0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
315 tayangan26 halaman

Landasan Teori Pembelajaran Efektif

Makalah ini membahas lima teori belajar yaitu behavioristik, kognitif, konstruktivisme, dan humanistik. Teori-teori tersebut dijelaskan secara singkat untuk memberikan pemahaman dasar mengenai konsep belajar."

Diunggah oleh

Talia Fatimatuzahro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
315 tayangan26 halaman

Landasan Teori Pembelajaran Efektif

Makalah ini membahas lima teori belajar yaitu behavioristik, kognitif, konstruktivisme, dan humanistik. Teori-teori tersebut dijelaskan secara singkat untuk memberikan pemahaman dasar mengenai konsep belajar."

Diunggah oleh

Talia Fatimatuzahro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LANDASAN TEORI BELAJAR

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah : Pengembangan Bahan Ajar
Dosen Pengampu : Dr. Nita Agustina Nur Laila Eka Erfiana [Link].I

Disusun Oleh :
Kelompok 2 PGMI 4E

1. Zulfa Azka Inda Maula 126205211080


2. Eno Cika Anisah 126205211027
3. Wafiq Azizah 126205211086

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
MARET 2023
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Swt. atas selesainya


makalah berjudul “Landasan Teori Belajar” ini tepat waktu. Selawat dan salam
semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw. beserta keluarga, para
sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Beberapa pihak telah membantu dan mendukung dalam menyusun
makalah ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Rasa terima
kasih disampaikan ke pada pihak-pihak berikut ini.
1. Prof. Dr. Maftukhin, [Link]. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sayyid
Ali Rahmatullah Tulungagung.
2. Dr. Hj. Binti Maunah, [Link].I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan.
3. Dr. Adi Wijayanto, [Link]., [Link], [Link]., AIFO., selaku Kepala Jurusan
Pendidikam Guru Madrasah Ibtidaiyah.
4. Dr. Nita Agustina Nur Laila Eka Erfiana [Link].I. selaku dosen pengampu
mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar.
5. Semua anggota kelompok dua yang mau turut serta membantu
penyusunan makalah ini hingga dapat terselesaikan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk menjelaskan mengenai Landasan Teori
Belajar. Penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa isi makalah ini masih belum sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari sejawat atau
para pembaca mengenai isi makalah ini.

Tulungagung, 2 Maret 2023

Penulis

2
DAFTAR ISI
COVER ......................................................................................................i
KATA PENGANTAR................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................1

A. Latar Belakang.................................................................................1

B. Rumusan Masalah ...........................................................................2

C. Tujuan Penulisan..............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................3

A. Pengertian teori belajar....................................................................3

B. Teori Belajar Behavioristik (Teori Belajar Tingkah Laku).............4

C. Teori Belajar Kognitivisme..............................................................10

D. Teori Belajar Konstruktivisme.........................................................15

E. Teori Belajar Humanistik.................................................................17


BAB III PENUTUP....................................................................................20

A. Kesimpulan .....................................................................................20

B. Saran.................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................22

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan seni bagi seorang guru. Guru diharuskan


memiliki kreativitas yang tinggi dalam mendesain pembelajran di kelas.
Hal ini dikarenakan, guru juga harus memahami dan menerapkan teori
pembelajaran dalam mewujudkan pembelajaran yang sesuai
perkembangan zaman ini.1

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk


memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru dan keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan
lingkungannya. Belajar dilakukan melalui berbagai macam teori sesuai
dengan karakteristiknya tertentu yang ada pada diri masing-masing
perserta didik.

Potensi sertiap peserta didik berbeda satu dengan yang lainnya.


Oleh karena itu, guru harus memahami teori-teori pembelajaran untuk
disesuaikan dengan potensi peserta didiknya. Teori belajar adalah suatu
teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar
mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang
akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.

Ada berbagai macam teori belajar yang bisa diterapkan ole


seotrang pendidik kepada peserta didiknya di dalam kelas. Pentingnya
teori belajat akan membantu dalam memahami bagaimana proses belajar
terjadi pada individu sehinga dengan pemahaman tentang teori belajar
tersebut akan membantu guru untuk menyelenggarakan proses
pembelajaran dengan baik, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, penulis
membuat makalah yang berjudul Landasan Teori Belajar ini agar bisa
menjadi referensi bacaan dan menjadi sumber pemahaman baru bagi
1
Syahrul. Teori-teori Pembelajaran (Kupang: Literasi Nudsantara, 2020), hlm. 1-2.

1
pembaca.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dibahas dalam


makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan teori belajar ?

2. Apa itu teori belajar behavioristik ?

3. Apa itu teori belajar kognitivisme ?

4. Apa itu teori belajar konstruktivisme ?

5. Apa itu teori belajar humanistik ?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui pengertian teori belajar.

2. Mengetahui penjelasan mengenai teori belajar behavioristik.

3. Mengetahui penjelasan mengenai teori belajar kognitivisme.

4. Mengetahui penjelasan mengenai teori belajar konstruktivisme.

5. Mengetahui penjelasan mengenai teori belajar humanistik.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Teori Belajar

Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai


macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Dengan belajar pastinya
dapat membawa perubahan bagi si pelaku itu sendiri, baik perubahan
sikap, pengetahuan maupun keterampilan yang nantinya digunakan untuk
membantu menyelesaikan permasalahan hidup dan menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan
karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup
lainnya.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan


pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses
pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat,
serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat
belajar dengan baik2

Teori belajar pada dasarnya menjelaskan tentang bagaimana proses


belajar terjadi pada seorang individu. Artinya, teori belajar akan membantu
dalam memahami bagaimana proses belajar terjadi pada individu sehingga
dengan pemahaman tentang teori belajar tersebut akan membantu guru
untuk menyelenggarakan proses pembelajaran dengan baik, efektif, dan
efisien.

Dengan kata lain, pemahaman guru dalam mengorganisasikan


proses pembelajaran dengan lebih baik sehingga siswa dapat belajar
dengan lebih optimal. Dengan demikian, teori belajar dalam aplikasinya
sering digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk membantu siswa

2
Djamaludi dan Adhar, Belajar Dan Pembelajaran 4 Pilar Peningkatan Kompetensi
Pedagogis, (Sulawesi Selatan : CV. Kaafah Learning Center, 2019), Hal. 13.

3
mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Teori belajar penting diketahui oleh para pendidik dan calon
pendidik. Hal ini disebabkan, pemahaman guru terhadap sebuah teori
belajar akan mempermudah seorang guru dalam menerapkannya dalam
proses pembelajaran. Menurut Winfred F. Hill, terdapat tiga fungsi utama
dari teori belajar, sebagai berikut:
1. Teori belajar berfungsi sebagai petunjuk dan sumber-sumber stimulasi
bagi penelitian dan pemikiran ilmiah lebih lanjut.
2. Teori belajar merupakan simplifikasi atau garis-garis besar
pengetahuan mengenai hukum-hukum dan proses belajar.

3. Teori belajar menjelaskan secara konsep dasar apa itu belajar dan
mengapa proses belajar dan pembelajaran dapat berlangsung.3

Teori belajar dan pembelajaran yang digagas oleh berbagai pemikir


telah banyak muncul dalam sejarah umat islam. Masing-masing ahli
memiliki pemikiran yang beragam dan variatif dan juga pastinya memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing.4

B. Teori Belajar Behavioristik (Teori Belajar Tingkah Laku)

Terori belajar behavioristik berorientasi pada “hasil yang dapat


diukur, diamati, dianalIsis, dan diuji secara obyektif”. Pengulangan dan
pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi
kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behaviorisme ini
adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan.

Teori belajar behavioristik dikenal juga dengan teori belajar


perilaku, karena analisis yang dilakukan pada perilaku yang tampak, dapat

3
Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan Teori dan Aplikasi
dalam Proses Pembelajaran. (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2013), Hal. 146.
4
Heri Rahyubi. Teori-Teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik, (Majalengka:
Nusa Media, 2018). Hal. 13-14.

4
diukur, dilukiskan dan diramalkan. Perspektif behavioral berfokus pada
peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi
melalui rangsangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan hubungan
perilaku reaktif (respons) hukum-hukum mekanistik.

Belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang disebabkan


karena pengaruh lingkungannya. Behaviorisme hanya ingin mengetahui
bagaimana perilaku individu yang belajar dikendalikan oleh faktor-faktor
lingkungan, artinya lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Teori
ini memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon
terhadap lingkungannya.

Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi di antara stimulus dan


respon dianggap tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat
diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati hanyalah stimulus dan
respons. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru merupakan stimulus,
dan apa saja yang dihasilkan peserta didik merupakan respon, semuanya
harus dapat diamati dan dapat diukur. Behavioristik mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk
melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian


kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan,
mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya
latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan
kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku
yang diinginkan.5

Pada teori belajar ini sering disebut S-R (Stimulus – Respon)


psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran
atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan
demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Pendidik yang menganut
pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku peserta didik merupakan
5
Novi Irwan, “Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Proses Pembelajaran”,
Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol. 1, No. 2, 2012, hal. 67.

5
reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.

Tokoh-tokoh dalam Teori Belajar Behavioristik

1) Edward Lee Thorndike (1871-1949)

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus


dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya
kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat
ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar yang juga dapat berupa
pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Selain stimulus dan respon,
terdapat faktor lain yang menjadi pengaruh dalam teori Thorndike
yaitu penguatan yang dapat memperkuat timbulnya respon. Penguatan
ini berupa penguatan positif dan pengatan negatif.

Thorndike dikenal dengan percobaannya dengan menggunakan


kucing dan kotak puzzle. Dalam percobaannya, Thorndike
menempatkan kucing dalam kotak yang dilengkapi dengan peralatan
(tuas, pedal dan knob) yang akan memungkinkan kucing tersebut
keluar dari kotak dan mendapatkan makanan yang ditempatkan tepat di
luar pintu.

2) Jhon Broades Watson (1878-1958)

Watson dikenal sebagai pendiri aliran Behaviorisme di Amerika


Serikat berkat karyanya yang begitu dikenal “Psychology as the
behaviorist view it”. Belajar menurut Watson adalah proses interaksi
antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud
harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan
dapat diukur.6 Artinya, walaupun ia mengakui adanya perubahan-
perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun
ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu
diperhitungkan.

Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam

6
Ibid., hal 68.

6
benak peserta didik itu penting, namun semua itu tidak dapat
menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak
dapat diamati.

Teori yang dikembangkan oleh Watson ialah Conditioning. Teori


conditioning berkesimpulan bahwa perilaku individu dapat
dikondisikan. Ia percaya dengan memberikan kondisi tertentu dalam
proses pembelajaran maka akan dapat membuat peserta didik memiliki
sifat-sifat tertentu. Belajar merupakan suatu upaya untuk
mengkondisikan (perangsang) yang berupa pembentukan suatu
perilaku atau respons terhadap sesuatu. Watson juga percaya bahwa
kepribadian manusia yang terbentuk melalui berbagai macam
conditioning dan berbagai macam refleks.7

Hasil pandangan Watson dari serangkaian eksperimennya yaitu


belajar adalah hasil dari adanya Stimulus dan Respon (S – R). Stimulus
merupakan objek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan
dalam tubuh. Sedangkan respon adalah apapun yang dilakukan sebagai
jawaban dari stimulus, respon mulai dari tingkat sederhana hingga
tingkat yang tinggi.

Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan


sangat penting. Hal ini dikarenakan Watson tidak mempercayai unsur
keturunan (herediter) sebagai penentu perilaku. Kebiasaan merupakan
dasar perilaku yang ditentukan oleh 2 hukum utama yaitu kebaruan
(recency) dan frequency. Pandangannya tentang ingatan atau memory,
menurutnya apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya
sesuatu digunakan atau dilakukan dan faktor yang menentukan adalah
kebutuhan.

3) Edwin Ray Guthrie (1886-1959)

Edwin Guthrie menggunakan variabel hubungan stimulus dan


respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun Guthrie
mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan
7
Ibid., hal 68.

7
kebutuhan atau pemuasan biologis semata.

Guthrie mengemukakan agar respon yang muncul sifatnya lebih


kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus
yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya
bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam
proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan
mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang.8

4) Burrhusm Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner merupakan tokoh behavioristik yang paling banyak


diperbincangkan dibandingkan dengan tokoh lainnya. Ia mampu
menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat
menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif.9

Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh


para guru. Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinner lah
yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar
behavioristik. Asumsi dasar dalam toeri belajar menurut Skinner, yaitu
belajar merupakan perilaku dan perubahan-perubahan perilaku yang
tercermin dalam kekerapan respon yang merupakan fungsi dari
kejadian dalam lingkungan kondisi.

Program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran


berprogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang
berpijak pada konsep hubungan stimulus– respons serta mementingkan
faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program
pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh
Skinner.

Impliaksi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran


Implikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
8
Ibid., hal 69.
9
Ibid. hal. 69.

8
tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi
pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran
yang tersedia.
Teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di
dunia nyata telah tersetruktur rapi dan teratur, maka peserta didik atau
orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan
ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat
esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan
dengan penegakan disiplin.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan
dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan
belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang
pantas diberi hadiah.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada
penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”,
yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan
yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.

Kelebihan Teori Belajar Behavioristik

1. Guru lebih sering membiasakan muridnya untuk belajar mandiri, tetapi


ketika murid kesulitan baru bertanya kepada guru.

2. Guru akan terbiasa untuk bersikap teliti dan peka saat kondisi belajar
mengajar.

3. Dengan teori belajar ini sangat cocok untuk mendapatkan kemampuan


yang mengandung unsur-unsur kecepatan dan spontanitas.

4. Membentuk peserta didik menjadi pribadi yang lebih disiplin dan


bertanggung jawab.10
Kekurangan Teori Belajar Behavioristik

1. Tidak semua mata pelajaran dapat memakai teori belajar behavioristik.

10
Heri Rahyubi. Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik. (Bandung: Nusa
Media, 2014), hal. 73.

9
2. Peserta didik cenderung diarahkan untuk berfikir linier, tidak kreatif,
dan memposisikan murid sebagai peserta didik pasif.

3. Dalam proses belajar mengajar peserta didik hanya bisa mendengar


dan menghafal yang didengarkan.11

C. Teori Belajar Kognitivisme

Kata Cognitive berasal dari kata “cognition” yang artinya


mengetahui.12 Teori belajar kognitivisme lebih mementingkan peoses
belajar daripada hasil belajar. Teori belajar kognitif ini berbeda dengan
teori behaviorisme yang sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan
respon, namun lebih dari itu belajar dengan teori kognitivisme melibatkan
proses berpikir yang sangat kompleks.13

Terlepas dari teori behavioristik, teori belajar kognitif ini lebih


mementingkan proses belajar daripada hasil belajarnya. Para penganut
14

aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan


hubungan antara stimulus dan respon.15 Teori belajar kognitif ini
merupakan bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model
perceptual.

Tokoh-tokoh dalam Teori Belajar Kognitivisme

1. Jean Piaget (1896-1980)

Pakar kognitivisme paling besar pengaruhnya adalah Jean Piaget.


Menurut Piaget, belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan
tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya
Ibid., hal 73.
11

Syah Muhibbin. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. (Bandung: PT


12

Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 65.


13
Puspo Nugroho, “Pandangan Kognitifisme dan Aplikasinya dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini.” Jurnal Inovasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Vol.
3, No. 2, 2015, hal. 290.
14
Baharuddin, dkk. Teori belajar & Pembelajaran. (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2012)
hlm. 87.
Nurhadi, “Teori Kognitivisme serta Aplikasinya dalam Pembelajaran”, Jurnal Edukasi
15

dan Sains, Vol. 2, No. 1, hal.80.

10
diberi kesempatan untuk melakuka eksperimen dengan obyek fisik
yang ditunjang oleh interaksi dengan temannya. 16 Guru hendaknya
banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau
berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan
berbagai hal dari lingkungannya.17

Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses


yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.
Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin kompleks
pula susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya.
Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami
adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan
adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran


adalah : Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa.
Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang
sesuai dengan cara berfikir anak. Anak-anak akan belajar lebih baik
apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.

Piaget membagi proses belajar kedalam tiga tahapan yaitu.18

16
Wiwik Widiyati, “Belajar dan Pembelajaran Perspektif Teori Kognitivisme”, Jurnal
Biology Science & Education. Vol. 3, No. 2, hal. 178.
17
M. Dalyono. Psikologi Pendidikan. (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012), hal. 37.
18
Nurhadi. Teori Belajar dan Pembelajaran Kognitivistik. Program Magister Pasca
Sarjana (Pps) Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sutan
Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2018, hal.13.

11
1) Asimilasi. Proses pengintgrasian informasi baru ke struktur
kognitif yang sudah ada. Contoh : seorang siswa yang mengetahui
prinsipprinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip
perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip
penjumlahan (yang sudah ada dipahami oleh anak) dengan prinsip
perkalian (informasi baru yang akan dipahami anak).

2) Akomodasi. Proses penyesuaian antara struktur kognitif ke dalam


situasi yang baru. Penerapan proses perkalian dalam situasi yang
lebih spesifik.19 Contohnya : siswa ditelah mengetahui prinsip
perkalian dan gurunya memberikan sebuah soal perkalian

3) Equilibrasi. Proses penyesuaian yang berkesinambungan antara


asimilasi dan akomodasi. Hal ini sebagai penyeimbang agar siswa
dapat terus berkembang dan menambah ilmunya. Tetapi sekaligus
menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan roses
penyeimbang. Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorang
akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur, sedangkan dengan
kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai
informasi yang diterima dengan urutan yang baik, jernih, dan logis.
Perubahan struktur kognitif merupakan fungsi dari pengalaman,
dan kedewasaan anak terjadi melalui tahap-tahap perkembangan
tertentu. Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola
dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Piaget
membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi 4 tahap yaitu.

19
Dwi, Wijayanti. “Analisis Pengaruh Teori Kognitif Jean Piaget Terhadap
Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Melalui Pembelajaran IPS”. Trihayu: Jurnal
Pendidikan Ke-SD-an, 2015, Vol. 1, No. 2, hal 47.

