Chapter 1: Didalam Kabut Hitam
“Nexo!”
“Nexo, bangunlah!”
“Nexo!”
Lelaki kecil itu perlahan membuka matanya.
“Uh…”
“Nexo, ayo, bangun!”
Semburat cahaya matahari menyilaukan pandangannya tepat setelah
matanya terbuka sepenuhnya. Ia spontan langsung menutupi matanya
dengan lengan kanannya.
“Di… Mana… Ini…?”
“Apa maksudmu ‘dimana’? Ini di taman. Kamu pergi kesini setelah bibi
memarahimu!” Ujar gadis kecil seusianya yang berdiri di depannya yang
sedari tadi mencoba membangunkannya.
“Luna… Kamu… Masih hidup…?” Ujar lelaki kecil itu ketika ia menatap
gadis kecil yang berdiri di hadapannya dengan kebingungan.
“Hah? Tentu saja aku masih hidup.”
“Syukurlah…”
“Kurasa… Aku baru saja mengalami sebuah mimpi buruk yang sangat
panjang…” Nexo melanjutkan sambil kemudian beranjak berdiri.
Angin berhembus pelan, menyisir rerumputan dan rambut kedua anak
itu dengan lembut. Gumpalan awan-awan tebal di atas sana bergerak
berarak-arakan, menutupi sinar mentari untuk seketika.
“Sudahlah, ayo kita pulang. Bibi sudah mengkhawatirkanmu dari tadi
dan terus menyuruhku untuk mencarimu!” Ujar Luna si gadis kecil itu
sembari menarik tangan temannya.
Ketika ia hendak melangkah, langkahnya terhenti dan ia menoleh ke
belakang.
“Luna. Menurutmu, apakah kita dapat terus melihat langit yang indah
itu…” Ujar lelaki kecil itu sembari memandangi bentangan biru yang
luas di atas sana, dihiasi gumpalan-gumpalan putih besar yang berarak-
arakan.
“Eh, apa maksudmu?”
Lelaki kecil itu menghela napas perlahan, tersenyum tipis, kemudian
mengusap wajahnya.
“Lupakan saja. Ayo!”
*****
Sepuluh tahun kemudian.
“Apakah tempat ini dapat menjamin keselamatan kita?”
“Tentu saja tidak. Kita hanya bisa berharap kalau monster-monster itu
tak dapat menemukan kita disini.”
“Kita harus tetap bertahan. Aku sudah menghubungi Alistair untuk
menjemput kita disini, jadi kita harus tetap disini sampai helikopter
tiba.”
Tiga sekawan itu terjebak di dalam sebuah kota yang telah dikuasai
oleh ratusan makhluk hitam misterius. Mereka bertiga bersembunyi di
dalam sebuah bangunan tua yang sudah tak terpakai, berharap kalau
monster-monster itu tak dapat menemukan mereka.
Kemana semua orang? Semua orang telah tiada, mereka telah mati
dimakan oleh monster-monster itu, dan sebagian lagi telah berhasil di
evakuasi. Kota itu kini telah kosong, lengang, tidak ada satu pun
manusia lain selain tiga orang itu.
Mereka sebenarnya adalah anggota dari pasukan bersenjata yang
bertempur melawan makhluk-makhluk mengerikan itu, mencoba untuk
mengambil kota itu kembali, tapi apa yang terjadi? Mereka kalah
jumlah dan kekuatan, hampir seluruh pasukan itu mati dimakan dan
kini hanya mereka yang tersisa.
Seorang pemuda dari tiga sekawan itu mengintip lewat jendela
bangunan yang sudah pecah, melihat keluar.
Suasana kota gelap, diselimuti oleh kabut hitam yang menutupi
pandangan, udara terasa dingin menusuk tulang menyambutnya, angin
berhembus pelan, menyisir rambut pemuda itu yang berwarna
kecoklatan.
“Ah!”
Ia terkejut ketika melihat ke arah bawah. Dilihatnya, gerombolan
monster-monster itu perlahan mendekat, susul menyusul bagai air bah.
“Gawat, mereka tahu lokasi kita!”
Nexo menggeram, memaki dalam hati.
“Alistair, dimana kau sekarang, cepat, monster-monster itu semakin
mendekat!” Nexo berkata pada seseorang yang berada entah dimana,
melalui ponsel nya.
“Nexo, maaf aku tak dapat datang kesana dengan segera, ada gangguan
di atas langit sini. Ugh, Argh!”
“Alistair!” Nexo mengulangi.
Suasana menjadi lengang, tidak ada satu pun yang berbicara.
“Alistair, apa kau disana? Alistair, jawab!”
Tidak ada jawaban, panggilan terputus.
“Apa yang terjadi, Nexo?” Seorang gadis dari tiga sekawan itu bertanya.
“Kawan-kawan, mereka mulai memasuki bangunan!” Ujar Max, yang
berdiri di sebelah Nexo, sejak tadi memandang keluar jendela.
Nexo menggeram sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Kita harus naik ke tingkat atas, cepat, paling tidak kita bisa mengulur
waktu sampai bantuan tiba!”
Tiga sekawan itu mulai berlari, menaiki anak tangga beton yang menuju
ke tingkat selanjutnya.
“Hey, bagaimana dengan Alistair!?”
“Dia tidak menjawab, sesuatu yang buruk pasti sedang menimpanya.”
Para monster itu mulai menaiki anak tangga jauh di bawah sana, suara
langkah kaki mereka terdengar keras, memenuhi langit-langit.
“Terus naik!” Perintah Nexo sambil berlari menaiki anak tangga.
Lima menit, mereka telah sampai ke puncak gedung tua itu. Langit yang
murung menyambut kedatangan mereka dengan belaian halus dari
hembusan angin yang membuat rambut mereka berkibar.
Dari lorong tangga di bawah sana, dentuman langkah kaki para monster
itu masih terdengar sangat keras.
“Max, apakah AK-47-mu masih memiliki peluru?”
“Yeah, don’t worry, aku membawa amunisi cadangan dan aku telah
mengisinya.” Jawab Max, Ia menggendong AK-47-nya sejak tadi.
“Bagaimana denganmu, Luna?”
“Aku juga sama.” Jawabnya, sembari mengeluarkan sepucuk pistol colt.
“Bagus. Semuanya, bersiaplah untuk bertarung.”
*****