Laporan Kinerja Gizi Masyarakat 2021
Laporan Kinerja Gizi Masyarakat 2021
KESEHATAN
REPUBLIK
INDONESIA
Mengacu pada Permenkes No 25 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kesehatan, Direktorat Gizi Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian
bimbingan teknis dan supervisi, evaluasi, dan pelaporan di bidang gizi masyarakat. Dalam
melaksanakan tugas tersebut telah ditetapkan 3 (tiga) indikator kinerja gizi yang dituangkan
dalam Perjanjian Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021.
Sepanjang tahun anggaran 2021 Direktorat Gizi Masyarakat telah melaksanakan berbagai
kegiatan mulai dari perencanaan sampai implementasi kegiatan dengan berbagai sumber
anggaran sebagai upaya untuk mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Sebagai
wujud pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintah yang baik dan akuntabel Direktorat
Gizi Masyarakat menyusun laporan pertanggungjawan kinerja Tahun 2021 sesuai dengan
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 53 Tahu 2014 tentang Petunjuk
Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja
Instansi Pemerintah.
Kami berharap Laporan Akuntabilitas Kinerja yang disusun oleh Direktorat Gizi Masyarakat
dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Gizi
Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Tahun 2021 merupakan tahun ke-2 dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 – 2024 dan Rencana Strategis Kementerian
Kesehaatan Tahun 2020 – 2024, sehingga diharapkan pencapaian kinerja kegiatan tahun ini
dapat mendukung keberhasilan pencapaian kinerja di tahun berikutnya. Kinerja Direktorat Gizi
Masyarakat pada tahun 2021 diukur melalui pencapaian 3 (tiga) indikator gizi yang tercantum
dalam perjanjian kinerja tahun 2021 sebagai berikut:
2 Persentase 70 58,8 84
kabupaten/kota
melaksanakan surveilans
gizi
Beberapa upaya yang sudah dilakukan untuk mengatasi tantangan terutama terkait dengan
situasi pandemi yang berpotensi menghambat pencapaian target indikator diantaranya
adalah:
1) Peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk pendampingan implementasi
intervensi spesifik di 5 kabupaten dengan jumlah stunting tertinggi
2) Penguatan kualitas pelayanan dan integrasi program
3) Peningkatan pemanfaatan pangan lokal untuk Makanan Tambahan balita gizi kurang dan
ibu hamil KEK melalui pendidikan gizi
4) Penyediaan dan peningkatan media edukasi gizi untuk ibu hamil, baik melalui media visual
dan elektronik.
5) Penguatan surveilans gizi termasuk manajemen data rutin mulai dari pengumpulan,
analisis, dan pemanfaatan data/ informasi.
Demikian secara ringkas gambaran isi dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Gizi Tahun
2021, diharapkan laporan ini dapat bermanfaat sebagai bahan masukan bagi perbaikan
kebijakan perbaikan gizi dan juga untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan perbaikan
gizi masyarakat yang lebih baik di masa yang akan datang.
Daftar Isi
Halaman Judul i
Pengantar ii
Ikhtisar Eksekutif iii
Daftar Isi v
Daftar Gambar vi
Daftar Tabel viii
I Pendahuluan 1
1. Latar Belakang 1
2. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi 3
3. Isu Strategis 5
4. Sistematika Laporan Kinerja 10
II Perencanaan Kinerja 12
1. Visi dan Misi 12
2. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020 - 14
2024
3. Rencana Aksi, Rencana Kerja dan Anggaran 13
4. Perjanjian Kinerja 17
III Akuntabilitas Kinerja 18
1. Capaian Kinerja 18
2. Realisasi Anggaran 40
3. Analisis Efisiensi
IV Penutup 51
Lampiran
Daftar Gambar
Struktur Organisasi Direktorat Gizi Masyarakat 3
Skema IKK Direktorat Gizi Masyarakat, IKU Ditjen Kesmas, dan 9
Sasaran Strategis Kementerian Kesehatan
Realisasi Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat Gizi Masyarakat 15
Berdasarkan Perjanjian Kinerja Tahun 2015-2019
Realisasi Ibu Hamil KEK yang Mendapat Makanan Tambahan 17
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Ibu Hamil KEK yang Mendapat 18
Makanan Tambahan Tahun 2015-2019
Realisasi Ibu Hamil KEK yang Mendapat Makanan Tambahan 19
Menurut Provinsi Tahun 2019
Realisasi Ibu Hamil Mendapat Tablet Tambah Darah (TTD) Tahun 23
2019
Kecenderungan Realisasi Ibu Hamil yang Mendapat TTD Tahun 24
2015-2019
Realisasi Ibu Hamil Mendapat TTD Menurut Provinsi Tahun 2019 25
Realisasi Bayi Usia kurang dari 6 Bulan Mendapat ASI Eksklusif 28
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Bayi Usia kurang dari 6 Bulan 29
Mendapat ASI Eksklusif Tahun 2015-2019
Realisasi Bayi Usia kurang dari 6 Bulan Mendapat ASI Eksklusif 32
Menurut Provinsi Tahun 2019
Realisasi Bayi Baru Lahir Mendapat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) 34
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Bayi Baru Lahir Mendapat IMD Tahun 34
2015-2019
Realisasi Bayi Baru Lahir Mendapat IMD Menurut Provinsi Tahun 36
2019
Realisasi Balita Kurus yang Mendapat Makanan Tambahan 38
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Balita Kurus yang Mendapat Makanan 39
Tambahan Tahun 2015-2019
Realisasi Balita Kurus yang Mendapat Makanan Tambahan 40
Menurut Provinsi Tahun 2019
Realisasi Remaja Puteri yang Mendapatkan TTD Tahun 2019 43
Kecenderungan Realisasi Remaja Puteri yang Mendapat TTD 43
Tahun 2015-2019
Realisasi Remaja Puteri Mendapat TTD Menurut Provinsi Tahun 44
2019
Daftar Tabel
Sasaran Strategis Pembinaan Gizi Masyarakat 2015-2019 11
Perjanjian Kinerja Tahun 2019 Direktorat Gizi Masyarakat 14
Rincian Anggaran Rencana Kerja Direktorat Gizi Masyarakat 48
Tahun 2019
Realisasi Anggaran Berdasarkan Indikator Kinerja Direktorat Gizi 49
Masyarakat Tahun 2019
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Nutrisionis Muda (Sub Nutrisionis Muda (Sub Adminkes Muda (Sub Nutrisionis Muda (Sub Koordinator
Koordinator Mutu Gizi) Koordinator Surveilans Gizi) Koordinator Makro) Gizi Umum)
Dr. Hera Nurlita, S. Si.T, M. Kes Lina Marlina, SP, M. Gz dr. Julina, MM Eko Prihastono, SKM, MA
Pembina / IV a Pembina / IV a Pembina / IV a Pembina / IV a
NIP 197410201999032004 NIP 198103302005012003 NIP 196509021988031001
Nutrisionis Muda (Koordinator Nutrisionis Muda (Sub Nutrisionis Muda (Sub Adminkes Muda (Sub Koordinator
Kecukupan Gizi) Koordinator Ketahanan Gizi) Koordinator MIkro) Gizi Khusus)
Muhammad Adil, SP, MPH Dakhlan Choeron, SKM MKM Yuni Zahraini, SKM, MKM dr. Ivonne Kusumaningtias, MKM
Pembina / IV a Penata Tk. I / III d Penata / IIIc Pembina / IV a
NIP 196912311992031039 NIP 198310212005011001 NIP 198106292003122003 NIP 197406152008122001
4. Isu Strategis
Indikator prevalensi ibu hamil kurang energi kronik (KEK) juga mengalami
penurunan yang cukup signifikan, yaitu 24,2% tahun 2013 menjadi 17,3%
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 5
tahun 2018. Kondisi sebaliknya ditunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil
yang mengalami peningkatan cukup tinggi dari 37,1% (Riskesdas 2013)
menjadi 48,9% (Riskesdas 2018). Kekurangan zat gizi besi menjadi
penyebab utama anemia di Indonesia. Anemia gizi besi berdampak negative
pada pertumbuhan dan perkembangan balita, menurunnya produktifitas pada
orang dewasa dan menurunnya fungsi kognitif pada wanita. (WHO, 2019).
Anemia pada ibu hamil akan meningkatkan risiko kematian ibu akibat
perdarahan dan melahirkan bayi lahir dengan berat lahir rendah.
Tingginya masalah kurang gizi, defisiensi gizi mikro dan masalah gizi
lebih pada saat yang sama menempatkan Indonesia menjadi negara yang
mengalami masalah beban ganda gizi (double burden of malnutrition).
Masalah beban ganda gizi dapat terjadi di suatu wilayah, keluarga bahkan di
tingkat individu. Beban ganda gizi yang terjadi pada kelompok anak-anak
maupun dewasa akan menimbulkan tantangan yang cukup berat terhadap
laju pembangunan suatu negara karena akan berdampak pada
meningkatnya pembiayaan kesehatan, menurunkan produktifitas dan laju
pertumbuhan ekonomi, serta berpotensi terhadap penurunan kualitas sumber
daya manusia. Menurunnya prevalensi stunting dan wasting pada balita
merupakan
Nutrition for growth (N4G) adalah upaya global untuk menyatukan langkah
pemerintah, donor, swasta, NGOs, CSOs dan pemangku kepentingan
lainnya untuk meningkatkan komitmen global dalam percepatan perbaikan
gizi. Pada N4G tahun 2021 setiap negara untuk meningkatkan dukungan
finansial dan penguatan kebijakan untuk mengurangi dampak COVID-19
terhadap gizi masyarakat dan menempatkan gizi sebagai salah satu prioritas
pembangunan nasional melalui pernyataan bersama yang mencakup:
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Bab I Pendahuluan
Bab IV Penutup
Lampiran
Visi Kementerian Kesehatan merupakan visi Presiden Republik Indonesia yaitu “Mendorong Indonesia
lebih produktif, berdaya saing dan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan global yang dinamis dan penuh
risiko”. Visi tersebut diwujudkan melalui 5 (lima) Misi yaitu:
Sasaran strategis yang terkait langsung dengan Direktorat Gizi Masyarakat adalah
sasaran strategis 1, yaitu meningkatnya kesehatan ibu, anak dan gizi masyarakat. Renstra
Kemenkes 2020 -2024 mencantumkan pencapaian sasaran strategis meningkatnya gizi
masyarakat dilaksanakan melalui strategi :
Tujuan pembinaan gizi masyarakat adalah untuk meningkatkan cakupan, kualitas dan
kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat dengan prioritas pada
1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), remaja puteri serta usia produktif. Pendekatan siklus
kehidupan (life circle approach) dalam implementasi perbaikan gizi masyarakat diharapkan dapat
memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pencapaian kinerja kegiatan.
Dalam rangka mencapai tujuan pembinaan gizi dan mensinergikan arah dan kebijakan
gizi yang tercantum dalam RPJMN 2020 -2024 maka Direktorat Gizi Masyarakat melakukan
penajaman dengan menetapkan sasaran strategis Direktorat Gizi Masyarakat sebagai
berikut:
1) Meningkatkan status gizi kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (ibu hamil, bayi,
ibu menyusui, dan baduta) dan remaja
2) Mengatasi permasalahan kekurangan zat gizi mikro
3) Meningkatkan akses terhadap pelayanan manajemen terpadu tata laksana gizi
buruk
4) Meningkatkan kapasitas fasyankes dan tenaga kesehatan untuk pelayanan gizi
yang berkualitas
5) Meningkatkan kesadaran gizi masyakarat melalui pendidikan gizi, kampanye dan
komunikasi perubahan perilaku
6) Meningkatkan respon cepat penanganan gizi pada situasi bencana
7) Meningkatkan sistem monitoring, evaluasi dan surveilans
8) Menguatkan penyusunan regulasi dan kebijakan gizi dengan dukungan bukti- bukti
ilmiah terkini (evidence-based decision making)
9) Meningkatkan advokasi, koordinasi dan kerja sama dengan lintas program dan
sektor terkait
Perjanjian Kinerja tahun 2021 Direktorat Gizi Masyarakat juga mencantumkan pagu alokasi
anggaran untuk kegiatan pembinaan gizi masyarakat sebesar Rp. [Link],-. (lima ratus
tujuh puluh empat milyar seratus delapan puluh tiga juta enam ratus empat puluh tiga ribu rupiah).
