Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang Pengawasan dan Pengendalian
Kendaraan Muatan Lebih di Desa Lampihong Kanan Kecamatan
Lampihong Kabupaten Balangan
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Metode Penelitian
Kualitatif
Disusun Oleh
Kelompok 1
Abd. Hadi Saputra (202207375)
Anjani (202207380)
Azizatul Ulya (202207382)
Elfinah (202207384)
Fitria Mutmainah (202207386)
Hami Azizah (202207388)
HALAMAN JUDUL
SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA) AMUNTAI
2022
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan dampak dari
kebijakan Pemerintah tentang Pengawasan dan Pengendalian Kendaraan Muatan
Lebih di Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih difokuskan pada jalan di Desa
Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan. Akan tetapi
belum ada tindak lanjut yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk mengatasi
fenomena yang diteliti, tidak adanya sanksi bagi para pelanggar membuat hal
tersebut terus berjalan. Kualitas prasarana transportasi dalam suatu wilayah
ditentukan oleh tingkat pelayanan jalan yang dilewati oleh setiap kendaraan, baik
itu kendaraan dengan muatan normal maupun kendaraan dengan muatan berlebih
(overloading) dari kelas jalan yang sudah ditetapkan. Ruas jalan desa Lampihong
kanan merupakan salah satu akses masyarakat desa untuk berlalu lalang menuju
Balangan–Amuntai, dimana ruas jalan ini banyak dilalui oleh kendaraan berat
dengan muatan normal maupun muatan berlebih yang melanggar batas ketentuan
untuk jumlah berat yang diizinkan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
kerusakan pada badan jalan di desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong
Kabupaten Balangan. Dampak lain yang disebabkan oleh kendaraan bermuatan
berlebih (overloading) adalah berkurangnya tingkat keselamatan berkendara dan
kemacetan jalan. Pengumpulan data dalam penelitian ini ada dua yaitu
pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer didapat melalui
observasi ke lapangan, wawancara serta dokumentasi ke tempat penelitian.
ii
Adapun data sekunder di dapat melalui jurnal-jurnal penelitian. Dari hasil
peninjauan kerusakan semakin hari semakin parah karena lalu lalang kendaraan
bermuatan lebih tersebut, sehingga jalan semakin sulit untuk dilalui oleh para
masyarakat. Adapun hingga saat ini belum ada upaya lebih lanjut yang dilakukan
oleh pemerintah untuk memperbaiki jalan tersebut.
Kata kunci : Kebijakan Pemerintah, Muatan Lebih, Pengawasan, Pengendalian
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan proposal penelitian
tentang “Pengawasan dan Pengendalian Kendaraan Muatan Lebih di Desa
Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan”.
Dalam proses penyusunan proposal penelitian ini, banyak sekali sumbangan
pemikiran dan pemberian data yang penulis dapatkan dari berbagai pihak.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa proposal ini jauh dari
sempurna, namun penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang
berkepentingan. Kritik dan saran serta tanggapan yang bersifat membangun akan
kami terima demi kesempurnaan proposal kami ini.
Balangan, 10 November 2022
Kelompok 1
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
ABSTRAK ............................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI .......................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Fokus Penelitian ............................................................................ 5
C. Rumusan Masalah ......................................................................... 5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 6
BAB II : LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu ..................................................................... 8
B. Tinjauan Teoritis ........................................................................... 9
1. Analisis .................................................................................. 9
2. Kebijakan Pemerintah ............................................................ 9
3. Pengawasan .......................................................................... 19
4. Faktor-Faktor Kerusakan Jalan ............................................ 26
5. Muatan Berlebih ................................................................... 37
6. Faktor Pendorong Pelanggaran Batas Muatan ..................... 38
C. Kerangka Pemikiran .................................................................... 45
v
BAB III : METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian ......................................................................... 46
B. Pendekatan Penelitian ................................................................. 46
C. Tipe Penelitian ............................................................................ 47
D. Data dan Sumber Data ................................................................ 48
E. Desain Operasional penelitian .................................................... 49
F. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 51
G. Teknik Analisis Data ................................................................... 51
H. Uji Kredibilitas Data ................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 57
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Karakteristik Kondisi Jalan ................................................................... 26
Tabel 3.1 Desain Operasional Penelitian .............................................................. 50
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kondisi Jalan di Desa Lampihong Kanan ......................................... 29
Gambar 2.2 Kendaraan Muatan Berlebih yang Menggunakan Jalan di Desa
Lampihong Kanan............................................................................ 40
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penyelenggaraan pemerintah daerah pada Negara Kesatuan Republik
Indonesia telah mengalami banyak perubahan dari pola sentraliasasi ke
desentralisasi sehingga menunjukan perubahan yang signifikan dalam
pembangunan daerah.
Dengan adanya perubahan pola tersebut, pemerintah daerah selayaknya
lebih dapat menjalankan fungsi pokok pemerintah yaitu fungsi pengaturan,
pelayanan, pemberdayaan dan fungsi pembangunan secara cepat dan tepat
pada daerahnya. Dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah
menampung seluruh aspirasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan
pemerintah ataupun non pemerintah. Hal tersebut terwujud dalam Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan
dasar dari pelaksanaan Otonomi Daerah, dengan harapan terciptanya
masyarakat adil, makmur dan sejahtera.
Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
sebagai pengganti UU No. 32 Tahun 2004 tentang Penyelenggaran Otonomi
Daerah dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007
Tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dapat menyebabkan terjadinya
kewenangan pada Pengelolaan Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan
1
2
Bermotor (UPPKB) yang selama ini menjadi Kewenangan Pemerintah Pusat
dan dilipahkan sepenuhnya kepada Pemerintahan Provinsi.
Pelaksanaan otonomi daerah dengan koridor Negara Kesatuan Republik
Indonesia sangat relevan dan tepat dipedomani serta diterapkan dalam
pengelolaan sumbar daya yang ada, kewenangan yang telah diberikan oleh
Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota akan dapat
mempercepat pembangunan daerah apabila dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya. Agar pembangunan daerah dapat berjalan dengan baik maka di
perlukan acuan sebagai dasar hukum untuk melaksanakan program
Pemerintah. Bentuk acuan tersebut berupa Peraturan Daerah yang merupakan
produk hukum dari eksekutif dan legislatif yang didalamnya telah
mengakomodasikan kepentingan masyarakat, dan tidak bertentangan dengan
hirarkis Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Peraturan Daerah juga
merupakan peraturan yang dibuat didalamnya menyelesaikan permasalahan
rumah tangga pemerintah daerah sendiri dengan berorientasi pada
penyelesaian masalah-masalah sosial di daerah. Penyelesaian permasalahan
daerah sangat erat hubungannya dengan pembangunan ekonomi. Sarana dan
prasarana jalan merupakan salah satu faktor yang utama dalam Pembangunan.
Jalan adalah salah satu prasarana perhubungan yang mempunyai peranan yang
sangat penting terutama menyangkut perwujudan perkembangan antar daerah
yang seimbang dan pemerataan hasil-hasil pembangunan serta pemantapan
pertahanan dan keamanan dalam menrealisasikan sasaran pembangunan
ditingkat daerah maupun ditingkat nasional.
3
Jasa pengangkutan di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata pada Buku Ketiga tentang Perikatan, kemudian dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Dagang pada Buku I titel ke V. Selain itu pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan di bidang transportasi darat yaitu dengan
dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Peraturan Pemerintah
Nomor 30 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun
2014 tentang Angkutan Jalan.
Sejak diberlakukannya pada tahun 2021, peraturan ini diharapkan dapat
mewujudkan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terkait dengan
penyelenggaraan jasa angkutan jalan baik angkutan orang maupun angkutan
barang, baik itu pengusaha angkutan, pekerja (sopir/pengemudi) serta
penumpang.
Kerusakan jalan sangat berpengaruh terhadap arus distribusi dan
pemasaran dengan segala efek langsung terhadap komoditas yang
didistribusikannya. Demikian juga terhadap faktor keamanan dan keselamatan
masyarakat di jalan menjadi perhatian penting akibat parahnya kondisi jalan.
Hal tersebut sangat kontradiktif dengan keinginan Pemerintah Kabupaten
Balangan untuk berakselerasi mengatasi ketinggalannya.
Melihat kondisi jalan yang ada di desa Lampihong Kanan ini, dapat
disimpulkan ada 2 (dua) faktor yang ditengarai menjadi penyebab utama
4
kerusakan jalan tersebut. Pertama adalah faktor rendahnya kualitas jalan.
Kedua, berlebihnya beban muatan kendaraan yang harus ditanggung jalan.
Fenomena yang terjadi saat ini adalah kerusakan jembatan utama
Paringin yang mengakibatkan kendaraan angkutan muatan berlebih
mengambil jalur Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten
Balangan sebagai jalan alternatif, jalur tersebut merupakan jalur yang
digunakan masyarakat selain jalan utama yang melewati jembatan Paringin,
rusaknya jembatan Paringin membuat angkutan muatan berlebih seperti truk
tronton mengambil jalur lain, yang mana akibat dari pengalihan jalur ke jalur
alternatif tersebut membuat jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan
Lampihong Kabupaten Balangan menjadi rusak parah. Pada umumnya truk
angkutan yang melalui jalur tersebut bermuatan besar yang menampung
muatan melebihi kapasitas beban jalan. Hal inilah yang menjadi keluhan para
masyarakat karena jalan semakin lama jalan di Desa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan mengalami kerusakan yang
parah.
Dampak dari kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan telah
dirasakan warga saat terjadi peralihan arus lintas khusus angkutan berat akibat
jembatan utama Paringin mengalami kerusakan. Selain mengganggu
kenyamanan warga Desa Lampihong Kanan, kerusakan jalan tersebut
membuat banyaknya debu jalanan yang berterbangan sehingga menyebabkan
rumah-rumah dan toko warga setempat kotor akibat debu jalanan.
5
Pemerintah Kabupaten Balangan saat ini hanya fokus memperbaiki
jembatan Paringin agar dapat secepatnya digunakan seperti semula. Sejauh ini
hanya ada upaya berupa di bagikannya batu-batu untuk menutupi jalanan yang
berlubang oleh pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Untuk kedepannya
diharapkan agar truk angkutan berlebih memiliki jalurnya tersendiri dan tidak
menggunakan jalan untuk masyarakat umum.
B. Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini Peneliti memfokuskan kepada “Analisis Kebijakan
Pemerintah Tentang Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih
Berdasarkan Teori Edward III (Subarsono. AG, 2013) Dengan menyangkut
beberapa variabel sebagai berikut:
1. Komunikasi;
2. Sumber daya;
3. Watak atau sikap;
4. Struktur birokrasi.
C. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dirumuskan pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh kendaraan muatan berlebih terhadap tingkat
kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong
Kabupaten Balangan?
6
2. Faktor-faktor apa saja yang membuat kendaraan muatan berlebih
menyebabkan kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan
Lampihong Kabupaten Balangan?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui pengaruh kendaraan muatan berlebih terhadap
tingkat kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan Kecamatan
Lampihong Kabupaten Balangan;
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang membuat kendaraan muatan
berlebih menyebabkan kerusakan jalan di Desa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
2. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi akademik dan
memberi kontribusi pemikiran pemimpin, manfaat yang diharapkan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Manfaat Teoritis
Dari aspek keilmuan penelitian ini dapat menjadi media
pemahaman, penalaran dan pengembangan terutama dalam ilmu
administrasi publik.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran
atau referensi bagi peneliti yang lain, memberi sumbang pemikiran dan
7
saran bagi pemerintah daerah sebagai alternatif pertimbangan dalam
meningkatkan kualitas pelayanan, menambah wawasan dan pengetahuan
tentang pelayanan yang baik, untuk menambah referensi yang berguna
bagi penelitian yang sejenis di masa yang akan datang serta dapat
memberi kontribusi pemikiran dan menjadi bahan pertimbangan bagi
pemerintah daerah Kabupaten Balangan dalam memberikan pelayanan
yang akan datang.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
1. Muhammad Madhani, 2020, dalam penelitian ini berjudul “Efektifitas
Penerapan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009
Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Di Kecamatan Amuntai Tengah
Kabupaten Hulu Sungai Utara” Dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi
(STIA) Amuntai, Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Adapun tujuan
dari penelitan ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas
Dan Angkutan Jalan Di Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu
Sungai Utara. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah
Kualitatif deskrptif.
2. Bakaruddin, M. Fikry Hadi, dan Wawan Asnawi, 2016, Dalam penelitian
ini berjudul “Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang Pengawasan dan
pengendalian Muatan Lebih Di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau” dari
Universitas Muhammadiyah Riau, Fakultas Ekonomi. Adapun tujuan dari
penelitian disini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis dampak
dari kebijakan Pemerintah tentang Pengawasan dan Pengendalian Muatan
Lebih yang berada di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penetapan prosedur dalam penimbangan beban
8
9
muatan telah berjalan baik sesuai dengan kebijakan Pemerintah, namun di
lain hal masih banyak terdapat bahwa pemilik dan pengemudi kendaraan
angkutan barang yang dengan sengaja menaikan beban (overload) dengan
alasan bahwa hasil dari kelebihan muatan tersebut para pengemudi bisa
mendapatkan nilai tambah penghasilan.
B. Tinjauan Teoritis
1. Analisis
Menurut Komaruddin (2001:53) pengertian analisis adalah kegiatan
berpikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen
sehingga dapat mengenal tanda-tanda komponen, hubungannya satu sama
lain dan fungsi masing-masing dalam satu kesatuan yang terpadu. Menurut
Harahap dala (Azwar, 2019) pengertian analisis adalah memecahlan atau
menguraikan suatu unit menjadi unit terkecil.
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis
merupakan suatu kegiatan berfikir untuk menguraikan atau memecahkan
suatu fenomena atau masalah dari unit menjadi unit terkecil.
2. Kebijakan Pemerintah
Isitilah kebijakan (policy) seringkali penggunaannya dipertukarkan
dengan istilah-istilah lain seperti tujuan (goals), program, keputusan,
undang-undang, ketentuan-ketentuan, usulan-usulan dan rancangan besar.
Bagi para pembuat kebijakan (policy makers) istilah-istilah tersebut tidak
akan menimbulkan masalah apapun karena mereka menggunakan referensi
yang sama. Namun bagi orang-orang yang berada di luar struktur
10
pengambilan kebijakan, istilah-istilah tersebut mungkin akan
membingungkan. Syafiie (2006:104), mengemukakan bahwa kebijakan
(policy) hendaknya dibedakan dengan kebijaksanaan (wisdom) karena
kebijaksanaan merupakan pengejawantahan aturan yang sudah ditetapkan
sesuai situasi dan kondisi setempat oleh person pejabat yang berwenang.
Untuk itu Syafiie mendefenisikan kebijakan publik adalah semacam
jawaban terhadap suatu masalah karena akan merupakan upaya
memecahkan, mengurangi, dan mencegah suatu keburukan serta
sebaliknya menjadi penganjur, inovasi, dan pemuka terjadinya kebaikan
dengan cara terbaik dan tindakan terarah.
Keban (2004:55) memberikan pengertian dari sisi kebijakan publik,
menurutnya bahwa : ”Public Policy dapat dilihat dari konsep filosofis,
sebagai suatu produk, sebagai suatu proses, dan sebagai suatu kerangka
kerja. Sebagai suatu konsep filosofis, kebijakan merupakan serangkaian
prinsip, atau kondisi yang diinginkan, sebagai suatu produk, kebijakan
dipandang sebagai serangkaian kesimpulan atau rekomendasi, dan sebagai
suatu proses, kebijakan dipandang sebagai suatu cara dimana melalui cara
tersebut suatu organisasi dapat mengetahui apa yang diharapkan darinya,
yaitu program dan mekanisme dalam mencapai produknya, dan sebagai
suatu kerangka kerja, kebijakan merupakan suatu proses tawar menawar
dan negosiasi untuk merumus isu-isu dan metode implementasinya”.
Kamus Besar bahasa Indonesia kebijakan dijelaskan sebagai
rangkaian konsep dan azas yang menjadi garis dasar rencana dalam
11
pelaksanaan pekerjaan, kepemimpinan, serta cara bertindak (tentang
perintah, organisasi dan sebagainya). Mustopadidjaja (1992:30)
menjelaskan, bahwa istilah kebijakan lazim digunakan dalam kaitannya
atau kegiatan pemerintah, serta perilaku negara pada umumnya dan
kebijakan tersebut dituangkan dalam berbagai bentuk peraturan. Hal ini
senada dengan Easton dalam Toha (1991:60), mendefenisikan kebijakan
pemerintah sebagai alokasi otoritatif bagi seluruh masyarakat sehingga
semua yang dipilih pemerintah untuk dikerjakan atau tidak dikerjakan
adalah hasil alokasi nilai-nilai tersebut. Sementara itu, Koontz dan
O’Donnel (1972:113), mendefenisikan kebijakan sebagai pernyataan
umum dari pengertian yang memandu pikiran dalam pembuatan
keputusan.
Sedangkan menurut Anderson (1984:113), kebijakan adalah suatu
tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan seseorang pelaku atau
sejumlah pelaku untuk memecahkan suatu masalah. Selanjutnya Anderson
(1984:113), mengklasifikasi kebijakan, policy, menjadi dua : substantif
dan prosedural. Kebijakan substantif yaitu apa yang harus dikerjakan oleh
pemerintah sedangkan kebijakan prosedural yaitu siapa dan bagaimana
kebijakan tersebut diselenggarakan. Ini berarti, kebijakan publik adalah
kebikan-kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-
pejabat pemerintah.
Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat lima hal yang berhubungan
dengan kebijakan publik. Pertama, tujuan atau kegiatan yang berorientasi
12
tujuan haruslah menjadi perhatian utama perilaku acak atau peristiwa yang
tiba-tiba terjadi. Kedua, kebijakan merupakan pola model tindakan pejabat
pemerintah mengenai keputusan-keputusan diskresinya secara terpisah.
Ketiga, kebijakan harus mencakup apa yang nyata pemerintah perbuat,
atau apa yang mereka katakan akan dikerjakan. Keempat, bentuk
kebijakan publik dalam bentuknya yang positif didasarkan pada ketentuan
hukum dan kewenangan. Tujuan kebijakan publik adalah dapat dicapainya
kesejahteraan masyarakat melalui produk kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah.
Setiap produk kebijakan haruslah memperhatikan substansi dari
keadaan sasaran, melahirkan sebuah rekomendasi yang memperhatikan
berbagai program yang dapat dijabarkan dan diimplementasikan
sebagaimana tujuan dari kebijakan tersebut. Untuk melahirkan sebuah
produk kebijakan, dapat pula memahami konsepsi kebijakan menurut
Abdul Wahab yang dipertegas oleh Budiman Rusli (2000:51-52) dimana
lebih jauh menjelaskan sebagai berikut :
a. Kebijakan harus dibedakan dari keputusan.
Paling tidak ada tiga perbedaan mendasar antara kebijakan
dengan keputusan yakni :
1) Ruang lingkup kebijakan jauh lebih besar dari pada keputusan
2) Pemahaman terhadap kebijakan yang lebih besar memerlukan
penelaahan yang mendalam terhadap keputusan.
13
3) Kebijakan biasanya mencakup upaya penelusuran interaksi yang
berlangsung diantara begitu banyak individu, kelompok dan
organisasi.
b. Kebijakan sebenarnya tidak serta merta dapat dibedakan dari
Administrasi.
Perbedaan antara kebijakan dengan administrasi mencerminkan
pandangan klasik. Pandangan klasik tersebut kini banyak dikritik,
karena model pembuatan kebijakan dari atas misalnya, semakin lama
semakin tidak lazim dalam praktik pemerintahan sehari-hari. Pada
kenyataannya, model pembuatan kebijakan yang memadukan antara
top-down dengan bottom-up menjadi pilihan yang banyak mendapat
perhatian dan pertimbangan yang realistis.
c. Kebijakan sebenarnya tidak serta merta dapat dibedakan dari
Administrasi.
Langkah pertama dalam menganalisis perkembangan kebijakan
negara ialah perumusan apa yang sebenarnya diharapkan oleh para
pembuat kebijakan. Pada kenyataannya cukup sulit mencocokkan
antara perilaku yang senyatanya dengan harapan para pembuat
keputusan.
d. Kebijakan mencakup ketiadaan tindakan ataupun adanya tindakan.
Perilaku kebijakan mencakup pula kegagalan melakukan tindakan
yang tidak disengaja, serta keputusan untuk tidak berbuat yang
disengaja (deliberate decisions not to act). Ketiadaan keputusan
14
tersebut meliputi juga keadaan dimana seseorang atau sekelompok
orang yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja
menciptakan atau memperkokoh kendala agar konflik kebijakan tidak
pernah tersingkap di mata publik.
e. Kebijakan biasanya mempunyai hasil akhir yang akan dicapai, yang
mungkin sudah dapat diantisipasikan sebelumnya atau mungkin belum
dapat diantisipasikan.
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai
pengertian kebijakan perlu pula kiranya meneliti dengan cermat baik
hasil yang diharapkan ataupun hasil yang senyatanya dicapai. Hal ini
dikarenakan, upaya analisis kebijakan yang sama sekali mengabaikan
hasil yang tidak diharapkan (unintended results) jelas tidak akan dapat
menggambarkan praktik kebijakan yang sebenarnya.
f. Kebijakan kebanyakan didefenisikan dengan memasukkan perlunya
setiap kebijakan melalui tujuan atau sasaran tertentu baik secara
eksplisit atau implisit.
Umumnya, dalam suatu kebijakan sudah termaktub tujuan atau
sasaran tertentu yang telah ditetapkan jauh hari sebelumnya, walaupun
tujuan dari suatu kebijakan itu dalam praktiknya mungkin saja berubah
atau dilupakan paling tidak secara sebagian.
15
g. Kebijakan muncul dari suatu proses yang berlangsung sepanjang
waktu.
Kebijakan itu sifatnya dinamis, bukan statis. Artinya setelah
kebijakan tertentu dirumuskan, diadopsi, lalu diimplementasikan, akan
memunculkan umpan balik dan seterusnya.
h. Kebijakan meliputi baik hubungan yang bersifat antar organisasi
ataupun yang bersifat intra organisasi.
Pernyataan ini memperjelas perbedaan antara keputusan dan
kebijakan, dalam arti bahwa keputusan mungkin hanya ditetapkan oleh
dan dan melibatkan suatu organisasi, tetapi kebijakan biasanya
melibatkan berbagai macam aktor dan organisasi yang setiap harus
bekerja sama dalam suatu hubungan yang kompleks.
i. Kebijakan negara menyangkut peran kunci dari lembaga pemerintah,
walaupun tidak secara ekslusif.
Terhadap kekaburan antara sektor publik dengan sektor swasta,
disini perlu ditegaskan bahwa sepanjang kebijakan itu pada saat
perumusannya diproses, atau setidaknya disahkan atau diratifikasikan
oleh lembagalembaga pemerintah, maka kebijakan tersebut disebut
kebijakan negara.
16
k. Kebijakan dirumuskan atau didefinisikan secara subyektif.
Hal ini berarti pengertian yang termaktud dalam istilah kebijakan
seperti proses kebijakan, aktor kebijakan, tujuan kebijakan serta hasil
akhir suatu kebijakan dipahami secara berbeda oleh orang yang
menilainya, sehingga mungkin saja bagi sementara pihak ada
perbedaan penafsiran mengenai misalnya tujuan yang ingin dicapai
dalam suatu kebijakan dan dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan
tersebut.
Sementara itu Parsons (2006:15), memberikan gagasan tentang
kebijakan adalah seperangkat aksi atau rencana yang mengandung tujuan
politik. Menurutnya kata policy mengandung makna kebijakan sebagai
rationale, sebuah manifestasi dari penilaian pertimbangan. Artinya sebuah
kebijakan adalah usaha untuk mendefenisikan dan menyusun basis
rasional untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.
Selanjutnya Nurcholis (2007:263), memberikan defenisi tentang
kebijakan sebagai keputusan suatu organisasi yang dimaksudkan untuk
mencapai tujuan tertentu, berisikan ketentuan-ketentuan yang dapat
dijadikan pedoman perilaku dalam hal :
a. Pengambilan keputusan lebih lanjut, yang harus dilakukan baik
kelompok sasaran ataupun (unit organisasi pelaksanaan kebijakan),
b. Penerapan atau pelaksanaan dari suatu kebijakan yang telah ditetapkan
baik dalam hubungan dengan (unit) organisasi pelaksana maupun
dengan kelompok sasaran yang dimaksudkan.
17
Makna kebijakan seperti yang dikutip oleh Jones (1996:47) dalam
pandangan Prof Heinz Eulau dan Kenneth Prewitt, yang menyatakan
bahwa kebijakan itu ialah : “a standing decision characterized by behavior
consistency and repetiveness on the part of both thoose who make it and
those who abide by it”.
Menurut Jones, bahwa kebijakan adalah keputusan tetap yang
dicirikan oleh konsistensi dan pengulangan (repetiveness) tingkah laku
dari mereka yang membuat dan dari mereka yag mematuhi keputusan
tersebut. Sekalipun definisi menimbulkan beberapa pertanyaan atau
masalah untuk menilai berapa lama sebuah keputusan dapat bertahan atau
hal apakah yang membentuk konsistensi dan pengulangan tingkah laku
yang dimaksud serta siapa yang sebenarnya melakukan jumlah pembuat
kebijakan dan pematuh kebijakan tersebut, namun demikina defenisi ini
telah memperkenalkan beberapa komponen kebijakan publik.
Selanjutnya tentang kebijakan publik Dye (2008:1),
mengemukakan : “Public policy is what ever governments choose to do or
not to do”, konsep ini menjelaskan bahwa kebijakan publik adalah apapun
yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan.
Menurutnya bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu
maka harus ada tujuan dan kebijakan negara tersebut harus meliputi semua
tindakan pemerintah, bukan semata-mata pernyataan keinginan pemerintah
atau pejabatnya. Disamping itu sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh
pemerintah pun termasuk kebijakan negara. Hal ini disebabkan ”sesuatu
18
yang tidak dilakukan” oleh pemerintah akan mempunyai pengaruh yang
sama besarnya dengan ”sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah”.
Dengan demikian kebijakan menurt Dye, adalah merupakan upaya
untuk memahami :
1. Apa yang dilakukan dan atau tidak dilakukan oleh pemerintah,
2. Apa penyebab atau yang mempengaruhinya, dan
3. Apa dampak dari kebijakan tersebut jika dilaksanakan atau tidak
dilaksanakan.
Jika konsep ini diikuti, maka dengan demikian perhatian kita dalam
mempelajari kebijakan seyogianya diarahkan pada apa yang nyata
dilakukan oleh pemerintah dan bukan sekedar apa yang ingin dilakukan.
Dalam kaitan inilah maka mudah dipahami jika kebijakan acap kali
diberikan makna sebagai tindakan politik. Sehubungan dengan hal tersebut
Dunn, (2003:22), mengemukakan bahwa proses analisis kebijakan adalah
serangkaian aktivitas intelektual yang dilakukan di dalam proses kegiatan
yang pada dasarnya bersifat politis. Aktivitas politis tersebut dijelaskan
sebagai proses pembuatan kebijakan dan diaktualisasikan sebagai
serangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan
waktu penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan,
implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Itulah sebabnya Utomo
(2006:76), mengemukakan setiap peraturan daerah, undang-undang
maupun kebijakan akan selalu terkait atau dikaitkan atau bahkan
dipengaruhi oleh sistem politik, sistem pemerintahan atau suasana politik
19
atau bahkan keinginan power elit pada suatu waktu. Senada dengan hal
tersebut (Nugroho, 2003: 7), mengemukakan bahwa kebijakan adalah
suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan
berlaku mengikat seluruh warganya. Setiap pelanggaran akan diberi saknsi
sesuai dengan bobot pelanggaran yang dilakukan dan sanksi dijatuhkan di
depan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan
sanksi.
Dari pengertian tersebut kebijakan dapat diartikan sebagai suatu
hukum. Akan tetapi tidak hanya sekedar hukum namun perlu dipahami
secara utuh dan benar. Ketika suatu isu yang menyangkut kepentingan
bersama dipandang perlu untuk diatur maka formulasi isu tersebut menjadi
kebijakan publik harus dilakukan dan disusun dan disepakati oleh para
pejabat yang berwewenang dan ketika kebijakan publik tersebut ditetapkan
menjadi suatu kebijakan publik, apakah menjadi Undang-Undang, apakah
menjadi Peraturan Pemerintah, atau Peraturan Presiden termasuk Peraturan
Daerah, maka kebijakan publik tersebut berubah menjadi hukum yang
harus ditaati.
Dengan demikian Kebijakan Publik adalah produk hukum yang
dikeluarkan oleh pemerintah menyangkut kepentingan publik yang harus
ditaati bersama.
