How To Seduce: My Husband
How To Seduce: My Husband
NEV NOV
HOW TOSEDUCE
My Husband
Τ Η Ε ROM A N CE N O V E L
How To Seduce
My Husband
2
Daftar Isi
Daftar Isi.................................................................................3
Bab 1......................................................................................5
Bab 2....................................................................................19
Bab 3....................................................................................33
Bab 4....................................................................................47
Bab 5....................................................................................61
Bab 6....................................................................................75
Bab 7....................................................................................88
Bab 8..................................................................................102
Bab 9..................................................................................115
Bab 10................................................................................128
Bab 11................................................................................141
Bab 12................................................................................155
Bab 13................................................................................168
Bab 14................................................................................181
Bab 15................................................................................194
Bab 16................................................................................207
Bab 17................................................................................221
Bab 18................................................................................235
3
Bab 19................................................................................248
Bab 20................................................................................261
Epilog 1 ..............................................................................274
Epilog 2 ..............................................................................280
Epilog 3 ..............................................................................287
Epilog 4 ..............................................................................294
4
Bab 1
5
dua bulan untuk saling mengenal, sebelum sah menjadi
suami istri.”
“Maa, mereka sudah saling kenal dari dulu.” Nadav,
suami dari Laili--wanita bergaun ungu--berucap lantang.
Laili mengibaskan tangan. “Memang, Pa. Adrian dan MJ
memang sudah saling mengenal sejak masih kecil. Tapi
ingat, mereka sudah belasan tahu nggak ketemu. Lupa itu
sudah pasti.”
Kelly mengangguk. “Sudah pasti lupa. Buktinya malam
ini. Dari jauh-jauh hari kita sudah membuat rencana
pertemuan mereka untuk membahas pernikahan, tapi apa
yang terjadi? Keduanya sedang bekerja. Ada jadwal yang
tidak bisa ditinggalkan. Luar biasa, bukan?”
Kedua mama itu saling pandang lalu tertawa lirih
bersamaan. Membicarakan anak-anak mereka yang akan
menikah memang menimbulkan perasaan gembira. Sudah
lama mereka merencanakan pertemuan ini, dan tidak ada
satu pun yang bisa menghentikan rencana yang mereka
buat, termasuk Melva dan Adrian yang tidak datang.
Agnes menggigit ujung sumpitnya, menatap dua pasang
orang dewasa yang terlihat bahagia membahas pernikahan.
Seolah-olah, mereka yang akan menikah. Ia sendiri tidak
tahu bagaimana tanggapan kakak laki-lakinya nanti kalau
tahu tanggal pernikahan ditetapkan tanpa persetujuannya.
Meraih ponsel, ia membuka peramban dan menemukan
berita tentang Melva Javiera atau biasa dipanggil MJ.
Ingatannya kembali ke masa silam, saat ia mengenal wanita
6
yang kini menjadi artis dan model terkenal. Mereka dulu
bertetangga dan hubungan kedua keluarga memang cukup
dekat.
Agnes ingat Melva kecil yang sangat rupawan. Padahal
usianya waktu itu kisaran 12 tahun, tapi lekuk tubuhnya
sudah terlihat menggoda. Agnes yang beberapa tahun lebih
muda dari Melva sering dibuat kagum saat banyak anak
laki-laki menghampiri rumah sang model untuk mengajak
bermain. Namun, Melva selalu menolak karena lebih suka
bermain dengannya. Sementara kakaknya, Adrian hanya
diam dan memperhatikan dari jauh. Tidak pernah mengajak
bicara apalagi sampai bermain bersama. Ia tidak tahu,
bagaimana perasaan sang kakak dan Melva saat mereka
harus bersama dalam ikatan pernikahan.
Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan tak
terbantahkan tentang pernikahan yang akan terjadi dua
bulan kemudian.
**
Melva menatap bayangannya di cermin, seorang penata
rambut sedang memberikan sentuhan akhir di puncak
kepala, dua wanita penata gaya sedang membantunya
memasang perhiasan di telinga berupa anting-anting besar
berwarna emas. Sementara perias, berada di depannya
untuk menyapukan kuas-kuas pada wajahnya. Ia memakai
gaun hitam tanpa lengan, panjang di atas lutut dengan
bagian belakang terbuka.
“MJ, sudah siap?”
7
Pintu menjeplak terbuka, seorang wanita berambut
pendek dan berkacamata menatap dengan headset di
kepala.
Melva menoleh. “Lima menit lagi aku rasa.”
“Jangan lebih dari itu, MC sudah kehabisan kata-kata
dan para penonton sudah histeris.”
“Oke, tiga menit berarti. Kalian harus cepat, Gaes.”
Orang-orang yang mengelilingnya bergerak cepat,
perhiasan tangan dan sepatu but sudah terpasang. Salah
seorang mengambil microphone miliknya dan mereka
berdecak puas.
“Perfect. Artis kita sudah siap.”
Melva berputar di tempatnya, meraih lengan wanita
yang menunggu di pintu dan bersama-sama menyusuri
lorong menuju panggung.
“Pihak hotel kewalahan menghadapi penggemarmu.
Banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan tiket,
menunggu di halaman hotel. Dengan terpaksa, tidak
diizinkan masuk ke lobi karena takut akan mengganggu
para tamu.”
Melva tersenyum. “Bukankah mereka harusnya ada
persiapan. Maksudku para penyelenggara. Kamu sudah
memberikan detil untuk diantisiapasi, bukan?”
Talia mengangguk. “Sudah, dari jauh-jauh hari.”
8
“Kalau sampai ada keributan berarti mereka yang nggak
ada persiapan. Semoga saja nggak ada sesuatu yang buruk
terjadi.”
Beberapa orang menghampiri di bawah panggung.
Mereka menyambut Melva dan membantunya naik. Tepat
saat itu, MC mengumumkan kedatangannya. Melva
tersenyum lebar, melambaikan tangan dan menyapa para
penggemarnya.
“Selamat malam semua, bagaimana kabar hari ini?”
Teriakan namanya membahana memenuhi ballroom
hotel. Banyak di antara para tamu undangan yang semula
duduk di kursi, maju ke depan panggung untuk mengambil
foto atau bersorak.
Melva kembali tersenyum. “Malam ini akan saya
bawakan sebuah lagu cinta untuk kalian semua.”
Saat musik dimainkan, Melva mulai melantunkan
nyanyian. Ia berusaha bernyanyi sebaik mungkin untuk
penggemarnya. Sebenarnya, bakatnya dalam bernyanyi
tidak terlalu menonjol jika dibandingkan di bidang lain,
misalnya modeling dan akting. Namun, sebagai seorang
entertainer sejati, ia dituntut untuk mengusai semua.
Suaranya juga tidak jelek, artikulasi jelas, dan yang pasti
tidak buta nada.
Selesai menyanyikan dua lagu, Melva turun. Digandeng
oleh Talia, ia menghampiri meja para petinggi hotel untuk
menyapa.
“Bagaimana suaraku?” tanya Melva.
9
“Seperti biasa, keren.”
“Siapa saja yang harus kita temui?”
“Pemilik hotel berserta keluarganya, anak tertua mereka
adalah penggemarmu. Lalu ada CEO, manajer, dan para
pemegang saham.”
“Wow, orang kaya semua.”
Apa yang dikatakan Talia benar, anak keluarga pemilik
hotel memang penggemar sejati Melva. Laki-laki berusia
tiga puluh tahun yang merupakan seorang dokter di sebuah
rumah sakit swasta terkenal itu, menjabat tangan Melva
dengan wajah berseri-seri dan menyapa dengan terbata.
“Aku fans-mu. Aku sangat menyukaimu. Akan senang
kalau bisa berkencan denganmu.”
Melva tersenyum padanya. “Terima kasih.”
“Hei, MJ. Aku serius.” Tidak mengindahkan deheman
para orang tua, laki-laki bernama Edward itu berucap
setengah memaksa. Membuat MJ sedikit kesulitan untuk
menghindar.
“Edward, jangan memonopoli artis kita. Aku juga ingin
berkenalan.”
Mendengar suara itu Edward melepaskan
genggamannya pada tangan Melva, lalu mundur dengan
wajah masam. Melva menghela napas panjang,
membalikkan tubuh pada orang yang sudah menolongnya
dan dibuat terpukau. Bagaimana tidak, laki-laki di depannya
luar biasa tampan dengan tubuh kekar dan rahang kokoh.
10
Rambut hitamnya ditata rapi, dengan tahi lalat kecil di pipi.
Mata mereka bertatapan, Melva merasa pernah
melihatnya tapi entah di mana.
“MJ, ini salah satu pemilik hotel.” Salah seorang manajer
maju dan memperkenalkan mereka.
Melva tersenyum dan mengangguk. “Apa kabar, Pak?”
Laki-laki itu tidak membalas sapaannya. Menatap Melva
dari ujung kaki sampai rambut, lalu mendekat dan berucap
lembut di sisi kepala Melva.
“Sebaiknya kamu mengganti pakaianmu dengan sesuatu
yang lebih nyaman. Kamu sudah membuat para laki-laki
meneteskan air liur.”
Melva terkesiap, belum sempat menjawab laki-laki itu
sudah membalikkan tubuh dan meninggalkannya. Ia
menoleh ke arah Talia dan berbisik pelan untuk
membawanya ke ruang ganti.
“Siapa laki-laki itu?” tanya Melva, menoleh ke belakang
untuk mencari sosok yang baru saja berbicara dengannya.
“Pemilik hotel.”
“Bukankah papa si Edward pemilik hotel.”
“Ehh, sepertinya ada dua pemilik. Laki-laki itu salah
satunya.”
“Siapa namanya?”
“Siapa, ya? Aku lupa. Nanti aku cari tahu.”
11
Sesampainya di ruang ganti, Melva berganti pakaian
dengan cepat, sekaligus mengubah penampilan. Ia
mengganti kostum manggungnya dengan gaun biru
panjang semata kaki tanpa lengan. Membuat tubuh
langsingnya terlihat indah. Anting-anting besarnya dicopot
diganti dengan yang lebih kecil. Tidak lupa, sepatu hak
tinggi menggantikan but.
“MJ, mamamu menelepon.” Talia memberikan ponsel
padanya dengan panik.
Melva menatap ponsel di tangan, memberi tanda pada
semua orang yang ada di ruangan untuk diam lalu mulai
menyapa.
“Ya, Ma.”
Tak lama, terdengar suara desisan dari ujung telepon.
“Oh, bagus kamu, ya. Sengaja lupa malam ini ada acara
apa?”
Melva mengernyit. “Ada acara apa, Ma?”
“Hah, jadi kamu lupa beneran atau benar-benar lupa,
MJ. Malam ini kami para orang tua bertemu untuk
menentukan tanggal pernikahanmu dengan Adrian!”
“Oh, itu. Aku pikir nggak jadi.”
“Kamu pikir nggak jadi kalau kalian nggak datang? Oh,
jangan kuatir. Kami para orang tua nggak peduli kalian
berdua datang atau nggak, tanggal pernikahan sudah
ditentukan.”
12
Perkataan mamanya membuat Melva mengernyit.
“Apa? Adrian nggak datang juga?”
“Iya, dia sibuk. Kamu juga sibuk. Kalian berdua sibuk
saja, nggak usah pedulikan kami. Ingat satu hal, Melva. Dua
bulan lagi kalian menikah!”
“Maa! Mana ada begitu. Memaksa itu namanya!”
protes Melva.
“Siapa suruh kamu nggak datang, bye!”
Menatap ponsel dengan wajah tak percaya, Melva
merasa dirinya diperdaya. Bagaimana mungkin orang
tuanya menentukan pernikahan tanpa persetujuannya.
Malam ini, ia sengaja mengambil job demi menghindari
pertemuan itu, ternyata ketidakhadirannya tidak lantas
membuat selamat. Justru makin memperburuk posisinya.
Terduduk di kursi, masih dengan ponsel di tangan, Melva
merenungi nasibnya. Orang yang dijodohkan dengannya
adalah Adrian, teman semasa kecil dulu. Anak laki-laki
gemuk dengan wajah bulat dan kulit kecokelatan. Adrian
yang pemalu, tidak pernah berani menyapa atau
mengajaknya bicara. Bertahun-tahun tidak bertemu, siapa
sangka kalau ia akan dijodohkan dengan Adrian. Mendesah
keras, Melva berharap kalau Adrian sudah turun berat
badannya. Meskipun gemuk, setidaknya jangan
keterlaluan.
“Kenapa murung begitu?” tanya Talia. Meraih ponsel
dari tangan Melva dan menyimpannya.
“Aku akan menikah.”
13
“Hah!”
“Iya, dua bulan lagi.”
Talia terkikik, menganggap kalau boss-nya sedang
bercanda. “MJ, umurmu baru dua puluh tujuh, belum
terlalu tua. Kenapa kepikiran untuk menikah? Dengan
siapa? Luke?”
Melva menggeleng. “Dengan Adrian.” Ia bangkit dari
kursi, mengecek penampilannya sekali lagi sebelum
kembali menyapa para tamu.
“Siapa Adrian?” Talia merendengi langkahnya, bertanya
setengah menuntut.
“Calon suamiku. Malam ini, tanggal pernikahan sudah
ditetapkan.”
“Apaaa?”
“Nggak usah kaget, mama menelepon tadi buat ngasih
tahu itu.”
Talia bicara dengan wajah bingung. Ia menatap Melva
yang melangkah anggun di sampingnya. Bagaimana wanita
itu bisa begitu tenang membahas perjodohan dan
pernikahan. Seolah-olah itu bukan hal yang besar.
“MJ, kamu yakin?”
“Soal apa?”
“Pernikahan.”
“Entah.”
14
Mereka kembali memasuki ballroom hotel. Sudah
menjadi bagian dari tugas Melva untuk menyapa para
tamu. Ia bergerak dari satu meja ke meja lain, ditemani
sejumlah staf hotel dan Andrew yang seolah menempel
padanya. Melva mengedarkan pandangan untuk mencari
laki-laki pemilik hotel yang ia tidak tahu namanya, tapi nihil.
Laki-laki itu tidak terlihat di mana pun. Ia ingin bertanya tapi
malu. Terpaksa, ia menyimpan sendiri keinginannya.
“MJ, kamu cantik.”
“MJ, kamu sexy dan pintar. Maukah kamu berkencan
denganku.”
“MJ, aku ingin lebih mengenalmu.”
Rayuan demi rayuan yang keluar dari mulut Edward
nyaris membuat Melva hilang kesabaran. Laki-laki kaya
yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dimau, tidak
punya rasa malu meski harus merengek. Melva pamit
pulang saat meja terakhir selesai disapa. Tidak
mengindahkan Edward yang berusaha menahannya, ia
menggandeng Talia menuju lobi hotel.
“Aku malas balik ke belakang. Kamu bilang sama tim,
suruh mereka berbenah.”
Talia mengacungkan jempol. “Sudah beres itu. Tenang
saja.”
“Rengekan Edward membuat kupingku sakit.”
Entah apa yang lucu tapi Talia terkikik. “Dia memujamu.”
15
“Huft, bukan aku tapi tubuhku. Kamu nggak lihat
matanya nyaris copot saat melihat dadaku?”
“Hahaha. Memang mata keranjang. Eh, kita turun pakai
lift khusus. Biar nggak ada penggemar atau orang biasa
yang ikut.”
Talia menuntun Melva menyusuri sebuah lorong dan
berhenti di sebuah lift. Suasana sepi, tidak ada orang lain
selain mereka berdua. Kalau sebelumnya ada dua penjaga
yang mengawasi mereka dari jauh kini sudah pergi.
Lift membuka dan mereka bergandengan masuk. Untuk
sesaat Melva terpana saat melihat sosok yang ia kenal
sudah ada di dalam. Dua orang laki-laki berdiri berdekatan.
Salah satunya adalah laki-laki dengan tahi lalat di wajah,
seorang lagi yang kelihatannya lebih muda, tidak ia kenal.
Terdiam sesaat, ia mengangguk sopan ke arah mereka.
“Nona MJ, penampilan Anda bagus sekali malam ini.”
Laki-laki yang lebih muda, menyapa ramah.
Melva hanya tersenyum. “Terima kasih.”
“Saya akan senang sekali mendapatkan tanda tangan,
bisakah?”
Laki-laki muda berjas hitam mengulurkan pulpen pada
Melva yang menerima dengan kebingungan.
“Eh, mau tanda tangan di mana?”
Laki-laki itu buru-buru membuka kancing jas dan
menyodorkan dadanya yang memakai kemeja putih. “Di
sini, Nona.”
16
Bukan hanya Melva yang kaget, bahkan Talia pun ikut
melotot bingung.
“Vector, kendalikan dirimu,” tegur laki-laki bertahi lalat.
Laki-laki yang dipanggil Vector terlihat malu, kembali
mengancingkan jas dan mengambil pulpen. “Lain kali saja,
Nona. Untuk tanda tangannya. Bolehkan kalau foto?”
Kali ini Melva tersenyum. “Boleh.”
Tanpa malu, Vector membuka ponselnya dan berfoto
selfie bersama Melva. Kepuasan terlihat jelas di wajahnya.
“Maaf, Pak Adrian. Nona Melva terlalu cantik dan saya
tidak dapat menahan diri.”
Mendengar nama Adrian disebut, Melva mengangkat
wajah lalu menatap laki-laki bertahi lalat itu tak berkedip. Ia
mencoba meyakinkan diri sedang tidak berhalusinasi
karena mendengar nama calon suaminya disebut.
“Kita sudah sampai.”
Laki-laki bernama Adrian menahan pintu lift,
membiarkan Melva dan Talia keluar lebih dulu. Belum
sempat Melva mengucapkan terima kasih, beberapa laki
laki datang menghampiri dan menyapa keras.
“Pak Adrian, apa kabar?”
Terdiam sesaat di tempatnya berdiri, Melva tidak salah
mendengar kali ini. Laki-laki tampan itu memang bernama
Adrian. Sungguh kebetulan yang aneh, karena ia baru saja
akan menikah dengan laki-laki yang punya nama sama.
Yang pasti, mereka bukan orang yang sama, karena Adrian
17
yang ia kenal adalah sosok anak laki-laki gemuk dengan
wajah bulat, bukan tinggi, tampan, dengan pandangan
dingin mematikan.
18
Bab 2
19
Pintu menjeplak terbuka, Talia menyerbu masuk dan
menghampiri ranjang. “Ayo, bangun! Calon suamimu di
lobi.”
“Hah, maksudmu siapa?”
“Memang siapa yang mau menikah? Kamu, MJ.”
“Tu-tunggu, Adrian ada di lobi?”
Talia mengangguk. “Iya, dan menelepon ke atas dengan
sangat sopan. Memberikanmu waktu untuk mandi dan
berdandan. Dia menunggu di bawah sambil mengopi.
Katanya, akan mengajakmu ke suatu tempat.”
Kali ini Melva mengernyit, mengucek mata dan balik
bertanya. “Jadwalku hari ini apa?”
“Kosong. Sebenarnya ada pemotretan tapi ditunda
lusa.”
“Oh, jadi Adrian mau mengajakku ke mana?”
“Mana aku tahu. Cepat sana mandi, dan berdandan.
Jangan biarkan Tuan Adrian yang agung menunggumu.”
Melawan rasa enggan karena bangun lebih awal di saat
jadwal kosong. Melva bergerak lambat menuju kamar
mandi. Sepanjang membersihkan diri, benaknya bertanya
tanya tentang Adrian. Ke mana laki-laki itu akan
membawanya? Kenapa bisa tahu tempat tinggalnya?
Setahunya, apartemennya sangat rahasia dan hanya sedikit
sekali orang yang tahu ia di sini.
Selesai mengguyur tubuh dengan air hangat, ia duduk di
depan cermin. Memoles wajah dengan pikiran bertanya
20
tanya, pakaian apa yang harus ia kenakan sekarang. Ia tidak
tahu acara apa yang harus ia hadiri. Bukankah seharusnya
Adrian meneleponnya dulu sebelum mengajak pergi?
Jadwal kerjanya sering tidak menentu. Namun, ia
menyadari satu hal kalau mereka belum berbagi nomor
ponsel.
Berdiri di depan lemari yang terbuka, Melva meminta
Talia datang dan membantunya memilih baju.
“Bagaimana ini?” Ia menunjuk setelan putih tanpa tali.
Talia menggeleng. “Terlalu sexy.”
Menarik gaun merah mini. “Ini?”
“What? Ini nggak cuma sexy tapi provokatif!”
Setelah banyak baju tidak disetujui oleh asistennya,
akhirnya mereka sepakat memilih gaun biru dari bahan
rajut berlengan panjang. Menggunakan anting besar dan
sepatu hak tinggi warna hitam, Melva merasa dirinya
perawan yang akan menemui pangeran. Berpenampilan
rapi tanpa cela, bahkan tidak dengan pakaian yang
dianggap menggoda.
Menenteng tas kecil di tangan, Melva turun sendirian. Ia
meminta Talia untuk menunggunya di atas sementara
menemui Adrian sendiri. Ia berpapasan dengan beberapa
penghuni saat melintasi lobi dan mereka mengangguk
ramah padanya. Langkahnya terhenti di dekat sofa besar,
menatap sosok laki-laki tinggi menjulang yang berdiri di
dekat tanaman palem besar. Berdehem sesaat, ia
mendekat.
21
Seolah ada panggilan lirih, Adrian membalikkan tubuh
dan menatapnya. Melva berusaha menyunggingkan
senyum.
“Kamu mencariku?”
Adrian mengangguk, masih memandang tanpa kata.
“Kita mau ke mana?”
“Ikut aku!”
Saat Melva hendak memakai masker dan kacamata,
Adrian menggeleng. “Tidak perlu. Kita nggak akan ke
tempat yang ramai.”
Ragu-ragu sesaat, Melva mengangguk, mengikuti
langkah Adrian menuju mobil hitam mengkilat yang sudah
menunggu di lobi. Adrian sendiri yang menyetir, dengan
Melva duduk di sampingnya. Hingga kendaraan keluar dari
halaman apartemen, mereka tidak saling bicara.
Melva yang lelah berdiam diri akhirnya buka suara. “Jadi,
waktu kita ketemu selama di hotel, kamu sudah tahu siapa
aku?”
Adrian mengangguk. “Siapa yang nggak kenal MJ?”
“Bukaan, maksudku, aku sebagai calon istrimu. Kamu
tahu bukan kalau kita akan menikah?”
“Iya.”
“Nah, itu. Kalau kamu tahu aku, kenapa aku nggak tahu
kamu selama ini? Maksudku, kita memang mengenal saat
kecil dulu. Tapi, itu duluuu sekali. Sekarang, kamu
22
mengenalku sebagai MJ, nah, aku? Sama sekali nggak kenal
kamu.”
Adrian melirik wanita di sampingnya, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Mobil berhenti di lampu
merah dengan Melva menoleh, menunggu jawaban Adrian.
Namun, hampir sepuluh menit berlalu, laki-laki itu tak jua
menjawab.
“Kok diam? Jawab, dong?”
“Soal apa?”
“Soal apaa? Tadi aku tanya, kenapa setelah sekian lama
kamu masih mengenaliku?”
“Kamu nggak berubah.”
Melva ternganga tidak percaya. “Yang benar saja. Selain
nama, aku sudah pasti banyak berubah, Tuan Adrian.”
“Mungkin, bagi banyak orang, tapi tidak bagiku.”
“Ah, sudahlah. Kamu dari tadi diajak ngomong malah
jawabannya nggak nyambung. Sekarang aku tanya hal lain,
kita mau ke mana?”
“Fitting baju pengantin.”
Seandainya Melva sedang makan atau minum, pasti
tersedak sekarang. Tanpa angin tanpa hujan, Adrian
mengajaknya fitting baju pengantin. Sedangkan mereka
sama sekali belum pernah membahas detil pernikahan
berdua. Memang, semua yang mengatur adalah keluarga
besar, tapi setidaknya ia diberi kesempatan untuk
mengenal calon suaminya.
23
“Berhenti!”
Adrian mengernyit. “Kenapa?”
Melva mengangkat bahu. “Aku merasa kita terlalu cepat
fitting baju pengantin. Sekarang bukan waktu yang tepat
untuk itu.”
“Setahuku, baju pengantin dibuat dengan waktu yang
tidak sebentar. Terutama kalau yang memakai artis besar
sepertimu.”
“Haish, ini bukan masalah waktu tapi, aku merasa kita
belum cukup saling mengenal.”
“Tidak, kita sudah saling mengenal sejak lama.”
“Eh, tapi—”
Perkataan Melva terputus saat kendaraan berhenti di
halaman sebuah butik ternama. Ia masih tidak mengerti
dengan kondisi yang terjadi dan mendadak sudah tiba di
tempat tujuan. Ia masih duduk kaku di mobil, saat Adrian
mendekat. Melva menahan napas, melihat tangan laki-laki
itu bergerak perlahan ke samping tubuhnya, untuk
membuka sabuk pengamannya. Mata mereka bertatapan
dan Melva bisa merasakan hangat napas laki-laki itu.
Adrian, masih tanpa senyum di wajah, berucap lembut
dengan wajah berjarak beberapa senti dari Melva.
“MJ, kamu tahu kalau pernikahan kita sudah diatur?”
Melva menelan ludah lalu mengangguk.
“Lalu, kenapa kamu masih ragu dan bimbang?”
24
“Bu-bukan begitu, aku merasa kita masih harus saling
mengenal.”
“Mau mengenal bagaimana lagi? Kita teman dari dulu.”
“Memang, tapi hanya teman. Bukan pacar atau apa pun,
yang bisa membuat kita memutuskan untuk menikah.”
Jemari Adrian terangkat, membelai lembut dagu Melva
lalu bergerak pelan ke pipi dan telinga. Melva menahan diri
untuk tidak bergidik karena bulu kuduknya berdiri.
“MJ, kita bisa lebih saling mengenal kalau sudah
menikah nanti. Kalau kamu nggak mau membuat kedua
orang tua kita kecewa, sebaiknya kamu pakai masker dan
kacamata lalu turun. Aku menunggumu.”
Dengan sapuan lembut di telinga Melva, Adrian
mengakhiri sentuhannya. Laki-laki itu turun lebih dulu dan
meninggalkan Melva yang gemetar karena sentuhan tak
terduga.
Setelah memakai masker dan kacamata, Melva turun
dari mobil. Adrian menyejajari langkahnya saat mereka
bersama-sama menuju butik. Seorang petugas berseragam
membantu membuka pintu dan mereka disambut oleh
seorang wanita amat cantik berumur sekitar empat
puluhan memakai kain songket dan kebaya. Wanita itu
tersenyum ceria, menjabat tangan Adrian.
“Mamamu sendiri yang meneleponku, Adrian. Rasanya
tidak percaya kamu akan menikah.”
“Bu Ayu,” sapa Adrian ramah. “Maaf datang mendadak.”
25
Ayu mengibaskan tangannya. “Aduh, jangan sungkan
begitu. Kayak sama siapa aja. Ngomong-ngomong, ini calon
istrimu?” Ia mengalihkan pandangan pada wanita cantik di
samping Adrian, mengernyit karena merasa mengenali
sosok wanita itu.
Adrian mengangguk, tersenyum ke arah Melva. “Benar,
ini calon istriku.”
Membuka masker dan kacamata hitam, Melva
mengangguk ramah. “Apa kabar, Bu?”
Ayu melongo, tidak dapat menyembunyikan
kekagetannya. Ia menatap Melva tak berkedip dari atas ke
bawah lalu berucap keras. “Astaga, ini MJ?”
“Iya, ini MJ.”
“Wah, sama sekali nggak nyangka kalau Adrian akan
menikah dengan artis terkenal.” Ayu meriah tangan Melva
dan meremasnya. “Senang rasanya, bisa menjahit gaun
pengantin untuk wanita secantik kamu, MJ.”
Melva tersipu-sipu. “Bu Ayu jangan merendah. Siapa
yang tidak kenal dengan Ayu Kaliwang, designer yang
terkenal dengan detil yang indah. Beberapa kali saya
berjalan di catwalk dengan gaun buatanmu.”
Ayu mengangguk gembira. ”Iya, iya, sayangnya baru kali
ini kita berkesempatan bertemu langsung. Ayo, masuk. Kita
mulai fitting-nya.”
Adrian yang sedari tadi terdiam, mengikuti langkah
Melva dan Ayu menuju ruang dalam. Di sana mereka diukur
dan berdiskusi tentang model, warna, dan bahan gaun yang
26
akan dipakai. Total ada sekitar tiga pasang gaun yang
dipesan. Untuk bagian Adrian sendiri, tidak terlalu
merepotkan karena memakai jas berwarna sama dengan
gaun Melva. Sepanjang pertemuan yang berlangsung
hampir empat jam, lebih banyak Melva yang berbicara
dengan Ayu.
“Aku akan meneleponmu kalau ada detil yang ingin
diubah, atau pun warna yang cocok,” ucap Ayu saat mereka
mengakhiri pertemuan.
Melva mengangguk. “Dengan senang hati, Bu.”
Hari sudah melampaui jam makan siang saat mereka
keluar dari butik. Melva meringis saat di dalam mobil
perutnya berkriuk lapar. Pagi tadi, ia tidak sempat sarapan
diet dan sekarang harus menahan lapar. Ia mengernyit saat
Adrian mengarahkan kendaraan menuju restoran.
“Mau apa kita?” tanya Melva.
“Makan siang.”
Melva menggeleng. “Nggak bisa, aku nggak mau turun.”
Adrian menatapnya sambil mengernyit. “Kenapa?”
“Kamu masih tanya kenapa? Ini jam makan siang dan
bisa dipastikan restoran dalam keadaan ramai. Kalau aku
sekarang masuk ke sana, bisa dipastikan akan terjadi
kehebohan. Kasihan orang-orang yang sedang makan,
terganggu sama aku.”
Adrian terdiam sesaat, memikirkan ucapan Melva. Apa
yang dikatakan wanita itu benar adanya, dan ia tidak
27
terpikirkan sebelumnya. Mungkin, karena belum terbiasa
bersama seorang artis yang begitu terkenal. Membuat
pertimbangan sesaat, ia melajukan mobilnya kembali.
“Antarkan saja aku pulang. Aku bisa makan di rumah,”
ucap Melva.
Adrian tidak menjawab, tetap menjalankan kendaran
dengan tenang.
“Di mana-mana restoran pasti penuh, lebih nyaman dan
aman kalau makan di rumah.”
Musik lembut mengalun dari radio saat Adrian
memutarnya.
“Tuan Adrian, apa kamu mendengarku?” pekik Melva
kesal. Seingatnya dulu Adrian yang ia kenal tidak sependiam
sekarang. Meskipun dulu pemalu tapi masih bisa diajak
bicara. Kalau laki-laki yang sekarang di sampingnya, entah
kenapa dinginnya melebihi kutub utara. Melva tidak tahu,
berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat
dirinya membeku karena sikap laki-laki itu.
Seakan menyadari kekesalan Melva, Adrian menoleh.
Mengulurkan jari untuk mengetuk lembut bibir wanita itu
dan berucap lembut. “Bawel.”
Melva ternganga, baru kali ini ada yang mengatainya
bawel. Seumur-umur, dari dia masih kecil sampai sekarang,
semua orang memperlakukannya penuh cinta.
Mendengarkan dengan tekun saat ia bicara, bahkan tanpa
segan memberikan pujian kosong. Namun, Adrian beda.
Bisa-bisanya laki-laki itu menyebutnya bawel?
28
Siang itu, Adrian mengajaknya ke restoran yang ada di
dalam hotel. Meski Melva menolak, laki-laki itu tetap
bersikukuh. Mereka masuk lewat pintu belakang, naik lift
khusus yang langsung menuju restoran. Saat menyusuri
lorong berkarpet, Melva berucap ringan.
“Jangan bilang kalau hotel ini milikmu.”
Adrian mengangkat bahu. “Bukan, tapi aku ada saham di
sini.”
“Sama aja bukan?”
“Beda. Tapi, kalau kamu suka dengan hotel ini, aku bisa
membelinya untukmu.”
Melva melotot, mengulurkan tangan untuk mencubit
pinggang Adrian dan membuat laki-laki itu mengernyit
kesakitan.
“Apa?”
“Jangan pamer uang sama aku,” desis Melva.
“Aku serius.”
Percakapan mereka terhenti saat dua pelayan
menyambut mereka dan mengantar ke meja privat. Melva
yang terbiasa makan sedikit untuk menjaga berat badan,
hanya memesan ayam yang ditim dengan saos lemon, dan
Italian dressing. Adrian memilih iga panggang dengan salad.
“Kamu makan begitu sudah kenyang?” tanya Adrian.
29
“Iya, makanku memang segini dan nanti malam harus
olah raga untuk membakar kalori. Lusa ada pemotretan,
tidak boleh ada sisa makanan berlebihan di perut.”
“Apa kamu menghitung setiap kalori yang masuk?”
Melva mengangguk. “Iya, biasanya tugas Talia itu.”
Melva memperhatikan dari sepanjang mereka bersama
hari ini, Adrian sering menerima panggilan di ponsel. Ia
yakin, Adrian adalah laki-laki yang sibuk. Entah apa yang
membuatnya rela meninggalkan pekerjaannya sepanjang
hari hanya untuk menemaninya fitting gaun pengantin.
“Kak!”
Panggilan Melva membuat Adrian mendongak.
“Aku ingin tanya satu hal.”
“Ya?”
“Melva menggigit bibir bawah lalu menghela napas
panjang. “Kenapa Kakak mau menikah denganku?
Maksudku, dengan kedudukan dan apa yang kamu punya
sekarang, tentu banyak wanita di luar sana yang bersedia
kamu nikahi. Kenapa harus aku?”
Adrian meletakkan ponsel, meraih gelas berisi anggur
dan menggoyangnya. “Alasannya, sama sepertimu. Jadi,
kenapa kamu ingin bersedia menikah denganku?”
Melva menghela napas, menatap Adrian tak berkedip.
Pertanyaan balik dari laki-laki itu membuatnya kesulitan
untuk menjawab, padahal ia justru ingin tahu alasan laki
30
laki itu. Untuknya sendiri, Adrian memang bukan laki-laki
idamannya, tapi ia bisa mengalah demi orang tuanya.
“Aku nggak mau bikin orang tuaku kecewa.”
Adrian mengedip lalu tersenyum singkat. “Sama kalau
begitu.”
“Tapi, kamu punya segalanya.”
“Yang sebagian besar adalah aset keluarga. Jadi, bisa
dibilang aku adalah budak orang tuaku dan perusahaan.
Seorang budak, tidak boleh menolak keinginan tuannya.”
Melva ternganga heran mendengar perkataan Adrian.
Baru kali ini ia mendengar ada seorang CEO menjadikan diri
sebagai budak orang tua. Sungguh pemilihan kata yang
buruk.
“Ngomong-ngomong, aku benar pangling sama kamu.
Seingatku dulu, kamu berbeda.”
Mata mereka bertemu, Melva merasa tidak enak hati
kalau harus jujur tentang bagaimana penampilan Adrian
dulu.
“Kenapa kamu nggak bilang langsung saja, kalau aku
dulu gendut.”
Melva mengangkat bahu sambil tersenyum.
“Masa puber terlewati, banyak orang berubah.”
Selanjutnya, mereka makan dalam diam. Sebenarnya,
banyak yang ingin ditanyakan Melva pada laki-laki di
depannya, termasuk alasan kenapa mau menikah
31
dengannya. Namun, melihat sikap Adrian yang dingin dan
kaku, Melva menunda pertanyaannya.
32
Bab 3
34
membakarnya. Lusa ada jadwal pemotretan dan ia tidak
mau terlihat jelek dengan perut membuncit.
Selama lari di atas threadmill, pikiran Melva penuh
dengan Adrian. Tidak pernah ia bayangkan kalau
perjodohan yang diucapkan saat kecil, kini menjadi
kenyataan. Ia tidak punya pilihan untuk menolak dan harus
menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia cintai.
“Apakah setelah kami menikah nanti, akan tumbuh
cinta?” Melva bertanya dalam hati, terbayang wajah Adrian
yang tampan dengan senyum dingin yang membuat orang
enggan mendekat.
**
Rapat yang berlangsung selama lima jam tanpa henti,
membuat semua orang frustrasi. Awalnya mereka mengira
hari ini akan berjalan menggembirakan. Penghuni kantor
bahkan ada sebagian yang bernyanyi dan berdendang.
Semua karena sang CEO tidak ada di tempat. Pergi dari pagi
dan tidak ada yang tahu ke mana. Namun, siapa sangka
setelah makan siang, Adrian kembali dan langsung
menggelar rapat hingga sore.
Mata berair, bahu pegal, jantung yang berdetak tak
karuan, panas dingin karena tegang dan ketakutan, itu yang
dirasakan semua karyawan yang mengikuti rapat. Sang CEO
seakan menguji nyali mereka dengan membuat mereka
jungkir balik, baku hantam, memberikan pendapat dan
dukungan.
35
Saat rapat dinyatakan selesai, tidak ada satu pun orang
yang berani beranjak dari kursi. Semua terdiam, menunggu
hingga Adrian bangkit dan meninggalkan ruangan lebih
dulu. Mereka menunggu dengan tidak sabar untuk segera
menghela napas lega, minum kopi untuk meredakan
ketegangan, atau menelepon pasangan. Saat derit kursi
terdengar dari tempat sang CEO, mereka semua
mendongak penuh harap. Namun, Adrian tidak beranjak.
Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke seluruh karyawan.
“Ada pengumuman penting yang ingin aku sampaikan
pada kalian!”
Jantung mereka bertalu-talu dan berdetak tidak karuan.
Mungkinkah terjadi sesuatu yang fatal? Apakah ada
kesalahan yang sudah mereka perbuat? Tidak ada yang bisa
menebak jalan pikiran sang CEO.
“Kalian akan lebih sibuk dalam dua bulan ini. Aku ingin
semua urusan yang tertunda dikerjakan secepatnya, tentu
saja tanpa ada kesalahan. Karena—”
Keringat dingit mengucur dari dahi dan masuk ke kerah
kemeja para karyawan. Tubuh mereka bergetar karena rasa
takut.
“Aku akan menikah! Sebelum aku mengundang kalian ke
pesta pernikahanku, pastikan kalau semua urusan selesai!”
Kantor gempar, bukan hanya itu, seluruh penghuni
gedung berteriak tak percaya. Kabar kalau sang CEO akan
menikah, bagaikan petir di siang bolong.
36
“Menurutmu, siapa yang akan dinikahi oleh si dingin
itu?” Seorang wanita, karyawan keuangan bertanya pada
temannya.
“Entahlah, yang pasti bukan wanita biasa. Karena Tuan
Adrian Wangsa, tidak mungkin memilih wanita dari
kalangan rendah.”
“Apa menurutmu, putri konglomerat yang selama ini
mengejar Tuan Adrian?”
“Ah, bisa jadi atau juga, janda muda itu. Bukankah dia
seorang pebisnis andal?”
“Entahlah, yang pasti orang kaya atau berpengaruh.”
Berbagai spekulasi muncul terkait kabar pernikahan sang
CEO. Dugaan-dugaan tentang siapa calon pengantin
wanita, menjadi topik popular yang paling banyak
dibicarakan karyawan hingga beberapa hari lamanya.
Sementara sang pemeran utama justru sedang sibuk
bekerja dan tidak mengindahkan berbagai gosip dan
spekulasi tentang pernikahannya.
“Apa kita akan ke Singapura, Pak?”
Adrian mengangguk. “Jadwalkan Minggu depan. Lebih
cepat lebih baik.”
Vector mengangguk. “Bagaimana dengan peninjauan
hotel kita di Bali dan Sumba? Itu mendekati dengan hari
pernikahan Anda.”
37
“Tetap jadwalkan, Vector. Yang mengurus pernikahan
bukan aku,” ucap Adrian sambil lalu. Ia tetap menunduk di
atas dokumen dan sedang membacanya secara teliti.
“Baiklah kalau begitu. Apakah Anda sudah memesan
cincin, Pak?”
Kali ini Adrian mendongak. “Cincin apa?”
Kalau tidak ingat sedang bicara dengan boss besar, ingin
rasanya Vector berteriak putus asa. Bagaimana mungkin
ada orang mau menikah dan belum mempersiapkan cincin.
“Dua macam cincin. Pertunangan dan Pernikahan.”
“Ah, begitu. Cincin pertunangan sepertinya sudah
disiapkan keluargaku. Kalau yang pernikahan nanti akan aku
urus.”
“Secepatnya, Pak. Jangan sampai lupa.”
“Baiklah, ingatkan aku.”
“Kalau begitu, saya masukkan jadwal. Apa ada hari yang
harus saya kosongkan? Misalnya untuk mengurus detil
pernikahan?”
Adrian menggeleng. “Tidak, ada yang mengurus.”
Sungguh seorang calon pengantin yang tenang, pikir
Vector geli. Menatap atasannya dengan pandangan tak
percaya. Bisa-bisanya Adrian terlihat sangat tenang saat
bicara pernikahan.
Vector berdehem sesaat lalu memberanikan diri bicara.
“Pak, perlu saya ingatkan kalau Nona MJ itu artis besar.”
38
“Aku tahu.”
“Pernikahannya akan mendapatkan sorotan dari seluruh
negeri. Memenuhi semua kolom berita dan menjadi topik
panas di kolom gosip.”
Adrian berdecak, memandang asistennya. “Kamu mau
bilang apa, Vector?”
“Hanya mengingatkan untuk berhati-hati mengurus detil
pernikahan. Karena kesalahan kecil sekalipun, akan menjadi
bahasan seluruh negeri.”
“Kamu menakutiku?”
Vector menggeleng. “Tidak, Pak. Mana berani saya.
Hanya mengingatkan, karena calon istri Anda seorang
pesohor.”
Saat asistennya menghilang di balik pintu, Adrian
menyandarkan kepalanya ke kursi. Memikirkan tentang
wanita yang akan menjadi istrinya. Sebuah pernikahan
paksa dan ia yakin kalau Melva pasti akan menolak kalau
ada kesempatan. Sayangnya, wanita itu tidak punya pilihan
lain selain menikah dengannya. Ia merasa bersalah pada
Melva.
**
“MJ, kamu tahu siapa yang akan menjadi pasanganmu?”
Talia berbisik antusias.
“Luke,” jawab Melva singkat.
39
“Iya, aku kaget. Aktor tenar macam dia, bisa-bisanya ikut
pemotretan dengan jadwal mendadak. Bukankah dia
sangat sibuk?”
Melva tersenyum. “Entahlah, lagi gabut mungkin?”
Jawaban Melva membuat Talia tidak habis pikir. Aktor
sekelas Luke Lukas, tidak mungkin gabut. Setahunya, jadwal
kerja laki-laki itu sangat padat. Orang yang mereka
bicarakan, datang lima menit kemudian. Berwajah tampan,
tinggi, dengan kulit kecoklatan, Luke ibarat perwujudan dari
dewa-dewa Yunani. Pandangan mata dan senyum laki-laki
itu, mampu membius kaum hawa. Tidak ada yang bisa
menolak pesona seorang Luke.
“Halo, Dear. Senang sekali bisa berkerja sama
denganmu.”
Luke menghampiri Melva yang sedang dirias dan
memeluk hangat.
“Hei, bukannya sibuk syuting?” tanya Melva saat laki-laki
itu melepaskan pelukannya.
“Memang, tapi aku lagi iseng saja. Ingin ikut pemotretan
bareng kamu.”
Melva tertawa lirih, menatap Talia yang tercengang
dengan pandangan mengisyaratkan, kalau tebakannya
tidak salah. Entah Luke jujur atau tidak, tapi jawaban laki
laki itu memang sedikit tidak masuk akal.
Melihat kedatangan Luke, perias dan penata rambut
mendudukkannya di depan cermin dengan lampu-lampu
yang menyala terang.
40
“Kamu tahu apa tema pemotretan hari ini?” tanya Melva
dari balik punggung Luke.
“Prince dan princess bukan?”
“Memang, tapi fantasy. Aku akan memakai kostum putri
duyung, dan beberapa lain.”
“Good. Kamu akan sangat cantik, aku yakin itu.”
Pujian Luke membuat Melva tersenyum kecil. Ia sudah
biasa mendengar ucapan semacam itu dari para laki-laki.
Namun, tidak bagi yang baru mendengarnya. Wajah orang
orang yang berkumpul di ruang rias, terlihat memerah
terutama para wanita. Melva yang dirayu tapi mereka yang
tersipu.
“Wah, mereka pasangan serasi.”
“Cantik dan tampan.”
“Kombinasi mematikan.”
“Wow, so unreal.”
