100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
18 tayangan87 halaman

Pengetahuan Keluarga tentang Luka Diabetes

Skripsi ini membahas tentang pengetahuan dan sikap keluarga tentang pencegahan luka pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Bulili. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap keluarga terhadap pencegahan luka pada pasien diabetes melitus. Sampel penelitian ini adalah 56 responden keluarga pasien diabetes melitus yang diambil secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki

Diunggah oleh

empus Cat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
18 tayangan87 halaman

Pengetahuan Keluarga tentang Luka Diabetes

Skripsi ini membahas tentang pengetahuan dan sikap keluarga tentang pencegahan luka pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Bulili. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap keluarga terhadap pencegahan luka pada pasien diabetes melitus. Sampel penelitian ini adalah 56 responden keluarga pasien diabetes melitus yang diambil secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki

Diunggah oleh

empus Cat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TENTANG

PENCEGAHAN LUKA DIABETES MELITUS PADA


PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS BULILI

SKRIPSI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT


DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA
KEPERAWATAN ([Link])

OLEH :

JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI


PK 115 016 014

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


INDONESIA JAYA
PALU, 2020
PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TENTANG
PENCEGAHAN LUKA DIABETES MELITUS PADA
PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS BULILI

SKRIPSI

DIAJUKAN OLEH :

JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI


PK 115 016 014

Telah disetujui dan diterima oleh :

Dosen Pembimbing I

Ns. Alfrida Samuel Ra’bung, [Link] Tanggal,......................2020


NIDN. 09 05049001

Dosen Pembimbing II

Ns. Noviany Banne Rasiman, M.N.S Tanggal,......................2020


NIDN. 09 11118303

Ketua STIK Indonesia Jaya

Dr. Esron Sirait, SE., [Link] Tanggal,…….….....…2020


NIDN. 09 27125301

ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Jersi Inneke Dewi Anggraini

NPM : PK 115 016 014

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar

merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilan alihan tulisan

atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan

bahwa sebagian atau keseluruhan skripsi ini hasil karya orang lain, saya bersedia

menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Palu, 21 September 2020

Yang menyatakan,

Jersi Inneke Dewi Anggraini


PK 115 016 014

iii
ABSTRAK

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh
kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun. World Health
Organization menyebutkan, 6% total kematian pada masayarakat Indonesia semua umur
disebabkan oleh penyakit Diabetes Melitus. Berdasarkan data awal yang peroleh dari
Puskesmas Bulili pada tahun 2018 jumlah pasien Diabetes melitus yaitu sebesar 501
pasien, sedangkan pada tahun 2019 terdapat kenaikan jumlah pasien Diabetes Melitus
sebesar 537 pasien. Berdasarkan hasil wawancara 7 dari 10 keluarga pasien mengatakan
tidak mengetahui pencegahan luka diabetes melitus. Tujuan penelitian ini adalah
diketahuinya Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes
Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.
Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif. Jenis data menggunakan data primer dan
data sekunder. Pengumpulan data dengan menggunakan. Analisa data menggunakan
analisa univariat. Populasi penelitian ini adalah semua keluarga pada Pasien Diabetes
Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dengan besar sampel menggunakan rumus
estimasi proporsi jumlah sampel 56 responden yang diambil secara Purposive Sampling
Hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden menunjukkan bahwa yang
terbanyak menurut usia dewasa akhir 19 orang (33.9%), jenis kelamin perempuan 42
orang (75%), pendidikan menengah 28 orang (50%), pekerjaan terbanyak swasta 25
orang (44.6%), pengetahuan responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada
pasien diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah baik (51,8 %), cukup
baik (37,5 %) dan kurang baik (10,7%). Sikap responden tentang pencegahan luka
diabetes melitus pada pasien diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah
negatif (51,8%) dan positif (48.2%).
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat cukup banyak keluarga penderita
diabetes mellitus yang memiliki pengetahuan baik, tetapi cukup banyak keluarga
memiliki sikap negatif tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes
melitus di wilayah kerja di Puskesmas Bulili.

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Pencegahan, Keluarga, Luka, Diabetes Mellitus,


Puskesmas

iv
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Allah Subhanahu Wata A’la, Tuhan

Yang Maha Kuasa yang senantiasa melimpahkan Nikmat, Rahmat dan kasih

sayang-Nya kepada kita semua, Salawat serta Salam tetap selalu tercurahkan

kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu A’laihi Wasalam, terkhusus kepada

penulis yang telah menyusun skripsi ini dengan judul “Pengetahuan dan Sikap

Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes

Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili” dapat diselesaikan tepat pada waktu

yang telah ditentukan.

Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis menyadari bahwa itu tak

lepas bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materi. Olehnya itu, penulis

mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua penulis tercinta (Ibu ......... dan

Bapak .................), yang telah merawat, membesarkan, mendidik, memberikan

do’a, motivasi moril dan materil serta rasa kasih sayang yang tiada henti-hentinya

dan kepada Saudara kandung penulis (...........), Semoga Allah SWT selalu

melimpahkan Nikmat, Rahmat, kasih sayangNya, kesehatan, kekuatan, dan umur

yang panjang.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih serta

penghargaan kepada yang terhormat Ns. ........... sebagai pembimbing I, Ns.

............. sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan,

waktu, kesabaran dan masukan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih

kepada:
v
1. dr. PASH Panggabean MPH, DR (HC), Ketua Yayasan Tri Karya Husada Palu

2. Dr. Esron Sirait, [Link], Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia

Jaya.

3. Ns. Ni Ketut Elmiyanti, [Link]. [Link], Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu.

4. Tim penguji yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri dalam

pelaksanaan proposal/skripsi, dan juga kepada Dosen dan staf Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu yang telah memberikan bantuan dan bekal

ilmu pengetahuan kepada penulis.

5. Kepala Puskesmas Birobuli Kota Palu, beserta staf yang telah memberikan izin

kepada peneliti untuk melakukan penelitian.

Semoga kebaikan yang diberikan kepada penulis dapat bernilai Ibadah

disisi Allah Subhanahu Wata A’la, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam penulisan

skripsi ini, penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis

sangat mengharapkan kritikan dan saran yang artinya membangun guna

kesempurnaan penulisan dimasa mendatang.

Palu, 21 September 2020

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Isi Hal
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .......................................................... iii
ABSTRAK ......................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................... v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1


A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian ................................................................................ 5
D. Manfaat Penelitian .............................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 7


A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan .............................................. 7
B. Tinjauan Umum Tentang Sikap .......................................................... 10
C. Tinjauan Umum Tentang Keluarga .................................................... 15
D. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus........................................ 17
E. Landasan Teori ................................................................................... 31
F. Kerangka Pikir .................................................................................... 32

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 33


A. Jenis Penelitian ................................................................................... 33
B. Waktu dan Tempat Penelitian............................................................. 33
C. Variabel dan Definisi Operasional ..................................................... 33
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ..................................................... 35
E. Pengolahan Data ................................................................................. 36
F. Analisa Data ....................................................................................... 37
G. Penyajian Data .................................................................................... 39
H. Populasi dan Sampel ........................................................................... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................. 44


A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................. 44
B. Hasil Penelitian ................................................................................... 47
C. Pembahasan ........................................................................................ 51

vii
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 59
A. Kesimpulan ......................................................................................... 59
B. Saran ................................................................................................... 59

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 61


LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel Hal
Tabel 4.1 Distribusi Luas Wilayah RW dan RT dirinci menurut
kelurahan di Puskesmas Bulili Tahun 2019............................... 44

Tabel 4.2 Distribusi Sarana Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas


Bulili Tahun 2019....................................................................... 45

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Usia Responden di wilayah kerja


Puskesmas Bulili........................................................................ 47

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di wilayah


kerja Puskesmas Bulili............................................................... 48

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di wilayah


kerja Puskesmas Bulili............................................................... 49

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di wilayah


kerja Puskesmas Bulili............................................................... 49

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Keluarga tentang


Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus........................................................................................ 50

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Sikap Keluarga tentang Pencegahan


Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus........................................................................................ 51

ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal

Gambar 2.1 Gambar skema krangka pikir..................................................... 32

x
DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Permohonan Untuk Menjadi Responden

2. Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden

3. Kuesioner Penelitian

4. Master Tabel

5. Hasil Olahan Data

6. Surat Izin Penelitian dari STIK Indonesia Jaya

7. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari Puskesmas Bulili

8. Dokumentasi Penelitian

9. Jadwal Penelitian

10. Biodata Peneliti

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang

ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun.

Sebutan Glukosa darah sering dikenal oleh masyarakat dengan gula darah.

(Kemenkes RI, 2018). Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk Diabetes, saat

ini telah menjadi ancaman serius kesehatan global. Dikutip dari data World

Health Organization 2016, 70% dari total kematian di dunia dan lebih dari

setengah beban penyakit. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumah

penderita Diabetes Melitus terbesar di dunia memiliki permasalahan dalam

menekan kejadian Diabetes Melitus tersebut. World Health Organization

menyebutkan, 6% total kematian pada masayarakat Indonesia semua umur

disebabkan oleh penyakit Diabetes Melitus (WHO, 2016).

Indonesia juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa dengan

dunia. International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan bahwa

epidemi diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat.

Sejalan dengan hal tersebut, Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)

memperlihatkan peningkatan angka prevalensi Diabetes yang cukup signifikan,

yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018, sehingga estimasi

jumlah penderita di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang. Data Bidang

Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan

1
Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2019 menunjukkan jumlah penduduk

yang menderita Diabetes Melitus sebesar 210.726 jiwa (Profil Kesehatan

Provinsi Sulteng, 2019). Terlihat dari data diatas jumlah penduduk yang

menderita diabetes melitus mengalami peningkatan, karena itu dibutuhkan

upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga guna melakukan

tindakan pencegahan luka diabetes melitus pada penderita DM.

Menurut Menteri Kesehatan RI, Menkes Nila F. Moeloek (2018), upaya

efektif untuk mencegah dan mengendalikan diabetes harus difokuskan pada

faktor-faktor risiko disertai dengan pemantauan yang teratur dan berkelanjutan

dari perkembangannya karena faktor risiko umum PTM di Indonesia relatif

masih tinggi, yaitu 33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95% tidak

mengkonsumsi buah dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di atas 15 tahun

merupakan perokok berat. Jika keadaan ini terus dibiarkan tanpa adanya

pencegahan yang dilakukan, dapat dipastikan jumlah penderita DM bisa

meningkat (WHO, 2016). Penatalaksanaan DM yang kurang tepat dapat

mengakibatkan komplikasi, salah satunya terjadinya luka kaki atau yang sering

disebut ulkus diabetik. ulkus diabetik adalah kerusakan integritas kulit atau

infeksi yang meluas sampai jaringan kulit bawah, tendon, otot bahkan tulang.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus diabetik yaitu terjadinya

neuropati, lama menderita DM, peripheral artery disease, perawatan kaki tidak

teratur, dan penggunaan alas kaki yang tidak tepat (Edward, 2015).

Terjadiya luka kaki diabetes salah satunya dipengaruhi oleh

ketidaktahuan penderita baik dalam pencegahan maupun perawatan.

2
Pengetahuan tentang kesehatan merupakan salah satu bagian dari pengelolaan

DM. Melalui pengetahuan penderita DM dapat mengetahui tentang penyakit,

sehingga dapat merawat dirinya sendiri. Partisipasi aktif dari penderita

menjadikan pengelolaan mandiri pada DM akan berjalan maksimal. DM tidak

hanya dilakukan mandiri oleh penderita saja namun tim kesehatan juga

berperan dalam mendampingi pasien untuk membentuk sikap serta perilaku.

Keberhasilan dalam mencapai perubahan sikap maupun perilaku membutuhkan

pembelajaran, keterampilan (skill) dan motivasi (Wulandini, dkk, 2016).

