0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan18 halaman

Bahan Hairpin Coating untuk Korosi

Bab ini membahas visual inspeksi, uji kelupas, dan pengukuran ketebalan coating. Metode coating yang dijelaskan meliputi cat, pelapisan bubuk, persiapan permukaan logam, dan komposisi coating yang terdiri atas pengikat, zat pewarna, pelarut, dan aditif.

Diunggah oleh

SRIGUSTI REGA MUGIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan18 halaman

Bahan Hairpin Coating untuk Korosi

Bab ini membahas visual inspeksi, uji kelupas, dan pengukuran ketebalan coating. Metode coating yang dijelaskan meliputi cat, pelapisan bubuk, persiapan permukaan logam, dan komposisi coating yang terdiri atas pengikat, zat pewarna, pelarut, dan aditif.

Diunggah oleh

SRIGUSTI REGA MUGIA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab II ini berisikan tentang Visual Ispeksi, Uji Kelupas dan Pengukuran
Ketebalan Coating
A. Tujuan
1. Mempelajari cara visual inspeksi coating.
2. Mempelajarin dan memahami metoda uji kelupas lapisan coating.
3. Mempelajari proses pengukuran dna pengamatan kondisi visual holiday dan
dry film thikness.

2.1 Persiapan Permukaan Logam dan Aplikasi Coating


Korosi merupakan kerusakan material logam yang disebabkan reaksi antara
logam dengan lingkungannya yang menghasilkan oksida logam, sulfida logam
atau hasil reaksi lainnya yang lebih dikenal sebagai pengkaratan. Jadi dilihat dari
sudut pandang kimia, korosi pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion
pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan
oksigen.
Coating adalah sebuah metode yakni melapisi atau melindungi suatu
permukaan logam agar tercegah dari korosi. Coating atau pelapisan bertujuan
untuk mempertahankan dan memelihara penampilan fisik dari suatu logam.
Coating bisa dalam bentuk organik dan inorganik dalam bentuk liquid atau padat,
dari bahan yang keras non logam, komposit, keramik, metal, dan bahan sintetis.
Jenis penggunaan metode pengendalian korosi mengacu pada jenis korosinya dan
lingkungannya. Coating dapat berperan sebagai lapisan penghalang yang
membatasi permukaan logam dengan lingkungannya. Di sisi lain, penambahan
bahan kimia sebagai inhibitor pada proses coating dapat meningkatkan
kemampuan proteksi suatu logam terhadap korosi.
Coating sendiri memiliki beberapa fungsi diantaranya:
1. Fungsi perlindungan, coating melindungi permukaan hasil cetak dari
gesekan. Selain itu coating juga dapat digunakan sebagai penahan cairan dan
lemak (barrier) dan tahan terhadap suhu tinggi (heat resistance).
2. Fungsi produktivitas, coating dapat dilakukan dengan mesin berkecepatan
tinggi sehingga prosesnya bias dilakukan lebih cepat.
3. Fungsi penampilan, coating dapat membuat hasil cetak yang lebih menarik
perhatian.
4. Fungsi keamanan, coating dapat mencegah tinta berpindah dan nyaris tidak
berbau (low odour).
A. Metode Metode Coating
a. Cat (Painting)
Painting atau pelapisan logam dengan menggunakan cat merupakan metode
tertua yang digunakan untuk melindungi logam dari peristiwa korosi. Metode ini
sering digunakan karena tidak hanya melindungi logam dari korosi tetapi juga
dapat meningkatkan penampilan dari logam yang dilindungi dengan adanya warna
dari cat itu sendiri. Kelebihan dari metode pengecatan ini adalah fleksibel,
menutupi permukaan logam dengan bentuk geometri yang kompleks. Sedangkan
kelemahan metode ini adalah menggunakan pelarut organik dan tahapan yang
banyak.
Ada beberapa alat yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan cat,
diantaranya dapat menggunakan kuas, tangan, rol maupun semprot (spray). Pada
umum nya, aplikasi spray adalah metode terbaik untuk mempercepat aplikasi pada
area yang luas, dan untuk keseragaman aplikasi yang sangat tinggi pada
kebanyakan coating. Pada garis besarnya terdapat dua jenis peralatan aplikasi
spray di antaranya:
1) Conventional Air Spray
Cat disemprotkan dengan aliran udara bertekanan dan terbawa pada suatu
permukaan pada sebuah aliran udara. Keduanya (cat dan udara) masuk ke gun
melalui saluran terpisah, lalu tercampur, dan melalui katup dalam pola
penyemprotan yang terkontrol.
2) Airless Spray
Cat disemprotkan tanpa menggunakan udara bertekanan dan terbawa ke
permuakaan dengan kekuatan tekanan cairan melewati spray gun. Cat dipompa
dibawah tekanan yang tinggi ke airless spray gun, dimana dia diatur melalui
sebuah bentuk dan ukuran yang sangat tepat yang disebut lubang atau spray tip,
dimana dia membawa cat tersebut ke suatu permukaan.

b. Pelapisan Bubuk (Powder Coating)


Powder coating adalah proses finishing kering. Yang terdiri dari partikel-
partikel yang dihaluskan, seperti resin, pigmen dan bahan baku lainnya yang
diberikan muatan elektrostatis, kemudian disemprotkan ke objek yang akan
dilapisi. Objek benda yang akan diproses dengan powder coating ini terlebih
dahulu dibersihkan dari segala bentuk kotoran termasuk minyak dan debu dengan
tujuan untuk mengurangi kegagalan dalam proses coating. Pelapisan bubuk
diaplikasikan dengan menggunakan electrostatic powder spraying.

Gambar 2.1 Electrostatic Powder Coating Process


Sumber: (Powder Coating)
Terdapat dua teknik pengecatan powder coating, diantaranya:
1. Pencelupan, benda yang akan di lapisi dicelupkan kedalam bak yang berisi
bubuk pelapis yang telah diberi muatan elektrostatik
2. Penyemprotan, bubuk pelapis yang telah diberi muatan elektrostatik tersebut
di semprotkan pada objek yang akan dilapisi.
Setelah benda melalui salah satu proses tersebut diatas kemudian benda
yang telah terlapisi powder coating dimasukkan kedalam oven, tujuannya untuk
melelehkan dan menyatukan partikel serbuk/bubuk sehingga membentuk lapisan-
lapisan yang halus yang melapisi objek atau benda kerja. Pelapisan dengan
menggunakan metode pengecatan powder coating ini sering di
gunakan/diaplikasikan pada benda yang terbuat dari aluminium atau besi.
Terdapat dua jenis material powder coating yang tersedia untuk melapisi
permukaan suatu benda kerja:
1. Thermo plastic, material bubuk ini akan mengalami pencairan jika benda
kerja mendapat perlakuan panas.
2. Thermosetting, merupakan bahan yang kuat dan tidak akan mencair kembali
walaupun benda kerja mendapat perlakuan panas.[1]
Pada umumnya coating mengandung empat bahan dasar, yaitu pengikat
(binder), zat pewarna (pigmen), pelarut (solvent), dan additif.
1. Pengikat (binder)
Pengikat (binder) merupakan unsur utama pada cat yang mana berfungsi
sebagai pengikat antar komponen-komponen cat. Binder ketika mengikat akan
membentuk matriks. Matriks akan terbentuk pada saat pelapisan, dan fase polimer
pada resin. Matriks ini akan berkelanjutan sampai semua komponen lain dapat
dimasukan. Kandungan binder mempunyai pengaruh langsung terhadap
kemampuan cat. Pengaruh langsung tersebut antara lain:
a. kekerasan,
b. ketahanan solvent
c. ketahanan pada cuaca.
2. Zat Pewarna (pigmen)
Pigmen merupakan suatu zat yang salah satu fungsinya sebagai pemberi
warna pada coating. Bahan pewarna dan pigmen terlihat berwarna karena mereka
menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya. Fungsi dari pigmen sendiri
antara lain sebagai estetika keindahan, dan mempengaruhi ketahanan korosi dan
sifat fisika dari coating itu sendiri. Zat pewarna (pigmen) dapat dikelompokkan
menjadi 2 yaitu pigmen organik dan inorganik. Berikut uraian dari 2 kelompok
pigmen tersebut:
a. Pigmen organik merupakan zat warna yang dibuat oleh manusai atau disebut
pewarna sintetik. Pewarna ini ditemukan oleh William Henry Perkin.
Contoh pigmen organik antara lain Pigment Red 21, Lithol Rubine BK
b. Pigmen anorganik berasal dari material yang mengalami oksidasi atau
perkaratan jika pada besi. Contoh pigmen inorganik adalah besi oksida.

3. Pelarut (solvent)
Pelarut (solvent) berfungsi untuk melarutkan pengikat (binder) dan juga
untuk mengubah kekentalan atau viskositas suatu larutan. Pelarut yang memiliki
nilai tekanan uap yang tinggi sehingga proses penguapanya begitu cepat disebut
dengan fast atau hot solvent. Sedangkan pelarut yang lambat dalam proses
penguapan disebut slow solvent. Laju penguapan mempengaruhi sifat-sifat coating
dan beberapa cacat dapat disebabkan karena ketidakcocokan dalam pemilihan
pelarut. Jika pelarut yang tidak cocok dicampurkan maka beberapa efek yang kan
muncul diantaranya adalah coating tidak bisa membentuk lapisan halus dan
kontinu, coating mengalami kekerasan yang begitu cepat, dan tidak bisa
bersatunya antara material dengan cat.
4. Additif
Additif adalah senyawa-senyawa kimia yang biasanya ditambahkan dalam
jumlah sedikit, namun sangat mempengaruhi sifat-sifat pelapisan. Tingkat
penggunaan additif tidak melebihi 1 atau 2%, dan tingkat total semua additif
dalam formulasi tidak melebihi 5% dari total produk. Berbagai tipe bahan yang
ditambahkan pada cat dalam jumlah yang kecil untuk meningkatkan kemampuan
cat sesuai dengan tujuan atau aplikasi cat. Bahan-bahan yang termasuk additif
adalah surfaktan, alat anti endapan (anti-settling agent), alat pencampur
(coalescing agents), alat tahan pengulitan (anti-skinning agents), katalis,
defoamers, penyerapan cahaya ultraviolet (ultraviolet light absorbers), alat
dispersi, bahan pengawet (preservatives), pengering (driers) dan plastisizers.
5. Extender
Fungsinya sama dengan additive, yaitu memperbaiki sifat-sifat cat. Bahan
extender ini berbentuk padat yang biasanya dipergunakan untuk membantu cara
kerja pigment, misalnya barite, talc, senyawa CaCO3, dan lain-lain.
B. Persiapan Permukaan Logam
Penyiapan permukaan material adalah tahapan awal yang dilakukan kepada
material untuk membersihkan kotoran dan minyak dilakukan proses coating.
Tahapan awal ini sebagai penentu terhadap daya lekat coating pada material.
Kehadiran sejumlah kecil kontaminan pada permukaan seperti: minyak, oksida dll
dapat merusak dan mengurangi kekuatan adhesi lapisan pada substrat secara fisik.
Kebersihan dari material merupakan salah satu faktor yang harus
diperhatikan dalam melakukan surface preparation. Dalam membersihkan material
uji, material uji yang di bersihkan harus bersih dari kontaminasi minyak, oksida,
karat, debu, mill scale dll. Pembersihan ini dilakukan untuk membuat lapisan
coating yang bersentuhan langsung dengan material akan lebih mengikat, karena
kekasaran yang ada pada material membuat cekungan cekungan dimana cat akan
memenuhi daerah itu dan menjadi lebih lekat.[2]
Tabel 2.1 Tingkat kebersihan Material.
Sumber: (ISO 8501-1 dan American SSPC-SP)
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

Pada bagian Metodologi Penelitian menjelaskan tentang skema proses, penjelasan


skema proses dan gambar proses.
3.1 Skema Proses
a. Pengujian Visual Inspeksi
Siapkan alat dan bahan

