Petualangan Meisya di Dunia Game dan Cinta
Petualangan Meisya di Dunia Game dan Cinta
Aku tersenyum puas. Nilai ujianku bagus. Mama bilang setelah lulus sekolah menengah
pertama, aku boleh kembali dalam dunia game setelah diterimanya aku di sekolah menengah
atas impianku. Keesokan harinya, mama akan mengantarku ke sekolah impian yang cukup
terkenal di kota. Seragam yang dikenakan di sekolah itu lumayan bagus terdapat almamater
biru tua berbahan halus dengan satu kancing di tengah, lengan panjang berwarna putih, rok
putih semata kaki, dan semua itu dipermanis dengan dasi abu-abu berlogo sekolah.
Pagi itu, halaman sekolah bisa dibilang ramai. Banyak siswa baru yang diantar orang
tuanya.
TRINGGG…….
Bel masuk berbunyi, aku melihat seorang pria tampan dihadapanku. Kedua mataku tak
lepas dari seorang pria berseragam biru putih dengan earphone ditelinganya. Pria itu bersama
orang tuanya memasuki ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran seragam
sekaligus daftar ulang. Tak lama kemudian, pria itu keluar dari ruangan tersebut. “Aku ingin
sekali berkenalan dengan pria itu,” batinku.
Sinar matahari siang menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela. Ruangan
berdekorasi stiker bunga sakura dengan kasur dan meja belajar yang tertata rapi. Boneka
Amuse Loppy Bunny merah muda di ujung kasur terduduk ditimpa sinar matahari yang
menerangi seisi ruangan.
Perkenalkan namaku Meisya. Banyak orang yang mengatakan bahwa diriku adalah adik
dari seorang artis Korea ternama yaitu Jisoo Blackpink. Seperti biasa aku memencet tombol
CPU pada komputer untuk melakukan kegiatan keseharianku yaitu bermain game online.
Kudengar desisan mesin komputer ditambah deritan kipas pada CPU yang bekerja untuk
memuaskan keingananku dalam dunia game. Layar sudah menunjukkan bahwa komputer
siap digunakan. Aku tanpa ragu langsung mengeklik salah satu game online kesukaanku yaitu
PUBG Battleground. Game ini sudah tidak asing lagi dikalangan remaja seusiaku, game yang
membuat para pemainnya harus rela menghabiskan uang dan waktu demi membangun
karakter yang kuat dan disegani.
Namun, keadaan game PUBG saat ini tidak seperti zaman terdahulu yaitu sekitar 1900-
an. Sehingga minat para pemainnya berkurang setelah muncul game-game yang tak kalah
menarik dibandingnya. Tetapi aku tak pernah mengkhianati game ini, karena game ini telah
mengajarkanku apa itu arti kesenangan, tolong menolong, persahabatan dan cinta. Sambil
menunggu loading, aku memasukkan password yang digunakan oleh akun game ku tersebut.
Seperti biasa setelah melakukan log-in, aku disambut hangat oleh teman-temanku yang
tergabung dalam suatu perserikatan. Para gamers pasti tau apa yang ku maksud, sebut saja
suatu perserikan itu ialah sekelompok orang yang berada dalam satu guild yang bernama Dok
Dok Der (DDR). Meskipun hanya sebatas mengobrol dan bercanda, aku sangat menikmati
keseharianku di dalam game ini. Tak jarang kami melakukan by one bersama dengan guild
lain untuk memperkuat anggota dalam tim.
“Apakah sudah siap semuanya? Guild yang kita lawan hari ini cukup berat lawannya
karena banyak orang yang mengatakan bahwa guild itu terkenal dengan anggotanya yang
cukup licik dalam mengotak-atik tak-tik,” seru ketua guild Dok Dok Der.
“Siap kapten.”
Kali ini kami bertarung bersama untuk melawan salah satu guild yang dianggap sulit
untuk dikalahkan bagi kalangan seusiaku. Aku sangat menikmati pertarungan ini, selain
berhasil untuk menang, aku juga menambah teman baru dari guild lain. Salah satu orang dari
guild itu terlihat selalu memperhatikanku setiap saat, baik dari cara tak-tikku bermain hingga
saat aku by-one dengan dirinya. Dalam nickname-nya tertulis nama Hamtaro, dia adalah
seorang kapten dalam guild-nya tidak seperti aku yang hanya anggota guild juga menjadi
beban anggota guild. Kami pun terkadang berbagi tips dalam memberi support untuk teman-
teman ketika yang akan melakukan pertarungan.
Aku mencoba membaringkan badanku yang terasa sangat lelah saat itu. Tak cukup lama
aku langsung tertidur lelap dengan cepatnya. Aku bermimpi ada seseorang yang melaju
kencang dengan sepeda motonya saat itu.
GUBRAKKK……!!!!!
Suara itu terdengar sangat keras dari arah belakang. Terdapat seseorang yang tergeletak
dengan bercucuran darah di keningnya dan juga di badannya.
“Mas, bangun mas,” tak ada seorang pun disitu hanya diriku dan orang tersebut.
Aku menghela napas berat, tubuhku merasa kaku ketika melihat darah sebegitu
banyaknya. Kukira orang tersebut hampir tak bernyawa. Setelah beberapa menit aku berada
disampingnya, korban tersebut membuka matanya dengan sangat lambat.
“Aku ada dimana ini? Aku tak pernah melihat tempat seindah ini.”
“Mas nya baru saja kecelakaan. Apakah mas nya tidak sadar kalau mas baru saja
kecelakaan?”
“Aduhhh tanganku perih banget,” merintih kesakitan dan tidak mendengarkanku yang
baru saja bertanya.
“Siapa kamu?”
“Aa…aku Meisya. Aku baru saja ingin membantu mas nya tapi dari tadi tidak ada
kendaraan lewat untuk kumintai bantuan.”
Kucari sumber suara tersebut hingga kutemukan apa yang membuatku penasaran,
ternyata benar dugaanku ada seorang wanita yang berpakaian rapi serba putih yang sedang
menangis. Tapi sayangnya, orang tersebut tidak menampakkan wajahnya.
“Kenapa kamu menangis sendirian disini?” aku mencoba memberanikan diri untuk
mendekatinya.
“Aku Tania, aku telah meninggal sebulan yang lalu. Sebaiknya kamu lebih berhati-hati
dengan orang yang hampir kamu tolong baru saja. Orang tersebut akan membawa malapetaka
di kehidupanmu selanjutnya.”
“Kenapa kamu berbicara seperti itu, bukankah hal yang baik untuk kita saling tolong
menolong antar sesama manusia,” dengan raut muka sedikit ketakutan.
Sekejap kulihat kearah orang yang kecelakaan tadi. Tak lama kemudian kulihat kembali
wanita berbaju serba putih tersebut, tiba-tiba orang itu hilang seketika. Di situ aku merasa
kebingungan dengan perasaan campur aduk. Di sisi lain diriku merasa takut dan di sisi lain
juga diriku merasa kasihan terhadap pria yang tergeletak dengan bercucuran darah yang
belum sempat kutanyai namanya.
JEDUARRRR…..!!!
Suara petir yang begitu keras membuatku terbangun dari mimpiku. Aku teringat betul
apa yang dikatakan orang berbaju putih itu. Tapi tak membuatku percaya akan hal-hal yang
berbau mitos. Kucoba lupakan mimpiku dan meyakinkan diri bahwa aku akan tetap berusaha
supaya tidak terjadi hal yang tidak kuinginkan di hari esok.
Keesokan harinya, aku bertemu dengan pria tampan itu lagi. Hatiku berdetak begitu
cepat saat aku berada disampingnya. Aku merasa bahwa pria itu adalah cinta pertamaku. Aku
langsung jatuh cinta saat pertemuan pertama. Pria itu seperti memiliki aura yang berbeda
dengan pria lainnya yang pernah ku temui sebelumnya. Aku mendengus kecil, lalu bangkit
dari tempat dudukku, mengeluarkan ponselku dari tas dan meminta nomer pria tampan itu.
“Permisi, Meisya boleh minta nomor Hp-nya?” tanyaku sembari menyodorkan ponsel.
Aku mengembangkan kedua sudut bibirku, melihat wajah pria itu dari dekat yang membuat
jantungku berdetak tak karuan.
Sekali lagi tak ada respons, pria itu sibuk dengan ponselnya sendiri.
“Apaan sih, Gue gak kenal sama lo,” meninggalkan Meisya begitu saja.
“Perkenalkan, namaku Angel. Aku adalah saudara tiri dari pria itu,” sambil menyodorkan
tangannya.
“Ooo… jadi pria tampan itu namanya Arga. Nama yang cukup menarik seperti
orangnya,” jawabku tanpa menghilangkan paras cantik seorang Meisya.
Ritual seorang Arga setelah bel pulang sekolah berbunyi hanya ada dua.
Pertama, menunggu sampai semua teman-teman kelas keluar. Kedua, bermain game
online dengan teman sebangkunya yaitu Erik. Arga menghela napas berat, tubuhnya
disandarkan ke bangku dan memasukkan kedua tangan kedalam saku.
“Woyy…. ngapa lo,” ucap Erik sembari memukul meja dengan sangat keras.
“Tadi ada cewek minta nomor gue. Tapi nggak gue kasih,”
Setelah menutup kembali gerbang rumahku, aku segera berjalan menuju kamar. Aku
menemukan mama yang sangat sibuk dengan make-up di depannya. Sejak seminggu lalu,
mama hobi mengoleksi make-up untuk bertemu klien-kliennya di kantor.
“Sekolahnya.”
“Meisya tadi ketemu cowok tampan di sekolah. Tapi Meisya minta nomornya nggak
dikasih,” jawabku gelisah.
Aku melempar tas ke sembarang arah, membaringkan tubuhku sejenak diatas kasur yang
terasa sangat empuk. Aku menoleh ke samping, melihat ponselku yang berdering.
Drrttt…. Drttt….
Tak mau berpikir panjang, aku langsung menerima panggilan tersebut siapa tahu panggilan
itu penting.
Sambungan terputus. Aku menatap ponsel dan lanjut bermain game online kesukaanku.
Terdapat akun yang mengundangku untuk bergabung dalam game. Akun tersebut benama
Hamtaro. Aku pun bergabung dalam grup tersebut.
“Hai Meisya,” ucap salah satu orang yang berada dalam grup tersebut.
Kami pun sering bermain menghabiskan waktu bersama dalam game ini. Aku cukup
dekat dengan pria ini. Setelah bersenang-senang, aku pun akhirnya memberanikan diri untuk
berkenalan dengan dirinya.
“Namaku sebenarnya Arga. Aku jarang memberitahu namaku kepada orang yang belum
pernah ketemu. Tetapi kali ini aku beri tahu kamu karena kita sering bermain bersama,”
jawab Arga jujur.
Deggg… jantungku berdetak begitu cepat. Aku tak asing lagi dengan nama itu. Langsung
kutanyakan apakah benar Arga yang satu sekolah denganku.
“Arga sekolah dimana?” tanyaku kegirangan
“Seriously,” terkejut.
“Kita satu sekolah dong. Tadi kan Meisya minta nomor Arga tapi nggak Arga kasih,”
ucapku jujur.
“Jadi lo yang minta nomor gue, gue minta maaf ya tadi nggak kasih nomor gue ke elu.
Abisnya lo maksa banget jadi cewek,” ucapnya kesal.
“Meisya minta maaf Ga. Abisnya Arga ganteng banget,” tersipu malu.
Awalnya kami hanya bercanda dan tertawa bersama. Aku mulai mendekati Arga secara
perlahan. Kami menikmati hubungan ini. Telepon, chattingan setiap hari kita lakukan
walaupun hanya sebatas teman dekat tidak lebih.
Pukul tujuh pagi, semua murid baru berkumpul di aula sekolah. Aku bertemu Arga dan
Erik untuk melihat demo ekstra yang sangat menarik.
“Argaaaa” teriakku membuat mata semua orang tertuju padaku.
“Meisya, bukan?”
“Iya aku Meisya yang kemarin Arga kasih nomor Hp-nya,” ucapku kegirangan.
“Iya gue kenal Meisya lewat PUBG,” jawab Arga tersenyum manis.
Sepulang sekolah, aku dan Arga menuju cafe. Aku merasa sangat bahagia sepanjang
perjalanan, adegan-adegan romantis antara diriku dan Arga menjadi imajinasi di otakku. Hari
yang sangat indah dan tak akan pernah kulupakan. Sesampainya di cafe, kami berbincang-
bincang tentang kisah cinta yang pernah kita alami berdua dan tak lupa juga kita membahas
game online yang sering kita mainkan.
Pukul enam pagi, Angel saudara tiri Arga mengajakku kesebuah tempat. Akhirnya aku
sampai di sebuah tempat yaitu di taman belakang sekolah. Namun langkahku terhenti begitu
saja, kedua mataku terkejut melihat banyak orang disana, masing-masing diantara mereka
membawa setangkai bunga mawar. Mereka semua tiba-tiba melingkariku. Ada apa ini?
Semua ini rencana siapa?
“Iya Sya sejak pertama kali kita mabar PUBG, gue udah suka sama lo. Apakah elo mau
jadi pacar gue?”
Sejak hari itu kami berpacaran. Namun ada seseorang yang tidak suka dengan hubungan
kami saat ini. Orang itu sendiri adalah kawan baik Arga sebut saja orang itu ialah Erik. Erik
mengetahui bahwa kami berpacaran karena Erik menyaksikan sendiri saat aku di tembak
langsung oleh si Arga, pacar aku di taman belakang sekolah.
“Meisya, ada orang yang suka sama lo tapi bukan Arga,” ucap Angel.
Sepulang sekolah, aku menangis di kamar. Ketika itu diriku sendirian tiada teman yang
menemani. Aku tak berani mengirim pesan kepada si Arga. Karena ku takut bahwa diriku lah
sang pengerusak persahabatan mereka. Beberapa menit kemudian diriku menghadap ke
sebuah boneka kesayanganku, sebut saja boneka itu ialah boneka Amuse Loppy Bunny.
Boneka itu yang selalu menemani aku disaat berpulangnya almarhum papa kepada sang maha
kuasa. Diriku hanya bisa berbicara dalam hati “Arga aku minta maaf telah menerima kamu
sebagai pacar Meisya. Gara-gara Meisya hubungan persahabatan Arga menjadi rusak.
Apakah aku cewek yang paling tidak beruntung di dunia ini,” aku terus menangis hingga
mama terdengar suara tangisku.
“Mama, apakah Meisya adalah cewek yang paling tidak beruntung di dunia ini,” air
mataku terus mengalir.
“Kata siapa Meisya adalah anak yang paling beruntung di dunia ini. Meisya masih punya
mama,” menyakinkan diriku bahwa aku adalah anak yang paling beruntung di dunia ini.
“Ta…tapi ma….”
“Udah kesayangan mama nggak boleh nangis lagi nanti cantiknya luntur,” mencoba
memotong pembicaraanku.
Langit kota Malang semakin menghitam, menghalangi sang surya yang berusaha
menerobos untuk memberikan cahayanya. Dalam hitungan detik, rintik demi rintik mulai
berjatuhan membasahi kota tua ini.
Hujan turut memberi arti sebuah kehidupan bagiku. Aku mengusap air mata yang
membasahi wajahku. Karena aku yakin Arga dan Erik tidak mungkin bertengkar. Aku selalu
berpikir positif tentang hal apapun yang terjadi pada pacarku, Arga. Tak berapa lama
ponselku berdering.
Drttt…Drtttt…….
“Apa benar yang dibilang Angel, kamu bertengkar sama Erik gara-gara Meisya,” tanyaku
gugup.
“Iya benar sayang, tadi Erik menghampiriku dan hampir memukul wajahku. Tapi
untungnya hal itu sempat terhenti karena ada guru yang masuk kelas,” jawabnya jujur.
“Enggak, Arga gapapa kok. Ini bukan salah Meisya. Ini salah Arga.”
Kami larut dalam buaian cinta. Saling berbagi kisah denganmu adalah keindahan bagiku.
Kami selalu berbagi cerita apa yang terjadi di kehidupan masing-masing. Tak ada rahasia
diantara kami. Kami saling percaya dan saling menyayangi. Orangtuaku mengetahui bahwa
aku berpacaran dengan Arga begitupun dengan orangtua Arga yang mengetahui bahwa
anaknya berpacaran denganku.
Keesokan harinya, dengan penuh rasa bersalah, aku mencoba untuk menemui Erik. Besar
rasa bersalahku tak akan pernah bisa menggantikan keutuhan persahabatan mereka. Ini
mungkin bagian dari rencana tuhan yang indah buat aku dan Arga, dipertemukan tuhan
melalui peristiwa yang menyakitkan agar aku dan Arga bersyukur memiliki kesempatan
untuk menjalin persahabatan dibalik arus cinta segitiga. Ku memberanikan diri untuk
menanyakan hal itu ke Erik untuk lebih jelasnya.
“Hmmmm.”
“Kenapa Erik nggak suka kalau aku sama si Arga menjalin hubungan,” tanyaku yang
sangat polos.
“Kamu nggak tahu gimana rasanya melihat orang yang kita cintai menjalin hubungan
dengan orang lain. Apalagi orang itu sahabat gue sendiri,” seketika Erik meninggalkanku
begitu saja.
BRAKKK…..!!!
Ada seorang wanita di belakangku yang tiba-tiba membanting meja. Entah wanita itu siapa
aku tidak mengetahuinya.
“Ooo… jadi ini pacarnya si Arga cewek yang sok kecakepan itu,” dengan gaya yang sok
keren diikuti segerombolan temannya.
“Sejak ada lo, gue sama Arga putus. Lo sering mabar kan sama si Arga jujur lo!”
mendorongku hingga ku terjatuh, kepalaku terbentur ujung meja.
Aku tak kuat lagi untuk berdiri, mataku tertutup rapat, kurasa kepalaku berdarah, aku
mendengus pelan, aku pernah merasakan takut seperti ini, ketika aku duduk dibangku sekolah
dasar. Tak lama kemudian, ku mendengar suara Arga yang terus memarahi wanita itu dan se-
gerombolannya.