Pengetahuan atau kognitif merupakan aspek yang begitu penting untuk

dapat terbentuknya tindakan atau perilaku seseorang. Perilaku yang didasarkan

pada pengetahuan dan sikap yang positif akan berlangsung lama (long lasting)

(Notoatmodjo, 2010). Selain pengetahuan yang baik, perilaku juga dipengaruhi

oleh sikap yang baik pula (Notoatmodjo, 2010). Sikap merupakan reaksi atau

respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

Sikap terbentuk dari adanya interaksi lingkungan yang saling mempengaruhi

dan terjadi timbal balik antar individu. Begitu juga dalam hal pencegahan

terjadinya luka kaki, penderita akan bersikap sesuai dengan pengaruh

lingkungannya dan pengetahuan individu terhadap DM itu sendiri

(Notoatmodjo, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dari Sigit Apriliyani (2018),

dengan judul penelitian hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan

perilaku pencegahan terjadinya luka kaki diabetik pada penderita diabetes

melitus tipe II, hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki

3
tingkat pengetahuan baik dengan perilaku yang baik dan terdapat hubungan

antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan terjadinya luka kaki

diabetik. Selanjutnya hasil penelitian Himatul Aliyah (2018), dengan judul

penelitian hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku perawatan kaki

pasien DM sebagai pencegahan ulkus DM di RSI Kendal, hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahun dan

sikap dengan perilaku perawatan kaki pasien DM di RSI Kendal.

Berdasarkan hasil pengambilan data awal yang telah dilakukan

penulis, diketahui bahwa Puskesmas Bulili pada tahun 2017 jumlah pasien

Diabetes Melitus sebesar 293 pasien. Pada tahun 2018, di wilayah kerja

Puskesmas Bulili terdapat kenaikan jumlah pasien Diabetes melitus yaitu

sebesar 501 pasien. Sedangkan pada tahun 2019 di wilayah kerja Puskesmas

Bulili terdapat kenaikan jumlah pasien Diabetes Melitus sebesar 537 pasien

(Profil Kesehatan Puskesmas Bulili). Berdasarkan hasil wawancara dari 10

keluarga pasien, diperoleh gambaran pengetahuan yaitu penulis menanyakan

kepada keluarga pasien DM, “Apakah mengetahui pencegahan luka diabetes

melitus ?”, 7 dari 10 keluarga pasien mengatakan “tidak mengetahui

pencegahan luka diabetes melitus, mereka hanya tau penyakit diabetes bila

terjadi luka susah untuk sembuh” dan ketika penulis ingin mengetahui

gambaran tentang sikap keluarga pasien DM dengan menanyakan “menurut

keluarga apakah perlu keluarga mengetahui pencegahan luka diabetes

melitus?” 3 dari 10 keluarga pasien mengatakan “tidak perlu mengetahui,

4
karena apabila terjadi luka keluarga bisa membawa pasien DM ke fasilitas

pelayanan kesehatan yang ada”.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, mendorong peneliti untuk

melakukan penelitian ”Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan

Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Wilayah Kerja

Puskesmas Bulili”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimanakah Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes

Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili ?

2. Bagaimanakah Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus

pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan

Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka

Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.

b. Diketahuinya gambaran Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka

Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.

5
D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas Bulili

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat membantu memberikan

masukan dan informasi bagi pihak Puskesmas Bulili, mengenai pengetahuan

dan sikap pasien diabetes melitus, sekaligus tentang pentingnya memberikan

penyuluhan secara terus menerus kepada pasien diabetes melitus.

2. Bagi STIK Indonesia Jaya Palu

Diharapkan hasil penelitian ini menjadi salah satu bahan bacaan

atau referensi di perpustakaan dan dapat dimanfaatkan bagi mahasiswa

lain khususnya di bidang keperawatan yang akan melakukan penelitian

dengan variabel yang lain dan belum pernah diteliti sebelumnya.

3. Bagi Peneliti

Dengan adanya penelitian ini peneliti banyak mendapatkan

manfaat dimana wawasan dan pengetahuan peneliti bertambah dan

membuat peneliti melihat implementasi dan teori-teori yang sudah

didapatkan di bangku perkuliahan.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan

1. Definisi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan merupakan hasil dari

tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan baik melalui

indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba terhadap suatu

objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata

dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya prilaku seseorang.

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2012), ada enam tingkatan dalam

pengetahuan yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu adalah tingkatan paling rendah. Tahu diartikan sebagai

mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat

kembali sesuatu yang spesifik atau khusus dari seluruh badan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami (comprehention)

Memahami adalah kemampuan untuk menerangkan dan

menginterpretasikan secara benar mengenai objek yang diketahuinya.

Pada tingkatan ini individu yang bersangkutan harus bisa menjelaskan,

7
memberikan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya

terhadap materi atau substansi yang dipelajari.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi adalah kemampuan mendapatkan materi yang dipelajari

beberapa hukum-hukum, rumus, metode, dan sebagainya pada kondisi

yang nyata.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan menjabarkan materi atau objek

kedalam komponen-komponen dalam struktur organisasi tersebut, yang

terkait satu sama lain.

e. Sintesis (synthetis)

Sintesis atau formulasi menunjukkan pada kemampuan untuk

melatakan atau menghubungkan bagian-bagian kedalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penelitian terhadap suatu objek atau materi. Evaluasi ini dilaksanakan

pada kriteria yang telah ada atau kriteria yang disusun oleh yang

bersangkutan.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2012), terdapat tiga faktor yang dapat

mempengaruhi pengetahuan yaitu:

8
a. Umur

Umur adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir hingga saat

ini. Pada masa ini merupakan usia produktif. Masa ketegangan emosi,

masa keterampilan, sosial, masa komitmen, masa cara hidup, masa

kreatif. Pada dewasa ini ditandai dengan adanya perubahan “fisik dan

mental”, semakin bertambah umur seseorang maka akan mempengaruhi

tingkat pengetahuannya.

b. Pendidikan

Pendidikan adalah proses menumbuh kembangkan seluruh

kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam

pendidikan perlu dipertimbangkan umur dan hubungan dengan proses

belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang untuk mudah menerima ide dan

teknologi baru. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan

bertambah juga pengalaman yang mempengaruhi wawasan dan

pengetahuan. Adapun tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan

yaitu untuk mengubah pengetahuan, sikap dan tingkah laku atau

kebiasaan baru seseorang.

c. Pekerjaan

Pekerjaan adalah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan sehari-hari

untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya

sehari-hari dimana semua bidang pekerjaan umumnya diperlukan adanya

hubungan sosial antara satu dan yang lainnya. Setiap orang harus bisa

9
membangun relasi dengan teman sejawat hingga dengan atasan

sekalipun, sehingga orang dengan hubungan sosial yang luas,

mempunyai pengetahuan yang tinggi dibandingkan dengan orang yang

kurang membangun relasi sosial dengan orang lain (Notoatmojo, 2012).

4. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dilakukan dengan memberikan kuesioner

tentang objek pengetahuan yang akan diukur, selanjutnya memberikan

penilaian dimana setiap jawaban yang benar dari masing-masing pertanyaan

diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Selanjutnya persentase jawaban

diinterpretasikan dengan acuan sebagai berikut

Menurut Nursalam (2016) pengetahuan seseorang dapat di ukur

dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

a. Pengetahuan baik : 76% - 100%

b. Pengetahuan cukup : 56% - 75%

c. Pengetahuan kurang : < 56%

B. Tinjauan Umum Tentang Sikap

1. Definisi Sikap

Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat

langsung. Sikap hanya dapat ditafsirkan pada perilaku yang nampak. Sikap

dapat diterjemahkan dengan sikap terhadap objek tertentu diikuti dengan

kecenderungan untuk melakukan tindakan sesuai dengan objek

(Notoatmodjo, 2010). Azwar (2010) mengatakan bahwa sikap yang

diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap

10
perilaku berikutnya. Pengaruh langsung tersebut lebih berupa predisposisi

perilaku yang akan direalisasikan apabila kondisi dan situasi

memungkinkan.

2. Ciri-ciri sikap

Ciri-ciri sikap adalah menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu:

a. Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini

membedakannya dengan sifat motif-motif biogenesis seperti lapar, haus,

kebutuhan akan istirahat.

b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap

dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan

syarat-syarat tertentu yang mempermudahkan sikap pada orang itu.

c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan

tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk,

dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu

yang dapat dirumuskan dengan jelas.

d. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan

kumpulan dari hal-hal tersebut.

e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat

alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau

pengetahuan- pengetahuan yang dimiliki orang.

11
3. Sifat sikap

Menurut Wawan dan Dewi (2011) sikap dapat pula bersifat positif

dan dapat pula bersifat negatif.

a. Sifat positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,

mengharapkan objek tertentu.

b. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,

membenci, tidak menyukai objek tertentu.

4. Faktor- faktor yang mempengaruhi sikap

Menurut Wawan dan Dewi (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi

sikap yaitu :

a. Pengalaman pribadi

Untuk dapat menjadi pembentukan sikap, pengalaman pribadi

haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih

mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam

situasional yang melibatkan faktor emosional.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang

konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk

menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

c. Pengaruh kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah

sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap

12
anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak

pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.

d. Media massa

Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media

komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara

objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya

berpengaruh terhadap sikap konsumennya.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga

agama sangat menentukan sistem kepercayaan, tidak mengherankan jika

pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.

f. Faktor emosional

Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang

didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau

pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

5. Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmodjo (2012) sikap terdiri dari berbagai tingkatan

yaitu :

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang atau subyek mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan

13
b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan tugas yang

diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk

menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas

dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang tersebut

menerima ide itu.

c. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan

dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap

tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.

6. Pengukuran Sikap

Menurut Azwar S (2011), pengukuran sikap dilakukan dengan

memberikan kuesioner. Sistem penilaian menggunakan 1-4 pilihan jawaban,

pilihan jawaban tersebut adalah pada pernyataan favourable (mendukung)

diberikan skor 4 untuk jawaban Sangat Setuju (SS), skor 3 untuk jawaban

Setuju (S), skor 2 untuk jawaban Tidak Setuju (TS), skor 1 untuk jawaban

Sangat Tidak Setuju (STS). Pernyataan unfavourable (tidak mendukung)

diberikan skor 4 untuk jawaban Sangat Tidak Setuju (STS), skor 3 untuk

jawaban Tidak Setuju (TS), skor 2 untuk jawaban Setuju (S) dan skor 1

untuk jawaban Sangat Setuju (SS).

14
a. Sikap positif : jumlah skor ≥ median

b. Sikap negatif : jumlah skor < median

C. Tinjauan Umum Tentang Keluarga

1. Definisi Keluarga

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh

kebersamaan dan kedekatan emosional serta yang mengidentifikasi dirinya

sebagai bagian dari keluarga. Definisi ini mencakup berbagai hubungan,

termasuk di dalamnya keluarga yang tidak ada hubungan darah, pernikahan,

atau adopsi dan tidak hanya terbatas pada keanggotaan dalam suatu rumah

tangga (Friedman dkk, 2010).

2. Tipe Keluarga

Friedman dkk. (2010) menjelaskan tipe-tipe keluarga:

a. Keluarga inti terkait dengan pernikahan

Merupakan keluarga yang terbentuk karena pernikahan, peran

sebagai orang tua, atau kelahiran: terdiri atas suami, istri, dan anak-anak

mereka baik secara biologis, adopsi, atau keduanya.

b. Keluarga orientasi (keluarga asal)

Merupakan unit keluarga tempat seseorang dilahirkan.

c. Extended family

Keluarga yang terdiri dari keluarga inti dan keluarga terkait lainnya

(oleh hubungan darah), yang biasanya merupakan anggota keluarga asal

dari salah satu pasangan keluarga inti. Keluarga ini terdiri atas nenek,

kakek, bibi, paman, keponakan, dan sepupu.

15
3. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman, dkk. (2010) terdapat lima fungsi dasar keluarga:

a. Fungsi afektif (fungsi mempertahankan kepribadian) Memfasilitasi

stabilitasi kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan psikologis

anggota keluarga

b. Fungsi sosialisasi dan status sosial

Memfasilitasi sosialisasi primer anak yang bertujuan menajdikan

anak sebagai anggota masyarakat yang produktif, serta memberikan

status pada anggota keluarga.

c. Fungsi reproduktif

Untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa

generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

d. Fungsi ekonomi

Menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi

efektifnya.

e. Fungsi perawatan kesehatan

Menyediakan kebutuhan fisik, seperti makanan, pakaian, tempat

tinggal, perawatan kesehatan.

4. Dukungan sosial

Individu yang termasuk dalam memberikn dukungan sosial meliputi

pasangan (suami/ istri), orang tua, anak, sanak keluarga, teman, tim

kesehatan, atasan, dan konselor (Nursalam, 2010).

16
D. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus (DM)

1. Definisi Diabetes Melitus

Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas

tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau

glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin

yang dihasilkannya. Diabetes adalah masalah kesehatan masyarakat yang

penting, menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular prioritas yang

menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah kasus dan

prevalensi diabetes terus meningkat selama beberapa dekade terakhir.

(WHO Global Report, 2016). Suatu penyakit menahun yang ditandai oleh

kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun. Sebutan

Glukosa darah sering dikenal oleh masyarakat dengan gula darah.

(Kemenkes RI, 2018).

2. Etiologi

Diabetes terjadi karena produksi insulin yang kurang (defisiensi

insulin) atau insulin yang tidak efektif (insulin yang resiten). Fungsi insulin

adalah memasukkan glukosa kedalam sel tubuh sehingga bisa diubah

menjadi energi. Ketika insulin tidak mampu memasukkan glukosa kedalam

sel maka jumlah glukosa didalam darah akan meningkat yang nantinya akan

menyebabkan hiperglisemia (Leslie dkk, 2012).

17
3. Klasifikasi

Menurut Tandra (2008) dalam Leslie, dkk (2012) ada dua tipe utama

diabetes, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

a. Tipe 1 (tipe tergantung insulin)

Ditandai dengan kegagalan produksi insulin yang parsial atau

total oleh sel-sel beta pangkreas. Faktor penyebab masih belum jelas,

tetapi beberapa virus, penyakit autoimun, dan faktor-faktor genetik dapat

menjadi penyebab. Diabetes tipe 1 dapat terjadi pada anak dan dewasa.

Penangannya dengan injeksi insulin untuk mengontrol kadar glukosa

dalam darah.

b. Tipe 2 (tidak tergantung insulin)

Ditandai dengan resistensi insulin ketika hormon insulin

diproduksi dengan jumlah yang tidak memadai atau dengan bentuk yang

tidak efektif. Faktor genetik yang kuat dan obesitas dapat berperan dalam

proses terjadinya penyakit dan biasanya terjadi pada orang dewasa.

Diabetes tipe 2 dapat dikendalikan dengan diet dan latihan, dan

penggunaan obat diabetes.

4. Faktor Resiko

Proses timbulnya penyakit diabetes disebabkan oleh berbagai faktor

yang dipengaruhi oleh komponen genetik dan lingkungan yang memberikan

kontribusi sama kuatnya terhadap munculnya penyakit tersebut. Sebagian

faktor tersebut dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup, sementara

sebagian yang lainnya tidak dapat dirubah (Gibney dkk, 2010).

18
Menurut Yusra (2012), berikut faktor resiko yang dapat menyebabkan

munculnya DM:

a. Faktor genetik

DM dapat diturunkan dari keluarga sebelumnya yang juga

menderita DM. Hal tersebut menyebabkan kelainan gen yang

mempengaruhi produksi insulin. Komponen genetik turut memberikan

pengaruh terhadap timbulnya penyakit diabetes. Hal tersebut dapat

terlihat dari prevalensi DM yang tinggi pada anak- anak yang

diturunkan dari orang tua yang menderita diabetes, dan prevalensi DM

yang tinggi pada kelompok etnis tertentu.

b. Faktor usia

Perubahan fisiologis yang menurun dengan cepat pada umumnya

terjadi sejalan dengan pertambahan usia. Penurunan tersebut dapat

terjadi setelah usia 40 tahun. DM sering muncul setelah usia lanjut

terutama setelah berusia 45 tahun.

c. Faktor kegemukan/ obesitas

Faktor kegemukan yang ikut andil dalam kejadian DM:

1) Perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat Stres

kronik cendrung membuat seseorang untuk mengkonsumsi

makanan yang manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan

kadar serotonin otak. Serotonin memberikan efek penenang

sementara untuk menurunkan stres, namun gula dan lemak yang

berlebihan dapat berakibat fatal dan beresiko terjadinya DM.

19
2) Makan berlebihan

Obesitas disebabkan oleh kebiasaan mengkonsumsi makanan

yang manis dan kaya lemak, serta mengkonsumsi makanan yang

terlalu banyak karena jumlah yang disimpan di dalam tubuh terlalu

banyak dan berlebihan.

3) Faktor demografi

a) Jumlah penduduk meningkat

b) Urbanisasi

c) Penduduk berusia diatas 40 tahun menigkat

d) Kurang gizi

e) Jarang melakukan aktivitas fisik

f) faktor-faktor makanan/ nutrisi

5. Tanda dan Gejala

Keluhan umum pada pasien seperti rasa haus yang berlebihan

(polidipsia), sering buang air kecil (poliuria) terutama malam hari, dan

sering merasa lapar (polifagia).

a. Poliuria

Kadar glukosa plasma puasa normal atau toleransi glukosa setelah

makan tidak dapat dipertahankan akibat defisiensi insulin. Sehingga

kadar glukosa dalam darah meningkat (hiperglikemia) dan jika melebihi

ambang batas ginjal akan menyebabkan glikosuria. Hal ini

mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urin.

20
b. Polidipsia

Glikosuria yang mengakibatkan diuresis osmotik menyebabkan

pasien sering merasa haus dan banyak minum.

c. Polifagia

Glikosuria menyebabkan glukosa hilang bersama urin, sehingga

pasien mengalami keseimbangan kalori negatif dan berat badan

berkurang. Akibat kehilangan kalori mungkin menyebabkan rasa lapar

dan mudah lelah serta mengantuk pada pasien.

Riskesdas, (2018); menyebutkan gejala kronik yang dapat muncul

pada pasien DM:

1) Kesemutan

2) Kulit terasa panas atau tertusuk-tusuk jarum

3) Rasa tebal di kulit sehingga ketika berjalan terasa seperti di atas

bantal atau kasur

4) Kram

5) Mudah lelah

6) Mudah mengantuk

7) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata

8) Luka sulit sembuh

9) Penyakit kulit akibat jamur dibawah lipatan kulit

21
6. Diagnosis DM

Diabetes ditandai dengan jumlah atau konsentrasi glukosa di dalam

darah melebihi keadaan normal. Konsentrasi gula darah dikatakan normal,

bila dalam keadaan puasa pagi hari tidak melebihi 100 mg/dL (Soegondo

dan Sukardji, 2011). Gibney, dkk (2010) menjelaskan standardisasi kriteria

untuk penegakan diagnosis dan klasifikasi DM yang diusulkan oleh the

National Diabetes Data Group of the USA (NDDG) dan komite pakar WHO

menghasilkan keseragaman hingga taraf tertentu bagi berbagai penelitian

global terhadap kelainan metabolik tersebut.

Cara penegakan diagnosis DM adalah:

a. Gejala DM seperti poliuria, podipsi dan polifagi serta hasil pemeriksaan

glukosa sewaktu ≥200 mg/dl (11,1 mmol/l)

b. atau glukosa plasma puasa (FPG) ≥126 mg/dl (7,0 mmol/l)

c. atau glukosa plasma 2 jam setelah makan (2 jam pp) ≥200 mg/dl (11,1

mmol/l) selama pelaksanaan TTGO (Tes Toleransi Gula Oral)

d. untuk keperluan skrining pada populasi dapat digunakan kriteria kadar

glukosa puasa atau 2 jam pp sesudah pemberian per oral 75 gram

glukosa.

7. Komplikasi

Komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi pada kedua tipe

diabetes adalah pada pembuluh darah, ginjal, mata, dan syaraf. Diabetes

mellitus merusak sistem saraf perifer, termasuk komponen sensorik dan

22
motorik divisi somatik dan otonom. Dimana komplikasi tersebut merupakan

penyebab utama kesakitan dan kematian (Leslie dkk, 2012).

Komplikasi diabetes mempengaruhi pembuluh darah besar yang

menyebabkan penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit vaskularisasi

perifer. Diabetes juga mempengaruhi sistem mikrovaskular tubuh, yang

menyebabkan retinopati, nefropati, dan neuropati. Terjadinya penyempitan

pada pembuluh darah yang dikenal dengan angiopati diabetik (Holt, 2013).

8. Penanganan DM

Menurut (Ferawati, 2014) prilaku pengelolaan penyakit DM yang

tidak baik meliputi prilaku diet, prilaku olahraga/ aktivitas fisik, prilaku

pengobatan, prilaku dalam mengontrol gula darah, serta prilaku pencegahan

komplikasi oleh pasien dan keluarga serta tenaga kesehatan.

Jain (2012) pendidikan kesehatan tentang pengelolaan diet, latihan

dan perawatan kaki bertujuan untuk mengontrol dan mencegah terjadinya

komplikasi diabetes. Menurut Torres dkk. (2014) penanganan DM meliputi:

a. Terapi gizi mencakup modifikasi diet

Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang

pengetahuan diet bagi pasien diabetes. Regimen diet bergantung pada

kebutuhan pertumbuhan, penurunan berat badan yang diinginkan

(biasanya untuk penderita diabetes tipe 2) dan tingkat aktivitas.

Pembagian kalori biasanya 50-60% dari karbohidrat kompleks, 20%

dari protein, dan 30% dari lemak, serta kebutuhan akan vitamin dan

23
mineral. Untuk membatasi diet makan makanan yang dapat

memperburuk penyakit pasien serta perubahan gaya hidup pasien.

Tujuan terapi ini adalah:

1) Untuk mencapai outcome metabolik yang optimal dan

mempertahankannya. Outcome metabolik yang optimal meliputi:

a) Kadar glukosa yang normal

b) Keberadaan lipid yang menguntungkan

c) Tingkat tekanan darah yang dapat diterima untuk mengurangi

resiko penyakit pada pembuluh darah makro serta mikro.

2) Untuk mencegah dan mengatasi komplikasi DM yang kronis

dengan mengubah asupan nutrien dan pola hidup sebagai

pencegahan serta penanganan obesitas, dislipidemia, penyakit

kardiovaskular, hipertensi, dan nefropati.

3) Untuk memperbaiki kesehatan melalui pemilihan makanan yang

sehat.

4) Beberapa komponen neuropati diabetik dapat dicegah dengan gula

darah yang terkontrol, sedangkan yang lainnya tidak.

b. Aktivitas fisik

Program olahraga yang digabung dengan penurunan berat badan

menunjukkan peningkatan sensitivitas insulin dan menurunkan

kebutuhan terhadap intervensi farmakologik. Untuk kedua tipe diabetes,

olahraga terbukti dapat meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel

sehingga kadar glukosa darah turun. Namun bagi penderita diabetes tipe

24
1 harus mennjadi perhatian sewaktu berolahraga karena dapat terjadi

penurunan glukosa darah yang mencetuskan hipoglikemia. Terutama

terjadi apabila pemberian insulin tidak disesuaikan dengan program

olahraga.

c. Perawatan kaki

Perawatan kaki digunakan untuk melakukan pencegahan untuk

terjadinya luka-luka di kaki. Setiap hari kaki pasien diabetes harus

diperiksa dengan seksama minimal satu kali untuk menemukan luka-

luka secara dini atau perubahan warna kulit seperti kemerah-merahan

yang disebabkan oleh sepatu yang sempit tepat pada waktunya

(Soegondo dan Sukardji, 2011).

