PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TENTANG
PENCEGAHAN LUKA DIABETES MELITUS PADA
PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS BULILI
SKRIPSI
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT
DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA
KEPERAWATAN ([Link])
OLEH :
JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI
PK 115 016 014
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INDONESIA JAYA
PALU, 2020
PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TENTANG
PENCEGAHAN LUKA DIABETES MELITUS PADA
PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS BULILI
SKRIPSI
DIAJUKAN OLEH :
JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI
PK 115 016 014
Telah disetujui dan diterima oleh :
Dosen Pembimbing I
Ns. Alfrida Samuel Ra’bung, [Link] Tanggal,......................2020
NIDN. 09 05049001
Dosen Pembimbing II
Ns. Noviany Banne Rasiman, M.N.S Tanggal,......................2020
NIDN. 09 11118303
Ketua STIK Indonesia Jaya
Dr. Esron Sirait, SE., [Link] Tanggal,…….….....…2020
NIDN. 09 27125301
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Jersi Inneke Dewi Anggraini
NPM : PK 115 016 014
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar
merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilan alihan tulisan
atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan
bahwa sebagian atau keseluruhan skripsi ini hasil karya orang lain, saya bersedia
menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Palu, 21 September 2020
Yang menyatakan,
Jersi Inneke Dewi Anggraini
PK 115 016 014
iii
ABSTRAK
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh
kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun. World Health
Organization menyebutkan, 6% total kematian pada masayarakat Indonesia semua umur
disebabkan oleh penyakit Diabetes Melitus. Berdasarkan data awal yang peroleh dari
Puskesmas Bulili pada tahun 2018 jumlah pasien Diabetes melitus yaitu sebesar 501
pasien, sedangkan pada tahun 2019 terdapat kenaikan jumlah pasien Diabetes Melitus
sebesar 537 pasien. Berdasarkan hasil wawancara 7 dari 10 keluarga pasien mengatakan
tidak mengetahui pencegahan luka diabetes melitus. Tujuan penelitian ini adalah
diketahuinya Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes
Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.
Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif. Jenis data menggunakan data primer dan
data sekunder. Pengumpulan data dengan menggunakan. Analisa data menggunakan
analisa univariat. Populasi penelitian ini adalah semua keluarga pada Pasien Diabetes
Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dengan besar sampel menggunakan rumus
estimasi proporsi jumlah sampel 56 responden yang diambil secara Purposive Sampling
Hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden menunjukkan bahwa yang
terbanyak menurut usia dewasa akhir 19 orang (33.9%), jenis kelamin perempuan 42
orang (75%), pendidikan menengah 28 orang (50%), pekerjaan terbanyak swasta 25
orang (44.6%), pengetahuan responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada
pasien diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah baik (51,8 %), cukup
baik (37,5 %) dan kurang baik (10,7%). Sikap responden tentang pencegahan luka
diabetes melitus pada pasien diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah
negatif (51,8%) dan positif (48.2%).
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat cukup banyak keluarga penderita
diabetes mellitus yang memiliki pengetahuan baik, tetapi cukup banyak keluarga
memiliki sikap negatif tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes
melitus di wilayah kerja di Puskesmas Bulili.
Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Pencegahan, Keluarga, Luka, Diabetes Mellitus,
Puskesmas
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Allah Subhanahu Wata A’la, Tuhan
Yang Maha Kuasa yang senantiasa melimpahkan Nikmat, Rahmat dan kasih
sayang-Nya kepada kita semua, Salawat serta Salam tetap selalu tercurahkan
kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu A’laihi Wasalam, terkhusus kepada
penulis yang telah menyusun skripsi ini dengan judul “Pengetahuan dan Sikap
Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili” dapat diselesaikan tepat pada waktu
yang telah ditentukan.
Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis menyadari bahwa itu tak
lepas bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materi. Olehnya itu, penulis
mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua penulis tercinta (Ibu ......... dan
Bapak .................), yang telah merawat, membesarkan, mendidik, memberikan
do’a, motivasi moril dan materil serta rasa kasih sayang yang tiada henti-hentinya
dan kepada Saudara kandung penulis (...........), Semoga Allah SWT selalu
melimpahkan Nikmat, Rahmat, kasih sayangNya, kesehatan, kekuatan, dan umur
yang panjang.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih serta
penghargaan kepada yang terhormat Ns. ........... sebagai pembimbing I, Ns.
............. sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan,
waktu, kesabaran dan masukan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
v
1. dr. PASH Panggabean MPH, DR (HC), Ketua Yayasan Tri Karya Husada Palu
2. Dr. Esron Sirait, [Link], Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia
Jaya.
3. Ns. Ni Ketut Elmiyanti, [Link]. [Link], Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu.
4. Tim penguji yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri dalam
pelaksanaan proposal/skripsi, dan juga kepada Dosen dan staf Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu yang telah memberikan bantuan dan bekal
ilmu pengetahuan kepada penulis.
5. Kepala Puskesmas Birobuli Kota Palu, beserta staf yang telah memberikan izin
kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
Semoga kebaikan yang diberikan kepada penulis dapat bernilai Ibadah
disisi Allah Subhanahu Wata A’la, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam penulisan
skripsi ini, penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis
sangat mengharapkan kritikan dan saran yang artinya membangun guna
kesempurnaan penulisan dimasa mendatang.
Palu, 21 September 2020
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Isi Hal
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .......................................................... iii
ABSTRAK ......................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................... v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian ................................................................................ 5
D. Manfaat Penelitian .............................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 7
A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan .............................................. 7
B. Tinjauan Umum Tentang Sikap .......................................................... 10
C. Tinjauan Umum Tentang Keluarga .................................................... 15
D. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus........................................ 17
E. Landasan Teori ................................................................................... 31
F. Kerangka Pikir .................................................................................... 32
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 33
A. Jenis Penelitian ................................................................................... 33
B. Waktu dan Tempat Penelitian............................................................. 33
C. Variabel dan Definisi Operasional ..................................................... 33
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ..................................................... 35
E. Pengolahan Data ................................................................................. 36
F. Analisa Data ....................................................................................... 37
G. Penyajian Data .................................................................................... 39
H. Populasi dan Sampel ........................................................................... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................. 44
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................. 44
B. Hasil Penelitian ................................................................................... 47
C. Pembahasan ........................................................................................ 51
vii
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 59
A. Kesimpulan ......................................................................................... 59
B. Saran ................................................................................................... 59
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 61
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
Tabel 4.1 Distribusi Luas Wilayah RW dan RT dirinci menurut
kelurahan di Puskesmas Bulili Tahun 2019............................... 44
Tabel 4.2 Distribusi Sarana Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas
Bulili Tahun 2019....................................................................... 45
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Usia Responden di wilayah kerja
Puskesmas Bulili........................................................................ 47
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di wilayah
kerja Puskesmas Bulili............................................................... 48
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di wilayah
kerja Puskesmas Bulili............................................................... 49
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di wilayah
kerja Puskesmas Bulili............................................................... 49
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Keluarga tentang
Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus........................................................................................ 50
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Sikap Keluarga tentang Pencegahan
Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus........................................................................................ 51
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
Gambar 2.1 Gambar skema krangka pikir..................................................... 32
x
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Permohonan Untuk Menjadi Responden
2. Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden
3. Kuesioner Penelitian
4. Master Tabel
5. Hasil Olahan Data
6. Surat Izin Penelitian dari STIK Indonesia Jaya
7. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari Puskesmas Bulili
8. Dokumentasi Penelitian
9. Jadwal Penelitian
10. Biodata Peneliti
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang
ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun.
Sebutan Glukosa darah sering dikenal oleh masyarakat dengan gula darah.
(Kemenkes RI, 2018). Penyakit Tidak Menular (PTM), termasuk Diabetes, saat
ini telah menjadi ancaman serius kesehatan global. Dikutip dari data World
Health Organization 2016, 70% dari total kematian di dunia dan lebih dari
setengah beban penyakit. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumah
penderita Diabetes Melitus terbesar di dunia memiliki permasalahan dalam
menekan kejadian Diabetes Melitus tersebut. World Health Organization
menyebutkan, 6% total kematian pada masayarakat Indonesia semua umur
disebabkan oleh penyakit Diabetes Melitus (WHO, 2016).
Indonesia juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa dengan
dunia. International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan bahwa
epidemi diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat.
Sejalan dengan hal tersebut, Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)
memperlihatkan peningkatan angka prevalensi Diabetes yang cukup signifikan,
yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018, sehingga estimasi
jumlah penderita di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang. Data Bidang
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Dinas Kesehatan
1
Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2019 menunjukkan jumlah penduduk
yang menderita Diabetes Melitus sebesar 210.726 jiwa (Profil Kesehatan
Provinsi Sulteng, 2019). Terlihat dari data diatas jumlah penduduk yang
menderita diabetes melitus mengalami peningkatan, karena itu dibutuhkan
upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga guna melakukan
tindakan pencegahan luka diabetes melitus pada penderita DM.
Menurut Menteri Kesehatan RI, Menkes Nila F. Moeloek (2018), upaya
efektif untuk mencegah dan mengendalikan diabetes harus difokuskan pada
faktor-faktor risiko disertai dengan pemantauan yang teratur dan berkelanjutan
dari perkembangannya karena faktor risiko umum PTM di Indonesia relatif
masih tinggi, yaitu 33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95% tidak
mengkonsumsi buah dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di atas 15 tahun
merupakan perokok berat. Jika keadaan ini terus dibiarkan tanpa adanya
pencegahan yang dilakukan, dapat dipastikan jumlah penderita DM bisa
meningkat (WHO, 2016). Penatalaksanaan DM yang kurang tepat dapat
mengakibatkan komplikasi, salah satunya terjadinya luka kaki atau yang sering
disebut ulkus diabetik. ulkus diabetik adalah kerusakan integritas kulit atau
infeksi yang meluas sampai jaringan kulit bawah, tendon, otot bahkan tulang.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya ulkus diabetik yaitu terjadinya
neuropati, lama menderita DM, peripheral artery disease, perawatan kaki tidak
teratur, dan penggunaan alas kaki yang tidak tepat (Edward, 2015).
Terjadiya luka kaki diabetes salah satunya dipengaruhi oleh
ketidaktahuan penderita baik dalam pencegahan maupun perawatan.
2
Pengetahuan tentang kesehatan merupakan salah satu bagian dari pengelolaan
DM. Melalui pengetahuan penderita DM dapat mengetahui tentang penyakit,
sehingga dapat merawat dirinya sendiri. Partisipasi aktif dari penderita
menjadikan pengelolaan mandiri pada DM akan berjalan maksimal. DM tidak
hanya dilakukan mandiri oleh penderita saja namun tim kesehatan juga
berperan dalam mendampingi pasien untuk membentuk sikap serta perilaku.
Keberhasilan dalam mencapai perubahan sikap maupun perilaku membutuhkan
pembelajaran, keterampilan (skill) dan motivasi (Wulandini, dkk, 2016).
