0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan54 halaman

Laporan Kinerja Gizi Masyarakat 2021

Laporan ini memberikan ringkasan kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan tahun 2021 dalam mencapai target peningkatan gizi masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat berhasil melampaui target pada 2 dari 3 indikator kinerja yaitu ASI eksklusif dan penanganan balita kurus, meskipun belum mencapai target untuk surveilans gizi. Ringkasan ini memberikan gambaran singkat pencapaian kinerja dan tantangan

Diunggah oleh

winda sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan54 halaman

Laporan Kinerja Gizi Masyarakat 2021

Laporan ini memberikan ringkasan kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan tahun 2021 dalam mencapai target peningkatan gizi masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat berhasil melampaui target pada 2 dari 3 indikator kinerja yaitu ASI eksklusif dan penanganan balita kurus, meskipun belum mencapai target untuk surveilans gizi. Ringkasan ini memberikan gambaran singkat pencapaian kinerja dan tantangan

Diunggah oleh

winda sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEMENTERIAN

KESEHATAN
REPUBLIK
INDONESIA

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA


KEGIATAN
PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT
TAHUN 2021

DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT


TAHUN 2021
Pengantar
Salah satu sasaran pokok pembangunan kesehatan yang tercantum dalam RPJMN Tahun
2020 - 2024 adalah meningkatnya status gizi masyarakat dengan sasaran indikator
menurunnya prevalensi stunting dan wasting pada balita masing-masing menjadi 14% dan 7%
di tahun 2024. Dalam rangka mencapai sasaran tersebut Kementerian mengembangkan
indikator kinerja program dan indikator kinerja kegiatan yang tercantum dalam Kesehatan
Permenkes Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
2020 – 2024.

Mengacu pada Permenkes No 25 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Kesehatan, Direktorat Gizi Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian
bimbingan teknis dan supervisi, evaluasi, dan pelaporan di bidang gizi masyarakat. Dalam
melaksanakan tugas tersebut telah ditetapkan 3 (tiga) indikator kinerja gizi yang dituangkan
dalam Perjanjian Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021.

Sepanjang tahun anggaran 2021 Direktorat Gizi Masyarakat telah melaksanakan berbagai
kegiatan mulai dari perencanaan sampai implementasi kegiatan dengan berbagai sumber
anggaran sebagai upaya untuk mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Sebagai
wujud pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintah yang baik dan akuntabel Direktorat
Gizi Masyarakat menyusun laporan pertanggungjawan kinerja Tahun 2021 sesuai dengan
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 53 Tahu 2014 tentang Petunjuk
Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja
Instansi Pemerintah.

Kami berharap Laporan Akuntabilitas Kinerja yang disusun oleh Direktorat Gizi Masyarakat
dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Gizi
Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.

Jakarta, 28 Januari 2022


Direktur Gizi Masyarakat

DR. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA


Ikhtisar Eksekutif
Direktorat Gizi Masyarakat telah melaksanakan beberapa kegiatan yang bersifat teknis
maupun dukungan manajemen dalam rangka mendukung tercapainya sasaran strategis
meningkatnya kesehatan ibu, anak dan gizi masyarakat yang diukur melalui pencapaian
beberapa indikator terkait gizi. Sebagai wujud pertanggungjawaban atas pelaksanaan
kegiatan sepanjang tahun anggaran 2021, telah disusun laporan akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah dengan mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53
tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara
Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

Tahun 2021 merupakan tahun ke-2 dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 – 2024 dan Rencana Strategis Kementerian
Kesehaatan Tahun 2020 – 2024, sehingga diharapkan pencapaian kinerja kegiatan tahun ini
dapat mendukung keberhasilan pencapaian kinerja di tahun berikutnya. Kinerja Direktorat Gizi
Masyarakat pada tahun 2021 diukur melalui pencapaian 3 (tiga) indikator gizi yang tercantum
dalam perjanjian kinerja tahun 2021 sebagai berikut:

Tabel 1 Realisasi Capaian Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)


Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021
No Indikator Kinerja Target Realisasi %
(%) (%) Realisasi
1 Persentase bayi kurang 45 69,7 155
dari 6 bulan mendapat
ASI eksklusif

2 Persentase 70 58,8 84
kabupaten/kota
melaksanakan surveilans
gizi

3 Persentase Puskesmas 20 34,4 172


mampu melaksanakan
tata laksana balita gizi
buruk
Dari table di atas diketahui bahwa 2 dari 3 indikator kinerja kegiatan Direktorat Gizi Masyarakat
telah melampaui target yang ditetapkan di tahun 2021, yaitu indikator persentase bayi kurang
dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif yang mencapai realisasi 69,7% dibandingkan dengan
target 45% di tahun 2021 dan indikator persentase puskesmas mampu tata laksana balita gizi
buruk yang mencapai 34,4% dibandingkan dengan target 20%.
Semantara itu, realisasi indikator kinerja persentase kabupaten/kota melaksanakan surveilans
gizi tidak dapat mencapai target yang ditetapkan yaitu 58,8% dibandingkan target tahun 2021
sebesar 70. Realisasi anggaran Direktorat Gizi Masyarakat mencapai 91.09% dari total pagu
anggaran. Hal tersebut diantaranya karena situasi pandemic COVID-19 yang masih
berlangsung sehingga ada kesulitan terkait implementasi kegiatan dan penyerapan anggaran.

Beberapa upaya yang sudah dilakukan untuk mengatasi tantangan terutama terkait dengan
situasi pandemi yang berpotensi menghambat pencapaian target indikator diantaranya
adalah:
1) Peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk pendampingan implementasi
intervensi spesifik di 5 kabupaten dengan jumlah stunting tertinggi
2) Penguatan kualitas pelayanan dan integrasi program
3) Peningkatan pemanfaatan pangan lokal untuk Makanan Tambahan balita gizi kurang dan
ibu hamil KEK melalui pendidikan gizi
4) Penyediaan dan peningkatan media edukasi gizi untuk ibu hamil, baik melalui media visual
dan elektronik.
5) Penguatan surveilans gizi termasuk manajemen data rutin mulai dari pengumpulan,
analisis, dan pemanfaatan data/ informasi.

Demikian secara ringkas gambaran isi dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Gizi Tahun
2021, diharapkan laporan ini dapat bermanfaat sebagai bahan masukan bagi perbaikan
kebijakan perbaikan gizi dan juga untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan perbaikan
gizi masyarakat yang lebih baik di masa yang akan datang.
Daftar Isi
Halaman Judul i
Pengantar ii
Ikhtisar Eksekutif iii
Daftar Isi v
Daftar Gambar vi
Daftar Tabel viii
I Pendahuluan 1
1. Latar Belakang 1
2. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi 3
3. Isu Strategis 5
4. Sistematika Laporan Kinerja 10
II Perencanaan Kinerja 12
1. Visi dan Misi 12
2. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020 - 14
2024
3. Rencana Aksi, Rencana Kerja dan Anggaran 13
4. Perjanjian Kinerja 17
III Akuntabilitas Kinerja 18
1. Capaian Kinerja 18
2. Realisasi Anggaran 40
3. Analisis Efisiensi
IV Penutup 51
Lampiran
Daftar Gambar
Struktur Organisasi Direktorat Gizi Masyarakat 3
Skema IKK Direktorat Gizi Masyarakat, IKU Ditjen Kesmas, dan 9
Sasaran Strategis Kementerian Kesehatan
Realisasi Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat Gizi Masyarakat 15
Berdasarkan Perjanjian Kinerja Tahun 2015-2019
Realisasi Ibu Hamil KEK yang Mendapat Makanan Tambahan 17
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Ibu Hamil KEK yang Mendapat 18
Makanan Tambahan Tahun 2015-2019
Realisasi Ibu Hamil KEK yang Mendapat Makanan Tambahan 19
Menurut Provinsi Tahun 2019
Realisasi Ibu Hamil Mendapat Tablet Tambah Darah (TTD) Tahun 23
2019
Kecenderungan Realisasi Ibu Hamil yang Mendapat TTD Tahun 24
2015-2019
Realisasi Ibu Hamil Mendapat TTD Menurut Provinsi Tahun 2019 25
Realisasi Bayi Usia kurang dari 6 Bulan Mendapat ASI Eksklusif 28
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Bayi Usia kurang dari 6 Bulan 29
Mendapat ASI Eksklusif Tahun 2015-2019
Realisasi Bayi Usia kurang dari 6 Bulan Mendapat ASI Eksklusif 32
Menurut Provinsi Tahun 2019
Realisasi Bayi Baru Lahir Mendapat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) 34
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Bayi Baru Lahir Mendapat IMD Tahun 34
2015-2019
Realisasi Bayi Baru Lahir Mendapat IMD Menurut Provinsi Tahun 36
2019
Realisasi Balita Kurus yang Mendapat Makanan Tambahan 38
Tahun 2019
Kecenderungan Realisasi Balita Kurus yang Mendapat Makanan 39
Tambahan Tahun 2015-2019
Realisasi Balita Kurus yang Mendapat Makanan Tambahan 40
Menurut Provinsi Tahun 2019
Realisasi Remaja Puteri yang Mendapatkan TTD Tahun 2019 43
Kecenderungan Realisasi Remaja Puteri yang Mendapat TTD 43
Tahun 2015-2019
Realisasi Remaja Puteri Mendapat TTD Menurut Provinsi Tahun 44
2019
Daftar Tabel
Sasaran Strategis Pembinaan Gizi Masyarakat 2015-2019 11
Perjanjian Kinerja Tahun 2019 Direktorat Gizi Masyarakat 14
Rincian Anggaran Rencana Kerja Direktorat Gizi Masyarakat 48
Tahun 2019
Realisasi Anggaran Berdasarkan Indikator Kinerja Direktorat Gizi 49
Masyarakat Tahun 2019

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025


menyatakan bahwa sasaran pembangunan jangka menengah 2020-2024
adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan
makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan
menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan
keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya
manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Pembangunan Indonesia tahun 2020-2024 ditujukan untuk membentuk


sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, sehat, cerdas, adaptif,
inovatif, terampil dan berkarakter. RPJMN 2020-2024 telah
mengarusutamakan Sustainable Development Goals (SDGs) atau
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dimana Target-target dari 17
SDGs beserta indikatornya telah menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dalam 7 agenda pembangunan Indonesia ke depan.

Pada agenda ke 3 Pembangunan Nasional; meningkatkan sumber


daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing; sektor kesehatan
harus fokus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan menuju
cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada penguatan
pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dengan mendorong
peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh inovasi dan
pemanfaatan teknologi. Strategi yang digunakan untuk mencapai hal
tersebut adalah peningkatan kesehatan ibu, anak, dan KB dan
kesehatan reproduksi, percepatan perbaikan gizi, peningkatan
pengendalian penyakit, pembudayaan perilaku hidup sehat melalui
gerakan masyarakat hidup sehat, serta penguatan sistem kesehatan
dan pengawasan obat dan makanan.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 1





Secara bersamaan, Kementerian Kesehatan menyusun Rencana
Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024, dimana
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat mengusulkan 4 (empat)
Indikator Kinerja Program (IKP) dan 20 (dua puluh) Indikator Kinerja
Kegiatan (IKK).

Undang-undang Kesehatan memandatkan bahwa upaya perbaikan gizi


masyarakat bertujuan meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.
Peningkatan mutu gizi yang dimaksud dilakukan melalui perbaikan pola
konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan dan mutu pelayanan
gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi untuk
peningkatan akses (UU 36/2009 Bab VIII pasal 141). Menindaklanjuti
amanah tersebut, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri
Kesehatan nomor 23 tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi.

Keberhasilan kinerja Direktorat Gizi Masyarakat dapat diukur melalui hasil


capaian dari indikator kegiatan yang sudah ditetapkan. Dalam pelaksanaan
tugas untuk mencapai target indikatornya, Direktorat Gizi Masyarakat dituntut
untuk menyelenggarakannya sesuai prinsip-prinsip good governance.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, menyatakan salah
satu azas penyelenggaraan good governance adalah azas akuntabilitas.
Azas ini bermakna bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari penyelenggara
negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat
sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Salah satu wujud akuntabilitas tersebut
adalah melalui penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja.

Laporan Akuntabilitas Kinerja juga merupakan pelaksanaan amanat


peraturan perundang-undangan terkait, yakni Peraturan Pemerintah Nomor
8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah,
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 2





Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun
2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata
Cara Reviu atas Laporan Kinerja Pemerintah. Laporan Akuntabilitas Kinerja
ini juga merupakan bentuk pertanggungjawaban dan media komunikasi
Direktorat Gizi Masyarakat atas pelaksanaan tugas dan fungsinya selama
tahun 2021 sekaligus menjadi alat atau bahan evaluasi guna peningkatan
kinerja Direktorat Gizi Masyarakat di masa depan.

2. Maksud dan Tujuan

Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Gizi Masyarakat merupakan bentuk


pertanggungjawaban tertulis atas pelaksanaan tugas dan fungsi serta
pengelolaan sumber daya dalam pelaksanaan program kegiatan yang sudah
diamanahkan dan disepakati yang membuat tingkat keberhasilan, hambatan
dan berbagai terobosan yang dilakukan oleh Direktorat Gizi Masyarakat
dalam mewujudkan sasaran, tujuan visi dan misi organisasi sesuai dengan
peraturat perundang-undangan yang berlaku periode Januari - Desember
2021.

3. Tugas, Fungsi Dan Struktur Organisasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 64 tahun 2015, tentang


Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
Direktorat Bina Gizi berubah nama menjadi Direktorat Gizi Masyarakat, yang
merupakan bagian dari Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.

Tugas Direktorat Gizi Masyarakat adalah menyiapkan perumusan dan


melaksanakan kebijakan, dan menyusun norma, standar, prosedur, dan
kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan,
evaluasi, dan pelaporan di bidang gizi masyarakat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Direktorat Gizi Masyarakat


menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 3





1) penyiapan perumusan kebijakan di bidang peningkatan mutu dan
kecukupan gizi, kewaspadaan gizi, penanggulangan masalah gizi dan
pengelolaan konsumsi gizi;
2) penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan mutu dan
kecukupan gizi, kewaspadaan gizi, penanggulangan masalah gizi dan
pengelolaan konsumsi gizi;
3) penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang
peningkatan mutu dan kecukupan gizi, kewaspadaan gizi,
penanggulangan masalah gizi dan pengelolaan konsumsi gizi;
4) penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang
peningkatan mutu dan kecukupan gizi, kewaspadaan gizi,
penanggulangan masalah gizi dan pengelolaan konsumsi gizi;
5) pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang peningkatan mutu dan
kecukupan gizi, kewaspadaan gizi, penanggulangan masalah gizi dan
pengelolaan konsumsi gizi; dan
6) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga direktorat.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Direktur Gizi Masyarakat


dibantu oleh 4 pejabat eselon III (Kepala Sub Direktorat), 9 pejabat eselon IV
(Kepala Seksi), dan kelompok jabatan fungsional, seperti yang tergambar
pada bagan struktur organisasi Direktorat Gizi Masyarakat di bawah ini:

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 4





STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT
TAHUN 2021

Direktur Gizi Masyarakat


Dr. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA
Pembina Tk. I / IV b
NIP 196703181989032002
Kasubag Tata Usaha
Yunimar Usman, SKM, MPH
Pembina / IVa
NIP 196606291989032004

Adminkes Madya (Koordinator) Nutrisionis Madya (Koordinator) Adminkes Madya (Koordinator)


Nutrisionis Madya (Koordinator) PKG
PMKG KG PMG
dr. Nita Mardiah, MKM Iwan Halwani, SKM, M. Si dr. Inti Mudjiati, MKM Mahmud Fauzi, SKM, M. Kes
Pembina Tk. I / IV b Pembina Tk. I / IV b Pembina Tk. I / IV b Pembina Tk. I / IV b
NIP 196903282002122001 NIP 196502061988031022 NIP 197008072005012001 NIP 196501151988031010

Nutrisionis Madya Nutrisionis Madya Nutrisionis Madya Nutrisionis Madya


Dyah Yuniar Setiawati, SKM, MPS Ir. Mursalim, MPH
Pembina Tk. I / IV b Pembina / IV a
NIP 196206081986012001 NIP 196301281987031001

Nutrisionis Muda (Sub Nutrisionis Muda (Sub Adminkes Muda (Sub Nutrisionis Muda (Sub Koordinator
Koordinator Mutu Gizi) Koordinator Surveilans Gizi) Koordinator Makro) Gizi Umum)
Dr. Hera Nurlita, S. Si.T, M. Kes Lina Marlina, SP, M. Gz dr. Julina, MM Eko Prihastono, SKM, MA
Pembina / IV a Pembina / IV a Pembina / IV a Pembina / IV a
NIP 197410201999032004 NIP 198103302005012003 NIP 196509021988031001

Nutrisionis Muda (Koordinator Nutrisionis Muda (Sub Nutrisionis Muda (Sub Adminkes Muda (Sub Koordinator
Kecukupan Gizi) Koordinator Ketahanan Gizi) Koordinator MIkro) Gizi Khusus)
Muhammad Adil, SP, MPH Dakhlan Choeron, SKM MKM Yuni Zahraini, SKM, MKM dr. Ivonne Kusumaningtias, MKM
Pembina / IV a Penata Tk. I / III d Penata / IIIc Pembina / IV a
NIP 196912311992031039 NIP 198310212005011001 NIP 198106292003122003 NIP 197406152008122001

Struktur organisasi Direktorat Gizi Masyarakat di atas didukung oleh


sumber daya sebanyak 55 orang pegawai negeri sipil (PNS) dan 11 orang
pegawai pemerintah non pegawai negeri (PPNPN) yang memiliki kompetensi
di berbagai bidang selain gizi dan kesehatan antara lain ekonomi, statistik,
manajemen, keuangan dan komputer.

4. Isu Strategis

Double-Burden of Malnutrition (Baban Ganda Gizi)

Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) Tahun 2021 menunjukkan


adanya perbaikan beberapa indikator gizi, seperti penurunan prevalensi
stunting dan wasting pada balita. Namun jika capaian indikator status gizi
balita tersebut dibandingkan dengan ambang batas masalah kesehatan
masyarakat menurut WHO maka Indonesia masih termasuk negara dengan
kategori masalah gizi yang cukup tinggi.

Indikator prevalensi ibu hamil kurang energi kronik (KEK) juga mengalami
penurunan yang cukup signifikan, yaitu 24,2% tahun 2013 menjadi 17,3%
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 5



tahun 2018. Kondisi sebaliknya ditunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil
yang mengalami peningkatan cukup tinggi dari 37,1% (Riskesdas 2013)
menjadi 48,9% (Riskesdas 2018). Kekurangan zat gizi besi menjadi
penyebab utama anemia di Indonesia. Anemia gizi besi berdampak negative
pada pertumbuhan dan perkembangan balita, menurunnya produktifitas pada
orang dewasa dan menurunnya fungsi kognitif pada wanita. (WHO, 2019).
Anemia pada ibu hamil akan meningkatkan risiko kematian ibu akibat
perdarahan dan melahirkan bayi lahir dengan berat lahir rendah.

Disisi lain, Riskesdas 2018 menunjukkan terjadinya prevalensi


overweight/obesitas pada kelompok usia 6 – 15 tahun dan kelompok usia >
18 tahun. Prevalensi penyakit tidak menular yang terkait gizi (nutrition related
diseases) pada kelompok dewasa juga mengalami peningkatanyang cukup
signifikan, seperti diabetes, dan hipertensi. Selain itu, obesitas sentral pada
kelompok umur>18 tahun mengalami peningkatan dari 26.6% pada tahun
2013 menjadi 31% pada 2018. Begitu pula dengan prevalensi diabetes dan
hipertensi yang mengalami peningkatan dari 6.9% dan 25.8 pada tahun 2013
menjadi 10.9% dan 34.1% pada tahun 2018.

Tingginya masalah kurang gizi, defisiensi gizi mikro dan masalah gizi
lebih pada saat yang sama menempatkan Indonesia menjadi negara yang
mengalami masalah beban ganda gizi (double burden of malnutrition).
Masalah beban ganda gizi dapat terjadi di suatu wilayah, keluarga bahkan di
tingkat individu. Beban ganda gizi yang terjadi pada kelompok anak-anak
maupun dewasa akan menimbulkan tantangan yang cukup berat terhadap
laju pembangunan suatu negara karena akan berdampak pada
meningkatnya pembiayaan kesehatan, menurunkan produktifitas dan laju
pertumbuhan ekonomi, serta berpotensi terhadap penurunan kualitas sumber
daya manusia. Menurunnya prevalensi stunting dan wasting pada balita
merupakan

Hasil studi global burden of diseases tahun 2013 menyatakan bahwa


pola makan merupakan faktor risiko yang paling dominan terhadap terjadinya

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 6





masalah penyakit tidak menular yang berdampak pada menurunnya kualitas
hidup seseorang yang diukur melalui DALYs loss (Disability Adjusted Life
Years Loss). Semakin tinggi angka DALYs maka semakin buruk status
kesehatannya.

Global Nutrition Target

Mengingat diperlukannya aksi global untuk mengatasi masalah


double burden of malnutrition di seluruh dunia, sidang WHA (World Health
Assembly) tahun 2012 mengadosi Resolusi 65.6 tentang Comprehensive
implementation plan on maternal, infant and young child nutrition yang
memuat 6 target gizi (Global Nutrition Target) sebagai acuan bagi komunitas
global untuk memprioritaskan perbaikan gizi pada wanita, bayi dan anak.

