Evaluasi Drainase Jalan Pramuka Yogyakarta
Evaluasi Drainase Jalan Pramuka Yogyakarta
Halaman Judul
EVALUASI KAPASITAS SALURAN DRAINASE DI JALAN
PRAMUKA KOTA YOGYAKARTA, D.I. YOGYAKARTA
(EVALUATION OF DRAINAGE CAPACITY AT PRAMUKA
STREET, YOGYAKARTA, SPECIAL REGION OF
YOGYAKARTA)
Ilham Setiawan
15 511 197
i
TUGAS AKHIR
Disusun Oleh
Ilham Setiawan
15511197
Dwi Astuti Wahyu Sri Amini Yuni Astuti, Dinia Anggraheni S.T.,
Wulan Pratiwi. S.T., Dr. Ir.,M.T. [Link].
M.T.
NIP: 155111301 NIP: 885110101 NIP: 165110105
Halaman Pengesahan
Mengesahkan
ii
DEDIKASI
Segala puji bagi Allah SWT tuhan semesta alam yang senantiasa
memberikan nikmat dan rahmat yang tiada mampu penulis menghitungnya.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada nabi agung nabi besar
Muhammad SAW serta seluruh keluiarganya dan para sahabatnya.
Dari lubuk hati penulis yang paling dalam, penulis ingin mengucapkan
ribuan terimakasih kepada :
1. Bapak Wawi dan ibu Iskanah serta seluruh keluarga besar penulis yang
senantiasa memberikan dukungan tanpa kenal lelah kepada penulis.
2. Bapak dan ibu dosen yang telah memberikan ilmu yang tak ternilai harganya
serta membimbing penulis hingga mampu menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Serta semua rekan, kolega dan seluruh pihak yang telah membantu penulis
selama ini.
Semoga apa yang penulis sampaikan dalam karya ini bisa menjadi manfaat
baik pada diri penulis sendiri maupun bagi orang lain serta bagi nusa dan bangsa.
Akhir kata penulis hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang tidak mampu penulis sebutkan satu persatu.
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan
segala rahmat dan hidayahnya lah penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang
berjudul Evaluasi Saluran Drainase Di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta, D.I.
Yogyakarta.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini banyak hambatan yang dihadapi oleh
penulis, namun berkat saran, kritik, serta dorongan semangat dari berbagai pihak
alhamdulillah Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. Berkaitan dengan ini, penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Dwi Astuti Wahyu Wulan Pratiwi. S.T., selaku dosen pembimbing Tugas
Akhir, yang telah memberikan banyak ilmu, pengarahan dan dukungan demi
terlaksana dan terselesaikanya penyusunan Tugas Akhir ini.
2. Dr. Ir. Sri Amini Yuni Astuti, M.T, dan Dinia Anggraheni S.T., [Link]. selaku
dosen penguji Tugas Akhir, yang telah memberikan banyak masukan, kritik
maupun saran, dan memberikan evaluasi agar lebih baik di kemudian hari.
3. Ibu Dr. Ir. Sri Amini Yuni Astuti, M.T, selaku Ketua Program Studi Teknik
Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia.
4. Dan seluruh pihak yang telah mendukung terselesaikanya Tugas Akhir ini.
Akhirnya Penulis berharap agar Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi berbagai
pihak yang membacanya.
Ilham Setiawan
v
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI iii
DEDIKASI iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN xi
DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN xii
ABSTRAK xiv
ABSTRACT xv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 2
1.5 Batasan Penelitian .................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Tinjauan Umum ........................................................................................ 3
2.2 Penelitian Terdahulu ................................................................................. 3
2.2.1 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Jalan Layang Jombor
Yogyakarta ...................................................................................... 3
2.2.2 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Kecamatan Pasar Kliwon
Kota Surakarta ................................................................................. 4
2.2.3 Penelitian Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase Di Sebagian
Daerah Antara Jalan Kaliurang Dan Sungai Pelang Kecamatan
Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta. .......................................... 5
vi
2.3 Perbandingan Penelitian ........................................................................... 6
BAB III LANDASAN TEORI 8
3.1 Tinjauan Umum ........................................................................................ 8
3.2 Jenis – Jenis Drainase ............................................................................... 9
3.3 Fungsi Saluran Drainase ......................................................................... 10
3.4 Konsep Drainase Perkotaan .................................................................... 12
3.5 Analisis Hidrologi .................................................................................. 12
3.5.1 Daur Hidrologi............................................................................... 13
3.5.2 Daerah Aliran Sungai .................................................................... 14
3.5.3 Curah Hujan Wilayah .................................................................... 15
3.5.4 Curah Hujan Rencana .................................................................... 17
3.5.5 Kala Ulang Hujan .......................................................................... 22
3.5.6 Intensitas Curah Hujan .................................................................. 23
3.5.7 Debit Banjir Rencana .................................................................... 23
3.5.8 Waktu Konsentrasi (tc) .................................................................. 24
3.5.9 Koefisien Run-off........................................................................... 25
3.6 Hidrolika Saluran ................................................................................... 26
BAB IV METODE PENELITIAN 28
4.1 Pengumpulan Data Primer...................................................................... 28
4.2 Pengumpulan Data Primer ..................................................................... 32
4.3 Metode Penelitian Evaluasi Saluran Drainase ........................................ 32
4.4 Bagan Alir Tugas Akhir ......................................................................... 33
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN 35
5.1 Tinjauan Umum ...................................................................................... 35
5.2 Daerah Penelitian dan Arah Aliran ........................................................ 35
5.3 Analisis Debit Banjir Rencana ............................................................... 38
5.3.1 Perhitungan Koefisien Aliran Permukaan dan Luasan Daerah
Tangkapan Air ............................................................................... 38
5.3.2 Analisis Intensitas Hujan (I) .......................................................... 42
5.3.3 Perhitungan Debit Banjir Rencana ................................................ 61
5.4 Analisis Debit Saluran Eksisting ............................................................ 80
vii
5.5 Pembahasan ............................................................................................ 83
5.6 Hasil........................................................................................................ 87
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 88
6.1 Kesimpulan ............................................................................................. 88
6.2 Saran ....................................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA 89
LAMPIRAN 91
viii
DAFTAR TABEL
ix
Tabel 5.18 Rekapitulasi Hitungan Debit Rencana Saluran Interseptor dengan
Penyatuan 64
Tabel 5.19 Rekapitulasi Hitungan Debit rencana Saluran Collector dengan
Penyatuan 66
Tabel 5.20 Hasil Perhitungan Curah Hujan Maksimum 68
Tabel 5.21 Data Curah Hujan Harian Maksimum Rerata 69
Tabel 5.22 Perhitungan Standar Deviasi 70
Tabel 5.23 Perhitungan Koefisien kemencengan 71
Tabel 5.24 Perhitungan Koefisien kurtosis 71
Tabel 5.25 Pemilihan Distribusi Yang Sesuai Untuk Hujan Harian 73
Tabel 5.26 Distribusi Frekuensi Metode Log Pearson III 73
Tabel 5.27 Rekapitulasi Perhitungan Penggunaan Lahan DAS Kali Belik 77
Tabel 5.28 Nilai Debit Rencana Pada Saluran Conveyor Dengan Penyatuan 80
Tabel 5.29 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Interseptor 81
Tabel 5.30 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Collector 82
Tabel 5.31 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Conveyor 82
Tabel 5.32 Evaluasi Kapasitas Saluran Interseptor 83
Tabel 5.33 Evaluasi Kapasitas Saluran Collector 84
Tabel 5.34 Evaluasi Kapasitas Saluran Conveyor 85
Tabel 5.35 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung Debit
Kala Ulang Pada Saluran Collector 87
Tabel 5.36 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung Debit
Kala Ulang Pada Saluran Conveyor 87
Tabel 5.37 Perbandingan Dimensi Saluran dari Sebelum dan Sesudah Mengalami
Perubahan Dimensi 87
x
DAFTAR GAMBAR
xi
Gambar 5.6 Pengukuran Panjang dan Elevasi Saluran Menggunakan Aplikasi
Global Mapper pada Saluran Inter 1 52
Gambar 5.7 Pengukuran Panjang Lintasan Aliran Di Atas Permukaan Lahan (L)
Menggunakan Aplikasi Google Earth pada Saluran Inter 1 52
Gambar 5.8 Konstuksi Saluran Terbuka 53
Gambar 5.9 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Inter 4 63
Gambar 5.10 Skema Perhitungan Debit Penyatuan Saluran Coll 1 65
Gambar 5.11 Skema Percabangan pada Saluran Conveyor 66
Gambar 5.12 Luas dan aliran DAS Kali Belik 67
Gambar 5.13 Mencari Luasan Menggunakan Metode Poligon Thiseen 68
Gambar 5.14 Beda elevasi dan panjang Kali Belik Melalui Aplikasi Global
Mapper 76
Gambar 5.15 Peta Penggunaan Lahan DAS Kali Belik 77
Gambar 5.16 Denah Titik Banjir atau Genangan di Lokasi Penelitian 85
xii
DAFTAR LAMPIRAN
xiii
Lampiran 29 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010 119
Lampiran 30 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2011 120
Lampiran 31 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2011 121
Lampiran 32 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2011 122
Lampiran 33 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2012 123
Lampiran 34 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2012 124
Lampiran 35 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2012 125
Lampiran 36 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2013 126
Lampiran 37 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2013 127
Lampiran 38 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2013 128
Lampiran 39 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2014 129
Lampiran 40 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2014 130
Lampiran 41 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2014 131
Lampiran 42 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2015 132
Lampiran 43 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2015 133
Lampiran 44 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2015 134
Lampiran 45 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2016 135
Lampiran 46 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2016 136
Lampiran 47 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2016 137
Lampiran 48 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2017 138
Lampiran 49 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2017 139
Lampiran 50 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2017 140
Lampiran 51 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1 1/2 141
Lampiran 52 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1 2/2 142
Lampiran 53 Penampang Melintang Saluran Conveyor 1 143
Lampiran 54 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 1/4 144
Lampiran 55 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 2/4 145
Lampiran 56 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 3/4 146
Lampiran 57 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2 4/4 147
Lampiran 58 Penampang Melintang Saluran Conveyor 2 148
Lampiran 59 Skema Penyatuan Saluran Interseptor 149
xiv
Lampiran 60 Skema Penyatuan Saluran Collector 150
Lampiran 61 Skema Penyatuan Saluran Conveyor 151
Lampiran 62 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 1/5 152
Lampiran 63 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 2/5 153
Lampiran 64 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 3/5 154
Lampiran 65 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 4/5 155
Lampiran 66 Beda Elevasi dan Panjang Saluran 5/5 156
xv
DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN
Notasi :
𝑑𝑠 = Deviasi standar curah hujan
Singkatan :
DTA = Daerah Tangkapan Air
DAS = Daerah Aliran Sungai
xvi
ABSTRAK
Beberapa lokasi di Yogyakarta pada tahun 2017 terkena banjir atau genangan akibat hujan
deras yang mengguyur selama beberapa jam. Lokasi yang terdampak antara lain Jalan Pramuka,
Jalan Gambiran, Jalan Tegalgendu dan Jalan Imogiri Timur. Akibat dari hujan deras tersebut,
menyebabkan Sungai Manunggal atau Kali Mambu di sekitar Jalan Pramuka meluap. Kerugian
akibat banjir atau genangan ini membuat sejumlah kendaraan menjadi macet, rumah dan pertokoan
warga terendam banjir atau genangan. Maka dari itu, kegiatan mengenai evaluasi kapasitas saluran
drainase di Jalan Pramuka, Yogyakarta, perlu dilakukan untuk dapat diketahui apakah kapasitas di
kawasan tersebut memadai dalam menampung debit air hujan. Dari hasil evaluasi, selanjutnya dapat
digunakan sebagai acuan dalam menyelesaikan masalah yang timbul di kawasan Jalan Pramuka
tersebut.
Evaluasi kapasitas saluran dilakukan dengan membandingkan antara debit rencana dengan
debit saluran eksisting. Saluran terkategori aman, ketika hasil debit kapasitas saluran eksisting lebih
besar sama dengan debit rencana. Sebaliknya, saluran terkategori tidak mampu menampung debit
air dan mengakibatkan banjir atau genangan ketika debit kapasitas saluran eksisting lebih kecil
daripada debit rencana maka. Pada analisis ini, debit rencana diperoleh menggunakan analisis debit
banjir kala ulang sesuai klasifikasi saluran yang ditinjau dengan metode rasional. Serta untuk analisis
kapasitas drainase eksisting menggunakan persamaan Manning.