12
2. Jarome Bruner (1915-2016)
Bagi Bruner, perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi
oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya
digunakan. Sehingga, perkembangan bahasa memberi pengaruh besar
dalam perkembangan kognitif.
Menurut Bruner untuk mengajarkan sesuatu tidak usah menunggu
sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting
bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan
padanya. Dengan kata lain, perkembangan kognitif seseorang dapat
ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan
menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.20
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi,
asumsi pertama ialah perolehan pengetahuan merupakan suatu proses
interkatif. Bruner percaya bahwa orang belajar berinteraksi dengan
lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi pada
lingkungan, tetapi juga dalam orang itusendiri. Asumsi kedua ialah
orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan
informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan sebelumnya.
Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran adalah
menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau
suatu masalah; anak akan berusaha membandingkan realita di luar
dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan dengan
pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau
mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka
untuk mencapai keseimbangan di dalam benaknya.
Dari implikasi ini dapat diketahui bahwa asumsi dasar dari teori ini
adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan
pengalaman didalam dirinya yang tertata dalam bentuk struktur
kognitif, yang kemudian mengalami tahap belajar sebagai perubahan
persepsi dan pemahaman dari apa yang aia temukan.

20
Nurhadi. Teori Belajar dan Pembelajaran Kognitivistik. Program Magister Pasca
Sarjana (Pps) Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sutan
Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2018, hal.18

13
3. David Ausubel (1918-2008)

Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan


pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru (belajar
menjadi bermakna/ meaning full learning). Proses belajar terjadi
melalui tahap-tahap: 1). Memperhatikan stimulus yang diberikan; 2).
Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi
yang sudah dipahami; 3). Meaning full learning adalah suatu proses
dikaitkannya.21

Menurut Ausebel siswa akan belajar dengan baik jika isi


pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik
dan tepat kepada siswa (Advanced Organizer). Oleh karena itu, guru
harus menguasai pembelajaran dengan baik serta memiliki logika
berfikir yang cerdas agar dapat merumuskan materi dalam rumusan
yang singkat, serta mengurutkan materi tersebut dalam struktur yang
logis dan mudah dipahami.

Implikasi Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran


Teori kognitif menekankan pada proses perkembangan peserta didik.
Meskipunproses perkembangan peserta didik mengikuti urutan yang sama,
namun kecepatan dan pertumbuhan dalam proses perkembangan itu berbeda.
Dalam proses pembelajaran, perbedaan kecepatan perkembangan
mempengaruhi kecepatan belajar peserta didik, oleh sebab itu interaksi dalam
bentuk diskusi tidak dapat dihindarkan. Pertukaan gagasan menjadi tanda
bagi perkembangan penalaran peserta didik.

Kelebihan Teori Belajar Kognitif

1. Memudahkan siswa untuk memahami materi belajar.

2. Siswa menjadi mandiri dan lebih kreatif.


Kekurangan Teori Belajar Kognitif

1. Teori ini belum bisa digunakan pada semua tingkat pendidikan.


21
Ibid., hal 23.

14
2. Pada pendidikan tingkat lanjut, teori ini susah untuk diterapkan.22

D. Teori Belajar Konstruktivisme


Konstruktivisme berasal dari kata kons, truktiv dan isme. Konstruktiv
berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme
dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme
merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa
pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan
konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi
kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara
sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan
yang lebih tinggi. Konstruktivisme merupakan salah satu aliran yang berasal
dari teori belajar kognitif.
Tujuan penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam
pembelajaran adalah untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa.
Konstruktivisme memiliki keterkaitan yang erat dengan metode
pembelajaran penemuan (discovery learning) dan belajar bermakna
(meaningful learning). Kedua metode pembelajaran ini berada dalam
konteks teori belajar kognitif. 23
Aktivitas pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dapat dilihat dalam
ilustrasi berikut.

22
Baharuddin, dkk. Teori belajar & Pembelajaran. (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2012)
hlm. 87.
Ndaru Kukuh dan Pinton Setya. “Teori Belajar Konstruktivisme dan Implikasinya
23

dalam Pendidikan dan Pembelajaran.” Islamic Education Journal, 2021. Vol. 2, No. 1, hal. 52.

15
Implementasi Teori Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Implementasi dari teori konstruktivisme dalam aktivitas pembelajaran
memiliki beberapa karakteristik penting yaitu. (1) Belajar aktif, (2) siswa
terlibat dalam aktivitas pembelajaran bersifat otentik dan situasional, (3)
aktivitas belajar harus menarik dan menantang, (4) guru kebih berperan
sebagai fasilitator.24
Secara garis besar langkah-langkah penerapan pendekatan
konstruktivisme di dalam kelas adalah sebagai berikut : a) Kembangkan
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengalaman dan
keterampilan barunya b) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk
semua topik c) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. d)
Citpakan “Masyarakat Belajar” (belajar dalam kelompok -kelompok)
Pendekatan konstruktivisme mengarahkan siswa mengkontruksi
gagasan masing-masing, lalu menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajari
(inquiri). Model ini juga membentuk komunitas belajar dengan berbagai
bentuk memberikan kesempatan untuk merefleksi seluruh materi, dan ada
penilaian authentik.
Jadi, pembelajaran ini berlandaskan teori belajar sosial, kognitif, dan
konstruktif untuk memperoleh hasil belajar berupa keterampilan akademik,

24
Ibid., hal. 54-55.

16
inquiry dan sosial. Jadi ciri model ini adalah kerja kelompok yang didasarkan
pada penyelidikan dan penemuan melalui struktur tugas, ada ganjaran
kelompok, dan penilaian yang otentik secara fleksibel, demonstrasi, dan
berpusat pada siswa.

