0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan25 halaman

Spesifikasi Berat Besi Hollow 5x10 mm

Dokumen tersebut merupakan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pembangunan mini market di Saubeba, Yapen Timur. Dokumen ini menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek seperti panitia pelelangan, peserta pelelangan, perencana bangunan, dan pengawas bangunan. Dokumen ini juga menjelaskan syarat-syarat umum pelelangan seperti dokumen yang dibutuhkan, cara penyampaian

Diunggah oleh

bachtiar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan25 halaman

Spesifikasi Berat Besi Hollow 5x10 mm

Dokumen tersebut merupakan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) untuk pembangunan mini market di Saubeba, Yapen Timur. Dokumen ini menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek seperti panitia pelelangan, peserta pelelangan, perencana bangunan, dan pengawas bangunan. Dokumen ini juga menjelaskan syarat-syarat umum pelelangan seperti dokumen yang dibutuhkan, cara penyampaian

Diunggah oleh

bachtiar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

( R K S )

PROGRAM : PEMBANGUNAN MINI MARKET


PEKERJAAN : PEMBANGUNAN MINI MARKET
LOKASI : SAUBEBA, DISTRIK YAPEN TIMUR-KAB. KEPULAUAN YAPEN

BAGIAN PERTAMA
SYARAT- SYARAT UMUM.

Pasal 1. PIHAK-PIHAK YANG BERSANGKUTAN.

1. 1. Pemberi tugas untuk pekerjaan ini adalah Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili
oleh Drs. TITING PASODUNG Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian,
dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Yapen selaku Kuasa Pengguna Anggaran
Pembangunan Mini Market Kabupaten Kepulauan Yapen Tahun Anggaran 2009

1.2. Panitia Pelelangan.


Panitia Pelelangan adalah Tim yang dibentuk khusus untuk menyelenggarakan pelelangan
pekerjaan tersebut yang anggota-anggotanya diangkat berdasarkan surat Keputusan Kuasa
Pengguna Anggaran Pembangunan Mini Market Kabupaten Kepulauan Yapen Tahun Anggaran
2009

1.3. Peserta Pelelangan.


Peserta Pelelangan adalah Kontraktor yang telah terdaftar dalam BSA di LPJK Propinsi Papua,
dan telah lulus dalam kualifikasi Bidang Sipil Sub Bidang Bangunan Gedung Gred 4

1.4. Perencana Bangunan


Perencana Bangunan untuk Pekerjaan ini adalah Biro Konsultan Teknik yang ditinjuk Kuasa
Pengguna Anggaran.

1.5. Direksi/Pengawas Bangunan


Pengawas Bangunan untuk Pekerjaan ini adalah Biro Konsultan Teknik dan akan ditentukan
kemudian oleh Kuasa Penggunan Anggaran dengan Surat Keputusan yang akan diberitahukan
kepada kepada pihak yang terkait dalam pekerjaan tersebut diatas.

1.6. Pengelola Teknik Pekerjaan


Pengelola Teknik Pekerjaan ini adalah : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kepulauan Yapen.

1.7. Kontraktor.
Kontraktor adalah suatu perusahaan yang usahanya bergerak dibidang Pekerjaan Sipil Sub
Bidang Bangunan gedung Bidang Sipil Sub Bidang Bagunan Gedung Gred 4 yang masih
berlaku. Kepada Kontraktor yang berminat untuk mengikuti pelelangan pekerjaan ini harus:
[Link] Terdaftar dalam Daftar Rekanan Terpilih.
b. Telah Mengisi Daftar Kemampuan Nyata ( SKN ).
[Link] Harus Berdomisili di Daerah Setempat.
Pasal 2. DOKUMEN PELELANGAN

Dokumen Pelelangan adalah surat-surat keterangan dan surat lainnya yang ada kaitannya dengan
penyelenggaraan pelelangan pekerjaan ini serta merupakan bagian dari kontrak perjanjian
pemborongan :
a. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat.
b. Gambar Pelaksanaan.
c. Berita Acara Pelaksanaan Pekerjaan ( Aanwijzing ).

Pasal 3. RAPAT PENJELASAN PEKERJAAN (AANWIJZING)

3.1. Peserta Lelang adalah yang telah mendaftarkan diri dan terdapat dalam Daftar Rekanan
Terseleksi (DRT) serta diundang panitia Pelelangan untuk mengikuti rapat penjelasan pekerjaan
(aanwijzing) yang diselenggarakan pada :
Hari : …………………….
Tanggal : …………………….
Jam : …………………….
Tempat : …………………….

3.2. Segala perubahan baik penambahan maupun pengurangan mengenai gambar-gambar dan RKS
akan dicatat dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, yang sifatnya mengikat serta akan
diserahkan kepada peserta lelang sebelum pelelangan.

Pasal 4. KETENTUAN PELELANGAN DAN CARA PENYAMPAIANNYA.

4.1. Pelelangan untuk pekerjaan ini akan diselenggarakan secara pelelengan terbatas / pemilihan
langsung, bila didaerah tersebut Kontraktor yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti
pelelangan ini tidak cukup, maka akan diundang Kontraktor dari daerah Kabupaten yang
terdekat.

4.2. Cara pembuatan Surat Penawaran.


Surat penawaran dibuat pada kertas kop perusahaan dan mengikuti contoh penawaran terlampir.

4.3. Surat penawaran harus bertanggal, bermaterai sebesar 6.000,00 (enam ribu rupiah) dan
ditandatangani oleh Direktur Perusahaan. Surat penawaran berlaku mengikat untuk jangka
waktu 3 (tiga) bulan terhitung surat penawaran. Bila direktur atau penganggung jawab
perusahaan berhalangan maka surat penawaran dapat ditanda tangani oleh wakilnya dengan
disertai surat kuasa bermaterai 6.000,00 (enam ribu rupiah,-) yang disahkan oleh Noteris
Pengadilan Negeri.

4.4. Lampiran – lampiran surat penawaran


Surat penawaran dibuat dalam rangkap 5 (lima) dan dilampirkan :
a. Surat Perincian Anggaran Biaya (RAB) yang ditandatangani oleh Direktur.
b. Daftar harga bahan dan upah kerja.
c. Analisa harga satuan bahan dan upah kerja.
d. Foto copy Tanda Daftar Rekanan yang masih berlaku dengan kualifikasi Pekerjaan
Arsitektur Bangunan Gedung Gred 4 .
e. Foto copy Surat Izin Usaha Jasa Kontruksi (SIUJK) dari Kanwil Depertemen Pekerjaan
Umum Irian Jaya.
f. Foto copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU).
g. Foto copy NPWP – NPWPD.
h. Foto copy Akte Pendirian Perusahaan.
i. Asli dan foto copy Refrensi Bank.
j. Neraca Perusahaan terakhir.
k. Susunan Pemilikan Modal Perusahaan.
l. Foto copy Tanda Daftar Perusahaan (TDP) .
m. Jadwal kegiatan / time schedule.
n. Foto Copy Kartu anggota GAPENSI.
o. Jaminan penawaran sebesar Rp. ………..,00
p. Daftar personalia + peralatan.
q. Pengalaman kerja perusahaan 2 (dua) Tahun terakhir

4. 5. Surat penawaran harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :


1. Bermarerai 6.000,00 ( enam ribu rupiah ) bertanggal ditandatangani dan dicap serta tidak
diperkenankan terdapat coretan dan hapusan.
2. Harga penawaran dalam surat penawaran harus dicamtumkan dengan jelas angka dan huruf,
jumlah yang tertera dalam surat penawaran.
3. Surat penawaran serta lampiran – lampirannya dimasukkan dalam amlop folio.

4.6 Sampul penawaran atau amplop harus dilak di lima tempat satu titik. Pada amplop harus ditulis:

Kepada Yth.
PANITIA PENGADAAN BARANG DAN JASA
PEMBANGUNAN MINI MARKET
TAHUN ANGGARAN 2009
DI -
SERUI

4.7. Persyaratan
Kepada peserta pelelangan tidak diperkenankan memasukkan lebih dari 1 (satu) paket
penawaran. Kepada siapa yang tidak memenuhi ketentuan dan persyaratan – persyaratan
tercantum di atas dinyatakan gugur.

4.8. Cara penyampaian surat penawaran.


Amplop yang berisikan surat penawaran dan telah dilampiri dokumen-dokumen sebagai mana
dimaksud dalam pasal 4 ayat empat di atas, dimasukkan dalam kotak pelelangan yang sudah
disediakan oleh panitia pelelangan pada :
Hari : …………………….
Tanggal : …………………….
Jam : …………………….
Tempat : …………………….

Amplop penawaran tidak diperkenankan diberikan kepada seseorang anggota panitia.

Pasal 5. CARA PEMBUKAAN PENAWARAN

5.1. Pembukaan surat penawaran dilakukan oleh panitia pada hari……………tanggal……….


Bulan …………. Tahun …………….

5.2. Panitia pelelangan membuka kotak dan sampul surat penawaran di hadapan para panitia lelang,
semua surat penawaran dan surat – surat lainnya dibaca dengan jelas di hadapan para peserta
lelang.

5.3. Semua syarat – syarat yang sah maupun yang tidak sah serta semua kekurangan yang terdapat
dalam surat – surat penawaran harus dibuat dalam Berita Acara pembukaan surat penawaran.
5. 4. Berita acara pembukaan surat penawaran akan dibacakan dihadapan para peserta lelang dengan
jelas kemudian ditanda tangani oleh semua anggota panitia lelang serta wakil dari peserta
lelang.

5. 5. Surat penawaran tidak sah bilamana :


a. Tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercamtum dalam pasal 4 ayat 4 diatas.
b. Disampaikan kepada salah seorang panitia.
c. Disampaikan di luar batas waktu yang telah ditentukan.

Pasal 6. PENETAPAN CALON PEMENANG

6.1. Penetapan calon pemenang lelang berdasarkan :


a. Penilaian penawaran dilakukan dengan penelitian teknis terlebih dahuluh, apabila persyaratan
spesifikasi harga telah terpenuhi, maka penilaian dilanjutkan dengan penelitian harga.
b. Apabilah harga dalam penawaran telah dianggap wajar dan didalam batas ketentuan
mengenai harga satuan bahan dan upah kerja (harga standard) yang telah ditetapkan, serta
telah sesuai dengan ketentuan yang ada, maka panitia menetapkan 3 (tiga) pesrta yang telah
memasukkan penawaran yang paling menguntungkan bagi Negara dalan arti :

1. Penawaran secara teknis dapat dipertanggung jawabkan.


2. Perhitungan harga yang telah ditawarkan dapat dipertanggung jawabkan.
3. Penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran – penawaran yang
memenuhi syarat – syarat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan 2.
4. Penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran – penawaran yang
memenuhi syarat – syarat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan 2.

c. Apabilah terdapat dua peserta atau lebih mengajukan harga yang sama, maka panitia harus
memperhatikan untuk memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai
kecakapan dan kemampuan yang lebih besar.
6.2. Paniti hasil pelelangan akan dimuat dalam berita acara yang harus ditandatangani oleh semua
anggota panitia pelelangan.
6.3. Penetapan colon pemenang pelelangan harus sudah ditetapkan selambat – lambatnya 7 (tujuh)
hari setelah pembukaan surat penawaran.
6.4. Penetapan pemenang lelang akan ditetapkan oleh Kepala Kantor atau Penanggung Jawab
Program yang bersangkutan sesuai denga peraturan yang berlaku. Setelah keputusan pemenang
lelang diterima oleh panitia, maka akan diumumkan kepada peserta lelang selambat – lambatnya
2 (dua) hari kerja setelah diterima surat keputusan tersebut.

Pasal 7. HAK SANGGAH

Kepada peserta lelang yang merasa keberatan atas penepetapan pemenang lelang diberikan
kesempatan untuk mengajukan surat sanggahan dalam dalam jangka waktu 4 (empat) hari setelah
tanggal penetapan pemenang lelang.

Sanggahan hanya yang berkaitan dengan masalah administrasi, jawaban terhadap surat sanggahan
diberikan secara tertulis selambat – lambatnya 4 (empat) hari setelah surat sanggahan diterima.

Pasal 8. PENETAPAN PEMENANG LELANG


Surat perintah mulai kerja (SPMK) akan diterbitkan oleh Pemimpin Proyek/Kepala Dinas selambat -
lambatnya 7 (tujuh) hari setelah pengumuman pemenang dengan catatan sebagai berikut :

8.1. Penetapan pemenang lelang hanya dapat dilakukan setelah ternyata tidak ada sanggahan atau
penolakan atas surat sanggahan dari atas pejabat yang berwenang.

8.2. Peserta lelang yang telah ditentukan pemenang lelang wajib menerima penunjukan tersebut.

8.3. Bilamana calon pemenang pertama mengundurkan diri maka pemenang urutan kedua ditunjuk
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, dengan syarat pemenang bersangkutan menerima harga
dan persyaratan yang sama dengan pemenang lelang pertama.

8.4. Apabila pemenang urutan kedua tidak bersedia menerima persyaratan yang sama tersebut, maka
akan diadakan pelelangan ulang, dengan tidak terikat untuk mengundang peserta lelang yang
dibatalkan tadi.

Pasal 9. PEMBATALAN PEMENANG

Pelelangan dibatalkan apabila :


9.1. Surat penawaran yang masuk ternyata kurang dari 5 (lima) buah dan surat penawaran yang sah
kurang dari 3 (tiga) penawaran.

9. 2. Pelelangan dibatalkan apabila harga yang ditawarkan biayanya melebihi harga standard / DAS

9.3. Bilamana dalam jangka waktu 4 (empat) hari setelah penentuan pemenang lelang terdapat surat
sanggahan dan isinya benar, maka lelang itu dibatalkan juga.

9. 4. Dalam hal ini panitia pelelangan harus menyelenggarakan lelang ulang di mana tidak terikat
untuk mengundang kembali para rekanan atau peserta yang dibatalkan tadi.

BAGIAN KEDUA.
SYRAT-SYRAT ADMINISTRASI.

Pasal 1. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

1.1. Jangka Waktu Pelaksanaan


Jangka waktu pelaksanaan pekerjan ini ditetapkan selama ……… (……………… ) hari
kalender
terhitung tanggal dikeluarkannnya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).

1.2. Penyerahan Pekerjaan


Pekerjaan harus sudah diserahkan untuk pertama kalinya selambat-lambatnya
tanggal……………. 2009 dalam keadaan baik dan dibuat dalam suatu Berita Acara
Penyerahan Pekerjaan dan untuk penyerahan kedua kalinya dilakukan setelah masa
Pemeliharaan berakhir.

Pasal 2. MASA PEMELIHARAAN.

2.1. Jangka waktu Pemeliharaan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak
tanggal penyerahan pertama pekerjaan.

2.2. Kewajiban Pemborong selama masa pemeliharaan antara lain harus memperbaiki segala
kerusakan dan cacat-cacat dalam pekerjaan membersihkan halaman dan lain sebagainya yang
merupakan tanggung jawab Pemborong.

Pasal 3. PENGUNDURAN WAKTU PELAKSANAAN

3.1. Bilamana waktu penyerahan pekerjaaan tidak tepat pada waktu yang telah ditetapkan karena
pekerjaan ini mengalami hambatan atau force majuere maka pemborong harus segera
memberitahukan secara tertulis kepada pihak pemberi tugas dengan menyebutkan berapa hari
diperkirakan terlambatnya pekerjaan.
3.2. Dua minggu terakhir sebelum tanggal penyerahan pertama pekerjaan pemborong dapat
mengajukan permohonan perpanjangan waktu majuere ( hal-hal yang terjadi diluar kemampuan
pihak pemborong) misalnya hujan terus menerus, curah hujan, angin ribut, kebakaran,
peperangan dan lain sebagainya.
3.3. Dengan pertimbangan yang wajar maka penanggung jawab Pekerjaan dapat memperpanjang
waktu pelaksanaan dengan menerbitkan Surat Addendum perjanjian.

Pasal 4. SYARAT - SYARAT PEMBAYARAN

4.1. Pembayaran Biaya Pekerjaan


Pembayaran biaya pekerjaaan ini akan dibayarkan kepada pihak pemborong secara berangsur-
angsur sesuai dengan prestasi pekerjaan yang diperhitungkan sebesar 5% dibawah nilai
pekerjaan tadi. Pembayaran oleh pihak pemberi tugas kepada pihak kontraktor dilakukan
melalui bagian keuangan Setda Waropen di Waren dengan melampirkan :
- Kwitansi dan Faktur
- Berita Acara kemajuan Pekerjaan untuk pembayaran angsuran yang disahkan oleh Pemberi
pekerjaan.
- Berita Acara kemajuan Pekerjaan untuk pembayaran angsuran yang disahkan oleh Pemberi
pekerjaan.
- Berita Acara Kemajuan pekerjaan atau niali Bobot yang ditanda tangani oleh Direksi
- Kontrak Perjanjian Pemborongan beserta lampiran-lampirannya yang dibuat dalam rangkap
4 (Empat).
- Foto Dokumentasi

Pasal 5. JAMINAN PELAKSANAAN DAN PENAWARAN

5.1. Pembayaran Jaminan Pelaksanaan


Pemborongan yang telah ditetapkan sebagai pemenang lelang sebelum menandatangani
kontrak perjanjian, harus membayar jaminan pelaksanaan sebesar 5% (lima persen) dari jumlah
harga borongan berupa surat jaminan bank atau dari lembaga keuangan yang diakui Negara
diserta dengan bukti pembayaran Jaminan Social Tenaga Kerja ( Jamsostek).

5.2. Pengembalian Jaminan


Jaminan pelaksanaan akan dikembalikan kepada pemborong yang bersangkutan jika prestasi
kemajuan pekerjaan fisik 100 % (seratus persen) atau setelah peyerahan pekerjaan untuk kedua
kalinya.

5.3. Pemborong Tidak Memulai Pekerjaan


Jaminan pelaksanaan menjadi milik Negara apabila pemborong yang bersangkutan tidak
memulai melaksanakan pekerjaan dalam batas waktu yang telah ditentukan.

5.4. Jaminan Penawaran


Jaminan penawaran untuk pekerjaan ini 1 s/d 3 % dari harga penawaran. Jaminan penawaran
dikembalikan setelah yang bersangkutan menyerahkan jaminan pelaksanaan (bank garansi).

Pasal 6. SURAT PERINTAH MULAI KERJA.

6.1. Pembuatan Surat Perintah Mulai Kerja


Setelah masa sanggahan berakhir maka akan dibuatkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)
Gunning untuk melaksanakan pekerjaan.

6.2. Sebagai ikatan antara pihak pemberi tugas dan pihak yang diberi tugas, maka akan dibuatkan
surat perjanjian pemborongan selambat – lambatya 7 (tujuh) hari setelah SPMK diterbitkan.

6.3. Surat perjanjian pemborongan harus ditanda tangani oleh Pihak Pemberi Tugas dan Pihak
Pemborong serta harus disetujui oleh Kepala Kantor / Dinas Intansi yang bersangkutan.

6.4. Biaya untuk pembuatan Surat Perjanjian Pemborongan menjadi beban pihak pemborong.
Jumlah harga yang tercamtum dalam kontrak harus sama dengan jumlah harga yang tercamtum
dalam surat penawaran.

6.5. Penanda tanganan Kontrak dilakukan di Botawa.


6.6. Kontrak Perjanjian dibuat dalam rangkap 15 (lima belas) dibubuhi materai sebesar Rp. 6.000,00
(enam ribu rupiah,-).

Pasal 7. KENAIKAN HARGA DAN FORCE MEJUERE


7.1. Kenaikan Harga Bahan Dan Upah Kerja
Bila mana dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut terjadi kenaikan harga bahan dan upah kerja,
maka akibat itu adalah menjadi beban pihak pemborong, kecuali kenaikan tersebut akibat
peraturan Pemerintah dibidang moneter hal ini akan dipertimbangkan kemudian sesuai dengan
peraturan yang berlaku.

7.2. Force Majure


Bila mana sampai pelaksanaan pekerjaan tersebut terjadi force mejeure sehingga mempengaruhi
kelangsungan pekerjaan, akan diterbitkan / dibuat Berita Acara yang harus ditanda tangani oleh
Instansi yang ada kaitannya dengan bencana tersebut.

Pasal 8. SANKSI DAN DENDA.

8.1. Keterlambatan Penyerahan Pekerjaan


Bila mana penyerahan pekerjaan untuk pertama kalinya tidak tepat pada waktu yang telah
ditentukan tanpa alasan atau Farce Mejuere, maka kepada pemborong akan dikenakan denda
sebesar 1 0/00 (satu permil) dari jumlah harga borongan untuk setiaphari kelambatan dengan
jumlah maksimum 5 % (lima persen).

8.2. Melalaikan Ketentuan Dalam Kontrak


Bilamana pemborong melalaikan ketentuan – ketentuan seperti yang tercamtum dalam Kontrak
perjanjian pemborongan gambar – gambar dan RKS serta Berita Acara Penjelasan pekerjaan
maka pemborong akan dikenakan denda sebesar 1 0/00 (satu permil) dari jumlah harga
borongan setelah mendapat surat teguran dari pihak pemberi tugas minimal 3 (tiga) kali dan
selain itu pemborong tetap harus megerjakan pekerjaan yang dilalaikan tadi.

8.3. Pencabutan atau Pembatalan Surat Perjanjian


Pihak pemberi tugas dapat mencabut atau membatalkan surat perjanjian secara sepihak bilamana
:
a. Pemborong yang bersangkutan telah memborong lagi sebagian atau seluruh pekerjaan
kepada pihak ketiga tanpa persetujuan pihak pemberi tugas.
b. Pemborong tidak sanggup lagi melaksanakan pekerjaan karena bangkrut atau pelit.
c. Apabila kelambatan yang terjadi telah mencapai dendea maksimum 5 % (lima persen).
Dengan pemutusan surat perjanjian pemborongan ini, maka pihak pemberi tugas dapat
menunjuk pemborong lain untuk mengerjakan yang belum diselesaikan tadi dengan biaya yang
tersisa dari kontrak tersebut.

Pasal 9. P E N G A W A S.

9.1. Pengawasan
Dalam hal pelaksanaan pekerjaan pengawasan akan dilakukan oleh Konsultan Pengawas dan
Tenaga Teknik dari Sub Dinas Cipta Karya pada Dinas Pekerjaan Umum setempat.

9.2. Tugas Pengawas.


Tugas Konsultan Pengawas Adalah :
1. Pengawas berfungsi membantu pihak pemberi tugas dalam melaksanakan pengendalian
pada tahap pelaksanaan di tingkat operasional.
2. Pengawas bertanggung jawab secara kontruktual kepada pihak pemberi tugas.

9.3. Foto Dokumentasi.


Selama pekerjaan pelaksanaan , pemborong diwajibkan membuat foto dokumentasi dalam
ukuran kartu post dan berwarna. Pemotretan dilakukan pada titik dan sudut pandang yang sama
Waktu

1. Waktu pemotretan tersebut yaitu :


a. Sebelum pekerjaan dimulai 0 % (nol persen)
b. Saat pekerjaan berjalan dan mencapai 50 % (lima puluh persen).
c. Saat pekerjaan selesai 100 % (seratus persen).
d. Setelah masa pemeliharaan berakhir atau pada saat penyerahan pekerjaan kedua.
2. Foto dokumentasi dicetak minimal 2 (dua) rangkap untuk diserahkan kepada Pihak Pemberi
Tugas.
3. Foto dokumentasi menjadi syarat / lampiran untuk penagihan setiap pembayaran angsuran.

9.4. Buku laporan harian, mingguan dan bulanan.


1. Buku laporan harian memuat jalannya kemajuan dan kegiatan pekerjaan yang mencatat
keluar masuknya bahan – bahan serta prestasi pekerjan sehari – hari, keadaan cuaca serta
hari efektif kerja.
2. Buku laporan mingguan sebagai penjabaran dari hasil laporan harian serta mencatat nilai
hasil kemajuan pekerjaan untuk setiap minggunya.
3. Buku laporan bulanan mencatat nilai kemajuan rata –rata setiap minggu yang dilaporkan
setiap 30 (tiga puluh ) hari kerja.

9.5. Pembuatan Laporan Harian, Mingguan dan Bulanan


Laporan harian, mingguan, bulanan dibuat oleh pemborong bersama – sama dengan pengawas.
Laporan tersebut digandakan sesuai kebutuhan, dan dijilid yang rapi untuk diserahkan kepada
pihak pemberi tugas pada akhir bulan.

Pasal 10. JAMINAN KESELAMATAN KERJA DILAPANGAN

10.1. Pemborong selama melaksanakan pekerjaaan harus menjaga keamanana dari bahaya kebakaran,
pencurian bahan-bahan pencurian material dan lain-lain.
Apabila terjadi hal-hal seperti tersebut di atas,akan menjadi tanggung jawab kontraktor.

10.2. Pemborong dalam melaksakan tugasnya harus menjamin keselamatan dan kesehatan dari pada
keselamatan dan kesehatan dari pada pekerjanya harus menyediakan obat-obatan seperti : kapas,
obat merah,pil anti malaria dan sebagainya, ditempatkan dalam kotak obat (P3K) yang disimpan
dalam kantor atau direksi.

10.3. Selain itu selama pelaksanaan pekerjaan pemborong harus mengasuransikan seluruh pekerja-
pekerjanya di perum Astek yang terdekat.

10.4. Bilamana terjadi kecelakaan maka pemborong harus segera melaporkan kepada direksi dan
segera mengambil tindakan guna menyelamatkan si korban. Bila si korban sampai dirawat di
rumah sakit, pemborong harus melaporkannya ke Perum astek guna mengurus penggantian
biaya perawatan si penderita tersebut.

Pasal 11. PERSELISIHAN DAN PENYELESAIAN.

11.1. Perselisihan akan diusahakan diselesaikan secara musyawarah antara pemberi tugas dan
kontraktor.
11.2. Bilamana secara musyawarah tidak menghasilkan kesepakatan antara perselisihan di bidang
teknis akan diselesikan oleh Dewan Arbitrage yang dibentuk khusus untuk dan yang bersifat
non teknis akan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri Waropen.
Pasal 12. PERATURAN PEMERINTAH.

Pelaksanaan pelelangan pekerjaan ini berdasarkan:


a. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 80 Tahun 2004 dan Inpres Nomor 1 Tahun 1988.
b. Surat Keputusan Mentri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 tanggal
21Agustus 2002
c. Surat edaran bersama Menteri Keuangan dan Bappenas Nomor :

654/[Link]/02/1998
Tanggal 10 Pebuari 1998.
SE-36/A/21/0298
BAGIAN KETIGA
SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN

SYARAT - SYARAT TEKNIS

A. PENJELASAN UMUM

1. PERATURAN PERATURAN
Pekerjaan ini harus dikerjakan sesuai dengan :
a Rencana Kerja dan Syarat – Syarat (RKS) ini
b Gambar – Gambar yang telah disyahkan oleh instansi yang berwenang
c Peraturan umum untuk bangunan NI, 3-PUBB/1956/NI-3, 1963-1966
d Peraturan Beton Indonesia ( PBI NI-2/1965, PBI NI-2/1971 )
e Peraturan Muatan Indonesia ( PMI NI018 / 1969),
f Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI NI 5/1961 ),
g Peraturan Perburuan Indonesia
h Peraturan Umum Dewan Teknis Pembangunan Indonesia ( DPTI / 1979 ),

2. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup Pekerjaan yang akan dilaksanakan, meliputi :
A. PEMBANGUNAN KANTOR DINAS KESBANGPOLINMAS MELIPUTI :
a. PEKERJAAN PERSIAPAN
b. PEKERJAAN TANAH DAN PASIR
c. PEKERJAAN PASANGAN BATU DAN BETON
d. PEKERJAAN KAYU, ATAP, DAN PLAFOND
e. PEKERJAAN LANTAI
f. PEKERJAAN DAUN PINTU, JENDELA DAN KACA
g. PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGANTUNG
h. EKERJAAN PENGECATAN
i. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
j. PEKERJAAN SANITAIR
k. PEKERJAAN AKHIR

3. PENJELASAN RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT SERTA GAMBAR


a Bilamana terdapat hal – hal yang tercantum didalam Gambar Rencana Teknis tertulis tidak
sesuai, maka kontraktor / pemborong wajib dengan segera menanyakan hal tersebut kepada
konsultan pengawas untuk mendapatkan untuk menetapkan keputusan yang diambil
b Bilamana terdapat perbedaan informasi antara Gambar Rencana Arsitektur dengan Gambar
Detainya, maka yang diambil sebagaimana ketetapan adalah Gambar Detail terbuka yang
menyangkut penetapan ukuran.

B. SYARAT-SYARAT BAHAN / MATERIAL

Pasal 1
A I R (PUBI. 1970/NI-3)

1. Untuk seluruh pelaksanaan pekerjaan dipakai air yang tidak boleh mengandung minyak, asam,
alkali, garam dan bahan-bahan organis dan bahan-bahan lain yang merusak bangunan.
Dalam hal ini harus dinyatakan dengan hasil tes dari laboratorium yang disetujui oleh konsultan
pengawas dan direksi.

2. Khusus untuk beton, jumlah air yang digunakan untuk membuat adukan disesuaikan dengan jenis
pekerjaan beton , yang ditentukan dengan ukuran isi atau ukuran berat dan dilakukan dengan tepat.
Pasal 2
P A S I R (PUBI 1970/NI-3, PBI 1971/NI-2)

1. Pasir Urug.
Pasir untuk pengurukan alas lantai, alas pondasi batu gunung dan lain- lain harus bersih dan keras.
Pasir laut untuk maksud - maksud tersebut tidak diperkenankan.

2. Pasir Pasangan.
Pasir untuk adukan pasangan dan adukan plesteran harus memenuhi syarat -syarat sebagai berikut:
a. Butiran harus tajam dan keras, dan tidak dapat dihancurkan dengan jari.
[Link] lumpur tidak boleh lebih dari 5 %.
c. Butiran-butirannya harus dapat melalui ayakan berlubang persegi 3mm.
[Link] laut tidak bisa dipergunakan.

3. Pasir Beton.
Pasir untuk pekerjaan beton harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a Butir-butir harus tajam, keras dan tidak dapat dihancurkan dengan jari atau pengaruh cuaca.
b Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5 %.
c Pasir harus terdiri dari butiran-butran yang beraneka ragam besamya, dan apabila diayak
dengan ayakan 0,5 maka sisa butiran-butiran diatas ayakan 4mm, minimal 2 % dari berat sisa
butiran -butiran diatas ayakan 1 mm minimal 10% dari berat sisa butran - butiran diatas
ayakan 0,25 mm, berkisar antara 80% sampai dengan 90% dari berat.
d Pasir laut tidak boleh dipergunakan.
e Syarat-syarat tersebut diatas harus dibuktikan dengan pengujian laboratorium.

4. Sirtu
Sirtu dipergunakan untuk urugan timbunan, terdiri dari bahan homogen, keras dan bersih dari
kotoran-kotoran. Sirtu yang digunakan harus melalui tes laboratorium yang disetujui oleh
pengawas dan direksi.

Pasal 3
BATU GUNUNG / BATU KALI

1. Batu gunung/kali belah harus keras, padat dan tidak boleh mengandung cadas atau tanah.
2. Batu gunung/kali untuk keperluan yang nampak (pasangan batu muka atau pasangan tanpa
plesteran), bentuk atau muka batu harus dipilih dan tidak boleh mempedihatkan tanda-tanda lapuk
dan berpod.

Pasal 4
SPLIT

1. Split adalah batu pecah (hasil olahan stone cruiser) yang harus dapat melalui ayakan berlubang
persegi 25 mm dan tertinggal diatas ayakan berlubang persegi 2 mm.
2. Split untuk beton harus memenuhi syarat yang dibutuhkan dalam PBI 1971 (NI-2) diantaranya :
harus terdiri dari butir - butir yang keras, tidak berpori, tidak pecah / hancur oleh pengaruh cuaca.
3. Split harus cukup bersih dan tidak boleh mengandung lumpur lebih darl 3%.
4. Ukuran split yang digunakan tidak boleh lebih dari 2 x 3 cm.
5. Syarat-syarat tersebut diatas harus dinyatakan oleh laboratorium.
6. Split hasil olahan pecah tangan tidak boleh digunakan.
Pasal 5
PORTLAND CEMENT

1. Portland Cement (PC) yang digunakan harus PC sejenis (NI-8) dan dalam kantong utuh/baru.
2. Bila digunakan PC yang telah disimpan lama harus diadakan pengujian terlebih dahulu oleh
laboratorium yang disetujui Konsultan pengawas dan direksi.
3. Dalam pengangkutan PC ketempat pekerjaan harus dijaga agar tidak menjadi lembab, begitu pula
penempatannya harus ditempat yang kering.
4. Portland Cement yang sudah mernbatu ( menjadi keras ) tidak boleh dipakai.

Pasal 6
KAYU

1. Pada umumnya kayu harus bersifat baik dan sehat, dengan ketentuan segala sifat dari kekurangan-
kekurangan yang berhubungan dengan pemakaiannya tidak merusak atau mengurangi nilai
konstruksi (bangunan).
2. Mutu Kayu ada 2 macam yaitu kelas I dan kelas 2.
3. Yang dimaksud dengan kayu mutu kelas I adalah kayu yang memenuhi syarat- syarat sebagai
berikut
a Harus kering udara.
b Besar mata kayu tidak melebihi 1/6 dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 3,5
cm.
c Balok tidak boleh mengandung wanvlak yang lebih besar 1/10 dari tinggi balok.
d Retak dalam arah radial tidak boleh melebihi 1/4 tebal kayu, dan retak-retak dalam
lingkaran tumbuh tidak boleh melebihi 115 tebal kayu.
e Miring arah serat (tangensial) tidak boleh melebihi dari 1/10.
4. Yang disebut kayu mutu kelas 2 adalah kayu yang tidak termasuk dalam mutu kelas 1, tetapi
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Kadar lengas kayu tidak lebih 18%.
b. Besar mata kayu tidak melebihi 1/4 dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 5 cm.
c. Balok tidak boleh mengandung wanvlak yang lebih besar dari I /1 0 tinggi balok.
d. Retak-retak dalam arah radial tidak boleh lebih dari 1/3 tebal kayu dan retak-retak
menurut lingkaran tumbuh, tidak boleh melebihi 1/4 tebal kayu.
e. Miring arah serat (tangensial) tidak boleh lebih dari 1/7.

5. Bahan-bahan kayu berlapis


a. Teakwood harus berkualitas baik, corak maupun seratnya harus terpilih dan wamanya,
merata, yang dihasilkan dari kayu jati terpilih yang baik.
b. Playwood / tripleks harus berkulitas baik corak maupun seratnya, dan warnanya merata
dengan lapisan yang padat.

Pasal 7
BAJA TULANGAN BETON DAN KAWAT PENGIKAT

1. Jenis baja tulangan harus dihasilkan dari pabrik-pabrik baja yang dikenal dan yang berbentuk
batang - bateng polos atau batang-batang yang diprofil (besi ulir).
2. Mutu baja tulangan yang dipakai U24 (besi polos) untuk tulangan yang lebih kecil dari diameter
13 mm, dan mutu baja U32 (besi ulir) untuk tulangan yang lebih besar dari diameter 13 mm.
3. Ukuran besi dalam gambar harus sama dengan yang dilaksanakan dilapangan (ukuran penuh).
4. Kawat pengikat harus terbuat dari baja besi lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah
dipijarkan terlebih dahulu dan tidak berlapis seng.
Pasal 8
B E T O N

1. Kecuali pada mutu beton B1, mutu-mutu beton lainnya campuran beton yang dipilih harus
sedemikian rupa sehingga menghasilkan kekutan tekan karakteristik yang disyaratkan untuk beton
yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan kekuatan tekan karakteristik adalah kekuatan tekan
dari jumlah besar hasil-hasil pemeriksaan benda uji .
2. Kekuatan beton adalah kekuatan tekan yang diperoleh dari benda uji kubus, yang bersisi 10 cm
pada umur 28 hari.
3. Benda - benda kubus harus dibuat dari cetakan / mal besi plat yang licin sehingga diperoleh
bidang permukaan kubus yang rata. Setiap interval 5 m3 beton harus diambil 1 (satu) benda uji.
Benda-benda uji tersebut dites pada saat:
a. Umur 3 hari sebanyak 3 buah.
b. umur 7 hari-sebanyak 3 buah.
c. umur 19 hari sebanyak 3 buah.
d. umur 28 harl sebanyak 3 buah.
Cetakan kubus harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dilepas dari betonnya,
kemudian diletakkan diatas bidang yang rata dan kedap air.
4. Adukan beton untuk benda - benda uji harus diambil langsung dari mesin pengaduk dengan
menggunakan ember atau alat lain yang tidak menyerap air. Bila dianggap perlu adukan beton
diaduk lagi sebelum dituangkan kedalam cetakan.
5. Kubus-kubus atau benda uji yang telah dicetak, harus disimpan ditempat yang bebas dari getaran
dan ditutupi dengan karung basah selama 24 jam setelah kubus kubus tersebut dilepas dengan hati
- hati dari cetakannya, atas seisin konsultan pengawas.
Setelah itu masing - masing kubus tersebut diberi tanda seperlunya dan disimpan ditempat dengan
suhu yang sama dengan suhu udara luar sampai pada saat pemeriksaan.
6. Kubus-kubus tersebut pada umur yang disyaratkan diuji oleh laboratorium yang ditentukan oleh
konsultan pengawas dan direksi atas biaya kontraktor.
7. Campuran Beton.
Campuran beton yang dipergunakan adalah sebagal berikut:
a Untuk beton non structural digunakan campuran dengan perbandingan 1 PC : 3 pasir : 5 split.
b Untuk beton struktural dipergunakan beton mutu mutu K225 sesuai dengan ketentuan yang
ada didalam gambar.
8. Kekentalan adukan Beton. .
Kekentalan adukan beton harus dipedksa dengan pengujian slump, dengan sebuah kerucut
tirpancung (abrams). Nilai-nilai untuk berbagai pekerjaan beton harus menurut tabel 441 PBI-
1971 (NI-2).

C. PENJELASAN TEKNIS
SYARAT - SYARAT TEKNIK PEKERJAAN BANGUNAN

1. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Pemeriksaan Site
Sebelum memulai pekerjaan sesuai kontrak, pemborong harus meninjau site dan memeriksa
keadaan dan situasi yang ada serta bahan bahan yang akan digunakan.
2. Pembersihan Halaman
Site yang akan dibangun harus dibersihkan dari segala tumbuhan dan benda-benda yang tidak
diperlukan yang terdapat didaerah sekitarnya, dan harus dipersiapkan untuk pekerjaan
galian/timbunan.
3. Peil Rencana dan bouwplank
sebelum mulai dengan pekerjaan galian pondasi pada bangunan, pemborong harus
memastikan bahwa peil rencana setempat, yang tercantum didalam gambar-gambar kontrak
adalah [Link] dari kayu kelas 2 yang diketam rata, pemasangan berjarak 1,5 meter
dari bangunan harus kuat dan rapi, as-as ukuran haus terlihat jelas pada papan 2 x 20 cm dan
tiang 5x10 cm dipancang ketanah.
Pemborong bertanggungjawab mengenai ketelitian pengukuran uitzet bangunan, bouwplank
dan peil-peil sesuai dengan gambar-gambar dan patokan peil.
Beberapa patok-patok beton harus dipasang di site, pemborong harus berkonsultasi dengan
konsultan pengawas mengenai penempatan patok beton yang tepat.

2. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN


1. Pekerjaan Galian
Segala pekerjaan galian pada bangunan dilaksanakan sesuai dengan panjang, kedalaman,
kemiringan, bentuk, lengkungan sebagaimana dikehendaki konstruksi pekerjaan atau
sebagaimana ditunjukkan dalam gambar, tanah bekas galian tersebut dapat digunakan kembali
untuk sisi-sisi pondasi atau disingkirkan sesuai perintah Konsultan pengawas.
2. Pekerjaan Urugan
Lapisan topsoil harus dikupas setebal 10 cm. Permukaan tanah yang telah dikupas topsoilnya
harus dipadatkan sehingga mencapai 95% dari kepadatan kering maksimumnya. Diatas
permukaan tanah yang telah dipadatkan tersebut, baru dapat dilakukan pengurugan tanah lapis
demi lapis setebal 15 cm dan dipadatkan atau sesuai pelaksanaan hasil trial embaukment yang
telah disetujui oleh direksi.
3. Bahan-bahan untuk urugan dan urugan kembali
Bahan yang akan digunakan untuk urusan peninggian lantai adalah pasir yang harus
dipadatkan dan harus disetijui oleh konsultan pengawas.

3. PEKERJAAN PASANGAN PONDASI BATU


1. Bahan
Batu yang digunakan harus berkwalitas terbaik dan merupakan bahan setempat,padat,bersih
tanpa retak-retak atau porous dan kekurangan-kekurangan lain yang mempengaruhi
[Link] batu gunung hitam maupun batu kali dapat digunakan dengan persetujuan
konsultan pengawas dan atau direksi.
2. Adukan.
Semua pasukan batu untuk pondasi harus dilaksanakan dengan adukan 1 pc : 4 psr.
3. Pelaksanaan
Batu kosong terdiri dari pasangan batu tanpa speci yang disusun berdiri yang kiri, kanan dan
atasnya diisi pasir urug, kemudian disiram air sampai padat.
Pondasi pasangan batu harus diukur dengan cermat dilapangan dan dilaksanakan sesuai
dengan ukuran-ukuran dan ketinggian dan bentuk sebagaimana tercantum pada gambar-
gambar.

4. Scope pekerjaan
Pasangan batu belah dilaksanakan untuk:
- Pondasi tembok pada lantai denah.
- Pondasi untuk trap luar.
5. Pekerjaan Berapen Pondasi
Semua pondasi batu kali harus diberapen dengan adukan 1 pc : 3 psr dengan ketebalan
minimum 2cm.
Sebelum diurug kembal, pekerjaan dipondasi hurus diperiksa dan disetujui lebih dahulu oleh
konsultan pengawas.
4. PEKERJAAN BETON

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan Beton Bertulang meliputi :
- Poer plat
- Kolom
- Balok/Ring Balk
- Sloef
- Dan pekerjaan beton lainnya seperti yang tertera dalam gambar.
2. Bahan
1. Semen
Semen yang dipergunakan harus Portland cement dari sumber yang disetujui serta sesuai
dengan syarat-syarat dari peraturan semen Portland Indonesia 1972 –NI–8. Selama
pengangkutan, semen harus dilindungi terhadap hujan. Penterahan semen dilapangan
harus dalam kantong-kantong aslinya yang disegel dari pabrik serta disimpan didalam
gudeang berventilasi cukup serta tidak bocor dan disimpan diatas lantai yang ketinggian
minimum 30cm dari tanah.
Kantong-kantong semen tidak diperbolehkan ditimbun melebihi ketinggian 2m dan setiap
pengiriman dipisahkan serta diberi tanda pengenal sehingga dapat dipakai sesuau dengan
tanggal pengiriman.

2. Koral/kerikil
Agrerat kasar harus terdiri dari batu-batu pecah,keras,tahan lama dan bersih serta tidak
mengandung bahan-bahan yang dapat mempengaruhi kekuatan serta ketahanan beton
dalam jangka panjang termasuk ketahanan terhadap karat untuk penulangan. Kerikil harus
disimpan diatas permukaan p.b.I 1971 Bab 3.
Kerikil harus disimpan diatas permukaan bersih dan keras serta tercampur adukan.

3. Air
Air untuk adukan pasangan dan beton serta membasahi beton harus bersih {air
PAM}bebas dari bahan-bahan atau kotoran yang mempengaruhi ikatan semen.

4. Pasir
Pasir dapat berupa pasir alam. Pasir harus terdiri dari batu-batu tajam dan keras. Butir-
butir harus bersifat kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca. Pasir tidak boleh
mengandung lumpur lebih dari 5% ( ditentukan terhadap berat kering ) .
Pasir harus terdiri dari butir – butir yang beraneka ragam besarnya . Pasir laut tidak boleh
di pakai untuk semua beton . Selanjutnya pesir harus memenuhi syarat – syarat P,B.I 71
pasal 3.3

5. Penulangan
Penulangan harus terdiri dari baja keras dengan mutu baja U- 24 untuk diameter sampai
dengan 12 mm ke atas . Penulangan harus memenuhi persyaratan P .B .I 1971 dan harus
dilakukan pengetesan berupa tekanan tarik dan teknik pada laboratoium yang disetujui
oleh koniltan pengawas / Direksi . Penulangan tidak boleh disimpan ditempat terbuka
untuk jangka panjang . Penulangan harus bebas dari lmak , kotoran ,cat , karat , atau
bahan – bahan lain yang merugikan pada saat pemeriksaan oleh Konsultan pengawasan .
Sebelum dilakukan pengecoran . Semua penulangan harus dipasang secara kokoh untuk
menghindari dari pergeseran selama pengerjaan .

Adapun ukuran beton bertulang tersebut adalah sebagai berikut :


1. Kolom utama ukuran 20/20 cm dan 15/15 cm dengan jumlah tulangan pokok 4 Ø 12,
sedangkan untuk beugel (ring) digunakan besi Ø 8-15 cm
2. Sloof Ukuran 15/20 cm dengan jumlah tulangan pokok 4 Ø 10 dan tulangan bagi
sedangkan untuk beugel (ring) digunakan besi Ø 8 – 15 cm
3. Ring Balk ukuran 15/20 cm dan 10/20 cm dengan jumlah tulangan pokok 4 Ø 10
sedangkan untuk beugel (ring) digunakan besi Ø 8 – 15 cm

6. Bekisting
Bahan untuk bekisting beton dari papan kelas II yang di lapisi multiplex kwalitas baik
termasuk rangka . Bahan bekisting tidak boleh dipakai dua kali kecuali jika keadaannya
masih baik dan dengan persetujuan Direksi .
3. Pelaksanaan
1. Campuran Beton
a. Kwalitas / mutu beton untuk pekerjaan ini adalah sesuai dengan spesifikasi
campuran yang direncanakan
b. Campuran :
- semua pekerjaan stuktur di gunakan K 225 atau sesuai gambar desaign .
- 1 pc : 3 psr : 5 krl untuk rabat & lantai kerja .
2. Bekisting harus dengan konstruksi kuat dan ditopang sedemikian rupa sehingga tidak
timbul getaran yang membahayakan dan tidak terjadi penurunan akibat tekanan dari
beben adukan beton atau bahan – bahan lainnya . Bekisting harus pula sedemikian
rupa sehingga memudahkan pembongkarannya tanpa menimbulkan bahaya pada
konstruksi .
3. Pemberitahuan sebelum pengecoran
Sebelum pengecoran beton di laksanakan , terutama pada bagian – bagian yang penting ,
pemborong diwajibkan memberitahukan konsultan , untuk mendapatkan persetujuannya .
Apabila pengecoran dilaksanakan tanpa pemberitahuan dan tanpa persetujuan tanpa
pembritahuan dan tanpa persetujuan dari konsultan pengawas . Maka konsultan pengawas
dapat memerintahkan agar pemborong membongkar dan menyingkirkan seluruh pekerjaan
beton yang telah dicor tersebut untuk diulang atas biaya pemborong .
4. Pembongkaran Bekisting
Tidak dibenarkan untuk membongkar bekisting sebelum beton mencapai kekuatan sesuai
P.B.I 1971 bab 5 ayat 8 . Apabila pembongkaran bekisting menyebabkan sebagian
pekerjaan beton mendapat tekanan melebihi perhitungan , maka tidak dibenarkan untuk
membongkar bekistingnya untuk jangka panjang waktu selama keadaan itu berlangsung .
Harus ditekankan disini bahwa tanggung jawab terhadap keamanan beton sepenuhnya ada
dipihak pemborong dengan memenuhi peraturan di dalam P.B.I 1971.

5. PEKERJAAN PASANGAN BATU TELA


1. S e m e n
Semen yang dipakai untuk pekerjaan harus mempunyai kwalitas yang ditentukan oleh P.B.I
1971
2. P a s i r
Pasir untuk pekerjaan pasangan harus memenuhi persyaratan P.U.B.B. – N.I.3
3. A I R
Air yang digunakan untuk pekerjaan pasangan harus memenuhi pasal 3./3.P.U.B.B. – N
4. A d u k a n
4.1. Komposisi
1 pc ; 2 psr digunakan untuk pasangan trasraam
1 pc ; 3 psr digunakan untuk pasangan biasa
4.2. Cara mengaduk
Adukan harus dilaksanakan dengan menggunakan molen tidak boleh dengan cara
convensional . Adukan yang mulai mengeras tidak boleh digunakan lagi.
5. Batu Tela
Batu Tela yang digunakan adalah batu Tela biasa , produksi setempat ukuran nominal sesuai
persetujuan Direksi. Sisi – sisi batu bata harus mulus , tanpa retak – retak dan campuran
kotoran . Ukuran batu bata harus seragam , sesuai dengan persyaratan dalam A.V. kerusakan
akibat pengangkutan tidak boleh melebihi 20 %. Bila ternyata persentase kerusakan diatas angka
tersebut maka pengiriman batu bata tersebut dibatalkan / tidak diterima .
6. Pekerjaan Dinding
6.1. Adukan
Adukan rapat air 1 pc ; 2 psr dilaksanakan untuk :
- Semua dinding bata mulai diatas sloef sampai 20 cm diatas lantai jadi ( nol peil )
6.2. Pelaksanaan.
Semua pasangan tembok dibuat tebal  batu, kurang lebih 12 cm. Pekerjaan dinding harus
dipatok (diukur) dan dibangun sesuai ukuran ketebalan dan ketinggian yang tercantum
dalam gambar-gambar serta memberi bidang yang rata. Siar-siar mempunyai tebal 10 mm
yang merata serta padat. Tiap tahap pemsangan dinding tidak boleh dilaksanakan lebih
dari ketinggian 1 m.
6.3. Pengerukan Siar.
Semua siar dinding harus dikeruk minimum  cm, untuk menjamin melekatnya pelesteran
ke dinding dengan baik.
6.4. Perlindungan.
Pada tahap pelaksanaan pekejaan dinding yang tidak telindung, bilamana hujan perlu
diberi perlindungan pada bagian atasnya.
6.5. Pemeliharaan.
Dinding harus dijaga agar tetap selama min 7 hari setelah dilaksanakan.
6.6. Angker dan Ikatan.
Angker-angker yang dijelaskan dalan Bestek ini harus tertanam dalam pertemuan tembok
dengan beton setelah membersihkan angker-angker tersebut dari kerak-kerak, karat dan
kotoran lainnya. Permukaan beton harus dibuat kasar pada sambungan-sambungan tegak
pada tembok supaya terjadi ikatan dengan adukan pekerjaan pasangan.

6. PEKERJAAN PLESTERAN.
1. Bahan.
Pc, pasir dan air memenuhi persyaratan perturan bahan bangunan yang berlaku.
2. Perbandingan adukan .
Untuk semua pelaksanaan plesteran dinding pasangan dengan adukan 1 pc : 4 pasir. Untuk
dinding pasangan bata transram harus diplester dengan adukan plesteran 1 pc : 2 pasir.
3. Persiapan permukaan dinding yang akan diplester.
Permukaan dinding bata harus diberi waktu cukup untuk mongering dan semua pipa,
saluran-saluran sudah harus terpasang pada tempatnya.
Untuk mencegah mengeringnya plesteran sebelum waktunya, permukaan tembok yang
telah disipakan harus dibasahi.
4. Pelaksanaan.
Tebal plesteran rata-rata 1,5 cm minimum 1 cm dan harus menghasilkan permukaan sesuai
pesetujuan direksi. Harus dipasang adukan-adukan patokan untuk mendapatkan permukaan
yang rata. Plesteran diratakan dengan menggunakan papan kayu yang lurus. Plesteran harus
dijaga agar tetap dalam keadaan lembab selama minimum 7 hari setelah dimulai pada saat
mengeras untuk mencegah terjadinya cacad-cacad. Pada keadaan cuaca panas plesteran
harus dilindingi terhadap pengeringan yang tidak merata atau berlebihan.
5. Memperbaiki dan membersihkan.
Pemborong wajib memperbaiki plesteran yang kurang sempurna dengan cara membuang
bagina- bagian tersebut dengan bentuk persegi panjang serta diplester kembali.
Pekerjaan plesteran yang telah selesai harus bebas dari retak-retak, noda dan cacad lain.
Pada waktu waktu tertentu selama pelaksanaan dan bila pekerjaan telah selesai, semua
plesteran yang tampak harus dibersihkan dari kotoran-kotoran akibat pekerjaan.

7. PEKERJAAN KAYU
1. B a h a n
a. Kwalitas
Semua kayu dari jenis kayu yang disyaratkan dan berkwalitas terbaik, kayu kering tanpa
mata kayu, sisi-sisi yang berkerut, lubang-lubang dan tanpa cacat-cacat serius lain serta
telah kering udara selama minimum 3 bulan.
b. Kelembaban
Kelembabab kayu yang digunakan untuk pekerjaan di dalam ruangan harus kurang dari
15 % dan kayu untuk konstruksi kurang dari 20 %.
c. Jenis Kayu.
Jenis kayu sebagai berikut akan digunakan untuk konstruksi dan jenis pekerjaan seperti
di bawah ini :
Penggunaan :
- Kap, gording, jurai
- Lisplank, ruiter, sopi-sopi
- Rangka dan penggantung plapon, list plapon propil (bag. Tepi)
- Kosen pintu/jendela, jalusi
- Rangka pintu/jendela, panil
- Lambrizering, papan
Semua kayu harus disimpan didalam dos beratap agar terlindung dari hujan dan panas
matahari langsung dan semua jenis kayu akan digunakan harus disetujui oleh konsultan
pengawas dan direksi.
d. Ukuran
Kayu yang belum dikerjakan harus mempunyai ukuran lebih besar dari ukuran
digambar , agar kayu yang dibentuk dapat tercapai bentuk serta ukuran esuai gambar –
gambar.
e. Mata Kayu
Permukaan kayu yang dicat diperkenankan mengandung ukuran mata kayu yang keras
pada satu sisi asal diameter rata-rata lebih kecil dari 4 cm, serta tidak melebihi  dari
lebar permukaan.

2. Cara Pelaksanaan.
1. Daun pintu / jendela
a. Letak dan bukaan pintu / jendela harus sesuai dengan gambar rencana.
b. Tebal sponing bingkai pintu / jendela harus sesuai dengan gambar detail.
c. Semua sambungan harus diselesaikan dengan baik, sambungan pada lubang harus
diperkuat dengan baji.
d. Sambungan tenon dan mortis harus dilaksanakan dengan baji.
e. Setiap pintu dan jendela harus dipasang pada koen dengan tepat dan diberi toleransi
untuk pengecatan, penyusutan / pemuaian.
f. Bahan dan ukuran daun pintu / jendela sesuai gambar.
g. Hasil akhir.
- Bentuk dan letaknya harus sesuai dengan yang tertera dalam gambar.
- Angker harus dipasang kuat dan kokoh.
- Warna harus rata dan seragam.
- Bersih dan berfungsi dengan baik.
2. Kosen Kayu.
Kerangka kosen harus dibuat dengan sambungan sempurna sehingga dapat menjamin
kekuatan. Kerangka harus dilengkapi dengan angker-angker besi sesuai dengan gambar.
Kosen yang menempel pada kolom yang di cor lebih dahulu diikat dengan sekrup pada
klos-klos. Semua permukaan vertical yang menempel pada dinding atau kolom diberi
alur kapur.
a. Finishing
Semua pintu, jendela dan kosen harus lurus dan rata. Permukaan yang terlihat harus
lurus tanpa cacat dan siap untuk dicat. Bagian-bagian yang menempel pada speci-
speci atau bata, harus dicat minimal dua kali.

b. Perbaikan
Semua pintu dan jendela harus dapat dibuka dengan bebas tapi tidak longgar, tanpa
tersangkut dan semua peralatan besi ada pada tempat yang tepat serta bekerja
dengan baik. Kalau terjadi penyusutan atau pembengkokan atau cacat dalam
sambungan serta pekerjaan kayu sebelum berakhir masa pemeliharaan, maka
pemborong wajib membongkar dan memperbaiki semua kerusakan atas biaya
kontaktor.
3. Dinding Partisi.
Didalam ruangan harus dapat dibuat dinding multipleks 6 mm dengan rangka kayu klas
I (bayam), konstruksi dan ukurannya sesuai dengan gambar.

8. PEKERJAAN ATAP.
1. B a h a n
a. Seng dan bubungannya digunakan Atap Bjls 30 sesuai standar SII yang ditunjuk oleh
konsultan pengawas dan direksi.
b. Pemborong di wajibkan mengajukan contoh-contoh terlebih dahulu untuk disetujui oleh
konsultan pengawas dan direksi.
2. Cara Pemasangan.
a. Atap seng dipasang diatas reng, jarak reng disesuaikan dengan gambar.
b. Bubungan dipasang Diatas nok

9. PEKERJAAN LANGIT – LANGIT / PLAFOND


1. Lingkup pekerjaan
a. Plafon Plywood dengan tebal 3 mm menerus dan list plapon
b. Rangka dan penggantung plafond
2. Bahan
a. Plywood 3 mm atau sekwalitas.
b. List profil plapond dari Plywood 3 mm.
c. Rangka plapon dari kayu klas II kwalitas terbaik
d. Ukuran dan bentuk plapond disesuaikan dengan gambar.
3. Pemasangan,
Sebelum dipasang pemborong harus memeriksa apakah penggantung sudah rata pada
ketinggian yang sesuai dengan gambar. Seluruh struktur ukuran kuat hubungannya, ditahan
baik oleh struktur atap (kuda-kuda) dan dinding. Kayu-kayu kerangka di serut rata pada sisi-
sisinya yang akan ditempeli bidang langit-langit. Kerangka kayu harus datar pada semua arah
dan tidak melengkung.
Langit-langit yang dipasang pada kerangka tersebut sehingga menghasilkan bidang
permukaan yang rapi, datar dan celah antara lembaran-lembaran yang membentuk garis / nat
yang lurus. Lembaran-lembaran langit-langit harus dipasang pada kerangka kayu dengan paku
setiap jarak 10 – 15 cm dari tepi. Dibagian tengah lembaran langit-langit dipaku secukupnya
pada kerangka agar bidang-bidang langit-langit tidak melendur. Memasang kerangka dan
penggantung langit-langit dengan system balok induk / balok pinggi, balok anak jarak rangka
sesuai gambar.

10. PEKERJAAN UBIN.


1. B a h a n
1. Keramik warna ukuran 30 x 30 cm, merk KIA, Masterina atau sekwalitas dengan
menggunakan KW I.
2. Keramik non selip warna ukuran 20 x 20 cm, merk KIA, Masterina atau sekwalitas
dengan menggunakan KW I.
3. Contoh bahan yang akan digunakan terlebih dahulu harus diajukan kepada konsultan
pengawas dan direksi untuk mendapatkan persetujuan.
2. Cara Membangun.
1. Seluruh pekerjaan dinding dan plapond harus sudah selesai lalu pekerjaan lantai
dilaksanakan.
2. Lantai pada denah bawah dipasang diatas urugan pasir yang telah dipadatkan dan dibei
landasan beton 1:3:5, kemudian diplester licin 1:4 (15mm), pada lantai tingkat plat beton
diplester licin 1:1 (15mm).
3. Pemasangan keramik wajib memperhatikan nilai estetikanya.
4. Adukan.
- Adukan untuk alas atau sambungan 1 pc : 3 psr.
- Pemasangan harus rata lurus dan tegak lurus satu sama lainnya, permukaan lurus water
pas.
5. Setiap ruangan yang telah selesai pemasangan lantai , harus bebas dari segala kegiatan.
6. Dinding beton yang akan dipasangi keramik, dalam keadaan setengah kering digores
dengan sisir seng.
7. Ketebalan adukan minimum 2 cm dan dibuat saat max 3 mm.
8. Khusus untuk dinding, adukan 1 pc : 3 psr ditambahkan semen DAVCO ex Australia atau
sekwalitasnya.
9. Semua Lantai yang berhubungan dengan dinding di lapis plint kereamik, ukuran tinggi 10
cm, lebar dan warna disesuaikan dengan keramik lantai yang terpasang.

11. PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


1. B a h a n
a. Kunci tanam 2 slag type besar digunakan merk SES atau sekwalitas.
b. Grendel jendela, hak angin ex Japan.
c. Expanyolet tanam ex Japan.
d. Engsel pintu / jendela merk Arch Japan.
e. Semua alat penggantung dan pengunci harus kwalitas baik sesuai persetujuan
Konsultan Pengawas. Pemborong harus menyerahkan contoh tiap alat penggantung /
pengunci kepada konsultan pengawas sebelum melakukan pesanan.
2. Pemasangan.
Sekrup-sekrup untuk pemasangan harus dari bahan yang cocok dengan alat-alat
[Link] diperkenankan untuk memasang mati sekrup-sekrup. Cukup dengan
memberi lubang untuk sekrup. Semua sekrup yang rusak pada waktu pemasangan harus
diganti.
1. Engsel pintu dipasang 3 buah tiap daun pintu.
2. Engsel jendela dipasang 2 buah daun tiap jendela.

12. PEKERJAAN KACA.


1. B a h a n
a. Kaca bening tebal 5 mm dan 3 mm, untuk bidang pintu / jendela, letaknya sesuai
gambar.
b. Kaca cermin untuk toilet.
c. Kontraktor harus mengajukan contoh bahan untuk disetujui oleh konsultan pengawas
dan direksi.
2. Pemasangan
a. Tempat kaca pada kosen harus dibersihkan sebelum dipasang harus diberi dempul.
Kaca dipotong dengan diberi sedikit toleransi untuk pemuaian, dipasang dengan list
kayu.
b. Kaca setelah dipasang harus dibersihkan serta kaca yang cacat, retak, pecah tergores,
harus diganti.
c. Kaca cermin.
- Pemasangan kaca cermin pada dinding-dinding toilet dan tempat-tempat lain sesuai
dengan gambar.
- Bagian dinding (wall backing) tempat cermin harus kering.
- Cermin dipasang pada dinding dengan klem baja anti karat.

13. PEKERJAAN CAT


1. B a h a n
a. Cat kayu Merk Avian atau sekwalitas.
b. Cat tembok dalam / luar dan beton digunakan produksi Metrolite atau sekwalitasnya.
c. Cat dasar, plamur, dempul digunakan dari produksi yang sama dengan cat mengkilat.
d. Cat besi digunakan produksi Avian atau sekwalitasnya.
e. Warna cat yang digunkan ditentukan kemudian oleh Direksi.
f. Kontraktor harus mengajukan contoh bahan (brosur) untuk disetujui Konsultan
Pengawas.
2. Pengerjaan.
1. Cat Dasar Kayu
Permukaan harus dibersuhkan dari debu dan lain kotoran. Dan telah diberi cat dasar,
dempul kemudian digosok sehingga rata baru dapat dicat dengan cat mengkilat minimal 2
x hingga rata.
2. Cat Dinding / Tembok
Acian harus diberi kesempatan yang maksimum untuk mengering sebelum pengecatan
dimulai. Semua plesteran atau dasar semen yang cacat harus dibuang dan diperbaiki
dahulu dengan plesteran yang sejenis. Retak-retak kecil harus ditutp sedang retak-retak
yang besar harus dibongkar dan diisi kembali hingga rata dengan permukaan sekitarnya.
Sebelum permukaan diberi cat dasar, plamur semua kotoran pada permukaan harus
dibersihkan, kemudian diberi cat finish 2 kali.
3. Cat Dasar Besi.
Segera setelah besi dibersihkan permukaan besi diberi cat dasar manie sebanyak minimal 2
kali. Bat besi yang tidak memenuhi syarat harus dibersihkan dengan sikat baja sampai bersih.
Semua pengecatan yang cacat harus dikerok dan semua karat dilepaskan dengan sikat baja
sampai bersih.
4. Kayu dengan Natural Finish.
Untuk kayu demikian maka permukannya harus diamplas sampai licin dan bebas dari cacat.
Semua debu dihilangkan sebelum di cat politur.

14. URAIAN DAN KETENTUAN TEKNIS DAN PEKERJAAN LISTRIK


1. Peraturan pemasangan
Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan-peraturan sebagai berikut :
1. PUIL – 1987
2. PIL [menteri PU dan T Nomor 023-PRT-1978}
3. PIL {Menteri PU dan T Nomor 124 – PRT – 1978}
4. PPIL< Departemen Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. 59/PD/1980.
5. SPLN – 70. 1,2,3.
6. Sll
7. Standar peneranganBuatan di dalam gedung-gedung 1978. {Dit. [Link] Karya,
Direktorat Penyelidian Masalah Bangunan }
8. Penerangan instalasi ini harus dilaksanakan oleh persahaan yang memilikiSurat Ijin
Instalasi dari instansi yang berwenang dan telah biasa mengerjakan dari suaru daftar
referansi pemsangan.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Panel penerangan
b. Instalasi Penerangan dan tenga
c. Lighting Fixtures
d. Pentahanan
e. Pengujian
3. Persyaratan Bahan Dan Peralatan
1. Kabel yang digunakan merk :kabel metal, kabelindo, tranka kabel, yang telah diakui oleh
PLN.
a. Kabel NYM.
- Kabel dengan 3 {tiga} inti untuk I phase
- Inti copper dibungkus oleh isolasi PVC
- Isolasi 2 lapis, menyelubungi inti
b. Macam switc/Outlet untuk tegangan 220 volt.
1. Outlet/Kotak biasa {General Purpose Outlet}
- Pole : Phase + Netral + Earth
- Tegangan : 220 volt, 1 phase, 50 Hz
- Rating arus min 10 ampere
- Pemasangan system tanah dalam tembok
- Bahan : Ebonit berwarna, merk MK
2. Saklar/ Switches
- Type : Plano
- Bentuk : Persegi ukuran {80x80mm}bhn
- Rating : min 10 ampere
- Pemasangan:system tanam dalam tembok
- Bahan : Ebonit berwarna, merk MK
c. Perlengkapan panel minimal terdiri dari : : {Penggunaannya sesuai dengan gambar}
- NFB { No Fuse Breaker }
- Pilot lamp, busbar
- Scoen Cable
- Arde
d. Lighting Fixtures digunakan merk Philips atau sekualitasnya.
- TL 2 x 36w
- TL 2 x 18w
- Boal 60 w crystolite
e. Armature TL dilengkapi :
- Balon Philips
- Ballast Philips
- Stater Philips
- Capasitor Philips
- Fitting
Semua bahan dan material harus mendapat persetujuan dari konsultan pengawas dan Direksi.
4. Persyaratan pemasangan
1. Penanggungjawab Pelaksanaan
Pemborong instalasi ini harus menempatkan seorang penanggungjawab pelaksanaan yang
ahli dan berpengalaman yang harus selalu berada di lapangan. Yang bertindak sebagai wakil
dari pemborong dan mempunyai kemampuan untuk memberikan keputusan teknis dan yang
bertanggungjawab penuh dalam menerima segala instruksi yang akan diberikan oleh pihak
Direksi. Penaggungjawab tersebut di atas juga harus berada di tempat pekerjaan pda saat
diperlukan dikehendaki oleh pihak direksi.
2. Kabel Instalasi.
a. Sambungan kabel hanya boleh dilakukan pada terminal.
b. Kawat arde dilindungi oleh pipa galvanisir.
c. Sebagai keseragaman warna isolasi kabel harus standar :
- Fase R warna isolasi merah
- Fase S warna isolasi kuning
- Fase T warna isolasi hitam
- Netral N warna isolasi biru
- Pentanahan warna isolasi kuning strip hijau
d. Semua kabel yang berada di plapon atau yang melewati dinding harus dilindungi
dengan pipa plastik merk PVC atau sekwalitasnya.
e. Kabel NYM dengan luas penampang minimum 2,5 mm² dengan jumlah inti sesuai
dengan gambar.
f. Penyambungan hanya dibenarkan pada terminal, atau kotak pencabangan yang
dipasang kokoh sehingga ujung kabel tidak bergerak lagi.
g. Penarikan kawat arde boleh dilakukan secara terpusat pada panel
h. Semua saklar dan kotak-kotak khusus / biasa untuk system ini memakai konstruksi
tanam dalam dinding.
i. Penempatan saklar dan stop kontak setinggi 155 cm.
j. Pentanaman dilakukan sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku. Arde pada setiap
panel sesuai gambar dan dipipakan GIP ¾ dengan tahanan system pentanaman
maksimum 2 – 5 Ohm.
k. Pemasangan lampu dengan system Otbow pada plapon.
l. Kawat BC, digunakan sebagai kawat pentanahan dengan penampang minimum 10
mm.
3. Panel Penerangan.
a. Panel penerangan dibuat dari besi plat tebal 1,0 mm, dilengkapi kunci dan dicat duke
warna abu-abu, ukuran sesuai dengan gambar.
b. Panel system tanam dalam tembok tinggi 175 cm dari lantai.
c. Panel diberikan pentanahan secara setempat dengan konstruksi menurut persyaratan.
d. Switch harus bias dibuka dalam keadaan berbeban tanpa adanya kenaikan temperatur
yang berlebihan.
e. Pada MCB harus dicantumkan tanda / nomor group yang dilayani, yang ditempatkan
pada panel tersebut.
f. Dalam panel dipakai MCB otomatis, rating arus sesuai dengan gambar.

Pasal 20. PENUTUP

Apabila dalam spesifikasi teknis ini tidak disebutkan hal-hal yang dipasang, dibuat disediakan dan
dilaksanakan tetapi dalam pelaksanaan pekerjaan hal ini menjadi bagian yang nyata-nyata
dilaksanakan dan diselesaikan oleh pemborong, maka bagian pekerjaan tersebut harus dianggap telah
dimuat dalam spesifikasi ini dan bukan merupakan pekerjaan tambahan. Sebelum pekerjaan
diserahkan, pemborong diharuskan merawat bangunan, membersihkan dari segala kotoran dan sisa-
sisa bangunan hingga bangunan dapat digunakan atau difungsikan tanpa adanya pembersihan dan siap
diserah terimakan sesuai pertanggungjawaban direksi/ pengawas.

Serui, Juli 2009

DISETUJUI OLEH : DISUSUN OLEH :


PANITIA PENGADAAN BARANG DAN JASA KONSULTAN PERENCANA
KETUA CV. MADYA consultant

LUIS NUMBERI, SE. BACHTIAR HASYIM, ST.


NIP. 080 077 653 Ka. Cabang

MENEGETAHUI :
KUASA PENGGUNA ANGGARAN
PEMBANGUNAN MINI MARKET
TAHUN ANGGARAN 2009

Drs. TITING PASODUNG


PEMBINA TINGKAT I
NIP. 050 057 956

Anda mungkin juga menyukai