Hasil dari evaluasi didapatkan bahwa terdapat 4 saluran yang tidak dapat menampung debit
rencana. Saluran Coll 2 dan 3 tidak dapat menampung debit rencana dengan kala ulang 2 dan 5
tahun. Saluran Conve 1 dan 2 tidak dapat menampung debit rencana dengan kala ulang 2,5 dan 10
tahun. Hasil desain ulang untuk saluran yang tidak mampu menampung debit rencana kala ulang
adalah penambahan ketinggian saluran Coll 2 sebesar 120 cm, penambahan ketinggian saluran Coll
3 sebesar 170 cm, penambahan ketinggian saluran Conve 1 sebesar 310 cm dan penambahan
ketinggian Conve 2 sebesar 140 cm.
xvii
ABSTRACT
Several places in Yogyakarta in the year of 2017 have been flooded due to the heavy rain
that occurred for several hours. The affected locations are Pramuka Street, Gambiran Street,
Tegalgendu Street, and East Imogiri Street. It causes traffics around the affected location along with
flooded housings and shopping complexes. Therefore, this drainage evaluation in Pramuka Street,
Yogyakarta needs to be done to find out the capacity of drainage in the affected location in terms of
contained rainwater. The result of the evaluation can be used as a reference to solve the problem
that eventually happens in Pramuka Street.
Evaluation of drainage capacity is done by comparing the planned discharge with the
existing channel discharge. Categorized channels are safe when the resulting discharge capacity of
the existing channel is greater than the planned discharge. Conversely, categorized channels are
not able to accommodate the flow of water and cause flooding or inundation when the discharge
capacity of the existing channel is smaller than the planned discharge. In this analysis, the planned
discharge is obtained using a flood discharge analysis according to the channel classification
reviewed by the rational method. And for the analysis of the existing drainage capacity using the
Manning equation.
The results of the evaluation found that there are 4 channels that can not accommodate the
discharge plan. Coll 2 and 3 Channels cannot accommodate plan discharges with a 2 and 5 year
return period. Conve 1 and 2 channel cannot accommodate planned discharges with 2.5 and 10
years return periods. The redesign results for the channel that is not able to accommodate the plan
discharge are the addition of the height of the Coll 2 channel by 120 cm, the addition of the height
of the Coll 3 channel by 170 cm, the addition of the height of the Conve 1 channel by 310 cm and
the addition of the height of the Conve 2 by 140 cm.
xviii
1
1
BAB I
PENDAHULUAN
1
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
4
probabilitas yang sesuai adalah distribusi Log Pearson III. Intensitas hujan
diperoleh dari hitungan dengan metode Van Breen terhadap curah hujan harian
periode ulang 10 tahun dan waktu konsentrasi di daerah pengaliran. Debit saluran
drainase dihitung menggunakan metode Rasional dan diameter saluran drainase
diperoleh dari rumus Manning.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit maksimum yang harus
ditampung dan dikendalikan oleh saluran drainase jalan layang Jombor dari hasil
perhitungan dan analisis adalah 0,01323 m3/detik untuk arah Gamping dan 0,01321
m3/detik untuk arah Magelang. Perhitungan juga dilakukan pada saluran drainase
bawah jalan layang pada salah satu pipa dan menganggap hasil perhitungan sama
untuk pipa yang lain. Untuk kapasitas saluran drainase bawah jalan layang juga
dihasilkan diameter yang sama dengan diameter saluran drainase eksisting, yaitu 4
inci. Saluran drainase jalan layang eksistring dapat dikatakan mampu dan aman
dalam menampung debit rencana sebesar 0,0132 m3/detik dari perhitungan yang
telah dilakukan.
2.2.2 Penelitian Evaluasi Saluran Drainase Kecamatan Pasar Kliwon Kota
Surakarta
Perencanaan ini dilakukan oleh Candra (2014). Kecamatan Pasar Kliwon
adalah sebuah kecamatan yang terletak di tenggara Kota Surakarta. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kondisi sistem drainase dan mengevaluasi kapasitas
saluran drainase. Data yang digunakan adalah curah hujan, jumlah penduduk,
dimensi saluran yang ada, tata guna lahan, genangan dan peta lokasi.
Metode yang digunakan dalam perencanaan adalah metode deskriptif
evaluatif. Metode ini diperoleh dengan cara mengevaluasi kondisi obyektif atau apa
adanya pada suatu keadaan yang sedang menjadi obyek. Data kemudian dianalisis
untuk memperoleh debit rencana dan kapasitas saluran drainase. Debit rencana
dihitung dengan menggunakan rumus rasional dan kapasitas saluran dihitung
dengan rumus kontinuitas dan manning.
Hasil yang diperoleh diketahui bahwa terdapat 2 bagian saluran yang terjadi
luapan air pada debit rencana periode ulang 2 tahun. Untuk mengatasi keadaan
tersebut direncanakan perbaikan saluran drainase baru yang dapat menampung
5
debit air yang mengalir pada sungai. Analisis rencana anggaran biaya saluran
drainase sebesar Rp. 232.474.000,00.
7
8
BAB III
LANDASAN TEORI
8
9
3. Menurut Konstruksi
a. Saluran Terbuka
Saluran terbuka adalah sistem saluran yang biasanya
direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan
(sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi
sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka
ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi
saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton,
pasangan batu (masonri) ataupun dengan pasangan bata.
b. Saluran Tertutup
Saluran tertutup adalah saluran untuk air kotor yang mengganggu
kesehatan lingkungan. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah
perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi
seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.
4. Menurut fungsi
a. Single Purpose
Single purpose adalah saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis
air buangan saja.
b. Multi Purpose
Multi purpose adalah saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa
jenis buangan, baik secara bercampur maupun bergantian.
bagian sejajar dengan kontur atau garis ketinggian topografi. Outlet dari
saluran ini biasanya berada pada saluran collector atau conveyor atau
langsung pada saluran alamiah/sungai.
3. Saluran Conveyor
Saluran conveyor adalah saluran yang berfungsi sebagai saluran
pembawa seluruh air buangan dari suatu daerah ke lokasi pembuang,
misalnya ke sungai tanpa membahayakan daerah yang dilaluinya.
Sebagai contoh saluran/kanal banjir atau saluran bypass yang bekerja
khusus hanya mengalirkan air secara cepat sampai ke lokasi
pembuangan. Letaknya boleh seperti saluran collector atau saluran
interseptor.
Secara luas hidrologi meliputi pula berbagai bentuk air, termasuk transformasi
antara keadaan cair, padat, dan gas dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan
tanah. Di dalamnya tercakup pula air laut yang merupakan sumber dan
penyimpanan air yang mengaktifkan kehidupan di planet bumi ini (Soemarto,1999).
Analisis hidrologi dilakukan untuk mendapatkan karakteristik hidrologi dan
meteorologi daerah aliran sungai. Tujuannya adalah untuk mengetahui karakteristik
hujan, debit air yang ekstrim maupun yang wajar yang akan digunakan sebagai
dasar analisis selanjutnya dalam pelaksanaan detail desain.
3.5.1 Daur Hidrologi
Daur hidrologi adalah proses dimana bergeraknya air dari bumi menuju
atmosfir dan kemudian kembali lagi ke bumi, yang berlangsung secara terus
menerus (Triatmojdo,2008).
dengan :
d = curah hujan rata-rata DAS (mm)
d1, d2, dn = curah hujan pada setiap stasiun hujan (mm)
n = banyaknya stasiun hujan
b. Metode poligon Thiessen
Digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak
merata dengan asumsi bahwa variasi hujan antara stasiun hujan yang satu dengan
yang lainnya adalah linier. Metode ini menganggap bahwa setiap stasiun hujan
16
dalam suatu daerah mempunyai luas pengaruh tertentu dan luas tersebut merupakan
faktor koreksi bagi hujan stasiun menjadi hujan daerah yang bersangkutan. Caranya
adalah dengan memplot letak stasiun-stasiun curah hujan ke dalam gambar DAS
yang bersangkutan. Kemudian dibuat garis penghubung di antara masing-masing
stasiun dan ditarik garis sumbu tegak lurus. Curah hujan daerah metode poligon
Thiessen dihitung dengan Persamaan 3.2 berikut.
Contoh gambar polygon Thiessen dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut:
tersebar merata, metode Isohyet membutuhkan pekerjaan dan perhatian yang lebih
banyak dibanding dua metode lainnya.
dengan:
𝑑𝑠 = deviasi standar
c. Koefisien Variasi
Koefisien variasi (coefficient of variation) adalah nilai perbandingan
antara standar deviasi dengan nilai rata-rata dari suatu sebaran.
Koefisien variasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
(Soewarno, 1991) :
ds
𝑐𝑣 = (3.5)
𝑋
dengan:
dengan:
Cs = koefisien skewness,
𝑛 = jumlah data,
𝑥𝑖 = data hujan atau debit ke-I, dan
𝑋 = nilai rata - rata dari data sampel curah hujan.
4
𝑛2 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑘 = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑑𝑠 4
(3.7)
dengan:
𝑐𝑘 = koefisien Kurtosis,
𝑥𝑖 = nilai varian ke I,
𝑋 = nilai rata-rata dari data sampel curah hujan,
𝑛 = jumlah data curah hujan, dan
𝑑𝑠 = standar deviasi dari sampel curah hujan.
2. Pemilihan Jenis Distribusi Sebaran
Masing-masing sebaran memiliki sifat-sifat khas sehingga harus
diuji kesesuaiannya dengan sifat statistik masing-masing sebaran tersebut
pemilihan sebaran yang tidak benar dapat mengundang kesalahan perkiraan
yang cukup besar. Pengambilan sebaran secara sembarang tanpa pengujian
data hidrologi sangat tidak dianjurkan. Penentuan jenis sebaran yang akan
digunakan untuk analisis frekuensi dapat dipakai beberapa cara sebagai
berikut.
Tabel 3.1 Pedoman Pemilihan Sebaran
No Distibusi Persyaratan
Cs ≈ 0
1 Normal
Ck ≈ 3
Cs = Cv3 + 3Cv
2 Log Normal
Ck = Cv8 + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3
Cs = 1,14
3 Gumbel
Ck = 5,4
4 Log Pearson III Selain dari data di atas
Sumber : Triatmodjo (2008)
20
dengan:
F(z) = probabilitas kumulatif distribusi normal,
π = rata-rata dari nilai x, dan
z = faktor frekuensi dari distribusi normal.
b. Distribusi Log Normal
Ada 2 cara perhitungan distibusi gumbel, yaitu dengan fungsi
densitas kumulatif dan tabel.
Rumus fungsi densitas kumulatif yaitu :
Xt = u + α yt (3.9)
√6𝛿
α = (3.10)
𝜋
u = × – 0,5772 α (3.11)
𝑇
yt = -ln [ln(𝑇−1)] (3.12)
dengan :
Xt = nilai curah hujan rencana dengan periode T,
X = nilai rata-rata,
yt = faktor reduksi gumbel (tabel),
T = periode ulang,
u = modus dari distribusi,
ds = deviasi standar,
n = jumlah data, dan
yn = nilai rata – rata.
21
2 0,36651
5 1,994
10 2,25037
20 2,97019
50 4,60015
100 5,29561
c. Distribusi Gumbel
(𝑌−µ𝑦)2
1 𝑧
F(z) = ∫ 𝑒
√2𝛿𝜋 ∞
2𝛿𝑦 𝑑𝑦 (3.14)
dengan :
F(z) = probabilitas kumulatif distribusi log normal,
µ = rata-rata dari nilai y,
z = faktor frekuensi dari distribusi log normal, dan
𝛿 = deviasi standar nilai y.
d. Distribusi Log Person III
Digunakan dalam analisis hidrologi, terutama dalam analisis
data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum) dengan
nilai ekstrim. Bentuk sebaran Log-Pearson Tipe III merupakan
hasil transformasi dari sebaran Log-Pearson Tipe III dengan
menggantikan variat menjadi nilai logaritmik. Metode Log-
Pearson Tipe III apabila digambarkan pada kertas peluang
logaritmik akan merupakan persamaan garis lurus, sehingga
dapat dinyatakan sebagai model matematik dengan persamaan
sebagai berikut (Soemarto, 1999).
22
𝑦𝑡 = 𝑦̅ + (K 𝑇 × ds𝑦 ) (3.15)
Dengan:
𝑦𝑡 = Nilai logaritmik dari × atau log (Xi),
𝑦̅ = Rata-rata hitung (lebih baik rata-rata geometrik) nilai dsy,
dsy = Deviasi standar nilai y, dan
K = karakteristik distribusi peluang Log-Pearson tipe III.
Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut.
1) Mengubah data curah hujan sebanyak n buah X1, X2, X3,
... Xn menjadi log (X1), log (X2), log (X3),...., log (Xn).
2) Menghitung harga rata-rata
1
𝑦̅ = ∑𝑛𝑖=1 𝑦𝑖 (3.16)
𝑛
dengan:
𝑦̅ = nilai rata-rata curah hujan (mm),
𝑦𝑖 = curah hujan rencana tahunan (mm), dan
n = jumlah data.
3) Menghitung harga standar deviasi (dsy)
∑(𝑦𝑖−𝑦)2
𝑑𝑠𝑦 = √ (3.17)
𝑛−1
𝐶𝑠 = koefisien skewness
3.5.5 Kala Ulang Hujan
Menurut Edisono (1997), Kala ulang hujan adalah waktu dimana hujan
dengan besaran tertentu akan disamai atau dilampaui. Misalnya, hujan dengan
periode ulang 25 tahun berarti dalam 25 tahun kemungkinan hujan dengan besaran
yang sama atau dilampaui akan terjadi sekali.
Penggunaan kala ulang didasakan pada pertimbangan ekonomis.
Berdasarkan prinsip dalam penyelesaian masalah drainase perkotaan dari aspek
hidrologi, sebelum dilakukan analisis frekuensi untuk mendapatkan besaran hujan
23
dalam kala ulang tertentu. Maka harus dipersiapkan rangkaian data hujan
berdasarkan pada durasi jam-jaman atau menitan.
Penggunaan kala ulang untuk perencanaan adalah sebagai berikut.
1. Saluran interseptor : Kala ulang 2 Tahun
2. Saluran collector : Kala ulang 5 Tahun
3. Saluran conveyor : Kala ulang 10 Tahun
Analisis frekuensi terhadap data hujan yang tersedia, dapat dilakukan
dengan beberapa metode antara lain Gumbel, Log Normal, Log Person III dan
sebagainya. (Notodihardjo,dkk, 1998)
dengan :
𝐼 = intensitas curah hujan untuk lama hujan t (mm/jam),
t = lamanya curah hujan (jam), dan
𝑅24 = curah hujan maksimum selama 24 jam (mm).
3.5.7 Debit Banjir Rencana
Debit rencana sistem drainase dihitung berdasarkan hubungan antara hujan
dan aliran. Besarnya aliran sangat ditentukan oleh besarnya hujan, intensitas
hujan, luas daerah pengaliran sungai, lama waktu hujan dan karakteristik daerah
pengaliran itu. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan debit
banjir rencana adalah Metode Rasional. Metode ini banyak digunakan untuk
perencanaan drainase daerah pengaliran yang relatif sempit, kurang dari 300 ha.
24
Rumus rasional ini berorientasi pada hitungan debit puncak. Bentuk umum rumus
rasional adalah :
Qp = C Itc,p A (3.20)
dengan :
Qp = debit puncak (m3/s) untuk kala ulang T tahun,
C = koefisien run-off, yang dipengaruhi kondisi tata guna lahan pada
daerah tangkapan air,
Itc,p = intensitas hujan rata-rata (mm/jam) untuk waktu konsentrasi (tc)
dan kala ulang T tahun, dan
A = luas daerah tangkapan air (ha).
3.5.8 Waktu Konsentrasi (tc)
Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan
untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS (titik kontrol)
setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Salah satu metode
untuk memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus yang dikembangkan oleh
Kirpich (1940), yang dapat ditulis sebagai berikut.
0,385
0,87×𝐿2
𝑡𝑐 = (1000 ×S) (3.21)
di mana tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama dalam km,
dan S kemiringan rata-rata saluran utama dalam m/m.
Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakannya menjadi
dua komponen, yaitu (1) waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan
lahan sampai saluran terdekat t0 dan (2) waktu perjalanan dari pertama masuk
saluran sampai titik keluaran td, sehingga
tc = t0 + td (3.22)
2 𝑛
𝑡0 = (3 × 3,28 × 𝐿 × ) (3.23)
√𝑆
𝑆𝐿
𝑡𝑑 = (60𝑉 ) (3.24)
dengan :
n = angka kekerasan Manning,
S = kemiringan lahan,
L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m),
25
Dengan :
C = Koefisien run-off, yang dipengaruhi kondisi tata guna lahan pada daerah
tangkapan air, dan
A = luas daerah tangkapan air (ha).
Tabel 3.3 Koefisien Run Off
Diskripsi lahan/karakter pemukaan Koefisien aliran, C
Business
1 Perkotaan 0,70 – 0,95
2 Pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan
1 Rumah tunggal 0,30 – 0,50
2 Multiunit, terpisah 0,40 – 0,60
3 Multiunit, tergabung 0,60 – 0,75
4 Perkampungan 0,25 – 0,40
5 Apartemen 0,50 – 0,70
Industri
1 Ringan 0,50 – 0,80
2 Berat 0,60 – 0,90
Perkerasan
1 Aspal dan beton 0,70 – 0,95
2 Batu bata, paving 0,50 – 0,70
Atap 0,75 – 0,95
Halaman, tanah berpasir
1 Datar 2% 0,05 – 0,10
2 Rata-rata, 2-7% 0,10 – 0,15
3 Curam, 7% 0,15 – 0,20
Halaman, tanah berat
1 Datar 2% 0,13 – 0,17
2 Rata-rata, 2-7% 0,18 – 0,22
26
1
V = R2/3 S1/2 (3.26)
n
𝑄 = 𝑉×𝐴 (3.27)
𝐴
𝑅=𝑃 (3.28)
∆ℎ
S = (3.29)
𝐿𝑠
dengan :
V = kecepatan aliran dalam saluran drainase (m/s),
27
BAB IV
METODE PENELITIAN
28
29
Mulai
Identifikasi Masalah
Pengumpulan Data
Ya Perbandingan
Pembahasan Qp < Qc
Qp dengan Qc
Tidak
Desain Ulang
Dimensi Saluran
Selesai
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
35
36
Pelacakan arah aliran pada saluran drainase dapat diketahui dengan tinjauan
lapangan serta perbedaan elevasi yang didapatkan melalui aplikasi Global Mapper.
Setelah dilakukan pelacakan arah aliran, selanjutnya dilakukan klasifikasi yang
sesuai dengan fungsi dan sistem kerjanya. Hasil klasifikasi dapat dilihat pada Tabel
5.1 dan Gambar 5.2.
Tabel 5.2 Koefisien Aliran Permukaan dan Luasan DAS pada Inter 1
Penggunaan Lahan C A (ha) C × A
Bangunan / Atap 0,75 1,523 1,142
Jalan 0,7 0,142 0,099
Sawah 0,5 1,9 0,950
Halaman 0,22 0,821 0,181
Jumlah 4,386 2,372
Nilai Koefisien Inter 1 0,541
Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.21)
Σ(𝐴)
(C × A) + (C × A) + (C × A) + (C × A)
C1 = ( )
𝐴𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿
(0,75 × 1,5) + (0,7 × 0,142) + (0,5 × 1,9) + (0,22 × 0,8)
C1 = ( )
(1,5 + 0,142 +1,9 + 0,8)
C1 = 0,541
A1 = 1,5 + 0,142 + 1,9 + 0,8
A1 = 4,386 Ha
41
digunakan untuk keperluan memperdiksi kejadian yang mungkin juga terjadi lagi
(terulang) dengan frekuensi yang sama atau dilampaui pada masa yang akan datang.
Analisis frekuensi dan probabilias akan mendapatkan persamaan distribusi
peluang yang sesuai. Namun, untuk menentukan persamaan distribusi peluang
yang sesuai terlebih dahulu harus dilakukan perhitungan mengenai nilai rata-rata,
standar deviasi, koefisien variasi, koefisien kemencengan dan koefisien kurtosis.
1. Nilai rata – rata (average)
Pencarian nilai rata-rata dapat menggunakan persamaan (3.3). Hasil
perhitungan nilai rata – rata dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5 Data Curah Hujan Harian Maksimum Tahunan Stasiun Santan
No Tahun Hujan Maksimum Nilai Rata-Rata
1 2002 80
2 2003 196
3 2004 110
4 2005 145
5 2006 92
6 2007 157
7 2008 68
8 2009 93
122,163
9 2010 67
10 2011 75,6
11 2012 129
12 2013 105
13 2014 93
14 2015 123
15 2016 123
16 2017 298
𝑋 = 122,163 mm
45
2. Standar deviasi
Pencarian nilai standar deviasi dapat menggunakan Persamaan (3.4).
Hasil perhitungan standar deviasi ditunjukkan pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6 Perhitungan Standar Deviasi
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2
1 2002 80 -42,16 1777,676
2 2003 196 73,84 5451,976
3 2004 110 -12,16 147,926
4 2005 145 22,84 521,551
5 2006 92 -30,16 909,776
6 2007 157 34,84 1213,651
7 2008 68 -54,16 2933,576
8 2009 93 -29,16 850,451
9 2010 67 122,163 -55,16 3042,901
10 2011 75,6 -46,56 2168,066
11 2012 129 6,84 46,751
12 2013 105 -17,16 294,551
13 2014 93 -29,16 850,451
14 2015 123 0,84 0,701
15 2016 123 0,84 0,701
16 2017 298 175,84 30918,826
Jumlah 1954,6 0,00 51129,54
∑(𝑋𝑖−𝑋)2
𝑑𝑠 = √ (3.4)
𝑛−1
∑ 51129,54
𝑑𝑠 = √ 16−1
𝑑𝑠 = 56,521
3. Koefisien variasi
Pencarian koefisien variasi dihitung dengan Persamaan (3.5) berikut :
ds
𝑐𝑣 = (3.5)
𝑋
58,3835
𝑐𝑣 = 122,163
𝑐𝑣 = 0,463
46
4. Koefisien kemencengan
Pencarian koefisien kemencengan dapat menggunakan Persamaan (3.6).
Hasil perhitungan koefisien kemencengan ditunjukkan pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7 Perhitungan Koefisien kemencengan
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3
1 2002 80 -42,163 1777,676 -74951,281
2 2003 196 73,838 5451,976 402560,308
3 2004 110 -12,163 147,926 -1799,155
4 2005 145 22,838 521,551 11910,930
5 2006 92 -30,163 909,776 -27441,131
6 2007 157 34,838 1213,651 42280,581
7 2008 68 -54,163 2933,576 -158889,832
8 2009 93 -29,163 850,451 -24801,289
9 2010 67 122,163 -55,163 3042,901 -167854,049
10 2011 75,6 -46,563 2168,066 -100950,592
11 2012 129 6,838 46,751 319,663
12 2013 105 -17,163 294,551 -5055,239
13 2014 93 -29,163 850,451 -24801,289
14 2015 123 0,838 0,701 0,587
15 2016 123 0,838 0,701 0,587
16 2017 298 175,838 30918,826 5436689,138
Jumlah 1954,6 0,00 51129,538 5307217,938
3
𝑛 ∑𝑛
𝑖=1(𝑥𝑖 −𝑋)
𝑐𝑠 = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑑𝑠3 (3.6)
16 × 5307217,94
𝑐𝑠 =
15 × 14 × (58,383)3
𝑐𝑠 = 2,239
5. Koefisien kurtosis
Pencarian koefisien kurtosis dapat menggunakan Persamaan (3.7).
Hasil perhitungan koefisien kurtosis ditunjukkan pada Tabel 5.8.
4
𝑛2 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑘 = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑑𝑠 4
(3.7)
162 × 1015553661,255
𝑐𝑘 =
16 × 15 × 14 × 56,5214
47
𝑐𝑘 = 7,582
Tabel 5.8 Perhitungan Koefisien kurtosis
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3 (Xi-Xrt)4
1 2002 80 -42,163 1777,676 -74951,281 3160133,405
2 2003 196 73,838 5451,976 402560,308 29724046,734
3 2004 110 -12,163 147,926 -1799,155 21882,222
4 2005 145 22,838 521,551 11910,930 272015,869
5 2006 92 -30,163 909,776 -27441,131 827693,109
6 2007 157 34,838 1213,651 42280,581 1472949,736
7 2008 68 -54,163 2933,576 -158889,832 8605870,531
8 2009 93 -29,163 850,451 -24801,289 723267,594
9 2010 67 122,163 -55,163 3042,901 -167854,049 9259248,968
10 2011 75,6 -46,563 2168,066 -100950,592 4700511,942
11 2012 129 6,838 46,751 319,663 2185,694
12 2013 105 -17,163 294,551 -5055,239 86760,531
13 2014 93 -29,163 850,451 -24801,289 723267,594
14 2015 123 0,838 0,701 0,587 0,492
15 2016 123 0,838 0,701 0,587 0,492
16 2017 298 175,838 30918,826 5436689,138 955973826,340
Jumlah 1954,6 0,000 51129,538 5307217,938 1015553661,255
Selain dari
Log Pearson III Selain dari nilai di atas Dipilih
nilai di atas
Lapisan
Coll (2,3) dan
2 Beton 0,015
Inter (1-52)
Seluruhnya
52
Tabel 5.13 Rekapitulasi Ukuran Saluran yang Masuk pada Data Sekunder
Nama Saluran H (m) B (m) Ls (m) L (m) ΔH (m) n
Conve 1 1,4 2,5 900 66,55 10 0,025
Conve 2 2 3,5 1800 151,62 16 0,025
Data dari tabel 5.12 dan 5.13 dianalisis untuk mengetahui kecepatan dan
kemiringan saluran. Nilai dari kecepatan dan kemiringan saluran dapat dicari
dengan menggunakan persamaan 3.29 dan persamaan 3.22. Berikut adalah
perhitungan kecepatan dan kemiringan drainase pada saluran inter 1.
B = 0,6 m
H = 0,6 m
∆ℎ
S = (3.29)
𝐿𝑠
4,238
= 210
= 0,020
n = 0,0015
A = B×H
= 0,6 m × 0,6 m
= 0,36 m2
P = B + ( 2 × H)
= 0,6 m + ( 2 × 0,6 ) m
= 1,8 m
𝐴
𝑅 = (3.24)
𝑃
0,36 m2
= 1,8 m
= 0,20 m
1
V = R2/3 S1/2 (3.22)
n
2 1
1
V = 0,015
× 0,203 × 0,0202
= 3,239 m/s
Berdasarkan hasil perhitungan kecepatan dan kemiringan saluran inter 1,
pada saluran lain dapat diterapkan persamaan yang sama sehingga diketahui
56
Nilai curah hujan maksimum selama 24 jam (R24) yaitu kala ulang 2 tahun
sebesar 112,49, kala ulang 5 tahun 158,53 dan kala ulang 10 tahun 189,66, sehingga
didapatkan 3 intensitas kala ulang hujan maksimum 2, 5 dan 10 tahun. Berikut
adalah perhitungan intensitas hujan kala ulang 2 tahun pada saluran inter 1.
Ls = 210 m
L = 369,220 m (jarak terjauh aliran di atas permukaan kesaluran drainase
terdekat)
n = 0,015 (koefisien kekerasan manning berdasarkan kondisi permukaan)
S = 0,020
V = 3,239 m/s (tabel 5.12)
2 𝑛
𝑡0 = (3 × 3,28 × 𝐿 × ) (3.23)
√𝑆
58
2 0,015
= ( × 3,28 × 369,220 × )
3 √0,020
= 85,249 menit ≈ 1,421 jam
𝑆 𝐿
𝑡𝑑 = (60𝑉 ) (3.24)
210
= (60×3,239)
V n L Ls t0 td tc
Nama Saluran
m/s - m m (menit) (menit) (menit)
Inter 20 1,091 0,015 23,120 284,300 13,077 4,342 17,419
Inter 21 1,404 0,015 20,810 260,300 9,152 3,091 12,242
Inter 22 3,297 0,015 31,200 146,180 5,841 0,739 6,580
Inter 23 2,242 0,015 23,760 171,440 6,543 1,275 7,818
Inter 24 3,564 0,015 36,760 50,430 6,368 0,236 6,604
Inter 25 3,308 0,015 32,320 90,000 6,032 0,453 6,485
Inter 26 2,737 0,015 41,230 153,210 9,299 0,933 10,232
Inter 27 1,851 0,015 36,320 112,840 12,110 1,016 13,126
Inter 28 2,157 0,015 43,230 226,830 12,371 1,752 14,123
Inter 29 0,897 0,015 23,210 37,460 15,982 0,696 16,678
Inter 30 1,666 0,015 46,760 135,700 17,751 1,358 19,109
Inter 31 1,959 0,015 51,200 203,410 16,528 1,730 18,258
Inter 32 0,687 0,015 35,600 78,700 32,758 1,908 34,666
Inter 33 1,593 0,015 20,320 77,394 8,069 0,810 8,879
Inter 34 3,376 0,015 26,760 75,030 5,013 0,370 5,384
Inter 35 1,446 0,015 31,230 76,500 13,663 0,882 14,545
Inter 36 1,982 0,015 45,070 105,660 14,384 0,889 15,273
Inter 37 1,876 0,015 31,890 129,760 10,752 1,153 11,905
Inter 38 1,955 0,015 23,220 61,558 7,511 0,525 8,035
Inter 39 2,156 0,015 25,030 70,015 7,344 0,541 7,885
Inter 40 2,139 0,015 21,260 210,790 6,286 1,642 7,928
Inter 41 5,455 0,015 10,300 52,995 1,194 0,162 1,356
Inter 42 2,011 0,015 28,760 76,330 10,693 0,633 11,326
Inter 43 2,694 0,015 47,500 86,208 13,183 0,533 13,717
Inter 44 3,031 0,015 43,530 137,820 10,739 0,758 11,497
Inter 45 2,126 0,015 98,760 23,000 34,738 0,180 34,918
Inter 46 2,936 0,015 10,300 156,830 2,624 0,890 3,514
Inter 47 3,692 0,015 97,650 22,877 19,777 0,103 19,881
Inter 48 2,439 0,015 15,400 164,760 4,722 1,126 5,848
Inter 49 2,957 0,015 96,430 20,120 22,432 0,113 22,545
Inter 50 1,491 0,015 13,230 168,690 6,106 1,886 7,992
Inter 51 4,586 0,015 83,450 49,359 15,367 0,179 15,546
Inter 52 1,841 0,015 82,340 63,982 37,778 0,579 38,357
Coll 1 1,267 0,025 116,160 1049,000 73,566 13,802 87,367
Coll 2 1,752 0,015 71,750 709,020 25,277 6,744 32,021
Coll 3 1,835 0,015 72,540 868,200 24,408 7,887 32,295
Conve 1 3,197 0,025 66,550 900,000 34,514 4,691 39,205
Conve 2 3,602 0,025 151,620 1800,000 87,913 8,329 96,243
60
= 30,598 mm/jam
Nilai intensitas hujan saluran inter 1 adalah sebesar 30,598 mm/jam.
Rekapitulasi perhitungan intensitas hujan pada saluran interseptor dapat dilihat
pada Tabel 5.16.
Tabel 5.16 Rekapitulasi Perhitungan Intensitas Hujan pada Saluran
Interseptor
Nama I 2th Nama I 2th
Saluran (mm/jam) Saluran (mm/jam)
Inter 1 30,598 Inter 25 171,864
Inter 2 76,448 Inter 26 126,809
Inter 3 147,147 Inter 27 107,412
Inter 5 25,683 Inter 28 102,292
Inter 6 35,426 Inter 29 91,560
Inter 7 87,512 Inter 30 83,620
Inter 8 101,566 Inter 31 86,197
Inter 9 91,034 Inter 32 56,217
Inter 10 131,233 Inter 33 139,386
Inter 11 108,869 Inter 35 100,307
Inter 12 93,797 Inter 36 97,093
Inter 13 387,298 Inter 37 114,633
Inter 14 315,568 Inter 38 148,982
61
I A C Q 2th
Nama saluran 2
(mm/jam) (Km ) - (m3/s)
Inter 40 150,318 0,008 0,746 0,248
Inter 43 104,304 0,012 0,748 0,251
Inter 44 117,329 0,006 0,737 0,145
Inter 45 55,946 0,005 0,527 0,040
Inter 47 81,442 0,004 0,629 0,050
Inter 49 74,891 0,002 0,739 0,027
Inter 50 149,518 0,003 0,705 0,081
Inter 51 95,951 0,003 0,716 0,058
Inter 52 52,549 0,003 0,625 0,025
Hasil debit yang dihitung berupa sub debit pada tiap saluran drainase.
Namun, terdapat penyatuan saluran yang menyebabkan debit pada saluran yang
terbebani akan bertambah. Salah satu contoh penyatuan saluran yaitu pada saluran
inter 4. Nilai debit puncak pada saluran inter 4 kala ulang 2 tahun dicari dengan
setiap saluran yang menjadi satu kesatuan DTA. Berikut merupakan contoh
perhitungan debit puncak saluran interseptor pada saluran inter 4.
= 0,596
64
= 75,115 mm/jam
Qp = C Itc,p A (3.20)
Qinter 4 = 0.2778 × Cinter 4 × I2 th × Ainter 4
= 0.2778 × 0,596 × 75,115 × 0,008
= 0,105 m3/s
Berdasarkan perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada saluran
Interseptor dengan penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.18.
Tabel 5.18 Rekapitulasi Hitungan Debit Rencana Saluran Interseptor
dengan Penyatuan
Inter 4 Inter (2,3,4) 0,374 0,364 0,374 75,115 0,008 0,596 0,105
Inter 34 Inter (32,33,34,35) 0,612 0,578 0,612 54,092 0,011 0,738 0,123
Inter 39 Inter (37,38,39) 0,216 0,198 0,216 108,263 0,011 0,740 0,254
Inter 41 Inter (40,41) 0,135 0,132 0,135 148,306 0,009 0,686 0,254
Inter 42 Inter (43,42) 0,239 0,229 0,239 101,216 0,014 0,747 0,304
Inter 46 Inter (45,46) 0,597 0,582 0,597 55,014 0,009 0,628 0,089
Inter 48 Inter (47,48) 0,350 0,331 0,350 78,505 0,007 0,635 0,092
Inter 50 Inter (49,50) 0,407 0,376 0,407 70,985 0,005 0,718 0,064
65
= 0,714
A Coll 1 = 0,039 + 0,008 + 0,002
= 0,048 Km2
tc Coll 1 = Saluran coll 1 mendapatkan masukan dari inter 6 dan inter 7, karena
saluran dari inter 6 dan inter 7 berpotongan dengan saluran coll 1. Maka,
penentuan waktu konsentrasi yang digunakan adalah dengan
membandingkan tc terbesar antara saluran coll 1, inter 6 dan inter 7. Hasil
dari perbandingan tersebut didapatkan tc coll 1 yang terpanjang, yakni
1,456 jam.
2
𝑅24 24 3
I = (𝑡) (3.19)
24
2
112,49 24 3
I 2 th = × (1,456)
24
66
= 30,355 mm/jam
2
158,53 24 3
I 5 th = × (1,456)
24
= 42,780 mm/jam
Qp = C Itc,p A (3.20)
Q 2 th = 0.2778 × Ccoll 1 × I2 th × A coll 1
= 0.2778 × 0,714 × 30,355 × 0,048
= 0,291 m3/s
Q 5 th = 0.2778 × Ccoll 1 × I5 th × A coll 1
= 0.2778 × 0,714 × 42,780 × 0,048
= 0,410 m3/s
Berdasarkan perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada saluran Collector
dengan penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.19.
Tabel 5.19 Rekapitulasi Hitungan Debit rencana Saluran Collector dengan
Penyatuan
I (mm/jam) A total Q gabungan
Nama saluran keterangan penggabungan saluran tc (jam) cgabungan
2
2 5 Km 2 5
Coll 1 Coll 1, Inter (6,7) 1,456 30,355 42,780 0,048 0,714 0,291 0,410
Coll 2 Coll 2, Inter (24,26,28) 0,534 59,271 83,532 0,073 0,729 0,875 1,233
Coll 3 Coll 3, Inter (11,13,16,17,19,20,21,22,23) 0,538 58,935 83,059 0,111 0,660 1,205 1,698
Skema tersebut menjelaskan bahwa pada kedua saluran conveyor terdapat masukan
dari DAS kali belik. Maka dari itu, diperlukan perhitungan total luasan DAS (A)
dan koefisien aliran / limpasan tergantung pada jenis penggunaan lahan (C) melalui
aplikasi Google Earth. Penentuan luasan dan batas DAS Kali Belik didapatkan
melalui pelacakan arah aliran di sekitar kali belik dan peta RBI Timoho 1408-224
Tahun 1999. Untuk gambar luas dan aliran DAS Kali Belik dapat dilihat pada
gambar 5.12.
