0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan130 halaman

Analisis FMEA di Grand Sharon Bandung

Skripsi ini membahas analisis kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek perumahan Grand Sharon Residence Bandung dengan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Penelitian menemukan 13 potensial kegagalan dari 6 proses produksi. Dua kegagalan dengan nilai RPN tertinggi adalah posisi pemasangan yang tidak sesuai dan pengukuran yang terlalu pas tanpa memberi ruang.

Diunggah oleh

M Khalif Winarya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan130 halaman

Analisis FMEA di Grand Sharon Bandung

Skripsi ini membahas analisis kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek perumahan Grand Sharon Residence Bandung dengan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Penelitian menemukan 13 potensial kegagalan dari 6 proses produksi. Dua kegagalan dengan nilai RPN tertinggi adalah posisi pemasangan yang tidak sesuai dan pengukuran yang terlalu pas tanpa memberi ruang.

Diunggah oleh

M Khalif Winarya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS KUALITAS PRODUK DAN KINERJA PEGAWAI DENGAN

MENGGUNAKAN METODE FMEA (FAILURE MODE EFFECT

ANALYSIS) PADA PROYEK PERUMAHAN DI GRAND SHARON

RESIDENCE BANDUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Ujian Sarjana Manajemen

Program Studi S1 Manajemen

RISKI SETIAWAN

NPM: A10160261

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) EKUITAS

BANDUNG

2020

1
ANALISIS KUALITAS PRODUK DAN KINERJA PEGAWAI DENGAN

MENGGUNAKAN METODE FMEA (FAILURE MODE EFFECT

ANALYSIS) PADA PROYEK PERUMAHAN DI GRAND SHARON

RESIDENCE BANDUNG

RISKI SETIAWAN

NPM: A10160261

Bandung, 18 Februari 2020

Pembimbing

Resi Juariah Susanto, SE., [Link]

Mengetahui,

Ketua STIE EKUITAS Ketua Program Studi


S1 Manajemen

[Link]. M. Fani Cahyandito, SE., [Link]., CSP. Dr. Iim Hilman, SE., MM.

Tanggung jawab yuridis ada pada penulis

2
PERNYATAAN

PROGRAM SARJANA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Karya tulis saya, Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk

mendapatkan gelar akademik Sarjana, baik di Sekolah Tinggi Ilmu

Ekonomi (STIE) EKUITAS maupun di Perguruan Tinggi Lainnya.

2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa

bantuan pihak lain, kecuali arahan pembimbing dan penguji.

3. Dalam karya tulis ini terdapat karya atau pendapat yang sudah ditulis atau

dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan

sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan

dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian

hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini,

maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar

yang telah diperoleh karena karya tulis ini serta sanksi lainnya sesuai

dengan norma yang berlaku di Perguruan Tinggi ini.

Bandung, 18 Februari 2020

Yang membuat pernyataan,

(Riski Setiawan)

3
ANALISIS KUALITAS PRODUK DAN KINERJA PEGAWAI DENGAN
MENGGUNAKAN METODE FMEA (FAILURE MODE EFFECT
ANALYSIS) PADA PROYEK PERUMAHAN DI GRAND SHARON
RESIDENCE BANDUNG

Ditulis Oleh:
Riski Setiawan

Pembimbing:
Resi Juariah Susanto, SE., [Link]

ABSTRAK

Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung merupakan


perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi. Tingginya tingkat produk rusak
pada proses produksi yang jumlahnya dalam setiap bulan melebihi standar yang
ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 2%. Tidak adanya SOP dan kurang
pengawasan dalam proses produksi menyebabkan terjadinya penyimpangan-
penyimpangan pada proses produksi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Failure Mode Effect
Analysis (FMEA). Penggunaan metode Failure Mode Effect Analysis. Selain itu
ada alat fishbone diagram untuk mencari faktor-faktor penyebab cacat dan kinerja
pegawai pada produk proyek perumahan di Grand Sharon Residence Bandung.
Dari hasil penelitian ini didapatkan 13 potensial failure mode dari 6 proses
yang ada. Lalu didapatkan 2 mode kegagalan dengan nilai RPN yang lebih dari
nilai kritis 100 yaitu posisi pemasangan yang tidak sesuai dengan nilai RPN 175,
dan pengukuran yang terlalu pas tidak diberi space lebih dengan nilai RPN 123.

Kata Kunci: Pengendalian Kualitas, Produk Cacat dan Kinerja Pegawai,


Failure Mode Effect Analysis (FMEA).

iii
ANALYSIS QUALITY PRODUCT AND EMPLOYEE PERFORMANCE
USING FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS (FMEA) ON HOUSING
PROJECT IN GRAND SHARON RESIDENCE BANDUNG

Written By:
Riski Setiawan

Preceptor:
Resi Juariah Susanto, SE., [Link]

ABSTRACT

The Housing Project of Grand Sharon Residence Bandung is a company


engaged in the construction sector. The high level of product damage in the
production process that exceeds the standard set by the company by 2% every
month. The absence of SOPs and lack of supervision in the production process
causes irregularities.
The method that used in this research is the Failure Mode Effect Analysis
(FMEA). In addition, there is a fishbone diagram to look for factors that cause
defects and employee performance on housing project products at Grand Sharon
Residence Bandung.
The results of this study show that there are 13 potential failure modes
from 6 existing processes. Then there are 2 failure modes with an RPN value of
more than a critical value of 100, namely the installation position that is not in
accordance with the RPN value of 175, and the measurement is too fitted, so that
not give more space with a value of RPN 123.

Keyword: Quality Control, Defective Product and Employee Performance,


Failure Mode Effect Analysis (FMEA).

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunianya, sehingga

saya sebagai penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan tepat waktu, yang

berjudul “Analisis Kualitas Produk Dan Kinerja Pegawai Dengan

Menggunakan Metode Fmea (Failure Mode Effect Analysis) Pada Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung”. Penelitian ini bertujuan

untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan Progam Studi S1

Manajemen pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) EKUITAS.

Penulis menyadari, bahwa dalam penyusunan Skripsi ini masih banyak

kekurangan. Hal ini, mengingat keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan

kemampuan yang dimiliki penulis dalam mengelola serta menyajikan Skripsi ini.

Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis

harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan Skripsi ini. Selain itu, penulis

ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

memberikan dorongan, bantuan, dan bimbingan baik secara moril maupun materil

yang sangat berarti selama penulisan Skripsi ini. Maka sudah sepantasnya pada

kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada:

1. Kedua orang tua, yakni Ibu Anikayah dan Ayah Heriyanto serta Adik

laki-laki Filla Ramadan tercinta yang selalu memberikan dorongan

kasih sayang, motivasi, pengertian, nasihat, dukungan moril maupun

materil serta doa yang tak pernah putus sehingga saya dapat

menyelesaikan penelitian Skripsi ini.

v
2. Keluarga besar Malang yang telah memberi motivasi, nasihat, dan

dukungan moril maupun materil.

3. [Link]. M. Fani Cahyandito, SE., [Link]., CSP. selaku Ketua

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas.

4. Dr. Ir. Dani Dagustani, MM selaku Wakil Ketua I Bidang Akademik

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas.

5. Dr. H. Herry Achmad Buchory, SE., MM selaku Wakil Ketua II

Bidang Administrasi Umum, Keuangan dan SDM Sekolah Tinggi Ilmu

Ekonomi (STIE) Ekuitas.

6. Dr. Sudi Rahayu, SE., MM selaku Wakil Ketua III Bidang

Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas.

7. Dr. Iim Hilman, SE., MM. selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas.

8. Ibu Mirza Hedismarlina Y, ST., MBA., QWP selaku Sekretaris

Program Studi S1 Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)

Ekuitas.

9. Ibu Sussy Susanti, [Link]., [Link]. selaku wali dosen yang memberikan

arahan dalam proses mengerjakan Skripsi.

10. Ibu Resi Juariah Susanto, SE., [Link] selaku Dosen Pembimbing Skripsi

yang telah meluangkan waktu dan pikirannya serta memberikan

pengarahan, nasihat, dan kesabarannya dalam membimbing selama

proses penyelesaian penelitian ini.

vi
11. Dosen-dosen pengajar dan seluruh karyawan Sekolah Tinggi Ilmu

Ekonomi (STIE) Ekuitas Bandung yang telah memberikan ilmu,

bimbingan dan motivasi.

12. Manager Proyek dan Mandor beserta tenaga kerja yang telah

memberikan waktu luangnya untuk memberikan informasi selama

penyelesaian penelitian ini.

13. Untuk saudariku tercinta Suswati, Lia, dan Rita yang selalu

memberikan motivasi dan semangat dalam keadaan senang ataupun

sedih dalam proses penulisan Skripsi.

14. Anggota Rajawali sebagai teman seperjuangan selama kegiatan belajar

berlangsung yang senantiasa memberikan dukungan.

15. Anggota Karang Taruna Unit 02 Karang Pamulang dan Karang Taruna

Tunas Pamulang yang senantiasa selalu memberikan dukungan dan

semangat.

16. Anggota Himpunan Mahasiswa Manajemen Periode 2017/2018 yang

selalu memberikan banyak ilmu dan dukungan selama pelaksanaan

penulisan Skripsi.

17. Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Badminton dan Voli yang

senantiasa selalu memberikan dukungan dan semangat.

18. Rekan-rekan konsentrasi Manajemen Operasi 2016. Dan rekan-rekan

S1 manajemen angkatan 2016 yang telah berjuang bersama dari awal.

19. Serta semua pihak yang terkait lainnya yang telah membantu baik

secara langsung maupun tidak langsung. Saya ucapkan terima kasih

banyak.

vii
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan

masih memerlukan banyak masukan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan

saran dan kritik yang membangun dari semua pihak untuk memperbaiki dan guna

penyempurna Skripsi ini.

Akhir kata penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang ada di

dalam Skripsi ini, semoga dapat bermanfaat baik untuk referensi ataupun pihak-

pihak yang membaca dan mempelajari.

Bandung, 18 Februari 2020

Penulis

viii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK....................................................................................................... iii

ABSTRACT...................................................................................................... iv

KATA PENGANTAR ..................................................................................... v

DAFTAR ISI ....................................................................................................ix

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xi

DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang........................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah...................................................................... 16

1.3 Maksud dan Tujuan ................................................................... 16

1.4 Kegunaan Penelitian .................................................................. 17

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ............ 22

2.1 Tinjauan Pustaka........................................................................ 22

2.1.1 Manajemen Operasi ..................................................... 22

2.1.2 Sepuluh Keputusan Operasi ......................................... 24

2.2 Kualitas ...................................................................................... 26

2.2.1 Dimensi Kualitas Produk ............................................. 29

2.3 Pengendalian Kualias ................................................................. 30

ix
2.3.1 Tujuan Pengendalian Kualitas ..................................... 31

2.3.2 Faktor-Faktor Pengendalian Kualitas ........................... 32

2.4 Pengertian Produk Cacat ............................................................ 34

2.5 Pengertian Kinerja Pegawai ....................................................... 35

2.5.1 Unsur Kinerja Pegawai ................................................ 36

2.6 Metode Perhitungan Pengendalian Kualitas ................................ 38

2.6.1 Failure Mode Effect Analysis (FMEA) ........................ 38

2.7 Kerangka Pemikiran ................................................................... 40

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN .......................................... 44

3.1 Objek Penelitian ........................................................................ 44

3.1.1 Profil Singkat .............................................................. 45

3.1.2 Struktur Organisasi ...................................................... 46

3.2 Metode Penelitian ...................................................................... 48

3.2.1 Metode Yang Digunakan ............................................. 48

3.2.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian ............................ 52

3.2.3 Teknik Pengumpulan Data .......................................... 55

3.3 Metode Analisis Data ................................................................. 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 65

4.1 Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Produk................................ 66

4.2 Faktor Penyebab Kerusakan Pada Produk .................................. 77

4.3 Implementasi Metode Failure Mode Effect Analysis .................. 84

x
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 108

5.1 Kesimpulan................................................................................ 108

5.2 Saran ......................................................................................... 110

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 113

LAMPIRAN

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Lokasi Proyek Perumahan Grand Sharon Residence .......... 18

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran .................................................................. 42

Gambar 3.1 Struktur Organisasi .................................................................... 47

Gambar 3.3 Analisis Diagram Fishbone ....................................................... 58

Gambar 4.1 Alur Pengendalian Kualitas Bahan Baku .................................... 69

Gambar 4.2 Alur Pengendalian Kualitas Proses Produksi .............................. 71

Gambar 4.3 Alur Pengendalian Kualitas Produk Jadi .................................... 75

Gambar 4.4 Fishbone Diagram Produk Cacat dan Kinerja Pegawai............... 79

Gambar 3.2 Logo Perusahaan........................................................................ 46

Gambar 4.1 Alur Pengumpulan Data di Lapangan ......................................... 57

Gambar 4.2 Fishbone Diagram Faktor Penyebab Produk Rusak ................... 60

Gambar 4.3 Tahapan Pengendalian Kualitas Produk ..................................... 68

Gambar 4.4 Tahapan Pengendalian Bahan Baku ........................................... 69

Gambar 4.5 Tahapan Pengendalian Kualitas Proses ...................................... 71

Gambar 4.6 Tahapan Pengendalian Produk Jadi ............................................ 73

Gambar 4.7 Diagram Pareto Produk Rusak ................................................... 78

Gambar 4.8 Control Chart Produk Rusak...................................................... 86

Gambar 4.9 Fishbone Diagram Penyebab Produk Rusak .............................. 88

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Data Cacat Produk ....................................................................... 6

Tabel 1.2 Kinerja Pegawai Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung

.................................................................................................. 10

Tabel 1.3 Motivasi Kerja Pegawai Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung .................................................................................... 12

Tabel 1.4 Time Schedule Penelitian ........................................................... 19

Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel........................................................... 53

Tabel 3.3 Skala Penilaian untuk Occurrence, Severity, dan Detection ........ 60

Tabel 3.4 Skala Peringkat Severity............................................................. 61

Tabel 3.5 Skala Peringkat Occurrence ....................................................... 62

Tabel 3.6 Skala Peringkat Detection .......................................................... 63

Tabel 3.7 Rancangan Tabel Perhitungan RPN ........................................... 64

Tabel 4.3 Hasil Identifikasi Potential Failure Mode .................................. 85

Tabel 4.4 Hasil Identifikasi Potential Effect of Failure .............................. 88

Tabel 4.5 Hasil Identifikasi Potential Cause of Failure ............................. 91

Tabel 4.6 Penilaian Severity ...................................................................... 94

Tabel 4.7 Penilaian Occurrence ................................................................. 97

Tabel 4.8 Penilaian Detection .................................................................... 99

Tabel 4.9 Perhitungan Nilai RPN .............................................................. 104

Tabel 4.10 RPN ........................................................................................... 105

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Keterangan Penetapan Pembimbing, Penyusunan, dan

Penulisan Skripsi

Lampiran 2 Photocopy Kartu Bimbingan

Lampiran 3 Surat Perubahan Judul

Lampiran 4 Gambar Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung

dan Proses Produksi Pembuatan Produk

Lampiran 5 Daftar Riwayat Hidup

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan menjelaskan mengenai apa saja yang melatar belakangi

penulis dalam menganalisis pengendalian kualitas menggunakan metode Failure

Mode Effect Analysis (FMEA). Lalu akan dijelaskan pula mengenai rumusan

masalah, maksud dan tujuan, kegunaan, serta dimana lokasi dan waktu penelitian

ini dilaksanakan. Maka, yang akan terlebih dahulu dijelaskan adalah latar

belakang penelitian.

1.1 Latar Belakang

Kualitas sangat penting dalam pengembangan aktivitas perusahaan sebab

pertumbuhan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kualitas produk atau jasa

yang dihasilkan. Ketidakpedulian terhadap kualitas akan menyebabkan terjadinya

kehilangan peluang menjual produk dan pangsa pasar, yang akhirnya berakibat

pada penurunan aktivitas dan pertumbuhan perusahaan. Untuk itu setiap

perusahaan harus mempunyai program jaminan kualitas yang efektif. Dengan

pengendalian kualitas yang efektif akan menghasilkan produktivitas yang tinggi,

biaya pembuatan barang keseluruhan yang lebih rendah serta faktor-faktor yang

menyebabkan kegagalan produksi akan dapat ditekan sekecil mungkin.

Pengendalian kualitas dilakukan agar dapat menghasilkan produk berupa

barang atau jasa yang sesuai dengan standar yang diinginkan dan direncanakan,

serta memperbaiki kualitas produk yang belum sesuai dengan standar yang telah

ditetapkan dan mempertahankan kualitas yang telah sesuai. Pengendalian kualitas

1
disebabkan oleh tuntutan konsumen terhadap suatu produk tidak terbatas pada

harga dan kualitas yang diberikan. Jika perusahaan tidak mampu memenuhi

standar kualitas maka akan berdampak pada biaya produksi dan akan

mengakibatkan hilangnya kesempatan perusahaan dalam mendapatkan keutungan.

Menurut Sunardi dan Primastiwi (2015:122), Pengendalian kualitas (Quality

Control) adalah proses untuk memastikan bahwa barang dan jasa yang diproduksi

sesuai dengan spesifikasi desain produk.

Dimana kualitas yang bagus dan berkualitas akan memudahkan

perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu mencapai laba yang

maksimal, untuk menghasikan produk yang memiliki kualitas terbaik diperlukan

pengendalian kualitas.

Produk cacat merupakan barang atau jasa yang dibuat dalam proses

produksi namun memiliki kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya

kurang baik atau kurang sempurna. Salah satu keinginan yang paling mendasar

adalah ketika produk tersebut diterima ditangan konsumen berada dalam keadaan

yang paling baik atau dapat dikatakan tidak terdapat kecacatan atau defect. Cacat

memiliki pengertian kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang

baik atau kurang sempurna. Produk cacat berarti barang atau jasa yang dibuat

dalam proses produksi namun memiliki kekurangan yang menyebabkan nilai atau

mutunya kurang baik atau kurang sempurna.

Produk yang cacat sangat berdampak pada pendapatan perusahaan, image

perusahaan, dan kepuasan konsumen. Semakin banyak produk yang cacat

semakin menurun pula keuntungan yang didapat oleh perusahaan, hal ini

didasarkan karena perusahaan harus mengganti bahan baku yang sudah terpakai

2
oleh produk yang cacat. Kemudian semakin banyak produk yang cacat maka

image perusahaan akan menurun, hal ini dikarenakan konsumen akan menilai

perusahaan tersebut dikatakan baik apabila menghasilkan produk yang berkualitas

baik serta memberikan kepuasan tersendiri kepada konsumen dan jika produk

yang dihasilkan kurang berkualitas dan kurang memuaskan konsumen, maka

perusahaan akan dinilai kurang baik oleh konsumen dan akan menimbulkan rasa

kurang percaya terhadap perusahaan.

Suatu produksi akan dikatakan optimal apabila barang yang di produksi

mencapai target atau sesuai sasaran perusahaan dan dalam setiap produksi yang

dihasilkan perusahaan menetapkan barang produksi yang cacat atau rusak tidak

lebih dari 2% (Janah:2017). Untuk mendapatkan produk yang memiliki kualitas

terbaik tersebut tentu saja diperlukan adanya suatu program peningkatan kualitas,

sehingga untuk menekan tingkat kerusakan dan kecacatan produk dan

mempertahankan kualitas perlu pengendalian kualitas.

Pemilihan Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung

sebagai objek penelitian karena Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence

Bandung merupakan perumahan elite yang berada di Bandung. Pada tahun 2019

menjadi salah satu proyek borongan terbesar yang akan dibangun, disisi lain

proyek borongan tersebut didukung oleh mandor sekaligus manager proyek yang

mahir dalam mengoperasikan suatu kegiatan proyek nya tersebut yang sangat

menunjang proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung agar bisa

menghasilkan kualitas produk yang baik, dengan pengawasan ketat dalam

melaksanakan tugas sesuai SOP (Standart Operation Procedur). Pelayanan yang

diberikan oleh Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung didukung

3
oleh alat-alat yang sesuai dengan standar. Proyek Perumahan Di Grand Sharon

Residence Bandung seperti saat proses pra pembuatan Perumahan Di Grand

Sharon Residence Bandung menggunakan tenaga kerja pegawai yang

berkompeten dalam menunjang suatu keberhasilan suatu proyek. Proses

pembuatan proyek diawali dengan terfokus pada tugas masing-masing seorang

pegawai proyek yang telah di arahkan oleh mandor maupun manager proyek. Saat

proses akhir Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung pegawai

sangat konsentrasi untuk pekerjaan proses akhir dengan didukung alat-alat

finishing yang berkualitas serta manager proyek dan mandor yang profesional

menjadi jaminan kualitas produk yang dihasilkan sangatlah prima dan memuaskan

kebutuhan dan keinginan pelanggan. Untuk memenuhi permintaan konsumen

dengan tepat dan mampu bersaing.

Dengan permintaan konsumen terhadap produk tinggi maka pengendalian

kualitas merupakan aspek penting untuk Proyek Perumahan Di Grand Sharon

Residence Bandung dalam mengendalikan kualitas produk. Dengan pengendalian

kualitas akan mampu meminimalisir terjadinya produk cacat dan dapat menekan

biaya yang besar sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar pada Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung.

Menurut Mahadi dkk (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis

Proyek X Dengan Menggunakan Metode FMEA “(Failure Mode and Effect

analysis)” yang pertama dan yang paling penting tugas tim FMEA adalah

mengumpulkan informasi tentang proyek atau proses secara keseluruhan dengan

cara melakukan identifikasi dan implementasi pada kegiatan dan proses secara

hati-hati melalui survei. Dengan demikian hal tersebut sesuai dengan apa yang

4
diteliti pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung, bahwa

dalam pengendalian kualitas produk cacat masih terbilang tinggi tanpa metode

khusus yang digunakan maka akan berpengaruh pada kualitas produk Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung, maka dibutuhkan pengendalian

kualitas yang tepat agar dapat meminimalisir terjadinya produk cacat pada Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung.

Menurut Nastiti (2014) kualitas suatu produk dapat memliki peranan

penting di dalam perusahaan, karena dapat memiliki simbol kepercayaan yang

bernilai di mata konsumen. Usaha yang telah dilakukan perusahaan untuk

mencapai nama baik perusahaan itu sendiri tergantung dari kualitas itu sendiri.

Tjiptono dan Sunyoto (2012) mengatakan bahwa kualitas sebuah kondisi dinamis

yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan kualitas

apabila berfungsi atau mempunyai nilai guna seperti yang diinginkan.

Pengendalian merupakan suatu control untuk mencapai tujuan perusahaan.

pengendalian tersebut yaitu bahan baku dimana persediaan bahan baku adalah

komponen dari aktivitas proses produksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan.

Menurut Ayuni, dkk (2012) menyatakan bahwa pengendalian merupakan

ketentuan apa yang harus dilaksanakan, menilai dan mengoreksi pelaksanaannya

bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana

semula.

Namun pada kenyataannya, masih terdapat masalah–masalah yang

ditemukan pada bagian produksi dalam mencapai tingkat kualitas tersebut. Hal ini

terlihat dari adanya produk–produk dengan adanya spesifikasi diluar standar

kualitas yang ditetapkan oleh Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence

5
Bandung dan dikategorikan sebagai produk cacat, memproduksi produk dalam

jumlah yang banyak maka ketelitian mandor saat memeriksa produk menjadi

berkurang dikarenakan mandor harus mengecek atau menangani satu per-satu

produk dalam jumlah yang banyak. Cacat yang terjadi misalnya hasil barang rusak

saat diterima, perbedaan jenis produk, terjadi korosi pada produk. Dari

permasalahan ini maka perusahaan harus memikirkan untuk mengurangi jumlah

produk cacat bahkan memperbaiki kualitas produk agar menjadi lebih baik dan

kualitas meningkat.

Pada tabel 1.1 akan memperlihatkan penyebab terjadinya produk cacat

pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung selama tahun 2019

dimulai dari bulan September hingga Oktober. Berikut merupakan data penyebab

produk cacat yang ada pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence

Bandung

Tabel 1.1 Data Cacat Produk 2019

JENIS CACAT KETERANGAN PERSENTASE TERCAPAI


CACAT %
Kesalahan prosedur
pengiriman oleh supplier,
Barang rusak perusahaan ingin cepat 5% 95%
saat diterima sampai sebelum waktu normal

Perbedaan jenis Tingkat kesulitan 2% 98%


produk Pengerjaan

Produk jadi maupun setenga


Korosi pada 10% 90%
jadi tidak diletakkan pada
produk
ruangan beratap
Sumber: Dokumen Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung
2019

6
Dari tabel 1.1 dapat dijelaskan bahwa Proyek Perumahan Di Grand Sharon

Residence Bandung memiliki 3 jumlah jenis cacat yaitu barang rusak saat

diterima yaitu kesalahan prosedur pengiriman oleh supplier, perusahaan ingin

cepat sampai sebelum waktu normal yang mengakibatkan kecacatan produk

sebesar 5%, perbedaan jenis produk yaitu tingkat kesulitan pengerjaan yang

mengakibatkan kecacatan produk sebesar 2%, korosi pada poduk yaitu produk

jadi maupun setengah jadi tidak diletakkan pada ruangan beratap yang

mengakibatkan kecacatan produk sebesar 10%, dari bulan September sampai

dengan bulan Oktober 2019, lalu hasil wawancara peneliti dengan manager

proyek dimana manager proyek menentukan pencapaian proyeknya yaitu sebesar

100% dari hasil yang sudah ditentukan sebelumnya agar target proyek tersebut

bisa efektif dan efisien. Setelah mengetahui jenis–jenis penyebab produk cacat

pada Proyek Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung maka perlu

dilakukan observasi lebih lanjut untuk melihat tingkat kecacatan produk agar

dapat mengetahui permasalahan yang terdapat pada Proyek Perumahan Di Grand

Sharon Residence Bandung tersebut.

Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi, kita mengetahui banyak

pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Pihak-pihak tersebut mulai dari pemimpin

proyek sampai pada tenaga kerja yang bekerja sama untuk mewujudkan

pelaksanaan proyek dengan sebaik-baiknya.

Tenaga kerja dalam pelaksanaan proyek konstruksi terdiri dari karyawan

perusahaan kontraktor dan tenaga kerja yang bukan karyawan perusahaan

perusahaan atau tenaga kerja lepas. Tenaga kerja lepas ini paling banyak

jumlahnya. Sistem yang diterapkan pada tenaga kerja lepas ini adalah sistem

7
borongan. Tenaga kerja dalam sistem ini terdiri dari mandor, tukang dan pekerja

(pembantu tukang). Sistem kerja dapat dilakukan dengan sistem pekerjaan

borongan. Tenaga kerja borongan adalah tenaga kerja yang dikoordinir oleh

mandor sebagai pimpinan kelompok. Tenaga kerja ini terdiri dari beberapa tenaga

kerja yang tidak ditentukan berapa jumlahnya. Perhitungan dan pembayaran gaji

mereka diatur oleh mandor. Sistem pekerjaan borongan mempunyai keuntungan

yaitu, 1. Kecepatan pekerjaan dapat ditentukan secara optimal pada saat

pekerjaan, 2. Perhitungan anggaran biaya untuk upah tenaga kerja secara optimal,

3. Peralatan praktis seperti cangkul dan palu disediakan sendiri oleh tukang, 4.

Pengadaan tenaga kerja, tukang atau pekerja menjadi tanggung jawab mandor.

Tenaga kerja lepas (mandor, tukang dan pekerja) merupakan baris

terdepan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Pencapaian hasil

akhir suatu proyek konstruksi tergantung dari tenaga kerja yang digunakan dalam

proyek konstruksi tersebut. Jika mereka memiliki tenaga kerja yang memiliki

kualitas dan produktivitas yang tinggi, maka proyek konstruksi tersebut akan

terlaksana dengan kualitas yang baik dan dalam waktu yang sesuai dengan

rencana pelaksanaannya.

Produktivitas tenaga kerja dalam dunia konstruksi adalah kemampuan

pekerja atau tukang menyelesaikan pekerjaannya dalam satu satuan waktu

(unit/hari). Untuk mendapatkan produktivitas pekerja ini kita perlu mengetahui

organisasi pekerja di lapangan yaitu berapa banyak pekerja yang digunakan dalam

menyelesaikan satu item pekerjannya dan berapa kemampuan pekerja

menyelesaikan pekerjaannya itu dalam satu satuan waktu.

8
Produktivitas tenaga kerja yang baik sangat diperlukan untuk keberhasilan

proyek konstruksi. Produktivitas tenaga kerja sangat berpengaruh juga terhadap

besarnya keuntungan atau kerugian suatu proyek. Dalam pelaksanaan dilapangan

hal tersebut terkadang bisa terjadi dikarenakan tenaga kerja yang kurang efektif

didalam pekerjaannya. Contoh tindakan yang menyebabkan pekerjaan yang

kurang efektif tersebut antara lain menganggur, ngobrol, makan, merokok,

istirahat yang semuaya dilakukan pada saat jam kerja.

Dalam suatu proyek konstruksi, salah satu hal yang menjadi faktor

penentu keberhasilan dalam suatu proyek konstruksi adalah kinerja tenaga kerja

yang akan mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Karena tenaga kerja

merupakan salah satu bagian besar dari biaya konstruksi dan jumlah tenaga kerja

untuk menjalankan suatu pekerjaan dalam konstruksi lebih rentan terhadap

pengaruh manajemen dari material atau modal, maka ukuran produktivitas ini

sering disebut sebagai produktivitas tenaga kerja. Terdapat pula faktor-faktor yang

mempengaruhi produktivitas tenaga kerja tersebut seperti: upah, pengalaman

kerja, pendidikan, jumlah pekerja, usia pekerja, dan banyak lagi. Produktivitas

tenaga kerja berhubungan dengan unit-unit produksi, misalnya meter kubik atau

meter persegi per jam tenaga kerja.

Kualitas pelatihan memberikan peranan penting terhadap kemajuan

kemampuan para karyawan yang akan dikembangkan serta dapat memberikan

semangat serta membina karyawan agar mampu untuk bekerja mandiri juga dapat

menumbuhkan kepercayaan diri karyawan sehingga prestasi kerjanya semakin

meningkat. Selain program pelatihan yang dilaksanakan, terdapat faktor lain yang

dapat mempengaruhi serta mendukung prestasi kerja karyawan di dalam

9
perusahaan, yaitu faktor motivasi kerja. Motivasi seseorang dapat berpengaruh

terhadap kualitas kerja karyawan, dimana motivasi kerja merupakan dorongan

dari dalam diri pegawai untuk mencapai suatu tujuan. Seorang pegawai akan

melakukan tugasnya dengan baik jika ada dorongan dari dalam dirinya. Pegawai

yang berprestasi akan mempengaruhi tingkat motivasi pegawai, hal tersebut bisa

menjadi dorongan agar pegawai bisa bekerja lebih baik dan bisa meningkatkan

kinerja dan mempunyai rasa tanggung jawab atas pekerjaannya. Kinerja pegawai

yang sedang mengalami peningkatan atau mengalami penurunan terlihat dari

catatan yang tercermin melalui suatu pergerakan pelatihan yang merupakan nilai

yang digunakan untuk mengukur kinerja pegawai di Proyek Perumahan Di Grand

Sharon Residence Bandung. Berdasarkan penjelasan di atas tersebut agar lebih

jelasnya maka dapat dilihat data kinerja pegawai yang di peroleh dari Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung pada tabel 1.2

Tabel 1.2
Kinerja Pegawai Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung .
(dalam %)

No Indikator Kinerja Target Proyek Tercapai Kriteria


Pegawai

1 Kuantitas hasil 100 90 Baik


kerja

2 Kualitas hasil kerja 100 92 Sangat baik

Efesiensi dalam 100 80 Baik


3
melaksanakan tugas

4 Inisiatif 100 85 Baik


5 Ketelitian 100 72 Kurang baik
6 Kejujuran 100 70 Kurang baik
7 Kreatifitas 100 88 Baik
Sumber : Data Kinerja Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung
2019

10
Keterangan : 91% - 100% = Sangat Baik (SB)

81% - 90% = Baik (B)

71% - 80% = Kurang Baik (KB)

Berdasarkan tabel 1.2 dapat dilihat keseluruhan indikator kinerja kerja

pegawai belum mencapai target proyek, dalam tabel tersebut terdapat dua

indikator yang tingkat pencapaian masih rendah yaitu ketelitian mencapai 72%

dan kejujuran mencapai 70% dimana tingkat pencapaian tersebut dikategorikan

kurang baik. Hal ini terjadi karena pelatihan yang kurang bagus serta motivasi

kerja pegawai rendah yang diberikan oleh pimpinan instansi. Adapun masalah

kinerja terdapat contoh permasalahan yaitu perilaku kerja pegawai dalam

mengerjakan tugas kurang baik, sehingga ketelitian yang kurang baik dapat dilihat

dari masih seringnya terjadi kesalahan dalam mengelola data sehingga banyak

koreksi-koreksi dari atasan. Selain itu masalah lain yang terjadi kurangnya

kejujuran dari pegawai dalam mengerjakan tugas, dapat dilihat dari adanya

pegawai masih harus selalu diperintah atasan dalam melaksanakan tugasnya, lalu

hasil wawancara peneliti dengan manager proyek dimana manager proyek

menentukan pencapaian proyeknya yaitu sebesar 100% dari hasil yang sudah

ditentukan sebelumnya agar target proyek tersebut bisa efektif dan kriteria hasil

dari proyeknya pun sudah ditentukan oleh manager proyek dari hasil wawancara

peneliti dengan manager proyek.

Mengingat begitu pentingnya kinerja pegawai dalam mendukung kegiatan

operasionalnya, maka mandor sekaligus manager proyek dituntut untuk

meningkatkan kinerja pegawainya. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk

meningkatkan kinerja pegawai mulai dari pemberian kompensasi, memberikan

11
pujian, memberikan motivasi, hingga penghargaan bagi prestasi kerja yang

dicapai. Namun demikian, kinerja pegawai tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-

faktor tersebut, akan tetapi secara pelatihan yang akan mempengaruhi kinerja

lebih baik.

Selain masalah kualitas kinerja pegawai, masalah lain yang terlihat di

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dalam meningkatkan kinerja

pegawai yaitu dalam pemberian motivasi. Motivasi penting di berikan kepada

pegawai karena akan membangkitkan semangat untuk bekerja dan menghasilkan

kinerja yang tinggi. Berdasarkan penjelasan tersebut agar lebih jelasnya maka

dapat dilihat data motivasi kinerja pegawai yang di peroleh dari Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung pada tabel 1.3

Tabel 1.3
Motivasi Kerja Pegawai Perumahan Grand Sharon Residence Bandung.
(dalam %)

No Indikator Target Perusahaan Tercapai Kriteria


Motivasi Kerja

1 Target kerja 100 89 Baik

2 Kualitas kerja 100 92 Sangat baik

3 Tanggung jawab 100 76 Kurang baik

4 Resiko 100 84 Baik

5 Komunikasi 100 88 Baik

6 Persahabatan 100 82 Baik

7 Pemimpin 100 90 Baik

8 Teladan 100 79 Kurang baik

Sumber : Data Motivasi Kerja Pegawai Perumahan Grand Sharon Residence


Bandung 2019

12
Keterangan : 91% - 100% = Sangat Baik (SB)

81% - 90% = Baik (B)

71% - 80% = Kurang Baik (KB)

Dari tabel 1.3 menunjukkan hasil penelitian awal mengenai faktor

penyebab penurunan motivasi kerja pegawai. Sebuah masalah motivasi kerja

terdapat pada tanggung jawab yang memiliki rata-rata 76% yang masih rendah

belum memenuhi target perusahaan dengan skor 100%. Karena masalah lain yang

terjadi di dalam tanggung jawab masih adanya pegawai yang malas kerja, ini

dilihat dari masih adanya pegawai yang lebih berleha-leha, kinerja yang menurun,

semangat dan energi menjadi hilang serta pengambilan keputusan jelek dilihat

dari indikator permasalahan yang muncul yaitu keteladanan sebesar 79%

menimbulkan motivasi kerja pegawai kurang optimal secara teladan adalah

pegawai kurang bertangung jawab dalam mengerjakan tugas, keteladanan yang

kurang dapat dilihat dari masih seringnya terjadi kesalahan dan kecerobohan

dalam bekerja sehingga dapat ditegur oleh mandor. Lalu hasil wawancara peneliti

dengan manager proyek dimana manager proyek menentukan pencapaian

proyeknya yaitu sebesar 100% dari hasil yang sudah ditentukan sebelumnya agar

target proyek tersebut bisa efektif dan kriteria hasil dari proyeknya pun sudah

ditentukan oleh manager proyek dari hasil wawancara peneliti dengan manager

proyek. Motivasi dikatakan berhasil apabila hasil pelatihan sesuai dengan

kenyataan yang ada dalam proyek, Hasil tersebut menunjukan tingkat motivasi

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung masih ada beberapa yang belum

optimal.

13
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dapat dikatakan bahwa kualitas

pelatihan dan motivasi kerja secara bersama-sama dapat mempengaruhi kinerja

pegawai pada suatu lembaga atau proyek. Bila suatu proyek menghendaki kinerja

dari pegawainya, mau tidak mau proyek itu harus memberi perhatian pada

masalah kinerja dan kualitas pelatihan pegawainya, namun juga harus

memperhatikan motivasi kerja. Untuk itulah, kiranya perlu dirumuskan secara

rinci dan terpadu usaha-usaha yang harus dilakukan untuk melaksanakan

pembinaan para pegawai proyek, melalui penerapan aspek kualitas pelatihan dan

motivasi kerja yang objektif diharapkan akan dapat mempengaruhi kinerja

pegawai pada lingkungan proyek tersebut. Maka penulis dapat menyimpulkan

bahwa permasalahan–permasalahan tersebut memperlihatkan bahwa masih

diperlukan adanya upaya untuk mencapai peningkatan kinerja pegawai yang

antara lain dipengaruhi oleh kualitas pelatihan dan motivasi kerja pada pegawai

yang kinerjanya kurang optimal. Penting di berikan kepada pegawai karena akan

membangkitkan semangat untuk bekerja dan menghasilkan kinerja yang tinggi.

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai

pengaruh faktor-faktor produktivitas terhadap produktivitas itu sendiri. Dengan

melakukan perbandingan antara produktivitas dengan faktor produktivitas pada

pekerja borongan yang dimana dapat mempengaruhi produktivitas kerja suatu

pembangunan konstruksi. Nilai produktivitas tenaga kerja ini didapatkan dengan

melakukan survey langsung kebeberapa proyek. Dengan data-data yang didapat

dari beberapa survey ini nantinya dapat memperlihatkan kondisi sebenarnya

tentang produktivitas tenaga kerja di lapangan.

14
Setiap proses produksi umumnya memiliki peluang untuk terjadinya

kegagalan dalam proses produksi salah satu cara yang dapat dilakukan adalah

dengan melakukan pendekatan FMEA (Failure Mode Effect Analysis) untuk

mengelola proses dalam sistem produksi agar lebih efektif dan efisien. Salah

satu alat yang dipakai dalam manajemen kualitas terpadu yang akan

menjamin kualitas hasil produksi yaitu FMEA (Failure Mode Effect Analysis).

FMEA digunakan sebagai konsep untuk mencegah kegagalan yang potensial

terjadi pada saat proses produksi. Metode yang dipakai dengan melakukan

standarisasi proses untuk menghasilkan yang sesuai dengan keinginan konsumen.

Konsep FMEA (Failure Mode Effect Analysis) mengevaluasi kemungkinan

terjadinya sebuah kegagalan dari sebuah sistem, desain, proses atau servis untuk

dibuat langkah penanganannya menurut Yumaida (2011). Oleh karena itu

dibutuhkan metode yang dapat mengurangi kegagalan yang terjadi pada Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung. Metode yang digunakan untuk

mengurangi kegagalan dan meningkatkan kualitas produksi pada Proyek

Perumahan Di Grand Sharon Residence Bandung adalah metode Failure Mode

and Effect Analysis (FMEA).

Kualitas dalam proyek merupakan bagian yang paling penting dari sebuah

perencanaan proyek, yaitu untuk menentukan kapan sebuah proyek dilaksanakan

berdasarkan urutan tertentu dari awal sampai akhir proyek. Jadi kualitas dalam

proyek meliputi kegiatan menetapkan jangka waktu kegiatan proyek yang harus

diselesaikan dan waktu yang dibutuhkan oleh setiap aktifitas dalam proyek.

15
Berdasarkan uraian mengenai pentingnya mengetahui sejauh mana

pengendalian kualitas produk cacat dan kinerja pegawai dalam melaksanakan

suatu proyeknya dengan efektif maupun efesien. Dalam penelitian ini tertarik

melakukan penelitian di Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dengan

judul “Analisis Kualitas Produk Dan Kinerja Pegawai Dengan Menggunakan

Metode FMEA (Failure Mode Effect Analysis) Pada Proyek Perumahan Di

Grand Sharon Residence Bandung”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya, maka

rumusan masalah yang diajukan penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pengendalian kualitas produk dan kinerja

pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung?

2. Apa penyebab faktor-faktor produksi dan produktivitas kinerja

pegawai kurang berkualitas pada proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung?

3. Bagaimana penerapan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

dalam mengatasi permasalahan produk cacat dan kinerja pegawai pada

proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan

informasi yang berhubungan dengan rumusan masalah, sedangkan tujuan yang

ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

16
1. Untuk mengetahui pelaksanaan pengendalian kualitas produk dan

kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung

2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya kualitas produksi

dan produktivitas kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung

3. Untuk mengetahui penerapan metode Failure Mode Effect Analysis

(FMEA) dalam mengatasi permasalahan produk cacat dan kinerja

pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung

1.4 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan maksud dan tujuan dalam penelitian ini, maka penelitian ini

dapat memberikan kegunaan dalam Operasional maupun pengembangan ilmu

pengetahuan.

1. Kegunaan Operasional

Sebagai bahan pertimbangan bagi Proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung agar dapat meminimalisir terjadinya kegagalan

produk dan kinerja pegawai maka perlu adanya pengendalian kualitas

dengan metode FMEA (Failure Mode Effect Analysis).

2. Kegunaan Pengembangan Ilmu

Diharapkan bahan dapat menambah wawasan mengenai kualitas yang

ada di proyek proyek agar proyek proyek tersebut dapat

mengembangkan ilmu mengenai FMEA (Failure Mode Effect

Analysis) dan memperdalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teori.

17
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Melakukan penelitian di Proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung Jl. Sharon Boulevard Raya, Cipamokolan, Kec. Rancasari, Kota

Bandung, Jawa Barat 40292. Sedangkan Waktu penelitian terhitung dari bulan

September 2019 sampai dengan selesai.

Gambar 1.1 Peta lokasi penelitian


Sumber:[Link]

nce/@6.9503948,107.6686677,17z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e68c29c2ecd

59a5:0xf27f987422012a50!8m2!3d-6.9503948!4d107.6708564 Diunduh pada

tanggal 9 Oktober 2019.

18
Tabel 1.4 Time Schedule Penelitian

September Oktober November Desember


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Identifikasi
1
Masalah
2 Wawancara
3 Observasi
Pengumpulan
4
Data Sekunder
Penetapan
Rumusan
5
Masalah dan
Tujuan
Pengelolaan
6
Data
7 Proses Analisis
Penulisan
8 Pustaka Yang
Selaras
Penulisan
9 Kesimpulan
dan Saran
Penulisan
10 Laporan
Penelitian

Tabel 1.4 menunjukan Time Schedule peneliti melakukan hasil penelitian

selama empat bulan, penelitian dimulai pada bulan September sampai dengan

bulan Oktober 2019. Proses penelitan ini diawali dengan identifikasi masalah

pada perusahaan yang dilakukan pada minggu pertama pada bulan September

dalam mengindentifikasi masalah ini peneliti mencoba melakukan pendekatan

kepada pemborong sekaligus manager proyek pada Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung untuk mendapatkan sebuah informasi mengenai suatu

masalah yang terdapat pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung. Setelah mengetahui masalah yang dihadapi proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung kemudian melakukan wawancara yang dilakukan

19
pada minggu kedua sampai minggu ketiga pada bulan September peneliti

menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan mengenai masalah tersebut

seperti apa masalah yang terjadi, bagaimana masalah tersebut bisa terjadi, kenapa

masalah tersebut bisa terjadi. Setelah melakukan wawancara langkah selanjutnya

yang dilakukan peneliti yaitu dengan observasi langsung pada proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung, observasi ini dilakukan untuk mengetahui

proses kegiatan serta dapat mengamati secara langsung proses kegiatan

operasionalnya yang dilakukan pada pada minggu keempat bulan September

sampai minggu pertama bulan Oktober.

Langkah selanjutnya setelah peneliti mendapat informasi mengenai

masalah-masalah yang dihadapi proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung, melakukan pengumpulan data sekunder, meminta data yang berkaitan

dengan penelitian yang akan dibuat dan yang akan dilakukan pada minggu

keempat bulan September sampai minggu pertama bulan Oktober. Apabila semua

data-data yang diperlukan sudah terkumpul peneliti melakukan langkah

selanjutnya yaitu penetapan rumusan masalah serta penetapan tujuan, hal ini

dilakukan untuk menunjang keberhasilan peneliti dalam melakukan sebuah

penelitian penetapan perumusan masalah dan tujuan dilakukan pada minggu

pertama bulan Oktober.

Pada minggu kedua bulan Oktober melakukan proses pengelolaan data

yang di dapat dari proyek tersebut. Langkah selanjutnya peneliti melakukan

proses analisis yang diambil dari hasil perhitungan data yang di dapat peneliti.

Jika proses analisis telah dilakukan sampai dengan bulan November minggu

pertama.

20
Langkah selanjutnya peneliti melakukan penulisan pustaka yang selaras

pada bulan November minggu kedua sampai dengan bulan November minggu

keempat, lalu pada bulan Desember minggu pertama peneliti melakukan penulisan

kesimpulan dan saran setelah apa yang diteliti pada Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung mengenai produk cacat maupun kinerja pegawai dan

juga peneliti pada bulan Desember minggu pertama melakukan penulisan laporan

penelitian agar hasil penelitian dapat dibaca oleh orang lain, mudah dipahami,

serta dapat dijadikan sebagai alat dokumentasi untuk pengujian dan

pengembangan penelitian lebih lanjut.

21
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

Menurut Sugiyono (2019) kajian pustaka adalah suatu kegiatan penelitian

yang bertujuan melakukan kajian secara sungguh-sungguh tentang teori-teori dan

konsep-konsep yang berkaitan dengan topik yang akan diteliti.

2.1.1 Konsep Manajemen Operasi

Manajemen operasi merupakan salah satu fungsi bisnis yang berperan

penting didalam suatu perusahaan yang berfungsi untuk menerapkan keputusan-

keputusan dalam upaya pengaturan dan mengkoordinasi pengguna sumber daya

manusia, sumber daya alat, dan sumber daya dana serta bahan, secara efektif dan

efisien. Menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa

yang dikenal sebagai manajemen produksi atau manajemen operasional.

Sedangkan dalam konsep tradisional, operasi didefinisikan sebagai proses

transformasi dimana input (seperti material, mesin, pekerja, manajer, dan modal)

ditranformasikan menjadi output (barang dan jasa). Persyaratan dan feedback dari

pelanggan digunakan untuk menyesuaikan faktor dalam proses transformasi.

Menurut Heizer dan Render (2017:3), manajemen operasi adalah

serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa

dengan mengubah input menjadi output.

22
Menurut Tampubolon (2014:14), Manajemen operasional didefinisikan

sebagai manajemen proses konversi, dengan bantuan fasilitas seperti: tanah,

tenaga kerja, modal dan manajemen masukan (input) yang diubah menjadi

keluaran yang diinginkan berupa barang atau jasa atau layanan.

Sedangkan menurut Haming dan Nurnajamuddin (2012:15) manajemen

operasi diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan,

pengkoordinasian, penggerakan dan, pengendalian aktivitas organisasi atau

perusahaan bisnis atau jasa yang berhubungan dengan proses pengolahan

masukan menjadi keluaran dengan nilai tambah yang lebih besar.

Menurut Assauri (2018:19), Manajemen produksi dan operasi merupakan

kegiatan untuk mengatur dan mengkoordinasi penggunaan sumber-sumber daya

yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alat dan sumber daya dana serta

bahan, secara efektif dan efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan

(utility) suatu barang dan jasa.

Berdasarkan uraian pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa

manajemen operasi adalah ilmu yang mempelajari serangkaian proses akifitas

proses tranformasi dimana input menjadi output, yang akan menghasilkan nilai

yang lebih tinggi terhadap suatu barang dan jasa dengan menggunakan sumber

daya yang terbatas secara efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan

konsumen.

23
2.1.2 Sepuluh Keputusan Manajemen Operasi

Terdapat sepuluh keputusan strategis yang dikemukakan Heizer dan

Render (2017:40) diferensiasi, biaya rendah, dan respon yang cepat dan dapat

dicapai saat manajer membuat keputusan efektif dalam sepuluh wilayah

manajemen operasi, keputusan ini dikenal sebagai keputusan operasi (Operation

decisions), berikut sepuluh keputusan manajemen operasi yang mendukung misi

dan menerapkan strategi:

1. Perancangan Produk dan Jasa

Perancangan barang dan jasa menetapkan sebagian besar proses

transformasi yang akan dilakukan. Keputusan biaya, kualitas dan

sumber daya manusia bergantung pada keputusan perancangan.

Merancang biasanya menetapkan batasan biaya terendah dan kualitas

tertinggi.

2. Pengelolaan Kualitas

Pengelolaan kualitas merupakan sebuah keputusan tentang harapan

kualitas dari pelanggan, kebijakan serta prosedur untuk mencapai

mutu. kualitas sangatlah penting karena berkaitan dengan

kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan atau organisasi itu

sendiri. Ekspektasi pelanggan terhadap kualitas harus ditetapkan,

peraturan dan prosedur dibakukan untuk mengidentifikasi serta

mencapai standar kualitas tersebut.

3. Perancangan Proses dan Kapasitas

Pilihan-pilihan proses tersedia untuk barang atau jasa. Keputusan

proses yang diambil membuat manajemen mengambil komitmen

24
dalam hal teknologi, kualitas, penggunaan sumber daya manusia dan

pemeliharaan yang spesifik. Komitmen pengeluaran dan modal ini

akan menentukan struktur biaya dasar suatu perusahaan.

4. Strategi Lokasi

Keputusan lokasi organisasi manufaktur dan jasa menentukan

kesuksesan perusahaan. Kesalahan yang dibuat pada langkah ini dapat

mempengaruhi efisiensi.

5. Strategi Tata Letak

Aliran bahan baku, kapasitas yang dibutuhkan, tingkat karyawan,

keputusan teknologi dan kebutuhan persediaan mempengaruhi tata

letak.

6. Sumber Daya Manusia dan Rancangan Pekerjaan

Manusia merupakan bagian yang integral dan mahal dari keseluruhan

rancang sistem. Karenanya, kualitas lingkungan kerja diberikan, bakat

dan keahlian yang dibutuhan, dan upah yang harus ditentukan dengan

jelas.

7. Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)

Keputusan ini menjelaskan apa yang harus dibuat dan apa yang harus

dibeli. Pertimbangan terletak pada kualitas, pengiriman, dan inovasi

semuanya harus pada tingkat yang memuaskan. Kepercayaan antara

pembeli dan penjual sangat dibutuhkan untuk proses pembelian yang

efektif.

25
8. Persediaan

Keputusan persediaan dapat dioptimalkan hanya jika kepuasan

pelanggan, pemasok, perencanaan produksi dan sumber daya manusia

dipertimbangkan.

9. Penjadwalan

Jadwal produksi yang dapat dikerjakan dan efisien harus

dikembangkan. Permintaan sumber daya manusia dan fasilitas harus

terlebih dahulu ditetapkan dan dikendalikan.

10. Perawatan (Maintenance)

Keputusan harus dibuat pada tingkat kehandalan dan stabilitas yang

diinginkan. Sistem harus menjaga kehandalan dan stabilitas.

2.2 Pengertian Kualitas

Kualitas yang baik adalah kualitas yang mendekati sempurna sesuai yang

diinginkan pelanggan. Kualitas berusaha untuk menekan produk yang gagal dan

menekan juga pada kinerja pegawai, menjaga agar produk dan kinerja pegawai

yang dihasilkan memenuhi standar kualitas dari suatu proyek dan menghindari

produk yang gagal maupun kinerja pegawai dibawah standar yang nantinya

diterima konsumen.

Menurut American Society for Quality dalam Heizer dan Render

(2017:244), definisi kualitas adalah keseluruhan fitur dan karakteristik produk

atau jasa mengandalkan pada kemampuannya unutk memuaskan kebutuhan yang

dijanjikan dan tersirat. Kualitas produk merupakan hal penting yang harus

26
diusahakan oleh setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing

dipasar untuk memuaskan kebutuhan dan keininan konsumen.

Sedangkan menurut Goeth dan Davis yang dikutip Tjiptono (2012:51)

bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan

produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi

harapan. Sebaliknya, definisi kualitas yang bervariasi dari yang kontroversional

hingga kepada yang lebih strategik.

Menurut Baldric Siregar, dkk (2013: 285) Kualitas (Quality) dapat

diartikan berbeda antara satu orang dan orang lain. Biasanya kualitas dapat dilihat

dari dua faktor utama berikut ini:

1. Memuaskan harapan konsumen yang berkaitan dengan atribut-atribut

harapan konsumen.

2. Memastikan seberapa baik produk dapat memenuhi aspek-aspek teknis

dan desain produk tersebut, kesesuaian kinerja dengan standar yang

diharapkan, dan kesesuaian dengan standar pembuatnya.

Sunyoto (2012) menyatakan bahwa kualitas merupakan suatu ukuran

untuk menilai bahwa suatu barang atau jasa telah mempunyai nilai guna seperti

yang dikehendaki atau dengan kata lain suatu barang atau jasa dianggap telah

memiliki kualitas apabila berfungsi atau mempunyai nilai guna seperti yang

diinginkan. Kualitas merupakan harapan konsumen sehingga upaya meningkatkan

kualitas (improving quality) merupakan kewajiban produsen. Oleh karena itu,

peningkatan salah satu atau lebih dari dimensi kualitas merupakan upaya

peningkatan kualitas. Penyediaan produk dengan kualitas yang lebih tinggi akan

menghasilkan keunggulan perusahaan.

27
Dengan kata lain, meskipun menurut produsennya barang yang

dihasilkannya sudah melalui prosedur kerja yang cukup baik, namun jika tetap

belum mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh konsumen, maka

kualitas barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen tersebut tetap dinilai

sebagai suatu yang memiliki kualitas yang rendah. Disamping harus mampu

memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh konsumen, baik buruknya kualitas

barang yang dihasilkan juga dapat dilihat dari konsistensi keterpenuhan harapan

dan kebutuhan masyarakat. Pernyataan ini menegaskan kualitas tersebut

hendaknya dinilai secara periodik dan berkesinambungan sehingga terlihat

konsistensi keterpenuhan di atas standar.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas adalah

unsur yang saling berhubungan mengenai mutu yang dapat mempengaruhi kinerja

dalam memenuhi harapan pelanggan. Kualitas tidak hanya menekankan pada hasil

akhir, yaitu produk dan jasa tetapi menyangkut kualitas manusia, kualitas proses,

dan kualitas lingkungan. Dalam menghasilkan suatu produk dan jasa yang

berkualitas melalui manusia dan proses yang berkualitas.

Kualitas dipengaruhi oleh faktor yang akan menentukan bahwa suatu

barang dapat memenuhi tujuannya. Faktor yang mempengaruhi yaitu:

a. Fungsi Suatu Barang

Kualitas yang hendak dicapai sesuai dengan fungsi untuk apa barang

tersebut digunakan atau dibutuhkan tercermin pada spesifikasi dari

barang tersebut seperti tahan lamanya, kegunaannya, berat, bunyi,

mudah atau tidaknya perawatan dan kepercayaannya.

28
b. Wujud Luar

Salah satu faktor yang penting dan sering dipergunakan oleh

konsumen dalam melihat suatu barang pertama kalinya, untuk

menentukan kualitas barang tersebut, adalah wujud luar barang itu.

Faktor wujud luar yang terdapat pada suatu barang tidak hanya terlihat

dari bentuk, tetapi juga dari warna, susunan dan hal-hal lainnya.

c. Biaya Barang Tersebut

Umumnya biaya dan harga suatu barang akan menentukan kualitas

barang tersebut. Hal ini terlihat dari barang-barang yang mempunyai

biaya atau harga yang mahal, dapat menunujukan bahwa kualitas

barang tersebut relatif lebih baik.

2.2.1 Dimensi Kualitas Produk

Harapan konsumen atas produk atau jasa tentu saja berbeda satu konsumen

dan konsumen lainnya. Menurut Baldric, Siregar, dkk (2013:286) Harapan

konsumen ini dapat dilihat dari beberapa dimensi yang mewakili kualitas seperti

berikut ini:

1. Kinerja (Performance)

Kinerja adalah tingkat konsistensi dan seberapa baik produk dapat

berfungsi. Kinerja jasa berarti tingkat keberadaan layanan pada saat

diminta konsumen.

2. Estetika (Aesthetic)

Estetika adalah tingkat keindahan penampilan produk (seperti

kecantikan dan gaya) dan penampilan dari fasilitas, perlengkapan,

personel dan materi komunikasi untuk jasa.

29
3. Kemampuan Servis (Service Ability)

Kemampuan servis adalah ukuran yang menunjukkan mudah tidaknya

suatu produk dirawat atau diperbaiki setelah ditangan konsumen.

4. Fitur (Features)

Fitur adalah karakteristik produk yang membedakan secara fungsional

dengan produk yang mirip atau sejenis.

5. Keandalan (Reliability)

Keandalan adalah kemungkinan atau peluang produk atau jasa dapat

bekerja sesuai yang dispesifikasikan dalam jangka waktu yang

ditentukan.

6. Keawetan (Durability)

Keawetan adalah lama produk dapat berfungsi atau digunakan.

7. Kualitas Kesesuaian (Quality Of Conformance)

Kualitas kesesuaian adalah tingkat kesesuaian produk dengan

spesifikasi kualitas yang ditentukan pada desainnya.

8. Kesesuaian Dalam Penggunaan (Fitness Of Use)

Kesesuaian dalam penggunaan adalah kecocokan produk untuk

menghadirkan fungsi seperti yang diiklankan.

2.3 Pengertian Pengendalian Kualitas

Menurut Sunardi dan Primastiwi (2015:122), Pengendalian mutu/kualitas

(Quality Control) adalah proses untuk memastikan bahwa barang dan jasa yang

diproduksi sesuai dengan spesifikasi desain produk. Sedangkan menurut Sofjan

Assauri (2018:210) pengertian pengendalian kualitas ”pengawasan mutu

30
merupakan usaha untuk mempertahankan mutu atau kualitas dari barang

dihasilkan, agar sesuai spesifikasi produk yang telah ditetapkan berdasarkan

kebijakan pimpinan perusahaan”.

Menurut Bakhtiar, dkk (2013) pengendalian kualitas dapat diartikan

sebagai “kegiatan yang dilakukan untuk memantau aktivitas dan memastikan

kinerja sebenarnya”. Menurut Rusdiana (2014:221), pengendalian kualitas adalah

teknik dan aktivitas operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan

kualitas.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengendalian kualitas adalah

pengendalian kualitas yang dapat diartikan sebagai aktivitas atau tindakan yang

terencana yang dilakukan untuk mencapai, mempertahankan dan meningkatkan

kualitas suatu produk dan jasa agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

2.3.1 Tujuan Pengendalian Kualitas

Tujuan dari pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri (2018:210)

adalah:

1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang telah

ditetapkan.

2. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.

3. Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses dengan

menggunakan kualitas produksi tertentu dapat menjadi sekecil

mungkin.

4. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.

31
Dengan demikian, tujuan utama pengendalian kualitas adalah untuk

mendapatkan jaminan bahwa kualitas produk atau jasa yang dihasilkan sesuai

dengan standar kualitas yang telah ditetapkan dengan mengeluarkan biaya yang

ekonomis atau serendah mungkin.

2.3.2 Faktor-Faktor Pengendalian Kualitas

Menurut Sofjan Assauri (2018:302), faktor-faktor yang mempengaruhi

pengendalian kualitas adalah:

1. Kemampuan Proses

Batas-batas yang ingin dicapai haruslah disesuaikan dengan

kemampuan proses yang ada. Tidak ada gunanya mengendalikan suatu

proses dalam batas-batas yang melebihi kemampuan atau kesanggupan

proses yang ada.

2. Spesifikasi Yang Berlaku

Spesifikasi hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku, bila

ditinjau dari segi kemampuan proses dan keinginan atau kebutuhan

konsumen yang ingin dicapai dari hasil produksi tersebut. Dalam hal

ini haruslah dapat dipastikan dahulu apakah spesifikasi tersebut dapat

berlaku dari kedua segi yang telah disebutkan di atas sebelum

pengendalian kualitas pada proses dapat dimulai.

3. Tingkat Ketidaksesuaian Yang Dapat Diterima

Tujuan dilakukan pengendalian suatu proses adalah dapat mengurangi

produk yang berada di bawah standar seminimal mungkin. Tingkat

pengendalian yang diberlakukan tergantung pada banyaknya produk

yang berada di bawah standar yang dapat diterima.

32
4. Biaya Kualitas

Biaya kualitas sangat mempengaruhi tingkat pengendalian kualitas

dalam menghasilkan produk dimana biaya kualitas mempunyai

hubungan yang positif dengan terciptanya produk yang berkualitas.

Apabila ingin menghasilkan produk yang berkualitas tinggi maka

dibutuhkan biaya kualitas yang relatif lebih besar. Adapun biaya

tersebut antara lain:

a. Biaya Pencegahan (Prevention Cost)

Biaya ini merupakan biaya yang terjadi untuk mencegah

terjadinya kerusakan produk yang dihasilkan. Biaya ini

meliputi biaya yang berhubungan dengan perancangan dan

pemeliharaan sistem kualitas.

b. Biaya Deteksi/ Penilaian (Detection/ Appraisal Cost)

Biaya yang timbul untuk menentukan apakah produk atau jasa

yang dihasilkan telah sesuai dengan persyaratan-persyaratan

kualitas sehingga dapat menghindari kesalahan dan kerusakan

sepanjang proses produksi.

c. Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)

Biaya yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan

persyaratan dan terdeteksi sebelum barang atau jasa tersebut

dikirim ke pihak luar (pelanggan atau konsumen).

33
d. Biaya Kegagalan Eksternal (Eksternal Failure Cost)

Biaya yang terjadi karena produk atau jasa tidak sesuai dengan

persyaratan-persyaratan yang diketahui setelah produk tersebut

dikirimkan kepada para pelanggan atau konsumen.

2.4 Pengertian Produk Cacat

Dalam melakukan kegiatan produksi, terkadang setiap perusahaan bisa

saja mendapatkan beberapa kendala, salah satunya terjadinya produk yang di

hasilkan cacat, hal ini seringkali tidak bisa dihindari oleh perusahaan. Cacat

memiliki pengertian kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang

baik atau kurang sempurna. Produk cacat berarti barang atau jasa yang dibuat

dalam proses produksi namun memiliki kekurangan yang menyebabkan nilai atau

mutunya kurang baik atau kurang sempurna.

Menurut Dunia dan Wasilah (2012:69) produk cacat adalah barang/produk

cacat yang barang-barangnya tidak memenuhi standar produksi karena kesalahan

dalam bahan, tenaga kerja atau mesin dan harus diproses lebih lanjut agar

memenuhi standar mutu yang ditentukan, sehingga barang-barang tersebut dapat

dijual. Menurut Siregar, dkk (2013:61) Produk cacat adalah unit produk yang

tidak memenuhi standar produksi dan dapat diperbaiki secara teknis dan ekonomis

untuk dapat dijual sebagai produk baik atau tetap sebagai produk cacat.

Menurut Bustami dan Nurlela (2013:68) Produk yang dihasilkan dalam

proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar mutu

yang ditetapkan, tetapi secara ekonomis produk tersebut dapat diperbaiki dengan

34
mengeluarkan biaya tertentu, dimana biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki

lebih rendah dari nilai jual setelah produk tersebut diperbaiki.

Dapat disimpulkan bahwa produk cacat adalah produk yang dihasilkan

dalam proses produksi, dimana produk yang dihasilkan tersebut tidak sesuai

dengan standar mutu yang ditetapkan, tetapi masih bisa diperbaiki dengan

mengeluarkan biaya tertentu. Perbaikan terhadap produk cacat masih lebih rendah

dari hasil penjualan produk cacat tersebut setelah diperbaiki. Produk cacat dapat

disebabkan karena hal-hal sebagai berikut:

a. Produk cacat yang disebabkan oleh sulitnya pengerjaan.

b. Produk cacat yang sifatnya normal dalam perusahaan.

c. Produk cacat yang disebabkan kurangnya pengendalian dalam

perusahaan.

2.5 Pengertian Kinerja Pegawai

Kinerja pegawai merupakan tingkat pencapaian atau hasil kerja seseorang

dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dicapai atau tugas yang

harus dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawab masing-masing dalam kurun

waktu tertentu.

Menurut Moeheriono (2012) kinerja atau performance merupakan

gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau

kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang

dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi. Setyowati & haryani

(2016) mengemukakan bahwa istilah kinerja dari kata job performance atau

actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya) yaitu hasil kerja

35
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam

melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada

pegawai. Amstrong dan Baron dalam buku Wibowo (2012:7) mendefinisikan

kinerja karyawan adalah hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan

tujuan strategis, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi.

2.5.1 Unsur Penilaian Kinerja Pegawai

Menurut Sastrohardiwiryo (2009) menjelaskan bahwa umumnya unsur-

unsur kinerja adalah sebagai berikut:

1. Kesetiaan.

Kesetiaan yang dimaksud adalah tekad dan kesanggupan didalam

mentaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati

dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tekad dan kesanggupan

tersebut harus dibuktikan dengan sikap dan tingkah laku tenaga kerja

yang bersangkutan dengan kegiatan sehari-hari serta dalam perbuatan

melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Kesetiaan tenaga kerja terhadap suatu perusahaan sangat berhubungan

dengan pengabdiannya. Pengabdian yang dimaksud adalah

sumbangan pikiran dan tenaga yang ikhlas dengan mengutamakan

kepentingan publik diatas kepentingan pribadi.

2. Prestasi Kerja

Prestasi Kerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang tenaga

kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dibebankan

kepadanya. Pada umumnya prestasi kerja seorang tenaga kerja

36
dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan pengalaman, dan

kesanggupan tenaga kerja yang bersangkutan.

3. Tanggung Jawab

Tanggung Jawab adalah kesanggupan seorang tenaga kerja dalam

menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diserahkan kepadanya

dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Serta dapat mengambil resiko

atas keputusan yang diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.

4. Ketaatan

Ketaatan adalah kesanggupan seorang tenaga kerja untuk mentaati

segala aturan dan ketentuan serta peraturan perundang-undangan yang

berlaku, mentaati peraturan kedinasan yang diberikan oleh atasan

yang berwenang, serta kesanggupan untuk tidak melanggar larangan

yang telah ditentukan oleh perusahaan maupun pemerintah, baik

secara tertulis maupun tidak tertulis.

5. Kejujuran

Kejujuran merupakan ketulusan hati tenaga kerja dalam melaksanakan

tugas dan pekerjaan serta kemampuan untuk tidak menyalah gunakan

wewenang yang telah dibebankan kepadanya.

6. Kerjasama

Kerjasama merupakan kemamuan tenaga kerja untuk bekerja sama

dengan orang lain dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang

telah diamanatkan, sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang

sebesar-besarnya.

37
7. Prakarsa

Prakarsa adalah kemampuan seorang tenaga kerja untuk mengambil

suatu keputusan ataupun tindakan yang diperlukan tanpa diperintah

oleh manajemen lainnya

8. Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seorang tenaga kerja

untuk meyakinkan orang lain (tenaga kerja lain) sehingga dapat

dikerahkan secara maksimal untuk melaksanakan tugas pokok.

Penilaian unsur kepemimpinan bagi tenaga kerja yang mempunyai

keyakinan dalam perusahaan bagi top management, middle

management maupun lower management.

Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai adalah hasil kerja baik

dari kualitas maupun kuantitas yang dicapai pegawai per satuan periode waktu

pada pelaksanaan tugas kerjanya seseorang sesuai dengan tanggung jawab yang

diberikan kepadanya.

2.6 Metode Perhitungan Pengendalian Kualitas

Kualitas atau mutu adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat

sesuatu. Istilah ini banyak digunakan dalam dalam bisnis, rekayasa, dan

manufaktur dalam kaitannya dengan teknik dan konsep untuk memperbaiki

kualitas produk atau jasa yang dihasilkan. Adapun metode yang digunakan adalah

sebagai berikut:

38
2.6.1 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah pendekatan sistematik

yang menerapkan suatu metode pentabelan untuk membantu proses pemikiran

yang digunakan oleh engineers untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial

dan efeknya. FMEA merupakan teknik evaluasi tingkat keandalan dari sebuah

sistem untuk menentukan efek dari kegagalan dari sistem tersebut. Kegagalan

digolongkan berdasarkan dampak yang diberikan terhadap kesuksesan suatu misi

dari sebuah sistem.

FMEA adalah sebuah metode evaluasi kemungkinan terjadinya sebuah

kegagalan dari sebuah sistem, desain, proses atau servis untuk dibuat langkah

penanganannya Yumaida (2011). Metode FMEA adalah suatu prosedur terstruktur

untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan (failure

mode) dengan sekala prioritas. Hasil akhir dari metode FMEA adalah Risk

Priority Number (RPN) atau angka risiko prioritas. RPN merupakan nilai yang

dihitung berdasarkan informasi yang diperoleh berkaitan dengan Potential Failure

Mode, Effect dan Detection. Nilai RPN dihitung berdasarkan perkalian antara tiga

peringkat kuantitatif yaitu efek/ pengaruh, penyebab, dan deteksi pada setiap

proses atau dikenal dengan perkalian S, O, D (severity, occurance, detection).

Kemudian diurutkan mulai rating tertinggi, serta tindakan yang disarankan untuk

perbaikan (Firdaus dkk, 2010).

Menurut Iswanto, dkk (2013) Pembuatan metode FMEA bertujuan untuk

mengidentifikasi dan menilai risiko-risiko yang memiliki hubungan dengan

potensi kegagalan. FMEA menjadikan metode sebuah teknik menganalisa yang

mengkombinasikan antara teknologi dan pengalaman (experience) seseorang

39
dalam mengidentifikasi penyebab kegagalan dari produk atau proses dan

perencanaan untuk penghilangan penyebab kegagalannya.

Menurut Rakesh, Jos, & Mathew (2013) Failure Mode and Effect Analysis

(FMEA) merupakan suatu model sistematis untuk mengidentifikasi dan mencegah

suatu permasalahan yang ada di suatu sistem. Pada umumnya, metode ini

dilaksanakan pada tahap pengembangan desain atau proses. FMEA pada

pengembangan desain membantu dalam mengidentifikasi potensial kegagalan

yang diketahui dan dapat diramalkan, lalu memberikan peringkat berdasarkan

dampaknya terhadap suatu produk. FMEA pada proses diimplementasikan untuk

mengidentifikasi suatu potensial kegagalan pada proses dengan memberikan

peringkat dan menentukan prioritas tergantung pada dampaknya.

Dijelaskan oleh Sellappan & Palanikumar (2013) bahwa penggunaan

FMEA dilakukan dengan proses diskusi dari divisi yang berbeda pada perusahaan

untuk menganalisis penyebab kegagalan terhadap komponen dan subsistem pada

suatu proses atau produk. FMEA menggunakan kriteria-kriteria kemungkinan

kejadian (occurrence), deteksi (detection), dan tingkat kerusakan (severity) untuk

menentukan risk priority numbers (RPN) dan risk score value (RSV) agar

nantinya digunakan untuk menentukan aksi dari risiko yang diprioritaskan.

Dari beberapa definisi di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa

FMEA untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi kegagalan/ kesalahan yang

potensial, dapat memberikan nilai risiko kegagalan atau kesalahan dan langkah-

langkah yang harus diperlukan.

40
2.7 Kerangka Pemikiran

Menurut Heizer dan Render (2017: 244) kualitas merupakan kemampuan

barang atau jasa dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Pengendalian kulitas

yang masih belum efektif dan efisien dalam meminimalisir terjadinya produk

cacat dan kinerja pegawai di proyek Perumahan Grand Sharon Bandung

Residence, dan dampak yang terjadi akibat pengendalian kualitas yang belum

efektif tersebut yaitu proyek akan mengeluarkan biaya lebih untuk produk cacat

tersebut. Maka dapat memberikan usulan perbaikan yang dapat meminimalisir

terjadinya produk cacat di proyek Perumahan Grand Sharon Bandung Residence.

Untuk meminimalisir terjadinya produk cacat dan kinerja pegawai maka

perlu melakukan pengendalian kualitas menggunakan metode FMEA (Failure

Mode and Effects Analysis). Metode FMEA sangat penting untuk mencegah

produk dan proses masalah sebelum terjadi, dan dapat mengidentifikasi mode

kegagalan potensial dan efeknya.

Setiap perusahaan menginginkan produk maupun kinerja pegawai yang

dihasilkan agar menjadi produk yang berkualitas dan tidak ada produk cacat serta

terciptanya kualitas pegawai yang efektif. Meski pada kenyataannya selalu dapat

masalah banyak faktor yang mempengaruhi terciptanya produk cacat maupun

rendahnya kualitas pegawai. Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan,

selanjutnya dilakukan analisis secara kritis dan sistematis untuk mrnghasilkan

sintesis atau kesimpulan tentang variabel yang diteliti. Kerangka pemikiran

merupakan metode konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan

berbagai faktor yang telah dirumuskan seperti masalah yang penting. Maka,

berikut adalah kerangka pemikiran dalam penelitian ini.

41
10 Keputusan Operasi (Heizer dan Render Masalah yang terjadi pada
(2017:40) proyek Perumahan Grand
Sharon Residence Bandung
1. Produk 6. SDM
2. Kualitas 7. Rantai Pasokan sering terjadinya produk cacat
3. Proses 8. Persediaan pada saat proses produksi dan
4. Lokasi 9. Penjadwalan masalah pada kinerja pegawai.
5. Tata letak 10. Pemeliharaan

Pengendalian Kualitas Produk Cacat dan


Kinerja Pegawai

Analisis metode FMEA

MEMINIMASI PRODUK CACAT


dan KINERJA PEGAWAI

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan gambar 2.2 merupakan kerangka pemikiran penelitian ini.

Kerangka pemikiran tersebut didasarkan atas sepuluh keputusan operasi dimana

memilih keputusan operasi nomor kedua yaitu kualitas karena sesuai dengan

permasalahan yang penulis angkat dalam penelitian ini yaitu produk cacat dan

kualitas kinerja pegawai yang belum menerapkan metode apapun dalam sistem

pengendalian kualitas di perusahaan.

Kemudian dilakukan penelitian terkait dengan faktor-faktor apa saja yang

menyebabkan terjadinya kerusakan pada proses produksi produk dan yang

menyebabkan kinerja pegawai yang kurang berkualitas, setelah itu melakukan

penelitian terkait dengan pelaksanaan pengendalian kualitas pada proses produksi

42
maupun kinerja pegawai yang dilakukan pada proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung. Setelah diketahui penulis akan menerapkan dengan

menganalisis pengendalian kualitas dengan menggunakan metode FMEA (Failure

Mode and Effects Analysis) untuk mengatasi permasalahan produk cacat dan

kualitas kinerja pegawai yang kurang efektif pada proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung. Selanjutnya, yang akan didapatkan adalah usulan

perbaikan atau rekomendasi berupa saran yang bermanfaat bagi proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dalam mengatasi permasalahan

yang ada yaitu produk cacat dan kualitas kinerja pegawai yang kurang efektif.

43
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Penelitian ilmiah menurut Kuncoro (2013:3) adalah aplikasi secara formal

dan sistematis dari metode ilmiah untuk mempelajari dan menjawab

permasalahan. Sedangkan menurut Sanapiah Faisal (2013:8) mengemukakan

bahwa penelitian ilmiah merupakan suatu aktivitas dalam menelaah suatu problem

dengan menggunakan metode ilmiah secara tertata dan sistematis untuk

menemukan pengetahuan baru yang dapat diandalkan kebenarannya mengenai

dunia alam dan dunia sosial. Dari definisi di atas dapat disederhanakan bahwa

objek penelitian adalah sebuah aplikasi yang memiliki metode-metode tertentu

untuk mendapatkan sasaran tujuan tertentu serta mendapat jawaban atas suatu

permasalahan yang terjadi pada sebuah perusahaan.

Objek penelitian dalam penelitian ini mengenai pengendalian kualitas

yaitu penentuan produk cacat dengan menggunakan metode FMEA (Failure

Mode and Effect Analysis) pada proyek perumahan di Grand Sharon Residence

Bandung yang beralamat di Jl. Sharon Boulevard Raya, Cipamokolan, Kec.

Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40292. Memilih pengendalian kualitas

sebagai judul penelitian karena secara teori pengendalian kualitas sangat

berpengaruh sebagai kelancaran produksi bagi suatu perusahaan, pada saat ini

perumahan di Grand Sharon Residence Bandung memiliki masalah dalam kualitas

produknya maupun kinerja pegawainya.

44
3.1.1 Profil Singkat Proyek Borongan Perumahan

Pemborong bangunan adalah salah satu penyedia jasa yang bisa digunakan

untuk sebuah proyek konstruksi bangunan ataupun sekedar renovasi rumah.

Berbeda dengan kontraktor, meski sama-sama menawarkan jasa pengerjaan

proyek, pemborong bangunan tidak memiliki izin usaha resmi serta tidak

memiliki badan hukum. Kesepakatan yang dibuat pun tidak berdasarkan hitam di

atas putih, melainkan hanya melalui kesepakatan secara lisan saja. Dan jasa ini

biasanya dikelola oleh individu saja, bukan badan hukum ataupun badan usaha

layaknya kontraktor. Proyek yang dikerjakan oleh pemborong bangunan biasanya

berskala lebih kecil dibanding kontraktor, seperti pembangunan hunian kecil atau

perumahan dengan budget yang tidak terlalu banyak. Karena dikerjakan oleh

individu, biaya yang harus dibayarkan kepada pemborong bangunan tidaklah

sebanyak yang harus dibayarkan kepada kontraktor. Hanya saja, resiko dari

kesepakatan yang tidak tertulis secara hitam di atas putih ini adalah apabila nanti

terjadi kesalahpahaman, kecurangan, bahkan penipuan, pengguna jasa tidak bisa

menuntut pemborong ke pengadilan. Sistem pembayaran jasa pemborong

bangunan harus disepakati sejak sebelum proyek dimulai. Biaya untuk

memborongkan semua pekerjaan termasuk bahan material akan berbeda dengan

biaya hanya membayar jasa tukang bangunan saja. Hal tersebut bisa disesuaikan

dengaan kebutuhan pemilik proyek. Untuk sistem pembayaran upah pekerja tanpa

bahan material, pemborong bangunan biasanya akan menghitung biaya

berdasarkan gambar dan spesifikasi proyek yang akan dikerjakan dengan ukuran

tertentu, contohnya untuk pengerjaan per meter persegi dikenai biaya upah pekerja

satu juta rupiah, yang kemudian akan dikalikan dengan luas bangunan tersebut.

45
Jika pemilik proyek memilih jasa yang hanya membayar upah pekerja saja, maka

pemilik sudah harus memiliki bahan material sendiri, atau menghitung biaya

bahan material di luar biaya jasa upah pekerja. Untuk bisa mendapatkan jasa

pemborong bangunan yang baik dan terjamin, sebaiknya dilakukan survei terlebih

dahulu dengan melakukan review dari beberapa pelanggan yang telah

menggunakan jasa mereka. Lebih bagus lagi jika pemborong tersebut bisa diajak

negosiasi dan tawar menawar harga.

Visi Proyek Bangunan Perumahan yang pertama adalah melaksanakan

proyek borongan perumahan bertingkat tinggi dengan mutu terbaik dengan biaya

yang efisien dan tepat waktu lalu visi yang kedua pelaksanaan proyek dengan

perencanaan dan monitoring yang baik untuk mencapai mutu yang bersaing di

tingkat regional, namun dengan biaya yang efisien dan dalam waktu yang telah

ditentukan dan misinya adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan melalui

penyelesaian proyek yang berkualitas tinggi, sesuai anggaran, dan dalam waktu

yang telah disepakati.

3.1.2 Struktur Organisasi Proyek Borongan Perumahan

Struktur organisasi perusahaan dapat diartikan sebagai serangkaian

hubungan para individu didalam suatu kelompok atau organisasi yang

bekerjasama dalam usaha untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi digambar

dalam satu bagan, skema ataupun diagram yang memperlihakan garis besar atau

fungsi dalam perusahaan tersebut, yang menggambarkan tanggung jawab dari

wewenang. Struktur organisasi dapat memperjelas pembagian kerja,

pendelegasian wewenang, pengawasan dan tanggung jawab. Sehingga dapat

mempermudah setiap individu atau kelompok dalam melaksaakan tugasnya.

46
Menurut Robbins dan Coulter (2010) Struktur organisasi bisa diartikan

sebagai kerangka kerja formal organisasi yang dengan kerangkat kerja itu tugas-

tugas pekerjaan dibagi-bagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan.

Pemilik Proyek

Manager Proyek

Kontraktor Site Enggineer Pengendali Proyek Logistik


Proyek

Sub
Kontraktor
Mandor

Tenaga
Kerja

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek Borongan Perumahan 2019.


Sumber Dokumen Proyek Borongan Perumahan.

47
3.2 Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2019:2) mendefinisikan metode penelitian pada

dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan

kegunaan tertentu. Sedangkan metode deskriptif Sugiyono (2019:35) adalah

metode deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu

hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih

luas.

Dalam penelitian ini mengunakan data deskriptif yang meliput data hasil

dari wawancara, survey, atau observasi untuk memecahkan suatu masalah yang

ada pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung. Sedangkan

Menurut Sugiyono (2019:2) Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara

ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sehingga

dengan melihat dari tiga definisi di atas penulis dapat mengambil intisari bahwa

metode penelitian merupakam menganalisis suatu permasalahan dengan

menggunakan metode-metode tertentu untuk diuji sehingga dapat menjawab

pertanyaan mengenai permasalahan suatu penelitian.

3.2.1 Metode Yang Digunakan

Menurut Sugiyono (2019:2) mendefinisikan metode penelitian pada

dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan

kegunaan tertentu. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif pada

metode kasus, yaitu suatu metode penelitian yang disusun dalam rangka

memberikan gambaran secara sistematis mengenai informasi ilmiah yang berasal

dari subjek atau objek. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat

48
deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, actual serta akurat dengan

fakta-fakta. Sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan penelitian yang digunakan

sebagai acuan penelitian sehingga berjalan secara terstruktur, yaitu:

A. Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan langkah pertama dilakukan kunjungan ke tempat

yang akan dijadikan tempat penelitian untuk mengetahui masalah apa

saja yang ada pada perusahaan tersebut. Untuk mengetahui

permasalahan tersebut peneliti melakukan wawancara kepada

pemborong proyek di Perumahan Grand Sharon Residence Bandung

yang berlokasi Jl. Sharon Boulevard Raya, Cipamokolan, Kec.

Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40292. Dalam hal ini peneliti

menemukan sebuah masalah yaitu adanya produk cacat dan kinerja

pegawai yang kurang berkualitas pada Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung.

B. Studi Literatur

Studi Literatur dilakukan dengan mencari jurnal-jurnal, buku-buku

teks serta internet.

C. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah merupakan salah satu langkah untuk mengetahui

serta merumuskan suatu permasalahan yang ada di Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung.

49
a) Latar Belakang

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung mengalami

masalah dimana sering terjadi kecacatan pada produk disebabkan

karena ketika memproduksi produk dalam jumlah yang banyak

maka ketelitian mandor saat memeriksa produk menjadi

berkurang dikarenakan mandor harus mengecek atau menghandle

satu per satu produk dalam jumlah yang banyak. Cacat yang

terjadi misalnya barang cacat saat diterima, perbedaan jenis

barang, korosi pada produk. Masalah sering terjadi juga

mengenai kinerja pegawai, sebuah masalah motivasi kerja yang

terdapat pada tanggung jawab masih rendah belum memenuhi

target perusahaan. Karena masalah lain yang terjadi di dalam

tanggung jawab masih adanya pegawai yang malas kerja, ini

dilihat masih adanya pegawai yang berleha-leha, kinerja yang

menurun, semangat dan energi menjadi hilang serta pengambilan

keputusan jelek. Dari permasalahan ini maka proyek borongan

harus memikirkan untuk mengurangi jumlah produk cacat dan

kinerja pegawai bahkan memperbaiki kualitas produk maupun

memperbaiki kualitas pegawai agar menjadi lebih baik dan

kualitas proyek meningkat.

b) Merumuskan Masalah

Adanya latar belakang seperti diatas peneliti harus mampu

merumuskan masalah. Rumusan masalah yang dapat diambil

yaitu: Apa penyebab faktor-faktor produksi dan produktivitas

50
kinerja pegawai kurang berkualitas pada proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung, Bagaimana pelaksanaan

pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung, Bagaimana

penerapan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dalam

mengatasi permasalahan produk cacat dan kinerja pegawai pada

proyek pada Perumahan Grand Sharon Residence Bandung.

c) Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas peneliti untuk mengetahui faktor-

faktor penyebab terjadinya kualitas produksi dan produktivitas

kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung, Untuk mengetahui pelaksanaan

pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung, Untuk

mengetahui penerapan metode Failure Mode Effect Analysis

(FMEA) dalam mengatasi permasalahan produk cacat dan kinerja

pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung.

d) Objek Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti mengambil objek pada Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung yang berlokasi Jl.

Sharon Boulevard Raya, Cipamokolan, Kec. Rancasari, Kota

Bandung, Jawa Barat 40292.

51
e) Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mencari data-data

yang terkait dengan pengendalian kualitas, serta melakukan

wawancara kepada pihak terkait untuk proses pengambilan data.

f) Pengelolaan Data

Peneliti akan melakukan proses pengelolaan data menggunakan

metode FMEA.

g) Analisis

Setelah data terkumpul, peneliti akan melakukan pengelolaan atau

mengolah data untuk mengetahui hasil, serta melakukan

kebijakan-kebijakan yang sesuai untuk pengendalian kualitas

pada produk dan kinerja pegawai.

h) Kesimpulan

Kebijakan perusahaan untuk mengambil keputusan untuk

mengganti metode perhitungan yang dilakukan dengan

perhitungan yang baru.

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Dalam mempersiapkan proses pengelolaan data, penulis membuat

operasionalisasi variabel yang di dalamnya terdapat indikator-indikator dan

variabel penelitian yang terkait pada penelitian tersebut. Berikut Operasionalisasi

Variabel yang dibuat penulis dalam melakukan peneitian ini adalah sebagai

berikut:

52
Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian

Variabel Sub Variabel Indikator

1. Perencanaan bahan
Sistem pengendalian baku utama dan bahan
kualitas proyek baku pelengkap
perumahan grand 2. Memilih bahan baku
sharon bandung dari pemasok
3. Proses produksi hingga
produk jadi
4. Peralatan dan fasilitas
yang digunakan pada
saat proses produksi
1. Kedisiplinan dan
PengendaIian ketelitian pegawai
kualitas produk cacat Faktor-faktor yang (man)
dan meningkatkan menyebabkan produk 2. Kualitas bahan baku
kualitas kinerja cacat dan kinerja (material)
pegawai pada pegawai 3. Metode kerja yang
Proyek Perumahan diterapkan (method)
Grand Sharon 4. Kondisi mesin
Residence Bandung. (machine)
5. Kondisi tempat
produksi (environment)
1. Nilai severity, tingkat
keparahan proses
berdasarkan mode
kegagalan dalam proses
produksi
2. Nilai occurance,
frekuensi terjadinya
Metode FMEA (Failure mode kegagalan dalam
Mode and Effect proses produksi
Analysis) 3. Nilai detection,
efektifitasnya dalam
mendeteksi dan
mencegah kegagalan
dalam proses produksi
4. Nilai Risk Priority
Number (RPN)
5. Ranking nilai RPN

53
Menurut Arikunto (2010:161) variabel adalah objek penelitian atau apa

yang menjadi titik perhatian penelitian. Berdasarkan tabel 3.2 melakukan

penelitian dengan menggunakan metode kualitas dapat dilihat yang menjadi

variabel dalam penelitian ini adalah pengendalian kualitas pada proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dengan tiga sub variabel. Sub

variabel pertama adalah untuk mengetahui pelaksanaan pengendalian kualitas

produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence.

Pada sistem pengendalian kualitas tersebut terdapat empat indikator, yaitu yang

pertama perencanaan bahan baku utama dan baku jadi pelengkap, yang kedua

yaitu memilih bahan baku pemasok, yang ketiga yaitu proses produksi hingga

produk jadi, dan yang keempat adalah peralatan dan fasilitas yang digunakan

dalam proyek. Indikator ini sumbernya dari wawancara dan observasi yang telah

dilakukan sebelumnya pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence. Untuk

sub variabel kedua yaitu faktor-faktor penyebab produk cacat dan kinerja pegawai

pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence. Pada sub variabel ini ada lima

indikator, yang pertama yaitu kedisiplinan dan ketelitian pegawai (man), yang

kedua yaitu kualitas bahan baku (material), yang ketiga yaitu metode kerja yang

diterapkan (method), yang keempat yaitu kondisi mesin (machine) dan yang

kelima yaitu kondisi tempat (environment). Indikator ini sumbernya dari hasil

wawancara dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya pada proyek

Perumahan Grand Sharon Residence.

Selanjutnya sub variable ketiga dari penelitian ini yaitu Failure Mode and

Effect Analysis (FMEA). Indikator dari sub variabel ini ada lima yaitu nilai

severity, tingkat keparahan berdasarkan mode kegagalan dalam proses produksi,

54
yang kedua yaitu nilai occurance, frekuensi terjadinya mode kegagalan dalam

proses produksi, yang ketiga yaitu nilai detection, efektifitasnya dalam

mendeteksi dan mencegah kegagalan dalam proses produksi, yang keempat yaitu

nilai risk priority number (RPN), dan yang kelima yaitu ranking nilai RPN.

Indikator ini sumbernya dari teori yang ada pada bab sebelumnya.

Menggunakan metode ini karena sesuai antara teori dengan kenyataan

permasalahan yang ada, serta berharap agar metode perhitungan ini dapat

membantu perusahaan dalam menyelesaikan atau bahkan mengurangi

permasalahan yang selama ini sering terjadi pada perusahaan.

3.2.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai sumber dan cara.

Dilihat dari sumber adanya, maka pengumpulan data yang dilakukan dalam

penelitian ini dengan menggunakan sumber sekunder. Sumber sekunder

merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul

data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen Sugiyono (2019:137).

Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan yaitu dengan

menggunakan teknik pengumpulan data sekunder. Data sekunder adalah sumber

data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media

perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Data sekunder umumnya berupa

bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang

dipublikasikan dan tidak dipublikasikan. Sumber data yang digunakan adalah

laporan penerimaan dan pengeluaran barang.

55
Menurut Sugiyono (2019:224) teknik pengumpulan data adalah langkah

paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk

mendapatkan data, teknik pengumpulan data, teknik pengumpulan data yang

dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan

berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara

adalah untuk mendapat informasi yang tepat dari narasumber yang

terpercaya. Dalam metode ini penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan

secara langsung kepada Bapak Heriyanto.

2. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara

sistematis dan sengaja, yang dilakukan melalui pengamatan dan

pencacatan gejala-gejala yang diselidiki serta cara meningkatkan kualitas

kinerja pegawai. Pengertian Observasi dalam arti sempit adalah

mengamati secara langsung terhadap gejala yang ingin diselidiki. Dalam

penelitian ini melakukan observasi langsung untuk mengetahui masalah-

masalah yang terjadi, melakukan beberapa cara dalam melakukan

observasi tersebut, salah satunya dengan mencatat maupun merekam

mengenai sistem kerja perusahaan.

3. Studi Kepustakaan

Studi Kepustakaan segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk

menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang

akan datang atau sedang diteliti yang berhubungan dengan objek

56
penelitian. Dalam melakukan penelitian yang dilakukan untuk teknik

pengumpulan data dengan mempelajari teori dalam buku dari beberapa

ahli, melakukan kunjungan ke beberapa perpustakaan maupun website

tertentu untuk mencari jurnal maupun artikel untuk acuan dalam

melakukan penelitian.

3.3 Metode Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden

terkumpul, kemudian mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis

responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden,

menyajikan data tiap variabel yang diteliti, dan melakukan perhitungan untuk

menguji hipotesis yang diajukan Sugiyono (2019:244).

Analisis data dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh akan lebih

bermakna dan akan menunjukan sebuah keadaan yang sesungguhnya yang

terdapat pada tempat melakukan penelitian. Maka dari itu, teknik analisis data

merupakan tahapan terpenting dari membuat sebuah penelitian. Diperlukan

kemampuan analisis yang tinggi, penalaran yang tinggi akan sebuah masalah dan

menentukan sebuah keputusan yang tepat ketika terjadi sesuatu yang tidak

diinginkan. Berikut adalah metode analisis data yang dibuat berdasarkan tujuan

penelitian.

Metode analisis data untuk tujuan mengetahui pengendalian kualitas

produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence.

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan manager proyek terkait

pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand

57
Sharon Residence, langkah selanjutnya adalah mengolah lebih lanjut hasil

wawancara tersebut yaitu dengan cara menganalisis bagaimana pelaksanaan

pengendalian kualitasnya, apakah sudah berjalan dengan baik atau terjadi

penyimpangan yang dapat mengakibatkan produk cacat dan kinerja pegawai pada

proses produksinya.

Metode analisis data yang kedua untuk mengetahui apa saja yang menjadi

faktor-faktor penyebab produk cacat dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan

Grand Sharon Residence. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab cacat,

penelitian ini menggunakan fishbone diagram untuk mempermudah

pengidentifikasian penyebab kegagalan pada proses produksi. Berikut adalah

metode fishbone diagram yang akan digunakan:

Material Man

Produk Cacat

Environment Machine Method

Gambar 3.3 Analisis Fishbone Diagram

Gambar 3.3 menunjukan analisis fishbone diagram yang akan digunakan,

terdiri dari lima kelompok penyebab cacat pada produk perumahan yaitu man

yang akan diisi oleh penyebab cacat pada produk perumahan dari kedisiplinan dan

ketelitian pekerja, material yang akan diisi oleh penyebab cacat pada produk

58
perumahan dari kualitas bahan baku, method yang akan diisi oleh penyebab cacat

pada produk perumahan dari metode kerja yang diterapkan, machine yang akan

diisi oleh penyebab cacat pada produk perumahan dari kondisi mesin dan

peralatan, dan environment yang akan diisi oleh penyebab cacat pada produk

perumahan dari kondisi tempat produksi.

Rumusan masalah ketiga dalam penelitian ini, penulis menggunakan

pengolahan data dengan metode FMEA untuk mengidentifikasi faktor penyebab

kegagalan dengan cara mengidentifikasi kriteria-kriteria kemungkinan kejadian

(occurrence), deteksi (detection), dan tingkat kerusakan (severity) untuk

menentukan risk priority numbers (RPN) agar nantinya digunakan untuk

menentukan aksi dari risiko yang diprioritaskan.

Dalam penentuan nilai RPN, terdapat kriteria dalam melakukan penilaian

tersebut. RPN merupakan sebuah nilai yang didasarkan pada tiga penilaian:

severity (S), occurrence (O), dan detection (D). Skala penilaian tersebut mulai

dari 1 hingga 10. Berikut merupakan perhitungan untuk menentukan nilai RPN:

RPN = O x S x D

Berikut merupakan tabel yang menunjukkan keterangan dalam melakukan

penilaian severity (S), occurrence (O), dan detection (D).

59
Tabel 3.3 Skala Penilaian untuk Occurrence, Severity, dan Detection

Skor Occurrence(O) Severity (S) Detection (D)

1 Hampir tidak pernah Tidak ada efek Hampir pasti

2 Sangat jarang Sangat kecil/ minor Sangat mudah

3 Cukup jarang Kecil/ minor Mudah

4 Sedikit jarang Sangat rendah Cukup mudah

5 Jarang Rendah Biasa saja

6 Sedikit sering Sedang Agak sulit

7 Cukup sering Tinggi Cukup sulit

8 Sering Sangat tinggi Sulit

9 Sangat Sering Serius Sangat sulit

10 Hampir selalu terjadi Sangat berbahaya/ Hampir tidak mungkin

serius

Sumber: Sellappan & Palanikumar (2013)

Dijelaskan oleh Sellappan & Palanikumar (2013) bahwa penggunaan FMEA

dilakukan dengan proses diskusi dari divisi yang berbeda pada perusahaan untuk

menganalisis penyebab kegagalan terhadap komponen dan subsistem pada suatu

proses atau produk. FMEA menggunakan kriteria-kriteria kemungkinan kejadian

(occurrence), deteksi (detection), dan tingkat kerusakan (severity). Pada masing-

masing kriteria terdapat satu sampai sepuluh skor, dimana skor pertama

merupakan dampak yang rendah sedangkan skor sepuluh merupakan dampak

yang paling serius.

60
Tabel 3.4 Skala Peringkat Severity

Skor Dampak Tingkat Kerusakan

1 Tidak ada efek Tidak ada

2 Sangat kecil/ minor Penyebab diketahui, sedikit kerusakan pada

prosedur

3 Kecil/ minor Penyebab diketahui, sedikit kerusakan pada proses

4 Sangat rendah Penyebab diketahui, sedikit kerusakan pada

peraturan

5 Rendah Penyebab diketahui, banyak kerusakan pada

prosedur

6 Sedang Penyebab diketahui, banyak kerusakan pada proses

7 Tinggi Penyebab diketahui, banyak kerusakan pada

peraturan

8 Sangat tinggi Penyebab tidak diketahui, masalah diketahui dan

dapat diatasi

9 Serius Penyebab tidak diketahui, masalah diketahui dan

tidak dapat diatasi

10 Sangat berbahaya/ Penyebab tidak diketahui, masalah tidak diketahui

serius

Sumber: Faizal & Palaniappan (2014)

61
Severity yaitu nilai keseriusan dari efek yang ditimbulkan dari potensi mode

kegagalan yang terjadi. Pada tingkat ke-1 akibat adanya kegagalan dalam proses

produksi tidak ada efek, sedangkan pada tingkat ke-10 tingkat kegagalan sangat

berbahya. Semakin tinggi skor maka efek yang ditimbulkan terhadap produk

semakin besar.

Tabel 3.5 Skala Peringkat Occurrence

Skor Kemungkinan Kejadian Tingkat Terjadinya Risiko

1 <1 dari 1.500.000 Hampir tidak pernah

2 1 dari 150.000 Sangat jarang

3 1 dari 15.000 Cukup jarang

4 1 dari 2.000 Sedikit jarang

5 1 dari 400 Jarang

6 1 dari 80 Sedikit sering

7 1 dari 20 Cukup sering

8 1 dari 8 Sering

9 1 dari 3 Sangat Sering

10 >1 dari 2 Hampir selalu terjadi

Sumber: Faizal & Palaniappan (2014)

Occurrence yaitu kemungkinan potensi mode kegagalan yang dapat

terjadi. Estimasi kemungkinan yang terjadi berupa skala ranking dari 1 sampai 10.

Occurrence didasarkan pada frekuensi kejadian kegagalan yang terjadi berupa

angka kejadian atau berapa banyak kejadian dari potensi mode kegagalan yang

terjadi. Jika tidak ada data statistik atau data berupa angka maka dapat digunakan

62
data subjektif menggunakan data huruf atau kata yang berupa gambaran atau

deskripsi untuk menentukan ranking atau peringkat dari occurrence.

Tabel 3.6 Skala Peringkat Detection

Skor Deteksi Kemungkinan Dideteksi

1 Hampir pasti Pengendalian pasti dapat mencegah risiko

2 Sangat mudah Sangat besar risiko dapat dicegah

3 Mudah Besar risiko dapat dicegah

4 Cukup mudah Kemungkinan risiko dapat dicegah

5 Biasa saja Risiko cukup berkesempatan untuk dapat

dicegah

6 Agak sulit Kecil kemungkinan risiko dapat dicegah

7 Cukup sulit Cukup kecil kemungkinan risiko dapat dicegah

8 Sulit Tipis kemungkinan risiko dapat dicegah

9 Sangat sulit Sangat tipis kemungkinan risiko dapat dicegah

10 Hampir tidak Pengendalian tidak dapat mencegah risiko

mungkin

Sumber: Faizal & Palaniappan (2014)

Detection yaitu metode atau sistem untuk mendeteksi kegagalan (detection

control). Jika kegagalan terjadi, maka prioritaskan proses kontrol yang ada supaya

dapat mencegah efek langsung kepada customer yaitu dengan cara mengubah

proses kontrol atau yang lainnya. Random quality checks tidak dapat mendeteksi

kemungkinan dari potensi penyebab kegagalan dan tidak berpengaruh terhadap

peringkat detection.

63
Lalu langkah keempat yaitu perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN)

nilai RPN adalah hasil perkalian dari nilai severity, occurance dan detection,

Maka, berikut adalah rancangan tabel perhitungan Risk Priority Number (RPN):

Tabel 3.7 Rancangan Tabel Perhitungan Risk Priority Number (RPN)

Nilai Indikator
Potential Failure Mode
S O D RPN

Tabel 3.7 memiliki lima kolom yaitu yang pertama potential failure mode

diisi oleh kemungkinan kegagalan yang terjadi pada proses produksi perumahan

di jalan Sharon. Lalu kolom nilai indikator diisi berdasarkan hasil severity,

occurance, dan detection yang diperoleh dari tabel-tabel penilaian yang telah

dilakukan sebelumnya. Kolom RPN diisi oleh hasil perkalian nilai severity,

occurance dan detection.

64
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan serta dibahas mengenai hasil penelitian.

Pembahasan dalam penelitian ini tentunya berdasarkan pada tujuan penelitian

yang telah ditentukan sebelumnya yaitu pertama, untuk mengetahui faktor-faktor

penyebab terjadinya kualitas produksi dan produktivitas kinerja pegawai pada

proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung, Untuk mengetahui

pelaksanaan pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung, Untuk mengetahui penerapan

metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dalam mengatasi permasalahan

produk cacat dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung, Maka, yang pertama yang akan dibahas adalah mengenai

pelaksanaan pengendalian kualitas proyek perumahan di Grand Sharon Residence

Bandung, lalu hasil yang kedua yaitu mengetahui apa saja yang menjadi faktor-

faktor penyebab produk dan kinerja pegawai pada perumahan Grand Sharon

Residence Bandung, dan hasil yang ketiga akan menjelaskan bagaimana

penerapan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dalam mengatasi

permasalahan produk cacat dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung. Berikut merupakan hasil pembahasan sesuai dengan

rumusan masalah yang telah dirumuskan oleh penulis.

65
4.1 Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Proyek Pada Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung

Persaingan yang ketat dalam dunia usaha saat ini menuntut setiap

perusahaan untuk selalu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas

produknya. Menurut Zahara (2014:486) kualitas merupakan hal penting dalam

meningkatkan daya saing produk yang harus memberikan kepuasan kepada

pelanggan yang setidaknya sama dengan produk pesaing. Hal ini dilakukan oleh

proyek perumahan Grand Sharon Bandung dengan berupaya menghasilkan

produk yang berkualitas tinggi dalam proses produksinya, sesuai dengan standar

yang ditetapkan oleh perusahaan. Kualitas produk yang baik dihasilkan dari

pengendalian kualitas yang baik pula menurut Ilham (2012:2). Menurut Susetyo

dkk (2011:78) pengendalian kualitas merupakan suatu sistem pengendalian yang

dilakukan dari tahap awal suatu proses sampai produk jadi dan bahkan sampai

pada pendistribusian kepada konsumen.

Pelaksanaan pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai di

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dilakukan dalam tiga tahapan yang

terdiri dari pengendalian kualitas pada bahan baku (input), pengendalian kualitas

pada proses produksi (process), dan pengendalian kualitas pada produk jadi

(output). Sesuai dengan tujuan penelitian yang pertama yaitu untuk mengetahui

pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung, maka untuk mencapai tujuan ini diperlukan informasi

mendalam yang berkenaan dengan pengendalian kualitas produk dan kinerja

pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung. Maka, pada

tanggal 20 September 2019 dilakukan wawancara mengenai pengendalian kualitas

66
produk dan kinerja pegawai pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung bersama Bapak Heriyanto selaku mandor, wawancara ini bertujuan

untuk mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan mengenai pengendalian

kualitas yang telah diterapkan di proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung. Berikut hasil wawancara yang telah dilaksanakan, yang berupa data

mengenai tahapan pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai pada proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung.

A. Pengendalian Kualitas Bahan Baku

Pada tahap pertama, akan dijelaskan bagaimana pengendalian kualitas

bahan baku (input). Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung sangat

memperhatikan kualitas bahan baku yang digunakan dalam proses produksi,

karena berkaitan dengan kualitas produk yang akan dihasilkan. Pengendalian

kualitas pada bahan baku yang dilakukan proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung bertujuan agar tercapainya visi misi perusahaan dalam

memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan harga yang murah dan

produk yang berkualitas sangat baik. Pengendalian kualitas bahan baku

merupakan langkah awal yang dilakukan sebelum bahan baku yang telah dibeli

masuk ke dalam proses produksi.

Pengendalian kualitas bahan baku dilaksanakan dengan melakukan

pemeriksaan atau pengecekan pada bahan utama seperti batu kali, semen, pasir,

gamping, baja, krikil, batu bata merah, kayu, genteng, kusen, pintu, jendela,

keramik, cat, pipa, kran air, paku, bambu yang bertujuan untuk mencegah

terhambatnya proses produksi yang diakibatkan karena bahan baku tidak sesuai

standar dan spesifikasi, bahkan tidak dapat digunakan dalam proses produksi.

67
Pengendalian kualitas bahan baku di proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung terdiri dari penentuan dan pemilihan bahan baku yang akan digunakan,

lalu pemilihan supplier untuk pemesanan bahan baku, setelah bahan baku diterima

maka dilakukan pengecekan jumlah dan kualitas, dan selanjutnya bahan baku

disimpan di tempat aman sebelum masuk proses produksi. Berikut ini merupakan

alur pengendalian kualitas bahan baku produk pada proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung:

Mulai

Penentuan Bahan Baku yang Akan


Digunakan

Pemesanan Bahan Baku Ke Supplier

Tidak

Pemeriksaan
Bahan Baku

Baik

Penyimpanan Bahan Baku

Proses Produksi

Selesai

Gambar 4.1 Alur Pengendalian Kualitas Bahan Baku

Sumber: Hasil Pengolahan Data Wawancara bersama Bapak Heriyanto


selaku Mandor pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung
tanggal 20 September 2019

68
Berdasarkan gambar 4.1 dapat diketahui bahwa sebelum melakukan

pemesanan bahan baku, dilakukan penentuan bahan baku apa saja yang

dibutuhkan dan digunakan oleh mandor. Pemilihan bahan baku disesuaikan

dengan spesifikasi yang telah proyek terapkan ataupun konsumen memiliki

spesifikasi khusus untuk penggunaan bahan baku yang akan digunakan, dan

kualitas bahan baku disesuaikan dengan harga produk yang akan dibuat. Setelah

dilakukan penentuan bahan baku, maka selanjutnya mandor melakukan

pemesanan bahan baku kepada supplier ataupun mandor dan karyawan

melakukan pembelian bahan baku secara langsung.

Pembelian bahan baku dilakukan setiap munculnya purchase order (PO)

dari konsumen, sehingga proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung

tidak memiliki jadwal tetap untuk pembelian bahan baku karena pembelian

disesuaikan dengan kapan adanya kebutuhan. Bahan baku yang diperlukan untuk

pembuatan perumahan di antaranya batu kali, semen, pasir, gamping, baja, krikil,

batu bata merah, kayu, genteng, kusen, pintu, jendela, keramik, cat, pipa, kran air,

paku, bambu untuk packing. Setelah pesanan bahan baku tiba, maka selanjutnya

dilakukan beberapa langkah untuk melakukan pemeriksaan dan pengecekan

kualitas bahan baku yaitu pengecekan jumlah pesanan yang tiba apakah sesuai

dengan jumlah yang dipesan atau tidak.

Dalam pengendalian ini jika terjadi kelalaian seperti lolosnya bahan baku

yang berkualitas kurang baik dan masuk pada proses produksi, maka biasanya

akan langsung diketahui oleh pegawai yang akan menggunakan bahan baku

tersebut, sehingga potensi kecacatan pada proses produksi yang diakibatkan oleh

bahan baku dapat dicegah lebih awal sebelum produk jadi.

69
B. Pengendalian Kualitas Proses Produksi

Tahap kedua yaitu pengendalian kualitas proses produksi, Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung melakukan sistem pengendalian

kualitas pada proses produksi untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya

kegagalan produksi pada setiap proses. Berikut ini adalah alur pengendalian

kualitas proses produksi (process) yang dilaksanakan oleh Proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung:


Pekerjaan awal Pekerjaan pondasi
Mulai (mempersipkan dan struktur
bahan baku)
Tidak

Tidak
Pemeriksaan Pemeriksaan
pekerjaan dinding
Pekerjaan dinding Baik pekerjaan pondasi
dan kusen dan kusen dan struktur

Baik
Pekerjaan rangka
Pemeriksaan Baik Pekerjaan
atap dan pekerjaan rangka
finishing dan
plumbling atap dan plumbling
tambahan

Tidak
Tidak
Pemeriksaan Baik Pemeriksaan
keseluruhan pekerjaan finishing
pekerjaan dan tambahan

Pembersihan

Selesai
Gambar 4.2 Alur Pengendalian Kualitas Proses Produksi

Sumber: Hasil Pengolahan Data Wawancara bersama Bapak Heriyanto


selaku Mandor Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung tanggal
20 September 2019

70
Berdasarkan Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa setelah dilakukan

pengendalian kualitas bahan baku, maka selanjutnya bahan baku masuk ke dalam

proses produksi. Proses produksi Proyek Perumahan hanya terdiri dari enam

bagian yang di antaranya adalah Pekerjaan Awal (Mempersiapkan Bahan Baku),

Pekerjaan Pondasi dan Struktur, Pekerjaan Dinding dan Kusen, Pekerjaan

Rangka Atap dan Plumbling, Pekerjaan Finishing dan Tambahan, serta Finishing.

Namun pada prosesnya, perusahaan menerapkan sistem pengendalian kualitas

proses produksi (process) yang dilakukan setelah proses pekerjaan awal

(mempersiapkan bahan baku), pekerjaan pondasi dan struktur, pekerjaan dinding

dan kusen, pekerjaan rangka atap dan plumbling, pekerjaan finishing dan

tambahan. Artinya perusahaan menerapkan pengendalian kualitas hampir pada

setiap bagian dalam proses produksi, itu dilakukan agar kegagalan produk dapat

dicegah sedini mungkin.

Sebelum pengendalian kualitas pada proses produksi dijelaskan, maka

sebelumnya penulis akan menjelaskan secara singkat bagaimana tahapan proses

produksi pada Proyek Perumahan. Tahap pertama adalah pekerjaan awal

(mempersiapkan bahan baku) yaitu bahan baku utama yang berupa batu kali,

semen, pasir, gamping, baja, krikil, batu bata merah, kayu, genteng, kusen, pintu,

jendela, keramik, cat, pipa, kran air, paku, bambu yang dikerjakan sesuai dengan

apa yang sudah di katakan oleh mandor, dan untuk keramik dan pipa dilakukan

pemotongan dengan menggunakan mesin potong. Setelah seluruh bahan baku

utama siap maka selanjutnya masuk ke proses pekerjaan dinding dan kusen,

sebelum dilakukan pekerjaan dinding dan kusen maka para pekerja akan

melakukan pemeriksaan kualitas pada bahan baku yang akan dikerjakan, jika telah

71
sesuai dengan ukurannya maka akan dilanjutkan pada proses pekerjaan dinding

dan kusen, namun jika ukuran tidak sesuai maka akan dilakukan pengerjaan ulang

atau bahkan bahan baku tidak dapat digunakan sama sekali. Pada proses ini bahan

baku yang dikerjakan oleh para pekerja yaitu dinding dan kusen hanyalah dinding

batu bata merah dan kusen dari kayu, dan pada proses ini batu bata merah dan

kayu bisa hanya dikerjakan oleh pekerja yang handal dalam bidangnya, hal ini

disesuaikan dengan keinginan konsumen.

Setelah dinding dan kusen selesai dikerjakan maka selanjutnya akan

masuk ke proses pengerjaan rangka atap dan plumbling, namun sebelumnya

pekerja akan melakukan pemeriksaan pada hasil potongan bahan baku dan hasil

pengerjaan dinding maupun kusen, jika telah sesuai standar maka akan

dilanjutkan untuk proses pengerjaan rangka atap dan plumbling. Pada proses

pengerjaan rangka atap dan plumbling yang pertama kuda-kuda, gording, nok,

kaso dan reng, kalau diperlukan ditambah dengan aluminium foil (jika perlu) dan

pemasangan genteng beserta aksesories nya, rangka atap bisa dipilih dari baja

ringan maupun kayu. Estimasinya adalah berapa banyak balok kayu/baja yang

dibutuhkan untuk pembuatan rangka, lalu proses plumbling pekerjaannya adalah

pemasangan toilet, wastafel, bath up, pemanas air, kran. Tidak ketinggalan juga

pemasangan instalasi air bersih dan air kotor . Selanjutnya hasil pengerjaan rangka

atap dan plumbling akan dilakukan pemeriksaan kualitasnya, jika terdapat

ketidaksesuaian pada hasil pengerjaan pembuatan rangka atap dan plumbling tidak

sempurna maka akan dilakukan perbaikan atau pengerjaan ulang (rework), tetapi

jika hasilnya telah sesuai maka akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu

pekerjaan finishing dan pekerjaan tambahan.

72
Proses pekerjaan finishing maupun pekerjaan tambahan dilakukan pada

seluruh bagian proyek perumahan yang telah melalui beberapa proses

sebelumnya, dan setelah selesai pekerjaan finishing maupun pekerjaan tambahan

maka akan di cek kualitas hasil keseluruhan pengerjaan proyek perumahannya.

Jika terdapat ketidaksesuaian pada hasil finishing maka akan dilakukan perbaikan

atau pengerjaan ulang (rework), namun jika telah sesuai standar pemilik rumah

atau mandor maka akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu proses

pembersihan pengerjaan proyek perumahan pada area proyek perumahan tersebut.

C. Pengendalian Kualitas Produk Jadi

Tahap ketiga yaitu pengendalian kualitas pada produk jadi Proyek

Perumahan, meski pengendalian kualitas telah dilaksanakan pada bahan baku dan

proses produksi namun seringkali terdapat ketidaksesuaian standar dan spesifikasi

yang telah ditetapkan pada produk akhir dari Proyek Perumahan tersebut.

Pengendalian kualitas pada produk jadi merupakan tahap terakhir setelah

pengendalian kualitas bahan baku dan pengendalian kualitas pada proses

produksi. Pengendalian kualitas pada produk akhir ini bertujuan untuk

memastikan bahwa hasil dari proses produksi telah sesuai dengan apa yang

diharapkan oleh mandor maupun pemilik rumah. Berikut adalah alur proses

pengendalian kualitas produk jadi yang dilakukan Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung:

73
Mulai

Proses Produksi

Finishing

Tidak

Pemeriksaan
Akhir

Selesai

Gambar 4.3 Alur Pengendalian Kualitas Produk Jadi

Sumber: Hasil Pengolahan Data Wawancara bersama Bapak Heriyanto


selaku Mandor Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung,
tanggal 20 September 2019

Gambar 4.3 merupakan alur pengendalian kualitas produk jadi pada

Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung. Produk Proyek

Perumahan yang telah melalui proses produksi selanjutnya memasuki proses

finishing sekaligus dilakukan pemeriksaan akhir untuk mengecek hasil pekerjaan

pondasi dan struktur, pekerjaan dinding dan kusen, pekerjaan rangka atap dan

plumbling, pekerjaan finishing dan tambahan, serta finishing untuk menghindari

dan memastikan bahwa produk yang memiliki kecacatan (defect) tidak sampai

hingga tangan konsumen. Ada satu keputusan yang dilaksanakan oleh Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dalam melakukan pemeriksaan

akhir dari hasil produksi, antara lain:

74
1. Jika proyek perumahan terdapat kecacatan dengan tingkat cacat yang

masih bisa di toleransi, maka akan dilakukan perbaikan (reprocess).

Saat ini persaingan dalam dunia usaha sangat ketat, hal ini menuntut suatu

proyek untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari setiap

produknya, serta dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan dari konsumen.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diketahui bagaimana pengendalian kualitas

pada produk proyek perumahan yang telah dilaksanakan oleh Mandor Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung, walaupun sistem yang saat ini

diterapkan di proyek tersebut sudah baik namun masih belum berjalan efektif. Hal

ini menimbulkan penyimpangan-penyimpangan dari hasil produksi yang tidak

memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh proyek perumahan tersebut.

Menurut Yamit (2010:202) Pengendalian kualitas merupakan alat yang berguna

dalam menghasilkan produk sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh

perusahaan sejak awal hingga akhir proses produksi. Sedangkan menurut Haming

dan Nurnajamuddin (2017:204) ada dua macam yang dapat dilakukan untuk

melakukan pengendalian kualitas yaitu: Acceptance Sampling (per contoh

penerimaan) adalah dengan melakukan pengendalian kualitas terhadap produk

yang diterima dari pemasok atau telah selesai di pabrikasi yang bertujuan untuk

menentukan apakah produk itu diterima atau tidak. Dan Process Control

(pengendalian proses) adalah pengendalian kualitas yang dilakukan untuk

terhadap proses pengerjaan dengan menerapkan metode pengendalian kualitas

tertentu untuk membuat keputusan.

75
Artinya jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan teori Yamit

(2010:202) pengendalian kualitas yang dilakukan oleh proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung telah sesuai, karena proyek tersebut telah menentukan

standar spesifikasi dari mulai awal hingga akhir proses produksi dalam

menghasilkan produk perumahan. Meskipun sudah dilakukan dengan baik, namun

dalam praktiknya masih belum berjalan maksimal seperti apa yang diharapkan.

Sedangkan jika dibandingkan dengan teori Haming dan Nurnajamuddin

(2017:204) pengendalian kualitas pada bahan baku dan pada produk jadi di

proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung telah sesuai, namun pada

pengendalian proses yang dilakukan oleh proyek Perumahan Grand Sharon

Residence Bandung masih belum sesuai karena proyek tersebut tidak menerapkan

metode pengendalian kualitas apapun sehingga dalam praktiknya, proses produksi

masih belum berjalan efektif dan efisien.

Adapun tujuan pengendalian kualitas menurut Assauri (2018:323) adalah

untuk menjamin, bahwa proses berjalan di dalam suatu cara yang dapat diterima.

Artinya perusahaan akan melakukan penyempurnaan melalui pengawasan

terhadap produk akhir dengan menggunakan teknik-teknik statistik. Pada hasil

penelitian ini, diketahui bahwa proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung telah melakukan pengendalian kualitas dengan baik melalui cara yang

telah ditetapkan oleh mandor proyek meskipun masih terdapat penyimpangan-

penyimpangan dan belum maksimalnya pengawasan yang dilakukan hingga

produk akhir. Sehingga dapat dikatakan jika dibandingkan dengan teori Assauri

(2016:323) Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung masih belum

sesuai dan belum berjalan sebagaimana mestinya.

76
4.2 Faktor-faktor Penyebab Produk Cacat dan Kinerja Pegawai

Faktor-faktor yang menjadi penyebab produk cacat dan kinerja pegawai di

Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung ada lima, di antaranya

faktor manusia (man), faktor bahan baku (material), faktor mesin (machine),

faktor metode (method), dan faktor lingkungan (environment). Walaupun Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung telah berupaya untuk

menghasilkan produk dengan kualitas baik dalam proses produksi sesuai dengan

standar yang telah ditetapkan, namun kali praktiknya Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung masih menghadapi beberapa kendala dan

permasalahan. Kendala dan permasalahan yang masih dihadapi oleh Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung bahwa produk cacat dan kinerja

pegawai yang dihasilkan masih melebihi batas yang telah ditetapkan oleh proyek

tersebut. Hal ini terjadi karena adanya penyimpangan atau masalah dari proses

produksi. Oleh sebab itu, perlu diketahui apa saja yang menjadi faktor penyebab

kecacatan tersebut agar permasalahan seperti dapat segera diminimalisir atau

diatasi.

Maka berdasarkan tujuan penelitian yang kedua yaitu untuk mengetahui

faktor-faktor penyebab produk cacat dan kinerja pegawai di Proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung. Melalui hasil wawancara dengan Bapak

Heriyanto selaku mandor dari Proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung telah didapat informasi mengenai faktor-faktor penyebab produk cacat

dan kinerja pegawai tersebut pada tanggal 20 September 2019. Berikut merupakan

hasil pengolahan data wawancara yang dilakukan dalam bentuk Fishbone

Diagram:

77
Pasir Basah Pegawai Kurang Teliti Pegawai Malas-Malasan
Pegawai Kurang Konsentrasi
Batu Bata Belah Pegawai Kurang Jujur
Pegawai Kurang Inisiatif
Genteng Belah Pegawai Tergesa-gesa
Keramik Pecah

Produk Cacat
Tempat Produksi Kurang Kurang Perawatan Pengawasan
Layak
Kurang Maksimal

Tempat Produksi Kurang Mesin Potong Macet


Memadai Belum Ada SOP

Gambar 4.4 Fishbone Diagram Produk Cacat dan Kinerja Pegawai

Sumber: Hasil Pengolahan Data Wawancara bersama Bapak Heriyanto


selaku Mandor Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung
tanggal 20 September 2019
Berdasarkan gambar 4.4 dapat diketahui bahwa terdapat beberapa faktor

yang menjadi penyebab produk cacat dan kinerja pegawai di Proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung, yaitu faktor manusia yang diisi oleh penyebab

produk cacat dan kinerja pegawai dari ketelitian, kedisiplinan dan kejujuran,

faktor bahan baku yang diisi oleh penyebab produk cacat dan kinerja pegawai

pada proyek dari kualitas bahan baku yang digunakan, faktor mesin yang diisi

oleh penyebab produk cacat dari kondisi mesin, faktor metode yang diisi oleh

penyebab produk cacat dari metode kerja yang diterapkan, dan faktor lingkungan

yang diisi oleh penyebab produk cacat dari kondisi tempat produksi. Berikut ini

merupakan uraian dari fishbone diagram produk cacat dan kinerja pegawai

tersebut:

78
1. Faktor Manusia (Man)

Berbeda halnya dengan faktor teknis, faktor manusia memiliki sifat yang

kompleks dan umum. Kondisi fisik dan psikis setiap pegawai dapat

mempengaruhi produktivitas dan prestasi kerjanya, kondisi fisik seperti usia dan

kesehatan serta psikis seperti motivasi kerja atau perasaan setiap harinya yang

berbeda-beda. Selain itu pengalaman kerja dan pengetahuan dari pegawai juga

sangat mempengaruhi prestasi kerja yang dicapainya. Oleh sebab itu, untuk

menghasilkan produk yang berkualitas baik, maka setiap pegawai perlu memiliki

kesadaran untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari produk yang

dihasilkan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dianalisis menggunakan fishbone

diagram, dapat diketahui bahwa bahwa penyebab terjadinya penyimpangan-

penyimpangan pada proses produksi yang disebabkan oleh pegawai yang kurang

teliti dalam melakukan pekerjaan, kurangnya kejujuran pegawai, pegawai tergesa-

gesa melakukan pekerjaan, kurangnya konsentrasi pegawai, pegawai malas-

malasan dan kurangnya inisiatif dari pegawai. Tenaga kerja merupakan faktor

yang paling penting dalam proses produksi, karena dalam proses produksi

khususnya di Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung hampir

seluruh prosesnya masih dilakukan secara manual atau handmade. Sehingga jika

terjadi penyimpangan-penyimpangan atau kegagalan pada faktor manusia akan

sangat berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Dan juga

kurangnya keahlian pada pegawai berdampak pada hasil kerjanya.

79
Faktor manusia menjadi penyebab terbesar terjadinya kegagalan pada

proyek perumahan, itu disebabkan karena mandor Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung pada saat merekrut karyawan tidak melalui tahap

seleksi melainkan karena ingin membantu masyarakat di sekitar lingkungan

tempat produksi yang belum memiliki pekerjaan dengan mempekerjakannya,

sehingga banyak pegawai yang tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan

perusahaan dan berdampak pada timbulnya produk cacat dan kinerja pegawai.

2. Faktor Bahan Baku (Material)

Faktor bahan baku (material) menjadi salah satu faktor penting yang harus

menjadi perhatian khusus, karena bahan baku menjadi indikator yang sangat

mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan dalam proses produksi. Meskipun

Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung telah melakukan

pengendalian kualitas pada bahan baku namun pada praktiknya banyak yang

kualitasnya kurang baik atau tidak sempurna, seperti pasir basah yang tidak sesuai

dengan keinginan mandor, lalu banyaknya batu bata merah yang terbelah, pada

bahan baku genteng pun seringkali mengalami belah atau tidak dalam keadaan

sempurna yang mengakibatkan genteng tidak dapat digunakan seluruhnya karena

adanya kecacatan, dan pada keramik juga yang seringkali hasilnya tidak sesuai

sehingga menghambat proses produksi karena keramik tersebut tidak dapat

digunakan.

Bahan baku ini tentu perlu menjadi perhatian khusus, karena berdampak

langsung pada kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini tentu menjadi kerugian

secara finansial dan menghambat proses produksi bagi proyek tersebut, karena

proyek tersebut harus mengeluarkan anggaran lebih untuk mengganti bahan baku

80
yang tidak dapat digunakan. Oleh sebab itu, proyek perumahan harus melakukan

perbaikan pada perencanaan dan pemilihan bahan baku agar kualitasnya dapat

sesuai dengan apa yang telah di standarkan oleh proyek perumahan tersebut.

3. Faktor Mesin (Machine)

Mesin yang digunakan dalam proses produksi proyek perumahan di

Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung di antaranya mesin potong,

dan mesin bor dinding. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas baik, maka

proyek tersebut harus melakukan perawatan rutin terhadap mesin-mesin yang

digunakan. Berdasarkan hasil wawancara yang di analisis menggunakan fishbone

diagram diketahui bahwa mesin yang digunakan oleh Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung mengalami permasalahan yaitu kurang perawatan,

seperti mesin potong dan mesin bor macet dikarenakan kabel konslet atau sikring

yang harus diganti dan berdampak pada mesin tidak dapat digunakan, itu biasanya

disebabkan karena kurangnya perawatan dan mengharuskan dinamo untuk

diganti.

Hal lain yang mengakibatkan produk cacat yang berasal dari faktor mesin

yaitu lamanya pemakaian mesin potong dan mesin bor, karena terus digunakan

yang berakibat mesin menjadi panas dan tidak dapat digunakan untuk sementara.

Selanjutnya pisau pada mesin potong sudah tidak tajam yang mengakibatkan hasil

potongan tidak rapi terlebih jika digunakan untuk memotong keramik yang

berdampak pada keramik retak tidak sesuai ukuran dan tidak dapat digunakan.

Serta penyusutan kinerja mesin karena usia mesin yang sudah tidak muda lagi

mengakibatkan produktivitas mesin menurun dan penurunan kapasitas produksi.

81
4. Faktor Metode (Method)

Metode kerja yang diterapkan oleh perusahaan akan sangat berpengaruh

terhadap kelancaran proses produksi, fungsi dari metode kerja yang diterapkan

dalam perusahaan untuk mengatur seluruh bagian yang terlibat dalam proses

produksi dan dapat mengurangi tingkat kecacatan dalam produk yang dihasilkan.

Kendala dari produk cacat dan kinerja pegawai dalam proses produksi proyek

perumahan di Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung diakibatkan

karena lemahnya pengawasan serta tidak adanya aturan baku (SOP) dalam proses

produksi.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa

metode yang digunakan hanya metode secara lisan yang hanya menginstruksikan

secara langsung. Pengawasan yang dilakukan oleh mandor pun hanya dilakukan

sekali yaitu pada saat awal proses produksi, sehingga ketika produksi sedang

berjalan tidak ada pengawasan lagi yang berakibat pada timbulnya penyimpangan-

penyimpangan di tengah proses produksi. Selanjutnya tidak adanya aturan baku

atau standard operating procedure (SOP) membuat pegawai khususnya yang baru

tidak dapat mengetahui sistematis produksi yang benar, dan pegawai hanya

menjalankan kegiatan produksi berdasarkan kebiasaan saja. Adanya aturan baku

atau standard operating procedure (SOP) dalam proyek, maka akan

mempermudah pegawai untuk mengikuti langkah-langkah yang benar sehingga

proses produksi dapat lebih terkontrol dan membuat pegawai menjadi lebih

disiplin.

82
5. Faktor Lingkungan (Environment)

Lingkungan dalam hal ini merupakan kondisi tempat produksi atau area

kerja dalam proses produksi proyek perumahan di Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung. Kondisi atau lingkungan kerja yang baik akan dapat

mempengaruhi produktivitas pegawai, karena pegawai akan merasa nyaman dan

dapat leluasa dalam melakukan pekerjaannya. Berdasarkan hasil wawancara yang

telah dilakukan, diketahui bahwa pada tempat produksi proyek perumahan di

Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung kondisinya area kerja

kurang layak, yang diakibatkan karena pengaturan pada tata letaknya kurang baik

sehingga para pegawai biasanya menyimpan hasil pekerjaannya secara

sembarangan. Dan seringkali banyaknya bahan baku yang terdapat di tempat kerja

menghambat proses produksi karena area kerja kurang memadai, dan

produktivitas pegawai menurun.

Pada hasil penelitian ini, telah diketahui faktor-faktor penyebab produk

dan kinerja pegawai proyek perumahan cacat. Permasalahan yang saat ini

dihadapi oleh Proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung yaitu jumlah

produk cacat daan kinerja pegawai yang dihasilkan masih melebihi batas yang

telah ditetapkan proyek tersebut. Meskipun proses produksi yang telah dilakukan

perusahaan sudah baik, namun pada praktiknya masih terdapat produk da kinerja

pegawai yang cacat. Menurut Riwayadi (2016:297) produk cacat adalah produk

yang tidak memenuhi spesifikasi atau standar kualitas dan secara ekonomis masih

memungkinkan untuk diperbaiki. Maka jika dibandingkan dengan teori Riwayadi

(2016:297) hasil penelitian pada proses produksi yang dilakukan pada Proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung telah sesuai, karena menunjukkan

83
bahwa hasil produksi proyek perumahan masih terdapat produk yang tidak

memenuhi spesifikasi atau standar kualitas yang telah ditetapkan perusahaan.

4.3 Implementasi Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

dalam Upaya Meminimumkan Produk Cacat di Proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung

Pada sub bab ini, dipaparkan hasil penelitian dan pembahasan tentang

penerapan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Sebelum masuk ke

perhitungan nilai FMEA, terlebih dahulu dilihat proses produksi untuk

mengidentifikasi kemungkinan kegagalan dari setiap proses yang dapat

menyebabkan cacat pada produk. Proses produksi yang dilakukan dapat dilihat

dari pengendalian kualitas yang sudah dilakukan pada sub bab sebelumnya. Alur

proses produksi terdiri dari enam bagian yang terdiri dari Pekerjaan Awal

(Mempersiapkan Bahan Baku), Pekerjaan Pondasi dan Struktur, Pekerjaan

Dinding dan Kusen, Pekerjaan Rangka Atap dan Plumbling, Pekerjaan Finishing

dan Tambahan, serta Finishing. Dari enam bagian memiliki 13 proses, maka nanti

akan dicarikan potential failure mode atau mode kegagalannya dari masing-

masing proses.

Setelah mengetahui pengendalian kualitas dan alur proses produksi dari

proses awal hingga produk jadi yang dilakukan proyek perumahan, kemudian

penulis melakukan observasi langsung yang dilakukan bersamaan dengan

wawancara bersama Bapak Heriyanto selaku Mandor Proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung untuk memperoleh daftar kemungkinan kegagalan

dari setiap proses produksinya. Maka, berikut adalah hasil observasi dan

84
wawancara yang dipaparkan dalam bentuk tabel potential failure mode dari tiap

proses produksinya:

Tabel 4.3 Hasil Identifikasi Potential Failure Mode


Bagian Proses Potential Failure Mode

Pengukuran Posisi Bangunan


Kurang spesifik dalam mengukur
dan Batas-Batasnya
Pekerjaan Awal

Pengukuran Lebar dan Pengukuran terlalu pas tidak diberi


Panjang Penggalian space lebih

Pemasangan pondasi dengan


Posisi tidak sesuai
Pekerjaan Pondasi batu kali

Pembuatan lantai kerja Lantai tidak rata

Batu bata banyak yang terbelah


Pengerjaan batu bata merah
jadi dua

Pekerjaan Dinding Komponen bahan baku yang


Pengerjaan plesteran
dan Kusen kurang sesuai

Pemasangan kusen pada sisi-


Kusen yang tidak lurus
sisi dinding

Pekerjaan Rangka Pengerjaan baja ringan Baja ringan ada yang bengkok
Atap dan
Plumbling Pengerjaan toilet, wastafel, Tidak sesuai dengan posisi
kran pemasangannya
Pengerjaan material lantai
Keramik mengalami kerusakan
Pekerjaan baik ruangan maupun teras
Finishing dan Pengerjaan garasi Lahan yang pas-pasan
Tambahan
Pengerjaan pagar, kanopi Mesin las sering macet

Finishing Pengecetan Cuaca yang buruk


Sumber: Hasil Pengolahan Data Observasi serta Wawancara dengan Bapak
Heriyanto Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019

85
Tabel 4.3 merupakan tabel hasil identifikasi potential failure mode dari

setiap prosesnya. Dari tabel tersebut diketahui, terdapat enam bagian inti dalam

proses produksi pada Proyek Perumahan yaitu Pekerjaan Awal (Mempersiapkan

Bahan Baku), Pekerjaan Pondasi dan Struktur, Pekerjaan Dinding dan Kusen,

Pekerjaan Rangka Atap dan Plumbling, Pekerjaan Finishing dan Tambahan,

serta Finishing. Dari setiap bagian terdapat pula proses-prosesnya.

Bagian Pekerjaan awal yaitu proses pengukuran posisi bangunan dan juga

batas-batasnya kemudian pengukuran lebar dan panjang penggalian. Lalu bagian

pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan pondasi dengan batu kali dan

pembuatan lantai kerja. Bagian pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses

pengerjaan batu bata merah, pengerjaan plesteran dan pemasangan kusen pada

sisi-sisi dinding. Lalu ada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu

proses pengerjaan baja ringan, pengerjaan toilet, wastafel dan kran. Lalu ada juga

bagian pekerjaan finishing dan tambahan terdiri dari proses pengerjaan material

lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan garasi, pengerjaan pagar dan kanopi.

Dan yang terakhir bagian finishing yaitu proses pengecetan.

Dari hasil identifikasi didapatkan bahwa pula bagian pekerjaan awal yaitu

proses pengukuran posisi bangunan dan juga batas-batasnya kemudian

pengukuran lebar dan panjang penggalian memiliki kemungkinan terjadinya

pegawai kurang spesifik dalam mengukur dan pengukuran terlalu pas tidak diberi

space yang lebih. Lalu, bagian pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan

pondasi dengan batu kali dan pembuatan lantai kerja memiliki kemungkinan

terjadinya posisi yang tidak sesuai dan lantai yang tidak rata. Pada bagian

pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses pengerjaan batu bata merah, pengerjaan

86
plesteran dan pemasangan kusen pada sisi-sisi dinding diidentifikasi memiliki

kemungkinan terjadinya batu bata banyak yang terbelah jadi dua, komponen

bahan baku yang kurang sesuai, dan kusen yang tidak lurus. Lalu pada bagian

pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu proses pengerjaan baja ringan,

pengerjaan toilet, wastafel dan kran diidentifikasi memiliki kemungkinan

terjadinya baja ringan yang sering bengkok dan tidak sesuai dengan posisi

pemasangannya.

Kemudian pada bagian pekerjaan finishing dan tambahan terdiri dari

proses pengerjaan material lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan garasi,

pengerjaan pagar dan kanopi diidentifikasi memiliki kemungkinan terjadinya

keramik yang mengalami kerusakan atau retak, lahan pembuatan garasi yang pas-

pasan dan mesin las untuk pembuatan kanopi dan pagar mengalami kemacetan,

lalu pada bagian finishing yaitu proses pengecetan diidentifikasi memiliki

kemungkinan terjadinya cuaca buruk. Lalu hasil wawancara peneliti dengan

manager proyek dimana manager proyek menentukan Potential failure Msde yang

sudah ditentukan sebelumnya agar lebih spesifik.

Kemudian, kembali dilakukan identifikasi untuk mengetahui dampak-

dampak yang mungkin terjadi dari masing-masing mode kegagalan tersebut. Dari

hasil observasi yang dilakukan bersamaan dengan wawancara bersama Bapak

Heriyanto selaku mandor pada Proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung pada tanggal 20 September 2019. Berikut hasil identifikasi dampak

kegagalan dari mode kegagalan yang terjadi:

87
Tabel 4.4 Hasil Identifikasi Potential Effect of Failure

Potential Effect of
Bagian Proses Potential Failure Mode
Failure

Pengukuran Posisi Ukuran tidak


Kurang spesifik dalam
Bangunan dan Batas- sesuai
mengukur
Pekerjaan Batasnya
Awal
Pengukuran Lebar
Pengukuran terlalu pas Ukuran tidak
dan Panjang
tidak diberi space lebih sesuai
Penggalian

Pemasangan pondasi Estetika produk


Posisi tidak sesuai
Pekerjaan dengan batu kali menurun
Pondasi
Pembuatan lantai
Lantai tidak rata Kualitas menurun
kerja

Pengerjaan batu bata Batu bata banyak yang Hasil produksi


merah terbelah jadi dua kurang maksimal

Pekerjaan Kepuasan
Komponen bahan baku
Dinding dan Pengerjaan plesteran pelanggan
yang kurang sesuai
Kusen menurun

Pemasangan kusen Kualitas produk


Kusen yang tidak lurus
pada sisi-sisi dinding kurang baik

Pengerjaan baja Baja ringan ada yang Hasil produksi


Pekerjaan ringan bengkok kurang maksimal
Rangka Atap
dan Plumbling Pengerjaan toilet, Tidak sesuai dengan Hasil produksi
wastafel, kran posisi pemasangannya kurang maksimal
Pengerjaan material
Keramik mengalami Hasil pemotongan
lantai baik ruangan
kerusakan yang tidak sesuai
maupun teras
Pekerjaan
Produksi menjadi
Finishing dan Pengerjaan garasi Lahan yang pas-pasan
lambat
Tambahan
Pengerjaan pagar, Produksi semakin
Mesin las sering macet lama
kanopi

Finishing Produksi semakin


Pengecetan Cuaca yang buruk
lama
Sumber: Hasil Pengolahan Data Observasi serta Wawancara dengan Bapak
Heriyanto Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019

88
Berdasarkan tabel 4.4 setiap kegagalan yang terjadi pada masing-masing

proses produksi dapat menimbulkan efek samping terhadap proses produksi

selanjutnya. Tujuan dari dilakukannya identifikasi efek kegagalan potensial

adalah untuk mengetahui apa efek dari kegagalan tersebut jika terjadi. Dari tabel

4.4 diketahui bahwa pada bagian proses pengukuran posisi bangunan dan juga

batas-batasnya kemudian pengukuran lebar dan panjang penggalian memiliki

kemungkinan terjadinya pegawai kurang spesifik dalam mengukur dan

pengukuran terlalu pas tidak diberi space yang lebih, mode kegagalan ini memiliki

efek atau dampak terhadap ukuran yang tidak sesuai. Sedangkan pada bagian

pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan pondasi dengan batu kali dan

pembuatan lantai kerja memiliki kemungkinan terjadinya posisi yang tidak sesuai

dan lantai yang tidak rata, yang kemudian akan berdampak terhadap estetika

produk menurun dan kualitas pun menurun.

Pada bagian pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses pengerjaan batu

bata merah, pengerjaan plesteran dan pemasangan kusen pada sisi-sisi dinding

diidentifikasi memiliki kemungkinan terjadinya batu bata banyak yang terbelah

jadi dua, komponen bahan baku yang kurang sesuai, dan kusen yang tidak lurus,

hal ini dapat menimbulkan hasil produksi kurang maksimal, kepuasan pelanggan

pun menurun dan kualitas produk kurang baik.

Selanjutnya pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu proses

pengerjaan baja ringan, pengerjaan toilet, wastafel dan kran diidentifikasi

memiliki kemungkinan terjadinya baja ringan yang sering bengkok dan

pemasangan toilet, wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi

89
pemasangannya, hal ini mengakibatkan hasil dari produksi yang kurang

maksimal.

Bagian selanjutnya yaitu proses pekerjaan finishing dan tambahan terdiri

dari proses pengerjaan material lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan

garasi, pengerjaan pagar dan kanopi diidentifikasi memiliki kemungkinan

terjadinya keramik yang mengalami kerusakan atau retak, lahan pembuatan garasi

yang pas-pasan dan mesin las untuk pembuatan kanopi dan pagar mengalami

kemacetan, hal ini kemudian mengakibatkan hasil pemotongan yang tidak sesuai,

lalu produksi pun menjadi lambat dan produksi itu pula menjadi lama. Terakhir

adalah pada bagian finishing yaitu proses pengecetan diidentifikasi memiliki

kemungkinan terjadinya cuaca buruk, hal ini mengakibatkan terjadinya mode

kegagalan bahwa produksi menjadi semakin lama. Lalu hasil wawancara peneliti

dengan manager proyek dimana manager proyek menentukan Potential failure

mode dan Potential effect of failure yang sudah ditentukan sebelumnya agar lebih

spesifik.

Setelah itu langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi penyebab terjadi

kemungkinan kegagalan tersebut. Kemudian, kembali dilakukan observasi

bersamaan melakukan wawancara. Berikut adalah hasil observasi dan wawancara

yang telah diolah menjadi tabel identifikasi potential cause of failure:

90
Tabel 4.5 Hasil Identifikasi Potential Cause of Failure

Potential Cause of
Bagian Proses Potential Failure Mode
Failure

Pengukuran Posisi Pegawai kurang


Kurang spesifik dalam
Bangunan dan Batas- teliti
mengukur
Pekerjaan Batasnya
Awal
Pengukuran Lebar
Pengukuran terlalu pas Pegawai kurang
dan Panjang
tidak diberi space lebih teliti
Penggalian

Pemasangan pondasi Pegawai tergesa-


Posisi tidak sesuai
Pekerjaan dengan batu kali gesa dalam bekerja
Pondasi
Pembuatan lantai Pegawai kurang
Lantai tidak rata
kerja teliti

Pengerjaan batu bata Batu bata banyak yang Bahan baku sulit
merah terbelah jadi dua dipasang
Pekerjaan
Komponen bahan baku Pegawai tergesa-
Dinding dan Pengerjaan plesteran
yang kurang sesuai gesa dalam bekerja
Kusen
Pemasangan kusen Bahan baku sulit
Kusen yang tidak lurus
pada sisi-sisi dinding dipasang

Pengerjaan baja Baja ringan ada yang Produk kurang


Pekerjaan ringan bengkok berkualitas
Rangka Atap
dan Plumbling Pengerjaan toilet, Tidak sesuai dengan Pegawai kurang
wastafel, kran posisi pemasangannya teliti
Pengerjaan material
Keramik mengalami Pegawai tergesa-
lantai baik ruangan
kerusakan gesa dalam bekerja
maupun teras
Pekerjaan
Pegawai jadi
Finishing dan Pengerjaan garasi Lahan yang pas-pasan
kurang teliti
Tambahan
Pengerjaan pagar, Penyusutan kinerja
Mesin las sering macet mesin
kanopi

Finishing Pegawai tergesa-


Pengecetan Cuaca yang buruk
gesa dalam bekerja
Sumber: Hasil Pengolahan Data Observasi serta Wawancara dengan Bapak
Heriyanto Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019

91
Berdasarkan tabel 4.5 tersebut diketahui penyebab-penyebab potential

failure mode dari tiap prosesnya. Proses pertama yaitu pada bagian pengukuran

posisi bangunan dan juga batas-batasnya kemudian pengukuran lebar dan panjang

penggalian memiliki kemungkinan terjadinya pegawai kurang spesifik dalam

mengukur dan pengukuran terlalu pas tidak diberi space yang lebih, diidentifikasi

adalah penyebab dari pegawai yang kurang teliti. Sedangkan pada bagian

pekerjaan pondasi yaitu proses pemasangan pondasi dengan batu kali dan

pembuatan lantai kerja memiliki kemungkinan terjadinya posisi yang tidak sesuai

dan lantai yang tidak rata, hal ini diidentifikasi adalah penyebab dari pegawai

yang tergesa-gesa dalam bekerja sehingga pegawai kurang teliti dalam

memperhatikan kualitas produk yang dihasilkan.

Sedangkan pada bagian pekerjaan dinding dan kusen yaitu proses

pengerjaan batu bata merah, pengerjaan plesteran dan pemasangan kusen pada

sisi-sisi dinding diidentifikasi memiliki kemungkinan terjadinya batu bata banyak

yang terbelah jadi dua, komponen bahan baku yang kurang sesuai, dan kusen yang

tidak lurus, hal ini merupakan penyebab dari bahan baku sulit untuk dipasang dan

juga pegawai yang tergesa-gesa dalam bekerja.

Selanjutnya pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling yaitu proses

pengerjaan baja ringan, pengerjaan toilet, wastafel dan kran diidentifikasi

memiliki kemungkinan terjadinya baja ringan yang sering bengkok dan

pemasangan toilet, wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi

pemasangannya, hal ini karena produk kurang berkualitas dan lagi-lagi penyebab

kerusakan adalah pegawai yang kurang teliti dalam melakukan pekerjaannya.

92
Bagian selanjutnya yaitu proses pekerjaan finishing dan tambahan terdiri

dari proses pengerjaan material lantai baik ruangan maupun teras, pengerjaan

garasi, pengerjaan pagar dan kanopi diidentifikasi memiliki kemungkinan

terjadinya keramik yang mengalami kerusakan atau retak, lahan pembuatan garasi

yang pas-pasan dan mesin las untuk pembuatan kanopi dan pagar mengalami

kemacetan, hal ini kemudian mengakibatkan pegawai yang tergesa-gesa dalam

bekerja dan juga pegawai yang kurang teliti dalam bekerja. Lalu pada pengerjaan

pagar dan kanopi mengakibatkan proses mesin las sering macet hal ini

mengakibatkan penyusutan pada kinerja mesin. Bagian terakhir adalah pada

proses finishing yaitu pengecetan diidentifikasi memiliki kemungkinan terjadinya

cuaca buruk, hal ini mengakibatkan pegawai menjadi tergesa-gesa dalam bekerja.

Lalu hasil wawancara peneliti dengan manager proyek dimana manager proyek

menentukan Potential failure mode dan Potential cause of failure yang sudah

ditentukan sebelumnya agar lebih spesifik.

Setelah mengetahui potential failure mode, potential effect of failure dan

potential cause of failure, kemudian selanjutnya menuju tahap perhitungan nilai

FMEA. Perhitungan ini dilakukan dengan empat tahapan berdasarkan langkah-

langkah FMEA yang dilakukan oleh Prayogi dkk. (2016) serta Anugrah dkk.

(2015):

A. Penentuan Nilai Severity

Proses penilaian pada masing-masing potential failure mode, penilaian

dilakukan dengan hasil wawancara yang berupa brainstorming. Pada penilaian ini

tidak lupa dicantumkan alasan mengapa potential failure mode pada masing-

masing proses diberikan nilai tersebut, hal ini itu sebagai dasar bahwa penyajian

93
informasi dari data menjadi jelas dan dapat menjadi pertimbangan pada tahapan

penerapan lanjutan jika analisis ini kemudian diterapkan oleh proyek tersebut.

Berikut adalah tabel penilaian severity:

Tabel 4.6 Penilaian Severity


Potential Failure Potential Cause
Bagian S Alasan
Mode of Failure

Pegawai kurang
Kurang spesifik Produk tidak dapat diperbaiki
teliti 9
dalam mengukur namun masih dapat diproses
Pekerjaan
Awal
Pengukuran terlalu
Pegawai kurang Produk tidak dapat diperbaiki
pas tidak diberi space 9
teliti namun masih dapat diproses
lebih
Akan berdampak pada
Pegawai
kualitas produk jadi
Posisi tidak sesuai tergesa-gesa 5
Pekerjaan walaupun masih dapat
dalam bekerja
Pondasi diproses
Pegawai kurang Produk tidak dapat diperbaiki
Lantai tidak rata 6
teliti namun masih dapat diproses
Batu bata banyak Berdampak pada produk
Bahan baku sulit
yang terbelah jadi 4 namun tidak memerlukan
dipasang
dua perbaikan
Pekerjaan Komponen bahan Pegawai
Produk tidak dapat diperbaiki
Dinding baku yang kurang tergesa-gesa 5
namun masih dapat diproses
dan Kusen sesuai dalam bekerja
Berdampak pada produk
Kusen yang tidak Bahan baku sulit
4 namun tidak memerlukan
lurus dipasang
perbaikan

Baja ringan ada yang Produk kurang Estetika produk menurun jadi
Pekerjaan 3
bengkok berkualitas memerlukan perbaikan
Rangka
Atap dan Tidak sesuai dengan
Pegawai kurang Produk tidak dapat diperbaiki
Plumbling posisi 7
teliti namun masih dapat diproses
pemasangannya
Pegawai
Keramik mengalami Produk tidak dapat diperbaiki
tergesa-gesa 5
kerusakan namun masih dapat diproses
Pekerjaan dalam bekerja
Finishing Lahan yang pas- Pegawai jadi Estetika produk menurun jadi
4
dan pasan kurang teliti memerlukan perbaikan
Tambahan Penyusutan
Mesin las sering Mesin las harus diperbaiki
kinerja mesin 7
macet untuk dapat diproses

Pegawai
Estetika produk menurun jadi
Finishing Cuaca yang buruk tergesa-gesa 8
memerlukan perbaikan
dalam bekerja
Sumber: Hasil Pengolahan Data Brainstrorming dengan Bapak Heriyanto
Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019
94
Tabel 4.6 adalah tabel penilaian severity. Pada kolom bagian pengukuran

kurang spesifik terdapat potential failure mode. Dari hasil penilaian severity

tersebut, didapatkan nilai 9 dengan alasan produk tidak dapat diperbaiki namun

masih dapat diproses. Kedua adalah pengukuran terlalu pas, diberi nilai 9 dengan

alasan produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat diproses. Selanjutnya,

pada bagian pekerjaan pondasi terdapat dua potensial failure mode. Yang pertama

adalah posisi tidak sesuai, kolom ini diberi nilai severity 5 karena akan berdampak

pada kualitas produk jadi walaupun masih dapat diproses. Kedua, terdapat lantai

yang tidak rata diberi nilai severity 6 alasannya produk tidak dapat diperbaiki

namun masih dapat diproses.

Kemudian pada bagian pekerjaan dinding dan kusen terdapat tiga potential

failure mode. Yang pertama adalah batu bata banyak yang terbelah, kolom ini

diberi nilai severity 4 karena akan berdampak pada produk namun tidak

memerlukan perbaikan. Kedua, komponen bahan baku yang kurang sesuai diberi

nilai severity 5 alasannya adalah produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat

diproses. Ketiga, kusen yang tidak lurus diberi nilai 4 karena berdampak pada

produk namun tidak memerlukan perbaikan.

Lalu pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling, terdapat dua

potential failure mode, yang pertama terdapat baja ringan ada yang bengkok yang

diberikan nilai severity 3 dengan alasan estetika produk menurun jadi memerlukan

perbaikan. Kedua tidak sesuai dengan posisi pemasangan yang diberikan nilai

severity 7 dengan alasan produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat

diproses.

95
Kemudian pada bagian finishing dan tambahan terdapat tiga potential

failure mode. Yang pertama keramik mengalami kerusakan yang diberikan nilai

severity 5 dengan alasan produk tidak dapat diperbaiki namun masih dapat

diproses. Kedua, lahan yang pas-pasan yang diberikan nilai 4 alasannya karena

estetika produk menurun jadi memerlukan perbaikan. Yang ketiga, mesin las

sering macet yang diberikan nilai 7 karena mesin las harus diperbaiki untuk dapat

diproses. Pada bagian finishing terdapat satu potential failure mode, yaitu adalah

cuaca buruk yang diberikan nilai severity 8 dengan alasan estetika produk

menurun jadi memerlukan perbaikan.

Kemudian, setelah diketahui penilaian severity yang dilakukan dengan

cara brainstrorming dengan mandor proyek tersebut, pada tanggal 20 September

2019. Penulis kemudian melakukan brainstorming dihari yang sama untuk

menentukan nilai occurance.

Lalu berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan manager proyek dimana

hasil severity dan alasan dari penilaian proyek sudah ditentukan oleh manager

proyek sebelumnya.

B. Penentuan Nilai Occurance

Identifikasi penyebab kegagalan potential dari failure mode (kesalahan)

sehingga menimbulkan efek tersebut dan memberikan nilai tingkat kejadian

(occurance). Sama seperti tahapan sebelumnya, langkah pertama adalah

menentukan rating untuk mengidentifikasi penyebab mana yang paling mungkin

dan mana yang paling tidak mungkin. Kemudian mengurutkan rating dari angka 1

artinya untuk frekuensi kejadian paling rendah kemungkinannya dan angka 10

artinya untuk frekuensi kejadian yang paling tinggi kemungkinannya. Untuk bisa

96
menentuan kan nilai rating tersebut. Berikut adalah tabel penentuan nilai

occurance:

Tabel 4.7 Penilaian Occurance


Potential Failure Potential Cause of O Alasan
Bagian
Mode Failure

Kurang spesifik Pegawai kurang Kegagalan dapat mudah


2
dalam mengukur teliti dieliminasi
Pekerjaan
Awal
Pengukuran Kegagalan cukup mudah
Pegawai kurang 5
terlalu pas tidak dieliminasi
teliti
diberi space lebih
Pegawai tergesa- 7 Kegagalan sulit dieliminasi
Posisi tidak sesuai
Pekerjaan gesa dalam bekerja
Pondasi Pegawai kurang Kegagalan dapat
Lantai tidak rata 4
teliti dieliminasi

Batu bata banyak Kegagalan dapat


Bahan baku sulit 4
yang terbelah jadi dieliminasi
dipasang
dua
Pekerjaan Komponen bahan Kegagalan dapat mudah
Dinding dan Pegawai tergesa- 3
baku yang kurang dieliminasi
Kusen gesa dalam bekerja
sesuai
Kusen yang tidak Bahan baku sulit Kegagalan cukup mudah
5
lurus dipasang dieliminasi

Baja ringan ada Produk kurang Kegagalan dapat mudah


2
Pekerjaan dieliminasi
yang bengkok berkualitas
Rangka Atap
dan Tidak sesuai Kegagalan dapat
Pegawai kurang 4
Plumbling dengan posisi dieliminasi
teliti
pemasangannya
Keramik Kegagalan dapat
Pegawai tergesa- 3
mengalami dieliminasi
gesa dalam bekerja
Pekerjaan kerusakan
Finishing Lahan yang pas- Pegawai jadi Kegagalan dapat mudah
2
dan pasan kurang teliti dieliminasi
Tambahan
Mesin las sering Penyusutan kinerja Kegagalan dapat
3
macet mesin dieliminasi

Pegawai tergesa- Kegagalan mudah


Finishing Cuaca yang buruk 5
gesa dalam bekerja dieliminasi

Sumber: Hasil Pengolahan Data Brainstrorming dengan Bapak Heriyanto


Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019

97
Tabel 4.7 merupakan tabel penilaian occurance. Pada bagian pekerjaan

awal terdapat dua potential failure mode yaitu bagian pengukuran kurang spesifik

dan pengukuran terlalu pas. Dari hasil penilaian occurance tersebut. Diberikan

nilai occurance 2 dengan alasan kegagalan dapat mudah dieliminasi, dan hasil

penilaian pada kolom kedua diberikan nilai occurance 5 dengan alasan kegagalan

cukup mudah dieliminasi. Pada bagian pekerjaan pondasi terdapat dua potensial

failure mode. Yang pertama adalah posisi tidak sesuai, kolom ini diberi nilai

occurance 7 karena kegagalan sulit dieliminasi. Kedua, terdapat lantai yang tidak

rata diberi nilai occurance 4 dengan alasan kegagalan dapat dieliminasi.

Kemudian pada bagian pekerjaan dinding dan kusen terdapat tiga potential

failure mode. Yang pertama adalah batu bata banyak yang terbelah, kolom ini

diberi nilai occurance 4 karena kegagalan dapat dieliminasi. Kedua, komponen

bahan baku yang kurang sesuai diberi nilai occurance 3 alasannya karena

kegagalan dapat mudah dieliminasi. Ketiga, kusen yang tidak lurus diberi nilai 5

karena kegagalan cukup mudah dieliminasi.

Lalu pada bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling, terdapat dua

potential failure mode, yang pertama terdapat baja ringan ada yang bengkok yang

diberikan nilai occurance 2 dengan alasan kegagalan dapat mudah dieliminasi.

Kedua tidak sesuai dengan posisi pemasangan yang diberikan nilai occurance 4

karena kegagalan dapat dieliminasi.

Kemudian pada bagian finishing dan tambahan terdapat tiga potential

failure mode. Yang pertama keramik mengalami kerusakan yang diberikan nilai

occurance 3 karena kegagalan dapat dieliminasi. Kedua, lahan yang pas-pasan

yang diberikan nilai 2 karena kegagalan nya dapat mudah dieliminasi. Yang

98
ketiga, mesin las sering macet yang diberikan nilai 3 karena kegagalan dapat

dieliminasi. Pada bagian finishing terdapat satu potential failure mode, yaitu

adalah cuaca buruk yang diberikan nilai occurance 5 dengan alasan kegagalan

cukup mudah dieliminasi.

Lalu berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan manager proyek dimana

hasil occurance dan alasan dari penilaian proyek sudah ditentukan oleh manager

proyek sebelumnya. Kemudian setelah penilaian occurance, lalu melakukan

brainstorming dihari yang sama untuk menentukan nilai detection.

C. Penentuan Nilai Detection

Identifikasi kontrol untuk mendeteksi isu-isu kesalahan yang ada dalam

daftar. Untuk menentukan nilai tingkat deteksi (detection). Langkah pertama

adalah menentukan rating berdasarkan efektifitasnya dalam mendeteksi dan

mencegah kesalahan. Angka 1 artinya failure memiliki pencegahan yang dapat

dibilang sempurna, dan angka 10 berarti tidak memiliki pencegahan apapun

terhadap failure atau sangat lemah. Untuk bisa menentuan kan nilai rating

tersebut. Berikut adalah hasil brainstorming ketiga yang diolah ditabel penentuan

nilai detection:

99
Tabel 4.8 Penilaian Detection
Potential Failure Prevention D Alasan
Bagian
Mode
Kurang spesifik Pemberian tanda Metode pencegahan
1
dalam mengukur sebelum diukur sangat efektif
Pekerjaan
Awal Pengukuran terlalu Pemberian space lebih Kemungkinan penyebab
pas tidak diberi 3
saat mengukur terjadinya sangat rendah
space lebih

Metode pencegahan
Pemberian tanda
Posisi tidak sesuai 5 kadang memungkinkan
sebelum dikerjakan
Pekerjaan penyebab itu terjadi
Pondasi
Pemeriksaan harus Kemungkinan penyebab
Lantai tidak rata 2
dilakukan terjadinya sangat rendah

Batu bata banyak Pemeriksaan kualitas


Kemungkinan penyebab
yang terbelah jadi bahan baku sebelum 3
terjadinya sangat rendah
dua diproses
Pekerjaan
Komponen bahan Pemeriksaan dilakukan Kemungkinan penyebab
Dinding dan 3
baku yang kurang dengan cermat terjadinya sangat rendah
Kusen
sesuai
Kusen yang tidak Pemeriksaan kembali Kemungkinan penyebab
2
lurus saat pengerjaan terjadinya sangat rendah

Baja ringan ada Pemotongan harus Kemungkinan penyebab


Pekerjaan 3
yang bengkok dilakukan terjadinya sangat rendah
Rangka
Atap dan Tidak sesuai Pemberian tanda Kemungkinan penyebab
dengan posisi 2
Plumbling sebelum dikerjakan terjadinya sangat rendah
pemasangannya
Keramik Pemeriksaan harus Kemungkinan penyebab
mengalami 3
dilakukan terjadinya sangat rendah
kerusakan
Pekerjaan Pemeriksaan dilakukan Kemungkinan penyebab
Finishing Lahan yang pas- 2
pasan dengan cermat terjadinya sangat rendah
dan
Tambahan Mengecek keadaan
Mesin las sering Kemungkinan penyebab
mesin sebelum mesin 3
macet terjadinya sangat rendah
dipakai

Mengecek keadaan Kemungkinan penyebab


Finishing Cuaca yang buruk 2
cuaca terjadinya sangat rendah

Sumber: Hasil Pengolahan Data Brainstrorming dengan Bapak Heriyanto


Sebagai Mandor Proyek Perumahan, tanggal 20 September 2019

100
Tabel 4.8 merupakan tabel penentuan nilai detection. Dari tabel tersebut

dapat diketahui bahwa bagian pekerjaan awal sudah dilakukan pengendalian

untuk mengatasi terjadinya kegagalan. Tetapi pada bagian tersebut masing sering

terjadi kegagalan. Mode kegagalan yang pertama adalah pengukuran kurang

spesifik. Dilakukan prevention dengan cara pemberian tanda sebelum diukur, lalu

diberikan nilai detection 1 dengan alasan Metode pencegahan sangat efektif.

Mode kegagalan kedua yaitu pengukuran terlalu pas. Prevention yang dilakukan

adalah pemberian space lebih saat diukur. Diberikan nilai detection 3 dengan

alasan kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah.

Pada bagian pekerjaan pondasi terdapat dua potensial failure mode. Yang

pertama adalah posisi tidak sesuai dilakukan prevention dengan cara pemberian

tanda sebelum dikerjakan dengan diberikan nilai detection 5 dengan alasan

metode pencegahan kadang memungkingkan penyebab itu terjadi. Mode

kegagalan kedua adalah terdapat lantai yang tidak rata. Prevention yang dilakukan

adalah pemeriksaan yang harus dilakukan. Diberikan nilai detection 2 dengan

alasan kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah.

Bagian selanjutnya pekerjaan dinding dan kusen terdapat tiga potensial

failure mode. Yang pertama adalah batu bata banyak yang mengalami kecacatan,

prevention dengan cara pemeriksaan kualitas bahan baku sebelum diproses

dengan diberikan nilai detection 3 dengan alasan kemungkinan penyebab

terjadinya sangat rendah. Mode kegagalan kedua adalah komponen bahan baku

yang kurang sesuai. Prevention yang dilakukan adalah pemeriksaan yang harus

dilakukan dengan cermat. Diberikan nilai detection 3 dengan alasan kemungkinan

penyebab terjadinya sangat rendah. Lalu yang ketiga, kusen yang tidak lurus

101
dengan prevention yang dilakukan pemeriksaan kembali saat pengerjaan.

Diberikan nilai detection 2 dengan alasan kemungkinan penyebab terjadinya

sangat rendah.

Selanjutnya bagian pekerjaan rangka atap dan plumbling terdapat dua

potensial failure mode. Yang pertama adalah baja ringan ada yang bengkok,

prevention dengan cara pemotongan harus sesuai dengan diberikan nilai detection

3 dengan alasan Kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah. Mode

kegagalan kedua adalah tidak sesuai dengan posisi pemasangannya. Prevention

yang dilakukan adalah pemberian tanda sebelum dikerjakan. Diberikan nilai

detection 2 dengan alasan kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah.

Bagian selanjutnya pekerjaan finishing dan tambahan terdapat tiga

potensial failure mode. Yang pertama adalah keramik mengalami kecacatan,

prevention dengan cara pemeriksaan harus dilakukan dengan diberikan nilai

detection 3 dengan alasan kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah. Mode

kegagalan kedua adalah lahan yang pas-pasan. Prevention yang dilakukan adalah

pemeriksaan yang harus dilakukan dengan cermat. Diberikan nilai detection 2

dengan alasan kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah. Lalu yang ketiga,

mesin las sering macet dengan prevention yang dilakukan mengecek keadaan

mesin sebelum mesin digunakan. Diberikan nilai detection 3 dengan alasan

kemungkinan penyebab terjadinya sangat rendah.

Selanjutnya adalah bagian finishing, potential failure mode yang dimana

cuaca yang buruk, prevention yang dilakukan adalah mengecek keadaan cuaca.

Dengn diberikan detection 2 dengan alasan kemungkinan penyebab terjadinya

sangat rendah.

102
Lalu berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan manager proyek dimana

hasil detection dan alasan dari penilaian proyek sudah ditentukan oleh manager

proyek sebelumnya. Maka tahap selanjutnya yang dilakukan oleh penulis adalah

mengolah nilai-nilai tersebut menjadi nilai Risk Priority Number (RPN).

D. Perhitungan Nilai Risk Priority Number (RPN)

Untuk mendapatkan nilai RPN ini, dibutuhkan data-data nilai severity,

nilai occurance, dan nilai detection yang telah didapatkan sebelumnya. Nilai RPN

adalah hasil perkalian dari nilai severity, occurance, dan detection. Hasil nilai

RPN ini dari hasil hitungan mengidentifikasi potential effect of failure, potential

cause of failure berdasarkan masing-masing potential failure mode, setelah itu

dicarikan hitungannya berdasarkan teori yang ada pada bab sebelumnya. Maka,

berikut adalah rancangan tabel perhitungan Risk Priority Number (RPN):

103
Tabel 4.9 Perhitungan Nilai Risk Priority Number (RPN)

Nilai Indikator
Bagian Potential Failure Mode
S O D RPN

Kurang spesifik dalam


9 2 1 18
Pekerjaan mengukur
Awal Pengukuran terlalu pas
9 5 3 123
tidak diberi space lebih

Pekerjaan Posisi tidak sesuai 5 7 5 175


Pondasi Lantai tidak rata 6 4 2 48

Batu bata banyak yang


4 4 3 32
terbelah jadi dua
Pekerjaan
Dinding dan Komponen bahan baku
5 3 3 45
Kusen yang kurang sesuai
Kusen yang tidak lurus 4 5 2 40
Pekerjaan Baja ringan ada yang
3 2 3 18
Rangka bengkok
Atap dan Tidak sesuai dengan posisi
7 4 2 56
Plumbling pemasangannya
Pekerjaan Keramik mengalami
5 3 3 45
Finishing kerusakan
dan Lahan yang pas-pasan 4 2 2 16
Tambahan Mesin las sering macet 7 3 3 63
Finishing Cuaca yang buruk 8 5 2 80
Sumber: Hasil Pengolahan Data Nilai Severity, Occurance, dan Detection,
pada tanggal 20 September 2019

Tabel 4.9 diatas merupakan tabel nilai RPN. Potential failure mode kurang

spesifik dalam mengukur yang mendapat nilai RPN 18. Lalu pengukuran pondasi

yang terlalu pas diberi nilai RPN 123. Posisi yang tidak sesuai mendapat nilai

RPN 175. Lantai tidak rata mendapat nilai RPN 48. Batu bata yang mengalami

kecacatan mendapat nilai RPN 32. Komponen bahan baku yang tidak sesuai

mendapat nilai RPN 45. Kusen yang tidak lurus mendapat nilai RPN 40. Baja

ringan mengalami bengkok yang mendapat nilai RPN 18. Tidak sesuai dengan

104
posisi pemasangannya mendapatkan nilai RPN 56. Selanjutnya keramik yang

mengalami kerusakan mendapatkan nilai RPN 45. Lahan pembuatan yang pas-

pasan mendapatkan nilai RPN 16. Mesin yang sering macet mendapat nilai RPN

63. Lalu cuaca mendung mendapatkan nilai RPN 80. Berdasarkan tabel 4.9

tersebut untuk masing-masing potential failure mode yang terjadi. Hasil

perhitungan nilai RPN tersebut selanjutnya diurutkan berdasarkan potential

failure mode. Berikut adalah tabel ranking RPN berdasarkan masing-masing dari

nilai yang tertinggi hingga nilai yang terendah:

Tabel 4.10 Ranking Risk Priority Number (RPN)

Ranking Potential Failure Mode RPN


1 Posisi tidak sesuai 175
2 Pengukuran terlalu pas tidak diberi space lebih 123
3 Cuaca yang buruk 80
4 Mesin las sering macet 63
Wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi
5 56
pemasangannya
6 Lantai tidak rata 48
7 Komponen bahan baku yang kurang sesuai 45
8 Keramik mengalami kerusakan 45
9 Kusen yang tidak lurus 40
10 Batu bata banyak yang mengalami kecacatan 32
11 Kurang spesifik dalam mengukur 18
12 Baja ringan ada yang cacat 18
13 Lahan pembuatan garasi yang pas-pasan 16

Sumber: Hasil Pengolahan Data Nilai Risk Priority Number (RPN), pada
tanggal 20 September 2019

Tabel 4.10 tersebut adalah tabel ranking RPN. Dari tabel tersebut

diketahui potential failure mode posisi yang tidak sesuai mendapatkan ranking 1

dengan nilai RPN 175. Pengukuran terlalu pas tidak diberi space lebih mendapat

ranking 2 dengan nilai RPN 123. Cuaca yang buruk mendapat ranking 3 dengan

nilai RPN 80. Selanjutnya mesin las sering macet ranking 4 dengan nilai RPN 63.

Lalu wastafel, kran dan lain-lain tidak sesuai dengan posisi pemasangannya

105
ranking 5 dengan nilai RPN 56. Lantai tidak rata ranking 6 dengan nilai RPN 48.

Komponen bahan baku yang kurang sesuai mendapatkan ranking 7 dengan nilai

RPN 45. Keramik mengalami kerusakan mendapatkan ranking 8 dengan nilai

RPN 45. Kusen yang tidak lurus mendapatkan ranking 9 dengan nilai RPN 40.

Batu bata banyak mengalami kecacatan mendapatkan ranking 10 dengan nilai

RPN 32. Kurang spesifik dalam mengukur mendapatkan ranking 11 dengan nilai

RPN 18. Baja ringan ada yang mengalami kecacatan mendapatkan ranking 12

dengan nilai RPN 18. Selanjutnya lahan pembuatan garasi yang pas-pasan

mendapatkan ranking 13 dengan nilai RPN 16.

Menurut Prayogi, dkk (2016) terdapat langkah-langkah dalam penerapan

FMEA yaitu yang pertama mengidentifikasi efek kegagalan potensial dan

pemberian nilai tingkat keparahan (severity), yang kedua mengidentifikasi

penyebab kegagalan potensial dari failure mode sehingga menimbulkan efek

tersebut dan memberikan nilai tingkat kejadian (occurence). Yang ketiga

mengidentifikasi kontrol untuk mendeteksi isu-isu kesalahan ada dalam daftar.

Untuk menetukan nilai tingkat deteksi (detection), dan yang keempat menentukan

nilai RPN dengan perkalian dari severity x occurance x detection.

Jadi jika dibandingkan dengan teori tersebut sudah sesuai karena pada

penelitian ini pengendalian kualitas produk dan kinerja pegawai di proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung dengan menerapkan metode

FMEA. Awal langkah penerapan FMEA sudah diisi dari tabel penilaian severity,

penilaian occurance dan penilaian detection berdasarkan mode kegagalan yang

ada di proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung. Sedangkan menurut

Tannady (2015:57) keuntungan menerapkan metode Failure Mode Effect Analysis

106
(FMEA) pada pengendalian kualitas, perusahaan dapat meminimalisir scrap, tidak

akan terjadi rework, langsung bisa mendeteksi produk cacat, dan meminimkan

produk cacat.

Jika dibandingkan dengan teori tersebut sudah ada yang sesuai dengan

hasil penelitian diatas dengan menggunakan FMEA karena sudah teridentifikasi

tiga potential failure mode dengan nilai RPN tertinggi dan melebihi angka kritis.

Pada mode kegagalan yang terjadi tersebut pada proses produksi di proyek

Perumahan Grand Sharon Residence Bandung sudah dapat dicegah sedini

mungkin. Selain itu, apabila scrap menjadi minim, artinya kegiatan rework atau

pengerjaan ulang pada proyek Perumahan Grand Sharon Residence Bandung pun

berkurang atau dapat dihindari bahkan dihilangkan dan dapat langsung. Dan

hasilnya bisa terdeteksi mode kegagalan apa saja yang terjadi seperti tiga mode

kegagalan tersebut. Maka proyek tersebut juga dapat mengurangi biaya tambahan

untuk perbaikan produk-produk yang mengalami kecacatan.

Penerapan FMEA adalah mencegah cacat produk, baik terdeteksi saat

produk tersebut masih di area internal atau sudah area eksternal. Setelah diketahui

mode kegagalannya lalu ada perhitungannya yaitu perhitungan nilai RPN. Hasil

nilai RPN ini bisa dilihat dari tabel ranking mode kegagalan yang nilainya

tertinggi hingga mode kegagalan yang memiliki nilai yang rendah, tujuannya

yaitu nanti dapat diidentifikasi untuk mencari akar penyebabnya. Setelah

diketahui urutannya, ditarik yang nilainya melebihi nilai kritis yaitu melebihi

angka 100. Nilai kritis diketahui melebihi angka 100 ini karena mengacu dari

penelitian terdahulu.

107
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini terdapat dua sub bab yaitu kesimpulan dan saran. Pada sub

bab pertama, akan dipaparkan kesimpulan dari masing-masing tujuan penelitian

yang telah dibuat pada bab sebelumnya. Kemudian pada sub bab kedua, akan

dipaparkan mengenai saran sebagai usulan perbaikan yang diperoleh dari hasil

penelitian. Untuk itu, yang terlebih dahulu akan dijelaskan yaitu mengenai

kesimpulan.

5.1 Kesimpulan

Pada sub bab ini akan dipaparkan kesimpulan dari hasil analisis dan

pembahasan mengenai implementasi pengendalian kualitas produk dan kinerja

pegawai pada proyek perumahan dengan menggunakan metode Failure Mode

Effect Analysis (FMEA) pada Proyek Perumahan Grand Sharon Residence

Bandung yang akan dibagi menjadi tiga, sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut

adalah kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini:

1. Proyek Perumahan memiliki sistem pengendalian kualitas yang

dilakukan dari mulai pengendalian kualitas bahan baku (input),

pengendalian kualitas proses produksi (process) dan pengendalian

kualitas produk jadi (output). Sistem pengendalian kualitas ini sangat

efektif untuk suatu proyek tersebut karena kualitas dikendalikan dari

sebelum hingga sesudah proses produksi, namun dalam

implementasinya ternyata masih belum efektif. Masih sering terjadi

108
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan dan akhirnya berdampak

pada kualitas produk dan kinerja pegawai yang dihasilkan. Terbukti dari

data produksi dan produk cacat di proyek perumahan bahwa jumlah

produk cacat yang dihasilkan melebihi dari batas yang ditentukan

sebelumnya oleh proyek tersebut.

2. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Heriyanto selaku mandor

proyek perumahan yang dibantu dengan menggunakan tools fishbone

diagram didapatkan faktor-faktor penyebab berupa faktor man yaitu

faktor yang disebabkan karena pegawai kurang teliti, pegawai tergesa-

gesa dalam bekerja dan pegawai kurang ahli dalam bekerja. Faktor

method yaitu faktor yang disebabkan karena tidak adanya pengawasan

produksi dan tidak ada instruksi kerja yang jelas. Faktor material yaitu

faktor yang disebabkan karena kualitas bahan baku buruk. Faktor

machine yaitu faktor yang disebabkan karena penyusutan kinerja mesin

dan mesin yang sering macet. Dan faktor environment yaitu faktor yang

disebabkan karena kondisi di lapangan yang kurang luas.

3. Dari hasil implementasi metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

didapatkan dua mode kegagalan dengan nilai RPN yang melebihi angka

kritis 100 yaitu posisi tidak sesuai dengan RPN 175 dan pengukuran

terlalu pas dan tidak diberi space lebih dengan RPN 123. Kemudian dari

penyebab-penyebab tersebut penulis memberikan usulan perbaikan

kepada perusahaan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

109
5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada proyek Perumahan

Grand Sharon Residence Bandung dan kesimpulan yang dibuat, penulis

memberikan beberapa saran yang diharapkan menjadi bahan pertimbangan dan

masukan bagi pihak proyek tersebut dalam usahanya yaitu untuk meningkatkan

pengendalian kualitas serta masukan bagi peneliti selanjutnya. Adapaun saran-

saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penerapan sistem pengendalian kualitas pada proyek Perumahan Grand

Sharon Residence Bandung sebaiknya lebih ditingkatkan lagi. Peningkatan

pengendalian kualitas akan berpengaruh terhadap kualitas produk yang

dihasilkan. Mandor proyek juga sebaiknya menerapkan sistem ini,

tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab

pegawai tentang pentingnya kualitas produk yang dihasilkan. Lalu mandor

proyek juga harus mulai memberlakukan kegiatan pengawasan pada saat

menerapkan pengendalian kualitas bahan baku, proses produksi dan

produk jadi dengan tujuan agar sistem dapat terkendali dengan baik,

adanya penyimpanan dan kegagalan pada saat proses produksi akan lebih

mudah dideteksi dan dieliminasi sehingga dapat menekan jumlah produk

cacat yang dihasilkan.

2. Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui adanya lima faktor yang

menyebabkan produk cacat yaitu faktor man, method, material, machine,

dan environment. Proyek perumahan tersebut sebaiknya segera melakukan

penanganan untuk kelima faktor tersebut. Untuk mengatasi penyebab cacat

dari faktor man, mandor proyek dapat memberikan pelatihan dan motivasi

110
yang lebih lagi kepada pegawai, memberikan pemahaman kualitas sebagai

penentu loyalitas konsumen dan keuntungan yang akan diterima oleh

perusahaan serta mengatur ulang jam kerja agar kelalaian pegawai karena

tergesa-gesa dan kelelahan dalam bekerja tidak terjadi kembali. Lalu untuk

faktor method yaitu mandor proyek perlu melakukan pengawasan produksi

dan menerapkan Standart Operating Procedure (SOP) agar pegawai tidak

bekerja seenaknya. Kemudian untuk faktor material, proyek perumahan

tersebut harus mengetatkan pengawasan pada saat pengendalian bahan

baku dilakukan agar tidak ada lagi bahan baku yang tidak sesuai dengan

standar dan akhirnya menganggu proses produksi. Selanjutnya untuk

faktor machine, proyek perumahan tersebut sebaiknya mulai

memberlakukan pemeliharaan mesin secara berkala, karena penurunan

kinerja mesin akan berdampak pada terhambatnya proses produksi dan

pada kualitas produk yang akan dihasilkan. Terakhir adalah untuk faktor

environment, mandor proyek perumahan tersebut perlu membenahi area

kerja yaitu misalnya dengan memberikan penutup pada atapnya agar

ruangan tidak panas dan tidak akan terkena hujan.

3. Sebaiknya perusahaan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis

(FMEA) secara berkelanjutan dalam melakukan pengendalian kualitas

produk di proyek perumahan tersebut karena metode ini dapat membantu

perusahaan dalam mengidentifikasi mode kegagalan yang mungkin terjadi

pada saat proses produksi, dampak atau akibat dari mode kegagalan

tersebut dan apa saja penyebab dari mode kegagalan tersebut. Kemudian

tiap mode kegagalan tersebut diberikan penilaian untuk mengetahui nilai

111
Risk Priority Number (RPN) yaitu agar proyek perumahan tersebut dapat

mengetahui kegagalan mana yang harus segera ditangani terlebih dahulu.

Lalu nilai RPN tersebut juga akan mempermudah perusahaan dalam

mengidentifikasi akar penyebab kegagalan dan kemudian dicarikan usulan

perbaikan yang tepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada.

112
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, F. D. dan Wasilah, A. (2012), Akuntansi Biaya, Jakarta: Salemba Empat.

Anugrah, D. (2015), Inovasi Pendidikan Dasar. The Jurnal of Inovasion


ElementeryEducation Vol 1 No 1.

Arikunto, S. (2010), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Assauri, S. (2018), Manajemen Operasi Produksi (Pencapaian Sasaran


Organisasi Berkesinambungan), Edisi 3. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.

Ayuni, D. Siswandaru, K. Nupikso, G. (2012). “Analisis penerapan statistical


quality control pada beban usaha PT. PLN”. Jurnal Organisasi dan
Manajemen. Vol. 8.

Bakhtiar, S. Tahir, S. dan Hasni, R.A. (2013), “Analisa pengendalian kualitas


dengan menggunakan metode statistical quality control (SQC)”.
Malikussaleh Industrial Engineering Journal. Vol 2 (1), pp.: 29-36.

Bustami, Bastian, dan Nurlaela. (2013), Akuntansi Biaya (5 ed.). Jakarta: Salemba
Empat.

Deitiana, T. (2011), Manajemen Operasional Strategi dan Analisa Services dan


Manufaktur. (edisi pertama). Jakarta: Mitra Wacana Media.

Didiharyono, Marsal, dan Bakhtiar. (2012), Analisis Pengendalian Kualitas


Produksi Dengan Metode SixSigma Pada Industri Air Minum PT Asera
Tirta Posidonia, Kota Palopo. Jurnal Sainsmat, September 2018, Halaman
163-176 Vol. VII, No. 2

Faisal, S. (2013), Format-format Penelitian Social, Dasar-dasar dan Aplikasi,


Jakarta: CV. Rajawali.

Firdaus, M. (2010), Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara.

Haming, M. dan Mahmud, N. (2012), Manajemen Produksi Modern Operasi


Manufaktur dan Jasa. Jakarta: Bumi Aksara.

Heizer, J. Render, B. dan Munson (2017), Manajemen Operasi, Edisi 11 Salemba


Empat, Jakarta.

113
Ilham, M. N. (2012), “Analisis Pengendalian Kualitas Produk dengan
menggunakan Statistical Processing Control (SPC) pada PT. Bosowa
Media Grafika (Tribun Timur)”. Skripsi: Universitas Hasanuddin
Makassar.

Iswanto, A. Rambe, A.J. dan Ginting, E. (2013), Aplikasi Metode Taguchi


Analysis Dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Untuk
Perbaikan Kualitas Produk Di PT XYZ. Jurnal Teknik Industri 2(2).
Universitas Sumatera Utara.

Janah, M. (2017), Analisis Produk Cacat Dan Produk Rusak. Tugas Akhir
Program Sarjana, Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Moeheriono (2012), “Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi”. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.

Mudrajad, K. (2013). Metode Kuantitatif; Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan
Ekonomi, Edisi keempat. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
YKPN.

Nastiti, H. (2014), Analiss Pengendalian Kualitas Produk dengan Metode SQC.


Jurnal Manajemen Mutu Vol. 6 No. 1.

Rakesh, R. Jos, B. C. dan Mathew, G. (2013), FMEA Analysis for Reducing


Breakdowns of a Sub System in The Life Care Product Manufacturing
Industry, International Journal of Engineering Science and Innovative
Technology.

Riwayadi (2014), Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat.

Robbins, T. Stephen, P. dan Coulter, M. (2010), Manajemen Edisi Kesepuluh.


Jakarta: penerbit Erlangga.

Rusdiana (2014), Manajemen Operasi. Bandung: Pustaka Setia.

Sastrohadiwiryo, S. (2009), Manajemen Tenaga Kerja Indonesia. Bandung: Bumi


Aksara.

Sellappan, N. dan Palanikumar, K. (2013), Modified Prioritization Methodology


for Risk Priority Number in Failure Mode and Effects Analysis.
International Journal of Applied Science and Technology Vol. 3.

Setyowati, dan Haryani (2016), Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis Dan Terapan
Tahun XIII No 2, Oktober 2016| 5.

Siregar, Baldric, Suripto, dan Bambang. (2013), “Akuntansi Biaya”, Edisi kedua,
Bab 2, 7, 9-11. Jakarta: Salemba Empat.

114
Sugiyono (2019), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.

Sunardi dan Anita, P. (2015), Pengantar Bisnis (Konsep, Strategi dan Kasus).
Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service) Yamit, Z
Manajemen Kualitas Produk Dan Jasa.

Susetyo, J. W. dan Hartanto, C. (2011), Aplikasi Six Sigma dan Kaizen Sebagai
Metode Pengendalian Dan Perbaikan Kualitas Produk. Jurnal Teknologi,
Volume 4 Nomor 1, Juni 2011, 61-53.

Tampubolon, M. P. (2014), Manajemen Operasi dan Rantai Pemasok. Jakarta:


Mitra Wacana Media.

Tannady, H. (2015), Pengendalian Kualitas. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Wibowo (2012), Manajemen Kinerja. Jakarta: raja Grafindo Persada.

Yumaida (2011), Analisis Risiko Kegagalan Pemeliharaan Pada Pabrik


Pengolahan Pupuk NPK Granular (Studi Kasus: PT. Pupuk Kujang
Cikampek), Universitas Indonesia, Fakultas Teknik, Program Studi Teknik
Industri.

Zahara, I. (2014), Pengaruh Pengadukan terhadap Produksi Biogas pada Proses


Metanogenesis Berbahan Baku Limbah Cair Kelapa Sawit. Skripsi.
Jurusan Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara.

Zulian, Y. (2010), Manajemen Kualitas Produk & Jasa. Vol. Edisi Pertama.
Yogyakarta: EKONISIA.

115

Anda mungkin juga menyukai