0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan119 halaman

Asuhan Kebidanan Trimester III dan Nifas

Laporan ini membahas asuhan kebidanan komprehensif terhadap seorang ibu bersalin dan bayinya. Laporan ini mencakup asuhan selama masa kehamilan, persalinan, masa nifas, dan perawatan bayi baru lahir beserta neonatus. Tujuan laporan ini adalah untuk menerapkan manajemen kebidanan secara menyeluruh guna mencegah kematian ibu dan bayi.

Diunggah oleh

nadia utari pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan119 halaman

Asuhan Kebidanan Trimester III dan Nifas

Laporan ini membahas asuhan kebidanan komprehensif terhadap seorang ibu bersalin dan bayinya. Laporan ini mencakup asuhan selama masa kehamilan, persalinan, masa nifas, dan perawatan bayi baru lahir beserta neonatus. Tujuan laporan ini adalah untuk menerapkan manajemen kebidanan secara menyeluruh guna mencegah kematian ibu dan bayi.

Diunggah oleh

nadia utari pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEBIDANAN

PADA NY ”…” UMUR … TAHUN KEHAMILAN TRIMESTER III,


PERSALINAN, BBL, NEONATUS DAN NIFAS
DI … KABUPATEN REJANG LEBONG TAHUN 2023

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh :
MI’ROJ ANJALNA S.W
NIM. P00340220030

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM DIPLOMA
TIGA
TAHUN 2023
ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY “…” UMUR … KEHAMILAN TRIMESTER III,

PERSALINAN, BBL, NEONATUS DAN NIFAS

DI … KABUPATEN REJANG LEBONG TAHUN 2023

LAPORAN TUGAS AKHIR


Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi Kebidanan Program Diploma Tiga
Kampus Curup Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Bengkulu

Disusun Oleh :

MI’ROJ ANJALNA S.W


NIM. P00340220030

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN DIPLOMA TIGA
TAHUN 2023

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Tugas Akhir atas :

Nama : Mi’roj Anjalna SW

Tempat Tanggal Lahir : Taba Mulan, 19 Oktober 2002

NIM : P00340220030

Judul LTA : Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny “X”

Masa Kehamilan Trimester III, Persalinan, Bayi

Baru Lahir, Nifas dan Neonatus

Kami setuju untuk diseminarkan pada tanggal : ……………………

Curup , …………………2023
Oleh :
Pembimbing 1

Eva Susanti, SST, M. Keb


NIP. 1978020620520006

iii
LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Mi’roj Anjalna SW

NIM : P00340220030

Judul LTA : Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny."X" Masa

Kehamilan Trimester III, Persalinan, Bayi Baru Lahir, Nifas, dan

Neonatus di PMB "N" Wilayah Kerja Puskesmas Curup Tahun

2023

Menyatakan dengan sebesar besarnya bahwa Laporan Tugas Akhir ini

adalah betul-betul hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya

orang lain.

Demikian pernyataan ini dan apabila dikemudian hari terbukti dalam

Laporan Tugas Akhir penelitian ini ada unsur penjiplakan, maka saya bersedia

mempertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Curup, Februari 2023


Yang Menyatakan

Mi’roj Anjalna SW
NIM.P00340220030

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat

dan harunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini

dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehentif pada Ny “x” Masa

Kehamilan Trimester III, Persalinan, Bayi Baru Lahir, Nifas dan Neonatus”

dengan manajemen kebidanan menurut langkah varney.

Dalam penyelesaian laporan tugas akhir ini penulis banyak mendapat

bantuan baik materil maupun moril dari pihak, untuk itu penulis mengucapkan

terimakasih kepada :

1. Ibu Eliyana, SKM. MPH selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu

2. Ibu Yuniarti, SST, M. Kes selaku Kepala Jurusan Kebidanan Poltekkes

Kemenkes Bengkulu

3. Ibu Kurniyati, SST, M. Keb selaku Kepala Program Studi Diploma III

Kebidanan Curup

4. Ibu Eva Susanti SST, M. Keb selaku pembimbing akademik, yang selalu

memberikan motivasi dan semangat. Dan selaku pembimbing Laporan Tugas

Akhir yang telah memberikan banyak waktu serta memberikan saran yang

membangun dan masukan pada Laporan Tugas Akhir ini

5. Seluruh dosen dan staf Kebidanan Curu, Poltekkes Kemenkes Bengkulu

v
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penulis menyadari sepenuhnya

bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis

mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Demikian semoga

Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Curup, Maret 2023


Penulis

Mi’roj Anjalna SW

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii


HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... v

DAFTARB ISI ................................................................................................ vii


DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 3
C. Tujuan .............................................................................................. 3
D. Sasaran, tempat dan waktu asuhan kebidanan ................................. 5
E. Manfaat ............................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Asuhan Kebidanan ............................................................. 7
1. Konsep Dasar Persalinan ................................................................... 28
2. Konsep Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Normal ........................ 55
3. Konsep Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus ................................ 66
4. Konsep Asuhan Masa Nifas ............................................................... 81
B. Manajemen Kebidanan .............................................................................. 100
1. Manajemen Varney ........................................................................... 100
2. Manajemen SOAP ............................................................................. 103
3. Manajemen Asuhan Kebidanan ......................................................... 106
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 207

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Tinggi Fundus Uteri Menurut Leopold

Tabel 2 : Kategori Indeks Masa Tubuh

Tabel 3 : Pemberian Vaksin TT

Tabel 4 : Pengelompokan Anemia

Tabel 5 : APGAR Score

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pernyataan

Lampiran 2 Lembar Konsul

ix
DAFTAR SINGKATAN

AKI : Angka Kematian Ibu

AKB : Angka Kematian Bayi

KH : Kelahiran Hidup

COC : Contiunity of Care

LILA : Lingkar Lengan Atas

BAK : Buang Air Kecil

BAB : Buang Air Besar

TFU : Tinggu Fundus Uteri

BBL : Bayi Baru Lahir

IMD : Inisiasi Menyusui Dini

PAP : Pintu Atas Panggul

TTV : Tanda Tanda Vital

TD : Tekanan Darah

N : Nadi

RR : Respirasi

S : Suhu

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indikator kesehatan sebuah negara dapat diukur dari angka kematian

ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), sehingga pemerintah membuat

kebijakan untuk mengatakan kualitas kesehatan dengan upaya pemerintah

(seperti mengenai alat kontrasepsi, inisiasi menyusui dini (IMD), imunisasi,

asi eksklusif, dll). ( Amalia,dkk ,2020)

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di

indonesia Menurut data dari Kemenkes yang dihimpun dari pencatatan

program kesehatan keluarga di Kementerian Kesehatan meningkat setiap

tahun. Pada tahun 2021 Angka Kematian Ibu (AKI) menunjukkan 7.389

kematian di Indonesia. Jumlah ini menunjukkan peningkatan dibandingkan

tahun 2020 sebesar 4.627 kematian. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB)

jumlah kematian bayi pada tahun 2021 sebanyak 20.154 kematian bayi, terjadi

penurunan dibandingkan tahun 2020, yaitu sebanyak 25.158 kematian

( Kemenkes RI, 2022).

Penyebab AKI dan AKB yang tinggi yaitu perdarahan, tekanan darah

tinggi (eklamsia) dan infeksi. Pendarahan menempati persentase tertinggi

penyebab kematian ibu, anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu

hamil menjadi penyebab terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan

faktor kematian utama ibu. Sehingga pentingnya seorang bidan mampu

memberi asuhan yang berkualitas yaitu dengan cara persalinan normal dengan

xi
tujuan agar angka kematian ibu dan angka kematian bayi dapat berkurang.

(Soemarno 2022)

Salah satu cara untuk mencapai indikator tersebut adalah dengan cara

contunity of care (COC). Contunity of care dalam asuhan kebidanan

merupakan rangkaian kegiatan secara menyeluruh dan berlanjut dimulai dari

periode selama kehamilan, kelahiran, nifas, bayi baru lahir serta keluarga

berencana (KB) yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan pada wanita dan

kesehatan pribadi setiap manusia. Contunity of care yang dilaksanakan oleh

tenaga kesehatan terutama seorang bidan selalu memiliki pegangan yang

bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang menyeluruh dan

berkesinambungan. (Ikka wijayanti,dkk 2022)

Asuhan berkelanjutan (contunity of care), yaitu diharapkan untuk dapat

memberikan dampak positif bayi ibu maupun bayi, seperti meningkatkan

persalinan spontan pervaginam, meningkatkan pemberian air susu ibu bagi bayi

dan menurunkan angka persalinan preterm ataupun kematian janin sebelum usia

kandungan 24 minggu. (Puji hastuti,dkk 2022)

Upaya menurunkan AKI dan AKB ini salah satu ujung tombaknya

adalah seorang bidan. Bidan melakukan praktek fasilitas pelayanan kesehatan

salah satunya di praktik bidan mandiri Novarita Simbolon. Hasil survei awal

data kunjungan ibu hamil tercatat periode 2021 pada bulan januari – desember

yaitu pada ibu hamil KI 60, K2 55 orang kunjungan, ibu bersalin KF 51 orang.

Pada ibu hamil terdapat 3 ibu yang mengeluh kaki bengkak, 5 mengeluh nyeri

punggung dan sering BAK. Asuhan kebidanan penting dikuasai oleh seorang

xii
bidan dengan menerapkan asuhan Contunity Of Care. (Hayana,2022)

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merasa tertarik untuk

memberikan asuhan kebidanan secara Contunity Of Care dalam upaya

meningkatkan kemampuan memberikan asuhan kebidanan dan menyelesaikan

laporan tugas akhir pada Ny “...” umur ... tahun kehamilan trimester III,

persalinan, BBL, neonatus dan nifas di ... kabupaten rejang lebong tahun

2023. (Hayana,2022)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi latar belakang dan masalah yang ada, maka

rumusan masalah pada laporan tugas akhir ini yaitu : “Bagaimana asuhan

kebidanan komprehensif pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir

di PMB “N” Tahun 2023 ?”

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mampu menerapkan asuhan kebidanan secara komprehensif selama

kehamilan TM III, bersalin, masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri

Bidan Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023

. Dengan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) atau

Kepmenkes Nomor HK.01.07-Menkes-320-2020 Tentang Standar Profesi

Bidan Tentang Standar Asuhan Kebidanan.

xiii
2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian selama kehamilan TM III, bersalin,

masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja

Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .

b. Mampu melakukan diagnosa selama kehamilan TM III, bersalin, masa

nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja Dinas

Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .

c. Mampu menyusun perencanaan selama kehamilan TM III, bersalin,

masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja

Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .

d. Mampu melakukan implementasi selama kehamilan TM III, bersalin,

masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja

Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .

e. Mampu melakukan evaluasi selama kehamilan TM III, bersalin, masa

nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja Dinas

Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .

f. Mampu melakukan pencatatan asuhan kebidanan selama kehamilan

TM III, bersalin, masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan

Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun

2023.

g. Mampu membandingkan antara teori dengan praktik asuhan yang

diberikan.

xiv
D. Sasaran, Tempat Dan Waktu Asuhan Kebidanan

1. Sasaran

Asuhan kebidanan yang akan diberikan sasaran subjek di tunjukkan

kepada satu orang ibu dengan memperhatikan Contunity Of Care selama

kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir, masa nifas dan neonatus.

2. Tempat

Tempat di lakukan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan yaitu pada ibu

selama kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir, masa nifas dan

neonatus di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja Dinas Kesehatan

Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023.

3. Waktu

Waktu pelaksanaan Asuhan Berkesinambungan yang diperlukan yaitu

pada semester VI sesuai dengan Kalender akademik DIII Kebidanan

Curup Poltekkes Kemenkes Bengkulu dimulai dari 30 Januari-15 April

2023.

E. Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Laporan ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk kemajuan informasi

dibidang kebidanan, sumber penambah pengetahuan, wawasan serta

masukan bagi pihak institusi dalam penerapan proses manajemen asuhan

kebidanan pada ibu selama kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir,

xv
masa nifas dan neonatus.

2. Manfaat Praktis

a. Pelayanan Kesehatan

Diharapkan sebagai masukan bagi pelayanan kesehatan dalam

memberikan pelayanan dan asuhan kebidanan secara maksimal pada

ibu selama kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir, masa nifas

dan neonatus.

b. Akademik

Diharapkan laporan ini dapat dijadikan bahan masukan dalam

menambah informasi, sumber bacaan, bahan pengajaran, peningkatan

dan pengembangan kurikulum pendidikan serta menjadi referensi

pendokumentasian asuhan kebidanan khususnya pada Poltekkes

Kemenkes Bengkulu.

c. Mahasiswa

Diharapkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan

pengalaman secara langsung sekaligus penanganan dalam menerapkan

ilmu yang diperoleh selama akademik, serta menambah wawasan

dalam penerapan proses manajemen asuhan kebidanan pada ibu selama

kehamilan TM III, bersalin, masa nifas, neonatus.

d. Masyarakat

Diharapkan dapat menambah pengetahuan dasar terhadap Kesehatan

pada ibu selama kehamilan TM III, bersalin, masa nifas, neonatus.

xvi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Asuhan Kebidanan

1 Asuhan Kehamilan

a. Pengertian kehamilan

Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari konsepsi sampai

dimulainya persalinan atau lahirnya janin. Lamanya kehamilan yaitu

280 hari sampai 40 minggu. Dihitung dari hari pertama haid terakhir.

Kehamilan normal merupakan kehamilan yang tidak mengalami

gejala-gejala atau kelainan maupun komplikasi selama usia kehamilan

280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama

haid terakhir/HPHT. (Dwikurniasi,2021)

Trimester ketiga sering disebut sebagai "periode menunggu,

penantian dan waspada" sebab pada saat ini biasanya ibu tidak sabar

menunggu kelahiran bayinya. Trimester ketiga adalah waktu

mempersiapkan kelahiran dan peran sebagai orangtua serta terpusatnya

perhatian pada kehadiran bayi

Bersamaan dengan harapan akan hadirnya seorang bayi, pada

trimester ini kecemasan semakin meningkat. Cemas akan adanya

kelainan fisik maupun mental pada bayi, perasaan nyeri pada saat

melahirkan, perasaan takut tidak dapat melahirkan secara normal, dan

xvii
juga perasaan takut akan kehilangan nyawa dan bayi. (Ekamustika dan

dwiwirasti,2022)

b. Perubahan fisiologis kehamilan Trimester III

Perubahan yang terjadi selama kehamilan yaitu sebagai berikut :

1) Uterus

Pada akhir kehamilan uterus akan membesar dalam rongga pelvis

dan seiring perkembangannya uterus akan menyentung dinding

abdomen. Pada Trimester III (> 28 minggu) dinding uterus mulai

menipis dan lebih lembut. Pergerakan janin dapat diobservasi dan

badannya dapat diraba untuk mengetahui posisi dan ukurannya, korpus

berkembang menjadi segmen bawah rahim. Pada minggu ke-36

kehamilan terjadi penurunan janin ke bagian bawah rahim, hal ini

disebabkan melunaknya jaringan- jaringan dasar panggul bersamaan

dengan gerakan yang baik dari otot rahim dan kedudukan bagian

bawah Rahim.( Siti Rahmah, 2021)

Tabel 1 : Tinggi Fundus Uteri Menurut Leopold

No. Usia Kehamilan Tinggi Fundus uteri


1. 28 minggu 26,7 cm di atas simfisis, 2-3 jari di atas pusat
2. 32 minggu 29,5-30 cm di atas simfisis, pertengahan pusat-px
3. 36 minggu 32 cm di atas simfisis, 3 jari di atas px atau
sampai setinggi pusat
4. 40 minggu 37,7 cm di atas simfisis, pertengahan pusat px,
tetapi melebar ke samping
Sumber : Siti Rahmah, 2021

2) Serviks uteri

Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena

hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan

xviii
adanya hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak.

Serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas

kolagen. Karena serviks terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit

mengandung jaringan otot, maka serviks tidak mempunyai fungsi

sebagai spinkter, sehingga pada saat partus serviks akan membuka saja

mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri ke atas dan tekanan bagian

bawah janin ke bawah. Sesudah partus, serviks akan tampak berlipat-

lipat dan tidak menutup seperti spinkter.(Sumaryanti,DKK 2020)

3) Vagina dan vulva

Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan.

hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih

merah dan kebiru- biruan (tanda Chadwicks). Pada bulan terakhir

kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental.

(Wityarti,2021)

4) Payudara

Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia duktus dan jaringan

intertisial payudara. hormon laktogenik plasenta (di antaranya

somatomammoptropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-

sel asinus payudara serta meningkatkan produksi zat-zat kasein,

laktoalbumin, laktoglobulin,sel-sel lemak, kolostrum. Mammae

membesar dan tegang terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofit

kelenjar montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat

pengaruh malanofor. puting susu membesar dan menonjol. payudara

xix
akan membesar dan kencang, ini karena pada awal pembuahan terjadi

peningkatan hormon kehamilan yang menimbulkan pelebaran

pembuluh darah dan memberi nutrisi pada jaringan payudara.

(Mukhoirotin,DKK 2022)

5) Sistem Respirasi

Ibu hamil sering mengeluh sesak napas yang biasanya terjadi pada

umur kehamilan 32 minggu lebih, hal ini disebabkan oleh karena

uterus yang semakin membesar sehingga menekan usus dan

mendorong keatas menyebabkan tinggi diafragma bergeser 4 cm

sehingga kurang leluasa bergerak. Kebutuhan oksigen wanita hamil

meningkat sampai 20%, sehingga untuk memenuhi kebutuhan oksigen

wanita hamil bernapas dalam. Peningkatan hormon estrogen pada

kehamilan dapat mengakibatkan peningkatan vaskularisasi pada

saluran pernapasan atas.(Sripoerwaningsi,2022)

6) Sistem Integumen

Tingginya kadar hormone yang tersirkulasi dalam darah

dan peningkatan regangan pada kulit abdomen, paha, dan payudara

bertanggung jawab pada timbulnya garis-garis yang berwarna merah

muda atau kecoklatan pada daerah tersebut. Tanda tersebut bisa

dikenal dengan nama striae gravidarum dan bisa menjadi lebih gelap

warnanya pada multigravida dengan warna kulit gelap atau hitam.

Striae gravidarum ini akan berkurang setelah masa kehamilan dan

biasanya nampak seperti garis-garis yang berwarna keperakan pada

xx
wanita kulit putih atau warna gelap/hitam yang mengilap.

(Lusianagultom dan juiletahutabarat,2020)

7) Sistem Perkemihan

Perubahan pada system perkemihan terjadi karena faktor

hormone dan mekanis. Pada trimester III terjadi peningkatan frekuensi

BAK karena penekanan uterus yang membesar terhadap vesika

urinaria sehingga kapasitasnya menurun. Terjadinya hemodilusi

menyebabkan metabolisme air meningkat sehingga pembentukan urin

meningkat. (Murti Ani,Dkk,2021)

8) Sistem Muskuloskletal

Perubahan tubuh secara bertahap dari peningkatan berat wanita

hamil, menyebabkan postur dan cara berjalan wanita berubah secara

menyolok. Berat uterus dan isinya menyebabkan perubahan pada titik

pusat gaya tarik dan garis bentuk tubuh. Lengkung tulang belakang

akan berubah bentuk untuk mengimbang pembesaran abdomen dan

menjelang akhir kehamilan banyak wanita yang memperlihatkan

postur tubuh yang khas (lordosis) (Murti Ani,Dkk,2021)

9) Sistem Pencernaan

Estrogen dan HCG meningkat dengan efek samping mual dan

muntah-muntah, Apabila mual muntah terjadi pada pagi hari disebut

Moming Sickness. Selain itu terjadi juga perubahan peristaltic dengan

gejala sering kembung, dan konstipasi. Pada keadaan patologik

tertentu dapat terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih dari 10 kali

xxi
per hari (hiperemesis gravidarum). Aliran darah ke panggul dan

tekanan vena yang meningkat dapat mengakibatkan hemoroid pada

akhir kehamilan. Hormon estrogen juga dapat mengakibatkan gusi

hiperemia dan cenderung mudah berdarah. Tidak ada peningkatan

sekresi saliva, meskipun banyak ibu hamil mengeluh merasa kelebihan

saliva (ptialisme), perasaan ini kemungkinan akibat dari ibu hamil

tersebut dengan tidak sadar jarang menelan saliva ketika merasa mual

sehingga terkesan saliva menjadi banyak. Ibu hamil trimester pertama

sering mengalami nafsu makan menurun, hal ini dapat disebabkan

perasaan mual dan muntah yang sering terjadi pada kehamilan muda.

Pada trimester kedua mual muntah mulai berkurang sehingga nafsu

makan semakin meningkat (Murti Ani,Dkk.2021)

10) Kenaikan Berat Badan

Berat badan Berat badan ibu hamil akan bertambah antara

6,5 kg-16,5 kg. Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) berat badan

ibu masih dalam batas normal dengan kalkulasi sebagai berikut:

Tabel 2. Peningkatan Penambahan Berat Badan Ibu Selama Kehamilan

(PBBH) Yang Direkomendasikan Sesuai Dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)

xxii
(Sumber : Kementerian Kesehatan RI, 2020)

c. Perubahan Psikologi Kehamilan Trimester III

1) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh dan

tidak menarik

2) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu

3) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik akan timbul pada saat

melahirkan, khawatir akan keselamatannya

4) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal,

bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya

5) Ibu tidak sabar menunggu kelahiran bayinya

6) Semakin ingin menyudahi kehamilannya

7) Aktif mempersiapkan kelahiran bayinya

8) Bermimpi dan berkhayal tentang bayinya

xxiii
9) Rasa tidak nyaman

10) Perubahan emosional ( Ririn widyastuty, 2021)

d. Ketidaknyamanan Trimester III

1) Sering Buang Air Kecil (BAK)

Keluhan sering kencing pada akhir kehamilan disebabkan oleh

lightening (bagian presentasi masuk ke dalam panggul) sehingga

menekan kangdung keming. Cara mengatasinya yaitu segera

berkemih jika sudah terasa ingin kencing, minum air putih pada

siang hari, dan mengurangi asupan cairan sebelum tidur (Diki

Retno Yuliani,2017)

Asuhan yang dapat diberikan menurut (Ziya Helda dan

Ika,2021) yaitu dengan melakukan senam kagel. Terapi senam

kagel merupakan salah satu terapi non farmakologi yang dapat

menguatkan otot panggul, membantu mengendalikan keluarnya

urin saat berhubungan intim, dapat meningkatkan kepuasan saat

berhubungan intim karena meningkatkan daya cengkram vagina,

meningkatkan kepekaan terhadap rangsangan seksual, mencegah

“ngompol kecil” yang timbul saat batuk atau tertawa, dan

melancarkan proses kelahiran tanpa harus merobek jalan lahir serta

mempercepat penyembuhan pasca persalinan.

Dengan melakukan senam kagel, dari hasil asuhan yang telah

dilakukan, mulai dari tanggal 26 Juni sampai 2 Juli 2021

didapatkan hasil bahwa ketidaknyamanan sering BAK yang

xxiv
dialami ibu dapat teratasi dengan melakukan terapi senam kagel,

yaitu dibuktikan dengan melakukan pertanyaan sebelum dan

sesudah dilakukannya senam kagel terkait keluhan yang dirasakan

ibu. Dimana sebelum dilakukan terapi senam kagel ibu merasakan

sering BAK hingga lebih dari 5 kali pada malam hari, setelah

diberikan terapi senam kagel frekuensi BAK ibu pada malam hari

berkurang menjadi 1-2 kali (Ziya Helda dan Ika,2021).

2) Sulit Tidur

Selama kehamilan, jumlah hormon akan semakin meningkat.

Hal ini yang menyebabkan ibu hamil lebih sering terjaga. Selain

itu, rasa sakit yang ibu rasakan akan membuat ibu semakin sulit

untuk tidur. masalah tidur ini terjadi karena perubahan postur

tubuh, pertumbuhan bayi dan pergerakan bayi, maka hal ini akan

menyulitkan ibu untuk mencari posisi tidur yang nyaman.

Beberapa petugas kesehatan menganjurkan untuk miring ke kiri,

tetapi hal ini bila dilakukan terus menerus akan menimbulkan nyeri

akibat teregangnya otot penunjang rahim ke satu sisi selama terus

menerus. (Deswani, 2020)

Tata laksana dari ketidaknyamanan sulit tidur yaitu dengan

cara senam hamil yang diawali dengan gerakan pemanasan dalam

latihan bermanfaat untuk meningkatkan oksigen yang diangkut ke

otot dan jaringan tubuh, memperlancar peredaran darah dan

mengurangi adanya cedera atau luka. senam diawali dengan

xxv
pemanasan 10 menit, kemudian latihan pernapasan dan dilanjutkan

dengan gerakan asana sekitar 25-30 menit, diakhiri dengan mediasi

10 menit. Ibu hamilyang melakukan senam hamil yang baik sesuai

dengan gerakan dan latihan yang maksimal sesuai yang diajarkan

dari kualitas tidur yang buruk menjadi kualitas tidur yang baik

Menurut teori senam hamil dilakukan minimal dua kali dalam

seminggu selama 30 menit. Berdasarkan hasil penelitian diatas

gerakan senam hamil dapat mempengaruhi kualitas tidur pada ibu

hamil. (Mardalena dan lilis, 2022)

3) Nyeri punggung

Nyeri punggung pada bagian bawah adalah suatu

ketidaknyamanan yang timbul dibagian bawah os costa dan diatas

inferior gluteal Berbagai masalah yang timbul pada usia kehamilan

trimester III merupakan masalah psikologis yang sering dikeluhkan

pada ibu hamil seperti nyeri punggung, namun nyeri punggung juga

dapat menimbulkan kualitas tidur yang buruk. Nyeri punggung saat

hamil terjadi pada daerah lumbosacral, karena akan bertambah

intensitas nyeri seiring bertambahnya usia kehamilan yang disebabkan

adanya pergeseran pada pusat gravitasi dan perubahan postur tubuh.

(Hanifah, dkk, 2022)

Tatalaksana dari ketidaknyamanan nyeri punggung yaitu dengan

cara menggunakan kompres hangat dan dapat menimbulkan efek

seperti mencegah terjadinya spasme otot atau memberikan rasa

xxvi
nyaman dan memberikan rasa kehangatan, Kompres hangat juga

adalah cara yang bagus untuk meredakan nyeri beberapa efek

fisiologinya yaitu tubuh menjadi lebih rileks, rasa nyeri jadi lebih

hilang bahkan turun dan sirkulasi darah ibu hamil menjadi lancar

Kompres hangat menggunakan air dengan suhu 37-400C, kemudian

gunakan handuk yang dicelupkan pada air tersebut lalu peras dan

tempelkan pada punggung ibu hamil selama 15 menit dilakukan 1 hari

sekali selama 3 hari kunjungan dan kemudian dievaluasi sebelum di

intervensi dan sesudah di intervensi. Berdasarkan hasil penelitian

diatas kompres hangat dapat mengurangi nyeri punggung pada ibu.

(Hanifah, dkk, 2022)

4) Edema

Salah satu ketidaknyamanan dan tanda bahaya kehamilan yang

dapat dialami ibu hamil trimester ketiga yaitu edema. Edema atau

pembengkakan pada tungkai bawah dan pergelangan kaki terjadi

selama kehamilan, akibat penurunan aliran balik vena dari ektremitas

bawah. Sekitar 75% ibu hamil pasti mengalami pembengkakan pada

kaki (edema), yang umumnya terjadi pada trimester akhir. Edema

diperberat oleh posisi berdiri atau duduk dalam waktu lama.

Tatalaksana dari ketidaknyamanan edema yaitu dengan cara

menganjurkan ibu untuk menghindari makanan tinggi garam,

mengonsumsi makanan tinggi protein, dan tidak menggunakan

pakaian yang ketat. Ketika ibu pada posisi berdiri atau duduk dalam

xxvii
waktu yang lama, ibu harus menaikkan kakinya selama 20 menit dan

merubah posisi setiap 2 sampai 3 jam. Dorsofleksi kaki sering- sering

ketika duduk membantu mengontraksi otot merangsang sirkulasi .

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat mengurangi edema pada kaki

ibu sehingga menurunkan derajat edema. (Faniza,dkk ,2021)

e. Tanda-tanda bahaya pada ibu hamil TM III

Menurut tibu,2020 yaitu:

1) pendarahan pervaginam

2) sakit kepala yang hebat

3) pengelihatan kabur

4) bengkak di muka atau tangan

5) gerakan janin tidak ada atau kurang ( minimal 3 kali dalam 1 jam)

6) pengeluaran cairan pervaginam ( ketuan pecah dini)

7) kejang

8) selaput kelopak mata pucat

9) demam tinggi (tibu,2020)

f. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Trimester III

1) Kebutuhan Oksigen

Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia termasuk

ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat ibu

hamil sehingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen

xxviii
pada ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang dikandung. Untuk

mencegah hal tersebut dan untuk memenuhi kebutuhan oksigen maka

ibu hamil perlu : Latihan napas melalui senam hamil, Tidur dengan

bantal yang lebih tinggi, Kurangi atau hentikan merokok, Konsul ke

dokter bila ada kelainan atau gangguan pernafasan. (Miftahul

khairoh, 2021)

2) Nutrisi dan Gizi

Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang mengandung

nilai gizi bermutu tinggi. Gizi pada waktu hamil harus

ditingkatkan hingga 300 kalori perhari, ibu hamil seharusnya

mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi dan

cukup cairan (menu seimbang). Diantaranya:

a) Kalori Kebutuhan kalori untuk ibu hamil adalah 2300 kalori

dipergunakan untuk produksi energi.

b) Protein, Bila wanita tidak hamil, konsumsi protein yang ideal

adalah 0,9 gram/kg BB/hari, tatapi selama kehamilan dibutuhkan

tambahan protein hingga 30 gram/hari. Protein yang dianjurkan

adalah protein hewani seperti daging, susu, telur, keju dan ikan

karena mengandung komposisi asam amino yang lengkap.

c) Mineral, Pada prinsipnya semua mineral dapat terpenuhi dengan

makan makanan sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-sayuran dan

susu. Hanya besi yang tidak bisa terpenuhi dengan makanan

sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan ini dibutuhkan suplemen

xxix
besi 30 mg perhari dan pada kehamilan kembar atau wanita yang

sedikit anemic dibutuhkan 60-100 mg/hari. Kebutuhan kalsium

bisa terpenuhi dengan minum susu, tapi bila ibu hamil tidak bisa

minum susu bisa diberikan suplemen kalsium dengan dosis gram

perhari.

d) Vitamin, Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makan sayur

dan buah-buahan tetapi dapat pula diberikan ekstra vitamin.

Pemberian asam folat dapt mencegah kecacatan pada bayi. (arkha

rosyaria, 2022)

3) Personal Hygiene

Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan

sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk

mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama

lipatan kulit (ketiak, bawah payudara, daerah genetalia) dengan cara

dibersihkan dengan air dan di keringkan. Kebersihan gigi berlubang

terutama pada ibu yang kekurangan kalsium. (ayu idaningsih, 2021)

4) Eliminasi

Ibu hamil dianjurkan untuk tidak menahan berkemih dan selalu

berkemih sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual dan

minum banyak air untuk meningkatkan produksi kandung kemih.

Akibat pengaruh progesteron, otot-otot tractus digestivus tonusnya

menurun, akibatnya mototilitas saluran pencernaan berkurang dan

menyebabkan obstipasi. Untuk mengatasi hal tersebut ibu hamil

xxx
dianjurkanminum lebih 8 gelas dan sebaiknya diet yang mengandung

serat, latihan/senam hamil dan tidak dianjurkan untuk minum obat.

(deswani,DKK 2020)

5) Seksual

Selama kehamilan koitus diperbolehkan sampai akhir

kehamilan. Koitus tidak dibenarkan bila terdapat perdarahan

pervaginam, ada riwayat abortus berulang, partus prematurus, ketuban

pecah dan serviks telah membuka. (arkh rosyaria, 2021)

6) Mobilisasi Dan Body Mekanik

Mobilisasi Ibu hamil boleh melakukan kegiatan/aktivitas fisik

seperti biasa selama tidak terlalu melelahkan. (miftahul khairoh, 2021)

7) Senam Hamil

Ibu hamil perlu menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara

berjalan-jalan di pagi hari, renang, olah raga ringan dan senam hamil.

Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22 minggu yang

bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga dapat

berfungsi secara optiamal dalam persalinan normal serta

mengimbangkan perubahan titik berat tubuh. Senam hamil dianjurkan

untuk ibu hamil tanpa komplikasi/kelainan. (miftahulkhairoh, 2021)

8) Persiapan persalinan

a) Membuat rencana persalinan

b) Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi

xxxi
kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama tidak

ada

c) Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi

kegawatdaruratan

d) Membuat rencana atau pola menabung

e) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan.

(gustiana, 2021)

9) Aktivitas Dan Istirahat/ Relaksasi

Kebutuhan istirahat/tidur pada malam hari kurang lebih 8 jam

dan istirahat dalam keadaan rileks pada siang hari selama I jam.

(yayuk umaya, 2022)

10) Standar pelayanan kebidanan

Berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021 pemeriksaan

kehamilan dilakukan sebanyak 6 kali. Segera ke dokter atau bidan jika

terlambat datang bulan. Pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali selama

kehamilan dan minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester

I dan trimester III, diantaranya :

a) 2 kali pada trimester pertama (kehamilan dari 1 minggu sampai

12 minggu )

b) 1 kali pada trimester kedua ( kehamilan dari13 minggu sampai 28

minggu

c) 3 kali pada trimester ketiga ( kehamilan dari 28 minggu sampai 40

minggu )

xxxii
Pelayanan yang diberikan pada ibu hamil harus memenuhi kriteria

10T . berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021 tersebut yaitu :

a) Pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)

Pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan penimbangan

BB yang bertujuan untuk mendeteksi adanya gangguan

pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang <9 kilogram

selama kehamilan atau kurang dari 1 kilogram/bulan

menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin.

Pengukuran tinggi badan (TB) pada kunjungan pertama

dilakukan untuk menapis adanya faktor risiko pada ibu hamil.

Meningkatkan risiko untuk terjadinya cephalo pelvic

disproportion (CPD) jika tinggi badan (TB) ibu hamil < 145

cm.

b) Pengukuran tekanan darah

Pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan pengukuran

tekanan darah (TD) dilakukan untuk mendeteksi adanya

hipertensi yaitu dimana tekanan darah ≥ 140/90 mmHg pada

kehamilan dan terjadinya preeklampsia.

c) Pengukuran lingkar lengan Atas (LiLa)

Hanya dilakukan pada kontak pertama oleh tenaga

kesehatan di trimester I kehamilan untuk skrining ibu hamil

berisiko kurang energi kronis (KEK) yaitu ibu hamil yang

mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama

xxxiii
(beberapa bulan/tahun). Didapatkan dimana LILA kurang

dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan

bayi berat lahir rendah (BBLR)

d) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)

Dilakukan pada setiap kali kunjungan antenatal setelah

kehamilan 24 minggu. Pengukuran dilakukan untuk

mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia

kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur

kehamilan, kemungkinan gangguan pertumbuhan janin.

e) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)

Presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan

selanjutnya setiap kali kunjungan ANC. Pemeriksaan ini

bertujuan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester

III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum

masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit

atau ada masalah lain. Penilaian denyut jantung janin (DJJ)

dilakukan pada akhir trimester 1 dan selanjutnya setiap kali

kunjungan antenatal. DJJ normal berkisar 120-160x/menit.

DJJ dari 120 kali/menit atau 160 kali/menit menunjukkan

adanya gawat janin.

f) Pemberian imunisasi sesuai dengan status imunisasi

Imunisasi tetanus toxoid (TT) diberikan untuk ibu hamil

untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum. Penting

xxxiv
dilakukan saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status

imunisasi T-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil

diberikan disesuai dengan status imunisasi T ibu saat ini.

Pemberian imunisasi TT tidak mempunyai interval maksimal,

hanya terdapat interval minimal. Interval minimal pemberian

imunisasi TT dan lama perlindungannya dapat dilihat pada

tabel berikut:

Tabel 3 : Interval Minimal Pemberian Imunisasi TT

Dan Lama Perlindungannya

Imunisasi Lama Perlindungan Selang Waktu Minimal Pemberian


Imunisasi

TT1 - Langkah awal pemberntukan


kekebalan tubuh terhadap penyakit
teranus
TT2 1 bulan setelah TT1 3 Tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 5 Tahun
TT4 12 bulan setelah TT3 10 Tahun
TT5 12 bulan setelah TT4 ≥25 Tahun
Sumber : (Kementrian Kesehatan RI, 2020).

g) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet

Upaya pencegahan anemia zat besi pada ibu hamil

dimulai sedini mungkin dan dilanjutkan sampai masa nifas

dengan memberikan 1 tablet setiap hari selama kehamilan

minimal 90 tablet. Berikut pengelompokan anemia pada ibu

xxxv
hamil. (Yuniarti,2021)

Tabel 4 : Rekomentasi WHO tentang pengelompokan anemia (g/dL)


pada ibu hamil
Populasi Tidak anemia
Ibu hamil 11 g/dL
Ringan 10,0 – 10,9 g/dL
Sedang 7,0 – 9,9 g/dL
Berat < 7,0 g/dL
Sumber : (Yuniarti,2021)

h) Tes laboratorium pada ibu hamil

Menurut Yuniarti, 2021 tes laboratorium pada kehamilan meliputi:

(1) . Pemeriksaan kadar hemoglobin (HB) darah

(2) . Golongan darah

(3) . Tes triple eliminasi (HIV, Sifilis dan Hepatitis B), serta

malaria pada daerah endemis dengan rapid tes diagnosis

(RDT)

(4) . Tes lainnya dapat dilakukan sesuai indikasi seperti:

gluko-proteinurin, gula darah sewaktu, sputum basil

tahan asam (BTA), kusta, malaria non endemis,

pemeriksaan feses untuk kecacingan, pemeriksaan darah

lengkap untuk deteksi dini talasemia dan pemeriksaan

lainnya.

i) Tata laksana / penanganan kasus

hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan

laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil

harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan

tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani

xxxvi
dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.

j) Temu wicara (konseling) dan penilaian kesehatan jiwa

Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap

kunjungan antenatal yang meliputi

1) Gizi seimbang, makan beragam, makan secara proporsional

dengan pola gizi seimbang dan 1 porsi lebih banyak dari

pada sebelum hamil

2) Menjaga kebersihan diri; mencuci tangan dengan sabun dan

air mengalir, mandi dan gosok gigi, 2x sehari, keramas 2

hari 1 kali, kebersihan payudara dan kemaluan, ganti

pakaian dan pakaian dalam setiap hari dan memeriksa

kesehatan gigi

3) Istirahat yang cukup; tidur malam setidaknya 6-7 jam dan

siang hari usahakan tidur atau istirahat 1-2 jam

4) Bersama suami lakukan stimulasi janin : sering berbicara

dengan janin dan sering lakukan sentuhan pada perut ibu

5) Hubungan suami istri selama kehamilan : boleh dilakukan

selama kehamilan sehat.

6) Hal-hal yang harus dihindari oleh ibu hamil : kerja berat,

merokok atau terpapar asap rokok, minum minuman bersoda

(Yuniarti,2021)

xxxvii
B. Konsep Dasar Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Persalinan Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin

dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan

melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa

bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi

persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara progresif

dan diakhiri dengan kelahiran plasenta. Jenis persalinan menurut proses

berlangsungnya persalinan terbagi:

a. Persalinan spontan terjadi menggunakan kekuatan ibu sendiri.

b. Persalinan buatan terjadi dengan bantuan tenaga dari luar seperti Sectio

Caesaria.

xxxviii
c. Persalinan anjuran proses mulainya persalinan karena adanya

rangsangan seperti dilakukan amniotomy, pemberian atau

prostaglandin. (isrinasifah,2021)

2. Sebab-Sebab Terjadinya Persalinan

Menurut Yusuf dan Armanto, 2021 hormon – hormon yang dominan

pada saat kehamilan yaitu :

a. Progesteron

Progesteron adalah hormon yang berperan mengurangi

sensitivitas otot rahim, membuat otot rahim dan otot polos

relaksasi.

b. Estrogen

Estrogen berperan menaikkan sensitivitas otot uterus .Jika

terjadi ketidakseimbangan antara estrogen dan progesterone akan

menyebabkan hipose parst posterior mengeluarkan oksitosin

sehingga terjadi kontraksi yaitu Braxton Hicks.

c. Oksitosin

Oksitosin adalah hormon yang menyebabkan his dan

disekresikan oleh neurohipofisis. Mekanisme oksitosin dalam

menstimulasi kontraksi otot polos: otot uterus menaikkan jumlah

reseptor oksitosin, saat persalinan terjadi peningkatan kecepatan

pengeluaran oksitosin oleh neurohipofisis.

xxxix
d. Prostaglandin

Prostaglandin adalah hormon pencetus kontraksi dan bertugas

merangsang persalinan. Hormon ini diproduksi ketika janin siap

dilahirkan. Ibu hamil yang kekurangan hormon prostaglandin dapat

menyebabkan kehamilan lewat . (Yusuf dan Armanto,2021)

3. Tanda- Tanda Persalinan

Menurut Murti Ani, 2021 tanda-tanda persalinan yaitu:

a. Adanya Kontraksi Rahim

Secara umum, tanda awal bahwa ibu hamil untuk melahirkan adalah

mengejangnya rahim atau dikenal dengan istilah kontraksi. Kontraksi

tersebut berirama, teratur dan involunter, umumnya kontraksi tujuan

untuk menyiapkan mulut lahir untuk membesar dan meningkatkan aliran

darah di dalam plasenta. Kontraksi yang sesungguhnya akan muncul dan

hilang secara teratur dengan intensitas makin lama makin meningkat.

b. Keluarnya Lendir Bercampur Darah

Lendir disekres sebagai hasil proliferasi kelenjar lendir servik pada

awal kehamilan. Lendir mulanya menyumbat leher rahim, sumbatan

yang tebal pada mulut rahim terlepas. sehingga menyebabkan keluarnya

lendir yang berwarna kemerahan bercampur darah dan terdorong keluar

oleh kontraksi yang membuka mulut rahim yang menandakan bahwa

mulut rahim menjadi lunak dan membuka. Lendir inilah yang dimaksud

sebagai bloody slim.

xl
c. Keluarnya Air-Air (Ketuban)

Keluarnya air-air dan jumlahnya cukup banyak, berasal dari ketuban

yang pecah akibat kontraksi yang makin sering terjadi. Ketuban mulai

pecah sewaktu-waktu sampai pada saat persalinan. Ibu hamil merasakan

cairan yang merembes dari vagina dan keluarnya tidak dapat ditahan

lagi, tetapi tidak disertai mulas atau tanpa sakit merupakan tanda

ketuban pecah dini, sesudah itu akan terasa sakit karena ada

kemungkinan kontraksi.

d. Pembukaan Serviks

Membukanya leher rahim sebagai respon terhadap kontraksi yang

berkembang. Tanda ini tidak dirasakan oleh pasien tetapi dapat

diketahui dengan pemeriksaan dalam. Petugas akan melakukan

pemeriksaan untuk menentukan kematangan, penipisan, dan pembukaan

leher rahim. (Murti Ani,dkk.2021)

4. Perubahan Fisiologi Kala I-IV

a. Kala I

Menurut Murti Ani,2021 perubahan-perubahan fisiologi kala I adalah:

1) Perubahan tekanan darah

Perubahan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan

kenaikan sistolik rata-rata sebesar 10-20 mmHg dan kenaikan

diastolik rata-rata 5-10 mmHg diantara kontraksi-kontraksi uterus.

tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan

akan naik lagi bila terjadi kontraksi. Posisi tidur terlentang selama

xli
bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terhadap pembuluh

darah besar (aorta) yang akan menyebabkan sirkulasi darah baik

untuk ibu maupun janin akan terganggu, ibu dapat terjadi hipotensi

dan janin pada asfiksin.

b. Perubahan metabolisme

Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik

maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini

sebagian besar diakibatkan karena kecemasan serta kegiatan otot

rangka tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercermin

dengan kenaikan suhu badan, denyut nadi, pernafasan, curah

jantung dan cairan yang hilang.

c. Perubahan suhu badan

Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan..

suhu mencapai tertinggi selama persalinan dan segera setelah

persalinan. Kenaikan ini dianggap normal asal tidak melebihi

0.5°C-1°C. Suhu badan yang naik sedikit merupakan hal yang

wajar, namun keadaan ini berlangsung lama, keadaan suhu ini

mengindikasikan adanya dehidrasi.

d. Denyut jantung

Penurunan yang mencolok selama kontraksi uterus tidak

terjadi jika ibu berada dalam posisi miring bukan posisi terlentang.

Denyut jantung di antara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding

xlii
mencerminkan kenaikan dalam metabolisme yang terjadi selama

persalinan.

e. Pernafsan

Kenaikan pernapasan dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri.

kekhawatiran serta penggunaan teknik pernapasan yang tidak

benar.

f. Perubahan Gastrointestinal

Kemampuan pergerakan gastric serta penyerapan makanan padat

berkurang akan menyebabkan pencernaan hamper berhenti selama

persalinan dan akan menyebabkan konstipasi.

g. Kontraksi uterus

Kontraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada uterus dan

penurunan hormon progesteron yang menyebabkan keluarnya

hormon oksitosin.

h. Pemecahan kantong ketuban

Pada akhir kala satu bila pembukaan sudah lengkap dan tidak ada

tahanan lagi, ditambah dengan kontraksi yang kuat serta desakan

janin yang menyebabkan kantong ketuban pecah, diikuti dengan

proses kelahiran. (Murti Ani,dkk.2021)

b. Kala II

Menurut Murti Ani,2021 perubahan fisiologis pada kala II yaitu:

1) Kontraksi uterus

Kontraksi bersifat berkala dan yang harus di perhatikan adalah

xliii
lamanya kontraksi berlangsung 60-90 detik, kekuatan kontraksi.

kekuatan kontraksi secara klinis ditentukan dengan mencoba

apakah jari kita dapat menekan dinding rahim ke dalam, interfal

anatar kedua kontraksi pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit.

2) Perubahan-perubahan uterus

Keadaan Segmen Atas Rahim (SAR) dan Segmen Bawah Rahim

(SBR). Dalam persalinan perbedaan SAR dan SBR akan tampak

lebih jelas, di mana SAR dibentuk oleh korpus uteri dan bersifat

memegang peranan aktif (berkontraksi) dan dindingnya

bertambah dan serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi.

3) Perubahan pada serviks

Perubahan pada serviks pada kala II ditandai dengan

pembukaanlengkap, pada pemeriksaan dalam tidak teraba lagi

bibir portio. Segmen Bawah Rahim (SBR) dan serviks.

4) Perubahan pada vagina dan dasar panggul

Setelah pembukaan lengkap dan ketuban telah pecah terjadi

perubahan, terutama pada dasar panggul yang diregangkan oleh

hagian depan janin sehingga menjadi saluran yang dinding-

dindingnya tipis karena suatu regangan dan kepala sampai di

vulva, lubang vulva menghadap ke depan atas dan anus, menjadi

terbuka, perineum menonjol dan tidak lama kemudian kepala

janin tampak pada vulva.

5) Perubahan tekanan darah

xliv
Tekanan darah akan meningkat selama kontraksi disertai

peningkatan sistolik rata-rata 10-20 mmHg. Mengubah posisi

tubuh dari terlentang ke posisi miring, perubahan tekanan darah

selama kontraksi dapat dihindari. Nyeri. rasa takut dan

kekhawatiran dapat semakin meningkatkan tekanan darah. (Murti

Ani, dkk.2021)

c. Kala III

Menurut Murti Ani,2021 segera setelah bayi lahir dan air ketuban

sudah tidak lagi berada di dalam uterus, kontraksi akan terus

berlangsung dan ukuran rongga uterus akan mengecil. Pengurangan

dalam ukuran uterus ini akan menyebabkan pengurangan dalam ukuran

tempat melekatnya plasenta Oleh karena tempat melekatnya plasenta

tersebut menjadi lebih kecil. maka plasenta akan menjadi tebal atau

mengkerut dan memisahkan diri dari dinding uterus. Sebagian dari

pembuluh-pembuluh darah yang kecil akan robek sat plasenta lepas.

Tempat melekatnya plasenta akan berdarah terus hingga uterus

seluruhnya berkontraksi. Setelah plasenta lahir, dinding uterus akan

berkontraksi dan menekan semua pembuluh- pembuluh darah ini yang

akan menghentikan perdarahan dari tempat melekatnya plasenta

tersebut. Sebelum uterus berkontraksi wanita tersebut bisa kehilangan

darah 350-360 cc/menit dari tempat melekatnya plasenta tersebut.

Uterus tidak bisa sepenuhnya berkontraksi hingga plasenta lahir

seluruhnya (Murti Ani,dkk.2021)

xlv
d. Kala IV

1) Kontraksi uterus

Menurut Murti Ani,2021 kontraksi yang baik pada uterus adalah

bahwa uterus teraba keras dan tidak lembek dan tinggi fundus

uteri berada 1-2 jari di bawah pusat setelah melahirkan.

Pemeriksaan kontraksi dilakukan 15 menit pada satu jam pertama

pascapartum. dan 30 menit satu jam kedua pascapartum

2) Tanda-tanda vital

Pemantauan tekanan darah dan nadi yang rutin selama interval ini

adalah satu cara untuk mendeteksi syok, akibat kehilangan darah

yang belebihan. Suhu ibu berlanjut sedikit meningkat, tetapi

biasanya di bawah 38°C. Tekanan darah normal <140/90 mmHg

dan pernafasan normal, teratur, cukup dalam frekuensi

18kali/menit

3) Kandung kemih

Kandung kemih harus terus dipertahankan dalam keadaan kosong.

Kandung kemih yang penuh dapat menghalangi kontraksi

maksimal sehingga perdarahan dapat terjadi

4) Perineum

Setelah persalinan, keadaan perineum harus juga menjadi

perhatian. Apabila terdapat luka jahit, perlu diperhatikan tanda-

tanda infeksi, luka jahitan yang terbuka, dan kebersihan area luka

xlvi
jahitan. Kebersihan luka yang tidak terjada dapat memicu infeksi

(Murti Ani,dkk.2021)

5. Perubahan Psikologis Kala I -IV

a. Kala I

1) Perasaan tidak enak

2) Takut dan ragu atas persalinan yang akan dihadapi

3) Sering memikirkan antara lain apakah persalinan berjalan

4) Menganggap persalinan sebagai percobaan

5) Apakah penolong persalinan dapat sabar dalam menolongnya

6) Apakah bayinya normal atau tidak

7) Apakah ia sanggup merawat bayinya

8) Ibu Ibu merasa cemas(Murti Ani,dkk.2021)

b. Kala II

Perubahan psikologis keseluruhan wanita yang sedang mengalami

persalinan sangat bervariasi, tergantung pada persiapan dan bimbingan

antisipasi yang ia terima selama persiapan menghadapi persalinan.

dukungan yang diterima wanita dari pasangannya, orang terdekat lain.

keluarga dan pemberian perawatan, lingkungan tempat wanita tersebut

berada dan apakah bayi yang dikandungnya merupakan bayi yang

diinginkan atau tidak. (Murti Ani,dkk.2021)

c. Kala III

1) Ibu ingin melihat, menyentuh dan memeluk bayinya

2) Merasa gembira, lega, dan bangga akan dirinya, juga merasa sangat

xlvii
lelah

3) Memastikan diri dan kerap bertanya apakah vaginanya perlu

dijahit(Murti Ani,dkk.2021)

d. Kala IV

Pada kala IV masa 2 jam setelah plasenta lahir. Dalam kala IV ini, ibu

masih membutuhkan pengawasan yang intensif karena perdarahan.

Pada kala ini atonia uteri masih mengancam. Oleh karena itu, kala IV

ibu belum di pindahkan ke kamarnya dan tidak boleh ditinggal. (Murti

Ani,Dkk,2021)

6. Tahap Persalinan Kala I – IV

a. Kala I

Kala I atau kala pembukaan berlangsung dari pembukaan nol (0

cm) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Kala I primigravida

berlangsung 12 jam. sedangkan multigravida sekitar 8 jam.

Berdasarkan kurva Friedman, diperhitungkan pembukaan

primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam.

Kala I atau kala pembukaan dibagi menjadi dua fase, yaitu:

1) Fase Laten:

a). Pembukaan serviks berlangsung lambat

b). Pembukaan 0 sampai pembukaan 3 cm

c). Berlangsung dalam 7-8 jam

2). Fase Aktif

a). Periode akselerasi: berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm

xlviii
b). Periode dilatasi maksimal: selama 2 jam, pembukaan

berlangsung cepat menjadi 9 cm

c). Periode deselerasi: berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam

pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap(Murti Ani,dkk.2021)

b. Kala II

Kala II disebut juga kala "pengeluaran", dimulai dengan

pembukaan lengkap dari serviks (10 cm) dan berakhir dengan

kelahiran bayi.

Kala II ditandai dengan

1) His terkoordinasi, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit

sekali.

2) Kepala janin telah turun masuk ke ruang panggul sehingga

terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara

reflektoris menimbulkan rasa menejan.

3)Tekanan pada rectum dan anus terbuka, serta vulva membuka dan

perineum meregang.

Lama pada kala II ini pada primi dan multipara berbeda yaitu:

1) Primipara kala II berlangsung 15 jam-2 jam.

2) Multipara kala II berlangsung 0,5 jam-1 jam(Murti

Ani,dkk.2021)

c. Kala III

Kala III atau kala pelepasan uri adalah periode yang dimulai ketika

bayi lahir dan berakhir pada sat plasenta seluruhnya sudah

xlix
dilahirkan. Lama kala III pada primigravida dan multigravida

hamper sama berlangsung+ 10 menit. Dan pada pengeluaran

plasenta biasanya disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100

200 cc. Manajemen aktif Kala III yaitu:

1). Pemberian Oksitosin

2). Penegangan tali pusat terkendali

3). Masase fundus uteri.

Tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu:

1). Perubahan Bentuk dan Tinggi Fundus

Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi,

uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah

pusat. Setelah uterus berkontraksi dan palsenta terdorong ke

bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau

alpukat dan fundus berada di atas pusat (perubahan bentuk uterus

dari discoid menjadi globuler).

2). Tali Pusat Memanjang

Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).

Hal ini disebabkan oleh plasenta turun ke segmen bawah uteri atau

ke rongga vagina.

3). Semburan Darah Mendadak dan Singkat

Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu

mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila

kumpulan darah dalam ruang di antara dinding uterus dan

l
permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka

darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas. Tanda ini

kadang-kadang terlihat dalam waktu satu menit setelah bayi lahir

dan biasanya dalam 5 menit(Murti Ani,dkk.2021)

d. Kala IV

Dimulai dari lahir plasenta sampai dua jam pertama postpartum

untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap perdarahan

postpartum. Kala IV poda primigravida dan multigravida sama-

sama berlangsung selama dua jam.

Observasi yang dilakukan pada kala IV meliputi:

1). Evaluasi uterus

2). Pemeriksaan dan evaluasi serviks, vagina, dan perineum

3). Pemeriksaan dan evaluasi plasenta, selaput, dan tali pusat

4). Penjahitan kembali episiotomy dan laserasi (jika ada)

5). Pemantauan dan evaluasi lanjut tanda vital, kontraksi uterus,

lokea, perdarahan, dan kandung kemih (Murti Ani,dkk.2021)

7. Faktor-Faktor Mempengaruhi Persalinan

Menurut Murti Ani,dkk.2021 faktor-faktor yang memengaruhi

persalinan yaitu:

a. Power (his dan mengejan)

Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his,

kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament

li
1) His (kontraksi uterus)

His adalah kontraksi otot rahim pada persalinan, pada bulan terakhir

kehamilan sebelum persalinan, kontraksi rahim telah terjadi, yang

disebut his pendahuluan atau his palsu, yang sebetulnya hanya

merupakan peningkatan kontraksi dari Braxton Hicks. His

pendahuluan ini tidak teratur dan menyebabkan nyeri di perut bagian

bawah dan lipat paha serta tidak menyebabkan nyeri yang menyebar

dari pinggang ke perut bagian bawah seperti his persalinan.

Kontraksi his pendahuluan berdurasi pendek dan tidak bertambah

kuat atau sering berkurang ketika ibu sedang berjalan. pendahuluan

tidak bertambah kuat seiring berjalan waktu, bertentangan dengan his

persalinan yang semakin kuat. Hal terpenting adalah bahwa his

pendahuluan tidak mempunyai pengaruh terhadap serviks

b. Mengejan

Yang pegang kendali atau yang paling menentukan dalam tiga

komponen yang sangat menentukan, dari pessenger (janin). passage

(jalan lahir), dan power (kontraksi) adalah proses mengejan ibu yang

dilakukan dengan benar, baik dari segi kekuatan maupun keteraturan.

Ibu harus mengejan sekuat mungkin seirama dengan instruksi yang

diberikan. Biasanya Ibu diminta menarik nafas panjang dalam

beberapa kali saat kontraksi terjadi lalu buang secara perlahan.

Ketika kontraksi mencapai puncaknya, doronglah janin dengan

mengejan sekuat mungkin. bila Ibu mengikuti instruksi yang baik

lii
pecahnya pembuluh darah di sekitar mata dan wajah bisa dihindari.

Begitu juga risiko berkurangnya suplai oksigen ke janin.

c. Passege (jalan lahir)

Keadaan Jalan lahir atau passage terdiri atas panggul ibu, yakni

bagian tulang keras, dasar panggul, vagina, dan introitus vagina.

Panggul terdiri atas bagian keras dan bagian lunak. Meskipun

jaringan lunak. khususnya lapisan otot dasar panggul ikut menunjang

keluarnya bayi. lebih berneran dalam proses persalinan. Oleh karena

itu, ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum dimulai

persalinan.

d. Passenger (janin dan plasenta)

Cara penumpang (pessenger) atau janin bergerak di sepanjang jalan

lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yakni ukuran

kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Karena harus

melalui jalan lahir, plasenta juga dianggap sebagai penumpang yang

menyertai janin. akan tetapi, plasenta jarang menghambat proses

persalinan pada kelahiran normal.

e. Psikis Ibu

Penerimaan pasien atas jalannya perawatan antenatal (petunjuk dan

persiapan untuk menghadapi persalinan), kemampuan pasien untuk

bekerja sama dengan penolong, dan adaptasi terhadap rasa nyeri

persalinan.

liii
f. Penolong

Meliputi ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kesabaran.

pengertiannya dalam menghadapi pasien baik primipara dan

multipara. (Murti Ani,dkk.2021)

8. Kebutuhan Ibu Bersalin Kala I-IV

Adapun kebutuhan fisiologis ibu bersalin menurut Murti Ani,dkk.2021

adalah sebagai berikut:

a. Kebutuhan Oksigen

Pemenuhan kebutuhan oksigen selama proses persalinan perlu

diperhatikan oleh bidan, terutama pada kala I dan kala II, dimana

oksigen yang ibu hirup sangat penting artinya untuk oksigenasi janin

melalui plasenta. Suplai oksigen yang tidak adekuat, dapat

menghambat kemajuan persalinan dan dapat mengganggu

kesejahteraan janin. Oksigen yang adekuat dapat diupayakan dengan

pengaturan sirkulasi udara yang baik selama persalinan. Ventilasi

udara perlu diperhatikan, apabila ruangan tertutup karena

menggunakan AC, maka pastikan bahwa dalam ruangan tersebut

tidak terdapat banyak orang. Hindari menggunakan pakaian yang

ketat, sebaiknya penopang payudara/BH dapat dilepas/dikurangi

kekencangannya. Indikasi pemenuhan kebutuhan oksigen adekuat

adalah Denyut Jantung Janin (DJJ) baik dan stabil. (Murti

Ani,dkk.2021)

b. Kebutuhan Cairan dan Nutrisi

liv
Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan minum) merupakan

kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama proses

persalinan. Pastikan bahwa pada setiap tahapan persalinan (kala I, II,

III, maupun IV), ibu mendapatkan asupan makan dan minum yang

cukup. Asupan makanan yang cukup (makanan utama maupun

makanan ringan), merupakan sumber dari glukosa darah, yang

merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Kadar gula

darah yang rendah akan mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan

asupan cairan yang kurang, akan mengakibatkan dehidrasi pada ibi

bersalin.

Pada ibu bersalin, hipoglikemia dapat mengakibat- kan

komplikasi persalinan baik ibu maupun janin. Pada ibu, akan

mempengaruhi kontraksi/his, sehingga akan meng- hambat

kemajuan persalinan dan meningkatkan insiden persalinan dengan

tindakan, serta dapat meningkatkan risiko perdarahan postpartum.

Pada janin, akan mempengaruhi kesejahteraan janin, sehingga dapat

mengakibatkan komplikasi persalinan seperti asfiksia.

Dehidrasi pada ibu bersalin dapat mengakibatkan melambatnya

kontraksi/his, dan mengakibatkan kontraksi menjadi tidak teratur.

Ibu yang mengalami dehidrasi dapat diamati dari bibir yang kering,

peningkatan suhu tubuh, dan eliminasi yang sedikit.

Dalam memberikan asuhan, bidan dapat dibantu oleh anggota

keluarga yang mendampingi ibu. Selama kala I, anjurkan ibu untuk

lv
cukup makan dan minum, untuk mendukung kemajuan persalinan.

Pada kala II, ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi, karena

terjadi peningkatan suhu tubuh dan terjadinya kelelahan karena

proses mengejan. Untuk itu disela-sela kontraksi, pastikan ibu

mencukupi kebutuhan cairannya (minum). Pada kala III dan IV,

setelah ibu berjuang melahirkan bayi, maka bidan juga harus

memastikan bahwa ibu mencukupi kebutuhan nutrisi dan cairannya,

untuk mencegah hilangnya energi setelah mengeluarkan banyak

tenaga selama kelahiran bayi (pada kala II). (Murti Ani,dkk.2021)

c. Kebutuhan Eliminasi

Pemenuhan kebutuhan eliminasi selama persalinan perlu difasilitasi

oleh bidan, untuk membantu kemajuan persalinan dan meningkatkan

kenyamanan pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih secara spontan

sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali persalinan.

Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:

1) Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke dalam

rongga panggul, terutama apabila berada di atas spina isciadika.

2) Menurunkan efisiensi kontraksi uterus/his.

3) Mengingkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu karena

bersama dengan munculnya kontraksi uterus.

4) Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada II.

5) Memperlambat kelahiran plasenta.

6) Mencetuskan perdarahan pasca persalinan, karena kandung kemih

lvi
yang penuh menghambat kontraksi uterus.

Apabila masih memungkinkan, anjurkan ibu untuk berkemih di

kamar mandi, namun apabila sudah tidak memungkinkan, bidan

dapat membantu ibu untuk berkemih dengan wadah penampung urin.

Bidan tidak dianjurkan untuk melakukan kateterisasi kandung kemih

secara rutin sebelum ataupun setelah kelahiran bayi dan placenta.

Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan apabila terjadi retensi

urin, dan ibu tidak mampu untuk berkemih secara mandiri.

Kateterisasi akan meningkatkan resiko infeksi dan trauma atau

perlukaan pada saluran kemih ibu.

Sebelum memasuki proses persalinan, sebaiknya pastikan

bahwa ibu sudah BAB. Rektum yang penuh dapat mengganggu

dalam proses kelahiran janin. Namun apabila pada kala I fase aktif

ibu mengatakan ingin BAB, bidan harus memastikan kemungkinan

adanya tanda dan gejala kala II. Apabila diperlukan sesuai indikasi,

dapat dilakukan lavement pada saat ibu masih berada pada kala I fase

latent. (Murti Ani,dkk.2021)

d. Kebutuhan Hygiene (Kebersihan Personal)

Kebutuhan hygiene (kebersihan) ibu bersalin perlu diperhatikan

bidan dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin, karena personal

hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa aman dan relax,

mengurangi kelelahan, mencegah infeksi, mencegah gangguan

lvii
sirkulasi darah, mempertahankan integritas pada jaringan dan

memelihara kesejahteraan fisik dan psikis.

Pada kala I fase aktif, dimana terjadi peningkatan bloodyshow

dan ibu sudah tidak mampu untuk mobilisasi, maka bidan harus

membantu ibu untuk menjaga kebersihan genetalianya untuk

menghindari terjadinya infeksi intrapartum dan untuk meningkatkan

kenyamanan ibu bersalin. Membersihkan daerah genetalia dapat

dilakukan dengan melakukan vulva hygiene menggunakan kapas

bersih yang telah dibasahi dengan air Disinfeksi Tingkat Tinggi

(DTT), hindari penggunaan air yang bercampur antiseptik maupun

lisol. Bersihkan dari atas (vestibulum), ke bawah (arah anus).

Tindakan ini dilakukan apabila diperlukan, misalnya setelah ibu

BAK, setelah ibu BAB, maupun setelah ketuban pecah spontan.

Pada kala II dan kala III, untuk membantu menjaga kebersihan

diri ibu bersalin, maka ibu dapat diberikan alas bersalin (under pad)

yang dapat menyerap cairan tubuh (lendir darah, darah, air ketuban)

dengan baik. Apabila saat mengejan diikuti dengan faeses, maka

bidan harus segera membersihkannya, dan meletakkannya di wadah

yang seharusnya. Sebaiknya hindari menutupi bagian tinja dengan

tisyu atau kapas ataupun melipat undarpad.

Pada kala IV setelah janin dan placenta dilahirkan, selama 2 jam

observasi, maka pastikan keadaan ibu sudah bersih. Ibu dapat

dimandikan atau dibersihkan di atas tempat tidur. Pastikan bahwa

lviii
ibu sudah mengenakan pakaian bersih dan penampung darah

(pembalut bersalin, underpad) dengan baik. Hindari menggunakan

pot kala, karena hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan pada ibu

bersalin. Untuk memudahkan bidan dalam melakukan observasi,

maka celana dalam sebaiknya tidak digunakan terlebih dahulu,

pembalut ataupun underpad dapat dilipat disela-sela paha. (Murti

Ani,dkk.2021)

e. Kebutuhan Istirahat

Selama proses persalinan berlangsung, kebutuhan istirahat pada

ibu bersalin tetap harus dipenuhi. Istirahat selama proses persalinan

(kala I, II, III maupun IV) yang dimaksud adalah bidan memberikan

kesempatan pada ibu untukmencoba relaks tanpa adanya tekanan

emosional dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak ada his (disela-sela

his). Ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit akibat his,

makan atau minum, atau melakukan hal menyenangkan yang lain untuk

melepas lelah, atau apabila memungkinkan ibu dapat tidur. Namun pada

kala II, sebaiknya ibu diusahakan untuk tidak mengantuk.

Setelah proses persalinan selesai (pada kala IV), sambil

melakukan observasi, bidan dapat mengizinkan ibu untuk tidur apabila

sangat kelelahan. Namun sebagai bidan, memotivasi ibu untuk

memberikan ASI dini harus tetap dilakukan. Istirahat yang cukup setelah

proses persalinan dapat membantu ibu untuk memulihkan fungsi alat-

alat reproduksi dan meminimalisasi trauma pada saat persalinan. (Murti

lix
Ani,dkk.2021)

f. Posisi dan Ambulasi

Ambulasi yang dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan

pada kala I. Persalinan merupakan suatu peristiwa fisiologis tanpa

disadari dan terus berlangsung/ progresif. Bidan dapat membantu ibu

agar tetap tenang dan rileks, maka bidan sebaiknya tidak mengatur

posisi persalinan dan posisi meneran ibu.

Bidan harus memfasilitasi ibu dalam memilih sendiri posisi

persalinan dan posisi meneran, serta menjelaskan alternatif-alternatif

posisi persalinan dan posisi meneran bila posisi yang dipilih ibu tidak

efektif. Bidan harus memahami posisi-posisi melahirkan, bertujuan

untuk menjaga agar proses kelahiran bayi dapat berjalan senormal

mungkin.

Dengan memahami posisi persalinan yang tepat, maka

diharapkan dapat menghindari intervensi yang tidak perlu, sehingga

meningkatkan persalinan normal. Semakin normal proses kelahiran,

semakin aman kelahiran bayi itu sendiri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan posisi melahirkan:

1) Klien/ibu bebas memilih, hal ini dapat meningkatkan kepuasan,

menimbulkan perasaan sejahtera secara emosional, dan ibu dapat

mengendalikan persalinannya secara alamiah.

2) Peran bidan adalah membantu/memfasilitasi ibu agar merasa nyaman.

3) Secara umum, pilihan posisi melahirkan secara alami/naluri bukanlah

lx
posisi berbaring. Menurut sejarah, posisi berbaring diciptakan agar

penolong lebih nyaman dalam bekerja. Sedangkan posisi tegak,

merupakan cara yang umum digunakan dari sejarah penciptaan

manusia sampai abad ke-18.

Macam-macam posisi meneran di antaranya:

1) Duduk atau setengah duduk, posisi ini memudahkan bidan dalam

membantu kelahiran kepala janin dan memperhatikan keadaan

perineum.

2) Merangkak, posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan

rasa sakit pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan

rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.

3) Jongkok atau berdiri, posisi jongkok atau berdiri memudahkan

penurunan kepala janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih

besar pada pintu bawah panggul, dan memperkuat dorongan

meneran. Namun posisi ini beresiko memperbesar terjadinya laserasi

(perlukaan) jalan lahir.

4) Berbaring miring, posisi berbaring miring dapat mengurangi

penekanan pada vena cava inverior, sehingga dapat mengurangi

kemungkinan terjadinya hipoksia janin karena suplai oksigen tidak

terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang mengalami

kecapekan, dan dapat mencegah terjadinya robekan jalan lahir.

5) Hindari posisi telentang (dorsal recumbent), posisi ini dapat

mengakibatkan: hipotensi (beresiko terjadinya syok dan

lxi
berkurangnya suplai oksigen dalam sirkulasi uteroplacenter, sehingga

mengakibatkan hipoksia bagi janin), rasa nyeri yang bertambah,

kemajuan persalinan bertambah lama, ibu mengalami gangguan

untuk bernafas, buang air kecil terganggu, mobilisasi ibu kurang

bebas, ibu kurang semangat, dan dapat mengakibatkan kerusakan

pada syaraf kaki dan punggung.

6) Pengurangan Rasa Nyeri

Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi

fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan

serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Respons fisiologis

terhadap nyeri meliputi: peningkatan tekanan darah, denyut nadi,

pernafasan, keringat, diameter pupil, dan ketegangan otot. (Murti

Ani,Dkk,2021)

9. Tanda Bahaya Persalinan Kala I-IV

Tanda bahaya persalinan menurut Murti Ani,dkk.2021 yaitu:

a. Kala I

1) Terdapat perdarahan pervaginam selain lendir bercampur darah.

2) Persalinan kurang dari 37 minggu (kurang bulan).

3) Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental.

4) Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit

mekonium, disertai tanda-tanda gawat janin.

5) Ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan

kurang dari 37 minggu).

lxii
6) Infeksi (temperature > 380C, menggigil, nyeri abdomen, cairan

ketuban berbau).

7) Tekanan darah lebih dari 160/110 dan atau terdapat protein dalam

urine (pre-eklampsia berat).

8) Tinggi fundus 40 cm atau lebih.

9) DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit pada dua kali

penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin).

10) Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin

masih 5/5.

11) Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dll).

12) Presentasi ganda (majemuk).

13) Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut).

14) Syok (nadi cepat lemah lebih dari 110x/menit, tekanan darah

sistolik menurun, pucat, berkeringat dingin, napas cepat lebih dari

30x/menit, produksi urin kurang dari 30 ml/jam).

15) Fase laten berkepanjangan (pembukaan serviks kurang dari 4 cm

setelah 8 jam, kontraksi teratur lebih dari 2 dalam 10 menit).

16) Partus lama (pembukan serviks mengarah ke sebelah kanan garis

waspada, pembukaan serviks kurang dari 1 cm perjam, frekuensi

kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang

dari 40 detik).

b. Kala II

lxiii
1) Syok (Nadi cepat lemah atau lebih dari 100x/menit, tekanan darah

sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat pasi, berkeringat dingin, nafas

cepat lebih dari 30x/menit, produksi urine sedikit kurang dari

30ml/jam).

2) Dehidrasi (perubahan nadi 100x/menit atau lebih, urine pekat,

produksi urin sedikit 30 ml/jam).

3) Infeksi (Nadi cepat 110x/menit atau lebih, temperatur suhu > 38°

C, menggigil, cairan ketuban berbau).

4) Pre-eklampsia ringan (Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg,

proteinuria hingga 2+).

5) Pre-eklampsia berat atau Eklampsia (Tekanan darah sistolic 110

mmHg atau lebih, tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih

dengan kejang, nyeri kepala, gangguan penglihatan, dan kejang).

6) nersia uteri (kontraksi kurang dari 3x dalam waktu 10 menit

lamanya kurang dari 40 detik).

7) Gawat janin (djj kurang dari 120x/menit dan lebih dari

160x/menit).

8) Distosia bahu (kepala bayi tidak melakukan putak paksi luar,

kepala bayi keluar kemudian tertarik kembali ke dalam vagina,

bahu bayi tidak lahir).

9) Cairan ketuban bercampur mekonium ditandai dengan warna

ketuban hijau.

10) Tali pusat menumbung (tali pusat teraba atau terlihat saat periksa

lxiv
dalam).

11) Lilitan tali pusat (tali pusat melilit leher bayi)

c. Kala III dan IV

1) Retensio plasenta (normal jika plasenta lahir setelah 30 menit bayi

lahir).

2) Avulsi tali pusat (tali pusat putus dan plasenta tidak lahir).

3) Bagian plasenta tertahan (bagian permukaan plasenta yang

menempel pada ibu hilang, bagian selaput ketuban hilang/robek,

perdarahan pasca persalinan, uterus berkontraksi).

4) Atonia uteri (uterus lembek tidak berkontraksi dalam waktu 5 detik

setelah massage uterus, perdarahan pasca persalinan).

5) Robekan vagina, perineum atau serviks (perdarahan pasca

persalinan, plasenta lengkap, uterus berkontraksi).

6) Syok (nadi cepat lemah atau lebih dari 100x/menit, tekanan darah

sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat, berkeringat dingin, nafas

cepat lebih dari 30x/menit, produksi urine sedikit kurang dari

30ml/jam).

7) Dehidrasi (meningkatnya nadi lebih dari 100x/menit, temperature

tubuhdiatas 38ºC, urine pekat, produksi urine sedikit 30ml/jam).

8) Pre-eklampsia berat atau Eklampsia (tekanan darah diastolik 110

mmHg atau lebih, tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih dengan

kejang).

9) Kandung kemih penuh (bagian bawah uterus sulit di palpasi, TFU

lxv
diatas pusat, uterus terdorong/condong kesatu sisi). (Murti

Ani,dkk.2021)

C. Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Normal

1. Persalinan Kala 1 Fase Aktif Yaitu:

a. Kebutuhan Nutrisi

Asupan makanan dan minuman sangat dibutuhkan oleh ibu bersalin

untuk tenaga menghindari kelelahan yang berakibat dehidrasi, serta

menjamin kesejahteraan ibu dan janin. Selain itu, asupan nutrisi

menjadikan kontraksi dan seluruh proses melahirkan lebih.

Kandungan glukosa air gula atau air teh dapat memicu terjadinya

kontraksi uterus sehingga membantu proses persalinan.)

b. Istirahat

Selama proses persalinan berlangsung, ibu bersalin harus dapat

memenuhi kebutuhan istirahat secara cukup. Istirahat selama proses

persalinan (kala I,II,III, maupun IV) yang di maksud adalah ibu di

beri kesempatan untuk mencoba relaks tanpa adanya tekanan

emosional dan fisik, Hal ini di lakukan selama tidak adanaya his

(disela-sela his) ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit

akibat his, makan dan minum atau melkukan hal yang

menyenangkan yang lainnya untuk melepas lelah, atau apabila

memungkinkan ibu dapat tidur.

c. Teknik mengurangi nyeri

Nyeri persalinan merupakan bagian dari proses normal dapat

lxvi
diprediksi munculnya nyeri yakni sekitar hamil aterm sehingga ada

waktu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi persalinan,

nyeri yang muncul bersifat akut memiliki tenggang waktu yang

singkat, munculnya nyeri secara intermitten dan berhenti jika proses

persalinan sudah berakhir. Nyeri melahirkan merupakan masalah

yang sangat mencemaskan bagi ibu inpartu, khususnya ibu

primigravida dan biasanya yang paling sering dilakukan untuk

mengurangi rasa nyeri adalah dengan metode massage, Nyeri

melahirkan dapat diatasi dengan dengan menggunakan metode

massage effleurage .

Pasien yang mendapatkan massage effleurage ini akan

mempengaruhi psikologis lebih merasa tenang, nyaman, rileks, puas

dan akan lebih dekat dengan petugas kesehatan yang melayani

sehingga secara tidak langsung hal ini bisa mengurangi intensitas

nyeri yang dirasakan. Massage merupakan salah satu manajemen

nyeri non farmakologi untuk membuat tubuh menjadi rileks,

bermanfaat mengurangi rasa sakit atau nyeri, menentramkan diri,

relaksasi, menenangkan saraf dan menurunkan tekanan darah.

Effluerage adalah teknik pemijatan berupa usapan lembut,

lambat, dan panjang atau tidak putus-putus . Effleurage adalah

bentuk massase dengan menggunakan telapak tangan yang memberi

tekanan lembut ke atas permukaan tubuh dengan arah sirkular secara

berulang yang bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah,

lxvii
memberi tekanan serta meningkatkan relaksasi fisik dan mental.

Pijatan effleurage dapat juga dilakukan dipunggung, tujuan

utamanya untuk relaksasi.

Tatalaksana untuk mengurangi nyeri pada persalinan yaitu

dengan melakukan massage effleurage dan mengatur posisi pasien

dengan miring ke kiri di tempat tidur. Massage effleurage dilakukan

saat rahim mulai berkontraksi dengan cara menggunakan ujung jari

yang lembut dan ringan. Melakukan usapan dengan ringan dan tanpa

tekanan kuat, tetapi usahakan ujung jari tidak lepas dari permukaan

kulit. Pemberian implementasi keperawatan teknik massage

effleurage ini diharapkan dapat membantu pasien dalam mengontrol

nyeri yang dialami sehingga pasien dapat beradaptasi dengan nyeri

tersebut.( Atika, dkk.2021).

d. Mobilisasi

Ibu bersalin berhak untuk bergerak bebas selama persalinan

yang membuat diriya merasa nyaman dan menemukan posisi

persalinan yang menurutnya nyaman seperti miring kiri berjalan,

berdiri, duduk, berlutut, berjongkok atau merangkak, sangat

bermanfaat selama persalinan dan kelahiran. Dengan posisi yang

nyaman dapat membantu proses penurunan kepala janin sehingga

persalinan dapat berjalan lebih cepat (Indrayani, dkk, 2016).

e. Kebutuhan Eliminasi

Pemenuhan kebutuhan eliminasi selama persalinan perlu di

lxviii
lakukan oleh klien, untuk membantu proses kemajuan persalinan dan

meningkatkan kenyaman pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih

secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali

selama persalinan. Kandung kemih yang penuh dapat mengakibatkan

terhambatnya proses penurunan bagian terendah janin,menurunkan

efisiensi kontraksi uterus atau his, meningkatkan rasa tidak nyaman,

memperlambat kelahiarn plasenta pascasalin. (Dartiwen,dkk.2020)

f. Teknik mengedan yang baik dan benar

Menganjurkan ibu untuk mengedan mengikuti dorongan

alamiahnya selama kontraksi, beritahukan untuk tidak menahan

napas saat mengedan, anjurkan ibu menarik napas panjang, pada saat

mulai mengedan dan ibu mengatur nafas dengan baik dengan cara

membuang napas sedikit demi sedikit minta untuk berhenti

mengedan dan beristirahat di antara kontraksi, jika ibu berbaring

miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk mengedan

jika lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan dada, minta ibu

untuk tidak mengangkat bokong saat mengedan, tidak diperbolehkan

untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi, ibu harus

tetap tenang dan rileks, penolong persalinan tidak boleh mengatur

posisi mengedan, penolong persalinan harus memfasilitasi ibu dalam

memilih sendiri posisi mengedan dan menjelaskan alternatif-

alternatif posisi mengedan yang dipilih ibu tidak efektif.

(Dartiwen,dkk.2020)

lxix
2. Asuhan kebidanan persalinan pada Kala II Berikut beberapa asuhan

persalinan kala II yaitu:

a. Hadirkan pendamping

Persalinan sebagian besar dapat berjalan lancar, tetapi bukan

berarti tanpa bahaya karena perubahan keadaan dapat terjadi setiap

saat yang membahayakan ibu maupun janin. Dengan demikian setiap

persalinan selalu memerlukan pengawasan sehingga pertolongan

yang tepat dapat diberikan. Kehadiran seorang pendamping

persalinan selama proses persalinan akan membawa dampak yang

baik, karena dapat memberikan rasa nyaman, aman. Semangat serta

dukungan emosional yang dapat membesarkan hati, mengurangi rasa

sakit dan mempercepat proses persalinan. (Ida Bagus,(Walyani,2019)

b. Kebutuhan nutrisi cairan

Asupan makanan dan minuman sangat dibutuhkan oleh ibu

bersalin untuk tenaga menghindari kelelahan yang berakibat

dehidrasi, serta menjamin kesejahteraan ibu dan janin. Selain itu,

asupan nutrisi menjadikan kontraksi dan seluruh proses melahirkan

lebih. Kandungan glukosa air gula atau air teh dapat memicu

terjadinya kontraksi uterus sehingga membantu proses persalinan.

c. Hadirkan pendamping persalinan

Memfasiltasi dalam memberikan pendamping persalinan,

terutama pendampingan oleh suami selama porses persalinan,

menghadapi proses persalinan akan menimbulkan rasa takut dan

lxx
cemas pada ibu, hal ini dapat menyebabkan partus tidak maju yang

dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayinya. Kehadiran

suami, akan membawa ketenangan bagi ibu, karena proses persalinan

dibutuhkan pendamping persalinan.

d. Jaga privasi klien

Persalinan adalah waktu yang sangat berharga bagi seorang

perempuan, karena mereka mengalami beberapa kondisi yang tidak

dapat diduga sebelumnya. Kualitas yang diberikan oleh penyedia

layanan kesehatan bagi ibu bersalin, harus sangat diperhatikan.

Kualitas merupakan indikator dari pemanfaatan layanan yang

diterima oleh ibu bersalin yang terkait evaluasi positif dari pasien,

dimana ibu merasa percaya, senang, dan nyaman terhadap pelayanan

yang diberikan. Kenyamanan dan kepuasan pasien sangat diperlukan

untuk peningkatan kualitas sehubungan dengan merancang dan

mengelola sistim perawatan kesehatan. Hak privasi ibu dalam

persalinan, antara lain dengan menggunakan penutup atau tirai, tidak

menghadirkan orang lain tanpa sepengatahuan dan seizin ibu agar

ibu dapat merasa nyaman dan berkonsentrasi selama persalinan.

e. Pertolongan APN

Pada persalinan normal, seorang penolong persalinan baik

bidan atau tenaga medis lainnya perlu melakukan tidankan

pertolongan sebagai berikut:

lxxi
1) Saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm,letakkan kain bersih

dan kering yang dilipat 1/3 nya dibawah bokong ibu dan siapkan

kain handuk bersih diatas perut ibu. Lindungi perineum dengan 1

tangan dilapis kain steril dan tangan yang lain beralaskan kassa

dikepala bayi sambil melakukan tekanan lembut pada kepala

bayi.

2) Usap muka bayi dengan kain atau kassa bersih

3) Periksa lilitan tali pusat.

4) Tunggu kepala melakukan putaran paksi luar secara spontan

5) Letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi (secara

biparietal), gerakkan kepala ke arah bawah dan lateral tubuh

bayi hingga bahu depan melewati simfisis dan gerakkan kepala

ke atas dan lateral tubuh bayi sehingga bahu dan seluruh dada

dapat dilahirkan

6) Susuri dari bagian tangan hingga memegang mata kaki

7) Lakukan penilaian secara cepat pada bayi dan segera mengeringkan

tubuh bayi kemudian membungkus bayi dengan kain kecuali

bagian pusat

8) Lakukan palpasi abdomen.( Walyani,2019)

g. Komplikasi persalinan Kala II

a. Letak muka

terjadi apabila sikap janin ekstensi maksimal sehingga oksiput

mendekat ke arah punggung janin dan dagu menjadi bagian dari

lxxii
presentasinya

2) Letak lintang

Letak lintang terjadi apabila sumbu memanjang ibu secara tegak lurus

atau mendekati 90°.

3) Letak sungsang

Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang

dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bawah cavum

uteri.

3. Asuhan kebidanan persalinan pada Kala III

Berikut beberapa asuhan persalinan kala III yaitu:

a. Peregangan Tali Pusat Terkendali (ppt)

Tindakan manajemen aktif kala III yaitu:

1) Lakukan penyuntikan oksitosin 10 IU IM pada paha 1/3 bagian

atas bagian luar sebelum 2 menit.

2) Lakukan peregangan tali pusat terkendali dengan cara dekatkan

klem 5-10 cm depan vulva, satu tangan meregangkan tali pusat

dan tangan satu lagi diatas perut Ibu secara dorso kramal setelah

ada his baru melakukan PTT.

3) Jika plasenta telah keluar divulva pegang dengan kedua tangan

dan putar plasenta searah jarum jam

4) Lakukan pengecekan plasenta (selaput dan kotiledon)

5) Lakukan masase uterus dan ajarkan keluarga untuk masase. Dan

stimulasi puting susu merupakan salah satu cara untuk

lxxiii
mendapatkan oksitosin secara alami.

6) Cek perdarahan dan laserasi jalan lahir.(Nila Trisna,2019)

b. Komplikasi Pada Kala III

1) Antonia uteri

Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim

yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan

terbuka dari tempat implementasi plasenta setelah bayi dan

plasenta lahir.

2) Inversio uteri

Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri terbalik

sebagian atau seluruhnya ke dalam kevum uteri.

3) Retensio plasenta

Retensio plasenta adalah kondisi lepasnya plasenta tidak

bersamaan sehingga masih melekat pada tempat implantasi.

4) Robekan jalan lahir

Robekan adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir. baik

secara spontan maupun dengan alat atau tindakan. Robekan

perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi

luas apabila kepala janin terlalu cepat.

5) Syok obestetrik

Syok adalah suatu keadaaan disebabkan gangguan sirkulasi darah

ke dalam jaringan, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan

oksigen dan nutrisi jaringan yang tidak mampu mengelurkan hasil

lxxiv
metabolisme.(Yeni Sintya,dkk.2019)

4. Asuhan kebidanan persalinan pada Kala IV Berikut beberapa asuhan

persalinan kala IV yaitu:

a. Pemantauan kala IV

Adapun pemantauan kala IV pascasalin yaitu :

1) Pentau takanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan

perdarahan yang terjadi setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan

setiap 30 menit dalam 1 jam kedua kala IV. Jika ada temua yang

tidak normal, lakukan obsevasi, dan penilaian sering.

2) Massage uterus untuk memastikan menjadi keras setiap 15 menir

dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam 1 jam kedua kala

IV. Jika ada temua yang tidak normal, tingkatkan frekuensi

observasi dan penilaian.

3) Pantau temperatur tubuh ibu satu kali setiap jam selama 2 jam

pertama pascasalin. Jika temperatur meningkat, pantau lebih sering.

4) Penilaian perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit

dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam 1 jam kedua kala

IV.

5) Apabila kandung kemih penuh, bantu ibu untuk mengosongkan

kandung kemihnya, dan anjurkan untuk mengosongkan kandung

kemihnya setiap kali di perlukan

6) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai tonus dan perdarahan

uterus. Ajarkan juga cara pemijatakan uterus jika uterus menjadi

lxxv
lembek

7) Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Jagalah agar tubuh

dan kepala bayi terselimuti dengan baik, lalau berikan bayi kepada

ibu, dan ajarkan untuk dipeluk dan diberikan ASI.( Yeni

Sintya,dkk.2019)

b. Kebutuhan cairan dan nutrisi

Setelah memalui proses persalinan diharapkan ibu mendapatkan asupan

makan dan minum yang cukup. Asupan makanan yang cukup (makanan

utama atau makanan ringan) merupakan sumber dari glukosa darah,

yang merupakan sumber utama energy untuk sel-sel tubuh kadar gula

darah yang rendah dapat mengakibatkan hipoglikemia, sedangkan

asupan cairan yang kurang akan mengakibatkan dehidrasi pada ibu

bersalin.

c. Kebutuhan istirahat

Setelah proses persalinan selesai pada kala IV, sambil melakukam

observasi, ibu diizinkan untuk tidur apabila sangat kelelahan. Namun

tetap memotivasi ibu untuk tetap memberkan ASI dini kepada bayi.

Istirahat yang cukup setelah proses persalinan dapat membantu ibu

untuk memulihkan fungsi alat-alat reproduksi dan meminimalisasi

trauma pada saat persalinan. (Yeni Sintya,dkk. 2019)

lxxvi
D. Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus

1. Pengertian bayi baru lahir dan neonatus

Bayi Baru Lahir (BBL) adalah Bayi baru lahir adalah masa

kehidupan bayi pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari dimana

terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim

menjadi di luar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir di

semua sistem (Cunningham, 2012). Bayi baru lahir normal adalah bayi

yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan

berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Manuaba,2021)

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir secara normal dengan

presentasi kepala di bawah dan lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu.

Ciri-ciri bayi lahir normal yaitu bayi lahir dengan memiliki berat badan

lahir 2500- 4000 gram, panjang badan 48-52 cm, lingkar dada 30-38 cm,

lingkar kepala 33-35 cm, lingkar lengan 11-12 cm, lingkar dada 30-38

cm, memiliki nilai APGAR 7-10 dan tidak memiliki cacat bawaan.

(ErvinRufaindah,2021)

lxxvii
2. Perawatan Segera Setelah Bayi Lahir

Penilaian Bayi Baru Lahir

Penilaian awal yang dilakukan segera setelah lahir adalah dengan

menjawab 4 pertanyaan, yaitu:

a. Apakah bayi cukup bulan?

b. Apakah air ketuban jenih dan tidak bercampur mekonium?

c. Apakah bayi menangis atau bernafas?

d. Apakah tonus otot bayi baik?

Pencegahan Kehilangan Panas

Sistem pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum

berfungsi sempurna. Oleh karena itu, segera lakukan upaya pencegahan

kehilangan panas agar bayi tidak mengalami hipotermi. Hipotermi dapat

menyebabkan bayi sakit berat bahkan kematian. Hipotermi mudah terjadi

pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera

dikeringkan/diselimuti meskipun berada di dalam ruangan yang relatif

hangat. Cara mencegah terjadinya kehilangan panas dengan mengeringkan

tubuh bayi tanpa membersihkan verniks; meletakkan bayi di tubuh ibu;

menyelimuti dan memakaikan topi; dan tidak memandikan bayi sebelum 6

jam setelah lahir.

Asuhan Tali Pusat

Asuhan tali pusat dilakukan setelah dua menit segera setelah bayi

lahir, lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat. Hal yang perlu

diperhatikan dalam merawat tali pusat adalah sebagai berikut: cuci tangan

lxxviii
sebelum dan sesudah merawat tali pusat; menjaga umbilikus tetap kering

dan bersih; tidak boleh membungkus tali pusat dan memberikan bahan

apapun di umbilikus; dan lipat popok di bawah umbilikus.

Inisiasi Menyusu Dini

Segera setelah bayi lahir dan telah dilakukan perawatan tali pusat,

maka bayi diletakkan secara tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi

bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Kontak kulit dilakukan satu jam

lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu sendiri. Dukungan ayah dan

keluarga sangat diperlukan oleh ibu dan bayi. Manfaat menyusu dini

adalah: mengurangi 22% kematian bayi umur 28 hari; meningkatkan

keberhasilan menyusui secara eksklusif; merangsang produksi ASI; dan

memperkuat refleks menghisap bayi. (Diaz Capriani,dkk.2022)

3. Evaluasi Nilai APGAR Score

Pada saat untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan

menit kelima setelah kelahirannya menggunakan sistem APGAR Nilai

APGAR akan membantu dalam menentukan tingkat keseriusan dari depresi

bayi baru lahir yang terjadi serta langka segera yang akan diambil. Hal

yang perlu dinilai antara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung, reaksi

terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernapasan bayi, masing-

masing diberi tanda 0,1 atau 2. Sesuai dengan kondisi bayi. Klasifikasi

klinik:

a) Nilai 1-3 bayi dengan asfiksia berat

b) Nilai 4-6 bayi dengan asfiksia ringan dan sedang

lxxix
c) Nilai 7-10 bayi normal

Tabel 5 : Penilaian Bayi Dengan Metode APGAR

Sumber : Diaz Capriani,dkk.2022

4. Perubahan Fisiologis Pada Bayi Baru Lahir

Perubahan fisiologi pada bayi baru lahir merupakan suatu proses adaptasi

dengan lingkungan luar atau dikenal dengan kehidupan ekstrauteri.

Sebelumnya bayi cukup hanya beradaptasi dengan kehidupan intrauteri.

Perubahan fisiologis bayi baru lahir, di antaranya sebagai berikut.

Sistem pernapasan

Perubahan sistem ini diawali dari perkembangan organ paru itu

sendiri dengan perkembangan struktur bronkus, bronkiolus, serta alveolus

yang terbentuk dalam proses kehamilan sehingga dapat menentukan proses

pematangan dalam sistem pernapasan. Proses perubahan bayi baru lahir

adalah dalam hal bernapas yang dapat dipengaruhi oleh keadaan hipoksia

pada akhir persalinan dan rangsangan fisik (lingkungan) yang merangsang

pusat pernapasan medula oblongata di otak.

Selain itu juga terjadi tekanan rongga dada karena kompresi paru

lxxx
selama persalinan, sehingga merangsang masuknya udara ke dalam paru,

kemudian timbulnya pernapasan dapat terjadi akibat interaksi sistem

pernapasan itu sendiri dengan sistem kardiovaskular dan susunan saraf

pusat. Selain itu adanya surfaktan dan upaya respirasi dalam bernapas

dapat berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru serta

mengembangkan jaringan alveolus paru agar dapat berfungsi. Surfaktan

tersebut dapat mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu

menstabilkan dinding alveolus untuk mencegah kolaps.

Sistem peredaran darah

Pada sistem peredaran darah, terjadi perubahan fisiologis pada bayi

baru lahir, yaitu setelah bayi itu lahir akan terjadi proses pengantaran

oksigen ke seluruh jaringan tubuh, maka terdapat perubahan, yaitu

penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan

duktusarteriosus antara arteri paru dan aorta. Perubahan ini terjadi akibat

adanya tekanan pada seluruh sistem pembuluh darah, di mana oksigen

dapat menyebabkan sistem pembuluh darah mengubah tenaga dengan cara

meningkatkan atau mengurangi resistensi. Perubahan tekanan sistem

pembuluh darah dapat terjadi saat tali pusat dipotong, resistensinya akan

meningkat dan tekanan atrium kanan akan menurun karena darah kurang

ke atrium berkurang yang dapat menyebabkan volume dan tekanan atrium

kanan juga menurun.

Proses tersebut membantu darah mengalami proses oksigenasi

lxxxi
ulang, serta saat terjadi pernapasan pertama dapat menurunkan resistensi

dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Kemudian oksigen pada

pernapasan pertama dapat menimbulkan relaksasi dan terbukanya sistem

pembuluh darah paru yang dapat menurunkan resistensi pembuluh darah

paru. Terjadinya peningkatkan sirkulasi paru mengakibatkan peningkatan

volume darah dan tekanan pada atrium kanan, dengan meningkatkan

tekanan pada atrium kanan akan terjadi penurunan atrium kiri, foramen

ovale akan menutup, atau dengan pernapasan kadar oksigen dalam darah

akan meningkat yang dapat menyebabkan duktus arteriosus mengalami

kontriksi dan menutup. Perubahan lain adalah menutupnya vena

umbilikus, duktus venosus, dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup

secara fungsional dalam beberapa menit setelah tali pusat diklem dan

penutupan jaringan fibrosa membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan

Sistem Pengaturan Tubuh

Ketika bayi lahir dan langsung berhubungan dunia luar

(lingkungan) yang lebih dingin, maka dapat menyebabkan air ketuban

menguap melalui kulit yang dapat mendinginkan darah bayi. Pada saat

lingkungan dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa melalui mekanisme

menggigil yang merupakan cara untuk mendapatkan kembali panas

tubuhnya serta hasil penggunaan lemak cokelat untuk produksi panas.

Adanya timbunan lemak tersebut menyebabkan panas tubuh meningkat,

sehingga terjadilah poses adaptasi. Dalam pembakaran lemak, agar

menjadi panas, bayi menggunakan kadar glukosa. Selanjutnya cadangan

lxxxii
lemak tersebut akan habis dengan adanya stres dingin dan bila bayi

kedinginan akan mengalami proses hipoglikemia, hipoksia, dan asidosis.

Bayi kehilangan panas melalui empat cara, yaitu:

a) Konveksi: pendinginan melaui aliran udara di sekitar bayi. Suhu udara di

kamar bersalin tidak boleh kurang dari 20 C dan sebaiknya tidak

berangin. Tidak boleh ada pintu dan jendela yang terbka. Kipas angin dan

AC yang kuat harus cukup jauh dari area resusitasi. Troli resusitasi harus

mempunyai sisi untuk meminimalkan konveksi ke udara sekitar bayi.

b) Evaporasi: kehilangan panas melalui penguapan air pada kulit bayi yang

basah. Bayi baru lahiryang dalam keadaan basah kehilangan panas

dengan cepat melalui cara ini. Karena itu, bayi harus dikeringkan

seluruhnya, termasuk kepala dan rambut, sesegera mungkin setelah

dilahirkan.

c) Radiasi: melalui benda padat dekat bayi yang tidak berkontak secara

langsung dengan kulit bayi. Panas dapat hilang secara radiasi ke benda

padat yang terdekat, misalnya jendela pada musim dingin. Karena itu

bayi harus diselimuti, termasuk kepalanya, idealnya dengan handuk

hangat.

d) Konduksi: melalui benda-benda padat yang berkontak dengan kulit bayi

(Aziz Alimul Hidayat,2021)

5. Kelainan Pada Bayi Baru Lahir

Contoh kelainan-kelainan pada bayi baru lahir yang sering terjadi

adalah sebagai berikut:

lxxxiii
a. Labioskizis dan labiopalatoskizis

b. Atresia esofagus

c. Atresia rekti dan anus

d. Hirschprung

e. Obstruksi biliaris

f. Omfalokel

g. Hernia diafragmatika

h. Meningokel, ensefalokel

i. Hidrosefalus

j. Fimosis

k. Hipospadia (Titiek Indayanti dkk, 2022)

6. Macam-Macam Reflek Pada Bayi Baru Lahir

Macam-Macam Refleks Pada Bayi Baru lahir menurut Sri Anggraini,

2021 yaitu:

a. Reflek berkedip

Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama pada

batang hidung pada saat mata terbuka

b. Reflek mendengar

Mendengar suara keras bayi akan mengedipkan mata, mengerutkan

wajah, berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat, bernapas lebih

cepat, dan ritme jantung bertambah cepat

b. Reflek menghisap

Refleks mencium-cium dan refleks hisap biasanya timbul bersama-

lxxxiv
sama dengan merangsang pipi. refleks-refleks ini mempunyai fungsi

eksploratif yang menenangkan. Merupakan hal yang terkenal bahwa

bayi pada bulan-bulan pertama ingin menyelidiki keliling melalui

daerah mulut dari itu kedua refleks ini disebut refleks oral. Kedua

refleks ini akan menghilang sekitar 6 bulan.

c. Reflek menelan

Refleks menelan adalah refleks gerakan menelan benda-benda yang

didekatkan ke mulut, memungkinkan bayi memasukkan makanan ada

secara permainan tapi berubah sesuai pengalaman.

d. Neck righting reflek

Gerakannya rotasi kepala kesamping, maka badan akan mengikuti

segmen tersebut sampai bayi usia 6 bulan. Gerakan tubuh berputar

mengikuti kepala secara segmental perbagian

e. Tonic neck reflek

Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tomus) pada lengan dan

tungkai sisi ketika bayi Anda menoleh ke salah satu sist.

f. Galant retlek

Refleks ini membantu rentang gerak di pinggang bayi Ini merupakan

persiapan untuk bayi mulai merangkak sebelum bisa berjalan.

g. Palmar Grasp

Refleks menggenggam terjadi jika anda meletakkan jari-jari anda di

telapak tangannya ia akan memberi respons dengan menggenggam

jemari Anda dengan kencang

lxxxv
h. Plantar reflek

Refleks kaki yang terjadi secara alami pada bayi dan anak kecil

hingga mereka berusia sekitar 6 bulan hingga 2 tahun. Refleks ini

biasanya diuji oleh dokter dengan membelai telapak kaki. Saat

jempol kaki menekuk ke atas dan kembali ke bagian atas kaki,

sementara empat jari kaki lainnya menyebar satu sama lain.

i. Babinski

Refleks babinski adalah semacam refleks genggam kaki. Bila ada

rangsang pada telapak kaki, ibu jari kaki akan bergerak ke atas dan

jarijari lain membuka. Kedua refleks ini akan menghilang pada

sekitar 6 bulan

j. Reflek Moro

Dalam gerak refleks ini akan mengembangkan tangan kesamping

lebar-lebar, melebarkan jari-jari atau mengembalikan tangannya

dengan tarikan cepat seakan ingin memeluk seseorang (dari itu

direfleks ini juga disebut refleks peluk).

k. Reflek walking

Refiek ini dapat dilihat ketika kita mengangkat bayi dengan

memegang ketiaknya (posisi bayi berdiri). Bayi secara refleks akan

melangkahkan kakinya perlahan-lahan. (Sri Anggraini,2021)

5. Bounding Attachment

Bounding attachment keterikatan awal/ikatan batin adalah suatu

proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus menerus antara bayi

lxxxvi
dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan keduanya

pemenuhan emosional dan saling membutuhkan (Ai yeyeh, R., Yulianti.

L., & Liana M. L. 2020).

Tahap-tahap bounding attachment menurut Susilawati dalam bukunya

yaitu:

a. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata,

menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal

bayinya.

b. Bounding (keterikatan).

c. Attachment, perasaan sayang yang individu dengan individu lain

Faktor-faktor attachment masa nifas adalah:

a. Paritas

Wanita primipara lebih mudah stress pada masa nifas. Hal ini terjadi

karena melahirkan untuk pertama kali akan mengalami proses adaptasi

terhadap perubahan. Adaptasi dari berbagai macam perubahan terutama

psikologisnya. Ibu yang mengalami baby blues syndrom akan

mempengaruhi bounding attachment antara ibu dan bayi (Susilawati, D.,

Nilakesuma, N. F., & Risnawati. 2020).

Penelitian lain menunjukkan bahwa mayoritas yang melaksanakan

bounding attachment adalah ibu yang memiliki anak satu, ini

dikarenakan bayi yang lahir merupakan anggota keluarga terbaru, yang

membuat ibu-ibu muda tertarik sehingga melakukan bounding

attachment. Jadi motivasi ibu-ibu tersebut melakukan bounding

lxxxvii
attachmnet akibat keingin tahuan ibu yang lebih besar (Wahyuni, S.

2021).

b. Dukungan suami dan keluarga

Wahyuni, S. (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa 87,5%

pelaksanaan bounding attachment kurang karena salah satu penyebabnya

adalah kurangnya dukungan suami. Sesuai dengan penelitian Susilawati,

D., Nilakesuma, N. F., & Risnawati. 2020) menjelaskan dukungan dari

suami dan keluarga yang baik pada ibu nifas dapat mempengaruhi

terlaksananya bounding attachment. Ibu nifas yang mendapatkan

dukungan sosial untuk beradaptasi dengan perubahan psikologis maka

menjadikan psikologis tidak terganggu sehingga menciptakan bounding

attachment yang baik.

c. Respon orang tua

Respon suami terhadap bayi baru lahir berbeda- beda, hal ini dapat

disebabkan karena reaksi emosi maupun pengalaman masalah lain adalah

jumlah anak, keadaan ekonomi, respon ayah yang mendukung. Orang tua

yang mengharapkan kehadiran anak dalam kehidupannya tentu akan lebih

memberikan respon emosi yng berbeda dengan orang tua yang tidak

menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon positif mempengaruhi

terlaksananya bounding attachment, dalam hal ini keterlibatan ayah sangat

mempengaruhi terlaksananya bounding attachment. Keterlibatan tersebut

adalah keterlibatan ayah dalam menciptakan hubungan yang baik dengan

bayi yaitu memberikan dukungan kepada ibu berperan aktif dalam

lxxxviii
perawatan pada bayi (Susilawati, D., Nilakesuma, N. F., & Risnawati.

2020).

d. Peran bidan

Hasil penelitian Wahyuni, S. (2021) menyebutkan bahwa salah satu

penyebab pelaksanaan bounding attachment kurang karena persepsi

bidan belum sama, pelaksanaan bounding attachment seperti inisiasi

menyusu dini harus sama diantara-bidan-bidan sehingga dengan persepsi

bidan yang baik akan cenderung untuk melakukan bounding attachment

dengan baik dimana peran bidan dalam pelaksanaan bounding

attachment adalah membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu

dan bayi dalam jam pertama pasca melahirkan memberikan dorongan

pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya

baik melalui sikap, ucapan dan tindakan.

e. Dengan adanya bayi yang baru lahir dapat terjadi sibling rivalry. Jika

anak pertama tidak diperhatikan merasa tidak senang akan kehadiran

bayi maka anak pertama melakukan kontak fisik (mencubit, memukul

dll) respon ini akan mempengaruhi proses bounding attachment dimana

bayi akan merasa terganggu dengan cara menangis. Apabila ini terjadi

berulang-ulang tujuan dari bounding attachment tidak tercapai (Asiyah,

N., M, Anny, R., & Kristiani, D. 2022).

6. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Berdasarkan Evidance Based

Asuhan yang dapat diberikan pada bayi baru lahir adalah perawatan

tali pusat dengan topical ASI untuk mencegah infeksi dan mempercepat

lxxxix
pelepasan tali pusat. Setelah bayi lahir tali pusat dipotong. kemudian akan

terjadi proses kematian jaringan.

Disini tali pusat dirawat menggunakan kolostrum/ASI dilakukan

dengan cara mengoleskan ASI pada tali pusat bayi baru lahir dan dijaga

tetap bersih dan kering agar tidak terjadi infeksi dan mempercepat

pelepasan tali pusat dari perut bayi.

Manfaat pemberian kolostrum kepada bayi baru lahir adalah

sebagai proteksi dari infeksi yang disebabkan virus, bakteri, parasit dan

antigen lainnya. Protein dalam kolostrum yang tinggi mencapai 4,1 gr%

juga berperan dalam perbaikan sel-sel yang rusak, mempercepat proses

penyembuhan sehingga mampu mempercepat waktu pelepasan tali pusat.

Kolostrum memiliki banyak manfaat, antara lain pemenuhan gizi

bayi, berperan sebagai zat kekebalan tubuh, anti inflamasi, anti bakterial,

anti viral, antiparasit dan anti alergi. Perawatan tali pusat dengan metode

topikal ASI adalah perawatan tali pusat yang dibersihkan dan dirawat

dengan cara mengoleskan kolostrum pada luka dan sekitar luka tali pusat.

Penggunaan topikal ASI sebagai metode perawatan tali pusat pada

bayi baru lahir merupakan regimen yang tepat untuk mempercepat

pelepasan tali pusat, hal ini disebabkan topikal ASI mengandung kadar

protein tinggi yang berperan dalam proses perbaikan sel-sel yang rusak

dan membantu proses penyembuhan luka sehingga mampu mempercepat

waktu pelepasan tali pusat.

Protein dalam ASI akan berikatan dengan protein dalam tali pusat,

xc
sehingga membentuk reaksi imun dan terjadi proses apoptosis.

Pembelahan dan pertumbuhan sel dibawah kendali genetik, sel mengalami

kematian secara terprogam.

Gen dalam sel tersebut berperan aktif pada proses kematian sel.

Sehingga akan mempercepat pengeringan jaringan sisa potongan tali

pusat dan tali pusat cepat mengerut dan menjadi hitam atau mumifikasi

tali pusat, kemudian lepas. Protein sebagai pembentuk ikatan esensial

tubuh pada ASI akan mempercepat proses penyembuhan luka pada dasar

tali pusat sehingga pelepasan tali pusat lebih cepat.

Dari hasil penelitian pada 15 bayi baru lahir pada kelompok

interervensi yang tali pusatnya dirawat dengan topikal ASI (50%)

didapatkan hasil bahwa pelepasan tali pusat masuk kategori cepat

sebanyak 13 bayi (43,3%) dan normal sebanyak 2 bayi (6,7%).

Sedangkan pada kelompok kontrol 15 bayi baru lahir yang tali

pusatnya dirawat dengan kassa kering (50% ), didapatkan bahwa

pelepasan tali pusat masuk kategori cepat sebanyak 6 bayi (20%) dan

normal sebanyak 9 bayi (30%).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perawatan tali pusat

dengan topikal ASI mayoritas waktu pelepasan tali pusatnya cepat,

sedangkan pada kelompok kontrol yang dirawat dengan kassa kering

mayoritas waktu pelepasan tali pusatnya normal. (Happy

Marthalena,dkk.2019)

xci
E. Asuhan masa nifas

1. Pengertian Masa Nifas

Beberapa pengertian masa nifas adalah sebagai berikut

a. Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah persalinan

selesai sampai 6 minggu atau 42 hari. Selama masa nifas, organ

reproduksi secara perlahan akan mengalami perubahan seperti keadaan

sebelum hamil. Perubahan organ reproduksi ini disebut involusi

(Maritalia, 2022).

b. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari

persalinan selesai sampai alatalat kandungan kembali seperti pra hamil

xcii
(Vivian Nanny Lia Dewi, 2020).

c. Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,

plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali

organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6

minggu (Elisabeth Siwi Walyani,dkk.2020)

Dari berbagai uraian yang menjelaskan tentang pengertian masa

nifas, dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah dimulainya setelah

persalinan selesai dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti

keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama 6 minggu. (Nurfantri,

2022)

2. Tujuan Masa Nifas

Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan

masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60% kematian ibu

akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas

terjadi dalam 24 jam pertama.

Tujuan asuhan masa nifas normal terbagi 2 yaitu:

Tujuan umum

Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh

anak.

Tujuan khusus

Menurut Saifuddin, A. Tujuan asuhan masa nifas adalah:

a. Menjaga kesehatan ibu dan bainya baik fisik maupun psikologik

b. Melakukan skiring, mendeteksi masalah, atau merujuk bila terjadi

xciii
komplikasi pada ibu maupun bayinya

c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan Diri,

nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada

bayinya dan perawatan bayi schat.

d. Memberikan pelayanan keluarga berencana (KB)

(WahidaYuliana,2021)

3. Perubahan Fisiologi Pada Masa Nifas

Masa nifas atau puerineum merupakan perode yang terjadi setelah

persalinan dimana alat-alat kandungan akan kembali dalam pemulihan

seperti sebelum hamil yang kurang lebih selama 6 minggu. Selama masa

nifas ini terjadi banyak perubahan fisiologis pada ibu. Akan terjadi

perubahan pada alat- lat kandungan seperti genetalia baik eksternal

maupun internal. perubahan-perubahan tersebut diantaranya seperti

perubahan pada vulva baik pada labia mayora maupun minora, vagina,

perineum yang mungkin terdapat jahitan perineum atau tidak, serviks,

kembalinya keadaan uterius menjadi seperti sebelum hamil, endometrium,

ligamen, payudara yang akan keluar kolostrum dan asi, serta terdapat

cairan yang keluar selama masa nifas yang disebut lokhea. Sebagai bidan

dalam masa nifas dan pada periode laktasi mempunyai peran dan

tanggungjawab untuk memberikan pelayanan dan edukasi dalam masa

tersebut. Selain itu juga bidan harus dapat memahami perubahan

penerimaan ibu terhadap kondisi yang sedang terjadi.

Pada periode laktasi bidan selain memberikan penjelasan bahwa proses

xciv
menyusui itu adalah fisiologis, juga memberikan edukasi dan praktik

bagaimana persiapan menyusui, cara menyusui yang benar, posisi bayi

pada saat menyusui yang benar, cara menyendawakan bayi setelah

menyusui, perawatan payudara dan pelayanan nifas lainnya serta

perawatan pada bayi baru lahir. Diharapkan ibu akan lebih bisa melakukan

adaptasi pada masa nifas dan periode laktasi. Karena pada masa ini

biasanya apabila tidak bisa beradaptasi maka bisa kemungkinan terjadi

gangguan psikologis pada ibu. (IkaWijayanti,2021)

4. Perubahan Psikologis Pada Masa Nifas

Perubahan psikologi pada masa nifas terjadi karena pengalaman

persalinan, tanggung jawab peran ibu, adanya anggota keluarga baru (bayi)

dan peran baru sebagai ibu bagi bayi. Masa nifas merupakan periode

emosional, yang di manifestasi dengan adanya emosi yang labil dan

mudah tersinggung. Hal ini merupakan dasar terjadinya kelainan

psikologis pada masa nifas. Maka sangat perlu untuk melakukan skrining,

baik pada masa kehamilan dan nifas. Pada proses adaptasi setelah ibu

melahirkan, ibu akan melalui fase Taking In, Taking Hold dan Letting go.

Fase yang pertama yaitu taking in, yang berlangsung dari hari pertama

sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu fokus pada

dirinya sendiri, membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat, memerlukan

bimbingan dalam merawat bayi. Selanjutnya pada fase kedua, taking hold

di akhir hari ketiga sampai hari ke sepuluh sudah aktif, mandiri dan

memulai aktivitas, fokus pada bayi dan menyusui. Kemudian pada fase

xcv
ketiga, Letting go di hari ke sepuluh sampai enam minggu masa nifas, ibu

sudah mengubah peran barunya dan menyadari bahwa bayi adalah bagian

dari dirinya dan ibu sudah menjalankan perannya.

Dalam hal ini, kehamilan, persalinan dan nifas juga perubahan menjadi

orang tua menyebabkan terjadinya keadaan krisis yang membutuhkan

adaptasi, apabila adaptasi tersebut tidak berhasil maka wanita tersebut

akan mengalami depresi. Masalah psikososial timbul bila ibu kurang siap

dan dukungan yang kurang dalam menghadapi masa nifas.

(Indryani,dkk.2023)

5. Kebutuhan Dasar Masa Nifas

Dalam hal ini, kehamilan, persalinan dan nifas juga perubahan menjadi

orang tua menyebabkan terjadinya keadaan krisis yang membutuhkan

adaptasi, apabila adaptasi tersebut tidak berhasil maka wanita tersebut

akan mengalami depresi. Masalah psikososial timbul bila ibu kurang siap

dan dukungan yang kurang dalam menghadapi masa nifas.

Kualitas dan kuantitas nutrisi makanan yang dikonsumsi sangat

mempengaruhi produksi Air Susu Ibu (ASI). Ibu menyusui harus

mendapatkan tambahan zat makanan sebesar 800 kkal yang digunakan

untuk memproduksi ASI dan untuk aktivitas Ibu.

Air Susu Ibu (ASI) sangat penting karena ASI adalah makanan utama

bayi/nutrisi terbaik bagi bayi, dengan ASI bayi akan tumbuh sempurna

sebagai manusia yang sehat, bersifat lemah lembut dan mempunyai IQ

yang tinggi. ASI mengandung Asam Dekosa Heksanoid (DHA) maka bayi

xcvi
yang diberi ASI secara bermakna akan mempunyai IQ yang lebih tinggi

dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi susu bubuk atau susu sapi.

Selama menyusui, ibu dengan status gizi baik rata-rata memproduksi

ASI sekitar 800cc yang mengandung± 600 kkal sedangkan ibu dengan

status gizi kurang, biasanya memproduksi kurang dari 600 kkal. Meskipun

Begitu, status gizi tidak berpengaruh besar pada mutu ASI melainkan

Volumenya, Adapun Kebutuhan ibu nifas antara lain:

a. Nutrisi dan cairan

b. Ambulasi

c. Eliminasi: buang air kecil dan buang air besar

d. Kebersihan diri dan perineum

e. Istirahat

f. Seksual

g. Keluarga berencana

h. Latihan/senam nifas

1) Nutrisi dan cairan

Ibu nifas memerlukan dan membutuhkan nutrisi yang cukup dan seimbang

yaitu kebutuhan protein, kalori dan karbohidrat. Gizi pada ibu menyusui

sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan

untuk tumbuh kembang bayi. Apabila pemberian ASI berhasil baik, maka

berat badan bayi akan meningkat, integritas kulit baik, tonus otot serta

kebiasaan makan yang memuaskan. Ibu menyusui tidak harus terlalu ketat

dalam mengatur nutrisinya, yang terpenting adalah makanan yang

xcvii
menjamin pembentukan air susu yang berkualitas dalam jumlah yang

cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya.(Lina Fitriani,2021)

2) Ambulasi

Di zaman dahulu, perawatan nifas sangat konservatif, ibu nifas atau ibu

yang selesai persalinan harus tidur telentang selama 40 hari. Namun pada

zaman sekarang perawatan nifas lebih aktif dengan dianjurkan untuk

melakukan mobilisasi dini Adapun Perawatan pada masa nifas dengan

mobilisasi dini mempunyai keuntungan yaitu:

a) Melancarkan/memperlancar dalam pengeluaran lokia dan mengurangi

infeksi nifas

b) Mempercepat involusi uterus atau kembalinya uterus ke bentuk semula

sebelum hamil

c) Melancarkan/memperlancar fungsi alat gastrointestinal dan alat

kelamin

d) Meningkatkan peredaran darah sehingga dapat mempercepat fungsi

ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.(Lina Fitriani,2021)

3) Eliminasi

Buang air kecil (BAK) setelah ibu melahirkan, terutama pada ibu yang

baru pertama kali melahirkan akan terasa pedih saat BAK. Keadaan ini

kemungkinan disebabkan adanya iritasi pada uretra sehingga ibu takut

BAK. Apabila kandung kemih penuh, maka harus diusahakan supaya

penderita/ibu nifas dapat buang air kecil sehingga tidak memerlukan

tindakan kateterisasi, karena memungkinkan akan membawa bahaya

xcviii
berupa infeksi.

Miksi/buang air kecil disebut normal bila dapat buang air kecil (BAK)

spontan 3-4 jam atau dalam 6 jam pertama setelah melahirkan harus

mampu BAK, ibu nifas diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila

tidak maka dilakukan tindakan berikut ini:

a) Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat pasien

b) Mengompres air hangat di atas simfisis

c) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK.

d) Ibu diupayakan untuk memperbanyak minum air hangat.

(Lina Fitriani,2021)

4) Kebersihan diri dan perineum

Personal Hygiene

Bagi ibu nifas yang belum mampu turun dari tempat tidur, maka

Mandi di tempat tidur dapat dilakukan sampai ibu dapat mandi

sendiri di kamar mandi. Adapun bagian yang paling utama

dibersihkan adalah puting susu dan mammae.(Lina Fitriani,2021)

5) Puting susu

Puting susu harus diperhatikan kebersihannya dan termasuk

luka pecah (rhagade) harus segera diobati karena kerusakan puting

susu merupakan port de entrée yang dapat menimbulkan mastitis.

(Lina Fitriani,2021)

6) Lochea

Lochea adalah cairan yang keluar dari vagina atau jalan lahir

xcix
pada masa nifas yang tidak lain merupakan cairan/secret dari

rahim terutama luka plasenta. Pada 2 hari pertama, warna lokchea

berupa darah disebut lokhia rubra, setelah 3-7 hari merupakan

darah encer disebut lochea serosa, dan pada hari ke 10 menjadi

cairan putih atau kekuning-kuningan disebut lochea alba.

Lochea yang normal baunya khas yaitu berbau amis dan

Lochea yang berbau busuk menandakan adanya infeksi. Jika

lochea berwarna merah setelah 2 minggu, ada kemungkinan

tertinggalnya sisa plasenta atau dikarenakan involusi yang kurang

sempurna yang sering disebabkan retrolexio uteri. Tanda-tanda

pengeluaran lochea yang abnormal sebagai berikut:

a) Pendarahan berkepanjangan atau lama

b) bbbPengeluaran lochea tertahan

c) Rasa nyeri yang berlebihan

d) Terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber

perdarahan

e) Terjadi infeksi intrauterine(Lina Fitriani,2021)

7) Perineum

Perawatan perineum, apabila setelah buang air besar atau

buang air kecil, perineum harus dibersihkan secara rutin. Adapun

caranya dengan dibersihkan menggunakan sabun yang lembut

minimal sehari sekali. Terkadang ibu akan takut jahitan terlepas,

merasa sakit pada perineum sehingga perineum tidak dibersihkan

c
atau dicuci dengan baik. Cairan sabun yang hangat atau sejenisnya

sebaiknya dipakai setelah ibu buang air kecil atau buang air besar.

Sebelum ataupun sesudah mengganti pembalut harus cuci tangan

dengan larutan desinfektan atau sabun. Pada Ibu nifas perlu

diberitahu tentang cara mengganti pembalut, yaitu bagian dalam

jangan sampai terkontaminasi oleh tangan. Cara memakainya

yaitu dari depan ke belakang dan mengganti dua kali sehari atau

terasa penuh diganti. (Lina Fitriani,20210

8) Istirahat

Pada umumnya perempuan sangat lelah dan capek setelah.

melahirkan, dan akan terasa lebih lelah apabila partus berlangsung

lama. Seorang ibu nifas baru akan merasa cemas yang muncul

dalam pikirannya yaitu apakah dia mampu merawat anaknya atau

tidak setelah melahirkan. Ha ini dapat mengakibatkan susah tidur,

sehingga terjadi gangguan pola tidur karena beban kerja

bertambah, ibu harus bangun malam untuk menyusui, mengganti

popok yang sebelumnya, yang sebelum pernah dilakukan. Berikut

hal-hal yang dapat dianjurkan pada ibu untuk mencegah cemas

pada ibu nifas yaitu:

a) Beristirahat yang cukup untuk mencegah

kelelahan yang berlebihan.

b) Menganjurkan untuk kembali ke aktivitas sehari-

hari yang tidak berat. (Lina Fitriani,2021)

ci
9) Seksusal

Pada ibu nifas liang vagina akan kembali dalam keadaan

semula sebelum hamil dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman

untuk melakukan hubungan suami istri begitu darah merah

berhenti, dan ibu dapat mencoba memasukkan 1-2 jari ke dalam

vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak

merasakan ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai

melakukan hubungan suami istri kapan pun ibu siap.

Di masyarakat banyak budaya yang memiliki tradisi

memulai hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu,

misalnya setelah 40 hari atau 60 minggu setelah persalinan.

Keputusan bergantung pada pasangan bersangkutan atau

kesepakatan pasangan suami istri.

10) Keluarga Berencana

Kontrasepsi berasal dari kata kontra mencegah atau

melawan dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur

yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan.

Adapun tujuan dari kontrasepsi adalah menghindari atau

mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara

sel telur matang dengan sel sperma tersebut. Kontrasepsi yang

cocok untuk ibu pada masa nifas antara lain Metode Amenorhea

Laktasi (MAL.), Pil progestin (mini pil). Suntikan progestin,

Kontrasepsi implan dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

cii
Metode Amenorhea Laktasi (MAL)

Metode Amenorhea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang

mengandalkan pemberian ASI dari ibu. MAL dapat dikatakan

sebagai kontrasepsi apabila terdapat memenuhi syarat sebagai

berikut:

a) Menyusui secara penuh, tanpa susu pendamping

b) Belum haid sejak masa nifas selesai

c) Umur bayi kurang dari 6 bulan

Pil Progesti (Mini Pil)

Metode ini cocok sangat aman digunakan oleh ibu

menyusui yang ingin memakai pil KB karena sangat efektif pada

masa laktasi. Efek samping utama adalah gangguan perdarahan

(perdarahan bercak/spotting) atau perdarahan tidak teratur).

Suntikan Progestin

Metode kontrasepsi ini sangat efektif dan aman, dapat

dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi, kembalinya

kesuburan lebih lambat (rata-rata 4 bulan) serta cocok untuk masa

laktasi karena tidak menekan produksi ASI.

Kontrasepsi Implan

Kontrasepsi ini efektif selama 5 tahun untuk Norplant, 3

tahun untuk Jadena, Indoplant dan Implanon. Kontrasepsi ini

dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi.

Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan khusus pada petugas

ciii
kesehatan. Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut.

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

Alat kontrasepsi dalam rahim ini memiliki beberapa jenis

yaitu CUT-380A, Nova T dan Lippes Lopps.

Beberapa keuntungan dan kelebihan yang diberikan

oleh kontrasepsi jenis ini adalah sebagai berikut:

a. Efektifitas tinggi (0,6-0,8 kehamilan/100 kehamilan dalam 1

tahun pertama, 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan)

b. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380 A

dan tidak perlu diganti)

c. Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan meningkatkan

kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil

d. Tidak mempengaruhi produksi ASI

e. Segera mungkin dapat dipasang setelah melahirkan dan

sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi)

(IrmaMayaPuspita,2022)

11) Latihan/senam nifas

Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah

melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali. Senam nifas

bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya

komplikasi, memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung,

otot dasar panggul dan oto perut.

Pada saat hamil otot perut dan sekitar rahim serta vagina telah teregang

civ
dan melemah. Latihan senam nifas dilakukan untuk membantu

mengencangkan otot-otot tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya

nyeri punggung di kemudian hari dan terjadinya kelemahan pada otot

panggul sehingga dapat mengakibatkan ibu tidak bisa menahan BAK.

Gerakan senam nifas ini dilakukan dari gerakan yang paling sederhana

hingga yang tersulit. Dan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terus

menerus (continue). Lakukan pengulangan setiap 5 gerakan dan tingkatkan

setiap hari sampai 10 kali. (LinaFitriani,2021)

6. Peran dan Tanggung Jawab Bidan Dalam Masa Nifas

Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas adalah memberi

perawatan dan dukungan sesuai kebutuhan ibu, yaitu melalui kemitraan

(partnership) dengan ibu. Selain itu, dengan cara:

a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas

b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada masa

nifas

c. Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan prioritas masalah

d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana

e. Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang telah diberikan

f. Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien

(Bahiyatun,2022)

7. Tahapan Masa Nifas

Tahapan masa nifas menurut Reva Rubin:

a. Periode Taking In (hari ke 1-2 setelah melahirkan)

cv
1) Ibu pasif dan tergantung dengan orang lain

2) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran perubahan tubuhnya

3) Ibu akan mengulangi pengalaman-pengalaman waktu melahirkan

4) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan

keadaan tubuh ke kondisi normal

5) Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan

peningkatan nutrisi. Jika ibu Kurang nafsu makan menandakan

kondisi tubuh tidak normal.

b. Periode Taking On/Taking Hold (hari ke-2-4 setelah melahirkan)

1) Ibu memperhatikan kemampuan sebagai orang tua dan

meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya

2) Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh bayi,

BAK, BAB dan daya tahan tubuh bayi

3) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi seperti

menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok.

4) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan

pribadi

5) Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena merasa

tidak mampu membesarkan/merawat bayinya

c. Periode Letting Go

1) Terjadi setelah pulang ke rumah dan dipengaruhi oleh dukungan

serta perhatian suami serta keluarga

2) Mengambil tanggung jawab dalam perawatan bayi dan memahami

cvi
kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam interaksi

sosial

3) Depresi postpartum rentan terjadi pada masa ini

(LinaFitriani,2022)

8. Kunjungan Masa Nifas

Menurut (Yulizawati, dkk, 2021) Paling sedikit 4 kali kunjungan masa

nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, untuk

mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.

a. Kunjungan I

Kunjungan dalam waktu 6 jam-2 hari setelah persalinan, yaitu: a)

Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas

1) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan

memberikan rujukan bila perdarahan berlanjut c) Memberikan

konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai

bagimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

2) Pemberian ASI pada awal menjadi ibu

3) Menganjarkan ibu untuk mempererat hubungan antara ibu dan bayi

baru lahir

4) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.

( Yulizawati, dkk, 2021)

b. Kunjungan II

Kunjungan dalam waktu 3-7 hari setelah persalinan, yaitu:

1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,

cvii
fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan

tidak ada bau

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca

melahirkan

3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda

penyulit

5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan bayi, cara

merawat tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap hangat.(Yulizawati,

dkk, 2021)

c. Kunjungan III

Kunjungan dalam waktu 8-14 hari setelah persalinan, yaitu:

1) Memastikan involusi uteri berjalan normal,uterus berkontraksi,

fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan

tidak ada bau.

2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca

melahirkan

3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, istirahat

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda

penyulit.

5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, cara

merawat tali pusat, dan menjaga bayi tetap hangat. (Yulizawati,

dkk, 2021)

cviii
d. Kunjungan IV

Kunjungan dalam waktu 29-42 hari setelah persalinan, yaitu:

1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami atau

bayinya.

2) Memberikan konseling untuk KB secara dini (Yulizawati, dkk,

2021).

9. Deteksi Dini Kompilikasi Pada Masa Nifas

Deteksi Dini Masa Nifas adalah Memantau kondisi Ibu dan Bayi pasca

persalinan dalam rangka menghindari komplikasi yang mungkin terjadi,

dan untuk mencapai tingkat kesehatan yang sebaik mungkin bagi ibu-ibu

yang baru melahirkan (post partum), bayi dan keluarga khususnya serta

masyarakat pada umumnya.

Asuhan yang diberikan pada 2 jam pertama masa nifas yairu :

a. Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus uteri, kandung kemih dan

darah yang keluar setiap 15 menit selama satu jam pertama dan

setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat. Jika ada temuan

yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian

kondisi ibu.

b. Masase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik setiap

15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam

kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, tingkatkan

frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu. (EndangYuliani,2022)

cix
5. Asuhan Neonatus

a. Pengertian Neonatus

Neonatus adalah masa kehidupan (0- 28 hari), dimana terjadi

cx
perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim menuju luar

rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi

hingga umur kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki

risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan

bisa muncul, sehingga tanpa penanganan yang tepat bisa berakibat fatal

(Muzayyana,2022)

b. Kunjungan Neonatus

Kunjungan neonatus ke petugas kesehatan profesional untuk

mendapatkan pelayanan standar neonatus yang didapat minimal 3 kali

selama periode 0 - 28 hari setelah lahir baik di fasilitas kesehatan maupun

kunjungan rumah. Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus :

l. Kunjungan neonatus ke-1 (KN-1) dilakukan pada 6-48 jam setelah

kelahiran.

1) Mempertahankan suhu tubuh bayi

2) Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi

3) Konseling mengenai jaga kesehatan, pemberian ASI, kesulitan

bernafas, warna kulit abnormal

m. Kunjungan neonatus ke 2 (KN-2) dilakukan pada hari ke 3-7 setelah

lahir.

1) Menjaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering

2) Pemeriksaan tanda bahay sepert kemungkinan infeks bakteri,

icterus dan diare

3) Pemberian ASI, bayi diberi ASI 10-15 kali dalam 24 jam

cxi
4) Menjaga suhu tubuh bayi

5) Menjaga kehangatn bayi

6) Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk membrikan ASI

ekslusif, pencegahan hipotermi, dan perawtan bayi baru lahir

dirumah denganmenggunakn buku KIA

7) Diberitahukan tehnik menyusui yang benar

c. Kunjungan neonatus ke-3 (KN 3) dilakukan pada hari ke 8-28 setelah

lahir.

1) Pemeriksaan fisik

2) Menjaga kesehatan bayi

3) Memberitahukan ibu tentang tanda-tanda bahay baru

lahir

4) Memberi Al minimal 10-15 kali dalm 24 jam

5) Menjaga kehangatan

6) Menjaaga ssuhu tubuh bayi

7) Memberikan konseling pada inu tentang imunisasi

BCG

Tujuan kunjungan neonatus meningkatkan akses terhadap pelayanan

kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin kelainan/masalah yang dapat

terjadi pada neonatus. Kematian pada neonatus sering terjadi dalam 24 jam

pertama, minggu pertama dan bulan pertama kehidupan. Pelayanan

kesehatan neonatus dapat dilakukan secara komprehensif dengan

menggunakan pendekatan manajemen terpadu bayi muda (MTBM).

cxii
(AnjarAstuti,2020)

a. Manajemen Kebidanan (varney)

1. Manajemen varney

cxiii
Menurut (Wenny Indah dan Kurniyati 2022) Varney Terdapat 7 langkah

manajemen kebidanan yang meliputi:

a. Langkah I Pengumpulan data dasar

Pengumpulan data dasar merupakan langkah awal yang akan

menentukan langkah selanjutnya, sehingga data yang akurat dan

lengkap yang berkaitan dengan kondisi klien sangat menentukan

bagi langkah interpretasi data.

Pengkajian data meliputi data subjektif dan data objektif

1) Data subjektif berisi identitas, keluhan yang dirasakan dari

hasil anamnesa langsung.

2) Data objektif merupakan pencatatan dari hasil pemeriksaan

umum, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, hasil

laboratorium seeperti pemeriksaan protein urin, glukosa darah,

Hb dan sebagainya.

Langkah selanjutnya setelah data terkumpul adalah pengolahan

data dengan cara menggabungkan dan menghubungkan data yang

satu dengan yang lainnya sehingga menggambarkan kondisi klien

yang sebenarnya. Lakukan pengkajian ulang data yang telah

dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.

b. Langkah II interpretasi data dasar

Pada langkah ini, data dasar yang sudah dikumpulkan

diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosa dan masalah

yang spesifik. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan

cxiv
oleh profesi bidan dalam praktik kebidanan dan memenuhi standar

nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan. Rumusan diagnosa dan

masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat

didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan.

Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita

yang diidentifikasi oleh bidan sesuai hasil pengkajian. Masalah sering

juga menyertai diagnosa.

c. Langkah III antisipasi diagnosa atau masalah potensial

Pada langkah ketiga ini melakukan identifikasi dan masalah

potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi.

Langkah ketiga ini merupakan antisipasi bidan, guna mendapatkan

asuhan yang aman. Pada tahap ini bidan diharapkan waspada dan

bersiap-siap untuk mencegah diagnosa/potensial terjadi.

d. Langkah IV tindakan segera

Pada tahap ini bidan ada saatnya harus melakukan tindakan segera

karena situasi yang gawat, contohnya. Perdarahan kala III atau

perdarahan segera setelah lahir. Dalam kondisi tertentu seorang

wanita memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim

kesehatan lain seperti pekerja social, ahl gizi, atau seorang ahli

perawat klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu

mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan siapa yang tepat

untuk konsultasi atau kolaborasi dalam penatalaksanaan asuhan klien.

e. Langkah V intervensi atau rencana

cxv
Setelah diagnosa dan masalah ditetapkan maka langkah selanjutnya

adalah membuat perencanaan secara menyeluruh. Rencana

menyeluruh ini meliputi apa-apa yang sudah teridentifikasi dari

kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari

kerangka pedoman antisipasi terhadap klien apa yang akan terjadi

apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan tujukan. Bidan dalam

melakukan perumusan perencanaan harus bersama klien dan membuat

kesepakatan bersama sebelum melakukan tindakan Asuhan yang

diberikan bidan harus sesuai terori yang up date.

f. Langkah VI implementasi atau pelaksanaan

Pada langkah ini semua perencanaan asuhan dilaksanakan oleh

bidan baik secara mandiri ataupun berkolaborasi dengan tim

kesehatan lainnya.

g. Langkah VII Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam manajemen kebidanan.

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang

sudah diberikan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika

memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Jika dalam

pelaksanaannya tidak efektif maka perlu dilakukan mengapa proses

asuhan tersebut tidak efektif, dan melakukan penyesuaian pada

rencana asuhan tersebut.

2. Manajemen soap

Menurut (Wenny Indah dan Kurniyati, 2022) adalah:

cxvi
Di dalam metode SOAP, S adalah data subjektif, O adalah data

objektif, A adalah analysis, P adalah planning. Metode ini merupakan

dokumentasi yang sederhana akan tetapi mengandung semua unsur data

dan langkah yang dibutuhkan dalam asuhan kebidanan, jelas, logis. Prinsip

dari metode SOAP adalah sama dengan metode dokumentasi yang lain

seperti yang telah dijelaskan diatas. Sekarang kita akan membahas satu

persatu langkah metode SOAP.

a. Data Subjektif

Subjektif merupakan hasil dari anamnesis, baik informasi langsung

dari klien maupun dari keluarga. Anamnesis yang dilakukan harus secara

terperinci sehingga informasi yang diharapkan benar-benar akurat. Pada

langkah ini, diharapkan bidan menggunakan daya nalarnya terkait

informasi yang didapatkan.

b. Data Objektif

Objektif merupakan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan.

Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keadaan umum, pemeriksaan

tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik secara head to toe, pemeriksaan

penunjang (pemeriksaan laboratorium baik darah, urin, tinja atau cairan

tubuh). Data hasil kegiatan subjektif dan objektif akan beriringan. Hal ini

meyakinkan bidan untuk melakukan langkah selanjutnya yaitu assessment.

c. Assesment

Pada langkah assessment, bidan akan melakukan 3 poin pokok, yaitu

menegakkan diagnosa kebidanan baik aktual maupun potensial,

cxvii
menentukan masalah (aktual dan potensial) dan menentukan kebutuhan.

Diagnosa kebidanan mengacu kepada nomenklatur, artinya diagnosa yang

ditegakkan merupakan diagnosa hasil anamnesis dan pemeriksaan yang

merupakan kasus kebidanan, kasus yang terjadi hak, kewajiban dan

wewenang bidan untuk memberikan asuhan kebidanan.

d. Planing

Pada langkah planing atau perencanaan, bidan akan merencanakan

asuhan kebidanan yang akan diberikan kepada klien sesuai dengan

diagnosa kebidanan yang telah ditegakkan, sesuai dengan kebutuhan yang

telah disusun pada langkah assessment. Pada langkah perencanaan ini,

bidan mempertimbangkan seluruh kebutuhan baik fisik maupun psikologis

klien. Tindakan apa yang akan dilakukan, mengapa tindakan tersebut

dilakukan, kapan tindakan tersebut dilakukan, siapa yang melakukan dan

bagaimana caranya tindakan tersebut dilakukan. Tahap perencanaan ini

terdapat beberapa analisis yang dilakukan oleh bidan meliputi tahap

prioritas, mempertimbangkan apakah klien dan keluarga diikutsertakan

dalam tindakan kebidanan, apakah intervensi yang direncanakan dan

dilakukan sesuai dengan permasalahan dan penyakit klien, membuat

rasional tindakan dan dokumentasi.

Setelah tahap perencanaaan dilakukan oleh bidan maka bidan

melanjutkan kegiatan pemberian asuhan. Kegiatan asuhan yang diberikan

oleh bidan, dilakukan dokumentasinya dalam bentuk catatan

perkembangan. Pada catatan ini, bidan secara terperinci membuat asuhan

cxviii
yang diberikan dengan malampirkan hari, tanggal, waktu, tanda tangan

dan nama petugas yang melaksanakan. Setiap asuhan yang diberikan harus

melampirkan hal tersebut..

cxix

Anda mungkin juga menyukai