0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan176 halaman

Evaluasi Drainase Jalan Pramuka Yogyakarta

Tugas akhir ini membahas evaluasi kapasitas saluran drainase di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta. Tujuannya adalah mengetahui kapasitas saluran drainase saat ini dan menganalisis apakah masih memenuhi kriteria desain. Metode penelitian meliputi survei lapangan untuk mengumpulkan data geometri saluran dan curah hujan, serta analisis hidrologi dan hidrolika untuk menghitung debit desain dan kapasitas saluran. Hasilnya digunakan untuk

Diunggah oleh

RIO AZYUWARDI YUSRA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan176 halaman

Evaluasi Drainase Jalan Pramuka Yogyakarta

Tugas akhir ini membahas evaluasi kapasitas saluran drainase di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta. Tujuannya adalah mengetahui kapasitas saluran drainase saat ini dan menganalisis apakah masih memenuhi kriteria desain. Metode penelitian meliputi survei lapangan untuk mengumpulkan data geometri saluran dan curah hujan, serta analisis hidrologi dan hidrolika untuk menghitung debit desain dan kapasitas saluran. Hasilnya digunakan untuk

Diunggah oleh

RIO AZYUWARDI YUSRA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

Halaman Judul
EVALUASI KAPASITAS SALURAN DRAINASE DI JALAN
PRAMUKA KOTA YOGYAKARTA, D.I. YOGYAKARTA
(EVALUATION OF DRAINAGE CAPACITY AT PRAMUKA
STREET, YOGYAKARTA, SPECIAL REGION OF
YOGYAKARTA)

Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Untuk Memenuhi


Persyaratan Memperoleh Derajat Sarjana Teknik Sipil

Ilham Setiawan
15 511 197

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2020

i
TUGAS AKHIR

EVALUASI SALURAN DRAINASE DI JALAN PRAMUKA


KOTA YOGYAKARTA, D.I. YOGYAKARTA
(EVALUATION OF DRAINAGE CAPACITY AT PRAMUKA
STREET, YOGYAKARTA, SPECIAL REGION OF
YOGYAKARTA)

Disusun Oleh

Ilham Setiawan
15511197

Telah diterima sebagai salah satu persyaratan


Untuk memperoleh derajat Sarjana Teknik Sipil

Diuji pada tanggal 10 September 2020

Oleh Dewan Penguji

Pembimbing Penguji I Penguji II

Dwi Astuti Wahyu Sri Amini Yuni Astuti, Dinia Anggraheni S.T.,
Wulan Pratiwi. S.T., Dr. Ir.,M.T. [Link].
M.T.
NIP: 155111301 NIP: 885110101 NIP: 165110105
Halaman Pengesahan

Mengesahkan

Ketua Program Studi Teknik Sipil

Dr. Ir. Sri Amini Yuni Astuti, M.T.


NIK: 885110101

ii
DEDIKASI

Segala puji bagi Allah SWT tuhan semesta alam yang senantiasa
memberikan nikmat dan rahmat yang tiada mampu penulis menghitungnya.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada nabi agung nabi besar
Muhammad SAW serta seluruh keluiarganya dan para sahabatnya.
Dari lubuk hati penulis yang paling dalam, penulis ingin mengucapkan
ribuan terimakasih kepada :
1. Bapak Wawi dan ibu Iskanah serta seluruh keluarga besar penulis yang
senantiasa memberikan dukungan tanpa kenal lelah kepada penulis.
2. Bapak dan ibu dosen yang telah memberikan ilmu yang tak ternilai harganya
serta membimbing penulis hingga mampu menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Serta semua rekan, kolega dan seluruh pihak yang telah membantu penulis
selama ini.
Semoga apa yang penulis sampaikan dalam karya ini bisa menjadi manfaat
baik pada diri penulis sendiri maupun bagi orang lain serta bagi nusa dan bangsa.
Akhir kata penulis hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang tidak mampu penulis sebutkan satu persatu.

iv
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan
segala rahmat dan hidayahnya lah penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang
berjudul Evaluasi Saluran Drainase Di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta, D.I.
Yogyakarta.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini banyak hambatan yang dihadapi oleh
penulis, namun berkat saran, kritik, serta dorongan semangat dari berbagai pihak
alhamdulillah Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. Berkaitan dengan ini, penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Dwi Astuti Wahyu Wulan Pratiwi. S.T., selaku dosen pembimbing Tugas
Akhir, yang telah memberikan banyak ilmu, pengarahan dan dukungan demi
terlaksana dan terselesaikanya penyusunan Tugas Akhir ini.
2. Dr. Ir. Sri Amini Yuni Astuti, M.T, dan Dinia Anggraheni S.T., [Link]. selaku
dosen penguji Tugas Akhir, yang telah memberikan banyak masukan, kritik
maupun saran, dan memberikan evaluasi agar lebih baik di kemudian hari.
3. Ibu Dr. Ir. Sri Amini Yuni Astuti, M.T, selaku Ketua Program Studi Teknik
Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia.
4. Dan seluruh pihak yang telah mendukung terselesaikanya Tugas Akhir ini.
Akhirnya Penulis berharap agar Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi berbagai
pihak yang membacanya.

Yogyakarta, 29 Juni 2020


Penulis

Ilham Setiawan

v
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI iii
DEDIKASI iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN xi
DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN xii
ABSTRAK xiv
ABSTRACT xv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 2
1.5 Batasan Penelitian .................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Tinjauan Umum ........................................................................................ 3
2.2 Penelitian Terdahulu ................................................................................. 3
2.2.1 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Jalan Layang Jombor
Yogyakarta ...................................................................................... 3
2.2.2 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Kecamatan Pasar Kliwon
Kota Surakarta ................................................................................. 4
2.2.3 Penelitian Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase Di Sebagian
Daerah Antara Jalan Kaliurang Dan Sungai Pelang Kecamatan
Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta. .......................................... 5

vi
2.3 Perbandingan Penelitian ........................................................................... 6
BAB III LANDASAN TEORI 8
3.1 Tinjauan Umum ........................................................................................ 8
3.2 Jenis – Jenis Drainase ............................................................................... 9
3.3 Fungsi Saluran Drainase ......................................................................... 10
3.4 Konsep Drainase Perkotaan .................................................................... 12
3.5 Analisis Hidrologi .................................................................................. 12
3.5.1 Daur Hidrologi............................................................................... 13
3.5.2 Daerah Aliran Sungai .................................................................... 14
3.5.3 Curah Hujan Wilayah .................................................................... 15
3.5.4 Curah Hujan Rencana .................................................................... 17
3.5.5 Kala Ulang Hujan .......................................................................... 22
3.5.6 Intensitas Curah Hujan .................................................................. 23
3.5.7 Debit Banjir Rencana .................................................................... 23
3.5.8 Waktu Konsentrasi (tc) .................................................................. 24
3.5.9 Koefisien Run-off........................................................................... 25
3.6 Hidrolika Saluran ................................................................................... 26
BAB IV METODE PENELITIAN 28
4.1 Pengumpulan Data Primer...................................................................... 28
4.2 Pengumpulan Data Primer ..................................................................... 32
4.3 Metode Penelitian Evaluasi Saluran Drainase ........................................ 32
4.4 Bagan Alir Tugas Akhir ......................................................................... 33
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN 35
5.1 Tinjauan Umum ...................................................................................... 35
5.2 Daerah Penelitian dan Arah Aliran ........................................................ 35
5.3 Analisis Debit Banjir Rencana ............................................................... 38
5.3.1 Perhitungan Koefisien Aliran Permukaan dan Luasan Daerah
Tangkapan Air ............................................................................... 38
5.3.2 Analisis Intensitas Hujan (I) .......................................................... 42
5.3.3 Perhitungan Debit Banjir Rencana ................................................ 61
5.4 Analisis Debit Saluran Eksisting ............................................................ 80

vii
5.5 Pembahasan ............................................................................................ 83
5.6 Hasil........................................................................................................ 87
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 88
6.1 Kesimpulan ............................................................................................. 88
6.2 Saran ....................................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA 89
LAMPIRAN 91

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu 7


Tabel 3.1 Pedoman Pemilihan Sebaran 19
Tabel 3.2 Pedoman Pemilihan Sebaran 21
Tabel 3.3 Koefisien Run Off 25
Tabel 3.4 Koefisien Run Off untuk lahan pertanian 26
Tabel 3.5 Koefisien Kekasaran Manning (n) untuk Drainase Perkotaan 27
Tabel 4.1 Tabel Hasil Pembacaan Beda Elevasi melalui Aplikasi Global Mapper
Versi 20 Dibandingkan dengan Data Sekunder 32
Tabel 5.1 Klasifikasi Pada Saluran Drainase 37
Tabel 5.2 Koefisien Aliran Permukaan dan Luasan DAS pada saluran 1 40
Tabel 5.3 Luas Lahan dan Koefisien Limpasan 41
Tabel 5.4 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Santan 43
Tabel 5.5 Data Curah Hujan Harian Maksimum Rerata Stasiun Santan 44
Tabel 5.6 Perhitungan Standar Deviasi 45
Tabel 5.7 Perhitungan Koefisien kemencengan 46
Tabel 5.8 Perhitungan Koefisien kurtosis 47
Tabel 5.9 Pemilihan Distribusi Yang Sesuai Untuk Hujan Harian 48
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Metode Log Pearson III 48
Tabel 5.11 Koefisien Kekerasan Manning (n) pada saluran yang ditinjau 51
Tabel 5.12 Rekapitulasi Pengukuran Saluran yang Masuk pada Data Primer 53
Tabel 5.13 Rekapitulasi Ukuran Saluran yang Masuk pada Data Sekunder 55
Tabel 5.14 Rekapitulasi Perhitungan Kecepatan dan Kemiringan Saluran 56
Tabel 5.15 Rekapitulasi Perhitungan Nilai Waktu Konsentrasi 58
Tabel 5.16 Rekapitulasi Perhitungan Intensitas Hujan pada Saluran Interseptor 60
Tabel 5.17 Rekapitulasi Hitungan Debit Rencana Saluran Interseptor tanpa
Penyatuan 62

ix
Tabel 5.18 Rekapitulasi Hitungan Debit Rencana Saluran Interseptor dengan
Penyatuan 64
Tabel 5.19 Rekapitulasi Hitungan Debit rencana Saluran Collector dengan
Penyatuan 66
Tabel 5.20 Hasil Perhitungan Curah Hujan Maksimum 68
Tabel 5.21 Data Curah Hujan Harian Maksimum Rerata 69
Tabel 5.22 Perhitungan Standar Deviasi 70
Tabel 5.23 Perhitungan Koefisien kemencengan 71
Tabel 5.24 Perhitungan Koefisien kurtosis 71
Tabel 5.25 Pemilihan Distribusi Yang Sesuai Untuk Hujan Harian 73
Tabel 5.26 Distribusi Frekuensi Metode Log Pearson III 73
Tabel 5.27 Rekapitulasi Perhitungan Penggunaan Lahan DAS Kali Belik 77
Tabel 5.28 Nilai Debit Rencana Pada Saluran Conveyor Dengan Penyatuan 80
Tabel 5.29 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Interseptor 81
Tabel 5.30 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Collector 82
Tabel 5.31 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Conveyor 82
Tabel 5.32 Evaluasi Kapasitas Saluran Interseptor 83
Tabel 5.33 Evaluasi Kapasitas Saluran Collector 84
Tabel 5.34 Evaluasi Kapasitas Saluran Conveyor 85
Tabel 5.35 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung Debit
Kala Ulang Pada Saluran Collector 87
Tabel 5.36 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung Debit
Kala Ulang Pada Saluran Conveyor 87
Tabel 5.37 Perbandingan Dimensi Saluran dari Sebelum dan Sesudah Mengalami
Perubahan Dimensi 87

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Posisi Saluran Interseptor 11


Gambar 3.2 Posisi Saluran Collector 11
Gambar 3.3 Posisi Saluran Conveyor 12
Gambar 3.4 Siklus Hidrologi 13
Gambar 3.5 Daerah Aliran Sungai (DAS) 14
Gambar 3.6 Metode Poligon Thiessen 16
Gambar 3.7 Metode isohyet 17
Gambar 4.1 Tampilan Awal Aplikasi Global Mapper Versi 20 28
Gambar 4.2 Memasukkan koordinat saluran ke Aplikasi Global Mapper
Versi 20 29
Gambar 4.3 Hasil dari memasukkan koordinat saluran ke Aplikasi Global Mapper
Versi 20 29
Gambar 4.4 Menu “Connect to Online Data” pada Aplikasi Global Mapper
Versi 20 29
Gambar 4.5 Tampilan Daftar Online Data Source yang Bisa Digunakan pada
Aplikasi Global Mapper Versi 20 30
Gambar 4.6 Hasil dari Penggabungan Aster GDEM dengan Koordinat Letak
Saluran pada Aplikasi Global Mapper. 31
Gambar 4.7 Menu “Path Profile” pada Aplikasi Global Mapper Versi 20 31
Gambar 4.8 Menu “Path Profile” pada Aplikasi Global Mapper Versi 20 31
Gambar 4.9 Bagan Alir Tugas Akhir 34
Gambar 5.1 Lokasi Penelitian 35
Gambar 5.2 Skema dan Arah Aliran Saluran Drainase 36
Gambar 5.3 Luasan Daerah Tangkapan Air 39
Gambar 5.4 Perhitungan Luasan DTA dan Koefisien Aliran Permukaan pada
Inter 1 40
Gambar 5.5 Penentuan Stasiun Hujan Menggunakan Poligon Thiseen 43

xi
Gambar 5.6 Pengukuran Panjang dan Elevasi Saluran Menggunakan Aplikasi
Global Mapper pada Saluran Inter 1 52
Gambar 5.7 Pengukuran Panjang Lintasan Aliran Di Atas Permukaan Lahan (L)
Menggunakan Aplikasi Google Earth pada Saluran Inter 1 52
Gambar 5.8 Konstuksi Saluran Terbuka 53
Gambar 5.9 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Inter 4 63
Gambar 5.10 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Coll 1 65
Gambar 5.11 Skema Percabangan pada Saluran Conveyor 66
Gambar 5.12 Luas dan aliran DAS Kali Belik 67
Gambar 5.13 Mencari Luasan Menggunakan Metode Poligon Thiseen 68
Gambar 5.14 Beda elevasi dan panjang Kali Belik Melalui Aplikasi Global
Mapper 76
Gambar 5.15 Peta Penggunaan Lahan DAS Kali Belik 77
Gambar 5.16 Denah Titik Banjir atau Genangan di Lokasi Penelitian 85

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Harga k untuk Distribusi Log Pearson III 91


Lampiran 2 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2002 92
Lampiran 3 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2002 93
Lampiran 4 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2002 94
Lampiran 5 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2003 95
Lampiran 6 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2003 96
Lampiran 7 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2003 97
Lampiran 8 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2004 98
Lampiran 9 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2004 99
Lampiran 10 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2004 100
Lampiran 11 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2005 101
Lampiran 12 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2005 102
Lampiran 13 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2005 103
Lampiran 14 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2006 104
Lampiran 15 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2006 105
Lampiran 16 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2006 106
Lampiran 17 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2007 107
Lampiran 18 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2007 108
Lampiran 19 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2007 109
Lampiran 20 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2008 110
Lampiran 21 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2008 111
Lampiran 22 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2008 112
Lampiran 23 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2009 113
Lampiran 24 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2009 114
Lampiran 25 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2009 115
Lampiran 26 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010 116
Lampiran 27 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2010 117
Lampiran 28 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2010 118

xiii
Lampiran 29 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010 119
Lampiran 30 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2011 120
Lampiran 31 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2011 121
Lampiran 32 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2011 122
Lampiran 33 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2012 123
Lampiran 34 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2012 124
Lampiran 35 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2012 125
Lampiran 36 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2013 126
Lampiran 37 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2013 127
Lampiran 38 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2013 128
Lampiran 39 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2014 129
Lampiran 40 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2014 130
Lampiran 41 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2014 131
Lampiran 42 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2015 132
Lampiran 43 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2015 133
Lampiran 44 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2015 134
Lampiran 45 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2016 135
Lampiran 46 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2016 136
Lampiran 47 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2016 137
Lampiran 48 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2017 138
Lampiran 49 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2017 139
Lampiran 50 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2017 140
Lampiran 51 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1 1/2 141
Lampiran 52 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1 2/2 142
Lampiran 53 Penampang Melintang Saluran Conveyor 1 143
Lampiran 54 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 1/4 144
Lampiran 55 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 2/4 145
Lampiran 56 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 3/4 146
Lampiran 57 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 4/4 147
Lampiran 58 Penampang Melintang Saluran Conveyor 2 148
Lampiran 59 Skema Penyatuan Saluran Interseptor 149

xiv
Lampiran 60 Skema Penyatuan Saluran Collector 150
Lampiran 61 Skema Penyatuan Saluran Conveyor 151
Lampiran 62 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 1/5 152
Lampiran 63 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 2/5 153
Lampiran 64 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 3/5 154
Lampiran 65 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 4/5 155
Lampiran 66 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 5/5 156

xv
DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN

Notasi :
𝑑𝑠 = Deviasi standar curah hujan

𝑋 = Nilai rata-rata curah hujan (mm)


Cs = Koefisien skewness
Ck = Koefisien kurtosis
Cv = Koefisien variasi
𝐼 = Intensitas curah hujan untuk lama hujan t (mm/jam)
t = Lamanya curah hujan (jam)
𝑅24 = Curah hujan maksimum selama 24 jam (mm)
Qp = Debit Banjir Rencana (m3/s)
Qc = Debit Banjir Kapasitas Eksisting (m3/s)
C = Koefisien run-off
A = Luas daerah tangkapan air (ha)
n = Angka kekerasan Manning
V = Kecepatan aliran dalam saluran drainase (m/s)
R = Radius hidrolis (m)
∆ℎ = Beda elevasi (m)
𝐿𝑠 = Panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m)
L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m)
S = Kemiringan saluran drainase
A = luas penampang basah saluran drainase (m2)

P = keliling basah saluran drainase (m)

Singkatan :
DTA = Daerah Tangkapan Air
DAS = Daerah Aliran Sungai

xvi
ABSTRAK

Beberapa lokasi di Yogyakarta pada tahun 2017 terkena banjir atau genangan akibat hujan
deras yang mengguyur selama beberapa jam. Lokasi yang terdampak antara lain Jalan Pramuka,
Jalan Gambiran, Jalan Tegalgendu dan Jalan Imogiri Timur. Akibat dari hujan deras tersebut,
menyebabkan Sungai Manunggal atau Kali Mambu di sekitar Jalan Pramuka meluap. Kerugian
akibat banjir atau genangan ini membuat sejumlah kendaraan menjadi macet, rumah dan pertokoan
warga terendam banjir atau genangan. Maka dari itu, kegiatan mengenai evaluasi kapasitas saluran
drainase di Jalan Pramuka, Yogyakarta, perlu dilakukan untuk dapat diketahui apakah kapasitas di
kawasan tersebut memadai dalam menampung debit air hujan. Dari hasil evaluasi, selanjutnya dapat
digunakan sebagai acuan dalam menyelesaikan masalah yang timbul di kawasan Jalan Pramuka
tersebut.
Evaluasi kapasitas saluran dilakukan dengan membandingkan antara debit rencana dengan
debit saluran eksisting. Saluran terkategori aman, ketika hasil debit kapasitas saluran eksisting lebih
besar sama dengan debit rencana. Sebaliknya, saluran terkategori tidak mampu menampung debit
air dan mengakibatkan banjir atau genangan ketika debit kapasitas saluran eksisting lebih kecil
daripada debit rencana maka. Pada analisis ini, debit rencana diperoleh menggunakan analisis debit
banjir kala ulang sesuai klasifikasi saluran yang ditinjau dengan metode rasional. Serta untuk analisis
kapasitas drainase eksisting menggunakan persamaan Manning.
Hasil dari evaluasi didapatkan bahwa terdapat 4 saluran yang tidak dapat menampung debit
rencana. Saluran Coll 2 dan 3 tidak dapat menampung debit rencana dengan kala ulang 2 dan 5
tahun. Saluran Conve 1 dan 2 tidak dapat menampung debit rencana dengan kala ulang 2,5 dan 10
tahun. Hasil desain ulang untuk saluran yang tidak mampu menampung debit rencana kala ulang
adalah penambahan ketinggian saluran Coll 2 sebesar 120 cm, penambahan ketinggian saluran Coll
3 sebesar 170 cm, penambahan ketinggian saluran Conve 1 sebesar 310 cm dan penambahan
ketinggian Conve 2 sebesar 140 cm.

Kata kunci : Drainase Perkotaan, Debit rencana, Kapasitas saluran.

xvii
ABSTRACT

Several places in Yogyakarta in the year of 2017 have been flooded due to the heavy rain
that occurred for several hours. The affected locations are Pramuka Street, Gambiran Street,
Tegalgendu Street, and East Imogiri Street. It causes traffics around the affected location along with
flooded housings and shopping complexes. Therefore, this drainage evaluation in Pramuka Street,
Yogyakarta needs to be done to find out the capacity of drainage in the affected location in terms of
contained rainwater. The result of the evaluation can be used as a reference to solve the problem
that eventually happens in Pramuka Street.
Evaluation of drainage capacity is done by comparing the planned discharge with the
existing channel discharge. Categorized channels are safe when the resulting discharge capacity of
the existing channel is greater than the planned discharge. Conversely, categorized channels are
not able to accommodate the flow of water and cause flooding or inundation when the discharge
capacity of the existing channel is smaller than the planned discharge. In this analysis, the planned
discharge is obtained using a flood discharge analysis according to the channel classification
reviewed by the rational method. And for the analysis of the existing drainage capacity using the
Manning equation.
The results of the evaluation found that there are 4 channels that can not accommodate the
discharge plan. Coll 2 and 3 Channels cannot accommodate plan discharges with a 2 and 5 year
return period. Conve 1 and 2 channel cannot accommodate planned discharges with 2.5 and 10
years return periods. The redesign results for the channel that is not able to accommodate the plan
discharge are the addition of the height of the Coll 2 channel by 120 cm, the addition of the height
of the Coll 3 channel by 170 cm, the addition of the height of the Conve 1 channel by 310 cm and
the addition of the height of the Conve 2 by 140 cm.

Keywords: Urban Drainage, Dischage, Capacity of Canal

xviii
1
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Drainase merupakan sebuah sistem yang dibuat untuk menangani persoalan
kelebihan air yang berada di atas permukaan tanah maupun yang berada di bahwa
permukaan tanah. Kelebihan air dapat disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi
atau akibat dari durasi hujan yang lama. Secara umum, drainase didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang usaha untuk mengalirkan air yang
berlebihan pada suatu kawasan (Wesli,2008).
Beberapa lokasi di Yogyakarta pada tahun 2017 terkena banjir atau genangan
akibat hujan deras yang mengguyur selama beberapa jam. Lokasi yang terdampak
antara lain Jalan Pramuka, Jalan Gambiran, Jalan Tegalgendu dan Jalan Imogiri
Timur (Kurniawan, 2017). Akibat dari hujan deras tersebut, menyebabkan Sungai
Manunggal atau Kali Mambu di sekitar Jalan Pramuka meluap. Kerugian akibat
banjir atau genangan ini membuat sejumlah kendaraan menjadi macet, rumah dan
pertokoan warga terendam banjir atau genangan. Hal tersebut dikarenakan di sekitar
Jalan Pramuka terdapat sekolah, universitas, pemukiman padat penduduk,
pertokoan dan perkantoran yang memadati Jalan Pramuka. Dampak lain akibat
banjir atau genangan ini membuat akses dan aktivitas warga terhambat.
Maka dari itu, kegiatan mengenai evaluasi saluran drainase di Jalan Pramuka,
Yogyakarta, perlu dilakukan untuk dapat diketahui apakah kapasitas di kawasan
tersebut memadai dalam menampung debit air hujan. Dari hasil evaluasi,
selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan dalam menyelesaikan masalah yang
timbul di kawasan Jalan Pramuka tersebut.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka rumusan masalah
pada tugas akhir dengan judul Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase Di Jalan
Pramuka Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta adalah sebagai berikut.
1. Apakah kapasitas saluran drainase Jalan Pramuka memadai untuk menampung
debit rencana.
2. Bagaimana desain saluran drainase yang memadai sehingga mampu untuk
menampung debit rencana.

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan, maka tujuan
penelitian pada tugas akhir dengan judul Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase Di
Jalan Pramuka Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui apakah kapasitas saluran drainase Jalan Pramuka memadai untuk
menampung debit rencana.
2. Mengetahui desain saluran drainase yang memadai sehingga mampu untuk
menampung debit rencana.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitan dari tugas akhir dengan judul Evaluasi Kapasitas Saluran
Drainase Di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta adalah didapatkan
hasil kondisi dan solusi saluran drainase sehingga masalah genangan dapat
terselesaikan.

1.5 Batasan Penelitian


Batasan penelitian ini dimaksudkan agar penelitian tepat dan tidak
menyimpang dari tujuan penelitian. Adapun batasan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Studi kasus dilakukan di Jalan Pramuka, Yogyakarta.
2. Data yang digunakan adalah data curah hujan Stasiun mulai dari tahun 2002-
2017.
3. Air limbah tidak masuk ke dalam saluran.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum


Tinjauan pustaka atau kajian pustaka (literature review) merupakan sebuah
aktivitas untuk meninjau atau mengkaji kembali berbagai literatur yang telah
dipublikasikan oleh akademisi atau peneliti lain sebelumnya terkait topik yang akan
diteliti. Dalam rangkaian proses penelitian, baik sebelum, ketika atau setelah
melakukan penelitian, peneliti biasanya diminta untuk menyusun tinjauan pustaka
umumnya sebagai bagian pendahuluan dari usulan penelitian ataupun laporan hasil
penelitian. Tinjauan pustaka sangat penting dalam proses penelitian ataupun
perencanaan karena tinjauan pustaka dapat memberikan gambaran dan pengetahuan
dalam mempertegas perencanaanya.
Berdasarkan dari bab sebelumnya telah dibahas mengenai informasi umum
tentang penelitian evaluasi kapasitas saluran drainase di Jalan Pramuka, Kota
Yogyakarta, D.I. Yogyakarta. Bab Tinjauan Pustaka ini akan menguraikan secara
menyeluruh mengenai penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
2.2 Penelitian Terdahulu
Perencanaan ini menggunakan tinjauan pustaka dari perencanaan
sebelumnya seperti karya ilmiah yang dipublikasikan melalui jurnal, maupun
skripsi terkait dengan penelitian evaluasi kapasitas saluran drainase. Penelitian
tersebut akan dibahas pada sub-bab berikut.
2.2.1 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Jalan Layang Jombor Yogyakarta
Penelitian dilakukan oleh Purnamasari (2015). Lokasi penelitian tepatnya
pada Jalan Layang Jombor, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap drainase eksisting jalan
layang dengan cara membandingkan debit rencana dan debit kapasitas saluran
drainase.
Analisis dilakukan berdasarkan data hujan harian Stasiun Gemawang tahun
2001-2014. Berdasarkan hasil uji kecocokan analisis frekuensi, distribusi

3
4

probabilitas yang sesuai adalah distribusi Log Pearson III. Intensitas hujan
diperoleh dari hitungan dengan metode Van Breen terhadap curah hujan harian
periode ulang 10 tahun dan waktu konsentrasi di daerah pengaliran. Debit saluran
drainase dihitung menggunakan metode Rasional dan diameter saluran drainase
diperoleh dari rumus Manning.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit maksimum yang harus
ditampung dan dikendalikan oleh saluran drainase jalan layang Jombor dari hasil
perhitungan dan analisis adalah 0,01323 m3/detik untuk arah Gamping dan 0,01321
m3/detik untuk arah Magelang. Perhitungan juga dilakukan pada saluran drainase
bawah jalan layang pada salah satu pipa dan menganggap hasil perhitungan sama
untuk pipa yang lain. Untuk kapasitas saluran drainase bawah jalan layang juga
dihasilkan diameter yang sama dengan diameter saluran drainase eksisting, yaitu 4
inci. Saluran drainase jalan layang eksistring dapat dikatakan mampu dan aman
dalam menampung debit rencana sebesar 0,0132 m3/detik dari perhitungan yang
telah dilakukan.
2.2.2 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Kecamatan Pasar Kliwon Kota
Surakarta
Perencanaan ini dilakukan oleh Candra (2014). Kecamatan Pasar Kliwon
adalah sebuah kecamatan yang terletak di tenggara Kota Surakarta. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kondisi sistem drainase dan mengevaluasi kapasitas
saluran drainase. Data yang digunakan adalah curah hujan, jumlah penduduk,
dimensi saluran yang ada, tata guna lahan, genangan dan peta lokasi.
Metode yang digunakan dalam perencanaan adalah metode deskriptif
evaluatif. Metode ini diperoleh dengan cara mengevaluasi kondisi obyektif atau apa
adanya pada suatu keadaan yang sedang menjadi obyek. Data kemudian dianalisis
untuk memperoleh debit rencana dan kapasitas saluran drainase. Debit rencana
dihitung dengan menggunakan rumus rasional dan kapasitas saluran dihitung
dengan rumus kontinuitas dan manning.
Hasil yang diperoleh diketahui bahwa terdapat 2 bagian saluran yang terjadi
luapan air pada debit rencana periode ulang 2 tahun. Untuk mengatasi keadaan
tersebut direncanakan perbaikan saluran drainase baru yang dapat menampung
5

debit air yang mengalir pada sungai. Analisis rencana anggaran biaya saluran
drainase sebesar Rp. 232.474.000,00.

2.2.3 Penelitian Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase Di Sebagian Daerah Antara


Jalan Kaliurang Dan Sungai Pelang Kecamatan Depok Kabupaten Sleman
Yogyakarta.
Penelitian dilakukan oleh Hijayati (2013). Lokasi penelitian mencakup
sebagian kecil Desa Condongcatur dan Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya antara Jalan Kaliurang
dan Sungai Pelang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab genangan
air yang sering terjadi pada kawasan penelitian pada musim hujan, sehingga
evaluasi kapasitas saluran drainase sangat penting dilakukan pada saluran drainase
tersebut agar dilakukan penanganan yang tepat nantinya dalam mengatasi masalah
banjir yang akan muncul.
Metode yang digunakan untuk menentukan kapasitas saluran drainase
eksisting adalah metode Slope Area. Intensitas hujan menggunakan metode Talbot.
Distribusi sebaran ditentukan dengan melihat analisis data statistik sebelumnya
maka digunakan metode Distribusi Log Pearson III. Hujan rencana dihitung
menggunakan metode Rasional untuk menentukan debit puncak pada perencanaan
drainase dan gorong–gorong. Kemampuan saluran drainase dalam mengalirkan air
dengan debit tertentu dapat diketahui dengan membandingkan kapasitas saluran
drainase eksisting dengan debit rencana maksimum dari penggunaan rumus
Rasional pada kala ulang 2 tahun, 5 tahun dan 10 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran 1 hanya mampu menampung
debit rencana kala ulang 2 tahun. Namun pada kala ulang 5 dan 10 tahun saluran 1
tidak mampu menampung debit rencana, saluran 2 tidak mampu menampung debit
rencana kala ulang 2, 5 dan 10 tahun. Saluran 3 hanya mampu menampung debit
rencana pada kala ulang 2 dan 5 tahun, dan saluran 4 dengan kapasitas saluran yang
cukup besar 16,21 m3/s mampu menampung debit rencana kala ulang 2, 5 dan 10
tahun. Jadi, dari ke empat saluran drainase hanya saluran ke 4 yang mampu
menampung debit rencana kala ulang 2, 5 dan 10 tahun. Penggal saluran drainase
1,2 dan 3 hanya mampu menampung debit rencana kala ulang kurang dari 10 tahun.
6

2.3 Perbandingan Penelitian


Berdasarkan dari perencanaan sebelumnya, yang membedakan perencanaan
terdahulu dengan perencanaan penulis adalah lokasi yang akan ditinjau yaitu Jalan
Pramuka Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta. Hal tersebut membuat perbedaan
topografi, hidrologi, geologi, klimatologi, dan berbagai macam faktor lainnya yang
ada disekitar wilayah yang akan diteliti. Adapun perbedaan dan persamaan antara
perencanaan terdahulu dengan perencanaan sekarang telah dirangkum dalam
Tabel 2.1.
7
Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu

Purnamasari Candra Hijayati Setiawan


Peneliti
(2015) (2014) (2013) (2018)
Jenis Jurnal Jurnal/Tugas Akhir Jurnal / Tugas Akhir Jurnal / Tugas Akhir
Evaluasi Kapasitas
Saluran Drainase di
Evaluasi Kapasitas
Evaluasi Saluran Penelitian Evaluasi Sebagian Daerah
Saluran Drainase Di
Drainase Jalan Sistem Drainase Antara Jalan Kaliurang
Judul Jalan Pramuka, Kota
Layang Jombor Kecamatan Pasar dan Sungai Pelang
Yogyakarta, D.I.
Yogyakarta Kliwon Kota Surakarta Kcamatan Depok
Yogyakarta
Kabupaten Sleman
Yogyakarta
Kecamatan Depok Kecamatan Depok
Kecamatan Pasar Kecamatan Umbulharjo
Lokasi Kabupaten Sleman Kabupan Sleman
Kliwon Kota Surakarta Kota Yogyakarta
Yogyakarta Yogyakarta
Intensitas Hujan
Maksimum Kala 10 Tahun 2 Tahun 2,5 dan 10 tahun 2,5 dan 10 tahun
Ulang
Metode
Gambel dan Log Person
Distribusi Log Person III Log Person III Log Person III
III
Sebaran
Uji Distribusi Chi-Kuadrat dan
- - -
Sebaran Smirnov Kolmogorof
Debit Rencana Metode Rasional Metode Rasional Metode Rasional Metode Rasional

7
8

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Tinjauan Umum


Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di bawah
tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat manusia. Dalam Bahasa
Indonesia, drainase bisa merujuk pada parit di permukaan tanah atau gorong –
gorong dibawah tanah. Drainase berperan penting untuk mengatur suplai air demi
pencegahan banjir. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian
bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air
dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.
Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam
kaitannya dengan sanitasi (Suripin,2004).
Sistem jaringan drainase perkotaan umumnya menurut Hasmar (2011)
dibagi atas 2 bagian, sebagai berikut.
1. Sistem Drainase Makro
Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan
mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment area).
Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem
saluran pembuangan utama (Major system) atau drainase primer. Sistem
jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran
drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase
makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10
tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam
perencanaan sistem drainase ini.
2. Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap
drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan
hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro
adalah saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar

8
9

bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya


dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar.

3.2 Jenis – Jenis Drainase


Drainase dibedakan menjadi beberapa bagian menurut Hasmar (2011)
antara lain sebagai berikut.
1. Menurut Sejarah Terbentuknya
a. Drainase alamiah (Natural Drainage)
Drainase alamiah adalah sistem drainase yang terbentuk secara
alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia.
b. Drainase buatan (Artificial Drainage)
Drainase buatan adalah sistem drainase yang dibentuk berdasarkan
analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit akibat hujan, dan
dimensi saluran.
2. Menurut Letak Saluran
a. Drainase permukaan tanah (Surface Drainage)
Drainase permukaan tanah adalah saluran drainase yang berada di
atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan
permukaan. Analisa alirannya merupakan analisa open channel
flow.
b. Drainase bawah tanah (Sub Surface Drainage)
Drainase bawah tanah adalah saluran drainase yang bertujuan
mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah
permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan-alasan tertentu.
Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik, tuntutan fungsi
permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di
permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang,
taman, dan lain-lain.
10

3. Menurut Konstruksi
a. Saluran Terbuka
Saluran terbuka adalah sistem saluran yang biasanya
direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan
(sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi
sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka
ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi
saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton,
pasangan batu (masonri) ataupun dengan pasangan bata.
b. Saluran Tertutup
Saluran tertutup adalah saluran untuk air kotor yang mengganggu
kesehatan lingkungan. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah
perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi
seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.
4. Menurut fungsi
a. Single Purpose
Single purpose adalah saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis
air buangan saja.
b. Multi Purpose
Multi purpose adalah saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa
jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.

3.3 Fungsi Saluran Drainase


Saluran drainase digunakan dalam sistem drainase sebagai sarana
pengaliran air yang terdiri dari saluran interseptor, collector dan conveyor. Menurut
Wesli (2008) masing-masing saluran memiliki fungsi yang berbeda, antara lain
sebagai berikut.
1. Saluran Interseptor
Saluran interseptor adalah saluran yang berfungsi sebagai pencegah
terjadinya pembebanan aliran dari suatu daerah terhadap daerah yang
lain di bawahnya. Saluran ini biasanya dibangun dan diletakkan pada
11

bagian sejajar dengan kontur atau garis ketinggian topografi. Outlet dari
saluran ini biasanya berada pada saluran collector atau conveyor atau
langsung pada saluran alamiah/sungai.

Gambar 3.1 Posisi Saluran Interseptor


(Sumber : Wesli, 2008)
2. Saluran Collector
Saluran collector berfungsi sebagai pengumpulan aliran dari saluran
drainase yang lebih kecil, misalnya saluran interseptor. Outlet saluran
ini berada pada saluran conveyor atau langsung ke sungai. Letak saluran
collector ini di bagian terendah lembah dari suatu daerah sehingga
secara efektif dapat berfungsi sebagai pengumpul dari anak cabang
saluran yang ada.

Gambar 3.2 Posisi Saluran Collector


(Sumber : Wesli, 2008)
12

3. Saluran Conveyor
Saluran conveyor adalah saluran yang berfungsi sebagai saluran
pembawa seluruh air buangan dari suatu daerah ke lokasi pembuang,
misalnya ke sungai tanpa membahayakan daerah yang dilaluinya.
Sebagai contoh saluran/kanal banjir atau saluran bypass yang bekerja
khusus hanya mengalirkan air secara cepat sampai ke lokasi
pembuangan. Letaknya boleh seperti saluran collector atau saluran
interseptor.

Gambar 3.3 Posisi Saluran Conveyor


(Sumber : Wesli, 2008)
3.4 Konsep Drainase Perkotaan
Drainase perkotaan melayani pembuangan kelebihan air pada suatu kota
dengan cara mengalirkannya melalui permukaan tanah (surface drainage) atau
lewat di bawah permukaan tanah (sub surface drainage), untuk dibuang ke
sungai, laut, atau danau. Kelebihan air tersebut bisa berupa air hujan, air limbah
domestik maupun air limbah industri. Oleh karena itu, drainase perkotaan harus
terpadu dengan sanitasi, sampah, dan pengendalian banjir kota (Notodiharjo, dkk.,
1998).

3.5 Analisis Hidrologi


Hidrologi adalah suatu ilmu tentang kehadiran dan gerakan air di alam kita
ini. Secara khusus dalam buku Hidrologi Teknik (Soemarto, 1999) hidrologi
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sistem kejadian air di atas, pada
permukaan, dan di dalam tanah. Definisi tersebut terbatas pada hidrologi rekayasa.
13

Secara luas hidrologi meliputi pula berbagai bentuk air, termasuk transformasi
antara keadaan cair, padat, dan gas dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan
tanah. Di dalamnya tercakup pula air laut yang merupakan sumber dan
penyimpanan air yang mengaktifkan kehidupan di planet bumi ini (Soemarto,1999).
Analisis hidrologi dilakukan untuk mendapatkan karakteristik hidrologi dan
meteorologi daerah aliran sungai. Tujuannya adalah untuk mengetahui karakteristik
hujan, debit air yang ekstrim maupun yang wajar yang akan digunakan sebagai
dasar analisis selanjutnya dalam pelaksanaan detail desain.
3.5.1 Daur Hidrologi
Daur hidrologi adalah proses dimana bergeraknya air dari bumi menuju
atmosfir dan kemudian kembali lagi ke bumi, yang berlangsung secara terus
menerus (Triatmojdo,2008).

Gambar 3.4 Siklus Hidrologi


(Sumber : Triatmodjo, 2008)
Berdasarkan gambar di atas, air laut menguap karena radiasi matahari
menjadi awan kemudian, awan yang terjadi oleh penguapan air bergerak di atas
daratan karena tertiup angin. Presipitasi yang terjadi karena adanya tabrakan
antara butir-butir uap air akibat desakan angin, dapat berbentuk hujan dan salju.
Setelah jatuh ke permukaan tanah, akan menimbulkan limpasan (run off) yang
mengalir kembali ke laut. Dalam usahanya untuk mengalir kembali ke laut beberapa
diantaranya masuk ke dalam tanah (infiltration) dan bergerak terus ke bawah
14

(perkolasi) ke dalam daerah jenuh (saturated zone) yang terdapat di bawah


permukaan air tanah atau yang juga dinamakan permukaan freatik. Air dalam
daerah ini bergerak perlahan-lahan melewati akuifer masuk ke sungai atau
kadang-kadang langsung masuk ke laut.
Air yang masuk ke dalam tanah (infiltration) memberi hidup kepada
tumbuhan namun ada diantaranya naik ke atas lewat akuifer diserap akar dan
batangnya, sehingga terjadi transpirasi, yaitu evaporasi (penguapan) lewat
tumbuh-tumbuhan melalui bagian bawah daun (stomata). Air tertahan di
permukaan tanah (surface detention) sebagian besar mengalir masuk ke sungai-
sungai sebagai limpasan permukaan (surface run off) ke dalam palung sungai.
3.5.2 Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi oleh punggung-
punggung gunung/pegunungan dimana air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan
mengalir menuju sungai utama pada suatu titik/stasiun yang ditinjau. DAS
ditentukan dengan menggunakan peta topografi yang dilengkapi dengan garis- garis
kontur. Garis-garis kontur dipelajari untuk menentukan arah dari limpasan
permukaaan. Limpasan berasal dari titik-titik tertinggi dan bergerak menuju titik-
titik yang lebih rendah dalam arah tegak lurus dengan garis- garis kontur. Daerah
yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi adalah DAS
(Triatmodjo, 2008).

Gambar 3.5 Daerah Aliran Sungai (DAS)


(Sumber : Triatmodjo, 2008)
15

3.5.3 Curah Hujan Wilayah


Data curah hujan dan debit merupakan data yang paling fundamental
dalam evaluasi saluran drainase. Ketetapan dalam memilih lokasi dan peralatan
baik curah hujan maupun debit merupakan faktor yang menentukan kualitas data
yang diperoleh. Analisis data hujan dimaksudkan untuk mendapatkan besaran curah
hujan dan analisis statistik yang diperhitungkan dalam perhitungan debit banjir
rencana. Data curah hujan yang dipakai untuk perhitungan debit banjir adalah hujan
yang terjadi pada daerah aliran sungai pada waktu yang sama. Daerah
tangkapan pada saluran drainase mikro relatif sempit, sehingga data curah hujan
layak diwakili oleh stasiun hujan yang terekat/paling berpengaruh terhadap daerah
tangkapan air tersebut.
Dalam menentukan hujan rata-rata pada daerah tersebut dapat dilakukan
perhitungan dengan 3 (tiga) metode, yaitu sebagai berikut.
a. Metode rata-rata aljabar
Metode ini adalah yang paling sederhana untuk menghitung hujan rata-rata
pada suatu daerah. Pengukuran yang di lakukan di beberapa stasiun dalam waktu
yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian di bagi dengan jumlah stasiun. Stasiun
hujan yang digunakan dalam hitungan biasanya adalah yang berada di dalam DAS.
Metode ini biasanya digunakan untuk daerah yang datar, dengan jumlah pos curah
hujan yang cukup banyak dan dengan anggapan bahwa curah hujan didaerah
tersebut cenderung bersifat seragam (uniform distrbution).
𝑑1 +𝑑2 +…+𝑑𝑛 𝑑𝑛𝑖
𝑑= = ∑ni=1 (3.1)
n n

dengan :
d = curah hujan rata-rata DAS (mm)
d1, d2, dn = curah hujan pada setiap stasiun hujan (mm)
n = banyaknya stasiun hujan
b. Metode poligon Thiessen
Digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak
merata dengan asumsi bahwa variasi hujan antara stasiun hujan yang satu dengan
yang lainnya adalah linier. Metode ini menganggap bahwa setiap stasiun hujan
16

dalam suatu daerah mempunyai luas pengaruh tertentu dan luas tersebut merupakan
faktor koreksi bagi hujan stasiun menjadi hujan daerah yang bersangkutan. Caranya
adalah dengan memplot letak stasiun-stasiun curah hujan ke dalam gambar DAS
yang bersangkutan. Kemudian dibuat garis penghubung di antara masing-masing
stasiun dan ditarik garis sumbu tegak lurus. Curah hujan daerah metode poligon
Thiessen dihitung dengan Persamaan 3.2 berikut.

𝐴1 𝑑1 +𝐴2 𝑑2 +…+𝐴𝑛 𝑑𝑛 𝐴1 ×𝑑1


𝑑= = ∑ni=1 (3.2)
𝐴1 +𝐴2 +..+𝐴𝑛 𝐴1

𝑑 = curah hujan daerah (mm),


A1-An = luas daerah pengaruh tiap-tiap stasiun (km2), dan
d1-dn = curah hujan yang tercatat di stasiun (mm)

Contoh gambar polygon Thiessen dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut:

Gambar 3.2 Poligon Thiessen


GambarHidrologi
(Sumber: 3.6 MetodeTerapan,
Poligon Thiessen
Bambang Triadmojo)
(Sumber : Triatmodjo, 2008)
c. Metode isohyet
Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman
hujan yang sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah
di antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rata-rata dari kedua
garis Isohyet tersebut.
Metode Isohyet merupakan cara paling teliti untuk menghitung kedalaman
hujan rata-rata di suatu daerah, pada metode ini stasiun hujan harus banyak dan
17

tersebar merata, metode Isohyet membutuhkan pekerjaan dan perhatian yang lebih
banyak dibanding dua metode lainnya.

Gambar 3.7 Metode isohyet


(Sumber : Triatmodjo, 2008)
3.5.4 Curah Hujan Rencana
Perhitungan curah hujan rencana digunakan untuk meramalkan besarnya
hujan dengan periode ulang tertentu (Soewarno, 1991). Berdasarkan curah hujan
rencana dapat dicari besarnya intesitas hujan (analisis frekuensi) yang digunakan
untuk mencari debit banjir rencana. Analisis frekuensi ini dilakukan dengan
menggunakan sebaran kemungkinan teori probability distribution dan yang biasa
digunakan adalah sebaran Gumbel tipe I, sebaran Log Pearson tipe III, sebaran
Normal dan sebaran Log Normal. Secara sistematis metode analisis frekuensi
perhitungan hujan rencana ini dilakukan secara berurutan sebagai berikut.
1. Pemilihan Parameter Statistik
a. Nilai Rata-Rata
Parameter yang digunakan dalam perhitungan analisis frekuensi
meliputi parameter nilai rata-rata (𝑋), standar deviasi (dS), koefisien
variasi (Cv), koefisien kemiringan (Cs) dan koefisien kurtoris (Ck).
Perhitungan parameter tersebut didasarkan pada data catatan tinggi
hujan harian rata-rata maksimum 20 tahun terakhir.
Nilai Rata-rata (𝑋), rumusnya adalah:
1 𝑛
𝑋= ∑ 𝑥
𝑛 𝑖=1 𝑖
(3.3)
dengan :
18

(𝑋) = nilai rata-rata curah hujan (mm),


xi = curah hujan rencana tahunan (mm), dan
n = jumlah data.
b. Deviasi Standar
Ukuran sebaran yang paling banyak digunakan adalah deviasi
standar. Apabila penyebaran sangat besar terhadap nilai rata-rata
maka nilai ds akan besar, akan tetapi apabila penyebaran data sangat
kecil terhadap nilai rata-rata maka nilai ds akan kecil. Jika
dirumuskan dalam suatu persamaan adalah sebagi berikut
(Soewarno, 1991) :
∑(𝑋𝑖−𝑋)2
𝑑𝑠 = √ (3.4)
𝑛−1

dengan:
𝑑𝑠 = deviasi standar
c. Koefisien Variasi
Koefisien variasi (coefficient of variation) adalah nilai perbandingan
antara standar deviasi dengan nilai rata-rata dari suatu sebaran.
Koefisien variasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
(Soewarno, 1991) :
ds
𝑐𝑣 = (3.5)
𝑋

dengan:

Cv = koefisien variasi curah hujan,


ds = deviasi standar curah hujan, dan
𝑋 = nilai rata-rata curah hujan.
d. Koefisien Kemencengan
Koefisien kemencengan (coefficient of skewness) adalah suatu nilai
yang menunjukkan derajat ketidaksimetrisan (assymetry) dari suatu
bentuk distribusi. Jika dirumuskan dalam suatu persamaan adalah
sebagai berikut (Soewarno, 1991) :
3
𝑛 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑠 = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑑𝑠 3
(3.6)
19

dengan:
Cs = koefisien skewness,
𝑛 = jumlah data,
𝑥𝑖 = data hujan atau debit ke-I, dan
𝑋 = nilai rata - rata dari data sampel curah hujan.
4
𝑛2 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑘 = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑑𝑠 4
(3.7)

dengan:
𝑐𝑘 = koefisien Kurtosis,
𝑥𝑖 = nilai varian ke I,
𝑋 = nilai rata-rata dari data sampel curah hujan,
𝑛 = jumlah data curah hujan, dan
𝑑𝑠 = standar deviasi dari sampel curah hujan.
2. Pemilihan Jenis Distribusi Sebaran
Masing-masing sebaran memiliki sifat-sifat khas sehingga harus
diuji kesesuaiannya dengan sifat statistik masing-masing sebaran tersebut
pemilihan sebaran yang tidak benar dapat mengundang kesalahan perkiraan
yang cukup besar. Pengambilan sebaran secara sembarang tanpa pengujian
data hidrologi sangat tidak dianjurkan. Penentuan jenis sebaran yang akan
digunakan untuk analisis frekuensi dapat dipakai beberapa cara sebagai
berikut.
Tabel 3.1 Pedoman Pemilihan Sebaran
No Distibusi Persyaratan
Cs ≈ 0
1 Normal
Ck ≈ 3
Cs = Cv3 + 3Cv
2 Log Normal
Ck = Cv8 + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3
Cs = 1,14
3 Gumbel
Ck = 5,4
4 Log Pearson III Selain dari data di atas
Sumber : Triatmodjo (2008)
20

Distribusi data dapat ditentukan menggunakan tabel parameter


statistik (Triatmodjo, 2008). Distribusi yang dapat digunakan ada
persyaratannya, persyaratan yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Distribusi Normal
Persamaan yang digunakan dalam distribusi ini adalah:
2
1 𝑧 𝑧
F(z) = ∫ 𝑒2 (3.8)
√2𝜋 ∞

dengan:
F(z) = probabilitas kumulatif distribusi normal,
π = rata-rata dari nilai x, dan
z = faktor frekuensi dari distribusi normal.
b. Distribusi Log Normal
Ada 2 cara perhitungan distibusi gumbel, yaitu dengan fungsi
densitas kumulatif dan tabel.
Rumus fungsi densitas kumulatif yaitu :
Xt = u + α yt (3.9)
√6𝛿
α = (3.10)
𝜋

u = × – 0,5772 α (3.11)
𝑇
yt = -ln [ln(𝑇−1)] (3.12)

Atau dengan tabel, persamaan dasarnya adalah :


𝑦𝑡−𝑦𝑛
Xt = x+ 𝑑𝑠 (3.13)
𝜎𝑛

dengan :
Xt = nilai curah hujan rencana dengan periode T,
X = nilai rata-rata,
yt = faktor reduksi gumbel (tabel),
T = periode ulang,
u = modus dari distribusi,
ds = deviasi standar,
n = jumlah data, dan
yn = nilai rata – rata.
21

Tabel 3.2 Faktor Reduksi Gumbel

T (periode ulang) Faktor Reduksi (yt)

2 0,36651

5 1,994

10 2,25037

20 2,97019

50 4,60015

100 5,29561

c. Distribusi Gumbel
(𝑌−µ𝑦)2
1 𝑧
F(z) = ∫ 𝑒
√2𝛿𝜋 ∞
2𝛿𝑦 𝑑𝑦 (3.14)

dengan :
F(z) = probabilitas kumulatif distribusi log normal,
µ = rata-rata dari nilai y,
z = faktor frekuensi dari distribusi log normal, dan
𝛿 = deviasi standar nilai y.
d. Distribusi Log Person III
Digunakan dalam analisis hidrologi, terutama dalam analisis
data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum) dengan
nilai ekstrim. Bentuk sebaran Log-Pearson Tipe III merupakan
hasil transformasi dari sebaran Log-Pearson Tipe III dengan
menggantikan variat menjadi nilai logaritmik. Metode Log-
Pearson Tipe III apabila digambarkan pada kertas peluang
logaritmik akan merupakan persamaan garis lurus, sehingga
dapat dinyatakan sebagai model matematik dengan persamaan
sebagai berikut (Soemarto, 1999).
22

𝑦𝑡 = 𝑦̅ + (K 𝑇 × ds𝑦 ) (3.15)
Dengan:
𝑦𝑡 = Nilai logaritmik dari × atau log (Xi),
𝑦̅ = Rata-rata hitung (lebih baik rata-rata geometrik) nilai dsy,
dsy = Deviasi standar nilai y, dan
K = karakteristik distribusi peluang Log-Pearson tipe III.
Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut.
1) Mengubah data curah hujan sebanyak n buah X1, X2, X3,
... Xn menjadi log (X1), log (X2), log (X3),...., log (Xn).
2) Menghitung harga rata-rata
1
𝑦̅ = ∑𝑛𝑖=1 𝑦𝑖 (3.16)
𝑛

dengan:
𝑦̅ = nilai rata-rata curah hujan (mm),
𝑦𝑖 = curah hujan rencana tahunan (mm), dan
n = jumlah data.
3) Menghitung harga standar deviasi (dsy)
∑(𝑦𝑖−𝑦)2
𝑑𝑠𝑦 = √ (3.17)
𝑛−1

𝑑𝑠𝑦 = Deviasi standar variabel y


4) Menghitung koefisien skewness (Cs)
𝑛 ∑𝑛 (𝑦𝑖−𝑦)3
𝑖=1
𝐶𝑠 = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑑𝑠𝑦 3
(3.18)

𝐶𝑠 = koefisien skewness
3.5.5 Kala Ulang Hujan
Menurut Edisono (1997), Kala ulang hujan adalah waktu dimana hujan
dengan besaran tertentu akan disamai atau dilampaui. Misalnya, hujan dengan
periode ulang 25 tahun berarti dalam 25 tahun kemungkinan hujan dengan besaran
yang sama atau dilampaui akan terjadi sekali.
Penggunaan kala ulang didasakan pada pertimbangan ekonomis.
Berdasarkan prinsip dalam penyelesaian masalah drainase perkotaan dari aspek
hidrologi, sebelum dilakukan analisis frekuensi untuk mendapatkan besaran hujan
23

dalam kala ulang tertentu. Maka harus dipersiapkan rangkaian data hujan
berdasarkan pada durasi jam-jaman atau menitan.
Penggunaan kala ulang untuk perencanaan adalah sebagai berikut.
1. Saluran interseptor : Kala ulang 2 Tahun
2. Saluran collector : Kala ulang 5 Tahun
3. Saluran conveyor : Kala ulang 10 Tahun
Analisis frekuensi terhadap data hujan yang tersedia, dapat dilakukan
dengan beberapa metode antara lain Gumbel, Log Normal, Log Person III dan
sebagainya. (Notodihardjo,dkk, 1998)

3.5.6 Intensitas Curah Hujan


Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu.
Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung
makin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya.
Analisis intesitas curah hujan ini dapat diproses dari data curah hujan yang telah
terjadi pada masa lampau (Suripin, 2004).
Rumus yang dipakai adalah rumus menurut Dr. Mononobe dalam Suripin
(2004), karena data hujan jangka pendek tidak ada, maka intensitas hujan dapat
dihitung dengan rumus seperti dibawah ini :
2
𝑅24 24 3
I= (𝑡) (3.19)
24

dengan :
𝐼 = intensitas curah hujan untuk lama hujan t (mm/jam),
t = lamanya curah hujan (jam), dan
𝑅24 = curah hujan maksimum selama 24 jam (mm).
3.5.7 Debit Banjir Rencana
Debit rencana sistem drainase dihitung berdasarkan hubungan antara hujan
dan aliran. Besarnya aliran sangat ditentukan oleh besarnya hujan, intensitas
hujan, luas daerah pengaliran sungai, lama waktu hujan dan karakteristik daerah
pengaliran itu. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan debit
banjir rencana adalah Metode Rasional. Metode ini banyak digunakan untuk
perencanaan drainase daerah pengaliran yang relatif sempit, kurang dari 300 ha.
24

Rumus rasional ini berorientasi pada hitungan debit puncak. Bentuk umum rumus
rasional adalah :
Qp = C Itc,p A (3.20)
dengan :
Qp = debit puncak (m3/s) untuk kala ulang T tahun,
C = koefisien run-off, yang dipengaruhi kondisi tata guna lahan pada
daerah tangkapan air,
Itc,p = intensitas hujan rata-rata (mm/jam) untuk waktu konsentrasi (tc)
dan kala ulang T tahun, dan
A = luas daerah tangkapan air (ha).
3.5.8 Waktu Konsentrasi (tc)
Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan
untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS (titik kontrol)
setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Salah satu metode
untuk memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh
Kirpich (1940), yang dapat ditulis sebagai berikut.
0,385
0,87×𝐿2
𝑡𝑐 = (1000 ×S) (3.21)

di mana tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama dalam km,
dan S kemiringan rata-rata saluran utama dalam m/m.
Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakannya menjadi
dua komponen, yaitu (1) waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan
lahan sampai saluran terdekat t0 dan (2) waktu perjalanan dari pertama masuk
saluran sampai titik keluaran td, sehingga
tc = t0 + td (3.22)
2 𝑛
𝑡0 = (3 × 3,28 × 𝐿 × ) (3.23)
√𝑆

𝑆𝐿
𝑡𝑑 = (60𝑉 ) (3.24)

dengan :
n = angka kekerasan Manning,
S = kemiringan lahan,
L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m),
25

Ls = panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m),


V = kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).
3.5.9 Koefisien Run-off
Koefisien run-off merupakan merupakan proses pengaliran air hujan yang
melimpas (run-off) di atas permukaan tanah, jalan, kebun, dan lain-lain kemudian
dialirkan masuk ke dalam saluran drainase. Koefisien run-off ditentukan
berdasarkan tipe tata guna lahan pada daerah catchment area tersebut.
Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.25)
Σ(𝐴)

Dengan :
C = Koefisien run-off, yang dipengaruhi kondisi tata guna lahan pada daerah
tangkapan air, dan
A = luas daerah tangkapan air (ha).
Tabel 3.3 Koefisien Run Off
Diskripsi lahan/karakter pemukaan Koefisien aliran, C
Business
1 Perkotaan 0,70 – 0,95
2 Pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan
1 Rumah tunggal 0,30 – 0,50
2 Multiunit, terpisah 0,40 – 0,60
3 Multiunit, tergabung 0,60 – 0,75
4 Perkampungan 0,25 – 0,40
5 Apartemen 0,50 – 0,70
Industri
1 Ringan 0,50 – 0,80
2 Berat 0,60 – 0,90
Perkerasan
1 Aspal dan beton 0,70 – 0,95
2 Batu bata, paving 0,50 – 0,70
Atap 0,75 – 0,95
Halaman, tanah berpasir
1 Datar 2% 0,05 – 0,10
2 Rata-rata, 2-7% 0,10 – 0,15
3 Curam, 7% 0,15 – 0,20
Halaman, tanah berat
1 Datar 2% 0,13 – 0,17
2 Rata-rata, 2-7% 0,18 – 0,22
26

Diskripsi lahan/karakter pemukaan Koefisien aliran, C


3 Curam, 7% 0,25 – 0,35
Sumber : Suripin (2004)
Tabel 3.4 Koefisien Run Off untuk lahan pertanian
Kelas Tekstur Tanah
Vegetasi dan Topografi
Lempung berpasir Liat dan Lempung berdebu Liat berdebu
Hutan
Datar (lereng < 5 %) 0,10 0,30 0,40
Bergelombang (5-10%) 0,25 0,35 0,50
Berbukit-bergunung (>25%) 0,30 0,50 0,60
Alang-Alang
Datar (lereng < 5 %) 0,10 0,30 0,40
Bergelombang (5-10%) 0,16 0,36 0,55
Berbukit-bergunung (>25%) 0,22 0,42 0,60
Pertanian
Datar (lereng < 5 %) 0,30 0,50 0,60
Bergelombang (5-10%) 0,40 0,60 0,70
Berbukit-bergunung (>25%) 0,52 0,72 0,82
Sumber : Sivanappan R.K (1992)

3.6 Hidrolika Saluran


Analisis hidraulika dimaksudkan untuk mengevaluasi kapasitas dari saluran
drainase berdasarkan debit rencana. Kapasitas saluran drainase dihitung
berdasarkan kondisi penampang melintang, saluran drainase pada lokasi
penampang yang ditentukan. Perhitungan kapasitas saluran drainase dapat dihitung
dengan menggunakan Persamaan 3.22, Persamaan 3.23, dan Persamaan 3.24.

1
V = R2/3 S1/2 (3.26)
n

𝑄 = 𝑉×𝐴 (3.27)
𝐴
𝑅=𝑃 (3.28)
∆ℎ
S = (3.29)
𝐿𝑠

dengan :
V = kecepatan aliran dalam saluran drainase (m/s),
27

R = radius hidrolis (m),


∆ℎ = beda elevasi (m),
𝐿𝑠 = panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m),
S = kemiringan saluran drainase,
A = luas penampang basah saluran drainase (m2),
P = keliling basah saluran drainase (m),
Q = debit aliran (m3/s), dan
n = koefisien kekasaran manning.
Koefisien kekasaran Manning ditentukan berdasarkan (Notodihardjo,dkk,
1998) mengacu kepada tabel Koefisien kekasaran Manning untuk drainase
perkotaan. Detail tabel dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.5 Koefisien Kekasaran Manning (n) untuk Drainase Perkotaan
Jenis Saluran Koefisien Manning (n)
Saluran galian
1 Saluran tanah 0,022
2 Saluran pada batuan, digali merata 0,035
Saluran dengan lapisan perkerasan
1 Lapisan beton seluruhnya 0,015
2 Lapisan beton pada kedua sisi saluran 0,020
3 Lapisan blok beton pracetak 0,017
4 Pasangan batu, diplester 0,020
5 Pasangan batu, diplester pd. kedua sisi saluran 0,022
6 Pasangan batu, diarsir 0,025
7 Pasangan batu kosong 0,030
Saluran alam
1 Berumput 0,027
2 Semak-semak 0,050
3 Tidak beraturan, banyak semak dan pohon 0,150
Sumber : (Notodihardjo,dkk, 1998)
28

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Pengumpulan Data Primer


Dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data
primer merupakan data atau informasi yang diperoleh secara langsung di lapangan.
Dalam penelitian ini pengumpulan data primer meliputi data kondisi eksisting
saluran dengan melakukan pengamatan, pengukuran dan mengumpulkan informasi
yang berkaitan dengan permasalahan drainase dari instansi terkait. Data kondisi
eksisting diperoleh dengan cara melakukan inventarisasi kondisi fisik jaringan
drainase di lapangan.
Pengukuran elevasi saluran didapatkan melalui aplikasi Global Mapper
dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Membuka Aplikasi Global Mapper Versi 20
Aplikasi Global Mapper yang digunakan adalah Global Mapper Versi
20. Tampilan awal aplikasi dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Tampilan Awal Aplikasi Global Mapper Versi 20


2. Klik “Open Data Files”
Tahap selanjutnya adalah memasukkan koordinat letak saluran yang
sudah disiapkan dari Google Earth dalam format kmz.

28
29

Gambar 4.2 Memasukkan koordinat saluran ke Aplikasi Global


Mapper Versi 20

Gambar 4.3 Hasil dari memasukkan koordinat saluran ke


Aplikasi Global Mapper Versi 20
3. Klik “Connect to Online Data”
Langkah ini bertujuan untuk terhubung ke data pemetaan dari berbagai
sumber bawaan dan yang disediakan pengembang.

Gambar 4.4 Menu “Connect to Online Data” pada Aplikasi


Global Mapper Versi 20
30

Gambar 4.5 Tampilan Daftar Online Data Source yang Bisa


Digunakan pada Aplikasi Global Mapper Versi 20
Online Data Source yang digunakan adalah Aster GDEM V2
Worldwide Elevation Data (1 arc-second resolution). Aster GDEM V2
Worldwide Elevation Data (1 arc-second resolution) merupakan data
ketinggian wilayah biasa disebut Data Elevation Model (DEM) dan
merupakan data raster hasil dari perekaman satelit ASTER dengan
resolusi 1-arc second atau sekitar 30 meter. Hasil dari penggabungan
antara Aster GDEM dan koordinat letak saluran akan membuat tampilan
baru pada aplikasi Global Mapper yang dapat dilihat pada Gambar 4.6.
31

Gambar 4.6 Hasil dari Penggabungan Aster GDEM dengan


Koordinat Letak Saluran pada Aplikasi Global Mapper.
4. Klik “Path Profile”
Path Profile berfungsi untuk menampilkan profil / penampang
melintang vertikal pada bagian tertentu yang ditandai oleh pengguna.
Letak menu “Path Profile” dapat dilihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7 Menu “Path Profile” pada Aplikasi Global Mapper


Versi 20
Salah satu contoh pengukurannya adalah pengukuran saluran conve 2.

Gambar 4.8 Menu “Path Profile” pada Aplikasi Global Mapper


Versi 20
32

5. Klik kanan untuk menampilkan “Path Profile”


Setelah klik kanan maka profil / penampang melintang pada bagian
tertentu yang ditandai akan terlihat data elevasi di titik awal dan akhir
pada saluran. Selanjutnya, dari titik awal dan akhir tersebut, akan
digunakan untuk menghitung beda elevasi pada saluran yang di tinjau.
Hasil pembacaan beda elevasi melalui Aplikasi Global Mapper Versi 20
dibandingkan dengan data sekunder yang berasal dari pengukuran lapangan adalah
sebagai berikut.
Tabel 4.1 Tabel Hasil Pembacaan Beda Elevasi melalui Aplikasi Global
Mapper Versi 20 Dibandingkan dengan Data Sekunder
Hasil Pengukuran Beda Elevasi (ΔH) (meter)
Aplikasi Global Mapper Versi 20 16.004
Data sekunder 16

4.2 Pengumpulan Data Sekunder


Pengumpulan data sekunder meliputi data hidrologi di beberapa stasiun
hujan yang ada di Kota Yogyakarta dan data skema jaringan drainase eksisting.
4.3 Metode Penelitian Evaluasi Saluran Drainase
Metode penelitian digunakan untuk menentukan langkah-langkah yang
akan dilakukan dalam penelitian evaluasi saluran drainase perkotaan yang ada di
daerah Kota Yogyakarta. Adapun metodologi perencanaan yang digunakan adalah
sebagai berikut.
1. Analisis Hidrologi
Data yang telah didapat diolah dan dianalisis sesuai dengan
kebutuhannya. Masing-masing data berbeda dalam pengolahan dan analisisnya.
Pengolahan dan analisis yang sesuai akan diperoleh variabel-variabel yang akan
digunakan dalam evaluasi drainase.
Analisis Hidrologi, dilakukan berdasarkan dari data hujan akan dihitung
parameter statistik meliputi parameter nilai rata-rata (𝑋), standar deviasi (ds),
koefisien variasi (Cv), koefisien kemiringan (Cs) dan koefisien kurtosis (Ck).
Perhitungan parameter tersebut didasarkan pada data catatan tinggi hujan harian
33

rata-rata maksimum 10 tahun terakhir. Curah hujan rencana berdasarkan


perhitungan analisa distribusi dengan menggunakan metode Distribusi Normal,
Log Normal, Gumbel Tipe I, dan Log Pearson Tipe III. Setelah didapatkan
metode curah hujan terpilih maka akan dianalisis periode dengan kala ulang 2, 5,
dan 10 tahun.
2. Analisis Hidrolika
Analisis volume tampung saluran drainase dengan menggunakan analisis
debit rencana dengan metode Rasional dibandingkan dengan debit kapasitas saluran
eksisting.
3. Pembahasan Hasil Analisis
Dari hasil analisis kemudian dilakukan pembahasan untuk mengevaluasi
kinerja kapasitas saluran sistem drainase. Setelah dibandingkan, apabila kapasitas
saluran tidak mampu untuk mengalirkan debit maksimum rencana maka dilakukan
desain ulang dengan menggunakan acuan ketersedian lahan yang ada di lapangan.
4. Kesimpulan dan Saran
Setelah dilakukan pembahasan hasil analisis, kemudian dilakukan
perumusan kesimpulan dan saran/rekomendasi.
4.4 Bagan Alir Tugas Akhir
Adapun tahap-tahap analisis evaluasi drainase dapat dilihat pada gambar 4.1
sebagai berikut.
34

Mulai

Identifikasi Masalah

Pengumpulan Data

Data Hidrologi Data Topografi


(Data curah hujan (Pengukuran pada
2002-2017) lokasi penelitian)

Perhitungan parameter statistik Luasan Daerah Pengukuran dimensi Pengukuran


(X, ds, Cv,Ck,Cs) Tangkapan Air dan penelusuran beda elevasi
(DTA) arah aliran. saluran.

Perhitungan Analisis Distribusi


(Gumbel, Normal, Log Analisis Saluran
Normal, Log Paerson III) Eksisting
menggunakan
persamaan manning
Analisis Frekuensi Hujan (Qc)

Perhitungan Hujan Analisis Debit Rencana


Rencana Kala Ulang Metode Rasional (Qp)

Ya Perbandingan
Pembahasan Qp < Qc
Qp dengan Qc

Tidak

Desain Ulang
Dimensi Saluran

Selesai

Gambar 4.9 Bagan Alir Tugas Akhir


33

BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Tinjauan Umum


Analisis kapasitas drainase dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi
drainase eksisting dalam menampung debit kala ulang tertentu. Untuk mengetahui
kondisi tersebut, maka dilakukan perbandingan antara debit banjir rencana dengan
debit pada saluran eksisting. Setelah dilakukan perbandingan maka dapat diketahui
kondisi pada setiap saluran pada lokasi yang ditinjau.
5.2 Daerah Penelitian dan Arah Aliran
Daerah penelitian untuk menganalisis kapasitas saluran drainase terletak di
Jalan Pramuka, Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta. Daerah penelitian yang ditinjau
seluas 61,127 ha. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1 Lokasi Penelitian

35
36

Pelacakan arah aliran pada saluran drainase dapat diketahui dengan tinjauan
lapangan serta perbedaan elevasi yang didapatkan melalui aplikasi Global Mapper.
Setelah dilakukan pelacakan arah aliran, selanjutnya dilakukan klasifikasi yang
sesuai dengan fungsi dan sistem kerjanya. Hasil klasifikasi dapat dilihat pada Tabel
5.1 dan Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Skema dan Arah Aliran Saluran Drainase


37

Tabel 5.1 Klasifikasi Pada Saluran Drainase


Nama Saluran Klasifikasi Nama Saluran Klasifikasi
Inter 1 Inter 30
Inter 2 Inter 31
Inter 3 Inter 32
Inter 4 Inter 33
Inter 5 Inter 34
Inter 6 Inter 35
Inter 7 Inter 36
Inter 8 Inter 37
Inter 9 Inter 38
Inter 10 Inter 39
Inter 11 Inter 40
Inter 12 Inter 41 Interseptor
Inter 13 Inter 42
Inter 14 Inter 43
Inter 15 Interseptor Inter 44
Inter 16 Inter 45
Inter 17 Inter 46
Inter 18 Inter 47
Inter 19 Inter 48
Inter 20 Inter 49
Inter 21 Inter 50
Inter 22 Inter 51
Inter 23 Inter 52
Inter 24 Coll 1
Inter 25 Coll 2 Collector
Inter 26 Coll 3
Inter 27 Conve 1
Conveyor
Inter 28 Conve 2
Inter 29
38

5.3 Analisis Debit Banjir Rencana


Metode rasional dipakai untuk menentukan debit rencana dalam
perencanaan drainase perkotaan. Pencarian nilai debit rencana dengan metode ini
diperlukan data koefisien aliran permukaan (C), intensitas hujan (I) dan luas daerah
tangkapan air (A). Nilai luasan daerah tangkapan air (A) dan koefisien aliran
permukaan (C) pada masing-masing saluran diukur melalui aplikasi Google Earth.
Nilai intensitas hujan (I) dengan kala ulang sesuai dengan klasifikasi
saluran, dalam perhitungannya diperlukan waktu konsentrasi (tc) dan curah hujan
harian (R24). Sedangkan, untuk mendapatkan waktu konsentrasi (tc) dibutuhkan
jarak terjauh aliran di atas permukaan (L), panjang saluran (Ls), Kemiringan saluran
(S) dan Kecepatan saluran (V).
5.3.1 Perhitungan Koefisien Aliran Permukaan dan Luasan Daerah Tangkapan
Air
Nilai luasan daerah tangkapan air (DTA) masing-masing saluran didapatkan
dari pengukuran melalui aplikasi Google Earth. Keseluruhan denah lokasi
penelitian yang sudah dibagi berdasarkan luasan daerah tangkapan air dapat dilihat
pada Gambar 5.3.
39

Gambar 5.3 Luasan Daerah Tangkapan Air


Berikut merupakan salah satu contoh perhitungan luasan DTA dan koefisien
aliran permukaan pada Inter 1.
40

Gambar 5.4 Perhitungan Luasan DTA dan Koefisien Aliran


Permukaan pada Inter 1

Tabel 5.2 Koefisien Aliran Permukaan dan Luasan DAS pada Inter 1
Penggunaan Lahan C A (ha) C × A
Bangunan / Atap 0,75 1,523 1,142
Jalan 0,7 0,142 0,099
Sawah 0,5 1,9 0,950
Halaman 0,22 0,821 0,181
Jumlah 4,386 2,372
Nilai Koefisien Inter 1 0,541

Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.21)
Σ(𝐴)
(C × A) + (C × A) + (C × A) + (C × A)
C1 = ( )
𝐴𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿
(0,75 × 1,5) + (0,7 × 0,142) + (0,5 × 1,9) + (0,22 × 0,8)
C1 = ( )
(1,5 + 0,142 +1,9 + 0,8)

C1 = 0,541
A1 = 1,5 + 0,142 + 1,9 + 0,8
A1 = 4,386 Ha
41

Rekapitulasi perhitungan luasan DTA dan koefisien aliran permukaan di setiap


saluran drainase dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Luas Lahan dan Koefisien Limpasan
Bangunan/Atap Jalan Sawah Halaman Gabungan
Saluran
A(ha) C A(ha) C A(ha) C A(ha) C A(ha) C
Inter 1 1,523 0,75 0,142 0,7 1,900 0,5 0,821 0,22 4,386 0,541
Inter 2 0,182 0,75 0,050 0,7 0,000 0,5 0,021 0,22 0,254 0,696
Inter 3 0,131 0,75 0,080 0,7 0,000 0,5 0,180 0,22 0,391 0,496
Inter 4 0,151 0,75 0,020 0,7 0,000 0,5 0,031 0,22 0,202 0,664
Inter 5 0,272 0,75 0,030 0,7 0,000 0,5 0,021 0,22 0,323 0,710
Inter 6 0,670 0,75 0,040 0,7 0,000 0,5 0,043 0,22 0,753 0,717
Inter 7 0,163 0,75 0,020 0,7 0,000 0,5 0,008 0,22 0,191 0,723
Inter 8 0,751 0,75 0,060 0,7 0,000 0,5 0,008 0,22 0,819 0,741
Inter 9 0,000 0,75 0,012 0,7 0,000 0,5 0,121 0,22 0,133 0,263
Inter 10 0,681 0,75 0,014 0,7 0,000 0,5 0,008 0,22 0,703 0,743
Inter 11 0,140 0,75 0,013 0,7 0,000 0,5 0,006 0,22 0,160 0,726
Inter 12 0,380 0,75 0,018 0,7 0,000 0,5 0,024 0,22 0,423 0,718
Inter 13 0,090 0,75 0,013 0,7 0,000 0,5 0,002 0,22 0,106 0,734
Inter 14 0,093 0,75 0,015 0,7 0,000 0,5 0,030 0,22 0,138 0,629
Inter 15 0,157 0,75 0,027 0,7 0,000 0,5 0,061 0,22 0,244 0,612
Inter 16 0,102 0,75 0,021 0,7 0,000 0,5 0,051 0,22 0,174 0,590
Inter 17 0,190 0,75 0,021 0,7 0,000 0,5 0,053 0,22 0,265 0,639
Inter 18 0,452 0,75 0,025 0,7 0,000 0,5 0,021 0,22 0,498 0,725
Inter 19 0,650 0,75 0,065 0,7 0,000 0,5 0,023 0,22 0,738 0,729
Inter 20 0,000 0,75 0,034 0,7 1,290 0,5 0,041 0,22 1,365 0,497
Inter 21 0,080 0,75 0,011 0,7 0,830 0,5 0,006 0,22 0,928 0,522
Inter 22 0,172 0,75 0,014 0,7 0,000 0,5 0,005 0,22 0,190 0,733
Inter 23 0,980 0,75 0,031 0,7 0,000 0,5 0,006 0,22 1,017 0,745
Inter 24 0,385 0,75 0,017 0,7 0,000 0,5 0,004 0,22 0,406 0,743
Inter 25 0,364 0,75 0,021 0,7 0,000 0,5 0,005 0,22 0,390 0,741
Inter 26 1,290 0,75 0,022 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 1,315 0,748
Inter 27 0,640 0,75 0,027 0,7 0,000 0,5 0,004 0,22 0,670 0,745
Inter 28 1,660 0,75 0,012 0,7 0,000 0,5 0,004 0,22 1,676 0,748
Inter 29 0,100 0,75 0,025 0,7 0,000 0,5 0,023 0,22 0,147 0,659
Inter 30 0,540 0,75 0,100 0,7 0,000 0,5 0,006 0,22 0,646 0,738
Inter 31 1,340 0,75 0,200 0,7 0,000 0,5 0,009 0,22 1,549 0,741
Inter 32 0,180 0,75 0,022 0,7 0,000 0,5 0,009 0,22 0,211 0,722
Inter 33 0,190 0,75 0,028 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 0,221 0,736
Inter 34 0,160 0,75 0,012 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 0,175 0,738
Inter 35 0,490 0,75 0,012 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 0,505 0,746
42

Saluran Bangunan/Atap Jalan Sawah Halaman Gabungan


A(ha) C A(ha) C A(ha) C A(ha) C A(ha) C
Inter 36 0,580 0,75 0,022 0,7 0,000 0,5 0,010 0,22 0,612 0,740
Inter 37 0,600 0,75 0,050 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 0,653 0,744
Inter 38 0,210 0,75 0,012 0,7 0,000 0,5 0,007 0,22 0,229 0,731
Inter 39 0,240 0,75 0,014 0,7 0,000 0,5 0,004 0,22 0,259 0,739
Inter 40 0,770 0,75 0,022 0,7 0,000 0,5 0,004 0,22 0,796 0,746
Inter 41 0,000 0,75 0,000 0,7 0,000 0,5 0,102 0,22 0,102 0,220
Inter 42 0,283 0,75 0,000 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 0,286 0,745
Inter 43 1,130 0,75 0,027 0,7 0,000 0,5 0,003 0,22 1,159 0,748
Inter 44 0,552 0,75 0,042 0,7 0,000 0,5 0,010 0,22 0,605 0,737
Inter 45 0,270 0,75 0,013 0,7 0,000 0,5 0,203 0,22 0,486 0,527
Inter 46 0,420 0,75 0,015 0,7 0,000 0,5 0,007 0,22 0,443 0,740
Inter 47 0,250 0,75 0,023 0,7 0,000 0,5 0,078 0,22 0,351 0,629
Inter 48 0,240 0,75 0,012 0,7 0,000 0,5 0,064 0,22 0,316 0,641
Inter 49 0,160 0,75 0,015 0,7 0,000 0,5 0,002 0,22 0,178 0,739
Inter 50 0,240 0,75 0,014 0,7 0,000 0,5 0,022 0,22 0,276 0,705
Inter 51 0,270 0,75 0,016 0,7 0,000 0,5 0,018 0,22 0,305 0,716
Inter 52 0,202 0,75 0,013 0,7 0,000 0,5 0,064 0,22 0,279 0,625
Coll 1 2,720 0,75 0,760 0,7 0,400 0,5 0,013 0,22 3,893 0,713
Coll 2 1,740 0,75 0,200 0,7 0,350 0,5 0,026 0,22 2,316 0,702
Coll 3 5,410 0,75 0,400 0,7 0,350 0,5 0,042 0,22 6,202 0,729
Conve 1 1,940 0,75 0,680 0,7 2,750 0,5 0,103 0,22 5,473 0,608
Conve 2 11,610 0,75 0,790 0,7 0,000 0,5 1,200 0,22 13,600 0,700

5.3.2 Analisis Intensitas Hujan (I)


Analisis Intensitas Hujan bisa dilakukan setelah melakukan analisis curah
hujan. Analisis curah hujan akan mendapatkan hasil curah hujan harian (R24). Curah
hujan harian (R24) akan digunakan untuk menghitung intensitas hujan dengan kala
ulang tertentu sesuai dengan kebutuhan dari setiap saluran drainase yang ditinjau.
43

Stasiun hujan terdekat dari wilayah penelitian adalah stasiun Santan,


Gemawang dan Bedugan. Melalui analisis hujan wilayah dengan poligon thiseen
diperoleh bahwa pada daerah penelitian sebaran hujan hanya diakibatkan oleh
stasiun santan. Sehingga, untuk analisis curah hujan mengacu hanya pada Stasiun
Santan. Gambar poligon Thiseen dapat dilihat pada Gambar 5.5. Stasiun Santan
memiliki jarak yang paling dekat dibandingkan dengan stasiun iklim yang lainnya,
maka datanya dianggap sudah mewakili kondisi iklim seluruh luasan wilayah
kajian. Data curah hujan yang tersedia di Stasiun Santan dari tahun 2002 – 2017
yang ditunjukkan pada Tabel 5.4 sebagai berikut.

Gambar 5.5 Penentuan Stasiun Hujan Menggunakan Poligon Thiseen


Tabel 5.4 Data curah hujan harian maksimum Stasiun Santan
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES Maksimum
No TAHUN
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) Per Tahun
1 2002 80 80 57 63 34 0 0 0 0 0 53 48 80
2 2003 58 196 52 25 86 9 0 0 0 0 50 51 196
3 2004 110 48 76 26 55 0 0 0 0 13 76 86 110
4 2005 145 80 55 45 0 0 0 0 0 68 37 77 145
5 2006 60 92 52 33 20 0 0 0 0 68 23 84 92
6 2007 37 72 58 49 0 0 0 0 0 26 58 157 157
7 2008 65 55 27 68 64 10 0 0 0 59 42 46 68
8 2009 59,5 93 93 35,5 68 14,5 1 0 0,5 66 42 3 93
9 2010 49,1 50,9 67 35,2 14 30,9 9,5 51,1 45,8 17,4 35,8 43,2 67
10 2011 42,8 53,7 37,4 75,6 28,5 0 0,4 0 0,3 2,7 48,9 24,2 75,6
11 2012 80 74 58 49 33 0 0 0 0 34 129 101 129
12 2013 67 105 56 105 67 95 28 1,1 1,7 13,9 96 99 105
13 2014 77 55 46 93 7,7 5,4 10,4 2,6 0 0 77 57 93
14 2015 65,6 123 53,3 101 77,9 35,7 0 0 0 0 38,6 68 123
15 2016 46,2 94 46,6 47 16,9 89,3 41,4 43,1 72 55,9 61,4 123 123
16 2017 99 98 67 29 45 44,4 2,1 0 40,3 14,5 298 47 298

Data curah hujan digunakan untuk analisis frekuensi dengan tujuan


memperoleh nilai ekstrim suatu kejadian hujan. Nilai ekstrik suatu kejadian hujan
44

digunakan untuk keperluan memperdiksi kejadian yang mungkin juga terjadi lagi
(terulang) dengan frekuensi yang sama atau dilampaui pada masa yang akan datang.
Analisis frekuensi dan probabilias akan mendapatkan persamaan distribusi
peluang yang sesuai. Namun, untuk menentukan persamaan distribusi peluang
yang sesuai terlebih dahulu harus dilakukan perhitungan mengenai nilai rata-rata,
standar deviasi, koefisien variasi, koefisien kemencengan dan koefisien kurtosis.
1. Nilai rata – rata (average)
Pencarian nilai rata-rata dapat menggunakan persamaan (3.3). Hasil
perhitungan nilai rata – rata dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5 Data Curah Hujan Harian Maksimum Tahunan Stasiun Santan
No Tahun Hujan Maksimum Nilai Rata-Rata
1 2002 80
2 2003 196
3 2004 110
4 2005 145
5 2006 92
6 2007 157
7 2008 68
8 2009 93
122,163
9 2010 67
10 2011 75,6
11 2012 129
12 2013 105
13 2014 93
14 2015 123
15 2016 123
16 2017 298

Perhitungan nilai rata – rata (average) :


1 𝑛
𝑋= ∑ 𝑥
𝑛 𝑖=1 𝑖
(3.3)
1
𝑋= 1954,6
16

𝑋 = 122,163 mm
45

2. Standar deviasi
Pencarian nilai standar deviasi dapat menggunakan Persamaan (3.4).
Hasil perhitungan standar deviasi ditunjukkan pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6 Perhitungan Standar Deviasi
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2
1 2002 80 -42,16 1777,676
2 2003 196 73,84 5451,976
3 2004 110 -12,16 147,926
4 2005 145 22,84 521,551
5 2006 92 -30,16 909,776
6 2007 157 34,84 1213,651
7 2008 68 -54,16 2933,576
8 2009 93 -29,16 850,451
9 2010 67 122,163 -55,16 3042,901
10 2011 75,6 -46,56 2168,066
11 2012 129 6,84 46,751
12 2013 105 -17,16 294,551
13 2014 93 -29,16 850,451
14 2015 123 0,84 0,701
15 2016 123 0,84 0,701
16 2017 298 175,84 30918,826
Jumlah 1954,6 0,00 51129,54

Perhitungan standar deviasi :

∑(𝑋𝑖−𝑋)2
𝑑𝑠 = √ (3.4)
𝑛−1

∑ 51129,54
𝑑𝑠 = √ 16−1

𝑑𝑠 = 56,521
3. Koefisien variasi
Pencarian koefisien variasi dihitung dengan Persamaan (3.5) berikut :
ds
𝑐𝑣 = (3.5)
𝑋
58,3835
𝑐𝑣 = 122,163

𝑐𝑣 = 0,463
46

4. Koefisien kemencengan
Pencarian koefisien kemencengan dapat menggunakan Persamaan (3.6).
Hasil perhitungan koefisien kemencengan ditunjukkan pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7 Perhitungan Koefisien kemencengan
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3
1 2002 80 -42,163 1777,676 -74951,281
2 2003 196 73,838 5451,976 402560,308
3 2004 110 -12,163 147,926 -1799,155
4 2005 145 22,838 521,551 11910,930
5 2006 92 -30,163 909,776 -27441,131
6 2007 157 34,838 1213,651 42280,581
7 2008 68 -54,163 2933,576 -158889,832
8 2009 93 -29,163 850,451 -24801,289
9 2010 67 122,163 -55,163 3042,901 -167854,049
10 2011 75,6 -46,563 2168,066 -100950,592
11 2012 129 6,838 46,751 319,663
12 2013 105 -17,163 294,551 -5055,239
13 2014 93 -29,163 850,451 -24801,289
14 2015 123 0,838 0,701 0,587
15 2016 123 0,838 0,701 0,587
16 2017 298 175,838 30918,826 5436689,138
Jumlah 1954,6 0,00 51129,538 5307217,938

3
𝑛 ∑𝑛
𝑖=1(𝑥𝑖 −𝑋)
𝑐𝑠 = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑑𝑠3 (3.6)

16 × 5307217,94
𝑐𝑠 =
15 × 14 × (58,383)3
𝑐𝑠 = 2,239
5. Koefisien kurtosis
Pencarian koefisien kurtosis dapat menggunakan Persamaan (3.7).
Hasil perhitungan koefisien kurtosis ditunjukkan pada Tabel 5.8.
4
𝑛2 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑘 = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑑𝑠 4
(3.7)

162 × 1015553661,255
𝑐𝑘 =
16 × 15 × 14 × 56,5214
47

𝑐𝑘 = 7,582
Tabel 5.8 Perhitungan Koefisien kurtosis
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3 (Xi-Xrt)4
1 2002 80 -42,163 1777,676 -74951,281 3160133,405
2 2003 196 73,838 5451,976 402560,308 29724046,734
3 2004 110 -12,163 147,926 -1799,155 21882,222
4 2005 145 22,838 521,551 11910,930 272015,869
5 2006 92 -30,163 909,776 -27441,131 827693,109
6 2007 157 34,838 1213,651 42280,581 1472949,736
7 2008 68 -54,163 2933,576 -158889,832 8605870,531
8 2009 93 -29,163 850,451 -24801,289 723267,594
9 2010 67 122,163 -55,163 3042,901 -167854,049 9259248,968
10 2011 75,6 -46,563 2168,066 -100950,592 4700511,942
11 2012 129 6,838 46,751 319,663 2185,694
12 2013 105 -17,163 294,551 -5055,239 86760,531
13 2014 93 -29,163 850,451 -24801,289 723267,594
14 2015 123 0,838 0,701 0,587 0,492
15 2016 123 0,838 0,701 0,587 0,492
16 2017 298 175,838 30918,826 5436689,138 955973826,340
Jumlah 1954,6 0,000 51129,538 5307217,938 1015553661,255

Setelah dilakukan perhitungan, maka selanjutnya adalah pemilihan jenis


distribusi yang sesuai. Ada empat jenis distribusi yang digunakan yaitu normal, log
normal, distribusi gumbel dan log pearson III. Tabel 5.9 menunjukkan pemilihan
distribusi yang sesuai untuk hujan harian. Berdasarkan Tabel 5.9 terdapat satu jenis
distribusi probabilitas yang memenuhi syarat yaitu probabilitas Log Pearson III.
48

Tabel 5.9 Pemilihan Distribusi Yang Sesuai Untuk Hujan Harian

Pemilihan Jenis Distribusi

Jenis Distribusi Persyaratan Hasil Keterangan


Cs ≈ 0 2,239 Tidak
Normal
Ck ≈ 3 7,582 Memenuhi
Cs = Cv3 + 3Cv = 1,54 1,487 Tidak
Log Normal
Ck = Cv8+ 6Cv6+15Cv4+16Cv2+3 = 7,51 7,173 Memenuhi
Cs = 1,14 2,239 Tidak
Gumbel
Ck = 5,4 7,582 Memenuhi

Selain dari
Log Pearson III Selain dari nilai di atas Dipilih
nilai di atas

Analisis hujan rencana dilakukan pada kala ulang 2, 5, dan 10 tahun


tergantung dari klasifikasi saluran drainase yang ditinjau. Saluran interseptor
menggunakan kala ulang 2 tahun. Saluran collector menggunakan kala ulang 2 dan
5 tahun. Saluran conveyor menggunakan kala ulang 2, 5 dan 10 tahun. Selanjutnya
adalah mencari parameter statistik untuk distribusi Log Pearson III. Perhitungan
statistik untuk distribusi Log Pearson III dapat dilihat pada Tabel 5.10.
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Metode Log Pearson III
No. Tahun Hujan Rencana (Xi) Log Xi (Log Xi- Log Xrerata)2 (Log Xi- Log Xrerata)3
1 2017 298 2,474 0,150 0,058
2 2003 196 2,292 0,042 0,009
3 2007 157 2,196 0,012 0,001
4 2005 145 2,161 0,006 4 × 10-5
5 2012 129 2,111 0,001 1,3 × 10-6
6 2015 123 2,090 8,8 × 10-6 3 × 10-9
7 2016 123 2,090 8,8 × 10-6 3 × 10-9
8 2004 110 2,041 0,002 -9,4 × 10-7
9 2013 105 2,021 0,004 -2,8 × 10-5
10 2009 93 1,968 0,014 -0,002
11 2014 93 1,968 0,014 -0,002
12 2006 92 1,964 0,015 -0,002
13 2002 80 1,903 0,034 -0,006
14 2011 75,6 1,879 0,043 -0,009
15 2008 68 1,833 0,065 -0,016
16 2010 67 1,826 0,068 -0,018
Jumlah 1954,60 32,818 0,470 0,013
49

Berdasarkan perhitungan sebelumnya maka dilakukan perhitungan parameter


statistik untuk mencari nilai distribusi frekuensi metode Log Pearson III.
n = 16
𝑦̅ = 2,05
ds𝑦 = 0,18
Csy = 0,00
Langkah selanjutnya adalah mencari hujan rerata pada kala ulang 2, 5,
dan 10 tahun dengan menggunakan distribusi Log Pearson III. Untuk
mencari hujan rencana menggunakan persamaan 3.3. berikut adalah
perhitungan hujan rencana unutk kala ulang 2, 5, dan 10 tahun.
a. Hujan rencana kala ulang (XT) 2 tahun
Csy = 0,00
𝑦̅ = 2,05 mm (Rata-rata hujan dalam logaritmik)
ds𝑦 = 0,18 (Standar devisiasi dalam logaritmik)
KT = 0,000 (Tabel nilai KT distribusi probabilitas Log
Pearson III)
Sehingga besar hujan kala ulang 2 tahun dapat dicari dengan
persamaan 3.3 tapi dalam bentuk logaritmik.
𝑦𝑡 = 𝑦̅ + (K 𝑇 × ds𝑦 ) (3.15)
𝑦𝑡 = 2,05 + (0,000 × 0,18)
= 2,051
𝑥𝑡 = 10 (2,051)
= 112,49 mm
b. Hujan rencana kala ulang (XT) 5 tahun
Csy = 0,00
𝑦̅ = 2,05 mm (Rata-rata hujan dalam logaritmik)
ds𝑦 = 0,18 (Standar devisiasi dalam logaritmik)
KT = 0,842 (Tabel nilai KT distribusi probabilitas Log
Pearson III)
50

Sehingga besar hujan kala ulang 5 tahun dapat dicari dengan


persamaan 3.3 tapi dalam bentuk logaritmik.
𝑦𝑡 = 𝑦̅ + (K 𝑇 × ds𝑦 ) (3.15)
𝑦𝑡 = 2,05 + (0,842 × 0,18)
= 2,200
𝑥𝑡 = 10(2,200)
= 158,53 mm
c. Hujan rencana kala ulang (XT) 10 tahun
Csy = 0,00
𝑦̅ = 0,05 mm (Rata-rata hujan dalam logaritmik)
ds𝑦 = 0,18 (Standar devisiasi dalam logaritmik)
KT = 1,282 (Tabel nilai KT distribusi probabilitas Log
Pearson III)
Sehingga besar hujan kala ulang 10 tahun dapat dicari dengan
persamaan 3.3 tapi dalam bentuk logaritmik.
𝑦𝑡 = 𝑦 + (𝐾 × 𝑠𝑑 ) (3.15)
𝑦𝑡 = 2,05 + (1,282 × 0,18 )
= 2,278
𝑥𝑡 = 10 (2,278)
= 189,66 mm
Perhitungan intensitas hujan rancangan ( I ) dilakukan dengan cara
menurunkan parameter curah hujan maksimum rerata yang telah diproses menjadi
hujan rancangan XT. Nilai XT diolah menggunakan rumus Mononobe
dikonversikan menjadi nilai R24. Kemudian parameter Tc digunakan sebagai input
t untuk menghasilkan intensitas hujan rancangan. Nilai t di dapatkan dengan
menghitung waktu konsentrasi pada kawasan penelitian dan hal tersebut
membutuhkan data kecepatan (V), kemiringan (S), panjang saluran (Ls) dan jarak
terjauh aliran di atas permukaan (L).
Perhitungan untuk mendapatkan nilai kecepatan dan kemiringan saluran
dilakukan dengan data primer dan sekunder yang telah diolah. Data primer
51

didapatkan dari pengukuran dan pengamatan lapangan. Sedangkan data sekunder


didapatkan dari PT. Adiguna Mitra Terpercaya.
Data primer terdiri dari pengukuran lapangan. Dari pengukuran lapangan
tersebut didapatkan lebar dan tinggi saluran interseptor dan collector. Panjang
lintasan aliran di dalam saluran (Ls) dan beda elevasi dari saluran interseptor dan
collector didapatkan melalui aplikasi Global Mapper, sedangkan untuk mengukur
panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (L) didapatkan melalui aplikasi
Google Earth. Proses pengukuran lapangan juga bertujuan untuk mengetahui
koefisien kekerasan manning (n) yang berpengaruh pada kecepatan aliran (V).
Koefisien kekerasan manning (n) dapat dilihat pada Tabel 5.11. Nilai koefisien
kekerasan manning (n) diambil berdasarkan Tabel 3.4. Untuk proses pengukuran
yang dilakukan menggunakan Google Earth dapat dilihat pada Gambar 5.6 dan 5.7.
Tabel 5.11 Koefisien Kekerasan Manning (n) pada saluran yang ditinjau
Saluran yang
Dokumentasi
Jenis Koefisien memiliki
No Peninjauan
Saluran Manning (n) penampang
Penampang saluran
sejenis

Pasangan Saluran Coll 1


1 0,025
Batu Diarsir dan Conve (1,2)

Lapisan
Coll (2,3) dan
2 Beton 0,015
Inter (1-52)
Seluruhnya
52

Gambar 5.6 Pengukuran Panjang dan Elevasi Saluran Menggunakan


Aplikasi Global Mapper pada Saluran Inter 1

Gambar 5.7 Pengukuran Panjang Lintasan Aliran Di Atas Permukaan


Lahan (L) Menggunakan Aplikasi Google Earth pada Saluran Inter 1
Berdasarkan hasil survei pada lokasi penelitian ditemukan 52 saluran
inteseptor serta 3 saluran collector yang masing-masing memiliki dimensi yang
berbeda-beda serta jenis drainase yang berkonstruksi saluran terbuka. Saluran
berkonstruksi terbuka dapat dilihat pada Gambar 5.8 dan rekapitulasi pengukuran
masing-masing saluran drainase dapat dilihat pada Tabel 5.12.
53

Gambar 5.8 Konstuksi Saluran Terbuka


Tabel 5.12 Rekapitulasi Pengukuran Saluran yang Masuk pada Data Primer
Nama Saluran H (m) B (m) Ls (m) L (m) ΔH (m) n
Inter 1 0,6 0,6 210 369,220 4,238 0,015
Inter 2 0,6 0,8 34,5 86,03 0,584 0,015
Inter 3 0,6 0,8 88,8 32,35 1,658 0,015
Inter 4 0,6 0,8 44,2 79,88 1,35 0,015
Inter 5 0,6 0,8 75 86,89 0,05 0,015
Inter 6 0,6 0,8 148,2 114,14 0,455 0,015
Inter 7 0,6 0,8 41,699 54,5 0,431 0,015
Inter 8 0,6 0,8 175,42 52,91 2,943 0,015
Inter 9 0,6 0,8 29,056 38,31 0,167 0,015
Inter 10 0,6 0,8 99,112 20,79 0,584 0,015
Inter 11 0,4 0,4 51,002 70,78 1,732 0,015
Inter 12 0,4 0,4 82,6 70,78 1,84 0,015
Inter 13 0,4 0,4 62,5 9,2 2,224 0,015
Inter 14 0,4 0,4 108,87 9,2 2,642 0,015
Inter 15 0,4 0,4 121,31 16,9 4,213 0,015
Inter 16 0,4 0,4 85,38 16,51 3,363 0,015
Inter 17 0,4 0,4 70,348 50,19 2,561 0,015
Inter 18 0,4 0,4 173,14 50,6 2,5 0,015
Inter 19 0,4 0,4 192 51,72 1,171 0,015
Inter 20 0,6 0,4 284,3 23,12 0,956 0,015
Inter 21 0,6 0,4 260,3 20,81 1,448 0,015
Inter 22 0,6 0,4 146,18 31,2 4,487 0,015
Inter 23 0,6 0,4 171,44 23,76 2,432 0,015
Inter 24 0,6 0,4 50,43 36,76 1,808 0,015
54

Nama Saluran H (m) B (m) Ls (m) L (m) ΔH (m) n


Inter 25 0,6 0,4 90 32,32 2,78 0,015
Inter 26 0,6 0,4 153,21 41,23 3,24 0,015
Inter 27 0,6 0,4 112,84 36,32 1,092 0,015
Inter 28 0,6 0,4 226,83 43,23 2,98 0,015
Inter 29 0,6 0,4 37,46 23,21 0,085 0,015
Inter 30 0,7 0,4 135,7 46,76 1,013 0,015
Inter 31 0,7 0,4 203,41 51,2 2,1 0,015
Inter 32 0,7 0,4 78,7 35,6 0,1 0,015
Inter 33 0,7 0,4 77,394 20,32 0,528 0,015
Inter 34 0,7 0,4 75,03 26,76 2,3 0,015
Inter 35 0,7 0,4 76,5 31,23 0,43 0,015
Inter 36 0,7 0,4 105,66 45,07 1,116 0,015
Inter 37 0,7 0,4 129,76 31,89 1,228 0,015
Inter 38 0,7 0,4 61,558 23,22 0,633 0,015
Inter 39 0,7 0,4 70,015 25,03 0,875 0,015
Inter 40 0,7 0,4 210,79 21,26 2,594 0,015
Inter 41 0,7 0,4 52,995 10,3 4,242 0,015
Inter 42 0,6 0,6 76,33 28,76 0,594 0,015
Inter 43 0,6 0,6 86,208 47,5 1,204 0,015
Inter 44 0,6 0,6 137,82 43,53 2,436 0,015
Inter 45 0,6 0,6 23 98,76 0,2 0,015
Inter 46 0,6 0,6 156,83 10,3 2,6 0,015
Inter 47 0,6 0,6 22,877 97,65 0,6 0,015
Inter 48 0,6 0,6 164,76 15,4 1,885 0,015
Inter 49 0,6 0,5 20,12 96,43 0,4 0,015
Inter 50 0,6 0,5 168,69 13,23 0,852 0,015
Inter 51 0,6 0,8 49,359 83,45 1,566 0,015
Inter 52 0,6 0,8 63,982 82,34 0,327 0,015
Coll 1 0,4 1 1049 116,16 7,816 0,025
Coll 2 0,6 0,4 709,02 71,75 6,146 0,015
Coll 3 0,6 0,4 868,2 72,54 8,25 0,015

Berdasarkan data sekunder didapatkan dua saluran conveyor yang masing-


masing memiliki dimensi yang berbeda-beda serta jenis drainase yang
berkonstruksi saluran terbuka. Gambar penampang memanjang serta melintang
salah satu saluran conveyor dapat dilihat pada lampiran 51-58. Rekapitulasi
keseluruhan saluran drainase conveyor dapat dilihat pada Tabel 5.13.
55

Tabel 5.13 Rekapitulasi Ukuran Saluran yang Masuk pada Data Sekunder
Nama Saluran H (m) B (m) Ls (m) L (m) ΔH (m) n
Conve 1 1,4 2,5 900 66,55 10 0,025
Conve 2 2 3,5 1800 151,62 16 0,025

Data dari tabel 5.12 dan 5.13 dianalisis untuk mengetahui kecepatan dan
kemiringan saluran. Nilai dari kecepatan dan kemiringan saluran dapat dicari
dengan menggunakan persamaan 3.29 dan persamaan 3.22. Berikut adalah
perhitungan kecepatan dan kemiringan drainase pada saluran inter 1.
B = 0,6 m
H = 0,6 m
∆ℎ
S = (3.29)
𝐿𝑠
4,238
= 210

= 0,020
n = 0,0015
A = B×H
= 0,6 m × 0,6 m
= 0,36 m2
P = B + ( 2 × H)
= 0,6 m + ( 2 × 0,6 ) m
= 1,8 m
𝐴
𝑅 = (3.24)
𝑃
0,36 m2
= 1,8 m

= 0,20 m
1
V = R2/3 S1/2 (3.22)
n
2 1
1
V = 0,015
× 0,203 × 0,0202

= 3,239 m/s
Berdasarkan hasil perhitungan kecepatan dan kemiringan saluran inter 1,
pada saluran lain dapat diterapkan persamaan yang sama sehingga diketahui
56

kapasitas saluran drainase pada setiap penggal saluran. Hasil rekapitulasi


perhitungan kecepatan dan kemiringan pada setiap saluran drainase dapat dilihat
pada Tabel 5.14.
Tabel 5.14 Rekapitulasi Perhitungan Kecepatan dan Kemiringan Saluran
Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s)
Inter 1 0,36 1,8 0,015 4,238 0,020 0,200 3,239
Inter 2 0,48 2 0,015 0,584 0,017 0,240 3,350
Inter 3 0,48 2 0,015 1,658 0,019 0,240 3,518
Inter 4 0,48 2 0,015 1,35 0,031 0,240 4,500
Inter 5 0,48 2 0,015 0,05 0,001 0,240 0,665
Inter 6 0,48 2 0,015 0,455 0,003 0,240 1,427
Inter 7 0,48 2 0,015 0,431 0,010 0,240 2,618
Inter 8 0,48 2 0,015 2,943 0,017 0,240 3,335
Inter 9 0,48 2 0,015 0,167 0,006 0,240 1,952
Inter 10 0,48 2 0,015 0,584 0,006 0,240 1,976
Inter 11 0,16 1,2 0,015 1,732 0,034 0,133 3,206
Inter 12 0,16 1,2 0,015 1,84 0,022 0,133 2,597
Inter 13 0,16 1,2 0,015 2,224 0,036 0,133 3,282
Inter 14 0,16 1,2 0,015 2,642 0,024 0,133 2,710
Inter 15 0,16 1,2 0,015 4,213 0,035 0,133 3,243
Inter 16 0,16 1,2 0,015 3,363 0,039 0,133 3,453
Inter 17 0,16 1,2 0,015 2,561 0,036 0,133 3,320
Inter 18 0,16 1,2 0,015 2,5 0,014 0,133 2,091
Inter 19 0,16 1,2 0,015 1,171 0,006 0,133 1,359
Inter 20 0,24 1,6 0,015 0,956 0,003 0,150 1,091
Inter 21 0,24 1,6 0,015 1,448 0,006 0,150 1,404
Inter 22 0,24 1,6 0,015 4,487 0,031 0,150 3,297
Inter 23 0,24 1,6 0,015 2,432 0,014 0,150 2,242
Inter 24 0,24 1,6 0,015 1,808 0,036 0,150 3,564
Inter 25 0,24 1,6 0,015 2,78 0,031 0,150 3,308
Inter 26 0,24 1,6 0,015 3,24 0,021 0,150 2,737
Inter 27 0,24 1,6 0,015 1,092 0,010 0,150 1,851
Inter 28 0,24 1,6 0,015 2,98 0,013 0,150 2,157
Inter 29 0,24 1,6 0,015 0,085 0,002 0,150 0,897
Inter 30 0,28 1,8 0,015 1,013 0,007 0,156 1,666
Inter 31 0,28 1,8 0,015 2,1 0,010 0,156 1,959
Inter 32 0,28 1,8 0,015 0,1 0,001 0,156 0,687
Inter 33 0,28 1,8 0,015 0,528 0,007 0,156 1,593
Inter 34 0,28 1,8 0,015 2,3 0,031 0,156 3,376
Inter 35 0,28 1,8 0,015 0,43 0,006 0,156 1,446
57

Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s)


Inter 36 0,28 1,8 0,015 1,116 0,011 0,156 1,982
Inter 37 0,28 1,8 0,015 1,228 0,009 0,156 1,876
Inter 38 0,28 1,8 0,015 0,633 0,010 0,156 1,955
Inter 39 0,28 1,8 0,015 0,875 0,012 0,156 2,156
Inter 40 0,28 1,8 0,015 2,594 0,012 0,156 2,139
Inter 41 0,28 1,8 0,015 4,242 0,080 0,156 5,455
Inter 42 0,36 1,8 0,015 0,594 0,008 0,200 2,011
Inter 43 0,36 1,8 0,015 1,204 0,014 0,200 2,694
Inter 44 0,36 1,8 0,015 2,436 0,018 0,200 3,031
Inter 45 0,36 1,8 0,015 0,2 0,009 0,200 2,126
Inter 46 0,36 1,8 0,015 2,6 0,017 0,200 2,936
Inter 47 0,36 1,8 0,015 0,6 0,026 0,200 3,692
Inter 48 0,36 1,8 0,015 1,885 0,011 0,200 2,439
Inter 49 0,3 1,7 0,015 0,4 0,020 0,176 2,957
Inter 50 0,3 1,7 0,015 0,852 0,005 0,176 1,491
Inter 51 0,48 2 0,015 1,566 0,032 0,240 4,586
Inter 52 0,48 2 0,015 0,327 0,005 0,240 1,841
Coll 1 0,4 1,8 0,025 7,816 0,007 0,222 1,267
Coll 2 0,24 1,6 0,015 6,146 0,009 0,150 1,752
Coll 3 0,24 1,6 0,015 8,25 0,010 0,150 1,835
Conve 1 3,5 5,3 0,025 10 0,011 0,660 3,197
Conve 2 7 7,5 0,025 16 0,009 0,933 3,602

Nilai curah hujan maksimum selama 24 jam (R24) yaitu kala ulang 2 tahun
sebesar 112,49, kala ulang 5 tahun 158,53 dan kala ulang 10 tahun 189,66, sehingga
didapatkan 3 intensitas kala ulang hujan maksimum 2, 5 dan 10 tahun. Berikut
adalah perhitungan intensitas hujan kala ulang 2 tahun pada saluran inter 1.
Ls = 210 m
L = 369,220 m (jarak terjauh aliran di atas permukaan kesaluran drainase
terdekat)
n = 0,015 (koefisien kekerasan manning berdasarkan kondisi permukaan)
S = 0,020
V = 3,239 m/s (tabel 5.12)
2 𝑛
𝑡0 = (3 × 3,28 × 𝐿 × ) (3.23)
√𝑆
58

2 0,015
= ( × 3,28 × 369,220 × )
3 √0,020
= 85,249 menit ≈ 1,421 jam
𝑆 𝐿
𝑡𝑑 = (60𝑉 ) (3.24)
210
= (60×3,239)

= 1,081 menit ≈ 0,018 jam


tc = t0 + td (3.22)
= 85,249 + 1,081
= 86,329 menit ≈ 1,439 jam
Nilai konsentrasi yang didapatkan saluran nomor 1 adalah 86,329 menit atau 1,439
jam. Berdasarkan perhitungan yang sama maka berikut adalah waktu konsentrasi
pada tiap saluran dapat dilihat pada tabel 5.15.
Tabel 5.15 Rekapitulasi Perhitungan Nilai Waktu Konsentrasi
V n L Ls t0 td tc
Nama Saluran
m/s - m m (menit) (menit) (menit)
Inter 1 3,231 0,015 369,220 210,000 85,249 1,081 86,329
Inter 2 3,350 0,015 86,030 34,500 21,688 0,172 21,860
Inter 3 3,518 0,015 32,350 88,800 7,765 0,421 8,186
Inter 4 4,500 0,015 79,880 44,200 14,992 0,164 15,156
Inter 5 0,665 0,015 86,890 75,000 110,380 1,880 112,260
Inter 6 1,427 0,015 114,140 148,200 67,566 1,731 69,298
Inter 7 2,618 0,015 54,500 41,699 17,583 0,266 17,849
Inter 8 3,335 0,015 52,910 175,420 13,398 0,877 14,275
Inter 9 1,952 0,015 38,310 29,056 16,575 0,248 16,823
Inter 10 1,976 0,015 20,790 99,112 8,884 0,836 9,719
Inter 11 3,206 0,015 70,780 51,002 12,598 0,265 12,863
Inter 12 2,597 0,015 70,780 82,600 15,555 0,530 16,085
Inter 13 3,282 0,015 9,200 62,500 1,600 0,317 1,917
Inter 14 2,710 0,015 9,200 108,870 1,937 0,669 2,607
Inter 15 3,243 0,015 16,900 121,310 2,974 0,624 3,598
Inter 16 3,453 0,015 16,510 85,380 2,729 0,412 3,141
Inter 17 3,320 0,015 50,190 70,348 8,628 0,353 8,981
Inter 18 2,091 0,015 50,600 173,140 13,812 1,380 15,192
Inter 19 1,359 0,015 51,720 192,000 21,722 2,355 24,077
59

V n L Ls t0 td tc
Nama Saluran
m/s - m m (menit) (menit) (menit)
Inter 20 1,091 0,015 23,120 284,300 13,077 4,342 17,419
Inter 21 1,404 0,015 20,810 260,300 9,152 3,091 12,242
Inter 22 3,297 0,015 31,200 146,180 5,841 0,739 6,580
Inter 23 2,242 0,015 23,760 171,440 6,543 1,275 7,818
Inter 24 3,564 0,015 36,760 50,430 6,368 0,236 6,604
Inter 25 3,308 0,015 32,320 90,000 6,032 0,453 6,485
Inter 26 2,737 0,015 41,230 153,210 9,299 0,933 10,232
Inter 27 1,851 0,015 36,320 112,840 12,110 1,016 13,126
Inter 28 2,157 0,015 43,230 226,830 12,371 1,752 14,123
Inter 29 0,897 0,015 23,210 37,460 15,982 0,696 16,678
Inter 30 1,666 0,015 46,760 135,700 17,751 1,358 19,109
Inter 31 1,959 0,015 51,200 203,410 16,528 1,730 18,258
Inter 32 0,687 0,015 35,600 78,700 32,758 1,908 34,666
Inter 33 1,593 0,015 20,320 77,394 8,069 0,810 8,879
Inter 34 3,376 0,015 26,760 75,030 5,013 0,370 5,384
Inter 35 1,446 0,015 31,230 76,500 13,663 0,882 14,545
Inter 36 1,982 0,015 45,070 105,660 14,384 0,889 15,273
Inter 37 1,876 0,015 31,890 129,760 10,752 1,153 11,905
Inter 38 1,955 0,015 23,220 61,558 7,511 0,525 8,035
Inter 39 2,156 0,015 25,030 70,015 7,344 0,541 7,885
Inter 40 2,139 0,015 21,260 210,790 6,286 1,642 7,928
Inter 41 5,455 0,015 10,300 52,995 1,194 0,162 1,356
Inter 42 2,011 0,015 28,760 76,330 10,693 0,633 11,326
Inter 43 2,694 0,015 47,500 86,208 13,183 0,533 13,717
Inter 44 3,031 0,015 43,530 137,820 10,739 0,758 11,497
Inter 45 2,126 0,015 98,760 23,000 34,738 0,180 34,918
Inter 46 2,936 0,015 10,300 156,830 2,624 0,890 3,514
Inter 47 3,692 0,015 97,650 22,877 19,777 0,103 19,881
Inter 48 2,439 0,015 15,400 164,760 4,722 1,126 5,848
Inter 49 2,957 0,015 96,430 20,120 22,432 0,113 22,545
Inter 50 1,491 0,015 13,230 168,690 6,106 1,886 7,992
Inter 51 4,586 0,015 83,450 49,359 15,367 0,179 15,546
Inter 52 1,841 0,015 82,340 63,982 37,778 0,579 38,357
Coll 1 1,267 0,025 116,160 1049,000 73,566 13,802 87,367
Coll 2 1,752 0,015 71,750 709,020 25,277 6,744 32,021
Coll 3 1,835 0,015 72,540 868,200 24,408 7,887 32,295
Conve 1 3,197 0,025 66,550 900,000 34,514 4,691 39,205
Conve 2 3,602 0,025 151,620 1800,000 87,913 8,329 96,243
60

Jika waktu konsentrasi telah diketahui, selanjutnya adalah mencari intensitas


hujan. Untuk itu dibutuhkan nilai curah hujan maksimum selama 24 jam (R24) yang
telah dianalisis sebelumnya. Dari hasil analisis di temukan nilai hujan rencana kala
ulang 2 tahun yaitu 112,49 mm, 5 tahun sebesar 158,53 mm dan 10 tahun sebesar
189,66 mm. Berikut perhitungan intensitas hujan pada saluran inter 1 dengan kala
ulang 2 tahun.
R 24 = 112,49 mm
tc = 86,329 menit ≈ 1,439 jam
2
𝑅24 24 3
I = (t) (3.19)
24
2
112,49 24 3
= × [1,439]
24

= 30,598 mm/jam
Nilai intensitas hujan saluran inter 1 adalah sebesar 30,598 mm/jam.
Rekapitulasi perhitungan intensitas hujan pada saluran interseptor dapat dilihat
pada Tabel 5.16.
Tabel 5.16 Rekapitulasi Perhitungan Intensitas Hujan pada Saluran
Interseptor
Nama I 2th Nama I 2th
Saluran (mm/jam) Saluran (mm/jam)
Inter 1 30,598 Inter 25 171,864
Inter 2 76,448 Inter 26 126,809
Inter 3 147,147 Inter 27 107,412
Inter 5 25,683 Inter 28 102,292
Inter 6 35,426 Inter 29 91,560
Inter 7 87,512 Inter 30 83,620
Inter 8 101,566 Inter 31 86,197
Inter 9 91,034 Inter 32 56,217
Inter 10 131,233 Inter 33 139,386
Inter 11 108,869 Inter 35 100,307
Inter 12 93,797 Inter 36 97,093
Inter 13 387,298 Inter 37 114,633
Inter 14 315,568 Inter 38 148,982
61

Nama I 2th Nama I 2th


Saluran (mm/jam) Saluran (mm/jam)
Inter 15 254,541 Inter 40 150,318
Inter 16 278,690 Inter 43 104,304
Inter 17 138,328 Inter 44 117,329
Inter 18 97,437 Inter 45 55,946
Inter 19 71,680 Inter 47 81,442
Inter 20 88,945 Inter 49 74,891
Inter 21 112,520 Inter 50 149,518
Inter 22 170,210 Inter 51 95,951
Inter 23 151,731 Inter 52 52,549
Inter 24 169,802

5.3.3 Perhitungan Debit Banjir Rencana


Perhitungan debit banjir rencana terbagi atas 2 jenis perhitungan yaitu
perhitungan debit banjir rencana saluran tanpa penyatuan dan dengan penyatuan.
Berikut adalah perhitungan debit rencana tanpa penyatuan dengan menggunakan
metode rasional pada saluran inter 1.
C = 0,541
I = 30,598 mm/jam (kala ulang 2 tahun)
A = 4,386 ha ≈ 0,044 km2
Qp = C Itc,p A (3.20)
Qinter 1 = 0,2778 × 0,541 × 30,598 × 0,044
= 0,202 m3/s
Berdasarkan perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada saluran tanpa
penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.18.
62

Tabel 5.17 Rekapitulasi Hitungan Debit Rencana Saluran Interseptor tanpa


Penyatuan
I A C Q 2th
Nama saluran
(mm/jam) (Km2) - (m3/s)
Inter 1 30,598 0,044 0,541 0,202
Inter 2 76,448 0,003 0,696 0,037
Inter 3 147,147 0,004 0,496 0,079
Inter 5 25,683 0,003 0,710 0,016
Inter 6 35,426 0,008 0,717 0,053
Inter 7 87,512 0,002 0,723 0,034
Inter 8 101,566 0,008 0,741 0,171
Inter 9 91,034 0,001 0,263 0,009
Inter 10 131,233 0,007 0,743 0,190
Inter 11 108,869 0,002 0,726 0,035
Inter 12 93,797 0,004 0,718 0,079
Inter 13 387,298 0,001 0,734 0,083
Inter 14 315,568 0,001 0,629 0,076
Inter 15 254,541 0,002 0,612 0,106
Inter 16 278,690 0,002 0,590 0,080
Inter 17 138,328 0,003 0,639 0,065
Inter 18 97,437 0,005 0,725 0,098
Inter 19 71,680 0,007 0,729 0,107
Inter 20 88,945 0,014 0,497 0,168
Inter 21 112,520 0,009 0,522 0,151
Inter 22 170,210 0,002 0,733 0,066
Inter 23 151,731 0,010 0,745 0,320
Inter 24 169,802 0,004 0,743 0,142
Inter 25 171,864 0,004 0,741 0,138
Inter 26 126,809 0,013 0,748 0,346
Inter 27 107,412 0,007 0,745 0,149
Inter 28 102,292 0,017 0,748 0,356
Inter 29 91,560 0,001 0,659 0,025
Inter 30 83,620 0,006 0,738 0,111
Inter 31 86,197 0,015 0,741 0,275
Inter 32 56,217 0,002 0,722 0,024
Inter 33 139,386 0,002 0,736 0,063
Inter 35 100,307 0,005 0,746 0,105
Inter 36 97,093 0,006 0,740 0,122
Inter 37 114,633 0,007 0,744 0,155
Inter 38 148,982 0,002 0,731 0,069
63

I A C Q 2th
Nama saluran 2
(mm/jam) (Km ) - (m3/s)
Inter 40 150,318 0,008 0,746 0,248
Inter 43 104,304 0,012 0,748 0,251
Inter 44 117,329 0,006 0,737 0,145
Inter 45 55,946 0,005 0,527 0,040
Inter 47 81,442 0,004 0,629 0,050
Inter 49 74,891 0,002 0,739 0,027
Inter 50 149,518 0,003 0,705 0,081
Inter 51 95,951 0,003 0,716 0,058
Inter 52 52,549 0,003 0,625 0,025

Hasil debit yang dihitung berupa sub debit pada tiap saluran drainase.
Namun, terdapat penyatuan saluran yang menyebabkan debit pada saluran yang
terbebani akan bertambah. Salah satu contoh penyatuan saluran yaitu pada saluran
inter 4. Nilai debit puncak pada saluran inter 4 kala ulang 2 tahun dicari dengan
setiap saluran yang menjadi satu kesatuan DTA. Berikut merupakan contoh
perhitungan debit puncak saluran interseptor pada saluran inter 4.

Gambar 5.9 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Inter 4


R24 2 th = 112,49 mm
Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.25)
Σ(𝐴)
0,696 × 0,003 + 0,496 × 0,004 + 0,664 × 0,002
Cinter 4 = ( )
0,003 + 0,004 + 0,002

= 0,596
64

Ainter 4 = 0,003 + 0,004 + 0,002


= 0,008 Km2
tc inter 4 = Penjumlahan waktu konsentrasi tc inter 2 dengan td pada saluran inter 3
dan 4, yaitu 0,364 + 0,007 + 0,003 = 0,374 jam. tc maksimum dari saluran
inter 2,3 dan 4 adalah 0,364 jam. Maka Waktu konsentrasi yang
digunakan adalah tc inter 2 dengan td pada saluran inter 3 dan inter 4 yaitu
0,374 jam.
= 0,374 jam
2
𝑅24 24 3
I = (𝑡) (3.19)
24
2
112,49 24 3
I2 th = × (0,374)
24

= 75,115 mm/jam
Qp = C Itc,p A (3.20)
Qinter 4 = 0.2778 × Cinter 4 × I2 th × Ainter 4
= 0.2778 × 0,596 × 75,115 × 0,008
= 0,105 m3/s
Berdasarkan perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada saluran
Interseptor dengan penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.18.
Tabel 5.18 Rekapitulasi Hitungan Debit Rencana Saluran Interseptor
dengan Penyatuan

Nama tc (jam) I (mm/jam) A total cgabungan Q gabungan


keterangan penggabungan saluran
saluran
tc sum tc max tc pakai 2 Km2 2

Inter 4 Inter (2,3,4) 0,374 0,364 0,374 75,115 0,008 0,596 0,105

Inter 34 Inter (32,33,34,35) 0,612 0,578 0,612 54,092 0,011 0,738 0,123
Inter 39 Inter (37,38,39) 0,216 0,198 0,216 108,263 0,011 0,740 0,254
Inter 41 Inter (40,41) 0,135 0,132 0,135 148,306 0,009 0,686 0,254
Inter 42 Inter (43,42) 0,239 0,229 0,239 101,216 0,014 0,747 0,304
Inter 46 Inter (45,46) 0,597 0,582 0,597 55,014 0,009 0,628 0,089
Inter 48 Inter (47,48) 0,350 0,331 0,350 78,505 0,007 0,635 0,092
Inter 50 Inter (49,50) 0,407 0,376 0,407 70,985 0,005 0,718 0,064
65

Selanjutnya adalah mencari debit penyatuan pada saluran Collector. Berikut


merupakan contoh perhitungan debit puncak saluran interseptor pada saluran coll
1.

Gambar 5.10 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Coll 1


R24 2 th = 112,49 mm
R24 5 th = 158,53 mm
Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.25)
Σ(𝐴)
0,713 × 0,039 + 0,717 × 0,008 + 0,723 × 0,002
CColl 1 = ( )
0,039 + 0,008 + 0,002

= 0,714
A Coll 1 = 0,039 + 0,008 + 0,002
= 0,048 Km2
tc Coll 1 = Saluran coll 1 mendapatkan masukan dari inter 6 dan inter 7, karena
saluran dari inter 6 dan inter 7 berpotongan dengan saluran coll 1. Maka,
penentuan waktu konsentrasi yang digunakan adalah dengan
membandingkan tc terbesar antara saluran coll 1, inter 6 dan inter 7. Hasil
dari perbandingan tersebut didapatkan tc coll 1 yang terpanjang, yakni
1,456 jam.
2
𝑅24 24 3
I = (𝑡) (3.19)
24
2
112,49 24 3
I 2 th = × (1,456)
24
66

= 30,355 mm/jam
2
158,53 24 3
I 5 th = × (1,456)
24

= 42,780 mm/jam
Qp = C Itc,p A (3.20)
Q 2 th = 0.2778 × Ccoll 1 × I2 th × A coll 1
= 0.2778 × 0,714 × 30,355 × 0,048
= 0,291 m3/s
Q 5 th = 0.2778 × Ccoll 1 × I5 th × A coll 1
= 0.2778 × 0,714 × 42,780 × 0,048
= 0,410 m3/s
Berdasarkan perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada saluran Collector
dengan penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.19.
Tabel 5.19 Rekapitulasi Hitungan Debit rencana Saluran Collector dengan
Penyatuan
I (mm/jam) A total Q gabungan
Nama saluran keterangan penggabungan saluran tc (jam) cgabungan
2
2 5 Km 2 5

Coll 1 Coll 1, Inter (6,7) 1,456 30,355 42,780 0,048 0,714 0,291 0,410

Coll 2 Coll 2, Inter (24,26,28) 0,534 59,271 83,532 0,073 0,729 0,875 1,233

Coll 3 Coll 3, Inter (11,13,16,17,19,20,21,22,23) 0,538 58,935 83,059 0,111 0,660 1,205 1,698

Saluran conveyor pada jalan pramuka merupakan percabangan dari kali


belik/manunggal. Berikut merupakan skema dari percabangan pada saluran
conveyor.

Gambar 5.11 Skema Percabangan pada Saluran Conveyor


67

Skema tersebut menjelaskan bahwa pada kedua saluran conveyor terdapat masukan
dari DAS kali belik. Maka dari itu, diperlukan perhitungan total luasan DAS (A)
dan koefisien aliran / limpasan tergantung pada jenis penggunaan lahan (C) melalui
aplikasi Google Earth. Penentuan luasan dan batas DAS Kali Belik didapatkan
melalui pelacakan arah aliran di sekitar kali belik dan peta RBI Timoho 1408-224
Tahun 1999. Untuk gambar luas dan aliran DAS Kali Belik dapat dilihat pada
gambar 5.12.

Gambar 5.12 Luas dan aliran DAS Kali Belik


68

Sedangkan untuk perhitungan Intensitas (I) mengacu kepada data curah hujan di
tahun 2002-2017 pada stasiun hujan santan, gemawang dan bedugan melalui
metode poligon Thiseen. Namun untuk luasan yang digunakan adalah luasan DAS
kali belik ditambah dengan luasan DAS kawasan penelitian di sekitar Jalan
Pramuka. Hal tersebut dikarenakan untuk penggabungan saluran Conve 1 dan 2
perhitungan intensitas hujan melibatkan dua wilayah tersebut. Penentuan stasiun
hujan yang berpengaruh pada DAS kali belik dapat dilihat pada gambar 5.13
dibawah ini.

Gambar 5.13 Stasiun hujan yang berpengaruh pada DAS Kali belik
Hasil dari penentuan tersebut adalah stasiun hujan santan dan gemawang
yang memiliki pengaruh pada DAS kali belik. Dengan menggunakan metode rerata,
maka akan didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut.
Tabel 5.20 Hasil Perhitungan Curah Hujan Maksimum

Hujan Maksimum, mm
Hujan
Tahun Maksimum
Stasiun Gemawang Stasiun Santan Rencana,mm

2002 65,3 80 72,650


2003 52 196 124,000
2004 160 110 135,000
69

Hujan Maksimum, mm Hujan


Tahun Maksimum
Stasiun Gemawang Stasiun Santan
Rencana,mm
2005 97,7 145 121,350
2006 55 92 73,500
2007 70,5 157 113,750
2008 58 68 63,000
2009 32,5 93 62,750
2010 47 67 57,000
2011 51,4 75,6 63,500
2012 131,2 129 130,100
2013 64,4 105 84,700
2014 84,3 93 88,650
2015 124,8 123 123,900
2016 149,8 123 136,400
2017 200,9 298 249,450

1. Nilai rata – rata (average)


Pencarian nilai rata-rata dapat menggunakan persamaan (3.3). Hasil
perhitungan nilai rata – rata dapat dilihat pada tabel 5.22.
Tabel 5.21 Data Curah Hujan Harian Maksimum Tahunan
No Tahun Xi (mm) Xrt
1 2002 72,650
2 2003 124,000
3 2004 135,000
4 2005 121,350
5 2006 73,500
6 2007 113,750
7 2008 63,000 106,231
8 2009 62,750
9 2010 57,000
10 2011 63,500
11 2012 130,100
12 2013 84,700
13 2014 88,650
14 2015 123,900
15 2016 136,400
16 2017 249,450
Jumlah 1699,700
70

Perhitungan nilai rata – rata (average) :


1 𝑛
𝑋= ∑ 𝑥
𝑛 𝑖=1 𝑖
(3.3)
1
𝑋= 1699,700
16

𝑋 = 106,231
2. Standar deviasi
Pencarian nilai standar deviasi dapat menggunakan Persamaan (3.4).
Hasil perhitungan standar deviasi ditunjukkan pada Tabel 5.23.
Tabel 5.22 Perhitungan Standar Deviasi
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2
1 2002 72,650 -33,581 1127,700
2 2003 124,000 17,769 315,728
3 2004 135,000 28,769 827,641
4 2005 121,350 15,119 228,577
5 2006 73,500 -32,731 1071,335
6 2007 113,750 7,519 56,532
7 2008 63,000 -43,231 1868,941
8 2009 62,750 106,231 -43,481 1890,619
9 2010 57,000 -49,231 2423,716
10 2011 63,500 -42,731 1825,960
11 2012 130,100 23,869 569,717
12 2013 84,700 -21,531 463,595
13 2014 88,650 -17,581 309,100
14 2015 123,900 17,669 312,185
15 2016 136,400 30,169 910,153
16 2017 249,450 143,219 20511,610
Jumlah 1699,700 0,000 34713,109

Perhitungan standar deviasi :

∑(𝑋𝑖−𝑋)2
𝑑𝑠 = √ (3.4)
𝑛−1

∑ 34713,109
𝑑𝑠 = √ 16−1

𝑑𝑠 = 46,568
71

3. Koefisien variasi
Pencarian koefisien variasi dihitung dengan Persamaan (3.5) berikut :
ds
𝑐𝑣 = (3.5)
𝑋
46,568
𝑐𝑣 = 106,231

𝑐𝑣 = 0,438
4. Koefisien kemencengan
Pencarian koefisien kemencengan dapat menggunakan Persamaan (3.6).
Hasil perhitungan koefisien kemencengan ditunjukkan pada Tabel 5.24.
Tabel 5.23 Perhitungan Koefisien kemencengan
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3
1 2002 72,650 -33,581 1127,700 -37869,587
2 2003 124,000 17,769 315,728 5610,100
3 2004 135,000 28,769 827,641 23810,196
4 2005 121,350 15,119 228,577 3455,792
5 2006 73,500 -32,731 1071,335 -35066,125
6 2007 113,750 7,519 56,532 425,047
7 2008 63,000 -43,231 1868,941 -80796,655
8 2009 62,750 106,231 -43,481 1890,619 -82206,482
9 2010 57,000 -49,231 2423,716 -119322,567
10 2011 63,500 -42,731 1825,960 -78025,542
11 2012 130,100 23,869 569,717 13598,438
12 2013 84,700 -21,531 463,595 -9981,774
13 2014 88,650 -17,581 309,100 -5434,371
14 2015 123,900 17,669 312,185 5515,914
15 2016 136,400 30,169 910,153 27458,193
16 2017 249,450 143,219 20511,610 2937647,195
Jumlah 1699,700 0,000 34713,109 2568817,774

3
𝑛 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑠 = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑑𝑠 3
(3.6)

16 × 2568817,774
𝑐𝑠 =
15 × 14 × (46,568)3
𝑐𝑠 = 1,938
72

5. Koefisien kurtosis
Pengukuran koefisien kurtosis dimaksudkan untuk mengukur
keruncingan dari bentuk kurva distribusi, yang umumnya dibandingkan
dengan distribusi normal. Perhitungan koefisien kurtosis dapat dilihat
pada Persamaan (3.7). Hasil perhitungan koefisien kurtosis ditunjukkan
pada Tabel 5.25.
Tabel 5.24 Perhitungan Koefisien kurtosis
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3 (Xi-Xrt)4
1 2002 72,650 -33,581 1127,700 -37869,587 1271708,083
2 2003 124,000 17,769 315,728 5610,100 99684,471
3 2004 135,000 28,769 827,641 23810,196 684989,586
4 2005 121,350 15,119 228,577 3455,792 52247,263
5 2006 73,500 -32,731 1071,335 -35066,125 1147758,096
6 2007 113,750 7,519 56,532 425,047 3195,822
7 2008 63,000 -43,231 1868,941 -80796,655 3492940,374
8 2009 62,750 -43,481 1890,619 -82206,482 3574440,587
106,231
9 2010 57,000 -49,231 2423,716 -119322,567 5874399,135
10 2011 63,500 -42,731 1825,960 -78025,542 3334128,923
11 2012 130,100 23,869 569,717 13598,438 324577,718
12 2013 84,700 -21,531 463,595 -9981,774 214920,070
13 2014 88,650 -17,581 309,100 -5434,371 95543,027
14 2015 123,900 17,669 312,185 5515,914 97459,303
15 2016 136,400 30,169 910,153 27458,193 828379,351
16 2017 249,450 143,219 20511,610 2937647,195 420726159,214
Jumlah 1699,700 0,000 34713,109 2568817,774 441822531,025

4
𝑛2 ∑𝑛
𝑖=1(𝑥𝑖 −𝑋)
𝑐𝑘 = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑑𝑠4 (3.7)

162 × 441822531,025
𝑐𝑘 =
16 × 15 × 14 × 46,5684
𝑐𝑘 = 7,158
Setelah dilakukan perhitungan, maka selanjutnya adalah pemilihan jenis
distribusi yang sesuai. Ada empat jenis distribusi yang digunakan yaitu normal, log
normal, distribusi gumbel dan log pearson III. Tabel 5.26 menunjukkan pemilihan
distribusi yang sesuai untuk hujan harian. Berdasarkan Tabel 5.26 terdapat satu
73

jenis distribusi probabilitas yang memenuhi syarat yaitu probabilitas Log Pearson
III.
Tabel 5.25 Pemilihan Distribusi Yang Sesuai Untuk Hujan Harian
Jenis Distribusi Persyaratan Hasil Keterangan
Cs ≈ 0 1,938 Tidak
Normal
Ck ≈ 3 7,158 Memenuhi
3
Cs = Cv + 3Cv = 1,54 1,399 Tidak
Log Normal 8 6 4
Ck = Cv +6Cv +15Cv +16Cv +3 = 7,51 2
6,672 Memenuhi
Cs = 1,14 1,938 Tidak
Gumbel
Ck = 5,4 7,158 Memenuhi

Selain dari
Log Pearson III Selain dari nilai di atas
nilai di atas
Dipilih

Selanjutnya adalah mencari parameter statistik untuk distribusi Log Pearson


III. Perhitungan statistik untuk distribusi Log Pearson III dapat dilihat pada Tabel
5.27.
Tabel 5.26 Distribusi Frekuensi Metode Log Pearson III
No. Tahun Hujan Rencana (Xi) Log Xi (Log Xi- Log Xrerata)2 (Log Xi- Log Xrerata)3
1 2009 57,000 1,756 0,073 -0,020
2 2010 62,750 1,798 0,052 -0,012
3 2011 63,000 1,799 0,051 -0,012
4 2008 63,500 1,803 0,050 -0,011
5 2006 72,650 1,861 0,027 -0,004
6 2002 73,500 1,866 0,026 -0,004
7 2013 84,700 1,928 0,010 -0,001
8 2014 88,650 1,948 0,006 0,000
9 2003 113,750 2,056 0,001 0,000
10 2007 121,350 2,084 0,003 0,000
11 2005 123,900 2,093 0,004 0,000
12 2015 124,000 2,093 0,005 0,000
13 2012 130,100 2,114 0,008 0,001
14 2016 135,000 2,130 0,011 0,001
15 2004 136,400 2,135 0,012 0,001
16 2017 249,450 2,397 0,137 0,051
Jumlah 1699,700 31,862 0,476 -0,010
74

Berdasarkan perhitungan sebelumnya maka dilakukan perhitungan parameter


statistik untuk mencari nilai distribusi frekuensi metode Log Pearson III.
n = 16
𝑦̅ = 1,99
ds𝑦 = 0,18
Csy = 0,00
Langkah selanjutnya adalah mencari hujan rerata pada kala ulang 2, 5,
dan 10 tahun dengan menggunakan distribusi Log Pearson III. Untuk
mencari hujan rencana menggunakan persamaan 3.3. berikut adalah
perhitungan hujan rencana untuk kala ulang 2, 5, dan 10 tahun.
a. Hujan rencana kala ulang (YT) 2 tahun
Csy = 0,00
𝑦̅ = 1,99 mm (Rata-rata hujan dalam logaritmik)
ds𝑦 = 0,18 (Standar devisiasi dalam logaritmik)
KT = 0,000 (Tabel nilai KT distribusi probabilitas Log
Pearson III)
Sehingga besar hujan kala ulang 2 tahun dapat dicari dengan
persamaan 3.3 tapi dalam bentuk logaritmik.
𝑦𝑡 = 𝑦 + (𝐾 × 𝑠𝑑 ) (3.15)
𝑦𝑡 = 1,99 + (0,000 × 0,18)
= 1,99
𝑥𝑡 = 10 (1,99)
= 98,03 mm
b. Hujan rencana kala ulang (YT) 5 tahun
Csy = 0.00
𝑦̅ = 1,99 mm (Rata-rata hujan dalam logaritmik)
ds𝑦 = 0,18 (Standar devisiasi dalam logaritmik)
KT = 0,842 (Tabel nilai KT distribusi probabilitas Log
Pearson III)
75

Sehingga besar hujan kala ulang 5 tahun dapat dicari dengan


persamaan 3.3 tapi dalam bentuk logaritmik.
𝑦𝑡 = 𝑦 + (𝐾 × 𝑠𝑑 ) (3.15)
𝑦𝑡 = 1,99 + (0,842 × 0,18)
= 2,141
𝑥𝑡 = 10 (2,141)
= 138,49 mm
c. Hujan rencana kala ulang (YT) 10 tahun
Csy = 0.00
𝑦̅ = 1,99 mm (Rata-rata hujan dalam logaritmik)
ds𝑦 = 0,18 (Standar devisiasi dalam logaritmik)
KT = 1,282 (Tabel nilai KT distribusi probabilitas Log
Pearson III)
Sehingga besar hujan kala ulang 10 tahun dapat dicari dengan
persamaan 3.3 tapi dalam bentuk logaritmik.
𝑦𝑡 = 𝑦 + (𝐾 × 𝑠𝑑 ) (3.15)
𝑦𝑡 = 1,99 + (1,282 × 0,18)
= 2,220
𝑥𝑡 = 10 (2,220)
= 165,90 mm
Setelah mendapatkan hujan rencana kala ulang maka dilakukan perhitungan
intensitas hujan. Perhitungan intensitas hujan dibutuhkan waktu konsentrasi (tc).
Perhitungan waktu konsentrasi (tc) membutuhkan nilai kemiringan dari Kali Belik.
Panjang dan beda elevasi kali belik didapatkan melalui aplikasi Global Mapper.
Hasil dari pencarian melalui aplikasi Global Mapper dapat dilihat pada gambar
5.14.
76

Gambar 5.14 Beda elevasi dan panjang Kali Belik Melalui Aplikasi
Global Mapper
Berdasarkan pada gambar 5.14 didapatkan bahwa beda elevasi (∆ℎ) dari kali belik
sebesar 51,645 meter dan memiliki panjang (Ls) sebesar 6,016 meter. Maka
perhitungan kemiringan (S) adalah sebagai berikut.
∆h
S = (3.29)
Ls
51,645
= 6,016

= 0,009
Setelah didapatkan kemiringan (S), selanjutnya adalah menghitung waktu
konsentrasi (tc). Waktu konsentrasi (tc) dihitung dengan rumus yang dikembangkan
oleh Kirpich (1940). Berikut merupakan perhitungan waktu konsentrasi (tc) pada
DAS kali belik.
0,385
0,87×𝐿2
𝑡𝑐 = (1000 ×S) (3.21)
0,385
0,87×6,0162
= (1000 × 0,009)

= 1,649 jam
Langkah selanjutnya setelah mendapatkan waktu konsentrasi (tc) adalah
melakukan perhitungan debit kala ulang 2,5 dan 10. Perhitungan debit kala ulang
2,5 dan 10 dibutuhkan total luasan DAS (A) dan koefisien aliran / limpasan
77

tergantung pada jenis penggunaan lahan (C) yang didapatkan melalui aplikasi
Google Earth.

Gambar 5.15 Peta Penggunaan Lahan DAS Kali Belik


Tabel 5.27 Rekapitulasi Perhitungan Penggunaan Lahan DAS Kali Belik
Penggunaan Lahan C A (Km2)
Bangunan/Atap 0,75 4,572
Jalan 0,7 0,758
Sawah 0,5 0,444
Halaman 0,22 0,322
Luasan Gabungan 6,096
Koefisien DAS (C) 0,698

Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.25)
Σ(𝐴)
0,75 × 4,572 + 0,7 × 0,758 + 0,5 × 0,444 + 0,22 × 0,322
[Link] = ( )
4,572 + 0,76 + 0,444 + 0,32

= 0,698
[Link] = 4,572 + 0,758 + 0,444 + 0,322
= 6,096 Km2
Berdasarkan dari Gambar 5.15 dan perhitungan di atas didapatkan total
luasan DAS (A) sebesar 6,096 km2 dan koefisien aliran / limpasan tergantung pada
jenis penggunaan lahan (C) sebesar 0,697. Setelah mendapatkan waktu konsentrasi
78

(tc), total luasan DAS (A) dan koefisien aliran / limpasan tergantung pada jenis
penggunaan lahan (C) maka dapat dihitung debit kala ulang tahun 2,5 dan 10 tahun.
Selanjutnya adalah mencari intensitas dan debit penyatuan pada saluran Conveyor.
Berikut merupakan salah satu contoh perhitungan intensitas dan debit puncak pada
saluran conve 1.

Gambar 5.16 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Conve 1


R24 2 th = 98,03 mm
R24 5 th = 138,49 mm
R24 10 th = 165,90 mm
Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.25)
Σ(𝐴)

C Conve1 =
0,698 × 6,096 + 0,608 × 0,055 + 0,714 × 0,048 + 0,596 × 0,008 + 0,724 × 0,073 + 0,710 × 0,003 + 0,660 × 0,111 + 0,741 × 0,008 + 0,716 × 0,003 + 0,263 × 0,001 + 0,625 × 0,003
( )
6,096 + 0,055 + 0,048 +0,008 + 0,073 + 0,003 + 0,111 + 0,008 + 0,003 + 0,001 + 0,003

= 0,696
A Conve1 = 6,096 + 0,055 + 0,048 +0,008 + 0,073 + 0,003 + 0,111 + 0,008 + 0,003 + 0,001 + 0,003

= 6,410 Km2
tc Conve 1 = Penjumlahan waktu konsentrasi (tc) gabungan untuk conve 1 adalah
dengan menambahkan tc Kali Belik dengan td saluran saluran conve 1.
Lalu dibandingkan dengan tc (4,5,8,9,51,52) dan saluran Coll (1,2,3)
karena saluran Inter (4,5,8,9,51,52) dan saluran Coll (1,2,3) berpotongan
dengan saluran conve 1, maka hasilnya adalah 1,649 + 0,078 = 1,727 jam.
Sedangkan untuk (tc) maksimum dari saluran DAS Kali belik, saluran
79

conve 1, Inter (4,5,8,9,51,52) dan saluran Coll (1,2,3) sebesar 1,871 jam.
Maka yang digunakan adalah tc penjumlahan sebesar 1,871 jam.
= 1,871 jam
2
𝑅24 24 3
I = (𝑡) (3.19)
24
2
98,03 24 3
I 2 th = × (1,871)
24

= 22,382 mm/jam
2
138,49 24 3
I 5 th = × (1,871)
24

= 31,620 mm/jam
2
165,90 24 3
I 10 th = × (1,871)
24

= 37,878 mm/jam
Qp = C Itc,p A (3.20)
Q 2 th = 0.2778 × C conve 1 × I 2 th × A conve 1
= 0.2778 × 0,696 × 22,382 × 6,410
= 27,760 m3/s
Q 5 th = 0.2778 × C conve 1× I 5 th × A conve 1
= 0.2778 × 0,696 × 31,620 × 6,410
= 39,218 m3/s
Q 10 th = 0.2778 × C conve 1 × I 10 th × A conve 1
= 0.2778 × 0,696 × 37,878 × 6,410
= 46,980 m3/s
Berdasarkan pada contoh perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada
saluran Conveyor dengan penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.29.
80

Tabel 5.28 Nilai Debit Rencana Pada Saluran Conveyor Dengan Penyatuan
I (mm/jam) A total Q gabungan
Nama Saluran tc
cgabungan
saluran yang bergabung (jam) 2 5 10 Km2 2 5 10

DAS Kali Belik, Inter


Conve 1 (4,5,8,9,51,52), Coll 1,871 22,382 31,620 37,878 6,410 0,696 27,760 39,218 46,980
(1,2,3)

Das Kali Belik,


Inter(1,10,12,14,15,18,
Conve 2 1,788 23,068 32,590 39,039 6,400 0,697 28,611 40,421 48,420
25,27,29,30,31,34,36,
39,42,44,46,48,50)

5.4 Analisis Debit Saluran Eksisting


Nilai dari kapasitas drainase eksisting dapat dicari dengan menggunakan
persamaan 3.27. Berikut adalah perhitungan kapasitas drainase pada saluran inter
1.
B = 0,6 m
H = 0,6 m
∆ℎ
S = (3.29)
𝐿𝑠
4,238
= 210

= 0,020
n = 0,015
A = B×H
= 0,6 m × 0,6 m
= 0,36 m2
P = B + ( 2 × H)
= 0,6 m + ( 2 × 0,6 ) m
= 1,8 m
𝐴
𝑅 = (3.28)
𝑃
0,36 m2
= 1,8 m

= 0,20 m
81

1
V = R2/3 S1/2 (3.26)
n
2 1
1
V = 0,013
× 0,203 × 0,0202

= 3,239 m/s
𝑄 = 𝑉×𝐴 (3.27)
= 3,239 m/s × 0,36 m2
= 1,166 m3/s.
Berdasarkan perhitungan debit saluran eksisting inter 1, pada saluran lain
dapat diterapkan persamaan yang sama sehingga diketahui kapasitas saluran
drainase pada setiap saluran. Berikut hasil rekapitulasi perhitungan kapasitas pada
setiap saluran drainase.
Tabel 5.29 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Interseptor
Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s) Q (m3/s)
Inter 1 0,36 1,8 0,015 4,238 0,020 0,200 3,239 1,166
Inter 2 0,48 2 0,015 0,584 0,017 0,240 3,350 1,608
Inter 3 0,48 2 0,015 1,658 0,019 0,240 3,518 1,689
Inter 4 0,48 2 0,015 1,35 0,031 0,240 4,500 2,160
Inter 5 0,48 2 0,015 0,05 0,001 0,240 0,665 0,319
Inter 6 0,48 2 0,015 0,455 0,003 0,240 1,427 0,685
Inter 7 0,48 2 0,015 0,431 0,010 0,240 2,618 1,256
Inter 8 0,48 2 0,015 2,943 0,017 0,240 3,335 1,601
Inter 9 0,48 2 0,015 0,167 0,006 0,240 1,952 0,937
Inter 10 0,48 2 0,015 0,584 0,006 0,240 1,976 0,949
Inter 11 0,16 1,2 0,015 1,732 0,034 0,133 3,206 0,513
Inter 12 0,16 1,2 0,015 1,84 0,022 0,133 2,597 0,416
Inter 13 0,16 1,2 0,015 2,224 0,036 0,133 3,282 0,525
Inter 14 0,16 1,2 0,015 2,642 0,024 0,133 2,710 0,434
Inter 15 0,16 1,2 0,015 4,213 0,035 0,133 3,243 0,519
Inter 16 0,16 1,2 0,015 3,363 0,039 0,133 3,453 0,553
Inter 17 0,16 1,2 0,015 2,561 0,036 0,133 3,320 0,531
Inter 18 0,16 1,2 0,015 2,5 0,014 0,133 2,091 0,335
Inter 19 0,16 1,2 0,015 1,171 0,006 0,133 1,359 0,217
Inter 20 0,24 1,6 0,015 0,956 0,003 0,150 1,091 0,262
Inter 21 0,24 1,6 0,015 1,448 0,006 0,150 1,404 0,337
Inter 22 0,24 1,6 0,015 4,487 0,031 0,150 3,297 0,791
Inter 23 0,24 1,6 0,015 2,432 0,014 0,150 2,242 0,538
Inter 24 0,24 1,6 0,015 1,808 0,036 0,150 3,564 0,855
82

Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s) Q (m3/s)


Inter 25 0,24 1,6 0,015 2,78 0,031 0,150 3,308 0,794
Inter 26 0,24 1,6 0,015 3,24 0,021 0,150 2,737 0,657
Inter 27 0,24 1,6 0,015 1,092 0,010 0,150 1,851 0,444
Inter 28 0,24 1,6 0,015 2,98 0,013 0,150 2,157 0,518
Inter 29 0,24 1,6 0,015 0,085 0,002 0,150 0,897 0,215
Inter 30 0,28 1,8 0,015 1,013 0,007 0,156 1,666 0,466
Inter 31 0,28 1,8 0,015 2,1 0,010 0,156 1,959 0,549
Inter 32 0,28 1,8 0,015 0,1 0,001 0,156 0,687 0,192
Inter 33 0,28 1,8 0,015 0,528 0,007 0,156 1,593 0,446
Inter 34 0,28 1,8 0,015 2,3 0,031 0,156 3,376 0,945
Inter 35 0,28 1,8 0,015 0,43 0,006 0,156 1,446 0,405
Inter 36 0,28 1,8 0,015 1,116 0,011 0,156 1,982 0,555
Inter 37 0,28 1,8 0,015 1,228 0,009 0,156 1,876 0,525
Inter 38 0,28 1,8 0,015 0,633 0,010 0,156 1,955 0,547
Inter 39 0,28 1,8 0,015 0,875 0,012 0,156 2,156 0,604
Inter 40 0,28 1,8 0,015 2,594 0,012 0,156 2,139 0,599
Inter 41 0,28 1,8 0,015 4,242 0,080 0,156 5,455 1,528
Inter 42 0,36 1,8 0,015 0,594 0,008 0,200 2,011 0,724
Inter 43 0,36 1,8 0,015 1,204 0,014 0,200 2,694 0,970
Inter 44 0,36 1,8 0,015 2,436 0,018 0,200 3,031 1,091
Inter 45 0,36 1,8 0,015 0,2 0,009 0,200 2,126 0,765
Inter 46 0,36 1,8 0,015 2,6 0,017 0,200 2,936 1,057
Inter 47 0,36 1,8 0,015 0,6 0,026 0,200 3,692 1,329
Inter 48 0,36 1,8 0,015 1,885 0,011 0,200 2,439 0,878
Inter 49 0,3 1,7 0,015 0,4 0,020 0,176 2,957 0,887
Inter 50 0,3 1,7 0,015 0,852 0,005 0,176 1,491 0,447
Inter 51 0,48 2 0,015 1,566 0,032 0,240 4,586 2,201
Inter 52 0,48 2 0,015 0,327 0,005 0,240 1,841 0,883

Tabel 5.30 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Collector


Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s) Q (m3/s)
Coll 1 0,4 1,8 0,025 7,816 0,007 0,222 1,267 0,507
Coll 2 0,24 1,6 0,015 6,146 0,009 0,150 1,752 0,421
Coll 3 0,24 1,6 0,015 8,25 0,010 0,150 1,835 0,440

Tabel 5.31 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Conveyor


Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s) Q (m3/s)
Conve 1 3,5 5,3 0,025 6,8 0,011 0,660 2,854 11,191
Conve 2 7 7,5 0,025 16 0,009 0,933 3,602 25,212
83

5.5 Pembahasan
Evaluasi kapasitas saluran dilakukan dengan membandingkan antara debit
kala ulang dengan debit saluran eksisting. Jika debit kapasitas saluran drainase lebih
besar sama dengan debit kala ulang, maka saluran terkategori aman. Sebaliknya,
jika debit kapasitas saluran eksisting lebih kecil daripada debit kala ulang maka
saluran tidak mampu menampung debit air dan diakibarkan banjir atau genangan.
Hasil evaluasi dapat dilihat pada Tabel 5.33, 5.34, dan 5.35.

Tabel 5.32 Evaluasi Kapasitas Saluran Interseptor


Debit Kala Ulang
Debit Saluran Eksisting keterangan
Nama saluran (m3/s)
2 tahun (m3/s) 2 tahun
Inter 1 0,202 1,166 aman
Inter 2 0,037 1,608 aman
Inter 3 0,079 1,689 aman
Inter 4 0,105 2,160 aman
Inter 5 0,016 0,319 aman
Inter 6 0,053 0,685 aman
Inter 7 0,034 1,256 aman
Inter 8 0,171 1,601 aman
Inter 9 0,009 0,937 aman
Inter 10 0,190 0,949 aman
Inter 11 0,035 0,513 aman
Inter 12 0,079 0,416 aman
Inter 13 0,083 0,525 aman
Inter 14 0,076 0,434 aman
Inter 15 0,106 0,519 aman
Inter 16 0,080 0,553 aman
Inter 17 0,065 0,531 aman
Inter 18 0,098 0,335 aman
Inter 19 0,107 0,217 aman
Inter 20 0,168 0,262 aman
Inter 21 0,151 0,337 aman
Inter 22 0,066 0,791 aman
Inter 23 0,320 0,538 aman
Inter 24 0,142 0,855 aman
Inter 25 0,138 0,794 aman
Inter 26 0,346 0,657 aman
Inter 27 0,149 0,444 aman
84

Debit Kala Ulang keterangan


3
Debit Saluran Eksisting
Nama saluran (m /s)
2 tahun (m3/s) 2 tahun
Inter 28 0,356 0,518 aman
Inter 29 0,025 0,215 aman
Inter 30 0,111 0,466 aman
Inter 31 0,275 0,549 aman
Inter 32 0,024 0,192 aman
Inter 33 0,063 0,446 aman
Inter 34 0,123 0,945 aman
Inter 35 0,105 0,405 aman
Inter 36 0,122 0,555 aman
Inter 37 0,155 0,525 aman
Inter 38 0,069 0,547 aman
Inter 39 0,254 0,604 aman
Inter 40 0,248 0,599 aman
Inter 41 0,254 1,528 aman
Inter 42 0,304 0,724 aman
Inter 43 0,251 0,970 aman
Inter 44 0,145 1,091 aman
Inter 45 0,040 0,765 aman
Inter 46 0,089 1,057 aman
Inter 47 0,050 1,329 aman
Inter 48 0,092 0,878 aman
Inter 49 0,027 0,887 aman
Inter 50 0,064 0,447 aman
Inter 51 0,058 2,201 aman
Inter 52 0,025 0,883 aman

Tabel 5.33 Evaluasi Kapasitas Saluran Collector


Debit Kala Ulang
Debit Saluran Eksisting keterangan
Nama saluran (m3/s)
2 tahun 5 tahun (m3/s) 2 tahun 5 tahun
Coll 1 0,291 0,410 0,507 aman aman
Coll 2 0,875 1,233 0,421 genangan genangan
Coll 3 1,205 1,698 0,440 genangan genangan
85

Tabel 5.34 Evaluasi Kapasitas Saluran Conveyor


Debit Kala Ulang Debit
Saluran keterangan
Nama saluran (m3/s) Eksisting
2 tahun 5 tahun 10 tahun (m3/s) 2 tahun 5 tahun 10 tahun
Conve 1 27,760 39,218 46,980 11,191 genangan genangan genangan
Conve 2 28,611 40,421 48,420 25,212 genangan genangan genangan

Hasil evaluasi menunjukan bahwa semua saluran interseptor aman.


Sedangkan yang mengalami banjir atau genangan adalah saluran coll (2,3) dan
conve (1,2). Hal tersebut sesuai dengan titik-titik banjir dimana data didapatkan dari
Kurniawan (2017), Sis (2017) dan beberapa wawancara di lapangan terkait
banjir/genangan. Denah titik banjir atau genangan dapat dilihat pada gambar 5.20.

Gambar 5.16 Denah Titik Banjir atau Genangan di Lokasi Penelitian


86

Setelah diketahui bahwa genangan yang terjadi pada lokasi penelitian diakibatkan
oleh kapasitas drainase eksisting yang tidak mampu menampung dan mengalirkan
air ke pembuangan akhir. Maka dari itu perlu dilakukan normalisasi saluran dengan
cara memperbesar dimensi drainase eksisting agar dapat menampung debit puncak
yang direncanakan. Perubahan dimensi saluran drainase eksisting dilakukan agar
mampu menampung dan mengalirkan debit puncak rencana dengan kala ulang
sesuai dengan klasifikasi saluran. Hasil dari perubahan dimensi saluran dapat di
lihat pada Tabel 5.36 dan Tabel 5.37.
Tabel 5.35 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung
Debit Kala Ulang Pada Saluran Collector
Kapasitas Saluran Eksisting Debit Kala Ulang Keterangan
Sesudah Perbaikan Dimensi (m3/s) Aman/Melimpas
Saluran
H B V Q
2 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun
(cm) (cm) (m2/s) (m3/s)
Coll 2 160 40 1,880 1,256 0,875 1,233 Aman Aman
Coll 3 210 40 2,064 1,757 1,205 1,698 Aman Aman

Tabel 5.36 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung


Debit Kala Ulang Pada Saluran Conveyor
Kapasitas Saluran Eksisting Debit Puncak
Keterangan Aman/Genangan
Sesudah Perbaikan Dimensi Rencana (m3/s)
Saluran
H B V Q
2 5 10 2 5 10
(cm) (cm) (m/s) (m3/s)
Conve 1 450 250 3,709 41,728 27,760 39,218 46,980 aman aman aman
Conve 2 340 350 4,064 49,413 28,611 40,421 48,420 aman aman aman

Perbandingan dimensi saluran dari sebelum dan sesudah mengalami perubahan


dimensi dapat dilihat pada tabel 5.38.
Perubahan dimensi dilakukan hanya dengan mengubah tinggi dari drainase
karena keterbatasan lahan tidak dimungkinkan untuk mengubah lebar dari drainase.
Mengingat banyak sekali faktor/aspek non-teknis untuk melakukan perbaikan pada
drainase.
87

5.6 Hasil
Berdasarkan pada pembahasan di atas. Hasil perbandingan perubahan
dimensi saluran Coll 2, Coll 3, Conve 1 dan Conve 2 adalah sebagai berikut.
Tabel 5.37 Perbandingan Dimensi Saluran dari Sebelum dan Sesudah
Mengalami Perubahan Dimensi
Sebelum Sesudah Perubahan
Saluran H B H B H B
(cm) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm)
Coll 2 60 40 160 40 120 0
Coll 3 60 40 210 40 170 0
Conve 1 140 250 450 250 310 0
Conve 2 200 350 340 350 140 0
88

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis perhitungan dari Evaluasi
Kapasitas Saluran Drainase di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Hasil dari evaluasi didapatkan bahwa terdapat 4 saluran yang tidak dapat
menampung debit rencana. Saluran Coll 2 dan 3 tidak dapat menampung
debit rencana dengan kala ulang 2 dan 5 tahun. Saluran Conve 1 dan Conve
2 tidak dapat menampung debit rencana dengan kala ulang 2,5 dan 10 tahun.
2. Hasil desain ulang untuk saluran yang tidak mampu menampung debit
rencana kala ulang adalah penambahan ketinggian saluran Coll 2 sebesar
120 cm, penambahan ketinggian saluran Coll 3 sebesar 170 cm,
penambahan ketinggian saluran Conve 1 sebesar 310 cm, dan penambahan
ketinggian Conve 2 sebesar 140 cm.

6.2 Saran
Saran dari penelitian didapatkan beberapa saran untuk memperbaiki dan
menambah analisis sebagai berikut.

1. Pengukuran beda elevasi dengan menggunakan water pass lebih akurat


dibandingkan dengan menggunakan aplikasi seperti Global Mapper atau
Google Earth.
2. Melakukan penanganan genangan secara optimal baik secara fisik maupun
non fisik yang ditinjau dari aspek sosial dan ekonomi. Mengingat
permasalahan drainase merupakan permasalahan yang sangat kompleks.

88
89

DAFTAR PUSTAKA

Candra. 2014, Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Kecamatan Pasar Kliwon


Kota Surakarta, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Direktorat Jenderal Bina Marga, 2002, Drainase Perkotaan, Penerbit Bina
Marga, Jakarta.
Edisono, Sutarto. 1997, Drainase Perkotaan, Gunadarma, Jakarta.
Hasmar, H. 2011, Drainase Perkotaan, UII Press, Yogyakarta.
Hijayati. 2013, Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase Di Sebagian Daerah
Antara Jalan Kaliurang dan Sungai Pelang Kecamatan Depok
Kabupaten Sleman Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kurniawan, B. 2017. Hujan Deras Tanpa Henti, Yogyakarta Banjir dan Talud
Longso, (Online) ([Link]
3746621/hujan-deras-tanpa-henti-yogyakarta-banjir-dan-talud longsor
Diakses 6 Agustus 2019).
Notodihardjo,dkk. 1998. Drainase Perkotaan . Universitas Tarumanegara.
Jakarta. SNI. 1990. Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan.
Jakarta.
Purnamasari, 2015, Evaluasi Saluran Drainase Jalan Layang Jombor
Yogyakarta,Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Suripin, 2004, Sistem Saluran Drainase Perkotaan Berkelanjutan,
Andi, Yogyakarta.
Sis, 2017. Hujan, Jalan Pramuka Banjir. (Online)
([Link]
Diakses 6 Agustus 2019).
Sivanavan, R.K., 1992. Soil and water conservation and water harvesting.
Tamil Nadu Social Forestry Project Indo-Swedish Forest Coordination
Programme, Madras.
Soemarto, C.D., 1995, Hidrologi Teknik, Usaha Nasional, Surabaya.
Soewarno, [Link] Pengukuran dan Pengolahan Data Aliran Sungai
(Hidrometri), Nova, Bandung.
90

Triatmodjo, Bambang., 2008, Hidrologi Terapan, Beta Offset, Yogyakarta.


Wesli. (2008), Drainase Perkotaan, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Harga k untuk Distribusi Log Pearson III

91
Lampiran 2 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2002

92
Lampiran 3 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2002

93
Lampiran 4 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2002

94
Lampiran 5 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2003

95
Lampiran 6 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2003

96
Lampiran 7 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2003

97
Lampiran 8 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2004

98
Lampiran 9 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2004

99
Lampiran 10 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2004

100
Lampiran 11 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2005

101
Lampiran 12 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2005

102
Lampiran 13 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2005

103
Lampiran 14 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2006

104
Lampiran 15 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2006

105
Lampiran 16 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2006

106
Lampiran 17 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2007

107
Lampiran 18 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2007

108
Lampiran 19 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2007

109
Lampiran 20 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2008

110
Lampiran 21 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2008

111
Lampiran 22 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2008

112
Lampiran 23 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2009

113
Lampiran 24 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2009

114
Lampiran 25 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2009

115
Lampiran 26 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010

116
Lampiran 27 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2010

117
Lampiran 28 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2010

118
Lampiran 29 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010

Pada tahun 2010, stasiun Bedugan tidak memiliki data hujan sehingga diperlukan
perhitungan statistik untuk mengisi data hujan pada tahun tersebut dengan
membandingkan data hujan pada stasiun terdekat yaitu stasiun Gemawang dan
Stasiun Santan pada tahun yang sama. Berikut perhitungan pengisian data hujan
pada Stasiun Bedugan.
Penjelasan perhitungan sebagai berikut.
1. Hujan di Stasiun Gemawang Tahun 2010 (Pi) 47 mm dengan jarak ke Stasiun
Bedugan (Li) 1764.796 m.
2. Hujan di Stasiun Santan Tahun 2010 (Pi) 67 mm dengan jarak ke Stasiun
Bedugan (Li) 1517.647 m.

Px =

= 58.497 mm (Hujan Stasiun Bedugan Pada Tahun 2010)


Dimana,
Px = Data hujan yang hilang
Pi = Data hujan yang terdekat pada periode yang sama
Li = Jarak dari stasiun yang terdapat data hingga stasiun yang tidak terdapat
data.

119
Lampiran 30 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2011

120
Lampiran 31 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2011

121
Lampiran 32 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2011

122
Lampiran 33 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2012

123
Lampiran 34 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2012

124
Lampiran 35 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2012

125
Lampiran 36 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2013

126
Lampiran 37 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2013

127
Lampiran 38 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2013

128
Lampiran 39 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2014

129
Lampiran 40 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2014

130
Lampiran 41 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2014

131
Lampiran 42 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2015

132
Lampiran 43 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2015

133
Lampiran 44 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2015

134
Lampiran 45 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2016

135
Lampiran 46 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2016

136
Lampiran 47 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2016

137
Lampiran 48 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2017

138
Lampiran 49 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2017

139
Lampiran 50 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2017

140
LEGENDA
84.276

84.288
84.451
83.677
83.594
Garis Kontur Tiap 1m

84.269
U
Patok 83.560
83.682

makam

85.203
85.185
83.692 83.611

85.175

84.208
84.381
85.443
86.109

85.836

83.767
Grid

85.024
83.788

86.266
86.252

86.138
83.049

86.503
makam
BM.05 83.771
84.006
Bench Mark (BM) X 432354.783 +43 83.753
Y 9135700.823 0 P.5
+5 83.139

SDN Kotagede III


P.5
Z +87.7205 83.968 83.275
84.012

Baitul Iman
SD IT
Control Point (CP) P.8+51

masjid
BM.06 84.161 82.837

P.9+38 P.9+01 P. P.6+83

83.328
X 432363.600
8+ 84.208

83.216
1 82.487

83.007
Y 9135869.323 1 35 .16 82.785
+8 84

84.170
86.542
Z +88.698 P.10+45
Saluran
P.9
86 83.934
86.737 86.502
.2 84.161 82.874
06 19

P.8+30
P.7
0

83.303
P.10+59

87.461 42 84.3 981.60

87.681
84.451

83.009
84.1

83.979
86.780 81.534 82.804

83.123
85.689 1
81.833 83.2 81.600

84.645
86.147
P.7+50 84.441

84.064
82.687

86.029
84.437
0

86.204
83.266
83.265 82.071

87.263
83.206
P.1 40 86.230 86.870 81.258
89.775

87.727 86.436 81.742


89.648

86.274
89.311

83.369 4
87.113

81.463
88.447

87.8.7744
89.278

2
89.198

Jalan Aspal 89.349 81.493


89.160

.9
876.50 6
86.493 87.522 87.230 81.730 83.301 81 6 83.153 82.882
89.192

kolam
86.853 8 .73
85.6
89 84.112 .93 80.865
87 87.179 85.655 81

kolam
kolam
87.839 82.138

kolam
88.334 84.027 83.901 82.216
85.851
82.119 82.578 82.059
73 82.898 83.079 82.493
Jalan Cor 88.1 82.382
81.113
71 P.8+85

83.8 02 85 5.80
82.624 Lapangan Olahraga 83.116

85.8 8 8
86.7 00
P.9+54

86.0
95 3 84.847 83.809
82.504

P.8+
87.8 P.8+70 85.8 .21 83.868 SDN Kotagede III

47 8 .7 1
85.813 83 82.684
82.257

85 3.7 84
9
84.806 83.979 82.583

.9 31
85.899 5
.08 84.2133 59

22
P.5+
85.286
Jalan Tanah 85 64 82.637 82.89 P.5+75

0
85 83.313 2.8 7 82.431 82.730
P.6+2

9
85.7.733 06 8 .98
45 84.123 83.1 1 85 83.181
.1 0 5 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1
83 85 .130 60
.01 83.2
TVS

8 .66 846.034 P.5+14 P.5 P.4+75


P.11

854.8.06 7 8 86
90.803
87.367

1/2
P.6+32
87.342
89.226

P.
89.052

Bangunan 49
86.0 2 P.5+25

8
06
85.9 43 86.0 83.063
44
86.132

Taman
Arah Aliran 86.121
P.7
+88
09
P.7+
Tiang Telephone P.6+50

Tiang Listrik

n
Pohon ata n
mb 2 ata
Je 9.09 mb 9
+8 Je 7.83 n
+8 ata
mb 179
Sawah Je 7.
90 +8

n
ata
mb 8
Je 3.86
+8
+86.436

0 1 2 3 4 5 7.5 10 m
85
SKALA VERTIKAL 1 : 100

+83.960
0 10 20 30 40 50 75 100.0m

SKALA HORISONTAL 1 : 1000

BIDANG PERSAMAAN : + 81.00 meter


PATOK HEKTOMETER Hm 10 Hm 9 Hm 8 Hm 7 Hm 6 Hm 5

NOMOR PROFIL
P.10 +81 +54 +38 +1 +85 +70 +51 +35 +30 +9 P.8 +88 +50 +9 P.7 +83 +50 +32 +2 +75 +59 +50 +43 +25 +14 P.5
1000.0

981.0

954.0

938.0

901.0

885.0

870.0

851.0

835.0
830.0

809.0

800.0

788.0

750.0

709.0

700.0

683.0

650.0

632.0

602.0

575.0

559.0

550.0

543.0

525.0

514.0

500.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 19.0 27.0 16.0 37.0 16.0 15.0 19.0 16.0 21.0 12.0 38.0 41.0 17.0 33.0 18.0 30.0 27.0 16.0 18.0 11.0 14.0
86.56 87.80 87.87

86.55 87.74 87.77

86.49 88.03 87.56

86.27 87.52 87.41

86.23 87.23 87.00

86.44 87.49 87.50

84.44 86.87 86.74

84.45 86.15 86.33

84.20 86.09 86.10


84.06 86.17 86.15

83.86 86.07 85.99

83.73 86.00 85.92

83.67 85.69 85.75

83.31 85.19 85.29

83.09 85.10 85.12

82.86 85.10 85.09

82.68 84.81 84.85

82.31 83.18 82.95

82.25 84.21 84.21

82.12 84.14 84.12

81.73 83.31 83.37

81.63 83.30 83.27

81.68 83.15 83.22

81.60 83.18 83.15

81.56 83.21 83.21

81.49 83.23 83.27

81.27 83.15 83.16


ELEVASI TANGGUL KIRI
YANG ADA

ELEVASI TANGGUL KANAN

ELEVASI DASAR SUNGAI PADA AS

ELEVASI TANAH ASLI PADA AS SUNGAI

ELEVASI TANGGUL RENCANA

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI DASAR SUNGAI


RENCANA

TRACE SUNGAI

TIPE BANGUNAN

LINING KIRI
LINING KANAN

51
DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN
LEGENDA 82.509

84.018
84.252
83.951 82.104

84.287
83.091 80.696

84.278
84.332
84.362
84.276 83.297 81.513

83.478
84.288
84.451
83.677 83.361 82.512 80.567 80.647
82.587 79.601 79.554 80.890

Pasar Ikan Higienis


83.594 82.454 80.459 79.922 80.226
82.662 79.312 79.227 79.206

84.269
80.717 80.502 78.928 79.697 81.673

82.427
82.473 80.149 79.692 78.943
Garis Kontur Tiap 1m 83.064
79.866
79.712 78.491 78.662 79.801
79.815

81.101
80.238 79.719 79.219
83.363 81.704 80.161

78.956
81.435 77.949
80.113
83.560 79.916
Patok 79.395

83.611
83.682 83.200 78.863

79.209
83.629
79.293

kolam
83.611 80.154 79.686 79.187

79.165
83.692 79.666

84.208
82.877 80.127

79.337
82.671 78.432

83.767

82.980
Grid 83.788 77.943

83.221
83.069
78.866

78.944
83.032
83.049

78.389 78.369

Resto & Rest Area


78.509

80.714
83.771 82.814 77.984

U
84.006 83.213 80.182 79.657
83.753 80.212 79.447

Ulam Tirta
79.891
Bench Mark (BM) 81.570 79.463 79.564

Jl. Tegalturi
83.139 79.639 78.946
83.968 79.337
83.275 79.060

78.979
79.264
82.785 78.770 78.049 77.894
80.389 78.514
81.836 80.846 80.216 78.482
81.822

81.825
78.606

81.863
82.837 79.913
Control Point (CP) 79.757

81.914
81.843 79.304
80.045 78.852 79.637

83.328
78.495

82.060
82.781
80.255 79.236
78.675 78.853 78.993

83.216
82.487 80.272 79.493 78.458

83.007

80.098
82.785 82.231 80.146 80.7

79.371
80.526
01 80.395 80.136 78.449
82.279.434 80.635

82.039
79.068

82.159
80.7 01

81.137
80.356

80.543
83.934

78.863
80.460 78.501

80.418
82.015 79.587

82.380
82.874 81.949 82.2 01 79.075

82.010
Saluran 81.014 79.335 79.572 79.035 78.360

82.738
79.406 51 80.522 80.187 80.086 BM.01

83.303
80.872 78.140

Ruko
80.300

kolam
83.009
80.2 79.408

83.979
81.534 82.804

83.123

81.768 82.617
81.755 82.675

81.010
82.603
80.063 7579.840 79.289 81.818 X 432254.021

82.769
79.243 79.171

79.852
82.687 82.459 83.439

kolam
83.206 83.266
83.265 82.071 81.713 81.982 84.286 84.127
81.258 82.806 78.164 Y 9134877.973
81.463 80.904 80.959 84.201

78.818
81.493 78.518
P

81.619
80.957 79.412
78.382 .1+25
82.882 81.384 79.847
P.1

81.667
Z

Poliklinik Hewan
83.153 80.634 81.416 80.3 82.248 81.170 84.308 79.101 79.064 +78.975
Jalan Aspal 80.865 81.924 89

kolam
81.497 83.507 78.072 78.953

kolam
84.555

79.039
82.535

kolam
kolam
kolam
kolam
82.216 79.125 79.172 77.881 78.668 78.
665 78.863

30
82.059 82.010

77.992
83.079 82.493 83.349 83.429 78.958 78.833
78.924

78.7

05
81.113 P.2+91 P.2+75 P.2+50 79.499 78.665 78.596 .73
6

78.8 64
82.382 80.697
P.2+25 77.851 77. 78

77.3

78.5 91
83.116 78.773 648 78.830

72
76.5
78.756

80.023
Jalan Cor 82.880
82.504
P.3

79.5 59
83.748 81.274 80.737 78.784 78.736

65
makam
82.033 78.823
P.3+ 79.159 41

79.1
77.859 78.694

P.0
81.740 77.273 0
82.583 78.6 97 94
83.979
79 77.604 77.106

78.807
82.866 79.143 78.797 8.

78.851
79.284 78.853 78.814 76.5 55 7
P.3+75 P.3+50 P.3+25 83.430 80.739
81.662 80.003
78.327
80.326 78
.9
78
.8
33
Jalan Tanah 83.290 80.678 77
P.4+25 P.4 BM.03 83.383 81.398 80.747 79
.6
P.5+14 P.5 P.4+75 P.4+50 X 432324.997 82.453 P.0+75 P.0+50 P.0+P.0+25 7 77
+1
81.204
P.5+25 Y 9135229.273
P.2
81.95581.439 32
P.0
81
.6
07 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1
Bangunan Z +81.5705
0+
P.1+88 P. 2/2
P.1+75 82.413
Arah Aliran
P.1+35 Jl. Sidikan
BM.02
P.1+50 X 432277.385
Y 9134995.383
Tiang Telephone
Z +79.791

Tiang Listrik
CP.01
X 432314.040
Pohon Y 9135108.688
Z +79.568
85

Sawah

n
ata
mb 1 n
Je 9.44 ata
+7 mb 9
Je 9.03
+7

mercu +80.701

80

0 1 2 3 4 5 7.5 10 m +79.434
SKALA VERTIKAL 1 : 100

0 10 20 30 40 50 75 100.0m
+77.106
SKALA HORISONTAL 1 : 1000

BIDANG PERSAMAAN : + 75.00 meter


PATOK HEKTOMETER Hm 5 Hm 4 Hm 3 Hm 2 Hm 1 Hm 0

NOMOR PROFIL
P.5 +75 +50 +25 P.4 +79 +75 +50 +25 P.3 +91 +75 +50 +25 P.2 +88 +75 +50 +35 +25 P.1 +75 +50 +32+25 +17 +07 P.0
500.0

475.0

450.0

425.0

400.0

379.0
375.0

350.0

325.0

300.0

291.0

275.0

250.0

225.0

200.0

188.0

175.0

150.0

135.0

125.0

100.0

75.0

50.0

32.0

25.0

17.0

7.0

0.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 25.0 25.0 25.0 25.0 21.0 25.0 25.0 25.0 16.0 25.0 25.0 25.0 12.0 13.0 25.0 15.0 10.0 25.0 25.0 25.0 18.0 10.0
81.27 83.15 83.16

81.16 82.88 83.16

80.96 81.92 82.81

80.06 81.71 82.02

80.15 81.95 81.84

79.71 82.26 82.19


79.43 80.96 81.18

79.29 81.00 80.87

79.03 80.52 80.49

79.07 80.36 80.40

78.75 80.27 80.39

78.52 80.14 80.20

78.52 79.49 79.51

78.45 79.28 79.38

78.15 79.24 79.20

78.11 79.10 79.12

78.07 79.00 79.06

77.94 78.79 78.92

77.85 78.93 78.92

77.65 78.91 78.91

77.11 78.32 78.78

77.70 78.80 78.88

77.60 78.85 78.82

77.11 78.83 78.85

75.83 78.93 80.60

76.60 78.96 80.43

76.39 78.94 80.45

76.56 78.89 80.49


ELEVASI TANGGUL KIRI
YANG ADA

ELEVASI TANGGUL KANAN

ELEVASI DASAR SUNGAI PADA AS

ELEVASI TANAH ASLI PADA AS SUNGAI

ELEVASI TANGGUL RENCANA

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI DASAR SUNGAI


RENCANA

TRACE SUNGAI

TIPE BANGUNAN

LINING KIRI
LINING KANAN

DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN

52
83
P.1+25

Penampang Melintang Saluran Conveyor 1

80

BID. PERS. 74.00


78.665

79.365
79.665
79.176
77.772

77.648

77.761
79.110

81.859
ELEVASI TANAH ASLI (m)

0.20
0.30

0.30
JARAK (m) 5.00 1.20 1.30 3.20

53
LEGENDA

Garis Kontur Tiap 1m

Patok

Grid

CP.08
Bench Mark (BM) X 432398.968

U
Y 9135842.346
Z +89.398
MN

0
Control Point (CP)

+5

da
.0+

aru
.0
50 MN.5+51

.G
MN.4+57 MN.5

22
MN.1+53

Gg
MN.1 MN.2 MN.2+53

4
.5
MN.3+50

.43
Saluran MN.3+24

89
MN.0+75 MN.3

9
MN.4+12

89
+2

89 6.6 376
.3 47
24
8 9.
89

.0

8
.27
M 0 85.543

14
88.901

.3
Jalan Aspal 86 89.104

89 .481
89.122 87.808 87.840

89
86 .67 88.295 87.753 87.014 86.842 88.151 88.019 85.488
87.823 88.846

8 6.9 3
.8 86 88.777 83.277 82.946
.59 6 86.842

8 .41
89
95 88.790 86.714 83.543 82.946

89 6.7 96
8 87.813 85.815 87.836 87.728 87.888 86.854 84.342 84.041 83.277
896.8 8 85.793 85.292

.4 6
86.542 84.840 84.539 84.435 84.041 85.731 85.530 85.404

6
85.349

33
.1918 85.152 84.500 84.496 84.326

9
85.882 85.806

9
2
86.274 85.806
9

.85

.45
.53
1 88.956 88.667 88.563 88.172 87.722 87.412 87.299 86.715
+5
E

89 89

29

86
Jalan Cor

86
86
M .2 .13 89.016 Jl. Pramuka 85.565 85.328

.3

4
39 85.844
N.
10

89
R

86.656

.07
86.756

7
88.810 88.722 88.469 88.002 87.727 87.258 87.055

.60
0+

86
P.
UA

88
89 9.6 5

28 P.
8 .77
87 .31 48
8 .1 1
89

Jalan Tanah 10
89 8.4 13

+4 MN.0+80
SQ

47
78

5
2

.1 8

Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2


.
89 .19

MN.0+67
60
89

89
8 .3 1/4
XT

Bangunan 869.1 49
88 .85392
.3
34

m
ka
CP.09

ma
Arah Aliran X 432540.439
Y 9135586.150
Z +87.136
BM.06
X 432363.600
Tiang Telephone Y 9135869.323
n
Z +88.698
ata
n ata
mb 239 mb 329
Je Je 9. n
+8
9. +8 ata ata
n n ata
n
Tiang Listrik mb 722 mb 07 ata mb
n
Je 8. Je mb 469 Je 8.56
3 ata
+8 8.6 Je 8. ata
n mb 727
+8 +8 Je 7. n
+8 mb 002 +8 ata
Je 8. mb n
+8 Je 7.72
7
ata
n ata ata
n
Pohon +8 mb mb 412 mb
Je 7.25
8 Je 7. Je 7.29
9
+8 n
+8 +8 da ata
90 aru mb 656
.G 459 Je 6.
Gg 6. +8 n ata
n
Sawah +8 ata mb 565atan
mb 806 Je 5. b
Je 5.
+8 +8 Jem .565
5
+8
+87.819
+87.518

+85.572
85

0 1 2 3 4 5 7.5 10 m

SKALA VERTIKAL 1 : 100

0 10 20 30 40 50 75 100.0m

SKALA HORISONTAL 1 : 1000

BIDANG PERSAMAAN : + 80.00 meter


PATOK HEKTOMETER Hm 0 Hm 1 Hm 2 Hm 3 Hm 4 Hm 5

NOMOR PROFIL
MN.0 +28 +50 +67+75
+80 MN.1 +53 MN.2 +53 MN.3 +24 +50 +12 +57 MN.5
100.0

153.0

200.0

253.0

300.0

324.0

350.0

412.0

457.0

500.0
28.0

50.0

67.0

75.0
80.0
0.0

JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 28.0 22.0 17.0 20.0 53.0 47.0 53.0 47.0 24.0 26.0 62.0 45.0 43.0
87.11 88.45 89.06

86.78 88.73 88.75

86.60 89.18 89.23

86.54 89.14 88.59

85.83 89.14 89.03


85.82 88.89 88.85

85.79 88.76 88.78

85.29 88.79 88.79

85.13 87.95 88.16

84.84 87.03 87.40

84.54 87.41 87.73

84.44 87.08 86.85

84.32 86.54 86.56

84.04 86.75 86.67

83.54 85.72 85.75

83.28 85.52 85.51


ELEVASI TANGGUL KIRI
YANG ADA

ELEVASI TANGGUL KANAN

ELEVASI DASAR SUNGAI PADA AS

ELEVASI TANAH ASLI PADA AS SUNGAI

ELEVASI TANGGUL RENCANA

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI DASAR SUNGAI


RENCANA

TRACE SUNGAI

TIPE BANGUNAN

LINING KIRI
LINING KANAN

DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN

54
LEGENDA

Garis Kontur Tiap 1m

n
Patok ira
mb
Ga MN.8+50

U
Jl.
MN
BM.09 .8+
Grid MN.7+50 X 432774.322 64
MN.7 Y
Z
9135175.623
+84.0465 83.714

Bench Mark (BM) MN.6+50 83.707 83.62


MN.6 83.815
83.689
81.799
83.5536 83
.72
9
MN.5+51 84.047 81.998 83.665 8

SS
83.582 813.405
84.192 83.788 .59

A
Control Point (CP) 84.645 82.140
9

AH

67
84.640 83.632
MN.5 84.106 83

83.9
84.240 84.111 .52
84.768 Jl. Pramuka
MN.4+57
85.043 82.356 83.708 3 83
84.281 .40
85.543
84.781
82.555 84.034
8
813.37
4 MN
Saluran 85.151 84.718 .70 0
2 .9 +5
82.793 84.419
85.488
82.946 85.026 83
.32 0
0
MN.8+3
88.019 82.946 84.654 4
83.277 85.404 ka
Jalan Aspal
88.151
83.543
83.277
85.530
85.015 MN.8 mu
Pra 83
.27
Jl. 8 4
85.731 85.328 813.20
85.806
85.565
MN .47 1
5 83
.9 83
8
813.00
.06
0
85.844 .27 .25 4
Jalan Cor 7 6
83
.03
3
MN
Jalan Tanah .9+ 83
8 .233
38 803.078
.95 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2
4
82
.95
83.0 2/4
2 82.8 16
Bangunan 08
82.8
66
MN
Arah Aliran .9+
98
MN
.10
Tiang Telephone
+17
90

n n n n
Tiang Listrik ata ata ata ata
mb 404 emb 403 emb 403 n mb n n
Je 5. J 5. J 85. bata Je 5.32
8 ata ata
+8 +8 + em +8 mb 026 emb 15 ata
n
04 Je 5. J 85.0 mb n n
J 5.4 +8 + Je 4.71
8 ata ata ata
n
ata
n
+ 8
+8 mb 9 mb 9 mb 281emb 281 ata
n n
Pohon Je 4.41 Je 4.41 Je mb 111 ata n n
+8 +8 4. J 84. Je mb 7 ata ata n
+8 + 4. Je 3.96 mb mb 788 ata
+8 +8 Je 3.70
8 Je 3. mb 553
+8 +8 Je 3.
+8
Sawah

85

0 1 2 3 4 5 7.5 10 m

SKALA VERTIKAL 1 : 100

80
0 10 20 30 40 50 75 100.0m

SKALA HORISONTAL 1 : 1000

BIDANG PERSAMAAN : + 77.00 meter


PATOK HEKTOMETER Hm 5 Hm 6 Hm 7 Hm 8 Hm 9 Hm 10

NOMOR PROFIL
MN.5 +51 MN.6 +50 MN.7 +50 MN.8 +30 +50 +64 MN.9 +38 +50 +98
500.0

551.0

600.0

650.0

700.0

750.0

800.0

830.0

850.0

864.0

900.0

938.0

950.0

998.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 51.0 49.0 50.0 50.0 50.0 50.0 30.0 20.0 14.0 36.0 38.0 12.0 48.0
83.28 85.52 85.51

82.95 85.29 85.24

82.79 84.85 84.90

82.56 84.54 84.81

82.36 84.28 84.24

82.14 83.97 83.95

82.00 83.81 83.82

81.80 83.63 83.66

81.60 83.45 83.41

81.70 83.27 83.27

81.48 83.22 83.17

81.26 82.96 82.96

80.95 82.89 82.88


ELEVASI TANGGUL KIRI
YANG ADA

ELEVASI TANGGUL KANAN

ELEVASI DASAR SUNGAI PADA AS

ELEVASI TANAH ASLI PADA AS SUNGAI

ELEVASI TANGGUL RENCANA

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI DASAR SUNGAI


RENCANA

TRACE SUNGAI

TIPE BANGUNAN

LINING KIRI
LINING KANAN

DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN

55
LEGENDA

Garis Kontur Tiap 1m

1+20
Patok MN.1
u CP.11
nd
lga X 432904.452
Grid 11 Te
ga Y 9134732.235
N. Jl. M
N. Z +81.0255
MN M 4+5
MN.1

4
82.197 11

4
.9+

82.3
5 0 82.197
80.132
+5 14
N.
Bench Mark (BM) 05 0
.4 5 80.127
82 2.18
8 04
.2 5
M
82 1 4
.4 80.77
82 .206 0

U
Control Point (CP)
83.0 80 2.31 8
8 1 17
8 81 0.1.97 .8

jid
8 60 6 .8 21 6 80 49 0

mas
813.2.004 .5
0 16 .8 78.90
82 80 92
56 77 .5
.2 80
Saluran 82 53
83.0 .2 76

M
33 82 .1 5 0
+5

N.
83.2 80 .66
82
13

12
83 33

67
N.
80.9.078
Jalan Aspal 6 80

81.6
54
78 .532
83.0
+7 M .65

32
82.9 82.8 16 0 7

80.1 81
03

5+15
.1

48
52

79 1.57

80.2
08 82.269

80.1
80

8
.9 2

80.1
.25
N

76
82.8 96 2
Jalan Cor 66 82.659 M .0 0
79 1.27
Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2
81.594

MN.1
MN 8 MN 8
7 0.3 3/4
.9+ 82.632 . 808.1 62
98 14 .3579 80.3
Jalan Tanah +5 3 80.2 91
MN 0 78
75
80.7.442
.10 01
+17 MN
0 +36 .14 MN
MN.1
Bangunan 81
.1
7
81 9.6
68
77 +8 .14+
X
CP.10
432774.145
.4 92
91
.2 9
81 9.31 95 3 94
7 1.2
Y 9134969.565 8
Arah Aliran 81.032
Z +82.9135

09
81.3
M 79.143
N. 81.329
12 13
N.
Tiang Telephone

ri
+

ltu
50

ga
Jl.
Imo M

Te
giri

Jl.
Tim
Tiang Listrik n ur
ata
mb 69
Je 2.2
85
+8 MN.12+76
Pohon

Sawah

80

0 1 2 3 4 5 7.5 10 m

SKALA VERTIKAL 1 : 100

0 10 20 30 40 50 75 100.0m

SKALA HORISONTAL 1 : 1000

BIDANG PERSAMAAN : + 74.00 meter


PATOK HEKTOMETER Hm 10 Hm 11 Hm 12 Hm 13 Hm 14

NOMOR PROFIL
+98 +17 +36 +73 MN.11 +20 +50 MN.12 +50 +76 MN.13 +50 MN.14
+5 +50 +83 +94
1017.0

1036.0

1073.0

1100.0

1120.0

1150.0

1200.0

1250.0

1276.0

1300.0

1350.0

1400.0
1405.0

1450.0

1483.0

1494.0
998.0

JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 19.0 19.0 37.0 27.0 20.0 30.0 50.0 50.0 26.0 24.0 50.0 50.0 45.0 33.0 11.0
80.95 82.89 82.88

80.82 82.91 82.91

80.59 82.68 82.66

80.18 82.57 82.55

80.21 82.74 82.16

80.13 82.13 82.00

80.12 81.86 81.98

79.92 81.57 81.58

79.52 81.49 81.46

79.12 81.33 81.33

79.32 81.27 81.28

79.10 81.27 81.23

78.91 80.85 80.85


78.90 80.93 80.84

78.66 80.53 80.53

78.47 80.35 80.36

78.44 80.30 80.28


ELEVASI TANGGUL KIRI
YANG ADA

ELEVASI TANGGUL KANAN

ELEVASI DASAR SUNGAI PADA AS

ELEVASI TANAH ASLI PADA AS SUNGAI

ELEVASI TANGGUL RENCANA

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI DASAR SUNGAI


RENCANA

TRACE SUNGAI

TIPE BANGUNAN

LINING KIRI
LINING KANAN

DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN

56
LEGENDA

Garis Kontur Tiap 1m

Patok
BM.10
X 433157.707
Y 9134669.532
Z +73.498
Grid

[Link]
MN.17+76

wong
5
Bench Mark (BM)
.1 7+1

MN.14
MN

80.252
Control Point (CP) 73.386

3
78.657
80.532
72.235

+0
+50
77.413 72.235
U 73.375

.17
72
78.9 75.113
51 75.091 73.336
78.9 3

MN

70.331
70.483
Saluran

73.037
73.012
8 75.902 73.331
78.7 42
MN.16+39 78.8 71.833

MN.1 MN.14+94

77 5075
799.98
73.252

3
.33
.
7
Jalan Aspal
8
MN.17+4 MN.18

4+83
MN.16+69

80.3
78.1 62
80.3

MN.16+80
53
79
80.392
Jalan Cor 80.455 80.383 77.694

77.885
80.015
78.737 80.356

80.701
78.442
80.275
80.232

80.391
80.181 80.173 77.823 80.444 80.240
80.416 77.711 80.233
80.103 80.224
80.148 80.511
Jalan Tanah

MN.16+19
Bangunan
MN.15+50 MN.15+92 MN.16+57 CP.12
MN.15+15 X 433084.022
Y 9134674.868
Z +78.8505
Arah Aliran

Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2


Tiang Telephone
4/4

Tiang Listrik

Pohon

Sawah

82

77 g
on
hW
aja 269
80 S.G +82.

75

0 1 2 3 4 5 7.5 10 m

SKALA VERTIKAL 1 : 100

0 10 20 30 40 50 75 100.0m

SKALA HORISONTAL 1 : 1000

75

BIDANG PERSAMAAN : + 74.00 meter

75.336
73.336
73.331
73.331
70.471

70.331
71.913
73.386
70.483
71.583
73.012
75.012
73.386
73.037
PATOK HEKTOMETER Hm 15 Hm 16 Hm 17

NOMOR PROFIL
+94 +15 +50 +92 +19 +39 +53 +69 +80 +3 +10 +48 +76 MN.18 A
1494.0

1515.0

1550.0

1592.0

1619.0

1639.0

1653.0

1669.0

1680.0

1703.0

1710.0

1748.0

1776.0

1800.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 21.0 35.0 42.0 27.0 20.0 14.0 16.0 11.0 23.0 38.0 28.0 24.0
78.44 80.30 80.28

78.66 80.10 80.18

78.74 80.17 80.24

77.82 80.43 80.46

77.80 80.38 80.38

77.69 80.44 80.39

77.71 80.35 80.33

77.73 80.23 80.23

77.89 80.02 80.02

77.33 79.49 79.51

76.76 78.84 78.78

74.20 75.09 75.11

72.24 73.34 73.33

71.11 74.01 74.01


ELEVASI TANGGUL KIRI
YANG ADA

ELEVASI TANGGUL KANAN

ELEVASI DASAR SUNGAI PADA AS

ELEVASI TANAH ASLI PADA AS SUNGAI

ELEVASI TANGGUL RENCANA

ELEVASI MUKA AIR RENCANA

ELEVASI DASAR SUNGAI


RENCANA

TRACE SUNGAI

TIPE BANGUNAN

LINING KIRI
LINING KANAN

DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN

57
83

MN.15+92 Penampang Melintang Saluran Conveyor 2

80

BID. PERS. 74.00


82.455
80.455
80.455
77.823

77.823
80.426

80.511
ELEVASI TANAH ASLI (m)
0.30
0.20

0.20

JARAK (m) 3.50 5.00

58
Skema Saluran Interseptor Inter 46
A = 0,004 km2
Inter 35 Inter 39
A = 0,003 km2
Skema Saluran Interseptor
A = 0,005 km2 Inter 37
C = 0,740
C = 0,746 C = 0,745 A = 0,007 km2
Conve 2 to = 0,044 Jam
Nama saluran : Inter 46 Conve 2 to = 0,122 Jam
to = 0,228 Jam C = 0,744
tc = 0,059 Jam tc = 0,131 Jam to = 0,179 Jam
tc = 0,242 Jam
td = 0,015 Jam td = 0,009 Jam tc = 0,198 Jam
td = 0,015 Jam
td = 0,019 Jam

Nama saluran : Inter 39 Inter 38


A = 0,002 km2
C = 0,731
to = 0,125 Jam
tc = 0,134 Jam
td = 0,009 Jam

Inter 41
A = 0,001 km2 Inter 40
C = 0,220 A = 0,008 Km2

Skema Saluran Interseptor Inter 48


A = 0,003 km2
Inter 47
A = 0,004 km2
Skema Saluran Interseptor Conve 2 to = 0,020 Jam
tc = 0,003 Jam
td = 0,023 Jam
C = 0,746
to = 0,105 Jam
tc = 0,132 Jam
C = 0,641 td = 0,027 Jam
Conve 2 C = 0,629
to = 0,079 Jam

Nama saluran : Inter 48


tc = 0,097 Jam
td = 0,019 Jam
to = 0,330 Jam
tc = 0,331 Jam
td = 0,002 Jam
Nama saluran : Inter 41
Skema Penyatuan Saluran Interseptor

Inter 42 Inter 43

Skema Saluran Interseptor Inter 50


A = 0,003 Km2
Inter 49
A = 0,002 km2
Skema Saluran Interseptor Conve 2
A = 0,003 km2
C = 0,745
to = 0,178 Jam
A = 0,012 km2
C = 0,748
to = 0,220 Jam
C = 0,705 C = 0,739 tc = 0,189 Jam
Conve 2 tc = 0,229 Jam
to = 0,102 Jam to = 0,374 Jam td = 0,011 Jam td = 0,009 Jam

Nama saluran : Inter 50


tc = 0,133 Jam
td = 0,031 Jam
tc = 0,376 Jam
td = 0,002 Jam Nama saluran : Inter 42

Inter 4

Skema Saluran Interseptor Conve 2


A = 0,002 km2
C = 0,664
to = 0,250 Jam
Inter 2
A = 0,003 km2
C = 0,696
tc = 0,253 Jam to = 0,361 Jam
td = 0,003 Jam tc = 0,364 Jam

Nama saluran : Inter 4 td = 0,003 Jam

Inter 3
A = 0,004 km2
C = 0,496
to = 0,129 Jam
tc = 0,136 Jam
td = 0,007 Jam

Skema Saluran Interseptor


Inter 34
Inter 33 Inter 32
A = 0,002 km2
A = 0,002 km2 A = 0,002 km2
C = 0,738
C = 0,736 C = 0,722
Conve 2 to = 0,084 Jam
to = 0,134 Jam to = 0,546 Jam
tc = 0,090 Jam
tc = 0,148 Jam tc = 0,578 Jam

Nama saluran : Inter 34


td = 0,006 Jam
td = 0,013 Jam td = 0,032 Jam

Inter 35
A = 0,005 km2
C = 0,746
to = 0,228 Jam
tc = 0,242 Jam
td = 0,006 Jam

59
Skema Saluran Collector
Nama saluran : Coll 1

Coll 1
A = 0,039 km2
C = 0,713
Conve 1 to = 1,226 Jam
tc = 1,456 Jam
td = 0,230 Jam

Inter 7 Inter 6
A = 0,002 km2 A = 0,008 km2
C = 0,723 C = 0,717
to = 0,293 Jam to = 1,126 Jam
tc = 0,297 Jam tc = 1,155 Jam
td = 0,004 Jam td = 0,029 Jam
Skema Penyatuan Saluran Collector

Skema Saluran Collector


Nama saluran : Coll 2 Inter 24
A = 0,004 km2
C = 0,743
to = 0,106 Jam
tc = 0,110 Jam
td = 0,004 Jam

Coll 2
A = 0,023 km2
C = 0,702
Conve 1 to = 0,421 Jam
tc = 0,534 Jam
td = 0,112 Jam

Inter 28 Inter 26
A = 0,017 km2 A = 0,013 km2
C = 0,748 C = 0,748
to = 0,206 Jam to = 0,155 Jam
tc = 0,235 Jam tc = 0,016 Jam
td = 0,029 Jam td = 0,171 Jam

Skema Saluran Collector


Nama saluran : Coll 3 Inter 20 Inter 23 Inter 19 Inter 16 Inter 11
A = 0,014 km2 A = 0,010 km2 A = 0,007 km2 A = 0,002 km2 A = 0,002 km2
C = 0,497 C = 0,729 C = 0,560 C = 0,726
C = 0,745
to = 0,218 Jam to = 0,362 Jam to = 0,210 Jam
to = 0,109 Jam to = 0,045 Jam
tc = 0,214 Jam
tc = 0,072 Jam tc = 0,130 Jam tc = 0,401 Jam tc = 0,052 Jam td = 0,004 Jam
td = 0,290 Jam td = 0,021 Jam td = 0,039 Jam td = 0,007 Jam

Coll 3
A = 0,062 km2
C = 0,729
to = 0,402 Jam
Conve 1 tc = 0,534 Jam
td = 0,131 Jam

Inter 21 Inter 22 Inter 17 Inter 13


A = 0,009 km2 A = 0,002 km2 A = 0,003 km2 A = 0,001 km2
C = 0,522 C = 0,733 C = 0,639 C = 0,734
to = 0,153 Jam to = 0,097 Jam to = 0,144 Jam to = 0,027 Jam
tc = 0,204 Jam tc = 0,110 Jam tc = 0,150 Jam tc = 0,005 Jam
td = 0,052 Jam td = 0,012 Jam td = 0,006 Jam td = 0,032 Jam

60
Inter 9 Inter 8 Inter 5
A = 0,001 Km2 A = 0,008 Km2 A = 0,003 km2 Inter 4
C = 0,263 C = 0,741 C = 0,710 *A = 0,008 km2
tc = 0,280 Jam tc = 0,238 Jam tc = 1,871 Jam *C = 0,596
td = 0,004 Jam td = 0,015 Jam td = 0,031 Jam *tc = 0,364 Jam
to = 0,276 Jam to = 0,223 Jam to = 1,840 Jam td = 0,003 Jam

Conve 1
A = 0,055 km2 DAS Kali Belik
C = 0,608 A = 6,096 km2
to = 0,575 Jam C = 0,698
tc = 0,653 Jam tc = 1,650 Jam
td = 0,078 Jam

Inter 52 Inter 51
A = 0,003 km2 Coll 3 Coll 2 Coll 1
A = 0,003 km2
C = 0,716 *A = 0,111 km2 *A = 0,073 km2 *A = 0,048 Km2
C = 0,625
tc = 0,259 Jam *C = 0,660 *C = 0,7249 *C = 0,714
tc = 0,639 Jam
td = 0,003 Jam *tc = 0,753 Jam *tc = 1,505 Jam *tc = 1,489 Jam
td = 0,010 Jam
to = 0,256 Jam td = 0,131 Jam td = 0,112 Jam td = 0,230 Jam
to = 0,630 Jam

*A = Luasan setelah penyatuan *C = Koefisien limpasan setelah penyatuan *tc = Waktu konsentrasi setelah penyatuan

Skema Penyatuan Saluran Conveyor

Nama saluran : Conve 1

Inter 50 Inter 48 Inter 46 Inter 44 Inter 42 Inter 39 Inter 36 Inter 34 Inter 31


*A = 0,005 km2 *A = 0,007 Km2 *A = 0,009 km2 A = 0,006 Km2 *A = 0,014 Km2 *A = 0,011 Km2 A = 0,006 Km2 *A = 0,011 Km2 A = 0,015 Km2
*C = 0,718 *C = 0,635 *C = 0,686 C = 0,737 *C = 0,747 *C = 0,740 C = 0,740 *C = 0,738 C = 0,741
*tc = 0,407 Jam *tc = 0,350 Jam *tc = 0,597 Jam tc = 0,192 Jam *tc = 0,239 Jam *tc = 0,216 Jam tc = 0,255 Jam *tc = 0,612 Jam tc = 0,304 Jam
td = 0,031 Jam td = 0,019 Jam td = 0,015 Jam td = 0,013 Jam td = 0,011 Jam td = 0,009 Jam td = 0,015 Jam td = 0,006 Jam td = 0,029 Jam
to = 0,102 Jam to = 0,079 Jam to = 0,044 Jam to = 0,179 Jam to = 0,178 Jam to = 0,122 Jam to = 0,240 Jam to = 0,086 Jam to = 0,275 Jam

Conve 2
A = 0,136 km2 DAS Kali Belik
C = 0,700 A = 6,096 km2
to = 1,456 Jam C = 0,698
tc = 1,604 Jam tc = 1,650 Jam
td = 0,139 Jam

Inter 30 Inter 29 Inter 27 Inter 14 Inter 12 Inter 10 Inter 1


Inter 25 Inter 18 Inter 15
A = 0,006 Km2 A = 0,001 km2 A = 0,007 km2 A = 0,001 Km2 A = 0,004 Km2 A = 0,007 km2 A = 0,044 km2
A = 0,004 km2 A = 0,005 Km2 A = 0,002 Km2
C = 0,738 C = 0,659 C = 0,745 C = 0,734 C = 0,718 C = 0,743 C = 0,541
C = 0,741 C = 0,725 C = 0,612
tc = 0,318 Jam tc = 0,278 Jam tc = 0,219 Jam tc = 0,043 jam tc = 0,268 Jam tc = 0,297 Jam tc = 1,089 Jam
tc = 0,108 Jam tc = 0,253 Jam tc = 0,060 Jam
td = 0,023 Jam td = 0,012 Jam td = 0,017 Jam td = 0,011 Jam td = 0,009 Jam td = 0,004 Jam td = 0,018 Jam
td = 0,008 Jam td = 0,023 Jam td = 0,010 Jam
to = 0,296 Jam to = 0,266 Jam to = 0,202 Jam to = 0,032 Jam to = 0,259 Jam to = 0,293 Jam to = 1,071 Jam
to = 0,101 Jam to = 0,230 Jam to = 0,050 Jam

*A = Luasan setelah penyatuan *C = Koefisien limpasan setelah penyatuan *tc = Waktu konsentrasi setelah penyatuan

Nama saluran : Conve 2


61
Saluran Inter 1 Saluran Inter 5 Saluran Inter 9

Beda Elevasi dan Panjang Saluran


1/5

Saluran Inter 2 Saluran Inter 6 Saluran Inter 10

Saluran Inter 3 Saluran Inter 7 Saluran Inter 11

Saluran Inter 8 Saluran Inter 12


62
Saluran Inter 4
Saluran Inter 13 Saluran Inter 17 Saluran Inter 21

Beda Elevasi dan Panjang Saluran


2/5

Saluran Inter 14 Saluran Inter 18 Saluran Inter 22

Saluran Inter 15 Saluran Inter 19 Saluran Inter 23

63
Saluran Inter 16 Saluran Inter 20 Saluran Inter 24
Saluran Inter 25 Saluran Inter 29 Saluran Inter 33

Beda Elevasi dan Panjang Saluran


3/5

Saluran Inter 26 Saluran Inter 30 Saluran Inter 34

Saluran Inter 27 Saluran Inter 31 Saluran Inter 35

64
Saluran Inter 28 Saluran Inter 32 Saluran Inter 36
Saluran Inter 37 Saluran Inter 41 Saluran Inter 45

Beda Elevasi dan Panjang Saluran


4/5

Saluran Inter 38 Saluran Inter 42 Saluran Inter 46

Saluran Inter 39 Saluran Inter 43 Saluran Inter 47

65
Saluran Inter 40 Saluran Inter 44 Saluran Inter 48
Saluran Inter 49 Saluran Collector 1

Beda Elevasi dan Panjang Saluran


5/5

Saluran Inter 50 Saluran Collector 2

Saluran Inter 51 Saluran Collector 3

66
Saluran Inter 52 DAS Kali Belik

Anda mungkin juga menyukai