II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hama Ulat Api (Setora nitens) Di Kelapa Sawit
Ulat api termasuk ke dalam family Limacodisae, ordo Lepidoptera.
(Gambar 1). Ulat ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur ditengah
punggung yang berwarna keunguan. Untuk S. nitens selama perkembangannya,
Ulat Api berganti kulit 7-8 kali dan mampu menghabiskan helaian daun seluas
400 cm2 (Susanto dkk., 2006).
Gambar 1. Larva Ulat Api (Setora nitens)
Siklus hidup ulat api (Setora nitens) berlangsung antara 40 s/d 70 hari
dengan periode larva hingga instar ke 9 selama 18 s/d 32 hari. Telur ulat api (S.
nitens) hampir sama dengan telur Setothosea asigna hanya saja meletakkan telur
antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4-7 hari (Sudharto,
1991). Telurnya berbentuk pipih dan berwarna bening, lebarnya 3 mm, diletakkan
pada permukaan bawah daun dalam 3-5 deretan, kadang kala mencapai 20 deret.
Larva Setora nitens muda hidup dalam koloni dan memakan bagian bawah
jaringan epidermis daun. Pada fase selanjutnya, larva memakan semua daun
dengan menyisakan hanya tulang daunnya saja. Larva S. nitens dewasa berwarna
hijau agak jingga dan memiliki median ungu yang memanjang dan terputus-putus.
Serangan berat S. nitens biasanya terjadi saat musim kemarau dan mencapai
1
2
ambang kendalinya pada fase tanaman sawit belum menghasilkan ketika
populasinya mencapai 5 larva per pelepah daun dan pada fase tanaman sawit
menghasilkan ketika populasinya mencapai 10 larva per pelepah (Andriyansyah,
2013).
Larva mula-mula berwarna hijau kekuningan kemudian hijau dan biasanya
berubah menjasi kemerahan menjelang masa pupa. Panjangnya mencapai 40 mm,
mempunyai 2 rumpun bulu kasar di kepala dan dua rumpun di bagian ekor. Larva
ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur ditengah punggung yang
berwarna biru keunguan. Perilaku ulat ini sama dengan ulat Setothosea asigna.
Stadia ulat berlangsung sekitar 50 hari (Sudharto, 1991). Untuk kepompong
selama 35-40 hari. Seekor ngengat betina mampu bertelur sebanyak 300-400 butir
telur dan akan menetas setelah 4-8 hari setelah diletakkan (Sudharto, 1991).
Pupanya bulat berdiameter 15 mm dan berwarna coklat. Imago S. nitens berupa
ngengat jantan dengan lebar rentang sayap sekitar 35 mm dan betina sedikit lebih
lebar. Ngengat berwarna coklat kelabu dengan garis hitam pada tepi sayap depan
dengan panjang 20 mm pada betina dan lebih pendek pada jantan. Ngengat aktif
pada senja dan malam hari sedangkan pada siang hari 11 hinggap di pelepah tua
atau pada tumpukan daun yang telah dibuang dengan posisi terbalik (Sudharto,
1991).
Serangan S. nitens di lapangan umumnya mengakibatkan daun Kelapa
Sawit habis dengan sangat cepat dan berbentuk seperti melidi. Tanaman tidak
dapat menghasilkan tandan Selma 2-3 tahun jika serangan yang terjadi sangat
berat. Umumnya gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah hingga
3
akibatnya helaian daun berlubang habis dan bagian yang tersisa hanya tulang daun
saja. Ulat ini sangat rakus, tingkat populasi 5-10 ulat per pelepah merupakan
populasi kritis hama tersebut di lapangan dan harus segera diambil tindakan
pengendalian (Sudharto, 1991). Pengendalian ulat api biasanya dilakukan secara
kimiawi dengan insektisida dan hayati dengan virus NPV. Namun pengendalian
secara kimiawi menjadi kurang bijaksana karena terbukti dapat menimbulkan
berbagai dampak negatif pada lingkungan. Secara teknis, pengendalian hayati
lebih unggul dibandingkan pengendalian dengan insektisida sintesis, karena cukup
efektif, berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pengendalian hayati Ulat Api pada
Kelapa Sawit dapat menggunakan mikroorganisme entomopatogenik, yaitu
bakteri Bacillus thuringiensis (Sipayung dan Hutauruk, 1982). Wood et al. (1977)
menemukan bahwa berdasarkan penelitian di laboratorium, B. thuringiensis
efektif melawan S. nitens dengan tingkat kematian 90 % dalam 7 hari.
B. Agen Pengendali Hayati Ulat Api
1. Bacillus thuringiensis
Bakteri Bacillus thuringiensis tergolong kedalam Divisi Protophyta, Kelas
Schizomycetes, Ordo Eubacteriales, Sub-Ordo Eubacteriineae, Famili
Bacillaceae, Genus Bacillus, Spesies Thuringiensis (Enviren, 2009). B.
thuringiensis merupakan salah satu bakteri patogen pada serangga. Ciri-ciri
morfologi B. thuringiesis antara lain: sel vegetatif berbentuk batang dengan
ukuran panjang 3-5 mm dan lebar 1,0 – 1,2 mm, mempunyai flagella, spora
berbentuk oval, letaknya subterminal, berwarna hijau kebiruan dan berukuran 1,0
– 1,3 mm. Spora relatif tahan terhadap pengaruh fisik dan [Link]
4
spora terjadi dengan cepat pada suhu 35° – 37° C. Spora mengandung asam
dipikolinik (DPA), 10-15 % dari berat kering spora, Sel-sel vegetatif dapat
membentuk suatu rantai yang terdiri dari 5 – 6 sel. B. thuringiensis bersifat gram
positif, aerob tetapi umumnya anaerob fakultatif, dapat tumbuh pada media
buatan, suhu untuk pertumbuhan berkisar antara 15°-40°C (Enviren, 2009).
B. thuringiensis yang digunakan sebagai pengendalian hayati serangga
biasanya merupakan hasil pembiakan secara invitro di laboratorium dengan
medium tertentu akan dihasilkan B. thuringensis dalam jumlah banyak yang dapat
digunakan untuk menyemprot tanaman setelah diencerkan. Penggunaan B.
thuringiensis dapat digunakan sebagai alternatif membasmi serangga yang tidak
membahayakan organisme lain, sebagai pengganti penggunaan pestisida yang
berbahaya. Menurut Asliahalyas (2013) B. thuringiensis adalah bakteri yang
menghasilkan kristal protein yang bersifat membunuh serangga (insektisidal)
sewaktu mengalami proses sporulasinya. Kristal protein yang bersifat insektisidal
ini sering disebut dengan endotoksin. Kristal ini sebenarnya hanya merupakan
protoksin yang jika larut dalam usus serangga akan berubah menjadi poli-peptida
yang lebih pendek (27- 149 kd) serta mempunyai sifat insektisi-dal. Pada
umumnya kristal B. thuringensis di alam bersifat protoksin, karena adanya
aktivitas proteolisis dalam sistem pencernaan serangga dapat mengubah Bt-
protoksin menjadi polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang
telah aktif berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti
telah menunjukkan bahwa toksin B. thuringensis ini menyebabkan terbentuknya
pori-pori (lubang yang sangat kecil) di sel membrane di saluran pencernaan dan
5
menggangu keseimbangan osmotik dari sel –sel tersebut. Karena keseimbangan
osmotik terganggu, sel menjadi bengkak dan pecah dan menyebabkan matinya
serangga.
Pemanfaatan B. thuringiensis dalam Pertanian: B. thuringiensis varietas
tenebrionis menyerang kumbang kentang colorado dan larva kumbang daun,
Bacillus thuringiensis varietas kurstaki menyerang berbagai jenis ulat tanaman
pertanian, B. thuringiensis varietas israelensis menyerang nyamuk dan lalat
hitam, B. thuringiensis varietas aizawai menyerang larva ngengat dan berbagai
ulat, terutama ulat ngengat. Untuk itu biopestisida dengan bahan aktif B.
thuringensis sudah diproduksi secara komersial. Boy Tarigan, dkk., (2013)
menemukan bahwa bakteri B. thuringensis berdasarkan penelitian di
Laboratorium B. thuringensis dapat membunuh ulat api secara signifikan.
Perlakuan yang dibuat yaitu B. thuringensis 75 gr/l pada hasil pengamatan
perlakuan 75 g/l lebih signifikan membunuh ulat api yaitu sebesar 100 %. Namun
B. thuringensis kurang efektif karena tidak tahan terhadap sinar matahari,
sehingga perlu ditingkatkan efektifitasnya dengan pemanfaatan ekstrak tanaman
yang dapat mengendalikan hama. Hasil penelitian Setiawan dkk,. (2010) diperoleh
hasil bahwa formulasi dengan campuran ekstrak gulma Tithonia 10 % merupakan
formulasi terbaik untuk mengembangkan bakteri B. thuringensis. Hal ini
disebabkan karena gulma mengandung senyawa selulosa (43 % - 45 %),
hemiselulosa (25 % - 30 %), dan lignin (15 % - 22 %) yang dapat berguna sebagai
sumber karbon bagi pertumbuhan B. thuringensis (Wyman et al., 2004).
6
2. Lantana camara
Lantana camara adalah termasuk golongan tanaman gulma berdaun sempit
yang sering tumbuh di semak-semak, ladang atau lahan kering. Pada perkebunan
kelapa sawit juga terdapat tanaman gulma L. camara, banyak petani yang
menghilangkan tanaman ini karena dianggap menggangu pertumbuhan kelapa
sawit. Namun banyak yang tidak tahu jika tanaman tersebut mempunyai khasiat
sebagai bahan pestisida organik. Terutama untuk menjaga hama maupun penyakit
di tempat-tempat penyimpanan bahan pangan, penyimpanan bibit atau benih agar
tidak rusak. Lantana camara adalah tumbuhan berbunga yang termasuk famili
Verbenaceae. (Kalita, 2012). Daun Tembelekan berfungsi sebagai insektisida.
Penelitian yang dilakukan Darwiati (2005) membuktikan bahwa
tembelekan ternyata juga mampu membasmi hama penggerek pucuk mahoni.
Tanaman Tembelekan (L. camara) merupakan gulma potensial pada budidaya
tanaman, tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pestisida nabati
karena mengandung bahan - bahan aktif seperti senyawa alkaloids lantanine,
flavanoids dan juga triterpenoids. Bagian tanaman yang bisa dipakai sebagai
bahan pestisida nabati adalah daun, batang, bunga, minyak dan bahkan getah nya
(Astriani, 2010). Hasil penelitian Hidayati (2008) menunjukkan bahwa secara
umum seluruh bahan uji yang berupa akar, daun, dan buah L. camara
mengandung saponin dengan kadar yang bervariasi. Daun memiliki kandungan
saponin tertinggi yaitu 66, 22 mg/g. Daun memiliki kandungan flavonoid tertinggi
yang ditunjukkan oleh persentase luas area serapan sebesar 12,76 %.
Sedangkan hasil penelitian Umiati (2013) menunjukkan bahwa L. camara
7
mempunyai kandungan senyawa Phenol dan senyawa racun berbahan aktif
senyawa Triperpenoid lantadene A, yang mampu membunuh secara kontak
berbagai jenis ulat daun. Tembelekan merupakan gulma beracun dan berbau
sangat menyengat. Bau menyengat disebabkan karena adanya kandungan senyawa
Phenoldalam. Sifat meracun tembelekan disebabkan adanya bahan aktif berupa
senyawa Triperpenoid Lantadene A. Bau menyengat dan sifat beracun tumbuhan
ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan penolak serangga bahan yang disimpan.
Daun dan biji dari L. camara meracun hama (Umiati, 2013).
Dalam hal ini daun tembelekan bisa menjadi bahan campuran Bacillus
thuringensis karena kandungan yang ada pada daun tembelekan ini berpontensi
dan dapat di manfaatkan sebagai carrier B. thuringensis. Menurut penelitian
Emand dkk., (2017) daun hasil sortiran yang telah bersih kemudian
dikeringanginkan selama 4 (empat) hari dilanjutkan dalam oven bersuhu 40°C
selama 3 (tiga) hari. Daun yang telah dikeringkan (simplisia) ini dapat diketahui
dengan cara diremas akan segera patah dan hancur, pada uji in vitro ekstrak daun
tembelekan yang diperlakukan dengan bakteri V. alginolyctus memperlihatkan
ekstrak memiliki aktivitas anti bakteri. Adanya aktivitas anti bakteri tersebut
ditunjukkan dengan terbentuknya zona daya hambat di sekitar paper disc.
Menurut Penelitian Alik Rohmawati (2015) kombinasi ekstrak tembelekan
dan babadotan berpengaruh terhadap mortalitas kutu beras. Jumlah kematian
tertinggi pada kutu beras selama 14 hari yaitu pada kombinasi ekstrak tembelekan
4 % dan babadotan 4 % (konsentrasi 8 %). Hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa L. camara mempunyai kandungan senyawa Phenol dan seyawa racun
8
berbahan aktif senyawa Triperpenoid Lantadene A, yang mampu membunuh
secara kontak berbagai jenis ulat daun (Umiati, 2013). Semakin tinggi konsentrasi
yang digunakan maka akan semakin tinggi rata-rata mortalitas serangga. Sari
(2013) dan Krestini (2011) yang mengatakan bahwa peningkatan konsentrasi
berbanding lurus dengan peningkatan bahan racun tersebut, sehingga daya bunuh
semakin tinggi dimana semakin tinggi konsentrasi yang digunakan semakin tinggi
mortalitas yang dihasilkan.
C. Formula Biopestisida
Formula Biopestisida merupakan kultur mikrobia yang diinokulasikan ke
dalam medium pembawa (carrier), pada saat kultur mikrobia tersebut pada fase
pertumbuhan dan berdaya bunuh. Formulasi bahan pembawa bertujuan untuk
mendapatkan inokulum dengan komposisi yang sesuai bagi pertumbuhan
mikroorganisme selama masa penyimpanan dan tetap memiliki efektivitas yang
baik saat diaplikasikan sebagai biopestisida.
Hal yang perlu diperhatikan untuk membuat bahan pembawa yang baik bagi
mikroba ialah: 1) non toksik terhadap inoculum; 2) memiliki kapasitas absorpsi
yang baik; 3) mudah untuk diproses dan bebas dari bahan yang dapat membentuk
bongkahan; 4) mudah untuk disterilisasi atau dipasteurisasi; 5) tersedia dalam
jumlah yang banyak; 6) harga tidak mahal; 7) memiliki kapasitas penyangga yang
baik; 8) tidak bersifat toksik terhadap tanaman dan 9) memiliki sifat perekat bagi
benih (FNCA, 2006). Bahan pembawa (carrier) yang digunakan harus memiliki
nutrisi yang dibutuhkan bagi mikroba seperti air, karbon, energi, nitrogen, elemen
mineral dan faktor pertumbuhan (suhu, pH, aerasi). Karbon adalah sumber utama
9
dalam sintesa untuk menghasilkan sel baru dan karbohidrat merupakan sumber
karbon yang mungkin dan paling ekonomis. Bakteri juga membutuhkan Nitrogen
organik dalam bentuk asam amino tunggal atau material kompleks meliputi asam
nukleat dan vitamin (Putrina dan Fardedi, 2007). Sumber karbon, nitrogen dan
vitamin bisa diperoleh dari : molase, gula merah, limbah cair tahu dan Air Kelapa.
Menurut Hidayat dkk., (2006), sumber karbon dan nitrogen merupakan
komponen yang utama dalam suatu media kultur, karena sel-sel mikroba dan
fermentasi sebagian besar memerlukan sumber karbon dan nitrogen dalam
prosesnya. Peningkatan produksi pertumbuhan sel-sel memerlukan nutrisi yang
optimum. Selain itu jumlah mikroorganisme yang terbentuk juga dipengaruhi pula
oleh jenis sumber karbon, temperatur, pH dan aerasi (Kosaric et al.,1983).
Molase adalah limbah industri gula. Molase tebu kaya biotin, asam
pantotenat, tiamin, fosfor dan sulfur. Kandungan nitrogen organik sedikit. Molase
mengandung 62 % gula yang terdiri dari sukrosa 32 %, glukosa 14 % dan fruktosa
16 %. Karbohidrat dalam molase telah siap difermentasi tanpa perlakuan
pendahuluan karena berbentuk gula (Hidayat et al., 2006). Molase yang
mengandung nutrisi cukup tinggi, telah dijadikan bahan alternatif untuk pengganti
glukosa sebagai sumber karbon dalam media pertumbuhan mikroorganisme
(Paturau, 1969). Molase tebu mengandung kurang lebih 39 % sellulosa dan 27,5
% hemisellulosa. Kedua bahan tersebut dapat dihidrolisa menjadi gula sederhana
yang selanjutnya difermentasi menjadi bioEtanol (Gusmailina, 2010).
