MAKALAH
“ANALISA MENGENAI FIDUSIA, LEASING DAN SEWA BELI”
Disusun Oleh :
Nama : Rino Prima Ramadhani
NIM : 02022682226025
Mata Kuliah : Hukum Perbankan dan Lembaga Pembiayaan
Dosen : 1. Prof. Dr. Joni Emirzon, S.H., [Link].
2. Dr. H. KN. Sofyan Hasan, S.H., M.H
3. H. Kemas Abdullah Hamid, S.H., Sp.N., M.H
4. Amin Mansur, S.H., M.H
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN
PALEMBANG
2022
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………….....
Latar Belakang ………………………………………………………………………………
Rumusan Masalah……………………………………………………………………………
Tujuan……………………………………………………………………………………….
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………...
Kesimpulan………………………………………………………………………………..…
Saran…………………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………....
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era industrialisasi dewasa ini, banyak pihak yang berlomba-lomba untuk
membangun sebuah perusahaan. Untuk merintis sebuah perusahaan diperlukan lembaga yang
dapat membiayai modal usaha tersebut. Karena biaya yang diperlukan tidaklah sedikit dan
memerlukan prasarana yang juga tidak sedikit.
Oleh karena itu, banyak pelaku usaha yang menggunakan lembaga pembiayaan
berkaitan dengan Permodalan dan Pengadaan Barang untuk tabungan serta kredit usaha atau
modal usaha, seperti misalnya pengadaan akomodasi dalam usaha seperti pembiayaan
kendaraan bermotor. Pembelian kendaraan secara kredit terlebih dalam jumlah yang tidak
sedikit akan memberikan solusi terhadap kebutuhan pelaku usaha akan kendaraan.
Dikarenakan harga kendaraan yang dibeli dalam jumlah yang cukup banyak tidak 3
terjangkau jika harus dibeli dengan harga kontan, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut
muncullah lembaga pembiayaan yang muncul untuk mengatasi ini.1
Munculnya lembaga pembiayaan dianggap cukup fleksibel dibandingkan dengan
bank, hal ini disebabkan oleh keterbatasan jangkauan penyebaran kredit oleh bank,
keterbatasan sumber dana, dan keterbatasan-keterbatasan lain yang mengakibatkan bank
kurang fleksibel dalam menjalankan fungsinya (Fuady, 2002). Lembaga pembiayaan adalah
badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau
barang modal. Lembaga pembiayaan yang dilaksanakan oleh perusahaan pembiayaan
haruslah badan usaha di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank, yang secara khusus
didirikan untuk melakukan sewa guna usaha (leasing), pembiayaan konsumen (consumer
finance), anjak piutang (factoring), dan/atau usaha kartu kredit (credit card). Dari berbagai
bidang yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan di atas, dalam perkembangan dunia
bisnis usaha, beberapa jenis usaha pelayanan seperti Sewa Guna Usaha atau “leasing” telah
berkembang menjadi industri pembiayaan alternative
Ilmania Ayu, Adina, Tinajauan Yuridis Perjanjian Pembiayaan Sewa Guna Usaha / Leasing Dengan
Jaminan Fidusia, Hlm 2
Leasing sebagai salah satu sistem pembiayaan mempunyai peranan dalam
peningkatan pembangunan perekonomian Nasional. Usaha Leasing dapat membantu
badan-badan dan pengusaha-pengusaha Indonesia, terutama pengusaha industri kecil,
dalam mengatasi cara pembiayaan untuk memperoleh alat-alat perlengkapan maupun
barang-barang modal yang mereka perlukan, yang juga berarti meingkatkan pembangunan
perekonomian Nasional.2
Sewa beli adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang
dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan
pelunasan harga barang yang telah disepakati bersama dan diikat dalam suatu perjanjian,
serta hak milik atas barang tertentu, baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah
harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual.
A. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan :
a) Fidusia
b) Leasing
c) Sewa Beli
B. Tujuan
[Link] mengetahui dan menjelaskan tentang fidusia, sewa beli /leasing
2
A. Qiron Syamsudin Meliala, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, (Yogyakarta:
Liberty, 1985), Hlm. 88 .
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Fidusia , Leasing dan Sewa Beli
A. Fidusia
Jika dilihat dari segi bahasa, kata fidusia sendiri bisa diartikan dalam beberapa bahasa.
Pertama adalah kata fidusia yang diambil dari bahasa Romawi yaitu fides. Kata fides sendiri
memiliki arti kepercayaan.
Lalu kata fidusia juga diambil dari bahasa Belanda yaitu Fiduciaire Eigendom Overdracht.
Selain itu kata fidusia juga diambil dari bahasa Inggris yaitu Fiduciary Transfer of
Ownership. Kedua bahasa tersebut jika diterjemahkan memiliki arti penyerahan hak milik
yang memiliki dasar kepercayaan.
Selain itu jika dilihat dari Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 tentang fidusia 3, ternyata
memiliki arti tersendiri yaitu pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan
dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam
penguasaan pemilik benda.
Perlu diketahui juga jika pada Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan
Fidusia juga dijelaskan jika ada pihak sebagai pemberi fidusia dan penerima fidusia. Nah
untuk lebih jelasnya akan hal tersebut. Dibawah ini adalah beberapa poin penjelasan tentang
pemberi fidusia dan penerima fidusia.
o Pemberi fidusia adalah orang perseorangan atau sebuah koperasi yang memiliki
sebuah benda sebagai objek untuk jaminan fidusia.
o Penerima fidusia adalah orang perseorangan atau sebuah koperasi yang memiliki
sebuah hutang. Dimana hutang tersebut dapat dijamin dengan bantuan jaminan
fidusia.
Jika digambarkan secara mudahnya proses penerapan fidusia adalah ketika seorang pemilik
barang menyerahkan kepemilikan barang tersebut kepada orang lain. Namun meski barang
tersebut sudah dimiliki oleh orang lain tetap saja penguasaan barang tersebut masih milik
pemberi barang.
Lalu untuk jaminan fidusia sendiri menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 adalah
hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda
tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.
3
Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.
PERBEDAAN DENGAN SISTEM GADAI
perbedaan dari fidusia dan gadai. Bagi orang awam mungkin menganggap keduanya
sama.
Padahal jika dilihat lebih dalam, fidusia maupun gadai memiliki perbedaan. Secara garis
besar, perbedaan dari fidusia dan gadai memiliki dua perbedaan yang cukup mencolok Yaitu :
1. Jaminan
Dari segi jaminan, baik fidusia maupun gadai memiliki perbedaan. Pertama dari
jaminan fidusia yang harus menggunakan akta notaris dalam prosesnya. Lalu jaminan fidusia
juga harus melalui proses pendaftaran terlebih dahulu ke pendaftaran fidusia. Sedangkan
untuk jaminan gadai tidak perlu melalui proses pendaftaran terlebih dahulu.
Perlu diketahui juga jika jaminan dari fidusia hanya bisa diproses ketika pihak debitur
memiliki wanprestasi pada perjanjian pokok yang ada. Objek jaminan fidusia dapat dijual,
namun pemegang kekuasaan adalah pihak penerima. Sedangkan proses penjualan dapat
dilakukan dua cara yaitu lelang atau proses negosiasi.
Sedangkan pada gadai, penguasaan barang yang dijadikan jaminan memang benar-benar
ditujukan untuk pembayaran hutang dari pihak debitur. Artinya barang yang dijadikan
jaminan pada pegadaian tidak akan dinikmati ataupun dipakai.
Proses penjualan barang jaminan gadai hanya dilaksanakan ketika pihak kreditur memiliki
wanprestasi. Adapun dua jenis penjualan barang jaminan gadai yaitu barang gadai dapat
dijual tanpa memerlukan persetujuan dari ketua pengadilan. Lalu yang kedua adalah jaminan
barang gadai dapat dijual dengan adanya izin dari pihak pengadilan yaitu hakim.
2. Hak milik
Dari hak milik juga memiliki perbedaan baik itu hak milik fidusia maupun hak milik
gadai. Hak milik pada fidusia pengendaliannya terletak pada kreditor. Sedangkan untuk hak
milik gadai pengendaliannya terletak pada pemegang gadai. Meski begitu pemegang suara
tetap pada pemberi proses gadai tersebut.
SERTIFIKAT JAMINAN FIDUSIA
Jaminan fidusia tak bisa begitu saja disahkan, ada beberapa hal penting di dalamnya.
Salah satunya adalah sebuah jaminan fidusia harus memiliki sertifikat. Sertifikat ini nantinya
akan disahkan oleh pihak notaris.
Dimana dengan adanya sertifikat jaminan fidusia ini diharapkan bisa memberikan
perlindungan bagi peminjam dan juga pemberi pinjaman. Selain itu adanya sertifikat jaminan
fidusia ini juga bisa digunakan untuk menjamin tidak ada pihak yang dirugikan, baik dari
penerima pinjaman maupun pemberi pinjaman.
Bagi pemberi pinjaman adanya sertifikat jaminan fidusia merupakan suatu hal yang penting.
Pasalnya dengan adanya sertifikat jaminan fidusia ini pihak peminjam memiliki kekuatan
hukum ketika mengambil sebuah benda jika suatu saat pihak peminjam tidak dapat
melakukan pelunasan terkait dengan pinjaman yang ia miliki.
Bahkan proses yang dilakukan oleh pihak pemberi pinjaman ini juga akan mendapatkan
dukungan secara legal oleh aparat hukum.
Tak hanya bagi pihak pemberi pinjaman saja, pasalnya adanya sertifikat jaminan fidusia ini
juga memberikan keuntungan tersendiri bagi pihak penerima pinjaman. Dengan adanya
sertifikat jaminan fidusia pihak peminjam memiliki jaminan keterlindungan jika pihak
pemberi pinjaman melakukan melakukan suatu tindakan yang dinilai berlebihan.
Semua syarat terkait dengan kondisi proses penyitaan sudah diatur pada sertifikat jaminan
fidusia. Contohnya adalah pada jumlah minimal sebuah hutang yang harus dibayarkan oleh
pihak penerima pinjaman agar barang yang disita bisa menjadi milik penerima pinjaman lagi.
Setelah tahu bagaimana pentingnya sertifikat jaminan fidusia. Tentunya kalian juga harus
tahu bagaimana cara untuk membuat sebuah sertifikat jaminan fidusia tersebut.
Proses yang dilakukan adalah kalian hanya perlu mendaftarkan jaminan fidusia ke kantor
pendaftaran fidusia. Proses ini juga harus diresmikan oleh pihak notaris. Nantinya pihak
notaris akan membuatkan sebuah sertifikat.
Jika sertifikat sudah jadi, proses selanjutnya adalah mendaftarkan ke perusahaan fidusia. Lalu
untuk salinan akan diberikan kepada pihak debitur.
Hak Eksekusi
Penjelasan berikutnya adalah tentang hak eksekusi fidusia. Tak hanya tahu tentang
pengertian dari fidusia saja. Namun penjelasan tentang hak eksekusi fidusia juga sangat
penting diketahui. Hak eksekusi fidusia biasanya dilakukan ketika pihak penerima pinjaman
tidak bisa melakukan proses pembayaran angsuran.
Namun hak eksekusi fidusia tak bisa dilakukan secara langsung. Pasalnya ada beberapa
tahapan yang perlu dilakukan sebelum melakukan proses eksekusi fidusia. Proses awal yang
dilakukan oleh pemberi pinjaman adalah memberikan sebuah surat peringatan kepada
penerima pinjaman tersebut.
Dari adanya surat peringatan pertama ini akan dilihat terlebih dahulu bagaimana respon dari
penerima pinjaman. Jika pihak penerima pinjaman merespon dengan itikad baik atau
melakukan pembayaran seperti semula. Maka proses eksekusi fidusia akan dibatalkan.
Namun jika tidak ada respon dari pihak penerima pinjaman. Maka pihak pemberi pinjaman
akan memberikan sebuah surat peringatan kedua kepada penerima pinjaman. Jika surat
peringatan kedua juta tak ada respon juga. Tindakan terakhir dari pemberi pinjaman adalah
melakukan eksekusi fidusia.
Sebelumnya sudah dibahas jika proses eksekusi fidusia tak bisa dilakukan secara bebas. Jika
pemberi pinjaman akan melakukan sebuah eksekusi fidusia. Maka harus ada beberapa syarat
yang perlu dibawah.
Mulai dari surat peringatan baik itu pertama dan kedua. Lalu pemberi pinjaman juga
membawa surat kuasa eksekusi dan juga sertifikat fidusia. Beberapa syarat ini dibawa agar
menghindari jika terjadi sebuah tindakan kesalahpahaman
Prinsip Dalam Fidusia
Dalam dunia finansial fidusia memang sudah banyak dikenal dan digunakan. Ternyata
memahami beberapa poin tentang fusida seperti di atas hanya sebagian kecil saja lho.
Pasalnya masih ada hal lain yang berkaitan dengan fidusia.
Salah satunya adalah prinsip-prinsip yang diterapkan dalam fidusia. Adanya prinsip fidusia
ini bisa menjamin keberlangsungan wisuda seperti peminjaman dana dan hal lainnya. Secara
garis besar ada dua prinsip fidusia yang harus diketahui.
Prinsip yang pertama adalah kejelasan dari barang yang ada di dalam proses fidusia. Barang
yang dijadikan sebuah jaminan dalam fidusia harus memiliki kelengkapan data yang begitu
jelas seperti hak kepemilikan. Selain itu proses pembuktian ini juga harus melalui waktu yang
terbilang cepat.
Prinsip berikutnya adalah adanya sebuah perjanjian yang di dalamnya terdapat barang
jaminan fidusia. Dengan begitu barang yang dijadikan sebuah jaminan fidusia adalah atas
kesepakatan dari kedua belah pihak yang tercantum pada surat perjanjian.
Dasar Hukum Fidusia
Fidusia sudah memiliki dasar hukum tersendiri. Penjelasan sebelumnya juga sudah
disinggung sedikit jika fidusia diatur pada Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 yang
menjelaskan tentang jaminan fidusia.
Biaya Fidusia
Secara mudahnya biaya fidusia bergantung pada besaran nilai dari penjaminan objek
yang akan dijadikan kredit. Meski begitu biaya yang ditekankan pada fidusia mengacu pada
Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2019 yang menjelaskan tentang Jenis dan Tarif atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia.
Selain itu peraturan tersebut juga membahas terkait dengan kenaikan pada biaya fidusia yang
hampir sebagian besar masuk ke dalam kelompok penjaminan. Namun ada beberapa
kelompok nilai dari penjaminan yang tak mengalami perubahan.
Peraturan yang Ada Pada Fidusia
Fidusia tak hanya memiliki dasar hukum saja. Namun fidusia juga memiliki beberapa
peraturan penting lainnya. Sama halnya dengan beberapa penjelasan sebelumnya, kalian juga
akan lebih paham tentang fidusia jika turut mempelajari penjelasan tentang peraturan fidusia
yang ada pada poin ini.
Dimulai dari pembebanan pada benda yang dijadikan sebuah jaminan fidusia harus memiliki
sebuah akta notaris. Akta notaris tersebut dibuat menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan
fungsi dari akta notaris tersebut adalah sebagai akta jaminan fidusia.
Pada akta notaris tersebut setidaknya ada penjelasan yang menyebutkan kedua belah pihak,
baik itu identitas pemberi maupun penerima fidusia. Selain itu juga terdapat pada akta
tersebut juga ada penjelasan tentang objek benda yang dijadikan jaminan fidusia, data yang
dijadikan sebagai perjanjian pokok yang dijamin oleh fidusia.
Tak hanya itu saja, pada akta tersebut juga harus memuat nilai dari benda yang dijadikan
sebuah jaminan fidusia dan nilai dari penjaminan.
Tugas Pemegang Fidusia
Mereka yang menjadi pemegang fidusia memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab
yang legal dan tentunya juga etis. Beberapa tugas yang harus dilakukan oleh pemegang
fidusia adalah sebagai berikut ini.
1. Pihak yang menerima kewajiban fidusia atas nama pihak lain dengan segaja harus
bertanggung jawab sekaligus melakukan pengelolaan aset yang telah disesuaikan
dengan kepentingan dari pemilik.
2. Bisa memastikan tidak adanya sebuah konflik yang terjadi antara pemegang fidusia
dengan pemilik aset.
3. Seperti pada penjelasan hukum yang berlaku, pemegang fidusia harus memberikan
penjelasan terkait dengan kondisi asli dari aset atau barang yang akan dijual kepada
pihak calon pembeli. Selain itu mereka yang memegang fidusia juga tidak akan
mendapatkan keuntungan apapun atas proses penjualan aset tersebut.
4. Ketika pemilik aset telah meninggal dunia, maka akta fidusia masih tetap bisa
diberlakukan. Khususnya untuk aset yang memerlukan pengelolaan serta pengawasan
lebih lanjut seperti perkebunan ataupun aset jenis lainnya.4
4
Ananda , Fidusia: Pengertian, Sertifikat Jaminan, Hak Eksekusi, dan Prinsip , [Link]
seller/fidusia/
B. Leasing
Leasing adalah suatu kegiatan pembiayaan berupa barang modal maupun aset bagi
perusahaan atau perorangan dalam menjalankan aktivitas usaha. Misalnya saja leasing motor
guna memperlancar proses pemasaran perusahaan distributor. Biasanya, debitur akan
mengembalikan pinjaman dengan cara diangsur.
Apa Itu Leasing?
Leasing adalah metode pembiayaan yang dilakukan melalui pengadaan barang modal
maupun aset untuk diberikan kepada perusahaan maupun individu. Biasanya, para penerima
leasing merupakan pengusaha yang menjalankan suatu kegiatan bisnis sehingga modal
tersebut dibutuhkan guna melancarkan aktivitas usaha.
Selain itu, leasing merupakan metode pembiayaan yang diberikan oleh suatu perusahaan
dalam kurun waktu tertentu. Cara pembayarannya yakni melalui cicilan sejumlah uang sesuai
keputusan bersama. Ketika debitur berhasil melunasinya, maka ia punya pilihan untuk
membelinya menggunakan nilai yang tersisa.
Dengan sistem tersebut, leasing adalah pembiayaan yang membantu masyarakat guna
memperoleh modal usaha maupun membeli barang-barang mahal tanpa harus mengeluarkan
banyak uang sekaligus.
Contoh leasing adalah ketika seseorang ingin membeli motor atau mobil namun belum
mampu melunasinya, sehingga mereka akan menggunakannya sembari membayar cicilan
kepada lessor.
Sejarah Leasing
Leasing merupakan kegiatan pembiayaan yang sudah dilakukan sejak tahun 2000 SM,
yakni melalui praktik bangsa Sumeria. Hal ini diketahui dari dokumen leasing ternak, air, dan
peralatan sehari-hari di atas tanah liar. Selanjutnya, muncul lembaga tersendiri guna
menaungi aktivitas ini di Babilonia sekitar tahun 400 SM.
Pada masa itu, masyarakat Babilonia menggunakan leasing sebagai cara pemenuhan
kebutuhan hidup melalui benih tanaman maupun perkakas tani. Selanjutnya, praktik ini
diikuti oleh Roma, Mesir, Yunani Kuno, dan sebagainya.
Hingga di tahun 1850, Tom M. Clark dari Amerika Serikat menjadi orang modern pertama
yang menerapkan praktik leasing dalam sewa menyewa kereta.
Ciri-Ciri Leasing
Ciri-ciri leasing adalah sebagai berikut.
Adanya jangka waktu sewa dan periode pembayaran cicilan.
Hak milik atas benda yang disewakan tetap berada pada pihak pemberi leasing.
Biasanya, objek leasing berupa benda modal yang benar-benar dibutuhkan nasabah
atau pengusaha untuk menjalankan bisnisnya.
Adanya nominal cicilan yang besarnya telah disepakati bersama.
Tujuan Leasing
Biasanya, suatu pihak akan melakukan leasing karena didasari oleh tujuan-tujuan berikut ini.
Mendapatkan barang-barang kebutuhan yang harganya mahal dalam waktu cukup
cepat, sehingga Anda dapat langsung menggunakannya sembari mengangsur.
Menghemat biaya produksi karena pembelian alat tidak dilakukan dalam satu waktu.
Pihak pemberi leasing biasanya menjalankan pembiayaan ini guna mendapat
penghasilan dari bunga pinjaman.
Pihak-Pihak dalam Leasing
Skema pembiayaan ini melibatkan setidaknya 4 pihak. Nah, mereka yang terlibat dalam
aktivitas leasing adalah sebagai berikut.
1. Lessor
Lessor adalah badan usaha atau pihak yang memberikan fasilitas pembiayaan kepada
lessee dalam bentuk barang modal. Mereka akan memperoleh kembali modal
ditambah keuntungan melalui angsuran yang dibayarkan oleh pihak peminjam.
2. Lessee
Yang dimaksud dengan lessee dalam transaksi leasing adalah perusahaan atau
perorangan yang menerima pembiayaan dalam bentuk barang modal. Ketika mereka
berhasil melunasinya, maka lessee bisa memilih untuk membelinya atau
mengembalikan pada lessor.
3. Supplier
Kedudukan supplier dalam transaksi leasing adalah sebagai penyedia barang pesanan
lessee yang akan dibayar secara lunas oleh lessor.
4. Bank
Meskipun tidak terlibat secara langsung, seringkali bank mengambil peran sebagai
penyedia dana untuk lessor. Jadi, pemberi leasing akan menggunakan pinjaman bank
sebagai modal memenuhi permintaan lessee.
Jenis-Jenis Leasing
Adapun jenis-jenis leasing adalah sebagai berikut.
1. CapitalLease
Capital lease adalah mekanisme leasing yang paling sering digunakan, yakni dengan
cara perusahaan memberikan berbagai macam kebutuhan benda modal nasabah.
Nantinya, mereka akan membayar pesanan tersebut di supplier dan mendapat
pengembalian melalui cicilan lessee. Dengan kata lain nasabah (lessee) tidak
berhubungan langsung dengan supplier.
2. OperatingLease
Jenis lainnya leasing adalah operating lease, yakni pembiayaan dimana lessor
membeli barang untuk disewakan pada lessee dalam kurun waktu tertentu sesuai
kesepakatan. Kemudian lessee hanya perlu membayar biaya rental, sedangkan biaya
lain telah ditanggung lessor
3. SalesType Lease
Sales type lease adalah penjualan barang produksi sendiri dengan mekanisme leasing.
Jadi, perusahaan tersebut akan mendapat penghasilan dari harga jual dan bunga yang
disetorkan oleh lessee.
4. Cross Border Lease
Cross-border lease adalah praktik leasing antara lessee dan lessor yang berada di
negara berbeda. Biasanya ini dilakukan untuk permodalan berupa pesawat atau alat-
alat militer.
5. Leverage Lease
Salah satu tipe lain dari leasing adalah leverage lease, yakni permodalan dengan
melibatkan pihak ketiga. Jadi, lessor tidak membayar barang modal sepenuhan,
melainkan akan patungan bersama pihak ketiga. Jadi, dalam pembayarannya nanti,
lessee berurusan dengan lebih dari satu pihak.
Perusahaan Leasing
Beberapa perusahaan leasing adalah sebagai berikut.
PT Federal International Finance (FIF)
PT Astra Credit Companies
PT Oto Multi Artha
PT Bussan Auto Finance
PT Wahana Ottomitra Multiartha
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk
PT Summit Oto Finance
Manfaat Leasing
Skema pembiayaan satu ini mendatangkan beberapa keuntungan bagi lessor maupun lessee.
Adapun manfaat leasing adalah sebagai berikut.
1. Terhindar dari Inflasi
Leasing adalah salah satu skema pinjaman yang dapat membantu Anda menghindari
inflasi karena pembayarannya dilakukan sesuai dengan satuan keuangan dalam
perjanjian sebelumnya.
2. Tidak Perlu Jaminan
Untuk melakukan leasing, tidak perlu adanya jaminan di muka. Namun, kepemilikan
sah atas barang modal atau pembayaran yang telah dilakukan sebelumnya dapat
menjadi jaminan transaksi.
3. Fleksibel
Karena dilakukan dengan sistem kontrak antara lessor dan lessee, kedua belah pihak
dapat bernegosiasi terkait banyak hal dan kesepakatannya pun lebih fleksibel.
4. Capital Saving
Salah satu hal yang menjadi manfaat dari skema leasing adalah lessee tidak perlu
mengeluarkan nominal sepeserpun untuk modal awal. Hal ini karena pembiayaan
telah disediakan lessor hingga 100%. Jadi Anda bisa menggunakan dana modal untuk
kebutuhan lain.
5. Pelayanan Cepat
Karena ditangani oleh perusahaan tertentu, proses pembiayaan leasing dilakukan
secara cepat, sederhana, dan efisien.
6. Ada Perlindungan Hukum
Adanya kontrak yang jelas dan berkekuatan hukum membuat perjanjian antara lessor
dan lessee mendapatkan kepastian hukum. Jadi, jangan khawatir akan adanya
penipuan dan beberapa risiko lain.
7. Dapat Memperoleh Aktiva
Manfaat utama leasing bagi seorang lessee adalah bisa mendapatkan aktiva berupa
barang modal yang dapat menunjang aktivitas bisnisnya.5
C. Sewa Beli
5
Redaksi OCBC NISP , Pengertian Leasing, Jenis, Manfaat, dan Contoh Perusahaannya
[Link]
Latar belakang timbulnya sewa beli pertama kali adalah untuk menampung persoalan
persoalan bagaimanakah caranya memberikan jalan keluar, apabila pihak penjual
mengahadapi banyaknya permintaan untuk membeli barangnya, tetapi calon pembeli tidak
mampu membayar harga barang secara tunai. Pihak penjual bersedia menerima harga barang
itu dicicil atau diangsur, tetapi ia memerlukan jaminan bahwa barangnnya, sebelum harga
dibayar lunas, tidak akan dijual lagi oleh pembeli. Istilah sewa beli berasal kata huurkoop
(Belanda) atau hire purchase (Bahasa Inggris), artinya sewa jual, jual dengan cara sewa atau
jual beli dengan cara mengangsur. 6
Sewa beli adalah suatu perjanjian campuran dimana terkandung unsur perjanjian jual-beli dan
perjanjian sewa-menyewa. Dalam perjanjian sewa beli selama harga belum dibayar lunas
maka hak milik atas barang tetap berada pada si penjual sewa, meskipun barang sudah berada
di tangan pembeli sewa. Hak milik baru beralih dari penjual sewa kepada pembeli sewa
setelah pembeli sewa membayar angsuran terakhir untuk melunasi harga barang. Sewa beli
adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara
memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas
harga yang telah disepakati
bersama dan telah diikat dalam suatu perjanjian serta hak milik atas barang tersebut baru
beralih dari penjual pada pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli. 7
Para ahli berbeda pandangan mengenai definisi atau pengertian sewa beli, yang kemudian
dibagi menjadi 3 macam definisi, yaitu : 1. Definisi pertama, berpendapat bahwa sewa beli
sama dengan jual beli angsuran Jual beli dengan angsuran (op afbetaling) dimana para pihak
sepakat, bahwa barang yang dijual tidak langsung menjadi milik si pembeli dengan
penyerahan barangnya. Dalam Definisi ini, sewa beli dikontruksikan sebagai :
a. Jual beli dengan angsuran
b. Objek sewa beli tidak langsung menjadi pemilik
c. Pemilikan barang setelah pembayaran terakhir. Menurut isi dari Keputusan Menteri
Perdagangan dan Koperasi No. 34/KP/II/1980 adalah sebagai berikut :
“Sewa beli (Hire Purchase) adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan
barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan pembeli dengan
pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang 25 Subekti, Aneka
Perjanjian, hlm. 52. 41 diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik suatu barang tersebut
baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah harganya dibayar lunas. 8
Dengan demikian, sewa beli adalah suatu transaksi sejenis sewa-menyewa yang berakhir
dengan jual beli (berakhir dengan pemindahan kepemilikan) dengan pembayaran dibuat
dengan cara angsuran, setelah angsuran dilunasi semua maka hak milik akan berpindah
kepada pihak penyewa.
Perjanjian sewa beli adalah jenis perjanjian tidak bernama (innominaat) yang dalam Pasal
1319 KUHPerdata telah diberikan landasan yuridis mengenai adanya perjanjian tidak
6
Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 128
7
Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 34/KP/II/80 tentang Perizinan Kegiatan Sewa Beli, Jual Beli
dengan Angsuran dan sewa, Pasal 1 Huruf a
8
Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominat Di Indonesia, hlm. 131.
bernama. Selain itu Perjanjian sewa beli yang merupakan perjanjian innominaat ini haruslah
tunduk pada ketentuan umum KUHPerdata seperti dalam pasal 1337 KUHPerdata yang
memberikan batasan bahwasanya segala bentuk perjanjian diperbolehkan apabila tidak
dilarang oleh undang-undang atau berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum.
Pengaturan mengenai Perjanjian sewa beli ini terdapat dalam Pasal 1 Surat Keputusan
Menteri Perdagangan Dan Koperasi Nomor 34/KP/Il/1980 yang menyebutkan bahwa sewa
beli (Hire Purchase) merupakan sewa beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan
barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli
sebagai pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan diikat dalam suatu
perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli
setelah jumlahnya harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual. 9
Persamaan dan Perbedaan Antara Perjanjian Sewa Beli dengan Sewa Menyewa Ada beberapa
persamaan antara perjanjian sewa beli dengan sewa menyewa, yaitu :
A. Perjanjian sewa beli dan sewa menyewa merupakan suatu perikatan yang bersumber
pada perjanjian dan untuk sahnya perjanjian harus memenuhi syarat sahnya perjanjian
yang ditentukan dalam Pasal 1320 KUH Perdata.
B. Adanya kewajiban untuk menyerahkan barang oleh penjual pada sewa beli dan pihak
yang menyewakan dalam sewa menyewa.
C. Penjual dalam sewa beli dan penyewa dalam sewa menyewa berkewajiban untuk
memelihara barang 45 yang sudah dalam penguasaannya sebagai bapak rumah tangga
yang baik.
D. Penjual dalam sewa beli dan pihak yang menyewakan dalam sewa menyewa
berkewajiban untuk memberikan kenikmatan tenteram dan damai serta tidak adanya
cacat tersembunyi pada barang yang dijual pada sewa beli dan yang disewakan pada
sewa menyewa. Perbedaan-perbedaan antara perjanjian sewa beli dengan sewa
menyewa antara lain :
a) Pengertian sewa menyewa hanya untuk memberi kenikmatan atas benda atau barang
yang disewakan. Oleh karena itu dalam sewa menyewa tidak hanya pemegang hak
milik atas barang saja yang dapat menyewakan, tetapi dapat pula dilakukan oleh
pemegang hak yang lain, misalnya pemegang hak memungut hasil, sedangkan pada
sewa beli yang mempunyai tujuan untuk mengalihkan hak milik, penjual harus benar-
benar pemegang hak milik dari barang sewa beli.
b) Undang-Undang memberi kemungkinan bentuk perjanjian sewamenyewa diadakan
secara tertulis atau lisan, sedangkan perjanjian sewa beli menurut kebiasaan harus
dilakukan secara tertulis.
c) Risiko dalam perjnjian sewa menyewa diatur dalam Pasal 1553 KUH Perdata, yaitu
bila barang yang disewa itu musnah, karena suatu peristiwa di luar kesalahan salah
9
Pasal 1 Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No.34/KP/|I/1980 tentang Perizinan kegiatan
usaha sewa beli (hire purchase), Jual beli dengan angsuran, dan sewa (renting).
satu pihak, maka perjanjian sewa menyewa batal demi hukum dan risikonya harus
dipikul oleh pihak yang menyewakan sebagai pemilik barang atau rumah.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Munculnya lembaga pembiayaan dianggap cukup fleksibel dibandingkan dengan
bank, hal ini disebabkan oleh keterbatasan jangkauan penyebaran kredit oleh bank,
keterbatasan sumber dana, dan keterbatasan-keterbatasan lain yang mengakibatkan bank
kurang fleksibel dalam menjalankan fungsinya.
SARAN
Sebaiknya syarat syarat yang diberikan oleh badan usaha yang menyalurkan kredit
dengan pembebanan jaminan fidusia harus dibuat dengan rasa keadilan bagi para pihak
sehingga tidak muncul sengketa yang dapat terjadi di kemudian hari. Masyarakat yang harus
lebih teliti dalam memahami syarat syarat dan ketentuan yang diberikan oleh badan usaha
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ilmania Ayu, Adina, Tinajauan Yuridis Perjanjian Pembiayaan Sewa Guna Usaha / Leasing Dengan
Jaminan Fidusia, Hlm 2
A. Qiron Syamsudin Meliala, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, (Yogyakarta: Liberty,
1985), Hlm. 88 .
Undang-undang Nomor 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.
Ananda , Fidusia: Pengertian, Sertifikat Jaminan, Hak Eksekusi, dan Prinsip , [Link]
seller/fidusia/
Redaksi OCBC NISP , Pengertian Leasing, Jenis, Manfaat, dan Contoh Perusahaannya
[Link]
Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 128
Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 34/KP/II/80 tentang Perizinan Kegiatan Sewa Beli, Jual Beli
dengan Angsuran dan sewa, Pasal 1 Huruf a
Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominat Di Indonesia, hlm. 131.
Pasal 1 Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No.34/KP/|I/1980 tentang Perizinan
kegiatan usaha sewa beli (hire purchase), Jual beli dengan angsuran, dan sewa (renting).