See discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]
net/publication/346062202
Buku Indikator Perencanaan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
Book · November 2019
CITATION READS
1 7,970
3 authors:
Yohanes Sulistyadi Fauziah Eddyono
13 PUBLICATIONS 26 CITATIONS
Universitas Sahid
20 PUBLICATIONS 36 CITATIONS
SEE PROFILE
SEE PROFILE
Derinta Entas
Sahid Institute of Tourism, Indonesia, Jakarta
10 PUBLICATIONS 12 CITATIONS
SEE PROFILE
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
KAWASAN HERITAGE JALAN GAJAH MADA SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN KAWASAN KOTA TUA DENPASAR BALI View project
All content following this page was uploaded by Fauziah Eddyono on 31 March 2021.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
INDIKATOR
PERENCANAAN PENGEMBANGAN
PARIWISATA
BERKELANJUTAN
Yohanes Sulistyadi
Fauziah Eddyono
Derinta Entas
Hak cipta pada penulis
Hak penerbitan pada penerbit
Tidak boleh diproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun
Tanpa izin tertulis dari pengarang dan/atau penerbit
Kutipan Pasal 72 :
Sanksi pelanggaran Undang-undang Hak Cipta (UU No. 10 Tahun 2012)
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal (49) ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda
paling sedikit Rp. 1. 000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7
(tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 5. 000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual
kepada umum suatu Ciptaan atau hasil barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
INDIKATOR
PERENCANAAN PENGEMBANGAN
PARIWISATA
BERKELANJUTAN
Yohanes Sulistyadi
Fauziah Eddyono
Derinta Entas
Perpustakaan Nasional RI:
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
INDIKATOR PERENCANAAN
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN
Penulis:
Yohanes Sulistyadi
Fauziah Eddyono
Derinta Entas
Desain Cover & Layout
Team Aura Creative
Penerbit
AURA
CV. Anugrah Utama Raharja
Anggota IKAPI
No.003/LPU/2013
x + 180 hal : 15,5 x 23 cm
Cetakan, Maret 2021
ISBN: 978-623-211-130-1
Alamat
Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro, No 19 D
Gedongmeneng Bandar Lampung
HP. 081281430268
082282148711
E-mail : redaksiaura@[Link]
Website : [Link]
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Indonesia merupakan negara berkembang dan memiliki
banyak destinasi wisata yang menarik, baik bagi wisatawan dalam
negeri maupun wisatawan luar negeri. Memang tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa Indonesia selain mempunyai alam yang luar
biasa indah juga memiliki banyak beragam adat istiadat serta budaya
yang unik.
Sektor pariwisata juga sudah menjadi salah satu sektor
penting untuk menghasilkan devisa dan mempunyai kontribusi yang
sangat besar untuk meningkatkan pembentukan PDB di Indonesia.
Sedangkan dari segi kekuatannya, sektor pariwisata ini mempunyai
daya tahan terhadap perekonomian yang dapat diandalkan serta
dikembangkan.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan sektor pariwisata ini
menjadi salah satu dari lima (5) sektor prioritas pembangunan.
Kelima sektor prioritas pembangunan adalah pangan, energi,
maritim, pariwisata, kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK). Agar pintu masuk wisatawan tidak hanya dari satu pintu saja
yaitu Bali, maka pemerintah akan melakukan pengembangan 10
destinasi prioritas yang diberi nama “10 Bali Baru”, dimana nama ini
hanyalah nama kiasan dan memberikan penekanan agar
performance masing-masing destinasi tersebut dapat sama dengan
Bali. Jelaslah bahwa pariwisata memang merupakan sektor unggulan
dan pembangunan di Indonesia. Pembangunan infrastruktur dan
aksesibilitas menuju destinasi wisata telah dan akan dibangun di
seluruh wilayah propinsi di Indonesia demi untuk menggerakkan
pariwisata beserta pemberdayaan masyarakatnya.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan v
Sudah saatnya Indonesia mempraktekkan prinsip-prinsip
pariwisata berkelanjutan dan terfokus pada pencapaian tujuan
pembangunan berkelanjutan. Bila dilihat dari aspek pemasaran
pariwisata global terlihat telah terjadi pergeseran wisata global yang
kecenderungannya akan lebih mementingkan sumber daya alaminya
yang untuk kemudian dikembangkan sebagai destinasi wisata. Tren
konsumen hijau juga semakin menguat serta isu tentang
keberlanjutan akan semakin menentukan motivasi wisatawan untuk
datang pada suatu destinasi wisata. Para wisatawan juga akan
memilih serta mengevaluasi suatu destinasi berdasarkan ukuran-
ukuran keberlanjutan yang berhubungan dengan isu penyelamatan
bumi.
Dengan adanya Buku Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan ini merupakan dasar yang baik serta
positif untuk dapat memberikan profit serta benefit bagi masyarakat
serta Bangsa Indonesia. Sehingga dengan hadirnya Buku Indikator
Perencanaan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan ini
tentunya juga akan menjadikan perencanaan wisata akan menjadi
semakin terarah dan berkembang serta dikelola secara lebih baik
dan tertata berdasarkan prinsip- prinsip berkelanjutan.
Jakarta, 30 September 2019
Yohanes, Fauziah & Derinta
Indikator Perencanaan Pengembangan
vi Pariwisata Berkelanjutan
PENGANTAR DARI PENULIS .............................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................................... vii
PARIWISATA BERKELANJUTAN ....................................................... 1
Perkembangan Pariwisata ............................................................ 1
Apa itu pariwisata berkelanjutan ? ....................................... 3
Aspek pariwisata berkelanjutan ............................................. 9
Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Dalam Perspektif
Indonesia .......................................................................................... 13
Daya dukung (carrying capacity) .......................................... 21
Pendidikan dan pelatihan ........................................................ 25
Promosi ....................................................................................... 29
Monitoring dan evaluasi .......................................................... 31
Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Prinsip
Pariwisata berkelanjutan ............................................................... 32
Perkembangan demografi ....................................................... 32
Perkembangan ekonomi .......................................................... 33
Perkembangan politik dan hukum ........................................ 33
Perkembangan sosial budaya .................................................. 33
Perkembangan teknologi ........................................................ 34
Perkembangan globalisasi ....................................................... 34
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan vii
PEDOMAN PENETAPAN INDIKATOR PENGEMBANGAN
PARIWISATA BERKELANJUTAN ....................................................... 35
Indikator pada Tingkat yang Berbeda-beda .............................. 38
Jenis Indikator.................................................................................. 39
Pengukuran Indikator ................................................................... 40
Pengukuran kuantitatif ............................................................ 40
Pengukuran kualitatif/normatif ............................................ 41
Indikator dan Perencanaan .......................................................... 42
Bagaimana jika Tidak Ada Perencanaan? ................................. 43
Melakukan Perencanaan ............................................................... 45
Indikator sebagai Alat untuk Informasi Publik dan
Pendidikan ....................................................................................... 45
Indikator sebagai Katalis .............................................................. 45
Kemajuan dalam Pengembangan dan Penggunaan
Indikator ..................................................................................... 46
Pertumbuhan indikator ........................................................... 46
Kemajuan dalam metodologi indikator ................................ 47
Inisiatif indikator sektor lain ................................................... 47
Indikator dan pengukuran kinerja ........................................ 48
INDIKATOR PARIWISATA BERKELANJUTAN .............................. 50
Indikator Pembangunan Berkelanjutan Bidang Pariwisata .... 51
Mengapa Harus Menggunakan Indikator? .............................. 54
Indikator dari Berbagai Level ...................................................... 56
Jenis Indikator.................................................................................. 57
Indikator dan perencanaan .......................................................... 58
Indikator sebagai katalisator ........................................................ 62
PROSEDUR PENGEMBANGAN INDIKATOR ................................. 64
Definisi .............................................................................................. 65
Fase Perumusan Indikator ........................................................... 68
Fase 1 - definisi dan penggambaran destinasi ......................... 68
Fase 2 - penggunaan proses partisipatif .................................. 72
Fase 3 - identifikasi aset dan risiko wisata ............................... 84
Fase 4 - pengembangan indikator .............................................. 88
Indikator Perencanaan Pengembangan
viii Pariwisata Berkelanjutan
Fase 5 - pemilihan masalah prioritas dan pertanyaan
kebijakan .......................................................................................... 89
Fase 6 - identifikasi sebagai indikator ....................................... 92
Fase 7 - inventarisasi sumber data ............................................ 94
Fase 8 - prosedur .......................................................................... 97
Fase 9 - evaluasi prosedur kelayakan dan implementasi ...... 101
Fase 10 - pengumpulan dan analisis data .................................. 105
Fase 11 - akuntabilitas, komunikasi dan pelaporan ................. 113
Fase 12 - monitoring dan evaluasi aplikasi indikator ............... 117
MASALAH KEBERLANJUTAN DAN INDIKATOR DALAM
PARIWISATA ............................................................................................ 120
Kesejahteraan Komunitas Tuan Rumah .................................... 120
Kepuasan lokal melalui pariwisata ............................................. 120
Pengaruh pariwisata terhadap komunitas ................................ 121
Akses oleh masyarakat lokal ke aset kunci ............................... 122
Kesetaraan gender ......................................................................... 122
Wisata Seks ...................................................................................... 123
Asset Budaya Berkelanjutan ......................................................... 126
Partisipasi Masyarakat dalam Pariwisata .................................. 128
Kepuasan Wisatawan .................................................................... 129
Mempertahankan Kepuasan Wisatawan ................................... 129
Aksesibilitas untuk berkebutuhan khusus ................................ 130
Kesehatan dan keselamatan ........................................................ 131
Mengatasi epidemi dan penularan penyakit internasional .... 133
Keamanan wisatawan ..................................................................... 135
Keamanan publik lokal .................................................................. 136
Menangkap Manfaat Ekonomi dari Pariwisata ........................ 140
Musiman pariwisata ....................................................................... 140
Kebocoran pariwisata..................................................................... 142
Tenaga kerja pariwisata ................................................................ 145
Pariwisata sebagai kontributor konservasi alam ..................... 145
Manfaat ekonomi terhadap masyarakat lokal dan destinasi.. 147
Pariwisata dan Pengentasan Kemiskinan ................................. 149
Daya Saing Bisnis Pariwisata ........................................................ 149
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan ix
Perlindungan Aset Alam Berharga .............................................. 151
Melindungi krisis ekosistem ........................................................ 151
Kualitas Air Laut ............................................................................. 152
Mengelola Sumber Daya Alam yang Langka ............................. 152
Manajemen energi ......................................................................... 152
Perubahan iklim dan pariwisata .................................................. 153
Pengurangan dampak pariwisata ................................................ 155
Ketersediaan dan konservasi air ................................................. 157
Kualitas air minum ......................................................................... 157
Membatasi Dampak Lingkungan dari Kegiatan Pariwisata .... 157
Perawatan limbah ........................................................................... 157
Pengelolaan limbah padat ............................................................ 158
Polusi udara ..................................................................................... 160
Polusi suara ..................................................................................... 162
Transportasi Terkait Pariwisata .................................................. 164
Transportasi udara dalam upaya menanggapi perubahan
pola dan akses ................................................................................. 165
Merancang Produk dan Layanan ................................................ 166
Membuat sirkuit dan rute trip ..................................................... 166
Menyediakan Berbagai Pengalaman ........................................... 167
Pemasaran untuk Pariwisata Berkelanjutan .............................. 168
Perlindungan citra destinasi ......................................................... 170
Sistem Kendali Keberlanjutan Operasi dan Layanan
Pariwisata ......................................................................................... 172
Masalah Dasar dan Indikator Dasar untuk Berkelanjutan
Pariwisata ......................................................................................... 172
REFERENSI ................................................................................................ 177
Indikator Perencanaan Pengembangan
x Pariwisata Berkelanjutan
1
Perkembangan Pariwisata
Konsep pembangunan pariwisata terus berkembang dan
dinamis, seiring dengan dinamika elemen-elemen yang
mempengaruhinya seperti isu keberlanjutan, isu ekonomi global,
dan isu-isu tersebut mempengeruhi pendekatan-pendekatan dan
konsep pengembangan pariwisata pada negara-negara maju.
Pengembangan pariwisata terdahulu yang berorientasi pada
pengembangan produk wisata masal, secara perlahan mulai
bergeser ke arah penngembangan yang menitik beratkan pada isu
berkelanjutan. Oleh karena itu World Tourism Organiztation (WTO)
menyerukan kepada negara-negara anggotanya untuk menerapkan
pengembangan pariwisata berkelanjutan. Beberapa konsep
pengembangannya dari pariwisata seperti community based tourism
(CBT) dan ecotourism, konsep-konsep ini bertujuan untuk
meningkatkan upaya keberlanjutan harus terus disosialisasikan di
banyak negara. Menyadari pentingnya pariwisata, maka PBB melalui
WTO dan United Nations Environment Pragrame (UNEP) telah
menetapkan tahun 2002 sebagai tahun internasional pariwisata.
Konsep pariwisata pada awalnya banyak dikembangkan oleh
para ahli biokonservasi, dimana mereka melihat perkembangan
wisata alam, yang cukup besar di era tahun 80-an yang
memperlihatkan dampak negatif yang cukup serius bagi pelestarian
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 1
keanekaragaman hayati, jika tidak dibarengi dengan upaya
pelestarian pada satu pemangku kepentingan.
Pandangan lain menyebutkan bahwa pariwisata yang bersifat
multisektoral, merupakan wadah yang memberikan kesempatan
sangat besar untuk mendorong usaha pelestarian pada tataran
global. Sementara disisi lain sebagian besar para ahli bio-konservasi
melihat bahwa pendekatan berbasis masyarakat merupakan salah
satu solusi dalam mengurangi degradasi sumberdaya alam menuju
keberlanjutan. Hal ini menyebabkan peluang pariwisata menjadi
terbuka lebar, sebagai jembatan untuk menciptakan bisnis dan
peluang kerja bagi masyarakat dan sekaligus upaya pelestarian
ekologi.
Namun demikian, perdebatan tentang keberhasilan dan
kegagalan akan pengembangan pariwisata masih terus berlangsung
hingga saat ini. Konsep pariwisata yang sebenarnya adalah
bertujuan untuk menyatukan dan menyeimbangkan beberapa
konflik secara obyektif dengan menetapkan ketentuan dalam
berwisata, melindungi sumberdaya alam dan budaya, serta
menghasilkan keuntungan dalam bidang ekonomi, pada masyarakat
lokal. Konsep pariwisata terdiri dari pelestarian lingkungan (alam
dan budaya), peningkatan partisipasi masyarakat, dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi lokal, telah diperkenalkan dan dikembangkan
dengan sukses dibanyak negara berkembang. Pengembangan ini
selalu konsisten dengan dua prinsip dasar yaitu memberikan
manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat lokal serta turut
andil dalam pelestarian alam.
Konsistensi keberlanjutan destinasi memerlukan kerjasama di
antara para pemangku kepentingan agar praktek yang bertanggung
jawab dapat berjalan dan indikator kunci yang strategis dapat
terpantau yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan,
oleh Pemerintah Daerah dan juga oleh seluruh pihak-pihak yang
berkepentingan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
2 Pariwisata Berkelanjutan
Apa itu pariwisata berkelanjutan?
Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh globalisasi telah
membawa perubahan besar bagi bangsa Indonesia, termasuk juga
melanda dunia kepariwisataan di Indonesia. Beberapa faktor
dominan dapat dicatat misalnya mainstream kepariwisataan dunia
yang sekarang tengah mengalami perubahan mendasar baik dalam
kebijakan, perencanaan, maupun pelaksanaannya dari mass tourism
(yang mengandalkan kegiatan masal, terstandar dan terorganisir)
menuju new global tourism yang lebih mementingkan fleksibilitas,
segmentasi, dan integrasi diagonal sebagai bentuk inovasi
kecenderungan special interest yang menghendaki pengendalian
motif ekonomi ke arah pelestarian sumber daya alam dan budaya.
Kecenderungan new global of tourism tersebut telah menjadi
bahan pertimbangan negara-negara anggota WTO (World Toursim
Organization) dalam merumuskan ketentuan ketentuan umum
dalam pengelolaan pariwisata untuk mengambil keputusan bersama
menyangkut pendekatan dan implementasi kepariwisataan dunia,
anatara lain mengagendakan pengembangan pariwisata
berkelanjutan.
Pengaruh globalisasi telah membawa perubahan besar bagi
bangsa Indonesia dan globlisasi juga melanda industri
kepariwisataan di Indonesia. Beberapa faktor dominan yang perlu
dicatat, misalnya berupa aliran modal dari orang yang berpengaruh
besar dalam penyelenggaraan pariwisata. Ketidakmampuan dalam
mengendalikan kecenderungan tersebut pada gilirannya telah
memunculkan tanggapan bahwa ketergantungan sektor pariwisata
pada modal asing hanya menguntungkan negara maju.
Konsekuensinya, penyelenggaraan di negara-negara berkembang
justru akan membawa kegagalan bagi negara itu sendiri.
Dari perspektif ekonomi, pariwisata merupakan sektor penting
baik dari kontributor perolehan devisa negara maupun sebagai
stimulan perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan
masyarakat. Sehingga sudah seharusnya sektor pariwisata dapat
mereposisikan status dan fungsinya kedalam mainstream
kepariwisataan dunia. Secara global, industri pariwsata saat ini
telah mengalami perubahan mendasar baik dalam kebijakan,
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 3
perencanaan maupun pelaksanaan dari mass tourism (yang
mengandalkan kegiatan massal terstandar, dan terorganisir) menuju
new global of tourism yang lebih mementingkan fleksibilitas,
segmentasi, dan intergrasi diagonal sebagai bentuk inovasi
kecenderungan spesial interst dan ecotourism yang menghendaki
pengendalian motif ekonomi kearah pelestarian sumber daya alam
dan sosial.
Kecenderungan new global of tourism tersebut telah menjadi
bahan pertimbangan negara-negara anggota WTO (World Tourism
Organiztation) dalam merumuskan ketentuan ketentuan umum dan
pengelolaan pariwisata untuk mengambil keputusan bersama yang
menyangkut pendekatan dan implementasi kepariwisataan dunia,
antara lain mengadakan pengembangan “pariwista berkelanjutan
(pariwisata berkelanjutan). Pengelolaan pariwisata, sangat
mengandalkan sumberdaya alam dan budaya yang terpelihara
dengan baik agar dapat nilai tambah bermanfaat bagi masyarakat.
Sejak tahun 1990-an isu pembanguanan berkelanjutan
(sustainable development) mulai dibicarakan di kalangan para ahli.
Konsep pembangunan berkelanjutan tersebut diartikan sebagai
proses pembangunan yang mengoptimalkan sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia. Nilai keberlanjutan itu bukan hanya
menyangkut aspek fisik tapi juga aspek sosial. Untuk mewujudkan
pola pembangunan berkelajutan, diperlukan tiga fase kebijakan yaitu
pengelolaan sumber daya alam (resource management), pengelolaan
dampak pembangunan terhadap lingkungan, serta pembangunan
sumber daya manusia (human resource devolepment).
Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan tidak dapat
dilepaskan kaitannya dengan kelemahan konsep sebelumnya,
sehingga perlu dirumuskan pendekatan new tourism dalam sebuah
rangkaian kegiatan pariwisata. Pembangunan berkelanjutan, salah
satu rumusan penting adalah deklarasi “piagam pariwisata
berkelanjutan” (1995) adalah “pengembangan pariwisata didasarkan
pada kriteria keberlanjutan yang secara ekologis harus dikelola
dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan aspek ekonomi,
etika dan sosial masyarakat.”
Indikator Perencanaan Pengembangan
4 Pariwisata Berkelanjutan
Pariwisata berkelanjutan yang didefinisikan oleh The World
Tourism Organization (UNWTO) adalah pariwisata yang
memperhitungkan secara penuh dampak ekonomi, sosial dan
lingkungan sekarang dan yang akan datang, menjawab kebutuhan
pengunjung, industri (pariwisata), lingkungan dan masyarakat lokal
tuan rumah [1].
Pariwisata berkelanjutan, seperti disebutkan dalam definisi
diatas dapat dikatakan sebagai pembangunan yang mendukung
secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara
etika dan sosial terhadap masyarakat. Artinya pembangunan
pariwisata berkelanjutan merupakan upaya terpadu dan
terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara
mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan
pemeliharan sumberdaya alam dan budaya secara berkelanjutan.
Berorientasi pada konteks pembangunan keberlanjutan, pariwisata
berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pembangunan pariwisata
yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan dengan tetap
memperlihatkan pelestarian lingkungan dan memberi manfaat baik
bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Hal tersebut
hanya dapat terlaksana melalui sistem penyelenggaraan pemerintah
yang (good governance) dengan partisipasi aktif dan seimbang antar
pemerintah, swasta, masyarakat. Dengan demikian, pembangunan
pariwisata berkelajutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan,
tetapi juga isu demokrasi, hak asasi manusia dan isu lain yang lebih
luas.
Pengembangan kawasan wisata berkelanjutan perlu
melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang paling mendasar
melalui pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting karena
masyarakat memiliki banyak informasi dan pengetahuan perihal
kondisi obyektif di daerahnya. Dengan demikian, dalam
pengembangan kawasan wisata terhadap masyarakat setempat
sebagai suatu model pendekatan perencanaan partisipatif yang
menempatkan masyarakat sebagai bagian penting untuk saling
berbagi, meningkatkan dan menganalisa pengetahuan mereka
tentang wisata dan kehidupan masyarakat.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 5
Pembangunan yang berpusat pada masyarakat lebih
menekankan pada pemberdayaan (empowerment), yang memandang
potensi masyarakat sebagai sumber daya utama dalam
pembangunan dan memandang kebersamaan sebagai tujuan yang
akan dicapai dalam proses pembangunan. Pembagunan melalui
proses pemberdayaan masyarakat pada umumnya menggunakan
pendekatan community based development, yang artinya adalah
pemberdayaan masyarakat dilaksanakan dengan berbasis komunitas.
Untuk mewujudkan pendekatan pemberdayaan masyarakat tersebut
perlu didukung oleh sejumlah fase dan tindakan yang dapat
memperlancar baik proses transformasi dan transisi dari paradigma
lama ke paradigma baru, maupun dalam menjabarkan konsep
pemberdayaan sebagai pendekatan yang digunakan sebagai
perspektif baru dalam kegiatan yang lebih operasional [2]. Oleh
karena itu dalam rangka pengelolaan kawasan wisata berbasis
masyarakat, perlu mengembangkan beberapa prinsip dasar, yaitu:
(1) Prinsip co-ownership
Bahwa kawasan wisata adalah milik bersama untuk itu ada hak-
hak masyarakat yang harus diakui.
(2) Prinsip co-operation
Kepemilikan bersama membawa konsekwensi bahwa
pengelolaan dilakukan bersama-sama seluruh komponen
masyarakat (pemangku kepentingan) yang terdiri dari
pemerintah, masyarakat dan organisasi non pemerintah yang
harus bekerja sama.
(3) Prinsip co-responsibility
Keberadaan kawasan wisata menjadi tanggung jawab bersama.
pengelolaan kawasan wisata merupakan tujuan bersama oleh
karenanya segala akibat dari pengembangan wisata tersebut
merupakan tanggungjawab bersama-sama.
Tiga prinsip mendasar tersebut perlu dijadikan landasan
strategis dalam pengembangan pariwisata yang dilaksanakan secara
komprehensif dan terpadu agar kawasan wisata tetap lestari.
Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dengan partisipasi aktif
baik bidang ekonomi, sosial maupun kebudayaan mereka.
Indikator Perencanaan Pengembangan
6 Pariwisata Berkelanjutan
Tujuan dasar pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah
tercapainya keseimbangan antara lingkungan pariwisata, kebutuhan
lokal masyarakat dan kebutuhan wisatawan. Dengan kata lain, tujuan
pencapaian, suistanable development adalah [3]:
(1) Tujuan pembangunan, berfokus pada pertumbuhan ekonomi
melalui pendekatan akar rumput untuk pembangunan yang
berfokus pada kepuasan kebutuhan dasar masyarakat.
(2) Tujuan lingkungan/berkelanjutan, melestarikan dan melindungi
lingkungan, terutama melestarikan sumber daya tak terbarukan.
Sejak tahun 1990-an isu pembangunan berkelanjutan diartikan
sebagai proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari
sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Nilai keberlanjutan itu
bukan hanya menyakut aspek fisik tapi juga aspek sosial. Guna
mewujudkan pembangunan keberlanjutan, diperlukan tiga fase
kebijakan yaitu pengelolaan sumberdaya alam (resources
development), pengelolaan dampak pembangunan terhadap
pembangunan, serta pembangunan sumber daya manusia (human
resources development).
Salah satu rumusan penting adalah deklarasi “piagam
pariwisata berkelanjutan (1995) yang menyebutkan: “pengembangan
pariwisata didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang secara
ekologis harus dikelola dalam jangka panjang, dengan tetap
memperhatikan aspek ekonomi, etika dan sosial masyarakat”.
Artinya, pembangunan parwisata berkelanjutan merupakan upaya
terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup
dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan
dan pemeliharaan sumber daya alam dan budaya secara
berkelanjuatan, tentunya harus dapat diartikan sebagai
pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan kebutuhan
wisatawan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan
khusus di beberapa daerah yang rentan, serta memberi manfaat baik
bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.
Tujuan dari pariwisata berkelanjutan adalah untuk mengurangi
kemiskinan, dengan menghormati keotentikan sosial-budaya, dan
penggunaan sumberdaya lingkungan secara bertanggung-jawab,
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 7
dan tidak hanya mendorong melainkan juga memfasilitasi serta
melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat lokal agar mereka
mampu berperan serta dalam proses produksi serta mendapat
berbagai manfaat langsung dari kegiatan pariwisata [1].
Kebermanfatan yang bisa diperoleh oleh masyarakat lokal dari
aktifitas pariwisata berkelanjutan adalah:
(1) Peluang usaha lokal baru dan penguatan ekonomi
Penciptaan peluang usaha baru seperti misalnya pariwisata,
akomodasi, transportasi dan energi ramah lingkungan, efisiensi
energi dan air serta pengelolaan sampah yang berwawasan
lingkungan, pusat pembelajaran dan budaya, penguatan
pendapatan untuk ekonomi setempat agar menjadi lebih
swasembada, mengurangi kebocoran dan memperkuat mata
rantai produksi setempat.
(2) Penciptaan lapangan pekerjaan yang layak
Terciptanya berbagai tempat kerja yang berkualitas karena
pekerjaan layak yang ramah lingkungan akan meningkatkan
kemakmuran dan daya beli penduduk, membantu mengurangi
kemiskinan dan sebagai konsumsi akan masuk kembali ke dalam
ekonomi lokal. Permintaan akan tenaga kerja juga membuka
peluang untuk pelatihan tingkat lokal dan fasilitas untuk
pengembangan kapasitas dan kapabilitas tenaga kerja.
(3) Daya tarik wisata dan penciptaan pasar
Destinasi pariwisata yang dikelola secara lebih baik dan
berkelanjutan dapat menarik wisatawan yang lebih berkualitas
dan juga akan mampu menjangkau kelompok sasaran dari
berbagai sumber pasar, dimana praktek industrinya tidak
mengganggu masyarakat dan lingkungannya, melainkan lebih
berkontribusi kepada keberlanjutan.
(4) Daya tarik investasi terkendali
Konservasi sumberdaya jangka panjang, pembangunan
masyarakat lokal dan infrastruktur yang baik, menjamin
lingkungan usaha yang baik saat ini dan untuk masa mendatang,
yang akan membuat destinasi menjadi lebih menarik lagi bagi
investor, dan dalam waktu yang bersamaan membantu
mengkonversi kekayaan pusaka masyarakat lokal.
Indikator Perencanaan Pengembangan
8 Pariwisata Berkelanjutan
(5) Jejaring usaha
Efek berganda yang kuat dapat terlihat dalam sektor pariwisata
melalui pengeluaran wisatawan untuk berbagai barang dan jasa
yang dikonsumsi, seperti pemandu wisata, restoran, toko
kerajinan, transportasi lokal dan barang barang serta jasa
lainnya baik dalam sektor ekonomi formal maupun informal.
(6) Pajak pendapatan
Usaha legal yang memenuhi kewajiban fiskal dan hukum
merupakan sumber pendapatan untuk pemerintah, yang
selanjutnya akan menggunakan dana tersebut untuk
pembangunan.
Aspek pariwisata berkelanjutan
Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dicapai dengan
menyeimbangkan ketiga elemen utama dalam pembangunan
pariwisata yang berkelanjutan, yaitu lingkungan, ekonomi, dan
sosial. Prinsip umum dalam pariwisata berkelanjutan yaitu:
(1) Menyeimbangkan pemanfaatan lingkungan dengan manfaat
ekonomis dari kepariwisataan.
(2) Menyeimbangkan pemanfaatan sumberdaya lingkungan dengan
perubahan nilai sosial dan masyarakat lokal yang disebabkan
oleh penggungaan sumberdaya lingkungan, dan
(3) Menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan dampak
pertumbuhan ekonomi pada nilai sosial dan masyarakat lokal
[4].
Aspek ekonomi
Pengembangan destinasi wisata berupaya untuk
memanfaatkan dan menjual potensi alam dan budaya yang masih asli
(nature), serta merupakan industri pariwisata yang cenderung
berkembang dengan pesat seiring dengan meningkatnya
kecenderungan minat masyarakat untuk menikmati alam
lingkungannya (back to nature), kemajuan dan kemudahan akses
mencapai lokasi obyek pariwisata, dan meningkatkan pendapatan
dan tingkat kesehjateraan masyarakat khususnya masyarakat
setempat.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 9
Pariwisata sebagai mata rantai alat pemberdayaan ekonomi
masyarakat, juga merupakan sebagai salah satu yang dipercaya
mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya lapangan kerja
baru, sumber pendapatan bagi masyarakat, aktivitas jasa industri
pariwisata yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan aktivitas ekonomi pada daerah-daerah sekitar yang
belum berkembang dan tersentuh pembangunan. Dari beberapa
hasil penelitian, menunjukan bahwa kegiatan pariwisata di beberapa
lokasi dan wilayah dapat memberikan dampak positif dari aspek
ekonomi kepada masyarakat sekitar. Bahkan menunjukan
kecenderungan mampu menaikkan tingkat pendapatan masyarakat
lokal.
Potensi sumber daya alam sebagai aset berupa flora, fauna,
ekosistem, fenomena alam dan kehidupan budaya masyarakat
sekitar yang sangat unik, khas, orisinil (nature), beragam dan
potensial, memiliki daya tarik sebagai obyek wisata. Namun
ekosistem lingkungan alam yang menjadi daya tarik tersebut, juga
potensial dan sensitif untuk mudah rusak apabila di dalam
pelaksanaan pengelolaan nya tidak mengacu pada aturan dan
prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan yang harus di terapkan.
Aspek lingkungan
Kawasan-kawasan wisata alam selalu memiliki potensi
sumberdaya alam berupa flora, fauna, ekosistem, fenomena alam
dan budaya masyarakat sekitar yang sangat unik, khas, orisinil,
beragam, dan potensial memiliki daya tarik sebagai obyek dan tujuan
pariwisata.
Potensi pariwisata diatas merupakan peluang industri
pariwisata yang menciptakan pengembangan pemanfaatan dari
potensi daya tarik alam lingkungan dan budaya di destinasi,
disamping merupakan tantangan di dalam keterpaduan
pemanfaatan dan konservasi secara berkelanjutan, sehingga mampu
mengendalikan kemungkinan kerusakan dan menurunnya potensi
daya tarik obyek wisata kerusakan dan penurunan kualitas potensi
daya tarik alam lingkungan dan budaya tersebut merupakan
ancaman potensial bagi kelangsungan dan keberlanjutan
Indikator Perencanaan Pengembangan
10 Pariwisata Berkelanjutan
pengembangan bisnis pariwisata. Oleh karena itu, pengelolaan
wisata dalam suatu kawasan dituntut mampu mengidentifikasi dan
memahami potensi daya tarik obyek pariwisata, kemampuan daya
dukung alam lingkungan, dan gangguan yang memungkinkan
mempengaruhi proses-proses ekologi terpenting.
Tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Daerah
bersama pemangku kepentingan di wilayahnya dengan tidak dengan
secara gegabah memutuskan hal-hal terkait dengan perkembangan
destinasi wisata yang bersifat instan. Namun secara bijak dapat
memutuskan pengembangan pariwisata yang dilandaskan pada
keterpaduan pemanfatan dan konservasi secara berkelanjutan dan
serta mampu untuk mengendalikan kemungkinan kerusakan dan
menurunnya daya tarik obyek wisata. Kondisi seperti ini akan
membawa dampak pada penurunan kualitas tidak saja pada potensi
alam dan potensi daya tarik lingkungan alam sebagai objek, tetapi
juga pada kelangsungan dan keberlanjutan industri wisata itu
sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan potensi alam pada suatu
kawasan yang rentan seperti gugusan pulau di destinasi wisata
dituntut untuk mampu mengidentifikasi potensi yang dapat menjadi
daya tarik, serta memahami berbagai indikator dampak lingkungan
yang mungkin terjadi akibat penyelenggaran kepariwisataan.
Di beberapa kawasan wisata di Indonesia, kaitan antara
kepentingan aspek konservasi dan aspek pendayagunaan potensi
obyek wisata, belum mampu digambarkan secara lengkap dan
menyeluruh. Indentifikasi atau penyajian informasi yang berkaitan
dengan kemampuan daya dukung, sensitifitas dan kerentanan
spesies kehidupan liar dan habitat alam lingkungan, dan gangguan-
gangguan yang kemungkinan mempengaruhi proses-proses ekologi
terpenting, perlu dilakukan sebagai dasar dalam menetapkan variasi
daya tarik wisatawan, disamping hasil identifikasi ini merupakan
juga dasar terpenting dari aspek konservasi alam pada
pengembangan pariwisata. Keberhasilan pengembangan destinasi
wisata yang berkelanjutan pada dasarnya sangat ditentukan oleh
kemampuan untuk menginterprestasikan lingkungan alam sebagai
potensi daya tarik obyek wisata.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 11
Kemampuan interprestasi lingkungan alam tidak hanya saja
akan berpeluang untuk menarik dan memiliki nilai jual tinggi, tetapi
tidak juga dapat menjadi bahan masukan utama pendidikan yang
harus dapat memberikan pengetahuan dan merubah prilaku
wisatawan dalam menyikapi konservasi alam dan lingkungan.
Infrastruktur dan sarana pengunjung seperti pusat informasi,
tempat akomodasi, papan petunjuk, papan informasi pengunjung di
suatu daerah tujuan pariwisata cenderung harus memperhatikan
penggunan bahan ramah lingkungan serta jelas dan lengkap.
Aspek Sosial
Dampak pariwisata terhadap situasi sosial dan budaya
masyarakat lokal lokal tidak boleh diabaikan. Dampaknya bisa
bersifat positif maupun bersifat negatif. Pendekatan pariwisata
berkelanjutan dirancang untuk mendorong terjadinya dampak
positif pembangunan pariwisata terhadap nilai-nilai sosial dan
budaya setempat, dan mengenali serta mengelola setiap dampak
negatifnya. Pembangunan pariwisata mungkin akan meningkatkan
degradasi budaya dan mengundang timbulnya kriminalitas,
terutama terkait dengan obat-obatan terlarang dan prostitusi.
Permasalahan juga mungkin timbul, bila masyarakat setempat harus
memperjuangkan sumberdayanya sendiri dan terasing dari
kenyamanan yang dinikmati wisatawan dan juga oleh kelakuan
wisatawan tak sesuai dengan nilai-nilai setempat.
Pendekatan berkelanjutan dalam pembangunan pariwisata
menawarkan lingkungan yang lebih baik untuk masyarakat dan
menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan
menempatkan budaya lokal sebagai bagian atau bahkan menjadi inti
produk pariwisata. Dengan menambahkan pendekatan
keberlanjutan dalam pembangunan kepariwisataan, pemberdayaan
masyarakat lokal melalui pendidikan, komunikasi, penguatan
toleransi dan rasa hormat, pertukaran budaya, kerjasama dan
kedamaian dapat tercapai. Pada saat yang sama juga mungkin akan
diperoleh kebanggaan yang lebih kuat terhadap budaya lokal dan
juga revitalisasi tradisi. Ketika masyarakat diperkuat toleransinya
dan rasa hormatnya terhadap tamu tamu mereka, tidak kurang pula
Indikator Perencanaan Pengembangan
12 Pariwisata Berkelanjutan
pentingnya pendidikan bagi wisatawan yang ditujukan agar mereka
menghormati budaya lokal tuan rumah dan semua atributnya.
Pariwisata berkelanjutan juga berkomitmen untuk
memperbaiki kehidupan masyarakat dengan memaksimumkan
kontribusi pariwisata bagi kemakmuran destinasi dan masyarakat
lokalnya. Pngaruh terhadap kepedulian masyarakat lokal terhadap
lingkungannya akan memperkuat aktivitas budaya yang selanjutnya
akan kembali berdampak positif baik kepada penduduk lokal
maupun terhadap wisatawan. Implementasi pariwisata
berkelanjutan bukanlah suatu yang sederhana untuk dilakukan,
diperlukan pemberdayaan masyarakat lokal yang berkesinambungan
melalui pendidikan, komunikasi, dan persuasi yang positif agar
supaya terjadi penguatan toleransi dan rasa hormat, pertukaran
sosial budaya, kerjasama dan perdamaian dapat tercapai. Pada saat
yang sama kebanggaan yang lebih kuat dalam budaya lokal dan juga
revitalisasi tradisi diharapkan dapat menjadi prioritas utama juga [5].
Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan dalam Perspektif
Indonesia
Pembangunan berkelanjutan adalah sebuah konsep yang
bertujuan untuk menciptakan keseimbangan diantara dimensi
pembangunan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Dimana
dalam proses pembangunan tersebut memiliki prinsip memenuhi
kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan
generasi yang akan datang. Unsur-unsur pendukung yaitu sumber
daya manusia, sumber daya alam, dan teknologi harus bersinergi
agar tidak terjadi ketimpangan antar dimensinya yaitu pertumbuhan
ekonomi, inklusi sosial serta perlindungan terhadap lingkungan
hidup. Oleh karena itu, pembangunan berkelanjutan berarti
merupakan pembangunan yang dapat berlangsung secara terus
menerus dan konsisten dengan menjaga kualitas hidup masyarakat
dengan tidak merusak lingkungan dan mempertimbangkan
cadangan sumberdaya yang ada untuk kebutuhan masa depan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 13
Salah satu dimensi pembangunan nasional adalah
pembangunan pariwisata. Di Indonesia, sektor pariwisata saat ini
merupakan salah satu pembangunan sektor unggulan dalam
Rencana Kerja Pemerintah jangka pendek maupun jangka menengah
bahkan Rencana Kerja Pemerintah jangka Panjang.
Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi terbesar dan
tercepat di dunia, dan memiliki peran yang cukup besar dalam
memberikan pembangunan berkelanjutan di banyak negara. Pada
saat yang sama pariwisata harus dikelola dengan baik sehingga
bermanfaat bagi masyarakat lokal dan lingkungan alam dan budaya
[6].
Pariwisata juga merupakan kegiatan utama yang mampu
mendukung sektor ekonomi yang bertanggung jawab dan
memberikan kontribusi 9% untuk PDB global. Sampai saat ini terjadi
pertumbuhan tingkat kedatangan pengunjung yang signifikan
bahkan jauh melebihi rata-rata pertumbuhan dunia yang
diperkirakan akan terus berlanjut, terutama di negara-negara
berkembang. Sektor pariwisata juga memberikan kontribusi sebesar
29% dalam ekspor jasa di seluruh dunia. Bagi banyak negara
berkembang kontribusi ini sangat signifikan, dan kadang-kadang
sebagai sumber utama pendapatan devisa. Studi akademis
menegaskan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap
pertumbuhan ekonomi dan banyak badan-badan internasional,
konvensi dan komunikasi telah secara resmi mengakui pentingnya
sektor ini sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan [6].
Berdasarkan hasil analisis terhadap tren pengembangan
pariwisata di seluruh dunia, setidaknya ada tiga kesimpulan utama
dapat ditarik sehubungan dengan pariwisata dan potensinya dalam
pengentasan kemiskinan:
(1) Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang paling
dinamis di banyak negara, yang dikembangkan tetapi juga
mengembangkan, dengan berbagai efeknya dari hulu dan hilir
pada kegiatan ekonomi lainnya, berkat rantai pasokan yang
sangat besar dan beragam.
Indikator Perencanaan Pengembangan
14 Pariwisata Berkelanjutan
(2) Gerakan wisata di negara berkembang dan negara kurang
berkembang tumbuh lebih cepat daripada di negara maju,
dengan perhitungan hampir 50% persen dari total kedatangan
wisatawan internasional. Hal ini disebabkan karena negara
berkembang memiliki aset nilai yang sangat besar untuk sektor
pariwisata, seperti budaya, seni, lanskap, satwa liar dan iklim,
dan posisi yang baik untuk mengembangkan pariwisata yang
merupakan sektor kunci dalam berkontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi.
(3) Pariwisata di banyak negara berkembang dan negara kurang
berkembang merupakan salah satu sumber utama, bahkan di
beberapa negara sebagai sumber utama dalam penerimaan
devisa dan, merupakan pembangunan ekonomi paling layak dan
berkelanjutan yang berdampak positif pada pengurangan
tingkat kemiskinan.
Sementara pariwisata merupakan kekuatan utama dalam
pembangunan, namun pariwisata juga memiliki sejumlah aspek
negatif, seperti:
(1) Pariwisata merupakan salah satu kontributor yang signifikan
atas perkembangan perubahan iklim yang saat ini mencapai
sekitar 5% dari emisi CO global, terutama yang dihasilkan oleh
transportasi tetapi juga disebabkan oleh pengoperasian fasilitas
pariwisata seperti akomodasi.
(2) Polusi tanah dan air yang diaklibatkan oleh buruknya limbah
padat dan cair dari aktivitas bisnis pariwisata dan dari kegiatan
wisatawan merupakan masalah di beberapa daerah.
(3) Bisnis akomodasi dan masyarakat lokal akan bersaing sebagai
pengguna utama sumber daya yang tidak terbarukan dan
berharga seperiti air dan tanah sehingga akan mengganggu
pasokan sumber daya tersebut.
(4) Pengembangan kawasan pariwisata yang buruk dan kegiatan
yang tidak pantas bisa sangat merusak keanekaragaman hayati
di daerah sensitif. dampak negatif ke situs warisan budaya dapat
terjadi jika dikelola oleh manajemen yang buruk.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 15
(5) Pariwisata dapat memiliki dampak negatif pada masyarakat
lokal, melalui pembatasan akses atas tanah dan sumber daya
dan mengarah ke peningkatan kejahatan, eksploitasi seksual dan
ancaman terhadap tradisi dan nilai-nilai sosial dan budaya.
(6) Kondisi kerja yang buruk kadang-kadang ditemukan di sektor
ini.
(7) Kinerja ekonomi sektor ini rentan terhadap pengaruh sumber
pasar, seperti kondisi ekonomi, peristiwa alam dan masalah
keamanan, meskipun pemulihan mungkin cepat saat keadaan
sudah membaik.
(8) Sehingga semua aspek negatif di atas menggarisbawahi
kebutuhan pariwisata sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-
hati, direncanakan dan dikelola di negara berkembang. Hal ini
mendorong pemerintah untuk menetapkan dan melaksanakan
kebijakan yang jelas pada kontrol dan manajemen dari sektor
ini, dalam hubungannya dengan semua pemangku kepentingan
pariwisata. Persyaratan mendasar dari sektor pariwisata
semestinya mampu merangkul prinsip-prinsip pariwisata
berkelanjutan dan fokus pada pencapaian tujuan pembangunan
berkelanjutan [6].
Indonesia sebagai negara berkembang merupakan salah satu
negara tujuan pariwisata yang menarik di dunia, karena Indonesia
memiliki alam yang indah serta kebudayaan yang unik dan menarik.
Maka tidak mengherankan bila pariwisata menjadi industri yang
menjanjikan bagi para pelaku bisnis di Indonesia. Pariwisata telah
menjadi salah satu sektor penghasil devisa bagi negara Indonesia
dan kontribusi sektor pariwisata sangat membantu dalam
peningkatan pembentukan PDB.
Sektor pariwisata memiliki daya tahan terhadap ekonomi yang
bisa diandalkan dan mencerminkan potensi yang perlu
dikembangkan. Dalam kurun tahun 2008-2013, dampak peranan
pariwisata terhadap PDB mengalami fluktuasi. Pada tahun 2013,
dampak ekonomi sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,02
persen terhadap PDB, sedikit meningkat dibandingkan tahun
sebelumnya yaitu sebesar 4,00 persen. Dampak ekonomi pariwisata
Indikator Perencanaan Pengembangan
16 Pariwisata Berkelanjutan
sebagian besar berasal dari sumbangan wisatawan nusantara yaitu
sebesar 1,65 persen, diikuti wisatawan mancanegara yaitu sebesar
1,20 persen. Walaupun dampak dari ekonomi sektor pariwisata baru
menyumbang sekitar 4 persen, tetapi sektor pariwisata terus
mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena dianggap
sebagai sektor yang menjanjikan dan bisa diandalkan dalam
perekonomian Indonesia karena sektor pariwisata relatif tahan
terhadap krisis ekonomi.
Dalam mengembangkan sektor ini, Kementerian Pariwisata
telah menetapkan visi yaitu "terwujudnya kesejahteraan dan kualitas
hidup rakyat Indonesia, melalui pariwisata". Keberlanjutan jelas
merupakan kunci dalam pencapaian visi ini, karena kualitas hidup
tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa keberlanjutan.
Konsep pariwisata berkelanjutan di Indonesia sudah
dituangkan dalam dokumen kebijakan dan hukum, yakni dalam
Undang-undang kepariwisataan yang lama, nomor 9 tahun 1990,
yang kemudian diperbaharui menjadi Undang-undang nomor 10
Tahun 2009. Undang-undang nomor 10 Tahun 2009, pasal 4
mengungkapkan; kinerja pembangunan pariwisata seharusnya
tidak hanya dievaluasi berdasarkan kontribusinya pada
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga atas kontribusinya terhadap
peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengurangan
pengangguran dan kemiskinan, pelestarian sumberdaya alam dan
lingkungan, pengembangunan budaya.
Visi Pembangunan Nasional Jangka Panjang Indonesia, Visi
Pembangunan Pariwisata Nasional dan Visi Kementerian Pariwisata
mengandung kesamaan prospek, yang merujuk kepada pentingnya
pembangunan berkelanjutan dan khususnya tentang kesejahteraan
rakyat, kesatuan dan identitas nasional kualitas hidup, nilai tambah,
pelestarian sumberdaya budaya dan seni, dan kerjasama
internasional sebagai sasaran kunci yang akan dicapai, dipelihara
dan diperluas (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI,
2012). Seperti yang diuraikan dalam Program Kerja Pemerintah
Tahun 2017, Rencana Program Pemerintah Jangka Menengah (RPJM
2015 - 2019) dan Rencana Program Kerja Pemerintah Jangka Panjang
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 17
(RPJM 2005 – 2025 terdapat korelasi antara pembangunan nasional
dengan implementasi pariwisata berkelanjutan yaitu tercapainya
arah dan sasaran pembangunan sosial budaya, pembangunan
ekonomi, serta pembangunan sumber daya alam dan lingkungan
hidup.
Lahan fungsi kawasan-kawasan konservasi sebagai berikut:
cagar alam suaka margasatwa hutan wisata (terdiri dari taman
wisata dan taman buru). Dalam peraturan perundang-undangan ini
juga mengatur tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan
ekosistem yang bersifat nasional dan terkait cukup banyak dengan
ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup yang
digunakan sebagai dasar hukum, namun belum sepenuhnya dapat
mengkomodasi berbagai kepentingan berbagai pemangku.
UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam
hayati dan ekosistemnya membagi kawasannya sebagai berikut :
kawasan suaka alam terdiri dari cagar alam dan marga satwa;
kawasan pelestarian alam terdiri taman nasional, taman wisata,
dan hutan raya.
Dalam undang-undang ini pemanfaatan secara lestari
sumberdaya alam hayati diatur dalam Pasal 5, dimana dalam
pemanfataan dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi
kawasan diatur dalam Pasal 27.
Demikian juga UU No. 41/1999, menganggap hutan sebagai
keasatuan ekosistem berupa sumberdaya alam hayati dan
lingkungannya. Sumberdaya tidak dilihat sebagai skumpulan
komoditas. Penyelnggaran kehutanan didasarkan azas manaat
lestari, kerakyataan, keadilan, kebersamaan, keterbuaan dan
keterpaduan. Dengan azas itu, alokasi kawasan hutan sesuai dengan
fungsinya yaitu hutan lindung, produksi dan konservasi.
Kepastian hukum sangat penting untuk menentukan siapa
yang punya akses, hak memiliki dan memanfaatkan sumberdaya
alam tersebut dilindungi oleh negara dan diakui oleh pemangku
kepentingan lainnya, sehingga setiap orang dapat mengelola pesisir
secara terncana dan memiliki rasa kepemilikan yang menjadi nilai
dasar pelestarian tersebut. Kepastitan hukum yang dapat
Indikator Perencanaan Pengembangan
18 Pariwisata Berkelanjutan
memberikan rasa keadilan dan keamanan pada masyarakat dalam
melaksanakan kegiatan pemanfaatan sumberdaya pesisir tanpa
intervensi oleh pemangku penguasa atau pengguna sumberdaya dari
daerah lain. Bagi dunia usaha, kepastian hukum memberikan
jaminan keamanan investasinya dalam jangka panjang serta
mengurangi resiko berusaha. Sedangkan bagi pemda, kepastian
hukum dapat menjamin konsistensi dan kebijakan pelaksanaan
otonomi daerah secara penuh dan bertanggung jawab.
Akan tetapi usaha-usaha konservasi menjadi rumit dan
kompleks dengan adanya kepentingan yang dimiliki oleh sebagian
pemangku. Para penganut konservasi murni akan memilih untuk
melakukan pembangunan total pada kehidupan alam, akan tetapi
dalam kenyataannya ekonomi dan politik memaksa bahwa
pendekatan ini akan sulit untuk dilaksanakan. Pada kenyataannya
tiga nilai yang terkandung pada konservasi, yaitu melindungi,
memanfaatkan dan mempelajari belum berjalan dengan seimbang.
Nilai pemanfaatan jauh lebih diterapkan dari pada dua nilai yang
lainnya. Inilah yang menjadi akar permasalahan dalam usaha-usaha
konservasi dimana saja, terutama di negara-negara berkembang.
Dari berbagai studi literatur, maka ditetapkan skema prinsip-
prinsip conservation oriented yang dikembangkan dalam
mengimplementasikan pariwisata berkelanjutan adalah:
(1) Law Enforcement terhadap ekosistem alami dan kelestarian
satwa liar
a) Konservasi ekosistem alami dengan melibatkan masyarakat.
Kegiatan ini adalah upaya konservasi lingkungan hidup,
seperti terumbu karang dan hutan bakau dengan melibatkan
masyarakat lokal.
b) Konservasi kelestarian satwa liar dengan melibatkan
masyarakat. Kegiatan ini merupakan upaya konservasi
terhadap pelestarian satwa liar dan ekosistem dengan
melibatkan masyarakat lokal.
c) Pengembangan amenitis yang pro konservasi. Kegiatan ini
merupakan upaya pengembangan sarana-sarana dan fasilitas
wisatawan yang pro terhadap konservasi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 19
(2) Law Enforcement terhadap pengelolaan limbah dengan
melibatkan masyarakat lokal
a) Upaya law enforcement terhadap pengelolaan limbah dengan
melibatkan masyarakat dan kelompok kepentingan
masyarakat dan kelompok kepentingan. Kegiatan ini
mengupayakan law enforcement terhadap pengelolaan
limbah dengan melibatkan masyarakat dan kelompok
kepentingan. Kegiatan ini didukung oleh Undang-undang
No. 32/2009 tentang Perlindungan terhadap Lingkungan.
Penjabaran undang-undang ini dijabarkan menjadi peraturan
antara lain yakni peraturan pemerintah mengenai analisis
dampak lingkungan, yang menjadi persyaratan untuk
proyek/konstruksi/aktivitas skala besar.
b) Kegiatan pengelolaan daur ulang limbah dengan melibatkan
masyarakat dan kelompok kepentingan
c) Kegiatan pengelolaan sumber air bersih dan konservasi
pasokan air dengan melibatkan masyarakat dan kelompok
kepentingan
(3) Kebijakan publik yang lebih peka jender dan perlindungan
pekerja anak
a) Kondisi kerja yang layak bagi perempuan. Kebijakan publik
dalam mengembangkan kebijakan yang lebih peka jender
dalam rangka memperkuat perlindungan hukum terhadap
perempuan sebagai angkatan kerja pariwisata. Sehingga
perlu dikondisikan suatu pekerjaan dan komponen pekerjaan
yang layak bagi perempuan yang dikuatkan dalam UU No.
7/1984 mengenai Konvensi tentang Penghapusan Semua
Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
b) Kelompok pekerja anak. Kebijakan publik dalam
mengembangkan kebijakan yang lebih peka terhadap pekerja
anak dalam rangka memperkuat perlindungan hukum
terhadap pekerja anak sebagai angkatan kerja pariwisata.
Sehingga perlu dilakukan monitoring terhadap kelompok
pekerja anak yang ada di sekitar kawasan terutama sekitar
hotel atau tempat lainnya. Upaya ini didukung oleh:
Indikator Perencanaan Pengembangan
20 Pariwisata Berkelanjutan
UU No. 20/1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 138
Mengenai Usia Minimum untuk Izin Kerja.
UU No. 1/2000 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No 182
mengenai Larangan dan Tindakan Segera terhadap
Penghapusan Bentuk Terburuk Buruh Anak (Kementrian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2014).
UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan
tujuan untuk menjamin pemenuhan hak anak supaya
mereka dapat bertahan hidup, tumbuh, berkembang
dan berpartisipasi secara optimal berdasarkan martabat
manusia dan prinsip-prinsip hak asasi manusia.
c) LSM atau layanan pemerintah di destinasi. Sudah seharusnya
ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau layanan
pemerintah yang bertugas di destinasi-destinasi rentan
pekerja anak.
(4) Pelestarian budaya lokal
a) Konservasi warisan budaya. Kegiatan ini merupakan upaya
konservasi warisan budaya bagi kesejahteraan rakyat,
identitas nasional dan martabat serta juga
mempromosikannya kepada komunitas internasional
(Undang-undang No. 11, 2010).
b) Konservasi nilai-nilai budaya. Kegiatan ini merupakan
konservasi nilai-nilai budaya, kehidupan tradisional,
makanan/memasak, peristiwa budaya, kerajinan, dll.
c) Pengembangan paket-paket wisata yang mengedepankan
budaya dan tradisi lokal. Kegiatan mengupayakan
pengembangan paket-paket wisata yang mengedepankan
budaya, seni dan tradisi lokal.
Daya dukung (carrying capacity)
Di antara aspek yang paling penting yang perlu dipantau
dalam suatu destinasi adalah daya dukung dan ketaatan terhadap
regulasi yang ada. Penggunaan lingkungan secara optimal, dengan
mempertimbangkan daya dukung alam, ekologi, sosial, dan
infrastruktur destinasi, akan menciptakan kenyamanan tidak hanya
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 21
bagi wisatawan akan tetapi juga bagi masyarakat lokal. Pariwisata
berkelanjutan bermakna lebih dari pelestarian lingkungan alami,
memasuki ranah kesejahteraan nyata dan memakmurkan
masyarakat lokal, dengan lingkungan alam dan budaya dalam
keseimbangan yang dinamis, untuk kepentingan masyarakat lokal,
wisatawan dan operator serta Pemerintah [4].
Tourism carrying capacity didefinisikan sebagai jumlah
maksimum orang yang dapat mengunjungi destinasi pariwisata pada
saat yang sama, tanpa menyebabkan kerusakan, lingkungan sosial
budaya fisik, ekonomi dan penurunan tidak dapat diterima dalam
kualitas kepuasan pengunjung. Carrying capacity merupakan suatu
konsep yang mengukur tingkat penggunaan pengunjung terhadap
terjaminnya keberlangsungan sebuah destinasi. Beberapa konsep
daya dukung yang bermanfaat dalam perencanaan pariwisata, yaitu:
(1) Management capacity, yaitu kemampuan jumlah wisatawan
yang dapat dikelola oleh manajemen destinasi tanpa
menimbulkan masalah administratif, manajemen, ekonomis,
serta pelayanan terhadap wisatawan.
(2) Phisical capacity, yaitu kapasitas fisik termasuk sarana dan
prasarana yang mampu mengakomodasi jumlah wisatawan
tanpa menimbulkan masalah dari segi kelancaran wisatawan
dalam menikmati destinasi baik kualitas fisik maupun luasnya
sarana dan prasarana.
(3) Enviromental capacity, yaitu jumlah wisatawan yang dapat
diakomodasi sehingga tidak menimbulkan kerusakan lingkungan
dan ekosistem.
(4) Economic capacity, jumlah wisatawan yang bisa didatangkan
sebelum masyarakat lokal mulai merasakan masalah ekonomi
yang ditimbulkan.
(5) Social capacity, jumlah penduduk maksimal, dimana jumlah yang
lebih banyak bisa menyebabkan kerusakan budaya yang sulit
dipulihkan kembali.
(6) Infrastructur capacity, jumlah wisatawan yang dapat
diakomodasi oleh infrastruktur suatu destinasi.
(7) Perceptual capacity, jumlah orang yang bisa dilayani oleh suatu
destinasi sebelum pengalaman berwisata berkurang.
Indikator Perencanaan Pengembangan
22 Pariwisata Berkelanjutan
Penghitungan daya dukung perlu dilakukan di setiap destinasi
untuk memberikan indikasi ambang batas yang bisa ditolerir oleh
suatu destinasi untuk beberapa aspek penting. Akan tetapi, karena
setiap destinasi berbeda dengan destinasi lain dalam banyak hal
termasuk kondisi geografis, ekosistem, struktur sosial dan ekonomi,
aka tidak ada satu konsep daya dukung dan perhitungan yang bisa
diaplikasikan di semua tempat.
Suatu destinasi dengan produk pariwisata yang melekat
padanya memperlihatkan proses siklis, dimulai dengan tahap
eksplorasi, pembangunan awal, dan percepatan dan mungkin
akhirnya mengalami penurunan setelah daya dukungnya terlampaui
atau menjadi tidak ekonomis atau tidak dapat bersaing. Karena itu,
monitoring merupakan agenda penting untuk mendapat peringatan
awal, menghindarkan terjadinya degradasi atau mendorong
terjadinya masalah ekonomi yang tidak berkelanjutan. Tanpa
mengelola daya dukung, kunjungan yang berlebih akan memberikan
dampak merugikan baik bagi destinasi maupun pengalaman
wisatawan.
Kapasitas infrastruktur mudah diidentifikasi, seperti
diindikasikan oleh kepadatan lalu lintas, tingkat penghunian
akomodasi, panjang antrian untuk memperoleh tiket, kerusakan
jalan, dan sebagainya. Sementara wisatawan umum mungkin
memperlihatkan toleransinya, segmen wisatawan tertentu mungkin
memilih untuk tidak mengunjungi tempat tersebut.
Ketidak tersediaan data informasi mengenai kemampuan daya
dukung, sensitivitas dan kerentanan spesies kehidupan liar dan
habitat alam lingkungan dan gangguan-gangguan yang
memungkinkan mempengaruhi proses-proses ekologi terpenting
dan dikaitkan dengan kecenderungan keinginan pengunjung, pola
perilaku pengunjung dampak aktivitas pengunjung (sampah dan
vandalisme, dan lain-lain), merupakan gambaran suatu kegagalan
dalam memenuhi daya dukung pariwisata.
Daya dukung destinasi juga harus dilihat dari pandangan
masyarakat lokal. Kunjungan yang berlebih mungkin tidak hanya
menimbulkan kekecewaan dilihat dari sudut pandang wisatawan,
tetapi juga dari sudut pandang masyarakat lokal yang terganggu
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 23
karena kenaikan biaya hidup, persaingan penggunaan air, sampah
yang berlebihan, polusi suara, estetika, dan lain-lain.
Dari berbagai studi literatur dapat ditetapkan skema prinsip-
prinsip carrying capaciy yang bisa diimplementasikan pariwisata
berkelanjutan antara lain:
(1) Daya dukung kemampuan manajemen
a) Daya dukung sumber daya manusia. Merupakan suatu
kegiatan yang mengukur jumlah sumber daya manusia yang
digunakan untuk mengawasi dan memandu kunjungan
sehingga terjaminnya keberlangsungan sebuah destinasi.
b) Daya dukung sumber daya amenitis. Merupakan suatu
kegiatan yang mengukur jumlah sumber daya amenitis yang
tersedia di kawasan wisata Kepulauan Seribu, seperti segi
jumlah area wisata, toilet umum, air bersih, dan sebagainnya.
c) Daya dukung program keselamatan. Merupakan suatu
kegiatan pengukuran terhadap keberadaan program
keselamatan. Terkait keberadaan program keselamatan
pantai khususnya untuk wisatawan sesuai UU No. 10 tahun
2009 tentang kepariwisataan.
d) Daya dukung sumber daya aksesibilitas. Merupakan suatu
kegiatan pengukuran terhadap jumlah akses transportasi
pada saat peak season dan pada saat kondisi normal.
e) Manajemen pengelolaan sampah. Merupakan suatu kegiatan
pengukuran terhadap keberadaan manajemen pengelolaan
sampah.
(2) Kerusakan lingkungan
a) Jumlah wisatawan pada saat peakseason dan kondisi normal.
Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan pengukuran
mengenai kondisi kerusakan lingkungan yang diakibatkan
oleh kegiatan wisata dan diluar aktifitas pariwisata sehingga
diperlukan suatu perhitungan jumlah wisatawan pada saat
normal dan pada saat peakseason.
b) Tingkat erosi air laut. Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan
pengukuran mengenai kondisi tingkat erosi air laut yang
diakibatkan oleh aktifitas pariwisata dan yang bukan
Indikator Perencanaan Pengembangan
24 Pariwisata Berkelanjutan
diakibatkan oleh aktifitas pariwisata sehingga diperlukan
suatu perhitungan tingkat erosi air laut.
c) Tingkat kerusakan hutan bakau. Kegiatan ini merupakan
suatu kegiatan pengukuran mengenai tingkat kerusakan
hutan bakau yang diakibatkan oleh aktifitas wisata dan yang
bukan diakibatkan oleh aktifitas pariwisata sehingga
diperlukan suatu perhitungan tingkat kerusakan hutan
bakau.
d) Tingkat kerusakan terumbu karang. Kegiatan ini merupakan
suatu kegiatan pengukuran mengenai tingkat kerusakan
terumbu karang yang diakibatkan oleh aktifitas wisata dan
yang bukan diakibatkan oleh aktifitas pariwisata sehingga
diperlukan suatu perhitungan tingkat kerusakan terumbu
karang.
e) Kondisi limbah sampah. Kegiatan ini merupakan suatu
kegiatan pengukuran kondisi limbah sampah yang
diakibatkan oleh aktifitas wisata dan yang bukan diakibatkan
oleh aktifitas pariwisata sehingga diperlukan suatu
perhitungan kondisi limbah sampah.
(3) Jumlah wisatawan yang dapat diakomodasi oleh infrastruktur
Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan pengukuran mengenai
jumlah wisatawan yang dapat diakomodasi oleh infrastruktur
sehingga diperlukan suatu perhitungan jumlah wisatawan pada
saat normal dan peakseason dan jumlah infrastruktur yang
tersedia di destinasi.
Pendidikan dan pelatihan
Sebagai industri padat karya, dengan pasar domestik yang
besar dan terus bertumbuh, pariwisata diharapkan berkontribusi
banyak pada program penghapusan pengangguran di Indonesia.
Akan tetapi, dalam beberapa kasus program pembangunan kapasitas
untuk laki-laki dan perempuan yang bekerja pada industri pariwisata
seringkali tidak dirancang dengan baik, tidak efisien, dan kinerja di
bawah harapan. Hal ini mengakibatkan produk dan jasa pariwisata
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 25
tidak memenuhi baik standar kualitas minimum maupun harapan
wisatawan nusantara dan mancanegara.
Selanjutnya, tujuan akhir pembangunan kepariwisataan adalah
kesejahteraan bagi masyarakat lokal. Pendidikan serta pelatihan
kepariwisataan dan hospitaliti perlu lebih dari mengembangkan
keterampilan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa dalam industri
industri pariwisata sangat dibutuhkan standar kompetensi dalam
pendidikan dan pelatihan kepariwisataan. Pemerintah daerah
sebaiknya mengembangkan visinya dalam konteks sistem pariwisata
yang kompleks dan secara realistik membuat rencana yang
bermuara pada kesejahteraan masyarakat.
Perbedaan penting antara bentuk pariwisata berkelanjutan
dan pariwisata konvensional terletak pada unsur aktivitas
pendidikan atau pelatihan. Hal ini bukan berarti bahwa diperlukan
tingkat akademik yang tinggi untuk menjadi seorang wisatawan
yang berkelanjutan; namun pemahaman yang lebih alami tentang
bagaimana manusia dan lingkungan bekerja dan melakukan aktifitas
untuk mencapai tujuan [7].
Dari perspektif pengelolaan pariwisata pendidikan dan
pelatihan sangat dibutuhkan tidak saja untuk para pelaku yang
terkait dengan pengembangan pariwisata, tetapi juga wisatawan
yang melakukan kunjungan kedaerah wisata. Pendidikan pelatihan
bagi pelaku bertujuan agar dalam melaksanakan secara profesional
dalam penyelanggaran pariwisataan sedangkan untuk wisatawan
dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian, kesadaran dan
apresiasi terhadap pentingnya pelestarian lingkungan alam dan
budaya dari daerah yang dikunjunginya [8].
Penyelenggaraan pariwisata berkelanjutan harus dapat
mengakomodasi keingintahuan dan proses pembelajaran
pengunjung mengenai beberapa hal yang menyangkut pengelolaan
kawasan konservasi alam, potensi daya tarik obyek wisata,
kehidupan dari spesies hidupan liar dan habitat alam lingkungan,
siklus dan proses-proses ekologi terpenting dan sebagainya.
Interprestasi memegang peran yang sangat strategis dan penting
dalam pengembangan pariwisata, khususnya untuk membantu
pengunjung untuk memahami komponen, keterkaitan proses-proses
Indikator Perencanaan Pengembangan
26 Pariwisata Berkelanjutan
alam lingkungan yang ada, mendorong keinginan untuk mempelajari
dan mendalami alam lingkungan, mendorong keinginan untuk
melibatkan diri dari pengunjung dalam upaya pengelolaan,
perlindungan dan pelestariannya, atau mendorong perubahan sikap
dan kesadaran pengunjung dan masyarakat luas untuk memahami
makna dari upaya konservasi maupun kegiatan pariwisata. Hal ini
sering kali luput dari perhatian para perencana, pengembang,
pengelola dan operator pariwisata.
Dari pengembangan pariwisata berkelanjutan dikawasan
wisata, umumnya tidak dapat dilepaskan dari aspek interprestasi
alam lingkungan. Hal ini harus menjadi perhatian utama dari
pengelola kawasan maupun para operator pariwisata. Keberhasilan
pengembangan pariwisata pada dasarnya sangat ditentukan oleh
kemampuan untuk menginterprestasikan potensi daya tarik
pariwisata, yang selanjutnya dikemas di dalam paket-paket
kunjungan pariwisata sebagai produk unggulan pariwisata di suatu
lokasi kawasan.
Kemampuan interprestasi lingkungan pada dasarnya tidak saja
akan berpeluang untuk menarik dan memiliki nilai jual tinggi, tetapi
juga dapat memberikan pengetahuan dan merubah prilaku
wisatawan dalam menyikapi konservasi alam dan lingkungan.
Infrastruktur dan bahan-bahan interprestasi baik berupa sarana
pusat pengunjung, pusat informasi, booklet, brosur, leaflet,poster,
dan berbagai informasi yang diperlukan oleh pengunjung di lokasi
areal kajian sangat harus lengkap hal ini jelas akan dapat
mengakomodasi salah satu prinsip pengembangan pariwisata, yaitu
menyediakan informasi untuk memenuhi keingintahuan dan proses
pembelajaran pengunjung mengenai berbagai hal yang menyangkut
pengelolaan kawasan konservasi alam, potensi daya tarik obyek
pariwisata, kehidupan dari spesies kehidupan liar dan habitat alam
lingkungan,siklus dan proses-proses ekologi terpenting dan
sebagainya.
Interprestasi memegang peran yang sangat strategis dan
penting dalam pengembangan pariwisata, khususnya untuk
membantu pengunjung memahami komponen, keterkaitan dan
proses-proses alam lingkungan yang ada, mendorong keinginan
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 27
untuk mempelajari dan mendalami alam lingkungan, mendorong
keinginan untuk melibatkan diri dari pengunjung dalam upaya
pengelolaan, perlindungan dan pelestariannya atau mendorong
perubahan sikap dan kesadaran pengunjung dan masyarakat luas
untuk memahami makna dari upaya konservasi maupun kegiatan
pariwisata. Hal ini sering kali luput dari perhatian para perencanaan,
pengembang, pengelola, dan operator pariwisata.
Lebih dari sekedar penghasil devisa yang penting, pariwisata,
jika diperlakukan dengan cara yang berkelanjutan, dapat
dimanfaatkan untuk berkontribusi terhadap pembangunan
berkelanjutan dan tujuan pembangunan milenium yang penting
melalui pengadaan pekerjaan dan lapangan kerja di wilayah
perkotaan maupun perdesaan, menyebarkan pembangunan ke
daerah daerah perdesaan yang lebih miskin dan terasing,
memperbaiki transportasi dan koridor telekomunikasi, menciptakan
pekerjaan ramah lingkungan dengan kerja yang layak dan pelatihan
keterampilan untuk perempuan dan angkatan muda yang mungkin
dengan cara lain tidak mempunyai peluang tersebut.
Lebih lanjut membangkitkan kesadaran dan sumberdaya untuk
membantu perlindungan terhadap lingkungan, pencegahan
HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lain serta meningkatkan peluang
untuk pendidikan dan pelatihan merupakan tujuan kunci sektor
pariwisata berkelanjutan.
Dari berbagai studi literatur dapat ditetapkan Prinsip-prinsip
pendidikan dan pelatihan yang bisa diimplementasikan pariwisata
berkelanjutan antara lain:
(1) Program pelatihan berbasis kompetensi. Kegiatan program
training berbasis kompetensi dilaksanakan untuk para pelaku
wisata agar mampu bekerja secara professional pada unit-unit
usaha yang pro pariwisata berkelanjutan. Seperti yang
dituangkan dalam UU No. 9/2010 bahwa Pemerintah daerah
sudah menyelenggarakan pelatihan dan riset kepariwisataan
dalam lingkup kabupaten/kota.
(2) Pelatihan keterampilan berbasis kompetensi untuk perempuan,
pekerja usia muda dan rantai produksi pariwisata sudah
semestinya dipersiapkan secara sistematis, sehingga
Indikator Perencanaan Pengembangan
28 Pariwisata Berkelanjutan
kemampuan bagi lebih banyak perempuan dan pekerja muda
lebih berkualitas memasuki sektor pariwisata yang berbasis
pariwisata berkelanjutan.
(3) Memberikan pendidikan kepada wisatawan terkait aktifitas
pariwisata berkelanjutan. Perbedaan penting antara bentuk
pariwisata berkelanjutan dan pariwisata konvensional terletak
pada unsur aktivitas pendidikan atau pelatihan. Dari
perspefektif pengelolaan pariwisata pendidikan dan pelatihan
sangat dibutuhkan tidak saja untuk para pelaku yang terkait
dengan pengembangan pariwisata, tetapi juga wisatawan yang
melakukan kunjungan ke destinasi wisata. Memberikan
pendidikan kepada wisatawan dalam rangka meningkatkan
kepedulian, kesadaran dan apresiasi terhadap pentingnya
pelestarian lingkungan alam dan budaya dari daerah yang
dikunjunginya. Program pendidikan ini belum pernah dilakukan
pemangku kepentingan kepada para wisatawan. Sosialisasi yang
dilakukan kepada wisatawan adalah terkait dengan tata cara
melakukan memberikan informasi mengenai tata cara
melakukan aktivitas wisata bahari.
Promosi
Berorientasi pada konsep marketing, pada awalnya disebut
promosi dan saat ini populer disebut sebagai komunikasi
pemasaran, komunikasi pemasaran mencakup semua alat yang
dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan pelanggan, karyawan
dan pemangku kepentingan lainnya. Membangun hubungan yang
baik dengan pelanggan tidak cukup hanya dengan melakukan
pengembangan produk dan harga yang atraktif tetapi juga harus
mengkomunikasikan proposisi nilai kepada pelanggan. Keseluruhan
elemen komunikasi harus direncanakan, dibaur dan diintegrasikan
ke dalam program komunikasi pemasaran [9].
Mengadopsi konsep komunikasi pemasaran, dalam promosi
konsep pariwisata berkelanjutan, promosi atau mengkomunikasikan
berarti memperkenalkan, mensosialisasikan, dan mengkampanyekan
pariwisata berkelanjutan yang ditetapkan disuatu kawasan wisata
tujuan promosi adalah untuk meningkatan kesadaran para
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 29
pemangku kepantingan akan prinsip-prinsip pariwisata yang
berkelanjutan. Termasuk didalamnya mempromosikan tingkah laku
wisatawan yang sesuai dengan perilaku masyarakat setempat, untuk
mencegah prilaku yang bisa mengakibatkan kerugian-kerugian non
material terhadap kehidupan generasi masa depan. Promosi
tersebut juga meminimalkan benturan kepentingan antar pemangku
kepentingan dalam penggunaan sumber daya alam maupun budaya,
serta pembangunan sarana dan prasarana pariwisata.
Dari berbagai hasil studi literatur, maka ditetapkan skema
prinsip-prinsip promosi yang bisa diimplementasikan pariwisata
berkelanjutan antara lain:
(1) Mempromosikan dan mengkampanyekan pariwisata
berkelanjutan kepada pemangku kepentingan. Mempromosikan,
mensosialisasikan dan mengkampanyekan pemeliharaan
industri pariwisata yang pro sustainability sudah semestinya
dilakukan terlebih dahulu kepada kepada pemangku
kepentingan yang bertujuan untuk meningkatan kesadaran
pemangku kepentingan akan prinsip-prinsip pariwisata yang
berkelanjutan.
(2) Mempromosikan kepada wisatawan agar tidak berperilaku yang
bisa mempengaruhi perilaku masyarakat lokal. Tujuan dari
kegiatan promosi ini adalah agar wisatawan tidak berperilaku
yang bisa mempengaruhi perilaku masyarakat lokal terutama
perilaku generasi muda. Justru promosi yang mesti dilakukan
adalah mempromosikan agar wisatawan berperilaku layaknya
masyarakat lokal, sehingga tidak menimbulkan degredasi sosial
terhadap kehidupan generasi masa depan.
(3) Promosi bahwa ada kepentingan yang sama antar pemangku
kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya. Kegiatan
promosi ini adalah bahwa ada kepentingan yang sama antar
pemangku kepentingan dalam menggunakan sumber daya alam
maupun budaya, serta sarana dan prasarana.
Indikator Perencanaan Pengembangan
30 Pariwisata Berkelanjutan
Monitoring dan evaluasi
Monitoring dilakukan oleh para pemangku kepentingan dalam
suatu wadah yang dibentuk bersama terhadap tahap perencanaan
yang mencakup tujuan-tujuan dan jadwal serta monitoring tahap
pelaksanaan. Dalam proses monitoring ini diarahkan untuk
mengawasi prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan agar
dilaksanakan secara konsekwen dan konsisten sehingga dibutuhkan
suatu sistem informasi.
Monitoring diimplementasikan dalam sistem informasi. Sistem
informasi merupakan proses yang menjalankan fungsi
mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis,
menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu. Sistem informasi
tidak harus terkomputerisasi, walaupun kebanyakan memang
terkomputerisasi [10].
Dalam upaya monitoring dan evaluasi (monev), pemerintah
(pada khususnya) dan pemangku kepentingan kepariwisataan (pada
umumnya) bisa menggunakan berbagai jenis instrumen, di
antaranya adalah measurement instruments (instrumen
pengukuran), command and control instruments (instrumen perintah
dan pengendalian), economic instruments (instrumen ekonomi),
voluntary instruments (instrumen sukarela), dan supporting
instruments (instrumen pendukung) [11]. Definisi dari masing-
masing instrumen tersebut dipaparkan di bawah ini. Perlu diingat
bahwa walaupun setiap instrumen mempunyai perannya masing-
masing, tetapi instrumen dokumen tersebut tidak berdiri sendiri,
melainkan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan
lainnya.
(1) Measurement instrument, digunakan untuk menentukan tingkat
kepariwisataan dan dampaknya, dan untuk menganalisi
perubahan yang terjadi dan potensial akan terjadi.
(2) Command and control instrument, digunakan untuk membantu
Pemerintah untuk menerapkan pengendalian yang ketat untuk
aspek-aspek tertentu yang dianggap penting, didukung
peraturan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 31
(3) Economic instrument, digunakan untuk mempengaruhi perilaku
dan dampaknya melalui mekanisme finansial dan pemberian
sinyal ke pasar (market signaling).
(4) Voluntary instrument, digunakan sebagai kerangka kerja atau
proses yang mendorong ketaatan sukarela dari para pemangku
kepentingan.
(5) Supporting instrument, digunakan sebagai instrument agar
Pemerintah dapat, secara langsung, maupun tidak langsung,
mempengaruhi dan mendukung sektor swasta dan individu
wisatawan yang melaksanakan praktek bisnis dan berperilaku
sesuai etos dan prinsip keberlanjutan.
Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Prinsip Pariwisata
berkelanjutan
Perkembangan demografi
Demografi merupakan studi mengenai populasi manusia yang
meliputi ukuran populasi, struktur usia, distribusi geografis, dan
distribusi pendapatan dan statistik lainnya [9], yang terdiri dari:
(1) Ukuran populasi, mengamati perubahan demografis dalam
populasi merupakan hal yang sangat penting. Tingkat
pertumbuhan populasi yang cepat pada suatu negara akan
semakin mengurangi sumber daya alam dan mengurangi
standar hidup penduduknya.
(2) Struktur usia, penurunan tingkat kelahiran dan meningkatnya
harapan hidup menunjukkan peluang untuk mengembangkan
barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan populasi
tersebut.
(3) Tingkat pendidikan, pendidikan adalah proses yang manusia
dan masyarakat mencapai potensi mereka sepenuhnya. Hal ini
penting untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan
dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk ikut serta dalam
isu-isu pembangunan.
(4) Distribusi pendapatan, memahami bagaimana penghasilan
didistribusikan dalam dan lintas populasi merupakan informasi
tentang daya beli dan pendapatan kelompok populasi. Poin
yang terpenting adalah informasi mengenai rata-rata
Indikator Perencanaan Pengembangan
32 Pariwisata Berkelanjutan
pendapatan dan individual serta menginformasikan kemampuan
ekonomi dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang
merupakan proporsi populasi usia kerja pada suatu wilayah. Hal
ini biasanya diuraikan berdasarkan jenis kelamin dan kelompok
umur.
Perkembangan ekonomi
Kesehatan perekonomian suatu bangsa mempengaruhi kinerja
perusahaan individual dan industri. Oleh karena itu sangat
diperlukan untuk mempelajari lingkungan ekonomi untuk
mengidentifikasi perubahan, tren, dan implikasi strategisnya. Isu-isu
ekonomi sangat erat hubungannya dengan realitas lingkungan
eksternal dari segmen hukum dan politik [12], termasuk dalam
praktik pariwisata berkelanjutan. Biasanya pada tingkat ekonomi
yang masih rendah, praktik pariwisata cenderung melakukan praktik
pariwisata massal.
Perkembangan politik dan hukum
Politik dan hukum adalah suatu arena dimana organisasi dan
kelompok-kelompok yang berkepentingan bersaing untuk sumber
daya yang diinginkan, dan terdapat pengawasan terhadap badan
hukum dan undang-undang. Pada dasarnya, segmen ini mewakili
bagaimana organisasi-organisasi mempengaruhi pemerintah dan
pemerintah mempengaruhi mereka. Keluaran dari segmen ini
adalah undang-undang anti trust, undang-undang pajak, deregulasi-
deregulasi untuk industri, undang-undang pelatihan tenaga kerja
dan tingkat dan komitmen institusi pendidikan. Hal ini merupakan
kebijakan administrasi yang dapat mempengaruhi operasi dan
profitabilitas industri dan industri rumah tangga [12].
Perkembangan sosial budaya
Segmen sosial budaya berkaitan dengan sikap-sikap dan nilai
kultural suatu masyarakat. Karena sikap dan nilai-nilai membentuk
pondasi suatu masyarakat, dimana masyarakat selalu ikut serta
mendorong kondisi-kondisi dan perubahan demografis, ekonomi,
politik dan hukum, serta teknologi. Keberlanjutan sosial mengacu
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 33
pada kemampuan masyarakat, baik lokal atau nasional, untuk
menyerap masukan, seperti penambahan orang untuk jangka
pendek atau panjang waktu, dan untuk terus berfungsi baik tanpa
menciptakan ketidakharmonisan sosial sebagai atau dengan kata
lain mengadaptasi fungsi dan hubungan sehingga dapat mengurangi
ketidakharmonisan.
Perkembangan teknologi
Perkembangan teknologi mempengaruhi banyak unsur di
masyarakat. Pengaruh-pengaruh teknologi timbul melalui produk-
produk, proses-proses, dan materi baru. Segmen teknologi meliputi
institusi-institusi dan aktivitas-aktivitas yang terlibat dalam
menciptakan pengetahuan baru dan menterjemahkan pengetahuan
tersebut ke output, produk, proses, dan materi-materi baru.
Mengembangkan teknologi baru kadang-kadang bisa
mentransformasi dan merevitalisasi seluruh aspek industri.
Perkembangan globalisasi
Segmen global meliputi pasar global baru yang relevan, pasar
global yang sedang berubah, peristiwa-peristiwa politik
internasional yang penting, dan karakteristik kultural dan
institusional yang menentukan pasar global. Potensi pasar
pariwisata global seperti saat ini sangat mendukung untuk
dilakukannya praktik pariwisata berkelanjutan. Perilaku wisatawan
global saat ini cenderung memiliki preferensi pada kebutuhan
mencari destinasi wisata yang memiliki keunikan. Perbedaan iklim
dan 3S (“sun, sea, and sand”) tidak lagi cukup memotivasi wisatawan
untuk mengunjungi suatu destinasi. Wisatawan mencari keunikan
yang otentik, yaitu budaya dan alam lingkungan yang dimiliki oleh
suatu destinasi. Wisatawan juga tertarik untuk ikut serta
menciptakan pengalaman berwisata mereka sendiri, dengan
beraktivitas di alam (nature-contact) dan berinteraksi dengan
masyarakat di destinasi (people-contact). Praktik pariwisata
berkelanjutan di destinasi akan mampu membentuk keunggulan
saing kepariwisataan pada suatu destinasi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
34 Pariwisata Berkelanjutan
2
Pariwisata saat ini menjadi sektor utama ekonomi dunia,
terutama karena mengacu pada perdagangan jasa internasional.
Pengelolaan pariwisata akan mempengaruhi kondisi destinasi dan
masyarakat lokal, dan secara lebih luas, masa depan ekosistem,
wilayah dan negara. Diharapkan pada semua skala pariwisata dapat
menjadi kontributor positif bagi pembangunan berkelanjutan sesuai
dengan perannya, secara siginifikan memberikan manfaat namun
juga memberikan potensi tekanan pada lingkungan terkait industri
pariwisata. Sehingga, indikator-indikator pariwisata berkelanjutan
sudah selayaknya berfokus pada isu-isu dampak dan keberlanjutan
dari aktifitas pariwisata, dan pada indikator pengelolaan klasik yang
merespons kebutuhan khusus pada banyak skala.
Pedoman dan praktek pengembangan pariwisata yang
berkelanjutan berlaku untuk semua bentuk pariwisata di semua jenis
destinasi, termasuk pariwisata massal dan berbagai segmen wisata.
Prinsip keberlanjutan mengacu pada aspek lingkungan, ekonomi dan
sosial budaya pengembangan pariwisata, dan keseimbangan yang
sesuai harus ditetapkan antara ketiga dimensi ini untuk menjamin
keberlanjutan jangka panjangnya. Dengan demikian, pariwisata
berkelanjutan harus:
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 35
Memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal yang
merupakan elemen kunci dalam pengembangan pariwisata,
memelihara proses ekologis yang penting dan membantu
melestarikan alam dan keanekaragaman hayati.
Menghormati keaslian sosio-budaya masyarakat lokal,
melestarikan warisan budaya dan nilai tradisional yang dibangun
dan lestari, serta berkontribusi pada pemahaman dan toleransi antar
budaya.
Memastikan operasional ekonomi jangka panjang yang layak,
memberikan manfaat sosio-ekonomi kepada semua pemangku
kepentingan dan terbagi secara merata, termasuk lapangan kerja
dan kesempatan kerja produktif yang stabil dan layanan sosial agar
masyarakat menjadi tuan rumah, serta berkontribusi terhadap
pengentasan kemiskinan.
Pengembangan pariwisata berkelanjutan memerlukan
partisipasi dari semua pemangku kepentingan yang relevan, serta
dukungan politik yang kuat untuk memastikan partisipasi dan
pembangunan konsensus yang luas. Mencapai pariwisata
berkelanjutan adalah proses yang berkesinambungan dan
memerlukan monitoring dampak yang terus-menerus, dengan
memperkenalkan fase-fase pencegahan dan perbaikan yang
diperlukan bila diperlukan.
Pariwisata berkelanjutan juga harus mempertahankan tingkat
kepuasan wisatawan yang tinggi dan memastikan pengalaman yang
berarti bagi para wisatawan, sehingga meningkatkan kesadaran
mereka tentang masalah keberlanjutan sehingga turut serta dalam
mempromosikan praktek pariwisata berkelanjutan.
Indikator [13] adalah ukuran keberadaan atau tingkat
keparahan masalah yang terjadi pada saat sekarang, sinyal situasi
atau masalah yang akan datang, ukuran risiko dan kebutuhan
potensial untuk melakukan tindakan, serta sarana untuk
mengidentifikasi dan mengukur hasil tindakan yang telah dilakukan.
Indikator merupakan sekumpulan informasi yang dipilih secara
formal untuk digunakan secara reguler dalam mengukur perubahan
yang penting bagi pengembangan dan pengelolaan pariwisata.
Pengukuran yang dilakukan adalah:
Indikator Perencanaan Pengembangan
36 Pariwisata Berkelanjutan
perubahan struktur kepariwisataan dan faktor internal;
perubahan faktor eksternal yang mempengaruhi pariwisata dan;
dampak yang ditimbulkan oleh pariwisata.
Informasi kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan untuk
indikator keberlanjutan. Indikator biasanya dipilih dari serangkaian
rangkaian data atau sumber informasi yang berkaitan dengan isu-isu
kunci yang segera ditindaklanjuti oleh badan otorita. Penggunaan
indikator tersebut dapat digunakan untuk tindakan dalam
mengantisipasi dan mencegah situasi yang tidak diinginkan (atau
tidak dapat dipertahankan) di destinasi.
Para pengambil keputusan sektor pariwisata perlu mengetahui
hubungan antara pariwisata dan lingkungan alam dan budaya,
termasuk dampak faktor lingkungan terhadap pariwisata
(kemungkinan dinyatakan sebagai risiko terhadap pariwisata) dan
dampak pariwisata terhadap lingkungan (yang mungkin juga
dinyatakan sebagai risiko terhadap produk). Dengan menggunakan
data yang terkini; perubahan kondisi lingkungan, sosial dan ekonomi
dapat dideteksi. Informasi ini, pada gilirannya, memungkinkan
status isu-isu yang relevan dengan keberlanjutan suatu tujuan dapat
diukur secara berkesinambungan. Pengambilan keputusan dalam
perencanaan dan pengelolaan pariwisata dapat diperbaiki. Dengan
demikian, bisa dikatakatan tujuan indikator adalah untuk
mengurangi risiko di masa depan terhadap industri pariwisata dan
destinasi. Beberapa manfaat dari indikator yang baik meliputi:
(1) pengambilan keputusan yang lebih baik sehingga menurunkan
risiko atau biaya;
(2) identifikasi isu-isu yang muncul sehingga memungkinkan
dilakukan pencegahan;
(3) identifikasi dampak sehingga memungkinkan tindakan korektif
bila diperlukan;
(4) pengukuran kinerja pelaksanaan rencana dan kegiatan
pengelolaan melalui kegiatan mengevaluasi kemajuan dalam
pembangunan pariwisata berkelanjutan;
(5) mengurangi risiko kesalahan perencanaan dan selanjutnya
mengidentifikasi batasan dan peluang;
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 37
(6) akuntabilitas yang lebih besar karena informasi yang dapat
dipercaya untuk publik dan pemangku kepentingan pariwisata
lainnya sehingga mendorong pertanggungjawaban atas
penggunaan bijaknya dalam pengambilan keputusan;
(7) monitoring yang konstan dapat menyebabkan perbaikan terus
menerus dan mendorong membangun solusi pada tataran
manajemen.
Indikator juga dapat membantu untuk memilih, memproses,
menganalisa dan menyajikan data agar lebih terhubung dengan
masalah keberlanjutan. Pengambil keputusan sering diberikan
sejumlah data yang banyak, namun seringkali sulit menentukan data
mana yang penting. Beberapa telah menjadi indikator umum yang
digunakan untuk manajemen, misalnya jumlah wisatawan.
Seringkali data yang sama dapat berguna untuk mendukung
keputusan yang mengarah pada pengembangan pariwisata yang
lebih berkelanjutan, terutama bila relevansinya dengan
keberlanjutan dipahami. Misalnya, jumlah kedatangan wisatawan
merupakan indikator dasar yang biasa digunakan untuk mengukur
keberhasilan sektor pariwisata. Ini juga bisa menjadi informasi
penting untuk sejumlah masalah keberlanjutan yang terkait dengan
jumlah wisatawan dan tingkat tekanan pada sumber daya. Masalah
lingkungan, seperti persediaan air atau limbah (konsumsi air oleh
wisatawan, jumlah limbah yang dihasilkan oleh wisatawan pada saat
musim puncak), atau isu sosial yang terkait dengan masyarakat lokal
(rasio wisatawan dan populasi masyarakat lokal pada satu periode)
hanya dapat dipahami secara efektif bila dikaitkan dengan jumlah
wisatawan.
Indikator pada Tingkat yang Berbeda-beda
Indikator dapat mendukung pembuatan keputusan berbasis
informasi di semua tingkat perencanaan dan pengelolaan pariwisata:
(1) Tingkat nasional, untuk mendeteksi perubahan besar dalam
pariwisata di tingkat nasional melalui perbandingan dengan
negara lain, memberikan dasar untuk identifikasi perubahan
Indikator Perencanaan Pengembangan
38 Pariwisata Berkelanjutan
pada tingkat yang lebih terlokalisasi dan mendukung
perencanaan strategis yang lebih luas.
(2) Tingkat regional, sebagai masukan dalam rencana regional dan
proses perlindungan, untuk dijadikan dasar perbandingan antar
daerah dan untuk memberikan informasi bagi proses
perencanaan tingkat nasional.
(3) Tujuan khusus, (misalnya zona pesisir, kota dan masyarakat
lokal) untuk mengidentifikasi unsur-unsur utama sumber daya,
keadaan sektor pariwisata, risiko, dan kinerja.
(4) Situs wisata utama yang digunakan dalam destinasi pariwisata
(misalnya kawasan lindung, pantai, distrik bersejarah di kota-
kota, area minat khusus) di mana indikator spesifik yang
menjadi kunci keputusan mengenai pengendalian lokasi,
pengelolaan dan pengembangan tempat-tempat wisata di masa
depan (misalnya, taman nasional, taman hiburan). Indikator
tingkat manajemen dapat mendukung perencanaan dan
pengendalian lokasi perusahaan pariwisata
(5) Tempat usaha pariwisata perorangan (misalnya hotel, restoran,
marina) untuk memantau dampak dan kinerja operasional
usaha.
Jenis Indikator
Ada berbagai jenis indikator, masing-masing memiliki
kegunaan yang berbeda bagi pengambil keputusan. Sementara yang
paling bermanfaat secara langsung adalah pertanyaan yang
membantu memprediksi masalah:
(1) indikator peringatan dini (misalnya, penurunan jumlah
wisatawan yang ingin kembali);
(2) indikator tekanan pada sistem (misalnya, kurangan air, atau
indeks kejahatan);
(3) ukuran keadaan industri saat ini (misalnya, tingkat hunian,
kepuasan wisatawan);
(4) ukuran dampak pengembangan pariwisata di lingkungan biofisik
dan sosio-ekonomi (misalnya, indeks tingkat deforestasi,
perubahan pola konsumsi dan tingkat pendapatan di
masyarakat lokal);
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 39
(5) ukuran upaya pengelolaan (misalnya, biaya pembersihan untuk
kontaminasi pantai);
(6) ukuran pengaruh manajemen, hasil atau kinerja (misalnya,
tingkat polusi yang berubah, jumlah kunjungan wisatawan yang
lebih banyak).
Semua kategori indikator dapat bermanfaat dalam mendukung
pariwisata berkelanjutan, seperti indikator peringatan dini sangat
berguna bagi manajer pariwisata dan dapat memberikan
kemampuan untuk mengantisipasi dampak negatif yang serius
terhadap destinasi, atau pada keseluruhan pengalaman wisatawan.
Idealnya, indikator dapat menjadi acuan tindakan preventif sebelum
terjadi ancaman serius terhadap keberlanjutan destinasi.
Pengukuran indikator
Indikator dapat diterapkan dalam praktek hanya jika ada
mekanisme yang layak untuk mengukurnya. Untuk mengetahui fase-
fase yang memadai sangat penting dalam perancangan dan
penggunaan indikator, mengingat pengumpulan dan pengolahan
data harus layak secara teknis dan ekonomis. Indikator tertentu
dapat memiliki metode pengukuran alternatif dan komplementer
yang berbeda (penggunaan instrumen yang berbeda) dan dapat
digambarkan dalam berbagai bentuk pengukuran kuantitatif dan
pengukuran kualitatif.
Pengukuran kuantitatif
Pengukuran kuantitatif dinamakan metode tradisional karena
pengukuran menggunakan metode sudah cukup lama digunakan
sehingga sudah mentradisi digunakan sebagai metode penelitian.
