Analisis FMEA di Grand Sharon Bandung
Analisis FMEA di Grand Sharon Bandung
RESIDENCE BANDUNG
SKRIPSI
RISKI SETIAWAN
NPM: A10160261
BANDUNG
2020
1
ANALISIS KUALITAS PRODUK DAN KINERJA PEGAWAI DENGAN
RESIDENCE BANDUNG
RISKI SETIAWAN
NPM: A10160261
Pembimbing
Mengetahui,
[Link]. M. Fani Cahyandito, SE., [Link]., CSP. Dr. Iim Hilman, SE., MM.
2
PERNYATAAN
PROGRAM SARJANA
1. Karya tulis saya, Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa
3. Dalam karya tulis ini terdapat karya atau pendapat yang sudah ditulis atau
yang telah diperoleh karena karya tulis ini serta sanksi lainnya sesuai
(Riski Setiawan)
3
ANALISIS KUALITAS PRODUK DAN KINERJA PEGAWAI DENGAN
MENGGUNAKAN METODE FMEA (FAILURE MODE EFFECT
ANALYSIS) PADA PROYEK PERUMAHAN DI GRAND SHARON
RESIDENCE BANDUNG
Ditulis Oleh:
Riski Setiawan
Pembimbing:
Resi Juariah Susanto, SE., [Link]
ABSTRAK
iii
ANALYSIS QUALITY PRODUCT AND EMPLOYEE PERFORMANCE
USING FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS (FMEA) ON HOUSING
PROJECT IN GRAND SHARON RESIDENCE BANDUNG
Written By:
Riski Setiawan
Preceptor:
Resi Juariah Susanto, SE., [Link]
ABSTRACT
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunianya, sehingga
saya sebagai penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan tepat waktu, yang
kemampuan yang dimiliki penulis dalam mengelola serta menyajikan Skripsi ini.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis
harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan Skripsi ini. Selain itu, penulis
ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan dorongan, bantuan, dan bimbingan baik secara moril maupun materil
yang sangat berarti selama penulisan Skripsi ini. Maka sudah sepantasnya pada
kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada:
1. Kedua orang tua, yakni Ibu Anikayah dan Ayah Heriyanto serta Adik
materil serta doa yang tak pernah putus sehingga saya dapat
v
2. Keluarga besar Malang yang telah memberi motivasi, nasihat, dan
7. Dr. Iim Hilman, SE., MM. selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen
Ekuitas.
9. Ibu Sussy Susanti, [Link]., [Link]. selaku wali dosen yang memberikan
10. Ibu Resi Juariah Susanto, SE., [Link] selaku Dosen Pembimbing Skripsi
vi
11. Dosen-dosen pengajar dan seluruh karyawan Sekolah Tinggi Ilmu
12. Manager Proyek dan Mandor beserta tenaga kerja yang telah
13. Untuk saudariku tercinta Suswati, Lia, dan Rita yang selalu
15. Anggota Karang Taruna Unit 02 Karang Pamulang dan Karang Taruna
semangat.
penulisan Skripsi.
19. Serta semua pihak yang terkait lainnya yang telah membantu baik
banyak.
vii
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan
saran dan kritik yang membangun dari semua pihak untuk memperbaiki dan guna
Akhir kata penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang ada di
dalam Skripsi ini, semoga dapat bermanfaat baik untuk referensi ataupun pihak-
Penulis
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK....................................................................................................... iii
ABSTRACT...................................................................................................... iv
ix
2.3.1 Tujuan Pengendalian Kualitas ..................................... 31
x
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 108
LAMPIRAN
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Peta Lokasi Proyek Perumahan Grand Sharon Residence .......... 18
xii
DAFTAR TABEL
.................................................................................................. 10
Bandung .................................................................................... 12
Tabel 3.3 Skala Penilaian untuk Occurrence, Severity, dan Detection ........ 60
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Penulisan Skripsi
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini akan menjelaskan mengenai apa saja yang melatar belakangi
Mode Effect Analysis (FMEA). Lalu akan dijelaskan pula mengenai rumusan
masalah, maksud dan tujuan, kegunaan, serta dimana lokasi dan waktu penelitian
ini dilaksanakan. Maka, yang akan terlebih dahulu dijelaskan adalah latar
belakang penelitian.
pertumbuhan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kualitas produk atau jasa
kehilangan peluang menjual produk dan pangsa pasar, yang akhirnya berakibat
biaya pembuatan barang keseluruhan yang lebih rendah serta faktor-faktor yang
barang atau jasa yang sesuai dengan standar yang diinginkan dan direncanakan,
serta memperbaiki kualitas produk yang belum sesuai dengan standar yang telah
1
disebabkan oleh tuntutan konsumen terhadap suatu produk tidak terbatas pada
harga dan kualitas yang diberikan. Jika perusahaan tidak mampu memenuhi
standar kualitas maka akan berdampak pada biaya produksi dan akan
Control) adalah proses untuk memastikan bahwa barang dan jasa yang diproduksi
pengendalian kualitas.
Produk cacat merupakan barang atau jasa yang dibuat dalam proses
kurang baik atau kurang sempurna. Salah satu keinginan yang paling mendasar
adalah ketika produk tersebut diterima ditangan konsumen berada dalam keadaan
yang paling baik atau dapat dikatakan tidak terdapat kecacatan atau defect. Cacat
baik atau kurang sempurna. Produk cacat berarti barang atau jasa yang dibuat
dalam proses produksi namun memiliki kekurangan yang menyebabkan nilai atau
semakin menurun pula keuntungan yang didapat oleh perusahaan, hal ini
didasarkan karena perusahaan harus mengganti bahan baku yang sudah terpakai
2
oleh produk yang cacat. Kemudian semakin banyak produk yang cacat maka
image perusahaan akan menurun, hal ini dikarenakan konsumen akan menilai
baik serta memberikan kepuasan tersendiri kepada konsumen dan jika produk
perusahaan akan dinilai kurang baik oleh konsumen dan akan menimbulkan rasa
mencapai target atau sesuai sasaran perusahaan dan dalam setiap produksi yang
dihasilkan perusahaan menetapkan barang produksi yang cacat atau rusak tidak
terbaik tersebut tentu saja diperlukan adanya suatu program peningkatan kualitas,
Bandung merupakan perumahan elite yang berada di Bandung. Pada tahun 2019
menjadi salah satu proyek borongan terbesar yang akan dibangun, disisi lain
proyek borongan tersebut didukung oleh mandor sekaligus manager proyek yang
mahir dalam mengoperasikan suatu kegiatan proyek nya tersebut yang sangat
3
oleh alat-alat yang sesuai dengan standar. Proyek Perumahan Di Grand Sharon
pegawai proyek yang telah di arahkan oleh mandor maupun manager proyek. Saat
finishing yang berkualitas serta manager proyek dan mandor yang profesional
menjadi jaminan kualitas produk yang dihasilkan sangatlah prima dan memuaskan
kualitas akan mampu meminimalisir terjadinya produk cacat dan dapat menekan
biaya yang besar sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar pada Proyek
analysis)” yang pertama dan yang paling penting tugas tim FMEA adalah
cara melakukan identifikasi dan implementasi pada kegiatan dan proses secara
hati-hati melalui survei. Dengan demikian hal tersebut sesuai dengan apa yang
4
diteliti pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung, bahwa
dalam pengendalian kualitas produk cacat masih terbilang tinggi tanpa metode
khusus yang digunakan maka akan berpengaruh pada kualitas produk Proyek
kualitas yang tepat agar dapat meminimalisir terjadinya produk cacat pada Proyek
mencapai nama baik perusahaan itu sendiri tergantung dari kualitas itu sendiri.
Tjiptono dan Sunyoto (2012) mengatakan bahwa kualitas sebuah kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan kualitas
pengendalian tersebut yaitu bahan baku dimana persediaan bahan baku adalah
komponen dari aktivitas proses produksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan.
bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana
semula.
ditemukan pada bagian produksi dalam mencapai tingkat kualitas tersebut. Hal ini
5
Bandung dan dikategorikan sebagai produk cacat, memproduksi produk dalam
jumlah yang banyak maka ketelitian mandor saat memeriksa produk menjadi
produk dalam jumlah yang banyak. Cacat yang terjadi misalnya hasil barang rusak
saat diterima, perbedaan jenis produk, terjadi korosi pada produk. Dari
produk cacat bahkan memperbaiki kualitas produk agar menjadi lebih baik dan
kualitas meningkat.
pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung selama tahun 2019
dimulai dari bulan September hingga Oktober. Berikut merupakan data penyebab
produk cacat yang ada pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence
Bandung
6
Dari tabel 1.1 dapat dijelaskan bahwa Proyek Perumahan Di Grand Sharon
Residence Bandung memiliki 3 jumlah jenis cacat yaitu barang rusak saat
sebesar 5%, perbedaan jenis produk yaitu tingkat kesulitan pengerjaan yang
mengakibatkan kecacatan produk sebesar 2%, korosi pada poduk yaitu produk
jadi maupun setengah jadi tidak diletakkan pada ruangan beratap yang
dengan bulan Oktober 2019, lalu hasil wawancara peneliti dengan manager
100% dari hasil yang sudah ditentukan sebelumnya agar target proyek tersebut
bisa efektif dan efisien. Setelah mengetahui jenis–jenis penyebab produk cacat
dilakukan observasi lebih lanjut untuk melihat tingkat kecacatan produk agar
proyek sampai pada tenaga kerja yang bekerja sama untuk mewujudkan
perusahaan atau tenaga kerja lepas. Tenaga kerja lepas ini paling banyak
jumlahnya. Sistem yang diterapkan pada tenaga kerja lepas ini adalah sistem
7
borongan. Tenaga kerja dalam sistem ini terdiri dari mandor, tukang dan pekerja
borongan. Tenaga kerja borongan adalah tenaga kerja yang dikoordinir oleh
mandor sebagai pimpinan kelompok. Tenaga kerja ini terdiri dari beberapa tenaga
kerja yang tidak ditentukan berapa jumlahnya. Perhitungan dan pembayaran gaji
pekerjaan, 2. Perhitungan anggaran biaya untuk upah tenaga kerja secara optimal,
3. Peralatan praktis seperti cangkul dan palu disediakan sendiri oleh tukang, 4.
Pengadaan tenaga kerja, tukang atau pekerja menjadi tanggung jawab mandor.
akhir suatu proyek konstruksi tergantung dari tenaga kerja yang digunakan dalam
proyek konstruksi tersebut. Jika mereka memiliki tenaga kerja yang memiliki
kualitas dan produktivitas yang tinggi, maka proyek konstruksi tersebut akan
terlaksana dengan kualitas yang baik dan dalam waktu yang sesuai dengan
rencana pelaksanaannya.
organisasi pekerja di lapangan yaitu berapa banyak pekerja yang digunakan dalam
8
Produktivitas tenaga kerja yang baik sangat diperlukan untuk keberhasilan
hal tersebut terkadang bisa terjadi dikarenakan tenaga kerja yang kurang efektif
Dalam suatu proyek konstruksi, salah satu hal yang menjadi faktor
penentu keberhasilan dalam suatu proyek konstruksi adalah kinerja tenaga kerja
merupakan salah satu bagian besar dari biaya konstruksi dan jumlah tenaga kerja
pengaruh manajemen dari material atau modal, maka ukuran produktivitas ini
sering disebut sebagai produktivitas tenaga kerja. Terdapat pula faktor-faktor yang
kerja, pendidikan, jumlah pekerja, usia pekerja, dan banyak lagi. Produktivitas
tenaga kerja berhubungan dengan unit-unit produksi, misalnya meter kubik atau
semangat serta membina karyawan agar mampu untuk bekerja mandiri juga dapat
meningkat. Selain program pelatihan yang dilaksanakan, terdapat faktor lain yang
9
perusahaan, yaitu faktor motivasi kerja. Motivasi seseorang dapat berpengaruh
dari dalam diri pegawai untuk mencapai suatu tujuan. Seorang pegawai akan
melakukan tugasnya dengan baik jika ada dorongan dari dalam dirinya. Pegawai
yang berprestasi akan mempengaruhi tingkat motivasi pegawai, hal tersebut bisa
menjadi dorongan agar pegawai bisa bekerja lebih baik dan bisa meningkatkan
kinerja dan mempunyai rasa tanggung jawab atas pekerjaannya. Kinerja pegawai
catatan yang tercermin melalui suatu pergerakan pelatihan yang merupakan nilai
jelasnya maka dapat dilihat data kinerja pegawai yang di peroleh dari Proyek
Tabel 1.2
Kinerja Pegawai Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung .
(dalam %)
10
Keterangan : 91% - 100% = Sangat Baik (SB)
pegawai belum mencapai target proyek, dalam tabel tersebut terdapat dua
indikator yang tingkat pencapaian masih rendah yaitu ketelitian mencapai 72%
kurang baik. Hal ini terjadi karena pelatihan yang kurang bagus serta motivasi
kerja pegawai rendah yang diberikan oleh pimpinan instansi. Adapun masalah
mengerjakan tugas kurang baik, sehingga ketelitian yang kurang baik dapat dilihat
dari masih seringnya terjadi kesalahan dalam mengelola data sehingga banyak
koreksi-koreksi dari atasan. Selain itu masalah lain yang terjadi kurangnya
kejujuran dari pegawai dalam mengerjakan tugas, dapat dilihat dari adanya
pegawai masih harus selalu diperintah atasan dalam melaksanakan tugasnya, lalu
menentukan pencapaian proyeknya yaitu sebesar 100% dari hasil yang sudah
ditentukan sebelumnya agar target proyek tersebut bisa efektif dan kriteria hasil
dari proyeknya pun sudah ditentukan oleh manager proyek dari hasil wawancara
11
pujian, memberikan motivasi, hingga penghargaan bagi prestasi kerja yang
dicapai. Namun demikian, kinerja pegawai tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-
faktor tersebut, akan tetapi secara pelatihan yang akan mempengaruhi kinerja
lebih baik.
kinerja yang tinggi. Berdasarkan penjelasan tersebut agar lebih jelasnya maka
dapat dilihat data motivasi kinerja pegawai yang di peroleh dari Proyek
Tabel 1.3
Motivasi Kerja Pegawai Perumahan Grand Sharon Residence Bandung.
(dalam %)
12
Keterangan : 91% - 100% = Sangat Baik (SB)
terdapat pada tanggung jawab yang memiliki rata-rata 76% yang masih rendah
belum memenuhi target perusahaan dengan skor 100%. Karena masalah lain yang
terjadi di dalam tanggung jawab masih adanya pegawai yang malas kerja, ini
dilihat dari masih adanya pegawai yang lebih berleha-leha, kinerja yang menurun,
semangat dan energi menjadi hilang serta pengambilan keputusan jelek dilihat
kurang dapat dilihat dari masih seringnya terjadi kesalahan dan kecerobohan
dalam bekerja sehingga dapat ditegur oleh mandor. Lalu hasil wawancara peneliti
proyeknya yaitu sebesar 100% dari hasil yang sudah ditentukan sebelumnya agar
target proyek tersebut bisa efektif dan kriteria hasil dari proyeknya pun sudah
ditentukan oleh manager proyek dari hasil wawancara peneliti dengan manager
kenyataan yang ada dalam proyek, Hasil tersebut menunjukan tingkat motivasi
Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung masih ada beberapa yang belum
optimal.
13
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dapat dikatakan bahwa kualitas
pegawai pada suatu lembaga atau proyek. Bila suatu proyek menghendaki kinerja
dari pegawainya, mau tidak mau proyek itu harus memberi perhatian pada
pembinaan para pegawai proyek, melalui penerapan aspek kualitas pelatihan dan
antara lain dipengaruhi oleh kualitas pelatihan dan motivasi kerja pada pegawai
yang kinerjanya kurang optimal. Penting di berikan kepada pegawai karena akan
14
Setiap proses produksi umumnya memiliki peluang untuk terjadinya
kegagalan dalam proses produksi salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
mengelola proses dalam sistem produksi agar lebih efektif dan efisien. Salah
satu alat yang dipakai dalam manajemen kualitas terpadu yang akan
menjamin kualitas hasil produksi yaitu FMEA (Failure Mode Effect Analysis).
terjadi pada saat proses produksi. Metode yang dipakai dengan melakukan
terjadinya sebuah kegagalan dari sebuah sistem, desain, proses atau servis untuk
dibutuhkan metode yang dapat mengurangi kegagalan yang terjadi pada Proyek
Kualitas dalam proyek merupakan bagian yang paling penting dari sebuah
berdasarkan urutan tertentu dari awal sampai akhir proyek. Jadi kualitas dalam
proyek meliputi kegiatan menetapkan jangka waktu kegiatan proyek yang harus
diselesaikan dan waktu yang dibutuhkan oleh setiap aktifitas dalam proyek.
15
Berdasarkan uraian mengenai pentingnya mengetahui sejauh mana
suatu proyeknya dengan efektif maupun efesien. Dalam penelitian ini tertarik
Residence Bandung?
16
1. Untuk mengetahui pelaksanaan pengendalian kualitas produk dan
Bandung
Berdasarkan maksud dan tujuan dalam penelitian ini, maka penelitian ini
pengetahuan.
1. Kegunaan Operasional
17
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Bandung, Jawa Barat 40292. Sedangkan Waktu penelitian terhitung dari bulan
nce/@6.9503948,107.6686677,17z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e68c29c2ecd
18
Tabel 1.4 Time Schedule Penelitian
selama empat bulan, penelitian dimulai pada bulan September sampai dengan
bulan Oktober 2019. Proses penelitan ini diawali dengan identifikasi masalah
pada perusahaan yang dilakukan pada minggu pertama pada bulan September
19
pada minggu kedua sampai minggu ketiga pada bulan September peneliti
seperti apa masalah yang terjadi, bagaimana masalah tersebut bisa terjadi, kenapa
yang dilakukan peneliti yaitu dengan observasi langsung pada proyek Perumahan
dengan penelitian yang akan dibuat dan yang akan dilakukan pada minggu
keempat bulan September sampai minggu pertama bulan Oktober. Apabila semua
selanjutnya yaitu penetapan rumusan masalah serta penetapan tujuan, hal ini
proses analisis yang diambil dari hasil perhitungan data yang di dapat peneliti.
Jika proses analisis telah dilakukan sampai dengan bulan November minggu
pertama.
20
Langkah selanjutnya peneliti melakukan penulisan pustaka yang selaras
pada bulan November minggu kedua sampai dengan bulan November minggu
keempat, lalu pada bulan Desember minggu pertama peneliti melakukan penulisan
kesimpulan dan saran setelah apa yang diteliti pada Proyek Perumahan Grand
Sharon Residence Bandung mengenai produk cacat maupun kinerja pegawai dan
juga peneliti pada bulan Desember minggu pertama melakukan penulisan laporan
penelitian agar hasil penelitian dapat dibaca oleh orang lain, mudah dipahami,
21
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
manusia, sumber daya alat, dan sumber daya dana serta bahan, secara efektif dan
efisien. Menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa
transformasi dimana input (seperti material, mesin, pekerja, manajer, dan modal)
ditranformasikan menjadi output (barang dan jasa). Persyaratan dan feedback dari
serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa
22
Menurut Tampubolon (2014:14), Manajemen operasional didefinisikan
tenaga kerja, modal dan manajemen masukan (input) yang diubah menjadi
yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alat dan sumber daya dana serta
bahan, secara efektif dan efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan
proses tranformasi dimana input menjadi output, yang akan menghasilkan nilai
yang lebih tinggi terhadap suatu barang dan jasa dengan menggunakan sumber
daya yang terbatas secara efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan
konsumen.
23
2.1.2 Sepuluh Keputusan Manajemen Operasi
Render (2017:40) diferensiasi, biaya rendah, dan respon yang cepat dan dapat
tertinggi.
2. Pengelolaan Kualitas
24
dalam hal teknologi, kualitas, penggunaan sumber daya manusia dan
4. Strategi Lokasi
mempengaruhi efisiensi.
letak.
dan keahlian yang dibutuhan, dan upah yang harus ditentukan dengan
jelas.
Keputusan ini menjelaskan apa yang harus dibuat dan apa yang harus
efektif.
25
8. Persediaan
dipertimbangkan.
