"Demi Keadilan dan Kebenaran
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa"
Melonguane, 07 Februari 2023
KEPADA YTH:
KETUA PENGADILAN TINGGI MANADO
MELALUI:
KETUA PENGADILAN NEGERI MELONGUANE
DI -
M E L O N G U A N E.
PerihaL : Memori Banding.
Mengingat ketentuan Pasal 67, 233,236 Jo 237 KUHAP
terhadap putusan Pengadilan Negeri Melonguane Nomor:
38/[Link]/2022/ PN Mgn tanggal 27 Januari 2023 dalam
perkara atas nama terdakwa:
Nama lengkap : DARMA WAHIU
Tempat Lahir : Damua
Umur / tanggal lahir : 47 tahun / 07 September 1975
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Alamat : Desa Damau, Kecamatan Damau,
Kabupaten Kepulauan Talaud
Agama : Kristen
Pekerjaan : Petani
Dengan amar putusan:
1. Menyatakan Terdakwa Darma Wahiu tersebut di atas
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah
melakukan tindak pidana "melakukan kekerasan
terhadap anak untuk melakukan perbuatan cabul"
sebagaimana dalam dakwaan Penuntut Umum;
2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karena itu
dengan pidana penjara selama 6 (enam) tahun dan
denda sebesar Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta
rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut
tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama
6 (enam) bulan;
3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani
terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang
dijatuhkan;
4. Menetapkan terdakwa tetap berada dalam tahanan;
5. Menetapkan barang bukti berupa:
1 (satu) potong kaos lengan pendek warna merah
muda;
1 (satu) potong elana pendek olahraga warna hitam
dikembalikan kepada yang paling berhak yaitu anak
korban Jean Melati Alumbinat melalui saksi Netiati
Alumbinat;
2
6. Membebankan kepada terdakwa membayar biaya perkara
sejumlah Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah).
Atas putusan tersebut Terdakwa / Penasehat Hukum
Terdakwa pada tanggal 30 Januari 2023 (jadi masih dalam
tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang)
berdasarkan Akta Permohonan Banding Nomor:
38/[Link]/2022/[Link] tanggal 30 Januari 2023 telah
menyatakan Banding.
Adapun alasan-alasan yang kami ajukan untuk menyatakan
banding terhadap putusan Pengadilan Negeri Melonguane
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bahwa terdakwa sebagai pemohon banding keberatan
atas Putusan Pengadilan Negeri Melonguane Nomor:
38/[Link]/2022/ PN Mgn tanggal 27 Januari 2023 yang
mengatakan bahwa terdakwa telah bersalah dan
terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak
pidana melakukan kekerasan terhadap anak untuk
melakukan perbuatan cabul.
2. Bahwa adapun pertimbangan Majelis Hakim dalam
Putusan tersebut didasari atas alat-alat bukti dan
barang bukti yang dipaparkan dipersidangan yang pada
pokoknya Majelis hakim menyimpulkan alasan pokoknya
sebagaimana pada halaman 52 Putusan Pengadilan
Negeri Melonguane Nomor: 38/[Link]/2022/ PN Mgn
tanggal 27 Januari 2023 adalah sebagai berikut:
- Rangkaian peristiwa tersebut nampak bahwa terdakwa
dengan menggunakan kayu dan juga mengatakan akan
memotong kepala anak korban yang mana hal tersebut
dapat dikategorikan sebagai menyatakan maksud
(niat, rencana) untuk melakukan sesuatu merugikan,
menyulitkan menyusahkan atau mencelakakan pihak
lain, memberikan pertanda atau peringatan mengenai
kemungkinan malapetaka yang terjadi yang
diperkirakan akan menimba, sehingga ancaman
kekerasan dapat dimaknai memberikan pertanda atau
peringatan akan adanya kekerasan yang bisa
didapatkan oleh seorang anak;
- Bahwa perbuatan terdakwa yang membuka baju anak
korban, kemudian terdakwa memasukkan jari tangan
ke dalam alat kelamin anak korban dan mencoba
memasukkan alat kelamit terdakwa ke dalam alat
kelamin anak korban karena tidak bisa hanya
digesek-gesek sampai keluar cairan sperma dan
ditumpahkan di alat kelamin anak korban dari
rangkaian peristiwa tersebut sudah terang
merupakan perbuatan yang melanggar kesopanan dan
kesusilaan yang dapat dimaknai perbuatan yang
tidak senonoh menjurus ke arah perbuatan seksual
sehingga dapat dikategorikan sebagai perbuatan
cabul.