10
1. Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS)
Limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) adalah salah satu produk samping
dari pabrik minyak kelapa sawit yang berasal dari kondensat dari proses
sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air hydrocyclone (claybath), dan air
pencucian pabrik. Limbah cair pabrik kelapa sawit mengandung berbagai senyawa
terlarut, serat-serat pendek, hemiselulosa, protein, asam organik dan campuran
mineral-mineral.
Limbah Cair Kelapa Sawit merupakan nutrien yang kaya akan senyawa
organik dan karbon, dekomposisi dari senyawa-senyawa organik oleh bakteri
anaerob dapat menghasilkan biogas (Deublein dan Steinhauster, 2008). Limbah
o
cair dari pabrik minyak kelapa sawit ini umumnya bersuhu tinggi 70-80 C,
berwarna kecoklatan, mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid
dan residu minyak dengan BOD (biological oxygen demand) dan COD (chemical
oxygen demand) yang tinggi. Apabila limbah cair ini langsung dibuang ke
perairan dapat mencemari lingkungan. Jika limbah tersebut langsung dibuang ke
perairan, maka sebagian akan mengendap, terurai secara perlahan, mengkonsumsi
oksigen terlarut, menimbulkan kekeruhan, mengeluarkan bau yang tajam dan
dapat merusak ekosistem perairan. Sebelum limbah cair ini dapat dibuang ke
lingkungan terlebih dahulu harus diolah agar sesuai dengan baku mutu limbah
yang telah di tetapkan. Tabel 1 menyajikan sifat dan komponen LCPKS secara
umum.
11
Tabel 1. Sifat dan Komponen LCPKS
Parameter Rata – rata *
Ph 4,7
Minyak 4000
BOD 25000
COD 50000
Total Solid 40500
Suspended Solid 18000
Total Volatile Solid 34000
Total Nitrogen 750
Mineral Rata – rata *
Kalium 2270
Magnesium 615
Kalsium 439
Besi 46,5
Tembaga 0,89
Semua : Ngan (2000).
* Satuan semua parameter dalam mg/l, kecuali pH
Tabel 2 adalah baku mutu untuk limbah cair industri minyak kelapa sawit
berdasarkan Keputusam Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 1995.
Tabel 2. Baku Mutu Limbah Cair Kelapa Sawit
Parameter Kadar Bahan Pencemaran
Maksimum (mg/l) Maksmum (kg/ton)
BOD5 100 0,25
COD 350 0,88
TSS 250 0,63
Minyak dan lemak 25 0,063
Nitrogen total (sebagai N) 50,0 0,125
Nikel (Ni) 0,5 mg/l
Kobal (Co) 0,6 mg/l
Ph 6,0 – 9,0
Debit limbah maksimum 2,5 m3 per ton produk minyak sawit (CPO)
Sumber : Kep Men LH No.51 (1995)
Menurut hasil dari penelitian Dwi Wahyuono (2015) Penggunaan media
alternatif LCPKS 100 % + 0,4 g gula merah + 30 ml Air Kelapa + B.
thuringiensis memberikan hasil terbaik sebagai bioinsektisida hayati. Pada
perlakuan LCPKS 100 % + 0,4 g gula merah + 30 ml Air Kelapa + B.
12
thuringiensis karena dapat meningkatkan nilai mortalitas lebih tinggi yakni 66,6
%, kecepatan kematian 4,6 (hari) perubahan persentase populasi 66,6 %,
hambatan makan 41,1 %.
2. Air Kelapa
Air Kelapa mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein 0,2 %, lemak 0,15 %,
karbohidrat 7,27 %, gula, vitamin, elektrolit dan hormon pertumbuhan.
Kandungan gula maksimun 3 gram per 100 ml Air Kelapa. Jenis gula yang
terkandung adalah sukrosa, glukosa, fruktosa dan sorbitol. Gula-gula inilah yang
menyebabkan Air Kelapa muda lebih manis dari Air Kelapa yang lebih tua.