Amati kondisi visual pada bagian permukaan baja

Ambil gambar dan klasifikasikan jenis cacat yang terdapat

Lakukan analisa dan kesimpulan


Gambar 3.1 Skema Proses Pengujian Visual Inspeksi

b. Pengujian Ketebalan Coating

Siapkan alat dan bahan

Lakukan kalibrasi pada alat DFT

Letakan alat DFT pada 3 titik dalam permukaan baja

Lakukan pengukuran secara bergantian

A
A

Catat hasil pengukuran lalu hitung

Lakukan analisa dan kesimpulan


Gambar 3.2 Skema Proses Pengujian Ketebalan Coating

c. Pengujian Uji Kelupas

Siapkan alat dan bahan

Gambar area cutting pada permukaan plat baja

Lakukan penggoresan dengan cutter dengan kuat pada bidang plat

Lakukan pemasangan tape pada bagian yang diuji

Lakukan penarikan dengan cepat dengan sudut tape 180 derajat

Lakukan analisa dan kesimpulan


Gambar 3.3 Skema Proses Pengujian Uji Kelupas

3.2 Penjelasan Skema Proses


a. Pengujian Visual Inspeksi
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Kondisi visual pada bagian permukaan baja di amati.
3. Jenis cacat yang terdapat di amati dan klasifikasi kemudian ambil
gambar.
4. Hasil pengamatan dianalisa dan kesimpulan dibuat.

b. Pengujian Ketebalan Coating


1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Alat DFT dilakukan kalibrasi terlebih dahulu sebelum dilakukan
pengukuran.
3. Alat DFT di letakkan pada 3 titik berbeda pada permukaan baja.
4. Pengukuran dilakukan secara bergantian pada 3 titik, nilai ketebalan
akan muncul pada layar digital alat.
5. Hasil yang muncul dilakukan pencatatan.
6. Hasil pengamatan dianalisa dan kesimpulan dibuat.
c. Pengujian Uji Kelupas
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Area cutting digambar pada bagian permukaan plat baja.
3. Penggoresan menggunakan cutter pada permukaan plat baja
dilakukan dengan kuat.
4. Tape dipasang pada bagian atas area cutting yang akan di uji.
5. Tape ditarik dengan sekuat tenaga dan cepat dengan kemiringan tape
180 derajat.
6. Hasil pengamatan dianalisa dan kesimpulan dibuat.

3.3 Gambar Proses


A. Persiapan Permukaan Logam dan Aplikasi Coating

Siapkan Alat dan Bahan

Bersihkan spesimen secara mekanik


Lakukan pengukuran ketebalan

Bersihkan spesimen dengan metode sandblasting

Dicampurkan epoxy, hardener, dan thiner.

Diaduk hingga merata.


Disiapkan spray gun dan compressor.

Dilakukan pengukuran temperature dan humiditas pada


plat dan pipa.

Dilakukan pengaplikasian coating ke permukaan plat dan


pipa hingga rata.

Dikeringkan dibawah sinar matahari.


Gambar 2.2 Gambar Proses Persiapan Permukaan Logam dan Aplikasi Coating

3.4 Alat dan Bahan


3.4.1 Alat
1. Alat sandblasting : 1 unit
2. Compressor : 2 unit
3. Batang pengaduk : 1 buah
4. Kaleng cat : 1 buah
5. Timbangan : 1 buah
6. Alat ukur temperature : 1 unit
7. Humiditas udara : 1 unit
8. Spray gun : 1 unit
9. Sand blasting gun : 1 unit
10. UT Thickness meter digital : 1 unit
11. APD : 1 Set

3.4.2 Bahan
1. Plat : 1 buah
2. Pipa : 1 buah
3. Zinc Chromium : 55,5 gr
4. Hardener : 11,1 gr
5. Thiner / solvent : 33,3 gr
6. Amplas 100,500, dan 1000 : secukupnya
7. Water gloss : secukupnya
8. Tissue : secukupnya

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bagian Data dan Pembahasan menjelaskan tentang data hasil yangn
didapatkan, pengolahan data, dan Analisa pembahasan

