0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan33 halaman

Menghitung Nilai Tukar Petani (NTP)

Dokumen tersebut membahas tentang konsep dan perhitungan Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. NTP dihitung dengan membandingkan Indeks Harga yang Diterima Petani dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani untuk kebutuhan konsumsi dan produksi. Dokumen ini juga menjelaskan ruang lingkup komoditas dan pasar yang dicakup serta definisi-definisi terkait perhitungan NTP

Diunggah oleh

Indrawan idris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan33 halaman

Menghitung Nilai Tukar Petani (NTP)

Dokumen tersebut membahas tentang konsep dan perhitungan Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. NTP dihitung dengan membandingkan Indeks Harga yang Diterima Petani dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani untuk kebutuhan konsumsi dan produksi. Dokumen ini juga menjelaskan ruang lingkup komoditas dan pasar yang dicakup serta definisi-definisi terkait perhitungan NTP

Diunggah oleh

Indrawan idris
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.1.

LATAR BELAKANG
Hakikat dari pembangunan pertanian yaitu untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sektor pertanian terlebih sektor pertanian merupakan
sektor yang vital bagi Indonesia. Oleh karena itu, orientasi pembangunan
pertanian yang menunjang perbaikan kesejahteraan petani menjadi sangat penting
kaitannya untuk mengkaji dampak pembangunan yang berjalan. Salah satu
indikator kesejahteraan petani yaitu kemampuan daya beli dari pendapatan petani
untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran rumah tangga petani. Semakin tinggi
daya beli pendapatan petani terhadap kebutuhan konsumsi maka semakin tinggi
nilai tukar petani yang berarti secara relatif petani lebih sejahtera.
Linier dengan hal tersebut di atas, sektor pertanian merupakan salah satu
sektor yang penting di Kabupaten Blora melalui perannya dalam pembentukan
PDRB, penyerapan tenaga kerja, dan sumber pendapatan masyarakat, serta dalam
memproduksi produk pertanian untuk penyediaan pangan, pakan, bahan baku
industri, dan perdagangan antar daerah. Data lima tahun terakhir menunjukkan
bahwa share sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap perekonomian
Kabupaten Blora masih strategis, meski secara tren tidak lagi dominan.
Peran sektor pertanian dalam perekonomian Blora mencapai hampir dari
seperempat total PDRB dan terus konsisten hingga tahun 2017 yaitu di angka
23,33 persen. Namun pada tahun 2018, sumbangan sektor ini tercatat memberikan
share sebesar 22,91 persen dan menempati posisi kedua setelah sektor
pertambangan dan penggalian (25,24 persen). Meskipun secara tren menurun,
namun mengingat minimnya faktor-faktor yang mendorong perubahan struktur
ekonomi di Blora, maka diyakini peran sektor pertanian masih sangat vital sampai
beberapa tahun mendatang.
Peningkatan produksi dan pendapatan petani padi belum tentu dapat
meningkatkan kesejahteraan petani apabila daya beli petani padi tersebut tidak
meningkat. Hal ini berkaitan dengan daya beli dalam pemenuhan kebutuhan
konsumsi rumah tangganya. Tingkat kesejahteraan petani padi secara relatif
meningkat apabila daya beli pendapatan dari usahatani padi meningkat. BPS telah

1
mengembangkan alat ukur untuk menilai daya beli tersebut dalam bentuk Nilai
Tukar Petani (NTP).
Upaya peningkatan kesejahteraan penduduk secara menyeluruh perlu
dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan penduduk perdesaan khususnya
penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Salah satu analisis yang dapat
dilakukan untuk mengukur kesejahteraan petani dan kondisi perekonomian
perdesaan tersebut adalah Nilai Tukar Petani (NTP).
NTP merupakan rasio atau perbandingan indeks harga yang diterima
petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). Secara konseptual NTP
adalah pengukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian yang
dihasilkan petani terhadap barang/jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah
tangga dan kebutuhan dalam memproduksi hasil pertanian. Indeks harga yang
diterima petani sebagai indeks harga produsen, merupakan indeks harga dari
berbagai komoditas hasil produksi pertanian (farm gate price), sedangkan indeks
harga yang dibayar petani sebagai indeks harga konsumen (retail price),
merupakan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi petani serta indeks
harga biaya produksi yang dikeluarkan petani dalam memproduksi hasil pertanian.
Dari angka NTP dapat pula diketahui tingkat daya saing suatu produk
pertanian yang dihasilkan petani dibandingkan dengan produk lain, sehingga arah
pengembangan kebijakan pada spesialisasi produk unggulan wilayah yang
berkualitas dapat dilakukan.
Untuk mengetahui perkembangan NTP, diperlukan tahun dasar sebagai
acuan perbandingan. Indeks harga produsen maupun konsumen perdesaan yang
digunakan beberapa tahun terakhir menggunakan tahun dasar 2012 (2012=100).
Mulai publikasi tahun 2019, penghitungan NTP menggunakan tahun dasar
2018=100.
Secara umum penghitungan NTP menghasilkan 3 (tiga) pengertian yaitu:
1) NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu lebih baik dibandingkan
dengan NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani mengalami surplus.
Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya.
Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar dari pengeluarannya.
2) NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu sama dengan NTP pada
tahun dasar, dengan kata lain petani mengalami impas. Kenaikan/penurunan

1
harga produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang
konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.

3) NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu menurun dibandingkan
NTP pada tahun dasar, dengan kata lain petani mengalami defisit. Kenaikan
harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang
konsumsinya. Pendapatan petani turun dan lebih kecil dari pengeluarannya.

1.2. KEGUNAAN

Beberapa fungsi atau kegunaan nilai tukar petani antara lain:


1) Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga barang-
barang yang dihasilkan petani. Indeks ini dipakai sebagai data penunjang
dalam penghitungan pendapatan sektor pertanian.
2) Indeks harga yang dibayar petani (Ib) menunjukkan fluktuasi harga barang-
barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar dari
masyarakat pedesaan dan fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian.
3) Nilai Tukar Petani (NTP) berguna untuk mengukur kesejahteraan petani
berdasarkan rasio antara indeks harga yang diterima terhadap indeks harga

yang dibayar.

1.3. RUANG LINGKUP

Sektor pertanian yang dicakup dalam penghitungan NTP


dengan menggunakan tahun dasar 2018 = 100 meliputi subsektor
Tanaman Pangan, subsektor Hortikultura, subsektor Tanaman
Perkebunan Rakyat, subsektor Peternakan, dan subsektor Perikanan.
Diagram timbang yang digunakan adalah diagram timbang
NTP Provinsi Jawa Tengah yang telah disesuaikan dengan kondisi
Blora. Periode waktu yang digunakan dalam penghitungan NTP tahun
2019/2020 yaitu bulan Oktober 2019 hingga September 2020.

1
BAB II KONSEP DAN DEFINISI

Konsep dan definisi yang digunakan dalam penghitungan NTP antara lain:

1. NILAI TUKAR PETANI (NTP)


Nilai Tukar Petani (NTP) adalah angka perbandingan antara indeks harga yang
diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam
persentase.

2. INDEKS HARGA YANG DITERIMA PETANI (It)

Indeks harga yang diterima petani (It) adalah indeks harga yang menunjukkan
perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani.

3. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR PETANI (Ib)

Indeks harga yang dibayar petani (Ib) adalah indeks harga yang menunjukkan
perkembangan harga kebutuhan rumah tangga petani, baik itu kebutuhan untuk
konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan untuk proses produksi pertanian.

4. PETANI

Petani yaitu orang yang mengusahakan usaha pertanian dalam arti luas (tanaman
pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan
perikanan atas resiko sendiri dengan tujuan untuk dijual, baik sebagai petani pemilik
maupun petani penggarap (sewa/kontrak/bagi hasil).

5. HARGA YANG DITERIMA PETANI


Harga yang diterima petani adalah rata-rata harga produsen dari hasil produksi
petani sebelum ditambahkan biaya transportasi/pengangkutan dan biaya pengepakan
untuk harga penjualannya. Hal ini sering disebut sebagai farm gate price (harga
disawah/ladang setelah pemetikan). Sedangkan harga rata-rata adalah harga yang
bila dikalikan dengan volume penjualan petani akan mencerminkan total uang yang
diterima petani tersebut.
6. HARGA YANG DIBAYAR PETANI
Harga yang dibayar petani adalah rata-rata harga eceran barang/jasa yang
dikonsumsi atau dibeli petani, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga
sendiri maupun untuk keperluan biaya produksi pertanian. Data harga barang untuk

1 8
keperluan produksi pertanian dikumpulkan dari wawancara langsung dengan petani,
sedangkan harga barang/jasa untuk keperluan konsumsi rumah tangga petani dicatat
dari hasil wawancara langsung dengan pedagang atau penjual jasa di pasar terpilih.
7. PASAR
Pasar adalah tempat terjadi transaksi antara penjual dan pembeli atau tempat yang
biasanya terdapat penawaran dan permintaan. Syarat pasar yang dijadikan sampel
yaitu pasar paling besar, banyak pembeli dan penjual, jenis barang yang
diperjualbelikan cukup banyak dan terjamin kelangsungan pencatatan harganya serta
terletak di perdesaan.
8. HARGA ECERAN PERDESAAN
Harga eceran perdesaan adalah harga transaksi antara penjual dan pembeli secara
eceran dipasar setempat untuk tiap jenis barang yang dibeli dengan tujuan untuk
dikonsumsi sendiri dan bukan untuk dijual kepada pihak lain. Harga yang dicatat
adalah harga modus (yang terbanyak muncul) atau harga rata-rata biasa dari
beberapa pedagang/penjual yang memberikan datanya.
9. PAKET KOMODITAS
Paket komoditas adalah sekelompok komoditas terpilih dari hasil produksi
pertanian yang dihasilkan oleh petani dan barang/jasa yang digunakan baik untuk
proses produksi pertanian maupun untuk keperluan rumah tangga petani di daerah
perdesaan untuk suatu periode tertentu.
10. DIAGRAM TIMBANG
Diagram timbang adalah bobot/nilai masing-masing komoditas hasil produksi
pertanian dan barang/jasa yang termasuk dalam paket komoditas.
11. TAHUN DASAR
Tahun dasar adalah periode waktu yang ditentukan sebagai permulaan dihitungnya
angka indeks. Penentuan pergantian tahun dasar bisa disebabkan beberapa
pertimbangan, antara lain:
1) Perluasan cakupan wilayah penelitian. Misalnya pergantian tahun dasar NTP
tahun 2012 menjadi 2018 karena provinsi yang tercakup dalam penghitungan
NTP bertambah, dari 32 provinsi menjadi 34 provinsi.
2) Perluasan cakupan penghitungan indeks pada subsektor dalam sektor
pertanian.
3) Kondisi perekonomian nasional yang stabil.

13 9
3.3. PEMILIHAN PASAR

Pemilihan pasar dilakukan secara purposive terhadap pasar di wilayah


masingmasing dengan kriteria :
1. Paling besar di kecamatan yang bersangkutan.
2. Beraneka ragam komoditas yang diperdagangkan.
3. Banyak masyarakat berbelanja di pasar tersebut.
4. Kelangsungan pencatatan komoditas terjamin.
5. Berlokasi di pedesaan.

3.4. FORMULA PENGHITUNGAN

Formula atau rumus yang digunakan pada penghitungan indeks harga yang diterima
petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) adalah formula Indeks Laspeyres yang
dikembangkan (Modified Laspeyres Indices), yaitu :
m P

 ni P(n1)iQ0i
i1 P(n1)i
I n m X100

P Q0i
0i
i1

Keterangan
In = Indeks harga bulan ke-n (It maupun Ib)
Pni = Harga bulan ke-n untuk jenis barang ke-i
P(n-1)i = Harga bulan ke-(n -1) untuk jenis barang ke-i
Pni/ P(n-1)i = Relatif harga bulan ke-n untuk jenis barang ke-i
P0i = Harga pada tahun dasar untuk jenis barang ke-i
Q0i = Kuantitas pada tahun dasar untuk jenis barang ke-i
m = Banyaknya jenis barang yang tercakup dalam paket komoditas

Pertimbangan yang mendasari penggunaan formula di atas adalah sebagai berikut :


1) Trend harga tidak dipengaruhi oleh perbedaan kualitas atau spesifikasi komoditas.
2) Perbedaan harga komoditas antar wilayah tidak berpengaruh.
3) Dapat dilakukan penggantian spesifikasi atau penggantian jenis barang.

1
Formula untuk penghitungan Nilai Tukar Petani (NTP):

It
NTP  x100
Ib
Keterangan :
NTP = Nilai Tukar Petani
It = Indeka harga yang diterima petani
Ib = Indeka harga yang dibayar petani

Penyajian data berupa data runtun waktu (series data) baik bulanan maupun rata-rata
tahunan untuk setiap subsektor.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. NILAI TUKAR PETANI (NTP) KABUPATEN BLORA

Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan antara


indeks harga yang diterima (It) petani terhadap indeks harga yang dibayar (Ib)
petani, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau
daya beli petani di pedesaan. NTP juga menggambarkan nilai tukar (term of
trade) dari produksi pertanian terhadap barang/jasa yang dikonsumsi rumah
tangga petani dan biaya produksi serta pembentukan barang modal. Semakin
tinggi NTP, secara relatif semakin tinggi kemampuan atau daya beli petani di
pedesaan.
Hal yang perlu menjadi perhatian yaitu BPS telah menetapkan bahwa
mulai tahun 2020 penghitungan NTP menggunakan diagram timbang dengan
tahun dasar 2018 = 100. Oleh sebab itu, perbandingan NTP tahun 2020 dengan
tahun-tahun sebelumnya menjadi tidak relevan karena tahun sebelumnya
menggunakan tahun dasar 2012 = 100. Perbedaan penggunaan tahun dasar
berpengaruh terhadap acuan perubahan harga dan biaya secara mikro.