9. Penjadwalan
Kualitas yang baik adalah kualitas yang mendekati sempurna sesuai yang
diinginkan pelanggan. Kualitas berusaha untuk menekan produk yang gagal dan
menekan juga pada kinerja pegawai, menjaga agar produk dan kinerja pegawai
yang dihasilkan memenuhi standar kualitas dari suatu proyek dan menghindari
produk yang gagal maupun kinerja pegawai dibawah standar yang nantinya
diterima konsumen.
dijanjikan dan tersirat. Kualitas produk merupakan hal penting yang harus
26
diusahakan oleh setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing
produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
diartikan berbeda antara satu orang dan orang lain. Biasanya kualitas dapat dilihat
harapan konsumen.
untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa telah mempunyai nilai guna seperti
yang dikehendaki atau dengan kata lain suatu barang atau jasa dianggap telah
memiliki kualitas apabila berfungsi atau mempunyai nilai guna seperti yang
peningkatan salah satu atau lebih dari dimensi kualitas merupakan upaya
peningkatan kualitas. Penyediaan produk dengan kualitas yang lebih tinggi akan
27
Dengan kata lain, meskipun menurut produsennya barang yang
dihasilkannya sudah melalui prosedur kerja yang cukup baik, namun jika tetap
kualitas barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen tersebut tetap dinilai
sebagai suatu yang memiliki kualitas yang rendah. Disamping harus mampu
barang yang dihasilkan juga dapat dilihat dari konsistensi keterpenuhan harapan
unsur yang saling berhubungan mengenai mutu yang dapat mempengaruhi kinerja
dalam memenuhi harapan pelanggan. Kualitas tidak hanya menekankan pada hasil
akhir, yaitu produk dan jasa tetapi menyangkut kualitas manusia, kualitas proses,
dan kualitas lingkungan. Dalam menghasilkan suatu produk dan jasa yang
Kualitas yang hendak dicapai sesuai dengan fungsi untuk apa barang
28
b. Wujud Luar
Faktor wujud luar yang terdapat pada suatu barang tidak hanya terlihat
dari bentuk, tetapi juga dari warna, susunan dan hal-hal lainnya.
Harapan konsumen atas produk atau jasa tentu saja berbeda satu konsumen
konsumen ini dapat dilihat dari beberapa dimensi yang mewakili kualitas seperti
berikut ini:
1. Kinerja (Performance)
diminta konsumen.
2. Estetika (Aesthetic)
29
3. Kemampuan Servis (Service Ability)
4. Fitur (Features)
5. Keandalan (Reliability)
ditentukan.
6. Keawetan (Durability)
(Quality Control) adalah proses untuk memastikan bahwa barang dan jasa yang
30
merupakan usaha untuk mempertahankan mutu atau kualitas dari barang
kualitas.
pengendalian kualitas yang dapat diartikan sebagai aktivitas atau tindakan yang
kualitas suatu produk dan jasa agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
adalah:
1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang telah
ditetapkan.
mungkin.
31
Dengan demikian, tujuan utama pengendalian kualitas adalah untuk
mendapatkan jaminan bahwa kualitas produk atau jasa yang dihasilkan sesuai
dengan standar kualitas yang telah ditetapkan dengan mengeluarkan biaya yang
1. Kemampuan Proses
Spesifikasi hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku, bila
konsumen yang ingin dicapai dari hasil produksi tersebut. Dalam hal
32
4. Biaya Kualitas
33
d. Biaya Kegagalan Eksternal (Eksternal Failure Cost)
Biaya yang terjadi karena produk atau jasa tidak sesuai dengan
hasilkan cacat, hal ini seringkali tidak bisa dihindari oleh perusahaan. Cacat
baik atau kurang sempurna. Produk cacat berarti barang atau jasa yang dibuat
dalam proses produksi namun memiliki kekurangan yang menyebabkan nilai atau
dalam bahan, tenaga kerja atau mesin dan harus diproses lebih lanjut agar
dijual. Menurut Siregar, dkk (2013:61) Produk cacat adalah unit produk yang
tidak memenuhi standar produksi dan dapat diperbaiki secara teknis dan ekonomis
untuk dapat dijual sebagai produk baik atau tetap sebagai produk cacat.
proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar mutu
yang ditetapkan, tetapi secara ekonomis produk tersebut dapat diperbaiki dengan
34
mengeluarkan biaya tertentu, dimana biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki
dalam proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tersebut tidak sesuai
dengan standar mutu yang ditetapkan, tetapi masih bisa diperbaiki dengan
mengeluarkan biaya tertentu. Perbaikan terhadap produk cacat masih lebih rendah
dari hasil penjualan produk cacat tersebut setelah diperbaiki. Produk cacat dapat
perusahaan.
dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dicapai atau tugas yang
waktu tertentu.
kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang
(2016) mengemukakan bahwa istilah kinerja dari kata job performance atau
actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya) yaitu hasil kerja
35
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
kinerja karyawan adalah hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan
1. Kesetiaan.
tersebut harus dibuktikan dengan sikap dan tingkah laku tenaga kerja
2. Prestasi Kerja
Prestasi Kerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang tenaga
36
dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan pengalaman, dan
3. Tanggung Jawab
4. Ketaatan
5. Kejujuran
6. Kerjasama
telah diamanatkan, sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang
sebesar-besarnya.
37
7. Prakarsa
8. Kepemimpinan
Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai adalah hasil kerja baik
dari kualitas maupun kuantitas yang dicapai pegawai per satuan periode waktu
pada pelaksanaan tugas kerjanya seseorang sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya.
Kualitas atau mutu adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat
sesuatu. Istilah ini banyak digunakan dalam dalam bisnis, rekayasa, dan
kualitas produk atau jasa yang dihasilkan. Adapun metode yang digunakan adalah
sebagai berikut:
38
2.6.1 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
dan efeknya. FMEA merupakan teknik evaluasi tingkat keandalan dari sebuah
sistem untuk menentukan efek dari kegagalan dari sistem tersebut. Kegagalan
kegagalan dari sebuah sistem, desain, proses atau servis untuk dibuat langkah
mode) dengan sekala prioritas. Hasil akhir dari metode FMEA adalah Risk
Priority Number (RPN) atau angka risiko prioritas. RPN merupakan nilai yang
Mode, Effect dan Detection. Nilai RPN dihitung berdasarkan perkalian antara tiga
peringkat kuantitatif yaitu efek/ pengaruh, penyebab, dan deteksi pada setiap
Kemudian diurutkan mulai rating tertinggi, serta tindakan yang disarankan untuk
39
dalam mengidentifikasi penyebab kegagalan dari produk atau proses dan
Menurut Rakesh, Jos, & Mathew (2013) Failure Mode and Effect Analysis
suatu permasalahan yang ada di suatu sistem. Pada umumnya, metode ini
FMEA dilakukan dengan proses diskusi dari divisi yang berbeda pada perusahaan
menentukan risk priority numbers (RPN) dan risk score value (RSV) agar
potensial, dapat memberikan nilai risiko kegagalan atau kesalahan dan langkah-
40
2.7 Kerangka Pemikiran
yang masih belum efektif dan efisien dalam meminimalisir terjadinya produk
Residence, dan dampak yang terjadi akibat pengendalian kualitas yang belum
efektif tersebut yaitu proyek akan mengeluarkan biaya lebih untuk produk cacat
Mode and Effects Analysis). Metode FMEA sangat penting untuk mencegah
produk dan proses masalah sebelum terjadi, dan dapat mengidentifikasi mode
dihasilkan agar menjadi produk yang berkualitas dan tidak ada produk cacat serta
terciptanya kualitas pegawai yang efektif. Meski pada kenyataannya selalu dapat
berbagai faktor yang telah dirumuskan seperti masalah yang penting. Maka,
41
10 Keputusan Operasi (Heizer dan Render Masalah yang terjadi pada
(2017:40) proyek Perumahan Grand
Sharon Residence Bandung
1. Produk 6. SDM
2. Kualitas 7. Rantai Pasokan sering terjadinya produk cacat
3. Proses 8. Persediaan pada saat proses produksi dan
4. Lokasi 9. Penjadwalan masalah pada kinerja pegawai.
5. Tata letak 10. Pemeliharaan
memilih keputusan operasi nomor kedua yaitu kualitas karena sesuai dengan
permasalahan yang penulis angkat dalam penelitian ini yaitu produk cacat dan
kualitas kinerja pegawai yang belum menerapkan metode apapun dalam sistem
42
maupun kinerja pegawai yang dilakukan pada proyek Perumahan Grand Sharon
Mode and Effects Analysis) untuk mengatasi permasalahan produk cacat dan
kualitas kinerja pegawai yang kurang efektif pada proyek Perumahan Grand
yang ada yaitu produk cacat dan kualitas kinerja pegawai yang kurang efektif.
43
BAB III
METODE PENELITIAN
bahwa penelitian ilmiah merupakan suatu aktivitas dalam menelaah suatu problem
dunia alam dan dunia sosial. Dari definisi di atas dapat disederhanakan bahwa
untuk mendapatkan sasaran tujuan tertentu serta mendapat jawaban atas suatu
Mode and Effect Analysis) pada proyek perumahan di Grand Sharon Residence
berpengaruh sebagai kelancaran produksi bagi suatu perusahaan, pada saat ini
44
3.1.1 Profil Singkat Proyek Borongan Perumahan
Pemborong bangunan adalah salah satu penyedia jasa yang bisa digunakan
proyek, pemborong bangunan tidak memiliki izin usaha resmi serta tidak
memiliki badan hukum. Kesepakatan yang dibuat pun tidak berdasarkan hitam di
atas putih, melainkan hanya melalui kesepakatan secara lisan saja. Dan jasa ini
biasanya dikelola oleh individu saja, bukan badan hukum ataupun badan usaha
berskala lebih kecil dibanding kontraktor, seperti pembangunan hunian kecil atau
perumahan dengan budget yang tidak terlalu banyak. Karena dikerjakan oleh
sebanyak yang harus dibayarkan kepada kontraktor. Hanya saja, resiko dari
kesepakatan yang tidak tertulis secara hitam di atas putih ini adalah apabila nanti
biaya hanya membayar jasa tukang bangunan saja. Hal tersebut bisa disesuaikan
dengaan kebutuhan pemilik proyek. Untuk sistem pembayaran upah pekerja tanpa
berdasarkan gambar dan spesifikasi proyek yang akan dikerjakan dengan ukuran
tertentu, contohnya untuk pengerjaan per meter persegi dikenai biaya upah pekerja
satu juta rupiah, yang kemudian akan dikalikan dengan luas bangunan tersebut.
45
Jika pemilik proyek memilih jasa yang hanya membayar upah pekerja saja, maka
pemilik sudah harus memiliki bahan material sendiri, atau menghitung biaya
bahan material di luar biaya jasa upah pekerja. Untuk bisa mendapatkan jasa
pemborong bangunan yang baik dan terjamin, sebaiknya dilakukan survei terlebih
menggunakan jasa mereka. Lebih bagus lagi jika pemborong tersebut bisa diajak
proyek borongan perumahan bertingkat tinggi dengan mutu terbaik dengan biaya
yang efisien dan tepat waktu lalu visi yang kedua pelaksanaan proyek dengan
perencanaan dan monitoring yang baik untuk mencapai mutu yang bersaing di
tingkat regional, namun dengan biaya yang efisien dan dalam waktu yang telah
penyelesaian proyek yang berkualitas tinggi, sesuai anggaran, dan dalam waktu
dalam satu bagan, skema ataupun diagram yang memperlihakan garis besar atau
46
Menurut Robbins dan Coulter (2010) Struktur organisasi bisa diartikan
sebagai kerangka kerja formal organisasi yang dengan kerangkat kerja itu tugas-
Pemilik Proyek
Manager Proyek
Sub
Kontraktor
Mandor
Tenaga
Kerja
47
3.2 Metode Penelitian
dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan
hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih
luas.
Dalam penelitian ini mengunakan data deskriptif yang meliput data hasil
dari wawancara, survey, atau observasi untuk memecahkan suatu masalah yang
ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sehingga
dengan melihat dari tiga definisi di atas penulis dapat mengambil intisari bahwa
dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan
metode kasus, yaitu suatu metode penelitian yang disusun dalam rangka
dari subjek atau objek. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat
48
deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, actual serta akurat dengan
A. Studi Pendahuluan
Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40292. Dalam hal ini peneliti
Residence Bandung.
B. Studi Literatur
C. Identifikasi Masalah
49
a) Latar Belakang
satu per satu produk dalam jumlah yang banyak. Cacat yang
b) Merumuskan Masalah
50
kinerja pegawai kurang berkualitas pada proyek Perumahan
c) Tujuan Penelitian
Bandung.
d) Objek Penelitian
51
e) Pengumpulan Data
f) Pengelolaan Data
metode FMEA.
g) Analisis
h) Kesimpulan
Variabel yang dibuat penulis dalam melakukan peneitian ini adalah sebagai
berikut:
52
Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
1. Perencanaan bahan
Sistem pengendalian baku utama dan bahan
kualitas proyek baku pelengkap
perumahan grand 2. Memilih bahan baku
sharon bandung dari pemasok
3. Proses produksi hingga
produk jadi
4. Peralatan dan fasilitas
yang digunakan pada
saat proses produksi
1. Kedisiplinan dan
PengendaIian ketelitian pegawai
kualitas produk cacat Faktor-faktor yang (man)
dan meningkatkan menyebabkan produk 2. Kualitas bahan baku
kualitas kinerja cacat dan kinerja (material)
pegawai pada pegawai 3. Metode kerja yang
Proyek Perumahan diterapkan (method)
Grand Sharon 4. Kondisi mesin
Residence Bandung. (machine)
5. Kondisi tempat
produksi (environment)
1. Nilai severity, tingkat
keparahan proses
berdasarkan mode
kegagalan dalam proses
produksi
2. Nilai occurance,
frekuensi terjadinya
Metode FMEA (Failure mode kegagalan dalam
Mode and Effect proses produksi
Analysis) 3. Nilai detection,
efektifitasnya dalam
mendeteksi dan
mencegah kegagalan
dalam proses produksi
4. Nilai Risk Priority
Number (RPN)
5. Ranking nilai RPN
53
Menurut Arikunto (2010:161) variabel adalah objek penelitian atau apa
Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dengan tiga sub variabel. Sub
produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence.
Pada sistem pengendalian kualitas tersebut terdapat empat indikator, yaitu yang
pertama perencanaan bahan baku utama dan baku jadi pelengkap, yang kedua
yaitu memilih bahan baku pemasok, yang ketiga yaitu proses produksi hingga
produk jadi, dan yang keempat adalah peralatan dan fasilitas yang digunakan
dalam proyek. Indikator ini sumbernya dari wawancara dan observasi yang telah
sub variabel kedua yaitu faktor-faktor penyebab produk cacat dan kinerja pegawai
pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence. Pada sub variabel ini ada lima
indikator, yang pertama yaitu kedisiplinan dan ketelitian pegawai (man), yang
kedua yaitu kualitas bahan baku (material), yang ketiga yaitu metode kerja yang
diterapkan (method), yang keempat yaitu kondisi mesin (machine) dan yang
kelima yaitu kondisi tempat (environment). Indikator ini sumbernya dari hasil
Selanjutnya sub variable ketiga dari penelitian ini yaitu Failure Mode and
Effect Analysis (FMEA). Indikator dari sub variabel ini ada lima yaitu nilai
54
yang kedua yaitu nilai occurance, frekuensi terjadinya mode kegagalan dalam
mendeteksi dan mencegah kegagalan dalam proses produksi, yang keempat yaitu
nilai risk priority number (RPN), dan yang kelima yaitu ranking nilai RPN.
Indikator ini sumbernya dari teori yang ada pada bab sebelumnya.
permasalahan yang ada, serta berharap agar metode perhitungan ini dapat
Dilihat dari sumber adanya, maka pengumpulan data yang dilakukan dalam
data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen Sugiyono (2019:137).
data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media
perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Data sekunder umumnya berupa
bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang
55
Menurut Sugiyono (2019:224) teknik pengumpulan data adalah langkah
paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk
1. Wawancara
2. Observasi
3. Studi Kepustakaan
56
penelitian. Dalam melakukan penelitian yang dilakukan untuk teknik
melakukan penelitian.
menyajikan data tiap variabel yang diteliti, dan melakukan perhitungan untuk
Analisis data dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh akan lebih
terdapat pada tempat melakukan penelitian. Maka dari itu, teknik analisis data
kemampuan analisis yang tinggi, penalaran yang tinggi akan sebuah masalah dan
menentukan sebuah keputusan yang tepat ketika terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan. Berikut adalah metode analisis data yang dibuat berdasarkan tujuan
penelitian.
produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence.
pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand
57
Sharon Residence, langkah selanjutnya adalah mengolah lebih lanjut hasil
penyimpangan yang dapat mengakibatkan produk cacat dan kinerja pegawai pada
proses produksinya.
Metode analisis data yang kedua untuk mengetahui apa saja yang menjadi
faktor-faktor penyebab produk cacat dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan
Material Man
Produk Cacat
terdiri dari lima kelompok penyebab cacat pada produk perumahan yaitu man
yang akan diisi oleh penyebab cacat pada produk perumahan dari kedisiplinan dan
ketelitian pekerja, material yang akan diisi oleh penyebab cacat pada produk
58
perumahan dari kualitas bahan baku, method yang akan diisi oleh penyebab cacat
pada produk perumahan dari metode kerja yang diterapkan, machine yang akan
diisi oleh penyebab cacat pada produk perumahan dari kondisi mesin dan
peralatan, dan environment yang akan diisi oleh penyebab cacat pada produk
tersebut. RPN merupakan sebuah nilai yang didasarkan pada tiga penilaian:
severity (S), occurrence (O), dan detection (D). Skala penilaian tersebut mulai
dari 1 hingga 10. Berikut merupakan perhitungan untuk menentukan nilai RPN:
RPN = O x S x D
59
Tabel 3.3 Skala Penilaian untuk Occurrence, Severity, dan Detection
serius
dilakukan dengan proses diskusi dari divisi yang berbeda pada perusahaan untuk
masing kriteria terdapat satu sampai sepuluh skor, dimana skor pertama
60
Tabel 3.4 Skala Peringkat Severity
prosedur
peraturan
prosedur
peraturan
dapat diatasi
serius
61
Severity yaitu nilai keseriusan dari efek yang ditimbulkan dari potensi mode
kegagalan yang terjadi. Pada tingkat ke-1 akibat adanya kegagalan dalam proses
produksi tidak ada efek, sedangkan pada tingkat ke-10 tingkat kegagalan sangat
berbahya. Semakin tinggi skor maka efek yang ditimbulkan terhadap produk
semakin besar.
8 1 dari 8 Sering
terjadi. Estimasi kemungkinan yang terjadi berupa skala ranking dari 1 sampai 10.
angka kejadian atau berapa banyak kejadian dari potensi mode kegagalan yang
terjadi. Jika tidak ada data statistik atau data berupa angka maka dapat digunakan
62
data subjektif menggunakan data huruf atau kata yang berupa gambaran atau
dicegah
mungkin
control). Jika kegagalan terjadi, maka prioritaskan proses kontrol yang ada supaya
dapat mencegah efek langsung kepada customer yaitu dengan cara mengubah
proses kontrol atau yang lainnya. Random quality checks tidak dapat mendeteksi
peringkat detection.
63
Lalu langkah keempat yaitu perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN)
nilai RPN adalah hasil perkalian dari nilai severity, occurance dan detection,
Maka, berikut adalah rancangan tabel perhitungan Risk Priority Number (RPN):
Nilai Indikator
Potential Failure Mode
S O D RPN
Tabel 3.7 memiliki lima kolom yaitu yang pertama potential failure mode
diisi oleh kemungkinan kegagalan yang terjadi pada proses produksi perumahan
di jalan Sharon. Lalu kolom nilai indikator diisi berdasarkan hasil severity,
occurance, dan detection yang diperoleh dari tabel-tabel penilaian yang telah
dilakukan sebelumnya. Kolom RPN diisi oleh hasil perkalian nilai severity,
64
BAB IV
Pada bab ini akan diuraikan serta dibahas mengenai hasil penelitian.
produk cacat dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon
Residence Bandung, Maka, yang pertama yang akan dibahas adalah mengenai
Bandung, lalu hasil yang kedua yaitu mengetahui apa saja yang menjadi faktor-
faktor penyebab produk dan kinerja pegawai pada perumahan Grand Sharon
penerapan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dalam mengatasi
permasalahan produk cacat dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand
65
4.1 Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Proyek Pada Perumahan Grand
Persaingan yang ketat dalam dunia usaha saat ini menuntut setiap
pelanggan yang setidaknya sama dengan produk pesaing. Hal ini dilakukan oleh
produk yang berkualitas tinggi dalam proses produksinya, sesuai dengan standar
yang ditetapkan oleh perusahaan. Kualitas produk yang baik dihasilkan dari
pengendalian kualitas yang baik pula menurut Ilham (2012:2). Menurut Susetyo
dilakukan dari tahap awal suatu proses sampai produk jadi dan bahkan sampai
Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dilakukan dalam tiga tahapan yang
terdiri dari pengendalian kualitas pada bahan baku (input), pengendalian kualitas
pada proses produksi (process), dan pengendalian kualitas pada produk jadi
(output). Sesuai dengan tujuan penelitian yang pertama yaitu untuk mengetahui
pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand
Sharon Residence Bandung, maka untuk mencapai tujuan ini diperlukan informasi
pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung. Maka, pada
66
produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence
Bandung. Berikut hasil wawancara yang telah dilaksanakan, yang berupa data
mengenai tahapan pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek
bahan baku (input). Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung sangat
kualitas pada bahan baku yang dilakukan proyek Perumahan Grand Sharon
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan harga yang murah dan
merupakan langkah awal yang dilakukan sebelum bahan baku yang telah dibeli
pemeriksaan atau pengecekan pada bahan utama seperti batu kali, semen, pasir,
gamping, baja, krikil, batu bata merah, kayu, genteng, kusen, pintu, jendela,
keramik, cat, pipa, kran air, paku, bambu yang bertujuan untuk mencegah
terhambatnya proses produksi yang diakibatkan karena bahan baku tidak sesuai
standar dan spesifikasi, bahkan tidak dapat digunakan dalam proses produksi.
67
Pengendalian kualitas bahan baku di proyek Perumahan Grand Sharon Residence
Bandung terdiri dari penentuan dan pemilihan bahan baku yang akan digunakan,
lalu pemilihan supplier untuk pemesanan bahan baku, setelah bahan baku diterima
maka dilakukan pengecekan jumlah dan kualitas, dan selanjutnya bahan baku
disimpan di tempat aman sebelum masuk proses produksi. Berikut ini merupakan
alur pengendalian kualitas bahan baku produk pada proyek Perumahan Grand
Mulai
Tidak
Pemeriksaan
Bahan Baku
Baik
Proses Produksi
Selesai
68
Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa sebelum melakukan
pemesanan bahan baku, dilakukan penentuan bahan baku apa saja yang
spesifikasi khusus untuk penggunaan bahan baku yang akan digunakan, dan
kualitas bahan baku disesuaikan dengan harga produk yang akan dibuat. Setelah
tidak memiliki jadwal tetap untuk pembelian bahan baku karena pembelian
disesuaikan dengan kapan adanya kebutuhan. Bahan baku yang diperlukan untuk
pembuatan perumahan di antaranya batu kali, semen, pasir, gamping, baja, krikil,
batu bata merah, kayu, genteng, kusen, pintu, jendela, keramik, cat, pipa, kran air,
paku, bambu untuk packing. Setelah pesanan bahan baku tiba, maka selanjutnya
kualitas bahan baku yaitu pengecekan jumlah pesanan yang tiba apakah sesuai
Dalam pengendalian ini jika terjadi kelalaian seperti lolosnya bahan baku
yang berkualitas kurang baik dan masuk pada proses produksi, maka biasanya
akan langsung diketahui oleh pegawai yang akan menggunakan bahan baku
tersebut, sehingga potensi kecacatan pada proses produksi yang diakibatkan oleh
69
B. Pengendalian Kualitas Proses Produksi
kegagalan produksi pada setiap proses. Berikut ini adalah alur pengendalian
Tidak
Pemeriksaan Pemeriksaan
pekerjaan dinding
Pekerjaan dinding Baik pekerjaan pondasi
dan kusen dan kusen dan struktur
Baik
Pekerjaan rangka
Pemeriksaan Baik Pekerjaan
atap dan pekerjaan rangka
finishing dan
plumbling atap dan plumbling
tambahan
Tidak
Tidak
Pemeriksaan Baik Pemeriksaan
keseluruhan pekerjaan finishing
pekerjaan dan tambahan
Pembersihan
Selesai
Gambar 4.2 Alur Pengendalian Kualitas Proses Produksi
70
Berdasarkan Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa setelah dilakukan
pengendalian kualitas bahan baku, maka selanjutnya bahan baku masuk ke dalam
proses produksi. Proses produksi Proyek Perumahan hanya terdiri dari enam
Rangka Atap dan Plumbling, Pekerjaan Finishing dan Tambahan, serta Finishing.
dan kusen, pekerjaan rangka atap dan plumbling, pekerjaan finishing dan
setiap bagian dalam proses produksi, itu dilakukan agar kegagalan produk dapat
(mempersiapkan bahan baku) yaitu bahan baku utama yang berupa batu kali,
semen, pasir, gamping, baja, krikil, batu bata merah, kayu, genteng, kusen, pintu,
jendela, keramik, cat, pipa, kran air, paku, bambu yang dikerjakan sesuai dengan
apa yang sudah di katakan oleh mandor, dan untuk keramik dan pipa dilakukan
utama siap maka selanjutnya masuk ke proses pekerjaan dinding dan kusen,
sebelum dilakukan pekerjaan dinding dan kusen maka para pekerja akan
melakukan pemeriksaan kualitas pada bahan baku yang akan dikerjakan, jika telah
71
sesuai dengan ukurannya maka akan dilanjutkan pada proses pekerjaan dinding
dan kusen, namun jika ukuran tidak sesuai maka akan dilakukan pengerjaan ulang
atau bahkan bahan baku tidak dapat digunakan sama sekali. Pada proses ini bahan
baku yang dikerjakan oleh para pekerja yaitu dinding dan kusen hanyalah dinding
batu bata merah dan kusen dari kayu, dan pada proses ini batu bata merah dan
kayu bisa hanya dikerjakan oleh pekerja yang handal dalam bidangnya, hal ini
pekerja akan melakukan pemeriksaan pada hasil potongan bahan baku dan hasil
pengerjaan dinding maupun kusen, jika telah sesuai standar maka akan
dilanjutkan untuk proses pengerjaan rangka atap dan plumbling. Pada proses
pengerjaan rangka atap dan plumbling yang pertama kuda-kuda, gording, nok,
kaso dan reng, kalau diperlukan ditambah dengan aluminium foil (jika perlu) dan
pemasangan genteng beserta aksesories nya, rangka atap bisa dipilih dari baja
ringan maupun kayu. Estimasinya adalah berapa banyak balok kayu/baja yang
pemasangan toilet, wastafel, bath up, pemanas air, kran. Tidak ketinggalan juga
pemasangan instalasi air bersih dan air kotor . Selanjutnya hasil pengerjaan rangka
ketidaksesuaian pada hasil pengerjaan pembuatan rangka atap dan plumbling tidak
sempurna maka akan dilakukan perbaikan atau pengerjaan ulang (rework), tetapi
jika hasilnya telah sesuai maka akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu
72
Proses pekerjaan finishing maupun pekerjaan tambahan dilakukan pada
Jika terdapat ketidaksesuaian pada hasil finishing maka akan dilakukan perbaikan
atau pengerjaan ulang (rework), namun jika telah sesuai standar pemilik rumah
atau mandor maka akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu proses
Perumahan, meski pengendalian kualitas telah dilaksanakan pada bahan baku dan
yang telah ditetapkan pada produk akhir dari Proyek Perumahan tersebut.
memastikan bahwa hasil dari proses produksi telah sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh mandor maupun pemilik rumah. Berikut adalah alur proses
73
Mulai
Proses Produksi
Finishing
Tidak
Pemeriksaan
Akhir
Selesai
pondasi dan struktur, pekerjaan dinding dan kusen, pekerjaan rangka atap dan
dan memastikan bahwa produk yang memiliki kecacatan (defect) tidak sampai
hingga tangan konsumen. Ada satu keputusan yang dilaksanakan oleh Proyek
74
1. Jika proyek perumahan terdapat kecacatan dengan tingkat cacat yang
Saat ini persaingan dalam dunia usaha sangat ketat, hal ini menuntut suatu
pada produk proyek perumahan yang telah dilaksanakan oleh Mandor Proyek
Perumahan Grand Sharon Residence Bandung, walaupun sistem yang saat ini
diterapkan di proyek tersebut sudah baik namun masih belum berjalan efektif. Hal
dalam menghasilkan produk sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh
perusahaan sejak awal hingga akhir proses produksi. Sedangkan menurut Haming
dan Nurnajamuddin (2017:204) ada dua macam yang dapat dilakukan untuk
yang diterima dari pemasok atau telah selesai di pabrikasi yang bertujuan untuk
menentukan apakah produk itu diterima atau tidak. Dan Process Control
75
Artinya jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan teori Yamit
Sharon Residence Bandung telah sesuai, karena proyek tersebut telah menentukan
standar spesifikasi dari mulai awal hingga akhir proses produksi dalam
dalam praktiknya masih belum berjalan maksimal seperti apa yang diharapkan.
(2017:204) pengendalian kualitas pada bahan baku dan pada produk jadi di
proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung telah sesuai, namun pada
Residence Bandung masih belum sesuai karena proyek tersebut tidak menerapkan
untuk menjamin, bahwa proses berjalan di dalam suatu cara yang dapat diterima.
Bandung telah melakukan pengendalian kualitas dengan baik melalui cara yang
produk akhir. Sehingga dapat dikatakan jika dibandingkan dengan teori Assauri
76
4.2 Faktor-faktor Penyebab Produk Cacat dan Kinerja Pegawai
faktor manusia (man), faktor bahan baku (material), faktor mesin (machine),
menghasilkan produk dengan kualitas baik dalam proses produksi sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan, namun kali praktiknya Proyek Perumahan Grand
Perumahan Grand Sharon Residence Bandung bahwa produk cacat dan kinerja
pegawai yang dihasilkan masih melebihi batas yang telah ditetapkan oleh proyek
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya penyimpangan atau masalah dari proses
produksi. Oleh sebab itu, perlu diketahui apa saja yang menjadi faktor penyebab
diatasi.
dan kinerja pegawai tersebut pada tanggal 20 September 2019. Berikut merupakan
Diagram:
77
Pasir Basah Pegawai Kurang Teliti Pegawai Malas-Malasan
Pegawai Kurang Konsentrasi
Batu Bata Belah Pegawai Kurang Jujur
Pegawai Kurang Inisiatif
Genteng Belah Pegawai Tergesa-gesa
Keramik Pecah
Produk Cacat
Tempat Produksi Kurang Kurang Perawatan Pengawasan
Layak
Kurang Maksimal
yang menjadi penyebab produk cacat dan kinerja pegawai di Proyek Perumahan
Grand Sharon Residence Bandung, yaitu faktor manusia yang diisi oleh penyebab
produk cacat dan kinerja pegawai dari ketelitian, kedisiplinan dan kejujuran,
faktor bahan baku yang diisi oleh penyebab produk cacat dan kinerja pegawai
pada proyek dari kualitas bahan baku yang digunakan, faktor mesin yang diisi
oleh penyebab produk cacat dari kondisi mesin, faktor metode yang diisi oleh
penyebab produk cacat dari metode kerja yang diterapkan, dan faktor lingkungan
yang diisi oleh penyebab produk cacat dari kondisi tempat produksi. Berikut ini
merupakan uraian dari fishbone diagram produk cacat dan kinerja pegawai
tersebut:
78
1. Faktor Manusia (Man)
Berbeda halnya dengan faktor teknis, faktor manusia memiliki sifat yang
kompleks dan umum. Kondisi fisik dan psikis setiap pegawai dapat
mempengaruhi produktivitas dan prestasi kerjanya, kondisi fisik seperti usia dan
kesehatan serta psikis seperti motivasi kerja atau perasaan setiap harinya yang
berbeda-beda. Selain itu pengalaman kerja dan pengetahuan dari pegawai juga
sangat mempengaruhi prestasi kerja yang dicapainya. Oleh sebab itu, untuk
menghasilkan produk yang berkualitas baik, maka setiap pegawai perlu memiliki
dihasilkan.
penyimpangan pada proses produksi yang disebabkan oleh pegawai yang kurang
malasan dan kurangnya inisiatif dari pegawai. Tenaga kerja merupakan faktor
yang paling penting dalam proses produksi, karena dalam proses produksi
seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual atau handmade. Sehingga jika
79
Faktor manusia menjadi penyebab terbesar terjadinya kegagalan pada
Sharon Residence Bandung pada saat merekrut karyawan tidak melalui tahap
perusahaan dan berdampak pada timbulnya produk cacat dan kinerja pegawai.
Faktor bahan baku (material) menjadi salah satu faktor penting yang harus
menjadi perhatian khusus, karena bahan baku menjadi indikator yang sangat
pengendalian kualitas pada bahan baku namun pada praktiknya banyak yang
kualitasnya kurang baik atau tidak sempurna, seperti pasir basah yang tidak sesuai
dengan keinginan mandor, lalu banyaknya batu bata merah yang terbelah, pada
bahan baku genteng pun seringkali mengalami belah atau tidak dalam keadaan
adanya kecacatan, dan pada keramik juga yang seringkali hasilnya tidak sesuai
digunakan.
Bahan baku ini tentu perlu menjadi perhatian khusus, karena berdampak
langsung pada kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini tentu menjadi kerugian
secara finansial dan menghambat proses produksi bagi proyek tersebut, karena
proyek tersebut harus mengeluarkan anggaran lebih untuk mengganti bahan baku
80
yang tidak dapat digunakan. Oleh sebab itu, proyek perumahan harus melakukan
perbaikan pada perencanaan dan pemilihan bahan baku agar kualitasnya dapat
sesuai dengan apa yang telah di standarkan oleh proyek perumahan tersebut.
dan mesin bor dinding. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas baik, maka
diagram diketahui bahwa mesin yang digunakan oleh Proyek Perumahan Grand
seperti mesin potong dan mesin bor macet dikarenakan kabel konslet atau sikring
yang harus diganti dan berdampak pada mesin tidak dapat digunakan, itu biasanya
diganti.
Hal lain yang mengakibatkan produk cacat yang berasal dari faktor mesin
yaitu lamanya pemakaian mesin potong dan mesin bor, karena terus digunakan
yang berakibat mesin menjadi panas dan tidak dapat digunakan untuk sementara.
Selanjutnya pisau pada mesin potong sudah tidak tajam yang mengakibatkan hasil
potongan tidak rapi terlebih jika digunakan untuk memotong keramik yang
berdampak pada keramik retak tidak sesuai ukuran dan tidak dapat digunakan.
Serta penyusutan kinerja mesin karena usia mesin yang sudah tidak muda lagi
81
4. Faktor Metode (Method)
terhadap kelancaran proses produksi, fungsi dari metode kerja yang diterapkan
dalam perusahaan untuk mengatur seluruh bagian yang terlibat dalam proses
produksi dan dapat mengurangi tingkat kecacatan dalam produk yang dihasilkan.
Kendala dari produk cacat dan kinerja pegawai dalam proses produksi proyek
karena lemahnya pengawasan serta tidak adanya aturan baku (SOP) dalam proses
produksi.
metode yang digunakan hanya metode secara lisan yang hanya menginstruksikan
secara langsung. Pengawasan yang dilakukan oleh mandor pun hanya dilakukan
sekali yaitu pada saat awal proses produksi, sehingga ketika produksi sedang
berjalan tidak ada pengawasan lagi yang berakibat pada timbulnya penyimpangan-
atau standard operating procedure (SOP) membuat pegawai khususnya yang baru
tidak dapat mengetahui sistematis produksi yang benar, dan pegawai hanya
proses produksi dapat lebih terkontrol dan membuat pegawai menjadi lebih
disiplin.
82
5. Faktor Lingkungan (Environment)
Lingkungan dalam hal ini merupakan kondisi tempat produksi atau area
Sharon Residence Bandung. Kondisi atau lingkungan kerja yang baik akan dapat
kurang layak, yang diakibatkan karena pengaturan pada tata letaknya kurang baik
sembarangan. Dan seringkali banyaknya bahan baku yang terdapat di tempat kerja
dan kinerja pegawai proyek perumahan cacat. Permasalahan yang saat ini
dihadapi oleh Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung yaitu jumlah
produk cacat daan kinerja pegawai yang dihasilkan masih melebihi batas yang
telah ditetapkan proyek tersebut. Meskipun proses produksi yang telah dilakukan
perusahaan sudah baik, namun pada praktiknya masih terdapat produk da kinerja
pegawai yang cacat. Menurut Riwayadi (2016:297) produk cacat adalah produk
yang tidak memenuhi spesifikasi atau standar kualitas dan secara ekonomis masih
(2016:297) hasil penelitian pada proses produksi yang dilakukan pada Proyek
83
bahwa hasil produksi proyek perumahan masih terdapat produk yang tidak
Pada sub bab ini, dipaparkan hasil penelitian dan pembahasan tentang
menyebabkan cacat pada produk. Proses produksi yang dilakukan dapat dilihat
dari pengendalian kualitas yang sudah dilakukan pada sub bab sebelumnya. Alur
proses produksi terdiri dari enam bagian yang terdiri dari Pekerjaan Awal
Dinding dan Kusen, Pekerjaan Rangka Atap dan Plumbling, Pekerjaan Finishing
dan Tambahan, serta Finishing. Dari enam bagian memiliki 13 proses, maka nanti
akan dicarikan potential failure mode atau mode kegagalannya dari masing-
masing proses.
proses awal hingga produk jadi yang dilakukan proyek perumahan, kemudian
dari setiap proses produksinya. Maka, berikut adalah hasil observasi dan
84
wawancara yang dipaparkan dalam bentuk tabel potential failure mode dari tiap
proses produksinya:
Pekerjaan Rangka Pengerjaan baja ringan Baja ringan ada yang bengkok
Atap dan
Plumbling Pengerjaan toilet, wastafel, Tidak sesuai dengan posisi
kran pemasangannya
Pengerjaan material lantai
Keramik mengalami kerusakan
Pekerjaan baik ruangan maupun teras
Finishing dan Pengerjaan garasi Lahan yang pas-pasan
Tambahan
Pengerjaan pagar, kanopi Mesin las sering macet
85
Tabel 4.3 merupakan tabel hasil identifikasi potential failure mode dari
setiap prosesnya. Dari tabel tersebut diketahui, terdapat enam bagian inti dalam
Bahan Baku), Pekerjaan Pondasi dan Struktur, Pekerjaan Dinding dan Kusen,
Bagian Pekerjaan awal yaitu proses pengukuran posisi bangunan dan juga
pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan pondasi dengan batu kali dan
pembuatan lantai kerja. Bagian pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses
pengerjaan batu bata merah, pengerjaan plesteran dan pemasangan kusen pada
sisi-sisi dinding. Lalu ada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu
proses pengerjaan baja ringan, pengerjaan toilet, wastafel dan kran. Lalu ada juga
bagian pekerjaan finishing dan tambahan terdiri dari proses pengerjaan material
lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan garasi, pengerjaan pagar dan kanopi.
Dari hasil identifikasi didapatkan bahwa pula bagian pekerjaan awal yaitu
pegawai kurang spesifik dalam mengukur dan pengukuran terlalu pas tidak diberi
space yang lebih. Lalu, bagian pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan
pondasi dengan batu kali dan pembuatan lantai kerja memiliki kemungkinan
terjadinya posisi yang tidak sesuai dan lantai yang tidak rata. Pada bagian
pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses pengerjaan batu bata merah, pengerjaan
86
plesteran dan pemasangan kusen pada sisi-sisi dinding diidentifikasi memiliki
kemungkinan terjadinya batu bata banyak yang terbelah jadi dua, komponen
bahan baku yang kurang sesuai, dan kusen yang tidak lurus. Lalu pada bagian
pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu proses pengerjaan baja ringan,
terjadinya baja ringan yang sering bengkok dan tidak sesuai dengan posisi
pemasangannya.
proses pengerjaan material lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan garasi,
keramik yang mengalami kerusakan atau retak, lahan pembuatan garasi yang pas-
pasan dan mesin las untuk pembuatan kanopi dan pagar mengalami kemacetan,
manager proyek dimana manager proyek menentukan Potential failure Msde yang
dampak yang mungkin terjadi dari masing-masing mode kegagalan tersebut. Dari
87
Tabel 4.4 Hasil Identifikasi Potential Effect of Failure
Potential Effect of
Bagian Proses Potential Failure Mode
Failure
Pekerjaan Kepuasan
Komponen bahan baku
Dinding dan Pengerjaan plesteran pelanggan
yang kurang sesuai
Kusen menurun
88
Berdasarkan tabel 4.4 setiap kegagalan yang terjadi pada masing-masing
adalah untuk mengetahui apa efek dari kegagalan tersebut jika terjadi. Dari tabel
4.4 diketahui bahwa pada bagian proses pengukuran posisi bangunan dan juga
pengukuran terlalu pas tidak diberi space yang lebih, mode kegagalan ini memiliki
efek atau dampak terhadap ukuran yang tidak sesuai. Sedangkan pada bagian
pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan pondasi dengan batu kali dan
pembuatan lantai kerja memiliki kemungkinan terjadinya posisi yang tidak sesuai
dan lantai yang tidak rata, yang kemudian akan berdampak terhadap estetika
Pada bagian pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses pengerjaan batu
bata merah, pengerjaan plesteran dan pemasangan kusen pada sisi-sisi dinding
jadi dua, komponen bahan baku yang kurang sesuai, dan kusen yang tidak lurus,
hal ini dapat menimbulkan hasil produksi kurang maksimal, kepuasan pelanggan
Selanjutnya pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu proses
pemasangan toilet, wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi
89
pemasangannya, hal ini mengakibatkan hasil dari produksi yang kurang
maksimal.
dari proses pengerjaan material lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan
terjadinya keramik yang mengalami kerusakan atau retak, lahan pembuatan garasi
yang pas-pasan dan mesin las untuk pembuatan kanopi dan pagar mengalami
kemacetan, hal ini kemudian mengakibatkan hasil pemotongan yang tidak sesuai,
lalu produksi pun menjadi lambat dan produksi itu pula menjadi lama. Terakhir
kegagalan bahwa produksi menjadi semakin lama. Lalu hasil wawancara peneliti
mode dan Potential effect of failure yang sudah ditentukan sebelumnya agar lebih
spesifik.
90
Tabel 4.5 Hasil Identifikasi Potential Cause of Failure
Potential Cause of
Bagian Proses Potential Failure Mode
Failure
Pengerjaan batu bata Batu bata banyak yang Bahan baku sulit
merah terbelah jadi dua dipasang
Pekerjaan
Komponen bahan baku Pegawai tergesa-
Dinding dan Pengerjaan plesteran
yang kurang sesuai gesa dalam bekerja
Kusen
Pemasangan kusen Bahan baku sulit
Kusen yang tidak lurus
pada sisi-sisi dinding dipasang
91
Berdasarkan tabel 4.5 tersebut diketahui penyebab-penyebab potential
failure mode dari tiap prosesnya. Proses pertama yaitu pada bagian pengukuran
posisi bangunan dan juga batas-batasnya kemudian pengukuran lebar dan panjang
mengukur dan pengukuran terlalu pas tidak diberi space yang lebih, diidentifikasi
adalah penyebab dari pegawai yang kurang teliti. Sedangkan pada bagian
pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan pondasi dengan batu kali dan
pembuatan lantai kerja memiliki kemungkinan terjadinya posisi yang tidak sesuai
dan lantai yang tidak rata, hal ini diidentifikasi adalah penyebab dari pegawai
pengerjaan batu bata merah, pengerjaan plesteran dan pemasangan kusen pada
yang terbelah jadi dua, komponen bahan baku yang kurang sesuai, dan kusen yang
tidak lurus, hal ini merupakan penyebab dari bahan baku sulit untuk dipasang dan
Selanjutnya pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu proses
pemasangan toilet, wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi
pemasangannya, hal ini karena produk kurang berkualitas dan lagi-lagi penyebab
92
Bagian selanjutnya yaitu proses pekerjaan finishing dan tambahan terdiri
dari proses pengerjaan material lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan
terjadinya keramik yang mengalami kerusakan atau retak, lahan pembuatan garasi
yang pas-pasan dan mesin las untuk pembuatan kanopi dan pagar mengalami
bekerja dan juga pegawai yang kurang teliti dalam bekerja. Lalu pada pengerjaan
pagar dan kanopi mengakibatkan proses mesin las sering macet hal ini
cuaca buruk, hal ini mengakibatkan pegawai menjadi tergesa-gesa dalam bekerja.
Lalu hasil wawancara peneliti dengan manager proyek dimana manager proyek
menentukan Potential failure mode dan Potential cause of failure yang sudah
langkah FMEA yang dilakukan oleh Prayogi dkk. (2016) serta Anugrah dkk.
(2015):
dilakukan dengan hasil wawancara yang berupa brainstorming. Pada penilaian ini
tidak lupa dicantumkan alasan mengapa potential failure mode pada masing-
masing proses diberikan nilai tersebut, hal ini itu sebagai dasar bahwa penyajian
93
informasi dari data menjadi jelas dan dapat menjadi pertimbangan pada tahapan
penerapan lanjutan jika analisis ini kemudian diterapkan oleh proyek tersebut.
Pegawai kurang
Kurang spesifik Produk tidak dapat diperbaiki
teliti 9
dalam mengukur namun masih dapat diproses
Pekerjaan
Awal
Pengukuran terlalu
Pegawai kurang Produk tidak dapat diperbaiki
pas tidak diberi space 9
teliti namun masih dapat diproses
lebih
Akan berdampak pada
Pegawai
kualitas produk jadi
Posisi tidak sesuai tergesa-gesa 5
Pekerjaan walaupun masih dapat
dalam bekerja
Pondasi diproses
Pegawai kurang Produk tidak dapat diperbaiki
Lantai tidak rata 6
teliti namun masih dapat diproses
Batu bata banyak Berdampak pada produk
Bahan baku sulit
yang terbelah jadi 4 namun tidak memerlukan
dipasang
dua perbaikan
Pekerjaan Komponen bahan Pegawai
Produk tidak dapat diperbaiki
Dinding baku yang kurang tergesa-gesa 5
namun masih dapat diproses
dan Kusen sesuai dalam bekerja
Berdampak pada produk
Kusen yang tidak Bahan baku sulit
4 namun tidak memerlukan
lurus dipasang
perbaikan
Baja ringan ada yang Produk kurang Estetika produk menurun jadi
Pekerjaan 3
bengkok berkualitas memerlukan perbaikan
Rangka
Atap dan Tidak sesuai dengan
Pegawai kurang Produk tidak dapat diperbaiki
Plumbling posisi 7
teliti namun masih dapat diproses
pemasangannya
Pegawai
Keramik mengalami Produk tidak dapat diperbaiki
tergesa-gesa 5
kerusakan namun masih dapat diproses
Pekerjaan dalam bekerja
Finishing Lahan yang pas- Pegawai jadi Estetika produk menurun jadi
4
dan pasan kurang teliti memerlukan perbaikan
Tambahan Penyusutan
Mesin las sering Mesin las harus diperbaiki
kinerja mesin 7
macet untuk dapat diproses
Pegawai
Estetika produk menurun jadi
Finishing Cuaca yang buruk tergesa-gesa 8
memerlukan perbaikan
dalam bekerja
Sumber: Hasil Pengolahan Data Brainstrorming dengan Bapak Heriyanto
Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019
94
Tabel 4.6 adalah tabel penilaian severity. Pada kolom bagian pengukuran
kurang spesifik terdapat potential failure mode. Dari hasil penilaian severity
tersebut, didapatkan nilai 9 dengan alasan produk tidak dapat diperbaiki namun
masih dapat diproses. Kedua adalah pengukuran terlalu pas, diberi nilai 9 dengan
alasan produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat diproses. Selanjutnya,
pada bagian pekerjaan pondasi terdapat dua potensial failure mode. Yang pertama
adalah posisi tidak sesuai, kolom ini diberi nilai severity 5 karena akan berdampak
pada kualitas produk jadi walaupun masih dapat diproses. Kedua, terdapat lantai
yang tidak rata diberi nilai severity 6 alasannya produk tidak dapat diperbaiki
Kemudian pada bagian pekerjaan dinding dan kusen terdapat tiga potential
failure mode. Yang pertama adalah batu bata banyak yang terbelah, kolom ini
diberi nilai severity 4 karena akan berdampak pada produk namun tidak
memerlukan perbaikan. Kedua, komponen bahan baku yang kurang sesuai diberi
nilai severity 5 alasannya adalah produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat
diproses. Ketiga, kusen yang tidak lurus diberi nilai 4 karena berdampak pada
Lalu pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling, terdapat dua
potential failure mode, yang pertama terdapat baja ringan ada yang bengkok yang
diberikan nilai severity 3 dengan alasan estetika produk menurun jadi memerlukan
perbaikan. Kedua tidak sesuai dengan posisi pemasangan yang diberikan nilai
severity 7 dengan alasan produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat
diproses.
95
Kemudian pada bagian finishing dan tambahan terdapat tiga potential
failure mode. Yang pertama keramik mengalami kerusakan yang diberikan nilai
severity 5 dengan alasan produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat
diproses. Kedua, lahan yang pas-pasan yang diberikan nilai 4 alasannya karena
estetika produk menurun jadi memerlukan perbaikan. Yang ketiga, mesin las
sering macet yang diberikan nilai 7 karena mesin las harus diperbaiki untuk dapat
diproses. Pada bagian finishing terdapat satu potential failure mode, yaitu adalah
cuaca buruk yang diberikan nilai severity 8 dengan alasan estetika produk
hasil severity dan alasan dari penilaian proyek sudah ditentukan oleh manager
proyek sebelumnya.
dan mana yang paling tidak mungkin. Kemudian mengurutkan rating dari angka 1
artinya untuk frekuensi kejadian yang paling tinggi kemungkinannya. Untuk bisa
96
menentuan kan nilai rating tersebut. Berikut adalah tabel penentuan nilai
occurance:
97
Tabel 4.7 merupakan tabel penilaian occurance. Pada bagian pekerjaan
awal terdapat dua potential failure mode yaitu bagian pengukuran kurang spesifik
dan pengukuran terlalu pas. Dari hasil penilaian occurance tersebut. Diberikan
nilai occurance 2 dengan alasan kegagalan dapat mudah dieliminasi, dan hasil
penilaian pada kolom kedua diberikan nilai occurance 5 dengan alasan kegagalan
cukup mudah dieliminasi. Pada bagian pekerjaan pondasi terdapat dua potensial
failure mode. Yang pertama adalah posisi tidak sesuai, kolom ini diberi nilai
occurance 7 karena kegagalan sulit dieliminasi. Kedua, terdapat lantai yang tidak
Kemudian pada bagian pekerjaan dinding dan kusen terdapat tiga potential
failure mode. Yang pertama adalah batu bata banyak yang terbelah, kolom ini
bahan baku yang kurang sesuai diberi nilai occurance 3 alasannya karena
kegagalan dapat mudah dieliminasi. Ketiga, kusen yang tidak lurus diberi nilai 5
Lalu pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling, terdapat dua
potential failure mode, yang pertama terdapat baja ringan ada yang bengkok yang
Kedua tidak sesuai dengan posisi pemasangan yang diberikan nilai occurance 4
failure mode. Yang pertama keramik mengalami kerusakan yang diberikan nilai
yang diberikan nilai 2 karena kegagalan nya dapat mudah dieliminasi. Yang
98
ketiga, mesin las sering macet yang diberikan nilai 3 karena kegagalan dapat
dieliminasi. Pada bagian finishing terdapat satu potential failure mode, yaitu
adalah cuaca buruk yang diberikan nilai occurance 5 dengan alasan kegagalan
hasil occurance dan alasan dari penilaian proyek sudah ditentukan oleh manager
terhadap failure atau sangat lemah. Untuk bisa menentuan kan nilai rating
tersebut. Berikut adalah hasil brainstorming ketiga yang diolah ditabel penentuan
nilai detection:
99
Tabel 4.8 Penilaian Detection
Potential Failure Prevention D Alasan
Bagian
Mode
Kurang spesifik Pemberian tanda Metode pencegahan
1
dalam mengukur sebelum diukur sangat efektif
Pekerjaan
Awal Pengukuran terlalu Pemberian space lebih Kemungkinan penyebab
pas tidak diberi 3
saat mengukur terjadinya sangat rendah
space lebih
Metode pencegahan
Pemberian tanda
Posisi tidak sesuai 5 kadang memungkinkan
sebelum dikerjakan
Pekerjaan penyebab itu terjadi
Pondasi
Pemeriksaan harus Kemungkinan penyebab
Lantai tidak rata 2
dilakukan terjadinya sangat rendah
100
Tabel 4.8 merupakan tabel penentuan nilai detection. Dari tabel tersebut
untuk mengatasi terjadinya kegagalan. Tetapi pada bagian tersebut masing sering
spesifik. Dilakukan prevention dengan cara pemberian tanda sebelum diukur, lalu
Mode kegagalan kedua yaitu pengukuran terlalu pas. Prevention yang dilakukan
adalah pemberian space lebih saat diukur. Diberikan nilai detection 3 dengan
Pada bagian pekerjaan pondasi terdapat dua potensial failure mode. Yang
pertama adalah posisi tidak sesuai dilakukan prevention dengan cara pemberian
kegagalan kedua adalah terdapat lantai yang tidak rata. Prevention yang dilakukan
failure mode. Yang pertama adalah batu bata banyak yang mengalami kecacatan,
terjadinya sangat rendah. Mode kegagalan kedua adalah komponen bahan baku
yang kurang sesuai. Prevention yang dilakukan adalah pemeriksaan yang harus
penyebab terjadinya sangat rendah. Lalu yang ketiga, kusen yang tidak lurus
101
dengan prevention yang dilakukan pemeriksaan kembali saat pengerjaan.
sangat rendah.
potensial failure mode. Yang pertama adalah baja ringan ada yang bengkok,
prevention dengan cara pemotongan harus sesuai dengan diberikan nilai detection
kegagalan kedua adalah lahan yang pas-pasan. Prevention yang dilakukan adalah
dengan alasan kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah. Lalu yang ketiga,
mesin las sering macet dengan prevention yang dilakukan mengecek keadaan
cuaca yang buruk, prevention yang dilakukan adalah mengecek keadaan cuaca.
sangat rendah.
102
Lalu berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan manager proyek dimana
hasil detection dan alasan dari penilaian proyek sudah ditentukan oleh manager
proyek sebelumnya. Maka tahap selanjutnya yang dilakukan oleh penulis adalah
nilai occurance, dan nilai detection yang telah didapatkan sebelumnya. Nilai RPN
adalah hasil perkalian dari nilai severity, occurance, dan detection. Hasil nilai
RPN ini dari hasil hitungan mengidentifikasi potential effect of failure, potential
dicarikan hitungannya berdasarkan teori yang ada pada bab sebelumnya. Maka,
103
Tabel 4.9 Perhitungan Nilai Risk Priority Number (RPN)
Nilai Indikator
Bagian Potential Failure Mode
S O D RPN
Tabel 4.9 diatas merupakan tabel nilai RPN. Potential failure mode kurang
spesifik dalam mengukur yang mendapat nilai RPN 18. Lalu pengukuran pondasi
yang terlalu pas diberi nilai RPN 123. Posisi yang tidak sesuai mendapat nilai
RPN 175. Lantai tidak rata mendapat nilai RPN 48. Batu bata yang mengalami
kecacatan mendapat nilai RPN 32. Komponen bahan baku yang tidak sesuai
mendapat nilai RPN 45. Kusen yang tidak lurus mendapat nilai RPN 40. Baja
ringan mengalami bengkok yang mendapat nilai RPN 18. Tidak sesuai dengan
104
posisi pemasangannya mendapatkan nilai RPN 56. Selanjutnya keramik yang
mengalami kerusakan mendapatkan nilai RPN 45. Lahan pembuatan yang pas-
pasan mendapatkan nilai RPN 16. Mesin yang sering macet mendapat nilai RPN
63. Lalu cuaca mendung mendapatkan nilai RPN 80. Berdasarkan tabel 4.9
failure mode. Berikut adalah tabel ranking RPN berdasarkan masing-masing dari
Sumber: Hasil Pengolahan Data Nilai Risk Priority Number (RPN), pada
tanggal 20 September 2019
Tabel 4.10 tersebut adalah tabel ranking RPN. Dari tabel tersebut
diketahui potential failure mode posisi yang tidak sesuai mendapatkan ranking 1
dengan nilai RPN 175. Pengukuran terlalu pas tidak diberi space lebih mendapat
ranking 2 dengan nilai RPN 123. Cuaca yang buruk mendapat ranking 3 dengan
nilai RPN 80. Selanjutnya mesin las sering macet ranking 4 dengan nilai RPN 63.
Lalu wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi pemasangannya
105
ranking 5 dengan nilai RPN 56. Lantai tidak rata ranking 6 dengan nilai RPN 48.
Komponen bahan baku yang kurang sesuai mendapatkan ranking 7 dengan nilai
RPN 45. Kusen yang tidak lurus mendapatkan ranking 9 dengan nilai RPN 40.
RPN 32. Kurang spesifik dalam mengukur mendapatkan ranking 11 dengan nilai
RPN 18. Baja ringan ada yang mengalami kecacatan mendapatkan ranking 12
dengan nilai RPN 18. Selanjutnya lahan pembuatan garasi yang pas-pasan
Untuk menetukan nilai tingkat deteksi (detection), dan yang keempat menentukan
Jadi jika dibandingkan dengan teori tersebut sudah sesuai karena pada
FMEA. Awal langkah penerapan FMEA sudah diisi dari tabel penilaian severity,
106
(FMEA) pada pengendalian kualitas, perusahaan dapat meminimalisir scrap, tidak
akan terjadi rework, langsung bisa mendeteksi produk cacat, dan meminimkan
produk cacat.
Jika dibandingkan dengan teori tersebut sudah ada yang sesuai dengan
tiga potential failure mode dengan nilai RPN tertinggi dan melebihi angka kritis.
Pada mode kegagalan yang terjadi tersebut pada proses produksi di proyek
mungkin. Selain itu, apabila scrap menjadi minim, artinya kegiatan rework atau
pengerjaan ulang pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung pun
berkurang atau dapat dihindari bahkan dihilangkan dan dapat langsung. Dan
hasilnya bisa terdeteksi mode kegagalan apa saja yang terjadi seperti tiga mode
kegagalan tersebut. Maka proyek tersebut juga dapat mengurangi biaya tambahan
produk tersebut masih di area internal atau sudah area eksternal. Setelah diketahui
mode kegagalannya lalu ada perhitungannya yaitu perhitungan nilai RPN. Hasil
nilai RPN ini bisa dilihat dari tabel ranking mode kegagalan yang nilainya
tertinggi hingga mode kegagalan yang memiliki nilai yang rendah, tujuannya
diketahui urutannya, ditarik yang nilainya melebihi nilai kritis yaitu melebihi
angka 100. Nilai kritis diketahui melebihi angka 100 ini karena mengacu dari
penelitian terdahulu.
107
BAB V
Pada bab ini terdapat dua sub bab yaitu kesimpulan dan saran. Pada sub
yang telah dibuat pada bab sebelumnya. Kemudian pada sub bab kedua, akan
dipaparkan mengenai saran sebagai usulan perbaikan yang diperoleh dari hasil
penelitian. Untuk itu, yang terlebih dahulu akan dijelaskan yaitu mengenai
kesimpulan.
5.1 Kesimpulan
Pada sub bab ini akan dipaparkan kesimpulan dari hasil analisis dan
Bandung yang akan dibagi menjadi tiga, sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut
108
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan dan akhirnya berdampak
pada kualitas produk dan kinerja pegawai yang dihasilkan. Terbukti dari
gesa dalam bekerja dan pegawai kurang ahli dalam bekerja. Faktor
produksi dan tidak ada instruksi kerja yang jelas. Faktor material yaitu
dan mesin yang sering macet. Dan faktor environment yaitu faktor yang
didapatkan dua mode kegagalan dengan nilai RPN yang melebihi angka
kritis 100 yaitu posisi tidak sesuai dengan RPN 175 dan pengukuran
terlalu pas dan tidak diberi space lebih dengan RPN 123. Kemudian dari
109
5.2 Saran
masukan bagi pihak proyek tersebut dalam usahanya yaitu untuk meningkatkan
produk jadi dengan tujuan agar sistem dapat terkendali dengan baik,
adanya penyimpanan dan kegagalan pada saat proses produksi akan lebih
dari faktor man, mandor proyek dapat memberikan pelatihan dan motivasi
110
yang lebih lagi kepada pegawai, memberikan pemahaman kualitas sebagai
perusahaan serta mengatur ulang jam kerja agar kelalaian pegawai karena
tergesa-gesa dan kelelahan dalam bekerja tidak terjadi kembali. Lalu untuk
baku dilakukan agar tidak ada lagi bahan baku yang tidak sesuai dengan
pada kualitas produk yang akan dihasilkan. Terakhir adalah untuk faktor
pada saat proses produksi, dampak atau akibat dari mode kegagalan
tersebut dan apa saja penyebab dari mode kegagalan tersebut. Kemudian
111
Risk Priority Number (RPN) yaitu agar proyek perumahan tersebut dapat
112
DAFTAR PUSTAKA
Bustami, Bastian, dan Nurlaela. (2013), Akuntansi Biaya (5 ed.). Jakarta: Salemba
Empat.
113
Ilham, M. N. (2012), “Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan
menggunakan Statistical Processing Control (SPC) pada PT. Bosowa
Media Grafika (Tribun Timur)”. Skripsi: Universitas Hasanuddin
Makassar.
Janah, M. (2017), Analisis Produk Cacat Dan Produk Rusak. Tugas Akhir
Program Sarjana, Institut Agama Islam Negeri Surakarta.
Mudrajad, K. (2013). Metode Kuantitatif; Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan
Ekonomi, Edisi keempat. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
YKPN.
Setyowati, dan Haryani (2016), Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis Dan Terapan
Tahun XIII No 2, Oktober 2016| 5.
Siregar, Baldric, Suripto, dan Bambang. (2013), “Akuntansi Biaya”, Edisi kedua,
Bab 2, 7, 9-11. Jakarta: Salemba Empat.
114
Sugiyono (2019), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sunardi dan Anita, P. (2015), Pengantar Bisnis (Konsep, Strategi dan Kasus).
Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service) Yamit, Z
Manajemen Kualitas Produk Dan Jasa.
Susetyo, J. W. dan Hartanto, C. (2011), Aplikasi Six Sigma dan Kaizen Sebagai
Metode Pengendalian Dan Perbaikan Kualitas Produk. Jurnal Teknologi,
Volume 4 Nomor 1, Juni 2011, 61-53.
Zulian, Y. (2010), Manajemen Kualitas Produk & Jasa. Vol. Edisi Pertama.
Yogyakarta: EKONISIA.
115