“Biasa aja dong. Udah tau cewek lo kesakitan lo malah sibuk berantem sama mantan lo,”
bentak Erik kepada si Arga.
Guru-guru pun datang, memisahkan keduanya yang sempat bertengkar. Mereka berdua pun
dibawa ke ruang BK untuk dimintai penjelasan atas kejadian tersebut.
Aku pasrah, kepalaku terus bercucuran darah. Untuk pertama kalinya aku di siksa seperti
layaknya perbudakan dimasa penjajahan Belanda. Petugas UKS pun datang, mereka
menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mendatangi lokasi dan menanganiku. Tidak
lupa guru-guru pun menghubungi orangtuaku agar segera menyusul ke rumah sakit Saiful
Anwar.
“Saya selaku guru yang mengajar Meisya, izin memberi tahu bahwa anak ibu sedang
kami larikan ke rumah sakit Saiful Anwar dikarenakan terjadi kecelakaan kecil di sekolah,”
ucap guru bimbingan konseling.
“Baik bu, terimakasih informasinya saya akan segera menyusul anak saya ke rumah
sakit.” Ucap mama sambil kebingungan.
“Sama-sama, Ibu.”
Segerombolan wanita yang mendorongku dimintai guru untuk masuk keruang BK. Setelah
aku dibawa kerumah sakit, Erik mendorong wanita itu. Sebenarnya maksud lo apa sih? Gak
ngerti lagi gue sama jalan pikiran lo. Gara-gara lo kepala Meisya bercucuran darah. Emang lo
nggak kasihan.
“Emang gue yang dorong Meisya, kenapa masalah?” memasang muka tak bersalah.
“Lo bilang masalah, udah jelas masalah masih lo tanyain. Emang cewek berhati busuk
lo,” mendorong hingga wanita itu terjatuh.
“Stop Erik. Lo nggak boleh nyakitin cewek. Emang lo mau cewek lo diginiin,” ucap
Arga agar Erik tak kasar lagi dengan wanita.
“Udah tau pacar lo masuk rumah sakit gara-gara cewek ini tapi masih lo belain. Emang
cocok kalian berdua,” Erik yang mencoba menahan emosi.
“Kalian semua ini apa-apaan sih, Meisya bisa gini gara-gara siapa?” ucap guruku yang
ingin tahu asal kejadian tersebut.
“Gara-gara mantannya si Arga bu,” ucap Erik yang sungguh kesal dengan wanita itu.
“Sebaiknya kamu segera keruang BK untuk lebih jelasnya,” menyuruh wanita itu.
“Baik bu,” dengan berjalan santai seperti orang tak ada salah.
Terkadang hidup memang sulit ditebak. Sering kali hujan datang meski beberapa saat
lalu matahari bersinar dengan teriknya. Dan ini pula yang dirasakan oleh mamaku sekarang.
Mamaku rajin mendokumentasi aku dalam berbagai kesempatan. Hingga akhir ini, diusiaku
yang beranjak 16 tahun, fotoku diikutkan kontes foto untuk pertama kalinya dan mendapat
juara utama. Mamaku sedih melihat aku terbaring lemas di kasur rumah sakit. Kudengar
suara tangisnya setiap mataku terbuka sedikit.
Hingga akhirnya, aku didiagonisis telah mengalami gagar otak dibagian kanan. Mamaku
hanya bisa berdoa semoga diberi keajaiban dan ketabahan dalam hidupku. Sehingga, mama
berharap aku bisa kembali seperti dulu lagi, memasak bersama-sama, bernanyi, shopping,
olahraga di kompleks dan lain sebagainya.
Tiga minggu kemudian, setelah aku dirawat inap dan dinyatakan sembuh tapi tidak
sepenuhnya. Aku diperbolehkan pulang. Aku kini bisa berkeliling di kompleks dan menemui
teman-temanku.
Suatu malam, mama kembali memelukku dari belakang. Ibu tak bisa berkata apa-apa,
hanya bisa menangis. Aku tahu, semua itu tidak cukup mengungkap segala perasaan yang
ingin mama ungkapkan.
“Ooo iya bulan depan kan ulang tahun Meisya, anak mama minta dikasih kado apa
sayang,” mengalihkan pembicaraan.
“Ya gue suka sama lo tapi mau gimana lagi lo lebih milih Arga ketimbang gue,” terlihat
canggung.
“Meisya mohon jangan suka sama Meisya lagi,” pintaku sembari menangkupkan tangan.
Aku terbungkam, tak bisa menjawab. Sementara Erik mengela napas berat, kembali berupaya
untuk tetap tersenyum.
