0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
449 tayangan52 halaman

Analisis Implementasi BRM di Laut

Dokumen tersebut merupakan analisis implementasi BRM saat dinas jaga laut yang ditulis oleh Danial Farid Naufal dengan judul "Analisis Implementasi BRM pada Saat Dinas Jaga Laut". Tulisan ini membahas tentang pentingnya implementasi BRM dalam menjalankan dinas jaga laut secara aman dan efektif.

Diunggah oleh

Danial Farid Naufal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
449 tayangan52 halaman

Analisis Implementasi BRM di Laut

Dokumen tersebut merupakan analisis implementasi BRM saat dinas jaga laut yang ditulis oleh Danial Farid Naufal dengan judul "Analisis Implementasi BRM pada Saat Dinas Jaga Laut". Tulisan ini membahas tentang pentingnya implementasi BRM dalam menjalankan dinas jaga laut secara aman dan efektif.

Diunggah oleh

Danial Farid Naufal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS IMPLEMENTASI BRM

PADA SAAT DINAS JAGA LAUT

OLEH :
Nama : Danial Farid Naufal
NIT : 21.41.038
KELAS : Nautika II B

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA IV PELAYARAN


POLITEKNIK ILMU PELAYARAN MAKASSAR
TAHUN 2022
HALAMAN PENGESAHAN

“ANALISIS IMPLEMENTASI BRM PADA SAAT DINAS JAGA LAUT”

Oleh :

DANIAL FARID NAUFAL


21.41.038

Telah disetujui dosen pembimbing untuk dibuat sebagai praktek Microsoft Office
dalam mata kuliah Teknologi Informasi

Makassar, 22 Maret 2022

MENGETAHUI,
DOSEN PEMBIMBING TEKNOLOGI INFORMASI

INDRA FARMAN, [Link]., [Link]

i
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas limpahan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
makalah dengan Judul ANALISIS IMPLEMENTASI BRM PADA SAAT DINAS
JAGA LAUT. Proposal merupakan salah satu persyaratan bagi taruni dalam
menyelesaikan studi pada program DiplomaIV Politeknik Ilmu Pelayaran
Makassar.

Penulis menyadari bahwa dalam proposal ini masih terdapat banyak


kekurangan baik dari segi tata bahasa, struktur kalimat, maupun metode
penulisan, serta kesempurnaan materi yang diakibatkan oleh keterebatasan
penulis. Untuk itu dengan kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan
masukan baik yang berbentuk kritik maupun saran-saran yang bersifat
membangun, demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Capt. Sukirno, [Link]., [Link]. selaku Direktur Politeknik Ilmu


Pelayaran Makassar.

2. Ibu Meti Kendek, [Link].T., M.A.P., [Link], M.A.P.,[Link],. selaku Dosen


Pembimbing Materi yang telah memberikan pengarahan serta
bimbingannya hingga terselesaikannya karya tulis ini.

3. Ibu Novianty Palayukan, SS., [Link]. selaku Dosen Pembimbing


Penulisan yang juga telah memberikan pengarahan serta bimbingannya
hingga terselesaikannya karya tulis ini.

4. Bapak Capt. Welem Ada’, [Link]., [Link] selaku ketua Program Studi
Nautika PIP Makassar.

ii
iii

Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat


kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran agar disaat
mendatang penulis dapat membuat karya tulis yang lebih baik. Semoga skripsi
ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan serta pengetahuan bagi
pembaca.

Makasar, 22 Maret 2022


DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN...........................................................................i

KATA PENGANTAR.....................................................................................ii

DAFTAR ISI.................................................................................................iv

BAB I............................................................................................................1

PENDAHULUAN..........................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................2
C. Tujuan Penelitian....................................................................................2
D. Manfaat Penelitian..................................................................................2

BAB II...........................................................................................................3

TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................3
A. Implementasi..........................................................................................3
B. BRM ( Bridge Resource Management )..................................................5
C. Navigasi Dinas Jaga Laut.....................................................................10
D. Kerangka Pikir......................................................................................18
E. Hipotesis..................................................................................................18

BAB III........................................................................................................19

METODE PENULISAN..............................................................................19
A. Tempat dan Waktu Penelitian...............................................................19
B. Metode Pengumpulan Data..................................................................19
C. Data Jenis dan Sumber........................................................................20
D. Langkah-Langkah Analisa Data............................................................21
E. Teknik Analisa Data.................................................................................23
F. Metode Penarikan Kesimpulan................................................................23
G. Metode Penulisan.................................................................................24

iv
v

BAB IV........................................................................................................25

HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................................25


A. Hasil Penelitian.....................................................................................25
B. Pembahasan........................................................................................27

BAB V.........................................................................................................31

KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................31


A. Kesimpulan...........................................................................................31
B. Saran....................................................................................................31

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................32

LAMPIRAN.................................................................................................33
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kecelakaan kapal lebih sering terjadi karena alasan Human
Error, maka dari ini, pelaut merupakan salah satu aset yang sangat
berpengaruh dalam dunia pelayaran selain kapal itu sendiri. Dalam
pelaksanaan dinas jaga laut pada saat kapal sedang berlayar
diperlukan konsentrasi, ketelitian, tanggung jawab yang tinggi dalam
membawa serta kecakapan sebagai pelaut yang baik dalam
pengambilan keputusan. Maka mualim jaga sebagai pengganti
nahkoda, dia bertanggung jawab penuh setiap saat selama jam
tugasnya terhadap keselamatan kapal dan patuh terhadap Collision
Regulation 1972 dan Regulation II/1 dari STCW 1978 as amended in
2010.
Dalam dunia pelayaran kita mengenal istilah Brigde Resource
Management (BRM) atau Bridge Training Management (BTM),
dimana BRM/BTM ini adalah suatu esensial pelatihan untuk individu
perwira di atas kapal dalam melakukan suatu pelayaran. BRM adalah
bagian dari Manajemen pengelolaan dan pengefektifan dari sumber
daya yang ada di atas kapal termasuk SDM dan Sumber Daya
Peralatan, dimana pelatihan ini bertujuan agar pelayaran yang
sedang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan aman. Dalam hal
ini penulis merasa tergugah untuk mengadakan penelitian mengenai
pelaksanaan dinas jaga dengan judul ( ANALISIS IMPLEMENTASI
BRM PADA SAAT NAVIGASI DINAS JAGA LAUT ).

