SATUAN ACARA PENYULLUHAN
TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA 2 TAHUN
DI RUANG FLAMBOYAN RST [Link] dr. SOEDJONO MAGELANG
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktek Profesi Ners Stase Anak
Disusun oleh:
Celiya Winangrum (223203040)
Ananda Yesika (223203041)
Onesimus Fanny (223203038)
Aris Subekti (223203059)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ketika anak sudah
memasuki masa toddler anak selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya dan
anak membutuhkan suatu permainan. Aktivitas bermain merupakan salah satu
stimulus bagi perkembangan anak. Alat permaianan hendaknya disesuaikan dengan
jenis kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang perkembangan anak
dengan optimal. Dalam kondisi sakitpun aktivitas bermaian tetap perlu dilaksanakan
namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.
Hospitalisasi merupakan suatu proses karena suatu alasan yang berencana atau
darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Perawatan anak di rumah
sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stres baik bagi anak maupaun
orang tua. Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit itu
sendiri merupakan penyebab stress bagi anak dan orang tuanya, baik lingkungan
fisik rumah sakit seperti bangunan atau ruang rawat, alat-alat, bau yang khas,
seragam petugas kesehatan maupun lingkungan sosial, seperti sesama pasien anak,
ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri. Pada saat dirawat di
rumah sakit, anak sering mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak
menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut
merupakan dampak hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa
stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu, anak memerlukan media
yang dapat mengekspresikan perasaan tersebut dan mampu kerjasama dengan
petugas kesehatan selama dalam perawatan.
Permainan yang terapeutik didasari oleh pandangan bahwa bermain bagi anak
merupakan aktivitas yang sehat dan diperlukan untuk kelangsungan tumbuh-
kembang anak dan memungkinkan untuk dapat menggali dan mengekspresikan
perasaan dan pikiran anak, mengalihkan perasaan nyeri (distraksi), dan relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan. Dengan demikian kegiatan bermain
harus menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Terapi
bermaian ini bertujun untuk mempraktekkan keterampilan, memberikan ekspresi
terhadap pemikiran, menjadi kreatif dan merupakan suatu aktifitas yang
memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan kognitif dan afektif
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan terapi bermain mewarnai selama 1 x 30 menit anak dapat
memahami pentingnya bermain dan mengurangi kecemasan terkait hospitalisasi.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk melatih keterampilan kognitif dan afektif, anak bebas mengekpresikan
perasaannya, orang tua dapat mengetahui situasi hati anak, memahami
kemampuan diri, kelemahan dan tingkah laku terhadap orang lain,
merupakan alat komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat
mengatakan secara verbal.
b. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat
c. Membantu anak untuk relaksasi dan distraksi perasaan takut, cemas, sedih,
tegang, dan nyeri dan menggali kreatifitas anak dengan bermain mewarnai
gambar.
d. Membantu anak untuk mengekspresikan perasaannya selama dirawat di
rumah sakit.
BAB II
KONSEP TEORI
A. PENGERTIAN
Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan
merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain
tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya
makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai
variasi permainan untuk kesehatan fisik, mental dan perkembangan emosinya.
Bermain adalah satu kegiatan menyenangkan bagi anak yang dilakukan setiap
hari secara sukarela untuk memperoleh kepuasan dan merupakan media yang
baik bagi anak-anak untuk belajar komunikasi, mengenal lingkungan, dan untuk
meningkatkan kesejahteraan mental dan sosial anak. Bermain adalah cara
alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari.
B. KEUNTUNGAN BERMAIN
Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain, antara lain :
1. Membuang ekstra energi.
2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang,
otot dan organ-organ.
3. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4. Anak belajar mengontrol diri.
5. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang
hidupnya.
6. Meningkatnya daya kreativitas.
7. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada
disekitar anak.
8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan
kedukaan.
9. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.
11. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.
C. FUNGSI BERMAIN
1. Perkembangan sensorimotorik
- Memperbaiki ketrampilan motorik kasar dan halus seta koordinasi.
- Meningkatkan perkembangan semua indra.
- Mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia.
- Memberikan pelampiasan kelebihan energi.
2. Perkembangan intelektual
- Memberikan sumber-sumber yang beraneka ragam untuk
pembelajaran.
- Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstrur dan warna.
- Pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, konsep
abstrak.
- Kesempatan untuk mempraktekkan dan memperluas ketrampilan
bahasa.
- Membantu anak memahami dunia dimana mereka hidup dan
membedakan antara fantasi dan realita.
3. Perkembangan sosialisasi dan moral
- Mengajarkan peran orang dewasa termasuk perilaku peran seks.
- Memberikan kesempatan untuk mnguji hubungan.
- Mengembangkan ketrampilan social.
- Mendorong interaksi dan perkembangan sikap yang positif terhadap
orang lain.
- Menguatkan pola prilaku yang telah disetujui dan standar moral.
4. Kreatifitas
- Memberikan sauran ekspresif untuk ide dan minat yang kreatif.
- Memungkinkan fantasi dan imajinasi.
- Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus.
5. Kesadaran diri
- Memudahkan perkembangan identitas diri.
- Mendorong pengaturan perilaku sendiri.
- Memberikan perbandingan antara kemampuan sendiri dan
kemampuan orang lain.
- Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku sendiri
dapat mempengaruhi prilaku orang lain.
6. Nilai terapeutik
- Memberikan pelepasan stress dan ketegangan.
- Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak
dapat diterima dalam bentuk yang secara social dapat diterima.
- Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan
dengan cara yang aman.
- Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal
tentang kebutuhan, rasa takut dan keinginan.
D. MACAM BERMAIN
1. Bermain aktif Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan
diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif
meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play) Perhatian pertama
anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut,
memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, mewarnai,
menggambar, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha
membongkar.
b. Bermain konstruksi (Construction Play) Pada anak umur 3 tahun dapat
menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play) Misal bermain sandiwara boneka, main
rumah-rumahan dengan teman-temannya.
2. Bermain fisik Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
3. Bermain pasif Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan
melihat dan mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah
bermain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan
keletihannya. Contoh: Melihat gambar di buku / majalah., mendengar cerita
atau musik, menonton televisi dsb. Dalam kegiatan bermain kadang tidak
dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal
seperti dibawah ini :
a. Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi
untuk aktif bermain.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain.
E. ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat
mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat
perkembangannya, serta berguna untuk :
1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat
menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik
kasar dan halus. Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola,
mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting,
pensil, bola, balok, lilin, dll.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat
yang [Link] alat permainan : buku bergambar, buku cerita,
majalah, radio, tape, TV, dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran,
bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku
cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan
interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat. Contoh alat permainan :
alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali,
dll.
F. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN
1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.
G. BENTUK- BENTUK PERMAINAN
1. Usia 0 – 12 bulan
Tujuannya adalah :
a. Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap,
menggenggam.
b. Melatih kerjasama mata dan tangan.
c. Melatih kerjasama mata dan telinga. d. Melatih mencari obyek yang ada
tetapi tidak kelihatan.
d. Melatih mengenal sumber asal suara.
e. Melatih kepekaan perabaan.
f. Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.
b. Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.
c. Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.
d. Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.
e. Alat permainan berupa selimut dan boneka.
2. Usia 13 – 24 bulan
Tujuannya adalah :
a. Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.
b. Memperkenalkan sumber suara.
c. Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
d. Melatih imajinasinya.
e. Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk
kegiatan yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan:
a. Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.
b. Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
c. Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang
tidak mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-
balok besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-
coret, krayon/pensil berwarna.
3. Usia 25 – 36 bulan
Tujuannya adalah ;
a. Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
b. Mengembangkan keterampilan berbahasa.
c. Melatih motorik halus dan kasar.
d. Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan
membedakan warna).
e. Melatih kerjasama mata dan tangan.
f. Melatih daya imajinansi.
g. Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Alat-alat untuk menggambar.
b. Lilin yang dapat dibentuk
c. Pasel (puzzel) sederhana.
d. Manik-manik ukuran besar.
e. Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
f. Bola.
4. Usia 32 – 72 bulan
Tujuannya adalah :
a. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.
b. Mengembangkan kemampuan berbahasa.
c. Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
d. Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain purapura
(sandiwara).
e. Membedakan benda dengan permukaan.
f. Menumbuhkan sportivitas.
g. Mengembangkan kepercayaan diri.
h. Mengembangkan kreativitas.
i. Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
j. Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan
kasar.
k. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar
rumahnya.
l. Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal :
pengertian mengenai terapung dan tenggelam.
m. Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anakanak,
alat gambar & tulis, puzzle jigsaw, kertas untuk belajar melipat,
gunting,lem, mainan bermusik dan berirama, air, boneka, dll.
b. Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.
