NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM FALSAFAH HIDUP
ORANG LAMPUNG
SKRIPSI
Diajuakan untuk melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ([Link]) dalam Ilmu Pendidikan Agama
Islam
Oleh
MUKHLIS
NPM : 1611010079
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN 2020 M/1441 H
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM FALSAFAH HIDUP
ORANG LAMPUNG
SKRIPSI
Diajuakan untuk melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan ([Link]) dalam Ilmu Pendidikan Agama
Islam
Oleh
MUKHLIS
NPM : 1611010079
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Pembimbing I : [Link].H. Syaiful Anwar, [Link]
Pembimbing II : Dr. Imam Syafe’I, [Link]
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN 2020 M/1441 H
ABSTRAK
Pendidikan Islam yang berakar terhadap budaya diharapkan mampu
membentuk kepribadian manusia, dengan berlandaskan pada budayanya
[Link] pesenggiri sebagai potensi sosial budaya daerahLampung yang
bermakna sebagai sumber motivasi agar setiap orang memperjuangkan nilai-
nilai [Link] informasi hampir dirasakan oleh semua kalangan yang
memberikan kemanjaan tersendiri dan berefek timbulnya budaya negatif,
budaya hidup glamor, gaya hidup bebas yang memunculkan suatu sikap
individualis. Dari fenomena tersebut masyarakat tidak lagi menyikapinya
dengan perilaku terpuji seperti [Link] kini justru berubah
menjadi kelompok yang saling mengalahkan atau saling tidak bersikap
[Link] betapa mirisnya hal tersebut maka pentingnya untuk
mengetahui dan melestarikan nilai Pendidikan Islam yang terkandung dalam
falsafah hidup Lampung dalam membentuknorma kehidupan sosial
[Link] peneliti memfokuskan penelitian ini pada Pendidikan Islam
berdasarkan kandungan budaya falsafah hidup [Link] rumusan
masalah yaitu, apakah bentuk nilai-nilai Pendidikan Islam yang terkandung
padapiil pesenggir, nemui nyimah,juluk adok, nengah nyappur, dan sakai
sambayandalam falsafah hidup masyarakat [Link] penelitian ini
untuk mengetahui nilai-nilai Pendidikan Islam yangterdapat dalam falsafah
hidup [Link] penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library
Reserch).Metode pengumpulan data dalam penelitian ini ialah metode
dokumentasi yang berkaitan dengan judul skripsi. Kesimpulan dari hasil
analisis penelitian ini, peneliti menemukan beberapa nilai Pendidikan Islam
yang terkandung dalam falsafah hidup Lampung, nilai-nilai tersebut tersebut
sebagai berikut : Harga diri, berprilaku jujur, bertanggung jawab, menjaga tali
silaturahmi, bersedekah, bergaul dengan orang lain, bermusyawarah dalam
menyelesaikan masalah, kemudian, saling tolong menolong dan bekerja sama
bertujuan untuk meringankan suatu pekerjaan. yang mana dalam masyarakat
Lampung yang menjadi falsafah hidup lampung atau biasa disebut dengan Piil
Pesenggiri, yang perwujudan nya piil itu dalam bentuk lima unsur yaitu, Piil
Pesenggiri, Juluk Adek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai
Sambayan.
Kata Kunci: Pendidikan, Islam, Falsafah, Lampung.
iii
MOTTO
ٌاَ ْل َعا َدةٌُ ُم َح َّك َمٌة
“Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum”1
1
Ahmad Sanusi dan Sohari, Ushul Fiqh, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 81-82.
iv
PERSEMBAHAN
Dengan semangat, usaha dan do‟a akhirnya skripsi ini dapat peneliti
selesaikan. Maka dengan penuh rasa syukur dan tulus ikhlas Skripsi ini peneliti
persembahkan kepada:
1. Kedua Orang tua tercinta, Ayahanda Mardan dan Ibundaku tercinta
Nuryanah, atas ketulusannya dalam mendidik akhlak, membesarkan jiwa
dan membimbing peneliti dengan penuh perhatian dan kasih sayang serta
keikhlasan dalam do‟a sehingga menghantarkan peneliti menyelesaikan
Pendidikan di UIN Raden Intan Lampung.
2. Kepada diriku sendiri yang telah berjuang, meluangkan waktu,
menghabiskan tenaga serta meluangkan pikiran dalam menyelesaikan
skripsi ini, semoga terus kuat dalam menjalani rintangan yang akan datang
untuk kedepanya.
3. Kakak, Adik tersayang Nurdiansyah berserta Keluarga, Adis Dis Beserta
Keluarga, dan Muhammad Nabil.
4. Sepupuku tercinta, Indri Anggraini Az, Diki Lerian, Ika Rosalia, serta
Saudara-Saudara peneliti yang selalu memberi motivasi dan dukungan
semangat kepada peneliti.
5. Kerabatku, dan Orang-orang disekelilingku yang acap kali bertanya kapan
wisuda sehingga peneliti termotivasi untuk menyelesaikan skripsi.
6. Almamaterku tercinta Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung,
tempat menempuh studi dan menimba ilmu pengetahuan, semoga menjadi
Perguruan Tinggi yang lebih baikkedepannya.
v
7. Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam,
tempat belajar dalam berorganisasi semoga HMJ PAI UIN Raden Intan
Lampung tetap Jaya dan menjadi lebih baikkedepannya.
8. Keluarga Besar Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Tarbiyah Komisariat Raden IntanLampung.
9. Kepada Via Nindia Lusiwi yang banyak membantu dan selalu memberikan
support peneliti untuk menyelesaikan skripsi.
10. Kepada Muhammad Candra Syahputra, [Link]. selaku senior sekaligus
mentor peneliti dalam menyusun skripsi.
11. Kepada Hayyu Mashvufah yang banyak memberi masukan serta dukungan
kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi.
12. Kepada Guruku, Edi Susanto, [Link], dan Muhammad Suyono, [Link]., yang
banyak memberikan bimbingan serta dukungan kepada peneliti untuk
menyelesaikan skripsi.
13. Kepada Team Lathief Studio, Gus Lathoiful Ihsan, Mas Adit, Munesa dan
Heri Aul.
14. Sahabatku Rian Simon, Ghozel, Widda, Ridho Abadi, Aziz, Ewing, Meri
Ulvia, Yola Sandi, Ayu Avrilia, Ade Akbar, Nesti Wulandari, dan Febby
Febriansyah.
15. Sahabat-sahabat Mahasiswa PAI Kelas B Angkatan 2016 UIN Raden
Intan Lampung.
vi
RIWAYAT HIDUP
Mukhlis dilahirkan pada tanggal 11 November 1998 di Desa Way
Betanding Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung Barat, putra ketiga dari 4
bersaudara dari pasangan Bapak Mardan dan Ibu Nuryanah.
Pendidikan Dasar di SD N 1 Pagar Dewa Kecamatan Sukau Kabupaten
Lampung Barat diselesaikan pada tahun 2010, kemudian melanjutkan ke MTs N 1
Kota Batu Kecamatan Oku Selatan Kabupaten Sumatera Selatan Provinsi
Palembang diselesaikan pada tahun 2013 kemudian melanjutkan ke jenjang
Pendidikan menengah pertama di SMA N 1 Sukau Kecamatan Sukau Kabupaten
Lampung Barat lulus pada tahun 2016, kemudian peneliti melanjutkan
Pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung Program
Strata Satu (S1) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama
Islam.
Peneliti telah mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tri Tunggal I,
Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur. Selain itu, peneliti juga
telah mengikuti kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Al-Azhar
3 Bandar Lampung pada tahun2019.
Selama kuliah Peneliti aktif di berbagai organisasi mahasiswa, baik
Organisasi Ekstra (PergerakanMahasiswaIslam Indonesia) serta aktif di Himpunan
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Raden Intan Lampung.
Peneliti juga pernah diberikan amanah menjadi Ketua Bidang Infokom HMJ
PAI UIN Raden Intan 2017-2018, Sekretaris Rayon PMII Tarbiyah 2018-2019.
vii
KATAPENGANTAR
بسماهلاللرحمنالرحيم
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan
nikmat, Ilmu pengetahuan, kemudahan dan petunjuk-Nya sehingga peneliti dapat
menyelesaikan skripsi ini. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada
Nabi Muhammad SAW. yang kita harapkan syafa‟atnya nanti dihari akhir.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, peneliti mendapat bantuan dari
berbagai pihak baik berupa bantuan materil maupun dukungan moril. Pada
kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak
yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Dengan segala kerendahan
hati peneliti ucapan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, [Link]., selaku Rektor UIN Raden Intan
Lampung.
2. Prof. Dr. Hj. Nirva Diana, [Link], selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Raden Intan Lampung.
3. Drs. Sa‟idy [Link]., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Dr.
Rijal Firdaos [Link]., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. Prof. Dr. H. Syaiful Anwar, [Link]., selaku Pembimbing I dan Dr. Imam
Syafe‟i [Link]., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan
arahan kepada peneliti dengan ikhlas dan sabar hingga akhir penyusunan
skripsiini.
5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan
viii
Lampung yang telah mendidik serta memberikan ilmu kepada peneliti selama
perkuliahan.
6. Almamaterku tercinta Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung,
tempat menempuh studi dan menimba ilmu pengetahuan, semoga menjadi
Perguruan Tinggi yang lebih baikkedepannya.
7. Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam,
tempat belajar dalam berorganisasi semoga HMJ PAI UIN Raden Intan
Lampung tetap Jaya dan menjadi lebih baikkedepannya.
8. Keluarga Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon
Tarbiyah Komisariat UIN Raden IntanLampung.
9. Himpunan Mahasiswa PAI Kelas B Angkatan 2016 UIN Raden Intan
Lampung.
10. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu yang telah
berjasa membantu baik secara moril maupun materil dalam penyelesaian
skripsi.
Peneliti berharap kepada Allah SWT semoga apa yang telah mereka berikan
dengan segala kemudahan dan keikhlasannya akan menjadikan pahala dan amal
yang barokah serta mendapat kemudahan dari Allah SWT. Amin..
Skripsi dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Falsafah Hidup
Orang Lampung”. Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan
karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang peneliti miliki. Oleh karena
itu peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
semua pembaca.
ix
Akhirnya peneliti memohon Taufik dan Hidayah kepada Allah SWT dan
semoga skripsi ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.
Bandar Lampung 19 September 2020.
Peneliti
Mukhlis
NPM.1611010079
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..............................................................................................i
ABSTRAK ............................................................................................................. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................................iv
MOTTO ..................................................................................................................v
PERSEMBAHAN..................................................................................................vi
RIWAYAT HIDUP ............................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii
DAFTAR ISI .........................................................................................................xi
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Maslah .......................................................................1
B. Fokus Penelitian ..................................................................................6
C. Rumusan Masalah ...............................................................................6
D. Tujuan dan Manfaat ............................................................................7
E. Metode Penelitian ...............................................................................9
F. Penelitian yang Relevan....................................................................12
BAB II : LANDASAN TEORI
A. Pendidikan Islam...............................................................................18
1. Pengertian Pendidikan Islam .....................................................18
2. Dasar Pendidikan Islam .............................................................20
3. Tujuan Pendidikan Islam ...........................................................26
4. Ruang Lingkup Pendidikan Islam .............................................30
5. Kurikulum Pendidikan Islam .....................................................32
6. Nilai-Nilai Pendidikan Islam .....................................................34
B. Falsafah Hidup Lampung..................................................................46
1. Pengertian Falsafah Hidup Lampung ........................................46
2. Unsur-Unsur Falsafah Hidup Lampung.....................................48
1) Piil Pesenggiri .......................................................................48
2) Bejuluk Adek ........................................................................50
3) Nemui Nyimah ......................................................................53
4) Nengah Nyappur ...................................................................54
5) Sakai Sambayan ....................................................................55
3. Nilai-Nilai Falsafah Hidup Lampung ........................................56
xi
BAB III : GAMBARAN UMUM LAMPUNG
A. Letak Geografis Lampung ................................................................60
B. Masyarakat Lampung .......................................................................63
1. Masyarakat Adat Saibatin ..........................................................64
2. Masyarakat Adat Pepadun .........................................................65
BAB IV : ANALISA
A. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Yang Terkandung
Dalam Falsafah Hidup Lampung ......................................................67
1. Bentuk Nilai-Nilai Pendidikan Islam Yang Terkandung
Pada Nilai harga diri dan Berprilaku Jujur (Piil Pesenggiri) .....68
2. Bentuk Nilai-Nilai Pendidikan Islam Yang Terkandung
Pada Nama Besar (Juluk Adok) .................................................72
3. Bentuk Nilai-Nilai Pendidikan Islam Yang Terkandung
Pada Keramahtamahan (Nemui Nyimah) ..................................75
4. Bentuk Nilai-Nilai Pendidikan Islam Yang Terkandung
Pada Kemampuan Berbaur Terhadap Semua
(Nengah Nyappur) .....................................................................77
5. Bentuk Nilai-Nilai Pendidikan Islam Yang Terkandung
Pada Gotong Royong (Sakai Sambayan) ...................................79
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .......................................................................................82
B. Saran .................................................................................................83
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu perbuatan aktif yang dilakukan oleh
setiap individu maupun komunitasdalam rangka pengembangan diri secara
terus menerus dengan berbagai macam sumber belajar serta improvisasi
dalam tujuan agar manusia [Link] demikian hubungan antara
pendidikan dan budaya merupakan dua hal yang saling mengisi dan
mempengaruhi prilaku, perbuatan serta pola pikir masyarakat.1
Pendidikan akan melahirkan suatu budaya kemudian budaya akan
mempengaruhi pendidikan masyarakat pada bentuk prilaku kebudayaan.
Pendidikan merupakan suatu hal yang penting, karena dengan adanya
pendidikan maka budaya manusia dapat terjaga eksistensi serta martabat
kemanusiaanya maupun dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Proses
suatu pendidikan dalam usaha pengembangan dan sosialisasi budaya bisa
terbentuk dengan suatu proses pendidikan baik in-formal maupun non-
formal.2Tak terkecuali pendidikan islam.
Pendidikan islam merupakan sistem pendidikan yang mencakup pada
seluruh aspek kehidupan yang diperlukan oleh hamba Allah, sebagaimana
yang telah kita ketahui bersama bahwa islam telah menjadi suatu pedoman
bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik dunia maupun ukhrawi. Achmadi
1
Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural
(Magelang : Indonesia Tera,2003), [Link]
2
Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, (Bandung :
[Link] Rosdakarya),h.86
2
mengatakan bahwa pendidikan islam diartikan sebagai semua upaya dalam
pemeliharaan serta mengembangkan fitrah asli manusia dan sumber daya
yang terletak pada manusia menuju terbentuknya manusia sempurna, yang
berarti terbentuk manusia yang beriman, bertakwa dan juga memiliki
berbagai kemampuan yang teraktualisasikan terhadap hubunganya kepada
Allah SWT.3
Pendidikan islam yang berakar terhadap budaya ialah pendidikan
islam yang tidak meninggalkan sejarah, dengan demikian pendidikan islam
yang berakar terhadap budaya diharapkan mampu membentuk manusia agar
mempunyai suatu kepribadian, harga diri, percaya diri, dengan berlandaskan
pada budayanya sendiri yang akan menjadi warisan dari nenek moyang dan
bukan budaya bangsa asing.4
Demikian halnya dengan budaya di daerah Lampung yang telah
melahirkan suatu kearifan lokal tentang norma-norma dan tata nilai5 yang
diwujudkan pada prilaku maupun interaksi terhadap manusia satu sama lain
dan juga dengan alam lingkungan sekitar yang berlandaskan nilai-nilai
pendidikan islam.
Kearifan lokal itu ialah suatu cerminan pandangan hidup orang
Lampung yang dikenal dan disebut dengan Piil Pesenggiriyang tercatat dalam
kitab koentara Raja Niti yang merupakan sutu aturan adat kemudian disusun
3
Heru Juabdin Sada, Rijal Firdaos, Yunita sari, Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Islam
dalam Budaya Nemui Nyimah di Masyarakat Lampung Pepadun, Jurnal Pendidikan Islam, Vol 9,
No.2 (Uin Raden Intan Lampung : Al-Tadzkiyyah, 2018), h.312
4
Ibid,h.312
5
Muhammad Candra Syahputra, “Pendidikan Multikultural dalam Budaya Nemui
Nyimah”. EL-HIKMAH : Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam, Vol 14, No.1 Juni 2020,
hal.90
3
kembali pada masa kerajaan Islam.6Piil pesenggiriialah harga diri atau
kehormatan orang Lampung, yang terdiri dari dignity(pesenggiri),
keramahtamahan (nemui nyimah), nama besar (juluk adok), kemampuan
berbaur terhadap semua (nengah nyappur), dan gotong royong (sakai
sambayan)7. Semua unsur yang terdapat pada falsafah ulun Lampung tersebut
merupakan suatu nilai yang terkandung dalam kehidupan manusia khususnya
ulun Lampung sendiri, mulai dari ritual kelahiran hingga pada tahap terakhir
yaitu kematian.8
Piil pesenggiri dikatakan sebagai potensi sosial budaya daerah yang
mempunyai makna sebagai suatu sumber motivasi agar setiap orang dinamis
dalam usaha memperjuangkan nilai-nilai positif, hidup terhormat serta
dihargai di tengah-tengah kehidupan [Link] suatu
konsekuensi dalam memperjuangkan dan mempertahankan kehormatan pada
kehidupan bermasyarakat, maka orang Lampung berkewajiban untuk
mengendalikan perilaku dan menjaga nama baiknya agar terhindar dari sikap
dan perbuatan yang tidak terpuji.9
Falsafah hidup Lampung sesungguhnya memiliki nilai-nilai sosial
yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, jika pendatang yang berkunjung ke
6
Tim Penulis Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya,Naskah Boek
Koentara Raja Niti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng, Peminggir, Poebian dan Toelang
Bawang (Jakarta : Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jendral
Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013),h.51
7
Muhammad Candra Syahputra, “Nlai-nilai Pendidikan Karakter dalam Budaya Nengah
Nyappur”. Jurnal PAI Raden Fatah, Vol 2, No.1 Febrari 2020, hal.1-10.
8
Sulistiyowati Irianto dan Risma Margareta, Piil Pesenggiri : Modal Budaya dan
Strategi Identitas Ulun Lampung, Dalam Jurnal Makara,Sosial Humaniora, Vol. 15, NO 2 (Depok
: Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia,
Desember 2011),h.142
9
Duta Lampung “Falsafah Masyarakat Lampung”, (Online) Tersedia di :
[Link]
4
provinsi Lampung maka akan ditemui dengan banyak suku serta latar
belakang yang berbeda, meskipun terdapat banyak perbedaan namun mereka
dapat tetap berdampingan. Namun yang sangat disayangkan akhir-akhir ini
banyak generasi muda yang terpengaruh arus globalisasi sehingga mereka
tidak memahami falsafah yang memang menjadi inti budaya masyarakat
[Link] Lampung sendiri khususnya para remaja pada saat ini
cenderung individualis dan juga sudah mulai meninggalkan nilai-nilai yang
terdapat di daerah yang mengandung banyak nilai-nilai moral sosial maupun
bermasyarakat.10
Kemajuan zaman saat ini yang semula dipandang akan memudahkan
aktivitas manusia11, pada kenyataanya juga akan menimbulkan keresahan dan
ketakutan baru untuk manusia, seperti lunturnya rasa solidaritas antar
manusia, rasa kesepian, dan mengurangi silaturahmi bahkan kebersamaan.
Sebagai contoh penemuan tekhnologi handphone, televisi, computer
menjadikan masyarakat terutama dikalangan remaja bahkan anak-anak sibuk
dengan dunia tersebut, akibatnya hubunngan antar keluarga menjadi renggang
dan menunjukan bahwa tekhnologi sudah menjadi kebutuhan pokok bagi
remaja dan anak-anak.12
10
Retno Fajarwati dan Amien Wahyudi, Identifikasi Nilai-Nilai Bimbingan Pribadi
Sosial Dalam Falsafah Masyarakat lampung, Prosiding Seminar Nasional Peran Bimbingan dan
Konseling Dalam Penguatan Pendidikan Karakter, Vol 2, (Universitas Ahmad Dahlan, Agustus
2017)
11
Muhammad Candra Syahputra, “Jihad Santri Millennial Melawan Radikalisme di Era
Digtal: Studi Gerakan Arus Informasi Santri Nusantara di Media Sosial ” Jurnal Islam Nusantara,
Vol. 04, No. 01 Juni 2020, hal.73.
12
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Raja Gravindo Persada,2010), h.23, mengutip
buku Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter Konsepsi dan Implementasinya Secara Terpadu
Di Lingkungan Keluarga, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat.
5
Pesatnya perkembangan tekhnologi informasi seperti media sosial
atau media massa yang pada kenyataanya hampir dirasakan oleh semua
kalangan yang memberikan kemanjaan tersendiri dan berefek pada timbulnya
budaya negatif13, budaya hidup glamor, gaya hidup yang bebas sehingga
memunculkan prilakuyang negatif seperti suatu sikap individualis, kepekaan
rasa sosial yang rendah, rendahnya rasa tolong menolong maupun gotong
royong.14Melihat dari fenomena tersebut masyarakat tidak lagi menyikapinya
dengan perilaku terpuji seperti musyawarah untuk mendapatkan mufakat,
toleran, atau bahkan gotong [Link] kini justru berubah menjadi
kelompok-kelompok yang saling mengalahkan atau saling tidak bersikap
jujur.15
Berdasarkan yang telah dipaparkan diatas, kemudian untuk mengingat
betapa pentingnya dalammengetahui dan melestarikan nilai pendidikan islam
yang terkandung dalam falsafah hidup Lampung di tengah era revolusi
industri ini, harus dijadikan acuan dalam mengembangkan norma kehidupan
sosial masyarakat dalam hal mendidik karakter bangsanya, dari latar belakang
diatas dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil judul “Nilai-Nilai
Pendidikan Islam Dalam Falsafah Hidup Orang Lampung”
13
Muhammad Candra Syahputra, “Gerakan Literasi Politik Perempuan Nahdlatul Uama
dalam Menyambut Pemilihan Umum 2019-2020”. Jurnal Islam Nusantara, Vol . 04, No. 02
Desember 2020, hal. 206.
14
Dian Andesta Bujuri, Implementasi Nilai-Nilai Falsafah Hidup Orang Lampung Dalam
Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan (Study Kasus Di SD Alam Al-Karim Lampung)
15
Heri Gunawan, Pendidikan Karakter :Konsep dan Implementasi, (Bandung :
Alfabeta,2012), [Link].
6
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitianmerupakan area spesifik yang akan peneliti teliti.
Oleh sebab itu peneliti akan memfokuskan penelitian sebagai berikut untuk
diangkat :
1. Pendidikan Islam berdasarkan kandungan budaya falsafah hidup
Lampung.
2. Menguraikan Nilai-nilai dignity (pesenggiri), keramahtamahan (nemui
nyimah), nama besar (juluk adok), kemampuan berbaur terhadap
semua (nengah nyappur), dan gotong royong (sakai sambayan), dalam
Piil Pesenggiri.
3. Manfaat nilai-nilai yang terkandung dalam Falsafah hidup Lampung
(Piil Pesenggiri) pada praktik pendidikan.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah ialah pertanyaan yang akan diteliti, kemudian
jawabanya akan dicari melalui penelitian. Rumusan ialah sebuah panduan
utama bagi penulis dalam menjelajah suatu masalah yang akan di teliti.16
Adapun permasalahan yang ada dalam penelitian di batasi dan di
kelompokan dalam suatu rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Apakah bentuk nilai-nilai Pendidikan Islam yang terkandung pada
dignity (piil pesenggiri), keramahtamahan (nemui nyimah), nama
besar (juluk adok), kemampuan berbaur terhadap semua (nengah
16
Ibid., h. 290.
7
nyappur), dan gotong royong (sakai sambayan), dalam Falsafah
Hidup Masyarakat Lampung?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Setelah membahas latar belakang dan rumusan masalah di atas
marilah kita beranjak pada tujuan penelitian, adapun tujuan penelitian ini
adalah:
a. Untuk mengetahui apa saja bentuk nilaiyang terkandung pada dignity
(pesenggiri), keramahtamahan (nemui nyimah), nama besar (juluk
adok), kemampuan berbaur terhadap semua (nengah nyappur), dan
gotong royong (sakai sambayan), dalam Piil Pesenggiri
b. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yangterdapat dalam
falsafah hidup Lampung.
c. Untuk mengetahui Manfaat nilai-nilai yang terkandung dalam
Falsafah hidup Lampung (Piil Pesenggiri).
2. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian seyogianya mempunyai manfaat bagi penulis maupun
masyarakat khalayak ramai baik secara teoritis maupun praktis. Penulis
harus bisa memberikan maanfaat itu dengan konkrit.17
17
Ibid., h.235
8
1. Secara teoritis yaitu:
a. Untuk mengenalkan nilai-nilai islam yang terkandung pada falsafah
hidup Lampung.
b. Penulis mencoba menuangkan ilmu yang didapatkan diperkuliahan
menjadi sebuah karya ilmiah yang mudah-mudahan menjadi acuan
bagi si pembaca maupun untuk generasi selanjutnya.
2. Secara praktis yaitu:
a. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi
positif bagi pembangunan pendidikan dalam pemerint daerah
kaitan nilai dan falsafah.
b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan edukasi
kepada masyarakat akan pentingnya mengetahui dan melestarikan
nilai nilai islam yang terkandung dalam falsafah hidup Lampung.
c. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan semangat lebih
kepada pemangku adat untuk terus melestarikanfalsafah hidup
Lampung sebagai untuk generasi selanjutnya acuan hidup
masyarakat Lampung.
d. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi peneliti sendiri sebagai
suatu pembelajaran dalam memahami serta mengetahui apa saja
nilai-nilai islam yang terkandung dalam falsafah hidup Lampung.
Dan diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebuah inspirasi
untuk peneliti-peneliti lainya agar lebih dalam menyelami dunia
9
literatur baca guna mengembangkan pendidikan agam islam.
Silahkan meneliti selain dari nilai-nilai pendidikan islam
E. Mentode Penelitian
Metode merupakan suatu bentuk tata cara yang dimanfaatkan untuk
mencapai tujuan dengan menggunakan peralatan tertentu sesuai dengan
banyaknya macam-macam masalah yang telah dihadapi serta tujuan dan
situasi, oleh karena itu jumlah dan jenis metode penelitian bermacam-
macam.18Sedangkan metode penelitian dapat diartikan sebagai suatu cara
dalam mengumpulkan data untuk tujuan dan kegunaan tertentu19
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Reserch)
yaitu sebuah penelitian dengan cara mengumpulkan data dan informasi
beragam materi yang terdapat pada buku-buku, atau kepustakaan.20Isi
dalam studi kepustakaan dapat berbentuk suatu kajian teoretis yang
pembahasannya difokuskan terhadap informasi sekitar permasalahan
penelitian yang hendak dipecahkan melalui suatu penelitian.21Dengan
memakai jenis pendekatan deskriptif analisis, yakni pencarian yang berupa
fakta, hasil serta ide pemikiran seseorang melalui cara mencari,
18
Fadjrul Hakam Chojin, Cara Mudah Menulis Karya Tulis Ilmiah, (Surabaya: Alpa,
1997),h.55
19
Sugiono, Metodelogi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan
R&D), (Bandung : alfabeta,2008),h.3
20
Suhairi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta : Rineka Cipta,1995), h.310
21
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h.38
10
menganalisis, membuat interpretasi serta melakukan generalisasi terhadap
hasil yang dilaksanakan.22
2. Sumber Data
Sumber data merupakan subjek dimana sebuah data didapat dalam arti
berbentuk dokumen atau literatur, yang merupakan karya tulis ilmiah baik
makalah, artikel, buku dan lain-lain. Adapun sumber data dalam penelitian
ini terdapat dua jenis :
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari
sumber utama.23 Adapun yang menjadi data primer dalam penelitian
penulis adalah bersumber dari beberapa buku diantaranya :
1) Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung,
Bandung : Mandar Maju, 1989
2) Syafiq A. Mughni, Nilai-Nilai Islam : Perumusan Ajaran dan Upaya
Aktualisasi, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2021)
3) Himyari Yusuf, Nilai-nilai Islam dalam Falsafah Hidup
Masyarakat Lampung, Iain Raden Intan Lampung, 2016
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan sebuah kesaksian atau data langsung
yang masih berhubungan dengan sumber aslinya.24 Adapun data
sekunder atau data pendukung dalam penelitian ini sebagai berikut :
22
Munzir, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990), h. 62.
23
Amrudin dan zainal Asikin, Pengantar Metode dan Penelitian Hukum, (Jakarta : PT.
Raja Grapindo Persada 2003),h.30
24
Cholid Narbuko et. al, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h.42
11
1) Farida Aryani , dkk, Konsepsi Piil Pesenggiri Menurut Masyarakat
Adat Lampung Waykanan di Kabupaten WaykananSebuah
Pendekatan discourse Analysis(Bandar Lampung : Aura Printing dan
Publishing,2015).
2) Ahmad Tafsir ,Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,
(Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992)
3. Metode pengumpul data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah
metode dokumentasi, yaitu metode yang dilakukan dengan mencari data
yang ada didalam buku-buku, artikel, majalah, karya ilmiah, internet dan
lain sebagainya yang memang berkaitan dengan judul skripsi.
4. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis
[Link] analisis ini dimaksudkan bertolak terhadap data-data
dan bermuara kepada kesimpulan-kesimpulan [Link] analisis
menggunakan content analysis (analisis isi), adalah penelitian yang
dilakukan pada informasi yang didokumentasikan didalam rekaman, baik
dalam gambar, suara, ataupun tulisan.25 Adapun langkah-langkah dalam
analisis data yaitu sebagai berikut :
a) Memilih dan menetapkan pokok pembahasan yang akan dikaji.
b) Mengumpulkan berbagai bahan kepustakaan seperti, buku-buku, karya
ilmiah serta bahan lainya yang masih berkaitan dengan materi.
25
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2015),h.309
12
c) Berbagai bahan yang telah dikumpulkan, kemudian akan dilakukan
klarifikasi dan analisa.
d) Menghubungkan dengan kerangka teori yang dipakai.26
F. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Agar dapat mencapai hasil penelitian karya ilmiah diharapkan dalam
penyusunan skripsi ini dan menghindari tumpang tindih pada pembahasan
penelitian, penulis melakukan suatu studi terdahulu, yakni penulis mengkaji
teori pembahasan yang relevan pada masalah penelitian maupun hasil
penelitian yang sebelumnya, penulis menemukan penelitian terdahulu sebagai
berikut :
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Candra
Syahputra yang berjudul, Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kearifan
Lokal Lampung Perspektif Pendidikan Islam,27Muhammad Candra Syahputra
telah menganalisis serta menemukan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam
5 unsur falsafah yang terkandung dalam kearifan lokal Lampung tersebut
yakni berjumlah 12 nilai pendidikan karakter yang memang sesuai dengan 18
nilai karakter dan budaya bangsa, yaitu: religius, mandiri, kerja keras, jujur,
disiplin, tanggung jawab, toleransi, cinta damai, demokratis,
bersahabat/komunikatif, peduli sosial dan peduli lingkungan. Seluruh nilai-
nilai pendidikan karakter diatas sesuai dengan nilai-nilai karakter dan budaya
26
Himyari Yusuf, Filsafat Kebudayaan, (Bandar Lampung : Harakindo Publishing,
2013),h.27
27
Muhammad Candra Syahputra, Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kearifan Lokal
Lampung Perspektif Pendidikan Islam, Tesis Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya, 2020.
13
[Link]-nilai karakter dalam kearifan lokal Lampung tersebut dapat
ditanamkan dan dikembangkan dalam dunia pendidikan baik sekolah dan
madrasah maupun di perguruan tinggi.
Nilai-nilai pendidikan karakter dalam kearifan lokal Lampung
perspektif pendidikan Islam, meliputi: beriman, mandiri, ikhtiar, jujur,
disiplin, tanggung jawab, saling menghargai, persaudaraan, musyawarah,
bersahabat, tolong-menolong, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Keseluruhan nilai-nilai pendidikan islam dalam kearifan lokal Lampung
mencakup dimensi ketuhanan dan dimensi sosial.
Sedangkan penelitian ini di fokuskan untuk menganalisis nilai-nilai
pendidikan islam yang terkandung dalam falsafah hidup Lampumg, dengan
harapan agar masyarakat mengetahui, memahami serta melestarikan Nilai-
Nilai Pendidikan Islam Dalam Falsafah Hidup Orang Lampung.
Kedua, Penelitian Yang Dilakukan Oleh Widya Lestari Yang
Berjudul, Relevansi Nilai Falsafah Piil Pesenggighi Masyarakat Lampung
Saibatin Terhadap Nilai-Nilai Pendidikan Islam.28Penelitian ini menganalisis
tentang relevansi nilai falsafah piil pesenggighi masyarakat Lampung
Saibatin terhadap nilai-nilai pendidikan islam. Hasil yang dicapai dari
penelitian ini bahwa nilai dalam falsafah piil pesenggighi masyarakat
Lampung saibatin terhadap nilai-nilai pendidikan Islam memiliki relevansi
yang sangat kuat.
28
Widya Lestari, Relevansi Nilai Falsafah Piil Pesenggighi Masyarakat Lampung
Saibatin Terhadap Nilai-Nilai Pendidikan Islam, Skripsi Fakultas Tarbiyah : UIN Raden Intan
Lampung, 2019.
14
Berdasarkan hasil penelitian tentang relevansi nilai-nilai falsafah piil
pesenggighi terhadap nilai-nilai pendidikan Islam khususnya nilai pendidikan
khuluqiyah, di desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung
Selatan, Widya Lestari mengambil kesimpulan bahwa :
1. Falsafah piil pesenggighi dan keempat unsur pendukungnya di desa
Kuripan kecamatan Penengahan masih sangat kuat, dapat dilihat dari
penerapan piil pesenggighi yang selalu ada dalam kegiatan atau acara
apapun dalam kehidupan masyarakat. Bentuk pelaksanaan juluk adok
yaitu pemberian gelar kepada individu sesuai dengan kelompok adat
dan kebiasaan individu. Bentuk pelaksanaan nemui nyimah yaitu tata
cara bertamu dan menerima tamu. Bentuk pelaksanaan nengah
nyappogh yaitu kegiatan musyawarah, baik dalam urusan desa,
agama, maupun adat, dan kegiatan yasinan. Bentuk kegiatan sakai
sambayan yaitu saling membantu dalam bidang pertanian, pesta
pernikahan, membangun rumah, serta membangun tempat ibadah.
2. Nilai-nilai yang terkandung dalam piil pesenggighi yaitu harga diri,
malu, dan berani. Nilai yang terkandung pada unsur bejuluk adok
yaitu prestise, doa, kepemimpinan, dan keteladanan. Nilai yang
terkandung pada unsur nemui nyimah yaitu sopan santun, berperilaku
baik, dan ikhlas. Nilai yang terkandung pada unsur sakai sambayan
yaitu tolong menolong, keikhlasan, 100 kebersamaan. Nilai yang
terkandung pada unsur nengah nyappogh yaitu pandai bergaul, supel,
mampu berkomunikasi.
15
3. Nilai-nilai falsafah piil pesenggighi sangat relevan dengan nilai-nilai
pendidikan Islam, dari semua penerapan piil pesenggighi di desa
kuripan semuanya relevan dengan nilai-nilai Islam. Seperti : a.
Relevansi yang diciptakan dari penerapan nilai-nilai Piil pesenggighi
dan nilai-nilai pendidikan Islam adalah malu melakukan keburukan
dan harga diri membela kebenaran. b. Relevansi yang diciptakan dari
penerapan nilai-nilai juluk adok dan nilainilai pendidikan Islam ialah
nilai kasih sayang, harapan, serta hormat terhadap pemimpin. c.
Relevansi yang diciptakan dari penerapan nilai-nilai Nengah
nyappogh dan nilai-nilai pendidikan Islam, melalui kegiatan
musyawarah dan yasinan adalah nilai silaturahmi, peduli sosial, dan
suka bergaul. d. Relevansi yang diciptakan dari penerapan nilai-nilai
Nemui nyimah dan nilai-nilai pendidikan Islam, melalui bentuk
kegiatan bertamu dan menerima tamu, adalah nilai hormat dan sopan
santun. e. Relevansi yang diciptakan dari penerapan nilai-nilai Sakai
sambayan dan nilai-nilai pendidikan Islam, melalui kegiatan tolong
menolong adalah nilai keikhlasan dan berjiwa sosial.
Hasil penelitian diatas memiliki perbedaan dari penelitian ini, adapun
perbedaanya ialah penelitian tersebut menganalisis relevansi piil pesenggiri di
desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan,
sedangkan penelitian ini akan menganalisis tentang Nilai-Nilai Pendidikan
Islam Dalam Falsafah Hidup Orang Lampung.
16
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Agus Restiana Dewi, yang
berjudul Proses Pembentukan Karakter Berbasis Falsafah Hidup Masyarakat
Lampung Di Tiyuh Gunung Terang Tulang Bawang Barat,29 menurut Agus
Restiana Dewi proses pembentukan karakter berbasis falsafah hidup
Lampung di Tiyuh Gunung Terang melalui beberapa tahapan yaitu, pertama
tahap pengenalan, kedua tahap pemahaman, ketiga tahap
pengulangan/pembiasaan, keempat tahap pembudayaan, kelima tahap
internalisis. Dari tahapan tersebut dapat membentuk suatu karakter, pantang
mundur (selalu menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya), bekerja keras
(ingin hidup sejajar dengan orang lain), tanggung jawab, empati (peka
terhadap lingkungan sekitar), silaturahmi, rendah hati, tolong menolong,
keikhlasan dll, karakter tersebut dapat dibentuk melalui falsafah hidup
masyarakat Lampung yang terdapat lima unsur didalam nya yaitu, Piil
Pesenggiri, Bejuluk adek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai
Sambayan. Agus Restiana Dewi mengangkat tentang pembentukan karakter
berbasis falsafah hidup Lampung di Tiyuh Gunung Terang, Tulang Bawang
Barat, sedangkan penulis dalam penelitian ini ialah untuk menganalisisNilai-
Nilai Pendidikan Islam Dalam Falsafah Hidup Orang Lampung.
29
Agus Restiana Dewi, “Proses Pembentukan Karakter Berbasis Falsafah Hidup
Masyarakat Lampung Di Tiyuh Gunung Terang Tulang Bawang Barat”, Skripsi, Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan, UIN Raden Intan Lampung, 2019
17
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Secara bahasa pendidikan dapat di maknai sebagai suatu proses
pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang maupun sekelompok orang
untuk mendewasakan diri seseorang melalui upaya pengajaran, pelatihan
dan pembimbingan. Pendidikan dapat diartikan juga sebagai suatu proses,
cara, atau perbuatan mendidik.30 Secara istilah, pendidikan adalah suatu
usaha secara terang-terangan dan terencana yang digunakan untuk
mewujudkan proses pembelajaran dan suasana dalam belajar peserta didik
secara aktif dapat mengembangkan kemampuan yang ada dalam dirinya
untuk dapat memiliki kekuatan spritual (keagamaan), pengendalian diri,
keperibadian,akhalak mulia, kepandaian, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.31
Adapun didalam konteks Islam, Pendidikan secara etijmologis berasal
dari bahasa Arab “Tarbiyah” yang artinya mengasuh, mendidik,
[Link] terminologis, Pendidikan ialah proses suatu bimbingan
dari pendidik yang mengarahkan anak didiknya dalam hal perbaikan sikap,
30
Novan Ardy Wiyani “Pendidikan Karakter Berbasis Total Quality Management”
(Yogyakarta : Ar-Ruzz Media 2018), h.71
31
Anwar Arifin, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Naional Dalam Undang-
Undang Sisdiknas, (Jakarta : Depag RI,2003), h.34
18
mental yang akan terwujud dengan amal perbuatan dalam bentuk pribadi
yang baik.32
Kata pendidikan yang umum kita gunakan sekarang dalam bahasa
Arab disebut Tarbiyah, dengan kata kerja [Link] kata
pengajaran dalam bahasa Arab disebut Ta’lim dengan kata kerjanya
„allama. Pendidikan dan pegajaran dalam bahasa Arab disebut tarbiyah wa
ta’lim, sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arab Tarbiyah
Islamiyah.33
Dalam bahasa arab, Para pakar pendidikan juga pada umumnya
menggunakan kata Tarbiyah untuk arti pendidikan.34Tarbiyah diartikan
dengan proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta
didik, agar ia memiliki sikap dan semangat yang tinggi dalam memahami
dan menyadari kehidupannya, sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti,
dan kepribadian yang luhur. Sebagai proses, tarbiyah menuntut adanya
penjenjangan dalam transformasi ilmu pengetahuan, mulai dari
pengetahuan dasar menuju pada pengetahuan yang sulit.35
Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan islam ialah pendidikan yang
lebih ditunjukkan terhadap perbaikan sikap ataupun mental yang akan
32
Fakultas Tarbiyah IAIN Lampung, Ilmu Pendidikan Islam, (Lampung : DEPAG,2015),
hal.4-5
33
Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,2011), h.25
34
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h.334.
35
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada
Media, 2010), h.13.
19
terwujud dalam suatu amal perbuatan, baik bagi kepentingan diri sendiri
maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis.36
Berdasarkan berbagai keterangan mengenai pengertian pendidikan
diatas maka dapat kita simpulkan bahwa pendidikan ialah suatu usaha
sadar untuk memberi suatu pembelajaran, bimbingan, pengarahan serta
pemeliharaan terhadap murid agar dapat memperbaiki sikap mental dan
menjadikan manusia yang seutuhnya.
2. Dasar Pendidikan islam
Dasar merupakan pangkal atau tolak ukur suatu aktivitas. Sebelum
melangkah untuk memaparkan apa saja dasar pendidikan islam, sebaik nya
penulis menjelaskan terlebih dahulu pengertian dari islam. Islam adalah
agama Samawi yang diturunkan oleh Allah SWT, melalui utusan-Nya
Nabi Muhammad SAW, yang ajarannya terdapat dalam kitab suci Al-
Qur‟an dan Sunnah dalam bentuk perintah, larangan, dan petunjuk untuk
kebaikan manusia, baik di Dunia maupun di Akhirat.37 Dapat kita
simpulkan bahwa ajaran atau dasar umat islam adalah Al-Qur‟an dan Al-
Hadits atau Sunnah.
Jalaludin pun menyepakati hal tersebut, menurutnya al-Qur‟an dan
Sunnah merupakan dua dasar bagi pendidikan Islam. Pendidikan Islam
dapat diartikan sebagai usaha pembinaan dan pengembangan potensi
manusia secara optimal sesuai dengan statusnya, dengan berpedoman
kepada syari‟at Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW agar
36
Daradjad,Ilmu Pendidikan...,h.19
37
M. Karim Abdul, Islam Nusatara, (Yogyakarta: Gama Media, 2007), h. 15.
20
manusia dapat berperan sebagai pengabdi Allah yang setia dengan segala
aktivitasnya guna tercipta suatu kondisi kehidupan yang Islami yang ideal,
aman, selamat, sejahtera dan berkualitas, serta memperoleh jaminan
(kesejahteraan) hidup di dunia dan akhirat.38
a. Al-Qur’an
Islam adalah agama yang membawa misi besar kepada umat
islam dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Ayat Al-
Qur‟an yang pertama kali turun yakni berkenaan (di samping masalah)
keimanan dan juga pendidikan. Hal itu telah dijelaskan dalam (Q.S
Al-Alaq:1-5) yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal [Link], dan Tuhanmulah Yang Maha
[Link] mengajar (manusia) dengan perantaran
[Link] mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya. (Q.S Al-Alaq:1-5)39
Ayat diatas dapat kita ambil pahami bahwa seakan-akan Tuhan
berkata, hendaklah manusia meyakini akan adanya Tuhan pencipta
manusia (dari segumpal darah). Kemudian, untuk memperkuat
keyakinanya dan memeliharanya agar tidak luntur, hendaklah
melaksanakan pendidikan dan pengajaran.
38
H. Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001), h. 72.
39
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.597
21
Kemudian tidak hanya itu, Allah swt, juga memberikan suatu
(materi/pendidikan) kepada manusia agar manusia dapat hidup
sempurna di dunia dan selamat diakhirat. Dalam hal ini dijelaskan
dalam (Q.S Al-Baqarah ayat : 31) yang berbunyi :
Artinya : Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-
benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada
para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-
orang yang benar!" (Q.S Al-Baqarah ayat : 31)40
Ayat tersebut menjelaskan bahwa dengan memahami segala
sesuatu belum cukup jika hanya memahami apa, bagaimana serta
manfaat benda itu, namun harus memahami sampai ke hakikat dari
sebuah benda tersebut.41
b. As-Sunnah
Menurut pengertian bahasa Arab As-Sunnah berarti tradisi yang
biasa dilakukan, atau jalan yang dilalui (al-thariqah al-maslukah) baik
yang terpuji maupun yang tercela.42
Selain dari kata As-Sunnah yang pengertianya telah dijelaskan
diatas, kita juga akan menemukan Al-Hadits, Al-Khabar, serta Al-
40
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.6
41
M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 23-24.
42
A. Khaer Suryaman, Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: IAIN,1982), h. 17 Dikutip dari
buku Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam.
22
Atsar. Sebagian para ulama mengartikan tiga kata tersebut sama
dengan As-Sunnah, adapun sebagian ulama pula membedakan artinya
dengan As-Sunnah. Dalam pandangan sebagian para ulama yang
akhir-akhir ini As-Sunnah diartikan sebagai sesuatu hal yang
dibiasakan oleh nabi Muhammad Saw., sehingga sesuatu hal banyak
dilakukan oleh nabi Muhammad Saw, daripada ditinggalkan.
Sementara itu hadits merupakan suatu hal yang disandarkan kepada
nabi Muhammad Saw. Baik dalam ucapan, perbuatan ataupun
ketetapan namun hal itu jarang dikerjakan oleh nabi. Selanjutnya ialah
Khabar adalah ucapan, perbuatan dan ketetapan yang berasal dari
sahabat. Kemudian Atsar ialah ucapan, perbuatan dan ketetapan yang
berasal dari tabi‟in.43
c. Ijma’
Ijma‟ dalam bahasa Arab diartikan sebagai kesepakatan atau
sependapat tentang sesuatu, seperti perkataan seseorang “kaum itu
telah sepakat (sependapat) tentang yang semikian itu”.Sedangkan
Secara istilah Ijma‟ adalah kesepakatan mujtahid umat Islam tentang
suatu hukum syara‟ peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah
[Link] [Link] contoh setelah beliauwafat maka
diperlukanya pengangkatan seseorang pengganti beliau yang
dinamakan khalifah, dalam hal ini kaum muslimin yang hadir pada
43
Dikutip dari buku Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam. Karya: A. Khaer Suryaman,
Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: IAIN,1982), h. 17.
23
waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah atas
kesepakatan bersama juga kemudian diangkatlah Abu Bakar Sebagai
khalifah yang [Link] pada awalnya ada sebagian yang
kurang menyetujui terhadap pengangkatan Abu Bakar, namun semua
kaum muslimin [Link] yang seperti ini dapat
dikatakan Ijma‟.44
Berdasarkan pernyataan diatas Ijma‟ ulama disebut sebagai
sumber hukum ketiga setelah AlQur‟an dan As-Sunnah. Hal ini
disebabkan karena pada hakikatnya Al-Qur‟an dan As-Sunnah
memang sumber utama dalam ajaran Islam itu sendiri, tetapi
memahami AlQur‟an dan As-Sunnah tanpa pendapat ulama sangatlah
sulit, bahkan tidak mungkin. Berikut hadits yang menerangkan tentang
Ijma Ulama yang artinya “Ulama adalah pewaris para Nabi”.
Bersamaan dengan pesatnya perkembangan zaman yang
semakin global serta mendesak, menjadikan esistensi ijtihad dalam
bidang pendidikan mutlak [Link] ijtihad pendidikan tidak
saja hanya sebatas bidang materi atau isi kurikulum, metode, evaluasi,
serta sarana dan prasarana, namun mencakup pada seluruh sistem
pendidikan, terutama pendidikan [Link] pendidikan adalah
sarana utama dalam membangun pranata kehidupan sosial serta
kebudayaan [Link] ini memberi arti bahwa maju
mundurnya maupun sanggup tidaknya kebudayaan manusia
44
Ahmad Sanusi dan Sohari, Ushul Fiqh, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 43-44.
24
berkembang secara dinamis sangat ditentukan oleh dinamika sistem
pendidikan yang [Link] ijtihad dalam mengantarkan
manusia kepada kehidupan yang dinamis harus selalu menjadi
cerminan dan jelmaan nilai-nilai serta prinsip pokok Al-Qur‟an dan
hadits. Proses ini akan dapat mengontrol semua aktivitas manusia
sekaligus sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.45
d. Adat Istiadat
Al-aadah secara bahasa al-„aadah diambil dari kata al-aud atau
almu‟awwadah yang artinya [Link] secara istilah adat
istiadat merupakan sesuatu yang dikenal masyarakat dan juga
merupakan suatu kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan
ataupun [Link] ulama ushul fiqh menyebut adat istiadat
sebagai urf, sekalipun dalam pengertian istilah namun tidak ada
perbedaan antara urf dengan adat istiadat, hal tersebut karena adat
istiadat telah dikenal oleh masyarakat, juga telah biasa dilakukan di
kalangan mereka, seolah-olah telah menjadi hukum tertulis, sehingga
terdapat sanksi-sanksi bagi siapa yang melanggarnya melanggarnya.46
Adat istiadat memiliki ikatan pengaruh yang kuat dikalangan
[Link] mengikat tersebut bergantung pada masyarakat
yang memang mendukung adat istiadat tersebut, terutama berpangkal
45
Faisol, Gus Dur & Pendidikan Islam Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan Di Era
Global, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 62-63.
46
Ahmad Sanusi dan Sohari, Ushul Fiqh, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 81-82.
25
tolak pada perasaan kebersamaan, idealisme dan keadilan.47 Kemudia
Adat Istiadat dijadikan hukum (al-„aadah muhakkamah) dalam
masyarakat Indonesia yang majemuk yang beragam suku bangsa,
etnis, ras, budaya, hal ini juga dapat dijadikan sumber hukum atau
dasar dalam pendidikan yang berwawasan multikultural yang tetap
menghargai adat-istiadat atau budaya, selagi adat-istiadat itu tidak
bertentangan dengan syariat Islam maka dapat dijadikan dasar hukum.
Para ulama sepakat bahwa “urf sahih” dapat dijadikan dasar hujjah
selama tidak bertentangan dengan syara‟.48
3. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan ialah suasana ideal yang ingin [Link] Pendidikan
Islam suasana tersebut terlihat pada tujuan akhir, biasanya dirumuskan
secara padat dan singkat, contohnya seperti kedewasaan, insan kamil atau
kebahagiaan dunia maupun akhirat.49
Tujuan Pendidikan Islam merupakan suatu perubahan yang
diharapkan pada subjek peserta didik setelah dilaksanakanya suatu proses
pendidikan.50
Hery Nor Aly dan Mundir Saputra mengatakan bahwa, tujuan
pendidikan islam terbagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum, pendidikan islam ialah mendidik individu mukmin
supaya tunduk, bertaqwa, dan beribadah secara baik kepada Allah,
47
Muazzin, Hak Masyarakat Adat (Indigenous Peoples) atas Sumber Daya Alam:
Perspektif Hukum [Link]. 1 No. 2, Tahun 2014, h. 328.
48
Ahmad Sanusi dan Sohari… Op. Cit. h. 84.
49
Muhammad Mustaqim dan Hikmatul Mustagfiroh,…[Link], h.109
50
M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h.31
26
sehinggga mendapatkan kebahagiaan dunia maupun akhirat.51 Sedangkan
tujuan khusus dari pendidikan islam ialah sebagai berikut :
a. Mendidikan individu yang sholeh dan memperhatikan segenap
dimensi perkembanganya : emosional, rohani, intelektual, social dan
fisik.
b. Mendidik anggota social yang saleh, dalam keluarga sendiri maupun
masyarakat yang notabene muslim.
c. Mendidik manusia yang saleh untuk masyarakat yang besar.
Ahmad Tafsir mengklasifikasikan tujuan pendidikan menjadi tiga
kategori yaitu :
a. Tujuan yang berhubungan dengan individu, baik jasmani ataupun
rohani serta suatu kemampuan yang perlu dimiliki untuk kehidupan di
dunia maupun akhirat.
b. Tujuan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, baik tingkah
laku saat berinteraksi dengan masyarakat, perubahan kehidupan
bermasyarakat dan pengkayaan pengalaman masyarakat.
c. Tujuan professional yang berhubungan dengan pendidikan maupun
pengajaran ilmu, seni, profesi, dan sebagai suatu aktivitas diataran
banyak aktivitas didalam kehidupan bermasyarakat.52
51
Hery Nor Aly dan Mundir Saputra, Watak Pendidikan Islam, (Jakarta : Friska Agung
Insani 2003),h.143
52
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1992),h.32
27
Disisi lain Samsul Nizar menekankan tujuan Pendidikan Islam harus
mempunyai dua hal yakni:
a. Pertama, dimensi dialektika horizontal, yakni seorang individu yang
mampu mengembangkan realitas kehidupan, baik untuk dirinya,
kehidupan bermasyarakat ataupun alam semesta beserta isinya.
b. Kedua, dimensi ketertundukan vertikal, yakni mengisyaratkat selain
sebagai suatu alat untuk memanfaatkan, melestarikan, atau dengan
memelihara sumber daya alami, juga hendaknya menjadi batu
loncatan untuk memahami suatu fenomena dan suatu misteri dalam
kehidupan agar mencapai hubungan yang abadi dengan sang kholiq.53
Sementara Zakiyah Darajat dalam buku ilmu pendidikan islam
membagi empat tujuan pendidikan islam yaitu, tujuan umum, tujuan akhir,
tujuan sementara, dan tujuan operasional.
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan seluruh kegiatan
pendidikan, yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik sikap, tingkah
laku, kebiasaan, penampilan dan masih banyak yang lainya. Maka dalam
hal ini, tujuan umum harus dikaitkan dengan tujuan nasional didalam suatu
Negara dalam merealisikan pendidikan, serta lembaga yang
menyelenggarakan pendidikan yang bersangkutan. Tujuan umum dapat
dicapai melalui suatu proses pembelajaran, pengalaman, pembiasaan,
penghayatan, dan keyakinan dalam suatu bentuk kebenaran.54
53
Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), h.26
54
Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992),h.30
28
Tujuan akhir ialah tujuan yang akan tercapai ketika masa kehidupan
telah berakhir artinya, tujuan ini dapat dilihat ketika peserta didik telah
meninggal dunia. Dalam hal ini tujuan peserta didik ialah insan kamil,
yang mati kemudian menghadap Allah dalam keadaan bertaqwa dan
muslim. Hal tersebut pun dapat kita pahami dalam firman Allah yang
berbunyi :
ٌٌٌٌٌٌٌٌٌٌٌٌٌ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali
kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S Al-
Imran: 102)55
Kemudian tujuan sementara ialah suatu tujuan yang akan dicapai
setelah peserta didik diberi suatu pengalaman yang memang sudah
ditentukan dalam suatu pendidikan formal. Artinya tujuan sementara ialah
suatu proses terbangunya insan kamil yang bertakwan mencakup semua
aspek pendidikan islam. Sedangkan tujuan operasional merupakan suatu
tujuan praktis tang akan dicapai dengan mencakup suatu kegiatan
pendidikan tertentu.56
Berdasarkan pemaparan diatas dapat kita pahami bahwa tujuan
pendidikan islam ialah untuk membuat suatu bentuk perubahan terhadap
seorang individu agar lebih baik dalam menyongsong kehidupan baik
untuk dirinya ataupun dalam kehidupan bermasyarakat serta bertaqwa
55
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.63
56
Ibid Zakiyah Darajat
29
kepada Allah melalui pengajaran , pengalaman, dan pembiasaan yang
diterapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan.
4. Ruang Lingkup Pendidikan Islam
Ruang lingkup pendidikan agama islam meliputi keserasian,
keselarasan, serta keseimbangan, baik antara hubungan manusia dengan
Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan
dirinya maupun hubungan manusia dengan makhluk lain dan
lingkunganya.57
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam identik dengan aspek-aspek
pengajaran agama Islam, sebab materi yang terdapat didalamnya adalah
perpaduan yang saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Jika dilihat
dari segi pembahasannya maka ruang lingkup pendidikan agama Islam
yang umum direalisasikan di sekolah ialah :
a. Pengajaran keimanan
Pengajaran keimanan merupakan proses belajar mengajar
mengenai aspek kepercayaan, tentunya dalam hal ini kepercayaan
menurut ajaran Islam, inti dalam pengajaran ini adalah tentang rukun
Islam.
b. Pengajaran akhlak
Pengajaran akhlak ialah bentuk pengajaran yang berkiblat pada
pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada suatu kehidupannya,
57
Sopian Sinaga, Problematika Pendidikan Agama Islam Di Sekolah dan Solusinya,
Jurnal Waraqat, Vol II, No.1 (Pendidikan Bahasa Arab : STAI As-Sunnah, Edisi Januari-Juni
2017),H.181
30
artinya pengajaran ini merupakan proses belajar mengajar dalam
mencapai tujuan agar yang diajarkan berakhlak baik.
c. Pengajaran ibadah
Pengajaran ibadah merupakan pengajaran mengenai berbagai
bentuk ibadah serta tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran
ini ialah agar siswa mampu melaksanakan ibadah secara baik dan
benar. Mengerti dengan segala bentuk ibadah dan juga agar
memahami arti dan tujuan pelaksanaan ibadah.
d. Pengajaran fiqih
Pengajaran fiqih merupakan pengajaran yang isinya
menyampaikan materi mengenai segala bentuk-bentuk hukum dalam
Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, serta dalil-dalil syar'i
yang lain. Tujuan pengajaran ini ialah agar siswa mengetahui dan
memahami tentang hukum-hukum dalam Islam dan agar
mengimplementasi didalam kehidupan sehari-hari.
e. Pengajaran Al-Quran
Pengajaran Al-Quran merupakan pengajaran yang bertujuan
supaya siswa dapat membaca Al-Quran serta mengerti arti dan
kandungan yang ada di setiap ayat-ayat [Link] tetapi pada
prakteknya hanya ayat-ayat tertentu yang di masukkan dalam materi
pendidikan agama Islam yang disesuaikan pada tingkatan
pendidikannya.
31
f. Pengajaran sejarah Islam
Tujuan pengajaran dari sejarah Islam adalah supaya siswa dapat
mengetahui tentang tumbuhnya serta berkembangnya agama Islam
dari awalnya hingga zaman sekarang sehingga siswa dapat mengenal
dan mencintai agama Islam.58
5. Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum ialah suatu komponen yang sangat berpengaruh untuk
menentukan suatu proses dalam sistem pendidikan, karena kurikulum
merupakan suatu alat agar tercapainya tujuan pendidikan dan sekaligus
menjadi suatu pedoman dalam melakukan pengajaran pada semua jenis
dan seluruh tingkatan pendidikan. Dengan demikian kurikulum yang
bersifat dinamis agar selalu dapat menyesuaikan berbagai perkembangan
yang akan terjadi. Kemudian bagi setiap pendidik harus senantiasa
memahami berbagai perkembangan kurikulum, karena hal itu merupakan
sebuah formulasi pedagogis yang terpenting dari konteks pendidikan,
dengan adanya kurikulum akan tergambarkan bagaimana usaha seorang
pendidik untuk membawa suatu perubahan terhadap siswa, baik dalam
mengembangkan potensinya, kecerdasa emosional, intelektual, sosial,
spiritual dan lain sebagainya59
Secara garis besar kurikulum merupakan suatu landasan yang
digunakan oleh seorang pendidik untuk membimbing peserta didik
58
Jumrida Husni, “Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam”(Online), Tersedia di
:[Link]
2020
59
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h. 149.
32
kedalam suatu tujuan yang akan dicapai melalui akumulasi sejumlah
pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental. Disini kurikulum setidaknya
mampu mencakup empat hal yaitu :
a. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
b. Isi pelajaran atau materi, yakni seperangkat pengetahuan, aktivitas-
aktivitas, ilmu data, serta pengalaman yang menjadi sumber
terbentuknya kurikulum.
c. Metode mengajar, yaitu cara dalam mengajar dan bimbingan yang
diikuti oleh siswa agar mendorong mereka kerah yang dikehendaki
berdasarkan tujuan.
d. Metode penilaian, yakni sebuah cara yang bertujuan untuk mengukur
hasil dari berbagai proses pembelajaran.
Lantaran kurikulum menjadi sebuah kerangka landasan dalam proses
pembelajaran maka kurikulum harus dirumuskan sedemikian rupa. Supaya
tercapainya tujuan dan mampu berdialog dengan realitas peserta didik dan
pendidik yang ada.60
6. Nilai-nilai Pendidikan Islam
Menurut Abu Ahmadi dan Noor Salimi, nilai adalah suatu seperangkat
keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai identitas yang
memberikan corak khusus terhadap pola pemikiran, perasaan, keterikatan,
60
Muhammad Mustaqim dan Hikmatul Mustagfiroh, Pendidikan Islam Berbasis
Multikulturalisme, Dalam Jurnal ADDIN, Vol.7, No.1 (STAIN Kudus Februari 2013),h.113
33
dan prilaku.61Sedangkan Hamid Darmadi mengemukakan bahwa nilai atau
value termasuk bidang ataupun kajian tentang [Link] nilai dalam
filsafat digunakan untuk menunujukan kata benda yang abstrak, dapat
diartikan sebagai “keberhargaan” atau kebaikan dan kata kerja yang
diartikan sebagai suatu tindakan kejiawaan tertentu dalam melakukan
penilaian.62
Adapun pengertian pendidikan islam yang telah dijelaskan diatas
yakni sebuah upaya atau proses yang lakukan agar menciptakan manusia
yang seutuhnya (insan kamil), beriman dan bertaqwa kepada Allah serta
mampu mewujudkan eksistensinya sebagai seorang khalifah dimuka bumi,
yang berlandaskan pada Al-Qur‟an dan Sunnah.63
Berdasarkan dari pengertian pendidikan Islam yang telah dijelaskan di
atas sudah sangat jelas bahwa, nilai tidak dapat lepas dari subtansi ajaran
Islam itu sendiri lebih dari itu fungsi pendidikan Islam merupakan pewaris
dan juga pengembangan nilai-nilai dienul Islam serta memenuhi aspirasi
masyarakat dan kebutuhan tenaga di segala tingkat maupun bidang
pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Nilai
pendidikan Islam patut ditanamkan kepada anak sejak dini agar mereka
mengetahui nilai-nilai agama di kehidupannya.64
61
Bekti Taufiq Adi Nugroho dan Mustaidah, Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam
Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PMPN Mandiri, Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, (IAIN
Salatiga, februari 2017),h. 17
62
Hamid Darmadi, Dasar Konsep Pendidikan Moral, Landasan Konsep Dasar dan
Implementasi, (Bandung : Alfabeta,2007), h.67
63
Armei Arif, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam, (Jakarta : Cip-tat Pers,
2002),h.3
64
Muhammad Tholhah hasan, Dinamika Pemikiran tentang Pendidikan Islam,
(Jakarta:Lantabora Press, 2012), hlm.2
34
Sudut pandang dari nilai-nilai agama di antaranya, dimensi kayakinan
dan akidah dalam Islam yang menunjukkan pada seberapa besar tingkat
keyakinan muslim terhadap kebenaran ajaran agamanya, terutama terhadap
berbagai ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik yang terdapat
dalam keberIslaman, isi pada dimensi keimanan menyangkut keyakinan
mengenai Allah, para malaikat, Nabi/Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan
neraka serta qadha dan qadar.65 Aspek suatu akidah didalam dunia
pendidikan Islam pada dasarnya merupakan suatu proses pemenuhan fitrah
bertauhid ketika berada di alam arwah manusia dan telah mengikrarkan
ketauhidannya itu sebagaimana yang sudah ditegaskan dalam QS Al-a‟raf
ayat 172 yang berbunyi:
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌٌ
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?"
mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", ([Link]-a‟raf ayat
172)66
Sudut Pandang terhadap praktik agama atau syari‟ah berkaitan dengan
pelaksanaan salat, puasa, zakat, haji, membaca al-Qur‟an, do‟a, zikir,
65
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. Upaya mngefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 293
66
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.173
35
ibadah qurban, i‟tikaf di mesjid pada bulan puasa, dan sebagainya.
Berbagai hal tersebut termasuk dalam kegiatan ubudiyah yang merupakan
pengabdian ritual sebagaimana telah diperintahkan kemudian diatur di
dalam al-qur‟an dan sunnah. Aspek ibadah disamping bermanfaat bagi
kehidupan duniawi, namun yang paling utama ialah sebagai bukti dari
kepatuhan umat manusia dalam memenuhi perintah perintah Allah SWT.67
Sudut Pandang berdasarkan pengalaman atau akhlak menunjukkan
pada seberapa muslim berperilaku sesuai yang telah dimotivasi oleh
ajaran-ajaran agamanya, yakni bagaiamana individu tersebut berelasi
terhadap dunianya, terutama dengan manusia lain. Seraya keberIslaman,
sudut pandang ini meliputi suka tolong menolong, kerjasama, berderma,
mensejahterakan serta menumbuh kembangkan orang lain dan
sebagainya.68
Berdasarkan keterangan diatas dapat kita pahami bahwa terdapat tiga
sudut pandang yang dapat membentuk nilai-nilai agama yakni, pertama
sudut pandang berdasarkan akidah atau kepercayaan terhadap Allah SWT,
kedua sudut pandang berdasarkan syariah atau praktik agama, dan yang
ketiga ialah akhlak seorang individu yang bertakwa kepada Allah, ketiga
hal tersebut tidak dapat terpisahkan karena ketiga hal tersebut saling
berkesinambungan dan saling melengkapi. Jika seseorang telah
mempunyai akidah atau kepercayaan terhadap Allah maka seseorang
67
Zulkarnain, Transformasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam, hlm. 28
68
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. Upaya mngefektifkan Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm.298
36
tersebut akan melaksanakan syariah yang telah diperintahkan Allah SWT,
serta rajin dalam melaksanakan ibadah demi memperbaiki akhlakul
karimahnya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tentang pengertian nilai dan
pendidikan islam, maka dapat pahami bahwa nilai-nilai pendidikan islam
ialah sebuah perangkat keyakinan yang berharga yang terdapat dalam
prasaan manusia sesuai dengan ajaran dan aturan yang diterapkan agama
islam guna mencapai insan kamil (manusia seutuhnya). Nilai-nilai tersebut
diajarkan untuk menata suatu keyakinan terhadap keimanan dan untuk
memperbaiki tingkah laku dikehidupan sehari-hari yang berlandaskan
Al'Quran‟dan Sunnah.
Penanaman terhadap nilai-nilai religius tersebut tidak hanya untuk
peserta didik saja namun juga penting dalam memantabkan etos kerja
maupun etos ilmiah bagi tenaga kependidikan disuatu madrasah, agar
kemudian dalam melaksanakan suatu tugas dan melaksanakan tanggung
jawab dengan [Link] juga agar tertanam pada jiwa tenaga
kependidikan bahwa memberikan suatu pendidikan dan pembelajaran pada
anak didik bukan semata-mata bekerja untuk mencari uang, namun
merupakan bagian dalam melaksanakan ibadah. Beberapa nilai-nilai akan
dijelaskan sebagai berikut:69
69
Agus Maimun dan Agus Zainul Fitri, Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif, (Malang : UIN MALIKI PRESS, 2010), hlm.83
37
1. Nilai Pendidikan Akhlak
Pendidikan Akhlak merupakan suatu aspek yang tidak dapat
dipisahkan dari pendidikan agama, karena yang baik menurut akhlak,
sudah tentu baik pula menurut agama, dan sesuatu yang buruk
menurut ajaran agama akan buruk juga menurut akhlak. Akhlak
merupakan penerapan dari keimanan yang dimiliki oleh seseorang.
Kata akhlak berasal dari bahasa arab yaitu jama‟ dari khuluqun, yang
secara bahasa artinya: budi pekerti, perangai, tingkah laku, watak atau
tabiat.70
Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa akhlak selalu
berhubungan dengan aktivitas manusia baik dalam hubungan dengan
dirinya, dengan orang lain sekalipun dengan lingkungan sekitarnya.
Ahmad Amin mengatakan akhlak merupakan suatu ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk, menjelaskan apa yang sepatutnya
dilakukan oleh seorang manusia terhadap yang lainnya, dan
menyatakan apa tujuan yang harus dituju oleh manusia pada perbuatan
yang mereka lakukan serta mengarahkan untuk melakukan apa yang
harus dilaksanakan.71
Secara umum ahlak terbagi menjadi tiga ruang lingkup yaitu
akhlak kepada Allah SWT, Akhlak kepada manusia dan akhlak
kepada lingkungan.
a) Akhlak kepada Allah SWT
70
Hamzah Ya‟qub, Etika Islam, (Bandung: CV, Diponegoro, 2006), h. 11
71
Ibid.,h.12
38
Akhlak kepada Allah SWT bisa diartikan sebagai suatu
sikap atupun perbuatan taat yang sepatutnya dilakukan oleh
manusia sebagai makhluk, terhadap Tuhan sebagai khalik sebab
pada dasarnya manusia hidup mempunyai berbagai kewajiban
makhluk kepada khaliknya sesuai dengan tujuan dan telah
ditegaskan pada firman Allah SWT, dalam surat adz-Zariyat
ayat 56 yang berbunyi :
ٌٌٌٌٌٌٌ
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S Adz-Zariyat
ayat 56)72
b) Akhlak terhadap sesama manusia
Manusia yang dikatakan sebagai makhluk sosial tidak
dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain, baik orang
kaya akan membutuhkan pertolongan orang miskin begitupun
sebaliknya, sebagaimana pun tingginya pangkat seseorang sudah
tentu ia akan membutuhkan rakyat jelata begitu pula dengan
rakyat jelata, hidupnya akan terbengkalai jika tidak ada orang
berilmu yang akan menjadi pemimpin. Adanya rasa saling
membutuhkan ini membuat manusia sering mengadakan
hubungan satu sama lain, jalinan hubungan ini sudah tentu
terdapat pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab
itu, setiap orang sepantasnya melakukan suatu perbuatan dengan
72
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.523
39
baik dan wajar, sebagai contoh seperti tidak masuk kerumah
orang lain tanpa izin, berupaya mengeluarkan ucapan yang baik
dan benar, tidak mengucilkan orang lain, tidak berprasangka
buruk, dan tidak memanggil dengan sebutan yang buruk.73
Kesadaran dalam hal berbuat baik sebanyak mungkin
terhadap orang lain, akan melahirkan suatu sikap dasar untuk
mewujudkan keselarasan, serta keseimbangan pada hubungan
manusia baik secara pribadi maupun pada masyarakat
lingkungannya. Adapun kewajiban bagi setiap orang agar
menciptakan lingkungan yang baik ialah berawal dari diri
sendiri. Jika tiap pribadi mau bertingkah laku yang mulia maka
akan tercipta suatu masyarakat yang aman dan bahagia.
Abdullah Salim mengatakan bahwa yang termasuk dalam
cara berakhlak kepada sesama manusia ialah sbagai berikut :
a) Menghormati perasaan orang lain,
b) Memberi salam dan menjawab salam,
c) Pandai berterima kasih,
d) Memenuhi janji,
e) Tidak boleh mengejek,
f) Jangan mencari-cari kesalahan orang lain, dan
73
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h.149
40
g) Jangan menawarkan sesuatu yang sedang ditawarkan
orang lain.74
Sebagai manusia yang tidak lepas dari orang lain maka
perlunya untuk berbuat baik terhadap sesama, tidak
menghina,tidak merendahkan dan tidak mencari-cari kesalahan
orang lain.
c) Akhlak terhadap lingkungan
Segala sesuatu yang ada di sekitar manusia ialah
Lingkungan, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-
benda tidak [Link] dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-
Qur‟an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia
sebagai khalifah.
Binatang, tumbuhan, serta benda-benda yang tidak
bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah SWT., dan menjadi
milik-Nya, serta semua mempunyai ketergantungan kepada-
Nya. Keyakinan ini yang mengantarkan seorang muslim untuk
menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Allah yang
seharusnya diperlakukan secara wajar dan baik.75 Sebagaimana
firman Allah SWT dalam Surat Al-An‟aam : 38 yang berbunyi :
74
Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat), (Jakarta:
Media dakwah, 2009), h. 155-158
75
[Link] diakses pada tanggal 30 April
2020, Pukul 12:32
41
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌٌٌٌٌٌ ٌٌٌٌٌ
Artinya : Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan
burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya,
melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami
alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada
Tuhanlah mereka dihimpunkan (Q.S Al-An‟aam : 38)76
2. Nilai Pendidikan Aqidah
Kata aqidah berasal dari Bahasa Arab ialah aqada-yakidu, aqdan
yang artinya mengumpulkan ataupun mengokohkan, dari kata tersebut
dibentuk kata [Link] Syafruddin Anshari berpendapat bahwa
aqidah merupakan keyakinan hidup dalam arti khas yaitu pengikraran
yang bertolak dari hati.77Dalam melakukan pembinaan mengenai
nilai-nilai aqidah ini mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap
kepribadian anak, kepribadian anak tidak didapatkan selain dari orang
tuanya, pembinaan tidak dapat diwakili dengan sistim pendidikan
yang matang.78
Berdasarkan uraian tersebut, jadi aqidah merupakan sebuah
konsep yang mengimani manusia terhadap semua perbuatan dan
prilakunya kemudian bersumber pada konsepsi [Link]
76
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur‟an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h. 132
77
Endang Syafruddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-pokok Pemikiran Tentang Islam,
(Jakarta: Rajawali,2010), h. Cet- 2, h. 24
78
Muhammad Nur Abdul Hafidz, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, penterjemah
Kuswah Dani, judul asli Manhajul al-tarbiyah al-Nabawiyah Lil-al Thifl, (Bandung: Albayan,
2007), h, 108
42
aqidah Islam dijabarkan melalui rukun iman dan beberapa cabangnya
seperti tauhid ulluhiyah atau menjauhkan diri dari perbuatan syirik,
aqidah Islam berkaitan pada keimanan. Seorang anak yang berusia 6
sampai 12 tahun harus mendapatkan pembinaan aqidah yang kuat,
sebab jika anak telah menginjak usia dewasa mereka tidak terombang-
ambing oleh lingkungan mereka. Penanaman aqidah yang kuat pada
diri anak akan membawa anak kepada pribadi yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah SWT.79 Hal tersebut menjadi tugas bagi orang
tua agar menanamkan aqidah sejak dini kepada anaknya, agar
kemudian anak tersebut selain bertakwa kepada Allah, juga harus
menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik serta berguna
baik dalam lingkungan masyarakat, dalam kehidupan berbangsa
ataupun bernegara.
Pada umunya inti poin dalam pembahasan mengenai aqidah
adalah rukun Iman, yakni iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat,
iman kepada Kitab, iman kepada Rasul, iman kepada hari Akhir, dan
iman kepada Qada dan Qadar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
Q.S An-Nissa ayat 136 berbunyi :
79
Abduurahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat,
(Jakarta: Gema Insani Press, tth), h.84
43
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌٌٌٌٌٌٌٌ
Artinya :Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah
dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada
rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka
Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. (Q.S An-
Nissa Ayat 136)80
Ayat diatas memerintahkan manusia agar tetap yakin dan
mengimani keenam rukun iman yaitu iman kepada Allah, Iman
kepada Malaikat, iman kepada Kitab, iman kepada Rasul, iman
kepada hari Akhir, dan iman kepada Qada dan Qadar. Namun jika
tidak mengimani dan meyakini rukun iman tersebut maka
sesungguhnya manusia tersebut akan tersesat sejauh-jauhnya.
3. Nilai Pendidikan Ibadah
Nilai pendidikan Ibadah merupakan standar dari ukuran
seseorang dalam suatu proses mengamalkan wujud dari perbuatan
yang dilandasi rasa pengabdian kepada Allah SWT. Maka dalam hal
ini ibadah merupakan kewajiban agama Islam yang tidak dapat
dipisahkan dari aspek keimanan, sebab keimanan ialah pundamen
sedangkan ibadah merupakan manifestasi dari keimanan tersebut.81
80
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.100
81
Achyar Zein, Syamsu Nahar dan Ibrahim Hasan, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam
Al-Qur’an (Telaah Surat Al-Fatihah)”. Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 1 No.1 (Juli-Desember
2017),h.63
44
Abu A‟alal Maudi menerangkan bahwa ibadah asal kata dari
Abd yang artinya “pelayan dan budak”. Maka hakikat ibadah ialah
[Link] dalam arti terminologinya ibadah ialah usaha
mengikuti hukum serta aturan- aturan Allah SWT dalam menjalani
kehidupan yang sesuai dengan segala perintahnya, mulai dari akil
balig sampai meninggal dunia.82
Dengan demikian dapat kita dipahami bahwa ibadah adalah
ajaran yang ada dalam agama Islam yang tidak dapat dipisahkan dari
keimanan, sebab ibadah merupakan perwujudan dari keimanan. Allah
SWT telah menerangkan mengenai pembinaan ibadah ini,dalam Q.S
Thahaa ayat 132, yang berbunyi:
Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan
Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta
rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan
akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (Q.S
Thahaa ayat 132)
Ayat tersebut memerintahkan seseorang hamba agar
memerintahkan keluarganya menjalankan ibadah sesuai syariat islam
seperti sholat, kemudian ayat tersebut pun mengingatkan untuk selalu
bersabar dalam mengerjakanya. Maka sudah jelas bahwa manusia
dituntut untuk beribadah sebab hal itu akan menjadi bekal untuk kita
mengahadap Allah SWT di akhirat kelak.
82
Abdul A‟ala al-Maududi, Dasar-dasar Islam, (Bandung, Pustaka, 2014), h. 107
45
B. Falsafah Hidup Lampung
1. Pengertian Falsafah Hidup Lampung
Indonesia telah dikenal dengan banyak budayanya yang
[Link] budaya tersebut terlihat dari seberapa banyak
terdapat suku-suku masyarakat yang ada di [Link] suku
tersebut masing-masing mempunyai bahasa, tarian dan juga kesenian
yang berbeda [Link]-masing suku yang ada di Indonesia biasanya
mempunyai falsafah hidup yang telah disepakati dan diimplementasikan
oleh [Link] itu digunakan sebagai pedoman atau
pandangan hidup kemudian dijadikan sebagai suatu tuntunan untuk
masyarakatnya dalam menjalankan kehidupan [Link]
kelompok masyarakat mempunyai batasan-batasan dan arahan-arahan
agar terciptanya keselarasan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Falsafah hidup yang dianut oleh masyarakat di Indonesia, biasanya akan
berbeda dalam setiap kelompok masyarakatnya. Hal tersebut disebabkan
karena falsafah hidup yang dianut serta dijalani oleh masyarakat, harus
bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat atau kondisi
sosial yang berbeda dalam tiap kelompoknya.83
Salah satu falsafah hidup yang terdapat di Indonesia adalah falsafah
hidup yang berada di daerah [Link] adalah salah satu
Provinsi yang mempunyai banyak sekali warga pendatang dari berbagai
daerah di Indonesia, dan memiliki falsafah hidup yang dianut serta
83
Camelia Arni Minandar, Aktualisasi Piil Pesenggiri Sebagai Falsafah Hidup
Mahasiswa Lampung Di Tanah Rantau, Dalam Jurnal Sosietas, VOL. 8, NO. 2, (SMA Negeri 7
Bandung, Edisi 2018), h.517-518
46
dijalankan oleh masyarakatnya sampai saat [Link] hidup itu dikenal
oleh masyarakat dengan sebutan “Piil Pesenggiri”.Kemudian setiap
unsur dari piil pesenggiri ini terus diperkenalkan serta disosialisasikan
terhadap masyarakat Lampung supaya dipraktekkan pada kehidupan
sehari-harinya (Lintje Anna Marpaung, 2013, hlm. 124).Piil Pesenggiri
ini sendiri merupakan kumpulan dari falsafah yang bersumber dalam
kitab-kitab yang dianut oleh masyarakat Lampung.84
Seperti yang dijelaskan oleh Fachruddin dan Haryadi (1996),
bahwa Piil Pesenggiri merupakan butir-butir falsafah yang bersumber
dari kitab-kitab adat yang dianut oleh ulun lampung, yaitu kitab Kuntara
Rajaniti, Cempala dan Keterem. Ajaran yang terdapat dalam kitab
tersebut diajarkan dari mulut ke mulut melalui penuturan para pemangku
adat dari generasi ke generasi (hlm. 3). Di dalam Piil Pesenggiri terdapat
nilai serta norma yang mengatur cara hidup masyarakat Lampung sebagai
makhluk sosial. Piil pesenggiri tersebut mencakup nilai-nilai luhur dan
hakiki yang menunjukkan suatu kepribadian dan jati diri masyarakat
Lampung sendiri, sebab nilai-nilai luhur yang terdapat dalam falsafah
hidup tersebut sesuai dengan kenyataan hidup orang Lampung.85
Falsafah Hidup Lampung adalah suatu tatanan moral yang ada
dalam masyarakat Lampung dengan maksud untuk dapat memenuhi
kehidupan dan penghidupanya sekaligus menjadi ciri khas masyarakat
84
Ibid. h.517
85
Ibid, Camelia Arni Minandar… h.518
47
Lampung.86 Falsafah hidup Lampung tersebut memiliki beberapa unsur,
adapun unsur-unsur tersebut ialah Piil Pesenggiri, Bejuluk Adek, Nemui
Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan.
2. Unsur-Unsur Falsafah Hidup Lampung
Dalam ajaran budaya Lampung yang termaktub dalam falsafah
hidup masyarakat Lampung terdiri dari lima unsur yang menjadi satu
kesatuan yaitu Piil Pisenggiri, Bejuluk Adek, Nemui Nyimah, Nengah
Nyappur, dan Sakai Sambayan.87
a. Piil Pisenggiri
Piil Pesenggiri sebagai suatu kearifan lokal ulun Lampung
yang menjadi istimewa karena piil pesenggiri bukan semata-mata
merupakan hasil rumusan dari pihak kerajaan yang memiliki
kekuasaan yang tak terbatas, namun merupakan pemberdayaan
masyarakat dengan cara membangun character building.88Piil
pesenggiri merupakan butiran-butiran falsafah hidup yang
bersumber dalam ajaran kitab adat yang sejak dulu telah dianut
oleh masyarakat Lampung, kitab yang dianut tersebut ialah kitab
Kuntara Rajaniti, kitab Keterem, serta kitab Cempelem. Kitab adat
86
Rizani Puspawidjaja, Hukum Adat dalam Tebaran Pemikiran, (Bandar Lampung :
Universitas Lampung,2006),h.158
87
Himyari Yusuf, Filsafat Kebudayaan : Strategi Pengembangan Kebudayaan Berbasis
Kearifan Lokal (Bandar Lampug : Harakindo Publishing,2013),h.110
88
Fachrudin, Falsafah Piil Pesenggiri Sebagai Kearifan Kota Lampung Teraktualisasi
Melalui Pendidikan Non Formal, Jurnal Perspektif Ilmu Pendidikan - Vol. 15 Th. VIII (Edisi April
2007)
48
tersebut diajarkan kepada masyarkat Lampung melalui penuturan
pemangku adat dari mulut ke mulut.89
Selanjutnya menurut Hilman Hadi Kesuma Istilah Pi’il
sendiri mengandung arti rasa ataupun pendirian yang
dipertahankan, danpesenggiri yang mengandung sebuah arti
sebagai nilai harga diri. Maka Pi’il pesenggiri ialah rasa harga
diri.90 Disisi lain Rinzani Puspawidjaja (2001) berpendapat bahwa
Piil (Fiil=arab) artinya perilaku, dan Pisenggiri yang artinya
bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, tahu hak, dan kewajiban.91
Kemudian Aksel Zanecha menuturkan pendapat bahwa piil
pesenggiri mengandung arti memiliki suatu hubungan yang sangat
erat dengan pantang mundur dan harga diri, bekerja keras, berani
kompetisi dan pantang menyerah terhadap tantangan yang ada.92
Berdasarkan keterangan diatas, dapat kita pahami bahwa
esensi dari pi‟il pesenggiri ialah seseorang harus mempunyai rasa
harga diri atau rasa malu untuk menjaga suatu kehormatan dirinya
agar dapat hidup sejajar dan tidak saling menjatuhkan serta
melecehkan dengan orang lain. Harga diri tersebut bukan diartikan
sebagai suatu rasa untuk membanggakan ataupun membuat dirinya
89
Camelia Arni Minandar, Aktualisasi Piil Pesenggiri Sebagai Falsafah Hidup
Mahasiswa Lampung Di Tanah Rantau, Juornal Sosietas,Vol.8,No.2,(2018)
90
Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung (Bandung : Mandar
Maju,1989),h.16
91
Farida Aryani , dkk, Konsepsi Piil Pesenggiri Menurut Masyarakat Adat Lampung
Waykanan di Kabupaten WaykananSebuah Pendekatan discourse Analysis(Bandar Lampung :
Aura Printing dan Publishing,2015),h.15
92
Aksel Zanecha, “Local Wisdom Piil Pesenggiri – Lampung”, diakses dari
[Link]
pada 29 April 2020, pukul 13 : 44 Wib.
49
besar namun harga diri yang diungkapkan dalam pi‟il pesenggiri ini
ialah sebuah motivasi agar hidup selalu memperjuangkan nilai
positif, lebih bersemangat, lebih percaya diri, serta sanggup
menerima tantangan, dan tidak mudah putus asa.
b. Bejuluk Adek
Juluk adalah nama lain atau gelar yang diberikan kepada
seseorang yang masih kecil atau belum menikah yang sifatnya juga
bertingkat, sedangkan Adek adalah nama lain atau gelar yang
diberikan kepada seseorang (orang Lampung) yang telah menikah
yang sifatnya juga bertingkat/[Link] kekerabatan dalam
keluarga dan hubungan pada masyarakat adat Lampung terdapat
sebuah istilah yang disebut dengan tutokh, (juluk adek).93
Bejuluk adek tersebut mengandung sebuah arti suka terhadap
nama baik serta gelar yang terhormat. Sejak kecil orang Lampung
baik itu pria ataupun wanita tidak hanya diberi nama saja oleh sang
ayah, namun diberi juga “Juluk” yaitu panggilan (gelar kecil) dari
kakeknya. Manakala jika ia sudah dewasa dan juga berumah tangga
kemudian ia akan memakai “Adek” yaitu (gelar tua) yang akan
diresmikan juga diupacarakan langsung dihadapan para
sesepuh/tua-tua adat. Dan biasanya akan langsung diumumkan
nama “amai” (panggilan kerabat untuk seorang pria) dan “inai”
(panggilan kerabat untuk seorang wanita) dalam upacara adat
93
[Link]
(diakses pada tanggal, 4 Mei 2020, pukul 13:23 wib)
50
tersebut. Gelar itupun tidak hanya berfungsi sebagai panggilan saja
namun gelar atau panggilan tersebut ada kaitanya dengan
kedudukan dan juga pembagian kerja pada kerabat.94 Sebagai
contoh :
Nama (Pria) : Anwar
Juluk : Ratu Gusti
Adek : Pangeran Ratu Gusti
Amai : Amai Pangeran
Nama(Wanita) : Maimunah
Juluk : Ratu Pengatur
Adek : Minak Ratu Pengatur
Inai : Inai Ratu
Gelar dan kedudukan adat yang tingi menjadi suatu
kebanggan tersendiri bagi mereka, mereka bangga akan
kemampuan, keturunan dan kerabatnya. Karena mereka tidak mau
keturunannya dicela, diejek dan tidak mau jika keturunanya diberi
sebutan “beduwou” (budak).95Orang yang telah mempunyaigelar
adat yang tinggi harus bisa menjadi seorang pemimpin yang
bertanggung jawab, karena dia dianggap sebagai pengayom gelar
adat dibawahnya. Falsafah ini adalah cerminan dari syariat Islam,
94
Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung (Bandung : Mandar
Maju,1989),h.130-131
95
Ibid..
51
firman Allah yang terdapat dalam dalam QS an-Nisa ayat 59 dan
ditegaskan kembali dalam QS AsSajdah ayat 24 :
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ ٌ
ٌٌٌٌٌٌٌ ٌ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.(QS an-Nisa ayat 59)96
Berdasarkan penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa
bejuluk adek merupakan sebuah nama baik yang diberikan kepada
anak anak mereka melalui suatu proses upacara adat, bejuluk adek
pun dapat diartikan sebagai suatu simbol kepemimpinan. Sebab
masyarakat suku Lampung yang memiliki gelar adat yang tinggi
akan dianggap sebagai panutan dan pengayom masyarakatnya, oleh
karena itu seseorang yang memliki gelar tinggi akan merasa malu
jika berlaku yang tercela dan tidak sepantasnya.
c. Nemui Nyimah
Nemui secara bahasa berasal dari kata benda yaitu temui yang
berarti tamu, dan kemudian menjadi kata kerja yakni nemui yang
96
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT. Cipta
Media,2005),h.87
52
artinya mertamu ataupun silaturahmi/mengunjungi, kemudian
nyimah yang berasal dari kata benda yaitu simah, yang kemudian
menjadi suatu kata kerja yakni nyimah yang diartikan sebagai
memberi atau pemurah. Secara harfiah nemui nyimah dapat
diartikan sebagai suatu sikap pemurah, suka memberi, santun,
terbuka tangan, dan menerima yang sesuai kemampuanya.97
Nemui ialah menerima kedatangan tamu ataupun bertamu
kepada orang lain, sedangkan“nyimah” ialah suka memberi sesuatu
pada tamu, ataupun anggota kerabat sebagai suatu simbol tanda
ingat, dan juga tanda akrab antar kerabat. Hal tersebuttelah melekat
dan menjadi adat istiadat bagi orang Lampung sejak bujang gadis
suka layan melayan, saling memberi, juga saling kirim mengirim
baik setelah mereka dewasa maupun setelah berumah tangga.98
Nemui Nyimahmerupakan perwujudan asas kekeluargaan
yang bertujuan untuk menciptakan sebuah sikap keakraban,
menjalin tali silaturahmi dan kerukunan. Nemui Nyimah menjadi
suatu kewajiban bagi masyarakat Lampung agar tetap terjalin baik
tali silaturahmi, tetap memelihara suatu prinsip keterbukaan,
kepantasan ataupun kewajaran. Dalam konteks kehidupan
97
Muhammad Candra Syahputra, “Pendidikan Multikultural dalam Budaya Nemui
Nyimah” (EL-HIKMAH : Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam, Vol 14, No.1 Juni 2020),
hal.90
98
Ibid,h.132
53
masyarakat Nemui Nyimah dapat diterjemahkan sebagai suatu sikap
kepedulian sosial atau rasa setiakawan.99
d. Nengah Nyappur
Nengah Nyappur terbagi menjadi dua kata “nengah” yaitu
ketengah dalam artian bergaul dan juga terbiasa, sedangkan
“nyappur” yaitu bercampur atau berinteraksi kepada orang lain. 100
Nengah Nyampur ialah suatu gambaran rasa sosial yang
tinggi dari masyarakat Lampung yang senantiasa bergaul,
bersahabat, dan selalu mengutamakan rasa kekeluargaan kepada
siapa pun dengan tidak membedakan suku, tingkatan, asal usul,
maupun agama. Sikap yang terkandung dalam Nenggah Nyappur
menumbuhkan rasa semangat, suka kerjasama dan juga toleransi
yang tinggi antar sesama.101
e. Sakai Sambayan
Hakihatnya tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan oleh
perseorangan, suku Lampung menyebut kerjasama sebagai sakai
sambayan yang artinya bergotongroyong antara satu dengan yang
lain silih berganti secara beramai-ramai dalam mengerjakan suatu
yang berat. Bergotong royong dalam mengerjakan suatu hal secara
bergantian sebenarnya mengandung filosofi bahwa manusia
merupakan makhluk individual dan sosial. Secara individual
99
Farida Aryani , dkk, Konsepsi Piil Pesenggiri Menurut Masyarakat Adat Lampung
Waykanan di Kabupaten WaykananSebuah Pendekatan discourse Analysis(Bandar Lampung :
Aura Printing dan Publishing,2015),h.64
100
[Link],h.133
101
[Link],h.68
54
manusia selain dapat membantu orang lain juga pasti butuh bantuan
orang lain (ada pamrih). Sementara sebagai makhluk sosial,
manusia dianjurkan untuk saling tolong-menolong secara ikhlas
tanpa mengharap balasan apapun.102
Perwujudan dari sikap Sakai Sambayan bukan hanya
dilakukan dalam bentuk tenaga saja namun diwujudkan juga dalam
bentuk saling bantu dana. Biasanya kegiatan Sakai Sambayan
inibanyak dilakukan dalam usaha pertanian (mananam,
merumput,panen dll).103
Berdasarkan uraian diatas dapat kita pahami bahwa makna
dari sakai sambayan ialah suatu kehidupan tidak akan pernah
terlepas dari orang lain, sebab dalam kehidupan baik dalam
bermasyarakat maupun berbangsa, atau pun bernergara kita sebagai
manusia individual maupun sosial pasti membutuhkan pertolongan
dari orang lain.
3. Nilai-Nilai Falsafah Hidup Lampung
Nilai-nilai utama yang ada didalam falsafah hidup Lampung (piil
pesenggiri) yaitu nilai ketuhanan, nilai religius, nilai spiritual, nilai
etika/moral, nilai intelektual, nilai individu, nilai sosial, dan juga nilai
material.104 Selain dari delapan nilai utama diatas falsafah hidup Lampung
102
Himyari Yusuf, “Nilai-Nilai Islam Dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung,”
Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam. Vol. 10, no. 1 (2016), h. 189
103
Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung (Bandung : Mandar
Maju,1989),h.134
104
Himyari Yusuf, “Nilai-Nilai Islam Dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung,”
KALAM 10, no. 1 (2017),h.173
55
tersebut mempunyai unsur-unsur pendukung nilai falsafah hidup (piil
pesengiri) yaitu Piil Pesenggiri, Juluk Adek, Nemui Nyimak, Nengah
Nyappur, dan Sakai Sambayan ialah sebagai berikut :
Pertama, Piil Pesenggiri merupakan harga diri yang berhubungan
dengan perasaan kompetensi maupun nilai pribadi, atau merupakan
campuran antara kepercayaan serta penghormatan [Link] yang
mempunyai Piil Pesenggiri yang kuat, berarti seseorang tersebut
mempunyai perasaan penuh dengan keyakinan, penuh dengan rasa
tanggung jawab, kompeten dan juga sanggup mengatasi masalah-masalah
dalam kehidupanya. Karakteristik orang yang mempunyai suatu harga diri
yang tinggi merupakan suatu kepribadian yang mempunyai kesadaran
untuk dapat membangkitkan nilai-nilai positif dalam kehormatan diri
sendiri dan orang lain, dengan kata lain sanggup menjalani hidup dengan
penuh kesadaran. Hidup dengan penuh kesadaran berarti mampu
membangkitkan suatu kondisi pikiran yang sesuai pada kenyataan yang
dihadapi, bertanggung jawab terhadap setiap perbuatan yang
[Link] atau terlalu berlebihan mengagungkan suatu
kemampuan dalam diri merupakan gambaran tentang rendahnya harga diri
atau runtuhnya kehormatan dirinya.105
Berdasarkan pemaparan diatas dapat kita pahami bahwa nilai yang
terdapat dalam piil pesenggiri ialah nilai harga diri dalam artian suatu nilai
105
Della Fitria, Implementasi Nilai-Nilai Yang Terkadung Pada Piil Pesenggiri Dalam
Mencegah Konflik Masyarakat Lampung, Skripsi, (Fakultas Pendidikan Keguruan dan Ilmu
Pengetahuan Alam :Universitas Lampung, 2019),h.5.
56
yang dapat menumbuhkan, tanggung jawab dalam melakukan sesuatu atau
ketika diberi amanah, dan dapat menumbuhkan rasa semangat dalam
[Link] yang ada dalam piil pesenggiri sangat penting dalam
kehidupan, sebab nilai tersebut dapat memacu kehidupan baik pada diri
sendiri maupun masyarakat agar lebih berkembang.
Kedua, Juluk Adek terdapat nilai yang luar [Link] tersebut
adalah nilai kepemimpinan, hal tersebut karena, jika seseorang yang telah
mendapatkan gelar harus bisa menjadi uswah khasanah dan juga
bertanggung jawab terhadap gelar (kepemimpinan) yang telah diberikan
padanya, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat [Link]
sebab itu, secara esensial, Juluk Adek merupakan ciri yang ada pada orang
Lampung dan harus dipertanggung jawabkan secara lahir dan batin,
material dan spiritual.106
Ketiga, saling [Link] satu nilai yang terdapat dalam
unsur Nemui Nyimah yaitu nilai saling menghormati. Islam pun telah
mengajarkan kita agar menghormati orang lain dimanapun kita berada,
contoh salah satunya yakni menghormati orang yang datang berkunjung
atau pun bertamu dengan cara menyuguhkan makanan maupun minuman
sesuai dengan kemampuan.107
Kempat, nilai intelektual, Suatu nilai yang harus seseorang
memiliki, sebab ilmu pengetahuan yang luas dan berkualitas tinggi
106
Heri Cahyono dan Novi Rahmawati, Model Implementasi Nilai-Nilai Islam Dalam
Falsafah Pi’il Pesenggiri Masyarakat Lampung Di Labuhan Maringgai , At-Tajdid, Vol. 03 No.
01 (Universitas Muhammadiyah Metro, Januari-Juni 2019),h.7
107
Ibid, h.7
57
sehingga dapat menyalurkan suatu ide-ide serta agar dapat memecahkan
berbagai permasalahan yang terjadi di tengah-tengah [Link]
tersebut sesuai dengan nilai yang terdapat dalam unsur Nengah
Nyappur.108
Kelima, yaitunilai [Link] diciptakan sebagai makhluk
sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia pasti mebutuhkan bantuan
manusia lain dalam berbagai kehidupannya. Hal demikian secara tidak
langsung membentuk suatu rasa kebersamaan dalam diri
[Link] banyak hal yang kemudian memunculkan nilai-nilai
sosial, yang diantaranya kegiatan-kegiatan yang ada didalam unsur
Nengah [Link], nilai [Link] yang terdapat dalam
unsur Sakai Sambayan ialah gotong royong, demikian masyarakat secara
bersamasama melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi oleh rasa sukarela
serta kekeluargaan dalam membantu setiap kegiatan masyarakat, baik
berupa kerjabakti maupun acara adat perkawinan.109
Berbagai penjelasan mengenai nilai-nilai falsafah hidup Lampung
diatas dapat kita pahami bahwa semua nilai yang terkandung dalam
falsafah hidup Lampung itu mengutamakan dengan nilai sosial atau
[Link] nilai kepemimpinan, nilai menghormati sesama dan
nilai kebersamaan.
108
Ibid.
109
Ibid.
84
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana
Prenada Media, 2010
Abdul A‟ala al-Maududi, Dasar-dasar Islam, Bandung, Pustaka, 2014
Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat),
Jakarta: Media dakwah, 2009
Agus Maimun dan Agus Zainul Fitri, Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif,Malang : UIN MALIKI PRESS, 2010
Ahmad Sanusi dan Sohari, Ushul Fiqh, Jakarta: Rajawali Pers, 2015
Amrudin dan zainal Asikin, Pengantar Metode dan Penelitian Hukum, Jakarta :
PT. Raja Grapindo Persada 2003
An-Nahlawi, Abduurahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan
Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 2003
Arikunto, Suhairi,Manajemen Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta,1995
Aryani Farida, et al, Konsepsi Piil Pesenggiri Menurut Masyarakat Adat
Lampung Waykanan di Kabupaten WaykananSebuah Pendekatan discourse
Analysis ,Bandar Lampung : Aura Printing dan Publishing,2015
Arif, Armei, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam, Jakarta : Cip-tat
Pers, 2002
Arifin ,Anwar, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Naional Dalam Undang-
Undang Sisdiknas, Jakarta : Depag RI,2003
A. Suryaman, Khaer, Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: IAIN,1982, h. 17 Dikutip
dari buku Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam.
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, mengutip buku Syamsul Kurniawan, Pendidikan
Karakter Konsepsi dan Implementasinya Secara Terpadu Di Lingkungan
Keluarga, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat. Jakarta: Raja Gravindo
Persada,2010
Bekti Taufiq Adi Nugroho dan Mustaidah, Identifikasi Nilai-Nilai Pendidikan
Islam Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada PMPN Mandiri, Jurnal
Penelitian, Vol. 11, No. 1, IAIN Salatiga, februari, 2017
Bujuri, Dian Andesta, Implementasi Nilai-Nilai Falsafah Hidup Orang Lampung
Dalam Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan Study Kasus Di SD Alam
Al-Karim Lampung
85
Chojin, Fadjrul Hakam, Cara Mudah Menulis Karya Tulis Ilmiah, Surabaya:
Alpa, 1997
Cholid Narbuko et. al, Metodologi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara, 1997
Daradjat, Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,2011
____ Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992
Departemen Agama Islam RI, “Al-Qur’an dan Terjemahanya”, (Syaamil : PT.
Cipta Media,2005),
Gunawan, Heri, Pendidikan Karakter :Konsep dan Implementasi, Bandung :
Alfabeta,2012
Hadikusuma,Hilman,Masyarakat dan Adat Budaya Lampung Bandung : Mandar
Maju,1989
Heri Cahyono dan Novi Rahmawati, Model Implementasi Nilai-Nilai Islam
Dalam Falsafah Pi’il Pesenggiri Masyarakat Lampung Di Labuhan
Maringgai , At-Tajdid, Vol. 03 No. 01 Universitas Muhammadiyah Metro,
Januari-Juni 2019
H. Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2001
MUI “Akhlak Terhadap Lingkungan” (Online), Tersedia di :[Link]
[Link]/[Link]/30April2020
Jumridahusni “Ruang lingkup pendidikan agama islam”, (Online), tersedia di
:[Link]
[Link].08-05-2020
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. Upaya mngefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.
Muhammad Mustaqim dan Hikmatul Mustagfiroh, Pendidikan Islam Berbasis
Multikulturalisme, Dalam Jurnal ADDIN, Vol.7, No.1 STAIN Kudus
Februari 2013.
Syahputra, Muhammad Candra, “Pendidikan Multikultural dalam Budaya Nemui
Nyimah”. EL-HIKMAH: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam,
Vol 14, No.1 Juni 2020.
____, “Nlai-nilai Pendidikan Karakter dalam Budaya Nengah Nyappur”. Jurnal
PAI Raden Fatah, Vol 2, No.1 Februari 2020.
____, “Jihad Santri Millennial Melawan Radikalisme di Era Digtal: Studi Gerakan
Arus Informasi Santri Nusantara di Media Sosial ” Jurnal Islam Nusantara,
Vol. 04, No. 01 Juni 2020.
86
____,“Gerakan Literasi Politik Perempuan Nahdlatul Ulama dalam Menyambut
Pemilihan Umum 2019-2020”. Jurnal Islam Nusantara, Vol. 04, No. 02
Desember 2020.
Munzir, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers, 1990
Nata ,Abudin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2013
____, Metodologi Studi Islam. Dikutip dari buku A. Khaer Suryaman, Pengantar
Ilmu Hadits, Jakarta: IAIN,1982
Nirva Diana et al., “LOKAL LAMPUNG ( Analisis Eksploratif Mencari Basis
Filosofis) Krui , Pesisir Semangka , Pesisir Teluk , Pesisir Rajabasa , Dan
Pesisir Kehidupan Sehari-Hari Masyarakatnya . Masyarakat Lampung,”
Vol. XII, no. 1, 2012,
Sugiono, Metodelogi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif
dan R&D), Bandung : alfabeta,2008
____, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : Alfabeta, 2015
Sulistiyowati Irianto dan Risma Margareta, Piil Pesenggiri : Modal Budaya dan
Strategi Identitas Ulun Lampung, Dalam Jurnal Makara,Sosial Humaniora,
Vol. 15, NO 2 Depok : Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Desember 2011
Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Pers, 2002
Tafsir, Ahmad,Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1992
Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural,
Magelang : Indonesia Tera, 2003
____, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung :
[Link] Rosdakarya, 2001
Tim Penulis Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya,Naskah Boek
Koentara Raja Niti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng, Peminggir,
Poebian dan Toelang Bawang Jakarta : Direktorat Internalisasi Nilai dan
Diplomasi Budaya Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan, 2013
Yusuf, Himyari, Filsafat Kebudayaan, Bandar Lampung : Harakindo Publishing,
2013
____, Filsafat Kebudayaan : Strategi Pengembangan Kebudayaan Berbasis
Kearifan Lokal,Bandar Lampug : Harakindo Publishing,2013
87
____, Nilai-Nilai Islam Dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung, Jurnal
Studi Agama dan Pemikiran Islam. Vol. 10, no. 1 2016
____, “Nilai-Nilai Islam Dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung,” KALAM
10, no. 1 2017
____, “Nilai-Nilai Islam Dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung,” Jurnal
Studi Agama dan Pemikiran Islam. Vol. 10, no. 1 2016
[Link]
lampung-saibatin/19/Mei/2020
Zulkarnain, Transformasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam,2004
Zanecha , Aksel, “Local Wisdom Piil Pesenggiri – Lampung”, diakses di
[Link]
lampung_24.html?m=1 29April2020