LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK KB KESPRO SKRINING DAN
KONSELING MOW DI PUSKESMAS CURUP TAHUN 2023
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Asuhan Kebidanan Holistik KB Kespro
Oleh:
NADIA UTARI PRATIWI
P01740522051
Pembimbing Akademik:
KURNIYATI, SST, [Link]
NIP. 197802092005022002
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2022/2023
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
“ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK KB KESPRO SKRINING DAN
KONSELING MOW DI PUSKESMAS CURUP TAHUN 2023”
Oleh:
NADIA UTARI PRATIWI
P01740522051
Menyetujui,
Pembimbing Lahan
Pembimbing Akademik
Kurniyati, SST, [Link] Yeni Wulandari, [Link]
NIP. 197802092005022002 NIP. 198612132009042004
Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan
Diah Eka Nugraheni,[Link]
NIP. 198012102002122002
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan ini.
Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas Praktik Asuhan
Kebidanan Holistik Pada Masa Prakonsepsi dan Perencanaan Kehamilan Sehat.
Laporan ini terwujud atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak
yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ibu Yuniarti, SST, [Link] selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Bengkulu
2. Ibu Diah Eka Nugraheni, SST, [Link] selaku Ketua Prodi Profesi Bidan
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Bengkulu sekaligus
3. Ibu Kurniyati, SST, [Link] selaku pembimbing Akademik
4. Ibu Yeni Wulandari, [Link] selaku Pembimbing Lahan Praktik
Mengingat keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, penulis menyadari
bahwa penulisan laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir
kata, penulis berharap semoga laporan Pendahuluan ini bermanfaat bagi semua
pihak.
Februari 2023
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................................... iv
BAB I TINJAUAN TEORI............................................................................ 1
A. Konseling Keluarga Berencana............................................................... 1
1. pengetian................................................................................................ 1
2. tujuan Konseling ................................................................................... 2
3. Tahapan konseling................................................................................. 3
4. Langkah-langkah konseling................................................................... 4
B. Keluarga Berencana................................................................................ 7
1. Pengertian............................................................................................... 7
2. Macam-macam kontrasepsi.................................................................... 8
C. Metode Kontrasepsi Wanita (MOW)...................................................... 8
1. pengertian............................................................................................... 8
2. jenis MOW............................................................................................. 9
3. efektivitas............................................................................................... 10
4. waktu...................................................................................................... 10
5. keuntungan ............................................................................................ 11
6. keterbatasan............................................................................................ 12
7. syarat...................................................................................................... 13
8. indikasi................................................................................................... 14
9. kontraindikasi......................................................................................... 15
BAB II KONSEP ASUHAN KEBIDANAN................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I
TINJAUAN TEORI
A. Konseling Keluarga Berencana
1. Pengertian
Kata konseling secara estimologis, berasal dari kata ”counsel”
yang diambil dari bahasa Latin yaitu “counsilium” yang artinya bersama
atau bicara bersama. Pengertian “berbicara bersama-sama” dalam hal ini
adalah pembicaraan konselor dengan seseorang atau beberapa klien
(counselee). Dalam Kamus Bahasa Inggris, Konseling dikaitkan dengan
kata “counsel” yang diartikan sebagai nasehat (to obtain counsel); anjuran
(to give counsel); pembicaraan (to take counsel). Dengan demikian,
konseling diartikan sebagai pemberian nasehat, pemberian anjuran, dan
pembicaraan dengan bertukar pikiran (Henny Syafriana N. & Abdillah,
2019).
Secara terminology American Personel and Guidance Association (APGA)
dalam Tohirin (2008: 23) mendefinisikan konseling sebagai suatu
hubungan antara seorang yang profesional dan individu yang memerlukan
bantuan bantuan yang berkaitan dengan kecemasan biasa atau konflik
dalam pengambilan keputusan. Makna dari pengertian ini adalah konseling
merupakan hubungan secara profesional antara seorang konselor dengan
klien yang mencari bantuan agar klien dapat mengatasi kecemasan dan
mampu mengambil keputusan sendiri atas pemecahan masalah yang
dihadapinya (dalam Henny Syafriana N. & Abdillah, 2019)
1
Untuk konseling KB sendiri adalah pertemuan antara dua pihak
yaitu konselor dan klien, yang melakukan percakapan untuk membantu
klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan
digunakan sesuai dengan pilihan dan keadaannya (Sulistyawati, 2013).
2. Tujuan konseling KB
Menurut Sulistyawati (2013), tujuan umum dilaksanakannya
konseling KB adalah agar tercapainya peningkatan kualitas pelayanan
kontrasepsi. Tujuan khususnya sebagai berikut:
a. Memberikan informasi yang lengkap, tepat serta objektif mengenai
berbagai metode kontrasepsi sehingga klien mengetahui manfaat
penggunaan kontrasepsi bagi diri sendiri maupun keluarganya.
b. Mengidentifikasi dan menampung perasaan-perasaan negatif,
misalnya keraguan maupun ketakutan-ketakutan yang dialami klien
sehubungan dengan pelayanan KB atau metode-metode kontrasepsi
sehingga konselor dapat membantu klien dalam menanggulanginya.
c. Membantu klien untuk memilih metode kontrasepsi yang aman dan
sesuai dengan keinginan klien.
d. Membantu klien agar dapat mengetahui cara menggunakan
kontrasepsi yang dipilih secara aman dan efektif. Memberi
informasi tentang cara mendapatkan bantuan dan tempat pelayanan
KB.
2
e. Menyeleksi calon akseptor degan risiko tinggi, khususnya untuk
kontrasepsi mantap, dan membantu mereka memilih metode
kontrasepsi alternatif yang lebih sesuai.
3. Tahapan konseling KB
Menurut Setiyaningrum (2014: 185-186), ada komponen penting dalam
pelayanan konseling KB dengan dibagi 3 tahapan yaitu:
a. Konseling Awal
Konseling awal ini bertujuan untuk menentukan metode apa yang
diambil. Apabila dilakukan dengan obyektif, langkah ini akan
membantu klien untuk memilih jenis KB yang cocok untuknya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini:
1) Menanyakan langkah yang disukai klien
2) Apa yang diketahui tentang cara kerjanya, kelebihan dan
kekurangannya.
b. Konseling Khusus
1) Konseling jenis ini memberikan kesempatan untuk bertanya
tentang cara KB dan membicarakan pengalamannya.
2) Mendapatkan informasi lebih rinci tentang KB yang
diinginkannya.
3) Mendapatkan bantuan memilih metode KB yang cocok dan
mendapatkan penerangan lebih jauh tentang penggunaannya.
3
c. Konseling Tindak Lanjut
Konseling jenis ini lebih bervariasi dari konseling awal. Pemberi
pelayanan harus dapat membedakan masalah yang serius yang
memerlukan rujukan dan masalah yang ringanyang dapat diatasi di
tempat.
4. Langkah- langkah konseling
Teknik konseling menurut Gallen dan Leitenmaier dalam
Setiyaningrum (2014: 186-188) dikenal GATHER yaitu:
a. G: GREET,memberikan salam, memperkenalkan diri
dan membuka komunikasi.
b. A: ASK,menanyakan keluhan atau kebutuhan klien dan menilai
apakah keluhan kebutuhan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
c. T: TELL, memberitahukan persoalan pokok yang dihadapi pasien
dari hasil tukar informasi dan mencarikan upaya penyelesaiannya. H:
HELP, membantu klien memahami dan menyelesaikan
masalahnya
d. E: EXPLAIN, menjelaskan cara terpilih yang telah dianjurkan dan
hasil yang diharapkan mungkin dapat segera terlihat/diobservasi
e. R: REFER/RETURN VISIT, merujuk bila fasilitas ini tidak dapat
memberikan pelayanan yang sesuai, kemudian membuat jadwal
kunjungan ulang.
4
Pemberian konseling, khususnya bagi calon KB yang baru,
hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang sudah dikenal
dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tidak perlu
dilakukan secara berurutan karena petugas harus menyesuaikan diri
dengan kebutuhan klien. Kata kunci SATU TUJU menurut
Setiyaningrum (2014) adalah sebagai berikut:
1) SA: Sapa dan salam kepada klien secara terbuka dan sopan
Memberikan perhatian sepenuhnya kepada mereka dan
berbicara di tempat yang nyaman serta terjamin
[Link] klien untuk membangun ras percaya diri.
Tanyakan kepada klien apa yang perlu yang perlu dibantu dan
jelaskan pelayanan apa yang dapt diperolehnya.
2) T: Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien
untuk berbicara mengenai pengalaman tentang KB dan
kesehatan reproduksi. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkn
oleh klien. Berikan perhatian kepada klien apakah klien sesuai
dengan kata- kata, gerak isyarat dan caranya. Coba tempatkan
diri kita di dalam hati klien. Perhatikan bahwa kita memahami,
dengan memahami pengetahuan, kebutuhan dan keinginan
klien, kita dapat membantunya.
3) U: Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa
pilihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan
beberapa kontrasepsi. Bantulah klien pada jenis kontrasepsi
5
yang paling dia ingini, serta jelaskan pula jenis-jenis
kontrasepsi lain yang mungkin diingini oleh klien.
4) TU: Bantulah klien menentukan pilihannya. Bantulah klien
berpikir mengenai apa yang paling sesuai dengan keadaan dan
kebutuhannya.
5) J: Jelaskan secara lengkap kepada klien bagaimana
menggunakan kontrasepsi pilihannya. Setelah klien memilih
jenis kontrasepsi, apabila diperlukan perlihatkan alat
kontrasepsinya.
6) U: Perlunya kunjungan ulang. Diskusikan dan buat kontrak
dengan klien untuk melakukan pemeriksaan lanjutan atau
permintaan kontrasepsi paila dibutuhkan.
6
B. keluarga Berencana
1. Pengertian
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengatur banyaknya
jumlah kelahiran sehingga ibu maupun bayinya dan ayah serta keluarga
yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat
langsung dari kelahiran tersebut. Keluarga berencana merupakan program
pemerintah yang bertujuan menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah
penduduk. Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan
menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) yang
berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang (Irianto, 2014).
Sedangkan kontrasepsi ialah cara, alat, atau obat-obatan untuk
mencegah terjadinya pertemuan antara sel telur (ovum) dengan sel mani
(spermatozoa) pada saluran telur. Kontrasepsi dibagi menjadi dua, yaitu cara
temporer (spacing) dan cara permanen (kontrasepsi mantap). Cara permanen
dilakukan dengan mengakhiri kesuburan untuk mencegah kehamilan secara
permanen, pada wanita disebut sterilisasi dan pada pria disebut vasektomi
(Sofian, 2013).
7
2. Macam- macam kontrasepsi
a. Kontrasepsi Metode Sederhana
1) Tanpa Alat
a) KB alamiah terdiri dari pantang berkala, metode kalender,
metode suhu basal, metode lendir cerviks.
b) Coitus Interuptus (senggama terputus)
Adalah suatu metode kontrasepsi di mana senggama
diakhiri sebelum terjadi ejakulasi intra-vaginal. Ejakulasi
terjadi jauh dari genetalia eksterna wanita.
2) Dengan Alat
a) Mekanis ( barier ), terdiri dari kondom pria, barier intra
vaginal (diafragma, kap servik, spons, kondom ).
b) Kimiawi yang berupa spermisid (vaginal cream, vagina
foam, vagina jelly, vagina tablet dan vagina suble film).
b. Metode Modern
1) Kontrasepsi hormonal
a) Per oral : Pil oral kombinasi (POK), Mini Pil, Morning
after pill.
b) Injeksi / Suntikan : DMPA, NET-EN, Microsphere,
Microcapsules.
c) Sub kutis : Implant (alat kontrasepsi bawah kulit :
AKBK)
8
d) IUD (Intra Uteri Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam
Rahim (AKDR) : Copper T, Medusa, Seven Copper T
c. Kontrasepsi Metode Mantap
1) Pada Wanita
Penyinaran, Operatif (Medis Operatif Wanita, penyumbatan tuba
fallopi secara mekanis).
