Analisis Kemampuan Berpikir Tinggi IPA Kelas VII
Analisis Kemampuan Berpikir Tinggi IPA Kelas VII
OLEH
HARDIANI
NIM: 18.84206.002
2022
ANALISIS KEMAMPUAN BERFIKIR TINGKAT TINGGI
PADA SOAL SOAL IPA PESERTA DIDIK KELAS VII DI
SMP NEGERI 1 PANCARIJANG SIDRAP
OLEH
HARDIANI
NIM: 18.84206.002
2022
i
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING
Disetujui Oleh:
NIP : 198205232011011005
NIP : 1972030420031211004
Mengetahui:
Dekan,
Fakultas Tarbiyah
ii
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI
Mengetahui:
Dekan,
Fakultas Tarbiyah
iii
KATA PENGANTAR
iv
Pengetahuan Alam, yang telah menerima penulis dengan baik.
7. Saudara kembarku Hardiana [Link] yang senantiasa menemani, membantu,
memotivasi, dan memberikan semangat hingga penulis sampai pada tahap ini.
8. Teman-Teman Seperjuangan Mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
angkatan pertama tahun 2018.
Penulis tak lupa pula mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuan, baik moril maupun material hingga tulisan ini dapat
diselesaikan. Semoga Allah SWT. berkenan menilai segala kebajikan sebagai amal
jariyah dan memberikan rahmat dan pahala-Nya.
Akhirnya penulis menyampaikan kiranya pembaca berkenan memberikan
saran konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini.
Penulis
Hardiani
18.84206.002
v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar
merupakan hasil karya saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa ia
merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau
seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Penyusun,
HARDIANI
18.84206.002
vi
ABSTRAK
Hardiani. Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi pada Soal Soal IPA Peserta
Didik Kelas VII SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap. (Dibimbing oleh Wahyu Hidayat
dan Muhammad Ahsan).
Di abad 21, seluruh peserta didik mengalami resiko serta ketidakpastian dalam
pertumbuhan area yang pesat, semacam teknologi, sains, ekonomi, serta sosial budaya.
Kemajuan teknologi harus diterapkan pada kegiatan yang membutuhkan sarana atau
media untuk menunjang proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan, salah satu
indikator keberhasilan adalah peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi
yang baik, karena tujuan utama pembelajaran di abad dua puluh satu adalah
kemampuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat
tinggi siswa. Bagi guru untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan di abad
kedua puluh satu Penghafalan diprioritaskan daripada aplikasi dan pemecahan masalah
dalam pendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas soal ujian semester IPA di
SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap tahun ajaran 2018-2020, Untuk mengetahui stimulus
pada soal ujian semester IPA, mengetahui karakteristik soal soal ujian semester IPA di
SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap tahun ajaran 2018-2020 Tipe HOTS ditinjau dari dari
karakteristik C4 (Kritis), C5 (Kreatif), dan C6 (Pemecahan Masalah). Penelitian ini
termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis isi atau dokumen. Penelitian ini
menggunakan teknik analisis data. Dalam hal ini, peneliti melakukan analisis data
menggunakan Rasch Model.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Jenis stimulus yang ada pada soal
soal IPA yaitu gambar/diagram/grafik, tabel, contoh, [Link] rincian jumlanya
adalah sebagai berikut berikut 2018 terdapat 27 atau 76,9 % stimulus, 2019 terdapat 18
atau 72 % stimulus, dan 2020 terdapat 19 atau 76 % stimulus.(2 Karakteristik soal soal
IPA dalam 3 tahun 2018 ada 25 soal atau 71,5% soal LOTS, tahun 2019 ada 22 atau
88% soal LOTS, dan tahun 2020 ada 24 atau 96 % soal LOTS dan menunjukkan rata
rata soal IPA berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat rendah adapun soal yang
berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat tinggi (kreatif, kritis, pemecahan
masalah).
Kata Kunci: Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi, Soal Soal IPA.
vii
DAFTAR ISI
viii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................ 40
A. Hasil Penelitian ........................................................................................ 40
B. Pembahasan .............................................................................................. 61
BAB V PENUTUP ...................................................................................................... 63
A. Simpulan................................................................................................... 63
B. Saran ......................................................................................................... 63
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... I
LAMPIRAN ................................................................................................................ IV
BIODATA PENULIS ........................................................................................ XXXIII
ix
DAFTAR TABEL
No.
Tabel Judul Tabel Halaman
3.1 Soal Mengukur Dimensi Berpikir Anderson & Krathwohl 34
3.2 Analisis Stimulus pada Soal 35
3.3 Analisis kualitas Taksonomi Bloom Ander & Krathwohl 35
3.4 Kriteria Soal Kemampuan Berpikir Kritis 36
3.5 Kriteria Soal Kemampuan Berpikir Kreatif 36
3.6 Kriteria Soal Kemampuan Pemecahan Masalah 37
4.1 Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2018 40
4.2 Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2019 44
4.3 Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2020 47
4.4 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2018 50
4.5 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2019 53
4.6 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2020 55
x
DAFTAR GAMBAR
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Lampiran Judul Lampiran
1. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2018
2. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2019
3. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2020
4. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Kampus
5. Surat Izin Penelitian dari Dinas
6. Surat Bersedia Menerima dari Sekolah
7. Surat Keterangan telah Meneliti dari Sekolah
8. Dokumentasi Kegiatan Peneliti
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
pendidikan sehingga mampu bersaing dengan tantangan Era Industri 4.0 dan
menghasilkan generasi unggul di tahun 2045 yang brilian dalam hal pengetahuan,
yang kompetitif maju.1Di abad 21, seluruh peserta didik mengalami resiko serta
penggunaan sarana atau media untuk menunjang [Link] juga bagi Hosnan
dalam era ini Khususnya dunia pendidikan ialah kebutuhan atau tuntutan untuk
[Link] dunia pendidikan salah satu gejala keberhasilannya yakni peserta didik
wajib mempunyai kemampuan tingkat tinggi yang baik, karena tujuan utama
kemampuan berpikir tingkat tinggi agar peserta didik dapat bersaing diera abad 21.
mental dasar lainnya. Proses berpikir mempunyai tingkatan dari rendah ke tinggi.
Inisiatif pemerintah tahun 2013, yang saat ini sedang dilaksanakan, menuntut siswa
1
Idris Apandi and Arip Baehaqi, “Strategi Pembelajaran Aktif Abad 21 Dan HOTS,”
Samudra Biru, Yogyakarta, 2018.
1
2
untuk berpikir pada tingkat yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya
beberapa kata kerja operatif dalam kurikulum Kompetensi Inti (AI) 2013.2
Berfikir tingkat tinggi ialah kemampuan berfikir lebih tinggi, artinya peserta
didik naik kelevel yang lebih tinggi yaitu menganalisis dan mengevaluasi suatu
informasi dan juga fakta, dan diharapkan peserta didik bisa menyerap info yang
didapatkan dan memikirkan lebih dalam informasi dan juga fakta dan menyampaikan
hasil pemikirannya dengan mengunakan kata katanya sendiri. Inilah yang dimaksud
kemampuan berkreasi.
Menurut Anderson serta Krathwohl Taksonomi Bloom memiliki 2 dimensi
2
Amelia Kurniati, “Kesesuaian Buku Tematik Kelas I SD/MI Tema Peristiwa Alam Terbitan
Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dengan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2016 Tentang
Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013,”
3
kemampuan untuk dengan mudah mencakup dimensi proses analisis, evaluasi, dan
berusia 15 tahun di seluruh dunia ini.3Di tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat
ke-74 pada 79 negara yang terlibat program tersebut. Menurut hasil survei PISA 2018
yang dilakukan oleh OECD, peserta dididk Indonesia mendapat skor rata-rata 371
OECD juga 87, dan sains mendapat nilai rata-rata 389 peserta didik Indonesia, nilai
rata-rata di OECD 89. Skor Indonesia di tahun 2018 lebih rendah dan Peringkat
Indonesia berada di 10 besar tidak berubah dari putaran sebelumnya (2015, 2012, dan
2009). 4Hasil ini harus dijadikan bahan evaluasi bagi pemerintah pusat dan guru yang
guru di lapangan, peserta didik tidak memiliki pengalaman belajar yang menantang
3
La Hewi and Muh Shaleh, “Refleksi Hasil PISA (the Programme for International Student
Assesment): Upaya Perbaikan Bertumpu Pada Pendidikan Anak Usia Dini,” Jurnal Golden Age 4, no.
01 (2020): 30–41.
4
pada aplikasi dan pemecahan masalah. Setiap peserta didik diajak berpikir dalam
Skill (LOTS) difokuskan pada pemberian jawaban yang sesuai dengan fakta atau
istilah dalam membaca yang digunakan hafalan dalam menjawab suatu pertanyaan.5
pengajar, sehingga peserta didik memiliki kemampuan dalam pikir yang lebih tinggi.
Keahlian berpikir yang tinggi untuk menggunakan pikiran untuk tantangan baru
peneliti dapat mengetahui kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa pada soal soal
Pancarijang Sidrap ”
5
Arief Juang Nugraha, Hardi Suyitno, and Endang Susilaningsih, “Analisis Kemampuan
Berpikir Kritis Ditinjau Dari Keterampilan Proses Sains Dan Motivasi Belajar Melalui Model Pbl,”
Journal of Primary Education 6, no. 1 (2017): 35–43.
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka yang
1. Bagaimana jenis stimulus yang terdapat pada soal soal ujian semester IPA?
C. Tujuan Penelitian
D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan teoritis
a. Menambah Pengetahuan terutama dalam Pengembangan Karakter
2. Kegunaan praktis
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ani Syahida serta Dedi Irwandi di tahun 2015
dengan Judul “Analisis Keahlian Berpikir Tingkatan Besar pada Soal Tes
UN Fisika SMA pada Modul Medan Magnet peserta didik Kelas XII di SMA
rata keahlian berpikir tingkatan besar peserta didik dalam menuntaskan soal
Tes Nasional ( UN ) Fisika SMA pada modul medan magnet selaku berikut :
3. Penelitian yang dilakukan oleh Suci Ulva tahun 2020 yang bertajuk “
Analisis Soal Jenis Higher Order Thinking Skills ( Hots ) Dalam Soal Tes
Tahun Ajaran 2018 / 2019 ” Bersumber pada hasil riset menampilkan , kalau
1
Ani Syahida and Dedi Irwandi, “Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Soal
Ujian Nasional Kimia,” Edusains 7, no. 1 (2015): 77–87.
2
Qurrotu A’yunina, “Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Dalam Menyelesaikan
Soal UN Fisika SMA Pada Materi Medan Magnet Siswa Kelas XII Di SMA Muhammadiyah 3
Jember,” Jurnal Penelitian Ilmiah INTAJ 3, no. 2 (2019): 1–25.
7
8
dari 40 butir soal UN IPA ada 25 soal ialah soal bertipe HOTS serta 15 soal
bertipe LOTS . Sehingga persentase yang diperoleh sebesar 65,5 % soal yang
B. Tinjauan Teori
a. Taksonomi Bloom
Chicago.4
3
Suci Ulva, “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Soal Ujian
Nasional (UN) IPA Sekolah Menengah Pertama (SMP) Di SMP N 1 Batipuh Tahun Ajaran
2018/2019,” 2020.
4
Cris Setianingsih and Ari Suningsih, “Analisis Terjadinya Revisi Taksonomi Bloom
(Bloom’s Taxonomies),” Jurnal Majalah Kreasi STKIP MPL 10, no. 2 (2018).
9
rendah. Selain itu, tingkat pembelajaran yang lebih tinggi diperlukan untuk
rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja, untuk mencapai sasaran
yang lebih tinggi, level yang lebih rendah harus terlebih dulu diselesaikan.
5
Retno Utari, Widyaiswara Madya, and KNPK Pusdiklat, “Taksonomi Bloom,” Jurnal:
Pusdiklat KNPK 766, no. 1 (2011): 1–7.
10
yang dikenal dengan doktrin Cipta, Rasa dan Karsa (penalaran, evaluasi dan
praktik).
menerjemahkan teori ke dalam tindakan.6Ranah kognitif ini terdiri atas enam level
berikut ini. (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) aplikasi, (4) analisis, (5) sintesis
Level ranah ini dapat digambarkan dalam bentuk piramida [Link] level
pertama (lebih rendah) adalah keterampilan berpikir tingkat rendah dan tiga level
Bahkan, Anda tidak bisa maju ke level berikutnya tanpa menyelesaikan keterampilan
6
Agus Wismanto, “Evaluasi Pembelajaran Bahasa Menggunakan Taksonomi Bloom Mulai
Dari Versi Lama Sampai Versi Revisi,” Sasindo 2, no. 2 Agustus (2014).
11
Pada tahun 1994, Lauryn Anderson Kraswall, salah satu murid Bloom,
tahun 2001 sebagai taksonomi Bloom yang telah direvisi. Hanya domain kognitif
yang direvisi. Perubahannya adalah sebagai berikut: 1. Kata kunci telah diubah
dari kata benda menjadi kata kerja pada setiap tingkat klasifikasi; 2. Perubahan
Tetapi urutan hirarki tetap sama dari yang terendah sampai yang tertinggi; dan
Tiga Perubahan terjadi pada hampir setiap tingkat hirarki, tetapi urutan hirarki
sebagai berikut
Pada level 5 sintesis naik ke level 6, tetapi dengan perubahan mendasar dalam
penciptaan.
7
Nadia Safira, “Pengembangan LKPD Berbasis ALQURUN Teaching Model (ATM) Pada
Materi Perbandingan,” 2020.
12
Singkatnya, taksonomi baru Bloom dalam domain kognitif terdiri dari enam
Secara rinci, Bloom membagi 6 jenis tingkat kognitif, yaitu dari tingkat
direvisi oleh Anderson dan Krathwohl( 2001) dalam Yani( 2019, hlm.5-6),
serta Mencipta.
berpikir tingkat rendah) sebagai dasar pengembangan soal HOTS. Kata kerja
dan mendemonstrasikan
indikator untuk pertanyaan HOTS, mereka tidak boleh terjebak dalam kelompok
KKO. Misalnya, kata kerja" memilih" dalam taksonomi Bloom tercantum dalam
domain C2 serta C3. Dalam konteks penyusunan soal HOTS, kata“ memilih” bisa
berada pada domain C5( evaluate). Apabila pertanyaannya ialah untuk memilih
sesuatu keputusan, maka dicoba terlebih dulu dengan memakai proses berpikir
guna menganalisis informasi yang disajikan tentang stimulus, dan sesudah itu
peserta didik diharapkan untuk memilih keputusan yang terbaik.
meningkatkan strategi pemecahan kasus yang baru. Oleh sebab itu, jangkauan
kata kerja operasional( KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir yang
8
Widji Lestari, “Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun Instrumen Penilaian HOTS
Melalui DTS Penyusunan RPP: Instrumen Penilaian HOTS Melalui DTS Penyusunan RPP,” Honai 2,
no. 1 (2020): 40–52.
15
LOTS pada dasarnya adalah metode atau sistem pembelajaran. Hal ini
juga dikenal sebagai teknik belajar. Seorang peserta didik yang belajar
hal-hal yang penting, sesekali menyalin catatan dari buku guru atau dari
9
Luluk Ernawati, “Pengembangan High Order Thinking (HOT) Melalui Metode
Pembelajaran Mind Banking Dalam Pendidikan Agama Islam,” in 1st International Conference on
Islamic Civilization Ans Society (ICICS), 2017, 189–201.
16
Jika kata kerja operasional adalah kata kerja tingkat C1, indikator LOTS
menyatakan.
Level C2.
17
mengadaptasi.10
10
Daniar Wahyuningtyas and Yuni Katminingsih, “Analisis Tingkat Kognitif Kompetensi
Dasar Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Matematika Wajib Kelas X SMA/MA Berdasarkan Taksonomi
Bloom Revisi Anderson,” Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika 6, no. 1 (2022): 204–14.
18
a) Kelebihan
dipahami.
the point.
the point.
sumber manapun.
19
b) Kekurangan
mengembangkannya.
11
Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud and Moch Abduh, “Panduan Penulisan Soal
HOTS-Higher Order Thinking Skills,” 2019.
12
Emi Rofiah, Nonoh Siti Aminah, and Elvin Yusliana Ekawati, “Penyusunan Instrumen Tes
Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika Pada Siswa SMP,” Jurnal Pendidikan Fisika 1, no. 2
(2013).
20
terjadi ketika informasi baru dan yang diingat diasimilasi dan ditransmisikan,
sekedar hafalan, tetapi perspektif yang lebih luas, menggunakan ingatan untuk
kesimpulan untuk ditarik dan solusi untuk konflik yang kompleks dapat
ditemukan.
13
Halina Damiya Alufiyani, “Pengembangan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Mahasiswa Melalui Praktikum Berbasis Inkuiri Pada Ekstraksi Maltol Dari Tanaman Stevia Sebagai
Pemanis Permen Jeli” (UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2019).
14
Yullida Fery Anjani, “Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Menurut Teori
Anderson Dan Krathwohl Pada Peserta Didik Kelas XI Bilingual Class System MAN 2 Kudus Pada
Pokok Bahasan Program Linier” (UIN Walisongo, 2017).
21
yang kompleks.15
dan kreasi. Indikator yang digunakan merupakan kata kerja yang operasional
menyimpulkan.
Husna Nur Dinni, “HOTS (High Order Thinking Skills) Dan Kaitannya Dengan
15
Kemampuan Literasi Matematika,” in PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, vol. 1, 2018,
170–76.
22
Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah salah satu Kemampuan yang paling
penting dalam masyarakat saat ini, dan oleh karena itu, harus dikembangkan
16
Anugrah Aningsih, “Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Pendidikan Agama Islam
Siswa Kelas X Smk Muhammadiyah 1 Purwokerto Ditinjau Dari Prestasi Belajar” (Universitas
Muhammadiyah Purwokerto, 2018).
23
digunakan buat menulis butir soal HOTS ( yang digunakan pada model
17
I Wayan Widana, “Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS)”
(Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud, 2017).
24
satu bagian yang berhubungan dengan subjek dan dua bagian agar
a) Kelebihan
dan logis.
kritis.
peserta didik.
18
Kemendikbud and Abduh, “Panduan Penulisan Soal HOTS-Higher Order Thinking Skills.”
27
Soal HOTS yang digunakan dalam tes nasional serta tes yang lain
merupakan soal berfikir kritis. Dengan demikian, salah satu karakteristik dari
susah yang biasa dilatihkan di sekolah bukan soal HOTS sebab peserta didik
HOTS.
Pada sebagian permasalahan, soal HOTS bisa jadi sangat susah buat
lagi, Terdapat soal HOTS yang dapat dituntaskan dengan metode serta
menyelesaikan konflik, dan 5) kritis untuk menggali ide dan data. Oleh karena
4. Stimulus
(argumen), dan membuat keputusan yang tepat. Soal HOTS juga memiliki
kriteria penting yang meliputi aspek berpikir kritis dan rangsangan, serta
stimulus.19
19
Ridwan Abdullah Sani, Pembelajaran Berbasis Hots Edisi Revisi: Higher Order Thinking
Skills, vol. 1 (Tira Smart, 2019).
29
sebelumnya.
hari.21Setelah itu, supaya butir soal yang ditulis bisa menuntut berpikir
tingkatan tinggi, hingga tiap butir soal senantiasa diberikan bawah persoalan(
stimulus) yang berupa sumber/ bahan teks sebagai data semacam: : Teks
grafik, gambar, rumus, tabel, catatan/simbol, contoh, peta, film, atau rekaman
audio.22
20
Bansu Irianto Ansari and Razali Abdullah, Higher-Order-Thinking Skill (HOTS) Bagi
Kaum Milenial Melalui Inovasi Pembelajaran Matematika (IRDH Book Publisher, 2020).
21
Lorin W Anderson and David R Krathwohl, “Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran,
Pengajaran, Dan Asesmen,” Yogyakarta: Pustaka Pelajar 300, no. 300 (2010): 0.
22
Nur Rochmah Lailly and Asih Widi Wisudawati, “Analisis Soal Tipe Higher Order
Thinking Skill (HOTS) Dalam Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013,” Jurnal Kaunia 11,
no. 1 (2015): 27–39.
30
C. Kerangka Pikir
Adapun kerangka pikir pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
C4 C5 C6
Analisis Sintesis Evaluasi
D. Definisi Istilah
tinggi pada soal soal tes semester IPA di SMP Neg 1 Pancarijang.
2. Taksonomi Bloom
Secara rinci, Bloom membagi 6 jenis tingkatan kognitif ialah dari tingkat
6). namun riset ini cuma berfokus pada C4, C5, C6.
Yang menjadi fokus penelitian ini merupakan Soal HOTS sebab soal
waktu tertentu.1
1. Tahap Persiapan
memperoleh dokumen berupa soal soal ujian semester IPA. kemudian peneliti
1
Uswatun Hasanah, Agni Danaryanti, and S Yuni, “Analisis Soal Ujian Nasional Matematika
SMA Tahun Pelajaran 2017/2018 Ditinjau Dari Aspek Berpikir Tingkat Tinggi. EDU-MATH,” Jurnal
Pendidikan Matematika 7, no. 1 (2019): 51–62
2
Lailly and Wisudawati, “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dalam
Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013.”
32
33
2. Tahap Pelaksanaan
a. Analisis Soal
stimulus Soal soal Ujian Semester IPA di SMP Neg 1 Pancarijang Sidrap dari
kategori soal HOTS sesuai Taksonomi Bloom Revisi Ander serta Krathwohl
untuk memperoleh data primer dari analisis peneliti untuk penentuan soal
tabel.
D. Instrumen penelitian
juga dilengkapi dengan Soal soal Ujian Semester IPA SMP tahun 2018-2020.
1. Lembar analisis kualitas soal dilihat dari kategori soal HOTS sesuai
Tabel 3.1 Soal mengukur dimensi proses berpikir dikemukakan oleh Anderson
& Krathwohl:
• Membuat ide/gagasan sendiri.
C6 •Kata kerja: mengarang,
Mengkreasi / menyusun,membuat,mengembangkan,
mencipta menulis, merumuskan.
HOTS (Higher Order • Memutuskan sendiri.
Thinking Skills) C5 • Kata kerja: Mengevaluasi, menilai,
Mengevaluasi menolak, memutuskan, memilih,
menyetujui.
• Mengungkap aspek aspek/elemen.
C4 • Kata kerja : membandingkan,
Menganalisis memeriksa, mengkritik, menguji.
Tabel 3.3 Analisis kualitas soal berdasarkan Taksonomi Bloom Ander dan
Krathwohl (2001)
Tahun
ajaran Indikator
Keterangan
LOTS (Lower HOTS (Higher
Order Thinking Order Thinking
Skills) Skills)
C1 C2 C3 C4 C5 C6
2018
2019
2020
Keterangan: Isilah kriteria indikator soal diatas dengan memberikan tanda (√)
pada soal ujian semester genap IPA tahun ajaran 2018/2020. berikut adalah
Tabel 3.4 Soal yang mampu menunjang kemampuan berpikir kritis menurut
Tabel 3.5 Soal yang mampu merancang kemampuan kriteria berpikir kreatif
Aspek Indikator
Kelancaran (fluency) Pertanyaan yang membantu peserta didik menjawab
pernyataan tentang pertanyaan terkait dengan cara
yang dijawab berdasarkan jumlah respon yang
relevan.
Keaslian (originality) Pertanyaan yang membantu peserta didik
mengembangkan ide-ide yang tidak biasa, tetapi tidak
dapat dipisahkan dari konsep pengetahuan.
Fleksibiltas Pertanyaan membantu peserta didik menciptakan ide-
ide berbeda yang dapat dikembangkan.
Elaborasi Pertanyaan yang Membantu peserta didik
mengembangkan pemikiran yang lebih rinci tentang
masalah.
37
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, Dalam hal
ini peneliti menggunakan model analisis data Rasch, model ini merupakan
model one-parameter item response theory (IRT) yang mengasumsikan bahwa
dengan nilai yang sama antara satuan satuan dengan satuan [Link]
3
Trevor G Bond and Christine M Fox, Applying the Rasch Model: Fundamental
Measurement in the Human Sciences (Psychology Press, 2013).
38
dasar model Rasch adalah probabilitas bahwa subjek akan menjawab setiap
item dengan benar, tergantung pada tingkat kesulitan item dan kemampuan
dalam sampel ini konsisten bahkan meskipun mereka diberi instrumen lain
responden yang diterima adalah 0.805 Hal ini sesuai dengan pendapat
Fischer (2007) bahwa indeks reliabilitas item dan responden yang diterima
dengan baik adalah >0,80. Kriteria reliabilitas yaitu < 0,67 (lemah), 0,67 -
0,80 (cukup), 0,81-0,90 (baik), 0,91-0,94 (sangat baik) dan > 0,94
(khusus).6
2. Item Polariti (Korelasi Pengukur Titik)
buat memberikan item yang digunakan untuk bergerak pada satu arah
4
B D Wright et al., “Reasonable Mean-Square Fit Values. Rasch Measurement Transactions,
8, 370,” Rasch Measurement Transactions 8, no. 3 (1994).
5
Wright et al.
6
William P Fisher, “Rating Scale Instrument Quality Criteria. Rasch Measurement
Transaction, 21 (1), 1095,” 2007.
39
pertanyaandenganbenar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab IV membahas tentang gambaran umum dari penelitian yang telah
dilaksanakan.
A. Hasil Penelitian
1. Jenis stimulus yang terdapat pada soal soal ujian semester IPA
percakapan, video dan masalah. Stimulus bertindak sebagai sarana refleksi bagi
mendidik dan memberikan wawasan, pesan moral, dan gagasan kepada para
peserta didik.
Insentif yang digunakan juga harus positif dalam arti tidak berdampak negatif.
jenis stimulus pada soal ujian semester IPA di SMP 1 Pancarijang terdapat 5
adalah jenis stimulus yang terdapat dalam ujian semester IPA tahun 2018,
40
41
Berdasarkan tabel 4.1 diatas bentuk stimulus soal IPA ada 5 stimulus, Adapun
a. Gambar/grafik/diagram
perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Grafik stimulus terkait
dengan grafik jumlah penduduk dan meminta peserta didik untuk memperkirakan
sebelah kanan menunjukkan sebuah gambar sebagai stimulus atau perangsang bagi
peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Gambar stimulus terkait dengan gambar
sistem pencernaan dan meminta peserta didik untuk menentukan dimana pencernaan
b. Tabel
perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Tabel stimulus
terkait dengan tabel perubahan jumlah lakmus dan meminta peserta didik
berikut.
c. Simbol/rumus
simbol/rumus.
43
Gambar diatas menunjukkan sebuah soal yang berupa simbol sebagai stimulus
atau perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Simbol
stimulus terkait dengan simbol massa dan satuan Celsius dan meminta peserta
d. Contoh
Gambar diatas menunjukkan sebuah contoh bagian bagian dari sel sebagai
stimulus atau perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal.
Contoh stimulus terkait dengan contoh bagian bagian sel dan meminta peserta
didik untuk menentukan bagian bagian yang terdapat pada sel hewan dengan
e. Kasus
Kasus stimulus terkait dengan kasus sebuah kapal yang memancarkan sinyal
bunyi dan meminta peserta didik untuk menghitung selisih kedalaman B dan A
Tabel 4.2
Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2019
No Bentuk Stimulus Butir Soal IPA Frekuensi Persentase
1. Gambar/grafik/ 1,4,6,7,8.9,12, 12 16,9 %
Diagram
13,14,20,21,24
5. Tabel 3,5,11. 3 4,17 %
6. Simbol/rumus - -
7. Contoh 10,16,22. 3 4,17 %
8. Kasus - -
Berdasarkan tabel 4.5 diatas bentuk stimulus soal ipa ada 5 stimulus, Adapun
bentuk bentuk stimulus sebagai berikut adalah
45
a. Gambar/grafik/diagram
bentukGambar/grafik/diagram.
didik untuk menujukkan organ yang berfungsi sebagai alat pernapasan dengan
dan meminta peserta didik untuk menentukan pernyataan yang benar terkait
grafik diatas.
b. Tabel
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh
5. Kasus - - -
Berdasarkan tabel 4.3 diatas bentuk stimulus Soal IPA ada 5 stimulus,
Adapun bentuk bentuk stimulus sebagai berikut adalah :
a. Gambar/grafik/diagram
bentukGambar/grafik/diagram.
stimulus terkait dengan gambar jangka sorong dan meminta peserta didik
tersebut.
b. Tabel
bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Tabel stimulus terkait dengan
tabel tabel hasil pengamatan benda dan meminta peserta didik untuk
tersebut.
c. Simbol/rumus
d. Contoh
bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Contoh stimulus terkait dengan
contoh sifat sifat larutan dan meminta peserta didik untuk menentukan sifat sifat
berfikir tingkat tinggi atau soal yang masuk pada kategori kemampuan
teori Taxonomy Bloom pada soal ulangan semester genap, untuk mengetahui
Tabel 4.4 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2018
C1 8 22,8 %
C2 8 22,8 %
C3 9 25,8 %
C4 10 28,6 %
C5 - -
C6 - -
Jumlah 35 100 %
Sumber Data: Hasil olah data peneliti
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan terdapat 35 soal ulangan
Semester genap yang berbentuk pilihan ganda, terdapat 4 atau 22,8 % soal yang
berikut:
51
tentang apa interaksi antara Kompas dan [Link] bentuk soal yang masuk
dalam kategori C4 (analisis) ada 10 atau 28,6 % .adapun bentuk soalnya sebagai
berikut
informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi mengenai apa yang terjadi
(Sintesis) dan C6 (mencipta) dalam soal ulangan semester belum ada yang masuk
berfikir tingkat tinggi atau soal yang masuk pada kategori kemampuan
kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang penyakit karena
soalnya adalah:
54
dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep tentang pengaruh penurunan
konsentrasi oksigen. Kemudian soal yang masuk dalam kategori C3 (penerapan) ada
tentang ciri ciri organisme [Link] bentuk soal yang masuk dalam
berfikir tingkat tinggi atau soal yang masuk pada kategori kemampuan
teori Taxonomy Bloom pada soal ulangan semester genap, untuk mengetahui
Tabel 4.6 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2020
Domain Kognitif Frekuensi Persentase
C1 10 40 %
C2 7 28 %
C3 7 28 %
C4 1 4%
C5
C6 - -
JUMLAH 25 100 %
Sumber Data: Hasil olah data peneliti
56
urutan pertumbuhan ikan . 7 atau 28% soal yang masuk dalam kategori C2
materi dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep tentang besaran
pokok berdasarkan gambar diatas. 7 atau 28 % soal yang masuk dalam kategori C3
Tabel 4.4 menunjukkan nilai logit untuk orang atau ukuran hingga 0,3
dan nilai item hingga 0,3. Ini berarti bahwa nilai ukuran orang lebih besar dari
nilai ukuran item. Terlihat bahwa kemampuan siswa cenderung lebih tinggi
dari pada tingkat kesulitan soal. H. Ada kemungkinan peserta didik dapat
yang paling sulit dengan benar. Keyakinan item adalah 0,88 kepercayaan
kualitas soal yang terdapat pada wahana tes yang digunakan memiliki
Selain itu, nilai alpha Cronbach, yang menunjukkan hubungan antara orang
dan objek secara keseluruhan, setara dengan 0,[Link] Tabel 4.4 besaran lain
yang ditunjukkan ialah Nilai Outfit Mean Squared (Outfit MNSQ) sebanyak
0,10 baik di kolom person juga item. Nilai 0.10 termasuk pada kriteria fit
yaitu terletak diantara selang 0,5<MNSQ<ZSTD< 2,0 Ini berarti bahwa data
model Rasch dan dapat digunakan instrumen tes prestasi pada materi
pengukuran.
Tabel 4.5. Data Sebaran Soal Misfit Atau Tidak Fit Dengan Model Rasch
Tabel 4.5 menunjukkan distribusi item pertanyaan yang dianggap tidak sesuai
atau tidak sesuai untuk model. Pembatasan item dinyatakan cocok untuk model
apabila memenuhi salah satu atau kedua kondisi berikut: Kondisi pertama, skor outfit
MNSQ, terletak diantara 0,5 sampai dengan 1,5; nilai Outfit ZSTD terletak diantara -
60
2,0 sampai dengan 2,0; dan nilai korelasi butir dengan skor total (point measure
serta P09 mempunyai kemampuan atau abilitas paling timggi sedangkan peserta didik
P29 mempunyai kemampuan paling rendah.
B. Pembahasan
stimulus dalam soal setiap tahunnya sebagai berikut 2018 terdapat 27 atau 76,9 %
mengunakan stimulus.
Hal ini menunjukkan bahwa stimulus itu penting sebagai gambaran peserta
didik untuk memahami suatu soal, Hal ini sejalan dengan penelitian Lily Suriani
Siregar pada tahun 2019, yang menyatakan bahwa guru dapat menciptakan variasi
Dan juga penelitian dari Vinsensius Maunia dkk tahun [Link] itu,
stimulus tersebut dapat berupa teks, gambar, skenario, tabel, grafik, wacana,
dialog, video, penggalan cerita, grafik atau masalah. Stimulus membantu peserta
didik berpikir tentang sesuatu yang memungkin kan peserta didik untuk lebih
mudah mengetahui maksud soal tersebut.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Usep Kustiawan pada tahun
1
Lili Suriani Siregar,“Pengaruh Keterampilan Mengadakan Variasi Stimulus Terhadap
Motivasi Belajar Siswa Di Kelas X SMA Negeri 2 Padang Bolak,” JURNAL MISI 2, no. 2 (2019): 8–
16.
2
Vinsensius Maunia Singgih Husada, Sri Yamtinah, and Nurma Yunita Indriyanti, “Analisis
Konten High Order Thinking Skill Pada Soal PAS Dan PAT Kimia Kelas XI Tahun Pelajaran
2019/2020 Di Kota Surakarta,” Jurnal Pendidikan Kimia 10, no. 2 (2021): 215–23.
62
[Link] penelitian, stimulus dapat berupa apa saja yang mendorong peserta
didik untuk berpikir dan menulis. Misalnya teks, gambar, skenario, tabel, atau
IPA dalam 3 tahun 2018 ada 25 soal atau 71,5% soal LOTS, tahun 2019 ada 22
atau 88% soal LOTS, dan tahun 2020 ada 24 atau 96 % soal LOTS dan
menunjukkan rata rata soal IPA berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat
rendah .
Adapun soal yang berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat tinggi (kreatif,
kritis, pemecahan masalah) hal ini sesuai dengan penelitian Afriansyah dkk tahun
2020 yang mengatakan bahwa pembelajaran dapat berjalan dengan kritis dan
kreatif apabila guru telah sampai di dalam tahapan pemecahan masalah, guru
Soal HOTS belum ada pada soal ujian IPA 2018, 2019, dan 2020 padahal
peserta didik menjadi keterampilan berpikir tingkat [Link] agar kualitas PISA
3
Julianto Julianto, “Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Siswa Sekolah Dasar Kelas IV
Dalam Menyelesaikan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Pada Mata Pelajaran IPA,” n.d.
4
Ekasatya Aldila Afriansyah et al., “Mendesain Soal Berbasis Masalah Untuk Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis Calon Guru,” Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika 9, no. 2 (2020):
239–50.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti, maka dapat
1. Dalam soal IPA tahun 2018 -2020 rata telah mengunakan stimulus pada
2. Dalam soal ulangan IPA adapun karakteristik soal soal IPA dalam 3 tahun.
2018 ada 25 soal atau 71,5% soal LOTS, tahun 2019 ada 22 atau 88% soal
LOTS, dan tahun 2020 ada 24 atau 96 % soal LOTS dan menunjukkan rata
rata soal IPA berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat rendah adapun
sintesis, dan evaluasi) belum banyak terdapat pada soal soal IPA.
B. Saran
berikut:
63
64
saja sehingga peserta didik dapat melatih sesuatu yang baru secara
2. Bagi guru, sebaiknya guru atau pendidik memakai soal evaluasi yang
kurikulum 2013.
kemampuanberfikirmereka.
DAFTAR PUSTAKA
I
Husada, Vinsensius Maunia Singgih, Sri Yamtinah, and Nurma Yunita Indriyanti.
“Analisis Konten High Order Thinking Skill Pada Soal PAS Dan PAT Kimia
Kelas XI Tahun Pelajaran 2019/2020 Di Kota Surakarta.” Jurnal Pendidikan
Kimia 10, no. 2 (2021): 215–23.
Julianto, Julianto. “Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Siswa Sekolah Dasar Kelas
IV Dalam Menyelesaikan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Pada Mata
Pelajaran IPA,” n.d.
Kemendikbud, Pusat Penilaian Pendidikan, and Moch Abduh. “Panduan Penulisan
Soal HOTS-Higher Order Thinking Skills,” 2019.
Kurniati, Amelia. “Kesesuaian Buku Tematik Kelas I SD/MI Tema Peristiwa Alam
Terbitan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dengan Peraturan Menteri
Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar
Kurikulum 2013.” Kesesuaian Buku Tematik Kelas I SD/MI Tema Peristiwa
Alam Terbitan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dengan Peraturan
Menteri Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar
Kurikulum 2013, 2017.
Lailly, Nur Rochmah, and Asih Widi Wisudawati. “Analisis Soal Tipe Higher Order
Thinking Skill (HOTS) Dalam Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun
2012/2013.” Jurnal Kaunia 11, no. 1 (2015): 27–39.
Lestari, Widji. “Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun Instrumen Penilaian
HOTS Melalui DTS Penyusunan RPP: Instrumen Penilaian HOTS Melalui DTS
Penyusunan RPP.” Honai 2, no. 1 (2020): 40–52.
Nugraha, Arief Juang, Hardi Suyitno, and Endang Susilaningsih. “Analisis
Kemampuan Berpikir Kritis Ditinjau Dari Keterampilan Proses Sains Dan
Motivasi Belajar Melalui Model Pbl.” Journal of Primary Education 6, no. 1
(2017): 35–43.
Rofiah, Emi, Nonoh Siti Aminah, and Elvin Yusliana Ekawati. “Penyusunan
Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika Pada Siswa SMP.”
Jurnal Pendidikan Fisika 1, no. 2 (2013).
Safira, Nadia. “Pengembangan LKPD Berbasis ALQURUN Teaching Model (ATM)
Pada Materi Perbandingan,” 2020.
Sani, Ridwan Abdullah. Pembelajaran Berbasis Hots Edisi Revisi: Higher Order
Thinking Skills. Vol. 1. Tira Smart, 2019.
Setianingsih, Cris, and Ari Suningsih. “Analisis Terjadinya Revisi Taksonomi Bloom
(Bloom’s Taxonomies).” Jurnal Majalah Kreasi STKIP MPL 10, no. 2 (2018).
Siregar, Lili Suriani. “Pengaruh Keterampilan Mengadakan Variasi Stimulus
Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di Kelas X SMA Negeri 2 Padang Bolak.”
JURNAL MISI 2, no. 2 (2019): 8–16.
Syahida, Ani, and Dedi Irwandi. “Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Pada Soal Ujian Nasional Kimia.” Edusains 7, no. 1 (2015): 77–87.
Ulva, Suci. “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Soal
Ujian Nasional (UN) IPA Sekolah Menengah Pertama (SMP) Di SMP N 1
II
Batipuh Tahun Ajaran 2018/2019,” 2020.
Utari, Retno, Widyaiswara Madya, and KNPK Pusdiklat. “Taksonomi Bloom.”
Jurnal: Pusdiklat KNPK 766, no. 1 (2011): 1–7.
Wahyuningtyas, Daniar, and Yuni Katminingsih. “Analisis Tingkat Kognitif
Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Matematika Wajib Kelas X
SMA/MA Berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi Anderson.” Jurnal Cendekia:
Jurnal Pendidikan Matematika 6, no. 1 (2022): 204–14.
Widana, I Wayan. “Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS).”
Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud, 2017.
Wismanto, Agus. “Evaluasi Pembelajaran Bahasa Menggunakan Taksonomi Bloom
Mulai Dari Versi Lama Sampai Versi Revisi.” Sasindo 2, no. 2 Agustus (2014).
Wright, B D, J M Linacre, J E Gustafson, and P Martin-Löf. “Reasonable Mean-
Square Fit Values. Rasch Measurement Transactions, 8, 370.” Rasch
Measurement Transactions 8, no. 3 (1994).
III
LAMPIRAN
IV
Lampiran 1. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2018
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
Lampiran 2. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2019
XV
XVI
XVII
XVIII
XIX
Lampiran 3. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2020
XX
XXI
XXII
XXIII
XXIV
XXV
XXVI
Lampiran 4. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Kampus
XXVII
Lampiran 5. Surat Izin Penelitian dari Dinas
XXVIII
Lampiran 6. Surat Bersedia Menerima dari Sekolah
XXIX
Lampiran 7. Surat Keterangan telah Meneliti dari Sekolah
XXX
Lampiran 8. Dokumentasi Peneliti
XXXI
XXXII
BIODATA PENULIS
XXXIII
Penggunaan rangsangan (stimulus) dalam soal evaluasi penting karena memungkinkan siswa untuk mengaitkan informasi dan konteks, serta berpindah antar konsep. Ini menantang mereka untuk berpartisipasi dalam proses berpikir tingkat tinggi. Dampaknya terhadap siswa dengan kemampuan berbeda adalah memberikan peluang bagi siswa berkemampuan tinggi untuk mengaplikasikan pengetahuan dengan cara baru, sementara siswa dengan kemampuan lebih rendah tetap bisa mengakses pengetahuan dasar sebagai langkah awal berkembang .
Ciri-ciri soal HOTS meliputi mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif, argumentasi, dan pengambilan keputusan. Soal-soal ini didasarkan pada permasalahan kontekstual yang memerlukan penerapan konsep untuk memecahkan masalah. Efeknya terhadap proses pembelajaran adalah mendorong peserta didik untuk berpikir lebih dalam dan kreatif, serta meningkatkan kemampuan analisis dan evaluasi melalui konteks nyata .
Perubahan Taksonomi Bloom dari konsep awal menekankan lebih pada klasifikasi yang linear dan statis, tetapi revisi menekankan proses dinamis, penilaian, dan aplikasi dalam berpikir. Revisi ini memasukkan perspektif aktif dan kognitif, seperti menganalisis dan mencipta, alih-alih sekedar menghafal. Hal ini menggeser cara pandang terhadap pendidikan dari fokus pada hasil akhir ke proses belajar serta penilaian dari sekedar ceklis pemahaman ke evaluasi keterampilan berpikir kritis dan kreatif .
Taksonomi Bloom membagi tingkat kognitif dari rendah ke tinggi, yaitu Knowledge (C-1), Pemahaman (C-2), Aplikasi (C-3), Analisis (C-4), Sintesis (C-5), dan Evaluasi (C-6). Kemampuan berpikir tingkat rendah meliputi memori, pemahaman, dan aplikasi, sementara tingkat tinggi mencakup analisis, evaluasi, dan kreasi. Ini menunjukkan bahwa tingkat kognitif tingkat tinggi memerlukan keterampilan berpikir yang lebih kompleks untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta .
Kemampuan berpikir kritis termasuk dalam kategori tingkat tinggi dalam Taksonomi Bloom karena memerlukan analisis mendalam, evaluasi bukti, dan penentuan keputusan berdasarkan informasi yang ada. Untuk menilainya, soal harus dirancang untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang rumit, memberikan skenario atau stimulus kontekstual di mana peserta didik harus menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk memberikan solusi yang valid dan logis. Penilaian harus mengevaluasi kemampuan untuk mengeksplorasi argumen dan menyintesis informasi baru .
Desain soal HOTS mendukung pembentukan keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada peserta didik dengan menghadirkan soal yang menuntut analisis masalah nyata, pengambilan keputusan, dan penciptaan solusi baru. Soal-soal ini menggunakan stimulus kontekstual yang memotivasi peserta didik untuk melihat masalah melalui berbagai perspektif dan berpikir 'di luar kotak'. Ini mendorong peserta didik untuk menggali lebih dalam konsep yang telah dipelajari dan menerapkannya secara inovatif .
Indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi menurut Taksonomi Bloom mencakup analisis, evaluasi, dan pembuatan. Dalam penerapannya pada soal penilaian, peserta didik harus mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah, membandingkan solusi, mengevaluasi argumen, dan merancang solusi baru. Penilaian harus mempersyaratkan penggunaan keterampilan operasional seperti menganalisis, menilai, merancang, dan menggabungkan untuk memastikan keterampilan ini diterapkan dan diasah .
Perspektif baru dari teori Anderson dan Krathwohl mempengaruhi analisis keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan memperjelas dan merinci keterampilan kognitif ke dalam kategori sederhana hingga kompleks seperti analisis, evaluasi, dan kreasi. Ini membuat pendidik lebih sadar tentang pentingnya menilai keterampilan ini dan bagaimana mengintegrasikannya dalam perencanaan pembelajaran. Teori ini mendorong pendidik untuk fokus pada pengembangan kemampuan analitik, evaluatif, dan kreatif, yang penting untuk pembelajaran yang lebih mendalam dan menyeluruh .
Menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam sistem pendidikan modern penting karena keterampilan seperti berpikir kritis, kreatif, dan pengambilan keputusan menjadi sangat berharga di era informasi dan teknologi saat ini. Ini memungkinkan peserta didik untuk beradaptasi dengan cepat, menyelesaikan masalah kompleks, dan membuat keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian. Di masa depan, peserta didik yang mampu berpikir tingkat tinggi akan lebih siap untuk bersaing dalam ekonomi global serta lebih efektif dalam peran profesional dan kehidupan sosial mereka .
Stimulus dalam penilaian HOTS berfungsi untuk menghubungkan dan menafsirkan beberapa konsep yang berbeda, memecahkan masalah, menetapkan strategi pemecahan masalah, dan menghasilkan prosedur baru. Dengan adanya stimulus, peserta didik dimotivasi untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi secara kritis. Stimulus mendorong siswa untuk berpindah antar konteks dan mencari hubungan antara informasi, yang lebih menguji keterampilan berpikir tingkat tinggi dibanding hanya mengandalkan ingatan. Tanpa stimulus, soal hanya memenuhi ranah kognitif memahami (C2) dan tidak mengeksplorasi kemampuan berpikir tingkat tinggi .