0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
113 tayangan14 halaman

Konsep Dasar Keperawatan Jiwa

Makalah ini membahas sejarah perkembangan keperawatan jiwa, konsep kesehatan jiwa, paradigma keperawatan jiwa, dan falsafah keperawatan jiwa. Sejarah keperawatan jiwa dimulai sejak zaman peradaban kuno hingga abad ke-20 dengan perkembangan pendekatan humanistik. Konsep kesehatan jiwa mencakup definisi dan ciri-ciri sehat secara jasmani, rohani dan sosial. Paradigma keperawatan

Diunggah oleh

Herce Mone
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
113 tayangan14 halaman

Konsep Dasar Keperawatan Jiwa

Makalah ini membahas sejarah perkembangan keperawatan jiwa, konsep kesehatan jiwa, paradigma keperawatan jiwa, dan falsafah keperawatan jiwa. Sejarah keperawatan jiwa dimulai sejak zaman peradaban kuno hingga abad ke-20 dengan perkembangan pendekatan humanistik. Konsep kesehatan jiwa mencakup definisi dan ciri-ciri sehat secara jasmani, rohani dan sosial. Paradigma keperawatan

Diunggah oleh

Herce Mone
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MEMAHAMI KONSEP DASAR KEPERAWATAN JIWA

DISUSUN OLEH:

NAMA:HERCE MONE

NIM:PO5303212210355

KELAS:2C

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KUPANG

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN WAIKABUBAK

TAHUN AJARAN 2022/2023


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadiran Tuhan yang mahakuasa karena atas
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga makalah yang membahas tentang” KONSEP DASAR
KEPERAWATAN JIWA” dapat selesai tepat pada waktunya sebagai salah satu tugas dari
mata kuliah.

Penulisan menyadari makalah ini masih jauh dari harapan pembaca yang mana
didalamnya masih terdapat berbagai kesalahan baik dari sistem penulisan maupun isi. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dan sifatnya membangun sehingga dalam
makalah berikutnya dapat diperbaiki serta ditingkatkan kualitasnya.

Penulis menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Waikabubak, 23 Februari 2023

Penulis
DAFTAR ISI

COVER........................................................................................................................................

KATA PENGANTAR..................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................................

A. LATAR BELAKANG......................................................................................................
B. RUMUSAN MASALAH.................................................................................................
C. TUJUAN..........................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................

A. SEJARAH PERKEMBANGAN JIWA...........................................................................


B. KONSEP KESEHATAN JIWA (DEFINISI, CIRI-CIRI SEHAT JIWA).......................
C. PRADIGMA KEPERAWATAN JIWA..........................................................................
D. FALSAFAH KEPERAWATAN
JIWA............................................................................

BAB III PENUTUP......................................................................................................................

A. KESIMPULAN................................................................................................................
B. SARAN............................................................................................................................

DAFTAR
PUSTAKA...................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi
optimal. Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk
dipenuhi, serta diselesaikan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat
dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang bersifat rutin, intuisis, dan tidak unik
bagi individu klien. Proses keperawatan mempunyai ciri dinamis, siklik, saling
bergantung, luwes, dan terbuka. Setiap tahap dapat diperbaharui jika keadaan klien
klien berubah.
Dalam keperawatan jiwa, perawat memandang manusia secara holistik dan
menggunakan diri sendiri secara terapeutik. Metodologi dalam keperawatan jiwa
adalah menggunakan diri sendiri secara terapeutik dan interaksinya interpersonal
dengan menyadari diri sendiri, lingkungan, dan interaksinya dengan lingkungan.
Kesadaran ini merupakan dasar untuk perubahan. Klien bertambah sadar akan diri dan
situasinya, sehingga lebih akurat mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta
memilih cara yang sehat untuk mengatasinya. Perawat memberi stimulus yang
konstruktif sehingga akhirnya klien belajar cara penanganan masalah yang merupakan
modal dasar dalam menghadapi berbagai masalah.

B. Rumusan Masala
1. Apa itu sejarah perkembangan keperawatan jiwa?
2. Bagaimana Konsep kesehatan jiwa (Definisi, Ciri-ciri kesehatan jiwa)?
3. Apa itu paradigma keperawatan jiwa?
4. Apa itu falsafah keperawatan jiwa?
C. Tujua
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan keperawatan jiwa.
2. Mengetahui konsep kesehatan jiwa (Definisi, Ciri-ciri kesehatan jiwa.
3. Untuk mengetahui paradigma keperawatan jiwa.
4. Untuk mengetahui falsafah keperawatan jiwa.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah perkembangan jiwa


1. Sejarah perkembangan keperawatan jiwa di dunia
Perkembangan keperawatan jiwa di dunia dimulai dalam berbagai periode, yang akan
dijelaskan sebagai berikut.
a. Masa Peradaban
Masa ini dimulai antara tahun 1770 sampai dengan tahun 1880, ditandai dengan
dimulainya pengobatan terhadap pasien gangguan mental. Para masa ini, suku bangsa
Yunani, Romawi maupun Arab percaya bahwa gangguan mental (emosional)
diakibatkan karena tidak berfungsinya organ pada otak. Pengobatan yang digunakan
pada masa ini telah menggabungkan berbagai pendekatan pengobatan seperti:
memberikan ketenangan, mencukupi asupan gizi yang baik, melaksanakan kebersihan
badan yang baik, mendengarkan musik dan melakukan aktivitas rekreasi.
Hippocrates bapak kedokteran abad 7 SM, menerangkan bahwa perubahan
perilaku atau watak dan gangguan mental disebabkan karena adanya perubahan 4
cairan tubuh atau hormon, yang dapat menghasilkan panas, dingin, kering dan
kelembaban. seorang Dokter Yunani Galen, mengatakan ada hubungan antara
kerusakan pada otak dengan kejadian gangguan mental dan perubahan emosi.
Pada masa itu suku bangsa Yunani telah menggunakan sistem perawatan yang
modern dimana telah digunakannya kuil sebagai rumah sakit dengan lingkungan yang
bersih, udara yang segar, sinar matahari dan penggunaan air bersih. Untuk
menyembuhkan pasien dengan penyakit jiwa/gangguan mental pasien diajak untuk
melakukan berbagai aktivitas seperti bersepeda, jalan-jalan, dan mendengarkan suara
air terjun, musik yang lembut dll
b. Masa Pertengahan
Masa ini merupakan periode pengobatan modern pasien gangguan jiwa. Bapak
Psikiatrik Perancis Pinel, menghabiskan sebagian hidupnya untuk mendampingi
pasien gangguan jiwa. Pinel mengajarkan pentingnya hubungan pasien-dokter dalam
“pengobatan moral". Tindakan yang diperkenalkan nya adalah menerapkan
komunikasi dengan pasien, melakukan observasi perilaku pasien dan melakukan
pengkajian riwayat perkembangan pasien.
c. Abad 18 dan 19
William Ellis seorang praktisi kesehatan mengusulkan perlunya pendamping yang
terlatih dalam merawat pasien dengan gangguan jiwa. Pada tahun 1836, William Ellis
mempublikasikan Treatise on Insanity yaitu pentingnya pendamping terlatih bagi
pasien gangguan jiwa karena pendamping terlatih terbukti efektif di dalam
memberikan ketenangan dan harapan yang lebih baik bagi kesembuhan pasien.
Benjamin Rush bapak Psikiatric Amerika tahun 1783, menulis tentang pentingnya
kerja sama dengan rs jiwa dalam memberikan bantuan kemanusiaan terhadap pasien
gangguan jiwa. Pada tahun Tahun 1843, Thomas Kirkbride mengadakan pelatihan
bagi dokter di rumah sakit Pennsylvania mengenai cara merawat pasien gangguan
jiwa. Tahun 1872, didirikannya pertama kali sekolah perawat di New England
Hospital Women’s Hospital Philadelphia, tetapi tidak untuk pelayan pskiatrik.
Tahun 1882 didirikannya pendidikan keperawatan jiwa pertama di McLean
Hospital di Belmont, Massachusetts. Dan pada tahun 1890 diterimanya lulusan
sekolah perawat bekerja sebagai staff keperawatan di rumah sakit jiwa. Di akhir abad
19 terjadi perubahan peran perawat jiwa yang sangat besar, dimana peran tersebut
antara lain menjadi contoh dalam pengobatan pengobatan pskiatrik seperti, menjadi
bagian dari tim kesehatan, mengelola pemberian obat penenang dan memberikan
hidroterapi (terapi air).
d. Keperawatan Jiwa di Abad 20
Keperawatan jiwa pada abad ini ditandai dengan terintegrasinya materi
keperawatan psikiatrik dengan mata kuliah lain. Pembelajaran dilaksanakan melalui
pembelajaran teori, praktek di laboratorium, praktek klinik di RS dan Masyarakat.
Tingkat pendidikan yang ada pada abad ini adalah [Link], Sarjana, Pasca Sarjana dan
Doktoral.
Fokus pemberian asuhan keperawatan jiwa pada abad 21 adalah mengembangkan
asuhan keperawatan berbasis komunitas dengan menekankan upaya preventif melalui
pengembangan pusat kesehatan mental, praktek mandiri, pelayanan di rumah sakit,
pelayanan day care (perawatan harian) yaitu pasien tidak dirawat inap hanya rawat