2) Pada pria
Operatif medis pria (Vasektomi, penyumbatan vas deferens secara
mekanis, penyumbatan vas deferens secara kimiawi.
C. Metode Operasi Wanita (MOW)
1. Pengertian
Kontrasepsi mantap atau tubektomi adalah setiap tindakan pada
kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan orang/pasangan yang
bersangkutan tidak akan mendapat keturunan lagi. Metode ini hanya
digunakan untuk jangka panjang, meskipun terkadang dapat dipulihkan
kembali kesuburannya.
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi pada wanita adalah suatu
kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan cara melakukan suatu
tindakan pada kedua saluran telur sehingga menghalangi pertemuan sel
telur (ovum) dengan sel mani (sperma) (Sofian, 2013).
9
2. Jenis MOW
Menurut Sofian (2013), terdapat empat jenis sterilisasi berdasarkan
tujuannya, yaitu:
a. Sterilisasi hukuman (compulsary sterilization);
b. Sterilisasi eugenik, untuk mencegah berkembangnya kelainan
mental secara turun menurun;
c. Sterilisasi medis, dilakukan berdasarkan indikasi medis demi
keselamatan wanita tersebut karena kehamilan berikutnya dapat
membahayakan jiwanya;
d. Sterilisasi sukarela (coluntary sterilization), yang bertujuan
ganda dari sudut kesehatan, sosial ekonomi dan kependudukan.
3. Efektivitas
Tubektomi merupakan metode kontrasepsi yang sangat efektif dan tidak
menimbulkan efek samping jangka panjang. Efektivitasnya yaitu 0,5
kehamilan per 100 perempuan (0,5%) selama tahun pertama
penggunaan (Saifuddin, 2015).
4. Waktu
Pelaksanaan tindakan sterilisasi dilakukan pada saat:
a. Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini tidak hamil
b. Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi
c. Pasca persalinan (post partum)
10
Sebaiknya dilakukan dalam 24 jam atau selambat-lambatnya 48
jam pasca persalinan. Setelah lebih dari 48 jam, operasi akan lebih
sulit dengan adanya edema tuba dan infeksi yang akan menyebabkan
kegagalan sterilisasi. Jika dilakukan setelah hari ke-7 sampai hari ke-
10 pasca persalinan, uterus dan alat genital lainnya telah mengecil
dan menciut yang menyebabkan mudah terjadinya perdarahan dan
infeksi
d. Pasca keguguran (post abortus)
Sterilisasi dapat dilakukan sesaat setelah terjadinya abortus
e. Saat tindakan operasi pembedahan abdominal
Hendaknya saat operasi pembedahan abdominal telah
dipertimbangkan untuk tindakan sterilisasi karena pada tindakan ini
dapan sekaligus dilakukannya kontrasepsi mantap (Sofian, 2015)
5. Keuntungan
a. Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun
pertama penggunaan)
b. Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding)
c. Tidak bergantung pada faktor senggama
d. Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi resiko kesehatan
yang serius
e. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
f. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
11
g. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada
produksi hormon ovarium)
h. Berkurangnya resiko kanker ovarium
i. Motivasi hanya dilakukan satu kali, sehingga tidak diperlukan
motivasi yang berulang
j. Tidak adanya kegagalan dari pihak pasien (patient’s failure)
k. Tidak mempengaruhi libido seksualis (Anwar, 2016).
6. Keterbatasan
Meskipun banyak keuntungan yang didapat pada metode sterilisasi ini,
tetap saja terdapat keterbatasan diantaranya:
a. Tidak dapat melindungi dari Infeksi Menular Seksual (IMS),
termasuk HBV dan HIV/AIDS
b. Harus dipertimbangkan kembali sifat permanen kontrasepsi ini
karena tidak dapat dipulihkan kecuali dengan operasi rekanalisasi
c. Klien dapat menyesal dikemudian hari
d. Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
e. Hanya dilakukan oleh dokter yang terlatih (Saifuddin, 2010).
12
7. Syarat
Terdapat beberapa syarat untuk menjadi akseptor kontrasepsi mantap
MOW yaitu:
a. Syarat sukarela
Meliputi pengetahuan pasangan mengenai cara kontrasepsi lain,
risiko dan keuntungan kontrasepsi mantap, serta sifat permanen
metode ini.
b. Syarat bahagia.
Syarat ini dilihat berdasarkan ikatan perkawinan yang sah dan
harmonis. Umur istri sekurang-kurangnya 30 tahun dengan
sekurang-kurangnya 2 orang anak hidup dan anak terkecil berumur
lebih dari 2 tahun.
c. Syarat sehat
Setiap calon peserta kontrasepsi mantap wanita juga harus dapat
memnuhi syarat kesehatan, artinya tidak ditemukan hambatan atau
kontraindikasi untuk menjalani kontrasesi mantap. Pemeriksaan
seorang dokter diperlukan untuk dapat memutuskan apakah
seseorang dapat menjalankan konntrasepsi mantap. Ibu yang tidak
boleh menggunakan metode kontrasepsi mantap yaitu:
1) Ibu yanv mengalami peradangan panggul
2) Obesitas berlebihan
3) Ibu yang sedang hamil atau dicurigai sedang hamil.
13
8. Indikasi
Menurut Amru Sofian (2013), sterilisasi dilakukan atas indikasi:
a. Indikasi medis umum
Adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih berat
jika wanita tersebut hamil lagi, seperti tuberkulosis paru, penyakit
jantung, penyakit ginjal maupun skizofrenia.
b. Indikasi medis obstetrik
Adanya riwayat toksemia gravidarum yang berulang, seksio
sesarea berulang dan histerektomi obstetrik.
c. Indikasi medis ginekologik
Pada waktu melakukan operasi ginekologik, dapat
dipertimbangkan untuk dilakukannya sterilisasi.
ii. Indikasi sosial ekonomi
1) Rumus 120; yaitu perkalian jumlah anak hidup dan umur
ibu, kemudian dapat dilakukan sterilisasi atas persetujuan
suami istri
2) Rumus 100; yaitu perkalian jumlah anak hidup dan umur
ibu, kemudian dapat dilakukan sterilisasi atas persetujuan
suami istri
14
9. Kontraindikasi
a. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
b. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi)
c. Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah tersebut
sembuh)
d. Tidak boleh menjalani proses pembedahan
e. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan
f. Belum memberikan persetujuan tertulis (Saifuddin, 2010).
15
BAB II
ASUHAN KEBIDANAN AKSEPTOR KB KONSELING MOW
A. Kajian Kasus
Pengkajian
Hari/tanggal pengkajian :
Waktu pengkajian : -selesai WIB
Tempat pengkajian :
1. Data Subjektif (S)
Identitas pasien
Nama Istri : Ny. Nama Suami : Tn.
Umur : tahun Umur : tahun
Agama : Agama :
Suku/Bangsa : Suku/Bangsa :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat :
1) Keluhan Utama
- Ibu mengatakan ingin mengetahui tentang kb jangka panjang yang
bisa untuk memberhentikan kehamilannya. Karena ibu merasa
jumlah anak sudah cukup.
- Ibu mengatakan ingin steril tetapi belum tahu tentang kb steril
2) Riwayat menstruasi
Usia Mennarche : (11-13 tahun)
Siklus : (28-30 hari)
Lamanya : (5-7 hari)
Banyaknya : (2-3x ganti pembalut/ hari)
Masalah : - disminorhea / Amenorhea
16
3) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu
Tabel riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB
No Umur Tempat Usia Jenis Penolong Penyulit JK BB KB
bersalin kehamilan persalinan
1.
4) Riwayat perkawinan
Status perkawinan :
Nikah ke :
Usia perkawinan :
5) Riwayat Kontrasepsi
Jeni mulai pake berhenti/ganti cara
No
s Kb Tgl oleh tempat Keluhan Tgl oleh Tempat Keluhan
6) Riwayat Kesehatan
N Pasanga
Riwayat Kesehatan Pasien
o n
Riwayat Penyakit Kronis dan Menurun
1 Riwayat Hipertensi
2 Riwayat Gula Darah
3 Riwayat Jantung
4 Riwayat Asma
5 TBC
17
6 Hepatiti B
7 Malaria
8 Kanker Payudara
9 Kanker Serviks
10 Anemia
11 TORCH
12 Lainnya
Riwayat Genetik
1 Thalasemia
2 Hemifilia
3 Lainnya
Riwayat IMS
1 Gonorea
2 Shipilis
3 Herpes Genetalia
4 Clamidia
5 Condiloma
6 HIV AIDS
Infeksi saluran reproduksi
1 Kandidiadi Vaginalis
2 Vaginosis Bakteria
3 Trikomoniasis
Riwayat penyakit yang terkait dengan kesehatan
1 Riwayat mumps (gondok)
Idiopathic Thrombocytopenic
2
Purpura
3 Tiroid
4 Systemic Lupus Erythematosus
7) Riwayat psikososial dan spiritual
a) Hubungan suami istri : Baik / tidak
b) Hubungan istri dan : baik/ tidaK
keluarga
c) Keyakinan agama : taat agama / tidak
d) Kebiasaan berobat : sering mengkonsumsi
obat, sering berobat /
18
tidak sam sekali
e) Dukungan suami terhadap : baik / tidak
KB
8) Pola kebiasaan sehari-hari
Pola Kebiasaan Sehari-Hari
1) Makan
Frekuensi : (2-3x/ hari)
Jenis Makanan : nasi, sayur, lauk pauk
Nafsu Makan : biasa/kurang
Pantangan :ada/ tidak ada
2) Minum
Frekuensi : (5-8 gelas/hari)
Jenis : air putih, teh manis, susu
Masalah : ada/tidak ada
3) Eliminasi
a) BAB
Frekuensi : (1-2x/hari)
Konsistensi : lunak/padat/cair
Warna : kuning kecoklatan
Bau : khas feses
Masalah : ada/tidak ada
b) BAK
Frekuensi : (3-4x/hari)
Warna : kuning
Bau : khas urin
Masalah : tidak ada
19
4) Istirahat dan Tidur
Siang : ± 1-2 jam
Malam : ± 6-8jam
Masalah : Ada/ Tidak Ada
Lingkungan dan Perilaku yang merugikan kesehatan
NO Perilaku Catin Pr/Istri Catin LK/Suami
Ibu sering terpapar
1 asap rokok atau Ya / tdk Ya / tdk
polusi
Beban pekerjaan ibu
2 Ya / tdk Ya / tdk
terlalu berat
Kebiasaan Minum
3 jamu atau obat tanpa Ya / tdk Ya / tdk
resep dokter
Memiliki hewan
peliharaan/lingkunga
4 Ya / tdk Ya / tdk
n sekitar dekat
dengan peternakan
Kebiasaan cuci
5 Ya / tdk Ya / tdk
tangan pakai sabun
6 Kepemilikan jamban Ya / tdk Ya / tdk
7 Sumber Air Bersih Ya / tdk Ya / tdk
Sarana Pembuangan
8 Ya / tdk Ya / tdk
Sampah
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik/lemah
Kesadaran : composmenthis
Tanda-Tanda Vital
TD : (systole 90-120mmHg
20
Diastole 60-80mmHg)
Suhu : 36,5˚- 37 ˚ C
Nadi : 60-80 x/menit
Pernafasan : 20-24 x/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Kebersihan : Baik/cukup/kurang
Benjolan : Ada / Tidak ada
Distribusi rambut : Merata / Tidak
b. Muka
Keadaan : pucat / Tidak
Oedema : Ada / Tidak ada
Masalah : Ada / Tidak ada
c. Mata
Konjungtiva : Anemis / An anemis
Sclera : Iketrik / An ikterik
Masalah : Ada / Tidak ada
d. Hidung
Kebersihan : Bersih/cukup/kurang
