ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY ”…” UMUR … TAHUN KEHAMILAN TRIMESTER III,
PERSALINAN, BBL, NEONATUS DAN NIFAS
DI … KABUPATEN REJANG LEBONG TAHUN 2023
LAPORAN TUGAS AKHIR
Oleh :
MI’ROJ ANJALNA S.W
NIM. P00340220030
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM DIPLOMA
TIGA
TAHUN 2023
ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY “…” UMUR … KEHAMILAN TRIMESTER III,
PERSALINAN, BBL, NEONATUS DAN NIFAS
DI … KABUPATEN REJANG LEBONG TAHUN 2023
LAPORAN TUGAS AKHIR
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi Kebidanan Program Diploma Tiga
Kampus Curup Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Bengkulu
Disusun Oleh :
MI’ROJ ANJALNA S.W
NIM. P00340220030
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN DIPLOMA TIGA
TAHUN 2023
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Laporan Tugas Akhir atas :
Nama : Mi’roj Anjalna SW
Tempat Tanggal Lahir : Taba Mulan, 19 Oktober 2002
NIM : P00340220030
Judul LTA : Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny “X”
Masa Kehamilan Trimester III, Persalinan, Bayi
Baru Lahir, Nifas dan Neonatus
Kami setuju untuk diseminarkan pada tanggal : ……………………
Curup , …………………2023
Oleh :
Pembimbing 1
Eva Susanti, SST, M. Keb
NIP. 1978020620520006
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Mi’roj Anjalna SW
NIM : P00340220030
Judul LTA : Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny."X" Masa
Kehamilan Trimester III, Persalinan, Bayi Baru Lahir, Nifas, dan
Neonatus di PMB "N" Wilayah Kerja Puskesmas Curup Tahun
2023
Menyatakan dengan sebesar besarnya bahwa Laporan Tugas Akhir ini
adalah betul-betul hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya
orang lain.
Demikian pernyataan ini dan apabila dikemudian hari terbukti dalam
Laporan Tugas Akhir penelitian ini ada unsur penjiplakan, maka saya bersedia
mempertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Curup, Februari 2023
Yang Menyatakan
Mi’roj Anjalna SW
NIM.P00340220030
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
dan harunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini
dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehentif pada Ny “x” Masa
Kehamilan Trimester III, Persalinan, Bayi Baru Lahir, Nifas dan Neonatus”
dengan manajemen kebidanan menurut langkah varney.
Dalam penyelesaian laporan tugas akhir ini penulis banyak mendapat
bantuan baik materil maupun moril dari pihak, untuk itu penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Ibu Eliyana, SKM. MPH selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu
2. Ibu Yuniarti, SST, M. Kes selaku Kepala Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Bengkulu
3. Ibu Kurniyati, SST, M. Keb selaku Kepala Program Studi Diploma III
Kebidanan Curup
4. Ibu Eva Susanti SST, M. Keb selaku pembimbing akademik, yang selalu
memberikan motivasi dan semangat. Dan selaku pembimbing Laporan Tugas
Akhir yang telah memberikan banyak waktu serta memberikan saran yang
membangun dan masukan pada Laporan Tugas Akhir ini
5. Seluruh dosen dan staf Kebidanan Curu, Poltekkes Kemenkes Bengkulu
v
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penulis menyadari sepenuhnya
bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Demikian semoga
Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Curup, Maret 2023
Penulis
Mi’roj Anjalna SW
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... v
DAFTARB ISI ................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 3
C. Tujuan .............................................................................................. 3
D. Sasaran, tempat dan waktu asuhan kebidanan ................................. 5
E. Manfaat ............................................................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Asuhan Kebidanan ............................................................. 7
1. Konsep Dasar Persalinan ................................................................... 28
2. Konsep Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Normal ........................ 55
3. Konsep Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus ................................ 66
4. Konsep Asuhan Masa Nifas ............................................................... 81
B. Manajemen Kebidanan .............................................................................. 100
1. Manajemen Varney ........................................................................... 100
2. Manajemen SOAP ............................................................................. 103
3. Manajemen Asuhan Kebidanan ......................................................... 106
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 207
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Tinggi Fundus Uteri Menurut Leopold
Tabel 2 : Kategori Indeks Masa Tubuh
Tabel 3 : Pemberian Vaksin TT
Tabel 4 : Pengelompokan Anemia
Tabel 5 : APGAR Score
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pernyataan
Lampiran 2 Lembar Konsul
ix
DAFTAR SINGKATAN
AKI : Angka Kematian Ibu
AKB : Angka Kematian Bayi
KH : Kelahiran Hidup
COC : Contiunity of Care
LILA : Lingkar Lengan Atas
BAK : Buang Air Kecil
BAB : Buang Air Besar
TFU : Tinggu Fundus Uteri
BBL : Bayi Baru Lahir
IMD : Inisiasi Menyusui Dini
PAP : Pintu Atas Panggul
TTV : Tanda Tanda Vital
TD : Tekanan Darah
N : Nadi
RR : Respirasi
S : Suhu
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indikator kesehatan sebuah negara dapat diukur dari angka kematian
ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), sehingga pemerintah membuat
kebijakan untuk mengatakan kualitas kesehatan dengan upaya pemerintah
(seperti mengenai alat kontrasepsi, inisiasi menyusui dini (IMD), imunisasi,
asi eksklusif, dll). ( Amalia,dkk ,2020)
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di
indonesia Menurut data dari Kemenkes yang dihimpun dari pencatatan
program kesehatan keluarga di Kementerian Kesehatan meningkat setiap
tahun. Pada tahun 2021 Angka Kematian Ibu (AKI) menunjukkan 7.389
kematian di Indonesia. Jumlah ini menunjukkan peningkatan dibandingkan
tahun 2020 sebesar 4.627 kematian. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB)
jumlah kematian bayi pada tahun 2021 sebanyak 20.154 kematian bayi, terjadi
penurunan dibandingkan tahun 2020, yaitu sebanyak 25.158 kematian
( Kemenkes RI, 2022).
Penyebab AKI dan AKB yang tinggi yaitu perdarahan, tekanan darah
tinggi (eklamsia) dan infeksi. Pendarahan menempati persentase tertinggi
penyebab kematian ibu, anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu
hamil menjadi penyebab terjadinya pendarahan dan infeksi yang merupakan
faktor kematian utama ibu. Sehingga pentingnya seorang bidan mampu
memberi asuhan yang berkualitas yaitu dengan cara persalinan normal dengan
xi
tujuan agar angka kematian ibu dan angka kematian bayi dapat berkurang.
(Soemarno 2022)
Salah satu cara untuk mencapai indikator tersebut adalah dengan cara
contunity of care (COC). Contunity of care dalam asuhan kebidanan
merupakan rangkaian kegiatan secara menyeluruh dan berlanjut dimulai dari
periode selama kehamilan, kelahiran, nifas, bayi baru lahir serta keluarga
berencana (KB) yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan pada wanita dan
kesehatan pribadi setiap manusia. Contunity of care yang dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan terutama seorang bidan selalu memiliki pegangan yang
bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang menyeluruh dan
berkesinambungan. (Ikka wijayanti,dkk 2022)
Asuhan berkelanjutan (contunity of care), yaitu diharapkan untuk dapat
memberikan dampak positif bayi ibu maupun bayi, seperti meningkatkan
persalinan spontan pervaginam, meningkatkan pemberian air susu ibu bagi bayi
dan menurunkan angka persalinan preterm ataupun kematian janin sebelum usia
kandungan 24 minggu. (Puji hastuti,dkk 2022)
Upaya menurunkan AKI dan AKB ini salah satu ujung tombaknya
adalah seorang bidan. Bidan melakukan praktek fasilitas pelayanan kesehatan
salah satunya di praktik bidan mandiri Novarita Simbolon. Hasil survei awal
data kunjungan ibu hamil tercatat periode 2021 pada bulan januari – desember
yaitu pada ibu hamil KI 60, K2 55 orang kunjungan, ibu bersalin KF 51 orang.
Pada ibu hamil terdapat 3 ibu yang mengeluh kaki bengkak, 5 mengeluh nyeri
punggung dan sering BAK. Asuhan kebidanan penting dikuasai oleh seorang
xii
bidan dengan menerapkan asuhan Contunity Of Care. (Hayana,2022)
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merasa tertarik untuk
memberikan asuhan kebidanan secara Contunity Of Care dalam upaya
meningkatkan kemampuan memberikan asuhan kebidanan dan menyelesaikan
laporan tugas akhir pada Ny “...” umur ... tahun kehamilan trimester III,
persalinan, BBL, neonatus dan nifas di ... kabupaten rejang lebong tahun
2023. (Hayana,2022)
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi latar belakang dan masalah yang ada, maka
rumusan masalah pada laporan tugas akhir ini yaitu : “Bagaimana asuhan
kebidanan komprehensif pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir
di PMB “N” Tahun 2023 ?”
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan kebidanan secara komprehensif selama
kehamilan TM III, bersalin, masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri
Bidan Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023
. Dengan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) atau
Kepmenkes Nomor HK.01.07-Menkes-320-2020 Tentang Standar Profesi
Bidan Tentang Standar Asuhan Kebidanan.
xiii
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian selama kehamilan TM III, bersalin,
masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja
Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .
b. Mampu melakukan diagnosa selama kehamilan TM III, bersalin, masa
nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja Dinas
Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .
c. Mampu menyusun perencanaan selama kehamilan TM III, bersalin,
masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja
Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .
d. Mampu melakukan implementasi selama kehamilan TM III, bersalin,
masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja
Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .
e. Mampu melakukan evaluasi selama kehamilan TM III, bersalin, masa
nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja Dinas
Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 .
f. Mampu melakukan pencatatan asuhan kebidanan selama kehamilan
TM III, bersalin, masa nifas, neonatus dan di Praktik Mandiri Bidan
Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Tahun
2023.
g. Mampu membandingkan antara teori dengan praktik asuhan yang
diberikan.
xiv
D. Sasaran, Tempat Dan Waktu Asuhan Kebidanan
1. Sasaran
Asuhan kebidanan yang akan diberikan sasaran subjek di tunjukkan
kepada satu orang ibu dengan memperhatikan Contunity Of Care selama
kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir, masa nifas dan neonatus.
2. Tempat
Tempat di lakukan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan yaitu pada ibu
selama kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir, masa nifas dan
neonatus di Praktik Mandiri Bidan Wilayah Kerja Dinas Kesehatan
Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023.
3. Waktu
Waktu pelaksanaan Asuhan Berkesinambungan yang diperlukan yaitu
pada semester VI sesuai dengan Kalender akademik DIII Kebidanan
Curup Poltekkes Kemenkes Bengkulu dimulai dari 30 Januari-15 April
2023.
E. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Laporan ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk kemajuan informasi
dibidang kebidanan, sumber penambah pengetahuan, wawasan serta
masukan bagi pihak institusi dalam penerapan proses manajemen asuhan
kebidanan pada ibu selama kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir,
xv
masa nifas dan neonatus.
2. Manfaat Praktis
a. Pelayanan Kesehatan
Diharapkan sebagai masukan bagi pelayanan kesehatan dalam
memberikan pelayanan dan asuhan kebidanan secara maksimal pada
ibu selama kehamilan TM III, bersalin, bayi baru lahir, masa nifas
dan neonatus.
b. Akademik
Diharapkan laporan ini dapat dijadikan bahan masukan dalam
menambah informasi, sumber bacaan, bahan pengajaran, peningkatan
dan pengembangan kurikulum pendidikan serta menjadi referensi
pendokumentasian asuhan kebidanan khususnya pada Poltekkes
Kemenkes Bengkulu.
c. Mahasiswa
Diharapkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman secara langsung sekaligus penanganan dalam menerapkan
ilmu yang diperoleh selama akademik, serta menambah wawasan
dalam penerapan proses manajemen asuhan kebidanan pada ibu selama
kehamilan TM III, bersalin, masa nifas, neonatus.
d. Masyarakat
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dasar terhadap Kesehatan
pada ibu selama kehamilan TM III, bersalin, masa nifas, neonatus.
xvi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori Asuhan Kebidanan
1 Asuhan Kehamilan
a. Pengertian kehamilan
Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari konsepsi sampai
dimulainya persalinan atau lahirnya janin. Lamanya kehamilan yaitu
280 hari sampai 40 minggu. Dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Kehamilan normal merupakan kehamilan yang tidak mengalami
gejala-gejala atau kelainan maupun komplikasi selama usia kehamilan
280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama
haid terakhir/HPHT. (Dwikurniasi,2021)
Trimester ketiga sering disebut sebagai "periode menunggu,
penantian dan waspada" sebab pada saat ini biasanya ibu tidak sabar
menunggu kelahiran bayinya. Trimester ketiga adalah waktu
mempersiapkan kelahiran dan peran sebagai orangtua serta terpusatnya
perhatian pada kehadiran bayi
Bersamaan dengan harapan akan hadirnya seorang bayi, pada
trimester ini kecemasan semakin meningkat. Cemas akan adanya
kelainan fisik maupun mental pada bayi, perasaan nyeri pada saat
melahirkan, perasaan takut tidak dapat melahirkan secara normal, dan
xvii
juga perasaan takut akan kehilangan nyawa dan bayi. (Ekamustika dan
dwiwirasti,2022)
b. Perubahan fisiologis kehamilan Trimester III
Perubahan yang terjadi selama kehamilan yaitu sebagai berikut :
1) Uterus
Pada akhir kehamilan uterus akan membesar dalam rongga pelvis
dan seiring perkembangannya uterus akan menyentung dinding
abdomen. Pada Trimester III (> 28 minggu) dinding uterus mulai
menipis dan lebih lembut. Pergerakan janin dapat diobservasi dan
badannya dapat diraba untuk mengetahui posisi dan ukurannya, korpus
berkembang menjadi segmen bawah rahim. Pada minggu ke-36
kehamilan terjadi penurunan janin ke bagian bawah rahim, hal ini
disebabkan melunaknya jaringan- jaringan dasar panggul bersamaan
dengan gerakan yang baik dari otot rahim dan kedudukan bagian
bawah Rahim.( Siti Rahmah, 2021)
Tabel 1 : Tinggi Fundus Uteri Menurut Leopold
No. Usia Kehamilan Tinggi Fundus uteri
1. 28 minggu 26,7 cm di atas simfisis, 2-3 jari di atas pusat
2. 32 minggu 29,5-30 cm di atas simfisis, pertengahan pusat-px
3. 36 minggu 32 cm di atas simfisis, 3 jari di atas px atau
sampai setinggi pusat
4. 40 minggu 37,7 cm di atas simfisis, pertengahan pusat px,
tetapi melebar ke samping
Sumber : Siti Rahmah, 2021
2) Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena
hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan
xviii
adanya hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak.
Serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas
kolagen. Karena serviks terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit
mengandung jaringan otot, maka serviks tidak mempunyai fungsi
sebagai spinkter, sehingga pada saat partus serviks akan membuka saja
mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri ke atas dan tekanan bagian
bawah janin ke bawah. Sesudah partus, serviks akan tampak berlipat-
lipat dan tidak menutup seperti spinkter.(Sumaryanti,DKK 2020)
3) Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan.
hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih
merah dan kebiru- biruan (tanda Chadwicks). Pada bulan terakhir
kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental.
(Wityarti,2021)
4) Payudara
Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia duktus dan jaringan
intertisial payudara. hormon laktogenik plasenta (di antaranya
somatomammoptropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-
sel asinus payudara serta meningkatkan produksi zat-zat kasein,
laktoalbumin, laktoglobulin,sel-sel lemak, kolostrum. Mammae
membesar dan tegang terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofit
kelenjar montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat
pengaruh malanofor. puting susu membesar dan menonjol. payudara
xix
akan membesar dan kencang, ini karena pada awal pembuahan terjadi
peningkatan hormon kehamilan yang menimbulkan pelebaran
pembuluh darah dan memberi nutrisi pada jaringan payudara.
(Mukhoirotin,DKK 2022)
5) Sistem Respirasi
Ibu hamil sering mengeluh sesak napas yang biasanya terjadi pada
umur kehamilan 32 minggu lebih, hal ini disebabkan oleh karena
uterus yang semakin membesar sehingga menekan usus dan
mendorong keatas menyebabkan tinggi diafragma bergeser 4 cm
sehingga kurang leluasa bergerak. Kebutuhan oksigen wanita hamil
meningkat sampai 20%, sehingga untuk memenuhi kebutuhan oksigen
wanita hamil bernapas dalam. Peningkatan hormon estrogen pada
kehamilan dapat mengakibatkan peningkatan vaskularisasi pada
saluran pernapasan atas.(Sripoerwaningsi,2022)
6) Sistem Integumen
Tingginya kadar hormone yang tersirkulasi dalam darah
dan peningkatan regangan pada kulit abdomen, paha, dan payudara
bertanggung jawab pada timbulnya garis-garis yang berwarna merah
muda atau kecoklatan pada daerah tersebut. Tanda tersebut bisa
dikenal dengan nama striae gravidarum dan bisa menjadi lebih gelap
warnanya pada multigravida dengan warna kulit gelap atau hitam.
Striae gravidarum ini akan berkurang setelah masa kehamilan dan
biasanya nampak seperti garis-garis yang berwarna keperakan pada
xx
wanita kulit putih atau warna gelap/hitam yang mengilap.
(Lusianagultom dan juiletahutabarat,2020)
7) Sistem Perkemihan
Perubahan pada system perkemihan terjadi karena faktor
hormone dan mekanis. Pada trimester III terjadi peningkatan frekuensi
BAK karena penekanan uterus yang membesar terhadap vesika
urinaria sehingga kapasitasnya menurun. Terjadinya hemodilusi
menyebabkan metabolisme air meningkat sehingga pembentukan urin
meningkat. (Murti Ani,Dkk,2021)
8) Sistem Muskuloskletal
Perubahan tubuh secara bertahap dari peningkatan berat wanita
hamil, menyebabkan postur dan cara berjalan wanita berubah secara
menyolok. Berat uterus dan isinya menyebabkan perubahan pada titik
pusat gaya tarik dan garis bentuk tubuh. Lengkung tulang belakang
akan berubah bentuk untuk mengimbang pembesaran abdomen dan
menjelang akhir kehamilan banyak wanita yang memperlihatkan
postur tubuh yang khas (lordosis) (Murti Ani,Dkk,2021)
9) Sistem Pencernaan
Estrogen dan HCG meningkat dengan efek samping mual dan
muntah-muntah, Apabila mual muntah terjadi pada pagi hari disebut
Moming Sickness. Selain itu terjadi juga perubahan peristaltic dengan
gejala sering kembung, dan konstipasi. Pada keadaan patologik
tertentu dapat terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih dari 10 kali
xxi
per hari (hiperemesis gravidarum). Aliran darah ke panggul dan
tekanan vena yang meningkat dapat mengakibatkan hemoroid pada
akhir kehamilan. Hormon estrogen juga dapat mengakibatkan gusi
hiperemia dan cenderung mudah berdarah. Tidak ada peningkatan
sekresi saliva, meskipun banyak ibu hamil mengeluh merasa kelebihan
saliva (ptialisme), perasaan ini kemungkinan akibat dari ibu hamil
tersebut dengan tidak sadar jarang menelan saliva ketika merasa mual
sehingga terkesan saliva menjadi banyak. Ibu hamil trimester pertama
sering mengalami nafsu makan menurun, hal ini dapat disebabkan
perasaan mual dan muntah yang sering terjadi pada kehamilan muda.
Pada trimester kedua mual muntah mulai berkurang sehingga nafsu
makan semakin meningkat (Murti Ani,Dkk.2021)
10) Kenaikan Berat Badan
Berat badan Berat badan ibu hamil akan bertambah antara
6,5 kg-16,5 kg. Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) berat badan
ibu masih dalam batas normal dengan kalkulasi sebagai berikut:
Tabel 2. Peningkatan Penambahan Berat Badan Ibu Selama Kehamilan
(PBBH) Yang Direkomendasikan Sesuai Dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)
xxii
(Sumber : Kementerian Kesehatan RI, 2020)
c. Perubahan Psikologi Kehamilan Trimester III
1) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh dan
tidak menarik
2) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu
3) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik akan timbul pada saat
melahirkan, khawatir akan keselamatannya
4) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal,
bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya
5) Ibu tidak sabar menunggu kelahiran bayinya
6) Semakin ingin menyudahi kehamilannya
7) Aktif mempersiapkan kelahiran bayinya
8) Bermimpi dan berkhayal tentang bayinya
xxiii
9) Rasa tidak nyaman
10) Perubahan emosional ( Ririn widyastuty, 2021)
d. Ketidaknyamanan Trimester III
1) Sering Buang Air Kecil (BAK)
Keluhan sering kencing pada akhir kehamilan disebabkan oleh
lightening (bagian presentasi masuk ke dalam panggul) sehingga
menekan kangdung keming. Cara mengatasinya yaitu segera
berkemih jika sudah terasa ingin kencing, minum air putih pada
siang hari, dan mengurangi asupan cairan sebelum tidur (Diki
Retno Yuliani,2017)
Asuhan yang dapat diberikan menurut (Ziya Helda dan
Ika,2021) yaitu dengan melakukan senam kagel. Terapi senam
kagel merupakan salah satu terapi non farmakologi yang dapat
menguatkan otot panggul, membantu mengendalikan keluarnya
urin saat berhubungan intim, dapat meningkatkan kepuasan saat
berhubungan intim karena meningkatkan daya cengkram vagina,
meningkatkan kepekaan terhadap rangsangan seksual, mencegah
“ngompol kecil” yang timbul saat batuk atau tertawa, dan
melancarkan proses kelahiran tanpa harus merobek jalan lahir serta
mempercepat penyembuhan pasca persalinan.
Dengan melakukan senam kagel, dari hasil asuhan yang telah
dilakukan, mulai dari tanggal 26 Juni sampai 2 Juli 2021
didapatkan hasil bahwa ketidaknyamanan sering BAK yang
xxiv
dialami ibu dapat teratasi dengan melakukan terapi senam kagel,
yaitu dibuktikan dengan melakukan pertanyaan sebelum dan
sesudah dilakukannya senam kagel terkait keluhan yang dirasakan
ibu. Dimana sebelum dilakukan terapi senam kagel ibu merasakan
sering BAK hingga lebih dari 5 kali pada malam hari, setelah
diberikan terapi senam kagel frekuensi BAK ibu pada malam hari
berkurang menjadi 1-2 kali (Ziya Helda dan Ika,2021).
2) Sulit Tidur
Selama kehamilan, jumlah hormon akan semakin meningkat.
Hal ini yang menyebabkan ibu hamil lebih sering terjaga. Selain
itu, rasa sakit yang ibu rasakan akan membuat ibu semakin sulit
untuk tidur. masalah tidur ini terjadi karena perubahan postur
tubuh, pertumbuhan bayi dan pergerakan bayi, maka hal ini akan
menyulitkan ibu untuk mencari posisi tidur yang nyaman.
Beberapa petugas kesehatan menganjurkan untuk miring ke kiri,
tetapi hal ini bila dilakukan terus menerus akan menimbulkan nyeri
akibat teregangnya otot penunjang rahim ke satu sisi selama terus
menerus. (Deswani, 2020)
Tata laksana dari ketidaknyamanan sulit tidur yaitu dengan
cara senam hamil yang diawali dengan gerakan pemanasan dalam
latihan bermanfaat untuk meningkatkan oksigen yang diangkut ke
otot dan jaringan tubuh, memperlancar peredaran darah dan
mengurangi adanya cedera atau luka. senam diawali dengan
xxv
pemanasan 10 menit, kemudian latihan pernapasan dan dilanjutkan
dengan gerakan asana sekitar 25-30 menit, diakhiri dengan mediasi
10 menit. Ibu hamilyang melakukan senam hamil yang baik sesuai
dengan gerakan dan latihan yang maksimal sesuai yang diajarkan
dari kualitas tidur yang buruk menjadi kualitas tidur yang baik
Menurut teori senam hamil dilakukan minimal dua kali dalam
seminggu selama 30 menit. Berdasarkan hasil penelitian diatas
gerakan senam hamil dapat mempengaruhi kualitas tidur pada ibu
hamil. (Mardalena dan lilis, 2022)
3) Nyeri punggung
Nyeri punggung pada bagian bawah adalah suatu
ketidaknyamanan yang timbul dibagian bawah os costa dan diatas
inferior gluteal Berbagai masalah yang timbul pada usia kehamilan
trimester III merupakan masalah psikologis yang sering dikeluhkan
pada ibu hamil seperti nyeri punggung, namun nyeri punggung juga
dapat menimbulkan kualitas tidur yang buruk. Nyeri punggung saat
hamil terjadi pada daerah lumbosacral, karena akan bertambah
intensitas nyeri seiring bertambahnya usia kehamilan yang disebabkan
adanya pergeseran pada pusat gravitasi dan perubahan postur tubuh.
(Hanifah, dkk, 2022)
Tatalaksana dari ketidaknyamanan nyeri punggung yaitu dengan
cara menggunakan kompres hangat dan dapat menimbulkan efek
seperti mencegah terjadinya spasme otot atau memberikan rasa
xxvi
nyaman dan memberikan rasa kehangatan, Kompres hangat juga
adalah cara yang bagus untuk meredakan nyeri beberapa efek
fisiologinya yaitu tubuh menjadi lebih rileks, rasa nyeri jadi lebih
hilang bahkan turun dan sirkulasi darah ibu hamil menjadi lancar
Kompres hangat menggunakan air dengan suhu 37-400C, kemudian
gunakan handuk yang dicelupkan pada air tersebut lalu peras dan
tempelkan pada punggung ibu hamil selama 15 menit dilakukan 1 hari
sekali selama 3 hari kunjungan dan kemudian dievaluasi sebelum di
intervensi dan sesudah di intervensi. Berdasarkan hasil penelitian
diatas kompres hangat dapat mengurangi nyeri punggung pada ibu.
(Hanifah, dkk, 2022)
4) Edema
Salah satu ketidaknyamanan dan tanda bahaya kehamilan yang
dapat dialami ibu hamil trimester ketiga yaitu edema. Edema atau
pembengkakan pada tungkai bawah dan pergelangan kaki terjadi
selama kehamilan, akibat penurunan aliran balik vena dari ektremitas
bawah. Sekitar 75% ibu hamil pasti mengalami pembengkakan pada
kaki (edema), yang umumnya terjadi pada trimester akhir. Edema
diperberat oleh posisi berdiri atau duduk dalam waktu lama.
Tatalaksana dari ketidaknyamanan edema yaitu dengan cara
menganjurkan ibu untuk menghindari makanan tinggi garam,
mengonsumsi makanan tinggi protein, dan tidak menggunakan
pakaian yang ketat. Ketika ibu pada posisi berdiri atau duduk dalam
xxvii
waktu yang lama, ibu harus menaikkan kakinya selama 20 menit dan
merubah posisi setiap 2 sampai 3 jam. Dorsofleksi kaki sering- sering
ketika duduk membantu mengontraksi otot merangsang sirkulasi .
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat mengurangi edema pada kaki
ibu sehingga menurunkan derajat edema. (Faniza,dkk ,2021)
e. Tanda-tanda bahaya pada ibu hamil TM III
Menurut tibu,2020 yaitu:
1) pendarahan pervaginam
2) sakit kepala yang hebat
3) pengelihatan kabur
4) bengkak di muka atau tangan
5) gerakan janin tidak ada atau kurang ( minimal 3 kali dalam 1 jam)
6) pengeluaran cairan pervaginam ( ketuan pecah dini)
7) kejang
8) selaput kelopak mata pucat
9) demam tinggi (tibu,2020)
f. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Trimester III
1) Kebutuhan Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia termasuk
ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat ibu
hamil sehingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen
xxviii
pada ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang dikandung. Untuk
mencegah hal tersebut dan untuk memenuhi kebutuhan oksigen maka
ibu hamil perlu : Latihan napas melalui senam hamil, Tidur dengan
bantal yang lebih tinggi, Kurangi atau hentikan merokok, Konsul ke
dokter bila ada kelainan atau gangguan pernafasan. (Miftahul
khairoh, 2021)
2) Nutrisi dan Gizi
Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang mengandung
nilai gizi bermutu tinggi. Gizi pada waktu hamil harus
ditingkatkan hingga 300 kalori perhari, ibu hamil seharusnya
mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi dan
cukup cairan (menu seimbang). Diantaranya:
a) Kalori Kebutuhan kalori untuk ibu hamil adalah 2300 kalori
dipergunakan untuk produksi energi.
b) Protein, Bila wanita tidak hamil, konsumsi protein yang ideal
adalah 0,9 gram/kg BB/hari, tatapi selama kehamilan dibutuhkan
tambahan protein hingga 30 gram/hari. Protein yang dianjurkan
adalah protein hewani seperti daging, susu, telur, keju dan ikan
karena mengandung komposisi asam amino yang lengkap.
c) Mineral, Pada prinsipnya semua mineral dapat terpenuhi dengan
makan makanan sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-sayuran dan
susu. Hanya besi yang tidak bisa terpenuhi dengan makanan
sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan ini dibutuhkan suplemen
xxix
besi 30 mg perhari dan pada kehamilan kembar atau wanita yang
sedikit anemic dibutuhkan 60-100 mg/hari. Kebutuhan kalsium
bisa terpenuhi dengan minum susu, tapi bila ibu hamil tidak bisa
minum susu bisa diberikan suplemen kalsium dengan dosis gram
perhari.
d) Vitamin, Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makan sayur
dan buah-buahan tetapi dapat pula diberikan ekstra vitamin.
Pemberian asam folat dapt mencegah kecacatan pada bayi. (arkha
rosyaria, 2022)
3) Personal Hygiene
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama
lipatan kulit (ketiak, bawah payudara, daerah genetalia) dengan cara
dibersihkan dengan air dan di keringkan. Kebersihan gigi berlubang
terutama pada ibu yang kekurangan kalsium. (ayu idaningsih, 2021)
4) Eliminasi
Ibu hamil dianjurkan untuk tidak menahan berkemih dan selalu
berkemih sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual dan
minum banyak air untuk meningkatkan produksi kandung kemih.
Akibat pengaruh progesteron, otot-otot tractus digestivus tonusnya
menurun, akibatnya mototilitas saluran pencernaan berkurang dan
menyebabkan obstipasi. Untuk mengatasi hal tersebut ibu hamil
xxx
dianjurkanminum lebih 8 gelas dan sebaiknya diet yang mengandung
serat, latihan/senam hamil dan tidak dianjurkan untuk minum obat.
(deswani,DKK 2020)
5) Seksual
Selama kehamilan koitus diperbolehkan sampai akhir
kehamilan. Koitus tidak dibenarkan bila terdapat perdarahan
pervaginam, ada riwayat abortus berulang, partus prematurus, ketuban
pecah dan serviks telah membuka. (arkh rosyaria, 2021)
6) Mobilisasi Dan Body Mekanik
Mobilisasi Ibu hamil boleh melakukan kegiatan/aktivitas fisik
seperti biasa selama tidak terlalu melelahkan. (miftahul khairoh, 2021)
7) Senam Hamil
Ibu hamil perlu menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara
berjalan-jalan di pagi hari, renang, olah raga ringan dan senam hamil.
Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22 minggu yang
bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga dapat
berfungsi secara optiamal dalam persalinan normal serta
mengimbangkan perubahan titik berat tubuh. Senam hamil dianjurkan
untuk ibu hamil tanpa komplikasi/kelainan. (miftahulkhairoh, 2021)
8) Persiapan persalinan
a) Membuat rencana persalinan
b) Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi
xxxi
kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama tidak
ada
c) Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi
kegawatdaruratan
d) Membuat rencana atau pola menabung
e) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan.
(gustiana, 2021)
9) Aktivitas Dan Istirahat/ Relaksasi
Kebutuhan istirahat/tidur pada malam hari kurang lebih 8 jam
dan istirahat dalam keadaan rileks pada siang hari selama I jam.
(yayuk umaya, 2022)
10) Standar pelayanan kebidanan
Berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021 pemeriksaan
kehamilan dilakukan sebanyak 6 kali. Segera ke dokter atau bidan jika
terlambat datang bulan. Pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali selama
kehamilan dan minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester
I dan trimester III, diantaranya :
a) 2 kali pada trimester pertama (kehamilan dari 1 minggu sampai
12 minggu )
b) 1 kali pada trimester kedua ( kehamilan dari13 minggu sampai 28
minggu
c) 3 kali pada trimester ketiga ( kehamilan dari 28 minggu sampai 40
minggu )
xxxii
Pelayanan yang diberikan pada ibu hamil harus memenuhi kriteria
10T . berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021 tersebut yaitu :
a) Pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)
Pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan penimbangan
BB yang bertujuan untuk mendeteksi adanya gangguan
pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang <9 kilogram
selama kehamilan atau kurang dari 1 kilogram/bulan
menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin.
Pengukuran tinggi badan (TB) pada kunjungan pertama
dilakukan untuk menapis adanya faktor risiko pada ibu hamil.
Meningkatkan risiko untuk terjadinya cephalo pelvic
disproportion (CPD) jika tinggi badan (TB) ibu hamil < 145
cm.
b) Pengukuran tekanan darah
Pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan pengukuran
tekanan darah (TD) dilakukan untuk mendeteksi adanya
hipertensi yaitu dimana tekanan darah ≥ 140/90 mmHg pada
kehamilan dan terjadinya preeklampsia.
c) Pengukuran lingkar lengan Atas (LiLa)
Hanya dilakukan pada kontak pertama oleh tenaga
kesehatan di trimester I kehamilan untuk skrining ibu hamil
berisiko kurang energi kronis (KEK) yaitu ibu hamil yang
mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama
xxxiii
(beberapa bulan/tahun). Didapatkan dimana LILA kurang
dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan
bayi berat lahir rendah (BBLR)
d) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)
Dilakukan pada setiap kali kunjungan antenatal setelah
kehamilan 24 minggu. Pengukuran dilakukan untuk
mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan usia
kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur
kehamilan, kemungkinan gangguan pertumbuhan janin.
e) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan
selanjutnya setiap kali kunjungan ANC. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester
III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum
masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit
atau ada masalah lain. Penilaian denyut jantung janin (DJJ)
dilakukan pada akhir trimester 1 dan selanjutnya setiap kali
kunjungan antenatal. DJJ normal berkisar 120-160x/menit.
DJJ dari 120 kali/menit atau 160 kali/menit menunjukkan
adanya gawat janin.
f) Pemberian imunisasi sesuai dengan status imunisasi
Imunisasi tetanus toxoid (TT) diberikan untuk ibu hamil
untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum. Penting
xxxiv
dilakukan saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status
imunisasi T-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil
diberikan disesuai dengan status imunisasi T ibu saat ini.
Pemberian imunisasi TT tidak mempunyai interval maksimal,
hanya terdapat interval minimal. Interval minimal pemberian
imunisasi TT dan lama perlindungannya dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 3 : Interval Minimal Pemberian Imunisasi TT
Dan Lama Perlindungannya
Imunisasi Lama Perlindungan Selang Waktu Minimal Pemberian
Imunisasi
TT1 - Langkah awal pemberntukan
kekebalan tubuh terhadap penyakit
teranus
TT2 1 bulan setelah TT1 3 Tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 5 Tahun
TT4 12 bulan setelah TT3 10 Tahun
TT5 12 bulan setelah TT4 ≥25 Tahun
Sumber : (Kementrian Kesehatan RI, 2020).
g) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet
Upaya pencegahan anemia zat besi pada ibu hamil
dimulai sedini mungkin dan dilanjutkan sampai masa nifas
dengan memberikan 1 tablet setiap hari selama kehamilan
minimal 90 tablet. Berikut pengelompokan anemia pada ibu
xxxv
hamil. (Yuniarti,2021)
Tabel 4 : Rekomentasi WHO tentang pengelompokan anemia (g/dL)
pada ibu hamil
Populasi Tidak anemia
Ibu hamil 11 g/dL
Ringan 10,0 – 10,9 g/dL
Sedang 7,0 – 9,9 g/dL
Berat < 7,0 g/dL
Sumber : (Yuniarti,2021)
h) Tes laboratorium pada ibu hamil
Menurut Yuniarti, 2021 tes laboratorium pada kehamilan meliputi:
(1) . Pemeriksaan kadar hemoglobin (HB) darah
(2) . Golongan darah
(3) . Tes triple eliminasi (HIV, Sifilis dan Hepatitis B), serta
malaria pada daerah endemis dengan rapid tes diagnosis
(RDT)
(4) . Tes lainnya dapat dilakukan sesuai indikasi seperti:
gluko-proteinurin, gula darah sewaktu, sputum basil
tahan asam (BTA), kusta, malaria non endemis,
pemeriksaan feses untuk kecacingan, pemeriksaan darah
lengkap untuk deteksi dini talasemia dan pemeriksaan
lainnya.
i) Tata laksana / penanganan kasus
hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil
harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan
tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani
xxxvi
dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
j) Temu wicara (konseling) dan penilaian kesehatan jiwa
Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap
kunjungan antenatal yang meliputi
1) Gizi seimbang, makan beragam, makan secara proporsional
dengan pola gizi seimbang dan 1 porsi lebih banyak dari
pada sebelum hamil
2) Menjaga kebersihan diri; mencuci tangan dengan sabun dan
air mengalir, mandi dan gosok gigi, 2x sehari, keramas 2
hari 1 kali, kebersihan payudara dan kemaluan, ganti
pakaian dan pakaian dalam setiap hari dan memeriksa
kesehatan gigi
3) Istirahat yang cukup; tidur malam setidaknya 6-7 jam dan
siang hari usahakan tidur atau istirahat 1-2 jam
4) Bersama suami lakukan stimulasi janin : sering berbicara
dengan janin dan sering lakukan sentuhan pada perut ibu
5) Hubungan suami istri selama kehamilan : boleh dilakukan
selama kehamilan sehat.
6) Hal-hal yang harus dihindari oleh ibu hamil : kerja berat,
merokok atau terpapar asap rokok, minum minuman bersoda
(Yuniarti,2021)
xxxvii
B. Konsep Dasar Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin
dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa
bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara progresif
dan diakhiri dengan kelahiran plasenta. Jenis persalinan menurut proses
berlangsungnya persalinan terbagi:
a. Persalinan spontan terjadi menggunakan kekuatan ibu sendiri.
b. Persalinan buatan terjadi dengan bantuan tenaga dari luar seperti Sectio
Caesaria.
xxxviii
c. Persalinan anjuran proses mulainya persalinan karena adanya
rangsangan seperti dilakukan amniotomy, pemberian atau
prostaglandin. (isrinasifah,2021)
2. Sebab-Sebab Terjadinya Persalinan
Menurut Yusuf dan Armanto, 2021 hormon – hormon yang dominan
pada saat kehamilan yaitu :
a. Progesteron
Progesteron adalah hormon yang berperan mengurangi
sensitivitas otot rahim, membuat otot rahim dan otot polos
relaksasi.
b. Estrogen
Estrogen berperan menaikkan sensitivitas otot uterus .Jika
terjadi ketidakseimbangan antara estrogen dan progesterone akan
menyebabkan hipose parst posterior mengeluarkan oksitosin
sehingga terjadi kontraksi yaitu Braxton Hicks.
c. Oksitosin
Oksitosin adalah hormon yang menyebabkan his dan
disekresikan oleh neurohipofisis. Mekanisme oksitosin dalam
menstimulasi kontraksi otot polos: otot uterus menaikkan jumlah
reseptor oksitosin, saat persalinan terjadi peningkatan kecepatan
pengeluaran oksitosin oleh neurohipofisis.
xxxix
d. Prostaglandin
Prostaglandin adalah hormon pencetus kontraksi dan bertugas
merangsang persalinan. Hormon ini diproduksi ketika janin siap
dilahirkan. Ibu hamil yang kekurangan hormon prostaglandin dapat
menyebabkan kehamilan lewat . (Yusuf dan Armanto,2021)
3. Tanda- Tanda Persalinan
Menurut Murti Ani, 2021 tanda-tanda persalinan yaitu:
a. Adanya Kontraksi Rahim
Secara umum, tanda awal bahwa ibu hamil untuk melahirkan adalah
mengejangnya rahim atau dikenal dengan istilah kontraksi. Kontraksi
tersebut berirama, teratur dan involunter, umumnya kontraksi tujuan
untuk menyiapkan mulut lahir untuk membesar dan meningkatkan aliran
darah di dalam plasenta. Kontraksi yang sesungguhnya akan muncul dan
hilang secara teratur dengan intensitas makin lama makin meningkat.
b. Keluarnya Lendir Bercampur Darah
Lendir disekres sebagai hasil proliferasi kelenjar lendir servik pada
awal kehamilan. Lendir mulanya menyumbat leher rahim, sumbatan
yang tebal pada mulut rahim terlepas. sehingga menyebabkan keluarnya
lendir yang berwarna kemerahan bercampur darah dan terdorong keluar
oleh kontraksi yang membuka mulut rahim yang menandakan bahwa
mulut rahim menjadi lunak dan membuka. Lendir inilah yang dimaksud
sebagai bloody slim.
xl
c. Keluarnya Air-Air (Ketuban)
Keluarnya air-air dan jumlahnya cukup banyak, berasal dari ketuban
yang pecah akibat kontraksi yang makin sering terjadi. Ketuban mulai
pecah sewaktu-waktu sampai pada saat persalinan. Ibu hamil merasakan
cairan yang merembes dari vagina dan keluarnya tidak dapat ditahan
lagi, tetapi tidak disertai mulas atau tanpa sakit merupakan tanda
ketuban pecah dini, sesudah itu akan terasa sakit karena ada
kemungkinan kontraksi.
d. Pembukaan Serviks
Membukanya leher rahim sebagai respon terhadap kontraksi yang
berkembang. Tanda ini tidak dirasakan oleh pasien tetapi dapat
diketahui dengan pemeriksaan dalam. Petugas akan melakukan
pemeriksaan untuk menentukan kematangan, penipisan, dan pembukaan
leher rahim. (Murti Ani,dkk.2021)
4. Perubahan Fisiologi Kala I-IV
a. Kala I
Menurut Murti Ani,2021 perubahan-perubahan fisiologi kala I adalah:
1) Perubahan tekanan darah
Perubahan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan
kenaikan sistolik rata-rata sebesar 10-20 mmHg dan kenaikan
diastolik rata-rata 5-10 mmHg diantara kontraksi-kontraksi uterus.
tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan
akan naik lagi bila terjadi kontraksi. Posisi tidur terlentang selama
xli
bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terhadap pembuluh
darah besar (aorta) yang akan menyebabkan sirkulasi darah baik
untuk ibu maupun janin akan terganggu, ibu dapat terjadi hipotensi
dan janin pada asfiksin.
b. Perubahan metabolisme
Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik
maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini
sebagian besar diakibatkan karena kecemasan serta kegiatan otot
rangka tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercermin
dengan kenaikan suhu badan, denyut nadi, pernafasan, curah
jantung dan cairan yang hilang.
c. Perubahan suhu badan
Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan..
suhu mencapai tertinggi selama persalinan dan segera setelah
persalinan. Kenaikan ini dianggap normal asal tidak melebihi
0.5°C-1°C. Suhu badan yang naik sedikit merupakan hal yang
wajar, namun keadaan ini berlangsung lama, keadaan suhu ini
mengindikasikan adanya dehidrasi.
d. Denyut jantung
Penurunan yang mencolok selama kontraksi uterus tidak
terjadi jika ibu berada dalam posisi miring bukan posisi terlentang.
Denyut jantung di antara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding
xlii
mencerminkan kenaikan dalam metabolisme yang terjadi selama
persalinan.
e. Pernafsan
Kenaikan pernapasan dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri.
kekhawatiran serta penggunaan teknik pernapasan yang tidak
benar.
f. Perubahan Gastrointestinal
Kemampuan pergerakan gastric serta penyerapan makanan padat
berkurang akan menyebabkan pencernaan hamper berhenti selama
persalinan dan akan menyebabkan konstipasi.
g. Kontraksi uterus
Kontraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada uterus dan
penurunan hormon progesteron yang menyebabkan keluarnya
hormon oksitosin.
h. Pemecahan kantong ketuban
Pada akhir kala satu bila pembukaan sudah lengkap dan tidak ada
tahanan lagi, ditambah dengan kontraksi yang kuat serta desakan
janin yang menyebabkan kantong ketuban pecah, diikuti dengan
proses kelahiran. (Murti Ani,dkk.2021)
b. Kala II
Menurut Murti Ani,2021 perubahan fisiologis pada kala II yaitu:
1) Kontraksi uterus
Kontraksi bersifat berkala dan yang harus di perhatikan adalah
xliii
lamanya kontraksi berlangsung 60-90 detik, kekuatan kontraksi.
kekuatan kontraksi secara klinis ditentukan dengan mencoba
apakah jari kita dapat menekan dinding rahim ke dalam, interfal
anatar kedua kontraksi pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit.
2) Perubahan-perubahan uterus
Keadaan Segmen Atas Rahim (SAR) dan Segmen Bawah Rahim
(SBR). Dalam persalinan perbedaan SAR dan SBR akan tampak
lebih jelas, di mana SAR dibentuk oleh korpus uteri dan bersifat
memegang peranan aktif (berkontraksi) dan dindingnya
bertambah dan serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi.
3) Perubahan pada serviks
Perubahan pada serviks pada kala II ditandai dengan
pembukaanlengkap, pada pemeriksaan dalam tidak teraba lagi
bibir portio. Segmen Bawah Rahim (SBR) dan serviks.
4) Perubahan pada vagina dan dasar panggul
Setelah pembukaan lengkap dan ketuban telah pecah terjadi
perubahan, terutama pada dasar panggul yang diregangkan oleh
hagian depan janin sehingga menjadi saluran yang dinding-
dindingnya tipis karena suatu regangan dan kepala sampai di
vulva, lubang vulva menghadap ke depan atas dan anus, menjadi
terbuka, perineum menonjol dan tidak lama kemudian kepala
janin tampak pada vulva.
5) Perubahan tekanan darah
xliv
Tekanan darah akan meningkat selama kontraksi disertai
peningkatan sistolik rata-rata 10-20 mmHg. Mengubah posisi
tubuh dari terlentang ke posisi miring, perubahan tekanan darah
selama kontraksi dapat dihindari. Nyeri. rasa takut dan
kekhawatiran dapat semakin meningkatkan tekanan darah. (Murti
Ani, dkk.2021)
c. Kala III
Menurut Murti Ani,2021 segera setelah bayi lahir dan air ketuban
sudah tidak lagi berada di dalam uterus, kontraksi akan terus
berlangsung dan ukuran rongga uterus akan mengecil. Pengurangan
dalam ukuran uterus ini akan menyebabkan pengurangan dalam ukuran
tempat melekatnya plasenta Oleh karena tempat melekatnya plasenta
tersebut menjadi lebih kecil. maka plasenta akan menjadi tebal atau
mengkerut dan memisahkan diri dari dinding uterus. Sebagian dari
pembuluh-pembuluh darah yang kecil akan robek sat plasenta lepas.
Tempat melekatnya plasenta akan berdarah terus hingga uterus
seluruhnya berkontraksi. Setelah plasenta lahir, dinding uterus akan
berkontraksi dan menekan semua pembuluh- pembuluh darah ini yang
akan menghentikan perdarahan dari tempat melekatnya plasenta
tersebut. Sebelum uterus berkontraksi wanita tersebut bisa kehilangan
darah 350-360 cc/menit dari tempat melekatnya plasenta tersebut.
Uterus tidak bisa sepenuhnya berkontraksi hingga plasenta lahir
seluruhnya (Murti Ani,dkk.2021)
xlv
d. Kala IV
1) Kontraksi uterus
Menurut Murti Ani,2021 kontraksi yang baik pada uterus adalah
bahwa uterus teraba keras dan tidak lembek dan tinggi fundus
uteri berada 1-2 jari di bawah pusat setelah melahirkan.
Pemeriksaan kontraksi dilakukan 15 menit pada satu jam pertama
pascapartum. dan 30 menit satu jam kedua pascapartum
2) Tanda-tanda vital
Pemantauan tekanan darah dan nadi yang rutin selama interval ini
adalah satu cara untuk mendeteksi syok, akibat kehilangan darah
yang belebihan. Suhu ibu berlanjut sedikit meningkat, tetapi
biasanya di bawah 38°C. Tekanan darah normal <140/90 mmHg
dan pernafasan normal, teratur, cukup dalam frekuensi
18kali/menit
3) Kandung kemih
Kandung kemih harus terus dipertahankan dalam keadaan kosong.
Kandung kemih yang penuh dapat menghalangi kontraksi
maksimal sehingga perdarahan dapat terjadi
4) Perineum
Setelah persalinan, keadaan perineum harus juga menjadi
perhatian. Apabila terdapat luka jahit, perlu diperhatikan tanda-
tanda infeksi, luka jahitan yang terbuka, dan kebersihan area luka
xlvi
jahitan. Kebersihan luka yang tidak terjada dapat memicu infeksi
(Murti Ani,dkk.2021)
5. Perubahan Psikologis Kala I -IV
a. Kala I
1) Perasaan tidak enak
2) Takut dan ragu atas persalinan yang akan dihadapi
3) Sering memikirkan antara lain apakah persalinan berjalan
4) Menganggap persalinan sebagai percobaan
5) Apakah penolong persalinan dapat sabar dalam menolongnya
6) Apakah bayinya normal atau tidak
7) Apakah ia sanggup merawat bayinya
8) Ibu Ibu merasa cemas(Murti Ani,dkk.2021)
b. Kala II
Perubahan psikologis keseluruhan wanita yang sedang mengalami
persalinan sangat bervariasi, tergantung pada persiapan dan bimbingan
antisipasi yang ia terima selama persiapan menghadapi persalinan.
dukungan yang diterima wanita dari pasangannya, orang terdekat lain.
keluarga dan pemberian perawatan, lingkungan tempat wanita tersebut
berada dan apakah bayi yang dikandungnya merupakan bayi yang
diinginkan atau tidak. (Murti Ani,dkk.2021)
c. Kala III
1) Ibu ingin melihat, menyentuh dan memeluk bayinya
2) Merasa gembira, lega, dan bangga akan dirinya, juga merasa sangat
xlvii
lelah
3) Memastikan diri dan kerap bertanya apakah vaginanya perlu
dijahit(Murti Ani,dkk.2021)
d. Kala IV
Pada kala IV masa 2 jam setelah plasenta lahir. Dalam kala IV ini, ibu
masih membutuhkan pengawasan yang intensif karena perdarahan.
Pada kala ini atonia uteri masih mengancam. Oleh karena itu, kala IV
ibu belum di pindahkan ke kamarnya dan tidak boleh ditinggal. (Murti
Ani,Dkk,2021)
6. Tahap Persalinan Kala I – IV
a. Kala I
Kala I atau kala pembukaan berlangsung dari pembukaan nol (0
cm) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Kala I primigravida
berlangsung 12 jam. sedangkan multigravida sekitar 8 jam.
Berdasarkan kurva Friedman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam.
Kala I atau kala pembukaan dibagi menjadi dua fase, yaitu:
1) Fase Laten:
a). Pembukaan serviks berlangsung lambat
b). Pembukaan 0 sampai pembukaan 3 cm
c). Berlangsung dalam 7-8 jam
2). Fase Aktif
a). Periode akselerasi: berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm
xlviii
b). Periode dilatasi maksimal: selama 2 jam, pembukaan
berlangsung cepat menjadi 9 cm
c). Periode deselerasi: berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam
pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap(Murti Ani,dkk.2021)
b. Kala II
Kala II disebut juga kala "pengeluaran", dimulai dengan
pembukaan lengkap dari serviks (10 cm) dan berakhir dengan
kelahiran bayi.
Kala II ditandai dengan
1) His terkoordinasi, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit
sekali.
2) Kepala janin telah turun masuk ke ruang panggul sehingga
terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara
reflektoris menimbulkan rasa menejan.
3)Tekanan pada rectum dan anus terbuka, serta vulva membuka dan
perineum meregang.
Lama pada kala II ini pada primi dan multipara berbeda yaitu:
1) Primipara kala II berlangsung 15 jam-2 jam.
2) Multipara kala II berlangsung 0,5 jam-1 jam(Murti
Ani,dkk.2021)
c. Kala III
Kala III atau kala pelepasan uri adalah periode yang dimulai ketika
bayi lahir dan berakhir pada sat plasenta seluruhnya sudah
xlix
dilahirkan. Lama kala III pada primigravida dan multigravida
hamper sama berlangsung+ 10 menit. Dan pada pengeluaran
plasenta biasanya disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100
200 cc. Manajemen aktif Kala III yaitu:
1). Pemberian Oksitosin
2). Penegangan tali pusat terkendali
3). Masase fundus uteri.
Tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu:
1). Perubahan Bentuk dan Tinggi Fundus
Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi,
uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah
pusat. Setelah uterus berkontraksi dan palsenta terdorong ke
bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau
alpukat dan fundus berada di atas pusat (perubahan bentuk uterus
dari discoid menjadi globuler).
2). Tali Pusat Memanjang
Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).
Hal ini disebabkan oleh plasenta turun ke segmen bawah uteri atau
ke rongga vagina.
3). Semburan Darah Mendadak dan Singkat
Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu
mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila
kumpulan darah dalam ruang di antara dinding uterus dan
l
permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka
darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas. Tanda ini
kadang-kadang terlihat dalam waktu satu menit setelah bayi lahir
dan biasanya dalam 5 menit(Murti Ani,dkk.2021)
d. Kala IV
Dimulai dari lahir plasenta sampai dua jam pertama postpartum
untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap perdarahan
postpartum. Kala IV poda primigravida dan multigravida sama-
sama berlangsung selama dua jam.
Observasi yang dilakukan pada kala IV meliputi:
1). Evaluasi uterus
2). Pemeriksaan dan evaluasi serviks, vagina, dan perineum
3). Pemeriksaan dan evaluasi plasenta, selaput, dan tali pusat
4). Penjahitan kembali episiotomy dan laserasi (jika ada)
5). Pemantauan dan evaluasi lanjut tanda vital, kontraksi uterus,
lokea, perdarahan, dan kandung kemih (Murti Ani,dkk.2021)
7. Faktor-Faktor Mempengaruhi Persalinan
Menurut Murti Ani,dkk.2021 faktor-faktor yang memengaruhi
persalinan yaitu:
a. Power (his dan mengejan)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his,
kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament
li
1) His (kontraksi uterus)
His adalah kontraksi otot rahim pada persalinan, pada bulan terakhir
kehamilan sebelum persalinan, kontraksi rahim telah terjadi, yang
disebut his pendahuluan atau his palsu, yang sebetulnya hanya
merupakan peningkatan kontraksi dari Braxton Hicks. His
pendahuluan ini tidak teratur dan menyebabkan nyeri di perut bagian
bawah dan lipat paha serta tidak menyebabkan nyeri yang menyebar
dari pinggang ke perut bagian bawah seperti his persalinan.
Kontraksi his pendahuluan berdurasi pendek dan tidak bertambah
kuat atau sering berkurang ketika ibu sedang berjalan. pendahuluan
tidak bertambah kuat seiring berjalan waktu, bertentangan dengan his
persalinan yang semakin kuat. Hal terpenting adalah bahwa his
pendahuluan tidak mempunyai pengaruh terhadap serviks
b. Mengejan
Yang pegang kendali atau yang paling menentukan dalam tiga
komponen yang sangat menentukan, dari pessenger (janin). passage
(jalan lahir), dan power (kontraksi) adalah proses mengejan ibu yang
dilakukan dengan benar, baik dari segi kekuatan maupun keteraturan.
Ibu harus mengejan sekuat mungkin seirama dengan instruksi yang
diberikan. Biasanya Ibu diminta menarik nafas panjang dalam
beberapa kali saat kontraksi terjadi lalu buang secara perlahan.
Ketika kontraksi mencapai puncaknya, doronglah janin dengan
mengejan sekuat mungkin. bila Ibu mengikuti instruksi yang baik
lii
pecahnya pembuluh darah di sekitar mata dan wajah bisa dihindari.
Begitu juga risiko berkurangnya suplai oksigen ke janin.
c. Passege (jalan lahir)
Keadaan Jalan lahir atau passage terdiri atas panggul ibu, yakni
bagian tulang keras, dasar panggul, vagina, dan introitus vagina.
Panggul terdiri atas bagian keras dan bagian lunak. Meskipun
jaringan lunak. khususnya lapisan otot dasar panggul ikut menunjang
keluarnya bayi. lebih berneran dalam proses persalinan. Oleh karena
itu, ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum dimulai
persalinan.
d. Passenger (janin dan plasenta)
Cara penumpang (pessenger) atau janin bergerak di sepanjang jalan
lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yakni ukuran
kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Karena harus
melalui jalan lahir, plasenta juga dianggap sebagai penumpang yang
menyertai janin. akan tetapi, plasenta jarang menghambat proses
persalinan pada kelahiran normal.
e. Psikis Ibu
Penerimaan pasien atas jalannya perawatan antenatal (petunjuk dan
persiapan untuk menghadapi persalinan), kemampuan pasien untuk
bekerja sama dengan penolong, dan adaptasi terhadap rasa nyeri
persalinan.
liii
f. Penolong
Meliputi ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kesabaran.
pengertiannya dalam menghadapi pasien baik primipara dan
multipara. (Murti Ani,dkk.2021)
8. Kebutuhan Ibu Bersalin Kala I-IV
Adapun kebutuhan fisiologis ibu bersalin menurut Murti Ani,dkk.2021
adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan Oksigen
Pemenuhan kebutuhan oksigen selama proses persalinan perlu
diperhatikan oleh bidan, terutama pada kala I dan kala II, dimana
oksigen yang ibu hirup sangat penting artinya untuk oksigenasi janin
melalui plasenta. Suplai oksigen yang tidak adekuat, dapat
menghambat kemajuan persalinan dan dapat mengganggu
kesejahteraan janin. Oksigen yang adekuat dapat diupayakan dengan
pengaturan sirkulasi udara yang baik selama persalinan. Ventilasi
udara perlu diperhatikan, apabila ruangan tertutup karena
menggunakan AC, maka pastikan bahwa dalam ruangan tersebut
tidak terdapat banyak orang. Hindari menggunakan pakaian yang
ketat, sebaiknya penopang payudara/BH dapat dilepas/dikurangi
kekencangannya. Indikasi pemenuhan kebutuhan oksigen adekuat
adalah Denyut Jantung Janin (DJJ) baik dan stabil. (Murti
Ani,dkk.2021)
b. Kebutuhan Cairan dan Nutrisi
liv
Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan minum) merupakan
kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama proses
persalinan. Pastikan bahwa pada setiap tahapan persalinan (kala I, II,
III, maupun IV), ibu mendapatkan asupan makan dan minum yang
cukup. Asupan makanan yang cukup (makanan utama maupun
makanan ringan), merupakan sumber dari glukosa darah, yang
merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Kadar gula
darah yang rendah akan mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan
asupan cairan yang kurang, akan mengakibatkan dehidrasi pada ibi
bersalin.
Pada ibu bersalin, hipoglikemia dapat mengakibat- kan
komplikasi persalinan baik ibu maupun janin. Pada ibu, akan
mempengaruhi kontraksi/his, sehingga akan meng- hambat
kemajuan persalinan dan meningkatkan insiden persalinan dengan
tindakan, serta dapat meningkatkan risiko perdarahan postpartum.
Pada janin, akan mempengaruhi kesejahteraan janin, sehingga dapat
mengakibatkan komplikasi persalinan seperti asfiksia.
Dehidrasi pada ibu bersalin dapat mengakibatkan melambatnya
kontraksi/his, dan mengakibatkan kontraksi menjadi tidak teratur.
Ibu yang mengalami dehidrasi dapat diamati dari bibir yang kering,
peningkatan suhu tubuh, dan eliminasi yang sedikit.
Dalam memberikan asuhan, bidan dapat dibantu oleh anggota
keluarga yang mendampingi ibu. Selama kala I, anjurkan ibu untuk
lv
cukup makan dan minum, untuk mendukung kemajuan persalinan.
Pada kala II, ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi, karena
terjadi peningkatan suhu tubuh dan terjadinya kelelahan karena
proses mengejan. Untuk itu disela-sela kontraksi, pastikan ibu
mencukupi kebutuhan cairannya (minum). Pada kala III dan IV,
setelah ibu berjuang melahirkan bayi, maka bidan juga harus
memastikan bahwa ibu mencukupi kebutuhan nutrisi dan cairannya,
untuk mencegah hilangnya energi setelah mengeluarkan banyak
tenaga selama kelahiran bayi (pada kala II). (Murti Ani,dkk.2021)
c. Kebutuhan Eliminasi
Pemenuhan kebutuhan eliminasi selama persalinan perlu difasilitasi
oleh bidan, untuk membantu kemajuan persalinan dan meningkatkan
kenyamanan pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih secara spontan
sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali persalinan.
Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:
1) Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke dalam
rongga panggul, terutama apabila berada di atas spina isciadika.
2) Menurunkan efisiensi kontraksi uterus/his.
3) Mengingkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu karena
bersama dengan munculnya kontraksi uterus.
4) Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada II.
5) Memperlambat kelahiran plasenta.
6) Mencetuskan perdarahan pasca persalinan, karena kandung kemih
lvi
yang penuh menghambat kontraksi uterus.
Apabila masih memungkinkan, anjurkan ibu untuk berkemih di
kamar mandi, namun apabila sudah tidak memungkinkan, bidan
dapat membantu ibu untuk berkemih dengan wadah penampung urin.
Bidan tidak dianjurkan untuk melakukan kateterisasi kandung kemih
secara rutin sebelum ataupun setelah kelahiran bayi dan placenta.
Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan apabila terjadi retensi
urin, dan ibu tidak mampu untuk berkemih secara mandiri.
Kateterisasi akan meningkatkan resiko infeksi dan trauma atau
perlukaan pada saluran kemih ibu.
Sebelum memasuki proses persalinan, sebaiknya pastikan
bahwa ibu sudah BAB. Rektum yang penuh dapat mengganggu
dalam proses kelahiran janin. Namun apabila pada kala I fase aktif
ibu mengatakan ingin BAB, bidan harus memastikan kemungkinan
adanya tanda dan gejala kala II. Apabila diperlukan sesuai indikasi,
dapat dilakukan lavement pada saat ibu masih berada pada kala I fase
latent. (Murti Ani,dkk.2021)
d. Kebutuhan Hygiene (Kebersihan Personal)
Kebutuhan hygiene (kebersihan) ibu bersalin perlu diperhatikan
bidan dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin, karena personal
hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa aman dan relax,
mengurangi kelelahan, mencegah infeksi, mencegah gangguan
lvii
sirkulasi darah, mempertahankan integritas pada jaringan dan
memelihara kesejahteraan fisik dan psikis.
Pada kala I fase aktif, dimana terjadi peningkatan bloodyshow
dan ibu sudah tidak mampu untuk mobilisasi, maka bidan harus
membantu ibu untuk menjaga kebersihan genetalianya untuk
menghindari terjadinya infeksi intrapartum dan untuk meningkatkan
kenyamanan ibu bersalin. Membersihkan daerah genetalia dapat
dilakukan dengan melakukan vulva hygiene menggunakan kapas
bersih yang telah dibasahi dengan air Disinfeksi Tingkat Tinggi
(DTT), hindari penggunaan air yang bercampur antiseptik maupun
lisol. Bersihkan dari atas (vestibulum), ke bawah (arah anus).
Tindakan ini dilakukan apabila diperlukan, misalnya setelah ibu
BAK, setelah ibu BAB, maupun setelah ketuban pecah spontan.
Pada kala II dan kala III, untuk membantu menjaga kebersihan
diri ibu bersalin, maka ibu dapat diberikan alas bersalin (under pad)
yang dapat menyerap cairan tubuh (lendir darah, darah, air ketuban)
dengan baik. Apabila saat mengejan diikuti dengan faeses, maka
bidan harus segera membersihkannya, dan meletakkannya di wadah
yang seharusnya. Sebaiknya hindari menutupi bagian tinja dengan
tisyu atau kapas ataupun melipat undarpad.
Pada kala IV setelah janin dan placenta dilahirkan, selama 2 jam
observasi, maka pastikan keadaan ibu sudah bersih. Ibu dapat
dimandikan atau dibersihkan di atas tempat tidur. Pastikan bahwa
lviii
ibu sudah mengenakan pakaian bersih dan penampung darah
(pembalut bersalin, underpad) dengan baik. Hindari menggunakan
pot kala, karena hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan pada ibu
bersalin. Untuk memudahkan bidan dalam melakukan observasi,
maka celana dalam sebaiknya tidak digunakan terlebih dahulu,
pembalut ataupun underpad dapat dilipat disela-sela paha. (Murti
Ani,dkk.2021)
e. Kebutuhan Istirahat
Selama proses persalinan berlangsung, kebutuhan istirahat pada
ibu bersalin tetap harus dipenuhi. Istirahat selama proses persalinan
(kala I, II, III maupun IV) yang dimaksud adalah bidan memberikan
kesempatan pada ibu untukmencoba relaks tanpa adanya tekanan
emosional dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak ada his (disela-sela
his). Ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit akibat his,
makan atau minum, atau melakukan hal menyenangkan yang lain untuk
melepas lelah, atau apabila memungkinkan ibu dapat tidur. Namun pada
kala II, sebaiknya ibu diusahakan untuk tidak mengantuk.
Setelah proses persalinan selesai (pada kala IV), sambil
melakukan observasi, bidan dapat mengizinkan ibu untuk tidur apabila
sangat kelelahan. Namun sebagai bidan, memotivasi ibu untuk
memberikan ASI dini harus tetap dilakukan. Istirahat yang cukup setelah
proses persalinan dapat membantu ibu untuk memulihkan fungsi alat-
alat reproduksi dan meminimalisasi trauma pada saat persalinan. (Murti
lix
Ani,dkk.2021)
f. Posisi dan Ambulasi
Ambulasi yang dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan
pada kala I. Persalinan merupakan suatu peristiwa fisiologis tanpa
disadari dan terus berlangsung/ progresif. Bidan dapat membantu ibu
agar tetap tenang dan rileks, maka bidan sebaiknya tidak mengatur
posisi persalinan dan posisi meneran ibu.
Bidan harus memfasilitasi ibu dalam memilih sendiri posisi
persalinan dan posisi meneran, serta menjelaskan alternatif-alternatif
posisi persalinan dan posisi meneran bila posisi yang dipilih ibu tidak
efektif. Bidan harus memahami posisi-posisi melahirkan, bertujuan
untuk menjaga agar proses kelahiran bayi dapat berjalan senormal
mungkin.
Dengan memahami posisi persalinan yang tepat, maka
diharapkan dapat menghindari intervensi yang tidak perlu, sehingga
meningkatkan persalinan normal. Semakin normal proses kelahiran,
semakin aman kelahiran bayi itu sendiri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan posisi melahirkan:
1) Klien/ibu bebas memilih, hal ini dapat meningkatkan kepuasan,
menimbulkan perasaan sejahtera secara emosional, dan ibu dapat
mengendalikan persalinannya secara alamiah.
2) Peran bidan adalah membantu/memfasilitasi ibu agar merasa nyaman.
3) Secara umum, pilihan posisi melahirkan secara alami/naluri bukanlah
lx
posisi berbaring. Menurut sejarah, posisi berbaring diciptakan agar
penolong lebih nyaman dalam bekerja. Sedangkan posisi tegak,
merupakan cara yang umum digunakan dari sejarah penciptaan
manusia sampai abad ke-18.
Macam-macam posisi meneran di antaranya:
1) Duduk atau setengah duduk, posisi ini memudahkan bidan dalam
membantu kelahiran kepala janin dan memperhatikan keadaan
perineum.
2) Merangkak, posisi merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan
rasa sakit pada punggung, mempermudah janin dalam melakukan
rotasi serta peregangan pada perineum berkurang.
3) Jongkok atau berdiri, posisi jongkok atau berdiri memudahkan
penurunan kepala janin, memperluas panggul sebesar 28% lebih
besar pada pintu bawah panggul, dan memperkuat dorongan
meneran. Namun posisi ini beresiko memperbesar terjadinya laserasi
(perlukaan) jalan lahir.
4) Berbaring miring, posisi berbaring miring dapat mengurangi
penekanan pada vena cava inverior, sehingga dapat mengurangi
kemungkinan terjadinya hipoksia janin karena suplai oksigen tidak
terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang mengalami
kecapekan, dan dapat mencegah terjadinya robekan jalan lahir.
5) Hindari posisi telentang (dorsal recumbent), posisi ini dapat
mengakibatkan: hipotensi (beresiko terjadinya syok dan
lxi
berkurangnya suplai oksigen dalam sirkulasi uteroplacenter, sehingga
mengakibatkan hipoksia bagi janin), rasa nyeri yang bertambah,
kemajuan persalinan bertambah lama, ibu mengalami gangguan
untuk bernafas, buang air kecil terganggu, mobilisasi ibu kurang
bebas, ibu kurang semangat, dan dapat mengakibatkan kerusakan
pada syaraf kaki dan punggung.
