0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan11 halaman

Strategi Internasional Cegah Korupsi

Gerakan internasional untuk pencegahan korupsi meliputi organisasi-organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, OECD, dan Uni Eropa. Mereka mengembangkan berbagai konvensi, program, dan pendekatan untuk memerangi korupsi di tingkat global dengan melibatkan berbagai lembaga pemerintah dan masyarakat madani.

Diunggah oleh

Soleman Tamu Ama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan11 halaman

Strategi Internasional Cegah Korupsi

Gerakan internasional untuk pencegahan korupsi meliputi organisasi-organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, OECD, dan Uni Eropa. Mereka mengembangkan berbagai konvensi, program, dan pendekatan untuk memerangi korupsi di tingkat global dengan melibatkan berbagai lembaga pemerintah dan masyarakat madani.

Diunggah oleh

Soleman Tamu Ama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

GERAKAN, KERJASAMA DAN INSTRUMENT INTERNASIONAL PENCEGAHAN


KORUPSI

Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Pada Mata KuliahPendidikan Anti Korupsi Yang Diampuh
Oleh Khetye R. Saba, [Link]., M.A

Oleh

Kelompok 6

FEBRYANTI RIZMA MBAMBUT 2001160042


THERESIA HILDA TOUOR 2001160110
QUEENTIN PRICILA LADO 2001160002
YULITA WULANSARI LIMA 2001160082
WALDY GUNAWAN ANABOKAY 2001160112

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2023
PEMBAHASAN

A. GERAKAN ORGANISASI INTERNASIONAL


1) Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations)
Setiap 5 (lima) tahun, secara regular Perserikatan Bangsa-Bangsa (United
Nations) menyelenggarakan Kongres tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakuan
terhadap Penjahat atau sering disebut United Nation Congress on Prevention on Crime and
Treatment of Offenders. Pada kesempatan pertama, Kongres ini diadakan di Geneva pada
tahun 1955. Sampai saat ini kongres PBB ini telah terselenggara 12 kali. Kongres yang ke-
12 diadakan di Salvador pada bulan April 2010. Dalam Kongres PBB ke-10 yang
diadakan di Vienna (Austria) pada tahun 2000, isu mengenai Korupsi menjadi topik
pembahasan yang utama. Dalam introduksi di bawah tema International Cooperation in
Combating Transnational Crime: New Challenges in the Twenty-first Century dinyatakan
bahwa tema korupsi telah lama menjadi prioritas pembahasan. Untuk itu the United
Nations Interregional Crime and Justice Research Institute (UNICRI) telah dipercaya
untuk menyelenggarakan berbagai macam workshop dalam rangka mempersiapkan bahan-
bahan dalam rangka penyelenggaraan Kongres PBB ke-10 yang diadakan di Vienna
tersebut.
Dalam resolusi 54/128 of 17 December 1999, di bawah judul “Action against
Corruption”, Majelis Umum PBB menegaskan perlunya pengembangan strategi global
melawan korupsi dan mengundang negara-negara anggota PBB untuk melakukan review
terhadap seluruh kebijakan serta peraturan perundang-undangan domestik masing-masing
negara untuk mencegah dan melakukan kontrol terhadap korupsi. Pemberantasan korupsi
harus dilakukan dengan pendekatan multi-disiplin (multidisciplinary approach) dengan
memberikan penekanan pada aspek dan dampak buruk dari korupsi dalam berbagai level
atau tingkat.
Pemberantasan juga dilakukan dengan mengeluarkan kebijakan pencegahan
korupsi baik tingkat nasional maupun internasional, mengembangkan cara atau praktek
pencegahan serta memberikan contoh pencegahan korupsi yang efektif di berbagai negara.
Beragam rekomendasi baik untuk pemerintah, aparat penegak hukum, parlemen (DPR),
sektor privat dan masyarakat sipil (civil-society) juga dikembangkan.
Pelibatan lembaga-lembaga donor yang potensial dapat membantu pemberantasan
korupsi harus pula terus ditingkatkan. Perhatian perlu diberikan pada cara-cara yang
efektif untuk meningkatkan resiko korupsi atau meningkatkan kemudahan menangkap
seseorang yang melakukan korupsi. Kesemuanya harus disertai dengan a) kemauan politik
yang kuat dari pemerintah (strong political will); b) adanya keseimbangan kekuasaan
antara badan legislatif, eksekutif dan peradilan; c) pemberdayaaan masyarakat sipil; serta
d) adanya media yang bebas dan independen yang dapat memberikan akses informasi pada
publik.
Dalam Global Program against Corruption dijelaskan bahwa korupsi dapat
diklasifikasi dalam berbagai tingkatan. Sebagai contoh korupsi dapat dibedakan menjadi
petty corruption, survival corruption, dan grand corruption. Dengan ungkapan lain
penyebab korupsi dibedakan menjadi corruption by need, by greed dan by chance.
Korupsi dapat pula dibedakan menjadi ‘episodic’ dan ‘systemic’ corruption. Masyarakat
Eropa menggunakan istilah ‘simple’ and ‘complex’ corruption. Menurut tingkatan atau
level-nya korupsi juga dibedakan menjadi street, business dan top political and financial
corruption. Dalam membahas isu korupsi, perhatian juga perlu ditekankan pada proses
supply dan demand, karena korupsi melibatkan setidaknya 2 (dua) pihak. Ada pihak yang
menawarkan pembayaran atau menyuap untuk misalnya mendapatkan pelayanan yang
lebih baik atau untuk mendapatkan kontrak dan pihak yang disuap.

2) Bank Dunia (World Bank)


Setelah tahun 1997, tingkat korupsi menjadi salah satu pertimbangan atau
prakondisi dari bank dunia (baik World Bank maupun IMF) memberikan pinjaman untuk
negara-negara berkembang. Untuk keperluan ini, World Bank Institute mengembangkan
Anti-Corruption Core Program yang bertujuan untuk menanamkan awareness mengenai
korupsi dan pelibatan masyarakat sipil untuk pemberantasan korupsi, termasuk
menyediakan sarana bagi negaranegara berkembang untuk mengembangkan rencana aksi
nasional untuk memberantas korupsi. Program yang dikembangkan oleh Bank Dunia
didasarkan pada premis bahwa untuk memberantas korupsi secara efektif, perlu dibangun
tanggung jawab bersama berbagai lembaga dalam masyarakat.
Lembaga-lembaga yang harus dilibatkan diantaranya pemerintah, parlemen,
lembaga hukum, lembaga pelayanan umum, watchdog institution seperti public-auditor
dan lembaga atau komisi pemberantasan korupsi, masyarakat sipil, media dan lembaga
internasional (Haarhuis : 2005). Oleh Bank Dunia, pendekatan untuk melaksanakan
program anti korupsi dibedakan menjadi 2 (dua) yakni (Haarhuis : 2005), pendekatan dari
bawah (bottom-up) dan pendekatan dari atas (top-down).
Pendekatan dari bawah berangkat dari 5 (lima) asumsi yakni a) semakin luas
pemahaman atau pandangan mengenai permasalahan yang ada, semakin mudah untuk
meningkatkan awareness untuk memberantas korupis; b) network atau jejaring yang baik
yang dibuat oleh World Bank akan lebih membantu pemerintah dan masyarakat sipil (civil
society). Untuk itu perlu dikembangkan rasa saling percaya serta memberdayakan modal
sosial (social capital) dari masyarakat; c) perlu penyediaan data mengenai efesiensi dan
efektifitas pelayanan pemerintah melalui corruption diagnostics. Dengan penyediaan data
dan pengetahuan yang luas mengenai problem korupsi, reformasi administratif-politis
dapat disusun secara lebih baik. Penyediaan data ini juga dapat membantu masyarakat
mengerti bahaya serta akibat buruk dari korupsi; d) pelatihan-pelatihan yang diberikan,
yang diambil dari toolbox yang disediakan oleh World Bank dapat membantu
mempercepat pemberantasan korupsi. Bahan-bahan yang ada dalam toolbox harus dipilih
sendiri oleh negara di mana diadakan pelatihan, karena harus menyesuaikan dengan
kondisi masingmasing negara; dan e) rencana aksi pendahuluan yang dipilih atau
dikonstruksi sendiri oleh negara peserta, diharapkan akan memiliki trickle-down effect
dalam arti masyarakat mengetahui pentingnya pemberantasan korupsi.
Untuk pendekatan dari atas atau top-down dilakukan dengan melaksanakan
reformasi di segala bidang baik hukum, politik, ekonomi maupun administrasi
pemeritahan. Corruption is a symptom of a weak state and weak institution (Haarhuis :
2005), sehingga harus ditangani dengan cara melakukan reformasi di segala bidang.
Pendidikan Anti Korupsi adalah salah satu strategi atau pendekatan bottom-up yang
dikembangkan oleh World Bank untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya
korupsi.
3) OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development)
Setelah ditemuinya kegagalan dalam kesepakatan pada konvensi Perserikatan
BangsaBangsa (PBB) pada sekitar tahun 1970-an, OECD, didukung oleh PBB mengambil
langkah baru untuk memerangi korupsi di tingkat internasional. Sebuah badan pekerja
atau working group on Bribery in International Business Transaction didirikan pada tahun
1989.
Pada awalnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan OECD hanya melakukan
perbandingan atau me-review konsep, hukum dan aturan di berbagai negara dalam
berbagai bidang tidak hanya hukum pidana, tetapi juga masalah perdata, keuangan dan
perdagangan serta hukum administrasi.
Pada tahun 1997, Convention on Bribery of Foreign Public Official in
International Business Transaction disetujui. Tujuan dikeluarkannya instrumen ini adalah
untuk mencegah dan memberantas tindak pidana suap dalam transaksi bisnis internasional.
Konvensi ini menghimbau negara-negara untuk mengembangkan aturan hukum, termasuk
hukuman (pidana) bagi para pelaku serta kerjasama internasional untuk mencegah tindak
pidana suap dalam bidang ini. Salah satu kelemahan dari konvensi ini adalah hanya
mengatur apa yang disebut dengan ’active bribery’, ia tidak mengatur pihak yang pasif
atau ’pihak penerima’ dalam tindak pidana suap. Padahal dalam banyak kesempatan,
justru mereka inilah yang aktif berperan dan memaksa para penyuap untuk memberikan
sesuatu.

4) Masyarakat Uni Eropa


Di negara-negara Uni Eropa, gerakan pemberantasan korupsi secara internasional
dimulai pada sekitar tahun 1996. Tahun 1997, the Council of Europe Program against
Corruption menerima kesepakatan politik untuk memberantas korupsi dengan menjadikan
isu ini sebagai agenda prioritas. Pemberantasan ini dilakukan dengan pendekatan serta
pengertian bahwa: karena korupsi mempunyai banyak wajah dan merupakan masalah yang
kompleks dan rumit, maka pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan pendekatan
multidisiplin; monitoring yang efektif, dilakukan dengan kesungguhan dan komprehensif
serta diperlukan adanya fleksibilitas dalam penerapan hukum (de Vel and Csonka : 2002).
Pada tahun 1997, komisi menteri-menteri negara-negara Eropa mengadopsi 20
Guiding Principles untuk memberantas korupsi, dengan mengidentifikasi area-area yang
rawan korupsi dan meningkatkan cara-cara efektif dan strategi pemberantasannya. Pada
tahun 1998 dibentuk GRECO atau the Group of States against Corruption yang bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas negara anggota memberantas korupsi. Selanjutnya
negaranegara Uni Eropa mengadopsi the Criminal Law Convention on Corruption, the
Civil Law Convention on Corruption dan Model Code of Conduct for Public Officials.

B. GERAKAN LEMBAGA SWADAYA INTERNASIONAL (INTERNATIONAL NGOs)


1) Transparency International
Transparency International (TI) adalah sebuah organisasi internasional non-
pemerintah yang memantau dan mempublikasikan hasil-hasil penelitian mengenai korupsi
yang dilakukan oleh korporasi dan korupsi politik di tingkat internasional. Setiap tahunnya
TI menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi serta daftar perbandingan korupsi di negara-
negara di seluruh dunia. TI berkantor pusat di Berlin, Jerman, didirikan pada sekitar bulan
Mei 1993 melalui inisiatif Peter Eigen, seorang mantan direktur regional Bank Dunia
(World Bank). Pada tahun 1995, TI mengembangkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption
Perception Index). CPI membuat peringkat tentang prevalensi korupsi di berbagai negara,
berdasarkan survei yang dilakukan terhadap pelaku bisnis dan opini masyarakat yang
diterbitkan setiap tahun dan dilakukan hampir di 200 negara di dunia. CPI disusun dengan
memberi nilai atau score pada negara-negara mengenai tingkat korupsi dengan range nilai
antara 1-10. Nilai 10 adalah nilai yang tertinggi dan terbaik sedangkan semakin rendah
nilainya, negara dianggap atau ditempatkan sebagai negara-negara yang tinggi angka
korupsinya.
Pada tahun 1999, TI mulai menerbitkan Bribe Payer Index (BPI) yang memberi
peringkat negara-negara sesuai dengan prevalensi perusahaan-perusahaan multinasional
yang menawarkan suap. Misi utama TI adalah menciptakan perubahan menuju dunia yang
bebas korupsi. TI tidak secara aktif menginvestigasi kasus-kasus korupsi individual,
namun hanya menjadi fasilitator dalam memperjuangkan tata pemerintahan yang baik di
tingkat internasional. Hasil survey yang dilakukan oleh Transparency International, karena
diumumkan pada publik, diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap bahaya korupsi.

2) TIRI
TIRI (Making Integrity Work) adalah sebuah organisasi independen internasional
nonpemerintah yang memiliki head-office di London, United Kingdom dan memiliki
kantor perwakilan di beberapa negara termasuk Jakarta. TIRI didirikan dengan keyakinan
bahwa dengan integritas, kesempatan besar untuk perbaikan dalam pembangunan
berkelanjutan dan merata di seluruh dunia akan dapat tercapai. Misi dari TIRI adalah
memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang adil dan berkelanjutan dengan
mendukung pengembangan integritas di seluruh dunia. TIRI berperan sebagai katalis dan
inkubator untuk inovasi baru dan pengembangan jaringan. Organisasi ini bekerja dengan
pemerintah, kalangan bisnis, akademisi dan masyarakat sipil, melakukan sharing keahlian
dan wawasan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan praktis yang
diperlukan untuk mengatasi korupsi dan mempromosikan integritas. TIRI memfokuskan
perhatiannya pada pencarian hubungan sebab akibat antara kemiskinan dan tata
pemerintahan yang buruk.
Salah satu program yang dilakukan TIRI adalah dengan membuat jejaring dengan
universitas untuk mengembangkan kurikulum Pendidikan Integritas dan/atau Pendidikan
Anti Korupsi di perguruan tinggi. Jaringan ini di Indonesia disingkat dengan nama I-IEN
yang kepanjangannya adalah Indonesian-Integrity Education Network. TIRI berkeyakinan
bahwa dengan mengembangkan kurikulum Pendidikan Integritas dan/atau Pendidikan
Anti Korupsi, mahasiswa dapat mengetahui bahaya laten korupsi bagi masa depan bangsa.

C. INSTRUMEN INTERNASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI


1) United Nations Convention against Corruption (UNCAC)
Salah satu instrumen internasional yang sangat penting dalam rangka pencegahan
dan pemberantasan korupsi adalah United Nations Convention against Corruption yang
telah ditandatangani oleh lebih dari 140 negara. Penandatanganan pertama kali dilakukan
di konvensi internasional yang diselenggarakan di Mérida, Yucatán, Mexico, pada tanggal
31 Oktober 2003.
a) Masalah pencegahan
Tindak pidana korupsi dapat diberantas melalui Badan Peradilan. Namun
menurut konvensi ini, salah satu hal yang terpenting dan utama adalah masalah
pencegahan korupsi. Bab yang terpenting dalam konvensi didedikasikan untuk
pencegahan korupsi dengan mempertimbangkan sektor publik maupun sektor
privat (swasta). Salah satunya dengan mengembangkan model kebijakan preventif
seperti :
1) Pembentukan badan anti-korupsi;
2) Peningkatan transparansi dalam pembiayaan kampanye untuk pemilu dan
partai politik;
3) Promosi terhadap efisiensi dan transparansi pelayanan publik;
4) Rekrutmen atau penerimaan pelayan publik (pegawai negeri) dilakukan
berdasarkan prestasi;
5) Adanya kode etik yang ditujukan bagi pelayan publik (pegawai negeri) dan
mereka harus tunduk pada kode etik tsb.;
6) transparansi dan akuntabilitas keuangan publik;
7) Penerapan tindakan indisipliner dan pidana bagi pegawai negeri yang
korup;
8) Dibuatnya persyaratan-persyaratan khusus terutama pada sektor publik
yang sangat rawan seperti badan peradilan dan sektor pengadaan publik;
9) Promosi dan pemberlakuan standar pelayanan publik;
10) Untuk pencegahan korupsi yang efektif, perlu upaya dan keikutsertaan dari
seluruh komponen masyarakat;
11) Seruan kepada negara-negara untuk secara aktif mempromosikan
keterlibatan organisasi non-pemerintah (lsm/ngos) yang berbasis
masyarakat, serta unsurunsur lain dari civil society;
12) Peningkatkan kesadaran masyarakat (public awareness) terhadap korupsi
termasuk dampak buruk korupsi serta hal-hal yang dapat dilakukan oleh
masyarakat yang mengetahui telah terjadi tp korupsi.
b) Kriminalisasi
Hal penting lain yang diatur dalam konvensi adalah mengenai kewajiban
negara untuk mengkriminalisasi berbagai perbuatan yang dapat dikategorikan
sebagai tindak pidana korupsi termasuk mengembangkan peraturan perundang-
undangan yang dapat memberikan hukuman (pidana) untuk berbagai tindak
pidana korupsi. Hal ini ditujukan untuk negara-negara yang belum
mengembangkan aturan ini dalam hukum domestik di negaranya. Perbuatan yang
dikriminalisasi tidak terbatas hanya pada tindak pidana penyuapan dan
penggelapan dana publik, tetapi juga dalam bidang perdagangan, termasuk
penyembunyian dan pencucian uang (money laundring) hasil korupsi. Konvensi
juga menitikberatkan pada kriminalisasi korupsi yang terjadi di sektor swasta.
c) Kerjasama internasional
Kerjasama internasional dalam rangka pemberantasan korupsi adalah
salah satu hal yang diatur dalam konvensi. Negara-negara yang menandatangani
konvensi ini bersepakat untuk bekerja sama dengan satu sama lain dalam setiap
langkah pemberantasan korupsi, termasuk melakukan pencegahan, investigasi dan
melakukan penuntutan terhadap pelaku korupsi. Negara-negara yang
menandatangani Konvensi juga bersepakat untuk memberikan bantuan hukum
timbal balik dalam mengumpulkan bukti untuk digunakan di pengadilan serta
untuk mengekstradisi pelanggar. Negara-negara juga diharuskan untuk melakukan
langkah-langkah yang akan mendukung penelusuran, penyitaan dan pembekuan
hasil tindak pidana korupsi.
d) Pengembalian aset-aset hasil korupsi
Salah satu prinsip dasar dalam konvensi adalah kerjasama dalam
pengembalian aset-aset hasil korupsi terutama yang dilarikan dan disimpan di
negara lain. Hal ini merupakan isu penting bagi negara-negara berkembang yang
tingkat korupsinya sangat tinggi. Kekayaan nasional yang telah dijarah oleh para
koruptor harus dapat dikembalikan karena untuk melakukan rekonstruksi dan
rehabilitasi, terutama di negara-negara berkembang, diperlukan sumber daya serta
modal yang sangat besar.
Modal ini dapat diperoleh dengan pengembalian kekayaan negara yang
diperoleh dari hasil korupsi. Untuk itu negara-negara yang menandatangani
konvensi harus menyediakan aturan-aturan serta prosedur guna mengembalikan
kekayaan tersebut, termasuk aturan dan prosedur yang menyangkut hukum dan
rahasia perbankan.

2) CONVENTION ON BRIBERY OF FOREIGN PUBLIC OFFICIAL IN


INTERNATIONAL BUSINESS TRANSACTION
Convention On Bribery Of Foreign Public Official In
International Business Transaction adalah sebuah konvensi internasional yang dipelopori
oleh OECD. Konvensi anti suap ini menetapkan standar-standar hukum yang mengikat
(legally binding) nrgara-negara peserta untuk mengkriminalisasi pejabat publik asing
yang menerima suap (bribe) dalam transaksi bisnis internasional. Konvensi ini juga
memberikan standar-standar atau langkah-langkah terkait yang harus dijalankan oleh
negara peserta sehingga isi konvensi akan dijalankan oleh negara- negara peserta secara
efektif.
Convention On Bribery Of Foreign Public Official In
International Business Transaction adalah konvensi internasional pertama dan satu-
satunya instrumen anti korupsi yang memfokuskan diri pada sisi ‘supply’ dari tindak
pidana suap. Ada 34 negara anggota OECD dan empat negara non-anggota yakni
Argentina, Brasil, Bulgaria dan Afrika Selatan yang telah meratifikasi dan mengadopsi
konvensi internasional ini.
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pendidikan anti-korupsi untuk perguruan tinggi .
jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2011.

Anda mungkin juga menyukai