13
Tabel 1. It, Ib, NTP Kabupaten Blora Periode Oktober 2019 - September 2020
(2018=100)
It Ib NTP Perubahan NTP
terhadap bulan
Bulan
sebelumnya (%)

Okt-19 100,41 99,67 100,52 -4,15


Nov-19 100,64 100,07 100,75 0,23
Des-19 100,71 100,14 100,69 0,07
Jan-20 100,32 100,00 100,29 -0,40
Feb-20 100,14 100,15 100,11 -0,18
Mar-20 100,20 100,20 100,05 0,06
Apr-20 100,95 100,02 100,92 0,75
May-20 101,01 100,61 100,84 0,06
Jun-20 100,98 100,16 100,85 -0,03
Jul-20 101,13 100,28 100,92 0,15
Aug-20 101,40 100,58 101,19 0,27
Sep-20 101,68 100,44 101,46 0,28
Tabel 1 menunjukkan bahwa harga-harga pedesaan di Kabupaten Blora
secara umum dari bulan Oktober 2019 hingga September 2020 relatif stagnan atau
tidak terlalu fluktuatif yaitu pada kisaran 99,67–100,58 dengan rata-rata indeks
yang diterima petani sebesar 100,80. Selanjutnya untuk NTP secara umum di atas
100, sehingga dapat dinyatakan bahwa rata-rata petani di Kabupaten Blora
mengalami surplus atau memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
rumah tangga dan biaya produksi serta untuk penambahan barang modalnya.
Perubahan NTP secara umum tidak terlalu signifikan setiap bulannya.
Meski demikian, pada bulan Januari dan Februari 2020 diketahui perubahan NTP
menunjukkan angka minus atau mengalami penurunan. Jika menilik pada situasi
ekonomi makro pada bulan-bulan tersebut, pandemi Covid-19 yang telah merebak
di berbagai negara sejak Desember 2019 dapat menjadi faktor yang paling
berpengaruh. Hal ini dikarenakan pandemi Covid-19 telah mendisrupsi
perdagangan global seperti ekspor impor yang turut berpengaruh pada penyerapan
hasil produksi sektor pertanian.
NTP kemudian kembali bergerak naik pada bulan April dimana bulan
tersebut merupakan musim panen raya. Selanjutnya NTP kembali minus pada
bulan Juni dimana awal musim kemarau berlangsung yang memungkinkan
terjadinya penurunan produktivitas sehingga juga terjadi penurunan permintaan

1
pada level petani. Tren pergerakan NTP pada periode Oktober 2019 – September
2020 dapat dilihat pada Grafik 1.

100.15

100.1
99.82
99.76

100.11
99.7

99.89

99.64
99.25
98.15
Grafik 1. NTP Kabupaten Blora Oktober 2019 - September 2020 (2018=100)

101,20
100,81 100,90 101,01
100,63 100,62 100,52 100,64
100,42
100,11 100,07
99,67

NTP Kabupaten Blora mencapai angka tertinggi pada Bulan September 2020 yaitu
sebesar 101,2 sedangkan Maret merupakan bulan dengan NTP terendah sebesar
99,67. Secara umum, NTP Kabupaten Blora pada periode Oktober 2019 –
September 2020 yaitu sebesar 100,74. Jika dibandingkan dengan NTP Provinsi
Jawa Tengah pada periode yang sama yaitu Januari hingga September 2020 dimana
pada kurun waktu tersebut menggunakan tahun dasar 2018 = 100 maka dapat
ditunjukkan pada Grafik 2 berikut.

Grafik 2. Perbandingan NTP Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Blora Periode
Januari - September 2020

13
101,75

Provinsi Jawa Tengah


Kabupaten Blora
100,74

Secara garis besar NTP Kabupaten Blora khususnya dalam periode Januari
hingga September 2020 berada di bawah NTP Jawa Tengah. Meski demikian
selisih NTP tersebut relatif kecil yaitu berkisar 1,01%. Artinya, NTP Kabupaten
Blora dapat dikatakan baik jika dibandingkan terhadap Provinsi Jawa Tengah.

4.2. INDEKS DITERIMA (It) DAN INDEKS DIBAYAR (Ib)

PETANI KABUPATEN BLORA

Indeks yang diterima petani (It) menunjukkan perubahan harga komoditas


pertanian yang dihasilkan oleh petani pada subsektor tanaman pangan,
hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan. Sedangkan
indeks yang dibayar petani (Ib) mencerminkan fluktuasi harga barang dan jasa
yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan
bagian terbesar pada masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa
yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian
Grafik 3 berikut menunjukkan bahwa pada periode Oktober 2019 hingga
September 2020, baik indeks yang diterima dan dibayar petani cenderung
mengalami kenaikan. Akan tetapi secara umum, indeks harga yang dibayar petani
lebih kecil daripada indeks harga yang diterima. Indeks harga yang diterima
petani berkisar 100,14 – 101,68. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani
yaitu antara 99,67–100,58. Hal ini mengindikasikan bahwa petani mengalami
surplus karena pendapatannya lebih besar daripada pengeluaran.

1
Grafik 3. It dan Ib Petani Kabupaten Blora Oktober 2019 – September 2020
(2018=100)

101,60
101,40
101,23
101,01 100,92
100,77
100,63 100,62 100,69
100,32 100,29
99,93 100,66 100,58
100,44
100,11 100,25 100,06
100,23 100,20 100,11 100,16 100,28
99,77
Nov-19

Jan-20

Mar-20

Jun-20

Aug-20

Sep-20
Oct-19

Dec-19

Feb-20

Apr-20

May-20

Jul-20
Indeks Harga yang Diterima…
Indeks Harga yang Dibayar…

4.3. INFLASI PEDESAAN

Pada kelompok indeks harga yang dibayar petani (Ib), indeks konsumsi
rumah tangga (IKRT) menunjukkan perkembangan harga barang/jasa yang
dikonsumsi oleh petani yang digunakan sebagai salah satu indikator inflasi
pedesaan.
Grafik 4. IKRT Kabupaten Blora Oktober 2019 – September 2020 (2018=100)

100,13 100,13 100,16 100,13 100,13


100,08 100,08 100,08
100,00
99,90
99,82 99,85
Okt-19

Jan-20

Mei-20

Jul-20
Nov-19

Des-19

Apr-20

Jun-20

Ags-20
Feb-20

Mar-20

Sep-20

Grafik 3 menunjukkan besaran IKRT Kabupaten Blora yang relatif stabil


setiap bulan. Artinya, tidak terjadi perubahan konsumsi rumah tangga yang
signifikan di pedesaan. IKRT tertinggi pada periode Oktober 2019 – September
2020 terjadi pada bulan Januari 2020 yaitu sebesar 100,16. Sedangkan IKRT

13
mengalami penurunan pada rentang bulan Maret hingga Mei 2020 dengan IKRT
terendah terjadi pada bulan Maret sebesar 99,82. Kemudian IKRT mulai bergerak
naik pada Juni 2020.
Terjadinya penurunan pada rentang bulan tersebut salah satunya
dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro dimana pandemi Covid-19 masih terjadi di
Indonesia. Hal ini diperkuat dengan rilis Kementerian Keuangan RI yang menyebut
bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama (Q1) kurang dari
2,5%. Selama pandemi, masyarakat cenderung untuk menyimpan uang daripada
melakukan konsumsi. Sehingga penurunan IKRT Kabupaten Blora pada bulan
Februari hingga Mei 2020 merupakan suatu hal yang sangat relevan dengan situasi
nasional.

