0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan67 halaman

Dampak Infrastruktur Jalan Desa Lampihong

Proposal penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan pemerintah tentang pengawasan dan pengendalian kendaraan muatan lebih di Desa Lampihong Kanan, Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan. Ruas jalan desa mengalami kerusakan berat akibat lalu lalang kendaraan bermuatan lebih, namun belum ada tindakan dari pemerintah daerah untuk memperbaiki jalan atau memberikan sanksi kepada pelanggar.

Diunggah oleh

Putra Hadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan67 halaman

Dampak Infrastruktur Jalan Desa Lampihong

Proposal penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan pemerintah tentang pengawasan dan pengendalian kendaraan muatan lebih di Desa Lampihong Kanan, Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan. Ruas jalan desa mengalami kerusakan berat akibat lalu lalang kendaraan bermuatan lebih, namun belum ada tindakan dari pemerintah daerah untuk memperbaiki jalan atau memberikan sanksi kepada pelanggar.

Diunggah oleh

Putra Hadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang Pengawasan dan Pengendalian

Kendaraan Muatan Lebih di Desa Lampihong Kanan Kecamatan

Lampihong Kabupaten Balangan

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Metode Penelitian

Kualitatif

Disusun Oleh
Kelompok 1
Abd. Hadi Saputra (202207375)
Anjani (202207380)
Azizatul Ulya (202207382)
Elfinah (202207384)
Fitria Mutmainah (202207386)
Hami Azizah (202207388)

HALAMAN JUDUL

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI

2022
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan dampak dari

kebijakan Pemerintah tentang Pengawasan dan Pengendalian Kendaraan Muatan

Lebih di Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.

Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih difokuskan pada jalan di Desa

Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan. Akan tetapi

belum ada tindak lanjut yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk mengatasi

fenomena yang diteliti, tidak adanya sanksi bagi para pelanggar membuat hal

tersebut terus berjalan. Kualitas prasarana transportasi dalam suatu wilayah

ditentukan oleh tingkat pelayanan jalan yang dilewati oleh setiap kendaraan, baik

itu kendaraan dengan muatan normal maupun kendaraan dengan muatan berlebih

(overloading) dari kelas jalan yang sudah ditetapkan. Ruas jalan desa Lampihong

kanan merupakan salah satu akses masyarakat desa untuk berlalu lalang menuju

Balangan–Amuntai, dimana ruas jalan ini banyak dilalui oleh kendaraan berat

dengan muatan normal maupun muatan berlebih yang melanggar batas ketentuan

untuk jumlah berat yang diizinkan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya

kerusakan pada badan jalan di desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong

Kabupaten Balangan. Dampak lain yang disebabkan oleh kendaraan bermuatan

berlebih (overloading) adalah berkurangnya tingkat keselamatan berkendara dan

kemacetan jalan. Pengumpulan data dalam penelitian ini ada dua yaitu

pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer didapat melalui

observasi ke lapangan, wawancara serta dokumentasi ke tempat penelitian.

ii
Adapun data sekunder di dapat melalui jurnal-jurnal penelitian. Dari hasil

peninjauan kerusakan semakin hari semakin parah karena lalu lalang kendaraan

bermuatan lebih tersebut, sehingga jalan semakin sulit untuk dilalui oleh para

masyarakat. Adapun hingga saat ini belum ada upaya lebih lanjut yang dilakukan

oleh pemerintah untuk memperbaiki jalan tersebut.

Kata kunci : Kebijakan Pemerintah, Muatan Lebih, Pengawasan, Pengendalian

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan

rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan proposal penelitian

tentang “Pengawasan dan Pengendalian Kendaraan Muatan Lebih di Desa

Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan”.

Dalam proses penyusunan proposal penelitian ini, banyak sekali sumbangan

pemikiran dan pemberian data yang penulis dapatkan dari berbagai pihak.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa proposal ini jauh dari

sempurna, namun penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang

berkepentingan. Kritik dan saran serta tanggapan yang bersifat membangun akan

kami terima demi kesempurnaan proposal kami ini.

Balangan, 10 November 2022

Kelompok 1

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

ABSTRAK ............................................................................................................. ii

KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv

DAFTAR ISI .......................................................................................................... v

DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

B. Fokus Penelitian ............................................................................ 5

C. Rumusan Masalah ......................................................................... 5

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 6

BAB II : LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu ..................................................................... 8

B. Tinjauan Teoritis ........................................................................... 9

1. Analisis .................................................................................. 9

2. Kebijakan Pemerintah ............................................................ 9

3. Pengawasan .......................................................................... 19

4. Faktor-Faktor Kerusakan Jalan ............................................ 26

5. Muatan Berlebih ................................................................... 37

6. Faktor Pendorong Pelanggaran Batas Muatan ..................... 38

C. Kerangka Pemikiran .................................................................... 45

v
BAB III : METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian ......................................................................... 46

B. Pendekatan Penelitian ................................................................. 46

C. Tipe Penelitian ............................................................................ 47

D. Data dan Sumber Data ................................................................ 48

E. Desain Operasional penelitian .................................................... 49

F. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 51

G. Teknik Analisis Data ................................................................... 51

H. Uji Kredibilitas Data ................................................................... 53

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 57

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Karakteristik Kondisi Jalan ................................................................... 26

Tabel 3.1 Desain Operasional Penelitian .............................................................. 50

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kondisi Jalan di Desa Lampihong Kanan ......................................... 29

Gambar 2.2 Kendaraan Muatan Berlebih yang Menggunakan Jalan di Desa

Lampihong Kanan............................................................................ 40

viii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyelenggaraan pemerintah daerah pada Negara Kesatuan Republik

Indonesia telah mengalami banyak perubahan dari pola sentraliasasi ke

desentralisasi sehingga menunjukan perubahan yang signifikan dalam

pembangunan daerah.

Dengan adanya perubahan pola tersebut, pemerintah daerah selayaknya

lebih dapat menjalankan fungsi pokok pemerintah yaitu fungsi pengaturan,

pelayanan, pemberdayaan dan fungsi pembangunan secara cepat dan tepat

pada daerahnya. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah

menampung seluruh aspirasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan

pemerintah ataupun non pemerintah. Hal tersebut terwujud dalam Undang-

undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan

dasar dari pelaksanaan Otonomi Daerah, dengan harapan terciptanya

masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

sebagai pengganti UU No. 32 Tahun 2004 tentang Penyelenggaran Otonomi

Daerah dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007

Tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan

Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dapat menyebabkan terjadinya

kewenangan pada Pengelolaan Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan

1
2

Bermotor (UPPKB) yang selama ini menjadi Kewenangan Pemerintah Pusat

dan dilipahkan sepenuhnya kepada Pemerintahan Provinsi.

Pelaksanaan otonomi daerah dengan koridor Negara Kesatuan Republik

Indonesia sangat relevan dan tepat dipedomani serta diterapkan dalam

pengelolaan sumbar daya yang ada, kewenangan yang telah diberikan oleh

Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota akan dapat

mempercepat pembangunan daerah apabila dilaksanakan dengan sebaik-

baiknya. Agar pembangunan daerah dapat berjalan dengan baik maka di

perlukan acuan sebagai dasar hukum untuk melaksanakan program

Pemerintah. Bentuk acuan tersebut berupa Peraturan Daerah yang merupakan

produk hukum dari eksekutif dan legislatif yang didalamnya telah

mengakomodasikan kepentingan masyarakat, dan tidak bertentangan dengan

hirarkis Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Peraturan Daerah juga

merupakan peraturan yang dibuat didalamnya menyelesaikan permasalahan

rumah tangga pemerintah daerah sendiri dengan berorientasi pada

penyelesaian masalah-masalah sosial di daerah. Penyelesaian permasalahan

daerah sangat erat hubungannya dengan pembangunan ekonomi. Sarana dan

prasarana jalan merupakan salah satu faktor yang utama dalam Pembangunan.

Jalan adalah salah satu prasarana perhubungan yang mempunyai peranan yang

sangat penting terutama menyangkut perwujudan perkembangan antar daerah

yang seimbang dan pemerataan hasil-hasil pembangunan serta pemantapan

pertahanan dan keamanan dalam menrealisasikan sasaran pembangunan

ditingkat daerah maupun ditingkat nasional.


3

Jasa pengangkutan di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata pada Buku Ketiga tentang Perikatan, kemudian dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Dagang pada Buku I titel ke V. Selain itu pemerintah

telah mengeluarkan kebijakan di bidang transportasi darat yaitu dengan

dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

dan Angkutan Jalan sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 14 Tahun

1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Peraturan Pemerintah

Nomor 30 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun

2014 tentang Angkutan Jalan.

Sejak diberlakukannya pada tahun 2021, peraturan ini diharapkan dapat

mewujudkan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait dengan

penyelenggaraan jasa angkutan jalan baik angkutan orang maupun angkutan

barang, baik itu pengusaha angkutan, pekerja (sopir/pengemudi) serta

penumpang.

Kerusakan jalan sangat berpengaruh terhadap arus distribusi dan

pemasaran dengan segala efek langsung terhadap komoditas yang

didistribusikannya. Demikian juga terhadap faktor keamanan dan keselamatan

masyarakat di jalan menjadi perhatian penting akibat parahnya kondisi jalan.

Hal tersebut sangat kontradiktif dengan keinginan Pemerintah Kabupaten

Balangan untuk berakselerasi mengatasi ketinggalannya.

Melihat kondisi jalan yang ada di desa Lampihong Kanan ini, dapat

disimpulkan ada 2 (dua) faktor yang ditengarai menjadi penyebab utama


4

kerusakan jalan tersebut. Pertama adalah faktor rendahnya kualitas jalan.

Kedua, berlebihnya beban muatan kendaraan yang harus ditanggung jalan.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah kerusakan jembatan utama

Paringin yang mengakibatkan kendaraan angkutan muatan berlebih

mengambil jalur Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten

Balangan sebagai jalan alternatif, jalur tersebut merupakan jalur yang

digunakan masyarakat selain jalan utama yang melewati jembatan Paringin,

rusaknya jembatan Paringin membuat angkutan muatan berlebih seperti truk

tronton mengambil jalur lain, yang mana akibat dari pengalihan jalur ke jalur

alternatif tersebut membuat jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan

Lampihong Kabupaten Balangan menjadi rusak parah. Pada umumnya truk

angkutan yang melalui jalur tersebut bermuatan besar yang menampung

muatan melebihi kapasitas beban jalan. Hal inilah yang menjadi keluhan para

masyarakat karena jalan semakin lama jalan di Desa Lampihong Kanan

Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan mengalami kerusakan yang

parah.

Dampak dari kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan telah

dirasakan warga saat terjadi peralihan arus lintas khusus angkutan berat akibat

jembatan utama Paringin mengalami kerusakan. Selain mengganggu

kenyamanan warga Desa Lampihong Kanan, kerusakan jalan tersebut

membuat banyaknya debu jalanan yang berterbangan sehingga menyebabkan

rumah-rumah dan toko warga setempat kotor akibat debu jalanan.


5

Pemerintah Kabupaten Balangan saat ini hanya fokus memperbaiki

jembatan Paringin agar dapat secepatnya digunakan seperti semula. Sejauh ini

hanya ada upaya berupa di bagikannya batu-batu untuk menutupi jalanan yang

berlubang oleh pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Untuk kedepannya

diharapkan agar truk angkutan berlebih memiliki jalurnya tersendiri dan tidak

menggunakan jalan untuk masyarakat umum.

B. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini Peneliti memfokuskan kepada “Analisis Kebijakan

Pemerintah Tentang Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih

Berdasarkan Teori Edward III (Subarsono. AG, 2013) Dengan menyangkut

beberapa variabel sebagai berikut:

1. Komunikasi;

2. Sumber daya;

3. Watak atau sikap;

4. Struktur birokrasi.

C. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dirumuskan pada penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh kendaraan muatan berlebih terhadap tingkat

kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong

Kabupaten Balangan?
6

2. Faktor-faktor apa saja yang membuat kendaraan muatan berlebih

menyebabkan kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan

Lampihong Kabupaten Balangan?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui pengaruh kendaraan muatan berlebih terhadap

tingkat kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan

Lampihong Kabupaten Balangan;

b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang membuat kendaraan muatan

berlebih menyebabkan kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan

Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.

2. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi akademik dan

memberi kontribusi pemikiran pemimpin, manfaat yang diharapkan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Manfaat Teoritis

Dari aspek keilmuan penelitian ini dapat menjadi media

pemahaman, penalaran dan pengembangan terutama dalam ilmu

administrasi publik.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran

atau referensi bagi peneliti yang lain, memberi sumbang pemikiran dan
7

saran bagi pemerintah daerah sebagai alternatif pertimbangan dalam

meningkatkan kualitas pelayanan, menambah wawasan dan pengetahuan

tentang pelayanan yang baik, untuk menambah referensi yang berguna

bagi penelitian yang sejenis di masa yang akan datang serta dapat

memberi kontribusi pemikiran dan menjadi bahan pertimbangan bagi

pemerintah daerah Kabupaten Balangan dalam memberikan pelayanan

yang akan datang.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

1. Muhammad Madhani, 2020, dalam penelitian ini berjudul “Efektifitas

Penerapan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009

Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Di Kecamatan Amuntai Tengah

Kabupaten Hulu Sungai Utara” Dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi

(STIA) Amuntai, Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Adapun tujuan

dari penelitan ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas

Dan Angkutan Jalan Di Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu

Sungai Utara. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah

Kualitatif deskrptif.

2. Bakaruddin, M. Fikry Hadi, dan Wawan Asnawi, 2016, Dalam penelitian

ini berjudul “Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang Pengawasan dan

pengendalian Muatan Lebih Di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau” dari

Universitas Muhammadiyah Riau, Fakultas Ekonomi. Adapun tujuan dari

penelitian disini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis dampak

dari kebijakan Pemerintah tentang Pengawasan dan Pengendalian Muatan

Lebih yang berada di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa penetapan prosedur dalam penimbangan beban

8
9

muatan telah berjalan baik sesuai dengan kebijakan Pemerintah, namun di

lain hal masih banyak terdapat bahwa pemilik dan pengemudi kendaraan

angkutan barang yang dengan sengaja menaikan beban (overload) dengan

alasan bahwa hasil dari kelebihan muatan tersebut para pengemudi bisa

mendapatkan nilai tambah penghasilan.

B. Tinjauan Teoritis

1. Analisis
Menurut Komaruddin (2001:53) pengertian analisis adalah kegiatan

berpikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen

sehingga dapat mengenal tanda-tanda komponen, hubungannya satu sama

lain dan fungsi masing-masing dalam satu kesatuan yang terpadu. Menurut

Harahap dala (Azwar, 2019) pengertian analisis adalah memecahlan atau

menguraikan suatu unit menjadi unit terkecil.

Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis

merupakan suatu kegiatan berfikir untuk menguraikan atau memecahkan

suatu fenomena atau masalah dari unit menjadi unit terkecil.

2. Kebijakan Pemerintah

Isitilah kebijakan (policy) seringkali penggunaannya dipertukarkan

dengan istilah-istilah lain seperti tujuan (goals), program, keputusan,

undang-undang, ketentuan-ketentuan, usulan-usulan dan rancangan besar.

Bagi para pembuat kebijakan (policy makers) istilah-istilah tersebut tidak

akan menimbulkan masalah apapun karena mereka menggunakan referensi

yang sama. Namun bagi orang-orang yang berada di luar struktur


10

pengambilan kebijakan, istilah-istilah tersebut mungkin akan

membingungkan. Syafiie (2006:104), mengemukakan bahwa kebijakan

(policy) hendaknya dibedakan dengan kebijaksanaan (wisdom) karena

kebijaksanaan merupakan pengejawantahan aturan yang sudah ditetapkan

sesuai situasi dan kondisi setempat oleh person pejabat yang berwenang.

Untuk itu Syafiie mendefenisikan kebijakan publik adalah semacam

jawaban terhadap suatu masalah karena akan merupakan upaya

memecahkan, mengurangi, dan mencegah suatu keburukan serta

sebaliknya menjadi penganjur, inovasi, dan pemuka terjadinya kebaikan

dengan cara terbaik dan tindakan terarah.

Keban (2004:55) memberikan pengertian dari sisi kebijakan publik,

menurutnya bahwa : ”Public Policy dapat dilihat dari konsep filosofis,

sebagai suatu produk, sebagai suatu proses, dan sebagai suatu kerangka

kerja. Sebagai suatu konsep filosofis, kebijakan merupakan serangkaian

prinsip, atau kondisi yang diinginkan, sebagai suatu produk, kebijakan

dipandang sebagai serangkaian kesimpulan atau rekomendasi, dan sebagai

suatu proses, kebijakan dipandang sebagai suatu cara dimana melalui cara

tersebut suatu organisasi dapat mengetahui apa yang diharapkan darinya,

yaitu program dan mekanisme dalam mencapai produknya, dan sebagai

suatu kerangka kerja, kebijakan merupakan suatu proses tawar menawar

dan negosiasi untuk merumus isu-isu dan metode implementasinya”.

Kamus Besar bahasa Indonesia kebijakan dijelaskan sebagai

rangkaian konsep dan azas yang menjadi garis dasar rencana dalam
11

pelaksanaan pekerjaan, kepemimpinan, serta cara bertindak (tentang

perintah, organisasi dan sebagainya). Mustopadidjaja (1992:30)

menjelaskan, bahwa istilah kebijakan lazim digunakan dalam kaitannya

atau kegiatan pemerintah, serta perilaku negara pada umumnya dan

kebijakan tersebut dituangkan dalam berbagai bentuk peraturan. Hal ini

senada dengan Easton dalam Toha (1991:60), mendefenisikan kebijakan

pemerintah sebagai alokasi otoritatif bagi seluruh masyarakat sehingga

semua yang dipilih pemerintah untuk dikerjakan atau tidak dikerjakan

adalah hasil alokasi nilai-nilai tersebut. Sementara itu, Koontz dan

O’Donnel (1972:113), mendefenisikan kebijakan sebagai pernyataan

umum dari pengertian yang memandu pikiran dalam pembuatan

keputusan.

Sedangkan menurut Anderson (1984:113), kebijakan adalah suatu

tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan seseorang pelaku atau

sejumlah pelaku untuk memecahkan suatu masalah. Selanjutnya Anderson

(1984:113), mengklasifikasi kebijakan, policy, menjadi dua : substantif

dan prosedural. Kebijakan substantif yaitu apa yang harus dikerjakan oleh

pemerintah sedangkan kebijakan prosedural yaitu siapa dan bagaimana

kebijakan tersebut diselenggarakan. Ini berarti, kebijakan publik adalah

kebikan-kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-

pejabat pemerintah.

Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat lima hal yang berhubungan

dengan kebijakan publik. Pertama, tujuan atau kegiatan yang berorientasi


12

tujuan haruslah menjadi perhatian utama perilaku acak atau peristiwa yang

tiba-tiba terjadi. Kedua, kebijakan merupakan pola model tindakan pejabat

pemerintah mengenai keputusan-keputusan diskresinya secara terpisah.

Ketiga, kebijakan harus mencakup apa yang nyata pemerintah perbuat,

atau apa yang mereka katakan akan dikerjakan. Keempat, bentuk

kebijakan publik dalam bentuknya yang positif didasarkan pada ketentuan

hukum dan kewenangan. Tujuan kebijakan publik adalah dapat dicapainya

kesejahteraan masyarakat melalui produk kebijakan yang dibuat oleh

pemerintah.

Setiap produk kebijakan haruslah memperhatikan substansi dari

keadaan sasaran, melahirkan sebuah rekomendasi yang memperhatikan

berbagai program yang dapat dijabarkan dan diimplementasikan

sebagaimana tujuan dari kebijakan tersebut. Untuk melahirkan sebuah

produk kebijakan, dapat pula memahami konsepsi kebijakan menurut

Abdul Wahab yang dipertegas oleh Budiman Rusli (2000:51-52) dimana

lebih jauh menjelaskan sebagai berikut :

a. Kebijakan harus dibedakan dari keputusan.

Paling tidak ada tiga perbedaan mendasar antara kebijakan

dengan keputusan yakni :

1) Ruang lingkup kebijakan jauh lebih besar dari pada keputusan

2) Pemahaman terhadap kebijakan yang lebih besar memerlukan

penelaahan yang mendalam terhadap keputusan.


13

3) Kebijakan biasanya mencakup upaya penelusuran interaksi yang

berlangsung diantara begitu banyak individu, kelompok dan

organisasi.

b. Kebijakan sebenarnya tidak serta merta dapat dibedakan dari

Administrasi.

Perbedaan antara kebijakan dengan administrasi mencerminkan

pandangan klasik. Pandangan klasik tersebut kini banyak dikritik,

karena model pembuatan kebijakan dari atas misalnya, semakin lama

semakin tidak lazim dalam praktik pemerintahan sehari-hari. Pada

kenyataannya, model pembuatan kebijakan yang memadukan antara

top-down dengan bottom-up menjadi pilihan yang banyak mendapat

perhatian dan pertimbangan yang realistis.

c. Kebijakan sebenarnya tidak serta merta dapat dibedakan dari

Administrasi.

Langkah pertama dalam menganalisis perkembangan kebijakan

negara ialah perumusan apa yang sebenarnya diharapkan oleh para

pembuat kebijakan. Pada kenyataannya cukup sulit mencocokkan

antara perilaku yang senyatanya dengan harapan para pembuat

keputusan.

d. Kebijakan mencakup ketiadaan tindakan ataupun adanya tindakan.

Perilaku kebijakan mencakup pula kegagalan melakukan tindakan

yang tidak disengaja, serta keputusan untuk tidak berbuat yang

disengaja (deliberate decisions not to act). Ketiadaan keputusan


14

tersebut meliputi juga keadaan dimana seseorang atau sekelompok

orang yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja

menciptakan atau memperkokoh kendala agar konflik kebijakan tidak

pernah tersingkap di mata publik.

e. Kebijakan biasanya mempunyai hasil akhir yang akan dicapai, yang

mungkin sudah dapat diantisipasikan sebelumnya atau mungkin belum

dapat diantisipasikan.

Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai

pengertian kebijakan perlu pula kiranya meneliti dengan cermat baik

hasil yang diharapkan ataupun hasil yang senyatanya dicapai. Hal ini

dikarenakan, upaya analisis kebijakan yang sama sekali mengabaikan

hasil yang tidak diharapkan (unintended results) jelas tidak akan dapat

menggambarkan praktik kebijakan yang sebenarnya.

f. Kebijakan kebanyakan didefenisikan dengan memasukkan perlunya

setiap kebijakan melalui tujuan atau sasaran tertentu baik secara

eksplisit atau implisit.

Umumnya, dalam suatu kebijakan sudah termaktub tujuan atau

sasaran tertentu yang telah ditetapkan jauh hari sebelumnya, walaupun

tujuan dari suatu kebijakan itu dalam praktiknya mungkin saja berubah

atau dilupakan paling tidak secara sebagian.


15

g. Kebijakan muncul dari suatu proses yang berlangsung sepanjang

waktu.

Kebijakan itu sifatnya dinamis, bukan statis. Artinya setelah

kebijakan tertentu dirumuskan, diadopsi, lalu diimplementasikan, akan

memunculkan umpan balik dan seterusnya.

h. Kebijakan meliputi baik hubungan yang bersifat antar organisasi

ataupun yang bersifat intra organisasi.

Pernyataan ini memperjelas perbedaan antara keputusan dan

kebijakan, dalam arti bahwa keputusan mungkin hanya ditetapkan oleh

dan dan melibatkan suatu organisasi, tetapi kebijakan biasanya

melibatkan berbagai macam aktor dan organisasi yang setiap harus

bekerja sama dalam suatu hubungan yang kompleks.

i. Kebijakan negara menyangkut peran kunci dari lembaga pemerintah,

walaupun tidak secara ekslusif.

Terhadap kekaburan antara sektor publik dengan sektor swasta,

disini perlu ditegaskan bahwa sepanjang kebijakan itu pada saat

perumusannya diproses, atau setidaknya disahkan atau diratifikasikan

oleh lembagalembaga pemerintah, maka kebijakan tersebut disebut

kebijakan negara.
16

k. Kebijakan dirumuskan atau didefinisikan secara subyektif.

Hal ini berarti pengertian yang termaktud dalam istilah kebijakan

seperti proses kebijakan, aktor kebijakan, tujuan kebijakan serta hasil

akhir suatu kebijakan dipahami secara berbeda oleh orang yang

menilainya, sehingga mungkin saja bagi sementara pihak ada

perbedaan penafsiran mengenai misalnya tujuan yang ingin dicapai

dalam suatu kebijakan dan dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan

tersebut.

Sementara itu Parsons (2006:15), memberikan gagasan tentang

kebijakan adalah seperangkat aksi atau rencana yang mengandung tujuan

politik. Menurutnya kata policy mengandung makna kebijakan sebagai

rationale, sebuah manifestasi dari penilaian pertimbangan. Artinya sebuah

kebijakan adalah usaha untuk mendefenisikan dan menyusun basis

rasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.

Selanjutnya Nurcholis (2007:263), memberikan defenisi tentang

kebijakan sebagai keputusan suatu organisasi yang dimaksudkan untuk

mencapai tujuan tertentu, berisikan ketentuan-ketentuan yang dapat

dijadikan pedoman perilaku dalam hal :

a. Pengambilan keputusan lebih lanjut, yang harus dilakukan baik

kelompok sasaran ataupun (unit organisasi pelaksanaan kebijakan),

b. Penerapan atau pelaksanaan dari suatu kebijakan yang telah ditetapkan

baik dalam hubungan dengan (unit) organisasi pelaksana maupun

dengan kelompok sasaran yang dimaksudkan.


17

Makna kebijakan seperti yang dikutip oleh Jones (1996:47) dalam

pandangan Prof Heinz Eulau dan Kenneth Prewitt, yang menyatakan

bahwa kebijakan itu ialah : “a standing decision characterized by behavior

consistency and repetiveness on the part of both thoose who make it and

those who abide by it”.

Menurut Jones, bahwa kebijakan adalah keputusan tetap yang

dicirikan oleh konsistensi dan pengulangan (repetiveness) tingkah laku

dari mereka yang membuat dan dari mereka yag mematuhi keputusan

tersebut. Sekalipun definisi menimbulkan beberapa pertanyaan atau

masalah untuk menilai berapa lama sebuah keputusan dapat bertahan atau

hal apakah yang membentuk konsistensi dan pengulangan tingkah laku

yang dimaksud serta siapa yang sebenarnya melakukan jumlah pembuat

kebijakan dan pematuh kebijakan tersebut, namun demikina defenisi ini

telah memperkenalkan beberapa komponen kebijakan publik.

Selanjutnya tentang kebijakan publik Dye (2008:1),

mengemukakan : “Public policy is what ever governments choose to do or

not to do”, konsep ini menjelaskan bahwa kebijakan publik adalah apapun

yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan.

Menurutnya bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu

maka harus ada tujuan dan kebijakan negara tersebut harus meliputi semua

tindakan pemerintah, bukan semata-mata pernyataan keinginan pemerintah

atau pejabatnya. Disamping itu sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh

pemerintah pun termasuk kebijakan negara. Hal ini disebabkan ”sesuatu


18

yang tidak dilakukan” oleh pemerintah akan mempunyai pengaruh yang

sama besarnya dengan ”sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah”.

Dengan demikian kebijakan menurt Dye, adalah merupakan upaya

untuk memahami :

1. Apa yang dilakukan dan atau tidak dilakukan oleh pemerintah,

2. Apa penyebab atau yang mempengaruhinya, dan

3. Apa dampak dari kebijakan tersebut jika dilaksanakan atau tidak

dilaksanakan.

Jika konsep ini diikuti, maka dengan demikian perhatian kita dalam

mempelajari kebijakan seyogianya diarahkan pada apa yang nyata

dilakukan oleh pemerintah dan bukan sekedar apa yang ingin dilakukan.

Dalam kaitan inilah maka mudah dipahami jika kebijakan acap kali

diberikan makna sebagai tindakan politik. Sehubungan dengan hal tersebut

Dunn, (2003:22), mengemukakan bahwa proses analisis kebijakan adalah

serangkaian aktivitas intelektual yang dilakukan di dalam proses kegiatan

yang pada dasarnya bersifat politis. Aktivitas politis tersebut dijelaskan

sebagai proses pembuatan kebijakan dan diaktualisasikan sebagai

serangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan

waktu penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan,

implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Itulah sebabnya Utomo

(2006:76), mengemukakan setiap peraturan daerah, undang-undang

maupun kebijakan akan selalu terkait atau dikaitkan atau bahkan

dipengaruhi oleh sistem politik, sistem pemerintahan atau suasana politik


19

atau bahkan keinginan power elit pada suatu waktu. Senada dengan hal

tersebut (Nugroho, 2003: 7), mengemukakan bahwa kebijakan adalah

suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan

berlaku mengikat seluruh warganya. Setiap pelanggaran akan diberi saknsi

sesuai dengan bobot pelanggaran yang dilakukan dan sanksi dijatuhkan di

depan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan

sanksi.

Dari pengertian tersebut kebijakan dapat diartikan sebagai suatu

hukum. Akan tetapi tidak hanya sekedar hukum namun perlu dipahami

secara utuh dan benar. Ketika suatu isu yang menyangkut kepentingan

bersama dipandang perlu untuk diatur maka formulasi isu tersebut menjadi

kebijakan publik harus dilakukan dan disusun dan disepakati oleh para

pejabat yang berwewenang dan ketika kebijakan publik tersebut ditetapkan

menjadi suatu kebijakan publik, apakah menjadi Undang-Undang, apakah

menjadi Peraturan Pemerintah, atau Peraturan Presiden termasuk Peraturan

Daerah, maka kebijakan publik tersebut berubah menjadi hukum yang

harus ditaati.

Dengan demikian Kebijakan Publik adalah produk hukum yang

dikeluarkan oleh pemerintah menyangkut kepentingan publik yang harus

ditaati bersama.

3. Pengawasan
Dalam kamus bahasa Indonesia istilah ”Pengawasan berasal dari

kata awas yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat

sesuatu dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali
20

memberikan laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa

yang di awasi”. Sujianto (1986:24)

Menurut Anwar (2004:127), pengawasan atau kontrol terhadap

tindakan aparatur pemerintah diperlukan agar pelaksanaan tugas yang

telah ditetapkan dapat mencapai tujuan dan terhindar dari penyimpangan-

penyimpangan.

Pengawasan adalah suatu proses dalam menetapkan ukuran kinerja

dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang

diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah diciptakan tersebut.

Controlling is the process of measuring performance and taking action to

ensure desired result. Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa

segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah

direncanakan. The process of ensuring that activities conform the planned

activities. (Anwar,2004:127)

Menurut Prayudi (1981:80) “Pengawasan adalah suatu proses untuk

menetapkan pekerjaan apa yang dijalankan, dilaksanakan atau

diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan atau

diperhatikan.

Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan

kinerja standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik

informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah

ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan

tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk


21

menjamin bahwa semua sumber daya permasalahan atau pemerintahan

telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan

perusahaan atau pemerintah. Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat

ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan hal penting dalam

menjalankan suatu perencanaan. Dengan adanya pengawasan maka

perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan

berjalan dengan baik. (Prayudi, 1981:97)

Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk

menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan

atas tujuan yang akan dicapai. Melalui pengawasan diharapkan dapat

membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai

tujuan yang telah direncanakan secara efisien dan efektif. Bahkan, melalui

pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan

atau evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja sudah

dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauh mana kebijakan

pimpinan dijalankan dan sampai sejauh mana penyimpangan yang terjadi

dalam pelaksanaan kerja tersebut.

Sementara itu, dari segi hukum tata negara, pengawasan dimaknai

sebagai “proses kegiatan yang membandingkan apa yang dijalankan,

dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki,

direncanakan atau diperintahkan.”

Hasil pengawasan ini harus dapat menunjukkan sampai dimana

teredapat kecocokan dan ketidakcocokan dan menentukan penyebab


22

ketidakcocokan yang muncul. Dalam konteks membangun manajemen

pemerintahan publik yang bercirikan good governance (tata kelola

pemerintah yang baik), pengawasan merupakan aspek penting untuk

menjaga fungsi pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam

konteks ini, pengawasan menjadi sama pentingnya dengan penerapan good

governance itu sendiri.

Pengawasan merupakan sebuah proses didalam menetapkan ukuran

dari kinerja dan juga pengambilan tindakan yang dapat mendukung dalam

pencapaian hasil yang diharapkan agar sesuai dengan kinerja yang sudah

ditetapkan. Atau juga dapat diartikan ialah sebuah proses agar dapat

memastikan bahwa segala aktivitas yang terlaksana sesuai seperti apa yang

sudah direncanakan.

Menurut Siagian pengawasan merupakan sebuah proses pengamatan

pelaksanaan dari seluruh kegiatan organisasi untuk dapat menjamin

seluruh pekerjaan yang sedang dilakukan dapat sesuai dengan rencana

yang sudah ditentukan sebelumnya. Didalam definisi yang diberikan

Siagian memiliki ciri yang penting yaitu bahwa sebuah definisi

pengawasan bisa diterapkan hanya bagi pengawasan pada pekerjaan-

pekerjaan yang tengah berjalan, tidak bisa diterapkan pekerjaanpekerjaan

yang telah selesai dilaksanakan. (Siagian, 1982:135)

Dibawah ini beberapa berbagai jenis pengawasan yang dapat

dilakukan diantaranya sebagai berikut :


23

a. Pengawasan Internal dan Eksternal

Pengawasan internal ialah pengawasan yang dilakukan oleh

orang ataupun badan yang ada terdapat didalam lingkungan unit

organisasi/lembaga yang bersangkutan. Sedangkan pengawasan

eksternal ialah pengawasan atau pemeriksaan yang dilakukan oleh unit

pengawasan yang ada diluar unit organisasi/lembaga yang diawasi.

b. Pengawasan Preventif dan Represif

Pengawasan preventif ialah lebih dimaksudkan sebagai suatu

pengawasan yang dilakukan pada kegiatan sebelum kegiatan itu

dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya kegiatan yang

menyimpang. Misalnya pengawasan tersebut dilakukan oleh

pemerintah supaya untuk menghindari adanya penyimpangan-

penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang

membebankan/merugikan negara. Sedangkan pengawasan represif

ialah suatu pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah

kegiatan tersebut sudah dilaksanakan atau dilakukan. Misalnya

pengawasan represif dilakukan pada akhir tahun anggaran yang

dimana anggaran yang telah ditentukan lalu disampaikan laporannya.

c. Pengawasan Aktif dan Pasif

Pengawasan aktif ialah pengawasan yang dilaksanakan sebagai

dari bentuk pengawasan yang dilakukan ditempat kegiatan yang

bersangkutan. Sedangkan pengawasan pasif ialah suatu pengawasan

yang dilakukan misalnya melalui penelitian serta pengujian terhadap


24

surat-surat atau laporan-laporan pertanggung jawaban yang disertai

dengan berbagai bukti penerimaan maupun bukti pengeluaran.

d. Pengawasan Kebenaran Formil

Pengawasan Kebenaran Formil ialah pengawasan menurut hak

dan pemeriksaan kebenaran materil mengenai maksud serta tujuan

pengeluaran.

Adapun tujuan dari pengawasan yaitu :

a. Menjamin ketetapan pelaksanaan tugas sesuai dengan rencana tersebut,

kebijaksanaan dan perintah.

b. Melaksanakan koordinasi kegiatan-kegiatan.

c. Mencegah pemborosan dan penyelewengan.

d. Menjamin terwujudnya kepuasan masyarakat atas barang dan jasa

yang dihasilkan.

e. Membina kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan organisasi

“pemerintah” (Al-Amin, 2006:155)

Menurut Winardi (1990:380) pengawasan merupakan suatu

kegiatan yang berusahan untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat

berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi

tercapai dan apabila terjadi penyimpangan dimana letak penyimpangan itu

dan bagaiman pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Itu

semua adalah tugas dari pengawasan. Bila fungsi pengawasan dilakukan

dengan baik dan tepat maka organisasi akan memperoleh manfaat berupa :
25

a. Dapat mengetahui sejauh mana program yang sudah dilakukan para

staf, apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumber

daya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Fungsi

pengawasan akan meningkatkan efisiensi kegiatan program.

b. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam

melaksanakan tugas-tugasnya.

c. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumberdaya lainnya mencukupi

kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien.

d. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.

e. Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan,

dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan

Dalam rangka melakukan transformasi guna meraih perbaikan

kualitas organisasi publik, perlu dilakukan pengawasan terhadap seluruh

tindakan dan akibat dari proses transformasi tersebut. Melalui pengawasan

tersebut dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi secara

dini. Adapun fungsi pengawasan ialah sebagai berikut :

a. Mencegah terjadinya penyimpangan pencapaian tujuan yang telah

direncanakan.

b. Agar proses kerja sesuai dengan prosedur yang telah digariskan atau

ditetapkan.

c. Mencegah dan menghilangkan hambatan dan kesulitan yang akan,

sedang atau mungkin terjadi dalam pelaksanaan kegiatan.

d. Mencegah penyimpangan penggunaan sumber daya.


26

e. Mencegah penyalahgunaan otoritas dan kedudukan.

4. Faktor-Faktor Kerusakan Jalan


Kriteria jalan terbagi menjadi dua yaitu kriteria mantap dan tidak

mantap. Jalan mantap adalah mencapai sasaran repetisi beban standar yang

di rencanakan jika ada pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala yang

diwujudkan dalam kondisi perkeasan baik dengan pemeliharaan yang

wajar dapat dilalui lalu lintas sesuai lingkungannya dalam batasan sasaran

repetisi beban standar yang direncanakan tersebut. Sedangkan kriteria

jalan tidak mantap adalah telah mencapai sasaran repetisi beban standar

yang diwujudkan dalam kondisi kurang baik, sehingga memerlukan

penanganan peningkatan untuk dapat dilalui lalu lintas sesuai

lingkungannya.

Kondisi jalan secara visual diklasifikasikan atas : baik, sedang,

rusak, dan rusak berat. Kondisi tersebut terinci sebagai berikut :

Tabel 2.1
Karakteristik Kondisi Jalan
Jika jalan tersebut permukaannya masih rata

(Smooth) kendaraan berjalan :

Baik - Nyaman

- Tanpa Goncangan

- Kecepatan Konstan

Jika permukaan jalan tersebut terdapat gelombang-

Sedang gelombang kecil, atau terdapat 1-10 lobang dengan

kedalaman max 10 cm per 1000 M panjang jalan.


27

Kendaraan berjalan :

- Tidak sering berbelok untuk menghindari

lobang/kerusakan

- Kerusakan tersebut

Jika pertemuan jalan tersebut terdapat gelombang-

gelombang besar, atau terdapat 1-10 lobang dengan

kedalaman diatas Cm Per 1.000 M panjang jalan.


Rusak
Kendaraan berjalan :

- Terpaksa sering berbelok-belok untuk

menghindari kerusakan-kerusakan tersebut

Jika permukan jalan tersebut sudah hancur, terdapat

lobang-lobang besar, berlmpur dan bergelombang

cukup parah.