Pengukuran menggunakan metode kuantitatif menggunakan angka-
angka dan analisis menggunakan data statistik [14]. Pengukuran
kuantitatif yang digunakan dalam indikator antara lain:
(1) data mentah (misalnya, jumlah wisatawan yang mengunjungi
situs/tahun/bulan, atau volume limbah yang dihasilkan/
bulan/minggu dinyatakan dalam ton);
Indikator Perencanaan Pengembangan
40 Pariwisata Berkelanjutan
(2) rasio, di mana satu kumpulan data terkait dengan yang lain
menunjukkan hubungan (misalnya rasio jumlah wisatawan
terhadap masyarakat lokal pada saat peak season menunjukkan
apakah wisatawan melebihi jumlah penduduk lokal, dan jika
demikian ada berapa banyak);
(3) presentase, di mana data terkait dengan total, tolok ukur atau
ukuran sebelumnya (misalnya berapa % pengolahan air limbah
yang menerima perawatan, % populasi lokal dengan tingkat
pendidikan dari tingkat yang berbeda, % perubahan pada
kunjungan wisatawan dan pengeluaran selama satu periode).
Pengukuran kualitatif/normatif
Metode pengukuran kualitatif dapat diartikan sebagai metode
pengukuran digunakan untuk mengukur pada objek yang alamiah,
seperti:
(1) indeks kategori yang menggambarkan keadaan atau tingkat
pencapaian dalam daftar bergradasi (misalnya, tingkat
perlindungan kawasan alami menurut Indeks IUCN, nilai dalam
skala sistem sertifikasi lingkungan);
(2) indikator normative, terkait dengan adanya unsur pengelolaan
dan operasi pariwisata tertentu (misalnya, adanya rencana
pengembangan pariwisata, atau rencana dengan komponen
pariwisata di tingkat lokal, regional dan nasional, "Ya atau Tidak"
kuesioner evaluasi dalam sistem sertifikasi, seperti sebagai
eksistensi program pembersihan pantai, zonasi pantai,
pertolongan pertama, kontrol hewan peliharaan dll.);
(3) indikator nominal yang pada intinya label (misalnya, sertifikasi
Blue Flag, yang didasarkan pada daftar periksa independen yang
diterapkan secara luas dalam pengelolaan dan keselamatan
pantai namun tampaknya pengguna sebagai indikator Nominal
Ya / Tidak tunggal);
(4) indikator berbasis opini (misalnya, tingkat kepuasan wisatawan
atau tingkat kepuasan penduduk lokal relatif terhadap
pariwisata atau elemen tertentu). Ini biasanya berdasarkan
kuesioner dan dapat dinyatakan sebagai angka, persentase
seperti di atas di mana data kualitatif dasarnya dihitung.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 41
Indikator dan Perencanaan
Indikator menjadi menjadi perhatian utama dalam sektor
pariwisata, sebagai respon terhadap fokus pada keberlanjutan.
Tujuan pengembangan berkelanjutan adalah untuk wisata dan
destinasi wisata sehingga indikator tidak boleh dilihat sebagai tujuan
akhir, melainkan sebagai alat khusus, yang merupakan bagian dari
proses perencanaan pariwisata yang lebih luas.
Pariwisata tidak dapat direncanakan atau dikelola secara
terpisah dari lingkungan, ekonomi dan masyarakat yang merupakan
bagian dari destinasi. Indikator oleh karenanya dibagi dengan
pemangku kepentingan lainnya (Kementerian, Pemerintah Daerah,
organisasi swasta dan non-pemerintah) di destinasi yang mungkin
memiliki mandat khusus, misalnya untuk perlindungan lingkungan,
pembangunan infrastruktur atau kesejahteraan sosial. Selain itu,
informasi dan indikator spesifik yang dilakukan oleh institusi yang
dibutuhkan wisatawan seperti operator tur dan perusahaan
transportasi yang membawa wisatawan ke destinasi atau tujuan
terdekat yang mungkin merupakan bagian dari pengalaman wisata.
Dalam dekade terakhir, telah ada perkembangan indikator
yang cukup untuk menangani isu-isu seperti perencanaan wilayah
berbasis masyarakat, daya dukung wilayah alam, atau kualitas
masalah kehidupan di banyak negara, dan elemen utamanya yang
merupakan hal yang penting untuk pariwisata. Pekerjaan untuk
mengembangkan dan menggunakan indikator dalam konteks lain
terkadang secara eksplisit terkait dengan sektor pariwisata,
misalnya, biaya perbaikan untuk kawasan lindung, statistik kejahatan
lokal, tingkat penggunaan transportasi pada saat peak season). Hal
ini dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi sektor
pariwisata.
Indikator merupakan komponen dari proses perencanaan dan
pengelolaan ekosistem tertentu yang juga menjadi destinasi
pariwisatawan. Indikator juga merupakan komponen penting dari
proses perencanaan yang lebih luas. Sehingga indikator terpilih
dikembangkan dalam konteks tujuan dan sasaran yang ditetapkan
destinasi dan bertindak sebagai sinyal dari apa yang penting bagi
Indikator Perencanaan Pengembangan
42 Pariwisata Berkelanjutan
tujuan dan juga sebagai ukuran kinerja potensial yang direncanakan
untuk pengembangan destinasi.
Bila rencana dan sistem manajemen sudah ada, indikator
dapat merespons isu-isu kunci yang diidentifikasi yang disesuaikan
dengan tujuan dan sasaran rencana atau strategi. Indikator dapat
membantu menjelaskan tujuan serta memberikan ketepatan.
Tindakan untuk mempertimbangkan indikator cenderung
mendorong ketepatan, dan bahkan menyebabkan pertimbangan
ulang terhadap sasaran atau target jika hasil dari pengukuran
mengungkapkan ketidakjelasan dan mengungkapkan
ketidakkonsistenan.
Bila tujuan sudah jelas dengan tersedianya target secara
spesifik, indikator menjadi kunci untuk memantau penerapannya
dan sebagai sarana untuk mengklaim keberhasilan. Pada tingkat
yang lebih luas, indikator dapat membantu menarik perhatian pada
apakah sebuah rencana atau strategi merespons keseluruhan tujuan
keberlanjutan. Fokus pada indikator mendorong dialog mengenai
definisi spesifik tentang apa yang paling penting untuk
dipertahankan, dan perubahan apa yang mesti dilakukan.
Jika proses perencanaan sudah berjalan, beberapa informasi
biasanya dikumpulkan dan rencana dikembangkan setidaknya
sebagai tanggapan terhadap informasi tersebut. Pengembangan dan
penerapan indikator yang lebih sistematis dapat memperkuat dan
memperbaiki proses dengan merangsang penggunaan sumber data
yang lebih baik, identifikasi yang baru, peningkatan proses
pengumpulan dan analisis data, dan peningkatan pelaporan dan
komunikasi bagi para pemangku kepentingan. Klarifikasi indikator
kunci seringkali dapat merangsang pemeriksaan kembali rencana
dan klarifikasi ukuran kinerja.
Bagaimana Jika Tidak Ada Perencanaan?
(1) Pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan memerlukan
proses perencanaan yang baik, serta pengelolaan elemen-
elemen penting yang mendukung pariwisata dan destinasi
secara berkelanjutan. Misalnya, pemeliharaan sumber daya,
keterlibatan masyarakat, keterlibatan pariwisata dalam proses
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 43
perencanaan untuk destinasi. Indikator merupakan komponen
intrinsik dari proses perencanaan. Prosedur yang dilakukan bila
tidak ada perencanaan.
(2) Bila tidak ada rencana pariwisata, prosedurnya adalah indikator
dikembangkan sama dengan fase pertama dalam pengembangan
rencana. Keduanya melibatkan identifikasi sumber daya utama
dan nilai kunci yang terkait dengan destinasi. Keduanya
biasanya melibatkan penilaian terhadap masalah aktual, dampak
atau risiko saat ini atau potensi yang terkait dengan
pembangunan, serta dokumentasi tentang tren atau kejadian
terkini atau sesuatu yang mungkin mempengaruhi wisata dan
destinasi.
(3) Studi indikator dapat menjadi katalisator untuk pengembangan
rencana formal atau proses perencanaan, dimulai dengan
identifikasi isu potensial (polusi, kehilangan akses, dampak
pembangunan di sektor lain).
(4) Latihan indikator dapat membantu mengidentifikasi elemen
kunci yang harus disertakan dalam rencana, seperti basis
sumber daya untuk industri, atau risiko terhadap sumber daya
atau produk.
(5) Indikator kinerja dapat didefinisikan relatif terhadap sasaran
dan target spesifik dari rencana. Setiap proyek pembangunan
spesifik dapat mengintegrasikan indikator kinerja untuk
mengukur keberhasilan aktifitas manajemen dalam tahap
implementasi. Informasi ini akan memutuskan apakah tindakan
perbaikan diperlukan dan juga dapat menyediakan alat untuk
monitoring terus menerus.
(6) Indikator yang didefinisikan untuk menganalisis kondisi
lingkungan dan sosio-ekonomi aktual pada tahap awal proses
perencanaan dapat menjadi indikator kinerja pada tahap
implementasi. Misalnya, indikator yang menentukan keadaan
kualitas air laut di pantai atau tingkat pendapatan masyarakat
aktual dari pariwisata akan berfungsi untuk mengukur
pencapaian kondisi lingkungan dan sosio-ekonomi.
(7) Diskusi indikator seringkali dapat merangsang presisi yang lebih
besar dalam mendefinisikan ulang sasaran dan target.
Indikator Perencanaan Pengembangan
44 Pariwisata Berkelanjutan
Melakukan Perencanaan
Fase-fase yang harus dipersiapkan oleh manajemen destinasi
dalam pemanfaatan indikator untuk perencanaan destinasi, antara
lain:
(1) studi indikator dapat membantu dalam mengevaluasi rencana
regional atau pariwisata saat ini untuk menentukan apakah
semua risiko utama pada pembangunan pariwisata
berkelanjutan tercakupi;
(2) latihan identifikasi indikator dapat diterapkan pada masalah
serta pada masalah dan sasaran yang telah ditetapkan untuk
memperbaiki ketersediaan data;
(3) bila tidak ada sistem monitoring atau ukuran kinerja yang
disertakan dalam rencana yang ada, proses pengembangan
indikator dapat membantu dalam mengidentifikasi dan
mengklarifikasi area kunci dengan memerlukan ukuran kinerja;
(4) diskusi indikator seringkali dapat merangsang presisi yang lebih
besar dalam mendefinisikan ulang sasaran dan target.
Indikator sebagai Alat untuk Informasi Publik dan Pendidikan
Di dalam dan di luar proses perencanaan, indikator adalah
bentuk alat pendidikan dalam membantu menyoroti informasi
masalah utama publik. Hasil kinerja indikator yang digunakan dapat
mendorong berbagai pihak untuk melakukan tindakan yang
mengarah pada dukungan publik agar prosedur perencanaan lebih
inklusif dalam melindungi dan mempertahankan nilai-nilai kunci di
setiap destinasi.
Indikator sebagai Katalis
Jika tidak ada strategi atau rencana (atau bahkan wewenang
perencanaan), proses untuk mengembangkan indikator adalah
sarana yang efektif untuk memusatkan perhatian pada isu-isu kunci,
mendapatkan informasi mengenai keadaan kondisi aktual,
menetapkan tujuan dan mengidentifikasi tindakan untuk melakukan
perbaikan. Dengan kata lain, indikator bisa menjadi pemicu proses
perencanaan atau pengelolaan yang lebih sistematis. Idealnya,
proses pengembangan indikator dapat memulai dialog yang
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 45
menghasilkan beberapa bentuk perencanaan dan merangsang
respons terhadap isu-isu kunci di destinasi. Hal ini sudah terbukti
sangat berguna dalam menciptakan kemitraan dalam menemukan
solusi yang dapat menguntungkan berbagai pemangku kepentingan.
Partisipasi oleh pejabat di semua tingkat yurisdiksi menjadi penting
karena memperkuat kesadaran bahwa ada kepentingan bersama dan
indikator yang dikembangkan oleh satu jajaran seringkali dapat
disesuaikan atau digabungkan untuk mendukung kebutuhan
informasi di jajaran lain.
Kemajuan dalam Pengembangan dan Penggunaan Indikator
Pertumbuhan indikator
Saat ada peningkatan peran untuk indikator dalam
mendukung proses pengelolaan pariwisata, termasuk
pengembangan kebijakan, peraturan dan penegakan hukum, dan
pengembangan sertifikasi dan standar. Indikator penelitian dan
aplikasinya telah dilakukan di seluruh belahan dunia oleh
Pemerintah, lembaga akademis, dan perusahaan swasta dan oleh
masyarakat itu sendiri.
Seringkali perkembangan indikator terjadi sebagai respons
terhadap isu atau risiko spesifik. Misalnya, di Kanada, lokakarya dan
aplikasi lebih sering difokuskan pada indikator isu spesifik (misalnya,
pengelolaan taman, ekosistem pegunungan). Perkembangan
indikator telah terjadi pada skala masyarakat terhadap keberlanjutan
sosial dan ekologi (Afrika Selatan), dan membatasi pertumbuhan
yang dapat diterima oleh destinasi yang terkena dampak alami (AS,
Australia). Ada beberapa aplikasi inovatif untuk destinasi yang
banyak digunakan di banyak wilayah di Eropa, dalam konteks daya
dukung (misalnya Malta), strategi pengelolaan pengunjung
(misalnya, Inggris), proses Agenda 21 lokal (Destinasi pantai Spanyol),
dan analisis komparatif dari negara tujuan (misalnya, Prancis dan
Spanyol). Dalam banyak kasus, indikator telah menjadi sarana untuk
menarik perhatian politik terhadap masalah pengelolaan pariwisata
dan untuk menciptakan pengaruh atas solusi pariwisata
berkelanjutan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
46 Pariwisata Berkelanjutan
Kemajuan dalam metodologi indikator
Telah terjadi perkembangan minat dari sejumlah institusi
akademik, dalam membantu memajukan pengembangan indikator
yang terkait dengan masalah keberlanjutan dan untuk menggunakan
indikator sebagai wahana dalam tujuan pengajaran. Berbagai proyek
penelitian telah mulai melakukan aktivitas mengumpulkan masukan
dari berbagai akademisi dan praktisi mengenai pendapat mereka
mengenai karakteristik indikator keberlanjutan pariwisata yang
sukses.
Bekerja pada manajemen destinasi dan melakukan identifikasi
pendekatan terhadap keberlanjutan akan memiliki semua indikator
dan tindakan yang mungkin dapat digunakan secara lebih luas.
Diperlukan pengujian kegunaan indikator sebagai alat untuk
membantu membedakan antara keseluruhan keberlanjutan destinasi
dan risiko spesifik terhadap produk dan aset ekowisata. Hasil-hasil
penelitian juga dapat dimanfaatkan sebagai indikator patokan yang
bisa digunakan di destinasi lain.
Inisiatif indikator sektor lain
Sejak awal tahun 1990-an telah terjadi banyak perkembangan
di sektor-sektor selain pariwisata yang berkaitan dengan
pengembangan dan penerapan indikator pariwisata berkelanjutan.
Ini berkisar dari upaya yang lebih luas untuk menciptakan daftar
indikator universal dalam penerapan keberlanjutan global, nasional
atau masyarakat, hingga upaya menciptakan indikator spesifik untuk
mendukung berbagai perencanaan destinasi dan pembangunan.
Contohnya termasuk indikator pengembangan untuk
pengembangan daerah terpadu (misalnya Cile), indikator sistem
perkotaan (Spanyol), program pelaporan nasional atau internasional
yang luas mengenai keadaan lingkungan (misalnya, OECD, European
Environmental Agency, UNDP, China, Kanada) dan indikator untuk
diterapkan pada keberlanjutan sektor tertentu atau aset budaya dan
alam (UNESCO dan EEC).
Selain berpikir secara eksplisit pada indikator, ada beberapa
perkembangan indikator secara de facto signifikan dalam menangani
masalah seperti perencanaan regional, daya dukung, dan kualitas
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 47
hidup masyarakat. Indikator seperti itu sering menjadi mesin
aplikasi langsung dalam proses perencanaan dan pengelolaan.
Karena pariwisata secara lebih luas merupakan bagian dari
proses pembangunan, maka sektor pariwisata dapat memperoleh
manfaat yang signifikan dari informasi, data dan indikator yang
dikembangkan oleh sektor lain. Informasi, data dan indikator yang
dihasilkan melalui proses global dan nasional, serta administrasi
lainnya (misalnya lingkungan, ekonomi, perdagangan, transportasi,
dan lain-lain). Sektor ekonomi juga memberikan informasi penting
untuk indikator pariwisata, mengingat pariwisata merupakan
kegiatan yang menggabungkan banyak sektor yang berbeda.
Kolaborasi antara kementerian juga penting untuk menghasilkan
indikator yang menarik bagi lebih dari satu konstituensi. Misalnya, di
Spanyol sebuah inisiatif Sekretaris Lingkungan telah, bekerja sama
dengan sektor pariwisata yang menghasilkan indikator lingkungan
untuk pariwisata.
Indikator dan pengukuran kinerja
Monitoring dan evaluasi berbasis kinerja juga merupakan
sumber informasi terkait kemajuan dalam mengembangkan
indikator dan penerapannya. Hal ini sangat penting dalam kaitannya
dengan perluasan metode evaluasi kinerja konvensional dalam
memperhitungkan hasil sosial yang lebih luas. Akuntabilitas sosial
adalah fokus yang semakin meningkat bagi pemerintah di banyak
negara, di mana pengukuran kinerja semakin mengarah pada
identifikasi indikator untuk membantu penilaian apakah tujuan
sosial, tujuan dan standar lingkungan, dan tujuan yang lebih abstrak
seperti keadilan, kualitas hidup, dan keberlanjutan sedang diraih.
Inisiatif sertifikasi harus mencakup penetapan kriteria. Kepatuhan
dengan kriteria diukur dengan indikator, terkait dengan kinerja
spesifik untuk mendapatkan pengakuan resmi.
Evaluator memulai dengan identifikasi tujuan dan sasaran
yang luas dan kemudian mencari fase atau indikator yang tepat
untuk memungkinkan monitoring pencapaian. Identifikasi fase-fase
kinerja utama sering dilakukan melalui proses konsultatif dengan
pemangku kepentingan utama untuk menentukan indikator-
Indikator Perencanaan Pengembangan
48 Pariwisata Berkelanjutan
indikator yang paling baik dalam mencapai hasil yang diinginkan,
dan yang dapat mendukung keputusan mengenai kebijakan dan
program. Definisi yang jelas dari indikator mana yang dibutuhkan
kemudian dapat menghasilkan posisi pengumpulan data yang lebih
strategis dan analisis sasaran yang lebih baik.
Inisiatif yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan yang
menarik bagi sektor pariwisata adalah pembangunan daerah,
pencapaian tujuan pembangunan pedesaan dan regional, dan
pengukuran kualitas komparatif kehidupan. Sumber metodologi dan
contoh penerapan lebih lanjut ada di bidang kajian cepat yang cepat
(misalnya, penilaian proyek yang cepat, penilaian lingkungan
perkotaan yang cepat, penilaian cepat terhadap risiko kesehatan
atau kondisi lingkungan) di mana organisasi pembangunan
internasional semakin menggunakan proses partisipatif dalam
mengidentifikasi isu utama dan indikator yang relevan dengan
tujuan proyek dan program, dan menggunakan data mining
(penggunaan atau manipulasi data yang ada) untuk mendapatkan
informasi dalam mendukung proses tersebut. Sementara penilaian
cepat dirancang untuk memberikan evaluasi awal terhadap keadaan
destinasi, daripada kinerja dari waktu ke waktu. Idealnya, proses
partisipatif mengidentifikasi faktor kunci yang penting, mengarah
pada monitoring (dan identifikasi indikator kunci) sebagai bagian
dari fase selanjutnya dari setiap proyek atau program pengukuran
kinerja.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 49
3
Pariwisata saat ini sudah menjadi sektor utama perekonomian
dunia, hal ini mengacu pada perdagangan internasional di sektor
jasa. Pengelolaan destinasi wisata akan berdampak terhadap kondisi
masyarakat setempat sebagai tuan rumahnya serta pelestarian
ekosistem alam, daerah dan bangsanya. Tentunya dalam hal ini
diperlukan kebijakan yang teritegrasi dalam semua bidang sehingga
destinasi wisata dapat menjadi salah satu kontributor yang positif
terhadap pembangunan yang berkelanjutan sesuai dengan perannya
sebagai sumber yang signifikan dengan menekankan pada manfaat
dan potensi yang ada. Sejak tahun 1992 para perencana dan
akademisi di beberapa negara dan beberapa destinasi tertentu telah
mulai mengembangkan indikator-indikator yang sesuai untuk
kepentingan manajemen destinasi wisata yang berkelanjutan.
Indikator-indikator inilah yang difokuskan kepada masalah
terjadinya pengaruh yang ditimbulkan dan kelestarian yang
berkesinambungan sehingga akan berdampak bagi dunia pariwisata,
dan bagi manajemen indikator yang lebih tradisional yang merespon
kebutuhan tertentu di banyak skala.
Pedoman indikator ini dibuat untuk membantu para
pengelola pariwisata mendapatkan dan menggunakan informasi
terbaik dalam mengambil keputusan yang tepat untuk
pembangunan berkelanjutan bagi dunia pariwisata. Indikator-
Indikator Perencanaan Pengembangan
50 Pariwisata Berkelanjutan
indikator ini diberikan sebagai kunci landasan bagi pendukung
pariwisata berkelanjutan serta sebagai alat yang digunakan untuk
merespons masalah-masalah yang paling penting bagi pengelola
objek wisata. Sementara yang menjadi fokus utama pada panduan
ini adalah upaya untuk meningkatkan perhatian yang lebih di
beberapa destinasi yang indiktor-indikatornya terfokus pada
masalah-masalah dengan skala yang lebih luas, seperti di tingkat
regional atau nasional yang tentunya dapat mempengaruhi
destinasi. Hal ini juga dapat dijadikan referensi pada perusahaan
tertentu, tetapi juga cenderung untuk mempengaruhi
keberlanjutan operasional destinasi pariwisata. Buku ini
menyediakan beberapa panduan tentang bagaimana mengelola
sebuah proses untuk menghasilkan dan menggunakan indikator
agar efektif dan membantu untuk pengembangan pariwisata serta
destinasi pariwisata secara berkelanjutan.
Indikator Pembangunan Berkelanjutan Bidang Pariwisata
Indikator adalah ukuran keberadaan atau keparahan masalah
saat ini, sinyal situasi atau masalah yang akan datang, ukuran risiko
dan kebutuhan potensial untuk tindakan, dan sebagai sarana untuk
mengidentifikasikan serta mengukur hasil dari tindakan kita.
Indikator juga merupakan sebuah perangkat informasi yang dipilih
secara formal untuk digunakan secara berkala guna mengukur
perubahan yang penting bagi pengembangan dan pengelolaan
pariwisata. Indikator dapat mengukur:
(1) perubahan struktur pariwisata sendiri dan faktor internal;
(2) perubahan faktor eksternal yang mempengaruhi pariwisata
dan;
(3) dampak yang disebabkan oleh pariwisata.
Sedangkan informasi kuantitatif dan kualitatif dapat
digunakan sebagai indikator keberlanjutan. Suatu indikator
biasanya dipilih dari serangkaian set data yang mungkin atau
sumber-sumber informasi karena itu bermakna dan berkaitan
dengan masalah-masalah utama yang harus ditanggapi oleh para
manajer pariwisata. Penggunaan indikator ini dapat mengarah pada
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 51
tindakan untuk mengantisipasi dan mencegah situasi yang tidak
diinginkan (atau tidak berkelanjutan) di destinasi.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan untuk pariwisata,
indikator merupakan informasi deret waktu yang strategis untuk
keberlanjutan destinasi, aset, dan akhirnya, masa depan sektor
pariwisata. Pada destinasi mana pun, indikator terbaik adalah
indikator yang merespon risiko utama dan kekhawatiran terkait
keberlanjutan pariwisata, dan juga memberikan informasi yang
dapat membantu mengklarifikasi masalah dan mengukur respon.
Indikator biasanya akan menanggapi masalah yang berkaitan
dengan sumber daya alam dan lingkungan dari suatu destinasi,
kekhawatiran terkait dengan keberlanjutan ekonomi, masalah yang
berkaitan dengan aset budaya dan nilai-nilai sosial, dan yang lebih
luas untuk masalah organisasi dan manajemen, baik di dalam sektor
pariwisata dan destinasi yang lebih luas. Relevansinya dengan isu-
isu kunci dari destinasi dan kepraktisan penggunaan indikator
adalah menjadi pertimbangan utama. Selain itu, kriteria yang
berkaitan dengan kredibilitas ilmiah, kejelasan, dan kemampuan
digunakan sebagai tolak ukur perbandingan dari waktu ke waktu
dan dengan destinasi lain digunakan untuk membantu memilih
indikator yang memiliki dampak terbesar pada keputusan atau
tindakan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
52 Pariwisata Berkelanjutan
Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan
Pedoman pembangunan pariwisata berkelanjutan dan praktek
pengelolaan berlaku untuk semua jenis-jenis pariwisata di semua jenis
destinasi, termasuk beberapa bidang pariwisata dan berbagai segmen
pasar pariwisata. Kesinambungan prinsip-prinsip tersebut berdasarkan
lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya dalam aspek-aspek
perkembangan pariwisata, dan suatu keseimbangan yang pas harus
kuat antar tiga dimensi untuk menjamin kesinambungan program
jangka panjang. Dengan demikian, pariwisata berkelanjutan harus:
1) Memanfaatkan penggunaan sumber daya lingkungan secara
optimal yang merupakan elemen utama pembangunan di bidang
pariwisata. Pentingnya menjaga proses ekologi dan membantu
melestarikan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati.
2) Menghormati keaslian sosial budaya masyarakat setempat sebagai
tuan rumah, mereka membangun dan melestarikan warisan dan
nilai-nilai keaslian adat sosial budaya dan berkontribusi
memberikan pemahaman kesadaran antar budaya dan toleransi.
3) Menjamin kelayakan, pengelolaan ekonomi jangka panjang,
memberikan manfaat ekonomi sosia yang merata kepada seluruh
pemegang saham, termasuk pekerjaan yang stabil, dan
kesempatan mendapatkan income-earning dan pelayanan sosial
kepada masyarakat setempat sebagai tuan rumah, dan
berkontribusi dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
Pembangunan pariwisata berkelanjutan menyatakan bahwa partisipasi
seluruh pemangku kepentingan yang relevan serta kepemimpinan
politik yang kuat untuk menjaga hubungan kerjasama yang lebih
panjang dan kesepakatan bersama mengenai pembangunannya.
Pencapaian pariwisata yang berkelanjutan adalah proses pariwisata
yang berkesinambungan dan membutuhkan monitoring yang stabil,
memperkenalkan pencegahan yang dibutuhkan dan/atau langkah
perbaikan setiap kali diperlukan. Pariwisata berkelanjutan juga harus
menjaga tingginya tingkat kepuasan wisata serta menjamin pengalaman
untuk para wisatawan itu, yang berarti meningkatkan kesadaran
tentang masalah yang masih berlanjut dan mempromosikan praktek
pariwisata berkelanjutan di antara mereka.
(WTO Conceptual Definition 2004)
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 53
Indikator akan dianggap relevan hanya jika secara efektif
mengatasi masalah utama yang terkait dengan perencanaan dan
pengelolaan destinasi. Indikator juga harus layak untuk
dikumpulkan serta dianalisis dan praktis untuk diterapkan.
Akibatnya, proses pengembangan indikator biasanya berulang,
sebagai akibatnya prosedur negosiasi antara informasi yang ideal
penting sebagai kunci.
Mengapa Harus Menggunakan Indikator?
Selama dekade terakhir, banyak pekerjaan yang telah
dilakukan untuk mengklarifikasi masalah-masalah utama dalam
pariwisata berkelanjutan dan indikator sarana yang dapat
mendukung keputusan dan tindakan yang lebih baik.
Pengembangan dan penggunaan
Apakah destinasi itu?
indikator semakin dipandang
sebagai bagian mendasar dari Menurut UNWTO, destinasi wisata
keseluruhan perencanaan dan lokal adalah ruang fisik di mana
manajemen destinasi, dan pengunjung menghabiskan waktu
minimal satu malam. Ini termasuk
elemen integral dalam upaya produk pariwisata seperti layanan
mempromosikan pembangunan pendukung dan atraksi, dan
berkelanjutan untuk sektor sumber daya pariwisata dalam
pariwisata di semua skala. perjalanan satu hari kembali
Waktu. Memiliki batas fisik dan
Rangsangan untuk sektor administrasi yang mendefinisikan
pariwisata berasal dari persepsi manajemennya, dan gambar dan
banyaknya destinasi yang persepsi mendefinisikan daya saing
berisiko karena kurangnya pasar. Destinasi lokal
menggabungkan berbagai
perhatian terhadap dampak pemangku kepentingan, termasuk
pariwisata keberlanjutan jangka komunitas lokal, yang bersama-
panjang. sama dalam jaringan untuk
Berbagai insiden di membentuk tujuan yang lebih
besar, seperti masalah dan
destinasi, kontiminasi aset keputusan di wilayah teratorial
budaya dan ekologi, reaksi wilayah, dan realitas apa yang bisa
berbahaya terhadap wisatawan diperoleh dan berapa biayanya.
dan pengembangan pariwisata,
dan masalah yang timbul untuk sektor pariwisata telah terjadi di
banyak daerah. Studi yang dilakukan oleh WTO dan banyak lainnya
Indikator Perencanaan Pengembangan
54 Pariwisata Berkelanjutan
telah mendukung kesimpulan bahwa perencanaan dan pengelolaan
pariwisata di banyak destinasi telah terjadi dengan informasi yang
tidak memadai, terutama yang berkaitan dengan dampak pariwisata
terhadap destinasi, dampak perubahan lingkungan sosial dan alam
pada pariwisata dan pemeliharaan jangka panjang dari aset-aset
utama yang membuat destinasi menarik. Dalam konteks ini,
indikator adalah sistem peringatan dini bagi manajer sebagai
pengelola risiko potensial destinasi dan juga sebagai sinyal untuk
kemungkinan bertindak. Indikator berfungsi sebagai alat utama,
memberikan fase-fase spesifik dari perubahan faktor yang paling
penting bagi keberlanjutan pariwisata di suatu destinasi.
Pengambil keputusan sektor pariwisata perlu mengetahui
hubungan antara pariwisata dan lingkungan alam dan budaya,
termasuk dampak faktor lingkungan terhadap pariwisata (mungkin
dinyatakan sebagai risiko terhadap pariwisata) dan dampak
pariwisata terhadap lingkungan (yang juga dapat dinyatakan
sebagai risiko terhadap produk).
Dalam mengurangi risiko di masa depan bagi industri
pariwisata dan destinasi, beberapa manfaat dari indikator yang
dapat digunakan, antara lain:
(1) menurunkan risiko atau biaya;
(2) mengidentifikasi masalah yang muncul, sehingga
memungkinkan untuk dilakukan pencegahan;
(3) identifikasi dampak yang memungkinkan tindakan korektif bila
diperlukan;
(4) pengukuran kinerja pelaksanaan rencana dan kegiatan
manajemen;
(5) mengevaluasi kemajuan dalam pengembangan pariwisata
berkelanjutan
(6) mengurangi risiko kesalahan dalam perencanaan serta
mengidentifikasi batasan dan peluang
(7) akuntabilitas yang lebih besar, informasi yang kredibel untuk
publik dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya serta
mendorong akuntabilitas untuk kebijakan dalam pengambilan
keputusan;
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 55
(8) monitoring yang terus-menerus dapat mengarah pada
perbaikan berkelanjutan, membangun solusi ke dalam
manajemen.
Indikator dari Berbagai Level
Indikator dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis
informasi di semua tingkat perencanaan dan manajemen
pariwisata, seperti:
(1) untuk mendeteksi perubahan luas dalam pariwisata di tingkat
nasional, dibandingkan dengan negara-negara lain,
memberikan dasar untuk identifikasi perubahan di tingkat lokal
dan mendukung perencanaan strategis pada tingkat yang lebih
luas;
(2) sebagai masukan ke dalam rencana regional dan proses
perlindungan, berfungsi sebagai dasar perbandingan antar
daerah dan untuk menyediakan informasi proses perencanaan
tingkat nasional;
(3) destinasi khusus (misalnya zona pantai, kota setempat dan
masyarakat) untuk mengidentifikasi elemen kunci dari aset,
keadaan sektor pariwisata, risiko, dan kinerja;
(4) situs-situs utama yang dapat digunakan wisatawan dalam
destinasi (misalnya kawasan yang dilindungi, pantai, kawasan
bersejarah di kota-kota, kawasan-kawasan yang memiliki minat
khusus) di mana indikator-indikator spesifik mungkin menjadi
kunci untuk membuat keputusan tentang kontrol lokasi,
pengelolaan dan pengembangan tempat-tempat wisata di masa
depan, misalnya taman nasional, dan taman hiburan di mana
indikator tingkat manajemen dapat mendukung perencanaan
dan kontrol lokasi;
(5) perusahaan pariwisata misalnya operator tur, hotel,
transportasi, dan perusahaan catering yang dapat mengakses
indikator untuk mengisi proses perencanaan strategis destinasi;
(6) perusahaan pariwisata individu, seperti hotel, restoran,
pelabuhan kapal pesiar untuk memantau dampak dan kinerja
operasional.
Indikator Perencanaan Pengembangan
56 Pariwisata Berkelanjutan
Indikator yang dihasilkan pada skala yang berbeda seringkali
berkaitan erat antara satu sama lain. Jika digabungkan, akan banyak
yang dapat digunakan untuk membuat tingkat indikator menjadi
lebih tinggi. Terkait dengan situs atau wilayah lain, mereka dapat
berkontribusi pada analisis komparatif atau pembandingan. Sebagai
contoh, indikator kinerja lingkungan yang dikumpulkan di
perusahaan pariwisata individu biasanya dibentuk manajemen pusat
sebagai rantai hotel dan restoran, perusahaan transportasi dan tour
operator sebagai bagian dari bisnis normal dan dapat menjadi input
penting untuk proses perencanaan pengambilan keputusan di
tingkat perusahaan.
Indikator keberlanjutan untuk suatu destinasi seringkali
didasarkan pada data yang dikumpulkan pada tingkat yang lebih
spesifik dari situs penggunaan wisata utama, tempat wisata
tertentu, dan perusahaan pariwisata individu. Indikator tingkat
destinasi adalah input penting untuk proses perencanaan tingkat
regional yang selanjutnya dapat mengumpulkan informasi untuk
mendukung pengembangan indikator di tingkat nasional.
Jenis Indikator
Ada berbagai jenis indikator yang masing-masing berbeda
kegunaannya bagi pembuat keputusan. Sementara yang paling
bermanfaat secara langsung adalah yang dapat membantu
memprediksi masalah, terdapat beberapa jenis lain seperti:
(1) indikator merupakan peringatan dini dalam hal penurunan
jumlah wisatawan yang berniat untuk kembali;
(2) tekanan indikator pada sistem, misalnya kekurangan air, atau
indeks kejahatan;
(3) ukuran kondisi industri saat ini, misalnya tingkat hunian,
kepuasan wisatawan;
(4) fase-fase dampak pengembangan pariwisata terhadap
lingkungan biofisik dan sosial ekonomi, misalnya indeks tingkat
deforestasi, perubahan pola konsumsi, dan tingkat pendapatan
di komunitas lokal;
(5) fase-fase upaya manajemen, misalnya biaya pembersihan
kontaminasi pantai;
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 57
(6) ukuran efek dari output dan kinerja manajemen, misalnya
tingkat polusi yang berubah, jumlah wisatawan yang kembali
lebih banyak.
Sementara semua kategori indikator menjadi berharga dalam
mendukung pariwisata berkelanjutan. Indikator peringatan dini
seringkali bermanfaat bagi para manajer pariwisata dan dapat
memberikan mereka kemampuan untuk mengantisipasi dampak
negatif yang serius pada destinasi, atau pada pengalaman wisata
secara keseluruhan. Idealnya, indikator memungkinkan tindakan
dapat diambil dengan baik sebelum ancaman serius terjadi
terhadap pelestarian. Perlu juga dicatat bahwa indikator yang sama
dapat digunakan pada destinasi berbeda dan penggunaannya dapat
berubah seiring waktu.
Indikator dan perencanaan
Tujuan pembangunan berkelanjutan untuk pariwisata dan
untuk tujuan pariwisata telah menjadi semakin diterima sebagai
menyediakan kerangka kerja di mana identifikasi dan evaluasi
indikator berada. Indikator hendaknya tidak dilihat sebagai tujuan
dalam diri mereka sendiri karena mereka adalah alat khusus, bagian
dari proses perencanaan yang lebih luas untuk pariwisata. Semakin
jelas bahwa pariwisata tidak dapat direncanakan atau dikelola secara
terpisah dari lingkungan, ekonomi, dan masyarakat yang menjadi
bagian dari suatu destinasi.
Oleh karena itu, indikator tersebut bersinergi dengan
pemangku kepentingan lain seperti kementerian, otoritas lokal,
organisasi swasta dan non-pemerintah di destinasi yang mungkin
memiliki mandat khusus, untuk perlindungan lingkungan,
pembangunan infrastruktur atau kesejahteraan sosial. Selain itu,
informasi dan kadang-kadang indikator spesifik dibagikan dengan
lembaga lain seperti yurisdiksi yang menjadi sumber wisatawan
terhadap suatu destinasi, operator wisata dan perusahaan
transportasi yang membawa mereka ke tujuan atau tujuan terdekat
yang mungkin menjadi bagian dari pengalaman pariwisata.
Indikator Perencanaan Pengembangan
58 Pariwisata Berkelanjutan
Indikator sering dibagi dengan sektor atau organisasi lain,
bekerja di domain lain yang berkaitan dengan indikator sering
memberikan contoh atau pelajaran yang berguna untuk pariwisata.
Dengan demikian, dalam dekade terakhir, ada banyak
perkembangan indikator untuk menangani isu-isu seperti
perencanaan regional berbasis masyarakat, daya dukung untuk
wilayah alami, atau masalah kualitas hidup di banyak negara, dan
elemen-elemen kuncinya seringkali sama pentingnya dengan tujuan
pariwisata.
Pekerjaan untuk mengembangkan dan menggunakan indikator
dalam konteks lain kadang-kadang secara eksplisit membahas
pariwisata, tetapi lebih sering membahas masalah yang dibagi
dengan aspek pariwisata lainnya, seperti biaya perbaikan untuk
kawasan lindung, statistik kejahatan lokal, tingkat transportasi pada
peak season dan dapat menjadi sumber informasi yang siap di sektor
pariwisata. Sehingga indikator menjadi komponen perencanaan dan
proses manajemen untuk ekosistem tertentu yang juga menjadi
destinasi pariwisatawan.
Pariwisata terjadi dalam spektrum destinasi mulai dari yang
sudah mapan hingga yang baru dan bahkan di luar proses
perencanaan. Indikator dapat digunakan baik di mana ada rencana
di tempat dan di mana tidak ada. Dalam setiap kasus, proses
penetapan dan penggunaan indikator dapat menjadi katalisator
untuk perbaikan proses pengambilan keputusan, dan menciptakan
partisipasi yang lebih besar dalam solusi dan akuntabilitas untuk
hasilnya. Hendaknya jika sudah tersedianya sebuah perencanaan,
indikator yang baik dapat membantu memperkuatnya. Jika tidak
ada rencana, pengembangan indikator dapat menjadi katalis untuk
memulai proses, atau komponen utama dalam proses perencanaan
secara berulang. Indikator idealnya memainkan bagian dalam
seluruh siklus proyek sebagai bagian dari proses peningkatan
berkelanjutan. Dalam kasus apa pun, indikator harus berhubungan
langsung dengan tujuan dan sasaran pengembangan pariwisata.
Sebuah rencana dan sistem manajemen sudah ada, indikator
dapat menanggapi isu-isu utama yang diidentifikasi dan idealnya
dengan tujuan dan sasaran rencana atau strategi. Indikator dapat
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 59
membantu memperjelas tujuan, memberikan ketepatan. Tindakan
mempertimbangkan indikator cenderung untuk mempromosikan
ketepatan, dan bahkan menyebabkan pertimbangan kembali sebuah
destinasi atau target.
Sedangkan destinasi yang jelas dengan target spesifiknya,
indikator menjadi kunci untuk memantau implementasi ke arah
target dan sebagai sarana untuk mengklaim keberhasilan suatu
destinasi. Pada tingkat yang lebih luas, indikator dapat membantu
dalam menarik perhatian apakah suatu rencana atau strategi
destinasi berkelanjutan. Fokus pada indikator adalah
mempromosikan dialog tentang definisi spesifik tentang apa yang
paling penting untuk dipertahankan.
Ketika proses perencanaan sudah ada, beberapa informasi
biasanya telah dikumpulkan dan setidaknya sebagian rencana
dikembangkan sebagai tanggapan terhadap informasi tersebut.
Pengembangan dan penerapan indikator yang lebih sistematis dapat
memperkuat dan meningkatkan proses dengan merangsang
penggunaan sumber data yang ada dengan lebih baik,
mengidentifikasi yang baru, meningkatkan pengumpulan data dan
proses analisis, serta meningkatkan pelaporan dan komunikasi untuk
para pemangku kepentingan yang terlibat. Klarifikasi indikator
utama seringkali dapat merangsang pemeriksaan ulang rencana dan
klarifikasi ukuran kinerja.
Indikator Perencanaan Pengembangan
60 Pariwisata Berkelanjutan
Bagaimana jika tidak ada rencana ? Bagaimana jika ada hanya satu?
Jika tidak ada rencana yang mencakup pariwisata, prosedur yang
digunakan adalah menyusun indikator berupa analog sebagai langkah
pertama dalam pengembangan rencana. Keduanya akan melibatkan
identifikasi aset utama dan nilai-nilai utama yang terkait dengan
tujuan. Keduanya dapat melibatkan penilaian dalam masalah aktual,
dampak saat ini atau potensi atau risiko yang terkait dengan
pembangunan, serta dokumentasi tren atau peristiwa utama saat ini
atau yang diharapkan yang dapat mempengaruhi hal ini.
Studi indikator dapat menjadi katalisator untuk pengembangan
rencana formal atau proses perencanaan, dimulai dengan identifikasi
masalah potensial (polusi, kehilangan akses, dampak pembangunan di
sektor lain). Respon kemungkinan akan memerlukan beberapa bentuk
rencana atau prosedur manajemen.
Latihan indikator dapat membantu mengidentifikasi elemen-
elemen kunci yang harus dimasukkan dalam rencana, seperti basis
sumber daya untuk industri, atau risiko terhadap aset atau produk.
Indikator kinterja dapat didefinisikan sebagai hubungan terhadap
sasaran dan target rencan khusus. Setiap proyek pengembangan
khusus dapat mengintegrasikan indikator kinerja untuk mengukur
keberhasilan tindakan manajemen dalam fase impelementasi.
Informasi ini akan berfungsi untuk memutuskan apakah tindakan
korektif diperlukan dan juga dapat menyediakan alat untuk
monitoring keberlajutan.
Indikator yang ditetapkan untuk menganalisis kondisi lingkungan dan
sosial-ekonomi aktual pada tahap awal proses perencanaan dapat
menjadi indikator kinerja pada tahap implementasi. Misalnya,
indikator yang menentukan keadaan aktual kualitas air laut di pantai
atau tingkat aktual pendapatan masyarakat dari pariwisata akan
berfungsi kemudian untuk mengukur pencapaian relatif terhadap
sasaran-sasaran ini.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 61
Selalu Ada rencana
Sebuah studi indikator dapat membantu dalam hal evaluasi
rencana regional atau pariwisata saat ini untuk menentukan
apakah mencakup semua risiko utama untuk pengembangan
pariwisata berkelanjutan.
Latihan identifikasi indikator dapat diterapkan pada masalah dan tujuan
yang telah ditetapkan di mana diperlukan untuk meningkatkan
penyediaan data dan informasi yang akurat.
Jika tidak ada sistem monitoring atau ukuran kinerja yang
dimasukkan dalam rencana yang ada, proses pengembangan
indikator dapat membantu dalam mengidentifikasi dan
mengklarifikasi bidang-bidang utama di mana langkah-langkah
kinerja diperlukan.
Diskusi indikator seringkali dapat merangsang presisi yang lebih
besar dalam mendefinisikan kembali tujuan dan target.
Di dalam dan di luar proses perencanaan, indikator adalah bentuk
pendidikan semua alat: membantu untuk menyoroti masalah utama
untuk informasi publik.
Hasil penggunaan indikator dapat mendorong permintaan untuk
tindakan dan mengarah pada dukungan publik untuk prosedur
perencanaan yang lebih inklusif untuk melindungi dan mempertahankan
nilai-nilai utama di setiap tujuan.
Source:
Indikator sebagai katalisator
Jika tidak ada strategi atau rencana (atau bahkan otoritas
perencanaan) maka proses untuk mengembangkan indikator adalah
merupakan cara yang efektif untuk memusatkan perhatian pada
isu-isu utama, mendapatkan informasi tentang keadaan kondisi
aktual, menetapkan tujuan dan mengidentifikasi tindakan untuk
menghasilkan perbaikan. Dengan kata lain, indikator dapat menjadi
pemicu perencanaan yang lebih sistematis atau proses manajemen.
Prosedur yang digambarkan dalam buku ini dapat
menyatukan para pemangku kepentingan potensial untuk
membahas apa yang penting, untuk mendefinisikan aset dan
sensitivitas utama, dan sering kali menyadari bahwa banyak
Indikator Perencanaan Pengembangan
62 Pariwisata Berkelanjutan
masalah yang paling penting dibagikan. Idealnya, proses
pengembangan indikator dapat memulai dialog yang menghasilkan
beberapa bentuk rencana dan merangsang respon terhadap hal-hal
pada tujuan utama. Hal ini juga terbukti sangat berguna dalam
menciptakan kemitraan untuk solusi yang dapat bermanfaat bagi
banyak pemangku kepentingan.
Dalam banyak aplikasi regional yang menggunakan
metodologi WTO, (mis. Keszthely - Hongaria, Cozumel - Mexico,
Peninsula Valdes - Argentina, Beruwala-Sri Lanka) lokakarya
indikator yang diadakan oleh WTO adalah pertama kalinya
mayoritas pemangku kepentingan lokal memiliki kesempatan untuk
bertemu bersama, dan banyak yang datang dengan keyakinan
bahwa yang lain adalah musuh yang pergi dengan pemahaman yang
berubah tentang tujuan bersama dan potensi untuk bekerja sama
untuk mencari solusi bersama, bahkan jika itu hanya berarti berbagi
informasi. Partisipasi oleh pejabat di semua tingkat yurisdiksi
memperkuat kesadaran bahwa ada kepentingan bersama dan
indikator yang dikembangkan oleh satu tingkat seringkali dapat
diadaptasi atau digabungkan untuk mendukung kebutuhan
informasi di tingkat lain.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 63
4
Bagian ini berisi kerangka kerja yang direkomendasikan untuk
digunakan dalam proses pengembangan indikator. Pengembangan
indikator akan terjadi pada beberapa skala, tetapi fokus utama
adalah pada tingkat destinasi. Destinasi yang didefinisikan secara
umum dalam hal destinasi yang dapat dipasarkan, yang dapat
berkisar dari negara ke daerah, atau ke negara tertentu, dan resor
atau situs. Bagian ini akan digunakan oleh manajemen destinasi yang
tertarik untuk membuat indikator untuk destinasi mereka. Semua
destinasi mungkin tidak perlu menggunakan semua fase (terutama
jika mereka memiliki beberapa sistem perencanaan atau program
monitoring di mana mereka dapat membangun). Proses ini tidak
terlalu rumit, dan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
destinasi secara spesifik.
