Laporan Tugas Akhir Penganggaran Perusahaan
Usaha Cireng Rujak Buban
Penganggaran Perusahaan
Dosen :
Dra. Rr Dyah Astarini, M.B.A
Disusun oleh Kelompok :
Anggita Fajrianty (022002006003)
Arief Prasetyo (022002006024)
Oktafian Dwi N (0220002006029)
Stella Pricillya T (022002006033)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TRISAKTI
TAHUN 2022
Latar Belakang Perusahaan
Cireng Buban ini dibuat dengan latar belakang seseorang yang suka memasak, yang
awalnya hanya iseng membuat cireng rujak dan menawari tetangga terdekatnya, lalu
mendapat respon yang sangat baik hingga akhirnya memutuskan untuk membuka usaha
rujak cireng yang memiliki merek " Rujak Cireng Buban" yang sekarang telah didistribusikan
ke Kota Cirebon dan Kota Majalengka setiap harinya.
1. Anggaran Penjualan
Dalam anggaran penjualan perusahaan Cireng Rujak Buban mendistribusikan
produknya ke dua daerah yaitu Majalengka dan Kuningan yaitu masing-masing 80% di
distribusikan ke Majalengka dan Kuningan 20%. Selain itu terdapat pencatatan penjualan
5 tahun sebelumnya sebagai berikut:
Tabel 1
Penjualan 5 tahun terakhir
Usaha Cireng Rujak Buban
Selanjutnya, untuk menghitung anggaran penjualan sebelumnya sudah diketahui penjualan 5
tahun sebelumnya, setelah itu dihitung dengan metode Least Square untuk tahun 2024,
berikut adalah perhitunganya:
Tabel 2
Least Square
Dalam tabel tersebut diperoleh Ramalan penjualan Cireng Rujak Buban sebesar 2.158
pack untuk tahun 2024.
Tabel 3
Anggaran Penjualan
Dalam Tabel anggaran penjualan didapatkan hasil penjualan di Majalengka sebesar
1.726 pack didapatkan dari (2.158 x 80%) dan diperoleh nilai penjualan sebesar Rp
43.150.000, sedangkan untuk Kuningan sebesar 431,5 pack, didapatkan dari (2.158 x
20%), dan diperoleh nilai penjualan sebesar Rp 9.924.500. lalu diketahui Harga jual
Kuningan sebesar Rp 23.000 sedangkan di Majalengka sebesar Rp 25.000.
2. Anggaran Produksi
Setelah kita mengetahui dan telah menghitung anggaran penjualan, langkah
selanjutnya adalah anggaran Produksi yaitu rencana perusahaan guna menghasilkan
produk usaha dalam jumlah yang sesuai dengan keperluan penjualan dengan cara
mempertimbangkan jumlah persediaan awal dan juga akhir pada periode tertentu.
Usaha Cireng Rujak Buban mempunyai persediaan awal sebesar 75 unit, sedangkan
persediaan akhirnya adalah 30 unit. Berikut adalah Rencana produksi usaha Cireng
Rujak Buban dengan menggunakan kebijakan persediaan akhir stabil.
Tabel 4
Rencana Produksi
Setelah menghitung Rencana produksi dengan kebijakan persediaan awal stabil
didapatkan rencana produksinya adalah 2.113 pack. Langkah selanjutnya adalah menghitung
anggaran Biaya Mentah Langsung.
1. Anggaran Biaya Bahan Mentah Langsung ( BML )
Anggaran BML adalah Anggaran yang berhubungan secara langsung dan
merencanakan secara sistematis serta lebih terperinci tentang penggunaan bahan baku untuk
proses produksi selama periode tertentu yang akan datang. Dalam memproduksi 1 pack
Cireng Rujak Buban membutuhkan 2 bahan baku produksi yaitu adonan cireng dan bumbu
rujak. 100 pack setara dengan 25 kg adonan cireng, 1 kg bumbu rujak setara dengan 20 pack
bumbu rujak.