Berbagai komentar diiringi desahan memuja, keluar dari
mulut orang-orang yang melihat jalannya pemotretan.
Melva yang memakai kostum putri duyung, terlihat begitu
cantik. Sedangkan Luke, gagah berwibawa dalam balutan
pakaian ala pangeran. Mereka melakukan berbagai pose
dengan professional. Berganti kostum tiga kali dan
pemotretan berakhir menjelang sore.
“Apa kamu mau makan malam bersamaku?”
41
Luke mendatangi Melva yang sedang merapikan riasan
wajah. Pemotretan sudah berakhir dan polesan make up
tebal sudah dihapus. Sang artis memoles wajahnya sendiri
untuk mendapatkan kesan natural.
“Boleh,” jawab Melva singkat. “Tapi, aku tanya Talia dulu
untuk memastikan. Tunggu.”
Luke duduk di meja rias Melva, menatap wanita itu
dengan pemujaan yang terang-terangan tersirat di mata. Ia
begitu menyukai Melva dan akan melakukan apa pun untuk
mendapatkan wanita itu.
“Talia!”
Talia meninggalkan pekerjaannya yang sedang
merapikan barang-barang. “Ada apa?”
“Coba periksa jadwalku, apakah bebas malam ini? Luke
ingin mengajakku makan.”
Mendesah sedih, Talia menggeleng. “Maaf, MJ. Tapi,
kamu ada jadwal malam ini. Baru saja Tuan Adrian
mengabari, akan mengajakmu pergi ketemu keluarganya.”
“Hah, kenapa baru bilang?” Melva bertanya kaget.
“Aku lupa, karena sibuk!”
Luke menatap Melva. “Siapa Adrian?”
“Teman.” Melva menjawab sekenannya. Tidak ingin
memperpanjang masalah dan harus menerangkan panjang
lebar pada Luke. Belum saatnya laki-laki itu tahu tentang
kebenaran hubungannya dengan Adrian.
42
“Kenapa seorang teman mau mengajakmu bertemu
keluarga?” Luke yang tidak puas dengan jawaban Melva,
bertanya dengan sedikit menuntut.
“Eh, mereka mau menjenguk orang sakit!” Talia yang
menjawab cepat dan mendapat anggukan dari Melva.
“Oh, begitu. Sayang sekali, MJ. Aku benar-benar
berharap bisa makan malam denganmu.”
Melva merasa sungguh menyesal sudah menolak Luke.
Tapi, urusan Adrian memang tidak bisa ditunda. Kesibukan
laki-laki itu membuanya tidak banyak waktu melakukan
kegiatan pribadi dan ia harus memaklumi.
Setelah Luke pergi dengan wajah menyiratkan
kekecewaan, Melva pulang dan berganti pakaian dengan
gaun hitam berbahan beludru lembut dengan lengan
panjang. Untuk bagian bawah, sebatas mata kaki dengan
belahan mencapai pertengahan paha. Sebuah gaun yang
cukup sopan tapi juga sangat sexy. Untuk rambut, ia sengaja
menggelungnya, dan menunjukkan lehernya yang jenjang.
Adrian yang datang menjemput di lobi, terlihat kagum
dengan penampilan calon istrinya, tapi tidak mengatakan
apa pun. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu, bahkan
setelah mereka memutuskan akan menikah sekalipun,
Adrian belum pernah menginjakkan kaki di kamar Melva.
Selalu menjemput di lobi.
“Ada acara apa? Kenapa mendadak mengajakku ke
rumahmu?” tanya Melva saat mereka sudah berada di jalan
raya.
43
“Acara perkenalan.”
“Perkenalan siapa?”
“Kamu.”
Melva memiringkan kepala, menatap Adrian tajam. Ia
tidak mengerti kenapa harus dikenalkan lagi pada keluarga
laki-laki itu. Seingatnya, ia mengenal mereka dengan baik.
Papa, mama, dan satu adik perempuan bernama Agnes.
“Aku sudah mengenal keluargamu.”
“Tidak dengan keluarga besar.”
“Ah, begitu rupanya. Apakah menurutmu penampilanku
cukup bagus?”
Adrian melirik calon istrinya lalu mengangguk.
“Lumayan.”
Melva mendengkus. Ia adalah artis besar yang diakui
kecantikannya. Tidak ada laki-laki yang bisa menolak
pesona seorang Melva, sedang Adrian hanya mengucapkan
kata ‘lumayan’ padanya.
“Aku lebih dari lumayan, asal kamu tahu.” Ia tidak dapat
menahan kejengkelannya.
Adrian tidak menjawab, hanya melirik sekilas. Namun,
ujung bibir laki-laki itu berkedut yang seolah sedang
berusaha menyembunyikan senyumannya.
Tidak ingin merasa kesal karena bersama laki-laki kaku,
Melva menyalakan radio. Kebetulan, lagu yang diputar
adalah kesukaannya. Ia bernyanyi sambil menggerakkan
kepala. Mengikuti irama musik hingga kendaraan yang
44
mereka naiki memasuki komplek perumahan. Seketika,
Melva mematikan radio dan menegakkan tubuh. Ia merasa
tegang sekarang, lebih menegangkan dari pada saat-saat
menunggu pengumuman untuk mendapatkan
penghargaan.
“Keluarga besarmu, siapa saja yang akan ada di sana.”
“Semua.”
“Semua itu artinya berapa banyak orang?”
“Kisaran 20 mungkin.”
“Wow.”
Saat mereka memasuki rumah dengan gerbang tinggi
berwarna putih, Melva tidak dapat menahan rasa
kagumnya. Rumah keluarga Adrian benar-benar besar dan
mewah. Namun, tidak heran mengingat mereka adalah
keluarga kaya dengan kekayaan yang tidak akan habis
selama tujuh turunan.
“Sebentar, aku bantu kamu buka pintu.”
Melva terkesan saat Adrian membantunya membuka
pintu. Ia tidak tahu apakah yang dilakukan laki-laki itu murni
untuknya atau sekadar ingin memberi kesan baik bagi
keluarga.
“Rumahmu besar sekali,” ucap Melva saat turun dari
mobil.
“Kalau kamu suka yang model seperti ini, aku akan
belikan buat kamu.”
45
Melva tercengang hingga tak mampu bicara. “Eh,
bukankah kalau sudah menikah kita akan tinggal di sini?”
Adrian menggeleng. “Tidak, rumah sendiri. Kamu bebas
memilih ingin di mana, dan rumah seperti apa. Aku akan
menyiapkan untukmu.”
“Dasar orang kaya!” Melva mendesis kesal. Cara Adrian
bicara tentang membeli rumah, seolah semudah membeli
gorengan pinggir jalan. Sungguh, sebuah kesombongan
yang luar biasa dan memikat.
“Ngomong-ngomong, apa kamu nggak merasa kalau
belahan gaunmu terlalu tinggi?” Melva menghentikan
langkah, saat Adrian meraih siku dan menahan tubuhnya
dengan satu lengan laki-laki itu melingkari pinggangnya.
Melva merinding saat merasakan jemari Adrian merayap
lembut di pahanya. “Terlalu berani dan sexy, Melva.”
Melva meneguk ludah, berusaha untuk tersenyum dan
menenangkan diri. “Sayangnya, gaun ini nggak bisa diganti
atau diubah, Tuan Adrian.”
46
Bab 4
47
“Kak, masih ingat aku?” Seorang gadis cantik berumur
awal dua puluhan menyapa riang.
Melva mengernyit lalu teringat gadis kecil yang dulu
selalu mengikuti ke mana pun ia pergi.
“Agnes?”
Gadis itu tersenyum. “Iya, ini aku.” Membuka lengan
lebar-lebar, Agnes memeluk Melva tanpa sungkan. “Ya
ampun. Senang banget bisa lihat kamu langsung, Kak.
Selama ini aku cuma lihat di TV atau bioskop. Lihat berita
soal kamu ada di mana mana dan merasa bangga pernah
kenal waktu kecil.”
Melva memeluk Agnes dengan erat. Ia selalu menyukai
gadis kecil nan imut yang selalu mengikutinya ke mana pun.
Siapa sangka, kini mereka bertemu setelah bertahun-tahun
berpisah.
“Aku senang ketemu kamu. Cari waktu, kita mengobrol,”
bisik Melva.
“Oke, aku menunggu. Waktu mama untuk
memamerkanmu pada keluarga besar kami belum selesai.”
Agnes terkikik dan membiarkan Melva digandeng pergi oleh
sang mama.
Selama berkenalan dengan para kerabat, Melva
menyadari kalau Adrian sama sekali tidak ada niat
menemaninya. Laki-laki itu berdiri di pojok ruangan,
dengan gelas tinggi di tangan. Hanya mengamati keriuhan
suasana tanpa bicara.
48
Saat Laili sibuk menjawab pertanyaan dari para wanita
yang ingin tahu tentang rencana pernikahan, Melva berdiri
di dekat sofa. Ia hendak mencari Adrian saat terdengar
teguran halus.
“Oh, ini MJ, sang artis terkenal. Senang bisa
mengenalmu.” Seorang wanita tinggi dengan rambut
kepirangan panjang, tersenyum padanya. “Kenalkan, aku
sepupu jauh Adrian. Namaku Nikita.”
Melva menyambut uluran tangannya. “Hallo.”
Nikita dengan terang-terangan mengamatinya dari atas
ke bawah dengan senyum tersungging. “Cantik, pantas
Adrian mau dijodohkan denganmu.”
Menganggap itu sebuah pujian, Melva hanya tersenyum.
“Asal kamu tahu, MJ. Seorang pengusaha besar seperti
Adrian, membutuhkan wanita yang tangguh untuk
menemani. Aku nggak yakin kamu mampu.”
Untuk kali ini Melva tidak dapat menyembunyikan
keterkejutannya. Wanita di depannya sedang menilainya
dengan terang-terangan, mencoba menguji nyalinya. Ia
memang seorang artis, tapi tidak lantas begitu saja bisa
diremehkan. Mengibaskan rambutnya, Melva tersenyum
manis.
“Kamu tahu nggak modal utama dari seorang istri
pengusaha?”
“Pintar.
49
“Bukan, tapi cantik.” Melihat Nikita melotot, Melva
tersenyum makin lebar. “Saat Adrian menggandengku, bisa
kupastikan setiap orang yang bertemu tidak akan pernah
bertanya bagaimana bisnisnya, melainkan satu hal. Apa itu?
Aku.” Melva menunjuk dirinya dengan bangga. “Wow, Tuan
Adrian, ternyata istrinya sangat cantik dan terkenal. Well,
itu sudah cukup untuk suamiku nanti.”
Nikita mengepalkan tangan, memendam amarah.
“Sungguh, kamu wanita pertama yang aku temui dan
ternyata tidak tahu malu. Membanggakan kecantikan?”
“Itu aset utama! Nggak semua orang dilahirkan cantik
dan terkenal!”
“Sombong!”
“Kamu yang memulai. Lain kali, mikir dulu sebelum ingin
menjatuhkan orang lain.”
Mereka saling pandang dengan sinis. Melva tidak akan
mengalah oleh tekanan yang sengaja diberikan wanita itu
padanya. Bertahun-tahun ia menjadi artis, menjalani
kehidupan penuh tantangan, dan belum lagi harus
menghadapi haters. Ejekan seorang Nikita yang bukan
siapa-siapa, tidak akan menjatuhkan mentalnya.
“Kalian sedang bicara apa?”
Adrian mendekat, memandang bergantian dua wanita di
depannya. Nikita mengalihkan pandangan dari Melva pada
Adrian.
50
“Aku sedang berusaha akrab dengan calon istrimu,
Adrian. Kesempatan bagus untuk mengenal seorang artis
ternama.”
Adrian membalikkan tubuh, mengulurkan tangan dan
meraih lengan Melva. “Kita ke sana, temui nenek.”
Menganggap seolah tidak ada Nikita, Adrian menggiring
Melva pergi. Tidak melihat bagaimana ganasnya pandangan
Nikita yang diarahkan ke mereka.
Seorang wanita bertubuh subur dengan perhiasan
gemerlap dan kipas di tangan, menghampiri Nikita dan
menepuk punggungnya lembut. “Kenapa, Sayang? Merasa
kalah?”
Nikita menggeleng. “Nggak, Ma. Kesal saja sama Adrian.
Bisa-bisanya dia ingin menikahi wanita itu. Selama ini aku
selalu mengira kalau Adrian punya standar tinggi terhadap
wanita, ternyata seleranya hanya seorang artis.”
“Ini bukan salah Adrian sepenuhnya. Dia menikahi MJ
karena paksaan orang tuanya.”
Nikita menatap mamanya dengan pandangan tidak
percaya. Rencana perjodohan ini sungguh menggelikan
menurutnya.
“Ma, Adrian itu laki-laki dewasa yang bertanggung jawab
atas hidupnya sendiri. Dia tangguh, dan hebat dalam
berbisnis. Mama kira, dia mau begitu saja dijodohkan kalau
bukan karena alasan tertentu? Sedangkan dia bisa
mendapatkan wanita mana pun yang dimau.”
51
Menatap ke arah Adrian yang sekarang berdiri
berdampingan bersama Melva di depan seorang wanita
tua, Sofia menghela napas panjang, membuka kipas dan
mengayunkan di depan wajahnya. Ruangan memang
berpendingin, tapi tetap saja ia merasa gerah.
“Perkataanmu benar, pasti ada perjanjian tertentu
antara Adrian dan orang tuanya. Kalau tidak, nggak akan
orang seperti dia menikahi artis.”
“Akhirnya, Mama mengerti apa maksudku.”
Nikita tersenyum, mencatat dalam hati akan mencari
tahu apa yang terjadi dengan Adrian. Ia akan membongkar
semua hal yang berkaitan dengan perjodohan yang dirasa
tidak masuk akal ini. Bagaimana pun, seorang yang
berintegritas seperti Adrian, tidak akan mudah ditekan
meski oleh orang tuanya. Ia yakin, di balik perjodohan ini,
tersembunyi hal rahasia dan ia akan mencari tahu.
Melva sedang bicara dengan nenek calon suaminya.
Namun, ia merasa kalau punggungnya panas. Ia yakin saat
ini Nikita sedang memandangnya, bisa jadi sambil memaki.
Penasaran, ia menoleh ke belakang dan mendapati
dugaannya benar.
“Ada apa?” tanya Adrian.
“Nggak ada, cuma ngerasa punggung panas.”
Adrian mengernyit. “AC kurang dingin?”
“Oh, bukan. Kayak lagi banyak setan berkeliling trus
nusuk-nusuk punggungku.”
52
Melihat tatapan tidak mengerti dari calon suaminya,
Melva tertawa. Menyadari kekonyolan ucapannya.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya sang nenek.
“Dua bulan lagi, Nek.” Adrian yang menjawab.
“Bagus, lebih cepat lebih baik. Aku sudah tidak sabar
menimang bayi kalian.”
Raut wajah sang nenek menyiratkan kegembiraan,
dengan Melva tersenyum canggung. Pertama kalinya ia
datang ke rumah seorang laki-laki dan membahas tentang
anak. Peristiwa yang luar biasa menurutnya. Ia memang
sering datang ke rumah calon mertua, tapi itu hanya ada di
dunia film, bukan kenyataan.
Orang-orang berpindah dari ruang tamu menuju taman
belakang yang sudah disulap menjadi ruang makan dengan
meja kayu panjang. Beberapa chef pribadi didatangkan
untuk melayani mereka. Malam ini menunya kambing
guling, dan berbagai masakan khas lokal. Saat menatap
menu di tangan, Melva berharap dirinya tidak kalap dan
makan tanpa terkontrol.
Nadav bangkit dari kursi, mengangkat gelas berisi cairan
merah dan berucap lantang. “Mari kita bersulang untuk
kedua calon mempelai yang berbahagia.”
“Cheers!”
Semua orang mengangkat gelas dan berteriak
bersamaan. Begitu pula Melva dan Adrian.
53
“Keluarga besar Wangsa, sangat menantikan pernikahan
ini,” ucap Laili, menimpali suaminya.
“Pernikahan pertama dari generasi ketiga Wangsa.”
“Diharapkan, pernikahan ini akan membuat Adrian kami
menjadi lebih bahagia. Doa yang baik untuk kedua calon
mempelai.” Laili mengangkat gelasnya dan meneguk
perlahan isi gelas.
Tepuk tangan sopan terdengar bergemuruh di sekitar
meja panjang. Setelah sambutan tuan rumah selesai,
mereka mulai memesan makanan. Para koki membuat
langsung makanan yang hendak disantap.
Melva memilih daging panggang dan salad. Menikmati
hidangan sambil mendengarkan obrolan orang-orang di
sekitar meja. Saat Adrian bangkit untuk mengambil botol
minuman, ia melihat Nikita mengikuti laki-laki itu. Keduanya
berdiri bersisihan di dekat bar dan terlihat bicara serius.
“Jangan cemburu, kami saudara meskipun hanya
kerabat jauh.” Agnes yang berada di sampingnya,
menyemangati.
Melva mengangguk. “Aku tahu.”
“Kak Nikita memang menyukai Kak Adrian dari dulu, tapi
sampai hari ini hubungan mereka hanya sebatas saudara,
tidak lebih.”
Penjelasan dari Agnes membuat Melva mengulum
senyum. Sebenarnya, ia tidak terlalu peduli kalau pun
Adrian menjalin cinta dengan wanita. Ia menyadari laki-laki
itu bukan orang sembarangan. Setiap wanita pasti
54
menginginkannya menjadi pendamping. Terlepas dari
sikapnya yang dingin, Adrian adalah tipe kekasih idaman
wanita. Tinggi, tampan, dan kaya raya adalah kombinasi
mematikan. Melva pun akan menginginkan laki-laki itu
menjadi kekasihnya, kalau saja mereka tidak dijodohkan.
Jauh di dalam hati ia menyesal, untuk laki-laki yang terpaksa
menikah dengannya.
“Agnes, kakakmu laki-laki sempurna, kenapa dia mau
menikah denganku?”
Pertanyaan Melva membuat Agnes mendongak lalu
mengernyit. “Kenapa memangnya?”
“Bukankah ada banyak wanita yang menginginkannya?”
“Memang, tapi Kak Adrian tidak pernah tertarik pada
mereka.”
“Kenapa?”
“Entahlah, nanti kamu tanya sama dia sendiri, Kak.”
Melva menelan kembali berbagai pertanyaan di otaknya
tentang Adrian. Ia tidak mungkin bertanya banyak hal pada
laki-laki itu yang akan memberi kesan ingin tahu.
Pernikahan adalah rencana jangka panjang. Masih banyak
waktu untuk memastikan banyak pertanyaan dan mereka
akan menemukan jawabannya kelak.
“Melva, kamu makan apa?”
Sofia bertanya dari seberang meja.
Melva menatap wanita dengan kipas di tangan. “Salad,
Tante.”
55
“Hah, kamu terlalu kurus. Mana kenyang makan salad.
Ayo, pilih lagi yang lain!”
“Ini saja cukup.”
“Kenapa? Takut gemuk? Apa semua artis makan sedikit
seperti kamu?”
Melva mengangkat bahu. “Kurang tahu.”
Sofia mengibaskan kipas, mengedarkan pandangan ke
sekeliling meja. “Sebenarnya kita semua sepakat, kalau
standar kecantikan para wanita bukan berdasarkan bentuk
tubuh. Entah kenapa para artis justru berlomba-lomba
ingin menunjukkan pada kami, tentang betapa
beruntungnya mereka punya tubuh kurus, nyaris hanya
berupa tulang yang terlihat.”
Perkataan Sofia mendapat banyak anggukan dari para
wanita. Mereka kini bergantian menatap ke arah Melva.
“Kalian sepakat bukan? MJ terlalu kurus?”
“Iya, harusnya makan lebih banyak.”
“Punya tubuh berisi bukan dosa.”
Laili menatap calon menantunya lalu mengetuk
permukaan gelas untuk mendapatkan perhatian. “Yang
akan menikah di sini adalah anakku, bukan kalian, apalagi
aku. Jadi, kalau Adrian nggak keberatan dengan bentuk
tubuh istrinya, aku rasa kita semua nggak ada hak untuk
menghakimi MJ.”
56
Melva tersenyum ke arah calon mertuanya. Tidak lama
Adrian kembali duduk di sampingnya dan ikut
mendengarkan perkataan Laili.
“MJ seorang artis, memangnya kalian mau kalau wanita
yang selalu memainkan peran ternyata bertubuh subur dan
tidak ada baju yang cocok untuknya? Lalu, bagaimana
dengan banyak penonton yang akan memprotes karena
artis mereka dinilai tidak bisa menjaga badan?”
Pembelaan Laili membuat Sofia mencebik. Wanita itu
mendengkus ke arah Nikita yang baru saja duduk. Agnes
yang sedari tadi terdiam, tidak dapat menahan seringainya
saat mendengar sang mama bicara.
“Ada apa?” bisik Adrian pada Melva.
“Nggak ada apa-apa, hanya diskusi tentang berat
badan.”
Adrian mengangguk, meminta steak pada koki. Ia melirik
ke arah piring Melva yang masih terisi penuh, hanya salad
yang baru dimakan setengah.
“Minggu depan aku akan keluar negeri.”
Melva mengangguk. “Kita nggak ada jadwal ketemu
bukan?”
“Ada, kita belum membeli cincin.”
“Ah, benar. Kalau begitu tunggu kamu pulang saja.”
“Nggak usah, takut kelamaan. Apa lusa kamu ada
waktu?”
57
Melva berpikir sesaat lalu menggeleng. “Aku ada syuting
mini seri, iklan produk kecantikan. Biasanya bisa sampai
beberapa hari.”
“Kalau begitu, kita akan sesuaikan jadwal.”
Saat pelayan membawa steak yang diminta Adrian, laki
laki itu memotongnya menjadi kotak-kotak kecil. Menusuk
dengan garpu, menyelupkannya pada saos lalu
memberikannya pada Melva. “Wagyu, dengan
pemanggangan delapan puluh persen matang. Cobalah.”
Melva ragu-ragu sesaat lalu mengangguk. Mengambil
potongan daging dan memakannya. Daging yang empuk
dan juicy, membuat lidahnya berdecak nikmat. Ia memakan
tidak hanya satu tapi lebih dari sepuluh potongan daging
yang diberikan Adrian untuknya, diselingi dengan
meminum anggur merah. Saat pulang, Melva merasa
dirinya sedikit mabuk.
“Hati-hati langkahmu. Awas, jatuh!”
Adrian membantunya duduk di kursi dan membantunya
memasang sabuk pengaman. Melva terkikik, saat rambut
Adrian menusuk hidungnya.
“Hihihi. Kamu wangi.”
Adrian menegakkan tubuh. “Apa?”
“Kamu wangi, Tuan Adrian. Campuran seperti buah
peach dan kesegaran pohon pinus.”
Adrian tidak menjawab, menutup pintu dan duduk di
belakang kemudi. Selama ia menjalankan kendaraan
58
menuju apartemen Melva, wanita itu terus-menerus
bernyanyi. Kadang lagu ceria sambil menggoyang tubuh,
sesekali lagu sedih yang membuatnya bernyanyi sambil
meratap. Hingga mereka berhenti di parkiran apartemen,
Melva masih bernyanyi.
“Kita sudah sampai.”
Melva mengangguk. “Ah, ya. Biar Talia yang
menjemputku.”
“Nggak usah, aku akan mengantarmu naik.”
Melva terkikik. “Hai, terima kasih, Tuan Adrian, calon
suamiku yang kaya raya dan tidak sombong.”
Dengan sabar Adrian memapah Melva melintasi lobi,
menaiki lift sementara wanita itu masih terus
bersenandung.
“Malam ini aku senang, bisa ketemu calon mertua.”
“Hati-hati langkahmu.”
Mereka keluar dari lift dan menuju pintu nomor 10B.
Tiba di depan pintu, Melva berusaha menegakkan tubuh
dan melepaskan diri dari tangan Adrian.
“Terima kasih, Calon Suamiku yang baik.”
Adrian mengamati Melva. “Jangan lupa minum obat
sakit kepala.”
Melva menggoyangkan telunjuk. “Nggak, ah. Aku masih
kuat, kok.” Ia maju, mengalungkan lengannya pada leher
Adrian dengan tubuh menempel satu sama lain. Tersenyum
59
manis karena laki-laki itu tidak menghindar, dan
melingkarkan lengan di pinggangnya. “Aku punya sesuatu
sebagai ucapan terima kasih,” bisiknya.
Adrian mengedip, hangatnya napas Melva terasa di
lehernya. “Apa?”
“Ini?”
Tanpa diduga, Melva melayangkan kecupan di bibir laki
laki itu. Bukan hanya sekali melainkan tiga kali dan
tindakannya membuat Adrian berdiri kaku bagai patung.
Pintu terbuka, Talia muncul dalam balutan piyama dan
menatap malu pada pasangan yang sedang berpelukan
dengan bibir menempel.
“Eh, maaf, ganggu. Lanjutkan!” Gadis itu kembali
menutup pintu.
Melva terkikik melihat ulah asistennya. Ia mengetuk dan
pintu kembali terbuka. Masuk dengan sempoyongan dan
meninggalkan Adrian termenung dengan tangan terkepal di
sisi tubuh.
60
Bab 5
61
Melva mengibaskan tangan, memendam rasa kesal.
Namun, ia ingat kalau Neo baru terjun ke dunia akting dan
harus lebih sabar dalam menghadapi pemuda itu.
“Kamu jangan gugup, santai saja, dan anggap kita ini
memang akrab di dunia nyata.”
Neo menggeleng. “Tapi, aku memang gugup. Apalagi
lawan mainku, Kakak.”
Sutradara yang mendengar percakapan mereka,
akhirnya memberi usul. Demi kelancaran syuting, ia
meminta pada Melva dan Neo untuk menjalin hubungan
akrab dan menciptakan chemistry yang baik.
“Besok, libur syuting. Kalian berdua coba untuk jalan
jalan seperti makan atau menonton film. Akrablah satu
sama lain, dan buat diri kalian berdua saling nyaman.”
Demi profesionalisme, Melva menuruti saran sutradara.
Ia berunding dengan Neo dan sepakat untuk kencan
berdua. Mereka membuat janji di hari Sabtu, untuk makan
dan menonton film, hanya berdua tanpa ditemani asisten
masing-masing. Memakai penyamaran lengkap dari topi,
kacamata hitam dan masker, demi keamanan berdua.
Selama bersama, Melva mengajak Neo mengobrol akrab
dan mendengarkan dengan tekun pembicaraan pemuda
itu. Saat kencan berakhir, mereka mulai akrab satu sama
lain dan keesokan harinya, syuting berjalan lebih lancar.
Masalah datang dua hari setelah kencan. Ada wartawan
dan penggemar yang mengabadikan kencan keduanya dan
menyebarkannya di media sosial. Tak ayal, keduanya
62
menjadi trending topik di mana-mana dan menciptakan
banyak rumor. Melva menanggapi dengan santai tapi, tidak
dengan kedua orang tuanya. Sang mama menelepon terus
menerus dan mengomelinya panjang lebar.
“Kamu ingat, MJ. Kamu itu sudah bertunangan, bulan
depan akan menikah. Malah kencan sama cowok lain!”
“Maa, itu demi kelancaran syuting. Kami hanya makan
dan nonton!”
“Kelancaran syuting? Memangnya selama ini kamu
kurang lancar apa?”
“Bukan begitu, Neo masih pendatang baru jadi—”
“Demi dia kamu membiarkan dirimu jadi bulan-bulanan
media dan masyarakat? Kamu nggak mikir perasaan
Adrian? Bagaimana kalau dia baca gosip-gosip itu?”
Teriakan sang mama terdengar keras di ponsel dan
membuat telinga Melva menjadi pengar. Percuma
berdebat dengan sang mama, karena saat ini apa pun
alasannya tidak akan diterima. Ia membiarkan dirinya
diomeli dan diceramahi selama hampir dua jam. Tidak lupa
diingatkan untuk menelepon Adrian dan menjelaskan
semuanya, sebelum laki-laki itu salah paham dan masalah
menjadi makin runyam.
Setelah sang mama mengakhiri panggilan, Melva
menatap ponsel di tangan. Ada keengganan untuk
menghubungi Adrian. Ingatan tentang pertemuan terakhir
mereka membuat wajahnya memanas. Ia masih tidak
63
percaya, berani mengecup Adrian. Meski beralasan sedang
mabuk, tetap saja itu memalukan.
Setelah menimbang selama beberapa menit, akhirnya ia
memberanikan diri menelepon sang tunangan. Panggilan
diterima setelah dering ketiga.
“Hallo.”
Suara laki-laki itu terdengar berat dan sexy, tanpa sadar
membuat Melva tersenyum.
“Kamu di mana? Bali atau Singapura?”
“Bali.”
“Kapan balik?”
“Lusa.”
“Oh.”
Sunyi, keduanya terdiam. Samar-samar Melva
mendengar debur ombak dari ujung telepon. Ia menduga,
posisi Adrian saat ini tidak jauh dari pantai atau laut.
“MJ, ada apa? Butuh sesuatu?”
Menggigit bibir bawah, Melva mengetuk-ngetuk lengan
kursi. “Itu, aku hanya ingin kamu tahu kalau itu hanya
sekadar gosip. Antara kami berdua, tidak ada hubungan
apa-apa selain pekerjaan. Maksudku, kami memang pergi
bersama, menonton dan makan, tapi hanya sebatas itu.
Semua demi menciptakan chemistry dalam peran kami.
Sudah, itu saja yang mau aku bilang.”
64
Tidak ada tanggapan dari Adrian setelah penjelasan
panjang lebar dari Melva. Ia menduga, jangan-jangan
tunangannya tidak mengetahui soal gosip dirinya dan Neo.
Seketika ia didera rasa malu, membayangkan wajah datar
Adrian yang kebingungan saat ia bicara.
“Tuan Adrian, apa kamu mendengar apa yang aku
katakan?”
“Iya, apa kamu sedang berusaha menjelaskan padaku
tentang pekerjaanmu?”
“Eh, bu-bukan begitu.”
“Nggak usah kuatir, MJ. Aku tahu kamu artis professional
dan aku bukan tipe laki-laki posesif.”
Melva mengutuk diri dan menyumpah tanpa henti saat
mengakhiri panggilan. Ia merasa sudah mempermalukan
diri sendiri. Harusnya, ia tidak mendengar apa kata sang
mama. Nyatanya, Adrian bersikap sangat tenang dan justru
mereka yang berlebihan.
**
Di sebuah kantor luas berdinding putih dengan meja
kursi dari kayu jati yang dipelitur mengkilat, Adrian duduk
membelakangi jendela yang terbuka. Pemandangan di
belakangnya sungguh menakjubkan, berupa hamparan
pantai biru dengan pasir putih. Semua itu tidak mengusik
pikiran Adrian yang sedang menatap ponsel dengan kening
berkerut. Di depannya, Vector berdiri tegap sembari
memegang dokumen.
“Mereka hanya berteman,” ucap Adrian tiba-tiba.
65
“Siapa, Pak?” tanya Vector bingung.
“Ini, laki-laki muda yang kepergok kencan dengan MJ.”
Tanpa sadar, senyum kecil tersungging di bibir Adrian saat
menyebut nama sang tunangan.
Pemahaman melintas di wajah Vector. Ia mengangguk
dan tersenyum lebar. “Oh, kalau itu saya sudah tahu, Pak.”
Adrian mendongak. “Kamu tahu?”
Vector mengangguk tanpa ragu. “Iya, saya tahu. Nggak
mungkin Nona MJ sembarangan kencan bersama laki-laki
lain saat sudah bertunangan dengan Anda. Semua yang
dilakukannya pasti berhubungan dengan pekerjaan.”
Penjelasan panjang lebar dari Vector membuat Adrian
makin heran. “Kamu berucap begitu seolah-olah paling
mengerti MJ.”
“Tentu saja, Pak. Saya ini salah satu fanboy dari Nona MJ.
Kami paham betul, kalau artis kesayangan kami nggak akan
gegabah dalam berhubungan dengan laki-laki.”
Menatap wajah Vector yang penuh kepuasan setelah
menerangkan panjang lebar tentang sang tunangan, Adrian
menahan diri untuk tidak memukul asistennya. Ia berdecak
kecil lalu melambaikan tangan.
“Sudah, kamu pergi sana. Kalau bisa kita selesaikan
semua hari ini, besok kembali ke Jakarta.”
Vector mengangguk. “Siap, Pak.”
Sepeninggal asistennya, Adrian membuka ponsel dan
menatap seraut wajah cantik yang terpampang di layar, di
66
sampingnya ada seorang pemuda dengan rambut hitam
dan wajah tampan nyaris cantik. Ia membaca berita soal
mereka termasuk komentar para pembaca. Sebagian
mendukung, ada banyak yang menentang karena
menganggap Melva terlalu cantik dan popular untuk ukuran
seorang pendatang baru. Selesai membaca, Adrian didera
rasa bangga. Sesuatu tentang Melva dan bagaimana gadis
itu berinisitif meneleponnya untuk menjelaskan masalah,
membuatnya gembira. Hubungan mereka memang belum
akrab seperti dulu, paling tidak mereka berusaha jujur satu
sama lain. Adrian berharap dirinya bisa melakukan hal yang
sama.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Adrian
tentang sang tunangan. Sosok sang asisten kembali muncul,
kali ini tanpa membawa dokumen.
“Maaf, Pak. Ada tamu.”
“Siapa?”
“Nona Filia.”
“Dia di sini?”
“Iya, katanya sedang ada urusan di sekitar sini dan
mampir ingin bertemu.”
Mengangguk kecil, Adrian memberi tanda agar Vector
membawa sang tamu masuk. Ia bangkit dari kursi, untuk
menyambut seorang wanita sangat cantik dengan rambut
bergelombang. Wanita itu tingginya sekepala lebih pendek
dari Adrian dengan penampilan glamour. Dari ujung rambut
67
sampai kaki, bahkan tas yang ditenteng pun bermerek.
Segala sesuatu yang melekat padanya adalah uang.
“Adrian, Sayang. Lama nggak ketemu.” Tanpa basa-basi,
Filia mengecup pipi Adrian.
“Kak, mulai kapan di sini?” tanya Adrian ramah. Filia tiga
tahun lebih tua darinya, sudah sewajarnya memanggil yang
lebih tua dengan lebih hormat.
Filia mengibaskan tangan. “Aih, kayak orang lain aja,
Adrian. Kita teman sudah lama, masih manggil aku, Kak?” Ia
mengenyakkan diri di sofa dan duduk menyilangkan kaki.
“Kenapa nggak bilang-bilang kalau ada di Bali. Tahu begitu,
kita bisa party nanti malam.”
Adrian duduk di seberang Filia dan menggeleng. “Nggak
bisa, Kak. Banyak pekerjaan.”
“Kerja apa, Adrian? Perusahaan kita bermitra loh, tapi
belum pernah sekalipun kamu memenuhi undanganku
untuk party. Kebetulan hotelku sedang membuka bar
baru.”
“Kak, kamu tahu aku nggak bisa party."
“Iya, aku tahu. Tapi, aku nggak akan kapok buat
mengajak kamu.”
“Terima kasih.”
“Tapi, tetap nggak mau.”
Filia mengulum senyum, menatap sosok tampan Adrian.
Dari pertama bertemu, ia sudah suka dengan laki-laki di
68
depannya. Sayangnya, tidak mudah mendapatkannya.
Adrian punya seribu satu alasan untuk menolak ajakannya.
“Adrian, kamu menolakku apa karena statusku yang
janda?”
Adrian menggeleng. “Nggak ada hubungannya dengan
itu. Memang dari dulu nggak suka pesta.”
“Laki-laki yang baik, tahunya hanya kerja. Aku yakin,
istrimu nanti pasti bahagia. Kalau nggak mau party,
bagaimana kalau kamu menemaniku makan aja. Pasti bisa,
dong.” Filia mengedipkan sebelah mata pada Adrian.
Sebenarnya, kalau mengikuti kata hati, Adrian enggan
menemani Filia. Ia membuat rencana di otaknya,
bagaimana cara lolos dari ajakan wanita itu tanpa menyakiti
hati. Seolah bisa membaca jalan pikiran Adrian, Vector
mengetuk pintu dan mengatakan hal yang membuatnya
gembira.
“Pak, pihak manajemen bertanya, bisakah rapat
diadakan satu jam lagi? Ada banyak hal yang sedang
dipersiapkan.”
Adrian mengangguk. “Bisa. Kebetulan sedang ada
tamu.”
Filia tersenyum kecil, perkataan Adrian yang
menganggapnya hanya tamu, sedikit mengusik hati dan
egonya. Namun, ia berhasil menyembunyikannya dengan
baik. Memanfaatkan satu jam yang tersisa untuk
mengobrol dengan laki-laki itu. Saat ponsel Adrian yang
69
berada di meja menyala dan layarnya terpampang wajah
Melva, wanita itu mengernyit.
“Itu kayak wajah artis. Kamu penggemarnya?”
Adrian meraih ponsel. “Iya.”
“Wow, nggak nyangka ternyata orang sekaku kamu juga
bisa nge-fans sama artis. Namanya MJ kalau nggak salah,
model dan artis professional. Well, seleramu lumayan.”
Untuk kali ini Adrian tidak menyembunyikan tawa
bahagianya. Ia menemani Filia mengobrol, tentang bisnis
dan berbagai berita ekonomi. Ia selalu menghargai Filia
sebagai pebisnis wanita yang hebat. Meski lahir dari
keluarga konglomerat, tapi wanita itu tetap bekerja dengan
keras. Membuktikan kalau tidak selamanya, orang akan
semena-mena dengan warisan.
Filia pamit 20 menit menjelang rapat. Ia mengantar
wanita itu hingga ke teras kantor dan mengangguk sopan
saat lagi-lagi ditawari datang ke pesta. Ia datang kemari
untuk menyelesaikan masalah bisnis dan tidak akan
membuang waktu untuk bersenang-senang.
**
Melva menatap laki-laki tampan di hadapannya. Ia
merasakan dorongan untuk menjerit dan mengamuk,
mengusir laki-laki itu. Bagaimana tidak, sudah hampir satu
jam Luke mengoceh dan sampai sekarang belum berhenti.
“Lain kali, kalau kamu mau kencan, ajak aku. Jangan
hanya berdua.”
70
Ia memutar bola mata, merasa sedikit kesal karena sikap
posesif Luke.
“Kami hanya menjalin chemistry. Itu saja.”
“Menurutmu hanya itu saja, tapi nggak untuk para
netizen. Mereka tahunya kalian berdua bersama, yang
artinya, ya, pacaran!” Suara Luke terdengar nyaring diikuti
rasa kesal.
Melva memijat dahi, pusing mendengar ocehan tentang
dirinya dan Neo. Tidak cukup hanya mamanya yang marah,
kini ditambah Luke. Belum lagi wartawan yang selalu
mengusiknya. Padahal, yang ia lakukan tak lebih dari
mengajak juniornya makan dan nonton. Bukan melakukan
hal besar sampai dianggap pantas untuk dimarahi semua
orang.
“Luke, sudahlah. Yang pasti aku sama Neo nggak ada
masalah.”
Mereka mengobrol di lokasi syuting yang berada di
sebuah perkantoran. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal
Neo, membuat Melva sedikit lega. Ia tidak tahu, apa yang
akan terjadi kalau sampai Luke bertemu lawan mainnya itu.
“Memang nggak ada masalah. Tapi, aku bisa lihat dia
suka sama kamu.”
Luke melanjutkan ucapannya panjang lebar, bukan
hanya membahas Neo tapi juga segala macam hal termasuk
larangan bagi Melva untuk sembarangan pergi dengan laki
laki lain. Seakan-akan Luke adalah papa sekaligus pacar
71
Melva. Bahkan Talia yang mendengar ucapan laki-laki itu
hanya bisa mendengarkan tanpa kata.
“Talia, kamu sudah bereskan barang-barang kita?
Sebentar lagi kita pulang.”
Talia mengangguk ke arah Melva. “Sudah, Kak.”
“Aku antar.” Luke menawarkan diri.
Melva tersenyum. “Nggak usah, ada yang jemput.”
“Siapa?”
Melva enggan menjawab, karena sebenarnya memang
tidak ada yang menjemput. Hanya saja, ia sedang tidak ingin
bersama Luke dan mendengarkan ocehan laki-laki itu.
Perhatian mereka terpecah saat sebuah mobil mewah
warna hitam meluncur masuk ke halaman dan berhenti
tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Pintu depan membuka. Seorang laki-laki berkacamata
turun dan menatap ke arah Melva yang duduk
berdampingan dengan Luke.
“Adrian.” Melva melonjak dari kursi dan menghampiri
laki-laki itu. “Hai, kok tahu aku di sini?”
Adrian membuka kacamata hitamnya. “Dari Talia.”
“Oh, pantas saja dia menolak untuk membawa mobil
hari ini. Ternyata kamu jemput.”
Adrian mengalihkan pandangan dari tunanganya ke arah
laki-laki tampan yang kini mendekat. Mereka saling
72
pandang dan Adrian bisa merasakan permusuhan dari binar
mata laki-laki itu.
“Siapa dia, MJ?”
Melva tertawa lirih. “Luke, kenalkan ini Adrian dan
Adrian, ini Luke.”
Meski sudah dikenalkan, keduanya tetap berdiri tanpa
senyum, apalagi berjabat tangan.
“Nggak usah jemput MJ. Aku yang akan mengantarnya
pulang,” ucap Luke.
Adrian mengangkat sebelah alis, mengalihkan
pandangan pada Melva. “Kamu nggak bilang sama dia
sudah bertunangan?”
Melva menggigit bibir dan menggeleng. “Belum.”
“Kenapa?”
“Ya, belum menemukan waktu yang cocok.”
“Kalau begitu, sekarang bilang sama dia.”
“Eh.”
“Apa?” tanya Luke kebingungan. “Bilang apa sama aku,
MJ?”
Melva menghela napas panjang, menatap Adrian yang
berdiri menjulang dengan wajah tidak senang. Ia merasa
terjebak pada dua laki-laki yang bersikap kekanak
kanakkan. Tidak ingin memperpanjang masalah, ia berucap
lembut pada Luke.
“Kenalkan, Luke. Ini Adrian, tunanganku.”
73
Luke melongo. “Apa! Tunangan kamu?”
Melva mengangguk lemah. “Iya, tunanganku.”
“Kami akan menikah bulan depan. Karena itu, aku yang
paling berhak menjemputnya. Ayo, MJ.”
Adrian meraih lengan Melva dan membawanya masuk
ke jok belakang. Talia yang sedari tadi terdiam, masuk ke jok
depan dan duduk bersebelahan dengan Vector. Mereka
meninggalkan tempat syuting diiringi tatapan kebingungan
milik Luke.
74
Bab 6
76
Melva menggeleng, meminta penata rambut untuk
mematikan hair dryer dan menajamkan pendengaran.
Terdengar teriakan dari luar dan ia memijat pelipis, merasa
pusing seketika. Ia tidak enak kalau para fans dan wartawan
akan mengganggu jalannya syuting.
Ratna yang melihat perubahan sikap Melva, bangkit dari
kursi. “Aku akan bicara dengan sutradara dan kru film,
meminta maaf adanya gangguan ini.”
Melva mengangguk. “Terima kasih, Kak.”
Bagi sebagian orang, rencana pernikahan Melva adalah
anugrah bagi mereka. Bagaimana tidak, wartawan yang
tidak bisa mewawancarai sang artis, berusaha mencari
sumber berita lain. Mereka mengejar seseorang yang
dianggap dekat dengan Melva. Dari mulai aktor
pendamping, bahkan kru film. Tidak banyak yang bisa
mereka katakan karena sang artis tidak pernah
memberitahukan apa pun, termasuk pada Neo, lawan
mainnya kali ini. Meski begitu, Neo terlihat menikmati
popularitas yang datang padanya karena Melva. Setelah
sebelumnya ramai berita kencan mereka, kini digantikan
dengan rencana pernikahan. Dia adalah orang yang paling
dicari setelah sang artis itu sendiri.
Di lokasi syuting, Neo berusaha untuk selalu mengajak
Melva bicara saat istirahat. Mengikuti ke mana pun gadis itu
pergi. Sangat berharap ada wartawan yang mengabadikan
kebersamaan mereka dan mewawancarainya.
Berbeda dengan Neo yang menikmati popularitas, Luke
yang selama ini memendam perasaan pada Melva, secara
77
terang-terangan menentang pernikahan itu. Dia bahkan
menelepon Melva dan mengungkapkan pendapat
pribadinya secara terang-terangan.
“Kamu masih muda, kenapa harus buru-buru menikah?”
“Nggak semuda itu, Luke. Aku sudah hampir 28 tahun.”
“Itu masih muda, masih banyak hal yang bisa diraih
dalam hidup. Kenapa harus menikah?”
“Luke, ini soal hidupku.”
“Hidupmu baik-baik saja, MJ. Kenapa harus mempersulit
diri?”
“Mempersulit bagaimana?”
“Dengan menikah, kehidupanmu akan terbatas. Kamu
pikir suamimu nanti akan menerima kalau kamu harus
berakting dengan laki-laki lain? Suamimu akan terima kalau
kamu melenggok di catwalk dengan pakaian sexy?
Suamimu akan terima kalau ada fans laki-laki yang setengah
mati mengejarmu dan akhirnya membuat kehidupan kalian
terganggu?”
Perkataan Luke membuat Melva terdiam. Menyadari
kebenaran dari kata-kata laki-laki itu, tapi keputusan untuk
menikah, tidak datang hanya dari dirinya. Ia yakin, Adrian
sudah memikirkan matang-matang tentang mereka.
“Luke, santai. Adrian itu seorang pebisnis andal. Dia
sudah biasa menghadapi tekanan, kalau dia bersedia
menikah denganku, dia pasti sudah memikirkan semuanya
masak-masak.”
78
Luke terdiam sesaat lalu bersuara dengan lebih lembut.
“MJ, mungkin kamu tahu hal ini tapi karena aku nggak
pernah ngomong, kamu pasti bertanya-tanya. Sebenarnya,
aku … menyukaimu. Lebih dari suka, cinta malah.”
Melva terdiam sesaat, menatap ponselnya. Istirahat
syuting yang biasa ia habiskan dengan menelepon
keluarganya tentang persiapan pernikahan, kini malah
menghadapi Luke yang sedang menyatakan perasaan
padanya. Sekarang ia tidak tahu harus merespon
bagaimana.
“MJ, kamu mendengarku?”
“Iya, Luke.”
“Bagaimana menurutmu?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Tentang kita. Maukah kamu menerimaku.”
Tersenyum lembut, Melva menguatkan dirinya. “Maaf,
Luke. Aku sudah membuat pilihan.”
Tidak enak rasanya harus menolak perasaan laki-laki
sebaik Luke, tapi Melva sudah menentukan pilihan. Ia tidak
mungkin mengingkari janji pada Adrian dan keluarganya
tentang pernikahan.
“Aku menyesal, MJ. Sangat menyesal, pernah
melepaskanmu dulu.”
Tidak ada yang perlu disesali. Hubungannya dengan Luke
sudah menjadi masa lalu. Mereka dulu pernah dekat, tapi
itu sudah lama berlalu. Melva bahkan sudah melupakannya.
79
Melva menerima kejutan di tempat syuting. Saat dua
mobil datang atas nama Adrian. Satu mobil adalah penyedia
berbagai ragam minuman dan mobil lain adalah makanan.
Saat seluruh kru film berebut mengambil makanan, seorang
laki-laki bertubuh tinggi menyeruak di antara
kemurumunan dan menghampiri Melva.
“Nona, Pak Adrian menunggu di luar.”
Melva mengenalinya sebagai asisten calon suaminya. Ia
mengangguk, berganti baju lalu memakai masker, topi, dan
kacamata hitam. Setelah berpamitan pada Talia dan Ratna,
ia keluar diiringi Vector dan dua penjaga. Mereka keluar
secara diam-diam dan berusaha tidak menarik perhatian
para fans dan wartawan yang menunggu di luar.
Masuk ke sebuah mobil mewah warna putih, Melva
melepas topi dan kacamata lalu tersenyum pada Adrian.
“Hai, sudah lama nunggu?”
Adrian tidak menjawab. Mengulurkan tangan untuk
melepas masker yang menutupi wajah Melva. “Kita harus
pergi ke suatu tempat.”
“Ke mana?”
“Melihat lokasi pernikahan. Kedua orang tua kita sudah
menunggu di sana.”
“Oh, nggak ada yang ngasih tahu aku.”
Adrian mengangkat sebelah alis. “Bukankah sekarang
aku memberitahumu.”
80
“Maksudku, harusnya dari kemarin-kemarin ngasih tahu.
Kalau jadwalku sibuk bagaimana?”
“Vector dan Talia yang akan mengurus.”
Informasi yang cukup membuat Melva tercengang.
“Jadi, kalian berhubungan dengan Talia? Kok, dia diam
saja?”
Adrian menatap Melva, meraih dagu wanita itu dan
menyentuh bibirnya dengan ujung jemari. “Karena kami
ingin kamu konsentrasi dengan pekerjaanmu. Detil-detil
kecil, biar kami yang mengurus.”
Mereka bertatapan. Bola mata Adrian yang jernih dan
tajam mampu membuat jantung Melva berdegup dengan
kencang. Tanpa sadar ia mengigit bibir bawah, setengah
berharap laki-laki itu akan menciumnya. Nyatanya,
keinginannya tidak terjadi karena Adrian melepaskan
pegangan di dagunya dan mereka melanjutkan perjalanan
dalam diam. Melva menarik napas panjang, tidak tahu
harus merasa lega atau kesal.
Tiba di hotel yang akan menjadi tempat acara, sudah ada
kedua orang tua yang menyambut mereka. Melva merasa
heran karena tidak biasanya para ayah ikut serta. Biasanya
hal-hal seperti ini wanita yang mengurus. Saat melihat
kedatangannya, Agnes mengedip riang dan menunjuk kursi
di sampingnya.
“Aku sudah melihat gosip tentangmu,” bisik Agnes saat
Melva duduk di sampingnya.
“Gosip yang mana?”
81
“Ada banyak bukan? Terutama soal Neo. Gila, kalian
pergi makan bersama dan nonton?”
Melva meringis. “Kamu suka sama Neo?”
Agnes mengangguk. “Lumayan, suaranya bagus saat
nyanyi. Entah bagaimana aktingnya.”
“Nggak buruk.”
“Yah, berarti lumayan doang. Nggak apa-apa, aku tetap
nonton karena ada kamu. Ngomong-ngomong ada adegan
ciuman?”
Kali ini Melva menggeleng. “Nggak ada.”
“Bagus, aku suka Neo tapi nggak rela kalau dia harus
cium kakak iparku.”
Mereka berpandangan lalu bertukar tawa. Adrian yang
duduk di samping Melva, mengangkat sebelah alis melihat
mereka, tapi tidak bertanya. Para orang tua sibuk berdiskusi
hingga beberapa penyelenggara pernikahan datang.
Mereka disebut wedding organizer. Orang-orang yang akan
membantu upacara pernikahan. Mereka menyampaikan
rangkaian acara, menghidangkan beragam menu untuk
dicoba dan dipilih. Sepanjang pembicaraan Melva lebih
banyak diam, membiarkan para orang tua yang
memutuskan.
“Nggak nyangka, ya, Jeng. Cita-cita kita mau besanan
akhirnya tercapai.” Laili tersenyum pada wanita di
sampingnya.
82
“Iya, Jeng. Padahal saya sudah menganggap itu nggak
akan terjadi.”
“Loh, kenapa?”
“Aduh, Jeng. Siapa juga yang berani untuk menanyakan
soal perjodohan pada keluarga miliarder seperti kalian.”
Laili mengibaskan tangan. “Justru kami yang takut,
karena MJ adalah artis terkenal. Banyak penggemarnya
tentu saja. Bagaimana kalau dia menolak perjodohan
dengan Adrian?”
Sepanjang acara, kedua calon pengantin lebih banyak
diam. Mereka mendengarkan dengan patuh perkataan para
orang tua dan tidak membantah sama sekali. Saat jadwal
gladi resik upacara pernikahan diberikan, baik Melva
maupun Adrian langsung setuju.
Pertemuan selesai satu jam kemudian dan Melva
kembali ke apartemen diantar oleh Adrian. Di mobil ia
menanyakan hal yang selama ini mengganggu pikirannya.
“Aku masih heran, bagaimana kedua orang tua kita
bertemu setelah sekian lama berpisah. Setahuku, mamaku
nggak pernah bergaul dengan kalangan atas seperti
mamamu.”
Adrian melirik calon istrinya. “Sepertinya saat nggak
sengaja ke mall atau butik.”
“Benarkah? Sungguh kebetulan yang aneh. Dulu mereka
pernah berjanji untuk menikahkan kita. Bertahun-tahun
berlalu mereka masih ingat. Anehnya, kita berdua juga
83
belum menikah. Coba bayangkan kalau sekarang kamu
sudah punya istri, atau aku punya pacar.”
“Kamu bukannya pernah pacaran?” tanya Adrian.
Melva mengangguk. “Yuup, dengan beberapa orang tapi
nggak lama, sih.”
“Nggak lama itu berapa lama?”
“Paling lama setahun.”
“Apakah Luke salah satunya?”
Melva tersenyum lebar. “Kok kamu tahu? Luke
sebenarnya pacarku paling lama, setahun lebih. Tapi, ego
kami memaksa untuk berpisah.”
Adrian tidak mengatakan apa pun, hingga kendaraan
masuk ke area apartemen. Kali ini ia ikut naik, sementara
Vector menunggu di mobil.
“Kenapa mendadak ingin ikut?”
“Aku mau lihat apartemenmu.”
“Tidak begitu luas, tapi nyaman.”
Talia kaget saat mendapati Adrian ikut naik. Ia buru-buru
menyingkir ke dapur untuk menyeduh kopi dan
membiarkan kedua calon pengantin berkeliling apartemen.
“Bagaimana? Kecil bukan?”
Adrian menggeleng. “Nggak, lumayan luas. Kamu benar,
suasananya memang enak.” Ia menatap hamparan taman
dan hutan kota yang terlihat dari jendela kaca. “Aku sudah
menyiapkan rumah untuk kita. Tapi, kalau kamu suka
84
tinggal di apartemen, kita bisa menggunakan salah satu
penthouse di hotel.”’
Melva menggeleng. “Nggak, tinggal di rumah bagus
juga.”
Mengalihkan pandangan pada wanita di depannya,
Adrian ragu-ragu sesaat sebelum bertanya serius. “Kamu
artis terkenal, kenapa ingin menikah denganku.”
Pertanyaan Adrian membuat kening Melva mengerut.
“Kamu seorang miliarder, kenapa mau menikahi artis?”
“Bakti orang tua,” jawab Adrian.
Melva tersenyum. “Aku pun sama. Aku masih ingat dulu,
saat papaku kena sakit parah dan perusahaan keluarga
kami bangkrut. Kalau bukan pertolongan dari keluarga
kalian, kami nggak akan bisa seperti sekarang. Orang tuaku
selalu mengingatkanku untuk balas budi pada orang yang
sudah baik menolong kita. Tidak peduli setelah bertahun
tahun berlalu, pertolongan kalian, tetap masih kami ingat.”
Adrian termenung, lalu mengangguk kecil. “Paham.”
Ia pamit pulang dan berkata pada Melva akan
menjemput untuk gladi resik upacara pernikahan. Melva
mengantarkan calon suaminya hingga ke pintu, berbalik
dan menatap kopi yang mendingin di meja. Adrian sama
sekali tidak menyentuhnya.
Waktu berlalu dengan cepat. Makin mendekati hari
pernikahan, makin banyak para fans dan wartawan yang
mencari Melva. Di antara fans ada yang mendukung
pernikahannya dan mengirim beragam hadiah ke kantor
85
manajer. Ada pula yang menolak dan menganggap kalau
Melva lebih cocok dengan Luke. Melva mengabaikannya.
Para wartawan memohon pada Ratna untuk diizinkan
wawancara tapi ditolak. Ratna mengatakan kalau Melva
tidak ingin bicara dengan siapa pun dan ingin menjalani
upacara pernikahan secara pribadi. Wartawan akan
mengalami nasib sial kalau coba-coba mendekati Adrian.
Karena laki-laki itu tidak segan untuk mengusir bahkan
dengan cara kasar.
Saat tiba waktu pernikahan, mereka hanya mengundang
kerabat dekat juga mitra bisnis Adrian. Melva sendiri selain
keluarganya juga mengundang beberapa teman yang ia
anggap akrab.
Para tamu berdecak kagum saat Melva melintasi
ruangan dalam genggaman sang papa. Gaun putih dengan
ekor menjuntai, membuatnya terlihat seperti bidadari.
Sementara Adrian menunggunya dalam balutan tuxedo
abu-abu.
“Aku harap, kamu tidak menyesali hari ini,” bisik Adrian
saat mereka bergandengan tangan di pelaminan.
“Menyesal kenapa?”
“Menikah tanpa cinta.”
Melva tersenyum. “Cinta bisa dipupuk, Tuan Adrian.
Seiring berjalannya waktu.” Dengan berani, ia mengecup
pipi suaminya dan tindakannya membuat Adrian kaget.
Laki-laki itu mengulurkan tangan padanya, mengangkat
dagu dan secara tak terduga menyarangkan ciuman. Bukan
86
hanya kecupan kecil berupa bibir bertemu bibir, melainkan
sebuah ciuman yang hangat. Melva tanpa sadar membuka
mulut dan membiarkan Adrian melumatnya. Mereka terus
saling mencium, tidak memedulikan suitan dari para tamu.
Saat ciuman berakhir, Melva merasa wajahnya
memanas. Di sampingnya, Adrian pun terlihat malu-malu.
Jari mereka bertautan dengan hati menghangat karena
sebuah ciuman.
87
Bab 7
91
Keesokan pagi, saat Melva bangun, Adrian sudah
berpakaian rapi dan duduk di kursi samping ranjang dengan
laptop terbuka. Ia mengerjap, menurunkan kaki dan
menatap laki-laki yang terlihat serius. Melva menghela
napas, dan menggelengkan kepala. Menyadari kalau
suaminya benar-benar gila kerja.
“Sudah bangun? Nyenyak tidurnya?” sapa Adrian.
Melva mengangguk, menyingkapkan selimut dan berdiri
sambil meregangkan tubuh. Tidak menyadari Adrian yang
menatapnya tak berkedip. Ia menghampiri laki-laki itu dan
mengecup pipinya.
“Selamat pagi, Sayangku. Suamiku,” ucapnya lembut.
Adrian tidak bereaksi. Matanya menatap dada Melva
yang membusung dan terpampang jelas di depannya
dengan puting yang tegak menantang. Istrinya masih tidak
menyadari posisinya sekarang saat bergerak makin dekat
untuk mengusap punggungnya.
“Hari ini kita mau ke mana?”
“Kamu mau ke mana?”
Melva menegakkan tubuh, meraih lengan Adrian dan
membiarkan melingkari pinggulnya. “Aku nggak nolak kalau
kita seharian di kamar. Sepertinya hotel menyediakan
jacuzzi. Bagaimana kalau kita berendam berdua?” Ia
mengedipkan mata.
Merasakan bagian celananya mengetat karena jarinya
bersentuhan dengan kulit halus Melva, Adrian berdehem.
“Sepertinya cuaca bagus, bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
92
Jawaban suaminya membuat Melva mencebik. “Siang
siang begini jalan-jalan? Mau ke mana?”
“Museum mungkin, lalu makan siang di restoran yang
terkenal di sini.”
Merasa kesal, Melva menegakkan tubuh dan berkacak
pinggang, menatap Adrian dengan frustrasi.
“Tuan Adrian Wangsa, kita sedang berbulan madu,
bukan study tour. Mana ada orang baru menikah ke
museum?”
Adrian terlihat kebingungan. “Kamu mau ke mana kalau
begitu? Kebun binatang?”
“Ya Tuhan, aku bukan anak TK.”
“Bagaimana kalau nonton?”
“Nggak, karena akan menimbulkan kegaduhan kalau
mereka melihatku.”
Tidak ada pilihan lain, dengan terpaksa Adrian
menyetujui usul istrinya. “Baiklah, kalau begitu kita nggak
usah ke mana mana. Kamu bisa berendam di jacuzzi, aku
akan menyelesaikan pekerjaanku.”
Hari itu, dilewati Melva dengan dongkol. Bagaimana
tidak, bayangan untuk mendapatkan bulan madu yang
romantis ternyata hanya harapan semu. Suaminya sama
sekali tidak tertarik untuk bercinta dengannya. Laki-laki itu
lebih memilih untuk mengurus semua pekerjaan dari pada
bercinta dengan istrinya di jacuzzi.
93
Sikap dingin Adrian membuat Melva bertanya-tanya,
apa yang salah dengan dirinya. Apakah ia tidak cukup sexy
untuk menarik perhatian sang suami? Apakah wajahnya
tidak cukup cantik untuk membuat Adrian tertarik? Melva
tidak mengerti.
Selama tiga hari berikutnya, mereka melalui bulan madu
di kamar hotel dengan Melva lebih banyak berdiam diri dan
tidur sementara Adrian bekerja tanpa henti. Sama sekali
tidak ada kemesraan layaknya suami istri.
Kembali dari bulan madu, Adrian langsung membawa
Melva ke rumah baru mereka. Wanita itu hanya ternganga
saat melihat besarnya rumah yang akan mereka tempati.
Terdiri dari tiga lantai dengan sepuluh kamar tidur,
termasuk kolam renang yang membentang di bagian
samping rumah, Melva merasa rumahnya terlalu besar
untuk ditinggali berdua. Rupanya, rumah ini hadiah
pernikahan dari orang tua laki-laki itu untuk mereka.
“MJ, kami sengaja memilih rumah besar dengan banyak
kamar. Dengan harapan, akan mendapatkan banyak cucu
dari kalian. Karena itu, kamu jangan KB dulu, ya? Buat anak
anak yang lucu dan banyak untuk kami.”
Perkataan mertua perempuannya, membuat Melva
menghela napas. Bagaimana ia bisa mengandung banyak
anak kalau suaminya sama sekali tidak tertarik untuk
menggaulinya. Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu
pada orang tua Adrian, Cukup, ia sendiri yang tahu. Laki-laki
itu tadi malam bahkan tidur di kamar lain dengan alasan
94
banyak pekerjaan. Jadi, tidak ada harapan untuk mereka
bersama.
“Ciee, yang baru bulan madu? Bagaimana rasanya?
Berapa ronde kalian?” Talia bertanya dengan maksud
menggoda dan Melva hanya menjawab dengan gelengan
kepala.
“Tolong rapikan barang-barangku di apartemen. Kamu
tahu alamat rumahku bukan?”
Talia mengangguk. “Vector sudah memberiku alamat.”
“Bagus, ada banyak kamar di rumah itu. Kalau kamu mau
tinggal bersamaku.”
“Nggak, terima kasih. Nggak mau ganggu pengantin
baru.”
Melva mengeluh dalam hati, seandainya Talia tahu yang
sesungguhnya, pasti tidak akan bicara begitu.
“Kak, aku nggak tahu kamu syuting hari ini. Aku pikir
besok.” Neo datang menghampiri.
Melva tersenyum kecil. “Sisa beberapa adegan
tambahan. Makin cepat selesai makin bagus.”
“Kenapa?”
“Jadwal lain menunggu tentu saja.” Talia yang
menjawab. “Setelah syuting selesai, ada banyak tawaran
pekerjaan yang menunggu.”
Neo tersenyum canggung, mengamati Melva yang
melangkah ke arah sutradara. Ia mengeluh dalam hati, saat
95
menyadari kalau ternyata wanita itu justru terlihat sangat
mempesona saat sudah menikah. Ia tahu kalau Melva
memang cantik, tapi hari ini entah kenapa sangat
menawan. Senyum wanita itu, mampu membuat
jantungnya berdetak lebih kencang.
“Kenapa semua terlihat sempurna, justru saat sudah
menjadi milik orang lain.”
Syuting berjalan dengan lancar. Hari ini pengambilan
adegan tidak banyak. Talia sibuk mengatur jadwalnya dari
mulai menyanyi sampai fashion show. Melva banjir tawaran
iklan saat sudah menikah.
“Kak Ratna memintamu melihat tawaran yang masuk
dan diskusikan sendiri dengannya.”
“Baiklah, letakkan di dalam tasku. Nanti aku lihat.”
Ponselnya berdering, suaminya menelepon.
“Halo.”
“Sudah selesai syuting?”
“Sudah, sedang ganti pakaian.”
“Apakah kamu membawa gaun?”
“Kenapa?”
“Ada jamuan makan malam dengan klien. Mendadak,
makanya tanya.”
“Aku harus ikut?”
“Iya.”
96
Menghela napas panjang, Melva memutar otak. “Jam
berapa pertemuannya? Bagaimana situasinya? Formal atau
informal?”
“Jam delapan malam, informal. Hanya minum minum di
lounge.”
“Oke, kasih alamat. Biar aku ke sana.”
“Jangan, Vector akan menjemputmu.”
Ternyata bukan sang asisten yang menjemput,
melainkan Adrian sendiri. Laki-laki itu mengernyit saat
melihat penampilan istrinya dalam balutan gaun merah
bermotif bunga tanpa lengan. Dengan satu tali melingkari
leher dan menampakkan punggungnya yang putih. Panjang
gaun mencapai dengkul, membuat Melva terlihat seperti
gadis belasan tahun.
“Cantik.”
Pujian Adrian membuat Melva tersenyum. “Terima
kasih, Suamiku. Tapi, dari dulu aku memang cantik.”
Tempat yang mereka tuju adalah lounge hotel bintang
lima. Saat tiba di sana, sudah ada beberapa orang
menunggu, termasuk seorang wanita yang
memperkenalkan diri bernama Filia. Wanita itu berambut
pirang madu dengan wajah menawan. Berumur di atas tiga
puluh tahun dengan postur tubuh tinggi aduhai.
Saat mereka tiba, tanpa sungkan Filia memeluk Adrian
dan hanya memberikan senyum kecil pada Melva. Seketika,
Melva merasakan aura permusuhan yang terang-terangan
ditujukan wanita itu padanya.
97
“Wah, ternyata istri Pak Adrian seorang artis terkenal.”
“Sama sekali nggak menyangka saya.”
“Saya kira akan menikah dengan seorang pebisnis juga.”
Adrian tertawa, memeluk pundak istrinya. “Saya juga
nggak menyangka, akan melabuhkan hati pada MJ.”
“MJ, artis yang hebat.”
Duduk di samping Adrian, Melva berusaha membuat
dirinya senyaman mungkin. Ia berusaha untuk mempelajari
dunia suaminya. Meski tidak mengerti tentang saham,
ataupun topik bisnis yang mereka bicarakan, ia cukup
senang bisa menemani suaminya.
Di antara semua partner bisnis Adrian, yang paling
membuat jengkel adalah Filia. Wanita itu secara terang
terangan berani menggoda suaminya. Bagaimana tidak,
dengan mudah jemarinya bergerilya untuk membelai
lengan Adrian atau sesekali mengusap punggung tangan.
“Bisakah kita bertukar tempat duduk?” bisik Melva coba
coba pada suaminya.
Adrian hanya mengangguk, bangkit dari kursi dan
membiarkan Melva menduduki tempatnya tanpa bertanya.
Wajah Filia yang semula duduk di samping Adrian, berubah
masam. Melva tidak memedulikannya.
Saat mereka sama-sama pamit ke toilet, Filia
menyudutkannya. Wanita itu menatap sinis ke arah Melva
yang sedang mencuci tangan.
98
“Apa kamu nggak tahu malu? Bersikap seenaknya di
depan banyak orang? Apakah kehidupan seorang artis
benar-benar separah itu?”
Melva mengeringkan tangan, lalu menatap Filia. “Parah
seperti apa maksudmu? Aku nggak sembarangan
menyentuh tubuh suami orang lain.”
Filia mendengkus. “Aku dan Adrian sudah lama
berteman. Kamu saja yang posesif sampai nggak tahu
malu.”
“Oh, jadi aku nggak tahu malu hanya karena ingin
melindungi suamiku? Baiklah, aku akan tunjukkan kalau
rasa maluku memang sudah nggak ada.”
Kembali ke lounge, Melva mendekati suaminya dan
berbisik. “Mau dansa?”
Adrian terlihat kebingungan. “Sekarang?”
“Iya, ayo!”
Berpamitan pada orang-orang di sekeliling meja, Melva
membawa suaminya ke arena dansa. Ia meletakkan tangan
Adrian di pinggulnya dan memeluk erat leher laki-laki itu.
“Aku nggak bisa dansa.”
“Nggak masalah, Sayang. Cukup bergerak saja, dan ingat
tanganmu jangan ke mana-mana.”
Adrian merasakan tangannya menyentuh pinggul Melva
yang padat. Tanpa sadar mengusapnya perlahan.
99
“Nah, bagus begitu. Kamu boleh meremasnya kalau
mau.”
“Hah?”
“Ayo, remas pinggulku dan biarkan aku menciummu.”
Melva mendekatkan bibirnya pada bibir Adrian, tanpa
malu-malu mencium lembut laki-laki itu. Ia membuka mulut
dan lidahnya membelai lidah sang suami. Bisa ia rasakan
tubuh Adrian menegang tapi ia tidak peduli. Ia makin
memperdalam ciuman saat tangan laki-laki itu meremas
pinggulnya dan mereka berpelukan dengan wajah
memanas dan bibir memerah.
Melepaskan bibirnya dari Adrian, Melva melihat Filia
berderap keluar. Tanpa sadar ia tersenyum kecil,
mempererat pelukan pada tubuh suaminya. Ia tahu, Filia
hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang
menginginkan Adrian. Namun, ia bukan wanita lemah dan
tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak seenaknya.
Melva adalah wanita cantik yang tangguh, tidak akan
membiarkan wanita lain menggoda suaminya.
“Ayo, kita berpamitan.”
Adrian mengakhiri dansa dan mengajak Melva kembali
ke meja untuk berpamitan. Mereka keluar tanpa diikuti
yang lain karena mereka masih ingin minum. Sementara
Adrian melajukan kendaraannya dalam kecepatan sedang,
Melva bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama musik dari
radio.
100
Tiba di rumah, ada dua pelayan yang menyambut
kedatangan mereka. Adrian mengusir keduanya dan
menarik tangan Melva menaiki tangga.
“Eh, tunggu. Kenapa langkahmu cepat sekali?” protes
Melva.
Adrian membuka pintu kamar, setelah menyalakan
lampu, menghimpit tubuh Melva ke dinding dan
menyarangkan ciuman yang panas. Tangannya bergerak
liar untuk membuka tali kecil di leher istrinya. Dengan suara
yang serak dan penuh damba, ia berucap. “Aku
menginginkanmu.”
101
Bab 8
103
kemerahan di sekujur tubuhnya. Ada jejak cumbuan Adrian
tertera jelas di sana.
Melangkah menuju lemari, ia membuka dan meraih
pakaian tidur. Menutup tubuhnya yang masih gemetar oleh
gairah, Melva menuju kamar mandi. Berharap dengan
guyuran air hangat, akan meredakan kebingungan yang
melandanya.
Menghela napas panjang, Melva menyandarkan
kepalanya pada dinding kamar mandi. Membiarkan air
mengguyurnya. Memikirkan Adrian membuatnya bingung.
Satu waktu laki-laki itu begitu hangat, tapi di lain waktu
seolah tidak tertarik padanya. Seperti tadi, mereka
bercumbu dengan penuh gairah dan mendadak Adrian
pergi meninggalkannya.
“Ada apa denganmu, Adrian?”
Suara Melva bergema di kamar mandi. Setelah merasa
cukup bersih, ia mengeringkan tubuh dan rambut.
Memoles wajah dengan krim malam. Ponselnya berdering,
Talia menelepon untuk jadwal esok pagi.
“Ada wawancara dengan sebuah stasiun televisi. Bukan
hanya wawancara tapi kamu juga tampil menyanyi. Itulah
kenapa Kak Ratna mengambil job ini.”
Melva terdiam, mendengarkan Talia mengatur jadwal
untuknya. Dari mulai jam latihan, dirias, dan sesi
wawancara.
Setelah Talia selesai menelepon, Melva terduduk di
ranjang. Mengamati kamarnya yang sangat besar dengan
104
perabotan mewah yang sepertinya impor dari luar negeri.
Ada walk in closet yang terdiri atas lemari putar dan lemari
gantung. Sepertinya, Adrian khusus mendesain untuknya.
Merebahkan diri di ranjang, Melva berharap Adrian
datang dan mereka bicara. Namun, hingga dua jam
kemudian saat dirinya sudah terlelap, sang suami tak
kunjung muncul di kamar. Keesokan harinya, saat bangun ia
mendapati Adrian sudah ke kantor. Terpekur sendiri di
ranjang, Melva berusaha untuk tidak menangisi hatinya
yang hampa.
**
Membolak-balikkan dokumen di tangan, Adrian
berusaha memfokuskan pikiran. Hari ini ada rapat yang
harus dihadiri dan beberapa pertemuan dengan orang
orang penting. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang
menggantung sebelum sibuk saat akhir tahun.
Semua hotelnya dalam kondisi delapan puluh persen
terisi. Meningkat sepuluh persen dari bulan lalu. Bahkan
saat ia mengumumkan pernikahan dengan Melva, sempat
mencapai seratus persen. Bisa jadi, mereka adalah orang
orang penggemar istrinya yang merasa perlu memberikan
dukungan untuk sang artis.
Mengingat tentang Melva membuat pikiran Adrian
melayang. Tanpa sadar menghela napas saat kejadian tadi
malam muncul dalam ingatannya. Ia memaki diri sendiri
karena terbuai oleh hangat tubuh Melva dan nyaris
bercinta, kalau saja tidak tersadar lebih cepat. Masih ia
105
ingat, raut wajah Melva yang kebingungan dan ia merasa
bersalah karenanya.
Harusnya, ia tidak memulai. Harusnya ia bisa menahan
diri. Bahkan sampai pagi, ia tidak dapat memicingkan mata
dan dihantui rasa bersalah sekaligus meredam gairahnya
yang mencul dengan tak tahu malu.
“Pak, hari ini Nona MJ ada wawancara di TV.”
Suara Vector memutus lamunan Adrian. “Aku sudah
setuju dengan wawancara itu.”
Vector mengangguk. “Iya, Pak. Hanya mau
mengingatkan, apa kita akan menjemputnya nanti malam?”
Adrian mengernyit. “Kenapa?”
Vector tidak dapat menyembunyikan rasa herannya
mendengar pertanyaan Adrian. “Bukankah harusnya
begitu, Pak? Suami menjemput istri?”
“Oh, kita lihat saja nanti. Nggak tahu mau berapa lama
pertemuan hari ini.”
Mereka berdiam diri hingga kendaraan mencapai pintu
kantor. Rapat digelar 15 menit dari kedatangan Adrian. Kali
ini, bahkan berjalan sangat menegangkan karena sang boss
seperti tidak puas dengan penjabaran para pegawai. Adrian
yang baru saja menikah dengan seorang artis terkenal, tidak
ada bedanya dengan yang dulu. Justru terlihat makin galak
dan kejam. Mereka menduga, jangan-jangan pernikahan
tidak membuat Adrian bahagia dan melampiaskan segala
amarah pada mereka. Itu hanya dugaan, tidak ada yang
berani bertanya soal kebenarannya.
106
“Pak, Nona Nikita akan datang ke kantor pukul enam.”
Adrian mengernyit. “Mau apa?”
“Dia bersama direktur PT. Harisma Jaya.”
“Kenapa Nikita bisa bersamanya?”
Victor menggeleng. “Itu yang saya kurang tahu.”
Diliputi rasa heran, Adrian setuju untuk menemui Nikita.
Sebagian niatnya karena ingin tahu apa hubungan antara
sang direktur dengan sepupu jauhnya itu. Setahunya,
mereka tidak dalam kerja sama apa pun.
Saat istirahat siang, Adrian menyalakan TV. Hal yang
sudah lama tidak ia lakukan. Ia mencari saluran yang akan
menayangkan wawancara istrinya, sayangnya tidak ada.
Merasa heran, ia mengirim pesan pada Melva dan
mendapati kalau ponsel sang istri tidak aktif. Menimbang
sesaat, akhirnya ia mengirim pesan pada Talia dan
mendapat jawaban dari sang asisten saat itu juga.
“MJ sedang latihan, Pak. Akan tampil nanti sore jam tiga.
Saat bekerja memang nggak pernah mengaktifkan ponsel.”
Cukup puas dengan jawaban Talia, ia mematikan TV dan
kembali fokus dengan pekerjaannya. Mengingatkan diri
sendiri saat waktu luang nanti menonton pertunjukan
istrinya. Sayangnya, pekerjaan yang banyak membuatnya
lupa. Hingga sore jam lima, ia sama sekali tidak ingat untuk
membuka saluran TV.
Pukul enam kurang sepuluh menit, Vector masuk dan
mengingatkan akan pertemuan selanjutnya. Adrian
107
mengangguk, mengikuti sang asisten menuju ruang tamu
dan mendapati Nikita sudah datang bersama dua laki-laki.
Salah satunya ia kenal.
“Selamat malam, Pak Adrian.”
Nikita bangkit dari kursi, tanpa sungkan menghampiri
Adrian dan mengelus lengan laki-laki itu. Saat hendak
mengecup pipi Adrian, dengan lembut laki-laki itu menolak
dan berbisik. “Nikita, ingat, aku sudah menikah!”
Nikita menarik bibirnya yang semula hendak mengecup
Adrian tapi tidak menjauh dengan buru-buru. Ia mengamati
Adrian dengan menaikkan sebelah alis.
“Apakah pernikahan membuatmu jadi kaku seperti ini?”
Adrian dengan perlahan melepaskan tangan Nikita dari
lengannya. Menatap para tamu yang sedang bicara dengan
Vector.
“Itu urusanku, Nikita. Sebaiknya kita selesaikan
pertemuan ini dengan baik.”
Menahan rasa kecewa, Nikita membalikkan tubuh dan
bergegas menghampiri dua tamu yang menunggu. Adrian
mengikuti langkahnya dan mereka segera terlibat dalam
pembicaraan soal bisnis.
Mereka membicarakan banyak hal penting hingga
berjam-jam lamanya. Berpindah tempat dari semula di
ruang tamu ke ruang makan demi menikmati hidangan
makan malam yang terlambat. Berbagai kemungkinan
dibahas hingga rencana untuk bekerja sama. Dari
108
pembicaraan itu Adrian tahu, kalau Nikita berhubungan
baik dengan sang direktur PT. Harisma Jaya.
“Kalau saya belum menikah, sudah pasti akan menikahi
Nikita.” Laki-laki berumur empat puluh tahun itu tertawa.
“Siapa yang tidak ingin punya istri yang cantik dan pintar
dalam berbisnis.”
Nikita yang menjadi pusat perhatian berusaha
menyimpan senyum. “Jangan begitu, Pak, Saya nanti GR.”
Para laki-laki tertawa dan Adrian hanya tersenyum kecil.
“Yang saya katakan benar, Nikita. Laki-laki yang
menikahimu akan sangat beruntung.”
“Semoga saya mendapatkannya, Pak.” Nikita diam-diam
melirik Adrian yang sedari tadi terdiam.
Direktur PT. Harisma Jaya yang dipanggil dengan
sebutan Pak Haris, tertawa lirih. “Tapi, Pak Adrian juga
sangat beruntung. Bagaimana tidak? Istrinya seorang artis
terkenal dan sangaaat cantik. Kapan-kapan, bolehkah saya
berkenalan dengan istri Anda?”
Pertanyaan sang direktur diberi anggukan oleh Adrian.
“Tentu saja, Pak Haris.”
Alur pembicaraan berubah cepat, dari bisnis ke Nikita,
lalu soal Melva. Semua mengakui kalau Melva adalah artis
besar yang banyak penggemarnya dengan reputasi yang
baik. Tidak banyak skandal yang menimpa wanita itu
terutama soal kencan dengan laki-laki. Secara terang
terangan mereka memuji keberuntungan Adrian, dan tidak
109
memperhatikan raut wajah Nikita yang makin lama makin
terlihat suram.
**
“Penampilan yang bagus. Wawancaranya juga keren.
Kamu menjawab dengan tepat tanpa berlebihan.”
Ratna menyambut Melva yang baru turun dari panggung
kecil. Menggiring sang artis menuju kamar ganti, di mana
sudah ada beberapa orang menunggu untuk membantunya
berganti baju.
“Aku nggak ada salah ngomong, kan?”
Ratna menggeleng. “Nggak, semua aman.”
Talia maju, menyodorkan ponsel pada Melva. “Tadi
suamimu mengirimiku pesan, bertanya jam berapa
acaramu. Mungkin mau menonton.”
Melva mendengkus, tidak percaya dengan apa yang
didengarnya. Bagaimana mungkin Adrian yang sangat sibuk
ingin menonton TV di siang bolong. Ia menyalakan ponsel,
menunggu sesaat ada sebuah pesan masuk. Dari suaminya
yang menanyakan jam wawancara. Ternyata benar, Adrian
ingin menonton. Melva tersenyum kecil. Secara berurutan
datang banyak pesan dari dua orang lain, Neo dan Luke.
Mereka menanyakan kabarnya dan ia menjawab seadanya.
“Mau makan apa?” tanya Talia saat mereka beriringan
meninggalkan studio TV.
“Jam berapa ini?” tanya Melva.
“Jam delapan. Kamu mau aku pesankan apa?”
110
Melva menggeleng. “Nggak usah, nanti cukup makan
telur rebus saja.”
Di kendaraan yang akan membawanya pulang, ia
menatap ponsel. Menunggu suaminya membalas pesan
yang ia kirimkan. Nyatanya, hingga sampai di rumah, Adrian
tidak juga memberi kabar.
Dua pelayan menyambut kedatangannya. Melva berdiri
di ruang tamu yang luas, mengamati rumah yang besar dan
megah. Kesepian menyergapnya seketika. Biasanya, saat
tinggal di apartemennya yang lebih kecil, ia tidak pernah
merasakan seperti ini.
“Nyonya, sudah makan malam? Ingin kami buatkan
sesuatu?”
Pertanyaan dari pelayan membuat Melva tersentak.
“Ah, belum makan. Bisa tolong rebuskan aku dada ayam?
Tanpa lemak dan tidak boleh lebih dari seratus gram.”
“Hanya direbus?”
“Iya, kasih sedikit garam. Sekalian kalau ada bayam atau
sayuran hijau, tolong rebus tapi jangan banyak-banyak.”
Malam itu, Melva makan sendirian di ruang makan yang
besar. Menyantap hidangan yang terasa hambar di mulut.
Ia menunggu hingga pukul sepuluh malam tapi Adrian sama
sekali tidak mengabarinya.
Memutuskan untuk berolah raga sebentar sebelum
mandi, Melva meminta pelayan untuk diantar ke ruang olah
raga yang berada di samping kolam renang. Ia terperangah,
melihat banyaknya alat-alat dan tersenyum untuk
111
menyalakan threadmill. Membawa ponsel dan menyalakan
lagu, ia bernyanyi sambil berlari, dan sebuah pesan
menghentikan musiknya.
“Kak, kamu di mana?”
Adik iparnya bertanya, Melva menjawab cepat. “Di
rumah, kenapa?”
“Hah, kamu nggak ikut makan malam?”
Melva mengernyit. “Di mana?”
“Nggak tahu di mana, tapi aku lihat status Kak Nikita, dia
bersama kakakku sedang makan malam. Kok bisa kamu
nggak ikut?”
Melva menghela napas, merasakan tusukan kekesalan
tapi berusaha untuk tetap tenang. “Aku ada pekerjaan hari
ini, baru juga selesai.”
“Oh, pantas. Ingat, Kak. Jangan biarkan Kak Nikita dekat
dekat suamimu. Ngomong-ngomong, mama ingin
mengajakmu makan siang. Kapan kamu bisa?”
Melva mengingat jadwalnya. Besok ia tidak ada kegiatan,
hanya foto endorsement yang bisa dilakukan saat sore.
“Besok bisa.”
“Oke, kami tunggu besok.”
Selesai berbalas pesan, Melva kembali melanjutkan olah
raganya. Tidak menyadari pintu yang membuka. Ia melirik
kaget pada laki-laki yang baru saja datang. Masih dengan
pakaian kerja yang lengkap, Adrian menyapanya.
112
“Rajin sekali kamu.”
Melva tidak menjawab, hanya tersenyum kecil.
Mematikan threadmill, ia meraih handuk dan membasuh
keringat di tubuh. “Aku mau naik, Kak. Aku tinggal, ya.”
“Aku juga mau ke atas.”
Adrian menjejeri langkahnya, Melva berjalan dengan
kaku. Saat jari mereka tanpa sengaja bersentuhan, ia
mengepalkan tangan. Rasa heran menyelimutinya saat
melihat Adrian ikut masuk ke kamarnya.
“Kak, kok ikut?”
Adrian mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Ini kamarku
juga.”
“Ta-tapi, kemarin malam?”
“Oh, aku tidur di sebelah. Tapi, yang sebenarnya ini
adalah kamar kita berdua.”
Melva dibuat tercengang saat Adrian seenaknya saja
membuka baju. Ia tidak dapat mengalihkan pandangan dari
tubuh Adrian yang kokoh dengan dada bidang. Sama sekali
tidak ada lemak di perut. Saat laki-laki itu mulai mencopot
celana panjang, ia menunduk.
“Aku mandi dulu.”
Mengangkat wajah, Melva mengamati tubuh Adrian dari
belakang. Laki-laki itu hanya memakai celana dalam dan
tubuh kokohnya terlihat secara jelas. Seketika Melva
merasa otaknya kosong.
113
114
Bab 9
115
“Eh, iya. Aku mau mandi.” Tanpa sadar Melva menghela
napas lega, saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi
dengan selembar handuk menutupi dari perut sampai ke
atas lutut. Ternyata, pikiranya yang kotor. Sengaja
menghindari untuk menyentuh tubuh suaminya, Melva
bergegas masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuh.
Pikirannya mengembara ke mana-mana selama mandi,
tentang tubuh kekar Adrian dan berharap saat keluar nanti
suaminya sudah memakai pakaian lengkap. Kalau tidak, ia
bisa gila karena kehilangan akal.
“Aku sudah sering melihat laki-laki tanpa penutup dada.
Bukan hanya melihat tapi juga bekerja bersama mereka dan
foto berdua. Tapi, kenapa sama Adrian aku malah deg
degan?”
Menggosok sabun pada seluruh tubuh, Melva
bergumam pada dinding yang basah. Mengetuk kepalanya
yang basah dan merasa gila karena bicara sendiri.
Masih dengan handuk menutupi kepala dan tubuhnya
yang basah, Melva keluar dari kamar mandi. Ia tertegun
saat melihat Adrian berbaring di ranjang dalam balutan
celana pendek tanpa atasan.
“Kita tidur seranjang?” tanyanya bingung.
Adrian mengangguk, merapikan letak kacamata yang
dipakai. “Tentu saja, MJ. Kita suami istri.”
Menghela napas tak percaya, Melva menuju meja rias.
Selain mengeringkan rambut, ia juga memakai produk
perawatan wajah. Dua puluh menit kemudian, ia
116
mengambil gaun tidur dan memakainya di dalam kamar
mandi.
Menyibakkan selimut, Melva berbaring di samping
Adrian yang sedang membaca laporan di tablet. Tidak habis
pikir dengan otak laki-laki itu yang bekerja tanpa kenal
lelah. Ia menatap langit-langit kamar yang terang.
“Sudah mau tidur? Nggak mau cerita bagaimana
wawancara hari ini?”
Melva menatap suaminya. “Wawancaranya bagus, host
nya tanya tanya soal pernikahan kita dan aku jawab
seadanya. Bagaimana kamu? Hari ini sibuk? Ada sesuatu
yang istimewa terjadi?”
Adrian menggeleng. “Nggak ada yang istimewa. Hanya
sibuk seperti biasa. Bertemu orang-orang dan rapat sampai
larut.”
“Nggak ketemu orang penting atau siapa begitu?”
“Nggak ada, hanya rekan bisnis.”
Dasar pembohong, gumam Melva dalam hati. Jelas-jelas
ada Nikita di sana dan Adrian mengatakan padanya tidak
ada orang lain selain rekan bisnis. Ia tidak habis pikir,
kenapa suaminya harus menyembunyikan pertemuannya
dengan Nikita. Padahal, ia berharap Adrian jujur. Dengan
begitu, ia bisa mempercayai laki-laki yang menjadi
suaminya itu. Nyatanya, Adrian memilih untuk berbohong
dan itu membuatnya kesal.
“Aku tidur dulu, nite.” Ia menarik selimut hingga ke dagu
dan mulai memejamkan mata.
117
“Aku juga mengantuk.”
Melva tidak berani membuka mata, tapi ia bisa
merasakan Adrian bergerak untuk mematikan lampu. Tak
lama, tubuhnya dilingkari lengan yang kokoh dan hangat.
“Nite, MJ.” Adrian berbisik lirih di telinganya, dan
membuat Melva terjaga untuk beberapa saat, sampai
akhirnya rasa lelah membuatnya tertidur pulas.
Ada yang salah, itu yang ada di pikiran Melva saat
jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan panas. Meski
begitu, ia tidak berhenti untuk menyentuh dan
menjalankan apa yang dibisikkan di telinganya.
“Yah, begitu, enak. Kocok perlahan, jangan keras-keras.”
Melva menggerakkan tangannya naik turun, jemarinya
membelai lembut, melingkari bagian tubuh yang menegang
itu. Ia menyentuh ujungnya dan merasakan pinggul Adrian
bergerak lebih dekat.
“Ah, tanganmu enak sekali?”
Melva tidak mengerti, apa yang enak dari jemarinya.
Yang ia lakukan hanya menggerakkannya naik turun,
membelai lembut dan menyentuh dengan ujung jari. Ia bisa
merasakan cairan membasahi telunjuknya.
Ia sendiri tidak dapat menahan desahan saat merasakan
puncak dadanya dicubit lembut. Ia melenguh saat jemari itu
kini berpindah ke area intim dan menyelusup masuk ke
celana dalamnya. Menyentuh area vitalnya dengan lembut.
“Aah.”
118
“Kamu hangat, sangat hangat.”
Jari jemari Adrian membelai lembut permukaan area
intimnya, tidak cukup hanya itu, juga membelai klitorisnya.
Ia mendambakan sesuatu yang lebih.
“Gerakan tanganmu, jangan diam.”
Ia melakukan apa yang dibisikkan suaminya. Tangannya
bergerak untuk menyentuh bagian tubuh Adrian yang
menegang sementara tangan laki-laki itu bergerak lembut
di area intimnya. Napas mereka terdengar keras di ruangan
yang sunyi dan Melva menjerit kecil saat satu jari Adrian
memasukinya.
“Apa, kenapa? Sakit?”
Melva membuka mata, mengangkat jarinya dari tubuh
Adrian dan menatap laki-laki itu setengah berbaring di
sampingnya. Rupanya, matahari sudah muncul dan
sinarnya menerangi kamar yang semula gelap. Melva
menatap bagian bawah tubuhnya yang setengah telanjang.
Bagaimana tidak, selimut membuka dengan baju tidurnya
tersingkap hingga ke dada. Tangan Adrian masih berada di
atas perutnya dan ia bergerak untuk menyingkirkannya.
Tanpa sengaja ia menyentuh sesuatu yang panas dan ia
melihat kejantanan Adrian yang menegang. Sama
sepertinya, laki-laki itu juga dalam keadaan setengah
telanjang.
“Kak, aku—”
Adrian menggeleng, meraih baju tidur Melva dan
merapikannya. Setelah itu, ia merapikan celananya sendiri.
119
“Maaf, sudah membuatmu ketakutan.”
Melva menggeleng cepat. “Bukan itu, hanya—”
“Sakit? Aku yang salah, terlalu memaksakan diri. Maaf.”
Melva sama sekali tidak mengerti kenapa Adrian harus
meminta maaf. Tidak ada yang bersalah dalam hal ini,
mereka sama-sama tidak sadar saat saling menyentuh.
Kenapa harus minta maaf? Ia tidak merasa sakit saat jemari
Adrian menyentuhnya. Ia hanya kaget dan berharap itu
dilakukan dengan lebih lembut.
“Aku harus bangun, olah raga. Kalau kamu masih
ngantuk, tidur saja lagi.”
Adrian bangkit dari ranjang, memakai kaos dan
meninggalkan Melva sendirian. Ia perlu bergerak dan olah
raga akan sangat membantunya. Tidak hentinya ia
mengutuk diri karena sudah sembarangan dalam bertindak.
Harusnya, ia bisa lebih menjaga jari agar tidak menyakiti
istrinya.
Mengangkat barbel, berlari di atas threadmill, nyatanya
tidak membuat pikiran Adrian tenang. Gairahnya tidak
kunjung padam dan saat teringat kembali akan sentuhan
Melva, kejantanannya menegang. Merasa frustrasi, ia
meninju samsak dan membiarkan tenaganya terkuras.
“Damn! Sial!”
Ia memaki, saat tanpa sengaja terantuk dan jari kakinya
membentur besi. Menyumpah tanpa henti, Adrian
terduduk di matras, menyesali diri karena terhanyut akan
pesona istrinya. Rasa sakit di jarinya tidak seberapa kalau
120
dibandingkan dengan rasa sakit di kejantanannya yang
menegang karena gairah yang tidak tersalurkan.
**
Mereka bertiga duduk mengelilingi meja bundar. Ada
bermacam-macam hidangan tertata di meja, semua terlihat
lezat dan menggiurkan, Melva menahan diri untuk tidak
mencicipi semuanya dan akhirnya membuatnya menyesal.
“Mama sudah menghitung semua kalori dari makanan
ini. Ada catatan dari koki. Kamu bisa makan tanpa kuatir.”
Laili berucap lembut pada menantunya.
Melva tersenyum. “Makasih, Ma.” Ia menyendok salad
dengan ikan salmon panggang, memutar garpu dan
menyendok perlahan.
“Jadi, bagaimana rasanya menjadi seorang nyonya?”
Agnes bertanya sambil mengedipkan mata.
Melva menatap mertua dan adik iparnya, menimbang
sesaat untuk menjawab. “Ehm, belum banyak tahu. Karena
masih baru dan kami masih saling mempelajari sifat masing
masing.”
Laili berpandangan dengan Agnes, lalu menyipit ke arah
Melva. “Kenapa? Kalian bukannya sudah saling kenal dari
dulu?”
“Memang, Ma. Tetap saja masih terasa seperti orang
lain.” Meletakkan garpu, Melva memandang mertuanya
dengan kuatir. Ia tidak tahu, apakah bicara jujur akan
membuat wanita itu kecewa.
121
“Ada apa, Kak? Kenapa wajahmu murung?” Agnes
menarik kursinya mendekat. “Apa kakakku melakukan
sesuatu yang buruk padamu?”
Melva menggeleng. “Nggak, dia baik. Sangat baik malah.
Adrian berencana membelikanku mobil baru sekaligus
menambah pengawal yang katanya untuk keselamatanku.”
Laili bertepuk tangan. “Sudah seharusnya itu. Adrian
sadar kalau istrinya artis terkenal, harus dijaga dengan
baik.”
Menggigit bibir bawah, Melva merasa senang dengan
perhatian dan ketulusan yang diberikan ibu mertua dan
adik iparnya. Sikap dan sifat mereka sama sekali tidak
berubah dari yang ia kenal saat kecil dulu. Masih sama
hangat dan baiknya, bahkan kini bertambah baik.
Membuatnya bertanya-tanya, kebaikan apa yang sudah ia
lakukan sampai Tuhan memberinya keluarga baru yang
begitu penuh kasih sayang.
“MJ, kenapa diam?”
“Nggak, Ma. Hanya memikirkan sesuatu. Adrian, aku
merasa dia belum sepenuhnya terbuka tentang kami.
Maksudku, itu.” Melva menghela napas panjang, menjeda
perkataannya. Kali ini mengarahkan pandangan pada
Agnes. “Seperti soal Nikita kemarin. Aku sudah
memancingnya untuk bertanya tentang wanita itu tapi
Adrian sama sekali tidak terbuka. Dia seolah ingin
menegaskan padaku, kalau apa yang terjadi di kantor bukan
urusanku.”
122
Merasa kuatir sekaligus prihatin, Laili menggenggam
tangan Melva dan meremas lembut. “Kamu jangan terlalu
kuatir soal Nikita. Tidak peduli bagaimana gigihnya dia
mengejar, Adrian tetap menganggapnya saudara. Hanya
itu.”
Melva tersenyum, merasa lebih tenang mendengar
perkataan mertuanya. “Aku tahu, Ma. Hanya saja, pikiranku
sedang berlebihan. Apalagi sikap Adrian sangat dingin
padaku.”
“Adrian dingin? Maksudmu di ranjang juga?”
Merasa malu tapi ingin mempunyai orang untuk diajak
bicara, Melva mengangguk lemah. “Sampai sekarang, kami
belum bercinta. Apa menurut kalian, aku nggak menarik?”
Laili tercengang, hingga mulutnya ternganga. Begitu
pula Agnes. Mereka sama sekali tidak menduga ada
pasangan pengantin baru yang enggan untuk bercinta.
“Kak, kamu cantik dan sexy. Semua orang di negara ini
mengakuinya. Aku rasa kakakku saja yang buta,” ucap
Agnes memberi dukungan.
Melva menggeleng. “Entahlah. Aku bahkan punya
pikiran kalau Adrian tertekan dengan penikahan paksa ini,
atau dia punya pacar. Karena itu, nggak ada minta
bersamaku.”
“Nggak mungkin,” sahut Laili cepat. “Adrian tidak
mungkin punya pacar dan soal pernikahan ini, jauh-jauh
hari dia sudah setuju. Kami nggak pernah memaksanya
untuk menerima. Kamu jangan berpikir berlebihan.”
123
“Iya, apa yang dikatakan Mama benar, Kak. Bisa
dipastikan kalau kakakku menikahimu dengan sukarela
tanpa paksaan.”
Melva menatap mertuanya dan Agnes bergantian.
“Kalau begitu kenapa dia bersikap dingin padaku?”
“Begini, aku punya teori,” ucap Laili. “Adrian, selama
hidupnya tidak pernah terlibat hubungan serius dengan
wanita mana pun. Bisa dikatakan dia itu cupu. Bisa jadi,
merasa grogi atau malu untuk memulai sebuah hubungan
hangat atau percintaan yang panas denganmu. Saranku, ini
kalau kamu mau, MJ. Aku nggak memaksa.”
Melva mengedip bingung. “Saran apa, Ma?”
Laili mengedipkan sebelah mata. “Kamu yang harus
merayunya. Goda dia sampai bertekuk lutut dan memohon
untuk bercinta denganmu. Aku yakin kamu bisa, anggap
saja ini peran baru di film. Bedanya, hasil nyata akan kamu
dapatkan, kalau kamu mengikuti saranku.”
Agnes mengacungkan dua ibu jarinya pada Melva. Gadis
itu menyetujui apa yang diucapkan sang mama. Melva
sendiri merasakan kalau saran itu cukup baik, hanya
bingung bagaimana menjalankannya. Apa yang harus ia
lakukan, sepertinya ia agak kesulitan dalam hal ini.
“Banyak-banyak menonton film semi porno. Tidak
menjijikkan untuk ditonton, dan beberapa film menyajikan
plot yang lumayan. Pelajari bagaimana para artis itu
menjual keindahan tubuhnya untuk memikat para laki-laki.
Dalam hal ini, targetmu adalah suamimu sendiri, MJ.
124
Tentukan targetmu, rayu dan goda Adrian sampai dia jatuh
ke pelukanmu.”
Sepulang dari rumah mertuanya, pikiran Melva
mengembara pada saran yang baru saja ia terima.
Sepertinya itu bukan saran yang buruk. Tidak ada salahnya
kalau ia yang berinisitif lebih dulu. Adrian bukan orang lain,
jadi tidak ada dasar ia merasa malu.
“Baru kali ini ada perawan menggoda laki-laki.” Melva
tidak dapat menahan gumamannya. Merasa ironis dengan
dirinya. Ia meminta sopir untuk mengantarnya ke sebuah
butik langganan. Memaki masker, topi, dan kacamata,
Melva mengelilingi butik untuk membeli beberapa setel
pakaian tidur yang sexy. Ia akan menjalankan rencananya
mulai hari ini, dan yakin kalau berusaha tidak ada yang tidak
mungkin.
Tiba di rumah, Talia sudah menunggu dengan dua orang
fotograper. Mereka melakukan pemotretan di samping
kolam dan Talia tidak dapat menyembunyikan rasa kagum
saat melihat betapa besar dan indah rumah Melva.
“Kalau mau keliling rumah, sehari kayaknya nggak
cukup,” ucap gadis itu.
Tiga jam kemudian, pemotretan berakhir. Setelah
mereka pergi, Melva bergegas ke kamar. Menyalakan TV
yang terhubung dengan internet dan mulai mencari film
yang disarankan oleh mertuanya.
“Rayuan istri kedua. Bercinta dengan tetangga.
Pembantu sexy.” Melva membaca judulnya satu per satu
125
dan bergidik ngeri. Akhirnya ia memilih film yang
menceritakan affair antara seorang guru les musik wanita
dan anak didiknya yang baru menginjak dewasa.
Sepanjang film, Melva dibuat ternganga oleh
pengambilan gambar yang close up saat adegan bercinta. Ia
seorang artis yang sudah beberapa kali berakting, tapi tidak
pernah melakukan adegan ranjang yang vulgar. Saat si
tokoh wanita duduk di meja dengan tokoh laki-laki
menciumi area vitalnya, Melva merasa tubuhnya memanas.
Ketukan di pintu membuatnya kaget. Ia buru-buru
mematikan TV dan menjawab dengan suara serak.
“Iya, masuk!”
Sosok Adrian muncul dari balik pintu. Laki-laki itu
menatap Melva dan mengernyit. “Kenapa wajahmu
memerah? Kamu sakit?” Ia mengulurkan tangan untuk
menyentuh dahi sang istri tapi Melva menepisnya.
“Aku nggak apa-apa, Kak. Mau ke kamar mandi.”
Melesat cepat menuju kamar mandi, Melva bersandar
pada pintu. Teringat kembali dengan adegan panas di film
yang baru saja ia lihat. Menyusun rencana dan
mengumpulkan keberanian, Melva bertekad akan
mempraktekkan apa yang ia lihat hari ini. Ia akan
melakukan saran dari mertuanya, untuk menggoda dan
memikat suaminya. Tidak perlu merasa malu, demi
keutuhan rumah tangga mereka.
126
“Ada seribu satu cara menggoda laki-laki, dan aku akan
menggunakan salah satunya untuk membuat Adrian
menginginkanku.”
127
Bab 10
128
“Sekarang bukan jamannya wanita menunggu. Kalau
memang diperlukan, kita harus inisiatif. Rayu suami atau
pasangan kita, taklukkan, kalau perlu kuasai tidak hanya
nafsu tapi juga pikirannya. Bagaimana cara menguasainya?
Sex, tentu saja. Puaskan para laki-laki di ranjang, dijamin
mereka tidak akan pernah bisa berpaling dari kita.”
Sebuah artikel yang ia baca dari majalah dewasa,
kembali terngiang di kepala saat ia sedang memoles bibir
dengan liptint merah muda. Ia mengerjap ke arah cermin
dan seketika merasa malu. Demi seorang Adrian, ia rela
membaca artikel, menonton film porno, bahkan meminta
saran dari mertua dan adik iparnya. Orang awam pasti tidak
menyangka kalau ia sepolos ini. Seorang artis yang terkenal
cantik dan sexy, nyatanya gemetar dan polos saat
berhadapan dengan laki-laki.
Mengusap kaca dengan tisu untuk menghilangkan setitik
kotoran di sana, Melva tersenyum kecil. “Harusnya, malam
ini dia tidak akan bisa menolak pesonaku.”
Ia berjengit saat pintu menceklak terbuka. Melva
merapikan jubah dan dan mengikat longgar talinya.
Membalikkan tubuh untuk melihat suaminya yang baru
keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh dan rambut
setengah basah. Ada handuk yang melingkar di pinggulnya.
Tanpa sadar ia menelan ludah, meski sudah pernah melihat
pemandangan ini sebelumnya, tetap saja merasa kalau
Adrian begitu sexy dan menggairahkan. Melva merintih
dalam hati, karena pikirannya yang vulgar.
129
“Mau aku bantu keringin rambut?” Ia menawarkan
bantuan.
Adrian mengangguk, duduk di kursi depan kaca dan
membiarkan Melva mengeringkan rambutnya.
“Aku lupa kalau rambutmu ternyata begitu tebal. Aku
hanya ingat, rambutmu hitam berkilau.”
Adrian mengangkat sebelah alis, menatap istrinya dari
kaca. “Hitam berkilau?”
Melva tersenyum. “Mungkin kamu nggak tahu, tapi saat
kecil dulu aku sering memperhatikan kamu dari balik
jendela kalau kamu sedang menyiangi rumput di halaman,
membantu mama menyiram bunga, atau juga sedang
melakukan sesuatu seperti mengotak-atik sepeda.
Rambutmu kena cahaya matahari terlihat hitam dan
berkilau.” Ia menjeda ucapan, kali ini mengeringkan rambut
bagian samping. “Lalu, tanpa sadar aku memegang
rambutku sendiri, merasa kecewa karena rambutku tidak
sehitam kamu, justru cenderung kecokelatan.”
“Bukannya para wanita suka mewarnai rambut mereka?
Kamu juga nggak hitam sekarang.”
“Memang, tapi waktu aku kecil ingin rambutku sehitam
kamu. Coba kalau waktu itu aku pegang kepalamu seperti
sekarang dan melihat kalau rambutmu sangat tebal, pasti
rasa iriku akan bertambah berkali-kali lipat.”
Adrian meraih tangan Melva yang bebas dan
menggenggamnya. Mereka berpandangan melalui kaca.
“Aneh mendengar kamu iri hanya karena rambut.”
130
Melva tersenyum malu. “Memang, aku pun merasa
aneh.”
“Tapi kamu nggak iri dengan tubuhku saat itu?”
Menggelengkan kepala Melva tertawa lirih. “Tentu saja,
nggak. Kalau aku segemuk kamu dulu, nggak bakalan bisa
jadi artis. Ups, maaf.” Ia menutup mulut dan terkikik.
Adrian mengangguk, menyadari kebenaran kata-kata
istrinya. Ia yang dulu bertubuh gemuk dengan wajah bulat.
Dengan kulit yang putih dan kacamata, penampilannya
memang terlihat biasa saja. Saat itu, setiap orang
menganggapnya kutu buku yang hanya tahu belajar. Ia
ingat, tidak banyak mempunyai teman di sekolah untuk
diajak bermain. Kecuali tentu saja, para teman laki-lakinya
datang ke rumahnya bukan untuk menemui atau mengajak
bermain, melainkan mencari kesempatan bertemu Melva.
Sedari dulu, Melva sudah terkenal cantik dan menawan.
Tidak ada satu pun anak laki-laki yang tidak suka padanya.
Nyaris semua teman sekelasnya naksir Melva dan saat
mereka tahu kalau ia bertetangga dengan gadis itu, segala
cara digunakan untuk mendekat, termasuk berpura-pura
menjadi temannya. Ia masih mengingat masa itu, karena
menjadi bagian dari masa lalunya yang sangat
mengesalkan.
“Sudah kering.” Melva menyingkirkan pengering rambut
dan berdiri di belakang kursi yang diduduki suaminya. “Mau
pakai vitamin rambut?”
Adrian mengernyit. “Apa itu?”
131
“Sejenis minyak untuk membuat rambut sehat dan
berkilau. Tunggu, aku yang oles.”
Mengambil botol kecil, Melva menuang sedikit isinya ke
telapak tangan dan mengusap perlahan ke rambut.
Jemarinya memijat ringan kulit kepala Adrian. Saat melihat
laki-laki itu memejam, ia menggerakkan telunjuk dengan
lembut ke area tengkuk, melakukan gerakan memutar lalu
berlanjut ke bagian belakang telinga. Bukan benar-benar
menyentuh, hanya ujung jari yang menggores perlahan
permukaan kulit dan ia mengulum senyum saat melihat
bahu Adrian menegang.
“Kamu mau apa?” tanya laki-laki itu.
Melva menggeleng. “Nggak mau apa-apa, cuma
memijat. Kenapa, nggak suka?”
“Geli.”
“Oh, maaf.”
“Lanjutkan, aku tahan.”
Kali ini, tangan Melva menyusuri punggung Adrian dan ia
terkesiap saat lengan laki-laki itu meraih tubuhnya. Dengan
satu lengan melingkari pinggul, Adrian mendongak,
menatap Melva.
“Kita akan melakukannya secara adil.”
Melva mengerjap. “Maksudnya?”
“Kamu boleh menyentuh punggung atau pundakku, dan
aku akan menyentuhmu juga.”
132
Adrian menyentakkan tali jubah hingga terbuka. Melva
menahan napas saat mata laki-laki itu tertuju pada
tubuhnya yang berbalut lingerie mini. Tanpa kata, Adrian
menyelipkan lengan ke dalam jubah dan kini tangannya
yang besar dan hangat melingkari pinggul Melva.
“Kamu mau apa?” tanya Melva.
“Membelaimu, sama seperti yang kamu lakukan
sekarang.”
Keduanya bertatapan dengan intens dan sama-sama
menahan napas. Jemari Melva bergerak lembut untuk
membelai punggung, bahu, dan leher Adrian, sementara
tangan laki-laki itu mengusap perlahan pinggul, paha,
bahkan jemarinya menyelinap di antara tali.
“Ini nggak adil,” ucap Melva dengan napas berat, saat
jemari Adrian meraba pangkal pahanya.
“Kenapa?” Mulut Adrian berada dekat dengan dada
Melva yang menegang.
“Kamu merabaku dengan liar, dan aku hanya bisa pasrah
dengan punggungmu.”
“Kalau begitu, bagaimana kita ubah posisi.”
“Hah.”
Adrian bangkit dari kursi, mengangkat tubuh Melva dan
mendudukkannya di meja rias. Ia memosisikan diri tepat di
tengah sang istri. Tersenyum kecil lalu menunduk dan
melumat bibir Melva.
133
“Bagaimana rasanya?” bisik Adrian di sela-sela ciuman
mereka.
“Rasa apa?”
“Menyentuh pinggulku.”
Melva hampir menarik tangannya yang berada di pinggul
Adrian tapi laki-laki itu menahannya.
“Tetap di sana.”
Mereka meneruskan ciuman dengan tangan saling
membelai satu sama lain. Melva terengah, menahan hasrat
panas yang meluruh dari setiap sentuhan suaminya.
Tangannya sendiri bergerak liar untuk melepas handuk
Adrian dan laki-laki itu berdiri dengan hanya memakai
celana dalam hitam.
Semuanya terasa panas dan menggoda. Tangan saling
menyentuh, bibir bertaut diiringi desahan mendamba.
Melva tidak menolak saat Adrian membuka jubah dan
menciumi dadanya. Ia sudah bersiap untuk malam ini.
Ia tersentak saat tangan laki-laki itu menyelusup di
dalam bra dan meremasnya lembut. Melva membuka
kakinya lebar-lebar, membiarkan kejantanan Adrian yang
berbalut celana dalam menyentuh area intimnya. Rasanya
begitu pas, dan panas. Ia bisa merasakan tonjolan keras di
balik kain hitam dan melenguh saat Adrian mendesaknya.
Jubah luruh ke meja, Adrian menatap Melva dengan
bibir terbuka dan basah. Istrinya terlihat begitu sexy dan
menggoda untuk disantap. Kali ini, ia bergerak hati-hati,
jarinya menyelusup masuk ke dalam celana dalam mini
134
milik sang istri. Membelai lembut, bergerak perlahan dan ia
melihat mata Melva terbeliak.
“Sakit?” bisiknya.
Melva menggeleng. “Nggak.”
“Terus?”
“Ya.”
Jarinya bergerak makin dalam, tidak hanya membelai
tapi juga memberi sedikit penekanan di area yang halus dan
lembut itu. Desahan Melva terdengar keras dan sesekali
menggelinjang. Adrian sendiri tidak dapat menahan gairah.
Kejantanannya menegang dan siap untuk bercinta. Ia
menatap istrinya yang menggeliat dan gairahnya makin
tersulut. Mengangkat jemari dari area intim istrinya, ia
meraih kepala Melva dan menyarangkan ciuman panas, lalu
berbisik lembut.
“Cukup permainan malam ini. Besok kamu harus
syuting.”
Melva mengedip, gairah memudar dari dalam tubuhnya
saat mendengar ucapan Adrian. “Apa?”
Dengan lembut Adrian merapikan bra Melva.
Mengangkat tubuh wanita itu ke ranjang dan
membaringkannya. Meraih selimut dan menutupi tubuh
Melva yang telanjang.
“Tidurlah, sudah malam. Kamu pasti kelelahan.”
Lagi-lagi Melva dibuat bingung dan tak berdaya, saat
melihat suaminya perlahan tertidur di sampingnya. Ia
135
menepuk pipi untuk sekadar meyakinkan diri kalau semua
ini bukan mimpi atau khayalannya saja. Beberapa menit
yang lalu, mereka bercumbu dengan panas di meja rias.
Lalu sekarang, Adrian berbaring miring memunggunginya.
Ada apa dengannya? Apakah ada yang salah? Atau
memang Adrian yang tidak berminat? Berbagai pertanyaan
terlontar dari benak Melva. Menghela napas panjang, ia
menyingkapkan selimut. Melangkah ke kamar mandi untuk
buang air kecil dan mencuci muka. Mengganti pakaian
dalamnya yang mini dengan piyama dan berdiri di ujung
ranjang, mengamati suaminya yang terpejam. Entah
kenapa ia merasa begitu sengsara dan tidak diinginkan.
Adrian memberinya harapan lalu menghempaskannya
begitu saja. Kembali berbaring di sebelah Adrian, Melva
mencoba berbesar hati dengan mengatakan pada dirinya
sendiri kalau semua membutuhkan waktu. Termasuk
hubungan percintaannya dengan sang suami.
Memikirkan tentang rumah tangga, membuat Melva
nyaris tidak dapat memicingkan mata hingga pagi. Ia masih
terlelap saat Adrian berangkat kerja. Mereka melewatkan
pagi tanpa sarapan bersama.
Pukul sebelas Talia datang dan mengatakan jadwal hari
ini adalah lanjutan syuting film bersama Neo. Ada beberapa
scene yang diubah dan mengharuskan mereka syuting
ulang.
“Kata sutradara kamu menolak adegan ciuman?” tanya
Talia saat mereka sudah di kendaraan menuju lokasi
syuting.
136
Melva mengangguk. “Kesepakatan dari awal.”
“Kalau begitu, siapa yang menyebarkan rumor kalau
akan ada adegan ranjang?”
Kali ini Melva mengernyit. “Adegan ranjang? Siapa
dengan siapa?”
“Kamu dengan Neo.”
Melva menggeleng. “Itu mustahil. Film kami memang
romantis tapi jauh dari percintaan di ranjang. Isu dari mana
itu?”
“Entahlah, aku juga membaca di kolom gosip. Masuk
dalam trending media sosial hari ini.”
Melva tidak terlalu risau dengan gosip yang melibatkan
dirinya. Ia jelas tahu, dalam hal ini sutradara sudah setuju
kalau film yang sekarang sedang proses syuting, tidak akan
ada adegan kemesraan. Mereka akan menggunakan cara
lain untuk menunjukkan hubungan perasaan antara tokoh
yang ia perankan dan Neo.
Hari ini mereka berada di lokasi syuting yang lain. Kali ini
tidak ada keramaian wartawan atau fans yang datang.
Lokasi baru yang dirahasiakan demi kenyamanan bersama.
Turun dari mobil, Melva disambut Neo yang tersenyum
manis ke arahnya.
“Kakak, hari ini kita berlatih menari.”
“Menari?” tanya Melva bingung.
Neo mengangguk. “Menari pasangan. Bagian penting
dari adegan ke tiga puluh.”
137
Melva mengangguk, mengingat adegan itu dalam
skenario yang ia baca. “Ah, ya. Aku pikir hanya dansa biasa.”
“Bukan, sutradara menggantinya dengan tarian
pasangan. Kebetulan aku bisa sedikit menari.”
“Bagus, ajari aku kalau begitu!”
Hari itu syuting ditunda. Melva menggunakan waktunya
untuk berlatih tarian bersama Neo. Ia mengakui kalau
pemuda itu memang mahir menari. Selama satu harian
penuh ia dibuat kelelahan karena bergerak tanpa henti. Ia
sendiri pernah belajar beberapa jenis tarian, semua
dilakukan bukan hanya sebagai penunjang karir tapi juga
demi kesehatan dan menjaga daya tahan tubuh. Karena itu,
ia mampu mengimbangi gerakan Neo yang energik, meski
tidak sempurna.
“Kami akan syuting adegan lain yang tidak melibatkan
kalian berdua. Karena itu, gunakan waktu beberapa hari ini
untuk latihan menari. Kenapa ini penting? Karena menari
adalah titik balik dari hubungan kalian berdua di film ini.”
Perintah sang sutradara diberi anggukan setuju oleh
Melva, begitu pula Neo. Mereka memutuskan untuk
berlatih menari berdua.
Ingin tahu bagaimana perkembangan gerakannya,
Melva meminta Talia untuk merekam dengan ponsel saat
menari dan menontonya kembali untuk melihat adanya
kesalahan atau tidak.
“Gerakanmu makin hari makin luwes.”
138
Melva tersenyum. “Sepertinya dulu ikut kelas menari
ada gunannya.”
“Wah, aku jadi iri sama kamu karena bisa peluk dan
pegangan tangan sama Neo.”
“Apa, sih, kami professional.”
“Memang, tapi kamu nggak tahu kalau Neo itu sangat
terkenal. Di bidang akting dia orang baru tapi dia idol para
remaja dan dianggap sebagai salah satu penari terbaik.”
“Dia memang keren.”
“Memang, aku setuju.”
Melva dan Talia duduk berdampingan di sofa ruang tamu
dengan ponsel di tangan. Mereka melihat rekaman menari
Melva dan Neo dengan serius. Tidak menyadari Adrian yang
memasuki ruang tamu. Laki-laki itu mengangkat sebelah
alis, melihat istrinya serius dengan ponsel dan tidak
menyadari kedatangannya. Ia mendekat, berdiri di
belakang mereka dalam diam.
“Neo ganteng, ya?” ucap Talia.
“Lumayan.”
“Eh, lumayan gimana? Dibandingkan Luke memang
kalah ganteng, tapi Neo itu menarik.”
“Anak-anak,” jawab Melva tenang.
“Hah, anak-anak yang tariannya bisa bikin kamu gembira
bukan?”
“Hush, ngomong apa?”
139
Mereka berpandangan lalu tertawa, saat itulah Melva
menyadari ada seseorang yang berdiri di belakang sofa. Ia
menoleh dan menatap Adrian dengan senyum tersungging.
“Kak, sudah pulang?”
Adrian tidak menjawab. Wajahnya keruh saat kini
melihat dengan jelas video yang sedang diputar di ponsel.
Ia tidak dapat memalingkan mata dari Melva yang menari
dan tertawa bersama seorang pemuda tampan. Darahnya
mendidih dalam cemburu dan kesal yang meluap.
140
Bab 11
141
Adrian mengangguk. “Telur ceplok gosong.”
Melva mencebik. “Kenapa hanya ingat yang jelek-jelek,
sih? Sekarang kemampuan memasakku sudah meningkat
tajam. Bagaimana kalau kita makan nasi putih pakai telur
ceplok dan kecap?”
“Boleh juga.”
Para pelayan di rumah besar itu heboh, karena sang tuan
dan nyonya untuk pertama kalinya datang ke dapur dan
makan bersama. Selama mereka bekerja di rumah besar itu,
tidak sekali pun tuan rumah makan bersama. Itu karena
keduanya orang yang sangat sibuk. Yang membuat mereka
makin tidak percaya adalah, sang nyonya yang merupakan
artis besar memasak. Memang hanya telur ceplok, tetap
saja itu membuat mereka kuatir. Bagaimana kalau terciprat
minyak dan kulitnya yang putih mulus itu terluka? Namun,
tidak peduli bagaimana mereka meminta, Melva
bersikukuh untuk memasak sendiri.
Empat telur ceplok dihidangkan dengan nasi putih
hangat, ditambah sambal bawang yang khusus diulek oleh
Melva sendiri. Para pelayan menawarkan untuk membuat
hidangan dari daging yang mudah dimasak, tapi mereka
menolak.
“Kalian buatkan saja aku jus, tanpa gula.”
Keduanya makan dengan lauk seadanya. Hanya ada jus
tanpa gula dan sisanya nasi telur ceplok. Melva hanya
makan putih telur dan tanpa nasi, memberikan telur
kuningnya pada sang suami yang menerima tanpa protes.
142
“Aku jadi ingat masa kecil dulu, kalau orang tua kita
pergi, aku yang memasak untuk kamu dan Agnes.”
Adrian menyuap sesendok nasi, menatap istrinya yang
tersenyum. “Lebih sering masak mie instan.”
“Memang, karena hanya itu yang gampang dimasak.
Sesekali telur ceplok yang gosong, kalau nggak, ya,
keasinan.”
“Kamu mengakui kalau hasil masakanmu mengerikan?”
“Hei, saat itu kamu tetap makan.”
“Karena nggak ada yang lain.”
“Paling nggak Agnes menyukainya.”
Untuk kali ini Adrian tidak menyangkal. Adiknya saat itu
memang sangat dekat dengan Melva. Sering mengekor ke
mana pun Melva pergi. Kedekatan mereka membuat Agnes
menangis tiada henti selama berhari-hari saat keluarga
Melva memutuskan untuk pindah. Begitu pula dirinya.
“Sebenarnya ada satu yang mengusik pikiranku.”
Melva merapikan piring saat melihat suaminya sudah
selesai makan.
“Apa?”
“Keluarga kita terpisah sekian lama. Lalu, mendadak
kedua orang tua kita bertemu. Saat aku tanya mamaku,
bagaimana ketemu mamamu, dia hanya menjawab singkat
di butik. Mendadak, rencana pernikahan digelar dan kita
143
bahkan tidak ada kesempatan untuk bertemu dan
berdiskusi. Hebat sekali, kok bisa?”
Adrian mengangkat pundak. “Kita sudah pernah kenal.
Diskusi apa lagi. Kalau kamu mau menikah, ya, aku anggap
setuju.”
“Memang, tapi bertahun-tahun nggak ketemu. Kamu
nggak takut aku berubah jadi jahat atau gimana?”
Mengusap bibir istrinya dengan ujung telunjuk, Adrian
berucap serius. “Aku mengenalmu, MJ. Siapa yang nggak
kenal artis besar sepertimu.”
“Kamu nggak takut kalau secara nyata aku berbeda
dengan apa yang terlihat di layar?”
“Nggak, dan instingku benar.”
Mereka meninggalkan ruang makan dengan berbagai
pertanyaan masih terselip di benak Melva. Ada begitu
banyak ketidakpuasan dalam dirinya mendengar jawaban
Adrian. Namun, ia tidak ingin mendesak lebih lanjut.
Melva yang merasa malu karena ditolak terus menerus
saat ingin mengajak suaminya bercinta, akhirnya
memutuskan untuk memakai gaun tidur sopan yang
menutup dada dan lututnya. Latihan menari selama
seharian membuatnya kelelahan. Ia tertidur saat kepalanya
menyentuh bantal dengan Adrian masih berkutat dengan
ipad-nya.
Paginya, ia terbangun dengan tubuh bergelung dalam
pelukan suaminya. Tanpa sadar Melva tersenyum,
144
mengecup pipi sang suami dan menyingkapkan selimut. Ia
berniat olah raga sebelum beraktivitas.
“Mau ke mana?” tanya Adrian dengan suara serak.
“Lari pagi, mumpung udara masih segar.”
“Tunggu aku.”
Keduanya bangkit dari ranjang bersamaan. Karena tidak
ingin membuat resiko dikenali wajahnya oleh warga
komplek, Melva memutuskan untuk lari di halaman.
Sebenarnya tidak leluasa tapi sementara, ini yang terbaik.
“Di belakang masih ada tanah kosong. Kalau kamu
memang suka lari, aku akan membangunnya menjadi
lapangan.” Adrian bertanya pada istrinya.
Melva mengangguk. “Boleh juga, di halaman begini
kurang nyaman.
Udara pagi yang hangat, ditambah dengan
menggerakkan tubuh, membuat Melva berkeringat. Adrian
mengerjap, melihat titik-titik keringat membasahi tubuh
wanita itu. Pakaian olah raganya menempel dan
memperjelas lekuk tubuh. Dadanya membusung dan
menyembul di balik kaos yang dipakai. Hasratnya tergugah.
Saat istrinya berlari melewatinya, Adrian meraih lengan
wanita itu.
“Hei, apa-apaan ini?” teriak Melva kaget.
“Aku punya cara lain untuk membakar kalori lebih
cepat.”
145
Adrian membuktikan ucapannya. Ia setengah menyeret
istrinya ke bawah pohon palem yang rimbun dan
menciumnya. Ia tidak memberi kesempatan pada wanita
itu untuk menolak. Tangannya memeluk erat dengan jemari
mencengkeram erat pinggul Melva dan menggesekkan
pada kejantanannya yang menegang. Lidahnya membelai
mesra lidah sang istri dengan ciuman makin intens. Suara
napas mereka terdengar memburu di halaman yang sepi.
Tangannya menyelusup masuk ke dalam kaos Melva,
menangkup buah dada dan meremasnya lembut melalui
kain berenda yang menutupinya.
“Awas, nanti ada pelayan yang melihat.”
Melva terengah, berusaha melepaskan diri. Jemari
Adrian kini bermain-main di dadanya sementara mulut laki
laki itu berada di lekukan lehernya. Samar-samar terdengar
suara orang bercakap-cakap. Melva menduga itu adalah
para pelayan yang akan lewat. Ia menggeliat dari pelukan
sang suami dan mendorong tubuh laki-laki itu menjauh.
“Ckckck, Tuan Adrian. Ada apa denganmu?”
Ia bertanya dengan tatapan tak percaya. Suaminya selalu
begini, memulai cumbuan, membuatnya terlena, lalu
melemparkannya pada kenyataan saat gairah
menyelimutinya. Kali ini, ia tidak akan terjebak.
“Mau ke mana kamu?” Adrian mengikuti langkah
istrinya.
“Mandi, ke lokasi syuting.”
“Bagaimana kalau kita mandi bersama?”
146
Tawaran Adrian membuat Melva menghentikan
langkah. Ia membalikkan tubuh, menatap suaminya yang
terlihat tampan dengan wajah lembab karena keringat yang
tertimpa cahaya matahari pagi.
“Begini, jangan memulai sesuatu yang ingin cepat kamu
akhiri.”
Adrian mengedip. “Maksudmu?”
“Apa maksudku kamu pasti tahu, Kak. Kamu orang bisnis,
harusnya paham dengan penjelasanku. Mulai sekarang, kita
jaga jarak. Jangan mempermainkanku, oke?”
“Tapi—”
Setengah berlari Melva meninggalkan Adrian di tengah
halaman. Ia merasa hari ini sudah cukup dipermainkan.
Banyak pekerjaan yang harus ia lakukan dan tidak ingin
pikirannya terbebani karena sang suami.
**
Datang ke kantor dengan wajah tegang, Adrian
membuat para karyawannya ketakutan. Terlebih saat laki
laki itu memanggil para manajer bagian dan mengevaluasi
kinerja mereka. Di bawah tatapan dingin sang direktur, para
manajer itu mengeluarkan keringat dingin. Meski tanpa
kata-kata tapi sikap Adrian membuat nyali mereka menciut.
Evaluasi berjalan selama tiga jam, dilanjutkan dengan
peninjauan bagian keuangan. Rasanya gedung seperti
terbakar dan para karyawan seperti dalam pusaran hawa
panas. Tidak ada yang berani menyela, apalagi membantah
147
ucapan sang direktur. Karena sekali salah berkata,
berakibat fatal seperti pemecatan.
Vector menatap boss-nya dengan prihatin. Meski raut
wajahnya menunjukkan ketenangan tapi ia memperhatikan
apa yang terjadi. Karyawan yang gemetar ketakutan,
dengan sikap boss yang kaku seakan ingin menyingkirkan
orang dari hadapannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi
punya dugaan ada hubungannya dengan sang nyonya.
Dugaannya tidak salah, saat istirahat sore, ia mendapati
sang atasan memandang ponsel di mana ada video istrinya
sedang menari bersama laki-laki lain. Karena penasaran, ia
membuka ponselnya dan melihat tayangan video itu. Telah
ditonton satu juta kali selama kurun waktu 24 jam, Melva
terlihat begitu luwes menari. Bersamanya ada seorang
aktor muda yang menjadi lawan mainnya dalam film.
Setelah merasa cukup melihat, Vector menyimpan kembali
ponselnya sebelum sang atasan memergoki.
“Pak, mau makan siang? Dari tadi Anda belum makan,”
tanyanya hati-hati.
Adrian mengangkat wajah. “Aku sedang malas makan.
Bisakah kamu membelikan aku roti atau semacamnya?”
“Di bakery langganan?”
“Benar.”
Mengangguk kecil, Vector keluar dari ruangan. Ia
meminta sang sekretaris untuk menyiapkan cemilan yang
diminta sang boss sementara ia membuat ekspresso.
148
Satu gelas kopi dihidangkan dengan beberapa roti,
tersaji di meja. Adrian mematikan video yang telah ia
tonton puluhan kali. Meraih sebungkus roti, membuka
bungkusnya dan mulai mengunyah, ia meminta Vector
duduk.
“Menurutmu, berapa presentase cinlok para artis.”
Vector mengedip bingung. “Maksudnya bagaimana,
Pak?”
“Artis dan aktor yang sedang bermain bersama sering
kali terlibat cinta lokasi. Seberapa persen
kemungkinannya?”
“Ah, begitu.” Paham dengan apa yang ditanyakan oleh
Adrian, Vector berdehem sebelum menjawab. “Setahu
saya, Pak. Kalau mereka bekerja dengan professional,
kemungkinan untuk cinlok itu kecil.”
“Kenapa?”
“Karena, mereka hanya memikirkan pekerjaan bukan
perasaan.”
“Tidak ada yang tahu dengan isi hati orang. Bisa saja
berubah karena sering bersama.”
“Kalau begitu, Nona MJ harusnya sudah menikah
berkali-kali, atau pacaran putus nyambung dengan banyak
aktor. Buktinya tidak. Dari rumor yang saya dengar, dia
hanya terlibat hubungan cinta dengan satu aktor yaitu,
Luke. Selebihnya, hanya gosip.”
149
Adrian menandaskan kopi dan rotinya. Menatap Adrian
dengan heran. “Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak
tentang MJ?”
Tersenyum malu-malu, Vector menggaruk bagian
belakang kepalanya. “Karena dari dulu saya adalah fans
Nona MJ.”
“Vector ….”
“Iya, Pak.”
“Nyonya, MJ bukan lagi nona.”
“Oh, maaf.”
Bisa jadi karena sudah minum kopi atau makan roti,
suasana hati Adrian membaik setelahnya. Tidak ada lagi
wajah kaku dan tegang seperti tadi pagi. Meski begitu ia
tidak bisa mengabaikan fakta kalau video istrinya kini
memuncaki trending di media sosial. Ia menahan diri untuk
tidak mengamuk saat membaca komentar dari para
penonton. Banyak di antaranya memuji penampilan Melva,
tidak sedikit pula yang mengatakan kalau sang artis sangat
cocok bersanding dengan Neo meski umur mereka bertaut
cukup jauh.
“Dia tidak akan pernah menyukai laki-laki cantik dan
lembek seperti itu,” dengkus Adrian dan menutup layar
ponselnya.
**
Di lokasi syuting, Neo berteriak gembira saat melihat
video menarinya dengan Melva memucaki daftar trending.
150
Ia tidak hentinya berdecak kagum dengan wajah berseri
seri. Para staf dan sutradara film mengatakan kalau itu hal
yang bagus. Bisa menjadi promosi untuk film mereka.
“Aku bangga sekali, Kak. Kita trending.”
Neo menyodorkan ponsel pada Melva yang sedang
dirias wajah.
“Bukannya kamu sudah biasa trending?”
“Memang, tapi saat menyanyi. Ini beda, kita hanya
menari, loh. Benar-benar militan fans kamu.”
“Mungkin mereka penasaran padaku.”
“Kenapa?”
“Benar nggak bisa menari atau sekadar omong kosong.”
“Bagaimana mungkin? Semua orang bisa melihat kalau
kamu sangat mahir.”
“Ah, nggak semahir kamu.”
“Lebih mahir dari aku. Kamu bahkan jauh lebih hebat.”
Percakapan keduanya berakhir saat Talia datang dan
mengatakan pada Melva, mereka harus pergi. Ada
pekerjaan lain yang sudah menunggu. Hari ini, selain latihan
menari, mereka melakukan pengambilan gambar untuk
poster film. Lanjutan syuting akan dilakukan besok.
“Kita akan bertemu Luke di lokasi selanjutnya,” ucap
Ratna. Mobil melaju kencang di jalanan.
Melva mengangguk. “Bukankah seharusnya? Kami
sama-sama BA dari produk ini.”
151
Ratna menatap Melva tajam lalu menghela napas
panjang. “Kamu nggak ngerti juga?”
“Apa yang aku nggak ngerti?”
“Begini, karena kamu sedang dalam masa pengantin
baru, sepertinya kamu jadi melupakan sekitar. Sekarang
aku jelaskan. Luke masih mencintaimu.”
“Omong kosong. Kami sudah berpisah baik-baik.”
“Siapa yang menjamin dia nggak lagi menaruh hati
padamu?”
Melva mengernyit. “Sebenarnya kamu mau ngomong
apa, Kak?”
“Yang aku ingin katakan adalah, hati-hati terhadap Luke.
Tidak cukup dia cemburu dengan suamimu, kini video
menarimu dengan Neo sedang trending. Aku bisa menebak,
dia tidak akan setenang biasanya.”
Awalnya, Melva menduga kalau ketakutan Ratna tidak
beralasan. Namun, saat bertemu langsung dengan Luke dan
melihat bagaimana sikap dingin laki-laki itu padanya, Melva
menghela napas panjang. Ia berharap acara berjalan lancar
tanpa insiden apa pun.
“Apa kamu berniat mendiamkanku?”
Suara Luke terdengar berat di telinga Melva. Ia menoleh
dan tersenyum. “Kamu sepertinya sedang sibuk. Dari tadi
lihat hape.”
Luke menunjukkan ponselnya. “Kamu tahu apa yang aku
tonton?”
152
Melva menggeleng.
“Lihat, videomu yang sedang trending. Hebat sekali
kamu, MJ. Menikah trending, sekarang menari juga
trending. Keduanya dilakukan dengan laki-laki yang
berbeda.”
Perkataan Luke yang diucapkan dengan penuh kesinisan
membuat Melva terdiam. Ia tidak akan mencari masalah
sekarang.
“Luke, jaga sikap. Sebentar lagi acara mulai,” tegurnya.
“Oh, jadi aku yang harus menjaga sikap? Kamu nggak
perlu, MJ? Kenapa? Karena semua orang tahu kamu ratu
yang dipuja banyak laki-laki?”
“Omonganmu kekanak-kanakkan.”
“Aku penasaran, bagaimana sikap suamimu saat tahu
kalau istrinya dipuja banyak laki-laki? Apakah dia cemburu
atau tidak peduli?”
Melva enggan menjawab pertanyaan Luke. Laki-laki itu
sedang kesal padanya dan ia enggan menanggapi. Terlepas
bagaimana pun sikap Adrian padanya, ia tahu kalau sang
suami percaya padanya.
“Kenapa diam, MJ? Nggak bisa jawab?”
Wajah tampan Luke terlihat dingin, nyaris tanpa
senyum. Pandangan matanya tertuju sepenuhnya pada
Melva yang duduk melipat kaki. Ia tidak akan berhenti
sebelum mendapat jawaban dari wanita yang pernah dekat
153
dengannya, bahkan sampai sekarang masih menempati
ruang besar di hatinya.
Melva menoleh, bangkit dari sofa dan tersenyum manis
pada Luke. “Acara sebentar lagi dimulai. Ayo, siap-siap!”
Luke mendengkus dalam hati, menatap sosok Melva
yang menghilang di balik pintu. Sikap wanita itu yang
menolak untuk menjawab justru membuatnya yakin kalau
ada sesuatu dengan pernikahan Melva, dan ia akan mencari
tahu, apa itu.
154
Bab 12
155
“MJ, jangan marah. Mungkin Luke melakukannya demi
promosi produk.”
Talia mencoba menenangkan sang artis yang terlihat
kesal.
“Demi promosi katamu? Memangnya aku di sini demi
apa?” Melva meraih spon bedak dan menepuk-nepuk
ringan pipinya. “Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran
Luke. Dari sebelum acara dimulai, dia kelihatan marah sama
aku. Nggak cuma itu, juga cemburu membabi buta sama
Neo. Padahal, hubungan kami sudah berakhir beberapa
tahun lalu. Ada apa sama dia? Hah! Nggak ngerti aku!”
“Mungkin, dia belum bisa move on.”
“Terus? Salahku gitu? Dari awal kami sepakat untuk
berteman. Tapi, coba kamu pikir, ini yang ke berapa kali dia
berulah. Dia selalu cemburuan dengan lawan mainku. Awas
saja kalau sampai berani senggol Adrian. Bisa-bisa dibuat
melarat dia sama suamiku.”
Saat nama Adrian terlontar dari mulutnya, detik itu juga
Melva tersadar. Kalau sampai suaminya tahu apa yang
terjadi malam ini, entah bagaimana reaksinya. Ia menghela
napas panjang dan menunduk, memijat kepalanya yang
mendadak pusing. Sekian lama menjadi artis, ia tidak
pernah sebingung ini. Dulu, saat belum menikah, apa pun
yang terjadi, ia tidak peduli. Mau seperti apa gosip dan
rumor yang menimpanya, ia bisa menahan. Tapi, sekarang
ia sudah menikah dan ada perasaan Adrian yang harus
dipertimbangkan.
156
“MJ, kamu nggak apa-apa?”
Melva menggeleng. “Pusing sedikit. Kamu sudah
bereskan barang-barang? Kalau sudah, kita pulang. Aku
nggak mau di sini lebih lama.”
“Itu, ada pesta kecil-kecilan di lantai atas. Mereka
memintamu datang.”
“Aku nggak bisa. Biar Kak Ratna yang mengurus.
Kepalaku sakit.”
Mereka keluar dari gedung dengan diam-diam. Melva
bahkan tidak ada niat untuk berpamitan dengan Luke. Ia
tidak membalas pesan dan menolak panggilan dari laki-laki
itu. Sudah cukup apa yang terjadi malam ini dan ia tidak
ingin terlibat lebih jauh dengan Luke. Memang sudah
saatnya untuk saling menjauh. Ia tahu, Luke tidak akan
pernah menganggapnya sebagai sahabat sampai kapan
pun.
Sampai di rumah, suaminya sudah pulang. Laki-laki itu
tersenyum menyambutnya. Melva akhirnya menyadari
sesuatu, meski mereka berstatus suami istri tapi jarang
sekali Adrian menanyakan kabarnya saat siang. Tidak
pernah ingin tahu apa yang ia lakukan, layaknya suami istri
yang lain. Menghela napas panjang, Melva tahu kalau
dirinya juga tidak perhatian dengan Adrian.
“Tumben pulang cepat?” Ia mencopot sepatu dan
meringis karena betisnya sakit.
“Nggak ada rapat hari ini. Kamu cantik, bajumu juga
bagus.” Adrian mengamati istrinya dalam balutan gaun
157
hitam dengan taburan batu kristal yang pas membalut
tubuh Melva.
“Oh, ini gaun sponsor. Besok harus dikembalikan. Aduh,
aku lelah sekali.”
“Sini, duduk. Biar aku pijat!”
“Jangan, kamu sendiri lelah pasti.”
“Nggak begitu lelah. Masih bisa kalau cuma pijat kamu.”
Melva tidak menolak, duduk di sebelah sang suami dan
membiarkan Adrian mengangkat kaki dan meletakkan di
pangkuan. Ia bersandar pada lengan sofa sementara Adrian
mengangkat gaunnya hingga mencapai lutut dan mulai
memijat lembut dari paha, betis, hingga mata kaki. Rasanya
begitu menyenangkan. Melva memejam, menikmati pijatan
lembut di kakinya.
“Wah, Pak Direktur, ternyata bisa merangkap sebagai
tukang pijit.”
“Enak?”
“Ehm, sangat.”
“Aku bisa memijatmu setiap hari kalau mau.”
“Tawaran yang menggoda, sayang sekali itu nggak
mungkin.”
“Kenapa?”
“Yah, karena kamu sibuk.”
158
Adrian tidak menjawab, jemarinya bergerak lincah untuk
membuat istrinya nyaman. Sesekali ia meraba permukaan
gaun yang lembut dan cukup menyukainya.
“Lusa ada pesta kantor. Kamu harus datang
menemaniku dan gaun ini bagus, kamu mau memakainya?”
Melva menggeleng. “Nggak mau, karena akan banjir
kritikan kalau aku memakai gaun yang sama dua kali.
Biarpun itu pesta perusahaan, tetap saja akan ada
wartawan. Kalau kamu suka aku memakai gaun seperti ini,
aku akan menghubungi designer-nya. Kali aja ada yang
mirip.”
Adrian meraih ponselnya yang bergetar di meja. Ia
mengernyit lalu menerima. “Iya, Ma.” Detik berikutnya ia
terdiam saat terdengar rentetan ucapan dari seorang
wanita. Ia melirik Melva dan menyodorkan ponsel padanya.
“Mamamu mau bicara.”
Melva menerima ponsel dengan heran. “Hah, kok
teleponnya ke nomormu.” Ia mendekatkan ponsel ke
telinga. “Iya, Ma.”
Lengkingan kemarahan terdengar hingga mencapai
tempat duduk Adrian. Suara sang mama yang tinggi dan
penuh kemarahan membuat Melva menjebik.
“Kenapa telepon marah-marah, Ma?”
“Kamu masih tanya ada apa? Mama dan Papa dibuat
pusing oleh kamu. Apa kamu nggak malu sama suami dan
mertuamu, hah!”
“Maaa, kenapa?”
159
“Kenapaa? Coba pikir apa yang sudah kamu lakukan
beberapa hari ini, hah? Mama dulu nggak peduli kalau
kamu terkena skandal dan sekarang berbeda. Kamu punya
suami, bisa-bisanya mesra-mesraan dengan laki-laki lain!”
“Mana ada?”
“Lalu di youtube itu apa? Trending satu malah. Belum
lagi gosip yang baru saja keluar di medsos, kamu dan Luke
peluk-pelukan. Dia juga cium kamu!”
“Maa, dia yang cium pipi aku, tapi aku nggak, ya.”
“Nggak apa? Nggak nolak? Ingat, MJ, kamu sudah
punya suami. Sebaiknya Adrian tahu lebih dulu sebelum dia
melihat berita itu dari tempat lain.”
Menatap putus asa pada ponselnya, Melva menghela
napas panjang. Ia menoleh ke arah Adrian yang masih
memijat betisnya dan berucap sendu.
“Kak, aku minta maaf. Tapi, aku benar-benar nggak
sengaja.”
Adrian menghentikan gerakannya. “Ada apa?”
Melva mencari berita gosip dan saat menemukannya,
menyorongkan ponsel pada Adrian. “Ini, Luke yang
mengecupku. Harusnya, tidak ada hal begini. Entah dia
kesurupan atau lagi gila.”
Adrian mengamati foto di layar ponsel, di mana terlihat
Luke sedang memeluk dan mengecup pipi istrinya.
Perasaan jengkel menguasainya tapi ia berusaha menahan
diri.
160
“Nggak masalah, asalkan kamu jujur.”
Melva tersenyum lega. Ia meletakkan kaki di lantai dan
mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada bahu
Adrian. Semua yang terjadi hari ini membuatnya kesal tapi
pengertian Adrian membantunya mengurangi rasa marah.
Selama suaminya percaya dengannya, ia bisa menghadapi
semua masalah dengan baik.
Nyatanya, Melva memang artis besar yang semua
beritanya menjadi perhatian masyarakat. Sementara video
menarinya masih trending, foto-foto saat Luke mengecup
pipinya juga beredar luas di khalayak umum. Keesokan
harinya, para wartawan kembali mencarinya. Terjadi
spekulasi di kalangan masyarakat umum tentang apa yang
terjadi pada Melva. Banyak yang menghujat dengan
mengatakan kalau Melva tidak bersyukur sudah
mempunyai suami yang kaya raya, malah berselingkuh
dengan aktor-aktor muda. Meski ada beberapa yang
membelanya, itu pun nggak banyak. Jumlah yang
membenci jauh lebih banyak dari yang berpikiran positif.
Melva berusaha tidak mengindahkan semua gosip
tentang dirinya. Selama suami dan keluarganya tidak
pernah membencinya, ia akan baik-baik saja. Satu yang
mengganjal adalah keluarga Adrian. Ia merasa tidak enak
hati kalau sampai mertua dan adik iparnya terseret masalah
yang menimpa dirinya dan membuat mereka malu.
“Kak, apa nggak bisa kita minta bantuan orang buat
hapus foto-foto itu?” Melva bertanya putus asa pada Ratna,
saat melihat kerumunan wartawan di depan lokasi syuting.
161
Ratna menggeleng. “Nggak bisa, bukan kita yang
menyebarkan foto-foto itu.”
“Aku tahu, barangkali ada yang bisa.”
“Aku akan mencari tahu. Tapi, nggak janji bisa.”
Melva tahu, permintaannya sulit untuk dipenuhi. Foto
foto amatir yang beredar diambil saat jumpa penggemar. Ia
tidak tahu berapa banyak yang mengunggahnya di internet.
Akan sangat kesulitan kalau menghapus semuanya, ia
hanya bisa berharap semoga Ratna bisa membantunya.
**
Adrian sibuk, hari ini ada dua rapat yang harus ia hadiri.
Di sela-sela itu, ia masih harus memeriksa dokumen,
melakukan panggilan, dan banyak lagi. Sikap beberapa
kolega yang ia temui hari ini cukup membuatnya heran.
Bagaimana tidak, mereka menyebut-nyebut nama istrinya
dengan senyum terkulum dan ia tidak menyukainya.
Akhirnya ia tahu, apa penyebab dari kasak-kusuk orang
orang di sekitarnya. Berita tentang perlakuan mesra Luke
pada Melva menjadi trending di dunia maya dan orang
orang membicarakannya. Teringat akan raut wajah istrinya
yang terlihat sedih dan kesal tadi malam, ia merasa sudah
seharusnya melakukan sesuatu.
“Vector, aku ingin kamu mencari informasi tentang laki
laki ini.” Ia menunjuk foto Luke di layar laptopnya.
“Luke?”
162
“Iya, dia. Cari informasi baik yang besar maupun yang
kecil. Aku ingin kamu menggalinya sampai ke akar-akarnya.
Baik tentang masa lalu, latar belakang keluarga, dan orang
orang yang pernah berhubungan dengannya.”
“Baik, Pak. Akan saya lakukan.”
“Sebenarnya, aku sudah sedikit banyak tahu tentang
hubungan antara laki-laki lembek ini dengan istriku.”
“Benar, setahu saya kita sudah pernah menyelidikinya
dan saya rasa tidak akan banyak perbedaan.”
Adrian berpikir sesaat lalu mengangguk. “Kamu benar.
Kalau begitu batalkan. Tidak usah membuang waktu untuk
laki-laki seperti itu.”
“Baik, Pak. Ada perintah lain?”
Adrian menggeleng. “Pesankan aku perhiasan Cartier,
sepertinya ada gelang bagus aku lihat website mereka.
Jangan lupa, hubungi toko perhiasan langganan dan minta
mereka menyiapkan satu set perhiasan batu ruby. Aku ingin
memesan yang terbaik.”
“Baik, Pak.”
Adrian tahu kalau Melva juga punya uang. Wanita itu
bahkan tidak menyentuh uang yang ia berikan. Rekening
bersama yang mereka gunakan masih utuh dan dananya
tidak tersentuh. Selama menikah, Melva membiayai sendiri
hidupnya dan itu cukup membuatnya kesal. Ia bahkan
berpikir, kalau uang yang ia berikan terlalu sedikit dan
Melva tidak mengambilnya karena kurang. Untuk
163
membuktikan dugaannya, ia mencatat dalam hati untuk
bertanya pada istrinya.
**
Suasana di ruang makan ramai, tapi tidak gaduh. Meski
yang ada di sana adalah para wanita, tapi mereka tetap
bicara dengan sopan dan suara yang terkendali. Hidangan
melimpah ruah di meja, didampingi oleh anggur bercita
rasa tinggi. Sebulan sekali para wanita itu bertemu untuk
arisan sekaligus ajang silaturahmi. Hanya sedikit yang
berpikiran begitu karena kebanyakan datang justru untuk
bergosip. Terlebih, ada salah satu anggota yang sedang
dilanda gosip panas dan mereka tidak akan melewatkan
waktu untuk mencari tahu.
“Jeng, aku salut sama kamu.” Seorang wanita
berpotongan rambut pendek, bicara pada Laili.
“Menantumu seorang artis yang terlibat gosip di sana-sini,
tapi kamu sepertinya tidak masalah.”
Pertanyaan wanita itu membuat ruang makan menjadi
hening seketika. Seluruh pandangan kini tertuju pada Laili
yang sedang menyantap spaghetti. Wanita itu tersenyum,
dan mengangkat bahu.
“Sudah resiko jadi artis besar, ya, begitu. Semua tahu
kalau MJ memang cantik dan banyak yang memujanya. Aku
rasa, beberapa laki-laki yang terlibat satu proyek
dengannya, pasti ada yang naksir dan terbawa perasaan.”
“Kamu nggak kuatir sama anakmu?” Wanita itu bertanya
lagi.
164
Laili menggeleng. “Nggak, Adrian laki-laki dewasa yang
bisa mengatasi masalahnya sendiri. Kita sebagai orang tua,
tidak bisa ikut campur dengan urusan rumah tangga anak
anak kita.”
“Benar juga.”
“Memang seharusnya begitu.”
“Tapi, Tante. Bagaimana kalau gosip itu merusak citra
perusahaan?” Semua kepala menoleh ke arah datangnya
suara. Nikita melenggang masuk dan menebar senyum
pada semua orang. “Para relasi bisnis Adrian pasti tahu
kalau dia menikah dengan MJ. Coba bayangkan apa reaksi
mereka saat melihat berita?”
Masih dengan senyum di wajah, Laili menatap Nikita.
Tidak menolak saat gadis itu mengecup pipinya.
“Rasa kuatirmu terhadap Adrian sedikit berlebihan,
Nikita. Tapi, aku berterima kasih juga atas perhatianmu.
Perlu sekali lagi aku tekankan, Adrian pasti mengerti apa
yang harus dia lakukan.”
Nikita membuka serbet dan meletakkan di
pangkuannya. Ia mengambil satu sendok salad buah dan
mulai mencicipinya.
“Tante adalah mertua yang hebat. MJ beruntung bisa
mempunyai mertua sehebat Tante.”
Pujian Nikita membuat Laili berseri-seri. “Benarkah? Aku
juga berharap kalau MJ punya pemikiran yang sama
denganmu.”
165
Nikita mengernyit. “Kenapa, Tan? Apa dia mengatakan
sesuatu yang membuat Tante kecewa?”
“Oh, nggak. Justru sebaliknya. MJ membuatku merasa
sebagai mertua yang tidak dibutuhkan.”
Para wanita di sekililing meja yang tadinya saling
mengobrol, kini tertarik dengan percakapan antara Laili dan
Nikita. Urusan rumah tangga orang lain, selalu menjadi
gosip panas di antara mereka.
“Maksudnya bagaimana, Jeng?” tanya salah seorang di
antara mereka.
“Begini, sebagai mertua aku ingin memberikan hadiah
untuk menantuku. Tapi, MJ selalu menolak setiap kali aku
tanya. Apakah dia ingin mobil, perhiasan, atau pun rumah.
Jawabannya selalu sama, kalau dia sudah punya semuanya
dan berterima kasih karena kebaikanku. Coba kalian
pikirkan, apa kalian nggak sakit hati kalau menantu kalian
seperti MJ?”
Para wanita itu mengangguk, tapi ada juga yang
mengangkat bahu dan meringis sinis. Nikita bahkan ingin
membanting piring mendengar pujian Laili pada Melva. Ia
tidak mengerti apa yang dilihat sang tante dari Melva yang
menurutnya adalah artis murahan.
“Dengar-dengan MJ sedang syuting film romantis. Kalau
ada adegan ranjang, apa kalian nggak keberatan?”
Sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh mamanya
Nikita membuat Laili terdiam. Ia menatap wanita yang
memegang kipas dengan tajam. Sedari tadi terdiam,
166
mendadak bertanya tentang topik yang sensitif, Laili
menduga itu disengaja. Ia meraih gelas berisi air minum,
meneguk perlahan lalu mengelap mulutnya dengan tisu.
“Untuk apa kita semua di sini memikirkan tentang
anakku dan istrinya. Sebelum menikah, Adrian tahu siapa
itu MJ. Tidak ada alasan buat dia untuk curiga atau
cemburu. Pernikahan ini adalah pilihannya. Biar mereka
yang menjalani. Kita sebagai orang luar hanya bisa melihat,
dan ada baiknya tidak perlu banyak berkomentar!”
Perkataan Laili adalah teguran terselubung bagi mereka.
Meski diucapkan sambil tersenyum tapi mereka tahu kalau
Laili tidak senang rumah tangga anaknya dijadikan bahan
perbincangan. Laili adalah salah satu wanita berpengaruh
di kelompok mereka dan ada baiknya tidak membuatnya
marah.
Setelah teguran Laili, tidak ada lagi yang bicara soal
Melva dan Adrian. Nikita yang semula datang dengan niat
mempengaruhi Laili, akhirnya hanya diam sepanjang acara
berlangsung. Rencananya gagal kali ini, tapi dia tidak akan
menyerah dan akan tetap mencari jalan untuk membuat
Adrian menceraikan Melva.
167
Bab 13
169
Diucapkan dengan suara lembut dan wajah menunduk,
Adrian merasa kalau Melva seperti sedang menyalahkan
diri sendiri.
“Bukankah gosip bagian dari hidup para artis?”
“Memang, tapi nggak bagus kalau tentang orang ke
tiga.”
“Aku percaya padamu, MJ. Bukankah itu cukup?”
Kembali tersenyum, Melva mengusap lengan suaminya.
Ia berusaha menyingkirkan rasa kuatir karena apa yang
dikatakan Adrian benar. Asalkan sang suami percaya
padanya, ia tidak punya alasan untuk merasa kuatir. Gosip
itu, ia yakin akan cepat berakhir dan digantikan oleh gosip
yang lain.
Tiba di hotel, mereka disambut para petinggi
perusahaan dan digiring masuk ke ballroom. Melva
tersenyum saat melihat mertuanya dan Agnes sudah
menunggunya.
“Maa, maaf telat.” Ia mengecup pipi Laili, memeluk
Agnes dan mencium tangan sang mertua laki-laki.
“Acara belum mulai juga. Kamu cantik sekali, Sayang.
Gaun rancangan siapa?” Laili, bertanya dengan nada
bangga, menatap menantunya.
“Suamiku yang memesan. Seleranya memang bagus.”
Melva berucap dengan mata mengedip pada Adrian.
170
“Hah, tumben punya selera fashion. Perasaan warna
bajunya nggak lebih dari hitam dan abu-abu.” Agnes
menyela sambil memeletkan lidah pada kakaknya.
Adrian menyentil dahi sang adik, tidak mengindahkan
teriakan Agnes dan berkata tenang. “Kuliah yang baik, atau
aku pindahkan kamu ke luar negeri.”
“Nggak mau, wew!”
“Kami harus menyapa para tamu.” Adrian meraih tangan
sang istri dan menggandengnya berkeliling ruangan.
Dengan bangga ia memperkenalkan Melva sebagai istri
kepada seluruh kolega dan partner bisnisnya.
Melva tersenyum manis, menyapa semua orang yang
diperkenalkan padanya. Beberapa di antara maereka ia
sudah kenal karena pernah diundang untuk show.
“CEO kita yang dingin, akhirnya jatuh cinta dan menikah.
Memang tidak ada yang bisa menolak pesona seorang MJ.”
Berbagai pujian dilontarkan mereka pada Melva dan
membuatnya tidak enak hati. Melva tidak tahu apakah
mereka tulus atau tidak, ia tidak peduli yang penting
suaminya tersenyum.
Kembali ke meja, Melva kaget saat mendapati Nikita ada
di sana. Ia tidak menolak saat harus duduk berdampingan
dengan wanita itu sementara suaminya sibuk mondar
mandir. Untunglah ada Agnes dan Laili yang membuatnya
yakin, kalau wanita yang merupakan sepupu jauh suaminya
itu tidak akan membuat masalah. Namun, dugaannya salah.
Karena Nikita tetap berniat mengkonfrontasinya.
171
“Bagaimana rasanya? Duduk di kursi VVIP?” tanya Nikita
pelan, saat melihat Laili sedang berbincang dengan tamu
lain.
Melva mengangkat sebelah alis. “Maaf, kamu ngomong
sama aku?”
Nikita mendengkus. “Tentu saja. Kenapa? Kamu nggak
merasa bagian dari anggota VVIP? Oh, ya, juga. Nggak aneh.
Karena biasanya ada di panggung dan menghibur, lalu
mendadak sekarang jadi istri konglomerat. Bingung pasti.”
Menghela napas panjang, Melva mengingatkan diri
sendiri untuk tidak tersulut emosi. Sekarang adalah pesta
penting bagi suaminya dan ia tidak akan mempermalukan
diri maupun keluarganya di sini. Mengangkat garpu dan
menusuk cemilan berupa pastry dengan isian jamur truffel,
ia berucap lirih.
“Senang tentu saja. Menjadi istri Adrian itu hal hebat
yang terjadi dalam hidup.”
“Karena dia kaya tentu saja.”
“Ah, itu salah satu alasannya. Tapi, alasan yang lain
adalah karena kami pernah saling mengenal dulu. Jadi, tidak
asing satu sama lain.”
Nikita meraih gelas dan meneguk isinya. “Kalau bukan
karena perjodohan, kalian tidak akan menikah.”
“Memang, aku akui itu. Perjodohan juga yang akhirnya
membuat kami bahagia.”
“Bahagia? Kamu yakin Adrian bahagia?”
172
“Tentu saja.” Melva meneruskan makannya. Beberapa
kali dihampiri oleh para kolega Adrian, dan mereka
memintanya foto bersama.
“Bangga rasanya punya menantu artis. Semua orang
kenal dan meminta foto atau tanda tangan.” Laili memuji
Melva dengan bangga.
Sanjungan ibu mertunya membuat Melva tersipu-sipu.
Itu adalah hal paling indah yang pernah ia dengar selain
pujian dari orang tuanya dan Adrian. Ia kembali duduk saat
Vector datang dan mengusir secara halus orang-orang yang
masih terus berdatangan untuk berfoto dengannya. Melva
yakin Vector bertindak karena Adrian yang menyuruh.
“Tante, aku mendengar selentingan.” Nikita
mengarahkan pandangan pada Laili.
“Selentingan soal apa?”
“Pernikahan Adrian dan MJ. Apakah perjodohan itu
karena balas budi? Rasanya aku mendengar dari mamaku
kalau dulu, orang tua MJ bangkrut dan papanya masuk
rumah sakit karena bangkrut. Tante dan Om yang
membantu mereka hingga seperti sekarang. Pastinya
karena itu, MJ menerima perjodohan. Kalau nggak, pasti
dianggap anak yang nggak berbakti.”
Sendok Melva terhenti di udara. Ia terdiam, melirik ke
arah Nikita lalu pada mertuanya. Laili tersenyum manis,
sama sekali tidak terpengaruh dengan pertanyaan Nikita.
173
“Perjodohan itu, adalah kesepakatan kami dari dulu dan
MJ tahu itu. Kenapa kamu bahas utang budi segala? Omong
kosong.”
Nikita memiringkan wajah, menatap Melva lekat-lekat.
“Karena menurutku sangat aneh, seorang artis terkenal
yang bisa mendapatkan laki-laki mana pun dengan mudah,
malah menikah dengan laki-laki karena perjodohan. Kalau
bukan demi membayar utang budi, apa namanya. Benar
bukan, MJ?”
Melva terdiam, memandang tumpukan makanan yang
tidak tersentuh di depannya. Selain pandangan Nikita, ia
juga bisa merasakan kalau sang mertuanya juga menatap
ingin tahu. Sedangkan ia tidak tahu harus menjawab
bagaimana.
“Balas budi, perjodohan, atau apa pun itu, adalah urusan
kami. Bukan urusanmu, Nikita. Kenapa kamu tidak berhenti
mencampuri urusan kami?” Adrian datang, mengenyakkan
diri di samping Melva. “Maaf, meninggalkanmu sendiri.”
Melva menggeleng. “Nggak apa-apa.” Hatinya berdetak
tidak karuan mendengar pembelaan laki-laki itu. Apakah
Adrian memikirkan hal yang sama dengan apa yang
dikatakan Nikita?
“Oh, aku nggak ikut campur, Adrian. Hanya ingin
meluruskan masalah.” Nikita meneruskan ucapannya. “Juga
mengingatkan agar kalian hati-hati. MJ sedang banyak gosip
tidak sedap. Bayangkan kalau sampai wartawan tahu apa
motif pernikahan kalian. Tentu hujatan akan datang lebih
banyak lagi.”
174
Melva berdehem, mengelap bibirnya dengan tisu.
“Wartawan nggak akan tahu kalau nggak ada yang
ngomong. Lagi pula, yang duduk di meja ini semua keluarga.
Mereka tahu bagaimana hubunganku dengan Adrian,
kecuali kamu tentu saja. Jadi, kalau sampai wartawan tahu,
itu berarti kamu yang membocorkan!”
“Kamu menuduhku!” ucap Nikita sengit.
“Nggak, hanya berspekulasi.”
“Spekulasi yang nggak berdasar. Aku hanya ingin
memperingatkan demi kebaikan kalian.”
“Sudah-sudah, kita semua keluarga. Untuk apa
berdebat.” Laili menyela pertengkaran, menatap Nikita
tajam. “Nikita, saranku adalah jangan terlalu ikut campur
urusan rumah tangga mereka. Kalau aku jadi kamu, akan
berkeliling ruangan, menyapa para tamu dan melihat
barangkali menemukan jodoh di sini.”
Nikita terbeliak. “Tante! Bicara apa? Apa Tante pikir aku
genit seperti itu.”
“Oh, nggak. Nikita, kamu cantik, mandiri, dan hebat. Aku
hanya menyarankan demi kebahagiaanmu.”
Kekesalan Nikita karena diusir secara halus oleh Laili,
terlihat jelas dari wajahnya yang memerah. Meski begitu,
wanita itu tetap bertahan di kursinya dan menolak untuk
pergi. Melva tidak tahu apa yang dipikirkannya. Meraih
lengan suaminya dan menggenggam jemarinya erat, ia
berbisik mesra. “Sayang, mau dansa?”
Adrian mengedip sesaat lalu mengangguk. “Ayo!”
175
Mereka bergandengan menuju lantai dansa dan
menyibak kerumunan. Orang-orang menyingkir demi
melihat Melva berdansa dengan Adrian.
“Aku nggak bisa dansa. Tapi, bisa mengikuti irama
musik,” ucap Adrian di atas kepala Melva. Ia memeluk
tubuh istrinya erat dan mereka bergerak lembut secara
bersamaan.
“Ini sudah bagus, Tuan Adrian. Sama sekali nggak
nyangka kamu ternyata mahir ballroom dance.”
“Pernah belajar dulu.”
“Hebat sekali suamiku. Coba katakan satu hal saja yang
kamu nggak bisa.”
Adrian memutar tubuh istrinya dan kembali memeluk.
“Ada satu hal yang aku nggak bisa dan itu hal penting.”
Melva mengangkat sebelah alis. “Benarkah? Apa itu?”
Untuk sesaat Adrian ragu-ragu. Ia tidak tahu apakah
yang akan ia katakan pada Melva bisa diterima dengan baik
oleh wanita itu. Ini adalah rahasia terdalam dan memalukan
untuknya. Namun, ia ingin berkata jujur kali ini.
“Mendapatkanmu.”
Melva mengernyit, merasa salah mendengar. “Apa?
Coba ulangi?”
Adrian menatap tajam. “Mendapatkanmu, MJ. Gadis
paling cantik bukan hanya di sekoloah tapi juga di kota.
Terkenal di kalangan para pemuda. Semua orang
176
memujamu dan aku satu-satunya orang yang tidak pernah
mendapatkan perhatianmu.”
Melva tercengang hingga tidak mampu bicara. Ia
ternganga menatap suaminya sementara tubuhnya
bergerak diiringi suara musik. Arena dansa kembali ramai
setelah beberapa pasangan ikut berdansa bersama mereka.
“Apa kamu sedang mengungkit masa lalu?” tanya Melva
lembut. “Karena seingatku dulu, kamu yang bersikap dingin
padaku. Kita memang akrab, sering main bersama. Tapi
kebanyakan aku mengobrol dengan Agnes. Kamu sibuk
belajar atau pun mengotak-atik sepeda, motor, atau
permainan anak laki-laki. Aku sama sekali nggak sadar kalau
kamu ingin diperhatikan.”
Adrian tersenyum. “Itu karena aku nggak mau
membuatmu takut. Aku bahkan nggak berani bayangin
kalau sampai kamu tahu isi hatiku. Pasti saat itu kamu akan
menjauh dan hubungan kita berdua akan kaku.”
Melva menggeleng. “Aku nggak tahu. Saat itu yang aku
pikirkan adalah kamu teman dan juga kakakku.”
“Aku tahu, dan tidak memungkiri. Karena itu juga aku
heran kamu menerima perjodohan ini dan aku yang
memaksa. Padahal, orang tuaku menolong orang tuamu
karena mereka bersahabat. Sama sekali tidak ada utang
budi di antara kita.”
“Tunggu!” Melva menghentikan gerakannya. Menatap
suaminya tajam dengan pandangan bingung. Malam ini
Adrian mengatakan sesuatu yang akhirnya membuka teka
177
teki tentang sikap dingin laki-laki itu padanya. Namun, itu
hanya dugaan sementara dan ia akan memastikannya
sekarang. “Kamu berpikir aku menikahimu karena balas
budi?”’
Adrian mengernyit lalu mengangguk pelan.
“Oh, Tuhan. Atas dasar apa kamu berpikir begitu?
Karena sikap kita di masa lalu?”
“Bukan hanya itu, tapi juga karena statusmu.”
“Ah, kamu setuju dengan pendapat Nikita kalau begitu.
Aku, seorang artis terkenal mau menikah karena
perjodohan, padahal bisa saja aku menolak bukan?”
“Yah, sebagian begitu.”
Merasa gemas dengan sikap suaminya, Melva
merangkul leher Adrian. Ia menatap mata tajam pada wajah
tampan dengan rahang kokoh itu. Wajah yang selalu hadir
di dalam hati dan pikirannya dan ia merasa sedih karena si
pemilik wajah ternyata tidak menyadari itu.
“Kalau begitu, aku akan melakukan pengakuan
padamu.”
“Pengakuan?”
“Iya, pengakuan cinta. Dengarkan aku, Tuan Adrian
Wangsa. Aku tidak menolak perjodohan kita bukan hanya
soal balas budi, tapi karena aku merasa sudah pernah
mengenalmu. Hidup dalam ke-glamour-an dunia artis, di
mana setiap orang pasti punya niat tersembunyi, jarang
sekali aku menemukan ketulusan karena semua didasarkan
178
atas hubungan saling menguntungkan. Aku bahkan putus
harapan, kelak akan menemukan laki-laki baik dan tulus
untuk mendampingiku.”
Melva meraba pipi, bibir, dan rahang suaminya,
tersenyum penuh pemujaan dengan binar bahagia
terpancar di matanya.
“Bertahun-tahun kita berpisah, aku selalu mengingatmu.
Membayangkan kalau suatu saat kamu benar-benar datang
untuk mempersuntingku. Itulah kenapa, aku ikut senang
saat orang tua kita kembali bertemu dan melanjutkan
rencana perjodohan kita. Aku seperti menemukan orang
tulus yang selalu aku tunggu. Tidak peduli siapa kamu, apa
pekerjaanmu, dan bagaimana masa lalumu, kalau kita
menikah, aku yakin kamu akan menjagaku, Kak. Seperti
dulu, saat kamu menjagaku dan Agnes.”
“Benarkah?” tanya Adrian setelah terdiam cukup lama
karena tercengang dengan apa yang didengarnya.
Melva mengangguk. “Iya, dan kamu bisa tanya pada
mamaku apakah yang aku katakan benar atau nggak.
Mamaku selalu tahu berapa sering namamu muncul di sela
sela percakapan kami. Mama juga yang menolak dengan
keras hubunganku dengan Luke, salah satu alasannya
adalah dia tahu, siapa yang aku tunggu. Siapa yang ada di
hatiku.”
Dada Adrian bergemuruh dalam rasa yang tidak
dimengerti. Seolah ada ledakan besar di hati, membuat
tubuhnya terbakar dalam api yang membakar hasratnya.
Perasaan bahagia melandanya dan bukan sekadar kiasan,
179
tapi ia merasa sedang terbang sekarang. Meraih dagu
Melva, ia berbisik lirih.
“Aku ingin menciummu.”
Di bawah lampu sorot, di antara semua mata yang
memandang ingin tahu, Adrian mencium istrinya dengan
penuh kelembutan. Mencoba menyalurkan semua rasa
bahagia di dalam hati untuk wanita yang paling ia cintai
melalui ciuman yang seolah tidak pernah membuatnya
puas. Ia ingin lebih, sekarang saat ini. Ingin memiliki Melva
sepenuhnya. Meraih tubuh Melva, ia berbisik di telinga
wanita itu.
“Ayo, pulang.”
180
Bab 14
181
punggung wanita itu dengan salah satu tangannya
sementara bibirnya mengulum puncak dada sang istri.
“Aah.” Melva tidak kuasa menahan erangan.
“Kamu lembut, sangat lembut,” bisik Adrian.
Ia mengangkat mulut dari puting dada Melva, dengan
satu kali sentakan menggendongnya menuju ranjang dan
membaringkannya dengan lembut. Ia berdiri di samping
ranjang, untuk membuka jas dan celana panjang. Bergerak
ke dinding untuk menyalakan lampu. Ini adalah percintaan
pertama mereka dan akan menjadi kenangan hebat. Ia
tidak ingin melewatkan hal ini dalam keadaan gelap gulita.
Ia ingin memandang wajah sang istri saat bergairah, karena
itu adalah pemandangan paling indah untuknya.
Dengan hanya memakai kemeja dan celana dalam, ia
menindih tubuh sang istri dan kembali melumat bibirnya.
“Sebenarnya, aku ingin melakukan ini dari lama, MJ. Dari
awal kita bertemu di hotel dan kamu memakai baju yang
sexy itu. Rasanya ingin menyeretmu ke penthouse dan
mencumbumu seperti ini. Tapi, aku nggak mau
membuatmu takut dan aku menunggu.”
Melva terengah, saat bibir Adrian kembali bermain-main
di dadanya. “Aku juga mendambakan ini, setiap malam,
saat ki-kita bersama.”
“Benarkah?”
“Iya, karena aku nggak sabar ingin dimiliki olehmu.”
182
Adrian mengecup seluruh permukaan kulit istrinya. Ia
tidak peduli dengan hawa panas yang seolah melingkupi
tubuh mereka. Tangannya menanggalkan celana dalam
istrinya dengan cepat dan jemarinya bergerak untuk
menyentuh bagian paling sensitif itu.
“Kamu lembut,” bisiknya parau.
Melva tidak menjawab, mencengkeram lengan Adrian
dan salah satu jemarinya menyelusup masuk ke dalam
kemeja untuk mengelus punggung kokoh laki-laki itu. Ia
tidak menolak saat Adrian membuka pahanya lebih lebar
dan jari laki-laki itu bergerak liar di sana. Ia tersentak, saat
Adrian menggeser tubuh, memosisikan tepat di tengahnya
dan mulut laki-laki itu menggantikan jemarinya.
Kepala Melva tersentak ke belakang dengan napas
tersengal-sengal. Lidah dan bibir Adrian menyentuhnya
secara lembut, memberikan jilatan paling memabukkkan
dan membuat tubuhnya demam karena gairah. Tanpa
sadar ia berteriak saat ujung lidah Adrian menyentuh
klitorisnya. Seperti ada lahar panas yang keluar dari dalam
tubuhnya dan membuatnya banjir gairah.
Ia tidak pernah merasa seperti ini, bergairah tapi juga
menginginkan lebih dari sentuhan seorang laki-laki. Hanya
Adrian yang membuatnya menanggalkan rasa malu dan
berteriak penuh kenikmatan.
Tubuhnya basah oleh keringat, cairan lengket dan
hangat menyebar di vaginanya. Melva mengatur napas,
menatap Adrian yang sedang membuka kemeja dan celana
dalam. Ia melotot saat melihat bukti gairah Adrian
183
menegang. Benda itu seolah menunjukkan padanya,
betapa kokoh dan perkasanya dia. Tangan Melva terulur,
untuk menyentuh dan mengusap lembut ujungnya.
Adrian terengah, tangannya menyentuh dada dan
kewanitaan sang istri sementara Melva bermain-main
dengan kejantannya. Tidak tahan lagi, ia melumat bibir sang
istri, membuka pahanya lebih lebar dan memosisikan diri
agar lebih nyaman.
“Mungkin akan terasa sakit, kamu harus menahannya,”
bisiknya lembut.
Tubuh Melva menegang tapi ia tersenyum. “Nggak
masalah.”
Adrian tersenyum, mengecup bibir Melva dan mulai
menyatukan tubuh mereka. Awalnya sangat susah karena
kewanitaan Melva begitu ketat dan seolah menolaknya.
Tapi, ia sudah kehabisan kendali diri dan terus mendesak
hingga akhirnya berada di dalam tubuh wanita itu.
Melva menjerit kecil, Adrian mendekap kepalanya.
“Sakitkah? Maaf.”
“Nggak apa-apa. Ayo, gerak.”
Mereka mulai bergerak, dalam irama paling indah.
Hasrat panas bertemu dengan kelembutan, menyatukan
tidak hanya fisik tapi juga hati.
Melva terengah, bernapas pendek-pendek sementara
Adrian keluar masuk dari tubuhnya. Sesekali ia memekik,
diiringi dengan erangan panjang.
184
Adrian sendiri tidak dapat menahan hasrat. Hilang sudah
niatnya untuk lebih lembut pada sang istri. Rasa ingin
memiliki mencengkeram kuat dan membuatnya seperti
hilang akal.
“Kamu enak sekali, Sayang,” bisiknya dengan parau.
Melva tidak menjawab, tangannya merangkul leher
Adrian. Menyusuri punggungnya yang kokoh berkeringat
dan saat tubuhnya terisi oleh hasrat panas, ia menggigit
kuat bahu laki-laki itu. Semua begitu indah dan
membahagiakan. Saat Adrian mencapai puncak, laki-laki itu
menegang dan tak lama terkulai lemas di atas tubuhnya.
Hasrat mereda, digantikan oleh rasa halus dan penuh
kasih sayang di antara keduanya. Melva merasa sangat
bahagia, akhirnya bisa memiliki sang suami sepenuhnya.
185
Pengakuan sang suami membuat Melva melotot kaget.
“Apa?”
Adrian tersenyum, menyentuh lembut dahi sang istri
dan menyingkirkan anak rambut yang basah dari sana.
“Jangan kaget begitu. Bukannya kamu sudah tahu kalau aku
naksir kamu dari dulu.”
Melva meneguk ludah. “Memang, tapi naksir itu
perasaan anak-anak. Sekian waktu berlalu, dan bisa jadi
banyak hal mengubah perasaan.”
“Tapi, aku nggak. Karena meskipun berjauhan tapi aku
mengawasimu. Bagaimana aku bisa lupa kalau melihat
wajahmu di papan iklan, di televisi, di internet. Yang ada
bukannya lupa tapi malah semakin ingin bertemu. Aku juga
tahu kamu menjalin hubungan dengan Luke dan itu sempat
membuatku ingin menyerah.”
“Untung nggak.”
“Karena aku juga mendengar kalau Luke punya kekasih
lain selain kamu. Aku yakin hubungan kalian nggak akan
lama.”
“Benarkah? Dia berselingkuh?”
“Kamu nggak tahu?”
Melva menggeleng. “Nggak, kami putus karena hal lain.”
“MJ, kamu begitu polos sampai gampang ditipu laki-laki.
Untunglah kalian sudah putus, karena kalau tidak, aku akan
membunuhnya karena sudah menyakitimu.”
186
Diliputi perasaan senang karena energi cinta dari Adrian
untuknya, Melva memeluk erat laki-laki itu dan berbisik
lembut.
“Aku mencintaimu.”
Adrian tertawa lirih. “Ups, aku keduluan. Padahal aku
ingin jadi orang pertama yang mengucapkan cinta. Aku
mencintaimu, Istriku.”
Tidak pernting siapa yang pertama karena kini yang
utama adalah mereka saling mencinta dan memiliki satu
sama lain.
Rumah besar yang mereka tinggali terasa panas tapi
sekaligus penuh cinta. Panas karena aroma tubuh mereka
yang seolah tidak pernah puas satu sama lain. Mereka
menggunakan segala kesempatan dan waktu yang ada
untuk bercinta dan menjelajahi tubuh pasangan. Mereka
melakukannya di mana saja asalkan memungkinkan. Di
ranjang, kamar mandi, ruang kerja, perpustakaan, bahkan
Adrian pernah melakukan hal gila dengan memberi sex oral
istrinya di balkon. Apa yang dilakukan suaminya membuat
Melva sadar untuk tidak memberikan penilaian seseorang
berdasarkan penampilannya. Siapa sangka Adrian yang
begitu dingin, tegas, dan kaku, ternyata penuh imajinasi
nakal soal sex. Melva dibuat kewalahan olehnya.
Para pelayan juga bisa melihat perubahan kedua
majikannya. Kalau biasanya mereka berdua berbicara
sopan satu sama lain, berangkat kerja pagi buta dan pulang
tengah malam, sekarang berbeda. Mereka bisa melihat
kalau sang tuan dan nyonya, lebih sering menghabiskan
187
waktu di rumah, saling bercengkrama dan tertawa
bersama. Benar-benar terlihat seperti pasangan yang saling
mencintai.
Perubahan sikap Melva juga terlihat oleh Ratna dan
Talia. Mereka berdua tidak bertanya apa-apa, menyadari
kalau Melva sedang jatuh cinta.
“Melihat MJ tersenyum saat menelepon suaminya.
Tertawa karena suaminya mengirimi pesan mesra, aku jadi
pingin punya juga,” keluh Talia. Mereka duduk
bersebelahan dan ia melihat Melva tak hentinya berkirim
pesan dengan sang suami di sela break syuting.
“Pingin punya apa?” tanya Melva.
“Suamilah, apa lagi. Pasti menyenangkan bisa memeluk
dan dipeluk seorang laki-laki. Berbagi cerita dan
kehangatan sepulang kerja. Apalagi kalau suaminya kaya
raya macam suamimu. Sungguh aku iri!”
Talia menjerit saat merasakan dahinya dijitak. Ia
menoleh ke arah Ratna dan melotot. “Kenapa, sih, Kak?”
“Ngimpi terus di siang bolong. Dari pada kamu ngarepin
suami kayak Tuan Adrian, lebih masuk akal kalau kamu
naksir aktor atau penyanyi.”
Talia memeletkan lidah. “Wew, suka-suka aku. Namanya
juga ngayal dan itu nggak dilarang!”
Melva tersenyum melihat perdebatan manager dan
asistennya. Ia tidak memungkiri kalau sedang bahagia.
Setelah pernyataan cinta dari Adrian, kini hubungan
keduanya sangat hangat dan penuh gairah. Seolah
188
tubuhnya tidak pernah berhenti menginginkan Adrian dan
setiap saat ingin menyatu bersama laki-laki itu. Melva
merasa dirinya sangat mesum kalau menyangkut suaminya.
“Lihat bukan? MJ senyum-senyum sendiri. Orang jatuh
cinta memang aneh,” gumam Talia.
Melva mengangkat wajah dari layar ponsel dan menatap
Talia bergantian dengan Ratna. “Suamiku mengundang kita
mengunjungi kantornya. Apa kalian mau?”
Keduanya ternganga. “Benarkah? Kapan?” desak Talia
antusias.
“Hari ini kalau bisa. Bukannya sebentar lagi syuting
selesai? Kita bisa sekalian makan malam dengan suamiku.”
“Mauuu! Pasti nggak nolak. Ayo, kita pergi, Kak!” Talia
tidak dapat menahan rasa gembira. Ia melompat-lompat di
tempatnya, meraih lengan Ratna dan mengajak wanita itu
menari.
Hari ini pengambilan gambar terakhir. Setelah tiga bulan
lamanya syuting, akhirnya semua terselesaikan dengan
baik. Melva sendiri merasa puas dengan aktingnya dan
berharap perannya kali ini bisa diterima oleh masyarakat.
“Kak.”
Ia mendongak, menatap Neo. “Hai, ada apa?”
Neo menatap Melva, ragu-ragu sesaat. “Itu, aku diminta
untuk menyampaikan pesan dari kru. Hari ini syuting
terakhir, bisa nggak kalau setelah ini kita makan bersama?
Mereka ingin pergi bersamamu tapi takut meminta.”
189
Melva merasa dilema. Di satu sisi ia tidak tega dengan
para kru yang menginginkan makan malam perpisahan.
Bagaimana pun, selama beberapa bulan ini mereka sudah
banyak membantunya. Di sisi lain, ia juga tidak ingin
menolak ajakan suaminya. Menghela napas panjang, ia
menatap Ratna dan Talia, meminta pendapat mereka.
“Coba kamu kirim pesan ke suamimu dan jelaskan
situasinya,” saran Ratna.
Neo mengernyit, mengedarkan pandangan. “Maaf, apa
aku mengganggu sesuatu?”
Melva menggeleng. “Nggak, tapi aku udah ada janji
dengan suamiku.”
“Oh, begitu.”
“Tenang saja, barusan aku kirim pesan dan mengatakan
soal makan malam perpisahan. Suamiku bilang, akan
mentraktir kalian.”
Lokasi syuting meledak dalam kegembiraan, saat mereka
mendengar akan ditraktir makan oleh Melva. Tidak
tanggung-tanggung, Adrian memesan satu restoran khusus
hanya demi mereka. Sutradara dan kru yang berjumlah
hampir tiga puluh orang, ditambah dengan beberapa
karyawan, memenuhi restoran.
Restoran menyajikan prasmanan dan mereka bisa
makan sepuasnya dimulai dari hot pot hingga grill ala Korea.
Sayuran segar, sea food dan berbagai macam daging
tersedia bebas untuk dinikmati.
190
“Memang beda kalau menikah dengan orang kaya. Bisa
bebas menikmati makanan enak setiap saat.”
“Betul. Aku jadi iris ama MJ. Mau juga punya suami
kaya.”
“Eh, kamu laki-laki. Bisa-bisanya ngomong gitu.
Melva tertawa mendengar candaan mereka. Di
depannya Neo yang sedari tadi terdiam, terlihat menikmati
makanannya.
“Selamat malam.”
Sebuah suara yang dalam terdengar dari arah pintu.
Mereka serempak menoleh dan menatap dua laki-laki
tinggi serta tampan dalam balutan jas lengkap.
Melva bangkit dari kursi, menghampiri laki-laki berjas
abu-abu dan melemparkan dirinya dalam pelukan Adrian.
“Kamu datang, Sayang.”
Adrian mengusap wajah istrinya. “Tentu saja. Acara
penting bagi istriku, mana mungkin aku lewatkan.”
Semua terpesona oleh Adrian, saat Melva
memperkenalkan suaminya dengan bangga. Adrian
memang laki-laki idaman, tidak heran bisa bersanding
dengan Melva, sang bintang besar. Sudah kaya, tampan,
berwibawa, dan sikapnya terlihat sangat memuja sang istri.
Setiap wanita yang ada di restoran, tak terkecuai Talia dan
Ratna, berharap mendapatkan laki-laki dengan kepribadian
seperti Adrian.
191
“Ah, aku iri sama kamu,” desah Talia. Ia berdiri bersisihan
dengan Melva dan mengambil daging untuk dipanggang.
“Iri kenapa?” Melva menjepit irisan lidah sapi, iga, dan
meletakkan di piring.
“Punya suami yang bucin. Memang nggak dikatakan, tapi
Tuan Adrian bucin banget sama kamuuu.”
“Memang tanda-tanda bucin apaan?”
“Yah, kayak kalian ini.”
“Ada-ada saja kamu. Makanya bergaul, biar banyak
kenalan.”
Talia mengiringi Melva kembali ke kursi. Adrian
menyambut piring yang dibawa istrinya dan membiarkan
Melva memanggang untuknya.
“Panas?” bisik Adrian lembut.
“Nggak, kenapa?”
Adrian berdehem. “Wajahmu memerah dan
berkeringat. Aku jadi teringat sesuatu.”
Melva menoleh ke arah suaminya. “Ingat apa?”
“Saat kita selesai bercinta. Penampilanmu persis seperti
ini, basah dengan wajah memerah.”
Melva tertawa lirih, merasa tubuhnya memanas. Ia
melemparkan tatapan penuh peringatan pada suaminya
dan mulutnya mendesiskan ancaman. “Jaga diri, Tuan
Adrian. Ingat, ini di mana.”
192
Adrian tergelak, meraih pundak sang istri dan tanpa
malu melayangkan kecupan di pipi Melva. Kemesraan
mereka membuat iri banyak orang tidak terkecuali Neo.
Akhirnya ia menyadari, meski sudah berusaha keras untuk
mendapatkan perhatian Melva, tetap saja bukan dirinya
yang dicintai wanita itu. Pemujaan dirinya pada Melva, yang
dulu awalnya adalah antara senior dan junior, berkembang
menjadi rasa sayang dan kini harus berakhir karena wanita
itu mencintai laki-laki lain dan sudah bahagia. Ia menerima
kenyataan dengan lapang dada.
193
Bab 15
194
Agnes melambaikan tangan, menyeruput minumannya
dan menatap teman-temannya. “Kalian saja yang nonton,
aku mau pulang.”
“Hei, kapan lagi ada artis nyanyi di kampus kita.”
“Iya, nih. Terkenal loh.”
Agnes menahan dengkusannya. “Kalian lupa, kalau di
kampus kita banyak artis dan foto model? Kenapa Neo
nyanyi di sini jadi heboh?”
Gadis berambut kemerahan bertukar pandang dengan
teman di sampingnya. Mereka tidak mengerti dengan
pemikiran Agnes. Memang benar di kampus mereka ada
banyak artis dan tidak sedikit anak pejabat, tapi semua tidak
sama dengan seorang Neo yang sedang dalam puncak
popularitas.
“Agnes, Neo beda. Ayo, kita nonton.”
Agnes menggeleng. “Kalian saja. Aku pulang. Ada janji
sama kakak iparku.”
Meraih tas di meja, Agnes meninggalkan teman
temannya. Ia sudah cukup kesal melihat banyak orang
membicarakan tentang Neo, tidak perlu menambah
kekesalan dengan menonton konser penyanyi itu.
Sebenarnya, kekesalannya pada Neo bukan tanpa
alasan. Dulu, ia tidak terlalu memperhatikan pemuda itu,
tapi gara-gara bermain satu film dengan Melva,
membuatnya tertarik. Ia juga membaca banyak gosip
pemuda itu dengan kakak iparnya dan makin tidak suka saat
membaca pernyataan-pernyataan Neo di media tentang
195
hubungannya dengan Melva. Terlihat sekali kalau pemuda
itu seperti memanfaatkan ketenaran Melva yang baru
mnenikah, untuk dirinya sendiri. Banyak sekali pernyataan
yang menegaskan kebencian Agnes padanya. Ia bahkan
mendiskusikan masalah Neo dengan sang kakak dan
mendapati kalau Adrian cukup tenang menghadapinya.
“Dia hanya artis pendatang baru. Kakak iparmu sedang
di puncak popular, tentu saja ingin mendompleng.”
Adrian memintanya tidak usah terlalu ikut campur atau
memikirkannya secara berlebihan, mau tidak mau Agnes
menuruti permintaan kakaknya.
Tiba di samping mobilnya, ia baru saja hendak masuk
saat terdengar teguran dari mobil di sampingnya.
“Maaf, Kak. Hall kampus di sebelah mana, ya?”
Agnes menoleh, menatap wajah tampan dengan topi
menutupi rambut dan kacamata hitam. Di sampingnya ada
tiga orang dengan dua di antaranya perempuan. Agnes
mengenali pemuda itu dan berpikir sesaat. “Oh, kamu dari
sini lurus, belok ke kanan, nanti ketemu perpustakaan. Nah,
hall ada di depan perpustakaan persis.”
Pemuda itu tersenyum, menatap Agnes. “Terima kasih,
Kak. Kalau boleh tahu, kamu dari jurusan apa?”
Agnes mengernyit. “Kamu tanya hall, apa hubungannya
dengan aku.”
“Nggak, barangkali kita bisa berteman. Aku akan pindah
ke kampus ini.”
196
“Bukan urusanku!”
Keketusan suara Agnes mengejutkan orang-orang di
depannya. Mereka saling pandang dengan kesal dan Agnes
tidak peduli. Ia tidak ada hubungan dengan orang-orang ini
dan ingin menjauh secepatnya.
“Aku bertanya sopan, kenapa kamu galak sekali?”
Pemuda bertopi memandangnya kecewa.
Tanpa menjawab, Agnes masuk ke mobil. Menyalakan
mesin dan meninggalkan tempat parkir. Sepanjang jalan ia
tersenyum gembira, membayangkan seorang Neo tersasar
di kampusnya. Tentu akan menjadi buruan banyak
mahasiswi dan pemuda itu pasti menikmatinya. Siapa suruh
bertanya padanya, sudah pasti ia tidak akan mengatakan
yang sesungguhnya. Malah kalau bisa akan memberikan
jalur keluar kampus, sayangnya itu akan membuat curiga.
**
Kelly menatap anaknya dengan senyum terkulum.
Sekian bulan menikah, ada banyak perubahan dalam diri
Melva. Menjadi lebih cantik, tenang, dan mudah
tersenyum. Ia juga mendengar dari Talia, kalau Melva
banyak menolak pekerjaan karena tidak mau terlalu sibuk.
Sangat kontras dengan diri Melva yang dulu, yang seolah
bekerja tiada henti tanpa mengenal waktu.
Mereka berdua duduk di ruang keluarga rumah Adrian
yang luas dan mewah. Ada banyak hidangan di meja dan
Kelly menahan diri untuk tidak terlalu rakus dan menyesali
karena berat badannya naik. Namun, tetap saja ia tidak
197
kuasa menolak beef bruschetta dengan aromanya yang
menggoda. Lelehan keju di atas irisan daging asap
membuat air liurnya terbit.
“Kamu tumben di rumah hari ini?” Kelly mengambil satu
dan memakannya. Merasakan lidahnya berdecak nikmat.
“Ada janji dengan Agnes. Dia akan menjemputku dan
kami mau pergi ke kantor suamiku.”
Kelly menahan senyum. “Apa kalian mau makan
bersama?”
“Entahlah, yang pasti Adrian menungguku dan aku
sendiri ingin lihat bagaimana kantornya.”
“Ehm, setahuku mereka punya gedung sendiri.”
“Benar, ada 25 lantai.”
“Hebat, benar-benar konglomerat.”
“Sebagian disewakan.”
“Nggak heran itu. Aku juga lihat mobilmu yang biasa
dipakai untuk kerja sudah ganti. Mulai kapan?”
“Oh, dari awal menikah dia sudah membelikanku mobil.”
Kelly tertawa lirih. “Aku senang kamu punya suami
bucin, MJ. Mama nggak bisa bayangin kalau kamu harus
menikah dengan Luke atau sesama artis. Pasti akan banyak
drama dan masalah yang tidak berhenti.”
Melva tersenyum, menyadari kebenaran dari perkataan
sang mama. Ia memang sangat bersyukur bisa menikah
198
dengan Adrian. Laki-laki itu sangat mencintai dan
memanjakannya.
“Ma, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kita sudah lama tidak ketemu keluarga Adrian. Kenapa
mendadak bisa ketemu lagi? Mama bagaimana itu awal
mulanya?”
Kelly menatap anaknya dan memiringkan kepala, seolah
menyadari sesuatu. “Nah, sepertinya itu memang bagian
dari kebetulan atau memang kita dan keluarga mereka
berjodoh. Mama pergi ke toko tas, nggak sengaja ketemu
sama mamanya Adrian. Kami mengobrol lama setelah itu
lalu sepakat untuk meneruskan perjodohan. Semudah itu.”
“Toko tas di mall?”
“Iya.”
“Benar-benar kebetulan yang aneh. Di antara ratusan
juta penduduk di kota ini, Mama bisa bertemu dengan
mereka.”
“Mungkin, sudah diatur sama Tuhan.”
“Mungkin.”
“Kamu bahagia bukan? Dengan pernikahan ini?”
Melva tersenyum malu-malu, merangkul bahu sang
mama dan mengecup pipinya. “Bahagia tentu saja, Ma.
Adrian laki-laki yang baik.”
199
“Memang,” jawab Kelly tegas. “Adrian seperti orang
tuanya yang sangat menghargai kita. Apa kamu tahu kalau
dia menawarkan investasi ke perusahaan keluarga kita?”
“Oh, ya? Trus, papa gimana?”
“Papamu bilang akan memikirkannya. Karena dia nggak
mau dikatakan memperalat menantunya.”
“Padahal, Adrian nggak ada niat begitu.”
“Memang.”
Percakapan mereka berakhir saat Agnes datang. Gadis
itu memeluk Kelly dengan gembira dan menawari untuk
ikut bersama ke kantor Adrian, tapi ditolak.
“Aku harus pulang. Kalian saja yang pergi dan bersenang
senang di sana.”
Tidak hanya Melva yang ikut dengan Agnes, ada pula
Talia. Mereka bertiga membawa satu mobil ke kantor
Adrian. Sepanjang jalan, Agnes yang menjadi sopir, terlibat
pembicaraan seru dengan kakak iparnya. Mereka kembali
mengingat masa kecil dulu dan bernostalgia. Tiba di kantor
Adrian satu jam kemudian, mereka disambut Vector dan
beberapa staf. Saat melintasi lobi, beberapa pengunjung
melihat Melva dan mereka mulai menunjuk-nunjuk sambil
berteriak histeris.
Melva mengangguk ke arah orang-orang yang mulai
berkerumun dan membiarkan Vector mencari jalan
untuknya.
“Minggir! Jangan menutup jalan!”
200
Orang-orang itu seolah tidak mendengar perintah
Vector. Dengan ponsel di tangan mereka meringsek maju.
Beruntunglah para penjaga gedung berdatangan dan
menghalau mereka.
“Wow, aku baru tahu rasanya jalan sama artis besar.
Memang beda,” ucap Agnes.
“Kamu meledekku?” Melva mencubit pipinya.
“Nggak, kok. Kenyataan.”
Mereka masuk ke lift khusus dan keluar di lantai sepuluh.
Adrian menunggu di depan ruangannya dan Melva masuk
ke dalam pelukan suaminya.
“Bagaimana? Lancar perjalanan ke sini?”
Melva mengangguk. “Lancar.”
Agnes mendengkus. “Kata siapa? Kakak nggak lihat, sih?
Banyak fans-nya di lobi dan kami hampir kesulitan masuk
lift.”
Adrian tertawa lirih, percaya dengan apa yang dikatakan
adiknya. Ia sendiri sudah sering mengalami, menjadi pusat
perhatian masyarakat saat berada di samping Melva dan ia
tidak mengeluh karenanya.
“Ayo, aku antar kalian melihat-lihat. Apa kabar, Talia?”
Adrian menyapa Talia yang sedari tadi terdiam.
“Ba-baik, Pak. Gedungnya besar. Sering lewat sini kalau
mau ke studio TV tapi nggak tahu kalau gedung ini punya
Pak Adrian. Ya, kan, MJ?” Talia menyenggol Melva.
201
“Memang, aku juga baru tahu kalau ternyata suamiku
kaya raya, banyak harta.”
“Apakah itu suatu kebanggaan?” celetuk Agnes.
“Oh, jelaaas,” jawab Melva dengan bangga. “Nggak
semua artis bisa punya suami konglomerat. Aku termasuk
yang beruntung.”
Adrian memeluk istrinya dan melayangkan kecupan di
pipi. “Kamu salah, aku yang beruntung menikah
denganmu.”
Keduanya saling berpelukan dan berpandangan,
menggosokkan pipi masing-masing. Binar penuh cinta
terlihat dari mata keduanya.
“Tolong, kalau mau bucin jangan di sini. Lihat-lihat
tempat, oke?” Agnes berdehem.
Adrian melepaskan pelukannya, merangkul pundak sang
istri. “Kita ke ruangan HRD, lalu keuangan, administrasi,
baru ke bagian lain.”
Penghuni gedung heboh, terutama karyawan Adrian.
Mereka terperangah saat melihat sang nyonya yang
merupakan artis terkenal, datang untuk menyapa. Melva
bahkan berniat mentraktir mereka minum kopi. Banyak
yang menolak karena tidak enak dengan Adrian tapi Melva
menenangkan mereka.
“Kalian lupa aku brand ambassador dari kedai kopi itu?
Kalian cukup menulis mau minum apa, serahkan pada
asistenku dan biar dia yang mengurusnya.”
202
“Ta-tapi, kami banyak orang, Kak.”
“Nggak masalah, suamiku pasti bisa membantu. Iya, kan,
Sayang?” tanya Melva.
Adrian tersenyum lebar. “Tentu saja, Sayang.”
Bukan panggilan antara keduanya yang membuat
tercengang, melainkan senyum lebar di wajah Adrian.
Bertahun-tahun mereka menjadi karyawan laki-laki itu dan
tidak pernah sekali pun melihat Adrian tersenyum apalagi
tertawa. Ini pertama kalinya mereka melihat sang boss
gembira, dengan senyum lebar tersungging dan mata
berbinar bahagia. Semua karena ada Melva. Memang beda
kalau laki-laki sudah buta akan cinta, bahkan kutub utara
pun bisa mencair karenanya. Itu yang ada di pikiran mereka,
melihat perubahan sikap Adrian.
Mereka melihat fasilitas gedung yang lengkap, bahkan
ada kafe, toko buku, juga bioskop. Selesai berkeliling, Agnes
yang sudah lama ingin menonton, mengajak Talia
bersamanya. Mereka meninggalkan Adrian dan Melva
berduaan di dalam ruangan laki-laki itu.
“Wah, dari sini pemandangnnya terlihat indah,” ucap
Melva saat menyingkap gorden jendela.
“Kamu suka?”
“Uhm, jadi ingat penthouse lamaku. Sama
pemandangannya.”
“Kita bisa sesekali ke penthouse-mu kalau mau.” Adrian
memeluk Melva dari belakang, menyingkap rambut sang
istri dan mulai menciumi tengkuknya.
203
Melva bergidik geli. “Mau ngapain ke sana?”
“Bercinta tentu saja, Sayang. Kita bisa membuka gorden,
pasti rasanya seperti bercinta di alam terbuka.”
“Oh, ya. Bagus sekali. Santapan empuk untuk para
wartawan. Bayangkan headline berita yang akan tertulis di
semua media, seorang artis bercinta secara liar dengan laki
laki tanpa rasa malu.”
Adrian mengeluh, menyadari kebenaran dari perkataan
istrinya. Para wartawan memang sudah tahu di mana
istrinya tinggal dan mereka tidak akan melewatkan
kesempatan untuk memata-matai.
“Sayang sekali, padahal aku ingin tahu bagaimana
rasanya bercinta di depan jendela yang terbuka. Aku punya
ide,” bisik Adrian.
“Apa?” Melva kehilangan konsentrasinya karena tangan
sang suami menyelusup masuk ke dalam blus yang ia pakai
dan meremas lembut dadanya. Sementara bibir laki-laki itu
menjelajahi leher, dan bahunya.
“Malam ini kita menginap di salah satu hotel.”
“Oh, ide bagus.”
“Aku nggak lembur malam ini. Agnes biar pulang
bersama Talia.”
“Baiklah, ah. Kamu ngapain?” tanya Melva. Suaminya
kini menarik rok yang dipakai dan meraba pinggul serta
pahanya.
204
“Menyentuhmu. Rasanya tidak tahan untuk
menyentuhmu saat melihatmu datang dengan rok pendek
dan blus ketat. Nyonya Adrian yang begitu cantik dan sexy,
bisa aku lihat semua karyawanku melotot saat melihatmu
dan aku menahan diri untuk tidak mencongkel mata
mereka.”
“Tuan Adrian, istrimu ini terkenal di mana-mana. Sudah
sewajarnya mereka melihatku.”
“Memang, tapi tidak dengan pandangan mata yang
seolah ingin melahapmu.”
Melva tidak mendebat kecemburuan suaminya. Ia
memekik saat diangkat dan dijatuhkan ke sofa. Adrian
menghimpitnya dan mereka saling berciuman dengan bibir
melumat penuh gairah.
Adrian mengangkat salah satu paha Melva, mengelus
perlahan hingga mencapai pangkal paha dan mengusap
bagian paling sensitif dari istrinya. Sementara mulutnya
melahap rakus mulut Melva. Meski begitu, otaknya masih
bisa berpikir dengan jernih, kalau di kantor bukanlah
tempat untuk bercinta. Ia tidak akan berlebihan dan hanya
bermesraan sewajarnya. Ia percaya kalau kantor yang
merupakan tempat mencari uang dicampur aduk dengan
sex, akan mempengaruhi rejeki. Anggap saja ia kolot dan
percaya takhayul dan ia tidak akan melanggar norma yang
ia tetapkan sendiri.
Mereka menghentikan cumbuan saat terdengar ketukan
di pintu. Adrian menarik tubuh Melva dan membantu sang
istri merapikan penampilan. Sayangnya, baju mereka yang
205
kusut karena gesekan tidak dapat dikembalikan seperti
semula.
Saat Agnes, Talia, dan Vector melihat penampilan
mereka berdua, ketiganya hanya diam ternganga. Yang
sadar duluan adalah Agnes. Gadis itu tertawa lirih ke arah
Adrian dan Melva.
“Sepertinya baru ada angin puting beliung dan badai
menerjang, ya? Lihat, penampilan kalian kusut sekali.”
Melva secara otomatis mengusap rambutnya. “Masa,
sih?”
“Sudah ke toilet belum? Coba periksa diri di sana.”
Melepaskan diri dari pelukan suaminya, Melva berderap
ke toilet dan terperangah di depan cermin. Melihat betapa
acak-acakan penampilannya. Pantas saja, Agnes
menatapnya dengan mata menggoda.
“Baru kali ini kakakku senang ada badai. Biasa takut. Apa
karena badainya luar biasa?” Suara Agnes bergema
menembus dinding.
“Diam kamu!” bentak Adrian.
Tak lama terdengar tawa menggelegar, dan Melva
merasa harus menguatkan diri saat bersama adik iparnya.
Karena bisa dipastikan kalau mereka akan disindir terus
menerus karena peristiwa hari ini.
206
Bab 16
207
tidak pernah bisa melupakan laki-laki yang kini telah
menjadi suami wanita lain. Ia sendiri tidak menyangkal,
kalau Adrian dengan wajah tampan dan kekayaan tak
terbatas adalah laki-laki idaman untuk dijadikan suami.
Sayangnya, meski telah berusaha selama bertahun-tahun,
Nikita tidak kunjung mendapatkan cinta laki-laki itu.
Ia sudah berkali-kali menyarankan pada anaknya untuk
menyerah tapi Nikita tidak menggubris, terutama setelah
Adrian menggelontorkan uang untuk memodali usaha
mereka. Bisa dikatakan, bukan tanpa sebab kalau anaknya
jatuh cinta pada Adrian.
Silsilah antara Adrian dan mereka masih bisa dikatakan
bersaudara. Nadav, papa Adrian adalah sepupu Sofia.
Kekerabatan itu tidak menghalangi untuk Nikita jatuh cinta
pada saudaranya sendiri.
“Mama punya rencana yang bisa membantuku?” Nikita
meletakkan ponsel, merasa muak karena membaca berita
yang tidak ada habisnya tentang Melva. Sebagian mencaci,
tapi tidak sedikit artikel yang memuji. Ia melihat ada banyak
pencari berita yang menulis sesukanya hanya demi iklan,
dan melebih-lebihkan banyak hal yang tidak penting. Ia
memang tidak menyukai Melva, tapi tidak cukup bodoh
untuk mempercayai semua yang tertulis di media tentang
wanita itu.
“Mama punya rencana, Sayang. Tapi, tidak tahu apakah
kamu setuju atau nggak.”
Melva mendongak. “Apa, Ma?”
208
Sofia memutar di tempatnya berdiri, tersenyum pada
anaknya. “Ini akan melibatkan orang lain untuk
membantumu.”
Nikita mengernyit. “Siapa?”
“Luke.”
“Hah. Mantan MJ?”
“Benar. Aku tahu kalau laki-laki itu masih mengharapkan
Melva dan tugasmu adalah mendekati Luke dan
mengajaknya bekerja sama.”
“Ma, itu ide yang susah dan sedikit nggak masuk akal.”
“Kenapa?”
“Bagaimana mungkin seorang laki-laki seperti Luke mau
bekerja sama denganku, hanya demi mendapatkan MJ?”
Tidak sabar dengan sikap anaknya yang memberotak,
Sofia melipat kipas dan memukul pundak anaknya pelan.
“Kamu belum mencoba sudah pesimis. Kita bisa
memanfaatkan rasa sakit hati dan kecemburuan laki-laki itu
pada MJ demi keuntungan kita.”
Nikita menggeleng. “Ma, aku nggak ngerti.”
Sofia menghela napas panjang. “Mama akan jelaskan
sejelas-jelasnya dan kamu tinggal melakukan apa yang aku
rencanakan. Ingat, semua demi masa depanmu, Nikita.
Kalau sampai hal mudah begini, kamu nggak bisa, mama
nggak ngerti lagi.”
209
Nikita mendengarkan dengan penuh perhatian semua
ucapan sang mama. Ada bagian tertentu yang ia tidak
setuju tapi tidak menyelanya. Karena sekarang yang ia
inginkan adalah mendapatkan Adrian. Ia tidak akan
menyerah hanya karena laki-laki itu sudah beristri. Seorang
artis bukanlah lawan berat untuknya.
**
“Aku merasa kita sedang berbulan madu.” Melva
mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran yang sepi.
Mereka memesan tempat yang privat dan hanya ada
dirinya bersama Adrian. Sesekali pelayan masuk untuk
melayani. Dari tempatnya duduk, terpampang
pemandangan kota dengan lampu-lampunya yang
semarak.
“Kalau kamu suka, kita bisa sering kemari.” Adrian
meraih tangan sang istri dan meremasnya.
“Kamu kaya sekali, Tuan Adrian, hotel semewah ini
ternyata punyamu. Aku kagum,” desah Melva.
Adrian mengangkat bahu. “Apa artinya kaya raya kalau
ternyata istriku tidak mau menerima jatah dariku.”
Melva mengernyit bingung. “Maksudnya apa?”
“Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu sama sekali
nggak menyentuh uang dariku. Sudah berapa bulan kita
menjadi suami istri? Dan tabunganmu masih utuh, tidak
tersentuh sedikit pun. Kamu tidak mau memakainya?”
210
Pandangan mereka bertemu dan Melva salah tingkah,
menghadapi interogasi suaminya. Ia menggigit bibir bawah,
mencoba tersenyum.
“Aku bukannya nggak mau pakai, Sayang. Tapi, belum
membutuhkan. Karena semua kebutuhanku sudah
terpenuhi.”
“Benarkah? Bukannya kamu memakai uangmu sendiri?”
“Itu juga, tapi—”
“Kalau begitu, kamu bisa menyimpan uangmu dan kamu
gunakan untuk yang lain. Mulai sekarang, aku ingin istriku
memakai uang yang aku berikan. Terserah kamu mau
habiskan untuk apa, tapi buatlah aku merasa berguna.
Banting tulang setiap hari demi istri dan anak-anak kita
nanti.”
Melva tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia
merasa tidak enak hati karena sudah diingatkan soal uang
yang tidak tersentuh. Jujur saja, ia memang tidak berniat
menggunakan uang itu karena merasa belum sepenuhnya
menjadi suami istri. Pernikahan yang terpaksa karena
perjodohan tidak membuatnya percaya diri untuk mengaku
sebagai seorang istri. Waktu berlalu, Adrian sudah berubah
dan hati mereka kini terpaut satu sama lain. Memang sudah
seharusnya ia melakukan kewajibannya.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Adrian.
“Nggak, aku merasa aneh saja. Berniat menjadi istri yang
sesungguhnya dengan menghambur-hamburkan uangmu.
Sungguh menggelikan.”
211
“Aku tidak keberatan kalau istriku boros.”
“Tolonglah, Tuan Adrian. Bucin jangan berlebihan.”
“Kenapa? Kamu nggak mau punya suami bucin?”
“Senang tentu saja.”
Keduanya tergelak dan saling menggenggam tangan.
Manajer restoran memberikan sebotol sampanye
berkualitas tinggi, sebagai hadiah pernikahan.
“Senang rasanya bisa melayani Tuan dan Nyonya
Adrian.”
Melva tidak keberatan saat para keryawan restoran
meminta foto bersama. Selesai makan, mereka berniat
kembali ke kamar, dan melanjutkan rutinitas, bercinta
sampai pagi. Melva tidak habis pikir bagaimana suaminya
bisa punya stamina tinggi. Laki-laki itu tidak pernah lelah
mengajaknya bercumbu. Tidak melewatkan satu kali
kesempatan pun untuk membuat dirinya tergolek tak
berdaya karena gairah.
Melva sendiri menyukai percintaan yang hangat dan
menggebu-gebu, saling memuaskan satu sama lain dan
diakhiri dengan kecupan manis saat tubuh bersimbah
peluh. Percintaan-percintaan mereka seakan menegaskan
kalau mereka saling memiliki satu sama lain.
“Orang-orang terpana dengan kecantikanmu,” bisik
Adrian. Mereka melintasi lorong hotel menuju lift.
“Bukan, mereka hanya kaget karena berpapasan
denganku.”
212
“Artis besar.”
“Terkenal tepatnya. Sampai kapan kamu menggodaku,
sih?”
Adrian tertawa lirih, meraih lengan istrinya dan
mengajaknya masuk lift. “Kamu nggak keberatan
menemaniku sebentar?”
“Mau ke mana?”
“Ada bar yang dikhususkan untuk orang-orang tertentu
dan aku ada janji di sana sekarang.”
“Baiklah.”
Tempat itu bukan bar, lebih tepatnya klub untuk orang
orang kaya berkumpul. Didesain minimalis dengan furniture
kelas tinggi, bar menyediakan dua bartender professional
untuk melayani para tamu dan beberapa pramusaji dalam
balutan seragam merah.
Melva lebih banyak diam saat suaminya mengobrol
dengan seorang laki-laki yang tidak hanya rekan bisnis,
melainkan juga menjabat sebagai menteri. Mereka
bercakap tentang perdagangan, hanya sedikit yang ia
pahami.
“Aku ke toilet dulu,” pamit Melva pada suaminya.
Adrian mengangguk, melepaskan genggaman tangannya
pada sang istri dan melanjutkan obrolan dengan sang
menteri.
Melva tidak hanya ke toilet tapi juga melihat-lihat
sekeliling bar yang elegan. Ia kagum pada siapa pun yang
213
menata tempat ini. Sebuah bar bisa menjadi tempat yang
begitu mewah dan menyenangkan dengan design
minimalis tapi berkesan mahal. Lukisan terpasang di
dinding, menunjukkan kualitas dari sebuah tempat. Ia
sedang serius melihat lukisan pemandangan saat terdengar
teguran halus.
“Halo, Cantik. Senang bisa melihatmu di sini.”
Melva menoleh kaget. “Luke, kamu di sini?”
Luke tersenyum. “Iya, kebetulan yang manis bukan?”
Saat laki-laki itu mendekat untuk memeluknya, Melva
mundur. “Kenapa? Takut denganku.”
“Nggak, hanya merasa sudah nggak sepantasnya kita
bergaul terlalu dekat. Aku sudah bersuami.”
“Oh, laki-laki yang dijodohkan denganmu itu. Sebuah
pernikahan karena paksaan?”
Melva menyipit, mendengar nada sinis yang terlontar
dari mulut laki-laki itu. Ingin rasanya ia menyumpal mulut
Luke agar berhenti mengganggunya. Namun, ia menyadari
sekarang sedang berada di tempat umum dan membuat
keributan adalah merugikan untuknya. Terlebih, sekarang
ada Adrian dan seorang menteri. Apa kata mereka kalau
tahu ia bertikai.
“Kita sudah saling menyapa, sekarang aku mau kembali
ke tempatku.”
Langkah Melva terhenti saat Luke meraih lengannya.
“Jangan begitu, Cantik. Kamu mengabaikanku. Kenapa?
Sudah nggak mau bergaul dengan orang miskin sepertiku?”
214
Melva berusaha mengibaskan pegangan Luke di
lengannya tapi sulit. “Lepaskan! Apa-apaan kamu.”
“Tenang, aku hanya ingin bicara.” Luke berucap dengan
senyum tersungging, menatap Melva yang terlihat anggun
dalam balutan gaun putih panjang yang membungkus
tubuh indahnya. “Kamu terlihat seperti seorang
pengantin.”
Melva mendengkus. “Luke, nggak ada yang perlu kita
bicarakan.”
“Banyak hal, MJ. Kamu hanya perlu mendengarkan.”
“Aku nggak mau, setelah apa yang kamu lakukan saat di
acara itu, kamu masih ingin bicara padaku?”
“Ah, jadi kamu masih marah? Padahal aku hanya
mengecup pipimu. Sayang sekali.”
“Hanya mengecup katamu? Kamu lupa aku sudah punya
suami?”
Luke mendengkus kasar, menatap Melva tak berkedip.
“Dari tadi kamu menyebut-nyebut suamimu terus. Bosan
aku mendengarnya. Bisa nggak kita bicara hanya soal kita
saja?”
“Nggak bisa!”
Dua suara menyahut secara bersamaan. Mata Melva
melebar saat melihat suaminya. Ia berusaha mengibaskan
cengkeraman Luke dari lengannya tapi sulit.
“Lepaskan istriku,” tegur Adrian tajam.
215
Luke tersenyum, dengan sengaja mengangkat lengan
Melva. “Bagaimana kalau aku nggak mau. Kamu lihat,
bukan? Kami pernah sedekat ini dulu, tentunya kamu tahu.”
Tanpa banyak kata, Adrian maju. Memukul dada Luke
hingga terdorong ke arah dinding dan menyentakkan
lengan laki-laki itu. Dengan cepat ia meraih lengan Melva
dan merangkul pundak istrinya.
“Sial! Kamu berani memukulku?” bentak Luke kaget. Ia
berdiri dan mengibaskan dadanya yang baru saja dipukul
oleh Adrian.
“Aku bisa melakukan yang lebih dari itu, termasuk
membunuhmu kalau kamu masih mengganggu istriku.”
“Hah, kamu pikir aku takut ancamanmu?” Luke berkata
dengan nada mengejek.
“Terserah. Aku tidak peduli. Jangan lagi mendekati
istriku.”
Melva menghela napas panjang. Ketakutan merayap dari
hatinya. Ia menatap suaminya dan Luke bergantian,
berharap tidak terjadi baku hantam yang akan membuat
malu mereka. Terlebih, mereka berada di tempat umum di
mana banyak tamu ada di sini. Melva memikirkan reputasi
suaminya sebagai pemilik hotel.
“Sayang, abaikan dia. Ayo, kita pergi.” Melva membujuk
Adrian.
“Mau kabur, MJ? Kenapa? Apakah si kaku ini lebih
mengasyikkan dari pada aku? Apa kamu lupa masa-masa
216
kita bersama dulu?” Luke melontarkan kata-kata yang tidak
pantas.
Melva menatap laki-laki itu dan menyadari satu hal, Luke
mabuk. Tidak seharusnya mereka berdebat dengan orang
yang sedang mabuk, karena sama saja bicara dengan orang
yang setengah otaknya tidak waras.
“Ayo, Sayang.” Ia menarik lengan Adrian yang berdiri
mematung.
Adrian menatap istrinya, mengulurkan tangan untuk
mengelus wajah Melva dan berbisik. “Kamu kembali ke
tempat kita. Pak Menteri ingin bicara denganmu.”
“Kamu bagaimana?”
“Aku menyusul.”
“Tapi—”
“Sana, pergi dulu. Tenang saja, aku nggak akan bikin
huru-hara di tempatku sendiri.”
Ragu-ragu sesaat akhirnya Melva melepaskan
pegangannya dari tangan Adrian dan kembali ke meja. Ia
tahu Adrian tidak akan melakukan hal gegabah, tetap saja
merasa kuatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang bisa
membuat suaminya celaka? Sikap Luke yang agresif,
membuatnya takut. Ia tidak habis pikir, bagaimana laki-laki
itu berubah menjadi sedikit gila setelah ia menikah. Melva
tersenyum dan melupakan kegundahannya saat mendekati
meja. Pak Menteri melihatnya, dan ia memasang wajah
tersenyum.
217
“Maaf, saya terlalu lama, Pak.”
Di dekat toilet, Adrian berdiri berhadapan dengan Luke.
Kebencian menguar dari pandangan mereka yang bertemu.
“Aku tidak takut padamu,” desis Luke.
“Kamu salah kalau begitu.”
“Maksudmu?”
“Kalau aku jadi kamu, pasti takut.”
Luke meringis. “Kenapa? Kamu bukan penguasa atas
hidupku.”
“Begitu juga kamu, tidak ada kuasa atas istriku. Jadi, atas
dasar apa kamu memperlakukannya dengan tidak sopan.”
“Aku sopan dan menghargainya.”
“Termasuk memaksanya mengikuti kemauanmu. Aku
tidak peduli bagaimana hubungan kalian dulu, yang
terpenting MJ sekarang istriku dan tidak akan aku biarkan
laki-laki lain menyentuhnya!”
Luke berkacak pinggang, menatap Adrian sambil
menatang. “Mungkin kamu lupa, tapi kami sama-sama
menjadi brand ambassador untuk beberapa produk. Tidak
tertutup kemungkinan kalau kelak kami bersama-sama
dalam proyek menyanyi maupun film. Dunia entertainment
itu sempit! Kecuali kamu mengekang MJ.”
“Aku nggak akan mengekangnya, tapi memberimu
peringatan. Kalau sampai kamu melanggar batasan itu,
berarti siap menerima akibatnya.”
218
“Siapa kamu berani mengancamku, hah!”
Adrian maju, menatap Luke tajam. Telunjuknya terulur
ke arah dada Luke.
“Kamu pikir aku nggak tahu kalau saat kalian bersama
dulu, kamu mengkhianatinya?”
Mata Luke melebar. “Apa?”
“MJ mungkin tidak tahu kalau dirinya diduakan olehmu,
dan syukurlah kalian sudah putus. Istriku rupanya punya
insting kuat kalau kamu bukan laki-laki yang baik. Saat
berpacaran dengannya, kamu juga memacari banyak
wanita lain, dari mulai artis hingga pengusaha. Mau aku
sebutkan namanya satu per satu?”
Luke mengepalkan tangan, menahan marah. Ia tidak bisa
menyangkal perkataan Adrian karena memang begitu
kenyataannya.
“Kamu mengancamku dengan ini? Kamu pikir aku
takut?”
“Tidak, itu hanya informasi murahan. Istriku tidak perlu
tahu betapa busuk hati mantan kekasihnya. Dia sudah
bahagia bersamaku, tidak perlu lagi memikirkan laki-laki
lain. Tapi, satu yang harus kamu pahami adalah, kalau kamu
berani mendekati istriku lagi, aku akan membuatmu
terjatuh, merangkak, dan tidak bisa berdiri lagi. Camkan
itu!”
Menepuk pipi Luke yang pucat, Adrian berbalik dan
meninggalkan laki-laki itu. Ia berusaha menahan amarah
yang menggelegak dalam dadanya. Sikap laki-laki itu yang
219
berani membuat istrinya ketakutan, tidak dapat ia tolerir. Ia
akan melakukan apa pun untuk melindungi istrinya, bahkan
kalau sampai membuat orang lain celaka.
220
Bab 17
221
usaha ia lakukan, termasuk mengemis dan merendahkan
harga dirinya. Namun sia-sia, karena Melva justru lebih
memilih menikah karena perjodohan. Hal yang paling tidak
masuk akal menurutnya.
“Luke, are you ready?”
Seorang wanita berseragam hitam menghampiri Luke
dan tersenyum menggoda. Kancing bagian atas terbuka dan
menampakkan gundukan buah dada yang menggoda. Tidak
ada orang lain di ruangan ini, hanya mereka berdua.
“Masih lama, Mayang. Tentu saja aku ready.” Luke
meregangkan tubuh, bersandar pada kursi. Mencoba
memusatkan pikiran pada pertunjukan yang akan ia
lakukan.
Sebenarnya, ia bukan penyanyi. Suaranya juga tidak
bagus-bagus amat. Namun, pertunjukan ini berguna untuk
mempromosikan film terbarunya. Sang penyanyi utama
yang akan menjadi teman duet Luke adalah penyanyi senior
yang terkenal dengan suara yang melengking tinggi.
Mereka berduet untuk soundtrack film, dan ia ada di sini
karena itu.
“Aku lihat dari tadi kamu melamun.” Mayang tersenyum.
Jemarinya menyusuri paha Luke yang kokoh.
“Kamu lihat aku melamun? Setahuku kamu sedang
bekerja mengorganisir pertunjukan.”
“Oh, mataku ada di mana-mana, terutama saat ada
kamu.”
222
Luke menghela napas, membiarkan tangan wanita itu
menyentuh papa dan dadanya. Ia sudah terbiasa
menghadapi jenis wanita seperti ini, yang suka sekali
menggodanya. Terlahir tampan dan berprofesi sebagai
aktor terkenal, banyak wanita yang berharap padanya.
Sayangnya, ia tidak pernah puas dengan satu wanita,
menyukai petualangan karena memang mudah
mendapatkan apa yang ia mau.
“Aku tersanjung,” ucap Luke lembut. Meraih tangan
Mayang dan mengarahkan ke alat kelaminnya. “Di situ akan
lebih enak.”
Mayang tanpa malu menuruti apa yang diinginkan Luke.
Meraba kejantanan laki-laki itu dan membelai lembut.
Mereka sudah saling mengenal sejak lama, tapi baru kali ini
Mayang berkesempatan untuk menyentuh aktor
pujaannya. Setelah memberanikan diri untuk merayu.
“Bagaimana kalau kamu kunci pintunya?” pinta Luke.
Mayang mengangguk, tanpa bantahan memutar kunci
dan saat ia berbalik, melihat Luke berdiri dan membuka
resleting celana. Ia terkesiap, saat kejantanan laki-laki itu
menyembul keluar dalam keadaan mengeras. Tanpa sadar,
ia menelan ludah.
“Kamu mengerti apa yang aku inginkan, Mayang?”
Tersenyum manis, Mayang duduk bersimpuh di depan
Luke dan melakukan apa yang diminta laki-laki itu. Ia
berusaha memberikan yang terbaik demi laki-laki
223
pujaannya. Berharap setelah ini Luke akan lebih
memperhatikannya.
Selesai sex oral dengan Mayang, Luke naik ke atas
panggung dengan ceria. Ia sama sekali tidak menyangka
kalau wanita yang terlihat lugu dan kaku seperti Mayang,
ternyata mempunyai mulut dan lidah yang luar biasa. Ia
bahkan bisa mencapai puncak dan itu membantunya
melepaskan stress, terutama saat memikirkan soal Melva.
Luke mencoba menenangkan diri, tidak boleh kalah oleh
keadaan. Melva memang tidak menginginkannya sekarang,
tapi ia akan tetap berusaha.
Selesai menyanyi, diiringi tepuk tangan yang gegap
gempita, Luke menuruni panggung. Ia melewati lorong
menuju kamar ganti dan tertegun saat di depan pintu
melihat seorang wanita amat cantik dengan rambut
panjang kecokelatan. Wanita itu menatapnya tajam dan
menyapa tanpa senyum.
“Luke? Aku Nikita. Bisa kita bicara? Ini penting. Soal MJ.”
Luke mengerjap, berusaha menggali ingatan tentang
wanita di depannya tapi hasilnya nihil. Ia memang tidak
mengenal wanita bernama Nikita. Tertarik dengan apa yang
akan dibicarakan, ia berucap serius.
“Bisakah kamu menungguku di lobi? Aku akan berganti
pakaian dan kita bicara di tempat lain.”
Nikita mengangguk. “Baiklah, aku tunggu di lobi.”
Wanita itu berlalu, lalu beberapa orang datang untuk
membantu Luke berganti pakaian. Setelah menyelesaikan
224
semuanya, ia melangkah ke lobi melalui pintu samping.
Tidak ingin berpapasan dengan penggemar yang akan
merepotkannya.
“Nikita.” Ia menyapa pada wanita bergaun hijau yang
berdiri menghadap jendela.
Nikita berbalik, menatap Luke dari atas ke bawah. “Kita
ke lounge.”
Tanpa banyak kata, Luke mengikuti wanita itu menuju
lounge hotel yang ada di lantai dua. Mencoba menerka
nerka apa hubungan Nikita dengan Melva. Semoga saja ia
mendapatkan hasil yang sepadan setelah mengikuti ajakan
dari wanita yang tidak dikenal.
**
Melva berpose dengan botol sabun, bergantian dengan
botol shampoo. Hari ini sedang syuting iklan dan mereka
melakukannya di dalam ruangan. Rambutnya berkibar
karena embusan kipas, sementara tubuhnya berpeluh
karena cahaya kamera. Sejauh ini ia sudah berganti pakaian
sebanyak tiga kali dan menolak saat diharuskan memakai
bikini.
“Dalam draft kerja sama nggak ada yang namanya pakai
bikini. Jadi, simpan itu!”
Tidak ada yang bisa membujuknya. Pihak produser
bahkan berdalih kalau itu kemauan para penggemar, ingin
melihat tubuh Melva yang sexy, tapi ia bergeming. Dari
sebelum menikah, ia sudah menghindari pakai bikini,
225
apalagi sekarang setelah menikah, tidak tahu apa yang akan
dilakukan Adrian kalau sampai ia nekat.
Saat sedang break dan retouch make up, ia menerima
panggilan dari mertuanya. Laili menanyakan apakah bisa
mengajaknya makan malam bersama. Tanpa ragu ia
menyetujui. Adrian sedang di luar kota dan baru akan
kembali besok. Dari pada sendirian di rumah, lebih baik
bertemu dan berkumpul dengan keluarganya.
“Aku iri, aku bilang,” desah Talia. Ia melihat Melva
tersenyum pada layar ponsel.
“Ada apa lagi?” Melva bertanya tanpa mengangkat
wajah.
“Iri sama kamu. Kapan aku bisa menemukan pasangan
yang cocok seperti Tuan Adrian dan sekaligus punya mertua
kaya raya dan baik hati. Aku iriii!”
“Memangnya rasa iri bisa menolongmu?”
“Nggak, sih. Aku juga sadar diri, siapa aku.”
Merasa kasihan mendengar keluh kesah asistennya,
Melva meletakkan ponsel dan mencubit pinggang Talia.
“Suatu saat kamu pasti menemukan laki-laki idamanmu.
Pasti itu. Perlu waktu dan kamu harus memperbaiki diri
agar mendapatkan pasangan yang sepadan.”
Talia tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, aku akan
memaksakan diri.”
Melva tergelak. Selesai berganti pakaian, ia kembali ke
ruang pemotretan. Di sana sudah menunggu beberapa
226
orang yang tidak dikenal. Salah satunya seorang laki-laki
berumur setengah abad yang masih terlihat tampan meski
ada beberapa helai rambut putih di kepalanya. Laki-laki itu
tersenyum padanya dan Talia berbisik.
“Pemilik dari produk yang sedang kamu endorse
sekarang.”
Melva mengernyit. “Ada apa dia ke sini?”
“Entahlah. Lihat, dia datang.”
“Apa kabar, MJ. Kenalkan, saya Ardit.”
Laki-laki itu mengulurkan tangan dan Melva menjabat
dengan sopan. “Apa kabar, Pak?”
“Ah, bisa nggak jangan panggil Pak? Kesannya jadi tua,
panggil nama saja.”
Melva tersenyum. “Maaf, kurang sopan menurut saya.”
“MJ, janganlah kaku begitu. Kita teman bagaimana pun
juga.”
Melva mengangkat sebelah alis mendengar kata teman
dari mulut Ardit. Seingatnya, ini pertama kalinya bertemu
laki-laki itu, bagaimana bisa dikatakan berteman? Tidak
ingin memperpanjang masalah, Melva meninggalkannya
menuju lokasi pemotretan dan mulai bekerja.
Ia tidak tahu apa yang direncanakan oleh Ardit, karena
laki-laki itu tidak pergi juga. Menunggunya hingga
pemotretan selesai. Ardit bahkan memesan makanan siap
saji dan membagikannya pada seluruh kru, membuatnya
menerima berbagai ucapan terima kasih.
227
“MJ, kamu mau ke mana?” Ardit menghampiri saat
Melva yang baru sudah selesai bekerja, berniat pergi
secepatnya.
“Mau pulang, Pak.”
“Eh, nggak bisa kita mengobrol sebentar? Ada hal
penting yang ingin aku katakan.”
“Maaf, nggak bisa, Pak. Sudah ditunggu keluarga.”
“Keluarga atau suamimu?”
“Bukankah keduanya sama saja?”
“Ayolah, MJ. Sebentar saja.”
Merasa jengkel karena Ardit memaksa, Melva
mengembuskan napas panjang dan menatap laki-laki itu. Ia
tidak ingin salah menebak tapi paham apa yang diinginkan
laki-laki di depannya. Banyak sekali ia menemui jenis laki
laki seperti Ardit dan mereka rata-rata punya niat yang
sama.
“Sekali lagi saya katakan, maaf.”
Ia berbalik dan melangkah cepat dengan Talia di
sampingnya. Ardit tidak lagi merendengi langkahnya tapi ia
masih mendengar suara laki-laki itu memanggilnya.
“Jangan sombong, MJ. Ingat, seorang artis harus punya
attitude baik, terutama pada mitra bisnis.”
Mengenyakkan diri di mobil, Melva menatap Ardit yang
masih berdiri mengawasinya. Ia memalingkan wajah dan
bertanya pada Talia.
228
“Dia bukannya sudah menikah?”
Talia mengangguk. “Dengar-dengar istrinya dua. Salah
satunya Nasifa, kamu kenal bukan?”
Melva melotot. “Nasifa? Artis pendatang baru yang
sering mencari masalah itu?”
“Yes, dia. Tapi baru menikah siri.”
Bergidik ngeri, Melva mengatakan pada diri sendiri tidak
akan mendekati laki-laki macam Ardit. Ia sudah punya
suami yang baik, dan tidak akan menukarnya dengan apa
pun.
Kendaraan meluncur tenang di jalan raya, Melva
bertukar pesan dengan suaminya. Sedikit kecewa
mendapati kalau kepulangan Adrian diundur satu hari lagi.
Sang suami bertanya apakah ia menginginkan oleh-oleh
dan Melva menjawab dengan iseng.
“Oleh-oleh yang aku mau adalah dirimu telanjang dan
dibungkus pita kado. Bagaimana?”
Jawaban suaminya datang tak sampai semenit.
“Bagaimana kalau kita ganti posisi. Kamu telanjang
bulat, memakai sepatu hak tinggi merahmu dan terlilit pita
merah besar. Berdiri di tengah kamar dan biarkan aku yang
bekerja.”
Tubuh Melva memanas seketika, membayangkan situasi
seperti yang dikatakan suaminya.
“Kamu bekerja? Di mana? Di atas tubuhku?”
229
“Bukan, tapi di bawahmu. Kamu pasti akan
menikmatinya, Nona MJ, saat aku berlutut di bawah
kakimu. Tapi, semua sepadan demi kamu dan pita merah.”
Mereka terus berbagi pesan mesum sepanjang
perjalanan menuju restoran. Makin banyak pesan terkirim,
makin panas wajah Melva. Pendingin mobil bahkan tidak
banyak membantunya meredakan gairah yang muncul
akibat pesan-pesan tak senonoh dari Adrian. Mereka
menghentikan percakapan saat Melva turun dari mobil.
Talia dan sopir mendampinginya melewati pintu
restoran, Berjaga-jaga agar tidak ada penggemar yang tiba
tiba menghampiri. Mereka disambut manajer restoran dan
dibawa ke ruang privat. Melva tersenyum saat melihat Laili,
Agnes, dan mamanya menunggunya di dalam.
“Kalian janjian?” serunya.
“Iya, dong. Ini adalah woman time. Ayo, Talia masuk
juga. Kita makan dan bersenang-senang,” ajak Laili pada
Talia, yang berdiri canggung di depan pintu.
Melva menghampiri sang mama dan mengecup pipinya.
“Sayang sekali, aku sedang diet.
“Diet terus, sesekali makan nggak dosa,” jawab Kelly.
“Baiklah, aku nggak makan banyak tapi.” Kali ini Melva
mengecup pipi mertua dan adik iparnya.
“Iya, nggak banyak nggak masalah, asalkan makan. Lagi
pula, kalau nanti kamu hamil, juga secara otomatis kamu
akan doyan makan,” ucap Laili.
230
“Semoga, ya, Jeng. Mereka cepat dikasih keturunan.”
“Saya juga mengharapkan. Biar keluarga kita makin
rame.”
Sementara dua mama sedang bicara tentang cucu yang
belum ada, Melva mendekati Agnes dan keduanya sepakat
untuk memesan wine yang bagus. Pelayan restoran
menyajikan makanan kelas tinggi dengan wine sebagai
pendamping. Mereka makan sambil mengobrol. Lima
wanita dalam satu ruangan, bicara satu sama lain dengan
heboh, tidak menyadari kalau sedikit mabuk.
Keesokan pagi, Melva bangun dengan kepala berdentum
menyakitkan. Semalam ia bukan hanya sedikit mabuk tapi
sampai tidak sadarkan diri. Entah siapa yang memulai,
dirinya atau Agnes, tapi mereka menghabiskan dua botol
wine mahal dan kini harus menanggung akibatnya.
Untunglah hari ini ada pekerjaan sore hari, dan ia tidak
perlu repot-repot bangun lebih awal.
Tahu kalau istrinya habis mabuk, Adrian mengirim pesan
pada koki untuk memasak sup yang bisa menambah
stamina. Meminta Melva meminum obat sakit kepala dan
menyarankan untuk istirahat lebih banyak di rumah.
“Lain kali boleh mabuk kalau ada aku. Bisa-bisanya
kalian para wanita minum alkohol sampai lupa diri?”
Mendengar suaminya mengomel, Melva hanya
meringis. Selesai makan dan minum obat, ia berbaring di
ranjang. Merasa lega saat pekerjaan dibatalkan dan diganti
231
lusa. Hari ini ia berniat istirahat dan sesekali mengganggu
suaminya dengan mengirim pesan mesum.
Sore hari, pelayan mengatakan ada tamu datang. Ia
merasa aneh karena sang tamu ternyata Nikita. Menuruni
tangga dengan pikiran bertanya-tanya, ia menemui wanita
itu di ruang tamu.
“Nikita, ada apa?” tanyanya tanpa basa-basi. Masih ingat
peristiwa di hotel dan itu membuat rasa kesalnya kembali
timbul.
Nikita mengangkat sebelah alis. “Tuan rumah yang
galak.”
“Aku sedang tidur, kalau nggak ada hal penting, lebih
baik kamu pulang.”
“Wow, kasar sekali kamu.”
“Jangan kaget begitu, kita sudah tahu sifat masing
masing.”
Mereka berdiri berhadapan dengan mata memandang
penuh tantangan. Melva tidak akan kalah kali ini dan tidak
akan membiarkan Nikita mempermalukannya. Ini adalah
rumahnya, medan perangnya dan wanita itu masuk ke
wilayah yang salah.
“Berani juga kamu, dasar artis murahan! Kalau bukan
karena Adrian, mana sudi aku datang kemari.”
Melva berkacak pinggang. “Menghinaku sekali lagi, aku
akan meminta satpam menyeretmu keluar!”
“Berani kamu!”
232
“Iya, aku berani. Ini rumahku!”
Nikita mendengkus, mengibaskan rambutnya ke
belakang dan tersenyum sinis. “Kamu nggak akan seberani
itu kalau tahu apa yang ada di tanganku. Akhirnya, aku
mendapatkan juga borok masa lalumu. Dasar perawan sok
suci!”
Melva mengernyit. “Apa maksudmu?”
Nikita merogoh ponsel dari tas, membuka layar dan
menyorongkan ke depan wajah Melva. “Masih ingat ini?
Kamu pasti ingat foto ini diambil di mana? Benar-benar
murahan! Tidur bersama laki-laki lain tapi mengaku suci!”
Melva meraih ponsel, menatap foto yang ada di layar. Ia
tidak salah lihat, foto itu memang dirinya meski diambil dari
belakang dan hanya punggungnya yang terlihat. Dengan
pose yang sedang tengkurap dengan wajah menyamping,
orang menduga ia sedang tidur. Yang membuat matanya
melotot adalah sebuah tangan yang berada di
punggungnya yang telanjang. Tangan itu milik seorang laki
laki yang duduk di sampingnya. Meski hanya terlihat
setengah tapi jelas kalau itu Luke. Ada apa ini? Kapan foto
ini diambil? Melva bingung dengan apa yang dilihatnya.
“Bagaimana, kaget? Bayangkan kalau aku sebar foto ini
ke media, lihat apa yang akan terjadi padamu.”
Nikita tertawa terbahak-bahak, sementara Melva berdiri
kaku di tengah ruang tamu. Pikirannya kalut, terpukul oleh
foto itu. Ia masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri saat
Nikita berbisik sinis.
233
“Kamu sadar diri kalau kamu itu murahan, MJ. Adrian
tidak pantas untukmu.”
Mengepalkan tangan menahan gemetar, Melva
bertanya dengan suara rendah. “Apa maumu?”
Nikita mengangkat bahu. “Kamu tahu persis apa yang
aku mau, Adrian tentu saja. Sekarang, aku memberimu
waktu untuk berpikir, tinggalkan Adrian atau aku hancurkan
kamu!”
Setelah wanita itu pergi, Melva terduduk di sofa dengan
pikiran carut-marut.
234
Bab 18
235
“Di Bali!” sahut Talia cepat. “Sekarang aku ingat itu.
Kalau kamu nggak sadar, itu wajar, MJ. Karena saat itu kamu
sedang kelelahan dan tertidur.”
Melva mengernyit. “Kenapa ada Luke di sana?”
“Begini, saat itu sedang ada syuting untuk iklan krim
muka. Kamu ingat? Film pendek dan pakaian yang kamu
kenakan saat itu bagian punggung terbuka. Karena cuaca
yang sangat panas dan kamu kelelahan, break syuting kamu
istirahat di dalam. Awalnya aku yang menemanimu, tapi
karena satu hal, aku pergi. Saat kembali, ada Luke di sana.”
“Sialan! Jadi, Luke sengaja mengambil fotomu saat
tidur?” geram Ratna. “Berani-beraninya dia, dan
menyimpan sekian lama.”
“Aku sudah menegurnya waktu itu dan dia bilang hanya
ingin menyapa. Setelah itu dia pergi karena ada syuting di
daerah yang dekat dari sana.”
“Harusnya kamu memukul kelaminnya. Biar tahu rasa!
Berani-beraninya mengambil foto orang lain tanpa ijin!”
Melva terdiam mendengarkan percakapan dua orang di
depannya. Ia sekarang paham, latar belakang dari foto itu
dan akan mengatakan yang sejujurnya pada Adrian.
Sebelum suaminya tahu masalah ini dari orang lain, lebih
baik kalau ia yang mengatakan lebih dulu. Pertanyaan
kedua yang ada dalam otaknya adalah, bagaimana Nikita
bisa mendapatkan foto itu dari Luke. Apakah mereka
berdua saling mengenal? Kalau memang Luke dengan
sengaja memberikan foto itu pada Nikita, berarti keduanya
236
bekerja sama dan berniat jahat padanya. Melva menghela
napas panjang, tidak mengerti dengan pikiran orang-orang
yang memusuhinya.
Adrian memperpanjang masa tinggalnya sehari lagi.
Terlalu sibuk dan rapat panjang menjadi penyebabnya.
Melva bisa memahami, betapa sibuk dan repotnya sang
suami harus mengurus hotel, perusahaan, belum lagi
restoran. Ia tidak akan menambah beban pikiran sang
suami dengan masalahnya yang sepele.
Mengesampingkan masalah foto, Melva tetap bekerja
seperti biasanya. Hari ini ada acara penandatanganan untuk
botol produk yang ia iklankan. Siapa sangka kalau kantor
dari perusahaan itu ternyata berada di gedung milik
suaminya.
“Dunia kecil, kantor dari Lavender sabun dan sampo,
ternyata tempatnya di sini.” Talia menggeleng geli.
“Kita bisa lewat pintung samping biar nggak memancing
keributan. Kamu coba ngomong sama kepala keamanan.”
“Oke, kamu tunggu di mobil.”
Talia turun lebih dulu dan menghampiri kantor
keamanan, meninggalkan Melva sendirian di dalam mobil.
Ia menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya
dan tersenyum kecil. Perusahaan Ardit menyewa kantor di
lantai 12, sungguh suatu kebetulan. Ia mendatangi kantor
suaminya saat laki-laki itu sedang tidak ada.
Menerawang menatap udara panas melalui kaca
jendela, Melva berusaha meredakan kekuatirannya tentang
237
Nikita dan foto yang ada di tangan wanita itu. Baginya foto
itu tak lebih dari foto biasa. Ia sedang tertidur, tapi
pandangan orang lain akan beda karena melihat
punggungnya tanpa penutup dengan Luke berada di
sampingnya. Image yang dijaga selama bertahun-tahun,
akan musnah dalam sekejap kalau foto itu beredar dan
penghakiman yang diterima dua kali lebih berat karena
statusnya. Menghela napas panjang, Melva berharap Nikita
tidak melakukan apa pun yang akhirnya membuat semua
orang yang dekat dengannya menjadi susah.
Suara ketukan kaca menyadarkan Melva. Talia
tersenyum dan membuka pintu. “Ayo, keluar. Para petugas
keamanan akan membawamu naik.” Beberapa laki-laki
berseragam berdiri di belakangnya.
Melva mengangguk, turun dari mobil dan melangkah
cepat diapit oleh para penjaga. Ia langsung menuju lift
melalui pintu samping tanpa diketahui banyak orang.
Untunglah para penjaga tahu kalau Melva adalah nyonya
pemilik gedung. Mereka menjaga sebaik mungkin agar tidak
terjadi insiden yang tidak menyenangkan.
Tiba di lantai 12, Ardit dan beberapa karyawan sudah
menunggunya. Ia digiring masuk ke ruang pertemuan. Ada
design kemasan untuk produk sabun dan sampo
terpampang di layar.
“Bagaimana? Kamu suka? Nanti ada foto wajahmu dan
tanda tangan di sampingnya. Aku yakin penggemarmu pasti
suka,” ucap Ardit dengan wajah berseri-seri.
238
Melva tersenyum. “Terima kasih. Di mana aku harus
tanda tangan?”
Beberapa karyawan datang, memberikan Melva kertas
putih. Ia tanda tangan bukan hanya sekali tapi berkali-kali,
demi menghindari kesalahan. Selesai itu, ia berfoto
bersama mereka lalu berpamitan pergi.
“Ah, cepat sekali kamu sudah mau pergi. Padahal aku
berniat mengajakmu makan siang.”
Perkataan Ardit hanya ditanggapi senyuman oleh Melva.
Ia tidak ingin berlama-lama di tempat ini dan menjaga basa
basi dengan orang yang tidak disukainya.
“Terima kasih, tapi saya ada pekerjaan lain.”
Ardit memaksa masuk ke lift, bahkan sengaja
mendorong Talia menjauh dan berdiri di samping Melva.
“MJ, kamu tahu bukan kalau perusahaanku bukan hanya
produk kebersihan, tapi juga makanan. Kelak semua produk
kami akan menggunakanmu sebagai model iklannya.”
Melva tersenyum tipis, tidak menjawab.
“Bayangkan, betapa namamu akan makin bersinar
setelahnya. Kamu mau bukan?”
“Urusan pekerjaan langsung pada manajer.”
“Aku menawarkan langsung padamu. Anggap saja ini
sebuah keistimewaan.”
Melva menahan kekesalan, merasa kalau Ardit sungguh
pemaksa dan cerewet. Ia bertemu pandang dengan Talia
239
yang juga terlihat kesal dengan sikap laki-laki itu. Saat pintu
lift terbuka, Melva bergegas keluar dan melintasi lobi yang
ramai. Beberapa penjaga mulai mengikutinya.
“Lihat, kan, MJ? Kerja sama denganku akan membuatmu
aman. Orang-orang ini mengamankanmu karena
perintahku.”
Terdengar dengkusan tajam dari belakang. “Bukan, Pak.
Petugas keamanan ini memang membantu karena kami
yang meminta.”
Ardit tersenyum kecil pada Talia. “Itu karena aku
penyewa di gedung ini. Kalau bukan? Mana mungkin
mereka mau? Dan, kamu hanya asisten. Sana jalan duluan,
aku ingin bicara berdua dengan MJ.”
“Nggak ada yang harus kita bicarakan,” sela Melva kesal.
“Ada, dan ini penting. Jangan munafik, semua orang
sudah melihat foto-foto itu.”
Langkah Melva terhenti seketika, tidak peduli sedang di
tengah lobi di mana orang-orang menatapnya. Ardi
menyeringai, merogoh ponselnya.
“Foto mesum antara kamu dan mantan pacarmu.
Ternyata kamu sexy sekali. Lalu, kenapa harus jual mahal
sama aku? Hah?”
Tangan Melva meraih ponsel Ardit dengan gemetar,
menatap foto-fotonya yang terpampang di media.
Ketakutannya menjadi kenyataan dan ia merasa sesak
napas sekarang. Ponsel terlepas dari tangannya, ia mundur
dengan gemetar.
240
“MJ, kamu nggak apa-apa?” Talia bertanya kuatir,
melihat Melva berdiri dengan wajah pucat.
Ardit terbatuk. “Dia nggak apa-apa, hanya sedang
senang karena aku menawarkan untuk kerja sama yang lain.
Betul bukan, MJ, Sayang?”
“Ada apa ini berkerumun di tengah lobi?”
Suara bariton seorang laki-laki membuat Melva
terperenyak. Ia menoleh dan pandangan matanya bertemu
dengan Adrian yang berdiri tak jauh darinya.
“Miss me, Honey?” Adrian membuka lengannya.
Melva tersenyum, setengah berlari mendekati Adrian
dan masuk dalam pelukan laki-laki itu. “Kamu sudah
pulang? Kok aku nggak tahu?”
“Sengaja nggak ngasih kabar, karena tahu kamu di sini.
Bagaimana? Surprise bukan?”
“Sangat. Ah, senangnya kamu pulang.”
Tidak menghiraukan orang-orang, keduanya saling
memeluk dan mengecup dengan mesra. Setengah beban
hidup Melva terangkat karena kehadiran suaminya.
“Ke-kenapa MJ pelukan sama Tuan Adrian?” Ardit
bertanya pada Talia yang tersenyum di sampingnya.
“Wajar, mereka suami istri. Memangnya Pak Ardit nggak
tahu kalau MJ sudah menikah?”
Ardit mengangguk. “Tahu, tapi nggak tahu kalau—”
241
“Suaminya adalah konglomerat pemilik gedung ini?
Anda ketinggalan informasi.” Talia berucap sinis. “Tapi,
nggak aneh, sih. Hanya orang dekat dan penting saja yang
tahu. Berarti kamu, bukan keduanya.”
Adrian menatap Talia dan Ardit yang mematung lalu
berbisik pada istrinya. “Kenapa wajah laki-laki itu
memucat?”
Melva tersenyum. “Karena kamu, mungkin. Dia nggak
menyangka kalau aku istrimu.”
“Tapi, reaksinya berlebihan.”
“Oh, itu karena dia baru saja merayuku, karena nggak
mempan dia mulai mengancamku.”
Adrian mengernyit bingung. “Mengancam dengan apa?”
Menghela napas panjang, Melva kini menyadari
kebodohannya. Kalau saja dari awal ia jujur dengan
suaminya, tentu tidak merasa sesulit sekarang untuk
berterus terang.
“Sayang, ada apa?” desak Adrian kuatir.
Mengangkat wajah, Melva menatap suaminya dengan
mata berkaca-kaca. “Sayang, kamu jangan marah. Foto itu
hanya kesalahpahaman. Sebenarnya tidak begitu.”
“Foto? Foto apa?”
“Fotoku dan Luke yang menyebar di internet hari ini. Itu
bukan seperti yang kamu pikir, aku bisa membuktikannnya.
Ada Kak Ratna dan Talia yang menjadi saksi.”
242
Terdiam sesaat, Adrian menangkup wajah istrinya dan
mengecup lembut bibir Melva. “Santai saja, kita akan
membahas masalah foto itu nanti. Sekarang, kita atasi dulu
laki-laki tua tidak tahu diri itu.”
Melepaskan tangannya, Adrian merangkul pundak
Melva dan melangkah ke arah Ardit, tepat saat laki-laki itu
berbalik hendak pergi.
“Pak Ardit, lama tidak bertemu. Tidak ingin
menyapaku?” teriak Adrian.
Ardit tertunduk di tempatnya berdiri, mengepalkan
tangan lalu membalikkan tubuh dan berusaha memasang
wajah tersenyum.
“Tuan Adrian, apa kabar?”
Para penjaga, termasuk Talia menyingkir saat Adrian
lewat dengan Melva dalam pelukannya. Beberapa langkah
di depan Ardit, mereka menghentikan langkah. Adrian
menatap Ardit dari atas ke bawah dengan pandangan
tajam. Seandainya tatapan bisa membunuh, tubuh Ardit
sudah tercabik-cabik menjadi serpihan.
“Kenalkan ini istriku, MJ.”
Ardit mengangguk. “Ah, hallo, Nona MJ.”
Melva hampir saja tersedak dan muntah mendengar
nada bicara Ardit yang berubah drastis.
“Kalau aku nggak salah dengar, kamu mengancam istriku
dengan foto-foto yang beredar di internet hari ini. Kenapa?
Kamu berani mengintimidasi istriku?”
243
Ardit memucat sekarang, menggeleng dengan tangan
bergerak cepat. “Bu-bukan begitu, Tuan. Saya nggak tahu
kalau itu, anu—”
“Kamu nggak tahu kalau MJ istriku? Seandainya dia
bukan istriku sekali pun, kamu sebagai laki-laki yang sudah
beristri, tidak selayaknya merendahkan wanita. Mereka
punya harga diri yang harus dijaga!”
“Maaf.” Ardit menunduk dengan tubuh gemetar.
Melva berdiri bingung dalam pelukan suaminya. Ia tahu
kalau gedung ini milik suaminya, tapi sikap ketakutan Ardit
dinilai sedikit berlebihan. Ada apakah? Kenapa Ardit terlihat
sangat takut dengan suaminya?
“Sayang, apa kamu menjadi bintang iklannya?” tanya
Adrian.
Melva mengangguk. “Iya, sabun dan sampo.”
“Sudah pengambilan gambar?”
“Sudah, kemarin.”
“Kalau semisalnya iklan ini gagal, kamu nggak apa-apa?”
Melva menggeleng. “Nggak apa-apa.”
“Baiklah kalau begitu. Sebelumnya, maafkan aku dulu.”
Selesai berbincang dengan istrinya, Adrian mengalihkan
pandangan pada Talia. “Kamu telepon Ratna, katakan
padanya kontrak iklan dengan produk Ardit dibatalkan.
Kalau Ratna tanya tentang konsekuensi, aku yang akan
membayar.”
244
Talia tercengang lalu mengangguk. “Baik, Tuan.” Ia
berlalu, dan merogoh ponsel untuk menelepon.
“Tu-tuan, kenapa dibatalkan?” rintih Ardit.
Adrian mengangkat dagu. “Kamu nggak pantas untuk
bekerja sama dengan istriku. Berapa besar nilai kontrak
akan aku kembalikan berikut bunga. Seingatku kamu ada
menunggak sewa kantor? Kamu lunasi, dan angkat kaki dari
gedungku!”
“Tu-tuan, ampun.”
“Nggak ada ampun, istriku lebih penting dari pada
bajingan macam kamu.” Adrian membalikkan tubuh,
berkata pada para stafnya termasuk Vector, yang sedari
tadi ada di belakangnya. “Vector, kamu mendengar apa
yang aku katakan tadi?”
Vector mengangguk. “Iya, Pak.”
“Aku memberinya waktu seminggu untuk berkemas dan
melunasi uang sewa.”
“Baik, Pak.”
Vector menghampiri Ardit dan merangkul laki-laki itu
menuju lift. “Kita bicara baik-baik di atas.” Tidak peduli
kalau Ardit merintih ketakutan.
Adrian membawa istrinya ke mobil, mengatakan pada
staf yang lain kalau ia akan pulang. Menggunakan mobil
pribadinya, Adrian menyetir sendiri dengan sang istri di
sampingnya. Saat kendaraan melaju meninggalkan gedung,
ia menoleh pada Melva yang sedari tadi terdiam.
245
“Kenapa, Sayang? Dari tadi diam saja? Kamu kasihan
pada laki-laki itu?”
Melva menggeleng. “Nggak, aku malah nggak peduli.
Yang aku pikirkan sekarang foto-foto itu dan bagaimana
reaksi keluargamu kalau sampai tahu. Ya ampun, sungguh
memalukan.”
Di lampu merah, mobil terhenti. Adrian mengusap
lembut kepala istrinya. “Jangan kuatir, aku akan
menuntaskan masalah ini.”
“Kamu nggak marah?”
“Marah kenapa?”
“Karena foto-foto itu. Aku nggak tahu Nikita dapat foto
foto itu dari mana. Dugaanku pasti dari Luke. Mereka
bekerja sama untuk menjatuhkanku.”
“Nggak usah kuatir, foto-foto itu tidak berpengaruh apa
pun padaku. Keluargaku pun akan bersikap sama.”
“Kamu sudah melihat?”
“Foto?”
“Iya.”
“Sudah, dalam perjalanan ke kantor. Ratna
meneleponku dan menjelaskan situasinya, sedangkan
kamu malah terdiam.”
Melva menunduk, menahan malu. Menyesali
keputusannya yang salah. “Maaf, aku tadinya berencana
246
ngomong kalau kita sudah berdua. Ternyata Nikita bergerak
lebih cepat dari dugaanku.”
“Jangan minta maaf terus menerus. Ini bukan
kesalahanmu. Aku akan mengatasinya.”
Di sisa perjalanan, Melva lebih banyak terdiam.
Suaminya memang mengatakan akan membantunya tapi ia
tetap tidak enak hati. Entah apa yang dikatakan para
penggemarnya sekarang, belum lagi awak media yang
berusaha mencari kebenaran foto. Ia yakin, ponsel Talia
dan Ratna tidak akan berhenti berdering. Permintaan
wawancara pasti banyak sekali. Di atas semuanya, ia
merasa tidak enak hati dengan suami dan keluarga
mertuanya.
Ia tersadar dari lamunan saat mobil menepi di tempat
yang sepi, tepat di bawah pohon pinggir sungai. “Kenapa
berhenti di sini?” tanyanya bingung.
Adrian merengkuh Melva, mengangkat dagu wanita itu
dan melumatnya perlahan. Ia tidak peduli kalau ada yang
melihat. Saat ini yang ia inginkan adalah membuat sang istri
melupakan masalah. Ciumannya berbalas dan mereka
saling memagut dengan hangat, melepaskan kerinduan
selama beberapa hari tidak bertemu. Melebur rasa rindu
dalam ciuman panjang memabukkan.
247
Bab 19
249
memakai bra untuk membungkus dadamu. Pasti sekarang
putingmu sedang menegang karena pendingin ruangan.”
Nikita tercengang, benar-benar tidak menyangka kalau
Luke akan sekurang ajar itu. Ia meraih gelas berisi wine dan
menandaskan isinya.
“Apa kamu juga terbiasa menilai tubuh wanita tanpa
sopan santun?”
Luke mengangkat bahu. “Aku hanya mengutarakan
pikiranku, tentang dadamu yang membusung dan kakimu
yang jenjang. Ingin tahu rasanya, bagaimana mencium
wanita angkuh sepertimu.”
Dada Nikita bergemuruh dalam rasa yang tidak
menentu, antara kesal dan ingin tahu. Ia mengepalkan
tangan, meraih tas dan bangkit dari sofa. “Rasanya sudah
cukup kita bicara.” Ia menjerit kecil saat Luke menarik
lengannya dan tubuhnya terjatuh di atas pangkuan laki-laki
itu. “Apa-apaan ini? Lepaskan aku.”
“Satu ciuman dan aku akan membiarkanmu pergi.”
“Apa?”
“Kenapa? Nggak berani? Takut jatuh cinta padaku?
Ayolah, ini hanya kontak fisik. Nggak ada hubungannya
sama perasaan. Harusnya kamu nggak takut.” Luke
tersenyum dengan mesum, mengusap perlahan bibir Nikita
yang membuka. Ia melihat keragu-raguan di mata wanita
itu dan memanfaatkannya dengan mendekatkan bibir.
“Satu ciuman saja,” bisiknya.
250
Entah siapa yang memulai, keduanya saling melumat
dengan panas. Tidak peduli pada pandangan orang-orang di
sekitarnya. Luke bukan hanya mencium, tapi juga membelai
bagian dalam mulut Nikita dengan lidahnya. Napas mereka
terasa berat dengan bibir saling berpagut. Bukan hanya
satu ciuman lembut, tapi hasrat yang membara saat bibir
mereka bersatu. Luke bahkan tidak dapat menahan
tangannya untuk tidak meremas dada Nikita.
Suara deheman menghentikan keduanya. “Maaf, ini
tempat umum.” Seorang pramusaji menegur mereka
dengan salah tingkah.
Luke mengerjap, menatap Nikita lalu pramusaji di
depannya. Ia menghela napas panjang, mengangkat Nikita
dari atas pangkuannya dan tanpa mengucapkan apa pun,
menarik tangan wanita itu menuju pintu keluar.
Tiba di tempat parkir yang sepi, Luke mendorong tubuh
Nikita hingga menempel pada bagian belakang mobil dan
kembali menyarangkan ciuman. Kali ini ia tidak menahan
diri untuk bersikap lembut. Tubuh dan bibir Nikita
membiusnya. Ia melumat bibir wanita itu, meremas
dadanya dan bisa merasakan Nikita menegang.
“Kamu ternyata panas dan memabukkan.” Luke berbisik
dengan jemari merayap naik hingga ke paha Nikita dan
tangannya mengusap pangkal paha wanita itu. “Aku yakin,
sekarang kamu sudah basah.”
“Ah, aku. Jangan di sini.”
251
Nikita mengelak, saat tangan Luke menyelusup masuk ke
celana dalamnya.
“Ke hotel. Oke?”
Nikita mengejang, dan mengerang panjang saat jemari
Luke kini mengusap area intimnya. Sungguh perbuatan
kurang ajar dan tidak bermoral tapi tubuhnya seolah
mengkhianatinya. Ia mendesah, mendamba lebih.
“Iya, ke hotel.”
Saat jawaban terlontar dari mulut Nikita, Luke
mengakhiri cumbuannya. Menggunakan mobil Nikita dan
meninggalkan mobilnya di parkiran bar, mereka menuju
hotel bintang lima terdekat. Malam itu, keduanya seolah
saling berperang dalam gairah. Tubuh berpeluh, bercumbu
satu sama lain, hingga pagi. Tanpa kenal lelah, keduanya
seolah tidak cukup mencapai kenikmatan dan
menginginkannya lagi serta lagi.
**
Agnes menatap ponsel di tangannya dengan serius.
Tidak memedulikan teman-temannya yang bercakap sambil
tertawa. Ada yang lebih menarik perhatiannya dari pada
obrolan teman-temannya. Ia mengernyit, saat foto-foto
Melva dan Luke muncul. Perasaan geram melingkupinya.
Untunglah kakaknya sudah menjelaskan duduk perkara
sebenarnya pada keluarga besar, jadi tidak ada masalah di
antara mereka. Tetap saja ia merasa geram karena nama
baik Melva tercemar.
252
“Kamu lihat apa?” tanya salah seorang temannya. “Oh,
foto-foto kakak iparmu. Itu palsu atau asli?”
Agnes mengangkat wajah. “Palsu. Ada orang jahat yang
menjebaknya.”
“Kasihan, dunia artis memang kejam.”
Teman-teman yang lain mengangguk setuju.
“Itulah kenapa, aku nggak suka artis, kecuali tentu saja
Neo. Dia bedaa.”
“Iyaa, Neo memang beda."
“Apalagi sekarang dia menjadi teman kampus kita.”
“Luar biasaaa.”
Agnes menahan dengkusan, tidak mengerti kenapa
semua teman-temannya memuja pemuda itu. Sedangkan
menurutnya tidak ada yang istimewa dari diri Neo. Suara
tawa mereka mereda saat segerombolan orang mendekat.
Agnes yang sedari tadi bersandar pada tiang, menegakkan
tubuh dan bersiap pergi. Ia tidak mengerti kenapa teman
temannya mendadak ribut sambil tertawa kecil, hingga ia
mengangkat wajah dan bertatapan dengan Neo.
“Kamuuu! Untunglah aku menemukanmu di sini.”
Agnes menatap sekilas, dengan sikap tidak peduli.
“Hei, kamu harus tanggung jawab padaku!”
Teriakan Neo bergema di lorong, membuat orang-orang
berhenti tertawa dan bercakap untuk melihatnya yang
sedang bicara pada Agnes.
253
“Tanggung jawab apa?” tanya Agnes bingung.
Neo mendekat, menatap Agnes tajam. “Kamu masih
nggak ngrasa bersalah? Apa kamu tahu karena petunjukmu
yang salah waktu itu, bikin aku nyasar dan hampir telat ke
tempat konser.”
“Trus?"
“Minta maaf sekarang!”
Agnes berkacak pinggang, menatap Neo dengan
pandangan penuh kebencian. “Aku nggak peduli kalau
seluruh kampus memujamu, asalkan jangan ganggu aku.
Soal waktu itu, aku nggak akan minta maaf. Kenapa?
Memang agak memutar tapi tetap saja arah yang sama.”
Neo mengernyit. “Ada jalan yang lebih cepat dan
sengaja.”
“Memang!”
“Kenapa?”
Mendekat, Agnes berucap tanpa senyum. “Karena aku
membencimu. Syukurlah kakak iparku tidak lagi bergaul
denganmu!”
Meninggalkan Neo dengan segudang tanda tanya di
wajah, Agnes bergegas pergi dan menyeruak kerumunan.
Tidak ada yang bisa menahannya, semua mahasiswa tahu
bagaimana perangai Agnes. Gadis itu salah satu yang
disegani di kampus dan tidak ada yang ingin bertindak
bodoh untuk menjadi lawannya.
254
“Gadis aneh,” gumam Neo bingung. “Kenapa dia bawa
bawa kakak iparnya? Memangnya aku kenal?” Tanpa
sengaja ia berucap keras hingga terdengar di telinga orang
lain.
“MJ,” celetuk gadis berambut merah.
Neo menatapnya. “Siapa?”
“Ipar Agnes, gadis tadi, adalah MJ.”
Pemahaman terlintas di kepala Neo. Sekarang ia
mengerti sikap permusuhan yang ditujukan gadis itu
padanya. Ternyata karena Melva. Sungguh di luar dugaan,
ia akan bertemu dengan Agnes.
“Nama yang bagus, Agnes. Gadis yang menarik.” Neo
merasakan hatinya tergetar saat menyebut nama gadis itu.
“Kita akan berkenalan lebih dekat setelah ini, Agnes. Aku
yakin itu dan akan aku hapus kebencianmu padaku.”
Entah ditujukan pada siapa, Neo bergumam dan
menatap punggung Agnes yang menghilang di kejauhan.
**
“Apa kamu yakin akan melakukan ini?” tanya Melva pada
suaminya.
“Yakin, ini jalan terbaik.”
“Berarti kamu siap tampil di muka publik?”
“Cepat atau lambat aku harus melakukannya. Punya istri
seorang artis, bukankah itu bagian dari kehidupan yang
harus aku jalani?”
255
“Maaf.”
“Jangan meminta maaf, semua bukan salahmu. Nikita
adalah kerabatku dan dia melakukan ini padamu, sungguh
membuatku marah!”
Melva memejam, merebahkan kepalanya di bahu sang
suami. Mereka sedang duduk di ruang VIP, sementara di
luar para awak media sedang menunggu. Setelah melalui
banyak pertimbangan, Adrian memutuskan untuk
membicarakan masalah foto-foto Melva ke hadapan media,
agar masyarakat tahu kebenarannya. Adrian sudah
mempunyai bukti asli dari foto-foto itu dan akan
menggunakannya untuk membela sang istri.
“Apa yang akan kamu lakukan pada Nikita? Dia belum
tahu bukan tentang presscon ini?”
Adrian meraih tangan sang istri dan meremasnya. “Aku
belum mengatakan apa pun, dan tidak ada yang tahu
masalah ini. Tidak juga Nikita apalagi Luke. Biarkan mereka
berada di atas angin.”
Melva tersenyum, membelai wajah suaminya. “Sayang,
kamu hebat.”
“Kamu baru tahu?”
“Hahaha. Suamiku hebat dan narsis.”
“Tentu saja, tidak hanya di bisnis tapi juga ranjang.
Benar, kan?”
Melva tidak mengelak, karena apa yang dikatakan
suaminya memang benar. Kemampuan Adrian memang
256
cukup mengesankan. Mampu membuat dirinya tak berdaya
dan terpuaskan hampir setiap malam. Rasanya, mereka
tidak tahan untuk tidak saling menyentuh setiap kali
berdekatan. Melva sungguh bahagia, punya seseorang
selain keluarganya yang begitu menjaga dan mencintainya.
Ia merasa menjadi wanita beruntung karena menikah
dengan Adrian.
Pintu membuka, Vector dan Talia muncul.
“Pak, sudah siap,” ucap Vector.
Adrian mengangguk, bangkit dari sofa dan meraih
lengan istrinya. Bergandengan tangan mereka menuju
ballroom tempat diadakannya konfrensi pers. Mereka
melangkah perlahan dan saat muncul, ratusan blitz kamera
tertuju pada mereka.
“Harap para teman media duduk dengan tenang.
Presscon akan kita mulai sekarang!” Vector memberikan
sambutan dan menyilakan Adrian serta Melva duduk.
“Dimulai dari yang paling depan, silakan bertanya.”
Satu jam berikutnya, Adrian dan Melva berpegangan
sambil menjawab berbagai pertanyaan media, tidak hanya
tentang foto-foto Melva tapi juga pernikahan mereka.
Semua hal yang disembunyikan selama ini diungkap ke
media. Melva sendiri merasa senang suaminya
membantunya bicara di depan media, dengan begitu para
penggemarnya tahu kalau ia tidak sendiri saat menghadapi
masalah. Ada suami yang selalu ada di sisinya untuk
mendukung.
257
Beberapa jam setelah konfrensi pers berakhir,
masyarakat dibuat heboh dengan kemunculan sosok
Adrian, suami Melva. Mereka sama sekali tidak menduga
kalau Adrian ternyata tampan dan kaya raya. Selama ini,
mereka hanya tahu Melva sudah menikah tapi bagaimana
rupa suaminya, tidak ada yang tahu. Segera saja, Adrian
mendapatkan banyak penggemar dan semua mendukung
aksinya dalam membela sang istri.
Fakta tentang foto juga diungkap, kalau itu sengaja
disebarkan oleh pihak lain. Bukti dikeluarkan kalau Melva
saat berfoto ada orang lain, bukan hanya berdua dengan
Luke, dan saat itu sang artis dalam keadaan memakai baju,
bukan telanjang seprti yang disangkakan banyak orang.
Orang-orang kini berbalik mencurigai Luke. Berbagai
spekulasi beredar di internet, kalau Luke terlalu cinta
dengan Melva hingga tidak mau melepaskan wanita itu.
Segala cara kotor dilakukan untuk mendapatkan Melva
kembali, seperti memanipulasi foto lama.
Malam harinya, Luke yang baru pulang syuting
menonton potongan wawancara Adrian dan Melva. Ia
merasa marah karena mereka berhasil membongkar cara
liciknya. Bukan hanya itu, ia membaca juga beragam
komentar masyarakat di internet dan kini mendapati
posisinya terdesak. Meraih gelas di meja, Luke
melemparkannya ke dinding hingga pecah berkeping
keping.
“Sialan! Benar-benar sialaan!”
258
Adrian menepati perkataannya untuk membuat
perhitungan dengan Luke. Laki-laki itu menyewa sejumlah
pengacara dan mendatangi sang aktor untuk melakukan
penuntutan berupa pencemaran nama baik. Tidak hanya
itu, Adrian juga membawa bukti-bukti penyelidikan tentang
kehidupan pribadi Luke yang sangat kelam.
“Beberapa wanita mengaku tidur denganmu. Kami tidak
peduli itu. Tapi, ada dua wanita adalah istri orang dan kini
para suami menuntutmu tentang perzinahan.”
Luke melotot. “Apa-apaan ini? Kami melakukannya atas
dasar suka sama suka. Mana ada penuntutan begitu.”
“Ada pasal perselingkuhan.”
“Apa? Kalian menjebakku?”
“Satu lagi, ada indikasi tindak kekerasan yang dilakukan
oleh saudara pada seorang wanita.”
“Bohong! Aku tidak pernah melakukan itu.”
“Bagaimana dengan saudara Anda yang dipenjara
karena melukai orang lain? Bukankah korban hampir mati?”
Luke terduduk di sofa, mengusap wajahnya dengan
sendu. “Urusanku, tolong jangan dikaitkan dengan adikku.
Memang aku akui sudah berbuat salah, memberikan foto
pada Nikita untuk keuntungan pribadi. Tapi, jangan bawa
bawa keluargaku.”
“Kami mengerti,” ucap salah seorang pengacara. “Klien
kami mengatakan, menarik dukungan dari film yang akan
259
dibintangi olehmu. Lalu, membatalkan beberapa kontrak
kerja sama.”
Kali ini, Luke menatap para pengacara dengan bingung.
“Apa urusan klien kalian dengan pekerjaanku?”
“Klien kami, Tua Adrian adalah investor dan produser
film barumu. Ada beberapa iklan yang kamu bintangi adalah
produk beliau dan secara jelas Tuan Adrian mengatakan,
kalau Anda tidak layak menjadi brand ambassador-nya.”
Luke merasa hancur sekarang. Setelah para pengacara
itu pergi, ia berteriak keras dan memaki kasar ke udara.
Setelah itu terduduk di sofa dengan wajah lesu. Karirnya
berada di ujung tanduk karena ulahnya sendiri. Ia kini sadar
kalau lawannya bukan orang sembarangan. Adrian
menepati perkataannya akan membuat Luke hancur kalau
berani menyakiti Melva. Kini, ucapan itu menjadi kenyataan
dan Luke merasa, penyesalannya tidak lagi berarti.
260
Bab 20
264
pernah berebut cinta dari wanita yang sudah menikah. Apa
pun alasannya.
Mendengkus kasar, Neo sedang mencari cara untuk
membalas perbuatan Agnes. Gadis itu sudah membuatnya
dalam masalah dari semenjak pertama bertemu. Karena
perbuatannya, ia mendapat teguran dari panitia karena
datang terlambat dan dianggap tidak professional.
Kebencian Agnes padanya juga tidak mendasar.
Melangkah perlahan dengan microphone menyala di
tangan, ia menuju tempat Agnes duduk.
“Untuk gadis yang duduk di dekat jendela, di mana
hatiku tersangkut cinta, aku mengalah pada rindu yang
candu.”
Agnes mendongak kaget saat sosok Neo berdiri di
depannya, Pemuda itu menatapnya dengan senyum
terkembang.
“Agnes, katamu kemarin kamu sudah memaafkanku dan
kita bisa memulai semua dari awal. Tapi, kenapa hari ini
kamu mengabaikanku?”
Suara Neo yang nyaring bergema di ruang kelas dan
menarik perhatian semua orang. Sementara Agnes
tercengang, teman-temannya justru bertukar tawa malu
malu.
“Apa-apaan ini,” ucap Agnes pelan. Menatap Neo
dengan pandangan tajam.
265
“Kamu masih bertanya ada apa setelah membuatku
kecewa? Kenapa, Agnes? Apakah aku tidak layak untuk
mendampingimu?”
Rayuan Neo disambut sorakan semua orang. Kini semua
mata tertuju pada Agnes dengan penuh keingintahuan.
Agnes mulai risih dan bicara tergagap. “Tu-tunggu, aku—
"
“Kamu memintaku menunggu? Aku rela asalkan kamu
jangan mengabaikanku.” Di akhir ucapan, Neo
mengedipkan sebelah mata ke arah Agnes yang melongo.
Tidak tahan dipermalukan, Agnes bangkit dari kursi dan
berdiri di depan Neo. “Kamu gila? Apa-apaan ini?”
Neo mematikan microphone, menatap Agnes dengan
senyum terkembang. “Kenapa marah? Semua kamu yang
memulai.”
Mengepalkan tangan Agnes berucap sinis. “Kamu
sedang membalas dendam padaku?”
“Nggak, jangan berprasangka buruk. Aku sedang
menguji diriku sendiri, tahan nggak menghadapi pesona
gadis cantik sepertimu, Agnes.”
“Jangan macam-macam denganku, aku bukan gadis
seperti para penggemarmu.”
“Memangnya kenapa mereka? Tidak sekaya kamu, yang
anak konglomerat? Bukan ipar artis terkenal seperti MJ, jadi
tidak sepadan denganmu?”
266
Agnes melotot, kaget dengan semua ucapan Neo. Ia
tidak menyangka kalau artis pendatang baru ini ternyata
tahu semua tentangnya. Tidak ingin memperpanjang
masalah, ia meraih tas di meja dan berniat pergi.
“Minggir! Aku nggak ada urusan sama kamu.”
Neo tidak bergerak, menatap Agnes dengan senyum
terkembang. “Kenapa buru-buru pergi, kita bahkan belum
memulai.”
“Kalau nggak mau minggir, aku tendang!”
“Ow, kamu mematahkan hatiku, Agnes.” Bergerak
perlahan, ia mendekati Agnes. Mendesak gadis itu hingga
tubuhnya bersandar pada meja dan dengan sengaja ia
mengulurkan tangan untuk memerangkap tubuh Agnes di
antara meja dan dirinya. “Ini baru pembalasan awal, Agnes.
Camkan itu. Lain kali, pikir dulu kalau mau main-main sama
Neo,” bisiknya lembut dengan mulut berada di telinga gadis
itu dan membuat heboh seluruh kelas karena
perbuatannya.
Agnes menyingkirkan lengan Neo, tanpa menoleh
bergegas ke arah pintu. Sorak sorai mengiringi langkahnya
dan ia berjanji dalam hati akan membalas perbuatan
pemuda itu.
**
Melva meringkuk dalam pelukan suaminya, merasakan
kehangatan dari tubuh laki-laki itu. Senang bisa berduaan
dan menikmati waktu bersama setelah rutinitas
melelahkan sepanjang Minggu.
267
“Kamu suka tinggal di sini?” tanya Adrian dengan parau.
“Senang, hotel yang bagus.”
“Mama yang mengkonsep garis besarnya.”
“Hebat sekali.”
“Itulah dia.”
Mereka menginap di salah satu hotel milik Adrian yang
berada di Bali. Menggunakan pesawat jet dari ibu kota ke
sini, bukanlah hal sulit untuk Adrian. Semua bisa ia lakukan
demi membahagiakan istrinya.
“Ratna mengatakan banyak tawaran film dan drama
untukmu.”
Melva mengangguk, jemarinya mengelus lembut dada
suaminya dan mempermainkan bulu-bulu halus yang
tumbuh di sana. “Beberapa aku tolak.”
“Kenapa?”
“Karena ceritanya hanya fokus roman. Aku nggak mau
terkenal gosip dengan lawan main, jadi lebih suka kalau ada
film yang meningkatkan kemampuan akting, seperti thriller,
horror, atau aksi.”
“Bukankah romansa lebih banyak peminatnya?”
“Memang, tapi aku nggak mau itu jadi fokus cerita. Kalau
untuk penunjang cerita, aku nggak masalah.”
Merengkuh kepala sang istri dan mengecup bibirnya,
Adrian berbisik mesra. “Kamu makin keren, Sayang.”
268
“Apanya? Nggak sekeren kamu bisa mengurus begitu
banyak bisnis. Aku aja sampai salut sama kamu, gimana
membagi semua pekerjaan dalam otakmu itu.”
“Oh, ini karena aku sudah latihan bekerja dari muda.”
“Demi ingin menjadi bisnisman?”
Adrian menggeleng. “Jujur saja, sebenarnya bukan itu.
Aku akan mengatakan yang sebenarnya tapi kamu jangan
tertawa.”
Melva mengangkat tubuh, bersandar dengan satu siku
tapi kembali berbaring karena Adrian menarik tubuhnya.
“Apaan, sih?”
“Aku akan membuat pengakuan cinta, pada wanita yang
selama bertahun-tahun ada di hati dan pikirannya. Satu
wanita yang tidak pernah terlepas dari pikiranku.”
“Siapa?”
“Kamu.”
Mata Melva melotot. “Bertahun-tahun?”
“Dimulai saat kita menjadi tetangga. Pernah suatu hari
aku mendengarmu menolak seorang anak laki-laki yang
mengatakan cinta padamu. Dengan lantang kamu berucap,
‘Apa yang kamu punya? Uang, harta, kedudukan? Kamu
masih kecil, hidup bergantung pada orang tua tapi sudah
mau punya pacar’ Setelah itu kamu memintanya pergi
untuk bersekolah yang baik dan bekerja, datang lagi kalau
sudah kaya raya. Dari situ aku mulai membangun tekat
untuk menjadi seperti yang kamu mau.”
269
Melepaskan pelukan Adrian dari tubuhnya, Melva duduk
dan menatap suaminya dengan mata berbinar. Sungguh
pengakuan yang mengejutkan baginya karena Adrian masih
mengingat dengan jelas apa yang ia ucapkan di masa lalu,
sedang ia sendiri sudah melupakannya. Bagaimana ia ingat,
tentang seorang anak laki-laki yang mengatakan cinta
padanya? Waktu itu jumlahnya sangat banyak dan ia
menolak dengan perkataan yang teringat di kepala. Tidak
ada maksud lain.
“Kenapa? Kamu kaget?” Adrian bertanya sambil
tersenyum.
Melva menggeleng, meraih tangan sang suami dan
mengecupnya. “Aku malah sudah lupa.”
“Sudah kuduga, berapa banyak anak laki-laki
menyatakan cinta padamu?”
“Bukan itu, tentang kamu yang masih mengingatku
bahkan saat kita berjauhan.”
“Yang jauh hanya jarak, Sayang. Aku nggak pernah lupa
padamu. Cinta pertama dan terakhirku.”
Melva tersenyum sendu, merasakan hatinya terketuk
oleh ucapan suaminya. Ia menyesali diri karena bertemu
lagi setelah sekian tahun berlalu. Harusnya, mereka bisa
bertemu lebih cepat dan ia yakin, tidak akan menjalin
hubungan dengan laki-laki lain seperti Luke.
“Selama ini kamu tahu tentang aku, Kak?”
270
Adrian mengangguk. “Iya, semua. Memperhatikanmu
dari jauh, termasuk saat kamu menjalin hubungan dengan
laki-laki. Aku bersabar untuk tidak membunuh laki-laki itu.”
“Hanya Luke.”
“Itu yang kamu sukai, tapi banyak yang menyukaimu.
Mereka melakukan segala cara untuk mendapatkanmu.”
“Kamu cemburu buta.”
“Memang.” Adrian mengakui tanpa malu. “Hanya sama
kamu.”
Benar-benar tersentuh oleh rasa cinta yang luar biasa
besar dari suaminya, Melva beringsut mendekat.
Mengecup pipi kanan dan kiri, kening, lalu bibir Adrian.
“Terima kasih, sudah mencintaiku.”
Adrian merengkuh tubuh istrinya. “Terima kasih sudah
datang di hidupku.”
“Aku sama sekali nggak nyangka kalau hubungan masa
kecil kita akhirnya membawa kita seperti ini. Aku harus
berterima kasih pada masa lalu.”
Adrian mengusap punggung istrinya. “Berterima kasih
pada gadis kecil pemberani, yang punya tekad kuat untuk
tidak mencari pacar meski dia popular. Gadis cantik yang
begitu menyayangi adikku dan meskipun tidak bisa
memasak tapi berusaha untuk menyenangkan kami. Gadis
yang begitu sabar menghadapi adikku yang pemarah dan
suka merajuk. Aku jatuh cinta dari dulu sampai sekarang,
271
dari gadis kecil kini menjelma menjadi wanita cantik yang
sexy.”
Melva terkikik, teringat masa lalu saat mereka
berkumpul di rumah besar Adrian. Ia dan Agnes bermain
bersama sementara Adrian sibuk dengan dunianya sendiri.
Ia tidak menyangka ternyata Adrian tahu saat ia harus
bersusah payah membujuk Agnes yang merajuk.
“Kalau seandainya waktu itu keluarga kalian nggak
pindah, kira-kira kita masih bisa seperti sekarang?”
Adrian mengangguk. “Masih, aku akan memastikan
kalau kita tetap akan menikah, meskipun kamu menjalin
hubungan dengan laki-laki lain. Aku akan menunggu dalam
diam, hingga kamu sadar kalau mereka semua tidak
sepadan denganku.”
“Sungguh rasa percaya diri yang luar biasa.”
“Demi cinta.”
Melva memekik saat Adrian menarik tubuhnya dan
menindih dengan posesif. Bibir laki-laki itu melumatnya dan
ia terengah. Mereka belum lama selesai bercinta dengan
menggebu-gebu di pagi buta, kini bukti gairah sang suami
kembali menegang. Mau tidak mau ia merasa kagum
dengan stamina suaminya.
“Kamu adalah hal terbaik yang datang dalam hidupku."
Melva berucap lembut saat bibir suaminya menyusuri
lehernya.
Adrian mengangkat wajah, menatap istrinya. “Kamu
adalah hal terindah yang ada dalam hati dan hidupku.”
272
“Aku mencintaimu.”
“Aku sangat mencintamu, Istriku.”
Mereka kembali berpelukan, saling mencumbu dengan
penuh gairah. Kerikil-kerikil hidup sudah mereka lewati,
tidak ada yang menduga kalau kelak akan muncul batu
sandungan yang lebih besar dalam menguji rumah tangga
mereka. Dengan cinta yang tersimpan rapat dalam dada,
dengan hasrat yang selalu berkobar tak pernah padam,
dengan rasa penghormatan tinggi atas cinta mereka,
keduanya berjanji untuk selalu bersama-sama hingga tua
nanti.
273
Epilog 1
279
Epilog 2
Rasanya benar-benar seperti dimanjakan. Melva
menikmati tiap waktu yang ia habiskan bersama suaminya,
dengan bermesraan dan bercinta menggunakan segala cara
di semua tempat yang memungkinkan.
Mereka menggunakan doggy style di pinggiran ranjang.
Saling menyentuh dan memuaskan di bathtub air hangat.
Melva bahkan dengan berani memberi oral sex suaminya
saat laki-laki itu sedang menerima panggilan dan berakhir
dengan dirinya mendesah di atas meja kerja Adrian.
Rasanya begitu liar dan menyenangkan. Sesuai dengan
keinginan Adrian, keduanya nyaris tidak berpakaian setiap
waktu karena besarnya gairah. Melva terkadang merasa
kagum dengan kemampuan dirinya dan sang suami.
Mereka sudah menikah setahun lebih tapi gairah tidak
memudar sedikit pun.
Mereka memakai pakaian lengkap saat staf kebersihan
datang untuk mengganti sprei dan membersihkan kamar.
Mereka menunggu di balkon sambil menikmati kopi dan
membiarkan staf bekerja.
“Apa Vector dan staf yang lain nggak protes karena
selama tiga hari ini kamu tidak keluar kamar?” tanya Melva
pada suaminya.
“Mana mungkin mereka berani protes,” jawab Adrian
tenang. “Mereka nggak ada hak menanyakan itu. Lagi pula,
280
mereka tahu kita sedang libur sekaligus bulan madu
kedua.”
“Ehm, aku hanya bertanya, mengingat tentang
banyaknya pekerjaanmu. Bagaimana kalau malam ini kita
dinner di bawah? Ada restoran Italy yang enak.”
“Tentu saja, Sayang.” Adrian meraih tubuh istrinya dan
tersenyum. “Aku akan senang kalau kamu memakai gaun
tanpa celana dalam.”
Melva melotot. “Tuan Adrian, tolong jaga sikap!”
Setelah berada di hotel selama tiga hari, malam ini
pertama kalinya mereka keluar. Dengan memakai gaun
keemasan berbahan lentur yang membungkus tubuh rapat
dari leher sampai mata kaki, sepasang anting-anting berlian
dan cincin pernikahan, Melva menggandeng tangan
suaminya melintasi lobi menuju restoran yang sudah
mereka pesan.
Staf restoran menyambut mereka dengan ramah,
terlihat sangat antusias saat melihat Melva, dan
mengantarkan ke meja yang dipesan.
“Pernah datang ke sini sebelumnya?” tanya Adrian.
Melva mengangguk. “Iya, chef-nya ramah dan suka
memasakkan menu spesial untukku.”
Adrian mengangguk. “Datang dengan siapa?”
“Teman-teman artis, sih, kebanyakan.”
“Luke?”
281
“Termasuk dia.”
Setelah kejadian foto waktu itu, Luke tidak lagi terdengar
kabar beritanya. Beberapa orang mengatakan kalau laki-laki
itu sedang menepi dan berjuang untuk membersihkan
nama untuk bangkit kembali. Tidak ada lagi dendam di hati
Melva dan Adrian tentang ulah laki-laki itu, apa yang
didapatkannya dengan menjadi bulan-bulanan publik dan
media, sudah cukup membayar kesalahannya. Begitu pula
Nikita. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk
meninggalkan tanah air dan melanjutkan study ke luar
negeri. Keluarga besar Adrian tidak ada yang menentang
keputusannya karena tahu Nikita memerlukan waktu untuk
memperbaiki diri.
Benar ucapan Melva, chef restoran mendatangi mereka
dan memberikan menu pembuka berupa Salada Nicois
istimewa yang terdiri atas sayuran dan ikan tuna. Tidak
hanya itu, manajer restoran membawakan sebotol anggur
yang lezat dan mentraktir keduanya.
“Senang bisa menjamu Tuan Adrian dan Nyonya MJ di
restoran kami.”
Saat hidangan utama berupa daging panggang diiris tipis
mulai dihidangkan, mereka dikejutkan oleh kedatangan
seorang wanita.
“Adrian, kamu datang kemari dan tidak mengabariku?”
Adrian mendongak dan tersenyum. “Kak Filia.”
Filia mengibaskan tangan. “Hais, sudah berkali-kali aku
katakan jangan memanggil kakak. Kita temenan, sudah
282
kenal lama. Kamu makin tampan.” Tanpa malu Filia memuji
Adrian dan membuat laki-laki itu tersenyum kecil.
“Kak, sudah pernah bertemu istriku sebelumnya
bukan?”
Filia dan Melva saling pandang, mengangguk kecil tanpa
kata. Tanpa saling bicara, aura permusuhan terlihat jelas di
antara keduanya.
Melva sudah pernah bertemu dengan Filia di acara
jamuan makan malam dengan klien. Sejak saat itu, ia sudah
menilai kalau Filia ternyata jenis wanita tidak tahu malu
yang berani merayu laki-laki yang sudah menikah di depan
istrinya.
“MJ, sang artis terkenal.”
Tanpa diundang Filia duduk di kursi kosong, menatap
bergantian pasangan suami istri di depannya.
“Kak Filia, wanita cantik yang sudah dianggap kakak
sendiri oleh suamiku,” ucap Melva dengan senyum manis.
“Hubungan kami memang sedekat itu, iya, kan, Adrian?”
Tanpa malu Filia membelai lembut punggung tangan Adrian
dan tersenyum melihat laki-laki itu salah tingkah.
Melva mengangguk. “Tentu saja, suamiku memang baik.
Berusaha bersikap ramah pada siapa pun terutama yang
membantunya dalam bisnis, iya, kan, Sayang?” Dengan
sengaja Melva menarik tangan suaminya dan meremas
lembut. “Kamu mau ke toilet? Cuci tangan.”
283
Adrian menatap mata istrinya yang berkilat dan melihat
tanda bahaya. “Aku pamit sebentar.”
“Mau ke mana?” tanya Filia.
“Ke toilet, Kakak. Masa mau ikut?” Melva yang
menjawab.
Sepeninggal Adrian, dua wanita cantik duduk
berhadapan dengan pandangan bermusuhan. Sebelum
pergi, Adrian memanggil manajer dan berpesan untuk
menjaga istrinya. Entah apa yang akan terjadi dengan pisau
dan garpu di meja kalau dua wanita marah bertemu.
“Posesif sekali kamu jadi istri,” desis Filia. “Apa kamu
nggak malu berbuat begitu?”
Melva mengangkat bahu. “Lebih malu lagi kalau
mengharapkan laki-laki yang sudah menikah.”
“Hubungan kami sudah dekat bahkan sebelum Adrian
mengenalmu.”
“Oh, nggak mungkin itu,” sela Melva lembut. “Aku kenal
dengan suamiku dari kami masih sama-sama bocah. Jadi,
nggak mungkin kamu mengenalnya lebih dulu.”
“Apa yang sedang kamu sombongkan? Aku dan Adrian
adalah mitra bisnis.”
“Aku harap status itu tidak berubah sampai nanti.”
Melva mengiris daging panggang, menusuk dengan garpu,
mencelupkannya ke saos dan mengunyah perlahan. Tidak
menawari Filia yang duduk di depannya. “Harusnya kamu
284
sadar diri, Kakak. Tidak peduli sedekat apa, kalian hanya
teman.”
Filia memukul meja, menatap geram. “Kalau bukan
karena rayuanmu, aku pasti sudah bersama Adrian
sekarang.”
“Kalau memang Adrian menyukaimu, dia akan berusaha
mendapatkamu. Itu yang dia lakukan padaku.”
“Itu karena kamu merayunya.”
Melva mengangguk. “Memang, merayunya nggak cuma
pakai bibir, tapi juga hati dan tubuhku.”
“Pelacur!”
“Wanita tak tahu malu. Sudah ditolak masih nggak sadar
diri! Sebaiknya kamu menjauh dari suamiku atau aku
akan—”
“Akan apa?” tanya Filia. Menatap remeh pada Melva.
“Kamu nggak punya kekuatan untuk mengintimidasiku.
Karena aku yakin kalau kamu orang miskin yang nggak ada
uang!”
“Nggak semua hal harus diselesaikan dengan uang,
contohnya, aku akan menggunakan kekuatan media untuk
menekanmu dan juga opini publik. Aku mungkin nggak
punya uang sebanyak kamu, tapi aku punya base
penggemar yang cukup besar untuk menekanmu. Mau
coba, Kakak?”
Filia melotot, merasa kalah. Mau tidak mau ia mengakui
kebenaran dari ucapan Melva. Ia memang punya uang tapi
285
wanita itu punya kekuasaan yang ia tidak punya yaitu,
penggemar. Merasa geram, tanpa berpamitan ia berlalu
pergi dan meninggalkan Melva sendiri.
“Ke mana dia?” tanya Adrian.
“Pergi, katanya nggak suka daging panggang.”
“Oh, syukurlah. Karena aku juga takut kurang kenyang
kalau dia minta jatah kita.”
Keduanya berpandangan lalu tertawa bersamaan. Melva
merasa gembira pada suaminya yang membiarkannya
mengatasi masalah dengan Filia. Adrian percaya, ia tidak
akan bertindak gegabah, begitu pula dirinya yang percaya
kalau laki-laki itu tidak akan pernah mengkhianatinya
bersama wanita lain. Mereka kembali ke kamar, dalam
keadaan kenyang dan hati gembira.
286
Epilog 3
287
“Saat kami menari bersama, itu murni untuk film.” Melva
memberikan keterangan dengan senyum terkembang.
Neo mengangguk. “Benar, lagi pula sudah lama nggak
latihan dan aku lupa juga.”
Acara talk show berjalan selama dua jam dan entah
kenapa Melva merasa kelelahan setelahnya. Padahal,
selama beberapa hari ini ia banyak istirahat karena tidak
banyak yang dikerjakan. Duduk di kursi, ia mencopot sepatu
hak tinggi dan meringis saat kakinya merasa pegal.
“Kenapa?” tanya Talia kuatir. “Wajahmu pucat.”
Melva mendongak. “Benarkah? Bedaknya terlalu
putih?”
“Bukan, tapi pucat memang.”
“Gawat. Setelah ini ada sesi pemotretan. Coba poles
dengan pemerah pipi.”
Talia mengangguk, memanggil perias wajah dan
memintanya memperbaiki riasan di wajah Melva. Tak lama
ia sibuk menerima telepon, mengatur jadwal pekerjaan
Melva dengan Ratna dan pihak-pihak yang akan bekerja
sama dengan mereka.
“Jangan sampai kamu sakit, Kak. Selama beberapa hari
ke depan, kita akan sibuk.”
Melva mengangguk, meremas pundak Talia. “Tenang
saja. Aku pasti sehat.”
“Minum vitamin.”
288
“Siapa yang sakit?”
Keduanya mendongak saat Neo menghampiri. Pemuda
itu baru saja berganti pakaian. Menatap bergantian pada
Talia dan Melva.
“Kak MJ, kamu sakit?”
Melva menggeleng. “Nggak, kok.”
“Syukurlah.”
Dengan tema guru dan murid, Melva melakukan
photoshoot bersama Neo. Keduanya berpose selama satu
jam dengan berganti dua kali pakaian. Dikelilingi orang
orang dengan panas lampu menyorot langsung padanya,
membuat kepala Melva pusing. Padahal, ia tidak pernah
merasakan seperti ini sebelumnya.
“Kak, kamu benar-benar pucat. Aku antar ke rumah
sakit.” Neo menawarkan diri. Melihat Melva dengan
kekuatiran yang tulus.
Melva menggeleng, memijat pelipisnya yang sakit.
Sekarang tidak hanya merasa pusing tapi juga mual.
Bersama dengan orang banyak dalam satu ruangan,
berbagai aroma seperti menusuk hidung dan membuatnya
tidak nyaman. “Nggak usah repot-repot. Aku bisa ke rumah
sakit sendiri sama Talia.”
“Santai aja, Kak. Kita teman.” Neo bersikukuh.
Akhirnya, ditemani Talia dan Neo, Melva pergi ke rumah
sakit, setelah sebelumnya memberi kabar pada suaminya.
Sepanjang perjalanan ia berusaha menahan mual tapi
289
akhirnya tidak sanggup. Tiba di lampu merah, ia
memuntahkan semua isi perut. Talia yang panik, berusaha
untuk tenang dengan memijat tengkuk Melva dan
mengelap keringat dingin.
“Bagaimana kalau di rumah sakit banyak orang yang
tahu?” tanya Talia.
Melva menggeleng. “Sudah diatur sama suamiku. Selesai
rapat dia menyusul.”
Tiba di rumah sakit, Melva dibawa langsung ke UGD
untuk ditangani. Tidak ingin menimbulkan kegaduhan dan
akhirnya mengganggu pasien lain, Neo menunggu dengan
sabar di pintu samping. Tak lama, keluarga Melva, Adrian,
dan Agnes datang. Sang dokter menyarankan mereka
menunggu hasil pemeriksaan dan hanya Adrian yang boleh
mendampingi.
Agnes yang melihat Neo, mengernyit. “Ngapain kamu di
sini?”
Neo menatap dengan acuh tak acuh. “Emangnya ada
larangan aku ke sini?”
“Aku nanya pakai sopan, ya?”
“Yup, dan penuh tuduhan juga.”
“Dia yang mengantar kami.” Talia menyela percakapan
dua orang muda di hadapannya. Ia tidak tahu sejak kapan
mereka saling mengenal dan melihat aura permusuhan
yang kental di antara mereka.
290
Agnes mendengkus, menatap Neo dari atas ke bawah.
“Oh, baik juga kamu ternyata.”
“Baru tahu?”
“Aku memang nggak pernah mau cari tahu.”
“Bagus, sama-sama tahu diri untuk nggak saling
ganggu.”
Talia yang berdiri di antara keduanya, merasakan
tubuhnya menggigil bukan karena dingin cuaca tapi karena
dinginnya sikap dua orang di depannya. Ia tidak habis pikir,
masalah apa yang mendasari sampai Agnes memusuhi Neo.
Setahunya, Agnes gadis yang baik dan ramah, tidak pernah
memandang buruk pada orang lain. Tapi dengan Neo,
sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat.
Neo menjauh, bersandar pada pilar dan merokok.
Sementara Agnes menghampiri kedua orang tua Melva
yang berdiri tak jauh dari pintu. Mereka berbincang sesaat
hingga seorang perawat mengatakan kalau Melva dipindah
ke ruang VVIP.
Tiba di sana, Agnes hampir terjengkang saat Adrian
memeluknya. Sang kakak terlihat sedikit emosional.
“Ada apa, Adrian?” tanya Kelly kuatir. “Apa terjadi
dengan MJ? Penyakitnya serius?”
Adrian melepaskan adiknya dan ganti memeluk
mertuanya. “Nggak, Ma. Justru kabar bahagia. MJ, hamil.”
“Apaa?”
291
Teriakan nyaring terdengar dari mulut mereka.
Ketidakpercayaan diselingi rasa bahagia, terpancar dari
wajah mereka.
“Be-benarkah?” tanya Kelly gagap.
Adrian melepaskan pelukannya. “Benar, Ma. Masuk saja.
MJ sudah menunggu di dalam.”
Tanpa disuruh dua kali, mereka membuka pintu dan
masuk secara bersamaan. Mereka berebut untuk memeluk
Melva dan mengucapkan selamat.
Berdiri di depan pintu, Adrian mengulurkan tangan
untuk menjabat Neo. Senyum gembira terukir di wajahnya.
“Terima kasih, sudah mengantar istriku ke sini.”
Neo menjabat tangan Adrian. “Sama-sama, Tuan. Sudah
tugas saya sebagai sahabat.”
“Ayo, masuk. Kamu pasti ingin bicara dengan MJ.”
Neo menolak. “Tidak, saya harus kembali ke studio. Ada
pekerjaan. Sampaikan salam saya untuk Kak MJ.”
Adrian mengangguk, menatap punggung Neo yang
menjauh, berbalik dan masuk ke ruangan istrinya dirawat.
Ia tersenyum di dekat pintu, melihat bagaimana istrinya
yang lemah berada dalam pelukan mertua dan adiknya.
Kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka. Akhirnya,
setelah menunggu selama setahun, mereka dianugerahi
buah hati. Mulai sekarang ia akan lebih memperhatikan
istrinya, dari mulai makanan, kegiatan, dan hal lain yang
perlu dilakukan, demi kesehatan sang istri dan calon anak
mereka.
292
Melangkah perlahan mendekati ranjang, Adrian meraih
kepala istrinya dan mengecup lembut. “Selamat, Mommy.”
Melva tersenyum, meringkuk dalam pelukan suaminya.
“Selamat juga, Daddy. Kita berhasil.”
“Kita berhasil. Mulai sekarang, kamu harus lebih
memperhatikan kesehatanmu.”
“Siap, Tuan Adrian.”
Mereka bertukar tawa gembira, dan malam itu untuk
pertama kalinya setelah menikah, Melva tidur di rumah
sakit, ditemani suaminya.
293
Epilog 4
294
Neo mengangguk. “Iya, padahal aku sudah pakai masker
dan kacamata. Nggak kepikiran kalau mereka akan nekat
mengejar di rumah sakit.”
“Kasihan. Tapi, mereka sudah pergi.”
“Iya, tunggu sebentar lagi baru keluar. Memastikan kalau
mereka benar-benar menjauh.” Neo menatap Agnes,
merasa heran karena bisa bicara akrab dengan gadis itu
tanpa rasa permusuhan. Padahal, beberapa jam
sebelumnya mereka masih saling berdebat dengan sengit.
“Kamu mau ke mana?”
Agnes tersenyum, merasa kikuk. Ia mengangkat bahu,
berusaha menyingkirkan ego dan rasa malu. “Mau cari
kamu.”
Neo mengangkat sebelah alis, kaget dengan ucapan
Agnes. “Untuk apa?”
“Ingin mengucapkan maaf, karena sudah berburuk
sangka dari awal. Kak Melva sudah cerita soal kamu, dan
aku juga baru tahu kalau kamu yang membawanya ke sini.
Jadi, terima kasih untuk itu.”
Permintaan maaf dan ucapan terima kasih dari Agnes
membuat Neo tercengang sampai tidak bisa berkata-kata.
Ia menatap gadis di depannya dan menyadari betapa cantik
Agnes. Dengan tinggi hampir sama dengan dirinya,
bertubuh langsing dengan rambut hitam sedikit
kecokelatan dan berponi, Agnes terlihat seperti boneka
hidup. Mata besar gadis itu, menambah kecantikan
wajahnya. Neo menghela napas panjang.
295
“Kalau aku memaafkan kamu, apa artinya kita
berteman?”
Agnes terdiam, menggigit bibir bawah lalu tersenyum.
“Iya, kita berteman.”
“Kalau begitu, boleh minta nomor ponselmu?”
Kali ini, Agnes tanpa ragu menyebutkan nomornya. “Kita
berteman sekarang.”
Neo mengulurkan tangan untuk saling berjabat tanda
damai. “Urusan dendam sebelumnya sudah selesai. Kita
berteman.”
“Iya.” Agnes menyambut uluran tangan pemuda di
depannya. Mereka saling menggenggam dengan mata
saling memandang dan bertukar senyum, hingga terdengar
suara benda jatuh dari ruang samping dan membuat
keduanya berjengit kaget.
Agnes melirik kamar sebelah dengan gugup. “Kamu tahu
bukan, di sebelah kamar apa?”
Neo mengangguk. “Kamar mayat.”
“Dan setahuku tadi nggak ada orang.”
“Jangan-jangan—”
Keduanya saling pandang dan tanpa menunggu aba-aba,
Neo menarik tangan Agnes dan mengajaknya keluar.
“Kita larii! Gawat kalau penghuni di sana marah!”
Agnes tertawa terbahak-bahak, membiarkan tangannya
ditarik oleh Neo dan mereka setengah berlari menuju
296
taman yang sepi. Keduanya berhenti di bawah pohon
mangga yang tumbuh lebat. Dalam temaram senja, dan
tidak ada yang ingin melepaskan diri dari genggaman, Neo
menatap Agnes dengan senyum tersungging. Tanpa
amarah, tanpa dendam, keduanya menghabiskan waktu
bersama diiringi senja.
**
Media meledak dalam pemberitaan kehamilan Melva.
Baik media cetak maupun televisi mengajukan tawaran
wawancara tapi ditolak. Beberapa influencer seperti
youtuber juga mengajukan diri untuk podcast, tapi tidak
satu pun diterima oleh Adrian. Ia merasa, tumbuh kembang
anaknya dalam janin, cukup hanya keluarga dan kerabat
dekat yang tahu. Tidak ingin anaknya yang masih dalam
kandungan, menjadi bulan-bulanan publik dalam beropini.
Menjadi artis tidak harus membagi semua privacy pada
publik, itu adalah prinsip Adrian.
Melva hanya menerima tawaran iklan, itu pun pilih-pilih.
Menolak tiga naskah film karena belum siap untuk syuting.
Ratna tidak berani mendesak karena tahu kalau artisnya
sedang ingin menjaga diri dari kelelahan karena bekerja.
Pekerjaan Talia kini lebih banyak dilakukan di rumah
Melva. Selain mengatur jadwal pekerjaan juga menambah
yang lain misalkan jadwal ke dokter dan mengecek
kandungan gizi dalam makanan Melva. Gadis itu
melakukannya dengan senang hati dan tidak mengeluh
297
meskipun banyak hal yang dikerjakan bukan bagian dari
pekerjaannya.
“Kenapa kamu nggak tinggal di sini saja? Di kamar
belakang masih ada yang kosong. Setahuku itu kamar paling
besar,” saran Melva. Ia melihat Talia pulang pergi dan
menjaganya hingga malam.
“Nggak enak sama Tuan Adrian, masa numpang.” Talia
menjawab sambil menunduk.
“Eh, suamiku harusnya nggak masalah.”
“Nggak, ah. Tetap nggak etis.”
“Kamu ini, apa-apa dibawa nggak enak.”
Meski begitu, Melva tidak memaksa. Ia berniat
mendiskusikannya nanti saat suaminya pulang. Ia tahu
Adrian tidak akan menolak usulannya. Karena yang ia
sarankan tidak akan merugikan orang lain.
Dugaannya benar, sepulang kerja ia dan sang suami
berbaring sambil berpelukan di ranjang. Jemari Adrian
mengusap lembut perut Melva dan berkali-kali mengecup
keningnya. Kelelahan sama sekali tidak terlihat dari wajah
laki-laki itu, setelah sepanjang hari bekerja.
Saat ia melontarkan ide agar Talia tinggal di kamar
belakang, tanpa banyak kata Adrian menyetujui.
“Ini rumahmu, lain kali nggak harus ijin untuk hal-hal
kecil begini.”
Melva tersenyum, menyentuh bulu-bulu halus di dada
suaminya. Yang memanjang hingga mencapai perut.
298
“Talia ngerasa nggak enak. Karena numpang.”
“Dia asistenmu, aku malah senang dia bisa menjagamu
sepanjang waktu saat aku nggak ada.”
Melva mengecup bibir suaminya. “Terima kasih,
Sayang.”
Adrian yang tidak terima hanya berupa kecupan,
memegang rahang sang istri dan melumat bibir Melva. Ia
menjulurkan lidah untuk membelai lidah Melva dan
bibirnya memagut panas. Gairahnya naik tapi ia menahan
diri karena tahu kondisi istrinya masih lemah. Mengingat
tentang itu, pelan-pelan ia melepaskan ciuman mereka.
Tangannya bergerak untuk meremas dada sang istri.
“Sakit?”
Melva menggeleng. “Nggak.”
“Beberapa bulan ke depan, aku harus bersaing dengan
anakku untuk memiliki dadamu yang indah ini.”
Melva tergelak, membiarkan jemari suaminya meraba
semua tubuhnya. Ia tahu, Adrian tidak akan berbuat lebih
jauh karena mereka sudah berkomitmen tidak akan
melakukan hubungan intim sampai janin dalam kandungan
kuat.
“Anak kita kelak akan menjadi penguasa cilik. Cucu
pertama di keluargaku dan keluargamu.”
memanjakannya.”
Melva mengangguk. “Kita tetap tidak boleh
299
“Iya, kita akan mendidik dengan benar. Jangan sampai
dimanja berlebihan sampai akhirnya menjadi anak tidak
mandiri. Aku ingin anakku bisa menjaga dirinya sendiri,
paling tidak kalau lapar bisa ceplok telur sendiri tanpa
gosong seperti mamanya.”
Keduanya berpandangan lalu tergelak. Bayangan masa
kecil mereka kembali berkelebat. Masa-masa yang mereka
habiskan dulu saat masih bocah, melakukan kegiatan
bersama dan Adrian yang mencintai Melva, tidak berhenti
berharap.
“Aku akan membuka satu rahasia padamu,” bisik laki-laki
itu.
“Apa?”
Adrian menegakkan tubuh, menatap istrinya. Sudah
saatnya Melva tahu kebenaran yang ia simpan bertahun
tahun lamanya.
“Kamu pasti bingung kenapa mendadak orang tuaku bisa
bertemu orang tuamu? Padahal keluarga kita berpisah
sudah bertahun-tahun.”
Melva mengedip. “Iya.”
“Itu karena aku yang mengatur.”
“Apa?”
“Aku mengawasimu selama ini, melihatmu tumbuh
menjadi gadis remaja yang cantik. Aku melihatmu meski
dari jauh.”
“Benarkah? Kenapa melakukannya diam-diam?”
300
Adrian mengusap perut istrinya dengan rasa sayang.
“Karena aku tidak ingin memaksakan kehendakku padamu.
Kita memang dijodohkan tapi aku merasa kamu juga berhak
bahagia. Aku tahu dengan siapa kamu berkencan, dan
setelah hubunganmu dengan Luke berakhir lama tapi kamu
masih tetap sendiri, aku memutuskan untuk maju.
Menggunakan sedikit cara untuk memancing mamamu
keluar dan bertemu mamaku dan mencetuskan ide
perjodohan.”
Melva tercengang sampai tidak bisa berkata-kata. Ia
tidak menyangka kalau Adrian bukan hanya pintar
mengatur strategi bisnis tapi juga jago dalam melakukan
perencanaan hubungan. Ia yang tidak tahu apa-apa, jatuh
begitu saja dalam pelukan laki-laki itu. Semua karena
rencana Adrian yang hebat.
“Wow, Sayang. Kamu hebat,” desah Melva.
Adrian tergelak. “Aku malu sebenarnya tapi mau
bagimana lagi. Aku terlalu mencintaimu sampai tidak ingin
kamu dimiliki laki-laki lain.”
Melva mengecup telapak tangan suaminya dan berbisik
dengan perasaan penuh cinta. “Terima kasih, Sayang.
Sudah memperjuangkanku.”
Adrian memeluk istrinya. “Karena kamu memang pantas
diperjuangkan. Terima kasih, sudah menjadi istriku.”
Keduanya berpelukan dengan perasaan cinta meluap di
dada. Cinta masa kecil berakhir dalam pernikahan yang
indah. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain dicintai
301
oleh orang yang kita cintai. Melva dan Adrian, saling berjanji
untuk menjaga keutuhan cinta mereka bersama.
Tamat
302
Tentang Penulis
Wattpad : [Link]/user/@NevNov
Facebook : [Link]/@NevNovStories
303