Penerapan Estetika pada Desain Font sebagai Media Konservasi Budaya Keris
Cahyo Ramadhani
2411418059
Estetika Terapan (205)
Jurusan Seni Rupa konsentrasi Desain Komunikasi Visual
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
Semarang
2022/23
1. Research
1.1. Tahap eksplorasi, ide, pengumpulan data dan analisis permasalahan
Gambar 1. Poster pertunjukan Wayang Kulit.
Poster diatas adalah poster yang menginformasikan pertunjukan wayang yang
digelar oleh Pasar Seni Ancol yang berisi informasi acara, seperti nama kegiatan, judul,
waktu dan tempat, dalang, media sosial, serta logo pihak yang terkait. Desain yang berciri
khas tentang kebudayaan Jawa memang cocok untuk kebutuhan seperti poster tersebut,
dengan background berwarna cokelat, tekstur ornamen suluran, font yang digunakan
adalah jenis Script menyerupai tulisan tangan, biasanya bergaya seperti huruf sambung.
Script memberikan kesan dekoratif, keindahan dan elegan. Font nama kegiatan bertulis
“Pagelaran Wayang Kulit” memiliki desain handletter atau tulisan tangan, sedangkan font
pada tulisan Lakon “Pandawa Kumpul” memiliki desain huruf aksara Jawa.
Proses perancangannya dilakukan dengan mempertimbangkan unsur-unsurnya
dengan tepat, agar menghasilkan poster yang baik dan menarik. Salah satu unsur yang
terdapat pada poster adalah tipografi, yaitu seni merancang, menyusun dan mengatur tata
letak huruf untuk menghasilkan kesan tertentu , sehingga akan membantu pembaca
mendapatkan kenyamanan membaca secara maskimal, baik dari segi keterbacaan maupun
estetika.
Dalam tipografi, ada istilah typeface dan font. Typeface adalah rancangan
karakter dari sebuah huruf, sedangkan font adalah sekumpulan lengkap dari huruf,
angka, simbol atau karakter yang memiliki ukuran dan ciri tertentu.
Tipografi dilakukan dengan memilih typeface dan font yang tepat, merekayasa gaya
atau stylenya, hingga ke pengaturan susunan kata, paragraf dan tata letaknya secara
keseluruhan. Walau demikian, anatomi huruf tetap harus diperhatikan, seperti cap,
height, descender, stroke, letter-spacing, dan lainnya. Selain itu, sesuaikan typeface
untuk font yang akan dibuat. Ada lima jenis typeface dalam typografi, diantaranya,
serif, sans serif, script, monospace dan display.
Setelah itu, terapkan typestyle atau gaya huruf untuk disesuaikan dengan
desain yang kita rancang, setiap pemilihan gaya yang kita lakukan akan berpengaruh
terhadap keterbacaan dan keindahan tipografi yang disusun. Maka dari itu,
sesuaikan berbagai kebutuhannya dengan dampak yang ingin kita raih (elegan,
formal, kasual, dll). Prinsip-prinsip seni dan desain juga dapat kita terapkan untuk
menjadi salah satu panduan kebenaran agar mendapatkan tipografi yang estetis.
Berikut ini adalah beberapa parameter typestyle yang dapat dimodifikasi,
diantaranya, weight (tingkat ketebalan garis), width (lebar huruf), angle (italic dan
oblique).
Langkah selanjutnya adalah pemformatan tipografi. Selain merekayasa gaya
dari typeface, tipografi juga dilakukan dengan mengatur format huruf. Formatting
sering menjadi hal yang terlewatkan padahal dampaknya sangat besar. Baik
terhadap keterbacaan teks maupun keindahannya. Berikut adalah beberapa
parameter formatting yang penting untuk diperhatikan berurutan dari hal yang
paling sering diabaikan, seperti letter spacing (jarak samping antar huruf yang
membentuk kata), line height (jarak antar kalimat dalam suatu paragraph, jarak atas-
bawah), ukuran huruf, capitalization (huruf kapital dan huruf kecil), paragraph
spacing (jarak antar paragraf). Proses selanjutnya adalah penerapan prinsip
keterbacaan dan estetis tipografi sebagai berikut:
a. Prinsip Keterbacaan Tipografi
Huruf kecil cenderung lebih baik tingkat keterbacaannya jika
dibandingkan dengan huruf besar/kapital. Kemungkinan karena huruf
kecil bentuknya jauh lebih kontras satu sama lain.
Huruf lurus (standar) jauh lebih mudah dibaca jika dibandingkan
dengan huruf miring (italic), namun jika kata huruf miring di apit oleh
huruf reguler, justru tingkat keterbacaannya meningkat.
Warna kontras cenderung membantu tingkat keterbacaan, namun jika
terlalu kontras akan membuat mata cepat lelah.
Teks gelap di atas background terang lebih mudah dibaca dibandingkan
dengan teks terang di atas background gelap.
b. Prinsip Estetis Tipografi
Batasi penggunaan typeface dalam satu halaman/desain. Dua jenis
typeface biasanya sudah cukup, satu untuk judul dan satu untuk isi.
Batasi penggunaan warna, satu untuk judul dan satu untuk isi.
Gunakan minimal tiga ukuran dan atau weight yang berbeda untuk
memaksimalkan kontras dan keindahan tipografi.
Gunakan ukuran yang konsisten untuk setiap set teks yang berbeda.
Berikan letter spacing lebih untuk font berukuran kecil dan kurangi spasi -
letter spacing untuk font ukuran besar.
Pastikan line height dan jarak antar spasi berbeda jauh, terutama jika line
height dibuat menjadi lebih renggang.
1.2. Perancangan
Proses desain font terdiri dari beberapa tahapan, yaitu proses pra produksi,
produksi dan pasca produksi. Berikut adalah bagan dari tahap-tahap perancangan.
Pra Produksi
1. Riset
2. Penetapan Tujuan
3. Penetapan Konsep Typeface
4. Penetapan Konsep Media
Produksi
1. Roughsketch
2. Tracing
3. Layouting
4. Penerapan Typeface pada
media visual
Pasca Produksi
1. Penyajian Karya
1.3. Tahap Perwujudan
a) Penggambaran jiwa dan pengamatan lapangan.
Pengamatan secara tidak langsung berupa kegiatan literasi pada berbagai
sumber seperti berita yang menjadi dasar perancangan font karena
kurangnya minat generasi muda pada budaya Indonesia
b) Penggalian teori, sumber dan referensi serta acuan visual.