3. Bahwa terkait pertimbangan pokok yang dijadikan
dasar oleh Majelis Hakim sehingga memutus bersalah
terdakwa dalam perkara ini sebagaimana dijelaskan
pada poin 2 di atas menurut kami Majelis Hakim telah
keliru dalam merangkaikan fakta-fakta yang
sebenarnya oleh karena Majelis Hakim tidak
3
memperhatikan alat-alat bukti yang telah dipaparkan
oleh Penuntut Umum maupun oleh terdakwa/penasehat
hukum terdakwa di depan persidangan sehingga
pertimbangan dalam putusan pengadilan sebagaimana
dalam halaman 52 tersebut adalah rangkaian fakta
yang diambil dari surat dakwaan maupun surat
tuntutan penuntut umum namun terkait kebenarannnya
tidak bisa dibuktikan dengan minimum pembuktian
sebagaimana diatur dalam Pasal 183 KUHAP;
4. Bahwa majelis hakim pada halaman 52 Putusan
Pengadilan Negeri Melonguane Nomor: 38/[Link]/2022/
PN Mgn tanggal 27 Januari 2023 menimbang:
- Terdakwa dengan menggunakan kayu dan juga
mengatakan akan memotong kepala anak korban yang
mana hal tersebut dapat dikategorikan sebagai
menyatakan maksud (niat, rencana) untuk melakukan
sesuatu merugikan, menyulitkan menyusahkan atau
mencelakakan pihak lain, memberikan pertanda atau
peringatan mengenai kemungkinan malapetaka yang
terjadi yang diperkirakan akan menimba, sehingga
ancaman kekerasan dapat dimaknai memberikan
pertanda atau peringatan akan adanya kekerasan
yang bisa didapatkan oleh seorang anak;
- Bahwa terkait kesimpualan yang menyatakan
"terdakwa dengan menggunakan kayu dan juga
mengatakan akan memotong kepala anak korban itu
tidak dapat dibuktikan kebenarannya oleh karena
tidak ada alat-alat bukti yang mendukung hal
tersebut.
- Bahwa satu-satunya alasan mengapa majelis hakim
menyatakan dalam pertimbangannya bahwa ada
tindakan "Terdakwa dengan menggunakan kayu dan
juga mengatakan akan memotong kepala anak korban"
adalah lewat keterangan anak korban yang tidak
disumpah namun keterangan tersebut tidak didukung
oleh alat-alat bukti lainnya sehingga telah
bertentangan dengan prinsip pembuktian berdasarkan
Pasal 185 ayat (7) KUHAP yang berbunyi:
"Keterangan dari saksi yang tidak disumpah
meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak
merupakan alat bukti..."
- Bahwa kesimpulan majelis hakim yang menyatakan
"Terdakwa dengan menggunakan kayu dan juga
mengatakan akan memotong kepala anak korban" itu
berdasarkan keterangan anak korban yang tidak
disumpah dijadikan sebagai fakta persidangan dan
dasar dari kesimpulan hakim oleh karena keterangan
tersebut telah bersesuaian dengan keterangan-
keterangan saksi yang lain di bawah sumpah menurut
terdakwa selaku pemohon kasasi adalah keliru tidak
benar oleh karena fakta-fakta terhadap pemeriksaan
saksi mulai dari saksi Brilian Bunaen Alumbinat,
saksi Netiati Alumbinat, saksi Rony Makurantuge,
saksi Supni Elungan, saksi Nimia Waloni, saksi
Rusman Kairala, saksi Dey Ansiga, saksi Selfi
Mangero, saksi Sanli Arunde, saksi Didik Wiyanto,
saksi Bernadus Alumbinat, saksi a de charge atas
nama Mizrain Minggu, saksi Dikson Panggulu, saksi
4
Voice Amanga, saksi Alen Mangero dan saksi Stely
Pamaisan tidak menjelaskan sama sekali terkait
adanya fakta bahwa "Terdakwa dengan menggunakan
kayu dan juga mengatakan akan memotong kepala anak
korban", bahkan apabila diteliti lebih jauh
keterangan-keterangan saksi tersebut bertentangan
dan tidak bersesuaian satu dengan lainnya sehingga
kesimpulan dari Majelis Hakim yang menyatakan
bahwa "Terdakwa dengan menggunakan kayu dan juga
mengatakan akan memotong kepala anak korban" tidak
dapat dibenarkan menurut hukum karena kesimpulan
tersebut diambil dari keterangan anak korban yang
tidak disumpah tanpa didukung oleh alat bukti sah
lainnya.
5. Bahwa majelis hakim pada halaman 52 Putusan
Pengadilan Negeri Melonguane Nomor: 38/[Link]/2022/
PN Mgn tanggal 27 Januari 2023 menimbang:
- Terdakwa yang membuka baju anak korban, kemudian
terdakwa memasukkan jari tangan ke dalam alat
kelamin anak korban dan mencoba memasukkan alat
kelamit terdakwa ke dalam alat kelamin anak korban
karena tidak bisa hanya digesek-gesek sampai
keluar cairan sperma dan ditumpahkan di alat
kelamin anak korban dari rangkaian peristiwa
tersebut sudah terang merupakan perbuatan yang
melanggar kesopanan dan kesusilaan yang dapat
dimaknai perbuatan yang tidak senonoh menjurus ke
arah perbuatan seksual sehingga dapat
dikategorikan sebagai perbuatan cabul
- Bahwa terkait kesimpualan yang menyatakan
"Terdakwa yang membuka baju anak korban, kemudian
terdakwa memasukkan jari tangan ke dalam alat
kelamin anak korban dan mencoba memasukkan alat
kelamit terdakwa ke dalam alat kelamin anak korban
karena tidak bisa hanya digesek-gesek sampai
keluar cairan sperma dan ditumpahkan di alat
kelamin anak korban" tidak dapat dibuktikan
kebenarannya oleh karena tidak ada alat-alat bukti
yang mendukung hal tersebut.
- Bahwa satu-satunya alasan mengapa majelis hakim
menyatakan dalam pertimbangannya bahwa ada
tindakan "Terdakwa yang membuka baju anak korban,
kemudian terdakwa memasukkan jari tangan ke dalam
alat kelamin anak korban dan mencoba memasukkan
alat kelamit terdakwa ke dalam alat kelamin anak
korban karena tidak bisa hanya digesek-gesek
sampai keluar cairan sperma dan ditumpahkan di
alat kelamin anak korban" adalah lewat keterangan
anak korban yang tidak disumpah namun keterangan
tersebut tidak didukung oleh alat-alat bukti
lainnya sehingga telah bertentangan dengan prinsip
pembuktian berdasarkan Pasal 185 ayat (7) KUHAP
yang berbunyi:
"Keterangan dari saksi yang tidak disumpah
meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak
merupakan alat bukti..."
6. Bahwa kesimpulan majelis hakim yang menyatakan
"Terdakwa yang membuka baju anak korban, kemudian
5
terdakwa memasukkan jari tangan ke dalam alat
kelamin anak korban dan mencoba memasukkan alat
kelamit terdakwa ke dalam alat kelamin anak korban
karena tidak bisa hanya digesek-gesek sampai keluar
cairan sperma dan ditumpahkan di alat kelamin anak
korban" itu berdasarkan keterangan anak korban yang
tidak disumpah dijadikan sebagai fakta persidangan
dan dasar dari kesimpulan hakim oleh karena
keterangan tersebut telah bersesuaian dengan
keterangan-keterangan saksi yang lain di bawah
sumpah menurut terdakwa selaku pemohon kasasi adalah
keliru tidak benar oleh karena fakta-fakta terhadap
pemeriksaan saksi mulai dari saksi Brilian Bunaen
Alumbinat, saksi Netiati Alumbinat, saksi Rony
Makurantuge, saksi Supni Elungan, saksi Nimia
Waloni, saksi Rusman Kairala, saksi Dey Ansiga,
saksi Selfi Mangero, saksi Sanli Arunde, saksi Didik
Wiyanto, saksi Bernadus Alumbinat, saksi a de charge
atas nama Mizrain Minggu, saksi Dikson Panggulu,
saksi Voice Amanga, saksi Alen Mangero dan saksi
Stely Pamaisan tidak menjelaskan sama sekali terkait
adanya fakta bahwa "Terdakwa yang membuka baju anak
korban, kemudian terdakwa memasukkan jari tangan ke
dalam alat kelamin anak korban dan mencoba
memasukkan alat kelamit terdakwa ke dalam alat
kelamin anak korban karena tidak bisa hanya digesek-
gesek sampai keluar cairan sperma dan ditumpahkan di
alat kelamin anak korban", bahkan apabila diteliti
lebih jauh keterangan-keterangan saksi tersebut
bertentangan dan tidak bersesuaian satu dengan
lainnya sehingga kesimpulan dari Majelis Hakim yang
menyatakan bahwa "Terdakwa dengan menggunakan kayu
dan juga mengatakan akan memotong kepala anak
korban" tidak dapat dibenarkan menurut hukum karena
kesimpulan tersebut diambil dari keterangan anak
korban yang tidak disumpah tanpa didukung oleh alat
bukti sah lainnya.
7. Bahwa untuk lebih jelasnya penerapan unsur-unsur
dalam surat dakwaan dan surat tuntutan penuntut umum
melanggar Pasal Pasal 82 Ayat (1) Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak adalah
sebagai berikut:
- Unsur setiap orang
Yang dimaksud dengan setiap orang menurut pasal 1
angka 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35
tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
yaitu Perseorangan Atau Korporasi.
Berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI nomor 1398
K/Pid/1994 tanggal 30 juni 1995 kata setiap orang
adalah sama dengan terminologi kata barang siapa
dalam KUHP yang menunjuk kepada subyek hukum atau
pelaku tindak pidana yaitu orang (manusia) sebagai
subyek hukum yang apabila orang tersebut terbukti
memenuhi semua unsur tindak pidana sebagaimana di
6
dakwakan oleh penuntut umum, maka ia dapat di
sebut sebagai pelaku atau dader dari tindak pidana
tersebut.
Bahwa yang di ajukan ke dalam persidangan perkara
ini adalah orang yaitu terdakwa Darma Wahiu, yang
berdasarkan fakta persidangan belum terbukti
memenuhi semua unsur dari tindak pidana
sebagaimana di dakwakan oleh penuntut umum, maka
terdakwa Darma Wahiu tidak dapat di sebut sebagai
pelaku dalam perkara ini.
Dengan demikian unsur “setiap orang“ tidak
terbukti dan tidak terpenuhi dalam perkara ini.
- Unsur dengan sengaja melakukan kekerasan atau
ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu
muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan
dilakukan perbuatan cabul.
