BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Definisi ASI
Air Susu Ibu ( ASI ) merupakan bahan makanan utama bayi yang
disekresikan oleh kelenjar payudara ibu yang berupa suatu emulsi lemak
dalam larutan protein , laktosa dan garam-garam organik (Soetjiningsih,
1997). ASI juga dapat dimengerti sebagai minuman alami yang sangat
diperlukan bayi dalam masa awal hidupnya utamanya dalam beberapa bulan
di awal kehidupannya (Nelson dan Kliegman , 2008). Kemudian Sunardi
(2008) juga mengemukakan bahwa ASI merupakan suatu bahan makanan
bagi bayi selama dua tahun pertama kehidupannya yang Allah ciptakan
bahan makanan tersebut keluar melalui payudara seorang ibu.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa ASI
merupakan suatu bahan makanan alami bagi seorang bayi dan mengandung
banyak zat gizi yang yang diciptakan Allah melalui perantara seorang ibu ,
dimana bahan makanan tersebut dikeluarkan melalui payudara ibu dan
berguna untuk menunjang kehidupan si bayi hingga dua tahun pertama
kehidupannya terutama pada beberapa bulan awal masa kehidupannya.
2.1.2 Komponen ASI
ASI merupakan suatu bahan makanan alami namun sangat kaya akan zat
gizi, bahkan meskipun dalam 6 bulan pertama kehidupan bayi hanya
diberikan ASI saja tanpa zat tambahan lainnya, kecukupan nutrisinya sudah
sangat terpenuhi dan memberikan efek positif untuk kehidupannya dimasa
datang. Bahkan hal tersebut tidak dapat ditandingi oleh susu formula atau
susu botol semahal dan sebagus apapun.
8
9
[Link] Pembagian ASI Menurut Stadium Laktasi
a. Kolostrum
Merupakan cairan yang pertama kali disekresikan oleh
kelenjar payudara dan diterima bayi yang bersifatkental, berwarna
kekuningan, dan lengket. Biasanya kolostrum muncul hingga hari
ketiga atau hari keempat setelah bayi lahir. Kolostrum
mengandung tinggi protein (imunoglobulin), laktosa , lemak ,
mineral , vitamin, dan zat lainnya. Kandungan imunoglobulin (IgA,
IgG dan IgM) kolostrum merupakan yang paling tinggi
dibandingkan dengan ASI transisi dan ASI Matur, sehingga
memberikan efek proteksi dari antibodi yang paling tinggi. Selain
itu, efek menguntungkan lainnya dari kolostrum adalah sebagai
pembersih usus bayi dari mekonium dan membantu agar saluran
pencernaan bayi lebih siap dalam menghadapi bahan makanan
selanjutnya (Dewi dan Sunarsih, 2011)
b. ASI Transisi atau Peralihan
Merupakan cairan ASI yang keluar setelah kolostrum, yakni
kira-kira pada hari ke empat sampai sepuluh. Pada fase ini, protein
akan menurun , namun karbohidrat dan lemak akan meningkat
jumlahnya. Semakin berjalannya waktu , maka volume ASI pun
semakin meningkat (Dewi dan Sunarsih, 2011)
c. ASI Matur
Merupakan cairan ASI yang berwarna putih kekuningan
dikarenakan mengandung Ca-caseinat, riboflavin dan karoten dan
disekresikan mulai hari ke sepuluh hingga seterusnya. Kandungan
dalam ASI matur relatif konstan dan semakin menyesuaikan
dengan kondisi bayi, dimana semakin tinggi akan laktosa , lemak
10
dan nutrisi sehingga membuat bayi menjadi lebih cepat kenyang.
Faktor-faktor antimikroba juga teradapat didalamnya misalnya sel-
sel limfosit, protein, komplemen, enzim-enzim dan lain-lain (Dewi
dan Sunarsih 2011)
2.1.3 Manfaat ASI
ASI memiliki banyak manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh si bayi
namun juga oleh orang tuanya. Manfaat ASI akan semakin optimal jika
pemberiannya dilakukan secara eksklusif, diantaranya yaitu ( Roesli, 2000) :
1. Sebagai nutrisi
ASI yang dihasilkan oleh ibu terdiri dari tiga jenis yakni
kolostrum, ASI transisi dan ASI matur atau matang. Setiap jenis dari
ASI ini sudah ciptakan Allah SWT sesuai dengan tahap pertumbuhan
kembang bayi. Oleh karena itu meskipun bayi hanya diberi ASI saja
maka kebutuhan gizi nya sudah akan tercukupi
2. Meningkatkan daya tahan tubuh
Kekebalan tubuh yang dimiliki oleh bayi pada saat fase pertama
kehidupannya, masih didapatkan dari bawaan ibunya. Namun ,
kekebelan tersebut semakin lama semakin berkurang. Padahal, bayi
baru bisa memproduksi kekebalan tubuhnya sendirri kira - kira setelah
berusia sembilan bulan. Oleh karena itu, dengan adanya asupan ASI ,
maka dapat mendukung ketahanan tubuh bayi.