Erik menarik kedua pipiku. “Tidak semua rasa cinta berakhir seperti apa yang kita
inginkan. Begitupun juga gue Sya, gue akan terus maju dan nggak akan pernah mundur
sampai kapan pun!” ucap Erik tak main-main.
Erik melepas tangannya dari pipiku. “Gue nggak apa-apa Sya. Pergi sana, sebelum hati
gue berubah lagi,” usir Erik.
Aku menghela napas berat, mengangguk paksa. Aku melambaikan tangan ke Erik.
“Makasih Erik, Meisya pergi dulu dadah Erik.”
“Meisyaa…..”
Aku mengangkat kepala, menatap Arga. “Iya Arga kenapa?” tanyaku sembari terkejut
melihat kedatangan Arga.
Arga tak peduli melihat aku berbicara dengan Erik. “Ayo, kita kekantin,” pintanya.
Bel pulang berbunyi, aku cepat-cepat membereskan buku. Hari ini aku pulang dengan
Arga. Aku mengganguk semangat dan segera pergi keluar kelas. Aku berjalan menuju ke
kelas Arga dan kebetulan sekali Erik baru saja keluar. Aku memperlambat langkahku dan
menemui si Arga.
“ARGAAAA!!” teriakku.
“Iya Arga.”
Sesampainya di mall, Arga membelikanku sebuah boneka Amuse Loppy Bunny, boneka
kesukaanku.
“Buat Meisya?” tanyaku memastikan. Aku tak bisa menahan bibirku untuk tidak
tersenyum lebih lebar, aku sangat menyukai boneka pemberian Arga.
Sesampainya kita dirumah, aku mengambilkan air minum untuk menyuguhkan Arga.
Tak lama kemudian, Arga melihat sebuah mobil terhenti di depan rumahku. Arga sedikit
bingung dan tidak tahu harus berbuat apa ketika mamaku datang.
“Haii, nak Arga,” sapa mamaku. Kedua bola mata Arga mulai bergerak tak pasti. “Iya
tante,” menyalami mamaku.
Setelah berbincang-bincang mama menyuruh Arga untuk selalu menjagaku saat berada
di sekolah. Mama menceritakan apa yang terjadi padaku saat itu pada Arga. Akhirnya Arga
mengetahui bahwa aku mengalami gagar otak. Tetapi aku sendiri tidak tau akan hal itu,
mama tak memberi tahu sedikit pun tentang apa yang terjadi padaku karena mama takut
melihat aku syok saat ku mendengar penyakit yang kuderita.
Pesta ulang tahunku tinggal beberapa hari lagi. Aku sudah tak sabar menunggu hari itu.
Semua persiapan ulang tahunku dipuncak sudah ku persiapkan, mama membantuku dengan
penuh keikhlasan dan penuh kasih sayang. Akhirnya dengan penuh kesadaran aku merasa
orang paling beruntung dapat memiliki mama yang baik dan Arga yang perhatian.
Aku melihat villa yang didekorasi dengan tema ‘Loppy Bunny’. Pink-putih dan beberapa
warna abu-abu sebagai pemanis.
“Iya ma kenapa?”
Mama menanyakan sesuatu yang kurang diacara ulang tahunku. “Di acara ulang tahun
Meisya, Meisya mau pakai kostum apa?”
“Meisya mau pake gaun warna pink ma,” sembari menyodorkan hp dan melihatkan
kostum yang kuinginkan.
Mama menghela napas pasrah, tema yang dipakai di acaraku semua serba pink. “Ya udah
kalau begitu. Terserah kamu saja.”
“Makasih, ma.”
Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, semua temanku termasuk Erik dan Angel pun
datang. Tak lupa juga aku mengundang wanita dan segerombolannya yang telah membuatku
menjadi gagar otak untuk datang ke acara pesta ulang tahunku.
Aku telah melupakan kejadian itu, kini kuhanya bisa pasrah dengan takdir yang diberikan
oleh tuhan. Hidup dan mati hanya ditangannya, kita hanya dapat menunggu kapan kematian
menjemput kita.
Aku menunggu teman-temanku dipuncak. Tak lama kemudian, mereka pun datang.
Namun ku tak menemui seseorang yang kutunggu-tunggu yaitu Arga, pacarku.
Pintu kamar villa dibuka, seorang gadis masuk ke dalam. Orang itu adalah Angel.
“Sya, lo kok masih di kamar? Kan habis ini acaranya di mulai,” cerca Angel,
mendekatiku.
“Nggak tau Sya mungkin lagi diperjalanan,” pura-pura gak tahu padahal Arga akan memberi
kejutan di acara ulang tahun Meisya.
“Jadi Arga masih diperjalanan. Tapi Arga tetap kesini kan? Ya udah aku siap-siap dulu ya
Ngel. Kamu duluan aja.”
Acara pun di mulai, Arga tak kunjung datang. Semua menyayikan lagu selamat ulang tahun
untukku terutama Erik.
kue ulang tahun mulai ku potong. Semua para tamu bernyanyi kembali.
Potong kuenya.
Semua orang menyoraki aku dan Arga terutama mamaku. Kemudian, Erik menghampiri kita
berdua tanpa rasa malu.
“Sya…”
“Ini kado buat lo.” Erik memberikan sebuah kado dan menyodorkan pada diriku.
“Gue udah ikhlas jika kalian berdua berpacaran karena gue nggak ingin persahabatan gue
hancur gara-gara cewek. Jadi tolong dengerin ya, Ga. Gue nggak akan kejar-kejar Meisya lagi
karena gue tahu Meisya lebih sayang ke elo ketimbang gue. Langgeng buat kalian berdua
ya.” Mencoba meyakinkan aku dan Arga bahwa Erik benar-benar sudah ikhlas dengan
keadaan yang terjadi. “Kalian berdua cocok.”
“Iya, Ga. Gue serius bilang gitu.” Mereka berdua langsung berpelukkan layaknya
Teletubbies.
Acara ulang tahunku pun selesai. Keesokan harinya hidupku merasa lebih tenang karena
persahabatan mereka berdua kembali utuh. Namun, ada hal lain yang membuat hidupku tidak
tenang lagi yaitu dengan keberadaannya mantan Arga. Wanita itu belum bisa menerima aku
sebagai kekasih Arga padahal mereka tidak ada lagi hubungan spesial. Mungkin wanita itu
masih punya rasa suka terhadap pacarku. Tapi aku menghiraukan hal itu.
Tahun berganti tahun, tahun ajaran baru pun dimulai. Aku, Erik, Arga dan Angel
akhirnya duduk dikelas XII. Dua tahun lebih kita menjalani hubungan ini tanpa ada rasa
bosan sedikit pun. Di kelas XII ini kita harus lebih fokus untuk mengikuti pembelajaran,
serangkaian ujian, try out, hingga Ujian Nasional.
Waktu berjalan begitu cepat. Hari ini, semua siswa kelas XII diwajibkan menuju aula
sekolah. Kita mendapatkan pengarahan untuk menghadapi ujian dan persiapan apa saja yang
harus kita lakukan mulai sekarang.
Siswa kelas XII tidak lagi diperbolehkan mengikuti ekstrakurikuler, OSIS ataupun
kegiatan yang menghambat pembelajaran di sekolah. Kita difokuskan untuk belajar dan
mengikuti bimbingan tambahan setiap hari senin dan kamis.
Hubunganku dengan Arga semakin romantis, kita sering belajar bersama untuk
mempersiapkan ujian-ujian.
Arga menoleh ke samping, melihat Erik yang sedang asik dengan buku yang dibacanya.
“Apa?”
“Habis ini kan kita akan ujian-ujian, try out juga. Kamu udah siap?’
“Siap nggak siap gue harus siap Ga” jawab Erik semangat. “Gue pasti bisa meskipun gue
tolol gini.” Erik ketawa keras seolah-olah yakin bahwa nilai ujiannya akan mendapat bagus.
Waktu berjalan semakin cepat, tanpa kerasa kelas XII sudah mendekati Ujian Nasional.
Semuanya mulai sibuk untuk fokus belajar dan menghabiskan waktu dengan tumpukan soal
Ujian Nasional dari tahun-tahun sebelumnya.
Pagi itu, H-14 UN akan diselenggarakan di sekolah kami. Aku berjalan keluar dari kelas,
lalu duduk di gazebo yang telah disediakan oleh sekolah. Arga menghampiriku dan ikut
bergabung duduk disebelahku.
“Ga, benar nggak sih tahun ini kita akan dikasih tahu kunci jawaban UN?”
“Hmmm… walaupun dikasih gue masih ragu dengan kebenaran jawabannya. Mending
kita jangan mikirin kunci jawaban UN yang diberikan mending kita belajar sungguh-sungguh
dan berdoa dulu sayang,” pintanya.
Di ujung kamarku terdapat gantungan baju dokter yang sangat lengkap, itu aku
mendapatkannya dari hadiah ulang tahunku, waktu aku masih duduk di bangku SMP yang
diberikan oleh almarhum papa tercinta. Dan masih banyak lagi alat-alat kedokteran mulai
dari stetoskop, thermometer, senter medis, tensimeter, ostoskop dan lain-lain.
Sore itu , tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Mamaku segera membawaku ke rumah sakit Saiful
Anwar untuk diperiksa secara lebih lanjut.
“Sayang kamu masih kuat? Kepalamu masih sakit?” tanya mama khawatir.
Selama diperjalanan menuju rumah sakit, mama menghubungi dokter yang biasa
menangganiku, sebut saja dokter itu ialah Dr. Hanz. Dokter itu dibilang tua tidak, namun
dibilang muda juga tidak. Menurutku dokter itu berusia sekitar 30-an. Mama tak henti-henti
untuk menangis takut aku kenapa-kenapa. Setelah sampai di rumah sakit, Dr. Hanz langsung
menangganiku dan bertindak cepat untuk memberikan pertolongan.
Setelah beberapa hari kemudian, gagar otak ringanku telah dinyatakan sembuh total oleh
Dr. Hanz. Saatnya kini ku bertempur dengan soal Ujian Nasional.
Pagi ini, Arga menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Arga melihatku keluar
dari rumah dengan senyum ceria. Arga merasa lega ketika melihat kondisiku jauh lebih baik
daripada beberapa hari yang lalu.
“Pagi sayang,” sambil memberikan helm yang sedari tadi dipeganginya kepadaku.
“Kamu gimana udah sembuh?” tanya Arga, Arga mendengar kabar bahwa aku masuk
rumah sakit beberapa hari yang lalu.
“Meisya sama Dr. Hanz sudah dinyatakan sembuh total tapi Meisya nggak boleh
kecapekan.”
Semua siswa kelas XII mulai melakukan konsultasi ke guru BK mengenai jurusan apa
yang akan dipilih setelah lulus SMA nanti. Kebanyakan diantara mereka memilih untuk tidak
melanjutkan kuliah, mereka lebih memilih untuk bekerja. Namun, tidak bagiku dan Arga.
Kita akan melanjutkan kuliah di Universitas berbeda. Aku mengambil jurusan kedokteran di
Universitas Brawijaya, Malang. Arga mengambil jurusan manajemen di Univeritas Negeri
Malang.
Akhirnya Ujian Nasional pun tiba. Suasana di kelas XII terlihat tenang. Semua siswa
dibuat gugup pada hari pertama ujian mereka. Namun, guru-guru terus memberikan
dukungan dan doa agar anak didiknya tetap semangat dan bisa mengerjakan ujian mereka
dengan lancar dan mudah.
Seminggu berjalan begitu cepat dan sangat menegangkan. Bel berbunyi dengan nyaring
di seluruh sudut sekolah, menandakan Ujian Nasional hari terakhir telah selesai.
Suara sorakan terdengar pecah di setiap lorong sekolah. Para siswa terlihat begitu lega
dan bahagia, saling berpelukan dan mendoakan agar hasil yang didapat nanti memuaskan.
Tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan nilai hasil Ujian Nasional.
“Anterin Meisya beli bunga di mall untuk wisuda kita nanti. Arga mau nggak?”
Toko bunga terlihat cukup ramai banyak remaja-remaja berkerumun membeli bunga
untuk acara wisuda di sekolahnya nanti. Aku memilih bunga mawar merah muda karena
bagiku warna merah muda adalah warna yang paling indah dalam sejarah pewarnaan.
Hari yang di nanti-nanti seluruh kelas XII tiba, semua para siswa berdandan layaknya
bidadari dan pangeran yang hendak makan malam. Dalam wisuda yang telah diselenggarakan
seluruh siswa kelas XII dinyatakan LULUS 100%. Tentu saja, mereka semua bersorak
gembira setelah diumumkannya hal itu oleh bapak kepala sekolah.
Ada yang menangis terharu, ada yang berpelukan, ada yang sibuk foto-foto, bahkan ada
yang langsung joget-joget. Orangtua maupun murid bernapas lega, meskipun setelah ini
tantangan besar yang sebenarnya sudah menanti mereka, ujian masuk Universitas impian.
Mereka harus berjuang keras untuk bisa masuk ke Universitas favorit pilihan mereka.
Berlomba dengan para siswa lainnya di seluruh Indonesia.
Semua tawa, semua tangis, dan semua kenangan di masa SMA merupakan perjalanan
yang akan diingatnya. Persiapan pencarian jati diri telah berakhir, mereka harus mulai
sungguh-sungguh untuk menemukan jati diri sebenarnya.
Sesungguhnya di setiap kehidupan yang kita arungi dan kita lewati pasti akan mendapati
episode-episode kehidupan. Diantara episode itu adalah kita akan menjumpai yang namanya
pertemuan dan perpisahan.
Saatnya aku harus melangkahkan kakiku menuju massa yang ada didepanku.
Teman, tetaplah mengingat setiap kenangan indah yang telah kita lewati.