LAPORAN PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI
MORFOGENESA GLASIAL, EOLIAN DAN MARINE
Kelompok 9
Nama : Amana Sari
NIM : F1D221003
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2022
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geomorfologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang
bentuk alam dan proses yang membentuknya. Para ahli geomorfologi
mencoba untuk memahami kenapa sebuah bentang alam terlihat seperti
itu, untuk memahami sejarah dan dinamika bentang alam, dan
memprediksikan perubahan pada masa depan dengan menggunakan
kombinasi pengamatan saat di lapangan, percobaan dan pemodelan.
Morfogenesa merupakan asal dan perkembangan dari bentuklahan
dan proses yang membentuk dan bekerja pada bentuklahan tersebut.
Glasial adalah bentuk pengikisan massa batuan oleh glester yaitu massa
es yang bergerak. Glester terdapat di wilayah kutub atau pegunungan
tinggi yang puncaknya senantiasa tertutup oleh lembaran salju dan es,
seperti pegunungan Himalaya. Aeolian merupakan lahan yang terjadi
karena bentukan asal proses angin dan gabungan pelapukan dengan
aliran air. Marine adalah bentuk lahan yang berhubungan marine atau
laut. Bentuk lahan ini merupakan bentuk lahan terbentuk oleh kerja air
laut (gelombang dan arus) baik proses yang bersifat pegendapan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah:
1. Dapat mengetahui definisi dari morfogenesa glasial, aeolin dan
merine
2. Dapat mengetahui klasifikasi dari morfogenesa glasial, aeolin dan
merine
3. Dapat mengetahui cara interpretasi peta geologi berdasarkan
kontur dan pola pengaliran berdasarkan morfogenesa glasial,
aeolin dan merine
1.3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini:
1. Modul
2. ATK lengkap
3. HVS
4. Clipboard
BAB II
DASAR TEORI
Morfogenesis adalah asal dan perkembangan bentuk lahan, proses
yang membentuknya dan yang bekerja padanya. Morfogenesis dibagi
menjadi 3, yaitu morfostruktur pasif meliputi litologi, baik tipe batuan
maupun struktur batuan yang berhubungan dengan denudasi, seperti
mesa, kuesta, hogbacks dan kubah. Morfostruktur aktif proses dinamika
endogen yang meliputi volkanisme, tektonik lipatan dan sesar, seperti
gunungapi, punggungan antiklin dan gawir sesar. Morfodinamik
Dinamika eksogen yang berhubungan dengan angin, air dan gerak es
dan gerakan massa. Seperti gumuk, punggungan pantai. Morfokronologi
(morpho-chronology). Penanggalan absolut dan relatif berbagai bentuk
lahan yang berhubungan. Contohnya teras sungai muda dan teras
sungai tua, pematang pantai muda dan pematang pantai tua. Morpho-
arrangement susunan keruangan dan jaringan hubungan berbagai
bentuk yaitu proses yang berhubungan antara bentuk lahan dan
lingkungan seperti hubungan antara bentuk lahan dan batuan, struktur
geologi, tanah, air dan penggunaan lahan (Suwarno, 2007).
Bentang lahan merupakan gabungan dari bentuk lahan (landform).
Bentuklahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit
atau lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk
suatu bentang alam, seperti daerah perbukitan yang baik bentuk
maupun ukurannya bervariasi atau berbeda-beda, dengan aliran air
sungai di sela-selany, yang dibentuk oleh interaksi dan interpendensi
antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air,
udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi (Brahmantyo, 2006).
Bentuklahan proses aeolin merupakan bentukan lahan oleh proses
eksogenik dengan anginsebagai agen pembentuk utamanya, yakni
dengan membentuk endapan oleh adanyapengikisan, pengangkutan,
dan pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh [Link]
bentuk lahan aeolin terdiri dari tiga proses, yakni erosional (pengikisan),
deposisional(pengangkutan), dan sedimentasi (pengendapan). Endapan
oleh angin terbentuk oleh adanya pengikisan, pengangkutan dan
pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. Endapan karena
angin yang paling utama adalah gumukpasir(sandunes),dan endapan
debu (loosIe). Kegiatan angin mempunyai dua aspek utama,yaitubersifat
erosif dan deposisi. Bentuklahan yang berkembang terdahulu mungkin
akanberkembang dengan baik apabila di padang pasir terdapat batuan.
Pada hakekatnya bentuklahan asal proses eolin dapat dibagi menjadi
tiga, yaitu erosional, contohnya lubang angin dan lubang ombak,
residual , contohnya lag deposit dan deflation hollow, deposisional,
contohnya : gumuk pasir (sandunes) (Farhan, 2012).
Bentuklahan marine atau laut adalah bentuk lahan yang
berhubungan marineatau laut. Bentuklahan ini merupakan bentuk
lahan yang terbentuk oleh kerja air laut (gelombang dan arus) baik
proses yang bersifat konstruktif atau pegendapan maupun destruktif
atau abrasi dan terdapat pada wilayah kepesisiran. Bentuk lahan ini
kadang bergabung dengan fluvial yang bertemu dengan [Link]
lahan asal proses marine dihasilkan oleh aktivitas gerakan air laut,
baik pada tebing curam, pantai berpasir, pantai berkarang maupun
pantai berlumpur. Aktivitas marine sering dipengaruhi oleh aktivitas
fluvial sehingga sering disebutsebagai fluvio-marin. Proses marine
mempunyai pengaruh yang sangat aktif padadaerah pesisir sepanjang
pantai. Bentuk lahan asal proses marin dihasilkan oleh aktivitas atau
gerakan air laut, aik pada tebing, pantai berpasir, pantai berkarang,
maupun pantai berlumpur (Robby, 2013).
Bentuklahan asal proses glasial terbentuk oleh kerja glasier sebagai
salah satu agengeomorfik yang membentuknya. Kerja glasier merupakan
salah satu proses eksogen, sehingga dalam pembentukan bentuklahan
dan proses kerjanya terdiri dari erosi,transportasi dan deposisi. Glasier
tersusun oleh es, sejumlah kecil udara, air dan hancuranbatu yang berat
jenis glasier sendiri sekitar 900 kg/m3. Panas matahari dan bumi,
mengelompokkanes glasial menjadi dua yaitu cold ice atau temperatur es
dibawah titik cair dan warm ice yaitu temperatur es mendekati titik cair.
Keseimbangan massa es glasial yaitu perbandingan antara perolehan
dan kehilangan es glasial, ablasi (terjadi karena pencairan es), evaporasi
(perubahan es menjadi uap air), sublimasi (perubahan es menjadi uap
air), erosi angin, calving (pecahnya block es menjadi air), akumlasi dan
kehilangan es dilakukan perhitungan setiap tahun (Kiran, 2017).
BAB III
PEMBAHASAN
Pada pertemuan praktikum kali ini dibahas mengenai morfogenesa
glasial, aeolin dan merine. Morfogenesa glasial merupakan morfogenesis
yang diageni oleh gletser sehingga tidak semua permukaan bumi dapat
dijumpai oleh morfologi glasial. Morfologi glasial hanya dijumpai pada
daerah dengan lintang kutub atau dengan elevasi di atas 4000 m dpl di
atas permukaan laut. Biasanya gletser memiliki media erosi dan
sedimentasi atau suatu pembentuk morfologi yang memiliki densitas
yang tinggi di mana pada sifat inilah membuat gletser sanggup untuk
memasuki ke dalam celah-celah batuan sambil terus menerus bergerak
sehingga menggerus dinding yang dilewatinya. Morfogenesa glasial ini
biasanya terjadi karena salju yang terus bergerak, pada permukaan
batuan akan ditinggalkan bekas-bekas yang tampak sebagai
mikromofologi seperti lekukan, tonjolan goresan dan penyimiran. Pada
morfogenesa glasial juga memiliki klasifikasi yang di mana terdapat
topografi sisa erosi merupakan akibat proses glasial yang mempunyai
kenampakan yang khas seperti tebing-tebing yang ditinggalkan nyaris
tegak bahkan tidak sedikit ada tebing yang menggantung yang di mana
dihasilkan oleh aktivitas lahar pada vulkanisme dan bentuknya terarah,
selain itu juga kenampakan seperti lembah yang dalam dengan tebing
yang tegak dan saling sejajar dan dapat diamati di pantai yang mana
dikenal dengan pantai fyord. Topografi hasil sedimentasi merupakan
endapan atau sedimen hasil proses glasial yang mempunyai sifat sejenis
dengan sifat lahar atau endapan fluvio-vulkanik lainnya yang di mana
sifatnya berukuran butir mulai dari lempung sampai dengan bongkah.
Morfogenesa eolin terbentuk akibat adanya pergerakan angin sebagai
penyebab utamanya. Morfogenesa ini tidak dijumpai pada seluruh
permukaan bumi yang di mana hanya ditemukan pada tempat yang
terbatas. Jika dilihat dari kedudukan tempat berdasarkan garis lintang
marfogenesa eolin dapat dijumpai pada 30°-50° lintang Utara dan lintang
selatan. Morfogenesa eolin juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya
seperti pasokan angin yang kontinyu dan keadaan vegetasi di lokasi
tersebut yang jarang pada interaksi faktor-faktor tersebut akan
menghasilkan bentukan-bentukan yang berbeda. Biasanya bentukan
yang paling sering dijumpai yang terjadi diakibatkan oleh pergerakan
angin berupa depresi atau cekungan. Pada morfogenesa eolin memiliki
kekhasan proses angin yang di mana terdapat erosi yang menempuh
dua cara yaitu abrasi dan deflasi transportasi yang di mana secara
melayang (suspension) dan menggeser di permukaan bumi (traction) dan
yang terakhir yaitu deposisi yang di mana hasil dari sedimentasi oleh
angin mempunyai banyak kesamaan dengan sedimen hasil
pembentukan oleh proses fluvial. Klasifikasi morfologinya yaitu hasil
deflasi yang dimana terdapat cekungan deflasi, lag gravel, desert vamish,
selanjutnya hasil abrasi itu terjadi oleh angin yang berada di dekat
permukaan tanah.