3. Pengawasan
Dalam kamus bahasa Indonesia istilah ”Pengawasan berasal dari
kata awas yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat
sesuatu dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali
20
memberikan laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa
yang di awasi”. Sujianto (1986:24)
Menurut Anwar (2004:127), pengawasan atau kontrol terhadap
tindakan aparatur pemerintah diperlukan agar pelaksanaan tugas yang
telah ditetapkan dapat mencapai tujuan dan terhindar dari penyimpangan-
penyimpangan.
Pengawasan adalah suatu proses dalam menetapkan ukuran kinerja
dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang
diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah diciptakan tersebut.
Controlling is the process of measuring performance and taking action to
ensure desired result. Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa
segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah
direncanakan. The process of ensuring that activities conform the planned
activities. (Anwar,2004:127)
Menurut Prayudi (1981:80) “Pengawasan adalah suatu proses untuk
menetapkan pekerjaan apa yang dijalankan, dilaksanakan atau
diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan atau
diperhatikan.
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan
kinerja standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik
informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah
ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan
tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk
21
menjamin bahwa semua sumber daya permasalahan atau pemerintahan
telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan
perusahaan atau pemerintah. Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan hal penting dalam
menjalankan suatu perencanaan. Dengan adanya pengawasan maka
perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan
berjalan dengan baik. (Prayudi, 1981:97)
Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk
menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan
atas tujuan yang akan dicapai. Melalui pengawasan diharapkan dapat
membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai
tujuan yang telah direncanakan secara efisien dan efektif. Bahkan, melalui
pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan
atau evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja sudah
dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauh mana kebijakan
pimpinan dijalankan dan sampai sejauh mana penyimpangan yang terjadi
dalam pelaksanaan kerja tersebut.
Sementara itu, dari segi hukum tata negara, pengawasan dimaknai
sebagai “proses kegiatan yang membandingkan apa yang dijalankan,
dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki,
direncanakan atau diperintahkan.”
Hasil pengawasan ini harus dapat menunjukkan sampai dimana
teredapat kecocokan dan ketidakcocokan dan menentukan penyebab
22
ketidakcocokan yang muncul. Dalam konteks membangun manajemen
pemerintahan publik yang bercirikan good governance (tata kelola
pemerintah yang baik), pengawasan merupakan aspek penting untuk
menjaga fungsi pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam
konteks ini, pengawasan menjadi sama pentingnya dengan penerapan good
governance itu sendiri.
Pengawasan merupakan sebuah proses didalam menetapkan ukuran
dari kinerja dan juga pengambilan tindakan yang dapat mendukung dalam
pencapaian hasil yang diharapkan agar sesuai dengan kinerja yang sudah
ditetapkan. Atau juga dapat diartikan ialah sebuah proses agar dapat
memastikan bahwa segala aktivitas yang terlaksana sesuai seperti apa yang
sudah direncanakan.
Menurut Siagian pengawasan merupakan sebuah proses pengamatan
pelaksanaan dari seluruh kegiatan organisasi untuk dapat menjamin
seluruh pekerjaan yang sedang dilakukan dapat sesuai dengan rencana
yang sudah ditentukan sebelumnya. Didalam definisi yang diberikan
Siagian memiliki ciri yang penting yaitu bahwa sebuah definisi
pengawasan bisa diterapkan hanya bagi pengawasan pada pekerjaan-
pekerjaan yang tengah berjalan, tidak bisa diterapkan pekerjaanpekerjaan
yang telah selesai dilaksanakan. (Siagian, 1982:135)
Dibawah ini beberapa berbagai jenis pengawasan yang dapat
dilakukan diantaranya sebagai berikut :
23
a. Pengawasan Internal dan Eksternal
Pengawasan internal ialah pengawasan yang dilakukan oleh
orang ataupun badan yang ada terdapat didalam lingkungan unit
organisasi/lembaga yang bersangkutan. Sedangkan pengawasan
eksternal ialah pengawasan atau pemeriksaan yang dilakukan oleh unit
pengawasan yang ada diluar unit organisasi/lembaga yang diawasi.
b. Pengawasan Preventif dan Represif
Pengawasan preventif ialah lebih dimaksudkan sebagai suatu
pengawasan yang dilakukan pada kegiatan sebelum kegiatan itu
dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya kegiatan yang
menyimpang. Misalnya pengawasan tersebut dilakukan oleh
pemerintah supaya untuk menghindari adanya penyimpangan-
penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang
membebankan/merugikan negara. Sedangkan pengawasan represif
ialah suatu pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah
kegiatan tersebut sudah dilaksanakan atau dilakukan. Misalnya
pengawasan represif dilakukan pada akhir tahun anggaran yang
dimana anggaran yang telah ditentukan lalu disampaikan laporannya.
c. Pengawasan Aktif dan Pasif
Pengawasan aktif ialah pengawasan yang dilaksanakan sebagai
dari bentuk pengawasan yang dilakukan ditempat kegiatan yang
bersangkutan. Sedangkan pengawasan pasif ialah suatu pengawasan
yang dilakukan misalnya melalui penelitian serta pengujian terhadap
24
surat-surat atau laporan-laporan pertanggung jawaban yang disertai
dengan berbagai bukti penerimaan maupun bukti pengeluaran.
d. Pengawasan Kebenaran Formil
Pengawasan Kebenaran Formil ialah pengawasan menurut hak
dan pemeriksaan kebenaran materil mengenai maksud serta tujuan
pengeluaran.
Adapun tujuan dari pengawasan yaitu :
a. Menjamin ketetapan pelaksanaan tugas sesuai dengan rencana tersebut,
kebijaksanaan dan perintah.
b. Melaksanakan koordinasi kegiatan-kegiatan.
c. Mencegah pemborosan dan penyelewengan.
d. Menjamin terwujudnya kepuasan masyarakat atas barang dan jasa
yang dihasilkan.
e. Membina kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan organisasi
“pemerintah” (Al-Amin, 2006:155)
Menurut Winardi (1990:380) pengawasan merupakan suatu
kegiatan yang berusahan untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat
berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi
tercapai dan apabila terjadi penyimpangan dimana letak penyimpangan itu
dan bagaiman pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Itu
semua adalah tugas dari pengawasan. Bila fungsi pengawasan dilakukan
dengan baik dan tepat maka organisasi akan memperoleh manfaat berupa :
25
a. Dapat mengetahui sejauh mana program yang sudah dilakukan para
staf, apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumber
daya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Fungsi
pengawasan akan meningkatkan efisiensi kegiatan program.
b. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
c. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumberdaya lainnya mencukupi
kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien.
d. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
e. Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan,
dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan
Dalam rangka melakukan transformasi guna meraih perbaikan
kualitas organisasi publik, perlu dilakukan pengawasan terhadap seluruh
tindakan dan akibat dari proses transformasi tersebut. Melalui pengawasan
tersebut dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi secara
dini. Adapun fungsi pengawasan ialah sebagai berikut :
a. Mencegah terjadinya penyimpangan pencapaian tujuan yang telah
direncanakan.
b. Agar proses kerja sesuai dengan prosedur yang telah digariskan atau
ditetapkan.
c. Mencegah dan menghilangkan hambatan dan kesulitan yang akan,
sedang atau mungkin terjadi dalam pelaksanaan kegiatan.
d. Mencegah penyimpangan penggunaan sumber daya.
26
e. Mencegah penyalahgunaan otoritas dan kedudukan.
4. Faktor-Faktor Kerusakan Jalan
Kriteria jalan terbagi menjadi dua yaitu kriteria mantap dan tidak
mantap. Jalan mantap adalah mencapai sasaran repetisi beban standar yang
di rencanakan jika ada pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala yang
diwujudkan dalam kondisi perkeasan baik dengan pemeliharaan yang
wajar dapat dilalui lalu lintas sesuai lingkungannya dalam batasan sasaran
repetisi beban standar yang direncanakan tersebut. Sedangkan kriteria
jalan tidak mantap adalah telah mencapai sasaran repetisi beban standar
yang diwujudkan dalam kondisi kurang baik, sehingga memerlukan
penanganan peningkatan untuk dapat dilalui lalu lintas sesuai
lingkungannya.
Kondisi jalan secara visual diklasifikasikan atas : baik, sedang,
rusak, dan rusak berat. Kondisi tersebut terinci sebagai berikut :
Tabel 2.1
Karakteristik Kondisi Jalan
Jika jalan tersebut permukaannya masih rata
(Smooth) kendaraan berjalan :
Baik - Nyaman
- Tanpa Goncangan
- Kecepatan Konstan
Jika permukaan jalan tersebut terdapat gelombang-
Sedang gelombang kecil, atau terdapat 1-10 lobang dengan
kedalaman max 10 cm per 1000 M panjang jalan.
27
Kendaraan berjalan :
- Tidak sering berbelok untuk menghindari
lobang/kerusakan
- Kerusakan tersebut
Jika pertemuan jalan tersebut terdapat gelombang-
gelombang besar, atau terdapat 1-10 lobang dengan
kedalaman diatas Cm Per 1.000 M panjang jalan.
Rusak
Kendaraan berjalan :
- Terpaksa sering berbelok-belok untuk
menghindari kerusakan-kerusakan tersebut
Jika permukan jalan tersebut sudah hancur, terdapat
lobang-lobang besar, berlmpur dan bergelombang
cukup parah.
Kendaraan berjalan :
Rusak
Berat - Tidak bisa berjalan lancar
- Terkadang berhenti
- Tidak mungkin menghindari kerusakan-
kerusakan tersebut
Di Indonesia sering menghadapi dilemma bahwa perkerasan jalan
rusak sebelum waktunya, lebih dini daripada umur rencana untuk jalan
tersebut. Perkerasan jalan yang direncanakan minimal untuk umur lima
tahun biasanya sudah mulai menunjukkan kerusakan pada umur satu atau
28
dua tahun, dan yang direncanakan untuk umur sepuluh tahun ternyata telah
mengalami kerusakan pada usia lima tahun saja, bahkan kurang.
Sebagian para ahli perkerasan jalan berpendapat bahwa “ageing
process” atau proses menua dari aspal atau bahan bitumen berlangsung
relative sangat cepat di daerah tropis, sehingga aspal menjadi getas dalam
waktu relatif singkat dan mudah menjadi retak. Di Inggris dan Amerika
Utara, ageing process dari aspal ini berlangsung jauh lebih lambat
sehingga sangat memungkinkan untuk merencanakan perkerasan jalan
dengan umur rencana 20 tahun. Diperkirakan untuk Indonesia, ageing
process yang terlalu cepat ini menyebabkan perkerasan jalan dapat
bertahan hanya sekitar lima tahun saja. Masalah inilah yang menyebabkan
Bina Marga di Indonesia pada pertengahan tahun 1980-an merubah sistem
rancangan perkerasan jalan dari sistem AASHTO (Amerika) ke sistem BS
(British Standard), dari sistem AC (Asphaltic Concrete, dengan gradasi
agregat menerus cara Amerika) menjadi sistem HRS dan ATB cara
Inggris, yang berdasarkan pada campuran agregat bergradasi selang (gap-
graded aggregate) dan kadar bitumen yang lebih tinggi. Dengan cara ini
dikatakan umur rencana perkerasan dapat ditingkatkan lebih lama, bahkan
dapat mencapai umur rencana sepuluh tahun.
Pada kenyataannya di lapangan, penerapan sistem Inggris ternyata
tidak sepenuhnya memberikan hasil seperti yang diharapkan. Kerusakan
dini masih kerap terjadi, namun sebagian besar bukan dalam bentuk
keretakan tetapi dalam bentuk gelombang, sungkur (shoving), keriting
29
(corrugation), pengelupasan aspal (raveling) akibat geser di tikungan,
kegemukan (bleeding), timbulnya alur secara dini (premature rutting), dll.
Kondisi ini juga menyebabkan sebagian ahli beralih kembali ke sistem
Amerika, atau melakukan “kompromi” yaitu ATB direncanakan sesuai
sistem Inggris.
Gambar 2.1
Kondisi Jalan di Desa Lampihong Kanan
Sebagian ahli jalan berpendapat bahwa sumber kerusakan dini
adalah muatan kendaraan pengangkut di Indonesia yang terlalu berlebihan,
jauh di atas ketentuan standar yang berlaku menurut Bina Marga dan
Departemen Perhubungan Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut,
Departemen Perhubungan mengaktifkan kembali Jembatan-Timbang di
banyak ruas jalan di Indonesia. Akan tetapi ternyata jembatan-timbang
tersebut juga tidak efektif karena jalan-jalan raya, truk-truk berat dengan
30
muatan berlebihan (heavily overloaded trucks) tetap beroperasi dengan
bebas di jalanan sehingga diduga truk-truk berat tersebut menjadi
penyebab utama kerusakan dini (premature deterioration) dari perkerasan
jalan di Indonesia.
Menurut Sukirman, (1992) perkerasan jalan berdasarakan material
bahan pengikat dan pendistibusiannya dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
a. Perkerasan lentur (Flexible Pavenment), yaitu suatu jenis perkerasan
yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat dan mempunyai sifat
lentur dimana setelah pembebanan berlangsung perkerasan akan
seperti semula. Pada struktur perkerasan lentur, beban lalu lintas
didistrubsikan ketanah dasar secara berjenjang dan berlapis (Layer
System). Dengan sistem ini beban lalu lintas didistribusikan dari
lapisan atas ke lapisan bawahnya.
b. Perkerasan kaku (Rigid Pavenment), yaitu suatu jenis perkerasan jalan
menggunakan portland cement sebagai bahan pengikat dan
mempunyai sifat kaku dimana setelah pembebanan berlangsung
perkerasan tidak mengalami perubahan bentuk sehingga tegangan
yang terjadi pada dasar perkerasan sudah kecil sekali.
c. Perkerasan komposit (Composite Pavenment), yaitu perkerasan kaku
yang dikombinasikan dengan perkerasan lentur.
Berikut ini merupakan faktor-faktor penyebab kerusakan jalan :
a. Meningkatnya beban volume lalu lintas
31
Tentunya meningkatnya volume beban volume lalu lintas sangat
mempengaruhi faktor terjadinya kerusakan jalan, karena pada saat
perancangan perkerasan jalan, tentunya akan dirancang sesuai dengan
standar dan ketentuan yang berlaku (SNI). hal ini paling umum
ditemukan pada perkerasan lentur atau aspal, itulah mengapa
perkerasan aspal memerlukan biaya pemeliharaan yang lebih besar,
namun kerusakan jalan akibat meningkatnya volume lalu lintas pada
perkerasan jalan beton juga bisa terjadi, terlebih jika selalu dilalui oleh
kendaraan berat seperti truk yang bermuatan berlebih.
b. Sistem drainase buruk
Terlebih saat banjir, bayangkan air yang menggenang dalam
waktu yang tidak terlalu lama di jalan saja dapat mengakibatkan
jalanan menjadi rusak dan juga berlubang akibat perkerasan dapat
tergerus oleh air, apalagi jika jalanan digenangi dalam waktu yang
lama (saat banjir) serta biasanya diiringi oleh kemacetan, dan dilewati
berbagai kendaraan berat. Hal ini juga akan semakin memperparah
kondisi perkerasan jalan jika perkerasan jalan sudah mengalami
kerusakan seperti munculnya retakan. Nah, itulah mengapa adanya
sistem drainase yang baik atau minimal sesuai dengan standar yang
berlaku sangat penting untuk mengalirkan air di badan jalan agar tidak
menggenang.
32
c. Kondisi tanah yang tidak stabil
Sebelum melakukan pembangunan atau konstruksi perkerasan
jalan pada sebuah lahan, tentunya akan dilakukan pengecekan tanah
terlebih dahulu, sehingga didapatkan data tanahnya. Namun,
kenyataannya kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan data tanah,
karena terkadang tidak menggambarkan karakteristik tanah yang
semestinya, itulah yang dapat menyebabkan kondisi tanah tidak stabil.
Kondisi tanah yang tidak stabil (seperti tanah lempung) atau
mengalami pergerakan ini terutama akibat jalan yang terus menerus
dilalui oleh kendaraan berat dapat menyebabkan kerusakan jalan.
d. Perencanaan perkerasan yang tidak sesuai
Hal ini berkaitan dengan mutu dari perkerasan jalan itu sendiri,
dimana dalam merancang perkerasan jalan, tentunya memiliki
standarisasi yang perlu dipenuhi berdasarkan peraturan yang berlaku,
dengan memperhitungkan berbagai faktor seperti jenis klasifikasi jalan
yang akan dibuat, perencanaan geometrik jalannya, lapisan dan data
tanah yang akan dibangun, desain tulangannya (jika perkerasan beton),
dan sebagainya. Namun terkadang memang perencanaan tidak sesuai
dengan pelaksanaan atau kenyataan yang terjadi, sehingga membuat
perencanaan, atau desain perkerasan yang dibuat tidak sesuai dengan
kondisi realnya.
33
e. Kurangnya Perawatan atau Pemeliharaan
Kurangnya perawatan atau pemeliharaan pada perkerasan jalan
sejak dini dan tepat seperti saat adanya kerusakan kecil yang dibiarkan
terus menerus dapat mengakibatkan timbulnya lubang, dan dapat
mencelakai pengendara maupun pengguna jalan yang melintasinya.
selanjutnya, berikut ini adalah jenis-jenis kerusakan pada jalan
yaitu:
a. Retak (cracking)
Retak adalah suatu gejala kerusakan permukaan perkerasan
sehingga akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke
lapisan di bawahnya dan hal ini merupakan salah satu faktor yang akan
membuat parah suatu kerusakan (Departemen Pekerjaan Umum,
2007). Jenis kerusakan retak dibagi lagi menjadi beberapa jenis antara
lain :
1) Retak halus ( hair cracking)
Retak halus merupakan retak yang mempunyai lebar celah ≤
3 mm. Kemungkinan penyebab kerusakan :
a) Bahan material kurang baik
b) Pelapukan permukaan
c) Tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil
34
2) Retak kulit buaya (alligator crack)
Retak kulit buaya merupakan retak yang mempunyai celah
retak ≥ 3 mm dan saling berangkai menyerupai kulit buaya.
Kemungkinan penyebab kerusakan :
a) Bahan material kurang baik.
b) Pelapukan permukaan.
c) Tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil.
3) Retak pinggir (edge crack)
Retak pinggir merupakan retak dimana terjadi pada sisi
perkerasan/dekat bahu dan berbentuk retak memanjang dengan
atau tanpa cabang yang mengarah ke bahu. Kemungkinan
penyebab kerusakan :
a) Drainase kurang baik
b) Daya dukung tanah tepi kurang baik
c) Akar tanaman yang tumbuh di tepi perkerasan
4) Retak sambungan bahu perkerasan (edge joint crack)
Retak ini umumnya terjadi pada daerah sambungan
perkerasan dengan bahu yang beraspal. Kemungkinan penyebab
kerusakan :
a) Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan
b) Drainase kurang baik
c) Penyusutan material badan perkerasan jalan
d) Material pada bahu yang kurang baik
35
b. Distorsi (distortion)
Distorsi adalah perubahan bentuk yang dapat terjadi akibat
lemahnya tanah dasar sehingga terjadi tambahan pemadatan akibat
beban lalu lintas. Distorsi dapat dibagi menjadi beberapa jenis antara
lain :
1) Alur (ruts)
Alur merupakan kerusakan yang terjadi pada lintasan roda
sejajar dengan as jalan yang disebabkan oleh lapis perkerasan
yang kurang padat.