Kendaraan berjalan :
Rusak
Berat - Tidak bisa berjalan lancar

- Terkadang berhenti

- Tidak mungkin menghindari kerusakan-

kerusakan tersebut

Di Indonesia sering menghadapi dilemma bahwa perkerasan jalan

rusak sebelum waktunya, lebih dini daripada umur rencana untuk jalan

tersebut. Perkerasan jalan yang direncanakan minimal untuk umur lima

tahun biasanya sudah mulai menunjukkan kerusakan pada umur satu atau
28

dua tahun, dan yang direncanakan untuk umur sepuluh tahun ternyata telah

mengalami kerusakan pada usia lima tahun saja, bahkan kurang.

Sebagian para ahli perkerasan jalan berpendapat bahwa “ageing

process” atau proses menua dari aspal atau bahan bitumen berlangsung

relative sangat cepat di daerah tropis, sehingga aspal menjadi getas dalam

waktu relatif singkat dan mudah menjadi retak. Di Inggris dan Amerika

Utara, ageing process dari aspal ini berlangsung jauh lebih lambat

sehingga sangat memungkinkan untuk merencanakan perkerasan jalan

dengan umur rencana 20 tahun. Diperkirakan untuk Indonesia, ageing

process yang terlalu cepat ini menyebabkan perkerasan jalan dapat

bertahan hanya sekitar lima tahun saja. Masalah inilah yang menyebabkan

Bina Marga di Indonesia pada pertengahan tahun 1980-an merubah sistem

rancangan perkerasan jalan dari sistem AASHTO (Amerika) ke sistem BS

(British Standard), dari sistem AC (Asphaltic Concrete, dengan gradasi

agregat menerus cara Amerika) menjadi sistem HRS dan ATB cara

Inggris, yang berdasarkan pada campuran agregat bergradasi selang (gap-

graded aggregate) dan kadar bitumen yang lebih tinggi. Dengan cara ini

dikatakan umur rencana perkerasan dapat ditingkatkan lebih lama, bahkan

dapat mencapai umur rencana sepuluh tahun.

Pada kenyataannya di lapangan, penerapan sistem Inggris ternyata

tidak sepenuhnya memberikan hasil seperti yang diharapkan. Kerusakan

dini masih kerap terjadi, namun sebagian besar bukan dalam bentuk

keretakan tetapi dalam bentuk gelombang, sungkur (shoving), keriting


29

(corrugation), pengelupasan aspal (raveling) akibat geser di tikungan,

kegemukan (bleeding), timbulnya alur secara dini (premature rutting), dll.

Kondisi ini juga menyebabkan sebagian ahli beralih kembali ke sistem

Amerika, atau melakukan “kompromi” yaitu ATB direncanakan sesuai

sistem Inggris.

Gambar 2.1
Kondisi Jalan di Desa Lampihong Kanan

Sebagian ahli jalan berpendapat bahwa sumber kerusakan dini

adalah muatan kendaraan pengangkut di Indonesia yang terlalu berlebihan,

jauh di atas ketentuan standar yang berlaku menurut Bina Marga dan

Departemen Perhubungan Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut,

Departemen Perhubungan mengaktifkan kembali Jembatan-Timbang di

banyak ruas jalan di Indonesia. Akan tetapi ternyata jembatan-timbang

tersebut juga tidak efektif karena jalan-jalan raya, truk-truk berat dengan
30

muatan berlebihan (heavily overloaded trucks) tetap beroperasi dengan

bebas di jalanan sehingga diduga truk-truk berat tersebut menjadi

penyebab utama kerusakan dini (premature deterioration) dari perkerasan

jalan di Indonesia.

Menurut Sukirman, (1992) perkerasan jalan berdasarakan material

bahan pengikat dan pendistibusiannya dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

a. Perkerasan lentur (Flexible Pavenment), yaitu suatu jenis perkerasan

yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan mempunyai sifat

lentur dimana setelah pembebanan berlangsung perkerasan akan

seperti semula. Pada struktur perkerasan lentur, beban lalu lintas

didistrubsikan ketanah dasar secara berjenjang dan berlapis (Layer

System). Dengan sistem ini beban lalu lintas didistribusikan dari

lapisan atas ke lapisan bawahnya.

b. Perkerasan kaku (Rigid Pavenment), yaitu suatu jenis perkerasan jalan

menggunakan portland cement sebagai bahan pengikat dan

mempunyai sifat kaku dimana setelah pembebanan berlangsung

perkerasan tidak mengalami perubahan bentuk sehingga tegangan

yang terjadi pada dasar perkerasan sudah kecil sekali.

c. Perkerasan komposit (Composite Pavenment), yaitu perkerasan kaku

yang dikombinasikan dengan perkerasan lentur.

Berikut ini merupakan faktor-faktor penyebab kerusakan jalan :

a. Meningkatnya beban volume lalu lintas


31

Tentunya meningkatnya volume beban volume lalu lintas sangat

mempengaruhi faktor terjadinya kerusakan jalan, karena pada saat

perancangan perkerasan jalan, tentunya akan dirancang sesuai dengan

standar dan ketentuan yang berlaku (SNI). hal ini paling umum

ditemukan pada perkerasan lentur atau aspal, itulah mengapa

perkerasan aspal memerlukan biaya pemeliharaan yang lebih besar,

namun kerusakan jalan akibat meningkatnya volume lalu lintas pada

perkerasan jalan beton juga bisa terjadi, terlebih jika selalu dilalui oleh

kendaraan berat seperti truk yang bermuatan berlebih.

b. Sistem drainase buruk

Terlebih saat banjir, bayangkan air yang menggenang dalam

waktu yang tidak terlalu lama di jalan saja dapat mengakibatkan

jalanan menjadi rusak dan juga berlubang akibat perkerasan dapat

tergerus oleh air, apalagi jika jalanan digenangi dalam waktu yang

lama (saat banjir) serta biasanya diiringi oleh kemacetan, dan dilewati

berbagai kendaraan berat. Hal ini juga akan semakin memperparah

kondisi perkerasan jalan jika perkerasan jalan sudah mengalami

kerusakan seperti munculnya retakan. Nah, itulah mengapa adanya

sistem drainase yang baik atau minimal sesuai dengan standar yang

berlaku sangat penting untuk mengalirkan air di badan jalan agar tidak

menggenang.
32

c. Kondisi tanah yang tidak stabil

Sebelum melakukan pembangunan atau konstruksi perkerasan

jalan pada sebuah lahan, tentunya akan dilakukan pengecekan tanah

terlebih dahulu, sehingga didapatkan data tanahnya. Namun,

kenyataannya kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan data tanah,

karena terkadang tidak menggambarkan karakteristik tanah yang

semestinya, itulah yang dapat menyebabkan kondisi tanah tidak stabil.

Kondisi tanah yang tidak stabil (seperti tanah lempung) atau

mengalami pergerakan ini terutama akibat jalan yang terus menerus

dilalui oleh kendaraan berat dapat menyebabkan kerusakan jalan.

d. Perencanaan perkerasan yang tidak sesuai

Hal ini berkaitan dengan mutu dari perkerasan jalan itu sendiri,

dimana dalam merancang perkerasan jalan, tentunya memiliki

standarisasi yang perlu dipenuhi berdasarkan peraturan yang berlaku,

dengan memperhitungkan berbagai faktor seperti jenis klasifikasi jalan

yang akan dibuat, perencanaan geometrik jalannya, lapisan dan data

tanah yang akan dibangun, desain tulangannya (jika perkerasan beton),

dan sebagainya. Namun terkadang memang perencanaan tidak sesuai

dengan pelaksanaan atau kenyataan yang terjadi, sehingga membuat

perencanaan, atau desain perkerasan yang dibuat tidak sesuai dengan

kondisi realnya.
33

e. Kurangnya Perawatan atau Pemeliharaan

Kurangnya perawatan atau pemeliharaan pada perkerasan jalan

sejak dini dan tepat seperti saat adanya kerusakan kecil yang dibiarkan

terus menerus dapat mengakibatkan timbulnya lubang, dan dapat

mencelakai pengendara maupun pengguna jalan yang melintasinya.

selanjutnya, berikut ini adalah jenis-jenis kerusakan pada jalan

yaitu:

a. Retak (cracking)

Retak adalah suatu gejala kerusakan permukaan perkerasan

sehingga akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke

lapisan di bawahnya dan hal ini merupakan salah satu faktor yang akan

membuat parah suatu kerusakan (Departemen Pekerjaan Umum,

2007). Jenis kerusakan retak dibagi lagi menjadi beberapa jenis antara

lain :

1) Retak halus ( hair cracking)

Retak halus merupakan retak yang mempunyai lebar celah ≤

3 mm. Kemungkinan penyebab kerusakan :

a) Bahan material kurang baik

b) Pelapukan permukaan

c) Tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil


34

2) Retak kulit buaya (alligator crack)

Retak kulit buaya merupakan retak yang mempunyai celah

retak ≥ 3 mm dan saling berangkai menyerupai kulit buaya.

Kemungkinan penyebab kerusakan :

a) Bahan material kurang baik.

b) Pelapukan permukaan.

c) Tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil.

3) Retak pinggir (edge crack)

Retak pinggir merupakan retak dimana terjadi pada sisi

perkerasan/dekat bahu dan berbentuk retak memanjang dengan

atau tanpa cabang yang mengarah ke bahu. Kemungkinan

penyebab kerusakan :

a) Drainase kurang baik

b) Daya dukung tanah tepi kurang baik

c) Akar tanaman yang tumbuh di tepi perkerasan

4) Retak sambungan bahu perkerasan (edge joint crack)

Retak ini umumnya terjadi pada daerah sambungan

perkerasan dengan bahu yang beraspal. Kemungkinan penyebab

kerusakan :

a) Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan

b) Drainase kurang baik

c) Penyusutan material badan perkerasan jalan

d) Material pada bahu yang kurang baik


35

b. Distorsi (distortion)

Distorsi adalah perubahan bentuk yang dapat terjadi akibat

lemahnya tanah dasar sehingga terjadi tambahan pemadatan akibat

beban lalu lintas. Distorsi dapat dibagi menjadi beberapa jenis antara

lain :

1) Alur (ruts)

Alur merupakan kerusakan yang terjadi pada lintasan roda

sejajar dengan as jalan yang disebabkan oleh lapis perkerasan

yang kurang padat.

2) Keriting (corrugation)

Keriting merupakan kerusakan alur yang terjadi melintang

[Link] penyebab kerusakan:

a) Lalu lintas dipakai sebelum perkerasan mantap

b) Aspal yang dipakai mempunyai penetrasi yang tinggi

c) Banyak menggunakan aggregat halus, agregat bulat dan licin

3) Sungkur (shoving)

Sungkur merupakan kerusakan yang terjadi akibat dari

deformasi plastis yang terjadi setempat ditempat kendaraan sering

berhenti, kelandaian curam, dan tikungan tajam.

4) Amblas (grade depression)

Amblas merupakan kerusakan jalan yang terjadi

setempat/tertentu dengan atau tanpa retak yang disebabkan oleh

kendaraan yang melebihi apa yang direncanakan.


36

c. Cacat permukaan (disintegration)

Cacat permukaan merupakan kerusakan yang mengarah pada

kerusakan secara kimiawi dan mekanis dari lapis permukaan. Cacat

permukaan dapat dibagi menjadi beberpa jenis antara lain

1) Lubang (potholes)

Lubang merupakan kerusakan jalan berupa mangkuk yang

memiliki ukuran bervariasi dari kecil sampai besar.

2) Pelepasan butir (ravelling)

Pelepasan butir merupakan kerusakan jalan yang ditandai

dengan melepasnya butir lapis perkerasan yang dapat terjadi

secara meluas.

3) Pengelupasan lapis permukaan (stripping)

Pengelupasan lapis permukaan merupakan kerusakan yang

disebabkan oleh kurangnya ikatan antar lapis permukaan dan lapis

bawahnya atau terlalu tipis lapis permukaannya.

d. Pengausan (polished aggregate)

Pengausan merupakan kerusakan yang terjadi karena agregat

yang berasal dari material yang tidak tahan aus terhadap roda

kendaraan/agregat berbentuk bulat dan licin.

e. Kegemukan (bleending or flushing)

Kegemukan merupakan kerusakan yang terjadi pada saat

temperatur tinggi, aspal menjadi lunak, dan akan terjadi jejak roda
37

yang dapat disebabkan pemakaian kadar aspal yang tinggi pada

campuran aspal.

f. Penurunan pada bekas penanaman utilitas (utility cut depression).

Kerusakan jenis ini merupakan kerusakan yang terjadi karena

pemadatan yang tidak memenuhi syarat.

5. Muatan Berlebih
Jalan sebagai sarana transportasi dan distribusi ditinjau dari segi

pembiayaan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan biaya transportasi

(transport cost). Adapun yang dimaksud dengan biaya transportasi pada

kajian ini adalah biaya yang ditimbulkan oleh beban sumbu kendaraan truk

pada saat melewati suatu ruas jalan. Biaya transportasi dibagi menjadi dua

komponen yaitu biaya infrastruktur jalan (infrastructure cost) dan biaya

operasi kendaraan (vehicle operating cost), sedangkan biaya infrastruktur

dibagi menjadi dua sub komponen yaitu biaya perusakan jalan (damage

factor cost) dan biaya akibat penurunan umur pelayanan jalan (deficit

design life cost). Biaya infrastruktur jalan cenderung bertambah akibat

overloading.

Kunci keberhasilan terhadap pengamanan kerusakan struktur jalan

akibat beban berlebih, umur rencana jalan, efektivitas pelayanan jalan,

penurunan biaya perawatan/perbaikan jalan tergantung pada keberhasilan

dalam mengendalikan muatan maksimum yang diizinkan pada ruas jalan

bersangkutan. Pengendalian beban muatan maksimum truk yang diijinkan

melalui ruas jalan ditentukan oleh sistem pengukuran beban, pencatatan


38

karakteristik-karakteristik yang penting, pemantauan langsung atau tak

langsung, kedisiplinan dan keahlian petugas, teknologi informasi pada

jembatan-timbang.

AASHTO (1972) menetapkan beban As Standar (Standard Axle

Load) sebesar 18000 kip, atau 8,16 ton. Beban-beban as kendaraan lainnya

kemudian dikorelasikan kepada Beban As Standar tersebut untuk

mendapatkan Equivalent Axle Load, EAL, dari beban tersebut. Harga

EAL tersebut juga menunjukkan harga Damage Factor dari Beban As

Standar 8,16 ton melintas satu kali adalah sebesar 1 (satu).

Muatan gandar/as yang berlebihan ini merupakan penyebab utama

dari perbedaan antara hasil perhitungan total EAL dalam perancangan

suatu perkerasan jalan dengan total kenyataan EAL di lapangan, setelah

jalan tersebut dibuka untuk lalu-lintas.

6. Faktor Pendorong Pelanggaran Batas Muatan


Kendaraan muatan barang cenderung melakukan pelanggaran batas

muatan tidak terlepas dari berbagai faktor. Dari hasil pengamatan, kajian

data sekunder serta wawancara yang mendalam dengan berbagai pihak

yang terlibat dalam aktivitas transportasi jalan seperti Dinas Perhubungan

(DLLAJ), Dinas Bina Marga, Dinas Pendapatan, para pengemudi angkutan

serta para pengusaha angkutan barang, diperoleh kesimpulan bahwa secara

umu terdapat dua aspek yang mendorong terjadinya pelanggaran batas

muatan yaitu aspek teknis dan aspek non-teknis.


39

Faktor pendorong dari aspek teknis adalah spesifikasi manufaktur

kendaraan seperti jenis kendaraan, daya angkut, jumlah gandar/ban, dan

kelayakan kendaraan. Sedangkan faktor pendorong dari aspek non-teknis

melipusti aspek hukum, aspek sosial-budaya, serta aspek ekonomi.

a. Sebab Teknis

Jenis kendaraan angkutan barang (truk) terdiri dari pick up atau

truck single axle dengan single atau dual wheel, tendem axle truck

single axle dengan dual wheel, semi trailer dengan 3 hingga 6 axle,

dan trailer truck 4-5 axle. Jenis truk yang beroperasi di Kabupaten

Balangan kurang memperhatikan hubungan antara muatan dengan

konfigurasi, jumlah sumbu, dan jumlah roda. Di Indonesia memang

belum ada ketentuan khusus mengenai hubungan antara berat muatan

dengan konfigurasi, jumlah sumbu, dan jumlah roda. Seharusnya

muatan yang berat diangkut dengan menggunakan kendaraan dengan

jumlah sumbu dan roda yang memenuhi ketentuan muatan maksimum

izin untuk per sumbu. Dampaknya beban kendaraan di setiap roda dan

sumbu menjadi tinggi. Inilah yang menimbulkan tekanan tinggi pada

jalan sehingga menyebabkan kerusakan.

Dalam hal daya angkut, banyak para pemilik kendaraan yang

melakukan modifikasi atau pengubahan pada spesifikasi teknis

kendaraan terutama dengan bak pengangkut yang cenderung

menambah kapasitas muatan dari ketentuan izin yang disyaratkan dan


40

menimbulkan pergeseran titik berat muatan. Akibatnya tidak

memenuhi kelayakan jalan dan kelayakan teknis kendaraan.

b. Sebab Non-Teknis

Penyebab aspek non-teknis meliputi aspek hukum, aspek sosial-

budaya serta aspek ekonomi. Dari aspek hukum, belum ada ketentuan

hukum yang mengatur tentang hubungan muatan dengan spesifikasi

kendaraan, denda yang rendah, peraturan yang berorientasi pada

kepentingan daerah semata, serta lemahnya pengawasan membuat

tingkat pelanggaran masih tinggi. Dari aspek sosial budaya serta

tingginya tingkat pengangguran membuat para pengemudi melakukan

pelanggaran batas muatan. Dari aspek ekonomi, keinginan para

provider angkutan barang untuk menekan perilaku pelanggaran batas

muatan.

Gambar 2.2
Kendaraan Muatan Berlebih yang Menggunakan Jalan di Desa
Lampihong Kanan
41

Ditinjau dari aspek hukum, penyebab pelanggaran batas muatan

terjadi karena banyak peraturan di bidang transportasi jalan terutama

bentuk sanksi yang diberikan tidak mengarah pada upaya menciptakan

efek jera kepada si pelanggar. Kecilnya jumlah denda atau kompensasi

yang harus dibayar oleh para pengendara kendaraan angkutan barang

mendorong para pengemudi tetap melakukan pelanggaran berkali-kali.

Dalam hal pelaksanaan peraturan, seringkali juga masih dijumpai

Peraturan Daerah (PERDA) yang berbeda dengan peraturan diatasnya

karena alasan-alasan menyesuaikan dengan kondisi wilayah atau karena

dorongan untuk meningkatkan pendapatan daerah yang bersangkutan.

Kecilnya jumlah denda atau kompensasi yang harus dibayar oleh

para pengendara kendaraan angkutan barang mendorong para pengemudi

tetap melakukan pelanggaran berkali-kali. Dalam hal pengawasan

peraturan, kecilnya jumlah sumber daya manusia yang bertanggungjawab

melakukan pemantauan pelanggaran di lapangan serta adanya jalur

alternatif yang dapat dilalui oleh kendaraan dengan muatan melebihi

ketentuan menghambat upaya-upaya untuk penertiban.

Tingginya tingkat pengangguran karena krisis ekonomi dan

sempitnya lapangan kerja mendorong posisi tawar para pengemudi sangat

lemah terhadap posisi para pengusaha angkutan pemilik kendaraan. Para

pemilik kendaraan dapat dengan mudah mencari sopir pengganti jika para

pengemudi enggan membawa kendaraan dapat dengan mudah mencari

sopir pengganti jika para pengemudi enggan membawa kendaraan yang


42

bermuatan lebih. Akibatnya para pengemudi ini terpaksa melakukan

pelanggaran batas muatan untuk memperoleh penghasilan.

Tinjauan dari aspek ekonomi menunjukkan bahwa alasan utama

para pengusaha angkutan barang melakukan pelanggaran batas muatan

adalah karena ingin menghemat ongkos angkut. Mereka lebih suka

mengisi kendaraannya dengan muatan lebih kendaraannya dengan muatan

lebih ketimbang harus mengangkut dengan dua kendaraan atau

mengangkut dua kali. Naiknya harga BBM di satu sisi dan sulitnya

menaikkan harga jual barang karena penurunan daya beli konsumen akibat

krisis ekonomi semakin mendorong para pengusaha untuk melakukan

efisiensi ongkos angkut, salah satunya dengan melakukan pelanggaran

batas muatan.

Faktor non-teknis lain yang mempercepat kerusakan jalan adalah

kebiasaan para sopir memompa roda/ban kendaraan truk berat dengan

tekanan angina yang jauh di atas batas kewajaran, Hal ini menyebabkan

kerusakan-kerusakan pada perkerasan jalan akibat geseran roda kendaraan

terutama pada jalan beraspal beton tipe HRS.

Pelanggaran batas muatan pada kendaraan angkutan barang

berdampak pada tingkat kelancaaran dan resiko lalu lintas. Perilaku

mengemudi yang mengisi kendaraannya dengan muatan jauh lebih banyak

dari yang seharusnya biasanya tampak tinggi atau panjangnya muatan

yang melebihi bak. Kondisi seperti ini dapat membahayakan pengendara

kendaraan lain yang berada di sekitarnya. Tidak jarang terjadi kecelakaan


43

dimana truk mengalami patah, muatan tumpah, atau terguling karena

kelebihan muatan.

a. Pertumbuhan Ekonomi

Pelanggara batas muatan karena alasan ekonomi seharusnya

perlu diukur dengan dampak multipliernya terhadap pertumbuhan

ekonomi. Bila saja resiko-resiko yang ditimbulkan oleh pelanggaran

batas muatan dalam bentuk peningkatan biaya pemeliharaan dan

tingkat kemacetan yang mengakibatkan pemborosan waktu, tenaga,

dan energi (bahan bakar) dapat dimaklumi jika biaya sosial seperti itu

tertutup oleh manfaat yang jauh lebih besar seperti pertumbuhan

ekonomi, percepatan aktivitas bisnis dan dampak-dampak lain yang

positif.

b. Tingkat Kerusakan Jalan

Dampak utama yang ditimbulkan oleh kelebihan muatan adalah

kerusakan jalan. Besarnya berat kendaraan membuat beban yang harus

ditanggung oleh masing-masing gandar/ban menjadi sangat tinggi atau

melebihi ketentuan. Hal ini tentu meningkatkan resiko kerusakan jalan.

c. Umur Pelayanan Jalan

Dampak terbesar yang ditimbulkan oleh adanya perilaku

pelanggaran batas muatan adalah semakin pendeknya usia jalan atau

menurunnya umur pelayanan jalan akibat tidak dipatuhinya pola

penggunaan jalan sesuai dengan persyaratan pada saat

pembangunannya.
44

d. Biaya Perawatan Jalan

Jumlah kerusakan jalan berdampak pada meningkatnya

kebutuhan dana untuk biaya pemeliharaan dan perbaikan jalan.


45

C. Kerangka Pemikiran

UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU


LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PENGAWASAN DAN


PENGENDALIAN MUATAN LEBIH DI DESA LAMPIHONG KANAN
KECAMATAN LAMPIHONG KABUPATEN BALANAGAN

Analisis Kebijakan Pemerintah


Tentang Pengawasan dan
Pengendalian Muatan Lebih
Tindakan tegas dan upaya dari
berdasarkan Teori Edward III
dalam implementasi kebijakan ada Pemerintah Daerah dalam
empat variabel krusial dalam mengatasi kerusakan jalan di Desa
implementasi yaitu:
Lampihong Kanan
1. Komunikasi
2. Sumber Daya KecamatanLampihong Kabupaten
3. Watak atau Sikap Balangan.
4. Struktur Birokrasi
Keempat faktor tersebut beroperasi
secara simultan dan saling

Faktor-Faktor penghambat kebijakan pemerintah dalam pengendalian


kerusakan jalan akibat angkutan yang berlebih

Upaya-Upaya yang dilakuakan pemerintah dalam pengawasan dan


pengendalian muatan yang lebih dalam upaya penaggulangan kerusakan
jalan akibat muatan yang berlebih

Kebijakan pemerintah dalam pengawasan dan pengendalian muatan yang


lebih dalam penaggulangan upaya kerusakan jalan didesa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat yang dibutuhkan

untuk penelitian ini, maka yang akan menjadi tempat pelaksanaan penelitian

adalah Desa Lampihong Kanan. Kecamatan Lampihong. Kabupaten

Balangan. Provinsi Kalimantan Selatan. Kode Pos 71661.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan ini dilakukan berdasarkan metode penelitian kualitatif.

Menurut Creswell (2009) penelitian kualitatif berarti proses eksplorasi dan

memahami makna perilaku individu dan kelompok, menggambarkan masalah

sosial atau masalah kemanusiaan. Proses penelitian mencakup membuat

pertanyaan penelitian dan prosedur yang masih bersifat sementara,

mengumpulkan data pada setting partisipan, analisis data secara induktif,

membangun data yang parsial ke dalam tema, dan selanjutnya memberikan

interpretasi terhadap makna suatu data. Kegiatan akhir adalah membuat

laporan ke dalam struktur yang fleksibel. Dari segi pengertian ini, para

penulis masih tetap mempersoalkan proses eksplorasi dan memahami makna

peril`aku individu atau kelompok agar hasilnya dapat digunakan untuk

menggambarkan masalah sosial atau masalah kemanusiaan dalam bentuk

laporan yang terstruktur secara fleksibel.

46
47

Penelitian kualitatif dapat menghasilkan dan memaparkan data secara

deskriptif atau menggambarkan penjelasan-penjelasan tentang beberapa hal

yang menyangkut fenomena atau permasalahan tersebut. Metode penelitian

kualitatif yang digunakan untuk maksud deskriptif atau memaparan suatu

objek masalah ini bertujuan untuk menjelaskan, mengngkapkan, dan untuk

mendapatkan deskripsi yang tepat tentang Kebijakan Pemerintah Tentang

Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong Kanan

Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.

Penggunaan pendekatan kualitatif ini adalah sesuai dengan

permasalahan penelitian yang ingin diungkapkan dengan objek penelitiannya

berupa gejala sosial khususnya gejala administrasi publik yang meliputi ruang

dan waktu aktivitas para pelaku sosial dimana gejala-gejala seperti itu tidak

selalu menampakkan sesuatu yang dapat diukur secara tepat.

C. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan

penelitian deskriptif, karena menggambarkan secara tepat mengenai realita

atau keadaan yang terjadi di dalam masyarakat. Sedangkan pendekatan yang

digunakan adalah pendekatan kualitatif. Jadi penulisan proposal ini

menggunakan metode dekriptif kualitatif.

Penelitian deskriptif kualitatif juga menggunakan metode-metode

kualitatif untuk mengeksplorasi makna-makna, beragam variasi dan

pemahaman perseptual akan menyebabkan munculnya fenomena yang

diteliti. Secara teknis, corak penelitian dekriptif kualitatif ini biasanya disusun
48

dalam bentuk penelitian lapangan dengan satu pertanyaan penelitian yang

spesifik. Penelitian dilakukan sesuai dengan keterangan yang didapat secara

langsung.

D. Data dan Sumber Data


1. Data

Data merupakan gambaran atau rekaman keterangan tentang suatu

hal atau fakta. Sumber data adalah dari mana data penelitian tersebut

diperoleh. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua yaitu data

primer dan data sekunder.

a. Data primer merupakan data yang diperolah langsung dari sumber asli

atau pertama. Adapun data primer yang penulis ambil adalah

melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi kepada pihak yang

terkait di Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten

Balangan.

b. Data sekunder merupakan data-data pendukung atau data resmi yang

digunakan untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan. Adapun data-

data sekunder yang penulis kumpulkan diantaranya adalah buku-buku

dan jurnal yang berhubungan dengan Kebijakan Pemerintah Tentang

Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong

Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.

2. Sumber Data

a. Teknik Penentuan Informan

Dalam penelitian ini digunakan teknik penarikan informan pada

penelitian ini adalah teknik sampling bertujuan (Purposive Sampling)


49

yaitu penentian informan dengan pertimbangan tertentu untuk

menggunakan sampel yang akan digunakan dengan cara sengaja atau

menunjuk langsung kepada orang yang dianggap dapat mewakili

karakteristik-karakteristik populasi. Penelitian ini dilakukan pada

seluruh pihak yang terkait. Informan penelitian ini adalah berasal dari

sebagian masyarakat dan aparat Desa Lampihong Kanan Kecamatan

Lampihong Kabupaten Balangan.

b. Dokumen/Dokumentasi

Dokumen adalah segala benda yang berbentuk barang, gambar

ataupun tulisan sebagai bukti dan dapat memberikan keterangan yang

penting. Dokumentasi adalah kumpulan dari dokumen-dokumen yang

dapat memberikan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan proses

pengumpulan dan pengelolaan dokumen secara sistematis serta

menyebarluaskan kepada pemakai informasi tersebut.

E. Desain Operasional penelitian

Berkaitan dengan penelitian ini mengenai Kebijakan Pemerintah

Tentang Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong

Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan maka direncanakan suatu

desain operasional penelitian untuk mengukur baik buruknya suatu konsep.

Desain operasional pada penelitian ini mengacu pada teori Edward III

(Subarsono. AG, 2013) karena teori tersebut lebih pas untuk penelitian ini

untuk mengetahui pengawasan dan pengendlian muatan lebih didesa

lampihong kanan. Yang menjelaskan pengawasan dan pengendalian terhadap


50

muatan lebih yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat, ada indikator yang

terletak pada tiga dimensi yaitu dampak dari kebijakan pemerintah,

pengawasan dan pengendalian, dan muatan lebih (overload).

Untuk lebih jelas mengenai desain operasional penelitian ini dapat

dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3.1
Desain Operasional Penelitian
Variabel Instrumen Indikator

Analisis Kebijakan Dampak dari a. Kurangnya kesadaran

Pemerintah Tentang kebijakan pemerintah .

Pengawasan Dan pemerintah b. Tidak adanya sanksi dari

Pengendalian pemerintah terhadap

Muatan Lebih pemilik angkutan

Didesa Lampihong Pengawasan dan a. Melakukan kunjungan ke

Kanan menurut pengendalian lokasi penelitian

teori Bakharudin, M. b. Mengamati lokasi

Fikri dan Wawan penelitian

Asnawi (2016) Muatan lebih a. Kendaraan melebihi batas

(overload) standar pengangkutan

b. Kurangnya kesadaran

perusahaan-perusahaan

pemilik angkutan
51

F. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian

ini adalah :

1. Observasi (pengamatan), yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data

dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap inti

permasalahan yang diperoleh melalui informan dan responden.

2. Wawancara, yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data dengan jalan

komunikasi, yaitu peneliti melakukan kegiatan tanya jawab dengan

informan yang bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai data

primer yang dibutuhkan.

3. Dokumentasi, yaitu dimana penulis membuat dokumen-dokumen dan

catatan-catatan yang ada pada lokasi penelitian yang bersifat menunjang

terhadap data primer yang diperoleh melalui responden dan informan.

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan

dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam

pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat

kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Dalam menganalisis data, penulis mengacu pada beberapa tahap,

adapun tahapannya dapat dilihat sebagai berikut :


52

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk

mengumpulkan berbagai fakta atau informasi-informasi yang ada di

lapangan.

2. Reduksi Data

Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menggolongkan,

menajamkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan

mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat di

ambil.

3. Penyajian Data

Penyajian data merupakan kegiatan menyajikan sekumpulan

informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik

kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk penyajiannya antara lain

berupa teks naratif, matriks, grafik jaringan dan bagan. Dalam proses ini

peneliti mengelompokkan hal-hal yang serupa menjadi kategori-kategori

atau kelompok-kelompok.

4. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan

baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa gambaran

atau deskripsi suatu obyek yang sebelumnya masih gelap atau remang-

remang sehingga setelah di teliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan

kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.


53

H. Uji Kredibilitas Data

Dalam rangka mengupayakan keabsahan data, maka dibuat uji

kredibilitas data dalam penelitian ini. Uji kredibilitas data atau kepercayaan

data hasil penelitian yang berjudul Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang

Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong Kanan

Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.

Dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Perpanjangan Pengamatan

Dengan perpanjangan pengamatan di Desa Lampihong Kanan

Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan. Pengamatan berarti meneliti

kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan

sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan

perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan

narasumber akan semakin membentuk rapport, semakin akrab (tidak ada

jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada

informasi yang disembunyikan lagi. Dalam perpanjangan pengamatan

untuk menguji kredibillitas data penelitian ini, sebaiknya difokuskan pada

pengujian terhadap data yang telah diperoleh, apakah data yang diperoleh

itu setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, berubah atau tidak.
54

2. Meningkatkan Ketekunan

Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pngamatan secara

lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka

kepastian data dan urutan peristiwa dapat direkam secara pasti dan

sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan itu, maka peneliti dapat

melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu

salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka,

peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis

tentang apa yang diamati.

3. Triangulasi

Triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai

pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai

waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik

pengumpulan data dan waktu.

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan

dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa

sumber. Data yang telah diperoleh dideskripsikan, dikategorisasikan,

mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana spesifik dari

keseluruhan sumber data tersebut. data yang telah dianalisis oleh

peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya

dimintakan kesepakatan (member check) dengan seluruh sumber data

yang ada.
55

b. Triangulasi teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan

dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik

yang berbeda. Jika pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan

data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut

kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk

memastikan data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya

benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.

c. Triangulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang

dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat

narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan

data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka

penujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan

pengecekan degan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu

atau situasi yang berbeda. Jika hasil uji menghasilkan data yang

berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai

ditemukan kepastian datanya.

4. Analisis kasus negatif

Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan

hasil penelitian hingga saat tertentu. Melakukan analisis kasus negatif

berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan

dengan data yang ditemukan. Jika tidak ada lagi data yang berbeda atau
56

bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat

dipercaya. Tetapi jika peneliti masih mendapatkan data-data yang

bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan

mengubah temuannya.

5. Menggunakan bahan referensi

Yang dimaksud dengan bahan referensi di sini adalah adanya

pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.

Dalam laporan penelitian, sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu

dilengkapi dengan foto-foto atau dokumen autentik, sehingga dapat lebih

dipercaya.

6. Mengadakan member check

Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh

peneliti kepada kepada pemberi data. Apabila data yang ditemukan

disepakati oleh para pemberi data berarti datanya data tersebut valid,

sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan

peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi

data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah

temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh

pemberi data.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2004 Tentang Penyelenggaran

Otonomi Daerah.

— 2007. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007

Tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan

Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

— 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan.

— 2014. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

— 2021. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan

Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

— Buku I Titel ke V Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

— Buku Ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Tentang Perikatan.

Murdiyanto, Eko. 2020. Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Aplikasi Disertai

Contoh Proposal). Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian

Kepada Masyrakat (LP2M) Universitas Pembangunan Nasional “veteran”

Yogyakarta Press.

Sugiono. 2022. Metode Penelitian Kualitatif Untuk Penelitian yang Bersifat:

Eksploratif, Enterpretif, Interaktif dan Konstruksi. Bandung: Alfabeta.

Tahir, Arifin. 2018. Kebijakan Publik dan Good Governancy. Gorontalo: -

Arifin, Zaenal. 2010. Pengaruh Beban Muatan Angkutan Kendaraan Berlebih

Kendaraan Truk Terhadap Perkiraan Umur Layan Perkerasan. Skripsi.

Naskah Publikasi. Depok: Fakultas Teknik. Universitas Indonesia.

57
Pratiwi, Dini Ayu. 2021. Pelaksanaan Pengawasan Over Dimension Over Loading

oleh Dinas Perhubungan Provinsi Riau. Skripsi. Naskah Publikasi.

Pekanbaru: Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial. Universitas Islam Negeri

Sultan Syarif Kasim Riau.

Putra, Roli Sapada. Pengaruh Muatan Berlebih Terhadap Umur Perkerasan Jalan

(Studi Kasus Jembatan Timbang Bertais). Skripsi. Naskah Publikasi.

Mataram: Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Mataram.

Segara, Aria B. 2012. Analisis Beban Berlebih (Overload) terhadap Umur

Pelayanan Jalan dengan Menggunakan Metode Anaitis (Studi Kasus Ruas

Jalan Tol Semarang). Skripsi. Naskah Publikasi. Surakarta: Fakultas

Teknik. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Zalukhu, Pafras Leonard. 2021. Analisa Dampak Beban Kendaraan dan Lalu-

Lintas Harian Rata-Rata Terhadap Kerusakan Jalab (Studi Kasus). Skripsi.

Naskah Publikasi. Medan: Fakultas Teknik. Universitas HKBP

Nommensen.

Anugerah, Gesaki. 2018. “Pengawasan Truk Bertonase Berat di Jalan Umum Kota

Pekanbaru.” JOM FISIP. 5(1): 1-14

Bakaruddin. dkk. 2016. “Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang Pengawasan dan

Pengendalian Muatan Lebih di Kab. Pelalawan Prov. Riau.” PROSIDING

1th Celscitech-UMRI 2016. 1: 97-105.

Maruto, Anom. 2008. “Kajian Analisis Dampak Kelebihan Muatan Terhadap

Biaya Perawatan Jalan Dalam Perspektif PAD dan Efisiensi APBD

Provinsi Jawa Timur.” DIA—Jurnal Administrasi Publik. 5(1): 27-45.

58
Rachman, Ellys. & Neneng. 2017. “Penerapan Kebijakan Angkutan Orang dan

atau Barang Berbadan Hukum Oleh Dinas Perhubungan, Pariwisata,

Komunikasi, dan Informatika Provinsi Gorontalo.” Jurnal Manajemen

Sumber Daya Manusia, Administrasi dan Pelayanan Publik Sekolah

Tinggi Ilmu Administrasi Bina Taruna Gorontalo. 4(2): 70-77.

Safitra. Putri A. 2019. “Analisa Pengaruh Beban Berlebih Terhadap Umur

Rencana Jalan (Studi Kasus: Ruas Jalan Manado-Bitung). Jurnal Sipil

Statik. 7(3): 319-328.

Sari, Novia. 2014. “Analisa Beban Kendaraan Terhadap Derajat Kerusakan Jalan

dan Umur Sisa.” Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan. 2(4): 615-620.

— 2021. Faktor-Faktor Apa Saja yang Menyebabkan Kerusakan Jalan?. Siplan.

Diakses pada 15 November 2022 melalui

[Link]

saja-yang-menyebabkan-kerusakan-jalan

— Pedoman Pengawasan. Pengadilan Agama Magetan. Diakses pada 15

November melalui

[Link]

Admindpu. (Tanpa Tahun). Jenis Kerusakan Jalan Pada Perkerasan Lentur. DPU

Kulonprogo. Diakses pada 15 November 2022 melalui

[Link]

perkerasan-lentur

59

Anda mungkin juga menyukai