jalan,kunjungan rumah dan hospice care (ruang rawat khusus untuk pasien gangguan
jiwa yang memungkinkan pasien berlatih untuk meningkatkan kemampuan diri
sebelum kembali ke masyarakat).
Selain itu dilakukan identifikasi dan pemberian asuhan keperawatan pada
kelompok berisiko tinggi berupa penyuluhan mengenai perubahan gaya hidup yang
dapat mengakibatkan masalah gangguan kesehatan jiwa. Selain itu dikembangkan
pula sistem management pasien care dimana peran seorang manager adalah
mengkoordinasikan pelayanan keperawatan dengan menggunakan pendekatan
multidisipliner.
2. Perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia
Sejarah dan perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh
faktor sosial ekonomi akibat penjajahan yang dilakukan oleh kolonial Belanda,
Inggris dan Jepang. Perkembangannya dimulai pada masa penjajahan Belanda sampai
pada masa kemerdekaan.
a. Masa Penjajahan Belanda
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat merupakan penduduk pribumi
yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang
[Link] 1799 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Rumah Sakit Binen
Hospital di Jakarta, Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat yang
bertujuan untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Jenderal Daendels
juga mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti
perkembangan profesi keperawatan, karena tujuannya hanya untuk kepentingan
tentara Belanda.
b. Masa Penjajahan Inggris (1812 – 1816)
Gubernur Jenderal Inggris ketika itu dijabat oleh Raffles sangat memperhatikan
kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan adalah milik setiap
manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan
penduduk pribumi antara lain melakukan pencacaran umum, cara perawatan pasien
dengan gangguan jiwa dan kesehatan para tahanan
Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan penduduk
Indonesia menjadi lebih baik. Pada tahun 1819 didirikanlah RS. Stadverband di
Glodok Jakarta dan pada tahun 1919 dipindahkan ke Salemba yang sekarang bernama
RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Antara tahun 1816 hingga 1942 pemerintah
Hindia Belanda banyak mendirikan rumah sakit di Indonesia. Di Jakarta didirikanlah
RS. PGI Cikini dan RS. ST Carollus. Di Bandung didirikan RS. ST. Boromeus dan
RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah
perawat.
c. Zaman Penjajahan Jepang (1942 – 1945)
Pada masa penjajahan Jepang, perkembangan keperawatan di Indonesia
mengalami kemunduran dan merupakan zaman kegelapan,Pada masa itu, tugas
keperawatan tidak dilakukan oleh tenaga terdidik dan pemerintah Jepang mengambil
alih pimpinan rumah sakit. Hal ini mengakibatkan terjangkitnya wabah penyakit
karena ketiadaan persediaan obat.
d. Zaman Kemerdekaan
Empat tahun setelah kemerdekaan barulah dimulai pembangunan bidang kesehatan
yaitu pendirian rumah sakit dan balai pengobatan. Pendirian sekolah keperawatan
dimulai pertama kali tahun 1952 dengan didirikannya Sekolah Guru Perawat dan
sekolah perawat setingkat SMP. Tahun 1962 didirikan Akademi Keperawatan milik
Departemen Kesehatan di Jakarta bertujuan untuk menghasilkan Sarjana Muda
Keperawatan. Tahun 1985 merupakan momentum kebangkitan keperawatan di
Indonesia, karena Universitas Indonesia mendirikan PSIK (Program Studi Ilmu
Keperawatan) di Fakultas Kedokteran. Sepuluh tahun kemudian PSIK FK UI berubah
menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan. Setelah itu berdirilah PSIK-PSIK baru seperti di
Undip, UGM, UNHAS dll.
B. Konsep kesehatan jiwa (Definisi, Ciri-ciri sehat jiwa)
1. Konsep kesehatan jiwa
Untuk menjadi individu yang produktif dan mampu berinteraksi dengan
lingkungan sekitar kita harus memiliki jiwa yang sehat. Individu dikatakan
sehat jiwa apabila berada dalam kondisi fisik, mental, dan sosial yang terbatas
dari gangguan (penyakit), tidak dalam kondisi tertekan sehingga dapat
mengendalikan stres ang timbul. Kondisi ini akan memungkinkan individu
untuk hidup produktif, dan mampu melakukan hubungan sosial yang
memuaskan. Dalam melakukan peran dan fungsinya seorang perawat dalam
memberikan asuhan keperawatn harus memandang manusia sebagai mahluk
biopsikososiospiritual sehingga pemilihan model keperawatan dalam
menerapkan asuhan keperawtan sesuai dengan paradigma keperawatan jiwa.
Manusia sebagai mahluk biopsikososiospiritual mengandung pengertian
bahwa manusia merupakan mahluk yang utuh dimana didalamnya terdapat
unsur biologis, psikologis, sosial dan [Link] mahluk biologis,
manusia tersusun dari berjuta-juta sel-sel hidup yang akan membentuk satu
jaringan, selanjutnya jaringan akan bersatu dan membentuk organ serta sistem
organ. Sebagai mahluk psikologi, setiap manusia memiliki kepribadian yang
unik serta memiliki struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego dan super ego
dilengkapi dengan daya pikir dan kecerdasan, agar menjadi pribadi yang selalu
berkembang. Setiap manusia juga memiliki kebutaha psikologis seperti
terhindar dari ketegangan psikologis, kebutaha akan kemesraan dan cinta,
kepuasan altruistik (kepuasan untuk menolong orang lain tanpa imbalan),
kehormatan serta kepuasan ego. Sedangkan sebagai mahluk sosial, manusia
tidak dapat hidup sendiri, manusia selalu ingin hidup dengan orang lain dan
membutuhkan orang [Link] itu manusia harus juga menjalin kerja sama
dengan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup. Manusia
juga dituntut untuk mampu bertingkah laku sesuai dengan harapan norma yang
berlaku dilingkungan sosialnya. Sebagai mahluk spritual, manusia mempunyai
keyakinan dan mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa, memiliki pandangan
hidup, dorongan hidup yang sejalan, dengan sifat religius yang dianutnya.
2. Definisi
Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta
mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
a. WHO
Kesehatan Jiwa bukan hanya suatu keadaan tdk ganguan jiwa,
melainkan mengandung berbagai karakteristik yg adalah perawatan
langsung, komunikasi dan management, bersifat positif yg
menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yg
mencerminkan kedewasaan kepribadian yg bersangkutan.
b. UU Kesehatan Jiwa No.13 Tahun 1966
Kondisi yg memungkinkan perkembangan fisik, intelektual
emosional secara optimal dari seseorang dan perkebangan ini selaras
dgn orang lain. Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan
profesional didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa
pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respons psiko-sosial
yang maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial,
dengan menggunakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa
( komunikasi terapeutik dan terapi modalitas keperawatan kesehatan
jiwa ) melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan,
mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa
klien (individu, keluarga, kelompok komunitas).
c. American Nurse Association
Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan
yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan
menggunakan diri sendiri secara teraupetik dalam meningkatkan,
mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan
mental masyarakat dimana klien berada (Keperawatan jiwa adalah
proses interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan
mempertahankan perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai
manusia.
d. Yohada
Kesehatan Jiwa adalah keadaan yg dinamis yg mengandung
pengertian positif, yg dapat dilihat dari adanya kenormalan tingkalaku,
keutuhan kepribadian, pengenalan yg benar dari realitas dan bukan
hanya merupakan nkeadaan tanpa adanya penyakit, gangguan jiwa dan
kelainan jiwa.
3. Ciri-ciri sehat jiwa
Berikut ini akan dijelaskan ciri sehat jiwa menurut beberapa ahli, diantaranya:
a. Yahoda
Yahoda mencirikan sehat jiwa sebagai berikut:
1) Memiliki sifat positif terhadap diri sendiri
2) Tumbuh, berkembang dan beraktualisasi
3) Menyadari adanya integrasi dan hubungan anatar masa lalu
dan sekarang.
4) Memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan dan tidak
bergantung pada siapapun
5) Memiliki persepsi sesuai dengan kenyataan
6) Mampu menguasai lingkungan dan beradaptasi
b. WHO(World Health Organisation/Organisasi Kesehatan Dunia )
Pada tahun 1959 dalam sidang di Geneva, WHO memiliki kriteria
sehar sebagai berikut:
1) Individu mampu menyelesaikan diri secara konstruktur pada
kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya.
2) Memperoleh kepuasan dari hasil jerih paya usahanya.
3) Merasa lebih puas memberi daripada menerima.
4) Secara relatif bebas dari rasa tegang (stress), cemas dan
depresi.
5) Mampu berhubungan dengan orang lain secara
tolongmenolong dan saling memuaskan.
6) Mampu menerima kekecewaan sebagai pelajaran yang akan
datang 7) Mempunyai rasa kasih sayang.
c. MASLOW:
Maslow mengatakan individu yang sehat jiwa memiliki ciri sebagai
berikut:
1) Persepsi Realitas yang akurat.
2) Menerima diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
3) Spontan.
4) Sederhana dan wajar.

C. Pradigma keperawatan jiwa


Paradigma Keperawatan Jiwa paradigma adalah suatu cara dalam mempresepsikan
atau memandang sesuatu. Paradigmamenjelaskan sesuatu dalam memahami suatu
tingkah [Link] :
1. Menyikapi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang melingkupi profesi
keperawatansebagai aspek pendidikan dan pelayanan keperawatan, praktik,
dan organisasi profesi.
2. Membantu individu dan masyarakat untuk memahami dunia keperawatan kita
danmembantu kita untuk memahami setiap fenomena yang teradi di sekitar
kita.
a. Manusia
Keperawatan jiwa memandang manusia sebagai mahluk holisstik yang
terdiri dari komponen bio psikososial dan spiritual merupakan satu kesatuan
utuh dari aspek jasmani dan rohani sertaunik karena mempunyai berbagai
macam kebutuhan sesuai tingkat perkembangannya
b. Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan dilakukan melalui pendekatan humanistik
yaitu menghargai danmenghormati martabat manusia dan menjunjung tinggi
keadilan bagi semua manusia. Asuhan keperawatan merupakan metode ilmiah
yaang dalam pemberiannya menggunakan prosesterapeutik melibatkan
hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, dan masyarakat
untukmencapai tingkat kesehatan yang optimal.
c. Kesehatan
Salah satu ukuran yang digunakan untuk menentukan status kesehatan
adalah rentang sehat [Link] model ini, keadaaan sehat selalu berubah
secara konstan. Kondisi kesehatan individuselalu berada dalam rentang sehat
sakit, yaitu berada diantara diantara dua kutub yaitu sehatoptimal dan
kematian. Apabila status kesehatan bergerak kearah kematian, ini berarti
individu berada dalam area sakit (illness area), tetapi apabila status kesehatan
bergerak ke arah sehatmaka individu berada dalam area sehat (wellness area).
d. Lingkungan
Yang dimaksud lingkungan dalam keperawatan adalah faktor eksternal
yang mempengaruhi perkembangan manusia, yaitu lingkungan fisik,
psikologis, sosial. budaya, status ekonomi, danspiritual. Untuk mencapai
keseimbangan, manusia harus mampu mengembangkan strategikoping yang
efektif agar dapat beradaptasi, sehingga hubungan interpersonal
yangdikembangkan dapat menghasilkan perubahan diri [Link]
konseptual yang dikembangkan dalam bidang keperawatan jiwa dan menjadi
dasar perkembangan ilmu keperawatan jiwa adalah model interpersonal dari
Hildegard Peplau (1952).
D. Falsafah Keperawatan Jiwa
1. Individu memiliki harkat dan martabat sehingga masing-masing individu
perludihargai.
2. Tujuan individu meliputi tumbuh,sehat,otonomi dan aktualisasi diri.
3. Masing-masing individu tersebut berpotensi untuk berubah, oleh kita tahu
bahwamanusia ialah mahkluk holistik yang mempunyai kebutuhan dasar yang
sama.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai
sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Secara umum diketahui bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan
pada otak tapi tidak diketahui secara pasti apa yang mencetuskannya. Stress diduga
sebagai pencetus dari gangguan jiwa tapi stress dapat juga merupakan hasil dari
berkembangnya mental illness pada diri seseorang.
Prinsip Keperawatan Jiwa
a. Manusia
b. Lingkungan
c. Kesehatan
d. Keperawatan
B. Saran
Diharapkan perawat lebih mempelajari mengenai fungsi dan perannya dalam
penanganan masalah kesehatan jiwa dengan memahami masalah kesehatan jiwa yang
ada serta upaya penanganannya dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna;Panjaitan;Helena. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2.


Jakarta: EGC.
Stuart, Gail [Link] Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Suliswati, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Yosep,Iyus.2007. Keperawatan Jiwa. Jakarta: PT. Refika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai