Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
TINGKAT SERANGAN HAMA ULAT API Setothoseaasigna DAN HAMA
ULAT KANTUNG Metisaplana PADA
PERKEBUNANKELAPASAWIT(Elaeis guineensis Jacq) DI PTPN IV UNIT
USAHA BAH BIRUNG ULU
Nur Ariyani Agustina1
1
Dosen Fakultas Agro Teknologi, Universitas Prima Indonesia
ABSTRAK
Penelitianini bertujuanuntuk mengetahui Tingkat Serangan Hama ulat ApiSetothosea
asigna dan hama Ulat kantung Metisa planapada perkebunan kelapa sawit (Elaeis
guineensisJacq) di PTPN IV unit Usaha Bah Birung Ulu. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Juni hingga Juli 2018. Metode penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif
dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa tidak ada pengaruh tingkat serangan hama ulat api Setothosea asigna dan hama
ulat kantung Metisa plana. Tingkat serangan hama ulat api Setothosea asigna 19,17%
dengan skor 1,7 kategori sangat ringan, sedangkan serangan hama ulat kantung Metisa
plana 2 : 22 dengan skor 1 kategori sangat ringan.
Kata Kunci :Setothosea asigna,Metisa plana, Elaeis guineensis Jacq
PENDAHULUAN
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit
merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber
penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Prospek komoditi minyak kelapa
sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah
Indonesia memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit (Hartanto,
2011).
Kelapa sawit tergolong tanaman kuat, namun demikian tanaman ini tidak
luput dari serangan hama. Akibat yang ditimbulkan oleh serangan hama sangat
besar, seperti penurunan produksi bahkan kematian tanaman. Hama dapat
menyerang tanaman kelapa sawit mulai dari pembibitan hingga tanaman
menghasilkan (Fauzi, 2006). Beberapa jenis hama penting yang menyerang
tanaman kelapa sawit misalnya hama babi, tikus, kumbang tanduk, maupun hama
ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) (Hakim, 2007).
Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2011), permasalahan
penting dalam perkebunan tanaman kelapa sawit adalah serangan ulat pemakan
50
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
daun yang menyerang baik pada periode tanaman belum menghasilkan (TBM)
maupun tanaman menghasilkan (TM). Penurunan jumlah produksi kelapa sawit
akibat serangan hama tersebut mencapai 40% atau sekitar 6,4 ton/ha. Pada
tanaman kelapa sawit terdapat hama yang merugikan tanaman kelapa sawit yaitu
ulat api Setothosea asigna. (Lepidoptera: Limacodidae) yang merupakan hama
pemakan daun. Pada tingkat serangan tinggi, hama ini dapat mengakibatkan
tanaman kelapa sawit menjadi gundul dan yang tertinggal adalah hanya tulang
daun.
Penyebaran serangan hama ulat kantungMetisa planadapat terjadi karena
adanya angin yang membawa larva instar 1 ke tanaman lain, larva instar 1
memiliki panjang 1,1 mm dengan panjang kantung 1,6 mm, ukuran tersebut
sangat kecil dan ringan sehingga mudah untuk terbawa oleh angina (Kok et
al.,2011). Penyebaran serangan ulat kantungMetisa plana juga dapat terjadi dari
perpindahan larva melalui daun tanaman yang saling bersinggungan sehingga
larva dapat berjalan menuju daun disebelahnya. Arsitektur tanaman yang
menyangkut ukuran, bentuk, dan atribut yang lain dari tanaman sangat
mempengaruhi keanekaragaman serangga ngengat Lepidoptera yang berasosiasi
(Lara etal., 2008).
Ulat kantung lebih banyak ditemukan pada tanaman kelapa sawit dengan
umur tanaman lebih tua. Sahari (2012) melaporkan bahwa pada umur kelapa sawit
kurang dari tiga tahun, hama lebih banyak di dominasi olehulat api, sedangkan
pada umur enam tahun, ulat kantung dan ulat bulu lebih dominan. Pada umur
tanaman yang lebih tua, kanopi berkembang dan tumpang tindih, hal inilah yang
menyebabkan pergerakan dan penularan hama ulat kantung menjadi lebih tinggi.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat penelitian dilaksanakan di Kebun Bah Birung Ulu, PTPN IV.
Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun. Penelitian di mulai pada
bulan Juni – Juli 2018. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah, penanda tanaman sampel cat warna biru dan cat warna merah,alat tulis,
dan untuk dokumentasi menggunakan kamera.