6) Pengurangan Rasa Nyeri
Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi
fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan
serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Respons fisiologis
terhadap nyeri meliputi: peningkatan tekanan darah, denyut nadi,
pernafasan, keringat, diameter pupil, dan ketegangan otot. (Murti
Ani,Dkk,2021)
9. Tanda Bahaya Persalinan Kala I-IV
Tanda bahaya persalinan menurut Murti Ani,dkk.2021 yaitu:
a. Kala I
1) Terdapat perdarahan pervaginam selain lendir bercampur darah.
2) Persalinan kurang dari 37 minggu (kurang bulan).
3) Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental.
4) Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit
mekonium, disertai tanda-tanda gawat janin.
5) Ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan
kurang dari 37 minggu).
lxii
6) Infeksi (temperature > 380C, menggigil, nyeri abdomen, cairan
ketuban berbau).
7) Tekanan darah lebih dari 160/110 dan atau terdapat protein dalam
urine (pre-eklampsia berat).
8) Tinggi fundus 40 cm atau lebih.
9) DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit pada dua kali
penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin).
10) Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin
masih 5/5.
11) Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dll).
12) Presentasi ganda (majemuk).
13) Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut).
14) Syok (nadi cepat lemah lebih dari 110x/menit, tekanan darah
sistolik menurun, pucat, berkeringat dingin, napas cepat lebih dari
30x/menit, produksi urin kurang dari 30 ml/jam).
15) Fase laten berkepanjangan (pembukaan serviks kurang dari 4 cm
setelah 8 jam, kontraksi teratur lebih dari 2 dalam 10 menit).
16) Partus lama (pembukan serviks mengarah ke sebelah kanan garis
waspada, pembukaan serviks kurang dari 1 cm perjam, frekuensi
kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang
dari 40 detik).
b. Kala II
lxiii
1) Syok (Nadi cepat lemah atau lebih dari 100x/menit, tekanan darah
sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat pasi, berkeringat dingin, nafas
cepat lebih dari 30x/menit, produksi urine sedikit kurang dari
30ml/jam).
2) Dehidrasi (perubahan nadi 100x/menit atau lebih, urine pekat,
produksi urin sedikit 30 ml/jam).
3) Infeksi (Nadi cepat 110x/menit atau lebih, temperatur suhu > 38°
C, menggigil, cairan ketuban berbau).
4) Pre-eklampsia ringan (Tekanan darah diastolik 90-110 mmHg,
proteinuria hingga 2+).
5) Pre-eklampsia berat atau Eklampsia (Tekanan darah sistolic 110
mmHg atau lebih, tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih
dengan kejang, nyeri kepala, gangguan penglihatan, dan kejang).
6) nersia uteri (kontraksi kurang dari 3x dalam waktu 10 menit
lamanya kurang dari 40 detik).
7) Gawat janin (djj kurang dari 120x/menit dan lebih dari
160x/menit).
8) Distosia bahu (kepala bayi tidak melakukan putak paksi luar,
kepala bayi keluar kemudian tertarik kembali ke dalam vagina,
bahu bayi tidak lahir).
9) Cairan ketuban bercampur mekonium ditandai dengan warna
ketuban hijau.
10) Tali pusat menumbung (tali pusat teraba atau terlihat saat periksa
lxiv
dalam).
11) Lilitan tali pusat (tali pusat melilit leher bayi)
c. Kala III dan IV
1) Retensio plasenta (normal jika plasenta lahir setelah 30 menit bayi
lahir).
2) Avulsi tali pusat (tali pusat putus dan plasenta tidak lahir).
3) Bagian plasenta tertahan (bagian permukaan plasenta yang
menempel pada ibu hilang, bagian selaput ketuban hilang/robek,
perdarahan pasca persalinan, uterus berkontraksi).
4) Atonia uteri (uterus lembek tidak berkontraksi dalam waktu 5 detik
setelah massage uterus, perdarahan pasca persalinan).
5) Robekan vagina, perineum atau serviks (perdarahan pasca
persalinan, plasenta lengkap, uterus berkontraksi).
6) Syok (nadi cepat lemah atau lebih dari 100x/menit, tekanan darah
sistolik kurang dari 90 mmHg, pucat, berkeringat dingin, nafas
cepat lebih dari 30x/menit, produksi urine sedikit kurang dari
30ml/jam).
7) Dehidrasi (meningkatnya nadi lebih dari 100x/menit, temperature
tubuhdiatas 38ºC, urine pekat, produksi urine sedikit 30ml/jam).
8) Pre-eklampsia berat atau Eklampsia (tekanan darah diastolik 110
mmHg atau lebih, tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih dengan
kejang).
9) Kandung kemih penuh (bagian bawah uterus sulit di palpasi, TFU
lxv
diatas pusat, uterus terdorong/condong kesatu sisi). (Murti
Ani,dkk.2021)
C. Asuhan Kebidanan Pada Persalinan Normal
1. Persalinan Kala 1 Fase Aktif Yaitu:
a. Kebutuhan Nutrisi
Asupan makanan dan minuman sangat dibutuhkan oleh ibu bersalin
untuk tenaga menghindari kelelahan yang berakibat dehidrasi, serta
menjamin kesejahteraan ibu dan janin. Selain itu, asupan nutrisi
menjadikan kontraksi dan seluruh proses melahirkan lebih.
Kandungan glukosa air gula atau air teh dapat memicu terjadinya
kontraksi uterus sehingga membantu proses persalinan.)
b. Istirahat
Selama proses persalinan berlangsung, ibu bersalin harus dapat
memenuhi kebutuhan istirahat secara cukup. Istirahat selama proses
persalinan (kala I,II,III, maupun IV) yang di maksud adalah ibu di
beri kesempatan untuk mencoba relaks tanpa adanya tekanan
emosional dan fisik, Hal ini di lakukan selama tidak adanaya his
(disela-sela his) ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit
akibat his, makan dan minum atau melkukan hal yang
menyenangkan yang lainnya untuk melepas lelah, atau apabila
memungkinkan ibu dapat tidur.
c. Teknik mengurangi nyeri
Nyeri persalinan merupakan bagian dari proses normal dapat
lxvi
diprediksi munculnya nyeri yakni sekitar hamil aterm sehingga ada
waktu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi persalinan,
nyeri yang muncul bersifat akut memiliki tenggang waktu yang
singkat, munculnya nyeri secara intermitten dan berhenti jika proses
persalinan sudah berakhir. Nyeri melahirkan merupakan masalah
yang sangat mencemaskan bagi ibu inpartu, khususnya ibu
primigravida dan biasanya yang paling sering dilakukan untuk
mengurangi rasa nyeri adalah dengan metode massage, Nyeri
melahirkan dapat diatasi dengan dengan menggunakan metode
massage effleurage .
Pasien yang mendapatkan massage effleurage ini akan
mempengaruhi psikologis lebih merasa tenang, nyaman, rileks, puas
dan akan lebih dekat dengan petugas kesehatan yang melayani
sehingga secara tidak langsung hal ini bisa mengurangi intensitas
nyeri yang dirasakan. Massage merupakan salah satu manajemen
nyeri non farmakologi untuk membuat tubuh menjadi rileks,
bermanfaat mengurangi rasa sakit atau nyeri, menentramkan diri,
relaksasi, menenangkan saraf dan menurunkan tekanan darah.
Effluerage adalah teknik pemijatan berupa usapan lembut,
lambat, dan panjang atau tidak putus-putus . Effleurage adalah
bentuk massase dengan menggunakan telapak tangan yang memberi
tekanan lembut ke atas permukaan tubuh dengan arah sirkular secara
berulang yang bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah,
lxvii
memberi tekanan serta meningkatkan relaksasi fisik dan mental.
Pijatan effleurage dapat juga dilakukan dipunggung, tujuan
utamanya untuk relaksasi.
Tatalaksana untuk mengurangi nyeri pada persalinan yaitu
dengan melakukan massage effleurage dan mengatur posisi pasien
dengan miring ke kiri di tempat tidur. Massage effleurage dilakukan
saat rahim mulai berkontraksi dengan cara menggunakan ujung jari
yang lembut dan ringan. Melakukan usapan dengan ringan dan tanpa
tekanan kuat, tetapi usahakan ujung jari tidak lepas dari permukaan
kulit. Pemberian implementasi keperawatan teknik massage
effleurage ini diharapkan dapat membantu pasien dalam mengontrol
nyeri yang dialami sehingga pasien dapat beradaptasi dengan nyeri
tersebut.( Atika, dkk.2021).
d. Mobilisasi
Ibu bersalin berhak untuk bergerak bebas selama persalinan
yang membuat diriya merasa nyaman dan menemukan posisi
persalinan yang menurutnya nyaman seperti miring kiri berjalan,
berdiri, duduk, berlutut, berjongkok atau merangkak, sangat
bermanfaat selama persalinan dan kelahiran. Dengan posisi yang
nyaman dapat membantu proses penurunan kepala janin sehingga
persalinan dapat berjalan lebih cepat (Indrayani, dkk, 2016).
e. Kebutuhan Eliminasi
Pemenuhan kebutuhan eliminasi selama persalinan perlu di
lxviii
lakukan oleh klien, untuk membantu proses kemajuan persalinan dan
meningkatkan kenyaman pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih
secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali
selama persalinan. Kandung kemih yang penuh dapat mengakibatkan
terhambatnya proses penurunan bagian terendah janin,menurunkan
efisiensi kontraksi uterus atau his, meningkatkan rasa tidak nyaman,
memperlambat kelahiarn plasenta pascasalin. (Dartiwen,dkk.2020)
f. Teknik mengedan yang baik dan benar
Menganjurkan ibu untuk mengedan mengikuti dorongan
alamiahnya selama kontraksi, beritahukan untuk tidak menahan
napas saat mengedan, anjurkan ibu menarik napas panjang, pada saat
mulai mengedan dan ibu mengatur nafas dengan baik dengan cara
membuang napas sedikit demi sedikit minta untuk berhenti
mengedan dan beristirahat di antara kontraksi, jika ibu berbaring
miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk mengedan
jika lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan dada, minta ibu
untuk tidak mengangkat bokong saat mengedan, tidak diperbolehkan
untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi, ibu harus
tetap tenang dan rileks, penolong persalinan tidak boleh mengatur
posisi mengedan, penolong persalinan harus memfasilitasi ibu dalam
memilih sendiri posisi mengedan dan menjelaskan alternatif-
alternatif posisi mengedan yang dipilih ibu tidak efektif.
(Dartiwen,dkk.2020)
lxix
2. Asuhan kebidanan persalinan pada Kala II Berikut beberapa asuhan
persalinan kala II yaitu:
a. Hadirkan pendamping
Persalinan sebagian besar dapat berjalan lancar, tetapi bukan
berarti tanpa bahaya karena perubahan keadaan dapat terjadi setiap
saat yang membahayakan ibu maupun janin. Dengan demikian setiap
persalinan selalu memerlukan pengawasan sehingga pertolongan
yang tepat dapat diberikan. Kehadiran seorang pendamping
persalinan selama proses persalinan akan membawa dampak yang
baik, karena dapat memberikan rasa nyaman, aman. Semangat serta
dukungan emosional yang dapat membesarkan hati, mengurangi rasa
sakit dan mempercepat proses persalinan. (Ida Bagus,(Walyani,2019)
b. Kebutuhan nutrisi cairan
Asupan makanan dan minuman sangat dibutuhkan oleh ibu
bersalin untuk tenaga menghindari kelelahan yang berakibat
dehidrasi, serta menjamin kesejahteraan ibu dan janin. Selain itu,
asupan nutrisi menjadikan kontraksi dan seluruh proses melahirkan
lebih. Kandungan glukosa air gula atau air teh dapat memicu
terjadinya kontraksi uterus sehingga membantu proses persalinan.
c. Hadirkan pendamping persalinan
Memfasiltasi dalam memberikan pendamping persalinan,
terutama pendampingan oleh suami selama porses persalinan,
menghadapi proses persalinan akan menimbulkan rasa takut dan
lxx
cemas pada ibu, hal ini dapat menyebabkan partus tidak maju yang
dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayinya. Kehadiran
suami, akan membawa ketenangan bagi ibu, karena proses persalinan
dibutuhkan pendamping persalinan.
d. Jaga privasi klien
Persalinan adalah waktu yang sangat berharga bagi seorang
perempuan, karena mereka mengalami beberapa kondisi yang tidak
dapat diduga sebelumnya. Kualitas yang diberikan oleh penyedia
layanan kesehatan bagi ibu bersalin, harus sangat diperhatikan.
Kualitas merupakan indikator dari pemanfaatan layanan yang
diterima oleh ibu bersalin yang terkait evaluasi positif dari pasien,
dimana ibu merasa percaya, senang, dan nyaman terhadap pelayanan
yang diberikan. Kenyamanan dan kepuasan pasien sangat diperlukan
untuk peningkatan kualitas sehubungan dengan merancang dan
mengelola sistim perawatan kesehatan. Hak privasi ibu dalam
persalinan, antara lain dengan menggunakan penutup atau tirai, tidak
menghadirkan orang lain tanpa sepengatahuan dan seizin ibu agar
ibu dapat merasa nyaman dan berkonsentrasi selama persalinan.
e. Pertolongan APN
Pada persalinan normal, seorang penolong persalinan baik
bidan atau tenaga medis lainnya perlu melakukan tidankan
pertolongan sebagai berikut:
lxxi
1) Saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm,letakkan kain bersih
dan kering yang dilipat 1/3 nya dibawah bokong ibu dan siapkan
kain handuk bersih diatas perut ibu. Lindungi perineum dengan 1
tangan dilapis kain steril dan tangan yang lain beralaskan kassa
dikepala bayi sambil melakukan tekanan lembut pada kepala
bayi.
2) Usap muka bayi dengan kain atau kassa bersih
3) Periksa lilitan tali pusat.
4) Tunggu kepala melakukan putaran paksi luar secara spontan
5) Letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi (secara
biparietal), gerakkan kepala ke arah bawah dan lateral tubuh
bayi hingga bahu depan melewati simfisis dan gerakkan kepala
ke atas dan lateral tubuh bayi sehingga bahu dan seluruh dada
dapat dilahirkan
6) Susuri dari bagian tangan hingga memegang mata kaki
7) Lakukan penilaian secara cepat pada bayi dan segera mengeringkan
tubuh bayi kemudian membungkus bayi dengan kain kecuali
bagian pusat
8) Lakukan palpasi abdomen.( Walyani,2019)
g. Komplikasi persalinan Kala II
a. Letak muka
terjadi apabila sikap janin ekstensi maksimal sehingga oksiput
mendekat ke arah punggung janin dan dagu menjadi bagian dari
lxxii
presentasinya
2) Letak lintang
Letak lintang terjadi apabila sumbu memanjang ibu secara tegak lurus
atau mendekati 90°.
3) Letak sungsang
Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang
dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bawah cavum
uteri.
3. Asuhan kebidanan persalinan pada Kala III
Berikut beberapa asuhan persalinan kala III yaitu:
a. Peregangan Tali Pusat Terkendali (ppt)
Tindakan manajemen aktif kala III yaitu:
1) Lakukan penyuntikan oksitosin 10 IU IM pada paha 1/3 bagian
atas bagian luar sebelum 2 menit.
2) Lakukan peregangan tali pusat terkendali dengan cara dekatkan
klem 5-10 cm depan vulva, satu tangan meregangkan tali pusat
dan tangan satu lagi diatas perut Ibu secara dorso kramal setelah
ada his baru melakukan PTT.
3) Jika plasenta telah keluar divulva pegang dengan kedua tangan
dan putar plasenta searah jarum jam
4) Lakukan pengecekan plasenta (selaput dan kotiledon)
5) Lakukan masase uterus dan ajarkan keluarga untuk masase. Dan
stimulasi puting susu merupakan salah satu cara untuk
lxxiii
mendapatkan oksitosin secara alami.
6) Cek perdarahan dan laserasi jalan lahir.(Nila Trisna,2019)
b. Komplikasi Pada Kala III
1) Antonia uteri
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim
yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan
terbuka dari tempat implementasi plasenta setelah bayi dan
plasenta lahir.
2) Inversio uteri
Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri terbalik
sebagian atau seluruhnya ke dalam kevum uteri.
3) Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah kondisi lepasnya plasenta tidak
bersamaan sehingga masih melekat pada tempat implantasi.
4) Robekan jalan lahir
Robekan adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir. baik
secara spontan maupun dengan alat atau tindakan. Robekan
perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi
luas apabila kepala janin terlalu cepat.
5) Syok obestetrik
Syok adalah suatu keadaaan disebabkan gangguan sirkulasi darah
ke dalam jaringan, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan
oksigen dan nutrisi jaringan yang tidak mampu mengelurkan hasil
lxxiv
metabolisme.(Yeni Sintya,dkk.2019)
4. Asuhan kebidanan persalinan pada Kala IV Berikut beberapa asuhan
persalinan kala IV yaitu:
a. Pemantauan kala IV
Adapun pemantauan kala IV pascasalin yaitu :
1) Pentau takanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan
perdarahan yang terjadi setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan
setiap 30 menit dalam 1 jam kedua kala IV. Jika ada temua yang
tidak normal, lakukan obsevasi, dan penilaian sering.
2) Massage uterus untuk memastikan menjadi keras setiap 15 menir
dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam 1 jam kedua kala
IV. Jika ada temua yang tidak normal, tingkatkan frekuensi
observasi dan penilaian.
3) Pantau temperatur tubuh ibu satu kali setiap jam selama 2 jam
pertama pascasalin. Jika temperatur meningkat, pantau lebih sering.
4) Penilaian perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit
dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam 1 jam kedua kala
IV.
5) Apabila kandung kemih penuh, bantu ibu untuk mengosongkan
kandung kemihnya, dan anjurkan untuk mengosongkan kandung
kemihnya setiap kali di perlukan
6) Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana menilai tonus dan perdarahan
uterus. Ajarkan juga cara pemijatakan uterus jika uterus menjadi
lxxv
lembek
7) Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Jagalah agar tubuh
dan kepala bayi terselimuti dengan baik, lalau berikan bayi kepada
ibu, dan ajarkan untuk dipeluk dan diberikan ASI.( Yeni
Sintya,dkk.2019)
b. Kebutuhan cairan dan nutrisi
Setelah memalui proses persalinan diharapkan ibu mendapatkan asupan
makan dan minum yang cukup. Asupan makanan yang cukup (makanan
utama atau makanan ringan) merupakan sumber dari glukosa darah,
yang merupakan sumber utama energy untuk sel-sel tubuh kadar gula
darah yang rendah dapat mengakibatkan hipoglikemia, sedangkan
asupan cairan yang kurang akan mengakibatkan dehidrasi pada ibu
bersalin.
c. Kebutuhan istirahat
Setelah proses persalinan selesai pada kala IV, sambil melakukam
observasi, ibu diizinkan untuk tidur apabila sangat kelelahan. Namun
tetap memotivasi ibu untuk tetap memberkan ASI dini kepada bayi.
Istirahat yang cukup setelah proses persalinan dapat membantu ibu
untuk memulihkan fungsi alat-alat reproduksi dan meminimalisasi
trauma pada saat persalinan. (Yeni Sintya,dkk. 2019)
lxxvi
D. Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus
1. Pengertian bayi baru lahir dan neonatus
Bayi Baru Lahir (BBL) adalah Bayi baru lahir adalah masa
kehidupan bayi pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari dimana
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim
menjadi di luar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir di
semua sistem (Cunningham, 2012). Bayi baru lahir normal adalah bayi
yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan
berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Manuaba,2021)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir secara normal dengan
presentasi kepala di bawah dan lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu.
Ciri-ciri bayi lahir normal yaitu bayi lahir dengan memiliki berat badan
lahir 2500- 4000 gram, panjang badan 48-52 cm, lingkar dada 30-38 cm,
lingkar kepala 33-35 cm, lingkar lengan 11-12 cm, lingkar dada 30-38
cm, memiliki nilai APGAR 7-10 dan tidak memiliki cacat bawaan.
(ErvinRufaindah,2021)
lxxvii
2. Perawatan Segera Setelah Bayi Lahir
Penilaian Bayi Baru Lahir
Penilaian awal yang dilakukan segera setelah lahir adalah dengan
menjawab 4 pertanyaan, yaitu:
a. Apakah bayi cukup bulan?
b. Apakah air ketuban jenih dan tidak bercampur mekonium?
c. Apakah bayi menangis atau bernafas?
d. Apakah tonus otot bayi baik?
Pencegahan Kehilangan Panas
Sistem pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum
berfungsi sempurna. Oleh karena itu, segera lakukan upaya pencegahan
kehilangan panas agar bayi tidak mengalami hipotermi. Hipotermi dapat
menyebabkan bayi sakit berat bahkan kematian. Hipotermi mudah terjadi
pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera
dikeringkan/diselimuti meskipun berada di dalam ruangan yang relatif
hangat. Cara mencegah terjadinya kehilangan panas dengan mengeringkan
tubuh bayi tanpa membersihkan verniks; meletakkan bayi di tubuh ibu;
menyelimuti dan memakaikan topi; dan tidak memandikan bayi sebelum 6
jam setelah lahir.
Asuhan Tali Pusat
Asuhan tali pusat dilakukan setelah dua menit segera setelah bayi
lahir, lakukan pemotongan dan pengikatan tali pusat. Hal yang perlu
diperhatikan dalam merawat tali pusat adalah sebagai berikut: cuci tangan
lxxviii
sebelum dan sesudah merawat tali pusat; menjaga umbilikus tetap kering
dan bersih; tidak boleh membungkus tali pusat dan memberikan bahan
apapun di umbilikus; dan lipat popok di bawah umbilikus.
Inisiasi Menyusu Dini
Segera setelah bayi lahir dan telah dilakukan perawatan tali pusat,
maka bayi diletakkan secara tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi
bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Kontak kulit dilakukan satu jam
lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu sendiri. Dukungan ayah dan
keluarga sangat diperlukan oleh ibu dan bayi. Manfaat menyusu dini
adalah: mengurangi 22% kematian bayi umur 28 hari; meningkatkan
keberhasilan menyusui secara eksklusif; merangsang produksi ASI; dan
memperkuat refleks menghisap bayi. (Diaz Capriani,dkk.2022)
3. Evaluasi Nilai APGAR Score
Pada saat untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan
menit kelima setelah kelahirannya menggunakan sistem APGAR Nilai
APGAR akan membantu dalam menentukan tingkat keseriusan dari depresi
bayi baru lahir yang terjadi serta langka segera yang akan diambil. Hal
yang perlu dinilai antara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung, reaksi
terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernapasan bayi, masing-
masing diberi tanda 0,1 atau 2. Sesuai dengan kondisi bayi. Klasifikasi
klinik:
a) Nilai 1-3 bayi dengan asfiksia berat
b) Nilai 4-6 bayi dengan asfiksia ringan dan sedang
lxxix
c) Nilai 7-10 bayi normal
Tabel 5 : Penilaian Bayi Dengan Metode APGAR
Sumber : Diaz Capriani,dkk.2022
4. Perubahan Fisiologis Pada Bayi Baru Lahir
Perubahan fisiologi pada bayi baru lahir merupakan suatu proses adaptasi
dengan lingkungan luar atau dikenal dengan kehidupan ekstrauteri.
Sebelumnya bayi cukup hanya beradaptasi dengan kehidupan intrauteri.
Perubahan fisiologis bayi baru lahir, di antaranya sebagai berikut.
Sistem pernapasan
Perubahan sistem ini diawali dari perkembangan organ paru itu
sendiri dengan perkembangan struktur bronkus, bronkiolus, serta alveolus
yang terbentuk dalam proses kehamilan sehingga dapat menentukan proses
pematangan dalam sistem pernapasan. Proses perubahan bayi baru lahir
adalah dalam hal bernapas yang dapat dipengaruhi oleh keadaan hipoksia
pada akhir persalinan dan rangsangan fisik (lingkungan) yang merangsang
pusat pernapasan medula oblongata di otak.
Selain itu juga terjadi tekanan rongga dada karena kompresi paru
lxxx
selama persalinan, sehingga merangsang masuknya udara ke dalam paru,
kemudian timbulnya pernapasan dapat terjadi akibat interaksi sistem
pernapasan itu sendiri dengan sistem kardiovaskular dan susunan saraf
pusat. Selain itu adanya surfaktan dan upaya respirasi dalam bernapas
dapat berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru serta
mengembangkan jaringan alveolus paru agar dapat berfungsi. Surfaktan
tersebut dapat mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu
menstabilkan dinding alveolus untuk mencegah kolaps.
Sistem peredaran darah
Pada sistem peredaran darah, terjadi perubahan fisiologis pada bayi
baru lahir, yaitu setelah bayi itu lahir akan terjadi proses pengantaran
oksigen ke seluruh jaringan tubuh, maka terdapat perubahan, yaitu
penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan
duktusarteriosus antara arteri paru dan aorta. Perubahan ini terjadi akibat
adanya tekanan pada seluruh sistem pembuluh darah, di mana oksigen
dapat menyebabkan sistem pembuluh darah mengubah tenaga dengan cara
meningkatkan atau mengurangi resistensi. Perubahan tekanan sistem
pembuluh darah dapat terjadi saat tali pusat dipotong, resistensinya akan
meningkat dan tekanan atrium kanan akan menurun karena darah kurang
ke atrium berkurang yang dapat menyebabkan volume dan tekanan atrium
kanan juga menurun.
Proses tersebut membantu darah mengalami proses oksigenasi
lxxxi
ulang, serta saat terjadi pernapasan pertama dapat menurunkan resistensi
dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Kemudian oksigen pada
pernapasan pertama dapat menimbulkan relaksasi dan terbukanya sistem
pembuluh darah paru yang dapat menurunkan resistensi pembuluh darah
paru. Terjadinya peningkatkan sirkulasi paru mengakibatkan peningkatan
volume darah dan tekanan pada atrium kanan, dengan meningkatkan
tekanan pada atrium kanan akan terjadi penurunan atrium kiri, foramen
ovale akan menutup, atau dengan pernapasan kadar oksigen dalam darah
akan meningkat yang dapat menyebabkan duktus arteriosus mengalami
kontriksi dan menutup. Perubahan lain adalah menutupnya vena
umbilikus, duktus venosus, dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup
secara fungsional dalam beberapa menit setelah tali pusat diklem dan
penutupan jaringan fibrosa membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan
Sistem Pengaturan Tubuh
Ketika bayi lahir dan langsung berhubungan dunia luar
(lingkungan) yang lebih dingin, maka dapat menyebabkan air ketuban
menguap melalui kulit yang dapat mendinginkan darah bayi. Pada saat
lingkungan dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa melalui mekanisme
menggigil yang merupakan cara untuk mendapatkan kembali panas
tubuhnya serta hasil penggunaan lemak cokelat untuk produksi panas.
Adanya timbunan lemak tersebut menyebabkan panas tubuh meningkat,
sehingga terjadilah poses adaptasi. Dalam pembakaran lemak, agar
menjadi panas, bayi menggunakan kadar glukosa. Selanjutnya cadangan
lxxxii
lemak tersebut akan habis dengan adanya stres dingin dan bila bayi
kedinginan akan mengalami proses hipoglikemia, hipoksia, dan asidosis.
Bayi kehilangan panas melalui empat cara, yaitu:
a) Konveksi: pendinginan melaui aliran udara di sekitar bayi. Suhu udara di
kamar bersalin tidak boleh kurang dari 20 C dan sebaiknya tidak
berangin. Tidak boleh ada pintu dan jendela yang terbka. Kipas angin dan
AC yang kuat harus cukup jauh dari area resusitasi. Troli resusitasi harus
mempunyai sisi untuk meminimalkan konveksi ke udara sekitar bayi.
b) Evaporasi: kehilangan panas melalui penguapan air pada kulit bayi yang
basah. Bayi baru lahiryang dalam keadaan basah kehilangan panas
dengan cepat melalui cara ini. Karena itu, bayi harus dikeringkan
seluruhnya, termasuk kepala dan rambut, sesegera mungkin setelah
dilahirkan.
c) Radiasi: melalui benda padat dekat bayi yang tidak berkontak secara
langsung dengan kulit bayi. Panas dapat hilang secara radiasi ke benda
padat yang terdekat, misalnya jendela pada musim dingin. Karena itu
bayi harus diselimuti, termasuk kepalanya, idealnya dengan handuk
hangat.
d) Konduksi: melalui benda-benda padat yang berkontak dengan kulit bayi
(Aziz Alimul Hidayat,2021)
5. Kelainan Pada Bayi Baru Lahir
Contoh kelainan-kelainan pada bayi baru lahir yang sering terjadi
adalah sebagai berikut:
lxxxiii
a. Labioskizis dan labiopalatoskizis
b. Atresia esofagus
c. Atresia rekti dan anus
d. Hirschprung
e. Obstruksi biliaris
f. Omfalokel
g. Hernia diafragmatika
h. Meningokel, ensefalokel
i. Hidrosefalus
j. Fimosis
k. Hipospadia (Titiek Indayanti dkk, 2022)
6. Macam-Macam Reflek Pada Bayi Baru Lahir
Macam-Macam Refleks Pada Bayi Baru lahir menurut Sri Anggraini,
2021 yaitu:
a. Reflek berkedip
Bayi akan berkedip bila dilakukan 4 atau 5 ketuk pertama pada
batang hidung pada saat mata terbuka
b. Reflek mendengar
Mendengar suara keras bayi akan mengedipkan mata, mengerutkan
wajah, berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat, bernapas lebih
cepat, dan ritme jantung bertambah cepat
b. Reflek menghisap
Refleks mencium-cium dan refleks hisap biasanya timbul bersama-
lxxxiv
sama dengan merangsang pipi. refleks-refleks ini mempunyai fungsi
eksploratif yang menenangkan. Merupakan hal yang terkenal bahwa
bayi pada bulan-bulan pertama ingin menyelidiki keliling melalui
daerah mulut dari itu kedua refleks ini disebut refleks oral. Kedua
refleks ini akan menghilang sekitar 6 bulan.
c. Reflek menelan
Refleks menelan adalah refleks gerakan menelan benda-benda yang
didekatkan ke mulut, memungkinkan bayi memasukkan makanan ada
secara permainan tapi berubah sesuai pengalaman.
d. Neck righting reflek
Gerakannya rotasi kepala kesamping, maka badan akan mengikuti
segmen tersebut sampai bayi usia 6 bulan. Gerakan tubuh berputar
mengikuti kepala secara segmental perbagian
e. Tonic neck reflek
Akan terjadi peningkatan kekuatan otot (tomus) pada lengan dan
tungkai sisi ketika bayi Anda menoleh ke salah satu sist.
f. Galant retlek
Refleks ini membantu rentang gerak di pinggang bayi Ini merupakan
persiapan untuk bayi mulai merangkak sebelum bisa berjalan.
g. Palmar Grasp
Refleks menggenggam terjadi jika anda meletakkan jari-jari anda di
telapak tangannya ia akan memberi respons dengan menggenggam
jemari Anda dengan kencang
lxxxv
h. Plantar reflek
Refleks kaki yang terjadi secara alami pada bayi dan anak kecil
hingga mereka berusia sekitar 6 bulan hingga 2 tahun. Refleks ini
biasanya diuji oleh dokter dengan membelai telapak kaki. Saat
jempol kaki menekuk ke atas dan kembali ke bagian atas kaki,
sementara empat jari kaki lainnya menyebar satu sama lain.
i. Babinski
Refleks babinski adalah semacam refleks genggam kaki. Bila ada
rangsang pada telapak kaki, ibu jari kaki akan bergerak ke atas dan
jarijari lain membuka. Kedua refleks ini akan menghilang pada
sekitar 6 bulan
j. Reflek Moro
Dalam gerak refleks ini akan mengembangkan tangan kesamping
lebar-lebar, melebarkan jari-jari atau mengembalikan tangannya
dengan tarikan cepat seakan ingin memeluk seseorang (dari itu
direfleks ini juga disebut refleks peluk).
k. Reflek walking
Refiek ini dapat dilihat ketika kita mengangkat bayi dengan
memegang ketiaknya (posisi bayi berdiri). Bayi secara refleks akan
melangkahkan kakinya perlahan-lahan. (Sri Anggraini,2021)
5. Bounding Attachment
Bounding attachment keterikatan awal/ikatan batin adalah suatu
proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus menerus antara bayi
lxxxvi
dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan keduanya
pemenuhan emosional dan saling membutuhkan (Ai yeyeh, R., Yulianti.
L., & Liana M. L. 2020).
Tahap-tahap bounding attachment menurut Susilawati dalam bukunya
yaitu:
a. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata,
menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal
bayinya.
b. Bounding (keterikatan).
c. Attachment, perasaan sayang yang individu dengan individu lain
Faktor-faktor attachment masa nifas adalah:
a. Paritas
Wanita primipara lebih mudah stress pada masa nifas. Hal ini terjadi
karena melahirkan untuk pertama kali akan mengalami proses adaptasi
terhadap perubahan. Adaptasi dari berbagai macam perubahan terutama
psikologisnya. Ibu yang mengalami baby blues syndrom akan
mempengaruhi bounding attachment antara ibu dan bayi (Susilawati, D.,
Nilakesuma, N. F., & Risnawati. 2020).
Penelitian lain menunjukkan bahwa mayoritas yang melaksanakan
bounding attachment adalah ibu yang memiliki anak satu, ini
dikarenakan bayi yang lahir merupakan anggota keluarga terbaru, yang
membuat ibu-ibu muda tertarik sehingga melakukan bounding
attachment. Jadi motivasi ibu-ibu tersebut melakukan bounding
lxxxvii
attachmnet akibat keingin tahuan ibu yang lebih besar (Wahyuni, S.
2021).
b. Dukungan suami dan keluarga
Wahyuni, S. (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa 87,5%
pelaksanaan bounding attachment kurang karena salah satu penyebabnya
adalah kurangnya dukungan suami. Sesuai dengan penelitian Susilawati,
D., Nilakesuma, N. F., & Risnawati. 2020) menjelaskan dukungan dari
suami dan keluarga yang baik pada ibu nifas dapat mempengaruhi
terlaksananya bounding attachment. Ibu nifas yang mendapatkan
dukungan sosial untuk beradaptasi dengan perubahan psikologis maka
menjadikan psikologis tidak terganggu sehingga menciptakan bounding
attachment yang baik.
c. Respon orang tua
Respon suami terhadap bayi baru lahir berbeda- beda, hal ini dapat
disebabkan karena reaksi emosi maupun pengalaman masalah lain adalah
jumlah anak, keadaan ekonomi, respon ayah yang mendukung. Orang tua
yang mengharapkan kehadiran anak dalam kehidupannya tentu akan lebih
memberikan respon emosi yng berbeda dengan orang tua yang tidak
menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon positif mempengaruhi
terlaksananya bounding attachment, dalam hal ini keterlibatan ayah sangat
mempengaruhi terlaksananya bounding attachment. Keterlibatan tersebut
adalah keterlibatan ayah dalam menciptakan hubungan yang baik dengan
bayi yaitu memberikan dukungan kepada ibu berperan aktif dalam
lxxxviii
perawatan pada bayi (Susilawati, D., Nilakesuma, N. F., & Risnawati.
