LOGO
LEGAL KARAKTER PPN
1. PPN Adalah Pajak Tidak Langsung
PPN merupakan suatu jenis pajak yang menempatkan kedudukan pemikul
beban pajak dengan kedudukan penanggung jawab pembayaran pajak ke kas
negara pada pihak-pihak yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi
pembeli atau penerima jasa dari tindakan sewenang-wenang negara
(pemerintah). Apabila PPN tidak dipungut, maka hal ini sepenuhnya menjadi
tanggung jawab penjual atau pengusaha jasa, bukan tanggung jawab pembeli
atau penerima jasa.
Apabila pembeli atau penerima jasa sudah membayar PPN kepada penjual atau
pengusaha jasa, pada dasarnya sama halnya dengan pembeli atau penerima
jasa sudah membayar PPN tersebut ke Kas negara
6
NEGARA
PPN
5 1 2
PENJUAL/ BKP/ JKP PEMBELI/
PENGUSAHA JASA PENERIMA JASA
4 PPN 3
PENANGGUNG PEMIKUL BEBAN
JAWAB PAJAK
2. PPN Adalah Pajak Objektif
Anwar sudah menikah memperoleh Husin yang masih berstatus bujang
penghasilan bersih dalam 1 tahun Rp memperoleh penghasilan bersih
58.500.000 dalam 1 tahun Rp 58.500.000
Meskipun penghasilan bersih mereka sama, namun ditinjau dari
sudut Pajak Penghasilan (PPh), Anwar tidak dikenakan PPh,
sedangkan Husin dikenakan PPh karena PPh merupakan pajak
Subjektif, dimana timbulnya kewajiban pajak sangat dipengaruhi
oleh kondisi subjektif subjek pajak.
Namun jika Anwar dan Husin membeli Sepatu seharga Rp. 500.000
maka masing-masing membayar PPN yang sama yaitu 10% x Rp.
500.000 = Rp. 50.000
3. PPN Bersifat Multi Stage Levy
Multi Stage Levy mengandung pengertian bahwa PPN dikenakan pada setiap
mata rantai jalur produksi dan jalur distribusi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena
Pajak.
PPN PPN PPN
Industri Industri PPN Pedagan
Industri Pedagang
Benang Tekstil Garment Besar g Eceran
PPN
Konsumen
4. PPN Bersifat Non Kumulatif
PPN yang “Multi Stage Levy” namun bersifat non kumulatif yaitu tidak menimbulkan pengenaan
pajak berganda.
HJ= 1.000 HJ= 2.050 HJ= 2.300
Industri Industri HJ= 1.400 Industri HJ= 1.750 Pedagang Pedagang
Benang Tekstil Garment Besar Eceran Konsumen
PPN= 100 PPN= 140 PPN= 175 PPN= 205 PPN= 230
PPN Disetor PPN Disetor PPN PPN Disetor PPN Disetor
ke Kas ke Kas Disetor ke ke Kas ke Kas
Negara oleh Negara oleh Kas Negara Negara oleh Negara oleh
Produsen Produsen oleh Pedagang Pedagang
Benang Tekstil Produsen Besar Eceran
Garment
100 140 – 100 = 40 175– 140= 35 205– 175= 30 230– 205= 25
Total PPN disetor ke Kas Negara = 100 + 40 + 35 + 30 + 25 = 230
4. PPN Bersifat Non Kumulatif (2)
Seandainya PPN bersifat Kumulatif, maka besarnya pajak sebagai berikut:
HJ= 1.000 HJ= 2.500 HJ= 3.000
Industri Industri HJ= 1.500 Industri HJ= 2.000 Pedagan Pedagan
Benang g Eceran Konsumen
Tekstil Garment g Besar PPN= 250
PPN= 100 PPN= 150 PPN= 200 PPN= 300
PPN PPN PPN PPN
Disetor ke Disetor ke Disetor ke Disetor ke
Kas Negara Kas Negara Kas Negara Kas Negara
oleh oleh oleh oleh
Produsen Produsen Pedagang Pedagang
Benang Garment Besar Eceran
100 150 200
250 300
Total PPN disetor ke Kas Negara = 100 + 150 + 200 + 250 + 300 = 1.000
5. Penghitungan PPN Terutang Menggunakan Indirect Subtraction
Method
Yaitu dengan cara mengurangkan PPN yang dipungut oleh penjual/ pengusaha jasa dengan PPN
yang dibayar kepada penjual/ pengusaha jasa lain.
Metode Penghitungan
Subtraction Method Indirect Subtraction/
Invoice/ Credit Method
Harga Jual = 500.000
Harga Beli = 300.000 *Harga Jual = 500.000
DPP = 200.000 PPN = 10% X 500.000 = 50.000
PPN 10% = 20.000 *Harga Beli = 300.000
Addition Method PPN = 10% X 300.000 = 30.000
*PPN Terutang untuk
Disetor ke Kas Negara = 20.000
Biaya Bahan= 40.000
Biaya Bunga= 40.000
Sewa = 50.000
Biaya Gaji = 30.000
Laba = 40.000
Jumlah = 200.000
PPN 10% = 20.000
6. PPN Indonesia Menganut Tarif Tunggal (Single Rate)
PPN Indonesia menganut tarif tunggal yang dalam UU PPN ditetapkan sebesar
10%. Meskipun demikian, dengan Peraturan Pemerintah (PP) dapat dinaikkan
paling tinggi menjadi 15% atau diturunkan paling rendah menjadi 5%. Namun
sampai saat ini belum pernah dikeluarkan PP yang menurunkan atau menaikkan
tarif PPN.
7. PPN adalah Pajak atas Konsumsi Dalam Negeri
Sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri, maka PPN hanya dikenakan atas
barang atau jasa yang dikonsumsi di dalam daerah pabean Republik Indonesia.
8. PPN yang diterapkan di Indonesia menganut
destination principle
Dalam mekanisme pemungutannya, PPN mengenal dua prinsip pemungutan,
yaitu :
a. Prinsip tempat asal (origin principle), dan
b. Prinsip tempat tujuan (destination principle).
Prinsip tempat asal mengandung pengertian bahwa PPN dipungut di tempat asal
barang/jasa. Sedang prinsip tempat tujuan, PPN dipungut di tempat barang/jasa
dikonsumsi.
Dengan dianutnya prinsip tempat tujuan yang dimodifikasi, maka untuk
transaksi ekspor dikenakan tarif 0% karena PPN akan dikenakan di negara
tempat tujuan konsumsi. Umumnya barang/ jasa dikenakan PPN atas Impor
atau PPN atas Pemanfaatan di negara tempat tujuan konsumsi.
Kesimpulan dari legal karakter PPN
Dengan legal karakter PPN yang telah dijelaskan, PPN mampu merealisasi dirinya
netral dalam dunia perdagangan baik domestik maupun internasional. Artinya
PPN memberikan perlakuan yang sama terhadap konsumsi, baik konsumsi barang
dan jasa.
PPN sebenarnya tidak menghendaki adanya pengecualian atau pembebasan atau
fasilitas. Secara filosofi sebenarnya PPN menghendaki seluruh konsumsi barang
dan konsumsi jasa dikenakan PPN sehingga netralitas PPN benar-benar dapat
diwujudkan.
Namun hendaknya diingat apabila filosofi tersebut benar-benar diserap dan
dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen semata-mata demi filosofi justru
akan membuat UU PPN tidak realistis. Dalam kehidupan nyata, tidak pernah
dijumpai sisi kehidupan yang tidak mengenal pengecualian. Oleh karena itu UU
PPN mengenal pengecualian objek PPN yang diatur secara transparan tentang
fasilitas di bidang PPN meskipun berakibat menurunkan porsi netralitas PPN.