Spesifikasi Berat Besi Hollow 5x10 mm
Spesifikasi Berat Besi Hollow 5x10 mm
( R K S )
BAGIAN PERTAMA
SYARAT- SYARAT UMUM.
1. 1. Pemberi tugas untuk pekerjaan ini adalah Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili
oleh Drs. TITING PASODUNG Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian,
dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Yapen selaku Kuasa Pengguna Anggaran
Pembangunan Mini Market Kabupaten Kepulauan Yapen Tahun Anggaran 2009
1.7. Kontraktor.
Kontraktor adalah suatu perusahaan yang usahanya bergerak dibidang Pekerjaan Sipil Sub
Bidang Bangunan gedung Bidang Sipil Sub Bidang Bagunan Gedung Gred 4 yang masih
berlaku. Kepada Kontraktor yang berminat untuk mengikuti pelelangan pekerjaan ini harus:
[Link] Terdaftar dalam Daftar Rekanan Terpilih.
b. Telah Mengisi Daftar Kemampuan Nyata ( SKN ).
[Link] Harus Berdomisili di Daerah Setempat.
Pasal 2. DOKUMEN PELELANGAN
Dokumen Pelelangan adalah surat-surat keterangan dan surat lainnya yang ada kaitannya dengan
penyelenggaraan pelelangan pekerjaan ini serta merupakan bagian dari kontrak perjanjian
pemborongan :
a. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat.
b. Gambar Pelaksanaan.
c. Berita Acara Pelaksanaan Pekerjaan ( Aanwijzing ).
3.1. Peserta Lelang adalah yang telah mendaftarkan diri dan terdapat dalam Daftar Rekanan
Terseleksi (DRT) serta diundang panitia Pelelangan untuk mengikuti rapat penjelasan pekerjaan
(aanwijzing) yang diselenggarakan pada :
Hari : …………………….
Tanggal : …………………….
Jam : …………………….
Tempat : …………………….
3.2. Segala perubahan baik penambahan maupun pengurangan mengenai gambar-gambar dan RKS
akan dicatat dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan, yang sifatnya mengikat serta akan
diserahkan kepada peserta lelang sebelum pelelangan.
4.1. Pelelangan untuk pekerjaan ini akan diselenggarakan secara pelelengan terbatas / pemilihan
langsung, bila didaerah tersebut Kontraktor yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti
pelelangan ini tidak cukup, maka akan diundang Kontraktor dari daerah Kabupaten yang
terdekat.
4.3. Surat penawaran harus bertanggal, bermaterai sebesar 6.000,00 (enam ribu rupiah) dan
ditandatangani oleh Direktur Perusahaan. Surat penawaran berlaku mengikat untuk jangka
waktu 3 (tiga) bulan terhitung surat penawaran. Bila direktur atau penganggung jawab
perusahaan berhalangan maka surat penawaran dapat ditanda tangani oleh wakilnya dengan
disertai surat kuasa bermaterai 6.000,00 (enam ribu rupiah,-) yang disahkan oleh Noteris
Pengadilan Negeri.
4.6 Sampul penawaran atau amplop harus dilak di lima tempat satu titik. Pada amplop harus ditulis:
Kepada Yth.
PANITIA PENGADAAN BARANG DAN JASA
PEMBANGUNAN MINI MARKET
TAHUN ANGGARAN 2009
DI -
SERUI
4.7. Persyaratan
Kepada peserta pelelangan tidak diperkenankan memasukkan lebih dari 1 (satu) paket
penawaran. Kepada siapa yang tidak memenuhi ketentuan dan persyaratan – persyaratan
tercantum di atas dinyatakan gugur.
5.2. Panitia pelelangan membuka kotak dan sampul surat penawaran di hadapan para panitia lelang,
semua surat penawaran dan surat – surat lainnya dibaca dengan jelas di hadapan para peserta
lelang.
5.3. Semua syarat – syarat yang sah maupun yang tidak sah serta semua kekurangan yang terdapat
dalam surat – surat penawaran harus dibuat dalam Berita Acara pembukaan surat penawaran.
5. 4. Berita acara pembukaan surat penawaran akan dibacakan dihadapan para peserta lelang dengan
jelas kemudian ditanda tangani oleh semua anggota panitia lelang serta wakil dari peserta
lelang.
c. Apabilah terdapat dua peserta atau lebih mengajukan harga yang sama, maka panitia harus
memperhatikan untuk memilih peserta yang menurut pertimbangannya mempunyai
kecakapan dan kemampuan yang lebih besar.
6.2. Paniti hasil pelelangan akan dimuat dalam berita acara yang harus ditandatangani oleh semua
anggota panitia pelelangan.