Berikut adalah perhitungan Anggaran biaya bahan mentah langsung:
Tabel 5
Anggaran BML
Pada tabel anggaran biaya BML usaha Cireng Rujak Buban pada tahun 2024 untuk
memproduksi 2.113 pack, membutuhkan 528 pack adonan cireng dengan harga Rp
7.000/0,25 kg, selanjutnya untuk bumbu rujak membutuhkan 106 pack bumbu rujak dengan
harga Rp 5.000/0,05 kg. dan diketahui total Biaya BML Rp. [Link] dengan biaya
BML Rp. 12.000
Selanjutnya, setelah menghitung Biaya BML secara keseluruhan bahan baku yang
dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah menghitung per bagian bahan baku, berikut adalah
perhitunganya:
Tabel 6
Anggaran BML ( Adonan Cireng )
Pada tahun 2024 usaha Cireng Rujak Buban membutuhkan adonan cireng sebesar 528
pack, dengan Nilai Pembelian Rp. 3.696.875
Tabel 7
Anggaran BML ( Bumbu Rujak )
Pada tahun 2024 usaha Cireng Rujak Buban membutuhkan bumbu rujak sebesar 106
pack, dengan Nilai Pembelian Rp. 528.125.000
4. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung (TKL)
Tahap selanjutnya adalah menghitung Biaya TKL yaitu Anggaran yang merencanakan
secara lebih terperinci tentang upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja
langsung selama periode yang akan datang. Diketahui terdapat beberapa bagian yang
sudah dibagi menjadi bagian Pembuatan (1) dan Packaging (2). Berikut adalah
rinciannya:
Dalam tabel tersebut diketahui besarnya Biaya Tenaga Kerja Langsung yang harus
dikeluarkan oleh usaha Cireng Rujak Buban pada tahun 2024 adalah sebesar Rp 3.696.875.
5. Anggaran Biaya Produksi (BOP)
Langkah selanjutnya adalah perhitungan Anggaran Biaya Produksi atau BOP yaitu
suatu perencanaan yang terperinci mengenai biaya –biaya tidak langsung yang
dikeluarkan sehubungan dengan proses produksi selama periode yang akan dating
,meliputi jenis biaya, waktu,serta tempat (departemen) dimana biaya itu terjadi.
Diketahui Biaya BOP per unit adalah Rp. 250. Berikut adalah perhitungan anggaran
Biaya Produksi:
Tabel 9
Anggaran Biaya Produksi
Dari data tabel anggaran biaya produksi, didapatkan biaya produksi per unit nya untuk
tiap bulan sebesar Rp 13.250 yang sudah termasuk Biaya BML, TKL, dan BOP
didalamnya.
6. Anggaran Penilaian Persediaan Barang Jadi
Setelah menghitung Anggaran biaya produksi langkah selanjutnya adalah menghitung
anggaran penilaian persediaan barang jadi yaitu barang-barang yang telah selesai
diproses dan menunggu untuk dijual kepada langganan atau perusahaan lain. Barang jadi
dimasukkan dalam persediaan karena permintaan konsumen untuk jangka waktu tertentu
mungkin tidak diketahui. Dalam usaha Cireng Rujak Buban diketahui adalah perusahaan
makanan ringan oleh karena itulah perhitungan yang akan digunakan nanti dengan
menggunakan metode FIFO (First In First Out). Berikut adalah perhitunganya:
Tabel 10
Anggaran Penilaian Persediaan Barang Jadi
Berdasarkan Metode FIFO dengan kebijakan produksi stabil , sisa barang yang tersedia
pada usaha Cireng Rujak Buban tahun 2024 sebesar 30 unit Barang baru.
7. Anggaran HPP dan Proyeksi Laba Rugi
Anggran HPP adalah biaya-biaya yang timbul dari barang yang telah kita diproduksi
dan akan dijual dalam kegiatan bisnis, baik itu biaya produksinya, biaya tenaga kerja,
ataupun BOP. Sedangkan anggaran Laba rugi adalah rencana laba atau rugi yang akan
diperoleh dari anggaran penjualan, produksi, beban operasional, biaya produksi yang
akan ditanggung perusahaan atau entitas pada satu periode anggaran. Berikut adalah
perhitunganya:
Tabel 11
Anggaran HPP
Diketahui untuk Biaya Produksi (harga baru) adalah Rp 13.250 sedangkan untuk
Biaya Produksi (harga lama) Rp 11.000. Selanjutnya, untuk perhitungan proyeksi
Laba/Rugi sebagai berikut:
Tabel 12
Anggaran Proyeksi Laba/Rugi
Pada tabel Anggaran Proyeksi Laba/Rugi difokuskan pada hasil EAT nya perbulan.
Dan berikut adalah dasar untuk menghitung Anggaran Proyeksi Laba/Rugi.
Berdasarkan data dari Anggaran Proyek Laba/Rugi didapatkan EAT pada bulan
Januari sebesar Rp 1.492.531; Februari sebesar Rp 828.710; Maret sebesar Rp 1.323.763;
April sebesar Rp 589.134; Mei sebesar Rp 2.058.391; Juni sebesar Rp 1.813.515; Juli
sebesar Rp 589.134; Agustus sebesar Rp 834.010; September sebesar Rp 344.258;
Oktober sebesar Rp 589.134; November sebesar Rp 99.381; dan Desember sebesar Rp
1.186.384.
LAMPIRAN