1
2

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka adapun
rumusan masalah dalam penulisan ini adalah Bagaimana
implementasi BRM pada saat bernavigasi dinas jaga laut di PSV.S
Panglima ?
C. Tujuan Penelitian
Suatu kegiatan yang baik tentu mempunyai tujuan yang ingin
dicapai dan diperoleh. Demikian juga dalam penulisan skripsi ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi BRM saat
bernavigasi dinas jaga laut..
D. Manfaat Penelitian
Dengan diadakannya penelitian dan penulisan ini, penulis
berharap beberapa manfaat yang ingin dicapai, antara lain :
1. Secara Teoritis
Lebih memperdalam dan mengembangkan pengetahuan
mengenai implementasi BRM ketika bernavigasi dinas jaga laut.
2. Secara Praktis
Dengan penelitian ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi
pembaca mengenai BRM dan bagaimana cara untuk
menerapkannya pada saat bernavigasi dinas jaga laut.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Implementasi
Implementasi adalah penerapan atau pelaksanaan.
Implementasi juga bisa diartikan sebagai tindakan untuk menjalankan
rencana yang telah di buat. Implementasi berasal dari kata “
implement “ yang berarti kegiatan yang dilakukan melalui
perencanaan dan mengacu pada aturan tertentu untuk mencapai
tujuan suatu kegiatan. pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah
disusun secara matang dan terperinci. Implementasi biasanya
dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap sempurna. Menurut
Nurdin Usman, implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi,
tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan
sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk
mencapai tujuan kegiatan.
Menurut Purwanto dan Sulistyastuti, Implementasi intinya
adalah kegiatan untuk mendistribusikan keluaran kebijakan (to deliver
policy output) yang dilakukan oleh para implementor kepada
kelompok sasaran (target group) sebagai upaya untuk mewujudkan
kebijakan. Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan
sudah dianggap fix. Implementasi juga bisa berarti pelaksanaan yang
berasal dari kata bahasa Inggris Implement yang berarti
melaksanakan.
Bahwa dapat disimpulkan implementasi ialah suatu kegiatan
yang terencana, bukan hanya suatu aktifitas dan dilakukan secara
sungguh-sungguh berdasarkan acuan normanorma tertentu untuk
mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, impelementasi tidak
berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya yaitu
kurikulum. Implementasi kurikulum merupakan proses pelaksanaan
ide, program atau aktivitas baru dengan harapan orang lain dapat

3
4

menerima dan melakukan perubahan terhadap suatu pembelajaran


dan memperoleh hasil yang diharapkan.
No Faktor-Faktor yang mempengaruhi implementasi
1. Sejauh mana kepentingan sebuah grup sasaran tertentu
termuat dalam isi kebijakan.
2. Dan jenis dari manfaat yang diterima oleh sasaran grup.

3. Sejauh mana sebuah perubahan yang ingin tercapai dari


sebuah kebijakan.
4. Apakah letak sebuah program tertentu sudah tepat.

Suatu unsur perubahan merupakan contoh karakteristik yang


paling penting setidaknya dalam beberapa hal, implementasi akan
dipengaruhi sejauh mana suatu perencanaan kebijakan menyimpang
dari kebijakan-kebijakan yang sudah ada dan diterapkan sebelumnya,
untuk hal ini perubahan yang dilakukan lebih cenderung menimbulkan
tanggapan positif daripada perubahan yang terlalu signifikan dan
rasional atau bisa disebut drastis. Hal ini sangat berbeda dengan
perubahan yang didasarkan pada keputusan rasional yang lebih
berorientasi pada perubahan besar dan mendasar. Akibatnya peluang
terjadi konflik maupun ketidak sepakatan antara pelaku pembuat
kebujakan akan sangat besar.
Proses implementasi akan dipengaruhi oleh jumlah perubahan
organisasi yang diperlukan. Implementasi yang efektif akan sangat
mungkin terjadi jika lembaga pelaksana tidak diharuskan melakukan
progenisasi secara derastis. Kegagalan program-program sosial
banyak berasal dari meningkatnya tuntutan yang dibuat terhadap
struktur-struktur dan prosedur-prosedur administratif yang ada.
Hasil implementasi akan maksimal jika penerapan dilakukan
sesuai rencana sebelumnya, akhirnya implementasi bermuara pada
sistem atau mekanisme. Termasuk dalam hal penerapan jam jaga,
jam kerja, dan jam istirahat bagi seluruh awak kapal. Agar nantinya
dapat tercapai suasana kerja yang kondusif selama pelaksanaan
5

navigasi dinas jaga.


B. BRM ( Bridge Resource Management )
Bridge resource management adalah bagaimana
mempersiapkan keselamatan navigasi yang dilakukan dengan baik
oleh nakhoda dan didukung oleh para perwira serta awak kapal yang
senantiasa mengusahakan kapal dalam kondisi terkontrol dengan
baik.

Tujuan bridge resource management mampu menerapkan


kewaspadaan sehingga dapat bernavigasi dari suatu dermaga ke
dermaga lain dengan aman dan selamat sesuai arah yang
ditujumampu mempersiapkan keselamatan navigasi dengan
baikmampu melaksanakan standard dan system yang berlaku mampu
mendeteksi kemungkinan kecelakaan yang akan terjadi.

NO Contoh dari tujuan BRM

1. Meningkatkan dan memastikan keamanan dan keselamatan


navigasi diatas kapal, jiwa para crew, dan harta benda ketika
berada dilaut.

2. Tiba di pelabuhan yang dituju dengan tepat waktu

3. Menghindari konsekuensi kehilangan total yang dapat terjadi

4. Menjaga dan melindungi ekosistem dan lingkungan laut dari


terjadi nya pencemaran

5. Membuat kerjasama grup atau tim serta pembagian tugas dan


tanggung jawab yang ada antara perwira deck dalam
melaksanakan tugas dianjungan dengan dipenuhi rasa disiplin
dan memiliki tanggung jawab penuh.

Elemen sederhana yang didapatkan untuk memenuhi suatu


kerjasama yang baik yaitu, terdapat komando, kemampuan suatu
personil, sarana alat navigasi yang tersedia.

Kelemahan organisasi anjungan dan pengelolaannya disebut


6

sebagai salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan laut di


seluruh dunia, kecelakaan operasional sering sekali disebabkan oleh
kesalahan pengelolaan sumber daya manusia atau yang biasa
disebut human error. Maka dengan ada nya BRM / BTM yang
mempunyai peran untuk mengurangi resiko kecelakaan laut dengan
membantu awak kapal yang bertugas di anjungan mengantisipasi dan
secara tepat menanggapi dan menangani situasi kapal yang sewaktu-
waktu dapat berubah kapan saja.

Dan darimana kita sebagai pelaut bisa melaksanakan BRM


diatas kapal dengan baik dan tepat sesuai aturan yang berlaku,
jawabannya adalah dengan mengambil sertifikat BRM. Yang tujuan
utamanya mengambil sertifikat dan diklat BRM adalah untuk
mengurangi resiko kecelakaan di laut dengan fokus pada pencegahan
korban dan kesalahan manusia, karena kecelakaan dilaut 80% nya
disebabkan oleh faktor dari kesalahan manusia nya atau yang biasa
disebut dengan “Human Error”. Dalam diklat dan pelatihan
pengambilan sertifikat BRM kita akan dilatih dalam aspek teori
perilaku manusia berpusat di sekitar faktor pada manusia. Penekanan
lebih lanjut dari teori ini akan melalui penggunaan praktis keadaan
simulasi jembatan seni. Program ini mengikuti STCW (2010) Manila
amandemen IMO.

NO Faktor Manusia

1. Kepuasan

2. Ketegasan

3. Komunikasi

4. Kesadaran Situasional

5. Kerja sama

6. Kepemimpinan

7. Perencanaan
7

8. Tanggung Jawab

9. Coping Stress

10. Pengelolaan Sumber Daya

Tujuan dari kewaspadaan awak kapal membawa sebuah kapal


sehingga dapat sampai dengan selamat kearah yang [Link]
halnya pengetahuan mengenai keahlian dasar lainnya , maka tugas
jaga anjungan harus di dukung dan di tetapkan. Berbagai tindakan
harus diambil dianjungan mengenai pertukaran informansi yang
kurang kritis antara Nakhoda dan para perwira tugas jaga dalam hal
terjadi perubahan hubungan kerja dimana asumsi yang dibuat tanpa
diperiksa terlebih dahulu Ketika anjungan telah mulai beroperasi
terkesan bahwa semuanya telah berlangsung dengan baik. Namun
jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dan kebingungan
meningkat maka segalanya menjadi lebih sulit untuk diputuskan dan
kemungkinan muncul dapat menjadi penyimpangan yang berakibat
kecelakaan.
Kecelakaan kapal lebih sering terjadi karena alasan Human
Error, maka dari ini, pelaut merupakan salah satu aset yang sangat
berpengaruh dalam dunia pelayaran selain kapal itu sendiri. Dalam
dunia pelayaran kita mengenal istilah Brigde Resource
Management (BRM) atau Bridge Training Management (BTM),
dimana BRM/BTM ini adalah suatu esensial pelatihan untuk individu
perwira di atas kapal dalam melakukan suatu pelayaran. Apa sih
BRM/BTM ini dan kenapa diperlukan sekali? BRM ini adalah bagian
dari Manajemen pengelolaan dan pengefektifan dari sumber daya
yang ada di atas kapal termasuk SDM dan Sumber Daya Peralatan,
dimana pelatihan ini bertujuan agar pelayaran yang sedang dilakukan
dapat berjalan dengan baik dan aman.
Perencanaan pelayaran merupakan elemen penting dari "Bridge
8

Team Management” sebagai dasar bagi tim di anjungan untuk


memastikan perjalanan kapal yang aman sepanjang rute yang
diinginkan. Sebuah rencana perjalanan (passage plan) yang
komprehensif, panduan sandar untuk pelabuhan, dikembangkan dan
digunakan oleh tim anjungan kapal untuk menentukan rute yang
paling menguntungkan, mengidentifikasi masalah potensial atau
bahaya di sepanjang rute, dan praktek manajemen anjungan untuk
memastikan jalur aman kapal.
Bridge Resources Management (BRM) menjelaskan bagaimana
mempersiapkan keselamatan navigasi dilakukan dengan baik, yang
diarahkan oleh Nakhoda, dan didukung oleh para perwira dan awak
kapal yang selalu mengusahakan keadaan kapal dalam kondisi
terkontrol dengan baik, dan didukung oleh pandu. Mungkin metode ini
terlalu menekankan agar perwira dan awak kapal dapat
merencanakan pelayaran berikutnya dengan sebaik baiknya.
Sedangakan tugas yang dijalankan sangat penting, tapi sumber daya
yang ada tidak [Link] masalah tersebut diatas hanya
dapat dipecahkan memenuhi persyaratan yang menjamin
keselamatan navigasi dan penempatan segala system berdasarkan
prosedur yang berlaku.
Implementasi dari Bridge Resources Management (BRM)
adalah pengenalan terhadap standar yang sesuai yang hanya dapat
diterapkan jika navigasi didasarkan pada prinsip-prinsip dan diperkuat
oleh organisasi yang efektif. Dalam hal ini semua perwira-perwira
kapal membuat kemungkinan yang terbaik dalam menggunakan
sumber-sumber yang tersedia, yaitu Sumber Daya Manusia dan
peralatan Navigasi yang tersedia, untuk mencapai keberhasilan
pelayaran secara menyeluruh sistem elektronik yang modern dapat
digunakan untuk mengoptimalkan tugas–tugas dianjungan dan
menjadi penyeimbang semua tugas yang dilaksanakan anjungan.
Penyeimbang tersebut tergantung dari rancangan system, yang dapat
9

dipercaya dan pengetahuan dari para perwira jaga menggunakan


secara tepat. Keutuhan system–system harus disatukan dalam
organisasi anjungan sehingga tidak ada kemungkinan terjadinya
kecelakaan yang tidak terdeteksi sejak dini. Semua anggota team
harus mempunyai [Link] management dan seluruh peralatan
dianggap interaksi antara kewajiban dan system kerja. Hal itu tidak
berarti bahwa suatu tindakan management dilakukan oleh satu orang
tetapi merupakan adaptasi dari semua anggota team untuk berperan
seperti yang di tugaskan. ntuk mencapai hasil yang maksimal ada
beberapa factor yang harus diperhatikan yang meliputi pengetahuan
teknis, keahlian–keahlian dan juga people skills yang terlibat didalam
pengembangan sumber daya manusia. Didalam keahlian–keahlian
teknis, pertimbangan harus diberikan terhadap teknik–teknik yang
meliputi persiapan–persiapan untuk melaksanakan pelayaran yang di
rencanakan.
Keahlian–keahlian yang berhubungan dengan pengembangan
sumber daya manusia terdapat pada publikasi–publikasi
[Link]–prinsip dasar dari komunikasi dan pengaturan Sumber
daya manusia yang baik penting untuk dijalankan secara efisien oleh
team, tidak hanya dilakukan dianjungan sebuah kapal. Dengan
adanya kebijakan–kebijakan yang berlaku sekarang, keahlian–
keahlian ini harus dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan–
keterbatasan struktur tingkatan hirarkis secara tradisional. Officer On
Watch harus familiar dengan peralatan navigasi dan semua peralatan
pendukung lainnya dalam melaksanakan tugas jaga navigasi,
termasuk karakteristik dan kemampuan serta keterbatasan yang
dimiliki kapal.
As listed in annex 2 in the Convention on Standards of Training
Certification and Watckeeping 1987, specially, the primary
responsibility of the OOW is stated as follows:
“The officer of the watch is the master’s representative and his
10

primary responsibility at all time is the safe navigation of the ship. He


should at all times comply with the applicable regulations for
preventing collision at sea”.

No Tugas Jaga Officer On Watch

1. Look out (pengawasan keliling).

2. Position fixing (penentuan posisi kapal).

3. Pengawasan umum terhadap kapal sendiri (General surveillance)

4. Implementasi Colregs. (aturan pencegahan tubrukan).

5. Tugas Jaga Radio.(apabila operator radio dirangkap oleh OOW).

C. Navigasi Dinas Jaga Laut


Pelaksanaan dinas jaga yang dilakukan oleh petugas jaga di
kapal pada waktu kapal sedang berlayar atau sandar telah diatur oleh
perusahaan dan kapal dalam tugas dan tanggung jawabnya.
Mengingat pentingnya penerapan prosedur dinas jaga yang
benar dan tepat di atas kapal, yang dalam hal ini menyangkut
penerapan aturan- aturan dan pelaksanaan aturan itu sendiri. Setiap
awak kapal terutama seorang mualim harus memahami betul tentang
organisasi kerja di kapal, termasuk dalam hal ini mengenai peraturan
jam jaga, jam kerja dan jam istirahat. Tentunya aturan-aturan yang
dibuat ini mengacu terhadap aturan yang telah ditetapkan dan
disepakati secara internasional.

Setiap kewajiban-kewajiban selama tugas jaga haruslah selalu


dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Hal ini
dimaksudkan agar terciptanya kondisi kerja yang baik .
Menurut Undang-Undang R.I Nomor 17 Tahun 2008 tentang
pelayaran, Keselamatan dan Keamanan Pelayaran adalah suatu
11

keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang


menyangkut angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan lingkungan
maritim.
Dalam Chapter VIII STCW 1978 as amended in 1995 Section A-
VIII /2 Part 3-Watchkeeping at Sea :
“The Master of Every ship bound to ensure that watckeeping
arrangements are adequate for maintaining a safe navigational
watch. Under the master’s general direction, the officer of the
navigational watch are responsible for navigating the ship safely
during their periods of duty when they will be particulary
concerned with avoiding collision and stranding”.
Pengaturan tugas jaga laut yaitu menentukan komposisi petugas jaga
termasuk bawahan yang ikut serta beberapa faktor yang harus
menjadi pertimbangan :
a. Anjungan tidak boleh ditinggalkan kosong
b. Penggunaan dan kondisi operasional navigasi
c. Apakah dilengkapi dengan kemudi otomatis
d. Keadaan khusus yang mungkin terjadi, sehubungan
dengan operasi kapal yang tidak sebagaimana biasanya
Adapun kewajiban bagi yang melaksanakan tugas navigasi
terkhususnya perwira diatas kapal :
a. Tidak boleh meninggalkan anjungan sebelum digantikan oleh
perwira pengganti
b. Terus melaksanakan tanggung jawab walaupun Nahkoda ada di
anjungan kecuali secara tegas Nahkoda mengambil alih
c. Jika ragu-ragu terhadap apa yang akan dilakukan, segera
memberitahu Nahkoda.
d. Selalu memeriksa Haluan, posisi dan kecepatan dengan
menggunakan peralatan yang sesuai
e. Mengetahui sepenuhnya letak alat navigasi dan
pengoperasiannya serta keterbatasan alat-alat tersebut
12

f. Menggunakan alat navigasi seefektif mungkin


g. Tidak boleh diberi tugas lain yang mengganggu keselamatan
navigasi
h. Mencatat semua kegiatan yang berkaitan tentang navigasi
i. Mempergunakan alat komunikasi dengan baik dan relevan
Perwira dinas jaga navigasi harus selalu mematuhi SOLAS
1974, harus bisa mempertimbangkan untuk menempatkan seseorang
untuk mengganti kemudi otomatis dengan kemudi tangan dalam saat
yang tepat untuk mencegah bahaya yang akan timbul.
Pada saat menggunakan kemudi otomatis tidak boleh membiarkan
berkembang sampai pada tingkat berbahaya sedangkan bantuan
tidak dapat segera datang ke anjungan.
Dinas jaga adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan urusan
pekerjaan jawatan, sedang bertugas, bekerja. Jaga adalah bertugas
menjaga keselamatan dan keamanan lingkungan sekitar. dinas jaga
adalah tanggung jawab untuk kegiatan keamanan di pelabuhan atau
dermaga atau pada saat kapal berlayar untuk mencegah atau
meminimalkan resiko dari pencurian atau resiko lain yang
berhubungan dengan hal itu. Dari definisi di atas pengertian dinas
jaga adalah suatu pekerjaan jaga yang dilakukan di kapal atau di
pelabuhan untuk menciptakan situasi dan kondisi agar aman dan
terkendali.
Adapun beberapa situasi dan peraturan dinas jaga untuk
mualim dan jurumudi di jenis-jenis kapal yang berbeda, seperti
contohnya di kapal PSV. S Panglima yang waktu jaga nya terbagi
menjadi 2 bagian jam jaga anjungan.
Jam jaga PSV. S Panglima Periode 2021
06:00 - 12:00 = Junior 2nd Officer & Master
12:00 - 18:00 = Senior 2nd Officer & Chief Officer
18:00 - 24:00 = Junior 2nd Officer & AB
24:00 - 06:00 = Senior 2nd Officer & AB
13

Pertukaran jaga dilakukan dengan menyerah terimakan jaga dari


perwira jaga lama kepada penggantinya. Perwira jaga baru akan di
bangunkan 30 menit sebelumnya. Setelah berada di anjungan harus
melihat haluan kapal, lampu suar perintah Nakhoda, membiasakan
diri dengan situasi yang ada. Mualaim yang diganti dengan
menyerahkan jam jaganya dengan memberikan informasi yang
diperlukan seperti posisi akhir, Cuaca, kapal lain dan hal–hal lain
yang dipandang perlu.
Sebagai Catatan, Mualim jaga setelah selesai jaganya harus
meronda kapal, terutama pada malam hari misalnya pemeriksaan
peranginan palka, kran–kran air, cerobong asap, lashingan muatan.
Dan mualim jaga harus lakukan ketika melakukan jaga dan naik
ke anjungan adalah :
1. Memeriksa posisi kapal, Kesalahan Kompas, haluan yang di
kemudikan dan semua peralatan navigasi di anjungan.
2. Memeriksa keadaan keliling, perairan, benda–benda
navigasi, kapal dan lain–lain.
3. Membawa kapal dengan selamat sesuai dengan peraturan
nasional maupun internasional dalam penyimpangan.
4. Memangamati dengan baik dengan panca Indra keseluruhan
kapal dan sekitarnya serta bertindak yang sesuai.
5. Melaporkan kepada Nakhoda jika terjadi situasi meragukan.
6. Menjaga keamanan dan keselamatan kapal, penumpang,
muatan antara lain : menentukan posisi kapal secara rutin,
melashing muatan dan lain – lain.
7. Menjalankan perintah Nakhoda antara lain : tidak dikenankan
meninggalkan anjungan tanpa diganti mualim yang lain atau
Nakhoda, pada lazimnya Nakhoda telah membuat ” Standing
Orders” yang harus dilaksanakan oleh semua mualim.
8. Menjalankan peraturan pada saat itu antara lain : melakukan
tindakan berjaga – jaga yang baik sesuai aturan – aturan
14

yang ada di dalam P2TL dan lain – lain.


9. Berko’ordinasi dengan perwira jaga mesin (masinis jaga).
10. Dalam situasi darurat harus memberitahukan kepada
Nakhoda.

Tugas yang harus dilakukan seorang mualin jaga pada saat


jaga di atas kapal dengan situasi-situasi berikut :
1. Pencegahan Bahaya Kandas
a. - Memberi Merkah pada bahaya-bahaya navigasi (No go
area),
b. - Penentuan posisi kapal secara teratur dan tepat,
c. - Perwira navigasi harus menguasai alat-alat navigasi,
d. - Peta yang digunakan harus up to date,
e. - Memperhatikan arus pasang surut daerah setempat.
2. Pencegahan Bahaya Tubrukan
a. Melakukan pengamatan sekeliling kapal.
b. Apabila mengadakan penyusulan kapal lain,maka kita
harus menyimpang kapal lain yang disusul,
c. Pada siang hari melihat kapal lain segaris atau hamper
segaris dengan kapal kita,atau pada malam hari melihat
kedua lampu lambung kapal lain,maka kita harus
menghindar dengan perubahan haluan yang cukup
besar,tegas dalam waktu yang cukup dini.
d. Apabila kita melihat lampu merah kapal lain dilambung
kanan,maka kita harus menyimpang pada jarak yang
aman.
Dalam STCW Code mengenai asas pokok tentang dinas jaga
salah satu asas yang perlu diperhatikan adalah pengamatan .
Yang dimaksud dengan pengamatan yang layak yaitu :
Sesuai dengan aturan 5 P2TL tiap kapal harus senantiasa melakukan
15

pengamatan yang cermat, baik dengan penglihatan dan pendengaran


maupun dengan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan
dan suasana sebagaimana lazimnya, sehingga dapat membuat
penilaian yang layak terhadap situasi dan bahaya tubrukan.

Hal – hal yang diperlukan adalah :


1. Menjaga kewaspadaan secara terus menerus dengan
penglihatan, pendengaran dan dengan sarana lain yang
ada, sehubungan dengan setiap perubahan penting
dalam hal suasana pengopersian
2. Memperhatikan sepenuhnya situasi-situasi dan resiko-
resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi lain.
3. Mendeteksi kapal-kapal atau pesawat terbang yang
sedang berada dalam bahaya, orang-orang yang
mengalami kecelakaan kapal, kerangka kapal, serta
bahaya-bahaya lain yang mengancam navigasi.
Dalam pelaksanaan tugas jaga laut situasi dan kondisi dan hal-
hal lain yang harus diperhatikan adalah :
1. Jarak tampak keadaan cuaca dilaut.
2. Kepadatan lalu-lintas dan aktivitas-aktivitas lain yang
terjadi didaerah dimana kapal sedang melakukan
navigasi.
3. Perhatian yang perlu jika sedang melakukan navigasi
didalam atau dekat jalur-jalur pemisah lalu-lintas atau
langkah-langkah lain yang berkaitan dengan penentuan
rute.
4. Bahaya-bahaya navigasi.
5. Kemampuan operasional instrumen-instrumen dan alat-
alat pengendali dianjungan termasuk system bahaya.
6. Daun kemudi, baling-baling serta sifat olah gerak kapal.
16

7. Ukuran kapal dan medan pandang dari tempat


pengamatan.
Efisiensi dan efektivitas jaga anjungan harus diatur berdasarkan
“Bridge Resource Management Principles”.
Yang dimaksud adalah :
1. Jumlah yang memadai dari orang-orang yang cakap
dalam melaksanakan tugas jaga.
2. Semua anggota pada tugas jaga navigasi harus
mempunyai kecakapan yang memadai dan FIT untuk
menampilkan pekerjaan secara efektif dan efisien.
3. Tugas-tugas harus dilaksanakan sesuai perintah yang
jelas.
4. Tidak ada seorangpun dari petugas jaga navigasi diberi
tugas lain.
5. Setiap orang pada jaga navigasi harus ditempatkan pada
lokasi yang paling baik untuk melaksanakan tugasnya
lebih efektif dan efisien.
6. Pesawat-pesawat dan peralatan harus selalu siap pakai
untuk melaksanakan tugas jaga navigasi.
7. Komunikasi antar anggota tugas jaga navigasi harus jelas,
segera benar dan relevan dengan tugas masing-masing.
8. Semua peralatan di anjungan harus dijalankan dengan
baik.
9. Kegiatan yang mengganggu tugas jaga harus
dihindarkan.
10. Semua informasi harus dihimpun , diproses dan
diinterprestasikan.
11. Setiap anggota tugas jaga navigasi disiapkan untuk
merespon secara efisien dan efektif bila ada perubahan-
perubahan sekeliling kapal.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan waktu sedang bertugas
17

jaga khususnya yang berkenaan dengan :


Peralatan Navigasi :
1. Alat-alat navigasi harus siap dan dalam kondisi baik.
2. Familiar dalam mengoperasikan semua alat navigasi.
3. Penentuan posisi dengan alat navugasi harus cross check
dengan baringan darat.
4. Kesalahan-kesalahan alat navigasi dalam penentuan
posisi harus dikoreksi dalam jarak pendang terbatas, jarak
di RADAR harus di monitor seteliti mungkin.
5. Bila ada oblect/target yang diragukan pada RADAR
laporkan pada nakhoda.
6. Dapatkan posisi dengan menggunakan alat penerima
omega, decca, loran, GPS.
7. Dapatkan posisi dengan mengunakan system navigasi
satelit.
8. Bandingkan posisi dengan menggunakan posisi DR.

Menyerahkan & Menerima Tugas Jaga :


1. Jangkakan posisi duga selama pada haluan yang sedang
dilayari.
2. Periksa status semua peralatan navigasi.
3. Periksa lalu-lintas kapal disekitar dengan RADAR.
4. Secara lisan, berikan informasi mengenai status kapal-
kapal disekitar kepada perwira yang akan menggantikan
tugas jaga.
5. Pastikan bahwa perwira yg akan melaksanakan tugas
baru telah menerima tanggung jawab tugas jaga dengan
seksama.
6. Masukkan informasi yang tepat kedalam buku jurnal kapal
(log book).
18

D. Kerangka Pikir

Bagaimana Mengimplementasi BRM Pada Saat


Dinas Jaga Laut

Keuntungan Ketersediaan Alat- Sumber Daya


Implementasi BRM Alat Navigasi Manusia ( Mualim )

Tahap Persiapan

Tahap Perencanaan

Tahap Pelaksanaan

Implementasi BRM Pada Saat Navigasi Dinas


Jaga Laut

Telah di Kurang di Tidak di


Implementasikan Implementasikan Implementasikan

E. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka
hipotesis dalam penelitian ini adalah apakah para awak kerja
anjungan kapal sudah mengimplementasikan BRM dalam dinas jaga
laut.
19
BAB III

METODE PENULISAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian dilakukan di atas kapal selama 9 bulan.

2. Penelitian dilakukan pada waktu praktek laut (prala) di atas kapal

PSV. S PANGLIMA

B. Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan skripsi ini data dan informasi yang

dikumpulkan diperoleh melalui :

1. Metode Lapangan (Field Research) yaitu dilakukan dengan cara

peninjauan langsung pada obyek yang diteliti. Data dan

informasi dikumpulkan melalui metode Observasi, yaitu

mengadakan perbandinga secara langsung di lapangan yang

diperoleh penulis selama melaksanakan penelitian di Kapal

PSV S PANGLIMA

2. Studi Kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang

dilakukan dengan cara membaca dan mempelajari literature,

buku- buku dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan

masalah yang dibahas, serta teori-teori yang diperoleh selama

mengikuti proses pembelajaran di Politeknik ilmu Pelayaran

Makassar.

3. Metode Internet Searching, Yaitu penelitian atau pengkajian yang

19
20

dilakukan dengan cara mencari sumber dari internet dengan

sistem Searching yang berkaitan dengan materi yang dikaji.

Untuk mecapai sebuah landasa teori yang sesuai dengan judul

proposal penelitian “Analisis Implementasi BRM Pada Navigasi

Dinas Jaga Laut”.

C. Data Jenis dan Sumber

Untuk menunjang kelengkapan pembahasan penulisan ini

diperoleh data dan sumber :

1. Data Primer

Data Primer merupakan data yang diperoleh dari hasil

pengamatan dan penerapan langsung. Data penelitian ini

diperoleh dengan cara metode survey dan praktek, yaitu dengan

mengamati dan menerapkan, mengukur dan mencatat secara

langsung di lokasi penelitian.

2. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data lengkap dari data primer

yang di dapat dari sumber kepustakaan seperti literatur, bahan

kuliah dan data dari perusahaan serta hal-hal lainnya yang

berhubungan dengan penelitian.


21

D. Langkah-Langkah Analisa Data

Kegiatan yang dilakukan setelah memulai langkah untuk

menganalisa yaitu mengadakan praktek laut pada Kapal PSV. S

PANGLIMA untuk mengetahui situasi dengan bekal pengetahuan dari

apa yang didapat lewat studi kepustakaan.

Selanjutnya penulis memulai mengidentifikasi masalah-masalah

yang ada dan menetapkan apa yang menjadi tujuan dan masalah yang

penulis temui, maka dapat menentukan metode penelitian yang

sesuai.