Target yang ditetapkan tersebut terdiri dari: 1) menurunkan prevalensi


stunting balita sampai 40%; 2) menurunkan prevalensi berat bayi lahir rendah
(BBLR) sebesar 30%; 3) menurunkan prevalensi wasting menjadi < 15%; 4)
menurunkan prevalensi anemia pada wanita usia subur sebanyak 50%; 5)
tidak ada kenaikan prevalensi overweight pada balita; 6) meningkatkan
cakupan ASI Eksklusif pada bayi usia 0 – 6 bulan menjadi 50%.

Sealin itu, untuk meningkatkan upaya dalam target pencapaian dan


meningkatkan sinergitas lintas program, WHO Global Action Plan for the
Prevention and Control of Non Communicable diseases 2013 -2020
menambahkan 3 target penyakit tidak menular terkait gizi, yaitu: 1)
Menurunkan rata-rata konsumsi garam/sodium pada masyarakat sebanyak
30%; 2) Menurunkan prevalensi hipertensi sampai 25%; 3) mencegah
kenaikan prevalensi diabetes dan obesitas.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 7




Sustainable Development Goals (SDGs)

Mengakhiri kelaparan atau perbaikan gizi merupakan salah satu


unfinished agenda di akhir agenda pembangunan global Milenium
Development Goals (MDGs). Oleh karena itu pada agenda pembangunan
global tahun 2015 – 2030 perbaikan gizi menjadi salah satu tujuan dari 17
tujuan global, yaitu tujuan 2 (goal 2) yang bertujuan untuk mengkahiri
kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi masyarakat
serta mengatasi segala bentuk masalah gizi.

Pencapaian goal 2 setidaknya akan berkontribusi terhadap


pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs) karena terkait erat
dengan 12 goals lainnya, seperti goal 3 yang bertujuan untuk memastikan
tercapainya kesehatan dan kesejahteraan pada semua kelompok usia.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 8




Komitmen Indonesia untuk berkontribusi terhadap agenda pembangunan


global tersebut tertuang dalam RPJMN tahun 2020 – 2024, diantaranya
dengan menetapkan perbaikan gizi masyarakat sebagai salah satu major
project.

Nutrition for Growth (N4G)

Nutrition for growth (N4G) adalah upaya global untuk menyatukan langkah
pemerintah, donor, swasta, NGOs, CSOs dan pemangku kepentingan
lainnya untuk meningkatkan komitmen global dalam percepatan perbaikan
gizi. Pada N4G tahun 2021 setiap negara untuk meningkatkan dukungan
finansial dan penguatan kebijakan untuk mengurangi dampak COVID-19
terhadap gizi masyarakat dan menempatkan gizi sebagai salah satu prioritas
pembangunan nasional melalui pernyataan bersama yang mencakup:

- pengambilan kebijakan gizi berdasar bukti baik di tingkat global,


regonal dan negara
- berkomitmen untuk meningkatkan dukungan finansial untuk
penguatan implementasi intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi
sensitif yang berbasis bukti
- meningkatkan komitmen untuk mensinergikan dan
mengharmonisasikan aksi gizi di semua sektor dan pemangku
kepentingan.

Program Nasional Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 9





Penanggulangan stunting menjadi salah satu prioritas dala pembangunan
kesehatan yang tercantum dalam dokumen RPJMN 2020-2024. Mulai tahun
2017, pemerintah di bawah koordinasi Wakil Presiden meluncurkan Program
Nasional konvergensi Percepatan Penurunan Stunting. Program ini menjadi
prioritas nasional yang mengharuskan seluruh Kementerian dan Lembaga
terkait serta pemerintah daerah di berbagai tingkatan untuk fokus
mengimplementasikan intervensi gizi spesifik dan sensitif di wilayah yang
sudah ditetapkan menjadi lokus prioritas. Di tahun 2021, telah ditetapkan
sebanyak 360 kabupaten/kota prioritas stunting, dimana setiap kabupaten
tersebut harus menetapkan masing-masing 10 desa prioritas.

Merujuk pada faktor penyebab terjadinya stunting yang multifactor maka


upaya penurunan stunting tidak semata tugas sektor kesehatan tetapi harus
melibatkan aksi multisektoral. Intervensi spesifik dilakukan oleh sektor
kesehatan,dengan sasaran kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
yang terdiri dari ibu hamil, bayi, ibu menyusui dan anak di bawah usia dua
tahun, sementara intervensi sensitif dilakukan oleh seluruh pemangku
kepentingan dengan sasaran masyarakat umum. Terdapat lima pilar
penanganan stunting yang tercantum dalam Strategi Nasional Penurunan
Stuning, yakni komitmen politik, kampanye dan edukasi, konvergensi
program, akses pangan bergizi, dan monitoring progam.

5. Sistematika Laporan Kinerja

Sistematika penulisan laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Gizi


Masyarakat ini adalah sebagai berikut:

Kata Pengantar

Ringkasan Eksekutif

Daftar Isi, yang meliputi:

Bab I Pendahuluan

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 10





Menyajikan tentang penjelasan umum Direktorat Gizi Masyarakat, dengan
menekankan kepada aspek strategis Direktorat Gizi Masyarakat serta
permasalahan utama yang sedang dihadapi Direktorat Gizi Masyarakat dan
sistematika penulisan laporan.

Bab II Perencanaan Kinerja

Menguraikan ringkasan singkat atau ikhtisar perjanjian kinerja Direktorat Gizi


Masyarakat tahun 2019.

Bab III Akuntabilitas Kinerja

Diuraikan hasil pengukuran kinerja, evaluasi dan analisis capaian kinerja,


termasuk di dalamnya menguraikan secara sistematis keberhasilan dan
kegagalan, hambatan/kendala dan permasalahan yang dihadapi serta
langkah-langkah antisipatif yang akan diambil, serta akuntabilitas keuangan
yang memuat pagu dan realisasi anggaran kegiatan yang dilaksanakan,
dikaitkan dengan tingkat capaian setiap sasaran strategis dan indikator
kinerja yang telah ditetapkan.

Bab IV Penutup

Mengemukakan simpulan umum atas capaian kinerja serta langkah di masa


mendatang yang akan dilakukan untuk meningkatkan kinerja Direktorat Gizi
Masyarakat.

Lampiran

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 11




BAB II PERENCANAAN KINERJA

1. Visi dan Misi

Visi Kementerian Kesehatan merupakan visi Presiden Republik Indonesia yaitu “Mendorong Indonesia
lebih produktif, berdaya saing dan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan global yang dinamis dan penuh
risiko”. Visi tersebut diwujudkan melalui 5 (lima) Misi yaitu:

1. Mempercepat dan melanjutkan pembangunan infrastruktur.


2. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) diantaranya dengan menjamin kesehatan ibu hamil dan anak
usia sekolah
3. Undang investasi seluas-luasnya untuk membuka lapangan pekerjaan
4. Reformasi birokrasi
5. APBN yang fokus dan tepat sasaran
Visi tersebut kemudian yang mendasari penyusunan RPJMN 2020 – 2024 yang memuat
proyek prioritas startegis (major project) yang harus dilaksanakan dalam kurun lima tahun ke
depan. Percepatan penurunan angka kematian ibu dan stunting menjadi salah satu major
project yang harus dilaksanakan dan dicapai dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Targetnya adalah menurunnya prevalensi stunting balita hingga 14% di tahun 2024.
Agar taget penurunan stunting tercapai dan pemasalahan gizi ganda dapat terdapat tercapai,
maka ditetapkan arah dan kebijakan percepatan perbaikan gizi masyarakat yang mencakup:
1) Percepatanpenurunan stunting dengan peningkatan efektivitas intervensi spesifik,
perluasan dan penajaman intervensi sensitif secara terintegrasi
2) Peningkatan jaminan asupan gizi makto dan mikro terutama pada ibu hamil dan anak
dengan usia di bawah dua tahun termasuk peningkatan intervensi yang bersifat life saving
dengan didukung bukti yang kuat (evidence-based policy) termasuk fortifikasi pangan
3) Pengautan advokasi, komunikasi sosial dan perubahan perilaku hidup sehat terutama
mendorong pemenuhan gizi seimbang berbasis konsumsi pangan (food-based aaporach)
4) Penguatan sistem surveilans gizi
5) Peningkatan pengetahuan ibu dan keluarga khususnya pengasuhan, tumbuh kembang
dan gizi
6) Peningkatan komitmen dan pendampingan bagi daerah dalam intervensi perbaikan gizi
dengan strategi sesuai kondisi setempat
7) Respon cepat perbaikan gizi dalam kondisi darurat

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 12


2. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024

Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran pokok pembangunan kesehatan


yang tecantum dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2020-2024, Kementerian Kesehatan menyusun Rencana Strategis Kementerian
Keseahtan Tahun 2020 – 2024 yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
20 Tahun 2020. Renstra Kemenkes mencakup 8 (delapan) sasaran strategis, yaitu:

1. Meningkatnya kesehatan ibu, anak dan gizi masyarakat


2. Meningkatnya ketersediaan dan mutu fasyankes dasar dan rujukan
3. Meningkatnya pencegahan dan pengendalian penyakit serta pngelolaan kedaruratan
kesehatan masyarakat
4. Meningkatnya akses, kemandirian dan mutu kefarmasian dan alat kesehatan
5. Meningkatnya pemenuhan SDM kesehatan dan kompetensi sesuai standar
6. Terjaminnya pembiayaan kesehatan
7. Meningkatnya sinergisme pusat dan daerah serta meningkatnya tata kelola pemerintahan
yang baik dan bersih
8. Meningkatnya efektivitas pengelolaan penelitian dan pengembangan kesehatan dan
sistem informasi kesehatan untuk pengambilan keputusan

Sasaran strategis yang terkait langsung dengan Direktorat Gizi Masyarakat adalah
sasaran strategis 1, yaitu meningkatnya kesehatan ibu, anak dan gizi masyarakat. Renstra
Kemenkes 2020 -2024 mencantumkan pencapaian sasaran strategis meningkatnya gizi
masyarakat dilaksanakan melalui strategi :

1) Peningkatan cakupan ASI Eksklusif


2) Peningkatan gizi remaja dan ibu hamil
3) Peningkatan efektifitas intervensi spesifik, perluasan dan penajaman intervensi
sensitive secara terintegrasi sampai tingkat desa
4) Peningkatan cakupan dan mutu intervensi spesifik mulai dari remaja, ibu hamil, bayi
dan anak balita
5) Penguatan kampanye nasional dan strategi komunikasi untuk perubahan perilaku
sampai pada keluarga
6) Penguatan puskesmas dalam penanganan balita gizi buruk dan wasting
7) Penguatan sistem surveilans gizi
8) Pendampingan ibu hamil untuk menjadi asupan gizi yang berkualitas

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 13


9) Pendampingan baduta untuk mendapatkan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI
dan stimulasi perkembangan yang adekuat
10) Promosi pembudayaan hidup sehat, melalui edukasi dan literasi kesehatan
11) Revitalisasi posyandu, posbindu, UKS dan UKBM lainnya untuk edukasi kesehatan,
skrining dan deteksi dini kasus.
12) Mendorong pelabelan pangan, kampanye makan ikan, makan buah dan sayur, serta
kampanye diet seimbang (isi piringku)

3. Rencana Aksi, Rencana Kerja dan Anggaran

Tujuan pembinaan gizi masyarakat adalah untuk meningkatkan cakupan, kualitas dan
kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat dengan prioritas pada
1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), remaja puteri serta usia produktif. Pendekatan siklus
kehidupan (life circle approach) dalam implementasi perbaikan gizi masyarakat diharapkan dapat
memiliki daya ungkit yang signifikan terhadap pencapaian kinerja kegiatan.
Dalam rangka mencapai tujuan pembinaan gizi dan mensinergikan arah dan kebijakan
gizi yang tercantum dalam RPJMN 2020 -2024 maka Direktorat Gizi Masyarakat melakukan
penajaman dengan menetapkan sasaran strategis Direktorat Gizi Masyarakat sebagai
berikut:
1) Meningkatkan status gizi kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (ibu hamil, bayi,
ibu menyusui, dan baduta) dan remaja
2) Mengatasi permasalahan kekurangan zat gizi mikro
3) Meningkatkan akses terhadap pelayanan manajemen terpadu tata laksana gizi
buruk
4) Meningkatkan kapasitas fasyankes dan tenaga kesehatan untuk pelayanan gizi
yang berkualitas
5) Meningkatkan kesadaran gizi masyakarat melalui pendidikan gizi, kampanye dan
komunikasi perubahan perilaku
6) Meningkatkan respon cepat penanganan gizi pada situasi bencana
7) Meningkatkan sistem monitoring, evaluasi dan surveilans
8) Menguatkan penyusunan regulasi dan kebijakan gizi dengan dukungan bukti- bukti
ilmiah terkini (evidence-based decision making)
9) Meningkatkan advokasi, koordinasi dan kerja sama dengan lintas program dan
sektor terkait

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 14


Agar arah kebijakan dan sasaran strategis yang telah ditetapkan dapat terukur maka
ditetapkan indikator kinerja. Direktorat gizi masyarakat sebagai unit teknis yang
bertanggungjawab terhadap bidang gizi mengampu 7 (tujuh) indikator kinerja yang tercantum
dalam RPJMN 20204 dan Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2020 – 2024.
Di dalam table di bawah ini menjelaskan indikator kinerja beserta definisi operasional untuk
masing-masing indikator seperti yang tercantum dalam surat Keputusan Direktur Jenderal
Kesehatan Masyarakat Nomor. HK.02.02/I/836/2020 tentang Pedoman Indikator Program
Kesehatan Masyarakat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan
Rencana Strategi Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024

No Indikator Definisi Operasional


1 bayi usia 0 bulan 5 bulan 29 hari yang diberi ASI saja
Persentase bayi kurang dari 6
tanpa makanan atau cairan lain kecuali obat, vitamin
bulan mendapat ASI eksklusif
dan mineral berdasarkan recall 24 jam
2 Persentase kabupaten/kota Kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi
yang melaksanakan adalah kabupaten/kota yang minimal 70% dari jumlah
surveilans gizi Puskesmas melakukan kegiatan pengumpulan data,
pengolahan dan analisis data, serta diseminasi
informasi
3 Persentase puskesmas Puskesmas mampu melakukan tatalaksana gizi buruk
mampu tatalaksana gizi pada balita adalah Puskesmas dengan kriteria:

1) Mempunyai tim asuhan gizi terlatih, terdiri dari
buruk pada balita dokter, bidan/perawat, dan tenaga gizi

2) Memiliki Standar Prosedur Operasional tatalaksana
gizi buruk pada balita
Standar prosedur: SPO tatalaksana gizi buruk,
Pedoman Pencegahan dan Tatalaksana Balita Gizi
Buruk
Standar sarana/fasilitas: alat antropometri, aplikasi
ePPGBM
Standar tenaga: tim asuhan gizi terlatih

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 15


Indikator kinerja Direktorat Gizi Masyarakat juga telah dilengkapi dengan target yang
harus dicapai per tahun seperti yang tercantum pada table di bawah ini:

No Indikator Kinerja Target


2020 2021 2022 2023 2024
1
Persentase bayi 40 45 50 55 60
kurang dari 6 bulan
mendapat ASI
eksklusif
2 Persentase 51 70 90 100 100
kabupaten/kota
yang
melaksanakan
surveilans gizi
3 Persentase 10 20 30 45 60
puskesmas mampu
tatalaksana gizi
buruk pada balita

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 16


4. Perjanjian Kinerja Tahun 2020

Direktorat Gizi Masyarakat berkomitmen untuk mewujudkan manajemen pemerintah yang


efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi hasil. Oleh karena itu, dalam rangka
mewujudkan target akhir kinerja Rencana Strategis Kementerian Kesehatan, maka ditetapkanlah
target kinerja tahun 2021 ke dalam dokumen Perjanjian Kinerja.
Perjanjian Kinerja Tahun 2021 Direktorat Gizi Masyarakat memuat 3 indikator kinerja yang
menjadi bagian dari indikator Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2021. Sasaran kegiatan,
indikator kinerja dan target yang dimuat dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2021 Direktorat Gizi
Masyarakat dapat dilihat pada dokumen berikut ini:

Perjanjian Kinerja tahun 2021 Direktorat Gizi Masyarakat juga mencantumkan pagu alokasi
anggaran untuk kegiatan pembinaan gizi masyarakat sebesar Rp. [Link],-. (lima ratus
tujuh puluh empat milyar seratus delapan puluh tiga juta enam ratus empat puluh tiga ribu rupiah).

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021


BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

1. Capaian Kinerja
Pengukuran capaian kinerja organisasi dilakukan dengan
membandingkan antara realisasi dengan target dari masing-masing indikator
kinerja yang telah ditetapkan dalam perjanjian kinerja. Capaian kinerja
Direktorat Gizi Masyarakat di tahun ke-2 pelaksanaan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 – 2024
dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 akan dijadikan
acuan untuk perbaikan dan perencanaan kegiatan di masa yang akan datang
untuk mencapai target yang telah ditetapkan
Perjanjian Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021 memuat 3 (tiga)
indikator kinerja. Berikut adalah realisasi capaian indikator kinerja (IKK)
Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021 berdasarkan laporan rutin:

Tabel 3.1 Realisasi Capaian Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)


Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021

No Indikator Kinerja Target Realisasi %


(%) (%) Realisasi
1 Persentase bayi kurang 45 69,7 155
dari 6 bulan mendapat
ASI eksklusif

2 Persentase 70 58,8 84
kabupaten/kota
melaksanakan surveilans
gizi

3 Persentase Puskesmas 20 34,4 172


mampu melaksanakan
tata laksana balita gizi
buruk

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 18



Tabel di atas menunjukkan bahwa 2 (dua) indikator Kinerja Kegiatan (IKK)
Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021, yaitu persentase bayi usia < 6 bulan
mendapatkan ASI Eksklusif dan persentase Puskesmas mampu
melaksanakan tata laksana balita gizi buruk telah melampaui target yang
ditetapkan dengan persentase capaian masing-masing sebesar 155% dan
172%. Sementara, indikator Persentase kabupaten/kota melaksanakan
surveilans gizi belum mencapai target yang ditetapkan denga realiasasi
capaian 84%.

Penjelasan mengenai faktor keberhasilan, hambatan dan capaian kinerja


masing-masing indikator diuraikan sebagai berikut:

1) Persentase bayi kurang dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif


Air Susu Ibu adalah makanan terbaik untuk anak dalam 6 bulan pertama
kehidupannya karena mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan oleh
seorang bayi dan sangat mudah dicerna oleh perut bayi yang kecil dan
sensitif. Hanya memberikan ASI saja sudah sangat cukup untuk
memenuhi kebutuhan zat gizi bayi di bawah usia enam bulan. Pemberian
ASI Eksklusif pada bayi usia < 6 bulan dapat mengurangi risiko untuk
mengalami masalah gizi termasuk stunting (Lancet, 2013).

Berbagai studi juga menyatakan anak yang mendapatkan ASI Eksklusif


cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik dan berisiko lebih
rendah untuk mengalami overweight/obesitas dan penyakit tidak menular
pada saat dewasa. Selain itu, pemberian ASI Eksklusif juga memberikan
manfaat untuk Ibu, karena mengurangi risiko kanker payudara dan rahim.
Disisi lain, salah satu tantangan untuk keberhasilan pemberian ASI
Eksklusif adalah masih banyaknya promosi produk pengganti ASI (susu
formula) yang tidak bertanggung jawab.

Definisi Operasional

Definisi operasional bayi kurang dari 6 bulan mendapat ASI Eksklusif


adalah bayi usia 0 bulan 5 bulan 29 hari yang diberi ASI saja tanpa

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 19



makanan atau cairan lain kecuali obat, vitamin dan mineral berdasarkan
recall 24 jam.

Cara Perhitungan

Perhitungan persentase bayi usia kurang 6 bulan mendapatkan ASI


Eksklusif menggunakan formulasi sebaga berikut:

Analisa target dan capaian serta Penyajian Data

Berdasarkan laporan rutin Direktorat Gizi Masyarakat tahun 2021, capaian


indikator bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat ASI Eksklusif sebesar
69.7%, dari perhitungan 1.287. 130 bayi usia < 6 bulan yang masih
mendapat ASI Esklusif dibagi 1.845.367 bayi usia < 6 bulan yang direcall.
Capaian ini sudah memenuhi target nasional tahun 202 dan juga telah
melampaui target global sebesar 50% yang harus tercapai di tahun 2025.
Berdasarkan distribusi provinsi, terdapat 3 provinsi dengan capaian masih
di bawah target yaitu Papua (11,9%), Papua Barat (21,4%), Sulawesi
Sulawesi Barat (2,78%), sementara itu 31 provinsi lainnya telah mencapai
target dengan capaian tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat (86,7%),
seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini:

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 20



N
us
a


Te
ng
g

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
D a ra

0
20
40
60
80
100
120
140
IY B
N og ar
us a
a D ya t 86,7
Te KI kar
ng Ja ta
80,7
Su gar kar
m a T ta 79,1
at
er imu
a
Ba r 78,6
Ja ra
w Jam t 77,5
a
Te b i
ng 76,1
ah
Su 75,1
la La Bal
w m i 74,9
es pu
i S ng
el
at 73,6
an
R 73,4

2020
ia
u
70,6

40
Ja Ban
w te
a

59,1
Ti n 70,6
In m
do ur
n 70,4
Be es
ia
Ja ngk 69,7
Ka M wa ulu
l i m a l u Ba 69,1
a ku rat