5. Usia sekolah
Jenis permainan yang dianjurkan :
a. Pada anak laki-laki : mekanik.
b. Pada anak perempuan : dengan peran ibu.
6. Usia Pra Remaja
Karakterisrik permainnya adalah permainan intelaktual, membaca, seni,
mengarang, hobi, video games, permainan pemecahan masalah.
7. Usia remaja
Jenis permainan : permainan keahlian, video, komputer,
BAB III
TAHAP PELAKSANAAN
A. Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan
Hari, Tanggal : Selasa, 26 Desember 2022
Waktu : Pkl. 13.00 sd selesai
Tempat : Ruang Flamboyan
B. sasaran
Anak usia prasekolah (1 – 2 tahun) yang sedang menjalani terapi rawat inap di
bangsal Flamboyan RST dr Soedjono Magelang dengan jumlah 1 anak dengan kriteria
anak kooperatif dan kondisi membaik
C. Karakteristik peserta
Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang Flamboyan
yang memenuhi kriteria :
1. Anak usia (1- 2 tahun)
2. Anak yang dirawat di ruang anak Flamboyan
3. Tidak mempunyai keterbatasan (fisik atau akibat terapi lain) yang dapat
menghalangi proses terapi bermain
4. Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai
5. Anak yang mau berpartisipasi dalam terapi bermain mewarnai gambar
D. Materi (Terlampir)
E. Metode
1. Anak diberikan terapi penjelasan tentang prosedur pelaksanaan terapi
bermain yang meliputi waktu kegiatan, cara membuat, serta hal-hal lain
yang terkait dengan program terapi bermain.
2. Diawal permainan, anak diperkenalkan dengan gambar,pewarna dan set
mainan dokter-dokteran lalu dijelaskan mengenai cara permainannya.
3. Setelah itu dengan panduan leader, anak diberi contoh bagaimana cara
mewarnai dan dokter-dokteran yang baik dan benar seperti contoh.
4. Fasilitator mendampingi dan mengarahkan anak selama mewarnai dan
bermain dokter-dokteran
5. Ibu dapat berperan sebagi fasilitator, tetapi tidak boleh terlibat dalam
kegiatan permainan.
6. Setelah waktu yang ditentukan untuk terapi bermain habis, anak
dipersilahkan untuk berhenti, dan diberikan pujian atas keterlibatan anak
selama terapi bermain berlangsung.
7. Observer dengan melakukan pengamatan dan memberikan evaluasi terhadap
perilaku anak dan proses jalan terapi bermain.
8. Setelah anak selesai bermain, anak diharapkan untuk dapat menyebutkan
mengenai gambar yang diwarnai
9. Kemudian fasilitator mengembalikan hasil karya dan memberikan pujian
kepada peserta sebagai reward
F. Sarana dan Media
1. Sarana:
a. Ruangan tempat bermain
b. Tempat untuk duduk
2. Media
a. gambar
b. pensil gambar
c. set mainan dokter-dokteran
G. Pengorganisasian
Jumlah leader 1 orang, co leader 1 orang, fasilitator 3 orang dan 2 orang
observer dengan susunan sebagai berikut:
Leader : Celiya Winangrum
Co Leader : Ananda Yesika D
Observer : Onesimus Fanny dan Aris Subekti
Fasilitator : Celiya Winangrum, Ananda Yesika D, Onesimus Fanny dan
Aris Subekti
H. Pembagian Tugas
1. Peran Leader
a. Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan
jalan menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien
termotivasi untuk mengekspresikan perasaannya
b. Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau
mendominasi
c. Koordinator, yaitu mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian
tujuan dengan cara memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat
dalam kegiatan
2. Peran Co Leader
a. Mengidentifikasi issue penting dalam proses
b. Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader
c. Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau
kelompok yang akan dating
d. Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya
3. Peran Fasilitator
a. Mempertahankan kehadiran peserta
b. Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
c. Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar
maupun dari dalam kelompok
4. Peran Observer
a. Mengamati keamanan jalannya kegiatan play therapy
b. Memperhatikan tingkah laku peserta selama kegiatan
c. Memperhatikan ketepatan waktu jalannya kegiatan play therapy
d. Menilai performa dari setiap tim terapis dalam memberikan terapi
I. Susunan Kegiatan
No Waktu Terapi Anak Ket.
1 5 menit Pembukaan :
a. Co-Leader membuka dan a. Menjawab salam
mengucapkan salam
b. Memperkenalkan diri b. Mendengarkan
c. Memperkenalkan pembimbing c. Mendengarkan
d. Memperkenalkan anak satu d. Mendengarkan dan
persatu dan anak saling saling berkenalan
berkenalan dengan temannya
e. Kontrak waktu dengan anak e. Mendengarkan
f. Mempersilahkan Leader f. Mendengarkan
2 15 Kegiatan bermain :
menit a. Leader menjelaskan cara a. Mendengarkan
permainan
b. Menanyakan pada anak, anak b. Menjawab pertanyaan
mau bermain atau tidak
c. Membagikan permainan c. Menerima permainan
d. Leader ,co-leader, dan d. Bermain
Fasilitator memotivasi anak
e. Fasilitator mengobservasi anak e. Bermain
f. Menanyakan perasaan anak f. Mengungkapkan perasaan
3 10 Penutup :
menit a. Leader Menghentikan a. Selesai bermain
permainan
b. Menanyakan perasaan anak b. Mengungkapkan perasaan
c. Menyampaikan hasil c. Mendengarkan
permainan
d. Membagikan souvenir/kenang- d. Senang
kenangan pada semua anak
yang bermain
e. Menanyakan perasaan anak e. Mengungkapkan perasaan
f. Co-leader menutup acara f. Mendengarkan
g. Mengucapkan salam g. Menjawab salam
J. Evaluasi
1. Evaluasi struktur yang diharapkan
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAP
c. Kesiapan media
d. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di bangsal Flamboyan
2. Evaluasi proses yang diharapkan
a. Terapi dapat berjalan dengan lancar
b. Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik
c. Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi
d. Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai tugasnya
3. Evaluasi hasil yang diharapkan
a. Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu
gambar yang sudah diwarnai: 100%
b. Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik : 100%
c. Anak merasa senang : 100%
d. Anak tidak takut lagi dengan perawat : 100%
e. Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai : 100%
f. Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan aktifitas bermain hanya
2 yaitu agar anak merasa senang dan agar anak tidak merasa bosan : 80%
LAMPIRAN
Lampiran 1. Checklist observasi Respon Kecemasan pada anak
CHECK LIST OBSERVASI RESPON KECEMASAN PADA ANAK YANG
MENJALANI PROSES HOSPITALISASI
(dikaji sebelum melakukan terapi bermain terapeutik)
Lakukan oservasi perilaku anak dan beri skor dengan memberi centang kolom skor 1, 2,
3 4 atau 5 dengan keterangan sebagai berikut, skor : 1 : sangat setuju, 2 : setuju, 3 :
ragu-ragu , 4 : tidak setuju, 5 : sangat tidak setuju. Skor diberikan untuk setiap perilaku
anak muncul yang sesuai dengan perilaku yang tertulis di kolom [Link]
skor yang didapatkan kemudian dijumlahkan di akhir untuk menentukan skor/angka
[Link] final berada dalam rentang 50-250.
NO PERILAKU YANG DIOBSERVASI SKOR
I REAKSI TERHADAP KECEMASAN PERPISAHAN 1 2 3 4 5
1 Menolak makan √
2 Kesulitan tidur √
3 Berusaha menemukan selimut kesayangan atau mainan favorit √
4 Menangis dengan sungguh-sungguh (hebat) saat mencari orang √
tua dan berkali-kali menanyakan saat orang tua berjanji akan
dating
5 Anak mengalami mimpi buruk √
6 Anak menarik diri terhadap orang lain √
7 Anak terlihat sedih dan tertekan √
8 Mengekspresikan marah dengan memukul anak lain √
9 Anak terlihat rewel atau mudah marah/merengek √
10 Menolak bekerjasama dengan perawat selama tindakan √
perawatan diri (contoh : ganti baju, gosok gigi, mandi)
11 Anak terlihat temper tantrum (marah disertai dengan perilaku √
meronta-ronta/agresif) dan berperilaku menarik perhatian
PERILAKU MENATAP SESUATU
12 Menatap (mata terbuka lebar) dengan tatapan kosong √
13 Menatap lantai dengan kepala tertunduk √
14 Menghindari kontak mata dengan orang lain √
BICARA
15 Anak sering terlihat diam √
16 Tidak tersenyum pada orang lain √
17 Tidak berespon terhdap orang lain √
18 Menggumamkan kata-kata yang sama (monoton) √
19 Menanyakan banyak pertanyaan √
20 Mengungkapkan ketakutan terhadap personil rumah sakit √
21 Mencaci maki personil rumah sakit √
22 Merintih √
23 Menangis √
24 Menagis tersedu-sedu (bernapas dengan tersengal dan tidak √
teratur saat menangis)
25 Bernapas dengan panjang (menarik napas dalam dan terdengar √
nyaring)
26 Menggerutu dengan cara meraung/mengerang/berteriak √
27 Menawar saat menolak sebuah prosedur √
REAKSI BERKAITAN DENGAN KEHILANGAN KONTROL
28 Anak menangis dan menempel terus pada ibu/orangtua √
29 Anak menolak kontak mata dengan personil rumah sakit √
30 Anak melakukan perlawanan ringan dengan memeluk erat √
orangtua/ibu
31 Anak mengajak/menarik ibu/orangtua ke atas tempat tidur dan √
berkeras agar ibu/orangtua menemani dengan duduk di
sebelahnya
REAKSI BERKAITAN DENGAN INJURY TUBUH ATAU
NYERI (SAAT ANAK DILAKUKAN TINDAKAN YANG
MENYAKITKAN)
32 Terlihat bingung, dan tidak aktif √
33 Wajah terlihat ketakutan √
34 Terlihat sedih atau tertekan √
35 Terlihat mengerutkan dahi √
36 Terlihat menyeringai menahan sakit √
37 Terlihat meneteskan air mata √
38 Mendorong perawat menjauh √
39 Mencoba merampas peralatan yang digunakan √
40 Bersembunyi dari perawat √
PERILAKU BEKERJASAMA TERHADAP PROSEDUR
TERTENTU
41 Menolak bekerjasama dengan petugas kesehatan saat di awal √
42 Menolak bekerja sama bahkan setelah diberi penjelasan √
43 Menolak tindakan yang dilakukan untuk membuat anak √
nyaman/mengalihkan perhatian
44 Menunjukkan perilaku marah dengan menggigit, menendang, √
memukul, melempar objek mainan atau barang-barang yang di
dekat anak
45 Anak tidak mengijinkan perawat untuk memriksa tanda-tanda √
vital pasien
46 Anak meraung dan meronta-ronta , mencoba selalu √
menghindar/menolak dan hingga perlu direstrain agar tenang
47 Anak meludahi obat setelah proses pemberian obat yang √
menguras energy
48 Anak menunjukkan perilaku menantang/melawan dan menolak √
untuk tetap tinggal di bangsal/ruangan.
49 Anak hanya mau makan setelah dilakukan terapi diversional √
yang menghibur (diversional therapy)
50 Anak hanya dapat tidur saat telah dilakukan terapi menghibur √
(diversional therapy)
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, R.F., Udiyani, R., & Rini. (2019). Efektifitas Terapi Menggambar Dan Mewarnai Gambar
Terhadap Kecemasan Hospitalisasi Usia Prasekolah. Jurnal Darul Azhar. Vol 6, No.1
Syamsu, Y. 2010. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Tedjasaputra, M.S.2015. Bermain, Mainan, dan Permainan untuk Anak Usia Dini. Jakarta: PT
Grasindo.
Wong and Whaley’s. [Link] Klinis Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta
Wong, D.L. Eaton, H.B. wilson, W. Winkelstein, M.L. dan Schwartz, P. 2016. Buku
Ajar Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa: Agus Sutarna, Neti dan Juniarti, H.Y Kuncara;
editor bahasa Indonesia, Egi Komara Yudha et al. Vol 1 Ed. 6. Jakarta: EGC.