0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan18 halaman

Faktor dan Prosedur Pengembangan Bahan Ajar

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar meliputi kecermatan isi, ketepatan cakupan, dan kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Prosedur pengembangan bahan ajar secara sistematis meliputi analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan awal, uji coba, revisi, dan diseminasi.

Diunggah oleh

Talia Fatimatuzahro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan18 halaman

Faktor dan Prosedur Pengembangan Bahan Ajar

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar meliputi kecermatan isi, ketepatan cakupan, dan kesesuaian dengan karakteristik peserta didik. Prosedur pengembangan bahan ajar secara sistematis meliputi analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan awal, uji coba, revisi, dan diseminasi.

Diunggah oleh

Talia Fatimatuzahro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FAKTOR DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Bahan Ajar MI/SD
Dosen pengampu:
Dr. Nita Agustina Nurlaila Eka Erfiana, [Link].I.

Disusun Oleh:
Kelompok 4 PGMI-4E
1. Adhista Dhevy Ichsannanda (126205211002)
2. Lailla Zannuba Rohmatul Khopsoh (126205213243)
3. Talia Fatimatu Zahro (126205211085)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SAYYID ALI RAHMATULLAH
TULUNGAGUNG
MARET 2023
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas selesainya


makalah berjudul “Faktor dan Prosedur Pengembangan Bahan Ajar” ini tepat
waktu. Selawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad
Saw. beserta keluarga, para sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Beberapa pihak telah membantu dan mendukung dalam menyusun
makalah ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Rasa terima kasih
disampaikan pada pihak-pihak berikut ini.
1. Dr. Nita Agustina Nurlaila Eka Erfiana, [Link].I. selaku Dosen Pengampu
Mata Kuliah Pengembangan Bahan Ajar MI/SD.
2. Teman-teman sekalian, khususnya bagi pihak yang ikut serta dalam proses
penyusunan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk mendeskripsikan “Faktor dan Prosedur
Pengembangan Bahan Ajar”. Penulis berharap agar makalah ini dapat membantu
pembaca memahami beberapa faktor dan prosedur atau langkah-langkah dalam
pengembangan bahan ajar. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik
dan saran dari sejawat atau para pembaca mengenai isi makalah ini.

Tulungagung, 4 Maret 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................................i

KATA PENGANTAR......................................................................................................ii

DAFTAR ISI...................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1

A. Latar Belakang.......................................................................................................1

B. Rumusan Masalah..................................................................................................2

C. Tujuan Penulisan....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................3

A. Faktor-Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pengembangan Bahan Ajar.....3

B. Prosedur dalam Pengembangan Bahan Ajar...........................................................9

BAB III PENUTUP........................................................................................................14

A. Simpulan..............................................................................................................14

B. Saran....................................................................................................................14

DAFTAR RUJUKAN.....................................................................................................15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya seorang guru harus memiliki banyak kemampuan


dalam mengajar, terutama yaitu guru MI/SD. Mengapa demikian, karena guru
MI/SD akan mengahadapi peserta didik yang akan memahami materi dengan
benda yang konkret, penjelasan sederhana namun luas, dan bahan ajar yang
menyenangkan untuk dipelajari. Guru MI/SD harus kreatif dalam mengajar di
dalam kelas, seperti dalam pemilihan metode belajar, media pembelajaran,
serta juga bahan ajar yang akan digunakan. Bukan hanya itu, guru juga harus
mampu mengembangkan bahan ajar. Pengembangan bahan ajar mampu
membuat pembelajaran lebih menyenangkan, efektif, efisien, dan tidak
melenceng dari tujuan pembelajaran.1
UU Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 8 mengenai Guru dan Dosen
mengatur bahwa kemampuan guru yang menjadi aspek pengembangan harus
memiliki 4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.2 Berdasarkan
empat kompetensi tersebut, maka kompetensi inti yang wajib dimiliki seorang
guru yaitu mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang
pembelajaran yang diampu, menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang
mendidik, mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif
dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi
dan mengembangkan diri. Berdasarkan tuntutan sekaligus kewajiban tersebut
seorang guru dituntut mampu menyusun bahan ajar yang inovatif dan kreatif
sesuai dengan kurikulum, perkembangan kebutuhan peserta didik dan
perkembangan teknologi informasi.

1
Ina Magdalena,dkk., “Analisis Pengembangan Bahan Ajar”, Nusantara: Jurnal
Pendidikan dan Ilmu Sosial, Volume 2, Nomor 2, Juli 2020.
2
Hani Risdiany, “Pengembangan Profesionalisme Guru dalam Mewujudkan Kualitas
Pendidikan di Indonesia”, Al-Hikmah: Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam, Volume
3, Nomor 2, 2021.

1
2

Pengembangan bahan ajar oleh guru, selain membutuhkan kreativitas,


unik, juga membutuhkan pengetahuan guru tentang lingkungan sekitarnya
agar bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan ketersediaan bahan/materi
di sekitarnya (akrab lingkungan, berwawasan budaya). Di samping itu, guru
juga harus memahami tentang faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam pengembangan bahan ajar.3 Selain itu, Pengembangan bahan ajar perlu
dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait
untuk menghasilkan bahan ajar yang berkualitas.4
Sehubungan dengan hal tersebut, pokok bahasan pada Makalah ini
akan difokuskan pada faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan serta
prosedur dalam pengembangan bahan ajar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dibahas dalam


makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apa saja faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan
bahan ajar?
2. Bagaimana prosedur dalam pengembangan bahan ajar?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.


1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
pengembangan bahan ajar.
2. Untuk mengetahui prosedur dalam pengembangan bahan ajar.

3
Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2012), hal.
1.40.
4
Ibid., hal. 1.24.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Faktor-Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pengembangan


Bahan Ajar

Bahan ajar mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran, yaitu


acuan yang digunakan oleh penatar atau petatar. Bagi petatar bahan ajar
menjadi acuan yang diserap isinya sehingga dapat menjadi pengetahuan dan
bagi penatar bahan ajar ini menjadi acuan dalam menyampaikan keilmuannya.
Pengembangan bahan ajar oleh penatar membutuhkan kreativitas untuk
membuat sesuatu yang lain, unik, juga membutuhkan pengetahuan tentang
lingkungan sekitarnya agar bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan
ketersediaan bahan/materi di sekitarnya. Di samping itu penatar juga harus
memiliki pengetahuan tentang beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam pengembangan bahan ajar, diantarannya yaitu sebagai berikut.5
1. Kecermatan Isi
Kecermatan isi adalah validitas/kesahihan isi atau kebenaran ini
secara keilmuan, dan keselarasan isi. Kebenaran isinya berdasarkan sistem
nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. Validitas isi
menunjukkan bahwa isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan
teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran
perkembangan bidang ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan
dalam bidang ilmu tersebut. Dengan demikian isi bahan ajar dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah, benar dari segi keilmuan.

2. Ketepatan Cakupan
Ketepatan cakupan berhubungan dengan isi bahan ajar dari sisi
keluasan dan kedalaman isi atau materi serta keutuhan konsep berdasarkan
bidang ilmu. Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar sangat berhubungan

5
Ibid., hal. 1.40-1.57.

3
4

dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu. Dalam bidang ilmu


tersebut yang paling utama adalah tujuan pembelajaran. Setiap penatar
pasti mempunyai tujuan pembelajaran dari mata tatarnya. Dari tujuan
tersebut, dapat menentukan seberapa luas, dalam, dan utuh topik yang
akan disajikan kepada petatar. Kemudian bahan ajar dikembangkan sesuai
dengan materi pokok dan komponennya berdasarkan pada materi yang
telah ditentukan tersebut.

3. Ketercernaan Bahan Ajar


Bahan ajar bisamenggunakan media apapun, namun harus
memiliki tingkat ketercernaan yang tinggi. Artinya bahan ajar dapat
dipahami dan isinya dapat dimengerti oleh peserta dengan mudah. Ada
enam hal yang mendukung tingkat ketercernaan bahan ajar, yaitu sebagai
berikut.
a. Pemaparan yang Logis
Bahan ajar dipaparkan secara logis, misalnya mulai dari yang
umum ke yang khusus atau sebaliknya (deduktif atau induktif), dari
yang mudah ke yang sukar, atau dari yang inti ke yang pendukung.
Dengan demikian, peserta dapat dengan mudah mengikuti pemaparan,
dan dapat segera mengkaitkan pemaparan tersebut dengan informasi
sebelumnya yang sudah dimilikinya. Bahan ajar yang dipaparkan
secara tidak logis akan menyulitkan peserta belajar. Dengan demikian,
informasi yang diterima oleh peserta akan saling terkait, bahkan dapat
dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.
b. Penyajian Materi yang Runtut
Bahan ajar disajikan secara sistematis, tidak meloncat-loncat.
Keterkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat, kemudian
setiap topik disajikan secara sistematis dengan 3 strategi yaitu, 1)
penyajian uraian, contoh dan latihan, 2) contoh, latihan, penyajian
uraian, 3) penyajian uraian, latihan, contoh (PCL – CLP – PLC).
Urutan strategi penyajian dapat berubah-ubah sehingga tidak
membosankan, namun setiap bagian perlu diberi penjelasan yang
memadai sehingga tidak membingungkan peserta. Keruntutan
penyajian isi bahan ajar
5

mempermudah peserta dalam belajar, dan juga menuntun peserta


untuk terbiasa berpikir runtut.
c. Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman
Untuk menyajikan suatu topik dan memaparkan suatu pokok
bahasan diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat membantu dan
mempermudah pemahaman peserta. Contoh dan ilustrasi dapat
dikembangkan dalam beragam bentuk, tercetak-narasi sebagai bagian
dari penyajian isi bahan ajar dalam materi pokok yang berbentuk
cetak, poster, kartu-kartu (flipchart), atau dalam bentuk non cetak
seperti video, audio, simulasi berbantuan atau juga dalam bentuk
realita seperti model, atau bahan sesungguhnya untuk
didemonstrasikan kepada peserta. Prinsip utama dalam pemilihan
contoh dan ilustrasi adalah ketepatan contoh dan ilustrasi untuk
memperjelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan malah
membuat peserta semakin bingung), serta menarik dan bermanfaat
bagi peserta. Dapat diperoleh melalui sumber-sumber mutakhir seperti
majalah, koran, ataupun dari situs- situs di internet.
d. Alat Bantu yang Memudahkan
Bahan ajar perlu memiliki alat bantu yang dapat
mempermudah peserta dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Dalam
bahan ajar cetak, alat bantu dapat berupa rangkuman untuk setiap bab,
penomoran, judul bab yang jelas, serta tanda-tanda khusus, misalnya
tanda tanya yang menandakan pertanyaan. Dalam bahan ajar non
cetak, alat bantu juga dapat berupa rangkuman, petunjuk belajar bagi
peserta, serta tanda- tanda khusus yang dapat diberlakukan serta dapat
membantu peserta belajar, misalnya nada suara yang berbeda dalam
kaset audio, atau caption dalam program video.
Yang perlu diperhatikan dalam menggunakan alat bantu bahan
ajar adalah prinsip konsistensi, artinya alat bantu yang simbol atau
bentuknya sama harus digunakan dengan arti yang sama di semua isi
bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu. Jadi, alat bantu yang
simbolnya atau bentuknya sama hendaknya tidak digunakan untuk arti
6

yang berbeda-beda dalam satu bahan ajar yang sama. Misalnya,


gambar “tangan yang sedang menulis” digunakan untuk arti “Latihan”
yang harus dikerjakan oleh peserta secara tertulis. Hendaknya gambar
yang sama jangan digunakan untuk arti yang lain,
e. Format yang Tertib dan Konsisten
Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan konsistensi agar
mudah dikenali, diingat, dan dipelajari oleh peserta. Misalnya, jika
guru menggunakan kertas merah untuk lembar kerja peserta, maka
seterusnya gunakanlah warna kertas merah untuk LKS, jangan
gunakan warna merah untuk komponen lain dalam bahan ajar. Dengan
demikian, setiap kali peserta melihat warna kertas merah, maka
peserta akan menandai sebagai LKS.
f. Penjelasan tentang Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar
Dalam bahan ajar perlu ada penjelasan tentang manfaat dan
kegunaan bahan ajar dalam mata tataran. Bahan ajar dapat berperan
sebagai bahan utama yang akan digunakan dalam pembelajaran di
kelas, atau sebagai alat bantu peserta belajar mandiri di rumah (buku
kerja, paket kerja mandiri), atau juga sebagai alat bantu peserta belajar
dalam kelompok. Peran ini perlu dijelaskan kepada peserta dengan
cermat, sehingga peserta dapat menggunakan bahan ajar dengan jelas.
Di samping itu, bahan ajar juga perlu menjelaskan keterkaitan antara
topik yang dibahas dalam bahan ajar dengan topik-topik dalam mata
pelajaran lainnya. Dengan demikian, peserta dapat melihat keterkaitan
topik bahan ajar dengan topik lain, dan tidak terkesan bahwa masing-
masing topik adalah berdiri sendiri-sendiri.

4. Penggunaan Bahasa
Dalam mengembangkan bahan ajar, penggunaan bahasa menjadi
salah satu faktor yang penting. Penggunaan bahasa, yang meliputi
pemilihan ragam bahasa, pemilihan kata, penggunaan kalimat efektif, dan
penyusunan paragraf yang bermakna, sangat berpengaruh terhadap
manfaat bahan ajar. Walaupun isi bahan ajar sudah cermat,
menggunakan format yang
7

konsisten, serta dikemas dengan menarik, namun jika bahasa yang


digunakan tidak dimengerti oleh peserta, maka bahan ajar tidak akan
bermakna apa-apa. Penggunaan bahasa menjadi faktor penting, bukan
hanya dalam pengembangan bahan ajar cetak seperti buku kerja peserta,
lembar kerja peserta, tetapi juga dalam pengembangan bahan ajar non
cetak, seperti kaset audio, video, bahan ajar berbasiskan komputer, dan
lain-lain.
Dengan demikian, ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar
biasanya ragam bahasa non formal atau bahasa komunikatif yang lugas
dan luwes. Dalam bahasa komunikatif, pembaca diajak untuk berdialog
secara intelektual melalui sapaan, pertanyaan, ajakan, dan penjelasan,
seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi.
Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat peserta merasa seolah-
olah berinteraksi dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang
disampaikan dalam bahan ajar.

5. Perwajahan/Pengemasan
Perwajahan dan atau pengemasan berperan dalam perancangan
atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan
dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu
halaman cetak dalam bahan ajar hendaknya mempertimbangkan beberapa
hal berikut.
a. Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat
peserta lelah membacanya.
b. Bagian kosong (white space) dari satu halaman sangat diperlukan
untuk mendorong peserta mencoret-coret bagian kosong tersebut
dengan rangkuman atau catatan yang dibuat peserta sendiri. Sediakan
bagian kosong secara konsisten dalam halaman-halaman bahan ajar.

Perwajahan dan pengemasan bahan ajar juga meliputi penyediaan


alat bantu belajar dalam bahan ajar, sehingga bahan ajar dapat dipelajari
peserta secara mandiri (sendiri, atau dengan teman-teman dalam
kelompok). Dalam kasus bahan ajar cetak, alat bantu belajar terdiri dari
tiga kategori, yaitu alat bantu belajar pada bagian pendahuluan, alat
bantu belajar pada
8

uraian informasi per topik, dan alat bantu belajar pada bagian akhir bahan
ajar cetak, sebagai berikut.

a. Pendahuluan: Judul, Daftar isi, Peta konsep, diagram, pemandu awal,


Tujuan pembelajaran, Tes awal.
b. Uraian: Ringkasan awal, Pengacuan pada bagian bahan ajar lain, Judul
bagian, Perintah/instruksi, Signposts (tanda verbal atau visual di
bagian samping teks), Rangkuman.
c. Akhir: Senarai (daftar kata sukar), Tes akhir, Indeks.

Tidak semua alat bantu belajar tersebut harus ada dalam satu bahan
ajar, artinya dapat memilih alat bantu belajar yang paling tepat dan paling
dibutuhkan untuk melengkapi bahan ajar.

6. Ilustrasi
Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat,
antara lain untuk memperjelas pesan atau informasi yang disampaikan,
membuat bahan ajar menjadi lebih menarik melalui variasi penampilan.
Ilustrasi dapat dibuat sendiri sebagai pengembang bahan ajar, jika
mempunyai keterampilan menggambar yang baik. Namun, ilustrasi juga
dapat dibuatkan oleh perancang grafis atau pelukis, yang menerjemahkan
gambar-gambar yang diinginkan ke dalam ilustrasi yang baik dan tepat.
Selain itu, ilustrasi juga dapat diambil dari sumber langsung (misalnya
foto), sumber atau buku lain (misalnya majalah atau ensiklopedia). Jika
ilustrasi diperoleh dari sumber atau buku lain, berkewajiban memberi
penjelasan tentang hal itu dalam bahan ajar yang tulis. Ilustrasi yang biasa
digunakan dalam bahan ajar, antara lain daftar atau tabel, diagram, grafik,
kartun, foto, gambar, sketsa, simbol, dan skema.

7. Kelengkapan Komponen
Bahan ajar merupakan paket multikomponen dalam bentuk
multimedia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan
urutan materi yang baik, meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi
bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup
banyak, memberi
9

saran-saran untuk belajar kepada peserta (pertanyaan kunci, soal, tugas,


kegiatan), serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan sendiri oleh
peserta sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan
baliknya. Paket bahan ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket, atau
dapat juga dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet, atau
buku lain), panduan belajar/peserta, serta panduan guru.

B. Prosedur dalam Pengembangan Bahan Ajar

Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematis


berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait dan menghasilkan bahan ajar
berkualitas. Selama ini guru kurang terlatih mengembangkan bahan ajarnya
karena dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar ataupun di Sekolah
Menengah lebih sering digunakan bahan ajar yang sudah siap pakai yang
tersedia di pasaran. Sehubungan dengan itu pada tulisan ini akan dipaparkan
materi mengenai procedur pengembangan bahan ajar. Kriteria penyusunan
bahan ajar digunakan sebagai indikator dalam pengembangan dan penyusunan
bahan ajar. Indikator tersebut dikembangkan menjadi prosedur atau tahapan
penyusunan dan pengembangan bahan ajar.6 Prosedur dalam pengembangan
bahan ajar pada dasarnya menggunakan Procedure Research and Development
atau penelitian pengembangan yang sering disingkat (R&D).7
Sadjati menjelaskan ada empat prosedur/langkah-langkah yang perlu
dilakukan dalam pengembangan bahan ajar yaitu sebagai berikut.8

1. Analisis
Tahap ini mencoba untuk mengenali siapa peserta didik, dan
mengidentifikasi perilaku awal peserta didik serta karakteristik yang
dimilikinya. Perilaku awal berkaitan dengan tingkat penguasaan dan
kemampuan dalam bidang ilmu atau mata yang sudah dimiliki peserta
didik.

6
Diani Ayu Pratiwi, Perencanaan Pembelajaran SD/MI, (Aceh: Yayasan Penerbit
Muhammad Zaini, 2021), hal. 111.
7
Muhammad Fahrurozi, Pengembangan Perangkat Pembelajaran, (Lombok: Universitas
Hamzanwadi Press, 2020), hal. 24.
8
Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2012), hal.
1.40.
10

Sementara itu, karakteristik awal memberikan informasi tentang ciri-ciri


peserta didik.
Jika informasi tentang peserta didik sudah diketahui, maka
implikasi terhadap rancangan bahan ajar dapat ditentukan, dan bahan ajar
dapat segera dikembangkan. Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal
dan karakteristik awal peserta didik sangat diperlukan untuk menentukan
kebutuhan peserta didik dan kemudian untuk merancang bahan ajar yang
bermanfaat bagi peserta didik.

2. Perancangan
Pada tahap ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan
diperhatikan, yaitu: perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan topik mata
pelajaran, pemilihan media dan sumber, serta pemilihan strategi
pembelajaran. Dengan ini, diharapkan pendidikan dapat menjadikan
individu-individu yang mandiri, sebagai pelajar yang mandiri, dengan
memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku. Berikut penjelasan mengenai
tahap- tahap di atas.
a. Perumusan Tujuan Pembelajaran Berdasarkan Analisis
Berdasarkan analisis yang dilakukan, akan diperoleh peta atau
diagram tentang kompetensi yang akan dicapai peserta baik
kompetensi umum maupun kompetensi khusus. Kompetensi umum
dan kompetensi khusus, jika dirumuskan kembali dengan kaidah-
kaidah yang berlaku, akan menjadi tujuan pembelajaran umum dan
tujuan pembelajaran khusus.
b. Pemilihan Topik Mata Pelajaran
Jika tujuan pembelajaran sudah ditetapkan dan analisis sudah
dilakukan, maka peserta didik sudah mempunyai gambaran tentang
kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik melalui proses
belajar. Dengan demikian, petatar juga dapat segera menetapkan topik
mata pelajaran dan isinya.
Acuan utama pemilihan topik mata adalah silabus dan analisis
instruksional yang telah penatar miliki. Selanjutnya, penatar juga
dapat
11

menggunakan berbagai buku dan sumber belajar serta melakukan


penelusuran pustaka, yaitu mengkaji buku-buku tentang mata tataran
termasuk ensiklopedia, majalah, dan buku yang ada di perpustakaan.
c. Pemilihan Media dan Sumber
Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah
penatar memiliki analisis instruksional dan mengetahui tujuan dari
pembelajaran tersebut. Penatar diharapkan tidak memilih media hanya
karena media tersebut tersedia bagi penatar. Disamping itu, penatar
juga diharapkan tidak langsung terbujuk oleh kesediaan beragam
media canggih yang sudah semakin pesat berkembang saat ini seperti
komputer. Yang perlu diingat, media yang dipilih adalah yang
digunakan oleh siswa dalam proses belajar. Jadi, pilihlah media yang
dibutuhkan untuk menyampaikan topik mata pelajaran, yang
memudahkan siswa dalam belajar, serta yang menarik dan disukai
oleh siswa.
d. Pemilihan Strategi Pembelajaran
Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap
ketika merancang aktivitas belajar. Dalam merancang aktivitas belajar,
urutan penyajian harus berhubungan dengan penentuan tema/isu/
konsep/teori/ prinsip/prosedur utama yang harus disajikan dalam topik
mata tataran. Jika sudah mengetahuinya, maka selanjutnya yaitu
menentukan bagaimana materi itu disajikan, atau secara umum dapat
dikatakan bagaimana struktur bahan ajarnya. Berbagai urutan
penyajian dapat dipilih berdasarkan urutan kejadian atau kronologis,
berdasarkan lokasi, berdasarkan sebab akibat, dan lain sebagainya.

3. Pengembangan
Persiapan dan perancangan yang matang sangat diperlukan untuk
mengembangkan bahan ajar dengan baik. Dalam proses pengembangan
bahan ajar terdapat beberapa saran yang dapat membantu untuk memulai
mengembangangkan bahan ajar yaitu sebagai berikut.
12

a. Tulislah apa yang dapat ditulis, mungkin berbentuk LKS, bagian dari
penyusunan buku, atau panduan praktik.
b. Jangan merasa bahwa bahan ajar harus ditulis secara berurutan.
c. Tulis atau kembangkan bahan ajar untuk peserta yang telah dikenal.
d. Ingat bahan ajar yang dikembangkan harus dapat memeberikan
pengalaman belajar kepada siswa.
e. Ragam media, sumber belajar, aktivitas, dan umpan balik merupakan
komponen penting dalam memperoleh bahan ajar yang menarik,
bermanfaat, dan efektif bagi siswa.
f. Ragam contoh, alat bantu belajar, ilustrasi serta pengemasan bahan ajar
juga berperan dalam pembuatan bahan ajar.
g. Gaya penulisan untuk bagian tekstual, naratif, explanatory, deskriptif,
argumentatif, dan perintah sangat penting agar peserta dapat
memahami maksud bahan ajar.9

4. Evaluasi dan Revisi


Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari
berbagai pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Reaksi ini
hendaknya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki bahan ajar dan
menjadikan bahan ajar lebih berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk
melihat efektivitas bahan ajar yang dikembangkan. Apakah bahan ajar
yang dikembangkan memang dapat dimengerti, dibaca dengan baik, dan
dapat mendorong siswa untuk belajar. Di samping itu, evaluasi diperlukan
untuk memperbaiki bahan ajar sehingga menjadi bahan ajar yang baik.10

Menurut Krisma, pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada


analisis kebutuhan siswa. Berikut rincian prosedur/langkah-langkah
pengembangan bahan ajar menurut Krisma yaitu sebagai berikut.