Fase-fase tersebut dapat dijabarkan seperti di bawah ini.
Meskipun dapat diikuti secara berurutan, pada titik mana pun pada
umumnya akan kembali ke fase sebelumnya sebagai klarifikasi atau
informasi tambahan atau melakukan cek dan recek.
Indikator Perencanaan Pengembangan
64 Pariwisata Berkelanjutan
Definisi
Metodologi yang direkomendasikan untuk pengembangan
indikator adalah pendekatan bertahap yang dapat menghasilkan
indikator operasional untuk suatu destinasi. Metodologi ini akan
menampilkan proses partisipatif yang dengan sendirinya dapat
menghasilkan manfaat untuk mencapai tujuan dan bagi para
peserta, dan digunakan sebagai alat pelatihan. Prosedur yang
disarankan untuk pengembangan indicator ini mencakup berbagai
fase yang merupakan bagian dari proses perencanaan pariwisata
normal, seperti identifikasi aset pariwisata dan penilaian awal risiko
dan peluang.
Sebagaimana yang tercatat dalam sebelumnya, di mana sudah
ada strategi pengembangan pariwisata dan proses perencanaan
yang mapan, fokus pada indikator dapat membantu meningkatkan
penyediaan informasi yang akurat, dan mengarah pada proses
monitoring yang produktif. Saat rencana sudah ada, hal ini dapat
menjadi titik tolak untuk pengembangan indikator, dan informasi
yang mungkin sudah dikumpulkan secara teratur, dan akan tersedia
untuk mendukung beberapa indikator.
Pada bagian ini hubungan antara fase-fase pengembangan
indikator dan pendekatan tradisional untuk perencanaan diuraikan
serta menunjukkan hubungan dan menggunakan indikator yang
mungkin ada pada setiap tahap dalam proses perencanaan. Jika
tidak ada proses perencanaan pariwisata formal, pendekatan ini
akan menekankan pentingnya memulai dengan fase-fase dasar
dengan sejelas mungkin tentang apa yang dimaksudkan untuk
dipertahankan proses pengembangan indicator serta dapat
membantu memperjelas hal ini, dan dapat memicu pembentukan
kebijakan dan perencanaan pariwisata. Sekalipun ada strategi atau
rencana, penting untuk meninjau semua fase seperti fokus pada
indikator yang dapat meningkatkan sumber data dan kapasitas
pemrosesan, serta mekanisme pelaporan yang mendukung
monitoring dan proses manajemen seperti pada Tabel 1:
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 65
Tabel 1. Indikator dan prosedur perencanaan, tautan, dan
hubungan
Proses
Fase-fase Indikator Kerja Peran Indikator
Perencanaan
Definisi/ Definisi/penggambaran Definisi area
penggambaran tujuan (untuk mencerminkan batas
daerah tujuan/ mengidentifikasi ruang data (manajemen atau
pengembangan lingkup kebutuhan informasi unit politik untuk akses
untuk indikator serta utilitas)
Pembentukan Penggunaan proses Indikator merupakan
proses partisipatif untuk bagian dari proses
perencanaan pengembangan indikator perencanaan
partisipatif partisipatif dan katalis
untuk mendorongnya
Perumusan visi Identifikasi aset dan Fase utama dalam
dan/atau misi risiko pariwisata indikator bekerja adalah
Visi jangka panjang untuk untuk
suatu destinasi, mengidentifikasikan visi
didefinisikan dengan jelas yang ada, dan dengan
Pengembangan indikator jelas mendefinisikan
Pemilihan masalah elemen-elemen kunci
prioritas dan pertanyaan
kebijakan
Identifikasi indikator yang
diinginkan
Inventarisasi sumber data
Pemilihan indikator
Evaluasi indikator
kelayakan dan prosedur
implementasi
Pengumpulan data dan
analisis
Penilaian awal Indikator sangat
dan analisis aset, penting untuk
risiko, dan mengklarifikasikan
dampak (analisis masalah-masalah
situasi) utama, aset, risiko dan
memberikan
informasi yang akurat
tentang hal-hal
teresebut
Indikator Perencanaan Pengembangan
66 Pariwisata Berkelanjutan
Proses
Fase-fase Indikator Kerja Peran Indikator
Perencanaan
Indikator digunakan
untuk melaporkan
hasil penilaian awal
kepada para
pemangku
kepentingan yang
terlibat
Menyiapkan Idealnya indikator Indikator membantu
tujuan dimasukkan ke dalam fase memberikan kejelasan
pembangunan tindakan perencanaan tujuan pembangunan
(untuk jangka dan implementasi yang dapat digunakan
pendek, Pengumpulan dan analisis untuk menetapkan
menengah data terjadi secara target dan ukuran
berkelanjutan kinerjanya. Penting
dan jangka
Tujuan kebijakan juga untuk mendefinisikan
panjang sesuai
dapat menargetkan target dan kerangka
dengan
pengembangan sumber waktu yang jelas, dan
kebutuhan
data dan kapasitas mengkomunikasikanny
prioritas)
pemrosesan yang a kepada pemangku
mendukung aplikasi kepentingan.
indikator
Perumusan dan Indikator dapat
evaluasi strategi digunakan untuk
yang mendefinisikan atau
menargetkan menganalisis
tujuan kesesuaian antara
pembangunan masalah dan strategi
Perumusan Indikator menjadi
rencana aksi dan ukuran kinerja untuk
spesifik proyek proyek dan kegiatan
berdasarkan serta membantu dalam
strategi optimal menentukan target
tertentu
Implementasi Akuntabilitas, pelaporan, Indikator adalah
rencana aksi dan dan komunikasi tentang apa yang
proyek Monitoring dan evaluasi dipantau dan yang
implementasi harus dievaluasi:
dilakukan secara Proses manajemen
berkelanjutan, dengan Program langsung
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 67
Proses
Fase-fase Indikator Kerja Peran Indikator
Perencanaan
pelaporan hasil secara Keluaran proyek
berkala, menggunakan Kemajuan dalam
indikator mencapai tujuan
Monitoring aplikasi yang sudah
indikator ditentukan
Masalah-masalah Perubahan kondisi
prioritas, sumber-sumber lingkungan dan
informasi serta kapasitas sosial ekonomi
pemrosesan dapat sebagai akibat dari
berubah, sehingga juga tindakan
perlu untuk Indikator
memverifikasi kesesuaian membentuk bagian
indikator secara berkala penting dari
akuntabilitas publik
untuk implementasi
dan hasil
Fase Perumusan Indikator
Pada tahap awal ini akan melakukan pengumpulan informasi
utama tentang destinasi, kondisi pariwisata, pemangku
kepentingan, keprihatinan masa lalu, dan studi yang sebelumnya
dapat digunakan untuk mendukung pengembangan dan
implementasi indikator. Kontak awal tentunya akan dilakukan pada
tahap ini yang melibatkan para profesional di daerah tujuan.
Tujuannya adalah untuk memperoleh kejelasan dalam
mengidentifikasikan keadaan destinasi saat ini dan pariwisata,
menentukan tren serta potensi risiko terhadap industri, dan
memperjelas peran pemangku kepentingan utama sebelum
terfokus pada masalah dan indikator.
Fase 1 - definisi dan penggambaran destinasi
Penetapan batas destinasi
Definisi destinasi merupakan fase pertama yang diperlukan.
Agar program indikator ini berhasil, penting untuk sebuah kejelasan
kapan memulainya, adanya batas-batas geografis dan yurisdiksi
politik yang membatasi wilayah di mana program tersebut akan
Indikator Perencanaan Pengembangan
68 Pariwisata Berkelanjutan
diterapkan. Walaupun ada definisi “destinasi” yang diterima secara
umum.
Pada prakteknya, penggambaran tentang batas dapat menjadi
tantangan. Ketika indikator harus diterapkan ke destinasi yang
ditentukan (misalnya taman nasional atau komunitas resor) maka
batas yurisdiksi yang ada dapat menjadi titik tolak. Bahkan dalam
jenis-jenis destinasi ini, pariwisata sering mempengaruhi daerah
atau komunitas yang saling berdekatan. Misalnya, pinggiran taman
biasanya berisi banyak fasilitas layanan yang dapat digunakan oleh
wisatawan yang mengunjungi taman. Pengunjung ke sebuah resor
biasanya juga akan mengunjungi daerah pegunungan, pulau,
komunitas atau objek wisata lain yang berdekatan tetapi berada di
luar properti atau batas-batas yurisdiksi situs utama kunjungan.
Sebagai konsekuensinya, dalam pemilihan batas harus
melakukan kompromi sebagai upaya untuk melindungi aset serta
kegiatan utamanya dan untuk mencerminkan batas politik, ekologi
atau lainnya sejelas dan seluas mungkin. Penyesuaian dan pemilihan
atau penggambaran sub-tujuan, situs kritis atau hot spot dapat
terjadi selama fase pengembangan indikator berikutnya karena
adanya data utama yang ditemukan, berdasarkan batas-batas lain,
atau ketika informasi baru diperoleh mengenai hubungan dengan
area yang berdekatan.
Adapun pulau destinasi, yang pada awalnya tampak sebagai
pulau yang paling mudah untuk dibatasi karena telah banyak
pengunjung yang menggunakan laut yang lokasinya saling
berdekatan untuk melakukan kegiatan liburan mereka sehingga
terbukti perlunya untuk menanggapi kenyataan tersebut. Sedangkan
pada saat mengunjungi situs daratan yang berdekatan atau pulau-
pulau terdekat lainnya sebagai bagian dari liburan mereka, hal ini
juga dapat menggambarkan bagaimana pelayanan dari daerah di luar
pulau. Pada kedua destinasi tersebut, organisasi politik akan banyak
membuat perencanaan keputusan dan program terhadap masa
depan pulau-pulau tersebut untuk kemudian akan digabungkan
dengan wilayah daratan, dengan melihat beberapa data yang tersedia
saat ini serta potensi dan manfaat bagi wilayah yang sudah
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 69
digabungankan. Beberapa aturan praktis berikut ini dapat membantu
dalam pemilihan batas destinasi:
1) Menyertakan situs dan aset utama. Batasan-batasannya
haruslah jelas dan sedapat mungkin dapat mengelilingi semua
aset tujuan utama. Apakah destinasi yang ditetapkan berisi
semua area yang dipengaruhi oleh kegiatan pariwisata? Seperti
tempat tinggal pekerja sektor pariwisata.
2) Mencoba untuk mencocokkan batas yang ada. Jika
memungkinkan, batas-batas politik wajib untuk dipatuhi.
Apakah batas-batas destinasi dapat dicocokkan dengan batas-
batas unit data yang ada seperti daerah sensus, batas kota, atau
kabupaten yang datanya mungkin sudah tersedia? Jika lembaga
yang berbeda memiliki batas yang berbeda maka batas yang
digunakan oleh pengguna potensial utama dari indikator, akan
ada kemungkinan otoritas perencanaan akan disukai.
3) Mencerminkan area alami atau ekologis. Jika memungkinkan,
batas harus dipilih yang mencerminkan batas fisik atau
ekologis. Kondisi ideal terkadang dapat dicapai dengan memilih
batas-batas politik yang paling baik dengan meniru biofisik,
seperti menggabungkan sub-area politik untuk paling cocok
dengan batas lembah, pulau, atau pegunungan.
4) Pertimbangkan untuk membagi destinasi. Dalam beberapa
kasus mungkin akan berguna untuk membagi destinasi menjadi
beberapa bagian untuk di analisis secara terpisah, terutama di
mana terdapat perbedaan yang signifikan antara bagian-bagian
destinasi seperti area inti di mana sebagian besar aktivitas
terjadi dan area sekelilingnya yang juga jelas terkena dampak
atau keterlibatannya.
5) Mempertimbangkan sub-bidang khusus untuk
dipertimbangkan secara khusus. Pada setiap destinasi
kemungkinan akan ada area aktivitas yang terkonsentrasi atau
"hot spot", seperti pantai serta aset ekologis tertentu yang tidak
dapat ditangani secara memadai oleh indikator yang merujuk
pada destinasi keseluruhan. Area tersebut haruslah menerima
perlakuan khusus sebagai bagian dari destinasi secara
keseluruhan di mana pengukuran, seperti kepadatan
Indikator Perencanaan Pengembangan
70 Pariwisata Berkelanjutan
penggunaan dihitung hanya untuk daerah itu dan akan jauh
berbeda dari pengukuran kepadatan untuk seluruh destinasi.
Dokumentasi pariwisata tentang isu pembangunan berkelanjutan
yang lebih luas
Hal ini merupakan salah satu fase awal untuk mendapatkan
informasi tentang destinasi pariwisata. Fase ini dilakukan untuk
membantu memahami tentang ruang lingkup inisiatif, dan untuk
mengenali bahwa banyak informasi yang mungkin sudah ada dan
dapat membantu dalam memahami tujuan pariwisata yang baik dan
di mana masalah potensial mungkin akan datang.
Informasi dasar yang dapat dikumpulkan pada proses awal
termasuk mengidentifikasi siapa yang datang ke destinasi tujuan,
kapan, di mana dan untuk tujuan apa? Serta pengalaman uniknya?
Tren pariwisata apa yang dapat dijadikan destinasi? Apakah sudah
ada perencanaan pariwisata atau proses regulasi yang diberlakukan
dan apakah hasilnya jelas? Masalah apakah yang mungkin dapat
mendorong proses perencanaan atau manajemen, dan apakah ada
proposal yang saat ini di atas meja dari sektor pariwisata atau dari
sektor yang lain yang dapat mempengaruhi destinasi?
Bagaimana sebaiknya pariwisata dikelola?
Siapa yang memiliki kewajiban untuk menangani masalah
pariwisata beserta perencanaan dan mengelola destinasi? Tentunya
akan sangat penting untuk mengidentifikasikan klien utama untuk
menggunakan indikator dan untuk memahami kebutuhan mereka
sejauh mungkin. Dalam publikasi tahun 1996 dari WTO tentang hal
ini yang berjudul, "Apa yang Perlu Diketahui oleh Manajer
Pariwisata?" Fase awal yang utama adalah untuk mengidentifikasi
manajer potensial saat ini untuk dapat memperoleh dari mereka
informasi tentang kebutuhan saat ini dan yang kemungkinan untuk
masa akan datang. Idealnya, setiap inisiatif indikator, baik yang
didorong oleh pemerintah, akademisi, komunitas, atau industri itu
sendiri perlu melayani para manajer dan idealnya menjadikan
mereka sebagai mitra penuh sejak awal. Hal ini juga berlaku bagi
pemangku kepentingan lainnya yang ikut partisipasi dimana kata
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 71
sepakatnya akan sangat penting untuk implementasi informasi yang
dibuat.
Pengembangan indikator merupakan proses partisipatif.
Sementara dorongan dapat datang dari otoritas lokal serta dari
masyarakat itu sendiri, operator pariwisata atau sebagai tanggapan
terhadap proposal tertentu, keterlibatan awal departemen
pemerintah lainnya, industri, sekutu utamanya, pemangku
kepentingan lokal dan organisasi masyarakat, mereka yang
merencanakan aset dan infrastruktur yang penting bagi pariwisata,
dan mereka yang akan membantu mendefinisikan masalah dan
sumber informasi untuk indikator dianggap penting. Kompleksitas
kelompok pemangku kepentingan, minat dan hubungan mereka, di
tingkat lokal tidak dapat diabaikan.
Fase 2 - penggunaan proses partisipatif
Dukungan partisipasi lokal
Masyarakat lokal merupakan pihak yang mengetahui destinasi
paling mendekati akan cenderung ditinggal di dalam atau di dekat
destinasi. Pengetahuan lokal dapat menjadi sumber utama informasi
unik tentang faktor-faktor seperti penggunaan sumber daya lokal,
tradisi utama, dan nilai-nilai yang mereka pegang paling penting
terkait destinasi. Penduduk lokal seringkali memiliki gagasan yang
jelas mengenai situasi saat ini dan pendapat yang kuat tentang apa
yang mungkin dapat diterima di masa depan. Dukungan dan
partisipasi dalam memberikan informasi untuk membantu
identifikasi masalah utama dan pemilihan indikator tentunya akan
sangat berharga.
Faktor-faktor utama dalam memperoleh partisipasi lokal yang
konstruktif meliputi:
1) Kontak awal dengan kelompok-kelompok lokal, individu aktif
dan mereka yang paling mungkin terpengaruh oleh perubahan
apa pun.
2) Penyediaan forum, pertemuan, peluang diskusi di mana semua
pemangku kepentingan yang tertarik dapat mengidentifikasi
minat dan keprihatinan mereka.
Indikator Perencanaan Pengembangan
72 Pariwisata Berkelanjutan
3) Pemberian umpan balik dalam bentuk yang jelas menunjukkan
kepada peserta bahwa masukan mereka telah dipertimbangkan.
4) Keterlibatan pemain utama yang sedang berlangsung di seluruh
proses sehingga dapat terbuka dan transparan.
Pemangku kepentingan potensial pariwisata di destinasi lokal
Berikut ini adalah daftar indikatif dari setiap destinasi yang
akan memiliki kelompok atau individu uniknya sendiri dan yang
berkepentingan dengan pariwisata atau aspek terkait dari destinasi
tersebut. Adapun poin penting yang perlu diingat dalam setiap
proses partisipatif adalah bahwa harapan akan dapat melebihi dari
kapasitas organisasi untuk merespons dan perhatian harus diberikan
untuk membantu peserta memahami bahwa mungkin tidak mungkin
untuk sepenuhnya memuaskan semua orang setiap saat. Misalnya,
setelah semua dipertimbangkan, indikator favorit Anda yang
mencerminkan kepedulian Anda terhadap masalah lingkungan atau
sosial tertentu mungkin tidak dimasukkan ke dalam daftar pendek.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 73
Masyarakat
Kelompok masyarakat setempat;
Kelompok penduduk asli dan budaya;
Pemimpin yang berbudaya;
;
.
Otoritas kota;
Otoritas regional, seperti area perencanaan, otoritas konservasi,
zona pantai, taman regional, otoritas;
Kementerian Pusat dan Negara Bagian, Provinsi, Kabupaten,
Departemen atau yang setara, yang bertanggung jawab atas
pariwisata beserta aset utamanya;
Kementerian dan lembaga lain di daerah yang mempengaruhi
pariwisata, seperti transportasi, sumber daya alam, lingkungan,
budaya, infrastruktur, perencanaan, kesehatan, dan sebagainya;
Tur untuk para operator dan agen perjalanan;
Akomodasi, restoran dan objek wisata, dan asosiasinya;
Transportasi dan penyedia layanan lainnya;
Pemandu wisata, juru bahasa, dan penjual cideramata;
Pemasok ke industry:
Organisasi pariwisata dan perdagangan;
Organisasi pengembangan bisnis.
NGOs
Kelompok lingkungan dengan tujuan di luar tetapi mempunyai
minat;
Kelompok konservasi seperti hutan asli, spesies asli, taman,
warisan budaya;
Kelompok minat lain seperti penjelajah, nelayan, asosiasi
olahraga dan petualangan.
Wisatawan
Organisasi yang mewakili kepentingan wisatawan di daerah asal
Badan pariwisata internasional.
Indikator Perencanaan Pengembangan
74 Pariwisata Berkelanjutan
Peringatan lebih lanjut adalah bahwa indikator itu sendiri tidak
menyelesaikan masalah, hanya membantu dalam pemahaman yang
lebih besar dan penyediaan informasi yang akurat, yang dapat
mengarah pada solusi yang lebih efektif. Pada sebagian besar
destinasi pariwisata terdapat banyak badan pemerintah, non
pemerintah, dan swasta yang berbeda yang terlibat dalam
perencanaan dan pengelolaan sumber daya dan program yang akan
mempengaruhi pariwisata dan kondisi di destinasi. Tantangannya
terletak pada menyatukan lembaga, organisasi dan perusahaan ini
untuk berpartisipasi dalam pengembangan dan penggunaan
indikator. Khususnya, pemerintah daerah, perencana, dan industri
pariwisata adalah pemain kunci.
Pada sebagian besar destinasi ada pelayanan, kelompok
perencanaan ekonomi, asosiasi hotel, organisasi transportasi,
serikat pekerja atau dewan tenaga kerja dan organisasi yang
ditugaskan untuk pengembangan atau pemeliharaan aset utama
seperti taman, pantai, atau situs budaya. Setiap proses partisipatif
harus menyadari adanya kepentingan badan-badan tersebut, dan
juga kendala yang terkait dengan partisipasi mereka dalam proses
publik.
Logistik
Dalam dekade terakhir, banyak pekerjaan telah menggunakan
proses partisipatif dalam pengembangan indikator dan indikator
pariwisata untuk destinasi lingkungan dan sosial terkait.
Pengalaman telah menunjukkan bahwa mungkin ada tingkat
konsultasi dan partisipasi yang optimal, dan bahwa hal ini seringkali
sulit untuk diprediksi dalam satu komunitas atau destinasi. Kunci
utama adalah waktu.
Proses konsultasi yang dimulai terlalu dini, sebelum adanya
arahan atau proposal di atas meja maka akan dapat menyebabkan
peserta bertanya mengapa mereka ada di sana dan mengapa
mereka tidak diberi tahu apa yang diusulkan. Sebaliknya, waktu
yang membawa peserta terlambat dalam proses akan beresiko
terjadinya tuduhan bahwa semua telah diputuskan dan bahwa
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 75
kesempatan untuk benar-benar mempengaruhi apa yang terjadi
telah terlewatkan.
Waktu yang optimal juga dapat bervariasi dari satu budaya ke
budaya lain, atau dari satu komunitas ke komunitas lain
berdasarkan pada minat yang berbeda-beda dan sejarah interaksi
sebelumnya dengan pihak yang berwenang. Pertimbangan utama
adalah posisi inisiatif indikator relatif terhadap inisiatif lain, seperti
pengembangan baru, pembuatan atau peninjauan rencana regional,
lokal atau destinasi. Koordinasi dengan acara semacam itu dapat
bermanfaat langsung serta menunjukkan relevansi dan tautan ke
penggunanya langsung.
Frekuensi
Rapat atau acara yang paling baik terkait dengan poin
keputusan utama. Jika pertemuan terlalu jarang, peserta mungkin
merasa ditinggalkan. Pertemuan yang terlalu sering dapat
menyebabkan peserta keluar karena tuntutan berlebihan pada
waktu mereka atau kurangnya kemajuan yang terlihat antara
pertemuan atau acara, sehingga rapat dilakukan terjadwal sesuai
kesepakatan tim.
Durasi
Proses partisipasi idealnya memiliki rentang waktu yang
panjang, dari fase pertama dalam mendefinisikan proyek atau
kebutuhan untuk perencanaan melalui pengembangan rencana, dan
ke dalam implementasi. Beberapa proses perencanaan dan
manajemen destinasi yang paling berhasil telah memasukkan
konsultasi atau partisipasi ke dalam proses yang sedang
berlangsung, di mana ada bentuk badan penasihat atau bahkan
manajemen bersama.
Pertimbangan ukuran
Kelompok besar bisa sangat inklusif tetapi semakin besar
kelompok semakin sedikit kapasitas untuk melibatkan semua yang
ingin berpartisipasi atau untuk mencapai mufakat atau bahkan
diskusi yang baik. Salah satu metode yang dapat memiliki
Indikator Perencanaan Pengembangan
76 Pariwisata Berkelanjutan
pertemuan informasi yang besar tetapi kelompok breakout yang
lebih kecil, kelompok kerja atau kelompok tugas untuk memisahkan
diri dan bekerja pada masalah tertentu.
Teknik konsultasi
Pendekatan paling tradisional yang telah digunakan untuk
pengembangan indikator telah melalui pertemuan terorganisir
dengan pemangku kepentingan terpilih. Ini adalah pendekatan
paling langsung tetapi juga bisa sangat memakan waktu dan
pengguna sumber daya yang signifikan, dan mungkin tidak cukup
inklusif dan dapat diakses oleh semua pemangku kepentingan.
Gunakan pendekatan yang paling mungkin untuk menghasilkan
penerimaan dan menimbulkan rasa memiliki dan loyalitas
kelompok jika memungkinkan.
Proses konsultasi yang panjang seperti yang disebutkan di atas
juga bisa sangat mahal dan memakan waktu baik untuk pejabat dan
peserta. Akibatnya, sejumlah model baru untuk konsultasi telah
dikembangkan, termasuk peningkatan penggunaan konsultasi surat
untuk melengkapi pertemuan dan membuka akses ke proses
Penggunaan teknologi modern, seperti internet dan email,
memberikan peluang yang lebih luas untuk berkonsultasi,
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 77
Mengelola Paritisipatif
Sering dianggap bahwa para pemangku kepentingan pariwisata ingin
terlibat dalam monitoring tujuan. Pada kenyataannya, meyakinkan orang
untuk berpartisipasi, menghadiri rapat atau bergabung dengan komite
tidak selalu mudah, juga tidak mendapatkan kepercayaan diri dan
mempertahankan minat mereka. Bidang-bidang utama yang perlu
dipertimbangkan termasuk analisis pemangku kepentingan, perencanaan
pemangku kepentingan, dan manajemen pemangku kepentingan.
Tujuan analisis pada pemangku kepentingan adalah untuk menetapkan
sejauh mana kelompok tertentu membutuhkan atau ingin terlibat dalam
proyek. Hal ini akan tergantung pada sejauh mana pariwisata
mempengaruhi kehidupan profesional dan pribadi mereka, minat
mereka, atau kepentingan organisasi mereka, pemahaman mereka
tentang monitoring, dan waktu mereka yang tersedia untuk
berpartisipasi.
Kelompok pemangku kepentingan yang jauh lebih luas cenderung akan
terlibat pada awal proses pengembangan indikator, untuk
mengidentifikasikan masalah-masalah utama, dan kelompok yang lebih
kecil dan lebih khusus maka diperlukan untuk pengumpulan data, analisis
hasil dan keputusan mengenai tindakan yang tepat. Hal ini juga
bermanfaat untuk membentuk komite indikator atau kelompok kerja,
yang terdiri dari perwakilan dari semua kelompok pemangku
kepentingan utama, untuk mengawasi seluruh proses pengembangan
dan monitoring indikator. Terlihat hal ini memberi proyek
kesinambungan yang lebih besar, keahlian lintas-sektoral dan menambah
nilai signifikan pada pekerjaan.
Dalam perencanaan pemangku kepentingan, penting untuk menyadari
bahwa tidak semua bentuk partisipasi bernilai sama. Mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber tidak sama dengan mencari saran,
memberi tahu orang tidak sama dengan memberi mereka kekuatan
untuk mengambil keputusan. Respons individu yang diberikan dalam
privasi memberikan informasi yang berbeda dari yang dikumpulkan
Indikator Perencanaan Pengembangan
78 Pariwisata Berkelanjutan
Mengelola Paritisipatif (lanjutan)
Tingkat dan jenis partisipasi yang tepat akan tergantung pada faktor-
faktor seperti ruang lingkup proyek, fase pekerjaan, norma budaya,
pengalaman pemangku kepentingan, kerangka kerja kelembagaan
yang ada dan proses konsultasi, dan faktor logistik seperti geografi
dan teknologi komunikasi. Keputusan tentang bidang-bidang ini perlu
diambil oleh kelompok pengguna atau komite penasehat sejak awal
dalam tahap perencanaan.
Ada berbagai alat yang dapat digunakan untuk mengelola pemangku
kepentingan seperti penilaian pedesaan partisipatif, penelitian
tindakan partisipatif, manajemen adaptif dan manajemen bersama.
Proses-proses ini mendorong kegiatan seperti pengamatan partisipan,
lokakarya, seminar, kelompok fokus, wawancara terstruktur dan semi
terstruktur, komite, panel penasihat, survei masyarakat dan kuesioner.
Karena pengembangan indikator melibatkan sejumlah tahapan yang
berbeda, kemungkinan seluruh rangkaian alat, bukan hanya satu yang
akan digunakan selama proses.
Proses partisipatif termasuk rumit, memakan waktu, dan pada
dasarnya tidak dapat diprediksi. Mereka bergantung pada komunikasi
yang baik, transparansi, dan kesabaran, dan beberapa orang akan
berpendapat bahwa sifat teknis monitoring lebih cocok untuk gaya
manajemen top down. Namun, mengimpor indikator tanpa syarat
tidak akan pernah menghasilkan kesadaran dan pemahaman yang
sama tentang masalah atau komitmen yang diperlukan untuk
monitoring jangka panjang agar berhasil. Intinya adalah bahwa orang-
orang jauh lebih mungkin menilai, menggunakan, dan bereaksi
terhadap indikator jika mereka dapat berhubungan dan memiliki peran
dalam pengembangannya.
proses input yang lebih mudah, penyebaran yang lebih luas, dan
visibilitas kontribusi dan hasil. Sebagai bagian dari konferensi
persiapan untuk Tahun Internasional Ekowisata 2002, WTO
menyelenggarakan konferensi web internasional, yang dilakukan
melalui email untuk memfasilitasi akses ke para pemangku
kepentingan yang tidak dapat menghadiri pertemuan regional. Pada
tingkat destinasi, WTO telah bereksperimen dengan pendekatan
lokakarya singkat yang dapat sangat bermanfaat bagi destinasi dan
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 79
sebagai alat pelatihan untuk membantu mencapai kemajuan yang
signifikan terhadap indikator dalam waktu singkat.
Berbeda dengan prosedur konsultasi nasional, konsultasi
dapat lebih sederhana di tingkat destinasi, karena identitas
sebagian besar pemangku kepentingan dapat diketahui, dan akses
oleh para pemangku kepentingan ke sejumlah kecil pertemuan
publik atau tatap muka mungkin lebih mudah daripada untuk yang
lebih luas. Walaupun begitu, beberapa penggunaan surat atau input
elektronik dapat membuat kontak lebih mudah bagi mereka yang
tidak mampu atau tidak mau berpartisipasi dalam pertemuan publik
atau prosedur yang lebih formal.
Proses partisipatif akan bervariasi dalam bentuk dan prosedur
dari budaya ke budaya. Penggunaan proses partisipasi publik yang
terbuka mungkin tidak sesuai dalam beberapa budaya di mana ada
sejarah yang kuat tentang sentralisasi kontrol atau tradisi
pengambilan keputusan yang diambil oleh kelompok yang lebih tua
atau yang serupa. Meski begitu, beberapa cara yang tepat untuk
mengakses pengetahuan lokal dan tradisional dalam
mengidentifikasi masalah dan indikator penting dan dalam elemen
lain dari proses perencanaan destinasi diperlukan.
Proses pengembangan indikator, mulai dari memperoleh
informasi hingga pengembangan indikator dan kesepakatan
implementasi, biasanya dapat memakan waktu beberapa minggu
hingga berbulan-bulan, terutama jika diintegrasikan ke dalam
perencanaan pariwisata dan proses pembuatan kebijakan yang lebih
luas. Proyek yang difokuskan, seperti lokakarya destinasi yang
dilakukan oleh WTO, dapat memusatkan sebagian besar pekerjaan
inti pada identifikasi masalah, dan identifikasi indikator kandidat ke
dalam periode yang lebih singkat (biasanya ari sepuluh hari hingga
dua minggu) yang melibatkan beberapa hari lokakarya partisipatif.
Hasil dari pekerjaan singkat yang terkonsentrasi dapat berfungsi
untuk mempercepat proses pengembangan indikator, mendapatkan
dukungan lokal yang antusias, dan memberikan dasar yang kuat
untuk pekerjaan selanjutnya pada implementasi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
80 Pariwisata Berkelanjutan
Pendekatan Lokakarya Partisipatif Untuk Pengembangan Dan
Pelatihan Indikator
WTO telah mengadopsi pendekatan partisipatif untuk
pengembangan indikator dan untuk lokakarya pelatihan yang
diselenggarakannya antara 1999 dan 2001 untuk para pejabat di
negara-negara anggotanya. Akses ke pengetahuan lokal dan
pertimbangan oleh para ahli dari berbagai nilai dan risiko bagi
mereka, telah menjadi landasan pendekatan WTO untuk
menciptakan indikator pariwisata berkelanjutan. Dalam pendekatan
ini, penelitian dilakukan menggunakan pendekatan lokakarya untuk
membantu dalam pertimbangan indikator, dan sebagai kendaraan
untuk memaparkan peserta pada proses pengembangan indikator;
menghadapi semua masalah, hambatan, dan pendapat berbeda
yang membuat pengembangan indikator menjadi menarik dan
terkadang sulit. Hal ini adalah cara cepat untuk mengkatalisasi
identifikasi isu-isu utama dan indikator potensial, dan untuk
memobilisasi pemangku kepentingan. Bagian ini juga berfungsi
sebagai tempat pelatihan bagi para ahli dalam pengembangan
indikator.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 81
Lokakarya Logistik
Kunjungan lokasi dan presentase oleh pejabat dan pakar
setempat dimaksudkan untuk membiasakan peserta dengan area
studi. Pada lokakarya WTO, para peserta (termasuk para ahli lokal
dan asing) dipresentasekan oleh fasilitator dan pakar dengan
materi-materi utama tentang tujuan, masalah-masalahnya, dan
tentang proses pengembangan indikator. Sebuah kunjungan
lapangan membawa para peserta ke bidang-bidang utama yang
menjadi perhatian di destinasi dan menunjukkan kepada mereka
aset dan potensi perubahan yang dibayangkan. Dalam
kebanyakan kasus, presentase oleh para ahli lokal dan beberapa
pemangku kepentingan utama dibuat untuk peserta lokakarya;
Partisipasi dalam definisi risiko utama dan peluang utama. Setelah
pengenalan awal menuju ke proses, para peserta dibagi menjadi
kelompok kerja kecil, masing-masing memiliki perwakilan lokal
dan asing. Setiap kelompok pertama kali menetapkan tugas untuk
membuat daftar panjang masalah risiko peluang) untuk tujuan
(misalnya, kehilangan pekerjaan, kepadatan desa, dampak pada
situs sensitif, musim pendek, kurangnya dana untuk infrastruktur,
kontrol asing dari industri dll);
Identifikasi partisipatif masalah-masalah prioritas. Dalam
kelompok-kelompok kecil, daftar panjang masalah dirundingkan
dan prioritas ditetapkan di mana informasi yang berguna dan
yang diperlukan untuk menanggapi risiko dan peluang. Pekerjaan
analitis sebelumnya dari konsultan lokakarya ditambahkan, jika
berguna, untuk membantu dalam musyawarah ini. Suatu bentuk
teknik kelompok nominal digunakan untuk memilih bidang isu
utama yang menjadi perhatian bagi pengembangan aktif
indikator oleh kelompok kerja;
Kunjungan lokasi dan presentase oleh pejabat dan pakar
setempat dimaksudkan untuk membiasakan peserta dengan area
studi. Pada lokakarya WTO, para peserta (termasuk para ahli lokal
dan asing) dipresentasekan oleh fasilitator dan pakar dengan
materi-materi utama tentang tujuan, masalah-masalahnya, dan
tentang proses pengembangan indikator. Sebuah kunjungan
lapangan membawa para peserta ke bidang-bidang utama yang
menjadi perhatian di destinasi dan menunjukkan kepada mereka
aset dan potensi perubahan yang dibayangkan. Dalam
kebanyakan kasus, presentase oleh para ahli lokal dan beberapa
pemangku kepentingan utama dibuat untuk peserta lokakarya;
Indikator Perencanaan Pengembangan
82 Pariwisata Berkelanjutan
Lokakarya Logistik (lanjutan)
Partisipasi dalam definisi risiko utama dan peluang utama.
Setelah pengenalan awal menuju ke proses, para peserta dibagi
menjadi kelompok kerja kecil, masing-masing memiliki
perwakilan lokal dan asing. Setiap kelompok pertama kali
menetapkan tugas untuk membuat daftar panjang masalah
risiko peluang) untuk tujuan (misalnya, kehilangan pekerjaan,
kepadatan desa, dampak pada situs sensitif, musim pendek,
kurangnya dana untuk infrastruktur, kontrol asing dari industri
dll);
Identifikasi partisipatif masalah-masalah prioritas. Dalam
kelompok-kelompok kecil, daftar panjang masalah dirundingkan
dan prioritas ditetapkan di mana informasi yang berguna dan
yang diperlukan untuk menanggapi risiko dan peluang. Pekerjaan
analitis sebelumnya dari konsultan lokakarya ditambahkan, jika
berguna, untuk membantu dalam musyawarah ini. Suatu bentuk
teknik kelompok nominal digunakan untuk memilih bidang isu
utama yang menjadi perhatian bagi pengembangan aktif
indikator oleh kelompok kerja;
Pengembangan indikator. Setiap kelompok diberi serangkaian
bidang isu prioritas agar fokus untuk pemilihan indikator potensial.
Kriteria WTO yang diperbarui untuk pemilihan indikator digunakan
(lihat Langkah 8 Prosedur Pemilihan hal.40). Setiap kelompok kecil
diberi tugas untuk menilai dan menyempurnakan serangkaian
indikator potensial yang menanggapi bidang isu utama dan
melakukan peringkat awal dengan menggunakan lembar kerja
evaluasi. Keberadaan para ahli lokal dan spesialis yang
berpengetahuan luas membantu dalam mengidentifikasi sumber
informasi potensial untuk menciptakan tujuan pada indikator. Hasil
dari masing-masing kelompok kemudian dipresentasekan ke pleno
untuk diskusi;
Partisipasi dalam pengembangan rekomendasi untuk langkah
selanjutnya. Lokakarya ini menggunakan sesi partisipatif terbuka
untuk mengembangkan rekomendasi untuk kegiatan tindak lanjut
dan penerapan indikator keberlanjutan di wilayah studi, serta di
tujuan serupa lainnya jika perlu. (Misalnya sesi Kukljica juga
menyarankan penggunaan proses untuk pulau-pulau Kroasia lain
selain Ugljan dan Pasman). Masing-masing peserta dipandu melalui
proses identifikasi indikator yang sebenarnya, dihadapkan dengan
masalah penentuan prioritas, dan mampu bekerja melalui proses
praktis untuk memilih indikator mana yang paling penting untuk
diterapkan untuk meningkatkan perencanaan dan pengelolaan
destinasi.
(Berdasarkan sumber WTO Workshop Report, Kukljica, Croatia
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 83
Hal ini bisa sangat membantu proses untuk membuat
kelompok penasehat indikator yang sedang berjalan atau kelompok
kerja yang bertemu secara teratur. Ini berarti bahwa memori
institusional tambahan dibuat, peluang untuk pertukaran informasi
dan pembelajaran dipertahankan di seluruh proyek atau program,
dan kelompok dapat bertindak sebagai dorongan berkelanjutan
setelah indikator telah dikembangkan.
Fase 3 - identifikasi aset dan risiko wisata
Pada proses perencanaan formal dan strategi terdapat
pekerjaan yang sudah ada menjadi titik awal untuk pemindaian
masalah mengenai destinasi. Jika tidak ada rencana dan strategi,
atau di mana strategi parsial dan tidak melibatkan semua pemain
kunci, keterlibatan awal para pemangku kepentingan sangat penting
untuk membantu mengidentifikasi apa yang penting. Fase ini
merupakan pusat identifikasi aset yang menjadi dasar pariwisata,
dan nilai-nilai yang terkait dengannya oleh para pemangku
kepentingan yang berbeda. Tujuan dari fase ini adalah untuk
memiliki pemahaman yang sejelas mungkin tentang apa aset
utama di suatu tujuan destinasi, dan elemen mana dari mereka
yang dinilai oleh penduduk dan wisatawan atau wisatawan
potensial saat ini.
Identifikasi aset destinasi pariwisata
Apa yang menjadi prioritas wisatawan menggunakan
potensi daya tarik suatu daerah saat ini, seperti pantai, situs
bersejarah, pasar, air terjun, sudut pandang, bidang minat alam,
lanskap, margasatwa, festival, makanan, pengalaman budaya.
Tentunya ini merupakan inventarisasi dasar aset yang menjadi
dasar pariwisata saat ini atau basis potensi. Hal ini bisa menjadi
fase awal pengalaman yang menunjukkan bahwa proses
partisipatif sering dapat mengungkapkan aset atau potensi
destinasi. Sehingga hal ini juga harus mencakup aset utama yang
didukung masyarakat lokal seperti hutan, ikan, permainan,
Indikator Perencanaan Pengembangan
84 Pariwisata Berkelanjutan
apakah saat ini dipandang sebagai aset oleh industri pariwisata
atau tidak.
Perlu dicatat bahwa definisi set dapat berbeda di antara
para pemangku kepentingan dan oleh karena itu peninjauan
harus mencakup semua perspektif sedetail mungkin.
Identifikasi nilai-nilai utama
Eksplorasi nilai-nilai kunci dari semua pemangku
kepentingan sangat penting untuk menentukan aset pariwisata
mana yang sangat penting untuk kebutuhan dan harapan
wisatawan dan penduduk lokal. Seberapa sensitif hal ini terhadap
perubahan tuntutan oleh industri pariwisata dan terhadap dampak
perubahan lain yang dapat mengubah daya tarik mereka terhadap
wisatawan atau utilitas bagi masyarakat? Selain itu, seberapa
sensitif nilai-nilai penduduk lokal terhadap perubahan yang dapat
dilakukan oleh pariwisata? Fase ini dapat dilakukan melalui
wawancara serta dengan merujuk pada studi sebelumnya atau
dokumen perencanaan.
Perlu dicatat bahwa penelitian dalam fase ini dapat
melibatkan sejumlah lembaga atau lembaga non-pemerintah yang
berbeda, baik pusat administrasi lokal maupun regional, yang
mungkin telah menerbitkan atau tidak mempublikasikan materi
yang relevan dengan situs, rencana yang berkaitan dengan
destinasi, aset tertentu, peraturan baru, kebijakan, dan sebagainya
yang akan membahas nilai-nilai tertentu. Misalnya, agen
transportasi mungkin berencana untuk membuka rute baru atau
membatasi lalu lintas pada rute yang ada, suatu departemen
kehutanan mungkin sedang mempertimbangkan batas-batas
penggunaan hutan di musim puncak, dan sebagainya. Rencana dan
tindakan semacam itu menunjukkan nilai-nilai sektor terkait
dengan penggunaan sumber daya bersama. Mereka juga membantu
mengidentifikasi rencana yang melanggar penggunaan saat ini oleh
orang lain dan nilai-nilai mereka.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 85
Memperoleh informasi tentang ambang batas dan sensitivitas sistem
Keterpaduan untuk mempertahankan aset ekonomi, sosial dan
lingkungan dari suatu destinasi adalah pengakuan atas batas
potensial untuk menggunakan (atau daya dukung) dari destinasi.
Studi masa lalu atau saat ini sering merupakan sumber yang baik.
Oleh karena itu, setiap informasi yang dapat diperoleh yang
mendokumentasikan dimensi biofisik dan sosial dari keberlanjutan
untuk tujuan yang berguna. Pekerjaan yang dilakukan di daerah-
daerah ini dapat membantu dalam mengidentifikasi sifat dan tingkat
dampak potensial dari perkembangan atau perubahan baru dan
dapat membantu dalam mengidentifikasi ambang batas di mana
pariwisata mungkin tidak lagi berkelanjutan di destinasi tertentu.
Jika tidak ada rencana yang telah mempertimbangkan tekanan dan
kemungkinan tanggapan seperti itu, proses pengembangan
indikator itu sendiri dapat menjadi bentuk survei awal yang dapat
membantu mengidentifikasi kepekaan ini. Tujuan dari fase ini adalah
untuk melihat dampak potensial dari perubahan atau tren pada aset
utama dan nilai terkaitnya.
Tabel 2. Analisa SWOT
Analisa SWOT
Sebelum mulai memilih indikator, maka penting untuk menilai
strenght, weakness, opportunity, dan threat (SWOT). Analisis
SWOT menilai potensi wisata dan membantu manajer untuk
memutuskan jenis indikator apa yang akan berguna dalam
memantau tren dan kemajuan menuju pencapaian tujuan
pariwisata. Dengan kata lain, "Apa yang telah kita dapatkan, apa
yang ingin kita lakukan dengannya dan bagaimana kita mengukur
kesuksesan?" Analisis SWOT harus memberikan gambaran singkat
tentang aset dan kekurangan tujuan dan mengungkapkan peluang
dan tantangan yang dihadapinya. Ini akan membantu memperjelas
masalah (lihat diskusi terperinci tentang masalah), dan jenis
indikator yang akan berharga. Hal ini merupakan informasi
penting yang dapat membantu menghasilkan konsensus tentang
masalah dan risiko mana yang paling penting dan kepada siapa.
Indikator Perencanaan Pengembangan
86 Pariwisata Berkelanjutan
Pedoman Analisa SWOT
Kekuatan Aset destinasi: atraksi lokal, pelengkap, aset
alam dan budaya, infrastruktur, dan layanan
pendukung;
Dukungan masyarakat: partisipasi aktif,
tujuan bersama;
Tenaga kerja: ketersediaan, tingkat
keterampilan;
Management capacity : skill levels, funding
available.
Peluang Peluang ekonomi: untuk bisnis, pekerjaan;
Peluang produk dan pasar: produk unik, otentik,
kecocokan pasar produk, ceruk pasar;
Peningkatan masyarakat: manfaat sosial budaya;
Konservasi : kontribusi pariwisata terhadap
warisan alam dan budaya.
Kelemahan Kurangnya daya tarik wisata : beberapa
tempat wisata yang signifikan atau unik,
aksesibilitas yang buruk, kurangnya
infrastruktur;
Tidak ada visi: ketidakpastian arah,
kurangnya pemahaman atau kohesi di
komunitas destinasi;
Kesiapan: kurangnya rencana, kebutuhan
pelatihan, dana, prioritas alternatif.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 87
Ancaman Dampak lingkungan: gangguan hilangnya
(dan habitat, peningkatan penggunaan sumber daya,
kendala) limbah;
Degradasi budaya: kehidupan sehari-hari,
kebiasaan dan praktek terganggu;
Kualitas buruk: ketidakpuasan wisatawan,
kurangnya standar;
Ancaman eksternal: peraturan, keamanan
perjalanan, dampak lingkungan.
Analisis SWOT membantu untuk mengklarifikasikan risiko dan
peluang serta dapat membantu dalam diskusi indikator mana
yang paling mungkin digunakan untuk mengatasi keberlanjutan
destinasi dan pariwisata yang diinginkan.
Fase 4 - pengembangan indikator
Fase ini berfokus pada definisi indikator mana yang penting
dan dapat menanggapi masalah yang paling penting bagi destinasi.
Dalam lokakarya yang berhubungan dengan pengembangan
indikator akan menjadi semakin jelas bahwa mengetahui apa yang
ingin dicapai oleh para pemangku kepentingan sehubungan dengan
sektor pariwisata sangat membantu dalam menentukan apa yang
paling penting untuk destinasi. Hal ini penting untuk menentukan
masalah mana yang dianggap paling kritis dan karena itu mungkin
memerlukan indikator.
Sementara fokus pada indikator, dapat berkontribusi pada
diskusi tentang masa depan destinasi, di mana suatu visi telah
dikembangkan, indikator idealnya merespons elemen-elemen kunci
dari visi tersebut. Indikator-indikator ini juga dapat digunakan
sebagai ukuran kinerja di jalan untuk mencapai visi ini. Jika tidak
ada visi, rencana, atau konsensus yang disepakati saat ini tentang
masa depan yang diinginkan, proses penentuan indikator dapat
menjadi katalisator untuk proses visi.
Proses pengembangan indikator, melalui penekanan pada
partisipasi luas, dan definisi isu-isu utama, dapat mengarah pada
definisi yang lebih baik dari visi jangka panjang, atau setidaknya
Indikator Perencanaan Pengembangan
88 Pariwisata Berkelanjutan
pada klarifikasi tujuan bersama para pemangku kepentingan. Dalam
prakteknya, sesi partisipatif yang berfokus pada visi masa depan
untuk suatu tujuan dapat dibantu dengan merujuk pada indikator
utama. Kebutuhan pragmatis untuk mengkuantifikasi dan
mengklarifikasi, yang merupakan pusat definisi indikator, dapat
menjadi bantuan yang signifikan bagi konsensus mengenai tujuan
jangka panjang dan pendek serta memaksa kejelasan tentang apa
yang benar-benar diinginkan (misalnya, bukan hanya “lebih banyak
pariwisata”, tetapi seberapa besar, kapan, dari tipe apa, dan berapa
biayanya dengan nilai-nilai lain yang penting bagi para pemangku
kepentingan?) Tentunya hal ini sangat mirip dan saling melengkapi
dengan penetapan tujuan, menggunakan indikator untuk
menentukan nilai target.
Fase 5 - pemilihan masalah prioritas dan pertanyaan kebijakan
Pemilihan indikator terkait langsung dengan masalah yang
penting di suatu destinasi. Oleh karena itu, fase kuncinya adalah
identifikasi masalah yang paling penting dari perspektif semua
pemangku kepentingan. Pekerjaan yang dilakukan dalam fase 1
memberikan latar belakang yang diperlukan untuk pemilihan
masalah yang diinformasikan saat ini atau berpotensi penting bagi
destinasi dan pariwisata. Menggunakan pendekatan kelompok
partisipatif jika memungkinkan (atau melalui serangkaian
wawancara dengan pemain kunci) masalah prioritas dan pertanyaan
kebijakan dapat diidentifikasikan. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan konsensus tentang daftar masalah yang paling
penting.
Daftar masalah-masalah penting ini menjadi daftar yang harus
diperiksa untuk mengukur indikator kandidat. Apa yang diperlukan
untuk menanggapi masalah-masalah ini? Jika para pemangku
kepentingan dapat menyepakati isu-isu prioritas, mereka cenderung
lebih bersedia untuk menggunakan indikator untuk mengatasinya
dan untuk membantu mendukung pelaksanaan indikator. Masalah
yang digunakan sebagai titik rujukan untuk jenis masalah yang
biasanya ditemui karena lebih dari 50 masalah mulai dari kesehatan
hingga musim, penggunaan air, perubahan iklim, kepuasan
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 89
wisatawan dan daya saing diperiksa dan indikator disarankan untuk
masing-masing.
Berbagai destinasi memiliki perpaduan masalah unik terkait
dengan kondisi lingkungan, ekonomi, sosial dan administrasi.
Rujukan ke masalah dan indikator dari destinasi lain dengan
karakteristik yang serupa, (seperti bagian pesisir, pegunungan, dan
komunitas kecil dan tradisional) juga dapat membantu sebagai
katalis untuk diskusi.
Mencapai kata mufakat tentang masalah utama
Alat yang berharga untuk membantu destinasi memperoleh
kesepakatan tentang isu mana yang penting dapat menjadi lokakarya
partisipatif, dengan beragam peserta. Dalam lokakarya WTO tentang
pengembangan indikator, pada awalnya dicari kesepakatan mengenai
risiko sosial, ekonomi, budaya dan ekologis utama ke destinasi dan
pariwisata yang didukungnya. Telah ditemukan dalam banyak kasus
bahwa fokus awal pada risiko (dan peluang) adalah awal yang baik
dan membantu mendapatkan sebagian besar masalah dengan cepat.
Disini sudah sudah ada visi yang disepakati, misalnya di mana telah
ada latihan perencanaan yang telah menetapkan skenario masa
depan yang diinginkan dan serangkaian tujuan untuk tujuan, risiko
dapat didefinisikan dalam hal pencapaian visi tersebut.
Pada prakteknya, diskusi berfokus pada nilai-nilai dan harapan
yang dimiliki wisatawan dan penduduk lokal serta destinasi yang
dapat menegaskan kembali visi, atau menambah dimensi yang
mungkin telah terlewatkan. Jika tidak ada rencana atau visi seperti
itu, diskusi menjadi latihan dalam penetapan visi de facto,
mengidentifikasi risiko atau peluang yang berkaitan dengan masa
depan yang diinginkan semua pemangku kepentingan atau beberapa
pemangku kepentingan.
Masalahnya mungkin berada dalam lingkup manajemen
industri pariwisata, seperti kontrol limbah dari industri, atau di luar
kemampuannya untuk mempengaruhi, misalkan perubahan iklim.
Hasil yang diinginkan dari fase ini adalah daftar masalah utama yang
disepakati yang indikatornya bermanfaat bagi manajer pariwisata
untuk merespons secara efektif terhadap risiko yang paling penting.
Indikator Perencanaan Pengembangan
90 Pariwisata Berkelanjutan
Pada prakteknya, di mana tidak ada kesepakatan tentang apakah
suatu masalah harus ada dalam daftar, direkomendasikan untuk
menyimpannya di sana untuk fase berikutnya, karena diskusi
tentang bagaimana hal itu dapat diukur seringkali membantu dalam
klarifikasi dan dapat menciptakan pemahaman mengapa dianggap
sebagai masalah utama, atau tidak.
Prioritas masalah
Hampir setiap upaya untuk membuat daftar indikator dimulai
dengan daftar yang sangat panjang. Seringkali lusinan indikator
potensial akan disarankan untuk setiap masalah, dan proses
biasanya di beberapa titik dapat mencapai daftar termasuk ratusan
indikator yang berpotensi menarik. Tantangan bagi penyelenggara
adalah mempersingkat daftar. Disarankan untuk menanggapi isu-isu
utama, dan lebih dari 50 diidentifikasi untuk pekerjaan lebih lanjut,
yang bertujuan memilih sekitar selusin untuk monitoring awal.
Pengalaman serupa dilaporkan dari banyak aplikasi kasus lainnya.
Sebagian besar yurisdiksi, meskipun membuat daftar awal yang
panjang, berakhir dengan 10 hingga 25 untuk implementasi praktis.
Salah satu tantangan dalam mengidentifikasi isu-isu utama
adalah untuk mempertahankan fokus pada sektor pariwisata dan
kepentingannya. Konsultasi mengenai pengembangan indikator
menunjukkan bahwa kadang-kadang masalah atau indikator
tertentu yang menarik bagi pemangku kepentingan tunggal dapat
diangkat, dan mungkin sangat penting bagi pemprakarsa tetapi di
luar bidang pengaruh sektor pariwisata atau ke destinasi. Seperti,
menentang kebijakan pajak, menjaga sekolah tetap terbuka di
destinasi pariwisata, mencegah penyebaran kota, menentang
spesies yang diubah secara genetik, dan sebagainya. Sementara
masalah seperti itu dapat diangkat, dan dalam beberapa kasus
dapat menghasilkan kerja sama untuk mengatasinya, hanya sedikit
yang akan memprioritaskan daftar untuk indikator pariwisata.
Fokus untuk latihan indikator adalah pada apa yang secara
keseluruhan penting bagi sektor pariwisata dan apa yang mungkin
dapat dikelola atau dipengaruhi dan ini penting untuk masalah dan
indikator yang dipilih untuk implementasi. Pada saat yang sama,
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 91
interpretasi yang terlalu sempit juga tidak akan cukup karena masa
depan industri pariwisata sangat terkait erat dengan apa lagi yang
terjadi di wilayah destinasi pariwisata.
Mengklarifikasi masalah melalui indikator
Definisi indikator menuntut ketelitian. Ketepatan ini sering dapat
membantu memperjelas masalah, atau bahkan menunjukkan bahwa itu
tidak nyata. Dalam sebuah lokakarya di Saskatchewan Utara (Kanada),
panduan berburu dan operator ekowisata tampaknya bertentangan dalam
hal akses ke danau di wilayah tersebut, masing-masing khawatir bahwa
peraturan baru akan menghilangkan hak akses bagi mereka. Masalahnya
adalah akses ke danau yang diinginkan. Diskusi tentang apa yang
sebenarnya mereka inginkan menunjukkan bahwa tidak ada yang
menginginkan hak eksklusif, bahwa masing-masing akan puas dengan
akses bersama selama mereka tidak berada di danau yang sama pada saat
yang sama, seperti mereka yang ingin melihat binatang hidup dan mereka
yang ingin menembak. Mereka tidak berbagi gambar yang sama. Diskusi
menghasilkan akomodasi di mana masing-masing memiliki beberapa akses.
Diskusi tentang masalah dan indikator khusus (tidak hanya akses, tetapi
seberapa besar, kapan, di mana, dalam kondisi apa?) Membantu tidak
hanya untuk mengklarifikasi tetapi juga untuk mengidentifikasi solusi
tingkat masyarakat yang bisa diterapkan.
(Konferensi Pariwisata (Tourism Conference):
La Ronge Saskatchewan 1999)
Fase 6 - identifikasi sebagai indikator
Prosedur ini biasanya melibatkan daftar keinginan indikator
atau kandidat yang dikembangkan untuk mengatasi masing-masing
masalah utama dan pertanyaan kebijakan. Berdasarkan risiko dan
masalah yang diidentifikasi, prosedur konsultatif, atau kelompok ahli
yang ditunjuk dapat digunakan untuk menentukan daftar indikator
yang mungkin dapat digunakan untuk memahami masalah dan risiko
serta dalam membantu mengelola atau mempengaruhi mereka.
Informasi yang akan memungkinkan manajer pada tujuan dan di
Indikator Perencanaan Pengembangan
92 Pariwisata Berkelanjutan
tingkat spesifik lokasi untuk memahami perubahan yang dapat
mempengaruhi aset utama dan industri secara keseluruhan.
Beberapa indikator yang disarankan mungkin tidak praktis, tetapi
pada tahap ini semua indikator berpotensi untuk dicatat. Dalam
prakteknya, daftar ini pada awalnya bisa sangat panjang, tetapi
ditentukan dari mana indikator terbaik dapat dipilih. Fase-fase
selanjutnya dirancang untuk membantu pengembang indikator dan
pemangku kepentingan mengurutkan atau memprioritaskan dari
daftar ini melalui diskusi.
Beberapa indikator yang paling berguna mungkin ditemukan
tidak layak karena teknis, keuangan, staf atau kendala lain yang
menghambat pengumpulan atau pemrosesan data. Indikator
semacam itu dapat disisihkan untuk pengembangan di masa depan,
karena proses indikator tidak dapat diperbaiki dalam waktu cepat
dan konsisten. Fase ini adalah salah satu yang paling penting untuk
menggunakan beberapa bentuk prosedur konsultasi.
Dalam lokakarya yang dijalankan oleh WTO, proses kelompok
kecil telah digunakan, idealnya dengan 8 hingga 10 peserta di setiap
kelompok kerja, yang dipimpin oleh seorang fasilitator. Telah
terbukti paling produktif untuk mengkolaborasi keahlian dalam
setiap kelompok diskusi, mulai dari pejabat lokal dan politisi,
peserta industri, akademisi, konsultan dengan studi di wilayah ini,
pejabat tingkat nasional, dan pakar dari negara lain.
Dalam lokakarya terapan, setidaknya setengah hari diperlukan
untuk fase ini, dengan kelompok-kelompok kecil melaporkan
kembali ke pleno yang lebih besar di mana hasilnya dibagikan. Di
mana ada peluang untuk sejumlah pertemuan, pendekatan
alternatif bisa berupa kelompok kerja kecil yang fokus pada masalah
yang berbeda, membawa saran mereka untuk menjadi indikator
kembali ke kelompok yang lebih besar dan lebih terbuka untuk
musyawarah.
Mungkin ada serangkaian proses yang digunakan dalam
identifikasi indikator. Dalam beberapa kasus, kelompok teknis
diperlukan untuk menangani masalah yang sangat teknis dan untuk
merekomendasikan tindakan yang tepat serta dapat mendukung
indikator utama. Masalah dan tujuan dikembangkan melalui
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 93
konsultasi luas dengan masyarakat lokal, tetapi untuk indikator
definisi dan fase-fase evaluasi komite teknis ahli ditunjuk untuk
datang dengan spesifikasi untuk setiap indikator. Proses yang
melibatkan kelompok kerja khusus atau subkomite teknis yang akan
mengambil masalah dari meja dan memajukannya bisa sangat
bermanfaat, dan menghindari membebani pemangku kepentingan
non-teknis dengan detail yang berlebihan. Namun, hasil pekerjaan
tersebut harus dikembalikan ke proses konsultasi yang lebih luas
untuk ditinjau dan ditanggapi.
Fase 7 - inventarisasi sumber data
Informasi diperlukan untuk menghasilkan dan memelihara
indikator. Pemilihan indikator memerlukan informasi tentang
sumber data saat ini dan potensial. Dua pendekatan dasar yang
berbeda tetapi saling terkait digunakan secara luas:
(1) Pendekatan berbasis data yang menanyakan pertanyaan, apa
yang dapat kita lakukan dengan data yang kita miliki, atau
untuk masalah apa kita memiliki data?
(2) Pendekatan masalah dan kebijakan, yang menanyakan
pertanyaan, masalah apa atau pertanyaan kebijakan yang
paling penting, dan bisakah mendapatkan data untuk
mengatasinya?
Dalam prakteknya, proses pengembangan indikator
menjawab kedua pertanyaan, dan yang terbaik adalah proses
pragmatis, bentuk negosiasi antara informasi apa yang dibutuhkan
dan apa yang dapat dibuat atau diperoleh sekarang, dan bagaimana
sumber informasi dapat ditingkatkan di masa depan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
94 Pariwisata Berkelanjutan
Tabel 3. Perbandingan indikator yang digerakkan oleh data isu
dan kebijakan
Kebijakan atau
Titik poin Pendekatan berbasis data pendekatan
berbasis masalah
Titik awal Mulailah dengan inventaris Mulailah dengan
data analisis kebutuhan,
identifikasi tujuan
dan masalah utama
Kunci utama Apa yang bisa kita lakukan Informasi apa yang
dengan Informasi yang kita bisa kita lakukan
miliki untuk masalah
masalah?
Memilih Pertama pada Pertama pada
indikator kebutuhan, kemudian kebutuhan,
pada apa yang kemudian pada apa
berdasarkan pada yang bisa
kebutuhan dan diterapkan
pertanyaan yang bisa dilakukan untuk
diterapkan dan kebutuhan
dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan
kebijakan
Kekuatan Menggunakan informasi Fokus pada masalah
yang ada yang merupakan kebijakan apa yang
respon berdasarkan data terpenting
yang tersedia. Dapat
mengidentifikasi kebutuhan
untuk data baru atau sarana
untuk mengekstraksi apa
yang dibutuhkan
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 95
Kebijakan atau
Titik poin Pendekatan berbasis data pendekatan
berbasis masalah
Kelemahan Mungkin kehilangan Mungkin
masalah utama karena mengidentifikasi
data realistis tidak kebutuhan yang
tersedia tidak dapat dilayani
saat ini.
Cara Kerja Pastikan Pastikan bahwa
perspektif itu proses penentuan
tidak terbatas identifikasi yang
prioritas baru
berdasarkan apa
yang tersedia.
Dilakukan dengan
pertimbangan praktis
Identifikasi kebutuhan
data jangka panjang
Tetapkan tujuan dan
rencana untuk
mengembangkan sumber
data dan kapasitas untuk
memprosesnya
Pengembangan indikator praktis akan melibatkan pertukaran
antara kebutuhan dan kemampuan, idealnya latihan indikator akan
mengandung elemen dari kedua pendekatan. Prosedur
pengembangan indikator yang disarankan dalam buku ini
menerapkan pendekatan gabungan, dengan mempertimbangkan
prioritas kebijakan (masalah) dan kelayakan indikator
(pertimbangan praktis pengumpulan dan analisis data). Oleh karena
itu, pengembangan indikator merekomendasikan:
(1) titik keberangkatan (awal): identifikasi masalah kebijakan
prioritas;
(2) saat mendefinisikan indikator, analisis sumber data untuk;
Indikator Perencanaan Pengembangan
96 Pariwisata Berkelanjutan
(3) membentuk dengan kuat sumber data yang tersedia;
(4) mengidentifikasi kesenjangan data;
(5) menggunakan metodologi pengukuran alternatif untuk
kebutuhan yang mendesak, saat pengumpulan data melebihi
kapasitas. Misalnya perkiraan tindakan;
(6) menetapkan tujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan
sumber data dan kapasitas pemrosesan;
(7) monitor penerapan indikator dan jika diperlukan, kembangkan
indikator baru dengan teknik pengukuran yang ditingkatkan.
Identifikasi sumber data potensial, setidaknya diawal, yang
dapat terjadi di awal prosedur dan bertindak untuk mengembangkan
blok diskusi. Ini sangat berguna di mana sudah ada sumber data
yang luas seperti mematangkan tujuan yang sudah memiliki basis
data pariwisata yang luas dan proses perencanaan operasi.
Pembahasannya kemudian dapat dibingkai dalam hal bagaimana
data yang ada dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah
utama.
Untuk titik tujuan di mana mungkin tidak ada data yang ada
dan program monitoring, yang paling efektif untuk menunda
identifikasi sumber data sampai identifikasi masalah utama sebisa
mungkin diadakan dan daftar keinginan indikator potensial telah
dibuat. Kemudian pencarian data dapat difokuskan pada apa yang
diperlukan untuk mendukung indikator yang diinginkan.
Tahap ini dirancang untuk membuat daftar awal sumber data
potensial yang mungkin cocok untuk mendukung indikator.
Informasi ini kemudian dibawa ke meja untuk membantu dalam fase
berikutnya pengurangan daftar panjang menjadi seperangkat
indikator yang lebih pendek untuk destinasi. Penjabaran lebih lanjut
dari data tersebut terjadi untuk indikator-indikator prioritas yang
dipilih pada fase berikutnya.
Fase 8 - prosedur
Pemilihan Indikator yang manakah yang salah satunya menjadi
arah yang sebenarnya mencoba untuk diterapkan? Prosedur pilihan
adalah yang disarankan dibawah ini:
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 97
Kriteria peringkat indikator
Lima kriteria yang digunakan dalam mengevaluasi setiap
indikator. Hal ini direkomendasikan agar penyaringan awal ini
dilakukan sedapat mungkin dalam forum partisipatif atau setidaknya
dalam kelompok kecil untuk memperoleh berbagai pengetahuan
untuk diterapkan pada seleksi, dan untuk menjaga transparansi.
Tinjauan awal ini dapat membantu mengurangi daftar keinginan
menjadi skala yang dapat dikelola, menggunakan pengetahuan
kolektif para peserta. Proses selanjutnya berfokus pada
penyempurnaan lebih lanjut dan elaborasi indikator yang awalnya
tampak memenuhi kriteria ini. Kriteria yang akan digunakan adalah:
(1) Relevansi indikator dengan masalah yang dipilih. Apakah
indikator meliputi seluruh masalah yang spesifik dan
memberikan informasi yang akan membantu manajemennya?
Indikator yang ideal akan memberikan informasi yang berguna
ketika dibutuhkan, inilah yang akan membuat perbedaan pada
keputusan yang mempengaruhi keberlanjutan pariwisata dan
destinasi. Perlu juga dicatat bahwa mungkin ada banyak
masalah yang berkaitan langsung dengan pariwisata yang tidak
dikelola oleh sektor pariwisata secara langsung, misalnya
masalah pengelolaan energi, air, limbah, komunikasi, dan
infrastruktur lainnya, yang merupakan tanggung jawab
departemen pemerintah lain dan perusahaan swasta. Hal ini
mungkin sangat relevan dengan sektor pariwisata dan
membutuhkan kerja sama antara berbagai sektor untuk
penyelesaian. Indikator mungkin diperlukan untuk membantu
mengarahkan respons secara bersama.
(2) Kelayakan mendapatkan dan menganalisis informasi yang
dibutuhkan. Bagaimana informasi tersebut dapat diperoleh?
Apakah ada organisasi yang diidentifikasikan sebagai sumber
data? Apakah sudah tersedia atau akan membutuhkan
pengumpulan atau ekstraksi khusus? Sejauh mana data
diproses, seberapa sistematis dan dalam bentuk apa data
dikumpulkan, seperti apakah ada basis data elektronik? Apa efek
yang ditimbulkan oleh staf dan biaya dari pengumpulan dan
pemrosesan data. Tingkat upaya seperti apa yang mungkin
Indikator Perencanaan Pengembangan
98 Pariwisata Berkelanjutan
diperlukan untuk membuat dan memelihara indikator? Kriteria
ini dapat digunakan bersamaan dengan relevansi untuk
menjawab pertanyaan apakah sepadan dengan biaya untuk
mendapatkan manfaat? Pada tahap ini, penilaian adalah dalam
bentuk pra-pemindaian (walaupun seperti disebutkan di atas,
kompilasi beberapa pengetahuan tentang sumber-sumber
utama dan penyedia sebelum penilaian ini direkomendasikan
sebagai salah satu fase awal dalam persiapan). Untuk lebih
jelasnya lihatlah evaluasi kelayakan dan prosedur implementasi
dalam Fase 3, di mana kelayakan implementasi praktis dari
indikator yang dipilih untuk implementasi potensial dilakukan
secara rinci.
(3) Kredibilitas informasi dan keandalan bagi pengguna data.
Apakah informasi yang di peroleh dari sumber yang bereputasi
baik dan ilmiah? Apakah itu dianggap objektif? Apakah akan
dipercaya oleh pengguna? Data, misalnya, tentang kebersihan
air laut akan memiliki kredibilitas yang lebih besar jika
dikumpulkan dan dianalisis oleh lembaga independen daripada
jika dikumpulkan dan disajikan oleh asosiasi hotel pantai.
(4) Kejelasan dan pemahaman pengguna. Jika pengguna menerima
informasi, apakah mereka dapat memahaminya/
menindaklanjutinya? Beberapa informasi teknis yang baik
mungkin sangat sulit dipahami, seperti bagian per juta zat
beracun, kecuali jika pengguna memiliki pengetahuan khusus.
Indikator yang lebih dapat dipahami untuk mengatasi masalah
yang sama ini mungkin berupa persentase hari ketika toksisitas
melebihi batas legal. Perhatikan bahwa sering kali untuk
menggambarkan informasi secara berbeda untuk pengguna
yang berbeda. Informasi yang sama mungkin diperlukan dalam
bentuk teknis untuk manajer program respons (kapan harus
menutup pantai) tetapi mungkin lebih baik digambarkan secara
publik dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti polusi
melebihi standar yang dapat ditoleransi.
(5) Dapat diperbandingkan dari waktu ke waktu dan lintas
yurisdiksi atau wilayah. Dapatkah indikator digunakan secara
andal untuk menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu,
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 99
relatif terhadap standar atau tolok ukur di tujuan yang sama,
atau relatif terhadap tujuan lain? Buku ini memberikan contoh
indikator yang digunakan di destinasi lain dan menangani
masalah spesifik yang dapat membantu dalam menerapkan
kriteria ini. Dalam beberapa kasus, data yang mendukung
indikator belum pernah diproduksi sebelumnya, dan
pembuatan informasi mungkin dimulai dengan indikator yang
baru ditetapkan. Dalam hal ini kesinambungan pembuatan data
harus dipastikan (misalnya jika survei kepuasan wisatawan
dikumpulkan untuk pertama kalinya, penting untuk
mengalokasikan sumber daya untuk survei berkala di masa
depan yang akan menghasilkan tren dari waktu ke waktu).
Dalam banyak kasus, karena semua destinasi unik, tolok ukur
terbaik adalah perubahan dari waktu ke waktu di lokasi yang
sama.
Dalam persentase kasus yang signifikan, indikator yang
diinginkan tidak akan mudah dihasilkan. Ini dapat terjadi karena
sumber informasi tersebar secara luas. Seperti setiap pemandu
atau penjual pakaian eceran yang menyediakan layanan di suatu
wilayah, karena tidak ada yurisdiksi dengan otoritas untuk
mengumpulkan informasi, atau di mana biaya pengumpulan data
dapat menjadi penghalang. Prosedur pemilihan ini memaksa
perbandingan aktif dan partisipatif dari apa yang diinginkan dengan
apa yang praktis, sering menyebabkan diskusi tentang pengganti
yang mungkin lebih mudah untuk didukung, mengingat
ketersediaan informasi saat ini. Proses ini juga memiliki manfaat
merangsang diskusi tentang apa yang tidak praktis (setidaknya saat
ini) dengan potensi untuk merangsang implementasi di masa
depan.
Penggunaan proses partisipatif untuk tahap ini dapat menjadi
produktif, terutama dengan partisipasi dari pemangku kepentingan
utama dan penyedia data potensial. Disarankan bahwa identifikasi
indikator prioritas dilakukan dalam kelompok diskusi yang bertugas
menilai setiap indikator kandidat relatif terhadap lima kriteria.
Evaluator yang bekerja dalam kelompok diskusi juga disarankan
Indikator Perencanaan Pengembangan
100 Pariwisata Berkelanjutan
untuk mengajukan pertanyaan tentang kegunaan jangka panjang
dan pendek dari indikator. “Siapa yang akan menggunakannya dan
untuk tujuan apa?” Selain itu, karena tidak mungkin bahwa semua
indikator yang direkomendasikan akan menerima implementasi
segera, indikator juga dapat disaring relatif terhadap urgensi
kebutuhan. “Apakah ini diperlukan sekarang, atau dapatkah
menunggu sampai sensus atau musim berikutnya?” Hal ini dapat
membantu dalam penetapan prioritas sebagai tindakan pada saat
implementasi.
Dalam beberapa aplikasi lokakarya WTO, sistem peringkat
"bintang lima" telah digunakan untuk mengidentifikasi indikator-
indikator yang paling dibutuhkan untuk mengatasi masalah-
masalah penting. Walaupun pendekatan ini bersifat subyektif,
pendekatan ini berfungsi sebagai cara untuk menyoroti masalah
mana dan indikator terkait yang dilihat oleh evaluator (atau
prosedur konsultasi publik) sebagai yang memiliki prioritas
tertinggi untuk diimplementasikan segera. Pendekatan ini dapat
digunakan, yang mana pilihan indikatornya perlu dibuat untuk
pertama kalinya agar dapat diterapkan.
Tahap implementasi
Tujuan tahap implemenasi ini adalah untuk
mengimplementasikan indikator yang ditentukan dalam dua fase
pertama dan menjalankannya sesuai tujuan. Idealnya yang akan
terjadi nanti sebagai bagian dari program monitoring berkelanjutan
yang mendukung pembangunan berkelanjutan pada suatu destinasi.
Fase 9 - evaluasi prosedur kelayakan dan implementasi
Pada fase ini, masing-masing indikator yang dipilih akan
dijabarkan lebih lanjut dan dievaluasi kembali dengan menggunakan
prosedur yang akan mengidentifikasi secara jelas:
(1) Sumber spesifik data yang akan digunakan untuk membangun
indikator.
(2) Karakteristik khusus data, tingkat rinciannya (bidang data,
jumlah bilangan bulat, cara penyediaan (kertas, digital, dan
sebagainya), format tabel.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 101
(3) Frekwensi koleksi data (apa yang dibutuhkan dan ketersediaan
data yang dibutuhkan; apakah setiap 5 tahun, pertahun,
kuartal, bulanan, mingguan atau setiap saat).
(4) Jeda waktu antara pengumpulan dan ketersediaan. Data
kadang-kadang ditahan selama beberapa waktu sampai
publikasi resmi dirilis yang berisi data tersebut dan kumpulan
data lainnya yang mungkin memiliki periode produksi berbeda
(misalnya sementara data energi dapat dikumpulkan secara
waktu nyata dengan meteran, output dari data itu hanya dapat
dilakukan setiap bulan dan dapat diproduksi untuk masing-
masing sektor atau daerah setiap tahun).
(5) Pertimbangan akses dan kerahasiaan. Apakah data akan tersedia
secara langsung dalam bentuk mentah sehingga setiap analisis
dapat dilakukan oleh kelompok indikator, atau apakah
dilindungi sehingga hanya output agregat yang dapat diperoleh?
Akankah akses awal diberikan kepada kelompok produksi
indikator untuk data yang baru, atau akankah analisis apa pun
harus menunggu sampai data dipublikasikan secara resmi?
(6) Unit pelaporan, masalah validitas dan akurasi pada skala yang
berbeda. Apakah data tersedia untuk skala yang diinginkan
(mis., Masing-masing hotel, atau komunitas tertentu) atau
apakah itu hanya tersedia untuk unit pelaporan tetap (mis.,
Kabupaten, kota, distrik)? Jika demikian, apakah ini cocok untuk
digunakan? Berapa biayanya untuk memiliki data yang
dikumpulkan atau output pada kriteria yang berbeda? Apakah
data lengkap atau dilakukan berdasarkan sampling? Jika
demikian, apakah data tersebut cukup representatif untuk
memungkinkan penggunaan yang valid pada skala lokal? (mis.,
sampel 10% dari semua pekerja hotel).
(7) Tanggung jawab penyediaan data, analisis data, dan manipulasi
tambahan apa pun. Siapa yang akan mengekstrak data, siapa
yang akan membuat tabel, dan siapa yang akan memvalidasi
atau memverifikasi data?
(8) Biaya dan persyaratan teknis pengumpulan dan analisis data.
Apakah data yang dibutuhkan sudah tersedia, dapatkah data
diperoleh dari proses pengukuran yang ada, atau harus
Indikator Perencanaan Pengembangan
102 Pariwisata Berkelanjutan
dikumpulkan secara khusus? Apakah ada teknologi, staf terlatih
untuk menyusun dan memproses data yang ada atau untuk
mengumpulkan data baru, atau teknik dan teknologibaru yang
perlu diperkenalkan, staf yang membutuhkan pelatihan, atau
ahli yang perlu disewa untuk itu?
Penyempurnaan dari prosedur peninjauan di atas harus
menghasilkan persetujuan pada proses pembuatan dan dukungan
untuk setiap indikator yang dipilih.
Ketersediaan Data
Kedua sumber data baik primer (pengumpulan data langsung
melalui pengukuran atau survei) dan sekunder (data yang berasal
dari informasi yang ada) perlu dipertimbangkan. Lihat bagian
pengumpulan data berikut untuk detail lebih lanjut tentang
prosedur pengumpulan. Pengumpulan data langsung cenderung
mahal, sehingga sumber yang ada biasanya harus dipertimbangkan
terlebih dahulu. Penilaian data dapat dilakukan melalui proses
pemetaan data yang cocok dengan kebutuhan sumber yang
tersedia, diikuti oleh penilaian kesenjangan.
Pengalaman dalam pengembangan indikator untuk sektor
pariwisata telah menunjukkan bahwa data yang diperlukan untuk
menghitung banyak indikator dapat diperoleh dari sumber data
yang ada. Informasi ini sering dikumpulkan oleh lembaga-lembaga
seperti utilitas, sumber daya atau departemen sektoral pemerintah
untuk tujuan mereka sendiri. Seringkali data dapat digunakan secara
langsung, karena pihak yang berkepentingan seperti utilitas energi
yang mengukur penggunaan listrik oleh sektor untuk keperluan
pelaporan atau penagihan telah melakukan beberapa analisis
sederhana yang dapat digunakan untuk memisahkan bagian-bagian
industri pariwisata.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 103
Perkiraan tindakan
Dalam beberapa kasus pengukuran yang tidak dilengkapi data yang akurat
walaupun menunjukkan keseriusan masalah, tetap bisa bermanfaat,
terutama jika tidak ada pilihan lain yang layak. Tindakan ini terkadang
disebut tindakan proxy. Misalnya, metode yang paling tepat untuk
memantau kualitas air laut di pantai adalah melalui tes laboratorium berkala
yang mencakup unsur-unsur seperti kandungan logam berat, coliform,
kekeruhan, permintaan oksigen biologis (BOD) atau permintaan oksigen
kimia (COD), dan sebagainya. Namun, jika di destinasi tertentu, analisis
laboratorium tidak mungkin karena kurangnya atau tingginya biaya atau
tenaga terampil, atau jarak yang jauh ke laboratorium terdekat maka ada
indikator alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti untuk
memberikan gambaran tentang keberadaan dan tingkat masalah
Jumlah dan jenis iritasi kulit atau kasus serupa yang disebabkan oleh air
laut, dilaporkan atau diobati;
Keluhan tentang kualitas air laut terdaftar di otoritas setempat atau
fasilitas pantai;
Insiden pertumbuhan alga atau kekeruhan berlebihan dilaporkan
kepada pejabat setempat;
Menipisnya stok ikan, atau perubahan tingkat keberhasilan bagi
nelayan.
Langkah-langkah ini merupakan perkiraan karena tidak semua kasus
dilaporkan atau terdaftar. Selanjutnya reaksi wisatawan bersifat individual
dan subyektif. Namun demikian, perubahan signifikan dalam langkah-langkah
ini dapat menjadi sinyal masalah yang muncul dengan kualitas air dan
mungkin merupakan rangsangan untuk memulai tes ilmiah yang disebutkan
Dalam kasus lain, diskusi mungkin diperlukan dengan
penyedia data potensial untuk mendapatkan data yang
menguraikan faktor-faktor yang menarik bagi sektor pariwisata
(seperti pengguna taman nasional dan berapa banyak wisatawan
yang datang?) atau untuk menyediakan data yang dikumpulkan
kembali untuk penggunaan yang diinginkan, seperti penggunaan air
dihitung saat mulai puncak musim wisatawan. Mungkin juga
diperlukan untuk membuat pengaturan dengan penyedia data
untuk mengumpulkan variabel baru yang memungkinkan analisis
relatif terhadap kebutuhan sektor wisata, misalnya dapatkah kita
mengumpulkan informasi tentang jumlah pantai yang dikumpulkan
dengan cara memisahkan properti perumahan dari yang dibangun
untuk penggunaan wisatawan. Perlu dicatat bahwa ini dilakukan
pada dasarnya sebagai proses negosiasi atau koordinasi dengan
Indikator Perencanaan Pengembangan
104 Pariwisata Berkelanjutan
penyedia data yang potensial. Pada prakteknya, strategi untuk
mencoba membuat aliansi data, di mana pemasok memperoleh
beberapa keuntungan dari penyediaan data, seperti akses ke data
lain, penggunaan hasil yang dianalisis, dan integrasi data dengan
data yang lain sebagai kompensasi.
Penyempurnaan indikator utama
Berdasarkan evaluasi yang terperinci dari masing-masing
kandidat indikator dan temuan mengenai perolehan aktual dari data
yang dibutuhkan, dapat terbukti bahwa diperlukan untuk meninjau
kembali indikator dan membuat perubahan untuk memfasilitasi
implementasi. Hal ini mungkin memerlukan kompromi, untuk
mengakomodasi logistik pengumpulan dan ketersediaan data.
Pertanyaan yang diajukan pada fase ini membahas
kemungkinan bekerja dengan data yang ada, misalnya, data yang
tersedia pada siklus tiga tahun dapat mencukupi untuk membuat
indikator yang bermanfaat, sebagai pengganti untuk pengumpulan
data, seperti pengumpulan dan pelaporan tahunan yang diinginkan.
Bisakah kita bekerja dengan data yang ada yang sudah
dikelompokkan berdasarkan sektor atau perlukah melakukan
agregasi data asli untuk memecah tempat atau tipe perusahaan
tertentu?
Inilah titik pengambilan keputusan mengenai bentuk aktual
dan penyampaian indikator serta program indikator yang akan
melibatkan mereka untuk memimpin pelaksanaan program
Fase 10 - pengumpulan dan analisis data
Prosedur pengumpulan data
Bagian ini akan memberikan saran dan pertimbangan untuk
dibahas dalam pengumpulan data aktual dan manajemen yang
terkait dengan produksi indikator. Bentuk di mana indikator akan
digunakan dan bagaimana hal itu akan bisa dihitung
Bagian ini akan memberikan saran dan pertimbangan untuk
dibahas dalam pengumpulan data aktual dan manajemen yang
terkait dengan produksi indikator. Bentuk di mana indikator akan
digunakan dan bagaimana hal itu akan bisa dihitung
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 105
Apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pembuat keputusan?
Pada saat ini mungkin diinginkan untuk mempunyai tujuan baik dan
terperinci, namun tidak selalu diperlukan. Baru-baru ini, sebuah studi
indikator mengenai pantai, yang tampak dengan cepat mengikis dan
merusak fondasi hotel serta infrastruktur transportasi, ditemukan
melalui foto udara tradisional, satelit bahkan data survei historis tidak
tersedia untuk alasan keamanan nasional. Sementara survei independen
mungkin memberikan data terperinci tentang erosi pantai dengan biaya
yang cukup besar, solusi praktisnya adalah dengan mendirikan pos
pengukuran di selusin titik pantai utama dan mengukur jarak ke laut
setiap bulan oleh kelas science perguruan tinggi setempat. Guna
keperluan dan perincian yang diperlukan untuk mendukung keputusan
tentang tindakan perbaikan, data ini cukup dan hampir tanpa biaya.
Hal ini sangat mempengaruhi prosedur pengumpulan data.
Fase ini dibangun melalui proses penilaian awal, di mana beberapa
pertimbangan tentang bentuk potensial dari indikator telah terjadi.
Mungkin sudah diputuskan bahwa indikator yang paling cocok
bukanlah sepenuhnya kuantitatif, melainkan klasifikasi berbasis data
seperti bukan rata-rata aritmatika dari harga rata-rata penjualan
kamar tetapi kamar yang dijual dengan harga 10% dari tarif resmi.
Dalam beberapa kasus, akan menjadi jelas bahwa data baru
harus dikumpulkan dan bahwa ini mungkin harus melibatkan
beberapa bentuk proses pengambilan sampel karena tidak mungkin
mampu mencakup semua wisatawan atau semua restoran untuk
mengumpulkan data yang komprehensif. Perlu dicatat juga, bahwa
tidak semua indikator akan bersifat kuantitatif dan bahwa informasi
semi kuantitatif kualitatif , misalnya tingkat empat pada skala 1 – 5,
atau berapa persen pantai yang memenuhi standar ‘bendera biru’,
data ordinal seperti peringkat destinasi pada survei relatif terhadap
destinasi lain atau bahkan informasi ya/tidak yang sederhana.
Apakah destinasi memiliki rencana formal yang dapat berguna dalam
beberapa keadaan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
106 Pariwisata Berkelanjutan
Untuk setiap indikator, pentingnya mendokumentasikan
secara jelas cara spesifik yang akan digunakan untuk mendapatkan
informasi. Prosedur khas termasuk:
(1) Penggunaan data yang ada dikumpulkan oleh sektor pariwisata
atau oleh orang lain, misal penggunaan langsung data dari
sensus, statistik industri, penghitungan lalu lintas, atau catatan
utilitas;
(2) Ekstraksi dan manipulasi data dari sumber yang ada (seringkali
sumber yang mirip dengan di atas tetapi membutuhkan upaya
tambahan untuk mengekstrak, mengintegrasikan atau merakit
kembali);
(3) Pembuatan data komprehensif baru, misalkan memulai proses
baru untuk memantau masa tinggal dan pengeluaran wisatawan
oleh perusahaan wisata setiap bulan dengan kontak langsung
dengan masing-masing perusahaan di destinasi;
Pembuatan data sampel, seperti membuat survei keluar dari
persentase wisatawan dari kawasan untuk menanyakan perilaku
atau sikap mereka. Hal ini mungkin termasuk metode seperti
pengambilan sampel, penggunaan instrumen kuesioner, dan
ekstraksi data dari sumber statistik yang ada. Indikator
pengembang yang menggunakan data survei didorong untuk
menggunakan manual statistik atau pengambilan sampel yang baik
untuk membantu mengidentifikasi batas data dan penggunaannya.
Cara pengumpulan data ini membantu mengidentifikasi menarik
untuk para pengunjung. Informasi yang dikumpulkan tentang
aktivitas, informasi tentang jenis kelamin dan usia yang mungkin
sesuai untuk survei keluar dan survei penduduk disediakan untuk
membantu keterwakilan harus dievaluasi secara formal pada titik
ini, bersama dengan penyedia data potensial dari binatang yang
diamati, kontribusi informasi yang berguna untuk pengelolaan
selanjutnya dari spesies yang diamati di setiap habitat. Juga jumlah
pengamatan per hari, per sirkuit tunggal atau secara keseluruhan,
sesuai dengan musim dan kondisi iklim (musim tahun dan waktu
hari) dan tren dapat dihitung dengan data yang dikumpulkan.
Meskipun sistem tidak sepenuhnya ilmiah dalam aplikasi, fakta
sederhana dari implementasinya menghasilkan indikator dengan
banyak manfaat.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 107
Cagar Alam Hutan Iguazu: partisipasi dalam pengumpulan data
Partisipasi aktif dari para pemangku kepentingan dalam pengumpulan data
adalah cara yang efektif untuk mendapatkan informasi, terutama di mana
sumber daya keuangan menjadi masalah. Partisipasi pemandu wisata yang
beroperasi pada rute di dalam Hutan Lindung Iguazu, yang terletak di destinasi
pariwisata internasional Air Terjun Iguazu, adalah contoh partisipasi dalam
pengumpulan data. Hutan Iguazú adalah cagar alam pribadi, dibuat pada tahun
1999, di dalam cagar hutan Port Peninsula di timur laut provinsi Misiones. Ini
dikelola oleh Pemerintah Argentina, di mana 16.000 hektar hutan paranaense
yang berdekatan dengan Taman Nasional Iguazu dilindungi.
Pembukaan hutan cadangan untuk kegiatan ekonomi yang berbeda, selain
ekstraksi hutan lestari tradisional, juga dibuka proyek ekowisata. Bermula sebagai
hasil dari meningkatnya kesadaran akan pariwisata berkelanjutan di sektor
swasta lokal (lihat kasus Yacutinga Lodge hal. 453). Di antara rute dan produk
yang di organisir, sirkuit interpretif melalui hutan adalah yang paling penting.
Mendukung daya tarik utama cagar: pengamatan fauna dan flora liar. Identifikasi
tempat terbaik untuk pengamatan fauna di cagar adalah langkah pertama. Agar
memenuhi kebutuhan ini dan dengan tujuan pelengkap untuk memperoleh
informasi yang menyediakan data yang menarik bagi Pusat Ekologi untuk
Penelitian Subtropis, sistem registrasi untuk fauna yang sedang diamati didirikan
fasilitas sarana pendukung. Formulir pendaftaran disediakan untuk pengamatan
tunggal fauna liar yang dirancang agar sederhana dan mudah di isi. Prosedur
pengumpulan data diatur dengan cara berikut :
Semua kendaraan pariwisata yang beredar di dalam cagar harus
mengisi formulir pendaftaran;
Pelatihan diberikan kepada semua yang terlibat dalam mengisi
formulir;
Sebagai cara untuk memperluas partisipasi dan untuk
menghasilkan nilai tambah untuk tur, para wisatawan didorong
untuk berpartisipasi dalam mengisi formulir;
.
Jenis aktivitas hewan pada saat pengamatan;
Kondisi iklim pada saat pengamatan: intensitas matahari,
(paparan sinar matahari) suhu umum (diamati tanpa
menggunakan termometer) dan sebagainya.
Indikator Perencanaan Pengembangan
108 Pariwisata Berkelanjutan
Tempat-tempat konsentrasi fauna yang menarik atau lebih
Selain menjadi sumber informasi konstan yang mendukung
manajemen berkelanjutan yang menyediakan monitoring indikator
utama pada setiap sirkuit, daya tarik situs untuk safari fotografi,
jumlah pengamatan berdasarkan spesies, jumlah bayi atau individu
muda yang diamati, jumlah individu dalam grup, dan sebagainya.
Kegiatan pengumpulan data tentunya akan menyebabkan terjadinya
peningkatan kesadaran di masyarakat lokal yang terlibat dalam
proyek, tentang nilai dan pentingnya fauna baik dari perspektif
ekonomi dan ekologi.
Terlepas dari manfaat yang jelas, ada masalah dengan
keteraturan pengumpulan data, dan ini akan mempengaruhi
kegunaan indikator. Meskipun demikian, program ini dianggap
sukses. Dari mana data dari organisasi lain digunakan, pertanyaan
yang sama mengenai kualitas data dan penerapannya harus
ditanyakan. Misalnya apakah data ini di semua hotel, atau hanya
sampel? Jika ini adalah sampel, maka ada berapa banyak sampel, dan
berapa banyak yang ditempatkan pada destinasi yang ditentukan?
Bagaimana responden dipilih? Apakah semua menjawab? Apakah ada
responden yang tidak menjawab? Apakah penggantian dilakukan,
dan atas dasar apa?
Metodologi yang akan digunakan untuk menghitung setiap
indikator harus ditentukan. Hal ini menjadi formula yang digunakan
secara konsisten untuk menghitung indikator dan untuk
memungkinkan perubahan diukur dari waktu ke waktu.
Sebagaimana dicatat di bagian pengantar laporan ini, ada banyak
bentuk indikator, dan tidak semua indikator akan berupa angka,
meskipun masing-masing akan dirancang dengan cara untuk
menunjukkan kapan perubahan telah terjadi.
Ingat bahwa semua indikator tidak akan sepenuhnya
kuantitatif karena bisa berupa:
(1) Kuantitatif (misalnya: liter air yang dikonsumsi per wisatawan,
memungkinkan perhitungan aktual perubahan volume yang
dikonsumsi. Liter per wisatawan lebih banyak tahun ini
daripada yang lalu).
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 109
(2) Kualitatif (misalnya: persentase wisatawan yang setuju bahwa
tujuannya bersih tetapi yang juga dapat menghasilkan
kemampuan untuk menunjukkan perubahan secara numerik
peningkatan persentase yang menganggap destinasi bersih
relatif terhadap lima tahun lalu).
(3) Normatif (misalnya: jumlah pantai yang memenuhi standar Blue
Flag memungkinkan pengukuran perubahan dalam persentase
yang memenuhi standar).
(4) Deskriptif (misalnya: situs memiliki rencana lingkungan
Ya/Tidak? Jawaban ini dapat berubah seiring waktu dan juga
dapat memungkinkan agregasi menunjukkan persentase situs
dengan rencana tersebut).
Perhitungan kuantifikasi atau kualifikasi indikator
Prosedur model dan untuk referensi indikator yang digunakan
sehingga dapat digunakan untuk perbandingan atau pembandingan
jika metodologi yang sama diadopsi. Dokumentasi metode yang
digunakan adalah penting baik untuk berfungsi sebagai panduan
untuk perhitungan selanjutnya dan sebagai informasi yang
berpotensi digunakan untuk orang lain yang mungkin ingin
menggunakan data atau mereplikasi metode untuk keperluan
perbandingan. Penghitungan kepadatan wisatawan yang
menggambarkan tantangan dan manfaat kejelasan ada dalam
definisi. Penting juga untuk mempertimbangkan alternatif lagi pada
titik ini, mengingat informasi tambahan yang akan tersedia
mengenai karakteristik data dan batasan yang dapat diungkapkan.
Ekspresi dan penggambaran indikator
Jika indikator ingin digunakan secara efektif, penting untuk
menemukan cara yang paling efektif untuk menggambarkan hasil.
Kejelasan adalah salah satu kriteria untuk pemilihan indikator.
Bentuk analisis mana yang dipilih dipengaruhi oleh cara di mana
hasil akan digunakan. Sementara dalam kebanyakan kasus, analisis
data akan relatif sederhana, termasuk misalnya analisis tren
sederhana, misalnya perubahan kedatangan wisatawan selama
tahun lalu, perhitungan rasio (pengeluaran per hari wisatawan),
Indikator Perencanaan Pengembangan
110 Pariwisata Berkelanjutan
atau penggunaan tabel kontingensi sederhana untuk memisahkan
(misalnya persentase remaja).
Perhitungan kepadatan kegiatan wisata
Kepadatan kegiatan wisata telah digunakan sebagai indikator
yang diterapkan untuk situs dan digunakan secara intensif dari
Thailand ke Balearic ke Argentina. Kepadatan telah dideskripsikan
per meter persegi, per meter linier garis pantai, relatif terhadap
angka penggunaan aktual dan angka potensial yang dapat
menggunakan situs. Indikator yang paling sering digunakan ketika
diterapkan ke pantai adalah jumlah wisatawan aktual per meter
persegi pantai pada saat puncak penggunaan.
Pengunjung yang pergi ke pantai (persentasenya relatif
terhadap semua grup yang lain), terkadang bermanfaat untuk
menggunakan teknik analitik yang lebih canggih seperti indikator
turunan atau indeks gabungan untuk mengatasi masalah. Namun
demikian, biasanya lebih baik untuk menggambarkan hasilnya
sesederhana mungkin.
Misalnya, rumus yang digunakan untuk menentukan apakah
pantai layak menerima sertifikasi ‘Bendera Biru’ relatif kompleks,
yang melibatkan beberapa tes berbeda yang harus dilewati. Tetapi
indikator utama bagi sebagian besar pengguna adalah apakah
sebuah pantai memiliki ‘Bendera Biru’, atau berapa persen di
destinasi pantai yang memiliki ‘Bendera Biru’.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 111
Pemakaian definisi:
Perhitungan area situs (pantai) - mengingat berapa banyak
yang terbuka untuk digunakan karena di banyak pesisir
bagian-bagian penting dapat dikelola secara pribadi, (solusi:
menghitung keduanya, termasuk dan tidak termasuk area ini
- menghasilkan dua indikator yang berbeda - kepadatan
keseluruhan dan kepadatan di area publik);
Mengukur jumlah wisatawan di pantai. (catatan: ini paling
mudah untuk pantai dengan entri terkontrol. Jika tidak,
hitung dari foto untuk menghitung kepadatan - untuk pantai
besar, proses pengambilan sampel mungkin cukup);
Jika memungkinkan, pengembang indikator harus
mempertimbangkan kebutuhan pengguna potensial (dalam hal ini
calon wisatawan atau operator) dan menggambarkan indikator
dalam istilah yang paling mudah diakses oleh mereka. Demikian
pula, penggunaan indikator sederhana seperti persentase pantai
laut yang dilindungi sebagai taman itu sendiri merupakan indikator
yang bermakna bagi pengunjung potensial, tetapi perubahan
persentase dalam dekade terakhir ini mungkin menjadi indikator
yang lebih berguna bagi masyarakat perencanaan atau lingkungan.
Juga bermanfaat untuk mempertimbangkan presentase grafik
indikator (garis tren, diagram lingkaran, dan lain-lain.) Industri ini
sangat akrab dengan penggunaan indikator simbolis seperti
"bintang lima", "tiga pisau dan garpu" atau "kelas satu" untuk
menggambarkan kepada publik hasil dari prosedur klasifikasi yang
rumit.
Indikator Perencanaan Pengembangan
112 Pariwisata Berkelanjutan
Fase 11 - akuntabilitas, komunikasi dan pelaporan
Karena tujuan dari indikator adalah digunakan untuk
pengambilan keputusan dan komunikasi, perhatian diperlukan
mengenai sarana khusus yang akan digunakan untuk pelaporan rutin
kepada para pemangku kepentingan, publik, dan pembuat
keputusan tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi indikator
tersebut. Idealnya, tujuan penggunaan, pengguna, format, dan
presentase telah dibahas dalam keputusan tentang indikator mana
yang paling bermanfaat. Jika penggunaan aktual indikator masih
dipertanyakan pada fase ini, pertimbangan dapat mengakibatkan
kembali ke prosedur analitis sebelumnya atau bahkan dapat
menyebabkan pertimbangan ulang apakah ini masih merupakan
indikator yang bermanfaat.
Kunci implementasi adalah komitmen. Idealnya indikator
menjadi bagian dari proses perencanaan untuk destinasi akan
membantu menentukan apa yang penting dan akhirnya digunakan
untuk mengembangkan ukuran kinerja untuk perencanaan dan
pengelolaan destinasi. Hal ini memasuki domain publik, dan menjadi
sumber pengetahuan bagi penduduk, wisatawan dan manajer
tentang apa yang sedang dilakukan untuk mempertahankan apa
yang paling penting bagi masa depan destinasi. Contohnya, ada
komunikasi efektif indikator dengan cara yang memperkuat otoritas
akuntabilitas publik o untuk keberlanjutan masyarakat dan daerah.
Sampai saat ini, sebagian besar berasal dari konstituensi sosial,
ekonomi, dan lingkungan lainnya. Pihak berwenang yang telah mulai
melaporkan secara teratur tentang berbagai masalah seperti kualitas
udara, kinerja sektor kesehatan, pekerjaan, kejahatan, atau keadaan
mata uang (ini semua sangat penting untuk keberlanjutan
pariwisata).
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 113
Indikator membuat perbedaan, ketika digunakan
Indikator dapat membuat perbedaan nyata pada proses pengambilan
keputusan terutama ketika hasil indikator digunakan secara publik.
Indikator menjadi bagian dari pemahaman tentang apa yang penting dan
dapat menjadi katalisator untuk tindakan. Ketika data lingkungan
pertama kali dipublikasikan di Amerika Utara dan Eropa, hal ini menjadi
daya dorong bagi gerakan lingkungan, aksi politik, dan banyak legislasi
dan regulasi yang ada sekarang.
Sekarang, negara-negara dari Cina hingga Meksiko, dari India hingga
Afrika Selatan memiliki data reguler tentang indikator-indikator utama
yang penting bagi pariwisata seperti kualitas udara, kebisingan, kejahatan
terhadap wisatawan, dan kedatangan wisatawan yang sering muncul di
media. China menerbitkan kualitas udara secara teratur untuk sebagian
besar kota-kota besar. Kedua data ini menunjukkan keprihatinan dan
pada akhirnya menggambarkan kemajuan pada masalah seperti itu.
Indikator dapat membuat perbedaan dalam tiga cara utama yaitu melalui
informasi yang dihasilkan, kemitraan yang diciptakan, dan tindakan yang
dihasilkan. Indikator akan membuat perbedaan bahkan sebelum
sepenuhnya dikembangkan ketika konsep-konsep baru dieksplorasi dan
pembelajaran. Selama proses pengembangan indikator, informasi
dihasilkan melalui diskusi, konsultasi, dan penggunaan publisitas yang
tepat, situs web, laporan kemajuan rutin, dan siaran pers.
Indikator Perencanaan Pengembangan
114 Pariwisata Berkelanjutan
Indikator membuat perbedaan, ketika digunakan (lanjutan)
Dengan berpartisipasi dalam pengembangan indikator, para pemangku
kepentingan memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan apa yang
penting bagi mereka dan untuk mengevaluasi kembali dampak
pariwisata terhadap kehidupan dan komunitas mereka. Hal ini sering
mengakibatkan masalah seperti, kebutuhan untuk pengomposan
limbah biodegradable yang lebih besar dan kebutuhan untuk
memberikan informasi kepada para wisatawan tentang protokol desa,
yang menjadi perhatian lebih dekat para pelaku bisnis perhotelan,
operator wisata, LSM, wisatawan dan masyarakat umum.
Selama proses monitoring, kemitraan dikembangkan dan banyak badan
non-pariwisata akan terlibat dan belajar tentang bagaimana dampak
pariwisata terhadap wilayah kerja mereka. Melibatkan spektrum
pemerintah yang luas, kelompok-kelompok sektor non-pemerintah dan
swasta akan meningkatkan hubungan dan kerja sama antar lembaga,
yang memungkinkan kemitraan untuk mengembangkan dan
menghasilkan pemahaman lintas-sektoral yang lebih besar tentang
pariwisata berkelanjutan. Kemitraan kemudian dapat membantu
otoritas pariwisata untuk mengimplementasikan proyek lintas sektoral
seperti peningkatan fasilitas bandara, tepi laut, atau untuk
mengendalikan dampak melalui undang-undang perencanaan.
Tindakan yang diambil sebagai hasil monitoring mungkin merupakan
perbedaan indikator yang paling jelas. Apa yang telah berubah atau
terjadi sebagai akibat dari monitoring indikator? Tindakan apa yang
telah diambil untuk mencapai pariwisata yang lebih berkelanjutan?
Proyek dapat mencakup undang-undang perencanaan baru, lokakarya
pelatihan untuk pelaku bisnis perhotelan, persiapan survei pengunjung
baru, penghargaan hijau untuk operasi pariwisata berkelanjutan atau
panduan wisata.
Terlepas dari pekerjaan yang berkembang pada indikator di
semua tingkatan, ada beberapa contoh indikator yang
dikembangkan oleh atau berkaitan dengan keberlanjutan industri
pariwisata penerimaan dan penggunaan publik yang sama seperti
yang digunakan oleh sektor lain. Publisitas yang diberikan kepada
efek negatif dari beberapa peristiwa dunia (misalnya, efek SARS
pada pariwisata di Beijing, Hong Kong atau Toronto), dan bom Bali
pada tahun 2002 yang berdampak pada perilaku wisatawan karena
banyak negara mengeluarkan travel warning untuk tidak
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 115
berkunjung ke Bali dalam waktu beberapa lama. Kondisi ini
menyoroti pentingnya dan keterkaitan pariwisata dengan apa yang
terjadi di tempat lain dan sektor lain dalam pariwisata.
WTO mengeluarkan statistik tentang kedatangan wisatawan
internasional dan pendapatan secara global dan regional, yang
banyak digunakan sebagai indikator pentingnya pariwisata sebagai
sektor ekonomi dan monitor perubahan terkait pariwisata pada
skala global. Penting untuk secara jelas mengidentifikasi siapa yang
bertanggung jawab atas pengelolaan program indikator dan
bertanggung jawab atas penyelesaian dan kelanjutannya. Sementara
otoritas perencanaan lokal adalah badan yang paling sering
bertanggung jawab. Sehingga peran tersebut juga dapat dilakukan
oleh para pemangku kepentingan industri pariwisata, oleh
organisasi non-pemerintah atau lembaga akademis, meskipun kerja
sama dan dukungan dari otoritas lokal sangat penting, dan
partisipasi oleh semua organisasi ini diperlukan.
Perlu dicatat bahwa indikator yang dikumpulkan mempunyai
tertentu dapat dikumpulkan untuk laporan regional dan nasional.
Seringkali laporan tabular digunakan untuk menunjukkan nilai
relatif dari berbagai destinasi, pusat kota atau kabupaten relatif
terhadap indikator tertentu. Cara pelaporan dan penggambaran
yang efektif lainnya adalah dengan peta, yang menunjukkan dalam
warna yang berbeda nilai indikator yang dipilih (misal, jumlah
wisatawan total, atau rasio wisatawan terhadap penduduk di unit
geografis) untuk semua yurisdiksi atau wilayah wisata yang
berbeda.
Agar data berguna, pendekatan yang sama harus diikuti dalam
pengumpulan dan interpretasi data untuk masing-masing daerah
yang dipetakan. Perlu dicatat bahwa untuk beberapa yurisdiksi ini
bisa sulit karena unit data spasial dapat sangat bervariasi dalam
ukuran, memberikan tantangan dalam menafsirkan informasi.
Terlepas dari masalah ini, data yang dipetakan dengan warna-warni
dapat menjadi bantuan konkrit dalam menampilkan tren penting,
anomali regional, dan hot spot. Pengguna biasanya akan langsung
merujuk ke status destinasi mereka sendiri relatif terhadap orang
lain, ke pesaing, atau ke tingkat nasional.
Indikator Perencanaan Pengembangan
116 Pariwisata Berkelanjutan
Fase 12 - monitoring dan evaluasi aplikasi indikator
Indikator tidak dimaksudkan sebagai latihan satu kali. Diperlukan
tinjauan rutin untuk melihat apakah informasi tersebut memang
membuat perbedaan bagi pengguna dan membantu memecahkan
masalah utama, juga untuk menentukan apakah masalah telah
berubah. Tinjauan berkala aplikasi indikator dapat mengarah pada
desain ulang dan pengalihan elemen program indikator.
Seperti yang disebutkan dalam bagian sebelumnya, indikator
dimaksudkan untuk menjadi komponen utama dari proses
perencanaan dan manajemen. Sebagai masalah yang harus
ditangani oleh manajer destinasi, juga kebutuhan mereka akan
indikator. Penggunaan akan menjadi jelas indikator mana yang
melayani destinasi dengan baik, dan mana yang perlu diperbarui
atau bahkan diganti. Walaupun tentu saja ada alasan kuat untuk
mempertahankan indikator, karena indikator cenderung menjadi
lebih bermanfaat seiring berjalannya waktu dan catatan di masa
lalu, masih bermanfaat untuk meninjau kembali indikator setiap
beberapa tahun dalam upaya perbaikan secara berkesinambungan.
Indikator daftar evaluasi ulang:
1. Apakah indikator digunakan? oleh siapa dan bagaimana?
2. Indikator mana yang tidak digunakan?
3. Apakah pengguna menganggap situasi saat ini bermanfaat?
4. Apakah pengguna sekarang memiliki kebutuhan lain?
5. Apakah ada pengguna potensial baru?
6. Apakah indikator dalam bentuk yang benar, atau apakah bentuk lain
sekarang diperlukan?
7. Apakah ada cara baru untuk mengumpulkan atau menganalisis data
untuk indikator yang mungkin membuat produksi lebih mudah atau
lebih efisien?
8. Apakah ada masalah baru yang muncul dan yang membutuhkan
indikator?
9. Apakah sekarang tersedia informasi yang dapat memungkinkan
indikator yang terlalu sulit untuk diproduksi, tetapi yang dianggap
penting untuk ditambahkan?
10. Apakah ada bukti hasil yang dipengaruhi oleh penggunaan indikator?
11. Apa saja hambatannya, jika ada yang mencegah penggunaan indikator
secara optimal?
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 117
Proses pengembangan indikator adalah fase pertama dalam
memberikan informasi berkelanjutan yang akan meningkatkan
keputusan, dan membangun kolaborasi untuk menangani masalah-
masalah utama destinasi. Setelah diidentifikasi dan
diimplementasikan, rezim monitoring harus tetap di tempat untuk
mengukur keberhasilan atau kegagalan dalam mengelola pariwisata
di destinasi dengan cara yang terus berkelanjutan. Khususnya,
berguna untuk menetapkan target yang ditetapkan sebagai bagian
dari proses perencanaan. Indikator kemudian dapat menjadi
kendaraan dimana perubahan dapat dibandingkan dengan target.
Daftar pertanyaan diatas adalah daftar periksa sederhana,
kerangka evaluasi yang lebih formal dapat digunakan, kemungkinan
bersamaan dengan rencana yang lebih luas atau latihan tinjauan
kebijakan. Proses ini sangat penting untuk pengelolaan pariwisata
berkelanjutan, tetapi karena membutuhkan komitmen sumber daya
yang berkelanjutan, mungkin sulit untuk mempertahankannya
dalam jangka panjang.
Kumpulan laporan nasional
Pembentukan komitmen dan
Indikator dapat digunakan di
proses operasional yang
banyak skala. Beberapa indikator
berkelanjutan perlu diakui dan digunakan terutama pada skala
ditangani secara ideal selama nasional (misalnya kontribusi
proses pengembangan indikator. pariwisata terhadap GNP, total
kedatangan, total pekerjaan dalam
Sistem monitoring perlu
pariwisata). Indikator lain
diterapkan untuk mengumpulkan dikumpulkan pada tujuan tertentu
dan menyebarluaskan indikator atau untuk yurisdiksi lokal. Ketika
prioritas berulang kali kepada dikumpulkan, indikator-indikator
tersebut dapat sangat
mereka yang perlu mengetahui mengungkapkan tren nasional,
informasi tersebut. Demikian anomali (area di mana yang paling
pula, penting untuk memantau banyak dihabiskan oleh wisatawan,
keseluruhan proses itu sendiri, area di mana yang paling sedikit
dihabiskan), menyoroti lokasi
untuk memastikan apakah masalah spesifik (unit data di mana
informasi yang tepat sampai rata-rata hunian kamar hotel
kepada orang yang tepat, dan adalah terendah, atau upah yang
pada akhirnya apakah pariwisata diterima oleh karyawan sektor
pariwisata lebih rendah dari rata-
di destinasi lebih berkelanjutan rata nasional).
sebagai hasilnya. Pada akhirnya,
Indikator Perencanaan Pengembangan
118 Pariwisata Berkelanjutan
indikator menjadi ukuran kinerja kemajuan menuju pembangunan
berkelanjutan destinasi. Tinjauan indikator idealnya dilakukan
sebagai bagian dari tinjauan berkala rencana dan strategi sebagai
blok bangunan utama untuk perbaikan berkelanjutan dari
keseluruhan perencanaan tujuan dan proses manajemen.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 119
5
Kesejahteraan Komunitas Tuan Rumah
Kepuasan lokal melalui pariwisata
Komunitas kecil di seluruh dunia adalah tuan rumah bagi
wisatawan. Beberapa mengunjungi komunitas untuk melihat
monumen, praktek dan kebiasaan setempat yang menarik atau
mengalami suasana. Komunitas lain melayani wisata alam terdekat,
atau menjadi tuan rumah bagi pengunjung ke pantai, gunung, acara,
dan lain-lain. Komunitas dapat terkena dampak positif dari
pariwisata melalui pekerjaan, kegiatan ekonomi dan peningkatan
layanan sosial secara negatif karena stres atau kerusakan pada
sumber daya lokal dan nilai-nilai budaya.
Kepuasan lokal dengan pariwisata sangat penting untuk
keberlanjutan. Dalam kasus-kasus ekstrim, permusuhan komunitas
telah membuat para wisatawan pergi. Tindakan industri untuk
menjaga hubungan positif antara tuan rumah dan wisatawan dapat
mengantisipasi dan mencegah insiden dan efek negatif. Komponen
kepuasan mencakup berbagai masalah nyata dan yang dirasakan,
termasuk crowding, akses ke pekerjaan, berbagi manfaat, reaksi
terhadap perilaku wisatawan, dan lain-lain. Masalah ini membahas
kepuasan secara keseluruhan. Masalah substantif individu terkait
Indikator Perencanaan Pengembangan
120 Pariwisata Berkelanjutan
dengan kepuasan (dan yang dapat diidentifikasi melalui keluhan
atau penggunaan survei) diperlakukan secara terpisah.
Pengaruh pariwisata terhadap komunitas
Banyak komunitas mempersepsikan bahwa dengan pariwisata
muncul sejumlah dampak negatif pada komunitas dan budaya
mereka. Beberapa melaporkan efek negatif spesifik pada sumber
daya komunitas atau aset budaya. Pada saat yang sama, pariwisata
dapat menjadi sumber manfaat penting bagi masyarakat. Bagaimana
komunitas mengukur dampak pariwisata, baik positif maupun
negatif?
Dampak sosial, budaya, dan ekonomi pada komunitas tuan
rumah terkait erat. Mungkin ada sinergi yang menguntungkan atau
hubungan terbalik di antara tiga bidang dampak dan perbedaan
pendapat di antara beberapa kelompok masyarakat dan individu
tentang apa yang merupakan manfaat dan apa yang negatif bagi
masyarakat.
Sejauh mana budaya lokal dimasukkan ke dalam pengalaman
wisatawan mungkin menjadi masalah yang diperdebatkan. Beberapa
komunitas tradisional atau pribumi mungkin tidak ingin berbagi
budaya mereka dengan wisatawan sama sekali, sementara
komunitas pertanian pedesaan bahkan mungkin tidak menyadari
minat yang mungkin dimiliki wisatawan dalam cara hidup mereka.
Namun hampir tidak mungkin bagi masyarakat untuk mengisolasi
diri dari pengunjung dan dampak dari budaya lain yang selalu
mendunia.
Menerima pembangunan ekonomi sering berarti menerima
perubahan budaya yang menyertai pengembangan pariwisata. Ini
mungkin terjadi tanpa kesempatan bagi masyarakat untuk
memutuskan apakah mereka benar-benar ingin perubahan. Jika
pariwisata berbasis masyarakat akan berkelanjutan, perlu ada tujuan
bersama, mungkin dikembangkan oleh beberapa jenis komite, dan
dengan dukungan masyarakat.
Mengembangkan indikator dan memantau perubahan dan tren
dapat memberdayakan masyarakat untuk membuat pilihan yang
sesuai dengan itu. Komunitas, budayanya, dan tujuan pariwisata
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 121
dapat berubah seiring waktu dan dapat dipengaruhi oleh perubahan
demografi dan imigrasi tenaga kerja. Misalnya, lulusan sekolah baru-
baru ini mungkin lebih tertarik untuk menawarkan wisata bersepeda
gunung daripada kegiatan utama orang tua mereka yang lebih
rendah, atau pertumbuhan pariwisata yang berhasil dapat membawa
pekerja baru ke masyarakat dengan latar belakang dan nilai yang
berbeda. Ini mungkin menantang komunitas, dan tentunya akan
melibatkan perubahan.
Akses oleh masyarakat lokal ke aset kunci
Di beberapa destinasi, pengembangan pariwisata dapat
dilakukan dengan mengorbankan akses nyata atau yang
dipersepsikan ke aset bernilai utama oleh masyarakat lokal.
Komunitas lokal yang secara tradisional menggunakan pantai, jalan
setapak, jalan, atau sumber daya alam dapat menemukan aksesnya
berubah.
Dalam beberapa kasus, garis pantai atau hutan yang dulunya
publik mungkin menjadi kepemilikan pribadi, dan pembatasan yang
ditempatkan pada penggunaan yang diizinkan (misal, perburuan
atau penangkapan ikan dilarang, biaya yang dikenakan untuk
penggunaan sehari). Masalah ini adalah sub spesifik dari dampak
komunitas terhadap pariwisata dan mungkin terkait erat dengan
kepuasan keseluruhan. Ini adalah masalah yang sering terjadi di
destinasi baru, di mana akses tradisional dapat dipengaruhi oleh
pengembangan baru dan aturan baru.
Kesetaraan gender
Kesetaraan gender tidak mungkin muncul dalam daftar
sepuluh keprihatinan pemangku kepentingan teratas, tetapi tetap
penting bagi gerakan menuju keberlanjutan sosial-budaya.
Kesetaraan gender tidak hanya tentang apakah perempuan
mendapatkan pekerjaan pariwisata, senioritas relatif mereka,
peluang pelatihan dan kemungkinan untuk maju, tetapi juga
bagaimana dampak pariwisata berbeda pada kehidupan laki-laki
dan perempuan di destinasi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
122 Pariwisata Berkelanjutan
Perempuan seringkali menderita karena kehilangan sumber
daya alam terlebih dahulu, tetapi pada saat yang sama mungkin
yang pertama mendapatkan manfaat dari perbaikan infrastruktur
yang sering menyertai pengembangan pariwisata seperti air leding
dan listrik. Dalam masyarakat tradisional, masalah apakah
perempuan dan laki-laki memiliki akses yang sama ke tanah dan
kredit dapat menjadi kendala utama pada kemampuan perempuan
untuk menjadi pengusaha pariwisata.
Wisata seks
Fenomena wisata seks
Wisata seks ada di setiap wilayah di dunia, tetapi paling lazim
di negara-negara berkembang di mana pariwisata telah berkembang
tetapi di mana telah memberikan sedikit peluang ekonomi bagi
masyarakat lokal, terutama wanita. Isu-isu seperti HIV/AID,
pelecehan anak dan perdagangan manusia telah menimbulkan
kemarahan dan keprihatinan global terhadap eksploitasi perempuan
dan anak-anak di destinasi pariwisata.
Industri perjalanan dan pariwisata internasional tidak dapat
lagi menutup mata terhadap efek negatif dari pariwisata seks atau
citra 'najis' dan menodai reputasi destinasi ketika pariwisata seks
diizinkan untuk ada secara bebas. Wisata seks memberi makan
ekonomi ilegal yang luar biasa dari para mucikari, pemilik bar, dan
rumah bordil, pedagang manusia, jasa perlindungan, dan korupsi
pejabat dan lainnya. Namun, terlepas dari sejumlah besar uang yang
dipertukarkan dalam pariwisata seks, hanya sebagian kecil yang
sampai ke tangan pekerja seks.
Pekerja sex anak
Berbeda dengan pandangan tentang pariwisata seks dewasa,
pariwisata seks anak adalah pelanggaran hak asasi manusia yang
jelas dan tidak ambigu. Ada kecaman global terhadap pariwisata seks
anak dan industri perjalanan dan pariwisata internasional telah
memberikan dukungan mereka kepada LSM dan pemerintah yang
berupaya memberantas eksploitasi anak-anak di destinasi
pariwisata.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 123
Wisata seks anak melibatkan pelacuran anak-anak atau
pelecehan anak terkait pedofilia dan sekarang sering melibatkan
penggunaan anak-anak dalam produksi pornografi. Eksploitasi
seksual komersial anak-anak, termasuk pariwisata seks anak,
dianggap sebagai manifestasi dari eksploitasi tenaga kerja dan
termasuk dalam upaya Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)
untuk menghapuskan bentuk-bentuk terburuk dari pekerja anak.
Anak-anak yang menjadi korban wisata seks tidak selalu
miskin atau buta huruf. Namun sebagian besar anak-anak yang
dilecehkan rentan karena kemiskinan, penganiayaan fisik, mental,
atau pengucilan sosial. Mereka termasuk anak-anak lokal, asing,
dan etnis minoritas yang tinggal dan bekerja di jalan-jalan atau di
pinggiran kawasan wisata, mereka yang telah diperdagangkan,
dipancing, atau dijual ke industri seks, mereka yang pernah
dilecehkan di rumah, tidak memiliki akses untuk pendidikan, dan
dipaksa atau bertanggung jawab untuk mendukung keluarga. Baik
perempuan maupun laki-laki adalah korban pariwisata seks anak-
anak tetapi penelitian internasional menunjukkan bahwa sebagian
besar anak perempuan yang dilecehkan.
Dimana wisata seks anak terjadi?
Para pelaku sex pergi ke tempat-tempat di mana mereka pikir
tidak akan tertangkap. Wisata seks anak kemungkinan besar akan
terjadi di dan sekitar destinasi pariwisata di mana ada
ketidakpedulian dan kebodohan, korupsi, apatis, kurangnya
penegakan hukum, dan keberadaan pariwisata seks dewasa.
Anak-anak dilecehkan di hotel dan rumah tamu, di rumah
pribadi, di gubuk pantai, di rumah bordil, dan di tempat umum.
Hampir tidak mungkin memperkirakan jumlah pelaku sex dan anak-
anak yang terlibat di dalam atau dipengaruhi oleh wisata seks anak.
Pariwisata bukanlah penyebab eksploitasi anak tetapi sifat
lingkungan pariwisata dapat menciptakan lingkungan yang tidak
aman bagi anak-anak. Beberapa faktor ini termasuk:
Indikator Perencanaan Pengembangan
124 Pariwisata Berkelanjutan
Siapakah para pelakunya?
Para pelaku seks bisa berapa pun usia, kebangsaan, atau status
sosial. Ada beberapa yang bepergian sendirian dan yang lain
bepergian dengan teman-teman. 'wisata seks anak' yang
terorganisir, dibeli melalui agen perjalanan atau operator tur adalah
sesuatu yang sudah berlalu, namun pihak ketiga sering terlibat
untuk mengatur kontak atau mendapatkan anak-anak. Sebagian
besar penelitian mengidentifikasi dua jenis pelaku:
(1) Klien rumah bordil atau bar 'go-go', orang ini mencari
pertemuan seksual orang dewasa tetapi tidak terlalu peduli jika
mereka ditawari anak. Mereka hanya dapat melakukannya
sekali dalam mencari pengalaman liburan yang 'eksotis'.
Namun, ada banyak laporan penelitian yang menunjukkan
pelaku jenis ini dapat menyinggung kembali dengan
membenarkan bahwa mereka 'membantu' masyarakat
setempat.
(2) Pedofil, orang ini memiliki hasrat seksual khusus untuk anak-
anak. Mereka bepergian ke tempat-tempat di mana mereka
dapat menargetkan anak-anak yang rentan. Mereka termotivasi
oleh hasrat seksual mereka dan dapat menghabiskan waktu
lama 'merawat' anak-anak dan keluarga mereka. Jaringan
pedofil di seluruh dunia, berbagi pornografi melalui internet
dan berkomunikasi satu sama lain tentang tempat-tempat
terbaik untuk bepergian di mana ada akses ke anak-anak. Ada
juga laporan tentang jenis pelaku yang berbeda, orang yang
mencari perilaku seksual yang kejam atau menyimpang baik
dengan perempuan atau anak-anak. Mereka bukan pedofil atau
wisatawan seks tradisional.
Industri perjalanan dan pariwisata dapat memainkan peran
aktif dalam mencegah pariwisata seks anak dengan mengembangkan
kebijakan dan program yang mendukung tindakan lokal dan
internasional. Dimungkinkan, dengan menggunakan berbagai
indikator, untuk mengidentifikasi tren dan masalah yang berkaitan
dengan anak-anak di destinasi wisata. Dengan menggunakan
indikator ini, pemangku kepentingan perjalanan dan pariwisata
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 125
dapat mengembangkan strategi untuk melindungi anak-anak dan
meminimalkan risiko pelecehan.
Asset Budaya Berkelanjutan
Artikel pertama Piagam Venesia untuk Konservasi dan
Pemulihan Monumen dan Situs (1964) mengakui bahwa monumen
bersejarah mencakup tidak hanya karya arsitektur tunggal tetapi
juga pengaturan kota atau pedesaan, di mana ditemukan bukti
peradaban tertentu, sebuah perkembangan signifikan atau peristiwa
bersejarah. Ini tidak hanya berlaku untuk karya seni besar tetapi
juga untuk karya yang lebih sederhana di masa lalu yang telah
memperoleh signifikansi budaya dengan berlalunya waktu.
Faktor-faktor yang secara individual dan kolektif menentukan
bentuk perubahan yang melibatkan aset budaya meliputi:
(1) kebijakan pembangunan pemerintah: khususnya di negara-
negara berkembang yang sering mengalami tekanan eksternal
seperti penyesuaian struktural dan pencairan bantuan;
(2) politik lokal: menyeimbangkan keinginan konstituensi lokal
untuk menciptakan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi
versus mempertahankan sumber daya alam dan bangunan yang
signifikan;
(3) pariwisata: penghasil pendapatan utama dan citra destinasi
sering bergantung pada aset budaya di daerah perkotaan untuk
menarik pengunjung;
(4) inisiatif swasta: penentuan pengembang atau individu yang
didorong oleh kemungkinan keuntungan besar untuk
menggantikan aset yang ada, dengan yang mempromosikan
nilai lebih tinggi dan digunakan di situs;
(5) perubahan ekonomi: penataan ulang prioritas nasional dan
internasional yang sepadan selama resesi, atau peningkatan
pembangunan dan pembangunan kembali di masa "booming".
Indikator Perencanaan Pengembangan
126 Pariwisata Berkelanjutan
Salah satu alat utama dalam menandakan nilai historis yang
melekat dari struktur, monumen atau distrik yang dibangun, dan
sebagai sarana mengumpulkan bantuan untuk pemeliharaan dan
dukungan keuangan, adalah melalui penunjukannya sebagai aset
warisan yang layak untuk konservasi atau pelestarian (penunjukan
pada tingkat lokal, provinsi/negara bagian, nasional, dan
internasional).
Dari sudut pandang pariwisata, penunjukan resmi bangunan
atau kabupaten sebagai tempat menarik atau untuk perlindungan,
sering terbukti sangat berharga dalam hal membangun suatu daerah
yang dapat dipasarkan. Penunjukan dapat menarik wisatawan, dan
juga dapat menjadi katalis untuk pengembangan layanan wisata.
Dari sudut pandang internasional, penunjukan oleh organisasi
internasional seperti UNESCO (The United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization) sebagai tempat yang dianggap
sebagai Situs Warisan Dunia sementara tidak memiliki kedudukan
hukum aktual dengan undang-undang konservasi masing-masing
negara, memberikan daftar profil tinggi dan peran pemasaran untuk
pengembangan pariwisata di sekitar sebuah monumen yang diakui
dengan baik atau distrik bersejarah. Karenanya, pemerintah
seringkali ingin memberikan dukungan finansial (jika tersedia) dan
bantuan untuk mempertahankan aset ini dan memastikan bahwa
wisatawan memiliki gambar ikonik (misal, Menara Eiffel, Taj Mahal)
untuk ditarik ke negara masing-masing.
Mitra UNESCO, Komite Internasional untuk Monumen dan
Situs/International Council On Monuments and Sites (ICOMOS)
melakukan peran penasehat dan monitoring penting dari situs
budaya global. Program-program seperti laporan tahunan Heritage
at Risk dimaksudkan untuk mengidentifikasi tempat-tempat
warisan yang terancam, monumen dan situs, menyajikan studi
kasus dan tren yang khas, dan berbagi saran untuk menyelesaikan
ancaman individu atau global terhadap warisan budaya.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 127
Partisipasi Masyarakat dalam Pariwisata
Pengembangan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terkait
pariwisata berkelanjutan di masyarakat tuan rumah adalah masalah
utama bagi manajer dan perencana. Tidak ada satu pun dari elemen-
elemen ini mudah dicapai dalam jangka pendek tanpa fokus yang
kuat pada pembangunan kesadaran, keterlibatan masyarakat dan
pada akhirnya, pemberdayaan individu sehingga dapat mengenali
dan memahami manfaat langsung dan tidak langsung dari
pendekatan berkelanjutan untuk pariwisata dan bagaimana untuk
terlibat.
Kuncinya adalah pendekatan partisipatif yang memberdayakan
masyarakat lokal dan industri pariwisata sehingga mereka dapat
mengembangkan apresiasi dan pengetahuan tentang masalah lokal
dan individu serta biaya yang terkait dengan pengembangan
pariwisata. Dengan begitu kesadaran dan tanggung jawab dapat
menjadi hasil dari proses perencanaan.
Membangun kesadaran mengenai praktek pariwisata
berkelanjutan membutuhkan pendekatan strategis jika perubahan
sikap dan keterlibatan jangka panjang ingin dicapai. Tantangannya
adalah bagaimana mengukur perubahan seperti itu mengingat
sifatnya yang tidak berwujud. Informasi adalah kunci untuk
keterlibatan masyarakat yang efektif dalam proses perencanaan
pariwisata. Aspek-aspek berikut dianggap penting untuk
pengambilan keputusan yang tepat:
(1) Ketersediaan informasi; jika orang mengetahui informasi yang
berkaitan dengan praktek pariwisata berkelanjutan atau model
manajemen tertentu, mereka akan cenderung mencoba untuk
mendapatkan akses ke sana;
(2) Akses ke informasi; memudahkan orang untuk mendapatkan
akses ke informasi umum akan memastikan minat yang lebih
besar terhadap proses;
(3) Analisis informasi: informasi yang tersedia harus disajikan dalam
berbagai bentuk tergantung pada audiens dan dalam bahasa
yang mudah dipahami dan relevan;
(4) Penerapan informasi; memahami bagaimana informasi tentang
pariwisata berkelanjutan digunakan oleh masyarakat dan
Indikator Perencanaan Pengembangan
128 Pariwisata Berkelanjutan
lembaga memastikan informasi itu relevan. Elemen ini juga
mengidentifikasi potensi untuk pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan sehingga pemahaman ditingkatkan;
(5) Advokasi informasi; tujuan kepemilikan apa pun adalah
advokasi yang dihasilkan di antara para pemangku
kepentingan. Memiliki orang-orang yang bersemangat dalam
komunitas yang dapat secara proaktif mendukung proses
manajemen adalah penting; karena mereka memiliki potensi
untuk tidak hanya menginspirasi orang lain, tetapi memberi
umpan balik ke dalam proses pembangunan kesadaran karena
kontak mereka dengan kelompok pemangku kepentingan yang
lebih luas;
(6) Tindakan terhadap informasi; kesadaran dan keinginan untuk
membuat perbedaan memerlukan tindakan jika ada hasil yang
ingin dicapai. Mereka yang mempromosikan praktek pariwisata
berkelanjutan pada akhirnya bermaksud untuk berdampak
pada perilaku aktual baik pengunjung maupun pemangku
kepentingan dalam mempertahankan aset pariwisata dan
sumber daya komunitas dan lingkungan. Melalui membangun
kesadaran, rasa tanggung jawab yang mengarah pada
pemahaman yang lebih besar dan pada akhirnya tindakan,
individu dapat mulai membuat perbedaan dalam
pengembangan praktek pariwisata berkelanjutan. Hal ini
mengarah pada sejumlah indikator untuk mengukur tingkat
akses, dampak, dan keterlibatan.
Kepuasan Wisatawan
Mempertahankan kepuasan wisatawan
Pusat kepuasan wisatawan adalah apakah wisatawan kembali,
merekomendasikan destinasi kepada orang lain atau sebaliknya
menyarankan orang lain untuk menjauh. Oleh karena itu, ini
merupakan indikator utama keberlanjutan jangka panjang suatu
destinasi. Kepuasan wisatawan didasarkan pada banyak faktor yang
berbeda, termasuk berbagai atraksi tempat destinasi, posisi pasar,
kualitas layanan, harapan wisatawan, dan pengalaman setiap
wisatawan selama tinggal di sana.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 129
Banyak elemen yang mempengaruhi kepuasan wisatawan
(misalnya kebersihan akomodasi, keamanan air dan makanan,
keramahan keramahtamahan) setidaknya sebagian dalam lingkup
manajemen industri dan manajer destinasi. Lainnya (misal, cuaca,
kejahatan, tindakan permusuhan) kurang begitu mempengaruhin,
namun jika dalam pencarian informasi terkait destinasi, citra
destinasi menjadi faktor dalam memutuskan berwisata. Kepuasan
merupakan produk, yang terdiri dari sejumlah faktor:
(1) memenuhi harapan wisatawan;
(2) memberikan rasa nilai terbaik untuk uang;
(3) memastikan lingkungan yang bersih, aman, dan aman;
(4) perhotelan;
(5) kualitas situs, acara, atraksi, dan layanan yang terkait
dengannya;
(6) harapan dan minat, banyak tanggapan individu bergantung pada
minat pribadi (apakah pengamat burung melihat burung, apakah
pemain ski memiliki kondisi salju yang bagus, apakah festival
lokal menarik bagi pengunjung, apakah makanan sesuai dengan
selera wisatawan?)
Aksesibilitas untuk berkebutuhan khusus
Masalah akses ke destinasi dan daya tarik bagi mereka yang
memiliki keterbatasan mobilitas adalah masalah yang berkembang
pesat, karena orang yang lebih tua dan mereka yang cacat menjadi
bagian besar dari pariwisata global. Salah satu demografi yang paling
cepat berkembang adalah kelompok enampuluh tahun ke atas,
kelompok usia ini banyak yang memiliki lebih banyak waktu luang
dan pendapatan yang berlebih jika daripada kelompok lain.
Dengan demikian tuntutan untuk bisa mengakses destinasi,
bahkan ke tempat-tempat yang tidak mudah untuk didaki atau
dilintasi, semakin meningkat. Upaya internasional untuk
menghilangkan hambatan bagi para penyandang cacat memperkuat
permintaan ini. Banyak negara memiliki program khusus yang
dirancang untuk memudahkan akses ke situs publik dan untuk
mendorong modifikasi titik akses, kamar kecil, tangga, kendaraan
transportasi, jalur kasar, dan lainnya untuk memfasilitasi akses bagi
Indikator Perencanaan Pengembangan
130 Pariwisata Berkelanjutan
mereka yang kurang mampu mengatasi hambatan dan
berkebutuhan khusus.
Ada bagian khusus dari penyedia pariwisata yang akan
melayani langsung bagi mereka yang membutuhkan layanan
tambahan (beberapa pengiriman kustom), seperti penjemputan dari
pintu ke pintu, kendaraan khusus, dan petugas terlatih.
Kesehatan dan Keselamatan
Bagian ini membahas secara khusus aspek kesehatan
keselamatan di destinasi (tidak termasuk perjalanan udara). Masalah
kesehatan sangat penting untuk perjalanan internasional dan jelas
merupakan faktor penentu yang paling penting dari aspek rasa
aman. Mengelola masalah kesehatan dalam pariwisata adalah
pertimbangan penting dengan beberapa dimensi: wisatawan,
industri, dan masyarakat setempat. Ini dapat didekati dari perspektif
preventif dan kuratif yang berhubungan dengan penyakit,
kecelakaan dan masalah kesehatan lainnya. Dari perspektif
wisatawan ada sejumlah faktor kesehatan dan keselamatan yang
terlibat dalam traveling.
Bagian ini membahas secara khusus kesehatan dan
keselamatan di destinasi. Banyak perubahan fisik dan lingkungan
yang ditemui selama perjalanan, terutama perjalanan internasional,
yang mengganggu keseimbangan lingkungan 'normal', perubahan
musim dan iklim, perubahan kualitas udara dan air, paparan
perubahan ketinggian, kelembaban, flora mikro, zona suhu dan
waktu semua membuat stres pada tubuh kita daripada yang dapat
menyebabkan penyakit, terutama dalam kombinasi dengan
kelelahan yang sering dikaitkan dengan perjalanan itu sendiri atau
dengan masalah kesehatan kronis.
Risiko tambahan yang terkait dengan perjalanan ditentukan
oleh faktor-faktor kunci yang meliputi: destinasi, lama tinggal, sifat
kegiatan yang dilakukan, standar akomodasi dan kebersihan
makanan, perilaku wisatawan (berkaitan dengan seks, alkohol,
narkoba, kejahatan, dan moda transportasi di destinasi seperti
menumpang), disertai status kesehatan, jenis kelamin, usia, dan
pengalaman wisatawan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 131
Masalah yang paling umum adalah kecelakaan, masalah
jantung, keracunan makanan dan diare, dan malaria. Tambahan issu
yang terkini adalah ancaman kesehatan serius yang muncul. Pada
tahun lalu, SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan sekarang
Avian Avi bird ’influenza menyebabkan tingkat kepedulian yang
tinggi di antara para wisatawan, industri dan otoritas kesehatan.
Di tempat-tempat di mana akomodasi, kebersihan, sanitasi,
perawatan medis dan kualitas air berstandar tinggi biasanya
memelikiki risiko rendah. Namun, masalah kesehatan dan
keselamatan umum masih sering terjadi sehubungan dengan
paparan sinar matahari yang berlebihan, gigitan serangga,
mengkonsumsi alcohol secara berlebiham, berenang di ombak, dan
dan kecelakaan yang terkait dengan mobil dan sepeda motor dan
kegiatan petualangan.
Wisatawan memiliki tanggung jawab untuk keselamatan
mereka sendiri, termasuk mengambil tindakan pencegahan seperti
imunisasi, membawa persediaan kesehatan mereka sendiri
(termasuk obat nyamuk, sun block, obat anti malaria, dan lain-lain)
dan asuransi perjalanan komprehensif.
Banyak masalah terkait dengan pengumpulan data untuk
penyakit, kecelakaan, dan kejahatan. Sebagian besar kasus tidak
dilaporkan, seringkali karena sifatnya minor dan perawatan tidak
diperlukan, atau perawatan sendiri sudah memadai. Selain itu,
penyakit dapat terjadi setelah pengunjung kembali ke rumah, atau,
mereka mungkin lebih suka mengunjungi dokter umum mereka
sendiri pada saat mereka kembali. Dengan meningkatnya
telemedicine, beberapa kasus yang lebih serius dapat ditangani
dengan menggunakan layanan non-lokal. Karena itu, bahkan
mekanisme pelaporan terbaik pun hanya akan memberikan
petunjuk tentang masalah tersebut.
Demikian pula, keberhasilan promosi kesehatan dan tindakan
pencegahan bahkan lebih sulit untuk dinilai; tidak adanya atau
pengurangan masalah menjadi indikator utama. Organisasi
Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian Penyakit di Atlanta USA
mengumpulkan data yang dapat diberitahukan secara global. Tidak
kalah penting adalah dampak pariwisata terhadap kesehatan,
Indikator Perencanaan Pengembangan
132 Pariwisata Berkelanjutan
keselamatan, kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat
setempat. Pengunjung dan industri pariwisata dapat berdampak
negatif terhadap populasi lokal (misalnya, menularkan penyakit,
memodifikasi masakan tradisional dan kebiasaan seperti makanan
yang kurang sehat, makanan cepat saji, berkontribusi pada
pengurangan lahan subur yang dapat meningkatkan risiko
malnutrisi, peningkatan pembuangan limbah yang mengakibatkan
kontaminasi air.
Di sisi lain, jika direncanakan dan dikelola dengan baik,
pariwisata dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi
kesehatan dan kesejahteraan mereka yang bekerja di industri
(misalnya, mengajarkan kebersihan makanan dan membantu
meningkatkan standar kesehatan) dan masyarakat setempat
(misalnya memperkenalkan dan berkontribusi pada konstruksi
infrastruktur sanitasi, rumah sakit, perawatan medis, air minum
yang aman, dan lain-lain.) Dari perspektif industri ada sejumlah
masalah yang berkaitan dengan tanggung jawab dalam hal
pengaturan; asuransi dan ganti rugi; dan kehilangan bisnis dan
reputasi. Masalah kesehatan melibatkan personil industri pariwisata
dari berbagai sektor sebelum pengunjung meninggalkan rumah,
selama perjalanan dan di destinasi, yang menjadi fokus dari bagian
ini.
Mengatasi epidemi dan penularan penyakit internasional
Perubahan kondisi sosial dan lingkungan di seluruh dunia
telah mendorong penyebaran penyakit menular, termasuk penyakit
menular baru yang muncul seperti demam pneumonia, Sindrom
Pernafasan Akut Parah (SARS) dan baru-baru ini, avian influenza,
bersama dengan peningkatan penonjolan strain patogen yang sangat
resisten untuk obat antimikroba saat ini. Terjangkitnya penyakit
menular di seluruh dunia telah dikaitkan sebagian besar dengan
peningkatan besar-besaran dalam perjalanan internasional yang
cepat, dan perjalanan ke lokasi yang semakin terpencil dan tidak
berkembang.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 133
Organisasi Kesehatan Dunia membentuk divisi baru
Pengawasan dan Pengendalian Penyakit Virus dan Bakteri yang
Sedang Berkembang (sekarang dikenal sebagai unit Surveilans dan
Respons Penyakit Menular). Patogen manusia baru seperti
HIV/AIDS dan SARS baru-baru ini, telah memusatkan perhatian
profesional medis dan lainnya pada dampak penyakit ini. Mengingat
peran perjalanan dalam penyebaran penyakit ini dan dampak
epidemi terhadap industri, sangat penting bahwa industri
pariwisata bertanggung jawab atas kerja sama penuh dan secara
proaktif bekerja menuju strategi kesehatan masyarakat untuk
membantu menghentikan tren yang mengkhawatirkan ini.
Rekomendasi WTO untuk Keselamatan Pariwisata (1991) mendesak
untuk "mengembangkan sistem pelaporan tentang masalah
kesehatan wisatawan".