Target
K nt U 68,9
Ke ali an ta
p. ma Se ra 68,6
Ba nta lat
ng n an
ka Tim 68,1
B u
Ka K elitu r 66,8

Gambar3.2
Gambar 3.1

lim ep ng
Ka an . R 65,4
li ta ia
Su man n B u 63,2

seperti yang terlihat pada grafik d bawah ini:


m ta ara
at n
er U t 62
a tar

Capaian

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021


Se a
la 59,9
Su ta
la n
w 59,2
Su e Ace
Ka m si h
lim ate t U 58,1
a n ra a ra
ta Ut 58,1
n
T ara
57,8

2021
Su G eng
l a
Su w oro ah
56,8

45
ASI Eksklusif menurut rovinsi Tahun 2021

la es nt

Dibandingkan Target Tahun 2020 dan 2021


w i T alo

69,7
es e 54,3
i T ng
en ah
gg 53,5
Su ar
la Ma a
w lu 49,9
e k
Pa si B u 48,8
pu ar
Capaian Bayi usia < 6 bulan yang mendapat ASI Eksklusif
a at
Ba 27,8
r
Persentase Bayi Usia Kurang dari 6 Bulan yang mendapatkan

Pa at 21,4
pu
a
11,9
cakupan indikator 69,7 %, maka realisasi capaian kinerja indikator bayi
usia < 6 bulan mendapat ASI Eksklusif tahun 2021 sebesar 155%
Dengan target indikator kinerja pada tahun 2021 sebesar 45% dan

21
Gambar 3.3
Capaian Kinerja Cakupan bayi usia < 6 bulan
mendapat ASI Eksklusif Tahun 2021

80
69,7
70
59,1
60
50 45
40
30
20
10
0
2020 2021 Target 2021

Grafik di atas menunjukkan bahwa dibandingkan dengan capaian tahun


lalu sebesar 59,1%, capaian tahun 2021 ini mengalami peningkatan yang
cukup signifikan yaitu sebesar 10,6% dibandingkan capaian tahun 2020.
Hal ini menunjukkan keberhasilan upaya yang dilakukan sepanjang tahun
2021 dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang medukung keberhasilan
meningkatnya cakupan pemberian ASI pada bayi usia di bawah 6 bulan.

Faktor keberhasilan

a. Regulasi dan kebijakan yang mendukung pemberian ASI Eksklusif


cukup komprehensif mulai di tingkat nasional sampai tingkat daerah. Di
tingkat nasional mandat pemberian ASI Eksklusif tertuang dalam :
- UU Nomor 36 Tahun 2019 tentang Kesehatan pasal 128 ayat 1,
- Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian
ASI Eksklusif,
- PP 69 Tahun 1999 tentang Iklan dan label pangan yang
mencantumkan pelarangan iklan di media massa da elektronik untuk
produk pengganti ASI/susu formula untuk bayi di bawah usia 1
tahun.
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata
Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air
Susu Ibu,

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 22



- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2013 tentang Susu
Formula Bayi dan Produk Bayi lainya,
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang
Pedoman Gizi Seimbang.
- Selain itu di beberapa provinsi juga telah mempunyai kebijakan
terkait ASI Eksklusif melalui Peraturan Daerah, Peraturan Bupati,
dan lainnya yang sejenis.
b. Sosialisasi dan kampanye yang dilakukan secara regular setiap tahun
melalui Pekan Menyusui Dunia kepada seluruh lintas program dan
lintas sektor, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, penggiat ASI
dan masyarakat umum.
c. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam konseling pemberian
makan bayi dan anak (PMBA) telah dilakukan sejak tahun 2018.
Sampai dengan tahun 2019 telah dilatih konselor PMBA (end user)
melalui dana dekonsentrasi sebanyak 1.563 orang yang terdiri dari
nutrisionis dan bidan serta fasilitator sebanyak 139 orang. Sedangkan
di tingkat pusat telah dilatih fasilitator sebanyak 84 orang yang berasal
dari Direktorat Gizi Masyarakat, Direktorat Kesehatan Keluarga, Dinas
Kesehatan Provinsi, Widyaiswara, Poltekkes dan Badan Litbang
Kemenkes. Konselor tersebut diharapkan dapat memberikan konseling
terkait PMBA yang salah satunya adalah praktik pemberian ASI yang
dilakukan pada saat kunjungan pemeriksaan kehamilan, kelas ibu
hamil, penyuluhan di tempat kerja maupun saat kunjungan rumah.
d. Dukungan dari lintas program dan lintas sektor dalam percepatan
peningkatan cakupan ASI Eksklusif. Saat ini sudah banyak ditemui
tempat-tempat khusus menyusui/memerah ASI di tempat-tempat
umum seperti bandara, pelabuhan, rumah sakit, pusat perbelanjaan,
perkantoran pemerintah dan swasta serta pabrik.
e. Pencatatan dan pelaporan terkait ASI Eksklusif sudah cukup baik.
Catatan tentang pemberian ASI Eksklusif dapat dilakukan pada KMS
yang terdapat pada buku KIA, selain itu petugas kesehatan juga telah
mencatat cakupan ASI eksklusif melalui aplikasi ePPGBM.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 23



Faktor penghambat
a. Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung sampai saat ini
berdampak pada pelayanan gizi di puskesmas, posyandu, dan kelas
ibu. Pelaksanaan penyuluhan dan konseling mengalami penyesuaian
melalui tele konseling, sementara tidak semua ibu balita memilki hand
phone.
b. Masih adanya budaya dan mitos yang tidak mendukung pemberian ASI
Eksklusif, misal mitos terkait kolostrum yang dianggap sebagai susu
yang sudah basi sehingga tidak boleh diberikan pada bayi atau
pemberian makan prelakteal Ketika ASI belum lancar. Hal ini tergambar
dari hasil SSGI 2021 yang menyatakan cukup rendahnya proporsi bayi
di bawah usia 2 tahun yang mendapatkan MP ASI tepat waktu (usia 6
bulan), yaitu sekitar 44,7%.
c. Masih adanya promosi produk pengganti ASI secara terselubung
melalui media online. Promosi diberikan dalam bentuk potongan harga,
free sample ataupun konseling gratis dengan pakar kesehatan.

Kegiatan-kegiatan
a. Sosialisasi terkait menyusui setiap tahun dilakukan melalui Pekan
Menyusui Dunia kepada seluruh lintas program dan lintas sektor,
akademisi, lembaga swadaya masyarakat, penggiat ASI dan
masyarakat umum.
b. Pelatihan ToT PMBA untuk 60 peserta dari 30provinsi dan pusat.
c. Penyusunan modul dan kurikulum pelatihan jarak jauh konseling
PMBA, sebagai alternatif pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas
tenaga kesehatan.
d. Update modul dan kurikulum konseling menyusui kan disesuaikan
dengan panduan dari BPPSDM Kesehatan supaya dapat dilaksanakan
di seluruh Indonesia.
e. Penyusunan pedoman gizi seimbang untuk ibu hamil dan ibu menyusui.
f. Pengembangan website untuk tele-konseling PMBA sebagai alternatif
dalam pelaksanaan konseling di masa pandemi
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 24

Alternatif solusi

a. Melakukan pelatihan ToT konseling menyusui untuk tenaga kesehatan


menggunakan kurikulum modul yang terbaru.
b. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam melakukan edukasi
gizi kelompok 1000 HPK dengan menggunakan metode emo demo,
sebagai pengayaan dalam penyelenggaraan edukasi gizi di posyandu.
c. Penyelenggaraan konseling menyusi secara regular di lingkungan
Kementerian Kesehatan sebagai percontohan penyelenggaraan ruang
laktasi di perkantoran
d. Perluasan implementasi tele-konseling melalui website

2) Persentase Kabupaten/Kota melaksanakan Surveilans Gizi


Kegiatan surveilans gizi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memantau
dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan program gizi. Tujuan Kegiatan
ini adalah untuk menghasilkan informasi yang cepat akurat dan
berkelanjutan mengenai status gizi serta determinan masalah gizi,
Kabupaten/ kota melaksanakan surveilans gizi adalah kabupaten/kota
yang melaksanakan unsur surveilans gizi yaitu pengumpuan data,
pengolahan dan analisis serta diseminasi secara berkala.

Pengumpulan data yang dilakukan bersumber dari kegiatan pemantauan


pertumbuhan rutin setiap bulan diposyandu serta seluruh pelayanan gizi
yang diberikan kepada masing-masing individu. Kemudian data tersebut
dianalisis untuk menjadikan informasi dengan berbagai bentuk penyajian
agar data menjadi mudah dipahami. Data yang telah dianalisis kemudian
di diseminasikan baik dalam bentuk sosialisasi maupun advokasi kepada
pimpinan untuk selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan
perencanaan dan kebijakan baik lintas program maupun sektor terkait.
Dalam penguatan kegiatan surveilans gizi digunakan aplikasi pencatatan
dan pelaporan gizi berbasis eketronik yaitu Sistem Informasi Gizi (SIGIZI)
Terpadu.

Untuk menilai suatu kabupaten/kota telah melaksanakan surveilans gizi


juga didasarkan pada ketiga unsur tersebut. Kabupaten/kota dinyatakan
telah melakukan surveilans apabila minimal 70% puskesmas yang ada di
wilayah kerja kabupaten/kota telah melaksanakan pengumpulan data dari
hasil pemantauan pertumbuhan dan dientri kedalam aplikasi SIGIZI
Terpadu minimal sebanyak 60%. Data tersebut selanjutnya dapat
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 25

dianalisis menjadi informasi yang diperlukan untuk menentukan intervensi
segera apabila balita terdeteksi mengalami risiko gagal tumbuh. Selain
data hasil pemantauan pertumbuhan, data terkait pelayanan gizi juga di
entry kedalam sistem informasi tersebut. Puskesmas melaksanakan
analisis data apabila melakukan identifikasi pada balita bermasalah gizi
yaitu gizi buruk dengan melakukan investigasi atau penyelidikan
epidemiologi meliputi faktor-faktor determinan penyebab masalah gizi
buruk pada balita yang kemudian di entri kedalam SIGIZI Terpadu.

