MODUL KEPERAWATAN JIWA 2
NHA 530 (KJ101)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI
DISUSUN OLEH
Ns Diah Sukaesti, M. Kep, Sp. Kep. J
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2023
[Link] 0 / 11
SUBTOPIK 3 Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Risiko Bunuh Diri
A. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa mampu :
1. Mempraktekan cara melakukan pengkajian pada pasien dengan Risiko bunuh
diri
2. Mempraktekan cara membuat analisa data
3. Mempraktekan cara merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien resiko
bunuh diri
4. Mempraktekan cara melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan risiko
bunuh diri
5. Mempraktekan cara melakukan evaluasi tindakan pada klien dengan resiko
bunuh diri
6. Mempraktekan cara mendokumentasikan hasil asuhan pada klien dengan risiko
bunuh diri
B. Uraian dan Contoh
1. Pengertian Resiko Bunuh Diri
Risiko bunuh diri dalam SDKI merupakan label diagnosis dengan kode D.0135 yang
didefinisikan sebagai berisiko menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan, bisa
dikarenakan gangguan perilaku, perubahan demografi, gangguan fisik, masalah
psikososial, dan gangguan psikologis. Risiko bunuh diri adalah kerentanan terhadap
melukai diri sendiri dan cedera yang mengancam nyawa (NANDA, 2018). Tindakan
mengakhiri hidupnya berupa isyarat, ancaman, serta percobaan bunuh diri (Stuart,
Keliat & Pasaribu, 2016).
2. Melakukan pengkajian pada pasien dengan Risiko Bunuh diri
a. Melakukan pengkajian Faktor predisposisi secara Biologis (dengan menanyakan
riwayat penyakit terdahulu , riwayat kejang, riwayat jatuh) Psikologis dan
social kultural (hal yang di kaji riwayat korban kekerasan, ketidakmampuan
mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan, merasa bersalah dan tidak
berharga
[Link] 1 / 11
b. Melakukan pengkajian Faktor presipitasi secara Biologis, psikologis dan social
Kultural
c. Mengkaji perilaku mencederai diri sendiri secara langsung, meliputi segala
bentuk aktifitas bunuh diri seperti ide, ancaman, percobaan bunuh diri dan
tindakan bunuh diri. Tujuannya adalah kematian dan orang tersebut menyadari
kematiannya
d. Mengkaji perilaku mencederai diri secaratidak langsung adalah setiap
kegiatan yang berbahaya bagi kesejahteraan fisik seseorang dan berpotensi
dapat menyebabkan kematian
e. Mengkaji perilaku bunuh diri yang terdiri dari Ide Bunuh diri, ancaman bunuh
diri, percobaan bunuh diri dan perilaku bunuh diri.
Ide bunuh diri adalah pikiran membunuh diri sendiri baik yang dilaporkan
sendiri maupun yang dilaporkan orang lain. Ide bunuh diri bisa pasif ketika
hanya ada pikiran bunuh diri tanpa niat dan [Link] aktif ketika ada
pemikiran dan rencana yang menyebabkan kematian dirinnya.
Ancaman Bunuh diri /Isarat Bunuh Diri adalah peringatan langsung atau
tidak langsung atau tidak langsung, verbal dan non verbal berencana untuk
mengakhiri dirinya sendiri, pernyataan yang sering muncul adalah “apakah
anda mengingat saya kalau pergi” “ Jaga keluarga saya ya” “ saya tidak akan
lama lagi di sini” Tidak ada lagi yang saya bisa lakukan” saya tidak bisa lagi
menghadapi keadaan ini’
Percobaan Bunuh diri adalah upaya tindakan mandiri yang diambil oleh
seseorang yang akan menyebabkan kematian jika tidak di hentikan. Dalam
pengkajian perilaku bunuh diri penekanan pada tempat pelaksanaan dan
metode yang mengancam yang di gunakan untuk kematian. Orang yang paling
berisiko bunuh diri adalah orang yang memiliki semua hal berikut metode
yang sangat mematikan (misalnya tembakan kepala) Rencana spesifik dan alat
yang tersedia(misalnya pistol tersedia di laci).
Bunuh diri yang berhasil atau bunuh diri adalah kematian yang diakibatkan
oleh diri sendiri berupa cedera, keracunan atau napas tersumbat yang di
buktikan bahwa orang yang meninggal berniat bunuh diri.
Faktor Kunci Resiko tinggi Resiko sedang Tanpa
(1:1) (observasi Tiap pengawasan
[Link] 2 / 11
15 menit)
Kontrak untuk keamanan Tdk mau/tdk Ya tapi ragu- Kontrak untuk
keamanan
mampu ragu dan/
dapat
kontrak krn diawasi dipercaya
orientasi
realitas
terganggu
Rencana bunuh diri Mempunyai Mempunyai Tidak
rencana rencana tapi berencana
aktual/mudah sukar
mencapai melaksanakan
metode yg metode yg
dipilih dipilih
Resiko rencana Rencana Rencana Rencana
berbahaya kurang kurang
mematikan berbahaya berbahaya
Resiko lari Tinggi Rendah Tidak ada
resiko
Ide Bunuh diri Konsisten Intermiten Tidak ada
Riwayat percobaan Ada resiko Ada dan kurang Tidak ada
bunuh diri mematikan berbahaya
Gejala: Ada 5-6 gejala Ada 3-4 gejala Tidak ada
- Putus harapan
- Ketidakberda-
yaan
-Adhedonia
-Rasa bersalah
-Malu
-Marah
-Kekerasan
-Impulsive
Pikiran saat ini konstan Kadang-kadang Jarang
(preokupasi dgn yang
[Link] 3 / 11
mati dan fantasi reuni)
Keterangan Score tinggi lebih dari 10
Score sedang 4 - 9
Rendah 0 – 3
3. Mempraktekan cara membuat analisa data
Data yang di dapat di kelompokan kedalam data subyektif dan obyektif dan di masukan
sesuai dengan masalah keperawatan yang ditemukan
4. Mepraktekan cara merumuskan diagnose keperawatan
Setelah melakukan pengkajian, perawat dapat merumuskan diagnosa keperawatan
berdasarkan tingkat risiko dilakukannya bunuh diri.
Berdasarkan data yang didapat ditetapkan diagnosis keperawatan
Risiko Bunuh Diri (D.0135)
Bila perawat telah merumuskan masalah ini, maka perlu segera melakukan tindakan
keperawatan untuk melindungi pasien.
5. Melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan resiko bunuh diri
a. Tindakan keperawatan untuk ancaman bunuh diri
1) Menemani pasien terus menerus sampai dapat di pindahkan ke tempat yang
aman
2) Menjauhkan semua benda-benda yang berbahaya, (misalnnya Pisau, gelas, silet,
ikat pinggang)
3) Menyakinkan pasien apakah sudah benar-benar minum obat
4) Jelaskan kepada pasien bahwa perawat akan melindungi pasien sampi benar-
benar tidak ada keinginan bunuh diri.
b. Tindakan keperawatan untuk pasien dengan isayat bunuh diri
1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri yaitu meminta
bantuan dari tetangga atau teman.
[Link] 4 / 11
2) Meningkatkan harga diri pasien dengan cara : memberi kesempatan pasien
mengungkapkan perasaannya, berikan pujian bila pasien dapat mengatakan
perasaan yang positif, menyakinkan pasien bahwa dirinya penting.
3) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya di syukuri oleh pasien.
4) Latih control pikiran bunuh diri dengan pikiran diri positif.
5) Latih Kontrol pikiran bunuh diri dengan pikiran positif keluarga dan lingkungan
6) Latih menyusun rencana masa depan
7) Latih menyusun kegiatan masa depan.
c. Tindakan keperawatan untuk ancaman Bunuh diri
1) Bina hubungan saling percaya
2) Pastikan bahwa pasien dalam kondisi aman, temani pasien terus menerus,
jauhkan benda-benda yang berbahaya seperti pisau silet dan gunning.
3) Memastikan pasien apakah benar-benar minum obat.
6. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga Pasien Risiko Bunuh Diri
Keluarga (pelaku rawat) diharapkan dapat merawat pasien risiko bunuh diri di rumah dan
menjadi sistem pendukung yang efektif bagi [Link] keperawatan yang dapat
diberikan pada keluarga sebagai pelaku rawat pada pasien dengan risiko bunuh diri, yaitu:
a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
b) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya risiko bunuh diri dan
mengambil keputusan merawat pasien.
c) Melatih keluarga menciptakan suasana keluarga dan lingkungan yang aman:
1) Pasien ancaman/percobaan bunuh diri:
(a) Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah
meninggalkan pasien sendirian
(b) Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-barang
berbahaya disekitar pasien
(c) Mendiskusikan dengan keluarga orang yang dapat membawa pasien ke
rumah sakit sesegera mungkin
(d) Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara teratur
[Link] 5 / 11
2) Pasien isyarat bunuh diri:
a) Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien
memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri.
b) Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:
c) Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien di tempat yang
mudah diawasi, jangan biarkan pasien mengunci diri di kamarnya atau
jangan meninggalkan pasien sendirian di rumah
d) Menjauhkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri.
Jauhkan pasien dari barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri,
seperti: tali, bahan bakar minyak / bensin, api, pisau atau benda tajam
lainnya, zat yang berbahaya seperti obat nyamuk atau racun serangga.
e) Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila
tanda dan gejala bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan
pengawasan, walaupun pasien tidak menunjukan tanda dan gejala untuk
bunuh diri.
f) Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas.
g) Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien
melakukan percobaan bunuh diri, antara lain:
h) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk
menghentikan upaya bunuh diri tersebut.
i) Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas mendapatkan
bantuan medis
d) Melatih keluarga cara-cara merawat, membimbing dan memantau pasien mengatasi
risiko bunuh diri: afirmasi positif diri sendiri, keluarga, lingkungan dan masa depan.
e) Menganjurkan follow-up ke fasilitas pelayanan kesehatan secara teratur
(1) Mendiskusikan kepada keluarga tanda dan gejala kekambuhan yang memerlukan
rujukan segera ke fasilitas kesehatan.
(2) Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan
[Link] 6 / 11
(3) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/kontrol secara
teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya.
(4) Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip lima
benar yaitu benar orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara
penggunakannya, benar waktu penggunaannya
7. Mempraktekan cara melakukan evaluasi pada pasien dengan bunuh diri.
Pasien mampu mengungkapkan bahwa tidak ada keinginan melakukan bunuh diri
Keluarga mampu merawat pasien dengan risiko perilaku bunuh diri
8. Mempraktekan cara melakukan dokumentasi pada pasien dengan Resiko bunuh
diri “
Nama pasien :
No register
Tindakan keperawatan Evaluasi
Kamis, 11 April Pukul 10.00 WIB Pasien
S : Pasien merasa lebih berguna dan
Data Pasien dan Kemampuan: pikran bunuh dirinya hilang
Pasien menyatakan pikiran bunuh diri Keluarga :
mulai berkurang, saya masih mampu Keluarga mersa lega karena pikiran bunuh
membantu keluarga merapikan kamar, diri anaknya hilang dan keluarga merasa
mencuci pakaian sendiri, memasak senang karena bisa merawat anaknya
untuk keluarga, tapi keluarga belum
menghargai saya, mampu menyebutkan O:
3 cara berpikir positif terhadap diri, Pasien:
mampu secara mandiri mengatakan Pasien dapat membuat daftar daftar aspek
pada diri hal positif dirinya positif keluarga dan lingkungannya,
mampu melakukan afirmasi aspek positif
Data Keluarga dan Kemampuan: keluarga dan lingkungannya.
Keluarga menyatakan sudah mengerti
tentang risiko bunuh diri, tanda dan Keluarga:
gejala dan cara mencegah risiko bunuh Keluarga dapat mendukung pikiran positif
diri, sudah memberikan pengawasan pasien terhadap keluarga: memberi
dan mengatakan kepada Siti bahwa pujian/penghargaan kepada pasien, tidak
mereka sangat sayang padanya dan membicarakan keburukan pasien,
[Link] 7 / 11
anaknya mulai ceria, tidak tanpak mengajak bicara pasien,mendengarkan
murung lagi, mau merapikan kamar perasaan dan harapan pasien.
sendiri, mencuci pakaian sendiri,
memasak mie sendiri, melakukan A : Risiko Bunuh Diri
afirmasi sesuai jadwal secara mandiri
dan mencatat hal positif yang P:
dimilikinya pada buku catatan Pasien:
Menuliskan hal positif dari keluarga dan
Diagnosis: Risiko bunuh diri lingkungan 5x/sehari, dan berpikir
(afirmasi) positif tentang diri 5x/hari
Intervensi: Keluarga:
Tidakan pada Pasien: Memberikan pujian 5x/hari, mengajak
Latihan cara mengendalikan diri dari bicara pasien 5x/hari, mendengarkan
dorongan bunuh diri: ungkapan perasaan dan harapannya
• Membuat daftar aspek positif 2x/hari.
keluarga dan lingkungan,
• Latihan afirmasi/berpikir aspek
TTD Perawat
positif keluarga dan lingkungan
(Nama Lengkap
Tindakan pada Keluarga:
Latihan cara memberi penghargaan
pada pasien dan menciptakan suasana
positif dalam keluarga: tidak
membicarakan keburukan pasien pada
anggota keluarga
Rencana Tindak Lanjut:
12 April pkl. 10.00.
Pasien:
Latih menyusun rencana masa depan
[Link] 8 / 11
Keluarga:
Latih keluarga membimbing pasien
mencapai masa depan
C. Latihan
a. Latihan soal ke-1
Tn B usia 30 tahun datang ke RSJ dengan keluhan di rumah melakukan percobaan
bunuh diri dengan cara meminum bagyon namun bisa di selamatkan karena
ketahuan oleh orang tua klien, setelah dilakukan assessment bunuh diri Tn B
mengatakan sudah tidak ada gunannya hidup karena selalu menyusahkan kedua
orang tuannya karena sampai saat ini Tn B belum bisa mendapatkan pekerjaan,
Berdasarkan Tindakan yang dilakukan merupakan?
b. Latihan soal ke-2
Ny S usia 34 sudah tidak ada gunanya lagi hidup karena sudah tidak mampu
melakukan apapun dengan kondisinya saat ini, klien mencoba mengores tangannya,
berdarakan kasus tersebut diagnose keperawatan yang tepat adalah?
c. Ny S usia 35 tahun mengatakan bahwa dirinya akan pergi dan menitipkan anaknya
ucapan tersebut merupakan isarat bunuh diri, tindakan keperawatan yang
dilakukan pada pasien dengan isarat bunuh diri adalah?
D. Kunci Jawaban
a. Percobaan Bunuh diri adalah upaya tindakan mandiri yang diambil oleh
seseorang yang akan menyebabkan kematian jika tidak di hentikan. Dalam
pengkajian perilaku bunuh diri penekanan pada tempat pelaksanaan dan metode
yang mengancam yang di gunakan untuk kematian. Orang yang paling berisiko
bunuh diri adalah orang yang memiliki semua hal berikut metode yang sangat
mematikan (misalnya tembakan kepala) Rencana spesifik dan alat yang
tersedia(misalnya pistol tersedia di laci).Berdasarkan kasus tersebut Ny B sudah
melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum bagyon
b. Jawaban latihan soal ke-2
Resiko bunuh Diri
[Link] 9 / 11
c. Jawaban latihan soal ke-3
. Tindakan keperawatan untuk pasien dengan isayat bunuh diri
a. Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri yaitu
meminta bantuan dari tetangga atau teman.
b. Meningkatkan harga diri pasien dengan cara : memberi kesempatan pasien
mengungkapkan perasaannya, berikan pujian bila pasien dapat
mengatakan perasaan yang positif, menyakinkan pasien bahwa dirinya
penting.
c. Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya di syukuri oleh pasien.
d. Latih control pikiran bunuh diri dengan pikiran diri positif.
e. Latih Kontrol pikiran bunuh diri dengan pikiran positif keluarga dan
lingkungan
f. Latih menyusun rencana masa depan
g. Latih menyusun kegiatan masa depan.
E. Daftar pustaka
Stuart, G. W. (2013). Principles and Practice of Psychiatric Nursing (9 ed.).
Missouri: Mosby, Inc.
Townsend. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care in
Evidence-Based Practice. Sixth
Keliat, B. A., & Akemat. (2010). Model Praktik Keperawatan Profesional
Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
[Link] 10 /
11