0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan46 halaman

Petunjuk Pelaksanaan RHL Sipil 2019

Dokumen tersebut memberikan latar belakang mengenai pentingnya rehabilitasi hutan dan lahan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Dokumen ini juga menjelaskan tujuan, ruang lingkup, dan dasar hukum dari pedoman pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan secara sipil teknis tahun 2019, serta lokasi-lokasi sasaran kegiatan tersebut di berbagai kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur.

Diunggah oleh

judith seran
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan46 halaman

Petunjuk Pelaksanaan RHL Sipil 2019

Dokumen tersebut memberikan latar belakang mengenai pentingnya rehabilitasi hutan dan lahan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Dokumen ini juga menjelaskan tujuan, ruang lingkup, dan dasar hukum dari pedoman pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan secara sipil teknis tahun 2019, serta lokasi-lokasi sasaran kegiatan tersebut di berbagai kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur.

Diunggah oleh

judith seran
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sumber daya alam berupa hutan, tanah dan air sebagai salah satu modal
dasar pembangunan nasional, harus dikelola sebaik - baiknya berdasarkan
azas kelestarian, azas keserasian dan azas pemanfaatan yang optimal. Hutan
sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui seharusnya dikelola
sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan fungsi dan manfaat yang lestari
baik manfaat ekonomis, ekologis maupun sosial. Selama ini ada kecenderungan
bahwa pemanfaatan hutan hanya mengejar keuntungan ekonomi, tanpa
mempertimbangkan dampak ekologis yang ditimbulkan dan mengabaikan
kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan disekitar hutan.
Akibatnya, terjadi kerusakan hutan, degradasi lahan dan bertambahnya luas
lahan kritis. Proses degradasi sumber daya hutan baik dari kualitas maupun
kuantitasnya terus berlangsung dengan cepat, dimana tingkat kerusakannya
telah melampaui ambang batas dan cenderung menuju kemusnahan apabila
tidak ada usaha penanggulangan yang berarti.
Pada kondisi yang demikian, Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) menjadi
bagian penting dari sistem pengelolaan hutan dan lahan. Kegiatan RHL
dilaksanakan sebagai upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan
meningkatkan fungsi hutan dan lahan, untuk menjamin terjaganya daya
dukung, produktivitas serta peranan hutan dan lahan sebagai system
penyangga kehidupan. Upaya RHL ini sangat perlu dilakukan karena masih
luasnya lahan kritis yang berdampak negatif terhadap fungsi hidrologi DAS dan
kesejahteraan masyakat. Kegiatan RHL dapat berhasil sesuai dengan yang
diharapkan, apabila direncanakan dengan baik. Untuk itu diperlukan adanya
suatu sistem perencanaan RHL yang mantap dan sistematis, sehingga
pelaksanaannya dapat terarah serta terukur dalam mencapai tujuan dan
sasarannya.
Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada
antara lain dengan melakukan upaya rehabilitasi melalui RHL secara sipil
teknis yang dilakukan diluar kawasan hutan (lahan masyarakat) terutama
dibagian hulu DAS untuk mendukung daya tampung DAS di suatu wilayah
penyangga kawasan hutan.
Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2019 dialokasikan anggaran
untuk mendukung program atau kegiatan tersebut sehingga diharapkan dapat
terserap dengan baik sehingga dapat meningkatkan daya dukung terhadap
pelaksanaan RHL secara keseluruhan.

1 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
1.2.1. Maksud
Maksud disusunnya Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) ini adalah sebagai
pedoman bagi pelaksana di lapangan terkait keseluruhan Kegiatan RHL Secara
Sipil Teknis Tahun Anggran 2019.

1.2.2. Tujuan
Tujuan disusunnya Petunjuk Pelaksanaan ini adalah agar pelaksanaan
Kegiatan RHL Secara Sipil Teknis Tahun Anggaran 2019 dapat dilakukan secara
baik, efektif dan efisien sesuai rencana operasional yang ditetapkan dan
ketentuan-ketentuan yang berlaku.

1.3 RUANG LINGKUP


Ruang lingkup petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) ini berkenaan dengan
seluruh kegiatan teknis dan administrasi yang berkaitan dengan
penyelenggaraan Program Pelestarian Lingkungan Hidup, Kegiatan RHL secara
Sipil Teknis Tahun 2019, terdiri dari : Dam Pengendali (DPn), Pengendali
Jurang/Gully Plug (GP) dan Sumur Resapan (SRA) meliputi : persiapan
administrasi, penyiapan lahan, operasional pengawasan lapangan dan
pembuatan laporan.

1.4 SASARAN
- Sasaran lokasi pembuatan Persyaratan teknis lokasi DPn :
1) LMU Prioritas I dan II atau dalam RP RHL;
2) Luas DTA 10 - 30 ha;
3) Kemiringan alur sungai 15 - 35%;
4) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15 - 35%;
5) Diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 3.
- Sasaran lokasi pembuatan Persyaratan teknis lokasi Pengendali Jurang (Gully
Plug) Persyaratan teknis lokasi GP :
1) LMU Prioritas I dan II atau dalam RP RHL;
2) Kemiringan > 35 % dan terjadi erosi parit/alur;
3) Pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka;
4) Luas DTA 3 - 5 ha;
5) Kemiringan alur maksimal 10%;
6) Diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 3.
- Persyaratan teknis Sumur Resapan (SRA) :
a) Daerah pemukiman padat penduduk dengan curah hujan tinggi;
b) Aliran permukaan (run off) tinggi;
c) Vegetasi penutup tanah <30 % ;
d) Struktur tanah yang dapat digunakan harus mempunyai nilai

2 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


permeabilitas tanah ≥ 2,0 cm/jam;
e) Kedalaman air tanah minimum 1,50 m pada musim hujan;
f) Diutamakan pada morfologi hulu dan tengah DAS; dan
g) Jarak penempatan SRA terhadap bangunan adalah:
1) Terhadap sumur air bersih 3 meter.
2) Terhadap resapan tangki septik, saluran air limbah, cubluk,
pembuangan sampah 5 meter.
3) Terhadap pondasi bangunan 1 m.

Tabel 1 : Sebaran lokasi Pembuatan RHL secara Sipil Teknis

No Kota/Kab DPn GP SRA Keterangan


1 2 3 4 5 6
1. Kota Kupang 1 2 3 DPn : 15 Kab/Kota
2. Kupang 4 3 -- GP : 11 Kab/Kota
3. TTS 2 2 -- SRA : 13 Kab/Kota
4. TTU -- -- --
5. Belu 1 2 --
6. Malaka 1 1 1
7. Alor 1 2 1
8. Lembata 2 2 1
9. Flores Timur 2 1 1
10. Sikka 2 -- 1
11. Ende 1 -- 1
12. Ngada -- -- --
13. Nagekeo 1 -- 1
14. Manggarai Timur 3 -- --
15. Manggarai -- 2 1
16. Manggarai Barat 2 1 1
17. Sumba Timur 2 2 --
18. Sumba Tengah -- -- 3
19. Sumba Barat -- -- 1
20. Sumba Barat Daya -- -- --
21. Rote Ndao 1 -- --
22. Sabu Raijua -- -- 1
Jumlah 26 20 17

1.5 DASAR

1.5.1 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konsevasi Sumber Daya


Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3419);
1.5.2 Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
3 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019
Kehutanan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4412);
1.5.3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
1.5.4 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059);
1.5.5 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Perusakan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5432);
1.5.6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah;
1.5.7 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan
Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 299,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5608);
1.5.8 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140);
1.5.9 Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan
Reklamasi Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 201, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4947);
1.5.10 Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);
1.5.11 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah beberapa kali,
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2018 Nomor 33);
1.5.12 Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 Tentang Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2015 Nomor 17);

4 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


1.5.13 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.12/Menhut-II/2011 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tahun 2011
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 140);
1.5.14 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia
Nomor P.74/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2016 tentang Pedoman
Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang
Melaksanakan Urusan Pemerintahan Bidang Lingkungan Hidup dan
Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan;
1.5.15 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia
Nomor P.104/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Petunjuk
Operasional Penggunaan Dana Alokasi Khusus Fisik Penugasan Bidang
Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2019 Nomor 31);
1.5.16 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia
Nomor P.105/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Tata Cara
Pelaksanaan, Kegiatan Pendukung, Pemberian Insentif, serta Pembinaan
dan Pengendalian Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 16);
1.5.17 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor
SK.651/Menlhk/Setjen/Kum.1/2016 tentang Hasil Pemetaan Urusan
Pemerintahan Daerah Di Bidang Lingkungan Hidup dan Bidang
Kehutanan;
1.5.18 Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Nomor 8 Tahun 2018 Tentang Pedoman Swakelola (Berita Negara
Republikm Indonesia Tahun 2018 Nomor 761).
1.5.19 Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 9 Tahun
2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi NTT
(Lembaran Daerah Provinsi NTT Tahun 2016 Nomor 009, tambahan
Lembaran Daerah Provinsi NTT Nomor 0082) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Daerah (PERDA) Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor
1 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun
2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi NTT
(Lembaran Daerah Provinsi NTT Tahun 2019 Nomor 001, tambahan
Lembaran Daerah Provinsi NTT Nomor 0102);
1.5.20 Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (DPPA-SKPD) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun
Anggaran 2019 Nomor : [Link]/900.910/DPA/08/2019.

1.6 PENGERTIAN

1.6.1 Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang selanjutnya disingkat RHL adalah
upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi

5 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya
dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.

1.6.2 Dam Pengendali (DPn) adalah Dam Penahan (DPn) adalah bendungan kecil
yang lolos air dengan konstruksi bronjong batu, pasangan batu spesi atau
trucuk bambu/kayu dibuat pada alur jurang dengan tinggi maksimum 4
meter yang berfungsi untuk mengendalikan/mengendapkan
sedimentasi/erosi dan aliran permukaan (run off).
1.6.3 Pengendali Jurang/Gully Plug (GP) adalah Gully Plug (GP) adalah upaya
teknik konservasi tanah untuk mencegah/ mengendalikan erosi jurang
agar tidak meluas dan berkembang sehingga merusak lingkungan
sekitarnya.
1.6.4 Sumur Resapan (SRA) adalah salah satu teknik rekayasa konservasi air
berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai
bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai
tempat menampung air hujan yang jatuh di atas, yang mempunyai
manfaat yaitu mengurangi aliran permukaan, mengurangi aliran
permukaan, mempertahankan dan menambah tinggi muka air tanah,
mengurangi erosi dan sedimentasi, mencegah intrusi air dan penurunan
tanah, dan mengurangi pencemaran air tanah.
1.6.5 Land Mapping Unit (LMU) adalah satuan lahan terkecil yang mempunyai
kesamaan kondisi biofisik terutama dalam hal tingkat
kerusakan/kekritisan, fungsi kawasan ketebalan tanah gambut dan
morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS).
1.6.6 LMU Prioritas I dalam Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
(RPRHL) adalah satuan lahan terkecil dalam kategori kritis dan sangat
kritis yang ditetapkan dalam Rencana Teknik-RHL DAS (RTk-RHL DAS).
1.6.7 LMU Prioritas II Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
(RPRHL) adalah satuan lahan terkecil dalam kategori agak kritis yang
ditetapkan dalam Rencana Teknik -RHL DAS (RTk-RHL DAS).
1.6.8 Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai yang
selanjutnya disingkat RTk-RHL DAS adalah rencana RHL 15 (lima belas)
tahunan yang memuat rencana pemulihan hutan dan lahan, pengendalian
erosi dan sedimentasi, pengembangan sumberdaya air dan pengembangan
kelembagaan.
1.6.9 Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang selanjutnya
disingkat RPRHL adalah rencana manajemen (management plan) dalam
rangka penyelenggaraan RHL sesuai dengan kewenangan Pemerintah,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai peraturan
perundang-undangan.
1.6.10 Daerah Tangkapan Air (DTA) atau Catchment Area adalah suatu wilayah
daratan yang menerima air hujan, menampung, dan mengalirkannya
6 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019
melalui satu outlet/tempat/peruntukan, misalnya Daerah Tangkapan Air
Waduk Gajah Mungkur, dan lain-lainnya.
1.6.11 Permeabilitas tanah adalah kemampuan atau kualitas tanah untuk
mengalirkan/meloloskan air atau udara yang diukur berdasarkan
besarnya aliran melalui satuan tanah yang telah dijenuhi terlebih dahulu
persatuan waktu tertentu. Satuan permeabilitas tanah adalah cm/jam.
Klasifikasi permeabilitas tanah terdiri dari : sangat lambat (<0,125
cm/jam), lambat (0,125-0,500 cm/jam), agak lambat (0,500-2,000
cm/jam), sedang (2,000-6,250 cm/jam), agak cepat (6,250-12,500
cm/jam), cepat (12,500-25,000 cm/jam) dan sangat cepat (>25,000
cm/jam). Faktor – faktor yang mempengeruhi permeabilitas tanah adalah
tekstur tanah (pasir, lempung, liat), struktur tanah (padat, remah),
Porositas (rapat, berongga) dan gravitasi. Sedangkan faktor –faktor yang
dipengaruhi permeabilitas adalah infiltrasi (kecepatan air masuk melalui
tanah), aliran drainase (aliran air), evaporasi (proses penguapan)dan erosi
(proses pengikisan lapisan tanah permukaan). Pada tingkat lapangan,
permeabilitas tanah dapat diukur melalui pengamatan pada genangan air
(pada suatu lokasi) seberapa lama genangan air tersebut kering. Semakin
cepat kering berarti permeabilitas tanahnya cepat, sedangkan semakin
lambat mengering berarti permeabilitas tanahnya lambat.
1.6.12 Aliran air permukaan atau run off adalah aliran air yang mengalir diatas
permukaan tanah karena penuhnya kapasitas infiltrasi tanah. Aliran air
permukaan dipengaruhi oleh curah hujan. Semakin besar curah hujan
maka peluang terjadinya run off semakin tinggi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju run off tinggi, yaitu : 1) Intensitas hujan (intensitas
hujan yang tinggi memperbesar peluang laju run off ); 2) Luas DAS
(semakin besar luas DAS maka makin besar CH yang diterima, peluang
laju run off semakin tinggi); 3) Kemiringan Lereng DAS (semakin besar
kemiringan lereng, makin cepat laju run off ) 4) Vegetasi (semakin padat
vegetasi tanaman pada suatu wilayah maka laju run off semakin lambat
karena tertahan oleh vegetasi dan akar tanaman; 5) Jenis tanah (tanah liat
yang tidak menyeerap air mempercepat laju run off).
1.6.13 Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah pejabat
pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian
Negara/Lembaga/Perangkat Daerah.

1.6.14 Kuasa Pengguna Anggaran pada Pelaksanaan APBD yang selanjutnya


disingkat KPA adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan
sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian
tugas dan fungsi Perangkat Daerah.

7 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


1.6.15 Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat
yang diberi kewenangan oleh PA/ KPA untuk mengambil keputusan dan/
atau melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran
anggaran be1anja negara/anggaran belanja daerah.

1.6.16 Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK


adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh Kepala Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan untuk mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan
dengan PPK.

1.6.17 Pejabat Pengadaan adalah pejabat administrasi/pejabat


fungsional/personel yang bertugas melaksanakan Pengadaan Langsung,
Penunjukan Langsung, dan/atau E-purchasing.

1.6.18 Pejabat Pemeriksa Hasil Pekerjaan yang selanjutnya disingkat PjPHP


adalah pejabat administrasi/pejabat fungsional/personel yang bertugas
memeriksa administrasi hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa.

1.6.19 Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan yang selanjutnya disingkat PPHP adalah
tim yang bertugas memeriksa administrasi hasil pekerjaan Pengadaan
Barang/Jasa.

1.6.20 Penyelenggara Swakelola adalah Tim yang menyelenggarakan kegiatan


secara Swakelola.

1.6.21 Organisasi Kemasyarakatan yang selanjutnya disebut Ormas adalah


organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela
berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan,
kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi
tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila.

1.6.22 Kelompok Masyarakat adalah kelompok masyarakat yang melaksanakan


Pengadaan Barang/Jasa dengan dukungan anggaran belanja dari
APBN/APBD.

1.6.23 Pengadaan Barang/Jasa melalui Swakelola yang selanjutnya disebut


Swakelola adalah cara memperoleh barang/jasa yang dikerjakan sendiri
oleh Kementerian/ Lembaga/ Perangkat Daerah, Kementerian / Lembaga/
Perangkat Daerah lain, organisasi kemasyarakatan, atau kelompok
masyarakat.

1.6.24 Kelompok Masyarakat adalah kelompok masyarakat yang melaksanakan


Pengadaan Barang/Jasa dengan dukungan anggaran belanja dari
APBN/APBD yang menyusun rencana, melaksanakan dan mengawasi
kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara vegetatif..