Data yang sudah dianalisis untuk menghasilkan informasi untuk


kemudian di diseminasikan kepada pengambil kebijakan ditingkat
desa/kelurahan, kecamatan, seluruh lintas program dan sektor terkait
serta advokasi untuk pimpinan. Kegiatan ini harus dilakukan secara terus
menerus mengikuti siklus perencanaan, pelaksanaan dan monitoring
evaluasi di dalam suatu program. Puskesmas dinyatakan telah
melakukan diseminasi apabilan telah menyusun rencana kegiatan dan
diupload kedalam SIGIZI Terpadu

Definisi Operasional
Definisi operasional Kabupaten/Kota melaksanakan Surveilans Gizi
adalah Kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi adalah
kabupaten/kota yang minimal 70% dari jumlah Puskesmas melakukan
kegiatan pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, serta
diseminasi informasi
Cara Perhitungan
Persentase Kabupaten/Kota Melaksanakan Surveilans Gizi dihitung
dengan menggunakan formulasi sebagai berikut:

Analisa target dan capaian serta Penyajian Data


Berdasarkan laporan tahun 2021, menunjukkan sebanyak 302 dari 514
kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi atau sekitar 58,8%.
Hasil ini tidak mencapai target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%.
Sebaran persentase kabupaten/kota melaksanakan surveilans gizi
dimasing-masing provinsi seperti pada gambar…. Provinsi yang seluruh
kabupaten/kotanya melaksanakan surveilans gizi (100%) adalah Jawa
Barat, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 26

Provinsi dengan cakupan di bawah target sebanyak 16 provinsi dan 4
diantaranya tidak ada satupun kabupaten/kotanya yang melaksanakan
surveilans gizi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua Barat
dan Papua. Hal ini menunjukkan besarnya disparitas pelaksanaan
surveilans gizi di masing-masing daerah di Indonesia.

Gambar 3.4
Persentase Kabupaten/Kota Melaksanakan Surveilans Gizi
Menurut Provinsi Tahun 2021

100,0
100,0
100,0
100,0
120,0

93,3
90,9
89,5
88,2
86,7
86,4
85,7
85,7
100,0

83,3
80,0
76,9
75,8
75,0
75,0
66,7
65,2

80,0
61,5
60,0
58,8
55,6

60,0
41,2
35,7
34,3

40,0
20,0
18,4
18,2
14,3

20,0
-
-
-
-

-
U
ES K IA

LO
BA A

N H
PU UT R

SU IM AW U UR

ER EL NG

LA I S AR T
G AH

B L A

T U

BA AN

W EL AT
M AW AL T

LA G N LI

N AU ITU A

TA I
U T U

A
BA A

O A H

N KI GK N

G N G
N UT N
EN TA

AN ER AN U
W TA EN RA

M RA MP R

AT
I T TE AH

I B TAN
TA PA AT

LA GA A B RA
AW U B
ES JA T

SU ES A B RA
J M RA
N PU

TE UL EL RT
SE AR
AR
A AR

TA A TE

U K KA JAK UL
PA AN IMU

O E

A IA
AL A UK

BA D EN ATA
M T B IA

SU TE LA IMU
N
SU I Y ND BA
W YA ES

A
TE J I M
I T AR

AR
R

TA

A AT
R C
EN NG

G
G
LA AN A T TA
L J KU IM

AT S U

R
AR R
R

W R A
P B A

ES A
G
T T

A
AN N
M TA

ES N

AW
LI AN

G
AN

G
LI MA

SU G
G
KA IM

L
M

N
SA E

SU
A
D

KA SU
LI
L

M
KA

KA

SU

SA
KA

U
N

Gambar diatas menunjukkan bahwa dibandingkan dengan capaian tahun


2020 sebesar 51,6%, capaian tahun 2021 ini mengalami peningkatan yaitu
sebesar 58,8%. Hal ini menunjukkan keberhasilan upaya yang dilakukan
sepanjang tahun 2021 dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang medukung
keberhasilan pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 27



Gambar 3.5 Tren Capaian Persentase Kabupaten/Kota
melaksanakan Surveilans Gizi

120 100 100


90
100 70
80
50
60
58,8
40 51,6
20
0 0 0
0
2020 2021 2022 2023 2024

Capaian Target

Dengan target indikator kinerja pada tahun 2021 sebesar 70% dan
cakupan indikator 58,8 %, maka realisasi kinerja indikator kabupaten/kota
melaksanakan surveilans gizi tahun 2021 tidak mencapai target yaitu 84%
(dibawah 100%). Hasil ini berbeda jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya yang mencapai target dengan realisasi sebesar 103,2%,
seperti pada gambar 3.

120
103,2
100 84
80
58,8
60 51,6

40

20

0
2020 2021

capaian capaian terhadap target

Gambar 3.6 Capaian Kabupaten/kota melaksanakan Surveilans Gizi


Dibandingkan Target Tahun 2020 dan 2021

Dalam analisis diketahui bahwa kegiatan surveilans gizi sangat berkaitan


dengan kegiatan pelayanan di masyarakat, seperti pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan di posyandu. Adanya pandemi COVID-
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 28

19 telah menjadi tantangan dalam pemberian pelayanan tersebut, karena
adanya pembatasan kegiatan di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan
pemantauan pertumbuhan dan perkembangan di posyandu juga
mengikuti kebijakan pemerintah daerah masing-masing. Namun demikian
upaya modifikasi dalam pelayanan dalam pencapaian program gizi dan
kesehatan telah dilaksanakan oleh semua tatanan baik di pusat hingga
ke puskesmas.
Faktor penghambat
a. Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung sampai saat ini dan
berdampak pada seluruh tatanan termasuk pelayanan gizi baik di
puskesmas dan posyandu. Pelaksanaan kegiatan posyandu
menyesuaikan peraturan pemerintah daerah setempat dengan
mempertimbangkan zonasi pandemi. Selain itu tenaga kesehatan yang
melakukan kunjungan rumah juga terbatas karena adanya tugas lain
seperti kegiatan vaksinasi.
b. Belum optimalnya kunjungan posyandu untuk pemantauan
pertumbuhan terutama pada balita diatas 1 tahun
c. Sumberdaya masih terbatas baik sarana prasarana posyandu
(antropometri) tenaga/kader maupun anggaran operasional

Faktor keberhasilan

a. Regulasi dan kebijakan yang mendukung pelaksanaan kegiatan


pemantauan pertumbuhan baik di tingkat nasional dan daerah yaitu :
• Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan
Penurunan Stunting
• Peraturan Menteri Kesehatan No 14 Tahun 2019 tentang
Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi
• Peraturan Menteri Kesehatan No 2 Tahun 2021 tentang Standar
Antropometri Anak
• Surat Edaran Dirjen Kesmas No HK.02.02/V/393/2020 tentang
Pelayanan Gizi dalam Pandemi Covid-19
• Surat Edaran Plt. Dirjen Kesmas Nomor HK.02.021/1371/2021
Tentang Kegiatan Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan
Balita
• Pedoman Pelayanan Gizi Pada Masa Tanggap Darurat Covid-19
Tahun 2020
• Panduan Pelayanan Kesehatan Balita Pada Masa Pandemi Covid-
19 Bagi Tenaga Kesehatan Tahun 2020
• Pedoman Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi Tahun 2021
• Pedoman Pemantauan dan Pertumbuhan Tahun 2021
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 29

• Petunjuk Teknis Penggunaan KMS Balita Tahun 2021
Selain itu di beberapa provinsi juga telah mempunyai kebijakan terkait
kegiatan surveilans gizi atau kegiatan pemantauan pertumbuha seperti
surat edaran gubernur dan lainnya yang sejenis.
b. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam kegiatan:
• Orientasi analisis dan pemanfaatan data surveilans gizi bagi
pengelola program di Dinkes Provinsi dan Kabupaten/Kota
• Monitoring dan evaluasi yang dilakukan setiap triwulan bagi
pengelola program di Dinkes Provinsi dan Kabupaten/Kota dan
Puskesmas terpilih
• Diseminasi hasil surveilans gizi bagi pengelola program di Dinkes
Provinsi dan Kabupaten/Kota
• Workshop pemantauan pertumbuhan bagi penanggung jawab di
Dinkes provinsi, Kabupaten/Kota terpilih dan Poltekkes
Seluruh kegiatan tersebut melibatkan peran akademisi, lintas program
dan lintas sektor

c. Dukungan dari lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan


pemantauan pertumbuhan seperti pendampingan keluarga oleh
BKKBN, regulasi pelaksanaan posyandu di masa pandemi COVID 19
oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa PDT dan
Transmigrasi, termasuk dalam pemanfaatan data hasil kegiatan
surveilans gizi
d. Pencatatan dan pelaporan kegiatan surveilans gizi sudah cukup baik.
Pencatatan dilakukan melalui sistem informasi berbasis elektronik
ePPGBM yang dientry by name by address.

Kegiatan-kegiatan
a. Analisis dan pemanfaatan data Surveilans Gizi
b. Monitong dan evaluasi secara berkala setiap triwulan
c. Diseminasi informasi hasil surveilans gizi
d. Penyusunan modul dan kurikulum pelatihan pemantauan pertumbuhan
e. Pemeliharaan sistem informasi gizi terpadu

Alternatif solusi
a. Modifikasi pelayanan agar program gizi terutama intervensi spesifik
dapat tetap dilakukan dengan protokol kesehatan. Pelaksanaan
pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan secara mandiri oleh orang
tua dengan mengutamakan pemantauan perkembangan serta tanda-
tanda klinis anak. Bila ditemukan kondisi seperti mafsu makan menurun

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 30



atau anak sakit dapat segera menginformsikan kepada kader untuk
selanjutnya dilakukan kunjungan rumat terjadwal.
b. Penyuluhan dan konseling mengalami penyesuaian melalui
telekonseling dengan membentuk group
c. Melakukan workshop pemantauan pertumbuhan menggunakan
kurikulum modul yang terbaru.
d. Koordinasi bersama lintas sektor seperti BKKBN untuk pendampingan
keluarga agar keluarga yang memiliki balita melakukan pemantauan
pertumbuhan
e. Melibatkan peran akademisi dalam pendampingan intervensi spesifik di
posyandu
f. Pemenuhan alat antropometri melalui dana alokasi khusus fisik.

3) Persentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Balita Gizi Buruk


Prevalensi balita gizi kurang di Indonesia menunjukkan penurunan yang
siginifikan dari 10,2% di tahun 2018 (Riskesdas, 2018) menjadi 7,1% di
tahun 2021 (SSGI, 2021), angkat tersebut termasuk katgortermasuk
dalam kategori sedang menurut WHO. Diantara anak yang gizi kurang
tersebut, terdapat sekitar 600.000-an anak dengan status gizi buruk.
Balita yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk harus
segera mendapatkan penanganan gizi yang tepat dan adekuat, karena
anak gizi kurang dan gizi buruk berisiko lebih tinggi untuk mengalami
kematian dan cenderung untuk mengalami stunting. Untuk itu penting
sekali bagi petugas kesehatan dan fasilitas layanan primer untuk memiliki
kompetensi untuk melakukan tata laksana anak gizikurang/giziburuk
sedini mungkin sesuai standar dalam pedoman.
Berdasarkan laporan diketahui bahwa jumlah kasus gizi buruk yang
dilaporkan dan yang mendapat perawatan masih rendah, dikarenakan:
a. Terbatasnya akses layanan kesehatan
b. Belum banyak fasilitas kesehatan yang melakukan pelayanan balita
sakit secara terintegrasi sehingga kasus gizi buruk tidak terdeteksi
c. Ketidakmampuan pemberi layanan dalam tata laksana gizi buruk
d. Pelaporan yang tidak lengkap
e. Rendahnya kesadaran keluarga untuk membawa balita gizi buruk ke
tempat pelayanan Kesehatan
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 31

Definisi Operasional
Puskesmas mampu melakukan tatalaksana gizi buruk pada balita Balita
Gizi buruk adalah balita usia0-59 bulan dengan tanda klinis gizi buruk atau
indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan
menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai Z-score kurang dari -3 SD
atau Lingkar Lengan Atas <11,5cm bagi balita 6 – 59 bulan adalah
puskesmas dengan kriteria:

1) Mempunyai Tim Asuhan Gizi Terlatih, terdiri dari dokter, bidan/


perawat dan tenaga gizi
2) Memiliki Standar Prosedur Operasiona ltata laksana gizi buruk pada
balita

Cara Perhitungan
Perhitungan persentase puskesmas mampu tata laksana gizi buruk
menggunakan formulasi sebagai berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠
𝑀𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑇𝑎𝑡𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘
%𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝑀𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑇𝑎𝑡𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐵𝑢𝑟𝑢𝑘 = × 100
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠

Analisa target dan capaian serta Penyajian Data


Dari hasi laporan rutin Direktorat Gizi Masyarakat diketahui bahwa capaian
indikator peresentase mampu tata laksana balita gizi buruk tahun 2021
mencapai 34,4% dan melampaui target yang ditetapkan, yaitu 20%.
Provins dengan capaian tertinggi adalah DI Yogyakarta (100%),
sementara 10 provinsi lainnya tidak mencapai target bahkan 2 provinsi
diantaranya belum memiliki puskesmas yang mampu tata laksana balita
gizi buruk. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena provinsi tersebut
belum memiliki Tim asuhan gizi yang terlatih yang terdiri dokter, ahli gizi,
bidan/perawat dan belum memiliki SOP tata laksana anak gizi
kurang/buruk

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 32



Gambar 3.7
Persentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Balita Gizi Buruk
menurut Provinsi Tahun 2021

120
100
99
92,5

100
81,4
81,4
79,4
74,6

80
69,5
59,1
58,8
60 56,2
49,7
48,5
44,9
44,7
38,7
34,3
31,3
40

28,1
27,9
26,2
22,7
22,3
21,8
21,2
17,9
14,6
13,1
20

7,9
4,3
3,1
2,1
1,3
0
0
0
Kalimantan Timur

Jawa Timur

Nusa Tenggara Timur


Sulawesi Barat

Sumatera Barat

Jawa Barat

Nusa Tenggara Barat

Kalimantan Barat

Papua Barat
DI Yogyakarta

Kep. Riau
Kalimantan Tengah
Sumatera Selatan

Lampung

Banten
Kalimantan Selatan
Bengkulu

Maluku Utara
Riau

Indonesia

Kep. Bangka Belitung


Sulawesi Selatan
Sumatera Utara

Sulawesi Tengah
Kalimantan Utara

Sulawesi Tenggara

Aceh
DKI Jakarta
Gorontalo
Papua
Sulawesi Utara
Jawa Tengah
Maluku
Bali

Jambi

Dengan target indikator kinerja pada tahun 2021 sebesar 20% dan
cakupan indikator 34,4 %, maka realisasi kinerja indikator puskesmas
mampu tata laksana gizi buruk telah melampaui target yaitu 172% (di atas
100%). Hasil ini lebih baik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya
yang memcapai target dengan realisasi sebesar 104%, seperti pada
gambar 3.7
]
Gambar 3.7
Capaian Puskesmas Mampu Tata Laksana Balita Gizi Buruk
Dibandingkan Target Tahun 2020 dan 2021

40

30

20

10

0
2020 2021

Target Capaian

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 33



Faktor Keberhasilan
Upaya yang dilakukan untuk mendukung pencapaian target dan kualitas
IKK tersebut diatas, antara lain tersedianya :
a. Pedoman Pelayanan Gizi pada Masa Pandemi sebagai acuan
puskesmas untuk memodifikasi pelayanan gizi pada masa pandemi
b. Booklet dan media KIE, poster Cegah Gizi Buruk pada masa pandemi
Covid 19 dan video pembuatan formula gizi buruk
c. Standar Prosedur Operasional (SPO) Pencegahan dan Tata Laksana
Gizi Buruk Pada Balita ( Buku Kumpulan contoh SPO)
d. Surat edaran Direktur Gizi Masyarakat tentang penyesuaian tahapan
pencapaian indikator :
• Penyesuaian tahapan Definsi Operasional (DO) indikator
Persentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk pada
Balita kepada daerah di masa pandemi Covid 19, dengan
tersedianya SPO
• Mendorong puskesmas untuk menyusun SPO sesuai dengan
ketersediaan sumber daya masing –masing Puskesmas.
e. Kurikulum Pelatihan Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada
Balita dengan varian klasikla dan daring

Faktor Penghambat
Sehubungan dengan pandemi COVID-19 yang menyebabkan banyaknya
perubahan pada sistem pelayanan kesehatan, keterbatasan akses dan di
prediksi berdampak pada capaian target Indikator Kinerja Kegiatan (IKK),
khususnya IKKPersentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk
pada Balita. Cakupan Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk pada
Balita 34,4% telah mencapai target 20% pada tahun 2020. Dalam
pelaksanaanya masih terdapat beberapa hambatan antara lain:

a. Capaian target berdasarkan DO penyesuaian indikator di masa


pandemi Covid 19, dengan tahapan tersedianya standar operasional
prosedur pencegahan dan tata laksana gizi buruk.
b. Situasi pandemi COVID-19 menyebabkan adanya penyesuaian
alokasi anggaran dan penyesuaian pelaksanaan pelatihan sesuai
dengan kebijakan daerah .
c. Diperlukan penguatan dari sisi kualitas dengan tersedianya tim
asuhan gizi yang terlatih di Puskesmas melalui kegiatan pelatihan
dengan kurmod klasikal maupun dengan kurmod daring.
d. Disparitas capaian target antar provinsi dengan capaian tertinggi DIY
(100%) dan terendah Jawa Tengah (1,3%) . Terdapat 7 ( tujuh)
provinsi yang belum mencapai target 20% pada tahun 2021 yaitu
Aceh, DKI, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara,
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 34

Gorontalo dan Papua. Terdapat 2 provinsi yang tidak tersedia datanya
yaitu Maluku dan Papua Barat.

Kegiatan-kegiatan
a. Workshop Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita
sebanyak 3 angkatan mengundang perwakilan sehingga seluruh 34
Propinsi memiliki tim fasilitator pelatihan, serta Propinsi dengan
jumlah Puskesmas terbanyak.
b. Mencetak dan mendistribusikan Kurikulum Pelatihan Pencegahan
dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita dengan metode pelatihan
daring dan SPO Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada
Balita (Kumpulan Contoh SPO) berisi 5 (lima) SPO, meliputi:
1) Deteksi Dini dan Rujukan Balita Gizi Buruk atau yang Berisiko Gizi
Buruk
2) Penetapan dan Klasifikasi Balita Gizi Buruk di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
3) Tata Laksana Balita Gizi Buruk di Layanan Rawat Inap
4) Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita usia 6-59 Bulan di Layanan
Rawat Jalan
5) Tata Laksana Balita Gizi Buruk di Layanan Rawat Inap
6) Tata Laksana Gizi Buruk Pasca Rawat Inap pada Bayi Usia < 6
bulan dengan Berat Badan < 4 kg di Layanan Rawat Jalan

c. Mencetak ulang dan mendistribusikan:


1) Pedoman Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita
2) Kurikulum dan Modul Pelatihan Pencegahan dan Tata Laksana
Gizi Buruk pada Balita
3) Buku Saku Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita
di Layanan Rawat Jalan bagi Tenaga Kesehatan.
d. Membuat video pembuatan formula gizi buruk
e. Direktorat Gizi Masyarakat menyampaikan informasi penyesuaian
indikator kepada 34 Propinsi melalui surat Nomor
GM.01.04/3/5920/2020 tentang Penyesuaian Definisi Operasional
Tahapan Pencapaian Indikator Persentase Puskesmas Mampu Tata
Laksana Gizi Buruk pada Balita pada Masa Pandemi COVID-19.
f. Mengembangkan kurikulum pelatihan jarak jauh / e learning bersama
PPSDM , didukung oleh Unicef

Alternatif Solusi
a. Puskesmas menyusun dan menerapkan SPO Pelatihan dan
Pencegahan Gizi Buruk pada balita

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 35



b. Menyesuaikan kondisi pandemi dan kebijakan daerah, dapat
dilaksanakan kegiatan pelatihan Pencegahan dan Tata Laksana
Balita Gizi Buruk dapat diselenggarakan kembali baik secara klasikal
dan daring. Saat ini telah tengah dikembangkan kurikulum modul
dengan metode e –learning.
c. Monitoring dan evaluasi terhadap implementasi dan capaian IKP ini
akan terus dilakukan di setiap tingkat administrasi, baik dengan sigizi
terpadu, pelita kesmas maupun dengan melakukan supervisi fasilitatif
ke daerah

2. Realisasi Anggaran
Dalam rangka mewujudkan target sasaran strategisnya, Direktorat Gizi
Masyarakat pada tahun 2021 mempunyai pagu awal sebesar Rp
[Link],- melalui DIPA dengan nomor: SP DIPA-
024.03.1.466034/2021 tanggal 23 November 2020. Sampai dengan
periode yang berakhir 31 Desember 2021, Direktorat Gizi Masyarakat
telah melakukan 8 (delapan) kali revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA) dari DIPA awal yaitu:

1. Tanggal 2 Juni 2021 (revisi 1) merupakan revisi Petunjuk Operasional


Kegiatan (POK).
2. Tanggal 27 Juli 2021 (revisi 2) merupakan revisi efisiensi anggaran
tahap 1 sesuai dengan surat Sekretaris Jenderal Kesehatan
Masyarakat Nomor: PR04.02/I/12622/2021, tanggal 25 Juni 2021, hal
Refocusing Anggaran Kementerian Kesehatan TA 2021. Revisi
tersebut mengakibatkan perubahan pagu anggaran dengan pagu awal
sebesar Rp715.804.571.000,- setelah revisi menjadi sebesar Rp
[Link],-. Revisi tersebut antara lain berupa pengurangan
pagu sebesar Rp [Link],-.
3. Tanggal 20 Agustus 2021 (revisi 3) merupakan revisi POK.
4. Tanggal 14 September 2021 (revisi 4) merupakan revisi efisiensi
anggaran tahap 2. Revisi tersebut mengakibatkan perubahan pagu
anggaran semula Rp [Link],- setelah revisi menjadi sebesar

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 36



Rp [Link],-. Revisi tersebut merupakan pengurangan pagu
sebesar Rp [Link],-.
5. Tanggal 19 Oktober 2021 (revisi 5) merupakan revisi efisiensi anggaran
tahap 3. Revisi tersebut mengakibatkan perubahan pagu anggaran
semula Rp [Link],- setelah revisi menjadi sebesar Rp
[Link],-. Revisi tersebut merupakan pengurangan pagu
sebesar Rp [Link],-.
6. Tanggal 10 November 2021 (revisi 6) merupakan revisi efisiensi
anggaran tahap 4. Revisi tersebut mengakibatkan perubahan pagu
anggaran semula Rp [Link],- setelah revisi menjadi sebesar
Rp [Link],-. Revisi tersebut merupakan pengurangan pagu
sebesar Rp [Link],- dan revisi pencatatan penerimaan Hibah
Langsung Luar Negeri dalam bentuk uang sebesar Rp [Link],-
.
7. Tanggal 17 Desember 2021 (revisi 7) merupakan revisi efisiensi
anggaran tahap 5 dan revisi POK. Revisi tersebut mengakibatkan
perubahan pagu anggaran semula Rp287.433.299.000,- setelah revisi
menjadi sebesar Rp [Link],-. Revisi tersebut merupakan
pengurangan pagu sebesar Rp [Link],-.
8. Tanggal 28 Desember 2021 (revisi 8) merupakan revisi terakhir yaitu
revisi data POK. Pagu akhir yang dimiliki Direktorat Gizi Masyarakat TA
2021 adalah sebesar Rp282.433.299.000,-.