IKRT merupakan salah satu komponen indeks harga yang dibayar (Ib), jika
melihat Tabel 1 dapat diketahui bahwa angka Ib mayoritas berada di bawah 100. Hal
tersebut mengindikasikan bahwa komponen Ib yang lain yaitu Biaya Produksi dan
Pembentukan Barang Modal (BPPBM) berkontribusi lebih besar dalam
pembentukan nilai Ib. Artinya, ada kecenderungan peningkatan BPPBM pada
periode Oktober 2019 hingga September 2020, sedangkan perubahan IKRT relatif
stabil. Hal ini mengindikasikan inflasi pedesaan yang terjadi pada periode Oktober
2019 hingga September 2020 tidak mengalami perubahan yang signifikan.

4.4. NTP PER SUBSEKTOR


Subsektor penyusun NTP meliputi subsektor tanaman pangan,
hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan. Usaha sektor
pertanian yang menjadi cakupan NTP adalah usaha pada sektor pertanian yang
tidak berbadan hukum.

Tabel 2. NTP Kabupaten Blora per Subsektor Oktober 2019 - September 2020 (2018=100)
Nilai Tanaman
Perikanan
Tukar Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan
Bulan Budidaya
Petani (NTPP) (NTPH) Rakyat (NTPP)
(NTNP)
(NTP) (NTPPR)
Oct-19 100,52 100,36 100,54 102,77 98,98 100,50
Nov-19 100,75 100,34 100,54 102,77 98,94 100,50
Dec-19 100,69 100,16 100,66 101,85 99,25 100,67

1
Jan-20 100,29 100,10 100,66 101,23 98,45 100,11
Feb-20 100,11 99,80 100,31 101,23 98,86 100,11
Mar-20 100,05 99,44 101,31 100,31 97,78 99,53
Apr-20 100,92 100,04 103,21 100,93 99,73 100,11
May-20 100,84 100,06 102,63 100,93 99,12 99,37
Jun-20 100,85 100,55 104,73 101,85 96,52 99,53
Jul-20 100,92 100,06 102,41 101,85 101,03 99,16
Aug-20 101,19 100,50 102,66 101,85 100,88 99,16
Sep-20 101,46 101,12 102,26 101,85 100,24 100,54
Rata-rata 100,71 100,21 101,83 101,62 99,15 99,94
Berdasarkan Tabel 2, selama periode Oktober 2019 hingga September 2020
besaran NTP subsektor pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat berada pada
posisi diatas 100. Sedangkan besaran NTP untuk subsektor peternakan dan
perikanan berada di bawah 100. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode
tersebut, petani pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat mengalami surplus.
Sebaliknya, petani peternakan (peternak) dan pembudidayaan ikan diketahui
mengalami defisit, meskipun sebenarnya angka penurunan tidak signifikan, hanya
berkisar 0,85 untuk peternakan dan 0,06 untuk perikanan.
Subsektor yang memiliki rata-rata NTP tertinggi yaitu hortikultura sebesar
101,83, sedangkan subsektor dengan angka NTP terendah yaitu subsektor
peternakan dengan rata-rata NTP sebesar 99,15.

Grafik 5. NTP per Subsektor Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Blora
Oktober 2019 - September 2020 (2018=100)

107,24 107,91

104,08
101,83 101,62
100,21 99,94
98,34 99,15

94,14

Tanaman Holtikultura Tanaman Peternakan Perikanan


Pangan perkebunan
rakyat

Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Blora

13
Grafik 5 menunjukkan perbandingan NTP Kabupaten Blora per subsektor
terhadap NTP Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Blora lebih unggul pada NTP
subsektor tanaman perkebunan rakyat dan peternakan. Sedangkan NTP Kabupaten
Blora untuk subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perikanan secara umum
lebih rendah dibandingkan Jawa Tengah.
Berdasarkan grafik tersebut NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat
Kabupaten Blora lebih unggul 3,28% dan subsektor peternakan lebih unggul 1,01%
terhadap Jawa Tengah. Namun, tanaman pangan Kabupaten Blora lebih rendah
3,87% dari Provinsi Jawa Tengah. Begitu juga NTP subsektor hortikultura Blora
lebih rendah 5,41% sedangkan untuk subsektor perikanan budidaya lebih rendah
8,97%.

4.4.1. Subsektor Tanaman Pangan

Beberapa hal yang dipantau pada subsektor tanaman pangan meliputi


harga komoditas yang diproduksi petani dan harga yang dibayar petani untuk
keperluan biaya produksi serta biaya yang dibayar petani untuk keperluan
konsumsi rumah tangga petani tanaman pangan. Komponen pembentuk indeks
harga yang diterima petani berasal dari kelompok padi dan palawija yang terdiri
dari gabah, jagung, kacang-kacangan, ketela, umbi-umbian dan lain-lain.
Informasi pergerakan NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) ditunjukkan pada
Grafik 6.

Grafik 6. NTPP Kabupaten Blora Oktober 2019 - September 2020 (2018=100)

101,12

100,55 100,50
100,36 100,34
100,16 100,10
100,04 100,06 100,06
99,80
99,44

1
NTP subsektor tanaman pangan pada periode Oktober 2019 hingga
September 2020 secara garis besar mengalami surplus yaitu rata-rata sebesar
100,21. NTPP berada posisi defisit pada bulan Februari (99,80) dan Maret (99,44)
dengan asumsi masih sama yaitu pengaruh dari adanya pandemi Covid-19.
Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) yang diterapkan pada hamper seluruh
daerah di Indonesia berdampak pada pembatasan aktivitas pasar, penutupan
swalayan, hotel, hingga restoran yang merupakan penyerap produk pertanian
terbesar. Hal ini turut berpengaruh pada tingkat penyerapan hasil pertanian pada
level petani yang juga mengalami penurunan.

Setelah mengalami defisit, NTPP kembali bergerak naik pada bulan April.
Peningkatan NTPP terbesar terjadi pada bulan September 2020 yaitu sebesar
101,12. Pada bulan tersebut PSBB sudah mulai dilonggarkan dengan tetap
menerapkan protokol, pasar sudah beraktivitas normal, tempat umum seperti hotel
dan restoran juga sudah beroperasi. Artinya, ada potensi penyerapan hasil
pertanian yang meningkat.

Komoditas yang paling mempengaruhi pembentukan NTPP di Kabupaten


Blora adalah jagung. Surplus NTPP yang terjadi pada bulan September juga dapat
dipengaruhi oleh panen jagung yang terserap dengan baik di pasaran. Untuk
mengetahui perkembangan It dan Ib pada subsektor tanaman pangan, disajikan
Grafik 7 berikut.