Bahwa dengan sengaja berdasarkan ketentuan
criminal wetbook 1881 adalah keinginan atau maksud
untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan
yang di larang atau di haruskan oleh undang-
undang. Sedangkan dalam Memorie Van Toelichting
Wetboek Van Strafrecht memberikan penjelasan bahwa
sengaja merupakan perbuatan yang di kehendaki dan
di ketahui. Seseorang yang berbuat dengan sengaja
itu, harus di kehendaki apa yang di perbuat dan
harus di ketahui juga apa yang di perbuat.
Bahwa unsur melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat,
melakukan serangkaian kebohongan membujuk anak
untuk melakukan atau dilakukan perbuatan cabul
bersifat alternatif.
Bahwa menurut pasal 1 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak, pengertian anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
tahun, termasuk anak yang masih di dalam
kandungan.
Bahwa yang di maksud dengan melakukan perbuatan
cabul adalah perbuatan pelaku memegang, menyentuh
atau mencium korban di bagian-bagian tubuh yang
sensitifayau alat kelamin korban sehingga dapat
menimbulkan rangasangan bagi diri sendiri maupun
korban.
Berdasarkan fakta yang terungkap di dalam
persidangan, berdasarkan keterangan terdakwa bahwa
terdakwa tidak pernah melakukan perbuatan cabul
kepada anak Jean Melati Alumbinat, serta
keterangan terdakwa yang menerangkan bahwa di hari
rabu tanggal 1 juni 2022 terdakwa pukul 12.00 wita
sampai pukul 15.00 wita terdakwa mengikuti acara
pemakaman atas meninggalnya ibu Santi Maitulung.
Keterangan terdakwa ini berkesesuaian dengan
keterangan saksi Dikson Panggulu yang menerangkan
“Bahwa benar pada hari rabu tanggal 1 juni 2022
saksi mengikuti ibadah pemakaman atas meninggalnya
7
ibu Santi Maitulung dan saksi melihat pak Darma
Wahiu membagikan kue kepada orang-orang yang hadir
di acara pemakaman tersebut saat di rumah duka”,
serta keterangan saksi Dey Lamber Ansiga yaitu
“saksi melihat terdakwa di rumah duka pada kurang
lebih pukul 12 siang dan saya melihat juga
terdakwa pukul 14.30 – 15.00 wita berada di Gereja
untuk mengikuti acara lanjutan ibadah pemakaman di
hari rabu tanggal 1 juni 2022 tersebut”. Saksi
Bernadus Alumbinat menerangkan bahwa “saksi
melihat pak Darma Wahiu berada di rumah duka
mengikuti acara pemakaman atas meninggalnya ibu
Santi Maitulung, dan juga menjalankan kue kepada
orang-orang yang hadir di acara pemakaman
tersebut”.
Kemudian terdakwa melanjutkan aktifitasnya setelah
selesai mengikuti acara pemakaman dan beristirahat
sejenak di rumah, terdakwa pergi ke kebun untuk
mengolah kelapa, dalam perjalanan ke kebun
terdakwa bertemu dengan saksi Nimia Waloni. Hal
ini di pertegas oleh saksi Nimia Waloni di dalam
persidangan dengan menerangkan “bahwa saksi pada
hari rabu tanggal 1 Juni 2022 saat saksi pulang
dari kebun sekitar pukul 16.00 saksi bertemu di
perjalanan pulang dengan pak Darma Wahiu yang saat
itu dalam perjalanan baru mau ke kebun”.
Setelah terdakwa sampai di kebun, di saat terdakwa
membelah kelapa terdakwa bertemu dengan saksi
Rusman Kaerala yang saat itu dalam perjalanan
pergi ke kebun. Hal ini juga di pertegas oleh
saksi di dalam persidangan dengan menerangkan
“Bahwa pada hari rabu tanggal 1 juni 2022 sekitar
pukul 16.30 wita saat saya mau ke kebun, saya
bertemu dengan pak Darma Wahiu yang sementara
membelah kelapa atau mengolah buah kelapa di kebun
miliknya”.
Setelah selesai membelah dan mengolah buah kelapa
terdakwa langsung pulang ke rumahnya, dalam
perjalanan pulang ketika sampai di kampung sekitar
pukul 18.00, ternyata saksi Selfi Mangero yang
saat itu duduk di depan rumahnya, melihat terdakwa
lewat di depan rumahnya berjalan kaki sendirian
saat pulang dari kebun. Rumah saksi selfi mangero
berhadapan dengan warung milik saksi Supni
Elungan.
Sebelum terdakwa pulang dari kebun, saksi Supni
Elungan sekitar pukul 17.00 wita, saksi melihat
anak Jean Melati Alumbinat berjalan di depan
warung milik saksi, kemudian saksi memanggil anak
jean ke warung milik saksi dan berkata “Jean
tunggu di sini dulu, ayah dan ibumu sedang
mencarimu, mereka pergi ke kantor desa untuk
mengumumkan berita bahwa kamu telah hilang”. Bahwa
setelah saksi Supni memanggil anak jean untuk
menunggu ibu dan ayahnya di warung milik saksi,
saksi menyuruh saksi Alen Mangero untuk pergi
menyusul ayah dan ibu jean ke kantor desa untuk
memberitahukan bahwa anak Jean sudah ada di warung
8
milik saksi Supni Elungan. Hal ini juga di
pertegas oleh saksi Netiati Alumbinat di
persidangan “bahwa Saat saya dan suami saya
mencari anak korban dan hendak ke kantor kepala
desa damau, sebelum kami sampai di kantor desa
damau saya di beri tahu oleh ibu Alen Mangero
bahwa jean sudah di temukan dan berada di depan
rumah terdakwa Darma Wahiu” walaupun sudah di
konfrontir langsung kepada saksi Alen Mangero di
persidangan, bahwa yang dia katakan anak Jean
berada di warung milik saksi Supni Elungan bukan
berada di depan rumah pak Darma.
Di tempat yang lain tapi masih pada hari yang sama
yaitu hari rabu tanggal 1 juni 2022 saksi Volce
Amanga sempat bertemu dan menegur anak Jean yang
saat itu bermain di depan rumah bapak Alfrets
Maitulung sekitar pukul 15.30 Wita / setengah 4
sore, bahwa di depan rumah bapak Alfrets Maitulung
halamannya besar dan memiliki pohon kedondong
kecil (cangkok) yang menjadi tempat bermain anak-
anak, mereka sering memetik buah kedondong
tersebut untuk di makan dan di pakai sebagai bahan
mainan ungkap saksi volce di dalam persidangan.
Bersamaan dengan itu saksi Stely Damaisan sekitar
pukul 15.30 wita atau jam setengah 4 sore, saksi
mendengar ibu Volce Amanga menegur anak Jean
Melati Alumbinat di depan rumah yang saksi
tinggali yaitu rumah bapak Alfrets Maitulung.
Posisi saksi waktu itu berada di dalam kamar,
tetapi setelah saksi mendengar ibu Volce menegur
anak Jeane saksi Stely langsung melihat dari
jendela dan celah-celah papan dinding rumah.
Kemudian saksi Ahli saat di periksa ahli
menjelaskan dengan gamblangnya bawha visum et
repertum tidak dapat dia jadikan dasar utama untuk
menentukan seseorang melakukan tindak pidana.
Ketika anak Jean Melati Alumbinat di periksa oleh
ahli tidah di temukan adanya tanda-tanda kekerasan
di bagian tubuh anak Jean, ahli hanya menemukan
adanya bintik kemerahan yang ukurannya sangat
kecil di bibir kemaluan bagian dalam kemaluan anak
Jean, yang bisa saja di sebabkan oleh kemaluan
yang tidak bersih atau lembab, dan bukan karena di
sebabkan oleh pemaksaan atau kekerasaan. Karena
kalau hal itu di sebabkan oleh karena adanya
kekerasan atau paksaan, maka pasti bibir kemaluan
bagian luar akan lecet atau luka. Bagaiamana
mungkin ada barang yang masuk de dalam kemaluan
tanpa melalui bagian luar kemaluan? Karena bagian
bibir luar kemaluan dari anak Jean tidak ada
kelainan atau lecet. Selaput darah milik anak Jean
juga dalam keadaan baik masih utuh tidak ada
robekan.
Bahwa pemeriksaan psikologi yang di lakukan oleh
pihak kepolisian terhadap anak Jean kepada ahli
psikologi, tidak ada kaitannya dengan kasus ini.
Sehingga ketika kronologi aktifitas pada hari rabu
tanggal 1 juni 2022 di kaitkan, maka terdakwa
9
tidak melakukan perbuatan cabul kepada anak Jean,
karena dari pukul 12.00 wita sampai pukul 18.00
wita terdakwa melakukan aktifitas di acara
pemakaman dan pergi kebun untuk mengolah kelapa.
Dan di waktu yang lain, di saksikan oleh beberapa
saksi bahwa anak Jeane Melati Alumbinat di hari
itu tidak hilang atau di bawah oleh terdakwa,
melainkan sibuk bermain bersama teman-temannya.
Berkaitan dengan keterangan saksi Netiati
Alumbinat, Ronny Makurantuge, dan Brilian soal
kemaluan anak Jean mengeluarkan cairan putih dan
darah, maki rasa sudah terbantahkan oleh
keterangan ahli yang menerangkan bahwa saat ahli
memeriksa kemaluan anak Jean tidak di temukan
kelainan dan tidak ada darah dan cairan yang
keluar.
Terhadap keadaan anak Jean di hari itu mayoritas
saksi mengatakan bahwa keadaannya dalam keadaan
bersih tidak kotor dan tidak ada tanda-tanda
kekerasan, semoga yang mulia majelis hakim dapat
meneliti serta memeriksa perkara ini dengan baik
dan bijaksana.
Berdasarkan uraian di atas maka dengan demikian
unsur “melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan,
memaksa atau membujuk anak untuk melakukan atau
membiarkan melakukan perbuatan cabul” tidak
terbukti dan tidak terpenuhi.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dengan ini kami
mohon supaya Pengadilan Tinggi Manado:
1. Menerima permohonan banding;
2. Menyatakan bahwa terdakwa Darma Wahiu tidak terbukti
kesalahannya secara sah dan meyakinkan melakukan
tindak pidana sebagaimana dalam Putusan Pengadilan
Negeri Melonguane Nomor: 38/[Link]/2022/ PN Mgn
tanggal 27 Januari 2023;
3. Membebaskan terdakwa Darma Wahiu dari semua tuntutan
hukum (Vrijspraak) atau setidak-tidaknya melepaskan
Darma Wahiu dari semua tuntutan hukum (Ontslaag Van
Alle Rechtsvervolging);
4. Memerintahkan pada Jaksa Penuntut Umum agar
merehabilitasi nama baik Terdakwa Darma Wahiu.
5. Memerintahkan agar Terdakwa Darma Wahiu dibebaskan
dari Tahanan.
6. Membebankan biaya perkara kepada negara
sebagaimana apa yang kami mintakan dalam pembelaan pada
tanggal 18 Januari 2023.
Apabila Majelis Hakim Yang Mulia berpendapat lain,
mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Demikianlah Memori Banding ini kami ajukan dengan
harapan kiranya Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tinggi
Manado di Manado dapat menjatuhkan putusan dengan
seadil-adilnya demi untuk mendapatkan kepercayaan
masyarakat terhadap Lembaga Peradilan disertai doa
10
kiranya Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan kekuatan
dalam menjatuhkan putusan.
KUASA HUKUM TERDAKWA,
REFLINDO LOHO, S.H