Sedangkan untuk perhitungan Intensitas (I) mengacu kepada data curah hujan di
tahun 2002-2017 pada stasiun hujan santan, gemawang dan bedugan melalui
metode poligon Thiseen. Namun untuk luasan yang digunakan adalah luasan DAS
kali belik ditambah dengan luasan DAS kawasan penelitian di sekitar Jalan
Pramuka. Hal tersebut dikarenakan untuk penggabungan saluran Conve 1 dan 2
perhitungan intensitas hujan melibatkan dua wilayah tersebut. Penentuan stasiun
hujan yang berpengaruh pada DAS kali belik dapat dilihat pada gambar 5.13
dibawah ini.
Gambar 5.13 Stasiun hujan yang berpengaruh pada DAS Kali belik
Hasil dari penentuan tersebut adalah stasiun hujan santan dan gemawang
yang memiliki pengaruh pada DAS kali belik. Dengan menggunakan metode rerata,
maka akan didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut.
Tabel 5.20 Hasil Perhitungan Curah Hujan Maksimum
Hujan Maksimum, mm
Hujan
Tahun Maksimum
Stasiun Gemawang Stasiun Santan Rencana,mm
𝑋 = 106,231
2. Standar deviasi
Pencarian nilai standar deviasi dapat menggunakan Persamaan (3.4).
Hasil perhitungan standar deviasi ditunjukkan pada Tabel 5.23.
Tabel 5.22 Perhitungan Standar Deviasi
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2
1 2002 72,650 -33,581 1127,700
2 2003 124,000 17,769 315,728
3 2004 135,000 28,769 827,641
4 2005 121,350 15,119 228,577
5 2006 73,500 -32,731 1071,335
6 2007 113,750 7,519 56,532
7 2008 63,000 -43,231 1868,941
8 2009 62,750 106,231 -43,481 1890,619
9 2010 57,000 -49,231 2423,716
10 2011 63,500 -42,731 1825,960
11 2012 130,100 23,869 569,717
12 2013 84,700 -21,531 463,595
13 2014 88,650 -17,581 309,100
14 2015 123,900 17,669 312,185
15 2016 136,400 30,169 910,153
16 2017 249,450 143,219 20511,610
Jumlah 1699,700 0,000 34713,109
∑(𝑋𝑖−𝑋)2
𝑑𝑠 = √ (3.4)
𝑛−1
∑ 34713,109
𝑑𝑠 = √ 16−1
𝑑𝑠 = 46,568
71
3. Koefisien variasi
Pencarian koefisien variasi dihitung dengan Persamaan (3.5) berikut :
ds
𝑐𝑣 = (3.5)
𝑋
46,568
𝑐𝑣 = 106,231
𝑐𝑣 = 0,438
4. Koefisien kemencengan
Pencarian koefisien kemencengan dapat menggunakan Persamaan (3.6).
Hasil perhitungan koefisien kemencengan ditunjukkan pada Tabel 5.24.
Tabel 5.23 Perhitungan Koefisien kemencengan
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3
1 2002 72,650 -33,581 1127,700 -37869,587
2 2003 124,000 17,769 315,728 5610,100
3 2004 135,000 28,769 827,641 23810,196
4 2005 121,350 15,119 228,577 3455,792
5 2006 73,500 -32,731 1071,335 -35066,125
6 2007 113,750 7,519 56,532 425,047
7 2008 63,000 -43,231 1868,941 -80796,655
8 2009 62,750 106,231 -43,481 1890,619 -82206,482
9 2010 57,000 -49,231 2423,716 -119322,567
10 2011 63,500 -42,731 1825,960 -78025,542
11 2012 130,100 23,869 569,717 13598,438
12 2013 84,700 -21,531 463,595 -9981,774
13 2014 88,650 -17,581 309,100 -5434,371
14 2015 123,900 17,669 312,185 5515,914
15 2016 136,400 30,169 910,153 27458,193
16 2017 249,450 143,219 20511,610 2937647,195
Jumlah 1699,700 0,000 34713,109 2568817,774
3
𝑛 ∑𝑛 (𝑥 −𝑋)
𝑖=1 𝑖
𝑐𝑠 = (𝑛−1)(𝑛−2)𝑑𝑠 3
(3.6)
16 × 2568817,774
𝑐𝑠 =
15 × 14 × (46,568)3
𝑐𝑠 = 1,938
72
5. Koefisien kurtosis
Pengukuran koefisien kurtosis dimaksudkan untuk mengukur
keruncingan dari bentuk kurva distribusi, yang umumnya dibandingkan
dengan distribusi normal. Perhitungan koefisien kurtosis dapat dilihat
pada Persamaan (3.7). Hasil perhitungan koefisien kurtosis ditunjukkan
pada Tabel 5.25.
Tabel 5.24 Perhitungan Koefisien kurtosis
No Tahun Xi (mm) Xrt (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)2 (Xi-Xrt)3 (Xi-Xrt)4
1 2002 72,650 -33,581 1127,700 -37869,587 1271708,083
2 2003 124,000 17,769 315,728 5610,100 99684,471
3 2004 135,000 28,769 827,641 23810,196 684989,586
4 2005 121,350 15,119 228,577 3455,792 52247,263
5 2006 73,500 -32,731 1071,335 -35066,125 1147758,096
6 2007 113,750 7,519 56,532 425,047 3195,822
7 2008 63,000 -43,231 1868,941 -80796,655 3492940,374
8 2009 62,750 -43,481 1890,619 -82206,482 3574440,587
106,231
9 2010 57,000 -49,231 2423,716 -119322,567 5874399,135
10 2011 63,500 -42,731 1825,960 -78025,542 3334128,923
11 2012 130,100 23,869 569,717 13598,438 324577,718
12 2013 84,700 -21,531 463,595 -9981,774 214920,070
13 2014 88,650 -17,581 309,100 -5434,371 95543,027
14 2015 123,900 17,669 312,185 5515,914 97459,303
15 2016 136,400 30,169 910,153 27458,193 828379,351
16 2017 249,450 143,219 20511,610 2937647,195 420726159,214
Jumlah 1699,700 0,000 34713,109 2568817,774 441822531,025
4
𝑛2 ∑𝑛
𝑖=1(𝑥𝑖 −𝑋)
𝑐𝑘 = (𝑛−1)(𝑛−2)(𝑛−3)𝑑𝑠4 (3.7)
162 × 441822531,025
𝑐𝑘 =
16 × 15 × 14 × 46,5684
𝑐𝑘 = 7,158
Setelah dilakukan perhitungan, maka selanjutnya adalah pemilihan jenis
distribusi yang sesuai. Ada empat jenis distribusi yang digunakan yaitu normal, log
normal, distribusi gumbel dan log pearson III. Tabel 5.26 menunjukkan pemilihan
distribusi yang sesuai untuk hujan harian. Berdasarkan Tabel 5.26 terdapat satu
73
jenis distribusi probabilitas yang memenuhi syarat yaitu probabilitas Log Pearson
III.
Tabel 5.25 Pemilihan Distribusi Yang Sesuai Untuk Hujan Harian
Jenis Distribusi Persyaratan Hasil Keterangan
Cs ≈ 0 1,938 Tidak
Normal
Ck ≈ 3 7,158 Memenuhi
3
Cs = Cv + 3Cv = 1,54 1,399 Tidak
Log Normal 8 6 4
Ck = Cv +6Cv +15Cv +16Cv +3 = 7,51 2
6,672 Memenuhi
Cs = 1,14 1,938 Tidak
Gumbel
Ck = 5,4 7,158 Memenuhi
Selain dari
Log Pearson III Selain dari nilai di atas
nilai di atas
Dipilih
Gambar 5.14 Beda elevasi dan panjang Kali Belik Melalui Aplikasi
Global Mapper
Berdasarkan pada gambar 5.14 didapatkan bahwa beda elevasi (∆ℎ) dari kali belik
sebesar 51,645 meter dan memiliki panjang (Ls) sebesar 6,016 meter. Maka
perhitungan kemiringan (S) adalah sebagai berikut.
∆h
S = (3.29)
Ls
51,645
= 6,016
= 0,009
Setelah didapatkan kemiringan (S), selanjutnya adalah menghitung waktu
konsentrasi (tc). Waktu konsentrasi (tc) dihitung dengan rumus yang dikembangkan
oleh Kirpich (1940). Berikut merupakan perhitungan waktu konsentrasi (tc) pada
DAS kali belik.
0,385
0,87×𝐿2
𝑡𝑐 = (1000 ×S) (3.21)
0,385
0,87×6,0162
= (1000 × 0,009)
= 1,649 jam
Langkah selanjutnya setelah mendapatkan waktu konsentrasi (tc) adalah
melakukan perhitungan debit kala ulang 2,5 dan 10. Perhitungan debit kala ulang
2,5 dan 10 dibutuhkan total luasan DAS (A) dan koefisien aliran / limpasan
77
tergantung pada jenis penggunaan lahan (C) yang didapatkan melalui aplikasi
Google Earth.
Σ(C×A)
𝐶𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 = (3.25)
Σ(𝐴)
0,75 × 4,572 + 0,7 × 0,758 + 0,5 × 0,444 + 0,22 × 0,322
[Link] = ( )
4,572 + 0,76 + 0,444 + 0,32
= 0,698
[Link] = 4,572 + 0,758 + 0,444 + 0,322
= 6,096 Km2
Berdasarkan dari Gambar 5.15 dan perhitungan di atas didapatkan total
luasan DAS (A) sebesar 6,096 km2 dan koefisien aliran / limpasan tergantung pada
jenis penggunaan lahan (C) sebesar 0,697. Setelah mendapatkan waktu konsentrasi
78
(tc), total luasan DAS (A) dan koefisien aliran / limpasan tergantung pada jenis
penggunaan lahan (C) maka dapat dihitung debit kala ulang tahun 2,5 dan 10 tahun.
Selanjutnya adalah mencari intensitas dan debit penyatuan pada saluran Conveyor.
Berikut merupakan salah satu contoh perhitungan intensitas dan debit puncak pada
saluran conve 1.
C Conve1 =
0,698 × 6,096 + 0,608 × 0,055 + 0,714 × 0,048 + 0,596 × 0,008 + 0,724 × 0,073 + 0,710 × 0,003 + 0,660 × 0,111 + 0,741 × 0,008 + 0,716 × 0,003 + 0,263 × 0,001 + 0,625 × 0,003
( )
6,096 + 0,055 + 0,048 +0,008 + 0,073 + 0,003 + 0,111 + 0,008 + 0,003 + 0,001 + 0,003
= 0,696
A Conve1 = 6,096 + 0,055 + 0,048 +0,008 + 0,073 + 0,003 + 0,111 + 0,008 + 0,003 + 0,001 + 0,003
= 6,410 Km2
tc Conve 1 = Penjumlahan waktu konsentrasi (tc) gabungan untuk conve 1 adalah
dengan menambahkan tc Kali Belik dengan td saluran saluran conve 1.
Lalu dibandingkan dengan tc (4,5,8,9,51,52) dan saluran Coll (1,2,3)
karena saluran Inter (4,5,8,9,51,52) dan saluran Coll (1,2,3) berpotongan
dengan saluran conve 1, maka hasilnya adalah 1,649 + 0,078 = 1,727 jam.
Sedangkan untuk (tc) maksimum dari saluran DAS Kali belik, saluran
79
conve 1, Inter (4,5,8,9,51,52) dan saluran Coll (1,2,3) sebesar 1,871 jam.
Maka yang digunakan adalah tc penjumlahan sebesar 1,871 jam.
= 1,871 jam
2
𝑅24 24 3
I = (𝑡) (3.19)
24
2
98,03 24 3
I 2 th = × (1,871)
24
= 22,382 mm/jam
2
138,49 24 3
I 5 th = × (1,871)
24
= 31,620 mm/jam
2
165,90 24 3
I 10 th = × (1,871)
24
= 37,878 mm/jam
Qp = C Itc,p A (3.20)
Q 2 th = 0.2778 × C conve 1 × I 2 th × A conve 1
= 0.2778 × 0,696 × 22,382 × 6,410
= 27,760 m3/s
Q 5 th = 0.2778 × C conve 1× I 5 th × A conve 1
= 0.2778 × 0,696 × 31,620 × 6,410
= 39,218 m3/s
Q 10 th = 0.2778 × C conve 1 × I 10 th × A conve 1
= 0.2778 × 0,696 × 37,878 × 6,410
= 46,980 m3/s
Berdasarkan pada contoh perhitungan di atas maka nilai debit rencana pada
saluran Conveyor dengan penyatuan dapat dilihat pada tabel 5.29.
80
Tabel 5.28 Nilai Debit Rencana Pada Saluran Conveyor Dengan Penyatuan
I (mm/jam) A total Q gabungan
Nama Saluran tc
cgabungan
saluran yang bergabung (jam) 2 5 10 Km2 2 5 10
= 0,020
n = 0,015
A = B×H
= 0,6 m × 0,6 m
= 0,36 m2
P = B + ( 2 × H)
= 0,6 m + ( 2 × 0,6 ) m
= 1,8 m
𝐴
𝑅 = (3.28)
𝑃
0,36 m2
= 1,8 m
= 0,20 m
81
1
V = R2/3 S1/2 (3.26)
n
2 1
1
V = 0,013
× 0,203 × 0,0202
= 3,239 m/s
𝑄 = 𝑉×𝐴 (3.27)
= 3,239 m/s × 0,36 m2
= 1,166 m3/s.
Berdasarkan perhitungan debit saluran eksisting inter 1, pada saluran lain
dapat diterapkan persamaan yang sama sehingga diketahui kapasitas saluran
drainase pada setiap saluran. Berikut hasil rekapitulasi perhitungan kapasitas pada
setiap saluran drainase.
Tabel 5.29 Rekapitulasi Hitungan Debit Eksisting Saluran Interseptor
Nama Saluran A (m2) P (m) n ΔH (m) S R (m) V (m/s) Q (m3/s)
Inter 1 0,36 1,8 0,015 4,238 0,020 0,200 3,239 1,166
Inter 2 0,48 2 0,015 0,584 0,017 0,240 3,350 1,608
Inter 3 0,48 2 0,015 1,658 0,019 0,240 3,518 1,689
Inter 4 0,48 2 0,015 1,35 0,031 0,240 4,500 2,160
Inter 5 0,48 2 0,015 0,05 0,001 0,240 0,665 0,319
Inter 6 0,48 2 0,015 0,455 0,003 0,240 1,427 0,685
Inter 7 0,48 2 0,015 0,431 0,010 0,240 2,618 1,256
Inter 8 0,48 2 0,015 2,943 0,017 0,240 3,335 1,601
Inter 9 0,48 2 0,015 0,167 0,006 0,240 1,952 0,937
Inter 10 0,48 2 0,015 0,584 0,006 0,240 1,976 0,949
Inter 11 0,16 1,2 0,015 1,732 0,034 0,133 3,206 0,513
Inter 12 0,16 1,2 0,015 1,84 0,022 0,133 2,597 0,416
Inter 13 0,16 1,2 0,015 2,224 0,036 0,133 3,282 0,525
Inter 14 0,16 1,2 0,015 2,642 0,024 0,133 2,710 0,434
Inter 15 0,16 1,2 0,015 4,213 0,035 0,133 3,243 0,519
Inter 16 0,16 1,2 0,015 3,363 0,039 0,133 3,453 0,553
Inter 17 0,16 1,2 0,015 2,561 0,036 0,133 3,320 0,531
Inter 18 0,16 1,2 0,015 2,5 0,014 0,133 2,091 0,335
Inter 19 0,16 1,2 0,015 1,171 0,006 0,133 1,359 0,217
Inter 20 0,24 1,6 0,015 0,956 0,003 0,150 1,091 0,262
Inter 21 0,24 1,6 0,015 1,448 0,006 0,150 1,404 0,337
Inter 22 0,24 1,6 0,015 4,487 0,031 0,150 3,297 0,791
Inter 23 0,24 1,6 0,015 2,432 0,014 0,150 2,242 0,538
Inter 24 0,24 1,6 0,015 1,808 0,036 0,150 3,564 0,855
82
5.5 Pembahasan
Evaluasi kapasitas saluran dilakukan dengan membandingkan antara debit
kala ulang dengan debit saluran eksisting. Jika debit kapasitas saluran drainase lebih
besar sama dengan debit kala ulang, maka saluran terkategori aman. Sebaliknya,
jika debit kapasitas saluran eksisting lebih kecil daripada debit kala ulang maka
saluran tidak mampu menampung debit air dan diakibarkan banjir atau genangan.
Hasil evaluasi dapat dilihat pada Tabel 5.33, 5.34, dan 5.35.
Setelah diketahui bahwa genangan yang terjadi pada lokasi penelitian diakibatkan
oleh kapasitas drainase eksisting yang tidak mampu menampung dan mengalirkan
air ke pembuangan akhir. Maka dari itu perlu dilakukan normalisasi saluran dengan
cara memperbesar dimensi drainase eksisting agar dapat menampung debit puncak
yang direncanakan. Perubahan dimensi saluran drainase eksisting dilakukan agar
mampu menampung dan mengalirkan debit puncak rencana dengan kala ulang
sesuai dengan klasifikasi saluran. Hasil dari perubahan dimensi saluran dapat di
lihat pada Tabel 5.36 dan Tabel 5.37.
Tabel 5.35 Perubahan Dimensi Saluran Eksisting Agar Dapat Menampung
Debit Kala Ulang Pada Saluran Collector
Kapasitas Saluran Eksisting Debit Kala Ulang Keterangan
Sesudah Perbaikan Dimensi (m3/s) Aman/Melimpas
Saluran
H B V Q
2 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun
(cm) (cm) (m2/s) (m3/s)
Coll 2 160 40 1,880 1,256 0,875 1,233 Aman Aman
Coll 3 210 40 2,064 1,757 1,205 1,698 Aman Aman
5.6 Hasil
Berdasarkan pada pembahasan di atas. Hasil perbandingan perubahan
dimensi saluran Coll 2, Coll 3, Conve 1 dan Conve 2 adalah sebagai berikut.
Tabel 5.37 Perbandingan Dimensi Saluran dari Sebelum dan Sesudah
Mengalami Perubahan Dimensi
Sebelum Sesudah Perubahan
Saluran H B H B H B
(cm) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm)
Coll 2 60 40 160 40 120 0
Coll 3 60 40 210 40 170 0
Conve 1 140 250 450 250 310 0
Conve 2 200 350 340 350 140 0
88
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis perhitungan dari Evaluasi
Kapasitas Saluran Drainase di Jalan Pramuka Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Hasil dari evaluasi didapatkan bahwa terdapat 4 saluran yang tidak dapat
menampung debit rencana. Saluran Coll 2 dan 3 tidak dapat menampung
debit rencana dengan kala ulang 2 dan 5 tahun. Saluran Conve 1 dan Conve
2 tidak dapat menampung debit rencana dengan kala ulang 2,5 dan 10 tahun.
2. Hasil desain ulang untuk saluran yang tidak mampu menampung debit
rencana kala ulang adalah penambahan ketinggian saluran Coll 2 sebesar
120 cm, penambahan ketinggian saluran Coll 3 sebesar 170 cm,
penambahan ketinggian saluran Conve 1 sebesar 310 cm, dan penambahan
ketinggian Conve 2 sebesar 140 cm.
6.2 Saran
Saran dari penelitian didapatkan beberapa saran untuk memperbaiki dan
menambah analisis sebagai berikut.
88
89
DAFTAR PUSTAKA
91
Lampiran 2 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2002
92
Lampiran 3 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2002
93
Lampiran 4 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2002
94
Lampiran 5 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2003
95
Lampiran 6 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2003
96
Lampiran 7 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2003
97
Lampiran 8 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2004
98
Lampiran 9 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2004
99
Lampiran 10 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2004
100
Lampiran 11 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2005
101
Lampiran 12 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2005
102
Lampiran 13 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2005
103
Lampiran 14 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2006
104
Lampiran 15 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2006
105
Lampiran 16 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2006
106
Lampiran 17 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2007
107
Lampiran 18 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2007
108
Lampiran 19 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2007
109
Lampiran 20 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2008
110
Lampiran 21 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2008
111
Lampiran 22 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2008
112
Lampiran 23 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2009
113
Lampiran 24 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2009
114
Lampiran 25 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2009
115
Lampiran 26 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010
116
Lampiran 27 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2010
117
Lampiran 28 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2010
118
Lampiran 29 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2010
Pada tahun 2010, stasiun Bedugan tidak memiliki data hujan sehingga diperlukan
perhitungan statistik untuk mengisi data hujan pada tahun tersebut dengan
membandingkan data hujan pada stasiun terdekat yaitu stasiun Gemawang dan
Stasiun Santan pada tahun yang sama. Berikut perhitungan pengisian data hujan
pada Stasiun Bedugan.
Penjelasan perhitungan sebagai berikut.
1. Hujan di Stasiun Gemawang Tahun 2010 (Pi) 47 mm dengan jarak ke Stasiun
Bedugan (Li) 1764.796 m.
2. Hujan di Stasiun Santan Tahun 2010 (Pi) 67 mm dengan jarak ke Stasiun
Bedugan (Li) 1517.647 m.
Px =
119
Lampiran 30 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2011
120
Lampiran 31 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2011
121
Lampiran 32 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2011
122
Lampiran 33 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2012
123
Lampiran 34 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2012
124
Lampiran 35 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2012
125
Lampiran 36 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2013
126
Lampiran 37 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2013
127
Lampiran 38 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2013
128
Lampiran 39 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2014
129
Lampiran 40 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2014
130
Lampiran 41 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2014
131
Lampiran 42 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2015
132
Lampiran 43 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2015
133
Lampiran 44 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2015
134
Lampiran 45 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2016
135
Lampiran 46 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2016
136
Lampiran 47 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2016
137
Lampiran 48 Data Curah Hujan Pada Stasiun Santan Tahun 2017
138
Lampiran 49 Data Curah Hujan Pada Stasiun Gemawang Tahun 2017
139
Lampiran 50 Data Curah Hujan Pada Stasiun Bedugan Tahun 2017
140
LEGENDA
84.276
84.288
84.451
83.677
83.594
Garis Kontur Tiap 1m
84.269
U
Patok 83.560
83.682
makam
85.203
85.185
83.692 83.611
85.175
84.208
84.381
85.443
86.109
85.836
83.767
Grid
85.024
83.788
86.266
86.252
86.138
83.049
86.503
makam
BM.05 83.771
84.006
Bench Mark (BM) X 432354.783 +43 83.753
Y 9135700.823 0 P.5
+5 83.139
Baitul Iman
SD IT
Control Point (CP) P.8+51
masjid
BM.06 84.161 82.837
83.328
X 432363.600
8+ 84.208
83.216
1 82.487
83.007
Y 9135869.323 1 35 .16 82.785
+8 84
84.170
86.542
Z +88.698 P.10+45
Saluran
P.9
86 83.934
86.737 86.502
.2 84.161 82.874
06 19
P.8+30
P.7
0
83.303
P.10+59
87.681
84.451
83.009
84.1
83.979
86.780 81.534 82.804
83.123
85.689 1
81.833 83.2 81.600
84.645
86.147
P.7+50 84.441
84.064
82.687
86.029
84.437
0
86.204
83.266
83.265 82.071
87.263
83.206
P.1 40 86.230 86.870 81.258
89.775
86.274
89.311
83.369 4
87.113
81.463
88.447
87.8.7744
89.278
2
89.198
.9
876.50 6
86.493 87.522 87.230 81.730 83.301 81 6 83.153 82.882
89.192
kolam
86.853 8 .73
85.6
89 84.112 .93 80.865
87 87.179 85.655 81
kolam
kolam
87.839 82.138
kolam
88.334 84.027 83.901 82.216
85.851
82.119 82.578 82.059
73 82.898 83.079 82.493
Jalan Cor 88.1 82.382
81.113
71 P.8+85
83.8 02 85 5.80
82.624 Lapangan Olahraga 83.116
85.8 8 8
86.7 00
P.9+54
86.0
95 3 84.847 83.809
82.504
P.8+
87.8 P.8+70 85.8 .21 83.868 SDN Kotagede III
47 8 .7 1
85.813 83 82.684
82.257
85 3.7 84
9
84.806 83.979 82.583
.9 31
85.899 5
.08 84.2133 59
22
P.5+
85.286
Jalan Tanah 85 64 82.637 82.89 P.5+75
0
85 83.313 2.8 7 82.431 82.730
P.6+2
9
85.7.733 06 8 .98
45 84.123 83.1 1 85 83.181
.1 0 5 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1
83 85 .130 60
.01 83.2
TVS
854.8.06 7 8 86
90.803
87.367
1/2
P.6+32
87.342
89.226
P.
89.052
Bangunan 49
86.0 2 P.5+25
8
06
85.9 43 86.0 83.063
44
86.132
Taman
Arah Aliran 86.121
P.7
+88
09
P.7+
Tiang Telephone P.6+50
Tiang Listrik
n
Pohon ata n
mb 2 ata
Je 9.09 mb 9
+8 Je 7.83 n
+8 ata
mb 179
Sawah Je 7.
90 +8
n
ata
mb 8
Je 3.86
+8
+86.436
0 1 2 3 4 5 7.5 10 m
85
SKALA VERTIKAL 1 : 100
+83.960
0 10 20 30 40 50 75 100.0m
NOMOR PROFIL
P.10 +81 +54 +38 +1 +85 +70 +51 +35 +30 +9 P.8 +88 +50 +9 P.7 +83 +50 +32 +2 +75 +59 +50 +43 +25 +14 P.5
1000.0
981.0
954.0
938.0
901.0
885.0
870.0
851.0
835.0
830.0
809.0
800.0
788.0
750.0
709.0
700.0
683.0
650.0
632.0
602.0
575.0
559.0
550.0
543.0
525.0
514.0
500.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 19.0 27.0 16.0 37.0 16.0 15.0 19.0 16.0 21.0 12.0 38.0 41.0 17.0 33.0 18.0 30.0 27.0 16.0 18.0 11.0 14.0
86.56 87.80 87.87
TRACE SUNGAI
TIPE BANGUNAN
LINING KIRI
LINING KANAN
51
DIMENSI SUNGAI DAN DATA TAMBAHAN
LEGENDA 82.509
84.018
84.252
83.951 82.104
84.287
83.091 80.696
84.278
84.332
84.362
84.276 83.297 81.513
83.478
84.288
84.451
83.677 83.361 82.512 80.567 80.647
82.587 79.601 79.554 80.890
84.269
80.717 80.502 78.928 79.697 81.673
82.427
82.473 80.149 79.692 78.943
Garis Kontur Tiap 1m 83.064
79.866
79.712 78.491 78.662 79.801
79.815
81.101
80.238 79.719 79.219
83.363 81.704 80.161
78.956
81.435 77.949
80.113
83.560 79.916
Patok 79.395
83.611
83.682 83.200 78.863
79.209
83.629
79.293
kolam
83.611 80.154 79.686 79.187
79.165
83.692 79.666
84.208
82.877 80.127
79.337
82.671 78.432
83.767
82.980
Grid 83.788 77.943
83.221
83.069
78.866
78.944
83.032
83.049
78.389 78.369
80.714
83.771 82.814 77.984
U
84.006 83.213 80.182 79.657
83.753 80.212 79.447
Ulam Tirta
79.891
Bench Mark (BM) 81.570 79.463 79.564
Jl. Tegalturi
83.139 79.639 78.946
83.968 79.337
83.275 79.060
78.979
79.264
82.785 78.770 78.049 77.894
80.389 78.514
81.836 80.846 80.216 78.482
81.822
81.825
78.606
81.863
82.837 79.913
Control Point (CP) 79.757
81.914
81.843 79.304
80.045 78.852 79.637
83.328
78.495
82.060
82.781
80.255 79.236
78.675 78.853 78.993
83.216
82.487 80.272 79.493 78.458
83.007
80.098
82.785 82.231 80.146 80.7
79.371
80.526
01 80.395 80.136 78.449
82.279.434 80.635
82.039
79.068
82.159
80.7 01
81.137
80.356
80.543
83.934
78.863
80.460 78.501
80.418
82.015 79.587
82.380
82.874 81.949 82.2 01 79.075
82.010
Saluran 81.014 79.335 79.572 79.035 78.360
82.738
79.406 51 80.522 80.187 80.086 BM.01
83.303
80.872 78.140
Ruko
80.300
kolam
83.009
80.2 79.408
83.979
81.534 82.804
83.123
81.768 82.617
81.755 82.675
81.010
82.603
80.063 7579.840 79.289 81.818 X 432254.021
82.769
79.243 79.171
79.852
82.687 82.459 83.439
kolam
83.206 83.266
83.265 82.071 81.713 81.982 84.286 84.127
81.258 82.806 78.164 Y 9134877.973
81.463 80.904 80.959 84.201
78.818
81.493 78.518
P
81.619
80.957 79.412
78.382 .1+25
82.882 81.384 79.847
P.1
81.667
Z
Poliklinik Hewan
83.153 80.634 81.416 80.3 82.248 81.170 84.308 79.101 79.064 +78.975
Jalan Aspal 80.865 81.924 89
kolam
81.497 83.507 78.072 78.953
kolam
84.555
79.039
82.535
kolam
kolam
kolam
kolam
82.216 79.125 79.172 77.881 78.668 78.
665 78.863
30
82.059 82.010
77.992
83.079 82.493 83.349 83.429 78.958 78.833
78.924
78.7
05
81.113 P.2+91 P.2+75 P.2+50 79.499 78.665 78.596 .73
6
78.8 64
82.382 80.697
P.2+25 77.851 77. 78
77.3
78.5 91
83.116 78.773 648 78.830
72
76.5
78.756
80.023
Jalan Cor 82.880
82.504
P.3
79.5 59
83.748 81.274 80.737 78.784 78.736
65
makam
82.033 78.823
P.3+ 79.159 41
79.1
77.859 78.694
P.0
81.740 77.273 0
82.583 78.6 97 94
83.979
79 77.604 77.106
78.807
82.866 79.143 78.797 8.
78.851
79.284 78.853 78.814 76.5 55 7
P.3+75 P.3+50 P.3+25 83.430 80.739
81.662 80.003
78.327
80.326 78
.9
78
.8
33
Jalan Tanah 83.290 80.678 77
P.4+25 P.4 BM.03 83.383 81.398 80.747 79
.6
P.5+14 P.5 P.4+75 P.4+50 X 432324.997 82.453 P.0+75 P.0+50 P.0+P.0+25 7 77
+1
81.204
P.5+25 Y 9135229.273
P.2
81.95581.439 32
P.0
81
.6
07 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 1
Bangunan Z +81.5705
0+
P.1+88 P. 2/2
P.1+75 82.413
Arah Aliran
P.1+35 Jl. Sidikan
BM.02
P.1+50 X 432277.385
Y 9134995.383
Tiang Telephone
Z +79.791
Tiang Listrik
CP.01
X 432314.040
Pohon Y 9135108.688
Z +79.568
85
Sawah
n
ata
mb 1 n
Je 9.44 ata
+7 mb 9
Je 9.03
+7
mercu +80.701
80
0 1 2 3 4 5 7.5 10 m +79.434
SKALA VERTIKAL 1 : 100
0 10 20 30 40 50 75 100.0m
+77.106
SKALA HORISONTAL 1 : 1000
NOMOR PROFIL
P.5 +75 +50 +25 P.4 +79 +75 +50 +25 P.3 +91 +75 +50 +25 P.2 +88 +75 +50 +35 +25 P.1 +75 +50 +32+25 +17 +07 P.0
500.0
475.0
450.0
425.0
400.0
379.0
375.0
350.0
325.0
300.0
291.0
275.0
250.0
225.0
200.0
188.0
175.0
150.0
135.0
125.0
100.0
75.0
50.0
32.0
25.0
17.0
7.0
0.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 25.0 25.0 25.0 25.0 21.0 25.0 25.0 25.0 16.0 25.0 25.0 25.0 12.0 13.0 25.0 15.0 10.0 25.0 25.0 25.0 18.0 10.0
81.27 83.15 83.16
TRACE SUNGAI
TIPE BANGUNAN
LINING KIRI
LINING KANAN
52
83
P.1+25
80
79.365
79.665
79.176
77.772
77.648
77.761
79.110
81.859
ELEVASI TANAH ASLI (m)
0.20
0.30
0.30
JARAK (m) 5.00 1.20 1.30 3.20
53
LEGENDA
Patok
Grid
CP.08
Bench Mark (BM) X 432398.968
U
Y 9135842.346
Z +89.398
MN
0
Control Point (CP)
+5
da
.0+
aru
.0
50 MN.5+51
.G
MN.4+57 MN.5
22
MN.1+53
Gg
MN.1 MN.2 MN.2+53
4
.5
MN.3+50
.43
Saluran MN.3+24
89
MN.0+75 MN.3
9
MN.4+12
89
+2
89 6.6 376
.3 47
24
8 9.
89
.0
8
.27
M 0 85.543
14
88.901
.3
Jalan Aspal 86 89.104
89 .481
89.122 87.808 87.840
89
86 .67 88.295 87.753 87.014 86.842 88.151 88.019 85.488
87.823 88.846
8 6.9 3
.8 86 88.777 83.277 82.946
.59 6 86.842
8 .41
89
95 88.790 86.714 83.543 82.946
89 6.7 96
8 87.813 85.815 87.836 87.728 87.888 86.854 84.342 84.041 83.277
896.8 8 85.793 85.292
.4 6
86.542 84.840 84.539 84.435 84.041 85.731 85.530 85.404
6
85.349
33
.1918 85.152 84.500 84.496 84.326
9
85.882 85.806
9
2
86.274 85.806
9
.85
.45
.53
1 88.956 88.667 88.563 88.172 87.722 87.412 87.299 86.715
+5
E
89 89
29
86
Jalan Cor
86
86
M .2 .13 89.016 Jl. Pramuka 85.565 85.328
.3
4
39 85.844
N.
10
89
R
86.656
.07
86.756
7
88.810 88.722 88.469 88.002 87.727 87.258 87.055
.60
0+
86
P.
UA
88
89 9.6 5
28 P.
8 .77
87 .31 48
8 .1 1
89
Jalan Tanah 10
89 8.4 13
+4 MN.0+80
SQ
47
78
5
2
.1 8
MN.0+67
60
89
89
8 .3 1/4
XT
Bangunan 869.1 49
88 .85392
.3
34
m
ka
CP.09
ma
Arah Aliran X 432540.439
Y 9135586.150
Z +87.136
BM.06
X 432363.600
Tiang Telephone Y 9135869.323
n
Z +88.698
ata
n ata
mb 239 mb 329
Je Je 9. n
+8
9. +8 ata ata
n n ata
n
Tiang Listrik mb 722 mb 07 ata mb
n
Je 8. Je mb 469 Je 8.56
3 ata
+8 8.6 Je 8. ata
n mb 727
+8 +8 Je 7. n
+8 mb 002 +8 ata
Je 8. mb n
+8 Je 7.72
7
ata
n ata ata
n
Pohon +8 mb mb 412 mb
Je 7.25
8 Je 7. Je 7.29
9
+8 n
+8 +8 da ata
90 aru mb 656
.G 459 Je 6.
Gg 6. +8 n ata
n
Sawah +8 ata mb 565atan
mb 806 Je 5. b
Je 5.
+8 +8 Jem .565
5
+8
+87.819
+87.518
+85.572
85
0 1 2 3 4 5 7.5 10 m
0 10 20 30 40 50 75 100.0m
NOMOR PROFIL
MN.0 +28 +50 +67+75
+80 MN.1 +53 MN.2 +53 MN.3 +24 +50 +12 +57 MN.5
100.0
153.0
200.0
253.0
300.0
324.0
350.0
412.0
457.0
500.0
28.0
50.0
67.0
75.0
80.0
0.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 28.0 22.0 17.0 20.0 53.0 47.0 53.0 47.0 24.0 26.0 62.0 45.0 43.0
87.11 88.45 89.06
TRACE SUNGAI
TIPE BANGUNAN
LINING KIRI
LINING KANAN
54
LEGENDA
n
Patok ira
mb
Ga MN.8+50
U
Jl.
MN
BM.09 .8+
Grid MN.7+50 X 432774.322 64
MN.7 Y
Z
9135175.623
+84.0465 83.714
SS
83.582 813.405
84.192 83.788 .59
A
Control Point (CP) 84.645 82.140
9
AH
67
84.640 83.632
MN.5 84.106 83
83.9
84.240 84.111 .52
84.768 Jl. Pramuka
MN.4+57
85.043 82.356 83.708 3 83
84.281 .40
85.543
84.781
82.555 84.034
8
813.37
4 MN
Saluran 85.151 84.718 .70 0
2 .9 +5
82.793 84.419
85.488
82.946 85.026 83
.32 0
0
MN.8+3
88.019 82.946 84.654 4
83.277 85.404 ka
Jalan Aspal
88.151
83.543
83.277
85.530
85.015 MN.8 mu
Pra 83
.27
Jl. 8 4
85.731 85.328 813.20
85.806
85.565
MN .47 1
5 83
.9 83
8
813.00
.06
0
85.844 .27 .25 4
Jalan Cor 7 6
83
.03
3
MN
Jalan Tanah .9+ 83
8 .233
38 803.078
.95 Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2
4
82
.95
83.0 2/4
2 82.8 16
Bangunan 08
82.8
66
MN
Arah Aliran .9+
98
MN
.10
Tiang Telephone
+17
90
n n n n
Tiang Listrik ata ata ata ata
mb 404 emb 403 emb 403 n mb n n
Je 5. J 5. J 85. bata Je 5.32
8 ata ata
+8 +8 + em +8 mb 026 emb 15 ata
n
04 Je 5. J 85.0 mb n n
J 5.4 +8 + Je 4.71
8 ata ata ata
n
ata
n
+ 8
+8 mb 9 mb 9 mb 281emb 281 ata
n n
Pohon Je 4.41 Je 4.41 Je mb 111 ata n n
+8 +8 4. J 84. Je mb 7 ata ata n
+8 + 4. Je 3.96 mb mb 788 ata
+8 +8 Je 3.70
8 Je 3. mb 553
+8 +8 Je 3.
+8
Sawah
85
0 1 2 3 4 5 7.5 10 m
80
0 10 20 30 40 50 75 100.0m
NOMOR PROFIL
MN.5 +51 MN.6 +50 MN.7 +50 MN.8 +30 +50 +64 MN.9 +38 +50 +98
500.0
551.0
600.0
650.0
700.0
750.0
800.0
830.0
850.0
864.0
900.0
938.0
950.0
998.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 51.0 49.0 50.0 50.0 50.0 50.0 30.0 20.0 14.0 36.0 38.0 12.0 48.0
83.28 85.52 85.51
TRACE SUNGAI
TIPE BANGUNAN
LINING KIRI
LINING KANAN
55
LEGENDA
1+20
Patok MN.1
u CP.11
nd
lga X 432904.452
Grid 11 Te
ga Y 9134732.235
N. Jl. M
N. Z +81.0255
MN M 4+5
MN.1
4
82.197 11
4
.9+
82.3
5 0 82.197
80.132
+5 14
N.
Bench Mark (BM) 05 0
.4 5 80.127
82 2.18
8 04
.2 5
M
82 1 4
.4 80.77
82 .206 0
U
Control Point (CP)
83.0 80 2.31 8
8 1 17
8 81 0.1.97 .8
jid
8 60 6 .8 21 6 80 49 0
mas
813.2.004 .5
0 16 .8 78.90
82 80 92
56 77 .5
.2 80
Saluran 82 53
83.0 .2 76
M
33 82 .1 5 0
+5
N.
83.2 80 .66
82
13
12
83 33
67
N.
80.9.078
Jalan Aspal 6 80
81.6
54
78 .532
83.0
+7 M .65
32
82.9 82.8 16 0 7
80.1 81
03
5+15
.1
48
52
79 1.57
80.2
08 82.269
80.1
80
8
.9 2
80.1
.25
N
76
82.8 96 2
Jalan Cor 66 82.659 M .0 0
79 1.27
Penampang Memanjang Saluran Conveyor 2
81.594
MN.1
MN 8 MN 8
7 0.3 3/4
.9+ 82.632 . 808.1 62
98 14 .3579 80.3
Jalan Tanah +5 3 80.2 91
MN 0 78
75
80.7.442
.10 01
+17 MN
0 +36 .14 MN
MN.1
Bangunan 81
.1
7
81 9.6
68
77 +8 .14+
X
CP.10
432774.145
.4 92
91
.2 9
81 9.31 95 3 94
7 1.2
Y 9134969.565 8
Arah Aliran 81.032
Z +82.9135
09
81.3
M 79.143
N. 81.329
12 13
N.
Tiang Telephone
ri
+
ltu
50
ga
Jl.
Imo M
Te
giri
Jl.
Tim
Tiang Listrik n ur
ata
mb 69
Je 2.2
85
+8 MN.12+76
Pohon
Sawah
80
0 1 2 3 4 5 7.5 10 m
0 10 20 30 40 50 75 100.0m
NOMOR PROFIL
+98 +17 +36 +73 MN.11 +20 +50 MN.12 +50 +76 MN.13 +50 MN.14
+5 +50 +83 +94
1017.0
1036.0
1073.0
1100.0
1120.0
1150.0
1200.0
1250.0
1276.0
1300.0
1350.0
1400.0
1405.0
1450.0
1483.0
1494.0
998.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 19.0 19.0 37.0 27.0 20.0 30.0 50.0 50.0 26.0 24.0 50.0 50.0 45.0 33.0 11.0
80.95 82.89 82.88
TRACE SUNGAI
TIPE BANGUNAN
LINING KIRI
LINING KANAN
56
LEGENDA
Patok
BM.10
X 433157.707
Y 9134669.532
Z +73.498
Grid
[Link]
MN.17+76
wong
5
Bench Mark (BM)
.1 7+1
MN.14
MN
80.252
Control Point (CP) 73.386
3
78.657
80.532
72.235
+0
+50
77.413 72.235
U 73.375
.17
72
78.9 75.113
51 75.091 73.336
78.9 3
MN
70.331
70.483
Saluran
73.037
73.012
8 75.902 73.331
78.7 42
MN.16+39 78.8 71.833
MN.1 MN.14+94
77 5075
799.98
73.252
3
.33
.
7
Jalan Aspal
8
MN.17+4 MN.18
4+83
MN.16+69
80.3
78.1 62
80.3
MN.16+80
53
79
80.392
Jalan Cor 80.455 80.383 77.694
77.885
80.015
78.737 80.356
80.701
78.442
80.275
80.232
80.391
80.181 80.173 77.823 80.444 80.240
80.416 77.711 80.233
80.103 80.224
80.148 80.511
Jalan Tanah
MN.16+19
Bangunan
MN.15+50 MN.15+92 MN.16+57 CP.12
MN.15+15 X 433084.022
Y 9134674.868
Z +78.8505
Arah Aliran
Tiang Listrik
Pohon
Sawah
82
77 g
on
hW
aja 269
80 S.G +82.
75
0 1 2 3 4 5 7.5 10 m
0 10 20 30 40 50 75 100.0m
75
75.336
73.336
73.331
73.331
70.471
70.331
71.913
73.386
70.483
71.583
73.012
75.012
73.386
73.037
PATOK HEKTOMETER Hm 15 Hm 16 Hm 17
NOMOR PROFIL
+94 +15 +50 +92 +19 +39 +53 +69 +80 +3 +10 +48 +76 MN.18 A
1494.0
1515.0
1550.0
1592.0
1619.0
1639.0
1653.0
1669.0
1680.0
1703.0
1710.0
1748.0
1776.0
1800.0
JARAK PROFIL/JARAK LANGSUNG 21.0 35.0 42.0 27.0 20.0 14.0 16.0 11.0 23.0 38.0 28.0 24.0
78.44 80.30 80.28
TRACE SUNGAI
TIPE BANGUNAN
LINING KIRI
LINING KANAN
57
83
80
77.823
80.426
80.511
ELEVASI TANAH ASLI (m)
0.30
0.20
0.20
58
Skema Saluran Interseptor Inter 46
A = 0,004 km2
Inter 35 Inter 39
A = 0,003 km2
Skema Saluran Interseptor
A = 0,005 km2 Inter 37
C = 0,740
C = 0,746 C = 0,745 A = 0,007 km2
Conve 2 to = 0,044 Jam
Nama saluran : Inter 46 Conve 2 to = 0,122 Jam
to = 0,228 Jam C = 0,744
tc = 0,059 Jam tc = 0,131 Jam to = 0,179 Jam
tc = 0,242 Jam
td = 0,015 Jam td = 0,009 Jam tc = 0,198 Jam
td = 0,015 Jam
td = 0,019 Jam
Inter 41
A = 0,001 km2 Inter 40
C = 0,220 A = 0,008 Km2
Inter 42 Inter 43
Inter 4
Inter 3
A = 0,004 km2
C = 0,496
to = 0,129 Jam
tc = 0,136 Jam
td = 0,007 Jam
Inter 35
A = 0,005 km2
C = 0,746
to = 0,228 Jam
tc = 0,242 Jam
td = 0,006 Jam
59
Skema Saluran Collector
Nama saluran : Coll 1
Coll 1
A = 0,039 km2
C = 0,713
Conve 1 to = 1,226 Jam
tc = 1,456 Jam
td = 0,230 Jam
Inter 7 Inter 6
A = 0,002 km2 A = 0,008 km2
C = 0,723 C = 0,717
to = 0,293 Jam to = 1,126 Jam
tc = 0,297 Jam tc = 1,155 Jam
td = 0,004 Jam td = 0,029 Jam
Skema Penyatuan Saluran Collector
Coll 2
A = 0,023 km2
C = 0,702
Conve 1 to = 0,421 Jam
tc = 0,534 Jam
td = 0,112 Jam
Inter 28 Inter 26
A = 0,017 km2 A = 0,013 km2
C = 0,748 C = 0,748
to = 0,206 Jam to = 0,155 Jam
tc = 0,235 Jam tc = 0,016 Jam
td = 0,029 Jam td = 0,171 Jam
Coll 3
A = 0,062 km2
C = 0,729
to = 0,402 Jam
Conve 1 tc = 0,534 Jam
td = 0,131 Jam
60
Inter 9 Inter 8 Inter 5
A = 0,001 Km2 A = 0,008 Km2 A = 0,003 km2 Inter 4
C = 0,263 C = 0,741 C = 0,710 *A = 0,008 km2
tc = 0,280 Jam tc = 0,238 Jam tc = 1,871 Jam *C = 0,596
td = 0,004 Jam td = 0,015 Jam td = 0,031 Jam *tc = 0,364 Jam
to = 0,276 Jam to = 0,223 Jam to = 1,840 Jam td = 0,003 Jam
Conve 1
A = 0,055 km2 DAS Kali Belik
C = 0,608 A = 6,096 km2
to = 0,575 Jam C = 0,698
tc = 0,653 Jam tc = 1,650 Jam
td = 0,078 Jam
Inter 52 Inter 51
A = 0,003 km2 Coll 3 Coll 2 Coll 1
A = 0,003 km2
C = 0,716 *A = 0,111 km2 *A = 0,073 km2 *A = 0,048 Km2
C = 0,625
tc = 0,259 Jam *C = 0,660 *C = 0,7249 *C = 0,714
tc = 0,639 Jam
td = 0,003 Jam *tc = 0,753 Jam *tc = 1,505 Jam *tc = 1,489 Jam
td = 0,010 Jam
to = 0,256 Jam td = 0,131 Jam td = 0,112 Jam td = 0,230 Jam
to = 0,630 Jam
*A = Luasan setelah penyatuan *C = Koefisien limpasan setelah penyatuan *tc = Waktu konsentrasi setelah penyatuan
Conve 2
A = 0,136 km2 DAS Kali Belik
C = 0,700 A = 6,096 km2
to = 1,456 Jam C = 0,698
tc = 1,604 Jam tc = 1,650 Jam
td = 0,139 Jam
*A = Luasan setelah penyatuan *C = Koefisien limpasan setelah penyatuan *tc = Waktu konsentrasi setelah penyatuan
63
Saluran Inter 16 Saluran Inter 20 Saluran Inter 24
Saluran Inter 25 Saluran Inter 29 Saluran Inter 33
64
Saluran Inter 28 Saluran Inter 32 Saluran Inter 36
Saluran Inter 37 Saluran Inter 41 Saluran Inter 45
65
Saluran Inter 40 Saluran Inter 44 Saluran Inter 48
Saluran Inter 49 Saluran Collector 1
66
Saluran Inter 52 DAS Kali Belik