9. Pencegahan Luka Diabetes

Menurut Holt (2013) luka kaki diabetes dikategorikan sebagai luka

kronik yang tidak akan sembuh sendiri, melainkan dengan perawatan aktif.

Komplikasi – komplikasi diabetes penyebab memburuknya ulkus diabetik

adalah penyakit pembuluh darah perifer, neuropati perifer, dan infeksi

(Saad, 2013).

Pencegahan komplikasi diabetes, agar tidak terjadi luka diabetes

penting sekali dilakukan, yang dapat dicegah dengan melakukan kontrol

gula darah, pengetahuan tentang faktor resiko untuk berkembangnya ulkus

kaki diabetik dan menginspeksi kaki secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

mendeteksi luka dan memberikan perawatan tepat pada waktunya (Holt,

2013).

25
Pada kaki yang masih normal ataupun sudah ada gangguan neuropati

atau neuroiskemi namun belum ada luka, penatalaksanaan lebih ditekankan

pada deteksi dini. Deteksi dini masuk dalam pencegahan sekunder yang

bertujuan mencegah terjadinya komplikasi kaki diabetes pada pasien DM.

Seorang pasien DM yang baru didiagnosis, deteksi dini sudah dilakukan

untuk mencegah resiko infeksi ataupun kelainan bentuk kaki (PERKENI,

2010).

Deteksi dini diawali dengan deteksi adanya resiko ulserasi atau tukak

pada pasien DM. Resiko terjadinya tukak dibagi menjadi dua golongan

besar yaitu resiko sistemik dan resiko total. Resiko sistemik meliputi

hiperglikemia yang tidak terkontrol, lamanya diabetes, penyakit pembuluh

darah perifer, gangguan penglihatan, penyakit ginjal kronik, dan usia tua.

Sedangkan resiko total meliputi neuropati perifer, kelainan struktur kaki,

bentuk sepatu yang tidak sesuai, adanya kalus. ada riwayat amputasi karena

tukak, tekanan yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama dan gerakan

sendi yang terbatas (PERKENI, 2010).

Holt (2013) menjelaskan beberapa tindakan preventif untuk mencegah

timbulnya luka dan gangren diabetik:

a. Pengendalian glukosa darah

Kontrol gula darah sangat penting untuk menghindari penurunan

resistensi terhadap infeksi dan mencegah neuropati diabetik.

26
b. Penggunaan alas kaki

Penggunaan sepatu pada pasien DM tidak boleh sembarangan.

Pemilihan sepatu dilakukan dengan hati-hati, dimana sepatu tersebut

mengikuti bentuk kaki pasien untuk mencegah trauma pada kaki.

Tinggi hak sepatu sebaiknya dibawah 5 cm. Penggunaan sandal dan

sepatu secara bergantian, sandal dapat dipakai saat berada di dalam

rumah dan memakai sepatu saat bepergian ke luar. Menggunakan

ukuran sepatu yang tepat (tidak terlalu sempit ataupun terlalu longgar)

yang bertujuan untuk mencegah trauma gesekan. Lama penggunaan

sepatu baru yang bertahap untuk mencegah trauma akibat lepuh.

c. Merawat kuku kaki

Perawatan kuku kaki pasien DM sebaiknya setelah mandi,

sehingga saat memotong kuku, kuku menjadi lebih lembut. Hindari

memotong kuku dengan alat-alat tajam dan berhati-hati saat memotong

kuku kaki, karena rasa nyeri di kaki dapat berkurang. Hindari mengikir

kuku terlalu pendek atau terlalu dalam pada daerah tepi kiri dan kanan

kuku. Apabila penglihatan pasien diabetes sudah kurang, mintalah

bantuan orang lain.

d. Perawatan kaki

Perawatan kaki meliputi perhatian dan pemeriksaan pada kondisi

kaki pasien DM serta pemakaian pelindung kaki agar kaki tidak ada

lepuh, kemerahan, fisura, kalus, atau ulserasi akibat terkena trauma.

Kaki harus dicuci bersih setiap hari. Kemudian dikeringkan terutama

27
pada sela-sela jari kaki untuk mencegah akumulasi air. Mencuci kaki

dengan air biasa karena kaki ambang rasa pada kaki berkurang. Pasien

DM harus menghindari berjalan dengan kaki telanjang/ tanpa

menggunakan alas kaki, serta menghindari membersihkan kallus

sendiri. Apabila kedinginan pasien DM dapat menggunakan kaos kaki

yang menyerap keringat.

Selalu memperhatikan kondisi kaki untuk melihat:

1) Kaki yang mengalami bengkak supaya bisa kembali mengecil dan

aliran darah kembali lancar,

2) Adanya jamur yang dapat mengakibatkan sela-sela jari kaki pecah-

pecah ataupun terluka. Apabila ditemukan kaki berjamur segera

konsultasikan dengan dokter untuk diobati.

3) Peredaran darah yang terganggu

Untuk menangani peredaran darah kaki yang terganggu, pasien DM

dapat melakukan beberapa hal:

a) Latihan jalan (konsultasikan dengan dokter Anda)

b) Berhenti merokok, jika Anda seorang perokok

e. Pertolongan pertama (P3K)

Pertolongan pertama dimaksudkan agar luka tidak terinfeksi.

Apabila kaki terluka, bersihkan luka dibawah air mengalir. Kemudian

oleskan krim antiseptik dan balut dengan perban atau balutan. Sehingga

diperlukan untuk selalu menyimpan kotak P3K di rumah yang berisi

balutan steril, tip, perban, dan krim antiseptik.

28
f. Pasien harus mendapatkan penyuluhan untuk mengurangi faktor resiko,

seperti konseling tentang kebiasaan merokok dan kenaikan lemak darah

yang dapat mempengaruhi timbulnya kelainan vaskuler perifer.

g. Melakukan senam kaki

Senam kaki adalah latihan atau gerakan-gerakan yang dilakukan

oleh kedua kaki secara bergantian atau bersamaan untuk memperkuat

atau/ dan melenturkan otot-otot di daerah tungkai bawah terutama pada

kedua pergelangan kaki dan jari-jari kaki. Senam kaki untuk membantu

memperkuat otot-otot kecil kaki. Karena syaraf kaki yang terganggu

atau rusak akibat diabetes.

Langkah-langkah senam kaki:

Posisi awal: duduklah dengan posisi tegak diatas sebuah kursi (jangan

bersandar)

1) Latihan ke-1 (10 kali)

a) Gerakkan jari-jari kedua kaki seperti bentuk cakar, dan

b) Luruskan kembali.

2) Latihan ke-2 (10 kali)

a) Angkat ujung kaki, tumit tetap diletakkan diatas lantai

b) Turunkan ujung kaki, kemudian angkat tumitnya dan turunkan

kembali.

3) Latihan ke-3 (10 kali)

a) Angkat kedua ujung kaki Anda

b) Putar kaki pada pergelangan kaki, kearah samping

29
c) Turunkan kembali ke lantai dan gerakkan ke arah tengah.

4) Latihan ke-4 (10 kali)

a) Angkat kedua tumit Anda

b) Putar kedua tumit ke arah samping

c) Turunkan kembali ke lantai dan gerakkan ke tengah.

5) Latihan ke-5 (masing-masing kaki 10 kali)

a) Angkat salah satu lutut, dan

b) Luruskan kaki Anda

c) Gerakkan jari-jari kaki Anda ke depan

d) Turunkan kembali kaki Anda, bergantian ke kiri dan kanan.

6) Latihan ke-6 (masing-masing kaki 10 kali)

a) Luruskan salah satu kaki Anda di atas lantai

b) Kemudian angkat kaki tersebut

c) Gerakkan ujung-ujung jari ke arah muka Anda

d) Turunkan kembali tumit Anda ke lantai.

7) Latihan ke-7 (10 kali)

Seperti latihan sebelumnya, tetapi kali ini dengan kedua kaki

secara bersamaan.

8) Langkah ke-8 (10 kali)

a) Angkat kedua kaki Anda, luruskan dan pertahankan posisi

tersebut

b) Gerakkan kaki Anda pada pergelangan kaki, ke depan dan ke

belakang.

30
9) Latihan ke-9 (masing-masing 10 kali)

a) Luruskan salah satu kaki Anda dan angkat

b) Putar kaki Anda pada pergelangan kaki

c) Tuliskanlah di udara dengan kaki Anda angka 0 s/d 9.

10) Latihan ke-10 (sekali)

a) Selembar koran dilipat-lipat dengan kaki menjadi bentuk bulat

seperti bola. Kemudian dilicinkan kembali dengan

menggunakan kedua kaki, dan setelah itu disobek-sobek.

b) Kumpulkan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki dan

letakkan di atas lembaran koran lainnya. Terakhir bungkuslah

semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola.

E. Landasan Teori

Menurut Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan yang dikutip

Notoatmodjo (2010), membagi prilaku manusia itu kedalam tiga domain yakni

kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotor (psychomotor). Dalam

perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil

pendidikan kesehatan yakni pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan

tindakan (practice). Dalam penelitian ini mengukur pengetahuan dan sikap

keluarga dalam pencegahan komplikasi diabetes meliputi luka diabetes penting

sekali dilakukan yang dapat dicapai dengan kontrol gula darah, pengetahuan

tentang faktor resiko untuk berkembangnya ulkus kaki diabetik, dan

menginspeksi kaki secara teratur. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi luka dan

memberikan perawatan tepat pada waktunya (Holt, 2013).

31
F. Kerangka Pikir

Diabetes melitus yang dijelaskan memiliki dampak berupa berbagai

macam komplikasi diantaranya luka diabetes. Maka diperlukan pengetahuan

dan sikap bagi keluarga untuk mencegah timbulnya luka Diabetes Melitus pada

pasien DM. Kerangka penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

ini:

Pengetahuan
Pencegahan Luka DM
Pada Pasien DM
Sikap

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir

32
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif.

Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui Pengetahuan dan Sikap Keluarga

tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di

Wilayah Kerja Puskesmas Bulili.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah di laksanakan pada bulan September 2020, di

wilayah kerja Puskesmas Bulili.

C. Variabel dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah Pengetahuan dan Sikap Keluarga

tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di

Wilayah Kerja Puskesmas Bulili.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional yaitu batasan variabel yang diteliti untuk

mengarahkan pada pengukuran dan pengamatan variabel yang bersangkutan

serta pengembangan instrumen (Notoatmodjo, 2012).

33
a. Pengetahuan Keluarga

Definisi : Segala sesuatu yang diketahui dan dipahami

keluarga pasien diabetes melitus tentang

pencegahan luka diabetes melitus meliputi cara

pencegahan, pengendalian gula darah, penggunaan

alas kaki, pertolongan pertama, tanda dan gejala,

aktivitas fisik, diet, konsumsi obat dan konsultasi

ke ahli gizi atau dokter.

Alat ukur : Kuesioner

Cara ukur : Pengisian kuesioner

Skala ukur : Ordinal

Hasil ukur : 2 = Baik, bila responden menjawab benar 76% -

100% seluruh pertanyaan

1 = Cukup baik, bila responden menjawab benar

56%-75% seluruh pertanyaan

0 = Kurang baik, bila responden menjawab benar

<56% seluruh pertanyaan

b. Sikap keluarga

Definisi : Sikap keluarga pasien diabetes melitus dalam

penelitian ini adalah reaksi yang masih tertutup

dan tidak dapat diliihat langsung yang hanya

dapat ditafsirkan pada perilaku yang nampak oleh

keluarga pasien dalam pencegahan luka diabetes


34
melitus meliputi pengontrolan gula darah, diet,

perawatan kaki, olahraga, pemeriksaan gula darah

rutin, senam kaki dan penggunaan obat.

Alat ukur : Kuesioner

Cara ukur : Pengisian kuesioner

Skala ukur : Ordinal

Hasil ukur : 1 = Positif, bila jumlah skor responden > median

(median 37)

0 = Negatif, bila jumlah skor responden < median

(median 37)

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

1. Jenis data

a. Data Primer

Data Primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti

dari yang sebelumnya tidak ada, dan tujuannya disesuaikan dengan

keperluan penelitian (Notoatmodjo, 2012). Data Primer diperoleh dari

responden yaitu keluarga pasien DM dengan menggunakan kuesioner

(daftar pernyataan).

b. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh

pihak lain dan data sudah ada (Notoatmodjo, 2010). Data ini diperoleh

melalui data di Puskesmas Bulili.

35
2. Cara pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini

adalah angket (kuesioner). Angket (kuesioner) merupakan suatu cara

pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang

umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (Notoatmodjo, 2010).

Kuesioner pengetahuan dalam penelitian ini diadopsi dari penelitian Suci

Rahma Wardani tahun 2015 tentang gambaran pengetahuan tentang

pencegahan luka DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja

Puskesmas Pisangan, Ciputat Timur dan kuesioner sikap dalam penelitian

ini diadopsi dari penelitian Ina Mariany Kamengbila tahun 2018 tentang

hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap pasien diabetes melitus tipe

2 dengan kadar HbA1c di RSUD dr. Moewardi dan dimodifikasi oleh

peneliti.

a. Data tentang Pengetahuan

Data penelitian ini menggunakan data primer berupa kuesioner

untuk menilai pengetahuan. Jenis skala pengukuran yang digunakan

adalah skala Guttman. Menurut Hidayat (2011) skala Guttman

merupakan skala yang dibuat seperti checklist bersifat tegas dan

konsisten dalam memberikan jawaban dari pertanyaan/ pernyataan: ya

dan tidak, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju, benar dan salah.

Kuesioner pengetahuan terdiri dari 39 item pernyataan yang terdiri dari

30 pernyataan positif (pernyataan no. 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 14,

16, 17, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 39)

36
dan 9 pernyataan negative (pernyataan no. 6, 8, 13, 15, 18, 19, 22, 23,

33) dengan alternatif jawaban benar dan salah. Pada pernyataan positif ,

jika rersponden menjawab “benar” mendapat nilai 1 dan menjawab

“salah” mendapat nilai 0. Pada pernyataan negatif, jika responden

menjawab “benar” mendapat nilai 0 dan jika menjawab “salah”

mendapat nilai 1.

b. Data tentang Sikap

Penilaian sikap dengan menggunakan skala Likert. Kuesioner

terdiri dari pernyataan sikap dengan jumlah 12 item pernyataan yang

terdiri dari 9 pernyataan positif (1,2,3,4,5,6,8,10,12) dan 3 pernyataan

negative (7,9,11) dengan nilai pertanyaan positif : sangat setuju (4),

setuju (3), tidak setuju (2), dan sangat tidak setuju (1). Pernyataan

negatif : sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3), sangat tidak setuju

(4).

Kuesioner yang telah diisi, selanjutnya dikumpulkan kemudian

dilakukan pengskoran sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pada

bagian definisi operasional.

3. Validitas dan realibilitas instrumen

a. Validitas

Uji validitas dalam penelitian ini dari penelitian Suci Rahma

Wardani tahun 2015 tentang gambaran pengetahuan tentang pencegahan

luka DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan, Ciputat Timur. Validitas berbicara mengenai sejauh mana

37
instrumen dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur.

Validitas berkaitan dengan ketepatan alat ukur. Dengan instrumen yang

valid akan menghasilkan data yang valid pula. Uji validitas kuisioner

yang digunakan dalam penelitian ini adalah content validity.

Menurut Kelana (2011) content validity (validitas isi) menunjukkan

kemampuan item pertanyaan dalam instrumen mewakili semua unsur

dimensi konsep yang sedang diteliti. Sugiyono (2007) dan Widoyoko

(2013) mengatakan bahwa untuk menguji kemampuan instrumen

tersebut dapat digunakan pendapat para ahli. Jumlah para ahli yang

digunakan minimal tiga orang. Untuk penelitian tugas akhir kuliah

(skripsi), tenaga ahlinya adalah pembimbing. Pada penelitian ini content

validity instrumen penelitian dilakukan oleh dosen pembimbing

sebanyak dua orang, sehingga item pertanyaan/ pernyataan dalam

instrumen dapat mewakili konsep yang sedang diteliti.

Proses pembuatan instrumen penelitian, peneliti membuat daftar

pernyataan terkait pencegahan luka DM diperoleh sebanyak 40

pernyataan. Selanjutnya peneliti berkonsultasi dengan pembimbing,

diperoleh 39 pernyataan dan perubahan redaksional yang mengacu pada

pola kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk mengukur isi

instrumen agar dapat mewakili konsep yang sedang diteliti, peneliti

melakukan content validity yang dilakukan oleh dua orang dosen

pembimbing penelitian. Sehingga diperoleh kuisioner yang dapat

mengukur pengetahuan responden tentang pencegahan luka DM.

38
b. Reliabilitas

Uji reliabilitas dalam penelitian ini dari penelitian Suci Rahma

Wardani tahun 2015 tentang gambaran pengetahuan tentang pencegahan

luka DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan, Ciputat Timur. Hasil uji reliabilitas yang dilaksanakan selama

dua minggu berturut-turut dari tanggal 6 – 19 April 2015 di Kel.

Pisangan dan Kel. Cirendeu diperoleh nilai α (alfa) sebesar 0,6659909

dibulatkan menjadi α=0,67. Berdasarkan nilai tersebut, pernyataan pada

variabel pengetahuan tentang pencegahan luka DM pada anggota

keluarga pasien DM dianggap reliabel.

E. Pengolahan Data

Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses atau data

ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan menggunakan

rumus tertentu sehingga menghasikan informasi yang diperlukan. Pengolahan

data dilakukan dengan cara (Notoatmodjo, 2010) :

1. Coding

Coding adalah melakukan pengkodean data agar tidak terjadi

kekeliruan dalam melakukan tabulasi data. Coding butir jawaban dengan

menggunakan penelitian

2. Editing

Editing adalah menyeleksi data yang telah didapat dari kuesioner yang

telah dijawab oleh responden untuk mendapatkan data yang akurat.

39
3. Tabulating

Tabulating data adalah penyusunan data sedemikian rupa sehingga

memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan dalambentuk tulisan.

4. Entry data

Entry data adalah memasukkan data kedalam computer.

5. Cleaning

Cleaning adalah pembersihan data, melihat variable apakah data

sudah benar atau belum.

6. Describing

Describing yaitu menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah

dikumpulkan.

F. Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa

univariat, bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik

setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis

datanya, untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan

standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan

distribusi frekuensi dan persentase tiap variabel. Analisis univariat bertujuan

untuk menjelaskan dan mendekripsikan karakteristik setiap variabel penelitian

(Notoatmodjo, 2010). Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui frukuensi

dan masing-masing variable yang diteliti baik variabel bebas dan terikat

dengan menggunakan rumus:

40
P = x 100%

Keterangan:

P = Persentase n = Jumlah responden

f = Frekuensi

G. Penyajian Data

Untuk menyajikan data hasil penelitian, peneliti menggunakan cara

penyajian dalam bentuk tabel dan narasi.

H. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pada Pasien

Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili.

2. Sampel

Jumlah atau besar sampel dalam penelitian ini digunakan perhitungan

besar sampel dengan menggunakan rumus estimasi proporsi menurut

Sastroasmoro & Ismael (2014) dengan rumus besar sampel sebagai berikut :

n= Z21-a/2 P (1-P)

d2

Keterangan :

n = Besar sampel

Z = Z score berdasarkan nilai a yang diinginkan

P = Proporsi pada populasi

1-P = Q yaitu proporsi untuk tidak terjadinya suatu kejadian

41
d = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan

Pada penelitian ini digunakan derajat kepercayaan 90 % (Z21-a/2 =

1,64) dengan presisi mutlak sebesar 10 % (d = 0,1) dengan nilai proporsi

populasi sebesar 30 % (P = 0,3). Perhitungan besar sampel pada penelitian

ini adalah :

n= Z21-a/2 P (1-P)
d2
n= 1,642 x 0,3 x (1-0,3)
0,12
n= 0,564816
0,01
n= 56,4816 = 56 responden

Hasil dari perhitungan menggunakan rumus diatas, didapatkan hasil

sampel sebanyak 56,48 sehingga dibulatkan menjadi 56 responden.

a. Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah

Nonprobability sampling. Populasi didalam penelitian semua keluarga

pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili, sehingga jenis

sampling yang digunakan yaitu Purposive Sampling. Purposive Sampling

adalah pengambilan subjek penelitian berdasarkan kriteria yang telah

ditetapkan oleh peneliti (Cozby & Bates, 2011). Yang memenuhi kriteria

inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Adapun kriteria inklusi adalah

sebagai berikut :

42
a. Kriteria Inklusi

a) Keluarga pasien DM yang berada di wilayah kerja Puskesmas

Bulili (suami, istri, anak, orang tua, saudara)

b) Keluarga tinggal menetap dengan pasien DM

c) Keluarga dapat membaca dan menulis

b. Kriteria Eksklusi

a) Subjek menolak dijadikan sampel/responden

b) Keluarga yang tidak ada di tempat/dirumah

c) Keluarga yang cacat/buta

43
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Keadaan Geografis

Puskesmas Bulili terletak di kelurahan Birobuli Selatan Kecamatan

Palu Selatan dengan jarak tempuh dari pusat Kota sejauh + 6 km dan jarak

dari pusat kecamatan sejauh 2 km. Memiliki luas wilayah 14,15 km2 dan

secara administratif pemerintahan terdiri atas 2 kelurahan, 15 RW serta 56

RT dengan luas wilayah perkelurahan sebagai berikut :

Tabel 4.1 Distribusi Luas Wilayah RW dan RT dirinci menurut kelurahan


di Puskesmas Bulili Tahun 2019

No Kelurahan Luas Wilayah (km2) RW RT

1 Petobo 10,40 9 28

2 Birobuli Selatan 3,75 6 28

Puskesmas 14,15 15 56

Sumber : Profil Kesehatan Puskesmas Bulili, 2019

Secara Administratif Puskesmas Bulili berbatasan dengan beberapa

kelurahan di Kota Palu dan secara langsung juga berbatasan dengan wilayah

Kabupaten Sigi Biromaru, sebab wilayah kerja Puskesmas Bulili berada

paling selatan dari wilayah Administratif Kota Palu. Untuk lebih jelasnya

maka berikut ini kami jabarkan batasan wilayah kerja Puskesmas Bulili :

a. Sebelah Timur : Desa Ngatavaru dan Desa Luru Kec. Sigi Biromaru

b. Sebelah Barat : Kelurahan Tinggede, Kecamatan Marawola

44
c. Sebelah Utara : Kelurahan Birobuli Utara dan Kelurahan Kawatuna

d. Sebelah Selatan : Desa Mpanau dan Desa Kalukubula Kecamatan Sigi

Biromaru

2. Visi dan Misi

a. Visi

Terwujudnya masyarakat bulili sehat secara mandiri

b. Misi

1) Mendorong masyarakat untuk hidup sehat

2) Meningkatkan sumber daya manusia petugas kesehatan

3) Menjalin kerjasama lintas sektor

3. Tata Nilai

a. Keprofesionalan

b. Kedisiplinan

c. Beretika

d. Tanggung jawab

4. Motto

“GERTAK MENPAN”, Gerakan Serentak Menuju Terdepan

5. Sarana Kesehatan

Wilayah Puskesmas Bulili terdapat beberapa sarana kesehatan yang

pada tahun 2019 masih aktif dan dapat digunakan pada masyarakat untuk

pelayanan kesehatan antara lain :

Tabel 4.2 Distribusi Sarana Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bulili


Tahun 2019

45
Rumah Dokter
No Kelurahan Puskesmas Pustu Poskesdes Apotik
Sakit Praktek
1 Birobuli 1 1 5 1 1 7
Selatan
2 Petobo 1 0 2 1 1 4

Total 2 1 7 2 2 10

Sumber : Profil Kesehatan Puskesmas Bulili, 2019

6. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan

Pada tahun 2019 Puskesmas Bulili memiliki cakupan kunjungan rawat

jalan sebanyak 40.374 jiwa, dengan jumlah laki-laki 17.942 jiwa dan

perempuan 22.432 jiwa, sedangkan cakupan kunjungan rawat inap 46 jiwa

dengan jumlah pasien laki-laki 17 jiwa dan perempuan 29 jiwa.

7. Upaya Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia Kesehatan Puskesmas Bulili meliputi kualifikasi

Pendidikan dengan jumlah tenaga 45 orang dengan status Pegawai Negeri

Sipil yang selama ini telah melakukan tugas di Puskesmas Bulili dengan

bentuk pengabdian dimasyarakat diwilayah kerja Puskesmas Bulili.

8. Pertumbuhan Penduduk

Sampai dengan tahun 2019 jumlah penduduk diwilayah kerja Puskesmas

Bulili berjumlah 22.439 jiwa. Pada tahun 2017 berjumlah 21.432 jiwa.

Berdasarkan data dari BPS tersebut terjadi peningkatan jumlah penduduk

sebanyak 1,07 % dari tahun sebelumnya dimana jumlah rumah tangga 3.775

rumah tangga dengan rata-rata jiwa per rumah tangga 5,19 jiwa dengan

kepadatan penduduk 1,580 jiwa per Km2.

46
B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian diperoleh dari 56 reponden dan disajikan dalam bentuk

analisa univariat sebangai berikut:

1. Karakteristik responden

a. Usia responden

Usia responden dalam penelitian ini menurut Depkes RI (2009),

yaitu remaja akhir (17-25 tahun), dewasa awal (26-35 tahun), dewasa

akhir (36-45 tahun), lansia awal (46-55 tahun) dan lansia akhir (56-65

tahun). Usia responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.3

berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Usia Responden di wilayah kerja


Puskesmas Bulili

No Usia Frekuensi Presentase (%)


1 Masa Remaja Akhir 8 14.3
2 Masa Dewasa Awal 14 25.0
3 Masa Dewasa Akhir 19 33.9
4 Masa Lansia Awal 12 21.4
5 Masa Lansia Akhir 3 5.4
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020

Berdasarkan pada tabel 4.3 tentang usia responden yang terbanyak

adalah usia 36-45 (dewasa akhir) yaitu sebanyak (33,9 %) dari 56

responden dalam penelitian ini. Dari hasil olah data, nilai maksimum atau

umur responden paling tua adalah 60 tahun dengan frekuensi sebanyak 3

47
responden dan nilai minimum atau umur yang paling muda adalah 19

tahun dengan frekuensi sebanyak 1 responden.

b. Jenis kelamin

Jenis kelamin menurut Hungu (2009) adalah perbedaan antara laki-

laki dan perempuan secara biologis sejak seseorang lahir. Jenis kelamin

dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di wilayah


kerja Puskesmas Bulili

No Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)


1 Laki-laki 14 25.0
2 Perempuan 42 75.0
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020

Berdasarkan tabel 4.4 tentang jenis kelamin, menunjukan bahwa

responden yang terbanyak pada penelitian terini adalah berjenis kelamin

perempuan (75 %) dengan frekuensi sebanyak 42 responden dari 56

responden.

c. Pendidikan responden

Jenis pendidikan menurut Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003,

jenis pendidikan dikategorikan menjadi Pendidikan Dasar yang

berbentuk Sekolah Dasar (SD)/sederajat dan Sekolah Menengah Pertama

(SMP)/sederajat, Pendidikan Menengah berbentuk Sekolah Menengah

Atas (SMA)/sederajat dan Pendidikan Tinggi dapat berbentuk akademi,

politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas. Pendidikan responden

dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:


48
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di wilayah
kerja Puskesmas Bulili

No Pendidikan Responden Frekuensi Presentase (%)


1 Pendidikan Dasar 12 21.4
2 Pendidikan Menengah 28 50.0
3 Pendidikan Tinggi 16 28.6
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020

Berdasarkan pada tabel 4.5 tentang pendidikan responden yang

memiliki pendidikan terbanyak adalah pendidikan menengah (50 %)

dengan frekuensi sebanyak 28 responden dari 56 responden pada

penelitian ini.

d. Pekerjaan Responden

Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas responden

sehari-hari. Pekerjaan responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada

tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di wilayah kerja


Puskesmas Bulili

No Pekerjaan Responden Frekuensi Presentase (%)


1 Pelajar 1 1.8
2 IRT 19 33.9
3 Buruh 3 5.4
4 Swasta 25 44.6
5 PNS 8 14.3
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020

49
Berdasarkan tabel 4.6 tentang pekerjaan responden, menunjukan

bahwa pekerjaan responden yang terbanyak adalah Swasta (44,6 %)

dengan frekuensi sebanyak 25 responden dari 56 responden penelitian

ini.

2. Analisa univariat

a. Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada

Pasien Diabetes Melitus

Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus

pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dalam

penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Keluarga tentang


Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus

No Pengetahuan Responden Frekuensi Presentase (%)


1 Kurang Baik 6 10.7
2 Cukup Baik 21 37.5
3 Baik 29 51.8
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020

Berdasarkan pada tabel 4.7 bahwa distribusi frekuensi berdasarkan

pengetahuan responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada

pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dari 56

responden yang terbanyak adalah baik (51,8 %), cukup baik (37,5 %) dan

kurang baik (10,7 %).

50
b. Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien

Diabetes Melitus

Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada

Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dalam

penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Sikap Keluarga tentang Pencegahan


Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus

No Sikap Responden Frekuensi Presentase (%)


1 Negatif 29 51.8
2 Positif 27 48.2
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020

Berdasarkan pada tabel 4.8 bahwa distribusi frekuensi berdasarkan

sikap responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien

diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah negatif

(51,8%) dan positif (48.2%).

C. Pembahasan

1. Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes

Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili

berdasarkan karakteristik responden

Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dari hasil

penelitian ini. Karakteristik responden yang terdapat pada penelitian ini

dengan jumlah responden sebanyak 56 pasien. Hasil penelitian berdasarkan

tabel 4.3 tentang usia responden yang terbanyak adalah usia 36-45 (dewasa

51
akhir) yaitu sebanyak (33,9 %) dari 56 responden dalam penelitian ini. Dari

hasil olah data, nilai maksimum atau umur responden paling tua adalah 60

tahun dengan frekuensi sebanyak 3 responden dan nilai minimum atau umur

yang paling muda adalah 19 tahun dengan frekuensi sebanyak 1 responden.

Hasil penelitian Burns, dkk (2013) diperoleh bahwa rentang usia

anggota keluarga pasien DM adalah 31 – 57 yang diperoleh bahwa sebanyak

37,1% anggota keluarga mengalami kebingungan dalam merawat dan

membantu pasien DM. Usia tersebut menunjukkan bahwa usia responden

termasuk kedalam usia dewasa. Namun pada penelitian yang dilakukan di

wilayah kerja Puskesmas Pisangan diperoleh bahwa rentang usia anggota

keluarga pasien DM adalah 18 – 63 tahun yang terbagi menjadi usia remaja

dan usia dewasa.

Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.4 tentang jenis kelamin,

menunjukan bahwa responden yang terbanyak pada penelitian terini adalah

berjenis kelamin perempuan (75 %) dengan frekuensi sebanyak 42

responden dari 56 responden.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Suci Rahma Wardani (2019) menunjukkan bahwa persentase responden

berdasarkan jenis kelamin terbanyak dengan kategori pengetahuan baik

adalah perempuan sebanyak 23 orang (67,6%). Sedangkan persentase jenis

kelamin laki-laki dengan kategori pengetahuan baik sebanyak 7 orang

(43,8%) lebih kecil dibandingkan persentase jenis kelamin laki-laki dengan

kategori pengetahuan kurang sebanyak 9 orang (56,3 %).

52
Menurut Rintala dkk (2013) mengatakan bahwa perempuan lebih

bertanggung jawab terhadap kegiatan rutin keluarga dan mereka mungkin

berpengalaman tentang manajemen diri pasien DM. Berdasarkan hal

tersebut responden perempuan lebih memiliki toleransi terhadap perawatan

pasien DM dan pencegahan komplikasi dibandingkan responden laki-laki.

Sehingga mereka akan berusaha mencari informasi terkait DM dan

pencegahan komplikasinya. Data penelitian menunjukkan bahwa responden

tersebut berusaha mendapatkan informasi dari tim kesehatan yang mereka

temui. Oleh karena itu pengetahuan anggota keluarga perempuan tentang

pencegahan luka diabetes lebih baik dibandingkan anggota keluarga laki-

laki.

Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.5 tentang pendidikan responden

yang memiliki pendidikan terbanyak adalah pendidikan menengah (50 %)

dengan frekuensi sebanyak 28 responden dari 56 responden pada penelitian

ini.

Menurut Yusra (2010) menambahkan bahwa pendidikan dan

pengetahuan yang dimiliki akan memberikan kecendrungan terhadap

pengontrolan gula guna mencegah komplikasi. Hal ini sesuai dengan hasil

yang diperoleh bahwa anggota keluarga dengan pendidikan tinggi akan

memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan anggota keluarga

dengan pendidikan dasar. Sehingga responden anggota keluarga pasien DM

dengan kemampuan kognitif yang baik akan memiliki konsep pencegahan

luka yang lebih baik pula untuk mencegah terjadinya luka diabetes.

53
Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.6 tentang pekerjaan responden,

menunjukan bahwa pekerjaan responden yang terbanyak adalah Swasta

(44,6 %) dengan frekuensi sebanyak 25 responden dari 56 responden

penelitian ini.

Keluarga yang mampu dalam hal ekonomi akan dapat memberikan

fasilitas yang diinginkan pasien DM, memberikan motivasi dalam

menjalankan terapi. Anggota keluarga yang bekerja akan dapat

memperbaiki ekonomi, sehingga dapat memberikan fasilitas yang

dibutuhkan pasien DM dalam perawatannya (Susanti dan Sulistyarini,

2013).

2. Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada

Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili

Hasil penelitian ini yaitu Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan

Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja

Puskesmas Bulili. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dari

hasil penelitian ini. Pengetahuan responden yang terdapat pada penelitian ini

dengan jumlah responden sebanyak 56 responden. Hasil penelitian

berdasarkan tabel 4.7 tentang pengetahuan responden yang sebagian besar

memiliki pengetahuan baik adalah 29 responden (51,8 %), dari 44

responden dalam penelitian ini. Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan

Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja

Puskesmas Bulili dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu diantaranya dari usia,

pekerjaan, tingkat pendidikan, hal tersebut sesuai dengan penelitian teori

54
Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan

domain yang sangat penting bagi terbentuknya tindakan seseorang (overt

behavior). Perilaku yang dilakukan dengan berdasarkan pada pengetahuan

akan bertahan lebih lama dan kemungkinan menjadi perilaku yang melekat

pada seseorang dibandingkan jika tidak berdasarkan pengetahuan.