3. Meningkatkan kecerdasan
Kecerdasan dipengaruhi oleh du faktor yakni genetik dan faktor
lingkungan. ASI bertindak sebagai salah satu komponen dalam faktor
lingkungan yakni aspek asuh yang nutrisinya berguna untuk
menunjang pertumbuha otak bayi misalnya taurin, laktosa, DHA, AA,
omega – 3 dan omega – 6, dimana zat-zat ini hanya terdapat dalam
jumlah sedikit pada susu sapi
11
4. Memperkuat jalinan kasih sayang
Ketika ibu menyusui si bayi , maka ibu dan bayinya berada
dalam keadaan yang sangat intim atau dekat karena bayi dapat
merasakan kontak kulit, berada dalam dekapan ibu dan juga dapat
mendengar suara detak jantung ibu
2.1.4 Klasifikasi menyusui
Ketika berbicara mengenai ASI, maka hal tersebut tidak bisa
dipisahkan dari menyusui. Berikut ini terdapat tiga jenis variasi dalam
proses menyusui dibedakan atas dasar ada atau tidaknya zat tambahan
makanan atau minuman lain serta substansinya yang diberikan ke bayi
selama proses menyusui , diantaranya yaitu:
a. Menyusui Eksklusif
Merupakan suatu kondisi dimana bayi hanya diberikan asupan
ASI saja tanpa disertai bahan tambahan lainnya kecuali obat, vitamin
atau mineral (WHO, 2006). Lebih jelasnya lagi, yaitu selama 24 jam
pertama bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan yang lain
(Riskesdas ( 2010) dalam Kemenkes RI , 2014)
b. Menyusui Predominan
Menurut Riskesdas (2010) dalam Kemenkes RI (2014)
Merupakan suatu kondisi dimana bayi masih disusui namun selama 24
jam pertama sejak kelahiran pernah diberikan zat tambahan lain selain
ASI , misal air putih atau teh
c. Menyusui Parsial
Merupakan suatu kondisi dimana bayi tetap diberi ASI namun
juga diberikan makanan buatan selain ASI pada saat usianya sebelum
12
enam bulan, baik secara terus menerus atau tidak (Riskesda, 2010
dalam Kemenkes RI , 2014).
2.1.5 Pemberian ASI Eksklusif
Pengertian ASI ekslusif menurut PP RI No 33 Tahun 2012 Tentang
Pemberian ASI eksklusif yaitu bayi hanya diberikan ASI saja mulai dari
sejak dilahirkan hingga berusia enam bulan tanpa tambahan atau mengganti
dengan makanan atau minuman lain (Kemenkes RI, 2012) . Adapun durasi
pemberian ASI ekslusif yang di rekomendasikan oleh WHO dan
Pemerintah RI yakni selama enam bulan pertama semenjak bayi dilahirkan,
kemudian pemberian ASI bisa diteruskan hingga anak berusia dua tahun.
Rekomendasi tersebut diambil berdasarkan keefektifan yang dimiliki
oleh ASI eksklusif dalam menangkal penyakit-penyakit terutama untuk
bayi (Kemenkes RI, 2014) . Para ahli mengemukakan bahwa hingga enam
bulan pertama manfaat ASI terus meningkat, sehingga akan sangat baik
jika ASI saja yang diberikan pada bayi pada periode tersebut dan bayi yang
sehat kebutuhan asupannya sudah dapat tercukupi meskipun dengan
diberikan ASI saja (Roesli, 2000).
Mengingat begitu pentingnya ASI ekslusif ini, maka Pemerintah
Indonesia pun sangat mendukung penuh akan hal ini . Agar ibu merasa
terlindungi dan aman untuk memberikan ASI ekslusifnya kepada bayi,
Pemerintah Indonesia membentuk beberapa peraturan untuk mendukung
dan menunjang kelancaran proses pemberian ASI ekslusif oleh ibu,
diantaranya yaitu :
Undang Undang No. 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan
PP RI No 33 tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
Kepmenkes RI No.450/MENKES/IV/2004 tentang Pemberian Air
Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi Indonesia
13
Pemberian ASI ekslusif merupakan suatu perilaku kesehatan yang
dilakukan oleh seorang ibu , dimana terdapat faktor – faktor yang dapat
mempengaruhinya. Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoadmodjo
(2003), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi manusia dalam
melakukan suatu perilaku diantaranya yaitu :
a. Faktor predisposisi (predisposing faktor)
Faktor ini merupakan faktor yang dapat mendasari atau
memotivasi seseorang untuk melakukan suatu perilaku. Faktor
predisposisi ini meliputi pengetahuan, sikap, keyakinan dan nilai.