2) Keriting (corrugation)
Keriting merupakan kerusakan alur yang terjadi melintang
[Link] penyebab kerusakan:
a) Lalu lintas dipakai sebelum perkerasan mantap
b) Aspal yang dipakai mempunyai penetrasi yang tinggi
c) Banyak menggunakan aggregat halus, agregat bulat dan licin
3) Sungkur (shoving)
Sungkur merupakan kerusakan yang terjadi akibat dari
deformasi plastis yang terjadi setempat ditempat kendaraan sering
berhenti, kelandaian curam, dan tikungan tajam.
4) Amblas (grade depression)
Amblas merupakan kerusakan jalan yang terjadi
setempat/tertentu dengan atau tanpa retak yang disebabkan oleh
kendaraan yang melebihi apa yang direncanakan.
36
c. Cacat permukaan (disintegration)
Cacat permukaan merupakan kerusakan yang mengarah pada
kerusakan secara kimiawi dan mekanis dari lapis permukaan. Cacat
permukaan dapat dibagi menjadi beberpa jenis antara lain
1) Lubang (potholes)
Lubang merupakan kerusakan jalan berupa mangkuk yang
memiliki ukuran bervariasi dari kecil sampai besar.
2) Pelepasan butir (ravelling)
Pelepasan butir merupakan kerusakan jalan yang ditandai
dengan melepasnya butir lapis perkerasan yang dapat terjadi
secara meluas.
3) Pengelupasan lapis permukaan (stripping)
Pengelupasan lapis permukaan merupakan kerusakan yang
disebabkan oleh kurangnya ikatan antar lapis permukaan dan lapis
bawahnya atau terlalu tipis lapis permukaannya.
d. Pengausan (polished aggregate)
Pengausan merupakan kerusakan yang terjadi karena agregat
yang berasal dari material yang tidak tahan aus terhadap roda
kendaraan/agregat berbentuk bulat dan licin.
e. Kegemukan (bleending or flushing)
Kegemukan merupakan kerusakan yang terjadi pada saat
temperatur tinggi, aspal menjadi lunak, dan akan terjadi jejak roda
37
yang dapat disebabkan pemakaian kadar aspal yang tinggi pada
campuran aspal.
f. Penurunan pada bekas penanaman utilitas (utility cut depression).
Kerusakan jenis ini merupakan kerusakan yang terjadi karena
pemadatan yang tidak memenuhi syarat.
5. Muatan Berlebih
Jalan sebagai sarana transportasi dan distribusi ditinjau dari segi
pembiayaan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan biaya transportasi
(transport cost). Adapun yang dimaksud dengan biaya transportasi pada
kajian ini adalah biaya yang ditimbulkan oleh beban sumbu kendaraan truk
pada saat melewati suatu ruas jalan. Biaya transportasi dibagi menjadi dua
komponen yaitu biaya infrastruktur jalan (infrastructure cost) dan biaya
operasi kendaraan (vehicle operating cost), sedangkan biaya infrastruktur
dibagi menjadi dua sub komponen yaitu biaya perusakan jalan (damage
factor cost) dan biaya akibat penurunan umur pelayanan jalan (deficit
design life cost). Biaya infrastruktur jalan cenderung bertambah akibat
overloading.
Kunci keberhasilan terhadap pengamanan kerusakan struktur jalan
akibat beban berlebih, umur rencana jalan, efektivitas pelayanan jalan,
penurunan biaya perawatan/perbaikan jalan tergantung pada keberhasilan
dalam mengendalikan muatan maksimum yang diizinkan pada ruas jalan
bersangkutan. Pengendalian beban muatan maksimum truk yang diijinkan
melalui ruas jalan ditentukan oleh sistem pengukuran beban, pencatatan
38
karakteristik-karakteristik yang penting, pemantauan langsung atau tak
langsung, kedisiplinan dan keahlian petugas, teknologi informasi pada
jembatan-timbang.
AASHTO (1972) menetapkan beban As Standar (Standard Axle
Load) sebesar 18000 kip, atau 8,16 ton. Beban-beban as kendaraan lainnya
kemudian dikorelasikan kepada Beban As Standar tersebut untuk
mendapatkan Equivalent Axle Load, EAL, dari beban tersebut. Harga
EAL tersebut juga menunjukkan harga Damage Factor dari Beban As
Standar 8,16 ton melintas satu kali adalah sebesar 1 (satu).
Muatan gandar/as yang berlebihan ini merupakan penyebab utama
dari perbedaan antara hasil perhitungan total EAL dalam perancangan
suatu perkerasan jalan dengan total kenyataan EAL di lapangan, setelah
jalan tersebut dibuka untuk lalu-lintas.
6. Faktor Pendorong Pelanggaran Batas Muatan
Kendaraan muatan barang cenderung melakukan pelanggaran batas
muatan tidak terlepas dari berbagai faktor. Dari hasil pengamatan, kajian
data sekunder serta wawancara yang mendalam dengan berbagai pihak
yang terlibat dalam aktivitas transportasi jalan seperti Dinas Perhubungan
(DLLAJ), Dinas Bina Marga, Dinas Pendapatan, para pengemudi angkutan
serta para pengusaha angkutan barang, diperoleh kesimpulan bahwa secara
umu terdapat dua aspek yang mendorong terjadinya pelanggaran batas
muatan yaitu aspek teknis dan aspek non-teknis.
39
Faktor pendorong dari aspek teknis adalah spesifikasi manufaktur
kendaraan seperti jenis kendaraan, daya angkut, jumlah gandar/ban, dan
kelayakan kendaraan. Sedangkan faktor pendorong dari aspek non-teknis
melipusti aspek hukum, aspek sosial-budaya, serta aspek ekonomi.
a. Sebab Teknis
Jenis kendaraan angkutan barang (truk) terdiri dari pick up atau
truck single axle dengan single atau dual wheel, tendem axle truck
single axle dengan dual wheel, semi trailer dengan 3 hingga 6 axle,
dan trailer truck 4-5 axle. Jenis truk yang beroperasi di Kabupaten
Balangan kurang memperhatikan hubungan antara muatan dengan
konfigurasi, jumlah sumbu, dan jumlah roda. Di Indonesia memang
belum ada ketentuan khusus mengenai hubungan antara berat muatan
dengan konfigurasi, jumlah sumbu, dan jumlah roda. Seharusnya
muatan yang berat diangkut dengan menggunakan kendaraan dengan
jumlah sumbu dan roda yang memenuhi ketentuan muatan maksimum
izin untuk per sumbu. Dampaknya beban kendaraan di setiap roda dan
sumbu menjadi tinggi. Inilah yang menimbulkan tekanan tinggi pada
jalan sehingga menyebabkan kerusakan.
Dalam hal daya angkut, banyak para pemilik kendaraan yang
melakukan modifikasi atau pengubahan pada spesifikasi teknis
kendaraan terutama dengan bak pengangkut yang cenderung
menambah kapasitas muatan dari ketentuan izin yang disyaratkan dan
40
menimbulkan pergeseran titik berat muatan. Akibatnya tidak
memenuhi kelayakan jalan dan kelayakan teknis kendaraan.
b. Sebab Non-Teknis
Penyebab aspek non-teknis meliputi aspek hukum, aspek sosial-
budaya serta aspek ekonomi. Dari aspek hukum, belum ada ketentuan
hukum yang mengatur tentang hubungan muatan dengan spesifikasi
kendaraan, denda yang rendah, peraturan yang berorientasi pada
kepentingan daerah semata, serta lemahnya pengawasan membuat
tingkat pelanggaran masih tinggi. Dari aspek sosial budaya serta
tingginya tingkat pengangguran membuat para pengemudi melakukan
pelanggaran batas muatan. Dari aspek ekonomi, keinginan para
provider angkutan barang untuk menekan perilaku pelanggaran batas
muatan.
Gambar 2.2
Kendaraan Muatan Berlebih yang Menggunakan Jalan di Desa
Lampihong Kanan
41
Ditinjau dari aspek hukum, penyebab pelanggaran batas muatan
terjadi karena banyak peraturan di bidang transportasi jalan terutama
bentuk sanksi yang diberikan tidak mengarah pada upaya menciptakan
efek jera kepada si pelanggar. Kecilnya jumlah denda atau kompensasi
yang harus dibayar oleh para pengendara kendaraan angkutan barang
mendorong para pengemudi tetap melakukan pelanggaran berkali-kali.
Dalam hal pelaksanaan peraturan, seringkali juga masih dijumpai
Peraturan Daerah (PERDA) yang berbeda dengan peraturan diatasnya
karena alasan-alasan menyesuaikan dengan kondisi wilayah atau karena
dorongan untuk meningkatkan pendapatan daerah yang bersangkutan.
Kecilnya jumlah denda atau kompensasi yang harus dibayar oleh
para pengendara kendaraan angkutan barang mendorong para pengemudi
tetap melakukan pelanggaran berkali-kali. Dalam hal pengawasan
peraturan, kecilnya jumlah sumber daya manusia yang bertanggungjawab
melakukan pemantauan pelanggaran di lapangan serta adanya jalur
alternatif yang dapat dilalui oleh kendaraan dengan muatan melebihi
ketentuan menghambat upaya-upaya untuk penertiban.
Tingginya tingkat pengangguran karena krisis ekonomi dan
sempitnya lapangan kerja mendorong posisi tawar para pengemudi sangat
lemah terhadap posisi para pengusaha angkutan pemilik kendaraan. Para
pemilik kendaraan dapat dengan mudah mencari sopir pengganti jika para
pengemudi enggan membawa kendaraan dapat dengan mudah mencari
sopir pengganti jika para pengemudi enggan membawa kendaraan yang
42
bermuatan lebih. Akibatnya para pengemudi ini terpaksa melakukan
pelanggaran batas muatan untuk memperoleh penghasilan.
Tinjauan dari aspek ekonomi menunjukkan bahwa alasan utama
para pengusaha angkutan barang melakukan pelanggaran batas muatan
adalah karena ingin menghemat ongkos angkut. Mereka lebih suka
mengisi kendaraannya dengan muatan lebih kendaraannya dengan muatan
lebih ketimbang harus mengangkut dengan dua kendaraan atau
mengangkut dua kali. Naiknya harga BBM di satu sisi dan sulitnya
menaikkan harga jual barang karena penurunan daya beli konsumen akibat
krisis ekonomi semakin mendorong para pengusaha untuk melakukan
efisiensi ongkos angkut, salah satunya dengan melakukan pelanggaran
batas muatan.
Faktor non-teknis lain yang mempercepat kerusakan jalan adalah
kebiasaan para sopir memompa roda/ban kendaraan truk berat dengan
tekanan angina yang jauh di atas batas kewajaran, Hal ini menyebabkan
kerusakan-kerusakan pada perkerasan jalan akibat geseran roda kendaraan
terutama pada jalan beraspal beton tipe HRS.
Pelanggaran batas muatan pada kendaraan angkutan barang
berdampak pada tingkat kelancaaran dan resiko lalu lintas. Perilaku
mengemudi yang mengisi kendaraannya dengan muatan jauh lebih banyak
dari yang seharusnya biasanya tampak tinggi atau panjangnya muatan
yang melebihi bak. Kondisi seperti ini dapat membahayakan pengendara
kendaraan lain yang berada di sekitarnya. Tidak jarang terjadi kecelakaan
43
dimana truk mengalami patah, muatan tumpah, atau terguling karena
kelebihan muatan.
a. Pertumbuhan Ekonomi
Pelanggara batas muatan karena alasan ekonomi seharusnya
perlu diukur dengan dampak multipliernya terhadap pertumbuhan
ekonomi. Bila saja resiko-resiko yang ditimbulkan oleh pelanggaran
batas muatan dalam bentuk peningkatan biaya pemeliharaan dan
tingkat kemacetan yang mengakibatkan pemborosan waktu, tenaga,
dan energi (bahan bakar) dapat dimaklumi jika biaya sosial seperti itu
tertutup oleh manfaat yang jauh lebih besar seperti pertumbuhan
ekonomi, percepatan aktivitas bisnis dan dampak-dampak lain yang
positif.
b. Tingkat Kerusakan Jalan
Dampak utama yang ditimbulkan oleh kelebihan muatan adalah
kerusakan jalan. Besarnya berat kendaraan membuat beban yang harus
ditanggung oleh masing-masing gandar/ban menjadi sangat tinggi atau
melebihi ketentuan. Hal ini tentu meningkatkan resiko kerusakan jalan.
c. Umur Pelayanan Jalan
Dampak terbesar yang ditimbulkan oleh adanya perilaku
pelanggaran batas muatan adalah semakin pendeknya usia jalan atau
menurunnya umur pelayanan jalan akibat tidak dipatuhinya pola
penggunaan jalan sesuai dengan persyaratan pada saat
pembangunannya.
44
d. Biaya Perawatan Jalan
Jumlah kerusakan jalan berdampak pada meningkatnya
kebutuhan dana untuk biaya pemeliharaan dan perbaikan jalan.
45
C. Kerangka Pemikiran
UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU
LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PENGAWASAN DAN
PENGENDALIAN MUATAN LEBIH DI DESA LAMPIHONG KANAN
KECAMATAN LAMPIHONG KABUPATEN BALANAGAN
Analisis Kebijakan Pemerintah
Tentang Pengawasan dan
Pengendalian Muatan Lebih
Tindakan tegas dan upaya dari
berdasarkan Teori Edward III
dalam implementasi kebijakan ada Pemerintah Daerah dalam
empat variabel krusial dalam mengatasi kerusakan jalan di Desa
implementasi yaitu:
Lampihong Kanan
1. Komunikasi
2. Sumber Daya KecamatanLampihong Kabupaten
3. Watak atau Sikap Balangan.
4. Struktur Birokrasi
Keempat faktor tersebut beroperasi
secara simultan dan saling
Faktor-Faktor penghambat kebijakan pemerintah dalam pengendalian
kerusakan jalan akibat angkutan yang berlebih
Upaya-Upaya yang dilakuakan pemerintah dalam pengawasan dan
pengendalian muatan yang lebih dalam upaya penaggulangan kerusakan
jalan akibat muatan yang berlebih
Kebijakan pemerintah dalam pengawasan dan pengendalian muatan yang
lebih dalam penaggulangan upaya kerusakan jalan didesa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat yang dibutuhkan
untuk penelitian ini, maka yang akan menjadi tempat pelaksanaan penelitian
adalah Desa Lampihong Kanan. Kecamatan Lampihong. Kabupaten
Balangan. Provinsi Kalimantan Selatan. Kode Pos 71661.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan ini dilakukan berdasarkan metode penelitian kualitatif.
Menurut Creswell (2009) penelitian kualitatif berarti proses eksplorasi dan
memahami makna perilaku individu dan kelompok, menggambarkan masalah
sosial atau masalah kemanusiaan. Proses penelitian mencakup membuat
pertanyaan penelitian dan prosedur yang masih bersifat sementara,
mengumpulkan data pada setting partisipan, analisis data secara induktif,
membangun data yang parsial ke dalam tema, dan selanjutnya memberikan
interpretasi terhadap makna suatu data. Kegiatan akhir adalah membuat
laporan ke dalam struktur yang fleksibel. Dari segi pengertian ini, para
penulis masih tetap mempersoalkan proses eksplorasi dan memahami makna
peril`aku individu atau kelompok agar hasilnya dapat digunakan untuk
menggambarkan masalah sosial atau masalah kemanusiaan dalam bentuk
laporan yang terstruktur secara fleksibel.
46
47
Penelitian kualitatif dapat menghasilkan dan memaparkan data secara
deskriptif atau menggambarkan penjelasan-penjelasan tentang beberapa hal
yang menyangkut fenomena atau permasalahan tersebut. Metode penelitian
kualitatif yang digunakan untuk maksud deskriptif atau memaparan suatu
objek masalah ini bertujuan untuk menjelaskan, mengngkapkan, dan untuk
mendapatkan deskripsi yang tepat tentang Kebijakan Pemerintah Tentang
Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
Penggunaan pendekatan kualitatif ini adalah sesuai dengan
permasalahan penelitian yang ingin diungkapkan dengan objek penelitiannya
berupa gejala sosial khususnya gejala administrasi publik yang meliputi ruang
dan waktu aktivitas para pelaku sosial dimana gejala-gejala seperti itu tidak
selalu menampakkan sesuatu yang dapat diukur secara tepat.
C. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan
penelitian deskriptif, karena menggambarkan secara tepat mengenai realita
atau keadaan yang terjadi di dalam masyarakat. Sedangkan pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan kualitatif. Jadi penulisan proposal ini
menggunakan metode dekriptif kualitatif.
Penelitian deskriptif kualitatif juga menggunakan metode-metode
kualitatif untuk mengeksplorasi makna-makna, beragam variasi dan
pemahaman perseptual akan menyebabkan munculnya fenomena yang
diteliti. Secara teknis, corak penelitian dekriptif kualitatif ini biasanya disusun
48
dalam bentuk penelitian lapangan dengan satu pertanyaan penelitian yang
spesifik. Penelitian dilakukan sesuai dengan keterangan yang didapat secara
langsung.
D. Data dan Sumber Data
1. Data
Data merupakan gambaran atau rekaman keterangan tentang suatu
hal atau fakta. Sumber data adalah dari mana data penelitian tersebut
diperoleh. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua yaitu data
primer dan data sekunder.
a. Data primer merupakan data yang diperolah langsung dari sumber asli
atau pertama. Adapun data primer yang penulis ambil adalah
melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi kepada pihak yang
terkait di Desa Lampihong Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten
Balangan.
b. Data sekunder merupakan data-data pendukung atau data resmi yang
digunakan untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan. Adapun data-
data sekunder yang penulis kumpulkan diantaranya adalah buku-buku
dan jurnal yang berhubungan dengan Kebijakan Pemerintah Tentang
Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong
Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
2. Sumber Data
a. Teknik Penentuan Informan
Dalam penelitian ini digunakan teknik penarikan informan pada
penelitian ini adalah teknik sampling bertujuan (Purposive Sampling)
49
yaitu penentian informan dengan pertimbangan tertentu untuk
menggunakan sampel yang akan digunakan dengan cara sengaja atau
menunjuk langsung kepada orang yang dianggap dapat mewakili
karakteristik-karakteristik populasi. Penelitian ini dilakukan pada
seluruh pihak yang terkait. Informan penelitian ini adalah berasal dari
sebagian masyarakat dan aparat Desa Lampihong Kanan Kecamatan
Lampihong Kabupaten Balangan.
b. Dokumen/Dokumentasi
Dokumen adalah segala benda yang berbentuk barang, gambar
ataupun tulisan sebagai bukti dan dapat memberikan keterangan yang
penting. Dokumentasi adalah kumpulan dari dokumen-dokumen yang
dapat memberikan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan proses
pengumpulan dan pengelolaan dokumen secara sistematis serta
menyebarluaskan kepada pemakai informasi tersebut.
E. Desain Operasional penelitian
Berkaitan dengan penelitian ini mengenai Kebijakan Pemerintah
Tentang Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong
Kanan Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan maka direncanakan suatu
desain operasional penelitian untuk mengukur baik buruknya suatu konsep.
Desain operasional pada penelitian ini mengacu pada teori Edward III
(Subarsono. AG, 2013) karena teori tersebut lebih pas untuk penelitian ini
untuk mengetahui pengawasan dan pengendlian muatan lebih didesa
lampihong kanan. Yang menjelaskan pengawasan dan pengendalian terhadap
50
muatan lebih yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat, ada indikator yang
terletak pada tiga dimensi yaitu dampak dari kebijakan pemerintah,
pengawasan dan pengendalian, dan muatan lebih (overload).
Untuk lebih jelas mengenai desain operasional penelitian ini dapat
dilihat dari tabel berikut :
Tabel 3.1
Desain Operasional Penelitian
Variabel Instrumen Indikator
Analisis Kebijakan Dampak dari a. Kurangnya kesadaran
Pemerintah Tentang kebijakan pemerintah .
Pengawasan Dan pemerintah b. Tidak adanya sanksi dari
Pengendalian pemerintah terhadap
Muatan Lebih pemilik angkutan
Didesa Lampihong Pengawasan dan a. Melakukan kunjungan ke
Kanan menurut pengendalian lokasi penelitian
teori Bakharudin, M. b. Mengamati lokasi
Fikri dan Wawan penelitian
Asnawi (2016) Muatan lebih a. Kendaraan melebihi batas
(overload) standar pengangkutan
b. Kurangnya kesadaran
perusahaan-perusahaan
pemilik angkutan
51
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian
ini adalah :
1. Observasi (pengamatan), yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data
dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap inti
permasalahan yang diperoleh melalui informan dan responden.
2. Wawancara, yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data dengan jalan
komunikasi, yaitu peneliti melakukan kegiatan tanya jawab dengan
informan yang bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai data
primer yang dibutuhkan.
3. Dokumentasi, yaitu dimana penulis membuat dokumen-dokumen dan
catatan-catatan yang ada pada lokasi penelitian yang bersifat menunjang
terhadap data primer yang diperoleh melalui responden dan informan.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan
dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,
menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam
pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat
kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Dalam menganalisis data, penulis mengacu pada beberapa tahap,
adapun tahapannya dapat dilihat sebagai berikut :
52
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk
mengumpulkan berbagai fakta atau informasi-informasi yang ada di
lapangan.
2. Reduksi Data
Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menggolongkan,
menajamkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan
mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat di
ambil.
3. Penyajian Data
Penyajian data merupakan kegiatan menyajikan sekumpulan
informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik
kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk penyajiannya antara lain
berupa teks naratif, matriks, grafik jaringan dan bagan. Dalam proses ini
peneliti mengelompokkan hal-hal yang serupa menjadi kategori-kategori
atau kelompok-kelompok.
4. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan
baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa gambaran
atau deskripsi suatu obyek yang sebelumnya masih gelap atau remang-
remang sehingga setelah di teliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan
kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
53
H. Uji Kredibilitas Data
Dalam rangka mengupayakan keabsahan data, maka dibuat uji
kredibilitas data dalam penelitian ini. Uji kredibilitas data atau kepercayaan
data hasil penelitian yang berjudul Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang
Pengawasan dan Pengendalian Muatan Lebih di Desa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
Dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Perpanjangan Pengamatan
Dengan perpanjangan pengamatan di Desa Lampihong Kanan
Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan. Pengamatan berarti meneliti
kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan
sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan
perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan
narasumber akan semakin membentuk rapport, semakin akrab (tidak ada
jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada
informasi yang disembunyikan lagi. Dalam perpanjangan pengamatan
untuk menguji kredibillitas data penelitian ini, sebaiknya difokuskan pada
pengujian terhadap data yang telah diperoleh, apakah data yang diperoleh
itu setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, berubah atau tidak.
54
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pngamatan secara
lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka
kepastian data dan urutan peristiwa dapat direkam secara pasti dan
sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan itu, maka peneliti dapat
melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu
salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka,
peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis
tentang apa yang diamati.
3. Triangulasi
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai
pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai
waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik
pengumpulan data dan waktu.
a. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa
sumber. Data yang telah diperoleh dideskripsikan, dikategorisasikan,
mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana spesifik dari
keseluruhan sumber data tersebut. data yang telah dianalisis oleh
peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya
dimintakan kesepakatan (member check) dengan seluruh sumber data
yang ada.
55
b. Triangulasi teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik
yang berbeda. Jika pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan
data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut
kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk
memastikan data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya
benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.
c. Triangulasi waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang
dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat
narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan
data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka
penujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan
pengecekan degan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu
atau situasi yang berbeda. Jika hasil uji menghasilkan data yang
berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai
ditemukan kepastian datanya.
4. Analisis kasus negatif
Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan
hasil penelitian hingga saat tertentu. Melakukan analisis kasus negatif
berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan
dengan data yang ditemukan. Jika tidak ada lagi data yang berbeda atau
56
bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat
dipercaya. Tetapi jika peneliti masih mendapatkan data-data yang
bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan
mengubah temuannya.
5. Menggunakan bahan referensi
Yang dimaksud dengan bahan referensi di sini adalah adanya
pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.
Dalam laporan penelitian, sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu
dilengkapi dengan foto-foto atau dokumen autentik, sehingga dapat lebih
dipercaya.
6. Mengadakan member check
Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh
peneliti kepada kepada pemberi data. Apabila data yang ditemukan
disepakati oleh para pemberi data berarti datanya data tersebut valid,
sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan
peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi
data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah
temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh
pemberi data.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2004 Tentang Penyelenggaran
Otonomi Daerah.
— 2007. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007
Tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
— 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan.
— 2014. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
— 2021. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan
Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
— Buku I Titel ke V Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.
— Buku Ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Tentang Perikatan.
Murdiyanto, Eko. 2020. Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Aplikasi Disertai
Contoh Proposal). Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyrakat (LP2M) Universitas Pembangunan Nasional “veteran”
Yogyakarta Press.
Sugiono. 2022. Metode Penelitian Kualitatif Untuk Penelitian yang Bersifat:
Eksploratif, Enterpretif, Interaktif dan Konstruksi. Bandung: Alfabeta.
Tahir, Arifin. 2018. Kebijakan Publik dan Good Governancy. Gorontalo: -
Arifin, Zaenal. 2010. Pengaruh Beban Muatan Angkutan Kendaraan Berlebih
Kendaraan Truk Terhadap Perkiraan Umur Layan Perkerasan. Skripsi.
Naskah Publikasi. Depok: Fakultas Teknik. Universitas Indonesia.
57
Pratiwi, Dini Ayu. 2021. Pelaksanaan Pengawasan Over Dimension Over Loading
oleh Dinas Perhubungan Provinsi Riau. Skripsi. Naskah Publikasi.
Pekanbaru: Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial. Universitas Islam Negeri
Sultan Syarif Kasim Riau.
Putra, Roli Sapada. Pengaruh Muatan Berlebih Terhadap Umur Perkerasan Jalan
(Studi Kasus Jembatan Timbang Bertais). Skripsi. Naskah Publikasi.
Mataram: Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Mataram.
Segara, Aria B. 2012. Analisis Beban Berlebih (Overload) terhadap Umur
Pelayanan Jalan dengan Menggunakan Metode Anaitis (Studi Kasus Ruas
Jalan Tol Semarang). Skripsi. Naskah Publikasi. Surakarta: Fakultas
Teknik. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Zalukhu, Pafras Leonard. 2021. Analisa Dampak Beban Kendaraan dan Lalu-
Lintas Harian Rata-Rata Terhadap Kerusakan Jalab (Studi Kasus). Skripsi.
Naskah Publikasi. Medan: Fakultas Teknik. Universitas HKBP
Nommensen.
Anugerah, Gesaki. 2018. “Pengawasan Truk Bertonase Berat di Jalan Umum Kota
Pekanbaru.” JOM FISIP. 5(1): 1-14
Bakaruddin. dkk. 2016. “Analisis Kebijakan Pemerintah Tentang Pengawasan dan
Pengendalian Muatan Lebih di Kab. Pelalawan Prov. Riau.” PROSIDING
1th Celscitech-UMRI 2016. 1: 97-105.
Maruto, Anom. 2008. “Kajian Analisis Dampak Kelebihan Muatan Terhadap
Biaya Perawatan Jalan Dalam Perspektif PAD dan Efisiensi APBD
Provinsi Jawa Timur.” DIA—Jurnal Administrasi Publik. 5(1): 27-45.
58
Rachman, Ellys. & Neneng. 2017. “Penerapan Kebijakan Angkutan Orang dan
atau Barang Berbadan Hukum Oleh Dinas Perhubungan, Pariwisata,
Komunikasi, dan Informatika Provinsi Gorontalo.” Jurnal Manajemen
Sumber Daya Manusia, Administrasi dan Pelayanan Publik Sekolah
Tinggi Ilmu Administrasi Bina Taruna Gorontalo. 4(2): 70-77.
Safitra. Putri A. 2019. “Analisa Pengaruh Beban Berlebih Terhadap Umur
Rencana Jalan (Studi Kasus: Ruas Jalan Manado-Bitung). Jurnal Sipil
Statik. 7(3): 319-328.
Sari, Novia. 2014. “Analisa Beban Kendaraan Terhadap Derajat Kerusakan Jalan
dan Umur Sisa.” Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan. 2(4): 615-620.
— 2021. Faktor-Faktor Apa Saja yang Menyebabkan Kerusakan Jalan?. Siplan.
Diakses pada 15 November 2022 melalui
[Link]
saja-yang-menyebabkan-kerusakan-jalan
— Pedoman Pengawasan. Pengadilan Agama Magetan. Diakses pada 15
November melalui
[Link]
Admindpu. (Tanpa Tahun). Jenis Kerusakan Jalan Pada Perkerasan Lentur. DPU
Kulonprogo. Diakses pada 15 November 2022 melalui
[Link]
perkerasan-lentur
59