51
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan metode
pengambilan sample secara purposive sampling. Data yang dikumpulkan dalam
penelitian ini menggunakan data primer. Pengamatan populai ulat api dan ulat
kantung pada tanaman kelapa sawit di lakukan secara kasat mata. Tingkat
kepadatan populasi dinyatakan berdasarkan jumlah ulat api dan ulat kantung yang
ditemukan pada pelepah daun muda ke 7 dan pelepah daun tua ke 15, kemudian di
hitung secara manual.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan serangan hama ulat api dan ulat kantong tiap
tanaman kelapa sawit dalam masing-masing pokok di AFD II Kebun Bah Birung
Ulu, diketahui hama dominan yang menyerang TBM III yaitu ulat api, namun
terdapat juga serangan hama ulat kantong. Dari hasil penelitian diperoleh populasi
ulat api dan ulat kantung setiap pokokyang ditampilkan pada Tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Pengamatan Hama Ulat Api Dan Ulat Kantong
Jumlah Hama (Ekor/pokok)
Jenis Hama
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 Total Rerata
Ulat Api 18 28 21 15 12 7 14 11 18 144 16
Ulat Kantung 0 0 1 0 0 0 1 0 0 2 1
Rataan populasi ulat api tertingi terjadi di P2 sebesar 28 ekor/pokok dan
rataan populasi ulat api terendah terdapat di P6 sebesar 6 ekor/pokok. Sedangkan
rataan populasi ulat kantung sama-sama 1 ekor/pokok. Intensitas serangan hama
ulat api dan ulat kantong dari hasil pengamatan terjadi pada pelepah daun muda
mulai dari pelepah ke 7. Hal ini di sebabkan karena jaringan daun pada pelepah
muda lebih lunak dari pada jaringan daun pelepah daun tua.
Berdasarkan hasil pengamatan di Afdeling 2 kerusakan akibat serangan hama ulat
api dapat di lihat dari gejala daun bekas gigitan berbentuk bercak bulat hingga
daun terlihat berlubang. Pada awalnya bekas gigitan ini berwarna hijau semakin
lama akan mengering dan berwarna kecoklatan, terlihat pada Gambar 4. Serangan
hama ulat kantong menyebabkan pucuk daun menjadi patah, daun mengering
seperti terbakar, terdapat bercak gigitan berwarna kuning hingga kecoklatan.
52
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
Tabel 3. Tingkat Serangan Hama Ulat Kantung
Skor
No Sampel Kategori
1
1 Pokok 3 Sangat Ringan
1
2 Pokok 7 Sangat Ringan
Tabel 4. Tingkat serangan hama ulat api
No Sampel Skor Kategori
1 Pokok 1 2 Ringan
2 Pokok 2 2 Ringan
3 Pokok 3 2 Ringan
4 Pokok 4 1 Sangat Ringan
5 Pokok 5 1 Sangat Ringan
6 Pokok 6 2 Ringan
7 Pokok 7 2 Ringan
8 Pokok 8 1 Sangat Ringan
9 Pokok 9 2 Ringan
Total 1.7 Sangat Ringan
Tingkat serangan hama ulat api dan ulat kantung ditunjukkan dari Tabel 3
dan Tabel 4 bahwa rata-rata dikategorikan sangat ringan yang ditunjukkan pada
Tabel 4. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor iklim yaitu intensitas curah hujan,
suhu udara, serta kelembaban yang tinggi. Penyebab lainya karena ulat api dan
ulat kantong mudah menyebar dengan bantuan angin dan terbawa manusia,
serangan predator, ataupun jatuh ke tempat lain.
Upaya pengendalian yang di lakukan di Kebun Unit Usaha PTPN IV Bah
Birung Ulu untuk serangan ulat api dengan pengutipan hama dan metode injeksi
yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan pada batang tanaman kelapa sawit.
Sedangkan pengendalian hama ulat kantung dengan pengutipan hama. Gambar 6
menunjukkan intensitas serangan sangat ringan, hal ini menunjukkan bahwa.
Keberhasilan dalam pengembangan kelapa sawit sangat di tentukan oleh beberapa
faktor dan salah satunya adalah faktor tanah dan iklim. Konversi lahan
memerlukan kajian yang mendalam mengingat berdasarkan syarat pertumbuhan
kelapa sawit masih berada pada ketinggian maksimal 400 m dpl (Adiwiganda dan
53
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
Sutarta, 1999), sedangkan pada penelitian lain menyatakan ketinggian wilayah
maksimal 500-600m dpl (Lubis, 2008).
Menurut Santoso et,.al(2006) konversi lahan perkebunan teh menjadi
perkebunan kelapa sawit berada pada ketinggian 650-1300 m dpl. Dengan adanya
perubahan iklim global, pengamatan ekofisiologi, keragaan, dan produktifitas
tanaman kelapa sawit pada areal dengan ketinggian 650-825 mdpl di Kabupaten
Simalungun, tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dan berproduksi dengan kendala
stress suhu udara rendah pada areal survei dengan ketinggian 600-850 m dpl.
Sedangkan untuk areal perkebunan yang berada pada ketinggian dia atas 850 m
dpl tidak di sarankan untuk di konversi menjadi tanaman kelapa sawit karena suhu
udara cenderung kurang dari 18 oC Suhu udara yang optimum bagi kehidupan
Setothosea asigna. Secara umum kisaran suhu udara yang efektif dengan suhu
minimum 15ºC, suhu optimum 25ºC dan suhu maksimum 45ºC. Kelembaban
udara juga mempengaruhi pembiakan, pertumbuhan, perkembangan dan keaktifan
serangga baik langsung maupun tidak langsung. Kemampuan serangga bertahan
terhadap kelembaban udara sekitarnya berbeda-beda (Susniahti et,.al 2005).
KESIMPULAN
Perbandingan tingkat serangan hama ulat apiSetothosea asignadan hama
ulat kantungMetisa plana memberikan pengaruh sangat ringan pada perkebunan
kelapa sawit di Kebun Unit Usaha PTPN IV Bah Birung Ulu.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwiganda, R. H. H. Sire-Gar, Antl E. S. Sutarta . 1999. Agroclimatic Zones for
Oil Palm Plantations in Indoensia. In proc. l9q9 PORIM International
Palm Oil Congress. PORIM, Kualalurnpur. 387-401p.
Ali, S.R.A.,Najib, [Link], [Link], M danBasri, M.W. 2012. Field
Efficacy of MPOB Ecobac-1 (EC) for Controlling Bagworm,
Pteromapendula Outbreak in Oil Palm Plantation. UMT 11th International
Annual Symposium on Sustainability Science and Management 09th – 11th
July 2012, Terengganu, Malaysia.
54
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
Basri, M.W dan Kevan, P.G. 1995. LifeHistory and Feeding Behaviourof the Oil
Palm Bagworm [Link] Walker (Lepidoptera:Psychidae). Elaeis journal 6
(2):82-101.
Desmier de Chenon, R. A. Sipayung and P.S Sudharto. 1989. The importance of
Natural enemies on leaf eating caterpillars in oil palm in Sumatera uses and
possibilities. Proc. Of the PORIM International Palm Oil
[Link], Bangi p.245-262.
Fauzi, [Link], Kanisius, Yokyakarta
Ginting EN. 2009. Pembibitan Kelapa sawit. Agromedia Pustaka, jakarta
Hakim, M. [Link] Pegangan Agronomis dan Pengusaha Kelapa Sawit
.Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta
Hartanto, H. 2011. Sukses Besar Budidaya Kelapa [Link] Media Publishing.
Yogyakarta.
Hidayat,[Link] Kesesuaian Lahandan Peta Arahan Tata Ruang
[Link] Sumber daya Lahan Vol. 3 No. 3 Desember [Link]
Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya LahanPertanian. Bogor.
Hartley AH, Rasmussen JE. Exanthems menular. Pe-diatric dalam ulasan 1988; 9:
321-9.
Irawan, B. 2005. Konversi Lahan Sawah menimbulkan Dampak Negatif bagi
Ketahanan Pangan dan Lingkungan. Warta Penelitian dan Pengembangan
Pertanian 27 6
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. (Rev. & [Link]: P.A.
van der Laan& G.H.L. Rotschild). PT IchtiarBaru-Van Hoeve, Jakarta.
Kilmaskossu, N. A. 1993. Hereditas, Reproduksi dan Perkembangan Pada Hewan.
