0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan53 halaman

Edema Kaki Ibu Hamil: Latihan dan Posisi Kaki

Karya tulis ilmiah ini membahas pengaruh peninggian posisi kaki dan latihan tungkai terhadap penurunan derajat edema kaki pada ibu hamil trimester III. Edema kaki merupakan keluhan umum pada ibu hamil akibat perubahan hormon dan retensi cairan. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah peninggian posisi kaki dan latihan tungkai dapat menurunkan derajat edema kaki pada ibu hamil trimester III. Hasil

Diunggah oleh

rhomadhan madhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan53 halaman

Edema Kaki Ibu Hamil: Latihan dan Posisi Kaki

Karya tulis ilmiah ini membahas pengaruh peninggian posisi kaki dan latihan tungkai terhadap penurunan derajat edema kaki pada ibu hamil trimester III. Edema kaki merupakan keluhan umum pada ibu hamil akibat perubahan hormon dan retensi cairan. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah peninggian posisi kaki dan latihan tungkai dapat menurunkan derajat edema kaki pada ibu hamil trimester III. Hasil

Diunggah oleh

rhomadhan madhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENINGGIAN POSISI KAKI (SUDUT 30º) DAN

LATIHAN TUNGKAI TERHADAP PENURUNAN DERAJAT


EDEMA KAKI PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI
WILAYAH PUSKESMAS JEMBATAN KECIL
KOTA BENGKULU

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH

DIANTI PUTRI DEWI, [Link]


NIP. 199609192020122004

UPT PUSKESMAS NANJUNGAN


DINAS KESEHATAN KABUPATEN LAHAT
PROVINSI SUMATERA SELATAN
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT,


atas segala limpahan rahmat dan Karunia-Nya sehingga peneliti dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Pengaruh Peninggian
posisi kaki (sudut 30º) dan Latihan Tungkai Terhadap Penurunan
Derajat Edema Kaki Pada Ibu Hamil Trimester III Di Wilayah
Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu”.
Karya Tulis Ilmiah ini merupakan sebagai salah satu syarat
pengantar dalam rangka menyelesaikan pelatihan Jabatan Fungsional
Perawat Terampil. Dalam proses sebelum dan saat penulisan KTI ini
peneliti banyak mendapatkan bantuan baik moril maupun material dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Semoga segala bantuan, dorongan, motivasi dan bimbingan yang
telah diberikan kepada peneliti mendapat imbalan dari Allah SWT.
Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih
banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Semoga
Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Semua pihak yang telah memberikan bantuan langsung maupun
secara tidak langsung dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga
semua bantuan, dorongan, motivasi, bimbingan serta partisipasi yang telah
diberikan kepada peneliti mendapatkan limpahan rahmat oleh Allah SWT.
Peneliti menyadari bahwa baik dari segi sistematika penulisan
maupun kedalaman materinya terdapat kekurangan-kekurangan, oleh
karena itu, dengan kerendahan hati peneliti sangat mengharapkan kritikan
dan saran yang bersifat konstruktif, demi kesempurnaan dalam pembuatan
Karya Tulis Ilmiah. Mudah-mudahan Karya Tulis Ilmiah ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua, Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.

Lahat, 2023
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL........................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2. Identifikasi Masalah.................................................................. 4
1.3. Pembatasan Masalah................................................................. 4
1.4. Rumusan Masalah..................................................................... 4
1.5. Tujuan Penelitian...................................................................... 4
1.6. Manfaat Penelitian.................................................................... 5
1.7. Keaslian Penelitian ….............................................................. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Kehamilan ................................................................... 9
2.1.1. Pengertian ....................................................................... 9
2.1.2. Fisiologi Kehamilan ........................................................ 10
2.1.3. Tanda Kehamilan ............................................................ 13
2.1.4. Masa-masa Kehamilan .................................................... 15
2.1.5. Perubahan Fisik Saat Kehamilan .................................... 17
2.1.6. Perubahan Psikologis Saat Kehamilan ........................... 20
2.1.7. Ketidaknyamanan Pada Masa Kehamilan.......................
21
Halaman
2.2. Konsep Edema Kaki Pada Kehamilan..................................... 23
1.
2.
2.1.
2.2.
2.2.1. Pengertian ....................................................................... 23
2.2.2. Mekanisme Terjadinya Edema Kaki............................... 24
2.2.3. Etiologi .......................................................................... 25
2.2.4. Intervensi ........................................................................ 26
2.2.5. Penilaian Derajat Edema ................................................. 26
2.2.6. Instrument Pengukuran Derajat Edema .......................... 27
2.3. Konsep Peninggian Posisi Kaki ............................................... 27
1.
2.
2.1.
2.2.
2.3.
2.3.1. Pengertian ....................................................................... 27
[Link] Penurunan Edema Kaki Dengan
Peninggian Posisi Kaki.................................................... 28
[Link] ........................................................................... 28
[Link] ........................................................................... 28
[Link] Tindakan .......................................................... 28
2.4. Konsep Latihan Tungkai .......................................................... 30
1.
2.
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.4.1. Pengertian ....................................................................... 30
[Link] Penurunan Edema Kaki Dengan Latihan
Tungkai............................................................................ 30
2.4.3. Manfaat .......................................................................... 30
2.4.4. Indikasi .......................................................................... 30
2.4.5. Prosedur Tindakan .......................................................... 30
2.5. Kerangka Teori ........................................................................ 32
2.6. Kerangkan Konsep ................................................................... 33
2.7. Hipotesis ................................................................................... 34
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Dan Rancangan Penelitian............................................... 37
3.2. Tempat Dan Waktu Penelitian.................................................. 35
3.3. Populasi dan Sampel ................................................................ 36
3.4. Definisi Operasional Prosedur ................................................. 37
3.1. Teknik Pengumpulan Data........................................................ 38
3.2. Instrumen Penelitian ................................................................. 38
3.3. Metode Pengolahan Data ......................................................... 41
3.4. Teknik Analisa Data.................................................................. 42
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Proses Nidasi atau Implantansi..................................................... 12

Gambar 2.2 Janin di Dalam Rahim Ibu............................................................ 13

Gambar 2.3 Edema Ektremitas Bawah............................................................. 24

Gambar 2.4 Kerangka Teori............................................................................. 34

Gambar 2.5 Kerangka Konsep.......................................................................... 35

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian.................................................................... 37


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Edema kaki merupakan salah satu bentuk perubahan yang terjadi selama

kehamilan yang sering menjadi keluhan pada ibu gravida. Edema pada

kehamilan dipicu oleh perubahan hormon estrogen, sehingga dapat

meningkatkan retensi cairan. Peningkatan retensi cairan ini berhubungan

dengan perubahan fisik yang terjadi pada kehamilan trimester akhir, yaitu

semakin membesarnya uterus seiring dengan pertambahan berat badan janin

dan usia kehamilan. Selain itu, peningkatan berat badan akan menambah

beban kaki untuk menopang tubuh ibu. Hal ini akan memicu terjadinya
gangguan sirkulasi pada pembuluh darah balik di kaki yang berdampak pada

munculnya edema (Junita, 2018).

Berdasarkan data WHO tahun 2007 didapat angka kejadian keluhan pada

ibu hamil, antara lain mual muntah adalah 80–85 %, nyeri pada punggung

selama kehamilan bervariasi antara 35 – 60%, hemoroid terjadi sekitar 8%,

sedangkan bengkak terjadi sekitar 75%. Pada ibu hamil pembengkakan yang

umum terjadi pada trimester II dan trimester III. Dari data diatas keluhan

bengkak menduduki urutan kedua sebanyak 75%, edema pada ibu hamil bisa

berbahaya dan juga bisa tidak berbahaya (Anggraeni, 2016).

Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI tahun 2008, 80% wanita

hamil di indonesia mengalami keluhan bengkak pada kaki, 45% bengkak pada

kaki karena penyakit penyerta misalnya hipertensi, 35% karena faktor

fisiologis pada kehamilan. Ibu hamil yang mempunyai penyakit penyerta,

bengkak yang terjadi pada kaki sulit untuk kempis meskipun sudah dibuat

istirahat, biasanya bengkak dapat kempis apabila mendapatkan pengobatan

yang rutin, namun berbeda dengan ibu yang tidak mempunyai penyakit

penyerta, bengkak yang terjadi dapat kempis bila dibuat istirahat (Anggraeni,

2016).

Edema cukup berbahaya bagi ibu hamil karena bisa menyebabkan

gangguan pada jantung, ginjal dan lain sebagainya sehingga menyebabkan

organ tubuh tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Semakin besar

usia kehamilan ibu, semakin besar edema yang dialami. Bila edema semakin

besar akan mengurangi aktifitas ibu, karena beban tubuh akan bertambah

(Nurhasanah, 2013).
Edema dapat terjadi semakin parah bila kadar natrium tinggi dalam tubuh

karena sifat natrium (garam) menarik air lebih banyak kedalam aliran darah.

Bila air terus tertarik dan pembuluh darah menjadi melebar, pembuluh darah

dapat pecah dan akibat dari pembuluh darah pecah akan menghambat suplai

nutrisi ke janin, bila nutrisi kurang menghambat pertumbuhan janin.. Maka

dari itu penanganan edema sangat diperlukan dan dapat dilakukan secara non

farmakologis (Vivin, 2011).

Dalam Penelitian Safitri (2018) penatalaksanaan edema pada ibu hamil

secara non farmakologis dapat dilakukan dengan cara melakukan posisi

elevasi kaki atau peninggian posisi kaki sudut 30 derajat. Peninggian posisi

kaki merupakan pengaturan posisi dimana anggota gerak bagian bawah diatur

pada posisi lebih tinggi dari jantung sehingga darah balik ke jantung akan

meningkat dan penumpukan darah pada anggota gerak bawah tidak terjadi

(Hamlin, 2009). Dengan cara melakukan peninggian kaki sesering mungkin

pada ibu hamil, terutama setelah kegiatan berjalan-jalan dimana elevasi

dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dengan meletakkan posisi kaki

lebih tinggi dari jantung akan menjadikan aliran darah vena lancar dan dilatasi

vena tungkai yang berkelok-kelok menjadi tampak mengempis dan melengkuk

(Safitri, 2018).

Menurut teori Fraser & Cooper (2009) dan LeMone, Burke & Bauldoff

(2016) penatalaksanaan edema kaki pada ibu hamil secara non farmakologis

yaitu dengan cara latihan tungkai. Latihan tungkai ini dapat meningkatkan

aliran darah vena dari ekstremitas. Latihan ini juga dapat mempertahankan

tonus otot dan rentang gerak, yang mempermudah ambulasi dini. Latihan ini
diajarkan pada pasien yang edema kaki, kram, dan berisiko mengalami

trombosis vena.

Berdasarkan data dari Dinkes kota Bengkulu di dapatkan jumlah ibu

hamil yang ada di wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu tahun

2016 sebanyak 627 orang, dengan kunjungan pertama sebanyak 616

kunjungan dan kunjungan ke empat sebanyak 601 kunjungan. Tahun 2017

jumlah ibu hamil 632 orang dengan kunjungan pertama 630 kunjungan dan

542 pada kunjungan ke empat. Tahun 2018 jumlah ibu hamil sebanyak 637

orang, dengan kenjungan pertama 630 kunjungan dan 487 pada kunjungan

keempat.

Berdasarkan hasil survei awal pada ibu hamil di wilayah Puskesmas

Jembatan Kecil kota Bengkulu bulan Mei 2019, 9 ibu hamil trimester III

masih mengeluh bengkak pada daerah kaki. Melihat data di atas maka penulis

tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Peninggian Kaki

(sudut 30º) dan Latihan Tungkai Terhadap Penurunan Derajat Edema Kaki

Pada Ibu Hamil Trimester III di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil

Kota Bengkulu”.

1.2 Identifikasi Masalah


Pada kasus edema terapi non farmakologis peninggian posisi kaki belum

diterapkan di Puskesmas Jembatan Kecil kota Bengkulu namun pihak

Puskesmas hanya mencontohkan dan menganjurkan peninggian posisi kaki

untuk dilakukan saat beristirahat terhadap pengurangan edema kaki dan

latihan tungkai belum ada di terapkan atau dilakukan pada pasien yang

mengalami edema kaki.

1.3 Pembatasan Masalah


Untuk membatasai fokus penelitian ini maka peneliti hanya akan meneliti

pasien dengan edema tungkai bawah pada ibu hamil trimester III di wilayah

kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu.

1.4 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat di simpulkan pertanyaan

sebagai berikut: Bagaimanakah pengaruh peninggian kaki (sudut 30º) dan

latihan tungkai terhadap penurunan derajat edema kaki pada ibu hamil

trimester III di wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu.

1.5 Tujuan Penelitian


1.5.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peninggian

posisi kaki (sudut 30º) dan latihan tungkai terhadap penurunan derajat

edema kaki pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas

Jembatan Kecil Kota Bengkulu.

1.5.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui derajat edema sebelum dilakukan peninggian posisi

kaki sudut 30º dan latihan tungkai.

2. Mengetahui derajat edema setelah dilakukan peninggian posisi

kaki sudut 30º dan latihan tungkai.

3. Mengetahui pengaruh peninggian posisi kaki sudut 30º dan latihan

tungkai terhadap penurunan derajat edema kaki pada ibu hamil

trimester III di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil.

1.6 Manfaat Penelitian


1.6.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan ilmiah bagi

peneliti selanjutnya mengenai pengaruh peninggian posisi kaki (sudut


30º) dan latihan tungkat terhadap penurunan derajat edema kaki pada

ibu hamil trimester III, khususnya bagi Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

1.6.2 Manfaat Praktis


a. Bagi Ibu Hamil

Agar intervensi dalam penelitian ini dapat diterapkan oleh ibu

hamil.

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

pelajaran yang berguna dalam penanganan edema kaki pada ibu

hamil.

c. Bagi institusi pendidikan

1) Agar penelitian ini dapat digunakan sebagai literatur, sebagai

sumber penelitian yang dapat dikembangkan oleh peneliti

selanjutnya.

2) Agar penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan

khususnya perpustakaan Universitas Muhammadiyah

Bengkulu.

d. Bagi Peneliti yang Akan Datang

Sebagai masukan bagi peneliti lain dan sebagai data dasar

dalam melakukan penelitian dengan masalah yang berbeda.


1.7 Keaslian Penelitian

Table 1.1
Keaslian Penelitian
No Peneliti Metode Perbedaan Persamaan
penelitian

1 Rani Safitri., 2018. Penelitian ini Jumlah sampel 7 Persamaan peneliti terdahulu dengan
Gambaran posisi menggunakan orang. peneliti sama-sama meneliti tentang
elevasi pada kejadian metode edema tungkai bawah pada ibu hamil
edema tungkai deskriptif. trimester III.
bawah pada ibu
hamil trimester III di
bidan praktik swasta
“A” kecamatan
Bantur kabupaten
Malang.

2 Selli Junita., Rully Jenis penelitian Jumlah sampel Persamaan penelitii terdahulu dengan
Hevrialni., Isye ini adalah 17 orang. peneliti sama-sama menelititentang
Fadmiyanor., 2018. penelitian pre- penurunan derajat edema tungkai
Hubungan foot experimental. bawah pada ibu hamil trimester III.
massage dengan
derajat edema pada
ibu hamil trimester Metode
III di Puskesmas pengumpulan
rawat inap data
Sidomulyo kota menggunakan
Pekan Baru. metode
observasi.

3 Tri Endah Widi Metode data Literature Persamaan peneliti terdahulu dengan
Lestari., Melyana analisis dengan review 15 peneliti sama-sama meneliti tentang
Nurul W., Admini., menggunakan jurnal. penurunan derajat edema tungkai bawah
2018. Literature literature review pada ibu hamil trimester III
Review : Penerapan tentang
pijat kaki dan penerapan pijat .
1 jurnal
rendam air hangat kaki dan rendam international.
campuran kencur air hangat
terhadap edema kaki campur kencur
ibu hamil trimester
III di wilayah kerja 14 jurnal
Puskesmas I nasional.
Wangon, Banyumas.

4 Suci Anggraeni., Metode Jumlah sampel Persamaan peneliti terdahulu dengan


SariFebriana, penelitian bersifat 17 responden peneliti sama-sama meneliti tentang
Yunita., 2016. eksperimental. penurunan derajat edema tungkai bawah
Efektivitas senam pada ibu hamil trimester III.
hamil terhadap
penurunan derajat Menggunakan
edema kaki pada ibu pendekatan (One
gravida trimester II Group Pra-Post
dan III. Test

No Peneliti Metode Perbedaan Persamaan


Penelitian

5 Siregar E R. 2010. Metode penelitian Jumlah sampel Persamaan peneliti terdahulu dengan
Skripsi Pengaruh quasi 18 responden. peneliti sama-sama meneliti tentang
Posisi Kaki di eksperiment. penurunan derajat edema tungkai
Tinggikan 30 Derajat bawah.
di Atas Tempat Penelitian
Tidur Terhadap Desain penelitian dilakukan pada
Pengurangan Edema One Group pasien Jantung
Kaki Pasien Jantung Pretest-Postest. Kongestif.
Kongestif Di
Ruangan CVCU
RSUP. H. Adam
Malik Medan.
6 Cipto., Yuni Astuti., Metode penelitian Jumlah sampel Persamaan peneliti terdahulu dengan
Teguh Wahyudi. quasi 20 responden. peneliti sama-sama meneliti tentang
2013. Efektivitas eksperiment. penurunan derajat edema tungkai
Posisi Tidur Kaki bawah.
Lebih Tinggi 15º Penelitian
Terahdap Penurunan Desain penelitian dilakukan pada
Oedema Ekstremitas One Group Pre- pasien Gagal
Bawah Pada Pasien Post Test. Jantung.
Gagal Jantung Di
Rumah Sakit DR. R.
Soepraptu Cepu
Jawa Tengah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kehamilan


2.1.1 Definisi
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi (Yulistiana, 2015).

Kehamilan adalah waktu transisi, yakni suatu masa antara kehidupan

sebelum memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan

kehidupan nanti setelah anak tersebut lahir. Perubahan status yang

radikal ini dipertimbangkan sebagai suatu krisis disertai periode tertentu

untuk menjalani proses persiapan psikologis yang secara normal sudah


ada selama kehamilan dan mengalami puncaknya pada saat bayi lahir

(Sukarni & Wahyu, 2013).

Manuaba, dkk (2012) memberikan definisi kehamilan secara

berbeda. Kehamilan adalah suatu mata rantai yang berkesinambungan

yang terdiri dari ovulasi (pematangan sel) lalu pertemuan ovum (sel

telur) dan spermatozoa (sperma) terjadilah pembuahan dan

pertumbuhan zigot kemudian bernidasi (penanaman) pada uterus dan

pembentukan plasenta dan tahap akhir adalah tumbuh kembang hasil

konsepsi sampai aterm (Manuaba, dkk, 2012). Masa kehamilan adalah

ovulasi sampai partus lamanya 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih

dari 300 hari (43 minggu) (Rukiyah, 2009).

2.1.2 Fisiologi Kehamilan

Menurut Manuaba (2012) proses kehamilan merupakan mata

rantai yang berkesinambungan yang terdiri atas:

a. Ovulasi

Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh

sistem hormonal yang kompleks. Selama masa subur yang

berlangsung 20-35 tahun, hanya 420 buah ovum yang dapat

mengikuti proses kematangan dan terjadi ovulasi.

b. Spermatozoa

Pada setiap hubungan seksual dikeluarkan sekitar 3 cc sperma yang

mengandung 40–60 juta spermatozoa setiap cc, dan hanya

beberapa ratus yang dapat mencapai tuba fallopi. Spermatozoa


yang masuk ke dalam alat genitalia wanita dapat hidup selama tiga

hari, sehingga cukup waktu untuk mengadakan konsepsi.

c. Konsepsi

Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut konsepsi

atau fertilisasi dan membentuk zigot. Proses konsepsi dapat

berlangsung sebagai berikut:

1) Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi, diliputi oleh

korona radiata yang mengandung persediaan nutrisi.

2) Pada ovum dijumpai inti dalam bentuk metafase di tengah

sitoplasma yang disebut vitelus.

3) Dalam perjalanan, korona radiata makin berkurang pada zona

pelusida. Nutrisi dialirkan kedalam vitelus, melalui saluran

pada zona pelusida. Konsepsi terjadi pada pars ampularis tuba,

tempat yang paling luas, dindingnya penuh jonjot sel yang

mempunyai silia. Ovum mempunyai waktu hidup terlama

dalam ampula tuba.

4) Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selama 48 jam.

a) Proses nidasi atau implantasi

Setelah pertemuan kedua inti ovum dan spermatozoa,

terbentuk zigot yang dalam beberapa jam telah mampu

membelah dirinya menjadi dua dan seterusnya. Bersamaan

dengan pembelahan inti, hasil konsepsi terus berjalan

menuju uterus. Hasil 23 pembelahan sel memenuhi seluruh

ruangan dalam ovum dan disebut stadium morula.


Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula terbentuk

ruangan yang mengandung cairan yang disebut blastula.

Perkembangan dan pertumbuhan berlangsung, blastula

dengan vili korealisnya yang dilapisi sel trofoblas telah siap

untuk mengadakan nidasi. Sel trofoblas yang meliputi

“primer vili korealis” melakukan destruksi enzimatik-

proteolitik, sehingga dapat menanamkan diri dalam

endometrium. Proses penanaman blastula yang disebut

nidasi atau implantasi terjadi pada hari ke-6 sampai 7

setelah konsepsi. Pada saat tertanamnya blastula ke dalam

endometrium, mungkin terjadi perdarahan yang disebut

tanda Hartman.

Gambar 2.1 Proses nidasi atau implantasi

b) Pembentukan Plasenta/Plasentasi

Nidasi atau implantasi terjadi pada bagian fundus uteri di

dinding depan atau belakang. Pada blastula, penyebaran sel

trofoblas yang tumbuh tidak rata, sehingga blastula dengan

inner 24 cell mass akan tertanam dalam endometrium. Sel

trofoblas menghancurkan endometrium sampai terjadi


pembentukan plasenta yang berasal dari primer vili

korealis. Terjadinya nidasi (implantasi) mendorong sel

blastula mengadakan diferensiasi. Sel yang dekat dengan

ruangan eksoselom membentuk “entoderm” dan yolk sac

(kantong kuning telur) sedangkan sel lain membentuk

“ektoderm” dan ruangan amnion. Plat embrio (embryonal

plate) terbentuk diantara dua ruang yaitu ruang amnion dan

kantong yolk sac. Ruangan amnion dengan cepat mendekati

korion sehingga jaringan yang terdapat diantara amnion dan

embrio padat dan berkembang menjadi tali pusat. Awalnya

yolk sac berfungsi sebagai pembentuk darah bersama

dengan hati, limpa, dan sumsum tulang. Pada minggu

kedua sampai ketiga, terbentuk bakal jantung dengan

pembuluh darahnya yang menuju body stalk (bakal tali

pusat). Jantung bayi mulai dapat dideteksi pada minggu ke-

6 sampai 8 dengan menggunakan ultrasonografi atau sistem

Doppler. Selama sisa kehamilan, fisologi organ menjadi

matur dan janin terus memproduksi lemak dan otot. Sistem

saraf terus bermielinisasi hingga cukup bulan.


Gambar 2.2 Janin di Dalam Rahim Ibu

2.1.3 Tanda Kehamilan

Menurut Siswosudarmo (2009), secara klinis tanda-tanda

kehamilan dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu sebagai

berikut:

a. Tanda kehamilan yang tidak pasti (probable signs)

1) Amenorea, yaitu wanita yang terlambat mengalami haid dalam

masa wanita tersebut masih mampu hamil.

2) Mual dan Muntah (morning sickness), sering muncul pada pagi

hari dan diperberat oleh makanan yang baunya menusuk.

3) Mastodinia, yaitu rasa kencang dan sakit pada payudara yang

disebabkan payudara membesar. Vaskularisasi bertambah,

asinus dan duktus berproliferasi karena pengaruh progesterone

dan estrogen.

4) Quickening, yaitu persepsi gerakan janin pertama yang

biasanya disadari oleh wanita pada kehamilan 18-20 minggu.

5) Keluhan kencing (BAK), frekuensi kencing bertambah dan

sering kencing malam disebabkan karena desakan uterus yang

membesar dan tarikan oleh uterus ke kranial.

6) Konstipasi, terjadi karena reflek relaksasi progesterone atau

dapat juga karena perubahan pola makan.

7) Perubahan berat badan, yang terjadi pada kehamilan 2-3 bulan

sering terjadi penurunan berat badan karena nafsu makan

menurun dan muntah-muntah.


8) Perubahan temperature, kenaikan temperature basal lebih dari 3

minggu biasanya merupakan tanda-tanda terjadinya kehamilan.

9) Perubahan payudara, akibat stimulasi prolaktin, payudara

mensekresi kolostrum biasanya setelah kehamilan enam

minggu.

10) Perubahan warna kulit, yaitu warna kulit kehitam-hitaman pada

dahi, punggung hidung, dan kulit daerah tulang pipi.

11) Kontraksi uterus, tanda ini muncul belakangan dan pasien

mengeluh perutnya kencang, tetapi tidak disertai rasa sakit.

Balotemen, yaitu tanda adanya benda terapung melayang dalam

cairan.

12) Pembesaran perut, menjadi nyata setelah minggu ke-16 karena

pada saat ini uterus telah keluar dari rongga pelvis dan menjadi

organ rongga perut.

b. Tanda Pasti Kehamilan. Siswosudarmo (2009) menyebutkan tanda

pasti kehamilan adalah sebagai berikut:

1) Denyut jantung janin (DJJ), dapat didengarkan dengan

stetoskop laenec atau dengan stetoskop ultrasonic (dopller).

2) Palpasi, terlihat dan teraba gerakan janin, teraba bagian-bagian

janin.

3) Rontgenografi, sehingga dapat terlihat gambaran tulang-tulang

janin.

4) Ultrasonografi (USG)
5) Test laboratorium, yaitu test inhibisi koagulasi yang bertujuan

untuk mendeteksi adanya HCG dalam urin.

2.1.4 Masa-masa Kehamilan

Menurut Rukiyah (2009) kehamilam dibagi menjadi 3 trimester

yaitu trimester I: konsepsi sampai dengan 12 minggu, trimester II: 12

sampai 28 minggu, trimester III: 28 sampai 40 minggu.

1. Trimester I

Dimulai dari masa konsepsi spermatozoa menembus dinding

corona radiate dengan enzim hyaluronidase. Persenyawaan tersebut

biasanya terjadi di daerah ampula tubae. Sel telur yang sudah

dibuahi tersebut disebut zyangote. Inti sel telur dan inti sel

spermatozoa cromosom dari kedua inti bercampur hingga telur

mencapai 46 kromosom dan selanjutnya masing-masing kromosom

membelah diri hingga terjadi 2 pasang. Ovum yang telah dibuahi

mengalami poses segementasi sehingga terjadi blastomer.

Umur janin yang sebenarnya, harus dihitung mundur dari

fertilisasi atau karena fertilisasi selalu berdekatan dengan ovulasi

sekurang kurangnya dari saat ovulasi. Sesuai tingkat

pertumbuhannya dari 0-2 minggu setelah fertilisasi disebut ovum,

3-5 minggu disebut embrio (mudigah) pada saat ini belum bisa

dibedakan, tetapi pembentukan alat-alat badan dalam bentuk dasar

sudah terjadi. Sedangkan umur kehamilan lebih dari 5 minggu

disebut feotus yang mana janin sudah mempunyai bentuk manusia

akhir.
Akhir 1 bulan badan bayi sangat melengkung, panjangnya

7,5-10 mm, kepalanya 1/3 dari seluruh mudigah. Saluran yang

akan menjadi jantung sudah terbentuk dan sudah berdenyut. Dasar-

dasar trectus digestivus sudah nampak, permulaan kaki dan tangan

terbentuk tonjolan. Akhir 2 bulan mukanya sudah mulai jelas

terbentuk muka manusia dan sudah mempunyai lengan dan tungkai

dengan jari tangan dan kaki. Alat kelamin sudah nampak,

walaupun belum dapat ditentukan jenisnya. Panjangnya 2,5 cm

(Rukiyah, 2009) .

2. Trimester II

Pada bulan ke 4 panjang janin mencapai 10-17 cm, beratnya

100 gr, alat kelamin sudah dapat ditentukan jenisnya, kulit

ditumbuhi rambut yang halus (lanugo). Pada akhir bulan ini

pegerakan janin sudah dapat dirasakan oleh ibu. Akhir bulan ke 5

panjang janin 18-27 cm, beratnya 300 gr, bunyi janyung janin

sudah dapat didengar. Akhir bulan ke 6 panjang janin 28-39 cm,

beratnya 600 gr, kulit keriput dan lemak mulai ditimbun dibawah

kulit, dan kulit tertutup oleh vernicks caseosa yang bermaksud

untuk melindungi kulit (Rukiyah, 2009).

3. Trimester III

Bulan ke 7 panjang janin mencapai 35-38 cm, beratnya 100

gr, kalau lahir dapat hidup di dunia luar, walaupun kemungkinan

hidup sangat kecil. Akhir bulan ke 8 panjangya 42,5 cm, beratnya

mencapai 1700 gr, permukaan kulit masih merah dan keriput


seperti orangtua. Akhir bulan ke 9 panjangnya mencapai 46 cm dan

beratnya 2500 gr kulit sudah berisi. Akhir bulan ke 10 janin sudah

cukup bulan (matur/aterm), panjangnya mencapai 50 cm beratnya

300 gr. Kulit halus terdapat vernicaeosa ialah campuran sel-sel

epitel kulit, secret kelenjar lemak, kepala sudah ditumbuhi rambut,

kuku melebihi ujung jari, pada janin laki-laki testis sudah ada

dalam scrotum dan pada wanita labia mayora menutupi labia mino

(Rukiyah, 2009).

2.1.5 Perubahan Fisik yang Terjadi Saat Kehamilan

Menurut Sukarni (2013) pada masa kehamilan, banyak

perubahan-perubahan fisik yang dialami oleh ibu hamil. Perubahan-

perubahan ini antara lain.

1. Perubahan Kulit

Pada kulit terlihat adanya hyperpigmentatie, ialah kelebihan

pigmen pada tempat-tempat tertentu. Perubahan pada kulit ini

tidak selalu sama pada setiap wanita hamil, ada yang sebagian

saja dan ada perubahan yang semua pada tempat tersebut.

2. Perubahan Pada Kelenjar

Yang kelihatan ialah kelenjar tiroid yang menjadi besar, jadi

leher wanita itu bentuknya seperti leher pria. Perubahan ini

tidak terdapat pada setiap wanita hamil.

3. Perubahan Pada Mammae (buah dada)

Perubahan ini pasti terdapat pada semua wanita hamil karena

bersama-bersama dengan kehamilan mammae menyiapkan diri


untuk memproduki makanan pokok yang nantinya akan

diberikan kepada bayi setealh lahir. Perubahan ini sebagai

berikut :

a. Mammae membesar, tegang dan sakit.

b. Vena dibawah kulit mammae membesar dan kelihatan jelas.

c. Hiperpigmentasi pada aerola mammae.

d. Kelenjar Montgomerry yang terletak dalam aerola mammae

membesar dan terlihat dari luar.

4. Perubahan Perut

Perut akan kelihatan makin lama makin besar. Biasanya dari

umur kelihatan. Setelah itu mulai kelihatan membesar, lebih-

lebih setelah kehamilan umur 5 bulan kelihatan cepat sekali

menjadi besar.

5. Perubahan Alat Kelamin Luar

Pada alat kelamin luar ini kelihatan kebiruan disebabkan

adanya kongesti pada peredaran darah. Kongesti disebabkan

Karena pembuluh darah membesar, darah yang menuju ke

uterus banyak sekali, sesuai dengan kebutuhan uterus untuk

membesarkan dan memberi makan janin. Pembuluh darah dan

alat kelamin luar adalah cabang dari uterus, jadi jika pembuluh

darah uterus mengalami kongesti maka pembuluh darah alat

kelamin luar pun mengalami kongesti pula. Tanda ini disebut

tanda Chadwick.

6. Perubahan Pada Tungkai


Perubahan pada tungkai ini adalah timbulnya varices pada

sebelah atau kedua belah tungkai. Pada hamil tua sering

oedema pada salah satu tungkai. Oedema ini disebabkan karena

tekanan uterus yang membesar pada vena femoralis, sebelah

kanan atau sebelah kiri.

7. Sikap Ibu Pada Waktu Kehamilan agak Tua

Sikapnya menjadi lordose yang disebabkan oleh adanya

perubahan bentuk pada tulang belakang (vertebrae) dimana

tulang belakang tersebut menyesuaikan diri dengan

keseimbangan badan yang berhubungan dengan keadaan

uterus yang membesar (Sukarni, 2013).

2.1.6 Perubahan Psikologis Selama Kehamilan

1. Trimester I

Trimester pertama ini sering dirujuk sebagai masa penentuan.

Penentuan untuk menerima kenyataan bahwa ibu sedang hamil.

Segera setelah konsepsi, kadar hormon progesteron dan estrogen

dalam tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan timbulnya mual

dan muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya

payudara. Ibu merasa tidak sehat dan sering kali membenci

kehamilannya (Kamariyah, Anggasari & Muflihah 2014).

2. Trimester II

Trimester kedua sering disebut sebagai periode pancaran

kesehatan, saat ibu merasa sehat. Ibu sudah menerima


kehamilannya dan mulai dapat menggunakan energy serta

pikirannya secara konstruktif (Kumalasari & Intan, 2015).

3. Trimester III

Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu dan

waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu

kelahiran bayinya. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul

kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya

jelek. Disamping itu, ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah

dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima

selama hamil. Pada trimester inilah ibu memerlukan keterangan

dan dukungan dari suami, keluarga dan bidan (Dewi., Vivian &

Sunarsih, 2011).

2.1.7 Ketidaknyamanan Pada Masa Kehamilan

Menurut Varney, Kriebs & Gegor (2007), keluhan ringan yang

dijumpai pada kehamilan seperti edema dependen, nokturia,

konstipasi, sesak napas, nyeri ulu hati, kram tungkai serta nyeri

punggung bawah.

1. Edema Dependen
Edema dependen atau edema fisiologis yang dialami ibu

hamil trimester 3, edema terjadi karena penumpukan mineral

natrium yang bersifat menarik air, sehingga terjadi penumpukan

cairan di jaringan. Hal ini ditambah dengan penekanan pembuluh

darah besar di perut sebelah kanan (vena kava) oleh rahim yang

membesar, sehingga darah yang kembali ke jantung berkurang dan


menumpuk di tungkai bawah. Penekanan ini terjadi saat ibu

berbaring terlentang atau miring ke kanan. Oleh karena itu, ibu

hamil trimester 3 disarankan untuk berbaring ke arah kiri.

2. Nokturia

Nokturia atau sering kencing yaitu suatu kondisi pada ibu

hamil yang mengalami peningkatan frekuensi untuk berkemih

dimalam hari yang dapat mengganggu kenyamanan pasien sendiri

karena akan terbangun beberapakali untuk buang air kecil. Hal ini

terjadi karena adanya aliran balik vena dari ekstremitas difasilitasi

saat wanita sedang berbaring pada posisi lateral rekumben karena

uterus tidak lagi menekan pembuluh darah panggul dan vena cava

inferior.

3. Konstipasi

Konstipasi/sembelit pada ibu hamil terjadi akibat penurunan

gerakan peristaltik yang disebabkan relaksasi otot polos pada usus

besar ketika terjadi peningkatan jumlah progesteron. Selain itu,

pergeseran dan tekanan yang terjadi pada usus akibat pembesaran

uterus atau bagian presentasi juga dapat menyebabkan konstipasi.

4. Sesak Napas

Seiring bertambahnya usia kehamilan, uterus mengalami

pembesaran hingga terjadi penekanan diagfragma. Selain itu

diagfragma ini akan mengalami elevasi kurang lebih 4 cm selama

kehamilan.

5. Nyeri Ulu Hati


Nyeri ulu hati sangat umum ditemui selama kehamilan

terutama pada trimester 3. Gejalanya berupa rasa terbakar atau

nyeri pada area retrosternum dada, terutama saat sedang berbaring.

Jika berkepanjangan, nyeri ini mungkin merupakan gejala refluks

esofagitis akibat regurgitasi isi lambung yang asam. Pada ibu

hamil nyeri ulu hati disebabkan oleh pengaruh berat uterus selama

kehamilan yang mengganggu pengosongan lambung, juga karena

pengaruh progesteron yang yang merelaksasi spingter esofagus

bawah (kardiak). Salah satu penangannya yaitu menganjurkan ibu

untuk menggunakan bantalan saat tidur, caranya menompang

uterus dengan bantal dibawahnya dan sebuah bantal diantara lutut

pada waktu berbaring miring.

6. Kram Tungkai

Perbesaran uterus menyebabkan penekanan pada pembuluh

darah panggul, sehingga dapat mengganggu sistem sirkulasi atau

sistem saraf, sementara sistem saraf ini melewati foramen

obsturator dalam perjalanan menuju ekstremitas bagian bawah.

7. Nyeri Punggung Bawah

Nyeri punggung bawah adalah nyeri punggung yang terjadi

pada daerah lumbosakral/ lumbar (daerah tulang belakang

punggung bawah). Nyeri ini disebabkan oleh berat uterus yang

semakin membesar yang mengakibatkan pergeseran pusat gravitasi

mengarah kearah depan, seiring dengan ukuran perut yang


semakin membuncit. Hal ini menyebabkan postur tubuh ibu

berubanh, dan memberikan penekanan pada punggung.

2.2 Konsep Edema pada Ibu Hamil

2.2.1 Definisi

Bengkak atau edema adalah penumpukan atau retensi cairan pada

daerah luar sel akibat dari perpindahan cairan intraseluler. Edema pada

kaki biasa dikeluhkan pada usia kehamilan di atas 34 minggu (Irianti.,

2015).

Menurut Holmes, (2012) edema adalah gejala yang umum ditemui

pada kebanyakan kasus kehamilan dan terjadi hingga derajat tertentu.

Jaringan seluruh tubuh membengkak dan permeabilitas kapiler

meningkat sehingga cairan intravascular ke ruang ekstravaskuler.

Selama kehamilan anggota tubuh yang paling berpengaruh adalah jari

tangan, jari kaki, dan pergelangan kaki.

Edema adalah pembengkakan yang tampak secara klinis, karena

75% wanita hamil akan mengalaminya (Benson, 2011). Menurut

Siregar (2010) edema adalah pengumpulan cairan di bawah kulit atau

organ tubuh. Edema merupakan terkumpulnya cairan interstisial lebih

dari jumlah yang biasa atau didalam rongga tubuh mengakibatkan

sirkulasi pertukaran cairan dan elektrolit antara plasma dan jaringan

interstisial.
Gambar 2.3 Edema pada ekstremitas bawah

2.2.2 Mekanisme Terjadinya Edema Kaki Pada Ibu Hamil

Edema sering kali terjdi pada ekstremitas bawah wanita hamil. Hal

terjadi karena penumpukan mineral natrium yang bersifat menarik air,

sehingga terjadi penumpukan cairan di jaringan. Hal ini ditambah

dengan penekanan pembuluh darah besar di perut sebelah kanan (vena

kava) oleh rahim yang membesar, sehingga darah yang kembali ke

jantung berkurang dan menumpuk di tungkai bawah. Hal ini yang

kemudian menyebabkan terjadinya edema yang umumnya terjadi pada

tahap akhir kehamilan (Varney, Kriebs & Gegor 2007).

Edema dapat juga terjadi pada ibu hamil dengan Preeklampsia

yang disebabkan karena adanya kerusakan sel endotel kapiler. Endotel

merupakan lapisan yang melapisi dinding vaskular yang menghadap ke

lumen dan melekat pada jaringan subendotel yang terdiri atas kolagen

dan berbagai glikosaminoglikan termasuk fibrinektin. Endotel berfungsi

mengatur tonus vaskular, mencegah thrombosis, mengatur aktivitas

sistem fibrinolisis, mencegah perlekatan leukosit dan mengatur

pertumbuhan vaskular. Berdasarkan dengan adanya hipertensi, edema,


dan proteinuria diduga sebagai disfungsi endotel memegang peranan

pathogenesis preeklampsia (Rini, 2010).

2.2.3 Etiologi

Penyebab edema atau kaki bengkak yaitu retensi (penahan) air dan

garam karena gestosis dan tertekannya pembuluh darah, karena bagian

terendah bayi mulai masuk pintu atas panggul. Pada keadaan ringan

kaki bengkak dapat diatasi dengan tidur dengan kaki lebih tinggi dan

kurangi konsumsi garam. Apabila kaki bengkak abnormal berhubungan

dengan komplikasi hamil harus mendapat pengobatan khusus

(Manuaba, 2009). Bagi sebagian ibu hamil yang bekerja edema

disebabkan karena tekanan uterus yang membesar pada vena-vena

panggul wanita yang duduk atau berdiri pada vena kava inferior saat ia

berada pada posisi terlentang (Varney, 2006).

Menurut Ismail dkk, (2011) penyebab edema kaki, antara lain :

1. Berdiri atau duduk terlalu lama

2. Kurang olahraga

3. Pakaian ketat dan udara panas

4. Peningkatan level sodium karena pengaruh progesterone

5. Gangguan sirkulasi pada bagian ekstremitas bawah

6. Penigkatan permiabilitas kapiler

7. Varises

2.2.3 Tindakan/Intervensi
Tindakan yang dilakukan untuk penanganan edema menurut Ismail

dkk, (2011), yaitu:

1. Latihan meluruskan dan menekuk kaki lebih sering saat sedang

duduk atau berdiri.

2. Tinggikan kaki saat sedang duduk atau beristirahat.

3. Hindari ikatan kencang pada daerah kaki.

4. Olahraga

2.2.4 Penilaian Derajat Edema

Penilaian derajat edema antara lain sebagai berikut:

Tabel 2.1
Grading Edema
Derajat Kedalaman Waktu Kembali

0 Tidak ada edema klinis


I Pitting sedikit/2 mm Menghilang dengan
cepat
II Pitting lebih dalam/4 mm 10-15 detik
III Lubang yang dalam/6 1 menit
mm
IV Lubang yang sangat 2-5 menit
dalam/ 8 mm

Sumber : Khedr & Hamida (2016)

2.2.5 Instrumen Pengukuran Derajat Edema

Untuk pengukuran edema digunakan skala pitting edema yaitu

dengan melihat ada pembengkakan di kaki atau tidak, serta bagian kaki

ditekan, jika bekas tekan kembali maka itu bukan edema, jika bekas

tekan tidak kembali maka itu edema, serta mengukur bekas tekanan.
Derajat 0: tidak ada edema klinis, derajat I: Pitting sedikit/2 mm dan

menghilang dengan cepat, derajat II: Pitting lebih dalam/4 mm, waktu

kembali 10-15 detik, derajat III: Lubang yang dalam/6 mm, waktu

kembali 1 menit, derajat IV: Lubang yang sangat dalam/8mm, waktu

kembali 2 sampai 5 menit.

2.3 Konsep Peninggian Posisi Kaki

2.3.1 Definisi

Peninggian kaki merupakan pengaturan posisi dimana anggota

gerak bagian bawah diatur pada posisi lebih tinggi dari jantung

sehingga darah balik ke jantung akan meningkat dan penumpukan darah

pada anggota gerak bawah tidak terjadi (Safitri., 2018).

Menurut Brunner & Suddarth, (2001) peninggian posisi kaki 30

derajat adalah salah satu prosses intervensi yang dapat dilakukan

perawat untuk mengurangi edema kaki. Dengan peninggian kaki maka

melawan tarikan gravitasi, sehingga meningkatkan aliran balik vena ke

jantung dan mencegah timbulnya statis vena.

2.3.2 Mekanisme Penurunan Edema Kaki Dengan Peninggian Posisi Kaki

Menurut Siregar (2010), peninggian posisi kaki 30 derajat terhadap

pengurangan edema dapat membantu resusitasi jantung sehingga suplai

darah ke organ-organ penting, seperti paru, hepar, ginjal sempurna.

Sempurna dalam arti kemampuan jantung untuk memompa darah ke

seluruh tubuh meningkat sehingga aliran darah dari vena ke arah

jantung tidak terbendung sehingga tidak mengakibatkan tekanan


hidrostatik di pembuluh kapiler meningkat dan tidak terjadi

penumpukkan cairan pada organ-organ tersebut.

2.3.3 Manfaat

Manfaat dari peninggian posisi kaki adalah peningkatan suplai

darah arteri ke ektremitas bawah. Pengurangan kongesti vena,

mengusahakan vasodilatasi pembuluh darah, pencegahan kompresi

vaskuler (mencegah dekubitus), pengurangan nyeri, pencapaian atau

pemeliharaan kulit.

2.3.3 Indikasi

Dilakukan pada ibu hamil trimester III dengan edema kaki.

2.3.4 Prosedur Tindakan

a. Pra Interaksi

Menyiapkan alat

b. Fase Orientasi

1) Mengucapkan salam

2) Memperkenalkan diri

3) Menjelaskan tujuan

4) Menjelaskan prosedur

5) Kontrak waktu

6) Menanyakan kesiapan pasien

b. Fase Kerja

Menurut Siregar (2010):


1) Tekan daerah edema sehingga cekung kulit yang dalam.

2) Ukur dengan jangka sorong/centimeter, kemudian catat

hasil pengukuran.

3) Kemudian tinggikan posisi kaki dengan sudut 30 derajat

agar posisi jantung lebih rendah dari kaki selama 5 menit,

setelah itu diberikan istirahat 2 menit. Lalu dilakukan

peninggian posisi kaki kembali selama 5 menit.

4) Kemudian ukur kembali derajat edema dengan menekan

daerah yang bengkak.

5) Peninggian posisi kaki 30 derajat dilakukan sebanyak 2 kali

dan dilakukan dengan waktu 3 sampai 5 menit tergantung

kemampuan pasien, 2 menit dilakukan istirahat lalu

dilakukan peninggian posisi kaki lagi selama 3 sampai 5

menit.

c. Fase Terminasi

1) Melakukan evaluasi
2) Manyampaikan rencana tindak lanjut
3) Berpamitan

2.4 Konsep Latihan Tungkai

2.4.1 Definisi

Latihan tungkai adalah latihan yang dilakukan untuk

meningkatkan aliran darah vena dari ekstremitas, juga mempertahankan

tonus otot dan rentang gerak (LeMone, 2016). Latihan ini dianjurkan
dilakukan sebelum bangun dari istirahat, sebelum tidur malam, dan

beberapa kali di siang hari. Ibu sebaiknya tidak berdiri jika tidak perlu

(Fraser & Cooper, 2009).

2.4.2 Mekanisme Penurunan Edema Kaki Dengan Latihan Tungkai

Ketika otot tungkai berkontraksi dan relaks pada saat di lakukan

latihan tungkai maka akan mengendurkan ketegangan pada otot

tungkai sehingga membantu memperlancar alirah darah yang

menumpuk di ekstremitas bawah dipompa balik ke jantung, sehingga

meningkatkan curah jantung dan penurunan statis vena (LeMone,

Burke & Bauldoff, 2016).

2.4.3 Manfaat

Memperbaiki sirkulasi dalam mencegah atau mengurangi

terjadinya kram, edema, varises vena.

2.4.4 Indikasi

Dilakukan pada ibu hamil trimester III dengan edema kaki.

2.4.5 Prosedur Tindakan

a. Pra Interaksi

Menyiapkan alat

b. Fase Orientasi

1) Mengucapkan salam

2) Memperkenalkan diri

3) Menjelaskan tujuan

4) Menjelaskan prosedur
5) Kontrak waktu

6) Menanyakan kesiapan pasiene Orientasi

c. Fase Kerja

Menurut LeMone, Burke & Bauldoff (2016):

1) Kontraksikan dan kendurkan betis dan paha selama 10

menit secara berturut-turut.

2) Tekuk lutut dan angkat kearah dada.

3) Luruskan tungkai dan tahan selama satu menit sebelum

menurunkan tungkai kembali ke tempat tidur. Ulangi

latihan lima kali secara berturut-turut sebelum berganti

dengan kaki yang lain.

4) Putar pergelangan kaki dengan membuat lingkaran penuh,

pertama ke kanan dan kemudian kekiri. Ulangi lima kali

dan kemudian kendurkan.

5) Dengan kedua kaki, arahkan jari kaki ke kepala tempat

tidur dan kemudian ke arah kaki tempat tidur.

6) Ulangi gerakan memompa ini 10 kali, dan kemudian

kendurkan.

2.5 Kerangka Teori

Kerangka teori adalah rangkuman dari penjabaran teori yang sudah

di uraikan sebelumnya dalam bentuk naratif, untuk memberikan batasan

tentang teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan

dilakukan.
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi (Yulistiana, 2015).

Edema kaki merupakan salah satu bentuk perubahan yang terjadi

selama kehamilan yang sering menjadi keluhan pada ibu gravida. Edema

pada kehamilan dipicu oleh perubahan hormon estrogen, sehingga dapat

meningkatkan retensi cairan. Penyebab edema atau kaki bengkak yaitu

retensi (penahan) air dan garam karena gestosis dan tertekannya

pembuluh darah, karena bagian terendah bayi mulai masuk pintu atas

panggul (Manuaba, 2009).

Penanganan edema kaki pada ibu hamil yaitu dengan terapi non

farmakologis peninggian posisi kaki 30 derajat dan latihan tungkai.

Peninggian posisi kaki, adalah pengaturan posisi dimana anggota gerak

bagian bawah diatur pada posisi lebih tinggi dari jantung sehingga darah

balik ke jantung akan meningkat dan penumpukan darah pada anggota

gerak bawah tidak terjadi (Safitri, 2018). Sedangkan latihan tungkai

adalah latihan yang dilakukan untuk meningkatkan aliran darah vena dari

ekstremitas, juga mempertahankan tonus otot dan rentang gerak

(LeMone, Burke & Bauldoff 2016). Latihan ini dianjurkan dilakukan

sebelum bangun dari istirahat, sebelum tidur malam, dan beberapa kali di

siang hari (Fraser & Cooper, 2009).

Kerangka teori penurunan derajat edema dapat dilihat pada bagan

dibawah ini.

Kehamilan
Trimester I Trimester II Trimester III

Edema fisiologis Non Farmakologis

Peninggian posisi kaki sudut


30º dan Latihan tungkai

: Tidak di teliti Penurunan derajat


edema

Gambar: 2.4 Kerangka Teori

2.6 Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan suatu uraian dan visualisasi hubungan atau

kaitan antara konsep satu dengan konsep yang lainnya atau antara variabel

yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti.

Berdasarkan kerangka teori diatas, maka terapi non farmakologis yang

digunakan untuk penurunan derajat edema pada ibu hamil trimester III, yaitu

peninggian posisi kaki (sudut 30º) dan latihan tungkai. Adapun kerangka

konsepnya sebagai berikut:

Variable Independent Variabel Dependent

Peninggian posisi kaki


Penurunan Derajat
(sudut 30º) dan Latihan
Edema
Tungkai

Gambar: 2.5. Kerangka Konsep

2.7 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini berarti jawaban sementara penelitian

yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut, dikatakan

sementara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori dan

belum menggunakan fakta atau data. Setelah melalui pembuktian dari hasil

penelitian maka hipotesis dapat disimpulkan benar atau salah, diterima

atau ditolak (Riyanto., 2012). Hipotesis dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

Ho: Tidak ada pengaruh peninggian posisi kaki (sudut 30º) dan latihan

tungkai terhadap penurunan derajat edema pada ibu hamil trimester

III.

Ha: Ada pengaruh peninggian posisi kaki (sudut 30º) dan latihan tungkai

terhadap penurunan derajat edema pada ibu hamil trimester III.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan metode quasi

eksperiment menggunakan desain One Group Pre and Post Test. Pada desain

ini peneliti hanya melakukan intervensi pada satu kelompok tanpa

O1 X O2
pembanding. Efektivitas perlakuan dinilai dengan cara membandingkan nilai

pre test dan post test. Berikut skema desain One Group Pre and Post Test.

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian


Keterangan :
O1 : Pre test pada kelompok perlakuan
O2 : Post test perlakuan
X : Uji coba/intervensi pada kelompok perlakuan sesuai protocol

3.2 Tempat dan Waktu penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota

Bengkulu.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2019.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas objek atau

subjek yang mempunyai karakteristik dan kualitas yang ditetapkan oleh

peneliti untuk di teliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sujarweni,

2014). Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil trimester III di

wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil kota Bengkulu yang

berjumlah 43 orang.
3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki


oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Sujarweni, 2014). Pada
penelitian eksperimen jumlah sampel yang disarankan minimum
sebanyak 15 (Kasjono & Yusril., 2009) Metode pengambilan sampel
dalam peneltian ini menggunakan purposive sampling dengan
menentukan sampel sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
1) Kriteria Inklusi

a. Ibu hamil trimester III

b. Mengalami edema kaki

c. Bersedia menjadi responden

d. Komunikatif dan sadar penuh

2) Kriteria Eksklusi

a. Ibu hamil dengan cedera pada kaki baik pada sebelah kaki atau

kedua kaki.

b. Ibu hamil dengan gangguan Kardiovaskuler

c. Ibu hamil dengan gangguan Ginjal

d. Ibu hamil dengan resiko tinggi

- riwayat Pre eklampsia

- riwayat perdarahan hebat

- riwayat keguguran berulang

3.4 Definisi Standar Operasional Prosedur

Tabel 3.1
Definisi Operasional Prosedur

N Variabel Definisi Operasional Cara dan Hasil Ukur Skala


o. Dependen Alat Ukur
ukur

1. Derajat Penumpukan atau retensi Menggunak - Derajat I:


Edema kaki cairan pada daerah luar sel an lembar Pitting sedikit/2
pada ibu akibat dari perpindahan cairan observasi mm dan Interval
hamil intraseluler. dan skala menghilang
trimester III pitting dengan cepat.
edema - Derajat II:
dengan cara Pitting lebih
memeneka dalam/4 mm.
m area yang waktu kembali
edema, dan 10-15 detik.
mengukur - Derajat III:
kedalaman Lubang yang
bekas dalam/6 mm.
tekanan Waktu kembali
menggunak 1 menit.
an jangka - Derajat IV:
sorong/centi Lubang yang
meter dan sangat
melihat dalam/8mm.
waktu Waktu kembali
kembalinya. 2-5
Menit.

N Variabel Definisi Operasional Cara dan Hasil Ukur Skala


o. Independent Alat Ukur Ukur

1 Peninggian Pengaturan posisi dimana Mengukur Tinggi kaki 30°


posisi kaki anggota gerak bagian tinggi
bawah diatur pada posisi posisi kaki
lebih tinggi dari jantung mengguna
sehingga darah balik ke kan
jantung akan meningkat penggaris
dan penumpukan darah segitiga
pada anggota gerak bawah berukuran
tidak terjadi. besar

2 Latihan Latihan yang dilakukan untuk


tungkai meningkatkan aliran darah
vena dari ekstremitas, juga
mempertahankan tonus otot
dan rentang gerak.
3.5 Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder.

Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan lembar

observasi kepada ibu hamil trimester III dengan edema kaki dan data

sekunder diperoleh dari catatan perawat yang ada di status pasien di

Puskesmas.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi berupa data

demografi dan untuk pengukuran edema digunakan skala pitting edema

yaitu dengan melihat ada pembengkakan di kaki atau tidak, serta bagian kaki

ditekan, jika bekas tekan kembali maka itu bukan edema, jika bekas tekan

tidak kembali maka itu edema, serta mengukur kedalaman edema.

3.6.1 Pra Intervensi

Sebelum dilakukan ekperimen, peneliti terlebih dahulu

menyiapkan alat dan bahan yang digunakan antara lain, jangka

sorong/centimeter, penggaris segitiga ukuran besar. Melakukan

pengukuran derajat edema kaki sebelum dilakukan intervensi

menggunakan Skala Pitting Edema.

3.6.2 Intervensi

a. Peninggian Posisi Kaki (sudut 30º)

Menurut Siregar (2010):


1) Sebelum dilakukuan tindakan atur posisi pasien dengan

berbaring di tempat tidur.

2) Tekan daerah edema sehingga cekung kulit yang dalam.

3) Ukur dengan jangka sorong/centimeter, kemudian catat hasil

pengukuran.

4) Peninggian posisi kaki sudut 30 derajat diukur menggunakan

pengaris segitiga berukuran besar.

5) Kemudian tinggikan posisi kaki dengan sudut 30 derajat agar

posisi jantung lebih rendah dari kaki selama 3 menit dan

kemudian ukur derajat edema dengan menekan daerah yang

bengkak.

6) Peninggian posisi kaki 30 derajat dilakukan dengan waktu

sampai 5 menit tegantung kemampuan pasien, 2 menit

dilakukan istirahat lalu dilakukan peninggian posisi tungkai lagi

sebanyak 3 sampai 5 menit.

7) Jadi total pengerjaan pada satu pasien adalah 7 menit.

Peneliti terdahulu juga memberikan informasi kepada

pasien bahwa pengurangan edema kaki ini tidak bisa dilakukan

dalam waktu satu hari saja tetapi dilakukan peninggian posisi

kaki ini sebanyak minimal 4 kali/hari selama 3 hari. Penelitian

dalam jurnal Siregar dilakukan kepada 18 pasien dengan tingkat

keberhasilan setelah peninggian posisi kaki adalah 7 menit

dengan peninggian posisi kaki ditinggikan sebanyak 2 kali

(Siregar., 2010). (lihat lampiran 6).


b. Latihan Tungkai

Menurut LeMone, Burke & Bauldoff (2016) ajarkan pasien

untuk melakukan latihan berikut sembari berbaring ditempat tidur :

1) Kontraksikan dan kendurkan betis dan paha selama 10 menit

secara berturut-turut.

2) Tekuk lutut dan angkat kearah dada.

3) Luruskan tungkai dan tahan selama satu menit sebelum

menurunkan tungkai kembali ke tempat tidur. Ulangi latihan

lima kali secara berturut-turut sebelum berganti dengan kaki

yang lain.

4) Putar pergelangan kaki dengan membuat lingkaran penuh,

pertama ke kanan dan kemudian kekiri. Ulangi lima kali dan

kemudian kendurkan.

5) Dengan kedua kaki, arahkan jari kaki ke kepala tempat tidur

dan kemudian ke arah kaki tempat tidur. Ulangi gerakan

memompa ini 10 kali dan kemudian kendurkan.

Dorong pasien melakukan latihan tungkai setiap 1 hingga 2 jam

saat terjaga, tergantung pada kebutuhan dan kemampuan pasien.

Peneliti sendiri akan melakukan intervensi latihan tungkai sebanyak 2

kali dalam sehari dengan kurun waktu 6 hari berturut-turut (lihat

lampiran 6).

3.6.3 Post Intervensi


Peneliti mengevaluasi setiap setelah melakukan terapi dengan

waktu 35 menit selama 6 hari berturut-turut dengan menggunakan skala

Pitting edema.

3.7 Metode Pengolahan Data

Data yang sudah terkumpul diolah secara manual maupun

menggunakan komputer, adapun pengolahan data dilakukan dengan

tahapan:

1. Pemeriksaan data (editing), merupakan kegiatan pengecekan isian

kuisioner, apakah jawaban yang ada di kuisioner sudah lengkap, jelas,

relevan dan konsisten.

2. Pemberian kode (coding), yaitu pongkodean data menjadi bentuk

kategori, 1 (derajat I), 2 (derajat II), 3 (derajat III), 4 (derajat IV).

Dengan dilakukannya tahap ini maka proses pengolahan dan entri data

menjadi lebih mudah.

3. Memasukkan data (entry), yaitu data yang telah diedit dan koding

dimasukkan ke dalam komputer untuk dilakukan analisis.

4. Membersihkan data (cleaning), yaitu pengecekan data yang telah

dimasukkan ke dalam program komputer sebelum dilakukan analisis

lebih lanjut. Tahapan ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan,

sehingga hasil analisa nantinya sesuai dengan data sebenarnya.

3.8 Teknik Analisis Data

a. Analisis Univariat

Analisis ini digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari


masing-masing variabel yang diteliti, baik variabel independen

maupun variabel dependen. Dalam penelitian ini penulis ingin

mengetahui derajat edema sebelum dan sesudah dilakukan tindakan

peninggian posisi kaki sudut 30 derajat dan latihan tungkai terhadap

penurunan derajat edema kaki.

b. Analisis Bivariat

1) Uji Normalitas

Sebelum melakukan analisis data dengan uji t berpasangan,

data terlebih dahulu akan diuji normalitas. Tujuan uji normalitas

adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti

atau mendekati distribusi normal. Uji normalitas yang digunakan

menggunakan uji shapiro-wilk test dan Kolmogorof- Smilnov Test.

Bila jumlah sampel <50 maka menggunakan Shapiro wilk test dan

bila jumlah sampel >50 maka menggunakan kolmogorof-smilnov

test. Kesimpulan hasil analisa data berdistribusi normal jika p >

0,05 dan data tidak berdistribusi normal jika p < 0,05.

2) Paired T Test

Syarat penggunaan uji t berpasangan (paired t test) adalah

skala variabel berbentuk interval atau rasio, serta mempunyai

distribusi normal. Penggunaan uji t berpasangan pada penelitian ini

bertujuan untuk melihat pengaruh sebelum dan setelah melakukan

terapi. Bila p value > a (0,05), maka H0 diterima dan H1 ditolak,

jika p value < a (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Bila t

hitung > t table maka H1 diterima atau H0 ditolak.


DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni S, Sari F Y. 2016. Efektivitas Senam Hamil Terhadap Penurunan


Derajat Edema Kaki Pada Ibu Gravida Trimester II Dan III. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Vol 5 No 2 November 2016. Diakses pada tanggal 5 April.

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 vol.3.
EGC: Jakarta.

Cipto, Astuti Y, Wahyudi T. 2013. Efektivitas Posisi Tidur Kaki Lebih Tinggi 15º
Terahadap Penurunan Oedema Ekstremitas Bawah Pada Pasien Gagal
Jantung Di Rumah Sakit DR. R. Soepraptu Cepu Jawa Tengah. Jendela
Nursing Jurnal Vol 2 No 1 April 2013. Diakses 10 Mei 2019.
Coban A & Sirin A. 2010. Effect Of Foot Massage To Decreae Physilogical
Lower Leg Oedema In Late Pregnancy. International Jurnal Of Nursing
Practice ; 16. Diakses 10 Mei 2019.

Dewi, Vivian N L, Sunarsih & Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas. Jakarta :
Salemba Medika.

Dinkes Kota Bengkulu. 2016. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan di


Tolong Tenaga Kesehatan, Dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut
Kecamatan Dan Puskesmas Kota Bengkulu.

Dinkes Kota Bengkulu. 2017. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan di


Tolong Tenaga Kesehatan, Dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut
Kecamatan Dan Puskesmas Kota Bengkulu.

Dinkes Kota Bengkulu. 2018. Cakupan Pelayanan Kesehtan Pada Ibu Hamil, Ibu
Hamil, Dan Ibu Nifas Menurut Kecamatan Dan Pusksesmas Kota
Bendkulu.

Fraser M D, Cooper A M. 2009. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta: EGC.

Irianti B, HM E, & Duhita F. 2015. Asuhan Kehamilan Berbasis Bukti. Jakarta:


Sagung Seto.

Ismail R, Kasim D, Rusmiati & Mulyati Y. 2011. Pendidikan Kesehatan Dalam


Keperawatan Maternitas. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Holmes D, Baker N P. 2011. Buku Ajar Ilmu Kebidanan. Jakarta: EGC.

Junita S, Hevrialni R & Fadmiyanor I. 2018. Hubungan Foot Massage Dengan


Derajat Edema Pada Ibu Hamil Trimester III Di Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Kota Pekan baru. Jurnal Ibu dan Anak Vol 6, No 1, Mei 2018.
Diakses pada tanggal 5 April 2019.

Kamariyah Nurul, Yasi Anggasari & Muflihah Siti. 2014. Buku Ajar Kehamilan
untuk Mahasiswa dan Praktisi Keperawatan serta Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika.
Kasjono & Yasril. 2009. Analisis Multivariat Untuk Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Kumalasari & Intan. 2015. Panduan Praktik Laboratorium dan Klinik Perawatan
Antenatal, Intranatal, Postnatal, Bayi Baru Lahir dan Kontrasepsi.
Jakarta: Salemba Medik.

Kherd N F H & Hamida R. 2016. Effect of Leg Elevation versus Water


Immersion on Leg Edema in Third Trimester of Pregnancy. Jurnal of
Nursing dan Ilmu Kesehatan Vol 5 No 6. Diakses 5 Agustus 2019.
LeMone P, Burke M K & Bauldoff G. 2016. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC.

Lestari W E T, W Nurul & Admini. 2018. Literature Review: Penerapan Pijat


Kaki Dan Rendam Air Hangat Campuran Kencur Terhadap Edema Kaki
Ibu Hamil Trimester III Di Wilayah Kerja Puskesmas I Wangon
Banyumas. Jurnal Kebidanan Vol 8, No 2, Oktober 2018. Diakses pada
tanggal 5 April 2019.

Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan kb. Jakarta: EGC.

Manuaba, Ida A C, Ida B G F & Ida B G M. 2012. Buku Ajar Patologi Obstetri
untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.

Nurhasanah. 2013. Edema Pada Ibu Hamil Trimester III Puskesmas Basuki
Rahmat Kota Bengkulu. Stikes Bakti Husadah Bengkulu. Diakses pada
tanggal 12 Juni 2019.

Rukiah A Y, Lia Y, Maemunah & Lilik S. 2009. Asuhan Kebidanan I


(kehamilan). Jakarta: Trans info media.

Rini C S. 2010. Penatalaksanaan Terapi Preeklampsia Rawat Inap RSUP Dr.


Soeradji Tirtonegoro Klaten. Skripsi Muhammadiyah Surakarta. Diakses 7
September 2019.

Safitri R. 2018. Gambaran Posisi Elevasi Pada Kejadian Edema Tungkai Bawah
Pada Ibu Hamil Trimester III Di Bidan Praktik Swasta “A” Kecematan
Bantur Kabupaten Malang. Jurnal Hesti Wira Sakti Vol 6, No 1, 2018.
Diakses pada tanggal 5 April 2019.

Siregar E R. 2010. Pengaruh Posisi Kaki di Tinggikan 30 Derajat di Atas Tempat


Tidur Terhadap Pengurangan Edema Kaki Pasien Jantung Kongestif Di
Ruangan CVCU RSUP. H. Adam Malik Medan. Skripsi Universitas
Sumatera Utara. Diakses 5 April 2019.

Siswosudarmo. 2009. Obstetri Fisiologi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia.

Sujarweni, V Wiratna. 2014. Metodologi Penelitian Keperawatan, Jakarta.

Sukarni I, P Wahyu. 2013. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta:


Nuha Medika.

Varney H. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 1. Jakarta: EGC.

Varney H, Kriebs M J, Gegor L K . 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4.


Jakarta : EGC
Vivin N. 2011. Asuhan Kehamilan Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Yulistiana, Evayanti, 2015. Hubungan Pengetahuan Ibu Dan Dukungan Suami


Pada Ibu Hamil Terhadap Keteraturan Kunjungan Antenatal Care (Anc)
Di Puskesmas Wates Lampung Tengah Tahun 2015. Jurnal Kebidanan
Vol 1, No 2, Juli 2015: 81-90. Diakses tanggal 25 April 2019.

Anda mungkin juga menyukai