negatif
dan tekanan yang besar terhadap lingkungan. Konsumsi bahan
bakar fosil oleh sumber bergerak (transportasi) dan sumber
tidak bergerak (rumah tangga dan industri) merupakan sumber
utama pencemaran udara, sekaligus salah satu penyumbang
terbentuknya emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya
pemanasan global. Konsumsi energi setiap daerah akan
berbeda-beda jumlahnya tergantung besarnya penduduk,
aktivitas ekonomi penduduk, dan pola konsumsi penduduk.
Semakin besar jumlah penduduk maka konsumsi
energinya juga akan semakin besar. Konsumsi energi yang
tinggi akan menurunkan cadangan energi dan menurunkan
kualitas udara melalui polusi yang ditimbulkan. Untuk
menjamin energi yang berkelanjutan, 102 negara telah
bergabung dalam Energi Berkelanjutan untuk Semua (The
Sustainable Energy for All, SE4ALL) pada tahun 2014. SE4All
ditujukan untuk mengkatalis transformasi sistem energi dunia
menuju masa depan yang adil dan berkelanjutan. Mengubah
sistem energi dunia akan menyebabkan peluang investasi multi-
triliun dolar baru untuk menghilangkan kemiskinan energi,
mengintegrasikan dan menyeimbangkan sumber energi
konvensional dan terbarukan, mengatasi perubahan iklim dan
meningkatkan kemakmuran di negara-negara maju dan
berkembang.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 109


Efisiensi energi merupakan prioritas kebijakan yang
berkembang di banyak negara di seluruh dunia. Hal ini secara
luas diakui sebagai cara yang paling hemat biaya untuk
mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan energi,
termasuk keamanan energi, dampak sosial dan ekonomi dari
harga energi yang tinggi dan kekhawatiran tentang pemanasan
global dan perubahan iklim. Pada saat yang sama, efisiensi
energi dapat meningkatkan daya saing dan meningkatkan
kesejahteraan konsumen.
Pemakaian energi total termasuk biomasa terbesar di
Indonesia selama periode 2002- 2009 digunakan oleh sektor
rumah tangga, sedangkan pada tahun 2010-2014 didomininasi
oleh sektor industri (Gambar 4.14). Selama periode 2002-2014,
pemakaian energi di sektor industri, transportasi, dan non
energi mengalami peningkatan yang cukup signifikan
dibandingkan dengan sektor rumah tangga, komersial dan
sektor lainnya. Pada tahun 2014, pemakaian energi pada sektor
industri mencapai 433,58 juta SBM (setara barel minyak),
sementara pemakaian energi untuk rumah tangga sebesar
369,89 juta SBM, dan sektor transportasi sebesar 334,20 juta
SBM (Tabel 4.14.1).
2. Transportasi
Sistem transportasi merupakan salah satu pilar dasar dari
sebuah model pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
Sistem transportasi mempermudah masyarakat untuk
mengakses pelayanan sosial dasar, seperti kesehatan,
pendidikan, rekreasi, dsb. Sistem transportasi juga sangat
mendukung kegiatan ekonomi masyarakat melalui penyediaan
akses ke pasar dan lapangan kerja. Disisi lain, sektor
transportasi juga memberikan tekanan terhadap lingkungan
melalui konsumsi bahan bakar dan polusi udara yang
ditimbulkan dari kendaraan bermotor. Di kota-kota besar atau
wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, lalu lintas

110 | Sudirman
penumpang, bus, truk, kereta dll) terhadap total transportasi
barang di darat. Sarana transportasi kereta api baru tersedia di
Pulau Jawa dan Sumatera.
Produksi angkutan kereta api penumpang yang dihitung
dengan ratarata jarak perjalanan per penumpang (km/orang)
cenderung menurun selama periode 2011-2015. Sementara
angkutan kereta api barang yang dihitung dengan rata-rata jarak
angkut tiap ton barang (km/ton) cenderung fluktuatif. Pada
tahun 2015, rata-rata jarak perjalanan per penumpang di Pulau
Jawa dan Sumatera tercatat sebesar 68 km/orang, turun
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 73 km/orang.
Sementara rata-rata jarak angkutan barang tiap ton di Pulau
Jawa dan Sumatera tercatat sebesar 314 km/ton, naik dari
tahun sebelumnya (295 km/ton).

112 | Sudirman
Sumber : Komisi Pembangunan Berkelanjutan PBB Source United
Nation - Commission on Sustainable Development (UN-CSD)

B. Kerangka Kerja DSR oleh CSD, 2001


Pada September 2001, CSD telah mempublikasikan laporan
terbarunya mengenai indikator pembangunan berkelanjutan yang
merupakan hasil evaluasi program kerja selama tahun 1996 – 2000.
Hasil laporan tersebut merupakan presentasi akhir yang diharapkan
menjadi kerangka kerja dan merupakan indikator-indikator inti (the
core set indicators) yang disediakan bagi negara anggota dalam
mewujudkan usahanya untuk mengukur kemajuan hasil-hasil
pembangunan berkelanjutan yang telah dan akan dilaksanakan.

114 | Sudirman
Sebagian besar negara anggota yang telah menerapkan indikator
pembangunan berkelanjutan CSD menemukan bahwa sekumpulan
indikator awal CSD tahun 1996 dianggap masih terlalu banyak
sehingga kurang mudah untuk diterapkan.
Pada tahun 2001, indikator tersebut direvisi dan dikurangi
hingga tersisa sebanyak 58 indikator. Indikator tersebut tertuang
dalam kerangka kebijakan yang berorientasi tema dan sub tema, dan
telah disesuaikan dengan implementasi dari Agenda 21. Sebenarnya
indikator pokok hasil evaluasi CSD ini merupakan indikator pilihan
dari indikator pembangunan berkelanjutan yang dipublikasikan pada
tahun 1996, yang berjumlah sekitar 134 indikator.

Sumber : Komisi Pembangunan Berkelanjutan PBB Source United


Nation - Commission on Sustainable Development (UN-CSD)

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 115


mencakup isu yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan di
sebagian besar negara. Kedua, indikator ini memberikan informasi
penting yang tidak tersedia dari indikator inti lainnya dan ketiga,
indikator ini dapat dihitung oleh sebagian besar negara dengan data
yang tersedia ataupun dapat dihitung dengan waktu dan biaya yang
memungkinkan. Sebaliknya, indikator yang bukan bagian dari
indikator utama hanya relevan untuk sebagian kecil negara dan bisa
digunakan sebagai informasi pelengkap untuk indikator utama atau
tidak mudah tersedia untuk sebagian besar negara.
Sekumpulan indikator ini tetap mempertahankan kerangka
tematik/sub-tematik yang diadopsi pada tahun 2001. Dengan
demikian, tetap konsisten dengan praktek kebanyakan negara yang
menerapkan sekumpulan indikator pembangunan berkelanjutan
nasional. Indikator pembangunan berkelanjutan CSD yang di revisi
terdiri dari 14 tema (kemiskinan, kepemerintahan, kesehatan,
pendidikan, demografi, bencana alam, atmosfir, lahan, laut dan
pesisir, air, keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi,
kerjasama ekonomi global, serta konsumsi dan pola produksi), 44
sub-tema, 50 indikator utama, dan 46 indikator lain ( Data tersaji
dalam Lampiran 1).

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 117


118 | Sudirman
BAB V
DESAIN BERKELANJUTAN
(SUSTAINABLE DEVELOPMENT)

A. KOTA BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE CITY)


Menurut Brundtland (1987) kota berkelanjutan (sustainable city)
adalah kota yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Dalam perkembangan
konsep selanjutnya, kota berkelanjutan (sustainable city) dielaborasi
oleh Stern, Whitney & While (1992) sebagai suatu interaksi antara
sistem biologis dan sumberdaya, sistem ekonomi dan sistem sosial.,
meskipun dalam kelengkapan konsep berkelanjutan yang ada yaitu
Ekologi-Ekonomi-Sosial tersebut akan semakin menyulitkan
pelaksanaannya, namun jelas lebih bermakna dan gayut dengan
masalah khususnya negara berkembang. Sebagai contoh, dengan
masuknya tolok ukur sosial, sasaran keberlanjutan menjadi lebih
jelas dan terarah, antara lain dikaitkan dengan upaya pemerataan
sosial, penanggulangan dan penghapusan kemiskinan, keadilan
spasial dan lain-lain. Dengan demikian, maka konsep kota
berkelanjutan (sustainable city) berkembang lebih jauh, tidak lagi
terpaku pada konsep awal yang lebih terfokus pada pemikiran
kelestarian keseimbangan lingkungan semata-mata (Budihardjo &
Sujarto, 1999).
Jika kita simpulkan secara ringkas mengenai batasan
pengertiannya maka kota berkelanjutan (sustainable city) adalah :
“Kota yang dalam perkembangan dan pembangunannya mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat masa kini, mampu berkompetisi dalam ekonomi
global dengan mempertahankan keserasian lingkungan, vitalitas sosial,

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 119


(Elkin, [Link]., 1991; Newman, 1994). Lebih lanjut, melalui
perencanaan efisiensi penggunaan lahan, yang dikombinasikan
dengan skema daya listrik dan pemanasan, dan bangunan hemat
energi juga akan dapat mereduksi emisi-emisi polutan yang beracun.
(Nijkamp and Perrels, 1994; Owens, 1992). Kepadatan tinggi dapat
membantu membuat persediaan amenities (fasilitas-fasilitas) dan
yang secara ekonomis viable, serta mempertinggi keberlanjutan
sosial (Haughton and Hunter, 1994).
Masalah utama yang terjadi pada penerapan ide kota kompak
saat ini adalah anggapan bahwa ide ini bisa secara instan diterapkan
tanpa melihat kasus per kasus permasalahan yang dihadapi oleh
sebuah kota, di samping keharusan penyesuaian terhadap karakter
kota. Beberapa kebijakan transportasi dan tata guna lahan yang erat
dengan ide kota kompak menunjukkan pentingnya melihat kondisi
perkembangan kota (pola pergerakan/transportasi, pola tata guna
lahan), selain juga optimalisasi kebijakan yang diambil oleh
pemerintah setempat. Munculnya kota-kota yang tersebar ke dalam
wilayah pinggiran, berakibat kepada tersebarnya dan kurang
meratanya penyediaan pelayanan-pelayanan dari sub-sub urban.
Akibat lainnya adalah mahalnya biaya pembangunan infrastruktur,
meningkatnya kemacetan karena bertambahnya volume lalu lintas,
hilangnya banyak lahan pertanian, berkurangnya kenyamanan hidup
baik di kota maupun wilayah pinggiran, dan terancamnya kondisi
stabilitas pedesaan. Pada akhirnya, konsumsi energi bagi kota dan
warganya juga akan semakin besar dan tak terelakkan.
Dengan kepadatan populasi penduduk yang besar, maka
konsentrasi persoalan-persoalan lingkungan, konsumsi sumber-
sumber alam termasuk minyak khususnya, akan menjadi masalah
sebuah kota. Oleh karena itu merencana, mengelola dan mengatur
bentuk dan ruang kota dengan kebijakan publik yang benar, akan
menjadi satu faktor kunci keberhasilan penghematan. Pada
akhirnya, jika kebijakan dan prakteknya dapat ditemukan dan

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 123


dijalankan dengan benar, sudah dipastikan akan mendapatkan
efisiensi dan keuntungan yang besar.
Sulit untuk menerapkan konsep kota kompak (compact city)
secara utuh ke dalam perencanaan kota di negara berkembang
karena banyaknya permasalahan yang ada, antara lain :
1. Kurangnya infrastruktur sosial yang disebabkan oleh
pertumbuhan penduduk yang melebihi pertumbuhan
ekonomi.
2. Meningkatnya hunian liar (sgutter).
3. Spekulasi tanah.
4. Sulitnya urban redevelopment melalui demolisi
permukiman kumuh.
5. Lemahnya sistem transportasi public.
6. Kurangnya kapasitas perencanaan kota.

124 | Sudirman
B. PRINSIP SUSTAINABILITY REPORT
Secara keseluruhan, prinsip-prinsip ditujukan untuk mencapai
transparansi, sebuah nilai dan tujuan yang menjadi dasar dari semua
aspek dalam sustainability report. Transparansi dapat didefinisikan
sebagai pengungkapan informasi secara lengkap atas topik dan
indikator yang dibutuhkan dalam menggambarkan dampak serta
memungkinkankan pemangku kepentingan untuk terlibat dalam
pembuatan kebijakan, proses, prosedur, dan asumsi yang digunakan
untuk menyiapkan pengungkapan (GRI, 2006).
Prinsip-prinsip tersebut dibagi menjadi dua kelompok:
a. Prinsip pelaporan untuk menetapkan isi
- Materialitas : informasi dalam sebuah laporan harus mencakup
topik dan indikator yang menggambarkan dampak signifikan
dari ekonomi, lingkungan, dan sosial terhadap organisasi atau
yang dapat mempengaruhi penilaian dan kebijakan dari
pemangku kepentingan secara substantif
- Pelibatan stakeholder : organisasi harus mengidentifikasi para
pemangku kepentingannya dan menjelaskan dalam laporan
cara organisasi merespons harapan dan kepentingan dari
stakeholder
- Konteks sustainability: laporan harus memperlihatkan kinerja
organisasi dalam konteks sustainability yang lebih luas
- Kelengkapan: cakupan topik, indikator, dan definisi batasan
laporan harus menggambarkan dampak ekonomi, lingkungan,
dan sosial yang sigifikan dan memungkinkan stakeholder untuk
menilai kinerja organisasi dalam periode laporan berjalan
b. Prinsip pelaporan untuk menetapkan kualitas
- Keseimbangan: laporan harus menggambarkan aspek positif
dan negatif dari kinerja perusahaan untuk dapat
memungkinkan penilaian yang masuk akal terhadap
keseluruhan kinerja

126 | Sudirman
- Dapat diperbandingkan: isu-isu dan informasi harus dipilih,
dikumpulkan, dan dilaporkan secara konsisten
- Kecermatan: informasi yang dilaporkan harus cukup cermat
dan detail bagi stakeholder untuk menilai kinerja organisasi
- Ketepatan waktu: penyusunan laporan dilakukan berdasarkan
jadwal reguler dan informasi kepada stakeholder tersedia tepat
waktu ketika dibutuhkan dalam mengambil kebijakan
- Kejelasan: informasi harus disediakan dalam cara yang dapat
dimengerti dan diakses oleh pemangku kepentingan yang
menggunakan laporan
- Keterandalan: informasi dan proses yang digunakan dalam
penyiapan laporan harus dikumpulkan, direkam, dikompilasi,
dianalisis, dan diungkapkan dalam sebuah cara yang dapat
diuji dan dapat dibentuk kausalitas dan materialitas dari
laporan.

C. MANFAATSUSTAINABILITY REPORT
Menurut World Business Council for Sustainable
Development(WBCSD), manfaat yang didapat dari pengungkapan
sustainability reportantara lain :
1. Memberikan informasi kepada stakeholder(pemegang saham,
anggota komunitas lokal, pemerintah) sehingga meningkatkan
prospek perusahaan dan membantu mewujudkan
transparansi.
2. Membantu membangun reputasi sebagai alat yang
memberikan kontribusi untuk meningkatkan brand value,
market share, dan costumer loyality jangka panjang.
3. Menjadi cerminan bagaimana perusahaan mengelola
risikonya.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 127


4. Digunakan sebagai stimulasi leadership thinking dan performance
yang didukung dengan semangat kom-petisi.
5. Mengembangkan dan memfasilitasi pengimplemen-tasian dari
sistem manajemen yang lebih baik dalam mengelola dampak
lingkungan, ekonomi, dan sosial.
6. Mencerminkan secara langsung kemampuan dan kesiapan
perusahaan untuk memenuhi keinginan pemegang saham
untuk jangka panjang.
7. Membantu membangun ketertarikan para pemegang saham
dengan visi jangka panjang dan membantu
mendemonstrasikan bagaimana meningkatkan nilai
perusahaan yang terkait dengan isu sosial dan lingkungan.

128 | Sudirman
B. PARTISIPASI
SDGs dibangun secara partisipatif. PBB bekerja sama dengan
beberapa lembaga mitranya telah menyelenggarakan survei warga,
yang disebut sebagai Myworld Survey ([Link]
Hasil survei hingga November tanggal 21 pukul 11.34 telah
mengumpulkan sebanyak 8, 5 juta lebih suara (persisnya 8.583.717
untuk semua negara). Untuk seluruh dunia, empat prioritas menjadi
usulan yaitu pendidikan yang bermutu, kesehatan yang lebih baik,
kesempatan kerja lebih baik, dan tata pemerintahan yang jujur dan
tanggap. Untuk Indonesia, telah terkumpul 38 ribu suara (persisnya
38.422 suara), dengan prioritas yang sedikit berbeda dengan
prioritas global yaitu;pendidikan yang bermutu, kesehatan yang
baik, tata pemerintahan yang jujur dan tanggap, serta kesempatan
kerja yang lebih baik. Survei mengajak warga untuk memilih enam
di antara 16 keadaan yang lebih baik untuk masa depan. Meksiko
menjadi negara yang paling banyak menyumbang suara, dengan
jumlah lebih dari 1,6 juta suara. Survei ini diadakan sejak 2013
hingga 2015, untuk menjadi masukan bagi Sekjen PBB dan para
pemimpin dunia yang merumuskan dan mengesahkan SDGs pada
September 2015.
C. TUJUAN SDG’S
1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun

2. Menghilangkan kelaparan. mencapai ketahanan pangan


dan gizi yang baik. serta meningkatkan pertanian
berkelanjutan.
3. Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan
Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia.
4. Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata
Serta Meningkatkan Kesempatan Belajar Sepanjang Hayat
Untuk Semua.
5. Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum
Perempuan.

130 | Sudirman
132 | Sudirman
DAFTAR PUSTAKA

Agung, J., Bambang Kusmiarso, Bambang Pramono, Erwin G


Hutapea, Andry
Akerlof, G, William Dickens, and George Perry (1996). The
macroeconomics of low inflation. Brookings Papers on
Economic Activity.
Alamsyah, Halim, Charles Joseph, Juda Agung, and Doddy
Zulverdy (2001). Framework for Implementing Inflation
Targeting in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic
Studies, December.
Anonim (1990), The Interparliamentary Conference on the Global
Environment. April 29-May 2, 1990. Washington D.C.
Arief, Sritua and Adi Sasono (1980) Indonesia: Dependency and
Underdevelopment. Meta, Kuala Lumpur.
Badan Pusat Statistik dan Macro International. 2008. Indonesia
Demographic and Health Survey 2007. Calverton, Maryland,
USA: BPS and Macro International.
Badan Pusat Statistik dan ORC Macro. 2003. Indonesia
Demographic and Health Survey 2002-2003. Calverton,
Maryland, USA: BPS and ORC Macro.
Badan Pusat Statistik, BKKBN, Kemenkes, and ICF Internasional.
2013. Indonesia Demographic and Health Survey 2012.
Jakarta, Indonesia: BPS, BKKBN, Kemenkes, and ICF
Internasional.
Badan Pusat Statistik, BKKBN, Kemenkes, dan Macro
Intemational Inc. 1998. Indonesia Demographic and Health
Survey 1997.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 133


BNPB. 2014. Indeks Risiko Bencana Indonesia Tahun 2013.
Jakarta: BNPB.
BPJS Ketenagakerjaan. 2013. Laporan Berkelanjutan 2016. Jakarta:
BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan. 2014. Laporan
Tahunan 2014. Jakarta: BPJS Ketenagakerjaan.
BPJS Ketenagakerjaan. 2016. Resume Laporan Pengelolaan
Program (Audited) 2015. Jakarta: BPJS Ketenagakerjaan.
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia Tahun 2011.
Jakarta: BNPB.
Budiati, Indah, dkk. 2015. Kajian Indikator Lintas Sektor: Potret
Awal Pembangunan Pasca MDGs, Sustainable Development
Goals (SDGs). Jakarta: BPS.
Calverton, Maryland: CBS and MI.
Conway, G.R. and E.B. Barbier (1990) After the Green Revolution:
Sustainable Agriculture for Development. London, Earthscan
Publication Ltd.
Danusaputro, Munadjat, 1985, Hukum Lingkungan Buku I :
Umum, Binacipta, Bandung.
Davidson., 1989, Environmental Considerations in Loan
Documentation, dimuat dalam The Banking Law Journal Vol.
108 No. 4 Juli-Agustus.
Department of Information Republic of Indonesia (1991)
Indonesia 1991: An Official Handbook. Department of
Information, Directorate of Foreign Information Services.
Djajadinigrat, 2001 Untuk Generasi Masa Depan: “Pemikiran,
Tantangan dan Permasalah Lingkungan”, ITB.
Djajadiningrat, S.T. (1992) Konsep Pembangunan Berkelanjutan
dalam Membangun Tanpa Merusak Lingkungan. Kantor
Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Elang Lilik, 2003 Kumpulan Makalah Perubahan Lingkungan
Global dan kerjasama Internasional, IPB

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 135


Fauzi.A. 2004, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan,
Teori dan Aplikasi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Heal, G.1998 Valuing the Future : Economic Theory and
Sustainability. Columbia University [Link] York.
[Link]
diakses pada November 2016
[Link] diakses pada Desember 2016
[Link] di akses pada bulan
desember 2016 [Link] diakses pada
November 2016
[Link]
15/month/12 diakses pada Oktober 2016
[Link] di akses pada bulan desember 2016
[Link] diakses pada Desember 2016
[Link] diakses pada Desember 2016
[Link] diakses pada November
2016
[Link] diakses pada November 2016
[Link] diakses pada Oktober 2016 Iconesia. 2015.
IUCN, UNEP dan WWF (1993) Bumi, Wahana Strategi Menuju
Kehidupan yang Berkelanjutan. PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2016. Kelautan dan
Perikanan Dalam Angka 2015. Jakarta: Kementerian Kelautan
dan Perikanan.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia
Tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Profil Kesehatan Indonesia
Tahun 2014. Jakarta: Kemenkes RI.

136 | Sudirman
Kementerian Perhubungan. 2016. Buku Informasi Transportasi
2015. Jakarta: Kementerian Perhubungan.
Kementerian Perhubungan. 2016. Statistik Perhubungan 2015 Buku
I. Jakarta: Kementerian Perhubungan.
Kementerian Perhubungan. 2016. Statistik Perhubungan 2015 Buku
II. Jakarta: Kementerian Perhubungan.
Kementrian Kesehatan RI. 2013. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Laporan Survei Kepuasan Badan Pusat Statistik (BPS). Jakarta.
Nuraini, dkk. 2016. Profil Penduduk Indonesia Hasil Supas 2015 .
Jakarta: BPS.
Nuraini. 2011. Fertilitas Penduduk Indonesia Hasil Sensus
Penduduk 2010. Jakarta: BPS.
Pasmuko, Nugroho J Prastowo (2001). Credit Crunch in Indonesia
in the Aftermath of the Crisis: Facts, Causes and Policy
Implications. Bank Indonesia, Directorate of Economic
Research and Monetary Policy.
Pearce, D.W. and J.J. Wardford (1993) World Without End,
Economics, Environment and Sustainable Development.
Oxford University Press.
Penny K. Lukito. MCP. Ph.D. 2013. Kebijakan Subsidi Untuk
Pelayanan Air Minum Yang Berkeadilan Bagi Masyarakat
Miskin Di Perkotaan. Jurnal Perencanaan Pembangunan Vol.
XIX no.1. Jakarta: Bappenas.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: Pm 69 Tahun 2013
Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015
Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Dasar 2011/2012.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.

138 | Sudirman
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Menengah Atas
2011/2012. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2011/2012. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2011/2012. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Pendidikan Anak Usia Dini
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Dasar 2012/2013.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Menengah Atas
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Pendidikan Anak Usia Dini
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Dasar 2013/2014.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Menengah Atas
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Pendidikan Anak Usia Dini
2014/2015. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Sekolah Dasar 2014/2015.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 139


PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Sekolah Luar Biasa
2014/2015. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Sekolah Menengah Atas
2014/2015. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2014/2015. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2014/2015. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2016. Statistik Sekolah Dasar 2015/2016.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2016. Statistik Sekolah Luar Biasa
2015/2016. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2016. Statistik Sekolah Menengah Atas
2015/2016. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2016. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2015/2016. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2016. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2015/2016. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2014.
Hipertensi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2014.
Malaria. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2014. Situasi
dan Analisis HIV AIDS. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Ramadani Ganis & Suwito, Hardjo., 1988, Peranan Monitoring
Lingkungan untuk Menjaga Kualitas Lingkungan (Makalah),
Samarinda.
Redecon,ADB, 1990 Indonesia Economic Policies For Sustainable
Development, ADB Publication.

140 | Sudirman
Rostow, W.W. (1971) The Stage of Economic Growth. Cambridge
University Press.
Salim, Emil., 1976, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Cetakan
Kesepuluh, Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Sekretariat PROPER KLHK. 2015. PROPER 2015. Jakarta:
Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan.
Subdirektorat Statistik Politik dan Keamanan. 2014. Statistik
Kriminal 2014. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Politik dan Keamanan. 2016. Statistik
Kriminal 2016. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2013. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2012. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2014. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2013. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2015. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2014. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2015. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2015. Jakarta: BPS.
Sutamihardja, 2004 Perubahan Lingkungan Global; Program Studi
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sekolah
Pascasarjana; IPB.
Sutoyo, Agus., 1997, Pembinaan dan Pendidikan Kepedulian
Lingkungan (artikel), Harian Angkatan Bersenjata.
Syafrudin, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC. United
Nations. 2016.
The Sustainable Development Goals Report 2016. New York:
United Nations.
Todaro, M.P. (1989) Economic Development in the Third World,
Fourth Edition. Longman Group Limited.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 141


World Bank Group. 2016. Migration and Remittances Factbook
2016 Third Edition. Washinton, DC:Wolrd Bank.
World Bank. 2015. Adjusting to a changing world. Washington:
World Bank.

142 | Sudirman
SATUAN / UNIT

Barel / barrel : 158,99 liter/litres = 1/6,2898


m3
Kilometer (km) / kilometers (km) : 1 000 meter/meters (m)
Kwintal (kw) / quintal (ql) : 100 kg
MSCF : 1/35,3 m3
Metric ton (m. ton)/metric ton ([Link]) : 0,98421 long ton= 1000 kg
ton / ton : 1 000 kg

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 143


SINGKATAN :
ADHB : Atas Dasar Harga Berlaku
AHH : Angka Harapan Hidup
AIDS : Acquired Immuno Deficiency Syndrome
AKB : Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate
(IMR)
AMH : Angka Melek Huruf / Literacy Rate
API : Annual Parasite Incidence
APM : Angka Partisipasi Murni Net Enrollment Ratio
(NER)
BCG : Bacillus Calmette Guerin
BMKG : Badan Meteorologi, Klimatologi dan
Meteorology, Climatology Ana Geofisika Geophysics
Agency
BOD : Biochemical Oxygen Demand
BPO : Bahan Perusak Ozon Ozone Depleting Substance
(ODS)
CIF : Cost Insurance and Freight
COD : Chemical Oxygen Demand
CSD : Commission on Sustainable Development
DPT : Difteri Pertusis Tetanus
DSD : Division for Sustainable Development
DSR : Driving Force-State-Response
GK : Garis Kemiskinan Poverty Line
GNI : Gross National Income
GRK : Gas Rumah Kaca Green House Gases

144 | Sudirman
(GHG) HIV : Human Immunodeficiency Virus
IPCC : Intergovernmental Panel on Climate Change
KB : Keluarga Berencana Family Planning
KTT : Konferensi Tingkat Tinggi High Level
Conference
MDGs : Millenium Development Goals
NSB : Negara Sedang Berkembang Less Development
Countries
ODA : Official Development Asistance
PDB : Produk Domestik Bruto Gross Domestic
Product (GDP)
PDRB : Produk Domestik Regional Bruto Gross
Regional Domestic Product (GRDP)
PNB : Produk Nasional Bruto Gross National Product
(GNP)
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat Public Health
Center
Pustu : Puskesmas Pembantu Subsidiary Public Health
Center
Sakernas : Survei Angkatan Kerja Nasional National Labor
Force Survey
SBM : Setara Barel Minyak Barrel Oil Equivalent (BOE)
SP : Sensus Penduduk Population Census
SUPAS : Survei Penduduk Antar Sensus Inter Censal
Population Survey
SUSENAS : Survei Sosial Ekonomi Nasional National Socio
Economic Survey
OECD : Organization for Economic Cooperation and
Development

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 145


TB : Tuberculosis
TFR : Total Fertility Rate
WCED : World Commission on Environmental and
Development
WHO : World Health Organization
WTO : World Trade Organization

146 | Sudirman
BIOGRAFI PENULIS

SUDIRMAN merupakan anak keempat dari


empat bersaudara, lahir di Teluk Pandak
Kabupaten Muaro Bungo Provinsi Jambi
tanggal 13 Agustus 1974 yang merupakan
putra dari (alm) Bapak Muhammad Idris
Arsyad, yang beralamatkan di Jl. TP. Sriwijaya
RT.10 Kelurahan Beliung Kec. Alam Barajo
Kota Jambi. Pendidikan S1 dengan jurusan
Ekonomi Pembangunan di Universitas Negeri
Jambi, S2 di Institut Agama Islam Negeri
Jambi (IAIN STS) jurusan Ekonomi Islam, pendidikan S3 di
Universitas Trisakti Jakarta dengan jurusan Islamic Economic and
Finance (IEF).
Saat ini penulis sebagai Dosen tetap di Universitas Batanghari
(UNBARI) di Fakultas Ekonomi pada Program Studi Ekonomi
Pembangunan sebagai Ketua Program Studi Ekonomi
Pembangunan. Ada beberapa Mata Kuliah yang di ampuh
diantaranya: 1. Ekonomi Islam, 2. Ekonomi Makro, 3. Ekonomi
Mikro, 4. Ekonomi Pembangunan dan Metodologi Penelitian
Penulis juga aktif dalam penelitian yang diterbitkan dalam
sebuah jurnal ilmiah salah satu penelitian yang di terbitkan di jurnal
International adalah “Effect of Government Expenditure, Invesment, Work
Force on Economic Growth in The Provinse Jambi” IOSR Journal Economic
an Finance., India 2016. Mengajar di beberapa perguruan tinggi
diantaranya di Universitas Batanghari, IAIN STS Jambi, Universitas
Trisakti dan STIE Muhammadiyah Jambi.

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan | 147

Anda mungkin juga menyukai