Modul Perkuliahan. Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi Indonesia
Timur Kerjasama Uniersitas Sam Ratulangi Canadian International
Development Agency Simon Fraser
Kamarudin, N., Nurhidayah, S.A., Arshad, O danBasri, M.W. 2009. Pheromone
Mass Trapping of Bagworm Moths, Metisaplana Walker (Lepidoptera:
Psychidae), for its Control in Mature Oil Palms in Perak, Malaysia.
Journal of Asia-Pacific Entomology 13 (2010): 101–106.
Kok, C.C., Eng, O .K. Razak, A.R danArshad, A.M. [Link] and Life
CycleOf Metisa plana Walker Walker(Lepidoptera: Psychidae).Journal of
SustainabilityScience and Management, 6 (1): 51-59.
55
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
Kurdianto,D 2011 Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Tanaman Kelapa Sawit.
[Link]
Lara, D.P., Oliveira, L.A, Azeved,I.F.P, Xavier, M.F., Silveira,F.A.O., Carneiro,
M.A.A danFernandes, G.W. [Link] Between HostPlant
Architecture and GallAbundance and [Link] Brasileira
deEntomologia 52 (1): 78-81.
Lubis, A. U. 1991. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Di Indonesia. Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. Medan
Mangoensoekarjo S, dan Semangun H. 2005. Manajemen Agribisnis Kelapa
[Link] Mada University Press Press: Yogyakarta.
Norman, dan Basri (1998). Buku Pegangan UmumParasitoid dan Predator Terkait
dengan Bagworm dan Nettle Caterpillarsdi perkebunan kelapa sawit.
PORIM, Bangi. 29 hal.
Pahan, I. 2010. KelapaSawitManajemenAgribisnis Dari Hulu HinggaHilir.
PenebarSwadaya. Jakarta
Pardamean M. 2011. Sukses Membuka Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit. Penebar
Swadaya: Jakarta.
Purba RY, Susanto A, Prawirosukarto S. 2005. Hama-Hama
[Link] I, Serangga Hama padaKelapaSawit. Seri
BukuSaku 12. Medan: PusatPenelitianKelapaSawit..
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2011b. Hama Sawit: Ulat
[Link]://[Link]/[Link]/hama-sawit/[Link] [19 Juni
2011].
Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman (edisi revisi). Jakarta: Penebar
Swadaya.
Prawirosukarto 2003. Pengenalan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Kelapa [Link], Medan.
Rindarkoko, Y. 2012. Intensitas Serangan Hama Tanaman Kelapa Sawit
(Elaeisquineensis Jacq) Pada Beberapa Umur Tanaman Di Perkebunan
Rakyat DesaP anggun grejo Kecamatan Panggung Rejo Kabupaten Blitar.
Skripsi. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Jember.
Ronny Pamuji, Bambang T , dan Hagus Tarno.2013. Populasi Dan Serangan
Hama Ulat KantungMetisa plana Walker Walker (Lepidoptera;
Psychidae) Serta ParasitoidnyaDi Perkebunan Kelapa Sawit Kabupaten
Donggala,Sulawesi Tengah
56
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021
Sahari, B. 2012. Struktur KomunitasParasitoid Hymenoptera diperkebunan Kelapa
Sawit, DesaPandu Senjaya, KecamatanPangkalan Lada
KalimantanTengah. Disertasi. Institut PertanianBogor.
Sunarko.2009. Petunjuk Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit.
Agromedia Pustaka: Jakarta.
Susanto, A. Rolettha, Y. P, danAgus, E.P. 2010. Hama Dan Penyakit Kelapa
Sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan
Suwarto, dan Yuke O. 2010. Budidaya 12 Tanaman Perkebunan Unggulan.
PenebarSwadaya: Jakarta.
Siringoringo, 2005. ”Studi Pembuatan Teh Daun Kopi”. Skripsi. Departemen
Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian USU Medan
Santoso, Singgih. 2006. Konversi perubahan iklim Panduan Lengkap SPSS Versi
20. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Syakir, M. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Perkebunan,.Bogor :askamedia, 79: 20-35
Susniahti, N., H. 2005. Ilmu Hama Tumbuhan. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Norman, R.J., Et all., 2004. Meningkatkan Kinerja Reproduksi diWanita
kelebihan berat badan / obesitas dengan manajemen berat badan yang
efektif. EropaMasyarakat Reproduksi dan Embriologi Manusia
Wood, B.J. 2008. Laporan Kunjungan Penasihat Perlindungan Tanaman untuk
Bah Lias Stasiun Penelitian, Sumatra, Indonesia, Oktober 2008.
57