1. Capaian Kinerja
Pengukuran capaian kinerja organisasi dilakukan dengan
membandingkan antara realisasi dengan target dari masing-masing indikator
kinerja yang telah ditetapkan dalam perjanjian kinerja. Capaian kinerja
Direktorat Gizi Masyarakat di tahun ke-2 pelaksanaan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 – 2024
dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 akan dijadikan
acuan untuk perbaikan dan perencanaan kegiatan di masa yang akan datang
untuk mencapai target yang telah ditetapkan
Perjanjian Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021 memuat 3 (tiga)
indikator kinerja. Berikut adalah realisasi capaian indikator kinerja (IKK)
Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021 berdasarkan laporan rutin:
2 Persentase 70 58,8 84
kabupaten/kota
melaksanakan surveilans
gizi
Definisi Operasional
Cara Perhitungan
Te
ng
g
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
D a ra
0
20
40
60
80
100
120
140
IY B
N og ar
us a
a D ya t 86,7
Te KI kar
ng Ja ta
80,7
Su gar kar
m a T ta 79,1
at
er imu
a
Ba r 78,6
Ja ra
w Jam t 77,5
a
Te b i
ng 76,1
ah
Su 75,1
la La Bal
w m i 74,9
es pu
i S ng
el
at 73,6
an
R 73,4
2020
ia
u
70,6
40
Ja Ban
w te
a
59,1
Ti n 70,6
In m
do ur
n 70,4
Be es
ia
Ja ngk 69,7
Ka M wa ulu
l i m a l u Ba 69,1
a ku rat
Target
K nt U 68,9
Ke ali an ta
p. ma Se ra 68,6
Ba nta lat
ng n an
ka Tim 68,1
B u
Ka K elitu r 66,8
Gambar3.2
Gambar 3.1
lim ep ng
Ka an . R 65,4
li ta ia
Su man n B u 63,2
Capaian
2021
Su G eng
l a
Su w oro ah
56,8
45
ASI Eksklusif menurut rovinsi Tahun 2021
la es nt
69,7
es e 54,3
i T ng
en ah
gg 53,5
Su ar
la Ma a
w lu 49,9
e k
Pa si B u 48,8
pu ar
Capaian Bayi usia < 6 bulan yang mendapat ASI Eksklusif
a at
Ba 27,8
r
Persentase Bayi Usia Kurang dari 6 Bulan yang mendapatkan
Pa at 21,4
pu
a
11,9
cakupan indikator 69,7 %, maka realisasi capaian kinerja indikator bayi
usia < 6 bulan mendapat ASI Eksklusif tahun 2021 sebesar 155%
Dengan target indikator kinerja pada tahun 2021 sebesar 45% dan
21
Gambar 3.3
Capaian Kinerja Cakupan bayi usia < 6 bulan
mendapat ASI Eksklusif Tahun 2021
80
69,7
70
59,1
60
50 45
40
30
20
10
0
2020 2021 Target 2021
Faktor keberhasilan
Kegiatan-kegiatan
a. Sosialisasi terkait menyusui setiap tahun dilakukan melalui Pekan
Menyusui Dunia kepada seluruh lintas program dan lintas sektor,
akademisi, lembaga swadaya masyarakat, penggiat ASI dan
masyarakat umum.
b. Pelatihan ToT PMBA untuk 60 peserta dari 30provinsi dan pusat.
c. Penyusunan modul dan kurikulum pelatihan jarak jauh konseling
PMBA, sebagai alternatif pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas
tenaga kesehatan.
d. Update modul dan kurikulum konseling menyusui kan disesuaikan
dengan panduan dari BPPSDM Kesehatan supaya dapat dilaksanakan
di seluruh Indonesia.
e. Penyusunan pedoman gizi seimbang untuk ibu hamil dan ibu menyusui.