Sementara masalah terjadi di tingkat global, penting juga
untuk destinasi tertentu. Indikator yang disarankan di bawah ini
akan bermanfaat bagi para manajer yang ingin mengikuti tren
global, dan bagi mereka yang peduli dengan dampak pada tujuan
khusus mereka. Masalah penting bagi industri kesehatan adalah
masalah pengumpulan data tentang obat pencegahan dan promosi
kesehatan. Seringkali tidak layak untuk mengumpulkan statistik
dari pengunjung yang datang dan pernah mendapatkan salah satu
dari sejumlah vaksinasi, atau untuk menentukan berapa banyak
yang telah terpapar pada penyakit potensial.
Seperti halnya banyak masalah terkait pariwisata dan
traveling, banyak yurisdiksi yang terlibat dan sistem tidak ada untuk
pengumpulan dan pertukaran informasi yang terkoordinasi.
Tantangan utama bagi Organisasi Kesehatan Dunia adalah untuk
membantu membangun program yang efektif yang melibatkan
semua negara dalam bentuk kepatuhan global terhadap Peraturan
Kesehatan Internasional, yang menyediakan notifikasi dari semua
peristiwa yang merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat
dan yang menjadi perhatian internasional, sebagai bagian dari
kerangka hukum untuk peringatan epidemi dan strategi respons
keamanan kesehatan global WHO.
Indikator Perencanaan Pengembangan
134 Pariwisata Berkelanjutan
Keamanan wisatawan
Keberlanjutan terancam oleh insiden buatan manusia dan
bencana alam yang membahayakan wisatawan, destinasi, dan
populasi. Satu peristiwa tunggal dapat menyebabkan pembatalan
segera, pengalihan wisata ke destinasi alternatif atau penutupan
fasilitas wisata. Dampak peristiwa dapat menyebabkan reposisi
kapal pesiar, perubahan rute udara, dan hilangnya akses.
Dampaknya dapat berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-
tahun, karena persepsi masyarakat yang bepergian terhadap
destinasi, sementara sangat cepat merasakan risiko, mungkin
membutuhkan waktu lama untuk merespons ketika kondisi berubah
dan pemulihan ketertiban.
Serangan teroris, pemberontakan, perselisihan sipil, dan
bencana alam cenderung mempengaruhi tidak hanya tempat-
tempat di mana mereka terjadi; seluruh wilayah mungkin melihat
pengurangan kedatangan wisatawan karena insiden bahkan dua
atau tiga negara jauhnya. Keputusan ke mana harus pergi sangat
tergantung pada persepsi keselamatan atau bahaya. Persepsi risiko
yang meluas (nyata atau tidak) dapat menyebabkan penurunan
perjalanan tertentu dan dapat mempengaruhi kesediaan untuk
melakukan perjalanan pada skala global, bukan hanya ke destinasi
tertentu yang mungkin secara langsung terpengaruh.
WTO telah memulai kerja untuk mengklarifikasi bagaimana
destinasi dapat menanggapi masalah ini. Fokus respon terletak pada
fasilitasi informasi dan layanan yang memadai kepada pejabat,
perusahaan pariwisata dan wisatawan, sehingga mereka dapat
mengambil tindakan yang tepat untuk menghindari risiko.
Fokusnya adalah pada penetapan kondisi, prosedur, formalitas dan
persyaratan informasi pada titik masuk ke tujuan nasional (negara),
dan keberangkatan dari tujuan nasional, serta untuk perjalanan di
dalam wilayah nasional untuk mencapai tujuan. Elemen-elemen
kunci dari respons dapat mencakup:
(1) informasi; tersedia di situs web, di kedutaan dan konsulat, di
kantor informasi pariwisata, dan pada titik masuk ke tujuan
nasional (transportasi di bandara atau stasiun, keamanan);
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 135
(2) fase-fase entri termasuk prosedur yang diperkuat untuk visa
masuk, pelatihan petugas imigrasi, formalitas kesehatan saat
masuk, fase-fase keamanan, kontrol bagasi, formalitas impor
dan pertukaran mata uang dan layanan pertukaran, dan
koordinasi antara layanan entri;
(3) formalitas keberangkatan termasuk semua layanan dan
tindakan terkait yang disebutkan di bawah formalitas masuk,
dan perlindungan spesies dan benda bernilai sejarah atau
budaya;
(4) kondisi perjalanan di dalam wilayah nasional: pengelolaan
hubungan dengan tujuan lokal melalui transportasi publik atau
pribadi, peningkatan keselamatan transportasi nasional,
pengelolaan proses untuk mendapatkan tiket transportasi,
akses ke bank dan penggunaan kartu pembayaran serta
penetapan persyaratan untuk memberi tahu polisi keberadaan
selama perjalanan nasional
Keamanan publik lokal
Keselamatan publik di destinasi sangat penting untuk
pariwisata. Wisatawan yang menjadi korban kejahatan, pelecehan,
penyakit atau tindakan apa pun yang mereka anggap bermusuhan
atau berbahaya dapat merusak perjalanan. Wisatawan yang kembali
setelah insiden yang tidak mengerikan akan sering memberi tahu
orang lain tentang masalah mereka, sering kali dalam forum publik
seperti ruang obrolan online, kolom keluhan surat kabar, surat
kepada media, atau acara TV.
Indikator Perencanaan Pengembangan
136 Pariwisata Berkelanjutan
Karakteristik destinasi yang aman dalam hal fasilitasi (persiapan,
perencanaan, informasi, layanan darurat)
Indikator dapat dikembangkan untuk mengukur masing-masing
karakteristik utama berikut dari destinasi pariwisata yang aman
(keberadaan dan tingkat pengaturan dan layanan ini):
komitmen umum dan spesifik oleh pemerintah untuk membantu
pengunjung yang menjadi korban masalah keselamatan dan
keamanan;
perlindungan yang memadai terhadap fasilitas dan situs
pariwisata;
staf di perusahaan pariwisata, fasilitas dan lokasi yang dilatih
untuk menangani masalah keselamatan dan keamanan yang
mempengaruhi pelanggan dan pengunjung;
tanggung jawab didefinisikan dan diasumsikan oleh sektor
publik berdasarkan bidang kompetensi dan sektor swasta,
berdasarkan aktivitas;
penerapan dan kepatuhan terhadap standar dan praktek
keselamatan dan keamanan di fasilitas dan lokasi pariwisata
mengenai: pencegahan kebakaran, keamanan pangan,
persyaratan kesehatan lainnya yang spesifik untuk destinasi,
standar lingkungan, pencegahan gangguan dan kekerasan ilegal
(terorisme), standar terkait lainnya spesifik ke destinasi;
penerapan kebijakan informasi dan pendidikan yang bertujuan
untuk memastikan transparansi dan menangani krisis termasuk:
komunikasi yang efektif dengan pihak-pihak yang terkait dengan
standar dan praktek keselamatan dan keamanan yang ada;
identifikasi kemungkinan risiko dan bahaya pariwisata bagi
pengunjung;
persyaratan manajemen risiko sesuai dengan bidang kegiatan
(misalnya, dalam wisata petualangan, kegiatan olahraga, dan
lain-lain.);
komunikasi yang efektif dari kemungkinan risiko dan bahaya
kepada pihak-pihak terkait;
komunikasi yang efektif dengan pihak-pihak terkait layanan,
fasilitas dan tindakan yang tersedia untuk membantu
pengunjung dalam keadaan darurat;
sistem untuk pengumpulan, analisis, dan komunikasi informasi
keselamatan dan keamanan pariwisata termasuk informasi
kesehatan (wabah penyakit, dugaan patogen eksotik, dan lain-
lain);
Data tentang distribusi geografis dan jumlah korban, dan
informasi spesifik sesuai dengan karakteristik destinasi;
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 137
Karakteristik destinasi yang aman dalam hal fasilitasi (persiapan,
perencanaan, informasi, layanan darurat)
Lanjutan:
Keberadaan dan akses efektif ke layanan darurat: tindakan
institusional, publik dan pribadi, fasilitas dan layanan yang
tersedia untuk membantu pengunjung dalam keadaan darurat
atau kesulitan: termasuk bantuan langsung (saluran bantuan
telepon, pertolongan pertama, layanan darurat, layanan polisi),
dapat diandalkan layanan kesehatan (fasilitas, personel, bahan),
layanan ekspatriat (akses ke perwakilan konsuler dan diplomatik
serta kolaborasi dengan mereka), bantuan perjalanan, layanan
asuransi, perlindungan konsumen, langkah-langkah kompensasi
oleh negara, khususnya dalam kasus terorisme, layanan
repatriasi.
Sumber:
Keamanan publik yang buruk di destinasi dan situs tertentu
dapat secara langsung membahayakan pengunjung dan masyarakat
lokal, mempengaruhi keputusan orang lain tentang apakah akan
mengunjungi tujuan, dan menghambat transfer manfaat ekonomi
pariwisata ke ekonomi lokal. Pemeliharaan keamanan publik yang
baik adalah faktor kunci dalam citra atau merek yang baik untuk
suatu tujuan dan pada akhirnya dalam keberlanjutan tujuan secara
keseluruhan. Masalah ini terkait erat dengan keamanan nasional dan
internasional, sebagai akibatnya dibahas secara lebih rinci di bagian
Keamanan Wisatawan.
Pencegahan kejahatan dan memfasilitasi peringatan yang
memadai kepada pengunjung tentang risiko yang terkait dengan
tempat dan kegiatan tertentu merupakan tanggung jawab otoritas
tujuan dan bisnis individu. Mereka mengharuskan departemen
kepolisian, kesehatan, lingkungan, dan pariwisata bekerja sama satu
sama lain dan dengan industri untuk memberikan undang-undang
dan penegakan hukum yang tepat, sumber daya, bantuan, pelatihan,
monitoring, dan informasi pengunjung.
Indikator Perencanaan Pengembangan
138 Pariwisata Berkelanjutan
Saran pengunjung yang jelas harus sesuai dengan kondisi dan
acara setempat. Pengunjung sendiri juga bisa menjadi pelaku
kejahatan, paling sering dikaitkan dengan alkohol dan
penyalahgunaan narkoba. Operator berlisensi perlu bertanggung
jawab dan mengamati layanan yang aman dan penjualan alkohol
untuk menghindari masalah bagi tamu lain dan masyarakat.
Keselamatan publik tidak hanya diukur dalam statistik
kejahatan, kesehatan, atau kecelakaan. Persepsi keselamatan dan
keamanan juga sangat banyak di mata yang melihatnya. Beberapa
wisatawan yang tinggal di sebuah desa kecil yang nyaman dan aman
di negara mereka sendiri mungkin merasa sangat tidak nyaman di
lingkungan tempat mereka dikepung oleh pedagang dan calo,
dikelilingi oleh sejumlah besar orang dalam kerumunan atau
diteriaki oleh pemuda setempat.
Orang lain mungkin menganggap jenis pengalaman ini hanya
sebagai bagian dari warna lokal dan tidak melihat ancaman.
Demikian pula, wisatawan dari daerah padat penduduk mungkin
merasa tidak nyaman di lereng gunung karena tidak melihat orang
atau layanan lain kekhawatiran tersesat, diserang oleh fauna, dan
lain-lain, sedangkan yang lain mungkin menikmati pengalaman itu.
Karena alasan ini, penting untuk tidak hanya
mendokumentasikan insiden objektif masalah keselamatan (jumlah
wisatawan yang dirampok, jumlah pejalan kaki yang hilang, dan
jumlah laporan pelecehan oleh masyarakat lokal) tetapi juga untuk
mencoba memahami tingkat kegelisahan yang dirasakan oleh
wisatawan.
Hal ini akan mempengaruhi pengalaman mereka, dan juga
merupakan risiko terhadap pariwisata di destinasi. Persepsi
keselamatan lokal juga dipengaruhi oleh masalah yang lebih luas
terkait dengan keamanan internasional.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 139
Menangkap Manfaat Ekonomi dari Pariwisata
Musiman pariwisata
Sangat sedikit destinasi yang memiliki pariwisata konsisten
sepanjang tahun. Beberapa destinasi mengalami musim yang
ekstrim. Bahkan resor yang mencari status semua musim melalui
beragam penawaran dapat memiliki musim rendah di mana sulit
untuk membenarkan operasi.
Musim pariwisata, terutama dalam wisata pantai, sebagian
besar tergantung pada iklim dan pola cuaca, baik di tujuan maupun
di pasar sumber (faktor push - pull). Musim sepi mencerminkan
kondisi cuaca yang tidak menguntungkan di destinasi (dingin, hujan,
panas dan kelembaban berlebihan, badai). Musim-musim tinggi
dengan cuaca optimal di destinasi dapat dipengaruhi oleh kondisi
cuaca yang lebih hangat dan lebih baik di negara-negara yang
dikunjungi.
Misalnya, musim panas yang lebih hangat di Eropa Utara, dapat
menyebabkan wisatawan memilih destinasi yang lebih dekat dengan
rumah dan lebih sedikit dari mereka yang berangkat ke wilayah
Mediterania. Banyak destinasi yang berupaya untuk
mendiversifikasi produk pariwisata dan melayani berbagai pasar
ceruk yang berbeda di musim yang berbeda (ski, golf, berenang,
bersepeda, konferensi, dan festival) untuk mengisi kalender musim
pariwisata.
Indikator Perencanaan Pengembangan
140 Pariwisata Berkelanjutan
Villa Gesell (Argentina) adalah tujuan pantai dengan populasi lokal
sekitar 25.000. Selama musim puncak Januari dan Februari, kota kecil di
antara bukit pasir menampung lebih dari 100.000 pengunjung sekaligus,
dengan hari puncak mencapai 200.000, kebanyakan dari mereka tinggal
setidaknya satu malam.
Di musim panas, jalanan ramai; ada garis untuk kursi di restoran, layanan
mobil, dan masuk ke area parkir. Sementara puncak musim panas telah
membawa Villa Gesell berbagai layanan terkait wisata, hanya sebagian
kecil yang terbuka sepanjang tahun. Di musim dingin, banyak layanan
utama ditutup, dan penghuni Villa Gesell mungkin harus berkendara
jarak jauh untuk mendapatkannya.
Danau Balaton (Hongaria), dan pantai utara Pulau Pangeran Edward
(Kanada) menunjukkan pola yang sama, dan masyarakat lokal mengeluh
bahwa sebagian besar layanan ada untuk para wisatawan, dengan
kesenjangan serius di luar musim puncak. Pekerjaan di wilayah ini juga
musiman, dan banyak yang meninggalkan daerah itu untuk mobilitas ke
atas.
Seringkali pekerjaan di musim puncak singkat diisi oleh siswa atau
pendatang dari daerah lain yang hanya tinggal selama musim - yang
menekankan akomodasi yang tersedia selama waktu yang paling banyak
digunakan. Dalam komunitas seperti ini, basis ekonomi sepanjang tahun
seringkali tidak cukup untuk mendukung infrastruktur yang diperlukan
untuk menangani periode puncak, bahkan untuk membayar pekerja
pariwisata.
Selama musim panas, banyak fasilitas jejak musim dingin dapat
mengkonversi ke jalur sepeda gunung dengan lift sky dikonversi
untuk membawa pengendara sepeda motor dan sepeda mereka naik
gunung. Di mana ada pusat populasi yang lebih besar di dekatnya,
kota-kota kecil atau tempat-tempat akan meningkatkan pendapatan
mereka dengan mengiklankan terutama kepada masyarakat lokal.
Kadang-kadang menawarkan diskon untuk menarik wisatawan
domestik di musim liburan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 141
Kebocoran pariwisata
Kebocoran secara luas didefinisikan sebagai hilangnya valuta
asing dan biaya tersembunyi lainnya yang berasal dari kegiatan
terkait pariwisata [15]. Istilah "kebocoran" menunjukkan adanya
ekonomi yang lemah atau kurangnya kendali atas kinerja sektor
pariwisata. Mestinya berbagai mendapatkan pendapatan yang
signifikan berlebihan, tidak perlu yang diperoleh melalui
"kebocoran" pariwisata dengan cara-cara ekonomi yang terlihat atau
“tidak terlihat”, atau yang memperoleh pendapatan yang tinggi
dengan merusak sumber daya dan potensi pariwisata atau dengan
biaya domestik dan sosial yang tinggi yang dapat diukur dari segi
ekonomi.
Dalam ekonomi terbuka adalah normal bahwa faktor-faktor
produksi tertentu (barang, jasa, komoditas, tenaga kerja, modal,
gagasan) diimpor dan bahwa faktor-faktor tersebut, termasuk yang
digunakan dalam kegiatan pariwisata, berhak atas upah yang adil
atau pembayaran di luar negeri. Beberapa impor ini mungkin
mendasar untuk penggunaan sumber daya destinasi pariwisata yang
tepat atau untuk kegiatan pariwisata yang ditentukan.
Sementara input tertentu dari luar negeri dan impor tidak
dapat dihindari, dan yang lain dapat diterima dan didorong,
mengurangi kebocoran sangat penting untuk menjaga ekonomi lokal
yang vital, dan untuk keberlanjutan tujuan secara keseluruhan,
membutuhkan pembangunan rantai pasokan domestik yang dapat
diandalkan untuk barang dan jasa yang jika tidak akan dibeli secara
eksternal.
Kebocoran pariwisata sulit diukur dan tidak ada metodologi
tunggal yang diterima secara universal untuk melakukannya, tetapi
menggunakan kerangka kerja metodologi Tourism Satellite Accounts
(TSA) dengan pengukuran melalui indikator dalam kategori
kebocoran yang secara signifikan dapat membantu pengukuran
kebocoran secara komprehensif. Perkiraan untuk mengukur
kebocoran dalam pariwisata dimungkinkan dengan berbagai cara.
Dalam perjalanan paket, metode sederhana yang sering digunakan
adalah membandingkan harga yang dibayarkan ke operator tur
dengan pembayaran untuk sumber daya dan layanan yang dihasilkan
Indikator Perencanaan Pengembangan
142 Pariwisata Berkelanjutan
destinasi. Indikasi kebocoran yang serius dapat dilihat pada
penurunan penerimaan valuta asing per kedatangan pengunjung
atau wisatawan semalam terlepas dari meningkatnya jumlah
kedatangan dan total volume penerimaan. Untuk perhitungan
komprehensif, tiga kategori kebocoran [16] yang harus
dipertimbangkan kebocoran eksternal dan kebocoran internal serta
kebocoran tidak terlihat. Dengan demikian, melalui pendekatan
komprehensif, indikator kebocoran harus membahas:
(1) semua kegiatan karakteristik pariwisata yang relevan (sebagian
besar kebocoran eksternal dan internal);
(2) kegiatan terkait pariwisata yang relevan (sebagian besar
kebocoran eksternal);
(3) kegiatan pariwisata-non spesifik yang relevan (sebagian besar
kebocoran eksternal dan sebagian juga kebocoran tak terlihat).
Kebocoran eksternal
Kebocoran eksternal diwakili oleh pendapatan yang diperoleh
investor asing yang membiayai infrastruktur dan fasilitas pariwisata,
melalui keuntungan yang dipulangkan dan amortisasi utang luar
negeri. Uang yang mengalir ke perantara eksternal untuk
pemesanan; maskapai asing, kapal pesiar, dan bentuk transportasi
asing lainnya; perusahaan asuransi dan bantuan perjalanan; dan
kepada operator tur pasar sumber.
Kebocoran internal
Kebocoran internal terutama timbul dari pariwisata melalui
impor yang dibayar dan dicatat di dalam negeri. Kebocoran ini dapat
dilacak dengan keandalan yang wajar melalui Tourism Satellite
Accounts (TSA). Di mana ada, TSA mengukur pembayaran valuta
asing di sepanjang rantai nilai pariwisata untuk barang dan jasa
impor.
Tingkat kebocoran internal di setiap destinasi sebagian besar
merupakan fungsi dari permintaan wisatawan untuk tingkat dan
kualitas layanan rekreasi dan barang-barang yang berhubungan
dengan hiburan dan ritel. Segmen wisata tertentu yang dilayani
mungkin memerlukan, misalnya, anggur dan minuman bermerek
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 143
yang diproduksi di tempat lain, produk organik, peralatan scuba
yang diproduksi dengan standar keselamatan internasional, linen
dan kasur berkualitas hotel, sistem pemanas dan pendingin udara
modern, keamanan canggih peralatan, dan akses televisi satelit, dan
lain-lain. Khususnya di destinasi pariwisata kecil atau kurang
berkembang, masing-masing barang dan jasa ini kemungkinan akan
perlu diimpor.
Kebocoran tidak terlihat
Kebocoran tak terlihat adalah kerugian atau biaya peluang
yang tidak didokumentasikan dengan andal, tetapi yang dapat
memberikan efek kumulatif dan signifikan. Salah satu sumber utama
kebocoran tak kasat mata adalah keuangan, terkait dengan
penghindaran pajak, transaksi pertukaran mata uang informal, dan
tabungan dan investasi di luar negeri.
Sumber lain dari kebocoran tak terlihat muncul dari
ketidakberlanjutan aset lingkungan, budaya, sejarah, dan pariwisata
lainnya seiring waktu dalam pengembangan pariwisata yang tidak
terencana dan dikelola dengan buruk. Penipisan dan kerusakan
sumber daya (misalnya, terumbu karang, pantai, satwa liar, hutan,
ketersediaan dan kualitas air, struktur atau distrik bersejarah) dapat
berdampak negatif terhadap kedatangan dan pengeluaran
pariwisata dalam jangka pendek, dan juga menyebabkan depresiasi
nilai destinasi sebagai daya tarik dalam jangka panjang dan juga
penurunan kualitas hidup penduduk lokal.
Kebocoran juga dapat terjadi karena biaya sosial yang
disebabkan oleh konsumsi pengunjung dari sumber daya yang
langka (misal, air, energi), disubsidi dan dibiayai oleh otoritas publik
atau bantuan eksternal. Indikator kebocoran dapat dikembangkan
untuk mengatasi berbagai aspek kebocoran yang relevan dengan
kegiatan pariwisata di suatu destinasi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
144 Pariwisata Berkelanjutan
Tenaga kerja pariwisata
Sebuah destinasi pariwisata dapat memiliki banyak bahan
untuk sukses: atraksi menarik, cuaca bagus, akomodasi bintang lima,
dan fasilitas luar biasa. Namun, jika tidak ada karyawan yang
memenuhi syarat untuk menyediakan layanan dan mengoperasikan
fasilitas, pariwisata di tujuan tidak akan berkelanjutan. Ada banyak
masalah yang berkontribusi pada kualitas pekerjaan dalam
pariwisata, yang pada gilirannya mempengaruhi keberlanjutan
ekonomi pariwisata. Komponen utama dari masalah ketenagakerjaan
dan indikator terkait adalah sebagai berikut:
jumlah total penduduk yang dipekerjakan di sektor pariwisata
menurut industri (misalnya akomodasi, restoran, transportasi
udara, dll.);
jumlah dan presentase karyawan yang memiliki sertifikasi;
jumlah total yang bekerja di sektor pariwisata;
tingkat retensi karyawan;
persentase pekerjaan penuh waktu dalam setahun
tingkat pengangguran lokal di luar musim
analisis pendapatan
Pariwisata sebagai kontributor konservasi alam
Convention on Biological Diversity (CBD), mendefinisikan
keragaman organisme hidup dari semua sumber termasuk,
ekosistem darat, laut, dan perairan lainnya serta kesatuan ekologi di
mana mereka menjadi bagiannya; termasuk juga keanekaragaman
spesies, antar spesies, dan ekosistem. Keanekaragaman hayati
merupakan salah satu aset utama pariwisata berbasis alam yang
mengalami perkembangan pesat. Jelas bahwa pariwisata memiliki
potensi yang signifikan untuk memberikan kontribusi pada
pelestarian keanekaragaman hayati, karena keanekaragaman hayati
merupakan komponen penting dari lingkungan alam yang dinikmati
wisatawan. Manfaat timbal balik antara pariwisata yang dikelola
secara berkelanjutan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 145
Pariwisata bisa menjadi ancaman bagi konservasi; bagaimana
dan di mana itu hal tersebut berkembang adalah penting untuk
konservasi keanekaragaman hayati. Namun dalam semakin banyak
kasus, pariwisata memberikan manfaat bagi konservasi dan
memberikan insentif ekonomi bagi mereka yang berada di industri
ini, terutama masyarakat lokal. Berdasarkan daya tarik lingkungan
alam dan budaya, pariwisata berkepentingan untuk melindungi
keanekaragaman hayati, kondisi memainkan peran positif dalam
peningkatan kesadaran dan edukasi konsumen melalui jalur
distribusinya yang luas, dan memberikan insentif ekonomi untuk
melindungi habitat dan sebaliknya lalu dikonversi menjadi
penggunaan lahan yang kurang ramah lingkungan.
Hubungan antara pariwisata dan keanekaragaman hayati
mungkin tidak selalu positif, terutama ketika pengembangan
pariwisata terjadi tanpa standar manajemen, karenanya penting
untuk memantau industri dan indikator untuk membantu melacak
dampak industri. Monitoring adalah elemen penting dari setiap
perencanaan atau pengelolaan bisnis pariwisata.
Semua pemangku kepentingan perlu mempelajari dan
mengukur kondisi biofisik dan sosial dari industri, (yaitu, dampak
industri terhadap sifat dan kualitas pengalaman). Indikator harus
diidentifikasi sejak dini harus terkait dengan dampak pariwisata di
situs alam, dan masalah atau kondisi yang mempengaruhi kegiatan
pariwisata. Kesesuaian dan relevansi indikator harus ditinjau dari
waktu ke waktu, sesuai dengan kondisi yang berubah.
Panduan tentang pariwisata berkelanjutan di kawasan lindung,
diterbitkan oleh IUCN, WTO dan UNEP (2002) mencakup saran
tentang penggunaan indikator untuk memantau pariwisata di
kawasan lindung:
(1) indikator harus mencoba mengidentifikasi kondisi atau hasil
pengembangan pariwisata atau pengelolaan kawasan lindung
misalnya, proporsi taman yang dipengaruhi oleh aktivitas
manusia atau pendapatan tenaga kerja tahunan dari pariwisata,
atau pendapatan dari pariwisata yang diinvestasikan dalam
program konservasi, bukan hanya input misalnya, uang yang
dihabiskan untuk suatu program;
Indikator Perencanaan Pengembangan
146 Pariwisata Berkelanjutan
(2) deskriptif daripada evaluatif;
(3) relatif mudah diukur; dan
(4) awalnya hanya beberapa variabel kunci yang dipilih untuk
monitoring.
Indikator, meskipun kadang-kadang sulit untuk
didokumentasikan, termasuk: sumbangan untuk proyek konservasi
lokal; korespondensi yang berkelanjutan antara masyarakat lokal
dan pengunjung; peningkatan dukungan untuk proyek
pembangunan konservasi dan peningkatan tingkat komitmen dan
aktivisme. Indikator tidak langsung akan mengukur tingkat
pengalaman pendidikan dan interpretatif bagi pengunjung,
termasuk kuantitas dan kualitas program interpretatif, serta
kepuasan wisatawan, terutama tentang interaksi dengan masyarakat
lokal dan mengungkapkan masalah tentang fungsi ekosistem.
Manfaat ekonomi terhadap masyarakat lokal dan destinasi
Pariwisata dapat membawa peluang investasi dan pekerjaan ke
suatu destinasi. Ini juga dapat membawa investasi dalam
infrastruktur dan layanan sektor publik. Suatu komunitas perlu
mengevaluasi pengembalian investasi pada sektor pariwisata, dalam
pekerjaan langsung dan tidak langsung yang diciptakan, pada
pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran wisatawan, pajak yang
diperoleh dari bisnis pariwisata, dan setiap kenaikan nilai aset (harga
tanah dan infrastruktur). Pertimbangan ekonomi ini juga memiliki
elemen sosial-budaya. Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan
misalnya:
(1) Apakah masyarakat secara keseluruhan menghasilkan
keuntungan ekonomi?
(2) Apakah hanya sedikit orang yang mendapat untung, atau
manfaatnya tersebar luas?
(3) Sejauh mana orang luar (bukan penduduk di tujuan)
mengendalikan bisnis dan keuntungan pariwisata? Misalnya,
orang luar mungkin memiliki hotel utama, operasi bus wisata,
atau objek wisata?
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 147
(4) Apa pengganda ekonomi? Apakah masyarakat dapat
memperkirakan input dan output ekonomi mereka untuk
menunjukkan spin-off di generasi bisnis lain di luar pariwisata?
(5) Apakah ada kebocoran ekonomi? Berapa banyak pendapatan
pariwisata yang meninggalkan masyarakat? Komunitas yang
lebih kecil dan kurang berkembang dapat menunjukkan
kebocoran ekonomi yang lebih besar jika banyak barang dan
jasa harus didatangkan dari luar.
(6) Bagaimana pendapatan pajak dari pengeluaran pariwisata?
Masyarakat perlu mempertimbangkan berapa banyak
pariwisata (dan berapa banyak wisatawan) yang mereka inginkan
dan aset apa yang mereka miliki untuk dalam membangun dan
mengembangkan destinasi. Pariwisata juga dapat membawa
manfaat ekonomi tidak langsung melalui pengembangan layanan
pendukung dan peningkatan peluang di industri lain mulai dari
makanan dan pertanian hingga perangkat keras, kerajinan dan
konstruksi, menciptakan ekonomi lokal yang beragam.
Di sisi negatif, kebocoran ekonomi dapat mengakibatkan
banyak manfaat ekonomi yang disedot ke operator tur luar, pemilik
akomodasi dan pemasok lainnya. Potensi keuntungan ekonomi bagi
masyarakat melalui lapangan kerja pariwisata, pengembangan
bisnis dan pendapatan harus dipertimbangkan terhadap
pengeluaran masyarakat yang mendukung pariwisata dan
kemungkinan peningkatan biaya hidup atau perubahan gaya hidup
bagi penduduk. Keseimbangan harus ditemukan antara
kesejahteraan keseluruhan masyarakat dan industri pariwisata.
Idealnya pengukuran manfaat ekonomi akan diintegrasikan
dengan manfaat sosial budaya dengan analisis manfaat dan biaya
sosial secara total. Analisis semacam ini dapat menghasilkan
indikator seperti total manfaat dari setiap wisatawan tambahan ke
destinasi, tetapi dalam prakteknya sering cenderung rumit dan
mahal karena perhitungan dilakukan melalui akun satelit untuk
pariwisata.
Indikator Perencanaan Pengembangan
148 Pariwisata Berkelanjutan
Pariwisata dan pengentasan kemiskinan
Pariwisata adalah basis penting perekonomian bagi banyak
negara termiskin di dunia, menghasilkan pendapatan devisa,
pekerjaan dan dana untuk pembangunan. Banyak negara maju dan
kurang berkembang memiliki keunggulan komparatif dalam sumber
daya pariwisata, mengingat warisan alam dan budayanya yang kaya
yang memberikan potensi yang baik untuk pengembangan dan
operasi pariwisata. Pariwisata berkelanjutan berusaha untuk
berkontribusi pada kesejahteraan ekologis, ekonomi, dan sosial dari
semua destinasi; namun, nilai positif pariwisata mungkin paling baik
diamati di tingkat lokal, di mana kontribusi nyata pariwisata dapat
diukur secara langsung dalam hal pengentasan kemiskinan. Ini juga
bisa menjadi penghasil pendapatan penting untuk daerah yang
kurang berkembang di negara berkembang dan maju.
Masyarakat yang terpinggirkan (marginal) dan masyarakat
asli sering kali berada di daerah pedesaan yang terisolasi yang
belum mendapatkan manfaat dari bentuk pembangunan tradisional.
Demikian pula, bagian-bagian yang lebih miskin dari komunitas
perkotaan mungkin tidak berada dalam posisi untuk mengambil
manfaat dari pariwisata yang terjadi di pusat kota.
Memberikan pekerjaan yang dibayar di masyarakat mungkin
bukan satu-satunya (atau yang terbaik) cara untuk meningkatkan
standar mata pencaharian. Aset (kepemilikan rumah, kepemilikan
bisnis, kepemilikan alat) dan bukan penghasilan, seringkali
merupakan indikator yang lebih baik untuk pengentasan
kemiskinan, karena basis aset yang tumbuh memberikan stabilitas
yang lebih besar dan lebih banyak peluang untuk mendiversifikasi
kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Pengembangan pariwisata
mungkin tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan tunai tetapi
juga mendukung prioritas mata pencaharian masyarakat.
Daya saing bisnis pariwisata
Tidak seperti kebanyakan masalah lain yang dibahas dalam
bagian ini, daya saing tujuan adalah ukuran relatif. Indikator daya
saing apa pun terkait dengan seberapa baik suatu destinasi
dibandingkan dengan yang lain. Misalnya, bagaimana profil
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 149
pariwisata suatu destinasi dibandingkan dengan yang lain,
bagaimana ia bersaing pada harga atau kualitas, atau sejauh mana ia
mengukir lekuknya sendiri untuk membedakan dirinya dari
destinasi lain.
Teori ekonomi strategi kompetitif menunjukkan bahwa pada
intinya, keunggulan kompetitif dicapai karena keunggulan biaya
(dan karenanya harga), diferensiasi (produk unik atau kumpulan
produk dan layanan atau keunikan yang dirasakan), atau strategi
fokus untuk melayani target tertentu dengan lebih baik daripada
lebih banyak pesaing berbasis luas (misalnya produk dan pasar
pariwisata di pelosok-pelosok).
Jika pariwisata di suatu
Dimensi daya saing pariwisata
destinasi berkelanjutan, tidak
Sebuah publikasi baru-baru ini
menunjukkan bahwa sifat daya hanya menguntungkan secara
saing dan keberlanjutan pariwisata ekonomi dalam jangka panjang
sedang berkembang. Faktor-faktor dan bersaing dengan destinasi
yang berkontribusi dalam evolusi ini
lain secara lokal, nasional atau
termasuk pengalaman perjalanan
yang diminta oleh wisatawan, internasional, tetapi juga harus
demografi, dan krisis eksternal yang mempertimbangkan faktor
dipaksakan pada destinasi. Dimensi sosial budaya, lingkungan, dan
daya saing pariwisata
faktor lainnya. Aset alam dan
dipertimbangkan meliputi:
1. daya saing ekonomi; budaya dan keuntungan suatu
2. daya saing politik; destinasi perlu dilindungi
3. kebangkitan negara-kota; dalam ja ngka panjang dan
4. daya saing sosial budaya;
tidak dieksploitasi dalam jangka
5. daya saing teknologi, dan
6. Daya saing lingkungan. pendek. Strategi pariwisata
kompetitif yang berhasil akan
Sumber: menghasilkan pengembalian di
Ritchie & Crouch (2003)
atas rata-rata untuk suatu
destinasi bila dibandingkan dengan yang lain. Mengukur kesuksesan
bisa sulit. Indikator harus dikumpulkan dan valid selama bertahun-
tahun untuk menunjukkan manfaat dan stabilitas jangka panjang di
suatu destinasi, walaupun bisa jadi ada banyak perubahan, pada
tahapan dan perencanaan yang signifikan dan tidak.
Indikator Perencanaan Pengembangan
150 Pariwisata Berkelanjutan
Singkatnya, strategi kompetitif yang berhasil menghasilkan
manfaat yang lebih baik seiring waktu. Sebagai konsekuensinya,
sebagian besar faktor sosial, lingkungan dan politik merupakan hal
yang penting untuk dipertimbangkan dalam upaya keberlanjutan
destinasi.
Keberlanjutan dalam beberapa hal merupakan sinonim untuk
daya saing dalam hal perusahaan-perusahaan yang kompetitif
dalam jangka panjang lebih cenderung berkelanjutan, dan
sebaliknya. Benchmarking sangat penting dalam mengukur daya
saing, karena daya saing pada dasarnya adalah ukuran komparatif
yang menunjukkan bahwa destinasi atau perusahaan lebih baik
(atau tidak) dibandingkan rata-rata dengan destinasi lain.
Ritchie dan Crouch (2003) menyarankan indikator daya saing
majemuk yang menggabungkan profitabilitas tahunan dengan
indikator lingkungan dan sosial-budaya dapat dilakukan tetapi
mungkin sangat sulit untuk didukung untuk sebagian besar
destinasi. Studi ini mencatat, secara umum diakui bahwa properti
hotel yang lebih besar membuat kemajuan dalam lingkungan daya
saing di seluruh dunia. Namun, yang menjadi perhatian khusus bagi
sebagian besar negara adalah kesulitan yang dihadapi pengusaha
lokal dalam mencapai partisipasi yang layak di sektor pariwisata
[17].
Perlindungan Aset Alam Berharga
Melindungi krisis ekosistem
Flora dan fauna yang langka dan ekosistem yang unik adalah
daya tarik yang signifikan bagi wisatawan. Pertumbuhan lekuk
pariwisata yang berfokus pada pengalaman dan kunjungan situs
yang rentan untuk diamati, atau mempelajari spesies dan ekosistem
meningkatkan daya pembelajaran tentang lingkungan dan membawa
risiko pada kerusakan ekosistem.
Ekowisata juga, sementara ini memulai untuk mefase dengan
pelan, juga dapat memfokuskan tekanan pada situs yang paling
rapuh. Upaya di seluruh dunia sedang dilakukan untuk memberikan
perlindungan bagi kekayaan ekologi dunia bahkan ketika permintaan
untuk mengunjungi dan mengalaminya sedang bertumbuh.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 151
Pemerintah di berbagai negara semakin meningkatkan upaya
untuk melindungi kawasan alam dan ada banyak cadangan yang
didirikan oleh LSM, organisasi masyarakat dan perusahaan swasta
untuk tujuan ekowisata. Jumlah dan perluasan kawasan lindung
terus meningkat selama beberapa dekade terakhir.
Kualitas air laut
Mayoritas pariwisata dunia terletak di daerah pesisir. Pantai
adalah target bagi sebagian besar dari mereka yang mengunjungi
pantai, tetapi kegiatan lain seperti memancing, menyelam,
berperahu atau melihat alam juga terpengaruh jika kualitas air
terganggu. Untuk banyak destinasi, kualitas pantai dan khususnya
air itu sendiri merupakan faktor penting dalam pemilihan destinasi.
Mengelola Sumber Daya Alam yang Langka
Manajemen energi
Tingkat energi secara signifikan dikonsumsi oleh sektor
pariwisata baik melalui aset tetap (bangunan dan lain-lain.) Aset
bergerak (kendaraan bermotor, kereta api, feri, dan lain-lain.).
Pengurangan energi yang dikonsumsi akan memiliki dampak positif
pada biaya operasional perusahaan (dan dapat mengurangi tekanan
pada utilitas) dan memiliki manfaat lingkungan yang besar,
terutama melalui pengurangan konsumsi sumber daya alam dan
menurunkan emisi gas rumah kaca yang terkait.
Energi dihasilkan dari berbagai sumber, termasuk yang tidak
terbarukan (misalnya gas alam, bensin, solar, batubara) dan
terbarukan (misal, angin, biomassa, panas matahari, pembangkit
listrik tenaga air, dan lain-lain) di destinasi pariwisata, industri itu
sendiri dapat menjadi komponen utama konsumsi. Upaya untuk
mengurangi konsumsinya dapat bermanfaat tidak hanya bagi
industri, melalui penghematan biaya untuk masing-masing
perusahaan, tetapi juga dapat membawa manfaat terhadap
destinasi secara keseluruhan, dalam bentuk berkurangnya
permintaan energi (masalah tertentu di mana sumber sepenuhnya
digunakan , atau di mana sumber energi utama adalah bahan bakar
yang diimpor). Indikator mengenai energi karenanya fokus pada
Indikator Perencanaan Pengembangan
152 Pariwisata Berkelanjutan
konsumsi, penggunaan sumber alternatif (terbarukan), dan pada
pengenalan efisiensi energi dan program penghematan.
Perubahan iklim dan pariwisata
Bobot bukti mendukung kekhawatiran bahwa iklim global
sedang berubah. Sebagian besar perubahan disebabkan oleh dampak
aktivitas manusia; baik dalam menyebabkan peningkatan emisi gas
rumah kaca dan dalam mengubah kapasitas penyangga lingkungan
alam untuk menyerap (menyita) karbon. Kegiatan pariwisata
merupakan kontributor signifikan terhadap produksi global gas
rumah kaca melalui transportasi, pemanasan, dan pendinginan dan
bentuk penggunaan energi lainnya. Sektor industri juga
kemungkinan akan terpengaruh secara signifikan oleh perubahan
iklim baik secara global maupun lokal.
Adaptasi terhadap perubahan potensial maupun pengurangan
kontribusi pariwisata terhadap perubahan iklim menjadi perhatian
bagi industri pariwisata di seluruh dunia. Melalui komunikasi awal
diantara penggagas ini terkait perubahan iklim, sebagian besar
negara telah mulai mengidentifikasi potensi untuk mengurangi
emisi oleh masing-masing sektor, atau memitigasi potensi dampak
negatif, dan untuk beradaptasi melalui perubahan dalam
perencanaan dan konstruksi sehingga dapat mengurangi potensi
kerusakan akibat peristiwa terkait cuaca.
Konferensi Internasional pertama tentang Perubahan Iklim
dan Pariwisata (Djerba, Tunisia, April 2003), yang diselenggarakan
oleh WTO, menawarkan peluang unik bagi ilmuwan pariwisata yang
berminat untuk berbagi pandangan tentang konsekuensi, peluang,
dan risiko yang disajikan kepada sektor pariwisata sebagai hasil dari
perubahan iklim dunia. Hasil utama Konferensi, Deklarasi Djerba
tentang Perubahan Iklim dan Pariwisata, mengakui hubungan dua
arah yang kompleks antara perubahan iklim dan pariwisata. Di satu
sisi, pariwisata dipengaruhi oleh perubahan iklim, terutama
mempertimbangkan destinasi pariwisata di daerah pesisir, gunung,
kekeringan, dan rawan banjir; di sisi lain, pariwisata juga
berkontribusi terhadap penyebab perubahan iklim, terutama melalui
emisi yang dihasilkan dari transportasi dan penggunaan energi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 153
Dampak potensi perubahan iklim terhadap pariwisata banyak
berpengaruh terhadap banyak hal:
(1) pola cuaca yang berubah dan lebih tidak menentu membuat
perencanaan dan operasi pariwisata lebih sulit;
(2) bencana alam terkait iklim merusak infrastruktur, warisan alam
dan budaya dan masyarakat setempat; banyak infrastruktur
pariwisata terletak di daerah rawan;
(3) perubahan iklim dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan
wisatawan dan berbagai kegiatan;
(4) perubahan yang disebabkan oleh iklim dalam kondisi kesehatan
umum dapat mempengaruhi pengunjung dan praktek asuransi;
(5) naiknya permukaan laut dan suhu mengancam tujuan pantai
dan pulau dan situs laut;
(6) perubahan iklim mempengaruhi habitat alami dan
keanekaragaman hayati spesies, yang merupakan daya tarik
untuk berbasis alam dan ekowisata;
(7) perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi dapat
mempengaruhi ketersediaan sumber daya air tawar di tujuan,
yang merupakan aset dasar bagi wisatawan;
(8) menipisnya kondisi salju secara langsung mempengaruhi
pariwisata gunung dan olahraga musim dingin.
Dampak iklim dapat membawa masalah dan peluang untuk
destinasi pariwisata, secara signifikan mengubah aliran permintaan
pariwisata. Misalnya, karena pemanasan global, wilayah dan pantai
Eropa Utara dapat menjadi semakin menarik untuk liburan musim
panas, yang menyebabkan penurunan kemungkinan untuk destinasi
Mediterania, yang pada gilirannya bisa lebih sering terjadi selama
periode musim dingin pra atau pasca musim dingin atau musim
dingin.
Perubahan dalam pola permintaan dapat menyebabkan efek
besar dalam kondisi sosial ekonomi destinasi (misal, lapangan kerja
dan layanan sosial), menghasilkan efek knock-off dalam kegiatan
ekonomi terkait (misal, pertanian, transportasi). Selain itu,
pariwisata merupakankonsumen air yang signifikan, seringkali di
Indikator Perencanaan Pengembangan
154 Pariwisata Berkelanjutan
destinasi yang, bahkan tanpa perubahan iklim, memiliki masalah
pasokan.
Banyak kegiatan wisata (misalnya ski, berenang, kegiatan
pantai, wisata alam liar dan wisata alam pada umumnya)
memerlukan serangkaian kondisi cuaca tertentu. Kenaikan kecil
pada suhu musim dingin misalnya, akan menghilangkan lereng yang
lebih rendah dari sebagian besar resor ski di Pegunungan Alpen,
dan menghilangkan kemungkinan bermain ski di banyak resor
lainnya yang paling baik memiliki musim pendek atau marjinal.
Perubahan suhu juga dapat mengubah keanekaragaman hayati,
mengubah jalur migrasi dan lokasi habitat di mana satwa liar dapat
ditemukan.
Pengurangan Dampak Pariwisata
Sementara kekhawatiran tentang efek polusi pariwisata dapat
mempengaruhi banyak aspek kegiatan wisatawan, masalah utama
berkaitan dengan konsumsi jasa transportasi wisatawan, terutama
transportasi darat dan udara. Di wilayah yang lebih luas
keberlanjutan pariwisata memberikan dampak kontribusi pada
perubahan iklim dapat dikaitkan dengan konsumsi air dan energi
per kapita yang tinggi, dan dampak pariwisata terhadap flora dan
fauna. Untuk mengurangi dampak negatif pariwisata, perlu
menerapkan fase-fase dengan menerapkan teknik dan teknologi
manajemen lingkungan yang maju.
Pariwisata berkontribusi terhadap gas rumah kaca terutama
melalui transportasi dan pemanasan dan pendinginan akomodasi,
yang keduanya dapat menggunakan bahan bakar fosil. Emisi gas
rumah kaca melalui penggunaan transportasi, akomodasi, dan
layanan pariwisata lainnya terjadi sejak awal perjalanan wisatawan
hingga kembali ke rumah. Oleh karena itu, tindakan mitigasi harus
menangani kegiatan pariwisata melalui rantai pasokan lengkap,
yang melibatkan sistem transportasi internasional, nasional dan
regional, operator tur yang keluar dan masuk, serta akomodasi
lokal, transportasi, dan penyedia layanan lainnya di tujuan. Oleh
karena itu, destinasi cenderung mesti menanggapi masalah
perubahan iklim melalui berbagai strategi mitigasi, termasuk:
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 155
efisiensi energi yang lebih besar;
penggunaan bahan bakar yang kurang intensif karbon;
penyerapan dan melakukan bisnis karbon.
Salah satu strategi penting untuk mengurangi produksi gas
rumah kaca adalah dengan memperkenalkan peralatan dan
prosedur yang lebih efisien. Namun, penerapan pendekatan
“produksi bersih” atau “efisiensi” ini membutuhkan waktu. Selain
itu, banyak operasi di dalam komunitas (industri pariwisata atau
komunitas lokal di mana pariwisata berada) mungkin sudah hemat
energi dan pengurangan secara signifikan dalam energi dari sumber
yang tidak terbarukan mungkin tidak diperlukan karena alasan
operasional dan komersial yang telah dilakukan selama ini.
Strategi berikutnya adalah menggunakan bahan bakar yang
menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca seperti gas propana cair
(LPG) atau secara ideal bergerak ke arah penggunaan energi yang
lebih besar dari sumber yang terbarukan (misalnya angin, matahari
atau hidro). Strategi lainnya, keterlibatan dalam proyek penyerapan
karbon (proses di mana tanaman saat mereka tumbuh menangkap
dan menyimpan karbon dalam gas karbon dioksida (CO2) dalam
biomassa) sebagai fase langsung menuju mengimbangi produksi gas
rumah kaca. Industri pariwisata dapat berkontribusi dalam
kemitraan dengan misalkan perusahaan kehutanan, organisasi
konservasi hingga pelestarian kawasan alam sebagai salah satu cara
untuk mengimbangi kontribusi gas rumah kaca sembari
meningkatkan basis sumber daya pariwisata.
Banyak komunitas membuat upaya signifikan untuk
memanfaatkan energi dari sumber terbarukan (misalnya angin,
matahari), dengan demikian melestarikan sumber daya dan
meminimalkan emisi gas rumah kaca. Indikator yang digunakan
secara publik, penting untuk menyediakan sumber data yang
digunakan, serta catatan metodologis singkat, untuk memastikan
transparansi proses dan menghindari tantangan terhadap hasil.
Indikator Perencanaan Pengembangan
156 Pariwisata Berkelanjutan
Ketersediaan dan konservasi air
Air adalah sumber daya penting untuk pariwisata. Penyediaan
layanan untuk wisatawan sangat bergantung pada air, berbagai
penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi air per kapita oleh
wisatawan biasanya dua kali lipat hingga tiga kali lipat dari
penduduk tujuan.
Khusus untuk daerah-daerah yang persediaan airnya terbatas,
air dapat menjadi kendala bagi pengembangan, batasan kegiatan
wisata, dan masalah pertikaian dengan masyarakat lokal mengenai
alokasi dan harga. Pasokan air baru (tambahan) mungkin sulit
diperoleh dan mahal (misal, impor atau desalinisasi). Konservasi
adalah salah satu cara untuk mengurangi permintaan pasokan air
tambahan.
Kualitas air minum
Sebagian besar wisatawan sangat menentang risiko. Penyakit
akan merusak liburan. Kualitas air minum adalah salah satu faktor
terpenting dalam kesejahteraan wisatawan dan kualitas air minum
yang buruk berimplikasi pada penyakit usus yang menimpa banyak
wisatawan. Citra destinasi di mana pengunjung cenderung sakit
akan mengurangi preferesni wisatawan untuk berkunjung.
Membatasi Dampak Lingkungan dari Kegiatan Pariwisata
Perawatan limbah
Pengelolaan limbah cair (limbah) menjadi perhatian utama bagi
pariwisata. Industri ini sering dirugikan oleh kontaminasi sumber
daya utamanya seperti pantai, danau, sungai. Polusi baik dari resor
itu sendiri maupun dari masyarakat lokal dan industri dapat
menurunkan nilai destinasi, juga dapat menyebabkan penyakit dan
kerusakan pada satwa liar dan sumber daya alam.
Insiden yang dipublikasikan secara luas (misal, tumpahan
minyak, kolera) dan penutupan pantai di semua benua karena e-coli
atau kontaminan lainnya dapat benar-benar menutup destinasi,
merusak citra destinasi pariwisata selama bertahun-tahun. Dalam
kasus-kasus ekstrem, kontaminasi telah mengakibatkan penutupan
berbagai resor dan hotel.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 157
Pengelolaan limbah padat
Limbah padat adalah sumber utama polusi bagi planet ini.
Sampah dihasilkan di hampir semua kegiatan yang dilakukan
manusia. Hingga saat ini, solusi utama untuk mengelola limbah ini
adalah membuangnya utamanya jika ada sistem pengumpulan
limbah untuk menanam di bawah tanah di tempat pembuangan
sampah.
Bahan bekas atau limbah yang dikirim ke TPA mewakili
hilangnya sumber daya, dan penggantiannya akan meningkatkan
gas rumah kaca selama produksi dan transportasi. Di tempat-
tempat di mana tidak ada sistem, pengolahan limbah sering hanya
ditinggalkan di tempat yang disediakan dan seseorang dibayar
untuk membawanya "pergi".
Karena masalah kontaminasi dan dampak negatif pada
lingkungan dan seringkali citra destinasi, semakin penting bagi
destinasi untuk mengukur produksi limbah dan untuk mengelola
pengolahannya. Solusi ‘tidak terlihat, keluar dari pikiran’ belum
terlalu efektif dan telah menciptakan serangkaian masalah baru
yang perlu ditangani. Masalah dengan tumpukan sampah dan
tempat pembuangan sampah gaya lama meliputi:
(1) menghasilkan bau yang tidak sedap;
(2) pembentukan lindi (air comberan), yang dapat mencemari
saluran air terdekat;
(3) emisi gas rumah kaca;
(4) keberadaan penyakit seperti kutu dan penyakit penyerta
lainnya, kondisi ini dapat merusak pariwisata dan citra
destinasinya.
Ada hierarki yang diakui secara luas untuk meminimalkan
limbah, yaitu mengurangi limbah, menggunakan limbah kembali,
daur ulang limbah, pengolahan residu, dan pembuangan residu.
Destinasi perlu menghitung volume limbah dan mengidentifikasi
sumber dan tujuan, sehingga efektivitas strategi manajemen masa
depan dapat dipantau. Artinya, perlu mengukur limbah untuk
mengelolanya. Strategi ini dapat dilakukan di banyak skala destinasi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
158 Pariwisata Berkelanjutan
Audit limbah merupakan penilaian limbah dan digunakan sebagai
pemberitahuan ke publik terkait informasi:
(1) jumlah total limbah yang ada;
(2) terdiri dari apa saja limbah tersebut dan jumlah masing-masing
jenis limbah;
(3) dimana limbah dihasilkan;
(4) dimana muara limbah (misal, TPA, pabrik kompos, insinerasi,
dan lain-lain).
Dengan menggunakan informasi ini, sangat memumungkin
untuk menargetkan kegiatan dan industri (seperti pariwisata) yang
menghasilkan limbah dalam jumlah besar ke tempat pembuangan
sampah. Hal ini juga membantu mengidentifikasi di mana
pengurangan sumber limbah yang paling praktis dan efektif.
Pengkajian limbah juga mengidentifikasi alternatif yang layak
bagi lingkungan dari TPA untuk limbah yang tidak dapat dihilangkan.
Fase pertama untuk tujuan tersebut adalah melihat mengurangi
jumlah bahan yang dikonsumsi (termasuk kemasan), untuk
kemudian mempertimbangkan penggunaan kembali, atau jika tidak
memungkinkan, daur ulang. Pertimbangan harus diberikan pada
opsi-opsi yang memiliki dampak lingkungan lokal terbaik.
Saat berlibur, orang cenderung menggunakan lebih banyak
produk sekali pakai daripada di rumah; makanan yang dibeli
mungkin sangat dikemas. Daur ulang mungkin tidak selalu menjadi
pilihan terbaik (misal, tidak ada fasilitas lokal) dan limbah yang
digunakan untuk sistem pembangkit energi mungkin merupakan
rute yang lebih baik untuk beberapa tujuan, memperoleh energi dan
mengurangi berat limbah yang dibuang. Perusahaan pariwisata juga
dapat mencari cara untuk menggantikan prosedur yang tidak terlalu
boros.
Layanan pengumpulan dan pengolahan limbah kota harus
dikoordinasikan dengan baik dengan akomodasi, katering dan
perusahaan pariwisata lainnya untuk mengurangi, menggunakan
kembali, dan mendaur ulang limbah. Daur ulang dan penggunaan
kembali harus dimulai dari sumber limbah (instansi), dengan
mengumpulkan berbagai jenis limbah secara terpisah.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 159
Perusahaan pariwisata juga dapat memiliki fasilitas
pengolahan limbah sendiri (misalnya, pengomposan sampah
organik). Namun, tanpa infrastruktur kota yang memadai, upaya
fasilitas pariwisata juga menjadi tidak memadai. Ada contoh hotel
dengan sistem manajemen lingkungan yang sangat baik, di mana
limbah yang dipisahkan dengan hati-hati berakhir di tempat
pembuangan sampah yang sama, karena kurangnya kapasitas
pemrosesan di destinasi lokal.
Ada juga contoh di mana hotel mempertahankan hubungan
yang baik dengan komunitas lokal, dan penduduk menggunakan
kembali barang-barang limbah tertentu (misalkan, tong, botol) di
rumah tangga mereka. Untuk alasan di atas, penting juga untuk
mengumpulkan informasi tentang sumber limbah dan pengolahan
dari perusahaan pariwisata, dan menginformasikannya secara
memadai ke pemerintah lokal. Indikator produksi limbah, bisa
diukur melalui:
(1) jumlah total sampah yang dikumpulkan;
(2) volume limbah yang dihasilkan oleh tujuan (ton) per
tahun/orang per tahun (perbulan);
(3) limbah yang dibuang dengan metode berbeda (misalkan,
dibakar, disimpan di tempat pembuangan sampah, dan lain-
lain);
(4) penyebab volume limbah (berdasarkan bulan atau musim) dari
pariwisata;
(5) indikator yang berkaitan dengan konsumsi sumber daya dan
produksi limbah, yang dihitung berdasarkan per orang per
tahun, perlu memperhitungkan populasi penduduk dan
sementara (wisatawan).
Polusi udara
Polusi udara telah menjadi masalah bagi banyak destinasi,
terutama terkait dengan tingkat kontaminasi industri di luar
ruangan. Mereka yang paling terpengaruh tentang adanya polusi
udara adalah orang tua dan mereka yang menderita penyakit
pernapasan dan alergi.
Indikator Perencanaan Pengembangan
160 Pariwisata Berkelanjutan
Polusi udara juga dianggap sebagai kontributor utama
degradasi warisan budaya (efek hujan asam pada monumen batu
kapur) dan warisan alam (merugikan spesies dan mengubah
ekosistem). Pada tingkat yang lebih lokal, pusat-pusat kota-kota
besar telah meningkatkan tingkat kontaminan, terutama di bulan-
bulan musim panas, polusi dari industri, dan lalu lintas
terkonsentrasi di pada suatu wilayah.
Pariwisata itu sendiri dapat menjadi penyumbang polusi
udara. Bus-bus dibiarkan beroperasi sementara wisatawan
mengunjungi monumen-monumen dapat menjadi faktor signifikan
dalam polusi pusat kota dan kerusakan bangunan. Banyak
pemerintah telah menetapkan standar kualitas udara yang terkait
dengan konsentrasi kontaminan utama seperti partikel, ozon
permukaan tanah, sulfur dioksida dan organik yang mudah
menguap.
Organisasi Kesehatan Dunia menerbitkan standar untuk polusi
udara yang memberikan standar terperinci untuk berbagai zat yang
terbawa melalui udara. Banyak yurisdiksi memberikan peringatan
publik ketika hasil grafik polusi mencapai tingkat yang dianggap
berbahaya bagi kesehatan Banyak yurisdiksi sekarang menerbitkan
data kualitas udara secara teratur, misalnya, Cina menyediakan
grafik yang menunjukkan kualitas udara perkotaan untuk kota-kota
besar setiap minggu di surat kabar utama, termasuk yang untuk
pengunjung asing.
Beberapa destinasi bertindak untuk mengalihkan industri
yang berpolusi di luar kota-kota yang paling terkena dampak,
menggantikan pabrik-pabrik dan kendaraan-kendaraan lama untuk
mengurangi pemuatan polusi, mengubah sumber bahan bakar
untuk pemanas dan pembangkit listrik menjadi yang kurang
berpolusi, dan membatasi truk dan lalu lintas lainnya di kota-kota,
terutama ketika ada darurat polusi. Beberapa kota telah beralih
untuk mengurangi penggunaan mobil: misalnya mobil dilarang dari
pusat kota, terbatas pada akses pada hari-hari tertentu, atau hari
akses yang diizinkan terkait dengan nomor pada plat nomor tetapi
pertumbuhan keseluruhan dalam jumlah mobil di kota-kota.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 161
Di mana sistem perencanaan ada, ada kemampuan untuk
memandu pengembangan menuju masa depan yang diinginkan, dan
untuk mempengaruhi lokasi, jenis dan kepadatan pembangunan.
Model ini dapat berkisar luas, dari zona indikatif sederhana dengan
sedikit kontrol formal hingga, di ujung lain dari spektrum, sistem
yang menentukan penggunaan spesifik, kepadatan, perencanaan
situs, kontrol desain, dan bahkan perilaku yang diizinkan dan
dilarang.
Dua elemen terkait adalah penting: proses perencanaan, dan
tingkat serta cara penegakannya. Berbagai tools dapat digunakan
termasuk penetapan wilayah preskriptif yang menunjuk kegunaan
spesifik dan kepadatan untuk setiap lokasi, penetapan zona indikatif
yang mendefinisikan karakter destinasi yang diinginkan dan
menggunakan beberapa bentuk prosedur peninjauan, atau
penetapan batas kepadatan (misalnya, tidak lebih dari 40% dari
pantai yang akan dibangun untuk lebih dari satu lantai, tapak
bangunan untuk menempati tidak lebih dari setengah properti)
sebagai batas dalam upaya menghindari kepadatan.
Rencana penggunaan lahan dan kontrol pengembangan dapat
sangat bervariasi dalam hal luas, bentuk dan isi, tetapi penting
untuk secara jelas mengidentifikasi implikasi bagi kegiatan
pariwisata. Sebagian besar destinasi yang menggunakan indikator
relatif terhadap masalah ini; menggunakan indikator sederhana
seperti ya/tidak, apakah ada pengembangan komprehensif atau
rencana penggunaan lahan untuk tujuan tersebut, dengan beberapa
juga mengidentifikasi apakah ia memiliki aplikasi eksplisit untuk
pariwisata.
Polusi suara
Kebisingan telah muncul sebagai masalah dalam studi di
banyak destansi perkotaan dan lokasi musiman yang banyak
digunakan, terutama resor pantai. Beberapa kota seperti Bangkok,
Roma dan Tokyo telah mengidentifikasi kebisingan sebagai salah
satu masalah utama yang mengganggu pengalaman wisata.
Meskipun ada standar yang ditetapkan untuk tingkat kebisingan di
tempat kerja, terkait dengan gangguan pendengaran dan dampak
Indikator Perencanaan Pengembangan
162 Pariwisata Berkelanjutan
kesehatan, standar kebisingan untuk area luar ruangan cenderung
lebih subjektif. Kebisingan dapat ditoleransi dan bahkan diharapkan
pada konser rock dan taman hiburan, namun tidak akan dapat
ditoleransi di tempat lain. Kebisingan bisa diterima di siang hari dan
akan sangat kurang diterima pada malam hari. Radio yang keras,
kendaraan bermotor yang bising, dan wisatawan yang berisik adalah
sumber utama kebisingan yang tidak diinginkan di banyak destinasi.
Ada ukuran yang mapan yang digunakan untuk memantau
tingkat kebisingan yaitu decibel (Db). Di beberapa pusat kota besar
sudah memiliki monitor desibel realtime di persimpangan utama
(misalnya, banyak kota di Cina) yang menunjukkan tingkat desibel
aktual, dan dipantau naik turunnya tergantung kondisi kebisingan
actual, misalnya dari 78dB menjadi 94 dB pada saat lalu lintas
meningkat.
Khususnya di destinasi pantai, tingkat kebisingan
menimbulkan keluhan; kondisi ini sering menjadi indikator konflik
antar budaya, misalnya wisatawan muda dan tua atau wisatawan
yang ingin berpesta sampai fajar dan penduduk lokal yang ingin
tidur di malam hari. Jika destinasi dibagi di antara relung pasar yang
berbeda, konflik kebisingan dapat terjadi. Baik tingkat kebisingan
aktual maupun persepsi kebisingan yang relevan. Tingkat kebisingan
cenderung cukup spesifik untuk lokasi tertentu. Misalnya keras di
satu jalan di mana terdapat klub malam, atraksi luar ruangan,
restoran luar ruangan atau persimpangan utama dan jauh lebih
tenang jika lokasi berada dua blok dari lokasi tersebut.
Indikator tingkat kebisingan fisik, biasanya menggunakan
pengukuran:
(1) Tingkat kebisingan di lokasi (siang, malam) dalam desibel.
Alasan penggunaan indikator ini; Tingkat kebisingan sebenarnya
dapat dipantau atau diambil sampelnya menggunakan
desibelometer. Level tipikal ditunjukkan pada kotak di atas.
Sumber data indikator ini; pengukur desibel tetap di situs
utama, dan pengambilan sampel menggunakan pengukur
desibel seluler. Perhatikan bahwa untuk pengukuran seluler,
waktu harian dalam seminggu, serta musim akan menjadi
penting.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 163
(2) Persepsi kebisingan. Alasan penggunaan indikator ini kelompok
yang berbeda akan merasakan kebisingan berbeda. Jika jumlah
dan kelompok besar berdampak lebih langsung pada pendapat
situs (dan keseluruhan dstinasi) daripada destinasi
menggunakan penilaian tingkat desibel. Namun perlu dicatat,
indikator ini mungkin akan berhubungan juga karena toleransi
kebisingan sangat situs spesifik, spesifik aktivitas, dan budaya
spesifik, tetapi dapat menunjukkan kebutuhan untuk
pemantauan atau yang lebih spesifik melalui pendekatan
kuesioner.
Transportasi terkait pariwisata
Keberhasilan destinasi pariwisata terkait secara kritis dengan
masalah aksesibilitas dan mobilitas dan juga terkait dengan
pelestarian 'lingkungan' yang menjadi tujuan pengunjung
membutuhkan transportasi dan akses. Sementara pariwisata adalah
pendorong utama di balik peningkatan permintaan untuk
transportasi penumpang, mobil dan pesawat terbang tetap menjadi
bentuk transportasi yang paling banyak digunakan untuk pariwisata.
Situasi ini menghasilkan tekanan yang semakin besar terhadap
lingkungan: emisi gas rumah kaca dan polusi udara, pembangunan
infrastruktur, peningkatan konsumsi tanah, penggunaan energi,
polusi suara, dan penurunan kualitas lanskap, untuk menyebutkan
beberapa efek negatif yang paling jelas. Oleh karena itu
pengembangan pariwisata berkelanjutan pada intinya memiliki
kebutuhan untuk perencanaan transportasi yang berwawasan
lingkungan, baik di tingkat lokal dalam destinasi pariwisata itu
sendiri maupun di tingkat regional, nasional, dan bahkan
internasional.
Untuk mencapai tujuan pergeseran keseimbangan antara
moda transportasi dari jalan dan pesawat terbang ke moda yang
lebih berkelanjutan, harus ada peningkatan yang signifikan dalam
kualitas layanan angkutan umum. Fase penting menuju penerapan
peningkatan kualitas di sektor transportasi penumpang umum
adalah menciptakan standar pada kualitas layanan, yang
menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan kesepakatan
Indikator Perencanaan Pengembangan
164 Pariwisata Berkelanjutan
kualitas dan mencakup delapan aspek mendasar dari kualitas
layanan untuk semua mode transportasi penumpang umum, yaitu
ketersediaan, aksesibilitas, informasi, waktu, layanan pelanggan,
kenyamanan, keamanan, dan dampak lingkungan.
Adanya standar ini menjadi alat penting untuk membantu
pihak berwenang dan operator dalam mendefinisikan kriteria
kualitas pelayanan serta dalam perumusan indikator kinerja utama.
Bagian ini telah dibagi menjadi dua sub bagian; kesepakatan
pertama dengan transportasi ke dan dari tujuan dan yang lainnya
berfokus pada dampak transportasi di pada destinasi, dengan
menggunakan serangkaian indikator yang sesuai. Sekitar 90%
energi yang digunakan dalam pariwisata dihabiskan untuk akses
dan perjalanan pulang. Di lain pihak, mobilitas dalam destinasi
memiliki radius aksi yang berbeda dan efek yang berbeda, yang
terakhir terutama regional dan lokal.
Transportasi udara dalam upaya menanggapi perubahan pola dan
akses
Sebagaian dari wisatawan internasional tiba melalui bandara
udara. Pada skala global atau nasional, industri transportasi udara
memiliki sejumlah karakteristik yang dapat berimplikasi pada
keberlanjutan. Selain itu, ada pertimbangan khusus terkait dampak
pada destinasi secara parsial, terkait dengan tingkat layanan dan
akses, tuntutan infrastruktur, dan dampak pada destinasi itu sendiri.
Industri penerbangan adalah konsumen utama bahan bakar
fosil, dan memiliki dampak lingkungan mulai dari polusi atmosfer
hingga kebisingan dan konversi lahan dari tujuan lain ke bandara. Di
beberapa destinasi pulau kecil, bandara yang menyediakan akses
adalah pengguna darat yang signifikan dan dapat menempati
persentase signifikan dari total area tujuan.
Transportasi dan perutean udara juga bisa sangat fluktuatif,
dan berubah dengan cepat dalam menghadapi keadaan yang
berubah di tempat asal atau tujuan. Jika destinasi memiliki
penerbangan langsung, destinasi tersebut dapat memiliki
keunggulan pemasaran yang jelas di atas destinasi yang memerlukan
transitipenerbangan.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 165
Di Ottawa Kanada, misalnya, penerbangan charter langsung ke
Kuba atau Cancun telah mengalihkan banyak lalu lintas dari
destinasi lain di Karibia di mana para wisatawan harus mengubah
pesawat untuk pergi ke sana. Kehilangan penerbangan terjadwal
langsung dari pasar utama dapat membuat pemasaran ke kota-kota
ini jauh lebih sulit.
Merancang Produk dan Layanan
Membuat sirkuit dan rute trip
Wisatawan sering mengikuti rute yang menghubungkan
berbagai tempat wisata dan layanan pariwisata, bepergian dengan
mobil, sebagai bagian dari kelompok dalam bus, di atas kapal atau
kereta api atau bahkan dengan berjalan kaki atau dengan sepeda
atau kano atau sarana lainnya. Rute mungkin linear membawa
mereka dari destinasi awal ke destinasi berikutnya, atau rute
melingkar yang menghubungkan beberapa tujuan.
Wisatawan dapat merencanakan rencana perjalanan mereka
sendiri yang unik atau mengikuti jalur bersejarah seperti Jalur Sutra
atau rute bermerek yang dipromosikan oleh destinasi yang
berpartisipasi. Sirkuit dan rute dapat dianggap sebagai yang teratas
dalam proses perencanaan pariwisata. Sirkuit menyatukan atraksi,
transportasi, akomodasi, makanan, kegiatan, dan lain-lain. Pilihan
untuk wisatawan masih beragam tetapi termasuk dalam wilayah
geografis yang sering kali bertema.
Misalnya, Rute Maya adalah merek pariwisata yang
menghubungkan lima negara di Amerika Tengah. Wisatawan dapat
mengikuti Rute Maya kuno, menjelajahi warisan Maya. Tema khas
lainnya termasuk makanan dan anggur, seni, budaya lokal, sejarah,
pertanian, dan rute wisata indah. Rute dan sirkuit mungkin sengaja
dicap dan dipromosikan untuk pariwisata, atau mungkin fitur alami,
rute buatan manusia, atau jalur bersejarah.
Untuk sirkuit perjalanan dan rute untuk berkontribusi pada
pariwisata berkelanjutan, fokus untuk indikator perlu pada
keseluruhan organisasi, pemasaran, kerjasama dan integrasi.
Elemen-elemen pariwisata individu (atraksi dan layanan)
Indikator Perencanaan Pengembangan
166 Pariwisata Berkelanjutan
dipromosikan bersama sebagai destinasi dan manfaat komunitas
dengan bekerja bersama.
Salah satu tantangan utama adalah mengumpulkan dan
mempertahankan dana untuk pengembangan dan pemasaran
produk. Penciptaan rute seringkali membutuhkan beberapa
pengembangan infrastruktur (misalnya perbaikan jalan, rambu, dan
pusat pengunjung) dan pengembangan paket produk baru
(menggabungkan berbagai atraksi dan tempat untuk tetap di
sepanjang rute).
Menciptakan dan memelihara pasar membutuhkan dana
operasional yang berkelanjutan untuk promosi dan dukungan
organisasi. Banyak komunitas beralih ke sektor publik atau lembaga
pembangunan untuk mendapatkan dukungan.
Menyediakan berbagai pengalaman
Masalah beberapa destinasi adalah menciptakan atau
mempertahankan berbagai pengalaman. Seringkali, variasi yang
lebih besar akan menyebabkan wisatawan tinggal lebih lama untuk
mengalami lebih banyak. Wisatawan yang memanfaatkan berbagai
pengalaman di suatu destinasi (berjalan, menunggang kuda, teater
lokal, memancing, wisata perahu, menonton margasatwa,
menyelam scuba, dan lain-lain). Dapat menemukan pengalaman
total yang lebih bermanfaat.
Destinasi dengan sedikit variasi mungkin menemukan bahwa
wisatawan kecewa, terutama jika hari hujan, badai atau suhu yang
tidak sesuai mencegah wisatawan menikmati pengalaman lain
(misal, berenang, bermain ski, melihat alam, berjemur dan lain-lain).
Destinasi kecil sering bekerja bersama untuk menyediakan berbagai
variasi. Seringkali otoritas nasional atau regional menerbitkan buku
untuk membantu wisatawan menemukan berbagai variasi dalam
berwisata seperti menunjukkan lokasi kerajinan, pemandangan
yang menarik, sejarah lokal, masakan daerah, potensi jalan-jalan,
dan objek wisata lainnya.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 167
Pemasaran untuk pariwisata berkelanjutan
Penciptaan dan pemeliharaan pasar untuk destinasi, wisata,
akomodasi dan atraksi yang berkontribusi terhadap keberlanjutan
merupakan perhatian bagi banyak perusahaan dan tujuan yang ingin
mengambil keuntungan dari minat yang dirasakan tumbuh di daerah
ini. Faktor lingkungan dan sosial merupakan elemen yang semakin
penting dari peningkatan kualitas pengalaman dan kepuasan
pengunjung.
Manajer mencari informasi mengenai sifat dan tingkat pasar,
sejauh mana ada ceruk pasar atau premium untuk produk dan
praktek yang berwawasan lingkungan dan bertanggung jawab secara
sosial, dan respons terhadap pemasaran yang dilakukan untuk
menggambarkan tujuan atau sebagai perusahaan "hijau", untuk
menunjukkan pencapaian lingkungan atau budaya, memperoleh
hasil dari sumber daya yang diinvestasikan dalam pemasaran dan
untuk menilai efektivitas setiap kegiatan pemasaran. Meskipun
mungkin mudah untuk mengukur tingkat upaya (menggunakan
catatan internal suatu perusahaan) hasil (membutuhkan pengukuran
faktor dan hasil di luar organisasi) mungkin lebih sulit untuk dinilai.
Salah satu solusinya adalah dengan meminta sampel yang
representatif dari orang-orang dengan siapa kontak pemasaran
didirikan sekitar 4 sampai 6 bulan kemudian untuk menanyakan
apakah mereka datang ke destinasi dan jika demikian, apa pengaruh
pemasaran terhadap keputusan. Hal yang sama seperti kegiatan
lainnya, internet dan informasi penggunaan situs web merupakan
pendekatan untuk promosi.
Munculnya beberapa pertanyaan dasar dan permintaan untuk
memberikan alamat email untuk mengirim kuesioner setelah
beberapa bulan sama validnya seperti menggunakankontak langsung
atau kontak surat. Permasalahan utama adalah bahwa seseorang
tidak dapat menjamin sampel yang representatif dan ini membatasi
bagaimana informasi dapat digunakan.
Apa arti jawaban sebenarnya? Pertanyaan tentang apa
pengaruh pemasaran terhadap keputusan wisatawan sulit untuk
dianalisis; beberapa wisatawan mungkin tidak selalu objektif dan
mungkin hanya memberikan jawaban yang mereka harapkan
Indikator Perencanaan Pengembangan
168 Pariwisata Berkelanjutan
diinginkan. Seringkali nilai tambah dari kegiatan pemasaran dianggap
nyata ketika responden mengatakan bahwa kontak yang mereka
miliki dengan materi pemasaran atau kantor “sepenuhnya” atau
“sangat luas” menjadi alasan kunjungan mereka.
Pemasaran adalah elemen kunci dalam keberhasilan destinasi dan dapat
mendukung keberlanjutan destinasi. Perhitungan Return on Investment
(ROI) dibuat untuk menilai efisiensi investasi promosi yang dilakukan.
Pengembalian dapat diperkirakan dalam istilah moneter (ukuran paling
umum), jumlah pengunjung, atau dalam beberapa jenis output yang
diukur (misalnya peningkatan lapangan kerja di bidang pariwisata;
peningkatan jumlah pengunjung di luar musim) tergantung pada tujuan
dari investasi promosi. Tetapi pengukuran tidak sederhana, dan
hubungan sebab akibat sulit untuk didokumentasikan.
Pengumpulan data adalah sebuah tantangan. Untuk memantau operasi
internal agen pemasaran, catatannya sendiri akan menjadi sumber
utama. Sebagian besar data lain akan memerlukan pengumpulan
langsung, baik dari industri pariwisata dan dari individu seperti
wisatawan saat ini atau yang potensial. Masalah utama adalah bahwa
ada jeda waktu antara kegiatan pemasaran dan kunjungan yang
sebenarnya, serta fakta bahwa wisatawan terkena banyak rangsangan
lainnya.
Satu-satunya cara untuk mengukur dampak pemasaran adalah melalui
survei. Survei pengunjung tidak selalu berhasil; karena praktek telah
menunjukkan bahwa sangat sulit bagi wisatawan untuk memberikan
jawaban tentang pengaruh pemasaran terhadap pengambilan keputusan
mereka. “Saya hanya ingin datang” dan “Informasi oleh teman atau
kerabat” paling banyak disebutkan. Bahkan ketika pemasaran akan
menjadi pengaruh, atau bahkan sumber utama pengambilan keputusan,
pengaruhnya seringkali tidak mudah diingat dan, setidaknya di dunia
barat, wisatawan mungkin enggan mengakui bahwa mereka
dipengaruhi.
Pertanyaan "apakah Anda akan datang jika tidak ada kontak
yang dibuat" mungkin lebih produktif dalam memunculkan jawaban
mengenai kesuksesan pemasaran, tetapi ini juga perlu
dipertanyakan. Beberapa balasan negatif dan bagian dari
permintaan yang “dihasilkan dari tidak ada kontak” kemungkinan
dipengaruhi oleh kegiatan pemasaran tetapi tidak diperhatikan atau
diingat oleh responden.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 169
Ini hampir mustahil untuk dibuktikan atau disangkal. Data
objektif tentang perilaku aktual dapat bermanfaat. Permintaan
tambahan, dan fase-fase terkait seperti jumlah per kelompok
wisatawan, lama tinggal dan jumlah yang dihabiskan per hari dapat
digunakan untuk memperkirakan hasil ekonomi dan terkait dengan
biaya aktual yang dikeluarkan untuk pemasaran (kadang-kadang
oleh sektor pasar tertentu) Ini dapat menghasilkan informasi
tentang Pengembalian Investasi (ROI) dalam pemasaran pariwisata.
Mengukur biaya pemasaran, akan berguna untuk membuat sistem
di mana semua biaya yang dapat dikenali dimasukkan, betapapun
sulitnya.
Meskipun peringatan yang dibahas di atas, perubahan dalam
indikator kunci dapat menunjukkan faktor-faktor penting yang
akan membantu mengarahkan upaya pemasaran, dan beberapa
pengukuran kinerja dapat dilakukan. Dalam emantau kegiatan
pemasaran, khususnya dengan mengukur efektivitasnya, sangat
penting bagi pemasar destinasi. Ini adalah cara utama untuk
membuktikan bahwa ada hasil dari kegiatan-kegiatan ini dan bahwa
mereka dapat mengambil manfaat dari destinasi tersebut.
Perlindungan citra destinasi
Keputusan untuk mengunjungi suatu destinasi sering kali
didasarkan pada citra yang dimiliki calon pengunjung dari tempat
itu. Citra yang dipegang oleh para wisatawan mungkin didasarkan
pada pengalaman mereka sendiri, apa yang telah mereka baca,
pendapat orang lain, atau pada gambar atau merek yang
ditampilkan atau digambarkan dalam materi pemasaran destinasi.
Mempertahankan pariwisata di suatu destinasi melibatkan
memastikan bahwa citra yang sesuai dari tempat itu ditetapkan,
disempurnakan karena pasar, keadaan berubah, dan dilindungi.
Citra suatu destinasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, di
destinasi itu sendiri dan oleh asosiasi. Peristiwa di sektor lain atau
destinasi lain dapat mengubah citra destinasi di benak calon
wisatawan, seperti perselisihan masyarakat sipil, laporan degradasi
lingkungan, dan penyakit dapat mempengaruhi citra seluruh
wilayah, terlepas dari apakah destinasi tersebut terpengaruh secara
Indikator Perencanaan Pengembangan
170 Pariwisata Berkelanjutan
khusus. Pemulihan dari kerusakan pada citra positif dapat
memakan waktu sangat lama, bahkan jika destinaya cepat untuk
merespons masalah aktual atau yang dirasakan.
Didorong oleh meningkatnya persaingan global untuk pasar
traveling, manajer pariwisata menjadi lebih canggih dan
ditargetkan dalam pendekatan mereka untuk memasarkan
destinasi pariwisata mereka. Di banyak destinasi yang lebih
kompetitif, komponen penting kegiatan pemasaran strategis
berpusat pada pengembangan dan penyampaian citra dan merek
yang khas. Hal ini dimaksudkan untuk tidak hanya menangkap
nilai-nilai dan atribut pusat tempat itu, tetapi juga untuk
menciptakan afinitas dan posisi yang jelas dalam benak pasar
perjalanan pilihan.
Maksud dari kegiatan branding ini adalah untuk membangun
loyalitas konsumen yang kuat untuk destinasi berdasarkan nilai-
nilai dan atribut yang dicitrakan oleh merek. Mengukur
keberhasilan prakarsa branding semacam itu tetap menjadi
tantangan bagi banyak manajer destinasi wisata. Indikator yang
sesuai kemudian dapat bertindak sebagai tanda peringatan dini
mengenai bagaimana citra destinasi dipersepsikan, dan juga dapat
membantu dalam menangani pembentukan dan pemeliharaan
merek khusus untuk destinasi tersebut.
Merek destinasi adalah “nama, simbol, logo, merek dagang,
atau gambar lain yang mengidentifikasi dan membedakan destinasi;
lebih jauh, hal ini menyampaikan janji pengalaman traveling yang
tidak terlupakan yang secara unik terkait dengan destinasi [17].
Indikator yang berkaitan dengan perlindungan citra destinasi dapat
membantu untuk memahami citra (jika ada) yang dimiliki
wisatawan dari suatu destinasi, dan dapat mengukur perubahan
pada citra tersebut yang dapat mempengaruhi kunjungan.
Efektivitas tindakan untuk membangun dan mempertahankan
merek dapat diukur. Empat area dapat dimonitor: pengembangan
merek; perbaikan merek; efektivitas merek dan perlindungan
merek. Tentu saja, sebuah merek hanya dapat didirikan dan
dipromosikan jika ada produk wisata yang sesuai dan berkualitas
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 171
mendukungnya. Banyak indikator dapat digunakan juga secara
lebih luas pada kegiatan pemasaran.
Sistem Kendali Keberlanjutan Operasi dan Layanan Pariwisata
Dengan munculnya sejumlah standar sertifikasi manajemen
formal, yang paling terkenal terkait dengan ISO 9000 untuk
manajemen, 14000 untuk lingkungan dan seri ISO 18000 baru untuk
kesehatan dan keselamatan kerja, ada dukungan global yang kuat
untuk sistem manajemen yang lebih baik, menciptakan hasil yang
lebih baik untuk perusahaan dan lingkungan yang mereka
pengaruhi.
Sistem ini juga membantu meningkatkan tingkat kendali yang
dimiliki manajer atas operasi dan dampaknya. Program terkait
untuk pengurangan risiko pada, misalnya, rantai makanan (analisis
bahaya dan poin kontrol kritis), serta sertifikasi pihak ketiga formal
untuk perusahaan dan tujuan pariwisata juga bertujuan untuk
meningkatkan aspek keberlanjutan dari operasi pariwisata.
Perusahaan pariwisata (baik perusahaan internasional yang
lebih besar dan perusahaan lokal yang lebih kecil) semakin
menyadari dampak sosial yang dapat dibawa oleh pariwisata ke
komunitas destinasi mana pun; oleh karena itu kebijakan
perusahaan semakin mencerminkan tanggung jawab sosial
terhadap karyawan dan masyarakat tuan rumah. Sertifikasi juga
dapat membawa pengakuan dari pasar dengan menunjukkan
tanggung jawab.
Masalah Dasar dan Indikator Dasar untuk Berkelanjutan
Pariwisata
Diperlukan daftar masalah dalam upaya menerapkan
corrective action dalam memastikan keberlanjutan destinasi.
Sementara daftar ini dikedepankan sebagai daftar pendek dari
indikator yang diambil dari masalah dan indikator yang dibahas di
atas, pengguna disarankan untuk tidak berhenti pada daftar ini,
tetapi untuk mengikuti prosedur yang diuraikan dalam bagian
Prosedur Pengembangan Indikator (bagian 4) untuk membuat
Indikator Perencanaan Pengembangan
172 Pariwisata Berkelanjutan
daftar kustom yang cenderung mencakup semua masalah penting
bagi pemangku kepentingan di destinasi.
Beberapa akan berpendapat bahwa masalah dan indikator lain
juga harus masuk dalam daftar pendek seperti masalah seperti
kesehatan, keamanan, perlindungan lingkungan, pekerjaan dengan
indikator yang sesuai. Akibatnya, pengguna didorong untuk
mempertimbangkan pentingnya semua masalah dalam daftar, serta
yang mungkin unik untuk destinasi mereka sebelum menentukan
daftar akhir dalam upaya implementasi praktik berkelanjutan di
destinasi
Tabel 4. Daftar masalah dan indikator dasar di destinasi
Masalah Dasar Indikator Dasar
Kepuasan destinasi Tingkat kepuasan lokal dengan pariwisata
terhadap pariwisata (Kuisioner)
Efek pariwisata terhadap Rasio wisatawan terhadap penduduk
masyarakat lokal (rata-rata dan periode
puncak/hari)
Presentase (%) yang percaya bahwa
pariwisata telah membantu
menghadirkan layanan atau
infrastruktur baru (berbasis
kuesioner)
Jumlah dan kapasitas layanan sosial
yang tersedia bagi masyarakat (%
yang disebabkan oleh pariwisata)
Kepuasan wisatawan Tingkat kepuasan pengunjung
(berdasarkan kuesioner)
Persepsi nilai uang (berbasis
kuesioner)
Persentase (%) pengunjung berulang
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 173
Masalah Dasar Indikator Dasar
Musim Wisata Kedatangan wisatawan berdasarkan
bulan atau kuartal (distribusi
sepanjang tahun)
Tingkat hunian untuk akomodasi
berlisensi (resmi) berdasarkan bulan
(periode puncak relatif ke musim
rendah) dan presentase (%) dari
semua hunian di kuartal puncak atau
bulan)
Presentase (%) perusahaan buka
sepanjang tahun
Jumlah dan presentase (%) pekerjaan
industri pariwisata yang permanen
atau setahun penuh (dibandingkan
dengan pekerjaan sementara)
Manfaat ekonomi Jumlah penduduk lokal (dan rasio laki-
laki terhadap perempuan) yang
dipekerjakan dalam pariwisata (juga
rasio pekerjaan pariwisata terhadap
total pekerjaan)
Pendapatan dihasilkan oleh pariwisata
sebagai persentase dari total
pendapatan yang dihasilkan dalam
masyarakat
Manajemen energi Konsumsi energi per kapita dari
semua sumber (keseluruhan, dan
menurut sektor pariwisata - per hari
per orang)
Persentase bisnis yang berpartisipasi
dalam program konservasi energi,
atau menerapkan kebijakan dan teknik
hemat energi
Persentase dari konsumsi energi dari
sumber daya terbarukan (di tujuan,
perusahaan)
Indikator Perencanaan Pengembangan
174 Pariwisata Berkelanjutan
Masalah Dasar Indikator Dasar
Ketersediaan dan Penggunaan air (total volume yang
konservasi air dikonsumsi dan liter per wisatawan
per hari)
Saving (hemat) air (% dikurangi,
ditangkap kembali atau didaur ulang)
Minum air berkualitas Persentase (%) perusahaan pariwisata
dengan air yang diolah dengan
standar internasional yang dapat
diminum
Frekuensi penyakit yang terbawa air:
jumlah/persentase (%) pengunjung
yang melaporkan penyakit yang
terbawa air selama mereka tinggal
Pengolahan limbah Persentase (%) air limbah dari lokasi
yang menerima pengolahan (ke
tingkat primer, sekunder, tersier)
Persentase (%) perusahaan pariwisata
(atau akomodasi) pada sistem
perawatan
Pengelolaan limbah padat Volume limbah yang dihasilkan oleh
(sampah) destinasian (ton) (berdasarkan bulan)
Volume limbah yang didaur ulang
(m3)/Total volume limbah (m3)
(tentukan berdasarkan jenis yang
berbeda)
Jumlah sampah yang berserakan di
tempat umum (jumlah sampah)
Kontrol pengembangan Keberadaan penggunaan lahan atau
proses perencanaan pembangunan,
termasuk pariwisata.
Persentase (%) area yang dapat
dikendalikan (kepadatan, desain, dan
lain-lain)
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 175
Masalah Dasar Indikator Dasar
Mengontrol intensitas Jumlah kedatangan wisatawan (rata-
penggunaan rata, bulanan, periode puncak)
Jumlah wisatawan per meter persegi
situs (misal, di pantai, objek wisata),
per kilometer persegi destintasi rata-
rata jumlah/ rata-rata periode
puncak
Indikator Perencanaan Pengembangan
176 Pariwisata Berkelanjutan
[1] Kemenparekraf, Buku Pedoman Kelompok Sadar Wisata.
Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Jakarta,
Indonesia: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
Republik Indonesia, 2012.
[2] M. Mulyadi, “Pemberdayaan masyarakat adat dalam
pembangunan kehutanan,” J. Penelit. Sos. dan Ekon. Kehutan.,
vol. 10, no. 4, hal. 224–234, 2013.
[3] R. Sharpley, Travel and tourism. 2006.
[4] J. I. Dewi, “Implementasi dan Implikasi kelembagaan
pemasaran pariwisata yang bertanggungjawab (responsible
tourism marketing),” Yogyakarta Pinus B. Publ., 2011.
[5] ILO, Rencana Strategis Pariwisata Berkelanjutan dan Green
Jobs untuk Indonesia. International Labour Organization (ILO),
Country Office Jakarta, 2012.
[6] UNWTO, “Sustainable Tourism Perspective on International
for Development Guidebook,” 2013.
[7] Ian M. Martin Mowforth, Tourism Sustainability: New Tourism
in the Third World. London: Routledge, 2003.
[8] WWF, Prinsip dan Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat.
Jakarta, Indonesia: Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata
Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia,
2009.
[9] P. Kotler dan G. Armstrong, Principles of marketing. Pearson
education, 2010.
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 177
[10] E. Turban, L. Volonino, J. C. Sipior, dan G. R. Wood,
Information Technology for Management: Improving Strategic
and Operational Performance. John Wiley New York, 2011.
[11] UNEP dan WTO, Making Tourism More Sustainable: A Guide
for Policy Makers. Paris & Maldrid: Nations Environment
Programme (UNEP) and World Tourism Organization (WTO),
2005.
[12] M. A. Hitt, R. D. Ireland, dan R. E. Hoskisson, Strategic
Management: Competitiveness and Globalization (Concepts and
Cases). Ohio: Thomson Higher Education, 2007.
[13] WTO, Indicators of Sustainable Development for Tourism
Destinations. World Tourism Organization (WTO), 2004.
[14] P. D. Sugiyono, “Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D.” Penerbit CV.
Alfabeta: Bandung, 2017.
[15] E. TitlePerez-Ducy de Cuello, “Financial leakages from
tourism, Evaluation and Policy Issues for LDCs,” in UNLDC ed.
Tourism in the Least Developed Countries, 2001.
[16] J. Gollub, A. Hosier, dan G. Woo, “Leakages and linkages in
tourism sector: using cluster-based strategy to minimize
tourism leakage,” UNWTO Stud. Relat. to Trade Negot. Tour.
Serv. Leakages linkages. Compet. Probl. Sustain. Stand., 2003.
[17] J. R. B. Ritchie dan G. I. Crouch, The competitive destination: A
sustainable tourism perspective. Cabi, 2003.
Indikator Perencanaan Pengembangan
178 Pariwisata Berkelanjutan
Yohanes Sulistyadi, lahir di Bantul Daerah
Istimewa Yogyakarta, pada tanggal 11 Juni
1961, Pada tahun 1994 mengikuti pendidikan
singkat Tourism Management di University
Waterloo Canada, atas sponsor dari
BAPENAS dan CIDA, tahun 1998 mendapatkan
International Lead Auditor Certified ISO 9001 :
2000 dari SGS United Kingdom, Tahun 2000
mengikuti pelatihan End Child Prostitution,
Abusive and Trafficking on Tourism (ECPAT) di Bangkok Thailand,
Tahun 2001 Pelatihan Costal & Tourism Management dengan
penyelenggara ITB dan BPPT. Tahun 2013 menyelesaikan Doktor
Program MSDM di Universitas Negeri Jakarta. Pengalaman tugas
bidang pariwisata, pada tahun 1993 s/d 2001 Sebagai Direktur
Akademi Pariwisata Indonesia Jakarta. Pada tahun 2002 s/d 2010
sebagai Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Jakarta. Pada tahun
2010 diangkat sebagai Deputy Direktur Eksekutif Bidang
Pengembangan Yayasan Sahid Jaya Jakarta. Disamping
menjalankan tugas sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid
Jakarta dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sahid Jakarta, ada
beberapa kegiatan dan tugas yang bersifat nasional yakni, Assessor
Badan Akreditasi National Perguruan Tinggi (BAN PT) sejak tahun
2003 hingga sekarang. Pengurus Himpunan Hotel dan Restoran
Indonesia (PHRI) Bidang SDM, sebagai Instruktur Penataran para
dosen Pariwisata Departemen Pendidikan Nasional tahun 1998 s/d
2002, Sekertaris Jendral (Sekjend) Himpunan Lembaga Pendidikan
Indikator Perencanaan Pengembangan
Pariwisata Berkelanjutan 179
Tinggi Pariwisata Indonesia (HILDIKTIPARI) tahun 1999 s/d 2001,
Anggota team penyusun Standarisasi Sektor Pariwisata
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia
bidang Perhotelan, Bar, Kelab Malam dan Karaoke. Tahun 2009
hingga sekarang. Sebagai Government Board Advisor PT SGS
International Certification Body sejak tahun 2009 s/d sekarang.
Tahun 2016 s/d sekarang sebagai Assesor Komite Akreditasi
Nasional (KAN) Bidang Pariwisata.
Fauziah Eddyono. Tahun 1998
menyelesaikan pendidikan sarjana dari
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara Jurusan Manajemen. Setelah
menyelesaikan program Magister
Management dari Universitas Mercubuana
pada tahun 2014 Fauziah mendedikasikan
dirinya ssebagai akademisi di Politeknik
Sahid. Selama empat tahun terakhir, Fauziah aktif melakukan
penelitian terkait pariwisata berkelanjutan antara lain
Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Kawasan Wisata
Kepulauan Seribu dan Pengembangan Model Tata Kelola Pariwisata
Berkelanjutan di Pantai Carita.
Derinta Entas, lahir di Jakarta pada 2
Desember 1971. Saat ini terdaftar sebagai
dosen di Program Studi Pariwisata di
Politeknik Sahid Jakarta, Indonesia. Aktif
dalam bidang penelitian pariwisata khususnya
berfokus pada pengembangan pariwisata
daerah, pariwisata perkotaan, dan wisata
budaya & sejarah. Gelar doktor diperoleh dari
Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Udayana,
Denpasar Bali. Korespondensi dapat dilakukan melalui email ke
derintaentas@[Link] atau [Link]@[Link].
Indikator Perencanaan Pengembangan
180 Pariwisata Berkelanjutan
View publication stats