Dari apa yang penulis peroleh sesuai dengan langkah-langkah diatas,

maka penulis dapat mengumpulkan data yang berkaitan dengan

penelitian yang dilakukan. Data yang telah diperoleh diolah sesuai

dengan teori dan metode yang telah penulis tetapkan dari awal

sebelum penulis mengumpulkan data. Data yang diolah kemudian

penulis analisa hasil yang diperoleh dengan membandingkan hasil-

hasil dari disiplin teori yang penulis gunakan. Dari hasil perhitungan

yang penulis analisa kemudian penulis membuat pembahasan

mengenai hal tersebut.

Setelah semuanya dianggap selesai, maka penulis dapat

menarik sebuah kesimpulan dari apa yang telah penulis analisa dan

bahas. Kemudian penulis juga memberikan saran apa yang sesuai


22

dengan apa yang penulis simpulkan, dan ini dapat merupakan bahas

masukan dalam Pengimplementasian navigasi pada Dinas Jaga Laut.

Barulah langkah- langkah ini dianggap selesai.

1. Metode Interview

Pengertian interview yaitu sebagai proses tanya jawab

secara lisan yang dilakukan seseorang saling berhadapan dan

saling memberi dan menerima informasi. Interview sebagai alat

pengumpulan data, menghendaki adanya komunikasi langsung

antara penelitian dengan sasaran penelitian antara lain dengan

mualim I , mandor darat serta buruh darat. Interview adalah

metode pokok di dalam teknik pengumpulan data.

2. Metode Observasi

Di dalam suatu penelitian, selain menggunakan metode

pokok juga menggunakan perlengkapan untuk saling mengisi atau

melengkapi. Observasi adalah metode pelengkapnya. Teknik

observasi digunakan dengan maksud untuk mendapatkan atau

mengumpulkan data secara langsung mengenai gejala-gejala

tertentu dengan melakukan pengamatan serta mencatat data yang

berkaitan dengan pokok masalah yang akan diteliti. Observasi

yang penulis lakukan adalah dengan mengadakan pengamatan

langsung sewaktu penulis melaksanakan proyek laut di kapal. Di

samping itu observasi adalah alat pengumpulan data secara


23

langsung dan sangat penting dalam penelitian secara deskriptif.

E. Teknik Analisa Data

Metode analisa data yang penulis gunakan dalam penelitian ini

adalah analisa kualitatif, dimana data-data yang diperoleh disusun

secara sistematis dan teratur, kemudian penulis akan membuat

analisa agar diperoleh kejelasan tantang masalah yang dibahas

dalam penelitian ini. Alasan penulis membuat analisa kualitatif supaya

dalam penelitian ini diperoleh pengertian dan pemahaman tentang

masalah atau gejala yang diteliti agar dapat menjelaskan dan

mengungkapkan suatu kebenaran.

F. Metode Penarikan Kesimpulan

Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode penarikan

kesimpulan :

1. Induktif, yaitu berpikir dari hal-hal yang khusus kemudian

membawanya kepada kesimpulan yang bersifat umum. Sebagai

contoh : Penerapan BRM yang ada di PSV. S Panglima dapat

diterapkan untuk semua jenis kapal.

2. Deduktif, yaitu berpikir dari hal-hal yang umum kemudian

membawanya kepada simpulan khusus.


24

G. Metode Penulisan

Penyajian laporan skripsi ini menggunakan metode deskriptif yaitu

penulisan yang berisikan paparan dan uraian mengenai suatu objek

permasalahan yang timbul pada saat tertentu. Metode ini digunakan

untuk memaparkan secara rinci data yang diperoleh dengan tujuan

untuk memberikan informasi mengenai penanganan terhadap masalah

yang timbul berhubungan dengan materi pembahasan skripsi ini.


25
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Bridge Resource Management ( BRM ), atau yang bisa juga
disebut Bridge Team Management ( BTM ), adalah pengelolaan yang
efektif dan pemanfaatan semua sumber daya, secara personal atau
manusia dan teknis, sangat penting untuk awak kerja anjungan untuk
memastikan keamanan perjalanan pelayaran kapal hingga sampai
ditempat yang dituju. BRM berfokus pada keterampilan awak kerja
anjungan atau perwira sebagai pembentuk kerja sama tim,
membangun tim, komunikasi, kepemimpinan, pengambil keputusan,
dan pengelola sumber daya dan menggabungkan semua ini kedalam
gambaran yang lebih besar dari organisasi dan peraturan
pengelolaan.
BRM membahas tentang pengelolaan tugas-tugas operasional,
serta sikap dan resiko, disadari bahwa BRM mempunyai banyak
elemen efektivitas dan keselamatan kerja seperti :
a. Individu
b. Organisasi
c. Faktor pencegahan
Mereka harus mampu mengantisipasi dan memang
direncanakan untuk itu dan seorang perwira pelayaran memiliki
banyak sumber daya yang tersedia untuk dia membuat perencanaan
pelayaran yang aman. Berdasarkan data-data diatas penulis
mendapatkan beberapa temuan-temuan saat melakukan penelitian
dan penerapan pada Kapal PSV. S Panglima, dan temuan-temuan
tersebut akan dibahas sebagai berikut :
1. Apa sumber daya yang tersedia untuk dikelola dari dalam dan
luar Kapal PSV S panglima ?

25
26

i. Peralatan navigasi elektronik ( radar, echo sounder,


GPS/DGPS, gyro compass, AIS )
ii. Publikasi Peta
iii. Faktor lingkungan & Cuaca ( pasang surut air laut )
iv. Vessel Traffic Services ( VTS )
v. Perencanaan Pelayaran
vi. Peralatan Komunikasi dalam dan luar
vii. Personil anjungan ( Kapten, Mualim Jaga, Jurumudi )
2. Tujuan apa yang yang ingin dicapai pada penerapan BRM di
atas kapal PSV S panglima ?
i. Membagikan pandangan yang sama tentang pembagian
tugas yang telah disepakati bersama
ii. Mengembangkan dan menggunakan rencana pelayaran
terperinci guna mengantisipasi dan mengelola tuntutan
beban kerja serta resikonya.
iii. Menetapkan level crew kapal yang sesuai dan membuat
rencana darurat berdasarkan pada beban kerja dan resiko
yang akan diantisipasi ( Muster List )
iv. Menjelaskan peran dan tanggung jawab kepada awak kerja
anjungan ( perwira jaga & juru mudi )
v. Melibatkan semua crew untuk memecahkan suatu masalah
vi. Mendapatkan semua informasi yang relevan lebih awal dan
antisipasi situasi berbahaya
vii. Memahami dengan baik rantai komando, termasuk cara
pengambilan keputusan dan instruksi agar ditanggapi, dan
dilaksanakan
3. Dan bagaimana cara kapal PSV. S Panglima untuk
mengimplementasikan BRM pada saat dinas jaga laut ?
i. Membuat rencana pelayaran meliputi lautan, dan pesisir dan
membuat perhatian khusus untuk daerah perairan yang
ramai dan dangkal dimana rencana itu sesuai dengan
27

standar keselamatan dan rencana darurat untuk kejadian


tidak terduga
ii. Semua awak kerja anjungan (Perwira jaga & Jurumudi)
diberi pengarahan tentang rencana pelayaran dan diminta
untuk memahami rute yang akan dilalui
iii. Nahkoda membuat rencana pelayaran untuk mengantisipasi
beban kerja berlebihan untuk awak kerja anjungan dan
mengurangi resiko yang akan dihadapi
iv. Melaksanakan pelatihan untuk semua awak kerja anjungan (
Perwira jaga & Juru mudi ) dan mempastikan peran kerja
dan tanggung jawab, baik dalam rutinitas tugas atau
kewajibannya jika terjadi insiden atau hal darurat
v. Master Standing Order dibaca dan ditanda tangani sebelum
memulai aktivitas navigasi, terdapat pesan jelas di rantai
komando bagaimana keputusan dan instruksi berada di
anjungan atas sepengetahuan Nahkoda
vi. Memberikan kesempatan bagi para awak kerja anjungan
( Perwira Jaga & Juru mudi ) untuk meninjau kelebihan dan
kekurangan rencana pelayaran, dan membuat saran untuk
meningkatkan keamanan atau komunikasi dan
meningkatkan keterampilan awak kerja anjungan agar efektif
dalam memecahkan masalah.
B. Pembahasan
Dalam pengoperasian atau pengelolaan suatu kapal sering
ditemukan adanya kendala dan masalah yang bersifat berbeda satu
sama lain. Kendala dan masalah tersebut mempunyai pengaruh
terhadap kondisi didalam dan diluar kapal, didarat dan lingkungan
sekitar. Dari begitu banyaknya kendala dan masalah yang akan
terjadi ketika berada diatas kapal ini merupakan fakta yang harus
dicari suatu solusi atau penyelesaian yang baik dan tepat, karena jika
suatu tindakan penanganan terhadap suatu kendala atau masalah
28

tersebut dilakukan secara tidak optimal maka dapat diidentifikasikan


adanya kesalahan dalam pengelolaan sistem tersebut.
Seperti temuan-temuan yang dibahas pada data sebelumnya di
atas maka penulis menyimpulkan permasalahan yang akan di analisa
yaitu :
a. Tahap persiapan
b. Tahap perencanaan
c. Tahap pelaksanaan

Dengan analisa terhadap permasalahan di atas maka akan


diterangkan dalam pembahasan sebagai berikut :
a. Dalam tahap persiapan adalah dimana dalam tahap ini seuluruh
awak kerja anjungan yang bertugas harus melaksanakan
pengecekan segala sumber daya yang akan dipakai untuk
bernavigasi pada dinas jaga laut ( peta, publikasi navigasi,
peralatan navigasi, data-data kapal ), dan dalam hal ini awak
kerja anjungan Kapal PSV S Panglima telah melakukan
persiapan bernavigasi dan melakukan pelayaran.
b. Dalam tahap perencanaan, siapnya faktor individu merupakan
suatu hal penting dalam bernavigasi dinas jaga laut. Salah satu
pendukung agar satu individu memiliki kesiapan yang baik
adalah pendidikan dan pelatihan, kemampuan melakukan
pekerjaan profesi dengan baik, bergantung pada mutu dari
pendidikan yang diterima individu pelaku. Motivasi yang baik
sewaktu melaksanakan pendidikan dan pelatihan akan selalu
menghasilkan individu penuh dengan motivasi. Tapi hal ini dapat
dibedakan dalam kedua kelompok utama yang berbeda yaitu
pendidikan dan pelatihan. Maka dari itu awak kerja anjungan
yang kompeten dapat dilihat dari kepemilikan sertifikat Bridge
Resource Management ( BRM ) dan rata-rata yang memiliki
sertfikat BRM adalah perwira yang telah mengikuti pendidikan
dan pelatihan yang melibatkan pengembangan profesi yang
29

akan digeluti nya kelak, sesuai standar internasional yang telah


ditetapkan.
c. Dalam tahap pelaksanaan, kelengkapan dari sumber daya
sarana dan prasarana serta pengelolaan organisasi yang
memadai menjadi faktor kunci untuk bernavigasi pada dinas jaga
laut.

Maka hal yang dapat memecahkan pembahasan sesuai data-


data yang di atas, sehingga dapat menerapkan BRM pada navigasi
dinas jaga laut adalah :
1. Mengerti apa saja keuntungan jika kapal menerapkan atau
mengimplementasikan BRM pada navigasi dinas jaga laut
dengan baik dan benar, diantaranya :
i. Sanggup mempertahankan kewaspadaan situasional
ii. Dapat terus memantau perkembangan perjalanan kapal dan
membuat penyesuaian dan koreksi yang sesuai secara tepat
iii. Dapat terus mempertahankan passage plan yang aman
iv. Mendapatkan informasi yang relevan secara tepat
v. Dapat memposisikan pekerjaan dan wewenang dengan
tepat
vi. Dapat cepat tanggap dalam menghadapi situasi berbahaya
vii. Dapat menghindari perubahan tujuan secara organisasi
[Link] melaksanakan rencana kemungkinan terjadi nya hal
darurat yang sesuai
ix. Mengenal kesalahan yang terjadi dan dapat menghentikan
perkembangannya
x. Dapat mengambil tindakan yang tepat untuk memutus rantai
kesalahan yang terjadi
2. Memahami prinsip pengelolaan manajemen yang baik,
diantaranya :
i. Berbagi pandangan tentang tujuan bersama
ii. Pemahaman peran dan tanggung jawab individu
30

iii. Pembentukan organisasi yang efektif


iv. Memiliki rasa kebersamaan tim dalam mencapai tujuan

Pelatihan BRM/BTM berfokus pada pengembangan SDM di atas


kapal seperti Teamwork, teambuilding, Communication, leadership,
dan decision-making skill. Tidak terlepas juga bahwa di dalam
pelatihan BRM/BTM juga dimasukkan gambaran secara luas antara
manajemen organisasi dan peraturan yang berlaku. Dalam level
operasionalnya, BRM/BTM juga memiliki peran dalam
mengidentifikasi stress, sikap, dan resiko dalam individu terkait dalam
satu voyage plan yang akan dilakukan hingga kapal
menyelesaikan voyage plan yang dimaksud.
31
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan oleh penulis serta adanya
beberapa temuan-temuan penelitian maka dapat disimpulkan
bahwa penerapan atau implementasi BRM pada navigasi dinas
jaga laut pada kapal PSV. S Panglima itu sudah memenuhi terapan
pengaplikasian BRM pada kegiatan navigasi dinas jaga laut bagi
awak kerja anjungan baik untuk perwira jaga maupun juru mudi
yang sedang bertugas di anjungan seperti telah memenuhi tahap
persiapan dengan baik, tahapan perencanaan dan pelaksanaanya
selalu menerapkan unsur-unsur yang menjadi tujuan di
implementasikannya BRM.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran sebagai peneliti
dan penulis yang mengambil judul ini sebagai bahan penelitian skripsi
yaitu :
1. Pertahankan apa yang telah menjadi suatu kebiasaan baik yaitu
dengan mengimplementasikan BRM pada kegiatan navigasi
dinas jaga laut
2. Selalu menerapkan BRM untuk kebaikan bersama sebagai tim
kerja diatas anjungan
3. Kembangkan jika merasa ada suatu kekurangan dalam
penerapan BRM agar menjadi jauh lebih baik lagi kedepannya

31
DAFTAR PUSTAKA

Daniel S. Parrott, (2011), Bridge Resource Management For Small


Ships, United States of America.
Balley, (2004), Bridge Team Management, London: The Nautical
institute
[Link], (2001), Olah Gerak Dan Pengendalian Kapal, Politeknik
Ilmu Pelayaran Makassar.
Badan Diklat Perhubungan, (2000), Modul International safety
Management Code.
Poerdaminta, W.J.S, (1982), Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar. (2016). Pedoman Penulisan
Skripsi. Makassar : PIP Makassar.
NWEA, (2009), Guidelines For The Safe Operation Of Dinamically
Positioned Offshore Supply Vessel. Version 2 Point 9.2
Training And Competency.
Lautan Tenang Jaya, (2020), ( T-BOSIET )Tropical Basic Offshore
Safety Induction and Emergency Training, Jakarta,
Indonesia. Diklat pada tahun 2020.
Koneksea, (2021), Crew Management and Bridge Resource
Management.
(Online)[Link]
resource-management-brm/
Google Power Point, (2021), Navigation Safety-Bridge Resource
Management.
(Online)[Link]
pages/50/attachments/original/1436195046/08_-
_Navigation_safety_2_-_Bridge_Resource_Management.pdf?
1436195046
SAFETY4SEA, (2021), Apa yang dimaksud (BRM) Bridge Resorce
Management ?

32
33

(Online)[Link]
LAMPIRAN

Lampiran 1 : Nahkoda / Master memberikan Briefing atau Pengarahan


Kepada awak kerja anjungan ( Mualim & AB )
Sumber ; PSV. S Panglima, 2021

33
34

Lampiran 2 : Pengecekan kondisi & kesiapan alat navigasi dinas jaga


laut, sebelum melaksanakan kegiatan navigasi.

Sumber : PSV. S Panglima, 2021


35

Lampiran 3 : Radio VHF alat untuk berkomunikasi pada saat


bernavigasi dinas jaga laut.

Sumber : PSV. S Panglima, 2020


36

Lampiran 4 : Dynamical Positioning checklist & testing


Sebagai manouver tambahan

Sumber : PSV. S Panglima, 2020


37

Lampiran 5 : Nahkoda memberikan pelatihan dan penjelasan


Tentang alat keselamatan yang berada dibagian luar anjungan.

Sumber : PSV. Panglima, 2021


38

Lampiran 6 : Master Standing Order yang telah dibaca, disetujui


Dan ditanda tangani oleh Mualim I & II.

Sumber : PSV. S Panglima, 2021


39

Lampiran 7 : PSV. S Panglima Ship Particular Page 1

Sumber : PSV. S Panglima, 2021


40

Lampiran 8 : PSV. S Panglima Ship Particular Page 2

Sumber : PSV. S Panglima, 2021


41

Lampiran 9 : PSV. S Panglima @Balikpapan outter Anchorage

Sumber : PSV. S Panglima,2021


42

BRIDGE TEAM DUTIES BY WATCH CONDITION


Watch BRIDGE TEAM DUTY
Condition CONN COLLISION RADIO NAVIGATION LOOKOUT
AVOIDANCE COMMUNICATION

No. WATCH OFFICER AB


06-12 AM Master Junior 2nd Off -
12-18 AM Chief Off Senior 2 Off
nd
-
18-24 PM Junior 2nd Off Deck Cadet AB 1
24-06 PM Senior 2nd Off - AB 2
Note : “Other Duties” may include logbook keeping, equipment checks, and lending
the engine order telegraph and thruster control. Overlap among bridge team
members indicates duties that may be shared. Cadets when onboard, may be used
to supplement and complement other members of the team.

Lampiran 10 : Bridge Team yang dibentuk oleh master atas persetujuan


semua anggota team, untuk mengimplementasikan BRM secara maksimal

Sumber : PSV. S Panglima, 2021

Common questions

Didukung oleh AI

Key challenges in implementing effective Bridge Resource Management on ships like PSV S Panglima include ensuring proper training and certification of all bridge personnel, maintaining clear and effective communication among team members, and integrating the use of advanced navigation technologies effectively. Crew members must be continuously aware of their roles and responsibilities, and there must be a concerted effort to foster a culture of teamwork and mutual support. Additionally, adapting to unforeseen maritime conditions while maintaining compliance with international regulations presents a significant challenge .

BRM helps ensure compliance with international navigation regulations such as SOLAS and COLREGs by promoting structured use of resources and coordinated effort among bridge team members. This structured approach ensures that the crew is well-prepared for changing situations by maintaining high situational awareness and decision-making efficiency. BRM emphasizes the need for continuous monitoring, communication, and adherence to safety regulations, thereby aligning bridge team actions with the prescribed international maritime standards .

The implementation of BRM on a PSV vessel such as S Panglima enhances navigation effectiveness and safety by focusing on resource management and teamwork within the bridge crew. BRM emphasizes maintaining situational awareness, monitoring voyage progress, adjusting the passage plan as necessary, and taking corrective actions. It includes effective communication, teamwork, leadership, and decision-making skills. BRM helps to prevent organizational misalignments, ensures quick response to emergencies, and avoids errors by individuals during navigation, thereby improving the overall safety and efficiency of maritime operations .

A navigation watch officer is responsible for ensuring that the vessel’s passage plan is followed safely and efficiently. This includes maintaining careful monitoring of the ship's position and heading, adjusting the plan as necessary due to changes in environmental conditions, and ensuring compliance with all relevant maritime regulations, including COLREGs. The officer must also ensure that navigation instruments are functioning correctly and maintain continuous communication with the bridge team to address any deviations or emerging threats promptly .

The critical responsibilities of the Officer On Watch during navigation watch include maintaining a vigilant lookout using sight and hearing, fixing the ship's position, conducting general surveillance, ensuring compliance with the Collision Regulations, and managing radio watch duties if required. They must not leave the bridge unattended, continuously assess the ship's heading, position, and speed, and report any uncertainties to the master immediately. These duties are guided by international regulations such as SOLAS 1974 and STCW 1978 .

The watchkeeping officer must consider multiple factors to prevent collision and grounding. These include maintaining continuous lookout using all available means (sight, hearing, radar), correctly positioning the ship, utilizing up-to-date charts, understanding tide and current conditions, making timely course alterations, and complying with COLREGs. The officer should also ensure the navigation instruments are operational and be ready to switch from autopilot to manual control if necessary. Communication with the master and other crew members is vital to handle situations effectively and safely .

Bridge Resource Management influences the decision-making process by promoting a collective and structured approach to problem-solving. It encourages active participation and input from all bridge team members, leveraging their collective experience and expertise. By promoting clear communication and shared situational awareness, BRM allows for more informed, timely, and consistent decisions, ultimately enhancing the safety and effectiveness of bridge operations .

BRM training addresses the prevention of errors and enhances safety on ships by emphasizing proactive error management and situational awareness. The training includes exercises on identifying potential weaknesses in procedures and communications. Crew members are trained to anticipate and plan for various scenarios, engage in regular situational assessments, maintain clear communication, and adhere to established protocols. By fostering better teamwork and decision-making, BRM reduces the likelihood of human error and increases the overall safety and efficiency of maritime operations .

Bridge Resource Management (BRM) training contributes significantly to the competency development of bridge crew members by enhancing their teamwork, communication, and decision-making abilities. The training emphasizes situational awareness and collaboration among crew members to ensure safer and more efficient navigation. It also develops leadership skills and helps in understanding and managing stress and risk factors during voyages. The training aligns with international standards and prepares the crew to face dynamic maritime situations effectively .

Effective communication is a cornerstone of Bridge Resource Management during sea watch operations. It enables the bridge crew to share vital information about the ship's status, potential hazards, and necessary actions swiftly and accurately. Good communication practices facilitate coordination among team members, ensuring that everyone is aware of their responsibilities and current situational dynamics, allowing for quick, informed decision-making and prompt response to any emergencies or changes in maritime conditions .

Anda mungkin juga menyukai