Asumsi peneliti adalah secara umum dapat dilihat dari hasil penelitian

mengenai pengetahuan keluarga tentang pencegahan luka diabetes melitus

pada pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian

besar sudah memiliki pengetahuan baik untuk pencegahan luka diabetes

melitus pada pasien diabetes melitus, tetapi masih ada keluarga pasien

diabetes melitus yang masih memiliki pengetahuan yang kurang baik

tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes melitus di

wilayah kerja Puskesmas Bulili.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suci

Rahma Wardani (2019) di wilayah kerja Puskesmas Pisangan, Ciputat

Timur menunjukkan hasil persentase pengetahuan sebesar 60 % responden

yang berpengetahuan baik yang merupakan hasil tertinggi dari 50 responden

dan sedangkan untuk hasil persentase terendah sebanyak 40 % yang

berpengetahuan kurang dari 50 responden di wilayah kerja Puskesmas

Pisangan, Ciputat Timur.

Jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian

sebelumnya tentang pengetahuan keluarga tentang pencegahan luka diabetes

melitus pada pasien diabetes melitus, dapat diambil kesimpulan bahwa

55
pengetahuan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Pisangan, Ciputat Timur

dan di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian besar sudah memiliki

pengetahuan baik.

3. Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien

Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili

Hasil penelitian ini yaitu Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka

Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas

Bulili. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dari hasil

penelitian ini. Sikap responden yang terdapat pada penelitian ini dengan

jumlah responden sebanyak 56 responden. Hasil penelitian berdasarkan

tabel 4.8 tentang pengetahuan responden yang sebagian besar memiliki

sikap negatif adalah 29 responden (51,8 %) dan sikap positif adalah 27

responden (48.2%) dari 56 responden dalam penelitian ini.

Asumsi peneliti adalah secara umum dapat dilihat dari hasil penelitian

mengenai sikap keluarga tentang pencegahan luka diabetes melitus pada

pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian besar

memiliki sikap negatif untuk melakukan pencegahan luka diabetes melitus

pada pasien diabetes melitus, hal ini disebabkan kurangnya keluarga

memperhatikan dalam penggunaan alas kaki pada penderita diabetes

mellitus dan kurangnya keluarga dalam memberikan motivasi kepada

penderita diabetes mellitus.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Hilmatul Aliyah (2018), di RSI Kendal Kabupaten Kendal menunjukkan

56
hasil persentase sikap sebesar 52,9 % responden yang memiliki sikap

negatif atau kurang yang merupakan hasil tertinggi dari 34 responden dan

sedangkan untuk hasil persentase sikap terendah sebanyak 47,1 % yang

memiliki sikap baik atau positif dari 34 responden di RSI Kendal Kabupaten

Kendal.

Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa pembentukan dan perubahan sikap

akan ditentukan oleh dua faktor yaitu: Faktor internal (individu itu sendiri),

yaitu cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif

sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau ditolak. Misalnya:

pengetahuan seseorang dan individu yag merupakan stimulus untuk

membentuk atau mengubah sikap, yaitu: pertama sifat objek yang dijadikan

sasaran sikap ini adalah .pasien penyakit DM yang penyakitnya sudah

kronis dan lamanya menderita DM menyebabkan respon individu untuk

menerima stimulus menjadi berkurang karena adanya rasa bosan dalam

bersikap dan berperilaku. Media komunikasi yang digunakan dalam

menyampaikan sikap sangat terbatas.

Dengan demikian sikap keluarga penderita DM dengan kondisi

kesehatan yang baik dapat melakukan aktivitas apa saja sedangkan yang

memiliki kondisi kesehatan sedang, cenderung memilih aktivitas yang

memerlukan sedikit kegiatan fisik. Untuk mengerjakan perawatan penyakit

DM beberapa aktivitas fisik dan psikis yang berat mereka memerlukan

bantuan orang lain. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup

dari seseorang terhadap suatu stimulus atau [Link] terbentuk dari

57
adanya interaksi lingkungan yang saling mempengaruhi dan terjadi timbal

balik antar individu. Begitu juga dalam hal pencegahan terjadinya luka kaki,

penderita akan bersikap sesuai dengan pengaruh lingkungannya dan

pengetahuan individu terhadap DM itu sendiri (Notoatmodjo, 2012)

58
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa

pengetahuan responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada

pasien diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah baik

(51,8 %), cukup baik (37,5 %) dan kurang baik (10,7 %).

2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sikap

responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes

melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah negatif (51,8%) dan

positif (48.2%).

B. Saran

1. Bagi Puskesmas Bulili

Diharapkan untuk pihak puskesmas dapat meningkatkan program

kegiatan puskesmas sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap

keluarga dengan cara mengadakan punyuluhan kesehatan tentang

pencegahan luka diabetes melitus pada keluarga dan pasien diabetes

melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan dukungan dari berbagai

sektor agar masyrakat dapat meningkatkan pengetahuan dan sikapnya

dalam pencegahan luka diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas

Bulili.

59
2. Bagi STIK Indonesia Jaya Palu

Diharapkan hasil penelitian ini dijadikan bahan bacaan diperpustakaan

yang nantinya dapat menambah pengetahuan bagi Mahasiswa dan

pengembangan ilmu pengetahuan khususnya untuk pengetahuan dan sikap

keluarga tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes

melitus

3. Bagi Peneliti

Semoga dengan adanya penelitian ini menjadi koreksi peneliti dalam

melakukan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan untuk

lebih memperhatikan pengetahuan dan sikap keluarga tentang pencegahan

luka diabetes melitus pada pasien diabetes melitus, sehingga akan terwujud

peneliti yang lebih baik demi kemajuan khususnya dunia keperawatan.

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah agar peneliti mengembangkan

penelitian ini, akan lebih baik jika penelitian selanjutnya menggunakan

metode kualitatif atau teknik wawancara dalam pengambilan data.

Dalam pengambilan data, peneliti juga harus meyakinkan kepada calon

responden tentang pentingnya penelitian dan manfaat penelitian sehingga

akan meminimalisir ketidak setujuan calon responden menjadi sampel

penelitian. Disamping itu, pendekatan dan komunikasi yang baik kepada

responden akan mempengaruhi bagaimana responden berpartisipasi

dengan baik pada penelitian.

60
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. (2013) Autonomic Neurophaty.


([Link]
[Link] diakses pada 17 Mei 2020)

Arikunto, S. .2010. Prosedur Penelitian Suatu: Pendekatan Praktik. Jakarta


:Rineka Cipta

Azwar S. 2011. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Jakarta: Pelajar.

Burns, K. K. 2013. “Research: Educational and psychological Issues Diabetes


Attitudes, Wishes and Needs second study (DAWN2TM): Cross-national
Benchmarking Indicators for Family Member Living with People with
Diabetes.” Diabetic Medicine, p. 778-788.

Cozby, P., Bates, S. 2011. Methods in Behavioral Research. New York: McGraw
Hill.

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2018 : Profil Kesehatan Provinsi


Sulawesi Tengah. Palu.

_____________________________________, 2019 : Profil Kesehatan Provinsi


Sulawesi Tengah. Palu.

Edward, Z., Roza, R. L., Afriant, R. 2015. Faktor Risiko Terjadinya Ulkus
Diabetikum Pada Pasien Diabetes Mellitus Yang Di Rawat Jalan Dan
Inap RSUP Dr. M. Djamil Dan RSI Ibnu Sina Padang. Jurnal Kesehatan
Andalas, Vol 4, No.1.

Ferawati, I., 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Ulkus


Diabetikum pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2, pp. 2-3.

Friedman, M.M. 2010. Keluarga: Teori dan Praktek. Jakarta: EGC.

Gibney, M. J., .2010. Gizi Kesehatan Masyarakat. Penerjemah Andry Hartono.


Jakarta: EGC.

Himatul Aliyah. 2018. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku


Perawatan Kaki Pasien Dm Sebagai Pencegahan Ulkus Dm Di Rsi
Kendal. Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang.

Holt, P. 2013. “Assessment and management of patients with diabetic foot ulcers."
61
Hungu. Demografi Kesehatan Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2009.

International Diabetes Federation. (2017). IDF Diabetes Atlas Seventh Edition


2017. Dunia : IDF

Jain, P. K. 2012. “Knowledge & Attitude of Diabetic Patients Regarding Diabetic


Diet, Exercise and Foot Care.” International Journal of Nursing Education
IV, no. 2, p. 141-145.

Kementrian Kesehatan RI. 2018. CEGAH, CEGAH, dan CEGAH: Suara Dunia
Perangi Diabetes. Diperoleh
[Link]
[Link]. Diakses pada
tanggal 5 juni 2020.

Leslie, R. David, 2012. Diabetes. London: Manson Publishing Ltd.

Notoatmodjo,Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.


Jakarta: Rineka Cipta.

__________________. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT.


Rineka Cipta.

Nursalam. 2010. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan Ed. 2. Jakarta: Salemba Medika.

________. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Selemba


Medika.

Panggabean P, Esron Sirait, I Kadek Wartana, Subardin, Robert [Link],


Noviany Bannne Rasiman. 2017. Pedoman Penulisan Proposal Skripsi.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu.

PERKENI. 2010. Pedoman Penatalaksanaan Kaki Diabetik. Jakarta: PB


PERKENI Divisi Metabolik Endokrinologi Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI.

________. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe


2 di Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Puskesmas Bulili. 2019. Profil Kesehatan Puskesmas Bulili. Palu

Rintala. 2013. “Everyday Life of a Family with Diabetes as Described by Adults


with Type 1 Diabetes.” John Willey & Sons X, no. 3, p. 86-90.
62
RISKESDAS. 2013. Riset Kesehatan Dasar 201. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

___________. 2018. Riset Kesehatan Dasar, Kementrian Kesehatan RI


([Link]
s%[Link] diakses pada 19 Mei 2020)

Saad, A. Z. M., 2013. “Wound Bed Preparation for Chronic Diabetic Foot
Ulcers.” Department of Reconstructive Sciences, Shcool of Medical
Sciences, University Sains Malaysia.

Suci Rahma Wardani, 2015. Gambaran pengetahuan tentang pencegahan luka


DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas
Pisangan, Ciputat Timur. Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.


Bandung:Afabeta

Susanti, M. L. dan Sulistyarini, T. 2013. “Dukungan Keluarga Meningkatkan


Kepatuhan Diet Pasien Diabetes Mellitus Di Ruang Rawat Inap Rs.
Baptis Kediri.” Jurnal STIKES VI, no. 1, h. 1-10.

Soegondo, S dan Sukardji, K. 2011. Hidup secara Mandiri dengan Diabetes


Melitus Kencing Manis Sakit Gula. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Torres, A. and Cilloniz, C., 2014. Clinical Management of Diabetes. Springer


International Publishing, Switzerland.

Undang-Undang Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang RI No. 20 tahun


2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Wawan & Dewi M. 2011. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia. Cetakan II. Yogyakarta : Nuha Medika

World Health Organization. 2016. World Health Statistics. Dunia : WHO

______________________. 2016. Diabetes Fakta dan Angka.


[Link] Diakses tanggal 18 Juni
2020.