4.1 Data Hasil Praktikum


Tabel 4.1 Data Pengamatan Hasil Coating Struktur Baja
Struktur Baja Kondisi Visual Jenis Cacat Tebal
Coating
Rata rata
Pipa 1. Terdapat kotoran. 1. Pin holing 0,07 mm
2. Tebal sebagian. 2. Runs
3. Tidak 3. Blister
teraplikasikan 4. Orange peel
coating sebagian.
Plat 1. Terdapat kotoran. 1. Runs 0,16 mm
2. Tebal sebagian. 2. Blister
3. Tidak teraplikasikan
coating sebagian

4.2 Pengolahan Data


1. Rata Rata Tebal Coating
t1 + t2 + t3
t =
3
a. Pipa
0,07+0,07 +0,07
t =
3

= 0,07 mm
b. Plat
0, 21+0, 15 +0, 14
t =
3
= 0,16 mm
4.3 Analisa dan Pembahasan
Pada percobaan praktikum persiapan permukaan logam spesimen
dibersihkan menggunakan metode handtool dan power tool. Metode handtool
mneggunakan amplas sebagai pembersihan permukaanya dengan nilai kekasaran
yang digunakannya ada alah 100, 500 dan 1000 mesh. Metode power tool
menggunakan sandblasting agar permukaan penyemprotan abrasive material
biasanya berupa pasir silika dengan tekanan tinggi pada suatu permukaan dengan
tujuan untuk menghilangkan material kontaminasi seperti karat, cat, garam, oli dll.
Selain itu juga bertujuan untuk membuat profile (kekasaran) pada permukaan
metal agar dapat tercapai tingkat perekatan yang baik antara permukaan metal
dengan bahan pelindung misalnya cat.
Sebelum dilakukannya sandblasting substrate yang telah di amplas terlebih
dahulu diuji ketebalannya. Pada substrate plat dan pipa baja menggunakan alat UT
thikness meter digital ditempelkan pada substratenya dengan menggunakan gel
agar pembacaan alat UT thikness meter dapat terbaca dan mendapatkan hasil, jika
tidak menggunkan gel maka alat tersebut tidak dapat mendeteksi ketebalan pada
substrate tersebut.
Pada saat pengamplasan diusahakan pemukaan substrate harus sampai
permukaannya halus karena akan mempengaruhi hasil ketika proses coating
berlangsung. Jika permukaan substrate semakin kasarm aka permukaan setelah
dicoating akan semakin kasar juga dan jika permukaannya halus maka permukaan
coatingnya juga akan semakin halus dan akan meminimalisir cacat dari hasil
coatingan tersebut.
Pada campuran komposisi coating terdapat standar yang digunakan agar
hasil coatingnya baik pada saat diaplikasikan pada substrate dengan perbandingan
5 : 3 : 1 untuk menghasilkan coating sebanyak 100 gram. Untuk perbandingan
pigmen (epoxy primer) adalah 5 dimana hasil yang didapatkan adalah 55,5 gram
dengan pigmen yang digunakan adalah Zinch Chromium, lalu untuk perbandingan
binder (hardener) adalah 1 dimana hasil yang didapatkan adalah 11,1 gram dan
untuk perbandingan solvent (thinner) adalah 3 dimana hasil yang didapatkan
adalah 33,3 gram. Pada saat pencampuran komposisi coating harus sesuai dengan
perhitungan agar hasil coating pada substrate baik jika kelebihan hardener maka
permukaan coating akan retak retak dan jika kekurangan hardener maka tidak
akan menempel dengan kuat dan pada saat pengadukan komposisi coating harus
homogen agar komposisinya tercampur dengan merata.
Pada saat pengalikasian coating pada substrate harus diberi jarak
penyemprotan spray gun tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat ideal untuk
jaraknya adalah 20-22 cm agar hasil dari permukaan coating baik dan rapih, selain
itu faktor yang mempengaruhi hasil dari pada coating adalah lingkungannya
dimana arah angin harus stabil agar lapisan coating tidak menyebar ke arah yang
tidak sesuai.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian ini membahas mengenai kesimpulan dan saran pada saat praktikum.
5.1 Kesimpulan
1. Persiapan permukaan logam dengan cara permukaan substrate diamplas
menggunakan amplas yang kasar sampai ke halus kemudian di sandblasing
yang bertujuan untuk membuat kekasaran.
2. Parameter yang mempengaruhi kondisi permukaan logam adalah kebersihan
dari debu, karat, minyak dan oli.
3. Campuran dari komposisi coating adalah perbandinganya 5 : 3 : 1 dimana
untuk perbandingan 5 adalah pigmen berupa zinch chromium, perbandingan
3 adalah solvent (thinner), dan untk perbandingan 1 adalah binder
(hardener).
5.2 Saran
1. Alat praktikum lebih dipersiapkan kembali agar tidak ada masalah pada saat
proses praktikum berlangsung.

LAMPIRAN

Pertanyaan dan Tugas MODUL II


1. Tuliskan semua volume (%) komposisi coating yang dicampurkan!
2. Jelaskan perbedaan mekanisme surface treatment yang dilakukan dengan
menggunakan metode sand blasting, power tool, hand tool terhadap hasil
pada spesimen uji!
3. Jelaskan perbedaan dan karakteristik teknologi HVLP, Airless Spray, dan
teknologi aplikasi konvensional seperti kuas atau roller!
4. Sebutkan apa perbedaan Dry film thickness dan Wet film Thickness?
Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses perencanaan coating
tersebut!
Jawaban
1. Komposisi Coating dengan perbandingan 5:3:1 dengan nilai Epoxy 55,5 gr,
Thiner 33,3 gr, Resin 11,1 gr.
2. Sifat pelindung dari sistem pelapisan/coating bergantung pada lapisan
dasarnya atau base layer, karena karakteristik dan komposisi kimianya
sangat berperan untuk pencegahan laju korosi. Selain itu, base layer yang
baik harus memberikan daya rekat yang baik antarasistem pelapisan dan
bahan substrat, serta kekuatan lapisan.
3. Spray Gun HVLP menggunakan banyak volume udara dan mengubahnya
menjadi tekanan rendah. Manfaatnya adalah semprotan lembut yang
mengurangi semprotan berlebih, mengurangi limbah pelapisan dan
menghemat biaya cat. - Pada airless spray gun, atomisasi terjadi dengan
metode menekan finishingmaterial dengan tekanan yang benar-benar tinggi
kemudian melewatkannya lewat suatu lubang (orifice) yang benar-benar
kecil. Dengan tingginya tekanan, karenanya material keluar dari orifice akan
teratomisasi dan kemudian bisa diberi nasihat ke permukaan yang
diharapkan. Tekanan yang dibutuhkan benar-benar tinggi merupakan hingga
1000 psi (68 atm.). - Roll coaters ditemukan dalam berbagai konfigurasi.
Mereka menawarkan keandalan, efektivitas biaya, dan hasil akhir
berkualitas tinggi yang memenuhi beragam persyaratan. Teknik ini adalah
proses hemat energi yang populer dan berkelanjutan yang membutuhkan
lebih sedikit tenaga kerja. Ini juga menawarkan pengurangan limbah,
kontrol berat yang sangat baik, transfer lapisan yang efisien, dan fleksibilitas
desain.
4. Dalam proses painting dan coating dikenal istilah Dry film thickness (DFT)
dan Wet film thickness (WFT) yang menyatakan ukuran ketebalan lapisan
coating atau painting. Seperti sudah dijelaskan pada pembahasan Dry film
thickness (DFT). Pada dasarnya Dry film thicknes (DFT) adalah ukuran
ketebalan total lapisan cat atau coating yang diterapkan yang diukur dalam
kondisi curing atau cat yang sudah kering sempurna. Berbeda dengan DFT,
Wet film thickness (WFT) merupakan ukuran ketebalan cat yang diukur
dalam kondisi cat yang basah. Dalam artikel kali ini akan dibahas lebih
detail mengenai Wet film thickness, metode pengukurannya serta hubungan
atau korelasi DFT dan WDT dalam proses painting atau coating

Anda mungkin juga menyukai