JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
PENGARUH KELUARGA BROKEN HOME TERHADAP PERKEMBANGAN
MORAL DAN PSIKOSOSIAL SISWA KELAS V SDN 1 SUMBERBARU
BANYUWANGI
Rima Trianingsih 1, Isna Nurul Inayati 2, Riza Faishol 3
SDN 1 Sumberbaru, Singojuruh, Kab. Banyuwangi 1
Prodi PGMI, Universitas Islam Raden Rahmat Malang 2
Fakultas Tarbiyah, IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi 3
rimatrian@[Link]
Ket. Artikel Abstract
Sejarah Artikel: Teacher daily observation show that students often do rowdy, seeking
Diterima 20-09-19 attention with do the bad something and difficult to control is a child of the
Direvisi 18-09-19 broken home family. It is then encourage to conduct research with the
Diterbitkan 31-09-19 objectives to undertake a deeper case study on the influence of broken home
________________
family against the moral and psychosocial development of grade V students of
Kata Kunci:
SDN 1 Sumberbaru. The study used a qualitative approach with case study
Keluarga Broken
design. Participants in this study were chosen with purposive samples, so that
Home, Perkembangan
Moral, Perkembangan
two students from the fifth grade of SDN 1 Sumberbaru were M.J. S and
Psikososial, Siswa SD M.K.L. The data analysis techniques use thematic analysis. Research results
________________ describe that broken home family have influenced on moral and psychosocial
Tipe Artikel: development of participants. It can be described as bad moral behavior that
Hasil penelitian arises: make mistakes and do not want to apologize; often do not obey the
________________ school order; and seek attention by making noise during lesson hours. The
behavior of his psychosocial development is the following: not the spirit of
learning a new experience; the child is not confident; and often compare
herself with friends.
Abstrak
Hasil observasi harian guru menunjukkan bahwa siswa yang sering berbuat
gaduh, suka mencari perhatian dengan berbuat buruk dan sulit dikontrol
merupakan anak dari keluarga broken home. Hal tersebut kemudian mendorong
untuk melaksanakan penelitian dengan tujuan untuk melakukan sebuah studi
kasus yang mengkaji lebih dalam pengaruh keluarga broken home
terhadap perkembangan moral dan psikososial siswa kelas V SDN 1
Sumberbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini dipilih dengan
purposive sample sehingga diperoleh dua siswa kelas V SDN 1
Sumberbaru yaitu M.J.S dan M.K.L. Adapun teknik analisis data
menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menggambarkan bahwa
ada pengaruh keluarga broken home terhadap perkembangan moral dan
psikososial partisipan. Dapat dijabarkan perilaku moral buruk yang
muncul yaitu: membuat kesalahan dan tidak mau minta maaf; sering
tidak mentaati tata tertib sekolah; dan mencari perhatian dengan
membuat kegaduhan saat jam pelajaran. Adapun perilaku yang
menunjukkan terhambatnya perkembangan psikososialnya sebagai
berikut: tidak semangat mempelajari pengalaman baru; anak tidak
percaya diri; dan sering membandingkan dirinya dengan teman.
9
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
© 2019PGSD STKIP AL HIKMAH
PENDAHULUAN dalamnya memiliki peran masing-masing
Setiap anak tumbuh dan berkembang (Suprajitno, 2003).
sesuai dengan kodrati. Namun sebagian Keluarga memiliki peran penting
aspek secara genetik mewarisi sifat-sifat dalam perkembangan anak, di antaranya
orang tua yang disebut hereditas. Di sisi yaitu mengajarkan anak bagaimana
lain, perkembangan anak tidak dapat berinteraksi sosial dengan baik di
terlepas dari perilaku orang yang lebih masyarakat. Namun, beberapa hasil
dewasa sebagai role model di lingkungan penelitian terdahulu jutru menunjukkan
keluarga. Hal tersebut menunjukkan fenomena yang sebaliknya. Keluarga
indikasi bahwa keluarga merupakan faktor memberikan trauma dan memberikan
dominan di dalam perkembangan anak. dampak negatif kepada anak sehingga
Adapun aspek-aspek perkembangan anak perkembangan psikososialnya terhambat.
sangatlah kompleks, di antaranya Selain itu, kebiasan buruk di dalam
perkembangan fisik-motorik, psikososial, keluarga dalam menegakkan aturan
moral, kognitif, metakognisi dan terhadap anak juga mendorong terjadinya
sebagainya. kegagalan perilaku moral.
Perkembangan anak merupakan Penelitian ini berawal dari hasil
suatu proses kompleks terkait dengan observasi harian guru terhadap siswa di
tumbuh kembangnya yang diisi dengan kelas saat proses pembelajaran. Hasilnya
berbagai pengalaman. Ketika terlahir di menunjukkan bahwa di dalam kelas
dunia, seorang anak pada dasarnya seperti terdapat kecenderungan siswa yang kurang
kertas putih yang tidak dapat ketahui baik baik, di antaranya sering mencari perhatian
atau buruk. Perkembangan anak pada ketika pelajaran dengan perilaku-perilaku
dasarnya tergantung sepenuhnya pada yang buruk. Selain itu, siswa menunjukkan
bagaimana mereka dibesarkan atau pola kecenderungan untuk tidak memperhatikan
asuh keluarga (Shaffer, 2005). Hal tersebut materi pelajaran. Hasil observasi di kelas
menunjukkan bahwa keluarga sangat juga menunjukkan bahwa beberapa siswa
memberikan dampak yang besar bagi di kelas V merupakan siswa yang berasal
perkembangan anak. Proses pembentukan dari keluarga broken home.
watak dan karakter anak berawal di Penelitian ini bertujuan untuk
dalamnya. Lebih spesifik lagi, bahwa melakukan sebuah studi kasus yang
perilaku moral anak dan kecenderungan mengkaji lebih dalam pengaruh keluarga
psikososialnya juga terhubung dengan broken home terhadap perkembangan
pengalamannya bersama keluarga. moral dan psikososial siswa Kelas V SDN
Menurut BKKBN (dalam Sunarti, 1 Sumberbaru. Adapun penelitian ini
2001), keluarga adalah unit terkecil selanjutnya ingin menggambarkan keadaan
masyarakat yang di dalamnya terdiri dari yang sebenarnya pada diri siswa dalam
salah satu komposisi berikut ini : suami- bentuk deskripsi yang autentik dan faktual
istri; suami-istri dan anaknya; ayah dan sehingga dapat membantu guru di dalam
anaknya; atau ibu dan anaknya. Keluarga memahami perkembangan moral dan
adalah kumpulan dua orang atau lebih psikososial siswa lebih lanjut.
yang diikat oleh suatu aturan dan
emosional yang sama di mana individu di
10
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
METODE Teknik analisis data dalam penelitian
Penelitian ini menggunakan ini menggunakan analisis tematik. Teknik
pendekatan kualitatif dengan desain analisis tematik merupakan proses analisis
penelitian studi kasus. Penelitian dengan data berdasarkan pada tema-tema
pendekatan kualitatif menggambarkan menonjol yang berhubungan dengan
upaya menggali, memahami, variabel yang terdapat pada tujuan
mengeksplorasi subjek penelitian melalui penelitian (Hanurawan, 2012:92). Adapun
prosedur dan data yang bersifat untuk menguji kebenaran hasil penelitian
deskripsi/bukan angka (Hanurawan, digunakan triangulasi teknik/metode. Hasil
2012:15). Penelitian studi kasus penelitian diuji dengan membandingkan
merupakan cara dalam pengumpulan data, antar data yang diperoleh dari berbagai
di mana peneliti menghimpun dan instrumen penelitian baik itu hasil
menganalisis data untuk mengeksplorasi wawancara mendalam, observasi maupun
suatu kasus. Kasus pada penelitian ini inventori. Keberhasilan penelitian ini
adalah adanya suatu masalah yaitu mampu mendeskripsikan
(Sukmadinata, 2013:99). Pendekatan pengalaman inner world partisipan sesuai
kualitatif dengan studi kasus dianggap dengan tujuan penelitian.
cocok digunakan dalam penelitian ini
karena mampu menganalisis suatu subjek HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian secara mendalam dengan A. Deskripsi Partisipan/Subjek
berbagai instrumen penelitian, mampu Penelitian
menjaga keutuhan subjek pada situasi yang Partisipan dalam penelitian ini
alamiah, serta mampu menjaga fokus pada dipilih dengan purposive sample sehingga
tujuan penelitian. diperoleh dua siswa kelas V SDN 1
Subjek pada penelitian ini adalah Sumberbaru yang kaya akan kasus yang
partisipan yang dipilih dengan teknik relevan dengan tujuan penelitian. Inisial
sampling. Adapun penelitian ini kedua partisipan tersebut adalah M.J.S dan
menggunakan teknik purposive sample M.K.L. Dalam penelitian ini, nama
yaitu memfokuskan penelitian pada partisipan penelitian disamarkan untuk
informan terpilih yang kaya akan kasus melindungi privasi anak dan keluarga.
yang relevan dengan tujuan penelitian Adapun deskripsi dua partisipan berikut
(Sukmadinata, 2013). Penelitian ini ini.
dilakukan pada dua orang siswa Kelas V di M.J.S adalah anak kedua dari dua
SDN 1 Sumberbaru, Kecamatan bersaudara. Usia 11 Tahun. Ayah dan ibu
Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi yang bercerai saat dia duduk di kelas IV SD.
memenuhi kriteria teknik sampling. Saat ini dirawat oleh kerabatnya yaitu bibi.
Teknik pengumpulan data Ibunya menjadi TKW di Malaysia,
menggunakan wawancara mendalam, sedangkan ayahnya pergi tanpa diketahui
observasi dan inventori. Wawancara kabarnya. M.J.S tidak pernah bertemu
mendalam dalam hal ini berfungsi untuk ayahnya. Ibunya hanya berkomunikasi via
menggali perasaan terdalam (inner world). telepon serta mengirimi uang untuk
Observasi dilakukan untuk mengamati kebutuhan hidupnya. Walaupun merasa
perilaku atau sikap yang tampak dalam cukup mendapatkan kasih sayang dalam
keseharian anak. Inventori dalam bentuk materi, namun sejatinya M.J.S anak
penelitian ini digunakan untuk menggali yang kurang kasih sayang. Hal tersebut
konsep diri anak terhadap realitas terlihat dari observasi harian yang
hidupnya. menunjukkan perilaku mencari perhatian.
11
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
M.K.L adalah anak tunggal. Usia 11 orang tuanya, melainkan dirawat oleh
Tahun. Ayah dan ibunya bercerai saat dia kerabat. M.J.S dirawat oleh bibinya,
duduk di kelas IV SD. Ayah telah menikah sedangkan M.K.L dirawat oleh neneknya.
lagi, sedangkan ibunya belum. Saat ini Hasil observasi dan wawancara
M.K.L dirawat oleh neneknya. Orang menunjukkan bahwa keluarga broken
tuanya merantau di Bali semenjak home tidak mampu memenuhi kebutuhan
berpisah. Baik ayah, maupun ibunya selalu psikologi anak dalam bentuk perhatian dan
menjenguknya ketika pulang ke kasih sayang. Hal tersebut sesuai dengan
Banyuwangi. Hal tersebut membuat transkrip kutipan hasil wawancara via
M.K.L merasa diberi kasih sayang yang telepon yang telah disunting dalam bahasa
cukup. Namun, observasi harian Indonesia yang baik dan benar tanpa
menunjukkan bahwa M.K.L adalah anak mengurangi isi, sebagai berikut.
yang mudah emosi.
“Apakah selama ini Anda merasa
B. Pola Asuh Keluarga Broken Home memberikan perhatian dan kasih sayang
Keluarga merupakan pendidikan yang cukup untuk anak?”
pertama anak. Oleh sebab itu, pola asuh di
dalam keluarga akan berpengaruh Ibu M.J.S menjelaskan “Tidak bisa
signifikan terhadap segala aspek memberikan kasih sayang dengan
perkembangan anak. Beberapa hal yang memberikan perhatian seperti ibu pada
menjadi temuan di dalam penelitian ini umumnya. Sebenarnya ingin sekali kumpul
terkait dengan pola asuh di dalam keluarga bersama anak supaya bisa merawatnya
broken home sebagai berikut. dengan baik. Namun apa daya harus
bekerja di luar negeri untuk sekolah anak.
1. Kurangnya kasih sayang dan Kalau tidak bekerja ya anak saya malah
perhatian orang tua tidak punya masa depan kalau tidak
Keluarga broken home adalah istilah sekolah”
populer dalam bahasa Inggris yang
digunakan untuk menggambarkan keluarga Jawaban yang senada juga diberikan oleh
yang mengalami perceraian. Perceraian ibu M.K.L sebagai berikut “Ya bagaimana
yang terjadi pada keluarga partisipan mau memberi kasih sayang yang cukup bu,
merupakan titik mula dari perubahan sikap mau ngasih makan saja susah. Makanya
dan emosional mereka. Situasi dan kondisi saya ini buruh ke Bali supaya dapat
keluarga yang dahulunya bersama menjadi penghasilan yang lebih besar untuk
terpisah. kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak.
Keluarga partisipan M.J.S bercerai Ya mohon maaf, jika anak saya mungkin
saat dia duduk di kelas IV SD. Ibunya berbeda karena kurang perhatian orang
kemudian menjadi TKW ke Malaysia tua. Ditinggal tanpa orang tua di rumah”
untuk menghidupi anaknya. Ayahnya pergi
tanpa tahu kabarnya sekarang. Hal yang Widyarini (2009:35-36) menjelaskan
hampir sama juga terjadi pada keluarga bahwa perceraian orang tua merupakan
M.K.L, di mana kedua orang tuanya kehancuran bagi kehidupan anak.
bercerai waktu dirinya duduk di kelas IV Perceraian akan menorehkan luka batin
SD. Ayahnya telah menikah lagi dan bagi anak sehingga orang tua wajib untuk
bekerja di Bali. Ibunya pun juga bekerja ke meminimalisir penderitaan anak. Anak
Bali untuk menafkahi putranya selepas membutuhkan perhatian dan kasih sayang
bercerai. Pada kedua kasus di atas, orang tua guna meneteramkan hatinya.
partisipan tidak tinggal bersama salah satu
12
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
2. Kurangnya interaksi dengan orang Soetjiningsih (2015:10) menjelaskan
tua bahwa interaksi anak dan orang tua adalah
Kurangnya interaksi dengan salah langkah untuk menumbuhkan keakraban
satu orang tua menjadi konsekuensi yang dalam keluarga. Dengan demikian, anak
harus ditanggung oleh anak-anak korban mau terbuka dan mendiskusikan
perceraian pada umumnya. Namun masalahnya bersama orang tua. Interaksi
berbeda dengan kondisi partisipan yang berkualitas akan mampu
penelitian ini. Kedua partisipan penelitian mengantarkan orang tua untuk memahami
ini memiliki kondisi keluarga yang hampir dan memenuhi kebutuhan anak secara
sama, di mana setelah bercerai mereka optimal yang dilandasi kasih sayang.
tidak tinggal bersama orang tua. Hal
tersebut yang menyebabkan kurangnya C. Pengaruh Keluarga Broken Home
interaksi orang tua dan anak. Ibu partisipan terhadap Perkembangan Moral
M.J.S harus bekerja di Malaysia, Anak
sedangkan ayahnya tidak diketahui Pola asuh di dalam keluarga broken
keberadaanya. Ibu M.K.L bekerja di Bali, home yang cenderung kurang interaksi
dan jarang sekali pulang. Ayah M.K.L antara orang tua dan anak, kurangnya
menikah lagi sehingga fokus pada keluarga bimbingan orang tua, kurangnya kasih
barunya, serta bekerja di Bali. Kondisi sayang secara psikologi mengakibatkan
tersebut diperjelas dalam kutipan beberapa kecenderungan perilaku moral
wawancara sebagai berikut. partisipan sebagai berikut.
“Apakah Anda sering bertemu dengan 1. Membuat kesalahan dan tidak mau
anak Anda?” minta maaf
Setiap manusia pasti pernah
Ibu M.J.S menjawab “Tidak bisa bertemu, melakukan suatu kesalahan di dalam
hanya berbincang-bincang lewat video hidupnya. Begitu pun dengan anak-anak
call” yang masih belum sempurna penalaran
moralnya. Dalam penelitian ini, partisipan
Ibu M.K.L menjawab “Bertemunya jika menunjukkan kecenderungan tidak mau
ada kesempatan pulang kampung, atau minta maaf saat melakukan sebuah
jika liburan sekolah anaknya diantarkan kesalahan/perbuatan buruk. Hal tersebut
menyusul ke Bali” dapat diperdalam dari hasil wawancara
sebagai berikut.
Jawaban wawancara tersebut, diperdalam
dengan pertanyaan lanjutan sebagai “Apakah kamu merasa bersalah jika
berikut. melakukan perbuatan buruk?”
“Bagaimana dengan ayahnya?” “Apakah sadar harus minta maaf kalau
bersalah?”
Ibu M.J.S menjawab “Ayahnya sudah
pergi tidak tahu ke mana, tidak ada kabar M.J.S menjawab “Merasa bersalah bu,
setelah bercerai” sadar harus minta maaf jika salah tapi
tidak pernah melakukan”
Ibu M.K.L menjawab “Ayahnya jika
pulang ke Banyuwangi iya menjenguk M.K.L menjawab “Sering membuat
anaknya. Kerjanya juga di Bali bu” kesalahan dan merasa bersalah. Tidak
pernah minta maaf”
13
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
masing partisipan memiliki kecenderungan
Demikian jawaban jujur partisipan yang hampir sama. M.J.S suka mencari
yang dikuatkan pula oleh data hasil perhatian dengan cara berbuat buruk
observasi dan angket. Tentunya perilaku seperti, gaduh di kelas, clometan (berteriak
tidak minta maaf ketika salah adalah suatu tak beraturan) saat guru menjelaskan, serta
kecenderungan perilaku moral yang pernah suatu ketika partisipan disuruh
kurang baik. Dalam buku panduan anak minta maaf ke teman justru menendang
yang ditulis oleh Adams dan Butch sebuah kursi. M.K.L memiliki gejala yang
(2001:22) menjelaskan bahwa saat anak hampir sama, namun tidak mencari
melakukan kesalahan, hendaknya perhatian. Hanya sekedar membuat
mengakui dengan jujur dan segera minta kegadungan saat jam pelajaran, serta tidak
maaf. Anak harus mencoba memperbaiki memperhatikan kegiatan pembelajaran.
kesalahan. Pada konsepnya gejala yang
ditunjukkan oleh kedua partisipan
2. Sering tidak mentaati tata tertib merupakan gejala tidak disiplin yang
sekolah terkait psikososial. Susanto (2018:132)
Dalam perkembangan moral, menjelaskan bahwa perilaku suka mencari
mentaati suatu aturan menjadi indikator di perhatian dengan perilaku buruk dan
dalam perilaku moral yang baik. Saat anak membuat kegaduhan di dalam kelas saat
sudah mampu menjalankan suatu aturan, jam pelajaran merupakan permasalahan
maka anak dianggap telah berada pada pribadi sosial.
perkembangan moral yang semestinya.
Dalam penelitian ini, partisipan D. Pengaruh Keluarga Broken Home
menunjukkan gejala perilaku tidak terhadap Perkembangan
mentaati tata tertib sekolah. Hal tersebut Psikososial Anak
dapat dicontohkan berdasarkan hasil Selain dampak pada perkembangan
observasi yaitu membuang sampah moral anak, pola asuh keluarga broken
sembarangan, tidak piket kelas, bertengkar home dalam penelitian ini juga
dengan teman, tidak mengerjakan tugas memberikan dampak terhadap
dan membuat gaduh saat pelajaran. Dalam perkembangan psikososial anak. Adapun
wawancara mendalam kedua partisipan kecenderungan yang dirasakan dan tampak
mengakui perilaku tersebut benar adanya. dalam diri partisipan sebagai berikut.
Kurniawan (2018:13-14) menjelas-
kan bahwa tata tertib sekolah pada 1. Tidak semangat mempelajari
dasarnya dibuat sebagai kontrol supaya pengalaman baru
seluruh kegiatan di sekolah dapat berjalan Salah satu dampak secara umum
lancar. Tata tertib sekolah tentunya tidak yang ditunjukkan oleh anak-anak dalam
hanya membantu program sekolah, namun keluarga broken home adalah kurangnya
juga memiliki dampak besar bagi anak. semangat di dalam beraktivitas. Begitu
Anak dilatih untuk memiliki kesadaran dan pula gejala yang ditunjukkan oleh
ketaatan sebagai bentuk tanggung jawab partisipan penelitian ini. Di mana
moral pada masyarakat. keduanya menunjukkan kurangnya
semangat untuk mempelajari pengalaman
3. Mencari perhatian dengan baru atau dalam mempelajari tema baru.
membuat kegaduhan saat jam M.J.S selalu sibuk melakukan hal-hal yang
pelajaran tidak penting, mencari perhatian dengan
Pada penelitian ini, temuan hasil hal yang buruk dibandingkan
observasi menunjukkan bahwa masing-
14
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
memperhatikan dan mengerjakan M.J.S menjawab “Tidak percaya diri
tugasnya. karena sering diejek teman. Bapak diolok-
M.K.L memiliki kesamaan yaitu olok”
tidak memperhatikan dan cenderung gaduh
di dalam kelas. Salah satu contoh dalam Kecenderungan yang sama juga
mengerjakan proyek pembuatan alat ditunjukkan oleh partisipan M.K.L di
peraga organ paru-paru manusia. M.K.L mana dia juga tidak menunjukkan rasa
tidak aktif di dalam mengerjakan tugas percaya diri. Terlebih jika disuruh maju ke
kelompok, namun justru banyak bernyanyi depan untuk menjawab soal oleh guru.
dan berbicara menyalahkan teman Adapun kutipan wawancara M.K.L
sekelompoknya. terhadap pertanyaan yang sama adalah
Jahja (2011:355) menjelaskan bahwa berikut ini.
pada dasarnya anak membutuhkan
motivasi supaya dapat membangun M.K.L menjawab “Tidak percaya diri
semangat yang tinggi untuk belajar dengan karena merasa malu ditertawakan teman-
terkontrol. Motivasi yang diberikan tidak teman”
hanya sekedar kata-kata melainkan berupa
sentuhan kasih sayang yang mampu Adapun faktor pendukung ketidak-
membangkitkan semangat anak. Peran percayaan diri yaitu M.K.L pernah tidak
orang tua sangatlah penting dalam hal ini. naik kelas.
Partisipan pada penelitian ini tidak Yasmirah (2011:169) menjelaskan
mendapatkan motivasi dari orang tua, bahwa menyiapkan mental anak dalam
sedangkan guru telah menjalankan menghadapi perceraian orang tua sangatlah
fungsinya sebagaimana mestinya penting. Sebab, ketidaksiapan anak dapat
meskipun terdapat beberapa kekurangan menimbulkan hilangnya rasa percaya diri
dalam implementasinya. anak serta rasa percaya pada orang tuanya.
2. Anak tidak percaya diri 3. Sering membandingkan dirinya
Ketidak percayaan diri muncul dengan teman
sebagai konsekuensi kondisi yang berbeda Membandingkan diri dengan orang
daripada umumnya. Begitu pula bagi lain terkait kehidupan adalah hal yang
sebuah keluarga. Kondisi keluarga broken wajar dilakukan oleh anak mulai dari
home yang tidak utuh kembali seperti sedia usianya 5 tahun (Goleman, 2006:390).
kala dapat memicu munculnya beberapa Adapun Santrock (2003:335) menjelaskan
opini orang terkait dengan apa yang bahwa anak menggunakan perbandingan
terjadi. Begitu pula yang dirasakan oleh sosial untuk mengevaluasi dirinya. Dalam
partisipan. M.J.S merasa sangat malu pada penelitian ini, partisipan juga
masa awal perceraian orang tuanya menunjukkan perilaku perbandingan sosial
sehingga sering menyendiri, terlebih seperti dikutip dari hasil wawancara
teman-temannya suka mengolok-olok sebagai berikut.
bapaknya. Hal tersebut tergambar di dalam
kutipan hasil wawancara sebagai berikut. “Apakah kamu pernah membandingkan
dirimu dengan teman yang lain?”
“Apakah kamu anak yang penuh percaya
diri?” M.J.S menjawab “Pernah, ingin seperti
Mujib. Kalau makan disuapi ibunya,
kepingin dipeluk sama ibu juga”
15
JURNAL PENA KARAKTER
Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter
Vol. 02, No. 01, Oktober 2019
p-ISSN 2654-3001 | e-ISSN: 2654-9727
M.K.L menjawab “Pernah, ingin diantar Hermaya, Jakarta: PT Gramedia
ke sekolah seperti teman-teman yang lain” Pustaka Utama.
Hanurawan, F. (2012). Metode Penelitian
Kecenderungan anak membanding- Kualitatif dalam Ilmu Psikologi.
kan dirinya dengan teman merupakan hal Surabaya: Universitas Airlangga.
yang wajar, namun jika tidak mampu Jahja, Y. (2011). Psikologi Perkembangan.
dikelola dengan baik justru akan Jakarta: Prenamedia Group.
menimbulkan dampak negatif seperti Kurniawan, W.A. (2018). Budaya Tertib
merasa minder, merasa bodoh, memiliki Siswa di Sekolah: Penguatan
perasaan iri, perasaan dengki, dan Pendidikan Karakter Siswa.
sebagainya. Sukabumi: CV Jejak.
Satrock, J. W. 1996. Adolescence, Edisi
SIMPULAN Keenam (Kristiaji, W. C &
Berdasarkan hasil penelitian dan Sumiharti, Y, Ed). Adelar, S. B &
pembahasan dapat disimpulkan bahwa Saragih, S. 2003. Jakarta: Penerbit
kondisi keluarga yang broken home Erlangga .
menyebabkan anak kekurangan kasih Shaffer, David R. (2005). Social and
sayang secara psikologis sehingga Personality Development. United
berpengaruh terhadap perkembangan States of America: Thomson
moral dan psikososial anak. Hal tersebut Wadsworth.
dapat ditunjukkan dengan beberapa Soetjiningsih. (2015). Tumbuh Kembang
indikator perilaku moral buruk yang Anak. Jakarta: Penerbit Buku
muncul yaitu: membuat kesalahan dan Kedokteran EGC.
tidak mau minta maaf; sering tidak Sukmadinata, N.S. (2013). Metode
mentaati tata tertib sekolah; dan mencari Penelitian Pendidikan. Bandung:
perhatian dengan membuat kegaduhan saat PT. Remaja Rosdakarya.
jam pelajaran. Adapun indikator perilaku Sunarti, E. (2010). Fungsi dan Peran
yang menunjukkan terhambatnya Keluarga. (Online),
perkembangan psikososialnya sebagai ([Link]
berikut: tidak semangat mempelajari diakses 10 Agustus 2018.
pengalaman baru; anak tidak percaya diri; Suprajitno. (2003). Asuhan Keperawatan
dan sering membandingkan dirinya dengan Keluarga: Aplikasi dalam Praktik.
teman. Hal tersebut mendeskripsikan Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
bahwa ada pengaruh keluarga broken EGC.
home terhadap perkembangan moral dan Susanto, A. (2018). Bimbingan dan
psikososial partisipan penelitian ini. Konseling di Sekolah. Jakarta:
Prenamedia Group.
DAFTAR PUSTAKA Widyarini, N. (2009). Relasi Orang Tua
Adams, C.A dan Butch, R.J. (2001). dan Anak. PT Elex Media
Happy to Be Me! A Kid’s Books Kumputindo.
About Self-esteem. Saint Meinrad, Yasmirah, H. (2011). Tidak Cukup Hanya
Indiana, USA: Abbey Press. dengan Cinta: Cara Efektif Bicara
Goleman, D. (2006). Emotional dengan Anak. Jakarta: PT Elex
Intelligence (Kecerdasan Media Kumputindo.
Emosional) Mengapa EI Lebih
Penting Daripada IQ. Terj. T.
16