Pengetahuan atau kognitif merupakan aspek yang begitu penting untuk
dapat terbentuknya tindakan atau perilaku seseorang. Perilaku yang didasarkan
pada pengetahuan dan sikap yang positif akan berlangsung lama (long lasting)
(Notoatmodjo, 2010). Selain pengetahuan yang baik, perilaku juga dipengaruhi
oleh sikap yang baik pula (Notoatmodjo, 2010). Sikap merupakan reaksi atau
respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
Sikap terbentuk dari adanya interaksi lingkungan yang saling mempengaruhi
dan terjadi timbal balik antar individu. Begitu juga dalam hal pencegahan
terjadinya luka kaki, penderita akan bersikap sesuai dengan pengaruh
lingkungannya dan pengetahuan individu terhadap DM itu sendiri
(Notoatmodjo, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dari Sigit Apriliyani (2018),
dengan judul penelitian hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan
perilaku pencegahan terjadinya luka kaki diabetik pada penderita diabetes
melitus tipe II, hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki
3
tingkat pengetahuan baik dengan perilaku yang baik dan terdapat hubungan
antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan terjadinya luka kaki
diabetik. Selanjutnya hasil penelitian Himatul Aliyah (2018), dengan judul
penelitian hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku perawatan kaki
pasien DM sebagai pencegahan ulkus DM di RSI Kendal, hasil penelitian
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahun dan
sikap dengan perilaku perawatan kaki pasien DM di RSI Kendal.
Berdasarkan hasil pengambilan data awal yang telah dilakukan
penulis, diketahui bahwa Puskesmas Bulili pada tahun 2017 jumlah pasien
Diabetes Melitus sebesar 293 pasien. Pada tahun 2018, di wilayah kerja
Puskesmas Bulili terdapat kenaikan jumlah pasien Diabetes melitus yaitu
sebesar 501 pasien. Sedangkan pada tahun 2019 di wilayah kerja Puskesmas
Bulili terdapat kenaikan jumlah pasien Diabetes Melitus sebesar 537 pasien
(Profil Kesehatan Puskesmas Bulili). Berdasarkan hasil wawancara dari 10
keluarga pasien, diperoleh gambaran pengetahuan yaitu penulis menanyakan
kepada keluarga pasien DM, “Apakah mengetahui pencegahan luka diabetes
melitus ?”, 7 dari 10 keluarga pasien mengatakan “tidak mengetahui
pencegahan luka diabetes melitus, mereka hanya tau penyakit diabetes bila
terjadi luka susah untuk sembuh” dan ketika penulis ingin mengetahui
gambaran tentang sikap keluarga pasien DM dengan menanyakan “menurut
keluarga apakah perlu keluarga mengetahui pencegahan luka diabetes
melitus?” 3 dari 10 keluarga pasien mengatakan “tidak perlu mengetahui,
4
karena apabila terjadi luka keluarga bisa membawa pasien DM ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang ada”.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, mendorong peneliti untuk
melakukan penelitian ”Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan
Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Wilayah Kerja
Puskesmas Bulili”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes
Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili ?
2. Bagaimanakah Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus
pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan
Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka
Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.
b. Diketahuinya gambaran Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka
Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Bulili.
5
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Bulili
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat membantu memberikan
masukan dan informasi bagi pihak Puskesmas Bulili, mengenai pengetahuan
dan sikap pasien diabetes melitus, sekaligus tentang pentingnya memberikan
penyuluhan secara terus menerus kepada pasien diabetes melitus.
2. Bagi STIK Indonesia Jaya Palu
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi salah satu bahan bacaan
atau referensi di perpustakaan dan dapat dimanfaatkan bagi mahasiswa
lain khususnya di bidang keperawatan yang akan melakukan penelitian
dengan variabel yang lain dan belum pernah diteliti sebelumnya.
3. Bagi Peneliti
Dengan adanya penelitian ini peneliti banyak mendapatkan
manfaat dimana wawasan dan pengetahuan peneliti bertambah dan
membuat peneliti melihat implementasi dan teori-teori yang sudah
didapatkan di bangku perkuliahan.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan merupakan hasil dari
tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan baik melalui
indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba terhadap suatu
objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata
dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya prilaku seseorang.
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012), ada enam tingkatan dalam
pengetahuan yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu adalah tingkatan paling rendah. Tahu diartikan sebagai
mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat
kembali sesuatu yang spesifik atau khusus dari seluruh badan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehention)
Memahami adalah kemampuan untuk menerangkan dan
menginterpretasikan secara benar mengenai objek yang diketahuinya.
Pada tingkatan ini individu yang bersangkutan harus bisa menjelaskan,
7
memberikan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap materi atau substansi yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi adalah kemampuan mendapatkan materi yang dipelajari
beberapa hukum-hukum, rumus, metode, dan sebagainya pada kondisi
yang nyata.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan menjabarkan materi atau objek
kedalam komponen-komponen dalam struktur organisasi tersebut, yang
terkait satu sama lain.
e. Sintesis (synthetis)
Sintesis atau formulasi menunjukkan pada kemampuan untuk
melatakan atau menghubungkan bagian-bagian kedalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penelitian terhadap suatu objek atau materi. Evaluasi ini dilaksanakan
pada kriteria yang telah ada atau kriteria yang disusun oleh yang
bersangkutan.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2012), terdapat tiga faktor yang dapat
mempengaruhi pengetahuan yaitu:
8
a. Umur
Umur adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir hingga saat
ini. Pada masa ini merupakan usia produktif. Masa ketegangan emosi,
masa keterampilan, sosial, masa komitmen, masa cara hidup, masa
kreatif. Pada dewasa ini ditandai dengan adanya perubahan “fisik dan
mental”, semakin bertambah umur seseorang maka akan mempengaruhi
tingkat pengetahuannya.
b. Pendidikan
Pendidikan adalah proses menumbuh kembangkan seluruh
kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam
pendidikan perlu dipertimbangkan umur dan hubungan dengan proses
belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang untuk mudah menerima ide dan
teknologi baru. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan
bertambah juga pengalaman yang mempengaruhi wawasan dan
pengetahuan. Adapun tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan
yaitu untuk mengubah pengetahuan, sikap dan tingkah laku atau
kebiasaan baru seseorang.
c. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan sehari-hari
untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari dimana semua bidang pekerjaan umumnya diperlukan adanya
hubungan sosial antara satu dan yang lainnya. Setiap orang harus bisa
9
membangun relasi dengan teman sejawat hingga dengan atasan
sekalipun, sehingga orang dengan hubungan sosial yang luas,
mempunyai pengetahuan yang tinggi dibandingkan dengan orang yang
kurang membangun relasi sosial dengan orang lain (Notoatmojo, 2012).
4. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dilakukan dengan memberikan kuesioner
tentang objek pengetahuan yang akan diukur, selanjutnya memberikan
penilaian dimana setiap jawaban yang benar dari masing-masing pertanyaan
diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Selanjutnya persentase jawaban
diinterpretasikan dengan acuan sebagai berikut
Menurut Nursalam (2016) pengetahuan seseorang dapat di ukur
dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :
a. Pengetahuan baik : 76% - 100%
b. Pengetahuan cukup : 56% - 75%
c. Pengetahuan kurang : < 56%
B. Tinjauan Umum Tentang Sikap
1. Definisi Sikap
Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat
langsung. Sikap hanya dapat ditafsirkan pada perilaku yang nampak. Sikap
dapat diterjemahkan dengan sikap terhadap objek tertentu diikuti dengan
kecenderungan untuk melakukan tindakan sesuai dengan objek
(Notoatmodjo, 2010). Azwar (2010) mengatakan bahwa sikap yang
diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap
10
perilaku berikutnya. Pengaruh langsung tersebut lebih berupa predisposisi
perilaku yang akan direalisasikan apabila kondisi dan situasi
memungkinkan.
2. Ciri-ciri sikap
Ciri-ciri sikap adalah menurut Wawan dan Dewi (2011) yaitu:
a. Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini
membedakannya dengan sifat motif-motif biogenesis seperti lapar, haus,
kebutuhan akan istirahat.
b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap
dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan
syarat-syarat tertentu yang mempermudahkan sikap pada orang itu.
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan
tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk,
dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu
yang dapat dirumuskan dengan jelas.
d. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan
kumpulan dari hal-hal tersebut.
e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat
alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau
pengetahuan- pengetahuan yang dimiliki orang.
11
3. Sifat sikap
Menurut Wawan dan Dewi (2011) sikap dapat pula bersifat positif
dan dapat pula bersifat negatif.
a. Sifat positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,
mengharapkan objek tertentu.
b. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,
membenci, tidak menyukai objek tertentu.
4. Faktor- faktor yang mempengaruhi sikap
Menurut Wawan dan Dewi (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi
sikap yaitu :
a. Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi pembentukan sikap, pengalaman pribadi
haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih
mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam
situasional yang melibatkan faktor emosional.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang
konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.
Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
c. Pengaruh kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah
sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap
12
anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak
pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.
d. Media massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media
komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara
objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya
berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga
agama sangat menentukan sistem kepercayaan, tidak mengherankan jika
pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
f. Faktor emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang
didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
5. Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo (2012) sikap terdiri dari berbagai tingkatan
yaitu :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subyek mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan
13
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan tugas yang
diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas
dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang tersebut
menerima ide itu.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap
tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.
6. Pengukuran Sikap
Menurut Azwar S (2011), pengukuran sikap dilakukan dengan
memberikan kuesioner. Sistem penilaian menggunakan 1-4 pilihan jawaban,
pilihan jawaban tersebut adalah pada pernyataan favourable (mendukung)
diberikan skor 4 untuk jawaban Sangat Setuju (SS), skor 3 untuk jawaban
Setuju (S), skor 2 untuk jawaban Tidak Setuju (TS), skor 1 untuk jawaban
Sangat Tidak Setuju (STS). Pernyataan unfavourable (tidak mendukung)
diberikan skor 4 untuk jawaban Sangat Tidak Setuju (STS), skor 3 untuk
jawaban Tidak Setuju (TS), skor 2 untuk jawaban Setuju (S) dan skor 1
untuk jawaban Sangat Setuju (SS).
14
a. Sikap positif : jumlah skor ≥ median
b. Sikap negatif : jumlah skor < median
C. Tinjauan Umum Tentang Keluarga
1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh
kebersamaan dan kedekatan emosional serta yang mengidentifikasi dirinya
sebagai bagian dari keluarga. Definisi ini mencakup berbagai hubungan,
termasuk di dalamnya keluarga yang tidak ada hubungan darah, pernikahan,
atau adopsi dan tidak hanya terbatas pada keanggotaan dalam suatu rumah
tangga (Friedman dkk, 2010).
2. Tipe Keluarga
Friedman dkk. (2010) menjelaskan tipe-tipe keluarga:
a. Keluarga inti terkait dengan pernikahan
Merupakan keluarga yang terbentuk karena pernikahan, peran
sebagai orang tua, atau kelahiran: terdiri atas suami, istri, dan anak-anak
mereka baik secara biologis, adopsi, atau keduanya.
b. Keluarga orientasi (keluarga asal)
Merupakan unit keluarga tempat seseorang dilahirkan.
c. Extended family
Keluarga yang terdiri dari keluarga inti dan keluarga terkait lainnya
(oleh hubungan darah), yang biasanya merupakan anggota keluarga asal
dari salah satu pasangan keluarga inti. Keluarga ini terdiri atas nenek,
kakek, bibi, paman, keponakan, dan sepupu.
15
3. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman, dkk. (2010) terdapat lima fungsi dasar keluarga:
a. Fungsi afektif (fungsi mempertahankan kepribadian) Memfasilitasi
stabilitasi kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan psikologis
anggota keluarga
b. Fungsi sosialisasi dan status sosial
Memfasilitasi sosialisasi primer anak yang bertujuan menajdikan
anak sebagai anggota masyarakat yang produktif, serta memberikan
status pada anggota keluarga.
c. Fungsi reproduktif
Untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa
generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat.
d. Fungsi ekonomi
Menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi
efektifnya.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Menyediakan kebutuhan fisik, seperti makanan, pakaian, tempat
tinggal, perawatan kesehatan.
4. Dukungan sosial
Individu yang termasuk dalam memberikn dukungan sosial meliputi
pasangan (suami/ istri), orang tua, anak, sanak keluarga, teman, tim
kesehatan, atasan, dan konselor (Nursalam, 2010).
16
D. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus (DM)
1. Definisi Diabetes Melitus
Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas
tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau
glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin
yang dihasilkannya. Diabetes adalah masalah kesehatan masyarakat yang
penting, menjadi salah satu dari empat penyakit tidak menular prioritas yang
menjadi target tindak lanjut oleh para pemimpin dunia. Jumlah kasus dan
prevalensi diabetes terus meningkat selama beberapa dekade terakhir.
(WHO Global Report, 2016). Suatu penyakit menahun yang ditandai oleh
kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun. Sebutan
Glukosa darah sering dikenal oleh masyarakat dengan gula darah.
(Kemenkes RI, 2018).
2. Etiologi
Diabetes terjadi karena produksi insulin yang kurang (defisiensi
insulin) atau insulin yang tidak efektif (insulin yang resiten). Fungsi insulin
adalah memasukkan glukosa kedalam sel tubuh sehingga bisa diubah
menjadi energi. Ketika insulin tidak mampu memasukkan glukosa kedalam
sel maka jumlah glukosa didalam darah akan meningkat yang nantinya akan
menyebabkan hiperglisemia (Leslie dkk, 2012).
17
3. Klasifikasi
Menurut Tandra (2008) dalam Leslie, dkk (2012) ada dua tipe utama
diabetes, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.
a. Tipe 1 (tipe tergantung insulin)
Ditandai dengan kegagalan produksi insulin yang parsial atau
total oleh sel-sel beta pangkreas. Faktor penyebab masih belum jelas,
tetapi beberapa virus, penyakit autoimun, dan faktor-faktor genetik dapat
menjadi penyebab. Diabetes tipe 1 dapat terjadi pada anak dan dewasa.
Penangannya dengan injeksi insulin untuk mengontrol kadar glukosa
dalam darah.
b. Tipe 2 (tidak tergantung insulin)
Ditandai dengan resistensi insulin ketika hormon insulin
diproduksi dengan jumlah yang tidak memadai atau dengan bentuk yang
tidak efektif. Faktor genetik yang kuat dan obesitas dapat berperan dalam
proses terjadinya penyakit dan biasanya terjadi pada orang dewasa.
Diabetes tipe 2 dapat dikendalikan dengan diet dan latihan, dan
penggunaan obat diabetes.
4. Faktor Resiko
Proses timbulnya penyakit diabetes disebabkan oleh berbagai faktor
yang dipengaruhi oleh komponen genetik dan lingkungan yang memberikan
kontribusi sama kuatnya terhadap munculnya penyakit tersebut. Sebagian
faktor tersebut dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup, sementara
sebagian yang lainnya tidak dapat dirubah (Gibney dkk, 2010).
18
Menurut Yusra (2012), berikut faktor resiko yang dapat menyebabkan
munculnya DM:
a. Faktor genetik
DM dapat diturunkan dari keluarga sebelumnya yang juga
menderita DM. Hal tersebut menyebabkan kelainan gen yang
mempengaruhi produksi insulin. Komponen genetik turut memberikan
pengaruh terhadap timbulnya penyakit diabetes. Hal tersebut dapat
terlihat dari prevalensi DM yang tinggi pada anak- anak yang
diturunkan dari orang tua yang menderita diabetes, dan prevalensi DM
yang tinggi pada kelompok etnis tertentu.
b. Faktor usia
Perubahan fisiologis yang menurun dengan cepat pada umumnya
terjadi sejalan dengan pertambahan usia. Penurunan tersebut dapat
terjadi setelah usia 40 tahun. DM sering muncul setelah usia lanjut
terutama setelah berusia 45 tahun.
c. Faktor kegemukan/ obesitas
Faktor kegemukan yang ikut andil dalam kejadian DM:
1) Perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat Stres
kronik cendrung membuat seseorang untuk mengkonsumsi
makanan yang manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan
kadar serotonin otak. Serotonin memberikan efek penenang
sementara untuk menurunkan stres, namun gula dan lemak yang
berlebihan dapat berakibat fatal dan beresiko terjadinya DM.
19
2) Makan berlebihan
Obesitas disebabkan oleh kebiasaan mengkonsumsi makanan
yang manis dan kaya lemak, serta mengkonsumsi makanan yang
terlalu banyak karena jumlah yang disimpan di dalam tubuh terlalu
banyak dan berlebihan.
3) Faktor demografi
a) Jumlah penduduk meningkat
b) Urbanisasi
c) Penduduk berusia diatas 40 tahun menigkat
d) Kurang gizi
e) Jarang melakukan aktivitas fisik
f) faktor-faktor makanan/ nutrisi
5. Tanda dan Gejala
Keluhan umum pada pasien seperti rasa haus yang berlebihan
(polidipsia), sering buang air kecil (poliuria) terutama malam hari, dan
sering merasa lapar (polifagia).
a. Poliuria
Kadar glukosa plasma puasa normal atau toleransi glukosa setelah
makan tidak dapat dipertahankan akibat defisiensi insulin. Sehingga
kadar glukosa dalam darah meningkat (hiperglikemia) dan jika melebihi
ambang batas ginjal akan menyebabkan glikosuria. Hal ini
mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urin.
20
b. Polidipsia
Glikosuria yang mengakibatkan diuresis osmotik menyebabkan
pasien sering merasa haus dan banyak minum.
c. Polifagia
Glikosuria menyebabkan glukosa hilang bersama urin, sehingga
pasien mengalami keseimbangan kalori negatif dan berat badan
berkurang. Akibat kehilangan kalori mungkin menyebabkan rasa lapar
dan mudah lelah serta mengantuk pada pasien.
Riskesdas, (2018); menyebutkan gejala kronik yang dapat muncul
pada pasien DM:
1) Kesemutan
2) Kulit terasa panas atau tertusuk-tusuk jarum
3) Rasa tebal di kulit sehingga ketika berjalan terasa seperti di atas
bantal atau kasur
4) Kram
5) Mudah lelah
6) Mudah mengantuk
7) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata
8) Luka sulit sembuh
9) Penyakit kulit akibat jamur dibawah lipatan kulit
21
6. Diagnosis DM
Diabetes ditandai dengan jumlah atau konsentrasi glukosa di dalam
darah melebihi keadaan normal. Konsentrasi gula darah dikatakan normal,
bila dalam keadaan puasa pagi hari tidak melebihi 100 mg/dL (Soegondo
dan Sukardji, 2011). Gibney, dkk (2010) menjelaskan standardisasi kriteria
untuk penegakan diagnosis dan klasifikasi DM yang diusulkan oleh the
National Diabetes Data Group of the USA (NDDG) dan komite pakar WHO
menghasilkan keseragaman hingga taraf tertentu bagi berbagai penelitian
global terhadap kelainan metabolik tersebut.
Cara penegakan diagnosis DM adalah:
a. Gejala DM seperti poliuria, podipsi dan polifagi serta hasil pemeriksaan
glukosa sewaktu ≥200 mg/dl (11,1 mmol/l)
b. atau glukosa plasma puasa (FPG) ≥126 mg/dl (7,0 mmol/l)
c. atau glukosa plasma 2 jam setelah makan (2 jam pp) ≥200 mg/dl (11,1
mmol/l) selama pelaksanaan TTGO (Tes Toleransi Gula Oral)
d. untuk keperluan skrining pada populasi dapat digunakan kriteria kadar
glukosa puasa atau 2 jam pp sesudah pemberian per oral 75 gram
glukosa.
7. Komplikasi
Komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi pada kedua tipe
diabetes adalah pada pembuluh darah, ginjal, mata, dan syaraf. Diabetes
mellitus merusak sistem saraf perifer, termasuk komponen sensorik dan
22
motorik divisi somatik dan otonom. Dimana komplikasi tersebut merupakan
penyebab utama kesakitan dan kematian (Leslie dkk, 2012).
Komplikasi diabetes mempengaruhi pembuluh darah besar yang
menyebabkan penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit vaskularisasi
perifer. Diabetes juga mempengaruhi sistem mikrovaskular tubuh, yang
menyebabkan retinopati, nefropati, dan neuropati. Terjadinya penyempitan
pada pembuluh darah yang dikenal dengan angiopati diabetik (Holt, 2013).
8. Penanganan DM
Menurut (Ferawati, 2014) prilaku pengelolaan penyakit DM yang
tidak baik meliputi prilaku diet, prilaku olahraga/ aktivitas fisik, prilaku
pengobatan, prilaku dalam mengontrol gula darah, serta prilaku pencegahan
komplikasi oleh pasien dan keluarga serta tenaga kesehatan.
Jain (2012) pendidikan kesehatan tentang pengelolaan diet, latihan
dan perawatan kaki bertujuan untuk mengontrol dan mencegah terjadinya
komplikasi diabetes. Menurut Torres dkk. (2014) penanganan DM meliputi:
a. Terapi gizi mencakup modifikasi diet
Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang
pengetahuan diet bagi pasien diabetes. Regimen diet bergantung pada
kebutuhan pertumbuhan, penurunan berat badan yang diinginkan
(biasanya untuk penderita diabetes tipe 2) dan tingkat aktivitas.
Pembagian kalori biasanya 50-60% dari karbohidrat kompleks, 20%
dari protein, dan 30% dari lemak, serta kebutuhan akan vitamin dan
23
mineral. Untuk membatasi diet makan makanan yang dapat
memperburuk penyakit pasien serta perubahan gaya hidup pasien.
Tujuan terapi ini adalah:
1) Untuk mencapai outcome metabolik yang optimal dan
mempertahankannya. Outcome metabolik yang optimal meliputi:
a) Kadar glukosa yang normal
b) Keberadaan lipid yang menguntungkan
c) Tingkat tekanan darah yang dapat diterima untuk mengurangi
resiko penyakit pada pembuluh darah makro serta mikro.
2) Untuk mencegah dan mengatasi komplikasi DM yang kronis
dengan mengubah asupan nutrien dan pola hidup sebagai
pencegahan serta penanganan obesitas, dislipidemia, penyakit
kardiovaskular, hipertensi, dan nefropati.
3) Untuk memperbaiki kesehatan melalui pemilihan makanan yang
sehat.
4) Beberapa komponen neuropati diabetik dapat dicegah dengan gula
darah yang terkontrol, sedangkan yang lainnya tidak.
b. Aktivitas fisik
Program olahraga yang digabung dengan penurunan berat badan
menunjukkan peningkatan sensitivitas insulin dan menurunkan
kebutuhan terhadap intervensi farmakologik. Untuk kedua tipe diabetes,
olahraga terbukti dapat meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel
sehingga kadar glukosa darah turun. Namun bagi penderita diabetes tipe
24
1 harus mennjadi perhatian sewaktu berolahraga karena dapat terjadi
penurunan glukosa darah yang mencetuskan hipoglikemia. Terutama
terjadi apabila pemberian insulin tidak disesuaikan dengan program
olahraga.
c. Perawatan kaki
Perawatan kaki digunakan untuk melakukan pencegahan untuk
terjadinya luka-luka di kaki. Setiap hari kaki pasien diabetes harus
diperiksa dengan seksama minimal satu kali untuk menemukan luka-
luka secara dini atau perubahan warna kulit seperti kemerah-merahan
yang disebabkan oleh sepatu yang sempit tepat pada waktunya
(Soegondo dan Sukardji, 2011).
9. Pencegahan Luka Diabetes
Menurut Holt (2013) luka kaki diabetes dikategorikan sebagai luka
kronik yang tidak akan sembuh sendiri, melainkan dengan perawatan aktif.
Komplikasi – komplikasi diabetes penyebab memburuknya ulkus diabetik
adalah penyakit pembuluh darah perifer, neuropati perifer, dan infeksi
(Saad, 2013).
Pencegahan komplikasi diabetes, agar tidak terjadi luka diabetes
penting sekali dilakukan, yang dapat dicegah dengan melakukan kontrol
gula darah, pengetahuan tentang faktor resiko untuk berkembangnya ulkus
kaki diabetik dan menginspeksi kaki secara teratur. Hal ini bertujuan untuk
mendeteksi luka dan memberikan perawatan tepat pada waktunya (Holt,
2013).
25
Pada kaki yang masih normal ataupun sudah ada gangguan neuropati
atau neuroiskemi namun belum ada luka, penatalaksanaan lebih ditekankan
pada deteksi dini. Deteksi dini masuk dalam pencegahan sekunder yang
bertujuan mencegah terjadinya komplikasi kaki diabetes pada pasien DM.
Seorang pasien DM yang baru didiagnosis, deteksi dini sudah dilakukan
untuk mencegah resiko infeksi ataupun kelainan bentuk kaki (PERKENI,
2010).
Deteksi dini diawali dengan deteksi adanya resiko ulserasi atau tukak
pada pasien DM. Resiko terjadinya tukak dibagi menjadi dua golongan
besar yaitu resiko sistemik dan resiko total. Resiko sistemik meliputi
hiperglikemia yang tidak terkontrol, lamanya diabetes, penyakit pembuluh
darah perifer, gangguan penglihatan, penyakit ginjal kronik, dan usia tua.
Sedangkan resiko total meliputi neuropati perifer, kelainan struktur kaki,
bentuk sepatu yang tidak sesuai, adanya kalus. ada riwayat amputasi karena
tukak, tekanan yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama dan gerakan
sendi yang terbatas (PERKENI, 2010).
Holt (2013) menjelaskan beberapa tindakan preventif untuk mencegah
timbulnya luka dan gangren diabetik:
a. Pengendalian glukosa darah
Kontrol gula darah sangat penting untuk menghindari penurunan
resistensi terhadap infeksi dan mencegah neuropati diabetik.
26
b. Penggunaan alas kaki
Penggunaan sepatu pada pasien DM tidak boleh sembarangan.
Pemilihan sepatu dilakukan dengan hati-hati, dimana sepatu tersebut
mengikuti bentuk kaki pasien untuk mencegah trauma pada kaki.
Tinggi hak sepatu sebaiknya dibawah 5 cm. Penggunaan sandal dan
sepatu secara bergantian, sandal dapat dipakai saat berada di dalam
rumah dan memakai sepatu saat bepergian ke luar. Menggunakan
ukuran sepatu yang tepat (tidak terlalu sempit ataupun terlalu longgar)
yang bertujuan untuk mencegah trauma gesekan. Lama penggunaan
sepatu baru yang bertahap untuk mencegah trauma akibat lepuh.
c. Merawat kuku kaki
Perawatan kuku kaki pasien DM sebaiknya setelah mandi,
sehingga saat memotong kuku, kuku menjadi lebih lembut. Hindari
memotong kuku dengan alat-alat tajam dan berhati-hati saat memotong
kuku kaki, karena rasa nyeri di kaki dapat berkurang. Hindari mengikir
kuku terlalu pendek atau terlalu dalam pada daerah tepi kiri dan kanan
kuku. Apabila penglihatan pasien diabetes sudah kurang, mintalah
bantuan orang lain.
d. Perawatan kaki
Perawatan kaki meliputi perhatian dan pemeriksaan pada kondisi
kaki pasien DM serta pemakaian pelindung kaki agar kaki tidak ada
lepuh, kemerahan, fisura, kalus, atau ulserasi akibat terkena trauma.
Kaki harus dicuci bersih setiap hari. Kemudian dikeringkan terutama
27
pada sela-sela jari kaki untuk mencegah akumulasi air. Mencuci kaki
dengan air biasa karena kaki ambang rasa pada kaki berkurang. Pasien
DM harus menghindari berjalan dengan kaki telanjang/ tanpa
menggunakan alas kaki, serta menghindari membersihkan kallus
sendiri. Apabila kedinginan pasien DM dapat menggunakan kaos kaki
yang menyerap keringat.
Selalu memperhatikan kondisi kaki untuk melihat:
1) Kaki yang mengalami bengkak supaya bisa kembali mengecil dan
aliran darah kembali lancar,
2) Adanya jamur yang dapat mengakibatkan sela-sela jari kaki pecah-
pecah ataupun terluka. Apabila ditemukan kaki berjamur segera
konsultasikan dengan dokter untuk diobati.
3) Peredaran darah yang terganggu
Untuk menangani peredaran darah kaki yang terganggu, pasien DM
dapat melakukan beberapa hal:
a) Latihan jalan (konsultasikan dengan dokter Anda)
b) Berhenti merokok, jika Anda seorang perokok
e. Pertolongan pertama (P3K)
Pertolongan pertama dimaksudkan agar luka tidak terinfeksi.
Apabila kaki terluka, bersihkan luka dibawah air mengalir. Kemudian
oleskan krim antiseptik dan balut dengan perban atau balutan. Sehingga
diperlukan untuk selalu menyimpan kotak P3K di rumah yang berisi
balutan steril, tip, perban, dan krim antiseptik.
28
f. Pasien harus mendapatkan penyuluhan untuk mengurangi faktor resiko,
seperti konseling tentang kebiasaan merokok dan kenaikan lemak darah
yang dapat mempengaruhi timbulnya kelainan vaskuler perifer.
g. Melakukan senam kaki
Senam kaki adalah latihan atau gerakan-gerakan yang dilakukan
oleh kedua kaki secara bergantian atau bersamaan untuk memperkuat
atau/ dan melenturkan otot-otot di daerah tungkai bawah terutama pada
kedua pergelangan kaki dan jari-jari kaki. Senam kaki untuk membantu
memperkuat otot-otot kecil kaki. Karena syaraf kaki yang terganggu
atau rusak akibat diabetes.
Langkah-langkah senam kaki:
Posisi awal: duduklah dengan posisi tegak diatas sebuah kursi (jangan
bersandar)
1) Latihan ke-1 (10 kali)
a) Gerakkan jari-jari kedua kaki seperti bentuk cakar, dan
b) Luruskan kembali.
2) Latihan ke-2 (10 kali)
a) Angkat ujung kaki, tumit tetap diletakkan diatas lantai
b) Turunkan ujung kaki, kemudian angkat tumitnya dan turunkan
kembali.
3) Latihan ke-3 (10 kali)
a) Angkat kedua ujung kaki Anda
b) Putar kaki pada pergelangan kaki, kearah samping
29
c) Turunkan kembali ke lantai dan gerakkan ke arah tengah.
4) Latihan ke-4 (10 kali)
a) Angkat kedua tumit Anda
b) Putar kedua tumit ke arah samping
c) Turunkan kembali ke lantai dan gerakkan ke tengah.
5) Latihan ke-5 (masing-masing kaki 10 kali)
a) Angkat salah satu lutut, dan
b) Luruskan kaki Anda
c) Gerakkan jari-jari kaki Anda ke depan
d) Turunkan kembali kaki Anda, bergantian ke kiri dan kanan.
6) Latihan ke-6 (masing-masing kaki 10 kali)
a) Luruskan salah satu kaki Anda di atas lantai
b) Kemudian angkat kaki tersebut
c) Gerakkan ujung-ujung jari ke arah muka Anda
d) Turunkan kembali tumit Anda ke lantai.
7) Latihan ke-7 (10 kali)
Seperti latihan sebelumnya, tetapi kali ini dengan kedua kaki
secara bersamaan.
8) Langkah ke-8 (10 kali)
a) Angkat kedua kaki Anda, luruskan dan pertahankan posisi
tersebut
b) Gerakkan kaki Anda pada pergelangan kaki, ke depan dan ke
belakang.
30
9) Latihan ke-9 (masing-masing 10 kali)
a) Luruskan salah satu kaki Anda dan angkat
b) Putar kaki Anda pada pergelangan kaki
c) Tuliskanlah di udara dengan kaki Anda angka 0 s/d 9.
10) Latihan ke-10 (sekali)
a) Selembar koran dilipat-lipat dengan kaki menjadi bentuk bulat
seperti bola. Kemudian dilicinkan kembali dengan
menggunakan kedua kaki, dan setelah itu disobek-sobek.
b) Kumpulkan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki dan
letakkan di atas lembaran koran lainnya. Terakhir bungkuslah
semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola.
E. Landasan Teori
Menurut Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan yang dikutip
Notoatmodjo (2010), membagi prilaku manusia itu kedalam tiga domain yakni
kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotor (psychomotor). Dalam
perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil
pendidikan kesehatan yakni pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan
tindakan (practice). Dalam penelitian ini mengukur pengetahuan dan sikap
keluarga dalam pencegahan komplikasi diabetes meliputi luka diabetes penting
sekali dilakukan yang dapat dicapai dengan kontrol gula darah, pengetahuan
tentang faktor resiko untuk berkembangnya ulkus kaki diabetik, dan
menginspeksi kaki secara teratur. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi luka dan
memberikan perawatan tepat pada waktunya (Holt, 2013).
31
F. Kerangka Pikir
Diabetes melitus yang dijelaskan memiliki dampak berupa berbagai
macam komplikasi diantaranya luka diabetes. Maka diperlukan pengetahuan
dan sikap bagi keluarga untuk mencegah timbulnya luka Diabetes Melitus pada
pasien DM. Kerangka penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
ini:
Pengetahuan
Pencegahan Luka DM
Pada Pasien DM
Sikap
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir
32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif.
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui Pengetahuan dan Sikap Keluarga
tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di
Wilayah Kerja Puskesmas Bulili.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah di laksanakan pada bulan September 2020, di
wilayah kerja Puskesmas Bulili.
C. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah Pengetahuan dan Sikap Keluarga
tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di
Wilayah Kerja Puskesmas Bulili.
2. Definisi Operasional
Definisi operasional yaitu batasan variabel yang diteliti untuk
mengarahkan pada pengukuran dan pengamatan variabel yang bersangkutan
serta pengembangan instrumen (Notoatmodjo, 2012).
33
a. Pengetahuan Keluarga
Definisi : Segala sesuatu yang diketahui dan dipahami
keluarga pasien diabetes melitus tentang
pencegahan luka diabetes melitus meliputi cara
pencegahan, pengendalian gula darah, penggunaan
alas kaki, pertolongan pertama, tanda dan gejala,
aktivitas fisik, diet, konsumsi obat dan konsultasi
ke ahli gizi atau dokter.
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Pengisian kuesioner
Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 2 = Baik, bila responden menjawab benar 76% -
100% seluruh pertanyaan
1 = Cukup baik, bila responden menjawab benar
56%-75% seluruh pertanyaan
0 = Kurang baik, bila responden menjawab benar
<56% seluruh pertanyaan
b. Sikap keluarga
Definisi : Sikap keluarga pasien diabetes melitus dalam
penelitian ini adalah reaksi yang masih tertutup
dan tidak dapat diliihat langsung yang hanya
dapat ditafsirkan pada perilaku yang nampak oleh
keluarga pasien dalam pencegahan luka diabetes
34
melitus meliputi pengontrolan gula darah, diet,
perawatan kaki, olahraga, pemeriksaan gula darah
rutin, senam kaki dan penggunaan obat.
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Pengisian kuesioner
Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : 1 = Positif, bila jumlah skor responden > median
(median 37)
0 = Negatif, bila jumlah skor responden < median
(median 37)
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
a. Data Primer
Data Primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti
dari yang sebelumnya tidak ada, dan tujuannya disesuaikan dengan
keperluan penelitian (Notoatmodjo, 2012). Data Primer diperoleh dari
responden yaitu keluarga pasien DM dengan menggunakan kuesioner
(daftar pernyataan).
b. Data Sekunder
Data Sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh
pihak lain dan data sudah ada (Notoatmodjo, 2010). Data ini diperoleh
melalui data di Puskesmas Bulili.
35
2. Cara pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini
adalah angket (kuesioner). Angket (kuesioner) merupakan suatu cara
pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang
umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (Notoatmodjo, 2010).
Kuesioner pengetahuan dalam penelitian ini diadopsi dari penelitian Suci
Rahma Wardani tahun 2015 tentang gambaran pengetahuan tentang
pencegahan luka DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja
Puskesmas Pisangan, Ciputat Timur dan kuesioner sikap dalam penelitian
ini diadopsi dari penelitian Ina Mariany Kamengbila tahun 2018 tentang
hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap pasien diabetes melitus tipe
2 dengan kadar HbA1c di RSUD dr. Moewardi dan dimodifikasi oleh
peneliti.
a. Data tentang Pengetahuan
Data penelitian ini menggunakan data primer berupa kuesioner
untuk menilai pengetahuan. Jenis skala pengukuran yang digunakan
adalah skala Guttman. Menurut Hidayat (2011) skala Guttman
merupakan skala yang dibuat seperti checklist bersifat tegas dan
konsisten dalam memberikan jawaban dari pertanyaan/ pernyataan: ya
dan tidak, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju, benar dan salah.
Kuesioner pengetahuan terdiri dari 39 item pernyataan yang terdiri dari
30 pernyataan positif (pernyataan no. 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 14,
16, 17, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 39)
36
dan 9 pernyataan negative (pernyataan no. 6, 8, 13, 15, 18, 19, 22, 23,
33) dengan alternatif jawaban benar dan salah. Pada pernyataan positif ,
jika rersponden menjawab “benar” mendapat nilai 1 dan menjawab
“salah” mendapat nilai 0. Pada pernyataan negatif, jika responden
menjawab “benar” mendapat nilai 0 dan jika menjawab “salah”
mendapat nilai 1.
b. Data tentang Sikap
Penilaian sikap dengan menggunakan skala Likert. Kuesioner
terdiri dari pernyataan sikap dengan jumlah 12 item pernyataan yang
terdiri dari 9 pernyataan positif (1,2,3,4,5,6,8,10,12) dan 3 pernyataan
negative (7,9,11) dengan nilai pertanyaan positif : sangat setuju (4),
setuju (3), tidak setuju (2), dan sangat tidak setuju (1). Pernyataan
negatif : sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3), sangat tidak setuju
(4).
Kuesioner yang telah diisi, selanjutnya dikumpulkan kemudian
dilakukan pengskoran sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pada
bagian definisi operasional.
3. Validitas dan realibilitas instrumen
a. Validitas
Uji validitas dalam penelitian ini dari penelitian Suci Rahma
Wardani tahun 2015 tentang gambaran pengetahuan tentang pencegahan
luka DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas
Pisangan, Ciputat Timur. Validitas berbicara mengenai sejauh mana
37
instrumen dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur.
Validitas berkaitan dengan ketepatan alat ukur. Dengan instrumen yang
valid akan menghasilkan data yang valid pula. Uji validitas kuisioner
yang digunakan dalam penelitian ini adalah content validity.
Menurut Kelana (2011) content validity (validitas isi) menunjukkan
kemampuan item pertanyaan dalam instrumen mewakili semua unsur
dimensi konsep yang sedang diteliti. Sugiyono (2007) dan Widoyoko
(2013) mengatakan bahwa untuk menguji kemampuan instrumen
tersebut dapat digunakan pendapat para ahli. Jumlah para ahli yang
digunakan minimal tiga orang. Untuk penelitian tugas akhir kuliah
(skripsi), tenaga ahlinya adalah pembimbing. Pada penelitian ini content
validity instrumen penelitian dilakukan oleh dosen pembimbing
sebanyak dua orang, sehingga item pertanyaan/ pernyataan dalam
instrumen dapat mewakili konsep yang sedang diteliti.
Proses pembuatan instrumen penelitian, peneliti membuat daftar
pernyataan terkait pencegahan luka DM diperoleh sebanyak 40
pernyataan. Selanjutnya peneliti berkonsultasi dengan pembimbing,
diperoleh 39 pernyataan dan perubahan redaksional yang mengacu pada
pola kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk mengukur isi
instrumen agar dapat mewakili konsep yang sedang diteliti, peneliti
melakukan content validity yang dilakukan oleh dua orang dosen
pembimbing penelitian. Sehingga diperoleh kuisioner yang dapat
mengukur pengetahuan responden tentang pencegahan luka DM.
38
b. Reliabilitas
Uji reliabilitas dalam penelitian ini dari penelitian Suci Rahma
Wardani tahun 2015 tentang gambaran pengetahuan tentang pencegahan
luka DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas
Pisangan, Ciputat Timur. Hasil uji reliabilitas yang dilaksanakan selama
dua minggu berturut-turut dari tanggal 6 – 19 April 2015 di Kel.
Pisangan dan Kel. Cirendeu diperoleh nilai α (alfa) sebesar 0,6659909
dibulatkan menjadi α=0,67. Berdasarkan nilai tersebut, pernyataan pada
variabel pengetahuan tentang pencegahan luka DM pada anggota
keluarga pasien DM dianggap reliabel.
E. Pengolahan Data
Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses atau data
ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan menggunakan
rumus tertentu sehingga menghasikan informasi yang diperlukan. Pengolahan
data dilakukan dengan cara (Notoatmodjo, 2010) :
1. Coding
Coding adalah melakukan pengkodean data agar tidak terjadi
kekeliruan dalam melakukan tabulasi data. Coding butir jawaban dengan
menggunakan penelitian
2. Editing
Editing adalah menyeleksi data yang telah didapat dari kuesioner yang
telah dijawab oleh responden untuk mendapatkan data yang akurat.
39
3. Tabulating
Tabulating data adalah penyusunan data sedemikian rupa sehingga
memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan dalambentuk tulisan.
4. Entry data
Entry data adalah memasukkan data kedalam computer.
5. Cleaning
Cleaning adalah pembersihan data, melihat variable apakah data
sudah benar atau belum.
6. Describing
Describing yaitu menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah
dikumpulkan.
F. Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa
univariat, bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik
setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis
datanya, untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan
standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan
distribusi frekuensi dan persentase tiap variabel. Analisis univariat bertujuan
untuk menjelaskan dan mendekripsikan karakteristik setiap variabel penelitian
(Notoatmodjo, 2010). Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui frukuensi
dan masing-masing variable yang diteliti baik variabel bebas dan terikat
dengan menggunakan rumus:
40
P = x 100%
Keterangan:
P = Persentase n = Jumlah responden
f = Frekuensi
G. Penyajian Data
Untuk menyajikan data hasil penelitian, peneliti menggunakan cara
penyajian dalam bentuk tabel dan narasi.
H. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pada Pasien
Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili.
2. Sampel
Jumlah atau besar sampel dalam penelitian ini digunakan perhitungan
besar sampel dengan menggunakan rumus estimasi proporsi menurut
Sastroasmoro & Ismael (2014) dengan rumus besar sampel sebagai berikut :
n= Z21-a/2 P (1-P)
d2
Keterangan :
n = Besar sampel
Z = Z score berdasarkan nilai a yang diinginkan
P = Proporsi pada populasi
1-P = Q yaitu proporsi untuk tidak terjadinya suatu kejadian
41
d = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan
Pada penelitian ini digunakan derajat kepercayaan 90 % (Z21-a/2 =
1,64) dengan presisi mutlak sebesar 10 % (d = 0,1) dengan nilai proporsi
populasi sebesar 30 % (P = 0,3). Perhitungan besar sampel pada penelitian
ini adalah :
n= Z21-a/2 P (1-P)
d2
n= 1,642 x 0,3 x (1-0,3)
0,12
n= 0,564816
0,01
n= 56,4816 = 56 responden
Hasil dari perhitungan menggunakan rumus diatas, didapatkan hasil
sampel sebanyak 56,48 sehingga dibulatkan menjadi 56 responden.
a. Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah
Nonprobability sampling. Populasi didalam penelitian semua keluarga
pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili, sehingga jenis
sampling yang digunakan yaitu Purposive Sampling. Purposive Sampling
adalah pengambilan subjek penelitian berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan oleh peneliti (Cozby & Bates, 2011). Yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Adapun kriteria inklusi adalah
sebagai berikut :
42
a. Kriteria Inklusi
a) Keluarga pasien DM yang berada di wilayah kerja Puskesmas
Bulili (suami, istri, anak, orang tua, saudara)
b) Keluarga tinggal menetap dengan pasien DM
c) Keluarga dapat membaca dan menulis
b. Kriteria Eksklusi
a) Subjek menolak dijadikan sampel/responden
b) Keluarga yang tidak ada di tempat/dirumah
c) Keluarga yang cacat/buta
43
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Keadaan Geografis
Puskesmas Bulili terletak di kelurahan Birobuli Selatan Kecamatan
Palu Selatan dengan jarak tempuh dari pusat Kota sejauh + 6 km dan jarak
dari pusat kecamatan sejauh 2 km. Memiliki luas wilayah 14,15 km2 dan
secara administratif pemerintahan terdiri atas 2 kelurahan, 15 RW serta 56
RT dengan luas wilayah perkelurahan sebagai berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Luas Wilayah RW dan RT dirinci menurut kelurahan
di Puskesmas Bulili Tahun 2019
No Kelurahan Luas Wilayah (km2) RW RT
1 Petobo 10,40 9 28
2 Birobuli Selatan 3,75 6 28
Puskesmas 14,15 15 56
Sumber : Profil Kesehatan Puskesmas Bulili, 2019
Secara Administratif Puskesmas Bulili berbatasan dengan beberapa
kelurahan di Kota Palu dan secara langsung juga berbatasan dengan wilayah
Kabupaten Sigi Biromaru, sebab wilayah kerja Puskesmas Bulili berada
paling selatan dari wilayah Administratif Kota Palu. Untuk lebih jelasnya
maka berikut ini kami jabarkan batasan wilayah kerja Puskesmas Bulili :
a. Sebelah Timur : Desa Ngatavaru dan Desa Luru Kec. Sigi Biromaru
b. Sebelah Barat : Kelurahan Tinggede, Kecamatan Marawola
44
c. Sebelah Utara : Kelurahan Birobuli Utara dan Kelurahan Kawatuna
d. Sebelah Selatan : Desa Mpanau dan Desa Kalukubula Kecamatan Sigi
Biromaru
2. Visi dan Misi
a. Visi
Terwujudnya masyarakat bulili sehat secara mandiri
b. Misi
1) Mendorong masyarakat untuk hidup sehat
2) Meningkatkan sumber daya manusia petugas kesehatan
3) Menjalin kerjasama lintas sektor
3. Tata Nilai
a. Keprofesionalan
b. Kedisiplinan
c. Beretika
d. Tanggung jawab
4. Motto
“GERTAK MENPAN”, Gerakan Serentak Menuju Terdepan
5. Sarana Kesehatan
Wilayah Puskesmas Bulili terdapat beberapa sarana kesehatan yang
pada tahun 2019 masih aktif dan dapat digunakan pada masyarakat untuk
pelayanan kesehatan antara lain :
Tabel 4.2 Distribusi Sarana Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bulili
Tahun 2019
45
Rumah Dokter
No Kelurahan Puskesmas Pustu Poskesdes Apotik
Sakit Praktek
1 Birobuli 1 1 5 1 1 7
Selatan
2 Petobo 1 0 2 1 1 4
Total 2 1 7 2 2 10
Sumber : Profil Kesehatan Puskesmas Bulili, 2019
6. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
Pada tahun 2019 Puskesmas Bulili memiliki cakupan kunjungan rawat
jalan sebanyak 40.374 jiwa, dengan jumlah laki-laki 17.942 jiwa dan
perempuan 22.432 jiwa, sedangkan cakupan kunjungan rawat inap 46 jiwa
dengan jumlah pasien laki-laki 17 jiwa dan perempuan 29 jiwa.
7. Upaya Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia Kesehatan Puskesmas Bulili meliputi kualifikasi
Pendidikan dengan jumlah tenaga 45 orang dengan status Pegawai Negeri
Sipil yang selama ini telah melakukan tugas di Puskesmas Bulili dengan
bentuk pengabdian dimasyarakat diwilayah kerja Puskesmas Bulili.
8. Pertumbuhan Penduduk
Sampai dengan tahun 2019 jumlah penduduk diwilayah kerja Puskesmas
Bulili berjumlah 22.439 jiwa. Pada tahun 2017 berjumlah 21.432 jiwa.
Berdasarkan data dari BPS tersebut terjadi peningkatan jumlah penduduk
sebanyak 1,07 % dari tahun sebelumnya dimana jumlah rumah tangga 3.775
rumah tangga dengan rata-rata jiwa per rumah tangga 5,19 jiwa dengan
kepadatan penduduk 1,580 jiwa per Km2.
46
B. Hasil Penelitian
Hasil penelitian diperoleh dari 56 reponden dan disajikan dalam bentuk
analisa univariat sebangai berikut:
1. Karakteristik responden
a. Usia responden
Usia responden dalam penelitian ini menurut Depkes RI (2009),
yaitu remaja akhir (17-25 tahun), dewasa awal (26-35 tahun), dewasa
akhir (36-45 tahun), lansia awal (46-55 tahun) dan lansia akhir (56-65
tahun). Usia responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.3
berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Usia Responden di wilayah kerja
Puskesmas Bulili
No Usia Frekuensi Presentase (%)
1 Masa Remaja Akhir 8 14.3
2 Masa Dewasa Awal 14 25.0
3 Masa Dewasa Akhir 19 33.9
4 Masa Lansia Awal 12 21.4
5 Masa Lansia Akhir 3 5.4
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020
Berdasarkan pada tabel 4.3 tentang usia responden yang terbanyak
adalah usia 36-45 (dewasa akhir) yaitu sebanyak (33,9 %) dari 56
responden dalam penelitian ini. Dari hasil olah data, nilai maksimum atau
umur responden paling tua adalah 60 tahun dengan frekuensi sebanyak 3
47
responden dan nilai minimum atau umur yang paling muda adalah 19
tahun dengan frekuensi sebanyak 1 responden.
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin menurut Hungu (2009) adalah perbedaan antara laki-
laki dan perempuan secara biologis sejak seseorang lahir. Jenis kelamin
dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di wilayah
kerja Puskesmas Bulili
No Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)
1 Laki-laki 14 25.0
2 Perempuan 42 75.0
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020
Berdasarkan tabel 4.4 tentang jenis kelamin, menunjukan bahwa
responden yang terbanyak pada penelitian terini adalah berjenis kelamin
perempuan (75 %) dengan frekuensi sebanyak 42 responden dari 56
responden.
c. Pendidikan responden
Jenis pendidikan menurut Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003,
jenis pendidikan dikategorikan menjadi Pendidikan Dasar yang
berbentuk Sekolah Dasar (SD)/sederajat dan Sekolah Menengah Pertama
(SMP)/sederajat, Pendidikan Menengah berbentuk Sekolah Menengah
Atas (SMA)/sederajat dan Pendidikan Tinggi dapat berbentuk akademi,
politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas. Pendidikan responden
dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:
48
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di wilayah
kerja Puskesmas Bulili
No Pendidikan Responden Frekuensi Presentase (%)
1 Pendidikan Dasar 12 21.4
2 Pendidikan Menengah 28 50.0
3 Pendidikan Tinggi 16 28.6
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020
Berdasarkan pada tabel 4.5 tentang pendidikan responden yang
memiliki pendidikan terbanyak adalah pendidikan menengah (50 %)
dengan frekuensi sebanyak 28 responden dari 56 responden pada
penelitian ini.
d. Pekerjaan Responden
Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas responden
sehari-hari. Pekerjaan responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada
tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di wilayah kerja
Puskesmas Bulili
No Pekerjaan Responden Frekuensi Presentase (%)
1 Pelajar 1 1.8
2 IRT 19 33.9
3 Buruh 3 5.4
4 Swasta 25 44.6
5 PNS 8 14.3
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020
49
Berdasarkan tabel 4.6 tentang pekerjaan responden, menunjukan
bahwa pekerjaan responden yang terbanyak adalah Swasta (44,6 %)
dengan frekuensi sebanyak 25 responden dari 56 responden penelitian
ini.
2. Analisa univariat
a. Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada
Pasien Diabetes Melitus
Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus
pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dalam
penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Keluarga tentang
Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus
No Pengetahuan Responden Frekuensi Presentase (%)
1 Kurang Baik 6 10.7
2 Cukup Baik 21 37.5
3 Baik 29 51.8
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020
Berdasarkan pada tabel 4.7 bahwa distribusi frekuensi berdasarkan
pengetahuan responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada
pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dari 56
responden yang terbanyak adalah baik (51,8 %), cukup baik (37,5 %) dan
kurang baik (10,7 %).
50
b. Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien
Diabetes Melitus
Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada
Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dalam
penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Sikap Keluarga tentang Pencegahan
Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus
No Sikap Responden Frekuensi Presentase (%)
1 Negatif 29 51.8
2 Positif 27 48.2
Total 56 100.0
Sumber : Data primer, 2020
Berdasarkan pada tabel 4.8 bahwa distribusi frekuensi berdasarkan
sikap responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien
diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah negatif
(51,8%) dan positif (48.2%).
C. Pembahasan
1. Pengetahuan dan Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes
Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili
berdasarkan karakteristik responden
Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dari hasil
penelitian ini. Karakteristik responden yang terdapat pada penelitian ini
dengan jumlah responden sebanyak 56 pasien. Hasil penelitian berdasarkan
tabel 4.3 tentang usia responden yang terbanyak adalah usia 36-45 (dewasa
51
akhir) yaitu sebanyak (33,9 %) dari 56 responden dalam penelitian ini. Dari
hasil olah data, nilai maksimum atau umur responden paling tua adalah 60
tahun dengan frekuensi sebanyak 3 responden dan nilai minimum atau umur
yang paling muda adalah 19 tahun dengan frekuensi sebanyak 1 responden.
Hasil penelitian Burns, dkk (2013) diperoleh bahwa rentang usia
anggota keluarga pasien DM adalah 31 – 57 yang diperoleh bahwa sebanyak
37,1% anggota keluarga mengalami kebingungan dalam merawat dan
membantu pasien DM. Usia tersebut menunjukkan bahwa usia responden
termasuk kedalam usia dewasa. Namun pada penelitian yang dilakukan di
wilayah kerja Puskesmas Pisangan diperoleh bahwa rentang usia anggota
keluarga pasien DM adalah 18 – 63 tahun yang terbagi menjadi usia remaja
dan usia dewasa.
Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.4 tentang jenis kelamin,
menunjukan bahwa responden yang terbanyak pada penelitian terini adalah
berjenis kelamin perempuan (75 %) dengan frekuensi sebanyak 42
responden dari 56 responden.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Suci Rahma Wardani (2019) menunjukkan bahwa persentase responden
berdasarkan jenis kelamin terbanyak dengan kategori pengetahuan baik
adalah perempuan sebanyak 23 orang (67,6%). Sedangkan persentase jenis
kelamin laki-laki dengan kategori pengetahuan baik sebanyak 7 orang
(43,8%) lebih kecil dibandingkan persentase jenis kelamin laki-laki dengan
kategori pengetahuan kurang sebanyak 9 orang (56,3 %).
52
Menurut Rintala dkk (2013) mengatakan bahwa perempuan lebih
bertanggung jawab terhadap kegiatan rutin keluarga dan mereka mungkin
berpengalaman tentang manajemen diri pasien DM. Berdasarkan hal
tersebut responden perempuan lebih memiliki toleransi terhadap perawatan
pasien DM dan pencegahan komplikasi dibandingkan responden laki-laki.
Sehingga mereka akan berusaha mencari informasi terkait DM dan
pencegahan komplikasinya. Data penelitian menunjukkan bahwa responden
tersebut berusaha mendapatkan informasi dari tim kesehatan yang mereka
temui. Oleh karena itu pengetahuan anggota keluarga perempuan tentang
pencegahan luka diabetes lebih baik dibandingkan anggota keluarga laki-
laki.
Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.5 tentang pendidikan responden
yang memiliki pendidikan terbanyak adalah pendidikan menengah (50 %)
dengan frekuensi sebanyak 28 responden dari 56 responden pada penelitian
ini.
Menurut Yusra (2010) menambahkan bahwa pendidikan dan
pengetahuan yang dimiliki akan memberikan kecendrungan terhadap
pengontrolan gula guna mencegah komplikasi. Hal ini sesuai dengan hasil
yang diperoleh bahwa anggota keluarga dengan pendidikan tinggi akan
memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan anggota keluarga
dengan pendidikan dasar. Sehingga responden anggota keluarga pasien DM
dengan kemampuan kognitif yang baik akan memiliki konsep pencegahan
luka yang lebih baik pula untuk mencegah terjadinya luka diabetes.
53
Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.6 tentang pekerjaan responden,
menunjukan bahwa pekerjaan responden yang terbanyak adalah Swasta
(44,6 %) dengan frekuensi sebanyak 25 responden dari 56 responden
penelitian ini.
Keluarga yang mampu dalam hal ekonomi akan dapat memberikan
fasilitas yang diinginkan pasien DM, memberikan motivasi dalam
menjalankan terapi. Anggota keluarga yang bekerja akan dapat
memperbaiki ekonomi, sehingga dapat memberikan fasilitas yang
dibutuhkan pasien DM dalam perawatannya (Susanti dan Sulistyarini,
2013).
2. Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada
Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili
Hasil penelitian ini yaitu Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan
Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja
Puskesmas Bulili. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dari
hasil penelitian ini. Pengetahuan responden yang terdapat pada penelitian ini
dengan jumlah responden sebanyak 56 responden. Hasil penelitian
berdasarkan tabel 4.7 tentang pengetahuan responden yang sebagian besar
memiliki pengetahuan baik adalah 29 responden (51,8 %), dari 44
responden dalam penelitian ini. Pengetahuan Keluarga tentang Pencegahan
Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja
Puskesmas Bulili dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu diantaranya dari usia,
pekerjaan, tingkat pendidikan, hal tersebut sesuai dengan penelitian teori
54
Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan
domain yang sangat penting bagi terbentuknya tindakan seseorang (overt
behavior). Perilaku yang dilakukan dengan berdasarkan pada pengetahuan
akan bertahan lebih lama dan kemungkinan menjadi perilaku yang melekat
pada seseorang dibandingkan jika tidak berdasarkan pengetahuan.
Asumsi peneliti adalah secara umum dapat dilihat dari hasil penelitian
mengenai pengetahuan keluarga tentang pencegahan luka diabetes melitus
pada pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian
besar sudah memiliki pengetahuan baik untuk pencegahan luka diabetes
melitus pada pasien diabetes melitus, tetapi masih ada keluarga pasien
diabetes melitus yang masih memiliki pengetahuan yang kurang baik
tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes melitus di
wilayah kerja Puskesmas Bulili.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suci
Rahma Wardani (2019) di wilayah kerja Puskesmas Pisangan, Ciputat
Timur menunjukkan hasil persentase pengetahuan sebesar 60 % responden
yang berpengetahuan baik yang merupakan hasil tertinggi dari 50 responden
dan sedangkan untuk hasil persentase terendah sebanyak 40 % yang
berpengetahuan kurang dari 50 responden di wilayah kerja Puskesmas
Pisangan, Ciputat Timur.
Jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian
sebelumnya tentang pengetahuan keluarga tentang pencegahan luka diabetes
melitus pada pasien diabetes melitus, dapat diambil kesimpulan bahwa
55
pengetahuan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Pisangan, Ciputat Timur
dan di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian besar sudah memiliki
pengetahuan baik.
3. Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien
Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili
Hasil penelitian ini yaitu Sikap Keluarga tentang Pencegahan Luka
Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas
Bulili. Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan dari hasil
penelitian ini. Sikap responden yang terdapat pada penelitian ini dengan
jumlah responden sebanyak 56 responden. Hasil penelitian berdasarkan
tabel 4.8 tentang pengetahuan responden yang sebagian besar memiliki
sikap negatif adalah 29 responden (51,8 %) dan sikap positif adalah 27
responden (48.2%) dari 56 responden dalam penelitian ini.
Asumsi peneliti adalah secara umum dapat dilihat dari hasil penelitian
mengenai sikap keluarga tentang pencegahan luka diabetes melitus pada
pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili sebagian besar
memiliki sikap negatif untuk melakukan pencegahan luka diabetes melitus
pada pasien diabetes melitus, hal ini disebabkan kurangnya keluarga
memperhatikan dalam penggunaan alas kaki pada penderita diabetes
mellitus dan kurangnya keluarga dalam memberikan motivasi kepada
penderita diabetes mellitus.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Hilmatul Aliyah (2018), di RSI Kendal Kabupaten Kendal menunjukkan
56
hasil persentase sikap sebesar 52,9 % responden yang memiliki sikap
negatif atau kurang yang merupakan hasil tertinggi dari 34 responden dan
sedangkan untuk hasil persentase sikap terendah sebanyak 47,1 % yang
memiliki sikap baik atau positif dari 34 responden di RSI Kendal Kabupaten
Kendal.
Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa pembentukan dan perubahan sikap
akan ditentukan oleh dua faktor yaitu: Faktor internal (individu itu sendiri),
yaitu cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif
sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau ditolak. Misalnya:
pengetahuan seseorang dan individu yag merupakan stimulus untuk
membentuk atau mengubah sikap, yaitu: pertama sifat objek yang dijadikan
sasaran sikap ini adalah .pasien penyakit DM yang penyakitnya sudah
kronis dan lamanya menderita DM menyebabkan respon individu untuk
menerima stimulus menjadi berkurang karena adanya rasa bosan dalam
bersikap dan berperilaku. Media komunikasi yang digunakan dalam
menyampaikan sikap sangat terbatas.
Dengan demikian sikap keluarga penderita DM dengan kondisi
kesehatan yang baik dapat melakukan aktivitas apa saja sedangkan yang
memiliki kondisi kesehatan sedang, cenderung memilih aktivitas yang
memerlukan sedikit kegiatan fisik. Untuk mengerjakan perawatan penyakit
DM beberapa aktivitas fisik dan psikis yang berat mereka memerlukan
bantuan orang lain. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup
dari seseorang terhadap suatu stimulus atau [Link] terbentuk dari
57
adanya interaksi lingkungan yang saling mempengaruhi dan terjadi timbal
balik antar individu. Begitu juga dalam hal pencegahan terjadinya luka kaki,
penderita akan bersikap sesuai dengan pengaruh lingkungannya dan
pengetahuan individu terhadap DM itu sendiri (Notoatmodjo, 2012)
58
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
pengetahuan responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada
pasien diabetes melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah baik
(51,8 %), cukup baik (37,5 %) dan kurang baik (10,7 %).
2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sikap
responden tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes
melitus dari 56 responden yang terbanyak adalah negatif (51,8%) dan
positif (48.2%).
B. Saran
1. Bagi Puskesmas Bulili
Diharapkan untuk pihak puskesmas dapat meningkatkan program
kegiatan puskesmas sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap
keluarga dengan cara mengadakan punyuluhan kesehatan tentang
pencegahan luka diabetes melitus pada keluarga dan pasien diabetes
melitus di wilayah kerja Puskesmas Bulili dan dukungan dari berbagai
sektor agar masyrakat dapat meningkatkan pengetahuan dan sikapnya
dalam pencegahan luka diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas
Bulili.
59
2. Bagi STIK Indonesia Jaya Palu
Diharapkan hasil penelitian ini dijadikan bahan bacaan diperpustakaan
yang nantinya dapat menambah pengetahuan bagi Mahasiswa dan
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya untuk pengetahuan dan sikap
keluarga tentang pencegahan luka diabetes melitus pada pasien diabetes
melitus
3. Bagi Peneliti
Semoga dengan adanya penelitian ini menjadi koreksi peneliti dalam
melakukan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan untuk
lebih memperhatikan pengetahuan dan sikap keluarga tentang pencegahan
luka diabetes melitus pada pasien diabetes melitus, sehingga akan terwujud
peneliti yang lebih baik demi kemajuan khususnya dunia keperawatan.
Saran untuk penelitian selanjutnya adalah agar peneliti mengembangkan
penelitian ini, akan lebih baik jika penelitian selanjutnya menggunakan
metode kualitatif atau teknik wawancara dalam pengambilan data.
Dalam pengambilan data, peneliti juga harus meyakinkan kepada calon
responden tentang pentingnya penelitian dan manfaat penelitian sehingga
akan meminimalisir ketidak setujuan calon responden menjadi sampel
penelitian. Disamping itu, pendekatan dan komunikasi yang baik kepada
responden akan mempengaruhi bagaimana responden berpartisipasi
dengan baik pada penelitian.
60
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. (2013) Autonomic Neurophaty.
([Link]
[Link] diakses pada 17 Mei 2020)
Arikunto, S. .2010. Prosedur Penelitian Suatu: Pendekatan Praktik. Jakarta
:Rineka Cipta
Azwar S. 2011. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Jakarta: Pelajar.
Burns, K. K. 2013. “Research: Educational and psychological Issues Diabetes
Attitudes, Wishes and Needs second study (DAWN2TM): Cross-national
Benchmarking Indicators for Family Member Living with People with
Diabetes.” Diabetic Medicine, p. 778-788.
Cozby, P., Bates, S. 2011. Methods in Behavioral Research. New York: McGraw
Hill.
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2018 : Profil Kesehatan Provinsi
Sulawesi Tengah. Palu.
_____________________________________, 2019 : Profil Kesehatan Provinsi
Sulawesi Tengah. Palu.
Edward, Z., Roza, R. L., Afriant, R. 2015. Faktor Risiko Terjadinya Ulkus
Diabetikum Pada Pasien Diabetes Mellitus Yang Di Rawat Jalan Dan
Inap RSUP Dr. M. Djamil Dan RSI Ibnu Sina Padang. Jurnal Kesehatan
Andalas, Vol 4, No.1.
Ferawati, I., 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Ulkus
Diabetikum pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2, pp. 2-3.
Friedman, M.M. 2010. Keluarga: Teori dan Praktek. Jakarta: EGC.
Gibney, M. J., .2010. Gizi Kesehatan Masyarakat. Penerjemah Andry Hartono.
Jakarta: EGC.
Himatul Aliyah. 2018. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku
Perawatan Kaki Pasien Dm Sebagai Pencegahan Ulkus Dm Di Rsi
Kendal. Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang.
Holt, P. 2013. “Assessment and management of patients with diabetic foot ulcers."
61
Hungu. Demografi Kesehatan Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2009.
International Diabetes Federation. (2017). IDF Diabetes Atlas Seventh Edition
2017. Dunia : IDF
Jain, P. K. 2012. “Knowledge & Attitude of Diabetic Patients Regarding Diabetic
Diet, Exercise and Foot Care.” International Journal of Nursing Education
IV, no. 2, p. 141-145.
Kementrian Kesehatan RI. 2018. CEGAH, CEGAH, dan CEGAH: Suara Dunia
Perangi Diabetes. Diperoleh
[Link]
[Link]. Diakses pada
tanggal 5 juni 2020.
Leslie, R. David, 2012. Diabetes. London: Manson Publishing Ltd.
Notoatmodjo,Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
__________________. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Nursalam. 2010. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan Ed. 2. Jakarta: Salemba Medika.
________. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Selemba
Medika.
Panggabean P, Esron Sirait, I Kadek Wartana, Subardin, Robert [Link],
Noviany Bannne Rasiman. 2017. Pedoman Penulisan Proposal Skripsi.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Palu.
PERKENI. 2010. Pedoman Penatalaksanaan Kaki Diabetik. Jakarta: PB
PERKENI Divisi Metabolik Endokrinologi Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI.
________. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe
2 di Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Puskesmas Bulili. 2019. Profil Kesehatan Puskesmas Bulili. Palu
Rintala. 2013. “Everyday Life of a Family with Diabetes as Described by Adults
with Type 1 Diabetes.” John Willey & Sons X, no. 3, p. 86-90.
62
RISKESDAS. 2013. Riset Kesehatan Dasar 201. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
___________. 2018. Riset Kesehatan Dasar, Kementrian Kesehatan RI
([Link]
s%[Link] diakses pada 19 Mei 2020)
Saad, A. Z. M., 2013. “Wound Bed Preparation for Chronic Diabetic Foot
Ulcers.” Department of Reconstructive Sciences, Shcool of Medical
Sciences, University Sains Malaysia.
Suci Rahma Wardani, 2015. Gambaran pengetahuan tentang pencegahan luka
DM pada anggota keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas
Pisangan, Ciputat Timur. Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung:Afabeta
Susanti, M. L. dan Sulistyarini, T. 2013. “Dukungan Keluarga Meningkatkan
Kepatuhan Diet Pasien Diabetes Mellitus Di Ruang Rawat Inap Rs.
Baptis Kediri.” Jurnal STIKES VI, no. 1, h. 1-10.
Soegondo, S dan Sukardji, K. 2011. Hidup secara Mandiri dengan Diabetes
Melitus Kencing Manis Sakit Gula. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Torres, A. and Cilloniz, C., 2014. Clinical Management of Diabetes. Springer
International Publishing, Switzerland.
Undang-Undang Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang RI No. 20 tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Wawan & Dewi M. 2011. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia. Cetakan II. Yogyakarta : Nuha Medika
World Health Organization. 2016. World Health Statistics. Dunia : WHO
______________________. 2016. Diabetes Fakta dan Angka.
[Link] Diakses tanggal 18 Juni
2020.
63
Wulandini, Saputra, Basri. (2016). Hubungan Pengetahuan Penderita Diabetes
Mellitus Terhadap Kejadian Luka Diabetes Mellitus Di Ruang Penyakit
Dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Naskah publikasi. Pekanbaru
Yusra, A. (2012). “Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta”. Universitas Indonesia.