Grafik 7. It dan Ib Subsektor Tanaman Pangan Kabupaten Blora Oktober 2019 -


September 2020 (2018=100)

13
101,21

100,51 100,60

100,12 100,10 100,12 100,22 100,02 100,15 100,15


99,87
100,12 100,22 100,11 100,09 100,09 100,09
99,96 99 99,96
99,76 99,76 99,,81
25 99,81

Apr-20

May-20

Jul-20
Oct-19

Nov-19

Dec-19

Jan-20

Feb-20

Jun-20

Aug-20
Mar-20

Sep-20
Indeks Diterima (It) Indeks Dibayar (Ib)

Grafik 7 menunjukkan besaran indeks harga yang diterima dan dibayar


pada subsektor tanaman pangan. Secara umum dapat diketahui bahwa indeks
diterima lebih besar daripada indeks yang dibayar oleh petani. Temuan menarik
yang dapat dikaji pada kedua indeks tersebut yaitu pada rentang bulan Februari
hingga April 2020 yaitu di bawah 100, indeks yang dibayar justru lebih besar
daripada indeks yang diterima petani. Hal ini mengisyaratkan bahwa serapan hasil
pertanian yang diusahakan lebih rendah daripada konsumsi rumah tangga dan
biaya modal yang dikeluarkan oleh petani.

Salah satu faktor yang paling mempengaruhi penurunan indeks diterima


pada bulan Februari hingga April adalah musim panen raya padi. Situasi yang
umum terjadi pada panen raya yaitu menurunnya harga gabah di level petani
sehingga hal tersebut akan turut menurunkan indeks harga untuk subsektor
tanaman secara keseluruhan. Situasi tersebut diperparah dengan penerapan PSBB
selama pandemi Covid-19 yang menghambat penyerapan hasil panen raya.
Indeks harga yang diterima kembali merangkak naik pada bulan Mei,
namun kemudian turun pada bulan Juli sebesar 99,87. Penurunan indeks harga
yang diterima pada bulan Juli ditengarai karena terjadinya panen padi dan jagung,
ditambah kondisi padi yang surplus dari hasil panen raya yang tidak terserap
optimal pada periode sebelumnya. Puncak kenaikan indeks harga diterima terjadi
pada bulan September sebesar 101,21 yang menunjukkan subsektor tanaman
pangan mengalami pertumbuhan positif.

1
4.4.2. Subsektor Hortikultura

Untuk mengkaji Nilai Tukar Petani subsektor Hortikultura (NTPH),


kelompok yang dipantau dalam subsektor hortikultura adalah kelompok
sayursayuran yang meliputi komoditas cabe keriting, bawang merah, bawang
putih dan lain-lain, kelompok buah-buahan yang meliputi komoditas buah salak,
nangka, pisang dan lain-lain, serta kelompok tanaman obat-obatan yang meliputi
komoditas jahe, kencur, kunyit dan sebagainya. Informasi pergerakan NTPH
ditunjukkan pada Grafik 8.

Selama periode pemantauan harga dari bulan Oktober 2019 hingga September 2020,
seluruh NTPH berada pada posisi diatas 100, artinya nilai dari produk hortikultura
yang dihasilkan petani lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran untuk proses
produksi hortikultura maupun untuk konsumsi rumah tangga petani hortikultura.
Rata-rata NTP subsektor hortikultura sebesar 101,83, artinya petani hortikultura di
Kabupaten Blora mengalami surplus.
Pada periode tersebut, bulan dengan NTP tertinggi adalah bulan Juni dengan NTP
sebesar 104,73, sedangkan bulan dengan NTP terendah terjadi pada bulan Februari
sebesar 100,31. Tingginya NTP pada bulan Juni dipengaruhi oleh komoditas bawang
merah yang mengalami panen raya dalam kurun waktu tersebut sehingga
berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan NTP. Sedangkan penurunan
NTP pada bulan Februari dapat dipengaruhi oleh dampak penerapan PSBB pandemi
Covid-19 yang menurunkan penyerapan produk hortikultura. Meski demikian,
subsektor hortikultura dapat dinilai resilien selama pandemi berlangsung, dibuktikan

13
dengan rata-rata NTPH selama periode tersebut di atas 100. Untuk mengetahui
perkembangan It dan Ib pada subsektor tanaman pangan, disajikan Grafik 7 berikut.

Grafik 9. It dan Ib Subsektor Tanaman Hortikultura Kabupaten Blora Oktober 2019


- September 2020 (2018=100)
104,29

102,78
102,19 102,23
101,97 101,83

100,88
100,11 100,11 100,23 100,23 99,89

100,18
99,93 99,93
99,46 99,46 99,58 99,63 99,46 99,46 99,46
99,17 99,17
Mar-20
Nov-19

Dec-19

Jan-20

Apr-20

May-20

Jun-20

Aug-20
Oct-19

Feb-20

Jul-20

Sep-20
Indeks Diterima (It) Indeks Dibayar (Ib)

Berdasarkan Grafik 9, secara garis besar indeks harga yang diterima lebih besar
dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani. Hal ini menunjukkan
pendapatan petani lebih besar dari pengeluarannya. Rata-rata indeks harga yang
diterima oleh petani hortikultura sebesar 101,39, sedangkan untuk indeks harga yang
dibayar yaitu sebesar 99,57.
Indeks harga yang diterima petani terendah terjadi pada bulan Februari sebesar
99,89. Pandemi Covid-19 masih relevan untuk menjadi faktor yang mempengaruhi
penurunan tersebut. Namun kemudian indeks diterima merangkak naik pada bulan
Maret. Meskipun penerapan PSBB masih berlangsung pada kurun waktu tersebut,
tetapi berdasarkan beberapa penelitian terbaru menyatakan bahwa adanya pandemi
Covid-19 telah mendorong masyarakat untuk mengonsumsi lebih banyak sayur dan
buah. Fenomena tersebut dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tren peningkatan
indeks harga yang diterima petani.
Sedangkan untuk indeks harga yang dibayar petani relatif stabil, yaitu berkisar
99,17 – 100,18. Rendahnya indeks harga yang dibayar terhadap indeks harga yang
diterima menunjukkan tingkat konsumsi rumah tangga (IKRT) dan perubahan biaya
modal (BPPBM) yang cenderung rendah. Dalam hal ini petani hortikultura
mengalami surplus.

1
4.4.3. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat

Besaran NTP subsektor perkebunan rakyat (NTPPR) diolah dari data harga
komoditas yang diproduksi petani dan harga yang dibayar petani untuk keperluan
biaya produksi serta untuk keperluan konsumsi rumah tangga petani tanaman
perkebunan rakyat. Indeks NTP subsektor perkebunan rakyat pada Oktober 2019
hingga September 2020 tercatat cukup fluktuatif. Selama periode pemantauan harga
dalam rentang waktu tersebut, besaran NTP untuk subsektor perkebunan rakyat
menunjukan angka di atas 100,00 dengan rata-rata indeks sebesar 101,85. Kondisi
demikian menunjukan bahwa petani untuk perkebunan rakyat mengalami surplus
seperti tercantum pada Grafik 10.

Grafik 10. NTPPR Kabupaten Blora Oktober 2019 - September 2020 (2018=100)

102,77102,77

101,85 101,85 101,85101,85 101,85

101,23101,23
100,93100,93

100,31

Berdasarkan Grafik 10, penurunan NTP mulai terjadi pada bulan Desember 2019
sebesar 0,92 dari bulan sebelumnya, hingga mencapai nilai terendahnya pada bulan
Maret 2020 dengan besaran NTP 100,31 kemudian mengalami kenaikan dan
cenderung konstan mulai bulan April-September 2020. Penurunan nilai terendah di
bulan Maret sejalan dengan nilai indeks yang diterima petani (lt) di bulan yang sama
dimana mencapai titik paling rendah selama periode pemantauan harga, yaitu 99,77.
Kenaikan NTPPR yang mulai terlihat di bulan April 2020 mengindikasikan
adanya kenaikan produksi komoditas subsektor tanaman perkebunan rakyat yang
dijual petani relatif lebih besar dibandingkan dengan kenaikan harga konsumsi dan
biaya modal yang diusahakan petani sehingga pendapatan petani meningkat dan

13
menjadi lebih besar daripada pengeluarannya. Informasi mengenai indeks harga
yang diterima dan indeks harga yang dibayar petani disajikan pada Grafik 11
berikut.

Grafik 11. It dan Ib Subsektor Tanaman Hortikultura Kabupaten Blora Oktober


2019 - September 2020 (2018=100)
102,21 102,21

101,30 101,30 101,30 101,30 101,30


100,68 100,68
100,38 100,38
99,77

99,71 99,71 99,54 99,54 99,54 99,54 99,54


99,42 99,42 99,42 99,42
98,63
Oct-19

Dec-19

Feb-20

Jul-20
Nov-19

Jan-20

Mar-20

Apr-20

May-20

Aug-20

Sep-20
Indeks Diterima (It) Jun-20
Indeks Dibayar (Ib)

Berdasarkan Grafik 11, indeks harga yang diterima petani dan yang dibayar petani,
selama periode pemantauan harga, keduanya menunjukan perbedaan besaran yang
cukup signifikan. Jika dilihat pada tren indeks harga yang diterima petani, sebagian
besar menunjukan angka besaran indeks di atas 100 terkecuali di bulan Maret yaitu
sebesar 99,77. Apabila dicermati lagi, indeks harga yang dibayar relatif lebih
konstan, bila dibandingkan dengan indeks harga yang diterima petani. Meskipun
demikian, selisih indeks harga yang diterima dan dibayar relatif kecil yang
mengindikasikan bahwa surplus yang diterima oleh petani juga relatif kecil.
Komoditas yang paling berpengaruh dalam pembentukan NTPPR di
Kabupaten Blora yaitu tebu. Jika dikaji lebih jauh beberapa penelitian terbaru, pada
rentang bulan Desember 2019 hingga Mei 2020, indeks harga yang diterima untuk
komoditas tebu mengalami penurunan. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi
oleh mundurnya musim penghujan yang mengakibatkan masa pertumbuhan tebu
berkurang. Selain itu harga gula nasional yang anjlok secara tidak langsung turut
mempengaruhi indeks harga yang diterima.
Indeks harga yang diterima menunjukkan kenaikan pada bulan Juni lanjut stagnan
hingga September ditengarai karena adanya panen tebu yang meningkatkan

1
penerimaan petani dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Meski demikian kenaikan
tersebut belum bisa mengguli indeks harga yang diterima pada bulan Oktober hingga
September 2019.

4.4.4. Subsektor Peternakan


Komoditas yang dipantau dalam penghitungan NTP subsektor peternakan
(NTPT) meliputi komoditas ternak besar (sapi potong), ternak kecil (kambing dan
domba), unggas (ayam), dan hasil-hasil peternakan (telur ayam). Selama periode
Oktober 2019 hingga September 2020, besaran NTP untuk subsektor peternakan
cukup fluktuatif berkisar antara 98,45 sampai dengan 101,03, dengan rata-rata NTP
sebesar 99,15. Artinya, NTP subsektor peternakan mengalami defisit. Informasi
mengenai pergerakan NTPT disajikan pada Grafik 12.

Grafik 12. NTPT Kabupaten Blora Oktober 2019 - September 2020


(2018=100)

101,03 100,88
100,24
99,73
99,25 99,12
98,98 98,94 98,86
98,45
97,78

96,52

Penurunan NTP yang paling signifikan terjadi pada bulan Juni 2020 yaitu
96,52. Kemudian NTP mulai kembali merangkak naik 3 (tiga) bulan terakhir selama
periode pemantauan harga. Kondisi besaran NTPT yang tercermin pada subsektor
peternakan juga sejalan dengan gambaran indeks harga yang diterima dan dibayar di
Kabupaten Blora. Informasi mengenai perkembangan indeks harga yang diterima
dan
indeks harga yang dibayar petani tercantum pada Grafik 11.
Grafik 13. It dan Ib Subsektor Peternakan Kabupaten Blora Oktober 2019 –
September 2020 (2018=100)

13
101,38 101,22
100,58 100,66 100,53
99,94 100,10 99,99
99,75 99,69 101,19 101,04
98,98 99,05 100,40
99,89
99,40 99,27
99,13 99,09 99,01
98,60
97,93

96,67
Nov-19

Mar-20

Jun-20

Jul-20

Sep-20
Oct-19

Dec-19

Jan-20

Feb-20

Apr-20

May-20

Aug-20
Indeks Diterima (It) Indeks Dibayar (Ib)

Berdasarkan Grafik 13 dapat diketahui bahwa sebagian besar indeks harga


yang dibayar lebih besar dibandingkan dengan indeks harga yang diterima petani.
Meskipun selisihnya relatif kecil, hal tersebut mengindikasikan bahwa
pengusahaan ternak pada periode Oktober 2019 hingga September 2020 kurang
menguntungkan. Tingginya pembiayaan pada usaha ternak dengan resiko yang
juga relatif besar seperti kekurangan pakan, penyakit ternak, hingga perawatan
ternak yang tidak mudah menjadi tantangan bagi peternak.
Komoditas yang paling berpengaruh pada pembentukan NTPT adalah sapi
potong. Lebih lanjut, indeks harga diterima terendah terjadi pada bulan Juni
sebesar 96,67 lalu melesat naik pada bulan Juli sebesar 101,22. Salah satu faktor
yang mempengaruhi terjadinya hal tersebut diperkirakan karena adanya fenomena
see and hold atau ‘lihat dan tahan’ di tengah masyarakat menjelang Idul Adha yang
jatuh pada bulan Agustus. Umumnya masyarakat melakukan pembelian ternak
qurban satu bulan sebelum perayaan Idul Adha. Fenomena see and hold
diperkirakan terjadi pada bulan Juni dimana masyarakat melihat pergerakan harga
dan menahan pembelian, sehingga dampaknya pada bulan tersebut hasil ternak
tidak terserap. Faktor yang lain yaitu pada sisi peternak yang menahan ternaknya
untuk dijual untuk memaksimalkan bobot ternak saat penjualan menjelang Idul
Adha.

1
4.4.5. Subsektor Perikanan

Analisis terhadap NTP subsektor perikanan (NTNP) Kabupaten Blora meliputi


kegiatan budidaya ikan tawar, antara lain ikan lele dan nila. Pada periode Oktober
2019 hingga September 2020, NTP subsektor perikanan cenderung fluktuatif
dengan rata-rata 99,94 yang berarti mengalami defisit. Informasi mengenai
pergerakan NTP disajikan pada Grafik 14.