Anggaran sebesar Rp [Link],- dibagi dalam 8 (delapan)


kategori dengan rincian sebagai berikut:

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 37



Tabel
Rincian Anggaran Rencana Kerja Direktorat Gizi Masyarakat
Tahun 2021
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Anggaran (Rp)

Meningkatnya Persentase bayi kurang [Link]


perbaikan gizi dari 6 bulan mendapat ASI
eksklusif
masyarakat

Persentase kabupaten/kota [Link]


melaksanakan surveilans
gizi

Persentase Puskesmas [Link]


mampu melaksanakan tata
laksana balita gizi buruk

Persentase ibu hamil [Link]


Kurang Energi Kronik (KEK)

Persentase balita stunting [Link]

Persentase balita wasting [Link]

Jumlah balita yang [Link]


mendapatkan
suplementasi gizi mikro
Sub Total [Link]
Layanan Dukungan [Link]
Manajemen Satker
Sub Total [Link]
TOTAL [Link]
ANGGARAN

Alokasi anggaran sebesar Rp [Link],- atau 98,20% dari


total pagu anggaran yang diemban oleh Direktorat Gizi Masyarakat
direncanakan akan digunakan langsung untuk mendukung 7 (tujuh) indikator
kinerja kegiatan yang diperjanjikan. Sementara itu 1,80% (Rp
[Link],-). Tingkat capaian sasaran strategis diperoleh dengan
realisasi anggaran sebagai berikut:

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 38



Tabel
Realisasi Anggaran Berdasarkan Indikator Kinerja
Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021
Sasaran Indikator Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) %
Strategis Kinerja Realisasi
Meningkatnya Persentase [Link] [Link] 74,00
perbaikan gizi bayi kurang
dari 6 bulan
masyarakat
mendapat ASI
eksklusif
Persentase [Link] [Link] 88,46
kabupaten/kota
melaksanakan
surveilans gizi
Persentase [Link] [Link] 96,81
Puskesmas
mampu
melaksanakan
tata laksana
balita gizi buruk
Persentase ibu [Link] [Link] 97,08
hamil Kurang
Energi Kronik
(KEK)
Persentase [Link] [Link] 82,94
balita stunting
Persentase [Link] [Link] 95,89
balita wasting

Jumlah balita [Link] [Link] 84,67


yang
mendapatkan
suplementasi
gizi mikro
Sub Total [Link] [Link] 91,28
Layanan [Link] [Link] 80,65
Dukungan
Manajemen
Satker
Sub Total [Link] [Link] 80,65
TOTAL [Link] [Link] 91,09
ANGGARAN

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 39



Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa realisasi anggaran yang
mendukung langsung pencapaian tujuh indikator kinerja kegiatan perbaikan
gizi mencapai 91,28%, sementara itu jika dihitung dari total pagu anggaran
Direktorat Gizi Masyarakat pada tahun 2021, realisasi tujuh indikator kinerja
kegiatan perbaikan gizi sebesar 89,62%.
Sampai dengan tanggal 31 Desember 2021, Direktorat Gizi
Masyarakat sudah mampu merealisasikan belanja secara bruto sebesar Rp
[Link],- (91,09%) dari total anggaran. Sisa anggaran yang tidak
terealisasi sebesar Rp [Link],- (8,91%) antara lain terdiri dari :
1. Sisa anggaran dari output bantuan masyarakata seperti pengadaan
Makanan Tambahan Ibu Hamil KEK dan Balita Kurus serta kegiatan
swakelola (edukasi gizi dan peningkatan asupan gizi seimbang pada
balita TB) sebesar Rp [Link],-
2. Sisa anggaran pengadaan Media KIE terkait gizi, stunting, covid 19 dsb
sebesar Rp121.826.800,-
3. Sisa anggaran dari kegiatan-kegiatan pertemuan-pertemuan, rapat-rapat
koordinasi, bimtek dan monev, dsb sebesar Rp [Link],-.
4. Sisa anggaran Layanan Dukungan Manajemen sebesar Rp
990.761.832,-

3. Analisis Efisiensi
Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Direktorat Gizi Masyarakat,
maka telah terjadi efisiensi anggaran pada kegiatan Pengadaan Makanan
Tambahan Ibu Hamil KEK dan Balita Kurus serta pelaksanaan konseling
menyusui dan pelaksanaan pelatihan tatalaksana anak gizi buruk.
Persentase efisiensi sumber daya biaya dapat dihitung dengan rumus :

Persentase efisiensi Biaya =


100% - [𝑅𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎/𝑇𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑥 100%]

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 40



Tabel
Analisis Efisiensi
Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021

Sasaran Indikator Realisa Realiasi Keuangan Efisie


Strategis Kinerja si nsi
Kinerja
(%) Anggaran Realisasi %
Meningkatnya Persentase bayi 165,25 13.200.000 13.200.000 100,00 0,00
Perbaikan Gizi kurang dari 6
Masyarakat bulan mendapat
ASI eksklusif

Persentase 101,18 [Link] [Link] 88,79 11,21


kabupaten/kota
melaksanakan
surveilans gizi

Persentase 104,00 [Link] [Link] 99,60 0,40


Puskesmas
mampu
melaksanakan
tata laksana
balita gizi buruk
Persentase ibu 60,63 [Link] [Link] 99,92 0,08
hamil Kurang 0 8
Energi Kronik
(KEK)
Persentase 48,13 [Link] [Link] 90,27 9,73
balita stunting
Persentase 65,43 [Link] [Link] 98,84 1,16
balita wasting 0 4
Jumlah balita 99,82 [Link] [Link] 97,91 2,09
yang
mendapatkan
suplementasi
gizi mikro

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 41



BAB IV PENUTUP

Perjanjian Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat Tahun 2021 menetapkan 3


(tiga) indikator kinerja kegiatan yang meliputi: 1) persentase bayi usia kurang
dari 6 bulan mendapatkan ASI Eksklusif; 2) persentase kabupaten/kota
melaksanakan surveilans gizi; 3) persentase puskesmas mampu tata laksana
balita gizi buruk.

Dalam rangka mencapai target yang telah ditetapkan di atas, Direktorat Gizi
Masyarakat mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp [Link],-
(tujuh ratus lima belas milyar delapan ratus empat juta lima ratus tujuh puluh
satu ribu rupiah ) setelah efisiensi menjadi Rp [Link],-. (dua ratus
milyar delapan puluh dua juta empat ratus tiga puluh tiga juta dua ratus
sembailan puluh Sembilan ribu rupiah). Dengan realisasi sebesar
Rp. [Link]( dua ratus lima puluh tujuh milyar dua ratus lima puluh
Sembilan juta delapan puluh lima ribu empat ratus dua puluh lima rupiah)
atau sebesar 91,09 dari total pagu anggaran. Hal tersebut terlihat cukup
relevan dengan tercapainya 2 (dua) dari 3 (tiga) indikator kinerja kegiatan
yang telah ditetapkan. TIdak tercapainya 1 (satu) indikator yaitu persentase
kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi dikarenakan situasi
pandemi yang berkepanjangan sehingga ada kendala dalam pengumpulan
data gizi, analisis dan diseminasi hasil surveilans-nya.

Untuk meningkatkan capaian indikator kinerja dan mengatasi faktor-faktor


penhambat yang telah teridentifikasi, Direktorat Gizi Masyarakat akan
melakukan upaya perbaikan sebagai berikut:

1) Peningkatan Kerja sama dengan perguruan tinggi untuk pendampingan


implementasi intervensi spesifik di 5 kabupaten dengan jumlah stunting
tertinggi
2) Peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk pendampingan
sasaran suplementasi gizi dalam rangka meningkatkan kepatuhan
sasaran untuk mengonsumsi tablet tambah darah ibu hamil dan makanan
tambahan untuk balita dan balita
LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 42
3) Penguatan kualitas pelayanan dan integrasi program terutama untuk
mengatasi penyebab langsung masalah gizi, misal kegiatan terintegrasi
dengan program TBC dalam mengendalikan risko TBC terhadap
terjadinya masalah gizi dengan meningkatkan asupan anak yang terkena
TBC ataupun anak yang berisiko terkena TBC karena ada anggota
keluarganya yang menderita TBC.
4) Peningkatan pemanfaatan pangan lokal untuk Makanan Tambahan balita
gizi kurang melalui pendidikan gizi yang mengkombinasikan kegiatan
untuk meningkatkan pengetahuan gizi ibu hamil juga meningkatkan
kemampuan ibu hamil agar mengkonsumi makanan bergizi sesuai
kebutuhan pada masa hamil.
5) Penyediaan dan peningkatan media edukasi gizi untuk ibu hamil, baik
melalui media visual dan elektronik.
6) Penguatan surveilans gizi termasuk manajemen data rutin mulai dari
pengumpulan, analisis, dan pemanfaatan data/ informasi.

Pencapaian kinerja kegiatan sangat dipengaruhi oleh perencanaan,


pelaksanaan dan monitoring kegiatan yang berkualitas dan akuntabel. Hal
tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi Direktorat Gizi Masyarakat
dalam penyelenggaraan kegiatannya melalui peningkatan kapasitas tenaga
gizi dan kesehatan, peningkatan pendidikan gizi, peningkatan kualits program
dan penguatan manajemen gizi di puskesmas.

Kami berharap Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Gizi Masyarakat ini


dapat bermanfaat bagi penyusunan Kegiatan Pembinaan Gizi d Masyarakat
di masa yang akan datang dalam rangka mewujudkan Masyarakat Sehat
yang Mandiri dan Berkeadilan.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT GIZI MASYARAKAT TAHUN 2021 43

Anda mungkin juga menyukai