f. Pengembangan website untuk tele-konseling PMBA sebagai alternatif
dalam pelaksanaan konseling di masa pandemi
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 24
Alternatif solusi
Definisi Operasional
Definisi operasional Kabupaten/Kota melaksanakan Surveilans Gizi
adalah Kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi adalah
kabupaten/kota yang minimal 70% dari jumlah Puskesmas melakukan
kegiatan pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, serta
diseminasi informasi
Cara Perhitungan
Persentase Kabupaten/Kota Melaksanakan Surveilans Gizi dihitung
dengan menggunakan formulasi sebagai berikut:
Gambar 3.4
Persentase Kabupaten/Kota Melaksanakan Surveilans Gizi
Menurut Provinsi Tahun 2021
100,0
100,0
100,0
100,0
120,0
93,3
90,9
89,5
88,2
86,7
86,4
85,7
85,7
100,0
83,3
80,0
76,9
75,8
75,0
75,0
66,7
65,2
80,0
61,5
60,0
58,8
55,6
60,0
41,2
35,7
34,3
40,0
20,0
18,4
18,2
14,3
20,0
-
-
-
-
-
U
ES K IA
LO
BA A
N H
PU UT R
SU IM AW U UR
ER EL NG
LA I S AR T
G AH
B L A
T U
BA AN
W EL AT
M AW AL T
LA G N LI
N AU ITU A
TA I
U T U
A
BA A
O A H
N KI GK N
G N G
N UT N
EN TA
AN ER AN U
W TA EN RA
M RA MP R
AT
I T TE AH
I B TAN
TA PA AT
LA GA A B RA
AW U B
ES JA T
SU ES A B RA
J M RA
N PU
TE UL EL RT
SE AR
AR
A AR
TA A TE
U K KA JAK UL
PA AN IMU
O E
A IA
AL A UK
BA D EN ATA
M T B IA
SU TE LA IMU
N
SU I Y ND BA
W YA ES
A
TE J I M
I T AR
AR
R
TA
A AT
R C
EN NG
G
G
LA AN A T TA
L J KU IM
AT S U
R
AR R
R
W R A
P B A
ES A
G
T T
A
AN N
M TA
ES N
AW
LI AN
G
AN
G
LI MA
SU G
G
KA IM
L
M
N
SA E
SU
A
D
KA SU
LI
L
M
KA
KA
SU
SA
KA
U
N
Capaian Target
Dengan target indikator kinerja pada tahun 2021 sebesar 70% dan
cakupan indikator 58,8 %, maka realisasi kinerja indikator kabupaten/kota
melaksanakan surveilans gizi tahun 2021 tidak mencapai target yaitu 84%
(dibawah 100%). Hasil ini berbeda jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya yang mencapai target dengan realisasi sebesar 103,2%,
seperti pada gambar 3.
120
103,2
100 84
80
58,8
60 51,6
40
20
0
2020 2021
Faktor keberhasilan
Kegiatan-kegiatan
a. Analisis dan pemanfaatan data Surveilans Gizi
b. Monitong dan evaluasi secara berkala setiap triwulan
c. Diseminasi informasi hasil surveilans gizi
d. Penyusunan modul dan kurikulum pelatihan pemantauan pertumbuhan
e. Pemeliharaan sistem informasi gizi terpadu
Alternatif solusi
a. Modifikasi pelayanan agar program gizi terutama intervensi spesifik
dapat tetap dilakukan dengan protokol kesehatan. Pelaksanaan
pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan secara mandiri oleh orang
tua dengan mengutamakan pemantauan perkembangan serta tanda-
tanda klinis anak. Bila ditemukan kondisi seperti mafsu makan menurun
Cara Perhitungan
Perhitungan persentase puskesmas mampu tata laksana gizi buruk
menggunakan formulasi sebagai berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠
𝑀𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑇𝑎𝑡𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘
%𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑇𝑎𝑡𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘 = × 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠
120
100
99
92,5
100
81,4
81,4
79,4
74,6
80
69,5
59,1
58,8
60 56,2
49,7
48,5
44,9
44,7
38,7
34,3
31,3
40
28,1
27,9
26,2
22,7
22,3
21,8
21,2
17,9
14,6
13,1
20
7,9
4,3
3,1
2,1
1,3
0
0
0
Kalimantan Timur
Jawa Timur
Sumatera Barat
Jawa Barat
Kalimantan Barat
Papua Barat
DI Yogyakarta
Kep. Riau
Kalimantan Tengah
Sumatera Selatan
Lampung
Banten
Kalimantan Selatan
Bengkulu
Maluku Utara
Riau
Indonesia
Sulawesi Tengah
Kalimantan Utara
Sulawesi Tenggara
Aceh
DKI Jakarta
Gorontalo
Papua
Sulawesi Utara
Jawa Tengah
Maluku
Bali
Jambi
Dengan target indikator kinerja pada tahun 2021 sebesar 20% dan
cakupan indikator 34,4 %, maka realisasi kinerja indikator puskesmas
mampu tata laksana gizi buruk telah melampaui target yaitu 172% (di atas
100%). Hasil ini lebih baik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya
yang memcapai target dengan realisasi sebesar 104%, seperti pada
gambar 3.7
]
Gambar 3.7
Capaian Puskesmas Mampu Tata Laksana Balita Gizi Buruk
Dibandingkan Target Tahun 2020 dan 2021
40
30
20
10
0
2020 2021
Target Capaian
Faktor Penghambat
Sehubungan dengan pandemi COVID-19 yang menyebabkan banyaknya
perubahan pada sistem pelayanan kesehatan, keterbatasan akses dan di
prediksi berdampak pada capaian target Indikator Kinerja Kegiatan (IKK),
khususnya IKKPersentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk
pada Balita. Cakupan Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk pada
Balita 34,4% telah mencapai target 20% pada tahun 2020. Dalam
pelaksanaanya masih terdapat beberapa hambatan antara lain:
Kegiatan-kegiatan
a. Workshop Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita
sebanyak 3 angkatan mengundang perwakilan sehingga seluruh 34
Propinsi memiliki tim fasilitator pelatihan, serta Propinsi dengan
jumlah Puskesmas terbanyak.