2020).
d. Peran bidan
Hasil penelitian Wahyuni, S. (2021) menyebutkan bahwa salah satu
penyebab pelaksanaan bounding attachment kurang karena persepsi
bidan belum sama, pelaksanaan bounding attachment seperti inisiasi
menyusu dini harus sama diantara-bidan-bidan sehingga dengan persepsi
bidan yang baik akan cenderung untuk melakukan bounding attachment
dengan baik dimana peran bidan dalam pelaksanaan bounding
attachment adalah membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu
dan bayi dalam jam pertama pasca melahirkan memberikan dorongan
pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya
baik melalui sikap, ucapan dan tindakan.
e. Dengan adanya bayi yang baru lahir dapat terjadi sibling rivalry. Jika
anak pertama tidak diperhatikan merasa tidak senang akan kehadiran
bayi maka anak pertama melakukan kontak fisik (mencubit, memukul
dll) respon ini akan mempengaruhi proses bounding attachment dimana
bayi akan merasa terganggu dengan cara menangis. Apabila ini terjadi
berulang-ulang tujuan dari bounding attachment tidak tercapai (Asiyah,
N., M, Anny, R., & Kristiani, D. 2022).
6. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Berdasarkan Evidance Based
Asuhan yang dapat diberikan pada bayi baru lahir adalah perawatan
tali pusat dengan topical ASI untuk mencegah infeksi dan mempercepat
lxxxix
pelepasan tali pusat. Setelah bayi lahir tali pusat dipotong. kemudian akan
terjadi proses kematian jaringan.
Disini tali pusat dirawat menggunakan kolostrum/ASI dilakukan
dengan cara mengoleskan ASI pada tali pusat bayi baru lahir dan dijaga
tetap bersih dan kering agar tidak terjadi infeksi dan mempercepat
pelepasan tali pusat dari perut bayi.
Manfaat pemberian kolostrum kepada bayi baru lahir adalah
sebagai proteksi dari infeksi yang disebabkan virus, bakteri, parasit dan
antigen lainnya. Protein dalam kolostrum yang tinggi mencapai 4,1 gr%
juga berperan dalam perbaikan sel-sel yang rusak, mempercepat proses
penyembuhan sehingga mampu mempercepat waktu pelepasan tali pusat.
Kolostrum memiliki banyak manfaat, antara lain pemenuhan gizi
bayi, berperan sebagai zat kekebalan tubuh, anti inflamasi, anti bakterial,
anti viral, antiparasit dan anti alergi. Perawatan tali pusat dengan metode
topikal ASI adalah perawatan tali pusat yang dibersihkan dan dirawat
dengan cara mengoleskan kolostrum pada luka dan sekitar luka tali pusat.
Penggunaan topikal ASI sebagai metode perawatan tali pusat pada
bayi baru lahir merupakan regimen yang tepat untuk mempercepat
pelepasan tali pusat, hal ini disebabkan topikal ASI mengandung kadar
protein tinggi yang berperan dalam proses perbaikan sel-sel yang rusak
dan membantu proses penyembuhan luka sehingga mampu mempercepat
waktu pelepasan tali pusat.
Protein dalam ASI akan berikatan dengan protein dalam tali pusat,
xc
sehingga membentuk reaksi imun dan terjadi proses apoptosis.
Pembelahan dan pertumbuhan sel dibawah kendali genetik, sel mengalami
kematian secara terprogam.
Gen dalam sel tersebut berperan aktif pada proses kematian sel.
Sehingga akan mempercepat pengeringan jaringan sisa potongan tali
pusat dan tali pusat cepat mengerut dan menjadi hitam atau mumifikasi
tali pusat, kemudian lepas. Protein sebagai pembentuk ikatan esensial
tubuh pada ASI akan mempercepat proses penyembuhan luka pada dasar
tali pusat sehingga pelepasan tali pusat lebih cepat.
Dari hasil penelitian pada 15 bayi baru lahir pada kelompok
interervensi yang tali pusatnya dirawat dengan topikal ASI (50%)
didapatkan hasil bahwa pelepasan tali pusat masuk kategori cepat
sebanyak 13 bayi (43,3%) dan normal sebanyak 2 bayi (6,7%).
Sedangkan pada kelompok kontrol 15 bayi baru lahir yang tali
pusatnya dirawat dengan kassa kering (50% ), didapatkan bahwa
pelepasan tali pusat masuk kategori cepat sebanyak 6 bayi (20%) dan
normal sebanyak 9 bayi (30%).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perawatan tali pusat
dengan topikal ASI mayoritas waktu pelepasan tali pusatnya cepat,
sedangkan pada kelompok kontrol yang dirawat dengan kassa kering
mayoritas waktu pelepasan tali pusatnya normal. (Happy
Marthalena,dkk.2019)
xci
E. Asuhan masa nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Beberapa pengertian masa nifas adalah sebagai berikut
a. Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah persalinan
selesai sampai 6 minggu atau 42 hari. Selama masa nifas, organ
reproduksi secara perlahan akan mengalami perubahan seperti keadaan
sebelum hamil. Perubahan organ reproduksi ini disebut involusi
(Maritalia, 2022).
b. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alatalat kandungan kembali seperti pra hamil
xcii
(Vivian Nanny Lia Dewi, 2020).
c. Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali
organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6
minggu (Elisabeth Siwi Walyani,dkk.2020)
Dari berbagai uraian yang menjelaskan tentang pengertian masa
nifas, dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah dimulainya setelah
persalinan selesai dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama 6 minggu. (Nurfantri,
2022)
2. Tujuan Masa Nifas
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan
masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60% kematian ibu
akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas
terjadi dalam 24 jam pertama.
Tujuan asuhan masa nifas normal terbagi 2 yaitu:
Tujuan umum
Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh
anak.
Tujuan khusus
Menurut Saifuddin, A. Tujuan asuhan masa nifas adalah:
a. Menjaga kesehatan ibu dan bainya baik fisik maupun psikologik
b. Melakukan skiring, mendeteksi masalah, atau merujuk bila terjadi
xciii
komplikasi pada ibu maupun bayinya
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan Diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada
bayinya dan perawatan bayi schat.
d. Memberikan pelayanan keluarga berencana (KB)
(WahidaYuliana,2021)
3. Perubahan Fisiologi Pada Masa Nifas
Masa nifas atau puerineum merupakan perode yang terjadi setelah
persalinan dimana alat-alat kandungan akan kembali dalam pemulihan
seperti sebelum hamil yang kurang lebih selama 6 minggu. Selama masa
nifas ini terjadi banyak perubahan fisiologis pada ibu. Akan terjadi
perubahan pada alat- lat kandungan seperti genetalia baik eksternal
maupun internal. perubahan-perubahan tersebut diantaranya seperti
perubahan pada vulva baik pada labia mayora maupun minora, vagina,
perineum yang mungkin terdapat jahitan perineum atau tidak, serviks,
kembalinya keadaan uterius menjadi seperti sebelum hamil, endometrium,
ligamen, payudara yang akan keluar kolostrum dan asi, serta terdapat
cairan yang keluar selama masa nifas yang disebut lokhea. Sebagai bidan
dalam masa nifas dan pada periode laktasi mempunyai peran dan
tanggungjawab untuk memberikan pelayanan dan edukasi dalam masa
tersebut. Selain itu juga bidan harus dapat memahami perubahan
penerimaan ibu terhadap kondisi yang sedang terjadi.
Pada periode laktasi bidan selain memberikan penjelasan bahwa proses
xciv
menyusui itu adalah fisiologis, juga memberikan edukasi dan praktik
bagaimana persiapan menyusui, cara menyusui yang benar, posisi bayi
pada saat menyusui yang benar, cara menyendawakan bayi setelah
menyusui, perawatan payudara dan pelayanan nifas lainnya serta
perawatan pada bayi baru lahir. Diharapkan ibu akan lebih bisa melakukan
adaptasi pada masa nifas dan periode laktasi. Karena pada masa ini
biasanya apabila tidak bisa beradaptasi maka bisa kemungkinan terjadi
gangguan psikologis pada ibu. (IkaWijayanti,2021)
4. Perubahan Psikologis Pada Masa Nifas
Perubahan psikologi pada masa nifas terjadi karena pengalaman
persalinan, tanggung jawab peran ibu, adanya anggota keluarga baru (bayi)
dan peran baru sebagai ibu bagi bayi. Masa nifas merupakan periode
emosional, yang di manifestasi dengan adanya emosi yang labil dan
mudah tersinggung. Hal ini merupakan dasar terjadinya kelainan
psikologis pada masa nifas. Maka sangat perlu untuk melakukan skrining,
baik pada masa kehamilan dan nifas. Pada proses adaptasi setelah ibu
melahirkan, ibu akan melalui fase Taking In, Taking Hold dan Letting go.
Fase yang pertama yaitu taking in, yang berlangsung dari hari pertama
sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu fokus pada
dirinya sendiri, membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat, memerlukan
bimbingan dalam merawat bayi. Selanjutnya pada fase kedua, taking hold
di akhir hari ketiga sampai hari ke sepuluh sudah aktif, mandiri dan
memulai aktivitas, fokus pada bayi dan menyusui. Kemudian pada fase
xcv
ketiga, Letting go di hari ke sepuluh sampai enam minggu masa nifas, ibu
sudah mengubah peran barunya dan menyadari bahwa bayi adalah bagian
dari dirinya dan ibu sudah menjalankan perannya.
Dalam hal ini, kehamilan, persalinan dan nifas juga perubahan menjadi
orang tua menyebabkan terjadinya keadaan krisis yang membutuhkan
adaptasi, apabila adaptasi tersebut tidak berhasil maka wanita tersebut
akan mengalami depresi. Masalah psikososial timbul bila ibu kurang siap
dan dukungan yang kurang dalam menghadapi masa nifas.
(Indryani,dkk.2023)
5. Kebutuhan Dasar Masa Nifas
Dalam hal ini, kehamilan, persalinan dan nifas juga perubahan menjadi
orang tua menyebabkan terjadinya keadaan krisis yang membutuhkan
adaptasi, apabila adaptasi tersebut tidak berhasil maka wanita tersebut
akan mengalami depresi. Masalah psikososial timbul bila ibu kurang siap
dan dukungan yang kurang dalam menghadapi masa nifas.
Kualitas dan kuantitas nutrisi makanan yang dikonsumsi sangat
mempengaruhi produksi Air Susu Ibu (ASI). Ibu menyusui harus
mendapatkan tambahan zat makanan sebesar 800 kkal yang digunakan
untuk memproduksi ASI dan untuk aktivitas Ibu.
Air Susu Ibu (ASI) sangat penting karena ASI adalah makanan utama
bayi/nutrisi terbaik bagi bayi, dengan ASI bayi akan tumbuh sempurna
sebagai manusia yang sehat, bersifat lemah lembut dan mempunyai IQ
yang tinggi. ASI mengandung Asam Dekosa Heksanoid (DHA) maka bayi
xcvi
yang diberi ASI secara bermakna akan mempunyai IQ yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi susu bubuk atau susu sapi.
Selama menyusui, ibu dengan status gizi baik rata-rata memproduksi
ASI sekitar 800cc yang mengandung± 600 kkal sedangkan ibu dengan
status gizi kurang, biasanya memproduksi kurang dari 600 kkal. Meskipun
Begitu, status gizi tidak berpengaruh besar pada mutu ASI melainkan
Volumenya, Adapun Kebutuhan ibu nifas antara lain:
a. Nutrisi dan cairan
b. Ambulasi
c. Eliminasi: buang air kecil dan buang air besar
d. Kebersihan diri dan perineum
e. Istirahat
f. Seksual
g. Keluarga berencana
h. Latihan/senam nifas
1) Nutrisi dan cairan
Ibu nifas memerlukan dan membutuhkan nutrisi yang cukup dan seimbang
yaitu kebutuhan protein, kalori dan karbohidrat. Gizi pada ibu menyusui
sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan
untuk tumbuh kembang bayi. Apabila pemberian ASI berhasil baik, maka
berat badan bayi akan meningkat, integritas kulit baik, tonus otot serta
kebiasaan makan yang memuaskan. Ibu menyusui tidak harus terlalu ketat
dalam mengatur nutrisinya, yang terpenting adalah makanan yang
xcvii
menjamin pembentukan air susu yang berkualitas dalam jumlah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya.(Lina Fitriani,2021)
2) Ambulasi
Di zaman dahulu, perawatan nifas sangat konservatif, ibu nifas atau ibu
yang selesai persalinan harus tidur telentang selama 40 hari. Namun pada
zaman sekarang perawatan nifas lebih aktif dengan dianjurkan untuk
melakukan mobilisasi dini Adapun Perawatan pada masa nifas dengan
mobilisasi dini mempunyai keuntungan yaitu:
a) Melancarkan/memperlancar dalam pengeluaran lokia dan mengurangi
infeksi nifas
b) Mempercepat involusi uterus atau kembalinya uterus ke bentuk semula
sebelum hamil
c) Melancarkan/memperlancar fungsi alat gastrointestinal dan alat
kelamin
d) Meningkatkan peredaran darah sehingga dapat mempercepat fungsi
ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.(Lina Fitriani,2021)
3) Eliminasi
Buang air kecil (BAK) setelah ibu melahirkan, terutama pada ibu yang
baru pertama kali melahirkan akan terasa pedih saat BAK. Keadaan ini
kemungkinan disebabkan adanya iritasi pada uretra sehingga ibu takut
BAK. Apabila kandung kemih penuh, maka harus diusahakan supaya
penderita/ibu nifas dapat buang air kecil sehingga tidak memerlukan
tindakan kateterisasi, karena memungkinkan akan membawa bahaya
xcviii
berupa infeksi.
Miksi/buang air kecil disebut normal bila dapat buang air kecil (BAK)
spontan 3-4 jam atau dalam 6 jam pertama setelah melahirkan harus
mampu BAK, ibu nifas diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila
tidak maka dilakukan tindakan berikut ini:
a) Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat pasien
b) Mengompres air hangat di atas simfisis
c) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK.
d) Ibu diupayakan untuk memperbanyak minum air hangat.
(Lina Fitriani,2021)
4) Kebersihan diri dan perineum
Personal Hygiene
Bagi ibu nifas yang belum mampu turun dari tempat tidur, maka
Mandi di tempat tidur dapat dilakukan sampai ibu dapat mandi
sendiri di kamar mandi. Adapun bagian yang paling utama
dibersihkan adalah puting susu dan mammae.(Lina Fitriani,2021)
5) Puting susu
Puting susu harus diperhatikan kebersihannya dan termasuk
luka pecah (rhagade) harus segera diobati karena kerusakan puting
susu merupakan port de entrée yang dapat menimbulkan mastitis.
(Lina Fitriani,2021)
6) Lochea
Lochea adalah cairan yang keluar dari vagina atau jalan lahir
xcix
pada masa nifas yang tidak lain merupakan cairan/secret dari
rahim terutama luka plasenta. Pada 2 hari pertama, warna lokchea
berupa darah disebut lokhia rubra, setelah 3-7 hari merupakan
darah encer disebut lochea serosa, dan pada hari ke 10 menjadi
cairan putih atau kekuning-kuningan disebut lochea alba.
Lochea yang normal baunya khas yaitu berbau amis dan
Lochea yang berbau busuk menandakan adanya infeksi. Jika
lochea berwarna merah setelah 2 minggu, ada kemungkinan
tertinggalnya sisa plasenta atau dikarenakan involusi yang kurang
sempurna yang sering disebabkan retrolexio uteri. Tanda-tanda
pengeluaran lochea yang abnormal sebagai berikut:
a) Pendarahan berkepanjangan atau lama
b) bbbPengeluaran lochea tertahan
c) Rasa nyeri yang berlebihan
d) Terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber
perdarahan
e) Terjadi infeksi intrauterine(Lina Fitriani,2021)
7) Perineum
Perawatan perineum, apabila setelah buang air besar atau
buang air kecil, perineum harus dibersihkan secara rutin. Adapun
caranya dengan dibersihkan menggunakan sabun yang lembut
minimal sehari sekali. Terkadang ibu akan takut jahitan terlepas,
merasa sakit pada perineum sehingga perineum tidak dibersihkan
c
atau dicuci dengan baik. Cairan sabun yang hangat atau sejenisnya
sebaiknya dipakai setelah ibu buang air kecil atau buang air besar.
Sebelum ataupun sesudah mengganti pembalut harus cuci tangan
dengan larutan desinfektan atau sabun. Pada Ibu nifas perlu
diberitahu tentang cara mengganti pembalut, yaitu bagian dalam
jangan sampai terkontaminasi oleh tangan. Cara memakainya
yaitu dari depan ke belakang dan mengganti dua kali sehari atau
terasa penuh diganti. (Lina Fitriani,20210
8) Istirahat
Pada umumnya perempuan sangat lelah dan capek setelah.
melahirkan, dan akan terasa lebih lelah apabila partus berlangsung
lama. Seorang ibu nifas baru akan merasa cemas yang muncul
dalam pikirannya yaitu apakah dia mampu merawat anaknya atau
tidak setelah melahirkan. Ha ini dapat mengakibatkan susah tidur,
sehingga terjadi gangguan pola tidur karena beban kerja
bertambah, ibu harus bangun malam untuk menyusui, mengganti
popok yang sebelumnya, yang sebelum pernah dilakukan. Berikut
hal-hal yang dapat dianjurkan pada ibu untuk mencegah cemas
pada ibu nifas yaitu:
a) Beristirahat yang cukup untuk mencegah
kelelahan yang berlebihan.
b) Menganjurkan untuk kembali ke aktivitas sehari-
hari yang tidak berat. (Lina Fitriani,2021)
ci
9) Seksusal
Pada ibu nifas liang vagina akan kembali dalam keadaan
semula sebelum hamil dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman
untuk melakukan hubungan suami istri begitu darah merah
berhenti, dan ibu dapat mencoba memasukkan 1-2 jari ke dalam
vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak
merasakan ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai
melakukan hubungan suami istri kapan pun ibu siap.
Di masyarakat banyak budaya yang memiliki tradisi
memulai hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu,
misalnya setelah 40 hari atau 60 minggu setelah persalinan.
Keputusan bergantung pada pasangan bersangkutan atau
kesepakatan pasangan suami istri.
10) Keluarga Berencana
Kontrasepsi berasal dari kata kontra mencegah atau
melawan dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur
yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan.
Adapun tujuan dari kontrasepsi adalah menghindari atau
mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara
sel telur matang dengan sel sperma tersebut. Kontrasepsi yang
cocok untuk ibu pada masa nifas antara lain Metode Amenorhea
Laktasi (MAL.), Pil progestin (mini pil). Suntikan progestin,
Kontrasepsi implan dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
cii
Metode Amenorhea Laktasi (MAL)
Metode Amenorhea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang
mengandalkan pemberian ASI dari ibu. MAL dapat dikatakan
sebagai kontrasepsi apabila terdapat memenuhi syarat sebagai
berikut:
a) Menyusui secara penuh, tanpa susu pendamping
b) Belum haid sejak masa nifas selesai
c) Umur bayi kurang dari 6 bulan
Pil Progesti (Mini Pil)
Metode ini cocok sangat aman digunakan oleh ibu
menyusui yang ingin memakai pil KB karena sangat efektif pada
masa laktasi. Efek samping utama adalah gangguan perdarahan
(perdarahan bercak/spotting) atau perdarahan tidak teratur).
Suntikan Progestin
Metode kontrasepsi ini sangat efektif dan aman, dapat
dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi, kembalinya
kesuburan lebih lambat (rata-rata 4 bulan) serta cocok untuk masa
laktasi karena tidak menekan produksi ASI.
Kontrasepsi Implan
Kontrasepsi ini efektif selama 5 tahun untuk Norplant, 3
tahun untuk Jadena, Indoplant dan Implanon. Kontrasepsi ini
dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi.
Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan khusus pada petugas
ciii
kesehatan. Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut.
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
Alat kontrasepsi dalam rahim ini memiliki beberapa jenis
yaitu CUT-380A, Nova T dan Lippes Lopps.
Beberapa keuntungan dan kelebihan yang diberikan
oleh kontrasepsi jenis ini adalah sebagai berikut:
a. Efektifitas tinggi (0,6-0,8 kehamilan/100 kehamilan dalam 1
tahun pertama, 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan)
b. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380 A
dan tidak perlu diganti)
c. Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan meningkatkan
kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil
d. Tidak mempengaruhi produksi ASI
e. Segera mungkin dapat dipasang setelah melahirkan dan
sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
(IrmaMayaPuspita,2022)
11) Latihan/senam nifas
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah
melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali. Senam nifas
bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya
komplikasi, memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung,
otot dasar panggul dan oto perut.
Pada saat hamil otot perut dan sekitar rahim serta vagina telah teregang
civ
dan melemah. Latihan senam nifas dilakukan untuk membantu
mengencangkan otot-otot tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya
nyeri punggung di kemudian hari dan terjadinya kelemahan pada otot
panggul sehingga dapat mengakibatkan ibu tidak bisa menahan BAK.
Gerakan senam nifas ini dilakukan dari gerakan yang paling sederhana
hingga yang tersulit. Dan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terus
menerus (continue). Lakukan pengulangan setiap 5 gerakan dan tingkatkan
setiap hari sampai 10 kali. (LinaFitriani,2021)
6. Peran dan Tanggung Jawab Bidan Dalam Masa Nifas
Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas adalah memberi
perawatan dan dukungan sesuai kebutuhan ibu, yaitu melalui kemitraan
(partnership) dengan ibu. Selain itu, dengan cara:
a. Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas
b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada masa
nifas
c. Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan prioritas masalah
d. Melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana
e. Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang telah diberikan
f. Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien
(Bahiyatun,2022)
7. Tahapan Masa Nifas
Tahapan masa nifas menurut Reva Rubin:
a. Periode Taking In (hari ke 1-2 setelah melahirkan)
cv
1) Ibu pasif dan tergantung dengan orang lain
2) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran perubahan tubuhnya
3) Ibu akan mengulangi pengalaman-pengalaman waktu melahirkan
4) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan
keadaan tubuh ke kondisi normal
5) Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan
peningkatan nutrisi. Jika ibu Kurang nafsu makan menandakan
kondisi tubuh tidak normal.
b. Periode Taking On/Taking Hold (hari ke-2-4 setelah melahirkan)
1) Ibu memperhatikan kemampuan sebagai orang tua dan
meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya
2) Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh bayi,
BAK, BAB dan daya tahan tubuh bayi
3) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi seperti
menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok.
4) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan
pribadi
5) Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena merasa
tidak mampu membesarkan/merawat bayinya
c. Periode Letting Go
1) Terjadi setelah pulang ke rumah dan dipengaruhi oleh dukungan
serta perhatian suami serta keluarga
2) Mengambil tanggung jawab dalam perawatan bayi dan memahami
cvi
kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam interaksi
sosial
3) Depresi postpartum rentan terjadi pada masa ini
(LinaFitriani,2022)
8. Kunjungan Masa Nifas
Menurut (Yulizawati, dkk, 2021) Paling sedikit 4 kali kunjungan masa
nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.
a. Kunjungan I
Kunjungan dalam waktu 6 jam-2 hari setelah persalinan, yaitu: a)
Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas
1) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan
memberikan rujukan bila perdarahan berlanjut c) Memberikan
konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai
bagimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
2) Pemberian ASI pada awal menjadi ibu
3) Menganjarkan ibu untuk mempererat hubungan antara ibu dan bayi
baru lahir
4) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
( Yulizawati, dkk, 2021)
b. Kunjungan II
Kunjungan dalam waktu 3-7 hari setelah persalinan, yaitu:
1) Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontraksi,
cvii
fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan
tidak ada bau
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca
melahirkan
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda
penyulit
5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan bayi, cara
merawat tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap hangat.(Yulizawati,
dkk, 2021)
c. Kunjungan III
Kunjungan dalam waktu 8-14 hari setelah persalinan, yaitu:
1) Memastikan involusi uteri berjalan normal,uterus berkontraksi,
fundus di bawah umbilicus tidak ada perdarahan abnormal, dan
tidak ada bau.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau kelainan pasca
melahirkan
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-tanda
penyulit.
5) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, cara
merawat tali pusat, dan menjaga bayi tetap hangat. (Yulizawati,
dkk, 2021)
cviii
d. Kunjungan IV
Kunjungan dalam waktu 29-42 hari setelah persalinan, yaitu:
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami atau
bayinya.
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini (Yulizawati, dkk,
2021).
9. Deteksi Dini Kompilikasi Pada Masa Nifas
Deteksi Dini Masa Nifas adalah Memantau kondisi Ibu dan Bayi pasca
persalinan dalam rangka menghindari komplikasi yang mungkin terjadi,
dan untuk mencapai tingkat kesehatan yang sebaik mungkin bagi ibu-ibu
yang baru melahirkan (post partum), bayi dan keluarga khususnya serta
masyarakat pada umumnya.
Asuhan yang diberikan pada 2 jam pertama masa nifas yairu :
a. Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus uteri, kandung kemih dan
darah yang keluar setiap 15 menit selama satu jam pertama dan
setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat. Jika ada temuan
yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian
kondisi ibu.
b. Masase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik setiap
15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam
kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, tingkatkan
frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu. (EndangYuliani,2022)
cix
5. Asuhan Neonatus
a. Pengertian Neonatus
Neonatus adalah masa kehidupan (0- 28 hari), dimana terjadi
cx
perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim menuju luar
rahim dan terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi
hingga umur kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki
risiko gangguan kesehatan paling tinggi dan berbagai masalah kesehatan
bisa muncul, sehingga tanpa penanganan yang tepat bisa berakibat fatal
(Muzayyana,2022)
b. Kunjungan Neonatus
Kunjungan neonatus ke petugas kesehatan profesional untuk
mendapatkan pelayanan standar neonatus yang didapat minimal 3 kali
selama periode 0 - 28 hari setelah lahir baik di fasilitas kesehatan maupun
kunjungan rumah. Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus :
l. Kunjungan neonatus ke-1 (KN-1) dilakukan pada 6-48 jam setelah
kelahiran.
1) Mempertahankan suhu tubuh bayi
2) Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi
3) Konseling mengenai jaga kesehatan, pemberian ASI, kesulitan
bernafas, warna kulit abnormal
m. Kunjungan neonatus ke 2 (KN-2) dilakukan pada hari ke 3-7 setelah
lahir.
1) Menjaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering
2) Pemeriksaan tanda bahay sepert kemungkinan infeks bakteri,
icterus dan diare
3) Pemberian ASI, bayi diberi ASI 10-15 kali dalam 24 jam
cxi
4) Menjaga suhu tubuh bayi
5) Menjaga kehangatn bayi
6) Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk membrikan ASI
ekslusif, pencegahan hipotermi, dan perawtan bayi baru lahir
dirumah denganmenggunakn buku KIA
7) Diberitahukan tehnik menyusui yang benar
c. Kunjungan neonatus ke-3 (KN 3) dilakukan pada hari ke 8-28 setelah
lahir.
1) Pemeriksaan fisik
2) Menjaga kesehatan bayi
3) Memberitahukan ibu tentang tanda-tanda bahay baru
lahir
4) Memberi Al minimal 10-15 kali dalm 24 jam
5) Menjaga kehangatan
6) Menjaaga ssuhu tubuh bayi
7) Memberikan konseling pada inu tentang imunisasi
BCG
Tujuan kunjungan neonatus meningkatkan akses terhadap pelayanan
kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin kelainan/masalah yang dapat
terjadi pada neonatus. Kematian pada neonatus sering terjadi dalam 24 jam
pertama, minggu pertama dan bulan pertama kehidupan. Pelayanan
kesehatan neonatus dapat dilakukan secara komprehensif dengan
menggunakan pendekatan manajemen terpadu bayi muda (MTBM).
cxii
(AnjarAstuti,2020)
a. Manajemen Kebidanan (varney)
1. Manajemen varney
cxiii
Menurut (Wenny Indah dan Kurniyati 2022) Varney Terdapat 7 langkah
manajemen kebidanan yang meliputi:
a. Langkah I Pengumpulan data dasar
Pengumpulan data dasar merupakan langkah awal yang akan
menentukan langkah selanjutnya, sehingga data yang akurat dan
lengkap yang berkaitan dengan kondisi klien sangat menentukan
bagi langkah interpretasi data.
Pengkajian data meliputi data subjektif dan data objektif
1) Data subjektif berisi identitas, keluhan yang dirasakan dari
hasil anamnesa langsung.
2) Data objektif merupakan pencatatan dari hasil pemeriksaan
umum, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, hasil
laboratorium seeperti pemeriksaan protein urin, glukosa darah,
Hb dan sebagainya.
Langkah selanjutnya setelah data terkumpul adalah pengolahan
data dengan cara menggabungkan dan menghubungkan data yang
satu dengan yang lainnya sehingga menggambarkan kondisi klien
yang sebenarnya. Lakukan pengkajian ulang data yang telah
dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.
b. Langkah II interpretasi data dasar
Pada langkah ini, data dasar yang sudah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosa dan masalah
yang spesifik. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan
cxiv
oleh profesi bidan dalam praktik kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan. Rumusan diagnosa dan
masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat
didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan.
Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita
yang diidentifikasi oleh bidan sesuai hasil pengkajian. Masalah sering
juga menyertai diagnosa.
c. Langkah III antisipasi diagnosa atau masalah potensial
Pada langkah ketiga ini melakukan identifikasi dan masalah
potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi.
Langkah ketiga ini merupakan antisipasi bidan, guna mendapatkan
asuhan yang aman. Pada tahap ini bidan diharapkan waspada dan
bersiap-siap untuk mencegah diagnosa/potensial terjadi.
d. Langkah IV tindakan segera
Pada tahap ini bidan ada saatnya harus melakukan tindakan segera
karena situasi yang gawat, contohnya. Perdarahan kala III atau
perdarahan segera setelah lahir. Dalam kondisi tertentu seorang
wanita memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim
kesehatan lain seperti pekerja social, ahl gizi, atau seorang ahli
perawat klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu
mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan siapa yang tepat
untuk konsultasi atau kolaborasi dalam penatalaksanaan asuhan klien.
e. Langkah V intervensi atau rencana
cxv
Setelah diagnosa dan masalah ditetapkan maka langkah selanjutnya
adalah membuat perencanaan secara menyeluruh. Rencana
menyeluruh ini meliputi apa-apa yang sudah teridentifikasi dari
kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari
kerangka pedoman antisipasi terhadap klien apa yang akan terjadi
apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan tujukan. Bidan dalam
melakukan perumusan perencanaan harus bersama klien dan membuat
kesepakatan bersama sebelum melakukan tindakan Asuhan yang
diberikan bidan harus sesuai terori yang up date.
f. Langkah VI implementasi atau pelaksanaan
Pada langkah ini semua perencanaan asuhan dilaksanakan oleh
bidan baik secara mandiri ataupun berkolaborasi dengan tim
kesehatan lainnya.
g. Langkah VII Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam manajemen kebidanan.
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang
sudah diberikan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika
memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Jika dalam
pelaksanaannya tidak efektif maka perlu dilakukan mengapa proses
asuhan tersebut tidak efektif, dan melakukan penyesuaian pada
rencana asuhan tersebut.
2. Manajemen soap
Menurut (Wenny Indah dan Kurniyati, 2022) adalah:
cxvi
Di dalam metode SOAP, S adalah data subjektif, O adalah data
objektif, A adalah analysis, P adalah planning. Metode ini merupakan
dokumentasi yang sederhana akan tetapi mengandung semua unsur data
dan langkah yang dibutuhkan dalam asuhan kebidanan, jelas, logis. Prinsip
dari metode SOAP adalah sama dengan metode dokumentasi yang lain
seperti yang telah dijelaskan diatas. Sekarang kita akan membahas satu
persatu langkah metode SOAP.
a. Data Subjektif
Subjektif merupakan hasil dari anamnesis, baik informasi langsung
dari klien maupun dari keluarga. Anamnesis yang dilakukan harus secara
terperinci sehingga informasi yang diharapkan benar-benar akurat. Pada
langkah ini, diharapkan bidan menggunakan daya nalarnya terkait
informasi yang didapatkan.
b. Data Objektif
Objektif merupakan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan.
Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keadaan umum, pemeriksaan
tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik secara head to toe, pemeriksaan
penunjang (pemeriksaan laboratorium baik darah, urin, tinja atau cairan
tubuh). Data hasil kegiatan subjektif dan objektif akan beriringan. Hal ini
meyakinkan bidan untuk melakukan langkah selanjutnya yaitu assessment.
c. Assesment
Pada langkah assessment, bidan akan melakukan 3 poin pokok, yaitu
menegakkan diagnosa kebidanan baik aktual maupun potensial,
cxvii
menentukan masalah (aktual dan potensial) dan menentukan kebutuhan.
Diagnosa kebidanan mengacu kepada nomenklatur, artinya diagnosa yang
ditegakkan merupakan diagnosa hasil anamnesis dan pemeriksaan yang
merupakan kasus kebidanan, kasus yang terjadi hak, kewajiban dan
wewenang bidan untuk memberikan asuhan kebidanan.
d. Planing
Pada langkah planing atau perencanaan, bidan akan merencanakan
asuhan kebidanan yang akan diberikan kepada klien sesuai dengan
diagnosa kebidanan yang telah ditegakkan, sesuai dengan kebutuhan yang
telah disusun pada langkah assessment. Pada langkah perencanaan ini,
bidan mempertimbangkan seluruh kebutuhan baik fisik maupun psikologis
klien. Tindakan apa yang akan dilakukan, mengapa tindakan tersebut
dilakukan, kapan tindakan tersebut dilakukan, siapa yang melakukan dan
bagaimana caranya tindakan tersebut dilakukan. Tahap perencanaan ini
terdapat beberapa analisis yang dilakukan oleh bidan meliputi tahap
prioritas, mempertimbangkan apakah klien dan keluarga diikutsertakan
dalam tindakan kebidanan, apakah intervensi yang direncanakan dan
dilakukan sesuai dengan permasalahan dan penyakit klien, membuat
rasional tindakan dan dokumentasi.
Setelah tahap perencanaaan dilakukan oleh bidan maka bidan
melanjutkan kegiatan pemberian asuhan. Kegiatan asuhan yang diberikan
oleh bidan, dilakukan dokumentasinya dalam bentuk catatan
perkembangan. Pada catatan ini, bidan secara terperinci membuat asuhan
cxviii
yang diberikan dengan malampirkan hari, tanggal, waktu, tanda tangan
dan nama petugas yang melaksanakan. Setiap asuhan yang diberikan harus
melampirkan hal tersebut..
cxix