(Warisno, 2004). Disamping itu Air Kelapa juga mengandung mineral seperti
kalium dan natrium. Mineral-mineral itu diperlukan dalam poses metabolisme,
juga dibutuhkan dan pembentukan kofaktor enzim-enzim ekstraseluler oleh
bakteri pembentuk selulosa. Selain mengandung mineral, Air Kelapa juga
mengandung vitamin-vitamin seperti riboflavin, tiamin, biotin. Wood et al. (1977)
menemukan bahwa berdasarkan penelitian di laboratorium, B. thuringiensis
efektif melawan S. nitens dengan tingkat kematian 90 % dalam 7 hari. Mortalitas
B. thuringiesis pada hari ke 3 pada formula Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit 100
% + 0,4 g gula merah + 30 ml Air Kelapa mempunyai tingkat kematian 100 %
dengan kecepatan kematian 4,3 ekor/hari, perubahan persentase populasi 66,6 %,
hambatan makan 41,1 %, sedangkan pada formula LCPKS 75 % + 0,4 g gula
merah + 30 ml Air Kelapa tingkat kematian kurang dari 50 % (Wahyuono dkk,
2013).
13
D. Ekstrasi Senyawa Aktif Dari Padatan Hasil Fermentasi Daun Lantana
camara dan Bacillus thuringiensis
Lantana camara merupakan tanaman yang tergolong gulma yang sering
tumbuh di perkebunan kelapa sawit. Tanaman Tembelekan (L. camara) dapat
dimanfaatkan sebagai sumber bahan pestisida nabati karena mengandung bahan -
bahan aktif seperti senyawa alkaloids lantanine, flavanoids dan juga triterpenoids.
Pengambilan bahan aktif pada L. camara dapat dilakukan dengan ekstrasi pelarut.
Pemilihan jenis pelarut harus mempertimbangkan beberapa faktor antara lain
selektivitas, kemampuan untuk mengekstrak, toksisitas, kemudahan untuk
diuapkan dan harga pelarut (Harborne, 1987).
Ekstraksi L. camara dengan Bacillus thuringiensis akan dilakukan adalah
berupa padatan hasil fermentasi. Dimana pada proses fermentasi akan
menggunakan penguraian mikrobia yaitu B. thuringiensis. Proses penguraian
tersebut dalam suasana anaerob, dimana terjadi perubahan karena adanya aktivitas
mikroorganisme penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai. Proses
fermentasi terjadi karena minim O2 sehingga diharapkan hasilnya dapat diperoleh
senyawa yang baik dan efektif. Larutan pengekstraksi yang digunakan disesuaikan
dengan kepolaran senyawa yang diinginkan. Hasil penelitian Suryani dkk (2015)
menunjukkan bahwa ekstaksi daun matoa menggunakan pelarut Metanol memiliki
rendemen sebanyak 38,68 %. Adapun pelarut yang akan digunakan untuk ekstrasi
antara lain:
1. Ekstraksi Dengan Metanol
Pelarut Metanol merupakan pelarut yang bersifat universal yang mampu
mengikat semua komponen kimia yang terdapat pada tumbuhan bahan alam, baik
14
yang bersifat non polar, semi polar, dan polar. Metanol merupakan cairan penyari
yang mudah masuk ke dalam sel melewati dinding sel bahan, sehingga metabolit
sekunder yang terdapat dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut dan senyawa
akan terekstraksi sempurna (Lenny, 2006). Senyawa yang terkandung pada daun
L. camara memiliki tingkat kepolaran yang berbeda-beda. Senyawa flavonoid
pada daun L. camara membentuk glikosida dan aglikon (aglikon polimetoksi dan
aglikon polihidroksi). Aglikon polimetoksi bersifat nonpolar, aglikon polihidroksi
bersifat semipolar, sedangkan glikosida bersifat polar yang mengandung sejumlah
gugus hidroksil dan gula (Harbone, 1987 dalam Rohyami 2008).