[Link]/file?file=pdf/[Link]. diakses pada
tanggal 18 Juni 2020
64
Lampiran 1
SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth:
Calon Responden
Dengan Hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini adalah Mahasiswa Program S1
Keperawatan STIK Indonesia Jaya:
Nama : JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI
NPM : PK 115 016 014
Akan mengadakan penelitian dengan judul “Pengetahuan dan Sikap
Keluarga tentang Pencegahan Luka Diabetes Melitus pada Pasien Diabetes
Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili”. Penelitian ini tidak menimbulkan
akibat yang merugikan bagi Ibu/saudari sebagai Responden. Kerahasiaan
informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya akan digunakan untuk
kepentingan penelitian. Jika ibu/saudari tidak bersedia menjadi responden, maka
tidak ada ancaman bagi ibu/saudari. Jika ibu/saudari telah menjadi responden dan
terjadi hal–hal yang merugikan, maka ibu/saudari diperbolehkan mengundurkan
diri untuk tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.
Apabila saudara menyetujui, maka saya mohon kesediaan ibu/saudari
untuk menandatangani Lembar Persetujuan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang saya setakan pada surat ini.
Atas perhatian dan kesediaan ibu/saudari sebagai responden, saya ucapkan
terima kasih.
Peneliti,
JERSI INNEKE DEWI ANGGRAINI
65
Lampiran 2
PERNYATAAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(Informed Consent)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Responden :
Tanggal :
Bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan
oleh Jersi Inneke Dewi Anggraini Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu
Keperawatan dari Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya (STIK-
IJ) Palu, sampai dengan berakhirnya masa penelitian yang dimaksud.
Bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian sesuai
dengan kondisi yang sesungguhnya.
Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan keadaan sadar dan
tidak sedang dalam paksaan siapapun dan untuk dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.
Palu,………………..2020
Responden,
(………….……………….)
66
1. No. Responden
2.
3. KUESIONER PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA
TENTA NG PENCEGAHAN LUKA DIABETES MELITUS
PADA
4. PASIEN DIABETES MELITUS DI WILAYAH
5. KERJA PUSKESMAS BULILI
6.
A. KARAKTERISTIK RESPONDEN
1. Identitas Responden
a. Hari/Tanggal Pengisian Kuesioner :
b. Usia Keluarga : tahun
c. Usia Pasien : tahun
d. Hubungan dengan pasien :
e. Jenis Kelamin Balita : Laki-laki
Perempuan
f. Pekerjaan : PNS/TNI/POLRI
Swasta
Ibu Rumah Tangga
Petani
Buruh
g. Pendidikan terakhir : Tidak Sekolah
SD
SMP
67
SMA
Perguruan Tinggi
68
B. KUESIONER PENGETAHUAN
Berilah tanda (√) pada jawaban yang menurut anda benar.
Jawaban
No Pertanyaan
Benar Salah
1 Pasien kencing manis memeriksa kaki setiap hari
2 Pemeriksaan kaki bertujuan untuk menemukan luka seawal
mungkin
3 Pasien kencing manis mengontrol kadar gula darah untuk
mencegah luka akibat penyakit gula
4 Pasien kencing manis selalu memperhatikan kondisi kaki
5 Pasien memeriksakan kaki yang mengalami bengkak ke dokter
6 Kaki yang bengkak disebabkan oleh aliran darah yang lancar
7 Pasien kencing manis menggunakan sepatu dengan ukuran yang
tepat dengan kaki pasien untuk mencegah luka
8 Pasien kencing manis menggunakan sepatu yang memiliki tumit/
hak sepatu
9 Pasien kencing manis menggunakan alas kaki sepanjang hari
10 Pasien kencing manis menggunakan kaos kaki bila kaki
kedinginan dan saat tidur
11 Pasien kencing manis memeriksa sepatu untuk membuang kerikil
atau pasir yang ada di dalam sepatu
12 Pasien memeriksa bagian dalam sepatu untuk meraba bagian
yang kasar sebelum memakai sepatu
13 Pasien kencing manis menggunakan sepatu dengan penutup jari
kaki yang runcing
14 Pasien kencing manis memotong kuku setelah mandi agar kuku
lebih lembut
15 Pasien kencing manis memotong kuku kaki terlalu pendek atau
terlalu dalam pada daerah tepi kiri dan kanan
16 Pasien menggunakan alat pemotong kuku untuk memotong kuku
kaki pasien
17 Keluarga membantu pasien kencing manis memotong kuku kaki
jika mengalami kesulitan
18 Pasien berjalan tanpa menggunakan alas kaki
19 Pasien kencing manis membersihkan sendiri kapalan di kaki
20 Keluarga membantu pasien kencing manis memotong kuku kaki
jika penglihatan mereka sudah berkurang
69
21 Pasien kencing manis membersihkan kaki dengan air bersih
22 Pasien kencing manis menggunakan air panas untuk merendam
kaki
23 Pasien mencuci kaki, kemudian dibiarkan kering dengan
sendirinya
24 Pasien memberikan pelembab untuk mencegah kulit kering
25 Pasien memeriksa sela-sela jari kaki untuk melihat luka
26 Luka di kaki juga dapat disebabkan oleh jamur
27 Pasien dan keluarga menyimpan kotak P3K di rumah yang berisi
balutan steril, perban, tip, dan krim antiseptik
28 Pasien dan keluarga bekerjasama untuk mencegah timbulnya
luka
29 Keluarga dapat memberikan pengaruh positif pada pasien
kencing manis
30 Keluarga memberikan motivasi kepada pasien agar berperan
aktif dalam deteksi awal timbulnya luka
31 Deteksi awal termasuk kedalam pencegahan luka
32 Keluarga segera membawa pasien kencing manis ke dokter jika
terjadi luka untuk diobati
33 Kondisi pasien kencing manis cukup diketahui oleh keluarga
tanpa melibatkan pasien
34 Pasien kencing manis mengalami perubahan terhadap rasa panas,
sehingga kurang dapat merasakan rasa panas
35 Pasien diabetes dapat mengalami penurunan rasa nyeri
36 Pasien kencing manis menggunakan senam kaki untuk
memperkuat otot-otot kecil kaki
37 Senam kaki adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kedua
kaki secara bergantian dan/ atau bersamaan
38 Senam kaki memperbaiki aliran darah di kaki pasien kencing
manis
39 Pasien kencing manis melakukan latihan kaki seperti senam kaki
dan berjalan
Sumber : Suci Rahma Wardani, 2015
70
C. KUESIONER SIKAP
Berilah tanda (√) pada jawaban yang menurut anda benar.
Petunjuk Pengisian :
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
NO PERNYATAAN SS S TS STS
1 Keluarga mampu memberikan diet/makanan
sesuai dengan penderita diabetes mellitus
2 Keluarga pasien Diabetes Mellitus akan
membatasi makanan yang memiliki kadar gula
tinggi dan berlemak.
3 Keluarga mampu untuk mencari informasi
tentang diabetes melitus ke petugas kesehatan
4 Keluarga mengajak penderita Diabetes
Mellitus berolah raga secara rutin
5 Keluarga rutin memeriksakan gula darah setiap
bulan
6 Keluarga memberikan perawatan kulit dengan
memberikan lotion pada kulit penderita
Diabetes Mellitus yang kering
7 Keluarga kurang memperhatikan dalam
penggunaan alas kaki pada penderita Diabetes
Mellitus
8 Keluarga membersikan rumah, agar penderita
Diabetes Mellitus akan melakukan aktivitas
tidak melukai kakinya
9 Keluarga tidak memberikan motivasi kepada
Penderita Diabetes Mellitus
10 Ketika kadar glukosa darah penderita Diabetes
Mellitus tinggi, keluarga segera membawa ke
pelayanan kesehatan
11 Keluarga memperbolehkan penderita Diabetes
Mellitus merokok
12 Keluarga rutin mengantar dan menemani
ketika lansia kontrol ke pelayanan kesehatan
71
HASIL OLAH DATA
Usia Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 19 1 1.8 1.8 1.8
23 6 10.7 10.7 12.5
24 1 1.8 1.8 14.3
26 1 1.8 1.8 16.1
27 1 1.8 1.8 17.9
28 2 3.6 3.6 21.4
29 2 3.6 3.6 25.0
30 3 5.4 5.4 30.4
32 1 1.8 1.8 32.1
33 2 3.6 3.6 35.7
35 2 3.6 3.6 39.3
36 2 3.6 3.6 42.9
37 1 1.8 1.8 44.6
38 1 1.8 1.8 46.4
40 2 3.6 3.6 50.0
41 2 3.6 3.6 53.6
42 7 12.5 12.5 66.1
43 3 5.4 5.4 71.4
45 2 3.6 3.6 75.0
46 2 3.6 3.6 78.6
48 1 1.8 1.8 80.4
49 4 7.1 7.1 87.5
50 1 1.8 1.8 89.3
54 3 5.4 5.4 94.6
60 3 5.4 5.4 100.0
Total 56 100.0 100.0
Usia Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Masa Remaja Akhir 8 14.3 14.3 14.3
Masa Dewasa Awal 14 25.0 25.0 39.3
Masa Dewasa Akhir 19 33.9 33.9 73.2
Masa Lansia Awal 12 21.4 21.4 94.6
72
Masa Lansia Akhir 3 5.4 5.4 100.0
Total 56 100.0 100.0
Jenis Kelamin Responden
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Laki-laki 14 25.0 25.0 25.0
Perempuan 42 75.0 75.0 100.0
Total 56 100.0 100.0
Pendidikan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid S1 16 28.6 28.6 28.6
SMA 28 50.0 50.0 78.6
SMP 12 21.4 21.4 100.0
Total 56 100.0 100.0
Pekerjaan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid BURUH 3 5.4 5.4 5.4
IRT 19 33.9 33.9 39.3
PELAJAR 1 1.8 1.8 41.1
PNS 8 14.3 14.3 55.4
SWASTA 25 44.6 44.6 100.0
Total 56 100.0 100.0
73
Pengetahuan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 51 1 1.8 1.8 1.8
54 5 8.9 8.9 10.7
56 3 5.4 5.4 16.1
64 5 8.9 8.9 25.0
67 4 7.1 7.1 32.1
72 6 10.7 10.7 42.9
74 3 5.4 5.4 48.2
77 4 7.1 7.1 55.4
79 6 10.7 10.7 66.1
82 4 7.1 7.1 73.2
85 1 1.8 1.8 75.0
87 5 8.9 8.9 83.9
90 8 14.3 14.3 98.2
92 1 1.8 1.8 100.0
Total 56 100.0 100.0
Pengetahuan Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang Baik 6 10.7 10.7 10.7
Cukup Baik 21 37.5 37.5 48.2
Baik 29 51.8 51.8 100.0
Total 56 100.0 100.0
74
Sikap Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 71 2 3.6 3.6 3.6
73 14 25.0 25.0 28.6
75 13 23.2 23.2 51.8
77 9 16.1 16.1 67.9
79 2 3.6 3.6 71.4
81 3 5.4 5.4 76.8
90 6 10.7 10.7 87.5
96 7 12.5 12.5 100.0
Total 56 100.0 100.0
Sikap Responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Cukup baik 29 51.8 51.8 51.8
Baik 27 48.2 48.2 100.0
Total 56 100.0 100.0
75
BIODATA PENELITI
A. Identitas
Nama : Jersi Inneke Dewi Anggraini
NPM : PK 115 016 014
Tempat, Tanggal Lahir : Tempilang, 1 Maret 1997
Jenis Kelamin : Perempuan
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Jl. Banteng III
B. Riwayat Pendidikan
Tamat SD : SD Negeri 4 Tempilang 2009
Tamat SMP : SMP Negeri 1 Tempilang 2012
Tamat SMA : SMA Negeri 1 Pamukan Barat 2015
Terdaftar sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia
Jaya Palu jurusan PSIK Tahun 2016 sampai 2020
76