TUGAS MATA KULIAH : TRANSFORMASI ARSITEKTUR
DOSEN PENGAMPUH MATA KULIAH : Ir. PILIPUS JERAMAN, MT
TRANSFORMASI ARSITEKTUR
( METAFORA DALAM ARSITEKTUR )
DISUSUN OLEH :
RIKARDUS Y. DUGIS (221 17 081)
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
KUPANG
2022
METAFORA DALAM ARSITEKTUR
Pengertian Metafora
Secara etimologis, terminologi metafora dibentuk melalui perpaduan dua kata
Yunani, yaitu “meta” (diatas) dan “pherein” (mengalihkan/memindahkan). Dalam bahasa
Yunani Modern, kata metafora juga bermakna “transfer” atau “transpor”. Dengan
demikian, metafora adalah pengalihan citra, makna, atau kualitas sebuah ungkapan
kepada suatu ungkapan lain. (Classe, 2000). Berikut ini adalah pengertian metafora
menurut para ahli:
1. Menurut Aristoteles, metafora merupakan sarana berpikir yang sangat
efektif untuk memahami suatu konsep abstrak, yang dilakukan dengan cara
memperluas makna konsep tersebut dengan cara membandingkannya
dengan suatu konsep lain yang sudah dipahami. (Ortony, 1993)
2. Metafora merupakan ungkapan figuratif yang didasarkan pada
perbandingan. (Larson, 1998)
3. Metafora merupakan sesuatu yang istimewa dan hanya digunakan oleh
orang-orang berbakat sebagai ornamen retoris. (Amstrong, 1936)
Pengertian Metafora Dalam Arsitektur
Di dalam arsitektur, metafora juga diterapkan sebagai pendekatan dalam
arsitektur. Berikut ini adalah pengertian metafora menurut para ahli:
1) Menurut Geoffrey Boadbent
Metafora dalam arsitektur merupakan salah satu metode kreativitas yang
ada dalam design spectrum perancang.
2) Menurut Anthony C. Antoniades
Metafora dalam arsitektur adalah suatu cara memahami suatu hal, dengan
menerangkan suatu objek dengan objek yang lain, serta mencoba untuk
melihat suatu objek sebagai sesuatu yang lain.
3) Menurut C Snyder dan Anthony J Catennese
Metafora mengindentifikasi pola-pola yang mungkin terjadi dari hubungan-
hubungan pararel dengan melihat keabstrakannya.
Jenis-Jenis Metafora
Metafora merupakan sebuah pendekatan dalam arsitektur yang memiliki konsep
sebagai idenya dan hasilnya adalah berupa makna yang terungkap secara konkrit
maupun abstrak dari perancang kepada pengguna atau pelaku bangunan sehingga
bermakna konotatif di samping sebagai fungsi utamanya sebagai bangunan. Menurut
Anthony C Antoniades dalam bukunya Poetic of Architecture, terdapat tiga jenis kategori
dari pendekatan metafora dalam arsitektur. Ketiga jenis itu adalah:
1) Metafora Konkrit
Metafora yang berasal dari hal-hal visual serta spesifikasi / karakter
tertentu dari sebuah benda seperti sebuah rumah adalah puri atau istana,
maka wujud rumah menyerupai istana.
Gambar 1. Gereja Ayam
(Sumber: [Link] 2017)
2) Metafora Abstrak
Metafora yang berasal dari sebuah konsep, hakikat manusia, nilai-nilai
dan ide seperti: individualisme, naturalisme, komunikasi, tradisi dan
budaya. Ide dari metafora jenis ini berasal dari sebuah konsep yang
abstrak.
Gambar 2. Sydney Opera House
(Sumber: [Link] 2017)
3) Metafora Kombinasi
Merupakan penggabungan antara metafora konkrit dan metafora abstrak
dengan membandingkan suatu objek visual dengan yang lain dimana
mempunyai persamaan nilai konsep dengan objek visualnya. Metafora
kombinasi dapat dipakai sebagai sarana dan acuan kreativitas
perancangan.
Gambar 3. Puzzling World
(Sumber: [Link], 2017)
Prinsip-Prinsip Arsitektur Metafora
Didapati lima prinsip pendekatan arsitektur metafora yang perlu diperhatikan
dalam merancang dengan menggunakan pendekatan ini:
1) Metafora berarti usaha untuk memindahkan keterangan dari suatu
subjek ke subjek lain.
2) Metafora dalam arsitektur bukan hanya masalah penggunaan gaya
Bahasa, namun juga masalah pikiran dan tingkah. Metafora
mempengaruhi semua dimensi dalam indra manusia seperti melalui
warna, bentuk, tekstur, suara.
3) Metafora merupakan usaha untuk melihat suatu subjek menjadi
suatu hal yang lain untuk diterapkan ke dalam arsitektur.
4) Arsitek tidak hanya dapat menerapkan secara langsung, tapi juga
menerapkan dalam bahasa verbal dan konseptual suatu bentuk
metafora ke dalam sebuah gambaran visual dengan menggunakan
interpretasi yang berbeda untuk menghasilkan gambaran visual yang
baru. Cara ini dinilai lebih baik ketimbang menggunakan metafora
secara langsung ke dalam bentuk arsitektural.
5) Salah satu metode utama penerapanan metafora dalam arsitektur
adalah dengan mengubah fokus penyelidikan dan penelitian area
yang difokuskan dengan harapan hasilnya dapat melebihi ekspetasi
dalam menjelaskan subjek yang dimaksud secara luas dan dengan
cara yang baru.
Contoh Penerapan Pendekatan Metafora pada Arsitektur zaman modern
Berikut ini adalah contoh-contoh bangunan dengan pendekatan arsitektur
metafora baik secara konkret, abstrak, maupun kombinasi keduanya:
LEGO House
Sebuah bangunan yang diracang oleh arsitek Bjarke Ingel Group (BIG) ini
terletak di Denmark. Bangunan ini disebut-sebut menjadi LEGO
Experience Center dimana pengunjung dapat merasakan pengalaman
dan mengingat kembali pengalaman di dunia LEGO. Tidak hanya bentuk
bangunan, setiap furnitur di dalamnya dirancang khusus sesuai dengan
bentuk dan konsep dari LEGO itu sendiri.
Gambar 4. LEGO House
(Sumber: [Link], 2017)
Sydney Opera House
Sydney Opera House mnerupakan karya arsitektur yang memberikan
multi- interpretasi bahasa metafora kepada setiap orang yang melihatnya.
Bangunan yang dirancang oleh Jorn Utzon ini memberikan berbagai
macam interpretasi. Ada yang beranggapan bahwa konsep dari Sydney
Opera House berasal dari cangkang kerang atau siput. Ada juga yang
mengatakan bahwa konsep dari bangunan ini adalah kiasan layer kapal
yang sedang dikembangkan, ada juga yang berpendapat bahwa
bentuknya bagaikan bunga yang sedang mekar.
Gambar 5. Sydmey Opera House
(Sumber: [Link],
2017)
Puzzling World Wanaka
Karya Stuart Landsborough ini berbentuk seperti puzzle. Ia merancang
bangunan ini sebagai objek wisata di daerah Wanaka, Selanda Baru. Di
dalamnya terdapat ruangan - ruangan yang mengakomodasi permainan
teka-teki, kamar dengan ilusi optik, dan lain sebagainya.
Gambar 6. Puzzling World
(Sumber: [Link], 2017)
The Philips Pavilion
Contoh bentuk arsitektur metafora lainnya adalah The Philips Pavilion.
Bangunan ini adalah paviliun Pameran Dunia yang dirancang untuk Expo
'58 di Brussels oleh kantor Le Corbusier. Paviliun dirancang untuk
menampung tontonan multimedia yang merayakan kemajuan teknologi
pascaperang. Paviliun beton yang diperkuat adalah sekelompok sembilan
paraboloid hiperbolik di mana musik, karya Po Ede électronique, karya Edgar
Varèse, dirata-ratakan oleh para pembuat suara dengan menggunakan
sambungan telepon. Speaker dipasang di dinding, yang dilapisi asbes,
menciptakan tampilan bertekstur ke dinding. Skema spasial terperinci untuk
seluruh bagian yang memanfaatkan tata letak fisik paviliun, terutama
ketinggiannya. Bentuk arsitektur Philips Pavilion menyerupai perilaku suara,
dengan penekanan pada tinggi rendahnya suara yang diperlihatkan pada
tinggi dan rendahnya bagian-bagian bangunan. Metafora jenis ini dapat
dikategorikan sebagai intangible metaphor – metafora abstrak – bangunan
fisik arsitektur dibandingkan dengan sesuatu yang abstrak – suara.
Gambar 7. Philips Pavilion.
([Link]
TWA Terminal
Pusat Penerbangan TWA, juga dikenal sebagai the Trans World Flight
Center, adalah terminal bandara di Bandara Internasional John F. Kennedy
Kota New York. Terminal, yang dibuka pada tahun 1962, dirancang untuk
Trans World Airlines oleh Eero Saarinen. Desain aslinya menampilkan atap
cangkang (shell) tipis berbentuk sayap yang menonjol di atas terminal
utama; koridor keberangkatan-kedatangan berkarpet merah berbentuk
tabung; dan jendela-jendela yang tinggi memungkinkan pandangan luas dari
jet yang berangkat dan tiba.
Gambar 8. Eksterior TWA Terminal in New York.
([Link]
Nationale Nederlanden (Prague, Czech Republic)
Nationale Nederlanden, karya Frank O. Gehry adalah tempat kantor,
restoran, galeri, dan pusat konferensi. Bangunan Nationale Nederlanden,
yang dikenal sebagai “Dancing House” atau kadang-kadang “Fred and
Ginger”, adalah salah satu landmark paling signifikan di Praha dan jelas
merupakan bagian paling terkenal dari arsitektur Ceko pasca-1989. Bentuk
arsitektur bangunan merupakan bentuk metaforis yang berupa tarian yang
dilakukan oleh “Fred” and “Ginger”. Bangunan ini juga sekaligus
mencerminkan konsep “maskulin” dan “feminine”.
Gambar 9. Nationale Nederlanden.
([Link]
Gambar 10. Tarian “Fred” dan “Ginger” dan konsep maskulin-feminin.
([Link]
Jewish Museum Berlin (Berlin, Germany)
Jewish Museum Berlin, yang dibuka untuk umum pada tahun 2001, didesain
oleh arsitek Daniel Libeskind. Keseluruhan komposisi bangunan adalah
Bintang Daud yang terdistorsi, dengan kekosongan “lurus” yang menjalar di
sepanjang bangunan. Metafora bangunan ini menggunakan fragmentasi,
kekosongan, dan disorientasi. Unsur paling jelas dari eksterior bangunan
adalah Bintang Daud yang terfragmentasi dari mana rencana itu berasal. Ini
dikombinasikan dengan kontras garis lurus dari kekosongan, yang dapat
dilihat dari atas dalam bentuk elemen atap. Libeskind menyatakan, “Satu
adalah garis lurus, tetapi dipecah menjadi banyak fragmen, yang lain adalah
garis berliku-liku, tetapi terus tanpa batas”. Bentuk arsitektur metaforis
bangunan Jewish Museum Berlin adalah fragmentasi “Bintang Daud” yang
diwujudkan segmen-segmen dari bagian-bagian bangunan, yang secara
keseluruhan terkesan terpatah-patah mengikuti garis lurus tertentu. Bentuk
metaforisnya dapat dikategorikan sebagai metafora abstrak.
Gambar 11. Jewish Museum Berlin
([Link]
Bentuk Arsitektur Metafora zaman kuno
Dunia Kuno didominasi oleh peradaban dan arsitektur yang dibangun oleh
manusia-manusia yang menggantungkan hidupnya di tepian sungai: Sumeria
dengan Sungai Eufrat-nya, Mesir dengan Sungai Nil-nya, dan India dengan
Sungai Indus- nya. Bentuk arsitektur metafora dapat dijumpai pada bagian-
bagian bangunan kuil (rumah pendewaan) di Mesir, salah satunya adalah kuil
Amon di Karnak, wilayah Thebes, yang didirikan oleh Raja Thutmosis III, yang
memerintah Kerajaan Mesir Baru sekitar 1490-1436 SM. Kuil yang didirikan
untuk dewa Amon Re ini merupakan salah satu kuil yang besar dan sangat
indah. Bangunan kuil ditopang oleh deretan pilar yang bentuk batang dan
kepalanya menyerupai pohon papyrus dan lotus. Bentuk pilar-pilar (batang dan
kepalanya-kapitel) pada kuil-kuil di Mesir Kuno merupakan bentuk-bentuk
metaforis.
Gambar 12. Pilar Kuil Amon di Karnak ([Link]
Gambar 13. Bentuk alam sebagai acuan bentuk pilar
([Link]
Bentuk Arsitektur Metafora Zaman Klasik
Zaman Klasik menghadirkan peradaban dan arsitektur Yunani Kuno dan
Romawi. Ilmu-ilmu yang lahir dan berkembang di Dunia Barat, seperti filsafat,
keagamaan, astronomi, matematika, logika, fisika, biologi, hukum, politik,
pemerintahan, sosial, ekonomi, estetika dan arsitektur, semuanya mengacu
kepada pemikiran para filsuf besar Yunani, Sokrates, Plato, Aristoteles, dan
seorang teoritikus ilmu arsitektur dan rekayasa Romawi, Marcus Vitruvius
Pollio. Hasil karya Vitruvius, yang dianggap fenomenal, yakni De Architectura
Libri Decem – The Ten Books on Architecture, sebuah karya tentang arsitektur
paling tua yang masih ada hingga sekarang. Karya ini dibuat pada sekitar akhir
abad pertama Sebelum Masehi atau awal abad pertama Masehi. Vitruvius
menyamakan bangunan yang sempurna dengan tubuh manusia – bentukan
bangunan yang metaforis “Symetry adalah hubungan antar bagian-bagian yang
berbeda secara keseluruhan, dan sesuai dengan bagian tertentu yang dipilih
sebagai standar. Dalam tubuh manusia ada semacam harmoni simetris antara
lengan, kaki, telapak, jari, dan bagian-bagian kecil lainnya; dan demikian juga
dengan bangunan yang sempurna.” Dalam Arsitektur Klasik telah berkembang
tiga aliran – order – yang didasarkan pada susunan atau konstruksi kolom
dan balok pada bangunan, terutama kuil, yaitu order Dorik, Ionik, dan
Korinthian, Masing-masing order mempunyai kekhasan.
Gambar 14. Order Yunani
([Link]
Bentuk Arsitektur Metafora Zaman Pertengahan
Zaman Pertengahan, yang menurut sebagian ahli disebut pula Zaman
Kegelapan (The Dark Ages), yang meliputi periode sekitar abad 5 – 15 Masehi,
ternyata telah melahirkan peradaban dan arsitektur yang luar biasa.
Bersendikan agama Kristen dan Islam, Peradaban dan Arsitektur Zaman
Pertengahan, telah memperlihatkan kepada kita kehidupan keagamaan Kristen
dan Islam, dan kekaryaan arsitektur peribadatan, gereja dan mesjid,
dan istana kebesaran. Salah satu karya arsitektur Zaman Pertengahan yang
monumental, yang bangunannya masih bisa disaksikan, adalah istana
Alhambra di Granada, Andalusia (Spanyol). Model dekorasi Spanyol-Muslim
mencapai puncak kebesarannya pada bangunan istana Dinasti Nashriyah yaitu
Alhambra. Istana yang menjadi Akropolis-nya Granada ini, dirancang dan
dibangun oleh beberapa penguasa muslim Dinasti Nashriyah. Dimulai oleh
Muhammad I Al-Ghalib sekitar 1248, konstruksinya disempurnakan oleh Abu
AL-Hajjaj Yusuf (1333- 1354) dan oleh penerusnya Muhammad V Al-Ghani
(1354-1359). Bentuk metaforis dari bagian istana Alhambra adalah bentuk
stalaktit atau sarang lebah pada kapital pilar dan bagian atas interior ruangan.
Dalam arsitektur Islam bentuk atau hiasan ini dikenal dengan Muqarnas.
Stalaktit adalah jenis speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari
langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes.
Gambar 15. Muqarnas pada bagian atas interior istana Alhambra
([Link]
Refferensi Artikel
KONSEP METAFORA DALAM ARSITEKTUR
|arsitekturUMJpress|
Penulis: ASHADI
CETAKAN PERTAMA, Nopember 2019
Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002 Dilarang
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengancara apapun tanpa izin
tertulis dari Penerbit.
Desain Sampul : Abu Ghozi
Tata Letak : Abu Ghozi
Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT)ASHADI
Konsep Metafora Dalam Arsitektur
Jumlah Halaman 88
ISBN 978-602-5428-29-6
Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510Tetp. 021-
4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: arwityas@[Link]
Gambar Sampul: Satalos TGV Station in Lyon, France, by Calatrava
([Link] akses 1 April 2019)
Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan