0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan4 halaman

Analisis Beban Jembatan Nadia Rafinka

Dokumen tersebut membahas tentang ringkasan dan tabel beban jembatan. Terdapat definisi kondisi batas daya layan, batas fatik dan fraktur, batas kekuatan, serta batas ekstrem. Juga dibahas tentang macam-macam beban seperti beban hidup, khusus, lalu lintas, mati, dan pelaksanaan. Kemudian dijelaskan faktor beban pada masa konstruksi dan untuk pendongkrakan. Terakhir ada tabel kombinasi pembebanan

Diunggah oleh

Nadia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan4 halaman

Analisis Beban Jembatan Nadia Rafinka

Dokumen tersebut membahas tentang ringkasan dan tabel beban jembatan. Terdapat definisi kondisi batas daya layan, batas fatik dan fraktur, batas kekuatan, serta batas ekstrem. Juga dibahas tentang macam-macam beban seperti beban hidup, khusus, lalu lintas, mati, dan pelaksanaan. Kemudian dijelaskan faktor beban pada masa konstruksi dan untuk pendongkrakan. Terakhir ada tabel kombinasi pembebanan

Diunggah oleh

Nadia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Nadia Rafinka Putri

Kelas : 3TRKJJ1

RINGKASAN DAN TABEL BEBAN JEMBATAN

A. Definisi

1. Keadaan batas daya layan

Keadaan batas daya layan disyaratkan dalam perencanaan dengan melakukan pembatasan pada tegangan,
deformasi, dan lebar retak pada kondisi pembebanan layan agar jembatan mempunyai kinerja yang baik
selama umur rencana.

2. Keadaan batas fatik dan fraktur

Keadaan batas fatik disyaratkan agar jembatan tidak mengalami kegagalan akibat fatik selama umur
rencana.

3. Keadaan batas kekuatan

Keadaan batas kekuatan disyaratkan dalam perencanaan untuk memastikan adanya kekuatan dan
kestabilan jembatan yang memadai, baik yang sifatnya lokal maupun global.

4. Keadaan batas ekstrem

Keadaan batas ekstrem diperhitungkan untuk memastikan struktur jembatan dapat bertahan akibat gempa
besar.

5. Daktilitas

Sistem struktur jembatan harus diproporsi dan didetailkan agar diperoleh perilaku deformasi inelastik
pada keadaan batas ultimit dan ekstrem sebelum mengalami kegagalan.

B. Macam-Macam Beban

1. Beban hidup
semua beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan bergerak/lalu lintas dan/atau pejalan kaki
yang dianggap bekerja pada jembatan
2. Beban khusus
Beban khusus merupakan yang beban-beban khusus untuk perhitungan tegangan pada perencanaan
jembatan.
3. Beban lalu lintas
Seluruh beban hidup, arah vertikal dan horizontal, akibat aksi kendaraan pada jembatan termasuk
hubungannya dengan pengaruh dinamis, tetapi tidak termasuk akibat tumbukan.
4. Beban mati
Semua beban tetap yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yang ditinjau,
termasuk segala unsur tambahan yang dianggap merupakan satu kesatuan tetap dengannya.
5. Beban mati primer
Berat sendiri pelat dan system lainnya yang dipikul langsung oleh setiap gelagar jembatan.
6. Beban mati sekunder
Berat kerb, trotor, tiang sandaran dan lain-lain yang dipasang setelah pelat dicor. Beban tersebut
dianggap terbagi rata di seluruh gelagar jembatan.
7. Beban Pelaksanaan
Beban sementara yang dapat bekerja pada bangunan secara menyeluruh atau sebagian selama
pelaksanaan.
8. Beban primer
Beban yang merupakan beban utama dalam perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan.
C. Faktor beban pada masa konstruksi

1. Evaluasi pada keadaan batas kekuatan

Perencana harus menyelidiki semua kombinasi pembebanan pada keadaan batas kekuatan

yang diatur pada Tabel 1 yang dimodifikasi pada pasal ini.

2. Evaluasi lendutan pada keadaan batas layan

Keadaan batas daya layan kombinasi I untuk menghitung besarnya lendutan yang terjadi, kecuali ada
ketentuan khusus yang merubah ketentuan ini.