b. Mencetak dan mendistribusikan Kurikulum Pelatihan Pencegahan
dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita dengan metode pelatihan
daring dan SPO Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada
Balita (Kumpulan Contoh SPO) berisi 5 (lima) SPO, meliputi:
1) Deteksi Dini dan Rujukan Balita Gizi Buruk atau yang Berisiko Gizi
Buruk
2) Penetapan dan Klasifikasi Balita Gizi Buruk di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
3) Tata Laksana Balita Gizi Buruk di Layanan Rawat Inap
4) Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita usia 6-59 Bulan di Layanan
Rawat Jalan
5) Tata Laksana Balita Gizi Buruk di Layanan Rawat Inap
6) Tata Laksana Gizi Buruk Pasca Rawat Inap pada Bayi Usia < 6
bulan dengan Berat Badan < 4 kg di Layanan Rawat Jalan
Alternatif Solusi
a. Puskesmas menyusun dan menerapkan SPO Pelatihan dan
Pencegahan Gizi Buruk pada balita
2. Realisasi Anggaran
Dalam rangka mewujudkan target sasaran strategisnya, Direktorat Gizi
Masyarakat pada tahun 2021 mempunyai pagu awal sebesar Rp
[Link],- melalui DIPA dengan nomor: SP DIPA-
024.03.1.466034/2021 tanggal 23 November 2020. Sampai dengan
periode yang berakhir 31 Desember 2021, Direktorat Gizi Masyarakat
telah melakukan 8 (delapan) kali revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA) dari DIPA awal yaitu:
3. Analisis Efisiensi
Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Direktorat Gizi Masyarakat,
maka telah terjadi efisiensi anggaran pada kegiatan Pengadaan Makanan
Tambahan Ibu Hamil KEK dan Balita Kurus serta pelaksanaan konseling
menyusui dan pelaksanaan pelatihan tatalaksana anak gizi buruk.
Persentase efisiensi sumber daya biaya dapat dihitung dengan rumus :
Dalam rangka mencapai target yang telah ditetapkan di atas, Direktorat Gizi
Masyarakat mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp [Link],-
(tujuh ratus lima belas milyar delapan ratus empat juta lima ratus tujuh puluh
satu ribu rupiah ) setelah efisiensi menjadi Rp [Link],-. (dua ratus
milyar delapan puluh dua juta empat ratus tiga puluh tiga juta dua ratus
sembailan puluh Sembilan ribu rupiah). Dengan realisasi sebesar
Rp. [Link]( dua ratus lima puluh tujuh milyar dua ratus lima puluh
Sembilan juta delapan puluh lima ribu empat ratus dua puluh lima rupiah)
atau sebesar 91,09 dari total pagu anggaran. Hal tersebut terlihat cukup
relevan dengan tercapainya 2 (dua) dari 3 (tiga) indikator kinerja kegiatan
yang telah ditetapkan. TIdak tercapainya 1 (satu) indikator yaitu persentase
kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi dikarenakan situasi
pandemi yang berkepanjangan sehingga ada kendala dalam pengumpulan
data gizi, analisis dan diseminasi hasil surveilans-nya.