0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan27 halaman

Perencanaan Trase Jalan Universitas Sultra

Laporan ini membahas perencanaan geometrik jalan dari kota A ke B dan C. Laporan menjelaskan latar belakang, tujuan, dan manfaat perencanaan geometrik jalan. Laporan juga membahas teori-teori terkait perencanaan geometrik jalan seperti pengertian jalan raya, klasifikasi jalan, bagian-bagian jalan, dan parameter desain. Selanjutnya laporan menjelaskan perhitungan perencanaan trace jalan, alinemen

Diunggah oleh

Ritno Inong
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan27 halaman

Perencanaan Trase Jalan Universitas Sultra

Laporan ini membahas perencanaan geometrik jalan dari kota A ke B dan C. Laporan menjelaskan latar belakang, tujuan, dan manfaat perencanaan geometrik jalan. Laporan juga membahas teori-teori terkait perencanaan geometrik jalan seperti pengertian jalan raya, klasifikasi jalan, bagian-bagian jalan, dan parameter desain. Selanjutnya laporan menjelaskan perhitungan perencanaan trace jalan, alinemen

Diunggah oleh

Ritno Inong
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PERENCANAAN TRASE JALAN

Di Buat Untuk Mmenuhi Tugas Perencanaan Trase Jalan


Mata Kuliah : Perencanaan Geometrik Jalan
Disusun Oleh :

AL FANDY SUHARDIN
(202110089)

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS SULAWESI TENGGARA
2022/2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas besar ini, yang merupakan salah satu kewajiban dari mata
kuliah “ Perencanaan Geometrik Jalan “.

Tugas besar ini dibuat sebagaimana mestinya, sesuai dengan literature yang saya dapatkan baik
dari panduan maupun media lainnya. Oleh karena itu, besar harapan saya apabila terdapat saran
maupun kritikan yang disampaikan kepada saya demi kesempurnaan tugas ini.

Disamping itu, tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
membimbing saya dan memberikan masukkan serta bantuan dari teman-teman sehingga tugas
besar ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.

Akhir kata, saya sangat mengharapkan agar tugas ini dapat bermanfaat bagi kami dan Juga untuk
pembaca.

Kendari, Januari 2023

AL FANDY SUHARDIN
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
................................................
................................................
......... 5
1.2 MAKSUD DAN
TUJUAN ................................
................................................
.................. 6
1.3 MANFAAT
................................................
................................................
......................... 6
1.4LANDASAN HUKUM
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………………………………………………

1.2 Maksud Dan Tujuan……………………………………………………………………………………………………………..

1.3 Manfaat……………………………………………………………………………………………………………………………….
1.4 Landasan Hukum………………………………………………………………………………………………………………….

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Jalan Raya………………………………………………………………………………………………………….

2.2 Klasifikasi Jalan…………………………………………………………………………………………………………………….
2.3 Bagian – Bagian Jalan…………………………………………………………………………………………………………..
2.4 Parameter Design………………………………………………………………………………………………………………..
2.5 Alinemen Horizontal……………………………………………………………………………………………………………
2.6 Diagram Super Elevasi…………………………………………………………………………………………………………
2.7 Jenis – Jenis Tikungan………………………………………………………………………………………………………….
1. Full Circle (FC)…………………………………………………………………………………………………………
2. Spiral-Circle-Spiral (SCS)………………………………………………………………………………………….
3. Spiral-Spiral (SS)……………………………………………………………………………………………………...
2.8 Jarak Pandang …………………………………………………………………………………………………………………….

BAB III PERHITUNGAN

A. Tabel Hasil Perhitungan Data Ukur Trace Jalan……………………………………………………………………


B. Perencanaan Trace……………………………………………………………………………………………………………..
C. Perencanaan Alinemen Horizontal……………………………………………………………………………………..
D. Perhitungan Data Kurva……………………………………………………………………………………………………..
1. Tikungan 1 (PI.1) Kurva Spiral-Circle-Spiral dan Gambar Kurva, Diagram Superelevasi,
dan Potongan Tikungan (PI.1)
2. Tikungan 2 (PI.2) Kurva Full Circle (FC) dan Gambar Kurva, Diagram Superelevasi, dan
Potongan Tikungan (PI.2)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………………….
B. Saran………………………………………………………………………………………………………………………………...

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di era globalisasi yang semakin maju ini, ketersediaan sarana dan prasarana transportasi menjadi
hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kesuksesan bertransportasi tentunya tidak
terlepas dari peran dan fungsi dari jalan raya. Sebagaimana kita ketahui bahwa jalan raya adalah
prasarana yang menjadi wadah dalam menampung suatu volume kendaraan dari berbagai jenis
kendaraan yang dilalui.

Prasarana jalan merupakan akses terpenting dalam simpul distribusi lalu lintas perekonomian
suatu daerah karena perkembangan prasarana jalan berfungsi menunjang kelancaran arus barang,
jasa dan penumpang sehingga dapat memperlancar pemerataan hasil pembangunan dalam suatu
Negara. Dengan demikian, jalan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang
kemajuan serta mempercepat proses pembangunan. Kenyamanan dan kelayakan suatu jalan
mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam menentukan baik atau tidaknya suatu jalan.

Perencanan geometric merupakan suatu bagian dari perencanaan jalan dimana geometric atau
dimensi yang nyata dari suatu jalan beserta bagian-bagian disesuaikan dengan tuntunan serta sifat-
sifat lalu lintasnya. Jadi, dengan ini diharapkan adanya keseimbangan antara waktu dan ruang
sehubungan dengan kendaraan yang bersangkutan sehingga menghasilkan efisiensi keamanan dan
kenyamanan yang optimal dalam batas-batas pertimbangan ekonomi yang layak. Perencanaan
geometrik jalan adalah perencanaan rute dari suatu ruas jalan secara lengkap, meliputi beberapa
elemen yang disesuaikan dengan kelengkapan dan data dasar yang ada atau tersedia dari hasil survei
lapangan dan telah dianalisis, serta mengacu pada ketentuan yang berlaku. Atas dasar itulah perlu
untuk mengangkat Perencanaan Geometrik Jalan sebagai tugas besar yang wajib untuk diselesaikan.

Dengan demikan, pembangunan prasarana jalan bukanlah hal yang mudah. Selain membutuhkan
dana yang tidak sedikit, juga diperlukan perencanaan yang baik untuk memperlancar arus lalu lintas
dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah tersebut.

1.2Maksud Dan Tujuan

1. Maksud

Maksud dari penulisan laporan tugas besar Perencanaan Geometrik Jalan ini adalah
sebagai syarat kelulusan mata kuliah Perencanaan Geometrik Jalan.

2. Tujuan

Tujuan dari penulisan laporan Tugas Besar Perencanaan Geometrik Jalan ini adalah :

 Dapat mendesain geometrik jalan dari titik kota A, B dan C sesuai dengan aturan standar
yang berlaku
 Dapat menentukan jenis tikungan yang ada pada Perencanaan Geometrik Jalan
 Merencanakan alinemen horizontal

1.3 Manfaat

Manfaat dari penulisan laporan ini adalah :


 Agar mahasiswa dapat menganalisa, mengolah data, dan mendesain geometrik jalan yang
efisien berdasarkan peraturan dan standar yang berlaku.
 Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai geometrik jalan
 Sebagai bahan referensi untuk pembuatan laporan serupa pada kesempatan yang lain.

1.4 Landasan Hukum

Landasan hukum yang digunakan dalam perencanan geometrik jalan berdasarkan:

 Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya No. 13/1970 Direktorat Jenderal Bina Marga.
 Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota, SubDit Perencanaan
Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, 1990.
 Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/TBM/1997, Direktorat Jenderal
Bina Marga.
 RSNI T-14-2004 Geometri Jalan Perkotaan.
 UU No. 38-tahun 2004-Tentang Jalan.
 PP No. 34-tahun 2006-Tentang Jalan.
 AASHTO, Tahun 2001, A Policy on Geometric Design of Highways and Streets.
 Tugas Besar Perencanaan Geometrik Jalan.
BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Jalan Raya

Pengertian Jalan raya merupakan prasarana darat (infrastruktur) dalam mendukung laju
perekonomian daerah atau negara. Jalan raya (akses) juga berperan sangat besar dalam kemajuan
dan perkembangan suatu daerah. Indonesia sebagai salah satu negara yang berkembang sangat
membutuhkan kualitas dan kuantitas jalan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat untuk
melakukan berbagai jenis kegiatan perekonomian baik itu aksesibilitas maupun perpindahan barang
dan jasa (transportasi darat).

Persyaratan dasar suatu jalan pada hakekatnya adalah dapatnya menyediakan lapisan
permukaan yang selalu rata, konstruksi yang kuat sehingga dapat menjamin kenyamanan dan
keamanan yang tinggi untuk masa pelayanan (umur jalan) yang cukup lama yang memerlukan
pemeliharaan sekecil-kecilnya dalam berbagai keadaan.

Pada perencanaan jalan raya, tebal perkerasan harus ditentukan sedemikian rupa, sehingga
jalan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan seoptimal mungkin pada lalu lintas sesuai
dengan fungsi umur rencananya, dan untuk menjaga agar kondisi jalan tetap pada performa yang
layak dalam melayani berbagai moda transportasi perlu adanya evaluasi permukaan jalan untuk
mengetahui jalan tersebut apakah masih dalam kondisi yang baik atau perlu adanya program
peningkatan pemeliharaan rutin atau pemeliharaan berkala.

2.2 Klasifikasi Jalan

Faktor-faktor pokok pada klasifikasi jalan raya untuk penerapan pengendalian dan kriteria
perencanaan geometric adalah volume lalu lintas renva (VLR), fungsi jalan raya dan kondisi medan.

Menurut peraturan perencanaan geometric jalan raya, jalan dibagi atas beberapa kelas yang
telah ditetapkan berdasarkan fungsi dan volumenya, serta sifat-sifat lalu lintas berdasarkan
ketentuan Dirjen bina marga. Adapun penggolongan tersebut sebagai syarat batas dalam
perencanaan suatu jalan yang sesuai dengan fungsinya.

Penggolongan kelas jalan tersebut diperlihatkan pada tabel berikut:

Tabel penggolongan kelas jalan


2.3 Bagian-bagian Jalan

a: Jalur Lalu Lintas c: Saluran Tepi b: Bahu Jalan d: Ambang Pengaman

x: b+a+b = Bahu Jalan

Bagian yang bermanfaat untuk lalu lintas, terdiri dari: jalur lalu lintas, lajur lalu lintas, bahu jalan,
trotoar, dan median. Bagian yang bermanfaat untuk drainase jalan, terdiri dari: ditch, kemiringan
melintang jalan maupun bahu, kemeringan leremg.

2.4 Parameter Design

a. Kendaraan Rencana
b. Kecepatan
c. Volume Lalu lintas
d. Tingkat Pelayanan
e. Jarak Pandang

2.5 Alinemen Horizontal

Alinyemen Horizontal adalah proyeksi sumbu jalan pada bidang horizontal, yang dikenal juga
dengan nama “situasi jalan” atau “trase jalan”. Alinyemen Horizontal terdiri dari garis-garis lurus
yang dihubungkan dengan garis-garis lengkung yang terdiri dari busur lingkaran ditambah busur
peralihan, busur peralihan saja atau busur lingkaran saja.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan alinyemen horizontal, yaitu :

 Penentuan nilai Fmaks bertolak ukur pada tabel yang tercantum dalam buku dasar – dasar
perencanaan geometrik Jalan.
Tabel Besar R min dan D mak untuk beberapa kecepatan rencana

 Menentukan nilai Rmin berdasarkan tabel 12 RSNI-2004.

 Alinyemen jalan sedapat mungkin dibuat lurus, mengikuti keadaan topografi. Hal ini akan
memberikan keindahan bentuk, komposisi yang baik antara jalan dan alam dan biaya yang
murah.
 Pada alinyemen jalan sebaiknya didahului oleh lengkung yang lebih tumpul pada jalan yang
relative lurus dan panjang, agar pengemudi tidak terkejut dan mempunyai kesempatan
memperlambat kecepatannya.
 Hindari penggunaan radius minimum untuk kecepatan rencana tertentu sehingga jalan
tersebut lebih mudah disesuaikan dengan perkembangan lingkungan dan fungsi jalan.
 Pada sudut-sudut tikungan kecil, panjang lengkung yang diperoleh dari perhitungan sering
kali tidak cukup panjang sehingga memberi kesan patahnya jalan tersebut.

2.6 Diagram Super Elevasi

Merupakan penggambaran pencapaian superelevasi dari lereng normal (en) sampai lereng
maksimal (e maks), sehingga dapat ditentukan diagram penampang melintang setiap titik
(stationing) pada suatu tikungan yang direncanakan.
Gambar diagram super elevasi

2.7 Jenis-Jenis Tikungan


1. Full Circle (FC)

Full Circle (FC) adalah jenis tikungan yang hanya terdiri dari bagian suatu lingkaran saja.
Tikungan FC hanya digunakan untuk R (jari-jari) yang besar agar tidak terjadi patahan, karena dengan
R kecil maka dibutuhkan superelevasi yang besar (Hendarsin S. L., 2000).

Keterangan :

∆ = sudut tikungan. Lc = panjang busur lingkaran.

O = titik pusat tikungan. Ec = jarak luar dari PI ke busur

TC = tangen to circle. lingkaran

CT = circle to tangen.

Rd = jari-jari busur lingkaran.

Tt = panjang tangent (jarak dari TC ke PI atau PI ke TC).

Gambar Tikungan Full Circle (FC)

Rumus-rumus Full Circle:


Syarat tikungan full circle:

 Lc > 20 m
 2 Tc> Lc

Ketika dua syarat tersebut terpenuhi, maka tikungan full circle dapat digunakan.

Perhitungan Lengkung Peralihan (Ls)

Karena pada tikungan full circle tidak ada lengkung peralihan, maka pencapaian superelevasi
dilakukan sebagian pada jalan lurus dan sebagian pada bagian lengkung. Panjang daerah pencapaian
kemiringan disebut panjang peralihan fiktif (Ls’), sehingga nilai Ls yang didapat dianggap fiktif (Ls’).

Berdasarkan rumus Modifikasi Shortt :

Dimana : C = Perubahan Percepatan = 0,4 m/dt³

Check nilai Lsmin →Berdasarkan Vr dan eytd pada tabel emax = 10%, didapat : Ls = 50 m (Bina
Marga) atau bisa menggunakan Ls = 60 m (AASHTO). Diambil nilai terbesar Ls = Ls’ = 50 m (Bina
Marga)

Perhitungan Pelebaran Pada Tikungan

Di mana:

B = total lebar perkerasan pada tikungan (m)


n = jumlah lajur

b’ = lebar lintasan kendaraan truck pada tikungan

c = kebebasan samping kiri dan kanan kendaraan (0,8 m)

Td = lebar melintang akibat tonjolan depan

Z = lebar tambahan akibat kesukaran mengemudi ditikungan

Untuk:

Jika B >Bn, sehingga diperlukan pelebaran pada tikungan yaitu :

W = B – Bn

Dimana Bn = Lebar Perkerasan Jalan

2. Spiral-Circle-Spiral (SCS)

Dalam bentuk tikungan ini, spiral di sini merupakan lengkung peralihan dari bagian lurus
(tangent) berubah menjadi lingkaran (circle). Pada saat kendaraan melaju di daerah spiral, maka
m. V
terjadi perubahan gaya sentrifugal yang terjadi mulai dari 0 ke harga F = (Suryadharma H.,
R . Ls
dan Susanto B., 1999).
Gambar Tikungan Spiral-Circle-Spiral (SCS)

Keterangan :

Xs = Absis titik SC pada garis tangent, jarak dari titik ST ke SC

Ys = Jarak tegak lurus ke titik SC pada lengkung

Ls = Panjang dari titik TS ke SC atau Cs ke Ts

Lc = Panjang busur lingkaran (panjang dari titik SC ke CS)

Ts = Panjang tangen dari titik PI ke titik TS atau ke titik ST

TS = Titik dari tangent ke spiral

SC = Titik dari spiral ke lingkaran

Es = Jarak dari PI ke busur lingkaran

Өs = Sudut lengkung spiral

Rd = Jari-jari lingkaran

P = Pergeseran tangent terhadap spiral

K = Absis dari p pada garis tangent spiral

Rumus-rumus yang digunakan untuk bentuk Spiral-Circle-Spiral :


Perhitungan Lengkung Peralihan (Ls)

Ls dihitung berdasarkan 3 rumus dan dipilih nilai Ls yang terbesar

1. Berdasarkan waktu tempuh maksimum pada lengkung peralihan

Dimana : T = waktu tempuh pada lengkung peralihan, ditetapkan 3 detik

Perhitungan Ѳs, Δc, dan Lc :

Perhitungan Besaran-Besaran Tikungan :

Syarat Tikungan S - C - S :

- Δc > 0

- Lc > 20 m

- 2 Ts> LTot
Maka Tikungan S - C - S dapat digunakan

Perhitungan Pelebaran Pada Tikungan

Rumus:

Dimana :

B = total lebar perkerasan pada tikungan (m)

n = jumlah lajur

b’ = lebar lintasan kendaraan truck pada tikungan

c = kebebasan samping kiri dan kanan kendaraan (0,8 m)

Td = lebar melintang akibat tonjolan depan

Z = lebar tambahan akibat kesukaran mengemudi ditikungan

Untuk :

Jika B > Bn, maka diperlukan pelebaran pada tikungan yaitu :

W = B - Bn

1. Spiral-Spiral

Lengkung horizontal bentuk spiral – spiral adalah lengkung tanpa busur lingkaran, sehingga
titik SC berimpit dengan titik CS. Panjang busur lingkaran Lc= 0, dan θs = ½ Δ. Rc yang dipilih harus
sedemikian rupa sehingga Ls yang dibutuhkan lebih besar dari Ls yang menghasilkan landai relatif
minimum yang disyaratkan. Panjang lengkung peralihan Ls yang dipergunakan haruslah yang
diperoleh dari rumus Ls = Ls/2Rc radial, sehingga bentuk lengkung spiral dengan sudut θs = ½ Δ
(Sukirman S., 1994).

Gambar Tikungan Spiral-Spiral

Rumus yang digunakan untuk bentuk spiral-spiral :

Lc = 0 dan Өs = ½ ∆PI

Ltot = 2 x Ls

Untuk menentukan Өs rumus sama dengan lengkung peralihan.

Δc x π x Rd
Lc =
90
P, K, Ts, dan Es rumus sama dengan lengkung peralihan.
2.8. Jarak Pandang

Jarak Pandang adalah jarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi pada saat melihat suatu
halangan yang membahayakan sampai pengemudi melakukan suatu tindakan untuk menghidari
bahaya tersebut dengan aman.

Jarak Pandang terdiri :

 Jarak Pandang Henti (Jh).


 Jarak Pandang Mendahului/menyiap (Jd).

a. Jarak Pandang Henti (Jh)


Jarak pandang henti (Jh) terdiri atas 2 komponen jarak yaitu:

1. Jarak tanggap/Jarak PIEV (Jht) adalah jarak yang ditempuh oleh kendaraan sejak pengemudi
melihat suatu benda peghalang sampai saat pengemudi menginjak rem.
2. Jarak Pengereman (Jhr) adalah jarak yang diperlukan untuk menghentikan kendaraan sejak
pengemudi menginjak rem sampai berhenti.

Sehingga persamaan jarak pandang henti (Jh) dari persamaan (1) & (2) disederhanakan menjadi :

Dimana :

Vr = kecepatan rencana (km/jam)

T = waktu tanggap/PIEV, ditetapkan 2,5 detik

g = percepatan gravitasi, ditetapkan 9,8 m/det²

L = landai jalan (%)

fp = koefisien gesek memanjang antara ban dengan perkerasan jalan aspal,

menurut Bina Marga fp = 0,35 - 0,55.

fp akan semakin kecil jika kecepatan (Vr) semakin tinggi dan demikian

sebaliknya.
Tabel Koefisien Gesek Memanjang

Nilai jarak pandang henti (Jh) Minimum juga dapat menggunakan hasil hitungan sebagaimana
pada tabel di bawah, untuk perencanaan jalan antar kota.

Tabel Jarak Pandang Henti (Jh) Minimumum

untuk perencanaan geometric jalan anatr kota

b. Jarak Pandang Menyiap/Mendahului (Jd)

Jd adalah panjang bagian jalan yang diperlukan oleh setiap pengemudi untuk menyusul
kendaraan lain dengan aman.

Jarak pandang menyiap diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah
105 cm sama dengan tinggi obyek yang akan disiap yaitu 105 cm (TPGJAK 1997)

Jd = d1 + d2 + d3 + d4
dimana:

d1 = jarak yang ditempuh selama waktu tanggap/PIEV (m).

d2 = jarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan Kembali ke lajur semula (m).

d3 = jarak bebas yang harus tersedia antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang
datang dari arah berlawanan setelah proses mendahului selesai, dillihat dalam tabel nilai d3

d4 = jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang datang dari arah berlawanan (m)

Tabel Penentuan Nilai d3

Adapun rumusan estimasi d1, d2, d3, dan d4 adalah sbb:

dengan:

t1 = waktu reaksi (detik), yang besarnya tergantung kecepatan

t1 = 2,12 + 0,026. Vr

t2 = waktu kendaraan berada di jalur lawan = 6,56 + 0,048. Vr (detik)

a = percepatan rata-rata = 2,052 + 0,0036. Vr

m = perbedaan kecepatan antara kendaraan yang mendahului dan yang didahului (10 - 15 km/jam),
biasanya diambil 15 km/jam

V = kecepatan rata-rata kendaraan yang menyiap. Dalam perhitungan dapat dianggap sama dengan
kecepatan rencana, biasanya digunakan V = Vr + 15 (km/jam)
Nilai jarak pandang mendahului untuk jalan antar kota dapat juga dilihat pada Tabel di bawah ini :

Tabel Nilai Jarak Pandang Mendahului


BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Jalan adalah serangkaian simpul atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas
hingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan
angkutan jalan.

Ditetapkan klasifikasi dan spesifikasi jalan raya untuk memberikan kejelasan mengenai tingkat
kepadatan lalu lintas. Klasifikasi dan spesifikasi jalan raya dapat dibedakan menurut fungsi
pelayanannya, menurut kelas jalan, menurut keadaan topografi, penggolongan layanan administrasi,
dan menurut jenis-jenis jalan raya. Klasifikasi dan spesifikasi tersebut sangat berguna dan dapat
memberikan kejelasan mengenai tingkat kepadatan lalu lintas yang perlu dilayani oleh setiap bagian-
bagian jalan

B. Saran

Perencanaan jalan raya hendaknya selalu memenuhi syarat teknis perencanaan jalan raya.
Karena untuk keamanan dan kenyamanan penumpang sangatlah penting. Jalan raya sebagai sarana
pembangunan dan pembantu pengmbang wilayah adalah penting sekali maka dari itu lalu lintas di
atas jalan raya harus terselenggara secara lancar dan aman sehingga pengangkutan berjalan dengan
cepat, aman, tepat, efisien, dan ekonomois. Untuk itu dalam proses pembuatan jalan raya harus
memenuhi syarat-syarat teknis dan ekonomis menurut fungsinya dan volume serta sifat lalu lintas.
DAFTAR PUSTAKA

 [Link]
k/laporan-tugas-besar-jalan-raya-1-kelompok-10/25471705
 [Link]
 [Link]
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai