Paradigma Pembangunan Berkelanjutan
Paradigma Pembangunan Berkelanjutan
PARADIGMA PEMBANGUNAN
A. PARADIGMA UMUM
Pembangunan manusia tidak saja bermaksud membina
hubungan dan kehidupan setiap orang untuk hidup bermasyarakat,
melainkan juga untuk membangun masyarakat karena setiap satuan
masyarakat memiliki community power. Menurut Nelson W. Polsby
dalam The International Encyclopedia of the Social Sciences (1972)
sebagaimana dikutip Ndraha (1987:40) bahwa suatu masyarakat bisa
kehilangan kekuatannya jika masyarakat itu mengalami community
disorganization, karena itu untuk mengatasinya, maka community
development atau pembangunan masyarakat dilancarkan.
Pengertian perubahan sosial yang direncanakan dan diarahkan
adalah suatu usaha yang direncanakan untuk memodifikasi sikap
dan tingkah laku individu atau kelompok yang dijadikan sasaran
perubahan, yang dilakukan oleh agen perubahan dengan cara
memperkenalkan ide-ide baru atau mengadakan inovasi ke dalam
sistem sosial untuk mencapai tujuan seperti yang direncanakan oleh
para agen tersebut atau organisasinya (pemerintah, LSM, dan
kelompok-kelompok dalam masyarakat). Birokrasi merupakan agen
perubahan sosial. Birokrasi meliputi birokrasi publik (yang
beraktivitas dalam struktur pemerintahan) dan birokrasi privat
(yang beraktivitas dalam kehidupan organisasi swasta).
Pelaksanaan pembangunan pada negara-negara yang sedang
berkembang dengan strategi ekonomi, ternyata tidak menjamin
distribusi pendapatan nasional dan harapan “trickle down effect”,
bahkan tidak menguntungkan sekelompok masyarakat miskin
(Supriatna, 2003:15). Strategi pembangunan dengan pertumbuhan
2| Sudirman
1. Siagian (1992:1): Suatu usaha atau rangkaian dari
perubahan yang berencana yang dilaksanakan secara sadar
oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah dalam rangka
pembinaan bangsa
2. Tjokroamidjojo (1992:13): Proses pengendalian usaha
(administrasi) negara/pemerintah untuk merealisasikan
pertumbuhan yang direncanakan kearah suatu keadaan
yang dianggap lebih baik demi kemajuan di dalam berbagai
aspek kehidupan bangsa.
3. Supriatna (2003:29): Sebagai sistem mencakup komponen
a) masukan terdiri dari nilai, sumber daya manusia dan
alam, budaya, kelembagaan masyarakat; b) proses,
kemampuan organisasi dan manajemen pemerintahan
dalam melaksanakan program pembangunan; c) keluaran,
berupa perubahan kualitas perilaku manusia yang berakses
pada kognisi, afeksi dan keterampilan yang berkaitan
dengan taraf hidupnya.
Dari beberapa pengertian atau definisi tentang pembangunan
itu, dapat disimpulkan bahwa pembangunan mengandung
pengertian:
1. Pembangunan sebagai suatu perubahan dalam arti
mewujudkan suatu kondisi kehidupan masyarakat yang
lebih baik.
2. Pembangunan sebagai suatu proses usaha/kegiatan
perubahan yang secara sadar dilakukan, artinya
pembangunan didasarkan pada suatu rencana yang
disusun secara baik untuk satu kurun waktu tertentu.
3. Pembangunan sebagai pertumbuhan yaitu kemampuan
suatu bangsa untuk terus berkembang baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
4. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
6| Sudirman
5. Bert F. Hoselitz
Membahas faktor-faktor non ekonomi yg ditinggalkan Rostow
yang disebut faktor “kondisi lingkungan”. Kondisi lingkungan
maksudnya adalah perubahan-perubahan pengaturan kelembagaan
yg terjadi dalam bidang hukum, pendidikan, keluarga, dan motivasi.
6. Alex Inkeles & David H. Smith
Ciri-ciri manusia modern:
a. Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru.
b. Berorientasi ke masa sekarang dan masa depan.
c. Punya kesanggupan merencanakan.
d. Percaya bahwa manusia bisa menguasai alam
Bila dalam teori Modernisasi Klasik, tradisi dianggap sebagai
penghalang pembangunan, dalam teori Modernisasi Baru, tradisi
dipandang sebagai faktor positif pembangunan. Teori Modernisasi,
klasik maupun baru, melihat permasalahan pembangunan lebih
banyak dari sudut kepentingan Amerika Serikat dan negara maju
lainnya.
C. TEORI DEPENDENSI
Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan
keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia
Ketiga. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik
terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang
didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini mencermati hubungan
dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat
sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya
menghasilkan akibat yang akan merugikan Dunia Ketiga. Negara
sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketiga
dengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara
pinggiran ke negara sentral.
Teori ini berpangkal pada filsafat materialisme yang
dikembangkan Karl Marx. Salah satu kelompok teori yang
10 | Sudirman
Tabel 1
Perbandingan antara Teori Dependensi dan Teori Sistem Dunia
16 | Sudirman
C. STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
1. Pembangunan yang Menjamin Pemerataan dan
Keadilan Sosial.
Pembangunan yang berorientasi pemerataan dan keadilan
sosial harus dilandasi hal-hal seperti ; meratanya distribusi
sumber lahan dan faktor produksi, meratanya peran dan
kesempatan perempuan, meratanya ekonomi yang dicapai
dengan keseimbangan distribusi kesejahteraan. Namun
pemerataan bukanlah hal yang secara langsung dapat
dicapai. Pemerataan adalah konsep yang relatif dan tidak
secara langsung dapat diukur. Dimensi etika pembangunan
berkelanjutan adalah hal yang menyeluruh, kesenjangan
pendapatan negara kaya dan miskin semakin melebar,
walaupun pemerataan dibanyak negara sudah meningkat.
Aspek etika lainnya yang perlu menjadi perhatian
pembangunan berkelanjutan adalah prospek generasi masa
datang yang tidak dapat dikompromikan dengan aktivitas
generasi masa kini. Ini berarti pembangunan generasi masa
kini perlu mempertimbangkan generasi masa datang dalam
memenuhi kebutuhannya.
2. Pembangunan yang Menghargai Keanekaragaman.
Pemeliharaan keanekaragaman hayati adalah prasyarat untuk
memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara
berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang.
Keanekaragaman hayati juga merupakan dasar bagi
keseimbangan ekosistem.. Pemeliharaan keanekaragaman
budaya akan mendorong perlakuan yang merata terhadap
setiap orang dan membuat pengetahuan terhadap tradisi
berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti.
3. Pembangunan yang Menggunakan Pendekatan
Integratif.
Pembangunan berkelanjutan mengutamakan keterkaitan
antara manusia dengan alam. Manusia mempengaruhi alam
22 | Sudirman
jawab yang bersifat “Common but differentiated”. Negara-negara
maju mengakui tanggung-jawab nya dalam upaya internasional
untuk pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan tekanan
masyarakatnya terhadap lingkungan global, serta teknologi dan
sumberdaya keuangan yang mereka kuasai.
Prinsip 8 .
Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan kualitas
kehidupan yang lebih tinggi bagi seluruh rakyatnya, negara harus
mengurangi dan menghilangkan pola-pola produksi dan konsumsi
yang tidak berkelanjutan dan mempromosikan kebijakan
demografis yang lebih sesuai.
Prinsip 9 .
Negara-negara harus bekerjasama untuk memperkuat
pembangunan kapasitas endogen untuk pembangunan
berkelanjutan dengan meningkatkan pemahaman ilmiah melalui
pertukaran pengetahuan ilmiah dan teknologi; peningkatan
pengembangan , adaptasi , difusi dan transfer teknologi , termasuk
teknologi baru dan inovatif .
Prinsip 10 .
Isu-isu lingkungan paling bagus ditangani dengan partisipasi
seluruh warga masyarakat, sesuai dengan tingkatannya. Di tingkat
nasional , setiap individu harus memiliki akses yang tepat terhadap
informasi tentang lingkungan yang diselenggarakan oleh otoritas
publik, termasuk informasi mengenai bahan-bahan dan aktivitas
yang berbahaya dalam komunitasnya , dan kesempatan untuk
berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan . Negara harus
memfasilitasi dan mendorong kesadaran masyarakat dan
partisipasinya dengan menyediakan informasi seluas-luasnya. Akses
yang efektif terhadap proses peradilan dan administratif , termasuk
ganti rugi dan remediasi, harus disediakan sebaik-baiknya.
Prinsip 11 .
Negara-negara harus memberlakukan undang-undang
lingkungan yang efektif . Standar lingkungan , tujuan pengelolaan
24 | Sudirman
dan prioritasnya harus mencerminkan konteks lingkungan dan
pembangunan yang mereka terapkan. Standar yang diterapkan oleh
suatu negara mungkin tidak sesuai bagi negara lain, dan
menimbulkan biaya ekonomi dan biaya sosial bagi negara-negara
lain , khususnya di negara berkembang .
Prinsip 12 .
Negara-negara harus bekerjasama untuk mempromosikan
sistem ekonomi internasional yang mendukung dan terbuka yang
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
berkelanjutan di semua negara; untuk lebih baik mengatasi masalah
kerusakan lingkungan. Langkah-langkah kebijakan perdagangan
untuk tujuan lingkungan tidak harus merupakan sarana diskriminasi
sewenang-wenang atau pembatasan terselubung terhadap
perdagangan internasional. Tindakan sepihak untuk menghadapi
tantangan lingkungan di luar yurisdiksi negara pengimpor harus
dihindari. Langkah-langkah untuk menangani masalah lingkungan
lintas batas atau global sejauh mungkin harus didasarkan pada
konsensus internasional.
Prinsip 13 .
Negara-negara harus mengembangkan hukum nasional tentang
kewajiban dan kompensasi bagi para korban pencemaran dan
kerusakan lingkungan lainnya . Negara-negara juga harus
bekerjasama secara cepat dan lebih terukur untuk mengembangkan
hukum internasional tentang kewajiban dan kompensasi akibat
dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan di dalam
kawasan yurisdiksi suatu Negara terhadap kawasan di luar
yurisdiksinya.
Prinsip 14.
Negara-negara harus bekerjasama secara efektif untuk
menghapus atau mencegah relokasi dan transfer ke Negara lain
sesuatu kegiatan dan substansi (materi, zat) yang menyebabkan
degradasi lingkungan yang parah atau berbahaya bagi kesehatan
manusia.
E. PENDEKATAN PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN
Secara ideal keberlanjutan pembangunan membutuhkan
pendekatan pencapaian terhadap keberlanjutan ataupun
kesinambungan berbagai aspek kehidupan yang mencakup;
keberlanjutan ekologis, ekonomi, sosial budaya, politik, serta
keberlanjutan pertahanan dan keamanan
1. Keberlanjutan Ekologis
Keberlanjutan ekologis adalah prasyarat untuk
pembangunan dan keberlanjutan kehidupan. Keberlanjutan
ekologis akan menjamin keberlanjutan ekosistem bumi. Untuk
menjamin keberlanjutan ekologis harus diupayakan hal-hal
sebagai berikut:
a. Memelihara integritas tatanan lingkungan agar sistem
penunjang kehidupan dibumi tetap terjamin dan sistem
produktivitas, adaptabilitas, dan pemulihan tanah, air,
udara dan seluruh kehidupan berkelanjutan.
b. Tiga aspek yang harus diperhatikan untuk memelihara
integritas tatanan lingkungan yaitu ; daya dukung, daya
asimilatif dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya
terpulihkan. ketiga untuk melaksanakan kegiatan yang
28 | Sudirman
berkesinambungan, dan meningkatkan pemerataan dan
distribusi kemakmuran. Hal tersebut diatas dapat dicapai melalui
kebijaksanaan makro ekonomi mencakup reformasi fiskal,
meningkatkan efisiensi sektor publik, mobilisasi tabungan
domestik, pengelolaan nilai tukar, reformasi kelembagaan,
kekuatan pasar yang tepat guna, ukuran sosial untuk
pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan distribusi
pendapatan dan aset.
3. Keberlanjutan Ekonomi Sektoral
Penyesuaian kebijakan yang meningkatkan keberlanjutan
ekonomi makro secara jangka pendek akan mengakibatkan
distorsi sektoral yang selanjutnya mengabaikan keberlanjutan
ekologis. Hal ini harus diperbaiki melalui kebijaksanaan
sektoral yang spesifik dan terarah. Oleh karena itu penting
mengindahkan keberlanjutan aktivitas dan ekonomi sektoral.
Untuk mencapai keberlanjutan ekonomi sektoral, berbagai
kasus dilakukan terhadap kegiatan ekonomi. Pertama,
sumberdaya alam yang nilai ekonominya dapat dihitung harus
diperlakukan sebagai kapital yang tangibble dalam kerangka
akunting ekonomi, kedua, secara prinsip harga sumberdaya
alam harus merefleksi biaya ekstaksi, ditambah biaya
lingkungan dan biaya pemanfaatannya.
Pakar ekonomi harus mengidentifikasi dan
memperlakukan sumber daya sebagai sumber yang terpulih,
tidak terpulihkan, dan lingkungan hidup. Sumber yang
terpulihkan seperti hutan dapat memberikan manfaat secara
berkelanjutan bila tidak memperlakukan produktivitas ekonomi
sebagai fungsi yang pasif atau jasa yang mengalir;
menggunakan prinsip pengelolaan yang berkelanjutan,
sedangkan sumber yang tidak terpulihkan mempunyai jumlah
absulut dan berkurang bila dimanfaatkan. Oleh karena itu pada
kondisi seperti ini konsep sustainable yeild tidak boleh
diterapkan.
30 | Sudirman
Pembangunan berkelanjutan dalam konteks sumberdaya
yang tidak dapat dipulihkan berarti: pemanfaatan secara efisien
sehingga dapat dimanfaatkan oleh generasi masa mendatang
dan diupayakan agar dapat dikembangkan substitusi dengan
sumberdaya terpulihkan; membatasi dampak lingkungan
pemanfaatannya sekecil mungkin, karena sumberdaya
lingkungan adalah biosfer, secara menyeluruh sumberdaya ini
tidak menciut akan tetapi berpariasi sesuai dengan kualitasnya
Keberlanjutan Sosial Budaya
Secara menyeluruh keberlanjutan sosial dan budaya
dinyatakan dalam keadilan sosial, harga diri manusia dan
peningkatan kualitas hidup seluruh manusia.
Keberlanjutan sosial dan budaya mempunyai empat
sasaran yaitu:
a. Stabilitas penduduk yang pelaksanaannya mensyaratkan
komitmen politik yang kuat, kesadaran dan partisipasi
masyarakat, memperkuat peranan dan status wanita,
meningkatkan kualitas, efektivitas dan lingkungan
keluarga.
b. Memenuhi kebutuhan dasar manusia, dengan memerangi
kemiskinan dan mengurangi kemiskinan absolut.
Keberlanjutan pembangunan tidak mungkin tercapai bila
terjadi kesenjangan pada distribusi kemakmuran atau
adanya kelas sosial. Halangan terhadap keberlajutan sosial
harus dihilangkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia. Kelas sosial yang dihilangkan dimungkinkannya
untuk mendapat akses pendidikan yang merata,
pemerataan pemulihan lahan dan peningkatan peran
wanita.
c. Mempertahankan keanekaragaman budaya, dengan
mengakui dan menghargai sistem sosial dan kebudayaan
seluruh bangsa, dan dengan memahami dan menggunakan
pengetahuan tradisional demi manfaat masyarakat dan
pembangunan ekonomi.
A. SEJARAH
Pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas
hidup secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang
dimiliki negara secara bijaksana. Sumber daya tersebut sifatnya
terbatas, sehingga dalam penggunaannya harus secara cermat dan
hatihati. Ketidakcermatan dalam penggunaan sumber daya yang
dimiliki negara dapat menimbulkan masalah-masalah lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan adalah upaya peningkatan kualitas
manusia secara bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan.
Dalam prosesnya, pembangunan berkelanjutan ini
mengoptimalkan manfaat sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan iptek dengan menserasikan ketiga komponen tersebut, sehingga
dapat berkesinambungan. Dalam proses pembangunan pasti ada
permasahalan yang dihadapi. Permasalahan tersebut selalu berubah
bahkan cenderung semakin kompleks, seiring bertambahnya
tuntutan pembangunan dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi
masyarakatnya. Upaya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan
tersebut cenderung sukar terwujud jika sumber daya alam sebagai
daya dukung pembangunan semakin berkurang dan cenderung
terbatas. Penggunaan sumber daya alam secara terus menerus dan
melampaui daya dukung lingkungan dalam pelestariannya telah
menyebabkan merosotnya kualitas lingkungan dan merusak
keseimbangan ekologi lingkungan. Sehingga perlu dilakukan
B. PEMILIHAN INDIKATOR
Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi
Agenda 21. Sebagai konsekuensinya, Indonesia mempunyai
kewajiban untuk menyajikan indikator atau variabel pembangunan
berkelanjutan sesuai dengan yang disarankan dan direkomendasikan
oleh United Nation - Commission on Sustainable Development (UN-CSD).
Oleh karena itu kerangka kerja yang digunakan mengacu pada
kerangka kerja UN-CSD. Dalam penyajian publikasi Indikator
Pembangunan Berkelanjutan ini, tidak semua indikator bisa
disajikan karena keterbatasan data yang tersedia di Indonesia. Selain
38 | Sudirman
10. Angka kematian bayi
Estimasi angka kematian bayi merupakan probablitas
bayi meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun (dinyatakan per
1000 kelahiran hidup). Tingkat kematian bayi dipengaruhi
oleh ketersedian, akses dan kualitas sarana kesehatan;
pendidikan, khususnya ibu-ibu; akses air bersih dan sanitasi;
kemiskinan dan gizi.
11. Angka harapan hidup saat lahir
Indikator ini merupakan rata-rata umur yang dicapai oleh
bayi yang baru lahir yang diharapkan hidup, dengan mengingat
adanya risiko kematian pada saat usia tertentu. Angka harapan
hidup saat lahir merupakan indikator kematian dan proxy
terhadap kondisi kesehatan.
12. Persentase penduduk yang berobat jalan di puskesmas
dan puskesmas pembantu
Indikator ini mengukur akses penduduk terhadap fasilitas
pelayanan kesehatan dasar.
13. Persentase balita yang diimunisasi
Indikator ini memantau implementasi dari program
imunisasi. Pengelolaan yang baik pada program imunisasi
sangat penting untuk mengurangi kesakitan dan kematian dari
penyakit menular di masa kanak-kanak.
14. Persentase wanita usia 15-49 tahun yang mengguna-
kan alat KB
Indikator ini menunjukan usaha manusia secara sadar
dalam mengontrol kelahiran/ pelayanan kesehatan reproduksi.
Meskipun indikator ini tidak dapat mengontrol semua
tindakan yang diambil dalam mengontrol kelahiran. Manfaat
kesehatan dari penggunaan kontrasepsi meliputi kemampuan
untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, sehingga
mengurangi resiko aborsi, potensi komplikasi kehamilan dan
resiko kematian ibu.
40 | Sudirman
langsung berpengaruh pada perubahan penduduk. Angka
kelahiran total tidak dipengaruhi oleh distribusi umur
penduduk. Angka kelahiran yang rendah dapat meningkatkan
kemampuan keluarga dan pemerintah dalam pengelolaan
sumber daya yang ada untuk melawan kemiskinan, melindungi
dan memperbaiki lingkungan.
25. Angka beban ketergantungan
Angka beban ketergantungan menunjukkan perbandingan
jumlah penduduk yang aktif secara ekonomi terhadap penduduk
usia muda dan usia tua yang tergantung secara ekonomi.
Angka beban ketergantungan dapat mengindikasikan
dampak potensial perubahan struktur umur penduduk terhadap
pembangunan sosial dan ekonomi.
26. Jumlah desa menurut jenis bencana dan upaya
antisipasi bencana alam
Indikator ini menggambarkan jumlah desa yang terkena
dampak bencana baik yang berupa tanah longsor, gempa bumi,
tsunami, gempa bumi yang disertai tsunami, letusan gunung
api, banjir, banjir disertai tanah longsor, kekeringan, gelombang
pasang/abrasi, angin puyuh/puting beliung dan kebakaran
hutan. Indikator ini juga menunjukkan kerentanan terhadap
bencana alam. Kerentanan yang tinggi ditunjukkan oleh
tingginya keterpaparan oleh rupa-rupa kejadian bencana.
27. Jumlah korban dan kerusakan rumah akibat bencana
alam
Indikator ini memperkirakan dampak ekonomi dan
manusia dari bencana. Bencana yang melibatkan bahaya alam
dapat memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang yang
buruk terhadap masyarakat dan perekonomian negara
manapun, serta dapat menghambat berlangsungnya
pembangunan berkelanjutan.
44 | Sudirman
32. Luas lahan tegal/kebun dan ladang/huma
Indikator ini menunjukkan luas lahan yang tersedia untuk
produksi pertanian, selain tanaman pangan.
33. Luas Lahan yang sementara tidak diusahakan
Indikator ini menunjukkan luas lahan yang
tersedia, namun sementara tidak diusahakan, memungkinkan
untuk diusahakan lagi.
34. Persentase luas hutan
Indikator ini untuk memantau perubahan luas hutan.
Hutan menyediakan banyak sumber daya dan fungsi yang
penting termasuk produk kayu dan produk non-kayu, potensi
wisata, habitat satwa liar, konservasi keanekaragaman hayati,
dan memainkan peran penting dalam siklus karbon global.
35. Jumlah sebaran titik panas yang terdeteksi satelit
Indikator ini merupakan pendekatan dari upaya pencegahan
kejadian kebakaran hutan di suatu wilayah. Kebakaran hutan
merupakan salah satu penyebab penggundulan hutan, polusi
udara dan penipisan lapisan ozon.
36. Jumlah dan persentase desa pesisir
Indikator ini mengukur jumlah dan persentase desa pesisir.
Persentase desa pesisir yang tinggi meningkatkan kerentanan
terhadap kenaikan permukaan laut dan bahaya pesisir lainnya
seperti badai dan tsunami.
37. Sebaran kawasan konservasi laut
Indikator ini menunjukkan luas wilayah konservasi laut
dan sebarannya. Konservasi wilayah laut sangat penting untuk
menjaga keanekaragaman ekosistem laut, dalam kaitannya
dengan manajemen pengaruh manusia terhadap lingkungannya.
38. Luas dan kondisi terumbu karang
Indikator ini menggambarkan efektifitas kebijakan nasional
yang dirancang untuk mengkonservasi keanekaragaman
C. KEMISKINAN.
Permasalahan kemiskinan merupakan permasalahan yang
kompleks dan bersifat multidimensional. Oleh karena itu, upaya
pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif,
mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan dilaksanakan
secara terpadu. Kemiskinan harus menjadi sebuah tujuan utama
dari penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi oleh negara
Indonesia, karena aspek dasar yang dapat dijadikan acuan
54 | Sudirman
pengawasan penyediaan air minum masyarakat, pembuangan tinja
dan air limbah, pembuangan sampah, vektor penyakit, kondisi
perumahan, penyediaan dan penanganan makanan, kondisi atmosfer
dan keselamatan lingkungan kerja. Dari definisi tersebut, tampak
bahwa sanitasi lingkungan ditujukan untuk memenuhi persyaratan
lingkungan yang sehat dan nyaman.
Sanitasi dan air minum yang layak memberi kontribusi
langsung terhadap kualitas kehidupan manusia di seluruh siklus
kehidupannya, mulai dari bayi, Balita, anak sekolah, remaja,
kelompok usia kerja, ibu hamil dan kelompok lanjut usia.
Perwujudan manusia Indonesia yang berkualitas merupakan cita-
cita bangsa Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Nawacita
kelima yaitu “meningkatkan kualitas manusia Indonesia”. Sanitasi
yang layak juga menjadi kunci pengentasan kemiskinan terutama di
negara berkembang, seperti Indonesia.
KTT tentang pembangunan berkelanjutan di Johannesburg
tahun 2002 (Konferensi Rio+10) merekomendasikan setiap negara
untuk me- ngurangi separuh jumlah penduduk yang tidak memiliki
akses terhadap sanitasi dasar pada tahun 2015 yang tertuang dalam
Johannesburg Plan of Implementation (JPOI). Target tersebut juga
seiring dengan target sanitasi dalam MDGs.
Menurut data dari WHO/UNICEF dalam Joint Monitoring
Programme for Water Supply and Sanitation, masih ada 2,4 miliar
penduduk dunia yang tidak memiliki akses pada sanitasi yang baik
pada tahun 2015. Dari jumlah tersebut, 28 persen menggunakan
fasilitas sanitasi publik atau bersama, 31 persen menggunakan
fasilitas sanitasi yang tidak memenuhi standar kesehatan dan 41
persen sisanya tidak memiliki fasilitas sanitasi sama sekali dan
terpaksa menggunakan area terbuka yang tidak higienis. Di negara
berkembang, persentase penduduk yang memiliki akses pada
sanitasi yang baik pada tahun 2015 sebesar 62 persen. Jika
perkembangan ini terus berlanjut seperti kondisi sekarang, maka
target sanitasi dalam JPOI dan MDGs tidak akan tercapai yaitu
56 | Sudirman
Penggunaan bahan bakar padat dalam rumah tangga seperti kayu
bakar mengindikasikan kurangnya akses terhadap energi
modern, seperti gas dan LPG. Penggunaan bahan bakar
biomassa tradisional seperti kayu dapat menyebabkan polusi udara
dalam ruangan. Hal ini dapat meningkatkan risiko kematian karena
pneumonia dan infeksi saluran pernafasan akut. Tingginya
permintaan bahan bakar biomassa untuk memenuhi kebutuhan
energi rumah tangga berkontribusi terhadap deforestasi dan
degradasi lahan.
Secara nasional, persentase rumah tangga yang menggunakan
kayu bakar sebagai bahan bakar memasak menurun pada periode
2010-2015 yaitu dari 42,33 persen di tahun 2010 menjadi
24,40 persen di tahun 2015 (Tabel 4.1.8). Penurunan tersebut
sejalan dengan meningkatnya sosialisasi penggunaan gas dan LPG
sebagai bahan bakar untuk memasak. Jika dilihat berdasarkan
provinsi, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua merupakan
provinsi dengan persentase rumah tangga terbesar yang
menggunakan kayu bakar yaitu masing-masing sebesar 78,17 persen
dan 67,74 persen
Kemiskinan telah memaksa jutaan orang untuk menjadi
tunawisma dan tinggal di tempat yang tidak ideal. Kondisi tempat
tinggal yang ideal ditandai dengan jumlah penduduk yang tidak
terlalu padat, perumahan yang layak, kecukupan air bersih, akses
sanitasi yang layak, serta sarana dan prasarana ekonomi, sosial
maupun budaya yang memadai. Namun jika kondisi tersebut tidak
terpenuhi, maka akan berdampak pada munculnya permukiman
kumuh. Kondisi kehidupan di pemukiman kumuh menggambarkan
kemiskinan dari segi pendapatan yang tidak memadai dan
lingkungan yang tidak layak. Permukiman kumuh memberikan
tekanan besar terhadap kehidupan masyarakat melalui polusi,
kebisingan, kelangkaan air bersih, dan banjir.
Permukiman kumuh muncul karena tingginya tingkat
urbanisasi dan mahalnya lahan permukiman. Daya tarik kota
60 | Sudirman
sebagai pusat pelayanan, pendidikan, dan kegiatan perekonomian
dengan berbagai kelengkapan fasilitasnya mendorong masyarakat
berdatangan ke kota. Penambahan jumlah penduduk yang tinggi di
daerah perkotaan dengan tidak diimbangi penambahan perumahan,
serta terbatasnya lahan yang tersedia merupakan salah satu
pendorong munculnya permukiman kumuh.
Menurut Bank Dunia (1999), wilayah kawasan kumuh
merupakan bagian yang terabaikan dalam pembangunan
perkotaan. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi sosial demografis di
kawasan kumuh seperti kepadatan penduduk yang tinggi, kondisi
lingkungan yang tidak layak huni dan tidak memenuhi syarat,
serta minimnya fasilitas pendidikan, kesehatan dan sarana prasarana
sosial lainnya. Semakin banyak permukiman kumuh dan munculnya
permukiman kumuh baru dapat memberikan tekanan terhadap
lingkungan yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kualitas
lingkungan. Permukiman kumuh merupakan tantangan besar bagi
kelestarian lingkungan dalam konteks pembangunan.
Jumlah penghuni kawasan kumuh makin meningkat karena
adanya arus urbanisasi yang meningkat pula secara cepat. Sekitar
seperempat penduduk perkotaan dunia hidup di daerah kumuh.
Jumlah penghuni kawasan kumuh di negara berkembang meningkat
dari 689 juta pada tahun 1990 menjadi 880 juta pada tahun 2014,
menurut UN World Cities Report 2016.
Pada tahun 2014, terdapat sebanyak 4.508 desa atau 5,48 persen
desa dengan keberadaan permukiman kumuh. Persentase desa
dengan keberadaan permukiman kumuh paling tinggi terdapat di
Provinsi Jawa Barat yaitu sebanyak 20,26 persen atau sebanyak
1.208 desa dari 5.962 desa (Tabel 4.1.9).
62 | Sudirman
terjadi tindak kriminalitas, maka pelaksanaan pembangunan
berkelanjutan dapat terganggu. Kriminalitas merupakan ancaman
nyata bagi terciptanya masyarakat yang aman, tenteram, dan damai.
Kriminalitas juga diyakini memiliki dampak besar pada stabilitas
wilayah, pembangunan ekonomi, pendidikan, integrasi sosial, dan
persepsi kualitas hidup.
Kasus kriminalitas merupakan sebuah fenomena yang terjadi
akibat ketidakseimbangan pembangunan sosial-ekonomi dan belum
meratanya tingkat kesejahteraan di kalangan masyarakat Salah satu
indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kriminalitas di
Indonesia adalah jumlah kasus pembunuhan. Pembunuhan yang
disengaja serta kejahatan kekerasan memiliki dampak negatif yang
signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan.
Fenomena kejahatan yang sering terjadi dapat menciptakan
iklim ketakutan dan mengikis kualitas hidup. Indikator ini dapat
digunakan sebagai ukuran untuk kepatuhan terhadap aturan hukum
dan komponen tata pemerintahan yang baik.
Selama periode 2010-2015 jumlah kasus pembunuhan
cenderung mengalami penurunan dari 1.606 kasus pada tahun 2010
menjadi 1.491 kasus pada tahun 2015 (Tabel 4.2.2).
Pada tahun 2015, jumlah kasus pembunuhan paling banyak
terjadi di wilayah Kepolisian Daerah Sumatera Selatan yaitu sebesar
161 kasus pembunuhan, kemudian di wilayah Kepolisian Daerah
Sumatera Utara yaitu sebanyak 118 kasus pembunuhan. Sedangkan
jumlah kasus pembunuhan paling sedikit terdapat di wilayah
Kepolisian Daerah Papua Barat (1 kasus).
E. Kesehatan
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua
manusia karena tanpa kesehatan yang baik, maka setiap manusia
akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Kesehatan
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun
64 | Sudirman
penyediaan makanan dan perawatan yang tepat sangat penting
untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup bayi maupun
sebagai dasar untuk hidup sehat.
Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia, selama
lima tahun terakhir (2012-2016), angka kematian bayi secara
nasional selalu mengalami penurunan (Tabel 4.3.1).
Pada tahun 2012 angka kematian bayi tercatat sebesar 28
per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2016, angka tersebut
turun menjadi sekitar 26 kematian bayi dalam 1.000 kelahiran
hidup. Provinsi dengan estimasi angka kematian bayi paling
rendah pada tahun 2016 adalah DI Yogyakarta yaitu sekitar 13
kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan estimasi
AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat yaitu sebesar
50 kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup (Gambar 4.4).
Indikator lain yang menggambarkan kondisi kesehatan
dan tingkat kematian pada suatu negara adalah angka harapan
hidup. Angka harapan hidup mengukur berapa tahun suatu
kelompok umur tertentu diharapkan hidup dengan
mempertimbangkan risiko kematian spesifik pada kelompok
umur tertentu. Angka harapan hidup yang rendah di suatu
daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan
dan program sosial lainnya, termasuk kesehatan lingkungan,
kecukupan gizi, dan program pemberantasan kemiskinan.
Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-
2035, angka harapan hidup penduduk Indonesia diperkirakan
mengalami peningkatan selama periode 2011-2015, mulai dari
70,0 tahun pada tahun 2011 menjadi 70,8 tahun di tahun 2015
(Tabel 4.3.2). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang lahir pada
tahun 2015 diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur
70,8 tahun.
Jika dilihat menurut provinsi, terdapat sebanyak 20
provinsi mempunyai estimasi angka harapan hidup di bawah
66 | Sudirman
70 tahun dan sebanyak 13 provinsi mempunyai estimasi angka
harapan hidup di atas 70 tahun. Estimasi angka harapan hidup
tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta (74,6 tahun),
sedangkan yang terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat
(63,9 tahun).
2. Layanan Kesehatan
Pelayanan Kesehatan merupakan upaya yang
diselenggarakan sendiri/secara bersama-sama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah, dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat.
Pelayanan kesehatan utama yang paling dibutuhkan oleh
masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar, khususnya untuk
ibu dan balita. Pelayanan kesehatan mencakup semua jasa yang
berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan penyakit,
pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan. Aksesibilitas
pelayanan kesehatan mencerminkan adanya peningkatan sistem
pelayanan kesehatan dan pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas), persentase penduduk yang berobat jalan di
puskesmas dan puskesmas pembantu selama periode tahun
2010-2015 mengalami fluktuasi, dengan persentase tertinggi
terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 35,12 persen sementara
persentase terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar
27,12 persen dan kembali meningkat pada 2015 sebesar 29,79
persen (Tabel 4.3.3).
Pada tahun 2015, persentase tertinggi penduduk yang
berobat jalan ke puskesmas dan puskesmas pembantu terjadi di
Provinsi Papua yaitu sebesar 63,53 persen. Sementara Bali
merupakan provinsi dengan persentase terkecil yaitu 18,69
persen Indikator penting lain dalam pembangunan di bidang
kesehatan adalah pelayanan kesehatan reproduksi dan
70 | Sudirman
menjadi 252.027 pada tahun 2014. Provinsi Papua, Nusa
Tenggara Timur, dan Papua Barat merupakan provinsi
endemik malaria, hal ini dibuktikan dengan jumlah penderita
malaria yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan provinsi
lain selama periode tahun 2010-2014.
F. PENDIDIKAN
Pendidikan mempunyai peran utama untuk menyiapkan
sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak hanya sebagai aspek
pembangunan, pendidikan merupakan syarat mutlak untuk
mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Semakin tinggi tingkat
pendidikan satu bangsa mengindikasikan tingkat kemajuan dari
bangsa tersebut. Untuk itu pemerintah perlu membuat kebijakan
dan program yang tepat sasaran di bidang pendidikan seperti
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan agar seluruh
masyarakat dapat menikmati pendidikan secara merata yang secara
tidak langsung akan menjamin masa depan bangsa.
Salah satu tujuan pembangunan di bidang pendidikan yang
merupakan target nasional dalam SDGs yaitu menyelesaikan
pendidikan dasar dengan mampu membaca, menulis dan berhitung
cukup baik untuk memenuhi standar pembelajaran minimum.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dukungan ketersediaan
sarana dan prasarana yang memadai, seperti pembangunan dan
revitalisasi gedung-gedung sekolah sebagai upaya meningkatkan
partisipasi murid secara berkelanjutan.
1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan alat yang penting untuk
mengembangkan potensi kehidupan manusia. Hal ini sesuai
dengan yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003, Bab II Pasal III yang
menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dalam
72 | Sudirman
yang cukup signifikan dibandingkan dengan APM SD yang
cenderung stagnan (Gambar 4.6.).
Secara nasional nilai APM SD pada tahun 2015 sebesar
96,70 persen dan APM SMP sebesar 77,80 persen (Tabel 4.4.2
dan 4.4.3). Pada tahun 2015, Provinsi DI Yogyakarta adalah
provinsi dengan nilai APM SD paling tinggi yaitu sebesar 99,20
persen, sedangkan nilai APM SD yang paling rendah adalah
Provinsi Papua (78,60 persen). Untuk APM SMP, provinsi
dengan nilai tertinggi pada tahun 2015 adalah Provinsi Aceh
(85,6 persen) dan APM SMP terendah adalah Provinsi Papua
(54,1 persen). Indikator lain yang menunjukkan keberhasilan
pencapaian pembangunan berkelanjutan di bidang pendidikan
adalah pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk
usia kerja. Indikator tersebut menunjukkan kualitas modal
sumber daya manusia pada usia kerja.
Penduduk usia kerja dengan ijasah minimal SMA
diharapkan memiliki keterampilan yang cukup untuk memasuki
pasar tenaga kerja sehingga secara tidak langsung akan
menurunkan tingkat pengangguran. Persentase penduduk usia
25-64 tahun dengan pendidikan tertinggi yang ditamatkan
minimal SMA selama periode 2010-2015 menunjukkan
peningkatan (Tabel 4.4.4). Secara nasional, persentase
penduduk usia 25-64 tahun yang berpendidikan minimal SMA
pada tahun 2015 tercatat sebesar 34,62 persen, di mana
persentase terbesar terdapat di Provinsi DKI Jakarta (62,75
persen) dan persentase terkecil terdapat di Provinsi Sulawesi
Barat (25,91 persen).
2. Melek Huruf
Menurut UNESCO melek aksara atau melek huruf adalah
kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti,
menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan
74 | Sudirman
G. DEMOGRAFI
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah
penduduk terbesar di dunia. Menempati urutan ke empat setelah
China, India dan Amerika Serikat. Menurut PBB, pada tahun 2015
jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 257,56 juta orang
atau sekitar 3,50 persen dari keseluruhan jumlah penduduk dunia.
Jumlah penduduk yang besar yang dimiliki oleh Indonesia
merupakan salah satu modal pembangunan sehingga harus
ditingkatkan kualitas sumber daya manusianya agar bermanfaat bagi
pembangunan. Namun juga dapat menimbulkan masalah seperti
pemukiman, penyediaan lapangan pekerjaan, sumber makanan dan
lain sebagainya. Penduduk adalah subyek dan sekaligus menjadi
obyek pembangunan.
Sebagai subyek pembangunan maka penduduk harus dididik,
dibina dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak
pembangunan. Sebagai objek pembangunan, penduduk juga harus
dapat menikmati hasil dari pembangunan. Dengan demikian
pembangunan harus memperhitungkan kemampuan penduduk
sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam dinamika pembangunan.
Pembangunan dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan
kesejahteraan penduduk dalam arti yang seluas-luasnya. Keadaan
dan kondisi kependudukan yang ada sangat mempengaruhi
dinamika pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Jumlah
penduduk yang besar jika diikuti dengan kualitas penduduk yang
memadai akan menjadi modal dan pendorong bagi pembangunan.
Sebaliknya jumlah penduduk yang besar jika kualitasnya rendah,
penduduk tersebut justru akan membebani pembangunan.
Salah satu permasalahan di bidang kependudukan adalah
besarnya jumlah penduduk dan sebarannya yang tidak merata.
Permasalahan tersebut telah mengakibatkan tidak meratanya hasil
pembangunan yang dilaksanakan.
76 | Sudirman
Rate/TFR). Angka kelahiran total menunjukkan rata-rata jumlah
anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita sampai akhir masa
reproduksinya.
Perkembangan estimasi angka kelahiran total selama periode
tahun 2012-2016 cenderung tetap yaitu 2,4. Pada tahun 2016,
estimasi angka kelahiran total Indonesia adalah 2,4 yang berarti
secara rata-rata wanita Indonesia usia 15-49 tahun mempunyai 2
atau 3 anak selama masa usia suburnya. Jika dilihat berdasarkan
provinsi, terdapat beberapa provinsi dengan estimasi angka
kelahiran total dibawah 2, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta
(Tabel 4.5.2).
Penurunan angka kelahiran total dapat menyebabkan
perubahan komposisi penduduk menurut kelompok umur dan akan
mempengaruhi angka beban ketergantungan. Angka beban
ketergantungan mengindikasikan dampak potensial dari perubahan
struktur umur penduduk terhadap pembangunan sosial dan
ekonomi. Angka beban ketergantungan yang kecil akan
memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif (kelompok
umur 15-64 tahun) untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Angka
beban ketergantungan yang tinggi menunjukkan bahwa penduduk
usia produktif menghadapi beban yang lebih besar untuk
mendukung dan memberikan layanan sosial yang dibutuhkan oleh
penduduk tidak produktif (anak-anak dan orang tua) yang sering
tergantung secara ekonomi.
Pada tahun 2012, angka beban ketergantungan tercatat sebesar
50,1, yang berarti setiap 100 orang penduduk usia produktif harus
menanggung sekitar 50 orang penduduk usia tidak produktif. Pada
tahun 2016, angka beban ketergantungan turun menjadi 48,3, yang
berarti ada penurunan beban tanggungan pada setiap penduduk
usia produktif (Gambar 4.8).
Angka beban ketergantungan tertinggi pada tahun 2016
terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu mencapai angka
78 | Sudirman
Indonesia termasuk wilayah yang rawan bencana alam. Gejala
atau peristiwa alam yang sering terjadi antara lain gunung meletus,
banjir, gempa bumi, badai atau angin topan, tsunami, kekeringan
dan tanah longsor.
Pemanasan global dan perubahan iklim yang disertai dengan
semakin menurunnya daya dukung lingkungan dapat meningkatkan
potensi terjadinya bencana alam/lingkungan. Bencana alam juga
dapat disebabkan oleh kerusakan hutan dan lahan, pelanggaran tata
ruang, dan kegiatan industri yang menggunakan bahan berbahaya
dan beracun.
Bencana alam erat kaitannya dengan pembangunan
berkelanjutan. Pembangunan yang tidak mempertimbangkan faktor
lingkungan akan memperbesar risiko terjadinya bencana alam.
Bencana alam juga akan menghambat jalannya proses
pembangunan. Untuk itu upaya pencegahan dan mitigasi bencana
harus dilakukan, untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam.
Bencana alam yang dibahas dalam subbab ini adalah bencana
banjir, gempa bumi dan tanah longsor. Banjir merupakan kejadian
bencana alam yang paling banyak menimpa desa-desa di Indonesia,
diikuti oleh tanah longsor dan gempa bumi.
Selama periode tahun 2008 sampai 2014, jumlah desa yang
mengalami bencana banjir tercatat berfluktuatif yaitu sebanyak
15.143 desa pada tahun 2008, kemudian menurun menjadi 14.732
desa pada tahun 2011 dan naik menjadi 16.830 desa pada tahun
2014 (Tabel 4.6.1).
Provinsi dengan jumlah desa yang mengalami kejadian bencana
banjir tertinggi pada tahun 2014 adalah Provinsi Aceh (1.649 desa),
diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah (1.273 desa) dan Jawa Timur
(1.218 desa). Sedangkan provinsi dengan jumlah desa yang
mengalami kejadian bencana banjir terendah yaitu Kepulauan Riau
(51 desa). Indonesia terletak di daerah dengan tingkat aktivitas
gempa bumi yang cukup tinggi. Hal tersebut sebagai akibat
80 | Sudirman
270.585 rumah, dengan perincian rusak berat sebanyak 81.733
rumah, dan rusak ringan tercatat sebanyak 188.852 rumah.
Pada tahun 2015, jumlah rumah yang mengalami rusak berat
sebagian besar terjadi di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah,
dan Jawa Barat yaitu berturut-turut sebanyak 4.019 rumah,
2.652 rumah dan 1.959 rumah (Tabel 4.6.4).
I. ATMOSFIR.
Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi dengan
ketinggian yang tidak terdefinisi. Atmosfer memiliki peran yang
sangat penting bagi kehidupan dan kelestarian bumi, karena
atmosfer dapat melindungi bumi dari jatuhnya benda angkasa dan
pancaran radiasi sinar matahari secara langsung. Kerusakan lapisan
atmosfer bumi dapat berakibat pada pemanasan global (global
warming) yang saat ini menjadi masalah besar yang sedang dihadapi
oleh seluruh penduduk di dunia.
Menurut beberapa ilmuwan, pemanasan global adalah suatu
proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan
bumi. Pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas tersebut sebenarnya
muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat
aktivitas manusia. Gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas di
atmosfer yang memiliki kemampuan untuk menyerap dan menahan
radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga
menyebabkan suhu di permukaan bumi semakin meningkat.
Menurut konvensi PBB mengenai perubahan iklim (United
Nation Framework Convention on Climate Change-UNFCCC),
ada 6 jenis gas yang digolongkan sebagai gas rumah kaca, antara
lain: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O),
hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfur
heksafluorida (SF6).
84 | Sudirman
ternak yang tertinggi pada tahun 2015 terdapat di Provinsi
Jawa Timur (383,83 ribu ton), sedangkan emisi CH4 dari
hewan unggas yang tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat
(14,62 ribu ton).
3. Bahan Perusak Ozon
Ozon (O3) merupakan lapisan yang berisi gas yang secara
alami berada di dalam atmosfer yang berfungsi menyerap
radiasi sinar ultraviolet dari matahari. Rusaknya lapisan ozon
juga dapat menyebabkan pemanasan global. Lapisan ozon
menyerap hampir 90 % sinar ultraviolet Tipe A dan dan Tipe
B dari matahari. Sinar Ultraviolet Tipe B sangat berbahaya
karena radiasinya dapat membunuh makhluk hidup dan
merusak kerak bumi.
Rusaknya atau menipisnya lapisan ozon diakibatkan oleh
meningkatnya penggunaan atau produksi barang yang
mengandung bahan kimia seperti klorin dan bromida yang
lebih dikenal dengan Bahan Perusak Ozon (BPO). Sampai saat
ini bahan perusak ozon (BPO) masih digunakan secara luas
pada berbagai kegiatan industri dan domestik. BPO masih
banyak digunakan pada produk-produk aerosol, foam, halon,
metal bromide, refrigasi, dan pelarut.
Jenis BPO ditentukan menurut Peraturan Menteri
Perdagangan Republik Indonesia No. 03/M-
DAG/PER/1/2012. Walaupun sudah ada larangan untuk
menggunakan BPO, tetapi masih ada yang mengimpor BPO
dalam jumlah terbatas, seperti terlihat pada Tabel 4.7.4.
4. Konsentrasi Gas SO2 dan NO2
Konsentrasi gas SO2 dan NO2 di udara merupakan salah
satu indikator yang memberikan ukuran kondisi kualitas udara.
Selain itu, konsentrasi gas SO2 dan NO2 secara tidak langsung
mengukur tingkat paparan penduduk terhadap polusi udara
khususnya di daerah perkotaan. Pengukuran rata-rata bulanan
86 | Sudirman
dan lingkungan hidup, sehingga kebakaran hutan bukan saja
berakibat buruk terhadap hutan dan lahannya sendiri, tetapi lebih
jauh akan mengakibatkan terganggunya proses pembangunan.
Kejadian kebakaran hutan di Indonesia cenderung meningkat
selama beberapa tahun ini. Sebagian besar kebakaran tersebut
disebabkan oleh kesengajaan manusia, seperti pembangunan hutan
tanaman industri, pembangunan perkebunan, perambah hutan dan
peladang yang mempersiapkan lahannya, dan sebagainya.
Pemantauan kerawanan hutan terhadap kejadian kebakaran
hutan dapat dideteksi melalui jumlah sebaran titik panas (hotspot).
Menurut LAPAN (2004), titik panas adalah parameter yang
diturunkan dari data satelit dan diindikasikan sebagai lokasi
kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan titik panas adalah salah
satu kegiatan pengendalian kebakaran lahan/hutan dengan
melakukan deteksi titik panas melalui bantuan Citra Satelit dengan
teknologi komputer dan perangkat Geograpghic Information System
(GIS) untuk mendapatkan data lokasi terjadinya titik
panas/kebakaran.
Selama periode 2010-2014, jumlah sebaran titik panas
berfluktuatif dengan jumlah titik panas paling banyak terjadi pada
tahun 2012 (34.789 titik panas) dan paling sedikit pada tahun 2010
(9.880 titik panas) (Tabel 4.8.6). Pada tahun 2014, terdapat
sebanyak 31.266 titik panas yang sebagian besar terdapat di Provinsi
Kalimantan Tengah (5.434 titik panas), Kalimantan Barat (5.381
titik panas), dan Riau (4.400 titik panas).
90 | Sudirman
Kawasan konservasi laut tersebut terdiri dari cagar alam (5
unit), suaka margasatwa (4 unit), taman wisata alam (14 unit),
dan taman nasional (7 unit). Masing - masing kawasan
konservasi mempunyai luas yang berbeda-beda, untuk kawasan
cagar alam mempunyai luas 152,61 ribu hektar, suaka
margasatwa 5,59 ribu hektar, taman wisata alam 491,25 ribu
hektar, dan taman nasional 4,04 juta hektar. Kawasan
konservasi laut terluas terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara
(1,51 juta hektar), diikuti oleh Provinsi Papua (1,45 juta
hektar).
3. Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan ekosistem bawah laut yang
terdiri dari sekelompok binatang karang yang membentuk
struktur semacam batu kapur yang menjadi habitat hidup
berbagai hewan laut. Ekosistem terumbu karang merupakan
ekosistem khas yang terdapat di wilayah pesisir dan laut tropis.
Terumbu karang memiliki peranan yang sangat besar, seperti
sebagai habitat untuk daerah asuhan (nursery ground), tempat
mencari makan (feeding ground), dan sebagai tempat pemijahan
(spawning ground) bagi berbagai biota yang hidup di terumbu
karang atau sekitarnya. Ekosistem terumbu karang dikenal
memiliki spesies yang bernilai ekonomis tinggi. Hal ini
disebabkan oleh besarnya variasi habitat yang terdapat di dalam
ekosistem terumbu karang.
Terumbu karang dunia berisiko mengalami bahaya besar
menjadi putih, terutama terjadi pada terumbu karang di Pasifik,
Atlantik dan Karibia. Pemutihan terumbu karang adalah
fenomena alam yang membuat terumbu karang memutih atau
memudar warnanya karena suhu air laut yang terus menerus
meningkat di atas rata-rata. US National Oceanic and Atmospheric
Administration (NOAA) memperingatkan hal ini akan
mempengaruhi lebih dari 38 persen terumbu karang di dunia
M. AIR.
Air adalah sumber daya yang paling penting bagi umat
manusia, hal ini juga terkait dengan kegiatan di sektor sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Peran air ini yang kemudian diangkat
menjadi tema Hari Air Sedunia 2015, “Water and Sustainable
Development“ (Air dan Pembangunan Berkelanjutan). Hal ini
mengingat air memiliki peran yang penting dalam agenda
pembangunan berkelanjutan dan air terkait dengan semua aspek
yang dibutuhkan untuk menciptakan masa depan yang diinginkan.
Pentingnya peranan air bagi kehidupan, Sustainable
Development Goals (SDGs) memasukkan ke dalam indikator pada
tujuan 6 yaitu maenjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih
dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua. Salah satu indikator
pada tujuan tersebut dalam SDGs yaitu proporsi populasi yang
menggunakan layanan air minum yang dikelola secara aman.
Namun data tersebut belum tersedia saat ini, sehingga indikator
tersebut masih perlu dikembangkan.
94 | Sudirman
Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri
tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan
pengawetan keanekaragaman hayati serta ekosistemnya.
Kawasan hutan konservasi dibedakan menjadi kawasan suaka
alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru. Yang
termasuk kawasan suaka alam ialah cagar alam dan suaka
margasatwa, yang mana kawasan ini mempunyai fungsi pokok
sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan,
satwa, dan ekosistemnya, serta berfungsi sebagai wilayah sistem
penyangga kehidupan. Sedangkan kawasan pelestarian alam
mencakup taman nasional, taman wisata alam dan taman hutan
raya.
Kawasan ini mempunyai fungsi pokok perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman
jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Total luas kawasan
konservasi daratan di Indonesia sampai dengan tahun 2014
mencapai sekitar 22,42 juta hektar (Tabel 4.11.1). Kawasan
konservasi daratan tersebut didominasi oleh taman nasional
yang mencapai 55,00 persen, diikuti oleh suaka margasatwa
(22,41 persen) dan cagar alam (17,66 persen).
2. Spesies Satwa dan Tumbuhan
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan
berusaha untuk menjaga kelestarian spesies satwa dan
tumbuhan yang terancam punah. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah melakukan penangkaran terhadap spesies
satwa dan tumbuhan tersebut. Sampai dengan tahun 2014,
tercatat ada sekitar 776 unit penangkaran satwa dan tumbuhan.
Unit penangkaran terbanyak adalah penangkaran spesies
mamalia yang mencapai 300 unit, diikuti penangkaran spesies
aves sebanyak 218 unit.
96 | Sudirman
Selain melakukan penangkaran spesies yang terancam
punah, identifikasi jumlah populasi yang terancam punah juga
penting dilakukan untuk memetakan seberapa banyak populasi
yang ada. Hal ini untuk memastikan kelestarian spesies tersebut
supaya jangan sampai benar benar punah.
O. PEMBANGUNAN EKONOMI.
Pada dasarnya tujuan pembangunan suatu negara adalah ingin
mencapai masyarakat yang adil dan makmur dalam hal pemenuhan
kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan,
pendidikan, dan keperluan sekundernya. Meningkatnya taraf hidup
masyarakat suatu negara menunjukkan adanya keberhasilan dalam
pembangunan ekonomi di negara tersebut.
Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara ditunjukkan
oleh tingginya angka pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Sehingga, untuk mencapai tujuan pembangunan, terkadang
pembangunan ekonomi lebih difokuskan pada upaya memacu
pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang semata mata
ditujukan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, sering kali tanpa
memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam dan lingkungan
sehingga membawa dampak negatif bagi alam dan juga bagi
masyarakat. Dampak negatif dari proses pembangunan ekonomi
dapat dikurangi melalui pelaksanaan pembangunan ekonomi yang
berwawasan lingkungan, sehingga pembangunan yang kita rasakan
sekarang ini juga bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Dalam tema pembangunan ekonomi, indikator–indikator yang
dapat merefleksikan kemajuan di bidang pembangunan ekonomi
antara lain produk domestik bruto, investasi, hutang luar negeri,
tabungan bruto, inflasi, penduduk bekerja, pariwisata, akses
terhadap internet dan telepon.
102 | Sudirman
meningkat. TIK sangat penting untuk mendukung
pembangunan berkelanjutan dan terkait erat dengan
pembangunan sosial, ekonomi, dan kelembagaan. TIK juga
merupakan faktor penting bagi banyak kegiatan ekonomi dan
meningkatkan pertukaran informasi antar warga. TIK yang
makin modern dianggap relatif ramah lingkungan, karena
merupakan pengganti potensial untuk transportasi dan relatif
rendah terhadap pencemaran lingkungan. Indikator tentang
TIK dapat dilihat dari persentase rumah tangga yang
mempunyai akses terhadap telepon, telepon seluler, komputer
dan internet.
Persentase rumah tangga yang mempunyai akses terhadap
telepon, telepon seluler, komputer, dan internet selama periode
2014-2015 mengalami peningkatan. Pada tahun 2015, rumah
tangga yang mempunyai akses terhadap komputer mempunyai
persentase sebesar 18,71 persen atau meningkat 1,41 persen
dibanding tahun 2014. Begitu pula rumah tangga dengan akses
internet juga meningkat persentasenya sebanyak 6,34 persen
menjadi 41,98 persen di tahun 2015. Persentase rumah tangga
yang mempunyai akses telepon seluler sebesar 88,04 persen di
tahun 2015 atau meningkat 1,09 persen dibanding tahun 2014.
Di satu sisi, persentase rumah tangga yang mempunyai
akses terhadap telepon mengalami penurunan sebesar 1,53
menjadi 4,01 persen di tahun 2015. Kontradiksi antara
peningkatan persentase rumah tangga yang memiliki akses
telepon seluler dengan penurunan persentase rumah tangga
yang mempunyai akses telepon menunjukkan bahwa saat ini
masyarakat cenderung lebih memilih menggunakan telepon
seluler dibandingkan telepon biasa karena kemudahan dalam
hal mobilitas.
Persentase tertinggi rumah tangga yang mempunyai akses
terhadap telepon seluler, komputer, dan internet pada tahun
2015 terdapat di Provinsi DKI Jakarta, berturut- turut sebesar
104 | Sudirman
perekonomian Indonesia karena sektor pariwisata relatif tahan
terhadap krisis ekonomi.
106 | Sudirman
Pengiriman uang dari tenaga kerja ke negara asal mereka
(remitansi) berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan daerah. Remitansi merupakan sumber external
funding terbesar ketiga setelah penanaman modal asing langsung
dan pinjaman bantuan pembangunan resmi. Peranan remitansi yang
sebenarnya adalah untuk menyokong ekonomi keluarga berupa
pembiayaan pembangunan tempat tinggal dan usaha kecil serta
membantu penyediaan infrastuktur sosial seperti sekolah dan
rumah sakit. Remitansi memberikan arti penting bagi implementasi
tujuan pembangunan berkelanjutan. Persentase remitansi terhadap
pendapatan nasional selama periode 2007-2011 terus mengalami
penurunan dari 1,94 persen pada tahun 2007 menjadi 1,34 persen
pada tahun 2011. Sementara pada periode 2012- 2015, persentase
remitansi terhadap pendapatan nasional terus mengalami
peningkatan hingga mencapai 2,04 persen.
108 | Sudirman
material yang sudah digunakan, dan pergeseran pola konsumsi
barang dan jasa yang kurang intensif.
1. Konsumsi Energi
Energi merupakan komponen utama dalam penyediaan
akses untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti
makanan dan transportasi, serta sangat penting dalam kegiatan
ekonomi khususnya kegiatan di bidang industri. Meskipun
secara umum energi telah dianggap sebagai mesin kemajuan
ekonomi, tetapi di sisi lain energi mempunyai dampak negatif
dan tekanan yang besar terhadap lingkungan. Konsumsi bahan
bakar fosil oleh sumber bergerak (transportasi) dan sumber
tidak bergerak (rumah tangga dan industri) merupakan sumber
utama pencemaran udara, sekaligus salah satu penyumbang
terbentuknya emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya
pemanasan global. Konsumsi energi setiap daerah akan
berbeda-beda jumlahnya tergantung besarnya penduduk,
aktivitas ekonomi penduduk, dan pola konsumsi penduduk.
Semakin besar jumlah penduduk maka konsumsi
energinya juga akan semakin besar. Konsumsi energi yang
tinggi akan menurunkan cadangan energi dan menurunkan
kualitas udara melalui polusi yang ditimbulkan. Untuk
menjamin energi yang berkelanjutan, 102 negara telah
bergabung dalam Energi Berkelanjutan untuk Semua (The
Sustainable Energy for All, SE4ALL) pada tahun 2014. SE4All
ditujukan untuk mengkatalis transformasi sistem energi dunia
menuju masa depan yang adil dan berkelanjutan. Mengubah
sistem energi dunia akan menyebabkan peluang investasi multi-
triliun dolar baru untuk menghilangkan kemiskinan energi,
mengintegrasikan dan menyeimbangkan sumber energi
konvensional dan terbarukan, mengatasi perubahan iklim dan
meningkatkan kemakmuran di negara-negara maju dan
berkembang.
110 | Sudirman
penumpang, bus, truk, kereta dll) terhadap total transportasi
barang di darat. Sarana transportasi kereta api baru tersedia di
Pulau Jawa dan Sumatera.
Produksi angkutan kereta api penumpang yang dihitung
dengan ratarata jarak perjalanan per penumpang (km/orang)
cenderung menurun selama periode 2011-2015. Sementara
angkutan kereta api barang yang dihitung dengan rata-rata jarak
angkut tiap ton barang (km/ton) cenderung fluktuatif. Pada
tahun 2015, rata-rata jarak perjalanan per penumpang di Pulau
Jawa dan Sumatera tercatat sebesar 68 km/orang, turun
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 73 km/orang.
Sementara rata-rata jarak angkutan barang tiap ton di Pulau
Jawa dan Sumatera tercatat sebesar 314 km/ton, naik dari
tahun sebelumnya (295 km/ton).
112 | Sudirman
Sumber : Komisi Pembangunan Berkelanjutan PBB Source United
Nation - Commission on Sustainable Development (UN-CSD)
114 | Sudirman
Sebagian besar negara anggota yang telah menerapkan indikator
pembangunan berkelanjutan CSD menemukan bahwa sekumpulan
indikator awal CSD tahun 1996 dianggap masih terlalu banyak
sehingga kurang mudah untuk diterapkan.
Pada tahun 2001, indikator tersebut direvisi dan dikurangi
hingga tersisa sebanyak 58 indikator. Indikator tersebut tertuang
dalam kerangka kebijakan yang berorientasi tema dan sub tema, dan
telah disesuaikan dengan implementasi dari Agenda 21. Sebenarnya
indikator pokok hasil evaluasi CSD ini merupakan indikator pilihan
dari indikator pembangunan berkelanjutan yang dipublikasikan pada
tahun 1996, yang berjumlah sekitar 134 indikator.
124 | Sudirman
B. PRINSIP SUSTAINABILITY REPORT
Secara keseluruhan, prinsip-prinsip ditujukan untuk mencapai
transparansi, sebuah nilai dan tujuan yang menjadi dasar dari semua
aspek dalam sustainability report. Transparansi dapat didefinisikan
sebagai pengungkapan informasi secara lengkap atas topik dan
indikator yang dibutuhkan dalam menggambarkan dampak serta
memungkinkankan pemangku kepentingan untuk terlibat dalam
pembuatan kebijakan, proses, prosedur, dan asumsi yang digunakan
untuk menyiapkan pengungkapan (GRI, 2006).