6.3. Penetapan colon pemenang pelelangan harus sudah ditetapkan selambat – lambatnya 7 (tujuh)
hari setelah pembukaan surat penawaran.
6.4. Penetapan pemenang lelang akan ditetapkan oleh Kepala Kantor atau Penanggung Jawab
Program yang bersangkutan sesuai denga peraturan yang berlaku. Setelah keputusan pemenang
lelang diterima oleh panitia, maka akan diumumkan kepada peserta lelang selambat – lambatnya
2 (dua) hari kerja setelah diterima surat keputusan tersebut.
Kepada peserta lelang yang merasa keberatan atas penepetapan pemenang lelang diberikan
kesempatan untuk mengajukan surat sanggahan dalam dalam jangka waktu 4 (empat) hari setelah
tanggal penetapan pemenang lelang.
Sanggahan hanya yang berkaitan dengan masalah administrasi, jawaban terhadap surat sanggahan
diberikan secara tertulis selambat – lambatnya 4 (empat) hari setelah surat sanggahan diterima.
8.1. Penetapan pemenang lelang hanya dapat dilakukan setelah ternyata tidak ada sanggahan atau
penolakan atas surat sanggahan dari atas pejabat yang berwenang.
8.2. Peserta lelang yang telah ditentukan pemenang lelang wajib menerima penunjukan tersebut.
8.3. Bilamana calon pemenang pertama mengundurkan diri maka pemenang urutan kedua ditunjuk
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, dengan syarat pemenang bersangkutan menerima harga
dan persyaratan yang sama dengan pemenang lelang pertama.
8.4. Apabila pemenang urutan kedua tidak bersedia menerima persyaratan yang sama tersebut, maka
akan diadakan pelelangan ulang, dengan tidak terikat untuk mengundang peserta lelang yang
dibatalkan tadi.
9. 2. Pelelangan dibatalkan apabila harga yang ditawarkan biayanya melebihi harga standard / DAS
9.3. Bilamana dalam jangka waktu 4 (empat) hari setelah penentuan pemenang lelang terdapat surat
sanggahan dan isinya benar, maka lelang itu dibatalkan juga.
9. 4. Dalam hal ini panitia pelelangan harus menyelenggarakan lelang ulang di mana tidak terikat
untuk mengundang kembali para rekanan atau peserta yang dibatalkan tadi.
BAGIAN KEDUA.
SYRAT-SYRAT ADMINISTRASI.
2.1. Jangka waktu Pemeliharaan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak
tanggal penyerahan pertama pekerjaan.
2.2. Kewajiban Pemborong selama masa pemeliharaan antara lain harus memperbaiki segala
kerusakan dan cacat-cacat dalam pekerjaan membersihkan halaman dan lain sebagainya yang
merupakan tanggung jawab Pemborong.
3.1. Bilamana waktu penyerahan pekerjaaan tidak tepat pada waktu yang telah ditetapkan karena
pekerjaan ini mengalami hambatan atau force majuere maka pemborong harus segera
memberitahukan secara tertulis kepada pihak pemberi tugas dengan menyebutkan berapa hari
diperkirakan terlambatnya pekerjaan.
3.2. Dua minggu terakhir sebelum tanggal penyerahan pertama pekerjaan pemborong dapat
mengajukan permohonan perpanjangan waktu majuere ( hal-hal yang terjadi diluar kemampuan
pihak pemborong) misalnya hujan terus menerus, curah hujan, angin ribut, kebakaran,
peperangan dan lain sebagainya.
3.3. Dengan pertimbangan yang wajar maka penanggung jawab Pekerjaan dapat memperpanjang
waktu pelaksanaan dengan menerbitkan Surat Addendum perjanjian.
6.2. Sebagai ikatan antara pihak pemberi tugas dan pihak yang diberi tugas, maka akan dibuatkan
surat perjanjian pemborongan selambat – lambatya 7 (tujuh) hari setelah SPMK diterbitkan.
6.3. Surat perjanjian pemborongan harus ditanda tangani oleh Pihak Pemberi Tugas dan Pihak
Pemborong serta harus disetujui oleh Kepala Kantor / Dinas Intansi yang bersangkutan.
6.4. Biaya untuk pembuatan Surat Perjanjian Pemborongan menjadi beban pihak pemborong.
Jumlah harga yang tercamtum dalam kontrak harus sama dengan jumlah harga yang tercamtum
dalam surat penawaran.
Pasal 9. P E N G A W A S.
9.1. Pengawasan
Dalam hal pelaksanaan pekerjaan pengawasan akan dilakukan oleh Konsultan Pengawas dan
Tenaga Teknik dari Sub Dinas Cipta Karya pada Dinas Pekerjaan Umum setempat.
10.1. Pemborong selama melaksanakan pekerjaaan harus menjaga keamanana dari bahaya kebakaran,
pencurian bahan-bahan pencurian material dan lain-lain.
Apabila terjadi hal-hal seperti tersebut di atas,akan menjadi tanggung jawab kontraktor.
10.2. Pemborong dalam melaksakan tugasnya harus menjamin keselamatan dan kesehatan dari pada
keselamatan dan kesehatan dari pada pekerjanya harus menyediakan obat-obatan seperti : kapas,
obat merah,pil anti malaria dan sebagainya, ditempatkan dalam kotak obat (P3K) yang disimpan
dalam kantor atau direksi.
10.3. Selain itu selama pelaksanaan pekerjaan pemborong harus mengasuransikan seluruh pekerja-
pekerjanya di perum Astek yang terdekat.
10.4. Bilamana terjadi kecelakaan maka pemborong harus segera melaporkan kepada direksi dan
segera mengambil tindakan guna menyelamatkan si korban. Bila si korban sampai dirawat di
rumah sakit, pemborong harus melaporkannya ke Perum astek guna mengurus penggantian
biaya perawatan si penderita tersebut.
11.1. Perselisihan akan diusahakan diselesaikan secara musyawarah antara pemberi tugas dan
kontraktor.
11.2. Bilamana secara musyawarah tidak menghasilkan kesepakatan antara perselisihan di bidang
teknis akan diselesikan oleh Dewan Arbitrage yang dibentuk khusus untuk dan yang bersifat
non teknis akan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri Waropen.
Pasal 12. PERATURAN PEMERINTAH.
654/[Link]/02/1998
Tanggal 10 Pebuari 1998.
SE-36/A/21/0298
BAGIAN KETIGA
SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN
A. PENJELASAN UMUM
1. PERATURAN PERATURAN
Pekerjaan ini harus dikerjakan sesuai dengan :
a Rencana Kerja dan Syarat – Syarat (RKS) ini
b Gambar – Gambar yang telah disyahkan oleh instansi yang berwenang
c Peraturan umum untuk bangunan NI, 3-PUBB/1956/NI-3, 1963-1966
d Peraturan Beton Indonesia ( PBI NI-2/1965, PBI NI-2/1971 )
e Peraturan Muatan Indonesia ( PMI NI018 / 1969),
f Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI NI 5/1961 ),
g Peraturan Perburuan Indonesia
h Peraturan Umum Dewan Teknis Pembangunan Indonesia ( DPTI / 1979 ),
2. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup Pekerjaan yang akan dilaksanakan, meliputi :
A. PEMBANGUNAN KANTOR DINAS KESBANGPOLINMAS MELIPUTI :
a. PEKERJAAN PERSIAPAN
b. PEKERJAAN TANAH DAN PASIR
c. PEKERJAAN PASANGAN BATU DAN BETON
d. PEKERJAAN KAYU, ATAP, DAN PLAFOND
e. PEKERJAAN LANTAI
f. PEKERJAAN DAUN PINTU, JENDELA DAN KACA
g. PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGANTUNG
h. EKERJAAN PENGECATAN
i. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
j. PEKERJAAN SANITAIR
k. PEKERJAAN AKHIR
Pasal 1
A I R (PUBI. 1970/NI-3)
1. Untuk seluruh pelaksanaan pekerjaan dipakai air yang tidak boleh mengandung minyak, asam,
alkali, garam dan bahan-bahan organis dan bahan-bahan lain yang merusak bangunan.
Dalam hal ini harus dinyatakan dengan hasil tes dari laboratorium yang disetujui oleh konsultan
pengawas dan direksi.
2. Khusus untuk beton, jumlah air yang digunakan untuk membuat adukan disesuaikan dengan jenis
pekerjaan beton , yang ditentukan dengan ukuran isi atau ukuran berat dan dilakukan dengan tepat.
Pasal 2
P A S I R (PUBI 1970/NI-3, PBI 1971/NI-2)
1. Pasir Urug.
Pasir untuk pengurukan alas lantai, alas pondasi batu gunung dan lain- lain harus bersih dan keras.
Pasir laut untuk maksud - maksud tersebut tidak diperkenankan.
2. Pasir Pasangan.
Pasir untuk adukan pasangan dan adukan plesteran harus memenuhi syarat -syarat sebagai berikut:
a. Butiran harus tajam dan keras, dan tidak dapat dihancurkan dengan jari.
[Link] lumpur tidak boleh lebih dari 5 %.
c. Butiran-butirannya harus dapat melalui ayakan berlubang persegi 3mm.
[Link] laut tidak bisa dipergunakan.
3. Pasir Beton.
Pasir untuk pekerjaan beton harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a Butir-butir harus tajam, keras dan tidak dapat dihancurkan dengan jari atau pengaruh cuaca.
b Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5 %.
c Pasir harus terdiri dari butiran-butran yang beraneka ragam besamya, dan apabila diayak
dengan ayakan 0,5 maka sisa butiran-butiran diatas ayakan 4mm, minimal 2 % dari berat sisa
butiran -butiran diatas ayakan 1 mm minimal 10% dari berat sisa butran - butiran diatas
ayakan 0,25 mm, berkisar antara 80% sampai dengan 90% dari berat.
d Pasir laut tidak boleh dipergunakan.
e Syarat-syarat tersebut diatas harus dibuktikan dengan pengujian laboratorium.
4. Sirtu
Sirtu dipergunakan untuk urugan timbunan, terdiri dari bahan homogen, keras dan bersih dari
kotoran-kotoran. Sirtu yang digunakan harus melalui tes laboratorium yang disetujui oleh
pengawas dan direksi.
Pasal 3
BATU GUNUNG / BATU KALI
1. Batu gunung/kali belah harus keras, padat dan tidak boleh mengandung cadas atau tanah.
2. Batu gunung/kali untuk keperluan yang nampak (pasangan batu muka atau pasangan tanpa
plesteran), bentuk atau muka batu harus dipilih dan tidak boleh mempedihatkan tanda-tanda lapuk
dan berpod.
Pasal 4
SPLIT
1. Split adalah batu pecah (hasil olahan stone cruiser) yang harus dapat melalui ayakan berlubang
persegi 25 mm dan tertinggal diatas ayakan berlubang persegi 2 mm.
2. Split untuk beton harus memenuhi syarat yang dibutuhkan dalam PBI 1971 (NI-2) diantaranya :
harus terdiri dari butir - butir yang keras, tidak berpori, tidak pecah / hancur oleh pengaruh cuaca.
3. Split harus cukup bersih dan tidak boleh mengandung lumpur lebih darl 3%.
4. Ukuran split yang digunakan tidak boleh lebih dari 2 x 3 cm.
5. Syarat-syarat tersebut diatas harus dinyatakan oleh laboratorium.
6. Split hasil olahan pecah tangan tidak boleh digunakan.
Pasal 5
PORTLAND CEMENT
1. Portland Cement (PC) yang digunakan harus PC sejenis (NI-8) dan dalam kantong utuh/baru.
2. Bila digunakan PC yang telah disimpan lama harus diadakan pengujian terlebih dahulu oleh
laboratorium yang disetujui Konsultan pengawas dan direksi.
3. Dalam pengangkutan PC ketempat pekerjaan harus dijaga agar tidak menjadi lembab, begitu pula
penempatannya harus ditempat yang kering.
4. Portland Cement yang sudah mernbatu ( menjadi keras ) tidak boleh dipakai.
Pasal 6
KAYU
1. Pada umumnya kayu harus bersifat baik dan sehat, dengan ketentuan segala sifat dari kekurangan-
kekurangan yang berhubungan dengan pemakaiannya tidak merusak atau mengurangi nilai
konstruksi (bangunan).
2. Mutu Kayu ada 2 macam yaitu kelas I dan kelas 2.
3. Yang dimaksud dengan kayu mutu kelas I adalah kayu yang memenuhi syarat- syarat sebagai
berikut
a Harus kering udara.
b Besar mata kayu tidak melebihi 1/6 dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 3,5
cm.
c Balok tidak boleh mengandung wanvlak yang lebih besar 1/10 dari tinggi balok.
d Retak dalam arah radial tidak boleh melebihi 1/4 tebal kayu, dan retak-retak dalam
lingkaran tumbuh tidak boleh melebihi 115 tebal kayu.
e Miring arah serat (tangensial) tidak boleh melebihi dari 1/10.
4. Yang disebut kayu mutu kelas 2 adalah kayu yang tidak termasuk dalam mutu kelas 1, tetapi
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Kadar lengas kayu tidak lebih 18%.
b. Besar mata kayu tidak melebihi 1/4 dari lebar balok dan juga tidak boleh lebih dari 5 cm.
c. Balok tidak boleh mengandung wanvlak yang lebih besar dari I /1 0 tinggi balok.
d. Retak-retak dalam arah radial tidak boleh lebih dari 1/3 tebal kayu dan retak-retak
menurut lingkaran tumbuh, tidak boleh melebihi 1/4 tebal kayu.
e. Miring arah serat (tangensial) tidak boleh lebih dari 1/7.
Pasal 7
BAJA TULANGAN BETON DAN KAWAT PENGIKAT
1. Jenis baja tulangan harus dihasilkan dari pabrik-pabrik baja yang dikenal dan yang berbentuk
batang - bateng polos atau batang-batang yang diprofil (besi ulir).
2. Mutu baja tulangan yang dipakai U24 (besi polos) untuk tulangan yang lebih kecil dari diameter
13 mm, dan mutu baja U32 (besi ulir) untuk tulangan yang lebih besar dari diameter 13 mm.
3. Ukuran besi dalam gambar harus sama dengan yang dilaksanakan dilapangan (ukuran penuh).
4. Kawat pengikat harus terbuat dari baja besi lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah
dipijarkan terlebih dahulu dan tidak berlapis seng.
Pasal 8
B E T O N
1. Kecuali pada mutu beton B1, mutu-mutu beton lainnya campuran beton yang dipilih harus
sedemikian rupa sehingga menghasilkan kekutan tekan karakteristik yang disyaratkan untuk beton
yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan kekuatan tekan karakteristik adalah kekuatan tekan
dari jumlah besar hasil-hasil pemeriksaan benda uji .
2. Kekuatan beton adalah kekuatan tekan yang diperoleh dari benda uji kubus, yang bersisi 10 cm
pada umur 28 hari.
3. Benda - benda kubus harus dibuat dari cetakan / mal besi plat yang licin sehingga diperoleh
bidang permukaan kubus yang rata. Setiap interval 5 m3 beton harus diambil 1 (satu) benda uji.
Benda-benda uji tersebut dites pada saat:
a. Umur 3 hari sebanyak 3 buah.
b. umur 7 hari-sebanyak 3 buah.
c. umur 19 hari sebanyak 3 buah.
d. umur 28 harl sebanyak 3 buah.
Cetakan kubus harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dilepas dari betonnya,
kemudian diletakkan diatas bidang yang rata dan kedap air.
4. Adukan beton untuk benda - benda uji harus diambil langsung dari mesin pengaduk dengan
menggunakan ember atau alat lain yang tidak menyerap air. Bila dianggap perlu adukan beton
diaduk lagi sebelum dituangkan kedalam cetakan.
5. Kubus-kubus atau benda uji yang telah dicetak, harus disimpan ditempat yang bebas dari getaran
dan ditutupi dengan karung basah selama 24 jam setelah kubus kubus tersebut dilepas dengan hati
- hati dari cetakannya, atas seisin konsultan pengawas.
Setelah itu masing - masing kubus tersebut diberi tanda seperlunya dan disimpan ditempat dengan
suhu yang sama dengan suhu udara luar sampai pada saat pemeriksaan.
6. Kubus-kubus tersebut pada umur yang disyaratkan diuji oleh laboratorium yang ditentukan oleh
konsultan pengawas dan direksi atas biaya kontraktor.
7. Campuran Beton.
Campuran beton yang dipergunakan adalah sebagal berikut:
a Untuk beton non structural digunakan campuran dengan perbandingan 1 PC : 3 pasir : 5 split.
b Untuk beton struktural dipergunakan beton mutu mutu K225 sesuai dengan ketentuan yang
ada didalam gambar.
8. Kekentalan adukan Beton. .
Kekentalan adukan beton harus dipedksa dengan pengujian slump, dengan sebuah kerucut
tirpancung (abrams). Nilai-nilai untuk berbagai pekerjaan beton harus menurut tabel 441 PBI-
1971 (NI-2).
C. PENJELASAN TEKNIS
SYARAT - SYARAT TEKNIK PEKERJAAN BANGUNAN
1. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Pemeriksaan Site
Sebelum memulai pekerjaan sesuai kontrak, pemborong harus meninjau site dan memeriksa
keadaan dan situasi yang ada serta bahan bahan yang akan digunakan.
2. Pembersihan Halaman
Site yang akan dibangun harus dibersihkan dari segala tumbuhan dan benda-benda yang tidak
diperlukan yang terdapat didaerah sekitarnya, dan harus dipersiapkan untuk pekerjaan
galian/timbunan.
3. Peil Rencana dan bouwplank
sebelum mulai dengan pekerjaan galian pondasi pada bangunan, pemborong harus
memastikan bahwa peil rencana setempat, yang tercantum didalam gambar-gambar kontrak
adalah [Link] dari kayu kelas 2 yang diketam rata, pemasangan berjarak 1,5 meter
dari bangunan harus kuat dan rapi, as-as ukuran haus terlihat jelas pada papan 2 x 20 cm dan
tiang 5x10 cm dipancang ketanah.
Pemborong bertanggungjawab mengenai ketelitian pengukuran uitzet bangunan, bouwplank
dan peil-peil sesuai dengan gambar-gambar dan patokan peil.
Beberapa patok-patok beton harus dipasang di site, pemborong harus berkonsultasi dengan
konsultan pengawas mengenai penempatan patok beton yang tepat.
4. Scope pekerjaan
Pasangan batu belah dilaksanakan untuk:
- Pondasi tembok pada lantai denah.
- Pondasi untuk trap luar.
5. Pekerjaan Berapen Pondasi
Semua pondasi batu kali harus diberapen dengan adukan 1 pc : 3 psr dengan ketebalan
minimum 2cm.
Sebelum diurug kembal, pekerjaan dipondasi hurus diperiksa dan disetujui lebih dahulu oleh
konsultan pengawas.
4. PEKERJAAN BETON
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan Beton Bertulang meliputi :
- Poer plat
- Kolom
- Balok/Ring Balk
- Sloef
- Dan pekerjaan beton lainnya seperti yang tertera dalam gambar.
2. Bahan
1. Semen
Semen yang dipergunakan harus Portland cement dari sumber yang disetujui serta sesuai
dengan syarat-syarat dari peraturan semen Portland Indonesia 1972 –NI–8. Selama
pengangkutan, semen harus dilindungi terhadap hujan. Penterahan semen dilapangan
harus dalam kantong-kantong aslinya yang disegel dari pabrik serta disimpan didalam
gudeang berventilasi cukup serta tidak bocor dan disimpan diatas lantai yang ketinggian
minimum 30cm dari tanah.
Kantong-kantong semen tidak diperbolehkan ditimbun melebihi ketinggian 2m dan setiap
pengiriman dipisahkan serta diberi tanda pengenal sehingga dapat dipakai sesuau dengan
tanggal pengiriman.
2. Koral/kerikil
Agrerat kasar harus terdiri dari batu-batu pecah,keras,tahan lama dan bersih serta tidak
mengandung bahan-bahan yang dapat mempengaruhi kekuatan serta ketahanan beton
dalam jangka panjang termasuk ketahanan terhadap karat untuk penulangan. Kerikil harus
disimpan diatas permukaan p.b.I 1971 Bab 3.
Kerikil harus disimpan diatas permukaan bersih dan keras serta tercampur adukan.
3. Air
Air untuk adukan pasangan dan beton serta membasahi beton harus bersih {air
PAM}bebas dari bahan-bahan atau kotoran yang mempengaruhi ikatan semen.
4. Pasir
Pasir dapat berupa pasir alam. Pasir harus terdiri dari batu-batu tajam dan keras. Butir-
butir harus bersifat kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca. Pasir tidak boleh
mengandung lumpur lebih dari 5% ( ditentukan terhadap berat kering ) .
Pasir harus terdiri dari butir – butir yang beraneka ragam besarnya . Pasir laut tidak boleh
di pakai untuk semua beton . Selanjutnya pesir harus memenuhi syarat – syarat P,B.I 71
pasal 3.3
5. Penulangan
Penulangan harus terdiri dari baja keras dengan mutu baja U- 24 untuk diameter sampai
dengan 12 mm ke atas . Penulangan harus memenuhi persyaratan P .B .I 1971 dan harus
dilakukan pengetesan berupa tekanan tarik dan teknik pada laboratoium yang disetujui
oleh koniltan pengawas / Direksi . Penulangan tidak boleh disimpan ditempat terbuka
untuk jangka panjang . Penulangan harus bebas dari lmak , kotoran ,cat , karat , atau
bahan – bahan lain yang merugikan pada saat pemeriksaan oleh Konsultan pengawasan .
Sebelum dilakukan pengecoran . Semua penulangan harus dipasang secara kokoh untuk
menghindari dari pergeseran selama pengerjaan .
6. Bekisting
Bahan untuk bekisting beton dari papan kelas II yang di lapisi multiplex kwalitas baik
termasuk rangka . Bahan bekisting tidak boleh dipakai dua kali kecuali jika keadaannya
masih baik dan dengan persetujuan Direksi .
3. Pelaksanaan
1. Campuran Beton
a. Kwalitas / mutu beton untuk pekerjaan ini adalah sesuai dengan spesifikasi
campuran yang direncanakan
b. Campuran :
- semua pekerjaan stuktur di gunakan K 225 atau sesuai gambar desaign .
- 1 pc : 3 psr : 5 krl untuk rabat & lantai kerja .
2. Bekisting harus dengan konstruksi kuat dan ditopang sedemikian rupa sehingga tidak
timbul getaran yang membahayakan dan tidak terjadi penurunan akibat tekanan dari
beben adukan beton atau bahan – bahan lainnya . Bekisting harus pula sedemikian
rupa sehingga memudahkan pembongkarannya tanpa menimbulkan bahaya pada
konstruksi .
3. Pemberitahuan sebelum pengecoran
Sebelum pengecoran beton di laksanakan , terutama pada bagian – bagian yang penting ,
pemborong diwajibkan memberitahukan konsultan , untuk mendapatkan persetujuannya .
Apabila pengecoran dilaksanakan tanpa pemberitahuan dan tanpa persetujuan tanpa
pembritahuan dan tanpa persetujuan dari konsultan pengawas . Maka konsultan pengawas
dapat memerintahkan agar pemborong membongkar dan menyingkirkan seluruh pekerjaan
beton yang telah dicor tersebut untuk diulang atas biaya pemborong .
4. Pembongkaran Bekisting
Tidak dibenarkan untuk membongkar bekisting sebelum beton mencapai kekuatan sesuai
P.B.I 1971 bab 5 ayat 8 . Apabila pembongkaran bekisting menyebabkan sebagian
pekerjaan beton mendapat tekanan melebihi perhitungan , maka tidak dibenarkan untuk
membongkar bekistingnya untuk jangka panjang waktu selama keadaan itu berlangsung .
Harus ditekankan disini bahwa tanggung jawab terhadap keamanan beton sepenuhnya ada
dipihak pemborong dengan memenuhi peraturan di dalam P.B.I 1971.
6. PEKERJAAN PLESTERAN.
1. Bahan.
Pc, pasir dan air memenuhi persyaratan perturan bahan bangunan yang berlaku.
2. Perbandingan adukan .
Untuk semua pelaksanaan plesteran dinding pasangan dengan adukan 1 pc : 4 pasir. Untuk
dinding pasangan bata transram harus diplester dengan adukan plesteran 1 pc : 2 pasir.
3. Persiapan permukaan dinding yang akan diplester.
Permukaan dinding bata harus diberi waktu cukup untuk mongering dan semua pipa,
saluran-saluran sudah harus terpasang pada tempatnya.
Untuk mencegah mengeringnya plesteran sebelum waktunya, permukaan tembok yang
telah disipakan harus dibasahi.
4. Pelaksanaan.
Tebal plesteran rata-rata 1,5 cm minimum 1 cm dan harus menghasilkan permukaan sesuai
pesetujuan direksi. Harus dipasang adukan-adukan patokan untuk mendapatkan permukaan
yang rata. Plesteran diratakan dengan menggunakan papan kayu yang lurus. Plesteran harus
dijaga agar tetap dalam keadaan lembab selama minimum 7 hari setelah dimulai pada saat
mengeras untuk mencegah terjadinya cacad-cacad. Pada keadaan cuaca panas plesteran
harus dilindingi terhadap pengeringan yang tidak merata atau berlebihan.
5. Memperbaiki dan membersihkan.
Pemborong wajib memperbaiki plesteran yang kurang sempurna dengan cara membuang
bagina- bagian tersebut dengan bentuk persegi panjang serta diplester kembali.
Pekerjaan plesteran yang telah selesai harus bebas dari retak-retak, noda dan cacad lain.
Pada waktu waktu tertentu selama pelaksanaan dan bila pekerjaan telah selesai, semua
plesteran yang tampak harus dibersihkan dari kotoran-kotoran akibat pekerjaan.
7. PEKERJAAN KAYU
1. B a h a n
a. Kwalitas
Semua kayu dari jenis kayu yang disyaratkan dan berkwalitas terbaik, kayu kering tanpa
mata kayu, sisi-sisi yang berkerut, lubang-lubang dan tanpa cacat-cacat serius lain serta
telah kering udara selama minimum 3 bulan.
b. Kelembaban
Kelembabab kayu yang digunakan untuk pekerjaan di dalam ruangan harus kurang dari
15 % dan kayu untuk konstruksi kurang dari 20 %.
c. Jenis Kayu.
Jenis kayu sebagai berikut akan digunakan untuk konstruksi dan jenis pekerjaan seperti
di bawah ini :
Penggunaan :
- Kap, gording, jurai
- Lisplank, ruiter, sopi-sopi
- Rangka dan penggantung plapon, list plapon propil (bag. Tepi)
- Kosen pintu/jendela, jalusi
- Rangka pintu/jendela, panil
- Lambrizering, papan
Semua kayu harus disimpan didalam dos beratap agar terlindung dari hujan dan panas
matahari langsung dan semua jenis kayu akan digunakan harus disetujui oleh konsultan
pengawas dan direksi.
d. Ukuran
Kayu yang belum dikerjakan harus mempunyai ukuran lebih besar dari ukuran
digambar , agar kayu yang dibentuk dapat tercapai bentuk serta ukuran esuai gambar –
gambar.
e. Mata Kayu
Permukaan kayu yang dicat diperkenankan mengandung ukuran mata kayu yang keras
pada satu sisi asal diameter rata-rata lebih kecil dari 4 cm, serta tidak melebihi dari
lebar permukaan.
2. Cara Pelaksanaan.
1. Daun pintu / jendela
a. Letak dan bukaan pintu / jendela harus sesuai dengan gambar rencana.
b. Tebal sponing bingkai pintu / jendela harus sesuai dengan gambar detail.
c. Semua sambungan harus diselesaikan dengan baik, sambungan pada lubang harus
diperkuat dengan baji.
d. Sambungan tenon dan mortis harus dilaksanakan dengan baji.
e. Setiap pintu dan jendela harus dipasang pada koen dengan tepat dan diberi toleransi
untuk pengecatan, penyusutan / pemuaian.
f. Bahan dan ukuran daun pintu / jendela sesuai gambar.
g. Hasil akhir.
- Bentuk dan letaknya harus sesuai dengan yang tertera dalam gambar.
- Angker harus dipasang kuat dan kokoh.
- Warna harus rata dan seragam.
- Bersih dan berfungsi dengan baik.
2. Kosen Kayu.
Kerangka kosen harus dibuat dengan sambungan sempurna sehingga dapat menjamin
kekuatan. Kerangka harus dilengkapi dengan angker-angker besi sesuai dengan gambar.
Kosen yang menempel pada kolom yang di cor lebih dahulu diikat dengan sekrup pada
klos-klos. Semua permukaan vertical yang menempel pada dinding atau kolom diberi
alur kapur.
a. Finishing
Semua pintu, jendela dan kosen harus lurus dan rata. Permukaan yang terlihat harus
lurus tanpa cacat dan siap untuk dicat. Bagian-bagian yang menempel pada speci-
speci atau bata, harus dicat minimal dua kali.
b. Perbaikan
Semua pintu dan jendela harus dapat dibuka dengan bebas tapi tidak longgar, tanpa
tersangkut dan semua peralatan besi ada pada tempat yang tepat serta bekerja
dengan baik. Kalau terjadi penyusutan atau pembengkokan atau cacat dalam
sambungan serta pekerjaan kayu sebelum berakhir masa pemeliharaan, maka
pemborong wajib membongkar dan memperbaiki semua kerusakan atas biaya
kontaktor.
3. Dinding Partisi.
Didalam ruangan harus dapat dibuat dinding multipleks 6 mm dengan rangka kayu klas
I (bayam), konstruksi dan ukurannya sesuai dengan gambar.
8. PEKERJAAN ATAP.
1. B a h a n
a. Seng dan bubungannya digunakan Atap Bjls 30 sesuai standar SII yang ditunjuk oleh
konsultan pengawas dan direksi.
b. Pemborong di wajibkan mengajukan contoh-contoh terlebih dahulu untuk disetujui oleh
konsultan pengawas dan direksi.
2. Cara Pemasangan.
a. Atap seng dipasang diatas reng, jarak reng disesuaikan dengan gambar.
b. Bubungan dipasang Diatas nok
Apabila dalam spesifikasi teknis ini tidak disebutkan hal-hal yang dipasang, dibuat disediakan dan
dilaksanakan tetapi dalam pelaksanaan pekerjaan hal ini menjadi bagian yang nyata-nyata
dilaksanakan dan diselesaikan oleh pemborong, maka bagian pekerjaan tersebut harus dianggap telah
dimuat dalam spesifikasi ini dan bukan merupakan pekerjaan tambahan. Sebelum pekerjaan
diserahkan, pemborong diharuskan merawat bangunan, membersihkan dari segala kotoran dan sisa-
sisa bangunan hingga bangunan dapat digunakan atau difungsikan tanpa adanya pembersihan dan siap
diserah terimakan sesuai pertanggungjawaban direksi/ pengawas.
MENEGETAHUI :
KUASA PENGGUNA ANGGARAN
PEMBANGUNAN MINI MARKET
TAHUN ANGGARAN 2009