Pengetahuan tidak selalu mutlak dapat memberikan perubahan
perilaku, namun hubungan positif diantara keduanya sudah terbukti
dalam beberapa penelitian. Tidak hanya itu saja, umur, tingkat
pendidikan dan keterpaparan informasi termasuk dalam faktor
predisposisi (Abdulah , 2012). Misalnya, seorang ibu memiliki
pengetahuan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi,
maka besar kemungkinan ia akan tergerak untuk memberikan ASI
eksklusif untuk bayinya. Terlebih lagi Haryani (2014), menambahkan
bawa faktor pekerjaan, paritas, nilai sosial budaya, persepsi dan
kebiasaan termasuk dalam faktor predisposisi.
b. Faktor pemungkin ( enabling faktor)
Faktor ini meliputi keterampilan dan ketersediaan sarana dan
prasarana yang diperlukan untuk menunjang terjadinya suatu perilaku
kesehatan. Keterampilan yang dimaksud yakni misalnya keterampilan
tenaga kesehatan, sedangkan untuk sarana dan prasarana misalnya
fasilitas pelayanan kesehatan, keterjangkauan biaya dan jarak untuk
14
mengakses fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, jam operasional
pelayanan kesehatan, ketersediaan fasilitas menyususi di tempat
bekerja, lama meninggalkan bayi dan lain-lain (Abdulah, 2012).
c. Faktor penguat ( reinforcing faktor)
Faktor ini merupakan faktor yang menitikberatkan pada umpan
balik atau feedback yang biasanya dari pihak sekitar ibu , yang dapat
berupa penilaian positif atau negatif dan kemudian nantinya dapat
menentukan bahwa perilaku kesehatan ini mendapat dukungan atau
tidak. Pihak penguat yang dimaksud misalnya dari pihak keluarga,
petugas kesehatan, masyarakat , dukungan dari tempat bekerja, dan
lain-lain.
2.1.6 Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui ( LMKM)
Untuk mewujudkan keberhasilan dalam menyusui ASI ekslusif, maka
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan utamanya oleh ibu dan
tenaga kesehatan yang tertuang dalam sepuluh langkah menuju
keberhasilan menyusui yakni ( IDAI, 2013):
1. Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan tentang penerapan
10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan melarang promosi
PASI
2. Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staf sendiri
atau lainnya
3. Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan langkah
keberhasilan menyusui. Memberikan konseling apabila ibu penderita
infeksi HIV positif
4. Melakukan kontak dan menyusui dini bayi yang baru lahir ( ½ - 1 jam
setelah lahir)
5. Membantu ibu melakukan teknik menyusui yang benar ( posisi
peletakkan tubuh bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara )
15
6. Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman pralaktal sejak bayi lahir
7. Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi
8. Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi
9. Tidak memberikan dot/ kempeng
10. Menindak lanjuti ibu – bayi setelah pulang dari sarana pelayanan
kesehatan
2.1.7 Status Pekerjaan Ibu
Menurut KBBI (2008), kerja merupakan sesuatu yang dilakukan
untuk mendapatkan nafkah, kemudian pengertian bekerja menurut BPS
(2016), bekerja adalah suatu kegiatan ekonomi yang dilkukan dengan
tujuan untuk mendapatkan keuntungan atau pendapatan dan dilakukan
minimal 1 jam dalam seminggu yang lalu . Selain itu juga ada yang
disebut dengan status pekerjaan, yaitu kedudukan yang dimiliki oleh
seseorang dalam melaksanakan suatu kegiatan atau suatu unit usaha.
(Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Provinsi DIY, 2011).
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan
juga diirngi dengan perkembangan positif sektor pendidikan yang ada di
DIY ( Daerah Istimewa Yogyakarta), maka hal tersebut juga memberikan
dampak pada semakin munculnya partisipasi perempuan dalam bursa
kerja. Hal tersebut sejalan dengan data dari Profil Perlindungan
Perempuan dan Anak Provinsi DIY Tahun 2010, dimana tren dari tahun
2004 – 2008 jumlah perempuan dalam angkatan kerja tertinggi dimiliki
oleh Kota Yogyakarta. Pada tahun 2004 dan 2005 berada pada 47,1 % ,
tahun 2006 sebesar 43,5 % serta pada tahun 2007 dan 2008 sebesar 45,3
% ( Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Provinsi DIY,
2010) . Adapun lapangan pekerjaan yang paling banyak diisi oleh wanita
di Kota Yogyakarta pada tahun 2010 yaitu perdagangan besar, eceran ,
16
rumah makan dan hotel ( Badan Pemberdayaan Perempuan dan
Masyarakat Provinsi DIY, 2011).
[Link] Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja
a. Definisi Ibu Bekerja dan Ibu Tidak bekerja
Ketika seseorang menjadi ibu, maka sudah menjadi tugasnya
untuk dapat merawat serta mengurus keluarganya. Meskipun
demikian, hal tersebut bukanlah perkara mudah apalagi jika ibu
tersebut juga memiliki pekerjaan atau karir di luar rumah.
Menurut Santrock ( 2007) dalam Imaniah ( 2013), ibu
bekerja adalah seorang ibu yang melakukan aktifitas bukan di
rumah dalam rangka mendapatkan tambahan nafkah serta agar
dapat mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dan dapat membangun
hubungan sosial di lingkungan bekerjanya. Adapun durasi atau
lama waktu bekerja yang telah diatur pemerintah bagi pekerja
atau buruh dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13
Tahun 2003 yaitu tujuh jam dalam satu hari dan empat puluh jam
dalam seminggu ( jika waktu efektif bekerja enam hari dalam
seminggu) atau delapan jam dalam satu hari dan empat puluh
jam dalam seminggu ( jika waktu efektif bekerja lima hari dalam
seminggu.)
Ibu tidak bekerja adalah ibu yang tidak memiliki
keterikatan dengan pekerjan diluar rumah dan hanya
menjalankan tugasnya untuk mengatur rumah tangga serta
memiliki keleluasaan waktu dan kesempatan untuk merawat dan
memberikan ASI secara optimal kepada anaknya (Juliastuti,
2001).
17
b. Alasan Ibu Bekerja
Menurut Hoffman ( 1984) dalam Mufida (2008), terdapat
beberapa hal yang menyebabkan seorang ibu memutuskan untuk
bekerja, diantaranya yaitu :
1. Kebutuhan ekonomi
Hal ini lebih didasarkan pada pendapatan suami
yang masih kurang, sehingga sang istri (ibu)
memutuskan untuk bekeja agar mendapatkan tambahan
penghasilan. Selain itu juga bisa agar ibu mendapatkan
penghasilan tambahan sehingga ia bisa membeli
keinginan pribadi tehadap barang berharga atau mahal
misalnya.
2. Mengatasi rasa bosan atau jenuh
Terkadang ada perasaan dimana pekerjaan rumah
tangga yang lama kelamaan menjadi membosankan dan
tidak membutuhkan keterampilan khusus, sehingga ibu
memutuskan untuk bekerja untuk mengatasi hal
tersebut.
3. Kepribadian
Maksud dari hal ini yaitu adanya keinginan unuk
bisa mengaplikasikan ilmu atau potensi yang dimiliki
untuk lingkungan sekitar, ingin berprestasi, ingin status
sosial di masyarakat semakin tinggi , dan lain-lain.
[Link] Status Pekerjaan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif
Seorang ibu yang bekerja di luar rumah, maka akan memiliki
waktu yang lebih sedikit untuk merawat serta mengurus anaknya,
hal tersebut sedikit banyak juga mempengaruhi dalam pemberian
18
ASI eksklusif. Oleh karena itu, dibandingkan dengan ibu yang
tidak bekerja, ibu bekerja lebih memiliki banyak keterbatasan
yakni utamanya dari segi waktu dan tempat untuk memberikan
ASI eksusif pada anaknya. Lain hal nya dengan ibu yang tidak
bekerja, yang cenderung memiliki lebih banyak kesempatan dan
lebih fleksibel, sehingga berpeluang lebih tinggi untuk dapat
memenuhi kebutuhan ASI ekslusif bagi anaknya ( Juliastuti,
2011).
Hal yang demikian ini, cenderung menyebabkan rendahnya
pencapaian pemberian ASI ekslusif oleh ibu bekerja dibandingkan
dengan yang tidak bekerja. Fenomena ini diperkuat dengan adanya
penelitian multilevel analysis yang dilakukan oleh Senareth et al
(2010) di lima negara Asia tenggara , dimana Indonesia termasuk
didalamnya yang mengemukakan bahwa faktor status pekerjaan
ibu menjadi salah satu faktor yang cukup bermakna dalam
mempengaruhi terjadinya pemberian ASI non eksklusif. Dari hasil
penelitian tersebut didapatkan bahwa pada ibu yang bekerja
cenderung berisiko 1.45 kali lebih besar untuk memberikan ASI
tidak eklusif dibandingkan dengan yang tidak bekerja.
Hasil penelitian lain yang mendukung hal tersebut yakni
penelitian yang dilakukan oleh Okawary (2015) yang berlokasi di
Wilayah Kerja Puskesmas Seyegan Yogyakarta, dimana status
pekerjaan merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi
pemberian ASI eksklusif. Status ibu yang tidak bekerja
memberikan persentasi ASI ekslusif yang lebih besar
dibandingkan yang bekerja. Dari 30 responden yang tidak bekerja,
28 orang diantaranya memberikan ASI eksklusif dan sebaliknya
pada ibu bekerja yang terdiri dari 24 responden dimana lebih dari
setengahnya ( 14 orang) tidak memberikan ASI eksklusif. Adapun
19
alasan ibu bekerja ini tidak memberikan ASI ekslusif, diantaranya
karena ingin praktis, mudah dan hemat waktu sehingga
memberikan susu formula atau susu botol .
Penelitian lainnya yang juga mendukung hal ini yaitu
penelitian yang dilakukan oleh Juliastuty ( 2011) , dimana
penelitian yang dilakukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan
kabupaten Mojokerto menunjukkan hasil bahwa ibu yang tidak
bekerja berpeluang untuk memberikan ASI eksklusif sebesar 3,7
kali lebih besar daripada ibu yang bekerja dengan p value sebesar
0,033 ( p < 0,05).
Tidak tercapainya keberhasilan untuk menyusui secara
eksklusif pada ibu bekerja dapat disebabkan oleh pendeknya
massa cuti kerja, dukungan tempat bekerja yang kurang,
singkatnya waktu istirahat bekerja sehingga tidak cukup untuk
dapat memerah ASI, kurangnya fasilitas ruangan untuk memerah
ASI dan adanya konflik atau pertentangan batin dalam diri ibu
antara ingin mempertahankan prestasi kerja atau tetap
memproduksi ASI (IDAI, 2013).
Sebagaimana yang telah disingung sebelumnya bahwa
massa cuti kerja menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat
keberhasilan menyusui secara eksklusif. Masa cuti bekerja yang
diterapkan di Indonesia untuk perempuan yang hamil dan akan
melahirkan berdasarkan UU RI No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan pasal 82 yaitu 1,5 bulan sebelum melahirkan dan
1,5 bulan setelah melahirkan. Menurut Cheatteriji dan Frick
(2005) dalam Okawary (2015) mengemukakan bahwa kembali
bekerjanya seorang ibu dalam kurun waktu tiga bulan pertama
paska melahirkan dapat mengurangi durasi menyusui hingga 4-5
20
minggu dan mengurangi 16-18 % untuk memulai menyusui.
Terlebih lagi menurut Ong et al (2005), apabila masa cuti kerja ibu
bekerja diperpanjang menjadi enam bulan, maka hal itu dapat
memungkinkan ibu untuk memberikan ASI secara ekslusif kepada
anaknya.
Terkait dengan faktor dukungan tempat bekerja dalam
menunjang praktik pemberian ASI ekslusif, sebenarnya
pemerintah telah membuat peraturan yang berguna agar ibu tetap
merasa aman dan terlindungi dalam memberikan ASI eksklusif
kepada anaknya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun
2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif Pasal 30 ayat 1
dan 2 yang mengatur bahwa tempat kerja dan sarana umum harus
mendukung program ASI ekslusif dan menyediakan fasilitas
khusus untuk menyusui dan atau memerah ASI, jika tidak makan
akan dikenakan sanksi. Tidak hanya itu saja pasal 34 juga
mengatur bahwa pengurus kerja wajib memberikan kesempatan
pada ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif atau memerah
ASI selama waktu kerja ditempat kerja , dan jika tidak maka akan
dikenakan sanksi ( AIMI, 2013).
Menanggapi peraturan – peraturan tersebut, maka
seharusnya pihak tempat bekerja memberikan fasilitas yang sesuai
dan waktu atau kesempatan untuk dapat menunjang praktik
menyusui secara eksklusif. Namun, pada realitanya di masyarakat
hal ini belum sepenuhnya terimplementasi dengan baik. Seperti
yang ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh
Kusumastuti ( 2014) di Kudus, Jawa Tengah dimana di dalam
penelitiannya 53,3 % merupakan responden ibu yang bekerja dan
sebanyak 51% diantaranya tidak memberikan ASI ekslusif.
Sebagian besar responden yang bekerja ini merupakan karyawan
21
pabrik rokok, dimana tempat bekerjanya in tidak mengijinkan
untuk membawa bayi selama bekerja dan tidak terdapat pojok
ASI.
Kondisi fisik dan psikis ibu akibat faktor pekerjaan juga
dapat membuat seorang ibu tidak memberikan ASI eksklusif untuk
anaknya. Contoh dari hal ini misalnya adanya rasa kelelahan dari
ibu setelah seharian bekerja dan juga akibat stress psikis dari
beban pekerjaan dan sebagainya, dimana hal ini dapat
mempengaruhi produksi ASI yang tidak lancar hingga akhirnya
ibu memutuskan untuk beralih ke penggunaan susu formula. Tidak
hanya itu , tidak jarang juga ibu merasa enggan untuk direpotkan
dengan kegiatan memompa ASI sehingga ibu memilih susu
formula sebagai alternatif untuk pengganti ASI (Riskiandini,
2014).
Masalah atau hambatan lainnya yang dialami ibu bekerja
untuk dapat menyusui secara eksklusif yaitu jarak rumah yang
jauh, kurangnya dukungan dari keluarga pasangan dan keluarga,
serta budaya yang kurang mendukung adanya praktik pemberian
ASI eksklusif ( Rejeki, 2008). Sikap ibu yang kurang mendukung
juga dapat mempengaruhi kegagalan dalam pemberian ASI
ekslusif. Ibu yang memiliki persepsi merasa bahwa memberikan
ASI itu merupakan sesuatu hal yang sulit dilakukan ketika sudah
kembali lagi bekerja selepas masa cuti kerja. Ibu yang memiliki
sikap mendukung terhadap pemberian ASI eksklusif berpeluang
lima kali lebih besar untuk memberi ASI ekslusif pada anaknya
dibanding yang kurang mendukung ( Abdullah dan Ayubi, 2013).
22
2.1.8 Pengetahuan Tentang Manajemen Laktasi
[Link] Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu yang didapatkan melalui
proses penginderaan pada suatu objek tertentu. Pengetahuan atau
kognitif ini merupakan sesuatu yang dapat memberikan dampak
atau sangat penting dalam mempengaruhi seseorang untuk
bertindak. Suatu perilaku yang diterima atau diadopsi dengan
didasari oleh pengetahuan kesadaran dan sikap positif maka akan
berlangsung lama atau langgeng, begitu juga sebaliknya
(Notoadmodjo, 2003).
Pengetahuan sendiri di dalam domain kognitif memiliki
beberapa tingkatan , diantaranya yaitu ( Notoadmodjo, 2003) :
1. Tahu ( know)
Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah karena
tahu diartikan sebagai mengingat hal yang telah dipelajari
sebelumnya. Terdapat beberapa kata kerja yang digunakan untuk
mengukur apakah seseroang tahu akan hal yang dipelajarinya
yaitu, menguraikan, menyebutkan, menyatakan, dan lain-lain.
Conth dari hal ini yaitu, dapat menyebutkan ciri-ciri hewan
kelinci.
2. Memahami (comprehension)
Pada tingkatan ini, seseorang tidak lagi hanya sekedar tahu
atau sekedar bisa menyebutkan dari apa yang telah dipelajarinya,
melainkan juga harus berkemampuan untuk menginterpretasikan
atau menjelaskan objek yang telah dipelajari secara benar. Selain
paham, orang tersebut harus dapat menjelaskan, menyimpulkan,
membuat contoh dan lain sebagainya.
23
3. Aplikasi ( application)
Aplikasi merupakan kemampuan untuk mengipleentasikan
hal yang telah dipelajari ke dalam keadaan sebenarnya atau real.
Misalnya menggunakan rumus atau hukum fisika dalam suatu
percobaan fisika.
4. Analisis (analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk dapat
menjabarkan suatu materi ke dalam komponen-komponen nya
namun masih masih terkait satu sama lain dan masih di dalam
organisasi yang sama. Penggunaan kata kerja seperti
membedakan, mengelompokkan, memisahkan dan lain
sebaginya dapat digunakan untuk melihat kemampuan seseorang
dalam menganalisis.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk membuat
sesuatu yang baru dari materi yang pernah ada sebelumnya.
Misalnya dapat merencanakan, menyusun menyesuaikan suatu
teori terhadap yang sebelumnya pernah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi lebih diartikan sebagai bagaimana seseorang dapat
memberikan penilaian atas suatu materi atau objek berdasarkan
ketentuan atau standar yang telah ada. Sebagai contoh misalnya
seseorang dapat menentukan suatu hal dikatakan baik atau buruk,
dikatakan cukup atau kurang dan lain sebagainya.
Melalui wawancara atau angket, kita dapat melakukan
pengukuran pengetahuan seseorang terhadap materi atau hal yang
kita ingin ketahui kedalaman pengetahuannya (Notoadmodjo, 2003).
Jika suatu hasil pengukuran pengetahuan berupa bentuk data
24
kualitatif, maka dapat digolongkan sebagai tingkat pengetahuan baik,
kurang dan cukup.
[Link] Manajemen Laktasi
Menurut Prasetyono ( 2009) dalam Novitasari ( 2013 ),
manajemen laktasi adalah seluruh rangkaian yang dilakukan
untuk menunjang kelancaran proses menyusui yang dimulai
sejak masa antenatal hingga postnatal dimana melingkupi dari
ASI diproduksi sampai bayi dapat mengonsumsinya dengan
baik. Adapun manajemen laktasi pada periode postnatal menurut
Siregar ( 2009) dalam Handayani (2015) yakni meliputi ASI
eksklusif, teknik menyusui, memeras ASI , serta memberikan
dan menyimpan ASI peras.
a. Teknik dalam menyusui
Berikut ini terdapat beberapa posisi dapat dilakukan agar
menyusui dapat berjalan secara efektif yaitu :
a. Posisi menggendong atau madona (Novitasari, 2013).
1. Bayi dibaringkan menghadap ibu, dan posisikan leher
dan punggung atas bayi diletakkan pada lengan bawah
sebeleh lateral payudara.
2. Tangan yang lainnya dapat digunakan ibu untuk
memegang payudara jika diperlukan
b. Posisi berbaring miring (Kurniasih, 2014)
1. Posisikan ibu dan bayi saling dalam keadaan posisi
miring dan berhadapan
2. Bantu bayi untuk menempelkan mulutnya kep
puting susu
25
3. Jika perlu letakkan bantal atau selimut kecil untuk
menyanggah kepala bayi, agak lehernya tidak sakit
atau tegang
4. Untuk ibu, bisa diberikan sanggahan bantal atau
selimut pada kepala, bahu dan lutut agar posisi
menjadi lurus.
c. Posisi football atau mengepit ( Novitasari, 2013)
1. Posisikan punggung bayi melingkar diantara
lengan dan bagian samping dari dada ibu
2. Sanggah bayi dengan lengan bawah dan tangan
ibu
3. Jika memungkinkan tangan yang satu lagi dapat
memegang payudara jika diperlukan
b. Langkah-langkah menyusui yang benar
Menurut Marmi (2012) dalam Novitasari (2013) ,
berikut ini langkah-langkah menyusui yang benar yaitu :
1. Perhatikan posisi badan ibu dan badan bayi
a. Ibu dapat berbaring atau duduk dengan rileks
b. Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau
bagian bawah payudara ibu
c. Dagu bayi harus menempel pada dada ibu
d. Jauhkan hidung bayi dan payudara ibu
2. Posisikan mulut bayi dan putting susu ibu
a. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada putting
dan areola
b. Payudara dipegang seperti huruf C, dimana ibu
jari memegang payudara bagian atas dan jari
lainnya menopang bawah payudara atau bisa
26
juga puting dan areola berada ditengah antara
jari telunjuk dan tengah, dan jari lainnya untuk
menopang bagian bawah payudara.
c. Sentuh pipi atau bibir bayi agar menstimulasi
reflex menghisap
d. Tunggu hingga mulut bayi terbujka lebar dan
menjulur kebawah , kemudian segera dekatkan
payudara ibu dengan bayi dengan cara
menekan bahu belakang bayi
e. Posisikan putting susu diatas bibir atas bayi dan
berhadapan dengan hidung bayi
f. Ketika puting telah masuk mulut bayi, arahkan
keatas menyusuri langit-langit mulut bayi
g. Upayakan sebagian besar areola benar-benar
masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu
berada di pertemuan antara pallatum molle dan
pallatum durum
h. Setelah bayi dapat menyusu dengan baik, maka
payudara tidak perlu disanggah lagi
c. Cara memerah ASI
ASI dapat diperah dengan menggunakan tangan, pompa
manual ataupun pompa ASI elektrik. Memerah ASI
menggunakan tangan lebih dianjurkan karena lebih mudah
dan tidak menggunakan banyak peralatan, cara ini dikenal
juga dengan teknik Mermet. Menurut Bubak (2009) dalam
Handayani (2015) berikut ini cara memerah ASI dengan
tangan :
27
1. Peralatan-peralatan yang akan digunakan untuk memerah
ASI semuanya harus disterilkan terlebih dahulu yaitu
dengan cara dicuci dengan sabun cuci piring
menggunakan sabun cuci piring khusus bayi, kemudian
disterilkan dengan bottle sterilizer atau air mendidih ,
kemudian keringkan kembali (Sari, 2015).
2. Cuci tangan terlebih dahulu dengan air mengalir sebelum
memerah ASI
3. Setelah tangan bersih, pegang cangkir bersih untuk
menampung ASI
4. Ibu harus duduk dengan nyaman dan tidak dalam kondisi
stress, serta bisa sambil mengingat bayi untuk
meningkatkan letdown reflex (Sari, 2015).
5. Condongkan badan ke depan dan sanggah payudara
dengan tangan
6. Kemudian peras ASI dengan menekan sekaligus mengurut
payudara dengan ibu jari dan jari lainnya dengan arah ke
depan
7. Gerakan tekan, pijat, lepas diulangi hingga beberapa kali
dan usahan berirama hingga ASI dapat mulai mengalir
keluar
8. Putting susu jangan ditarik atau dipijat karena tidak akan
mengeluarkan sakit dan dapat menyebabkan rasa nyeri
atau sakit
9. Beri tanggal dan jam pada cangkir atau wadah penyimpan
ASI dan segera masukan dalam lemari es (Sari, 2015).
28
d. Cara menyimpan ASI
Setelah diperah, ASI dapat disimpan untuk beberapa
waktu. Menurut Perinasia (2009) dalam Handayani (2015)
perbedaan waktu daya tahan ASI penyimpanan sesuai dengan
tempat penyimpanannya yaitu :
a. Penyimpanan di udara bebas atau terbuka, ASI dapat
tahan hingga 4-6 jam
b. Penyimpanan di dalam lemari es dengan suhu sekitar 24
o
C, ASI dapat bertahan hingga 24 jam
c. Penyimpanan di dalam lemari pendingin atau
penyimpanan dakam kondisi beku, ASI dapat bertahan
hingga 6 bulan dengan suhu penyimpanan -18oC
Pemberian label tanggal dan waktu pemerahan ASI di
wadah penyimpanan , sangat berguna agar ASI yang lebih
dulu di perah itulah yang lebih dahulu dikonsumsi.
Pemberian sisa ruang sekitar 1,5 cm pada wadah
penyimpanan ASI perlu dilakukan karena ASI dapat
mengembang ketika didinginkan. Selain itu selama
penyimpanan, hindarkan ASI dari bahan makanan yang
dapat mengkontaminasi seperti daging, telur dan makanan
mentah lainnya. Kestabilan suhu tempat penyimpanan juga
perlu diperhatikan agar ASI tetap aman untuk dikonsumsi
(Sari, 2015).
29
e. Cara memberikan ASI
Sebelum ASI diberikan kepada bayi, maka ASI yang
sebelumnya disimpan dalam lemari es atau lemari pendingin
harus dicairkan atau dihangatkan terlebih dahulu. Berikut ini
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencairkan dan
menghangatkan ASI (Sari, 2015):
a. ASI yang berada dalam kondisi beku, idealnya dicairkan
menggunakan chiller atau lemari es hingga mencair
dengan sendirinya
b. Namun, jika ASI beku ingin segera atau cepat digunakan,
maka ASI dapat dicairkan dengan cara disiram dahulu
dengan air dingin kemudian selanjutnya disiram dengan
air panas yang mengalir
c. ASI tidak boleh dipanaskan langsung dengan kompor atau
microwave
d. ASI dapat dipanaskan dengan cara meletakkan wadah
penyimpan ASI dalam pannci atau wadah lainnya yang
berisi air hangat hingga suhu ASI hangat kembali.
e. ASI yang telah dicairkan harus segera digunakan dan
maksimal dalam waktu 24 jam dan tidak bisa di simpan
atau bekukan lagi
Setelah ASI dihangatkan seperti cara yang telah
dijelaskan diatas, maka berikut ini hal-hal yang perlu
diperhatikan saat pemberian ASI (Sari, 2015):
a. Kocok dengan pelan wadah ASI agar bagian yang
terpisah ( lemak ASI) dapat bercampur kembali sebelum
memberikannya kepada bayi
30
b. Jika ASI yang telah digunakan masih bersisa, maka
harus langsung dibuang
c. Jangan gunakan ASI yang telah berbau asam atau tidak
sedap
Berikan ASI dengan sendok, cangkir atau cupfeeder bukan
dot,agar bayi tidak mengalami bingung puting
31
2.2 Kerangka Teori
Faktor Predisposisi
- Pengetahuan
- Sikap
- Keyakinan
- Nilai
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Paritas
- Persepsi kebiasaan
Faktor Pemungkin
- Fasiltas layanan
kesehatan
- Biaya Pemberian ASI
- Jarak akses
- Fasilitas menyusui - Eksklusif
di tempat kerja - Tidak
- Keterampilan Eksklusif
tenaga kesehatan
Faktor Penguat
- Dukungan
keluarga
- Dukungan dari
tempat kerja
- Dukungan tenaga
kesehatan
- Tokoh agama
- Masyarakat
Gambar 1. Modifikasi dari Teori Perilaku Lawrence Green ( 1989) dalam
Notoadmodjo ( 2003)
32
2.3 Kerangka Konsep
Status Pekerjaan
- Bekerja
- Tidak Bekerja
Pemberian ASI
- Eksklusif
- Tidak Eksklusif
Pengetahuan
Manajemen Laktasi
- Rendah
- Tinggi
Keterangan :
- - - - - - - = Variabel Bebas
= Variabel terikat
Gambar 2. Kerangka Konsep
2.4 Hipotesis
Terdapat Hubungan bermakna antara Status Pekerjaan Ibu dan Pengetahuan
tentang Manajemen Laktasi terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Puskesmas Tegalrejo Kota Yogyakarta