8 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


1.6.25 Kelompok masyarakat pelaksana kegiatan adalah kelompok masyarakat
yang menyusun rencana, melaksanakan dan mengawasi kegiatan
Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara vegetatif.
1.6.26 Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding adalah
kesepakatan antara PA/KPA penanggung jawab anggaran dan pimpinan
Kementerian/Lembaga/ Perangkat Daerah lain, pimpinan Ormas, atau
penanggung jawab Kelompok Masyarakat secara tertulis sebagai dasar
penyusunan kontrak swakelola.
1.6.27 Kontrak Pengadaan Barang/Jasa melalui Swakelola yang selanjutnya
disebut Kontrak Swakelola adalah perjanjian tertulis antara PA/KPA/PPK
dengan ketua tim pelaksana Swakelola Kementerian/Lembaga/Perangkat
Daerah lainnya, pimpinan Ormas pelaksana Swakelola, atau pimpinan
Kelompok Masyarakat pelaksana Swakelola.
1.6.28 Tim persiapan adalah tim yang dibentuk oleh PPK yang memiliki tugas
menyusun sasaran, rencana kegiatan, jadwal pelaksanaan, dan rencana
biaya.
1.6.29 Tim Pelaksana adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh ketua
kelompok masyarakat yang memiliki tugas melaksanakan, mencatat,
mengevaluasi, dan melaporkan secara berkala kemajuan pelaksanaan
kegiatan dan penyerapan anggaran.
1.6.30 Tim Pengawas adalah yang dibentuk oleh PPK yang memiliki tugas
mengawasi persiapan dan pelaksanaan fisik maupun administrasi
swakelola.
1.6.31 Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi adalah Dinas Teknis
yang membawahi seluruh UPT KPH Wilayah Kabupaten / Kota yang
bertugas di bidang kehutanan.
1.6.32 UPT KPH Wilayah Kabupaten/Kota adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas
Kehutanan Provinsi NTT yang bertugas melaksanakan persiapan dan
pengawasan kegiatan RHL secara Vegetatif di tingkat tapak.
1.6.33 Tenaga Teknis UPT KPH Kabupaten/Kota adalah petugas yang diberi
wewenang oleh PA untuk membantu Kelompok Masyarakat dalam
pelaksanaan kegiatan di lapangan.

BAB II
ORGANISASI PELAKSANA

9 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Organisasi Pelaksana Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Secara Sipil
Teknis Program Pelestarian Lingkungan Hidup Tahun Anggaran 2019 meliputi
Pembuatan bangunan Dam Penahan (DPn), Pengendali Jurang/Gully Plug (GP)
Sumur Resapan (SRA). Secara keseluruhan struktur organisasi pelaksana adalah
sebagai berikut :

10 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA KEGIATAN RHL SECARA SIPIL TEKNIS TAHUN ANGGARAN 2019 (SWAKELOLA TIPE 3)

PA

 Dam Penahan (DPn)


 Pengendali Jurang/Gully Plug (GP) Pengelola Keuangan
 Sumur Resapan (SRA)

Pejabat Penatausahaan Keuangan


Bendahara Pengeluaran
Petugas Akuntansi & Pelaporan
Petugas Penyiap SPP/SPM
Verifikasi

Kepala UPT KPH Wil. PPK Pejabat Pelaksana Teknis Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Kabupaten/Kota Kegiatan Pekerjaan

Tenaga Teknis Penyelenggara Swakelola


UPT KPH

Keterangan :

: Garis Komando
Tim Pesiapan Tim Pelaksana Tim Pengawas (UPT
(UPT KPH) (Kelompok Masy.) KPH) : Garis Koordinasi

Gambar 1. Struktur Organisasi Pelaksana Kegiatan RHL secara Sipil Teknis Tahun 2019

11 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


BAB III
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Secara Sipil Teknis Tahun Anggaran
2019 merupakan salah satu kegiatan dengan skala pekerjaan cukup besar pada Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pelaksanaannya
membutuhkan andil dari berbagai pihak terutama yang termasuk dalam struktur
organisasi pelaksana kegiatan. Oleh karena itu terdapat tugas dan tuntutan tanggung
jawab menyangkut pelaksanaannya. Adapun tugas dan tanggung jawab masing-masing
pihak dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara Sipil Teknis adalah sebagai berikut :

3.1. Kepala Dinas selaku Pengguna Anggaran

 Menetapkan Rencana Umum pelaksanaan program/kegiatan;


 Menetapkan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK);
 Menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);
 Menetapkan Tenaga Teknis UPT KPH;
 Menetapkan Panitia / Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan;
 Mengawasi Pelaksanaan Anggaran;
 Melakukan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program/kegiatan;
 Menyampaikan Laporan Keuangan sesuai dengan peraturan dan perundang-
undangan
 Bertanggungjawab terhadap fisik kegiatan maupun keuangan;
 Menandatangani surat bukti pengeluaran;
 Melakukan pembinaan dan pemeriksaan terhadap bendahara pengeluaran;
 Melakukan pembinaan kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Staf
Pelaksana Kegiatan dan Staf Pengelola Keuangan.

3.2. Kepala Bidang Pembinaan selaku PPTK

 Bertanggungjawab terhadap fisik kegiatan;


 Melaksanakan rapat koordinasi intern untuk memacu percepatan pelaksanaan
program/kegiatan;
 Melaksanakan koodinasi dengan Kepala UPT KPH Wilayah Kabupaten/Kota
 Mengendalikan pelaksanaan kegiatan;
 Memberikan petunjuk kepada pelaksana program/ kegiatan dalam menyelesaikan
masalah;
 Mengadakan penilaian dan evaluasi terhadap pelaksanaan program / kegiatan;
 Melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Pengguna Anggaran
secara periodik;
 Menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan;
 Bertanggungjawab terhadap pencapaian kinerja program / kegiatan;
 Dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Dinas selaku
Pengguna Anggaran.

12 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


3.3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)

 Menyusun spesifikasi teknis/KAK setelah penandatanganan Nota Kesepahaman.


 Menandatangani kontrak / Surat Perjanjian Kerja Sama (SPKS) dengan Tim
Pelaksana (Kelompok Masyarakat);
 Melaksanakan kontrak/ kerja sama dengan penyedia barang / jasa atau
Kelompok Masyarakat/ kelompok masyarakat
 Mengendalikan pelaksanaan kontrak / kerja sama;
 Melaporkan pelaksanaan / penyelesaian Pengadaan Barang / Jasa kepada PA /
KPA;
 Membuat dan menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan;
 Menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang / Jasa kepada PA / KPA dengan
Berita Acara Penyerahan;
 Melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan
pelaksanaan pekerjaan kepada PA / KPA setiap triwulan;
 Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan
Barang / Jasa.

3.4. Kepala UPT KPH Wilayah Kab./Kota

 Mengusulkan tenaga teknis tingkat kabupaten / UPT KPH;


 Mengusulkan Kelompok Masyarakat pelaksana kegiatan RHL Sipil Teknis
(DPn/GP/SRA);
 Melakukan koordinasi dengan Kepala Bidang Pembinaan Dinas LHK Provinsi NTT;
 Mengkoordinir pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan;
 Mengkoordinir monitoring dan bimbingan teknis terhadap pelaksanaan kegiatan;
 Melakukan koordinasi dengan Kelompok Masyarakat/kelompok masyarakat
pelaksana kegiatan;
 Melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan di lapangan kepada Pengguna
Anggaran secara periodik;

3.5. Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan / Staf Pelaksana Kegiatan

 Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan kegiatan;


 Membantu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dalam menyusun
pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan;
 Menyusun dan membuat Rencana Operasional Kegiatan;
 Membuat laporan pelaksanaan kegiatan secara periodik;
 Melakukan koordinasi dengan tenaga staf pelaksana kegiatan UPT KPH yang
mengurusi kegiatan;
 Bertanggungjawab kepada Pengguna Anggaran.

13 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


3.6. Tenaga Teknis UPT KPH Kabupaten/Kota

 Membantu PPK dalam seluruh pelaksanan kegiatan pada tingkat lapangan;


 Mengkoordinir kelompok masyarakat/tani pelaksana kegiatan;
 Membantu Kelompok Masyarakat dalam administrasi dan pertanggungjawaban
kegiatan.

3.7. Staf Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan

 Membantu staf pelaksana kegiatan dalam menyusun dan membuat Rencana


Operasional Kegiatan;
 Membantu pembuatan laporan pelaksanaan kegiatan secara periodik;
 Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.

3.8. Penyelenggara Swakelola

 Tim Persiapan (UPT KPH)

Tim Persiapan swakelola Tipe III menyusun rencana kegiatan, jadwal pelaksanaan
dan RAB Kegiatan tersebut meliputi:
a. melakukan reviu atas KAK yaitu menyesuaikan KAK perencanaan Swakelola
dengan anggaran yang tercantum dalam DPA;
b. menyusun persiapan teknis dan penyiapan metode pelaksanaan kegiatan;
c. menyusun daftar/struktur rencana kegiatan (work breakdown structure) yang
akan dilaksanakan;
d. merinci jadwal pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan/output dengan ketentuan:
 menetapkan waktu dimulainya hingga berakhirnya pelaksanaan swakelola;
dan/atau
 menetapkan jadwal pelaksanaan swakelola berdasarkan kebutuhan dalam
KAK, termasuk jadwal pengadaan barang/jasa yang diperlukan.
e. Menyusun detail rencana kebutuhan dan biaya;
f. menyusun rencana total biaya secara rinci dalam rencana biaya bulanan
dan/atau biaya mingguan yang tidak melampaui Pagu Anggaran yang telah
ditetapkan dalam dokumen anggaran;
g. menyusun rencana penyerapan biaya mingguan dan biaya bulanan;
h. menghitung penyediaan kebutuhan tenaga kerja, sarana prasarana/peralatan
dan material/bahan yang dilaksanakan dengan pengadaan melalui penyedia;
dan/atau
i. menyusun dokumen persiapan untuk kebutuhan Pengadaan Barang/Jasa
melalui Penyedia yang dilaksanakan dengan kontrak terpisah, yang meliputi:
HPS, rancangan kontrak, dan spesifikasi teknis/KAK.

14 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


 Tim Pelaksana (Kelompok Masyarakat)

a. Bersama tim persiapan menyusun rancangan kontrak swakelola


b. Melaksanakan pengadaan barang/jasa melalui penyedia dengan berpedoman
pada prinsip dan etika pengadaan barang/jasa;
c. Melaksanakan pekerjaan swakelola sesuai dengan jadwal dan tahapan
pelaksanaan kegiatan berdasarkan kontrak swakelola yang telah disepakati;
d. Menyusun laporan penerimaan dan penggunaan tenaga kerja,
sarana/prasarana dan material/bahan
e. Menyusun laporan swakelola dan dokumentasi yang terdiri dari : laporan
pendahuluan, laporan antara, laporan draft akhir, laporan akhir dan laporan
bulanan.
f. Menyerahkan hasil pekerjaan dan laporan pelaksanaan pekerjaan kepada PPK
melalui Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan.

 Tim Pengawas (UPT KPH)

Tim Pengawas melaksanakan tugas pengawasan administrasi, teknis, dan


keuangan sejak persiapan, pelaksanaan dan penyerahan hasil pekerjaan yang
meliputi:
a. verifikasi administrasi dan dokumentasi serta pelaporan;
b. pengawasan teknis pelaksanaan dan hasil Swakelola untuk mengetahui
realisasi fisik meliputi:
 pengawasan kemajuan pelaksanaan kegiatan;
 pengawasan penggunaan tenaga kerja (tenaga ahli, tenaga terampil atau
tenaga pendukung) dan jasa konsultansi, sarana prasarana/peralatan dan
material/bahan;
 pengawasan Pengadaan Barang/jasa (jika ada).
c. Pengawasan tertib administrasi keuangan.

Berdasarkan hasil pengawasan Tim Pengawas melakukan evaluasi Swakelola.


Apabila dalam hasil evaluasi ditemukan penyimpangan, tim pengawas melaporkan
dan memberikan rekomendasi kepada PPK, tim persiapan atau tim pelaksana
untuk segera mengambil tindakan korektif.

15 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN RHL SECARA SIPIL TEKNIS
(PEMBUATAN DAM PENAHAN, GULLY PLUG DAN SUMUR RESAPAN)

4.1. Metode Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan RHL secara sipil teknis berupa pembuatan bangunan Dam


Pengendali (DPn), Pengendali Jurang/Gully Plug (GP) dan Sumur Resapan (SRA)
dengan metode swakelola dengan melibatkan Kelompok Masyarakat sebagai
pelaksana pekerjaan.

4.2. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara Sipil Teknis harus


dilaksanakan sesuai tahapan-tahapan pelaksanaan agar dapat berjalan dengan
baik dan terarah. Tahapan-tahapan yang dimaksud, antara lain :
a) Registrasi Ulang Calon Lokasi Kegiatan
Calon lokasi yang telah di usulkan harus dilakukan registrasi kembali
untuk kepastian calon lokasi pelaksanaan kegiatan. Format registrasi ulang
calon lokasi kegiatan sesuai format lampiran 1.
b) Usulan dan Penetapan Kelompok Masyarakat Pelaksana Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan RHL secara sipil teknis akan dilaksanakan
dengan metode swakelola dengan melakukan kerja sama dengan masyarakat
(Kelompok Masyarakat). Kelompok Masyarakat yang diusulkan tersebut
ditetapkan lebih lanjut berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur tentang Kelompok
Masyarakat pelaksana kegiatan RHL Sipil Teknis untuk dapat berperan
dalam tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan. Format usulan
Kelompok Masyarakat Pelaksana Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
secara sipil teknis sesuai format lampiran 2.
c) Usulan dan Penetapan Tenaga Teknis UPT KPH
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Kabupaten/Kota maka
dibutuhkan peran tenaga teknis tingkat lapangan/pelaksana kegiatan yang
bertugas membantu pelaksana swakelola (kelompok masyarakat) dalam
pelaksanaan kegiatan. Tenaga teknis lapangan/pelaksana kegiatan
diusulkan oleh Kepala UPT KPH Kabupaten/Kota yang akan ditetapkan lebih
lanjut berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Format usulan pelaksana
kegiatan lapangan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara sipil teknis
sesuai format lampiran 3.

16 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


d) Sosialisasi Pelaksanaan Kegiatan
Untuk meningkatkan peran berbagai pihak dalam pelaksanaan
kegiatan dan memotivasi peran pihak-pihak lain secara luas maka
dibutuhkan sosialisasi kegiatan. Pelaksanaan sosialisasi kegiatan
dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesuai dengan
ketersediaan dana yang ada.
e) Bimbingan Teknis
Bimbingan teknis perlu dilakukan agar pekerjaan dapat dilakukan
dengan baik sesuai petunjuk teknis yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan
peran tenaga penyuluh lapangan pada tingkat Kabupaten/Kota untuk
melakukan bimbingan teknis kepada kelompok masyarakat pelaksana
kegiatan.
f) Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara sipil
teknis dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan
yang ada.
g) Monitoring dan Evaluasi
Pekerjaan pembuatan bangunan RHL sipil teknis harus dilakukan
monitoring secara berkala dan evaluasi terhadap pelaksanaan pekerjaan
setelah pekerjaan berakhir. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan oleh
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT dalam satu tahun
anggaran.
h) Pelaporan
Setelah pekerjaan selesai diharapkan Penyelenggara swakelola, UPT
KPH dan PPK memberikan laporan secara tertulis kepada Kepala Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT selaku Pengguna Anggaran.

4.3. Administrasi Kegiatan

Jenis administrasi kegiatan yang harus dibuat pada kegiatan ini, antara
lain :
 Nota Kesepahaman
Sebelum melaksanakan pekerjaan swakelola, Pengguna anggaran
bersama Kelompok Masyarakat membuat Nota Kesepahan menyangkut
pelaksanaan pekerjaan. Format Nota Kesepahaman sesuai Lampiran III
Perlem LKPP Nomor 8 Tahun 2018 tentang Pedoman Swakelola.
 Rancangan Teknis Kegiatan
Rancangan Teknis adalah dokumen yang harus dibuat sebelum
pelaksanaan kegiatan. Didalamnya memuat segala hal teknis yang
berkaitan dengan kegiatan termasuk kondisi lokasi (jenis tanah, topografi,
iklim, dll), teknis pelaksanaan kegiatan sampai kepada rencana anggaran
biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan.

17 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Rancangan Teknis disusun oleh Tim Persiapan UPT KPH dengan
mengacu pada petunjuk pelaksanaan yang ada. Format Outline
Rancangan Teknis Kegiatan Pembuatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
secara Sipil Teknis sesuai lampiran 4.
 Kontrak Swakelola / Surat Perjanjian Kerja Sama (SPKS)
Kontrak swakelola / SPKS dibuat dan ditandatangani bersama oleh
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan dengan Kelompok Masyarakat
pelaksana pekerjaan diatas materai, masing-masing mempunyai kekuatan
hukum yang sama sesuai ketentuan yang berlaku. Format Outline
Kontrak swakelola / SPKS sesuai lampiran 5 atau Lampiran IV Perlem
LKPP Nomor 8 Tahun 2018 tentang Pedoman Swakelola.
 Penyelenggara Swakelola
Untuk melaksanakan pekerjaan swakelola maka dibutuhkan
penyelenggara swakelola yang terdiri dari tim persiapan, tim pengawas
dan tim pelaksana. Tim persiapan dan tim pengawas disusun oleh Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK) kemudian ditetapkan oleh Pengguna Anggaran.
Sedangkan tim pelaksana swakelola disusun dan ditetapkan oleh ketua
kelompok masyarakat. Tim pelaksana swakelola ditindaklanjuti dengan
pembuatan surat keputusan ketua kelompok tentang pembentukan tim
swakelola. Format Surat keputusan pembentukan Tim pelaksana
swakelola kegiatan RHL secara sipil teknis sesuai lampiran 6.
 Ringkasan Kontrak Swakelola /Surat Perjanjian Kerja Sama
Ringkasan Surat Perjanjian Kerja Sama merupakan ringkasan dari
keseluruhan isi Kontrak swakelola / SPKS yang telah dibuat sebagai salah
satu persyaratan dalam rangka pencairan uang kegiatan. Format
Ringkasan Kontrak swakelola / SPKS Pembuatan Dam Penahan RHL
secara sipil teknis sesuai lampiran 7.
 Berita Acara Pembayaran
Berita Acara Pembayaran merupakan salah satu syarat yang harus
dilaksanakan untuk pencairan uang kegiatan yang memuat jumlah uang
yang telah dibayarkan dari Pihak Pertama kepada Pihak Kedua sebagai
pelaksana kegiatan dan merupakan lapiran dari Kwitansi Pembayaran.
Format BA pembayaran sesuai lampiran 8.
 Kwitansi Pembayaran
Kwitansi pembayaran dibuat sebagai bukti pembayaran oleh pihak
pertama kepada pihak kedua yang akan diketahui dan disetujui oleh
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT. Format
Kwitansi pembayaran sesuai lampiran 9.

18 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


 Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan
Setelah melaksanaan pekerjaan maka pelaksana pekerjaan
(kelompok masyarakat) akan menyerahkan pekerjaan tersebut kepada
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sebagai pemberi pekerjaan yang akan
ditandatangani kembali oleh kedua belah pihak dan diketahui oleh Kepala
UPT KPH Wilayah Kab/Kota sebelum nantinya akan dihibahkan kembali
kepada Kelompok Masyarakat yang bersangkutan.
Disamping itu juga akan dibuat berita acara penyerahan pekerjaan
dari Pejabat Pembuat Komiten kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup
dan Kehutanan sebelum nantinya akan dihibahkan kembali kepada
Kelompok Masyarakat yang bersangkutan. Format Berita acara serah
terima hasil pekerjaan sesuai lampiran 10.
 Berita Acara Hibah
Proses ini merupakan kelanjutan dari serah terima pekerjaan
dimana pekerjaan yang telah diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan
Kehutanan akan dihibahkan kepada Kelompok Masyarakat pelaksana
pekerjaan. Format Berita acara hibah sesuai lampiran 11.

4.4. Penyediaan Bahan dan Alat Kegiatan RHL secara Sipil Teknis

Bahan dan alat untuk pelaksanaan RHL secara sipil teknis disediakan /
diadakan oleh kelompok masyarakat pelaksana pekerjaan sesuai dengan RAB
yang telah disusun dengan bantuan Tim persiapan dari UPT KPH Wilayah
Kabupaten/Kota.

4.5. Bimbingan Teknis Kegiatan


Bimbingan teknis dimaksudkan untuk memberikan arahan-arahan teknis
oleh tenaga-tenaga teknis (penyuluh) pada UPT KPH Wilayah Kabupaten / Kota
kepada kelompok masyarakat pelaksana kegiatan agar pekerjaan dapat berjalan
sesuai rancangan teknis yang telah disusun.

4.6. Pengawasan dan Pengendalian Kegiatan


Pengawasan dan pengendalian merupakan hal yang sangat vital dalam
pelaksanaan kegiatan. Pengawasan harus dilakukan secara terjadwal untuk
menghindari kekeliruan/kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan agar pekerjaan
dapat berjalan sesuai perencanaan dan rancangan teknis yang telah disusun.
Pengawasan dan pengendalian dilakukan oleh UPT KPH Wilayah
Kabupaten / Kota minimal setiap bulan dan oleh petugas dari Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Provinsi yang dapat dilaksanakan 2-3 kali dalam satu
tahun anggaran.

19 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Output dari kegiatan pengawasan dan pengendalian berupa laporan
perkembangan kegiatan yang disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK) dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan selaku Pengguna
Anggaran dengan tembusan kepada Kepala Bidang Pembinaan Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT dan Kepala UPT KPH Wilayah
Kab./Kota.

4.7. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan


Kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan salah satu kegiatan yang
sangat penting untuk mengumpulkan data secara reguler dalam rangka
pengukuran kemajuan / memantau perkembangan kegiatan yang berorientasi
pada proses dan keluaran apakah pekerjaan sesuai dengan prosedur dalam
rancangan teknis. Monitoring dan evaluasi kegiatan dilakukan oleh Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT dan UPT KPH Kabupaten/Kota.

4.8. Serah Terima Pekerjaan

Serah terima pekerjaan dilakukan dari kelompok masyarakat kepada


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sebagai pihak yang memberikan pekerjaan
melalui berita acara serah terima pekerjaan yang ditandatangani oleh PPK dan
Kelompok Masyarakat. Setelah itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) akan
menyerahkan pekerjaan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
selaku Pengguna Anggaran (PA) sebelum dilakukan hibah kembali kepada
Kelompok Masyarakat pelaksana pekerjaan.

4.9. Pelaporan Kegiatan


Perkembangan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan tanaman tahun I (P1)
harus dilaporkan oleh pelaksana kegiatan dan UPT KPH sebagai pengawas
kegiatan ke Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi berupa
laporan bulanan, triwulan dan laporan akhir kegiatan dalam rangka
transparansi pelaksanaan kegiatan. format pelaporan bulanan, triwulan dan
laporan akhir sesuai lampiran 12.

20 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


BAB V
TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN
(PEMBUATAN DAM PENAHAN, GULLY PLUG DAN SUMUR RESAPAN)

5.1. Pembuatan Dam Penahan (DPn)


Dam Penahan (DPn) adalah bendungan kecil yang lolos air dengan
konstruksi bronjong batu, pasangan batu spesi atau trucuk bambu/kayu dibuat
pada alur jurang dengan tinggi maksimum 4 meter yang berfungsi untuk
mengendalikan/mengendapkan sedimentasi/erosi dan aliran permukaan (run
off).
 Persyaratan teknis lokasi DPn :
1) LMU Prioritas I dan II atau dalam RP RHL;
2) Luas DTA 10 - 30 ha;
3) Kemiringan alur sungai 15 - 35%;
4) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15 - 35%;
5) Diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 3.
 Data teknis yang dibutuhkan dalam perencanaan pembuatan DAM
Penahan :
1) Tinggi Muka Air (H).
2) Tinggi Muka Air Rendah (H).
3) Lebar Dasar Alur Rata-Rata (B).
4) Lebar Penampang Atas Alur Rata-Rata (B).
5) Kemiringan Dasar Alur (I).

Contoh : Gambar rencana dam penahan type bronjong, dengan tinggi = 2,5
meter dan Lebar = 9 meter sebagai berikut :

Gambar 2. Potongan Melintang Saluran DPn

21 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 3. Potongan Tampak Atas (A) dan Potongan A-A

22 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 4. Potongan Melintang Saluran

Pelaksanaan Pekerjaan
A. Persiapan
1. Perencanaan
a) Analisis penetapan lokasi kegiatan KTA melalui desk analysis dan survey
calon lokasi (groundcheck).
b) Pengukuran/pemetaan.
2. Penyiapan Tim Pelaksana
a) Penyiapan Tim Administrasi.
b) Penyiapan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
c) Pelatihan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
3. Penyusunan rancangan kegiatan oleh Tim Penyusun Rancangan
a) Tim Penyusun rancangan dapat terdiri dari unsur BPDASHL, Dinas
Kehutanan Provinsi, Dinas PU Kabupaten/Kota, Perguruan Tinggi dan
ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
b) 1 (satu) Tim Penyusun rancangan DPn dapatmenyusun rancangan 5 unit
DPn.
c) Apabila penyusunan rancangan dilaksanakan oleh Pihak III, maka harus
dibentuk Tim Pengendali Pekerjaan yang dapat terdiri dari unsur
BPDASHL, Dinas Kehutanan Provinsi, Dinas PU Kabupaten/Kota,
Perguruan Tinggi dan ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala
BPDASHL.
d) Rancangan disusun (Sun) olehTim Penyusun Rancangan, dinilai (Lai) oleh
Kasi Program BPDASHL, dan disahkan (Sah) oleh Kepala BPDASHL.
4. Persiapan
a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi
rencana pelaksanaan pembuatan DPn.
b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.

23 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


c) Lahan yang terpakai untuk badan bendung, daerah genangan, saluran air,
bangunan pelimpah, jalan dan sarana yang lain tidak disediakan anggaran
ganti rugi.
5. Pengadaan sarana dan prasarana
Pengadaan peralatan/sarpras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan
habis pakai yang bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di
lapangan antara lain :
a) pembuatan jalan masuk.
b) pembuatan gubuk kerja, gubuk material dan papan nama.

B. Pelaksanaan Pembuatan

Secara umum pelaksanaan pembuatan bangunan pengendali erosi dan sedimen


berupa DPn yaitu:
1. Persiapan Lapangan
a) Pembersihan lapangan
Pembersihan lapangan dilakukan pada sekitar lokasi pembangunan DPn
dari pepohonan, semak belukar, dll yang dapat mengganggu jalannya
pekerjaan.
b) Pengukuran kembali dan pematokan
Lokasi yang telah ditetapkan perlu dilakukan pengukuran kembali
sekaligus memberi patok yang bertujuan untuk menentukan posisi dan
letak bangunan, letak saluran pelimpah dan bak penenang.
c) Pemasangan bouwplank
Papan bangunan(bouwplank) berfungsi untuk mendapatkan titik-titik
bangunan yang diperlukan sesuai dengan hasil pengukuran.
Syarat-syarat memasang bouwplank :
 Kedudukannya harus kuat dan tidak mudah goyah.
 Berjarak cukup dekat dari rencana galian, diusahakan bouwplank
tidak goyang akibat pelaksanaan galian.
 Terdapat titik atau dibuat tanda-tanda.
 Sisi atas bouwplank harus terletak satu bidang (horizontal) dengan
papan bouwplank lainnya.
 Letak kedudukan bouwplankharus seragam (menghadap kedalam
bangunan semua).
 Garis benang bouwplankmerupakan as (garis tengah) daripada
pondasi dan dinding batu bata.

Bentuk hasil pemasangan bouwplank dapat dilihat pada gambar berikut :

24 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 5. Pemasangan Bouwplank

2. Pekerjaan pembuatan
a) Pemasangan profil
Pembuatan dan pemasangan profil bangunan dimaksudkan untuk
menentukan batas, ukuran, dan bentuk bangunan. Profil dapat dibuat
dari kayu atau bambu yang lurus atau bahan lain yang sesuai dengan
rancangan.
b) Penggalian pondasi bangunan
Penggalian pondasi dilakukan dengan cara menggali tanah sepanjang
badan bendung dengan kedalaman secukupnya sesuai dengan
rancangan yang telah disusun.
c) Penganyaman/pembuatan bronjong
Bronjong kawat merupakan kotak yang terbuat dari anyaman kawat baja
berlapis seng yang pada penggunaannya diisi batu untuk mecegah erosi
yang dipasang pada tebing-tebing, tepi-tepi sungai, yang proses
pengayamannya menggunakan mesin maupun manual.

Spesifikasi teknis bronjong kawat sebagai berikut :


 Bronjong kawat harus kokoh.
 Bentuk anyaman heksagonal dengan lilitan ganda dan berjarak 40 mm
serta harus simetri.
 Lilitan harus erat, tidak terjadi kerenggangan hubungan antara kawat sisi
dan kawat anyaman.
 Jumlah lilitan minimum 3 kali sehingga kawat mampu menahan beban
dari segala urusan.
 Toleransi ukuran kotak bronjong kawat (panjang, tinggi dan lebar)
sebesar 5 %.

25 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 6. Spesifikasi teknis bronjong DPn

d) Pemasangan bronjong
Metode pemasangan bronjong kawat, sebagai berikut:
 Pemasangan bronjong dilakukan lapis demi lapis agar bronjong yang
satu dengan yang lainnya yang terdapat dalam satu lapisan dapat
diikat dengan baik dan kuat.
 Keranjang bronjong harus dibentangkan dengan kuat untuk
memperoleh bentuk serta posisi yang benar dengan menggunakan
batang penarik atau ulir penarik kecil sebelum pengisian batu ke
dalam kawat bronjong. Sambungan antara keranjang haruslah
sekuat seperti anyaman itu sendiri. Setiap segi enam harus menerima
paling sedikit tiga lilitan kawat pengikat dan kerangka bronjong
antara segi enam tepi paling sedikit tiga lilitan. Paling sedikit 15 cm
kawat pengikat harus ditinggalkan sesudah pengikatan terakhir dan
dibengkokkan ke dalam keranjang.
 Pemasangan bronjong dilakukan lapis demi lapis agar bronjong yang
satu dengan yang lainnya yang terdapat dalam satu lapisan dapat
diikat dengan baik dan kuat.

26 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 7. Tata cara pemasangan bronjong

e) Pengisian bronjong
Metode pemasangan bronjong kawat, sebagai berikut:
 Diameter batu yang dipilih berukuran lebih besar dari pada lubang
anyaman bronjong.
 Batu harus dimasukkan satu demi satu sehingga diperoleh
kepadatan maksimum dan rongga seminimal mungkin.
 Pemasangan bronjong dilakukan lapis demi lapis, mulai dari lapisan
yang paling bawah sesuai dengan desain DPn pada rancangan teknis.

f) Pengikatan bronjong
Pemasangan bronjong kawat pada dasar bendungan perlu dilengkapi
dengan cerucuk yang terbuat dari besi, kayu, bambu dll. yang berfungsi
untuk memperkuat dan memperkokoh badan bendung. Sedangkan
kawat di atasnya diikat menggunakan kawat yang telah digalvanisir yang
berdiameter 3 mm.

g) Pembuatan saluran pelimpah (spillway)


Bangunan pelimpah adalah bangunan pelengkap dari suatu bendungan
yang berguna untuk mengalirkan kelebihan air reservoir agar bangunan
tetap aman pada saat terjadi banjir. Pembuatan saluran pelimpah
dilakukan setelah pemasangan bronjong lapisan teratas selesai
dikerjakan. ukuran spillway disesuaikan dengan debit banjir maksimum
lokasi tersebut, semakin tinggi debit banjir maka semakin besar ukuran
spillway.

h) Pembuatan bak penenang


27 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019
Bak penenang berfungsi untuk untuk mencegah turbulensi air yang
dapat menggerus samping kiri dan kanan sungai sehingga menyebabkan
daya tahan DPn terhadap tekanan arus sungai menjadi berkurang.
Pembuatan bak penenang dilakukan setelah pemasangan bangunan
utama/bronjong selesai dilakukan.

Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan Dam Penahan (DPn) di antaranya :


(a) Pembersihan kotoran/seresah.
(b) Pemeliharaan bronjong.
(c) Pengerukan lumpur.

5.2. Pembuatan Pengendali Jurang /Gully Plug (GP)


Gully Plug (GP) adalah upaya teknik konservasi tanah untuk mencegah/
mengendalikan erosi jurang agar tidak meluas dan berkembang sehingga merusak
lingkungan sekitarnya. Tujuan dibangunnya GP memperbaiki lahan yang rusak
berupa jurang/parit akibat gerusan air guna mencegah terjadinya jurang/parit
yang semikin besar, sehingga erosi dan sedimentasi terkendali.
Persyaratan teknis lokasi GP :
1) LMU Prioritas I dan II atau dalam RP RHL;
2) Kemiringan > 35 % dan terjadi erosi parit/alur;
3) Pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka;
4) Luas DTA 3 - 5 ha;
5) Kemiringan alur maksimal 10%;
6) Diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 3.

Data teknis yang dibutuhkan dalam perencanaan pembuatan DAM Penahan :


a. Tinggi Muka Air (H).
b. Tinggi Muka Air Rendah (H).
c. Lebar Dasar Alur Rata-Rata (B).
d. Lebar Penampang Atas Alur Rata-Rata (B).
e. Kemiringan Dasar Alur (I).

GP Type Batu Bronjong Tanpa Sayap

Gambar rencana GP dengan ukuran tinggi = 2 meter dan lebar = 5 meter sebagai
berikut :

28 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 8. Penampang saluran pengendali jurang tipe batu bronjong

Gambar 9. Pengendali jurang tipe batu bronjong tampak atas

Gambar 10. Penampang melintang pengendali jurang tipe batu bronjong

29 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 11. Potongan melintang pengendali jurang tipe batu bronjong

Gambar 12. Layout penempatan bronjong

30 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Pelaksanaan pekerjaan
A. Perencanaan
1) Analisis penetapan lokasi kegiatan KTA melalui desk analysis dan survei
calon lokasi (groundcheck).
2) Pengukuran/pemetaan.

B. Penyiapan Tim Pelaksana


1) Penyiapan Tim Administrasi.
2) Penyiapan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
3) Pelatihan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.

C. Penyusunan rancangan kegiatan oleh Tim Penyusun Rancangan


1) Tim Penyusun rancangan dapat terdiri dari unsur BPDASHL, Dinas
Kehutanan Provinsi, Dinas PU Kabupaten/Kota, Perguruan Tinggi dan
ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
2) 1 (satu) Tim Penyusun rancangandapat menyusun rancangan 10 unit Gully
Plug.
3) Apabila penyusunan rancangan dilaksanakan oleh Pihak III, maka harus
dibentuk Tim Pengendali Pekerjaan yang dapat terdiri dari unsur BPDASHL,
Dinas Kehutanan Provinsi, Dinas PU Kabupaten/Kota, Perguruan Tinggi dan
ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
4) Rancangan disusun oleh Tim Penyusun Rancangan, dinilai oleh Kasi Program
BPDASHL, dan disahkan oleh Kepala BPDASHL.

D. Persiapan
1) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi rencana
pelaksanaan pembuatan Gully Plug.
2) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
3) Lahan yang terpakai untuk badan bendung, daerah genangan, saluran air,
bangunan pelimpah, jalan dan sarana yang lain tidak disediakan anggaran
ganti rugi.

E. Pengadaan sarana dan prasarana

Pengadaan peralatan/sarpras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan


habis pakai yang bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di
lapangan antara lain :
1) pembuatan jalan masuk.
2) pembuatan gubuk kerja, gubuk material dan papan nama.

31 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


F. Pelaksanaan Pembuatan

Secara umum pelaksanaan pembuatan Gully Plug yaitu:


1) Persiapan Lapangan
 Pembersihan lapangan
Pembersihan lapangan dilakukan pada sekitar lokasi pembangunan gully
plug dari pepohonan, semak belukar, dll yang dapat mengganggu jalannya
pekerjaan.
 Pengukuran kembali dan pematokan
Lokasi yang telah ditetapkan perlu dilakukan pengukuran kembali
sekaligus memberi patok yang bertujuan untuk menentukan posisi dan
letak bangunan, letak saluran pelimpah dan bak penenang.
 Pemasangan bouwplank
Papan bangunan(bouwplank) berfungsi untuk mendapatkan titik-titik
bangunan yang diperlukan sesuai dengan hasil pengukuran. Syarat-
syarat memasang bouwplank :
1. Kedudukannya harus kuat dan tidak mudah goyah.
2. Berjarak cukup dekat dari rencana galian, diusahakan bouwplank
tidak goyang akibat pelaksanaan galian.
3. Terdapat titik atau dibuat tanda-tanda.
4. Sisi atas bouwplank harus terletak satu bidang (horizontal) dengan
papan bouwplank lainnya.
5. Letak kedudukan bouwplank harus seragam (menghadap kedalam
bangunan semua).
6. Garis benang bouwplank merupakan as (garis tengah) daripada
pondasi dan dinding batu bata.

Bentuk hasil pemasangan bouwplank dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 13. Pemasangan Bouwplank pada bio gully plug

32 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


 Pekerjaan pembuatan
1. Pemasangan profil
Pembuatan dan pemasangan profil bangunan dimaksudkan untuk
menentukan batas, ukuran, dan bentuk bangunan. Profil dapat dibuat
dari kayu atau bambu yang lurus atau bahan lain yang sesuai dengan
rancangan.
2. Stabilisasi ujung jurang dilakukan melalui :

a) Pembuatan teras-teras dan Bangunan Terjunan Air yang terbuat dari


bahan batu, bambu, dan atau kayu.

b) Pelandaian lereng (filling dan shaping).

c) Pembuatan saluran diversi mengelilingi bagian atas lereng.

3. Stabilisasi tebing jurang dilakukan melalui :

a) Pelandaian lereng/tebing

b) Pelandaian tebing dimaksudkan untuk mengurangi kemiringan


tebing yang terlalu curam/membahayakan.

c) Penguatan lereng/tebing (rip rap/bank sloping)

d) Penguatan lereng/tebing dapat dibuat dari pasangan batu kali,


gebalan rumput/geojute.

4. Stabilisasi dasar jurang (gradient stabilization) terhadap bangunan


pengendali lolos air dan bangunan pengendali tidak lolos air.

1) Jenis bangunan pengendali jurang yang dapat meloloskan air adalah


sebagai berikut:

(a) Pasangan batu kosong (loose rock) dapat dibuat sebagai bangunan
terjunan (gully drop) atau sebagai badan bendung.

(b) Bronjong kawat (wire-boundloose rock) bentuknya hampir sama


dengan pasangan batu kosong, perbedaanya tipe ini diikat dengan
bronjong kawat agar membentuk kesatuan yang kuat.

(c) Pagar kawat tunggal (single fence) yang terbuat dari pagar kawat
yang diperkuat dengan patok besi yang ditanamkan sedalam 60
cm pada dasar jurang dengan jarak patok maksimal 1,2 m dan
diisi dengan batu belah pada bagian hulu jurang.

(d) Pagar kawat ganda (double fence)


(e) Terdiri dari 2 pagar kawat yang berjarak ± 0,6 m dan diperkuat
dengan patok besi seperti pada tipe single fence. Batu diisi
diantara pagar kawat. Bangun ini dapat dibangun bila debit
puncak tidak melebihi 0,7 m3/detik dan beban yang dibawa
berupa material halus. Tinggi bangunan tidak boleh lebih tinggi
dari 1,8 m.

(f) Terucuk dapat dibuat dari kayu atau bambu. Tipe ini sangat cocok
dilakukan pada daerah yang sulit mendapatkan material batu dll.

33 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


2) Jenis bangunan pengendali jurang yang tidak dapat meloloskan air
(non porous) adalah sebagai berikut:

(a) Pasangan batu bata dan beton.

(b) Papan (wood dams).

5. Pembuatan bangunan pengendali jurang


Bentuk, ukuran, letak dan bahan bangunan disesuaikan dengan
rancangan yang telah disusun. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
pembangunan gully plug sebagai berikut:
1) Pada bangunan yang dibuat dari batu bronjong, ukuran batu harus
lebih besar dari ukuran lubang bronjong dan bahan bronjong dapat
dibuat dari kawat.

2) Pada bangunan yang menggunakan tanah dipilih jenis tanah tipe


lempung (clay) dan dilakukan pemadatan selapis demi selapis.
Setelah selesai pemadatan tanah dilakukan penutupan dengan
gebalan rumput.

3) Pada bangunan yang dibuat dari terucuk kayu/bambu, tiang


penyanggah harus masuk ke dalam tanah 0,5 m atau lebih
tergantung kondisi tanah dasar saluran/jurang tempat akan dibuat
bangunan.

Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan gully plug diantaranya :


a) Pemeliharaan bangunan terjunan dan teras.
b) Pemeliharaan saluran diversi.
c) Pembersihan kotoran/seresah.
d) Pemeliharaan bronjong.
e) Pengerukan lumpur.

5.3. Pembuatan Sumur Resapan (SRA)

Sumur resapan air (SRA) adalah salah satu teknik rekayasa konservasi air
berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk
sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat
menampung air hujan yang jatuh di atas, yang mempunyai manfaat yaitu
mengurangi aliran permukaan, mempertahankan dan menambah tinggi muka air
tanah, mengurangi erosi dan sedimentasi, mencegah intrusi air dan penurunan
tanah, dan mengurangi pencemaran air tanah.
Tujuan pembangunan SRA untuk mengurangi aliran permukaan dan
meningkatkan air tanah sebagai upaya untuk mengembalikan dan
mengoptimalkan fungsi sistem tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) sesuai dengan
kapasitasnya.

34 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Persyaratan teknis SRA:
a) Daerah pemukiman padat penduduk dengan curah hujan tinggi;
b) Aliran permukaan (run off) tinggi;
c) Vegetasi penutup tanah <30 % ;
d) Struktur tanah yang dapat digunakan harus mempunyai nilai permeabilitas
tanah ≥ 2,0 cm/jam;
e) Kedalaman air tanah minimum 1,50 m pada musim hujan;
f) Diutamakan pada morfologi hulu dan tengah DAS; dan
g) Jarak penempatan SRA terhadap bangunan adalah:
1) Terhadap sumur air bersih 3 meter.
2) Terhadap resapan tangki septik, saluran air limbah, cubluk, pembuangan
sampah 5 meter.
3) Terhadap pondasi bangunan 1 m.

Spesifikasi teknis SRA


Berdasarkan Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaaan Umum :
a) Ukuran maksimum diameter 1,4 meter.
b) Ukuran pipa masuk diameter 110 mm.
c) Ukuran pipa pelimpah diameter 110 mm.
d) Ukuran kedalaman 1,5 sampai dengan 3 meter.
e) Dinding dibuat dari pasangan bata atau batako dari campuran 1 semen : 4
pasir tanpa plester.
f) Rongga SRA diisi dengan batu kosong 20/20 setebal 40 cm.
g) Penutup SRA dari plat beton tebal 10 cm dengan campuran 1 semen : 2 pasir :
3 kerikil.
h) Pengisi SRA dapat berupa batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahanbata merah
ukuran 5-10 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga.
i) Saluran ini dapat menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm, pipa beton
berdiameter 200 mm, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 mm.

Contoh gambar teknis SRA


1) Sumur Resapan Tipe Pasangan Batu Bata Merah
 Tipe Tertutup

35 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 14. Sumur Resapan Air tipe tertutup

Gambar 15. Bak kontrol SRA Gambar 16. Dinding SRA

36 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 17. Detil penampang SRA

37 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 18. Desain tutup SRA tipe tertutup

 Tipe Terbuka

Gambar 19. SRA tipe terbuka

Catatan :

Desain bak kontrol, tutup beton bertulang, detil penampang dan dinding SRA sama
dengan tipe tertutup.

2) Sumur Resapan Air Tipe Buis Beton


38 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019
Gambar 20. Desain SRA tipe buis beton

Gambar 21. SRA tipe buis beton tampak atas

39 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 22. SRA tipe buis beton tampak samping

Gambar 23. Bak kontrol SRA tipe buis beton

40 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Gambar 24. Desain Penutup SRA tipe buis beton

Pelaksanaan
A. Persiapan
(1) Perencanaan
(a) Analisis penetapan lokasi pembuatan SRA melalui desk analysis dan survei
calon lokasi (groundcheck).
(b) Pengukuran dan penentuan rencana lokasi SRA.

(2) Penyiapan Tim Pelaksana


(a) Penyiapan Tim Administrasi.
(b) Penyiapan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
(c) Pelatihan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.

41 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


(3) Penyusunan rancangan kegiatan oleh Tim Penyusun Rancangan
(a) Tim penyusun rancangan dapat terdiri dari unsur BPDASHL, Dinas
Kehutanan Provinsi, PU Kabupaten/Kota, yang ditetapkan melalui Surat
Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
(b) Rancangan disusun oleh Tim Perancang, dinilai oleh Kasi Program, dan
disahkan oleh Kepala Balai.

(4) Persiapan/penyiapan kelembagaan


(a) Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi rencana
pelaksanaan pembuatan SRA.
(b) Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
(c) Pengadaan sarana dan prasarana.
(d) Pengadaan peralatan/sarpras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan
habis pakai yang bertujuan untuk memperlancar pelaksanaan pekerjaan di
lapangan.

(5) Pengadaan sarana dan prasarana


Pengadaan peralataan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan bahan
yang habis pakai.

B. Pembuatan SRA

Secara umum pelaksanaan pembuatan SRA sebagai berikut:


(1) Pembersihan lapangan
Pembersihan lapangan dilakukan pada sekitar lokasi pembangunan SRA dari
pepohonan, semak belukar, dll yang dapat mengganggu jalannya pekerjaan.
(2) Pengukuran kembali dan pematokan
Lokasi yang telah ditetapkan perlu dilakukan pengukuran kembali sekaligus
memberi patok yang bertujuan untuk menentukan posisi dan letak bangunan,
letak saluran pelimpah dan bak penenang.
(3) Pembuatan
(a) Pemasangan profil
Pemasangan profil berfungsi sebagai patron letak/batas penggalian (sumur
dan bak kontrol). Profil dapat dibuat dari bambu atau bahan lain sesuai
rancangan.
(b) Penggalian tanah
Penggalian dilakukan untuk lubang sumur dan bak kontrol.
(c) Pembuatan dinding sumur
Pemasangan dinding sumur dilakukan setelah penggalian selesai dilakukan.
Pemasangan batu bata/buis beton diberi lapisan penguat campuran semen
dan pasir.

(d) Pembuatan bak kontrol


42 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019
Bak kontrol dibangun dengan jarak ± 50 cm dari SRA dan berfungsi sebagai
penyaring air/pengendap.
(e) Pembuatan saluran air
Pembuatan saluran air masuk baik dari talang maupun saluran air diatas
permukaan tanah untuk dimasukkan ke dalam sumur dengan ukuran
sesuai dengan jumlah aliran.
(f) Pengisian lapisan
Pengisian lapisan berfungsi untuk menyaring air yang akan diresapkan ke
dalam tanah. Material yang digunakan adalah batu belah, ijuk dan atau
kerikil.
(g) Pemasangan talang air disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan
anggaran.

(h) Pembuatan saluran pelimpasan


Saluran pelimpasan berfungsi untuk mengalirkan/membuang air pada saat
sumur resapan sudah penuh.
(i) Pembuatan penutup sumur
Penutup SRA dapat dibuat dari beton bertulang atau plat besi yang
disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan anggaran.

Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan SRA meliputi :

a) Pembersihan pipa saluran air/talang air, bak kontrol dan saluran pelimpas.
b) Pengerukan lumpur.

BAB V

43 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


BIAYA

Biaya kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara sipil teknis dibagi kedalam
3 (tiga) pekerjaan, yaitu Pembuatan Dam Penahan (DPn), Pengendali Jurang/Gully Plug
(GP) dan Sumur Resapan (SRA).
6.1. Biaya Pembuatan Dam Penahan (DPn)
Pekerjaan Pembuatan Dam Penahan RHL secara sipil teknis tahun 2019
tersebar di 15 (lima belas) Kabupaten/Kota dengan total sebanyak 26 paket
pekerjaan. Untuk pekerjaan Pembuatan Dam Penahan RHL secara sipil teknis,
biaya yang dianggarkan untuk masing-masing lokasi sebesar Rp. 46.957.387,-
(Empat Puluh Enam Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Tujuh Ribu Tiga Ratus
Delapan Puluh Tujuh Rupiah).
Simulasi Rincian Biaya pekerjaan Pembuatan Dam Penahan RHL
secara sipil teknis ditunjukan pada Lampiran 13.

6.2. Biaya Pembuatan Pengendali Jurang / Gully Plug (GP)


Kegiatan pembuatan pengendali jutang/gully plug RHL secara sipil teknis
Tahun 2019 tersebar di 11 (sebelas)Kabupaten/Kota sebanyak 20 (dua puluh)
paket pekerjaan. Untuk Pembuatan Pengendali Jurang / Gully Plug Tahun 2019,
biaya yang dianggarkan untuk masing-masing lokasi sebesar Rp. 7.674.179,-
(Tujuh Juta Enam Ratus Tujuh Puluh Empat Ribu Seratus Tujuh Puluh
Sembilan Rupiah).
Simulasi Rincian Biaya pekerjaan Pembuatan Pengendali Jurang /
Gully Plug RHL secara sipil teknis ditunjukan pada Lampiran 14.

6.3. Biaya Pembuatan Sumur Resapan (SRA)


Kegiatan pembuatan sumur resapan RHL secara sipil teknis Tahun 2019
tersebar di 13 (tiga belas) Kabupaten/Kota sebanyak 17 (tujuh belas) paket
pekerjaan. Untuk Pembuatan sumur resapan Tahun 2019, biaya yang
dianggarkan untuk masing-masing lokasi sebesar Rp. 21.000.000 (Dua Puluh
Satu Juta Rupiah).
Simulasi Rincian Biaya pekerjaan Pembuatan Sumur Resapan RHL
secara sipil teknis ditunjukan pada Lampiran 15.

BAB VI
PENUTUP
44 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019
Demikian petunjuk pelaksanaan ini dibuat untuk dipergunakan sebagai acuan
dalam pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara Sipil Teknis Tahun
2019, Program Pelestarian Lingkungan Hidup pada Dokumen Pelaksanaan Perubahan
Anggaran (DPPA) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara
Timur Tahun Anggaran 2019.
Kepada semua pihak yang berpartisipasi baik secara langsung maupun tidak
secara langsung dalam penyusunan Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan ini diucapkan
terima kasih.

=======================================

45 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019


Daftar Rekapitulasi
Usulan Tenaga Teknis, Kelompok Masyarakat dan Penyelenggara Swakelola
(Tim Persiapan dan Tim Pengawas)
Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan secara Vegetatif

Penyelenggara
Tenaga Kelompok Swakelola
No Kota/Kab
Teknis Masyarakat Tim Tim
Persiapan Pengawas
1 2 3 4 5 6
1. Kota Kupang - - - -
2. Kupang V V - -
3. TTS V V - -
4. TTU - - - -
5. Belu - - - -
6. Malaka - - - -
7. Alor - - - -
8. Lembata - - - -
9. Flores Timur - - - -
10. Sikka - - - -
11. Ende V V - -
12. Ngada - - - -
13. Nagekeo - - - -
14. Manggarai Timur V V - -
15. Manggarai - - - -
16. Manggarai Barat - - - -
17. Sumba Timur - - - -
18. Sumba Tengah V V - -
19. Sumba Barat - - - -
20. Sumba Barat Daya - - - -
21. Rote Ndao - - - -
22. Sabu Raijua V V - -
Jumlah 6 6 - -

Keterangan : V = Sudah
- = Belum

46 Petunjuk Pelaksanaan RHL secara Sipil Teknis T.A. 2019

Anda mungkin juga menyukai