Prinsip-prinsip tersebut dibagi menjadi dua kelompok:
a. Prinsip pelaporan untuk menetapkan isi
- Materialitas : informasi dalam sebuah laporan harus mencakup
topik dan indikator yang menggambarkan dampak signifikan
dari ekonomi, lingkungan, dan sosial terhadap organisasi atau
yang dapat mempengaruhi penilaian dan kebijakan dari
pemangku kepentingan secara substantif
- Pelibatan stakeholder : organisasi harus mengidentifikasi para
pemangku kepentingannya dan menjelaskan dalam laporan
cara organisasi merespons harapan dan kepentingan dari
stakeholder
- Konteks sustainability: laporan harus memperlihatkan kinerja
organisasi dalam konteks sustainability yang lebih luas
- Kelengkapan: cakupan topik, indikator, dan definisi batasan
laporan harus menggambarkan dampak ekonomi, lingkungan,
dan sosial yang sigifikan dan memungkinkan stakeholder untuk
menilai kinerja organisasi dalam periode laporan berjalan
b. Prinsip pelaporan untuk menetapkan kualitas
- Keseimbangan: laporan harus menggambarkan aspek positif
dan negatif dari kinerja perusahaan untuk dapat
memungkinkan penilaian yang masuk akal terhadap
keseluruhan kinerja
126 | Sudirman
- Dapat diperbandingkan: isu-isu dan informasi harus dipilih,
dikumpulkan, dan dilaporkan secara konsisten
- Kecermatan: informasi yang dilaporkan harus cukup cermat
dan detail bagi stakeholder untuk menilai kinerja organisasi
- Ketepatan waktu: penyusunan laporan dilakukan berdasarkan
jadwal reguler dan informasi kepada stakeholder tersedia tepat
waktu ketika dibutuhkan dalam mengambil kebijakan
- Kejelasan: informasi harus disediakan dalam cara yang dapat
dimengerti dan diakses oleh pemangku kepentingan yang
menggunakan laporan
- Keterandalan: informasi dan proses yang digunakan dalam
penyiapan laporan harus dikumpulkan, direkam, dikompilasi,
dianalisis, dan diungkapkan dalam sebuah cara yang dapat
diuji dan dapat dibentuk kausalitas dan materialitas dari
laporan.
C. MANFAATSUSTAINABILITY REPORT
Menurut World Business Council for Sustainable
Development(WBCSD), manfaat yang didapat dari pengungkapan
sustainability reportantara lain :
1. Memberikan informasi kepada stakeholder(pemegang saham,
anggota komunitas lokal, pemerintah) sehingga meningkatkan
prospek perusahaan dan membantu mewujudkan
transparansi.
2. Membantu membangun reputasi sebagai alat yang
memberikan kontribusi untuk meningkatkan brand value,
market share, dan costumer loyality jangka panjang.
3. Menjadi cerminan bagaimana perusahaan mengelola
risikonya.
128 | Sudirman
B. PARTISIPASI
SDGs dibangun secara partisipatif. PBB bekerja sama dengan
beberapa lembaga mitranya telah menyelenggarakan survei warga,
yang disebut sebagai Myworld Survey ([Link]
Hasil survei hingga November tanggal 21 pukul 11.34 telah
mengumpulkan sebanyak 8, 5 juta lebih suara (persisnya 8.583.717
untuk semua negara). Untuk seluruh dunia, empat prioritas menjadi
usulan yaitu pendidikan yang bermutu, kesehatan yang lebih baik,
kesempatan kerja lebih baik, dan tata pemerintahan yang jujur dan
tanggap. Untuk Indonesia, telah terkumpul 38 ribu suara (persisnya
38.422 suara), dengan prioritas yang sedikit berbeda dengan
prioritas global yaitu;pendidikan yang bermutu, kesehatan yang
baik, tata pemerintahan yang jujur dan tanggap, serta kesempatan
kerja yang lebih baik. Survei mengajak warga untuk memilih enam
di antara 16 keadaan yang lebih baik untuk masa depan. Meksiko
menjadi negara yang paling banyak menyumbang suara, dengan
jumlah lebih dari 1,6 juta suara. Survei ini diadakan sejak 2013
hingga 2015, untuk menjadi masukan bagi Sekjen PBB dan para
pemimpin dunia yang merumuskan dan mengesahkan SDGs pada
September 2015.
C. TUJUAN SDG’S
1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun
130 | Sudirman
132 | Sudirman
DAFTAR PUSTAKA
136 | Sudirman
Kementerian Perhubungan. 2016. Buku Informasi Transportasi
2015. Jakarta: Kementerian Perhubungan.
Kementerian Perhubungan. 2016. Statistik Perhubungan 2015 Buku
I. Jakarta: Kementerian Perhubungan.
Kementerian Perhubungan. 2016. Statistik Perhubungan 2015 Buku
II. Jakarta: Kementerian Perhubungan.
Kementrian Kesehatan RI. 2013. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Laporan Survei Kepuasan Badan Pusat Statistik (BPS). Jakarta.
Nuraini, dkk. 2016. Profil Penduduk Indonesia Hasil Supas 2015 .
Jakarta: BPS.
Nuraini. 2011. Fertilitas Penduduk Indonesia Hasil Sensus
Penduduk 2010. Jakarta: BPS.
Pasmuko, Nugroho J Prastowo (2001). Credit Crunch in Indonesia
in the Aftermath of the Crisis: Facts, Causes and Policy
Implications. Bank Indonesia, Directorate of Economic
Research and Monetary Policy.
Pearce, D.W. and J.J. Wardford (1993) World Without End,
Economics, Environment and Sustainable Development.
Oxford University Press.
Penny K. Lukito. MCP. Ph.D. 2013. Kebijakan Subsidi Untuk
Pelayanan Air Minum Yang Berkeadilan Bagi Masyarakat
Miskin Di Perkotaan. Jurnal Perencanaan Pembangunan Vol.
XIX no.1. Jakarta: Bappenas.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: Pm 69 Tahun 2013
Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2015
Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Dasar 2011/2012.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
138 | Sudirman
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Menengah Atas
2011/2012. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2011/2012. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2011. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2011/2012. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Pendidikan Anak Usia Dini
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Dasar 2012/2013.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Menengah Atas
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2012. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2012/2013. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Pendidikan Anak Usia Dini
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Dasar 2013/2014.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Menengah Atas
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Menengah Kejuruan
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2014. Statistik Sekolah Menengah Pertama
2013/2014. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Pendidikan Anak Usia Dini
2014/2015. Jakarta: Setjen Kemendikbud.
PSDP Kemendikbud. 2015. Statistik Sekolah Dasar 2014/2015.
Jakarta: Setjen Kemendikbud.
140 | Sudirman
Rostow, W.W. (1971) The Stage of Economic Growth. Cambridge
University Press.
Salim, Emil., 1976, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Cetakan
Kesepuluh, Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Sekretariat PROPER KLHK. 2015. PROPER 2015. Jakarta:
Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan.
Subdirektorat Statistik Politik dan Keamanan. 2014. Statistik
Kriminal 2014. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Politik dan Keamanan. 2016. Statistik
Kriminal 2016. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2013. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2012. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2014. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2013. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2015. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2014. Jakarta: BPS.
Subdirektorat Statistik Rumah Tangga. 2015. Statistik
Kesejahteraan Rakyat 2015. Jakarta: BPS.
Sutamihardja, 2004 Perubahan Lingkungan Global; Program Studi
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sekolah
Pascasarjana; IPB.
Sutoyo, Agus., 1997, Pembinaan dan Pendidikan Kepedulian
Lingkungan (artikel), Harian Angkatan Bersenjata.
Syafrudin, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC. United
Nations. 2016.
The Sustainable Development Goals Report 2016. New York:
United Nations.
Todaro, M.P. (1989) Economic Development in the Third World,
Fourth Edition. Longman Group Limited.
142 | Sudirman
SATUAN / UNIT
144 | Sudirman
(GHG) HIV : Human Immunodeficiency Virus
IPCC : Intergovernmental Panel on Climate Change
KB : Keluarga Berencana Family Planning
KTT : Konferensi Tingkat Tinggi High Level
Conference
MDGs : Millenium Development Goals
NSB : Negara Sedang Berkembang Less Development
Countries
ODA : Official Development Asistance
PDB : Produk Domestik Bruto Gross Domestic
Product (GDP)
PDRB : Produk Domestik Regional Bruto Gross
Regional Domestic Product (GRDP)
PNB : Produk Nasional Bruto Gross National Product
(GNP)
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat Public Health
Center
Pustu : Puskesmas Pembantu Subsidiary Public Health
Center
Sakernas : Survei Angkatan Kerja Nasional National Labor
Force Survey
SBM : Setara Barel Minyak Barrel Oil Equivalent (BOE)
SP : Sensus Penduduk Population Census
SUPAS : Survei Penduduk Antar Sensus Inter Censal
Population Survey
SUSENAS : Survei Sosial Ekonomi Nasional National Socio
Economic Survey
OECD : Organization for Economic Cooperation and
Development
146 | Sudirman
BIOGRAFI PENULIS