Kelebihan Teori Belajar Konstruktivisme

1. Dalam proses belajar mengajar guru dapat mengajarkan para murid


untuk mengeluarkan ide-idenya atau gagasannya dan melatihnya agar
bisa mengambil keputusan.

2. Semua peserta didik bisa mengingat pelajaran yang sudah diajarkan


karena mengikuti proses belajar mengajar secara langsung dan aktif

3. Ketika proses belajar mengajar, murid akan lebih mudah beradaptasi


dengan lingkungannya dan mendapat pengetahuan baru.
Kekurangan Teori Belajar Konstruktivisme

1. Tugas guru menjadi tidak maksimal karena murid diberi kebebasan


lebih banyak.

2. Teori ini lebih susuah untuk dimengerti karena ruang lingkupnya lebih
luas.25

E. Teori Belajar Humanistik


Teori humanistik adalah sebuah teori belajar yang mengutamakan pada
proses belajar bukan pada hasil belajar. Teori ini mengemban konsep untuk
memanusiakan manusia sehingga manusia (siswa) mampu memahami diri dan
lingkungannya. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar (siswa)
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya
harus berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri dengan
sebaik-baiknya. Teori pembelajaran ini berusaha memahami perilaku belajar
dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.26
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan

25
Ibid., hal. 57.
26
Qodir. Abd, Teori Belajar Humanistik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa,
Vol. 04 No. 02, Jurnal Pedagogik, Desember 2017, Hal. 193.

17
untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori
belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian
filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian kajian
psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan yang dipelajari dari
pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang
konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan,
serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam
bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman tentang proses belajar
sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar
lainnya. Teori humanstik berpendapat bahwa belajar apapun dapat
dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai
aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara
optimal. Pemahamanan terhadap belajar yang diidealkan menjadikan teori
humanistik dapat memanfaatkan teori belajar apapunn asal tujuannya untuk
memanusiakan manusia27
Tujuan dasar pendidikan humanistik adalah mendorong siswa menjadi
mandiri dan independen, mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran
mereka, menjadi kreatif dan tertarik dengan seni, dan menjadi ingin tahu
tentang dunia disekitar mereka.

Implementasi Teori Pembelajaran Humanistik dalam Pembelajaran


Menurut Perni, N. N., pengalaman belajar memiliki relevansi dengan
seluruh orang yang ada disekitar kita. Berikut penerapan teori humanistik dalam
pembelajaran:

1. Guru dapat memberikan reward kepada peserta didik yang telah berhasil
melakukan suatu hal, agar peserta didik tersebut semakin semangat dan
termotivasi dalam pembelajaran.

2. Peserta didik perlu di hindarkan dari tekanan pada lingkungan sehingga


mereka merasa aman untuk belajar lebih mudah dan bermakna.

27
Djamaludi. Dr. Adhar, Belajar Dan Pembelajaran 4 Pilar Peningkatan Kompetensi
Pedagogis, Sulawesi Selatan : CV. Kaafah Learning Center, 2019, Hal. 17-19.

18
3. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
kemampuanya agar peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang
bermakna.

4. Guru harus memfasilitasi peserta didik dengan memberikan sumber belajar


yang variative, interaktif dalam mendukung kegiatan pembelajaran.28

Kelebihan Teori Belajar Humanistik

1. Tingkat keberhasilan atau indikator penilaian dari teori belajar ini adalah
murid senang dalam belajar dan terjadi perubahan terhadap tingkah laku
dan pola pikir bukan karena paksaan atau keinginan sendiri.

2. Dengan teori ini, peserta didik diharapkan menjadi manusia yang bisa
mengatur dirinya sendiri dan menjadi pribadi yang tidak terikat oleh
pendapat orang lain.
Kekurangan Teori Belajar Humanistik

1. Murid yang tidak mau mengerti akan potensi dirinya maka murid akan
tertinggal dalam proses belajar mengajar.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

28
Perni, N. N, Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran, Adi Widya:
Jurnal Pendidikan Dasar, 2019, Vol.2 No. 1, Hal. 105-113.

19
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara
pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa,
perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas
maupun di luar kelas.
Menurut teori Behavioristik, dalam proses belajar mengajar
yang terpenting adalah seseorang akan dianggap telah belajar ketika sudah
menunjukkan perubahan perilaku. Dari teori ini juga, proses pembelajaran
dapat diartikan sebagai stimulus dan respon.
Teori kognitif berbicara tentang manusia membangun
kemampuan kognitifnya dengan motivasi yang dilakukan oleh diri sendiri
terhadap lingkungannya. Berdasarkan teori belajar kognitif, belajar
merupakan proses perubahan persepsi dan pemahaman. Dengan kata lain,
belajar itu tidak harus berbicara tentang perubahan tingkah laku atau sikap
yang bisa diamati.
Teori belajar konstruktivisme adalah suatu usaha yang
dilakukan untuk membangun tata hidup yang berbudaya modern. Teori
belajar ini berlandaskan pembelajaran kontekstual. Dengan kata lain,
manusia membangun pengetahuan sedikit demi sedikit yang hasilnya
disebarkan melalui konteks yang terbatas dan dalam waktu yang
direncanakan. Menurut teori konstruktivisme, “belajar” lebih mudah
dipahami oleh manusia karena manusia membangun dan mengembangkan
pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah dilewati.
Teori Humanistik lebih menekankan pada pembentukan
kepribadian, perubahan sikap, menganalisis fenomena sosial, dan hati
nurani yang diterapkan melalui materi-materi pelajaran. Maka dari itu,
dapat dikatakan bahwa guru atau pendidik sangat berperan sebagai
fasilitator.

B. Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata


sempurna. Baik itu dari kelengkapan materi maupun struktur penggunaan
bahasanya. Oleh karena itu, penulis sangat mengahrapkan adanya kritik

20
dan saran dari pembaca. Sehingga kedepannya kami bisa membuat
makalah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, dkk. (2012). Teori belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: Ar Ruzz


Media.

21
Dalyono, M. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Djamaludi dan Adhar. (2019). Belajar Dan Pembelajaran 4 Pilar Peningkatan
Kompetensi Pedagogis. Sulawesi Selatan : CV. Kaafah Learning Center.
Irham, Muhammad dan Novan Ardy Wiyani. (2013). Psikologi Pendidikan Teori
dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Irwan, Novi, “Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Proses Pembelajaran”,
Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 1(2), 2012.
Kukuh, Ndaru dan Pinton Setya. “Teori Belajar Konstruktivisme dan
Implikasinya dalam Pendidikan dan Pembelajaran”. Islamic Education
Journal, 2(1), 2021.
Qodir. Abd, “Teori Belajar Humanistik Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
Siswa”, Jurnal Pedagogik, Desember, 4(1), 2017.
Muhibbin, Syah. (2005). Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nugroho, Puspo. “Pandangan Kognitifisme Dan Aplikasinya Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini.” Jurnal Inovasi
Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 3(2), 2015.
Nurhadi. (2018). Teori Belajar dan Pembelajaran Kognitivistik. Program
Magister Pasca Sarjana (Pps) Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas
Islam Negeri Sutan Syarif Kasim Riau Pekanbaru.
Nurhadi, “Teori Kognitivisme serta Aplikasinya dalam Pembelajaran”, Jurnal
Edukasi dan Sains, 2(1), 2017.
Perni, N. N, “Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran”, Adi
Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 2019.
Rahyubi, Heri. (2014). Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik.
(Bandung: Nusa Media).
Syahrul. (2020). Teori-teori Pembelajaran. Kupang: Literasi Nudsantara.
Wijayanti, Dwi. “Analisis Pengaruh Teori Kognitif Jean Piaget Terhadap
Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Melalui Pembelajaran IPS.”
Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 1(2), 2015.
Wiwik Widiyati, “Belajar dan Pembelajaran Perspektif Teori Kognitivisme”,
Jurnal Biology Science & Education. 3(2).

22
23

Common questions

Didukung oleh AI

Teori belajar behavioristik fokus pada hubungan stimulus-respon dan hasil belajar yang dapat diamati serta diukur. Proses belajar dilihat sebagai perubahan perilaku yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan sangat mengutamakan peranan pengulangan serta reinforcement . Sementara itu, kognitivisme memandang belajar lebih dalam konteks proses kognitif, menekankan pentingnya pemahaman dan struktur pengetahuan di dalam pikiran individu. Teori ini lebih mementingkan proses belajar daripada hanya sekadar hasil yang dapat diamati, dan memperhatikan bagaimana informasi baru diintegrasikan dengan pengetahuan yang sudah ada .

Kritik terhadap teori behavioristik, terutama karena terlalu berfokus pada aspek yang dapat diamati dan kurangnya perhatian pada proses mental internal, mendorong munculnya teori-teori belajar baru yang lebih menekankan aspek kognitif dan konstruktif dari belajar. Misalnya, kognitivisme muncul sebagai respons untuk mengeksplorasi lebih dalam proses berpikir yang kompleks, dan konstruktivisme menyoroti peran aktif individu dalam membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan. Kritik ini menunjukkan bahwa pola pengajaran tidak hanya tentang pengulangan dan reinforcement tetapi juga melibatkan proses pemikiran kritis dan kolaborasi dalam penemuan pengetahuan baru .

Jean Piaget menekankan bahwa belajar lebih berhasil jika disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif anak. Piaget percaya bahwa anak-anak akan belajar lebih baik ketika diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan melakukan eksperimen dengan obyek fisik, karena perkembangan kognitif dipengaruhi oleh mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf . Dengan meningkatnya usia, kompleksitas sistem syaraf juga bertambah, sehingga meningkatkan kemampuan kognitif anak. Oleh karena itu, pengajaran harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak dan merangsang interaksi aktif mereka dengan lingkungan .

Kelebihan teori behavioristik adalah membantu membentuk kebiasaan belajar yang disiplin dan bertanggung jawab di kalangan peserta didik, serta cocok untuk pembelajaran yang membutuhkan kecepatan dan spontanitas dalam respons. Guru menjadi lebih teliti dan peka terhadap proses belajar mengajar . Namun, kelemahan teori ini adalah kurangnya penekanan pada kreativitas dan keterlibatan aktif peserta didik. Teori ini cenderung membuat peserta didik berfikir linier dan pasif, serta mendominasi pengajaran hanya pada hafalan tanpa pemahaman mendalam .

John Broades Watson berpendapat bahwa belajar harus fokus pada perilaku yang dapat diobservasi dan diukur serta tidak memasukkan perubahan mental dalam perhitungannya. Meskipun Watson mengakui adanya perubahan mental selama proses belajar, dia menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati langsung. Watson percaya bahwa tingkah laku yang dipelajari adalah hasil dari stimulus dan respon, dan bahwa unsur-unsur lingkungan memainkan peranan penting lebih daripada faktor internal atau keturunan dalam menentukan perilaku .

Edward Lee Thorndike berargumen bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Menurutnya, stimulus adalah segala sesuatu yang dapat memicu kegiatan belajar, sementara respon adalah reaksi peserta didik terhadap stimulus tersebut. Thorndike juga menekankan pentingnya penguatan (positif maupun negatif) dalam memantapkan respon yang timbul . Melalui eksperimennya dengan kucing dalam kotak puzzle, Thorndike menunjukkan bahwa perilaku kucing diubah melalui proses penguatan setelah berhasil menyelesaikan tugas dan mendapatkan hadiah .

Teori belajar konstruktivisme mengubah pendekatan pengajaran dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman langsung. Guru dalam model ini berperan sebagai fasilitator yang menyediakan sumber daya dan lingkungan belajar yang memancing rasa ingin tahu serta mendorong eksplorasi mandiri oleh siswa . Guru membimbing siswa melalui pertanyaan terbuka dan kegiatan penemuan yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman mendalam dan memungkinkan siswa mengeksplorasi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman dan konteks otentik .

B.F. Skinner memahami reinforcement sebagai komponen kunci dalam proses belajar yang membantu memperkuat perilaku yang diinginkan. Dalam pandangannya, perubahan perilaku peserta didik adalah fungsi dari kejadian-kejadian dalam lingkungan yang dimediasi melalui reinforcement. Skinner mendesain pembelajaran yang memanfaatkan perangkat seperti mesin belajar dan modul yang berfokus pada hubungan stimulus-respons serta faktor penguat untuk mendorong peserta didik mencapai tujuan pembelajaran . Teori ini menekankan pentingnya pengulangan dan penguatan positif guna memastikan perilaku yang diinginkan terinternalisasi peserta didik .

Teori belajar behavioristik melihat guru sebagai pengendali lingkungan belajar yang memberikan stimulus kepada peserta didik. Peran guru adalah menciptakan kondisi yang kondusif agar stimulus yang diberikan dapat menghasilkan respon yang diinginkan. Guru harus memastikan bahwa pembelajaran dilakukan melalui latihan berulang dan pemberian reinforcement sehingga perilaku yang diinginkan menjadi kebiasaan bagi peserta didik .

Implikasi teori kognitivisme dalam pembelajaran di kelas meliputi penekanan pada proses belajar daripada sekadar hasil. Strategi pembelajaran dirancang untuk merangsang peserta didik secara kognitif dengan memberikan masalah yang perlu dipecahkan, mempromosikan diskusi, dan mendorong interaksi aktif dengan lingkungan . Guru harus menyusun materi secara logis dan sistematis untuk membantu siswa memahami dan mengaitkan pengetahuan baru dengan informasi yang sudah mereka miliki, sehingga memfasilitasi pembelajaran yang bermakna .

Anda mungkin juga menyukai