D. Faktor beban untuk pendongkrakan dan gaya paska tarik

1. Gaya dongkrak

Kecuali ditentukan lain oleh pemilik pekerjaan, besarnya gaya rencana minimum untuk pendongkrakan
adalah 1,3 kali besarnya reaksi akibat beban permanen pada perletakan, diberlakukan pada posisi dengan
dongkrak dipasang.

2. Gaya untuk perencanaan zona angkur tendon paska tarik

Gaya rencana minimum yang digunakan dalam perencanaan zona angkur tendon paska tarik adalah 1,2
kali gaya pendongkrakan maksimum.

E. Kombinasi Pembebanan Ekstrim


Kombinasi pembebanan ekstrim dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
 Kuat I : memperhitungkan gaya-gaya yang timbul pada jembatan dalam keadaan normal tanpa
memperhitungkan beban angin.
 Kuat II : berkaitan dengan penggunaan jembatan untuk memikul beban kendaraan khusus yang
ditentukan tanpa memperhitungkan beban angin.
 Kuat III : dikenai beban angin berkecepatan 90 km/jam hingga 126 km/jam.

 Kuat IV : memperhitungkan kemungkinan adanya rasio beban mati dengan beban hidup yang
besar.
 Kuat V : berkaitan dengan operasional normal jembatan dengan memperhitungkan beban angin
berkecepatan 90 km/jam hingga 126 km/jam.
 Ekstrem I : Kombinasi pembebanan gempa.
 Ekstrem II : meninjau kombinasi antara beban hidup terkurangi dengan beban yang timbul akibat
tumbukan kapal, tumbukan kendaraan, banjir atau beban hidrolika lainnya, kecuali untuk kasus
pembebanan akibat tumbukan kendaraan (TC).
 Layan I : berkaitan dengan operasional jembatan dengan semua beban mempunyai nilai nominal
serta memperhitungkan adanya beban angin berkecepatan 90 km/jam hingga 126 km/jam
 Layan II : ditujukan untuk mencegah terjadinya pelelehan pada struktur baja dan selip pada
sambungan akibat beban kendaraan.
 Layan III : menghitung tegangan tarik pada arah memanjang jembatan beton pratekan untuk
mengontrol besarnya retak dan tegangan utama tarik pada bagian badan dari jembatan beton
segmental.
 Layan IV : menghitung tegangan tarik pada kolom beton pratekan untuk mengontrol besarnya retak.

 Fatik : Kombinasi beban fatik dan fraktur sehubungan dengan umur fatik akibat induksi beban
yang waktunya tak terbatas.

(Tabel Berada di Halaman Selanjutnya)


F. Tabel Kombinasi Pembebanan

MS Gunakan salah satu


TT
MA
TD
TA PR
Keadaan TB EU EWs EWL BF EUn TG ES
PL SH EQ TC TV
Batas TR
TP
Kuat I gp 1,8 1,00 - - 1,00 0,50/1,20 gTG gES - - -

Kuat II gp 1,4 1,00 - - 1,00 0,50/1,20 gTG gES - - -

Kuat III gp - 1,00 1,40 - 1,00 0,50/1,20 gTG gES - - -

Kuat IV gp - 1,00 - - 1,00 0,50/1,20 - - - - -

Kuat V gp - 1,00 0,40 1,00 1,00 0,50/1,20 gTG gES - - -


gp gEQ 1,00 - - 1,00 - - - 1,00 - -
Ekstrem I
gp 1,00 1,00
Ekstrem II 0,50 1,00 - - 1,00 - - - -
LayanI 1,00 1,00 1,00 0,30 1,00 1,00 1,00/1,20 gTG gES - - -
Layan II 1,00 1,30 1,00 - - 1,00 1,00/1,20 - - - - -
Layan III 1,00 0,80 1,00 - - 1,00 1,00/1,20 gTG gES - - -
Layan IV 1,00 - 1,00 0,70 - 1,00 1,00/1,20 - 1,00 - - -
Fatik (TD dan - 0,75 - - - - - - - - - -
TR)
 Catatan : - p dapat berupa MS ,MA , TA , PR , PL , SH tergantung beban yang ditinjau
 - EQ adalah faktor beban hidup kondisi gempa

Anda mungkin juga menyukai