0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan110 halaman

Analisis Kemampuan Berpikir Tinggi IPA Kelas VII

Skripsi ini menganalisis kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap berdasarkan soal-soal IPA. Penelitian menunjukkan bahwa stimulus utama soal-soal adalah gambar/diagram/grafik, sedangkan karakteristiknya berada pada tingkat berfikir rendah. Temuan ini mengindikasikan perlu adanya peningkatan kualitas soal untuk mengembangkan kemampuan berfikir tingkat ting

Diunggah oleh

Rizki Ashidiq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan110 halaman

Analisis Kemampuan Berpikir Tinggi IPA Kelas VII

Skripsi ini menganalisis kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap berdasarkan soal-soal IPA. Penelitian menunjukkan bahwa stimulus utama soal-soal adalah gambar/diagram/grafik, sedangkan karakteristiknya berada pada tingkat berfikir rendah. Temuan ini mengindikasikan perlu adanya peningkatan kualitas soal untuk mengembangkan kemampuan berfikir tingkat ting

Diunggah oleh

Rizki Ashidiq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

ANALISIS KEMAMPUAN BERFIKIR TINGKAT TINGGI


PADA SOAL SOAL IPA PESERTA DIDIK KELAS VII DI
SMP NEGERI 1 PANCARIJANG SIDRAP

OLEH

HARDIANI
NIM: 18.84206.002

PROGRAM STUDI TADRIS IPA


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PAREPARE

2022
ANALISIS KEMAMPUAN BERFIKIR TINGKAT TINGGI
PADA SOAL SOAL IPA PESERTA DIDIK KELAS VII DI
SMP NEGERI 1 PANCARIJANG SIDRAP

OLEH

HARDIANI
NIM: 18.84206.002

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana


Pendidikan ([Link].) pada Program Studi Tadris IPA Fakultas Tarbiyah
Institut Agama Islam Negeri Parepare

PROGRAM STUDI TADRIS IPA


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PAREPARE

2022

i
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING

Judul Skripsi : Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi


pada Soal Soal IPA Peserta Didik Kelas VII SMP
Negeri 1 Pancarijang Sidrap
Nama Mahasiswa : Hardiani
NIM : 18.84206.002
Program Studi : Tadris IPA
Fakultas : Tarbiyah
Dasar Penetapan Pembimbing : Surat Keputusan Dekan Fakultas Tarbiyah
Nomor 1205 Tahun 2021

Disetujui Oleh:

Pembimbing Utama : Wahyu Hidayat, Ph.D.

NIP : 198205232011011005

Pembimbing Pendamping : Muhammad Ahsan, [Link].

NIP : 1972030420031211004

Mengetahui:

Dekan,
Fakultas Tarbiyah

Dr. Zulfah, [Link].


NIP. 19830420200801201

ii
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI

Judul Skripsi : Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi


pada Soal Soal IPA Peserta Didik Kelas VII SMP
Negeri 1 Pancarijang Sidrap
Nama Mahasiswa : Hardiani
Nomor Induk Mahasiswa : 18.84206.002
Fakultas : Tarbiyah
Program Studi : Tadris IPA
Dasar Penetapan Pembimbing : Surat Keputusan Dekan Fakultas Tarbiyah
Nomor 1205 Tahun 2021
Tanggal Kelulusan : 19 Agustus 2022

Disahkan oleh Komisi Penguji

Wahyu Hidayat, Ph.D. ( Ketua ) (…………………….)

Muhammad Ahsan, [Link]. ( Sekretaris ) (…………………….)

Drs Anwar [Link]. ( Anggota ) (…………………….)

Gusniwati, [Link]. ( Anggota ) (…………………….)

Mengetahui:

Dekan,
Fakultas Tarbiyah

Dr. Zulfah, [Link].


NIP. 19830420200801201

iii
KATA PENGANTAR

ْ‫ْالر ِحي ِم‬


َّ ‫من‬ِ ‫ِْالرح‬
َّ ‫ِبسْ ِمْهللا‬
Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala Petunjuk, Nikmat dan
Amanah yang telah diberikan Kepadanya, Shalawat serta Salam Semoga Tetap
Tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, Penulis dapat menyelesaikan studi
dan memperoleh gelar ‘’Sarjana Tadris Ilmu Pengetahuan Alam Pada Fakultas
Tarbiyah’’ Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.
Penulis Menghanturkan Terima Kasih yang Setulus-tulusnya kepada kedua
orang tua karena dengan Motivasi yang diberikan dan juga Doa nya, sehingga Penulis
diberikan Kemudahan dalam menyelesaikan tugas akhir tepat pada waktunya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wahyu Hidayat Ph.D.
Selaku Pembimbing I dan bapak Muhammad Ahsan, [Link] selaku Pembimbing II, atas
Segala arahan, dan bimbingan serta motivasi yang telah diberikan, sekali lagi Penulis
Ucapkan Banyak Terima Kasih
Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Hannani, [Link]. sebagai Rektor IAIN Parepare yang telah bekerja
keras mengelola pendidikan di IAIN Parepare
2. Ibu Dr. Zulfah, [Link]. sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah atas pengabdiannya
dalam menciptakan suasana pendidikan yang positif bagi mahasiswa.
3. Ibu Gusniwati, [Link]. [Link]. dan Ibu-ibu dosen Program Studi Tadris IPA yang
telah meluangkan waktu dalam mendidik penulis selama studi di IAIN
Parepare.
4. Bapak dan Ibu dosen, staf, dan karyawan khususnya Fakultas Tarbiyah.
5. Bapak Wahyu Hidayat Ph.D. selaku Penasehat Akademik, yang memberikan
bimbingan, arahan, motivasi sehingga penulis bisa menyelesaikan studinya.
6. Bapak Drs. Syamsuddin, [Link]. selaku Kepala Sekolah SMP Neg 1 Pancarijang
dan juga Bapak [Link] selaku Guru Mata Pelajaran Ilmu

iv
Pengetahuan Alam, yang telah menerima penulis dengan baik.
7. Saudara kembarku Hardiana [Link] yang senantiasa menemani, membantu,
memotivasi, dan memberikan semangat hingga penulis sampai pada tahap ini.
8. Teman-Teman Seperjuangan Mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
angkatan pertama tahun 2018.

Penulis tak lupa pula mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuan, baik moril maupun material hingga tulisan ini dapat
diselesaikan. Semoga Allah SWT. berkenan menilai segala kebajikan sebagai amal
jariyah dan memberikan rahmat dan pahala-Nya.
Akhirnya penulis menyampaikan kiranya pembaca berkenan memberikan
saran konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini.

Sidrap, 28 Juni 2022


28 Dzulqaidah 1443 H

Penulis

Hardiani
18.84206.002

v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini

Nama Mahasiswa : Hardiani


Nomor Induk Mahasiswa : 18.84206.002
Tempat/Tanggal Lahir : Rappang, 24 Agustus 2000
Program Studi : Tadris IPA
Fakultas : Tarbiyah
Judul Skripsi : Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi
pada Soal Soal IPA peserta didik Kelas VII
SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap.

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar
merupakan hasil karya saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa ia
merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau
seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Sidrap, 28 Juni 2022

Penyusun,

HARDIANI
18.84206.002

vi
ABSTRAK

Hardiani. Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi pada Soal Soal IPA Peserta
Didik Kelas VII SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap. (Dibimbing oleh Wahyu Hidayat
dan Muhammad Ahsan).
Di abad 21, seluruh peserta didik mengalami resiko serta ketidakpastian dalam
pertumbuhan area yang pesat, semacam teknologi, sains, ekonomi, serta sosial budaya.
Kemajuan teknologi harus diterapkan pada kegiatan yang membutuhkan sarana atau
media untuk menunjang proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan, salah satu
indikator keberhasilan adalah peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi
yang baik, karena tujuan utama pembelajaran di abad dua puluh satu adalah
kemampuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat
tinggi siswa. Bagi guru untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan di abad
kedua puluh satu Penghafalan diprioritaskan daripada aplikasi dan pemecahan masalah
dalam pendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas soal ujian semester IPA di
SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap tahun ajaran 2018-2020, Untuk mengetahui stimulus
pada soal ujian semester IPA, mengetahui karakteristik soal soal ujian semester IPA di
SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap tahun ajaran 2018-2020 Tipe HOTS ditinjau dari dari
karakteristik C4 (Kritis), C5 (Kreatif), dan C6 (Pemecahan Masalah). Penelitian ini
termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis isi atau dokumen. Penelitian ini
menggunakan teknik analisis data. Dalam hal ini, peneliti melakukan analisis data
menggunakan Rasch Model.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Jenis stimulus yang ada pada soal
soal IPA yaitu gambar/diagram/grafik, tabel, contoh, [Link] rincian jumlanya
adalah sebagai berikut berikut 2018 terdapat 27 atau 76,9 % stimulus, 2019 terdapat 18
atau 72 % stimulus, dan 2020 terdapat 19 atau 76 % stimulus.(2 Karakteristik soal soal
IPA dalam 3 tahun 2018 ada 25 soal atau 71,5% soal LOTS, tahun 2019 ada 22 atau
88% soal LOTS, dan tahun 2020 ada 24 atau 96 % soal LOTS dan menunjukkan rata
rata soal IPA berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat rendah adapun soal yang
berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat tinggi (kreatif, kritis, pemecahan
masalah).
Kata Kunci: Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi, Soal Soal IPA.

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i


PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ................................................................. ii
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ........................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................................. iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...................................................................... vi
ABSTRAK .................................................................................................................. vii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian........................................................................................ 5
D. Kegunaan Penelitian................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 7
A. Tinjauan Penelitian Relevan....................................................................... 7
B. Tinjauan Teori ............................................................................................ 8
C. Kerangka Pikir.......................................................................................... 30
D. Definisi Istilah .......................................................................................... 30
BAB III METODE PENELITIAN.............................................................................. 32
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ............................................................... 32
B. Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................................... 32
C. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data............................................. 32
D. Instrumen penelitian ................................................................................. 33
E. Teknik Analisis Data ................................................................................ 37

viii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................ 40
A. Hasil Penelitian ........................................................................................ 40
B. Pembahasan .............................................................................................. 61
BAB V PENUTUP ...................................................................................................... 63
A. Simpulan................................................................................................... 63
B. Saran ......................................................................................................... 63
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... I
LAMPIRAN ................................................................................................................ IV
BIODATA PENULIS ........................................................................................ XXXIII

ix
DAFTAR TABEL

No.
Tabel Judul Tabel Halaman
3.1 Soal Mengukur Dimensi Berpikir Anderson & Krathwohl 34
3.2 Analisis Stimulus pada Soal 35
3.3 Analisis kualitas Taksonomi Bloom Ander & Krathwohl 35
3.4 Kriteria Soal Kemampuan Berpikir Kritis 36
3.5 Kriteria Soal Kemampuan Berpikir Kreatif 36
3.6 Kriteria Soal Kemampuan Pemecahan Masalah 37
4.1 Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2018 40
4.2 Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2019 44
4.3 Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2020 47
4.4 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2018 50
4.5 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2019 53
4.6 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2020 55

x
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Gambar Halaman


Gambar
2.1 Kerangka fikir 30
4.1 Soal ulangan kategori C1 tahun 2018 51
4.2 Soal ulangan kategori C2 tahun 2018 51
4.3 Soal ulangan kategori C3 tahun 2018 52
4.4 Soal ulangan kategori C4 tahun 2018 52
4.5 Soal ulangan kategori C1 tahun 2019 44
4.6 Soal ulangan kategori C2 tahun 2019 54
4.7 Soal ulangan kategori C3 tahun 2019 54
4.8 Soal ulangan kategori C4 tahun 2019 55
4.9 Soal ulangan kategori C1 tahun 2020 56
4.10 Soal ulangan kategori C2 tahun 2020 56
4.11 Soal ulangan kategori C3 tahun 2020 57
4.12 Soal ulangan kategori C4 tahun 2020 57

xi
DAFTAR LAMPIRAN

No.
Lampiran Judul Lampiran
1. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2018
2. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2019
3. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2020
4. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Kampus
5. Surat Izin Penelitian dari Dinas
6. Surat Bersedia Menerima dari Sekolah
7. Surat Keterangan telah Meneliti dari Sekolah
8. Dokumentasi Kegiatan Peneliti

xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan kualitas

pendidikan sehingga mampu bersaing dengan tantangan Era Industri 4.0 dan

menghasilkan generasi unggul di tahun 2045 yang brilian dalam hal pengetahuan,

perilaku, dan keterampilan. Menerapkan kurikulum 2013 untuk memenuhi tuntutan

yang kompetitif maju.1Di abad 21, seluruh peserta didik mengalami resiko serta

ketidakpastian dalam pertumbuhan area yang pesat, semacam teknologi, sains,

ekonomi, serta sosial budaya.

Kemajuan teknologi harus diterapkan pada kegiatan yang mengharuskan

penggunaan sarana atau media untuk menunjang [Link] juga bagi Hosnan

dalam era ini Khususnya dunia pendidikan ialah kebutuhan atau tuntutan untuk

[Link] dunia pendidikan salah satu gejala keberhasilannya yakni peserta didik

wajib mempunyai kemampuan tingkat tinggi yang baik, karena tujuan utama

pendidikan di abad 21 adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa pada

kemampuan berpikir tingkat tinggi agar peserta didik dapat bersaing diera abad 21.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir kompleks yang

memungkinkan siswa untuk menggambarkan modul, menarik kesimpulan,

membangun representasi, menganalisis, dan membentuk hubungan, di antara aktivitas

mental dasar lainnya. Proses berpikir mempunyai tingkatan dari rendah ke tinggi.

Inisiatif pemerintah tahun 2013, yang saat ini sedang dilaksanakan, menuntut siswa

1
Idris Apandi and Arip Baehaqi, “Strategi Pembelajaran Aktif Abad 21 Dan HOTS,”
Samudra Biru, Yogyakarta, 2018.

1
2

untuk berpikir pada tingkat yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya

beberapa kata kerja operatif dalam kurikulum Kompetensi Inti (AI) 2013.2

Berfikir tingkat tinggi ialah kemampuan berfikir lebih tinggi, artinya peserta

didik naik kelevel yang lebih tinggi yaitu menganalisis dan mengevaluasi suatu

informasi dan juga fakta, dan diharapkan peserta didik bisa menyerap info yang

didapatkan dan memikirkan lebih dalam informasi dan juga fakta dan menyampaikan

hasil pemikirannya dengan mengunakan kata katanya sendiri. Inilah yang dimaksud

dengan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, keterampilan kolaborasi, dan

kemampuan berkreasi.
Menurut Anderson serta Krathwohl Taksonomi Bloom memiliki 2 dimensi

yakni konsep pengetahuan dan proses kognitif. konsep pengetahuan meliputi

pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan

pengetahuan metakognitif. Dimensi proses kognitif meliputi mengingat, menguasai,

menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan [Link] telah menggunakan

berbagai pendekatan untuk mendukung aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi

peserta didik, seperti kegiatan diskusi, eksplorasi, dan sebagainya.


Namun, tahap memahami peserta didik yang tidak merata membuat hal ini

menjadi masalah yang berkepanjangan. Taksonomi Bloom menurut Anderson dan

Krathwohl telah direvisi yang artinya keterampilan berpikir meliputi dimensi

mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan

[Link] penelitian ini, kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi

2
Amelia Kurniati, “Kesesuaian Buku Tematik Kelas I SD/MI Tema Peristiwa Alam Terbitan
Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dengan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2016 Tentang
Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013,”
3

kemampuan untuk dengan mudah mencakup dimensi proses analisis, evaluasi, dan

desain dengan menggunakan dasar-dasar proses memori yang baik.

PISA (International Student Assessment Programme) adalah hasil survei

OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). Sebuah

lembaga yang menilai kemampuan membaca, matematika, dan sains anak-anak

berusia 15 tahun di seluruh dunia ini.3Di tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat

ke-74 pada 79 negara yang terlibat program tersebut. Menurut hasil survei PISA 2018

yang dilakukan oleh OECD, peserta dididk Indonesia mendapat skor rata-rata 371

dalam pemahaman bacaan, dibandingkan dengan rata-rata OECD 87.


Setelah itu, nilai rata-rata matematika mencapai 379 poin, nilai rata-rata di

OECD juga 87, dan sains mendapat nilai rata-rata 389 peserta didik Indonesia, nilai

rata-rata di OECD 89. Skor Indonesia di tahun 2018 lebih rendah dan Peringkat

Indonesia berada di 10 besar tidak berubah dari putaran sebelumnya (2015, 2012, dan

2009). 4Hasil ini harus dijadikan bahan evaluasi bagi pemerintah pusat dan guru yang

merupakan lembaga pendidikan. Baik pemerintah maupun guru perlu meningkatkan

kualitas proses, bukan hanya menekankan hasil akhir.


Pemerintah juga dituntut untuk memperhatikan pemerataan pendidikan agar

peringkat Indonesia di PISA tetap [Link] pembelajaran masih berpusat pada

guru di lapangan, peserta didik tidak memiliki pengalaman belajar yang menantang

dan bermakna. Pembelajaran difokuskan pada menghafal, dengan sedikit penekanan

3
La Hewi and Muh Shaleh, “Refleksi Hasil PISA (the Programme for International Student
Assesment): Upaya Perbaikan Bertumpu Pada Pendidikan Anak Usia Dini,” Jurnal Golden Age 4, no.
01 (2020): 30–41.
4

pada aplikasi dan pemecahan masalah. Setiap peserta didik diajak berpikir dalam

penerapannya, tetapi kemampuan berpikir biasanya rendah. Lower Order Thinking

Skill (LOTS) difokuskan pada pemberian jawaban yang sesuai dengan fakta atau

istilah dalam membaca yang digunakan hafalan dalam menjawab suatu pertanyaan.5

Keterampilan berpikir bisa lebih meningkat dengan dukungan serta bimbingan

pengajar, sehingga peserta didik memiliki kemampuan dalam pikir yang lebih tinggi.

Keahlian berpikir yang tinggi untuk menggunakan pikiran untuk tantangan baru

menentukan keberhasilan dalam pendidikan tinggi.6Keterampilan berpikir yang lebih

tinggi sangat penting di abad ke 21 karena dibutuhkan untuk mendukung semua


aspek tantangan sepanjang proses pembelajaran, mulai dari perencanaan hingga

implementasi hingga evaluasi.

Analisis mendalam terhadap soal-soal ujian Semester Genap Sains diperlukan

untuk melihat sejauh mana keterampilan berpikir tinggi [Link] latar

belakang pemikiran yang peneliti kemukakan tersebut di atas, diharapkan agar

peneliti dapat mengetahui kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa pada soal soal

[Link] peneliti merumuskan judul penelitian yaitu “Analisis Kemampuan Berfikir


Tingkat Tinggi Pada Soal Soal IPA Peserta Didik Kelas VII Smp Negeri 1

Pancarijang Sidrap ”

5
Arief Juang Nugraha, Hardi Suyitno, and Endang Susilaningsih, “Analisis Kemampuan
Berpikir Kritis Ditinjau Dari Keterampilan Proses Sains Dan Motivasi Belajar Melalui Model Pbl,”
Journal of Primary Education 6, no. 1 (2017): 35–43.
5

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka yang

menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana jenis stimulus yang terdapat pada soal soal ujian semester IPA?

2. Bagaimana karakteristik soal soal ujian semester IPA Di SMP Negeri 1

Pancarijang Tahun Ajaran 2018-2020 tipe HOTS ditinjau dari karakteristik

C4 (Kritis), C5 (Kreatif), dan C6 (Pemecahan Masalah)?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui stimulus pada soal ujian semester IPA.

2. Untuk mengetahui karakteristik soal soal ujian semester IPA di SMP

Negeri 1 Pancarijang Sidrap tahun ajaran 2018-2020 Tipe HOTS ditinjau

dari karakteristik C4(Kritis), C5(Kreatif), dan C6(Pemecahan Masalah).

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini yaitu:

1. Kegunaan teoritis
a. Menambah Pengetahuan terutama dalam Pengembangan Karakter

Instrumen Tes Berkarakter Higher Order Thinking Skills (HOTS)

b. Bagi sekolah, sebagai bahan untuk pengembangan kurikulum.

2. Kegunaan praktis

a. Dapat memberikan kontribusi penelitian yang dapat digunakan untuk

meningkatkan proses penilaian dari tahun ke tahun.


6

b. Diharapkan dengan menganalisis butir-butir keterampilan berpikir tingkat

tinggi di SMP Negeri 1 Pancarijang, kualitas pendidikan dan berpikir

tingkat tinggi di SMP Negeri 1 Pancarijang akan meningkat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Penelitian Relevan

Ada pula penelitian yang relevan dengan penelitian ini ialah :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Ani Syahida serta Dedi Irwandi di tahun 2015

dengan Judul “Analisis Keahlian Berpikir Tingkatan Besar pada Soal Tes

Nasional Kimia ”.Hasil penelitian menampilkan kalau Kebanyakan soal UN

Kimia pada tahun ajaran 2011 / 2012 ( 92 ,5 %) ataupun 2012 / 2013 ( 85 % )

menampilkan keahlian berpikir tingkatan rendah peserta didik.1

2. Penelitian yang dilakukan oleh Qurratu A‟Yunina di tahun 2018 dengan

Judul “ Analisis Keahlian Berpikir Tingkatan Besar dalam Menuntaskan Soal

UN Fisika SMA pada Modul Medan Magnet peserta didik Kelas XII di SMA

Muhammadiyah 3 Jember ” . Hasil riset menampilkan kalau presentase rata -

rata keahlian berpikir tingkatan besar peserta didik dalam menuntaskan soal

Tes Nasional ( UN ) Fisika SMA pada modul medan magnet selaku berikut :

sesi menganalisis sebesar 33 . 13 % , sesi mengevaluasi sebesar 29 . 77 % ,

serta sesi mengkreasikan sebesar 21 . 05 %. 2

3. Penelitian yang dilakukan oleh Suci Ulva tahun 2020 yang bertajuk “

Analisis Soal Jenis Higher Order Thinking Skills ( Hots ) Dalam Soal Tes

Nasional ( Un ) Ipa Sekolah Menengah Awal ( Smp ) Di Smp N 1 Batipuh

Tahun Ajaran 2018 / 2019 ” Bersumber pada hasil riset menampilkan , kalau

1
Ani Syahida and Dedi Irwandi, “Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Soal
Ujian Nasional Kimia,” Edusains 7, no. 1 (2015): 77–87.
2
Qurrotu A’yunina, “Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Dalam Menyelesaikan
Soal UN Fisika SMA Pada Materi Medan Magnet Siswa Kelas XII Di SMA Muhammadiyah 3
Jember,” Jurnal Penelitian Ilmiah INTAJ 3, no. 2 (2019): 1–25.

7
8

dari 40 butir soal UN IPA ada 25 soal ialah soal bertipe HOTS serta 15 soal

bertipe LOTS . Sehingga persentase yang diperoleh sebesar 65,5 % soal yang

berkarakteristik HOTS pada soal UN IPA tahun ajaran 2018 /2019.3

B. Tinjauan Teori

a. Taksonomi Bloom

1) Sejarah Taksonomi Bloom

Taksonomi berasal dari dua kata Yunani: tassein, yang berarti

klasifikasi, dan nomos, yang berarti [Link] kata lain, taksonomi

berarti klasifikasi hirarkis prinsip-prinsip dan aturan-aturan dasar. Istilah ini

kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog

pendidikan yang melakukan penelitian dan [Link] lahir pada

tanggal 21 Februari 1913 di Lunsford, Pennsylvania, dan menerima gelar

doktor di bidang pendidikan dari University of Chicago tahun 1942.

Ia dikenal sebagai konsultan internasional dan aktivis pendidikan dan

berhasil membawa perubahan signifikan dalam sistem pendidikan [Link]

mendirikan the International Association for the Evaluation of

Educational Achievement, the IEA dan mengembangkan the Measurement,

Evaluation, and Statistical Analysis (MESA) program pada University of

Chicago.4

3
Suci Ulva, “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Soal Ujian
Nasional (UN) IPA Sekolah Menengah Pertama (SMP) Di SMP N 1 Batipuh Tahun Ajaran
2018/2019,” 2020.
4
Cris Setianingsih and Ari Suningsih, “Analisis Terjadinya Revisi Taksonomi Bloom
(Bloom’s Taxonomies),” Jurnal Majalah Kreasi STKIP MPL 10, no. 2 (2018).
9

Sejarah taksonomi Bloom dimulai pada awal tahun 1950-an, ketika,

pada pertemuan American Psychological Association, Bloom dan rekan-

rekannya mengusulkan bahwa penilaian hasil belajar yang banyak

digunakan di sekolah-sekolah harus menunjukkan bahwa jumlah terbesar

dari mata pelajaran yang disajikan hanya membutuhkan hafalan. Menurut

Bloom, menghafal sebenarnya adalah tingkat perilaku berpikir yang paling

rendah. Selain itu, tingkat pembelajaran yang lebih tinggi diperlukan untuk

mengembangkan kepribadian yang mampu unggul di bidangnya..5

Kemudian, pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan


Classwall menerbitkan skema konseptual keterampilan berpikir yang

disebut Taksonomi Bloom. Dengan kata lain, taksonomi Bloom adalah

struktur hirarkis yang mendefinisikan keterampilan dari tingkat yang lebih

rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja, untuk mencapai sasaran

yang lebih tinggi, level yang lebih rendah harus terlebih dulu diselesaikan.

Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan ini Bloom dibagi

menjadi tiga domain perilaku intelektual: kognitif, afektif dan psikomotorik.


Domain kognitif mencakup perilaku yang berfokus pada aspek intelektual

seperti pengetahuan dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup

perilaku yang berkaitan dengan emosi seperti perasaan, nilai, minat,

motivasi, dan sikap.

Domain psikomotor, di sisi lain, mencakup perilaku yang berfokus

pada fungsi operasional, keterampilan motorik dan kemampuan fisik,

5
Retno Utari, Widyaiswara Madya, and KNPK Pusdiklat, “Taksonomi Bloom,” Jurnal:
Pusdiklat KNPK 766, no. 1 (2011): 1–7.
10

berenang dan mengemudi. Para pelatih biasanya mengaitkan ketiga bidang

ini dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap (KSA). Kognisi berfokus

pada pengetahuan, emosi berfokus pada sikap, dan psikomotor berfokus

pada keterampilan. Ada seorang pendidik di Indonesia, Ki Hajar Dewantara,

yang dikenal dengan doktrin Cipta, Rasa dan Karsa (penalaran, evaluasi dan

praktik).

Cipta dapat didefinisikan sebagai domain kognitif, Rasa sebagai domain

afektif dan Karsa sebagai domain psikomotorik. Ranah kognitif mengorganisasikan

keterampilan berpikir sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir


merupakan tahapan berpikir yang harus dikuasai siswa agar mampu

menerjemahkan teori ke dalam tindakan.6Ranah kognitif ini terdiri atas enam level

berikut ini. (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) aplikasi, (4) analisis, (5) sintesis

dan (6) evaluasi.

Level ranah ini dapat digambarkan dalam bentuk piramida [Link] level

pertama (lebih rendah) adalah keterampilan berpikir tingkat rendah dan tiga level

berikutnya adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun demikian, setelah


level ini tercapai, tidak berarti bahwa level yang lebih rendah tidak lagi penting.

Bahkan, Anda tidak bisa maju ke level berikutnya tanpa menyelesaikan keterampilan

berpikir tingkat rendah ini.

6
Agus Wismanto, “Evaluasi Pembelajaran Bahasa Menggunakan Taksonomi Bloom Mulai
Dari Versi Lama Sampai Versi Revisi,” Sasindo 2, no. 2 Agustus (2014).
11

2) Revisi Taksonomi Bloom

Pada tahun 1994, Lauryn Anderson Kraswall, salah satu murid Bloom,

dan sekelompok psikolog kognitif menyempurnakan taksonomi Bloom agar

sesuai dengan perkembangan zaman. Hasil penyempurnaan ini diterbitkan pada

tahun 2001 sebagai taksonomi Bloom yang telah direvisi. Hanya domain kognitif

yang direvisi. Perubahannya adalah sebagai berikut: 1. Kata kunci telah diubah

dari kata benda menjadi kata kerja pada setiap tingkat klasifikasi; 2. Perubahan

terjadi pada hampir setiap tingkat hirarki.

Tetapi urutan hirarki tetap sama dari yang terendah sampai yang tertinggi; dan
Tiga Perubahan terjadi pada hampir setiap tingkat hirarki, tetapi urutan hirarki

tetap sama dari yang terendah sampai yang tertinggi.

Perubahan mendasar terjadi pada level 5 dan 6, yang dapat digambarkan

sebagai berikut

Pada level 1, pengetahuan berubah menjadi hafalan.

Pada level 2, pemahaman meningkat menjadi kesepakatan.

Pada Level 3, aplikasi berubah menjadi penggunaan.


Pada level 4 analisis menjadi analisis.

Pada level 5 sintesis naik ke level 6, tetapi dengan perubahan mendasar dalam

penciptaan.

Pada level 6, penilaian turun ke level 5 dan menjadi penilaian tugas. 7

7
Nadia Safira, “Pengembangan LKPD Berbasis ALQURUN Teaching Model (ATM) Pada
Materi Perbandingan,” 2020.
12

Singkatnya, taksonomi baru Bloom dalam domain kognitif terdiri dari enam

tingkatan: ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi dan kreasi Revisi

Kratwohl sering digunakan untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang kita

kenal dengan istilah C1 sampai C6 Taksonomi baru Krathwohl dalam domain

kognitif terdiri dari enam tingkatan: ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis,

evaluasi, evaluasi dan [Link] domain kognitif pertama kali diusulkan

oleh Benjamin S. Bloom (1956).

Secara rinci, Bloom membagi 6 jenis tingkat kognitif, yaitu dari tingkat

rendah ke tingkat yang lebih tinggi Pengetahuan (C-1), Pemahaman (C-2),


Aplikasi (C-3), Analisis (C-4), Sintesis ( C5) dan evaluasi (C-6). sesudah itu

direvisi oleh Anderson dan Krathwohl( 2001) dalam Yani( 2019, hlm.5-6),

menata ulang taksonomi bloom menjadi 6 jenjang dengan bermacam modifikasi,

yakni mengingat, Menguasai, Mengaplikasikan, Menganalisis, Mengevaluasi

serta Mencipta.

Tahap menghafal (C-1), Memahami (C-2), dan Menerapkan (C-3)

merupakan dasar untuk mengembangkan pertanyaan LOTS (kemampuan berpikir


tingkat rendah) menjadi dasar guna meningkatkan pertanyaan LOTS( kemampuan

berpikir tingkat rendah) sebagai dasar pengembangan soal HOTS. Kata kerja

operatif( KKO) yang tercantum dalam pengelompokan taksonomi Bloom

menggambarkan proses berpikir.

Bukan kata kerja dalam pertanyaan, Ketiga keterampilan berpikir utama

(menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta) ini penting untuk pemecahan

masalah, transfer pendidikan (transfer of learning) dan [Link] KKO

taksonomi Bloom tingkatann C1 – C6 dapat dilihat sebagai berikut


13

1) Kata kerja operasional yang digunakan pada Level C1 adalah

mengetahui, menyebutkan, menjelaskan, menggambar,

menghitung, mengidentifikasi, mendaftarkan, menunjukkan,

melabeli, mengindeks, memasangkan, menamai, menambahkan,

membaca, menyadari, menghafal, meniru, mencatat, mengulang,

mereproduksi , meninjau, memilih, dan menyatakan.

2) Memahami, memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan,

mengkarakterisasi, merinci, mengasosiasikan, membandingkan,

menghitung, membedakan, mengubah, mempertahankan,


menguraikan, menjalin, membedakan, mendiskusikan, mengalikan,

mencontohkan, menjelaskan, menyarankan, pola, memperluas,

menyimpulkan, dan memprediksi adalah operasional kata kerja

yang digunakan di Level C2.

3) Kata kerja operasional yang digunakan pada Level C3 adalah

menerapkan, menetapkan, menyortir, menentukan, menerapkan,

menyesuaikan, menghitung, memodifikasi, mengklasifikasikan,


menghitung, membangun, menyortir, membiasakan, mencegah,

menggambarkan, menggunakan, menilai, melatih, mengalikan,

menyarankan, dan mengadaptasi.

4) Pada level C4 istilah operasionalnya yakni menganalisis,

mengaudit, memecahkan, menegaskan, mendeteksi, mengdiagnosis,

menyeleksi, merinci, menominasikan, mendiagramkan,

mengorelasikan, merasionalkan, menguji, mencerahkan, menjelajah,

membagankan, & menyimpulkan.


14

5) Pada level C5, istilah operasionalnya yakni Mengevaluasi,

membandingkan, menilai, membimbing, mengkritik, meninjau,

menyelesaikan, memprediksi, , menspesifikasikan, mengukur, meringkas

dan mendemonstrasikan

6) Pada level C6 istilah operasionalnya merupakan yakni membuat,

mengabstraksi, mengatur, menghidupkan, mengumpulkan,

mengkategorikan, mengkode, menggabungkan, mengumpulkan,

mengumpulkan, membuat, merawat, menghubungkan, membuat, ,

merancang dan merencanakan.


Pada pemilihan kata Kerja Operasional ( KKO) guna membentuk

indikator untuk pertanyaan HOTS, mereka tidak boleh terjebak dalam kelompok

KKO. Misalnya, kata kerja" memilih" dalam taksonomi Bloom tercantum dalam

domain C2 serta C3. Dalam konteks penyusunan soal HOTS, kata“ memilih” bisa

berada pada domain C5( evaluate). Apabila pertanyaannya ialah untuk memilih

sesuatu keputusan, maka dicoba terlebih dulu dengan memakai proses berpikir

guna menganalisis informasi yang disajikan tentang stimulus, dan sesudah itu
peserta didik diharapkan untuk memilih keputusan yang terbaik.

Kata kerja "menentukan" juga bisa diklasifikasikan dalam C6

(menciptakan) apabila pertanyaannya memerlukan kemampuan untuk

meningkatkan strategi pemecahan kasus yang baru. Oleh sebab itu, jangkauan

kata kerja operasional( KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir yang

dibutuhkan untuk menanggapi pertanyaan yang diajukan.8

8
Widji Lestari, “Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun Instrumen Penilaian HOTS
Melalui DTS Penyusunan RPP: Instrumen Penilaian HOTS Melalui DTS Penyusunan RPP,” Honai 2,
no. 1 (2020): 40–52.
15

1. Kemampuan Berfikir Tingkat Rendah

a. Definisi kemampuan berfikir tingkat rendah

Keterampilan berpikir tingkat rendah, juga dikenal sebagai

LOTS dalam bahasa Inggris (Lower Order Thinking Skills). Kemampuan

berpikir fungsional seorang peserta didik disebut dengan LOTS. Jadi,

LOTS pada dasarnya adalah metode atau sistem pembelajaran. Hal ini

juga dikenal sebagai teknik belajar. Seorang peserta didik yang belajar

menggunakan teknik LOTS akan terbiasa dengan kegiatan mencatat,

menyalin, meniru, menghafal, mengingat, dan mengikuti arahan dari


teman yang lebih pintar dan guru.

Metode pembelajaran ini adalah yang paling umum dan tradisional

dalam dunia pendidikan di Indonesia. Selama ini mayoritas siswa di

sekolah sudah aktif mendengarkan penjelasan guru. Kemudian mencatat

hal-hal yang penting, sesekali menyalin catatan dari buku guru atau dari

teman. Siswa akan mempelajarinya di rumah dengan membaca,

menghafal, dan mengikuti arahan yang diberikan oleh guru di sekolah.


Karena metode LOTS berfokus pada menghafal materi pembelajaran,

maka pemahaman tidak diperlukan. Risikonya materi ini akan mudah

diingat saat menerima pelajaran tetapi akan cepat terlupakan saat

menumpuk dengan materi lain.9

9
Luluk Ernawati, “Pengembangan High Order Thinking (HOT) Melalui Metode
Pembelajaran Mind Banking Dalam Pendidikan Agama Islam,” in 1st International Conference on
Islamic Civilization Ans Society (ICICS), 2017, 189–201.
16

b. Indikator kemampuan berfikir tingkat rendah

Indikator Berpikir Tingkat Rendah, atau LOTS (Lower Order Thinking

Skill), terdapat pada tingkat C1-C3. Taksonomi Blooms C1 singkatan

Mengetahui, C2 singkatan Memahami, dan C3 singkatan Menerapkan.

Jika kata kerja operasional adalah kata kerja tingkat C1, indikator LOTS

hadir. Tingkat Taksonomi Bloom C3.

1) Kata kerja operasional yang digunakan pada Level C1 adalah

mengetahui, menyebutkan, menjelaskan, menggambar,

menghitung, mengidentifikasi, mendaftarkan, menunjukkan,


melabeli, mengindeks, memasangkan, menamai,

menambahkan, membaca, menyadari, menghafal, meniru,

mencatat, mengulang, mereproduksi , meninjau, memilih, dan

menyatakan.

2) Memahami, memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan,

mengkarakterisasi, merinci, mengasosiasikan,

membandingkan, menghitung, membedakan, mengubah,


mempertahankan, menguraikan, menjalin, membedakan,

mendiskusikan, mengalikan, mencontohkan, menjelaskan,

menyarankan, pola, memperluas, menyimpulkan, dan

memprediksi adalah operasional kata kerja yang digunakan di

Level C2.
17

3) Kata kerja operasional yang digunakan pada Level C3 adalah

menerapkan, menetapkan, menyortir, menentukan,

menerapkan, menyesuaikan, menghitung, memodifikasi,

mengklasifikasikan, menghitung, membangun, menyortir,

membiasakan, mencegah, menggambarkan, menggunakan,

menilai, melatih, mengalikan, menyarankan, dan

mengadaptasi.10

c. Karakteristik kemampuan berfikir tingkat rendah

Pertanyaan LOTD cenderung menanyakan "apa", "siapa", dan


"kapan". Untuk pertanyaan yang menyajikan cerita, seperti topik Bahasa,

pertanyaan ingin merujuk pada informasi dalam bacaan. Di mata

pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, dan Ekonomi, tujuannya adalah

menggunakan rumus untuk menyelesaikan konflik.

Di sisi lain, pertanyaan HOTS menguji kemampuan peserta didik

untuk secara kritis memeriksa ide atau informasi, memeriksa konsep

tersembunyi, mengembangkan beberapa konsep yang disarankan, dan


menggunakan informasi yang diketahui untuk memecahkan masalah.

Menjawab soal HOTS tentunya tidak memerlukan hafalan rumus, definisi

atau definisi, tetapi juga memerlukan penguasaan konsep dan

membutuhkan penguasaan detail konsep dan contoh-contohnya.

10
Daniar Wahyuningtyas and Yuni Katminingsih, “Analisis Tingkat Kognitif Kompetensi
Dasar Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Matematika Wajib Kelas X SMA/MA Berdasarkan Taksonomi
Bloom Revisi Anderson,” Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika 6, no. 1 (2022): 204–14.
18

d. Kelebihan dan kekurangan kemampuan berfikir tingkat rendah

a) Kelebihan

1) Berkonsentrasi pada satu materi; LOTS identik dengan

kegiatan mengingat atau menghafal materi. Akibatnya,

dalam metode pembelajaran ini, siswa akan diminta untuk

berkonsentrasi pada satu mata pelajaran terlebih dahulu.

Lanjut ke materi selanjutnya jika sudah dihafal dan

dipahami.

2) Mempermudah untuk memikirkan sesuatu secara eksplisit.


Khususnya, hal-hal yang lugas, tidak berbelit-belit, dan to

the point.

3) Mempermudah untuk mengekspresikan diri secara

eksplisit. Hal-hal yang lugas, tidak berbelit-belit, dan to

the point.

4) Referensi pembelajaran lebih terarah, sehingga setiap buku

dan modul pembelajaran memiliki struktur yang sama dan


memungkinkan proses pembelajaran dapat diikuti dari

sumber manapun.
19

b) Kekurangan

1) Kemampuan memahami materi terbatas atau tidak ada karena fokus

utamanya adalah menghafal atau mengingat materi.

2) Mudah melupakan pelajaran yang didapat di sekolah karena

penekanannya sekali lagi pada mengingat daripada memahami dan

mengembangkannya.

3) Jawaban untuk soal yang levelnya sudah HOTS, karena soalnya

lebih panjang dan pilihannya semua sama atau mirip.

4) Siswa menghadapi lebih sedikit tantangan belajar karena mereka


harus selalu mengikuti instruksi guru dan tidak dapat belajar secara

mandiriKemampuan memahami materi rendah atau lemah sebab

fokus utamanya adalah menghafal atau mengingat materi.11

2. Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi

a. Definisi kemampuan berfikir tingkat tinggi

Kemampuan berpikir taraf tinggi didefinisikan sebagai menggunakan

pikiran secara lebih penuh untuk mendapatkan tantangan baru. Kemampuan


ini memerlukan penerapan informasi baru serta pengetahuan lebih dahulu,

serta memanipulasi informasi untuk mendapatkan kemungkinan jawaban

dalam suasana baru.12.

Nofiana dkk Mendefinisikan keterampilan penalaran tingkat tinggi

ketika seseorang menyerap informasi baru atau informasi yang disimpan

11
Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud and Moch Abduh, “Panduan Penulisan Soal
HOTS-Higher Order Thinking Skills,” 2019.
12
Emi Rofiah, Nonoh Siti Aminah, and Elvin Yusliana Ekawati, “Penyusunan Instrumen Tes
Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika Pada Siswa SMP,” Jurnal Pendidikan Fisika 1, no. 2
(2013).
20

dalam memori, menghubungkan potongan-potongan informasi tersebut, dan

mengirimkannya untuk mencapai tujuan atau respons yang diinginkan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, kemampuan penalaranTingkat tinggi

terjadi ketika informasi baru dan yang diingat diasimilasi dan ditransmisikan,

menyatukan informasi untuk mencapai tujuan respons yang diperlukan..13.

Anderson&Krathwohl mengklasifikasikan keterampilan berpikir

terbagai sebagai enam bagian lalu dibagi ke pada 2 kategori, yaitu

kemampuan berpikir tingkat rendah seperti memori, pemahaman, dan aplikasi.

Keterampilan berpikir tingkat tinggi, di sisi lain, mencakup keterampilan


menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create).14

Pemikiran yang dikembangkan dalam penelitian ini bukan hanya

sekedar hafalan, tetapi perspektif yang lebih luas, menggunakan ingatan untuk

menghubungkan pertanyaan-pertanyaan baru, yang memungkinkan

kesimpulan untuk ditarik dan solusi untuk konflik yang kompleks dapat

ditemukan.

Tujuan utama Kemampuan berfikir Tingkat Tinggi adalah untuk


mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi para peserta didik,

khususnya keterampilan berpikir kritis ketika menerima pesan yang berbeda,

keterampilan berpikir kreatif ketika menggunakan pengetahuan untuk

13
Halina Damiya Alufiyani, “Pengembangan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Mahasiswa Melalui Praktikum Berbasis Inkuiri Pada Ekstraksi Maltol Dari Tanaman Stevia Sebagai
Pemanis Permen Jeli” (UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2019).
14
Yullida Fery Anjani, “Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Menurut Teori
Anderson Dan Krathwohl Pada Peserta Didik Kelas XI Bilingual Class System MAN 2 Kudus Pada
Pokok Bahasan Program Linier” (UIN Walisongo, 2017).
21

memecahkan masalah, dan keterampilan pengambilan keputusan dalam situasi

yang kompleks.15

b. Indikator kemampuan tingkat tinggi

Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berfikir pada

level (Analisis) hingga 6 (Penciptaan) dalam taksonomi Bloom domain

kognitif yang menempatkan kemampuan tersebut ke dalam analisis, penilaian,

dan kreasi. Indikator yang digunakan merupakan kata kerja yang operasional

yang berada dalam tingkatan C4, C5, & C6.

1) Pada level C4 istilah operasionalnya yakni menganalisis, mengaudit,


memecahkan, menegaskan, mendeteksi, mengdiagnosis, menyeleksi,

merinci, menominasikan, mendiagramkan, mengorelasikan,

merasionalkan, menguji, mencerahkan, menjelajah, membagankan, &

menyimpulkan.

2) Pada level C5, istilah operasionalnya yakni Mengevaluasi,

membandingkan, menilai, membimbing, mengkritik, meninjau,

menyelesaikan, memprediksi, , menspesifikasikan, mengukur,


meringkas dan mendemonstrasikan

3) Pada level C6 istilah operasionalnya merupakan yakni membuat,

mengabstraksi, mengatur, menghidupkan, mengumpulkan,

mengkategorikan, mengkode, menggabungkan, mengumpulkan,

mengumpulkan, membuat, merawat, menghubungkan, membuat, ,

merancang dan merencanakan.

Husna Nur Dinni, “HOTS (High Order Thinking Skills) Dan Kaitannya Dengan
15

Kemampuan Literasi Matematika,” in PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, vol. 1, 2018,
170–76.
22

c. Karakteristik soal berfikir tingkat tinggi

Karakteristik soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk dipakai

dalam berbagai bentuk evaluasi kelas.16

Soal – soal HOTS bisa menunjang keterampilan berpikir kritis peserta

didik. Berikut merupakan ciri soal – soal HOTS:

1) Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi

Kemampuan berfikir tingkat tinggi mencakup pemecahan masalah,

berpikir kritis, berpikir kreatif, argumentasi dan pengambilan keputusan.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah salah satu Kemampuan yang paling

penting dalam masyarakat saat ini, dan oleh karena itu, harus dikembangkan

oleh semua peserta didik.

2) Berbasis permasalahan kontekstual

Soal HOTS adalah tes yang didasarkan pada situasi sehari-hari

tertentu dimana peserta didik dituntut untuk menerapkan konsep yang

dipelajari di kelas untuk memecahkan masalah. Berikut adalah lima ciri


penilaian kontekstual yang disingkat REACT.

a) Relating, beberapa penilaian yang relevan menggunakan konteks


pengalaman kehidupan tertentu

b) Experencing, Penilaian terkait eksplorasi, penemuan, dan kreasi

16
Anugrah Aningsih, “Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Pendidikan Agama Islam
Siswa Kelas X Smk Muhammadiyah 1 Purwokerto Ditinjau Dari Prestasi Belajar” (Universitas
Muhammadiyah Purwokerto, 2018).
23

c) Applying, Penilaian yang mengharuskan peserta menerapkan

pengetahuan yang diperoleh di kelas untuk memecahkan masalah

– masalah secara nyata.

d) Communicating, Penilaian yang menuntut kemampuan siswa

untuk mengkomunikasikan kesimpulan dari suatu contoh untuk

menyimpulkan konteks masalah.

e) Transferring, Penilaian yang menuntut kemampuan siswa untuk

menerjemahkan konsep pengetahuan ke dalam situasi dan

konteks baru di kelas.17


3) Membangun bentuk soal bermacam- macam Bentuk soal yang bisa

digunakan buat menulis butir soal HOTS ( yang digunakan pada model

pengujian PISA), sebagai berikut:

a) Pilihan ganda: Pertanyaan HOTS biasanya menggunakan

rangsangan yang diambil dari situasi kehidupan nyata. Soal

pilihan ganda terdiri dari soal (inti) dan pengecoh( distractor).

b) Pilihan Ganda Lingkungan (Benar/Salah, Ya/Tidak) pada


Formulir Pilihan Ganda Lingkungan dimaksudkan untuk menguji

penjelasan siswa tentang suatu masalah menyeluruh dalam

konteks pernyataan yang mengandung masalah lain. Soal HOTS

juga memuat rangsangan yang berasal dari suasana kontekstual

berupa beberapa pilihan lingkungan.

17
I Wayan Widana, “Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS)”
(Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud, 2017).
24

c) isian singkat memenuhi Soal isian pendek ataupun memenuhi

ialah soal yang menuntut partisipan uji Pertanyaan jawaban

singkat di mana peserta didik harus mengisi bagian yang kosong

dalam istilah, frasa, angka dan simbol. Pertanyaan jawaban

singkat dengan melengkapi jawabaan dicirikan sebagai berikut :

Bagian kalimat yang harus dilengkapi pada umumnya terdiri dari

satu bagian yang berhubungan dengan subjek dan dua bagian agar

tidak membingungkan peserta didik. Jawaban yang diminta oleh

pertanyaan harus singkat, yaitu, tentu saja, dalam bentuk frasa,


istilah, angka, simbol, tempat, waktu, dll.

d) Wujud jawaban singkat ataupun pendek merupakan soal yang

jawabannya berbentuk kata, kalimat pendek, ataupun frasa

terhadap sesuatu persoalan. Ciri soal jawaban pendek merupakan

sebagai berikut. Memakai kalimat persoalan langsung ataupun

kalimat perintah. Persoalan ataupun perintah wajib jelas, supaya

menemukan jawaban yang pendek. Panjang kata ataupun kalimat


yang wajib dijawab oleh siswa pada seluruh soal diusahakan

mirip. Jauhi pemakaian kata, kalimat ataupun frasa yang diambil

langsung dari novel bacaan, karena bisa mendesak siswa buat

hanya mengingat ataupun menghafal perihal yang ditulis di novel

e) Penjelasan Soal wujud penjelasan merupakan sesuatu soal yang

jawabannya menuntut siswa buat mengorganisasikan gagasan

ataupun perihal–hal yang sudah dipelajarinya dengan


25

mengemukakan ataupun mengekspresikan gagasan tersebut

memakai kalimatnya sendiri dalam wujud tertulis.

d. Kelebihan dan kekurangan kemampuan berfikir tingkat tinggi

a) Kelebihan

1) Membantu peserta didik atau siswa untuk berpikir sistematis

dan logis.

2) Meningkatkan dan mempertajam kemampuan peserta didik

dalam menganalisis masalah secara lebih kritis.

3) Pembelajaran HOTS membantu peserta didik membiasakan

berpikir luas sambil bergerak mengikuti perkembangan zaman.

4) Mendorong peserta didik untuk lebih kreatif.

5) Mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan mampu

mengajukan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban

kritis.

6) Peserta didik dapat lebih mudah memahami konsep

pembelajaran karena memiliki kemampuan untuk

menghubungkannya dengan materi pembelajaran.


b) Kekurangan

1) Lebih menguntungkan bagi peserta didik dengan kemampuan

kognitif tinggi, karena mereka dapat dengan mudah memahami

materi dan mengerjakan soal HOTS. Di sisi lain, peserta didik

kemampuan kognitif rendah akan kesulitan, menciptakan


26

kesenjangan antara peserta didik dengan kemampuan kognitif

tinggi dan rendah.

2) Soal-soal HOTS cenderung panjang dan beberapa pernyataan

soal hanya kiasan yang tidak membantu memecahkan

[Link] ini membutuhkan pemikiran yang sangat kritis,

yang membuat konsentrasi dan pemahaman peserta didik buyar,

dan mengharuskan mereka untuk memahami pertanyaan dan

kemudian memberikan jawaban yang benar.

3) Salah satu karakteristik soal HOTS adalah soal-soal tersebut


disusun dalam format pilihan ganda, yang menyulitkan untuk

menentukan jawaban yang benar. Oleh karena itu, diperlukan

konsentrasi tingkat tinggi ketika berhadapan dengan pertanyaan

untuk memahami apa yang diperlukan dalam pertanyaan dan

untuk menemukan jawaban terbaik.18

4) Karena LOTS dikembangkan lebih dulu dan telah bertahan di

Indonesia selama beberapa dekade, jumlah referensi masih


terbatas. Khususnya, banyak buku teks yang setia pada metode

LOTS, jadi beralih ke HOTS tentu saja bukan proses yang

instan. Oleh karena itu, kurangnya buku referensi menjadi

kendala penggunaan metode HOTS baik bagi guru maupun

peserta didik.

18
Kemendikbud and Abduh, “Panduan Penulisan Soal HOTS-Higher Order Thinking Skills.”
27

3. Soal HOTS (High Order Thinking Skill)

Soal HOTS yang digunakan dalam tes nasional serta tes yang lain

merupakan soal berfikir kritis. Dengan demikian, salah satu karakteristik dari

pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut

mengandung aspek-aspek pemikiran kritis: penalaran, interpretasi, analisis,

dan penilaian. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya membutuhkan

stimulasi, kontekstualisasi dan keterampilan berpikir kritis, dan tidak

menggambarkan pertanyaan universal yang ditanyakan setiap kali mereka

dipelajari di kelas atau ditemukan dalam buku [Link] diperhatikan kalau


soal HOTS tidak susah, serta soal yang susah belum pasti itu soal HOTS. Soal

susah yang biasa dilatihkan di sekolah bukan soal HOTS sebab peserta didik

sudah paham cara menanggapi tipe soal [Link] soal yang

kelihatannya “sederhana” yang memerlukan penalaran mungkin saja jadi soal

HOTS.

Pada sebagian permasalahan, soal HOTS bisa jadi sangat susah buat

dituntaskan sebab membutuhkan keahlian analisis, penilaian, serta kreativitas


tingkat tinggi. Jadi, soal HOTS bisa mempunyai tingkatan kesukaran rendah,

lagi, Terdapat soal HOTS yang dapat dituntaskan dengan metode serta

strategi yang berbeda, yang paling utama membuat soal pemecahan

permasalahan ( problem solving).

Soal- soal HOTS adalah instrumen yg dipergunakan buat mengukur

keahlian berpikir tingkatan tinggi, keterampilan berpikir yang lebih dari

sekadar mengingat, memahami, dan menerapkan. Soal HOTS mengukur

keterampilan berikut sebagai bagian dari penilaian: 1) berpindah dari satu


28

konsep ke konsep lainnya, 2) mengolah dan mengintegrasikan data, 3)

mencari hubungan dari berbagai sumber data,(4) menggunakan data untuk

menyelesaikan konflik, dan 5) kritis untuk menggali ide dan data. Oleh karena

itu, pertanyaan HOTS menguji kemampuan berpikir, menganalisis,

mengevaluasi, dan mencipta.

4. Stimulus

Dilihat dari skala pengetahuan, soal HOTS sering mengukur perilaku

metakognitif serta perilaku aktual, konseptual, atau prosedural. Langkah-

langkah metakognitif menghubungkan dan menafsirkan beberapa konsep


yang berbeda, memecahkan masalah (problem solving), menetapkan strategi

pemecahan masalah, menghasilkan (menemukan) prosedur baru, alasan

(argumen), dan membuat keputusan yang tepat. Soal HOTS juga memiliki

kriteria penting yang meliputi aspek berpikir kritis dan rangsangan, serta

stimulus.19

Stimulus biasanya digunakan dalam struktur soal HOTS. Petunjuk

yang diberikan dalam tugas harus memungkinkan peserta didik mencari


hubungan antara informasi dan konteks, untuk berpindah dari satu konteks ke

konteks lainnya, untuk mengidentifikasi hubungan antara informasi, untuk

memproses dan menerapkan informasi, untuk menganalisis dan mengevaluasi

informasi / ide secara kritis.

Kategori soal HOTS sebaiknya menggunakan stimulus. Ketika tidak

menggunakan stimulus, berarti soal tersebut hanya menghendaki satu langkah

19
Ridwan Abdullah Sani, Pembelajaran Berbasis Hots Edisi Revisi: Higher Order Thinking
Skills, vol. 1 (Tira Smart, 2019).
29

berpikir. Siswa hanya akan memiliki jawaban yang relevan dengan

pertanyaan. Tidak mengeksplorasi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Soal

ini hanya memenuhi ranah kognitif memahami (C2).20 Rangsangan yang

digunakan harus menarik dan merangsang pembaca. Biasanya, stimulus yang

menarik adalah stimulus baru yang belum pernah dibaca pembaca

sebelumnya.

Di sisi lain, motivasi kontekstual mengacu pada motivasi yang

merespon, melibatkan, dan memotivasi realitas kehidupan sehari-

hari.21Setelah itu, supaya butir soal yang ditulis bisa menuntut berpikir
tingkatan tinggi, hingga tiap butir soal senantiasa diberikan bawah persoalan(

stimulus) yang berupa sumber/ bahan teks sebagai data semacam: : Teks

bacaan, paragraf, naskah drama, penggalan novel/cerita/fabel, puisi, soal, foto,

grafik, gambar, rumus, tabel, catatan/simbol, contoh, peta, film, atau rekaman

audio.22

20
Bansu Irianto Ansari and Razali Abdullah, Higher-Order-Thinking Skill (HOTS) Bagi
Kaum Milenial Melalui Inovasi Pembelajaran Matematika (IRDH Book Publisher, 2020).
21
Lorin W Anderson and David R Krathwohl, “Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran,
Pengajaran, Dan Asesmen,” Yogyakarta: Pustaka Pelajar 300, no. 300 (2010): 0.
22
Nur Rochmah Lailly and Asih Widi Wisudawati, “Analisis Soal Tipe Higher Order
Thinking Skill (HOTS) Dalam Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013,” Jurnal Kaunia 11,
no. 1 (2015): 27–39.
30

C. Kerangka Pikir

Adapun kerangka pikir pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi


(HOTS)

Stimulus dalam soal

C4 C5 C6
Analisis Sintesis Evaluasi

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

D. Definisi Istilah

1. Keterampilan Berfikir Tingkatan Tinggi


Riset ini hendak berfokus pada seberapa besar keahlian berfikir tingkatan

tinggi pada soal soal tes semester IPA di SMP Neg 1 Pancarijang.

2. Taksonomi Bloom

Secara rinci, Bloom membagi 6 jenis tingkatan kognitif ialah dari tingkat

yang rendah ke tingkat yang lebih besar Knowledge ( C- 1), Pemahaman (

C- 2), Aplikasi ( C- 3), Analisis ( C- 4), Sintesis ( C5), serta Evaluasi ( C-

6). namun riset ini cuma berfokus pada C4, C5, C6.

3. Soal Higher Order Thinking Skills( HOTS)


31

Yang menjadi fokus penelitian ini merupakan Soal HOTS sebab soal

HOTS merupakan yang baru dirasakan paling utama dunia pembelajaran,

ditambah lagi dengan pendidikan IPA yang menggambarkan pelajaran

yang susah dimengerti oleh peserta didik.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan

metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif adalah cara mempelajari suatu

kelompok, objek, sekumpulan kondisi, sistem gagasan atau peristiwa pada

waktu tertentu.1

Jenis penelitian ini mencakup analisis isi dan analisis dokumen.

Analisis dokumen melibatkan pengumpulan dan analisis dokumen resmi yang

sudah terbukti keasliannya, seperti soal-soal ujian.2

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di SMP Neg 1 Pancarijang. Sekolah ini secara

Administratif adalah Sekolah Negeri yang berlokasi di Kelurahan Lalebata,

Kecamatan Pancarijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi

[Link] direncanakan dalam rentang waktu sebulan yakni April 2022.

C. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Tahap Persiapan

Menyiapkan surat izin untuk melakukan penelitian pendahuluan untuk

memperoleh dokumen berupa soal soal ujian semester IPA. kemudian peneliti

mempersiapkan instrumen yang dibutuhkan untuk menganalisis soal.

1
Uswatun Hasanah, Agni Danaryanti, and S Yuni, “Analisis Soal Ujian Nasional Matematika
SMA Tahun Pelajaran 2017/2018 Ditinjau Dari Aspek Berpikir Tingkat Tinggi. EDU-MATH,” Jurnal
Pendidikan Matematika 7, no. 1 (2019): 51–62
2
Lailly and Wisudawati, “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dalam
Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun 2012/2013.”

32
33

2. Tahap Pelaksanaan

Data penelitian ini diperoleh dengan teknik pengumpulan data, yaitu:

a. Analisis Soal

Peneliti menganalisis soal dari 4 karakateristik yaitu (1) Analisis jenis

stimulus Soal soal Ujian Semester IPA di SMP Neg 1 Pancarijang Sidrap dari

kategori soal HOTS sesuai Taksonomi Bloom Revisi Ander serta Krathwohl

2001, (2) Analisis karakteristik kemampuan berpikir kritis, kemampuan

berpikir kreatif serta kemampuan pemecahan persoalan atau problem solving

di dalam soal tipe HOTS.


b. Melaksanakan Triangulasi

Teknik pengumpulan data berasal dari peneliti sendiri dan

menganalisis [Link] dari teknik pengumpulan data nontes adalah

untuk memperoleh data primer dari analisis peneliti untuk penentuan soal

yang berkarakter HOTS.

c. Melakukan Tabulasi data

Setelah mencapai kesepakatan atas hasil analisis setiap nomor soal.


Selain itu, hasil analisis untuk setiap jenis soal HOTS disajikan dalam bentuk

tabel.

D. Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu lembar analisis

juga dilengkapi dengan Soal soal Ujian Semester IPA SMP tahun 2018-2020.

lembar analisis yang digunakan pada penelitian ini antara lain:


34

1. Lembar analisis kualitas soal dilihat dari kategori soal HOTS sesuai

Taksonomi Bloom Revisi Ander serta Krathwohl (2001). Berikut adalah

bentuk lembar analisis kualitas soal yaitu :

Tabel 3.1 Soal mengukur dimensi proses berpikir dikemukakan oleh Anderson

& Krathwohl:
• Membuat ide/gagasan sendiri.
C6 •Kata kerja: mengarang,
Mengkreasi / menyusun,membuat,mengembangkan,
mencipta menulis, merumuskan.
HOTS (Higher Order • Memutuskan sendiri.
Thinking Skills) C5 • Kata kerja: Mengevaluasi, menilai,
Mengevaluasi menolak, memutuskan, memilih,
menyetujui.
• Mengungkap aspek aspek/elemen.
C4 • Kata kerja : membandingkan,
Menganalisis memeriksa, mengkritik, menguji.

• Penggunaan informasi di bidang


C3 berbeda.
Mengaplikasikan / • Kata kerja:menggunakan,
menerapkan mendemonstrasikan,mendeskripsikan,
memanipulasi
• Menjelaskan ide/konsep.
LOTS (Lower Order C2 • Kata kerja: mendeskripsikan,
Thinking Skills) Memahami Mengklasifikasikan, menerima dan
melaporkan.
• Pengetahuan / Memori
C1 • Kata kerja: mengingat, mengingat,
mengetahui / mengulang, meniru,
Sumber: (Widana, 2017, p. 10).
35

Tabel 3.2 Analisis Stimulus pada Soal


Tahun Jenis Stimulus
Ajaran Gambar Grafi Rum Diagra Tabel Simbo Conto Kasus
k us m l h
2018
2019
2020

[Link] mengisi lembar analisis di tabel 3.2 selanjutnya menganalisis

kualitas soal berdasarkan Taksonomi Bloom Ander dan Krathwohl

Tabel 3.3 Analisis kualitas soal berdasarkan Taksonomi Bloom Ander dan

Krathwohl (2001)
Tahun
ajaran Indikator
Keterangan
LOTS (Lower HOTS (Higher
Order Thinking Order Thinking
Skills) Skills)
C1 C2 C3 C4 C5 C6
2018
2019
2020
Keterangan: Isilah kriteria indikator soal diatas dengan memberikan tanda (√)

beserta mengisi keterangannya.

3. Setelah mengisi lembar analisis stimulus soal selanjutnya, menganalisis

lembar analisis kriteria karakteristik kemampuan berpikir kritis, kemampuan

berpikir kreatif serta kemampuan memecahkan masalah atau problem solving

pada soal ujian semester genap IPA tahun ajaran 2018/2020. berikut adalah

kriteria kemampuan berpikir yaitu:


36

a. Kriteria soal yang mampu merancang kemampuan berpikir kritis

Tabel 3.4 Soal yang mampu menunjang kemampuan berpikir kritis menurut

Watson dan Glaser


Aspek Indikator
Inferensi Pertanyaan yang menimbulkan alasan terkait dengan
mendukung penilaian rasional berdasarkan bukti tidak
langsung daripada pengamatan langsung.
Asumsi Pertanyaan yang mendukung pernyataan yang diklaim
benar dan dapat ditarik kesimpulan oleh peserta didik.
Deduksi Pertanyaan yang membantu siswa untuk bernalar tentang
sesuatu (menyimpulkan, memaksa, menyiratkan) atau
untuk menarik kesimpulan dari yang umum ke yang khusus
(atau dari sebab ke akibat).
Interpretasi Pertanyaan menjelaskan sesuatu sehingga membantu
peserta didik dalam mempresentasikannya tanpa keraguan.
Evaluasi Pertanyaan memberikan argumen yang memungkinkan
Argumen peserta didik untuk menilai apakah argumennya tersebut
lengkap atau tidak lengkap.
Sumber: (Sani r. a., 2019, p. 15).

b. Kriteria soal yang mampu merancang kemampuan berpikir kreatif

Tabel 3.5 Soal yang mampu merancang kemampuan kriteria berpikir kreatif

menurut Torrance (1990)

Aspek Indikator
Kelancaran (fluency) Pertanyaan yang membantu peserta didik menjawab
pernyataan tentang pertanyaan terkait dengan cara
yang dijawab berdasarkan jumlah respon yang
relevan.
Keaslian (originality) Pertanyaan yang membantu peserta didik
mengembangkan ide-ide yang tidak biasa, tetapi tidak
dapat dipisahkan dari konsep pengetahuan.
Fleksibiltas Pertanyaan membantu peserta didik menciptakan ide-
ide berbeda yang dapat dikembangkan.
Elaborasi Pertanyaan yang Membantu peserta didik
mengembangkan pemikiran yang lebih rinci tentang
masalah.
37

Sumber: (Sani r. a., 2019, p. 40)

c. Kriteria soal yang mampu merancang kemampuan pemecahan masalah

Tabel 3.6 Soal yang mampu merancang kemampuan kriteria kemampuan

pemecahan masalah manurut Polya (1973)


Aspek Indikator
Memahami masalah Pertanyaan seperti menjelaskan apa yang
diketahui dan apa yang ditanyakan membantu
peserta didik menyajikan informasi..
Membuat rencana untuk Pertanyaan seperti menjelaskan masalah untuk
memecahkan masalah membantu siswa menyederhanakan masalah dan
membuat contoh
Melaksanakan masalah Pertanyaan seperti menjelaskan konflik yang
membantu peserta didik mengembangkan taktik
dengan mengadaptasi berbagai masalah yang
dijelaskan dalam pertanyaan.
Memeriksa Kembali Pertanyaan seperti memeriksa kembali semua
informasi penting yang diidentifikasi dalam
pertanyaan.
Sumber: (Nurhasanah, 2018, p. 8).

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, Dalam hal

ini peneliti menggunakan model analisis data Rasch, model ini merupakan
model one-parameter item response theory (IRT) yang mengasumsikan bahwa

setiap item merupakan parameter kesulitan. Model ini juga mengatur

keterampilan dan item berdasarkan kesulitan.3

Model Rasch juga mengonversi data awal menjadi data interval

dengan nilai yang sama antara satuan satuan dengan satuan [Link]

3
Trevor G Bond and Christine M Fox, Applying the Rasch Model: Fundamental
Measurement in the Human Sciences (Psychology Press, 2013).
38

dasar model Rasch adalah probabilitas bahwa subjek akan menjawab setiap

item dengan benar, tergantung pada tingkat kesulitan item dan kemampuan

subjek. Berikut ini adalah analisis dengan menggunakan model Rasch.

1. Item dan Responden (Reliabilitas Item dan Person)

Indeks reliabilitas item berarti tingkat kesulitan item tersebut sama

dengan sampel lain yang memiliki kemampuan yang sama.4 Sementara

itu, indeks reliabilitas dari responden berarti bahwa kemampuan individu

dalam sampel ini konsisten bahkan meskipun mereka diberi instrumen lain

yang mengukur konstruk yang sama.


Itu nilai indeks keandalan maksimum adalah satu. Nilai ini

menunjukkan keandalan yang tinggi. Barang itu dan indeks reliabilitas

responden yang diterima adalah 0.805 Hal ini sesuai dengan pendapat

Fischer (2007) bahwa indeks reliabilitas item dan responden yang diterima

dengan baik adalah >0,80. Kriteria reliabilitas yaitu < 0,67 (lemah), 0,67 -

0,80 (cukup), 0,81-0,90 (baik), 0,91-0,94 (sangat baik) dan > 0,94

(khusus).6
2. Item Polariti (Korelasi Pengukur Titik)

Analisis polaritas atau kesesuaian item ialah indikator yang digunakan

buat memberikan item yang digunakan untuk bergerak pada satu arah

yang dimaksudkan oleh konstruk yg diukur. Analisis polaritas

menggunakan teknik analisis korelasi titik ukur (PMC) atau pengukuran

4
B D Wright et al., “Reasonable Mean-Square Fit Values. Rasch Measurement Transactions,
8, 370,” Rasch Measurement Transactions 8, no. 3 (1994).
5
Wright et al.
6
William P Fisher, “Rating Scale Instrument Quality Criteria. Rasch Measurement
Transaction, 21 (1), 1095,” 2007.
39

titik korelasi, yaitu teknik untuk menghasilkan item yang benar-benar

sesuai dengan yang diukur membangun. Skor PMC 1,0 menunjukkan

bahwa semua responden berkemampuan rendah menjawab pertanyaan

dengan salah dan semua responden berkemampuan tinggi menjawab

pertanyaandenganbenar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab IV membahas tentang gambaran umum dari penelitian yang telah

dilaksanakan.

A. Hasil Penelitian

1. Jenis stimulus yang terdapat pada soal soal ujian semester IPA

Stimulus dapat mencakup teks, gambar, skenario, tabel, grafik, suara,

percakapan, video dan masalah. Stimulus bertindak sebagai sarana refleksi bagi

pelajar. Dengan tidak adanya stimulus, pertanyaan cenderung mendorong dan

menilai memori. Jika memungkinkan, rangsangan yang digunakan harus bersifat

mendidik dan memberikan wawasan, pesan moral, dan gagasan kepada para

peserta didik.

Insentif yang digunakan juga harus positif dalam arti tidak berdampak negatif.

seperti menjatuhkan kelompok tertentu atau memperkuat sikap [Link]

jenis stimulus pada soal ujian semester IPA di SMP 1 Pancarijang terdapat 5

Gambar/grafik/ diagram, Tabel, Simbol/rumus, contoh, serta [Link]

adalah jenis stimulus yang terdapat dalam ujian semester IPA tahun 2018,

sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Stimulus Soal Ujian Semester IPA Tahun 2018

No Bentuk Butir Soal IPA Frekuensi Persentase


Stimulus
1. Gambar/grafik/ 2, 8,16,17,26, 11 12,9 %
diagram
28, 30,31,32,33,
34.

40
41

2. Tabel 1, 18, 20. 3 3,51 %


3. Simbol/rumus 5,6,7,9,10,11,15 7 8,19 %
4 Contoh 21, 22, 23,24, 6 7,02 %
27, 35.
5. Kasus 3,4,12. 3 3,51 %

Dekskripsi Stimulus Soal ujian semester IPA 2018

Berdasarkan tabel 4.1 diatas bentuk stimulus soal IPA ada 5 stimulus, Adapun

bentuk bentuk stimulus sebagai berikut adalah :

a. Gambar/grafik/diagram

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan stimulus dalam bentuk

gambar/grafik/diagram sebanyak 11 atau 12,9%. Contoh berikut merupakan stimulus

dalam bentuk Gambar/grafik/diagram.

Gambar 1. Soal ujian semester IPA 2018 nomor 26 dan 28

Gambar sebelah kiri menunjukkan sebuah grafik sebagai stimulus atau

perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Grafik stimulus terkait

dengan grafik jumlah penduduk dan meminta peserta didik untuk memperkirakan

keadaan lingkungan dengan memperhatikan grafik [Link] gambar


42

sebelah kanan menunjukkan sebuah gambar sebagai stimulus atau perangsang bagi

peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Gambar stimulus terkait dengan gambar

sistem pencernaan dan meminta peserta didik untuk menentukan dimana pencernaan

secara kimiawi terjadi berdasarkan tabel yang diperlihatkan.

b. Tabel

Berdasarkan tabel 4.1 menujukkan stimulus dalam bentuk tabel sebanyak 3


atau 3,51%. Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk tabel.

Gambar 4.2 Soal ujian semester IPA 2018 nomor 20

Gambar diatas menunjukkan sebuah tabel sebagai stimulus atau

perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Tabel stimulus

terkait dengan tabel perubahan jumlah lakmus dan meminta peserta didik

untuk menentukan larutan yang bersifat basa dengan memperhatikan tabel

berikut.

c. Simbol/rumus

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan stimulus dalam bentuk simbol/rumus

sebanyak 7 atau 8,19 % Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk

simbol/rumus.
43

Gambar 3. Soal ujian semester IPA 2018 nomor 7

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal yang berupa simbol sebagai stimulus

atau perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Simbol

stimulus terkait dengan simbol massa dan satuan Celsius dan meminta peserta

didik untuk menentukan kalor jenis logam beserta simbolnya.

d. Contoh

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh sebanyak 6

atau 7,02 % Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk contoh.

Gambar 4. Soal ujian semester IPA 2018 nomor 23

Gambar diatas menunjukkan sebuah contoh bagian bagian dari sel sebagai

stimulus atau perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal.

Contoh stimulus terkait dengan contoh bagian bagian sel dan meminta peserta

didik untuk menentukan bagian bagian yang terdapat pada sel hewan dengan

memperhatikan contoh tersebut.


44

e. Kasus

Berdasarkan tabel 4.1 menujukkan stimulus dalam bentuk kasus sebanyak 3

atau 3,51%. Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk kasus.

Gambar 5. Soal ujian semester IPA 2018 nomor 12

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal yang berupa kasus sebagai


stimulus atau perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal.

Kasus stimulus terkait dengan kasus sebuah kapal yang memancarkan sinyal

bunyi dan meminta peserta didik untuk menghitung selisih kedalaman B dan A

Tabel 4.2
Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2019
No Bentuk Stimulus Butir Soal IPA Frekuensi Persentase
1. Gambar/grafik/ 1,4,6,7,8.9,12, 12 16,9 %
Diagram
13,14,20,21,24
5. Tabel 3,5,11. 3 4,17 %
6. Simbol/rumus - -
7. Contoh 10,16,22. 3 4,17 %
8. Kasus - -

Berdasarkan tabel 4.5 diatas bentuk stimulus soal ipa ada 5 stimulus, Adapun
bentuk bentuk stimulus sebagai berikut adalah
45

a. Gambar/grafik/diagram

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh

sebanyak 12 atau 16,9%.Contoh berikut merupakan stimulus dalam

bentukGambar/grafik/diagram.

Gambar 1. Soal ujian semester IPA 2019 nomor 4 dan 14.

Gambar pertama menunjukkan sebuah gambar sebagai stimulus atau

perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Gambar


stimulus terkait dengan gambar bagian bagian tumbuhan dan meminta peserta

didik untuk menujukkan organ yang berfungsi sebagai alat pernapasan dengan

memperhatikan gambar tersebut.

Sedangkan gambar kedua menunjukkan sebuah grafik sebagai stimulus

atau rangsangan bagi peserta didik sebagai gambaran maksud [Link]

stimulus terkait dengan pengaruh penurunan konsentrasi oksigen terlarut


46

dan meminta peserta didik untuk menentukan pernyataan yang benar terkait

grafik diatas.

b. Tabel
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh

sebanyak sebanyaknya 3 atau 4,17%.Contoh berikut merupakan stimulus

dalam bentuk tabel

Gambar 2. Soal ujian semester IPA 2018 nomor 5

Gambar diatas menunjukkan tabel sebagai stimulus atau perangsang bagi


peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Tabel stimulus terkait dengan tabel
klasifikasi bagian tubuh organisme dan meminta peserta didik untuk menentukan
bagian tubuh yang benar berdasarkan tabel dengan memperhatikan tabel tersebut.
c. Contoh
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh sebanyak 3

4,17 % Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk contoh.

Gambar 3. Soal ujian semester IPA 2018 nomor 22


47

Gambar diatas menunjukkan contoh pernyataan tentang keadaan bumi


sebagai stimulus atau perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud
soal. Contoh stimulus terkait dengan pernyataan tentang keadaan bumi dan
meminta peserta didik untuk menentukan dmpak pemanasan global dengan
memperhatikan contoh tersebut.
Tabel 4.3
Dekskripsi Stimulus Soal IPA 2020
No Bentuk Butir Soal IPA Frekuensi Persentase
Stimulus
1. Gambar/grafik/ 2,5,6,8,13,15,16. 7 9,24 %
diagram
2. Tabel 1,3,7,14,22 5 6, 6 %
3. Simbol/rumus 18,19 2 2, 64 %
4. Contoh 4,13,20,21,25 5 6, 6 %

5. Kasus - - -

Berdasarkan tabel 4.3 diatas bentuk stimulus Soal IPA ada 5 stimulus,
Adapun bentuk bentuk stimulus sebagai berikut adalah :

a. Gambar/grafik/diagram

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh


sebanyak 7 atau 9,24%.Contoh berikut merupakan stimulus dalam

bentukGambar/grafik/diagram.

Gambar 1. Soal ujian semester IPA 2020 nomor 6


48

Gambar diatas menunjukkan sebuah gambar sebagai stimulus atau

perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Gambar

stimulus terkait dengan gambar jangka sorong dan meminta peserta didik

untuk menunjukkan massa benda yang diukur dengan memperhatikan gambar

tersebut.

b. Tabel

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh sebanyak 5

atau 6,6%.Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk tabel.

Gambar 2. Soal ujian semester IPA 2020 nomor 7

Gambar diatas menunjukkan sebuah tabel sebagai stimulus atau perangsang

bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Tabel stimulus terkait dengan
tabel tabel hasil pengamatan benda dan meminta peserta didik untuk

menunjukkan hasil identifikasi suatu benda dengan memperhatikan gambar

tersebut.

c. Simbol/rumus

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan stimulus dalam bentuk simbol/rumus

sebanyak 2 atau 2, 64 %.Contohberikutmerupakanstimulusdalam bentuk tabel.

Gambar 3. Soal ujian semester IPA 2020 nomor 19


49

Gambar diatas menunjukkan sebuah simbol/rumus sebagai stimulus atau


perangsang bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Simbol stimulus
terkait dengan simbol garam dapur (NaCL) dan meminta peserta didik untuk
menunjukkan senyawa yang tersusun dari unsur unsur tersebut.

d. Contoh

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan stimulus dalam bentuk contoh sebanyak 5

atau 6,6 %.Contoh berikut merupakan stimulus dalam bentuk contoh.

Gambar 4. Soal ujian semester IPA 2020 nomor 21

Gambar diatas menunjukkan sebuah contoh sebagai stimulus atau perangsang

bagi peserta didik sebagai gambaran maksud soal. Contoh stimulus terkait dengan

contoh sifat sifat larutan dan meminta peserta didik untuk menentukan sifat sifat

basa sesuai dengan contoh yang diatas.


50

2. Karakteristik Soal Soal Ujian Semester IPA Di Smp Negeri 1

Pancarijang Tahun Ajaran 2018-2020

1. Evaluasi Soal Soal Ujian IPA Tahun Ajaran 2018

Di bawah ini adalah yang termasuk dalam kategori kemampuan

berfikir tingkat tinggi atau soal yang masuk pada kategori kemampuan

berfikir tingkat rendah sesuai dengan analisis yg sudah dilakukan berdasarkan

teori Taxonomy Bloom pada soal ulangan semester genap, untuk mengetahui

kategori tingkat berfikir yang dominan, perhatikan pada tabel berikut.

Tabel 4.4 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2018

Domain Kognitif Frekuensi Persentase

C1 8 22,8 %

C2 8 22,8 %

C3 9 25,8 %

C4 10 28,6 %

C5 - -

C6 - -

Jumlah 35 100 %
Sumber Data: Hasil olah data peneliti
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan terdapat 35 soal ulangan

Semester genap yang berbentuk pilihan ganda, terdapat 4 atau 22,8 % soal yang

masuk dalam kategori C1 (Pengetahuan), dimana contoh soalnya adalah, sebagai

berikut:
51

Gambar 4.1 Soal ulangan semester genap kategori C1

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C1 karena meminta peserta

didik menjawab pertanyaan berdasarkan dengan hapalan saja karena mengingat

kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang istilah

[Link] 8 atau 22,8 % soal yang masuk dalam kategori C2

(Pemahaman), bentuk soalnya adalah sebagai berikut:

Gambar 4.2 Soal ulangan semester genap kategori C2

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C2 meminta peserta didik


memahami materi tertentu yang dipelajari seperti kemampuan menjelaskan materi

dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep tentang

[Link] 9 atau 25,8v% soal yang masuk dalam kategori C3

(Penerapan), salah satu bentuk soalnya adalah:


52

Gambar 4.3 Soal ulangan semester genap kategori C3

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C3 karena meminta peserta

didik untuk menerapkan pemahamannya dengan cara menggunakannya secara nyata

tentang apa interaksi antara Kompas dan [Link] bentuk soal yang masuk
dalam kategori C4 (analisis) ada 10 atau 28,6 % .adapun bentuk soalnya sebagai

berikut

Gambar 4.4 Soal ulangan semester genap kategori c4

Bentuk soal di atas meminta peserta didik diminta untuk menguraikan

informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi mengenai apa yang terjadi

Ketika tahapan B tidak dilakukan secara [Link] untuk kategori C5

(Sintesis) dan C6 (mencipta) dalam soal ulangan semester belum ada yang masuk

dalam kategori tersebut.


53

2. Evaluasi Soal Soal Ujian IPA Tahun Ajaran 2019

Di bawah ini adalah yang termasuk dalam kategori kemampuan

berfikir tingkat tinggi atau soal yang masuk pada kategori kemampuan

berfikir tingkat rendah sesuai dengan analisis yg sudah dilakukan berdasarkan

teori Taxonomy Bloom pada soal ulangan semester genap,

untuk mengetahui kategori tingkat berfikir yang dominan, perhatikan

pada tabel berikut


Tabel 4.5 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2019
Domain Kognitif Frekuensi Persentase
C1 4 16 %
C2 8 32 %
C3 10 40 %
C4 3 12 %
C5 - -
C6 - -
JUMLAH 25 100%
Sumber Data: Hasil olah data peneliti

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan terdapat 25 soal ulangan Semester.

Terdapat 4 atau 16 % soal yang masuk dalam kategori C1 (pengetahuan) dimana

contoh soalnya, sebagai berikut

Gambar 4.5 Soal ulangan semester kategori C1


Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C1 karena meminta peserta

didik menjawab pertanyaan berdasarkan dengan hapalan saja karena mengingat

kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang penyakit karena

pencemaran udara. 8 atau 32 % soal yang masuk kategori C2 (pemahaman), bentuk

soalnya adalah:
54

Gambar 4.6 Soal ulangan semester kategori C2

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C2 meminta peserta didik

memahami materi tertentu yang dipelajari seperti kemampuan menjelaskan materi

dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep tentang pengaruh penurunan

konsentrasi oksigen. Kemudian soal yang masuk dalam kategori C3 (penerapan) ada

10 atau 40 %.contoh soal sebagai berikut :

Gambar 4.7 Soal ulangan semester kategori C3


Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C3 karena meminta peserta

didik untuk menerapkan pemahamannya dengan cara menggunakannya secara nyata

tentang ciri ciri organisme [Link] bentuk soal yang masuk dalam

kategori C4 (analisis) ada 3 atau 12 % . berikut adalah contoh soalnya


55

Gambar 4.8 Soal ulangan semester kategori C4

Bentuk soal di atas meminta peserta didik diminta untuk menguraikan

informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi mengenai kearah

mana pilot menerbangkan pesawat supaya terhindar dari cuaca buruk.

Sedangkan untuk kategori C5 (Sintesis) dan C6 (mencipta) dalam soal

ulangan semester belum ada yang masuk dalam kategori tersebut.

3. Evaluasi Soal Soal Ujian IPA Tahun Ajaran 2020

Di bawah ini adalah yang termasuk dalam kategori kemampuan

berfikir tingkat tinggi atau soal yang masuk pada kategori kemampuan

berfikir tingkat rendah sesuai dengan analisis yg sudah dilakukan berdasarkan

teori Taxonomy Bloom pada soal ulangan semester genap, untuk mengetahui

kategori tingkat berfikir yang dominan, perhatikan pada tabel berikut.

Tabel 4.6 Analisis HOTS dan LOTS pada soal IPA 2020
Domain Kognitif Frekuensi Persentase
C1 10 40 %
C2 7 28 %
C3 7 28 %
C4 1 4%
C5
C6 - -
JUMLAH 25 100 %
Sumber Data: Hasil olah data peneliti
56

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan terdapat 25 soal ulangan

Semester. Terdapat 10 atau 40 % soal yang masuk dalam kategori C1

(pengetahuan) dimana contoh soalnya, sebagai berikut

Gambar 4.9 Soal ulangan harian kategori C1


Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C1 karena meminta

peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan dengan hapalan saja karena

mengingat kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang

urutan pertumbuhan ikan . 7 atau 28% soal yang masuk dalam kategori C2

(Pemahaman), bentuk soalnya adalah:

Gambar 4.10 Soal ulangan harian kategori C2

Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C2 karena meminta peserta

didik memahami materi tertentu yang dipelajari seperti kemampuan menjelaskan


57

materi dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep tentang besaran

pokok berdasarkan gambar diatas. 7 atau 28 % soal yang masuk dalam kategori C3

(Penerapan), bentuk soalnya adalah:

Gambar 4.11 Soal ulangan harian kategori C3


Gambar diatas menunjukkan sebuah soal kategori C3 karena meminta peserta
didik untuk menerapkan pemahamannya dengan cara menggunakannya secara nyata
tentang tebal benda sesuai dengan gambar jangka sorong.1 atau 4 % soal yang masuk
dalam kategori C4 (analisis), bentuk soalnya adalah:

Gambar 4.12 soal ulangan semester kategori c4

Jenis pertanyaan di atas meminta peserta didik untuk menggambarkan menjelaskan

informasi dan menemukan hubungan sebab-akibat yang terkait dengan

[Link] untuk kategori C5 (Sintesis) dan C6 (mencipta) dalam soal

ulangan semester belum ada yang masuk dalam kategori tersebut.

3. Analisis Item mengunakan Rasch Model

Berdasarkan analisa data menggunakan software Winsteps, terdapat

Hasil ini secara lengkap disajikan pada Tabel 4.4


58

Tabel 4.4 Ringkasan Statistik


Keterangan Nilai
Logit Person 0,43
Item 0
Reliabilitas Person Reliability 0,75
Item Reliability 0,88
Alpha Cronbach 0.76
Outfit MNSQ Person 0,10
Item 0,10
Outfit ZSTD Person 0
Item 0

Tabel 4.4 menunjukkan nilai logit untuk orang atau ukuran hingga 0,3

dan nilai item hingga 0,3. Ini berarti bahwa nilai ukuran orang lebih besar dari

nilai ukuran item. Terlihat bahwa kemampuan siswa cenderung lebih tinggi

dari pada tingkat kesulitan soal. H. Ada kemungkinan peserta didik dapat

menjawab semua pertanyaan dengan benar.

Sehingga peserta didik dengan kemampuan tertinggi dapat menjawab soal

yang paling sulit dengan benar. Keyakinan item adalah 0,88 kepercayaan

orang adalah 0,75, dan alpha Cronbach adalah 0,[Link] tersebut

menunjukkan bahwa konsistensi respon peserta didik sangat tinggi dan

kualitas soal yang terdapat pada wahana tes yang digunakan memiliki

kepercayaan diri yang relatif baik sebesar 0,88.

Selain itu, nilai alpha Cronbach, yang menunjukkan hubungan antara orang

dan objek secara keseluruhan, setara dengan 0,[Link] Tabel 4.4 besaran lain

yang ditunjukkan ialah Nilai Outfit Mean Squared (Outfit MNSQ) sebanyak

0,10 baik di kolom person juga item. Nilai 0.10 termasuk pada kriteria fit

yaitu terletak diantara selang 0,5<MNSQ<ZSTD< 2,0 Ini berarti bahwa data

tersebut memiliki kemungkinan nilai rasional. Item tersebut sesuai dengan


59

model Rasch dan dapat digunakan instrumen tes prestasi pada materi

pengukuran.

Tabel 4.5. Data Sebaran Soal Misfit Atau Tidak Fit Dengan Model Rasch

Tabel 4.5 menunjukkan distribusi item pertanyaan yang dianggap tidak sesuai

atau tidak sesuai untuk model. Pembatasan item dinyatakan cocok untuk model

apabila memenuhi salah satu atau kedua kondisi berikut: Kondisi pertama, skor outfit

MNSQ, terletak diantara 0,5 sampai dengan 1,5; nilai Outfit ZSTD terletak diantara -
60

2,0 sampai dengan 2,0; dan nilai korelasi butir dengan skor total (point measure

correlation) terletak diantara 0,4 sampai dengan 0,85.

Gambar 4.16 Person Measure


Nilai taraf kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal diperlihatkan
dari hasil winsteps yaitu peta wright. Diperoleh data peserta didik dengan kode P05
61

serta P09 mempunyai kemampuan atau abilitas paling timggi sedangkan peserta didik
P29 mempunyai kemampuan paling rendah.
B. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Maka didapatkan jumlah

stimulus dalam soal setiap tahunnya sebagai berikut 2018 terdapat 27 atau 76,9 %

stimulus, 2019 terdapat 18 atau 72 % stimulus, dan 2020 terdapat 19 atau 76 %

stimulus, hal ini menunjukkan bahwa guru memberikan pertimbangan

mengunakan stimulus.

Hal ini menunjukkan bahwa stimulus itu penting sebagai gambaran peserta

didik untuk memahami suatu soal, Hal ini sejalan dengan penelitian Lily Suriani

Siregar pada tahun 2019, yang menyatakan bahwa guru dapat menciptakan variasi

stimulus dengan mengunakan dalam menggunakan stimulus. memberi atau

menjadi sumber masukan atau pertimbangan.1

Dan juga penelitian dari Vinsensius Maunia dkk tahun [Link] itu,

stimulus tersebut dapat berupa teks, gambar, skenario, tabel, grafik, wacana,

dialog, video, penggalan cerita, grafik atau masalah. Stimulus membantu peserta

didik berpikir tentang sesuatu yang memungkin kan peserta didik untuk lebih
mudah mengetahui maksud soal tersebut.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Usep Kustiawan pada tahun

2016, menggambarkan rangsangan (objek) yang dapat diamati dan

menggambarkannya dalam bentuk skenario dalam bentuk skrip deskripsi

1
Lili Suriani Siregar,“Pengaruh Keterampilan Mengadakan Variasi Stimulus Terhadap
Motivasi Belajar Siswa Di Kelas X SMA Negeri 2 Padang Bolak,” JURNAL MISI 2, no. 2 (2019): 8–
16.
2
Vinsensius Maunia Singgih Husada, Sri Yamtinah, and Nurma Yunita Indriyanti, “Analisis
Konten High Order Thinking Skill Pada Soal PAS Dan PAT Kimia Kelas XI Tahun Pelajaran
2019/2020 Di Kota Surakarta,” Jurnal Pendidikan Kimia 10, no. 2 (2021): 215–23.
62

[Link] penelitian, stimulus dapat berupa apa saja yang mendorong peserta

didik untuk berpikir dan menulis. Misalnya teks, gambar, skenario, tabel, atau

bahkan penggalan cerita.3 S

selanjutnya berdasarkan analisis yang telah dilakukan karakteristik soal soal

IPA dalam 3 tahun 2018 ada 25 soal atau 71,5% soal LOTS, tahun 2019 ada 22

atau 88% soal LOTS, dan tahun 2020 ada 24 atau 96 % soal LOTS dan

menunjukkan rata rata soal IPA berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat

rendah .

Adapun soal yang berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat tinggi (kreatif,
kritis, pemecahan masalah) hal ini sesuai dengan penelitian Afriansyah dkk tahun

2020 yang mengatakan bahwa pembelajaran dapat berjalan dengan kritis dan

kreatif apabila guru telah sampai di dalam tahapan pemecahan masalah, guru

belum menerapkan tahapan berpikir kritis dalam soalnya.4

Soal HOTS belum ada pada soal ujian IPA 2018, 2019, dan 2020 padahal

pemerintah telah memberikan pengarahan untuk peserta didik agar mampu

bersaing diabad ke 21 dikarenakan tujuan pokok pembelajaran pada abad 21 ialah


kemampuan untuk mengembangkan dan juga meningkatkan keterampilan berpikir

peserta didik menjadi keterampilan berpikir tingkat [Link] agar kualitas PISA

di Indonesia bisa lebih baik ditahun tahun yang akan datang.

3
Julianto Julianto, “Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Siswa Sekolah Dasar Kelas IV
Dalam Menyelesaikan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Pada Mata Pelajaran IPA,” n.d.
4
Ekasatya Aldila Afriansyah et al., “Mendesain Soal Berbasis Masalah Untuk Kemampuan
Berpikir Kritis Matematis Calon Guru,” Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika 9, no. 2 (2020):
239–50.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam soal IPA tahun 2018 -2020 rata telah mengunakan stimulus pada

[Link] stimulusnya yaitu gambar/diagram/grafik, tabel, contoh,

[Link] rincian jumlanya adalah sebagai berikut berikut 2018 terdapat

27 atau 76,9 % stimulus, 2019 terdapat 18 atau 72 % stimulus, dan 2020

terdapat 19 atau 76 % stimulus.

2. Dalam soal ulangan IPA adapun karakteristik soal soal IPA dalam 3 tahun.

2018 ada 25 soal atau 71,5% soal LOTS, tahun 2019 ada 22 atau 88% soal

LOTS, dan tahun 2020 ada 24 atau 96 % soal LOTS dan menunjukkan rata

rata soal IPA berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat rendah adapun

soal yang berada ditingkat kemampuan berfikir tingkat tinggi (analisis,

sintesis, dan evaluasi) belum banyak terdapat pada soal soal IPA.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dinyatakan saran-saran sebagai

berikut:

1. Bagi peserta didik, perlu mengubah persepsi dasar bahwa

pembelajaran tidak hanya berlangsung di sekolah melalui guru, akan

tetapi proses pendidikan dan pembelajaran dapat dilakukan dimana

63
64

saja sehingga peserta didik dapat melatih sesuatu yang baru secara

bersamaan sesuai kurikulum 2013.

2. Bagi guru, sebaiknya guru atau pendidik memakai soal evaluasi yang

sinkron dengan anjuran Kemendiknas dengan mengacu pada

kurikulum 2013.

3. Bagi sekolah, hendaknya memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai,

agar supaya guru juga peserta didik mampu mengembangkan

kemampuanberfikirmereka.
DAFTAR PUSTAKA

A’yunina, Qurrotu.“Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Dalam


Menyelesaikan Soal UN Fisika SMA Pada Materi Medan Magnet Siswa Kelas
XII Di SMA Muhammadiyah 3 Jember.” Jurnal Penelitian Ilmiah INTAJ 3, no.
2 (2019): 1–25.
Afriansyah, Ekasatya Aldila, Tatang Herman, Turmudi Turmudi, and Jarnawi Afgani
Dahlan.“Mendesain Soal Berbasis Masalah Untuk Kemampuan Berpikir Kritis
Matematis Calon Guru.”Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika 9,no. 2
(2020): 239–50.
Alufiyani, Halina Damiya.“Pengembangan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Mahasiswa Melalui Praktikum Berbasis Inkuiri Pada Ekstraksi Maltol Dari
Tanaman Stevia Sebagai Pemanis Permen Jeli.”UIN Sunan Gunung Djati
Bandung, 2019.
Anderson, Lorin W, and David R Krathwohl. “Kerangka Landasan Untuk
Pembelajaran, Pengajaran, Dan Asesmen.” Yogyakarta: Pustaka Pelajar 300,
no. 300 (2010): 0.
Aningsih, Anugrah. “Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Pendidikan Agama
Islam Siswa Kelas X Smk Muhammadiyah 1 Purwokerto Ditinjau Dari Prestasi
Belajar.” Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 2018.
Ansari, Bansu Irianto, and Razali [Link]-Order-Thinking Skill (HOTS)
Bagi Kaum Milenial Melalui Inovasi Pembelajaran Matematika. IRDH Book
Publisher, 2020.
Apandi, Idris, and Arip Baehaqi. “Strategi Pembelajaran Aktif Abad 21 Dan HOTS.”
Samudra Biru, Yogyakarta, 2018.
Bond, Trevor G, and Christine M Fox. Applying the Rasch Model: Fundamental
Measurement in the Human Sciences. Psychology Press, 2013.
Dinni, Husna Nur. “HOTS (High Order Thinking Skills) Dan Kaitannya Dengan
Kemampuan Literasi Matematika.” In PRISMA, Prosiding Seminar Nasional
Matematika, 1:170–76, 2018.
Ernawati, Luluk.“Pengembangan High Order Thinking (HOT) Melalui Metode
PembelajaranMindBankingDalamPendidikan Agama Islam.”In 1st International
Conference on Islamic Civilization Ans Society (ICICS), 189–201, 2017.
Fery Anjani, Yullida. “Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Menurut Teori
Anderson Dan Krathwohl Pada Peserta Didik Kelas XI Bilingual Class System
MAN 2 Kudus Pada Pokok Bahasan Program Linier.” UIN Walisongo, 2017.
Fisher, William P. “Rating Scale Instrument Quality Criteria. Rasch Measurement
Transaction, 21 (1), 1095,” 2007.
Hewi, La, and Muh Shaleh. “Refleksi Hasil PISA (the Programme for International
Student Assesment): Upaya Perbaikan Bertumpu Pada Pendidikan Anak Usia
Dini.” Jurnal Golden Age 4, no. 01 (2020): 30–41.

I
Husada, Vinsensius Maunia Singgih, Sri Yamtinah, and Nurma Yunita Indriyanti.
“Analisis Konten High Order Thinking Skill Pada Soal PAS Dan PAT Kimia
Kelas XI Tahun Pelajaran 2019/2020 Di Kota Surakarta.” Jurnal Pendidikan
Kimia 10, no. 2 (2021): 215–23.
Julianto, Julianto. “Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Siswa Sekolah Dasar Kelas
IV Dalam Menyelesaikan Soal HOTS (High Order Thinking Skills) Pada Mata
Pelajaran IPA,” n.d.
Kemendikbud, Pusat Penilaian Pendidikan, and Moch Abduh. “Panduan Penulisan
Soal HOTS-Higher Order Thinking Skills,” 2019.
Kurniati, Amelia. “Kesesuaian Buku Tematik Kelas I SD/MI Tema Peristiwa Alam
Terbitan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dengan Peraturan Menteri
Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar
Kurikulum 2013.” Kesesuaian Buku Tematik Kelas I SD/MI Tema Peristiwa
Alam Terbitan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Dengan Peraturan
Menteri Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar
Kurikulum 2013, 2017.
Lailly, Nur Rochmah, and Asih Widi Wisudawati. “Analisis Soal Tipe Higher Order
Thinking Skill (HOTS) Dalam Soal UN Kimia SMA Rayon B Tahun
2012/2013.” Jurnal Kaunia 11, no. 1 (2015): 27–39.
Lestari, Widji. “Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun Instrumen Penilaian
HOTS Melalui DTS Penyusunan RPP: Instrumen Penilaian HOTS Melalui DTS
Penyusunan RPP.” Honai 2, no. 1 (2020): 40–52.
Nugraha, Arief Juang, Hardi Suyitno, and Endang Susilaningsih. “Analisis
Kemampuan Berpikir Kritis Ditinjau Dari Keterampilan Proses Sains Dan
Motivasi Belajar Melalui Model Pbl.” Journal of Primary Education 6, no. 1
(2017): 35–43.
Rofiah, Emi, Nonoh Siti Aminah, and Elvin Yusliana Ekawati. “Penyusunan
Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika Pada Siswa SMP.”
Jurnal Pendidikan Fisika 1, no. 2 (2013).
Safira, Nadia. “Pengembangan LKPD Berbasis ALQURUN Teaching Model (ATM)
Pada Materi Perbandingan,” 2020.
Sani, Ridwan Abdullah. Pembelajaran Berbasis Hots Edisi Revisi: Higher Order
Thinking Skills. Vol. 1. Tira Smart, 2019.
Setianingsih, Cris, and Ari Suningsih. “Analisis Terjadinya Revisi Taksonomi Bloom
(Bloom’s Taxonomies).” Jurnal Majalah Kreasi STKIP MPL 10, no. 2 (2018).
Siregar, Lili Suriani. “Pengaruh Keterampilan Mengadakan Variasi Stimulus
Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di Kelas X SMA Negeri 2 Padang Bolak.”
JURNAL MISI 2, no. 2 (2019): 8–16.
Syahida, Ani, and Dedi Irwandi. “Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Pada Soal Ujian Nasional Kimia.” Edusains 7, no. 1 (2015): 77–87.
Ulva, Suci. “Analisis Soal Tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Soal
Ujian Nasional (UN) IPA Sekolah Menengah Pertama (SMP) Di SMP N 1

II
Batipuh Tahun Ajaran 2018/2019,” 2020.
Utari, Retno, Widyaiswara Madya, and KNPK Pusdiklat. “Taksonomi Bloom.”
Jurnal: Pusdiklat KNPK 766, no. 1 (2011): 1–7.
Wahyuningtyas, Daniar, and Yuni Katminingsih. “Analisis Tingkat Kognitif
Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Matematika Wajib Kelas X
SMA/MA Berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi Anderson.” Jurnal Cendekia:
Jurnal Pendidikan Matematika 6, no. 1 (2022): 204–14.
Widana, I Wayan. “Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS).”
Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud, 2017.
Wismanto, Agus. “Evaluasi Pembelajaran Bahasa Menggunakan Taksonomi Bloom
Mulai Dari Versi Lama Sampai Versi Revisi.” Sasindo 2, no. 2 Agustus (2014).
Wright, B D, J M Linacre, J E Gustafson, and P Martin-Löf. “Reasonable Mean-
Square Fit Values. Rasch Measurement Transactions, 8, 370.” Rasch
Measurement Transactions 8, no. 3 (1994).

III
LAMPIRAN

IV
Lampiran 1. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2018

V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
Lampiran 2. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2019

XV
XVI
XVII
XVIII
XIX
Lampiran 3. Soal Ujian Semester Genap Tahun Pelajaran 2020

XX
XXI
XXII
XXIII
XXIV
XXV
XXVI
Lampiran 4. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Kampus

XXVII
Lampiran 5. Surat Izin Penelitian dari Dinas

XXVIII
Lampiran 6. Surat Bersedia Menerima dari Sekolah

XXIX
Lampiran 7. Surat Keterangan telah Meneliti dari Sekolah

XXX
Lampiran 8. Dokumentasi Peneliti

XXXI
XXXII
BIODATA PENULIS

Hardiani nama penulisnya, lahir pada tanggal 24 agustus 2000 di


Rappang. Nama ayahnya adalah Abd. Hamid Kallado dan ibunya
Bernama Mujahidah Mappa. Ia memulai pendidikannya di Sekolah
Dasar SD Negeri 8 Rappang pada tahun 2006 dan tamat tahun 2012.
lalu, melanjutkan pendidikan ke SMPN 2 Panca Rijang tamat pada
tahun 2015. Kemudian, melanjutkan pendidikan ke MA YMPI
Rappang dan tamat pada tahun 2018. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan dan
diterima kuliah di Program S1 Tadris IPA (IAIN) Parepare. Dan merupakan Angkatan
pertama di Program Studi Tadris IPA. Pada tahun 2022 ia menyelesaikan skripsinya
dengan judul “Analisis Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi pada Soal Soal IPA
Kelas VII di SMP Negeri 1 Pancarijang Sidrap .’’ Semoga dengan penulisan tugas
akhir skripsi ini mampu memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan dan
menambah ilmu pengetahuan serta bermanfaat dan berguna bagi sesama.

XXXIII

Common questions

Didukung oleh AI

Penggunaan rangsangan (stimulus) dalam soal evaluasi penting karena memungkinkan siswa untuk mengaitkan informasi dan konteks, serta berpindah antar konsep. Ini menantang mereka untuk berpartisipasi dalam proses berpikir tingkat tinggi. Dampaknya terhadap siswa dengan kemampuan berbeda adalah memberikan peluang bagi siswa berkemampuan tinggi untuk mengaplikasikan pengetahuan dengan cara baru, sementara siswa dengan kemampuan lebih rendah tetap bisa mengakses pengetahuan dasar sebagai langkah awal berkembang .

Ciri-ciri soal HOTS meliputi mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif, argumentasi, dan pengambilan keputusan. Soal-soal ini didasarkan pada permasalahan kontekstual yang memerlukan penerapan konsep untuk memecahkan masalah. Efeknya terhadap proses pembelajaran adalah mendorong peserta didik untuk berpikir lebih dalam dan kreatif, serta meningkatkan kemampuan analisis dan evaluasi melalui konteks nyata .

Perubahan Taksonomi Bloom dari konsep awal menekankan lebih pada klasifikasi yang linear dan statis, tetapi revisi menekankan proses dinamis, penilaian, dan aplikasi dalam berpikir. Revisi ini memasukkan perspektif aktif dan kognitif, seperti menganalisis dan mencipta, alih-alih sekedar menghafal. Hal ini menggeser cara pandang terhadap pendidikan dari fokus pada hasil akhir ke proses belajar serta penilaian dari sekedar ceklis pemahaman ke evaluasi keterampilan berpikir kritis dan kreatif .

Taksonomi Bloom membagi tingkat kognitif dari rendah ke tinggi, yaitu Knowledge (C-1), Pemahaman (C-2), Aplikasi (C-3), Analisis (C-4), Sintesis (C-5), dan Evaluasi (C-6). Kemampuan berpikir tingkat rendah meliputi memori, pemahaman, dan aplikasi, sementara tingkat tinggi mencakup analisis, evaluasi, dan kreasi. Ini menunjukkan bahwa tingkat kognitif tingkat tinggi memerlukan keterampilan berpikir yang lebih kompleks untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta .

Kemampuan berpikir kritis termasuk dalam kategori tingkat tinggi dalam Taksonomi Bloom karena memerlukan analisis mendalam, evaluasi bukti, dan penentuan keputusan berdasarkan informasi yang ada. Untuk menilainya, soal harus dirancang untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang rumit, memberikan skenario atau stimulus kontekstual di mana peserta didik harus menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk memberikan solusi yang valid dan logis. Penilaian harus mengevaluasi kemampuan untuk mengeksplorasi argumen dan menyintesis informasi baru .

Desain soal HOTS mendukung pembentukan keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada peserta didik dengan menghadirkan soal yang menuntut analisis masalah nyata, pengambilan keputusan, dan penciptaan solusi baru. Soal-soal ini menggunakan stimulus kontekstual yang memotivasi peserta didik untuk melihat masalah melalui berbagai perspektif dan berpikir 'di luar kotak'. Ini mendorong peserta didik untuk menggali lebih dalam konsep yang telah dipelajari dan menerapkannya secara inovatif .

Indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi menurut Taksonomi Bloom mencakup analisis, evaluasi, dan pembuatan. Dalam penerapannya pada soal penilaian, peserta didik harus mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah, membandingkan solusi, mengevaluasi argumen, dan merancang solusi baru. Penilaian harus mempersyaratkan penggunaan keterampilan operasional seperti menganalisis, menilai, merancang, dan menggabungkan untuk memastikan keterampilan ini diterapkan dan diasah .

Perspektif baru dari teori Anderson dan Krathwohl mempengaruhi analisis keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan memperjelas dan merinci keterampilan kognitif ke dalam kategori sederhana hingga kompleks seperti analisis, evaluasi, dan kreasi. Ini membuat pendidik lebih sadar tentang pentingnya menilai keterampilan ini dan bagaimana mengintegrasikannya dalam perencanaan pembelajaran. Teori ini mendorong pendidik untuk fokus pada pengembangan kemampuan analitik, evaluatif, dan kreatif, yang penting untuk pembelajaran yang lebih mendalam dan menyeluruh .

Menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam sistem pendidikan modern penting karena keterampilan seperti berpikir kritis, kreatif, dan pengambilan keputusan menjadi sangat berharga di era informasi dan teknologi saat ini. Ini memungkinkan peserta didik untuk beradaptasi dengan cepat, menyelesaikan masalah kompleks, dan membuat keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian. Di masa depan, peserta didik yang mampu berpikir tingkat tinggi akan lebih siap untuk bersaing dalam ekonomi global serta lebih efektif dalam peran profesional dan kehidupan sosial mereka .

Stimulus dalam penilaian HOTS berfungsi untuk menghubungkan dan menafsirkan beberapa konsep yang berbeda, memecahkan masalah, menetapkan strategi pemecahan masalah, dan menghasilkan prosedur baru. Dengan adanya stimulus, peserta didik dimotivasi untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi secara kritis. Stimulus mendorong siswa untuk berpindah antar konteks dan mencari hubungan antara informasi, yang lebih menguji keterampilan berpikir tingkat tinggi dibanding hanya mengandalkan ingatan. Tanpa stimulus, soal hanya memenuhi ranah kognitif memahami (C2) dan tidak mengeksplorasi kemampuan berpikir tingkat tinggi .

Anda mungkin juga menyukai