63
Wulandini, Saputra, Basri. (2016). Hubungan Pengetahuan Penderita Diabetes
Mellitus Terhadap Kejadian Luka Diabetes Mellitus Di Ruang Penyakit
Dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Naskah publikasi. Pekanbaru

Yusra, A. (2012). “Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup


Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta”. Universitas Indonesia.
[Link]/file?file=pdf/[Link]. diakses pada
tanggal 18 Juni 2020

64
Lampiran 1

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth:

Calon Responden

Dengan Hormat,

Yang bertanda tangan dibawah ini adalah Mahasiswa Program S1


Keperawatan STIK Indonesia Jaya:

Nama : JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI

NPM : PK 115 016 014

Akan mengadakan penelitian dengan judul “Pengetahuan dan Sikap


Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili”. Penelitian ini tidak menimbulkan
akibat yang merugikan bagi Ibu/saudari sebagai Responden. Kerahasiaan
informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya akan digunakan untuk
kepentingan penelitian. Jika ibu/saudari tidak bersedia menjadi responden, maka
tidak ada ancaman bagi ibu/saudari. Jika ibu/saudari telah menjadi responden dan
terjadi hal–hal yang merugikan, maka ibu/saudari diperbolehkan mengundurkan
diri untuk tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.

Apabila saudara menyetujui, maka saya mohon kesediaan ibu/saudari


untuk menandatangani Lembar Persetujuan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang saya setakan pada surat ini.

Atas perhatian dan kesediaan ibu/saudari sebagai responden, saya ucapkan


terima kasih.

Peneliti,

JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI

65
Lampiran 2

PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


(Informed Consent)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama Responden :
Tanggal :
Bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan
oleh Jersi Inneke Dewi Anggraini Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu
Keperawatan dari Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya (STIK-
IJ) Palu, sampai dengan berakhirnya masa penelitian yang dimaksud.
Bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian sesuai
dengan kondisi yang sesungguhnya.
Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan keadaan sadar dan
tidak sedang dalam paksaan siapapun dan untuk dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Palu,………………..2020
Responden,

(………….……………….)

66
1. No. Responden

2.

3. KUESIONER PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA


TENTA NG PENCEGAHAN LUKA DIABETES MELITUS
PADA

4. PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH

5. KERJA PUSKESMAS BULILI

6.
A. KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Identitas Responden
a. Hari/Tanggal Pengisian Kuesioner :
b. Usia Keluarga : tahun
c. Usia Pasien : tahun
d. Hubungan dengan pasien :
e. Jenis Kelamin Balita : Laki-laki
Perempuan
f. Pekerjaan : PNS/TNI/POLRI
Swasta

Ibu Rumah Tangga

Petani

Buruh

g. Pendidikan terakhir : Tidak Sekolah


SD
SMP

67
SMA

Perguruan Tinggi

68
B. KUESIONER PENGETAHUAN

Berilah tanda (√) pada jawaban yang menurut anda benar.

Jawaban
No Pertanyaan
Benar Salah
1 Pasien kencing manis memeriksa kaki setiap hari

2 Pemeriksaan kaki bertujuan untuk menemukan luka seawal


mungkin
3 Pasien kencing manis mengontrol kadar gula darah untuk
mencegah luka akibat penyakit gula
4 Pasien kencing manis selalu memperhatikan kondisi kaki

5 Pasien memeriksakan kaki yang mengalami bengkak ke dokter

6 Kaki yang bengkak disebabkan oleh aliran darah yang lancar

7 Pasien kencing manis menggunakan sepatu dengan ukuran yang


tepat dengan kaki pasien untuk mencegah luka
8 Pasien kencing manis menggunakan sepatu yang memiliki tumit/
hak sepatu
9 Pasien kencing manis menggunakan alas kaki sepanjang hari

10 Pasien kencing manis menggunakan kaos kaki bila kaki


kedinginan dan saat tidur
11 Pasien kencing manis memeriksa sepatu untuk membuang kerikil
atau pasir yang ada di dalam sepatu
12 Pasien memeriksa bagian dalam sepatu untuk meraba bagian
yang kasar sebelum memakai sepatu
13 Pasien kencing manis menggunakan sepatu dengan penutup jari
kaki yang runcing
14 Pasien kencing manis memotong kuku setelah mandi agar kuku
lebih lembut
15 Pasien kencing manis memotong kuku kaki terlalu pendek atau
terlalu dalam pada daerah tepi kiri dan kanan
16 Pasien menggunakan alat pemotong kuku untuk memotong kuku
kaki pasien
17 Keluarga membantu pasien kencing manis memotong kuku kaki
jika mengalami kesulitan
18 Pasien berjalan tanpa menggunakan alas kaki

19 Pasien kencing manis membersihkan sendiri kapalan di kaki

20 Keluarga membantu pasien kencing manis memotong kuku kaki


jika penglihatan mereka sudah berkurang
69
21 Pasien kencing manis membersihkan kaki dengan air bersih

22 Pasien kencing manis menggunakan air panas untuk merendam


kaki
23 Pasien mencuci kaki, kemudian dibiarkan kering dengan
sendirinya
24 Pasien memberikan pelembab untuk mencegah kulit kering

25 Pasien memeriksa sela-sela jari kaki untuk melihat luka

26 Luka di kaki juga dapat disebabkan oleh jamur

27 Pasien dan keluarga menyimpan kotak P3K di rumah yang berisi


balutan steril, perban, tip, dan krim antiseptik
28 Pasien dan keluarga bekerjasama untuk mencegah timbulnya
luka
29 Keluarga dapat memberikan pengaruh positif pada pasien
kencing manis
30 Keluarga memberikan motivasi kepada pasien agar berperan
aktif dalam deteksi awal timbulnya luka
31 Deteksi awal termasuk kedalam pencegahan luka

32 Keluarga segera membawa pasien kencing manis ke dokter jika


terjadi luka untuk diobati
33 Kondisi pasien kencing manis cukup diketahui oleh keluarga
tanpa melibatkan pasien
34 Pasien kencing manis mengalami perubahan terhadap rasa panas,
sehingga kurang dapat merasakan rasa panas
35 Pasien diabetes dapat mengalami penurunan rasa nyeri

36 Pasien kencing manis menggunakan senam kaki untuk


memperkuat otot-otot kecil kaki
37 Senam kaki adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kedua
kaki secara bergantian dan/ atau bersamaan
38 Senam kaki memperbaiki aliran darah di kaki pasien kencing
manis
39 Pasien kencing manis melakukan latihan kaki seperti senam kaki
dan berjalan

Sumber : Suci Rahma Wardani, 2015

70
C. KUESIONER SIKAP
Berilah tanda (√) pada jawaban yang menurut anda benar.
Petunjuk Pengisian :
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

NO PERNYATAAN SS S TS STS
1 Keluarga mampu memberikan diet/makanan
sesuai dengan penderita diabetes mellitus
2 Keluarga pasien Diabetes Mellitus akan
membatasi makanan yang memiliki kadar gula
tinggi dan berlemak.
3 Keluarga mampu untuk mencari informasi
tentang diabetes melitus ke petugas kesehatan
4 Keluarga mengajak penderita Diabetes
Mellitus berolah raga secara rutin
5 Keluarga rutin memeriksakan gula darah setiap
bulan
6 Keluarga memberikan perawatan kulit dengan
memberikan lotion pada kulit penderita
Diabetes Mellitus yang kering
7 Keluarga kurang memperhatikan dalam
penggunaan alas kaki pada penderita Diabetes
Mellitus
8 Keluarga membersikan rumah, agar penderita
Diabetes Mellitus akan melakukan aktivitas
tidak melukai kakinya
9 Keluarga tidak memberikan motivasi kepada
Penderita Diabetes Mellitus
10 Ketika kadar glukosa darah penderita Diabetes
Mellitus tinggi, keluarga segera membawa ke
pelayanan kesehatan
11 Keluarga memperbolehkan penderita Diabetes
Mellitus merokok
12 Keluarga rutin mengantar dan menemani
ketika lansia kontrol ke pelayanan kesehatan

71
HASIL OLAH DATA

Usia Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 19 1 1.8 1.8 1.8
23 6 10.7 10.7 12.5
24 1 1.8 1.8 14.3
26 1 1.8 1.8 16.1
27 1 1.8 1.8 17.9
28 2 3.6 3.6 21.4
29 2 3.6 3.6 25.0
30 3 5.4 5.4 30.4
32 1 1.8 1.8 32.1
33 2 3.6 3.6 35.7
35 2 3.6 3.6 39.3
36 2 3.6 3.6 42.9
37 1 1.8 1.8 44.6
38 1 1.8 1.8 46.4
40 2 3.6 3.6 50.0
41 2 3.6 3.6 53.6
42 7 12.5 12.5 66.1
43 3 5.4 5.4 71.4
45 2 3.6 3.6 75.0
46 2 3.6 3.6 78.6
48 1 1.8 1.8 80.4
49 4 7.1 7.1 87.5
50 1 1.8 1.8 89.3
54 3 5.4 5.4 94.6
60 3 5.4 5.4 100.0
Total 56 100.0 100.0

Usia Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Masa Remaja Akhir 8 14.3 14.3 14.3
Masa Dewasa Awal 14 25.0 25.0 39.3
Masa Dewasa Akhir 19 33.9 33.9 73.2
Masa Lansia Awal 12 21.4 21.4 94.6

72
Masa Lansia Akhir 3 5.4 5.4 100.0
Total 56 100.0 100.0

Jenis Kelamin Responden

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid Laki-laki 14 25.0 25.0 25.0
Perempuan 42 75.0 75.0 100.0
Total 56 100.0 100.0

Pendidikan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid S1 16 28.6 28.6 28.6
SMA 28 50.0 50.0 78.6
SMP 12 21.4 21.4 100.0
Total 56 100.0 100.0

Pekerjaan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid BURUH 3 5.4 5.4 5.4
IRT 19 33.9 33.9 39.3
PELAJAR 1 1.8 1.8 41.1
PNS 8 14.3 14.3 55.4
SWASTA 25 44.6 44.6 100.0
Total 56 100.0 100.0

73
Pengetahuan Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 51 1 1.8 1.8 1.8

54 5 8.9 8.9 10.7

56 3 5.4 5.4 16.1

64 5 8.9 8.9 25.0

67 4 7.1 7.1 32.1

72 6 10.7 10.7 42.9

74 3 5.4 5.4 48.2

77 4 7.1 7.1 55.4

79 6 10.7 10.7 66.1

82 4 7.1 7.1 73.2

85 1 1.8 1.8 75.0

87 5 8.9 8.9 83.9

90 8 14.3 14.3 98.2

92 1 1.8 1.8 100.0

Total 56 100.0 100.0

Pengetahuan Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kurang Baik 6 10.7 10.7 10.7

Cukup Baik 21 37.5 37.5 48.2

Baik 29 51.8 51.8 100.0

Total 56 100.0 100.0

74
Sikap Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 71 2 3.6 3.6 3.6

73 14 25.0 25.0 28.6

75 13 23.2 23.2 51.8

77 9 16.1 16.1 67.9

79 2 3.6 3.6 71.4

81 3 5.4 5.4 76.8

90 6 10.7 10.7 87.5

96 7 12.5 12.5 100.0

Total 56 100.0 100.0

Sikap Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Cukup baik 29 51.8 51.8 51.8

Baik 27 48.2 48.2 100.0

Total 56 100.0 100.0

75
BIODATA PENELITI

A. Identitas

Nama : Jersi Inneke Dewi Anggraini

NPM : PK 115 016 014

Tempat, Tanggal Lahir : Tempilang, 1 Maret 1997

Jenis Kelamin : Perempuan

Bangsa : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Jl. Banteng III

B. Riwayat Pendidikan

Tamat SD : SD Negeri 4 Tempilang 2009

Tamat SMP : SMP Negeri 1 Tempilang 2012

Tamat SMA : SMA Negeri 1 Pamukan Barat 2015

Terdaftar sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia


Jaya Palu jurusan PSIK Tahun 2016 sampai 2020

76

Anda mungkin juga menyukai