9
Risma Sitohang, “Mengembangkan Bahan Ajar dalam Pembelaaran IPS”, Jurnal
Kewarganegaraan, Volume 23, Nomor 2, November 2014, hal. 18-19.
10
Nana, Pengembangan Bahan Ajar, (Boyolali: Lakeisha, 2019), hal. 26-28.
13

1. Menentukan kriteria pokok pemilihan bahan ajar dengan mengidentifikasi


Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Hal ini
dikarenakan pada setiap aspek dalam SK dan KD memiliki jenis materi
yang berbeda- beda dalam kegiatan pembelajaran.
2. Mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Materi pembelajaran
dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur), aspek afektif (pemberian respon, penerimaan, internalisasi, dan
penilaian), serta aspek psikomotorik (gerakan awal, semi rutin, dan rutin).
3. Mengembangkan bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan SK-KD yang
telah teridentifikasi sebelumnya.
4. Mengembangkan sumber bahan ajar berdasarkan analisis kebutuhan siswa
dan kurikulum yang berlaku.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan


bahan ajar perlu dilakukan secara sistematis berdasarkan prosedur/langkah-
langkah yang saling terkait untuk mengahasilkan bahan ajar yang bermanfaat.
Saat menentukuan prosedur/langkah-langkah pengembangan bahan ajar harus
diikuti dengan perbaikan dan penyesuaian pada komponen bahan ajar yang
lainnya, sehingga diperoleh bahan ajar yang utuh dan terpadu.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atas mengenai Faktor dan Prosedur


Pengembangan Bahan Ajar, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut.
1. Pengembangan bahan ajar oleh penatar membutuhkan kreativitas untuk
membuat sesuatu yang lain, unik, juga membutuhkan pengetahuan
tentang lingkungan sekitarnya. Di samping itu penatar juga harus
memiliki pengetahuan tentang beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar, diantarannya yaitu
kecermatan isi, ketepatan cakupan, ketercernaan, penggunaan bahasa,
ilustrasi, perwajahan/pengemasan serta kelengkapan komponen bahan
ajar.
2. Pengembangan bahan ajar perlu dilakukan secara sistematis berdasarkan
langkah-langkah yang saling terkait dan menghasilkan bahan ajar
berkualitas. Prosedur/langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam
pengembangan bahan ajar yaitu meliputi analisis, perancangan,
pengembangan, serta evaluasi dan revisi.

B. Saran

Dengan adanya pembahasan mengenai Faktor dan Prosedur


Pengembangan Bahan Ajar, penulis mengharap agar nantinya para guru
dalam mengembangkan bahan ajar, sebaiknya jangan melewatkan prosedur
yang berlaku serta bisa mempertimbangkan faktor-faktor yang sekiranya
kurang dipandang dalam pengembangan bahan ajar. Sehingga harapan di
masa datang guru dapat mengembangkan bahan ajarnya sendiri dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga transformasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang menjadi tanggung jawabnya di kelas dapat
dilakukannya dengan efektif dan efisien.

14
DAFTAR RUJUKAN

Fahrurozi, Muhammad. 2020. Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Lombok:


Universitas Hamzanwadi Press.

Magdalena, Ina, dkk. “Analisis Pengembangan Bahan Ajar”, Nusantara: Jurnal


Pendidikan dan Ilmu Sosial, Volume 2, Nomor 2, Juli 2020.
Nana. 2019. Pengembangan Bahan Ajar. Boyolali: LakLakes.

Pratiwi, Diani Ayu. 2021. Perencanaan Pembelajaran SD/MI. Aceh: Yayasan


Penerbit Muhammad Zaini.
Risdiany, Hani. “Pengembangan Profesionalisme Guru dalam Mewujudkan
Kualitas Pendidikan di Indonesia”, Al-Hikmah: Jurnal Pendidikan dan
Pendidikan Agama Islam, Volume 3, Nomor 2, 2021.
Sadjati, Ida Malati. 2012. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Sitohang, Risma. “Mengembangkan Bahan Ajar dalam Pembelaaran IPS”, Jurnal
Kewarganegaraan, Volume 23, Nomor 2, November 2014.

15

Anda mungkin juga menyukai