Kelainan : Ada / Tidak ada
e. Mulut
Mukosa bibir : Kering / Lembab
Gusi : Ada Pembengkakan / Tidak
Gigi : Ada Caries / Tidak
Kebersihan : Bersih / Tidak
f. Telinga
Pendengaran : Baik / Tidak Baik
Pengeluaran cairan abnormal : Ada / Tidak ada
Kelainan : Ada / Tidak ada
g. Leher
21
Pembesaran kelenjar thyroid : Ada / Tidak ada
Pembesaran kelenjar parotis : Ada / Tidak ada
Pembesaran vena jugularis : Ada / Tidak ada
h. Payudara
Puting susu : datar/menonjol
Areola mammae : Hiperpigmentasi
Lesi : Ada / Tidak ada
Massa / benjolan abnormal : Ada / Tidak ada
Nyeri tekan : Ada / Tidak ada
i. Abdomen
Bekas luka operasi : ada/tidak
Linea : alba/nigra
Striae : albicans/liviade
j. Genitalia
Keputihan : ada/ tidak
Keluhan : ada/ tidak
k. Ekstremitas
1) Atas
Warna kuku : pucat/tidak pucat
Oedema : ada/tidak ada
2) Bawah
Warna kuku : pucat/tidak pucat
Oedema : ada/tidak ada
Varises : ada/tidak ada
Tanda Homan : (+)/(-)
2. Analisa (A)
22
Ny ….. Umur …….dengan konseling MOW
3. Planning(P)
Perencanaan atau planing adalah suatu pencatatan menggambarkan
pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi berdasarkan assasmenet
yaitu rencana apa yang akan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tersebut.
Perencanaa dibuat saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun
berdasarkan hasil analisi dan interpretasi data yang bertujuan untuk
mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan
memepertahankan kesejahteraannya..
1. Lakukan informed consent kepada NY. .. terhadap tidakan yang akan
dilkakukan
2. Beritahu Ny… mengenai hasil pemeriksaan
3. Beri konseling tentang MOW yaitu tentang syarat, indikasi ,
kontraindikasi dan waktu melakukan tubektomi
4. Anjurkan diskusi terlebih dahulu kepada suami u tuk pemilihan
kontrasepsi MOW
5. Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang dan menanyakan keputusan akhir
ibu
23
DAFTAR PUSTAKA
Nur Laela, St. Nurbaya, Dkk. 2022. Pengaruh konseling terhadap pemilihan
metode kontasepsi jangka panjang pada masa nifas di Sulawesi selataan.
Jurnal kesehatan masyarakat. Vol 1. No.1
Isma Haiyarni, Darmawati. 2018. Keefektifan kkonseling pada penggunaan
kontasepsi mantap (Kontap). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas
Keperawatan. Vol 2, No 3
Kristy Mellya Putri. 2020. Factor-faktor yang erhubungan dengan pemilihan
kontrasepsi MOW pada ibu nifas di RSIA ANNISA. Jural Bidan
Komunitas. Vol III. No.2 Hal 57-66.
Saifuddin, A.B., dkk. 2015. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, PT.
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Prawiroharjo. 2015. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontasepsi. Jakarta: ECG
Pudiastuti, R. D. 2013. Panduan Melilih kontasepsi . Yogyakarta: Nuha Medika
Saifuddin. 2015. Buku panduan praktek pelayanan kontasepsi. Jakarta : Bina
Pustaka sarwo Prawiroharjo.
24