Grafik 14. NTNP Kabupaten Blora (2018=100)

100,67
100,50100,50 100,54

100,11 100,11 100,11

99,53 99,53
99,37
99,16 99,16

Grafik 14 menunjukkan fluktuasi NTP subsektor perikanan budidaya. Faktorfaktor


yang mempengaruhi terjadinya hal tersebut terlepas dari dampak pandemi Covid-
19 yaitu ketersediaan bibit ikan, ketersediaan pakan, ketersediaan obat-obatan
antivirus, dan resiko kematian saat pembesaran. Hal tersebut turut menjadi resiko
yang harus diantisipasi oleh petani perikanan budidaya.
Pada periode Oktober 2019 hingga September 2019, penurunan NTP yang cukup
signifikan terjadi pada bulan Juli dan Agustus yang sama-sama bernilai 99,16.
Kemudian NTP naik cukup signifikan pada bulan berikutnya yaitu September
sebesar 100,54. Informasi mengenai indeks harga yang diterima dan indeks harga
yang dibayar disajikan pada Grafik 15.

Grafik 15. It dan Ib Subsektor Perikanan Budidaya Kabupaten Blora Oktober


2019 - September 2020 (2018=100)

13
102,71 102,71 102,71
102,41 102,49
102,33 102,33 102,27
101,99 101,99
101,85 101,90 101,90 101,88 101,85 101,90 101,85
101,73 101,73 101,73 101,73 101,75

101,06 101,06

Aug-20
Nov-19

Feb-20

Apr-20

May-20

Jul-20

Sep-20
Oct-19

Dec-19

Jan-20

Mar-20

Jun-20
Indeks Diterima (It) Indeks Dibayar (Ib)

Berbeda dengan indeks harga pada subsektor pertanian yang lainnya, indeks harga
yang diterima petani dan yang dibayar petani untuk subsektor perikanan terlihat
kecenderungannya terjadi kenaikan meskipun tidak signifikan. Pada periode
Oktober 2019 hingga September 2020, indeks harga diterima yang terendah terjadi
pada bulan Juli sebesar 101,75, dan tertinggi pada bulan September 2020 sebesar
102,27. Sedangkan pada indeks harga dibayar terendah pada bulan Oktober 2019
sebesar 101,06.

1
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis kesejahteraan petani Kabupaten Blora pada periode


Oktober 2019 hingga September 2020 dengan menggunakan penghitungan Nilai Tukar
Petani (NTP) diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1) NTP gabungan untuk semua subsektor di Kabupaten Blora yaitu 100,74. Dalam
konteks ini petani Kabupaten Blora dapat dinilai sejahtera.
2) Jika dibandingkan dengan NTP Jawa Tengah yang sebesar 101,75, maka NTP
Kabupaten Blora dapat dibilang kompetitif. Artinya kesejahteraan petani di
Blora cukup mewakili kesejahteraan petani pada level Provinsi Jawa Tengah.
3) Urutan penyumbang Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode tersebut dari yang
terbesar adalah Subsektor Hortikultura, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat,
Tanaman Pangan, Subsektor Peternakan, dan Subsektor Perikanan.

5.2. REKOMENDASI

Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk peningkatan kesejahteraan petani,


utamanya dalam meningkatkan indeks harga diterima dan menekan biaya modal.
Khususnya untuk perkembangan harga, rekomendasi yang dapat diberikan yaitu:
1) Perlunya peran pemerintah dalam meningkatkan serta menjaga kestabilan harga
produk pertanian dengan cara penetapan harga dasar produk pertanian serta
menjaga kestabilan nilai tukar produk pertanian harus dilakukan agar
penerimaan petani lebih terjamin.
2) Menjaga inflasi pedesaan.
3) Menjaga ketersediaan barang di pasaran baik untuk kebutuhan konsumsi rumah
tangga dan produksi serta penambahan barang modal.

Selanjutnya rekomendasi dalam hal teknis dapat dibagi menurut subsektor sebagai
berikut:

31
A. Subsektor Tanaman Pangan
1) Peningkatan ketersediaan stok pupuk subsidi dan bibit subsisdi berkualitas untuk
petani
2) Meningkatkan kemudahan aksesbilitas pengambilan pupuk bersubsidi (kartu
petani)
3) Percepatan dan penambahan tata guna air dan Jalan Usaha Tani (JUT) untuk
pertanian
4) Peningkatan aksesbilitas penjualan dari petani ke mitra BULOG
5) Penguatan peran aktif Gapoktan sebagai sarana pengembangan petani utamanya
dalam mengakses teknologi pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas

B. Subsektor Hortikultura
1) Pemberian bantuan bibit bersubsidi
2) Pelatihan pembibitan mandiri bagi petani secara intensif
3) Pendampingan petani untuk peningkatan kualitas produk hortikultura karena
merupakan kategori produk yang rentan busuk
4) Menjamin stabilitas harga
5) Pendampingan petani untuk teknologi tepat guna untuk diversifikasi dan
peningkatan nilai tambah hasil panen seperti cabai bubuk, kangkung kering,
bawang merah goreng

C. Subsektor Perkebunan Rakyat


1) Optimalisasi Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) sebagai penciptaan
lahanlahan perkebunan rakyat yang baru dan produktif
2) Menjamin stabilitas harga hasil perkebunan rakyat
3) Akses pemasaran ke industri utamanya komoditas tebu

D. Subsektor Peternakan
1) Peningkatan penggunaan kendang komunal
2) Pengembangan inseminasi buatan
3) Pendampingan peternak khususnnya dalam pengolahan pakan ternak secara
mandiri yang tersedia sepanjang musim

31
E. Subsektor Perikanan
1) Memperbanyak kelompok budidaya ikan tawar
2) Pendampingan program pakan mandiri
3) Pengembangan bibit ikan budidaya

31
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, Februari). Berita Resmi Statistik:
Perkembangan Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Januari 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, Maret). Berita Resmi Statistik: Perkembangan
Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Februari 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, April). Berita Resmi Statistik: Perkembangan
Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Mei 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, Mei). Berita Resmi Statistik: Perkembangan
Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Juni 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, Juni). Berita Resmi Statistik: Perkembangan
Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Juli 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, Juli). Berita Resmi Statistik: Perkembangan
Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Agustus 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, Agustus). Berita Resmi Statistik:
Perkembangan Nilai Tukar Petani Jawa Tengah September 2020.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. (2020, September). Berita Resmi Statistik:
Perkembangan Nilai Tukar Petani Jawa Tengah Oktober 2020.
Fathur Rahman, D. (2020, June 5). Indonesian farmers suffer pandemic-related losses
This article was published in [Link] with the title “Indonesian
farmers suffer pandemic-related losses in May”. Jakarta Post
Octaria, G. (2020, June 4). Pandemi COVID-19 Semakin Turunkan Nilai Tukar Petani.
Antara.
Ruth. (2020, August 15). Harga Pupuk Naik, Akibatnya Nilai Tukar Petani Merosot .
Dialeksis.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Nilai Tukar Petani Per Subsektor Kabupaten Blora pada Oktober 2019 – September 2020 (2018=100)
Bulan
Subsektor Rata-rata
Oct-19 Nov-19 Dec-19 Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20
Gabungan

a. Nilai Tukar Petani (NTP) 100,63 100,62 100,52 100,11 100,07 99,67 100,81 100,42 100,64 100,90 101,01 101,20 100,55
Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 100,71 100,70 100,69 100,32 100,30 99,94 101,01 100,77 100,93 101,21 101,40 101,40 100,78
Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 99,77 100,11 100,25 100,06 100,23 100,20 100,11 100,66 100,16 100,28 100,58 100,44 100,24
1. Tanaman Pangan

a. Nilai Tukar Petani Pangan (NTPP) 100,36 100,34 100,16 100,10 99,80 99,44 100,04 100,06 100,55 100,06 100,50 101,12 100,21
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 100,12 100,10 100,12 100,22 100,02 99,25 100,15 100,15 100,51 99,87 100,60 101,21 100,19
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 99,76 99,76 99,96 100,12 100,22 99,81 100,11 100,09 99,96 99,81 100,09 100,09 99,98
2. Hortikultura

a. Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 100,54 100,54 100,66 100,66 100,31 101,31 103,21 102,63 104,73 102,41 102,66 102,26 101,83
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 100,11 100,11 100,23 100,23 99,89 100,88 102,78 102,19 104,29 101,97 102,23 101,83 101,39
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 99,46 99,46 99,17 99,17 99,58 99,63 100,18 99,93 99,93 99,46 99,46 99,46 99,57
3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat 102,77 102,77 101,85 101,23 101,23 100,31 100,93 100,93 101,85 101,85 101,85 101,85 101,62
(NTPPR)
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 102,21 102,21 101,30 100,68 100,68 99,77 100,38 100,38 101,30 101,30 101,30 101,30 101,07
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 98,63 99,71 99,71 99,54 99,54 99,54 99,54 99,42 99,54 99,42 99,42 99,42 99,45
4. Peternakan

a. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPP) 98,98 98,94 99,25 98,45 98,86 97,78 99,73 99,12 96,52 101,03 100,88 100,24 99,15
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 99,13 99,09 99,40 98,60 99,01 97,93 99,89 99,27 96,67 101,19 101,04 100,40 99,30
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 99,94 100,58 100,66 99,75 100,10 99,69 98,98 101,38 99,05 99,99 101,22 100,53 100,16
5. Perikanan

a. Nilai Tukar Petani Pembudidaya Ikan (NTNP) 100,50 100,50 100,67 100,11 100,11 99,53 100,11 99,37 99,53 99,16 99,16 100,54 99,94
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 101,99 101,99 102,41 101,85 101,90 101,90 101,88 101,85 101,90 101,75 101,85 102,27 101,96
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 101,06 101,06 101,73 101,73 101,73 102,33 101,73 102,49 102,33 102,71 102,71 102,71 102,03

Lampiran 2. Nilai Tukar Petani Pangan (NTPP) Kabupaten Blora pada Oktober 2019 – September 2020 (2018=100)

Bulan
Kelompok Komoditas
Oct-19 Nov-19 Dec-19 Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20
Indeks Harga yang Diterima

a. Padi 100,93 100,93 100,93 100,93 95,10 102,99 95,10 97,04 100,93 93,31 97,04 104,96
b. Palawija 99,75 101,18 101,18 100,81 100,81 100,81 101,56 102,97 101,56 101,34 102,06 101,70
Indeks Harga yang Dibayar

a. IKRT 100,00 101,82 101,82 101,82 101,82 101,82 101,65 100,71 101,82 100,71 100,71 100,71
b. BBPBM 99,23 99,52 99,45 99,81 99,81 99,81 99,68 99,81 99,96 99,81 100,09 100,09
Nilai Tukar Petani 100,36 100,34 100,16 100,10 99,80 99,44 100,04 100,06 100,55 100,06 100,50 101,12

Lampiran 3. Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) Kabupaten Blora pada Oktober 2019 – September 2020 (2018=100)

Bulan
Kelompok Komoditas
Oct-19 Nov-19 Dec-19 Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20
Indeks Harga yang Diterima
Sayur-sayuran 100,11 100,11 100,23 100,23 99,89 100,88 102,78 102,19 104,29 101,97 102,23 101,83
Indeks Harga yang Dibayar
a. IKRT 101,55 101,89 101,89 99,32 100,51 99,79 102,94 102,22 103,00 103,18 103,00 103,00
b. BBPBM 99,46 99,46 99,17 99,17 99,58 99,63 100,18 99,93 99,93 99,46 99,46 99,46
Nilai Tukar Petani 100,54 100,54 100,66 100,66 100,31 101,31 103,21 102,63 104,73 102,41 102,66 102,26

Lampiran 3. Nilai Tukar Petani Tanman Perkebunan Rakyat (NTPTR) Kabupaten Blora pada Oktober 2019 – September 2020
(2018=100)

Bulan
Kelompok Komoditas
Oct-19 Nov-19 Dec-19 Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20
Indeks Harga yang Diterima

Tebu 102,21 102,21 101,30 100,68 100,68 99,77 100,38 100,38 101,30 101,30 101,30 101,30
Indeks Harga yang Dibayar

a. IKRT 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54 100,54
b. BBPBM 98,63 99,71 99,71 99,54 99,54 99,54 99,54 99,42 99,54 99,42 99,42 99,42
Nilai Tukar Petani 102,77 102,77 101,85 101,23 101,23 100,31 100,93 100,93 101,85 101,85 101,85 101,85

Lampiran 4. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) Kabupaten Blora pada Oktober 2019 – September 2020 (2018=100)

Bulan
Kelompok Komoditas
Oct-19 Nov-19 Dec-19 Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20
Indeks Harga yang Diterima

a. Ternak Besar 96,39 96,39 93,37 96,39 96,39 96,39 102,41 96,39 99,40 102,41 105,51 102,41
b. Ternak Kecil 98,18 93,79 95,80 95,80 97,81 96,25 95,72 101,75 93,53 99,74 100,10 98,18
c. Unggas 100,29 102,42 102,71 100,56 100,27 99,15 101,34 98,75 97,56 101,60 100,39 101,00
Indeks Harga yang Dibayar

a. IKRT 98,53 98,53 98,53 98,70 98,53 97,86 97,36 98,53 98,30 99,40 99,40 99,65
b. BBPBM 99,94 100,58 100,66 99,75 100,10 99,69 98,98 101,38 99,05 99,99 101,22 100,53
Nilai Tukar Petani 98,98 98,94 99,25 98,45 98,86 97,78 99,73 99,12 96,52 101,03 100,88 100,24
Lampiran 5. Nilai Tukar Petani Perikan (NTPN) Kabupaten Blora pada Oktober 2019 – September 2020 (2018=100)

Bulan
Kelompok Komoditas
Oct-19 Nov-19 Dec-19 Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20
Indeks Harga yang Diterima

Perikanan tawar 101,56 101,56 102,41 101,85 101,85 101,85 101,85 101,85 101,85 101,85 101,85 103,27
Indeks Harga yang Dibayar

a. IKRT 102,22 101,22 101,82 101,82 100,12 101,12 100,12 101,34 102,34 102,34 102,34 102,34
b. BPPBM 101,06 101,06 101,73 101,73 101,73 102,33 101,73 102,49 102,33 102,71 102,71 103,71
Nilai Tukar Petani 100,50 100,50 100,67 100,11 100,11 99,53 100,11 99,37 99,53 99,16 99,16 100,54

Anda mungkin juga menyukai