0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan32 halaman

Pengendalian Ulat Api pada Kelapa Sawit

Pengendalian hama ulat api (Setothosea asigna) pada tanaman kelapa sawit secara kimiawi dengan sistem fogging dapat menurunkan populasi ulat api secara signifikan dari 12,58 menjadi 1,01 per pohon atau menurun sebesar 94,81%.

Diunggah oleh

Agus Tino
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan32 halaman

Pengendalian Ulat Api pada Kelapa Sawit

Pengendalian hama ulat api (Setothosea asigna) pada tanaman kelapa sawit secara kimiawi dengan sistem fogging dapat menurunkan populasi ulat api secara signifikan dari 12,58 menjadi 1,01 per pohon atau menurun sebesar 94,81%.

Diunggah oleh

Agus Tino
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGENDALIAN HAMA ULAT API (Setothosea asigna) PADA

TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) SECARA


KIMIAWI

TUGAS AKHIR

Oleh :
ABDUL RAHMAN
1622040218

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN


JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2019
ii
iii
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat

karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanan di suatu

perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau

pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara

tertulis diacu dalam naska ini dan disebutkan dalam daftar Pustaka.

Pangkep, 3 Juli 2019


Yang menyatakan,

Abdul Rahman

iv
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum [Link]

Puji syukur penulis kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

berkat rahmat dan hidayahnyalah sehingga penulis dapat menyusun laporan tugas

akhir yang berjudul “Pengendalian Hama Ulat Api (Setothosea asigna) Pada

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Secara Kimiawi. Di PT Dwiwira

Lestari Jaya 1 Desa Lempake Kecamatan Biatan Kabupaten Berau Provinsi

Kalimantan Timur”.

Dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini, penulis menyadari banyaknya

kesalahan didalamnya baik kesalahan penulisan maupun kesalahan pemilihan

kata, oleh karena itu penulis mengharapkan banyak saran yang membangun demi

menyempurnakan laporan praktik kerja lapang ini, ucapan terima kasih kepada

orang tua serta segenap keluarga yang telah memberikan bantuan baik berupa

material serta spiritual hingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan Penelitian

Mahasiswa hingga dalam penyusunan laporan. Melalui kesempatan ini, penulis

juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Orang tua dan saudaraku tercinta, yang telah banyak memberi bantuan dan

dorongan selama penulis menjalani studi hingga selesainya laporan Tugas

Akhir.

2. Ibu Dr. Zahraeni Kumalawati, S.P., M.P. Selaku pembimbing I yang telah

banyak meluangkan waktunya membimbing penulis dalam menyelesaikan

laporan ini.

v
3. Ibu Syatrawati, S.P., M.P. Selaku pembimbing II yang telah banyak

meluangkan waktunya membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

4. Bapak Dr. Ir. Darmawan, M.P. Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri

Pangkep.

5. Bapak Abdul Mutalib, S.P., M.P. Selaku Ketua Jurusan Budidaya

Tanaman Perkebunan.

6. Ibu Ir. Miss Rahma Yassin, M. Si. Selaku penguji I yang telah banyak

meluangkan waktunya membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

7. Ibu Sitti Inderiati, S.P., [Link]. Selaku penguji II yang telah banyak

meluangkan waktunya membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

8. Bapak pembimbing lapangan di PT Dwiwira Lestari Jaya 1 dan karyawan.

9. Seluruh dosen dan teman-teman budidaya tanaman perkebunan.

Penyusunan laporan ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya

itu, penulis dengan rendah hati menerima saran dan kritikan dari pihak pembaca

yang bersifat membangun menuju perbaikan laporan ini dengan baik. Akhir kata,

besar harapan penulis semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

Wabillahi Taufik Walhidayah

Assalamu Alaikum [Link]

Mandalle, 25 Mei 2019

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI ............................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................. iv
KATA PENGANTAR ............................................................................... v
DAFTAR ISI .............................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ x
RINGKASAN ........................................................................................... xi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang ............................................................................ 1
1.2. Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Ulat Api ................................................................... 3
2.2. Jenis-jenis hama yang menyerang kelapa sawit ........................ 6
2.2.1. Gejala serangan ......................................................................... 6
2.2.2. Ulat api Setothosea asigna ......................................................... 7
2.2.3. Pengendalian secara kimiawi ..................................................... 7
2.2.4 Dampak fogging ........................................................................ 9
2.2.5. Dampak Penggunaan Pestisida ................................................. 9
BAB III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan tempat ...................................................................... 12
3.2. Alat dan bahan ........................................................................... 12
3.3. Metode percobaan ...................................................................... 12
3.4. Pelaksanaan kegiatan ................................................................. 12
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil ............................................................................................ 14
4.2. Pembahasan ................................................................................ 15

vii
BAB V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan ....................................................................................
................................................................................................................... 17
5.2. Saran ..............................................................................................
................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 18
LAMPIRAN .............................................................................................. 19
RIWAYAT HIDUP .................................................................................. 20

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Gejala serangan haman ulat ap ............................................... 7

viii
Gambar 2. Ulat api Setothosea asigna ..................................................... 7
Gambar 3. Alat Fogging .......................................................................... 8

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Tabel Lampiran 1. Sebelum aplikasi fogging ................................................... 19

ix
Tabel Lampiran 2. Presentase ulat api setelah perlakuan fogging.................... 19

RINGKASAN

x
ABDUL RAHMAN (1622040218). Pengendalian Hama Ulat Api (Setothosea
asigna) Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Secara Kimiawi.
Dibimbing oleh Zahraeni Kumalawati dan Syatrawati.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui efektifitas pengendalian kimia
(sistem fogging) pada ulat api (Setothosea asigna) di pertanaman kelapa sawit
(Elaeis guineensis Jacq.). Pengamatan dilakukan di lahan perkebunan kelapa sawit
di PT Dwiwira Lestari Jaya 1 Desa Lempake. Kecamatan Biatan. Kabupaten
Berau. Provinsi Kalimantan Timur yang dilaksanakan pada bulan Maret–April
2019. Metode yang digunakan adalah metode survey, dengan melakukan
pengamatan secara langsung di lapangan, pada tiga blok yaitu blok E11, F13 dan
F14. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengendalian kimia dengan sistem
fogging efektif menurunkan populasi ulat api dari 12.58 menjadi 1.01 per pohon
atau menurun sebesar 94.81%.

Kata kunci : Fogging dan Pengendalian Kimi

xi
1

BAB [Link]

[Link] Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman tropis yang

menghasilkan minyak nabati terbesar dunia. Kebutuhan dunia akan minyak

nabati terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Menurut

Cheng (2010) konsumsi minyak nabati dunia pada tahun 2009 mencapai 132.8

juta ton dari konsumsi tersebut sekitar 34% dipenuhi dari minyak kelapa sawit.

Kebutuhan minyak nabati akan terus meningkat hingga tahun 2020 mencapai 236

juta ton (Oil World, 2010).

Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang sangat produktif

jika dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Indonesia

merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Luas areal

kelapa sawit Indonesia pada tahun 2013 mencapai 10 465 020 ha dengan produksi

CPO sebesar 5 556 401 ton dan produktivitas 3 536 kg ha per tahun. Nilai ekspor

kelapa sawit Indonesia mencapai 20 577 976 ton CPO (Crude Palm Oil) dengan

nilai sebesar $15 838 850.00 sehingga menjadi sumber devisa terbesar dan

menjadikan Indonesia sebagai negara produsen kelapa sawit terbesar dunia

(Ditjenbun, 2013).

Keberhasilanproduksipada perkebunankelapa sawitsangatdipengaruhi oleh

[Link] pemeliharaan adalah pengendalianhama penting

di antaranya, [Link] merupakan hamapemakandaun yangterpentingdi

perkebunankelapasawit,khususnyadi Sumatera Utara,karena


2

mampumemakandaun300-500cm²perekordanpopulasinya telah mencapai 5-10

ekor per pelepahulat api(Sudharto,2012).

Ulat-ulatpemakandaunmenimbulkankerugian,akibatnya organ

daunadalahtempat berlangsungnya prosesfotosintesis,danreaksi-

reaksibiokimialainnyayang berkaitandengan pertumbuhanseluruhtubuhtanaman

kelapasawit. SeranganintensifdariSetoranitensmisalnya,

dapatmeniadakanseluruhhelidaun,sehinggayangtersisahanyapelepah

daun,tulangdaun utama dantulang

anak(lidi).Berkurangnyaataumusnahnyahelaidaundengansendirinya menurunkan

produktivitas buah, tetapi selain itu pertumbuhan tanaman punterhambat,dan

butuh waktuyangcukup lamasebelumpertumbuhan dapat dipulihkan

kembali(Soepadio, 2008).

Berdasarkan hal tersebut diatas diperlukan pengamatan pengaruh sistem

foggingterhadap serangan ulat api pada tanaman kelapa sawit.

[Link]

Untuk mengetahui efektifitas pengendalian kimia (sistem fogging) pada ulat

api(Setothoseaasigna) di pertanaman kelapa sawit(Elaeis guineensis Jacq.).


3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

[Link] UlatApi

Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang paling

sering menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Disebut ulat api

karena punggungnya berbulukasarkakudan

beracunracunnyakeluardaribulukasartersebutberupa cairanyang jika

[Link]-jenis ulatapiyang paling

banyakditemukanadalah Setothoseaasigna,Setora nitens,Darnatrima,Darna

diductadanDarna bradleyi. Jenisyang jarang

ditemukanadalahThoseavestusa,Thoseabisura,SusicapallidadanBirthamulach

ara. Jenisulatapiyang paling merusakdiIndonesiaakhir-akhiriniadalahSetothosea

asigna,SetoranitensdanDarna trima (Wikipedia, 2012)

Ulat api Setothoseaasigna di klasifikasikansebagai berikut:

Phylum : Arthropoda

Klass : Insekta

Ordo : Lepidoptera

Family : Limacodidae

Genus : Setothosea

Spesies : Setothoseaasigna

Diantarajenisulatpemakandaun,yang termasukhamapenting

padakelapasawitantara lain jenisulat api(Setothosea asigna, Setoranitens,Darna

trima, Darna diductadanDarna

bradleyi).Ulatapimerupakansalahsatujenisulatpemakandaunkelapasawityang
4

paling sering menimbulkankerugianbesardiperkebunan-

[Link]-jenis ulatapiyang

palingbanyakditemukanadalahSetothoseaasigna,Setoranitens,Darnatrima,

[Link] jenis yang jarang

ditemukanadalahThosea vestusa, Birthoseabisura,Susicamalayanadan Birthamula

chara(Agus, 2012).

Siklus hidup dimulai dari fase:

a. Telur

Telurdiletakkansecaraberkelompokpadapermukaan

bawahanakdaunarahketepitiap kelompokberkisarantara33–

111telur.Telurakanmenetassetelah4–8hari(Wikipedia,2013).

b. Larva

Periodelarvaantara49–51haridanterbagidalamVI–[Link]

menetasinstarI–

IIlarvamemakanepidermisbawahdaunsehingagejalayangterlihatadalah adanyastrip-

strip transparan berwarnaputihkekuningan sampai putih coklat (Wikipedia, 2013).

c. Pupa

Pupaberasaldidalamkokonyang

terbuatdaricampuranairliurulatdantanah,berbentuk

bulattelurdanberwarnacoklatgelap,terdapatdibagiantanahyang

relatifgemburdisekitar

[Link]-

masingberukuran samaberlangsungselama± 39,7 hari (Agus, 2012).


5

d. Kepompong

Larvayangberkepompong membentukkokondengan ukuran

16x13mmuntukjantan dan20x16,5mmuntuk

[Link]±[Link]- kupu

kepompongberwarna coklat tua (Wikipedia,2013).

e. Kupu-kupu

Kupu-kupumempunyaiperiodehidupyang pendekyaitu7hari. Waktuyang

pendek tersebuthanya digunakanuntukkawindanbertelurdenganproduksitelur

antara 300–400 butir/induk (Wikipedia, 2013).

Siklushiduphamapemakandaunkelapa

sawitmelaluiempatstadiumyaitutelur,larva,

pupa,danimagolajuperkembanganpopulasididukung olehkemampuanberkembang

biak dan waktuyang

[Link] berbiakdan

semakinpendek siklushidup semakin cepatlaju pertambahan populasisemakin

tinggi kemampuan hama untuk merusak, toleransi tingkat batas kritis populasi

menjadi rendah (Rustam, 2011).

Siklushidupmasing-

masingspesiesulatapiberbeda.Setothoseaasignamempunyaisiklushidup106-

[Link],berbentukoval,sangattipisdantransparan.

Telurdiletakkanberderet3-

4barissejajardenganpermukaandaunsebelahbawah,biasanya padapelepahdaunke6-

[Link] berisisekitar44butirdanseekorngengatbetina mampu

menghasilkan telur 300-400 butir. Telur menetes 4-8 hari setelah diletakkan. Ulat
6

berwarnahijaukekuningandenganbercak-

[Link] dibagianpunggung

jugadijumpaiduri-duriyang kokoh. Ulatinstarterakhir(instarke-9) berukuran

panjang 36mmdanlebar14,5mm.

Ulatyang barumenetashidupberkelompok, mengikis daging daun dari

permukaan bawah dan meninggalkan epidermis bagian atas

[Link] 2-3ulatmemakandaunmulaidariujung

kearahbagianpangkal [Link] Setothoseaasigna,selama

perkembangannya,ulatbergantikulit7-8kalidanmampu

menghabiskanhelaiandaunseluas400cm².Stadiaulatiniberlangsung selama49-

50,[Link] berkepompongpadapermukaan tanah

yangrelatifgemburdisekitarpiringanataupangkal batang kelapa sawit. Kepompong

diselubungi oleh kokon yang terbuat dari air liur ulat, berbentukbulattelur

danberwarna coklatgelap. Kokon jantandanbetina masing-masing

berukuran16x13mmdan20x16,5 mm. Stadiakepompong berlangsung

selama±39,7hari. Seranggadewasa(ngengat)jantandanbetinamasing-

masinglebarrentangansayapnya 41mm

[Link]-

bintikgelap, sedangkan sayap belakangberwarnacoklatmuda.

2.2. Jenis-jenis hama yang menyerang kelapa sawit.

2.2.1. Gejalaserangan

Helaiandaunberlubangatauhabissamasekalisehinggatersisatulang daun.

Gejalainidimulaidaridaunbagianbawah. Dalamkondisiyang parah tanamanakan


7

kehilangan daunsekitar90% seperti terlihat pada Gambar 1.

Padatahunpertamasetelah serangandapatmenurunkan

produksisekitar69%dansekitar27%pada tahunkedua.

Gambar 1. Gejala serangan hama ulat api

Jenisulatapiyangmenyerangkelapasawit,yang ada di perusahaan

adalahSetothoseaasigna.

2.2.2. UlatapiSetothoseaasigna

Setothosea asignamerupakan jenisulat

apiyangterpentingpadatanamankelapasawit.

Ulatiniberwarnahijaukekuningandenganbercak-bercakyangkhasdi

punggungnyadengan panjang30-36mmdanlebarnya14mm. Jumlahulat 5-10 per

pelepahmerupakan populasi yangsudahkritisdansudahharusdikendalikan.

(Ditlinbun, 2013).

Gambar 2. Ulat api Setothoseaasigna

2.2.3. Pengendalian SecaraKimiawi


8

Pemberantasan secara kimiadenganmenyemprotkaninseksitisidaberbahan

aktifAgristic 1,2 liter/jerigen, Decis 7 liter/jerigen, 1,6 liter/jerigen, solar 10,2

liter/jerigen dan bensin 17 liter/blok (Fauzidkk,2014). Selainitujuga menggunakan

sistemfogging,yaitu sebagai berikut :

a. SistemFogging

Salah satupengendalianhama ulatapidenganmenggunakanfoggingyaitu

sistempengendaliandengancarapengasapandenganbahankimia insektisida

dansolar. Padaalatpengasapantekanan/aliranudara selainberfungsisebagai

pengangkut butir-butirracun (insektisida)melaluinozzles, sehingga menghasilkan

butiranyangsangat halus.

Aplikasifoggingmerupakan salah satupengendalian ulat apidan ulat bulu

secara [Link]

sistempengendaliandengancara pengkabutandenganracunkimia,air dansolar

sebagaipelarut. Padaalat-alat pengkabuttekanan/aliran udara selain

berfungsisebagaipengangkutbutir-butirracun(insektisida)melaluinozzles,

sehinggamenghasilkan butiran– butiranyanglebih halus (Wawan, 2011).

Gambar [Link]

Keuntungan sistemFogging :

1. Cakupan luas ± 20-25 Ha/hari kerja

2. Sangatefektif untuk insektisida kontak


9

3. Biaya/Hamurah

Kekurangan sistemFogging :

1. Hanyadapat diaplikasikan padamalam hari/dini hari

2. Diperlukan tenagakerjayangterlatih

3. Tidaksesuai untuk arealyang

4. Bergelombang tidak sesuai untuk tanaman berumur dibawah 7 tahun

CarakerjaFogging:

1. Airdicampur dengansolardan dicampurdenganbahankimia

insektisidasesuaianjurandalam liter/jerigen/botol lalu diaduk.

2. Kemudian masukkan 5 literlarutan dalam tangki yangtelah dicampur.

3. Aplikasikan padaarealyangtelah ditentukan.

2.2.4. Dampakfogging

Fogging atau pengasapan penyemprotan dengan menggunakan zat kimiawi,

paparan zat kimia yang di lepaskan saat fogging ternyata juga dapat membawa

dampak negatif bagi serangga, hewan bahkan manusia, seperti gangguan

pencernaan, pernapasan, dan sistem kekebalan tubuh. Bahaya umum yang sering

ditemukan seperti muntah-muntah, sakit perut, dan juga diare. (Kadir, 2015).

2.2.5. Dampak Penggunaan Pestisida

a. Dampak Negatif Pestisida Pertanian

Memang kita akui, pestisida banyak memberi manfaat dan keuntungan.

Diantaranya, cepat menurunkan populasi jasad penganggu tanaman dengan

periode pengendalian yang lebih panjang, mudah dan praktis cara penggunaannya,

mudah diproduksi secara besar-besaran serta mudah diangkut dan disimpan.

Manfaat yang lain, secara ekonomi penggunaan pestisida relatif menguntungkan.


10

Namun, bukan berarti penggunaan pestisida tidak menimbulkan dampak buruk

(Girsang,2009).

Akhir-akhir ini disadari bahwa pemakaian pestisida, khususnya pestisida

sintetis ibarat pisau bermata dua. Dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan

produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan. Tak bisa dipungkiri,

bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat, terlebih akibat penggunaan

pestisida yang tidak bijaksana. Kerugian berupa timbulnya dampak buruk

penggunaan pestisida, dapat dikelompokkan atas 3 bagian :

1. Pestisida berpengaruh negatip terhadap kesehatan manusia.

2. Pestisida berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan dan

3. Pestisida meningkatkan perkembangan populasi jasad penganggu

tanaman.

1. Pengaruh Negatif Pestisida Terhadap Kesehatan Manusia

Pestisida secara harfiah berarti pembunuh hama, berasal dari

katapestdansida. Pestmeliputi hama penyakit secara luas, sedangkan sida berasal

dari kata “caedo” yang berarti membunuh. Pada umumnya pestisida, terutama

pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad

pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad

bukan target termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya.

2. Pestisida Berpengaruh Buruk Terhadap Kualitas Lingkungan

Masalah yang banyak diprihatinkan dalam pelaksanaan program

pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah masalah pencemaran yang

diakibatkan penggunaan pestisida di bidang pertanian, kehutanan, pemukiman,

maupun di sektor kesehatan. Pencemaran pestisida terjadi karena adanya residu


11

yang tertinggal di lingkungan fisik dan biotis disekitar kita. Sehingga akan

menyebabkan kualitas lingkungan hidup manusia semakin menurun.

3. Pestisida Meningkatkan Perkembangan Populasi Jasad Penganggu

Tanaman

Tujuan penggunaan pestisida adalah untuk mengurangi populasi hama.

Akan tetapi dalam kenyataannya, sebaliknya malahan sering meningkatkan

populasi jasad pengganggu tanaman, sehingga tujuan penyelamatan kerusakan

tidak tercapai. Hal ini sering terjadi, kurang pengetahuan dan perhitungan tentang

dampak penggunaan pestisida. Ada beberapa penjelasan ilmiah yang dapat

dikemukakan mengapa pestisida menjadi tidak efektif, dan malahan sebaliknya

bisa meningkatkan perkembangan populasi jasad pengganggu tanaman.


12

BAB III. METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat

Pengamatan dilaksanakan mulai Maret – April 2019 yang bertempat

di kebun kelapa sawit di PT Dwiwira Lestari Jaya 1, Desa Lempake, Kecamatan

Biatan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah Alat Pelindung Diri (APD), Egrek, Pulpen,

buku,fogging, jerigen dan gelas ukur. Bahan-bahan yang digunakan adalah

Agristic, Decis, Solar, Air dan Bensin.

3.3. Metode Percobaan.

Pengamatan menggunakan metode survey, dengan melakukan pengamatan

langsung di lapangan, dengan tiga blok yaitu : Blok E11, F13 dan F14.

3.4. Pelaksanaan Kegiatan.

1. Penentuan titik sampel yang pertama dilakuakan dengan memilih tanaman

yang berada dalam lajur kelima dan baris ketiga. Sampel berikutnya dipilih

tanaman pada baris kesepuluh dari sampel pertama (pohon ke-13),

demikian dilakukan seterusnya hingga kelipatan kesepuluh terakhir pada

lajur tersebut.

2. Pengamatan di lanjutkan pada lajur berikutnya yaitu lajur kesepuluh dari

lajur sampel pertama (lajur ke-15). Cara penentuan tanaman sampel sama

dengan yang dilakukan pada lajur sampel pertama.

3. Jumlah tanaman yang terdapat pada blok E11 adalah 3.419 pohon dan

yang dijadikan sebagai sampel sebanyak 39 pohon. Populasi tanaman

kelapa sawit pada blok F13 adalah sebanyak 2.779 pohon dan diambil
13

sampel sebanyak 39 pohon. Populasi tanaman kelapa sawit pada blok F14

adalah sebanyak 2.730 pohon dan diambil sampel sebanyak 30 pohon.

4. Pelaksanaan sensusdilakukan 1 bulan sekali tergantung dengan kondisi

tanaman/ blok yang rawan terhadap serangan Hama.

5. Pemilihan pelepah dilakukan dengan mengambil pelepah tengah yaitu

pelepah ke – 17, (sasaran hama ulat api).

6. Alatfoggingdan bahan kimia disiapkan. Kemudiandi campurbahan kimia

Agristic 1,2 liter, Decis 7 liter, solar 10,2 liter, air 1,6 liter dan dimasukkan

kedalam jerigen dengan volume 20 liter. Selanjutnya dimasukkan kedalam

alat fogging lalu dinyalakandan disemprotkan ke gawang antar baris yang

terserang hama ulat api dengan cara menyusuri baris tanaman dan

seterusnya sampai seluruh blok tanaman selesai dilakukan fogging.

Rumus:
Jumlah ulat
Jumlah ulat per pohon =
Jumlah pohon yang disensus
Jumlah ulat api per pohon = Sebelum fogging − Setelahfogging
Jumlah ulat api per pohon
Penurunan Intensitas ulat api = x 100
Sebelumfogging
Sebelum fogging
Rata − rata =
Blok
Setelah fogging
Rata − rata =
Blok
Penurunan Intensitas ulat api
Rata − rata =
Blok
14

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Hasil pengamatan ulat api akibat dari pengaruh pengendalian secara kimia (

fogging ) disajikan pada Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Intensitas serangan hama ulat api sebelum dan setelah aplikasi
fogging

Jumlah ulat/pohon Penurunan


Blok Intensitas ulat api
Sebelum fogging Setelahfogging (%)
E11 23.10 2.87 87.60
F13 5.39 0.17 96.84
F14 9.27 - 100.00
Rata-rata 12.58 1.01 94.81

BerdasarkanTabel 1 diperoleh hasil bahwa tingkat serangan ulat api sebelum

dan setelah aplikasi fogging menunjukkan terjadinya penurunan intensitas

serangan. Lebih detail terlihat bahwa data sebelum dilakukan aplikasi

foggingjumlah pohon yang diamati dalam diblok E11 adalah 39 pohon dan hama

ulat api ditemukan sebanyak 23.10 ekor per pohondan setelah dilakukan aplikasi

fogging hama ulat api menurun sebanyak 2.87 ekor per [Link]

intensitas ulat api sebanyak 87.60 %.Sebelum dilakukan aplikasi fogging diblok

F13 jumlah pohon yang diamati adalah 36 pohon dan hama ulat api ditemukan

sebanyak 5.39 ekor per pohon dan setelah dilakukan aplikasi fogging hama ulat

api menurun sebanyak 0.17 ekor per pohon. Penurunan intensitas serangan ulat

api sebanyak 96.84 %.Sebelum dilakukan aplikasi fogging diblok F14jumlah

pohon yang di amati adalah 30 pohon dan hama ulat api sebanyak 9.27 ekor per

pohon dan setelah dilakukan aplikasi fogging hama ulat api tidak lagi ditemukan
15

ulat api pada tanaman kelapa sawit, atau penurunan intemsitas ulat api sebanyak

100 %. Jadi dari 3 blok diatas,pengaplikasian foging bahwa terjadi penurunan

intensitas hama ulat apidengan jumlah rata-rata sebanyak 94.81 % atau

penyerangan hama tidak serta merta seluruh hama ulat api di kebun yang

terserang bisa dikendalikan semua dengan pengaplikasian alat fogingterbilang

efektif untuk pengendalian ulat api.

4.2. Pembahasan

Hama ulat api merupakan hama yang paling banyak menyerang tanaman

kelapa sawit. Gejala serangan hama ini dapat dilihat dengan adanya tingkat

serangan ringan dan serangan berat. Serangan ringan menyebabkan daun

berlubang-lubang atau sebagian permukaanya habis sedangkan serangan berat ulat

api mampu menghabiskan seluruh permukaan daun, dan yang tersisa hanya lidi-

lidinya.

Penerapan sistem pengendalian dengan metode pengendalian hama secara

kimiawi terhadap hama ulat api menunjukkan hasil yang baik dan dapat

menurunkan intensitas serangan hama, salah satu pengendalian kimia yang

dilakukan di PT Dwiwira Lestari Yaja 1 adalah dengan aplikasi fogging.

Fogging adalah pengendalian hama dengan cara merubah pestisida cair

menjadi bentuk asap dan disemprotkan pada tanaman. Metode pelaksanaan

dilakukan pertama-tama dengan mempersiapkan alat dan material kemudian

mencampur material setelah material siap, mesin dinyalakan dan melakukan

pengasapan disetiap lajur gawang antar baris yang terserang ulat api kemudian

berjalan sebaris tanaman kemudian dilanjutkan ke baris tanaman ke dua dan

seterusnya sampai seluruh blok tanaman selesai dilakukanfogging.


16

Jumlah ulat api yang berada di atas 5 ulat setiap pelepah adalah termasuk

kategori serangan harus dikendalikan. Sesuai yang di kemukakan oleh (Ditlinbun,

2013) bahwa . Jumlahulat 5-10 per pelepahmerupakan populasi

[Link] pengamatan berlangsung

hama ulat api yang di temukan hanya ulat api jenis Setothosea asigna, dimana ulat

api ini menyerang pada 3 blok sample dengan jumlah ulat api sebanyak 37.76

ekor per pohon, oleh karena itu pengaplikasian fogging harus segera dilakukan.

Aplikasi fogging sebaiknya di lakukan pada malam hari pada saat yang baik (tidak

hujan dan hembusan angin tidak kencang), pada malam hari tingkat serangan

hama ulat api lebih tinggi sedangkan cuaca yang baik dapat mempengaruhi

kelancaran kerja dan pengasapan dapat tersebar merata mengenai langsung fisik

ulat api.

Pengamatan selanjutnya dilakukanlima harisetelah aplikasi,untuk

mengetahui hasil dari aplikasi fogging yang telah dilaksanakan,dari hasil

pengamatan setelah aplikasiditemukan hama ulat api yang menyerang dengan

jenis yang sama pada 3 blok sampel sebanyak 3.04 ekor. Hal ini menunjukkan

tingkat serangan hama ulat api telah menurun yang dipengaruhi oleh bahan aktif

dari Decis 25 EC yang diaplikasikan fogging.

Pengaruh bahan aktif Deltametrin dari Decis 25 terhadap ulat api dapat

merusak sistem pernafasan dalam tubuh ulat api dan mampu merusak lambung

sehingga lambat ulat api akan mati. Aplikasi Decis 25 berbahan aktif Deltametrin

melalui sistem fogging ini merupakan pengendalian hama terpadu yang lebih

efisien dalam mengendalikan hama ulat api, selain mudah dilakukan sistem
17

fogging ini lebih ramah lingkungan dan relative tidak merusak tanaman kelapa

sawit.
18

BAB V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan disimpulkan bahwa pengendalian hama ulat

api dengan teknik aplikasi fogging pada tanaman kelapa sawit TM, efektif

menurunkan populasi ulat api dari12.58 menjadi 1.01 per pohon ataumenurun

sebesar 94.81%.

5.2. Saran

Aplikasi fogging sebaiknya dilaksanakan tepat waktu agar proses

pengasapan tersebar merata sehingga pengaruhnya nyata menurunkan populasi

ulat api pada tanaman kelapa sawit.


19

DAFTAR PUSTAKA

Cheng, H.T. 2010. Key Sustainability Issues In The Palm Oil Sector. (Internet).
Tersedia pada [Link]. (Diakses Tanggal 13 Mei 2019).

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan) (ID). 2013. Statistik Perkebunan


Indonesia 1995-2014 Kelapa Sawit. (Internet). Tersedia pada
[Link] Tanggal 13 Mei 2019).

Ditlinbun (Direktorat Penilitian Perkebunan). 2013.(PPKS-Medan) Leaflet


Pengenalan dan Pengendalian Hama Ulat Api (Setothosea asigna Van
Eecke) Pada Kelapa Sawit. Direktorat Jenderal Perkebunan. (Diakses
Tanggal 14 Mei 2019).

Fauzi,[Link],[Link]. Penebar
Swadaya. Jakarta. (Diakses Tanggal 13 Mei 2019).

Oil World. 2008. Oil World Annual 2010. (Internet). Tersedia pada
[Link] (Diakses Tanggal 13 Mei 2019).

Kadir S. [Link] Fogging Bisa Menyebabkan Kerusakan Hati. (Internet).


Tersedia pada
[Link]
menyebabkan-kerusakan-hati-1422631351. (Diakses Tanggal 7 Juli 2019).

Soepadio, 2008. Pengendalian Hama Ulat Api Perkebunan Kelapa Sawit.


[Link]

Wawan,[Link] Sawit.
[Link]. (Diakses Tanggal 15 Mei 2019).

Wikipedia, 2013. Siklus hidup biologis ulat api. http//[Link] ulat


[Link]. (Diakses Tanggal 15 Mei 2019).

Girsang W. 2009. Dampak Negatif Penggunaan Pestisida.


[Link]
pestisida/. (Diakses Tanggal 9 Juli 2019).
20

LAMPIRAN

Tabel Lampiran 1. Sebelum aplikasi fogging

Ha Jumlah Jumlah pohon Jumlah Jumlah ulat/pohon


Blok pohon yang disensus ulat

E11 31,23 3.419 39 901 23.10


F13 23,09 2.779 36 194 5.39
F14 21,97 2.730 30 278 9.27
Jumlah 105 1.373 37.76

Tabel Lampiran2. Presentase ulat api setelah perlakuan fogging

Ha Jumlah Jumlah pohon Jumlah Jumlah ulat/pohon


Blok pohon yang disensus ulat

E11 31,23 3.419 30 86 2.87


F13 23,09 2.779 36 6 0.17
F14 21,97 2.730 39 - -
Jumlah 105 92 3.04
21

RIWAYAT HIDUP

NAMA : Abdul Rahman


NIM : 1622040218
TEMPAT/TANGGAL LAHIR : Sebatik, 07 Maret
1996

JURUSAN : Budidaya Tanaman Perkebunan


PENGALAMAN ORGANISASI : 1. Internal
• Anggota HMBTP (Himpunan Mahasiawa
Budidaya Tanaman Perkebunan)
• Pengurus 2018 UKM POR (Unit Kegiatan
Mahasiswa Persatuan Olahraga)

2. Eksternal
• Anggota 2016 IMPS (Ikatan Mahasiswa
Pelajar Soppeng)

PELATIHAN/SEMINAR : 1. Seminar Pertanian


2. Seminar Kewirausahan
ALAMAT : Sianak, Desa Bambangan, Kecamatan
Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan
TELEPON : 082357319946
E-MAIL : abdulrahmanbtp@[Link]
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat di pertanggung jawabkan secara hukum.

Pangkep, 25 Mei 2019

Abdul Rahman

Anda mungkin juga menyukai