Daun L. camara akan diekstrak menggunakan pelarut Metanol. Hal ini
dilakukan untuk mengambil bahan aktif yang terdapat pada L. camara salah
satunya adalah flavonoid. Senyawa flavonoid merupakan senyawa polar karena
mempunyai sejumlah gula yang terikat, oleh karena itu flavonoid lebih cenderung
larut pada pelarut polar. Hasil penelitian Suryani dkk (2015) menunjukkan bahwa
ekstaksi daun matoa menggunakan pelarut Metanol memiliki rendemen sebanyak
38,68 %. Tingginya rendemen ekstrak daun matoa dengan pelarut Metanol
menunjukkan bahwa pelarut Metanol pada daun matoa mampu mengekstrak
senyawa lebih baik, karena perolehan senyawa didasarkan pada kesamaan sifat
kepolaran terhadap pelarut. Menurut prinsip polarisasi, suatu senyawa akan larut
pada pelarut yang mempunyai kepolaran yang sama (Harborne, 1987).
2. Ekstraksi Dengan Aseton
Aseton merupakan keton yang paling sederhana, digunakan sebagai
pelarut polar dalam kebanyakan reaksi organik. Aseton yang bersifat polar akan
15
menarik senyawa yang bersifat polar sampai non polar. Sarastani et al. (2002)
menyatakan bahwa pelarut dapat melarutkan ekstrak yang mempunyai sifat
kepolaran yang sama. Sari (2011) juga menyatakan bahawa pemilihan berbagai
pelarut yang digunakan untuk eksstraksi harus tepat agar dapat menarik senyawa
yang dikehendaki. Hasil penelitian Firdiyani dkk. (2015) menunjukan bahwa hasil
rendemen ekstraksi mikroalga Spirulina platensis dengan pelarut Aseton sebesar
1,86 % dalam bentuk kering. Hasil penelitian Suryani dkk. (2015) menunjukkan
bahwa ekstaksi daun matoa menggunakan pelarut Aseton memiliki rendemen
sebanyak 24,47 %. Ekstrak daun matoa dengan pelarut Aseton mengandung
senyawa-senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai antioksidan yang lebih
baik dibandingkan dengan pelarut lainnya. Adanya senyawa bioaktif pada ekstrak
daun matoa dengan pelarut Aseton menunjukkan senyawa tersebut mempunyai
kepolaran yang sama dengan Aseton. Menurut Harborne (1987) terdapat senyawa-
senyawa metabolit sekunder yang mudah larut dalam pelarut Aseton seperti
klorofil dan beberapa senyawa polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan.
3. Ekstrasi Dengan Etanol
Menurut Trifani (2012), Etanol digunakan sebagai pelarut karena bersifat
polar, universal, dan mudah didapat. Senyawa polar merupakan senyawa yang
larut didalam air. Etanol merupakan pelarut polar yang banyak digunakan untuk
mengekstral komponen polar suatu bahan alam dan dikenal sebagai pelarut
universal. Komponen polar dari suatu bahan alam dalam ekstrak Etanol dapat
diambil dengan teknik ekstraksi melalui proses pemisahan (Santana et al., 2009).
Menurut Sudarmaji (2003) Etanol dapat mengekstrak senyawa aktif yang lebih
16
banyak dibandingkan jenis pelarut organik lainnya. Etanol mempunyai titik didih
yang rendah yaitu 79oC sehingga memerlukan panas yang lebih sedikit untuk
proses pemekatan. Hasil penelitian Suryani dkk (2015) menunjukkan bahwa
ekstaksi daun matoa menggunakan pelarut Etanol memiliki rendemen sebanyak
28,47 %. Sedangkan hasil penelitian Sulastri (2009) menunjukkan bahwa hasil
ekstraksi biji pinang siring dengan pelarut Etanol memiliki kadar tanin sebesar
8,53 %. Hasil penelitian Aziz (2014) menunjukkan bahwa hasil ekstraksi daun
salam india dapat melarutkan senyawa alkaloid dan dapat mengekstrak lebih
banyak dari pelarut lainnya yaitu 22 %.
E. Hipotesis
Diduga formulasi media dengan perbandingan LCPKS : Air Kelapa = 3:1
merupakan komposisi terbaik untuk fermentasi Lantana camara dan Bacillus
thuringiensis serta pelarut terbaik hasil ekstraksi padatan hasil fermentasi daun
Lantana camara dan Bacillus thuringiensis yaitu dengan pelarut Metanol, akan
sangat efektif mengendalikan ulat api.