Morfogenesa marine atau laut merupakan bentuk lahan yang
berhubungan dengan laut yang di mana terbentuk oleh kerja air laut
atau gelombang dan arus baik prosesnya yang bersifat konstruktif
ataupun pengendapan. Biasanya untuk lahan ini sering bergabung
dengan fluvial yang bertemu dengan lautan, sering terjadi pada tebing
yang curam pantai berpasir pantai berkarang dan pantai berlumpur.
Morfogenesa ini merupakan zona yang memanjang dan menjadi batas
antara daratan dan laut. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk
morfologi pantai adalah batuan pembentuk (morfostruktur pasif),
tektonik (morfostruktur aktif) dan proses eksogenik (morfos struktur
dinamik). Proses dan jenis morfologinya berupa erosi yang biasanya
terjadi di pantai dan diageni oleh proses fluvial dapat dilihat lagi pokok
bahasan terkait dan abrasi gelombang. Sedimentasi biasanya
sedimentasi fluvial masih berpeluang terjadi di pantai dengan lereng
miring landai-datar. Terdapat klasifikasi pada motogenesis ini yaitu,
klasifikasi pantai secara klasik, klasifikasi pantai secara genetik dan
deskriptif, klasifikasi pantai berdasarkan tenaga geomorfik, pantai
secara klimatogenetik.
Cara interpretasi merupakan gambaran geologi, dinyatakan sebagai
garis yang mempunyaikedudukan yang [Link] dasarnya peta geologi
merupakan rangkaian dari hasil berbagai kajian lapangan. Biasanya
cara interpretasi peta geologi dalam morfogenesa glasial, eloin dan
marine dapat dilihat dari peta topografi, google earth dan peta regional.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini adalah :
1. Morfogenesa glasial merupakan morfogenesis yang diageni oleh
gletser sehingga tidak semua permukaan bumi dapat dijumpai
oleh morfologi glasial. Morfogenesa eolin terbentuk akibat adanya
pergerakan angin sebagai penyebab utamanya. Morfogenesa ini
tidak dijumpai pada seluruh permukaan bumi yang di mana
hanya ditemukan pada tempat yang terbatas. Morfogenesa marine
atau laut merupakan bentuk lahan yang berhubungan dengan
laut yang di mana terbentuk oleh kerja air laut atau gelombang
dan arus baik prosesnya yang bersifat konstruktif ataupun
pengendapan.
2. Klasifikasi dari morfogenesa glasial yaitu topografi sisa erosi dan
topografi hasil sedimentasi. Klasifikasi morfogenesis eolin yaitu
hasil deflasi dan hasil abrasi. Sedangkan klasifikasi morfogenesa
dari glasial yaitu klasifikasi pantai secara klasik, klasifikasi pantai
secara genetik dan deskriptif, klasifikasi pantai berdasarkan
tenaga geomorfik dan klasifikasi pantai secara klimatogenetik.
3. Cara interpretasi merupakan gambaran geologi, dinyatakan
sebagai garis yang mempunyaikedudukan yang [Link]
dasarnya peta geologi merupakan rangkaian dari hasil berbagai
kajian lapangan. Biasanya cara interpretasi peta geologi dalam
morfogenesa glasial, eloin dan marine dapat dilihat dari peta
topografi, google earth, peta regional dan lain-lain.
4.2 Saran
Adapun saran pada praktikum kali ini pratikan tetap semangat dan
fokus saat di laboratorium agar dapat lebih memahami dan mengerti
dalam materi yang telah disampaikan oleh asisten. Diharapkan juga
kepada pratikkan agar lebih aktif dalam bertanya.
DAFTAR PUSTAKA
Brahmantyo. 2006. “Klasifikasi Bentuk Muka Bumi Dari Bentuklahan
Glacial”. Jurnal Geoaplika. Vol 1 (2) : 71-78.
Farhan. 2012. Aspek-aspek Geomorfologi. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada.
Kiran. 2017. “Hubungan Morfologi Terhadap Ketebalan Nikel Laterit PT.
Wahyu Anggi Selaras, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe
Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara”. Jurnal Teknologi Mineral. Vol
2 (2) : 21-30.
Robby. 2020. “Idenfikasi Dan Deskripsi Bentuklahan Merine”. Jurnal
Geography. Vol 3 (5) : 27-32.
Suwarno. 2007. Aspek Kajian dan Konsep Dasar Geomorfologi. Surakarta
: Jakad Media Publishing.